Docstoc

Bab-10 Fosil

Document Sample
Bab-10 Fosil Powered By Docstoc
					Bab 10. Fosil                                                                         Pengantar Geologi
_____________________________________________________________________________________________________




                                                                                   10
                                                                                      FOSIL

10.1 Pendahuluan

Berdasarkan asal katanya, fosil berasal dari bahasa latin yaitu “fossa” yang berarti "galian", adalah
sisa-sisa atau bekas-bekas makhluk hidup yang menjadi batu atau mineral. Untuk menjadi fosil, sisa-
sisa hewan atau tanaman ini harus segera tertutup sedimen. Oleh para pakar dibedakan beberapa
macam fosil. Ada fosil batu biasa, fosil yang terbentuk dalam batu ambar, fosil ter, seperti yang
terbentuk di sumur ter La Brea di California. Hewan atau tumbuhan yang dikira sudah punah tetapi
ternyata masih ada disebut fosil hidup dan ilmu yang mempelajari fosil adalah paleontologi.

Secara singkat definisi dari fosil harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 1. Sisa-sisa
organisme. 2. Terawetkan secara alamiah. 3. Pada umumnya padat /kompak/keras. 4. Berumur lebih
dari 11.000 tahun. Istilah "fosil hidup" adalah istilah yang digunakan suatu spesies hidup yang
menyerupai sebuah spesies yang hanya diketahui dari fosil. Beberapa fosil hidup antara lain ikan
coelacanth dan pohon ginkgo. Fosil hidup juga dapat mengacu kepada sebuah spesies hidup yang
tidak memiliki spesies dekat lainnya atau sebuah kelompok kecil spesies dekat yang tidak memiliki
spesies dekat lainnya. Contoh dari kriteria terakhir ini adalah nautilus. Mempelajari evolusi tidak bisa
meninggalkan fosil. Dahulu teori evolusi banyak diuji dengan melihat fosil-fosil yang merupakan
peninggalan makhluk hidup pada masa lalu. Tetapi perlu diketahui juga bahwa Charles Darwin ketika
membuat buku “the origin of species” tidak diawali dengan fosil namun lebih banyak memanfaatkan
fenomena burung-burung di Galapagos. Perkembangan teori evolusi saat ini sudah menggunakan
bermacam-macam metode mutahir, tetapi jelas tidak hanya kearah masa kini dengan menafaatkan
DNA saja.

Fosil masih merupakan alat terbaik dalam mempelajari, mengkaji, dan menguji teori evolusi. Apa sih
sebenarnya fosil itu ? Apa saja jenisnya, bagaimana terbentuknya ? Paleontologi adalah cabang ilmu
geologi yang mempelajari fosil. Seluk beluk fosil dipelajari oleh seorang paleontologist. Fosil sendiri
adalah jejak kehidupan masa lalu. Banyak yang mengira kalau ketemu fosil Dinosaurus itu berupa
tulang yang utuh, namun sebenarnya yang sering ditemukan itu hanyalah bagian dari tulang, atau
tulang-tulang yang berserakan.

Dalam ilmu geologi, tujuan mempelajari fosil adalah: (a). untuk mempelajari perkembangan
kehidupan yang pernah ada di muka bumi sepanjang sejarah bumi; (b). mengetahui kondisi geografi
dan iklim pada zaman saat fosil tersebut hidup; (c). menentukan umur relatif batuan yang terdapat
di alam didasarkan atas kandungan fosilnya; (d). untuk menentukan lingkungan pengendapan batuan
didasarkan atas sifat dan ekologi kehidupan fosil yang dikandung dalam batuan tersebut ; (e). Untuk
korelasi antar batuan batuan yang terdapat di alam (biostratigrafi) yaitu dengan dasar kandungan
fosil yang sejenis/seumur.




                                   Copyright @2009 by Djauhari Noor                                  235
Bab 10. Fosil                                                                         Pengantar Geologi
_____________________________________________________________________________________________________



10.2 Tipe dan Jenis Fosil
Menurut ahli paleontologi ada beberapa jenis fosil tetapi secara umum ada dua macam jenis fosil
yang perlu diketahui, yaitu: fosil yang merupakan bagian dari organisme itu sendiri dan fosil yang
merupakan sisa-sisa aktifitasnya.




