Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

lomba curhat kita blogger by rudhysh2

VIEWS: 1,561 PAGES: 153

									                                                   1




Naskah Anda Sudah diposting di Curhatkita

Nama, naskah anda sudah diposting di Curhatkita. Anda bisa melihatnya di sini
Selanjutnya naskah anda akan dinilai oleh 7 orang anggota tim juri. Pengunjung blog ini juga bisa
memberi nilai untuk tulisan anda melalui komentar mereka, karena banyaknya komentar pada tulisan
anda, menjadi salah satu kriteria penilaian.


Demikian pemberitahuan kami. Selamat berlomba, semoga sukses.


Salam sejahtera,
Admin Curhatkita



Kisah 1


Mencari Jati Diri
Pengalaman Pribadi
Oleh : Muhammad Ali


Entah sejak kapan aku merasakan akan adanya kehidupan dalam hidupku, kapan dan di mana aku
dilahirkan secara pasti ?? "akupun tak tahu". Yang kudengar hanya buah bibir dari orang orang yang
dahulu sempat dekat denganku, tapi sampai detik ini aku tak bisa yakin dengan hal itu. Karena, seringkali
ku dapati data tentang diriku yang memiliki perbedaan dalam tanggal dan tahun kelahiranku. Ada yang
bilang aku lahir tanggal 3 Maret 1991 ada pula yang bilang aku lahir tanggal 14 Desember 1990. "Ah...
Bingung, percuma aku bahas tentang itu sampai saat ini aku tak punya bukti yang bisa meyakinkanku.
Dulu aku sempat merasakan masa kecil di Sumatra tapi dalam tanggal lahirku aku di lahirkan di
Banyuwangi, makin bingung aja,,,,,,,,,mau bertanya pada Ibu percuma beliau juga tak punya kemampuan
untuk menjawab pertanyaan itu, omongannya pun semakin tak karuan, kadang berkata begitu dan kadang
begini.


Sejak kepindahanku ke Pulau Jawa tahun 1996, dan meninggalnya Ayah di perjalanan saat mau
menjemputku, duniaku bagai panggung sandiwara yang sulit untuk di tebak dan juga di percayai, aku
seperti mimpi di dalamnya namun ketika aku membuka mata "oh Tuhan,,,,ini nyata.....!!!"


Di Jawa, tepatnya di Tegalpare, Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur aku sempat menjadi anak terlantar
tanpa masa depan, kesana kemari memungut kayu bakar dengan sesekali gembira karena mendapati
                                                    2




kelapa jatuh yang dapat ku jual dan bisa digunakan untuk membeli Tape (makanan kesukaanku kala itu)
seharga Rp 500,00. Ibu pun mulau terlunta lunta karena harus pisah dengan nenek karena masalah beras
yang ku sendiri tak tahu seluk beluknya. Dulu aku yang masih duduk di bangku TK mulai banyak
mengenyam hidup susah. Ibu pindah pindah rumah karena tak punya biaya untuk menetap, rumah rumah
itu pun adalah pinjaman para tetangga yang iba melihat kami yang tiap hari harus keluar masuk kebun
orang untuk cari uang.


Namun ternyata Tuhan memberikan jalan padaku, tak lama aku menderita karena hal itu akhirnya ada
seorang Kyai dan juga sebagai Wirausaha yang mau mengangkatku menjadi anaknya dan hiduku pun
mulai berwarna kala itu, dimana mana di segani orang, di hormati dan juga di cintai karena masih
merupakan famili Kyai yang amat sangat disegani, panggilan kecilku juga di beri gelar, semula Ali yang
diambil dari nama belakangku yakni Muhammad Ali menjadi Gus Ali, sebuah nama yang indah dan cukup
membanggakan. Tapi entah mengapa aku suka keluar dari rumah keluarga baruku dan ingin tetap
bersama Ibu kandungku, dan tentunya meninggalkan kemewahan, kenyamanan dan juga kehormatan
yang selama ini ku dapat dari rumah keluarga angkatku. Dan walau Abah (sebutanku untuk memanggil
Ayah angkatku) seringkali membujukku untuk kembali bersamanya aku tetap saja pada kemauanku
hingga suatu ketika entah berwal dari mana (seingatku, aku ingin mondok kala itu) sehingga aku di
letakkan di Panti Asuhan karena kebetulan Abah sekeluarga juga mau pindak ke Surabaya.


Singkat cerita, aku melewati hari hariku dengan keramaian anak anak Panti Asuhan, Waktu pindah di
Panti Asuhan itu aku masih kelas 3 SD.


Dan lambat laut akupun mulai mencari jati diri dan terus melakukan yang terbaik di sini, awal masuk
sekolah aku sudah menduduki peringkat 5 menyingkirkan beberapa teman sekelasku lalu mulai naik
menjadi peringkat tiga hal itu hampir ku raih hingga 4 kali caturwulan kira kira, hingga ada seorang guru
yang berkata " Al..Al,,,,kamu ini kok ya betah menjadi rengking tiga" Lalu ku mulai terpacu untuk belajar
dan terus belajar Caturwulan berikitnya aku berhasil meraih pringkat 1 dan disamping itu aku juga berhasil
membawa Piala juara tiga berturut turut dalam lomba baca pusi tingkat Kabupaten, keesokan waktunya
prestasiku mulai menurun hingga rankingku menurun menjadi pringkat dua, dan terus bergantian satu dan
dua karena saingan dengan sahabat karibku Rozikin, dan waktu itu aku juga berhasil meraih juara 1
lomba baca puisi dan juara 3 lomba MTQ seBanyuwangi. Stelah itu ketika kelas 6 SD aku pun berhasil
mengalahkan temanku hingga ku meraih pringkat 1 dan merupakan lulusan terbaik seangkatanku di SD
tempatku mengkaji ilmu.


Mulai saat itu duniaku serasa berubah, dan kepribadianku mulai terlihat aslinya.
                                                     3




Aku pun melanjutkan di SMP dan kebetulan juga SMP idola di kotaku, namun prestasiku di sini mulai
menurun dan masalah pun mulai silih berganti datang menghampiriku, aku yang dulu senang mengikuti
banyak kegiatan positiv kini mulai jarang dan ujungnya saatku mulai masuk SMA, aku tak di perbolehkan
masuk SMK yang ku idamkan dari kecil yakni TI, aku pun di paksa oleh pengurus Panti Asuhanku untuk
masuk SMA, aku semakin hampa di buatnya, apalagi kegitanku yang semula, Siaran Radio, menjadi
Pembina Pramuka, dan juga Teater harus ku hentikan karena kemauan pengurusku, aku pun akhirnya
menggunakan alternatif lain yang memang ku gemari untuk mencari uang jajan yakni mengarang cerpen,
namun tetap saja tak ada kemudahan dalam hal itu karena kini hatiku hampa di buatnya, uang sakukun
juga mulai menipis karena tak bisa mencari tambahan seperti biasa dan ku hanya bisa menunggu jatah
uang saku yang perminggunya Rp 5000,00 "yaa...walau ternyata itu juga amat menyiksa diriku". Namun
ternyata Tuhan masih mengasihiku, Ku kini masuk SMA yang juga masih merupakan SMA terbaik di Kota
Banyuwangi dan mendapati orang-orang yang amat menyayangiku, kebutuhan sekolahku di tanggung
oleh guruku dan uang jajanku juga di ringankan oleh Ibu Kantin langgananku yang kini menjadi orang tua
ku di banyuwangi ini dan ia mengisi hari hari kekosonganku.
Dan kini aku sudah kelas 3 SMA, dan rencana kedepan mau lanjut.........ke fakultas Psikologi, namun aku
tetap saja was was karena perekonomianku esok harus ku tanggung sendiri, kasihan Ibu juga sudah tua,
ya....semoga aku bisa....!!


Muhammad Ali
muh_ali_bwi@yahoo.com




Kisah 2


Sepuluh Suap Buat Fika & Trik-trik lainnya
Pengalaman Pribadi
Oleh : Laily D. Nouha


Problem yang sering dialami oleh para ibu adalah anak susah makan. hmmm... inilah yang sedang aku
alami. Fika memang hyperactive. tak ada sedetik pun ia lewati dengan tenang. Kalau lagi cerewet, bisa-
bisa semua lagu yang dihafalnya ia nyanyikan, nonstop! kalo lagi malas bersuara, pasti dia sudah kesana
kemari. bosen mainan A, ganti mainan B. Pas mainannya dah habis, giliran barang-barang rumah jadi
korban. Kalau nemu pena, pensil dan kerabatnya, jangan harap dia anteng dengan buku gambarnya.
Tembok-tembok rumah sudah jadi sasarannya sejak usia satu tahunan. Bosen dengan tembok, badannya
jadi ajang eksplorasi. Malah, kini Adeknya pun tak luput dari coretan.
                                                    4




Perkembangannya memang cukup pesat. ketika masih 23 hari, matanya sudah bisa mengikuti jari kita
yang bergerak pelan di depan wajahnya. 3 bulan dah bisa tengkurap. 10 bulan dah bisa nutup botol aqua
sendiri (bukan asal nutup, pake diputer). 11 bulan, dia sudah bisa pegang pena layaknya orang gede mau
nulis. umur 14 bulan, kata pertama yang dia ucapkan (bukan bubbling) adalah \'nggak mau\' dan \'abu\'
(lampu). 18 bulan sudah bisa gambar lingkaran utuh (tapi masih mencong-mencong). dan masih banyak
lagi. Dalam semua hal itu aku bersyukur.


Namun, keaktifannya itu berdampak negatif terhadap nafsu makannya. dia menjadi sangat sulit disuapin.
sudah banyak cara dilakuin. kadang berhasil, kadang juga tidak. tenaga sampai terkuras habis, baru
berhasil 3 suapan. sudah pake cara paling halus, seperti dibujukin ama mainan, dijanjiin jalan-jalan,
dibecandain sambil nyanyi-nyanyi. tapi ya tetep saja susahnya minta tolong. pake cara halus nggak bawa
banyak hasil. ganti cara kasar, seperti ancaman nggak boleh main, ancaman ditaroh diluar rumah,
dipelototin, digertak2in. tetep aja ngaruhnya cuma satu suap.


Aku dan suami dibikin pusing, stress sudah barang tentu. apalagi, badannya yang kurus membuat
neneknya ngira kita ogah2an ngasih makan. ujung-ujungnya kita dikira nggak bisa ngasuh anak. tapi pada
akhirnya, diakui juga kalau Fika memang susah sekali makan.


"Ya Allah, Leli... Fika susah amat diajakin makan. kemaren-kemaren dibujukin diajak ke Mall masih mau
dia. sekarang kok nggak lagi. Aduh... susah bener, ya... gimana tuh..." kata Umi mertuaku suatu hari.


Nah... baru nyadar... itu juga yang aku alami. Masa ada Ibu yang biarin anaknya kelaparan? yang ada,
mah, anaknya yang ogah makan.


Dulunya sih aku sempet sering gorengin nugget. Fika mau. tapi kalo keseringan juga nggak mau lagi. Eh,
dibilangnya, "jangan pake nugget... nggak ada nutrisinya. banyakan tepungnya...,"


Lah... anak bontotnya tiapa harinya makan nugget mulu, kalo nggak gitu sosis. anakku kok nggak boleh?
jadi ngedumel deh...


pernah juga aku bilang sama suami. kalo emang Fika nggak suka makan... lebih baik kasih banyak2 buah.
Fika kan seneng banget makan apel, jeruk, anggur... paling nggak, sebagian besar nutrisinya terpenuhi.


Jawabnya, "yang penting itu... gimana caranya dia mau makan nasi...,"
ya sudah kalo gitu. Aku nurut saja. pada awalnya. tapi.. saat suami berangkat haji, mulailah aku sering-
                                                    5




sering beli buah. sebelumnya, suami nggak ngijinin aku keluar2 sendirian. dasar akunya memang nggak
bisa nurut lama-lama, akhirnya aku sering-sering keluar, meski cuma beli buah. Buah yang aku beli saat
itu buah jeruk yang kecil2 (apa sih jenisnya). rasanya sangat manis sekali. Fika dan Dhea, adeknya,
dengan lahap makan buah jeruk. sehari bisa sekilo habis. lain waktu aku beli Alpukat. aku halus-halusin
pake sendok (belum punya blender). eh... ternyata Fika doyan banget. nggak sampek situ aja. aku
kembali membeli nugget. dengan catatan, makan nasi+nugget nggak setiap hari.


Lalu, tanpa perduli ama omongan kanan kiri yang nggak ngasih saran progressif, malah bikin tambah
bete., aku lancarin cara-caraku sendiri. tak lupa juga aku kasih suplemen penambah nafsu makan n
kekebalan tubuh. Fika mulai banyak makan. tapi progressnya belum kelihatan, Fika belum gemuk.
akhirnya neneknya ngambil Fika buat nginep beberapa hari, menjelang suami balik. Dan ternyata, di
rumah neneknya dia makan banyak.


"Si Fika untuk sementara biarin aja di Cilandak (rumah neneknya), biar gemuk dulu... sekarang makannya
dah banyak nih...,"kata umi mertuaku.


Yah... hasil dari kerja kerasku jadi nggak berarti. karena pikirnya, Fika mulai makan banyak sejak di rumah
neneknya. padahal kan sbelum2nya aku bersusah payah nyari cara biar dia mau makan.


Aku protes, "Fika sebelum ke sini (cilandak), makannya dah lumayan mau kok, Mi... Leli kasih dia Vitamin
tiap hari..."


kalau aku nggak protes, sampai kapan pun usaha apa pun yang ku lakukan nggak akan dihargai. dan aku
pasti akan tetap dianggap anak-anak. memang sebel kalau orang tua kita terlalu banyak ikut campur
urusan kita. semoga saja aku nanti bisa memahami privasi dan urusan anak2ku saat dia sudah dewasa.
biar aku harus menghargai mereka, agar mereka pun menghargaiku.


back to the topic.
setelah suami balik dari haji. aku nggak sering2 beli buah. malas kalau keluar sebentar aja diinterogasi.
tapi kalau belanja ke carrefour, pasti aku akan minta beli buah hehheehe. aku nggak akan bilang itu untuk
program makan anak2. lalu aku tetep beli nugget n bakso.


Fika kembali mbelet makannya sejak vitaminnya habis dan aku nggak beli lagi. suatu pagi, saat aku
hendak mandikan anak-anak (anak2 dah di kamar mandi), aku punya ide untuk nyuapin anak2 di kamar
mandi. dan ternyata... Fika makan banyak banget. sepiring (porsi cewek dewasa makan) habis berdua
(Fika n Dhea). bahkan, yang paling banyak makan Fika.
                                                    6




Lalu aku bialng ke suami. Suami sebenarnya nggak setuju dengan caraku.


"Masa' makan di kamar mandi?! Jorok, ah!"


"Emang kenapa? masih kecil ini... lagian juga makannya jadi banyak, nggak banyak keluar tenaga yang
nyuapin. Fika nggak bisa lari2 nolak. Fikanya juga malah nyodorin mulutnya buat disuapin...."


"Pokoknya jangan sering-sering... ntar keterusan sampek gede. jelek!"


"Oke-oke," kataku. Fika makan banyak lagi (kalo makan sambil mandi). suatu pagi, aku nggak nyuapin dia
di kamar mandi.


Fika lalu bilang ke aku "Ambil makan, Ma..." Gubrakkk!!! perasaan aku baru tiga kali ngasih makan dia di
kamar mandi. dan itu nggak setiap mandi. sekarang malah dia enjoy banget makan sambil mandi.


suatu hari, lagi, aku beli buah pas aku n suami lagi keluar rumah. ketika melihat betapa lahapnya anak2
makan buah. suami pun heran dan senang. mungkin pikirannya mulai berubah. apalagi sejak Umi bialng
ke suami kalo anak2 sering2 kasih makan alpukat, biar gemuk. yah... itu mah jurusku... umi aja yang telat
ngasih tahu suami. dan dulu, ketika suami aku kasih tahu begitu, suami nggak mau langsung percaya.
pikirnya... alpukat itu mahal. suami paling nggak suka beli yang mahal2, kecuali duren. soalnya pernah
beli duren yang murahan, nggak tahunya banyak yang busuk. \'mending yang mahal sekalian,
bagusan...,\' gerutunya suatu hari. hahaha... nggak semua yang mahal itu nggak bawa nikmat. yang
mahal dan tentunya bagus bisa bikin kita puas. hehehe


back to the topic again... suami akhirnya percaya dan sering-sering beli alpukat. lalu aku kasih doktrin
suami.


"Kalau nggak salah, Pa... Buah itu juga bisa merangsang nafsu makan, tuh... buktinya... Fika makan
banyak sekarang..." suami membenarkan. dan akhirnya kita makin rajin beli buah. padahal, statementku
tuh nggak bersumber ilmiah sama sekali. alias asbun. tapi justru suami malah percaya. aneh, sungguh
aneh. Yang aku tahu, buah-buahan juga termasuk sumber nutrisi. di dalamnya nggak hanya terdapat
vitamin2 yang diperlukan tubuh. tapi juga mineral dan glukosa. yang cukup penting untuk pertumbuhan
anak. bahkan orang dewasa pun dianjurkan makan buah untuk menu dietnya. karena nggak mengandung
kolesterol. (hm... bener nggak ya statementku... yang ini aku rasa bener, tapi ini kesimpulanku dari banyak
artikel2 yang pernah ku baca. atau rubrik konsultasi kesehatan yang sering menganjurkan makan buah).
                                                    7




ketika Fika makannya mulai banyak, suami berujar, "Andai Fika makan 10 suap saja tiap kali makan, pasti
bisa gemuk."


"Dan jangan lupa buahnya, biar makannya jadi rajin," kataku menambahkan.


Akhirnya, trik kami untuk makan Fika, yaitu:
1.Makan makanan berat minimal 10 suap.
2.tiap hari makan buah
3.jajan harus yang ngenyangin (kue brownis dan donat jadi favorit).
4.sekali-kali makan di kamar mandi
5.dan lainnya (menyusul kalo ada ide lagi)



End of the topic... kalo untuk makan anak, orangtua harus kreatif. bukan saja dalam memasak dan
menyajikannya, tapi juga cara nyuapinnya. yang jelas... Fika sampai sekarang masih susah makan. tapi
bukan berarti nggak bisa makan banyak.


Dan sekarang, setiap suami pulang kerja, dia akan bertanya, "Hari ini udah makan buah, belum, Ma?"


Laily D. Nouha
Email : k_0ne1jati@yahoo.com
Blog : lamankawan.blogspot.com




Kisah 3


Dua Batita & Seorang Ibu Naik Pesawat
Pengalaman Pribadi
Oleh : Laily D. Nouha


That title isn\'t a news title. Meskipun kalo ada wartawan iseng nyari berita, ini bisa jadi berita yang
spektakuler (untuk ukuran orang Indonesia)hehehe.


\"I can do It\"
                                                       8




cuma kalimat itu yang jadi tekad kuatku saat itu. Tekad apa nekat?
emang ceritanya gimana seh?!


Begini ya kawan... suatu hari ada tikus masuk got terus bertelur di sana. Lalu telur itu menetas sehari
kemudian. keluarlah tikus berkaki bebek. ternyata tuh tikus telah 'berzina' dengan seekor bebek kidal.


Eits... fitnah!!! Fitnah itu lebih kejam daripada nggak fitnah (walah?!)
Fitnah itu lebih kejam dari pitnah (Wadow)


enggak... enggak... maksudku cerita di atas hanya rekayasa. yang bener gini nih...


Pada suatu hari....
halah, ntar terusannya pasti nggak jauh-jauh dari yang si tikus (weiks! mode on). langsung aja deh...


Jadi gini ya Pren... Adekku tuh mau nikah awal bulan depan. Sebagai kakak pertama, diriku (merasa)
punya kewajiban untuk membantu persiapan sang adek tercinta. untuk itu, aku putuskan harus cepat-
cepat meloncat dari Depok ke Tuban. Hmmm... sayang kakiku nggak ada pernya, dan juga aku masih
manusia normal yang nggak menjelma sebagai kodok, jadinya diputuskan lagi aku nggak jadi meloncat
tapi harus naik suatu kendaraan (duh nasiiiib?!?!?! maksudnya?). Nah, kendalanya tuh Hubby nggak bisa
ikut pulkam jauh lebih awal. secara kesibukannya sekarang kian bertambah gitu loh.


So... Akhirnya aku pulang ndirian. Tapi nggak mungkin kan aku ninggalin anak-anakku yang ngomong aja
masih cadel bersama sang papa yang jelas2 sibuk. makanya aku putusin untuk pulang bertiga, me, Fika &
Dhea. Asal naik pesawat.


Jeddeeeer!!!
Kalo didramatisir, mungkin suara petir menggelegar di benak Hubby. Bayangkan... Aku yang kurus-
kerempeng-kecil mau bawa dua anak melakukan perjalanan pake pesawat! Apalagi pas waktu itu, lagi
banyak banget berita tentang plane\'s accident. sebagai suami yang amat sangat sayang sekali ama
keluarga, dia pasti khawatir banget.


Tapi apa mau dikata. I can do it! cuma itu yang bikin aku yakin banget bisa ngelakuinnya. nekaaaaaat
banget, iya nggak sih?


Nah... jadilah aku berangkat ke Surabaya hanya ditemenin Hubby sampe check in aja. selebihnya, aku
menggendong Dhea di punggungku, dan tas di depanku, sedang Fika ku gandeng.
                                                     9




Hey... jangan kaget gitu dong... memang yang begini ini pasti sangat jarang terjadi di indonesia. Tapi
kenapa enggak gituuu. I could do it. and I could handle all these things. Aku pun percaya kekuatan
keyakinan hati pasti mendapat uluran 'tangan' Tuhan.


THe prove... perjalananku lancar. Fika excited banget naik pesawat. dari beberapa hari sebelumnya dah
di bilangin mau naik pesawat. Dia langsung girang, dikit-dikit ngomongin pesawat. Jadi pas naik
pesawatnya pake tangga, bukan lorong, Fika pun nggak banyak tingkah. Dhea apalagi. di gendongan
belakang dia malah sering bengong. utung peasawat bukan jin. jadi nggak bisa bilang kesambet jin
pesawat.


Di pesawat aku dapet kursi dengan deret tiga. kebetulan juga kursi sebelahku kosong. (Tuh kan, Allah
nolongin...) jadi ketiga-tiganya dapat aku gunakan dengan leluasa. Fika yang sibuk dengan crayon atau
jendela juga nggak rewel dan minta jalan-jalan di dalam pesawat. Meski biasanya kalo kena kursi pesawat
aku langsung tertidur, kali ini aku harus tetap buka mata. karna bisa jadi.. tau-tau anakku dah di kursi
paling belakang. Apalagi ada dua anak balita yang juga suka jalan-jalan di dalam pesawat. Huh!!!
Merepotkan! untung aja Fika nggak liat tuh bocah. kalo liat, Beh!!! pasti ngikut lari-lari. bahkan mungkin
bisa lari ke tempat pramugari nongkrong atau ke ruang pilot... walah....


Everything was under control anyway. Alhamdulillah, aku n kedua kiddie nggak kenapa-napa. Pesawat
pun berjalan eh... terbang dengan amat lancar. sampek tak terasa dah mau landing.


It\'s one of a most wonderful experience that I\'ve ever done. It made me more confident to face everything
possitively, especially family's thing.


Pesan moral: percayalah dengan kekuatan hatimu, ketika kamu yakin... yakinlah dan lakukan sebaik
keyakinanmu. Tuhan pasti ada untuk membantu.



Laily D. Nouha
Email Anda: k_0ne1jati@yahoo.com




Kisah 4
                                                      10




Tanding Basket = Kesialan bagi Gue
Pengalaman Pribadi
Oleh : Muhammad Patria


Pasti kalian pada bingung kan, kenapa tanding basket dibilang sial??. Ya.. tapi cerita pada Jum'at, 6
Februari 2009 itu emang bikin hidup gue apes banget. Jadi saat itu ada HUT YAYASAN SANDHYKARA
PUTRA (yayasan SMK gue), dan ada tanding basket. Kebetulan saat gue selesai sama ekskul ROHIS
gue dan bersiap buat ekskul MARAWIS, tiba-tiba aja temen sekelas gue namanya Desi, Fadli, dan Riyan
nyuruh gue buat tanding basket.


"Pat !, ikut basket yahh.. soalnya gak ada anak yang lain lagi !" kata dia bertiga


"Duh.. tapi gue gak bisa main basket !, lagi nanti gue disalahin sama anak-anak sekelas deh !" kata gue
(alasan gue gak mau ikut basket adalah gara-gara gue mempunyai badan yang pendek, kecil dan kurus)
"Lagian nanti kalah deh !!" kata gue lagi
"Gak papah deh, yang penting main, daripada didiskualivikasi" Kata Desi


Terus pas gue jalan pengen ke marawis, si Desi dan Fadli terus ngomong gitu ke gue, gue yang tadinya
nolak buat ikutan berubah pikiran jadi mau main gara-gara kasihan ngeliat dia berdua mohon-mohon
kayak gitu ke gue, akhirnya gue mau juga ikut basket, tapi ada permasalahan lagi, yaitu si Riyan tau-tau
gak ada !!, dan akhirnya Desi ama Fadli nyuruh si Jundi (yang anak marawis juga) yang kebetulan satu
jurusan juga buat main basket. bersiap deh Gue, Jundi, Fadli, Randy(anak basket), dan Andhika(anak
yang jago basket juga) buat tanding basket ngelawan jurusan AKSES kelas 1. udah lengkap orangnya,
ternyata ada masalah lagi, yaitu "BAGI YANG TANDING BASKET DILARANG PAKE BAJU SEKOLAH
DAN HARUS PAKE PAKAIAN OLAHRAGA".
"mati aja deh gue" pikir gue.


Akhirnya si Desi minjem baju kaos buat gue, dan gue minjem celana olahraga sekolah si Tyas (temen
sekelas gue). dan si Jundi juga pake celana basket yang Desi pinjem, karena dia udah pake baju dalaman,
jadi dia nggak perlu minjem baju kaos lagi.


Dan bersiaplah TI kelas 1 lawan Akses kelas 1. quarter satu semua masih semangat, quarter dua masih
semangat meski gak ganti pemain gara-gara gak ada cadangan, quarter tiga Gue sama Jundi udah pucet
dan sakit perut, quarter empat semuanya udah pada lemes. dan berakhir dengan skor yang memalukan
yaitu 10-39.
                                                    11




kalo ditinjau secara logika, pikir aja deh jelas aja mereka menang.


Pertama, mereka ganti pemain tiap quarter, sedangkan kita tetap dengan orang yang itu-itu aja.
Kedua, yang benar aja sih.. pikir deh, masa Istirahatnya cuma 30 detik.
Ketiga, mereka banyak anak basketnya, sedangkan kita banyak anak kecilnya.
Keempat, bisa dibilang mereka udah siap, sedangkan kita udah siap menerima capek.


selesai tanding, si Desi minta maaf ke gue & Jundi gara-gara udah maksa buat main basket. Yah... tapi
mau diapain lagi, gak papalah buat pengalaman.


Sialnya gue gak cukup dihari itu, esoknya gue diketawain sama temen sekelas gue dan diledek-ledek,
apalagi sama temen sebangku gue yang niat banget buat ngeledek gue, dia ngomong ke temen gue yang
lain kayak gini :
"Eh masa basket kalah, Jelas aja yang main si Patria !" Katanya


duuhh.. pas ntu perasaan gue udah kesel banget, dan untungnya di ROHIS gue diajarin buat sabar &
ikhlas. Ya sudah gue ikhlaslah, mau dibilang gak bisa main basket kek, payah kek, bagi gue ntu gak
penting. lagian kalau mau menang, kenapa pas kemarin pada main futsal diluar, bukannya tanding basket
deh yang lebih penting. jadi siapa donk yang salah ??


Muhammad Patria
Email : patrzkrz@gmail.com
Blog : www.blogpatria.co.cc
Sumber cerita : patria-life.blogspot.com




Kisah 5


Dasar Spesies Primitif !
Pengalaman Pribadi
Oleh : Henry


Anjing lu yee, bangsat!!.buukk...buukkk...bukkk


Ingat siang tadi saat berangkat kerja, sekitar pukul 11.00 baru berangkat dari rumah di daerah Tangerang.
                                                     12




Naik angkot, lalu ganti bis patas 157 (yep, patas yg agak-agak butut itu:)) jurusan senen dari tol islamic.


Turun dari angkot saya naik bis tersebut dari belakang, lalu duduk di tengah (bangku dua), di samping
bapak-bapak kemeja putih. Pengennya sih ga di situ karena sempit & kaki saya yang panjang seperti
belalang ini pastinya bakal tertekuk tersiksa. Tapi ini kan bis, agak penuh pula. dapet duduk aja udah
untung (wedeh, curhat...!). Akhirnya kaki kiri saya nekuk, kaki kanan lumayan aman tanpa tekukan.


singkat cerita bis berangkat, pelan-pelan meyusur jalan ke depan. sampai depan Gokart (yang punya
rumah daerah sama dengan saya pasti tau...) bis melambat lagi, rupanya ada ibu-ibu yang naik dari pintu
depan lalu duduk dekat pak supir yang sedang mengendali kuda (wew, eta mah kusir!!:), tuk tik tak tik
tuk...:)). Bersamaan dengan itu naik juga seorang anak kecil lusuh dekil bawa gitar warna coklat. Sama
seperti si empunya, Gitarnya juga ga kalah (dekilnya..heuheu).


setelah naik, si anak kecil ini jalan menyusur agak ke dalam (o ya, umur ni anak kira2 12-13 tahunan..)
lalu berhenti dan bersandar di bangku tiga di arah jam tiga saya, hehehe...arah jam tiga!. Menghadap
sedikit ke saya, lalu dia mulai memainkan Gitarnya & bernyanyi. Ngga jauh, yang di maininnya lagu-lagu
ST12 n peter pan kayanya, judulnya apa saya ngga ingat. Sumpah, suaranya ga enak banget, naik turun-
naik turun ga karuan. Pusing dengernya, Raungan mesin, gemeretak kaca bis, gitar genjrang-genjreng,
nyanyian asal!!. wah, lengkap.
kalo kuping saya bisa ngomong pasti dia bilang "kampret!!".


Rupanya, yang terganggu bukan cuma saya. beberapa orang termasuk bapak-bapak usia 40an yang
duduk di belakang pengamen juga merasakan hal yang sama. Beliau ini menatap si pengamen dengan
wajah ilfil (wew..ilfil nih yeee), agak-agak melotot juga (menurut saya..). Gelisah, kesal dan terganggu lah
pokoknya.


dasar apes kayaknya nih bapak-bapak, selesai pengamen nyanyi (yang parah n ga enak itu..), neck
gitarnya nyenggol dikit kepalanya. kontan aja tangannya nyamber, plaaakkkk....kepala si pengamen jadi
sasaran tangan kanannya. "liat-liat luh!" teriaknya. Belum puas, tangan kanannya kembali melayang
plaaaaaakkk...., kepala lagi sasarannya.
tertunduk meringis-ringis pengamen kecil itu ke depan saya, lalu menoleh "ma\'ap paak" lirihnya. gitarnya
pun sampai mengenai saya. "ma'ap-ma'ap!!" plaaaaakkk...., sekarang giliran pipi kiri si pengamen yang
kena sasaran tangan kanannya.


That\'s it!. Saya yang tadinya kesal oleh suara pengamen malah jadi sebel ma ulah bapak-bapak yang
ngamuk, wong udah minta ma\'af masih di gaplokin aja.
                                                    13




si pengamen saya tarik ke belakang, di pisahkan dari si bapak "cukup pak, cukuup...kasian anak kecil!"
ucap saya (saya lebih heran, dari banyak orang di bis itu kok ya pada diam sajjah!!).
"awas lu jangan ikut-ikutan!\" katanya sambil tepis bahu saya yang baru mau berdiri.
saat itu bis baru sampai rest area & siap-siap teruskan perjalanan (tahu kan Rest area yang di KM 13,5
arah Jakarta dari Tangerang?, tah eta di dinya'!)


Tangan bapak yang masih mengamuk itu saya pegang dengan tangan kiri, lalu sambil berdiri saya dorong
tubuhnya menjauh dari pengamen dengan tangan kanan, "udah pak, malu jadi tontonan.." sambung saya.
"HHHAAAh...lu mau jadi JAGOAN??" tanyanya emosi sambil tepis semua tangan saya. lalu gantian, kali
ini tangan kanannya cekik leher saya.
Habis sudah, selesai...
saya yang dari tadi coba tenangkan dia malah jadi ikutan terbakar, leher gw di cekek orang yang ga gw
kenal batin saya.


"anjing lu yeeee, bangsat!" saya mengumpat lalu buuukkkk...buukkkk...buukkkk tinju kanan dan tinju kiri
saya gantian mampir di wajah dan pelipisnya. sambil terhuyung ke belakang dia balas menendang lutut,
sumpah ngga terasa!.
cengkeramannya di leher saya lepas, dia jatuh terlentang sambil kakinya menendang-nendang saya.
"berani jangan sama anak kecil njing!!!" maki saya sambil berusaha menginjak-injak tubuh dan wajahnya.
tanpa sadar seisi bis mulai heboh, yang perempuan teriak-teriak. para laki-laki yang terdekat dengan saya
sibuk menarik saya menjauh. beberapa yang lain menarik si bapak dan coba membangunkannya.
"turun kalo berani, gua matiin lu!!" bentak saya. dia diam, tapi tampak jelas wajahnya masih emosi.
"mas, isighfar mas.." kata laki-laki sebaya yang memegangi saya. si bapak ngamuk itu usap-usap darah
yang mulai keluar dari hidung. "AYO, TURUN!!" bentak saya lagi tambah nafsu.
"udah mas udah, mendingan mas ngalah...turun di sini!" sadar ucapan laki-laki yang memegangi saya ada
benarnya, lalu saya ambil tas, turun lewat pintu belakang sambil tarik si pengamen dekil itu agar ikut turun
dengan saya (turun di tol cing...!).


saya turun tidak jauh dari mal Puri dan buru-buru bergegas naik ke AJA 104 di belakang bis yang saya
tumpangi tadi (untung macet tadi.., wedeh tiap hari kali macet!). Pengamen dekil itu masih bengong-
bengong di pinggir jalan.


bagusnya, AJA 104 masih nyisain tempat kosong. buru-buru saya hempas pantat saya ke kursi, bersandar,
taruh tas di pangkuan, lalu mulai tenang.
lalu perlahan, perih dan sakit mulai merayapi leher dan lutut. kaos saya sobek di bagian leher, lalu ada
                                                     14




beberapa tanda cakaran oleh-oleh dari si bapak ngamuk, heuheu.... sumpah mulai perih nih!.


Ngapain tadi gw ladenin hati saya memaki. Monyet, ndableg, tolol lagi-lagi saya mengumpat. Seandainya
tadi saya diamkan, pasti tidak akan perih leher saya, tidak akan sobek baju saya, tidak akan sakit lutut kiri
saya, tidak akan turun di tengah tol, tidak akan ganti bis, tidak akan jadi malu kalo nanti bertemu orang-
orang yang memisahkan kami, tidak akan berdarah hidung si bapak ngamuk. Tapi, si pengamen dekil?,
pasti lebih habis di toyor-toyor. Halah, saya jadi tambah puyeng.


Untung istri saya ngga ikut, ga kebayang jewerannya ke kuping ini (hehehe klub ISTI kali ye gw). Pasti
meledak omelannya seketika itu juga.


haduhh...Dasar Spesies Primitif. Melerai malah terbakar!, GOBLOK!!


Henry
Email : mangidi80@gmail.com




Kisah 6


Lentera Bu Minda
Pengalaman Pribadi
Oleh : Dodi Prananda


Aku akan menceritakan sosok seorang yang membuat aku mampu bangkit ketika aku terjatuh. Namanya
Mindawati. Semua murid biasanya memanggil beliau Bu Minda. beliau termasuk guru yang muda di
sekolah. Beliau mengajar pelajaran Budaya alam minangakabau, meski beliau bukanlah bukanlah berasal
dari ilmu tersebut. Beliau memiliki latar belakang sebagai guru Bahasa Indonesia.


     Awalnya aku merasa tidak ada special dari Bu Minda. Ia sama seperti guru-guru yang lain. Namun
aku merasakan sesuatu hal yang membuat aku tertegun. Menurutku Bu Minda adalah seorang guru yang
memberikan aku pelita ketika ia menawarkan padaku untuk mengikuti sebuah lomba baca puisi. Ia
menyodorkan padaku secarik kertas tentang pengumuman lomba baca puisi yang di adakan sebuah
lembaga pendidikan.


     Bu minda tahu aku bukanlah seorang yang mahir dalam membaca puisi. Namun ia hanya berkata
                                                15




singkat setelah menulis namaku dalam sebuat kertas tentang keputusan siapa yang diutus sekolah untuk
mengikuti perlombaan itu.


     Bu Minda hanya mengatakan “jangan pernah berkata tidak sebelum mencobanya”. Aku kian
tertegun. Aku merasa tertantang oleh kata-kata Bu Minda barusan, yang mana setelah itu aku
memberanikan diri untuk mendatangi meja Bu Minda dan berkata bahwa aku sedia untuk mengikutinya.


     Bu minda hanya tersenyum. Setelah aku menyatakan pada diriku bahwa aku bisa memberikan yang
terbaik bagi Bu Minda aku kemudian menanamkan kepercayaan dalam diri bahwa aku bisa. Karena aku
tidak mau membuat Bu Minda kecewa.


     Setelah hari-H acara itu datang aku merasa jantungku dipompa begitu dahsyat. Rasa tanggung
jawab atas diutusnya aku sebagai perwakilan sekolah untuk mengikuti perlombaan itu. Berat rasanya
memikul tanggungan, jikalau saja aku tidak menang pasti aku akan mengecewakan banyak pihak.


     Mulai dari Bu Minda. Ya, Bu Minda telah memberikan yang terbaik bagiku. Terlebih pada kata-
katanya yang selalu menyelip di benakku. Bahkan sebelum melangkah pergi mengikuti lomba itu Bu
Minda mengulangi kata-katanya. Belum lagi kegigihan Bu Minda melatihku, mengajarku bagaimana cara
mendeklamasikan puisi degan baik dan benar. Bahkan pada suatu hari sebelum lomba itu dimulai Bu
Minda telah melakukan suatu pengorbanan demi aku dan lomba itu.


     Selain itu kalau aku tidak menang aku juga akan mengecewakan diriku sendiri, orang tuaku yang
hanya bisa memberikan support, juga sekolah dan teman-teman yang memberikan dukungan.


     Kalah dan menang itu adalah hal biasa dalam perlombaan. Jadi kalau kalau jangan bersedih. Kalah
itu bukan berarti harus mengalah, begitu kata-kata terakhir Bu Minda sebelum aku berangkat ke tempat
lomba itu.


     Di dalam lomba itu aku menemukan para pesaing yang hebat. Banyak diantara mereka telah
berpengalaman dalam membacakan sebuah puisi. Jauh rasanya mendapatkan kata-kata”menang”ketika
para pesaing membuat dewan juri tersenyum manis dan semua penonton bertepuk tangan.


     Akhirnya setelah hampir seharian penuh mengikuti lomba itu, pengumuman para pemenang
akhirnya dibacakan juga. Ketika salah seorang dewan juri menyampaikan hasil perlombaan ku dengar
baik-baik, apakah Nomor lot ku akan tersebut dalam penyampain dewan juri itu.
                                                   16




       Setelah dewan juri selesai menyampaikan pengumuman para pemenang lomba baca puisi tak
kudengar dewan juri membacakan No lot ku keluar sebagai pemenang. Aku terhempas. Tiada kata yang
mampu mengalir dari bibirku. Aku merasakan sebuah goncangan. Sesaat setelah aku terhempas kata-
kata Bu Minda yang mengatakan bahwa “Kalah itu bukan berarti harus mengalah” makin mengabut di
jiwaku.


       Aku berlari ke belakang pelataran parkir di dekat perlombaan puisi itu. Diam-diam aku menjatuhkan
air mata. Namun tiba-tiba sebuah suara membuat aku mengahapus butir air mata yang jatuh perlahan ke
pipiku dengan jemari.


       “kalah itu bukan berarti harus mengalah”. Ibu tadi melihat kamu semangat kok dalam berpuisi. Aku
hanya membalas dengan sebuah pertanyaan“Ibu tadi melihat Dodi ya saat tampil, tadi di sekolah katanya
ibu nggak bisa datang ke sini karna banyak urusan!”. Bu Minda memelukkku seerat-eratnya dan
memberikan sebuah ketegaran untukku.


Kamu sudah memberikan yang terbaik bagi sekolah kita, kata-kata Bu Minda yang terakhir ini membuat
aku makin tegar berdiri di saat rapuh seperti ini. Bu minda memberikan pelita dalam kegelapan hatiku saat
ini.


Setelah lama mendapatkan pengajaran dari Bu Minda, aku makin bersikap dewasa dalam menghadapi
semua persoalan yang menghadang. Bahkan pada suatu hari aku dihadapkan pada sebuah kenyataan
yang amat pahit, aku belum melunasi Lima bulan uang sekolah yang nunggak, padahal kartu ujian bisa
dibagikan setelah melunasi. Aku sangat cemas dam ketakutan ketika mengetahui bahwa aku tidak bisa
mengikuti ujian, tidak hanya sekedar ujian biasa, itu adalah ujian semester, penentu apakah kita akan naik
kelas.


Dengan memberanikan diri aku menemui Bu Minda dimejanya. Kulihat beliau sedang sibuk dengan
tugasnya. Aku uraikan apa maksudku. Bu Minda hanya mengangguk-angguk pertanda mengerti dengan
masalah yang sedang kuhadapi. Bu Minda mengatakan bahwa “hidup itu seperti roda pedati, dimana
suatu saat kita berada diatas dengan artian menemukan kebahagian, terkadang berada di bawah, dengan
artian kita pasti akan menemukan kepahitan.


Bu Minda hanya berkata seperti itu, tanpa menyebut-nyebut tentang kartu ujian. Setelah satu jam berlalu,
aku yang sedang bingung dengan nasibku, apakah akan tetap bisa mengikuti ujian besok atau tidak
hanya bisa tersenyum lega ketika Bu Minda menyodorkan kartu ujian ketanganku. Aku memeluk Bu Minda
seerat-eratnya. Aku sangat berterima kasih pada Tuhan telah memberikan seorang guru yang baik seperti
                                                                    17




Bu Minda. Sampai sekarang kata-kata mutiara yang diucapkan Bu Minda padaku masih kusimpan
dalam hati sebagai prinsip hidup. Life must go on, salah satu moto Bu Minda yang kujadikan sebagai
prinsip hidup.


Dodi Prananda
Email : vjhay_dodi@yahoo.co.id
Blog : dodiprananda.blogspot.com




Kisah 7

BAGIAN KECIL HIDUPKU
Pengalaman Pribadi
Oleh : Rossy


Saya ingin berbagi                pengalaman. anak2 itu beda anak beda segalanya. dulu suami selalu
mengharuskan sy menyuapi anak2 pagi siang dan sore. kalo sore sy                               selalu bareng dgn             pembantu 2
sekitar      kompleks yg              juga menyuapi         makan        anak        majikannya.        sering         mrk     sy     lihat
membuang            makanan krn                 anak     majikan           tidak      mau     makan, dan kadang2                       ada
pembantu lain              yg     makan           krn anak majikan             tidak        mau makan. jd jangan                    heran
kalo pembantu nya                yg       gemuk         anak     majikan           tambah kurus.


pengalaman ku               yg        lain lagi.       setelah suami        pergi     ke kantor sy suruh anak                sy makan
sendiiri      maksudnya menyuapi                  sendiri.......ternyata      dia suka       dan tangan           kirinya sy        suruh
pegang buku          dan sy       suruh lihat gambar di buku             trsbt .lama2 dia suka              dgn        aktivitas    ini.. di
WC         juga      anak2       sy       biasakan       bw      buku , buku            apa sj,      lama-kelamaan dia punya
kebiasaan membaca,                di     kamar      tidur mrk sy         sediakan       fasilities Tv     dan         computer beserta
internet,      biasakan          anak           mendengan          dan      melihat      orang      berkomunikasi            dgn      BHs
Inggris.      anak     jangan          selalu    dipaksa. tapi kita          arahkan        dan    kita     selalu        awasi. sholat
juga       jangan      dipaksa2          tapi      masukkan        anak       ke       sekolah     islam.        jd      dirumah       kita
sholat. sehingga           anak melihat           apa yg       kita kerjakan.....jadi       sebenarnya       mendidik         anak      itu
tidak      sulit. tetapi    bgmn kita            menberi contoh            saja.
                                                                          18




setelah SMP dan SMA                            anak2     juga       sy     biasakan        naik        bus         kota.         pertama kali sy
ajari    mrk         naik      bus        kota/angkutan            umum dan sy iringi              dr     belakang dgn                 mobil sy. sy
katakan. hidup harus mandiri. bgmn                        kalo kita tdk           kaya. dan mama                        atau        pak         sopir ada
halangan menjemput               apa kamu jadi tidak                     bisa kemana2           krn terbiasa            dgn      mobil pribadi.


jika     mrk        belajar.       sy      katakan        bg waktumu.               kapan        belajar.          kapan         makan             kapan
bermain kapan               waktunya sholat. jd anak2 dr kecil sdh sy                                  biasakan mandiri                dan mengatur
hidupnya.


kalo htr minggu             mrk sy             suruh     mencuci....... br mrk boleh                     pergi jalan2            dgn          teman2nya.
kalo      setrika..... boleh               kamu atur         kapan          perlu     dan kapan waktunya untuk                         mensetrika.


anak2        dr     SMP        sdh sy          biasakan      les      bhs      Inggris.... kalo dapat                jadwal         malam         les      d
EF.     sy        menunggu       anak2           pulang les.          sambil belajar d Mobil, jadi                         waktu          menunggu...
d mobil sy manfaatkan                untuk baca2.


yg      bungsu sejak            kecil       sy     bawakan         makanan          dan     siangnya           sy masakan dan                   bawakan
untuk     makan siangnya. memang                        capek tp inilah cara                     sy       mengajari             anak2          mandiri.


kalo siang. kadang2                  anak2        sy    ajari masak            sendiri.     sy     pura2           tidak        mau           masak. jd
sepulang          sekolah      dalam keadaan laper.                      mrk      katakan.        mama                  sy laper knp               mama
tdk     masak?          tuh cumi atau                 acam         ada d       kulkas           . kangkung juga                 ada.      ayo      mama
ajri    masak.        cabe      sudah maa               giling d      pasar kamu tinggal                  tumis          aja.
Alhamdulillah.         skrng       anak2          sy.   yg      tua      22 tahun           sdh tamat              ITB tgl 15            April      2009.
dan          skrng           ada         d Jerman            dpt      beasiswa            dan          juga        kerja.        untuk          tambah2
keperluan          study dan            hidupnya d           sana. yg kedua di UNPAR Bandung                                     smtr 5, walau
dia     bilang       mama          kuliah        sy     banyak        tugasnya.           ndak     apa2            ya      cuci baju sy             suruh
mbak pembantu dan makan sy beli di warung ya ndak apa2. kalo kita                                                          punya duit. yg            pasti
mama         sdh       mendidik             kamu        mandiri          dalam       sgl        hal.          yg        kls 3 SMP               memang
sekolah mahal 800 ribu rupiah SPP setiap bulan                              sekolah pagi dan              pulang              jam       5 sore.


jadi anak2. walau              tanpa      sy disampingnya                   mudah2an anak2 bisa                mengurusi               diri     sendiri.
mudah2an            anak2 sy            bisa     berhasil dan sukses                dalam        hidupnya. begiitu juga                       dgn anak2
semua        ibu2 dan           bapak2           yang lain.
                                                         19




ajari    anak2     sedari    kecil        dgn   contoh   yang     baik      dari     orang    tua.   memang          tiada
gading yang tak retak. hidup               memang tak        ada yg sempurna tapisetidak2nya takdir kita
tak     bisa   menghindarinya.


tidak     semua pengalaman           hidupku    baik2 ada      saja ketidak         sempurnaan dalam         hidup     ini
terutama       dalam kehidupanku. tapi bagaimana             kita sebagai     manusia        menyikapinya.


terima     kasih   sudah     menluangkan waktu membaca goresan dan pengalaman sy.
kita berbagi cerita         semoga        ada   manfaatnya .


mudah2an ada         pengalaman          ibu2   dan   bapa     yang   lebih        baik dan sempurna kita       tunggu
dan      saling berbagi pengalaman.


wassalam
Rossy
Email : roszuchri@yahoo.com, roswidh@gmail




Kisah 8

Cinta Terlarang and Cinta Sejenis
Pengalaman Pribadi
Oleh : Adhy


Saya....seorang yg kehidupan nya biasa2aja..and
oran tua saya hanya berkerja di di rmh makan...
kehidupan saya kurang harmonizz.
mama and papa saya udh bercerai sekitar13 thn yg lalu,kira saya itu baru mau masuk...sd kelas satu.
setelah papa and mama saya cerai saya hrs ikut ama mama saya di medan,sedangkan papa saya hrs
hidup di jkrt dng istri baru...nya....
setelah saya sudah smp kelas satu..,saya menemukan
seseorang yg berarti bagi...saya yaitu seseorang cowok.saya ama dia pcrran sesama jeniss?
tp mama saya tdk tau kl kami pcrran sejenizzz
cowok saya lachhhh yg selalu memberi perhataian khusus buat saya....
Saya ama dia udh pcrran kira-kira7thn udh menjalaniin pcr ran yng terlarang nichhhh
                                                      20




dia lachhh yg meberikan perhatian ,kasih sayang and memberikan cinta nya yg tuluss buat saya...
sampai sekarang nichhhhhh.
Memang usia kami sangat berbedah jauh kali,
dia berumur31 sedangkan saya umur nya 21 thn....
Tp menurut saya umur tdk jd pantokan buat saya
yg penting dia masihh mencintai saya dng setulus hati nya.
sedangkan dia udah kerjaa and saya masihhh nganggur ?
Kami pcrran jarak jauh sekarang ama dia...


dia di bandung sedangkan saya di medan...
Tdnya saya kurang yakin pcrran jarak jauh...
and saya sempat minta putus ama dia... tp dia meyakin kan saya bawah dia akan setia selalu
mendampingin saya itu lachhh janji dia,,,
tp ternyaa janjinya itu di tepattin nya ama saya...
Dia balik kemdn sebulan sekali utk melihat saya..
di mdn.....
Dialachhh pengganti papa saya sekarang....
yg memberikan kasih sayang ad poerhatian nya pada saya?
malah dia perjanji akan bilang ama keluarga ny bawah kami pcrran sejenis....
terkadang saya sempat berfikir apa bs ya pcrran sejeniss itu bs bertahan lama?
br sekitar seminggu yg lalu dia pulang kemdn jumpain saya...rasa nya senang bnget jumpa ama dia...biar
pun km jarak jauh pcrran nya tp komunikasi selalu terjalin dng lancar2aja tuchhh.
saya sempat jg berfikirya....kl lachhh
saya putus ma dia ...apa bs dapat pengganti seprti dia....
hanya sang wkt yg bs menjawab semua itu.


sekian curhat saya....


