ganesa batuabra - DOC

Document Sample
ganesa batuabra - DOC Powered By Docstoc
					                                             BAB 1
                                      PENDAHULUAN
       Potensi batubara Indonesia masih memungkinkan untuk lebih di tingkatkan lagi dengan
memberikan prioritas yang lebih besar pada pengembangan dan pemanfaatannya untuk
meningkatkan peranan peranan batubara menjelang tinggal landas pada awal pelita VI . salah
satu dukungan yang di sarankan adalah pemantapan terencanaan dan pelaksanaan produksi
secara terpadu , sehingga kapasitas produksi selalu dapat memenuhi peningkatan permintaan
batubara baik dari dalam negeri maupun luar negeri ( kesimpulan lokakarnya enegim di Jakarta
10 agustus 1988 )

       1. Peranan batubara di indonesi
          Masyarakat pemakai sumberdaya energy di Indonesia terutama yang menggunakan
          energy untuk keperluan pembakaran dalam jumlah besar seperti pembangkit listrik
          tenaga uang (PLTU ) dan industry semen , menyadari bahwa penggunaan batubara
          mempunyai beberapa kelebihan .
             a) Penekanan biaya operasi yang di sebabkan oleh harga batubara ( persatuan
                 energy ) yang lebih murah daripada jenis energy yang lain
             b) Peranan batubara di bandingkan dengan peranan sumber energy yang lain
                 sampai pada akhir 1984 masih sangat rendah ialah hanya 0,51% dari total
                 konsumsi energy m sedang pada tahun 1994 telah meningkat sekitar 8,8%.
                                      BAB 2
                   CARA TERBENTUKNYA BATU BARA


     Batu bara terbentuk dengan cara yang sangat komplek dan memperlukan waktu yang
sangat lama ( puluhan atau ratusan juta tahun ) di bawah pengaruh fisika , kimia ataupun
keadaan geologi. Untuk memahami bagaimana batubara terberntuk dari tumbuh-tumbuhan
perlu di ketahui batubara terbentuk dan factor-faktor yang akan mempengaruhinya serta
bentuk lapisan batubara.



  1. TEMPAT TERBENTUKNYA BATUBARA

            Untuk menjelaskan terbentuknya batubara di kenal 2
       macam teori :

          a. Teori Insitu

                    Teori ini mengatakan bahwa bahan-bahan pembentuk lapisan batubara,
             terbentuknya di tempat dimana tumbuh-tumbuhan asal itu berada, dengan
             demikian maka setelah tumbuhan tersebut mati , belum mengalami proses
             transportasi segera tertutup oleh lapisan sedimen dan mengalami proses
             coalification. Jenis batu bara yang terbentuk dengan cara ini mempunyai
             penyebaran luas dan merata , kualitasnya lebih baik karena kadar abunya
             relative kecil , batu bara yang tebentuk seperti ini di Indonesia di dapatkan di
             lapangan batubara muara enim ( Sumatra selatan )
      b. Teori Drift

               Teori ini menyebutkan bahwa bahan-bahan pembentuk lapoisan batubara
         terjadinya di tempat yang berbeda dengan tempat tumbuhan semula hidup dan
         berkembang . dengan demikian dengan tubuhan yang telah mati di angkut oleh
         media air dan di berakumulasi di suatu tempat , tertutup oleh batuan sedimen
         dan mengalami proses coalification . jenis batu bara yang terbentuk dengan cara
         ini mempunyai penyebaran tidak luas , tetapi di jumpai di beberapa tempat ,
         kualitas kurang baik karena banyak mengandung material pengotor yang
         terangkut bersama selama proses pengangkutan dari tempat asal tanaman ke
         tempat sedimentasi . batubara yang terbentuk seperti ini di Indonesia di
         dapatkan di lapangan batubara delta Mahakam purba, Kalimantan timur.



2. FACTOR YANG BERPENGARUH

         Cara terbentuknya batubara merupakan proses yang kompleks . dalam arti harus
   di pelajari dari beberapa sudut yang berbeda . terdapat serangkain factor yang di
   perlukan dalam pembentukan batubara yaitu :
       a) Posisi goeteknik
       b) Topofrafi
       c) Iklim
       d) Penurunan
       e) Umur geologi
       f) Tumbuh-tumbuhan
       g) Dekomposisi
       h) Sejarah sesudah pengendapan
       i) Struktur cekungan batubara
       j) Metamorfosis organic

         a. Posisi Goeteknik

                    Posisi geotektonik adalah suatu tempat yang keberadaannya di
             pengaruhi oleh gaya- gaya tektonik lempeng . dalam pembentukan cekungan
             batubara , posisi ini akan mempengaruhi iklim lokasi dan morfolagi cekungan
             pengendapan barubara maupun kecepatan penurunannya . pada fase terakir
             posisi geotektonik mempengaruhi proses metamorfosa organic dan struktur
             dari lapangan batubara masa sejarah setelah pengendapan akhir.
b. Topografi (Morfologi)

          Morfologi dari cekungan pada saat pembentukan gambut sangat
   penting karena menentukan penyebaran rawa-rawa dimana batu bara
   tersebut terbentuk . topografi mungkin mempunyai efek yang ter batas
   terhadap iklim dan keadaannya bergantung pada posisi geotektonik.
c. Iklim

