Docstoc

Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar dan Menengah

Document Sample
Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar dan Menengah Powered By Docstoc
					        Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
        N I M : 131 407 111
        abdhy_slank@yahoo.co.id
        Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah




                                                   Page | 0
CP   : 085298918889
                 Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
                 N I M : 131 407 111
                 abdhy_slank@yahoo.co.id
                 Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
                                                DAFTAR ISI


Daftar Isi ..............................................................................................................   1

Part I. Konsep Dasar Penilaian Dalam Pembelajaran
A. Konsep Dasar Penilaian ..............................................................................                    2
B.      Jenis Dan Fungsi Penilaian Dalam Pembelajaran .....................................                                 10

Part II. Pengembangan Tes Hasil Belajar
A. Keunggulan Dan Kelemahan Tes ...............................................................                             17
B.      Mengembangkan Tes .................................................................................                 18
C.      Merencanakan Tes .....................................................................................              20

Part III. Pengembangan Assesment Alternative
A. Konsep Dasar Assesment Alternative .......................................................                               22
B.      Bentuk Assesment Kinerja .........................................................................                  22
C.      Assesment Portofolio .................................................................................              24
D.      Penilaian Ranah Afektif ..............................................................................              32

Part IV. Pengumpulan Dan Pengolahan Informasi Hasil belajar
A. Mengumpulkan dan Mengolah Informasi Hasil Belajar Siswa ................                                                 40
B.      Pendekatan dalam Pemberian Nilai ..........................................................                         42

Part V. Kualitas Alat Ukur (Instrumen)
A. Validitas dan Reliabilitas Hasil Pengukuran ..............................................                               46
B.      Analisis dan Perbaikan Instrumen .............................................................                      49

Part VI. Pemberian Nilai Dan Tindak Lanjut Hasil Belajar
A. Prinsip-prinsip Pemberian Nilai ..................................................................                       54
B.      Pemanfaatan Hasil Tes Untuk Meningkatkan Proses Pembelajaran ......                                                 55




                                                                                                                 Page | 1
     CP   : 085298918889
             Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
             N I M : 131 407 111
             abdhy_slank@yahoo.co.id
             Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah

               I. Konsep Dasar Penilaian Dalam Pembelajaran

A.        Konsep Dasar Penilaian
          Pengertian dasar penilaian dalam proses pembelajaran mencakup serangkaian
kegiatan yang dilakukan guru untuk mendapatkan informasi tentang perilaku belajar
siswa, tentang proses pembelajaran, dan tentang suasana kelas. Angelo (1991)
mendefinisikan penilaian dalam proses pembelajaran: “Classroom assessment
consist of small-scale assessment conducted continuously in college classrooms by
dicipline-based teachers to determine what students are learning in that class”.
          Penilaian dalam proses pembelajaran juga mencakup serangkaian metode
yang dilakukan oleh guru untuk mendapatkan informasi yang kemudian
diinterpretasi untuk memahami siswa, merencanakan dan memonitor proses
pembelajaran, dan untuk menciptakan suasana kelas yang bergairah. Sebagai proses
secara berkelanjutan Nitko (1996) mengistilahkan Penilaian Berkelanjutan Formatif
Informal (PBFI) yaitu suatu penilaian informal yang dilakukan guru secara sambil
lalu dan mendadak tanpa persiapan dan kesan mengenai kemajuan siswa dalam
kaitannya dengan kurikulum.
          Penilaian berkelanjutan dalam proses pembelajaran dapat diinterpretasikan
sebagai segala tindakan guru yang dilakukan untuk mengetahui kemajuan siswa
secara terus-menerus dalam menerima pelajaran. Tujuan penilaian dalam proses
pembelajaran terkait dengan fungsi penilaian yang bersifat formatif bertujuan untuk
memonitor dan memandu proses pembelajaran saat proses tersebut berlangsung.
Penilaian ini dapat dilakukan secara informal maupun formal. Secara informal
penilaian dalam proses pembelajaran kurang terstruktur dan tidak direncanakan.
Teknik penilaian yang digunakan mencakup kegiatan guru mengobservasi kelas,
berkomunikasi dengan siswa apakah siswa telah memahami tentang konsep yang
diajarkan atau belum, memperhatikan tanggapan siswa. Penilaian dalam proses
pembelajaran secara formal dapat berbentuk latihan atau tugas-tugas yang diberikan
kepada siswa direncanakan secara matang agar proses pembelajaran menjadi terarah

                                                                        Page | 2
     CP   : 085298918889
              Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
              N I M : 131 407 111
              abdhy_slank@yahoo.co.id
              Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
dan terkontrol. Penilaian yang bersifat formal dapat dilakukan dalam penilaian
ulangan harian. Jenis penilaian ini dikatakan formal karena digunakan untuk mencatat
dan mengetahui target belajar yang telah dipelajari siswa. Pelaksanaan penilaian ini
dilakukan setelah satu pokok bahasan selesai diajarkan kepada siswa.


1.        Kajian Materi Pembelajaran
          Tahap pertama yang harus dilakukan sebagai penilai adalah mempelajari dan
mengkaji materi pembelajaran dari satu atau lebih kompetensi dasar. Kajian materi
ini dapat dilakukan melalui beberapa referensi untuk memperoleh bahan secara
komprehensif dari beragam sumber dengan bertolak pada kompetensi yang
diharapkan.


2.        Memilih Teknik Penilaian
          Tahap kedua memilih atau menentukan teknik penilaian sesuai dengan
kebutuhan pengukuran. Secara garis besar, teknik penilaian dapat digolongkan
menjadi dua, yaitu penilaian melalui tes dan non tes. Pusdik dan sekolah biasanya
para banyak menggunakan teknik pertama, yaitu dengan tes. Dalam menentukan
keakuratan perlu dipertimbangkan pemilihan teknik, yaitu tingkat ke-akurat-an dan
kepraktisan penyusunan dalam setiap butir soal. Pemberian nilai dengan cara tes lebih
mudah jika dibandingkan dengan non tes.
                                    TEKNIK PENILAIAN

      Tes lisan                          Tes tulis                     Tes praktek


      Individu                                                           Individu
                           Uraian                     Objektif
     kelompok                                                           kelompok


                                        Berstruktur              Benar salah
                                          Bebas                  Pilihan ganda
                                         Terbatas                Isian pendek




                                                                          Page | 3
     CP   : 085298918889
               Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
               N I M : 131 407 111
               abdhy_slank@yahoo.co.id
               Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
3.        Perumusan Kisi – Kisi
          Tahap ketiga merumuskan dan membuat matrik kisi-kisi sesuai dengan teknik
penilaian yang telah ditentukan. Kisi-kisi merupakan deskripsi mengenai informasi
dan ruang lingkup dari materi pembelajaran yang digunakan sebagai pedoman untuk
menulis soal atau matriks soal menjadi tes. Pembuatan kisi-kisi memiliki tujuan untuk
menentukan ruang lingkup dalam menulis soal agar menghasilkan perangkat tes yang
sesuai dengan indikator.
          Kisi kisi dibuat berdasarkan kompetensi dasar dan indikator yang ingin
dicapai serta bentuk tes yang akan diberikan kepada peserta didik. Tes dapat
berbentuk tes objektif benar-salah, pilihan ganda atau tes uraian serta non tes berupa
penilaian afektif dan psikomotorik.
          Kisi-kisi berfungsi sebagai pedoman dalam penulisan soal dan perakitan tes.
Dengan adaya kisi-kisi penulisan soal menjadi terarah, komprehensif dan
representatif. Dengan pedoman kepada kisi-kisi penyusunan soal menjadi lebih
mudah dan dapat menghasilkan soal-soal yang sesuai dengan tujuan tes.
     1.   Syarat penyusunan kisi-kisi adalah :
          a.   Dapat mewakili isi silabus atau kurikulum.
          b.   Komponen-komponennya rinci, jelas dan mudah dipahami.
          c.   Materi yang hendak ditanyakan dapat dibuat soalnya sesuai bentuk soal
               yang ditetapkan.
          d.   Sesuai dengan indikator.
     2.   Komponen kisi- kisi terdiri dari :
          a.   Komponen Identitas
          b.   Jenis Pendidikan dan jenjang Pendidikan.
          c.   Mata pembelajaran.
          d.   Tahun ajaran.
          e.   Jumlah soal.
          f.   Bentuk soal.
          g.   Standar Kompetensi.

                                                                          Page | 4
     CP   : 085298918889
               Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
               N I M : 131 407 111
               abdhy_slank@yahoo.co.id
               Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
          h.   Kompetensi Dasar.
          i.   Indikator
          Dalam pembuatan kisi-kisi harus memenuhi kemampuan kognitif, afektif dan
psikomotorik yang mengacu kepada teori Bloom sebagai berikut :
1.    Cakupan yang diukur dalam ranah Kognitif adalah:
      a. Ingatan (C1) yaitu kemampuan seseorang untuk mengingat. Ditandai dengan
          kemampuan menyebutkan simbol, istilah, definisi, fakta, aturan, urutan,
          metode.
      b. Pemahaman (C2) yaitu kemampuan seseorang untuk memahami tentang
          sesuatu hal. Ditandai dengan kemampuan menerjemahkan, menafsirkan,
          memperkirakan, menentukan, menginterprestasikan.
      c. Penerapan (C3), yaitu kemampuan berpikir untuk menjaring & menerapkan
          dengan tepat tentang teori, prinsip, simbol pada situasi baru/nyata. Ditandai
          dengan    kemampuan        menghubungkan,       memilih,     mengorganisasikan,
          memindahkan, menyusun, menggunakan, menerapkan, mengklasifikasikan,
          mengubah struktur.
      d. Analisis (C4), Kemampuan berfikir secara logis dalam meninjau suatu
          fakta/objek      menjadi   lebih   rinci.    Ditandai      dengan   kemampuan
          membandingkan, menganalisis, menemukan, mengalokasikan, membedakan,
          mengkategorikan.
      e. Sintesis (C5), Kemampuan berpikir untuk memadukan konsep-konsep secara
          logis sehingga menjadi suatu pola yang baru. Ditandai dengan kemampuan
          mensintesiskan,       menyimpulkan,         menghasilkan,      mengembangkan,
          menghubungkan, mengkhususkan.
      f. Evaluasi (C6), Kemampuan berpikir untuk dapat memberikan pertimbangan
          terhadap sustu situasi, sistem nilai, metoda, persoalan dan pemecahannya
          dengan menggunakan tolak ukur tertentu sebagai patokan. Ditandai dengan
          kemampuan menilai, menafsirkan, mempertimbangkan dan menentukan.



                                                                              Page | 5
     CP   : 085298918889
              Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
              N I M : 131 407 111
              abdhy_slank@yahoo.co.id
              Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
2.    Aspek Afektif
          Aspek afektif tidak dapat diukur seperti halnya ranah kognitif, karena dalam
ranah afektif kemampuan yang diukur adalah:
     a. Menerima (memperhatikan), meliputi kepekaan terhadap kondisi, gejala,
          kesadaran, kerelaan, mengarahkan perhatian
     b. Merespon, meliputi merespon secara diam-diam, bersedia merespon, merasa
          puas dalam merespon, mematuhi peraturan
     c. Menghargai, meliputi menerima suatu nilai, mengutamakan suatu nilai,
          komitmen terhadap nilai
     d. Mengorganisasi, meliputi mengkonseptualisasikan nilai, memahami hubungan
          abstrak, mengorganisasi sistem suatu nilai
     e. Karakteristik suatu nilai, meliputi falsafah hidup dan sistem nilai yang
          dianutnya

     Perencanaan                        Pelaksanaan                Analisis Hasil
      Penilaian                          Penilaian                   Penilaian




                                      Pelaporan                    Tindak lanjut
                                    Hasil Penilaian               Hasil Penilaian

3.    Aspek Psikomotorik
          Psikomotorik meliputi (1) gerak refleks, (2) gerak dasar fundamen, (3)
keterampilan perseptual; diskriminasi kinestetik, diskriminasi visual, diskriminasi
auditoris, diskriminasi taktis, keterampilan perseptual yang terkoordinasi, (4)
keterampilan fisik, (5) gerakan terampil, (6) komunikasi non diskusi (tanpa bahasa-
melalui gerakan) meliputi: gerakan ekspresif, gerakan interprestatif.
          Berikut ini contoh pembuatan kisi-kisi   dalam bentuk matrik dengan bentuk
tes objektif yang bervariasi dan nomor soal dibuat berurutan sesuai dengan bentuk
soal dan indikator.

                                                                           Page | 6
     CP   : 085298918889
              Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
              N I M : 131 407 111
              abdhy_slank@yahoo.co.id
              Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
                                         Tabel 3.1
                                  Contoh Matrik Kisi-kisi


Jenis Pendidikan dan jenjang Pendidikan                    : Dik Tukba
Mata pembelajaran                                          : F.T. Lantas
Tahun ajaran                                               : 2008
Jumlah soal                                                : 10
Bentuk soal                                                : Pilihan Ganda
Standar Kompetensi                                         : - Memahami pengertian ruang
                                                                  lingkup tupoksiran Polri.
                                                             - Memahami proses
                                                                  pelaksanaan dikmas,
                                                                  pengkajian masalah gakkum,
                                                                  rek ident PJR dan sistem
                                                                  informasi.
 Kompetensi                                                   Aspek                     Jumlah
                         Indikator
    Dasar                                    C1      C2      C3      C4    C5    C6     Butir
Memahami           Peserta didik mampu :
pengertian         - Mendefinisikan          1,2                                          2
tugas, fungsi,        pengertian-
peranan Polisi        pengertian yang
Lalulintas,           berkaitan dengan
dasar hukum,          fungsi teknis.
unsur dan
permasalahan.
                   - Membedakan                      3,4                                  2
                      tugas dan fungsi
                      Polantas.



                                                                                    Page | 7
  CP   : 085298918889
             Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
             N I M : 131 407 111
             abdhy_slank@yahoo.co.id
             Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
                  - Menjelaskan                5                            1
                     peranan Polantas
                  - Menerapkan dasar                6                       1
                     hukum Polantas di
                     lapangan.
                  - Menjelaskan                7                            1
                     unsur-unsur
                     Polantas.
                  - Menganalisis                         8                  1
                     faktor-faktor
                     penyebab
                     timbulnya
                     permasalahan
                     Polisi Lalulintas.
                  - menyimpulkan                               9            1
                     suatu kasus
                     pelanggaran di
                     lapangan
                  - menilai kinerja                                 10      1
                     polantas
                           Total          2    4    1    1     1    1       10


4.    Penulisan Butir Soal
          Tahap keempat, menulis dan membuat butir-butir soal yang sesuai dengan
kisi-kisi dan bentuk soal yang telah ditentukan. Bila menggunakan teknik non tes,
maka diperlukan untuk membuat pedoman pengisian instrumen. Misalnya untuk
observasi atau wawancara.




