Docstoc

LP Tinggalan Arkeologi dan Tradisi Lisan di Kabupaten Bandung

Document Sample
LP Tinggalan Arkeologi dan Tradisi Lisan di Kabupaten Bandung Powered By Docstoc
					                                               BAB I
                                       PENDAHULUAN



1.4 METODE PENELITIAN

           Dalam hal mendokumentasikan tinggalan arkeologi, penelitian ini mengacu

pada penelitian arkeologi. Arkeologi merupakan ilmu yang mempelajari masa

lampau dengan tujuan untuk merekonstruksi sejarah kebudayaan, merekonstruksi

cara hidup manusia, dan merekonstruksi proses budaya (Binford, 1972: 78-89).

Untuk mencapai tujuan itu, dalam implementasi di lapangan, arkeologi menggunakan

berbagai tahapan dimulai dari observasi, deskripsi dan akhirnya eksplanasi.

           Observasi merupakan tahapan kerja pertama dalam metode arkeologi, yaitu

proses pencarian dan pengumpulan data, baik data tertulis maupun data lapangan

yang berkaitan dengan objek penelitian. Pengumpulan data tertulis dilakukan pada

sejumlah sumber tertulis, baik primer maupun sekunder, berupa arsip-arsip kolonial,

artikel-artikel yang sezaman, dan buku-buku. Pengumpulan sumber dilakukan di

Bandung dan Jakarta. Di Bandung pencarian sumber dilakukan di Perpustakaan

Pusat Universitas Padjadjaran, Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran,

dan Perpustakaan Pemda Propinsi Jawa Barat. Di Jakarta, pengumpulan sumber

dilakukan di Arsip Nasional RI, Perpustakaan Nasional RI, dan Perpustakaan Pusat

Penelitian Arkeologi Nasional. Sementara data lapangan diperoleh melalui survei1 di


1
    Survei adalah pengamatan tinggalan arkeologi disertai dengan analisis mendalam. Selain itu, survei
    juga dapat dilakukan dengan cara mencari informasi dari penduduk. Tujuannya untuk memperoleh
    data tentang artefak atau situs arkeologi yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Bisa juga
situs-situs arkeologi yang berada di Kabupaten Bandung, berupa perekaman terhadap

tinggalan arkeologi baik dari masa prasejarah, Hindu Budha, maupun Islam.

        Sumber-sumber yang dikumpulkan itu, diidentifikasi dan diolah melalui

tahapan deskripsi. Dalam kajian pendokumentasian situs maupun artefak, penelitian

ini termasuk kedalam tipe Eksplikatif atau deskriptif, yaitu memberikan gambaran

data arkeologi yang ditemukan dalam tiga dimensi arkeologi, baik dalam kerangka

waktu, bentuk, maupun keruangan serta mengungkapkan hubungan di antara

berbagai variabel penelitian.2

         Selanjutnya, data yang diperoleh kemudian dianalisis agar data yang

tampaknya terlepas satu dengan lainnya menjadi saling berkaitan. Tahapan terakhir

yang dilakukan adalah eksplanasi atau penulisan tentang gambaran budaya yang

saling terpadu, harmonis dan logis. Gambaran budaya tersebut berwujud pada hasil

dokumentasi tinggalan arkeologi di Kabupaten Bandung.




  penelitian ulang terhadap artefak atau situs yang pernah diteliti. Survei dapat pula berarti melacak
  berita dalam literatur atau data karena adanya laporan temuan. Kegiatan survei terdiri dari survei
  permukaan, survei bawah tanah, dan survei bawah air (Sukendar, dkk., 1999: 22). Dalam penelitian
  ini dilakukan survei permukaan.
2
  Sukendar, dkk., 1999: 20.
                                    BAB II
                     PENINGGALAN ARKEOLOGIS



1.1 SITUS DANAU BANDUNG

       Berdasarkan catatan geologis, kira-kira 6.000 tahun yang lalu, Bandung

merupakan sebuah danau yang terbentuk karena tersumbatnya aliran Sungai Citarum

purba oleh material yang dimuntahkan letusan Gunung Tangkuban Parahu. Danau

tersebut memiliki daerah tepian yang meliputi Padalarang, Dago, Lembang,

Cicalengka, Banjaran, Soreang, dan Cililin. Di kawasan ini ditemukan sejumlah

artefak, baik dari masa prasejarah, masa Hindu Budha, bahkan sampai pada masa

Islam. Temuan itu berupa peralatan budaya prasejarah, rangka manusia, candi, dan

makam.

1.1.1 PERALATAN

       Peralatan budaya prasejarah yang ditemukan di sekitar Danau Bandung

(purba), terdiri dari berbagai unsur yang memperlihatkan tingkatan perkembangan

dari masa ke masa, mulai dari masa epi paleolitik, neolitik, hingga masa perundagian

(awal). Temuan utama yang ditemukan dalam jumlah yang sangat besar adalah alat-

alat obsidian. Menempati urutan kedua dalam hal jumlah adalah fragmen gerabah.

Temuan lainnya yaitu manik-manik, alat-alat batu dari masa neolitik, fragmen benda

perunggu, keramik, dan alat-alat pengasah dari batu yang merupakan sisa-sisa
pembuatan benda pemujaan dari masa megalitik.3 Temuan alat-alat batu itu, di

antaranya terbuat dari batuan jenis rijang (chert)4, yang ditemukan di Kulalet,

Baleendah.5

          Alat-alat obsidian ditemukan di sektor selatan-baratdaya Danau Bandung

(purba), antara lain oleh A.C. de Jong dan G.H.R. von Koenigswald (1930-1935), J.

