Docstoc

Banyak orang yang ingin menembus alam jin

Document Sample
Banyak orang yang ingin menembus alam jin Powered By Docstoc
					Banyak orang yang ingin menembus alam jin, atau mengundang mereka. Ternyata, untuk
mewujudkan impian ini bukanlah pekerjaan mudah. Ada tahapan-tahapan yang harus kita
kuasai, sebelum kita memulai ritual memembus alam jin. Seperti apakah itu…?

Budaya hidup yang Hedonis yang menitikberatkan pada kepuasaan materi, pada akhirnya turut
menggiring manusia untuk selalu mengedepankan rasionalitas dalam ukuran akal semata.
Pemahaman ilmu batin atau keparanormalan menjadi terabaikan, sebab bidang ilmu ini dianggap
tidaklah memenuhi ukuran aspek materialistik. Akibatnya, adat leluhur kian terkikis, bahkan
cenderung dilupakan. Norma-norma ajaran nenek moyang, misalnya saja ajaran para Wali, sudah
mulai pudar dan dianggap usang.

Seiring dengan terjadinya kecenderungan itu para ahli khoarik, pertapa dan ahli batin lainnya mulai
sulit dicari. Hal ini memang seiring dengan perkembangan zaman yang lebih terfokus pada hal yang
bersifat teknologi, iptek, ata sayen. Sementara aspek-aspek keilmuan di luar itu hanya dianggap
takhyul, atau bahkan dongeng isapan jempol.Kendati demikian, sebentuk keyakinan masih tetap saja
muncul di hati para pencari ilmu bersifat batiniah. Mereka masih punya rasa percaya diri untuk
mencari suatu kemaslahatan tentang ilmu Allah SWT, dalam mengarungi kebesaranNya lewat
kehidupan makhluk tak kasat mata.

Hanya saja dalam merilis ilmu supranatural di zaman sekarang memang tak semudah seperti yang
kita bayangkan. Walau dalam kenyataannya banyak jasa paranormal yang memberikan layanan
khusus seputar ilmu supranatural, namun semuanya lebih terfokus kearah produk jadi atau instan,
bukan mengarah ke jalur olah batin yang pada intinyab mengajarkan bagaimana kita bisa dekat
dengan mereka, para makhluk yang ada dalam di mensi lain. Lewat pemahaman ahli Al-Hikmah,
sesungguhnya di zaman melinium akhir seperti sekarang ini, amatlah sulit mencapai puncak
keberhasilan dalam mengolah batin secara akurat. Mengapa? Sebab di samping kita hidup di era
yang penuh akan godaan duniawi yang stiap saat selalu kita lihat dan begitu memikat, di sisi lainnya
faktor penghayatan terhadap ilmu juga semakin kurang menunjang. Contoh kasus paling rumit
sepeti susahnya mencari guru spiritual. Ditambah lagi sulit mencari tempat-tempat yang sepi dan
tenang untuk berkhalwat, sebab kini hampir semua tempat sudah mulai ramai, sehingga ketenangan
batin kita mudah terganggu karenanya.

Dalam hal keyakinan, semangat dan penghayatan dalam hal ilmu supranatural di masa kini semakin
dangkal, bahkan cenderung dianggap remah. Padahal, inilah salah satu faktor penentu dalam
menapaki ilmu bersifat kebatinan, yang pada akhirnya seringkali gagal di tengah jalan. Sebagai suatu
pemahaman, kunci dasar untuk bisa menguasai bermacam sifat supranatural terdiri dari tiga bagian,
yaitu: semangat dan keyakinan, guru pembimbing, dan pengontrolan hati.

SEMANGAT DAN KEYAKINAN

Untuk memulai menjadi seorang suprantural, kita dituntut agar terus bersemangat secara alamiah
tanpa ada perasaan terbebani maupun keterpaksaan. Makna semangat dan keyakinan ini terbagi
menjadi dua hal, yakni yang keluar dari pikiran atau kemudian menjelma menjadi semangat, dan
yang     keluar    dari      sifat  hati   yang     kemudian     berwujud     menjadi    keyakinan.
Semangat yang berada dalam pikiran biasanya hanya ada di permukaan atau dzohir saja, dan
seterusnya akan menjadi suatu kegagalan, jika hal ini tidak dilandasi dengan adanya keyakinan yang
kuat dalam hati sanubari kita. Sebagai contoh, kita disuruh menjalankan puasa dan wiridan selama 7
hari berturut-turut. Jika kita hanya punya semangat tapi tidak punya keyakinan, maka kita akan ragu
dan selanjutnya kegagalanlah yang kita hadapi. walnya kita memang bersemangat, namun setelah
menjalani dua malam berturut-turut dan kelelahan serta kejenuhan mulai terasa, maka seketika
pikiran kita menjadi kacau, rasa capek, malas, takut, lapar dan lain sebagainya akan mudah
mempengaruhi organ tubuh kita sehingga niat membatalkan puasa ini akan mudah sekali kita
jumpai. Sedangkan “semangat yang keluar dari sifat hati” atau keyakinan, biasanya akan terus dijaga
oleh seorang supranaturalis sejati. Sebab, rasa tanggungjawab untuk sampai mengakhiri masa ritual
lebih diutamakan, sehingga hawa pikiran negative bisa ditutup dengan serapat-rapatnya.
GURU PEMBIMBING

Dalam memahami ilmu supranatural, guru pembimbing sangat berperan dalam menentukan suatu
keberhasilan ilmu bagi anak didiknya. Disamping sang guru bisa mengarahkan tentang sebuah arti
keyakinan, sang guru juga bisa memberi kesemangatan secara akurat sehingga sang murid akan
mudah mengikuti jejak atau ajaran-ajarannya.