          Kelembapan memegang peran penting dalam membentukan batubara
   dan merupakan factor pengontrol flora dan kondisi luas yang sesuai .Iklim
   tergantung pada posisi geografi dan lebih luas di lagi dipengaruhi oleh posisi
   geotektonik. Temoperatur yang lembab pada iklim tropis pada umunya
   sesuai pada pertumbuhan flora di bandingkan wilayah yang lebih dingin .
   hasil pengkajian menyatakan bahwa hutan rawa tropis mempunyai siklus
   pertumbuhan setiap 7-9 tahun dengan ketinggian pohon hanya mencapai 5-6
   m dalam selang waktu yang sama.

d. Penurunan

         penurunan cekungan batubara di pengaruhi oleh gaya-gaya tektonik .
   jika penurunan dan pengendapan gambut seimbang maka di hasilkan
   endapan batu bara tebal . pergantian transgresi dan regresi mempengaruhi
   pertumbuhan flora dan pengendapannya . hal tersebut menyebabkan
   adanya infiltrasi material dan mineral yang mempengaruhi mutu dari
   batubara terbentuk .
e. Umur Geologi
          Proses geologi menentukan berkembangnya evolosi kehidupan
   berbagai macam tumbuhan. Dalam masa perkembangan geologi secara tidak
   langsung membahas sejarah pengendapan batubara dan dan metomorfosa
   organic . makin lama umur batuan makin dalam penimbunan yang terjadi.
   Sehingga terbentuk batu bara yang bermutu tinggi, tetapi pada batubara
   yang mempunyai umur geologi lebih tua selalu ada resiko mengalami
   deformasi tektonik yang membentuk struktur perlipatan atau patahan pada
   lapisan batubara . di samping itu fator erosi akan merusak semua bagian dari
   endapan batubara.
f. Tumbuhan

           flora merupakan unsur utama pembentuk batubara. Pertumbuhan
   batubara terkumulasi pada suatu lingkungan dan zona fisiografi dengan iklim
   dan topografi tertentu . flora merupakan factor penentu terbentuknya
   berbagai tipe batubara.evolosi dari kehidupan menciptakan kondisi berbeda
   selam sejarah geologi .mulai dari palezeoic hingga devon . flora belum
   tumbuh dengan baik . setelah devon pertama kali terbentuk lapisan batubara
   di daerah lagon yang dangkal. Periode ini merupakan titk awal dari
   pertumbuha flora secara besar-besaran dalam waktu singkat pada setiap
   kontingen . hutan tumbuh dengan subur pada masa karbon. Pada masa
   tersier merupakan perkembangan yang sangat luasdari berbagai jenis
   tanaman.



g. Dekomposisi

           Dekomposisi flora yang merupakan dari transpormasi biokimia dari
   organic merupakan titik awal dari seluruh alterasi. Dalam pertumbuhan
   gambut , sisa tumbuhan akan mengalami perubahan , baik secara fisik
   maupun kimiawi . setelah tumbuhan mati proses degradasi biokimia lebih
   berperan . proses pembusukan (decay) akan terjadi oleh kerja mikrobiologi
   (bakteri anaerob ) . bateri ini bekerja dalam suasana tanpa oksigen
   menghancurkan bagian yang lunak dari tumbuhan seperti celulosa ,
   protoplasma dan pati . dari proses di atas terjadi perubahan dari kayu
   menjadi lignit dan batubara berbitumen . dalam suasan kekurangan oksigen
   terjadi proses biokimia berakibat keluarnya air (H2O) dan sebaian unsur
   karbon akan hilang dalam bentuk karbon dioksida (CO2) , karbon monoksida
   (CO) dan metan (CH4) . akibat pelepasan unsur atau senyawa tersebut jumlah
   relative unsur karbon akan bertambah . kecepatan pembentukan gambut
   bergantung pada kecepatan perkebangan pertumbuhan dan proses
   pembusukan . bila tumbuhan tertutup oleh air dengan cepat , maka akan
   terhindar oleh proses pembusukan , tetapi terjadi proses desintegrasi atau
   penguraian oleh mikrobiologi . bila tumbuhan yang telah mati terlalu lama
   berada di udara , maka kecepatan pembentukan gambut akan berkurang ,
   sehingga hanya bagian yang keras saja tertinggal yang menyulitkan
   penguraian oleh mikrobiologi.
         h. Sejarah Sesudah Pengendapan

                  Sejarah cekungan batubara secara luas bergantung pada posisi
            geotektonik yang mempengaruhi perkembangan batubara dan cekungan
            batubara. Secara singkat terjadi proses geokimia dan metamorfosa organic
            setelah pengendapan gambut. Di samping itu sejarah geologi endapan batu
            bara bertanggung jawab terhadap terbentuknya struktur cekungan batubara,
            berupa perlipatan , persesaran , intrusi magmetik dan sebagainya.
         i. Struktur Cekungan Batubara

                  Terbentuknya batu bara pada cekungan batu bara pada umunya
            mengalami deformasi oleh gaya-gaya tektonik. Yang akan menghasilkan
            lapisan batubara dengan bentuk –bentuk tertentu , disamping itu adanya
            erosi yang itensif penyebabnya bentuk lapisan batubara tidak menerus.
         j. Metamorfasa Organic

                    Tingkat kedua dalam pembentukan batubara adalah penimbunan atau
             penguburan oleh sediment baru . pada tingkat ini proses degradasi biokimia
             tidak berperan lagi tetapi tetap lebih di dominasi oleh proses dinamokimia.
             Prosesini menyebabkan terjadinya gambut menjadi batubara dalam bentuk
             mutu. Selama proses ini terjadi pengurangan air lembab , oksigen dan zat
             terbaru CO2,CO,CH4 dan gas lainnya, serta bertambahnya presentase karbon
             padat, belerang dan kandungan abu. Perubahan mutu batubara di akibatkan
             oleh factor dan tekanan dan waktu. Tekanana dapat di akibatkan oleh lapisan
             sediment penutup yang sangat tebal atau karena tektonik , hal ini
             menyebabkan pertambahan tekanan dan percepatan metaforfosa organic
             akan dapat mengubah gambut menjadi batubara sesuai dengan perubahan
             sifat kimia. Fisik dan optiknya.
3. TERBENTUKNYA LAPISAN BATUBARA TEBAL