Krebs (1932-1933), W. Rothpletz dan W. Mohler (1942-1945), dan Nies Anggraeni

(1978), yaitu:

    1. Kulalet, Baleendah;

    2. Pr. Tulangtiwu, Cangkring, ciparay;

    3. Cimuncang, Manggahang, Dayeuhkolot;

    4. Kuburanthai, Pr. Pager, sebelah barat Majalaya.

    5. Pameungpeuk, Dayeuhkolot;

    6. Pr. Ilamis, Dayeuhkolot;

    7. Pr. Kiarajanggot, Kp. Cicatar;

    8. Pr. Panjang, Cihelang, Ciparay.

    9. Pr. Tulangtiwu, S. Cangkring, WNW Ciparay;

10. Pr. Kemis, Manggahang;

11. S. Cimuncang 2, Desa Manggahang;

12. Cilebak, Pameungpeuk, timur laut Padalarang.6




3
  Anggraeni, 1976: 55-56).
4
   Batuan rijang (chert) merupakan jenis batuan yang mengandung silika (SiO2) yang berasal dari
   organik atau anorganik dan bersifat kriptokristalin. Terdapat dalam bentuk bintil (nodule) atau
   lapisan, berupa endapan primer maupun sekunder, dan dalam bentuk silika yang tersebar rata dalam
   batuan dengan bidang pecah hampir merata (Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, 1993: 325).
5
  Lubis, Nina H., 2005: 15.
6
  Ibid, hal. 17.
        Alat-alat batu dari masa neolitik di antaranya berbentuk beliung dan calon

beliung,7 ditemukan di sekitar Danau Bandung (purba) oleh G.H.R. Von

Koenigswald (1935), W. Rothpletz (1951), Nies Anggraeni (1978), tim Pusat

Penelitian Arkeologi Nasional (1002), dan Boedi (2001), di tiga kawasan yaitu

wilayah utara-timurlaut, wilayah baratlaut, dan wilayah selatan-baratdaya, antara lain

di Kukulu, Cikadut, Cililin, Cijenuk, dan Pasir Panyandakan. Beliung dipergunakan

sebagai alat bercocok tanam, dan sampai sekarang alat itu masih digunakan oleh

sebagian masyarakat Banten untuk menebang pohon di sekitar lahan yang akan

dijadikan huma dalam proses nyacar.8

        Gerabah ditemukan di tiga lokasi, yaitu: (1) Pr. Tulangtiwu, Cangkring,

Ciparay; (2) Selagombong, Cikadu, Sindangkerta, Cililin; dan (3) Gunung Lumbung,

Cililin, bersama dengan ditemukannya batu asah. Adapun keramik ditemukan di Pr.

Kemis, Manggahang, bersama dengan ditemukannya alat-alat obsidian. Gerabah

tersebut dikumpulkan oleh de Jong dan von Koenigswald (1930-1935), dan

Rothpletz (1941-1947). Tradisi gerabah dimulai pada masa bercocok tanam (neolitik)

untuk berbagai keperluan antara lain tempat menyimpan (storage vestel), memasak

(cooking vestel), mengasin dan mengasapi ikan (curing fish), peralatan upacara

seperti bekal kubur (burial-gift), dan wadah kubur (jar-burial).9

1.1.2 FOSIL DAN RANGKA MANUSIA

        Kawasan Karst Pawon secara administratif terletak di wilayah Kecamatan

Cipatat, Kabupaten Bandung. Kawasan ini menjadi perhatian para peneliti baik

arkeologi maupun geologi, sejak ditemukannya jejak-jejak kehidupan manusia di

7
  Beliung yang berada di Museum Geologi Bandung berjumlah 67 buah.
8
  Lubis, Nina H., 2005: 19-21.
9
  Ibid, hal. 22-24.
Gua Pawon. Dari peneliti geologi, Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB),

pada tanggal 9 Desember 2000 menemukan serpihan peralatan batu, tulang-tulang

binatang, cangkang siput, dan gerabah. Temuan itu menurut DR. Thor Andy, seorang

peneliti senior Perancis, memperkirakan Gua Pawon telah dihuni secara intensif

sejak lebih 10.000 tahun yang lalu. Kini temuan itu disimpan di Museum Geologi,

Bandung. Sementara itu, tinggalan arkeologi yang ditemukan berasal dari berbagai

masa sejak masa prasejarah hingga sekitar abad ke-17.

          Penelitian arkeologi dari Balai Arkeologi Bandung pada tanggal 10-19 Juli

2003, melakukan ekskavasi dengan kedalaman 1,4 m di dalam Gua Pawon yang

terletak di kaki Gunung Masigit. Mereka menemukan tidak kurang dari 20.250

potongan tulang dan lebih dari 4.000 batu. Lokasi temuan sekitar 20 kilometer arah

barat pusat kota Bandung. Berdasarkan penelitian sementara, tulang-belulang yang

ditemukan diduga merupakan fosil dari berbagai hewan, seperti kera, burung, kura-

kura, rusa dan babi. Disamping itu, bebatuan yang ditemukan merupakan perangkat

manusia purba dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, seperti pisau serut, mata panah

dan ujung tombak. Temuan itu kemudian dipindahkan dari lokasi ke Balai Arkeologi

Bandung. Keberadaan Gua Pawon saat ini terancam oleh penggalian kapur yang

dilakukan penduduk sekitar. Banyak bukit di sekitarnya yang sudah habis dipotong

dan digali penduduk untuk mendapatkan kapur yang dijual kepada para pengusaha.10

          Penelitian arkeologi lanjutan yang dilakukan Balai Arkeologi Bandung

bekerjasama dengan Balai Pengelolaan Kepurbakalaan, Kesejarahan dan Nilai

Tradisional, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, berhasil mengungkap


10
     http/://www.sinar harapan.co.id
bahwa di masa lalu, Gua Pawon digunakan sebagai tempat hunian berupa hunian

tertutup yang memanfaatkan gua sebagai tempat bermukim.

           Berdasarkan bentuk tengkorak yang ditemukan berupa fosil terlipat11 yang

utuh, diketahui bahwa Manusia Pawon berasal dari kelompok ras mongoloid, jenis

kelamin belum diketahui, namun besar kemungkinan perempuan. Berdasarkan hasil

analisis C-14, umur Manusia Pawon antara 5660±170 BP sampai 9520±200 BP.