Adhy
Email : sexypublic@yahoo.co.id




Kisah 9


Judul: Bukan Salah Jurusan
                                                   21




Pengalaman Pribadi
Oleh : Hasan


Semenjak kecil aku terlahir menjadi orang yang biasa. Kadang ku berfikir kelebihan apa yang bisa
kubanggakan kelak. Aku pun terlahir menjadi orang yang suka mengikuti arus. Kadang keputusan yang
kubuat, bukan karena keputusanku, karena arus yang membuat keputusan tersebut harus kuterima.
Termasuk saat penjurusan SMA. Dalam fragmen berfikirku saat itu, aku sama dengan pemikiran anak-
anak kebanyakan di SMA ku. Harus masuk jurusan IPA. Aku pun belajar mati-matian untuk bisa meraih
jurusan itu di SMA ku yang telah masuk standar internasional.


Akan tetapi, ternyata usahaku sia. Saat ujian penjurusan, dadaku terasa sakit. Aku sering batuk. Hingga
beberapa kali mengeluarkan darah.
“Dok anak saya sakit apa?”
Ibu yang waktu itu setia menemani di rumah sakit khusus penyakit paru-paru di daerah ku bertanya.
“TBC”
Dokter itu menjawab singkat.
Waktu itu sempat kudengar ia terus menanyakan beberapa hal padaku. Akan tetapi kuabaikan, aku berfikir,
darimana penyakit ini datang? Aku tidak merokok. Pergaulanku pun dengan orang yang bebas rokok. Aku
bingung. Sementara waktu ujian akhir kenaikan kelas tak bisa berhenti. Aku pasrah.
Ternyata kekhawatiran ku menjadi kenyataan. Saat ujian fikiranku kacau. Aku tak sempat belajar. Aku
harus bertarung melawan dua hal; Ujian akhir dan TBC. Saat itu tak ingin kugunakan izin untuk ujian
susulan, aku tak mau semua orang tahu, termasuk teman-temanku, bahwa aku sakit. Aku ingin mereka
tetap fokus pada ujiannya. Sementara aku pun berfikir penyakit ini akan lama sembuh.
Aku terus berjuang. Hingga akhirnya ujian selesai. Selepas ujian sakit ku makin parah. Batuk darahku
makin sering. Tubuhku pun selalu terasa lemas. Kadang dalam kesendirian aku berfikir, adakah dosa
yang telah kulakukan? Apakah ini suatu teguran dariNya?


Tanya itu terus bermain dalam otakku. Nilai pun diumumkan. Nilai mata pelajaran IPA ku semuanya 6. Air
mata tak kuasa kubendung. Aku tak bisa masuk jurusan IPA yang kudambakan, menjadi seorang dokter
seperti ibuku.
Semenjak itu, tangis menjadi teman dekat yang mengisi keseharianku. Aku banyak menyendiri. Hingga
akhirnya aku berdoa dan merenung.
Buat apa aku bersedih? Toh semuanya sudah terjadi dan tak bisa terulang lagi? Mungkin ini jalan yang
terbaik untukku…
Mulai saat itu, kembali kutata hati ini. Mencoba pasrah dan ikhlas menerima kenyataan. Aku pun berjuang
di jurusan IPS. Ternyata IPS tak seperti yang kubayangkan, membosankan. Ternyata IPS menyenangkan.
                                                      22




Beberapa kali aku menjadi juara pertama dari try out yang dilakukan di daerahku. Hingga kemudian aku
masuk ke universitas negeri terbaik di Indonesia, UGM, dengan jurusan yang cukup bonafit untuk anak
IPS, manajemen.
Berkat jurusan IPS ini pun aku mengenal dunia penulisan. Semasa kuliah, bersama organisasi penulisan
yang kuikuti, aku terus berkarya. Hasilnya sangat membanggakan. Beberapa kali orang memuji tulisanku.
Inikah bakatku?
Waktu terus berjalan. Di manajemen FE UGM indeks prestasi semester ku selalu diatas 3,5. Aku pun
berhasil memperoleh dua beasiswa. Sementara di bidang penulisan, beberapa prestasi kompetisi berhasil
kuraih. Dua hal ini membuatku menjadi orang yang mandiri. Tidak bergantung lagi pada orang tua, mulai
semester 4.
Kini, dalam hati ini terpatri keyakinan yang kuat, ternyata aku bisa menjadi orang yang tidak biasa, bahkan
menjadi orang yang luar biasa. Ternyata, apa yang kita inginkan, tidak selalu mencerminkan apa yang kita
perlukan. Dzat pencipta kitalah yang mengetahui apa yang terbaik bagi hidup kita. Inilah takdir yang
terbaik yang ditetapkanNya untukku. Meskipun kadang melalui jalan yang tak pernah kita duga. Aku pun
semakin yakin, ternyata aku bukan salah jurusan.


Oleh : Hasan
Email : abu_falih@yahoo.co.id, abufalih.multiply.com




Kisah 10


Pernahkah Anda?
Pengalaman Pribadi
Oleh : Dinskizo


Aku pernah berada di alam kandungan
***** 1973
Aku pernah lemah, tak berdaya, rapuh, rentan, kecil
***** waktu aku bayi.
Aku pernah tertusuk paku 10 cm dari telapak kakiku sampai tembus ke permukaan
***** waktu aku kecil
Aku pernah sedih
***** saat-saat tertentu
Aku pernah merasa jengkel
                                                     23




***** pada seseorang
Aku pernah benci pada seorang wanita Subang
***** tahun 2000 saja, sekarang tidak
Aku pernah terharu
***** suatu saat
Aku pernah merasa sendirian
***** ketika takut tidak dipedulikan oleh Alloh
Aku pernah tertawa
***** saat aku melihat anak kecil yang polos
Aku pernah gembira
***** suatu ketika dalam hidupku
Aku pernah bahagia
***** saat aku bermimpi
Aku pernah gila
(mungkin cuma depresi berat ….. atau skizo ??? …. dokterku tak mau mengatakannya padaku)
***** 2000 sampai 2006
Aku pernah kehilangan diriku
***** 1986 sampai 2006
Aku pernah bekerja di sektor formal
***** 2006 sampai 2008
Aku pernah kuliah
***** sekarang aku kuliah lagi
Hidupku belum berakhir
***** aku akan mengalami pernah yang lainnya lagi


Dengan segala kerendahan hati kuminta do’a kebaikan dari pembaca semua


Dinskizo
Atas permintaan penulis, identitas asli tak ditampilkan




Kisah 11


Chatting Adakah Manfaatnya?
Pengalaman Pribadi
                                                                            24




Oleh : Rossy


Sudah ada ketentuan                    dari ALLAH          bagi       kita        manusia, pertama lahir,               kedua      rezeki      ,
ketiga jodoh dan                keempat         mati.


Kita     lahir         sendiri     dan           mati      sendiri          tetapi dalam             perjalanan          hidup            menuju
kematian         itu     apa       yang          bisa      kita kerjakan            dan       bermanfaat        bagi     diri     dan      orang
lain. Masyarakat dan                    Negara.


MASA KECIL


Saya      lahir            kemudian             besar          dan dididik           oleh         orang        tua. Masa          kecil       sy
disekolahkan            di sekolah             Xaverius        walau         hanya          sampai      kelas      4     sekolah           dasar
saya         sampai              sekarang            masih ingat sebelum belajar kami                           berdoa… “ Atas nama
Bapa      dan Putra              dan     Roh Kudus              amin”. Dan            pelajaran      agama        yang     diikuti disekolah
adalah           agama Katolik                tapi     dirumah               kami     tetap mengaji.          Jadi ada          keseimbangan
antara ilmu                d sekolah             dan       didikan           orang tua        dirumah.


Saya ingat               jika     sholat       magrib      tiba        bapaku         sdh     bersiap-siap        menjalankan             ibadah
sholat     magrib               beliau           berdiri       di     depan         sajadah       dan         sajadah      yang         lain sdh
terbentang di              ruang             keluarga kami,           bapak         dan      ibuku       tidak memaksa kami sholat
tapi bapakku mencotohkannya pada kami. Begitu juga                                            kalo puasa kami dengan                      khusuk
menjalankannya.


Kelas 5          Sekolah          Dasar         saya       pindah           kesekolah       Negeri           No. 15/IV dekat            rumahku
kebetulan         bapakku          membeli           rumah yang              sebelumnya        bapakku mendapat                 rumah      Dinas
yang     sekarang ini              sudah menjadi Kantor                          Pajak .


Di       Sekolah Dasar                 ini     saya juga            berjalan        kaki karena                 walau            jauh       saya
sangat       menyenanginya.                     Kalo jam istrirahat               siang           saya        makan             yang        sdh
dikirimkan         oleh          ibu lewat kakak                saya yang sekolah                 siang.


Saya     ingat          saya      juga suka           sekali         ikut     didikan       shubuh      di    Langgar “         Baiturrahman”
yang      kebetulan                ketua         Langgar        tersebut            adalah      Bapak         saya. Tak         jarang      kami
suka     mengisi acara d                      RRI       acara         Didikan         Shubuh.
                                                                         25




Masa       kecil         yang indah……..            banyak           kenangan. Saya               bisa       ngaji.          Lomba cepat tepat
Agama dan              yang pasti saya             bisa sholat.


Kota       Jambi saya             Tinggalkan…….saya                   mengikuti                kuliah             di     Universitas         Sriwijaya
Palembang                saya    ingat          cita-cita     saya jadi           Ahli     Hukum, tetapi               karena di        SMA         saya
masuk bagian              PasPal           saudara          saya           menyarankan                saya memilih               Fakultas         Teknik
Sipil.     Saya          tidak    mengerti        apa        yang          akan          dipelajari         dan        akan jadi           apa nanti..
ternyata       benar                cita-cita     saya.       Bukan          ingin        menjadi            Insiyur. Tetapi Ahli                Hukum.
Karena        Di         sini    kuliah saya          hampir         8     tahun.           Tetapi saya                selesai      juga           walau
hampir        menjadi            Mahasiswa         Abadi.         Saya        sempat          kerja         d          Consultan        waktu       msh
menjadi mhs              tanpa       bayaran         alias         tidak          digaji…..ndak             apa2          yang       penting dapat
pengalaman.


Saya         tidak        bekerja         setelah selesai           kuliah        walau       menyandang predikat Insiyur………….
Jodoh         sdh diatur ALLAh ini ketentuan                          ke      3       dari ALLAH.


Hari-hari      saya         disibukkan       dengan          urusan        rumah          tangga        .         anak       pertama        lahir…….
Dan        saya tersentak.               Manusia             itu         sebagai             makhluk            individu         juga            makhluk
social..           .       akankah         aku hanya               mengabdi          pada        anak dan                suami.      Mana fungsi
social        aku sebagai manusia?. Akhirnya                         aku      cari kerja. Dan                aku diterima sebagai                 Dosen
honor di           perguruan        Tinggi di kota                 Palembang.


Anak        kedua.lahir….. Anak                 ketiga       kemudian             juga       lahir….dan            aku.          Apakah           sudah
merasakan              kebahagiaan.         Ternyata Kebahagiaan itu tidak                         bisa diukur.


Aku      hanya           menyandang        gelar S1          masih       banyak            orang-orang             pintar     yang menyandang
gelar       lebih dari itu.         Apakah          ada       gunanya             semua        gelar tersebut?.
Bingung        aku        menjawabnya.


Aku        teringat         petuah          Bapakku           dulu sewaktu                 aku        mau               masuk        kuliah           ….
Anakku“ Bapak Ingin. Anak-anak                        Bapak Sarjana” “.tapi sayang.                          Saudara-saudara               mu yang
3     orang        itu           cepat     mendapat           jodoh        sehingga          tidak          sempat       menyelesaikan               kan
kuliahnya.             Akankah       kamu        menyusul           jejaknya?”.             Ku tatap              wajah bapakku              “      Aku
berjanji      dalam hati            aku     ingin membahagiakan                      ke       dua           orang tuaku.            Dengan          jalan
rajin      belajar.         Menjadi        sarjana          dan       bekerja             mengabdikan diri                  untuk          masyarakat
dan      Negara.
                                                                      26




Akankah……. Ini             menjadi kenyataan?.


       Beberapa        tahun        Kemudian…………………...Ternyata                                  Tuhan memberi                 musibah      pada
keluarga       kami………….bukan                  musibah tetapi Takdir? Akankah                          Takdir kita             hindari?.


Mungkin              musibah          yang        Tuhan berikan tetapi                     percayalah          dibalik semua itu Tuhan
akan     memberikan        kebahagiaan                  yang     lain buat kita.
Kita manusia            wajib        berikhtiar………tetapi               semua              ketentuan            sudah         ditentukan oleh
ALLah.


CHATTING


Dalam keterombang-ambingan itu                     aku         tahu        dan mengenal                 “Chatting”. Ternyata dijaman
dahulu tidak ada chatting             mebuat aku terhanyut                   dengan             hobby ini.


Aku mengenal           banyak teman------- aku                 mencintai             mereka.


Apakah         Aku      depresi……….. kata                 teman-teman aku                  depresi……..gila             kata      teman-teman
aku     gila, ternyata aku bahagia               dengan        kegilaan           itu.
Aku        mengenal        Vidio       call.     Atau      3G.         semua             ini    dimasa         remaja         ku tidak       aku
dapatkan.


2 tahun        aku hobby            chatting      walau          tidak setiap hari                 atau         setiap        malam          aku
menjalankanya.         Teman-teman              sinis     melihatku.         Tapi         aku cuek        saja         dan     aku         tetap.
berchatting     Ria.


Ternyata        Chatting       ada      manfaatnya………                      aku       ikut        Program         Sandwich ke Malaysia
dan      aku         research         tentang “Soil            Erosion           on Oil Palm              in      Sloping         Area”. aku
menganalisa tanah              di     laboratorium dan             menduga               erosi mengggunakan               alat     Rain      fall
Simulator      dan harus            membuat         laporan           dengan             menggunakan           Bahasa          Inggris.     Dan
ternyata aku bisa menyelesaikan laporan tersebut                           walau laporannya                    tidak     bagus-bagus amat
tapi     aku      bangga        ketika         ketua     jurusan      d      Malaysia           mengatakan “ the best” dan juga
walau      Aku harus 2 (dua) bulan menunda                       kepulanganku               k    Indonesia       yang         seharusnya       4
bulan    menjadi       6 bulan         d Malaysia         dan      juga          saya      masih        meninggalkan           hutang-hutang
SPP karena kekurangan                 biaya      studi     disana          tetapi aku           puas     ternyata        Chatting         banyak
                                                                 27




manfaatnya.


Jadi        jangan       menggangap chatting             hanya membuang               waktu. Tetapi….jadikanlah chatting
sebagai         Hobby      yang bermanfaat.             Bukan      kita    tidak       menghargai      Bahasa        Indonesia.
Tetapi      Bahasa       Inggris     adalah Bahasa           Internasional yang         digunakan     untuk     berkomunikasi
antar       bangsa dan         sebagai jendela               Ilmu Pengetahuan.


Dan      dengan         Cahtting         aku punya      banyak teman……….                Teman Maya.           Yang        saling
sayang menyayangi                  dan           kita lebih mengghargaikan             kebebasan…dan           sebagai orang
yang .Merdeka.


Kebebasan.ya             .kebebasan……..bersyukurlah                   kita manusia bebas        yang      bisa menjalankan
aktivitas       yang     berguna          dan berguna         bagi orang      lain,     dibandingkan     teman-teman        kita
nun      jauh      disana….. ROSWIDH..terima                  kasih ………            Kata-kata    ini     yang      ingin     aku
harapkan               memberi motivasi          pada        kita semua.
Semoga            goresan       saya        ada      manfaatnya.


Dan      kita    berbagi      kasih        dan     sayang.


Rossy
Email : roszuchri@yahoo.com




Kisah 12


Surat yang akan Kubacakan Untukmu Delapan Belas Tahun dari Sekarang, B
Pengalaman Pribadi
Oleh : Mr. X


        Aku tahu, ini mungkin sudah tidak akan ada gunanya lagi. Tapi meski sebentar, mungkin nanti kau
masih bisa menyempatkan diri menengok kami dan sekedar mendengarkan ketika nanti kubaca di tempat
kita semua janji bertemu. Kuingatkan kau sekarang, kalau kita semua, ada janji bertemu delapan belas
tahun dari sekarang di depan bangunan-segi-lima yang menjadi awal sejarah kita semua. Aku berani
jamin, bahkan dengan taruhan yang waktu itu sempat kau elakkan dengan alasan sudah mendekati akhir
bulan itu pun, bahwa kami semua akan datang ke sana, di tempat kita semua janji bertemu.
                                                    28




     Sudah sejak lama, ketika kita semua masih di awal saat lima-belas itu baru berkenalan, aku
mendaftarkan diri sebagai salah satu yang iri akan kebaikannmu. Kedatanganmu yang terlambat saat
pertama kali sampai di graha, membangunkan kami yang terlalu capek dengan perjalanan seharian,
dengan suara koper yang tertahan. Dan kau meminta maaf sampai membungkuk-bungkuk padahal kita
belum berkenalan sama sekali. Kita yang sama-sama asing hanya bertukar senyum ketika kau
menawarkan nasi bungkus bekalmu yang kau makan di atas kasur. Tanganmu terulur dan kita berdua
resmi berkenalan. Menggelikan dan sama sekali bukan kesan pertama yang pantas di ingat. Aku tidak
terlalu ambil pusing waktu itu, karena kita semua masih berstatus sebagai saingan.


     Tahun pertama lewat begitu saja tanpa yang berarti tentangmu. Hanya ketika tahun kedua, aku
benar-benar bisa mengenalmu. Dengan alasan sebagai mata-mata, kita berdua yang ditumbalkan untuk
bisa meluangkan waktu setiap selasa malam, berpura-pura belajar bersama sepuluh mereka yang lain di
ruang keramat itu. Satu hal yang kuingat, saat ada drama terpaksa yang tentu saja bukan bakatku, kau
dan pasanganmu menjadi yang paling seru. Aku sampai mengeluarkan air mata saat itu, karena sadar
bahwa kau ternyata juga bisa segila waktu itu. Inilah juga yang membuatku berpikir ulang tentang
komunitasmu itu. Ternyata ada kau, dia dan beberapa dia yang tidak terlalu eksklusif. Aku salut.


     Kegilaanmu itu juga lah yang setiap pagi pasti membuat aku dan teman kamarku menambah daftar
dosa yang harus di hapus sebelum cuti lebaran. Kebiasaanmu dengan tiga orang di depan kamarmu itu
untuk saling memaki dan menutupnya dengan ledakan tawa yang dahsyat, mau tak mau memancing kami
yang lain untuk berkomentar. Dan biasanya, pagi kita yang luar biasa itu berakhir dengan teriakan
keramat yang sama-sama membekas di hati kita semua. Teriakan dari beliau-yang-namanya-tak-boleh-
disebut, yang pernah meluluhlantakkan pintu lemari tiga kamar di sebelahku setelah sehari sebelumnya
secara tidak sengaja kami aklamasikan sebagai bapak angkatmu. Dasar wakil pengasuh.


     Ketika menginjak tahun kedua saat kita sedang berada pada level seorang berdasi strip dua yang
paling sombong, satu masalah membuat kita bertiga puluh tiba-tiba sepakat mengumpulkan diri. Dan
sepanjang konferensi melingkar itu, aku banyak belajar dari caramu membuat kami bungkam, berpikir dan
mencerna sekian rentet bercandaan yang aku pikir lebih menohok kami daripada sekedar nasehat.
Sampai malam itu berakhir, kami semua, termasuk aku, memendam pekerjaan rumah masing-masing
akan arti sebuah komitmen, bukan hanya demi diri ku sendiri, tapi demi nasib ke dua puluh sembilan yang
lain. Pagi hari berikutnya, mungkin hanya komitmen sederhana agar kita semua tidak menjadi pasukan
hijau yang mencolok dan memancing semua mulut untuk berkomentar. Namun sekarang, aku sudah
meluaskan ajaranmu malam itu tentang bertanggung jawab akan sebuah komitmen, bukan hanya untuk
segelintir orang yang kita sidang malam itu, tapi juga untuk dua-ratus-sembilan-puluh-sekian yang
                                                  29




menemani kita menyelesaikan push-up dan setengah-kombinasi sebanyak lima belas kali dengan jas
kebanggaan kita itu.


     Kau dan komunitasmu itu juga yang mengajarkan kami cara meluruskan tangan yang benar,
membengkokkannya dengan sudut tertentu, membanting badan yang bisa kalian lakukan dengan diiringi
wow-keren-kok-bisa-ya dari junior dan serangkaian ritual yang bagiku sangat melelahkan itu. Masih ada
gaung suaramu yang bercampur dengan yang lain ketika kalian bergantian menjadi komandan di depan,
sementara kami dengan sesekali bercanda mengekor di belakang. Dan di momen-momen akhir tiga tahun
yang luar biasa itu pun, kita ternyata masih belum terlalu sering belajar satu sama lain. Hanya
keisenganmu yang sering melintas koridor, untuk mencari komik atau sekedar laptop yang sedang
menyala dan ikut menonton film, yang membuat kita bisa sesekali bertukar salam. Selebihnya, aku lebih
banyak menguping dari irisan mereka yang sama-sama dekat dengan kita berdua akan semua tingkahmu,
yang untuk ke sekian kalinya, meyakinkan aku bahwa menjadi seorang yang idealis bukan berarti
mengorbankan kebebasan kita untuk membandel.


     Dan sampai lima-belas kita itu tiba di boulevard untuk acar pelepasan alumni, aku masih merasa
belum cukup belajar darimu, dan dari teman-teman kita yang lain. Pagi yang kita tangisi itu menjadi saat
terakhir kita bertemu.


     Delapan belas bulan kita berpencar, sekarang aku hanya bisa berbagi tawa dan kagum ketika aku
membaca sekian testimonial yang ada di wall-mu. Dengan situs jejaring sosial itu, aku dan semua yang
pernah kau hutangi sebuah atau sekian buah perbuatan baikmu, bisa berbagi denganmu. Aku jamin, kau
pasti kaget seberapa banyak notifications yang akan kamu temui, seandainya kamu sempat log in lagi. Itu
bukti bahwa semua orang menyayangi kamu.
     Kami semua kagum denganmu.


     Bagiku, ini tidak perlu dibuktikan, karena aku memang kagum denganmu. Kagum ini memuncak,
ketika dua minggu yang kau habiskan untuk melawan selang-selang dan gaung mesin-mesin aneh di
sekitarmu itu, tidak cukup untuk meredam senyum dan sinar matamu. Untuk mereka yang masih butuh
bukti, semua orang yang hadir mengiringimu pergi kemarin pasti sudah lebih dari cukup. Perjuanganmu
selama ini untuk menghadiahi mereka yang ingin ngobrol denganmu dengan mata yang penuh
kegembiraan itu sudah sangat cukup. Senyum yang masih saja sempat kau sunggingkan untuk kami
sebelum bumi mengantarmu, meyakinkan kami semua bahwa ini memang yang terbaik untukmu. Betapa
sekarang aku sadar, bahwa memang ada orang-orang yang akan ditangisi kepergiannya oleh orang
banyak, bukan hanya oleh orang-orang di sekitarnya tetapi semua orang yang bahkan sekedar
mendapatkan kehormatan untuk berkenalan dengan mereka. Dan aku pikir, kau salah satunya.
                                                   30




     Selamat jalan, B.


Oleh : Mr. X
Atas permintaan penulis identitas tidak dicantumkan




Kisah 13


Click STOP
Pengalaman Pribadi
Oleh : Novita Wijayanti


Menunggu itu memang melelahkan dan membosankan. Inilah yang aku rasain dan temen-temen yang lagi
nungguin pengumuman hasil SNMPTN, tapi stay cool di rumah nggak ke mana-mana. Bosen abiz.
Akhirnya seorang temen, sebut aja Kuma, ngajakin jalan ke Mall terdekat. Katanya sih ada kursus gratis
bikin kerajinan tangan kayak Box Art, Candle Art, Origami, dll gitu. ya...okelah, daripada nganggur di
rumah.


Kita janjian ketemu jam 12 n kemudian kita pun langsung meluncur (kayak ice skating aja) ke tempat
kursus. Oia, kita nggak cuman berdua, coz ternyata Kuma juga ngajakin satu temen lagi namanya Leny.
Oke deh daripada berdua kayak orang lesbi...:(


setelah kita datengin tempat kursusnya, ternyata yang jaga lagi makan. sebenernya sii yang jaga ada 2,
cuman karena kursusnya di tempat yang berbeda (meskipun nggak jauh juga), so kita mesti nungguin
penjaga yang satu lagi kelar makan.
karena nggak tau di mana penjaga tadi makan, kita pun pamit pergi n ntar balik lagi (kayak lagunya Ello
aja, 'Pergi Untuk Kembali' :p).


Maskipun mampirnya ke Mall, tapi kita sama sekali nggak masuk distro-distro ato shopping. Selain kita
bukan Shopaholic, masalah yang paling mendasar adalah: nggak ada budget. wkwkwk...:D
so, kita pergi tempat yang udah sering banget kita kunjungin sampe bosen (tapi seratus kali kunjungan,
mungkin cuman sekali kita beneran beli buku :p): Gramedia.


kira" sejam kita di sana, kita pun balik ke tempat kursus tadi. penjaga satunya udah balik ternyata. Oke,
                                                    31




mari berkarya! :D
...
......waktu terus berjalan (punya kaki emang?), ternyata bikin Box Art doank lama banged. Entah emang
bikinnya lama ato kita ajja yang lemot. Yah..namanya juga pemula, gpp lah...:P
jam 5 sore akhirnya kita udahan. Huahh...ngantug, laper, n capek bersatu padu menjadi satu (maju
perang!). Sebelum pulang, AQ ngajakin Kuma n Leny buad beli Takoyaki di lantai paling atas buad ngisi
perut.


Jalan...jalan...
"Eh, kenapa nggak lewat elevator yang sana ajja?" tanya Kuma tiba-tiba.
Dia nunjuk eskalator yang ada di belakang kita, n sebenernya emang lewat sana paling deket. Oke, kita
pun lewat eskalator itu.
..naik...naik...
"Yah...eskalator yang ini mati...," keluh Leny.
"...ya nggak papa, yg itu nyala kan," kata Kuma menghibur.
Yupzz..ternyata elevator yang selanjutnya jalan.
..."Engg...kalo yang ini dipencet gimana?" tanyaku iseng.
Aku nunjuk sebuah tombol di pinggir eskalator bagian bawah. Tombol bertuliskan 'STOP' berwarna merah.
Tanpa menunggu jawaban, n kalo pun dijawab Q juga bakal tetep pencet tuh tombol, akhirnya..."......"
"Nobeeeekk!!"pekik Leny n Kuma bersamaan.
...tanpa ba-bi-bu, aku langsung lari jauh-jauh dari mereka. Ternyata eskalatornya beneran mati!
Nyampe atas, aQ coba pencet lagi tombol yang sama. Eskalator tetep diem. Pencet lagi. Nggak ada yang
berubah. Pencet...pencet..ceeett...
"...untung nggak ada orang," ujar Kuma sedikit sebal.
AQ cuman senyum-senyum sok innocent nanggepin omongannya.
..yah...salah Mallnya juga..kenapa ada tombol 'STOP', tapi nggak ada tombol 'ON'..??


Novita Wijayanti
Email : psycho.schizo@yahoo.com




Kisah 14


Bapakku Teladanku
Pengalaman Pribadi
                                                  32




Oleh : Ade Muharram


Ini sebuah ungkapan terdalam dari ungkapan rasa terima kasih ku pada bapak yang telah memberikan
cahaya dalam menyinari hidupku hingga kini.


Walaupun engkau telah tiada jasanya tetap terasa ,tetap menancap pada arah perilaku-ku setiap saat.
Bapakku namanya Muharram bukan orang besar ,bukan public figure , dia hanya seorang
pendidik ,seorang guru yang jiwanya murni hidup untuk mengabdi pada dunia pendidikan.
Bapakku hanyalah seorang sederhana, jujur, low profile tetapi justru dengan keberadaannya seperti itu
bapakku pernah mencapai prestasi yang tinggi yaitu menjadi guru SMA teladan nasional ke satu       pada
tahun 1977.


Inilah suatu penghargaan puncak yang membuktikan bahwa dia sangat mencintai profesinya sebagai guru.
Perjalanan kilas balik kebelakang , bapakku sejak kecil sudah ditinggal ayahnya pada usia 5 tahun,dalam
kondisi kehidupan yang serba kekurangan bapakku diasuh oleh neneknya yang janda dan telah
mengasuh 3 anak yatim lainnya .


Karena kondisi yang tidak memungkinkan pada masa itu , bapakku tidak mudah       untuk bersekolah, atas
bantuan bapak Abdullah yang baik hati , beliau bukan kerabat tetapi beliau mempunyai hati yg mulia untuk
membantu bapakku untuk bisa bersekolah karena beliau tahu bahwa bapakku mempunyai potensi yang
besar dalam sisi intelektualnya.


Suatu hari ketika aku sudah menginjak remaja (SMP kelas 1sekitar tahu 1982) , aku bertemu dengan
teman bapaku dan beliau mengatakan tentang cerita masa lalu bapakku, Nak Ade ,begitu teman bapakku
memanggilku, bapakmu dalam kondisi apapun kemana-mana selalu membawa buku, mengembala
domba saja beliau selalu membawa buku , maka tak heran prestasi akademis bapakmu selalu hebat nak!
Saya dididik oleh bapakku dalam suatu kondisi yang sangat demokratis ,tidak dimanjakan dan tidak juga
keras.


Beliau tidak banyak bicara , maka contoh nyata dari cara mendidik anak hanyalah terlihat dari perilaku
sehari-harinya.
Tak banyak yang bisa diungkap kehidupan masa laluku karena sudah lama berlalu sekitar 25 tahun yang
lalu.


Tahun demi tahun bapak tetaplah hanya seorang guru yang selalu berpegang teguh pada prinsip seorang
pendidik, sebenarnya sudah lama bapak diusulkan untuk menjadi kepala sekolah , tetapi hatinya berat
                                                  33




meninggalkan neneknya yang telah mengasuh sejak kecil, hingga usulan itu ditolaknya. Nenek atau buyut
bagi saya sudah lama serumah dengan saya. Beliau adalah kebanggaan bapakku walaupun bapakku
masih mempunyai ibu, tetapi karena sejak kecil diasuh oleh neneknya maka bapakku telah menganggap
neneknya adalah ibunya.


Hingga pada suatu saat ketika tahun 1976, bapakku mewakili kabupaten indramayu (bapakku Guru
SMAN 1 Indramayu) dan jawa barat untuk ikut event pemilihan guru teladan se Indonesia, dan hasilnya
adalah sebuah prestasi yang membanggakan meraih guru SMA teladan ke 1 se indonesia.
Atas prestasinya bapakku mendapat banyak pengargaan baik dari pemerintah daerah maupun
pemerintah pusat.


Dari pemerintah pusat bapakku mendapat:
1.     Piagam pengargaan dari bapak presiden Soeharto dan uang sebesar Rp 350.000 (sangat besar
pada waktu itu)
2.     mendapatkan jam tangan Seiko dari menteri dalam negeri Amir Machmud
3.     pergi ke luar negeri ( ke jepang dan Hongkong) selama 1 minggu sebagai studi perbandingan
pendidikan disana dan di Indonesia.
Dari pemerintah daerah mendapat :
1.     mendapat sepeda motor dari bapak Bupati Indramayu , Bapak Jauhari SH
2.     janji mendapatkan sebuah rumah yang hingga wafatnya bapak saya , janji tinggal janji,tetapi bapak
tidak mempersoalkan hal itu , karena materi dan harta bukan hal utama dalam kehidupan.


Pada tahun 1977 , tak kuduga bapakku membawa surat dan beliau sepertinya kaget menerimanya ,
akhirnya berembug dengan ibuku ,ternyata surat itu surat promosi bapak menjadi Kepala sekolah di
SMAN 204 Subang , tentunya hal ini tidak bisa ditolak karena sudah berbentuk SK , akhirnya bapakku
menceritakan pada nenek (buyut) ku , bahwa belaiau harus pindah tugas ke kota lain, dan bapak
mengajak buyut untuk ikut ,tetapi buyutku menolak karena kota subang sangat jauh menurut buyut.
Sebuah dilema antara kewajiban sebagai pendidik untuk patuh kepada aturan dengan perasaan sayang
yang sangat terhadap neneknya.


Akhirnya bapak mengambil sikap untuk patuh pada aturan, namun keputusan        ini dibayar sangat mahal,
karena sehari menjelang kepindahan ke Kota Subang, nenek bapak atau buyutku meninggal dunia.
Bapak sangat terpukul dengan hal ini dan merasa sangat bersalah , tetapi tugas adalah tugas sebelum
menuju subang akhirnya keluarga kami harus terlebih dahulu mengurus jenazah nenek atau buyut untuk
dikuburkan secara layak.
                                                   34




Pada hari minggu setelah penguburan nenek atau buyut , keluarga kami menuju ke tempat yang baru ke
subang dgn diantar oleh sanak famili, tetangga dan guru-guru SMAN 1 indramayu.
Resmilah bapak menjadi kepala sekolah SMAN 204 atau 1 Subang , sepak terjang dan karir bapak
selama menjadi kepala sekolah di SMA 204 subang , bagi saya tidak memalukan dan menjadi panutan
saya untuk meniru tingkah laku bapak yang disiplin terhadap waktu, jujur,sederhana,dan tidak gila materi,
rumah kami pun masih mengontrak di indramayu ngontrak di Subang ngontrak tetapi alhamdullilah atas
kebaikan yang punya rumah ibu Popon Ras , rumah itu bisa dibeli dengan cara mencicil, tepatnya di Jalan
Jawa no 21 Subang (rumah kenangan, rumah idaman).


Puncak dari keanehan saya pada waktu bapak bertugas di Subang adalah bapak pernah menjadi calon
Bupati Subang yang pada waktu itu masih ada istilah calon pedamping sedangkan calon jadinya adalah
IR sukanda Kartasasmita , calon pendampng lain adalah Dr hendra.
Mengapa merupakan keanehan ? bagi saya bapakku jauh sekali dari dunia politik dan kebetulan bapak Ir
sukanda Kartasasmita sebagai calon jadi mempercayai bapak sebagai calon pedamping.
Seorang guru kock, menjadi calon Bupati !


Bapak menjadi kepala sekolah SMAN 204 subang dari tahun 1977 s/d 1984, kemudian bapakku
dipindahkan menjadi kepala sekolah SMA XI Bandung , dan akhir karir tugasnya bapak bertugas menjadi
kepala sekolah SMAN 1 Bandung dan kemuadian menjadi pengawas.
Pada tahun bulan Mei 1994, bapakku meninggal dunia , sedih dan syok ku dibuatnya , aku masih
membutuhkan sosok bapak untuk lebih banyak bertanya lagi tentang hidup.


Ada sesuatu nasehat yang terus masih terkenang dibenakku hingga kini , ade jangan terlalu berharap
dengan harta warisan dalam hidup ini, mencarilah sendiri dengan jalan sendiri tentunya dengan jalan lurus
yang diridhoi oleh Allah.


Bapakku adalah guruku , bapakku adalah kebanggaanku bapakku adalah kompasku, ketika arah hidup
semakin absurd, semakin tidak jelas , semakin kejam, semakin membuka banyak dosa.
Maka ketika melangkah untuk menjalani hidup ini aku selalu mencontoh dan berusaha menerapkan
perilaku bapak yang jauh dari dosa ,yang jauh dari gosip, yang jauh dari gelimang harta haram,
memegang teguh prinsip dan menjaga selalu wibawa seorang guru .
Guru seorang yang harus digugu dan ditiru.


Semoga murid-muridnya merasakan apa yang saya rasakan , bapakku mengabdi 39 tahun menjadi
pendidik dari menjadi guru di SGB Sukadana Lampung, SMAN 1 indramayu. SMAN 204 Subang, SMAN
11 Bandung,dan SMAN 1 Bandung.
                                                    35




Bapakku kau selalu dihatiku sosok sederhana , jujur dan berwibawa.
Bisakah saya meneruskan peninggalan berharga teladanmu ?
Bapak , saya hanya berusaha untuk tetap ingat pesan-pesanmu , karena situasi hidup sekarang ini penuh
jebakan, penuh tipuan,penghargaan dipelintir terbalik , sehingga orang-orang terpilih jauh pergi nyaris tak
terdengar gaungnya.


Bapakku terimakasih.
Perilakumu semoga terpatri sampai tulang sumsum perilaku-ku, membawa arah tak wajar pada dunia
sekarang yang serba hedonis.


Ade Muharram
Email : mm_darmawan@yahoo.com
Kisah 15


Antara Biaya dan Cita-Cita
Pengalaman Pribadi
Oleh : Mustopa


Aku adalah anak desa yang dilahirkan dari keluarga yang punya latar belakang ekonomi lemah, kedua
orang tuaku hanyalah petani yang punya penghasilan bisa dibilang kurang. Untuk membiayai hidup enam
orang anaknya beliau harus banting tulang setiap hari demi mencukupi kebutuhan rumah tangga.
yach….itulah sedikit gambaran tentang kehidupan keluarga kami.


Dari deretan keluarga kami, aku termasuk anak keempat dari enam bersaudara itu dan aku satu-satunya
anak yang bisa tamat SMA. Mengingat kehidupanku sejak SD sampai SMA, mungkin lebih parah dari
kehidupan si Ikal dalam novel Laskar Pelangi . Dulu waktu aku masih SD aku harus bekerja setiap hari
demi meringankan beban orang tuaku. Kalau musim kemarau, sebelum berangkat sekolah aku harus
menyiram tembakau, dan apabila musim hujan aku harus membantu kedua orang tuaku menanam padi
dan menjaganya agar tidak diganggu oleh hama tanaman seperti aym,burung, dan lain-lain.Meskipun
hidupku demikian aku tetap semangat untuk terus belajar demi meraih cita-citaku. tak heran jika aku tamat
SD dengan peringkat siswa siswa terbaik kedua.


     Setelah nganggur selama satu tahun, aku baru bisa melnjutkan pendidakanku ke Madrasah
Tsanawiyah (Mts). Hari-hariku selama menempuh pendidikan di MTs tetap sama seperti waktu aku masih
SD, aku harus membantu orang tuaku setiap harinya . Selama di MTs semangatku untuk terus meraih
                                                   36




cita-cita semakin besar. setiap hari aku belajar sampai Pukul 12 malam agar akau bisa berprestasi.
semangatku waktu itu tidak sia-sia karena selama aku duduk di bangku MTs aku tidak pernah lengser dari
posisi rengking pertama dan aku bisa lulus sebagai siswa terbaik pertama.


     Setelah aku lulus dari dari MTs, aku bingung mau melanjutkan atau tidak, faktor biayalah yang
membuat aku kebingungan . Namun aku tetap percaya diri aku akan bisa membiayai sekolahku. akupun
memutuskan untuk masuk di SMA favorit di kotaku. bisa dikatakan sekolah itu biayanya cukup mahal dan
harus benar-benar orang yang terpilih yang bisa masuk di sekolah itu. serangkaian seleksi yang cukup
rumit telah aku ikuti tepat pada tanggal 11 juli 2006 aku dinyatakan diterima di sekolah itu. yang menjadi
masalah pada saat itu ialah ketika aku harus mendafatar ulang dan harus membayar uang daftar ulang
dan uang seragam sebesar Rp. 428.000. karena pada saat itu orangtuaku tidak punya uang sebanyak itu,
alhamdulillah atas pertolongan Allah, akhirnya ada orang yang mau memberikan pinjaman.


     Selama SMA aku harus jauh dari kedua orang tuaku, aku harus tinggal bersama saudaraku yang
juga termasuk orang yangt tidak mampu dari segi ekonomi. aku baru bisa bertemu ortuku seminggu sekali,
itupun kalu aku punya ongkos untuk pulang. biaya SPP di SMA ku terlalu mahal bagi keluargaku (Rp.
65000/bulan).berbagai macam cara telah aku lakukan yag aku lakukan untuk bisa meminimalisir biaya
tersebut. akhirnya aku dapat beasiswa selama setengah tahun yang besarnya cukup untruk membayar
SPP satu semester.


Sekali lagi aku bersyukur kepada Allah, Karena berkat pertolongannya dan karena prestasiku aku bisa
masuk ke kelas unggulan dan aku dibebaskan dari biaya sekolah. setelah tiga tahun belajar, kini aku
sudah lulus dari SMA namun sampai saat ini aku tidak bisa melanjutkan kuliah karna orang tuaku tidak
mampu membiayaiku apalagi biaya kulih sekarang sangat mahal.


Mustopa
Email : elabdy5137@gmail.com




Kisah 16


Kalau Ku Tahu itu Sodomi, Tak Begini Akhir Cerita ini
Pengalaman Pribadi
Oleh : Teguh Afandi
                                                   37




Pernah atau bahkan sering kita menikmati pelangi usai hujan siang hari. Macam rona warna yang
berbeda membuat pelangi itu indah di mata. Begitulah hidup seorang, bermacam warna memberi kesan
tersendiri di setiap senti diari hidupnya. Entah merah penuh luka atau cerah ceria macamnya. Pena
kehidupan akan selalu saja bergerak menuliskan memoar kenangan seseorang. Memoar yang memberi ia
pelajaran. Memoar yang kelak terkuak, seperti sejarah Jamal dalam film Slumdog Millionaire.


Begitu juga dengan diriku ini. Kisah luka hingga bertuba, sampai kisah ceria bahagia terlewat hingga kini
angka 19 dalam usia. Kisah yang satu ini memang patut dikenang. Siapa yang mengira, sejarah kelam
berbeda dengan terang yang sekarang. Mungkin juga. Pengalaman diperlakukan asusila oleh tetangga
yang sudah berbaik hati sejak lama. Dimulai, bahwa saya adalah seorang mahasiswa UGM, yang sejak
kecil dibesarkan di Blora. Lebih tepat di ujung barat, kota Blora deretan gunung kapur. Kejadian itu tepat
ketika kelas lima di SD dulu. Dan sebut saja dia Zainuri (nama samaran) - ku memanggilnya Lek Yen-.
Yang pada saat itu dia adalah tahun terakhir di SMP.


Dia adalah tetangga yang mengalami kekacauan. Ayahnya meninggal, kanker merenggut nyawanya.
Sehingga terpaksa setiap malam aku menemani untuk tidur malam. Ketakutan di rumah sendiri, ditinggal
ibu yang tergila-gila dengan daun yang lebih muda. Sudah sejak hari ketujuh seusai ayahnya dimakamkan,
saya menemaninya tidur setiap malam. Karena memang rumah kita berdekatan, Cuma beberapa jengkal
langkah cukup sudah. Hampir semua kegiatanku beralih disana, belajar hingga harus makan sahur. Itulah
awal dari sejarah yang kucatat dalam memori ini.


Sesak ketika harus mengulasnya. Sore itu memang seperti biasa. Kegiatan ngaji di madrasah, tidak lepas
dengan mudah. Langsung seusai maghrib langsung berpindah ke rumah Lek Yen. Belajar, makan malam
semua seperti biasa. Langsung saja ke pergi ke ranjang untuk istirahat semalam. Maklumlah masih kelas
5 SD, belum kenal begadang. Dan sudah seperti biasa kami tidur seranjang tanpa curiga barang secuil
saja. Tidur kami normal seperti biasa.


Entah apa yang merasukinya malam itu. Saya yang masih kecil tak tahu menahu dengan adegan
semalam itu. Jam pun ku tak tahu tepatnya. Entah tengah malam, atau menjelang fajar. Mula- mula
ditutupnya wajahku dengan selimut sarung yang ku bawa. Posisi miring memudahkannya mungkin. Dan
sungguh menghinakan malam itu. Celana ku di turunkannya, dan kejadian asusila pun terjadi. Meski aku
masih tetap berpura lelap dalam ayunan tidur malam. Terdengar olehku desah nafasnya, yang kadang jijik
terdengar. Meski tidak berulang untuk kedua malam itu. Diriku selamat karena aku merubah posisi. Usai
sudah malam itu.


Usai kejadian itu, tak pernah terfikir kalau itu yang bernama sodomi. Karena usia belia, tak pantas
                                                      38




mengenal istilah itu. Jikalau ku mengetahui tindakan itu sodomi pasti tuntutan polisi terjadi, dan karena
memang tidak ada kelainan pada bagian sensitifku. Sehingga usai malam itu, tetap berlangsung seperti
biasa. Kejadian itupun menjadi rahasia pribadi, lebih karena menjaga agar ia tidak terluka berlebihan.


Pasca SMP ia masuk Pesantren Walisongo di Sragen Jawa Tengah, dan saya melanjutkan ke SMP dan
berlanjut hingga kini di UGM. Kini ia sudah beristri dan beranak satu. Kejadian ini benar- benar terjadi,
tidak hanya rekayasa atau fiktif. Jika ku ketahui istilah sodomi sejak awal, pasti tak begini akhir cerita ini.
Saya sengaja menutupi agar tidak terkesan cerita porno. Mohon maaf kalau cerita terkesan fiktif, tapi
itulah pengalaman yang terjadi 10 tahun silam. Kejadian yang menjadi warna tersendiri dalam hidup ini.
Peristiwa itu masih tetap menjadi rahasia pribadi. Dan kuceritakan disini, agar semua mengambil inti arti.
Bahwa mungkin saja seorang teman yang didekat kita bisa menjadi musuh. Dan sebaliknya. Orang yang
kita kira menjadi musuh, justru perhatian lebih dibanding teman kita sendiri.