        Lapisan batubara tebal merupakan deposit batubara yang mepunyai nilai ekonimis
   yang tinggi. Salah satu syarat yang dapat membentuk batubara tebal adalah apabila
   terdapat suatu cekungan yang oleh karena adanya beban pengendapan bahan-bahan
   pembentuk batubara di atasnya mengakibatkan dasar cekungan tersebut turun secara
   berlahan-lahan.
         Cekungan ini umumnya terdapat di daerah rawa-rawa (hutan bakau) di tepi pantai .
     dasar cekungan yang turun secara berlahan –lahan dengan pembentukan batubara
     memungkinkan permukaan air laut akan tetap dan kondisi rawa stabil. Apabila karena
     proses geologi dasar cekungan turun secara tepat . maka air laut akan masuk kedalam
     cekungan sehingga kondisi rawa menjadi kondisi laut .

     Akibatnya di atas lapisan pembentuk batubara akan terndapkan lapisan sediment laut
     antara lain batu gamping . pada tahap selanjutnya akan terjadi pengendapan batu
     lempung yang memunkinkan untuk kembali kondisi rawa. Proses selanjutnya akan
     terkumpul dan terendapkan bahan-bahan pembentuk batubara (sisa tumbuhan) di atas
     lapisan batu lempung (claystone ). Demikian seterusnya sehingga tebentuk lapisan
     batubara dengan di selingi oleh lapisan antara yang batu gamping dan batu lempung.
     Tidak jarang di jumpai lapisan batubara
     Sering terbentuk antara yang berupa batu lempung yang di sebut sebagai clay band atau
     clay parting .



4.   REAKSI PEMBENTUKAN BATUBARA


            Batubara terbentuk dari sisa tumbuhan mati dengan komposisi utama dari
     cellulose . proses pembentukan batubara atau caalification yang di bantu oleh factor
     fisika . kimia alam akan mengubah cellulose menjadi lignit , subitumine , bitumine dan
     antrasite , reaksi pembentukannya batubara dapat di gambarkan sebagai berikut;
     5(C6H10O5 )               C20H22O4 +3CH4+8H2O + 6CO2 + CO
     Cellulosa                  lignit   gas metan

     5(C6H10O5)               C20H22O4 + 3CH4 + 8H2O + 6CO2 + CO
     Cellulose                bitumine gas metan

     Keterangan :

           Cellulose (zat organic) yang merupakan zat pembentuk batubara. Unsure C dalam
     lignit lebih sedikit di banding bitumine. Semakin banyak unsur C lignit semakin baik
     mutunya.unsur H dalam lignit lebih banyak di bandingkan pada bitumine. Semakin
     banyak unsur H lignit makin kurang baik mutunya. Senyawa CH4 ( gas metan ) dalam
     lignit lebih sedikit di banding dalam bitumine.Semakin banyak CH4 lignit semakin baik
     kualitasnya.
           Gas-gas yang terbentuk selama proses coalification akan masuk ke dalam celah-
   celah vein batu lempung dan ini sangat berbahaya . gas metan yang sudah terkumulasi
   di dalam celah vein , terlebih-lebih apabila terjadi kenaikan temperature , karena tidak
   dapat keluar , sewaktu-waktu dapat meledak danmengakibatkan kebakaran. Oleh sebab
   itu mengetahui bentuk deposit batubara dapat mentukan cara penambangan yang akan
   di pilih dan juga meningkatkan keselamatan kerja.



5. BENTUK LAPISAN BATUBARA



        Bentuk cekungan , proses sedimentasi , proses geologi selama dan sesudah proses
   coalofication akan menetukan bentuk lapisan batubara. Mengetahui bentuk lapisan
   batubara sangat menentukan dalam menghitung cadangan dan merencanakan cara
   penambangannya,
                  Di ketahui beberapa bentuk lapisan batubara :
      a) Bentuk horse back
      b) Bentuk pinch
      c) Bentuk clay vein
      d) Bentuk buried hill
      e) Bentuk fault
      f) Bentuk fold
           Urain masing-masing bentuk adalah sebahai berikut :
a) Bentuk Horse Back

      Bentuk ini di cirikan oleh lapisan batubara dan batuan yang
   menutupinya melengkung kea rah atas akibat gaya kompresi , ketebalan
   kea rah lateral lapisan batubara kemungkinan sama ataupun menjadi
   lebih kecil atau menipis ,

b) Bentuk Pincih

        Bentuk ini di cirikan oleh perlapisan yang menipis di bagian tengah ,
   pada umumnya dasar dari lapisan batubara merupakan batuan yang
   plastis misalnya batulempung sedang di atas lapisan batubara secara
   setempat di tutupi oleh batupasir yang secara lateral merupakan
   pengisian suatua alur .
c) Bentuk Clay Vain

