modul desain training by berypie

VIEWS: 3,112 PAGES: 23

									                              1. PENDAHULUAN




1.1   Latar belakang dan permasalahan

          Pada masa sekarang ini persaingan di dalam dunia kerja sangatlah ketat.

      Untuk itu perlu melakukan suatu perbaikan sumber daya manusianya dan juga

      memantapkan keberadaan organisasinya. Sumber daya manusia dalam suatu

      perusahaan diharapkan mempunyai daya saing yang tinggi dan menunjukkan

      produktifitas yang tinggi sehingga perusahaan dapat berkembang dan

      mempunyai daya saing yang tinggi. Salah satu cara perbaikan sumber daya

      manusia adalah dengan mengadakan pelatihan (training).

          Dalam bidang medis tenaga perawat yang terampil sangat dibutuhkan

      disejumlah rumah sakit. Perawat merupakan pekerjaan yang tidak mudah,

      karena dibutuhkan kemampuan yang khusus dan harus menempuh pendidikan

      terlebih dahulu. Dengan tuntutan tugas yang tidak hanya membantu pekerjaan

      dokter, tugas-tugas perawat antara lain memberikan pelayanan kepada pasien

      dan keluarga pasien secara profesional. Selain itu persaingan antara perawat

      senior dengan yang junior menimbulkan GAP diantara masing-masing

      kelompok sehingga kurang adanya kerjasama tim yang kompak. Untuk itu

      motivasi kerja yang tinggi dan kerjasama tim yang baik sangat dibutuhkan

      demi meningkatkan kualitas mutu pelayanan di rumah sakit.



1.2   Tujuan pelatihan

                 Memberikan pelatihan kepada perawat agar memiliki motivasi

                  kerja tinggi sehingga dapat memberikan pelayanan secara

                  profesional.
                   Mampu mengatasi hambatan yang ada dalam suatu pekerjaan.

                   Memahami bagaimana kaitan antara uraian pekerjaan dengan

                    fungsi lain di bidang SDM




1.3   Materi pelatihan

                   Keterampilan berkomunikasi ( communicating skil)

                   Motivasi kerja atau motivasi untuk berprestasi

                   Leadership

                   Team work, menciptakan kerjasama dalam tim



1.4   Peserta

           Peserta dari pelatihan ini adalah 2 orang perawat di rumah sakit umum

      yang tingkatannya berbeda yaitu senior dan junior.



1.5   Pelatih

           Pelatih dari pelatian ini adalah peneliti itu sendiri dengan dibantu seorang

      asisten untuk membantu menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan pada saat

      pelatihan.



1.6   Alokasi waktu

           Waktu pelatihan akan berlangsung ± 8 jam dan diadakan selama 2 hari.



1.7   Waktu pelatihan

           Waktu pelatihan pada tanggal 16 -17 Mei 2009 pukul 08.30-16.00 WIB.
1.8   Jadwal pelatihan

       Hari dan tanggal       Waktu         Kegiatan


       Sabtu, 16 Mei 2009     08.30-09.00   Ice breaking


                              09.00-11.30   Penjelasan pelaksanaan kegiatan dan

                                            penjelasan isi modul


                              1130-12.30    Isoma……….


                              12.30-16.00   Pelatihan untuk materi

                                            kepemimpinan dan motivasi kerja




       Minggu,   17      Mei 08.30-09.00    Ice breaking

       2009                   09.00-11.30   Penjelasan isi modul

                              11.30-12.00   Isoma……

                              12.30-16.00   Pelatihan       untuk       materi

                                            communication skill dan kerjasama
                                2. LANDASAN TEORI

2.1 Pelatihan

2.1.1   Pengertian Pelatihan

            Suatu perusahaan membutuhkan suatu sarana atau lembaga pelatihan

        khusus untuk mengembangkan sumber daya manusia ( SDM), terutama

        dalam hal pengetahuan (knowledge), kemampuan (ability), keahlian (skill),

        dan sikap (attitude).

            John H. Proctor dan William M. Thornton (1961) merumuskan pelatihan

        sebagai berikut : “training is the intentional act of providing means for

        learning to take place”, artinya bahwa pelatihan adalah tindakan yang

        disengaja untuk memberikan alat agar belajar dapat dilaksanakan.