             Fosil hasil cetakan bagian dalam                                  Fosil hasil cetakan bagian luar




         Fosil hasil cetakan bagian dalam dan luar                           Fosil hasil cetakan bagian dalam




            Fosil dari hasil organismenya sendiri                           Fosil hasil dari organismenya sendiri


                 Gambar 10.1 Berbagai jenis/tipe fosil, baik fosil sebagai hasil cetakan bagian dalam
                             (internal mold), fosil cetakan bagian luar (external mold), ataupun fosil
                             yang berasal dari organismenya sendiri.




                                         Copyright @2009 by Djauhari Noor                                           236
Bab 10. Fosil                                                                         Pengantar Geologi
_____________________________________________________________________________________________________


1. Tipe fosil yang berasal dari organismenya sendiri

Tipe pertama ini adalah binatangnya itu sendiri yang terawetkan/tersimpan, dapat berupa tulangnya,
daun-nya, cangkangnya, dan hampir semua yang tersimpan ini adalah bagian dari tubuhnya yang
“keras”. Dapat juga berupa binatangnya yang secara lengkap (utuh) tersipan. misalnya fosil
Mammoth yang terawetkan karena es, ataupun serangga yang terjebak dalam amber (getah
tumbuhan).

2. Tipe fosil yang merupakan sisa-sisa aktifitasnya

Fosil jenis ini sering juga disebut sebagai trace fosil (fosil jejak), karena yang terlihat hanyalah sisa-
sisa aktifitasnya. Jadi ada kemungkinan fosil itu bukan bagian dari tubuh binatang atau tumbuhan itu
sendiri. Penyimpanan atau pengawetan fosil cangkang dapat berbentuk cetakan, berupa cetakan
bagian dalam (internal mould) dicirikan bentuk permukaan yang halus, atau external mould dengan
ciri permukaan yang kasar. Keduanya bukan binatangnya yang tersiman, tetapi hanyalah cetakan dari
binatang atau organisme itu.

10.3 Hukum Suksesi Fauna (Fosil)
Ada tiga prinsip utama yang perlu diketahui dalam mempelajari fosil, yaitu: (1). Fosil mewakili sisa-
sisa kehidupan dari suatu organisme, (2). Hampir semua fosil yang ditemukan dalam batuan
merupakan sisa-sisa organisme yang sudah punah dan umumnya merupakan spesies yang masa
hidupnya tidak begitu lama, (3). Perbedaan spesies fosil akan dijumpai pada batuan yang berbeda
umurnya dan hal ini disebabkan karena kondisi lingkungan bumi mengalami perubahan. Apabila kita
telusuri fosil-fosil yang terkandung dalam lapisan batuan, mulai dari lapisan yang termuda hingga ke
lapisan yang tertua, maka kita akan sampai pada suatu lapisan dimana salah satu spesies fosil tidak
ditemukan lagi. Hal ini menandakan bahwa spesies fosil tersebut belum muncul (lahir) atau spesies
fosil tersebut merupakan hasil evolusi dari spesies yang lebih tua atau yang ada pada saat itu.
Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa kemunculan suatu spesies merupakan hasil evolusi dari
spesies sebelumnya dan hal ini dapat kita ketahui melalui pengamatan fosil-fosil yang terekam di
dalam lapisan-lapisan batuan sepanjang sejarah bumi.




                   Gambar 10.2 Kemunculan dari beberapa kelompok binatang dan tumbuh-tumbuhan
                               dalam kurun waktu geologi, mulai dari zaman Kambrium hingga ke
                               zaman Kuarter.