Dengan demikian, temuan ini merupakan ras mongoloid paling tua yang ditemukan

di seluruh Indonesia.12

           Di sekitar Gua Pawon, jejak-jejak kehidupan manusia ditemukan di puncak

Pasir Pawon dan di lembah sekitar aliran Cibukur. Di puncak Pasir Pawon, di mana

terdapat stone garden ditemukan sebaran artefak berupa fragmen tembikar dan

keramik. Selain itu, ditemukan sebaran batuan beku yang diduga merupakan sisa

unsur bangunan.

           Fragmen tembikar yang ditemukan menunjukkan tingkat teknologi mulai dari

yang sederhana hingga sudah agak maju. Tembikar dengan teknologi sederhana

merupakan ciri teknologi masa prasejarah. Sementara itu, fragmen tembikar dari

teknologi yang lebih maju mempunyai persamaan dengan tembikar Buni yang

berkembang di daerah pantai Karawang hingga Pamanukan. Diperkirakan tembikar

Buni berkembang sejak abad ke-2 SM hingga masa Kerajaan Sunda dan awal Islam

(Abad ke-17).

           Temuan fragmen keramik Cina berbentuk guci berasal dari masa dinasti

T’ang (abad ke-7--10), sementara dari masa dinasti Song (abad 10 – 13), fragmen

11
     Posisi rangka dengan posisi tersebut sangat langka.
12
     http://www.distamben-jabar.go.id.; http://alumni.ista.ac.id
kleramik berbentuk mangkuk dan bercirikan glasir warna hijau seladon. Selanjutnya,

dari masa dinasti Yuan (abad 13--15), fragmen keramik berbentuk mangkuk tanpa

kaki, dan pada bagian dalam berglasir warna abu-abu.

       Sebaran batuan beku, salah satu di antaranya berbentuk bulat panjang, diduga

merupakan bekas struktur bangunan berundak yang lazim berkembang pada

masyarakat pendukung tradisi megalitik. Bangunan tersebut merupakan sarana dalam

ritual pengagungan arwah nenek moyang.

       Di sebelah utara Gunung Masigit berjarak sekitar 40 m terdapat aliran sungai

Cibukur. Di sungai tersebut ditemukan alat batu berupa kapak perimbas monofacial

dari bahan batu gamping yang berasal dari masa paleolitik.

       Selain tinggalan arkeologis, di sekitar kawasan karst pawon terdapat tradisi

yang menempatkan Pasir Pawon sebagai wilayah sakral. Pasir Pawon dipercaya

sebagai lokasi petilasan para karuhun. Petilasan tersebut tersebar di dalam Gua

Pawon, di puncak pasir, dan di pinggir persawahan sebelah utara Gunung Masigit.

Beberapa nama yang diketahui adalah Rama Agung, Embah Kalapa, Eyang Haji

Putih Jagareksa, Krincing Wesi, Centring Manik, Manik Maya, Embah Purbakawasa,

Embah Gatot Jalasutra, dan Embah Basar.

       Pada petilasan Embah Purbakawasa yang terletak di puncak Pasir Pawon, saat

ini terdapat “makam” yang dibangun oleh seseorang yang terkabul keinginannya.

Petilasan para karuhun juga terdapat pada salah satu ruangan di dalam Gua Pawon.
Demikian halnya “makam” yang terdapat pada petilasan Embah Basar13 di pinggir

persawahan sebelah utara Gunung Masigit.14

1.2 SITUS BOJONGMENJE15




                         Sumber: http://www.aiwon.com

        Secara administratif, situs Bojongmenje terletak di Kampung Bojongmenje,

Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek. Berada pada 107O 48’ 02” BT dan 6O 50’

47” LS, pada ketinggian 675 m dpl. Ditinjau dari segi geomorfologi, kawasan situs

merupakan pedataran bergelombang dengan ketinggian antara 620 hingga 1700 m di

atas permukaan laut. Dataran rendah berada di sebelah selatan dan barat, sedangkan

bagian utara dan timur merupakan perbukitan. Bukit-bukit tersebut antara lain G.

Bukitjarian (1282 m), G. Iwiriwir, Pr. Sumbul (949 m), G. Kareumbi, G. Kerenceng

(1736 m), G. Pangukusan (1165 m), Pr. Sodok, Pr. Panglimanan, Pr. Dangusmelati,

Pr. Serewen (1278 m), G. Buyung, dan beberapa puncak lainnya.16




13
    Mbah Basar adalah tokoh setempat yang menjadi orang kepercayaan Sunan Gunung Jati dari
   Cirebon dalam menyebarkan agama Islam di kampung tersebut.
14
   http://www.distamben-jabar.go.id
15
   Tulisan tentang situs ini dimuat juga dalam Lubis (dkk.), 2003, dalam Sejarah Tatar Sunda Jilid I,
   hal. 121-125.
16
   Berdasarkan peta topografi daerah Sumedang lembar 4522-II.
          Dataran rendah tempat situs berada dialiri beberapa sungai. Sungai-sungai itu

bermata air dari kawasan pegunungan di sebelah utara dan timur. Di kawasan paling

barat mengalir Sungai Cikeruh. Ke arah Timur berturut-turut terdapat aliran Sungai

Cikijing, Cimande, dan Citarik. Sungai Cikijing dan Cimande bersatu dengan

Citarik. Sungai Cimande yang mengalir di dekat situs, di sebelah timur bermula dari

arah selatan ke utara kemudian berbelok ke arah barat. Di sebelah barat laut situs,

sungai ini kemudian berbelok lagi ke arah selatan.17

          Lokasi berada pada lahan pemakaman umum yang dikelilingi oleh areal

pabrik, di sebelah selatan jalan raya Bandung-Tasikmalaya. Jalan menuju situs hanya

dapat melalui lorong di antara padatnya perumahan penduduk dan tembok pagar

pabrik bata. Panjang lorong dari jalan raya hingga lokasi situs sekitar 125 m.