Temanku Lulu, punya kucing satu
Biarlah yang lalu, menjadi guru hidupku


Itu Lulu, lahir di Kota Kembang
Masa lalu, pelajaran masa datang


Minum jamu daun papaya
Moga ketemu, di cerita lainnya


Teguh Afandi
Email : teguhafandi@ymail.com
Blog : afandi-teguh.blogspot.com




Kisah 17


Bintang Sudah Bisa Buang Sampah
Pengalaman Pribadi


Oleh : Fetry Zulbeatri


Hal-hal yang ajaib dan menakjubkan seringkali dialami setelah menjadi ibu.. Ya, setiap orang tua saya
                                                    39




yakin, akan selalu takjub melihat tumbuh kembang anak…


Kabar yang sering ditanyakan ketika sudah menjadi bunda dari seorang putri cantik adalah “Bintang
sudah bisa apa?”, selain dari “Putrinya sudah berapa bulan??”… Saat ini ketika pertanyaan itu muncul
jawabannya adalah…. Bintang sudah bisa buang sampah ………… Kenapa, yang dimunculkan itu,
karena ada rasa syukur tersendiri dengan kemampuan Bintang yang ini…


Ya, ada rasa haru ketika pertama kali ambu bilang ke Bintang di sebuah ruang tunggu rumah sakit,
“Bintang, ambu minta tolong buangin ini ke tempat sampah yaa..” , tanpa diduga Bintang dengan langkah
yang pasti menuju tempat sampah, dan benar-benar membuang sampah itu ke tempatnya!!!
Wooooowwww… MasyaALLOH!!! Padahal seingatku, aku belum pernah mencontohkan kepada Bintang
dan menunjukan jika benda itu tempat sampah!! Ahhh…. Nak, kamu tau, ambu bangga sekali Bintang
tahu cara membuang sampahhh di usia sedini ini (14M).. Ya, mungkin secara tidak langsung saya tidak
pernah mencontohkan itu, atau menunjukkan tempat sampah itu seperti apa.. tapi, saya yakin Bintang
pernah melihat saya atau abinya membuang sampah pada tempatnya, atau pernah mendengar kata2 itu
baik itu ketika dalam kandungan ataupun setelah berada di dunia ini…


Alhamdulillah.. kebiasaan saya dan abinya dalam hal ini, sebelum kami bertemu, adalah membuang
sampah pada tempatnya, pun ketika dalam perjalanan yang tidak ada tempat sampah, kami menyimpan
sampah itu dalam tas hingga kami menemukan tempat yang tepat untuknya.. Secara tidak kami sangka
telah turun kebiasaan ini di usia dininya Bintang.. Alhamdulillah, walaupun terkadang bukan benar2
sampah juga yang masuk keranjang sampah, bisa jadi makanan yang bosan dimakannya atau malah
uang recehan dan ribuan eyangnya yang di warung dengan rajinnya di buang ke tempat sampah…. Pfuiiih,
untung keranjangnya bersih dan bisa terdeteksi ketika akan membuang sampah di pagi hari…


Hal2 lain pun tak luput dari tiruan Bintang, dari mulai ikut baca Qur’an, Al-Matsurat, buku, majalah, solat,
makan, minum, dan aktivitas sehari-hari    dilakukan abi dan ambunya….
Tak terkecuali, kebiasaan burukku juga.. ceritanya, suatu hari, di dapur ambu liat Bintang buka plastik
biskuitnya dengan gigi..dengan terpana, ambu langsung bertanya..”Lho, Bintang, sapa yang ngajarin
buka plastik dengan gigii??” yang ada yang ditanya          hanya bengong dan bilang..”becepp becepp
becepppp…” yaaa, bahasa yang dengan usaha keras berusaha Ambu fahami dan ditafsirkan oleh diri
sendiri pun pada saat itu tak mampu diterjemahin ambu…
Di laiin hari, di dapur pula, ambu buka plastik kerupuk, Bintang yang ada di depan ambu dengan manis
dan penuh perhatian     memandang ambu tersayangnya, ambu tersenyum karena begitu perhatiannya
Bintang dengan apa yang ambunya lakukan, tapi lama-lama langsung menyadari, lhooo Ambu Buka
Plastik dengan GIGI!! MasyaAlloh, ternyata sadar ataupun tidak, yang baik atau yang buruk kita telah
                                                   40




mengajarkan anak kita dengan caranya meniruu… Dan yang ngajarin buka plastik dengan gigi ternyata
ambunyaa, bukan tetangga ataupun om-omnya


Duhhhh……………
Makanya, dengan beberapa kejadian dengan peniruan Bintang.. saya sering bingung dan aneh dengan
kata-kata beberapa ibu atau ayah kepada anaknya ketika kesel dengan anaknya “Kamu bandel amattt!!
Mirip siapa sih kamu, susah amat diurus dan dididik!!!” Nah lho, jadi selama ini anaknya anak siapa, terus
dididik sama siapa???
Kesimpulan dari cerita ini yang bisa kuambil adalah, memang di tangan orang tualah anak-anak kita
terbentuk, yang menentukan apakah mereka akan menjadi Muslim, Yahudi, Nasrani, atau Majusi.
Karena mereka terlahir dalam keadaan suci, seperti kertas yang putih dan bersih, orang tuanya lah yang
akan melukis kertas putih itu.. Pun, mengenai hidayah dan rahmat hanya ALLOH yang Maha Kuasa, kita
hanya mampu berusaha………
Fetry Zulbeatri
Email : fetryz@gmail.com




Kisah 18


Napak Tilas ke Kota Subang
Pengalaman Pribadi
Oleh : Gagah Perkasa


Tak terasa sudah hampir 25 tahun aku meninggalkan kota Subang, dimana masa kecil dan remajaku telah
dibentuk pada sebuah komunitas kecil yang campernik ini.
Mengenang masa lalu sebuah perjalanan hidup dalam rentetan peristiwa yang beragam ketika aku
menjelajahi sebuah arti , masa ketika aku sekolah di SD, SMP, dan SMA .
Subang bagiku adalah istana kenangan , istana sejarah, dan museum dari berbagai bukti-bukti
Peninggalan sejarah hidupku.


Jejak langkahku telah tertebar ,telah menancap hingga ku perlu datang kembali wahai subangku sebagai
nostalgia membedah rasa kangenku yang terus membuncah –pecah,bergelombang , bergulung , berputar
resah dalam rindu dendam membuka album kenangan dalam rentetan photo-photo yang memecah belah
memori hingga ku tak bisa tunggu lagi tetap termenung hanya menatap melamun dari jarak
jauh ,membayang kota lamaku.
                                                  41




Aku harus mengunjungi kota subang, harus ! maka aku mengambil cuti kerja selama seminggu,tanpa
mengajak anak dan istriku agar aku khusyu menjalani sebuah perjalanan Ziarah Suciku ke Subang yang
menggelinjang.


Dihari Sabtu , akhir bulan Juli 2009 ,aku berangkat menuju kota Subang dengan suasana dan tekad
membara . dari rumah aku naik angkot jurusan ke ledeng , karena disana ada mobil ELF jurusan
bandung-subang.sesampai di Ledeng tidak sulit untuk mencari mobil jurusan ke Subang, aku naik mobil
elf warna merah membara ,tak menunggu lama mobil itu berangkat menuju subang.


Perjalanan dari bandung ke Subang tidak memakan waktu yang lama cukup 1,5 jam. Cerita hidup mulai
terkuak ketika ketika mobil sudah berada di Wilayah Ciater, tempat inilah dulu aku sering bermain dengan
teman-teman , bermain di lokasi wisata air panas Ciater, teringat sekali kenangan itu, aku dan teman-
teman selalu darmaji (dahar lima ngaku hiji) habis untuk ke Ciater saja dengan secara gratis nebeng naik
truk.


Perjalanan Elf sudah mulai mencapai daerah Tambakan, aku jadi teringat sekitar tahun 1983 aku sering
bertanding bola bersama Klubku Sekar Bumi yang pada waktu itu dihuni Oleh Kiper Anwar Sanusi dan
Yana Kisut .
Tak terasa Mobil Elf sudah mencapai kota Subang , dan aku turun di perempatan sekitar gedung wisma
Karya.


Sengaja aku berjalan kaki untuk terus melihat-lihat suasana , ternyata sudah banyak yang berubah, kota
kecil yang     makin bersih dan asri.
Tak terasa saking menikmatinya aku berjalan kaki sudah mencapai daerah sukajadi, aku sengaja tidak
mampir dulu ke rumah teman , karena aku belum puas untuk berjalan kaki menikmati kota subang ini. Aku
berbalik menuju Cikalapa menyusuri komplek YKP, lapang bola Persikas dan tujuan akhirku adalah ke
Sungai Cileleuy.


Sungai Cileuley mempunyai banyak kenangan , dari belajar berenang, berburu biyawak, mencari ikan dgn
portas ,sampai ngintip wanita mandi, kebetulan pada waktu itu di Cikalapa ada Kompleks Lokalisasi
Binaria, para PSKnya kalau mandi sore di sungai Cileuleuy. Wow- indahnya , sambil menyelam ngintip
tubuh semohai.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, aku kembali meneruskan perjalanan dengan berjalan
kaki kembali kali ini menyusuri komplek BTN menuju kolam renang Ciheulet, ternyata sudah tidak ada lagi
                                                    42




kebun rosela , semuanya tanah kosong dulu habis untuk perumahan .


Sesampainya di kolam renang Ciheuleut, aku duduk kecapaian, sambil duduk otak berputar
menerawang ,mengingat-ngingat kenangan , oooooh aku ingat di daerah Ciheuelet ini aku dan temanku
setiap malam minggu selalu di pakai jadi markas untuk menikmati gelapnya malam sambil ditemani gitar ,
minuman keras dan kadang gele. Aku dan temanku bernyanyi sambil mabok pusing tujuh keliling, habis
yang diminum merk AO (asal Oyag) atau jhoni botak, minuman murahan yang bukan membuat melayang
ke nirwana malah pusing tujuh keliling.


Perjalanan hari ini cukup sampai Ciheulet, aku kembali berjalan ke kota Subang mencari penginapan
murah, mengenang dulu kalau birahi sudah diubun-ubun kemana lagi perginya kalau nggak mengajak
bondon untuk menikmati nafsu bejat setan di ranjang reat-reot.


Baru satu hari di subang sudah terbayang banyak kenangan seperti deretan gambar didepan mata terus
bergeser tanpa henti.
Esok harinya , aku mempunyai Tujuan       mengunjungi tempat aku sekolah dulu , dari mulai SD   sampai
SMA      dengan tetap berjalan kaki , karena aku ingin terus mengenang lintas kaki dulu .
Jam 9 pagi ku menuju sekolah SD , lokasinya dikelilingi oleh sekolah lainnya kalau dulu sich SMEA,
SMPN 2 dan SPG , ternyata sekolah SD ku sudah banyak berubah, tidak banyak kenangan di sana selain
aku pernah berprestasi di bidang akademik, selalu mendapat rangking terbaik.


Kuteruskan perjalanan menuju SMP yang berlokasi di jl Dr rivai (dulu) , nach disinilah banyak kenangan
indah , salah satunya adalah aku mengenal tubuh sintal wanita , ciuman dan gelegak nafsu birahi . terus
kuingat-ingat wajah wanita itu, dan akhirnya membayang sekilas , teringat namanya kalau nggak salah
AAT.


Tak lama aku singgah di SMP , maka kuteruskan perjalanan menuju SMA ku, yaitu di daerah Tegal Kelapa,
baru 5 langkah melangkah suara HP-ku berdering ternyata No HP bossku, wah pasti ada sesuatu yang
penting, maka ku angkat dan ternyata Boss memberitahu bahwa besok harus segera ke Kantor , ada
kerjaan yang penting yang tak bisa di tunda, tunda dulu cutimu nanti disambung lagi.
Terhenyak lemas ,cemberut kerut, aku duduk lemas melamun, marah pada siapa?
Perjalanan cerita masih diawal, belum masuk pada babak-babak yang mendebarkan, yang mengerikan,
yang menjengkelkan dan mengasyikkan.


Ku bergegas pulang ke penginapan ,untuk berkemas pulang ke Bandung, yang terpenting aku sudah ke
Subang nanti khan kulanjutkan episode kedua , tetap seorang diri biar aku bebas melihat jejak-jejakku
                                                  43




yang terlalu hitam pekat , biarlah masa lalu kelam disimpan dan dibuang tak perlu kuceritakan pada anak
–istriku.


Perjalanan yang terjegal ini ibarat orgasme al-azhl, tak apa kau tetap ku tunggu kota subangku , besok
ketika ada waktu kau akan kugagahi kembali hingga kakiku lemas lunglai, hingga potret masa silamku
terkuak dan terburai , menggelontorkan cerita-cerita dulu yang memang aku ingin kenang dan cumbui.
Kau Tunggu Subangku! Awassssss!


Berjalan pulang ke Bandung sambil sayup-sayup terdengar suara terompet Sisingaan Rawa badak yang
Fenomenal,hingga aku tertidur lelap tanpa terasa ELF-ku sudah berada di Stasiun Ledeng.
Ku kira aku masih di kota Subang, di daerah SARADAN yang enaaak tenaaan.


Gagah Perkasa
Email : jmembara@gmail.com




Kisah 19


Anakku dan Bapakku
Pengalaman Pribadi
Oleh : Gagah Perkasa


Pengembaraan menyelusuri kehendak dari lubuk hati untuk kembali membuka album lama , album yang
telah usang , album yang telah terbuang tertutup banyak debu di gudang tempat menyimpan barang siap
buang.
Kubuka satu-demi satu halaman ,kutatap tajam sambil terus mengingat dan merasakan arti terdalam,
pesan tersimpan .
Bergidik merinding bulu kudukku , berontak berekspresi merasakan makna terdalam, bercampur tangis,
teriakan dari lubuk hati.


Inilah photo yang mermpunyai kesan yang mendalam ,sebuah photo keluarga terdiri bapak ,ibu dan anak.
setelah mengarungi kehidupan selama 5 tahun lepas dari masa penantian .
Dan akhirnya setelah kutemukan jalan hidupku , mutiara hidupku ,generasi penerus hidupku, masa
penantian itu terus menyeruduk ,memaksa , menonjok jiwa beku yang telah dibingkai jeruji simpul mati,
maka tak bisa ku tunda untuk menjebolnya , membuka sebuah rahasia yang telah lama tersimpan . Sudah
                                                  44




kulupakan dan tak akan pernah kuingat lagi..... itu pernyataan 5 tahun silam dalam nada sedih mendalam
dan dendam yang menggunung.


Tak kusangka bisa seberani ini aku bisa membuka luka lama , luka yang membuatku sempat terjerembab
pada kubangan lumpur-lumpur dosa, terjengkang pada statement yang irrasional dengan berteriak sambil
menyebutkan Tuhan tidak adil , Tuhan jahat, Tuhan membuatku membeku dingin menggigil hingga mati
rohani.


Anakku yang telah membuka cakrawala hidupku, tak disangka hanya karena sebuah pertanyaan lugu
“ Pak, seandainya kakek ada disini ,enaknya yach pak? ternyata anakku tidak cukup dgn perhatian dari
orang tuanya dan barang mainan yang segunung, dia masih membutuhkan figur lain, mungkin melihat
kehidupan diluar bahwa banyak teman-temanya sering bermanja-manja dengan kakek dan neneknya.


Anak adalah anak merupakan mutiara merupakan pelita , tersedak menyadarkanku untuk mendekat pada
realita , bapakku atau kakek dari anakku adalah seorang penderita Schizoprenia yang aku titipkan ke
Panti Rehabilitasi di Cibadak Sukabumi, setiap bulan aku tengok bapakku sambil membayar biaya
perawatan dan menitipkan perbekalan ke petugas dari mulai peralatan mandi, Rokok, makanan kering,
dan tak lupa novel-novel non fiksi kesukaan bapakku.


Selama ini aku hanya menyebutkan bahwa kakeknya berada jauh diluar negeri.
Alasan utama aku menitipkan bapakku ke Panti rehabilitasi adalah, aku takut anak-anaku malu
mempunyai kakek yg gila, takut mempengaruhi perkembangan kepribadiannya dan tidak ada yg
mengurus karena ibuku sudah lama tiada.
Akhirnya kuceritakan bahwa kakeknya sekarang ada di sukabumi, sudah pulang dari luar negeri dan
sekarang lagi istirahat dulu .
Betuul pak ! bertanya seolah-olah tak percaya, betul anakku, jawabku,Hayooo pak kita jemput kakek ,
saya sudah rindu dengan kakek, kakek ternyata udah pulang dari luar negeri , dengan wajah berbinar
ceria , menggelondot manja memegang kakiku.
Iyaaa anakku besok kita jemput kakek.


Pagi hari minggu , aku dan anakku berangkat ke sukabumi , dalam perjalanan anakku banyak tanya dan
selalu ceria , mungkin bangga pada hari ini ia akan ketemu kakeknya , perjumpaan yang pertama. Asyiiik
nanti kalau ketemu kakek ,saya mau minta dibeliin mobil-mobilan dan minta dianterin berenang ke
Cipanas –garut.
Dalam hatiku yang gundah sekaligus resah, apakah anakku akan senang , akan menerima, atau malah
takut tak percaya menjauh lari , membikin kakeknya kecewa !.
                                                      45




kakekmu gila anakku! lamunan yang terlalu panjang ini diakhiri dengan kekagetan pada mobil yang ada
didepanku karena ngerem mendadak, menyentak kaget secara reflek aku pun mengerem mendadak yang
membuat anakku yang sedang bernyanyi ceria jatuh terjerembab dari kursinya , menangis kaget sekaligus
sakit kepalanya terbentur kaca mobil.
Alhamdullilah, musibah tabrakan itu bisa dihindari.


Tak terasa mobilku udah sampai di pintu gerbang Pusat Rehabilitasi , dengan senyuman ramah seperti
biasa petugas yang sudah lama aku kenal membukakan pintu.
Selamat pagi pak, kock tumben biasanya malam hari bapak kesini, aku hanya nyengir dan menjawab
sekenanya ingin cari suasana baru aja pak Rochmat.
Setelah mobil terparkir aku ajak turun anakku, anakku bingung dan heran kock rumah kakek begitu
besarnya, banyak orang yang ngomong sendirian dan banyak petugas yang berseragam dimana kakek
pak?
Hayooo kita cari kakek anakku, seperti biasa aku langsung menuju tempat favourite bapakku yaitu di
tempat sunyi jauh dari hiruk pikuk penghuni lain, yaitu di kebun singkong yang rindang dan sejuk karena
dikelilingi pohon-pohon besar.


Terlihat bapakku bersandar dipohon , kelihatan ceria sambil ngomong sendiri bercerita serius seolah –olah
sedang berdikusi serius dengan orang lain membedah masalah yg mungkin hasil dari membaca buku,
dengan pakaian yang lusuh dan dekil, padahal setiap bulan saya selalu mengirimkan baju baru untuk
bapak.


Akhirnya ku memanggil anakku yg masih berada jauh dibelakangku, nak cepat itu kakekmu , anakku
berlari cepat supaya rasa rindu yg tertahan cepat menjadi kenyataan.
Itu kakekmu anakku, ku ajak mendekat ke kakeknya, saya memberi salam pada bapak, gimana
khabarnya pak, dia tak menjawab karena matanya langsung menuju ke anakku, ooooh itu anakku pak ,
namanya Gagah, akhirnya aku menyuruh ke anakku untuk mendekat kakeknya, beri salam gagah untuk
kakek!, anakku bingung, takut, mundur ngumpet dikakiku.


Tak kusangka terlihat binar wajah bapak yang kelihatan senang dan bangga, oooohh itu cucuku, kenapa
baru kali ini kamu ajak kesini !
Bapakku kelihatan marah dan kecewa, rasanya seperti manusia normal saja , cepat berubah dari bermain
dengan dunianya sendiri sekarang balik pada sebuah realita.
Maafkan aku bapak, aku menyadari setelah anakku selalu menanyakan keberadaan kakeknya.
Bapak langsung berdiri senyum , dan mengulurkan tangannya ke anakku untuk bersalaman atau mungkin
                                                   46




ingin mememeluknya tanda sayang yg mendalam kakek terhadap cucunya.
Sikap dan perilaku bapakku yg berubah drastis ,diikuti juga dengan sikap anakku yang takut dan
menangis lari menjauhi kakeknya.


Akhirnya aku mengajak bapak ke sebuah ruangan khusus , ruangan tempat keluarga dan pasien
bertemu,anakku tetap menjauh dari kakeknya dan selalu menggelantung ke kakiku sehingga
mengganggu kakiku melangkah.


Berbinar hatiku ketika pertama kalinya aku melihat bapakku mempunyai semangat, mempunyai asa, dan
mempunyai perhatian, lalu bagaimana dengan anakku? Biarlah dia tahu kondisi kakek yang sebenarnya.
Ruangan yang asri dan ditata apik dan ber Ac ini membuat suasana menjadi sejuk, tampak anakku sudah
mulai tenang, dan bapakku kelihatan malu minta ijin untuk berganti baju dulu , tunggu jangan kemana-
mana bapak mau bikin kejutan.


Sambil menunggu bapak aku memberi pengertian kepada anakku supaya tidak takut kepada kakeknya ,
nanti kalau kakek kembali ke sini kamu harus salaman yach . anakku mulai mencair ketakutannya dan
mengangguk tanda setuju.
Tak berapa lama bapakku kembali dengan wajah berseri, memakai kopiah, baju koko putih yang dua
bulan lalu aku beri dengan sarung warna biru serasi.


Dengan senyum ramah dia memanggil cucuku, ke sini gagah, kakek punya hadiah untukmu , karena
sudah tidak lusuh dan kusut lagi anakku sepertinya tidak takut lagi , dia mendekat ke kakeknya
mengulurkan tangan ngajak bersalaman , kerinduan yang membuncah kakeknya begitu terasa , kakek
langsung mencium dan memeluk erat anakku. Tampak anakku senang dan sudak tidak kikuk lagi , lalu
anakku bertanya pada kakeknya , kek kapan kakek bisa nganter Gagah beranang ke Cipanas – garut ?
Sebuah pertanyaan yang memang sudah ada dibenaknya, kakeknya menjawab gembira bercampur
bangga , sekarang juga boleh cucuku, anakku semakin manja terus menggelendot di pangkuan kakeknya,
begitu pun kakek seperti mendapat second wind, rona wajahnya terus bersinar yang dulu mati membatu.
Akhirnya kuberanikan diri bertanya pada bapak , pak maukah bapak tinggal bersama kami ?


Bapakku menjawab ya kalau kamu tidak malu dengan kondisi bapak , bapak akan senang tinggal
bersama kamu karena setiap hari aku akan bertemu dengan cucuku dan dipertegas lagi dengan
celotehan anakku, iya pak , kakek harus tinggal dirumah kita , kakek khan janji mau nganter Gagah
berenang ke Cipanas Garut.
Akupun tanpa ragu , tanpa malu mengiyakan ajakan anakku, bapakku kelihatan tambah erat memeluk
cucunya.
                                                   47




Dalam hatiku berharap semoga dengan dekat cucunya bapakku lambat laun bisa mengurangi atau
bahkan sembuh dari Schizoprenianya, karena obat yang utama dalam proses penyembuhan penyakit jiwa
adalah dukungan moral, dan suasana lingkungan yang menyenangkan, dan adanya tangan-tangan tuhan
yang memberi keajaiban.


Sore jam 5 , aku meninggalkan panti rehabilitasi dengan membawa sebuah kebahagian sekaligus banyak
pertanyaan buat masa lalu !
Terima kasih anakku engkau telah menyadarkan bahwa sejelek apapun orang tua kita, mereka tetap
bagian dari jiwa yang tidak patut ditelantarkan.


Gagah Perkasa
Email : jmembara@gmail.com
Kisah 20


Di Titik Minimal
Pengalaman Pribadi
Oleh : R. Rudi Agung P


Jumat (29/5), saya mengintip Kota Kalimantan. Baru kali ini tertarik memperhatikan pemandangan.
Sejak awal lepas landas, saya terus melihat pemandangan ke bawah. Pesawat terus melaju dengan
sempurna. Sekitar 10 menit dari bandara, pesawat kian terbang tinggi. Pemandangan gedung-gedung,
bangunan, dan infrastruktur lain di bawah seakan membentuk sebuah titik. Kecil.


Apalagi pesawat yang saya tumpangi dari Jakarta-Balikpapan melintas di ketinggian sekitar 33 ribu kaki di
atas permukaan laut. Bangunan-bangunan di bawah, menjadi teramat kecil, bisa dipastikan tak terlihat
lagi. Sekitar 45 menit saya memperhatikan pemandangan di bawah. Kali ini berada di antara hamparan
awan putih. Indah sekali. Saat itu bangunan apapun di ruas jalan seperti tak ada. Menghilang tertutup
awan dan langit biru.


Saat itu, saya berpikir, bagaimana dengan perjalanan lain yang lebih jauh. Misalnya, Jakarta-Makkah,
Jakarta-Eropa, atau perjalanan dari ibu kota ke benua lain. Entahlah. Selama ini saya baru diberi
kesempatan melintas ke pulau-pulau di Indonesia. Namun, baru kali ini pula saya berpikir.


Di dalam pesawat menuju Jakarta-Balikpapan, pikiran saya terbawa menuju alam lain. Berputar-putar
menyelami peringai saya selama ini. Teringat sifat manusia yang ada di bumi.
                                                      48




Subhanallah. Beberapa kali melintas perjalanan udara, mengapa baru tersadar saat ini. Tersadar bahwa
manusia, sesungguhnya, berada di titik minimal. Tak kuasa akan segala hal. Tak mampu apa-apa, tak
memiliki apa-apa. Jika menyimpan secercah kecerdasan, memiliki sekantong rupiah atau dolar, niscaya
semua itu karena rizki Allah. Berkat rahmat-Nya.


Tanpa rahmat dan kekuasaan Sang Maha, manusia itu tak berarti. Saat berada di pesawat, saya
merasakan kegundahan. Secanggih apapun pesawat, sepandai apapun pilot, sebanyak apapun
pengalaman awak pesawat, tak ada yang menjamin keselamatan perjalanan. Apakah nantinya bisa
mendarat sempurna, nyemplung ke lautan dalam dan menghilang, atau mendarat darurat dengan
menimpa bangunan rumah seperti kejadian jatuhnya pesawat Hercules akhir Mei lalu.


Dari atas ketinggian, gedung tinggi saja tak terlihat, apalagi mau menebak apakah di bawah ada si Fulan
atau si Maryam. Dari atas ketinggian kita juga tak mampu melihat seorang Presiden sekalipun. Sungguh,
manusia berada di titik minimal. Dari atas ketinggian selama perjalanan pesawat saja tak terlihat, apalagi
jika melihat dari langit tujuh. Dari Surga. Atau dari Singgasana Allah.


Saya seperti dibawa mundur saat masa ospek di bangku kuliah. Mahasiswa baru memiliki karakter di titik
nol kala berhadapan dengan kakak seniornya. Cupu, kata banyak orang. Lantas bagaimana keadaan kita
bila dilihat dari Singgasana Allah. Nothing. Siapapun dia, tak ada apa-apanya. Masya Allah. Maafkan saya,
mohon ampuni dosa-dosa kami.
Kami yang lemah, sering kali bersifat takabur. Menyimpan kesombongan. Merasa paling bisa, paling kaya,
paling cerdas, dan mengoleksi "paling" lainnya. Astaghfirullah.


Manusia itu berada di titik minimal. Tapi mengapa kami merasa sering lupa. Kadang, justru melupakan
dengan sengaja. Mari memaafkan, saling memberi maaf, saling menghargai, dan saling tolong menolong.
Jangan merasa paling. Kita lemah. Kita senantiasa diciptakan di titik minimal. Mari ingat salah satu wasiat
Ali bin Abi Thalib: "Jika bertemu dengan seseorang yang usianya lebih muda, berpikirlah ia memiliki dosa
yang lebih sedikit. Jika bertemu dengan yang tua, pikirkanlah bahwa amalnya pasti lebih banyak."


Ya Rab, tinggikan derajat kami. Jauhi kami dari sifat takabur, sombong, pongah. Jauhi kami dari semua
penyakit manusia. Ingtakanlah kami, manusia sesungguhnya selalu berada di titik minimal. Wallahu
\'alamu.


29 Mei. Dalam kegelisihan, menatap hamparan awan, menuju perjalanan Balikpapan.


R. Rudi Agung P
                                                   49




Email : r_agungp@yahoo.com
Blog : klikrudi.blogspot.com




Kisah 21


Standing Party Menjauhi Kita?
Pengalaman Pribadi
Oleh : R. Rudi Agung P


Mengisi malam panjang dengan tetangga sekitar. Ramai bersama sejumlah kerabat. Diskusi ringan
seputar prediksi masa depan Indonesia. Sesekali membicarakan tema-tema keagamaan.
Entah mengapa di tengah keramaian ini, pikiranku berkelana ke bulan-bulan di tahun 2008. Persisnya
ketika menjadi jurnalis di Jakarta. Saat itu, sempat beberapa kali liputan di gedung atau peresmian-
peresmian dengan makanan berlimpah.


Beruntung, sebelum liputan aku selalu menyempatkan diri untuk mengisi perut. Yah, untuk menjaga
stamina di lapangan. Otomatis, aku enggan mencicipi makanan dan minuman yang berjejer di hadapan
mata. Sudah kenyang.
Hmm, jadi ngalor ngidul tuh hehe. Dari pengalaman itu, aku kerap memperhatikan cara penyajian
makanan yang disediakan bagi undangan atau rekan jurnalis lain.


Panitia menyuguhkannya secara prasmanan. Tamu dipersilahkan mengambil sesukanya. Namun, mereka
memakannya dengan cara berdiri. Standing party. Sekilas seperti tidak ada yang salah. Seperti hal lainnya,
terkadang kita selalu mengadopsi budaya Barat. Tapi, dalam hati ku selalu bertanya, \"Kenapa sih makan
aja kita juga berkiblat pada Barat?\"


Kita ini orang Timur. Dengan mayoritas Muslim. Bagi umat Muhammad, kita tentu memiliki cara dan adab
makan atau minum.Lantas, mengapa kita tidak mematuhinya. Pun dengan varian pesta lain. Pesta kebun,
pesta ulang tahun, misalnya. Para tamu menikmati hidangan dengan berdiri. Sudah menjamur. Seperti
budaya, membentuk peradaban baru.


Tak sedikit pula yang minum dengan tangan kiri. Ironisnya, ada saja yang menganggap cara tersebut gaul.
Populis. Padahal, jika dibuka KTP mereka, tentu tertulis: agama Islam. Hmm, mari kita kembali pada
Sunnah. Pada cara, etika, dan adab yang begitu mulia.
                                                        50




Makan dan minum dengan duduk. Diawali basmallah, diakhiri hamdallah. Gunakan tangan kanan. Tak
perlu malu dianggap kuno. Tak perlu merasa aneh dicap gak gaul.
Islam indah. Ajarannya mulia. Apalagi yang harus diragukan. Kadang aku berpikir, standing party ini apa
ingin menjauhi kita dari nilai Islam? Astaghfirullah.


Ghazul fikri kian nyata. Semoga kita mampu menangkisnya. Biarlah orang mencap kita sok agamis, kuno,
atau hal negatif lain. Apapun terima saja, yang pasti niatkan semuanya untuk ibadah. Mengembalikkan
Sunnah yang mulai ditinggalkan.


Mari, makan dan minumlah dengan duduk. Jangan berdiri. Tangan kanan, bukan tangan kiri. Mulai hari ini,
mari. Ya Rab lindungilah kami dari serangan musuh-musuh Mu, amin.
Jika tak dimulai dari kita, siapa lagi? Tentu kita tak rela, kerabat, saudara, atau adik-adik kita larut dalam
budaya non Islam. Sedikit banyak kita memiliki tanggung jawab untuk saling mengingatkan kebaikan dan
kesabaran.


Di sini tambah ramai. Diskusi pun mulai menghangat. Malam minggu, enak juga, tak diisi dengan hal yang
berkaitan dengan asmara :) hehehe..


R. Rudi Agung P
Email : r_agungp@yahoo.com
Blog : klikrudi.blogspot.com


Sampai naskah ke-21 ini sudah dikirim pada email sebelumnya


Kisah 22


Ketika Ku Tak Sanggup Berbicara
Pengalaman Pribadi
Oleh : Putri Pramudya Wardhani


Udara segar yang berhembus dari daun pohon beringin yang tertiup angin, guguran daun serta kicauan
burung kenari yang seharusnya membawa kedamaian dan kesejukkan di sore itu tak dapat kurasakan
sama sekali. Disamping sebuah pilar diselasar sekolah aku berdiri, memandangi sesosok tubuh yang
perlahan – lahan kian menghilang menjadi sebuah titik. Tubuhnya menjauh dari diriku, yang hanya bisa
                                                 51




terpaku diam memandanginya. Walau ada sejuta bahasa yang ingin aku ungkapkan, tapi sekujur tubuhku
kaku tak bergerak, tak mampu berkata apa- apa.


Hingga sosok tubuhnya tak lagi dalam jangkauan pandanganku, aku tetap tak sanggup berbicara, bahkan
tak sanggup bergerak. Hingga tanpa aku sadari, setetes air jatuh dari pelupuk mataku, membasahi pipi
dan bibirku yang tak mampu berucap. Aku menangis karena aku telah kehilangan sahabat terbaik dalam
hidupku. Keputusanku untuk menjauhinyalah yang membuka jarak diantara aku dengannya. Hingga
berujung pada sebuah pertengkaran dan perpisahan diantara kami.


Persahabatanku dengannya dimulai ketika kami duduk dibangku kelas 2 SMA. Aku sendiri tak menyangka
bisa bersahabat dengannya. Pertama aku bertemu dengannya adalah ketika aku masih duduk di kelas 1
SMA. Ketika itu aku mendaftar menjadi anggota OSIS. Setiap hari, aku harus berbaris dilapangan tepat
didepan kelasnya. Suatu kali aku melihatnya, ia tampak begitu arogan, angkuh dan tak bersahabat. Sejak
itu, aku berjanji aku tak mau mengenalnya. “Lagipula siapa sih orang yang mau berkenalan dengan orang
yang angkuh, ia memang idola sekolah, finalis Kang Nong 2005 pula…tapi kalau sombong sih pikir – pikir
dulu kalau mau temenan ?” kataku dalam hati. Namun seiring dengan berlalunya hari, akhirnya aku
mengetahui juga bahwa namanya adalah Riva Aryananda.


Pengumuman kenaikan kelas pun tiba. Setiap siswa harus melihat di mading sekolah untuk mengetahui
dikelas mana ia ditempatkan. Begitu pula denganku, aku melihat papan pengumunan untuk mengetahui
kelas baruku. Ketika aku melihat daftar absensi, aku menemukan sebuah nama orang yang dulu
kuanggap sangat arogan. Nama Riva Aryananda terpampang dengan jelas menempati kelas XI.IA.5
sebagaimana denganku. “ Ya Allah…bencana apa ini?” aku begitu tidak percaya dengan kenyataan ini.
Akhirnya kujalani saja hari – hari dikelas baruku dengan senyum, walau kutahu ada orang arogan disana.
Tetapi, ternyata hari – hari dikelas 2 yang kuanggap akan berjalan dengan normal mulai berubah dengan
kehadirannya. Kami selalu bertengkar, hal – hal yang sepele sebenarnya tapi tidak ada dari kami yang
mau mengalah. Contohnya ketika kami sama – sama ingin melihat lukisan yang kami buat. Tak ada dari
kami yang mau mengalah hingga akhirnya sampul lukisanku sobek.


“ Riva! Tega banget sih…sobek nih.!!”
“ups..maaf ya Put.. sengaja..hehe!! “
Mulai saat itu, aku semakin tidak menyukainya.


Hingga suatu hari, aku dispensasi tidak masuk sekolah karena harus mengikuti Pelatihan dan Lomba
Karya Ilmiah selama satu minggu. Pada saat itu pula, ia juga dispensasi karena harus mengikuti
Pemilihan Kang & Nong Kabupaten Tangerang. Sementara, ketika mata pelajaran Bahasa Indonesia
                                                   52




dikelas, anak – anak dikelompokkan untuk tugas drama. Karena kami berdua tidak masuk, akhirnya kami
dikelompokkan dalam satu kelompok bersama Vicky, temanku dari SMP.


Semenjak pengelompokkan itu, kami jadi terlibat banyak kegiatan. Pembuatan naskah, pembagian peran
hingga latihan bersama, membuat aku mengubah pola pikirku padanya. Ternyata ia tidak sesombong
yang kukira, ia hanya tidak pintar beradaptasi. Aku akhirnya menyadari, ia anak yang baik, lucu walau
kadang menyebalkan. Drama yang kami mainkan akhirnya membuka jalan persahabatan diantara kami
bertiga. Aku, dirinya dan Vicky.


Persahabatan kami, aku rasakan sangat menarik. Tertawa bersama walau bahkan untuk sesuatu hal yang
tidak penting. Saling meledek, saling iseng satu sama lain namun kita tetap saling dukung. Hal ini sangat
aku rasakan ketika aku mengikuti program Pelatihan dan Lomba Karya Ilmiah. Walau mereka tidak
bersamaku, namun mereka mendukungku. Hal itulah yang memberikanku semangat, sehingga akhirnya
aku terpilih sebagai Siswa Terbaik Kabupaten Tangerang.


Aku juga tidak pernah berhenti memberikannya semangat ketika ia mengikuti Pemilihan Kang & Nong
Kabupaten Tangerang. Ingin teriak dan histeris rasanya ketika namanya diumumkan sebagai Runner Up
Kang & Nong Kabupaten Tangerang. Sebenarnya tidak ada hal yang begitu penting untuk diceritakan
tentang persahabatan kami. Persahabatan kami hanya berlangsung seperti biasa, tidak ada yang spesial.
Aku juga tidak selalu bermain dengannya dan Vicky. Terkadang aku bermain dengan teman – teman
lainnya.


Meskipun tanpa sesuatu yang spesial, persahabatan kami tetap berlanjut hingga kami naik ke kelas 3
SMA. Namun sayangnya, persahabatan kami ternyata tak bisa seperti dikelas 2. Kami sudah jarang saling
meledek, saling tertawa bahkan saling iseng. Kami hanya bertemu ketika jam istirahat, itupun tidak setiap
hari. Kondisi kami yang berbeda kelaslah yang menyebabkan hal tersebut terjadi. Walau begitu, aku
masih sering berbicara dengan Riva dan Vicky meski tak pernah lama.


Kejenuhanku memuncak, aku tak lagi menemukan teman yang dapat kuajak tertawa, bercanda dan saling
ledek. Aku memang masih sering bercanda dengan Vicky, namun aku juga sangat mengharapkan
kehadiran Riva ditengah – tengah kami. Ternyata aku merindukannya. Ops…merindukannya? Ah…aku
hanya merindukan seorang sahabat ternyata. Tetapi, apa benar aku hanya merindukan seorang sahabat?.
Entahlah.


Riva memang sering bergabung dengan kami. Namun semenjak kedekatannya dengan Agnez, ada hal
berbeda yang aku rasakan. Aku hanya merasa tidak rela sahabatku Riva dekat dengannya. Tetapi
                                                     53




ternyata, jauh dibalik rasa ketidakrelaanku, aku menyukai Riva. Aku menyukai suaranya, caranya
berbicara, tingkahnya yang menyebalkan, tindakannya, senyumnya, dan semua hal mengenai Riva. Aku
sadar, sebagai seorang sahabat tidak seharusnya aku menyukainya.


Akhirnya aku putuskan untuk tetap menjaga persahabatan diantara kami dan menganggap rasa suka
yang kurasakan padanya hanyalah sebuah rasa kekaguman belaka. Namun, setiap hari aku semakin
tidak tahu bagamana caranya menghilangkan kekagumanku padanya. Setiap saat kami bertemu, aku
semakin tidak tahu bagaimana bersikap padanya. Setiap kali kami tertawa, aku semakin tidak tahu
bagaimana caranya tidak menyukai senyumannya. Ya Allah tidak seharusnya aku menyukai..ia sahabatku.
Aku tidak ingin persahabatan ini hilang suatu saat hanya karena rasa yang aku miliki. Hingga aku
memutuskan untuk menjauhinya hanya untuk menghilangkan rasa suka dan kagumku padanya. Aku
benar – benar menjauhinya, untuk alasan yang ia tidak tau sama sekali. Karena tak mungkin aku
memberitahukannya apa yang aku rasa, sementara aku sendiri juga tidak yakin dengan perasaanku.


Sikapku untuk menjauhinya tanpa alasan tetap berlangsung hingga kami lulus dari SMA. Walau ia terus
bertanya mengapa, namun aku tak mampu mengatakan yang sebenarnya. “Biarlah waktu yang menjawab,
jika mungkin aku sudah dapat melupakan perasaanku, aku akan kembali padanya dan meminta maaf ”
kataku dalam hati.


Tetapi sayangnya, aku tetap tidak mampu berkata, bahkan disaat kami harus berpisah. Aku belum mampu
meyakinkan diriku bahwa aku tidak menyukainya, hingga aku tak mampu berkata apa – apa padanya. Aku
hanya terdiam ketika ia bertanya mengapa.
Sore itu, sepulang sekolah ia menghampiriku.
“Put…Riva ga ngerti apa salah Riva sampai Put ngejauhin Riva..tapi Riva minta maaf untuk apapun
kesalahan yang sudah Riva perbuat..Kalau memang kita harus pisah dan ga bisa sahabatan lagi, Riva
harap kita tetap bisa saling tegur suatu saat kita ketemu..”


Aku hanya tertunduk. Birunya awan di langit yang cerah tak dapat kurasakan indahnya. Hembusan angin
sore dari pohon disekolah tak dapat aku rasakan segarnya. Disamping sebuah pilar diselasar sekolah aku
berdiri, merasakan sesuatu yang hangat turun perlahan dari mataku ketika bayangnya semakin hilang
ditelan matahari. Maaf sahabat, aku hanya belum sanggup berbicara.


Putri Pramudya Wardhani
Email Anda: pramudya_archi@yahoo.com
                                                    54




Kisah 23


Khitan Yang Tertunda
Pengalaman Pribadi
Oleh : viruscinta18


Orang tua siapa yang tak senang dan bahagia dapat menunaikan sunah Rasul yakni mengkhitankan anak.
Sebuah rencana pun dipersiapkan masak-masak. Segera Isteri memberitahukan kabar gembira ini
kepada keluarga besarnya di kampung, dan tak lupa meminta penetapan hari baik untuk melangsungkan
khitan. Setelah mencari-cari hari baik maka jatuhkan putusan dari Mertua laki-laki bahwa khitan
dilangsungkan pada tanggal 2 Juli 2009.


Begitu memperoleh restu dan kepastian hari baiknya, Isteri mulai mematangkan rencana, antara lain
menyiapkan daftar belanjaan serta menyebar undangan dan berencana mengadakan pesta sebagaimana
layaknya para tetangga yang selalu mengkhitankan anaknya. Rencana mengadakan pesta itu saya tolak
dengan alasan dana yang kurang memadai. Saya menyarankan cukup selamatan saja dan hanya
mengundang para tetangga dekat.


Mendekati hari H, tiba-tiba saja saya mendapat tugas dari kantor ke luar kota selama 2 minggu. Tugas
yang tak mungkin saya tolak. Mulailah saya dihinggapi kebimbangan karena jelas saya tidak mungkin
berada di sisi anak saya pada saat dikhitan.


Semula sang Isteri merasa keberatan dengan kepergian saya bertugas di luar kota, namun saya berusaha
menjelaskannya sebijak mungkin. Meskipun pada akhirnya isteri dapat menerima kepergian saya,
sesungguhnya yang membuat hati saya pilu adalah bagaimana harus menjelaskan semuanya kepada
Yota, anak saya ini? Bukankah pada saat dikhitan nanti sang anak butuh support dari ayahnya?
“Yota kan mau disunat, kok Ayah malah pergi?” akhirnya pertanyaan yang menakutkan itu keluar juga dari
mulut anak saya, yang kini telah berusia 9 tahun.


“Ayah disuruh Bos dinas keluar kota. Yota kan disunatnya hari Kamis pagi, Insya Allah Jum’atnya ayah
sudah ada di rumah” jelas saya berusaha menenangkan kegalauan yang terpancar di wajah anak sulung
saya. Beruntunglah menjelang keberangkatan dinas keluar kota, keluarga besar isteri telah datang
sehingga saya merasa tenang meninggalkan rumah.


Hari-hari menjalani tugas di luar kota saya lakoni dengan bekerja penuh semangat. Saya berharap
                                                     55




dengan tugas luar kota ada sedikit tambahan biaya untuk acara selamatan khitan.
“Jangan lupa bawa uang banyak kalo Ayah pulang. Uangnya nanti buat beli sepeda baru, Yah” ungkapan
itu selalu terngiang di telinga. Dan itulah yang membuat saya terpacu untuk bekerja lebih giat lagi.


Tak terasa menjelang hari yang teramat sejarah buat anak saya hampir tiba, Rabu malamnya saya
menghubungi isteri melalui HP dan menanyakan keadaan Yota. Isteri menjawab bahwa Yota dalam
keadaan sehat dan telah siap mental untuk dikhitan.
Sepanjang malam itu, nyaris mata ini tak dapat dipejam. Tidur pun berbaur gelisah. Membayangkan wajah
anak saya pada saat akan dikhitan, membuat hati ini beribu-ribu rasa tumpah menjadi satu: ada rasa
sesal, sedih, dan bingung.


“Tuhan, kuatkanlah hati anak sulung saya” sepenggal doa itu kuucapkan ketika usai sholat subuh.
Waktu bergeser perlahan namun pasti, seiring merangkaknya sinar matahari menunjukan tanda-tanda
siang telah tiba. Saya pun bekerja sebagaimana hari-hari biasanya. Akan tetapi, menjelang siang itu saya
merasakan sesuatu yang luar biasa telah terjadi. Sesuatu yang membuat saya seperti berada di alam
mimpi namun ternyata ini benar-benar nyata. Sebuah kenyataan yang tak dapat saya elakkan ketika HP
bergetar dan mendengar suara terbata-bata yang sudah saya kenal betul nadanya. Yah, itu adalah suara
isteri saya yang mengabarkan bahwa Yota tidak dapat disunat. Seketika itu juga kekuatan mental saya
meluruh seperti cairnya bongkahan es. Bagaimana ini bisa terjadi?


“Kata dokter sunat, ada kelainan pada saluran kencing Yota. Jadi, harus diperiksa dulu ke dokter spesialis.
Kalau memang bisa disunat yah disunat, tapi kalau dokter spesialis bilang mesti dioperasi yah, …
sebaiknya Mas gak perlu panik. Kasus seperti ini katanya sih sudah biasa kok…” jelas Kakak Ipar melalui
HP mencoba menenangkan perasaan saya. Ah, bagaimana saya bisa tenang? Bagaimana saya bisa
menerima kenyataan kalau toh anak saya mesti menjalani operasi?
Stress dan shock mulai menghantui pikiran mengakibatkan saya tak bisa lagi focus dalam bekerja. Rekan
– rekan kerja yang kebetulan mendengar bersimpati dan mencoba menguatkan hati saya. Akhirnya,
Jum’at malam saya memutuskan pulang ke rumah.


Tuan, Nyonya dan para Pembaca yang budiman…
Saya serta keluarga merasa terpukul menerima kenyataan ini. Ada semacam rasa malu yang tak dapat
kami sembunyikan. Malu karena terbebani menjawab pertanyaan dari para tetangga. Kenapa tidak jadi
disunat? Lebih-lebih, Yota anak saya mengalami shock berat setelah mendengar kata-kata “Operasi” yang
didengarnya dari mulut dokter khitan. Lebih dari itu, dokter spesialis yang memeriksanya pun memberikan
analisa yang cukup membuat kami terkulai tak berdaya. Yah, seandainya saluran kencing tidak berfungsi
secara normal, maka diperlukan tindakan operasi plastik untuk membuat saluran kecing lain.
                                                   56




Hingga tulisan ini kami buat, kami merasakan sikap anak saya yang sedikit berubah menjadi pendiam jika
berada diantara teman-teman sebayanya.
“Yah, kenapa Allah bikin lubang kencing Yota menjadi dua?”
“Karena Allah masih sayang sama Yota” hanya itulah kalimat yang bisa kami jawab untuk sementara. Yah,
untuk sementara karena kami tidak bisa memberikan jawaban yang pasti, kecuali Allah yang Maha Tahu.
Mengakhiri kisah ini, kami mohon dukungan doa yah…doakan semoga anak kami tetap kuat dan tabah
menerima kenyataan ini.
Salam…


viruscinta18
Email : viruscinta18@gmail.com
Blog : http://viruscinta18.blogspot.com




Kisah 24


Pacaran atau Masa Depan?
Pengalaman Pribadi
Oleh : Innez Candri Gilang P.


Setiap orang pasti mempunyai kisah seputar percintaannya. Nah, aku juga punya cerita seputar kisah
cintaku (kayak lagunya peterpan ya...) yang pengen aku ceritain. Cerita ini ada ketika aku masih duduk di
bangku SMP kelas. Oia, flashback sebentar ya. Waktu SMP tu aku pendiam lho...(curhat), tapi nggak
terlalu pendiam banget. Pokoknya aku nggak terlalu suka untuk bicara, istilahnya ’ Talk Less Do More ’
he..he..he. tapi sekarang aku udah nggak pendiam lagi. Ini disebabkan semenjak aku masuk SMA. Jadi
ketularan ama virus-virus penyebab keramaian.