            William G. Scott, D.B.A. 1962, merumuskan pelatihan dalam ilmu

        pengetahuan perilaku adalah suatu kegiatan lini dan staff yang tujuannya

        adalah mengembangkan pemimpin untuk memperoleh efektivitas pekerjaan

        perseorangan yang lebih besar, hubungan antara perseorangan dalam

        organisasi yang lebih baik dan penyesuaian pemimpin yang ditingkatkan

        kepada suasana seluruh lingkungannya.

            Perumusan pelatihan yang dikemukakan oleh Edwin B. Flippo (1961)

        sebagai berikut : “training is the act of increasing the knowledge and skill of

        an employee for doing a particular job” yang artinya bahwa pelatihan adalah

        tindakan untuk meningkatkan pengetahuan dan kecakapan seorang pegawai

        untuk melaksanakan suatu pekerjaan tertentu.

            Kesimpulannya adalah bahwa pelatihan itu harus membantu pegawai

        menambah kecakapan dan pengetahuan. Kecakapan dan pengetahuan ini

        harus berhubungan erat dengan pekerjaan, di mana pegawai dipekerjakan
        atau dengan pekerjaannya. Untuk itu program pelatihan yang dimaksud

        untuk tujuan ini harus direncanakan dan diorganisasikan.



2.1.2   Tujuan Pelatihan

            Tujuan umum pelatihan adalah :

       Untuk mengembangkan keahlian, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan

        dengan lebih cepat dan lebih efektif.

       Untuk mengembangkan pengetahuan, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan

        secara rasional.

       Untuk mengembangkan sikap, sehingga menimbulkan kemauan kerjasama

        dengan teman-teman pegawai dan manajemen ( pemimpin).

            Dalam buku “Manicipal Personnel Administration” yang diterbitkan

    oleh “The Internasional City Manager’s Association” (1960) dikemukakan

    bahwa tujuan umum pelatihan adalah :

       Untuk meningkatkan kinerja pegawai.

       Untuk mempersiapkan pegawai untuk promosi ke pekerjaan yag lebih sulit.

       Mempersiapkan pegawai untuk posisi pengawasan dan pengelolaan.

            Menurut J.C. Denyer (1973) yang mengemukakan adanya 5 macam

    pelatihan, maka tujuan masing-masing pelatihan itu adalah :

       Tujuan pelatihan induksi (perkenalan) adalah untuk membantu pegawai

        menyelesaikan pekerjaannya yang baru dan untuk memberikan kepadanya

        beberapa ide mengenai perusahaan dan latar belakang kepada pekerjaan.

       Tujuan pelatihan kerja adalah untuk memberikan instruksi khusus guna

        melaksanakan tugas-tugas dari suatu jabatan tertentu.
       Tujuan pelatihan pengawas adalah untuk memberikan pelajaran kepada

        pegawai-pegawai tentang bagaimana memeriksa dan mengawasi serta

        melatih pegawai-pegawai lainnya.

       Tujuan pelatihan manajemen adalah untuk memberikan latihan yang

        diperlukan dalam jabatan manajemen puncak, seperti jabatan sekertaris atau

        kepala bagian, dan sebagainya.

       Tujuan pengembangan pemimpin adalah untuk mengembangkan dan

        menambah kemampuan pemimpin-pemimpin yang sudah ada.