PENGONTROLAN HATI

Bila seorang supranatural sudah bisa memahami tentang makna semangat, keyakinan dan
penghayatan ilmu yang diberikan lewat bimbangan guru spiritualisnya, maka sang supranaturalis
tadi tinggal mengolah keyakinannya sendiri dengan terus mengontrol kepekaan hati sehingga apa
yang diinginkannya akan mudah tercapai. Nah, sebagai penghayatan yang lebih luas tentang seputar
ilmu supranatural, berikut ini Penulis akan membeberkan rahasia menembus dimensi alam jin.
Hanya saja, dalam pembedaranya nanti, penulis akan memaparkan lewat tahapan demi tahapan.
Maksudnya tiada lain agar bagi mereka yang suka akan dunia mistik, bisa dengan mudah
memahaminya. Seperti apakah tahapannya? Inilah uraian selengkapnya…:

Lewat pemahaman yang disarikan dari kitab Manba‟u Usulul Hikmah Bimuallif, karangan Imam Ali
Albuny, diterangkan sebagai berikut:

Bahwa setiap manusia yang menginginkan berjumpa atau masuk ke alam bangsa jin, maka dia harus bisa
melewati dua alam terlebih dahulu, yaitu: Alamul Ahmar dan Alamul Abdul Jumud.
Di samping hal tersebut, kita juga harus bisa memahami tentang pintu-pintu gaib yang bakal kita
tempuh atau kita lalui. Mengapa? Sebab, sedikit saja kita salah jalan, bukan bangsa jin (dalam hal ini
yang dimaksud adalah Jin Muslim-Pen) yang bakal kita temui, melainkan bangsa alam lain yang
samar-samar dan tak kasat mata. Walhasil, bukan keinginan kita yang akan tercapai, melaikan
kefatalan dan tipu muslihat dari bangsa gaib yang menyesatkan itu yang akan kita terima. Mengenai
arti alam sendiri, jauh-jauh para ulama sudah menuliskannya di beberapa kitab. Salah satunya seperti
pendapat dari Imam Bujeremi, dalam kitabnya “IQNA”. Imam Bujeremi menuliskan beberapa
tingkatan alam yang terdiri dari makhluk tak kasat mata, dimulai dari alam manusia, Ahmar, Abdul
Jumud, Ahyar, Jin, Azrak, Khoarik, Thurobi, Barri, Adli, Sama‟, Majazi, Malaikat, Jabarut, Qolam, dan
Arsy.
Nah, dari kehidupan makhluk-makhluk yang berada di alamnya masing-masing, manusia bisa saja
menemui atau menembus ke salah satu alam yang diinginkan bila manusia itu sendiri memang
sudah cukup ilmu dan pengetahuan untuk menembusnya. Mari kita kembali ke tahapan menembus
dimensi alam jin. Lewat pembedaran yang sama dari kitab “Manba”u Usulul Hikmah”, dijabarkan
bahwa siapapun orangnya bisa menembus dimensi alam jin apabila manusia itu sendiri sudah
menguasai dua alam sebagai tingkatan alam dibawahnya, yakni alam Ahmar dan alam Abdul
Jumud. Alam Ahmar: Sebuah alam yang dihuni jutaan makhluk tak kasat mata yang menguasai bumi
dan lautan. Ahmar juga disebut dengan istilah “Bangsa Lelembut” yang masih keturunan dari
bangsa manusia lewat silsilah Anfus, anak dari Nabiyullah Syiet, yang diturunkan lewat zaman
sanghiyang. Yang termasuk ke dalam golongan penghuni Alam Ahmar ini adalah: Nyi Roro Kidul,
Dewi Lanjar, dan seluruh wadya balanya.

Abdul Jumud: Sebuah alam yang dihuni oleh bangsa makhluk tak kasat mata yang menguasai bumi,
batu dan pepohonan. Abdul Jumud disini disebut juga dengan istilah “Dedemit”. Mereka juga masih
keturunan bangsa manusia dari zaman Togog. Contohnya seperti: Kuntilanak, Memedi, Perkayang
dan lain sejenisnya. Nah, untuk bisa menguasai kedua alam ini, di setiap akan ritual menembus
dimensi alam jin, siapkan sesaji berupa: bunga setaman, melati, mawar dan kelapa hijau. Hal seperti
ini ditunjukkan untuk menghormati bangsa Ahmar sebagai wasilah jalannya. Sedangkan untuk
melewati alam bangsa Abdul Jumud disarankan agar membakar madat apel jin di awal mau memulai
ritual. Niscaya bangsa Abdul Jumud ini akan paham dan tidak mengganggu prosesi ritual yang kita
jalankan.
Untuk membuka pintu alam jin sendiri, salah satu rituanya adalah dengan menaburkan terus
kemenyan putih yang sudah dihaluskan secara terus menerus. Hanya saja dalam pengenalan
menembus alam jin harus sangat hati-hati. Terutama siapa nama dari jin itu sendiri yang akan kita
temui. Di sisi lain, kita sebagai manusia haruslah tahu, kapan waktunya kita menjalankan ritual,
dengan ayat apa kita memanggil, lewat pintu mana kita masuk, dan permohonan apa yang kita
inginkan. Sebab bangsa jin tidak seperti bangsa manusia pada umumnya. Mereka selalu memakai
aturan dan tatakrama yang penuh akan kedisiplinan. Mereka juga bisa dikatakan sangat
temperamental dan mudah tersinggung apabila kita bangsa manusia tidak bisa memahami watak
dari sifat mereka. Sebagai suatu kewaspadaan, bangsa jin disini terbagi menjadi dua golongan, yaitu
Abyad dan Aswad (Jin Putih/Muslim dan Jin Hitam/Kafir). Di samping itu bangsa jin terdiri dari
empat sifat perilaku, tergantung dari alam yang ditempatinya, yakni: tanah, air, bangunan, dan
awang-awang (angkasa).

Dari empat sifat yang menjadi tempat tinggal mereka, semua mempunyai perbedaan dalam
menerima kita manusia, baik dari segi pemanggilan, ayat atau amalan yang dibaca, maupun sesaji
ritual yang disajikan untuk mereka. Apabila kita tidak memahami secara mendetil tentang ritual
untuk menembus ke alam mereka, golongan bangsa Jin Hitam atau Jin Kafir-lah yang akan berperan
untuk menemui kita dengan seribu tipu daya yang menyesatkan. Misalnya saja, kita akan diming-
imingi kekayaan, harta karun, bisa menarik pusaka dan lain-lain perkara musykil yang tidak bisa
diterima akal. Intinya, pikiran kita akan terus dicecoki oleh bermacam hayalan yang menggiurkan.
Ucapan kita jadi ngelantur, mudah emosi, mudah tersinggung, senang menutup diri dalam kamar,
suka melamun dan tidak menerima akan nasehat apapun dari orang lain. Bukan hanya itu saja,
golongan jin hitam atau Jin Kafir juga akan terus menjumpai kita dengan taktik berupa kelembutan,
serta berperan dalam kebaikan, seperti halnya figure guru gaib yang benar-benar mau mengajarkan
seluruh ilmunya kepada kita. Nah, bila sudah seperti ini jadinya, kita sudah melenceng jauh dari
jalan yang sebelumnya kita harapkan. Lebih fatal lagi, kita bisa melenceng dari akidah beragama
(Islam)
Sekedar tips, apabila dalam suatu ritual yang kita jalani selama ini, seringkali didatangi makhluk-
makhluk dari dimensi lain, maka cobalah perhatikan kedatangan mereka. Apabila makhluk lain alam
ini datang menjumpai kita dari arah depan, belakang, samping kanan atau kiri, maka janganlah
digubris kedatangannya. Sebab cara kedatangan mereka seperti itu sudah jelas menunjukkan bahwa
mereka berasal golongan bangsa jin hitam atau Jin Kafir.

