Docstoc

makalah perekonomian

Document Sample
makalah perekonomian Powered By Docstoc
					                                          BAB I

                                     PENDAHULUAN




              Pariwisata merupakan bisnis yang terus berkembang dan memiliki masa depan

yang baik di Indonesia. Dua faktor pendorong kemajuan pariwisata Indonesia, ditandai dengan

meningkatnya kebutuhan akan jasa transportasi, akomodasi, restoran, dan usaha yang terkait

seperti biro perjalanan, penukaran valuta asing, informasi pariwisata, objek dan daya tarik

wisata, dan lain-lain, adalah: pertama, naiknya pendapatan perkapita sebagai akibat langsung

berhasilnya pembangunan ekonomi, telah meningkatkan mobilitas penduduk Indonesia yang

didasarkan oleh berbagai motivasi.

              Kedua, perkembangan politik dunia yang semakin mendambakan perdamaian

dan mengarah pada kerjasama internasional. Tidak dapat dipungkiri bahwa kegiatan pariwisata

memberikan keuntungan dan manfaat bagi suatu negara/daerah tujuan wisata, walaupun tidak

terlepas pula adanya kerugian serta dampak negatif yang ditimbulkannya terutama terhadap

kebudayaan dan lingkungan.

              Keuntungan yang paling jelas akibat adanya pariwisata adalah sumbangannya

terhadap neraca pembayaran dalam mendatangkan devisa, terciptanya kesempatan kerja dan

terhadap sektor-sektor lain (melalui dampak tidak langsung), serta adanya kemungkinan bagi

masyarakat di negara penerima wisatawan tersebut untuk meningkatkan tingkat pendapatan dan

standar hidup mereka (De Kadt, 1979).

              Sapta (2006) mengemukakan bahwa Pariwisata seringkali dipersepsikan sebagai

mesin ekonomi penghasil devisa bagi pembangunan ekonomi di suatu negara tidak terkecuali di

Indonesia. Namun demikian pada prinsipnya pariwisata memiliki spektrum fundamental

                                                                                          1
pembangunan yang lebih luas bagi suatu negara. Pembangunan kepariwisataan pada dasarnya

ditujukan untuk :

a. Persatuan dan Kesatuan Bangsa : Pariwisata mampu memberikan perasaaan bangga dan cinta

  terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui kegiatan perjalanan wisata yang

  dilakukan oleh penduduknya ke seluruh penjuru negeri. Sehingga dengan banyaknya

  warganegara yang melakukan kunjungan wisata di wilayah-wilayah selain tempat tinggalnya

  akan timbul rasa persaudaraan dan pengertian terhadap sistem dan filosofi kehidupan

  masyarakat yang    dikunjungi sehingga akan meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan

  nasional.

b. Penghapusan Kemiskinan (Poverty Alleviation) : Pembangunan pariwisata seharusnya mampu

  memberikan kesempatan bagi seluruh rakyat Indonesia untuk berusaha dan bekerja.

  Kunjungan wisatawan ke suatu daerah seharusnya memberikan manfaat yang sebesar -

  besarnya bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian pariwisata akan

  mampu memberi andil besar dalam penghapusan kemiskinan di berbagai daerah yang miskin

  potensi ekonomi lain selain potensi alam dan budaya bagi kepentingan pariwisata.

c. Pembangunan Berkesinambungan (Sustainable Development) : Dengan sifat kegiatan

  pariwisata yang menawarkan keindahan alam, kekayaan budaya dan keramahtamahan

  pelayanan, sedikit sekali sumberdaya yang habis digunakan untuk menyokong kegiatan ini.

  Bahkan berdasarkan berbagai contoh pengelolaan kepariwisataan yang baik, kondisi

  lingkungan alam dan masyarakat di suatu destinasi wisata mengalami peningkatan yang

  berarti sebagai akibat dari pengembangan kepariwisataan di daerahnya.

d. Pelestarian Budaya (Culture Preservation) : pembangunan kepariwisataan seharusnya mampu

  kontribusi nyata dalam upaya-upaya pelestarian budaya suatu negara atau daerah yang



                                                                                        2
  meliputi perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan budaya negara atau daerah. UNESCO

  dan UN-WTO dalam resolusi bersama mereka di tahun 2002 telah menyatakan bahwa

  kegiatan pariwisata merupakan alat utama pelestarian kebudayaan. Dalam konteks tersebut,

  sudah selayaknya bagi Indonesia untuk menjadikan pembangunan kepariwisataan sebagai

  pendorong pelestarian kebudayaan di berbagai daerah.

e. Pemenuhan Kebutuhan Hidup dan Hak Azasi Manusia: pariwisata pada masa kini telah

  menjadi kebutuhan dasar kehidupan masyarakat modern. Pada beberapa kelompok masyarakat

  tertentu kegiatan melakukan perjalanan wisata bahkan telah dikaitkan dengan hak azasi

  manusia khususnya melalui pemberian waktu libur yang lebih panjang dan skema paid

  holidays.