2.1.3   Metode Pelatihan
                 Metode penelitian                        Penerapan


        Kuliah                                Memindahkan pengetahuan dari

                                              pelatih kepada peserta


                                              Jumlah peserta yang banyak


                                              Memperkenalkan topik dan teori

                                              yang baru dan kompleks


                                              Memperkenalkan modul-modul

                                              dan tujuan penelitian


        Diskusi terstruktur                   Pertukaran opini-opini dan ide-ide


                                              Pemecahan masalah, perencanaan

                                              strategi perumusan masalah-

                                              masalah kontroversial
Curah pendapat      Mengumpulkan          ide-ide      dan

                    pengalaman masa lalu

                    Pemecahan masalah

                    Berpikir kreatif dan inovatif

                    Menyediakan waktu jeda yang

                    menyegarkan       dan    membentuk

                    minta kelompok


Permainan (games)   Masalah pengelolaan

                    Pengambilan keputusan

                    Pembangunan tim


Ice-breakers        Saling mengenal

                    Mendorong interaksi


energizers          Membangkitkan       semangat      pada

                    perserta   yang    mengantuk       dan

                    merasa bosan

                    Merangsang        berpikir      kreatif,

                    memecahkan kebuntuan berpikir

                    Menantang asumsi dasar

                    Melengkapi konsep baru

                    Pembentukan                  kelompok,

                    pembangunan tim, bergembira
2.1.4   Nilai Pelatihan

2.1.4.1 Keuntungan-keuntungan Pelatihan

            Pelatihan mempunyai nilai yang dapat dipertimbangkan namun sering

        tidak dapat diukur bagi pegawai. Pelatihan menambah kemampuan

        penghasilannya dengan memperluas kecakapan dan pengetahuannya tentang

        proses-proses yang berhubungan. Pelatihan mempersiapkan pegawai untuk

        memperoleh kesempatan naik jabatan yang dapat membimbing mereka

        dalam jabatan-jabatan pimpinan.

            Pelatihan itu berguna untuk menstabilkan tenaga kerja dari suatu bangsa,

        untuk menambah pengetahuan teknis dan ketangkasan, serta untuk

        menambah kecakapan. Pelatihan cenderung mengurangi biaya produksi dan

        menambah hasil.

            Moekijat      (1991)   mengemukakan   keuntungan    diselenggarakannya

        pelatihan yang baik adalah :

       Menambah semangat kerja pegawai.

       Membantu melaksanakan pekerjaan menjadi lebih efisien.

       Menjamin kelangsungan calon-calon untuk menduduki jabatan yang lebih

        tinggi tingkatnya.

       Menambah efisiensi perusahaan.

       Lebih sedikit pengawasan yang dibutuhkan oleh pegawai-pegawai yang telah

        dilatih dengan baik.

       Menambah produktivitas kerja.

       Mengurangi adanya kecelakaan dalam bekerja.

       Menjamin bahwa metode-metode standar dipergunakan oleh para peserta

        latihan.
       Mengakibatkan perpindahan pegawai menjadi berkurang.

       Menambah stabilitas dan fleksibilitas organisasi.



2.1.4.2 Kendala-kendala Pelatihan

            Pelatihan yang efektif akan banyak member keuntungan dari pada

        kerugian. Sebenarnya tidak ada kerugian-kerugian pelatihan yang nyata,

        tetapi ada kendala-kendala dan hal ini harus diakui dan dikurangi sebanyak-

        banyaknya.

            Kendala-kendala dalam pelatihan menurut J.C. Denyer (1973) adalah :

       Dalam pelaksanaan pelatihan dibutuhkan biaya.

       Waktu kerja pegawai diserap oleh pelatihan.

       Kemungkinan pengalihan pekerjaan.

       Kemungkinan adanya rasa tidak puas oleh pegawai-pegawai yang telah

        berpengalaman untuk memberikan pelatihan.

       Kesulitan mendapatkan pegawai-pegawai yang telah berpengalaman untuk

        memberikan pelatihan.

       Kekurangan hubungan mengenai teori dan prakteknya.

       Menentukan jumlah pegawai yang akan dilatih.

       Menentukan macam pelatihan apa yag akan diberikan.



2.2 Kepemimpinan

2.2.1   Pengertian pemimpin dan kepemimpinan

            Definisi pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan

        kelebihan khususnya kecakapan di satu bidang, sehingga dia mampu
    mempengaruhi orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas

    tertentu demi mencapai satu atau beberapa tujuan.

        Menurut Henry Pratt Fairchild (1960) menyatakan bahwa pemimpin

    dalam pengertian yang luas adalah seseorang yang memimpin dengan jalan

    memprakasai    tingkah   laku   social   dengan     mengatur,   menunjukkan,

    mengorganisir atau mengkontrol usaha orang lain , tau melebihi prestise,

    kekuasaan atau posisi. Dalam pengertian yang terbatas pemimpin adalah

    seseorang yang membimbing atua memimpin dengan bantuan persuasifnya,

    dan penerimaan secara sukarela oleh para pengikutnya.

        John gage Allee (1969) menyatakan “leader…a guide, a conductur, a

    commander” artinya pemimpin adalah pemandu, penunjuk, penuntun,

    komandan.

        Dari beberapa definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa seorang

    pemimpin adalah pribadi yang memiliki kecakapan khusus dengan atau tanpa

    pengangkatan resmi dapat dipengaruhi kelompok yang dipimpinnya, untuk

    melakukan usaha bersama mengarah pada pencapaian sasaran-sasaran

    tertentu.