       Bentuk ini terjadi apabila di antara 2 bagian deposit batubara
   terdapat urat lempung . bentukan ini terjadi apabila pada satu seri
   deposit batubara mengalami patahan , kemudian pada bidang patahan
   yang merupakan rekahan terbuka terisi oleh material lempung ataupun
   pasir ,

d) Bentuk Buried Hill

       Bentuk ini terjadi apabila di daerah dimana batubara semula
   terbentuk terdapat suatu kulminasi sehingga lapisan batubara seperti
   ‘terintrusi’

e) Bentuk Fault

       Bentuk ini terjadi apabila di daerah di mana deposit batubara
   mengalami beberapa seri patahan . keadaan ini akan mengacaukan di
   dalam perhitungan cadangan , akibat adanya perpindahan perlapisan
   akibat pergeseran vertical.
       Dalam melakukan eksplorasi batu bara di daerah yang banyak gejala
   patahan harus di lakukan dengan tingkat ketelitian yang tinggi , untuk
   daerah seperti ini disamping kegiatan pemboran maka penyelidikan
   geofisika sangat membantu di dalam melakukan interprestasi dan
   korelasi antar lubang pemboran ,

f) Bentuk Fold

        Bentuk ini terjadi apabila di daerah di mana deposit batubara
   mengalami perlipatan . makin intensif gaya yang bekerja pembentuk
   perlipatan akan makin kompkeks perlipatan tersebut terjadi ,dalam
   melakukan eksplorasi batubara yang banyak gejala perlipatan, apalagi
   bila daerah tersebut juga terjadi patahan harus di lakukan dengan
   ketelitian yang tinggi , untuk daerah seperti ini di samping kegiatan
   pemboran maka kegiatan geofisika sangat membantu dalam melakukan
   interprestasi dan korelasi antar lubang pemboran,
        Dari urain tersebut di atas dapat di simpulkan bahwa untuk
   mengetahui jumlah cadangan deposit batubara di suatu daerah
   penyelidikan geologi detail perlu di lakukan,
                                           BAB 3
                            SIFAT UMUM BATUBARA


     Batu bara merupakan salah satu jenis bahan bakar untuk pembangkit energy , di samping
gas alam di minyak bumi . berdasarkan atas cara penggunaanya sebagai penghasil energy di
klasifikasikan :

             a. Penghasil energy primer dimana batubara yang langsung di pergunakan
                untuk industry misalnya pemakaian batubara sebagai bahan bakar burner
                (dalam industry semen dan pembangkit listrik tenaga uap ) . pembakaran
                kapur , batu , genting, bahan bakar lokomotif . pereduksi proses metalurgi ;
                kokas konvensional ; bahan bakar tidak berasap ( smokeless fuels )

             b. Penghasil energy skunder dimana batubara yang tidak langsung di
                pergunakan untuk industry misalnya pemakaian batubara sebagai bahan
                bakar padat (briket ); bahan bakar cair ; (konversi menjadi bahan bakar air )
                dan gas (konversi menjadi bahan bakar gas ); bahan bakar dalam industry
                penuangan logam (dalam bentuk kokas ); selain itu batubara di gunakan
                bukan sebagai bahan bakar antara lain ; sebagai reduktor dalam peleburan
                timah , pabrik fero nikel , industry besi dan baja ; pemurnian dalam industry
                kimia (dalam bentuk karbon aktif ); pembuatan kalsium karbida (dalam
                bentuk kokas atau semi kokas ).



                 Secara umum nilai kalor yang di hasilkan satu ton batubara equivalen dengan
                 3 bbl. Minyak bumi.
1. JENIS BAHAN BAKAR

     Jenis – jenis bahan bakar yang umum di gunakan dalam industry
   adalah :

     a. Bahan bakar gas : gas alam
     b. Bahan bakar cair : minyak bumi
     c. Bahan bakar padat : batubara
        Ketiga bahan bakar tersebut pada dasarnya terdiri atas dioksidasi oleh
        oksigen dan udara . bahan tersebut pada umumnya terdiri dari :

     a. Combustible materials

        Yaitu bahan yang dapat di bakar atau di oksidasi oleh oksigen dari udara .
        bahan tersebut pada umumnya terdiri dari :

           Fixed carbon
           Hydrocarbon compounds
           Sulfur
           Nitrogen
           Phosphor dan sebagainya

     b. Non combustible materials

        Yaitu bahan –bahan yang tidak dapat di bakar / di oksidasi oleh oksigen .
        bahan ini tersisa dalam ujud padat yang di sebut abu ( ash ) yang
        mengandung SiO2,AL2O3,Fe2O3,CaO dan alkali dan ujud gas yang berbentuk
        H2O atau CO2
            Bahan bakar tersebut banyak mengandung non combustible materials
        dalam bentuk abu dan air , sedangkan bahan bakar minyak praktis tak
        mengandung non combustible material, kecuali kadang sedikit carbon
        dioksida.

        Kandungan non conbustaible material dalam bahan bakar umumnya tidak di
        ingini karena akan menurunkan nilai bakar atau menurunkan suhu nyala.
2. SIFAT BATUBARA

      Batubara merupakan suatu campuran padatan yang heterogen dan terdapat di
   alam tingkat / grade yang berada mulai dari lignit , bitumine , antrasit,
   Kandungan zat terbang (volatile matter ) dan besaran kalori panas yang di hasilkan
   batubara di bagi menjadi 9 kelas utama .
      Dalam perdagangan di kenal istilah hard coal dan brown coal . hard coal adalah
   jenis batuan yang menghasilkan gross kalori lebih dari 5.700 kcal dan dibagi:

a. Kandungan zat terbang ( volatile matter ) hingga 33% , termasuk kelas 1-5

b. Kandungan zat terbang ( volatile matter ) lebih besar 33% , termasuk klas 6-9 .