Kitab Manba‟u Usulul Hikmah sendiri mengupasnya, “Jangan sesekali Anda percaya akan tipu muslihat
dari beragam makhluk gaib yang datang dari arah empat penjuru. Sesungguhnya, hanya satu arah yang mereka
lewati sebagai teman kita yang benar, yaitu lewat arah atas.”

Lewat pembedaran salah satu tahapan ini, tentu diharapkan akan bisa menjadi bahan intropeksi kita
bersama, bahwa sejatinya tidak ada ilmu yang bersifat instant dimuka bumi ini, kecuali kita sendiri
mau           berusaha        dengan          sungguh-sungguh            untuk          menguasainya.
Nah, untuk tahap terakhir dalam menembus dimensi alam jin, pelajarilah ayat-ayat,ajian, atau
amalan pemanggilan secara matang. Sebab, kesemuanya itu akan menentukan suatu pilihan kita
untuk bisa memilih, siapa (maksudnya bangsa jin-Pen) yang akan kita temui kelak.
Sebagai bahan dasar, pelajari arti, naktu, huruf, angka, rujukan dan dari mana sumbernya. Bisa juga
lewat rahasia huruf Abajadun. Sebab rahasia huruf, Abajadun, memuat 99 keistimewaan, yang mana
salah satunya termasuk dari rahasia alam jin itu sendiri. Seperti contoh, huruf Alif yang mempunyai
angka 1. Penjaga dari huruf Alif ini adalah malaikat bernama Tholthobausin, dari bangsa gaibnya
bernama Ahmar. Ayat dari Alif sendiri adalah Al-Quddus. Dari bangsa gaib yang bernama Ahmar
ini sudah jelas masuk dalam katagori huruf Alif. Jadi pada intinya, apabila kita ingin menembus alam
Ahmar atau alam lelembut, maka perbanyaklah dengan membaca ayat Al-Quddus, untuk bilangan
angka 1 yang terdapat dalam huruf Alif. Hal itu menunjukkan nama yang dituju, seperti nama Ibu
Ratu Kidul jatuh pada naktu: Ya Adzim. Bila ingin memanggil beliau, gabunglah dua asma‟ Ahmar
dan dan nama Ibu Ratu: Al-Quddus Ya Adzim…dan seterusnya.
Jika ingin bertemu dengan ruh diri sendiri atau ruh orang lain, maka bacalah 4 ayat terakhir dari
surah Al-Kahfi. Kiranya, penjelasan yang sepertinya naïf ini bukanlah isapan jempol semata….

Al-Qur‟an adalah kitab suci ummat Islam yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad
SAW lewat perantara Malaikat Jibril as. Kitab ini terdiri dari 30 juz, 114 surah, yang isi
kandungannya menyelimuti seluruh aspek kehidupan dunia dan akhirat. Ada masalah Tauhid,
hukum, ilmu pengetahuan, juga kisah para anbiya dan mursalin atau kisah orang-orang shaleh yang
begitu gigih dan berani berkorban demi mempertahankan iman kepada Allah SWT. Salah satunya
adala kisah para pemuda beriman kepada Allah pengikut Nabi Isa as, di masa pemerintahan raja
Dikyanus (Dicius). Merekalah yang disebut sebagai Ashabul Kahfi. Kisah tentang mereka terdapat
dalam Surah Al-Kahfi.

Selain kisah para Ashbul Kahfi, di dalam surah ini juga diceritakan tentang Nabi Musa as yang
disertai salah seorang muridnya mencari Nabi Khidir as dipertemuan dua arus laut untuk belajar
ilmu gaib, namun sayang Nabi Musa tidak sabar sehingga tidak bisa menimba ilmu tersebut.Menurut
para ahli ilmu hikmah, jika seseorang membaca surah Al-Kahfi pada malam Jum‟at satu kali, maka
akan diampuni oleh Allah dosanya selama satu minggu sebelumnya, dan satu minggu sesudahnya.
Sedangkan ahli hikmah lainnya mengatakan, jika ingin bertemu dengan ruh diri sendiri atau ruh
orang lain, maka bacalah 4 ayat terakhir dari surah Al-Kahfi. Kiranya, penjelasan yang sepertinya naïf
ini bukanlah isapan jempil semata. Penulis adalah seorang saksi yang telah membuktikan
kebenarannya.
Kejadian ini saya alami sekitar tahun 86-an silam. Ketika itu, saya masih kuliah di salah satu
perguruan Agama Islam di Banjarmasin. Sebagai mahasiswa, saya amat suka membeli dan membaca
buku, baik yang berhubungan dengan mata kuliah, maupun buku-buku yang tidak ada
hubungannya sama sekali dengan perkuliahan. Misalnya, buku telepati atau buku-buku ilmu
hikmah. Salah satu kitab ilmu hikmah yang penulis baca dan amalkan adalah Kitab Mujarabat. Saya
pernah mengamalkan membaca surah Al-Ikhlas disertai puasa mutih agar bisa bertemu dengan
khodamnya yang bernama Syekh Abdul Wahid, namun saya tidak berhasil untuk bertemu dengan
khodam tersebut. Kemudian saya coba mengamalkan 4 ayat terakhir surah Al-Kahfi sebanyak 160
kali. Apa yang terjadi?

Menurut petunjuk kitab Mujarabat tersebut, jika Anda ingin bertemu dengan ruh diri Anda sendiri,
atau ruh orang lain, maka bacalah 4 ayat terakhir surat Al-Kahfi sebanyak 160x. Diceritakan bahwa
amalan ini pernah diamalkan oleh seseorang di dalam penjara di zaman Belanda.
Pada waktu tengah malam, orang tersebut didatangi oleh ruh dirinya sendiri yang mengatakan
bahwa dia sebentar lagi akan dibebaskan dari penjara. Tidak lama kemudian, orang tersebut benar-
benar dibebaskan dari penjara. Cerita tersebut, sangat menarik minat saya untuk mengamalkan 4
ayat terakhir surah Al-Kahfi. Waktu itu, kebetulan saya tinggal sendiri dikos-kosan. Dengan
demikian saya bisa membuat persiapan yang dibutuhkan dengan matang. Seperti menyediakan hio
cap buah Tao, serta puasa hari kamis. Malam Jum‟atnya, barulah saya membaca amalan tersebut di
atas susuai dengan petunjuk yang ada dalam Mujarobat.