                                                                        Page | 8
     CP   : 085298918889
              Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
              N I M : 131 407 111
              abdhy_slank@yahoo.co.id
              Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
5.    Penimbangan/Reviewe
          Dalam tahap ini, butir soal dan atau pedoman yang telah disusun Gadik,
ditimbang secara rasional (analisis rasional) ; dibaca, ditelaah dan dikaji kembali
butir-butir soal dan atau pedoman yang dibuat telah memenuhi persyaratan.


6.    Perbaikan
          Pedoman diperbaiki sesuai dengan hasil penimbangan, bagian-bagian mana
yang perlu dikurangi atau ditambah kalimat atau kata-katanya perbaikan inipun
biasanya didasarkan kepada pemikiran peserta didik untuk memahami isi dari kalimat
yang diberikan, hal ini mengandung arti bahwa kalimat yang disusun hendaknya
mudah di pahami oleh para peserta didik.


7.    Uji-coba dan Penggandaan.
          Uji-coba terhadap tes/soal yang dibuat adalah untuk menentukan apakah butir
soal yang dibuat telah memenuhi criteria yang dituntut, sudahkah mempunyai tingkat
ketetapan, ketepatan, tingkat kesukaran dan daya pembeda yang memadai. Untuk
bentuk non tes kriterianya dituntut adalah tingkat ketepatan (validitas) dan ketetapan
(reliabilitas) sehingga diperoleh perangkat alat tes ataupun non tes yang baku
(standar)


8.    Diuji (diteskan)
          Setelah diperoleh perangkat alat tes ataupun non tes yang memenuhi
persyaratan sudah barang tentu perangkat alat ini diorganisasikan, disusun
berdasarkan pada bentuk-bentuk atau model-model soal bagi perangkat tes, dan untuk
perangkat non tes.Setelah perangkat tes maupun non tes digandakan kemudian siap
untuk diujikan.




                                                                          Page | 9
     CP   : 085298918889
             Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
             N I M : 131 407 111
             abdhy_slank@yahoo.co.id
             Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
9.    Pemberian Skor
          Lembar jawaban peserta didik dikumpulkan dan disusun berdasarkan nomer
induk peserta didik untuk memudahkan dalam memasukkan skor peserta didik.
Kemudian dilakukan pemberian skor sesuai dengan kunci jawaban, sehingga
diperoleh skor setiap peserta didik. Untuk bentuk soal objektif diberi skor 1 jika benar
dan 0 jika salah, sedangkan skor bentuk essay bergantung kepada tingkat kesulitan
soal. Untuk menafsirkan siapa yang lulus dan tidak lulus bergantung pada batas lulus
yang dipergunakan.


10. Putusan.
          Setelah pengelolaan, sampai pada menafsirkan, memperoleh putusan akhir
dari kegiatan penilaian. Putusan yang diambil diharapkan obyektif sesuai dengan
aturan.


B.        Jenis dan Fungsi Penilaian dalam Pembelajaran
     1. Penilaian Psikomotorik
          Klasifikasi domain psikomotorik adalah kemampuan yang meliputi keahlian
menampilkan gerakan-gerakan kompleks secara efisien. Keterampilan itu diproleh
dengan berlatih. Kebutuhan intensitas latihan itu tergantung pada kekomplekan
gerakan dan tuntutan terhadap tingkat kesempurnaan gerakan tersebut. Penilaian
terhadap kesempurnaan tersebut dilihat dari isi ketepatan , ketelitian ,kecepatan,
efisiensi, kehalusan, dan keindahan. Domain psikomotorik meliputi tingkatan
peniruan, manipulasi, artikulasi, dan pengalamiahan.
          Psikomotorik meliputi (1) gerak refleks, (2) gerak dasar fundamen, (3)
keterampilan perseptual; diskriminasi kinestetik, diskriminasi visual, diskriminasi
auditoris, diskriminasi taktis, keterampilan perseptual yang terkoordinasi, (4)
keterampilan fisik, (5) gerakan terampil, (6) komunikasi non diskusi (tanpa bahasa-
melalui gerakan) meliputi: gerakan ekspresif, gerakan interprestatif.



                                                                          Page | 10
     CP   : 085298918889
           Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
           N I M : 131 407 111
           abdhy_slank@yahoo.co.id
           Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
       Penilaian psikomotorik dapat dilakukan dengan menggunakan observasi atau
pengamatan. Observasi sebagai alat penilaian banyak digunakan untuk mengukur
tingkah laku individu ataupun proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati,
baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan. Dengan kata lain,
observasi dapat mengukur atau menilai hasil dan proses belajar atau psikomotorik.
Misalnya tingkah laku peserta didik ketika praktik, kegiatan diskusi peserta didik,
partisipasi peserta didik dalam simulasi, dan penggunaan ALINS ketika belajar.
       Observasi dilakukan pada saat proses kegiatan itu berlangsung. Pengamat
terlebih dahulu harus menetapkan kisi-kisi         tingkah laku apa yang hendak
diobservasinya, lalu dibuat pedoman agar memudahkan dalam pengisian observasi.
Pengisian hasil observasi dalam pedoman yang dibuat sebenarnya bisa diisi secara
bebas dalam bentuk uraian mengenai tingkah laku yang tampak untuk diobservasi,
bisa pula dalam bentuk memberi tanda cek (V) pada kolom jawaban hasil observasi.
       Tes untuk mengukur ranah psikomotorik adalah tes untuk mengukur
penampilan atau kinerja (performance) yang telah dikuasai oleh peserta didik. Tes
tersebut dapat berupa tes paper and pencil, tes identifikasi, tes simulasi, dan tes
unjuk kerja.
  a.   Tes simulasi
       Kegiatan psikomotorik yang dilakukan melalui tes ini, jika tidak ada alat yang
       sesungguhnya yang dapat dipakai untuk memperagakan penampilan peserta
       didik, sehingga peserta didik dapat dinilai tentang penguasaan keterampilan
       dengan bantuan peralatan tiruan atau berperaga seolah-olah menggunakan
       suatu alat yang sebenarnya.
  b.   Tes unjuk kerja (work sample)
       Kegiatan psikomotorik yang dilakukan melalui tes ini, dilakukan dengan
       sesungguhnya dan tujuannya untuk mengetahui apakah peserta didik sudah
       menguasai/terampil menggunakan alat tersebut. Misalnya dalam melakukan
       praktik pengaturan lalu lintas lalu lintas di lapangan yang sebenarnya.



                                                                         Page | 11
  CP   : 085298918889
             Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
             N I M : 131 407 111
             abdhy_slank@yahoo.co.id
             Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
         Tes simulasi dan tes unjuk kerja, semuanya dapat diperoleh dengan observasi
langsung ketika peserta didik melakukan kegiatan pembelajaran. Lembar observasi
dapat menggunakan      daftar cek (check-list) ataupun skala penilaian (rating scale).
Psikomotorik     yang diukur dapat menggunakan alat ukur berupa skala penilaian
terentang dari sangat baik, baik, kurang, kurang, dan tidak baik


Pengembangan Instrumen Observasi
Hal yang diperhatikan dalam mengembangkan butir tes keterampilan :
     Mengacu indikator kompetensi yang dikembangkan.
     Mengidentifikasi langkah kerja yang diobservasi.
     Menentukan model skala yang dipakai, yakni rating scale atau check list.
     Membuat rubrik/pedoman penskoran yang dilengkapi dengan kategorisasi
      keberhasilan kompetensi yang dikembangkan.


    2. Penilaian Afektif
         Ranah afektif tidak dapat diukur seperti halnya ranah kognitif, karena dalam
ranah afektif kemampuan yang diukur adalah: Menerima (memperhatikan),
Merespon, Menghargai, Mengorganisasi, dan Karakteristik suatu nilai.
         Skala yang digunakan untuk mengukur ranah afektif         seseorang terhadap
kegiatan suatu objek diantaranya skala sikap. Hasilnya berupa kategori sikap, yakni
mendukung (positif), menolak (negatif), dan netral. Sikap pada hakikatnya adalah
kecenderungan berperilaku pada seseorang. Ada tiga komponen sikap, yakni kognisi,
afeksi, dan konasi. Kognisi berkenaan dengan pengetahuan seseorang tentang objek
yang dihadapinya. Afeksi berkenaan dengan perasaan dalam menanggapi objek
tersebut, sedangkan konasi berkenaan dengan kecenderungan berbuat terhadap objek
tersebut. Oleh sebab itu, sikap        selalu bermakna bila dihadapkan kepada objek
tertentu.
         Skala sikap dinyatakan dalam bentuk pernyataan untuk dinilai oleh responden,
apakah pernyataan itu didukung atau ditolaknya, melalui rentangan nilai tertentu.

                                                                         Page | 12
    CP   : 085298918889
             Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
             N I M : 131 407 111
             abdhy_slank@yahoo.co.id
             Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
Oleh sebab itu, pernyataan yang diajukan dibagi ke dalam dua kategori, yakni
pernyataan positif dan pernyataan negatif.
         Klasiikasi afektif menurut kratwohl, Bloom dan Masia meliputi indikator
yang berkenaan dengan minat, sikap dan nilai serta pengembangan penghargaan dan
penyesuaian diri. Kawasan ini dibagi menjadi lima jenjang yaitu; penerimaan,
pemberian respon, pemberian nilai atau penghargaan, penorganisasian dan
karakteristik, secara singkat akan diuraikan sebagai berikut :
      1. Penerimaan, meliputi kesadaran akan adanya suatu sistem nilai, ingin
         menerima nilai dan memperhatikan nilai tersebut.
      2. Pemberian respon meliputi sikap ingin merespon terhadap sistem , puas dalam
         memberi respon.
      3. Penilaian meliputi penerimaan terhadap suatu sistem nilai, memilih sistem
         nilai yang dikuasai dan memberikan komitmen untuk menggunakan sistem
         nilai tertentu.
      4. Pengorganisasian meliputi memilah dan menghimpun sistem yang akan
         digunakan.
      5. Karakteristik merupakan prilaku secara terus menerus sesuai dengan sistem
         nilai yang diorganisasikan.


         Salah satu skala sikap yang sering digunakan adalah skala Likert. Dalam skala
Likert, pernyataan-pernyataan yang diajukan, baik pernyataan positif maupun negatif,
dinilai oleh subjek dengan sangat setuju, setuju, tidak punya pendapat, tidak setuju,
sangat tidak setuju. Sebagai contoh dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:
No.                   Pernyataan                 SS       S      R      TS      STS


Keterangan:
SS       : sangat setuju
S        : setuju



                                                                         Page | 13
    CP   : 085298918889
              Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
              N I M : 131 407 111
              abdhy_slank@yahoo.co.id
              Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
R         : tidak punya pendapat/ ragu-ragu
TS        : tidak setuju
STS       : sangat tidak setuju


Beberapa petunjuk untuk menyusun Skala Likert :
     a) Tentukan objek yang dituju, kemudian tetapkan variabel yang akan diukur
          dengan skala tersebut.
     b) Lakukan analisis variabel tersebut menjadi beberapa subvariabel atau dimensi
          variabel, lalu kembangkan indikator setiap dimensi tersebut.
     c) Dari setiap indikator di atas, tentukan ruang lingkup pernyataan sikap yang
          berkenaan dengan aspek kognisi, afeksi, dan konasi terhadap objek
     d) Susunlah pernyataan untuk masing-masing aspek tersebut dalam dua kategori,
          yakni pernyataan positif dan pernyataan negatif, secara seimbang banyaknya.


Pengembangan Kisi-kisi Instrumen Afektif
Tahapan mengembangkan kisi-kisi instrumen afektif adalah sebagai berikut:
1.     pilih ranah afektif yang akan dinilai, misalnya sikap
2.     tentukan indikator sikap
3.     pilih tipe skala yang digunakan, misalnya; skala Likert dengan lima skala,
       seperti sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, sangat tidak setuju.
4.     Tentukan nomor butir soal sesuai dengan indikator sikap
5.     Buatlah kisi-ksi instrumen dalam bentuk matrik
6.     telaah instrumen oleh teman sejawat atau ahli di bidangnya;
7.     perbaiki instrumen sesuai dengan hasil telaah instrumen oleh teman sejawat/ahli
       dengan memperhatikan kesesuaian dengan indikator




                                                                              Page | 14
     CP   : 085298918889
              Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
              N I M : 131 407 111
              abdhy_slank@yahoo.co.id
              Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah




                                                      Ketekunan belajar
                      Indikator




                                                                                                                  Tanggung jawab
No Sikap




                                        Keterbukaan




                                                                          Kedisiplinan




                                                                                                     Kepedulian
                                                                                         Kerjasama




                                                                                                                                   Total
     Nama Peserta didik
1    Amanda                             4             3                   5              4           3            4                23
2    Nur                                2             4                   4              3           4            4                21
3    Hafiz                              3             4                   4              5           3            3                22
4    Faiz                               4             3                   5              3           4            3                22


         Skor untuk masing masing sikap di atas dapat berupa angka. Akan tetapi, pada
tahap akhir skor tersebut dirata-ratakan dan dikonversikan ke dalam bentuk kualitatif.
Skala penilaian dibuat dengan rentangan dari 1 s/d 5.
Penafsiran angka-angka :
1 = sangat kurang ,
2 = kurang,
3 = cukup,
4 = baik,
5 = amat baik.
Jadi skor maksimum = 5 (skor maksimal setiap indikator) X 6 (indikator) = 30




                                                                                                                  Page | 15
    CP   : 085298918889
             Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
             N I M : 131 407 111
             abdhy_slank@yahoo.co.id
             Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
         Nilai afektif diberikan dalam bentuk huruf, oleh karena itu total skor yang
telah diperoleh harus dikonversi. Banyak cara untuk mengkonversi skor menjadi
nilai, salah satunya yang sederhana yaitu menggunakan kriteria :
                                                      NILAI KONVERSI
       Nilai konversi
                                          Kualifikasi                   Standar 4
          91 - 100                         baik sekali                     4
           81 - 90                            baik                         3
           71 - 80                           sedang                        2
           61 - 70                           kurang                        1
       kurang dari 61                        gagal                        gagal