      Hard coal merupakan jenis batubara dengan hasil kalori yang lebih tinggi
   dibandingkan dengan bitumine/ subbitumine , dan lignit ( brown coal )

   Sifat batubara jenis antarsit :

          Warna hitam sangat mengkilat
          Nilai kalor sangat tinggi, kandungan karbon sangat tinggi
          Kandungan air sangat sedikit
          Kandungan abu sangat sedikit
          Kandungan sulfur sangat sedikit

   Sifat batubara jenis jenis bitumine/ subbitumine:

      Warna hitang mengkilat , kurang kompak
      Nilai kalor tinggi , kandungan karbon relative tinggi.
      Kandungan air tinggi
      Kandungan abu sedikit
      Kandungan sulfur sedikit
        Sifat batubara jenis lignit ( brown coal )

    Warna hitam , sangat rapuh
   Nilai kalori rendah , kandungan karbon sedikit
   Kandungan air tinggi
   Kandungan abu banyak
   Kandungan sulfur banyak

         Sebagai pendataan batubara terdiri atas kumpulan maceral (vitrinit, eksinit dan
    inertinit ) serta mineral (caly, kalsit dan lain2 )
    Di lihat dari unsure pembentukannya batubara terdiri atas karbon , oksigen,
    nitrogen , sedikit sulfur, posfor dan lain-lain.
    Sedangkan dari segi struktur atomnya di bedakan :
    Aromatic ; dimana atom C tersusun dalam rangkaian rantai tertutup misalnya :


                                        H

                                        C

                         H      C               C   H

                         H      C               C   H

                                        C

                                        H



    -   Alphatik ; di mana atom C tersusun dalam rangkaian lurus/ terbuka misalnya :


                               H            H

                             H- C   -       H -H

                                H           H
Dalam industry batubara di pergunakan sebagai bahan bakar , maka :

Panas pembakaran

Hasil pembakaran

Sisa pembakaran

Perlu di ketahui , kususnya dalam industry semen apabila hal tersebut akan mengganggu
kualitas hasil semen,

  Sifat2 batura dapat di lihat sengan analis sebagai berikut:

                   a. Analisa proksimat

                          1. Lengas (moisture ) yang berupa
                                  Lengas bebas ( free moisture )
                                  Lengas bawaan ( inherent moisture )
                                  Lengas total ( total moisture )
                          2. Kadar abu (ash)
                          3. Carbon ( fixed carbon )
                          4. Zat terbang (velotile matter )

                   b. Analisa ultimat

                      Terdiri dari analisa untuk unsure : C. H.O.N.S.P.C.L

                   c. Nilai kalor
                      Terdapat 2 macam nilai kalor :
                        1.    Nilai kalor net ( net colorific value ata low heating value )
                      Yaitu nilai kalor pembakaran dimana semua air ( H2O ) di hitung dalam
                      keadaan ujud gas .
                        2.    Nilai kalor gross ( frosses colofic value high heating value ) . yaitu
                              nilai kalor pembakaran dimana semua air (H2O ) di hitung dalam
                              keadaan ujud air .
                              Nilai kalor ini menyatakan dalam cal/gr, btu/lb atau MJ/ kg
                 d. Total sulfur

                     Sulfur atau belerang dalam batubara dapat di jumpai sebagai mineral
                     pirit, markasit, calcium sulfur atau belerang organic , yang pada saat
                     pembakaran akan berubah menjadi SO2

                 e. Anaalisa abu

                     Abu yang terjadi pada pembakaran batubara akan membentuk oksida-
                     oksida sebagai berikut:
                     SiO2,AL2O2,Fe2O3,,TiO2,Mn3O4, CaO,Na2O, K2O.
                     Abu inilah yang terutama akan secara padatan bercampur dengan klinker
                     ( pada idustri semen ) dan akan mempengaruhi kualitas semen. Namun
                     demikian kadar abu dalam batubara di Indonesia biasanya hanya berkisar
                     5%-20% .

                 f. Indek gerus (hard grove index )

                     Merupakan suatu bilangan yang dapat menunjukan mudah sukarnya
                     batubara digerus menjadi bahan bakar serbuk . makin kecil bilangannya
                     makin keras keadaan batubaranya. Harga hardgrove index untuk
                     batubara di Indonesia berkisar antara 35-60.

                 g. Sifat batubara kaitannya dengan volatile matter

                     Sesuai dengan sefatnya , batubara umumnya dibagi atas 4 macam :

                      1.    Antarsit, mengandung sedikit volatile matter
                      2.    Bitumine, mengandung medium volatile mater
                      3.    Lignit , mengandung banyak volatile matter
                      4.    Gambut ( peat )


      Batu bara dengan volatile matter tinggi akan menghasilkan nyala yang panjang di atas
grate fire dan batubara dengan kadar volatile rendah akan menghasilkan nyala yang pendek ,
oleh karenanya antarsit dapat disebut dengan short flaming coal dan bitumine disebut sebagai
long flaming coal. Akan tetapi batubara menghasilkan produk yang berbeda bila di bakar dalam
bentuk batubara halus di dalam tanur putar ( pada industry semen ).
    Long flaming coal bila di bakar dalam tanur putar sebagai batubara halus akan teruai
dengan segera dan volatile matter yang menguap akan terbakar dengan cepat short flaming
coal mengandungn sedikit volatile matter bila di bakar di dalam tanur putar sebagai batubara
halus akan terurai secara lambat sehinggal akan terbakar dalam jamgka waktu yang lebih
panjang .

     Antarsit memiliki kalor tinggi , penggunaannya sebagai bahan bakar dalam tanur putar
kurang di sukai , karena akan menghasilkan nyala yang lebih panjang dengan suhu yang relatif
lebih rendah.