               Nah, once upon a time, aku kenal dengan seorang cowok. Panggil aja si dia (maaf namanya
tidak bisa aku sebutkan). Aku kenal dia waktu malam pergantian tahun alias tahun baruan. Kebetulan
rumahku dekat dengan dia, tapi anehnya aku nggak pernah ketemu ama dia. Yang namanya anak muda,
kebanyakan suka banget ma acara tahun baruan, termasuk aku. Eits..jangan salah, meskipun waktu itu
aku pendiam tapi aku juga suka sama acara begituan. Nggak tahu kenapa, waktu itu aku langsung akrab
sama dia. dan kami pun mengobrol dengan serunya. Tapi sayangnya, aku dan dia selisih 4 tahun. But, it’s
no problem.!!
                                                   57




            Selama aku, dia, dan teman-temanku yang lain melewati malam tahun baru dengan serunya,
diam-diam ada yang memperhatikan aku, yaitu dia. tapi aku anggap itu biasa,aku belum berpikir ke yang
aneh-aneh. Setelah moment tahun baruan itu, aku jadi sering ketemu ama dia. sampai akhirnya dia
meminta aku tobe his girlfriend. Dia nembak aku tu pada hari sabtu, nggak tahu tanggal berapa, bulan
februari 2007. Dan aku terima ( sueneng..sueneng..) yups.. Perasaanku pada waktu itu seneng lha..


            Tapi, masa jadian itu tidak berlangsung lama. Karena aku pikir, pola pikir ku nggak sama
dengan dia. Selain itu, aku sibuk dengan aktivitasku di skul, dan dia sibuk mempersiapkan UNAS. Aku
dan dia cuma jadian selama 1 bulan n nggak berkesan banget. Setelah aku putus, dia jadian lagi. Saat itu,
aku agak nyesel kenapa aku nggak perhatian ma dia. Tapi ternyata air mataku nggak jadi jatuh lagi.
Ternyata, di hatinya masih ada aku. Aku dan dia jadi deket lagi tapi seperti TTMan gitu, bukan TTS lho.!
Ketika kami deket lagi, dia pernah nembak aku lagi. Tapi aku nggak terima dia. Aku nggak tahu kenapa
aku nggak mau. Tapi aku n dia masih berhubungan sampai aku kelas 3 SMP.


            Setelah itu, kami jarang ketemu lagi, jarang ngobrol bareng. Pokoknya, jarang berhubungan
ma dia. tapi satu yang masih mengganjal, aku belum bisa melupakan dia 100% hingga saat ini. Karena,
kadang-kadang aku masih bertemu dia dan itu mengingatkan aku pada saat-saat dulu. Tapi, aku mencoba
untuk tidak memikirkannya lagi. Kan jodoh sudah ada yang mengatur.


            Setelah itu aku sadar kalau aku punya masa depan yang lebih penting untuk dipikirkan. Aku
nggak mau gara-gara pacaran, sekolah jadi berantakan. Memang ada yang bilang, pacaran bisa buat
motivasi. Tapi bagiku tidak. Apalagi orang tua sudah bersusah payah untuk menyekolahkan kita berharap
anaknya menjadi orang yang sukses, tapi kita sendiri justru asyik berpacaran yang nggak jelas
manfaatnya. Oleh itu, yuk kita tata masa depan kita mulai sekarang. Agar kita punya masa depan secerah
matahari. Katanya, mau nyaingin Albert Einstein..he..hee.. Sekian dulu yach


Innez Candri Gilang P.
Email : vanez_mail@yahoo.com




Kisah 25


Kentut dalam selimut
Pengalaman Pribadi
                                                    58




Oleh : Manusia Sepi


Cobaan selalu di berikan kepada manusia untuk melihat seberapa besar usaha dan semangat untuk
menghadapinya. Tetapi, cobaan kali ini terasa sangat berat sekali dalam hidupku, yaitu harus memiliki dan
harus hidup bersama seorang saudara laki-laki yang kelainan. Bukan kelainan otak maupun fisik, namun
kelainan yang berupa psikis. Hal yang paling membuatku merasa gaduh yaitu hobinya, di zaman yang
serba modern dan dan canggih ini, abangku yang kedua(baca-'dajjal'-red) malah memiliki hobi yang tidak
sesuai dengan norma dan nilai-nilai yang berlaku di negeri ini.


Banyak orang yang tidak mempercayai betapa tersiksanya diriku dengan kehadirannya dalam hari-hariku.
Tidak ada seorangpun temen-temenku yang berhasil menebak hobi anak aneh yang satu ini. Hobinya
adalah kentut dalam selimut, yang memiliki jadwal rutin setiap malam. Parahnya, keadaan memaksaku
untuk sekasur dengan 'the dajjal-replicant' ini. Sedikit kronologis derita setiap malamku. Mama, manusia
bijak penuh inisiatif dan paling mengerti keadaan di rumah tangga, (berbeda sekali dengan papa, manusia
inisiatif yang sulit dimengerti di rumah tangga), biasanya telah menjatahkan masing-masing aku, abang
sulung dan 'manusia berekor maut'(tak sudi menyebutnya abang berkali-kali)sebuah bantal, guling dan
selimut. Aku seringkali menjadi korban abang-abangku sebagai pembatas di tengah. Menghadap kanan
susah, kiri juga susah, telentang juga akhirnya. Perilaku aneh 'manusia kentut' ini selalu mengusik ketika
aku telah setengah tidur. Dia gak pernah mikirin prasaanku, walaupun aku sangat capek, lagi mimpi\'in
asmirandah maupun keadaan lainnya. Tu anak selalu mentransferkan kentutnya ke dalam selimutku.
Otomatis bau busuk yang melebihi bau bangkai membuyarkan lelapku. Awalnya sih aku cuekin aja, coz
dengan menahan nafas beberapa saat dan membuka selimut lebar-lebar baunya juga sedikit demi sedikit
menguap. Namun, perlakuan tidak beradab ini dilakukannya sebagai ritual rutin malamnya. "Emangnya
aku tumbal!."


Aku atur strategi sebaik mungkin untuk mengungkap pelaku kejahatan. Suatu malam, aku dengan
segenap mental dan nafas cadangan berpura-pura tidur di balik selimut yang telah kucuci dengan
kembang 7 rupa dari 7 kampung yang berbeda dengan air dari 7 sumur yang berbeda. Selang beberapa
saat, satu persatu abang-abangku ikut mendarat. Detik demi detik berganti, menit pun silih berganti,
akhirnya tercium gelagat aneh 'kentut-man'. Tangannya mulai risih menyingkap selimutku lalu selang
beberapa saat aroma bangkai semerbak mengisi setiap ruang di selimutku. Dengan semangat menggelar,
aku menyumpahinya dengan kata-kata yang telah kupersiapkan dari jauh-jauh hari. Aku berteriak
lantang,"ternyata ini pelakunya". Teriakanku membangunkan seisi rumah. Namun, 'si pelaku kentut dalam
selimut' malah ketawa ngakak tanpa terbesit sedikitpun di hatinya suatu keinsafan atas dosanya.


Manusia Sepi
                                                  59




Email : vix.atmanegara14@gmail.com
Facebook : vix.atmanegara14@gmail.com
Blog : vixatmanegara14.blogspot.com




Kisah 26


Nak...Bunda Bangga Denganmu
Pengalaman Pribadi
Oleh : Dian Rahmawati


Hari ini saya sangat bahagia, yang mampu membuat air mata saya berlinang. Apa yang dilakukan Aziz
anak saya, lebih dari cukup untuk membuat saya merasa begitu berharga sebagai seorang ibu. Bermula
dari suatu malam lalu saat saya bertanya pada si abang,“Bang, celengan mobil abang kan dah penuh,
mau buat beli apa Bang?” Saya menduga dia pasti akan mengatakan beli buku atau mobil-mobilan.
Karena dia memang lagi menginginkan 2 benda itu. Tapi jawaban yang saya dapatkan sungguh luar biasa.
“Gak, Mi, Abang Aziz gak pengen apa-apa. Abang mau ngasih celengan Abang sama temen-temen
palestin. Buat beli obat, biar mereka bisa sehat lagi terus bisa melawan Israel.” Saya tercengang
mendengar kalimat yang meluncur dari anak yang belum genap 5 tahun. Saya ulangi pertanyaan saya.
Lagi-lagi si abang menjawab dengan jawaban yang sama.
Saya putuskan untuk menunda pembicaraan tadi. Meski begitu, saya bahagia dan tidur dengan
mengalirkan air mata haru.


Bakda subuh, si abang terbangun, pertanyaan pertama dia pagi itu adalah” Bunda…ayo…kapan ngasih
celengannya ke palestin?”. subhanallah….abang….langsung saya peluk dia. saya bilang, apakah abang
bener-benar ingin menyumbang ke palestin dan tidak ingin beli yang lain.Dia memastikan bahwa dia tidak
menginginkan beli yang lain.


lagi2, saya menunda keinginan abang. Di satu sisi, saya sangat bahagia dengan pilihan dia, di sisi yang
lain saya jg merasa ‘eman’, karena sudah berbulan-bulang dia kumpulin koin demi koin, dan sekarang
secara kasat mata terlihat dia tidak menikmati jerih payahnya. Saya dilematis. Para ibu pasti paham apa
yang saya pikir dan rasakan. Jika saya mencoba mencegahnya maka saya telah menggagalkan proses
belajar anak saya tentang empati, kesediaan berbagi, kemampuan memilih keputusan, kemampuan
menunda dorongan dsb. Akhirnya malam kembali berlalu.
                                                 60




Dan pagi ini, akhirnya kami memutuskan untuk mendatangi KNRP cabang batam untuk menyerahkan
celengan mobil si abang. sebelum berangkat, kembali saya menawarkan 1 opsi, “abang, gimana kalo
celengan abang untuk beli barang yang abang mau, tapi kita tetep menyumbang ke palestin dengan uang
bunda. Lagi-lagi si abang menolak. Dia tetap dengan pendiriannya. akhirnya kami berangkat dari rumah
setelah saya menelepon seorang pengurus KNRP Batam. Sepanjang perjalanan, saya menangis sambil
menyetir mobil. perasaan kesyukuran dan keberlimpahan yang luar biasa saya rasakan memenuhi rongga
dada ini. Ya Allah…semoga kebaikan selalu menyertai kehidupan kami. Semoga anak-anak kami menjadi
manusia-manusia hebat di matamu, dan layakkan kami menjadi orang tua dari anak-anak yang hebat.


Akhirnya tanpa ba bi bu dan seremoni apa pun, aziz memberikan celengannya pada om dari KNRP. dan
kami tidak menunggu kuitansi. karena jelas, akan terlalu lama kalo kami menunggu harus membuka
celengan, memilah dan mengumpulkan masing-masing koin, menghitung dan memberi selotip. Kemudian
kami pulang dengan perasaan yang masih terasa penuh dan meluap-luap. alhamdulillah.


Dian Rahmawati
Email : melukiswarna@yahoo.com
Blog : www.dionk.wordpress.com




Kisah 27


Tragedi SMA
Pengalaman Pribadi
Oleh : Lizah


Tragedi SMA “ku kenang”
     Dalam kehidupan pasti menemukan kesulitan, kemudahan, kebahagiaan, kesenangan, suka
maupun duka. Begitu juga dengan pengalamanku ketika SMA dimana ketika itu suka-duka kurasakan
dengan sahabat-sahabat yang sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri.


     Ketika masuk SMA dengan berjalannya waktu hari demi hari akupun mampu untuk beradaptasi di
SMA dan mulai merasa nyaman dengan orang-orang disekelilingku. Saat itu aku mencoba mengikuti
sebuah ekstarakulikuler yaitu ROHIS (Rohani Islam) yang mampu membuat aku tertarik pada setiap
kegiatan yang diadakan. Ekstakurikuler andalan sekolah, Favorit para siswa dan kebanggaan bagi setiap
guru karena mampu memberikan dampak yang positif bagi siswa dan mampu mengukir peradaban
                                                     61




hubungan yang erat dengan kekeluargaannya yang kuat. Namun untuk tahun pertama aku belum bisa
untuk aktif dalam mengikuti ekstarakurikuler tersebut.


Ketika kelas dua aku mencoba untuk aktif dan terjun langsung menjadi pengurus, sedikit demi sedikit aku
mulai betah dalam ekstrakurikuler ini sehingga orang-orang yang mengikuti ekstakurikuler ini menjadi
dekat denganku khususnya para pengurusnya. Kebetulan hampir semua pengurus berasal dari kelas ku,
jadi aku menjadi lebih dekat dengan mereka, tempat ekstarkurikuler ini aku jadikan rumah kedua setelah
rumah tempat tinggalku. Aku dan teman-temanku sangat betah tinggal di sana. Setiap pulang sekolah
kami selalu berkumpul terlebih dahulu, banyak kegiatan yang kami kerjakan, mulai dari belajar bersama,
perencanaan program kerja diskusi dan kadang-kadang rujakan/metis dengan memetik buah-buahan di
sekitar sekolah.


Sungguh sangat menyenangkan waktu itu karena kekompakan kami sangat terjaga, aku pun merasa
mempunyai saudara disekolah ini, kami selalu saling mengingatkan satu sama lain, saling memotivasi dan
melindungi. Program-program kerja kami pun sukses dan berjalan dengan lancar. Aku sangat bersyukur
karena bisa aktif dan bisa dekat dengan teman-teman seperjuanganku di ekstrakurikuler ini, lewat
ekstrakurikuler inilah aku mempunyai arah tujuan dalam hidupku, mempunyai semangat yang kuat di
setiap hari-hariku. Hingga mampu membuatku menjadi lebih baik dengan motivasi yang kuat dalam setiap
langkah yang aku pijakkan. Namun kedekatan dan kebersamaan yang sangat erat ini hanya tumbuh pada
setiap pengurus dan beberapa anggota saja, dengan kata lain kami dengan anggota yang lain kurang
dekat walaupun mereka aktif dalam setiap kegaitan yang dilakukan di ekstrakurikuler ini.


     Suatu kasus terjadi di ekstarkurikuler ini. Suatu hari ketika kami sedang rapat merencanakan
program kerja, salah satu guru mengetuk pintu ruangan dengan keras dan meminta kami untuk ikut
dengannya. Kami pun dikumpulkan di suatu ruangan sempit, entah apa yang terjadi, Akupun tak mengerti.
Dalam hati bertanya-tanya apa salahku, apa salah kami, apakah ada yang salah dalam ekstrakurikiler ini..
Guru tersebut menyidang kami layaknya seperti orang yang marah besar, Ia menggebrak meja dengan
mata merah sambil melotot. Beliau menyangka ekstakurikuler ini adalah sesat dan salah, sungguh
sedihnya hati kami, terpukul tak bisa berkutik karena difitnah seperti itu. Tanpa bukti dan tanpa alasan!!.


Memang pada saat itu di televisi sedang ramai dengan adanya aliran sesat sehingga kamilah yang
menjadi korban, disisi lain juga ada beberapa anggota kami yang tidak senang akan kesuksesan
kepengurusan kami sehingga ingin menjatuhkan dan mencemarkan nama baik kami dan ekstrakurikuler
ini dan sengaja memancing emosi sekolah agar menggebrak ekstrakurikuler ini. Kami tidak bisa berbuat
apa-apa karena kami pun tak mengerti apa yang mereka tuduhkan pada kami. Sebenarnya semua fitnah
yang dilontarkan pada kami tidak ada satupun yang benar semuanya hanya mengada-ngada saja
                                                   62




sehingga kami tidak berniat untuk membela diri. Toh, semuanya tidak terbukti.


Saat kejadian itu sekolah menjadi gempar dan kami menjadi center (pusat perhatian) sekolah. Sedikit
demi sedikit nama ekstrakurikuler kebanggan sekolah hancur, nama kami termasuk aku mulai tercemar.
Kaeadaan sekolah semakin kacau karena ulah mereka sendiri maka pihak sekolah memutuskan untuk
membubarkan sementara ekstrakurikuler ini. Di lapangan ketika semuanya siswa dan guru berkumpul di
umumkan bahwa sekolah akan membubarkan sementara ekstrakurikuler ini. Bukan main pada saat itu
perasaanku sangat terpukul, kami hadapi semuanya dengan tabah dan yakin bahwa kebenaran akan
menang. Kami tidak bisa berkutik, air mata di pipi mengalir. Saat itu ingin rasanya aku menghapus semua
air mata saudara-saudaraku dan membawa mereka pergi jauh dari tempat ini. Tapi, biarlah semuanya
menjadi saksi akan kebenaran kami. Dipojok barisan belakang aku lihat sosok-sosok orang yang matanya
mengatakan kegirangan akan kehancuran kami, Ya...Allah cukuplah engkau yang menjadi saksi.


Sejak kejadian itu semuanya berubah total, tempat tinggal keduaku menjadi sepi dan tidak terurus.
Ekstakurikuler kebanggan sekolah hancur, sekolah mendapat imbas karena ulah mereka sendiri yang
memfitnah tanpa bukti. Walupun ekstakurikuler itu hancur, nama baik kami tercemar, entah kenapa ikatan
hati kami semakin kuat. Kami tetap saling menguatkan satu sama lain dalam menetapi kesabaran ini.
Walaupun kami sudah terpisah.


        Biarlah semuanya menjadi kenangan yang terindah dan terburuk dalam hidupku, karena dibalik
semuanya mengandung hikmah yang sangat berarti dalam kehidupanku. Kesabaran mengokohkan
keyakinan, sampai sekarang dan sampai kapanpun. Kejadian itu akan selalu ku kenang, semoga
bermanfaat bagi para pembaca dan dapat diambil hikmahnya. (Amien) ^_^


Lizah
Email : sitinurlizah@yahoo.co.id
Blog : lizahbiologi.wordpress.com




Kisah 28


Jenazah (Ingatan dalam Ingatan)
Pengalaman Pribadi
Oleh : R. Rudi Agung P
                                                     63




Mencoba mengingatkanku lagi, suatu saat manusia pasti akan terkulai lemah; menjadi jenazah.
"Buku Pintar Calon Penghuni Surga; Mempersiapkan Kematian Menuju Kehidupan Akhir yang Bahagia",
karya Khozin Abu Faqih, begitu menggugah. Buah karya setebal lima ratusan halaman ini memacu ghirah
kita tuk berusaha menggapai khusnul khotimah. Dirangkai pula dengan mengajarkan hakikat kematian.


Kematian? Hmmm... Belum lama, kelinciku mati.


Awalnya keponakanku, Shila yang masih berusia tiga tahun, memandikannya berkali-kali. Setelah itu
kelinci tersebut tak bergerak. Entah apa sebabnya. Apa karena cara memandikannya yang salah atau
karena 'kontrak' kelinci itu telah habis. Satu hal yang pasti kelinciku telah kembali pada Sang Khalik.


Sebelum dimakamkan ---tanpa nisan sih hehe---, kupandangi jasad hewan itu. Lemah. Tak berdaya. Tapi
tak ada tanda-tanda raut kekhawatiran di wajahnya. Sebaliknya, seperti memancarkan senyum.


Tiba-tiba ingatanku seperti ditarik pada kejadian beberapa waktu lampau. Memori kecilku berputar,
mencari, dan berhenti pada satu peristiwa kecelakaan motor.


Saat itu, salah satu pengendara motor, mungkin, sepertinya kurang beruntung. Ia tergeletak di ruas jalan
raya. Dikerumuni puluhan orang. Aku penasaran. Khawatir, korban tersebut kerabat atau keluargaku.
Nafasku lega, ternyata korban yang berjenis kelamin pria itu tak kukenali.


Namun, kelegaanku tak berlangsung lama. Jantungku berdetak. Keras sekali. Yah, meski bukan orang
yang kukenal, tapi rasa penasaran untuk melihat korban begitu besar. Ku hampiri pria yang telah ditutupi
koran itu.


Deg! Masya Allah. Begitu korannya ku buka, kondisi korban begitu mengenaskan.


Selang beberapa menit, petugas berhasil mengamankan lokasi. Tapi aku masih berada di samping korban.
Jenazah tersebut dikembalikan dalam keadaan serupa. Terlentang.


Tapi... Jantungku kembali berdetak. Lebih kencang. Melihat raut wajah korban yang memancarkan
ketakutan. Bisa juga menandakan kesakitan. Matanya melotot. Belum bisa dipejamkan. Ku usap
berulang-ulang. Masih belum terpejam.


Ku coba panjatkan doa. Kedua bola matanya kembali ku usap. Masih tak terpejam. Mendelik. "Ya Allah,
semoga jenazah ini Kau ampuni. Semoga sakaratul mautnya menjadi penebus dosanya. Mohon, tutuplah
                                                      64




mata itu," lirihku dalam hati. Alhamdulillah doaku dikabulkan. Matanya mampu menutup sempurna.


Aku mundur. Sedikit menjauhi jenazah itu. Tapi bola mataku masi menatap wajahnya. Ingatanku terbawa
lagi. Seperti berlari. Lebih cepat. Aku masih menatap wajahnya. Kali ini sambil berdiri; tapi ingatanku
menerawang pada kejadian lain di tahun-tahun sebelumnya.


Aku jadi ingat kawan sekolahku di STM Negeri Boedi Oetomo, Jakarta Pusat. Kala itu, tawuran menjadi
menu di sekolah kami. Itu terjadi karena keterpaksaan. Terjadi setiap hari. Pulang maupun pergi sekolah.
Dan, ingatanku berhenti pada peristiwa pesta kelulusan.


Menjelang Maghrib. Kami berkumpul di terminal Lebak Bulus. Ah, bodoh sekali waktu itu. Sekolah pagi
tapi pulang selalu malam. Minimal sore. Padahal rumahku sendiri di bilangan Jakarta Timur.
Gumprang..Gumprang...Brak Brak.


Ketika asik bercanda bersama kawan, tiba-tiba puluhan pelajar berseragam menyerang kami. Mereka
turun dari atas truk. Perkelahian tak mampu dihindarkan. Batu, kayu beterbangan. Senjata tajam beradu.
Ada yang berlari. Ada yang mengaduh.


Auuuuuwww. Aku dikejutkan sebuah suara. Teriakan itu milik kawanku. Ia tersabet senjata tajam. Bagian
belakang kepalanya robek. Darahny muncrat. Kerah seragamnya memerah. Ia terus mengaduh.
Berusaha menahan rasa sakit. Tapi, ia masih bisa melemparkan senyumnya. Tak semanis senyumnya di
saat sehat. "Aduh sakit banget. Tapi, gue gak pape kok," katanya berusaha menenangkan yang lain.


Kendati demikian, suasana bertambah crowded. Mencekam. Sebagian kawan lain mengejar pelaku.
Bersama yang lainnya, aku berusaha memegang kerabatku. Dari insiden tawuran itu, ada pelajar yang
meregang nyawa sia-sia. Adzan Maghrib berkumandang. Dan, tiiiiiinggg...


Selanjutnya ada suara lain yang cukup menganggu; Ngiu..ngiu ngiu ngiu ngiu. Tiba-tiba layar memoriku
buram. Tak mampu lagi mengingat kejadian tawuran itu. Aku terhenyak. Suara Ambulance memcahkan
lamunanku. Ingatanku kembali fokus pada jenazah korban kecelakaan motor di depanku. Aku tak tau
secara pasti. Berapa lama ingatanku berkelana.


Jenazah itu akan dibawa petugas. Kemudian, puluhan warga yang berkumpul, satu per satu bubar tanpa
dikomando. Kala itu, jantungku masih berdetak. Namun, lebih pelan. Inna lillahi wa inna ilaihi ra\\\'jiun.


Aku sama sekali tak bermasud membuka aib jenazah pengendara motor. Sebaliknya, aku masih memiliki
                                                  65




keyakinan meski fisik luarnya mengenaskan, bisa jadi ia menutup kalimat terakhirnya dengan Syahadat,
amin. Bisa juga cara kematiannya menjadi penghapus dosanya di dunia, amin.


Ini bukan juga resensi ---halah---. Namun, "Buku Pintar Calon Penghuni Surga" itu, telah mengingatkanku
kembali tentang sebuah kematian. Kita tentu akan menjadi jenazah. Entah di darat, udara, atau laut. Dan,
entah kapan ajal itu tiba. Bisa dalam kecelakaan, dalam perang, dalam damai, saat perjalanan, dalam
tidur, atau di atas meja kerja. Ah, smoga saja bisa wafat di depan Ka\\\'bah, atau bertemu Izrail dalam
derajat Syahid, amin amin.


Suatu saat aku pasti dijemput ajal. Kita semua. Tidak ada seorangpun yang bisa mengetahui bagaimana
cara kematian kita. Tak ada yang mampu menjamin akhir hayat kita bisa ditutup dengan tersenyum,
tenang, dan menunjukkan kebahagiaan. Sekalipun Presiden atau Ustadz.


Sebaliknya, bisa saja meski menutup hidupnya dengan senyum tapi dirinya dalam keadaan tak beriman.
Naudzubillah. Tapi, ku selalu berdoa dan berharap kita semua bisa dijauhi dari kematian dalam keadaan
mata melotot, lidah menjulur, tanpa iman, tanpa bekal apapun.


Mari siapkan kematian. Semoga akhir hayat ini mampu ditutup dengan khusnul khotimah, bukan su\\\'ul
khotimah. Mampu ditutup dengan bekal yang laik, iman yang tebal, serta menghadap Sang Khalik dengan
wajah yang sumringah. Penuh kebahagiaan. Kerinduan membuncah.


Seperti kelinci kecilku. Lemah. Tak berdaya. Tapi masih menyunggingkan senyum lucunya. Syukur bisa
seperti para Mujahid yang menyambut bidadari Surganya. Atau seperti tokoh-tokoh yang diabadikan
dalam dalil Quran, Sunnah, atau cerita yang dikisahkan dalam tausiyah-tausiyah para Ustadz tentang cara
kematian calon penghuni surga.


Pada akhirnya tak ada masalah yang patut kita khawatirkan, mungkin, kecuali hanya mengkhawatirkan
masalah bagaimana kita menyiapkan kematian.


Semoga kesibukan pemilu tak menjadikan kita lupa pada 'satu agenda yang pasti datang'. Pun, kegalauan
hati tentang masalah sehari-hari tak mengalahkan kerisauan diri menyambut datangnya kematian---Deu,
berat oey, tapi bisa ya hehe amin---


Pada saat yang sama, smoga kita bisa bersyukur dalam kondisi apapun jua. Bukankah Maha Aziz telah
mengingatkan, "Fabiayyi alaa irabbikumma tukadziban." Demikian Firman yang diulang-ulang dalam Ar
Rahman.
                                                    66




Seperti dalam novel"Rembulan Tenggelam di Wajahmu", karya Tere Liye. Novel yang diterbitkan
Republika ini, menjawab lima dari yang lima, mengajarkan rentetan makna hidup. Tak menutup
kemungkinan, apa yang kita alami saat ini berasal dari rangkaian sebab-akibat.


Begitu pula apa yang dilakukan saat ini, bisa mengakibatkan cara kematian dan penutupan hidup di masa
mendatang. Mungkin. Seperti kisah pilu yang dialami Diar, yang wafat karena ulah sahabatnya, si Rai ---
tokoh di novel tsb---.


Yuk berdoa. Ya Rabbul Ghaffar, mudahkan kami dalam sakaratul maut nanti. Tempatkan kami dalam
surga-Mu. Dan, pertemukanlah kami dengan Engkau, para Rasul, para Mujahid, dan para penghuni surga
lainnya. Amin. Wallahu `alamu.


[menjemput pagi, yang sunyi. sendiri, mengumpulkan memori-memori]


R. Rudi Agung P
Email : r_agungp@yahoo.com




Kisah 29


Ketika Merindu Metro Mini dan Kereta Rakyat
Pengalaman Pribadi
Oleh : R. Rudi Agung P


Kecil, dekil, lusuh, polos, memancarkan belas kasih. Satu,dua, seratus, seribu, mereka berhambur di
sudut ibu kota, di angkutan umum atau di dalam kereta rakyat. Seribu? Ah mungkin saja, jumlah mereka
bisa lebih banyak lagi.


Merantau. Ini adalah salah satu favoritku. Pada dasarnya aku senang bermain dan membuka jaringan
dengan orang-orang yang jauh dari lingkungan tempat tinggalku. Kuliah memilih Kota Malang. Setelah
sempat bekerja di Jakarta, kini aku kembali bergeser ke luar ibu kota.


Kalimantan, salah satu kota yang menarik perhatianku dan berniat menetap di Kota Minyak untuk jangka
waktu yang lama. Entahlah..
                                                    67




Ketika di Jakarta, aku kerap mengeluhkan peradaban lalu lintas di sana. Apalagi jika naik angkutan umum,
ah, lama sekali. Tapi, dengan menumpang angkutan umum manfaatnya bisa mengurangi sedikit volume
kendaraan, bisa membaca koran/buku di perjalanan, dan tak perlu khawatir untuk berkonsentrasi
menyupir kendaraan sendiri.


Pernah beberapa kali membaca dalam bus kota selalu terganggu dengan varian faktor. Hawa panas yang
menyengat atau polusi suara yang terlontar dari bibir pengamen. Suatu ketika, aku membaca koran di
Metro Mini. Baru menikmati sekitar lima berita, tiba-tiba dua bocah perempuan naik ke dalam.


Satu membawa gitar kecil, satunya membawa krecekan. Padahal usia mereka tak lebih dari 10 tahun.
Entah lagu apa yang dinyanyikan, hanya terdengar baaaaa…bababababa.. aku.. kamu,,,. Terus terang
aku sempat terganggu. Namun, saat menatap wajah keduanya, aku teringat keponakan.


Aku bersyukur. Keponakanku tak sempat merasakan seperti apa yang mereka rasakan. Seperti bocah-
bocah jalanan itu yang berjuang dalam derasnya arus ibu kota. Melalui badai yang entah kapan berakhir.
Menghiba rupiah demi rupiah untuk mengganjal perut. Bisa jadi, perjuangan mereka hanya untuk
mengejar setoran.


Sadis. Aku tak mampu membayangkan bagaimana orangtua atau pihak yang mengekpsloitasi anak
jalanan bisa begitu tega. Aku terenyuh melihat keduanya. Melantunkan beberapa lagu, yang entah
seirama atau tidak. Tapi mereka selalu menanti satu momen: momentum ketika mengambil amplop yang
sempat mereka bagikan kepada penumpang, bisa terisi rupiah.


“Permisi,” kata salah seorang bocah. Ia meminta amplopnya padaku. Meski belum bisa memberi banyak,
tapi ada sedikit kepuasaan melihat parasnya meringis menatap isi amplop. Lambat laun, kedua bocah itu
menghilang. Turun di perempatan lampu merah.


Hari berganti. Pada kesempatan lain, aku pergi dengan menumpang kereta rakyat. KRL, begitu orang
menyebutnya. Wow.. pemandanganya lebih dahsyat lagi. Pengemis buta, pengamen, pedagang asongan,
penyapu lantai, copet, dan penumpang berdesak-desakkan.


Sejak lama, aku memiliki ketertarikan sendiri untuk mengamati dinamika sosial dalam lingkup transportasi
umum atau sekitar ruas jalan yang ku lewati. Kini, di tanah rantau relatif lebih sedikit ku temui pengemis-
pengemis cilik, gelandangan, dan semacamnya.
                                                     68




Bahkan, belum pernah ku temui satu gembel yang berada dalam angkutan umum. Hanya satu, dua
berkeliaran di terminal atau pasar. Itu pun bisa dihitung. Tak ada Metro Mini, tak ada kereta rakyat, tak ada
insan terseok-seok meminta belas kasih orang.


Setidaknya sejauh ini suasana serupa belum ku temui di Kota Minyak. Bukan mengharap daerah ini
banyak anak jalanan, tapi kadang, aku merindukan Metro Mini dan kereta rakyat. Merindukan peristiwa
sosial di dalamnya. Merindukan perjuangan para bocah yang bisa memberi banyak pelajaran besar bagi
kita.


Diantaranya ada dua hikmah; keberadaan mereka di depan mata kita bisa meluaskan ladang amal dan
mengajarkan agar kita senantiasa bisa hidup tirakat, tidak berputus asa terhadap rizki Allah.


Mereka mampu mencari sesuap nasi, mudah-mudahan kita lebih mampu. Duhai, janganlah berputus asa
terhadap rahmat Allah. Sekali pun benar-benar tak memiliki harta.


Aku pernah mengalaminya,pun ketika di ranah rantau. Sendiri, tanpa famili. Tapi, insya Allah bantuan
Sang Maha selalu datang tanpa diketahui. Dari pintu-pintu yang tak terduga. Wallahu ‘alamu.



R. Rudi Agung P
Email : r_agungp@yahoo.com




Kisah 30


Kembalikan Saudaraku

Naskah kiriman Ars ini sebenarnya dua judul, namun karena naskah yang kedua terlalu pendek dan masih
ada kaitan dengan naskah pertama, kedua naskah disatukan dalam satu postingan.


Pengalaman Pribadi
Oleh : Ars


Yang kemarin ditulis, dibaca, dan disuarakan, juga terdengar oleh telinga saya. Itu adalah saudaraku. Ia
bisa berkata bahkan menangis kesakitan, hanya saja engkau tak merasakan apa yang telah dirasakan.
                                                 69




Sekarang engkau boleh menang sekaligus menertawakan.


“Anda benar…!, Ia telah mati.”
“Ia mati dalam kesucian”


Tidak sedikitpun engkau berikan sepenggal harapan padanya. Sungguh betapa engkau tak menggubris
yang engkau titipkan. Padaku Ia pernah mampir kemudian meninggalkan pesan dan tak kusampaikan
padamu sekalipun kau juga membunuhku. Dalam kemenanganmu kau sendiri telah melihatnya tanpa
setetes rasa dendam. Akupun juga tak menaruh dendam padamu, nonsen. Tetap pada wangsit yang
kujanjikan pada sudaraku. Lalu kemudian siapa aku dan siapa saudaraku. Tak perlu kau tahu itu. Aku dan
saudaraku ada pada pojok gorong-gorong yang tertindas olehmu. Aku dan saudaraku bukan merupakan
wujud kesempurnaan total.


“Nah, sekarang muncul keringat dingin padamu”
“Sekalipun masih tersungging tawa”


Ketika itu pagi hari disebuah warung tempat nongkrong banci dimalam hari. Aku bersahabat dengan
segelas kopi telah mati.


Aku Kehilangan


Yang melayang
Yang menari
Yang menanti
Pergi diiring fajar, membimbing jalan
Disisi kegelapan waktu itu ada perih
Terurai indah dikubur luka merona
Agung rasa dihujan puisi
Biarpun tertatih, aku bermimpi kehangatan
Sumpah Bisma ketika ditikam ribuan anak panah
Pantang menggayuh nirwana menunda ajal
Sebelum pandawa menang dalam bratayuda
Drupadi bersumpah takkan bersolek diri
Sebelum mandi keramas darah dursasana
Aku kehilangan
Berkobar dendam di ujung fajar
                                                    70




Ars
Email : aprizz_rek@yahoo.com


Kisah 31


Desa, Wilayah yang Terlupakan
Pengalaman Pribadi
Oleh : Danil Edan


Mlm itu gw dapt sms dari nyokap bliau menyuruh gw untuk cpt pulang, jam 7 pagi gw mluncr dri kosan
mnuju kampung hlaman menggunakan speda motor mlik tman, rncna nya esok siang gw blik lgi, lgian
dirmah ska geje (gak jelas) gw bkn tipe SUDIRJA (suka dirumah aja) yang jlas gw SUDIRMAN (suka
drumah teman) tpi dsni, tman gw dah pd kwin smua, msyrkt dsni gk tao prngtan pemrintah tntang bhya
menikah di usia dini.


motor mlaju meninggalkan kramaian, menyusuri tempat2x yang telah dapat berbicara dihadapan
Indonesia Bahkan dunia. gw tersenyum Bangga ketika mendengar SMAN 1 CIPARAY di desa
PAKUTANDANG terkenal dgn kantin kejujuranya, Apalagi seniman asal JELEKONG Asep ss telah
mengukuhkan dimata dunia bahwa wayang golek adalah milik indonesia dan tak perlu khawatir lagi diakui
negara lain.


Terakhir gw dengar brita gak tao bnar atau salaHnya, bahwa CIPARAY mencetak rekor memliki beberapa
pemilih pada pilgub yang berusia sngat lah muda bahkan balita, cissy alghazali (1,5 thn)dan M dian
pahlevi (10bln), gw trsnym ketir apa yang merka ngerti dri pilgub, paling dia Akan pilih no.4 yg misinya dgn
\"kekuatan bulan akan menghukumu\"


ini menandakn Ciparay kurang perhatian dari pemerintah,ya btapa tdak mereka buta kpda rakyatnya
sendiri, kini suara CIPARAY sudah serak meneriakan keberadaannya, harus berteriak sekencang apalagi
agar ciparay diakui keberadaanya!!!!!!!!!!!!!!
!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
walau gue tak menetap diciparay sna, se engaknya disana kmpung hlaman gue, kemana lag gw akan
kembl saat kota perantauan tak lag bersahabat ya......gw msh inget sad0 brjajar mengantri mencari
omprengan, angkot kuning itu ditengah kernetnya berteriak mencari penumpang, angkot itu bejalan
menyusuri jalan - jalan rusak yang semakin tak terdeteksi pantauan pemerintah, Ah ... mungkin mereka
terlalu sibuk merecanakan pmbangunan kota yang bukannya semakin rapih tapi smakin amburadul, tapi
                                                     71




gw yakin masyarakat disana tak pernah terpikir untuk melakukan demo (ato memisahkan diri dari
Indonesia), kebiasaan orang kota yang rela baku hantam hanya karna beberpa meter tanahnya dijadikan
fasilitas umuM


Sementara diseblah sana angkot hijau akan membawa ke keramaian kota, Bandung kota yang selalu
bangga akan dosanya, Bandung bangga mempunyai BSM dgn SPG rok diatas lutut,
Bandung bangga mempunyai masjid agung sebagai rumah para gelandangan liar, Bandung bangga
mempunyai Tegalega yang dulu adalah sarang prostitusi(alhamdulillah tos aya pasantren ayeunamah),
Bandung bangga dijalan Braga berjejer club malam, tempat karoke yang disediakan untuk mereka yang
tak lagi menggenal matahari



Istirahat sejenak di masjid agung ciparay emang menyejukan, melihat muda mudi yang sedang menikmati
surganya, sementara gw lihat bergerombol anak usia belasan, dengan rambut dicat merah, pirsing
dilidahnya, anting, dengan baju merk distro yang dijual di pasar malam 7 bulan yang lalu bercanda
mengeluarkan kata 2x kasar, ingin berlagak seperti orang kota namun kota tak pernah mengakuinya \"ini
kampungan\", bahkan desa pun tak pernah mengakuinya \"ini pengaruh kota, disni naturalis tak penah tau
tentang asesoris\"


AH..... tapi semua itu bkin gw rindu rumah
zemaaaaaaaaaa .......i am segera balik!!!!!!!!!!!!


Danil Edan
Email : danil_edan2000@yahoo.com



Kisah 32


Bayi Sehat di Mataku
Pengalaman Pribadi
Oleh : Aulia Rahmawati


Bismillahhirohmanirohim
(Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang)
Demi pena, dan apa yang mereka tuliskan (Q.S Al-Qalam:1)
Jika boleh, hitunglah tiap huruf yang saya baca ini sebagai ibadah, yang dengan itu semoga Engkau
                                                   72




mengijinkanku untuk menatap wajah-Mu


Apa yang kalian pikirkan saat pertama kali membaca judul di atas, tentang kesehatankukah?
Hmpfh…bukan kok, ini tentang sebuah kisah yang dimulai pada awal semester satu, awal menginjak
bangku kuliah.


     Perkenalan kami semua berawal dari sebuah diklat organisasi ekstra kampus, biasanya dijuluki
OMEK oleh orang-orang, organisasi ekstra ini bernama HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), OMEK tertua,
the oldest extra organization of campus they told me (is it right?Oufhh…made me proud!), diadakan di
sebuah villa batu pada bulan Ramadhan, bulan penuh ampunan selama tiga hari, aku lupa tanggal
tepatnya. Setiap organisasi pasti mempunyai tujuan, dan tujuan organisasi ekstra ini adalah mewujudkan
insan akademis pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab mewujudkan
masyarakat adil dan makmur yang di ridhoi oleh Allah SWT. Teridentifikasi dengan bendera hijau-hitam
dan bulan-bintang. Mulanya, mereka semua terasa asing di mataku, terlihat aneh, gila dan juga luar biasa,
dan jujur, aku merasa minder dengan mereka yang mempunyai kepercayaan diri yang membuatku
berkata ‘WOUW’, mereka lebih segalanya dibandingkan aku, ada setitik rasa iri untuk menjadi seperti
mereka, rasanya minder sekali waktu itu.


     Kegiatan-kegiatan kami dilakukan baik di luar maupun di dalam kampus, anggotanya terdiri dari
mahasiswa-mahasiswa yang kritis, radikal, haus akan ilmu dan diskusi-diskusi, namun kelompok yang
berdiri bebas dan mandiri, membahas segala macam hal, mulai dari isu-isu actual, seputar kebijakan
pemerintahan, isu-isu nasional maupun internasional atau membahas mata kuliah yang kami tak mengerti
dan yang mengerti akan menjelaskan pada yang lain yang tak mengerti. There wasn’t day without discuss,
and always be like that.


     Organisasi tempat kami bernaung sudah lama sekali berdiri dan setiap angkatan pasti mempunyai
nama kelompok, dan angkatan kami menyepakati nama yang menurut senior sedikit aneh,, mengsle, gak
banget, unik dan mengundang tawa bagi yang mendengarnya, ‘BAYI SEHAT’, yups itulah namanya.
Nama itu identik dengan salah satu presidium kelompok kami yang badannya besar, namun wajahnya
terlihat baby face. Seiring berjalannya waktu, kami jadi lebih mengenal satu sama lain, dan entah
bagaimana, kakak-kakak pengurus terlihat sangat memanjakan angkatan kami yang doyan banget diskusi
panas, kami mendapat perhatian yang lebih. Betul gak? (Aku juga belum tau apa jawabannya nih).


       Kalau aku boleh mengidentifikasi, ada delapan orang yang sangat kukenal, terdiri dari berbagai
macam tipe, gak ada yang seragam, kayak TMII yang berisi kepulauan Indonesia dari Sabang sampai
Merauke. Dari presidium kami yang pertama, asalnya dari Bali, namanya kita sebut saja ‘Ahmad’, tipikal
                                                    73




orang yang kalau lagi ngomong terlihat sangat tenang dan tersusun apik, kadangkala terlihat sangat
emosional dan tersulut emosinya. Nurma, cewek yang doyan banget jalan kaki kemana-mana, kritis puol,
feminis radikal, pejuang gendre, kalau udah ngomong sudah dipotong dan cuepet kayak kereta api
ekspres, ‘Dengerin donk, aku mau ngomong!’, tapi kalau mau dia berhenti tinggal pencet aja tahilalat di
deket mulutnya (Hehe…ampun nduk!), sensitif dan cablak banget. Nia, cewek gaul yang doyan banget
shopping, fashionable, selalu ngomentarin penampilan setiap orang yang menurut dia gak sreg menurut
selera fashionnya dia, suka banget nebak-nebak pikiran orang, bisa dibilang suka ‘lebay’ tapi ulet dan
super rajin, bertanggung jawab banget sama beban yang dipikulkan di pundaknya, dan selalu berusaha
menyelesaikan secara sempurna, ‘Apa sih yang buat sodara?’. Arif, cowok paling muales yang pernah
aku tahu, gak ada yang patut untuk dijelaskan selain kalau dia itu ‘tukang gombal’ dan tukang bikin ricuh
forum diskusi, kuat wacana tapi selalu mbulek kalau menyampaikan, bikin semua orang pada gregetan
sama dia. Ibni, cowok yang kuat wacana, emosional banget, perutnya aja yang digedein dan suka
menggila kalau ketemu soulmatenya si Tole, cowok super punk, dengan apapun berwarna hitam, mulai
dari kulit (banyak bolotnya kali ya!), rambut yang selalu berubah seiring perkembangan cuaca, pakaian,
kaos hingga celana dan sepatu, hingga kendaraannya, pantes banget dapat sebutan, MAN IN BLACK,
selalu terlihat kumal dam ambruadul (Kalau kamu kayak gitu, gimana ada cewek yang kecanthol le!). Firas,
blasteran Pakistan yang terlalu sering disangka bule blasteran barat, paling suka dipanggil ‘kapitalis’
karena dia menganut aliran sosialis, mempunyai pola pikir tersistematis yang kadang terlalu sering
berwacana daripada konkretnya (Gak azhik!). Mami, cewek yang satu ini selalu jadi sasaran empuk untuk
curhat, karena tutur katanya yang ke ibu-ibuan, ini dia partnernya Nia lagi kumat shoppingholicnya.


     Dalam hatiku, awalnya aku tak terlalu setuju dengan ‘Jalan’ yang ditempuh mereka untuk
memperjuangkan ‘hak rakyat’, dengan demonstrasi, yang di mataku identik dengan ‘tawuran’, ‘jotos-
jotosan’, ‘ontok-ontokan’, aku bernafas berat, apakah perubahan akan terjadi dengan cara berteriak dan
berorasi dengan megaphone, aku gak ngerti jalan pikiran mereka, aku belum paham (dasarnya aku ini
lemot!itu kata mereka, he), mereka bilang, ‘Aksi turun jalan, demonstrasi itu adalah jalan untuk bersuara,
supaya aspirasi kita terdengar, orang yang tidak mau turun jalan bukan pahlawan namanya’, hmm…
kalimat itu menohok persis di pusat perasaan. Seorang kakak senior akhirnya menengahi perdebatan
kami, memberikan kami wacana, ‘Aksi itu ada banyak, bisa dengan turun jalan ataupun aksi intelektual,
yang turun jalan, bisa berorasi dan berteriak agar maksudnya terdengar dan tersampaikan, sedang aksi
intelektual, bisa dilakukan dengan tulisan, entah karya tulis, artikel dan setiap orang mempunyai hak untuk
memilih mana jalan yang ia tempuh, dan orang lain tidak bisa memaksakan kehendaknya’.


     ‘Aksi bukan pergerakan kawandh, aksi adalah salah satu bagian dari pergerakan, kegiatan aksi
bukan hanya terfokus pada perubahan secara frontal saja, tapi ketika mahasiswa bergerak sekarang
untuk menciptakan kebijakan yang lebih baik dari sebelumnya di masa yang akan datang’. Beberapa hari
                                                   74




setelah perdebatan di Rausyan Fikr, seorang teman datang padaku, minta maaf dan berkata, ‘Aku
bukanlah kamu, kamu bukanlah aku, dan kamu atau aku bukan mereka ataupun sebaliknya, dan aku
akan egois jika memaksakan kehendakku pada kamu’. Aku bernafas lega, segan, sungkan bercampur
senang, benar katamu kawan, perbedaan itu memang indah, seperti es krim yang mempunyai banyak
rasa, vanilla, strawberry, mocca, coklat, dll.


     Bersama merekalah, aku mendapatkan banyak sekali tambahan ilmu, kujejalkan dalam otakku, kami
diajari untuk peduli pada rakyat yang dibawah, kami bahkan tergabung dalam ‘Sekolah Rakjat’,
pergerakan kami diantaranya adalah datang ke sebuah SD di sebuah tempat terpencil di Songgoriti,
tempatnya jauh dan medannya sulit, mereka kekurangan tenaga pengajar juga siswa, jauh sekali dengan
yang di kota, mereka bahkan menyanggah dan mencibir, bagi mereka pendidikan gratis tidak berlaku,
‘Tidak boleh ada harga untuk ilmu, karena apabila ilmu tidak diwariskan, maka peradaban akan terhenti’.


     Berikutnya, kisah tentang ‘Politik dalam Kampus’, ahh…ini pasti tentang Pemilwakan?That’s right!,
aku tidak bisa bercerita banyak mengenai hal ini, karena aku sama sekali tidak menyukai dan
berkecimpung di dalamnya, yah…awalnya seperti Soe Hok Gie, “Politik adalah sesuatu yang kotor seperti
lumpur…”, blok dan kepentingan-kepentingan, namun aku tetap menghormati mereka yang memilih terjun
ke politik, lanjutan dari kata Gie juga, “….namun saat sudah tidak ada jalan lain, maka terjunlah”. Masih
banyak kisah, namun akan jadi buku nantinya kalau semuanya kuceritakan.