f. Peningkatan Ekonomi dan Industri: Pengelolaan kepariwisataan yang baik dan berkelanjutan

  seharusnya mampu memberikan kesempatan bagi tumbuhnya ekonomi di suatu destinasi

  pariwisata. Penggunaan bahan dan produk lokal dalam proses pelayanan di bidang pariwisata

  akan juga memberikan kesempatan kepada industri lokal untuk berperan dalam penyediaan

  barang dan jasa. Syarat utama dari hal tersebut di atas adalah kemampuan usaha pariwisata

  setempat dalam memberikan pelayanan berkelas dunia dengan menggunakan bahan dan

  produk lokal yang berkualitas.

g. Pengembangan Teknologi: Kebutuhan akan teknologi tinggi khususnya teknologi industri

  akan mendorong destinasi pariwisata mengembangkan kemampuan penerapan teknologi

  terkini mereka. Pada daerah-daerah tersebut akan terjadi pengembangan teknologi maju dan

  tepat guna yang akan mampu memberikan dukungan bagi kegiatan ekonomi lainnya. Dengan

  demikian pembangunan kepariwisataan akan memberikan manfaat bagi masyarakat dan

  pemerintahan di berbagai daerah yang lebih luas dan bersifat fundamental. Kepariwisataan



                                                                                         3
  akan menjadi bagian tidak terpisahkan dari pembangunan suatu daerah dan terintegrasi dalam

  kerangka peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.

                World Travel and Tourism Council (WTTC) pada tahun 2003 telah menerbitkan

suatu dokumen yang menggambarkan arah perubahan hubungan antara para pelaku

kepariwisataan. Disebutkan bahwa pembangunan kepariwisataan saat ini memerlukan :

a. Kemitraan yang koheren antara para pelaku kepariwisataan – masyarakat, usaha swasta dan

  pemerintah.

b. Penyampaian produk wisata yang secara komersial menguntungkan, namun tetap memberikan

  jaminan manfaat bagi setiap pihak yang terlibat.

c. Berfokus pada manfaat bukan saja bagi wisatawan yang datang namun juga bagi masyarakat

  yang dikunjungi serta bagi lingkungan alam, sosial dan budaya setempat.

                Pada sisi lainnya, kepariwisataan dunia juga menghadapi globalisasi yang antara

lain berbentuk liberalisasi dan aliansi perdagangan jasa-jasa seperti tertuang dalam Persetujuan

Umum Tarif Jasa (GATS) dan di tingkat regional diimplementasikan melalui pemberlakuan

AFTA dan AFAS. Pemberlakuan liberalisasi perdagangan dan jasa ini adalah untuk

menghilangkan hambatan dalam hal perdagangan, meliputi : transaksi perdagangan barang dan

jasa, sumber daya modal (investasi), dan pergerakan manusia.

                Masalah keamanan global ternyata telah menciptakan citra yang sangat kurang

menguntungkan bagi industri pariwisata global, dimana keselamatan wisatawan yang menjadi

faktor utama telah terusik akibat aksi bom di destinasi maupun fasilitas pariwisata (hotel dan

pesawat terbang) serta didorong dengan adanya pandangan bahwa saat ini tidak ada destinasi

yang aman untuk berwisata. Apabila sentimen ini sudah masuk dalam benak wisatawan, maka




                                                                                              4
hal ini akan menjadi permasalahan yang cukup serius bagi perkembangan pariwisata global di

masa depan.

                Masalah kesehatan global juga menjadi perhatian serius dalam pengembangan

kepariwisataan dunia. Penyebaran AIDS, Avian Flu, Meningitis, Cholera, Demam Berdarah

Dengue dan Tubercolosis yang semakin tinggi berakibat kurang menguntungkan bagi pergerakan

wisatawan dunia. Pandemi yang melanda beberapa negara di Asia belakangan ini telah

mempengaruhi daya saing kepariwisataan negara-negara tersebut. Kemajuan teknologi di bidang

transportasi, telekomunikasi, dan informasi telah menciptakan dunia tanpa batas, memudahkan

terjadinya mobilitas manusia antarnegara maupun pertukaran informasi melalui dunia maya

(virtual).

              Kedatangan pengunjung internasional (2000-2007) menunjukkan tren konsisten

dengan angka secara kasar lima juta per tahun (lihat tabel 1). Angka tersebut turun pada tahun

2002 (sebanyak 2,3%), 2003(sebanyak 11,2%) dan juga pada tahun 2006 (sebanyak 2,6%) yang

sebagian besar bisa dikaitkan dengan serangan bom teroris di Bali dan Jakarta. Meskipun begitu,

kedatangan pengunjung internasional terlihat pulih cukup cepat setelah serangan-serangan ini,

walaupun perlu dicatat bahwa peningkatan dari tahun 2000 ke 2007 cukup rendah (sekitar 10%).

Lebih penting lagi, tujuan-tujuan pariwisata di Indonesia (kecuali Bali) sangat bergantung pada

pertumbuhan pasar domestik. Jumlah pasti dari angka ini pada saat ini tidak tersedia walaupun

bisa diasumsikan bahwa kontribusi pengunjung mancanegara sekitar 5% dari total pengunjung.