Apabila penelusuran kita lanjutkan hingga ke lapisan batuan yang paling tua, maka kita akan sampai
pada suatu keadaan dimana tidak satupun fosil ditemukan, apakah itu fosil yang berasal dari reptil,
burung, mamalia, vertebrata berkaki empat, tumbuhan darat, ikan, cangkang, dan atau binatang
lainnya. Berdasarkan hal tersebut, maka ketiga prinsip utama diatas dapat kita sintesakan menjadi




                                    Copyright @2009 by Djauhari Noor                                 237
Bab 10. Fosil                                                                         Pengantar Geologi
_____________________________________________________________________________________________________


satu prinsip yang berlaku secara umum yang disebut sebagai “Hukum Suksesi Fosil (Hukum Suksesi
Fauna)”. Pada gambar 10.2 diperlihatkan kemunculan dari beberapa spesies dari kelompok binatang
dan tumbuh-tumbuhan dalam rentang umur bumi, yaitu sejak zaman Kambrium hingga zaman
Kuarter. Berbagai jenis binatang dan tumbuhan yang ditemukan sebagai fosil telah mengalami
perubahan selama kurun waktu dari sejarah bumi. Ketika kita menemukan fosil yang sama dalam
batuan yang lokasinya berbeda, maka kita tahu bahwa batuan tersebut berumur sama. Bagaimana
para ilmuwan menjelaskan perubahan yang terjadi di bumi melalui jejak-jejak fosil yang dijumpai
dalam batuan? Pada awalnya penjelasan terhadap perubahan dan pergantian berbagai jenis spesies
yang hidup dimuka bumi dasarkan atas pemikiran tentang suksesi bencana-alam atau katatrofisme
yang secara periodik merusak dan memusnahkan lingkungan hidup suatu organisme. Setelah
peristiwa katatrofisme maka akan muncul kehidupan yang baru lagi.

Sebagai ilustrasi, para ahli mempelajari fosil ancestor (fosil nenek-moyang) dan fosil descendant (fosil
keturunannya) disepanjang umur geologi. Sebagai contoh pada gambar 10.3 diperlihatkan fosil jenis
Archaeopteryx lithographica yang dijumpai pada batuan berumur Jura. Fosil ini tersusun dari rangka
reptil yang didalamnya juga memiliki jari-jari dengan cakar yang berada pada sayapnya, susunan
tulang belakangnya menerus hingga ke bagian ekor, serta memiliki gigi, dan seluruh tubuhnya
ditutupi oleh bulu. Kebanyakan dari fosil reptil yang dijumpai pada batuan berumur Jura atau bahkan
yang lebih tua dari Jura, ternyata hanya fosil Archaeopteryx lithographica merupakan fosil yang
diketahui memiliki bulu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa fosil Archaeopteryx lithographica
memiliki hubungan antara reptil dan burung atau burung yang berasal dari keturunan reptil.




                  Gambar 10.3   Fosil Archaeopteryx lithographica, berumur Jura, memiliki rangka
                                reptil yang didalamnya memiliki jari-jari dengan cakar pada
                                sayapnya, susunan tulang belakang yang menerus hingga ke
                                bagian ekor, serta memiliki gigi, akan tetapi tubuh binatang ini
                                ditutupi oleh bulu.


Pada pertengahan abad ke 19, Charles Darwin dan Alfred Wallace mengajukan suatu teori tentang
spesies yang berasal dari kehidupan yang lebih tua akan memberi keturunan yang lebih kuat kepada
spesies yang lebih muda. Menurut Darwin, perubahan ini disebut sebagai evolusi spesies, yang
dipengaruhi oleh 4 proses, yaitu: (1). variasi (variation), (2). re-produksi (reproduction), (3).
persaingan    (competition), dan (4). daya-tahan (survival) dari spesies-spesies yang mampu