     Walaupun banyak cobaan melanda, berita miring mengenai kami, selubung atmosfer persaudaraan
yang kadang terasa menipis karena terpaan badai yang terlalu keras, membuat ulu hati terasa terajam
dan tertohok tepat di sasaran, menimbulkan rasa kecewa, pikiran yang sering mencapai titik jenuh,
entah kenapa mereka tetap tergantung dalam pikiranku, rasa kangen dan kagum terus berdecak dalam
mataku, menari-nari lincah, dan rasa syukur yang selalu terucap, karena kemanapun aku pergi dan
berpetualang, terseok-seok jalan, mereka akan selalu ada disana, dimana aku bisa pulang kapan saja,
disambut dengan senyum renyah ala crispy, walaupun ancaman penggusuran rumah kami sedang
mengancam, tempat itu akan selalu terasa nyaman bagiku, karena disanalah, pertama kalinya, aku diajari
dan belajar banyak hal yang sebelumnya terlalu takut untuk aku lakukan, karena mereka memberikan
lebih dari apa yang saudaraku sedarahku sendiri pernah beri, sejauh apapun aku melangkah dan pergi,
akan selalu terpajang dalam mataku, pesan singkat dari seorang saudara kecil, ‘…Sejauh-jauhnya pergi,
jangan lupa sama rumahmu sendiri’, di mataku mereka akan selalu menjadi pahlawan kecil yang memilih
AKSI TURUN JALAN SEBAGAI JALAN DAN BUKAN PILIHAN. Mantepkan.


Green House 114 B, Kertoasri, Malang, will be my lovely place to go home for everlasting.
                                                        75




* Nama bukan nama sebenarnya.
* Terselesaikan, Jumat, 17 Juli 2009, pukul 12.25 WIB, di atas sebuah kasur disamping tivi channel
liputan6 SCTV yang sedang nonstop menyiarkan berita soal ‘Meledaknya Bom di Mega Kuningan’, Ritz
Carlton.
* Meresapi belaian angin yang menjadi dingin.
Kesalahan sepenuhnya ada di penulis, menerima kritik. Sesungguhnya kesempurnaan itu hanyalah milik-
Nya.
...YAKUSA...
Wassalamu 'alaikum wr.wb.


Aulia Rahmawati
Email : chloelaw.madioen@gmail.com



Kisah 33


Kisah Sedih Dunia Maya
Pengalaman Pribadi
Oleh : Danil Edan


J4ngn s4mpe k3percayan temen- Temen lo H!Lng Krna tipuan kuno, Naruh poto artis diFB n FZlah,
ngasih no telp palsulah(no polisi ato pemadam kebakaran, niat mo kopi darat n ngedate Monkey
Emoticonsyang datang malah blanwir dan pasukan buser)



Semoga frend2x gw di FB n Fs saat ini gak gituh, dan jangan sampe TErjadi b3rbahaya itu, 4p3z nya tu
pernah gw alami
apa m3reka gak sadar di dunia ini gak ada yang abadi termazuk kejelekan gw jangan bilang siapah 2x klo
gw jlek hari ini, lihat lah esok hari pasti gw akn berubah jadi power ranger........,
tunggu p3mbalasanku marisol..


PANTUN


(rokok garpit roko super..........) .
(tulisan buruk jangan dihina....%#@#&^%^&^%$##$%&&%%^$#)
(G z gak zelas)
                                                     76




emang dlm uruzan cewe gw gak begitu bruntung
nembak 4x ditoLak 7x yang 3 gak normal baru gw d3ketin si c3we udah b! lang Hey .....NIL.... lo mo
nembak ya dah gw tolak %#%$@!8aaaa45w3*&^&%^^&^)&)(*% hatiku terlahir sebagai seorang lelaki klo
the panas dalam b!lang


dari dulu cita -cita gw jadi perek tapi asal lo taw, kalopun gue digratiskan pasti gak ada yang mau
dan pada Ujungnya kalo lagi online truz chat ( gw gak pernah chat ma cowo) apa itu di YM di FB di paltalk,
camfrog atau lagi Chat Tembok ato Kayu tuzuyannya azak kenalan t3ruz azak ktemuan ato langsung aza
azak jadiancatetan gw gak pernah ngajak jadian tembok ato kayu)
dan apa kata mereka


gila lu niel ( 3mang dari dulu )
kan bandung dan banjarmasin jauh ( gw akan senantiasa ngeblututin cinta gw dari bandung kesanah,
kadang2x gw bisa romantis lho)



emmmmm boleh......(jadi rumah kamu dmn ntar w ngapel) di dkt taman pahlawan jln anu Gg nieeet ds
SENSOR (ooooooooooooooooke.....siyuuuuu)


gw pun ngutang snah snih dengan semangat 45 untuk menemui sang pujaan hati yang masih GJ, sempat
terbesit pikiran untuk mencuri Emas di monas dan ditukar dengan dodol garut biar gak ketauan, pada
akhirnya kar3na gak dapet uang juga, gua jual benda kesayangan gua yaitu Tamaghoci yang selalau gw
pake untuk browsing walau dari dulu ampe skarang gak pernah konek2x mungkin bempernya(bemper kan
ada di mobil) kena pirus demam berdarah
gw pun berangkat kesanah dtemani oleh frend gw
pas gw bingung gw ada dimana gw ber ujar dengan gaya DORA the EXPLOLER
" setelah ini kita kemana"
dan temen gw berujar
"SiApa yang harus kita tanyakan ketika kita tak tau arah mana yang jadi tujuan"
kita berkata kompak
Peta....peta......ayo smuanya sebut peta
dan ketika qta yakin klo tempatnya sudah di temukan kita berkata kompak
BER HASIL.....BER HASIL.....HORE...HORE......
Ya kita berHasil di tipu oleh si cwe ternyata alamat yang ia berikan adalah tanah kuburan alias TPU
                                                     77




dasar kau tuan takur
tunggu pembalasan ku
ya mungkn gw kurang bruntung tapi kata orang bnyak yang jadian lwat dunia maya


o................ya gw pernah chat di YM dengan cw yang ngakunya orang luar negri, eeeeeeeeeeeeeh
setelah gw liat prorilnya ternyata urang garut jadi hati22x aza
(ksah ini gak smuanya benar soal tamagochi itu snenernya gw gadein hp bwat bensin ksna hehehehe biar
sru aja)


Danil Edan
Email : danil_edan2000@yahoo.com
Blog : danil.tk , boedak.tk




Kisah 34


Jilbab, antara Ambisi dan Keyakinan
Pengalaman Pribadi
Oleh : Wida Mirawati


Sebuah itik balik yang tak pernah kubayangkan sebelumnya akan terjadi dalam hidupku. Mengantarkanku
menuju episode hidup yang baru. Sebelas tahun yang lalu, tepatnya saat aku masih duduk di bangku
sekolah menengah pertama, aku adalah sosok yang jauh berbeda dengan aku saat ini. Rambut kubiarkan
diikat tanpa penutup jilbab, meskipun kadang jika aku berangkat sekolah kukenakan jilbab itu dengan
seadanya. Dengan rambut yang masih menyembul di depan, lengan baju yang tergulung sampai siku,
dan rok yang terbelah sampai betis, tapi saat itu aku merasa begitu salih. Koleksi rok pun hanya beberapa
saja, di luar sekolah aku lebih senang mengenakan celana, baik panjang atau pendek. Hingga Ayahku
saat itu begitu cemas dengan keadaanku, tentang bagaimana masa depanku, bagaimana aku tumbuh
sebagai wanita dewasa kelak.


Memasuki masa SMA, nilai ujian nasional yang cukup tinggi mengantarkanku maasuk sekolah yang
cukup favorit di kotaku, namun jauhnya jarak membuatku ragu karena harus tinggal di kos jauh dari
orangtua. Namun saat Ayah mengantarku untuk pindah, beliau berkata 'mungkin ada rencana Allah yang
jauh lebih baik dengan kamu sekolah di sana". Sebuah ucapan yang baru kusadari maknanya setahun
kemudian, dan selalu kuingat hingga kini.
                                                    78




Penampilanku tidak banyak berubah. Jilbab hanya sesekali kukenakan jika ke sekolah, di luar sekolah
celana pendek dan kaos oblong masih menjadi kostum favoritku. Aku mengikuti ekstrakulikuler Paskibra,
sebuah aktivitas yang memang kucintai sejak aku masih di sekolah dasar, dulu setiap tujuh belas Agustus,
aku selalu melihat Paskibraka nasional mengibarkan bendera di istana negara lewat televisi, aku
bermimpi menjadi bagian dari mereka. Tegap, gagah, berwibawa. Aku berlatih dengan giat, berjemur di
panas matahari menjadi kegiatan harianku. Hingga impianku menjadi pasukan Pengibar Bendera Pusaka
tiba di depan mata. Meski bukan nasional, aku tetap bangga karena mampu menyisihkan ratusan siswa
lainnya.


Tapi apa yang terjadi, ketika impian tiba di depan mata sebuah pertanyaan menyentakku. Temanku yang
begitu anggun dengan pakaian yang membungkus tubuhnya, dan jilbab yang membalut wajah cantiknya,
bertanya padaku dengan ringan, "kapan atuh mau pakai jilbab yang benar?" Nadanya ringan saja, tapi
membuatku tersudut. Kujawab dengan ringan juga,"nanti ya, tahun depan kalau sudah jadi Paskibraka."
Dalam bayanganku, memakai jilbab yang benar, sesuai aturan sebagaimana tertulis dalam Al-Ahzaab 59,
begitu menyiksa, panas, ribet, dan membatasi aktivitas, apalagi sesaat lagi impianku menjadi paskibraka
akan terwujud. Saat itu Paskibraka belum diperbolehkan memakai jilbab, beda dengan sekarang. Dulu,
aku begitu tidak suka jika melihat ibuku memakai jilbab, atau sepupuku yang berjilbab rapih. Mendengar
jawabanku, temanku tersenyum, lalu ucapnya "trus kalau kamu meninggal besok gimana?"


Deg! tak kuduga pertanyaan itu akan menimpaku. Lama pertanyaan itu menghantuiku, tentu saja karena
tak ada satu pun yang tahu kapan ajal menjemput. Akhirnya, saat karantina Paskibraka tiba, aku
memutuskan untuk       mengundurkan diri. Bisa dibayangkan pergolakan batin yang kualami, antara
keinginan kuatku meraih impian dan keyakinan yang mulai tumbuh. Para senior yang mendengar
masalahku menyudutkanku, memaksaku untuk tetap ikut, bahkan beberapa senior mejauhiku, begitu pun
dengan teman-teman seangkatanku, mereka mendorongku untuk tetap melanjutkan masuk karantina.
Bagi mereka dan bagiku menjadi anggota Paskibraka adalah prestasi dan kebanggaan. Akhirnya hatiku
luluh oleh bujukan, tapi aku kalah secara keyakinan. Aku maju. Tapi dalam hati aku berjanji, setelah ini aku
akan memantapkan niat memakai jilbab dengan benar.


Agustus 2003 impianku tercapai sudah. Kini kumantapkan niat memakai jilbab. Kumulai dengan
mengulurkan jilbabku yang biasa melilit leher hingga terjulur ke dada. Canggung, malu saat bertemu
teman-teman, seolah semua orang memandangiku. Namun kecanggungan itu tetap kujalani, hingga
akhirnya aku maupun teman-temanku mulai terbiasa dengan penampilan baruku. Bahkan kesan pejilbab
yang kaku pun hilang sudah. Dengan berjilbab aku tetap bisa bergaul dengan semua teman, bahkan dari
berbagai keyakinan. Aku pun tetap berprestasi di keanggotaan Paskibra dengan menjadi pelatih dan
                                                     79




sempat terpilih sebagai Komandan Peleton terbaik putri dikotaku, tentu tanpa menanggalkan jilbab. Aku
pun berani tampil berbeda di setiap perlombaan dengan memakai jilbab, dan mampu membuat kelompok
kami memboyong piala. Aku merasa aman, terlindungi dari tatapan dan tangan jahil. Aku lebih bangga
karena hanya akan memperlihatkan tubuhku kepada seorang lelaki yang mengikatku dengan cinta dan
ridha Allah. Sedangkan perjuangan untuk memakai jilbab membuatku              tetap bertahan dari berbagai
godaan, tak mudah melepas keyakinan. Aku pun lebih menghargai mereka yang sedang berusaha
menutup auratnya tanpa menyudutkan.


Akhirnya ucapan Ayahku di awal dulu terbukti sudah, inilah rencana Allah untuk menjadikanku lebih baik.
Salam untuk teman-teman Paskibra SMAN 2 Cianjur, kalian membuatku kuat.


Wida Mirawati
Email : widamyrawati@yahoo.com



Kisah 35


Perempuan Jalangkah?
Pengalaman Pribadi
Oleh : Ummi Kulsum


Setelah mendapat sms ini teman saya bertanya-tanya dan mulai bingung dengan Arti kata Perempuan
Jalang,, smsnya begini "PEREMPUAN MARANIN LAKI2 CIRI2 PEREMPUAN JALANG"
(widiiiihh jujur aku aja ngeri bacanya,,)


Tmennya umi: "Mi,, mang perempuan jalang itu seperti apa sihh?? bingung juga gw emangnya setiap
cewe yg dateng ke rumah cowo bisa disebut perempuan jalang"


Umi manis: "begini fren, mungkin kalau dalam mata kaca gw, perempuan jalang itu sama kaya pelacur,
(mudah2 pendapat gw salah), tapi setiap cewe yg dateng ke rumah cowo, ga bisa disebut perempuan
jalang dong,, berarti kalo gw main ke rumah cowo gw, n ngobrol ma keluarga cowo gw disebut jalang juga
dooonngg,, waahh parah tuh orang,, mamiiii aku dibilang jalang juga miii,,,"( halah lebayy lo mii)


Tmennya umi: " nahh, itu dia yg bikin gw bingung mi, berarti ribuan cewe yg dateng ke rumah cowo
dengan dalih apapun bisa disebut perempuan jalang dong,,??" (huhhh haaahh setaann nich yg ngirim
sms)
                                                   80




Umi manis: " ywd kalo gitu kita tanya aja ma smua tmn2 cewe atau cowo yg baca pembicaraan kita ini
pren, bagaimana?? ide bagus bukaann?? nanti kalo persentasi mengatakan lo bukan cewe jalang boleh lo
kasih dah tuh nomer orang yg sms lo ke smua orang" (hehehehe otak penjahaatt)


Tmennya Umi: "baiklah temanku yang manis, imut, lucu, itu adalah ide yg sangaaaaaaaaatt baguuss,
thakns ya umi, kaulah hidupku, kau sahabat terbaikku, kau adalah kantongku disaat aku lg bokek"
( RRRrrrrrhhhh ujung2nya jeleeekkkkkkkk)


dengan membaca pembicaraan singkat antara Umi manis dan perempuan jalang yg tidak mau disebutkan
namanya (pisss prennn) berikanlah komentar anda, apakah kawan saya ini bisa disebut wanita jalang
atau tidak?? dan berhati2lah buat cewe yg suka dateng kerumah cowo (Termasuk gw hiks2) nti dibilang
perempuan jalang juga lagee,,


dengan alasan yg singkat jelas dan padat (asal jgn bantet, kalo kue bantet enakk,, OKee)..


yahh mudah-mudahan gw bisa dapet hikmah dari kejadian ini, berusaha menahan diri untuk mengurangi
intensitas kedatangan gw ke rumah cowo gw (hiks2 padahal datengnya sebulan sekali, kalo dikurangin
setaun sekali dong,, AAAAaaaaaa tidaaakkkk)


Oleh : Ummi Kulsum
Email : justcallmemey@yahoo.co.id



Kisah 36


Nyontreng Nyontek
Pengalaman Pribadi
Oleh : Ummi Kulsum


Pagi 8 Juli 2009, kira2 pukul 07.35 mama dah sibuk masak pagi2 karya mu nyontreng. Penyontrengan di
mulai jam 8, teriak-teriak bangunin anak2nya dari jam 4 pagi ( halah lebayyyy). wkwkwkw


Kira-kira jam 10 Aku, mama, kakak ke-4, adik ke-6, sepupu, tetangga, de.el.el berbondong-bongdong ke
tempat pemilihan suara,,
                                                    81




sambil menunggu panggilan,,,


aku yg paling manis said: " mah pilih yg mana???, bingung ahh"


Mama gaul : " Disuruh bapak sih lebih cepat lebih baik,, tap gua ga sreg,, pilih yg mana ya me?"


Aku anak Manis : " Trus maonya yg mana, kita tung,, tung,, da,, yang beruntung yang ada,,, aja yuk mam,,
wkwkwkwkw"


Mama gaul : " ho'ohh dahh"


tiba-tiba nama orang manis dipanggil,,


"ummi Kulsum",, waw baiklah aku datang,,
trus berlanjutlah nama mamaku, kakak, dan adekku,, ehh bujug kita sekeluarga bejejer di kotak pemilihan
suara,, sekitar 2 amenit aku bingung mw pilih yg mana,,


Ahaaayy ada ide bagus,, " Nyontek aahh"
celingak ke kiri, liat mama nyontreng si itu,, celinguk ke kanan kk aku nyontreng si anu,, hhhmmm
akhirnya biar impas aku nyontreng si ini aja deehhh,,


terima kasih aku dah dikasih contekan mumpung gurunya ga liat, jadi ga disetrap deeehh..


weiiiitsss untuk kelakuanku yg begini jangan diikutin yaaa,, hehehe


Ummi Kulsum
Email : justcallmemey@yahoo.co.id



Kisah 37


Suruh Siapa jadi JAMBRET
Pengalaman Pribadi
Oleh : Muhammad Nur


JAMBRET...mungkin kata2 tersebut sudah tidak asing lagi di telinga kita, apalagi mereka yang sudah
                                                  82




pernah mengalami bertemu langsung dengan JAMBRET. Bagaimana rasanya, kesal bin jengkel bukan?
berikut ini ada sebuah cerita dari pengalaman pribadi yang sebenarnya bisa kita ambil hikmahnya.


Kejadiannya kalau tidak salah sekitar 10 tahun yang lalu bermula dari kabar tentang wafatnya salah
seorang warga yang diberitakan melalui pengumuman Masjid. Akan tetapi, pengumuman tersebut pun
sontak menjadi buah bibir di kalangan masyarakat setempat.Kenapa? karena warga yang meninggal
tersebut tidak lain adalah seorang jambret yang sudah kerap kali meresahkan warga setempat.


Selain berita kematiannya yang mengundang perhatian warga tersebut, ternyata terselip sebuah cerita
lucu dari warga (termasuk saya sendiri) yang mendengar langsung berita kematiannya. Mereka yang
mendengar pengumuman tersebut spontan mengucapkan ALHAMDULILLAH, bukannya INNALILLIAHI
WA ILAIHI RAJI'UN yang seharusnya diucapkan oleh seorang muslim ketika mendengar muslim yang
lainnya meninggal dunia (kebetulan si JAMBRET tersebut adalah seorang muslim).


Mungkin cerita diatas tersebut bisa menjadi suatu pelajaran bagi kita semua akan dampak sosial yang
timbul dari masyarakat sekitar mengenai arti dari menghargai dan menghormati ketentraman orang lain.
Jikalau kita berusaha mengingat kembali sebuah pepatah yang mengatakan "Gajah Mati Meninggalkan
Gading", bagaimana jikalau JAMBRET mati? ALHAMDULILLAH saja mungkin, karena selama hidup saja
sudah sering menyusahkan orang lain, ya nggak?he9.


Muhammad Nur
Email : matDOGER@hotmail.com




Kisah 38


Untuk si Sastra
Pengalaman Pribadi
Oleh : Danil Edan


"daniel jgn prnah menunda-nunda pkerjaan lo" dalam arti kata "kerjkanlah apa yang bisa kamu kerjakan
sekarang", ya hidup kita tak pernah lepas dari sbuah makna, sastra balutan bahasa yang membuat cinta
begitu indah, kesedihan begitu menyakitkan, tangisan penuh makna ataupun tertawa adalah surga
                                                      83




tapi terkadang sastra hanylah sebuah topeng, tak lebih hanya sebuah pakian yang menutupi daging dan
tulang, yang tak bisa membedakan antara


bodoh dan kurang pintar
tuli dan kurang mendengar
buta dan kurang penglihatan
perek (jablay,lonte) dan tunawisma


menurutku itu sama saja, sama halnya ketika ku berpakaian dan ber telanjang, mereka akan merasa jijik
ketika ku bertelanjang (aneh nya kalau wanita yang telanjang lain halnya dan aku tak pernah mengerti
kenapa wanita selalu di jadikan objek seks) sama jijiknya ketika aku mendengar
\"daniel kamu itu kurang pintar..?"
yang artinya
"daniel kamu itu tolol..........goblok!!!!!!!!!!!"


menurutku tak ada yang harus disembunyikan ketika ber curhat, agar orang lain dapat menilainya dengan
tepat.....terimakasih


Danil Edan
Email : danil_edan2000@yahoo.com




Kisah 39


Perkawinan Sedarah
Pengalaman Pribadi
Oleh : Ummi Kulsum


Pulang kuliah,,,
Hooaahh cape juga, tp kali ini ga terlalu bete karna tadi pulang kuliah bareng Ayu, hehehe ada temen di
angkot. tiba di rumah kira2 jam 15.34, salim sama mama, trus gangguin mama yg lg nonton sinetron.
lagian saban hari kaga laen kaga bukan sinetroon ja kerjaannya. Sampelah di chanel Global Tv acaranya
namanya "Bukan Sinetron". awalnya aku liat biasa2 aja kaya reality show yg lainnya. tp aku tonton aja
dehh,, judul kasus hari itu " Perkawinan Sedarah" sedikit bikin aku tertarik untuk ngikutin ceritanya,,
Karna aku nonton dah setengah jalan, ya aku tonton terus biar ngerti jalan ceritanya,,
                                                      84




Awalnya ada ibu2 hamil (namanya esti) lg ngais2 di tempat sampah,,
trus datang perempuan yg ternyata sepupunya ( namanya siapaa yaa,, umi lupa sebut aja diana), trus esti
ditanya ma sepupunya tinggal dimana,,?? esti jawab, kadang tidur di pinggir jalan, di depan ruko, dan
dimanapun yang penting dia bisa mengistirahatkan tubuhnya,


So,, sepupunya kasihan dong liat saudaranya luntang lantung di jalan.
akhirnya diajaklah si esti ini untuk tinggal di rumah diana, ternyata di jalan bertemu ibu diana. Sontak saja
ibunya Diana marah2 liat anaknya Jalan sama Esti, secara Ibunya Diana dah tau Esti itu hamil anak
siapa,,


Begini dialognya:
ibu Diana: "Diana, ngapain kamu jalan sama anak durhaka ini?"
Diana: " Esti mau dian ajak ke rumah kita Bu, kasian esti ga punya tempat tinggal"


Ibu Diana: " Ibu ga sudi kamu bawa2 manusia kotor macam dia, Ibu sudah tau kenapa dia diusir dari
rumah sama bapaknya. Asal kamu tau diana Anak yang dikandungnya itu hasil perbuatan haram Esti dan
Arif (kakak kandung Esti)"
Esti yg denger kata2 ibunya Diana langsung larii.,.


Diana masih merasa kasian sama sepupunya itu,, akhirnya dicariin kontrakan buat mereka tinggal.
Mereka pun mendapatkan rumah kontrakan. masalah baru dimulai di rumah kontrakan itu,,
Pemilik kontrakan bertanya ke Esti dan Arif, apa mereka sudah menikah atau belum? trus ditanya surat
nikahnya,, ( sampe disini umi masih belum ngeh kalo Arif itu yg bener2 hamilin si Esti,)


kata Ibu Kontrakan: " Biar tidak jadi fitnah oleh warga sekitar, kalian menikahlah dulu, secara agama juga
tidak apa2, yang penting kalian sah menjadi suami istri," si ibu kontrakan juga belum tau kalau Esti dan
Arif itu adik kakak.


selama di tinggal di kontrakan itu, esti kerja sebagai pemulung untuk memenuhi kebutuhannya sehari2,
sementara Arif pergi2 ga jelas.. dan Diana juga masih membantu Esti ala kadarnya,,
sampe lahirlah si anak ini, perempuan, ( namanya umi juga lupa,, ckckck pikun pkun sebut aja Fitri)


kehidupan Esti dan keluarga sedarahnya masih berjalan seperti biasa, anaknya tumbuh sehat, begitu pula
ibu kontrakan masih belum tau kalau yang dinikahin Arif adalah adik kandungnya sendiri. ( tapi umi udah
ngerti kalo Arif itu kakak kandungnya Esti dari cerita Narator).
                                                         85




kira2 usia Fitri 3 tahun, baru ketahuan bahwa Fitri memiliki keterbelakangan mental, walaupun fisiknya
tumbuh sehat. setelah tau Fitri cacat mental Arif lagsung pergi dengan meninggalkan kata2 yg najooonngg
bgt, begini dialognya:


Esti: " mas Arif mau pergi kemana, aku tinggal sama siapa, Fitri sakit mas.."
Arif: " Lu jagain tuh anak lu, Lu yang ngandung, lu juga yg harus ngerawat anak cacat kaya dia"
( anjr** lupa lu ya rif, yang bikin juga lu, kalo ini kata2 umi)


2 tahun Arif pergi entah kemana. selama hidupnya Esti masih dibantu Diana. Tiba suatu saat, Ketika diana
datang ke kontrakan Esti, ngobrollah mereka,,
tiba2 kedengeran suara FItri jatuh dari tempat tidur,,
ternyata jatuhnya Fitri itu berakibat fatal banget, Fitri mengalami penyakit apa gitu di Otaknya (mungkin
pendarahan otak)


sebelumnya umi masih belum percaya dengan cerita ini,, karna cuma reka adegan,, masa anak jatuh dari
tempat tidur bisa sampe geger otak??? gmnana jatohnya,, padahal si fitri umurnya kira2 dah 5 tahun,,
sejak Fitri jatuh., cuma 1 kali dibawa ke rumah sakit sama si Esti, karena dia ga punya biaya, padahal Esti
tau kalau luka yg dialamin anaknya sangat bahaya.


Datanglah Diana dan tim Bukan Sinetron ke kontrakan Esti. (disini udah bukan reka adegan lg semuanya
bener)
Ternyata pas sampe di kontrakan tersebut, Tim Bukan Sinetron ini mendapati Esti lagi nangis melukin
anaknya yg saat itu pingsan atau tidur, smua juga ga ngerti,,
Mungkin yang tau Cuma Esti keadaan si Fitri saat itu,,


Tiba2 Esti langsung lari ke luar rumah sambil gendong Fitri ga tau mau kemana??
Smua ngejar2 dan menayakan Esti mau kemana?? Dian cuma berlari sambil nangis trus naik ojek...
ga da yang tau Esti mau kemana naik ojek??
Tim Bukan Sinetron ini sempet kehilangan jejak esti, akhirnya ketemu juga,,
ternyata esti berhenti di depan rumah, sambil teriak2: "Mas Ariffff keluaaarr, akuu tauu kamu ada di sinii..."


ohhh ternyata itu rumah Si Ariff,, yang keluar dari rumah itu Seorang perempuan yg lumayan cantik,
sambil marah2,,,
Akhirnya Arif keluar rumah juga,,,
dengan gayanya sok ga kenal "siapa kamu???"
                                                         86




Esti bilang: "Mas ini anak kamu Fitri, aku Esti mas,,"
semua orang yang ada di situ juga mohon2 sama si Arif untuk ngaku,,


Tapi masih aja ga ngaku,, padahal matanya Arif dah berkaca2,,
dan istri arif makin maki2 esti pake kata2 kasar,,
di situ umi liat si Fitri dah pucet banget,, umi mikir nih anak pingsan kali yahh, kok pucet n lemes gitu,,


akhirnya Esti duduk di depan Arif dan istrinya bilang, begini dialognya:
Esti: " mAS tolong kamu akui aku istri kamu dan Fitri anak kamu"
Arif dan Istrinya: "hey kamu jangan kurang ajar ya, nanti kamu saya laporkan ke polisi bicara
sembarangan"


Esti: " Fitri sakit mas, kenapa kamu masih ga mau ngakuin ini anak kamu,, kamu mau tau mas Sekarang
FITRI SUDAH MENINGGAL!!! APA KAMU MASIH GA MAU NGAKU INI ANAK KAMU, DIA UDAH MATI
MAS.. TOLONG AKUIN DIA SEBAGAI ANAK KAMU!!!"


semua orang yang ada di situ kaget, termasuk juga Umi kaget,, Ya Allah anak itu udah MENINGGAL...
jujur pas denger kata2 Esti umi langsung nangis ga nyangka,, ternyata sejak Lari2 dari rumah kontrakan
ke rumah Arif, si Fitri dah meninggal,,


Langsung Arif Meluk si Fitri dan mengakui semuanya,,
Istri Arifpun diam ga ngomong apa2..
Arif membawa Fitri ke dalam rumahnya,, sambil bangun2in Fitri supaya bangun lagi,,


"Ya Allah Terimalah Arwah Fitri di sisiMu,,


dengan cerita singkat ini, pertama ini umi ambil sebagai pembelajaran yang sangat berharga,,
"Dosa apapun yang kita lakuin, baik dosa kecil apalagi dosa besar itu akan dapat balasan dari Allah SWT
kapanpun kita ga pernah tau"
kedua: Allah melarang pernikahan satu darah itu memiliki alasan yang sangat hebat,,


Ummi Kulsum
Email : justcallmemey@yahoo.co.id
                                                   87




Kisah 40


Dunia Maya bikin Lupa Realita
Pengalaman Pribadi
Oleh : Danil Edan


80 Dari 100 teman cowo gw pertama kali bisa browsing (internetan), membuka situs
boke........nieeeeeeeeet (sensor), dan gw gak pernah ngerti
k3napa cewe selalu aja dij4dikan objek sex pdhal kalo gw yang telanjang gak ada yang nafsu sama sekali
yang liat malah mo muntah( bayangin aja klo gw pke bikini bergya seperti PRAGAWATI ) , dan mereka
gak pernah sadar bahwa ibu mereka juga cewe, nenek mereka, dan gw gak prnah denger klo Nyokap
mereka mempunyai pedang panjang,


tak Aneh para ortu sangat khawatir jika anak nya bermain di dunia maya, karna dunia maya akan
membuat kita lupa akan realita
, terkadang niat nyari tugas malah kesasar ke YM, niat Nyari Data malah linglung di FB, mo download
tugas terdampar di www.nieeeeeeeeeeet.com sampe akhirnya billing warnet sudah memasuki masa injury
time dengan uang yang kita punYa, Uang habis tugas gak selesai


Danil Edan
Email : danil_edan2000@yahoo.com



Kisah 41


Ayah adalah Bintang
Pengalaman Pribadi
Oleh : Dian Rahmawati


Semalam, saya main tebak-tebakan bersama aziz dan fatiya, anak saya. awalnya semua biasa-biasa saja.
pertanyaan tentang      nama malaikat, tepuk anak sholeh, lagu-lagu anak-anak,       mengalir dengan
biasa hingga kemudian aziz memberikan pertanyaan untuk saya tebak.
Pertanyaannya seperti ini, "Bunda, apa yang membuat aziz sedih?". Saya kaget sekaligus bingung.
Kemudian saya bilang ke aziz bahwa saya tidak tahu.
                                                    88




Sejurus kemudian dia katakan, "Yang bikin aziz sedih adalah kalo hari senin sampai sabtu, paginya ayah
pergi kerja, malamnya ayah pergi acara." Saya kaget dengan jawaban aziz. sekaligus sedih.


Ini adalah ucapan jujur dari seorang anak. Sebuah kebutuhan dasar seorang anak adalah kehadiran
ayahnya    tidak hanya dari sisi kualitas tetapi juga kuantitas kebersamaan adalah begitu penting.
Kesediaan untuk berbagi, kesediaan menemani proses tumbui kembang bahkan "hanya sekedar" bermain.
Memang, apa pun, seorang ayah adalah bintang untuk anak-anaknya.


Dian Rahmawati
Email : melukiswarna@yahoo.com




Kisah 42


Jodoh Di Tangan Allah dan Allah Maha Adil
Pengalaman Pribadi
Oleh : Miyosi Ariefiansyah


“Mbak Yosi, Mbak Ami kan udah mau melahirkan. Mbak Yosi kapan nih nyusul?” begitu kata salah satu
adik tingkatku kemarin saat kami berkomunikasi melalui dunia maya.


“Apaaaaaaa? Lho Lho kok tiba2 mau melahirkan? Kapan nikahnya? Sama siapa? Sekarang di mana
Dik?” tanyaku beruntun seolah tak percaya dengan apa yang aku baca


“Nikahnya udah lumayan lama kok mbak, Alhamdulillah ya, dan sekarang Mbak Ami ikut suaminya tugas
kerja di Luar Jawa” begitu jawab adik kelasku itu


Jujur saja dalam hati aku tidak percaya namun juga bahagia. Mbak Ami (bukan nama sebenarnya), yang
aku kenal beberapa tahun lalu di Masjid Raden Patah (MRP) Unibraw telah menikah. Padahal Mbak Ami
ini bisa dibilang akhwat yang “angker” :) , maksudnya saklek terhadap apa yang ia yakini, tak ada toleransi
sedikitpun. Dan tentunya, boro-boro ikhwan…beberapa temenku cewek saja ada yang merasa
“ketakutan” bila ada Mbak Ami coz pasti diceramahi ini itu.


Namun entah mengapa aku tidak merasa kalau dia “angker”. Ya walau aku akui kadang2 rada
menakutkan, tapi dia baik sekali, apalagi prinsip hidupnya yang sungguh kuat. Benar-benar patut diacungi
                                                    89




jempol. Jika ada masalah dalam diriku, biasanya dia adalah salah satu “sasaran” empuk yang aku jadikan
tempat curhat.


Trus apa yang aneh dengan dia telah menikah??


Jujur saja aku kaget. Bener-bener kaget. Walau pas aku ceritakan hal ini kepada suamiku dia biasa-biasa
aja sih. Tapi bagiku kejadian ini bisa dijadikan sebagai salah satu pembuktian untuk yang kesekian kalinya
bahwa Allah itu Maha Kuasa Maha Adil Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


Ya.. Mbak Ami yang aku kenal selama ini adalah seorang akhwat yang bisa dibilang “anti” lelaki, karena
setiap kali melihat ada “pemandangan yang membuat mata pedas” (dua sejoli bermesraan di tempat
umum) pasti langsung dia samperin dan ceramahin hingga dua sejoli tersebut malu dan risih. Lalu bila di
kelas Mbak Ami melihat “pemandangan” yang kurang menyenangkan dari para sesama kaum hawa
(memakai baju yang irit bahan dan super ketat) lagi-lagi Mbak Ami langsung “nyemprot” mereka-mereka
itu. Ya, katanya sih bila ada kemungkaran yang kelihatan jelas di mata kita dan kita diam saja, maka kita
akan berdosa karena tidak mengingatkannya. Tapi jujur saja aku tidak se”frontal” Mbak Ami sih, aku masih
merasa nggak tega bila “nyemprot” seseorang atau beberapa kelompok yang tidak sesuai dengan kaidah
yang berlaku (he2 maksudnya) coz aku merasa diriku sendiri juga masih harus banyak2 diperbaiki agar
menjadi lebih baik.


Pasti udah bisa membayangkan walau hanya sekilas, bagaimanakah sosok Mbak Ami tersebut. Kata
salah seorang temenku yang pernah disemprot dia bilang gini..”mana mungkin ada laki-laki yang mau
kalau dianya galak dan gak gaul kayak gitu.” Waktu itu aku hanya diam saja walau dalam hati berkata
“justru Allah akan meridhoi orang-orang yang benar2 sungguh2 beribadah kepada-Nya seperti mbak Ami”.
Ada juga yang mengatakan “temen cowok aja nggak ada? gimana mo dapat jodoh”…dan lagi2 aku
menjawab (kali ini tidak dalam hati)…”Lho lho aku juga nggak punya temen cowok lho (temen deket
maksudnya) tapi malah menikahnya di usia muda he he” begitu kataku sambil bercanda.
Bla…bla…bla…beragam komentar tentang Mbak Ami tidak membuat dia bergeming tuk menegakkan
kebenaran (kok kayak cerita super hero aja sih)..


Dan apa yang terjadi???


Mbak Ami yang dikata2in nggak bakal dapat jodoh karena galak, ekstrim, temen cowok aja nggak punya,
pakaiannya jadul abis, nggak gaul, de es be, sekarang mendapatkan jodoh yang Sholeh dan dia menikah
di usia muda (Ya Allah). Ya, Alhamdulillah melalui proses ta’aruf yang tidak terlalu lama akhirnya Mbak
Ami menikah dengan seorang laki2 sholeh. Ya Allah…lagi-lagi aku melihat kebesaran-Mu…
                                                    90




Sungguh aku benar2 terharu dan bahagia, Allah memang Maha Adil se Adil-Adil nya, walaupun seluruh
dunia mencemooh, ingin menghancurkan, dan membenci tapi bila Allah menghendaki, tidak ada satupun
manusia di dunia ini sehebat apapun (mau dari univ. terkenal, orang kaya, cantik, tampan, mahasiswa
berprestasi) yang bisa menandingi kekuasaan-Nya…


Lalu bagaimanakah dengan kelompok2 yang mengolok-olok Mbak Ami tersebut??? yang berkata “nggak
gaul, nggak punya temen cowok, nggak banget, de es be” Ehm…. “Belum tentu orang yang mengolok-
olok keadaannya lebih baik daripada orang yang diolok-olok” itu kata salah satu ayat yang ada dalam Al-
Quran…


Lagi-lagi hal tersebut bisa dijadikan sebuah pelajaran buatku dan mudah2an juga buat pihak2 yang
membaca ini, bahwa Allah tidak melihat dari tampan atau cantiknya (fisik) tp melihat dari niat tulus hamba-
Nya, keyakinan yang sungguh-sungguh kepada-Nya, dan perbuatan tuk selalu berusaha menjalankan
perintah-Nya seberat apapun adanya. Allah akan mempermudah jalan kita Insya Allah salah satunya
adalah dimudahkan jodoh dan diberikan jodoh yang sholeh/ sholehah (Insya Allah sudah banyak bukti2
yang ada). Dan jelas2 Bukan Allah yang membutuhkan kita, tapi kita lah yang membutuhkan Allah. Mutlak.


Semoga di setiap langkah hidup kita selalu berada dan limpahan Kasih dan Sayang-Nya… amin…


Miyosi Ariefiansyah
Email : yory_2008@yahoo.com
Blog : http://mioariefiansyah.wordpress.com/2009/06/27/jodoh-di-tangan-allah-dan-allah-maha-adil/




Kisah 43


Berartinya Orang-Orang Disekitarku
Pengalaman Pribadi
Oleh : Miyosi Ariefiansyah


Episode keponakanku….
Tahun 2007 bulan Februari, Jakarta Banjir….Rumah kakakku yang terletak di Maharta,Pondok Kacang
termasuk yang ditelan banjir. Hanya sedikit yang tersisa, selebihnya smua hilang ditelan banjir. Tapi
Alhamdulillah keluarga kakakku selamat.
                                                  91




Setelah peristiwa itu, kedua anaknya yang waktu itu masih berumur belum genap 5 tahun dan 4 tahun,
dititipkan di Malang (tempatku dan orang tua berada), sedang kakak ipar dan kakakku di Jakarta mencari
tempat yang baru dan layak untuk dihuni kedua bocah kecil itu. Selain itu juga karena ingin
menghilangkan rasa trauma dari bocah-bocah itu.


Sekolah? Ya jelas sekolah keponakanku itu dipindah untuk sementara di deket rumahku sebab
sekolahnya di sana juga ditelan banjir. Alhamdulillah, mereka ini termasuk bocah2 yang cukup tabah di
usianya yang masih balita itu. Tak ada rasa sedih kehilangan semua buku, tas, pensil, dan peralatan
sekolah lainnya. Yang ada, mereka menganggap seperti sebuah rekreasi (mudik), meskipun harus
berpisah dengan kedua orang tua mereka meski hanya untuk sementara. Ya, Alhamdulillah mereka bukan
anak-anak yang cengeng, yang sudah cukup mengerti betapa hidup ini seperti permainan yang kadang
tak bisa diduga apa yang akan terjadi nantinya.


Kurang lebih 2 bulan keponakanku itu dititipkan ke aku. Dia menganggap aku seperti mamanya sendiri
dan lebih suka kalau aku yang ngurusin, daripada neneknya (ibuku), mungkin karena wajahku dan wajah
kakakku mirip kali, dan karakternyapun juga hampir sama. Mungkin itu…


Aku juga seneng banget, menganggap mereka seperti anak (waktu itu aku masih semester 6), ya sekalian
latihan bila nanti punya anak….


Dan ternyata banyak sekali yang aku dapatkan, ya pelajaran kehidupan dari dua bocah kecil
itu…pelajaran kasih sayang, kejujuran, kesetiaan, dan kepolosan..


Ponakanku yang namanya Annisa selalu bertanya sewaktu dia bangun dari tidurnya, ” Tante hari ini kuliah
nggak? Ngajar nggak? “. Bila aku menjawab iya, maka dia akan tanya pulang jam berapa. Namun, bila
aku jawab nggak (nggak pergi kemana-mana) betapa senangnya dia. Sedang kalau yang kecil sih masih
belum terlalu mengerti kala itu.


Mereka juga selalu menunggu aku pulang, pengen di nina bobo in sambil di ceritain gitu..he he katanya.
Meski Dengan cerita yang aneh karena aku suka berimprovisasi, misanya, “Suatu hari ada dua orang
kurcaci yang lucu dan gendut-gendut,…..” eh belum selesai cerita si kecil Putri udah nyambar…“pasti aku
sama kakak ya tante, kan dua orang gendut-gendut”..he he….


Bila aku pulang malam hari, dan dua bocah kecil itu tidak kuat lagi menungguku, aku melihat mereka tidur
dengan perasaan bersalah. Seperti menelantarkan gitu. Tadi di kampus ketawa-ketawa sama temen2,
                                                   92




bercanda-bercanda sampek lupa waktu, sedangkan di rumah dua makhluk imut dan polos ini menunggu
aku… Betapa bodohnya aku.


Selama dua bulan itu peranku seperti seorang Mama, ya karena itu tadi, mereka lebih memilih aku
ketimbang neneknya (ibuku), karena kemiripan antara aku dan kakakku. Tapi aku seneng banget. Dua
bulan yang berarti. Meskipun waktu mereka diambil oleh Mamanya, sedih banget. Seperti kehilangan
anak rasanya. Gimana ya ngejelasinnya. Udah terjadi ikatan batin yang tidak bisa dipisahkan gitu.
Mungkin ini semua timbal balik kali ya, aku dan kakakku tuh akrab banget meski beda 10 tahun, kalau ada
apa2 orang pertama yang aku ceritain adalah kakakku itu (sebelum menikah lho), baru kakakku
mentransfer ke ibuku (he he seperti uang aja)…Makanya, anaknya ke aku seperti aku ke kakakku dulu,
meskipun di marah2in dan diomelin tapi tetep sayang (ya kan semua demi kebaikan)….


Kini aku bisa lebih sering melihat wajah mereka (ponakanku), meski gak setiap hari tapi mending kan
dibanding dulu… Gimana ya, susah menjelaskannya. Mereka juga masih tetep manggil aku Mama
Tante….he he…


Oya, kini yang kecil2 ada tiga, selain Annisa sm Putri, juga ada Rafi…pas deh…seperti trio kwek
kwek….bisa aku mainin…., meski pas pertama aku meluk2 dan nggendong Rafi, si Annisa dan Putri
cemburu, he he..biasa lah anak2, tapi sekarang udah nggak kok….


Miyosi Ariefiansyah
Email : yory_2008@yahoo.com
Blog : http://mioariefiansyah.wordpress.com/2009/04/03/berartinya-orang-orang-di-sekitarku-i/




Kisah 44


Let We Dreaming
Pengalaman Pribadi
Oleh : Vladislaus


Haha... Baru kali ini seorang vladd yang perkasa sampe bisa terharu pas ikut pelajaran bhs inggris!
tadi kan ceritanya disuruh berandai-andai,
"if u became a superstar and you have a lot of money to spend, what will you do?" tanya bu guru.
ternyata jawaban mereka aneh aneh!
                                                       93




"I 'LL buy a car!" jawab sito.
"what car will you buy? " tanya bu guru.
"I 'll buy lamborghini! " katanya.
"wuw... What an expensieve car! And you agung, what will u do?"
" i will buy a watch miss!" kata si agung sambil nunjuk pergelangan tangannya.
 just watch? " tanya bu guru.
"yes!" jawab agung singkat! soalnya, dia nggak begitu pinter bhs inggris! daripada nanti dicecar
pertanyaan tingkat lanjut, agung lebih milih jawaban yang singkat!
"ok, and what about you diaz? " tanya miss nurul.
“i will go to the mall, and buy all clothes and cosmetics at the mall! " jawabnya polos.
"all? Are you sure? "
"yes, i'm sure!" bantahnya.
"why you don't buy that mall too?"
"yeah, it's a good idea! "
"ok, next...and you listyo?" kata bu guru sambil nunjuj salah seorang "Will you uncurl your hair? " spontan
tmen temen yang laen pada ngakak! Pasalnya, si listyo itu rambutnya emang keriting!
sambil cengengesan, dia jawab "no! no! If i have a lot of money like a superstar, i will marry him!"
jawabnya kepedean sambil nunjuk salah seorang cewek manis yang duduk di blok sebelah!
"what??? " kata bu guru begitu kagetnya sampe lupa bernapas.
alhasil, anak-anak pada ngakak lagi! Yang nggak paham, ngakak karena dia ngomong (maksudnya) mau
nikahin si cewek!
Tapi yg paham, ketawa karena dia ngomong 'marry him' tapi nunjuknya ke cewek!
emang dasar aneh ntu c doddol!


mereka yang dengan segala keterbatasan materi yang mereka miliki, termasuk gw... (Kalo dibandingin
ama superstar, kami jelas aja kalah) Tiba2 disuruh membayangkan gimana kalo punya duit banyak! Trus
dengan polosnya, mereka jawab satu persatu dengan sejuta fantasi yang ada di otak masing-masing!
ada yang mau spa tiap pagi sore, beli baju tiap hari, clubbing tiap malem, dugem, ngegame di warnet
seharian, bikin fitness centre, piknik ke paris, beli kapal, borong plestesyen... Etc.
kalo pas lagi polos-polosnya, kadang gw serasa terharu liat tmen-temen gw!
tapi kalo pas pada nyebelin, pengen gw jitakin atu atu!
haha.....


"vladd, what will you do? "
" I 'll buy some private tank, battleship, a battalion of army, and war plane to destroy the world! "
                                                   94




kalo yang ini jawaban gw sekarang! Kalo yang tadi, rahasia donk!


kadang, gw ngerasa pengen barengan ama mereka terus selamanya! Tapi gw tau, itu nggak mungkin!
lagian, gw juga nggak mau donk, ngejogrok di eSeMA seumur idup!
kalo pas libur, gw kadang kangen ama kekonyolan mereka!
Temen-temen gw emang kebanyakan mahluk aneh! Makanya gw juga kadang ketularan aneh! kebalik gak
ya?


walopun gw tau, mereka sebel coz tiap hari gw kerjain, gw timpukin, gw umpetin pulpen.na, gw coretin
buku.na... Tapi gw tau, mereka sbnrnya juga saling kangen, saling membutuhkan!
buktinya, pas gw ngabur ama anak kelas sebelah, mereka gak ngadu tuh!
Kalo ditanyain guru, gw kemana... mereka juga pura pura nggak tau!
walopun gw kadang suka semena-mena ama mereka, tapi di dalem ati gw yang putih bersih tanpa noda
ini (bujug dah), gw ga rela kalo musti kehilangan, bahkan walopun cuma SALAH SATU dari mereka!
buat gw, mereka adalah sesuatu yang berharga buat gw! berharga banget melebihi apapun di dunia ini
disamping ibu gw!
gw juga nggak tau, apa gw bisa dapet temen-temen yang model begini kalo gw kuliah nanti?


bener kata orang, masa remaja ntu masa yang paling indah!
kapan lagi kami bisa pergi barengan, konvoi rame-rame ke rumah temen yang punya tradisi 'nyadran'
(hajat menjelang bulan puasa), cuma bermaksud mau makan rame rame?
malu-maluin emang... yah, tapi begitulah kami!
dan gw sayang sama mereka bagaimanapun wujud mereka!
gw juga nggak pernah berdoa sama Tuhan minta temen yang lebih baik dari mereka!
'cukup mereka aja!' buat gw, itu udah merupakan anugrah yang nggak ada duanya!


gw juga lebih suka sekolah daripada liburan dirumah!
coz bapak gw udah lama meninggal, sejak gw usia 4 tahun! karena ibu gw udah tua, trus kadang
dipanggil orang malem malem buat nulungin orang melahirkan, (ibu gw dulu bidan) akhirnya gw dititipin ke
nenek gw di boyolali, yap.... tempat gw sekarang tinggal, tempat gw besar, tempat dimana gw nulis artikel
ini!
trus disini, gw juga nggak merasa nyaman! selain jauh dari ortu, nenek gw galak mita ampun!
itulah alesan gw nggak suka ada di rumah!


ah, besok libur....
                                                    95




Vladislaus
Email : vladislaus991@gmail.com




Kisah 45


Rambutku. . .
Pengalaman Pribadi
Oleh : Benazio Rizki Putra


Rambutku . . .HILANG!


kaget ngga?
kaget dong , iya kan iya dong? ihihihi .. ngga kaget gua tabok.
oops galak.