     Lignit mempunyai kandungan volatile matter yang tinggi dan berheating value rendak tidak
di sukai karena akan menghasilkan suhu nyala yang rendah.

     Bitumine adalah jenis batubara yang lebih di sukai pemakaiannya sebagai bahan bakar
dalam tanur putar , kerena mempunyai kandungan volatile matter yang cukup, tetapi nilai
kalorinya relative tinggi. Oleh karenanya bitumine dapat menghasilkan suhu nyala yang lebih
tinggi.

     Bitumine dengan kandungan ash yang besar ( akibat adanya impurities yang biasanya dari
clay dan sebagainya ) atau berkandungan air yang lebih tinggi juga tidak disukai karena hal- hal
tersebut akan menurunkan suhu nyala di samping juga membutuhkan excess air yang lebih
besar .

     Dari keterangan di atas , maka secara teoritis di perlukan bitumineous coal yang bebas dari
nin combustible material atau menghasilkan suhu yang pendek dan lebih tinggi di bandingkan
dengan fuel oil dan natural gas.

    Seperti di ketahui batubara terjadi oleh proses alam , sehingga hal ini tersebut dalam
praktek sukar di laksakan , oleh karenanya perlu di rekayasa peralatan , yang akan di
pergunakan.

Dari uraian tersebut apabila batubara di bakar dalam keaadan butir halus dalam tanur dapat di
simpulkan sebagai berikut. ( table 8, )

Table 8. Hubunga jenis batu bara dan pembakaran

       jenis           volatilematter             nyala           suhu          keterangan
                                                                                Tak disukai,
     antarsit               sedikit          Lebih panjang   Relative rendah   walaupun nilai
                                                                                kalor tinggi
    bitumine               Cukup                pendek            tinggi          Disukai
   subitumine              banyak            Lebih panjang   Relative rendah    Tak disukai
      lignit               Banyak                  -         Relative rendah    Tak disukai
                  h. Kandungan air dalam batubara

                       Air yang terdapat dalam batubara, baik secara inherent moisture maupun
                       sebagai kecil moisture yang lain, akan merugikan karena mengurangi
                       panas yang dihasilkan
                  i.   Impurities dalam batubara

                       Bila proses poencucian batubara tidak baik, akan di temui impurities
                       missal clay. Dengan adanya impurities inim tentunya akan mengacaukan
                       jumlah umpan panas ke dalam tanur putar tersebut.

                        3.    TERJADINYA IMPURITIES


     Seperti diketahui batubara yang diambil dari hasil penambangan selalu mengandung
bahan –bahan pengotor ( impurities ) , di ketahui 2 jenis impurities yaitu inherent impurities dan
external impurities.

               a. Inherent impurities merupakan pengotor bawaan yang terdapat di dalam
                  batubara , batubara yang sudah dicuci bersih ( bentuk bongkah ) , ketika
                  dibakar habis ternyata masih memberikan sisa abu pengotor bawaan ini
                  terjadi bersama sama pada waktu terjadi proses pembentukan batubara
                  (ketika masih berupa gelly ). Pengotor ini dapa berupa mineral seperti :
                  gypsum, anhidrit , pirit , silica , markasut dan dapat pula benbentuk tulang-
                  tulang binatang (di ketahui ada senyawa posfor dari hasil analisa abu )

               b. External inpuritities antara lain terbawanya lapisan penutup . kejadian ini
                  sangat umum dan sulit di hindarkan khususnya pada kegiatan tambang
                  terbuka,
                        BAB 4
             KOMPONEN PEMBENTUK BATUBARA



      pengetahuan tentang petrologi batubara dirintis oleh wiliam hutton ,
( 1883 ) . analisis petrologi yang di lakukan dengan menggunakan seyatan
tipis awalnya untuk mengidenfikasi jenis tumbuhan pembentukan batubara .

    studi tentang petrologi batubara di perkaya dengan penemuan stopes
(1919) dan thiessen (1920) . stopes mempergunakan microskop untuk
mendukung hasil pemerian . stopes dan thiesen sama –sama menggunakan
teknik sayatan tipis , tetapi stopes pada akhirnya menggunakan sinar pantul .

     pada tahun 1930 di perkenalkan suatu teknik baru yang menjadi bagian
dari ilmu pertologi batubaram yaitu pengukuran refleksi maceral dan
kegunaannya adalah sebagai parameter derajat batubara. Pada tahun 1935,
stopes memperkenalkan konsep maceral yang dapat di artikan sebagai
komponen terkecil dari batubara (mineral pada batuan ) , konsep maceral ini
yang tetap di pakai sampai saat ini , pada waktu itu para ahli mencoba
mencari hubungan antara komposisi petrologi dengan sifat-sifat keteknikan
dari batubara.seperti di ketahui bahwa batubara yang kaya akan kelompok
maceral vitrinit dan exsinit mempunyai perbedaan nyata di dalam sifat
pencairan , peng gasan dan pembakaran , jika di bandingkan dengan
batubara yang kaya akan inertinit.

Studi tentag batu bara mengalami pengembangan pesat, sementara sejak
tahun 1960-an antara lain di teliti lebih lanjut tentang :
  1.    Petrologi gambut , untuk mengetahui jenis tumbuhan pembentuk
  2.    Factor-faktor yang mungkin mempengaruhi proses pembatubaraan
  3.    Hubungan antara petrologi batubara dengan sedimentasi
  4.    Tingkat oksidasi
  5.    Teknologi batubara seperti pengkokasan , pencairan penggosongan
        dan pembakaran
        Dengan perkembangannya petrologi batubara , suatu teknik baru di
        perkenalkan yaitu : penggunaan sinar ultra violet dan mikroskop
                   automatic sinar ultraviolet umumnya di pergunakan pada kelompok
                   lignit yang kaya hydrogen.