Ternyata, butuh waktu berjam-jam untuk menyelesaikan amalan tersebut. Namun, Alhamdulillah,
penulis berhasil menyelesaikannya dengan baik. Setelah itu, saya membakar hio kemudian berbaring
di atas dipan. Posisi tubuh telentang dengan kedua tangan disedekapkan di dada seperti orang shalat
sambil berdzikir. Sebenarnya, tuntunan dzikir seperti ini tidak ada didalam kitab tersebut. Hal ini
saya lakukan atas inisiatif sendiri.

Ketika berdzikir “Khafi Allah…Allah,” penulis merasakan suatu kenikmatan yang luar biasa sampai
suatu ketika, saya dikejutkan oleh kehadiran anak-anak kecil berusia lima tahunan. Mereka
melempari tubuh penulis dengan bola-bola tenis. Penulis jadi terusik dengan kehadiran mereka.
Kemudian saya bangun untuk mengusir mereka. Namun apa yang terjadi? Ketika saya bangkit,
ternyata penulis dapat meninggalkan tubuh sendiri yang telentang di atas dipan. Anehnya, hal yang
musykil ini tidak sempat saya pikirkan. Penulis malah langsung mengusir anak-anak tersebut hingga
akhirnya mereka menghilang. Setelah itu, saya terjalan kembali lagi ke tubuh semula yang masih
terbaring di atas dipan. Setelah sadar dengan pengalaman tersebut, saya bertambah yakin dengan
kebenaran petunjuk di dalam kitab. Karena itulah, pengalaman pertama melihat ruh diri sendiri di
malam Jum‟at tersebut, membuat penulis ingin mengulanginya kembali. Sama seperti malam Jum‟at
sebelumnya, kali ini pun saya melakukan prosesi yang serupa. Hingga sampailah ketika saya sedang
asyik dengan dzikiran, tiba-tiba saya dikagetkan dengan kemunculan orang-orang tinggi besar.
Ya, tinggi badan orang-orang itu dari lantai sampai flafon. Tubuhnya yang tinggi besar ditumbuhi
oleh bulu-bulu hitam pekat. Tubuh mereka juga hanya dibungkus dengan cawat putih, dengan mata
sebesar bola pingpong berwarna merah. Mereka melempari penulis dengan obor-obor yang menyala.
Dalam hati penulis berpikir, “Pasti mereka adalah orang tua dari anak-anak yang malam Jum‟at
sebelumnya menggangguku. Tentu orang tua mereka menuntut balas padaku!” Tanpa rasa takut
walau sedikitpun, penulis bangkit dari tidur. Aneh, sama seperti kejadian sebelumnya, tubuh penulis
ketinggalan di atas dipan. Namun saya tidak menghiraukan hal tersebut. Dengan gigih saya
membalas serangan mereka dengan menangkap lemparan obor-obor mereka. Setelah berhasil saya
tangkap, kemudian penulis lempar lagi ke arah mereka. Namun mereka begitu tangguh. Buktinya,
mereka selalu bisa menghindari lemparan penulis. Hingga, pada lemparan terakhir, penulis
membaca ayat Qursyi. Kemudian melempar obor api itu dengan sekuat tenaga. Akhirnya, terdengar
lengkingan panjang. Merekapun menghilang. Begitulah yang penulis alami. Subhanallah! Setelah
mengalami dua kali kejadian tersebut, maka pada malam Jum‟at berikutnya, penulis mengulang lagi
amalan tersebut diatas. Namun kejadian kali ini sungguh luar biasa bagi penulis yang waktu itu
belum pernah berguru pada seseorang, sehingga tidak mengerti kejadian apa yang sedang penulis
alami.

Pada malam kejadian tersebut, saya merasakan tubuh saya dapat naik dan berputar-putar seperti
spirial. Pertama menembus atap rumah. Saya tentu kaget bukan kepalang. Terlebih saat menengok ke
bawah, maka saya dapat melihat tubuh sendiri yang masih telentang dengan posisi tangan
bersedekap seperti orang shalat. Tubuh penulis terus naik dengan kecepatan yang tinggi. Tetapi di
saat yang sama ada kenikmatan luar biasa yang belum pernah penulis rasakan seumur hidup. Dalam
kenikmatan tersebut, penulis sempat melewati bintang-bintang dengan aneka warna yang sangat
indah. Setelah itu, barulah penulis ingat akan tubuhku yang masih tertinggal di bumi, tepatnya di
atas dipan. Lalu membatin, “Pastilah saya sedang dalam perjalanan menuju ke alam kematian.
Alangkah enaknya jika saya mati seperti ini. Karena menurut cerita, kalau orang mau mati, sakitnya
luar biasa sewaktu ruhnya mau keluar dari raga. Tetapi yang saya rasakan adalah sebaliknya,
kenikmatan yang luar biasa.” Dalam perjalanan melewati bintang-bintang kali ini, penulis teringat
kedua orangtua. Mereka mengharapkan saya bisa menjadi sarjana. Tidak sebagaimana saudara-
saudara penulis yang kuliahnya berhenti di tengah jalan. “Lantas, kalau aku mati, pupuslah harapan
mereka!” Batin penulis. Karena itulah dalam seketika muncul keinginan tidak mau mati saat itu. Ya,
penulis ingin kembali ke dunia!

Seketika, saya terhempas ke bumi. Tubuh ini sampai terlonjak. Saya pun lalu menangis tanpa tahu
sebabnya. Untuk meredam tangis agar tidak didengar oleh para tetangga, maka saya pun menutup
mulut dengan bantal. Sejak kejadian tersebut, saya tidak berani lagi mengamalkan 4 ayat terakhir
surah Al-Kahfi tersebut. Mengapa? Sebab saya sangat takut tidak bisa kembali lagi dan mati, untuk
kemudian dikubur. Padahal bisa jadi, saat itu saya belum semestinya mati. Beberapa tahun
kemudian, saya sempat bertemu dengan seorang yang ahli dalam ilmu Hikmah. Ternyata, menurut
H. Hasyim, salah seorang berderajat Waliyullah yang kebetulan bertemu dengan penulis di kampung
Karang Tengah, Martapura, Kalimantan Selatan, menjelaskan bahwa sebenarnya kejadian yang saya
alami itu bukan menuju alam kematian, tetapi menuju suatu tempat dimana di tempat tersebut
penulis akan diajarkan ilmu laduni.

