Docstoc

membangun karakter dan budaya

Document Sample
membangun karakter dan budaya Powered By Docstoc
					        Membangun karakter dan budaya
                                    di sekolah

Bisnis Indonesia

Jumat, 15/01/2010



                         Pendidikan budaya dan karakter bangsa kini menjadi sorotan penting.
                         Untuk itulah Kemendiknas menyelenggarakan Sarasehan Nasional
                         Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa untuk memperoleh
                         masukan dari para pemangku kepentingan seperti akademisi, budayawan,
                         tokoh agama, praktisi pendidikan dan guru. Agaknya Mendiknas
                         Mohammad Nuh paham betul masalah ini perlu mendapat perhatian
khusus jajarannya. Belakangan, keluhan masyarakat tentang menurunnya tata krama, etika dan
kreativitas karena melemahnya pendidikan budaya dan karakter bangsa memang bermunculan.

Banyak hal yang menjadi pemicu mulai dari tayangan sinetron yang tidak bermutu, sikap tidak patut
dan perang mulut yang dipertontonkan para legislatif dan birokrat dilayar kaca hingga faktor
banyaknya guru yang sekedar mengajar.

Mendiknas Mohammad Nuh ketika membuka sarasehan nasional mengatakan sekolah mulai dari
taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi memiliki peran penting sebagai agen penyebar
virus positif terhadap karakter dan budaya bangsa. Dia meminta para pemangku kepentingan untuk
mengembangkan model-model pembelajaran yang menjadikan anak tidak hanya mampu menghapal,
tetapi juga dapat mengetahui, mengingat, dan paham apa yang diingatnya. Selain itu, Mendiknas
juga meminta agar pihak sekolah membangun karakter dan budaya bangsa secara sistematik.
"Budaya itu pun juga bisa direkayasa dalam makna positif. Tolong dibahas bagaimana rekayasa untuk
menyistematiskan pengembangan budaya agar jelas tahapannya," ujarnya. Tidak ada yang menolak
tentang pentingnya karakter dan budaya, tetapi jauh lebih penting bagaimana menyusun dan
menyistemasikan, sehingga anak-anak dapat lebih berkarakter dan lebih berbudaya, katanya dalam
arahannya.

Beberapa kebiasaan atau budaya yang perlu ditumbuh kembangkan di antaranya adalah budaya
apresiasif konstruktif. Siapa pun yang dapat memberikan kontribusi positif di lingkungannya perlu
diberikan apresiasi. Kebiasaan memberikan apresiasi itu akan membangun lingkungan untuk tumbuh
suburnya orang berprestasi. Kalau lingkungan sendiri tidak mendukung seseorang berprestasi maka
nanti akan terus menerus negatif.

Budaya berikutnya yang perlu dikembangkan, kata Mendiknas, adalah objektif komprehensif, yakni
dengan mentradisikan, bahwa melihat segala sesuatu secara utuh. Selanjutnya, menumbuhkan rasa
penasaran intelektual (intellectual curiosity) dan kesediaan untuk belajar dari orang lain.
Hidupkan pramuka

Didik Suhardi, Direktur Pembinaan SMP Kemendiknas, mengatakan pendidikan Pramuka, Paskibraka
dan kegiatan ekstra kurikuler lainnya yang menumbuhkan kecintaan kepada bangsa merupakan
pendidikan budaya dan karakter bangsa yang selama ini telah diimplementasikan dan menjadi
sesuatu kesatuan dari kurikulum pendidikan dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah.

"Pendidikan budaya dan karakter bangsa ini cenderung pada implementasi, harus dipraktek sehingga
titik beratnya bukan pada teori. Karena itu, pendidikan ini seperti "hidden curiculum", ujarnya

Didik mengungkapkan bahwa nilai-nilai terkait dengan pendidikan budaya dan karakter bangsa sudah
ada sejak lama. "Kebiasaan mengucapkan salam kepada guru saat datang dan pulang dari sekolah,
mengucapkan doa sebelum memulai pelajaran, atau kegiatan yang menumbuhkan kecintaan kepada
bangsa seperti Pramuka, kegiatan Paskibra dan lain-lain," katanya.

Oleh karena itu kegiatan yang menumbuh kembangkan pendidikan budaya dan karakter bangsa
seperti pramuka, usaha kesehatan sekolah (UKS) dan ektrakurikuler lainnya seperti menari, musik
angklung dan lainnya harus dihidupkan lagi di sekolah-sekolah.

Soal implementasinya yang mulai mengendur bisa saja terjadi, tetapi masih banyak sekolah-sekolah
yang mampu memadukan antara kegiatan belajar mengajar dengan implementasi dalam kehidupan
sosial sehari-hari di sekolah.

"Di Bandung ada SMP Negeri yang setiap hari, yakni kepala sekolah dan guru-guru berdiri berjejer di
pintu masuk untuk menyambut dan saling memberi salam dengan murid-muridnya," katanya.

Penguatan pendidikan budaya dan karakter bangsa memang menjadi program 100 Hari Kemendiknas
dan Mendiknas Mohammad Nuh pada rapat pimpinan beberapa waktu lalu telah meminta agar
jajarannya focus untuk pengimplementasiannya tanpa harus menjadi mata pelajaran khusus karena
prinsipnya bisa dikembangkan dalam proses belajar mengajar semua mata pelajaran.



Peran guru

Pakar Pendidikan Arief Rachman juga mengharapkan pendidikan budaya dan karakter bangsa
dihidupkan kembali di sekolah dan justru yang penting adalah bagaimana memasukkannya dalam
proses belajar mengajar bukan semata meningkatkan kegiatan ekstrakulikuler.

"Hal ini bisa terjadi jika guru menyadari dirinya bukan sekedar mengajar tetapi mendidik sehingga
ketika mengajar mata pelajaran apapun dia akan mengkaitkannya dengan pendidikan karakter.
Misalnya, ulangan tidak boleh nyontek, harus jujur pada diri sendiri dan mampu mengukur
kemampuan. Peran guru untuk mengingatkan murid tentang semua hal itu sangat penting," katanya.

Menurut dia, sejak masih dibangku kuliah,para calon guru seharusnya sudah menguasai pendidikan
budaya dan karakter bangsa ini sehingga mereka menyadari bahwa tugasnya mengajar adalah
mendidik anak untuk menjadi akhlak mulia bukan sekedar mengajar.

"Guru dan siswa harus paham bahwa kejujuran, kedisiplinan, ketekunan, toleransi adalah kendaraan
untuk menuju akhlak mulia dan hal itu bisa diterapkan secara menyeluruh dalam setiap mata
pelajaran, bukan menjadi pendidikan yang terpisah."

Dengan demikian implementasinya tidak perlu ada modul karena guru harus melakukan pendekatan
yang strategis bagaimana mengelola kelas, berkomunikasi dengan baik pada anak didik,
mengembangkan kepribadian anak dengan baik.

"UU Sisdiknas sudah mengamatkan bahwa pendidikan itu agar anak memiliki akhlak mulia jadi
berarti dalam hal syarat kelulusanpun menentukan. Anakyang tidak memiliki akhlak mulia, meskipun
pinter jangan dibiarkan lulus," tambah Arief.



Penulis Artikel : Hilda Sabri Sulistyo

Sumber          : www.bisnis.com

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:508
posted:6/9/2010
language:Indonesian
pages:3