Skor total jawaban benar siswa
Konversi Nilai       = ---------------------------------------- X 100
skor maksimum perangkat tes


Jadi yang memperoleh skor 23 setelah dikonversi nilainya menjadi:
    23
    ---- X 100 = 76,7
    30
Nilai afektif hasil konversi Amanda adalah C




                                                                               Page | 16
  CP   : 085298918889
               Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
               N I M : 131 407 111
               abdhy_slank@yahoo.co.id
               Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah

                        II. Pengembangan Tes Hasil Belajar

A.        Keunggulan dan Kelemahan Tes
          Tes merupakan alat ukur yang paling banyak digunakan di sekolah untuk
mengukur hasil belajar siswa dalam ranah kognitif. Ada dua jenis tes yang digunakan
di sekolah yaitu tes obyektif dan tes uraian. Tes obyektif sering digunakan terutama
pada saat penerimaan siswa baru, tes sumatif, dan Ujian Nasional (UN) sedangkan tes
uraian sering digunakan pada saat ulangan harian. Dua jenis tes ini memiliki
keunggulan dan kelemahan masing-masing.
Tes Obyektif
1.        Keunggulan Tes Obyektif
          a.   Tes obyektif digunakan untuk mengukur proses berpikir rendah sampai
               sedang (ingatan, pemahaman, dan penerapan)
          b.   Dengan menggunakan tes obyektif maka semua atau sebagian besar
               materi yang telah diajarkan dapat ditanyakan saat ujian.
          c.   Dengan menggunakan tes obyektif maka peberian skor/nilai pada setiap
               siswa dapat dilakukan dengan cepat, tepat dan konsisten karena jawaban
               yang benar untuk setiap butir soal sudah jelas dan pasti.
          d.   Dengan tes obyektif pilihan ganda, akan memungkinkan untuk dilakukan
               analisis butir soal.
          e.   Tingkat kesukaran butir soal dapat dikendalikan.
          f.   Informasi yang diperoleh melalui hasil tes onyektif lebih kaya.
2.        Kelemahan Tes Obyektif
          a.   Butir soal yang diujikan kepada siswa dan mahasiswa kebanyakan hanya
               mengukur proses berpikir rendah.
          b.   Membuat pertanyaan tes obyektif lebih sulit/sukar daripada membuat
               pertanyaan tes uraian.
          c.   Kemampuan anak didik akan terganggu dengan kemampuannya dalam
               membaca dan menerka.

                                                                            Page | 17
     CP   : 085298918889
               Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
               N I M : 131 407 111
               abdhy_slank@yahoo.co.id
               Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
          d.   Anak didik tidak dapat mengorganisasikan, menghubungkan dan
               menyatakan idenya sendiri karena semua alternatif jawaban untuk setiap
               pertanyaan sudah diberikan oleh penulis soal.


Tes Uraian
1.        Keunggulan Tes Uraian
          a.   Tepat digunakan untuk mengukur proses berpikir tinggi.
          b.   Tepat digunakan untuk mengukur hasil belajar yang kompleks yang tidak
               dapat diukur dengan tes obyektif.
          c.   Waktu yang digunakan untuk menulis satu set tes uraian lebih cepat
               daripada waktu yang digunakan untuk menulis satu set tes obyektif.
          d.   Menulis tes uraian relatif lebih mudah daripada menulis tes obyektif.
2.        Kelemahan Tes Uraian
          a.   Terbatasnya sampel yang ditanyakan.
          b.   Sukar memeriksa jawaban siswa.
          c.   Unsur subyektivitas pemeriksa sering ikut mewarnai dalam pemberian
               skor.


B.        Mengembangkan Tes
          Secara umum tes dikelompokkan ke dalam dua jenis :
      1. Tes Obyektif
          a. Benar – Salah
          b. Menjodohkan
          c. Pilihan Ganda
      2. Tes Uraian
          a. Uraian Terbatas (Restricted Question)
          b. Uraian Terbuka (Open Ended Question)




                                                                            Page | 18
     CP   : 085298918889
              Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
              N I M : 131 407 111
              abdhy_slank@yahoo.co.id
              Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
a.    Tes Benar – Salah
          Butir soal Benar – Salah merupakan butir soal yang terdiri dari suatu
pernyataan dimana siswa diminta untuk menentukan apakah pernyataan tersebut
benar atau salah, tepat atau tidak tepat, ya atau tidak. Pada umumnya tes Benar –
Salah digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam mengidentifikasikan
kebenaran suatu pernyataan mengenai fakta, definisi, prinsip, teori, huku dan
sebagainya.
b. Menjodohkan
          Tes menjodohkan merupakan tes obyektif yang ditulis dalam dua kolom.
Kolom pertama merupakan pokok soal atau disebut juga premis, sedangkan kolom
kedua adalah kolom jawaban atau biasa disebut respon. Siswa diinta untuk
pernyataan-pernyataan yang ada pada kolom pertama dengan jawaban yang ada pada
kolom kedua. Untuk mengurangi kemungkinan siswa dalam menebak maka jumlah
jawaban pada kolom kedua dibuat lebih banyak dari jumlah pernyataan pada kolom
pertama.
c.    Pilihan Ganda
          Tes obyektif ini paling banyak digunakan di sekolah. Kontruksi tes pilihan
ganda terdiri atas dua bagian yaitu pokok soal (stem) dan altenatif jawaban (option).
Satu di antara alternatif jawaban tersebut adalah jawaban yang benar atau yang paling
benar (kunci jawaban) sedangkan alternatif jawaban yang lain berfungsi sebagai
pengecoh (distractor). Pokok soal dapat dibuat dalam dua bentuk yaitu dalam bentuk
pernyataan tidak selesai atau dalam bentuk kalimat tanya. Jumlah alternatif jawaban
yang dibuat biasanya tiga sampai lima. Semakin banyak alternatif jawaban yang
dibuat maka semakin probabilitas siswa untuk menebak jawaban semakin kecil. Jika
digunakan tiga buah alternatif jawaban maka probabilitas siswa untuk menebak
adalah 1/3 x 100% = 33,3%. Jika digunakan empat alternatif jawaban maka
probabilitasnya adalah ¼ x 100% = 25%. Sebagian ahli mengatakan bahwa tes
pilihan ganda dikatakan baik apabila probabilitas menbaknya berkisar antara 20-25%
dengan demikian jumlah alternatif jawaban yang baik adalah 4 – 5 buah.

                                                                         Page | 19
     CP   : 085298918889
              Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
              N I M : 131 407 111
              abdhy_slank@yahoo.co.id
              Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
C.        Merencanakan Tes
          Ada 2 (dua) bentuk tes yang dilakukan oleh guru/calon guru dalam mengajar,
yaitu:
      1. Tes melihat pengetahuan siswa
          Sebuah tes tidak lebih dari penilaian yang disiapkan dalam hal yang sama bagi
semua siswa dalam kelas. Dengan adanya tes, keterkaitan antar konsep, penguasaan
konsep-konsep dasar, atau prosedur-prosedur. Selain itu juga merupakan cerminan
pemahaman dari tujuan pembelajaran.


Ada hal penting dapat dipikirkan dalam membuat suatu tes, yaitu:
a.    Gunakan kalkulator kecuali untuk tes-tes yang sederhana.
b.    Gunakan alat-alat yang dapat dimanipulasi.
c.    Melibatkan penjelasan-penjelasan.
d.    Adakan juga afektif tes.
e.    Hindari soal yang memiliki jawaban hanya satu.
f.    Tes-tes yang merupakan tes kecepatan sering mengadakan dampak negatif
      terhadap sikap siswa terhadap pelajaran yang bersangkutan.


      2. Merancang tes diagnostik
          Interview (wawancara) adalah cara sederhana yang dapat dilakukan untuk
mengetahui jalan pikiran/cara berpikir siswa tentang suatu materi tertentu, apa proses
yang digunakannya dalam memecahkan masalah, dan apa sikap dan keyakinan yang
mereka miliki.
Ada beberapa hal yang dpat dipertimbangkan untuk melaksanakan wawancara, yaitu:
a.    Hendaknya guru menerka dan bersifat alami ketika mendengar siswa, dan
      memberikan senyuman, anggukan dan jangan perlihatkan kening yang berkerut
      yang memperlihatkan kesalahan mereka.
b.    Hindari menertawakan siswa, atau menuntunnya.
c.    Tunggulah setelah anda kemukakan pertanyaan.

                                                                          Page | 20
     CP   : 085298918889
             Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
             N I M : 131 407 111
             abdhy_slank@yahoo.co.id
             Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
d.    Jangan interupsi sewaktu siswa berbicara.
e.    Untuk mencegah penggelakan-penggelakan.
f.    Hindari pertanyaan-pertanyaan yang menguatkan, atau pertanyaan untuk
      mensahkan.


          Sebagai seorang guru/calon guru dalam melakukan proses belajar mengajar
hendaknya kita melihat apakah siswa kita telah siap menerima pelajaran yang akan
kita ajarkan dan hendaknya kita mengidentifikasi kesiapan-kesiapan siswa untuk
belajar. Jika mereka belum siap, kita wajib menyiapkan siswa untuk memiliki
kesiapan materi, kematangan, kesiapan afektif, kesiapan kontekstual dan kesiapan
paedagogi untuk belajar.




                                                                     Page | 21
     CP   : 085298918889
              Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
              N I M : 131 407 111
              abdhy_slank@yahoo.co.id
              Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah

                  III. Pengembangan Assesment Alternative

A.        Konsep Dasar Assesment Altenative
          Penggunaan asesmen alternatif dalam penilaian hasil belajar siswa merupakan
jawaban atas adanya kelemahan pada asesmen tradisional yang hanya menggunakan
tes tertulis (paper dan pencil test). Tes tertulis tidak mampu mengukur hasil belajar
siswa yang kompleks, bahwa umumnya tes tertulis hanya mampu mengukur hasil
belajar siswa dalam ranah kognitif dan keterampilan sederhana.
          Dengan menggunakan asesmen alternatif, guru akan mampu mengukur secara
keseluruhan hasil belajar siswa tidak hanya ranah kognitif tetapi juga ranah afektif
dan psikomotor. Asesmen alternatif juga mampu mengukur proses belajar.
B.        Bentuk Assesment Kinerja
          Penilaian dalam proses meliputi penilaian kinerja dalam bentuk tugas-tugas
yang dapat berupa tugas berhitung, tugas membuat grafik, tugas menggunakan
berbagai hubungan dalam dunia nyata dengan matematika, penilaian kinerja dalam
bentuk tugas-tugas. Tugas-tugas yang dikerjakan siswa dalam pelajaran matematika
dapat berupa tugas berhitung, membuat grafik, tugas pemecahan masalah, dan tugas
berbentuk tulisan. Penilaian dapat dilaksanakan dengan observasi dan wawancara.
Tujuan mengadakan tugas adalah untuk berbagai kepentingan. Untuk mengecek
pemahaman siswa atau untuk memberikan tingkat keberhasilan siswa terhadapa tuga
syang dilakukan.
          Selain itu juga diadakan penilaian pengetahuan yang meliputi pengetahuan
dan pemahaman konsep-konsep dan prosedur-prosedur, kemampuan untuk
menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah dalam matematika dan
dalam subjek lain, kemampuan untuk menalar dan menganalisis, kemampuan
menggunakan matematika dalam mengkomunikasikan ide-ide, memahami hakikat
matematika dan sikap terhadap matematika, dan perluasan terhadap integrasi aspek-
aspek dari pengetahuan siswa tersebut.



                                                                        Page | 22
     CP   : 085298918889
              Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
              N I M : 131 407 111
              abdhy_slank@yahoo.co.id
              Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
1.        Komunikasi
          Tujuan dalam aspek ini adalah agar siswa mampu menyajikan ide-ide
matematika dengan berbicara, mendemonstrasikan gambar-gambar, dan dengan
menggunakan kos kata, lambang dan struktur-struktur matematika untuk menyajikan
ide-ide, menjelaskan hubungan-hubungan dan situasi matematika pada model-model.
Dengan demikian, sebagai guru atau calon guru kita hendaknya menciptakan suatu
kondisi sehingga kegiatan yang diadakan membuat siswa berbicara atau menulis
dapat terwujud.


2.        Pemecahan masalah
          Salah satu kompetensi yang harus dicapai siswa adalah pemecahan masalah.
Penilaian     pemecahan    masalah      hendaknya   meliputi   penilaian   keterampilan
mengerjakan pemecahan masalah secara individual dan secara kelompok kecil. Tugas
yang menunjukkan kinerja (prestasi) meliputi penyajian-penyajian matematika, pojek,
penyelidikan. Untuk menilai semua kegiatan itu diadakan obsevasi, wawancara, dan
melihat hasil yang kesemuanya itu untuk mengetahui apa sebenarnya yang mereka
ketahui dan apa yang dapat mereka pelajari serta apa yang dapat mereka lakukan.
Kemampuan pemecahan masalah yang dilihat hendaknya meliputi kecepatan dan
ketepatan; kreativitas yang produktif, orisinil, kompleks, efektif; tingkat-tingkat
realita tugas; tingkat kualitas pemahaman meliputi kemampuan mengidentifikasi
suatu konsep muncul dalam suatu situasi; kemampuan menggunakan konsep-konsep
matematika yang tersedia; dan berpikir kritis.
          Beberapa presedur yang dapat diberikan kepada siswa dalam memecahkan
masalah:
a.    Merumuskan masalah
b.    Mengidentifikasi kunci masalah
c.    Menggunakan strategi untuk memcahkan masalah
d.    Menyelesaikan masalah



                                                                           Page | 23
     CP   : 085298918889
              Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
              N I M : 131 407 111
              abdhy_slank@yahoo.co.id
              Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
3.        Penalaran
          Berbagai keterampilan menalar merupakan factor yang penting terhadap
keberhasilan siswa dalam belajar matematika. Mereka butuh untuk menggunakan
penalaran induktif untuk membuat generalisasi-generalisasi, pola-pola serta untuk
menganalisis situasi, dan untuk memeriksa berbagai kesimpulan.