        Kepemimpinan (leadership) adalah kemampuan seseorang untuk

    menguasai atau mempengaruhi orang lain atau masyarakat yang berbeda-

    beda menuju pencapaian tertentu.

        Di dalam kepemimpinan terdapat unsur-unsur, yaitu :

   Kemampuan mempengaruhi orang lain, bawahan atau orang lain.

   Kemampuan mengarahkan tingkah laku bawahan atau orang lain.

   Untuk mencapai tujuan organisasi kelompok.

   Harus berani mengambil kesimpulan sendiri secara tegas dan tepat.
       Harus berani mengambil resiko sendiri.

       Harus berani menerima tanggung jawab sendiri.



2.3 Motivasi

2.3.1   Pengertian motivasi

            Istilah motivasi berasal dari bahasa latin “movere” yang artinya move

        atau bergerak. Pengertian ni menyangkut suatu keadaan yang menggerakan

        seseorang untuk melakukan suatu tindakan tertentu. Banyak orang

        mengaitkan kata motivasi dengan keinginan, tujuan, kebutuhan, dorongan,

        dan motif.

            Motivasi melibatkan 3 komponen utama, yaitu :

       Pemberian daya tingkah laku (energizing)

            Menunjukkan kekuatan-kekuatan yang ada di dalam diri individu yang

        mendorongnya untuk bertingkah laku dalam cara-cara tertentu dan

        menunjukan kekuatan lingkungan yang sering kali mencetuskan dorongan

        social.

       Pemberian arah tingkah laku manusia (directing)

            Menunjukkan bahwa tingkah laku manusia diarahkan pada suatu tujuan

        (goal oriented).

       Bagaimana tingkah laku individu dipertahankan (sustaining)

            Menunjukkan bahwa motivasi mengandung orientasi system, yaitu

        bahwa kekuatan-kekuatan yang ada dalam diri individu untuk memperkuat

        intensitas dorongan dan ada energinya, atau meminta agar melakukan

        tindakan tertentu dan mengalihkan usahanya.
2..3.2   Proses Motivasi

             Pada dasarnya proses motivasi pada manusia mengikuti suatu rangkaian

         siklus, mulai dari timbulnya suatu kebutuhan yang dapat menimbulkan

         ketegangan dan dorongan sebagai kumpulan energy yang belum terarah yang

         pada akhirnya akan menimbulkan suatu tingkah laku untuk memenuhi

         kebutuhannya.

             Untuk memahami motivasi secara lebih jelas, terdapat 4 model dasar

         proses motivasi (Steer & Porter, 1991) yaitu :

        Kebutuhan atau harapan

        Tingkah laku

        Tujuan

        Umpan balik

             Pada dasarnya individu mempunyai berbagai kebutuhan, keinginan, dan

         harapan yang kekuatannya bervariasi. Munculnya kebutuhan, keinginan, dan

         harapan mengakibatkan ketidakseimbangan. Pada kondisi ini kebutuhan,

         keinginan dan harapan dihubungkan dengan antisipasi bahwa tindakan

         tertentu dapat mengurangi ketidakseimbangan tadi. Individu melakukan

         sesuatu yang mengarah pada pencapaian tujuan yang diinginkan akan

         mendapat masukan apakah tingkah laku ini dapat dipertahankan atau perlu

         dimodifikasi.

2.3.2    Manfaat Motivasi

             Secara singkat, manfaat motivasi yang utama adalah menciptakan gairah

         kerja sehingga produktivitas kerja meningkat. Sementara itu manfaat yang

         diperoleh karena bekerja dengan orang-orang yang termotivasi adalah

         pekerjaan dapat diselesaikan dengan tepat. Artinya, pekerjaan diselesaikan
        dengan standar yang benar dalam skala waktu yang sudah ditentukan, serta

        orang akan senang melakukan pekerjaannya. Sesuatu yang dikerjakan karena

        ada    motivasi   yang   mendorongnya      akan   membuat   orang    senang

        mengerjakannya. Orang pun akan dihargai atau diakui. Hal ini terjadi karena

        pekerjaannya itu benar-benar berharga bagi orang yang termotivasi. Hal ini

        dimaklumi karena dorongan yang begitu tinggi untuk menghasilkan sesuai

        target yang mereka tetapkan. Kinerjanya akan dipantau oleh individu yang

        bersangkutan dan tidak akan terlalu banyak membutuhkan pengawasan.