Sementara lahan pemakaman berada 75 m di sebelah selatan kelokan Sungai

Cimande. Di antara makam tersebut terdapat makam keramat, yaitu makam Mbah

Raksa Dipa, Mbah Raksa Praja, dan Mbah Jaya Raya. Mereka berasal dari Cirebon

dan masyarakat setempat percaya bahwa mereka adalah salah satu leluhur

masyarakat Bojongmenje. Para sesepuh kampung Bojongmenje percaya bahwa

penemuan candi itu sudah tercatat dalam uga (ramalan) yang selama ini ada dalam

tradisi mereka. Di lokasi itu, sebelumnya terdapat arca batu yang menggambarkan

sosok wanita sedang menimang bayi. Mereka menamakannya candi Orok. Sementara

itu, di sebelah barat dan timur candi itu terdapat bangunan dan beberapa arca yang

berjajar. Candi yang terletak di sebelah timur dinamakan Candi Wayang.18




17
     Djubiantono et al., 2002: 5-6.
18
     Wawancara dengan Rochman, kuncen situs candi Bojongmenje, 6 Mei 2007.
           Keberadaan situs ini pertama kali diberitakan dalam Surat Kabar Harian Gala

Media, edisi 20 Agustus 2002. Penemuan situs Bojongmenje bermula dari cerita

Bapak Ahmad Muhammad, pada tanggal 18 Agustus 2002 ketika ia menggali tanah

untuk mencari rayap sebagai umpan ikan, dan menemukan batu-batuan candi. Pada

tanggal 19 Agustus 2002, ia dan keduabelas temannya melanjutkan penggalian dan

menemukan tatanan batu. Atas penemuannya itu, mereka melapor ke pihak

berwenang, antara lain Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, Balai

Arkeologi Bandung, dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bandung.

Menindaklanjuti laporan itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, dan

Balai Arkeologi Bandung pada tanggal 20 Agustus 2002 melakukan peninjauan.

           Di situs ini, terdapat reruntuhan candi yang terletak di bagian sudut barat laut

lahan makam, pada sebuah gundukan tanah setinggi 1,5 m. Bagian puncak gundukan

ditumbuhi pohon bungur. Bangunan candi yang tampak akibat penggalian

masyarakat itu adalah sisi barat, membujur arah utara-selatan sepanjang 4 m.

Susunan batu itu menunjukkan profil kaki candi yang menunjukkan adanya pelipit

ojief (sisi genta), dan bentuk persegi yang merupakan variasi dari bentuk half round

(setengah lingkaran).19

           Ekskavasi penyelamatan yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan

Pariwisata Jawa Barat, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bandung, Balai

Arkeologi Bandung, dan Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Serang, pada

bulan September 2002 berhasil menampakkan denah candi berbentuk bujursangkar

berukuran sekitar 6 x 6 m, bila diukur dari pelipit ojief (sisi genta) dan sekitar 7,5 x

7,5 m bila diukur dari batu paling bawah. Candi menghadap ke timur. Bahan utama

19
     Djubiantono dan Saptono, 2002a: 18; Djubiantono dan Saptono, 2002b: 1-2.
yang dipergunakan adalah batuan vulkanik, meskipun pada beberapa kotak gali

ditemukan bata, berukuran berkisar antara tebal 9 cm; lebar 20 cm; dan panjang 40

cm. Batu isian berupa batu-batu polos yang tidak dibentuk. Kebanyakan batu isian

berbentuk panjang, disusun secara melintang (berpotongan dengan struktur sisi).

Tanah di sekitar fondasi bangunan diperkeras dengan pecahan bata dan kerikil.

Kendala yang dihadapi para peneliti adalah resapan air tanah yang cukup deras pada

kedalaman sekitar 1 meter sehingga kaki candi yang sedang digali terendam air.

Berdasarkan pola stratigrafik, candi ini terkubur selama beberapa waktu melalui

proses sedimentasi.

           Hasil ekskavasi di situs Bojongmenje menghasilkan temuan calon yoni. Jejak

tatahan untuk membentuk cerat terlihat jelas. Bagian calon cerat itu ternyata tidak

simetris. Secara keseluruhan, calon yoni berukuran panjang (termasuk calon cerat)

50 cm, lebar 39 cm, dan tebal 12 cm. Selain itu, ditemukan batu yang salah satu

sisinya terdapat cekungan sebanyak dua buah, berbentuk setengah lingkaran. Batu itu

berukuran panjang 75 cm, lebar 28 cm, tebal 18 cm, diameter pahatan 21 cm dan 22

cm. Temuan lain adalah fragmen tembikar dan tatal obsidian. Fragmen tembikar ada

yang polos dan berhias. Pola hias tembikar antara lain berupa garis-garis dan jala.

           Arang sebagai materi yang dapat di-dating juga ditemukan. Selain itu,

ditemukan sejenis wadah berbentuk kotak dari bahan batuan tufa. Wadah tersebut

berukuran 12 x 11 cm dengan ketebalan 5,5 cm. Pada bagian penampang datar

terdapat lubang berbentuk segiempat berukuran 8 x 8,5 cm. Posisinya berada di

bawah jalan/tangga masuk.20 Laporan terbaru dari penelitian candi Bojongmenje



20
     Djubiantono dan Saptono, 2002a: 3-6.
adalah ditemukannya lingga dan yoni. Dari temuan sementara itu, Candi

Bojongmenje dapat dipastikan berlatar belakang agama Hindu Saiwa.

1.3 SITUS CIKAHURIPAN21

           FOTO

           Situs Cikahuripan atau lebih dikenal dengan nama situs Raden Ki Samaun

Sembah Anom, terletak di ujung selatan Kabupaten Bandung, atau di perbatasan

antara Kabupaten Bandung dengan Garut. Tepatnya di kaki Gunung Batu Tulis,

Kampung Neglasari, Desa Loa, Kecamatan Paseh. Cikahuripan (Air kehidupan)

merupakan mata air yang keberadaannya sekarang dipercaya sebagai air suci. Di

sekitar mata air itu, tepatnya di kaki hingga puncak Gunung Batu Tulis terdapat

sejumlah makam (keramat) yang juga dipercaya sebagai makam penyebar agama

Islam di daerah tersebut.