1. KOMPOSISI PETROLOGI BATUBARA

        Petrologi batubara adalah ilmu yang mempelajari komponen organic dan bukan
  organic pembentuk batubara. Untuk memepelajari petrologi batubara umumnya di
  tinjau dalam 2 aspek yaitu jenis dan drajat batubara . dan perkembangannya di
  pengaruhi oleh proses kimia dan biokimia selama proses penggambutan . dengan
  demikian jelas bahwa batubara itu bukan suatu benda homogen , melain terdiri dari
  beberapa macam komponen dasar , di dalam batubara komponen ini dinamakan
  maceral sedang maceral de bagi menjadi 3 kelompok utama yaitu vitrinit , eksinit, dan
  inertinit, maceral pembentuk batubara umumnya berasosiasi satu nama lain dengan
  perbandingan berbeda-beda asosiasi ini di kenal sebagai litotipe dan mikrolitotipe
  litotipe merupakan pita-pita tipis dalam batubara yang terlihat secara megaskopis.
  Ketiga kelompok maceral ini dapat di bedakan dari morfologi ( kenampakan dibawah
  mikroskop ), asal kejadian sifat-sifat fisik dan kimia di punyai
         Table 9. ringkasan Marceral batu bara ( modifikasi dari smith, 1981 )
 Kelompok mineral                 Maceral                 Asal kejadian          keterangan
                                  telovitrinit            Kayu dan serat         Kaya oksigen , umum pada
                                                          kayu                   batubara, VM = 35%
           vitrinit                                                              lingkungan reduksi penurunan
                                                                                 cepat , permukaan air dalam ,
                                                                                 reaktif S.G= 1,3-1,8.
                                  Sporinit                Spora, sarang          Kaya oksigen VM = 67%
                                                          spora butiran-         umuym pada oli shale dan
                                                          butiran serbuk         batuan pembawa minyak.
                                                          sari
                                  Lipto detrinit          Pecahan-
                                                          pecahan
                                                          eksinit,

                                  Resinit                 Resin,
           Eksinit
                                                          lemak,paraffin
                                  Suberinit               Cork, kulit kayu
                                  Alginit                 Sisa ganggang
                                  Eksudatinit             Minyak,
                                                          bitumen yang
                                                          keluar selama
                                                          proses
                                                          pembatubaraan
                                  fluorinit               Lipids, minyak
                                  Semifusinit             Hasil ubah             Kaya karbon VM= 23%
                                  Fusinit                 (biokimia) dari        penurun lambat , permukaan
                                  Sklerotinit             kayu dan serat-        air rendah atau bergelombang
          inertinit
                                  Inertodetrinit          serat kayu             , tidak reaktif S.G = 1,5-,2,0
                                  Mikrinit                selama
                                  makronit                penggambutan.

Catatan : VM : volatile matter
          SG : specific gravity



    Untuk batubara Indonesia yang umumnya yang berderajat subbitumine masih dapat
menggunakan klasifikasi ini , clarain dan vitrain adalah litotipe yang umum pada batubara
Indonesia (dauly, 1985 ) pemerian
Table litotipe batubara ( modifikasi dari stopes 1919 )
               litotie                            Keterangan               Kenampakan pd microskop
                                        Abu-abu hitam kecoklatan ,       Durit ( kaya akan eksinit dan
              durain                    permukaan kasar , kilap          iner tinit
                                        berminyak ( greasy )
                                        Hitam atau abu2 hitam kilap      Fusit ( kaya akan fusinit )
              Fusain                    sutra, berserabut , gampang
                                        di remes ,
                                        Lapisan –lapisan tipis yang      Klarit dan sedikit vitrit ( kaya
              klarain                   cemerlang dan buram ( <          akan vitrit dan eksinit ),
                                        3mm )                            batuan pembawa minyak.
                                        Berbentuk lapisan atau lensa ,   Vitrit dan sedikit klarit ( kaya
              Vitrain                   ketebalan berkisar 3-5 mm        dengan vitrianit
                                        pecah dengan sisitim kubik


Secara megaskopis dapat memberi gambaran komposisi maceral batubara tersebut,
mikrolitotipe ( menurut the international comite for coal petrologi , 1963 ) adalah suatu asosiasi
maceral ( terlihat di bawah mikroskop ) dengan ketebalan minimum 50 mm , ketiga kelompok
utama mikrolitotipe di tandai dengan 1- maceral , 2- maceral , 3- maceral tergantung apakah
asosiasi maceral itu sendiri dari 1,2 dan 3 kelompok maceral .

    Analisa mikrolilotipe dapat memberikan gambaran mengenai tekstur batubara , jika ada
dua batubara yang mempunyai kandungan vitrinit hamper sama m tetapi yang satu (1 )
kandungan vitrinitnya lebih tinggi dari yang lain ( II ) . maka dapat di simpulkan bahwa vitrinit
yang tebentuk pada batubara satu merupakan pita-pita tabal . data ini sangat di perlukan
dalam perencanaan preparasi batubara tersebut. Ukuran internitit yang di peroleh sangat
bermanfaat di dalam proses pengokasan.selain ketiga kelompok maceral tersebut diatas ,
batubara juga mengandung zat bukan organic yang di sebut mineral matter.
Mikrolitotipe
                       Vitrit                       Vitrinit > 95%
          1. Maceral   Liptit                       Liptinit > 95%
                       inertit                      Inertinit > 95%
                       Klarit                       Vitrinit + liptinit > 95%
                       Durit                        Vitrinit + inertinit > 95%
          2. maceral   Vitrinetit                   Liptinit + inertinit >95%


                       Duroklarit                   Vitrinit > liptinit dan inertit
                       Klarodurit                   Inertit > vitrinit dan liptinit
                       Vitrinertolip                Liptinit vitrinit dan inertinit
          3. maceral
                       Tinit
                       Hitam, kilap sutra,          Kaya akan fusinit
                       berserabut, mudah di remas
Matter ( berhubungan langsung dengan abu batubara ) umumnya terbentuk sebagai material-
material halus menyebar pada batubara atau terkumpul membentuk lapisan-lapisan tipis.