C.        Assesment Portofolio
          Penilaian dengan portofolio adalah merupakan portofolio dari siswa yang
merupakan sebuah map yang berisi wakil-wakil (samples) dari hasil kerja harian,
catatan-catatan yang menarik mengenai seseorang atau kejadian (anecdot records),
dan foto copy materi-materi berhitung atau geometri, pemecahan masalah yang
dikembangkan secara terus menerus dari siswa (Riedesel dkk, 1996: 400-403).
Dengan demikian dengan adanya penilaian dengan portfolio pencapaian tujuan-tujuan
pembelajaran siswa atau guru akan terlihat lebih lengkap.
          Ada beberapa cara untuk merancang program penilaian dengan portfolio
dalam kelas. Walaupun demikian program portfolio yang akan diadakan tentu saja
yang dpat melayani kebutuhan guru dan berkomunikasi dengan siswa dan orang tua.
Yang penting sekali, tujuan program portfolio yang akan diadakan hendaknya betul-
betul dapat dipahami siswa dengan jelas dan operasional.
          Menurut National Council of Teacher of Mathematics (NCTM) tahun 1991
dalam Van De Wale (1994:79) tujuan dan isi dari portfolio disarankan sebagai
berikut:
1.        Sikap atau watak dalam belajar
          Program portfolio bertujuan agar siswa memiliki watak yang posotif terhadap
setiap pelajaran. NCTM menjelaskan bahwa watak-watak tersebut meliputi motivasi,
keingintahuan, ketekunan, mengambil resiko, fleksibilitas, tanggungjawab, dan
percaya diri.
2.        Pertumbuhan dalam pemahaman matematika



                                                                        Page | 24
     CP   : 085298918889
              Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
              N I M : 131 407 111
              abdhy_slank@yahoo.co.id
              Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
          Pertumbuhan dan pemahaman matematika meliputi: pengembangan konsep,
keterampilan pemecahan masalah, keterampilan mengkomunikasikan matematika,
pembentukan matematika, memikirkan pendekatan dan pemecahan masalah tugas-
tugas.
3.        Pemecahan masalah
          Pengembangan keterampilan dalam bekerja dengan yang lain, penggunaan
alat-alat peraga.
4.        Penggunaan alat-alat
          Memadukan     teknologi   seperti   kalkulator   dan   komputer    ke   dalam
pembelajaran adalah merupakan hal yang seharusnya diadakan pada saat ini.
5.        Keterlibatan guru dan orang tua
          Komunikasi antara guru dan orang tua serta antara orang tua dan siswa
terutama sekali adalah pada pemahaman tujuan-tujuan serta nilai-nilai materi
pelajaran.
          Pembelajaran adalah suatu proses yang dinamis, berkembang secara terus-
menerus sesuai dengan pengalaman siswa. Semakin banyak pengalaman yang
dilakukan siswa, maka akan semakin kaya, luas, dan sempurna pengetahuan mereka.
          Pengalaman yang diperoleh siswa dari hasil pemberitahuan orang lain seperti
hasil dari penuturan guru, hanya akan mampir sesaat untuk diingat dan setelah itu
dilupakan. Oleh sesbab itu membelajarkan siswa tidak cukup hanya dengan
memberitahukan akan tetapi mendorong siswa untuk melakukan suatu proses melalui
berbagai aktivitas yang dapat mendukung terhadap pencapaian kompetensi.
          Setiap aktivitas termasuk berbagai karya yang dihasilkan siswa dari suatu
proses pembelajaran, perlu dimonitor, diberi komentar, dikritik dan diberi catatan
perbaikan oleh setiap guru secara terus-menerus. Melalui proses monitoring yang
terus-menerus itulah pengalaman belajar siswa akan terus disempurnakan hingga
pada akhirnya akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik dan sempurna.
          Bagaimana teknik melakukan monitoring terhadap hasil kerja dan pengalaman
siswa itu? Inilah yang dimaksud dengan penilaian portofolio. Portofolio dapat

                                                                            Page | 25
     CP   : 085298918889
           Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
           N I M : 131 407 111
           abdhy_slank@yahoo.co.id
           Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
diartikan sebagai kumpulan karya siswa yang disusun secara sistematis dan
terorganisir sebagai hasil dari usaha pembelajaran yang telah dilakukan dalam kurun
waktu tertentu. Melalui hasil karya tersebut guru dapat melihat perkembangan
kemampuan siswa baik dalam aspek pengetahuan, sikap maupun keterampilan
sebagai bahan penilaian. Hasil karya siswa itu kemudian dinamakan evidence.
Melalui evidence inilah, siswa dapat mendemonstrasikan unjuk kerja kepada orang
lain baik tentang pengetahuan, sikap maupun keterampilan sesuai dengan tujuan
pembelajaran.


Penilaian portofolio memiliki beberapa manfaat diantaranya :
   1. Penilaian portofolio dapat memberikan gambaran yang utuh tentang
       perkembangan kemampuan siswa. Artinya melalui penilaian portofolio,
       informasi yang didapat bukan hanya sekedar pengetahuan saja, akan tetapi
       juga sikap dan keterampilan.
   2. Penilaian portofolio merupakan penilaian yang autentik. Artinya penilaian
       portofolio memberikan gambaran nyata tentang kemampuan siswa yang
       sesungguhnya.
   3. Penilaian portofolio merupakan teknik penilaian yang dapat mendorong siswa
       pada pencapaian hasil yang lebih baik dan lebih sempurna, siswa dapat belajar
       optimal, tanpa merasa tertekan.
   4. Penilaian portofolio dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa, oleh sebab
       setiap respon siswa dalam proses pembelajaran diberikan reinforcement,
       dengan demikian siswa akan segera mengetahui kekurangan dan kelebihan
       dari proses pembelajaran yang dilakukannya.
   5. Penilaian portofolio dapat mendorong para orang tua siswa untuk aktif terlibat
       dalam proses pembelajaran siswa. Hal ini disebabkan setiap perkembangan
       siswa yang digambarkan melalui hasil kerja siswa, orang tua dimintai
       komentarnya.



                                                                       Page | 26
  CP   : 085298918889
                Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
                N I M : 131 407 111
                abdhy_slank@yahoo.co.id
                Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
Perbedaan Tes dengan Portofolio
           Beberapa perbedaan pokok antara tes sebagai suatu teknik atau alat penilaian
yang selama ini digunakan guru dengan penilaian portofolio sebagai salah satu
inovasi dalam pelaksanaan penilaian, diantaranya yaitu:
NO                          TES                        NO     PENILAIAN PORTOFOLIO
 1        Tes    biasanya     dilakukan       untuk    1.   Penilaian       portofolio      menilai
          menilai     kemampuan          intelektual        seluruh aspek perkembangan siswa
          siswa melalui penguasaan materi                   baik intelektual, minat sikap, dan
          pembelajaran                                      keterampilan.
2.        Guru berperan sangat dominan                 2.   Peserta didik terlibat dalam proses
          dalam proses penilaian sedangkan                  penilaian dengan menilai dirinya
          siswa berperan sebagai orang yang                 sendiri     mengenai        kemampuan
          dinilai.                                          beserta dalam perkembangannya.
3.        Kriteria penilaian ditentukan satu           3.   Kriteria penilaian ditentukan sesuai
          untuk semua.                                      dengan kriteria siswa.
4.        Keputusan berdasarkan penilaian              4.   Proses         penilaian        beserta
          ditentukan sendiri oleh guru.                     pengambilan keputusan dilakukan
                                                            dengan cara kolaboratif antara
                                                            guru, siswa, dan orang tua.
5.        Penilaian       dilakukan         dengan     5.   Penilaian       berorientasi      pada
          berorientasi pada pencapaian hasil                kemajuan, usaha yang dilakukan
          belajar.                                          siswa termasuk pencapaian hasil
                                                            belajar.
6.        Penilaian merupakan kegiatan yang            6.   Penilaian       merupakan        bagian
          terpisah dari proses pembelajaran.                integral dari proses pembelajaran.
7.        Penilaian    melalui     tes    biasanya     7.   Penilaian    portofolio       dilakukan
          dilakukan    pada      akhir     program          selama      proses         pembelajaran
          pembelajaran.                                     berlangsung.



                                                                                       Page | 27
     CP   : 085298918889
              Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
              N I M : 131 407 111
              abdhy_slank@yahoo.co.id
              Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
Prinsip-prinsip Penilaian Portofolio
          Dalam proses pelaksanaan evaluasi dengan sistem penilaian portofolio
terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan, diantaranya yaitu :
1.        Saling Percaya
Penilaian portofolio adalah penilaian yang melibatkan siswa secara aktif sebagai
pihak yang dievaluasi. Antara guru sebagai evaluator dan siswa sebagai pihak yang
dievaluasi harus saling percaya bahwa bukan semata-mata untuk menilai hasil
pekerjaannya akan tetapi sebagai upaya pemberian umpan balik untuk meningkatkan
hasil belajar.
2.        Keterbukaan
          Portofolio adalahpenilaian yang dilaksanakan secara terbuka, artinya suru
sebagai evaluator bukan hanya berperan sebagai orang yang memberi nilai atau kritik,
akan tetapi siswa yang dievaluasi perlu memahami mengapa kritik itu muncul, oleh
sebab itu guru harus terbuka melalui argumentasi yang tepat dalam setiap
memberikan penilaian.
3.        Kerahasiaan
          Sebelum dilaksanakan pameran, kerahasiaan dokumen (evidence) setiap siswa
perlu dijaga. Hal ini untuk menjaga perasaan siswa, jangan sampai ada kesan siswa
merasa direndahkan dan dipermalukan didepan teman-temannya, apalagi kalau
komentar itu menyangkut kemampuan dan pribadi siswa yang bersangkutan.
Demikian juga komentar untuk siswa yang dianggap baik, tidak perlu diinformasikan
pada yang lain. Hal ini untuk menjaga agar siswa yang bersangkutan tidak merasa
paling hebat diantara teman-teman lainnya.
4.        Milik Bersama
          Guru dan peserta didik harus merasa bahwa evidence portofolio adalah milik
bersama, oleh karena itu semua pihak harus menjaganya secara baik. Hal ini akan
mempermudah manakala siswa atau guru memerlukannya.




                                                                         Page | 28
     CP   : 085298918889
              Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
              N I M : 131 407 111
              abdhy_slank@yahoo.co.id
              Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
5.        Kepuasan dan Kesesuaian
          Hasil akhir dari penilaian portofolio adalah ketercapaian kompetensi seperti
yang dirumuskan dalam kurikulum. Guru dan siswa akan merasa puas manakala
kompetensi itu telah tercapai. Oleh karena itu, terkumpulnya evidence merupakan
kepuasan baik bagi guru maupun bagi siswa.
6.        Budaya Pembelajaran
          Penilaian portofolio harus dapat mengembangkan budaya belajar. Sebab
penilaian portofolio itu sendiri pada dasarnya mengandung proses pembelajaran.
Unjuk kerja yang tergambar pada setiap evidence pada dasarnya adalah proses
pembelajaran.
7.        Refleksi
          Penilaian portofolio harus memberikan kesempatan yang luas kepada siswa
untuk melakukan refleksi tentang proses pembelajaran yang telah dilakukannya.
Melalui refleksi, siswa dapat menghayati tentang proses berpikir mereka sendiri,
kemampuan yang telah mereka peroleh, serta pemahaman mereka tentang kompetensi
yang telah dimilikinya.
8.        Berorientasi pada Proses dan Hasil
          Penilaian portofolio bertumpu pada dua sisi yang sama pentingnya, yakni sisi
proses dan hasil belajar secara seimbang. Penilaian portofolio mengikuti setiap aspek
perkembangan siswa, bagaimana cara belajar siswa, bagaimana motivasi belajar,
sikap, minat, kebiasaan, dan lain sebagainya dan pada akhirnya menilai bagaimana
hasil belajar yang diperoleh siswa.


Keunggulan dan Kelemahan Penilaian Portofolio
     1. Penilaian Portofolio
          Penilaian portofolio memiliki perbedaan yang sangat mendasar dibandingkan
dengan sistem penilaian yang biasa dilakukan misalnya dengan tes. Tes biasa
digunakan untuk menilai kemampuan penguasaan materi pembelajaran atau
perkembangan intelektual siswa, oleh sebab itu tes biasanya dilaksanakan pada akhir

                                                                         Page | 29
     CP   : 085298918889
            Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
            N I M : 131 407 111
            abdhy_slank@yahoo.co.id
            Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
selesainya pelaksanaan program pembelajaran misalnya pada akhir caturwulan atau
semester. Penilaian portofolio dilakukan untuk menilai setiap aspek perkembangan
siswa termasuk perkembangan minat, sikap, dan motivasi. Oleh sebab itu, penilaian
portofolio merupakan bagian integral dari proses pembelajaran yang dilakukan secara
terus-menerus dan menyeluruh.
       Sebagai suatu teknik penilaian portofolio memiliki keunggulan diantaranya :
       1.       Penilaian   portofolio    dapat   menilai    kemampuan    siswa      secara
                menyeluruh.
       2.       Penilaian portofolio dapat menjamin akuntabilitas (pertanggung-
                jawaban).
       3.       Penilaian portofolio merupakan penilaian yang bersifat individual.
       4.       Penilaian portofolio merupakan penilaian yang terbuka.
       5.       Penilaian portofolio bersifat self evaluation.
       Disamping kelebihan, penilaian portofolio juga memiliki kelemahan
diantaranya :
       1.       Memerlukan waktu dan kerja keras.
       2.       Penilaian portofolio memerlukan perubahan cara pandang.
       3.       Penilaian portofolio memerlukan perubahan gaya belajar.
       4.       Penilaian portofolio memerlukan perubahan sistem pembelajaran.


Tahap Pelaksanaan Penilaian Portofolio
       Terdapat sejumlah tahapan yang harus dilakukan dalam melaksanakan
penilaian portofolio, diantaranya yaitu :
   1. Menentukan Tujuan Portofolio.
       Pembelajaran adalah suatu proses yang bertujuan. Oleh karena itulah tahapan
pertama dalam pelaksasnaan penilaian portofolio adalah merumuskan tujuan yang
ingin dicapai. Dengan tujuan yang jelas dan terarah, akan memudahkan bagi guru
untuk mengelola pembalajaran.
   2. Penentuan Isi Portofolio.