Jadi total pengunjung domestik Indonesia diperkirakan lebih dari 100 juta per tahun.




                                                                                             5
Tabel 1. Kedatangan wisatawan internasional ke Indonesia (2000-2007)




              Berlawanan dengan pola kedatangan wisatawan internasional, kontribusi

pendapatan pariwisata terhadap PDB Indonesia menunjukkan pertumbuhan signifikan sejak

tahun 2000 hingga tahun 2007 (lihat tabel 2). Jumlah tersebut meningkat dua kali lipat dari

AS$15,5 milyar pada tahun 2000 menjadi hampir AS$34 milyar pada tahun 2007. Pada tahun-

tahun dimana terjadi penurunan jumlah kedatangan wisatawan mancanegara (2002,2003, dan

2006) terdapat peningkatan dari tahun ke tahun kontribusi pendapatan pariwisata terhadap PDB

sebanyak 8,6%, 9,7% dan 18,6% secara berurutan. Hal ini bisa menunjukkan kekuatan pasar

pengunjung domestik.




                                                                                          6
Tabel 2. Kontribusi Pendapatan Pariwisata (langsung & tidak langsung) terhadap produk

domestik bruto (2000-2007)




              Pertumbuhan Pariwisata Global (ILO,10;2009):       Pariwisata adalah salah satu

sektor ekonomi yang tumbuh paling cepat dan merupakan salah satu industri terbesar di dunia.

Pada tahun 1950 industri perjalanan (travel) mencatat 25 juta kedatangan internasional. Pada

tahun 1980 angka ini telah meningkat menjadi 277 juta dan menjadi 438 juta pada tahun 1990

(tujuh belas kali lipat jika dibandingkan dengan tahun 1950). Pada awal abad ini terdapat 684

juta kedatangan internasional yang tercatat dan meningkat hingga 907 juta pada tahun 2007 dan

922 juta pada tahun 2008.

              Namun, untuk tahun 2009, (UNWTO, 2009) memperkirakan angka kedatangan

internasional secara kasar sejumlah 870 juta (delapan bulan pertama pada tahun 2009 tercatat

600 juta kedatangan internasional). Diproyeksikan pula bawa pada tahun 2020 kedatangan

wisatawan internasional akan tumbuh hingga 1,6 milyar. Pada tahun 2008, pendapatan pariwisata

internasional meningkat sebesar 1,7% secara riil menjadi AS$ 944 ( Edisi UNWTO ‟Tourism

Highlights‟ 2009). Sampai akhir 2007, sektor pariwisata telah mencapai 10,3% dari PDB global.

                                                                                            7
              Barometer Pariwisata Dunia UNWTO yang terbaru (Oktober 2009) melaporkan

bahwa hasil bulan Agustus 2009 mengindikasikan bahwa penurunan global kedatangan

pengunjung internasional telah mulai mereda. Kedatangan internasional yang terdaftar pada

bulan Juli dan Agustus menurun 3% bila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun

sebelumnya, dimana penurunan komparatif pada dua trimester pertama secara kasar adalah

sekitar 10%. Bila tren saat ini berlanjut, maka UNWTO mengantisipasi bahwa akan terjadi

penurunan pengunjung internasional antara 4-6% dalam satu tahun penuh.

              Terlebih lagi, mereka 4 Tren Pariwisata dan Lapangan Kerja di Indonesia (2007-

2009) yang duduk di UNWTO Panel of Tourism Experts (Panel Ahli Kepariwisataan) yang

mempertimbangkan bahwa kondisi pada empat bulan kedepan bisa lebih ‟buruk‟ dan jatuh dari

angka 62% menjadi 42%. Di Asia dan di Pasifik, wilayah terbaik kedua (setelah Afrika) dari

lima wilayah global UNWTO, hingga bulan Agustus mencatat penurunan pertumbuhan 5% dari

kedatangan pengunjung mancanegara.

              Wilayah ini terlihat memiliki salah satu tanda peningkatan terjelas dengan bulan

Agustus yang tumbuh semakin positif, karena terutama kondisi perekonomian yang mendukung

di Asia Timur Laut. Pemasukan dari wisatawan internasional telah menyusut 9-10% secara riil

pada semester pertama bulan ini dan diprediksi akan menurun 6-8%          selama tahun 2009

(WTM,2009). Penurunan ini lebih besar (satu atau dua persen) dibandingkan dengan kedatangan

pengunjung internasional selama periode yang sama. Data performa hotel selama delapan bulan

pertama dalam tahun ini juga menunjukkan bahwa tingkat hunian hingga bulan Agustus menurun

di semua wilayah dan penurunan lebih signifikan di wilayah Asia Pasifik sebesar 8%.