   2. DRAJAT BATUBARA



             Drajat batubara adalah posisi batubara pada seri klasifikasi mulai dari gambut
      sampai antarsit, perkembangannya sangat di pengaruhi oleh temperature , tekanan dan
      waktu ( lopatin , 1971 : bostick, 1973 ) . banyak parameter yang telah di pergunakan
      penentuan derajat batubara ( crock, 1983 ) , salah satu di antaranya adalah refleksi
      vitrinit . cara ini belum di kenal begitu di Indonesia , dan telah berkembang pesat di
      amerika, Australia, jerman, terutama pada perusahaan- perusahaan yang bergerak
      dalam eksplorasi minyak dan gas. Semua jenis maceral dapat diukur refleksinya, tetapi
      kelompok vitrinit adalah yang umum di pilih , kelompok ini cenderung terbentuk sebagai
      pecahan-pecahan kasar dan homogen , merupakan kelompok meceral utama pada
      kebanyakan batubara dan menunjukan korelasi yang bagus dengan parameter lain yang
      di pakai sebagai derajat batubara . dengan cara refleksi vitrinit ini, pengukuran dapat di
      lakukan dengan singkat dan pasti.
GAMBAR PEMBENTUKAN BATUBARA
Skema pembentukan batu bara




    Cekungan pengendapan batubara 1
Gambar; Cekungan pengendapan batubara di Indonesia




                Gambar; Produsen utama batubara
lignit




  Sub- bituminous-anthracite
                                 KATA PENGANTAR


      Fosil tumbuhan atau lebih dikenal dengan nama batubara dan gambut merupakan bahan
galian organic padat yang terdapat cukup banyak di Indonesia . sebelum perang dunia kedua
meletus, batubara merupakan bahan bakar utama, hal ini dapat di lihat bahwa kapal laut,
kereta api dan mesin –mesin industry di gerakan dengan bahan bakar batubara ,



      Sebelum perang dunia kedua selesai peranan batubara tergeser oleh minyak , yang pada
saat itu mulai di dapatkan baik di daratan maupun di lepas pantai . tersedianya minyak yang
melimpah mengakibatkan keberadaan tambang batubara mulai dilupakan diikuti dengan
terjadinya revolusi industry dan di ciptakannya mesin dengan bahan bakar minyak bumi.



     berkurangnya persediaan minyak yang berhasil di produksi oleh Negara-negara timur
tengah ,sedang permintaan minyak sebagai bahan bakar di Negara industry semakin meningkat
. hal tersebut Krisis minyak sebagai akibat terjadinya perang teluk pada tahun 1979
menyebabkan mengakibatkan kenaikan harga minyak sehingga untuk mengimbanginya orang
menengok lagi ke batubara sebagai bahan bakar alternative yang sudah lama di lupakan .
sebagai tindak lanjut Negara-negara penghasil batu bara mulai aktif kembali melakukan
eksplorasi batubara guna mendapatkan deposit batubara yang baru di samping meningkatkan
eksploitasi pada deposit-deposit batubara yang telah di ketahui.
                             DAFTAR ISI



HALAMA JUDUL…………………………………………………………………………………………………… i

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………………………………….ii

DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………………………… iii

BAB 1 . PENDAHULUAN …………………………………………………………………………………… 1

  1. Peranan batubara di Indonesia………………………………………………………………… 1

BAB 2. CARA TERBENTUKNYA BATUBARA……………………………………………………………2

  1.   Tempat terbentuknya batubara…………………………………………………………………2
  2.   Factor yang berpengaruh………………………………………………………………………… 3
  3.   Terbentuknya lapisan batubara tebal…………………………………………………………6
  4.   Reaksi pembentukan batubara………………………………………………………………… 7
  5.   Bentuk lapisan batubara

BAB 3 SIFAT UMUM BATUBARA………………………………………………………………………… 11

  1. Jenis batubara……………………………………………………………………………………… 12
  2. Sifat batubara…………………………………………………………………………………………13
  3. Terjadinya impurities………………………………………………………………………………18

BAB 4 KOMPONEN PEMBENTUKAN BATUBARA…………………………………………………19

  1. Komposisi petrologi batubara……………………………………………………………… 20
  2. Derajat batubara…………………………………………………………………………………… 24

BAB 5 LAMPIRAN GAMBAR……………………………………………………………………………… 25

          Skema pembentukan batubara………………………………………………………25
          Cekungan pengendapan…………………………………………………………………26
          Lignit………………………………………………………………………………………………27
         LAPORAN
     GANESA BATU BARA




          Disusun oleh :
              DEKY
 NPM: 08.11.108.701602.000273




UNIVERSITAS KUTAI KARTANEGARA
FAKULTAS TEKNIK PERTAMBANGAN
         TENGGARONG

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:696
posted:6/11/2010
language:Indonesian
pages:31
Description: ganesa bahan galian