                                   Copyright @2009 by Djauhari Noor                                  238
Bab 10. Fosil                                                                         Pengantar Geologi
_____________________________________________________________________________________________________


beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi pada lingkungan hidupnya. Teori evolusi Darwin ini
berlaku untuk semua makluk hidup, baik untuk yang masih hidup maupun yang sudah menjadi fosil.
Penjelasan teori Darwin telah memberi sumbangan pemikiran bagi ilmu pengetahuan, khususnya
yang berkaitan dengan suksesi yang terjadi pada suatu spesies yang teramati dari fosilnya yang
terekam dan terawetkan dalam batuan. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, maka
teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli sebelumnya kemudian berkembang dan terkoreksi, hal ini
mengingat bahwa teori dibuat atas dasar fakta dan pengamatan. Dengan adanya pengetahuan dan
informasi baru, maka suatu teori dapat berkembang dan berubah, demikian halnya dengan teori
evolusi yang dikemukakan oleh Charles Darwin. Informasi informasi baru yang mendukung konsep
dasar dari teori Darwin adalah bahwa dengan berjalannya waktu maka seluruh kehidupan akan
mengalami berubahan dan spesies yang lebih tua merupakan nenek moyang (ancestor) dari spesies
yang lebih muda (descendant).

Spesies adalah salah satu yang paling mendasar dari klasifikasi kehidupan. Pada gambar 10.4
diilustrasikan perkembangan (evolusi) dari satu spesies fosil yang memperlihatkan hubungan antara
spesies asalnya dengan spesies turunannya (ancestor-descendant). Pada gambar dapat kita lihat
bentuk perubahan dari satu spesies sepanjang umur geologi, yaitu mulai dari umur yang tertua, yaitu
Kapur Akhir (nomor:6), Paleosen, Eosen, Oligosen, Miosen, dan yang termuda umur Pliosen
(nomor:1). Sebagai catatan dapat dilihat bagaimana bentuk bagian belakang (posterior) kerang
menjadi lebih membulat pada spesies yang lebih muda, dan bagian dari kedua cangkang shell yang
memiliki jaringan pengikat (ligament) yang lebih lebar. Para ahli paleontologi memberi perhatian
terhadap bentuk cangkang (shell) serta anatomi detil dari bagian yang terawetkan sebagai penciri
dari cangkangnya. Pada gambar, nomor pada kolom disebelah kiri menunjukkan umur geologi, yaitu
1 = Pliosen, 2 = Miosen, 3 = Oligosen, 4 = Eosen, 5 = Paleosen, dan 6 = Kapur Akhir. Hukum
suksesi fauna (fosil) sangat penting bagi para ahli geologi yang ingin mengetahui umur batuan saat
melakukan penelitian. Kehadiran fosil pada suatu singkapan batuan atau batuan yang berasal dari inti
bor dapat dipakai untuk menentukan umur batuan secara akurat. Kajian yang rinci dari berbagai
macam jenis batuan yang diambil di berbagai lokasi akan menghasilkan beberapa jenis fosil yang
mempunyai kisaran hidup yang relatif pendek dan fosil jenis ini disebut sebagai fosil indek.




              Gambar 10.4 Perkembangan fosil yang memerlihatkan hubungan fosil asal dengan fosil
                          turunannya (ancestor-descendant) pada tingkat spesies. Fosil-fosil tersebut
                          diambil dari laut Atlantik yang memperlihatkan bagaimana cara satu spesies
                          berubah sepanjang waktu yang dilaluinya.

Saat ini, binatang dan tumbuhan yang hidup di lingkungan laut memiliki perbedaan yang sangat
mencolok dengan yang hidup di lingkungan darat, demikian juga dengan binatang atau tumbuhan




                                     Copyright @2009 by Djauhari Noor                                   239
Bab 10. Fosil                                                                         Pengantar Geologi
_____________________________________________________________________________________________________


yang hidup di salah satu bagian yang ada di lingkungan laut atau di lingkungan darat akan berbeda
pula dengan binatang atau tumbuhan yang hidup di lokasi lainnya pada lingkungan laut ataupun
darat. Hal ini menjadi suatu tantangan bagi para ahli untuk mengenalinya dalam batuan yang
umurnya sama ketika salah satu batuan diendapkan di lingkungan darat dan batuan lainnya
diendapkan pada lingkungan laut dalam. Para ahli harus mempelajari fosil fosil yang hidup di berbagai
lingkungan sehingga diperoleh suatu gambaran yang lengkap dari binatang ataupun tumbuhan yang
hidup pada periode waktu tertentu di masa lampau.