                                                                           Page | 30
  CP   : 085298918889
            Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
            N I M : 131 407 111
            abdhy_slank@yahoo.co.id
            Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
       Isi dalam portofolio harus dapat menggambarkan perkembangan kemampuan
siswa yang sesuai dengan standar kompetensi seperti yang dirumuskan dalam
kurikulum. Untuk menghasilkan kompetensi tersebut, tentu saja proses pembelajaran
yang dilakukan guru harus sesuai dengan kompetensi yang diharapkan. Siswa
didorong untuk menghasilkan karya, bukan hanya berperan sebagai penerima
informasi dari guru.
   3. Menentukan Kriteria dan Format Penilaian.
       Kriteria penilaian disusun sebagai standar patokan untuk guru dalam
menentukan keberhasilan proses dan hasil pembelajaran pada setiap aspek yang
dinilai. Selanjutnya kriteria itu disusun dalam sebuah format penilaian yang jelas.
       Kriteria penilain ditentukan dalam dua aspek pokok, yaitu kriteria untuk
proses belajar dan kriteria untuk hasil belajar. Proses belajar misalnya ditentukan
kriteria penilaian dari aspek kesungguhan menyelesaikan tugas, motivasi belajar,
ketepatan waktu penyelesaian, dan lain sebagainya; sedangkan kriteria dilihat dari
hasil belajar disesuaikan dengan isi yang menggambarkan kompetensi.
       Apabila kompetensi yang diharapkan berupa produk atau hasil karya siswa,
maka kriteria dan format penilaian ditetapkan sesuai dengan aspek-aspek yang
terkandung dalam kompetensi itu sendiri.
   4. Pengamatan dan Penentuan Bahan Portofolio
       Portofolio biasanya hanya memuat evidence yang dianggap dapat mewakili
dan menggambarkan suatu perkembangan dan perubahan yang terjadi. Oleh karena
itu, sebelum ditentukan evidence mana yang dianggap dapat dimasukkan ke dalam
portofolio, terlebih dahulu perlu dilakukan pengamatan.
       Pengamatan dan penentuan evidence sebaiknya dilakukan oleh guru dan siswa
secara bersama-sama. Siswa perlu dimintai pertimbangan-pertimbangan serta alasan-
alasannya evidence mana yang harus dimasukkan.hal ini penting untuk menjamin
objektivitas penilaian portofolio.




                                                                          Page | 31
  CP   : 085298918889
              Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
              N I M : 131 407 111
              abdhy_slank@yahoo.co.id
              Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
     5. Menyeusun Dokumen Poerofolio.
          Manakala bahan-bahan portofolio telah titentukan, langkah selanjutnya adalah
menyusun bahan itu dalam dokumen portofolio, misalnya dalam bentuk folder.
Folder itu sendiri perlu dilengkapi dengan:
a)    Identitas siswa;
b) Mata pelajaran;
c)    Daftar isi dokumen; dan
d) Isi dokumen beserta komentar-komentar baik guru maupun orang tua.


D.        Penilaian Ranah Afektif
          Hasil belajar menurut Bloom (1976) mencakup prestasi belajar, kecepatan
belajar,dan hasil afektif. Andersen (1981) sependapat dengan Bloom bahwa
karakteristik manusia meliputi cara yang tipikal dari berpikir, berbuat, dan perasaan.
Tipikal berpikir berkaitan dengan ranah kognitif, tipikal berbuat berkaitan dengan
ranah psikomotor, dan tipikal perasaan berkaitan dengan ranah afektif. Ranah afektif
mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, atau nilai. Ketiga
ranah tersebut merupakan karakteristik manusia sebagai hasil belajar dalam
bidang pendidikan.
          Menurut    Popham     (1995),   ranah   afektif   menentukan     keberhasilan
belajar seseorang. Orang yang tidak memiliki minat pada pelajaran tertentu sulit
untuk mencapai keberhasilan belajar secara optimal. Seseorang yang            berminat
dalam suatu mata pelajaran diharapkan akan mencapai hasil pembelajaran yang
optimal. Oleh karena itu semua pendidik harus mampu membangkitkan minat
semua peserta didik untuk mencapai kompetensi yang telah ditentukan. Selain itu
ikatanemosional sering diperlukan untuk membangun semangat kebersamaan,
semangat persatuan, semangat nasionalisme, rasa sosial, dan sebagainya. Untuk itu
semuadalam       merancang      program   pembelajaran,     satuan   pendidikan   harus
memperhatikan ranah afektif.



                                                                          Page | 32
     CP   : 085298918889
            Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
            N I M : 131 407 111
            abdhy_slank@yahoo.co.id
            Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
       Keberhasilan pembelajaran pada ranah kognitif dan psikomotor dipengaruhi
oleh kondisi afektif peserta didik. Peserta didik yang memiliki minat belajar dan
sikap positif terhadap pelajaran akan merasa senang mempelajari mata pelajaran
tertentu, sehingga dapat mencapai hasil pembelajaran yang optimal. Walaupun para
pendidik sadar akan hal ini, namun belum banyak tindakan yang dilakukan pendidik
secara sistematik untuk meningkatkan minat peserta didik. Oleh karena itu untuk
mencapai hasil belajar yang optimal, dalam merancang program pembelajaran
dan kegiatan pembelajaran bagi peserta didik, pendidik harus memperhatikan
karakteristik afektif peserta didik.


Tingkatan Ranah Afektif
       Menurut Krathwohl (1961) bila ditelusuri hampir semua tujuan kognitif
mempunyai komponen afektif. Dalam pembelajaran sains, misalnya, di dalamnya ada
komponen sikap ilmiah. Sikap ilmiah adalah komponen afektif. Tingkatan ranah
afektif menurut taksonomi Krathwohl ada lima, yaitu: receiving (attending),
responding, valuing, organization, dan characterization.
    1. Tingkat receiving
       Pada tingkat receiving atau attending, peserta didik memiliki keinginan
memperhatikan      suatu    fenomena   khusus    atau      stimulus,   misalnya   kelas,
kegiatan, musik, buku, dan sebagainya. Tugas pendidik mengarahkan perhatian
peserta didik pada fenomena yang menjadi objek pembelajaran afektif. Misalnya
pendidik mengarahkan peserta didik agar senang membaca buku,Pengembangan
Perangkat Penilaian Afektif senang bekerjasama, dan sebagainya. Kesenangan ini
akan menjadi kebiasaan, dan hal ini yang diharapkan, yaitu kebiasaan yang positif.
    2. Tingkat responding
       Responding merupakan partisipasi aktif peserta didik, yaitu sebagai bagian
dari perilakunya. Pada tingkat ini peserta didik tidak saja memperhatikan fenomena
khusus tetapi ia juga bereaksi. Hasil pembelajaran pada ranah ini menekankan pada
pemerolehan respons, berkeinginan memberi respons, atau kepuasan dalam

                                                                           Page | 33
  CP   : 085298918889
            Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
            N I M : 131 407 111
            abdhy_slank@yahoo.co.id
            Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
memberi respons. Tingkat yang tinggi pada kategori ini adalah minat, yaitu hal-hal
yang menekankan pada pencarian hasil dan kesenangan pada aktivitas khusus.
Misalnya senang membaca buku, senang bertanya, senang membantu teman, senang
dengan kebersihan dan kerapian, dan sebagainya.
    3. Tingkat valuing
       Valuing melibatkan penentuan nilai, keyakinan atau sikap yang menunjukkan
derajat internalisasi dan komitmen. Derajat rentangannya mulai dari menerima suatu
nilai, misalnya keinginan untuk meningkatkan keterampilan, sampai pada tingkat
komitmen. Valuing atau penilaian berbasis pada internalisasi dari seperangkat
nilai yang spesifik. Hasil belajar pada tingkat ini berhubungan dengan perilaku
yang konsisten dan stabil agar nilai dikenal secara jelas. Dalam tujuan pembelajaran,
penilaian ini diklasifikasikan sebagai sikap dan apresiasi.
    4. Tingkat organization
       Pada tingkat organization, nilai satu dengan nilai lain dikaitkan, konflik antar
nilai diselesaikan, dan mulai membangun sistem nilai internal yang konsisten. Hasil
pembelajaran pada tingkat ini berupa konseptualisasi nilai atau organisasi sistem
nilai. Misalnya pengembangan filsafat hidup.
    5. Tingkat characterization
       Tingkat ranah afektif tertinggi adalah characterization nilai. Pada tingkat ini
peserta didik memiliki sistem nilai yang mengendalikan perilaku sampai pada waktu
tertentu hingga terbentuk gaya hidup. Hasil pembelajaran pada tingkat ini berkaitan
dengan pribadi, emosi, dan sosial.


Karakteristik Ranah Afektif
       Pemikiran atau perilaku harus memiliki dua kriteria untuk diklasifikasikan
sebagai ranah afektif (Andersen, 1981:4). Pertama, perilaku melibatkan perasaan
dan emosi seseorang. Kedua, perilaku harus tipikal perilaku seseorang. Kriteria lain
yang termasuk ranah afektif adalah intensitas, arah, dan target. Intensitas



                                                                         Page | 34
  CP   : 085298918889
            Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
            N I M : 131 407 111
            abdhy_slank@yahoo.co.id
            Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
menyatakan derajat atau kekuatan dari perasaan. Beberapa perasaan lebih kuat dari
yang lain, misalnya cinta lebih kuat dari senang atau suka.
        Sebagian orang kemungkinan        memiliki    perasaan    yang   lebih   kuat
dibanding yang lain. Arah perasaan berkaitan dengan orientasi positif atau
negatif dari perasaan yang menunjukkan apakah perasaan itu baik atau buruk.
Misalnya senang pada pelajaran dimaknai positif, sedang kecemasan dimaknai
negatif.
        Bila intensitas dan arah perasaan ditinjau bersama-sama, maka karakteristik
afektif berada dalam suatu skala yang kontinum. Target mengacu pada objek,
aktivitas, atau idePengembangan Perangkat Penilaian Afektif sebagai arah dari
perasaan. Bila kecemasan merupakan karakteristik afektif yang ditinjau, ada
beberapa kemungkinan target. Peserta didik mungkin bereaksi terhadap sekolah,
matematika, situasi sosial, atau pembelajaran. Tiap unsur ini bisa merupakan target
dari kecemasan. Kadang-kadang target ini diketahui oleh seseorang namun kadang-
kadang tidak diketahui. Seringkali peserta didik merasa cemas bila menghadapi tes di
kelas. Peserta didik tersebut cenderung sadar bahwa target kecemasannya adalah tes.
Ada 5 (lima) tipe karakteristik afektif yang penting, yaitu sikap, minat, konsep diri,
nilai, dan moral.
   1.   Sikap
        Sikap merupakan suatu kencendrungan untuk bertindak secara suka atau tidak
suka terhadap suatu objek. Sikap dapat dibentuk melalui cara mengamati dan
menirukan sesuatu yang positif, kemudian melalui penguatan serta menerima
informasi verbal. Perubahan sikap dapat diamati dalam proses pembelajaran, tujuan
yang ingin dicapai, keteguhan, dan konsistensi terhadap sesuatu. Penilaian sikap
adalah penilaian yang dilakukan untuk mengetahui sikap peserta didik terhadap
mata pelajaran, kondisi pembelajaran, pendidik, dan sebagainya.
        Menurut Fishbein dan Ajzen (1975) sikap adalah suatu predisposisi yang
dipelajari untuk merespon secara positif atau negatif terhadap suatu objek, situasi,
konsep, atau orang. Sikap peserta didik terhadap objek misalnya sikap terhadap

                                                                         Page | 35
  CP    : 085298918889
             Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
             N I M : 131 407 111
             abdhy_slank@yahoo.co.id
             Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
sekolah atau terhadap mata pelajaran. Sikap peserta didik ini penting              untuk
ditingkatkan (Popham, 1999). Sikap peserta didik terhadap mata pelajaran,
misalnya bahasa Inggris, harus lebih positif setelah peserta didik           mengikuti
pembelajaran     bahasa    Inggris     dibanding    sebelum   mengikuti pembelajaran.
Perubahan ini merupakan salah satu indikator keberhasilan pendidik dalam
melaksanakan proses pembelajaran.         Untuk itu pendidik harus membuat rencana
pembelajaran termasuk pengalaman belajar peserta didik yang            membuat     sikap
peserta didik terhadap mata pelajaran menjadi lebih positif.
   2.   Minat
        Menurut Getzel (1966), minat adalah suatu disposisi yang terorganisir melalui
pengalaman yang mendorong seseorang untuk memperoleh objek khusus,
aktivitas,   pemahaman,      dan     keterampilan    untuk    tujuan   perhatian    atau
pencapaian. Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia (1990: 583), minat
atau keinginan adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. Hal penting
pada minat adalah intensitasnya. Secara umum minat termasuk karakteristik afektif
yang memiliki intensitas tinggi. Penilaian minat dapat digunakan untuk:
   a.   Mengetahui minat peserta didik sehingga mudah untuk pengarahan dalam
        pembelajaran,
   b.   Mengetahui bakat dan minat peserta didik yang sebenarnya,
   c.   Pertimbangan penjurusan dan pelayanan individual peserta didik,
   d.   Menggambarkan keadaan langsung di lapangan/kelas,
   e.   Mengelompokkan peserta didik yang memiliki minat sama,
   f.   Acuan dalam menilai kemampuan peserta didik secara keseluruhan dan
        memilih metode yang tepat dalam penyampaian materi,
   g.   Mengetahui tingkat minat peserta didik terhadap pelajaran yang diberikan
        pendidik,
   h.   Bahan pertimbangan menentukan program sekolah,
   i.   Meningkatkan motivasi belajar peserta didik.