           Cikahuripan merupakan tempat suci dari Sembah Dalem Eyang Prabu Kian

Santang, Sembah Dalem Bentang Ayunan, Sembah Dalem Tambak Larang, dan Nyi

Mas Larangsari. Tempat ini berada di kerimbunan pohon besar sehingga terkesan

lembab dan angker. Di sekitarnya terdapat makam-makam terbuat dari batu kali,

yang diberi nama Sembah Dalem Kalipaksi, Sembah Dalem Sapujagat, Eyang Sepuh

Penata Agama, Eyang Anom Dalimuda (Eyang Ratu Sunda), Sembah Dalem

Pamutusan, Sembah Dalem Panarosan, Sembah Dalem Wangunjaya, Sembah Dalem

Mangunjaya, Sembah Dalem Kalurahan, Sembah Dalem Sudapati, Sembah Dalem

Panghulu, Eyang Dipa, Eyang Mahnameng, Eyang Mahdengung, Eyang Mahyoda,


21
     Tulisan tentang situs Cikahuripan berdasarkan wawancara dengan Memed Suryaman, kuncen situs
     tersebut. Dia merupakan generasi terakhir dari kuncen terdahulu, mulai dari buyutnya, Eyang Arta,
     Eyang Wardi, dan ayahnya Achwad.
Eyang Kasep (Arya Jakarya), Eyang Terasjaya, Eyang Parukut, Sembah Dalem

Jurubasa, Eyang Prabu Munding Kawati,22 Sembah Dalem Abdul Khair, dan Sembah

Dalem Pagerjaya. Makam selanjutnya berada di Desa Sindangsari,23 yaitu makam,

Eyang Jagadriksa, Embah Pembukuan, dan Eyang Kajaksaan.

           Berdasarkan Wawacan Ki Samaun, yang ditulis dengan huruf Arab Pegon,

Raden Ki Samaun Sembah Anom merupakan putra dari Ki Khalid dan Nyi Mas

Larangsari yang lahir pada tahun 1201 M. Beliau lahir, bertahun-tahun lamanya

setelah orangtuanya menikah. Pada saat itu, orang tuanya belum beragama Islam, dan

ketika bayi itu lahir, bayi itu langsung bisa mengucapkan syahadat. Setelah dewasa,

Ki Samaun mempunyai ciri selalu membawa air di dalam kendi yang berasal dari

Cikahuripan, dan tanah putih yang kini telah hilang. Cikahuripan dipercaya dapat

membantu orang yang sedang kesusahan seperti mengobati suatu penyakit, sulit

mendapatkan jodoh, dan lain-lain. Mata air ini juga dipercaya tidak pernah kering

sekalipun kemarau panjang melanda daerah tersebut.

           Masih dalam wawacan itu dalam versi lain, diceritakan bahwa Prabu

Siliwangi mempunyai tiga orang putra, yaitu Kian Santang, Larasantang, dan

Suryajati. Kian Santang dikenal sebagai orang yang sakti tiada tanding. Dia

memohon petunjuk kepada yang Maha Kuasa agar mengetahui siapa orang yang

lebih sakti dari dirinya. Di tengah jalan dia bertemu dengan seorang kakek yang

diketahui sebagai Sayyidina Ali yang berasal dari Mekah. Setelah saling adu

kesaktian, Kian Santang kalah dan sesuai dengan janjinya, ia kemudian masuk Islam.




22
     Menurut penuturan Memed Suryaman, di dekat makam itu terdapat batu kursi.
23
     Sebelum pemekaran, desa Sindangsari masuk Desa Loa.
Setelah tiga tahun, dia mengislamkan Dayeuh Luhur (Paseh), kemudian Dayeuh

Manggung di Garut, Sang Hyang Talaga Manggung di Gunung ciremai (Kuningan).

           Sampai saat ini, pelaksanaan upacara adat Ngabungbang berlangsung pada

tanggal 14 bulan Maulud. Mereka, atas tuntunan kuncen, mandi dan mencuci pusaka-

pusaka (yang mereka punya) di Cikahuripan. Biasanya air itu dibawa pulang ke

tempat masing-masing sebagai “air berkah”. Selanjutnya, kuncen (atau orang yang

dipercaya lainnya) membacakan wawacan Ki Samaun. Upacara dibuka dengan

kesenian Terebang yang biasanya dimainkan oleh enam orang termasuk dalang yang

melagukan tembang-tembang (Ngarajah), antara lain tembang Sifat Nabi.

1.3 SITUS KRAMAT GANTUNGAN

           Situs Kramat Gantungan terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Ibun. Di situs

ini ditemukan menhir yang masih tegak berdiri di atas tanah berukuran 105 x 27 x 15

cm. Disamping itu ditemukan juga dua buah menhir, 3 buah batu pipisan, 5 buah

gandik, dan satu buah lumpang batu. Temuan ini terbuat dari batu andesit berwarna

abu-abu.24

1.4 SITUS ARCA

        1.4.1 ARCA NENEK MOYANG

           Di antara sekian banyak peninggalan arkeologi di Indonesia, ditemukan

sekelompok arca yang tidak melambangkan dewa-dewa dari pantheon Hindu

maupun Budha, walaupun di antaranya menggunakan ciri arca dari masa Hindu

Budha. Arca-arca seperti itu menimbulkan sejumlah istilah yang oleh para ahli




24
     Proyek Pembinaan dan Pelestarian Kepurbakalaan Jawa Barat, 1989/1990: 81.
disebut arca Polynesia, arca Pajajaran, arca megalitik, arca prasejarah, arca menhir,

arca nenek moyang, arca leluhur, dan sebagainya.