Batuan yang mengandung fosil dipelajari baik di lapangan maupun di laboratorium. Pekerjaan
lapangan dapat dilakukan dimana saja di dunia ini. Di laboratorium, sampel batuan yang akan di
analisa harus terlebih dahulu disiapkan melalui suatu prosedur baku. Persiapan sampel batuan yang
akan di analisa bisa memakan waktu 1 hari, 1 minggu atau 1 bulan. Sekali fosil diambil dari batuan,
maka fosil tersebut dapat dipelajari atau ditafsirkan. Sebagai tambahan, bahwa batuan sendiri
sebenarnya menyediakan banyak informasi yang berguna tentang lingkungan dimana fosil tersebut
terbentuk. Fosil dapat dipakai untuk mengenal batuan yang berbeda umurnya. Ilmu yang
mempelajari lapisan batuan dan kandungan fosilnya disebut Biostratigrafi.




                Gambar 10.5    Korelasi batuan berdasarkan kandungan fosil yang terdapat pada
                               batuan yang letaknya saling berjauhan.


10.4 Batuan dan Perlapisan

Pada hakekatnya untuk mempelajari sejarah bumi kita secara tidak langsung mempelajari rekaman
dari peristiwa-peristiwa masa lalu yang tersimpan dan terawetkan di dalam batuan. Perlapisan batuan
disini dapat diumpamakan sebagai halaman-halaman dari suatu buku. Hampir semua singkapan
batuan yang ada dipermukaan bumi adalah batuan sedimen. Sebagaimana diketahui bahwa batuan
sedimen terbentuk dari partikel-partikel batuan yang lebih tua yang hancur akibat gerusan air atau
angin. Partikel-partikel yang berukuran kerikil, pasir, dan lempung ini melalui media air atau angin
diangkut dan kemudian diendapkan di dasar-dasar sungai, danau, atau lautan. Endapan sedimen
kemungkinan dapat mengubur binatang atau tanaman yang masih hidup atau yang sudah mati di
dasar danau atau lautan. Dengan berjalannya waktu serta sering terjadinya perubahan lingkungan
kimiawinya, maka endapan sedimen ini kemudian akan berubah menjadi batuan sedimen dan rangka
binatang dan tumbuhan akan menjadi fosil.

Pada awal pertengahan tahun 1600-an, seorang ilmuwan bangsa Denmark yang bernama Nicholas
Steno mempelajari posisi relatif pada batuan-batuan sedimen. Dia mendapatkan bahwa partikel-
partikel yang mempunyai berat jenis yang besar yang berada dalam suatu larutan fluida akan
mengendap terlebih dahulu ke bagian bawah sesuai dengan urutan berat jenisnya yang lebih besar.




                                    Copyright @2009 by Djauhari Noor                                 240
Bab 10. Fosil                                                                         Pengantar Geologi
_____________________________________________________________________________________________________


Partikel yang besar dan memiliki berat jenis yang besar akan diendapkan pertama kali sedangkan
partikel yang berukuran lebih kecil dan lebih ringan akan terendapkan belakangan. Adanya perpedaan
ukuran butir (partikel) atau komposisi mineral akan membentuk suatu perlapisan. Perlapisan pada
batuan sedimen pada umumnya dapat dilihat dengan jelas, karena batuan sedimen dibangun dari
susunan partikel-partikel yang membentuk pola laminasi dan selanjutnya membentuk perlapisan
yang cukup tebal. Setiap urutan (sekuen) lapisan batuan mempunyai arti bahwa lapisan bagian
bawah akan selalu lebih tua dibandingkan dengan lapisan diatasnya. Hal ini dikenal sebagai “Hukum
Superposisi”. Hukum superposisi merupakan dasar untuk penafsiran sejarah bumi, karena disetiap
lokasi akan dicirikan oleh umur relatif dari lapisan-lapisan batuan dan fosil yang ada didalamnya.