                                                                          Page | 36
  CP    : 085298918889
           Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
           N I M : 131 407 111
           abdhy_slank@yahoo.co.id
           Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
  3.   Konsep Diri
       Menurut Smith, konsep diri adalah evaluasi yang dilakukan individu terhadap
kemampuan dan kelemahan yang dimiliki. Target, arah, dan intensitas konsep diri
pada dasarnya seperti ranah afektif yang lain. Target konsep diri biasanya orang tetapi
bisa juga institusi seperti sekolah. Arah konsep diri bisa positif atau negatif, dan
intensitasnya bisa dinyatakan dalam suatu daerah kontinum, yaitu mulai dari rendah
sampai tinggi.
       Konsep diri ini penting untuk menentukan jenjang karir peserta didik, yaitu
dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri, dapat dipilih alternatif
karir yang tepat bagi peserta didik. Selain itu informasi konsep diri penting bagi
sekolah untuk memberikan motivasi belajar peserta didik dengan tepat. Penilaian
konsep diri dapat dilakukan dengan penilaian diri. Kelebihan dari penilaian diri
adalah sebagai berikut :
 Pendidik mampu mengenal kelebihan dan kekurangan peserta didik.
 Peserta didik mampu merefleksikan kompetensi yang sudah dicapai.
 Pernyataan yang dibuat sesuai dengan keinginan penanya.
 Memberikan motivasi diri dalam hal penilaian kegiatan peserta didik.
 Peserta didik lebih aktif dan berpartisipasi dalam proses pembelajaran.
 Dapat digunakan untuk acuan menyusun bahan ajar dan mengetahui standar
  input peserta didik.
 Peserta didik dapat mengukur kemampuan untuk mengikuti pembelajaran.
 Peserta didik dapat mengetah ketuntasan belajarnya.
                              ui
 Melatih kejujuran dan kemandirian peserta didik.
 Peserta didik mengetahui bagian yang harus diperbaiki.
 Peserta didik memahami kemampuan dirinya.
 Pendidik memperoleh masukan objektif tentang daya serap peserta didik.
 Mempermudah pendidik untuk melaksanakan remedial, hasilnya dapat untuk
  instropeksi pembelajaran yang dilakukan.
 Peserta didik belajar terbuka dengan orang lain.

                                                                         Page | 37
  CP   : 085298918889
             Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
             N I M : 131 407 111
             abdhy_slank@yahoo.co.id
             Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
 Peserta didik mampu menilai dirinya.
 Peserta didik dapat mencari materi sendiri.
 Pes
    erta didik dapat berkomunikasi dengan temannya.
  4.   Nilai
       Nilai menurut Rokeach (1968) merupakan suatu keyakinan tentang perbuatan,
tindakan, atau perilaku yang dianggap baik dan yang dianggap buruk.
Selanjutnya dijelaskan bahwa sikap mengacu pada suatu organisasi sejumlah
keyakinan sekitar objek spesifik atau situasi, sedangkan nilai mengacu pada
keyakinan.
       Target nilai cenderung menjadi ide, target nilai dapat juga berupa sesuatu
seperti sikap dan       perilaku. Arah   nilai   dapat    positif   dan    dapat   negatif.
Selanjutnya intensitas nilai dapat dikatakan tinggi atau rendah tergantung pada
situasi dan nilai yang diacu. Definisi lain tentang nilai disampaikan oleh Tyler
(1973:7), yaitu nilai adalah suatu objek,    aktivitas,    atau ide       yang dinyatakan
oleh individu dalam mengarahkan minat, sikap, dan kepuasan. Selanjutnya
dijelaskan bahwa manusia belajar menilai suatu objek, aktivitas, dan ide sehingga
objek ini menjadi pengatur penting minat, sikap, dan kepuasan. Oleh karenanya
satuan pendidikan harus membantu peserta didik menemukan dan menguatkan nilai
yang bermakna dan signifikan bagi peserta didik untuk memperoleh kebahagiaan
personal dan memberi konstribusi positif terhadap masyarakat.
  5.   Moral
       Piaget dan Kohlberg banyak membahas tentang perkembangan moral anak.
Namun Kohlberg mengabaikan masalah hubungan antara judgement moral dan
tindakan moral. Ia hanya mempelajari prinsip moral seseorang melalui penafsiran
respon verbal terhadap dilema hipotetikal atau dugaan, bukan pada bagaimana
sesungguhnya seseorang bertindak. Moral berkaitan dengan perasaan salah atau
benar terhadap kebahagiaan orang lain atau perasaan terhadap tindakan yang
dilakukan diri sendiri. Misalnya menipu orang lain, membohongi orang lain, atau
melukai orang lain baik fisik maupun psikis. Moral juga sering dikaitkan dengan

                                                                             Page | 38
  CP   : 085298918889
             Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
             N I M : 131 407 111
             abdhy_slank@yahoo.co.id
             Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
keyakinan agama seseorang, yaitu keyakinan akan perbuatan yang berdosa dan
berpahala. Jadi moral berkaitan dengan prinsip, nilai, dan keyakinan seseorang.
Ranah afektif lain yang penting adalah:
 Kejujuran: peserta didik harus belajar menghargai kejujuran               dalam
    berinteraksi dengan orang lain.
 Integritas: peserta didik harus mengikatkan diri pada kode nilai, misalnya moral
    dan artistik.
 Adil: peserta didik harus berpendapat bahwa semua orang mendapat
    perlakuan yang sama dalam memperoleh pendidikan.
 Kebebasan: peserta didik harus yakin bahwa negara yang demokratis
    memberi kebebasan yang bertanggung jawab secara maksimal kepada semua
    orang.




                                                                     Page | 39
  CP   : 085298918889
              Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
              N I M : 131 407 111
              abdhy_slank@yahoo.co.id
              Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah

          IV. Pengumpulan Dan Pengolahan Informasi Hasil Belajar

A.        Mengumpulkan dan Mengolah Informasi Hasil Belajar Siswa
          Mengumpulkan dan mengolah informasi hasil belajar siswa dapat dilakukan
dengan cara berikut ini :
     1.   Interaksi Tanya Jawab/Kuis
          Teknik     pengajuan          pertanyaan    dalam    proses    pembelajaran       banyak
dilakukan guru untuk mengecek pemahaman siswa terhadap materi yang sedang
dibahas.      Pertanyaan        secara      lisan    merupakan       teknik   penilaian     proses
pembelajaran yang dilakukan oleh sebagian besar para guru. Teknik bertanya
merupakan alat untuk mendapatkan informasi atau data tetang perilaku belajar
siswa       selama     proses     pembelajaran        berlangsung. (Airasian, 1991). Tujuan
pengajuan pertanyaan yang diajukan guru pada umumnya untuk mengecek
pemahaman siswa. Menurut Richard dan Loohart (1997) alasan mengapa guru
sering mengajukan pertanyaan adalah:
     a. Dapat mendorong dan menjaga minat siswa,
     b. Mendorong siswa untuk berpikir dan memfokuskan pada isi pembelajaran,
     c. Memungkinkan guru mengklarifikasi apa yang dikatakan siswa,
     d. Memungkinkan guru mengungkap struktur dan kosakata,
     e. Memungkinkan guru mengecek pemahaman siswa,
     f. Mendorong partisipasi siswa dalam pembelajaran.
          Penilaian yang dilakukan dalam bentuk interaksi tanya jawab di kelas
melibatkan penilaian jawaban siswa                   terhadap pertanyaan guru. Guru dapat
secara langsung memahami kemajuan belajar siswa. Berdasarkan alasan tersebut
maka       guru    dapat     mengambil         keputusan      yang   segera   dilakukan      untuk
mengambil         inisiatif-inisiatif     tertentu   atau   langkah- langkah     tertentu    demi
kelancaran proses pembelajaran. Dengan demikian teknik bertanya/kuis merupakan
Alat untuk memperoleh informasi yang diperlukan untuk mengambil keputusan
tersebut.

                                                                                   Page | 40
     CP   : 085298918889
              Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
              N I M : 131 407 111
              abdhy_slank@yahoo.co.id
              Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
   2.   Latihan/Tugas
        Latihan/tugas disusun sesuai dengan arah pencapaian tujuan pembelajaran.
Latihan/tugas ini selain berfungsi sebagai bagian dari proses belajar sebagai sarana
menguasai konsep yang           sedang    disampaikan    guru,   juga     dapat     berfungsi
penilaian untuk mengetahui sejauh mana pemahaman yang dicapai dalam proses
belajar yang sedang berlangsung. Nitko (1996) mengemukakan istilah tugas ini
dengan paper-and-pencil tasks. Guru memperoleh balikan tentang kemajuan
belajar siswa dan kelemahan-kelemahannya. Guru juga dapat memonitor proses
belajar siswa. Keterkaitan antara penilaian dan pembelajaran sangat dirasakan dalam
latihan.
           Prosedur pelaksanaan latihan atau tugas dapat dilakukan di awal, di
tengah, di akhir pembelajaran berlangsung disesuaikan dengan bahan dan kemajuan
belajar siswa serta dapat diberikan sebagai tugas di rumah. Rossenshine dan
Stevens (1990) mengemukakan prosedur pelaksanaan latihan yang meliputi:
mengajukan banyak pertanyaan, membimbing siswa dalam mempraktekkan bahan
baru, mengecek pemahaman siswa, memberikan umpan balik bagi siswa, mengoreksi
kesalahan siswa, diulang jika diperlukan.
           Latihan maupun tugas          yang diberikan saat berlangsungnya proses
pembelajaran berfungsi sebagai teknik pembelajaran dan sekaligus dapat dijadikan
alat mengontrol kemajuan pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan.
   3.   Observasi
        Teknik      observasi     merupakan     alat    pengumpul       informasi     tentang
berlangsungnya      proses      pembelajaran.   Observasi    proses   pembelajaran      yang
dilakukan guru mencakup mengawasi siswa melaksanakan aktivitas belajar,
mendengarkan siswa berbicara maupun berdiskusi, mengawasi tingkah laku siswa
dalam kelas seperti perhatiannya maupun           sikapnya. (Airasian, 1991). Observasi
dalam psroses pembelajaran tidak direncanakan dan bersifat informal penilaian,
kejadiannya tidak sistematik. Apa yang terjadi di kelas diamati tanpa direncanakan
karena suasana kelas tidak dapat diprediksi                 sebelumnya. Observasi yang

                                                                              Page | 41
  CP    : 085298918889
             Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
             N I M : 131 407 111
             abdhy_slank@yahoo.co.id
             Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
direncanakan merupakan alat pengamatan yang terarah. Dalam observasi terencana
hal-hal yang diamati telah ditentukan dan memiliki kriteria tertentu sesuai dengan
aspek yang diamati.
     4.   Proyek
          Proyek merupakan tugas yang diberikan kepada siswa untuk melakukan
aktivitas yang menghasilkan sesuatu berkaitan dengan konsep yang diajarkan pada
saat itu. Hasil yang diharapkan dapat berupa model, peta, gambar, tabel, grafik,
drama, karangan dan sebagainya. Dengan pemberian tugas ini guru dapat memonitor
berbagai kemampuan yang dilakukan siswa, kemampuan berkomunikasi ntarsiswa,
kerjasama, sosial, pemecahan masalah dan banyak aspek lain yang dapat dinilai
melalui kegiatan pemberian tugas.


B.        Pendekatan dalam Pemberian Nilai
          Berbagai macam teknik penilaian dapat dilakukan secara komplementer
(saling melengkapi) sesuai dengan kompetensi yang dinilai. Teknik penilaian yang
dimaksud antara lain melalui tes, observasi, penugasan, inventori, jurnal, penilaian
diri, dan penilaian antarteman yang sesuai dengan karakteristik kompetensi dan
tingkat perkembangan peserta didik.
          Penilaian dilakukan secara menyeluruh yaitu mencakup semua aspek
kompetensi yang meliputi kemampuan kognitif, psikomotorik, dan afektif.
Kemampuan kognitif adalah kemampuan berpikir yang menurut taksonomi Bloom
secara hierarkis terdiri atas pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan
evaluasi. Pada tingkat pengetahuan, peserta didik menjawab pertanyaan berdasarkan
hapalan saja. Pada tingkat pemahaman, peserta didik dituntut untuk menyatakan
jawaban atas pertanyaan dengan kata-katanya sendiri. Misalnya, menjelaskan suatu
prinsip atau konsep. Pada tingkat aplikasi, peserta didik dituntut untuk menerapkan
prinsip dan konsep dalam suatu situasi yang baru. Pada tingkat analisis, peserta didik
diminta untuk menguraikan informasi ke dalam beberapa bagian, menemukan asumsi,
membedakan fakta dan pendapat, dan menemukan hubungan sebab akibat. Pada

                                                                         Page | 42
     CP   : 085298918889
           Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
           N I M : 131 407 111
           abdhy_slank@yahoo.co.id
           Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
tingkat sintesis, peserta didik dituntut merangkum suatu cerita, komposisi, hipotesis,
atau teorinya sendiri, dan mensintesiskan pengetahuan. Pada tingkat evaluasi, peserta
didik mengevaluasi informasi, seperti bukti sejarah, editorial, teori-teori, dan
termasuk di dalamnya melakukan judgement (pertimbangan) terhadap hasil analisis
untuk membuat keputusan.
       Kemampuan psikomotor melibatkan gerak adaptif (adaptive movement) atau
gerak terlatih dan keterampilan komunikasi berkesinambungan (non-discursive
communication) - (Harrow, 1972). Gerak adaptif terdiri atas keterampilan adaptif
sederhana (simple adaptive skill), keterampilan adaptif gabungan (compound adaptive
skill), dan keterampilan adaptif komplek (complex adaptive skill). Keterampilan
komunikasi berkesinambungan mencakup gerak ekspresif (expressive movement) dan
gerak interpretatif (interpretative movement). Keterampilan adaptif sederhana dapat
dilatihkan dalam berbagai mata pelajaran, seperti bentuk keterampilan menggunakan
peralatan laboratorium IPA. Keterampilan adaptif gabungan, keterampilan adaptif
komplek,    dan keterampilan komunikasi berkesinambungan baik gerak ekspresif
maupun gerak interpretatif dapat dilatihkan dalam mata pelajaran Seni Budaya dan
Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan.
       Kondisi afektif peserta didik berhubungan dengan sikap, minat, dan/atau nilai-
nilai. Kondisi ini tidak dapat dideteksi dengan tes, tetapi dapat diperoleh melalui
angket, inventori, atau pengamatan yang sistematik dan berkelanjutan. Sistematik
berarti pengamatan mengikuti suatu prosedur tertentu, sedangkan berkelanjutan
memiliki arti pengukuran dan penilaian yang dilakukan secara terus menerus.
       Kedalaman muatan kurikulum pada setiap satuan pendidikan dituangkan
dalam kompetensi yang terdiri atas Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar
(KD). Kompetensi adalah kemampuan yang meliputi pengetahuan, keterampilan,
sikap, dan nilai-nilai yang diwujudkan melalui kebiasaan berpikir dan bertindak.
Peserta didik dikatakan kompeten apabila memenuhi krireria mampu memahami
konsep yang mendasari standar kompetensi yang harus dikuasai, mampu melakukan
pekerjaan sesuai dengan tuntutan standar kompetensi yang harus dicapai dengan cara