              (Laporan WTM tahun 2009) juga menyatakan bahwa bahkan jaringan global saat

ini pun mengalami penurunan. Sektor tranportasi udara mengalami pemulihan kecil dan lalu



                                                                                            8
lintas penumpang selama periode hingga Agustus tahun ini menurun        sebesar 5%. Berapa

maskapai penerbangan carter telah bangkrut dan sejumlah jadwal penerbangan dikonsolidasikan

dengan melakukan kemitraan strategis dan pada beberapa kasus, mencari dukungan finansial dari

pemerintah.

               Karakteristik dari Lapangan Kerja Pariwisata (ILO,10;2009): Pariwisata adalah

alat yang sangat kuat untuk pertumbuhan ekonomi nasional dan telah secara signifikan

menghasilkan pembukaan lapangan kerja. Pariwisata tidak hanya menyediakan kesempatan bagi

sebuah negara untuk mendiversifikasi sektor perekonomiannya, tetapi sektor pariwisata juga

menciptakan kesempatan kerja baru, khususnya bagi kaum perempuan, pemuda, dan golongan

masyarakat tertinggal.

               Pariwisata menawarkan jalur masuk bagi mereka yang berkemampuan rendah

untuk beberapa persyaratan tenaga kerja, dan oleh karena itu sektor ini merupakan sebuah

mekanisme penting untuk mengentaskan kemiskinan. Pengentasan kemiskinan melalui lapangan

kerja bidang pariwisata telah dipromosikan ke seluruh dunia oleh UNWTO dalam program STEP

(Sustainable Tourism for Eliminating Poverty atau Pariwisata Berkelanjutan untuk Pengentasan

Kemiskinan).

               Di wilayah Asia Pasifik industri pariwisata mengalami kekurangan tenaga kerja

yang terampil. Sebagai tambahan, ketidakmampuan pariwisata untuk berkompetisi melawan

industri lain dalam hal upah dan kondisi kerja memperlemah usaha yang dilakukan untuk

merekrut dan mempertahankan tenaga kerja. Laporan UNWTO pada bulan November 2009

(„The Tourism Labour Market in the Asia-Pacific Region‟) (13) menyoroti beberapa karakteristik

kunci dari lapangan kerja dibidang pariwisata, yaitu:

• Tingginya mobilitas tenaga kerja dan perputaran pekerja;



                                                                                           9
• Penekanan pada pekerjaan kasual dan musiman;

• Sektor tenaga kerja intensif dengan keterampilan yang beragam;

• Dominasi oleh usaha kecil;

• Proporsi yang tinggi dalam pekerja muda dan tidak terampil;

• Upah rendah atau pembayaran yang tidak mencukupi bila dibandingkan sektor ekonomi

  lainnya;

• Waktu kerja yang panjang dan atau tidak ramah; dan

• Kurangnya pengembangan karir dengan rendahnya penekanan pada pelatihan.

• Proporsi yang tinggi dalam pekerja muda dan tidak terampil;

• Upah rendah atau pembayaran yang tidak mencukupi bila dibandingkan sektor ekonomi

  lainnya;

• Waktu kerja yang panjang dan atau tidak ramah; dan

• Kurangnya pengembangan karir dengan rendahnya penekanan pada pelatihan.




                                                                                10
                                           BAB II

                                    PERMASALAHAN




              Dari uraian diatas, penulis mendapatkan adanya permasalahan yang dihadapi di

bidang pariwisata, adapun permasalahannya sebagai berikut :

   1. Kontribusi pendapatan pariwisata terhadap PDB ?

   2. Pengaruh pariwisata terhadap ketersediaan lapangan pekerjaan?

   3. Prospek pariwisata di Indonesia




                                                                                       11
                                          BAB III

                                         ANALISIS



Kontribusi pendapatan pariwisata terhadap PDB

               Kontribusi pendapatan sektor pariwisata terhadap PDB Indonesia telah meningkat

secara signifikan dari tahun 2007 hingga tahun ini (lihat tabel 3) dengan pertumbuhan hampir

17% pada tahun 2007 dan pertumbuhan 21% pada tahun 2008. Angka ini diperkirakan akan

melambat tahun ini hingga mencapai lebih dari 6%. (ILO, 2009)

Gb. Tabel 3.




               Kedatangan pengunjung internasional telah menunjukkan tingkat pertumbuhan

yang kuat sejak tahun 2007 meskipun pada tahun ini tercatat penurunan kecil sekitar lebih dari

1% (lihat tabel 4). Gambaran kedatangan dari mancanegara ini bisa dihubungkan dengan

dukungan dari aliran pengunjung dari Asia dan ketergantungan Indonesia yang cukup besar


                                                                                           12
terhadap sumber pasar dari wilayah ini, termasuk juga perekonomian mereka yang relatif lebih

makmur dibandingkan Indonesia. Tujuan pariwisata di Indonesia juga semakin bergantung pada

pertumbuhan pasar domestik dan kekuatan kelas menengah Indonesia yang semakin

berkembang.(ILO, 2009)

              Gb. Tabel 4




              Sedangkan hasil dari BPS menunjukan bahwa sektor pariwisata menempati

peringkat ke dua setelah sector minyak dan gas bumi dalam upaya kontribusi terhadap devisa

Negara. Hal ini bisa dilihat dalam table 5 dibawah ini. (BPS, 2009)




                                                                                         13
               Gb. Tabel 5.




Pengaruh pariwisata terhadap ketersediaan lapangan pekerjaan

               Angka lapangan kerja bidang pariwisata tumbuh selama tahun 2007 dan 2008

pada angka rata-rata 3,8% per tahun. Tahun ini angka tersebut diperkirakan akan sedikit

menurun dengan penurunan signifikan lebih dari 8% tahun depan (lihat tabel 6). Terdapat

beberapa pola yang mirip, secara terpisah, untuk lapangan kerja langsung dan tidak langsung

(lihat tabel 7/8). (ILO,2009).