        Semangat juang akan tinggi. Hal ini akan memberikan suasana kerja yang

        baik di semua bagian. Secara singkat, maka cirri-ciri orang yang termotivasi

        adalah bekerja sesuai standar, senang bekerja, merasa berharga, suka bekerja

        keras dengan sedikit pengawasan, dan memiliki semangat juang yang tinggi.




2.4 Communication Skill

2.4.1   Pengertian Komunikasi

              Menurut Hovland, Janis & Kelley (1981) komunikasi adalah proses

        individu mengirim stimulus yang biasanya dalam bentuk verbal untuk

        mengubah tingkah laku orang lain.

              Forsdale (1981) menjelaskan bahwa komunikasi adalah suatu proses

        memberikan signal menurut aturan tertentu, sehingga dengan cara ini suatu

        system dapat didirikan, dipelihara, dan diubah.

              Komunikasi manusia menurut adalah suatu proses melalui individu

        dalam hubungannya dalam kelompok, dalam organisasi dan dalam

        masyarakat menciptakan, mengirimkan, dan menggunakan informasi untuk

        mengkoordinasi lingkungan orang lain.
            Menurut William J. Seller (1988) bahwa komunikasi adalah proses

        simbol verbal dan nonverbal dikirimkan, diterima dan diberi arti.

2.4.2   Manfaat Komunikasi

        Manfaat komunikasi bagi suatu organisasi, dalam buku Pimpinan dan

        Kepemimpinan karya Kertini Kartono adalah :

       Menghubungkan semua unsure yang melakukan interrelasi pada semua

        lapisan, sehingga menimbulkan rasa setia-kawan dan loyalitas antara sesame.

       Semua jajaran pimpinan langsung mengetahui keadaan bidang-bidang yang

        dibawahi, sehingga berlangsung pengendalian operasional yang efisien.

       Meningkatkan rasa tanggung jwaba semua anggota dan melibatkan mereka

        pada kepentingan organisasi.

       Memunculkan saling pengertian dan saling menghargai tugas masing-

        masing, sehingga meningkatkan rasa kesatuan dan pemantapan semangat

        kebersamaan.



2.5 Team work (kerjasama tim)

2.5.1   Pengertian Team work

            Kerjasama tim adalah sekelompok orang yang saling bekerjasama untuk

        mencapai suatu tujuan tertentu dan mempunyai hubungan psikis tertentu,

        dimana kondisi individu berarti bagi yang lain. Yang terpenting dalam

        sebuah tim adalah bukannya persamaan dan perbedaan satu sama lainnya,

        akan tetapi saling ketergantungan (interdependensi). Biasanya organisasi

        berbasis tim memiliki struktur yang ramping. Bekerjasama dalam sebuah tim

        berarti member tanggung jawab dan otoritas kepada tim untuk membuat

        keputusan tentang bagaimana bekerja paling efisien, dan ini menyebabkan
        jumlah manajer dan level manajer lebih sedikit. Oleh karena itu, sebab

        organisasi akan bisa merespons dengan cepat dan efektif lingkungan yang

        cepat berubah.

2.5.2   Manfaat Tim

               Berikut ini adalah beberapa manfaat dengan adanya tim menurut

        Profesor Michael West, antara lain :

       Tim bisa melakukan pengembangan dan peluncuran produk dengan cepat.

       Tim memungkinkan organisasi untuk terus belajar dan mengambil manfaat

        dari prose situ secara efektif.

       Tim yang melibatkan banyak fungsi akan membantu meningkatkan

        manajemen mutu. Ia juga mendorong berkembangnya kreatifitas dan inovasi.

       Kerjasama tim juga menghasilkan manfaat financial, termasuk karena

        kenaikan produktivitas.

       Perubahan dalam sebuah organisasi lebih efektif bila melibatkan kerjasama

        tim.
2.6 Gambaran detail pelatihan

2.6.1   Modul pelatihan kepemimpinan (leadership)

        Hari pertama, tanggal 16 Mei 2009 kegiatannya adalah :

        A. Ice Breaker

           Kegiatan                : berdiri dalam kertas A4

           Peralatan               : 1 lembar kertas ukuran A4

           Pokok bahasan           : menganalisa pentingnya seorang pemimpin

            dalam tim.