Oke, serius. awalnya, nyokap gue yang udah pulang dari Haji Alhamdulillah baik2 aja. Gue jemput nyokap
gue disuru jam 4 sore ke tempat embarkasi haji di bekasi, gue ksana jam segitu karena mau ambil stiker
buat jemput jamaah haji dulu. and then, nyokap gue tiba dengan selamat ....... jam 4...... PAGI. emak ..
anakmu ga selamat nunggu 12 jam cuma makan emiii .


Kata-kata pertama nyokap gue pas ketemu gue adalah , "ya ampun nak rambut udah gede banget ..
tambah tinggi yaa..". Iya tapi badan ga gede-gede. tetep kurus kaya tele' ayam. mejret. Tapi alhamdulillah
tambah tinggi :D mungkin sekitar 178cm sama rambut.


Jadi beberapa hari kemudian, nyokap gue nyuruh gue potong rambut. Seperti biasa di salon langganan
Pas selese, gue shock! belatung pada keluar dari rambut gue liat ke kaca .. dan gue melihat sosok yang
sangat berbeda,

AAAAA!!
KOK GUE KAYA CEWEK?!??!


Percaya ato ngga, rambut gue gede di atas, pendek di tengah, rada panjang di belakang, buntel di tengah
atas, panjang di kuping. Awalnya sih sempet oke, gue setuju dengan gaya rambut yang kaya gini, asal
diberantakin, semua okeoke aja, tapi entah kenapa pikiran gue tetep ngeganjel untuk menyesali rambut
gue sekarang.
                                                    96




Oke sampe rumah, gue langsung buka webcam. dan ngeliat perubahan gue ..

Gue langsung terkenang akan masa masa indah itu ..
Besoknya juga, Pers langsung dateng kerumah gue, wawancara dan foto-foto, ternyata besoknyague
langsung masuk Kompas di halaman utama. gue ngomong apa adanya aja.



untung sih gue orangnya sabar, taat pada budi pekerti dan juga pandai merajut, jadinya pas gue tau
potongannya rada aneh, gue diem aja, sok sok nyisir. sebenernya yang motong cowo gede berotot
sumpah. tapi ganteng loh uuhh* pas motong tuh badan gue terasa bergetar, kres .. kres .. kres .. gairah
gue langsung naik, darah gue langsung memuncak ke otak, tinja gue masuk lagi.


Malemnya, gue inget nyokap gue ngomongin hari ibu. Entah anak macam apa gue ini, di hari ibu, kok
malah ibunya yang ngasih something buat anaknya, bukannya anaknya. Jadi langsung aja gue mencari
ide, gue kasi nyokap gue cerita yang mengharukan tentang seorang Ibu.


selese baca, nyokap gue diem. terus nonton tipi lagi. BAH! gimana dong?

oke, gue persembahkan diri gue aja, srak sruk srak sruk srak sruk, jreng, sebuah hal yang sangat mistis
berubah pada diri gue, langsung gue bikin.

Apakah itu?!?


Happy mother's day. Telat, tapi bagiku itu sangat berarti .. auhh .. ternyata rambut gue ga sia-sia berubah,
malah bisa jadi lebih so sweet dengan ngebentuk lope. kiyut banget ga siiihhhhh ?? hihihihi ..


Sory Bro, foto-foto ente yang gokil dan lucu gak bisa ditampilin semua di halaman ini, keberatan
loadingnya. Ada juga beberapa dialog yang gak ditampilin, agak ribet ngeditnya. Tapi secara keseluruhan
tulisan ente gokil dan lucu, bikin yang baca tersenyum, …menghibur! (Tarjum).


Benazio Rizki Putra
Email : benazio.rizki@gmail.com
Blog : http://www.benablog.com
                                                   97




Kisah 46


Jauh di Jarak, Dekat di Rezeki
Pengalaman Pribadi
Oleh: Wida Mirawati


Terkadang manusia begitu kikir dengan apa yang dimilikinya, tanpa menyadari bahwa segala yang dimiliki
adalah titipan Ilahi, bukan milik pribadi.
Begitu pun denganku. Memasuki masa perguruan tinggi aku menjadi relawan disebuah yayasan sosial.
Saat itu aku baru masuk kuliah, tepatnya tahun 2004.
Diyayasan ini aku menjadi mentor anak asuh yang terdiri dari yatim piatu dan duafa. Meski hanya bertemu
satu kali dalam sebulan,
hubungan antara aku dengan adik asuh terjalin cukup erat. Mereka kerap bercerita tentang keadaan
keluarga yang hidup jauh dari berkecukupan.
Seorang adik asuh bercerita bahwa mereka harus berjalan kaki begitu jauh menuju sekolah. Bayangkan,
jarak yang seharusnya ditempuh
dengan dua kali naik angkutan umum harus dilalui dengan berjalan kaki. Tapi mereka tak patah semangat,
bahkan meski tak sesuap nasi pun
yang masuk ke perut mereka untuk menjadi tenaga sebagai bekal perjalanan, mereka tetap melangkah
maju. Begitu banyak hal yang kupelajari dari mereka,
tentang ketegaran, ketabahan, cinta kasih dan keikhlasan.


Ikhlas, entahlah apakah kata suci itu telah terpatri dalam hatiku. Namun, pelajaran tentang ikhlas itulah
yang hingga kini berdampak besar dalam hidupku.
Suatu hari yayasan menugaskan rmentorbersilaturahmi pada keluarga adik asuh. Satu per satu
kukunjungi, beragam keadaan keluarga
kusaksikan.Jarak yang harus kutempuh untuk bisa sampai ke tujuan tidaklah dekat, namun tetap kujalani
dengan ringan. Toh aku tidak perlu mengeluarkan ongkos
karena semua ditangggung yayasan. Hingga suatu saat aku harus mengunjungi seorang adik asuh. Jarak
rumahnya dengan tempatku begitu jauh,
setelah naik angkutan umum masih harus menumpang ojeg, itu pun masih harus berjalan kaki. Saat itu
keuanganku begitu terbatas, jatah dari orangtua masih lama dikirimkan,
sedangkan kompensasi dari yayasan diberikan setelah tugas selesai. Menghitung keuangan kupaksakan
pergi.
Tiba di tujuan aku di sambut seorang ibu yang sedang mencuci piring di pancuran depan rumah.
                                                   98




Ah Allah, rumah itu begitu sederhana, berdiri rapuh menempel pada bangunan sekolah. Di samping kiri
terdapat jurang yang ditumbuhi rimbun bambu.
Ngeri menyelusup ketika aku menengok ke luar lewat pintu dapur. Menurut siempunya rumah, jika hujan
lebat air akan naik dari jurang
dan menghanyutkan barang-barang yang tidak sempat dibawa masuk. Selain itu, rimbunan bambu
membuat hewan melata seperti ular kerap bertandang ke rumah. Iiiih ngeri.
Di rumah kecil itu mereka tinggal berdesakan, bapak dan ibu serta tiga orang putri yang salah satunya
telah menikah dan memiliki putra.
Bisa dibayangkan bagaimana pengapnya.Ayah adalah laki-laki yang tak mampu lagi menafkahi keluarga
akibat diabetes yang telah menghilangkan satu jari kakinya.
Ibu adalah wanita yang bekerja serabutan sebagai buruh cuci. Ah, syukurku tidak terkira, hilang sudah
keluhanku tentang minimnya ongkos yang kini ada dikantungku.
Bahkan tak kupikir dua kali ketika pamit pulang, kuselipkan selembar uang yang tak seberapa. Melangkah
pulang, tak ada acara naik ojeg,
jalan kaki menjadi pilihan terakhir, sisa uang kupakai untuk naik angkutan umum.


Seminggu setelah kunjungan itu aku hidup dalam keadaan yang pas-pasan, makan seadanya dan
kusingkirkan jauh-jauh keinginan untuk jajan.
Tapi sykurlah, tak lama ayahku menelpon, "uang bekal sudah dikirim" ucapnya di seberang telpon.. Ah,
bagaikan senandung surga yang terdengar begitu merdu.
Ketika kulihat nominalnya, Subhanallah, sepuluh kali lipat dari jumlah yang kuberikan pada ibu adik asuh
saat itu. Aku teringat sebuah hadis yang mengatakan bahwa
jika membelanjakan hartanya di jalan Allah, maka Allah akan menggantinya dengan jumlah berlipat. Aku
sudah membuktikan. Dan aku semakin menyayangi mereka,
malaikat kecil yang mengajariku makna kehidupan.


Foto dalam tulisan di atas bukan yang dimaksud dalam kisah ini, hanya ilustrasi saja (Admin Curhatkita)


Wida Myrawati
Email : widamyrawati@yahoo.com
Blog: bundafata@blogspot.com




Kisah 47
                                                           99




“Akankah Tergapai Visi dalam Hidupku?”
Pengalaman Pribadi
Oleh : Roswidh Cozdestiny


Roswidh         Selalu   teringat   kata-kata        “Roswidh      kamu    tidak mempunyai Visi    masa   depan,
berpikirlah      positif dan    focus    ke     masa     depan”. Roswidh         melanjutkan   membaca    email“,
dan     Roswidh teringat lagi           “ Kami percaya Anda memiliki lebih dari cukup kekuatan untuk bangkit
keluar dari rasa galau yang menghantui diri terus menerus selama bertahun-tahun ini. Oleh karena itu
kami yakin Anda akan bisa berusaha keras menjadi lebih baik.


Dan      ada      kata-kata    bijak “Tuhan tidak menuntut kita untuk sukses. Dia hanya meminta kita
mencoba.” (?) Pada dasarnya, tidak ada puncak kehidupan yang paling sempurna. Puncak kehidupan
jutsru selalu ada beberapa saat sebelum kematian, yakni ketika kita mampu menghadapi kematian
dengan tersenyum dan berkata: “Hidupku tidaklah buruk.” Benar bahwa apa yang kita lakukan dan miliki
di dunia tidak akan kita bawa, tetapi meninggalkan sesuatu yang berharga dan bernilai pada orang-orang
yang kita tinggalkan membuat jejak hidup kita terasa lebih bermakna.
                                                           ***
Akankah          Roswidh      ingin mencapai puncak kehidupan?             Kita percaya bahwa visi hidup akan
membuat kita semua mencapai puncak itu.                        Jangan hanya melakukan sesuatu berdasarkan
pertimbangan-pertimbangan jangka pendek dan sesaat, tapi tidak memiliki tujuan besar di depan ,
buatlah visi masa depan, lalu lakukan tindakan-tindakan dalam upaya meraih visi itu. Sesederhana itu.
Namun biasanya hasilnya jauh melebihi apa yang bisa kita bayangkan.
Hal-hal berikut mungkin bisa membantu : 1. Konsepkan visi, 2.                     Tetapkan langkah-langkah yang
berorientasi ke visi itu. Apabila perlu, abaikan hal-hal yang kurang relevan. Apabila dicemooh orang,
berarti visi memang hebat. Roswidh layak memperjuangkannya. Semua visi besar biasanya pernah
dicemooh orang. Mereka yang berhasil adalah mereka yang mampu mengabaikan cemoohan itu. Jadi,
cemooh bukanlah penghalang.


“ Pikiran adalah sumber utama hampir semua masalah psikologis dalam diri kita. Cara berpikir kitalah
yang menyebabkan kita menjadi bahagia atau menjadi gundah. Apabila kita berhasil membuat kita berpikir
secara positif terus menerus, maka dengan sendirinya kita bisa mengurangi banyak kegundahan dalam
diri kita” ..
                                                         ***
“Apakah          aku tidak mempunyai          visi   selama      ini   dalam   hidup?. “   , “Apakah tindakan ku
sejak 9 tahun terakhir ini          adalah bagian jawaban-jawaban yang            kau pertanyakan?”.
                                                                     100




                                       ***
Roswidh melangkah               ke     rak-rak       buku “         Psikologi”       di         Toko     buku         Gramedia.            Terngiang
kata-kata yang          kau      ucapkan “           aku      merekomendasikan                   buku         ini         untuk    dibaca, nanti
kita diskusikan          “


Ternyata     buku       “Authentic happiness” by               Martin         Selegman tidak               ada            di Toko          Gramedia
tersebut.


                                                     ***


Roswidh kembali ke                    cyber       campus tetapi              sebelumnya dia                 melirik ke             tasnya untuk
memastikan         3     buah        buku yang             dibelinya       tadi     sudah         berada                  didalam         tasnya. 1.
“The       power of intuition” 2. “The                 secret happiness “ . Kedua                      buku         ini      hasil terjemahan
dari     pengarang           aslinya , Roswidh             ingat     takala        petugas         Gramedia               menjawab “            kami
tidak     meyediakan           lagi     buku2        karya         asli dalam              bahasa          Inggris”          karena           kurang
peminatnya.        Minggu lalu Roswidh juga                        mampir ke toko                 buku ini                untuk          melihat-lihat
Novel dan Roswidh memilih satu untuk                           dibeli       dan          dibawa         pulang dengan judul “ Nights in
Rodanthe”          by Nicolas Sparks. Serta                 beberapa          buku         teka-teka        silang.


Roswidh      melirik         jarum jam         dinding Cyber            campus telah              menunjukkan                jam     19.15       Wib
ketika      Roswidh setelah            dari      Gramedia           kembali              lagi     ke      campus            karena          sebagian
buku-bukunya           masih     tertinggal       di ruangan            cyber tersebut. ,                  wow..          terlalu lama          saya
di      Gramedia        sehingga         shalat magrib              terlupakan” .           Roswidh                 bergegas              mengambil
wudhu        dan         langsung            mengerjakan sholat               di           ruang         perpustakan              ini.       Taklama
kemudian Roswidh                sudah        menuju        ruang        Cyber       untuk        melakukan            activitasnya            seperti
hari2     sebelumya..          Jam       menunjukkan               20.30      wib.          Roswidh          membereskan                  buku-buku
dan      melangkah           keluar dari         Perpustakaan            sambil           membawa               beberapa            buku        yang
akan        dipahaminya         lagi         nanti    malam,         dan      andai             capek      belajar          dan           memahami
buku         ini. Roswidh        sudah           teringat      akan       membaca               buku-buku           yang      sudah         dibelinya
tadi      dan      tak lupa      mengisi         TTS        sebelum tidur dan                    kadang-kadang baca                      “Lahtazan “.


                                                                                   ***


Dua      tahun     terakhir ini Roswidh               selalu         menghabiskan                 waktu      di       Cyber Campus. Ada
lima tempat yang                pernah dikunjunginya,                UPM           Selangor        Malaysia, ITB, Itenas, IPB dan
yang      paling       lama adalah           Cyber     Campus              Unsri         karena        disinilah           Roswidh         menuntut
                                                                           101




ilmu.
Roswidh        ingat           dari         15      October           2008         sampai             21      Maret        2009      Roswidh          ke
Malaysia                Universitas         yang         dituju      adalah       UPM       Selangor ,          Roswidh             sangat senang
karena          diberi            kesempatan satu                 semester             melanjutkan           kuliah         dan        mendapatkan
Beasiswa dalam               “Program Sandwich “.                    Penelitianku         disana             tentang           Erosi         Tanah    di
kawasan        kelapa sawit                di daerah           curam            UPM Selangor Malaysia “.


Roswidh        terngiang                  kembali kata –kata               “       “       kamu         harus mempunyai                 Visi     untuk
masa      depan”.


Roswidh              asyik        membaca               sesekali       teringat        kata-kata           diatas     tentang        Visi, akankah
aku       jelaskan         aku            mempunyai           Visi     itu.      Inilah        jawabannya, aku                sedang            menuju
proses     untuk mecapai Visi itu.


Tahun-tahun          terakhir ini                aku     manusia “ termarjinalkan ,”terpinggir,                     dan “dibuat tak berdaya
“. Tertatih aku              melangkah              dalam         hidup        ini aku         sudah         membuat              aternatif-alternatif
dalam      hidup           ini.           Tapi      tetap      aku         kelihatan tidak Focus.                   Tidak      kosentrasi,           aku
merasa        sendiri       dalam keramaian.


Akhirnya            2      buah           sidang        akan         aku       hadapi          dalam         waktu-waktu               dekat         ini,
tanggal           05       Agustus               2009       dengan         No.         sidang           726.         aku       sangat          gembira
menerima        khabar            ini. Aku        akan      tutup          masa        laluku.    Aku         harus        hidup       untuk     masa
depan.


Sidang     ke dua              yang aku             tunggu        di bulan Agustus ini juga                         adalah      “Sidang Proposal
Disertasi”,         sekarang          Ka. Program              dan Promotor               dan Co.           Promotor           sedang          mencari
tanggal       yang        tepat        dan         juga     mempertanyakan                kesiapan          Roswidh menghadapi                  sidang
Proposal        tersebut           dan           diharapkan             satu        atau          2        tahun       lagi       akan         terjawab
petanyaanmu               tentang Visi..


Selama        ini        yaitu        2     tahun-tahun              terakhir       sebelum           ke      dua       sidang         ini     datang,
Roswidh        menghabiskan waktu………hari- demi hari dengan Chatting setiap hari. Walau tidak
setiap     hari         atau       malam. Tapi              Roswidh            terhibur        dengan        banyaknya            teman.        Dalam
keterpurukankan              menghadapi                masalah-       masalah           dalam         hidup.                Roswidh            mencari
alternative              dan          melanjutkan           study          kembali.        Tapi        kebahagiaan             belum            datang
secepatnya           malahan                 bertumpuk2           masalah                  .     rasanya             kepala        mau         pecah…
                                                                                102




Pernah       dalam        satu kesempatan                   “sudah              stadium            dua”         ini     yang        diucapkan               Psikiater.
Dokter.      Pskiater          memperediksi               aku”.          Walaupun                begitu Roswidh                   tetap     rajin      k       cyber
campus                          belajar.         Ataukah chatting. Yang                           pasti        Roswidh            menulis,         tahun –tahun
Roswidh        menghabiskan                     waktu          dengan               datang             setiap              hari     ke      Cyber           Campus.
Tapi       Roswidh         yang           merasa “ Termarjinalkan”. “ Terpinggirkan                                        “dan     “dibuat         tak perdaya”.
Apakah       selama            ini         Roswidh          membuang                       waktu        dengan             percuma?            Tidak        Roswidh
memang         tak        focus             dalam          study             tapi untuk             pelarianya                 Roswidh                        belajar
menulis untuk                  meluapkan                 semua                      kesedihannya.                     Kegundahannya………..                            dan
mengeluarkan isi               hati dan            isi         pikirannya.,…… maka                             lahirlah           tulisan-tulisan               :


1. Jeritan       hati      perempuan              tegar, 2.           Dampak               narkotika           terhadap           manusia. 3. Apa               yang
harus      diperbuat orang tua                    etrhadap            generasi             muda        dan           Narkotika. 4. Nikah             siri. 5. Sikap
dan prilaku manusia                   dalam            lingkungan social                    . 6. Manajement                   waktu        untuk       wanita. 7.
Kemana        kau        sayang..”Roswidh”. 8. Rahasia                          hati. 9. Dingin. 10. Harapan belum terwujud. 11.
Makna       Hidup          bagi           mahasiswa. 12. Perlukah                          kejujuran           itu     buatmu         Putra?”. 13. Femina”
Wujudkan            Impian           mu”. 14. Bagian                 kecil      hidupku. 15. Chatting ….. apakah. Bermanfaat”16.
Visi yang            akan terwujud.


Ini    hanya        goresan-goresan                Roswidh yang                       hanya            satu          dua      lembar              ditulis      hanya
dan        jika…….. jika                  ingin        menulis,                kadang              ada          beberapa goresan                    yang        tidak
selesai…..Memang                tulisan –tulisan               ini     tidak         di     muat          di     majalah           manapun.          Hanya            di
Blog      Pribadi        dan         di    map           pribadi        disimpan             tapi       akhir –akhir              ini ingin       Roswidh bagi
goresan       -goresan           untuk            orang-orang            lain             moga         ada           manfaatnya ,           no.      11       pernah
dimuat pada          majalah              campus         thn         2008.          yang          paling        Roswidh            ingat       goresan no.           1.
“Jeritan     hati        perempuan              Tegar      “ tetap            menjadi            no.      1.          dan sampai            sekarang           belum
aku     anggap           selesai           Roswidh             tak pernah                 lagi     membuka              File       tersebut.        Walau           sdh
hamper 150               halaman termasuk                   cerita           yang ada dikepala                       Roswidh.


Di     Kliknya       :     Tulis           di     Yahoo.             Roswidh              mengirim             goresan             ini     “      Apakah            aku
mempunyai Visi              dalam Hidup”?.
“Semoga          kau mengerti                    dan       email              ini         dapat           menjawab                email-email ku               dalam
menjawabnya.               Sedang               Proses.        Ya             sedang             dalam proses               untuk          menjawab           semua
itu.       Sayang……….                 Aku        sedang menjalani                    Proses            untuk menuju                dan         mencapai             Visi
dalam hidup ini.


                         Roswidh           mempersiapkan                 diri         untuk         menghadapi                 sidang-sidang                , sidang
                                                   103




pertama     diharapkan ……..      menutup      masa       lalu     dan sidang    kedua    dan   diharapkan
Sidang-sidang      selanjutnya    akan      dihadapi      untuk      mengapai    dan    mecongsong   hari
depan     yang cemerlang dan     bahagia.
“ FOKUS KE MASA DEPAN!


Roswidh Cozdestiny



Kisah 48


Tentang “Status” di Facebook
Pengalaman Pribadi
Oleh : Miyosi Ariefiansyah


Waktu sudah menunjukkan pukul 23.05 WIB, namun rasanya mata ini masih ingin berkeliaran ke sana ke
mari, tangan ini masih ingin mengutak-utik mesin canggih di abad ini, serta pikiran ini mulai menjajaki
alam fantasi……..


Ehm….belum bisa tidur. Secuil alasan yang menyebabkan aku masih tetap terpaku menatap layar di
depanku. Kucoba tuk berjalan-jalan menyusuri kolong malam yang semakin kelam dan sepi….


“Facebook”, itulah yang pertama kali aku buka sekitar 30 menit yang lalu, ketika aku memulai aktivitasku
tuk berkelana di dunia maya ini. Melihat- lihat apa yang sedang, baru, atau sudah terjadi sebagai
informasi atau mungkin hanya sekedar basa- basi…


Hemmm….. seperti ada yang aneh, begitu pikirku waktu itu. Apa ya??? Ku coba tuk mengamati satu
persatu status orang-orang yang masuk dalam daftar temanku =P. Kurang kerjaan kah? Iya memang….
he2…. Alhamdullillah smua tugas sudah hampir selesai aku jalankan, hanya tinggal satu dua saja yang
belum. Yah, tentunya pikiran ini butuh diisi dengan sesuatu yang menggembirakan hati. So, jalan2 di
facebook lah yang dipilih sebagai tempat rekreasi di malam hari… =P


Ada yang aneh…..


itulah yang kurasakan. Sebenarnya tidak hanya hari ini namun sudah berbulan-bulan yang lalu. Apa
itu??? Keanehan tersebut aku dapati ketika beberapa orang menulis statusnya dengan kata2 yang agak
jorok (maaf banget222 ya maaf sebelumnya….dengan kata2 parno). Wiiih….. Awalnya aku cuek2 aja. Tapi
                                                  104




lama2 hatiku tergerak tuk bicara. Kok gitu ya??? OK, itu bukan urusanku. Itu memang urusan si empu
yang punya tangan he2…. tp tak bisakah orang tersebut menulis hal2 yg tdk vulgar (skali lg maaf).
Bukankah tulisan kita sedikit banyak menunjukkan kepribadian kita??? Curhat sampek berdarah-darah,
kata2 lucu, info2, kata2 bijak, atau hal lainnya yg ditulis dengan kt2 yg tidak vulgar tentunya bukan
masalah. Tapi bagaimana dengan yang ditulis vulgar (bener2 vulgar se vulgar2nya) dan yang menulis itu
adalah orang berpendidikan??? Ehm….. aku tidak berani berkomentar banyak, silahkan menilai sendiri.
Aku juga tidak ada maksud untuk memarahi orang/ pihak tersebut kok (siapa aku gitu), hanya saja aku
bisa belajar bahwa “sedikit banyak tulisan yang kita tulis akan mempengaruhi baik diri kita maupun orang
lain, maka dari itu ya seyogyanya kalau kita berusaha sebisa mungkin untuk tidak menulis terlalu vulgar”.
Yah…kejadian tersebut juga mengingatkan untuk kesekian kalinya padaku untuk lebih baik lagi dan
berusaha untuk tidak menulis hal2 yg vulgar di tempat2 umum slh satunya facebook…. =P


Pamit dulu ya…….
Mudah2an hari esok menjadi awal yang indah indah buatku


Miyosi Ariefiansyah
Email : yory_2008@yahoo.com
http://mioariefiansyah.wordpress.com/2009/06/14/tentang-status-di-facebook/




Kisah 49


Pernikahan Dini
Pengalaman Pribadi
Oleh : Miyosi Aiefiansyah


Apa yang kita pikirkan saat ada orang bilang pernikahan dini? Lagunya Agnes Monica- kah? Menikah
karena “kecelakaan” kah? atau menikah karena tidak ingin terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak
diinginkan? dll……


Apapun itu sebagian besar orang pasti beranggapan bahwa menikah di usia muda itu kalau nggak karena
hamil ya karena dijodohkan (kalau ini jamannya nenek moyang kita dulu kan). Secara ya (gitu
katanya….kosakata anak muda zaman sekarang…he…he) masa muda kan masa-masa yang paling
indah, masa-masa yang tidak pernah bisa diulang, dan masa-masa dimana ego masih mengakar kuat di
dalam diri. Iya kan. Dengan menikah, semua kebahagiaan akan terengut, tercabik-cabik, dan terampas
                                                  105




(hiks….kejam banget…tapi gitu katanya).


Tapi Bang, Mas, Mbak, Cak, Neng, Ibu, dan Saudara……emang bener ya segitu sadiskah….sesadis
lagunya Afgan…….


Hu…..hu…hu….hiks…hiks….hiks….benarkah menikah itu hanya akan membawa penderitaan. Meski aku
sendiri masih seumur jagung usia pernikahannya, walaupun kenalnya udah 6 tahun yang lalu sih
(he…he…kalau ini kan nggak dihitung), tapi udah kutanyakan pada berbagai macam orang mulai dari
yang baru aja nikahnya, sampai yang udah lamaaaaaaa banget usia perkawinannya…..truz juga baca
buku, lihat kanan kiri, dan kegiatan lainnya yang pada intinya berusaha mencari referensi sebanyak-
banyaknya dari orang-orang sekitar……


Tanggapannya macam-macam sih…. Ada yang bahagia banget dengan menikah, ya manusia kan
memang tidak luput dari kesalahan, kata orang yang merasa dengan menikah hiduppun sarat dengan
banyak hikmah…..


Ada juga yang ngerasa nyesel banget, sampai-sampai keturunannya nati nggak boleh nikah kalau belum
bangkotan. He…he… “Pokoknya nggak ada enak-enaknya….yang ada hanyalah menyakiti dan
menyakiti….apa yang katanya saling memberi dan menerima? Nggak tuh….Memberi dan menerima dari
Hongkong?”, gitu katanya. “Sudah Buk, nggak usah marah-marah…makasih banget informasinya,
mudah-mudahan jasa-jasa Ibu diterima disisi-Nya,” gitu kataku pada seorang Ibu muda waktu itu. Truz
orang nya bilang dengan nada marah, “Saya kan belum mati, ngapain doanya gitu,”. “Iya buk, Maaf…”
ucapku memelas…


Ya begitulah, sebelum aku berubah…….berubah…..dan berubah…..(statusnya: dari single menjadi
double), kusempet-sempetin tanya ke orang-orang, dan jawabannya beragam salah satunya seperti yang
telah ditulis di atas.


Nggak cuma itu akupun juga mengadakan semacam “jajak pendapat” kepada teman-teman tercinta.
Secara ya (kata-kata ini yang saat ini paling populer), aku kan yang paling muda di antara mereka tapi
yang paling cepet nikahnya, he…he….(bukan salahku kan….karena kita takkan pernah tahu Maksud
Sang Pencipta, Yang bisa kita lakukan hanyalah membersihkan hati sebersih mungkin, berusaha sekeras
mungkin, sehingga Allah senantiasa melapangkan jalan kita…he..he…sok imut banget sih ngomong
gitu…emang ngerti aku..? he..he..)….balik lagi ya..Ya aku kan yang paling muda sehingga sebagai
saudara muda wajib hukumnya bertanya kepada saudara tua yang dinilai lebih senior (gitu kan katanya…)
biar nggak disangka melangkahi dan kurang ajar.
                                                  106




Alhasil tanggapannya pun bermacam-macam, mulai dari setuju sampai nggak setuju (baik yang dikatakan
secara implisit maupun secara eksplisit)…..


Yang setuju….mereka sangat mendukung dengan keputusanku, bahkan bahagia banget sampai ada yang
menangis karena terharu. Seperti hadist Rosulullah SAW,


“Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku” (HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.).
dan juga hadist yang berbunyi, “Jika datang (melamar) kepadamu orang yang engkau senangi agama dan
akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan putrimu). Jika kamu tidak menerima (lamaran)-nya niscaya
terjadi malapetaka di bumi dan kerusakan yang luas” ( H.R. At-Turmidzi).


Apalagi waktu itu orang yang melamarku sudah mengerti dan sudah mampu (bertanggungjawablah..bisa
dibilang gitu) jadi nggak ada alasan untuk menolaknya.


Dan satu lagi hadist Rosulullah yang jika mendengarnya membuat bulu kudukku merinding dan menangis
yang berbunyi,“Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu untuk kawin, maka
hendaklah dia menikah.Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkanpandangan dan lebih
menjaga kemaluan. Dan barang siapayang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena
sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya”(HR. Bukhori-Muslim).


Jujur aja, sewaktu aku mendengarnya aku jadi ingin menangis, menangis karena malu dan teringat akan
dosa-dosa…juga menangis karena bahagia, bahagia karena sebentar lagi akan menjalankan amanah-
Nya, amanah yang begitu berat tanggung jawabnya karena menikah adalah sebuah perjanjian yang berat
(Mitsaqan Ghalizhan).


Hatiku waktu itu seperti tersirami air dari surga mendengar ceramah mereka…hu…hu…hu…malu banget
rasanya menantikan detik-detik pergantian status…..jreng…jreng…….glodak…..


Sedangkan “partai oposisi” atau kubu yang yang nggak setuju mengatakan keberatannya dengan
keputusanku untuk menikah. Ada yang secara terang-terangan dan ada pula yang tidak. Alasannya pun
macam-macam dan tidak perlu dituliskan, karena aku yakin yang mengalami ini nggak hanya aku, namun
semua orang yang memutuskan untuk menikah di usia muda… So What gitu Lhoh (katanya…no
problemo….ora opo-opo…nggak masalah….).


RAGU…..ya sempet sih, bertanya ke diri sendiri berkali-kali tapi Alhamdulillah nggak sampek ngomong
                                                    107




sendiri (melalui batin aja komunikasinya), menanyakan ke diriku…benarkah aku harus menikah…
Ehm…atau ntar..ntar aja ya pas udah umur 30. Gimana ya enaknya……………..


Tentu saja tak semudah membalikkan telapak tangan, tapi juga nggak sesulit ujian skripsi…he..he…aku
mencari begitu banyak referensi……..dan ternyata…..keputusan ku adalah…..Menikah…. ditengah pro
dan kontra (kayak artis aja se…ternyata nggak cuma artis…orang awam pun juga bisa)…


Alhamdulillah…..semua sudah terlaksana……


Miyosi Aiefiansyah
Email : yory_2008@yahoo.com
Blog : http://mioariefiansyah.wordpress.com/2009/02/26/marriedbagian-i/




Kisah 50


Yang Tertinggal di Bali
Pengalaman Pribadi
Oleh : Riyawati


Pada awal Juli tahun 2005 aku liburan ke Pulau Dewata alias Bali. Pulau seribu pura ini benar-benar
pulau yang sangat indah hingga tak memakan waktu lama untuk bangkit setelah bom Legian 2002. Aku
pun berkesempatan mengunjungi pantaai-pantai yang terkenal karena keindahannya. Pantai yang tak
bisa kulupakan adalah pantai Kuta. Aku bahkan empat kali datang ke pantai ini. Selain menikmati
keindahan pantainya juga melihat turis asing yang sangat gembira setelah berselancar dan berhasil
mengalahkan ombak. Di pantai Matahari Terbenam inilah aku mengalami sebuah peristiwa yang takkan
kulupakan.
     Seorang teman di Renon, Denpasar meminjami kami (aku ke Bali bersama dengan seorang teman
dari Semarang) sepeda motornya. Akhirnya, kami pergi ke Kuta naik sepeda motor. Tak begitu jauh
perjalanan ke Kuta. (Kalau naik bemo bisa ditempuh dua kali dari Matahari Denpasar yaitu naik bemo
jurusan Sanur – Tegal turun di Jl. Imam Bonjol. Dari sini naik bemo jurusan Batu Bulan – Kuta – Tegal.
Sudah deh sampai di Kuta) Kami parkirkan sepeda motor itu di tempat sepeda motor lain parkir. Setelah
itu, temanku celingukan cari tukang parkir. Tak ada tukang parkir yang kami temukan. Akhirnya, kami
bertanya ke seseorang yang kebetulan baru saja memarkirkan sepeda motornya.
     “Pak, tukang parkirnya dimana, ya?” tanyaku.
                                                  108




     “Tukang parkir? Tak ade tukang parkir di sini, Mbak,”jawabnya dengan logat khas Bali.
     Aku dan temanku saling berpandangan tak percaya. “Amankah?” aku bertanya-tanya dalam hati.
     Kemudian dengan was-was kami meninggalkan sepeda motor itu. Kami berjalan ke pantai. Sudah
banyak turis local dan asing yang sedang menikmati keindahan pantai Kuta. Pasir pantai Kuta terlihat
kotor dengan ombak yang tak putus-putus menyapa pantai. Kami, seperti halnya wisatawan local, adalah
wisatawan pasif dalam artian kami ke Kuta hanya sekedar untuk melihat pantai tanpa melakukan olahraga
yang berkaitan dengan pantai. Tidak seperti wisatawan asing yang sedang bergembira karena berhasil
menaklukan ombak dengan papan selancarnya. Kami benar-benar menikmati Bali hanya dengan
melihatnya. Pelan-pelan semburat kemerahan terlihat di ufuk barat sana, matahari pun lingsir dari
tahtanya. Pemandangan yang indah pun tercipta. Keindahan tiada tara yang tak bisa diucapkan dengan
kata-kata, kecuali “Subhanallah.”
     Pk 07.00 WITA kami putuskan untuk balik ke Denpasar. Perasaan kami was-was dengan nasib
sepeda motor yang kami tinggal begitu saja. Ketika kami sampai di tempat parkir motor itu, perasaan was-
was itu pun hilang. Sepeda motor itu masih utuh di tempatnya. Tak hilang meski tak ada tukang parkir
yang menjaganya.
     Hal ini kemudian menjadi bahan renunganku. Kubandingan keadaan ini dengan keadaan di Jawa
tepatnya Semarang, kota dimana aku tinggal. Di Semarang seperti halnya di kota-kota lain, sepeda motor
ditinggal sepuluh atau lima belas menit untuk makan bisa hilang diembat maling. Atau ditinggal lima menit
untuk fotokopi, sepeda motor itu pun dengan sukses berpindah tangan tanpa melalui transaksi penjualan.
Tapi di Bali keadaannya benar-benar berlawanan. Sepeda motor ditinggal seharian takkan hilang apalagi
hanya sepuluh atau lima belas menit atau satu atau dua jam. Di sini benar-benar aman. Kalaupun ada
pencuri, pelakunya biasanya bukan orang Bali asli, tapi orang pendatang.
     Pertanyaan kemudian mencuat dalam pikiranku, orang-orang Bali kebanyakan tidak muslim tapi
kelakuan mereka melebihi orang-orang Islam karena banyak pelaku pencurian baik di Jawa atau di Bali
adalah muslim. Apa yang sebenarnya terjadi dengan orang-orang kita hingga pencurian yang kalau
hukum Islam diterapkan hukumannya potong tangan tetap mereka lakukan?


Riyawati
Email : riyawati_md@yahoo.com




Kisah 51


Ternyata Kusalah Mengemalmu (1)
                                                   109




Karena cukup panjang kisah ini dibagi menjadi dua bagian. Berikut ini bagian pertama dari kisah
Lisa.
Pengalaman Pribadi
Oleh : Lisa


Malam 14 Febuari 2009 “KU SEPI”
Ku berdo’a kePadanya aDakah Ya Allah kau kiRim haTi buAt aKu paDa haRi eSok TangGaL 14 FebuaRi
2009 (Valentine)


Tak Kusangka, Tak KuDu9a paDa saAt itu nyaTa di Depan mata kepalaku.
Ya Allah iniKah haTi yang kau kirim-kan untuk aku, tepat pada pukul 04:10 (sore)!
Kurasa mungkin ia-lah yang sengaja Allah kirim sebagai kado “Valentine” untuk aku, yang dimana ia mau
mengisi kegilauan hatiku yang kosong, ku harap ialah yang bisa buat aku banyak cerita akan tenang
keindahan yang menghiasi hidupku di bumi ini yang penuh fanamogana.


Namun seMuanya beRubah BegITu cePat daLam hitungan waktu detik peRdeTik. Mencoba ku bertahan
agar semuanya tidak musnah!!! Tapi tetap aja semuanya berakhir dlam sekejap mata…


Rasanya ingin ku berlari, lari dari kenyataan yang pahit namun kulelah,lelah ku untuk berlari ingin ku
hempaskan hati yang ada ingin ku g” mempunyai hati, begitu sakit yang aku rasakan, begitu pedih yang
aku alami!!!
Tuhan adakah kau mau mengirim seseorang lagi buat pengganti dirinya untuk ku selama-lamanya,,,


MUSNAH SUDAH HARAPAN DAN IMPIAN YANG AKU TERIMA!!!


Puisi


TERNYATA KUSALAH MENGENALMU


Wajahmu selalu terbayang di depan mataku
Disetiap pejaman mataku ada dirimu
Padahal ku tak pernah memikirkanmu
Apakah ini yang dinamakan cinta


Kutak tahu apa itu cinta sesungguhnya
Setiap relungan hatiku selalu ingat kamu
                                                   110




Kamu,kamu,kamu, dan kamu ? ?


Kucoba untuk membunuh perasaan yang pernah ada tentang dirimu
Namun ku tak mampu untuk membunuhnya ! !
Ah , , ,


Kecewa hati ini
Ku kira engkaulah yang bisa menggantikan
Cintaku yang t’lah mati sejak 2 tahun yang lalu
Namun kini kau pergi tinggalkan aku,
Dan aku duduk disini sambil meratapi
Hati yang penuh Kekecewaan . . .



AWAL MULA KITA KENAL


Saat itu ku bosen di tempat kerja sendiri g” ada teman yang menemani….
Namun akhirnya ku chating begitu banyak teman yang ku temui,,,, ada yang mau beri no HP ke aku??


Tapi yang satu ini 0711-842xxx Nama-nya Arif, gw save aja di HP gw dan g” pernah sedikit pun gw
hubungi, lama kelamaan gw penasaran gw kira no ini punya arif teman gw yang tinggal di tanjung rawo
namun ternyata salah…..


Dari awal penasaran itu lah pada akhirnya gw m-call, dan dia telpon balik ke gw.
Gw nanya siapa dia tu sebenarnya???
1,2,3x dia sms gw, g” pernah gw balezzz, pas saat malam valentine dia sms gw kembali yach gw balezzz
dengan penuh amarah, habizz gw ge sedih di ajak bercanda gitu mau buat orang marah lalu di juga telpon
gw saat malam itu malu sEe,,, ketahuan gw nangisss!!!!



KEESOKAN HARINYA


ialah hari sabtu!!!
Dya sms gw lagi
ehm begitu-lah sekira-nya kita sms
                                                     111




tidak lama kemudian hari semakin sore, gw tunggu tapi tak kunjung datang, gw sms g” juga dia balezzz??
Tanpa setau gw kLo dia itu sudah datang dan juga bermain di no= PC 8…
sesaat dia mau bayar dia baru bertanya adek yang bernama lisa,, (kebetulan saat itu gw ge jaga warnet),
gw jawab iya gw lisa dalam hal itu gue lupa siapa nama orang yang mau ajak ketemuan sungguh saat itu
gw g” inagat sama sekali habis nya gw gEe asyik main dan bercanda ma teman-teman gw diwarnet??
Saat itu juga arip berencana mau ngajak lisa ke pesta pernikahan teman-nya berhubung lisa lembur jadi
g” bisa??



TEPAT HARI MINGGU


lisa pergi kerumahnya mantan lisa sebab di2 sakit meskipun jadi mantan kita tetap berteman kenal baik-
baik pisah juga baik-baik???
Tiba2 arip sms gw mau ngajak ketemuan, dan arip juga minta alamat lisa…
tapi g” lisa kasih, gw ajak dia ketemuan di warnet al-adil ajah sebab sekalian lisa mau main gamezzzz…..


Sesampainya diwarnet, arip blom kunjung datang juga sudah setengah jam lisa tunggu dan hari juga
sudah mulai sore lisa mau pulang,,, eh kebetulan disaat mau turun tangga “tuing” berhadapan-lah didepan
mukanya arip.
Saat itu juga arip mau ajak lisa jalan tapi lisa bingung,, terus ditambah ucil alias reno bilang “oy yux co cak
mano lagi yang dicari la belagak, tinggi, putih masih di tolak)
yach biasa lah nama-nya juga anak-anak bercanda emang gitu, nah terus itu lisa di ajak jalan-jalan
kebenteng teruss habiss dari benteng dia ajak lisa kerumah sakit xxx…, yach lisa kira setelah dari rumah
sakit lisa pulang kerumah sebab hari da mulai gelap sekiranya jam setengah 7 malam lah??
Arip bilang nanti pulang kerumah,,
g” tau lisa diajak kerumahnya arip dari situlah hati lisa bergerak dan lisa berfikir mana ada co yang baru
kenal mau bawa ce yang ru dikenal kerumahnya bahkan dikenali ma teteh dan neneknya arip.
Yach selanjutnya seperti selayaknya kita jalani????


Bersambung….


Lisa
Email : lisa_cute_gokil@yahoo.com



Kisah kedua (lanjutan)
                                                    112




Ternyata Kusalah Mengemalmu (2 – selesai)
Pengalaman Pribadi
Oleh : Lisa


1 Bulan kemudian…


Berawalnya dari pertengkaran dan salah paham???
ana pernah melihat hp arip, semuanya sms dari lisa, dan ana bertanya kepada arip siapakah lisa itu???
“arip menjawab lisa Cuma teman, Ok saat itu emang kita bLom jadian gw g” merasa apa-apa sma arip???
Tapi arip selalu kasih lisa harapan yang begitu besar, dari sekian lisabanyak kenal sama co baru arip
inilah yang sangat berbeda sama lisa, baik sama kedua orang tua lisa….


Tapi keadaan semakin berubah, mulai dari ana tanya siapakah lisa, dari situ lah sikap arip sama lisa
berubah??
Sekian lisa tanya siapa ana itu g’ pernah mau arip jawab…
Lisa curiga sama arip, tapi arip selalu yakini klo dia g” ada apa-apa sama ana???
Yach sudah lah lisa g’ pernah mau tau masalah yang ada biarlah jika emang arip jujur syukur tapi kalau
arip g” jujur biarlah segala sesuatu yang dilakukannya Allah tau,, lisa yakin akan kebahagiaan datang…
tapi g’ taunya keburukan yang datang dalam kehidupanku,,,


saat itu arip mau main futsal, tapi lisa ajak arip kewarnet al-adil di pa5, arip marah sama lisa karena lisa
bilang iya silakan klo mau main futsal tapi napa telpon lagi maksa mau ngajak ke pa5. terus yang telpon
juga bukan lisa teman lisa,, lisa tu sebenarnya da bilang ma teman lisa g’ usah nanti arif marah tapi teman
lisa maksa,, saat itu juga lisa emang lagi ada masalah ma arip….
Minggu kemarin lisa jalan ma arip ada co guanteng bangetzzzz, arip marah dia bilang jangan lihatin terus
nanti lehernya g” balik lagi, lisa semakin curiga “ne co koq marah ma gw padahal
gw kan blom jadian ma tu orang”. Nah pas pulangnya dari jalan lisa tanya kejujurannya dia
kenapa kak arip marah ma lisa klo lisa lihati cowok2 guanteng or cowok2” lainnya…
dia bilang…


kk tu damai banget kalau didekat adek??
Sebenarnya kk tu suka ma adek, tapi dari perkataan adek dan selalu curiga rasa itu hilang menjadi
50 %??
lisa jawab eamg perkataan apa!!
arip bilang, ah sudahlah dex mungkin teman adek yang bilang gitu
                                                    113




nah tambah lisa pusing dan curiga apa sEe sebenarnya yang terjadi….
Ayola kak ju2r ajah ap yang buat kk gitu??
Berfikir dan selalu berfikir salah kata ap yang pernah terucap akan datangnya kemarahan dia apa
mungkin rasa curiga dan cemburunya lisa juga yang buat dia begitu marah or lisa yang suka lihat cowok-
cowok,,,
besok malamnya dia nembak lisa “ tapi mav lisa g” ingat tanggal berapa dia berucap seperti itu???
Dia juga masih selalu kasih harapan dan kebaikan buat lisa???


Tapi tak ku sangka dan tak ku duga dari kata I LOVE YOU dan KEBAIKAN ARIP SAMA KEDUA ORANG
TUA LISA hanyalah sebagai topeng belaka……
hanyalah permainan yang dibuat oleh arip buat lisa??? Sungguh lisa g” tau permainan apa itu
sebenarnya,,


setelah semua terjawab pada malam 19 april 2009..


Distulah lisa sangat merasakan begitu sakit yang lisa rasakan, sumpah g’ tau klo ada suatu permainan
diantara perkenalan kami berawal indah,berawal manis,dan berawal kebahagian menjadi duka yang tak
dapat di lupakan, seumur-umur g’ pernah lisa merasakan suatu permainan, banyak lisa kenal sama cowok,
3 kali lisa pacaran emang berawal indah dan bahagia setelah akhir duka tapi g’ seperti ini lisa g’ dijadikan
suatu permainan seperti boneka?? Kita kenal baik dan pisah baik juga kalo yang ini sungguh keterlaluan,
dikala lisa dijadikan sebuah boneka senang di puja bosan di campakan???


Setiap lisa bercanda ma teman cewek or cowok pasti badan lisa dicubit kadang dimarahi sepuas dia,,,
lisa berfikir emang arip nEe sapa lisa,,segitunya dia marah ma lisa, bahkan nyakiti lisa?????
Yach pada akhirnya lisa cari lagu yang tepat buat arip, yang tepat adalah lagu nya “TERE- AWAL YANG
INDAH”



Tepat Tanggal 19 April 2009, 10 hari lagi ultahnya lisa


Tepat Perpisahan Lisa Dan Arep
Malam tanggal 19 april 2009 arep datang kerumah lisa untuk yang terakhir kali-nya, arep bilang lebih baik
hubungan yang selama beberapa bulan ini kita jalani cukup sampai disini, tapi lisa bertanya kenapa??
Arep jawab: lisa itu g” pengertian, lisa itu mau menang sendiri, lisa itu g” pernah mandang perasaan dia..
Perasaan yang selama ini lisa terus dech yang mengalah apa mau-nya dia..
                                                    114




Terus arep juga bilang sudahlah dex kita sudahin ajah, kk juga mau kuliah mungkin g” ada lagi waktu buat
adx, ku pikir klo emang ia benar-benar sayang dan cinta ma lisa sesibuk apapun waktunya dia pasti ada
peluang buat lisa..
Yach sudahlah mungkin dia bukan jodohnya lisa…


1 bulan yang akan datang setelah putusnya hubungan lisa dan arep..


Tiba-tiba dimalam hari tepatnya lisa lagi lembur di warnet al-adil (tempat lisa bekerja) “malam minggu”
tanpa diduga, tampa kabar sedikit pun, setelah lisa mau pulang kerja, saat buka pintu warnet
ASTAFIRLLAH arep muncul pas didepan mukanya lisa..


