strategi 2 by tpezzz

VIEWS: 734 PAGES: 12

									Presentasi Mojokerto

    *
    *   Email
    *   Favorite
    *   Favorited ×
    *   Download
    *   More…
    *

      We have emailed the verification/download link to "".
      Login to your email and click the link to download the file
directly.
      To request the link at a different email address, update it here.
Close
      Validation messages. Success message. Fail message.

        Check your bulk/spam folders if you can't find our mail.
    *
    *
      Favorited! Want to add tags? Have an opinion? Make a quick comment
as well. Cancel
    *
      Edit your favorites Cancel
    *
      Send to your Group / Event Add your message Cancel

    *   Twitter
    *   Facebook
    *   Buzz
    *   WordPress
    *   Blogger
    *   more »
    *

    *
        Embed for WordPress.com without related content

0 comments

Post a comment

Login or Signup to post a comment
Login to SlideShare
Login to Twitter
Facebook Connect
Email:
Subscribe to comments Unsubscribe from comments
Edit your comment Cancel
Notes on slide 11

no notes for slide #1

no notes for slide #1
no notes for slide #2

no notes for slide #3

no notes for slide #4

no notes for slide #5

no notes for slide #6

no notes for slide #7

no notes for slide #8

no notes for slide #9

no notes for slide #10

no notes for slide #11

no notes for slide #12

no notes for slide #11
Presentasi Mojokerto - Presentation Transcript

   1. STRATEGI KONSELING Mochamad Nursalim Disampaikan dalam Pendidikan
dan Pelatihan guru BK/ BP SMP/SMA/ MA Negeri/Swasta kota Mojokerto
tanggal 16 Agustus 2005
   2. P ROSES KONSELING Tutup Kasus Mempersiapkan interview Klien
Penilaian tingkah laku klien Implementasi Strategi Pembentukan Tujuan
Monitor tingkah laku klien Proses Pengiriman Pembinaan Hubungan
Pembahasan Masalah
   3. WAWANCARA DALAM KONSELING
          * YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM WAWANCARA
          * Menyampaikan tujuan konseling pada klien
          * Menciptakan susana yang aman sehingga klien tidak merasa
terancam
          * Mampu mengajukan pertanyaan terbuka
          * Membantu klien untuk menemukan masalahnya sendiri
          * Mampu mengatasi ketika klien diam, menangis atau bertindak
agresi
          * Memanfaatkan waktu dengan optimal
          * Mampu mencatat dengan cepat dan tepat
   4. FAKTOR YANG MENENTUKAN EFEKTIFITAS DALAM WAWANCARA
          * YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM WAWANCARA
          * Kepribadian konselor
                o Mempunyai minat terhadap orang lain
                o Mampu mengendalikan diri, emosi dan prasangka
          * Ketrampilan konselor
                o Mampu berkomunikasi secara efektif
                o Daya observasi tajam
                o Terbuka dengan pendapat orang lain
                o Empati yang tinggi
                o Mampu mengidentifikasi masalah psikologi-sosial-budaya
          * Kualitas interaksi antara konselor dan klien
          * Faktor situasional
   5. Unsur-unsur pokok yang menunjang konseling
          * Kondisi-kondisi Eksternal
                o a. Penataan fisik
                o b. Procxemics
                o c. Privacy
          * Kondisi-kondisi Internal
                o a. Rapport
                o b. Empathy
                o c. Genuineness
                o d. Attentiveness (penuh perhatian)
   6. KETERAMPILAN YANG DIBUTUHKAN KONSELOR Menumbuhkan rasa aman dan
tidak takut untuk mengekspresikan diri –emosinya
Mengekspresikan/menyatakan secara verbal apa yang dirasakan siswa dengan
kata yang lebih tepat Merefleksi perasaan Membantu menumbuhkan perasaan