           Metode                  : melakukan permainan

           Waktu durasi            : 10 menit

           Tujuan                  : menyegarkan suasana, dapat mengetahui

            pentingnya seorang pemimpin dalam tim.

           Langkah-langkah         : peserta dalam satu kelompok terdiri dari 2

            orang, harus berdiri pada kertas, waktunya ± 10 menit.

        B. Materi

           Kegiatan                : penjelasan materi kepemimpinan

           Peralatan               : handout untuk peserta

           Pokok bahasan           : tentang definisi leadership.

           Metode                  : kuliah

           Waktu                   : 1 jam

           Tujuan                  : menjelaskan pengertian tentang kepemimpinan,

            menguraikan perbedaan seorang pemimpin dengan manajer, menjelaskan

            tipe kepemimpinan.
           Langkah-langkah          : trainer memberikan pretest lalu menjelaskan

            pengertian dari kepemimpinan. Trainer memberikan kesempatan bagi

            peserta untuk melakukan sesi tanya jawab.

        C. Refleksi

           Kegiatan                 : studi kasus

           Peralatan                : kertas berisi studi kasus

           Pokok bahasan            : menganalisa tipe kepemimpinan dari tindakan-

            tindakan yang diambil berdasarkan studi kasus.

           Metode                   : diskusi

           Waktu                    : ± 1jam

           Tujuan                   : mengenal tipe kepemimpinan sendiri.

           Langkah-langkah          : melakukan evaluasi diri dengan menjawab

            skasus, setelah selesai menjawab studi kasus lakukan diskusi kelompok

            tentang hasil studi kasus.

        D. Penutup

           Pokok bahasan            : tentang leadership dan kesimpulan.

           Waktu                    : ± 1 jam

           Tujuan                   : evaluasi

           Langkah-langkah          : trainer memberikan kesimpulan akhir.

2.6.2   Modul Pelatihan Motivasi

        A. Games

               Kegiatan                      : putar botol

               Peralatan                     : botol plastik ukuran sedang

               Pokok bahasan                 : menganalisa sebagai pemimpin harus

                bisa memotivasi orang lain.
      Metode                         : melakukan permainan

      Waktu                          : 15 menit

      Tujuan                         :     menyegarkan          suasana,      dapat

       memotivasi orang lain yang sedang mempunyai masalah.

      Langkah-langkah                : tiap-tiap peserta harus memutar botol

       dan bila lubang botol pada saat berputar berhenti pada posisi peserta

       maka     peserta   tersebut    akan       diberikan      kesempatan     untuk

       menceritakan pengalaman yang paling menarik yang pernah dialami.

B. Materi

      Kegiatan                       : penjelasan materi motivasi

      Peralatan                      : handout untuk peserta

      Pokok bahasan                  : tentang definisi motivasi, macam-

       macam motivasi, pemimpin sebagai motivator.

      Metode                         : kuliah

      Waktu                          : ± 1 jam

      Tujuan                         :    memahami        pentingnya       motivasi,

       memahami keterampilan seorang pemimpin yang berhubungan

       dengan motivasi, menjadi motivator yang baik.

      Langkah-langkah                :    trainer     memberikan       penjelasan

       pengertian   motivasi   atau       materi     motivasi    dan   memberikan

       kesempatan bagi peserta untuk melakukan sesi tanya jawab.

C. Refleksi

      Kegiatan                       : studi kasus

      Peralatan                      : 1 kertas berisi studi kasus
              Pokok bahasan               : bagaimana menjadi motivator yang

               baik dan bagaimana menangkap pesan emosi pekerja.

              Metode                      : diskusi

              Waktu                       : 45 menit

              Tujuan                      : dapat menangkap pesan emosi pekerja

               melalui studi kasus dan menjadi motivator yang baik.

              Langkah-langkah             : melakukan evaluasi dengan menjawab

               studi kasus lalu malakukan diskusi tentang hasil studi kasus dan

               trainer memberikan kesimpulan maksud dilakukannya studi kasus.

        D. Penutup

              Pokok pembahasan            : tentang motivator dan kesimpulan.

              Waktu                       : 10 menit

              Tujuan                      : evaluasi

              Langkah-langkah             :   trainer   memberikan      memberikan

               kesimpulan.