Minggu depan nya..


Arep jemput kerumah ngajak lisa pergi buat nganter foto di daerah pusri,,
setelah nganter foto arep dan lisa duduk lah di “kambang iwak” yach kita duduk ajah disana, tak lama
kemudian arep berkata kepada lisa,


Arep      : oy adx kau nii banyak nian jerawat dimuka tu cak dak biso ngurus diri tu?
Lisa       : apa kata kakak g” bisa ngurus diri bukan nyo aku cewek murahan dak biso ngurus diri, di
           muka aku banyak jerawat nEe karna aku salah pakai bedak tau dak. “kk lisa ada pertanyaan
           buat kk”
           Seandainya kk dipertemukan dengan 2 orang cewek, 1 nya cewek cantik “perfect is girl
                      beautiful” tapi sayang dia seorang kupu-kupu malam, tapi si cantik itu penuh dengan
           harta kekayaan yang dia miliki dan yang cewek ke 2 seorang “muslimah”, tapi tubuhnya
           dipenuhi dengan koreng dan muka dipenuhi denagn jerawat, seharunya kk pilih yang mana si
           cantik ap muslimah.
Arep      : yang cantik dan penuh dengan harta kekayaan
Lisa       : Seandainya Allah yang maha adil itu mengembalikan keadaan yang ada apaka yang kk laku-
kan!
arep       : maksudnya??
Lisa       : si cantik tadi kan kaya raya dan jika Allah memberi nya hukuman yaitu
             si cantik adi seperti muslimah karena dia selalu memakan uang haram, dan simuslimah tadi
tetap dia bersujud ke allah meskipun dia dikasih harta yang melimpah, yang dari mana tubuhnya di penuhi
koreng dan mukanya di penuhi jerawat jadi cantik dan baik hati apa yang kk laku-kan…..
Arep      : yach balik or pilih si muslimah itu,
lisa      : Tapi, kk sudah terlanjur mencintai dan menikahinya, apa kk mau cerai darinya, dan simuslimah
                                                   115




tadi terlanjur sakit hati karena cinta dan sayang nya dia sewaktu dulu buat kk, kk menyakiti dan
mencapakannya, dan jika si muslimah g” mau balik sama kk, apakah yang akan kk perbuat untuk
muslimah dan si cantik……..!!!
Arep      : (Tidak bisa menjawab)
lisa      : itu-lah cinta yang penuh kebohongan dalam hidup kk bisa-nya mau terimah si cantik dan kaya
raya, tak bisa terima cinta apa adanya, ini hal yang dibilang cintamu yang sesungguhnya ketika melihat
orang yang    suka,, “bohong tipu belaka” kebaikan sebagai topeng..


TEPAT HARI MINGGU
lisa pergi kerumahnya mantan lisa sebab di2 sakit meskipun jadi mantan kita tetap berteman kenal baik-
baik pisah juga baik-baik???
Tiba2 arip sms gw mau ngajak ketemuan, dan arip juga minta alamat lisa…
tapi g” lisa kasih, gwajak dia ketemuan di warnet al-adil ajah sebab sekalian lisa mau main gamezzzz…..


Semenjak itu lah rasa yang dulu lisa miliki buat arep berubah seketika hilang tanpa ada kata,,
lisa baru bisa menilai siapaka arep sebenarnya, sungguh tak kuasa yang lisa nilai sebelumnya dikira baik
tapi hanya sebagai tipu belaka,,
sayang Allah tunjukan dan buka kan pintu hati yang sebenarnya tepat lagu yang di beri dari
krisdayanti “Im sorry good bay”.


Lisa
Email : lisa_cute_gokil@yahoo.com




Kisah 52


Kegagalanku, Mengubah Hidupku
Pengalaman Pribadi
Oleh : Rindy Agassi


Naskah: Pengalaman ini saya alami ketika saya masih duduk di kelas X di salah satu sebuah SMA swasta
terkenal di Semarang,saat ini saya sudah duduk di kelas XII.


Pada awal masuk sekolah ini saya tidak menyangka saya bisa masuk salah satu sekolah favorit di
Semarang. Pada awal-awal masuk sekolah saya memang belum terbiasa dengan gaya belajar di SMA,
                                                  116




saya harus bisa beradaptasi dengan situasi ini.


Tetapi lama kelamaan justru saya merasa sulit untuk beradaptasi sehingga pada akhirnya
saya tidak menggunakan waktu saya untuk belajar tetapi menggunakannya untuk berkumpul dengan
teman ataupun pergi bersama teman-teman. Waktu belajarpun tidak saya pergunakan dengan baik, pda
saat di kelas misalnya saya tidak banyak mendengarkan apa yang dijelaskan oleh guru, saya hanya
berbicara dengan teman saya. Betul apa yang dikatakan banyak orang bahwa masa SMA adalah masa
yang terindah sehingga saya pada waktu itu hanya lebih banyak bersenang-senang.


Pada saat saya mendapatkan nilai ulangan yang jelek pun saya tidak merasa kecewa, di dalam hati saya
hanya berkata masih ada ulangan selanjutnya dan saya masih bisa memperbaikinya, hal itu saya lakukan
setiap nilai ulangan saya mendapat jelek dan itu membuat saya malas untuk belajar sehingga pada
akhirnya pada waktu ujian akhir sekolah saya merasa belum siap. Akhirnya saya nilai-nilai saya pada ujian
akhir sekolah tidak baik, sehingga pada saat menerima hasil pembelajaran selama satu tahun saya
dinyatakan tidak naik kelas.


Pada saat itu saya baru merasakan kekecewaan dan penyesalan mengapa saya dari dulu saya tidak
berusaha dengan baik. Tetapi saya tidak boleh terlarut-larut dalam kekecewaan serta penyesalan saya,
saya pun menjadi sadar bahwa saya harus menjadi lebih baik.


Sejak saat itu saya benar-benar berubah menjelma menjadi orang yang benar-benar baru dan lebih baik
dari sebelumnya. Saya tidak menyia-nyiakan setiap waktu yang ada, saya menggunakan waktu saya
dengan lebih baik untuk belajar walaupun saya juga tidak meninggalkan kebiasaan lama untuk berkumpul
dengan teman tetapi saya menjadi lebih bisa mengatur waktu saya. Sifat-sifat saya juga mengalami
perubahan yaitu saya menjadi lebih memiliki daya juang untuk menjadi yang lebih baik.


Saat ini saya justru tidak menyesal atau bahkan bisa dibilang saya bersyukur karena tidak naik kelas,
saya merasa kegagalan yang saya alami itu adalah suatu awal bagi saya untuk menjadi lebih baik dan
kegagalan itu menjadikan saya orang yang lebih kuat dalam menjalani hidup. Perjuangan saya untuk
menjadi lebih baik tidak akan berhenti hanya karena saya mengalami kegagalan tetapi justru saya yakin
saya akan berubah menjadi lebih baik dengan saya mengalami kegagalan itu dan di balik kegagalan itu
saya juga yakin bahwa akan ada hal yang baik yang akan datang pada hidup saya sehingga sampai
sekarang pun saya tidak akan pernah menyerah walaupun mengalami kegagalan dan kegagalan itu akan
saya gunakan sebagai motivasi untuk saya agar saya bisa menjadi yang lebih baik dari sebelumnya.


Rindy Agassi
                                                 117




Email : scooptsz@yahoo.com



Kisah 53


Berharga Saat Tidak Ada
Pengalaman Pribadi
Oleh : Dewani


Apakah kita sering bersyukur dengan apa yang kita punya sekarang? Mungkin kita merasa biasa saja
dengan apa yang kita punya saat ini. Tapi, bagaimana jika kita kehilangan salah satu atau semua yang
kita punya sekarang?
Saat saya sehat, saya jarang sekali berpikir bagaimana rasanya apabila saya merasa sakit atau jika ada
sesuatu masalah dengan tubuh saya ini. Maklum, selama ini saya jarang terkena penyakit yang tergolong
berat, paling hanya flu saja. Walaupun begitu, ketika saya merasa ada yang tidak beres dengan
kesehatan saya, betapa terasanya bahwa nikmat sehat itu sungguh berharga.
Pasti anda pernah merasakan radang tenggorokan kan? Nah, apakah makan anda terasa nikmat? Tentu
tidak bukan? Terkadang makanan favorit anda pun rasanya menjadi tidak enak sama sekali saat dimakan.
Ketika rahang saya bermasalah pun begitu. Menelan ludah pun terasa menyakitkan. Sulit sekali
rasanya hanya untuk menelan ludah yang apabila kita sehat merupakan hal yang sepele.
Sungguh betapa nikmat yang kita punya seharusnya kita syukuri. Ketika nikmat itu ada selayaknyalah kita
jaga agar nikmat itu tetap ada. Memang, seringkali kita menyadari betapa berharganya sesuatu ataupun
seseorang itu saat orang /sesuatu itu sudah tidak ada lagi. Saat semuanya tidak ada, baru kita akan
merasakaan kehilangan sesuatu. Kita baru akan menyadari bahwa sesuatu yang hilang itu adalah hal
yang sangat berharga bagi kita.
So, jaga apa yang kita punya sekarang baik seseorang, barang, apapun itu. Hargai semua yang kita
punya. Agar suatu saat semua itu bukan milik kita lagi, kita akan merasa puas karena kita telah
melakukan hal yang terbaik untuk semuanya.


Dewani
Email : noviana.dewani@gmail.com
Blog : http://dewanidewani.wordpress.com
                                                    118




Kisah 54


Hikmah di Waktu Ashar : Maling
Pengalaman Pribadi
Oleh : Roswita Puji Lestari


Hari itu, 6 Juli 2009 ada kejadian di depan tempat wudhu akhwat di masjid Al-Ghifari yang sedikit aneh....
Sore itu baru pulang dari kosan temen, karena mau ada agenda lagi untuk tim Sapa Sahabat, jadi mau
shalat ashar dulu. Karena males sendirian, kebetulan liat silvy lagi ngobrol ma neng. Yaudah wita
samperin. "Sil, sholat yu!". Pas lagi wudhu, pas lagi pasang kaos kaki, baru sadar kalau silvy masih smsan
di luar yaudah wita panggil. "Bocah (maksudnya silvy), cepetan wudhu!". Silvy pun langsung masuk. Gag
tau kenapa biasanya wita ninggalin jaket "sepaket" sama tas di luar. Tapi tiba-tiba lagi pengen bawa jalet
ke dalem. Jadi luar cuma ada tas wita sama silvy. Sambil nunggu silvy wudhu (masih dalam proses
pasang kaos kaki...) tiba-tiba ada sosok mencurigakan. Wita sih pertama santai, coz wita kira ikhwan
algif (baca:marboth), tapi kok gelagatnya kok mencurigakan ya....?! (sok tau mode: on)


Kita panggil ajj dia MAS-MAS MENCURIGAKAN PAKE BAJU PINK YANG KAYAK OM-OM disingkat
MMMPBPYKOO. Si MMMPBPYKOO sepertinya tak sadar kalau ada akhwat manis yang memperhatikan
gerak-geriknya yang aneh dari celah pintu tempat wudhu. Dia berpose seakan-akan lagi masang kaos
kaki, padahal dia gag pake kaos kaki (aneh kan??) , sambil mendekat ke arah tas wita ma tas silvy.
(waduh tas qta bau sikil (baca: kaki) ni vy! =p).


Mungkin terjadi sedikit perdebatan (dalam dunia hayal) antara MMMPBPYKOO, dan tas-tas yang tidak
berdosa....


MMMPBPYKOO : (mungkin) "Hmm.... gag ada orang nee...!"


Tas Silvy (TS)        : "Tas wita (TW)! Kayaknya kita dalam bahaya nee!!"


Tas Wita (TW)       : "Napa mank TS??"


MMMPBPYKOO : (makin mendekatkan tangan dan kaki ke TS dan TW, dan masih dalam pose "pasang
kaos kaki")


Tas Silvy            : "Kayaknya tuh om-om mau meracuni kita dengan gas sikil (KQ)..... BAHAYA!!!!!"
                                                     119




Tas Wita               : "WHAT?!!! @#%$^&$?!@! TIIDDDAAAKKKKK..!!!!!"(lebay mode: on)


MMMPBPYKOO             : (sedikit lagi tangan dan kaki akan mendarat dengan sukses...)


Tas Silvy              : "TW!!! SIAGA SATU..!!! SIAGA SATU..!!!" (Apa coba?!!)


Tas Wita                : "OK (tenang...)! Hmm.....kita PURA-PURA MATI AJA TS!!"


Tas Silvy               : "Mank qta lagi ketemu beruang apa?!!!! Arrgggghh.....TIDDAAAKKKK!!"


MMMPBPYKOO               : (mendarat dengan mulus dan sukses tepat di dekat TS, dan TW sedikit bernapas
lega..)


OK LANJUT!!!(Kembali ke dunia nyata...)


Trus karena penasaran wita perhatiin ajj ni MMMPBPYKOO, dia masih gag sadar kalau gerak-geriknya
lagi dipantau sama akhwat manis ini. Si MMMPBPYKOO pun mulai melancarkan serangannya. Karena
suasana di nilai cukup memanas (kebetulan sore itu cukup panas), akhirnya wita pura-pura keluar mau
ngambil tas dan dimulai dengan kata “Ehem…!!!”, yang sukses bikin MMMPBPYKOO gelagapan.
Kayaknya si MMMPBPYKOO malu berat karena aksinya ketauan sama wita. Dan dia pun langsung buru-
buru naek tangga sambil terus ngeliatin muka orang yang udah “mergokin” dia. Wita sih santai-santai ajj
masang tanpang innocent (polos mode: on). Pas wita keatas buat sholat ashar eh si MMMPBPYKOO lagi
sholat juga. “Alhamdulillah…”,wita harap dia bisa tobat setelah sholat. Tapi pas wita beres sholat, pas wita
cari-cari si MMMPBPYKOO, dia udah menghilang entah kemana...


"Wahai MMMPBPYKOO…. dimanapun kamu berada…. TOBATLAH….!!!                     Malu dund nyolong di rumah
Allah…."


Hari yang aneh….


Roswita Puji Lestari
Email : roswitapujilestari@gmail.com
Blog : roswitapujilestari@blogspot.com
http://roswitapujilestari.blogspot.com/2009/07/hikmah-di-waktu-ashar.html
                                                     120




Kisah 55


Rahasia Besar Dibalik Didikan Ayahku
Pengalaman Pribadi
Oleh : Empok Geo
Email : faizinempokgeo@longger.co.cc


Aku terlahir bukan dari kalangan orang yang berada. Keluarga kami untuk tetap dapat hidup harus
meninggalkan pulau jawa (Transmigrasi) menuju pulau Kalimantan. Di pulau Kalimantan kami pun bukan
tinggal didaerah perkotaan, namun kami tinggal disebuah desa terpencil. Dan ternyata desa tersebut baru
saja dibuka dari hutan belantara yang dialih fungsikan menjadi perkampungan. Di desa kami untuk
mengenyam pendidikan yang lebih tinggi kami harus ke kota kabupaten yang memiliki jarak 500 km kira-
kira jauhnya, atau pergi ke kota-kota lain yang berjarak tidak kurang dari 200 km. karena di desa kami
pendidikan formal baru sampai setingkat Sekolah Dasar (SD).


Ayahku yang bekerja sebagai seorang guru honorer mendapatkan gaji yang hanya pas-pasan untuk
makan saja. Sehingga ayah saya harus mencari pekerjan sampingan yang bisa menutupi biaya-biaya
lainnya seperti biaya sekolah, biaya beli pakaian dan lain-lain.


Pekerjaan sampingan orang tuaku itu adalah berkebun dan berternak kambing dan sapi. Untuk
mengerjakan pekerjan sampingannya itu, ayah ku tidak bisa mengerjakannya sendirian. Dia
membutuhkanku untuk membantunya mengerjakan pekerjaan sampingannya itu.


Aku yang masih duduk dibangku kelas lima SD sudah mendapat tugas yang amat berat. Tugas yang
diberikan padaku mengembalakan kambing di waktu siang hari dan mencarikan rumput untuk diberikan
pada malam harinya. Kambing peliharan kami berawal dari dua ekor saja, kambing betina dan jantan.
Kemudian kambing peliharan kami terus berkembang hingga pernah mencapai 15 ekor, yang membuatku
lelah mengurusinya.


Pekerjaanku ini tidak membuatku malu dan minder kepada teman-teman sebayaku, karena pekerjaan ini
telah membudaya dikerjakan oleh anak-anak seusia itu di desa kami pada waktu itu. Sebab kita semua
baru mengawali hidup didaerah yang baru sehingga kemapanan masyarakat disana belumlah terjamin.


Tapi kedongkolanku disebabkan oleh kakakku yang juga seorang lelaki, dia tidak pernah membantu kami
bekerja. Ini membuat aku merasa bahwa ayahku tidak berlaku adil pada kami, aku pun sering marah dan
                                                 121




ngomel-ngomel disaat aku disuruh untuk memperhatikan dan merawat ternak dengan baik. Perilakuku
yang demikian itu tidak membuat ayah membebaskanku dari tugas. Ia tetap saja menyuruhku untuk
mengurusi hewan ternak itu. Aku yang masih anak-anak itu belum mengerti betul bagaimana aku harus
bersikap terhadap keadaan pada waktu itu.


Kakakku memang tidak tinggal bersama kami, karena dia melanjutkan sekolah ke Sekolah Menengah
Pertama (SMP) di kota kecamatan yang jaraknya cukup jauh itu, yang tidak memungkinkan dia untuk
pulang pergi sehingga ia harus menetap disana (ngekos). Berdasarkan inilah dia tidak dapat membantu
kami bekerja. Karena belum mengertinya aku terhadap pentingnya pendidikan, aku pun tidak menerima
alasan orang tua ku yang selalu mengatakan ini padakaku “kakak mu itu sekolah”, dan aku selalu
menjawabnya “kalau gak sekolah kenapa sih?”. Karena melihat aku yang mulai berani membantah
pembicaraan mereka, Ayah dan ibuku selalu menasehati aku tentang pentingnya pendidikan.


Setelah aku lulus SD ternyata di desa kami telah berdiri SMP yang dipelopori oleh Ayahku sendiri,
sehingga akupun sekolah disitu. Mengapa harus sekolah jauh-jauh kalu di desa sendiri sudah ada, tidak
hanya diringankan oleh biaya sekolah, tetapi juga masih diuntungkan dengan keberadanku yang masih
berada di desa sehingga saya masih bisa membantu mereka mengurusin hewan peliharan dan lain-lain.


Karena orang tua saya melihat bahwa saya telah tumbuh menjadi besar dan memiliki tenaga yang cukup,
maka tugas sayapun ditambah olehnya, dengan ikut serta mengolah kebun. Karena saya sekolah masuk
pukul 12.30 a.m dan pulang pada pukul 16.30 a.m, maka di pagi hari saya pergi kekebun pukul 7.30 a.m
hingga pukul 11.00 a.m dan setelah pulang sekolah saya pun bersama ayah saya mencari rumput untuk
ternak kami. Jadwal pun seakan tersusun rapi yang harus saya kerjakan sesuai dengan waktunya.


Kesempatan aku untuk bermain pun tidak ada kecuali pada hari minggu dan hari libur lainnya, dan dikala
ayahku pergi ke kota untuk urusan-urusan sekolah. Sering kali aku merasakan kesedihan karena melihat
teman-teman yang sedang bermain-main. Namun aku tidak mampu melawan perintah orang tuaku sejak
kejadian diwaktu SD dulu, dan aku juga takut menjadi anak yang durhaka kepada orang tua.


Ketika aku melanjutkan sekolah ke tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Perguruan Tinggi, aku
harus pergi meninggalkan kampung, dan meninggalkan orang tuaku. Kehidupanku menjadi tidak teratur
karena serba kekurangan, biaya orang tua tidak bisa menghandel seluruh kebutuhanku. Karena
keinginanku yang kuat untuk sekolah aku pun harus tetap bisa bertahan dengan keadaan itu.


Berbekal dengan kerja keras, mental baja, dan kemampuan dalam bekerja aku pun bisa mencukupi
kebutuhanku. Meskipun aku harus bekerja menjadi seorang kuli bangunan, pencuci piring dikantin
                                                   122




sekolahanku, hingga menjadi seorang guru praktek computer di sekolahan SMK              yang aku tempati
sekolah dulu. Ini semua aku peroleh dari didikan orang tuaku yang mengajarkanku untuk bekerja keras,
menjadi seorang bermental baja, dan memiliki kemauan untuk bekerja dan akhirnya aku bisa hidup
mandiri meskipun aku masih berusia muda.


Empok Geo
Email : faizinempokgeo@longger.co.cc




Kisah 56


Apa Salahnya sih Jadi Orang Miskin?
Pengalaman Pribadi
Oleh : Ulfah Nurrahmani


Setelah beberapa jam duduk dan terlibat pembicaraan dengan orang-orang yang “bernafsu “ menjadi
orang kaya raya yang punya mobil dan rumah mewah,
Sekali aku ikut acara bisnis begituan, sikapku acuh tak acuh.
Tapi lama-lama muncul sebuah gelitik pemikiran di otakku.
Iya.ya. enak ya jadi orang kaya. Apa-apa tersedia. Uang melimpah. Butuh ini itu selalu terpenuhi. I can get
what I want.
Tetapi selama hidupku yang setua ini (nyaris 23 tahun), hidup yang bisa aku bilang pas-pas-an ala
pegawai negeri, enjoy-enjoy aja dengan segala keterbatasan dan beberapa kekurangan.
Serius.
Siapa bilang? Berkeringat, capek, kelaparan, kepanasan, kehujanan, itu suatu hal menyiksa? Ga juga ah.
Enjoy aja lagi. Ga makan di resto yang pakai table manner juga ga pa-pa.
Kehujanan karena ga punya mantol, jalan kaki jauh karena ga punya motor…it’s a nice memory.
Kenangan yang ga bakal terlupa dari ingatan. Sungguh.
Aku pikir….Allah itu adil.
Orang yang serba kekurangan materi bisa tetap diberi kesempatan agar dilimpahi sebuah kenikmatan
ruhani kok.
Kebahagiaan (yang tidak selalu dilekatkan pada harta tahta dan wanita) diberikanNya kepada siapa saja
tak perduli kaya dan miskin.
Jadi, apa salahnya sih jadi orang miskin?
Toh, Allah kan menilai seseorang bukan dari kaya tidaknya seseorang secara materi. Iya, kan? Allah
                                                   123




menilai dari amalnya kan?


Bahkan orang yang kaya itu nantinya akan mendapat deretan pertanyaan jauh lebih banyak dan njlimet di
akherat nanti.
Dari mana kamu dapat? Bagaimana kamu membelanjakannya?
Kalau orang miskin, kan ga bakal dapat pertanyaan semacam itu? Iya kan?
Siapa bilang, orang miskin ga bias beramal? Dengan kesabaran dan keuletannya menghadapi cobaan
hidup, itu bakal jadi amalnya.
Iya kan?
Nha, kalau aku tarik sebuah benang merah, mengapa kemudian ada kaya dan miskin, itu kan hanya
masalah “peran”. Seperti di papan catur, kita mau mengambil peran apa dalam hidup. Apakah mau jadi
miskin atau jadi orang kaya.
It’s our choice.
Semuanya ada resiko dan konsekuensinya.


Aku jadi teringat dengan kejadian beberapa saat yang lalu. Seorang teman menjadi penanggung jawab
sebuah acara social. Bisa ditebak, seperti halnya acara-acara organisasi lainnya, acara itu defisit sekian
ratus ribu. Sementara itu, kas organisasi sepertinya kosong, kalau pun toh ada, masih banyak program
yang lebih prioritas untuk didanai.
Akhirnya, dia kerja sendiri. Mencoba menutupi deficit dengan dagang kecil-kecilan. Untung sekian puluh
rupiah dikalikan 30 hari dan kira-kira baru dalam jangka waktu 5 bulan kekurangan itu dapat ditutupi.
Hiks. Aku hampir nangis karena kepolosannya, ketulusannya, kesungguhannya. Ya Allah, berapa orang
Islam yang kaya sih di dunia ini hingga untuk sebuah acara yang mengagungkan namaMu harus
kesusahan seperti itu. Atau memang harus seperti itu ya?


Secara kasat mata, kalau melihat temanku itu, konyol banget ya. Mau-maunya nabung rupiah demi rupiah
untuk sebuah kepentingan yang tidak ada kepentingan untuk dirinya sendiri.
Ah, tapi aku yakin ia melakukan itu bukan tanpa alasan. Ya, dia menanam investasi untuk akheratNya.
Tidak melulu pengusaha yang bermodal besar saja yang bisa menanam investasi tetapi orang “setidak
punya” dirinya bisa berinvestasi untuk masa depannya di akherat nanti.


Kalau orang seperti dia mau beramal seperti itu, lalu orang yang lebih mampu daripada dia, kira-kira mau
melakukan hal yang sama gak ya?
Ah, aku juga tak tahu. Toh aku juga belum pernah merasakan jadi orang kaya yang biasa belanja tiap dua
hari sekali di supermarket besar.
                                                   124




Ulfah Nurrahmani
Email : ul_zxcv@yahoo.com




Kisah 57


The Amazing of The Secret
Pengalaman Pribadi
Oleh : Wida Mirawati


Alam semesta bergerak disekelilingmu. Ada yang pernah mendengar the Secret? Buku, film serta konsep
pemikiran tersebut mengajarkan bahwa manusia adalah magnet kehidupan. Segala apa yang kita
inginkan akan terwujud dengan kekuatan pikiran. Bayangkan lalu yakini, maka keinginan itu akan menjadi
nyata. Ini adalah kekuatan pikiran dan kekuatan mimpi.


Dulu semasa kuliah aku begitu akrab dengan istilah you are what you think you are, kau         seperti apa
yang kau pikirkan. Buku-buku motivasi hidup untuk menggapai mimpi dan cita-cita selalu kubaca, tapi
selalu berlalu tanpa aplikasi, hanya sebatas teori. Setelah kurenungi ternyata semua berawal dari satu hal,
mimpi. Lalu mimpi itu disimpan di otak, menjadi pikiran yang tak pernah luput, lalu diaplikasikan dalam
perencanaan, agar lebih nyata segera tuliskan, lalu mulailah wujudkan,       satu per satu. Tentu disertai
dengan kekuatan doa.


Maka kucoba mewujudkan mimpi. Salah satu yang selalu kusyukuri dan menguatkan keyakinanku akan
kekuatan mimpi, pikiran dan doa adalah saat aku ingin mengikuti pelatihan jurnalistik di sebuah media
cetak. Untuk menjadi anggota dilakukan penyaringan yang cukup ketat. Calon peserta wajib menyertakan
hasil tulisan, serta melakukan wawancara. Aku bersaing dengan beberapa teman yang berasal dari
beberapa universitas terkemuka di Bandung. Saat itu aku begitu minder, namun kutetapkan niat agar lolos
menjadi peserta. Walhasil, dengan kekuatan tekad, aku pun lolos menjadi peserta. Dari sana kubuat
rencana, kutuliskan: tiga bulan dari sekarang aku mengikuti pelatihan, lalu tiga bulan berikutnya aku harus
melaksanakan job training di lembaga tersebut , dan masih di lembaga yang sama tiga bulan berikutnya
aku harus bisa bekerja di bagian redaksi sebagai penulis dan reporter.
Ah, ajaib tanpa mantra, cukup yakin, kerja dan doa, ketiga rencana tersebut satu per satu mampu
kuwujudkan.


Keajaiban kekuatan mimpi dan pikiran perlahan begitu terasa. Saat kuliah aku bertekad untuk meraih
                                                     125




beberapa hal, yaitu 1] saat mata kuliah yang berhubungan dengan menulis aku harus menjadi yang
terbaik, 2] saat akan menghadapi praktek pembuatan film aku bertekad bahwa skenario buatankulah yang
akan dijadikan film, 3] aku harus lulus tepat waktu yaitu 4 tahun kuliah, 4] sebelum lulus kuliah aku
harus sudah bekerja, dan 5] usia 22 tahun sesaat sebelum lulus aku harus sudah menikah. Semua itu
kutuliskan dengan perencanaan yang matang diserta waktu kapan akan terjuwud.


Dahsyatnya kekuatan pikiran dan doa, satu per satu perlahan tapi pasti kuraih semua rencana tersebut. Di
setiap mata kuliah penulisan aku begitu diandalkan oleh teman-teman kelas, praktek pembuatan film
mempergunakan skenario yang kutulis sendiri, bulan Agustus 2008 tepat empat tahun kuliah aku diwisuda,
dan di bulan Mei 2008 beberapa bulan sebelum lulus akhirnya aku menikah.     Luar biasa, bukan atas apa
yang kucapai, tapi luar biasa untuk dahsyatnya kekuatan pikiran dan doa.


The Secret memang dahsyat, namun jika diperhatikan, ternyata konsep yang baru popular tahun-tahun
belakangan ini telah ada ratusan tahun lalu, saat Islam hadir di muka bumi. Ingatkah akan sebuah
perkataan bahwa Allah sesuai prasangka hamba-Nya? Jika baik prasangka manusia, maka akan baik
pula hidupnya, bukankah hidup Allah yang mengatur. Maka jangan heran jika banyak orang yang gagal
hidupnya hanya karena prasangkanya yang selalu buruk pada Allah. Berapa banyak orang yang
mengutuki kemiskinan hidupnya tanpa mau bangkit, berusaha dan berdoa? Lalu dia berkubang dalam
kegagalannya, dan akhirnya mati didalamnya. Tapi lihatlah sebaliknya, orang-orang yang sempat terpuruk
namun mampu bangkit karena kuatnya prasangka baik terhadap tuhannya. Coba lihat pula para pesulap,
misalnya dalam program the Master di sebuah televisi, bagaimana seorang Dedy Cobuzer mampu
membengkokan sendok? Selain karena kekuatan pikiran (tentu jika tidak ada magic). Dan beragam
contoh lainnya yang pasti bertebaran di sekeliling kita.


Apa yang telah kucapai adalah hal-hal kecil, namun aku yakin, kekuatan pikiran dan doa mampu
mewujudkan mimpi-mimpi besarku. Karena alam semesta berputar di sekeliling kita, maka berdoa dan
berbuatlah yang terbaik, niscaya seluruh alam semesta akan mendoakan kita.


Wida Mirawati
widamyrawati@yahoo.com




Kisah 58


Fasilitas Kesehatan Menjadi Komoditi Bisnis
                                                       126




Pengalaman Pribadi
Oleh : Karila


Padahal baru dua hari yang lalu aku membuat postingan tentang Kekayaan…
Ternyata sore harinya aku menelan pil pahit, bahwa masyarakat sekarang sangat materialistik…termasuk
di dalam bidang yang menyangkut nyawa seseorang seperti pada fasilitas kesehatan


Aku akan bercerita sekilas tentang apa yang kualami pada tanggal 14 Juli 2009.
Sore hari setelah aku posting tentang Kekayaan itu, aku pulang ke rumah dan ternyata sakit radang
tenggorakan yang diderita anakku belum sembuh, sehingga badannya panas.
Lalu Alex, anakku tersayang terkena step karena panasnya yang tinggi…Di tengah kekalutan, aku, suami
dan pengasuh anakku langsung membawa anakku ke sebuah RS yang dekat dengan lokasi rumah kami,
katakanlah RS X (Benernya aku pengen sih tulis nama RSU-nya biar bisa jadi masukan buat
mereka…Tapi aku ga mau jadi Ibu Prita kedua..Masyarakat kita belum bisa menerima kritik secara terbuka
*sigh*)


Singkat kata, kami sampai di UGD Rumah Sakit itu dengan kondisi anakku yang tertidur setelah
kejangnya…
Bukannya langsung menangani anakku…mereka minta aku untuk daftar dulu (OMG!!! It’s about life and
death and they still care about administration stuff..)
Aku langsung ke front desk untuk daftar (suamiku masih berusaha cari parkir mobil) dan anakku
digendong oleh pengasuhnya.
Di Front desk aku masih harus antri, karena ada keluarga pasien lain yang juga sedang mengisi
formulirnya. Dalam pikiranku, aku agak tenang saat itu, karena kupikir paling tidak anakku sudah ditangani
para tenaga medis…
Betapa kagetnya aku, ketika kembali dari front desk (karena suamiku sudah datang dan menggantikanku
untuk mendaftar)….ANAKKU MASIH TETAP DIGENDONGAN PENGASUHNYA TANPA ADA TINDAKAN
YANG DIAMBIL KECUALI SEBATANG TERMOMETER RAKSA YANG NEMPEL DI KETIAKNYA!!!!


Aku langsung marahi pengasuh anakku..kenapa tidak dibawa ke para tenaga medis…
Dan dia menjawab bahwa tadi dia sudah minta pertolongan dan mengatakan bahwa anakku baru saja
step, tapi salah satu tenaga medis disana berkata
“Iya, Sabar..ini masih antri..Tunggu saja disitu!!!”


Hatiku langsung mencelos…apakah seperti ini memang fasilitas di Rumah Sakit Umum….
Sekitar 1,5 tahun yang lalu, Alex sempat juga step dan kubawa ke salah satu Rumah Sakit
                                                   127




Internasional(sebut saja RS Y), disana pelayanannya jauh lebih baik…Pada saat itu, ketika aku dan
anakku datang, tim dokter langsung sigap mengambil anakku dari gendongan dan diberikan pertolongan
pertama secepatnya..tanpa aku harus mengikuti prosedur yang berbelit…Baru setelah anakku melewati
masa observasinya dan dinyatakan aman, aku dipanggil untuk melakukan pendaftaran, pembayaran, dll.


Jadi betapa kagetnya aku ketika anakku tidak langsung mendapat pelayanan dan observasi, walau hal itu
urgent…
Baru setelah suamiku datang dengan map formulir,dsb..mereka baru mengambilkan tempat tidur untuk
anakku….
Dan ketika baru saja menidurkan anakku di ranjang, Alex mengalami serangan kejang yang kedua…DAN
TETAP MEREKA TENANG-TENANG SAJA…(yach, ini mungkin subyektif, aku akui..karena aku sedang
panik..)


Aku ingat aku sampai harus berteriak “Pak, tolong donk..anak saya kejang lagi..Arrgghh..”
Eee..aku malah ditegur “Ibu jangan gitu..nanti anaknya tambah parah..”
DOENGGG…aku sampe speechless… Lha kalo gitu napa anakku ga langsung ditangani…


Setelah kejang yang kedua itu, anakku diberi masker oksigen..dan suamiku diminta untuk nebus resep di
apotik….
Dan karena ini pengalaman kedua, aku sampe membandingkan dengan pelayanan dan pengobatan yang
aku terima di RS Y..seingatku, dulu anakku langsung dikasi obat anti kejang dan obat penurun panas
lewat dubur…Ketika aku minta hal itu ke mereka…mereka bilang bahwa obatnya akan dimasukkan lewat
infuse anakku


BARU SETELAH SUAMIKU DATANG DENGAN OBAT2AN DAN INFUS, anakku baru dikasi infus… *sigh*
Bayangkan jika keluarga yang tidak mampu dan tidak bisa langsung nebus obat…Bisa-bisa penangannya
terlambat *sigh again*


Dalam hati aku sudah ga sreg aja..aku pengen pindah Rumah Sakit..tapi takut nanti malah riskan dengan
kondisi anakku yang belum stabil….


Tapi aku masih sangat beruntung dibandingkan salah satu pasien yang aku lihat ketika aku ke Lab untuk
tes darah anakku (BTW, ini pertama kalinya aku lihat ada sample darah yang cuman ditaroh di toples kecil
gitu aja tanpa ditutupin…Lha ya..apa steril tho yo???)


Pasien yang aku lihat itu sudah sepuh (tua) dan entah sakit apa…Dia teriak2 kesakitan dengan mulut
                                                  128




membuka dan tangan kejang menghadap ke atas…Saat itu aku pikir, “Lho ini pasien ngapain ditaroh di
depan pintu…” Jadi nenek itu ada diatas ranjang dan terletak di pintu masuk…


Ketika aku sampai di UGD dan cerita ke pengasuh anakku..dia nimpali “O,iya, bu…tadi ada disini..trus
karena teriak..semua orang pada ngeliat trus ahkirnya dikeluarin…” trus pengasuhnya Alex nambahin, tadi
ada salah satu paramedis Tanya ke temannya “Lho..napa orang itu?” dan temannya bilang “Sudah
biarin..itu masih ngurus askes-nya..JPS” Memang kalo dilihat fisiknya, terlihat dari kalangan tidak
mampu…


DUUUGGHH..aku semakin trenyuh….paramedis yang mestinya adalah profesi mulia karena menyangkut
nyawa seseorang…ternyata ada beberapa oknum (aku ga bilang semua seperti itu..dan semoga memang
tidak..) yang menolong orang dengan pilih-pilih berdasarkan status ekonomi pasien itu….


Aku jadi serasa menjilat ludah sendiri tentang postinganku tentang kekayaan…
Ternyata kekayaan itu bisa berdampak juga terhadap nyawa anda…
Ketika anda miskin nyawa anda akan terkesan semakin tidak berharga…
Kalo anda kaya, maka bisa “membeli” fasilitas terbaik yang dapat menyelamatkan nyawa anda…
Reality bites….Reality bites… *sigh*


Aku hanya dapat berdoa dan berharap..semoga masih ada yang mengemban tugas mulia sebagai tenaga
medis dengan integritas tinggi…dengan kebahagiaan utama untuk membantu menyelamatkan
nyawa…Semoga..Semoga.. *sigh*


Dan semoga pemerintah baru yang terbentuk melalui pemilu ini, dapat memastikan bahwa seluruh rakyat
akan dapat menerima fasilitas kesehatan yang terbaik..tak peduli bagaimanapun kondisi
ekonominya…Amien…


Melalui tulisan ini, aku tidak bermaksud menyinggung siapapun…tapi semoga bisa menjadi refleksi bagi
semuanya..bisa menjadi masukan…bisa menjadi cerminan realitas yang ada…


Karila
Email : karilaw@ymail.com
                                                  129




Kisah 59


Lagi-lagi tentang Pekerjaan
Pengalaman Pribadi
Oleh: Ulfah Nurrahmani


Saya pernah menulis tentang pekerjaan di sebuah milis. Ketika itu dipantik oleh seorang teman yang
merasa belum mendapatkan apa-apa setelah dua tahun kuliah. Get nothing padahal setiap hari (kecuali
hari libur) dia datang dan duduk di bangku kuliah, namun tak jua ia merasa mendapat ‘sesuatu’ yang
menurutku berkaitan dengan pasca kuliahnya alias pekerjaan.


Seperti juga sekolah, bekerja juga menjadi suatu keharusan dalam menjalani perjalanan hidup manusia.
Ketika seseorang dikatakan sudah dewasa, ada semacam tuntunan alam yang menyuruhnya untuk
mencari uang demi memenuhi kebutuhannya. Terlebih ketika ia sudah berani menikah, menjadi suami,
menjadi istri, tuntutan untuk bisa hidup dengan kakinya sendiri semakin besar. Ditambah dengan
kehadiran anak, bekerja adalah keharusan. Juga sebuah kelumrahan.


Mau bekerja dimana?
Menjadi pegawai negeri sipil?
Saya jadi ingat teman-teman saya yang kuliah di STAN, STIS, perguruan tinggi milik negara yang ketika
nanti lulus langsung bisa diangkat menjadi pegawai negeri. Save player orang bilang begitu. Enak to.
Kuliah Cuma 3 tahun kemudian pra jabatan dan langsung dapat gaji sebagai pegawai negeri. Cocok bagi
yang ingin segera menikah, karena di zaman kayak gini banyak orang tua yang ingin mendapat menantu
orang yang ‘mapan’. Kerjanya di tempat ber-uang lagi.
Yang sentiment dan ga suka dengan bau-bau pegawai ngeri, kata guru sma saya dahulu, pasti akan
menyerampah dengan pns-pejabat eselon-pegawai structural itu. Pemakan uang rakyat, atau apalah
semacamnya.


Pengalaman bapak saya sendiri, yang bekerja di struktural (pegawai kantoran, bukan guru dan dosen)
sering mbolos sakkepenake dhewe. Tanpa ada rasa bersalah.
La mau gimna? Di kantor sering tidak ada pekerjaan, karena bapak saya tidak suka megang proyek
(upaya menghindar dari praktek KKN, katanya). Ya udah.
Sama juga ketika saya dahulu mencari data untuk penelitian di beberapa departemen. Para pegawainya
datang jam 8 kemudian apel duduk di kantor mbaca Koran. Jam 12 makan siang. Jam 2 pulang. Gaji tetap
setiap bulan.
                                                      130




Menjadi pebisnis?
Sudah sejak dahulu saya kagum dengan sosok pengusaha. Keren, kayaknya. Dan memang
kenyataannya begitu. Beberapa saat yang lalu saya asyik berkecimpung di dalamnya.
Kesan saya Cuma satu. Sulit. Apalagi saya yang tidak punya back ground dagang atau bisnis. Saya pikir,
lebih sulit jadi pengusaha daripada mendaftar jadi dokter atau mahasiswa STAN atau STIS tadi.
Sedikit itung-itungan. pns gajinya berapa to? Selama hampir 25 tahun ibu saya menjadi guru, gajinya naik
sekitar 50 ribu per bulan. Ra cucok dengan kerja kerasnya. 25 tahun jadi pegawai gajinya Cuma 2 jutaan.
Sedang di dunia bisnis? 2 juta bisa diraih dalam hitungan detik, jika sudah capable.
Itu lah bedanya. Yang menjadikan pengusaha itu sulit. Ya karena hadiah yang akan di dapat juga banyak.


Selain itu?
Kebebasan. Jelas ini idaman setiap orang. Bebas melakukan apa-apa, menentukan jalan hidup, bebas
mengatur waktu, bebas berpendapat, tanpa harus takut gajinya berkurang atau turun jabatan. Itulah
kelebihan dari para pengusaha itu. Pebisnis, pedagang atau apalah.


Jadi dokter?
Hem, sedikit bercerita saja. Kebetulan saya orang kedokteran. Jadi sedikit tahu tentang bobrok-bobroknya
kedokteran dan rumah sakit. Luarnya sih kelihatan bagus. Tentang kemanusiaan. Tapi dalamnya juga
banyak terjadi anti kemanusiaan. Cerita ’orang miskin di larang sakit’ ternyata sudah menjadi hal yang
biasa.


Mau tahu? Berapa uang masuk kedokteran? 100juta bukan jumlah yang banyak untuk bisa masuk
kedokteran. Jadi jangan heran jika tarif dokter juga mahal. Bahkan ada seorang dokter yang bercerita
bahwa ketika mau menjadi spesialis, harus sudah memasok uang 200juta. Sebagai jaminan katanya.
Ada juga cerita ketika ayah saya operasi. Ayah saya akan dikeluarkan dari ruang operasi jika ibu saya
sudah membayar kontan uang operasi. Padahal posisi ketika berada di ruang bedah dan bukan di depan
ruang admnistrasi.


Ah, jika ingin mencari jelek-jeleknya pekerjaan, pasti tulisan ini akan berpuluh-puluh halaman. Itulah dunia.
Realita saat ini.


Saya bukan orang yang suka menjelek-jelekkan ini atau itu. Semua ada baik buruknya. toh, pekerjaan itu
Cuma sebuah pilihan hidup. Pekerjaan itu Cuma sebuah kendaraan hidup. Ya sama lah dengan ketika kita
memilih indosat, telkomsel dan yang sejenisnya itu.
Saya pikir, langkah yang harus kita ambil tahu betul profile pekerjan yang akan kita pilih. Agar tidak seperti
membeli kucing dalam karung. Atau berdalih ’yang lainnya juga begitu’.
                                                  131




Selanjutnya, membuat spektrum kebaikan yang paling mungkin dilakukan di tempat pekerjaan. Dengan
apa? Dengan mengagungkan akhlak.


Ulfah Nurrahmani
Email : ul_zxcv@yahoo.com
Blog : healthisbeneficial.multiply.com




Kisah 60


Kubersyukur
Pengalaman Pribadi
Oleh : Dian Rahmawati


Sungguh, hidup seorang mukmin selalu beruntung. Bila diberi nikmat dia brsyukur, bila diberi musibah dia
bersabar (al hadits)


Sesungguh adalah sangat sulit untuk mensyukuri hal-hal yang selama ini kita anggap sesuatu yang biasa
dan sudah semestinya. Tapi pagi ini saat kubuka jendela kamarku dan sinar matahari menerobos celah-
celah jendelaku, tiba-tiba sebuah perasaan aneh merayap memenuhi rongga dadaku.


Tiba-tiba, dan tidak terduga, kubersyukur bisa kembali menatap matahari, sesuatu yang kuanggap
memang sudah senestinya kurasakan tiap pagi…


Kubersyukur, aku masih bangun pagi ini
Kubersyukur menghirup segarnya udara pagi…
Kubersyukur bisa menatap merahnya bunga mawar dan hijaunya dedaunan di halaman
Kubersyukur masih bisa membuka pintu kamarku….
Kubersyukur menemui tenggelamnya matahari…
Kubersyukur menukmati kerlipnya bintang-bintang dilangit menemani kesendirian sang rembulan..
Kubersyukur merasakan hangatnya selimutku…
Kubersyukur merasakan nyamannya empuk kasurku …….
Kubersyukur masih menemukan hal-hal yang kuanggap memang semestinya terjadi………………


Dian Rahmawati
                                                 132




Email : melukiswarna@yahoo.com




Kisah 61


Saya Bangga (hanya) Menjadi Seorang Ibu...
Pengalaman pribadi
Oleh : Dian Rahmawati


Saat malam telah menjelang, dan anak-anak telah lelap dalam tidurnya, saya luangkan waktu sejenak
untuk menyusuri wajah mereka satu persatu. Sering terlintas dalam pikiran, hidup seperti apakah yang
akan mereka pilih kelak? Hemm, pasti masing-masing akan memilih sesuai keinginannya. Sejurus
kemudian, saya berpikir, betapa tidak mudahnya mengantar anak-anak kita menuju kedewasaannya.
Ingatan saya kemudian melayang kepada wajah yang begitu lekat di benak saya. Wajah itu adalah wajah
ibu saya. Seorang ibu dengan lima orang anak dengan jarak rata-rata dua tahun. Bersuamikan seorang
guru, sedang ibu sendiri juga seorang guru SD, tinggal dalam sebuah rumah sederhana di pinggiran kota.
Sejak menjelang subuh, rumah itu telah ramai oleh teriakan ayah membangunkan anak-anak, celotehan,
bahkan pertengkaran-pertengkaran kecil karena berebut kamar mandi yang memang cuma satu. Sepi
yang tertingga,l saat semua berangkat sekolah hingga saat anak-anak kembali dari sekolah, keramaian
kembali datang.Saya ingat, saya pernah bertanya pada ibu, apakah beliau tidak kerepotan mengurus
kami berlima yang masing-masing punya karakter yang khas, juga apakah beliau senang dengan hari-
harinya yang penuh dengan pekerjaan yang tiada henti. Waktu itu, ibu saya cuma tertawa dan
mengatakan kalau pertanyaan saya ngaco. Beliau juga berkata bahwa saya pasti menemukan sendiri
jawabannya kelak.


Ah…beliau benar. Pelan, pertanyaan itu terjawab sudah saat saya pun merasakan      kehidupan seorang
ibu. Betapa hubungan seorang ibu dan anak-anaknya adalah hubungan yang begitu luar biasa. Luar biasa
dalam kualitas, kelekatan, keterikatan juga energi maha dasyat yang terkadang susah diterjemahkan
logika. Betapa seorang ibu mampu menjalani hari-hari melelahkan, menanggung kerepotan mendidik
anak-anak, bahkan ikut berbagi beban dengan suami menopang ekonomi keluarga menjadi sesuatu yang
menyenangkan dan membahagiakan.Perenungan saya bertambah panjang. Saya putar ulang memori
saya mengasuh anak-anak. Mulai dari proses mengandung dan melahirkan, yang meskipun secara
kodrati dititipkan pada wanita, tapi proses itu tetaplah bukan proses yang mudah. Kelelahan fisik,
kelelahan psikis bahkan proses kelahiran yang terkadang menjadi traumatis. Dilanjutkan dengan proses
                                                    133




merawat, membesarkan anak-anak, adalah tugas yang sangat rumit dan tidaik bisa dianggap sepele.
Belum lagi pekerjaan mendidik anak-anak dan mengantarkannnya ke jenjang kedewasaan. Saya sering
bilang kepada teman-teman saya, mendidik anak tidak cukup dengan bekal pendidikan sarjana S1, S2,
atau S3, bahkan kalau masih ada, S4, S5, S6 pun tiadalah akan cukup. Segala sesuatu musti kita berikan
pada anak-anak kita, sehingga mereka sanggup mengelola dunia yang mereka hadapi. Sedangkan dunia
ini begitu kompleks, dan terus berubah. Sehingga untuk menjadi seorang ibu, harus memiliki kecerdasan
intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan social dan yang paling penting kecerdasan spiritual.