               Gb. Tabel 6. Lapangan kerja bidang pariwisata di Indonesia (langsung dan tidak

       langsung tahun 2007 – 2014.




                                                                                          14
Gb. Table 7 lapangan kerja langsung bidang pariwisata tahun 2007 – 2014




Table 8. Lapangan kerja tidak langsung dibidang pariwisata di Indonesia ( 2007 – 2014 )




                                                                                          15
              Pasar tenaga kerja Indonesia memiliki beberapa mekanisme perlindungan pekerja

terkuat dari semua negara di wilayah ASEAN. Hukum Ketenagakerjaan 2003 menetapkan

regulasi penggunaan kontrak tetap dan temporer, panduan upah minimum, prosedur PHK, dan

uang pesangon, diantara peraturan-peraturan lainnya. Meski demikian, persatuan perhotelan

Indonesia (FSPM) baru-baru ini mengindikasikan bahwa terdapat suatu tren yang sedang

berkembang dari posisi permanen ke posisi kontrak temporer.

              Pada tahun 2004 ini Departemen Kebudayaan dan Pariwisata meluncurkan

program ‟pengangguran nol‟ dalam satu tahun lulusan bagi pelajar yang setelah kelulusan dari

sekolah pariwisata. Sebagai bagian dari inisiatif ini, terdapat ‟Grand Recruitment‟ tahunan yang

dilaksanakan di berbagai lokasi di wilayah Indonesia.

              Terdapat banyak institusi pariwisata, dua diantara yang paling terkenal adalah

Sekolah Tinggi Pariwisata di Bandung dan Bali menerima sertifi kasi TedQual dari UNWTO.

Tetapi, salah satu masalah utama adalah memastikan para pekerja yang lulus dan

berketerampilan untuk mendapatkan pekerjaan di Indonesia dalam usaha untuk mengurangi

‟kekeringan otak pariwisata‟, karena banyak diantara mereka yang pergi ke luar negeri untuk

mencari pekerjaan dengan bayaran yang lebih tinggi.

              Industri pariwisata di wilayah Asia Pasifik mengalami kekurangan tenaga kerja

terampil. Lebih jauh lagi, ketidakmampuan sektor pariwisata untuk berkompetisi melawan

industri lain dalam hal upah dan kondisi kerja telah membatasi usaha rekrutmen dan

mempertahankan tenaga kerja terampil. Meski pemerintah Indonesia telah memberikan larangan

dan pajak bulanan (yang sepertinya digunakan untuk mendanai pelatihan bagi orang Indonesia)

pada orang asing yang dipekerjakan, kekurangan tenaga terampil telah menyebabkan

peningkatan jumlah organisasi yang mendatangkan tenaga kerja asing (termasuk orang Filipina



                                                                                             16
untuk posisi manajemen) untuk memenuhi kebutuhan mereka. Terlebih lagi, di Bali misalnya,

tidak hanya pekerjaan manajerial dan terampil yang diisi oleh para imigran, tetap juga migran

dari wilayah sekitar Indonesia juga dipekerjakan untuk posisi tak terampil dalam pariwisata.

               Pada tahun 2009 UNWTO melaksanakan sebuah studi untuk memeriksa

kekurangan sektor tenaga kerja bidang pariwisata di wilayah Asia Pasifi k. Tujuan dari studi ini

adalah untuk meninjau ulang pasar tenaga kerja pariwisata di sepuluh negara, termasuk

Indonesia. Riset ini dilaksanakan sebagai bagian kerjasama antara UNWTO dan ILO dalam

kerangka Agenda Lapangan Kerja dan Pekerjaan yang Layak dari PBB. Responden dari survei

opini utama UNWTO bagi Indonesia menyimpulkan poin-poin inti berikut ini:

•   Fluktuasi permintaan pariwisata (atas pengunjung internasional) memiliki dampak pada

    stabilitas dan pertumbuhan pasar tenaga kerja pariwisata di negara ini.

• Upah rendah dan kondisi kerja yang tidak disukai, begitu juga rendahnya halangan dalam

    memasuki pasar khususnya sektor informal, telah melemahkan sektor pariwisata formal.

    Konsekuensinya, organisasi pada sektor formal sering harus berkompetisi dengan harga

    rendah dan mempertahankan standar pelayanan tinggi dalam menghadapi skill manajemen

    yang berkembang lemah, misalnya.