        Hari kedua, tanggal 17 Mei 2009 kegiatannya adalah :


2.6.3   Modul Pelatihan Komunikasi

        A. Ice breaker

              Kegiatan                    : tebak kalimat dalam symbol

              Peralatan                   : spidol, kertas dan slayer

              Pokok bahasan               :    menganalisa    pentingnya    sebuah

               informasi dalam berkomunikasi.

              Metode                      : melakukan permainan
      Waktu                       : ± 15 menit

      Tujuan                      : untuk menyegarkan suasana dan

       mengajarkan komunikasi dapat berjalan lancar jika ada informasi

       yang jelas.

      Langkah-langkah             : peserta pertama ditutup mulutnya

       dengan menggunakan slayer, sambil memegang spidol peserta harus

       menggambarkan sesuatu yang menjadi petunjuk pada kertas untuk

       dijawab oleh peserta kedua, tetapi peserta pertama dilarang berbicara

       dan hanya peserta kedua yang harus menjawab petunjuk yang

       digambarkan oleh peserta pertama. Setelah selesai mintalah

       tanggapan dari masing-masing peserta.

B. Materi

      Kegiatan                    : pembahasan materi komunikasi

      Peralatan                   : handout untuk para peserta

      Pokok bahasan               : tentang informasi dan komunikasi.

      Metode                      : kuliah

      Waktu                       : ± 1 jam

      Tujuan                      : memahami pengertian komunikasi dan

       informasi, menjadi informator dan komunikator yang baik.

      Langkah-langkah             :   trainer    memberikan       menjelaskan

       pengertian kemampuan komunikasi, dan melakukan sesi tanya

       jawab.

C. Refleksi

      Kegiatan                    : pentingnya mengenali diri

      Peralatan                   : 1 lembar kertas studi kasus
              Pokok bahasan              : membangun sebuah informasi yang

               baik.

              Metode                     : diskusi, refleksi

              Waktu                      : ± 1 jam

              Tujuan                     : membangun sebuah informasi yang

               baik dan menjadi informator yang baik.

              Langkah-langkah            : melakukan evaluasi diri studi kasus,

               lalu melakukan diskusi dan trainer memberikan kesimpulan maksud

               dari studi kasus.

        D. Penutup

              Pokok pembahasan           : pembahasan tentang informator dan

               komunikator, kesimpulan.

              Waktu                      : 10 menit

              Tujuan                     : evaluasi

              Langkah-langkah            : trainer memberikan kesimpulan hasil

               akhir.



2.6.4   Modul Pelatihan kerjasama

        A. Games

              Kegiatan                   : membangun rumah-rumahan dengan

               kartu

              Peralatan                  : 1 pack kartu dan stopwact

              Pokok bahasan              : menganalisa pentingnya kerjasama

               dalam tim.

              Metode                     : melakukan permainan
      Waktu                     : 1 menit

      Tujuan                    : untuk membangun kerjasama dan

       kekompakan dalam tim

      Langkah-langkah           : tim peserta harus membangun sebuah

       istana setinggi mungkin dengan menggunakan kartu dalam waktu 1

       menit..

B. Materi

      Kegiatan                  : pembahasan materi kerjasama tim

      Peralatan                 : handout

      Pokok bahasan             : pentingnya sebuah kerjasama dan

       kekompakan dalam suatu tim.

      Metode                    : kuliah

      Waktu                     : ± 30 menit

      Tujuan                    : agar peserta dapat bekerjasama dengan

       baik dalam suatu tim.

      Langkah-langkah           :   trainer    menjelaskan       pengertian

       kerjasama tim dan manfaat kerjasama dalam tim.



C. Refleksi

      Kegiatan                   : memahami pentingnya kerjasama

       dalam tim.

      Peralatan                 : 1 lembar kertas sutudi kasus

      Pokok bahasan             : tentang kerjasama dan kekompakan

      Tujuan                    : menjalin kerjasama yang baik dalam

       tim.
      Langkah-langkah          : melakukan evaluasi studi kasus lalu

       mendiskusikannya, dan trainer memberikan kesimpulan maksud dari

       studi kasus tersebut.

D. Penutup

      Pokok bahasan             : pembahasan tentang kerjasama tim

       dan kesimpulannya.

      Waktu                     : ± 10 menit

      Tujuan                    : evaluasi

      Langkah-langkah           : trainer memberikan kesimpulan hasil

       akhirnya.

								
To top