Sedangkan guru spiritual penulis mengatakan, bahwa orang yang mengamalkan 4 ayat terkahir
surah Al-Kahfi, ruhnya akan menjadi ringan. Tapi orang yang mengamalkan 4 ayat itu, sebelumnya
harus mempunyai pagaran badan yang kuat agar tidak diganggu makhluk gaib sewaktu ruh atau
sukmanya meninggalkan badan. Oleh guru spiritual ini, saya diminta untuk tidak melakukan meraga
sukma untuk beberapa waktu. Penulis diberi amalan untuk membuat pagaran badan agar kalau
sedang meraga sukma tidak akan mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Amalan untu pagaran
badan ini berupa puasa selama 7 hari, serta wirid selama 7 malam berturut-turut. Ahamdulillah,
setelah selesai menjalani ritual pagaran badan, penulis diajak meraga sukma oleh guru. Setelah itu
penulis dengan mudah melakukan meraga sukma berkat mengamalkan 4 ayat terakhir surah Al-
Kahfi.

Demikian pengalaman sejati yang telah saya lakoni sendiri. Semoga ada hikmahnya. Pesan saya,
jangan sekali-kali mendalami ilmu gaib tanpa bimbingan seorang guru, sebab bisa fatal akibatnya.




Merajut sebuah ilmu dan menjadikannya sehelai kain yang didalamnya penuh akan keindahan corak
dan warna, inilah yang diidamkan seluruh ahli sufi. Rajutan demi rajutan tentang segala pemahaman
ilmu, penghayatan dan keluasan tentang segala kebesaran Alloh, perjalanan dan pengorbanan yang
selalu dilakoninnya sedari kecil, membuat segala macam ilmu yang ada padanya, menjadikannya
derajat seorang waliyulloh kamil. Dalam pandangan para waliyulloh, dimana badan telah tersirat
asma‟ Alloh dan segala tetesan darahnya telah mengalir kalimat tauhid, dimana setiap detak jantung
selalu menyerukan keagunganNya dan setiap pandangan matanya mengandung makna tafakkur,
tiada lain orang itu adalah seorang waliyulloh agung yang mana jasad dan ruhaniyahnya telah
menyatu dengan dzat Alloh. Inilah sanjungan yang dilontarkan oleh seluruh bangsa wali kala itu
pada sosok, kanjeng Syeikh Siti Jenar.Rohmat yang tersiram didalam tubuhnya, ilmu yang tersirat
disetiap desiran nafasnya, pengetahuan tentang segala makna ketauhidan yang bersemayam didalam
akal dan hatinya, membuat kanjeng Syeikh Siti Jenar menjadi seorang guru para wali.

Lewat kezuhudan yang beliau miliki serta keluasan ilmu yang dia terapkan, membuat segala
pengetahuannya selalu dijadikan contoh. Beliau benar benar seorang guru agung dalam
mengembangkan sebuah dhaukiyah kewaliyan/tentang segala pemahaman ilmu kewaliyan. Tak
heran bila kala itu banyak bermunculan para waliyulloh lewat ajaran ilafi yang dimilikinya.
Diantara beberapa nama santri beliau yang hingga akhir hayatnya telah sampai kepuncak derajat
waliyulloh kamil, salah satunya, sunan Kali Jaga, raden Fatah, kibuyut Trusmi, kigede Plumbon,
kigede Arjawinangun, pangeran Arya Kemuning, kiageng Demak Purwa Sari, ratu Ilir Pangabean,
gusti agung Arya diningrat Caruban, Pangeran Paksi Antas Angin, sunan Muria, tubagus sulthan
Hasanuddin, kiAgeng Bimantoro Jati, kiSubang Arya palantungan dan kigede Tegal gubug.

Seiring perjalanannya sebagai guru para wali, syeikh Siti Jenar mulai menyudahi segala aktifitas
mengajarnya tatkala, Syarief Hidayatulloh/ sunan Gunung Jati, telah tiba dikota Cirebon. Bahkan
dalam hal ini bukan hanya beliau yang menyudahi aktifitas mengajar pada saat itu, dedengkot wali
Jawa, sunan Ampel dan sunan Giri juga mengakhirinya pula. Mereka semua ta‟dzim watahriman/
menghormati derajat yang lebih diagungkan, atas datangnya seorang Quthbul muthlak/ raja wali
sedunia pada zaman tersebut, yaitu dengan adanya Syarief Hidayatulloh, yang sudah menetap
dibumi tanah Jawa. Sejak saat itu pula semua wali sejawa dwipa, mulai berbondong ngalaf ilmu
datang kekota Cirebon, mereka jauh jauh sudah sangat mendambakan kedatangan, Syarief
Hidayatulloh, yang ditunjuk langsung oleh, rosululloh SAW, menjadi sulthan semua mahluk (
Quthbul muthlak )

Nah, sebelum Misteri kupas tuntas tentang jati diri, syeikh Siti Jenar, tentunya pembaca majalah
kesayangan kita agak merasa bingung tentang jati diri, Syarief Hidayatulloh, yang barusan
dibedarkan tadi. “ Mengapa Syarief Hidayatulloh kala itu sangat disanjung oleh seluruh bangsa wali
?”

Dalam tarap kewaliyan, semua para waliyulloh, tanpa terkecuali. Mereka semua sudah sangat
memahami akan segala tingkatan yang ada pada dirinya. Dan dalam tingkatan ini tidak satupun dari
mereka yang tidak tahu, akan segala derajat yang dimiliki oleh wali lainnya. Semua ini karena Alloh
SWT, jauh jauh telah memberi hawatief pada setiap diri para waliyulloh, tentang segala hal yang
menyangkut derajat kewaliyan seseorang. Nah, sebagai pemahaman yang lebih jelas, dimana Alloh
SWT, menunjuk seseorang menjadikannya derajat waliyulloh, maka pada waktu yang bersamaan,
nabiyulloh, Hidir AS, yang diutus langsung oleh malaikat, Jibril AS, akan mengabarkannya kepada
seluruh para waliyulloh lainnya tentang pengangkatan wali yang barusan ditunjuk tadi sekaligus
dengan derajat yang diembannya.

Disini Misteri akan menuliskan tingkatan derajat kewaliyan seseorang, dimulai dari tingkat yang
paling atas. “ Quthbul muthlak- Athman- Arba‟ul „Amadu- Autad- Nukoba‟ – Nujaba‟ – Abdal- dan
seterusnya”. Nah dari pembedaran ini wajar bila saat itu seluruh wali Jawa berbondong datang
ngalaf ilmu ketanah Cirebon, karena tak lain didaerah tersebut telah bersemayam seorang derajat,
Quthbul muthlak, yang sangat dimulyakan akan derajat dan pemahaman ilmunya.