•   Terdapat sebuah kebutuhan untuk standardisasi dan peningkatan kapasitas dalam sistem

    pendidikan dan pelatihan untuk memenuhi permintaan tenaga kerja terampil. Ini dilihat

    sebagai bukti kurangnya kapabilitas berbicara dalam bahasa Inggris diantara para staff

    pelayanan garis depan; dan,

• Permintaan atas tenaga kerja terlatih dalam industri pariwisata jauh melampaui penawaran dan

    dapat menghalangi pertumbuhan kedepan.




                                                                                               17
Prospek pariwisata Indonesia

               Pada tahun 2009 WTTC memeringkat Indonesia pada posisi 22 atas ukuran

„absolut‟ atas kontribusi ekonomi pariwisata terhadap PDB dari 181 negara yang dinilai (lihat

tabel 9). Meskipun demikian, dalam hal kontribusi „relatif ‟ terhadap perekonomian nasional

Indonesia berada pada peringkat 106. Pada tahun 2019, WTTC memperkirakan bahwa peringkat

Indonesia untuk ukuran ‟absolut‟ berada pada posisi 16 meskipun jatuh pada ukuran ‟relatif ‟nya

pada posisi 110.

               Dalam hal „permintaan total‟ dari pariwisata (termasuk belanja pemerintah,

investasi modal, ekspor, bisnis, dan pengeluaran pariwisata relevan lainnya), WTC

mengkalkulasikan bahwa pada tahun 2009 Indonesia akan meraih aktivitas ekonomi sebesar $AS

57,1 milyar dan ini akan meningkat (secara riil) menjadi AS$ 184,7 milyar pada tahun 2019.

Tahun 2019         proporsi Indonesia dalam wilayah Asia Tenggara untuk „permintaan total‟

aktivitas pariwisata adalah 17,92%, dan hal ini menempatkan Indonesia pada posisi 24 dalam

istilah „absolut‟ pada tabel global untuk kategori ini. Akan tetapi, pada 2019 Indonesia akan

meningkat ke posisi 16 dalam ukuran „absolut‟ sebagai hasil dari 6,1% pertumbuhan tahunan.

Dalam konteks Asia Tenggara, Indonesia berada di posisi pertama pada posisi ”absolut”,

meskipun berada pada peringkat ke delapan pada kontribusi ‟relatif ‟ terhadap perekonomian

nasional dan berada pada urutan ketiga pada ramalan pertumbuhan. Berikut gambar table 9

dibawah ini:




                                                                                            18
             Posisi terburuk secara komparatif untuk Indonesia adalah (pada posisi ke 124)

pada tahun 2009 dalam hal ukuran ‟relatif ‟ negara ini akan lapangan kerja industri langsung.

Pada tahun 2019 hal ini diperkirakan akan meningkat sedikit ke posisi 122. Ukuran ‟absolut‟

Indonesia pada ukuran global adalah pada posisi ke-6 baik pada tahun 2009 maupun 2019.

Konsekuensinya, jelas bahwa pariwisata Indonesia diperkirakan memiliki performa lapangan

kerja yang secara substansial lebih rendah bila dibandingkan dengan potensi yang dimilikinya.

             Ketika kontribusi pariwisata Indonesia terhadap total lapangan kerja (6,4% pada

2009) dibandingkan dengan perspektif       global, negara ini jatuh ke peringkat 116, jauh

dibelakang Filipina (10,1% dan ke-70), Vietnam (10,4% dan ke - 67) dan Thailand (11.1% dan

ke- 60), dari 181 negara yang disurvei. Sementara WTTC mengantisipasi bahwa posisi

Indonesia dalam tabel lapangan kerja pariwisata global akan meningkat ke posisi 91 (dengan

pertumbuhan 2,1% per tahun) dalam kurun 10 tahun, bisa dipahami bahwa negara ini masih

tertinggal dalam kemampuannya memaksimalkan penciptaan lapangan kerja bidang pariwisata.




                                                                                            19
                                             BAB IV

                                 KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

• Akan terdapat permintaan yang lebih besar bagi fl eksibilitas perjalanan, pemesanan pada

  saat-saat terakhir, dan pilihan perjalanan yang lebih independen dan bisa dipaketkan untuk

  permintaan yang spesifi k. Hal ini merefl eksikan pertumbuhan “concierge travel services”.