         Penamaan arca Pajajaran digunakan pertama kali oleh Brumund untuk

menyebut sekelompok arca yang ditemukan di daerah Bogor serta Priangan. Namun

karena arca-arca sejenis ditemukan juga di daerah lain di Indonesia, kelompok arca

ini disebut juga arca Polynesia. Arca tersebut dianggap hasil kebudayaan penduduk

asli Melayu-Polynesia.25 Beberapa sarjana Barat di antaranya Groeneveldt,

menjelaskan       bahwa      arca   Polynesia,   mengacu   kepada   bentuk   arca   yang

menggambarkan manusia, yang dibuat amat sederhana. Kepala dan badan tidak

seimbang, dan bentuk keseluruhannya seperti orang cacat. Arca semacam ini

ditemukan di daerah yang tidak terpengaruh oleh kebudayaan Hindu maupun Budha,

serta dianggap sebagai hasil ciptaan penduduk asli dengan tingkat kebudayaan sangat

rendah.26. Krom (1923) juga mengusulkan penggunaan nama arca Polynesia untuk

menyebut arca-arca yang bentuknya hampir tidak berwujud tersebut. Kepala dan

badan tidak seimbang, mata hanya berbentuk bundaran, hidung pesek, dan mulut

kadang-kadang hanya berbentuk garis. Badan sering tidak berlengan, dan bagian

panggul ke bawah merupakan gumpalan batu dengan pembatasan anggota badan

berupa garis. Pemahatan arca-arca seperti ini tentunya mempunyai maksud-maksud

tertentu yang berhubungan dengan pemujaan leluhur. Lebih jauh Krom menyatakan

bahwa arca-arca tersebut merupakan kalanjutan seni arca Jawa Timur abad 15.27




25
   Mulia, 1977: 599-600.
26
   Ibid, 601
27
   Ibid, 602; Siahaan, 1985: 96.
           Sukendar28 mengemukakan bahwa pengistilahan arca Polynesia tidak tepat

berdasarkan:

     1. Pendapat Krom bahwa arca-arca sederhana di Indonesia merupakan hasil budaya

       bangsa Melayu-Polynesia, karena arca-arca tersebut sudah mengalami

       perkembangan lokal yang berbeda dengan arca Polynesia.

     2. Ditinjau dari segi geografi, Polynesia merupakan bagian kawasan Pasifik

       sehingga orang cenderung berinterpretasi bahwa arca Polynesia muncul pertama

       kali di daerah itu kemudian berkembang di Indonesia,

     3. Bentuk arca wilayah Pasifik menunjukkan ciri-ciri yang agak berbeda dengan

       arca-arca di Indonesia, lebih-lebih arca yang ditemukan di Pulau Paskah.

           Lebih lanjut Sukendar mengatakan bahwa arca-arca sederhana yang tidak

menunjukkan pengaruh agama Hindu maupun Budha, bermuara pada kepercayaan

arwah nenek moyang yang merupakan dasar kepercayaan pendukung tradisi

megalitik. Oleh karena itu, lebih tepat dikatakan bahwa arca-arca sederhana itu

disebut arca megalitik, sedangkan arca menhir mengacu pada bentuk arca sederhana

yang dipahatkan tanpa kaki.

           Pada prinsipnya istilah arca Pajajaran, arca Polynesia, dan arca megalitik ini

muncul untuk menyebut kelompok arca yang tidak melambangkan salah satu dewa

dari pantheon Hindu maupun Budha, yang bermuara pada kepercayaan terhadap

pemujaan arwah nenek moyang. Oleh karena itu, agar tidak terjadi kesimpangsiuran

pengistilahan, digunakan istilah arca nenek moyang. Arca nenek moyang ini dapat

berbentuk manusia, setengah manusia, atau binatang, dan berasal dari kurun waktu

berbeda asal masih dalam kriteria tersebut di atas.

28
     Sukendar, 1993: 5-8.
          Arca nenek moyang yang ditemukan di Kabupaten Bandung, baik arca-arca

lepas maupun arca-arca yang ditemukan bersama konteksnya berjumlah sepuluh

buah, dan sekarang berada di Museum Nasional, Jakarta. Berikut uraian singkat

masing-masing arca:

     1. Arca dengan nomor inventaris 479i ditemukan di Desa Cikapundung, Kecamatan

       Ujung Berung Wetan, pada bangunan teras berundak. Penemuan ini dilaporkan

       dalam Not. Febr. 1903, page 26-27.

     2. Arca dengan nomor inventaris 479b ditemukan di Desa Cikapundung,

       Kecamatan Ujung Berung Wetan, pada bangunan teras berundak. Penemuan ini

       dilaporkan dalam Not.1885, page 21.

     3. Arca dengan nomor inventaris 479c ditemukan di Desa Cikapundung,

       Kecamatan Ujung Berung Wetan, pada bangunan teras berundak. Penemuan ini

       dilaporkan dalam Not.1885, page 21. Pada bagian dada arca terdapat angka

       tahun 1263 Saka (1341 M).29




                                 Sumber: Sukendar, dkk.,
                                 1999: 103



29
     Arca no. 1- 3 yang ditemukan di Kampung Cikapundung, sekarang masuk ke dalam Desa
     Melatiwangi, Kecamatan Cileunyi.
 4. Arca dengan nomor inventaris 465b ditemukan di Desa Cipela, Kecamatan

    Cisondari (Ciwidey). Penemuan ini dilaporkan dalam Not.Sept. 1909, page 155.




                         Sumber: Sukendar, dkk., 1999: 103

 5. Arca dengan nomor inventaris 465c ditemukan di Desa Cipela, Kecamatan

    Cisondari (Ciwidey). Penemuan ini dilaporkan dalam Not.Sept. 1909, page 155.

 6. Arca dengan nomor inventaris 465d ditemukan di Desa Cipela, Kecamatan

    Cisondari (Ciwidey). Penemuan ini dilaporkan dalam Not.Sept. 1909, page 155.

 7. Arca dengan nomor inventaris 465e ditemukan di Desa Cipela, Kecamatan

    Cisondari (Ciwidey). Penemuan ini dilaporkan dalam Not.Sept. 1909, page 155.

 8. Arca dengan nomor inventaris 479g ditemukan di Desa Biru, Kecamatan

    Cicalengka. Penemuan ini dilaporkan dalam Not.1891, page 17.