Kembali kecerita syeikh Siti Jenar, sejak adanya, Syarief Hidayatulloh, yang telah memegang penting
dalam peranan kewaliyan, hampir seluruh wali kala itu belajar arti ma‟rifat kepadanya, diantara
salah satunya adalah, syeikh Siti Jenar sendiri. Empat tahun para wali ikut bersamanya dalam
“Husnul ilmi Al kamil”/ menyempurnakan segala pemahaman ilmu, dan setelah itu, Syarief
Hidayulloh, menyarankan pada seluruh para wali untuk kembali ketempat asalnya masing masing.
Mereka diwajibkan untuk membuka kembali pengajian secara umum sebagai syiar islam secara
menyeluruh.
Tentunya empat tahun bukan waktu yang sedikit bagi para wali kala itu, mereka telah menemukan
jati diri ilmu yang sesungguhnya lewat keluasan yang diajarkan oleh seorang derajat, Quthbul
mutlak. Sehingga dengan kematangan yang mereka peroleh, tidak semua dari mereka membuka
kembali pesanggrahannya.

Banyak diantara mereka yang setelah mendapat pelajaran dari, Syarief Hidayatulloh, segala
kecintaan ilmunya lebih diarahkan kesifat, Hubbulloh/ hanya cinta dan ingat kepada Alloh semata.
Hal seperti ini terjadi dibeberapa pribadi para wali kala itu, diantaranya; syeikh Siti Jenar, sunan Kali
Jaga, sulthan Hasanuddin Banten, pangeran Panjunan, pangeran Kejaksan dan Syeikh Magelung
Sakti.

Mereka lebih memilih hidup menyendiri dalam kecintaannya terhadap Dzat Alloh SWT, sehingga
dengan cara yang mereka lakukan menjadikan hatinya tertutup untuk manusia lain. Keyakinannya
yang telah mencapai roh mahfud, membuat tingkah lahiriyah mereka tidak stabil. Mereka bagai
orang gila yang tidak pernah punya rasa malu terhadap orang lain yang melihatnya.
Seperti halnya, syeikh Siti Jenar, beliau banyak menunjukkan sifat khoarik/ kesaktian ilmunya yang
dipertontonkan didepan kalayak masyarakat umum. Sedangkan sunan Kali Jaga sendiri setiap
harinya selalu menaiki kuda lumping, yang terbuat dari bahan anyaman bambu. Sulthan
Hasanuddin, lebih banyak mengeluarkan fatwah dan selalu menasehati pada binatang yang dia
temui.

Pangeran Panjunan dan pangeran Kejaksaan, kakak beradik ini setiap harinya selalu membawa
rebana yang terus dibunyikan sambil tak henti hentinya menyanyikan berbagai lagu cinta untuk
tuannya Alloh SWT, dan syeikh Magelung Sakti, lebih dominan hari harinya selalu dimanfaatkan
untuk bermain dengan anak anak.

Lewat perjalanan mereka para hubbulloh/ zadabiyah/ ingatannya hanya kepada, Alloh SWT,
semata. Tiga tahun kemudian mereka telah bisa mengendalikan sifat kecintaannya dari sifat bangsa
dzat Alloh, kembali kesifat asal, yaitu syariat dhohir. Namun diantara mereka yang kedapatan sifat
dzat Alloh ini hanya syeikh Siti Jenar, yang tidak mau meninggalkan kecintaanya untuk tuannya
semata ( Alloh ) Beliau lebih memilih melestarikan kecintaannya yang tak bisa terbendung, sehingga
dengan tidak terkontrol fisik lahiriyahnya beliau banyak dimanfaatkan kalangan umum yang sama
sekali tidak mengerti akan ilmu kewaliyan. Sebagai seorang waliyulloh yang sedang menapaki
derajat fana‟, segala ucapan apapun yang dilontarkan oleh syeikh Siti Jenar kala itu akan menjadi
nyata, dan semua ini selalu dimanfaatkan oleh orang orang culas yang menginginkan ilmu
kesaktiannya tanpa harus terlebih dahulu puasa dan ritual yang memberatkan dirinya. Dengan dasar
ini, orang orang yang memanfaatkan dirinya semakin bertambah banyak dan pada akhirnya mereka
membuat sebuah perkumpulan untuk melawan para waliyulloh.

Dari kisah ini pula, syeikh Siti Jenar, berkali kali dipanggil dalam sidang kewalian untuk cepat cepat
merubah sifatnya yang banyak dimanfaatkan orang orang yang tidak bertanggung jawab, namun
beliau tetap dalam pendiriannya untuk selalu memegang sifat dzat Alloh.

Bahkan dalam pandangan, syeikh Siti Jenar sendiri mengenai perihal orang orang yang
memenfaatkan dirinya, beliau mengungkapkannya dalam sidang terhormat para waliyulloh;
“Bagaiman diriku bisa marah maupun menolak apa yang diinginkan oleh orang yang
memanffatkanku, mereka semua adalah mahluk Alloh, yang mana setiap apa yang dikehendaki oleh
mereka terhadap diriku, semua adalah ketentuanNya juga” lanjutnya; “Diriku hanya sebagai
pelantara belaka dan segala yang mengabulkan tak lain dan tak bukan hanya dialah Alloh semata .
Karena sesungguhnya adanya diriku adanya dia dan tidak adanya diriku tidak adanya dia. Alloh
adalah diriku dan diriku adalah Alloh, dimana diriku memberi ketentuan disitu pula Alloh akan
mengabulkannya. Jadi janganlah salah paham akan ilmu Alloh sesungguhnya, karena pada
kesempatannya nanti semua akan kembali lagi kepadaNya.” Dari pembedaran tadi sebenarnya
semua para waliyulloh, mengerti betul akan makna yang terkandung dari seorang yang sedang jatuh
cinta kepada tuhannya, dan semua waliyulloh yang ada dalam persidangan kala itu tidak
menyalahkan apa barusan yang diucapkan oleh, syeikh Siti Jenar.

Hanya saja permasalahannya kala itu, seluruh para wali sedang menapaki pemahaman ilmu bersifat
syar‟i sebagai bahan dasar dari misi syiar islam untuk disampaikan kepada seluruh masyarakat luas
yang memang belum mempunyai keyakinan yang sangat kuat dalam memasuki pencerahan arti
islam itu sendiri. Wal hasil, semua para wali pada saat itu merasa takut akan pemahaman dari syeikh
siti jenar, yang sepantasnya pemahaman beliau ini hanya boleh didengar oleh oleh orang yang
sederajat dengannya, sebab bagaimanapun juga orang awam tidak akan bisa mengejar segala
pemahaman yang dilontarkan oleh syeikh Siti Jenar.