Kembali pada pertanyaan saya pada ibu, juga pada diri saya pribadi dan juga wanita yang memilih
profesi utama mereka sebagai ibu, apakah bisa berbahagia dengan tugas yang begitu berat ini? Dengan
tegas dan selantang-lantangnya saya katakan, Bisa! Saya selalu merasa takjub saat menemukan anak-
anak saya menguasai sebuah ketrampilan baru. meskipun kadang-kadang emosi marah muncul atas
perilaku mereka yang tidak saya harapkan, tapi, pasti tidak lama berselang, saya bisa mentertawakan
perilaku marah saya. Jujur, kadang perilaku saya lebih kanak-kanak daripada anak-anak saya. Saya pun
akan merasa sangat puas dan bermakna saat saya mampu menanamkan kebaikan dalam diri anak-anak
saya dan mereka konsisten memegangnya.


Ya…seorang ibu akan selalu bisa berbahagia, kapan pun, di manapaun, bagaimanapun situasi yang hadir
karena dia mempunyai energi yang luar biasa. Energi yang         lahir dari rasa cinta yang berlimpah dan
kesabaran yang tiada batas, yang pada akhirnya melahirkan anak-anak yang penuh rasa cinta dan
berbahagia………..


Dian Rahmawati
Email : melukiswarna@yahoo.com




Kisah 62


Orang Dekat
Pengalaman Pribadi
Oleh : Yak


Dia temen ane. Cewek, ramah, kocak, berani, jago ngomong, asik dijadiin temen deh pokoknya.
Ane satu ekskul pas SMP, di PMR, taun 2006 dulu. Kita sama-sama aktif, sama-sama jadi pengurus
organisasi di angkatan 18, waktu itu. Dia jadi wakil ketua, ane jadi bendahara 2.
                                                   134




Kira-kira seminggu sebelum turun jabatan, dia minta uang kas ke ane untuk beli perlengkapan UKS
sebagai penginggalan buat angkatan 19. Ane kasih sejumlah uang buat beli ntu perlengkapan. Lumayan
tuh jumlahnya, hasil tabungan uang kas berbulan-bulan. Dia en temen ane yang beli, ane ga bisa ikut,
harus ngebuat LPJ Bendahara buat acara Sertijab.


Pas besoknya di sekolah, ane minta laporan belanja, bukti, sama uang kembaliannya. Semua dia kasih
kecuali uang kembalinya. Dia bilang, uangnya ketinggalan di rumah. Ane percaya, dia temen deket ane,
emang agak pelupa orangnya.


Hari besoknya, sampai hari pertanggungjawaban tiba, dia belum juga ngasih uang kembaliannya.
Sementara ane talangin dulu uang kasnya untuk diserahin ke angkatan 19. Ga banyak temen lain yang
tau masalah ini. Ane turun jabatan, angkatan 18 lengser.


Waktu berlalu, ane en kawan-kawan seangkatan mulai sibuk buat persiapan UN. Ane agak jarang ketemu
temen ane ntu, dia juga kayaknya ngehindar dari ane. Tiap ane tagih "utangnya", dia selalu jawab, "Wah,
gw lupa. Duitnya ketinggalan di rumah gw, besok aja deh ya!!"
Lama-lama ane capek juga kan nagihnya, bete. Ane curiga uangnya kepake (atau dipeke?) sama dia.
Sabar aja ane sih mikirnya, ane tau juga dia agak susah kalo masalah ekonomi begini.


Gak jarang kita papasan pas di sekolah, dia pura-pura ga ngeliat ane, pura-pura sibuk ngobrol sama
temennya. Suwer!! Ga enak banget rasanya, ane pikir dia orangnya jujur, bertanggungjawablah
seenggaknya. Ane udah percaya sama dia. Enyak-babeh ane juga udah kenal sama dia gara-gara dia
sering maen ke rumah. Sekarang dia udah ga berani maen ke rumah ane lagi.


Mana ilmu organisasi yang kemaren?
Mana pertanggungjawabannya?
Mana nilai kepercayaan antartemannya?? Dianya juga kayak ga ada perasaan bersalah gitu, ga minta
maaf, atau jujurlah minimal. Bilang kalo uangnya ialng, atau kepake. Kalo ngomongnya baek-baek kan
enak. Ga ada salah paham. Ane ngerasa dikhianati, diboongin. Biar begitu, ane tetep nganggep dia temen,
temen jauh, tingkat kepercayaan ane udah turun banget ke dianya.


Beberapa minggu lalu, ane ketemu dia di Mall. Basa-basi doang nih, ane tanya, "Sekolah dimana lw
sekarang?"
Dia jawab," Gw mah udah kagak sekolah lagi.."
Dia langsung pergi, mungkin dia udah kerja sekarang..
                                                  135




Ane mikir, mungkin dia ga ada biaya buat sekolah lagi. Alasan yang sama kayak kasus "uang kas" dulu.
Ane jadi inget masalah itu lagi. Kenapa dia ga jujur aja sih? Orang yang selama ini ane anggep "orang
dekat" ternyata ga ngehargain ane. Mahal banget harga kepercayaan itu, tapi pahit yang ane rasa.


Sekarang kalo adek/abang ane yang ikut organisasi juga punya urusan "pinjem-meminjen-uang" sama
temennya, enyak ane langsung waspada. Takut kasus ane keulang lagi.


Yah, tentu ga semua orang kayak gitu. Tapi ga rugi juga kalo kita lebih waspada. Daripada nyesel
belakangan kan?? Rasanya sungguh ga enak..


Yak
Blog : http://yakurai.blogsome.com
Facebook : Umiru unyiru




Kisah 63


Cuci Perut sambil Cuci Mata
Pengalaman Pribadi
Oleh : Dafriansyah Putra


Sebetulnya aku males banget nginget-nginget hal ini lagi. Kadang kalo keinget ini mukaku langsung
merah bahkan spontan langsung ketawa sendiri. Pernah waktu itu lagi di angkot nggak sengajak terlintas
sejenak di benakku. Dan kemudian secara refleks, gelak tawa keluar dari bibirku. Mana waktu itu suasa
mobil hening. Semua penumpang angkotpun menengok ke arahku, sungguh waktu itu aku malu. Mungkin
pikirnya ini orang agak kena sarafnya kali ya. Ya itulah kebiasaanku, kalo keinget aja pengalaman-
pengalaman dulu yang lucu pasti ketawa sendiri, yang bikin malunya lagi kalo ketawa apalagi ngekek
pasti senyawa kimia gas H2S alias entut langsung merobek menembus mencemarkan udara di sekitar.


Sebelum aku berbagi kisah. Mohon banget ya untuk yang baca jangan ditiru ( don`t try this at home tapi
kalo di tempat umum nggak apa-apa dikit hehehe….). Kejadian ini terjadi kira-kira 6 tahun yang lalu
tepatnya waktu itu aku masih kelas 1 SMP. Aku sangat bahagia sekali soalnya diterima di SMP 1 yang
mana itu merupakan sekolah favorit di daerah tempat tinggalku. Nggak sembarang orang bisa masuk
                                                  136




sana. Hari hari MOS kulewati dengan sedikit ngejengkelin. Tapi semua kulewati dengan kebahagiaan.
Maklumlah sebagai anak baru yang masih lugu-lugunya aku sering kena. Mana badanku yang gede
ditambah pipi tembem yang dulu imut-imut ( sekarang amit-amit kata orang yang sirik ama kembaran
Justine Timberlake ) membuat ku sering kebagian tugas angkat-angkat.


Berakhirlah sudah masa MOS kini mulailah proses belajar dimulai. Dengan celana biru aku merasa
sangat bangga dan selalu mimpiku untuk menjadi yang terbaik. Seminggu lewat sudah aku mengenal
guru-guru dan mulai mencicipi rumus-rumus aneh yang tak ku kenal di SD dulu. Aku masih ingat waktu itu
hari selasa siang sedang belajar bahasa Inggris. Tiba-tiba saja perutku yang baru saja diisi semangkuk
ketupat yang kumakan waktu istirahat keluar main mengamuk. Melilit- lilit, seakan merobek tiap denyut
jantungku. Begitu mulasnya perutku, anu pun serasa ingin keluar. Tanpa piker panjang lagi kuputuskan
mengeluarkan anuku ( huh payah betul ngomongnya, anu = eek, eek=tai, tai=feses, feses=kotoran, Maaf
ya ) dengan segera kuminta permisi pada sang guru. Aku pun berlari sekencang- kencangnya seperti
orang dikejar anjing menuju ke kamar mandi .


Sesampainya kamar mandi kumerasakan kenikmatan yang luar biasa, sedikit demi sedikit itu pun keluar.
Tapi sejenak kenikmatan itu seakan terhenti. Setelah ku mendengar suara wanita.yang sedang bercakap-
cakap. Perasaanku mulai tak enak, jantungkupun makin berdetak kencang, keringat dingin yang tadinya
keluar karena mulas kini makin bercucuran deras. Akupun mulai berprasangka mungkin aku salah kamar
mandi. Aku pun heran padahal sebelumnya aku belum tahu di mana kamar mandinya. Dugaanku pun
mulai makin kuat setelah tak lama kemudian ku kembali mendengar suara wanita. Akupun langsung
membersihkan diri dengan air ( cebok gitu Maaf ya ).


Aku pun ingin keluar tapi nanti kalo ketahuan kan malu, bingung caranya ya ku putuskan saja mengintip
sedikit demi sedikit. Sayangnya waktu itu aku masih polos ( kalo sekarang mah, ku jadikan itu
kesempatan dalam kesempitan hehehe….). suasanapun kurasa sudah aman aku pun mencoba untuk
keluar. Baru 3 langkah ternyata seorang wanita keluar dengan xxxxxx disensor xxxxxx dan dia pun
spontan teriak. Hal ini membuat seisi kamar mandi itu pun keluar. Ada yang lagi xxxx, ada yang nggak
pake xxxx . Aku pun sungguh malu dan langsung ambil langkah seribu kabuurrrrrrr…… akhirnya aku
minta maaf kepada mereka dan menceritakan kesalah pahaman ini. Untung mereka mau memaafkanku.
Pesan ku cuma satu kesalahan terjadi bukan karena niat pelakunya tapi karena takdirnya memang begitu.
Hehehehe……..


Dafriansyah Putra
Email : dafriansyah.p@plasa.com
Blog : putra_lintau@blogspot.com
                                                   137




Kisah 64


Iseng, Gak lagi deh
Pengalaman Pribadi
Oleh : Laela Awalia


Deuu... bentar lagi taon baru ya! Udah nyiapin target apa aja neh? Hehe.. aku jadi inget sama kebiasaan
singkat aku pada jaman dahulu kala. Setiap akhir tahun, aku bakal nulisin target untuk tahun yang baru.
Targetnya segepok, bo! Padahal setelah dievaluasi di akhir tahunnya, uh... palingan satu-dua biji aja yang
terlaksana, hehe...


Aku paling inget waktu SMA doeloe. Aku pernah buat target untuk gak pacaran (soalnya dulu tuh aku n
the gank lagi koar-koar anti pacaran). Jadi, walaupun gak bakal ada yang nembak aku jadi pacar, tetep
aja aku tulis tuh target.


Tapi, ternyata oh ternyata, pada tahun yang baru dimulai itu, aku deket sama seseorang. Persisnya sih
tetangga jauh banget gua (ya ampun... tetangga oh tetangga!). aku sih tadinya biasa aja kalo ketemu dia,
tapi lama-lama kok si doi mulai menampakkan niatnya -PDKT- gitu. Mulai kirim surat ke aku (waktu itu aku
belum punya hape kayaknya). Ow..ow.. surat cintaku yang pertama! :-)


Guess what? Aku dapet tembakan cinta dari cowok?! Wow... peningkatan neh! (haha... karna selama SMA
belum pernah ada yang nembak). Sebenernya aku gak terlalu respect sama tuh cowok, gak terlalu
meluluhkan hatiku (halah!) tapi gak tau kenapa, aku ladenin aja tuh surat cinta. Aku bales terus sampe
akhirnya aku dan dia ketemuan di suatu tempat. Trus, jadian deh! Ya ampun... gak gue banget dah jadian
sama cowok! Tau gak kenapa aku nekat nerima doi? Sstt! Jangan bilang-bilang ya, waktu itu aku Cuma
iseng aja. Sumpe aku iseng banget.


Yah, menurutku sih bisa dimaklumi. Aku kan masih cewek SMA yang masih seger dan pengen hepi-hepi
karna dimanjain sama seseorang (weekk...). jadi apa-apa gak dipikir mateng-mateng dulu (duh... maap
banget ya, Mas ***).


Perjalanan cinta (duilee...) antara aku dan dia menurutku biasa aja. Palingan kalo ketemu, saling senyum
                                                    138




penuh arti (haha...). kalo kata orang cinta itu bikin hati dag-dig-dug pas dua insan saling bertemu, aku gak
ngerasain itu tuh! Seinget aku Cuma sekali aja pas kebetulan ketemu tanpa ada orang lain yang berdiri
disamping aku. Ah, pokoknya aku gak pernah ngasih sesuatu yang spesial buat dia.


Tapi, beda banget sama si doi. Dia sih, wuih... sayang banget, bo, sama aku. Perhatiannya ampun-
ampunan deh! Sebenernya aku mulai luluh juga diperlakukan bak putri raja sama dia. Apa-apa dibaikin,
lagi bete, diajak jalan. Lagi laper, diajak makan (dari telpon suruh makan sendiri di rumah masing-masing,
hehe...).


Tapi, tetep aja lama-lama aku gak bisa bertahan karna memang pada dasarnya aku gak terlalu fall in love
with him (aku kan cuma iseng...). Jadilah, pada akhirnya aku tobat dan berencana mutusin hubungan
yang gak bener ini. Aku sengaja ketemuan sama dia di suatu tempat dan bicara baik-baik gitu deh. Eh,
dianya tampak shock! Waduh...


Singkat cerita nih, aku bebas lagi setelah sekitar beberapa bulan jadi AKG-nya dia (akhirnya...). Tapi
ternyata beda sama dia. Aku yang udah ngerasa gak punya perasaan lebih ke dia, masih aja sering
diperlakukan sebagai ‘adik’ sama dia. Yah, walaupun aku dan dia tetep menganggap saudara walaupun
gak lagi ada ikatan. Tapi tetep aja dia ngaku masih sayang banget sama aku, sampe sekarang! Buset dah,
aku pake pelet apa yak? (ih... amit-amit).


Pada intinya sih, aku baru bener-bener ngecun kalo aku gak boleh mainin perasaan orang lain. Iseng sih
boleh aja, tapi kan harus pada tempatnya. Iseng nerima cowok tapi hati terpaut sama yang lain, bisa
berabe! Apalagi udah menyangkut masalah cinta. Cinta itu buta, kata temenku. Semua bisa dilindes asal
dapetin cinta yang diimpikan. Ya kan, teman-teman?


Masih untung waktu itu aku Cuma dijadikan AKG (Ade Ketemu Gede), lha kalo jadi istri? (wacks? Mampus
gue!). tapi aku tetep wonder sama tuh cowok, bahkan setelah akhirnya dia punya istri dan anak, dia
sempet-sempetnya sms aku,

“Kalo kamu jadi istri ke dua ku, mau gak?”



Waaaa..!! ampun deh, gak iseng lagi!


Natar, 29 Desember 2008


Laela Awalia
                                                  139




Email : azkia_04@yahoo.com
Blog : http://azkia-04.blogspot.com/2008/12/iseng-gak-lagi-deh.html




Kisah 65


Diperhatikan Orang?
Pengalaman Pribadi
Laela Awalia


Pernahkah kalian diperhatikan oleh seseorang dalam waktu yang lama? Seberapa lamakah? Satu tahun?
Dua tahun? Atau sampai lima tahunan? Kalau kalian belum pernah, aku pernah!


Cerita ini bermula di suatu tempat mangkal kendaraan umum. Ada bus, mikrolet sampai motor ojek. Sore
itu aku sepulang dari kampus. Seperti biasa, bus yang kutumpangi masih ‘ngetem’ menunggu penumpang.
Aku yang sedang asik ber-sms dengan seorang teman, dikejutkan dengan sapaan seseorang yang
tampaknya akan duduk di sampingku. Kebetulan, bangku di sampingku memang masih kosong. Maka,
kupersilakan orang itu untuk mendudukinya. Singkat cerita, saat bus mulai berangkat, kami saling
bertegur sapa.


Awalnya, ia yang menyapaku terlebih dahulu. Tapi, justru itulah yang membuatku sedikit heran. Kalau
biasanya orang bertanya ‘pulang kemana?’ maka, laki-laki yang duduk di sampingku itu bertanya,



“Kuliah dimana?”



Meski sedikit heran, tapi aku tetap menjawabnya. Lalu, pertanyaan-pertanyaan berikutnya malah
membuatku semakin heran. Pasalnya, ia terkesan bukan bertanya, melainkan memastikan.



“Rumahmu di Sinar Laut ya?”



“Dulu, sekolahnya di SMA Natar ya?”
                                                   140




“Masih suka sendiri kalo nunggu bus?”



Aku, dengan wajah sedikit bengong hanya bisa mennganggukkan kepala. Dalam hati, aku terus bertanya-
tanya tentang siapakah sebenarnya orang ini. Tetangga yang tak kukenal kah? Atau kakak tingkat waktu
SMA? Atau kah teman orang tuaku yang pernah datang tapi aku lupa? Saat akhirnya aku beranikan
bertanya, dia hanya tersenyum dan menjawab,



“Saya sering merhatikan orang, termasuk kamu. Dulu, kamu masih SMA, sekarang udah kuliah, tho?”



Wacks?! Tak berbohong kah dia? Dari SMA memperhatikan aku? Dan kini, aku duduk di semester
sepuluh! Berapa tahunkah itu?


Ooo


Terkadang, memang seperti itu. Disadari atau nggak, kita sering jadi perhatian banyak orang. Entah itu
karena fisik, penampilan, gaya bicara atau prilaku kita. Makanya, kita tuh mesti jaga sikap dan penampilan.
Minimal dua itu. Dari penampilan yang kita perlihatkan, orang lain akan bisa tahu kita tuh tipe orang yang
bagaimana. Walaupun, kita nggak boleh memvonis sifat orang hanya dari penampilan. Tapi, setidaknya
kalau misalnya penampilan kita oke, matching, rapi, harum, siapapun orangnya pasti akan suka. Gitu juga
sebaliknya. Kalau penampilan kita berantakan, kotor, bau, gak rapi, wah! Jangan harap deh ada yang mau
deketin.


Nah, kalau dari sikap juga gitu. Kalau penampilan sudah oke, tapi sikap seperti Miss. Devil dalam film
Dalmation, kan jadi gimana gitu. Tetep aja kan, orang lain jadi ilfil untuk berteman dengan kita. Yah,
walaupun lagi, kita gak boleh langsung menjustis orang lain lewat sikapnya.


Mungkin saja, awalnya memang kurang menyenangkan karena kita belum mengenalnya. Ada kan tipe
orang yang seperti itu? Ketika belum kenal, terkesan pendiam, angkuh, sombong, pokoknya yang jelek-
jelek deh di mata kita. Giliran dah kenal baik, wuih... menyenangkan!


Ooo



“Wah, udah mau sampai ya? Mau minta no. Telpon dah telat dong.” Aku cuma senyum saja menanggapi
                                                   141




kalimatnya ketika bus yang kutumpangi berhenti di ujung jalan menuju rumahku.



“Lain kali, kalau ketemu lagi.” dan aku dapat teman teman baru lagi sekarang...



Laela Awalia
Email : azkia_04@yahoo.com
Blog : http://azkia-04.blogspot.com/2008/12/iseng-gak-lagi-deh.html




Kisah 66


Perjalanan Pemburu
Pengalaman Pribadi
Oleh : Johan Bhimo Sukoco


Kuberanikan diri menghampiri gerumunan Bapak-Bapak yang masih masyuk di warung tenda itu. Ada tiga
orang di sana. Kesemuanya meyambutku dengan pandangan yang kuyakin siap untuk memberondong
pertanyaan.

“Maaf, pak. Rumah Pak RT disini di mana?”

Bapak bertubuh kurus pun balik bertanya. Keperluan apa, dari mana, dan beberapa rumusan 5W 1H
lainnya. Dua orang lagi juga siap mengomentari bak polisi menginterogasi maling saja. Kutata nafasku
baik-baik. Kujaga emosiku agar tidak meledak. Penjelasan demi penjelasan kulontarkan dengan hati-hati.
Bibirku bergetar menahan dinginnya malam. Dari siang tadi aku belum makan, tapi nafsu makanku telah
menghilang meski di depanku tersaji gorengan hangat di warung ini. Si kurus mengurungkan niatnya
mengantarkanku karena hujan masih deras. Entah berapa lama lagi aku tersiksa dengan dinginnya
malam ini.
Setelah sekali lagi kupinta, akhirnya Bapak itu mengantarku juga. Tidak berapa jauh dari pemberhentian
tadi, sampailah kami di rumah Pak RT. Pintu diketuk beberapa kali.
Aku disambut baik oleh Tuan rumah. Bapak bertubuh tinggi besar itu mempersilahkanku duduk tanpa
menghiraukan kondisiku yang basah-kuyup.
Kata tanya pun juga mengawali pembicaraan kami.

“Adik dari mana?”.......
                                                  142




Sejenak aku teringat perjalananku dari Solo tadi. Berhenti dari emperan toko satu ke emperan yang lain.
Hujan seakan-akan mempermainkanku. Saat hujan mulai reda dan perjalanan tinggal setengah jalan, di
depanku tertera jelas beberapa kalimat yang intinya: Banjir. Jalan dialihkan. Duh Gusti Allah, cobaan apa
lagi ini?

“Mau kemana?,” tanya seorang polisi yang mengatur macetnya arus jalan.


“Sragen.”


“Lewat Kerjo!”

Motor kualihkan ke arah yang dimaksud Bapak polisi ini. Semakin ke selatan, semakin gelap saja. Kucoba
mengendarai motor dengan felling untuk menentukan arah. Semakin jauh dan gelap. Hujan pun bukannya
bertambah reda malahan dengan santainya menyapaku lagi. Logikaku berjalan cepat. Kalau kuteruskan
melewati jalanan ini, tentu akan memakan jarak yang teramat jauh tentunya. Apalagi sudah malam dan
jalanan licin. Kesemuanya itu menjadi pertimbangan sendiri bagiku untuk mengurungkan perjalanan ini.
Kubelokkan motor untuk mencari penginapan di rumah penduduk. Sepi. Mungkin mereka memilih tidur
dan menutup pintu rapat-rapat saat hujan berkepanjangan seperti ini. Kuteruskan pencarianku dan
mentok ke: Kuburan. Disitu nisan-nisan berjajar rapi (seperti layaknya kuburan lain). Aku masih ingin
hidup, Tuhan!


Kubalikkan arah, dan kembali ke jalur sebelumnya. Lurus, lurus,dan...dubrag...!!! motorku terjatuh karena
selip di lubang jalan yang cukup lebar. Tubuhku tertimpa motor. Mataku memang agak kabur di malam
hari dan kurang fokus. Aku jatuh, dan aku berdiri sendiri. Kutahan ngilunya tubuh ini. Dengan hati-hati
kuteruskan perjalanan, dan di warung tenda itulah aku berhenti.


.......“Adik dari mana?”
Kujawab pertanyaan Pak RT itu. Kujelaskan maksud kedatanganku disini dengan ragu. Agh, mana ada
orang baik di jaman komputer seperti sekarang ini?, pikirku sesaat setelah mengutarakan permintaanku
untuk menginap semalam. Bapak itu memanggil isterinya yang tengah hamil. Kebetulan Si isteri berasal
dari Sragen dan bekerja pula di kota yang sama. Pertanyaan demi pertanyaan pun mencuat. Kuserahkan
KTP-ku sesuai permintaan Pak RT. Beliau mempersilahkanku masuk setelah menyuruh memasukkan
motorku di dapurnya. Asumsiku bahwa tidak ada orang kaya yang baik di jaman modern ini pun
membuyar.


Sebuah kamar yang cukup besar di peruntukkan bagiku. Kasur empuk ala spring bed dipersiapkan Si Ibu.
                                                  143




Rasa-rasanya kamar ini terlalu bagus untuk seukuran tamu tak dikenal sepertiku. Belum cukup kebaikan
itu berhenti, Ibu ini membuatkan segelas susu hangat untukku. Sementara Bapak mengimbuhkan roti
kering sekedar pengganjal perutku, setelah kutolak halus penawarannya makan malam.
Di depan TV, obrolan-obrolan ringan mulai terbangun. Aku menceritakan perjalanan panjangku tadi.
Bapak menimpali dengan pertanyaan mengenai latar belakang keluargaku, sementara Ibu nampaknya
telah mengenal orang-orang yang kuceritakan padanya. Di rumah yang cukup besar itu, tinggal Bapak,
Ibu, dan anak kecil yang kurasa masih balita. Menurut Bapak, seorang anaknya lagi tinggal bersama
eyangnya di Sragen, kota yang sama dimana tempatku tinggal.

“Masih kelas enam SD,” ucap Bapak tersenyum.

Perbincangan kami layaknya pengganti setiap iklan yang menyela sinetron tontonan keseharian mereka
itu. Saat mereka khusyuk menonton adegan demi adegan di layar, aku tak berani mengganggu mereka.
Tapi setelah iklan mulai muncul, obrolan pun kembali menghangat.
Semakin malam, aku minta ijin untuk masuk ke kamar. Kurebahkan tubuhku di kasur empuk itu. Mataku
memang tak kunjung tertidur. Di sela-sela mengistirahatkan pikiran, kudengar suara halus dari ruang
keluarga tadi,

“Itu teman Ibu ,jangan di ganggu!,” ucap Si Ibu ketika anaknya bertanya siapa aku.

Ehm...ternyata masih ada orang baik untukku.
Detik terus berjalan, berganti menit, berubah pula jarum jam. Akhirnya aku tertidur juga. Pukul 22:08:54,
aku terbangun saat ponselku bergetar dua kali menandakan sebuah pesan masuk.
Dear Allah..
Please take care someone who read this message,
always happy in her life,
spirit in her soul n peace in her heart.
Not only today,but 4ever..
Amiin..
Hatiku gerimis membaca pesan dari seorang sahabat ini.Doamu datang di saat yang tepat,kawan!


Usai subuh, aku bersiap-siap untuk berkemas. Semakin lama aku disini, tentu akan merepotkan pemilik
rumah. Apalagi kutahu jam tujuh nanti Sang Bapak harus mengantar isterinya berkerja di Sragen.
Sebenarnya mereka menyarankanku untuk menunggu agak siangan dulu atau pulang bersama mereka
saja. Tapi aku harus tahu diri, siapa aku. Aku hanyalah seorang tamu tak dikenal yang numpang di rumah
mereka. Sudah cukup kebaikan itu bagiku. Tak lupa kuucapkan dua kata penting dari dalam hati: Terima
Kasih. Aku pamit pada Ibu dan Bapak.
Terima kasih,Tuhan yang akan membalas kebaikan kalian....
                                                    144




A lonely road, crossed another cold state line
Miles away from those I love purpose hard to find
While I recall all the words you spoke to me
Can’t help but wish that I was there
Back where I’d love to be, oh yeah…(Dear God-Avenged Sevenfold)


(In Memory: Desa Nangsri; 30/01/2009; Bapak Giyanto; Ibu Sukini; dan perjalananku yang indah)


Johan Bhimo Sukoco
Email : johanbhimo@yahoo.co.id
Blog : porospemburu.blogspot.com
Phone: 085642317178.



Kisah 67


Obat itu Bernama Kasih Sayang
Pengalaman Pribadi
Oleh : Johan Bhimo Sukoco


Minggu sore itu kusengajakan diri menjelajahi Kota Solo. Niatan mencari kado yang tepat untuk Ibu,
kurasa perlu untuk segera direalisasikan. Kuputuskan untuk membeli kerudung. Sebenarnya, ada
keinginan memberinya blender. Aku tahu benar, blender di rumah rusak dan Ibu sering mengeluhkannya.
Apalagi beberapa gigi depan wanita ini sudah mulai patah dan tak kuat lagi mengunyah makanan yang
terlalu keras. Tapi apa daya, uang tabunganku tak mencukupinya. Apalagi statusku sebagai anak kost,
tentu harus pandai menekan budget.


Hunting kuawali dari rumah kerudung terdekat di belakang kampus. Tutup. Kutinggalkan toko itu dan
kuarahkan motorku tak menentu. Aku tak begitu tahu-menahu pertokoan kerudung di Kota kecil ini.
Logisnya, karena aku lelaki. Kupacu saja motorku sesuai felling. Melewati jalanan kecil hingga kampung
Kalitan. Sialnya, tiba-tiba hujan menghujamku tanpa kompromi. Kupepetkan motor ke sebuah emperan
toko. Berteduh di bawahnya. Tak lama berselang, Adzan Ashar memanggilku kuat-kuat. Kusempatkan diri
sembahyang sejenak di masjid komplek keluarga Soeharto itu, seraya menunggu hujan reda.


Hujan mulai reda, dan kuputuskan untuk mengambil kendali ke arah Jalan Slamet Riyadi. Asumsiku disitu
                                                  145




banyak pertokoan besar. Terus, terus, dan terus melaju hingga mentok ke Pusat Grosir Solo atau lebih di
kenal PGS. Hatiku menuntun untuk masuk. Aku pun masuk. Di sana memang banyak beraneka busana,
termasuk kerudung yang kucari.


Bermulai dari lantai dasar kelantai berikutnya. Hingga akhirnya mataku tertuju pada kerudung dengan tipe
panjang. Ibu pasti anggun jika memakainya. Agak bimbang juga apakah akan ku pilih motif batik itu atau
tidak. Pasalnya, koleksi kerudung beliau di rumah cukup banyak. Takutnya sama motif dengan yang
kuberikan nanti. Kutekadkan hati untuk memilih motif itu, setelah berdialog kecil dengan penjualnya yang
ramah. Agaknya dia tahu keterbatasanku sebagai lelaki. Setelah tawar-menawar dengan empu penjual,
akhirnya sampai pada titik kesepakatan. Dengan senyum kepuasan, aku pulang. Mendung masih
menggelanyut Kota ini, tapi untung hujan tak lagi deras menyapaku. Rintihannya masih tersisa walau
sebatas gerimis.


Di kamar kost. Kukemas kerudung batik itu dengan kertas kado yang sempat kubeli. Dengan kemasan
seadanya, bahkan lebih mirip bungkus permen yang hanya di putar asal di kedua ujungnya. Pantas saja,
aku tak biasa melakukannya. Kado telah siap. Selasa nanti Ibu ulang tahun. Tak mungkin aku bisa
memberikan kado ini langsung padanya. Jadwal kuliahku mulai senin nanti amat sangat padat.
Terlambat dua hari aku memberikannya pada Ibu. Agak kecewa juga. Tapi tak mengapa, karena di malam
harinya telah sempat kuucapkan selamat ulang tahun padanya di balik ponsel. Gerimisnya malam di kost
terasa menusuk igaku saat Ibu menerima teleponku di Apotik. Aku tahu dimana posisinya sesaat setelah
berucap salam. Perempuan ini menderita hipertensi . Tekanan darahnya labil. Ah, semoga masih tersisa
waktu untuk memberikan kado ini padamu, Mom.


Mundurlah wahai waktu
Ada selamat ulang tahun
Yang tertahan tuk kuucapkan
Yang harusnya tiba tepat waktunya
Dan rasa cinta yang s’lalu membara
Untuk dia yang terjaga menantiku


(Selamat ulang tahun-Dewi Lestari)


Kamis sore aku pulang ke rumahku di Sragen. Rumah yang besar, tapi tersimpan kesunyian di dalamnya.
Hanya ada Ibu dan Bapak. Itu pun kalau bapak tidak kerja lembur di kantor. Kakak sulungku telah
merantau di pulau penjara. Kasihan juga melihat Ibu yang selalu berkawan sepi. Aku benar-benar
merindukan tempat ini.
                                                    146




Kulihat dari depan pintu Ibu tersenyum hangat menyambutku.
Pelukan dan ciumannya sekonyong-konyong menyambut kedatanganku. Seakan-akan tak bertemu Sang
anak setahun lamanya. Padahal baru dua minggu aku diperantauan. Jarak Sragen-Solo yang hanya satu
jam sedikit banyak memang memisahkan kerinduanku dengan rumah. Kadang seminggu...kadang dua
minggu...atau paling lama tiga minggu, aku baru sempat bergumul dengan keluarga kecil ini.

“Wah..ini obat bagi Mama, Nak,” sorak beliau terkejut saat kuserahkan kado bersampul tak beraturan itu.

Ibu tak sanggup berkata-kata lagi. Kulihat jelas ada setitik haru di matanya.
Sebuah kado yang penuh dedikasi untuk seorang Ibu. Kau tahu apa isinya? Tiga elemen dasar yang
menjadikannya ada. Sehelai kerudung, secarik kertas ucapan, dan dibalut kertas kado. Ditambah dua
elemen pendukung berupa kasih sayang dan ketulusan hati.
Untuk pertama kalinya aku memberikan kado pada Ibu. Pantas saja jika Beliau terharu.


Seminggu setelah kejadian itu. Sepulang dari periksa rutin dokter, Ibu tersenyum manis padaku seraya
berkata, ”Tekanan darah Mama mulai mendekati stabil, nak. Terima kasih, ya!”. Beliau menambahkan
bahwasanya ini semua berkat kado kejutan yang aku berikan.
Aku membalasnya dengan puji syukur. Harga Kado kecil yang tak seberapa itu ternyata mampu membuat
perubahan besar pada kesehatan Ibu. Agh, Ternyata obat itu berasal dari kasih sayangku untuknya.


Kupersembahkan khusus teruntuk Ibu, yang tak perlu tahu kisah ini.
Mudah-mudahan di 23 Desember nanti,aku tak terlambat lagi mengucapkannya padamu. Semoga.


Johan Bhimo Sukoco
Email : johanbhimo@yahoo.co.id
Blog : porospemburu.blogspot.com
Phone: 085642317178.




Kisah 68


Kanvas Kehidupan
Pengalaman Pribadi
Oleh : Laela Awalia


Suatu ketika, saya mengirimkan satu pesan pendek untuk seorang teman.
                                                   147




-- orang-orang yang paling bahagia tidak selalu memiliki hal-hal terbaik. Mereka hanya berusaha menjadi
yang terbaik dari setiap yang hadir dalam hidupnya. Hidup ini adalah warna-warni yang terlukis pada
kanvas, walaupun tidak cantik, ia tetap mempunyai sejuta makna --


Lalu, teman saya itu membalas pesan saya,
-- kanvas kehidupan tiap individu berbeda. Tergantung bagaimana mewarnai dan memaknainya. Cerita
kehidupan terus berganti. Tak cukup hanya ditulis dalam satu buku. Tak bisa pula dibuat skenarionya oleh
seorang penulis. Kecuali Dia. Hanya Dia. Yang terjadi pastilah yang terbaik. Semua kan mengalir dan
akan indah bila telah sampai pada waktunya --


Setelah membaca pesan itu, saya berpikir, tepatnya berpikir lebih dalam lagi. tentang bagaimana saya
telah menorehkan tinta pada kanvas kehidupan saya selama ini. Warna apa yang telah saya goreskan?


Terkadang, disadari atau tidak, kita diajukan oleh banyak pilihan warna kehidupan. Lahir, kita putih.
Kemudian orang tualah yang pertama kali menggoreskan warna pada kanvas kehidupan kita. Entah itu
hitam, merah, ungu, hijau atau abu-abu. Beranjak usia, orang-orang di sekitar kita menambahkan pula
warna dari mereka. Hingga terkadang warna-warna merekalah yang lebih dominan menutupi kanvas
kehidupan kita.


Ketika semakin dewasa, di antara kita ada yang berubah bijak, ada pula yang semakin tak berpijak.
Orang-orang yang tak berpijak terus saja diam ketika orang-orang di sekelilingnya menorehkan tinta pada
kanvas kehidupan mereka. Warna itu terus bertumpuk, menutup secara acak warna-warna lain hingga
warna putih tak lagi tampak sedikitpun.


Sedangkan, mereka yang bijak, telah bisa memilih warna apa yang seharusnya ditorehkan di atas kanvas
kehidupan mereka. Warna-warna semasa remaja yang mereka anggap buruk mereka hapus dan ganti
dengan torehan warna yang sesuai kadar. Mereka susun dnegan teratur hingga tercipta sebuah pelangi
kehidupan. Indah dipandang, tak jemu diabadikan.


Atau, mereka yang melukis warna itu seperti pelukis abstrak menggoreskan berbagai warna pada
kanvasnya. Terkadang tak cantik tapi tetap mempunyai sejuta makna. Jadi, manakah yang akan kita pilih?
Pelangi yang cantik ataukah lukisan abstrak sejuta makna?


Laela Awalia
Email : azkia_04@yahoo.com
Blog : http://azkia-04.blogspot.com/2009/03/kanvas-kehidupan.html
                                                     148




Kisah 69


Lihat ke Belakang Sejenak
Pengalaman Pribadi
Oleh : Laela Awalia


Sebuah catatan kecil untukku sendiri
Tulisan ini aku buat pas aku kebangun dari tidur jam dua pagi. Mau sholat malem, tapi lagi libur. Mau tidur
lagi, tapi gak ngantuk lagi. Berkali-kali aku balik kanan kiri, balik bantal, ganti posisi, tapi tetep aja mata
gak mau terpejam lagi. Daripada aku bengong, aku ambil aja buku diary trus nulis-nulis deh. Abisnya, mau
ngetik   males keluar kamar, lagian nanti takut berisik, dikira ngapain lagi...


Sebenernya, aku gak tau mau nulis apa, yang penting aku beraktifitas. Biar lama-lama ngantuk trus tidur
lagi. Soalnya, kalo kurang tidur gini, aku bakal ngantuk pagi-paginya. Sebelum ngambil buku diary ini, aku
udah miscall-in orang-orang biar bangun untuk sholat malem (hehe, nyuruh orang sholat malem biar
kebagian pahalanya).


Aku putar ulang kisah hidupku disini. Dulu, waktu awal-awal masuk kuliah aku sering ikut pelatihan
motivasi. Secara, anak-anak baru kan memang objek paling empuk bagi HMJ atau UKM yang ada di
kampus. Aku inget waktu itu ikut salah satu pelatihan motivasi. Inget disuruh menuliskan target-target
kuliah. Kapan lulus, target IPK, ikut organisasi apa aja. Tapi, yang paling aku inget adalah target IPK dan
lama kuliah. Waktu itu, aku dengan PD dan semangatnya nulis target IPK 3, 75 dengan lama kuliah empat
tahun! Wow, itu menghebohkan! Yah, secara, aku belum terlalu ngeh dengan yang namanya kuliah ini.
aku pikir, mudah sekali untuk dapat nilai A di setiap mata kuliah.


Dan...
Waktu mengiringi kuliahku. Pelan-pelan aku mulai paham dan ngerti ternyata kuliah itu gak sama dengan
jaman SMA dulu. Ternyata gak ada yang bisa ngasih nilai A kecuali diri kita sendiri. Dan sekarang, aku
masih disini. Aku baru nyadar kalau sekarang aku masih berstatus mahasiswa di tahun ke lima ku! Itu
artinya, target empat tahun kuliahku sudah terlewat. Lalu, berapakah IPK-ku sampai semester ini? masya
Allah... mengenaskan! Uh!


Kadang, aku berfikir, apa aku salah ambil jurusan ya sampai gelar sarjana belum aku dapat hingga
                                                       149




sekarang? Tapi, pikiran itu, aku buang jauh-jauh. Aku pikir-pikir lagi, evaluasi. Mungkin inilah jalan terbaik
untukku. Mungkin, jika saja aku ambil jurusan lain waktu dulu, aku gak bisa bertemu dengan teman-
temanku yang sekarang. Aku gak bisa menikmati perjalanan hidup yang banyak menginspirasiku sampai
sekarang dengan orang-orang di sekelilingku. Dan, untuk itulah berulang kali aku berkata,


Allah pasti punya rahasia besar untukku...


Kamar malam, 02.11 WIB.


laela awalia
Email Anda : azkia_04@yahoo.com
Blog: http://azkia-04.blogspot.com/2009/07/lihat-ke-belakang-sejenak.html




Kisah 70


Salah Fitri
Pengalaman Pribadi
Oleh : Ira Sudiharjo


Selesai! Begitu batinku setelah kulahap habis Novel Nafsul Mutmainah karya Anfika Noer sampai biodata
penulisnya, ada rasa iri, kapan ya bisa nulis novel juga. Kutengok jam di dinding sudah pukul 23.30,
sudah cukup malam, kurapihkan selimut dan zzzzzzzzz… Zzzzzz mulai kuarungi malam.


Belum sempat mimpi menyambangi alam bawah sadarku, ponselku di kagetkan sebuah SMS, lebih
tepatnya aku yang kaget, “siapa sih, tidak ada namanya” aku sedikit mengerutu dalam hati, “gangu orang
lagi istirahat”



“Ra, ini Fitri, do’ain aku tabah ya, ibuku mennggal,

Do’ain ibu juga ya, smg amal Ibdhnya diterima di sisi Allah”


Aku mengucek mata, sembari kutengaok jam, baru setengah jam aku tidur, kubaca sekali lagi SMS itu
dengan seksama, “ibu Mbak Fitri -- Teman kantor-- Meninggal, “Innalillahi wa innaillahi rojiun” serta merta
                                                 150




kalimat itu terucap.


Aku putuskan untuk menelpon Mbak fitri, ada sedikit pertanyaan, kenapa dia tidak menggunakan nomor
yang biasanya, jangan-jangan ini nomor kerabat yang menghubungi aku, tak lama kemudian terdengar
suara serak, mungkin habis menangis menjawab dari seberang,



“Assalamualaiku” terdengar parau di telingaku.



“Yang tabah ya Mbak”, Begitu ucapku sesaat setelah kujawab Salamnya, kemudian kulanjutkan,



“Besok, aku dan teman-teman InsyaAllah datang ke rumah”



“Makasih ya Ra” terdengar isak dari seberang.



Begitulah Maut, tetap rahasia, yang tidak rahasia ialah ia pasti datang, tapi kapan dan bagaimana ia
menjumpai kita akan tetap rahasia hingga saat ajal menjemput. Bulu kudukku meremang mengingat dosa
diri, membayangkan mati, aku belum siap menghadap-Nya.


Keesokan harinya, pagi-pagi hari minggu, aku forward SMS dari Mbak Fitri ke Mbak Supri, temanku yang
biasa Woro-woro ke teman-teman kantor.


Tak lama setelah itu Mbak Supri menelponku, jika telepon Mbak Fitri tidak diangkat, aku bisa maklum
mungkin dia tidak dengar, atau ponselnya sedang tidak di dekatnya. Kemudian aku beri nomor telepon
yang semalam mengirim SMS.


Aku sedang bersiap dengan jilbab hitamku, ponselku berdering lagi, ku tengok layarnya, Mbak Supri,
mungkin dia mau barengan datang takziah ke rumah Mbak Fitri, begitu aku menerka sesaat sebelum aku
menjawab teleponnya.



“Ya, Mbak, gimana, kita barengan ke sana?” begitu ucapku setelah berjawab salam.
                                                   151




“ Hei, itu Bukan Fitri NPG” –Kantor tempat kami bekerja--, begitu ucapnya pada nada yang setengah

marah.



“Bukan Mbak Fitri” aku mengecilkan volume suaraku.



“Iya, itu temanmu kuliah dulu” nada jengkel masih sedikit terdengar


“gimana sih, punya teman kok lupa”



“ Iya Mbak maaf” aku masih bingung Fitri siapakah itu, yang semalam aku telepon, kenapa aku tidak

mengenali suaranya semalam, mungkin karena suaranya serak, dan parau karena usai menangis.



“Kamu, untung aku telepon dulu, kalau tiba-tiba kita berangkat ke rumah Fitri gimana?” sambung Mbak

Supri.



“Ya, udah Mbak, makasih ya”



Cepat ku tutup telepon Mbak Supri. Aku bingung dan speechless. Kenapa begitu banyak nama Fitri, aku
bertanya dalam hati. Aku memutar slide memori ku, mencoba mengingat nomor Fitri siapakah itu, Agak
lama aku mengingat dan benar saja itu Fitri teman kuliahku. Aku benar-benar ingat sekarang, kami sudah
lama tak berhubungan karena setelah tamat kuliah ia bekerja di Pulau Jawa, dan aku tetap di Lampung.
tapi kenapa nomor teleponnya tidak ada di ponselku?.


Tidak terbayang kalau aku dan teman-teman kantor tiba-tiba datang ke rumah Mbak Fitri NPG, dan
mendapati ibunya yang membuka pintu untuk kami. Aku menutup muka. Astaghfirullohaladzim, Ya, Allah…
ampuni hamba.


Ira Sudiharjo
Email : irasudiharjo@yahoo.co.id
                                                  152




Kisah 71


Belajar Membaca ala Guruku
Pengalaman Pribadi
Oleh : Ira Sudiharjo


SD (Sekolah Dasar) N I Sukajaya di kecamatan Punduh Pedada, Lampung Selatan, tempat sekolahku
dulu memang tak semiskin SD Muhammadiyah di Film Kondang Laskar Pelangi, sedikit lebih beruntung.
Bangunannya bukan papan, tapi gedung tua yang tak tersentuh renovasi sejak pendiriannya, tentu saja
jendela kaca telah banyak yang pecah dan bocor di mana-mana.


Keadaan siswanya pun sangat jauh berbeda dengan SD Muhammadiyah yang hanya 10 siswa. Di SD ku
setiap angkatan menerima lebih dari 60 siswa. Ramai habis! Sampai guru kelas kewalahan buat ngatur
kami saat itu.


Satu persamaan kami dengan para tokoh Laskar Pelangi adalah Kami juga memiliki mimpi. Walau mimpi
kami terkadang terdengar ngawur dan asbun (asal bunyi). Suatu hari guru kelas satu ku menanyakan cita-
cita kami, dengan antusias kami menjawab ada yang mau jadi dokter, perawat, guru, pengusaha bahkan
artis dan tak seorang pun yang ingin jadi petani atau nelayan seperti kebanyakan orang tua kami.


Cita-cita yang mulia, tapi tidak mudah bagi guru mengantarkan kami menuju cita-cita, lah… membaca
saja kami tidak bisa bahkan ada yang belum mengerti bentuk huruf alphabet. Ini berlangsung dalam waktu
yang lama sampai hampir semester pertama kelas satu. Selain kurang maksimal pengajaran di sekolah
ditambah kurang perhatian orang tua di rumah, tentu saja di desa tidak ada les di luar jam pelajaran
seperti di kota-kota, justru sebaliknya sepulang sekolah kami menjadi bolang, main di sungai, atau
mencari buah-buahan di pinggir hutan sembari kami menggembala kambing.


Satu hal yang tak ku lupa hingga kini, cara guru kelas satuku mengajarkan membaca, mula-mula beliau
mengunting huruf alphabet satu-satu, kemudian dia menaruh guntingan alphabet ke dalam kotak kapur.
Setiap lonceng pulang berbunyi kami belum boleh keluar kelas sebelum mengambil huruf di kotak kapur
dan menyebutkannya. Tentu mengambilnya bergilir dan tidak boleh melihat. Jika benar kami boleh
pulang jika tidak kami duduk kembali.


Jika ingin cepat pulang tentu kami harus belajar keras di rumah, rupanya cara ini mempunyai efek yang
                                                    153




positif bagi kami, kami jadi rajin belajar membaca, bahkan yang biasanya kamu bermain       kejar duduk,

atau bermain karet saat jam istirahat, setelah adanya “sebut dulu satu huruf baru boleh pulang” kami rela

jam isterahat kami   belajar dan menghafal huruf.


Pada awalnya hanya satu huruf yang di taruh di dalam kotak kapur, kemudian      setelah kami mulai hafal
semua huruf, guruku menggabungkan satu huruf vocal dan konsonan yang di taruh di kotak kapur, terus
bertambah menjadi satu kata pendek lalu panjang. Pada akhirnya satu kalimat sempurna lengkap dengan
S-P-O-K (Subjek-Predikat-Objek-Keterangan)


Sungguh cara yang unik, dan aku berterimakasih dengan segala rasa hormat kepada guru kelas satuku
itu, Kepada Bapak Sudarminto terimakasih yang tak terhingga, terimakasih A-B-C nya.


Ira Sudiharjo
Email : irasudiharjo@yahoo.co.id

								
To top