                                                                        Page | 43
  CP   : 085298918889
               Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
               N I M : 131 407 111
               abdhy_slank@yahoo.co.id
               Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
dan prosedur yang benar serta hasil yang baik, dan mampu mengaplikasikan
kemampuannya dalam kehidupan sehari-hari, baik di dalam maupun di luar sekolah.
       Di dalam SI terdapat SK dan KD setiap mata pelajaran. SK merupakan ukuran
kemampuan/kompetensi minimal yang meliputi pengetahuan, keterampilan, dan
sikap yang harus dicapai dan dikuasai peserta didik. KD adalah penjabaran dari SK
yang bermakna dan bermanfaat untuk mencapai SK terkait.
       Setiap pendidik harus mengembangkan indikator dari setiap KD. Indikator
merupakan rumusan yang menggambarkan karakteristik, ciri-ciri, perbuatan, atau
respon yang harus ditunjukkan atau dilakukan oleh peserta didik dan digunakan
sebagai penanda/indikasi pencapaian kompetensi dasar. Dari setiap KD dapat
dikembangkan 2 (dua) atau lebih indikator penilaian dan atau indikator soal. Indikator
digunakan sebagai dasar untuk menyusun instrumen penilaian. Ketercapaian indikator
dapat diketahui dari perubahan perilaku peserta didik yang mencakup pengetahuan,
keterampilan, dan sikap.
       Pendidik perlu menganalisis aspek dan tingkat kompetensi yang terdapat
dalam kata kerja pada SK dan KD untuk mengembangkan indikator. Hal ini perlu
dilakukan agar indikator yang dikembangkan dapat memenuhi kriteria sebagai
penanda ketercapaian kompetensi yang diukur.
       Pengembangan indikator hendaknya memperhatikan UKRK (urgensi,
kontinuitas, relevansi, dan keterpakaian). Urgensi, maksudnya penting dan harus
dikuasai peserta didik. Kontinuitas, yaitu pendalaman dan/atau perluasan dari
kompetensi pada jenjang/tingkat sebelumnya. Relevansi, diperlukan karena ada
hubungannya untuk mempelajari atau memahami kompetensi dan/atau konsep mata
pelajaran lain. Keterpakaian, artinya memiliki nilai terapan tinggi dalam kehidupan
sehari-hari.
       Syarat-syarat indikator soal (1) menggunakan kata kerja operasional yang
dapat diukur, (2) ada keterkaitan dengan materi dan kompetensi yang diuji, dan (3)
dapat dibuat soalnya.



                                                                        Page | 44
  CP   : 085298918889
           Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
           N I M : 131 407 111
           abdhy_slank@yahoo.co.id
           Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
       Indikator soal pilihan ganda, menggunakan satu kata kerja operasional yang
terukur, sedangkan untuk soal berbentuk uraian dan/atau soal praktik indikator yang
dikembangkan dapat menggunakan lebih dari satu kata kerja operasional yang
terukur.
       Indikator soal sebaiknya menggunakan stimulus (dasar pertanyaan) yang
dapat berupa gambar, grafik, tabel, data hasil percobaan, atau kasus yang dapat
merangsang/memotivasi peserta didik berpikir sebelum menentukan pilihan jawaban.
Rumusan indikator soal yang lengkap mencakup 4 komponen, yaitu A = audience, B
= behaviour, C = condition, dan D = degree.


            Contoh pengembangan indikator mengacu pada SK dan KD :
   Standar Kompetensi            Kompetensi Dasar                   Indikator soal
2. Memahami keterkaitan       2.1. Mengidentifikasi        Disajikan gambar
   antara struktur dan            struktur jaringan        penampang melintang
   fungsi jaringan                tumbuhan dan             daun tumbuhan, peserta
   tumbuhan dan hewan,            mengaitkan dengan        didik dapat menentukan
   serta penerapannya             fungsinya                fungsi dari dua bagian
   dalam konteks Saling -                                  yang ditunjuk dengan
   temas                                                   tepat.


       Rumusan indikator pada contoh di atas mencakup empat komponen secara
lengkap.   A (Audience) adalah peserta didik, B (Behaviour) atau perilaku yang
dituntut yaitu menentukan fungsi bagian yang ditunjuk, C (Condition) adalah
stimulusnya yaitu gambar penampang melintang daun tumbuhan, dan D (Degree)
adalah tingkat pencapaian yaitu dua bagian dengan tepat.




                                                                           Page | 45
  CP   : 085298918889
              Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
              N I M : 131 407 111
              abdhy_slank@yahoo.co.id
              Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah

                       V. Kualitas Alat Ukur (Instrumen)

A.        Validitas dan Realibilitas Hasil Pengukuran
          Pada penelitian kuantitatif selalu bergantung pada dua alat ukur, yaitu
validitas dan reliabilitas. Validitas menunjukkan sejauh mana nilai/ukuran yang
diperoleh benar-benar menyatakan hasil pengukuran/pengamatan yang ingin diukur.
Sedangkan reliabilitas merupakan indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat
pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan.
          Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat kevalidan atau
kesahihan suatu instrumen. Prinsif validitas adalah pengukuran atau pengamatan yang
berarti prinsif keandalan instrumen dalam mengumpulkan data. Instrumen harus
dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. Jadi validitas lebih menekankan pada
alat pengukuran atau pengamatan.
          Validitas sebuah tes menyangkut apa yang diukur tes dan seberapa baik tes itu
bisa mengukur. Validitas sebuah tes memberitahu kita tentang apa yang bisa kita
simpulkan dari skor-skor tes. Menilai validitas adalah penting bagi peneliti karena
sebagian besar instrumen yang digunakan dalam penyelidikan pendidikan dan
psikologis dirancang untuk mengukur konstruksi hipotetis. Pada dasarnya, semua
prosedur untuk menentukan validitas tes berkaitan dengan hubungan antara kinerja
pada tes dan fakta-fakta lain yang dapat diamati secara independent tentang ciri-ciri
prilaku.
          Bukti hubungan antara tes dan kriteria yang relevan berfokus pada pertanyaan
“Bagaimana kriteria kinerja secara akurat dapat diperkirakan dari nilai pada tes?”
Kriteria adalah beberapa hasil penting untuk pengujian. Kriteria harus juga mewakili
atribut yang diukur atau yang lain yang akan digunakan.
Yang dimaksudkan dengan koefisien validitas adalah korelasi antara skor tes dan
pengukuran kriteria. Karena memberikan indeks numerik tunggal validitas tes,
koefisien validitas umumnya digunakan dalam pegangan-pegangan-pegangan tes
untuk melaporkan validitas sebuah tes menurut tiap kriteria dari data yang tersedia.

                                                                          Page | 46
     CP   : 085298918889
             Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
             N I M : 131 407 111
             abdhy_slank@yahoo.co.id
             Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
Sebelumnya kita mendeskripsikan sebagai validasi konvergen dan kemudian sebagai
validasi diskriminan. Korelasi sebuah tes penalaran kuantitatif dengan nilai-nilai
selanjutnya dalam mata pelajaran matematika akan menjadi contoh validasi
konvergen. Untuk tes yang sama, validitas diskriminan akan dibuktikan oleh korelasi
rendah dan tidak signifikan.
         Sedangkan Reliabilitas adalah kesamaan hasil pengukuran atau pengamatan
bila fakta atau kenyataan hidup tadi diukur atau diamati berkali – kali dalam waktu
yang berlainan. Alat dan cara mengukur atau mengamati sama – sama memegang
peranan penting dalam waktu yang bersamaan. Dalam penelitian keperawatan,
walaupun sudah ada beberapa pertanyaan ( kuisioner ) yang sudah distandarisasi baik
nasional maupun internasional ,peneliti harus tetap menyeleksi instrumen yang dipilih
dengan mempertimbangkan keadaan sosial budaya dari area penelitian.
         Reliabilitas berarti konsistensi tes mengukur apa yang seharusnya diukur.
Realibilitas tes perlu, tetapi tidak memadai sebagai syarat validitas tes. Agar supaya
tes valid, maka dia harus reliabel. Namun demikian tes yang reliabel belum tentu
valid.
         Reabilitas merujuk pada konsitensi skor yang di capai oleh orang yang sama
ketika mereka diuji-ulang dengan tes yang sama pada kesempatan yang berbeda, atau
dengan seperangkat butir-butir ekuivalen (equivalent items) yang berbeda, atau di
bawa kodisi pengujian yang berbeda. Konsep reliabilitas ini mendasari perhitungan
kesalahan pengukuran atas skor tunggal, yang bisa kita pakai untuk memprediksi
kisaran fluktuasi yang mungkin muncul dalam skor individual sebagai hasil dari
faktor-faktor peluang yang tak diketahui atau irrelevan.
         Dalam pengertian yang paling luas, reliabilitas tes menunjukkan sejauh mana
perbedaan-perbedaan individual dalam skor tes dapat dianggap sebagai disebabkan
oleh perbedaan yang sesungguhnya dalam karateristik yang dipertimbangkan dan
sejauh mana dapat dianggap disebabkan oleh kesalahan peluang. Untuk
menempatkannya dalam istilah yang lebih teknis, ukuran-ukuran reliabilitas tes



                                                                        Page | 47
  CP     : 085298918889
            Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
            N I M : 131 407 111
            abdhy_slank@yahoo.co.id
            Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
memungkinkan untuk memperkirakan berapa proporsi dari varians total skor-skor tes
yang merupakan varians kesalahan.
       Pada dasarnya, koefisien korelasi (r) menyatakan derajat kesesuaian atau
hubungan, antara dua perangkat skor. Dengan demikian, jika individu dengan skor
top pada variabel 1 juga mendapatkan skor top pada variabel 2, individu nomor dua
pada variabel dua dan seterisnya sampai pada individu paling buruk skornya dalam
kelompok, lalu akan ada korolasi sempurna pada variabel 1 dan 2. korelasi seperti
akan memiliki nilai + 1,00.
       Sumber data sebuah penelitian ada kalanya menggunakan data dari hasil
kuesioner. Tentunya dalam penyusunan sebuah kuesioner harus benar-benar bisa
menggambarkan tujuan dari penelitian tersebut (valid) dan juga dapat konsisten bila
pertanyaan tersebut dijawab dalam waktu yang berbeda (reliabel).
Uji Validitas
Tentang uji validitas ini dapat disampaikan hal-hal pokoknya, sebagai berikut :
    Uji ini sebenarnya untuk melihat kelayakan butir-butir pertanyaan dalam
    kuesioner tersebut dapat mendefinisikan suatu variabel.
    Daftar pertanyaan ini pada umumnya untuk mendukung suatu kelompok variabel
    tertentu.
    Uji validitas dilakukan setiap butir soal. Hasilnya dibandingkan dengan r tabel |
    df=n-k dengan tingkat kesalahan 5%
    Jika r tabel Jika r tabel < r hitung, maka butir soal disebut valid
Uji Reliabilitas
Tentang uji reliabilitas ini dapat disampaikan hal-hal pokoknya, sebagai berikut :
    Untuk menilai Kestabilan ukuran dan konsistensi responden dalam menjawab
    kuesioner. Kuesioner tsb mencerminkan konstruk sebagai dimensi suatu variabel
    yang disusun dalam bentuk pertanyaan.
    Uji reliabilitas dilakukan secara bersama-sama terhadap seluruh pertanyaan.
    Jika nilai alpha>0.60, disebut reliabel
Uji Validitas dan reliabilitas instrumen menggunakan SPSS

                                                                           Page | 48
  CP   : 085298918889
              Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
              N I M : 131 407 111
              abdhy_slank@yahoo.co.id
              Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
B.        Analisis dan Perbaikan Hasil Instrumen
                                                   Pembuatan suatu soal atau angket
                                           harus memenuhi validitas dan reliabilitas-
                                           nya. Suatu soal dapat dikatakan valid atau
                                           sahih jika tepat (semua butir soal mengukur
                                           sesuai dengan yang diukur) dan cermat
                                           (mampu       membedakan     sampai    sekecil-
                                           kecilnya).
                                                   Untuk    mengukur     validitas   dan
reliabilitas dari suatu soal, maka setelah soal itu jadi maka soal tersebut harus
disebarkan, semakin banyak jumlah populasi yang mengisi angket tersebut maka akan
semakin baik. Setelah itu dihitung korelasi butir total dengan korelasi (rbt). Butir soal
akan dianggap valid jika:
     1. Korelasi rbt bernilai positif
     2. Korelasi rbt > r tabel atau p < 0.05
     3. Ada kesepakatan bahwa butir dinggap valid jika rbt > 0.30
          Yang perlu diingat bahwa nilai rbt tersebut adalah nilai per-aitem atau
perbutir, jadi harus dihitung lagi rbt-nya sebanyak jumlah soal. Bila tidak valid, butir
soal tersebut dibuang, tidak dipakai lagi dalam angket tersebut.
          Bila angket atau soal tersebut memiliki lebih dari satu faktor, misalnya
mengukur kecerdasan emosi seseorang memiliki 2 faktor, yaitu faktor interpersonal
dan faktor antarpersonal maka harus dilakukan uji faktor, untuk mengetahui apakah
faktor 1 dan 2 tersebut valid.
          Biasanya dalam penelitian, para mahasiswa hanya melakukan uji butir dan uji
faktor, padahal uji instrument (alat ukur) tidak kalah pentingnya agar bisa diketahui
alat ukur yang kita buat sudah memenuhi standart nggak dibandingkan dengan alat
ukur lain yang sudah baku dalam pengukuran yang diteliti. Alat ukur yang dibuat
haruslah memiliki conruent validity (kevalidan yang setara) dengan alat ukur lain.



