KULIT PISANG SEBAGAI PAKAN ITIK JANTAN PEDAGING by Hakim_

VIEWS: 14,310 PAGES: 4

									                                     BAB I

                              PENDAHULUAN



1.1 Latar Belakang

   Itik atau dalam istilah bahasa jawa disebut Bebek dimana terus menerus

didomestikasi oleh manusia hingga itik yang diperlihara sekarang yang disebut

Anas domesticus (ternak itik).Nenek moyang itik berasal dari Amerika Utara

merupakan itik liar (Anas moscha) atau Wild mallard.

   Pakan memberikan kontribusi sebesar 70 % terhadap biaya produksi

pemeliharaan ternak itik. Sehingga itu perlu disiasati dengan pencarian bahan-

bahan yang banyak tersedia di wilayah tertentu. Pada intinya pakan yang baik

mengandung gizi yang seimbang antara protein (asam amino terutama methionin

dan lisyn), karbohidrat (energi) dan garam-garam mineral.

   Kebiasaan peternak menggunakan pakan produksi pabrik atau pakan

komersial yang menghabiskan 60-70% biaya produksi. Hal ini merupakan beban

yang cukup berat apabila itik yang dipelihara hanya berproduksi rata-rata kurang

dari 60%. Keadaaan ini memacu peternak untuk menyusun ransum itik sendiri.

   Banyak bahan pakan alternatif (bahan pakan pilihan) yang bisa digunakan,

namun dalam mencari bahan yang akan dipakai hendaknya berpegang pada

kualitas dan kandungan zat makanan yang diperlukan itik. Pilihan bahan seperti

Dedak Padi, Singkong, Bekicot, Keong Mas, Cangkang, lkan Rucah, ganggang,

bahkan sisa-sisa roti perusahaan, sisa nasi dan kulit pisang bisa menjadi sumber

pakan alternatif.




                                       1
   Kulit pisang merupakan limbah yang cukup banyak dengan proporsi bagian

kurang lebih sepertiga dari buah pisang yang belum dikupas. Potensi limbah

pisang berupa kulit pisang yang dihasilkan sangat besar. Tapi umumnya kulit

pisang belum banyak dimanfaatkan melainkan hanya dibuang sebagai sampah

padahal menurut Munadjim(1988), dari sisa kandungan zat makanan kulit pisang

cukup potensial untuk dimanfaatkan.

   Kulit pisang banyak sekali manfaatnya salah satunya sebagai bahan pakan

alternatif untuk ternak, selain itu kulit pisang dapat diekstrak kandungan pektin

didalamnya. Pektin merupakan senyawa hidrokoloid karbohidrat yang terdapat

pada jaringan tanaman muda dan buah. Kulit pisang dibuang begitu saja, karena

orang hanya mengkonsumsi atau memakan buah pisangnya dan membuang

kulitnya karena dianggap sebagai sampah (limbah buah pisang). Apabila limbah

kulit pisang tersebut dibiarkan begitu saja maka tidak menutup kemungkinan

untuk terjadinya penumpukan sampah atau limbah kulit pisang atau bahkan akan

membuat orang jatuh karena terpelesat kulitnya.

   Kulit pisang mengandung kabohidrat cukup tinggi yaitu 18,50% sehingga

dapat digunakan untuk pengganti sebagian jagung atau dedak dalam pakan. Hasil

analisis kimia menunjukkan bahwa komposisi kulit pisang banyak mengandung

air yaitu 68,90% dan karbohidrat sebesar 18,50%. padahal kulit pisang memiliki

kandungan kabohidrat yang masih baik digunakan sebagai pengganti bahan pakan

konvensional (jagung) untuk menekan biaya produksi. Kandungan zat makanan

kulit pisang Ambon menurut Hanum(1989), kadar air 68,90%; pati 8,17%; serat

kasar 12,66%. Kandungan protein kasar berkisar antara 6,52%(Hanum, 1989)

sampai 9,35%(Hermanto dan Mashudi, 1989)



                                       2
   Melihat keadaan diatas, perlu adanya penelitian untuk mengetahui lebih lanjut

potensi limbah kulit pisang untuk dijadikan sebagai bahan pakan alternatif yang

digunakan dalam pakan untuk meningkatkan penampilan produksi itik.



1.2 Perumusan Masalah

   Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah berapa tingkat

penggunaan kulit pisang untuk bahan pakan itik terhadap penampilan produksi

yang meliputi konsumsi pakan, pertambahan berat badan, konversi pakan dan

IOEF (Income Over Feed Cost).



1.3 Tujuan Penelitian

       Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efek penambahan

limbah kulit pisang terhadap penampilan produksi itik yang meliputi konsumsi

pakan, pertambahan berat badan dan konversi pakan.



1.4 Kegunaan Penelitian

       Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pakan

alternatif untuk meningkatkan penampilan produksi itik dan dapat diaplikasikan

pada peternak itik sebagai bahan pakan alternatif.



1.5 Kerangka Pikir

       Kulit pisang sering dibuang begitu saja di sembarang tempat. Namun, kulit

pisang tidak bisa dianggap remeh. Kulit pisang yang sering dianggap barang tak

berharga itu, ternyata memiliki kandungan vitamin C, B, kalsium, protein, dan



                                         3
juga lemak yang cukup. Melihat kandungan zat bermanfaat yang cukup tinggi dari

bahan kulit pisang perlu ada pengolahan lebih lanjut untuk membuat tepung dari

kulit pisang.(Anonymus. 2008)

   Beberapa penelitian mengenai kandungan zat makanan dalam kulit pisang

menunjukkan bahwa di dalam kulit pisang ternyata memiliki kandungan vitamin

C, B, kalsium, protein, dan juga lemak yang cukup. Hasil analisis kimia

menunjukkan bahwa komposisi kulit pisang banyak mengandung air yaitu 68,90

% dan karbohidrat sebesar 18,50 %. Hasil penelitian tim Universitas Kedokteran

Taichung Chung Shan, Taiwan, memperlihatkan bahwa ekstrak kulit pisang

ternyata berpotensi mengurangi gejala depresi. Sehingga dari hasil penilitian ini

diharapkan menghasilkan konsumsi pakan, pertambahan bobot badan dan efisiensi

penggunaan pakan terbaik pada itik fase starter.( Noviagustin, Riin Sandra Yanti

dan Utin Febri Yantika. 2008)

       Informasi mengenai pemanfaatan kulit pisang dalam pakan terhadap

penampilan produksi itik Mojosari belum ada sehingga diperlukan penelitian

tentang efek penambahan limbah kulit pisang di dalam pakan terhadap

penampilan produksi itik Mojosari.



1.6 Hipotesis

       Penambahan limbah kulit pisang dalam pakan dapat mempengaruhi

penampilan produksi itik jantan Mojosari terhadap konversi pakan, bobot badan,

konsumsi pakan dan IOEF(Income Over Feed Cost).




                                       4

								
To top