• Wisatawan semakin mencari pengalaman yang autentik dan menguntungkan („experiential

  travel‟, „real tourism‟ and „slow tourism‟) jika dibandingkan dengan pariwisata tradisional

  pariwisata „matahari, laut, dan pasir („sun, sea, and sand‟ );

• Permintaan pengunjung menjadi semakin terspesialisasi dengan kelompok-kelompok

  kepentingan yang semakin mengenal dan mengetahui daerah tujuan wisatanya. Hal ini juga

  berlaku pada fasilitas dengan, misalnya, pengembangan akomodasi khusus wanita di Timur

  Tengah;

• Terdapat lebih banyak penekanan kepada pariwisata yang lebih bertanggungjawab secara

  sosial, khususnya dalam hal kepedulian lingkungan (sustainable tourism dan eco-tourism)

  sejalan dengan keengganan untuk terbang dalam jangka waktu yang panjang. Terdapat pula

  hasrat untuk memastikan bahwa komunitas lokal menerima keuntungan dari pariwisata

  (community-based tourism);

• Krisis ekonomi global telah menajamkan permintaan untuk perjalanan yang lebih regional dan

  lokal („staycation‟) dimana para pengunjung memilih tujuan yang lebih mendekati rumah;




                                                                                           20
• Sejalan dengan pergerakan terhadap liburan yang semakin lokal adalah tumbuhnya popularitas

    liburan pendek yang tersebar sepanjang tahun.

• Pentingnya teknologi komputer (dan akses terhadap internet) telah membuat fl eksibilitas

    perjalanan yang lebih tinggi dengan lebih banyaknya kebebasan untuk para pelancong untuk

    mengatur liburan mereka sendiri. Hal ini membuka peluang bagi atraksi wisata yang tidak

    terikat dengan operator tur, untuk mengambil pangsa pasar yang lebih besar. Sebagai

    tambahan, teknologi informasi dan komunikasi (TIK) mampu memasok lebih banyak

    informasi yang lebih relevan dan baru.

•   Olahraga telah menjadi alat yang semakin populer dalam memperoleh penghasilan dari

    pengunjung, khususnya melalui even-even besar yang juga bisa digunakan sebagai alat

    pemasaran (seperti lari lintas alam atau even triathlon di lokasi yang sangat indah). WTM juga

    melihat antusiasme yang berkelanjutan di Asia terhadap golf dan perkembangan terkait golf

    yang diperkirakan terus berlanjut dengan meningkatnya pasar pengunjung dari Cina dan

    pertumbuhan kelas menengah; dan,

• Investasi pariwisata telah bergerak maju menuju pendekatan jangka pendek yang lebih fl

    eksibel dan bisa merespon permintaan pasar yang selalu berubah dan bisa memenuhi lebih

    banyak kebutuhan mendesak dari pengunjung. Jadi rancangan investasi pariwisata jangka

    panjang menjadi kurang relevan. Hal ini ditunjukkan dengan hotel-hotel modular atau ‟pop-

    up‟, yang mulai bermunculan di perekonomian negara maju, yang dibangun secara cepat

    dengan biaya rendah untuk memenuhi permintaan – permintaan jangka pendek.




                                                                                               21
Saran

               Terdapat sejumlah persyaratan utama yang relevan dengan penciptaan lapangan

kerja di sektor pariwisata, sebagai berikut:

• Kebutuhan untuk Pendekatan Terkoordinasi bagi Pengembangan Pariwisata: Hal ini relevan

  dengan perencanaan pariwisata pada tingkat nasional, provinsi, dan lokal. Perencanaan

  pariwisata sangat diperlukan, walaupun lebih pada skala lima tahunan, daripada pada skala

  sepuluh tahunan, sehingga infrastruktur bisa disediakan untuk mendukung atraksi wisata dan

  juga sehingga badan-badan administrasi dan sektor swasta bisa bekerja bersama. Tentunya,

  pendekatan kemitraan untuk mengembangkan proyek pariwisata akan jauh lebih efektif

  dalam menghasilkan lapangan kerja yang lebih berkelanjutan bila dibandingkan dengan

  inisiatif yang dilakukan secara terisolasi/sendiri-sendiri. Hal ini juga bisa diperluas dengan

  kerjasama yang lebih baik dengan negara-negara tetangga.

• Kebutuhan untuk Pengembangan Keterampilan: Secara jelas terdapat kekurangan keterampilan

  (shortage of    skills) yang bisa menghambat pertumbuhan pariwisata di negara tersebut.

  Pelatihan dimasa mendatang sebaiknya difokuskan pada pengembangan kemampuan

  manajerial, wirausaha (entepreneurship), teknologi informasi, kemampuan berbahasa Inggris,

  kemampuan bisnis umum, dan profesionalisme. Hal ini bisa dilakukan dengan kemitraan

  bersama dengan perhotelan, institusi penyedia pelatihan, dan Departemen Kebudayaan dan

  Pariwisata dan harus betujuan membawa kelompok tertinggal kedalam proses pelatihan.

• Kebutuhan untuk Kejelasan Investasi: Indonesia masih belum mampu menarik investasi sektor

 swasta sebagaimana yang seharusnya, dan ini menjadi semakin nyata bila dibandingkan

 dengan negara-negara tetangga yang lebih kecil. Hal ini bisa terjadi karena beberapa alasan,

 yaitu korupsi yang melembaga, proteksionisme, kurangnya kepercayaan pada proteksi hukum



                                                                                             22
    bagi para investor dan, tentunya, kurangnya kejelasan secara umum bagi para investor. Hal ini

    juga terjadi bagi mereka yang berinvestasi pada proyek-proyek pariwisata.