 9. Arca dengan nomor inventaris 479f ditemukan di Desa Biru, Kecamatan

    Cicalengka.. Penemuan ini dilaporkan dalam Not.1891, page 17.

10. Arca dengan nomor inventaris 480m ditemukan di Desa Cipada, Kecamatan

   Rajamandala (Cikalong wetan). Penemuan ini dilaporkan dalam Not. Des.1900,

   page 140.
           Kesepuluh arca tersebut mempunyai ciri sebagai berikut:30

     1. Kelompok Cikapundung, diwakili oleh arca no. 1-3 dengan ciri-ciri: lengan

       membentuk huruf U, kedua jari tangan cenderung saling bersentuhan, ibu jari

       mencuat ke atas dan keempat jari lainnya sama besar dan merapat. Rambut

       (kecuali arca no. 2 tidak berambut), arca no. 1 dikepang, dan arca no.3 rambut di

       atas dahi membentuk mahkota, rambut bagian belakang tergerai sampai

       menyentuh lapik arca. Alat kelamin tidak ada. Bentuk mata arca no. 1 dan 3

       melotot, sedangkan arca no. 2 berbentuk lingkaran konsentris. Sikap kaki, arca

       no. 3 bersimpuh, sedangkan arca no.1 dan 2 tidak teridentifikasi. Telinga, arca

       no. 1 berbentuk daun telinga gajah; arca no.2 tidak mempunyai telinga; arca no.3

       bertelinga normal.

     2. Kelompok Cipela, diwakili oleh arca no. 4-6 dengan ciri-ciri: Sikap tangan

       secara garis besar membentuk huruf W, dan setiap jari merapat menjadi satu.

       Arca tidak berambut, tidak mempunyai alat kelamin; Bentuk mata, arca no. 4

       dan 6 bulat polos, sedangkan arca no. 5 sudah aus; Sikap kaki, arca no. 4 dan 5

       bersila, sedangkan arca no. 6 tidak teridentifikasi. Telinga, arca no.4 daun

       telinga tegak, sedangkan arca no. 5 dan 6 daun telinga sudah aus.

     3. Kelompok Ciwidey diwakili oleh arca no. 7 dengan ciri-ciri: sikap tangan,

       lengan dan tangan sebelah kiri membentuk separuh huruf U. Rambut, pada

       pangkal dahi berupa goresan dan di belakang kepala terurai dampai sebahu.

       Tidak mepunyai alat kelamin, telinga dan mata. Sikap kaki, kaki mengapit perut

       binatang tunggangan.




30
     Siahaan, 1985: 87-89.
     4. Kelompok Cicalengka, diwakili oleh arca no. 8 dan 9. Arca no. 8 berbentuk

       kepala sapi. Arca no 9 mempunyai ciri-ciri: sikap tangan, lengan dan tangan

       membentuk huruf W. Bentuk tangan tidak jelas. Rambut, alat kelamin, telinga,

       dan mata tidak ada. Sikap kaki, kaki ditekuk ke atas, telapak kaki ditekuk ke

       dalam.

     5. Kelompok Cikalong Wetan diwakili oleh arca no. 10, dengan ciri-ciri: sikap

       tangan membentuk huruf U, lengan kanan bawah berada di bawah lengan bawah

       kiri. Rambut, alat kelamin, mata, dan telinga tidak ada. Sikap kaki bersimpuh.

           Arca merupakan suatu benda yang dibuat dengan sengaja oleh manusia untuk

memenuhi kebutuhan tertentu. Oleh karena itu, arca terkait oleh makna dan fungsi.

           Dalam hal makna, pada umumnya ada dua nilai yang terkait pada artefak arca

yaitu nilai ikonografis dan nilai seni. Nilai ikografis menyangkut sistem tanda-tanda

sebagai unsur penentu identitas arca, dan nilai seni menyangkut unsur-unsur gaya

yang penggarapannya menentukan indah buruknya arca sebagai ekspresi dorongan

keindahan pada manusia.31 Berdasarkan nilai ikonografis, diketahui bahwa secara

periodik, arca-arca itu berasal dari masa Prasejarah (arca no. 2, 5, 6, 7, 8, 9, 10) dan

dari masa Hindu Budha (arca no. 1, 3, 4). Berdasarkan nilai seni, maka bagi

masyarakat Sunda kuna, arca nenek moyang lebih dimaksudkan sebagai nilai religius

sehingga si seniman tidak mementingkan keindahan arca. Bagi mereka, keindahan

yang dimaksud adalah makna arca bagi kepentingan religi.

           Dalam hal fungsi, berdasarkan lokasi temuan, arca nenek moyang di tatar

Sunda (terdaftar sebagai bukan arca lepas) ditemukan pada bangunan teras berundak.

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa fungsi arca nenek moyang adalah sebagai

31
     Sedyawati, 1977: 213-214).
sarana pemujaan. Hal itu mengacu pada suatu kehidupan sesudah mati atau alam

arwah. Arwah si mati dianggap sebagai zat tertinggi yang tetap hidup di dunia arwah,

dan arca nenek moyang dianggap sebagai lambang yang “dihidupkan” oleh dukun

(atau pendeta terpilih) pada saat upacara berlangsung. Pemujaan seperti ini

berdasarkan penelitian-penelitian Sukendar32 di Sumba, bertujuan untuk meminta

kesuburan, hujan, hasil panen yang baik, ternak berlimpah, keselamatan, kilat

menyambar orang jahat, dan sebagainya. Pada masa Hindu Budha, dimana arca

nenek moyang terletak pada bangunan agama Hindu atau Budha, keletakan arca

disesuaikan dengan fungsi tertentu tergantung dari agama yang dianutnya.

        1.4.1 ARCA DEWA

           Arca dewa yang ditemukan di Kabupaten Bandung, antara lain arca Siwa

Mahadewa (Kampung Cibodas), Siwa Guru (Ciparay), Durga (Penanggil, Bandung),

dan Ganesa (Cibeet dan Leuwigajah). Arca-arca ini sekarang berada di Museum

Nasional, Jakarta,33 dan merupakan arca yang berasal dari pantheon Hindu.