Perlapisan batuan terbentuk ketika partikel partikel yang diangkut oleh media air atau angin
melepaskan diri dan mengendap di dasar cekungan. Hukum Steno “Original Horizontality”
menyatakan bahwa hampir semua sedimen, pada saat diendapkan untuk pertama kalinya dalam
posisi yang horisontal. Meskipun demikian, banyak perlapisan batuan sedimen yang kita jumpai di
alam tidak lagi dalam posisi horisontal atau telah mengalami perubahan dari kondisi aslinya.
Perubahan posisi lapisan yang sudah tidak horisontal lagi pada umumnya terjadi selama periode
pembentukan pegunungan (gambar 10.9). Perlapisan batuan disebut juga sebagai strata (berasal dari
bahasa Latin) dan stratigrafi adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang strata. Oleh karena itu
foskus pelajaran stratigrafi pada mempelajari karakteristik dari perlapisan batuan, termasuk di
dalamnya mempelajari bagaimana hubungan antara batuan dengan waktu.

10.5 Fosil dan Batuan
Untuk dapat menyatakan umur suatu lapisan batuan, maka kita harus mempelajari fosil-fosil yang
ada pada batuan tersebut. Pada hakekatnya, fosil menyediakan bukti-bukti dan peristiwa-peristiwa
penting yang pernah terjadi di bumi serta kapan peristiwa tersebut berlangsung.




                           Gambar 10.6 Kemunculan organisme sepanjang umur bumi.




                                   Copyright @2009 by Djauhari Noor                                  241
Bab 10. Fosil                                                                         Pengantar Geologi
_____________________________________________________________________________________________________


Istilah fosil seringkali mengingatkan orang pada Dinosaurus. Dinosaurus yang kita kenal saat ini
sebenarnya adalah gambar-gambar yang hanya ada di dalam buku, film dan program televisi, serta
tulang belulang yang dipajang di banyak Musium. Reptil Dinosaurus merupakan binatang yang
mendominasi lebih dari 100 juta tahun diatas bumi, mulai dari zaman Trias hingga Akhir zaman Kapur.
Banyak diantara Dinosaurus berukuran relatif lebih kecil, namun demikian pada pertengahan Masa
Mesozoikum, beberapa spesies Dinosaurus memiliki bobot hingga mencapai 80 ton. Sekitar 65 juta
tahun yang lalu (zaman Kapur), seluruh Dinosaurus yang ada di bumi punah. Alasan yang mendasari
kepunahan Dinosaurus secara cepat masih menjadi perdebatan di kalangan para ahli. Meskipun
semua orang tertarik pada Dinosaurus, ternyata Dinosaurus hanya merupakan bagian terkecil saja
dari jutaan spesies yang hidup atau pernah hidup di muka bumi. Dalam kenyataannya bahwa fosil
yang tercatat paling melimpah jumlahnya dan mendominasi di muka bumi adalah fosil binatang yang
memiliki cangkang (shell) serta fosil dari sisa-sisa tumbuhan dan binatang yang berukuran sangat
kecil. Sisa-sisa binatang atau tumbuhan tersebut tersebar luas didalam batuan sedimen dan
merupakan fosil yang paling banyak dipelajari oleh para ahli paleontologi.

Pada abad ke 18 dan 19, seorang ahli geologi berkebangsaan Inggris William Smith dan ahli
paleontologi Georges Cuvier dan Alexandre Brongniart dari Perancis, menemukan batuan-batuan
yang berumur sama serta mengandung fosil yang sama pula, walaupun batuan-batuan tersebut
letaknya terpisah cukup jauh. Mereka kemudian menerbitkan peta geologi berskala regional dari
daerah yang batuannya mengandung fosil yang sama. Melalui pengamatan yang teliti pada batuan
serta fosil yang dikandungnya, mereka juga mampu mengenali batuan-batuan yang umurnya sama
pada lokasi yang berlawanan di selat Inggris.