                                                                           Page | 49
     CP   : 085298918889
           Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
           N I M : 131 407 111
           abdhy_slank@yahoo.co.id
           Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
Dianggap setara jika memiliki nilai rxx > 0.80. Orang biasanya mengadakan
pembedaan validitas berdasar kriteria ini menjadi 2 macam:
   1. Validitas sama saat (Concurrent validity), contohnya: menggunakan skor pada
       tes Wechsler atau tes Stanforf-Binet sebagai kriteria adalah jenis validitas
       sama saat.
   2. Validitas ramalan (Predictive validity), contohnya: validitas ujian masuk
       perguruan tinggi yang menggunakan IPK mahasiswa sebagai kriteria.
       Suatu alat ukur dikatakan reliabel jika alat ukur tersebut menunjukkan sejauh
mana hasil pengukuran dengan alat tersebut dapat dipercaya. Hal ini ditunjukkan oleh
taraf keajegan (konsistensi) skor yang diperoleh oleh para subjek yang diukur dengan
alat yang sama, atau diukur dengan alat yang setara pada kondisi yang berbeda.
Dalam artinya yang paling luas, realiabilitas alat ukur menunjuk kepada sejauh mana
perbedaan-perbedaan skor perolehan itu mencerminkan perbedaan-perbedaan atribut
yang sebenarnya.
       Reliabilitas alat ukur yang juga menunjukkan derajat kekeliruan pengukuran
tak dapat ditentukan dengan pasti, malainkan hanya dapat diestimasi. Ada tiga
pendekatan dalam mengestimasi relibilitas alat ukur itu, yaitu:
    1. Pendekatan tes ulang / Test-Retest Method:
       Suatu perangkat tes diberikan kepada sekelompok subjek 2x, dengan selang
waktu tertentu, misalkan 2 minggu. Reliabilitas tes dicari dengan menghitung korelasi
antara skor pada testing 1 dan skor pada testing 2. Pendekatan ini secara teori baik,
namun didalam praktek mengandung kelemahan, yaitu bahwa kondisi subjek pada
testing 2 tidak lagi sama dengan kondisi subjek pada testing 1, karena terjadinya
proses belajar, pengalaman, perubahan motivasi, dll. Oleh karena itu pendekatan ini
sudah sangat jarang dipakai. Pendekatan ini sangat sesuai kalau yang dijadikan objek
pengukuran adalah ketrampilan, terutama ketrampilan fisik.




    2. Pendekatan dengan tes paralel / Parallel Form Method:

                                                                        Page | 50
  CP   : 085298918889
            Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
            N I M : 131 407 111
            abdhy_slank@yahoo.co.id
            Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
       Dua perangkat tes yang paralel, misalnya perangkat A dan B diberikan kepada
       sekelompok subjek. Reliabilitas tes dicari dengan menghitung korelasi antara
       skor pada perangkat A dan skor pada perangkat B. Keterbatasan utama
       pendekatan ini terletak pada sulitnya menyusun 2 perangkat tes yang paralel.
       Pendekatan inipun sudah jarang digunakan.


    3. Pendekatan pengukuran satu kali / Single Trial Method:
        Seperangkat tes diberikan kepada sekelompok subjek satu kali, lalu dengan
        cara tertentu dihitung estimasi reliabilitas tes tersebut. Pendekatan pengukuran
        satu kali ini menghasilkan informasi mengenai keajegan (konsistensi) internal
        alat ukur. Pendekatan pengukuran satu kali ini dapat menghindarkan diri dari
        kesulitan yang timbul dari pendekatan dengan pengukuran ulang maupun
        pendekatan tes paralel, oleh karena itu pendekatan ini banyak digunakan.


       Metode ini yang terbaru untuk menguji validitas dan reliabilitas instrumen
pengumpul data yaitu dengan menggunakan analisis faktor konfirmatori. Cara
analisisnya dengan menghitung faktor louding yang mirip dengan korelasi antara
indikator dengan variabel laten. Jika faktor louding setelah diuji dengan uji t
signifikan, artinya instrumen tersebut valid, dan jika residu (error) yang diperoleh non
signifikan, artinya reliabel. Selain memenuhi persyaratan validitas dan reliabilitas,
juga hendaknya instrumen tersebut praktis untuk dilaksanakan, mudah dimengerti dan
hemat biaya.
       Ada beberapa teknik statistik yang dapat digunakan untuk menganalisis data.
Tujuan dari analisis data adalah untuk mendapatkan informasi yang relevan yang
terkandung di dalam data tersebut, dan menggunakan hasil analisis tersebut untuk
memecahkan suatu masalah. Permasalahan yang akan dipecahkan biasanya
dinyatakan dalam bentuk satu atau lebih hipotesis nol. Sampel data yang
dikumpulkan kemudian digunakan untuk menguji menolak atau tidak menolak
hipotesis nol secara statistik.

                                                                          Page | 51
  CP   : 085298918889
            Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
            N I M : 131 407 111
            abdhy_slank@yahoo.co.id
            Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
       Dahulu banyak pengguna metode statistik dari berbagai disiplin ilmu
menggunakan metode statistik univariate. Alasannya karena selain mudah dalam
perhitungannya karena cukup dengan menggunakan bantuan kalkulator sederhana,
juga mudah dalam menafsirkan hasil analsisnya. Misalnya dengan menggunakan Uji t
baik untuk sampel bebas maupun untuk sampel berpasangan, ataupun analisis
variansi.
       Sebagai contoh : misalnya seseorang meneliti mengenai perilaku konsumen
dalam membeli sesuatu barang. Peneliti hanya bisa membandingkan ada atau
tidaknya perbedaan rata-rata skor frekuensi membeli, atau waktu membeli,
ataujumlah yang dibeli, atau siapa yang berinisiatif membeli dan sebagainya.
Karenahanya melibatkan 1 variabel maka ia harus menggunakan analisis univariate,
misalnya menggunakan uji t atau analisis variansi satu arah. Tetapi ia tidak dapat
membandingkan ada atau tidaknya perbedaan perilaku konsumen. Alasannya karena
pengertian perilaku mengandung arti multivariabel, tidak hanya menyangkut
frekuensi membeli, atau waktu membeli, atau jumlah yang dibeli, atau siapa yang
berinisiatif membeli dan sebagainya secara terpisah, tetapi lebih dari itu perilaku
mengandung arti secara bersamaan atau simultan. Dalam hal ini ia harus
menggunakan analisis multivariate.Umumnya analisis univariate menggunakan
asumsi bahwa sampel berasal dari populasi yang mempunyai distribusi normal
univariate, khususnya jika datanya adalah berskala pengukuran interval atau rasio.
Sedangkan analisis multivariate umumnya menggunakan asumsi bahwa sampel
berasal dari populasi yang mempunyai distribusi normal multivariate, khususnya juga
jika data yang digunakan adalah menggunakan pengukuran skala interval atau rasio.
    1. Analisis Deskriptif
       Analisis deskriptif ini mempunyai tujuan untuk memberikan gambaran atau
deskripsi suatu populasi. Misalnya populasi dilihat dari nilai rata-ratanya (mean,
median, modus), standar deviasi, variansi, nilai minimum dan maksimum, kurtosis
dan skewness (kemencengan distribusi). Data yang dianalisis dapat berupa data
kualitatif atau data kuantitatif. Cara penyajiannya dapat dilengkapi dengan

                                                                      Page | 52
  CP   : 085298918889
           Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
           N I M : 131 407 111
           abdhy_slank@yahoo.co.id
           Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
menggunakan tabel, grafik dan diagram (garis, batang, lingkaran maupun yang lain
baik dengan 2 dimensi maupun 3 dimensi).
    2. Analisis Univariate
       Analisis ini digunakan untuk memecahkan permasalahan yang hanya terdiri
dari 1 variabel. Analisis yang sering digunakan dalam univariate ini diantaranya : Uji
t (uji beda untuk 2 populasi), Analisis Variansi (Anova, Uji F) jika digunakan untuk
menguji perbedaan lebih dari 2 populasi.
    3. Analisis Multivariate
       Analisis Multivariate digolongkan menjadi 2 golongan analisis :
    a. Model Dependen.
Pada model dependen ini, dapat dibedakan dengan jelas mana variabel dependennya
dan mana variabel independennya.
    b. Model Interdependen.
Pada model interdependen ini, tidak dapat dibedakan dengan jelas mana variabel
dependennya dan mana variabel independennya, keduanya saling interdependensi.


       Tapi ada pendapat lain yang mengatakan bahwa suatu suatu alat tes bukan
dilihat dari rtt-nya tapi dilihat dari seberapa besar penyimpangan dari alat ukur
tersebut (Standart Error Measurement / SEM / SE). Semakin kecil nilai
penyimpangannya maka alat ukur tersebut semakin baik.
       Dengan adanya kemajuan teknologi dan adanya program-program komputer
yang menangani tentang statistik, kita tidak perlu lagi menghitung secara manual, kita
bisa menggunakan program SPSS atau menggunakan program SPS yang dibuat oleh
Prof. Sutrisno Hadi dari UGM Yogyakarta. Tapi dengan mengetahui statistik dan
psikometri, diharapkan kita bisa membaca serta menginterpretasikan hasil
perhitungan program statistik tersebut.




                                                                         Page | 53
  CP   : 085298918889
              Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
              N I M : 131 407 111
              abdhy_slank@yahoo.co.id
              Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah

            VI. Pemberian Nilai Dan Tindak Lanjut Hasil Belajar

A.        Prinsip-prinsip Pemberian Nilai
          Memberikan nilai merupakan salah satu cara yang penting untuk melihat
bagaimana kemajuan siswa belajar, dan untuk melihat efektifitas pembelajaran yang
diajarkan. Walaupun demikian, semua cara yang dikemukakan dapat disesuaikan
dengan situasi-situasi yang memungkinkan.
          Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian hasil belajar peserta
didik antara lain:
     1. Penilaian ditujukan untuk mengukur pencapaian kompetensi;
     2. Penilaian menggunakan acuan kriteria yakni berdasarkan pencapaian
          kompetensi peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran;
     3. Penilaian dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan;
     4. Hasil penilaian ditindaklanjuti dengan program remedial bagi peserta didik
          yang pencapaian kompetensinya di bawah kriteria ketuntasan dan program
          pengayaan bagi peserta didik yang telah memenuhi kriteria ketuntasan;
     5. Penilaian harus sesuai dengan kegiatan pembelajaran.
          Penilaian hasil belajar peserta didik harus memperhatikan prinsip-prinsip
sebagai berikut:
     1. Sahih (valid), yakni penilaian didasarkan pada data yang mencerminkan
          kemampuan yang diukur;
     2. Objektif, yakni penilaian didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas,
          tidak dipengaruhi subjektivitas penilai;
     3. Adil, yakni penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik, dan
          tidak membedakan latar belakang sosial-ekonomi, budaya, agama, bahasa,
          suku bangsa, dan jender;
     4. Terpadu, yakni penilaian merupakan komponen yang tidak terpisahkan dari
          kegiatan pembelajaran;



                                                                            Page | 54
     CP   : 085298918889
              Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
              N I M : 131 407 111
              abdhy_slank@yahoo.co.id
              Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
     5. Terbuka, yakni prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan
          keputusan dapat diketahui oleh pihak yang berkepentingan;
     6. Menyeluruh dan berkesinambungan, yakni penilaian mencakup semua aspek
          kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik yang sesuai, untuk
          memantau perkembangan kemampuan peserta didik;
     7. Sistematis, yakni penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap dengan
          mengikuti langkah-langkah yang baku;
     8. Menggunakan acuan kriteria, yakni penilaian didasarkan pada ukuran
          pencapaian kompetensi yang ditetapkan;
     9. Akuntabel, yakni penilaian dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi
          teknik, prosedur, maupun hasilnya.


B.        Pemanfaatan Hasil Tes Untuk Meningkatkan Proses Pembelajaran
          Tes adalah pemberian sejumlah pertanyaan yang jawabannya dapat benar atau
salah. Tes dapat berupa tes tertulis, tes lisan, dan tes praktik atau tes kinerja. Tes
tertulis adalah tes yang menuntut peserta tes memberi jawaban secara tertulis berupa
pilihan dan/atau isian. Tes yang jawabannya berupa pilihan meliputi pilihan ganda,
benar-salah, dan menjodohkan. Sedangkan tes yang jawabannya berupa isian dapat
berbentuk isian singkat dan/atau uraian. Tes lisan adalah tes yang dilaksanakan
melalui komunikasi langsung (tatap muka) antara peserta didik dengan pendidik.
Pertanyaan dan jawaban diberikan secara lisan. Tes praktik (kinerja) adalah tes yang
meminta peserta didik melakukan perbuatan/mendemonstasikan/ menampilkan
keterampilan.
          Dalam rancangan penilaian, tes dilakukan secara berkesinambungan melalui
berbagai macam ulangan dan ujian. Ulangan meliputi ulangan harian, ulangan tengah
semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas. Sedangkan ujian
terdiri atas ujian nasional dan ujian sekolah. Ulangan adalah proses yang dilakukan
untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik secara berkelanjutan dalam



                                                                        Page | 55
     CP   : 085298918889
           Nama : Abdi Gunawan M. Abdullah
           N I M : 131 407 111
           abdhy_slank@yahoo.co.id
           Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar Dan Menengah
proses pembelajaran, untuk melakukan perbaikan pembelajaran, memantau kemajuan
dan menentukan keberhasilan belajar peserta didik.
       Ulangan harian adalah kegiatan yang dilakukan secara periodik untuk
mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah menyelesaikan satu
kompetensi dasar (KD) atau lebih. Ulangan tengah semester adalah kegiatan yang
dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik
setelah melaksanakan 8 – 9 minggu kegiatan pembelajaran. Cakupan ulangan tengah
semester meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan seluruh KD pada periode
tersebut. Ulangan akhir semester adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk
mengukur pencapaian kompetensi peserta didik pada akhir semester. Cakupan
ulangan akhir semester meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan semua KD
pada semester tersebut.
       Ulangan kenaikan kelas adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik pada
akhir semester genap untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik pada
akhir semester genap pada satuan pendidikan yang menggunakan sistem paket.
Cakupan ulangan kenaikan kelas meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan
semua KD pada semester genap. Ujian adalah kegiatan yang dilakukan untuk
mengukur pencapaian kompetensi peserta didik sebagai pengakuan prestasi belajar
dan/atau penyelesaian dari suatu satuan pendidikan. Ujian nasional adalah kegiatan
pengukuran pencapaian kompetensi peserta didik pada beberapa mata pelajaran
tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi dalam
rangka menilai pencapaian Standar Nasional Pendidikan.
       Ujian sekolah adalah kegiatan pengukuran pencapaian kompetensi peserta
didik yang dilakukan oleh satuan pendidikan untuk memperoleh pengakuan atas
prestasi belajar dan merupakan salah satu persyaratan kelulusan dari satuan
pendidikan. Mata pelajaran yang diujikan pada ujian sekolah adalah mata pelajaran
pada kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak diujikan
pada ujian nasional, dan aspek kognitif dan/atau psikomotorik.



                                                                      Page | 56
  CP   : 085298918889

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:8782
posted:6/9/2010
language:Indonesian
pages:57
Description: Evaluasi Pembelajaran Di Sekolah Dasar dan Menengah