           Salah satu arca dari sekumpulan arca tersebut, yaitu arca Siwa Mahadewa

mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: Bertangan 4 dengan laksana, tangan kanan

belakang membawa aksamala (tasbih), tangan kiri belakang membawa camara

(pengebut lalat), tangan kanan depan bersikap varamudra, dan tangan kiri depan

tidak terlihat jelas karena “aus”, mengenakan jatamakuta, upavita, dan terdapat

sirascakra, serta pada sisi kanan arca terdapat trisula. Arca ditemukan dari kepala

hingga pinggang, sementara potongan tubuh lainnya tidak diketahui.




32
     Sukendar, 1993: 246-247.
33
     Lubis, 2005: 28.
                    Arca Siwa Mahadewa
                    Sumber: Lubis, 2005: 29.



1.5 SITUS BOSSCHA




                     Observatorium Bosscha
                     Sumber: http://www.bandungtotal.com



      Observatorium Bosscha terletak di puncak sebuah bukit, di kecamatan

Sukasari, Lembang. Bangunan ini dikenal masyarakat sebagai Gedung Peneropongan

Bintang, dan merupakan tempat peneropongan bintang tertua di Indonesia.

Observatorium Bosscha didirikan pada tanggal 1 Januari 1923 oleh Karel Albert
Rudolf Bosscha --seorang tuan tanah di perkebunan teh Malabar-- di atas tanah

seluas 6 hektar pada ketinggian 1.300 m dpl., dan dipergunakan secara resmi pada

tahun 1928. Pembangunan observatorium ini semula bertujuan untuk memajukan

Ilmu Astronomi di Hindia Belanda (Indonesia). Kawasan Lembang yang sejuk,

membuat kawasan ini dianggap cocok menjadi tempat mengamati bintang-bintang,

planet-planet dan benda-benda langit lainnya.

          Observatorium terbaik di Asia Tenggara ini mempunyai lima buah teleskop

besar, yaitu Teleskop Refraktor Ganda Zeiss, Teleskop Schmidt Bima Sakti,

Teleskop Refraktor Bamberg, Teleskop Cassegrain GOTO dan Teleskop Refraktor

Unitron. Setiap teleskop mempunyai spesifikasi tersendiri dan digunakan untuk

keperluan berbeda. Gedung ini pada awalnya milik Perhimpunan Astronomi Hindia

Belanda, namun pada tahun 1951 beralih status menjadi milik Republik Indonesia,

dan dijadikan pusat penelitian Institut Teknologi Bandung (ITB).34




34
     Proyek Pembinaan dan Pelestarian Kepurbakalaan Jawa Barat, 1989/1990: 225;
     http://www.bandungtotal.com/wisata/teropong-bintang-boscha
                            DAFTAR PUSTAKA

Anggraeni, Nies. 1976. “Peninggalan-peninggalan Prasejarah di sekitar danau
      Cangkuang (Leles), dalam Kalpataru No 2. Jakarta: Pusat Penelitian
      Arkeologi Nasional.
Binford, Lewis R. 1972. An Archaeological Perspective. New York: Seminar Press..
Djubiantono, Tony dan Nanang Saptono. 2002. “Penemuan Candi di Bojongmenje,
       Rancaekek, Peninggalan Abad Ke-7 atau Ke-8 M”, dalam Koran Pikiran
       Rakyat, 27 Agustus 2002, hal. 18.

------- 2002. “Sumberdaya Budaya Situs Bojongmenje (Paparan Hasil Ekskavasi)”,
         dalam Workshop Pelestarian dan Pengembangan Situs Bojongmenje,
         Kabupaten Bandung. Bandung: Pemerintah Propinsi Jawa Barat-Dinas
         Kebudayaan dan Pariwisata.

Djubiantono, Tony (dkk.). 2002. Laporan Ekskavasi Candi Bojongmenje, Kecamatan
       Rancaekek, Kabupaten Bandung. Bandung: Dinas Kebudayaan dan
       Pariwisata dan Balai Arkeologi Bandung.

Lubis, Nina Herlina, dkk. 2003. Sejarah Tatar Sunda, Jilid I. Bandung: Satya
       Historika.

Lubis, Nina Herlina. 2003. Kajian Sejarah Bandung Selatan. Bandung: Dinas
       Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bandung bekerjasama dengan Pusat
       Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Penelitian Universitas
       Padjadjaran.

Mulia, Rumbi. 1977. “Beberapa Catatan tentang Arca-Arca yang disebut Arca Tipe
       Polynesia”, dalam PIA II,hal. 599-646. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi
       Nasional.

Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto. 1993. Sejarah Nasional Indonesia Jilid I.
      Jakarta: P.N. Balai Pustaka.

Proyek Pembinaan dan Pelestarian Kepurbakalaan Jawa Barat. 1989/1990.
       Inventarisasi dan Dokumentasi Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa
       Barat. Bandung.

Sedyawati, Edi. 1977. “Pemerian Unsur dalam Analisa Seni Arca”, dalam PIA II,
      hal. 208-232. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

_____________ 1992. Sistem Kesenian Nasional Indonesia, Sebuah Renungan.
      Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap Fakultas Sastra UI. Depok:
      Universitas Indonesia.
Siahaan, Sonny. 1985. Arca Tradisi Megalitik. Tinjauan Kembali Terhadap
       Penamaan Arca. Skripsi Sarjana sastra Bidang Arkeologi. Jakarta: Fakultas
       Sastra Universitas Indonesia.

Sukendar, Haris. 1993. Arca Menhir di Indonesia. Fungsinya dalam Peribadatan.
      Disertasi. Depok: Universitas Indonesia.

Situs Internet

http://www.bandungtotal.com/wisata/teropong-bintang-boscha
http://www.distamben-jabar.go.id
http://www.alumni.ista.ac.id
http/://www.sinar harapan.co.id

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:1248
posted:6/11/2010
language:Indonesian
pages:26