• Kebutuhan untuk Investasi Sektor Publik yang lebih Besar untuk Infrastruktur Pariwisata:

    Semakin banyak investasi sektor publik yang diperlukan untuk mendukung inisiatif sektor

    swasta, khususnya dalam meningkatkan akses jalan raya dan penyediaan utilitas (misalnya

    pasokan air, pengelolaan air, dan listrik). Secara ideal, hal ini sebaiknya lebih diarahkan

    kepada wilayah-wilayah tertinggal. Sebaiknya juga harus dipikirkan bahwa investasi semacam

    ini memiliki manfaat terkait masyarakat yang lebih luas.

•     Kebutuhan untuk Memastikan Penyebaran Manfaat Pariwisata: Apapun kemunculan

    peningkatan pariwisata di Indonesia perlu disebarkan pada bagian populasi yang lebih

    tertinggal, kepada masyarakat lokal dan secara geografi s ke wilayah-wilayah seperti Nusa

    tenggara, yang tidak menerima manfaat dari pembangunan ekonomi.

• Kebutuhan untuk Informasi yang Lebih Baik bagi Lapangan Kerja Pariwisata: Angka-angka

    lapangan kerja pariwisata saat ini ini dikumpulkan oleh statistik Indonesia, utamanya berasal

    dari Departemen Tenaga Kerja dan juga informasi dari Departemen Kebudayaan dan

    Pariwisata. Meski demikian, sudah diketahui secara umum bahwa angka-angka ini belum

    sempurna. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata mengindikasikan bahwa data statistik

    komprehensif pada lapangan kerja bidang pariwisata dilaksanakan pada pertengahan1980an.

    Sebagai tambahan, Indonesia masih harus mengimplementasikan kerangka TSA, yang juga

    bergantung pada angka-angka lapangan kerja pariwisata.

                Berikut ini adalah pendekatan kebijakan yang disarankan sehingga bisa

membantu memberikan dukungan terhadap penciptaan lapangan kerja terkait bidang pariwisata:




                                                                                              23
• Mendukung pengembangan terkoordinasi perencanaan pariwisata dan pendekatan kemitraan

    untuk proyek-proyek pariwisata;

• Mempromosikan strategi pembangunan sumber daya manusia yang komprehensif di sektor

    pariwisata;

•    Fokus kepada pembangunan keterampilan (skill) dalam sektor pariwisata mengikuti

    permintaan;

• Menyoroti kebutuhan akan kejelasan hukum bagi investor, baik investor domestik atau asing,

    yang ingin melakukan proyek-proyek pembangunan pariwisata;

• Mendukung investasi sektor publik dalam proyek-proyek terkait pariwisata;

• Mempromosikan investasi pariwisata pada daerah-daerah tertinggal di Indonesia dan pada

    tingkat masyarakat bawah; dan,

• Mendukung pengumpulan data statistik lapangan kerja pariwisata sebagai dasar yang lebih

    baik dalam perencanaan industri parwisata.




                                                                                         24
                                     DAFTAR PUSTAKA

De Kadt, Emanuel. 1979. Tourism Passport to Development: Perspective on the Social and

          Cultural Effect of Tourism in Developing Countries. Oxford University Press.

DR. Sapta Nirwandar, jurnal ekonomi: pembangunan Sektor Pariwisata Di Era Otonomi daerah.

World Travel and Tourism Council (2003), The Blueprint of New Tourism, WTTC, London

UNWTO World, Tourism Barometer (Volume 7, No.3, Oktober 2009).

                The Tourism Labour Market in the Asia-Pacific Region, November, 2009.

                News “Roadmap for Recovery”, Issue 3/2009.

                Prepared for the World Travel market by Euromonitor International. 2009

BPS, Indonesia., Devisa Pariwisata Terhadap Ekspor Komoditas Lainnnya 2004-2009.

                    BPS.go.id.

ILO, Asian Decent work decade 2006-2015, December 2009.

                 Labour and Social Trends in Indonesia 2009: Recovery and beyond through

                  decent work: Prepared by International Labour Organization Offi ce for

                  Indonesia, 2009.

UNDP, Leafl et „UNDP‟s Response to the Global Economic Crisis‟, 2009.

World Travel and Tourism Council, Travel and Tourism Economic Impact: Indonesia 2009.

                  Tourism Satelite Account Results for Indonesia (Travel and Tourism Activity

                  from 2000-2014).

Pedro Conceicao, Namsuk Kim and Yanchun Zhang, Economic Shocks and Human

Development: A Review of Empirical Findings. A working paper prepared for the Offie of

Development Studies (United Nations Development Programme), November 2009.




                                                                                          25
IBM Belgium in association with Ticon, TAC and DMI Associates for the European Union

Delegation in Indonesia Trade and Investment Between EU and Indonesia: Opportunities and

Obstacles (Part 1). July, 2009.

Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia, Statistik Lapangan Kerja




                                                                                     26
Lampiran:




            27
28
29
30
31
32

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:8787
posted:6/18/2010
language:Indonesian
pages:32