 Gambar 10.7. Singkapan batugamping berlapis yang kaya akan cangkal (shell), berumur Ordovisium, tersingkap di
              Lexington, Kentucky. Lapisan horisontal ini diendapkan sekitar 450 juta tahun yang lalu (gambar kiri) dan
              gambar Singkapan batugamping berumur Silur, tersingkap di pegunungan Arbuckle dekat Ardmore,
              Oklahoma, USA., yang memperlihatkan bentuk kemiringan lapisan yang hampir tegak. Perubahan arah
              kemiringan lapisan yang asalnya horizontal disebabkan oleh proses orogenesa / pembentukan pegunungan
              (gambar kanan).



William Smith juga mampu menerapkan pengetahuannya tentang fosil dalam setiap pekerjaan secara
praktis di lapangan. Sebagai seorang teknisi, William Smith adalah orang yang berhasil membangun
sebuah kanal di Inggris yang kondisi medannya tertutup oleh vegetasi yang cukup lebat serta
singkapan batuan yang sangat sedikit. Untuk itu ia harus mengetahui batuan batuan apa saja yang
ada di dalam dan diatas bukit, karena melalui bukit inilah kanal akan dibangun. William Smith dapat
mengetahui berbagai jenis batuan yang akan dijumpai dibawah permukaan dengan cara mengkaji
fosil-fosil yang diperoleh dari batuan-batuan yang tersingkap di lereng lereng bukit dengan cara
menggali lubang kecil untuk mengambil fosil. Dengan mengetahui jenis batuan yang ada, maka dia
mampu memperkirakan biaya dan alat apa yang akan dipakai untuk pekerjaan tersebut. Seperti
halnya dengan William Smith dan lainnya, pengetahuan suksesi dari bentuk kehidupan yang
terawetkan sebagai fosil sangat berguna untuk memahami bagaimana dan kapan suatu batuan
terbentuk.




                                        Copyright @2009 by Djauhari Noor                                           242
Bab 10. Fosil                                                                         Pengantar Geologi
_____________________________________________________________________________________________________




                                             RINGKASAN


      Fosil adalah sisa-sisa organisme yang telah menjadi batu dan harus memenuhi persyaratan
      yaitu merupakan sisa-sisa organisme, terawetkan secara alamiah, pada umumnya padat
      /kompak/keras, dan berumur lebih dari 11.000 tahun.

      Hukum Suksesi Fauna (Fosil) adalah hukum yang menyatakan bahwa sepanjang umur
      bumi, mulai dari zaman Kambrium hingga Kuarter telah terjadi suatu proses perubahan dalam
      kehidupan organisme, perubahan ini menyangkut evolusi yang terjadi pada organisme
      (kepunahan dan kemunculan suatu organisme) sebagai akibat adanya perubahan lingkungan
      hidup yang terjadi di bumi. Bukti-bukti terjadinya proses evolusi pada organisme dapat
      dipelajari melalui fosil-fosil yang terdapat pada bebatuan, mulai dari batuan yang paling tua
      hingga yang termuda.

      Kegunaan fosil dalam geologi:

      a) Untuk mempelajari perkembangan kehidupan yang pernah ada di muka bumi sepanjang
         sejarah bumi.

      b) Mengetahui kondisi geografi dan iklim pada zaman saat fosil tersebut hidup.

      c) Menentukan umur relatif batuan yang terdapat di alam didasarkan atas kandungan
         fosilnya.

      d) Untuk menentukan lingkungan pengendapan batuan didasarkan atas sifat dan ekologi
         kehidupan fosil yang dikandung dalam batuan tersebut.

      e) Untuk korelasi antar batuan batuan yang terdapat di alam (biostratigrafi) yaitu dengan
         dasar kandungan fosil yang sejenis/seumur.



                                      PERTANYAAN ULANGAN

 1.      Jelaskan pengertian dan definisi fosil ? dan Sebutkan pula jenis-jenis fosil ?

 2.      Jelaskan apa yang saudara ketahui tentang Hukum Suksesi Fauna?

 3.      Jelaskan apa itu fosil ancestor dan fosil descendant ?

 4.      Jelaskan hubungan antara fosil dan batuan ?

 5.      Jelaskan fungsi fosil dalam korelasi stratigrafi ?




                                   Copyright @2009 by Djauhari Noor                                  243

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:5149
posted:6/18/2010
language:Indonesian
pages:9