Sedangkan pada saat itu, syeikh Siti Jenar yang sedang kedatangan sifat zadabiyah, beliau tidak bisa
mengerem ucapannya yang bersifat ketauhidan, sehingga dengan cara yang dilakukannya ini
membawa dampak kurang baik bagi masyarakt luas kala itu. Nah, untuk menanggulangi sifat syeikh
Siti Jenar ini seluruh para wali akhirnya memohon petunjuk kepada Alloh SWT, tentang suatu
penyelesaian atas dirinya, dan hampir semua para wali ini mendapat hawatif yang sama, yaitu, “
Tiada jalan yang lebih baik bagi orang yang darahnya telah menyatu dengan tuhannya, kecuali dia
harus cepat cepat dipertemukan dengan kekasihnya”

Dari hasil hawatif para waliyulloh, akhirnya syeikh Siti Jenar dipertemukan dengan kekasihnya
Alloh SWT, lewat eksekusi pancung. Dan cara ini bagi syeikh Siti Jenar sendiri sangat diidamkannya.
Karena baginya, mati adalah kebahagiaan yang membawanya kesebuah kenikmatan untuk selama
lamnya dalam naungan jannatun na‟im.

Banyak orang yang ingin mengusai Ilmu Meraga Sukma. Bagaimanakah rahasia yang sebenarnya?
Benarkah Meraga Sukma hanya bisa dilakukan dengan metode tirakat atau dengan meminta
bantuan jin…?

        Anda mungkin pernah mendengar cerita seseorang berilmu tinggi, yang mampu
mengunjungi familinya hanya dengan berkonsentrasi. Atau, Anda mungkin pernah menonton film
yang berkisah tentang seorang pendekar yang bertarung dari jarak jauh dengan “tubuh halus”-nya
dengan pendekar yang menjadi lawannya. Hal semacam itu merupakan ciri dari seorang yang
memiliki Ilmu Meraga Sukma, yang memang dapat dipergunakan untuk melepas sukmanya tanpa
dibatasi ruang dan waktu.

       Ilmu Meraga Sukma, atau banyak juga orang mengiistilahkanya sebagai Proyeksi Astral,
Lepas Sukma, Pangaracutan, Proyeksi Mental, Out of Body Experience, bahkan Astral Projection,
adalah suatu proses pelepasan sukma dari raga untuk melakukan perjalanan yang tidak dibatasi oleh
ruang dan waktu. Proses ini bila sempurna maka semua rasa panca indera pelakunya dibawa keluar,
sehingga sukmanya mampu mendengar, merasakan, melihat dan meraba lingkungan sekitarnya
dengan sukma itu sendiri secara nyata.

       Apakah meraga sukma diperbolehkan dalam syariat Islam? Marilah kita baca firman Allah
SWT ini, “Seluruh jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan
bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya, melainkan dengan kekuatan.” (QS. Ar
Rahman:33).

Penjelasannya bahwa Allah Azza Wa Jalla telah memberikan suatu fasilitas dalam tubuh manusia
untuk melakukan perjalanan ke penjuru langit dan bumi secara fisik (teknologi: ilmu pengetahuan)
dan non fisik (energi: sukma) jika memang manusia itu memiliki kekuatan atau kemampuan.

        Perlu diketahui, proses meraga sukma sesunggunya tidak melepas roh, tetapi hanya
memproyeksikan energi pikiran yang disebut sukma. Kalau kita melepas roh bisa menyebabkan
kematian. Sebab itu orang yang meraga sukma bisa menarik kembali energi pikiran yang melanglang
buana sehingga dapat hidup kembali. Energi pikiran atau sukma ini secara otomatis akan kembali ke
raga dalam kondisi tertentu, misalnya saja karena kaget, tertindih energi lain, dan sebagainya.

       Sukma atau jiwa adalah kemampuan manusia yang bersifat kasat mata, gaib, atau metafisika.
Sedangkan sukma atau jiwa ini sangatlah kompleks yang terdiri dari beberapa sub-sub penyusun.

       Salah satu dari sub-sub tersebut adalah kemampuan Bawah Sadar atau orang ada yang
menyebutnya ESP (Extra Sensory Perception), atau juga disebut Indera Keenam. Kemampuan Bawah
Sadar inipun sebenernya kompleks juga. Hanya yang pasti, kesemuanya ini jelas merupakan
anugerah yang diberikan oleh Allah SWT kepada setiap manusia, sejak dia lahir dengan sifatnya
yang khas.

         Sifat khas dari kemampuan Indera Keenam ini adalah kemampuan sensoriknya yang tidak
dibatasi oleh ruang dan waktu. Dengan sifat uniknya ini maka Indera Keenam mampu melakukan
aktivitas “antar dimensi” atau Transdimensi.

        Juga mungkin difahami secara sederhana, apa yang disebut sukma atau jiwa ini dapat
dianalogikan sebagai perangkat lunak (software) pada komputer. Kita tahu bahwa software sendiri
terbagi dalam beberapa klasifikasi sesuai kebutuhan penggunanya.

        Jika dalam software komputer dikenal yang namanya Operating System sebagai basis
kegiatan seluruh aktivitas komputer maka, dalam jiwa atau sukma kita pun ada komponen yang
berfungsi sebagai basis kegiatan seluruh aktivitas hidup kita yang dalam bahasa Qur‟an disebut
sebagai QALBU

       Jadi sebenarnya kegiatan melepas sukma bukan membuat tubuh kita menjadi kosong tanpa
ada roh yang mengisinya. Mengapa? Karena sebenarnya kita bukan “MELEPASKAN” sukma tapi
mendayagunakan kemampuan Extra Sensorik kita untuk melakukan penjelajahan antar dimensi

        Proses melepas sukma hanya memanfaatkan kemanpuan otak yang kompleks. Tidak seperti
yang diperkirakan orang yang menyangka melepas sukma adalah berupa sinar dan saudara empat
lima pancer. Hal ini jauh dari kenyataan yang sesungguhnya.

        Otak manusia adalah suatu organ tubuh yang sangat luar biasa dan teramat kompleks.
Seperti kita ketahui otak manusia terbagi-bagi menjadi banyak sekali bagian yang masing-masing
mengatur suatu fungsi sistem tubuh manusia, seperti ada yang khusus mengatur syaraf sensorik, lalu
ada yang mengatur khusus untuk syaraf motorik, dan lain-lain. Dan salah satu fungsi penting di
dalam otak, ada suatu bagian otak yang mempunyai tugas sebagai “pengawas”, yaitu mengawasi
seluruh kerja tubuh kita sehingga berjalan dengan semestinya. Nah, bagian otak ini terus-menerus
bekerja walau kita tertidur pulas. Buktinya adalah walau kita tidur pulas sekali, bagian tubuh seperti
jantung terus memompa darah dari dan ke seluruh tubuh, atau paru-paru yang terus menghisap
oksigen dan melepas CO2, dan lain-lain. Tanpa bagian otak ini tubuh kita akan tidak dapat berfungsi
ketika kita tidur sehingga akibatnya kita bisa mati, karena kegagalan fungsi tubuh.

         Salah satu bagian otak yang penting lainnya adalah suatu bagian otak yang bertugas untuk
menganalisis setiap pesan sensorik yang diterima tubuh lalu dikirim dalam bentuk neurotransmitter
ke otak, seperti dari mata, sehingga kita bisa melihat, dari kulit sehingga kita bisa merasai sakit ketika
kita tertusuk duri, dari telinga sehingga kita bisa mendengar, dan lain sebagainya. Bagian otak ini
sangat penting bagi manusia karena jika bagian otak ini tidak berfungsi dengan baik maka kita tidak
akan bisa melihat, mendengar, merasakan, membaui, dan lain-lain. Walaupun mata, telinga, kulit,
dan hidung kita normal tidak ada yang rusak sama sekali, namun jika bagian otak tadi rusak maka
tidak akan ada artinya sama sekali.

         Jika kita bisa memfungsikan dua bagian otak di atas secara maksimal, maka kita akan bisa
melepas sukma. Caranya adalah kita harus bisa membuat kesadaran otak kita tetap terjaga, walau
tubuh kita tertidur pulas sekali. Dengan menjaga kesadaran otak yang penuh ketika kita tidur, maka
ketika kita tidak lagi merasakan tubuh (tidak bisa menggerakkan/ merasakan tubuh kita sama sekali
tapi kita masih sadar sepenuhnya), maka pikiran kita ini bisa “melayang-layang” kemana-mana,
pergi ke manapun yang kita mau dengan bebas seakan-akan kita sudah bangun.

        Suatu hal penting yang perlu ditegaskan adalah kemampuan melepas sukma ini adalah
murni kemampuan memanipulasikan kemampuan otak, bukan roh. Jadi kalau kita mengganggap
melepas sukma adalah melepas nyawa atau roh, hal ini jelas sama tidak benar. Buktinya adalah kita
masih bisa bebas balik lagi ke tubuh wadag kita, tanpa ada hal-hal yang aneh. Bayangkan, kalau roh
tentu kita tidak bisa balik lagi ke tubuh wadagnya, kecuali atas izin Allah SWT dalam kasus yang
yang spesifik dan langka sifatnya.

        Orang yang ingin melepas sukma harus memiliki energi tubuh yang cukup besar supaya
mampu melontarkan sukma ke luar raga, dan dipergunaskan untuk proses perjalanan luar tubuh.
Orang itu harus mengetahui teknik melepas sukma untuk dilatih dengan disilpin dan kontinyu.

        Seorang teman Misteri pernah mengajarkan sebuah buku petunjuk latihan metoda Chikung
yang berisi berbagai teknik latihan indra ke-6 dengan pernafasan murni. Salah satunya metoda
melepas sukma dengan metoda rileks, dibarengi pernafasan tertentu untuk melepaskan sukma yang
dinamakan Meditasi Levitasi Pikiran. Metoda ini sangat aman dan efektif untuk dilakukan pemula.
Berikut caranya:

        1. Anda berbaring di lantai dengan nyaman. Tangan diletakkan di samping tubuh dengan
jempol dan telunjuk saling bersentuhan. Pejamkan mata dan taruh lidah di langit-langit.

         2. Anda lakukan menarik nafas dari hidung dan mengeluarkannya dari mulut dengan aturan
nafas:

         - Ambil nafas dan keluarkan nafas 50% lalu ambil nafas dari titik itu dan keluarkan semua.

         - Ambil nafas dan keluarkan nafas 90% lalu ambil nafas dari titik itu dan keluarkan nafas
semua.

         - Ambil nafas dan keluarkan nafas 1% lalu ambil nafas dari titik itu dan keluarkan nafas
semua.
        - Ambil nafas dan keluarkan 100% lalu ambil nafas dari titik itu dan keluarkan semuannya.

        - Ambil nafas dan keluarkan 30% lalu ambil nafas dari titik itu dan keluarkan semuanya.

      - Ambil nafas dan keluarkan 20% lalu ambil nafas dari titik itu dan keluarkan nafas
semuanya.

        3. Anda bernafaslah alami selama 5 menit dan akhiri dengan meditasi.

        4. Anda membuka mata dan niatkan untuk meraga sukma. Setelah itu biarkan tubuh Anda
rilaks dan tetap berbaring sambil tidur-tiduran sampai Anda memasuki kondisi sangat relaks atau
setengah tidur. Sebab pada saat itu Anda mengalami sensasi seperti berputar atau gerakan energi
dari dalam tubuh yang ingin keluar. Apabila tubuh Anda menjadi dua maka Anda tinggal
mengendalikan “tubuh halus” alias sukma untuk berjalan-jalan.

         Teknik meraga sukma metoda Meditasi Levitasi Pikiran Chi Kung ini sangat aman dan
efektif. Anda yang melakukan tahapan latihan dengan benar manpu melepas sukma hanya beberapa
kali latihan saja. Apabila Anda ingin mengembalikan “badan halus” alias sukma hanya tinggal
meniatkan menarik sukma masuk tubuh dan membuka mata Anda.

        Sesungguhnya, apa yang disebut sebagai Ilmu Meraga Sukma hanya memanfaatkan pontesi
otak untuk menproyeksikan dan melevitasikan pikiran untuk keluar tubuh. Prosesnya membutuhkan
bantuan energi tubuh besar yang bisa dirangsang dengan motada pernafasan tertentu.

        Perlu dikatahui, dalam penguasaan melepas sukma ini banyak sekali orang yang memakai
metoda tirakat yang biasanya meminta bantuan jin. Metoda bantuan jin ini jelas tidak bisa
dipertanggungjawabkan secara syariat Islam karena kita telah berkolaborasi dengan jin yang dilarang
Allah untuk berhubungan dengan jin (Baca QS. Al-Jin:9).

         Selain itu, metoda tirakat kolaborasi dengan jin jelas sekali memiliki efek-efek negatif secara
medis. Sebagai contoh, si jin hanya membantu menproyeksikan dan melevitasikan pikiran keluar
tubuh dengan merekayasa sistem syaraf otak kita, sehingga potensial bisa mengganggu sistem syaraf
kita jika saja kita tidak kuat dan sungguh-sungguh telah siap.

Metoda teraman dan terefektik adalah dengan memanfaat pontesi tubuh manusia sendiri, yakni
hanya dengan meningkatkan kapasitas energi tubuh supaya mampu menlontarkan sukma keluar
tubuh, dan melakukan proses perjalanan luar tubuh. Tentunya membutuhkan latihan yang intensif
dengan jangka waktu tertentu.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:3625
posted:6/11/2010
language:Indonesian
pages:11