positif terhadap diri, kesadaran diri,penerimaan diri dan konsep dirinya
Menempatkan diri dalam pikiran dan perasaan siswa ,seolah-olah mampu
merasakan emosi yang dialaminya dengan cara mengkomunikasikan pemahaman
atas perasaan siswa. Memberikan empati Untuk mendorong
kepercayaan,penyingkapan diri dan eksplorasi siswa Kemampuan verbal dan
non verbal dalam berkomunikasi tanpa melakukan penilaian atau evaluasi.
Mendengarkan aktif Menghindari adanya perbedaan persepsi antara siswa dan
konselor. Menanyakan kembali kepada siswa atas apa yang dikemukakan.
Memperjelas Untuk menimbulkan diskusi lebih lanjut, memeperoleh
informasi,menstimulasi pikiran,meningkatkan kejelasan ,menimbulkan
eksplorasi diri lebihlanjut Menanyakan dengan pertanyaan terbuka, memberi
kesempatan anggota untuk melakukan eksplorasi tentang ”apa” dan
'”bagaimana” suatu perilaku terjadi Bertanya Tujuan dan Hasil yang
Diharapkan Deskripsi Ketrampilan
   7. Untuk memberikan beberapa alternatif jalan keluar atas masalah yang
dihadapi Memberikan nasehat berupa masukan atau jalan keluar. Menasehati
Untuk mendorong eks-plorasi diri yang lebih mendalam; memberikan
prespektif baru untuk per-kembangan dan pemaham-an perilaku seseorang.
Memberikan penjelasan terhadap berbagai perilaku,perasaan dan pikiran
siswa. Meng-interpretasi Untuk menghindari perpecahan dan memberikan arah
pada sisi konseling; untuk memberikan kesinambungan dan makna. Merangkum
elemen penting selama interaksi/sesi konseling Meringkas Meningkatkan
pemahaman siswa atas hal-hal yang terkait dengan masalah yang dihadapi
(kaitan psikis dan gangguan fisik) Memberikan informasi berbagai hal yang
diperlukan siswa. Menerangkan Untuk mengetahui apakah konselor mengerti
dengan benar pernyataan siswa untuk memberikan dukungan dan klarifikasi.
Menyatakan dengan kalimat yang berbeda apa yang telah dikemukakan siswa
dengan maksud untuk menjelaskan. Menyatakan kembali Tujuan dan Hasil yang
Diharapkan Deskripsi Ketrampilan
   8. Implementasi Strategi
          * Butuh waktu lebih lama
          * Suatu perubahan terjadi
          * Suatu keputusan dibuat
          * Suatu pengetahuan diperoleh
          * Faktor yang mempengaruhi:
          * Kecepatan klien belajar
          * Kedalaman dan kompleksitas masalah
          * Pemilihan strategi
   9. Strategi Konseling
          * Sering juga disebut teknik konseling
          * Yaitu suatu rencana yang bersifat prosedural untuk membantu
klien
  10. Komponen Strategi Strategi Rasional Praktek/ latihan Contoh
Pekerjaan Rumah
  11.
          * a. Rasional
          * Rasional strategi terdiri dari alasan dari prosedur dan suatu
tinjauan singkat ( overview) dari komponen-komponennya.
          * b. Memberi Contoh
          * K onselor memberikan demonstrasi/ memperagakan dari tingkah
laku yang diinginkan.
          * Secara ringkas hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memberi
contoh adalah sebagai berikut.
          * Beritahu klien tentang hal apa yang perlu diperhatikan
sebelum diberi contoh
          * Pilih contoh yang banyak kesamaannya dengan klien.
          * Sajikan dalam urutan skenario yang dapat mengurangi kecemasan
klien.
          * Minta klien untuk merangkum apa yang telah ia lihat setelah
selesai pemberian contoh.
          * c. Praktek / Latihan
          * Biasanya latihan praktek ini mengikuti suatu urutan yang
telah disusun. Konselor dapat menggunakan 3 kriteria yang diajukan oleh
Lazarus untuk menentukan keberhasilan latihan: 1) Klien mampu melakukan
respon tanpa perasaan cemas, 2) Sikap/ perilaku klien secara umum
mendukung kata-katanya, 3) Kata-kata/ tindakan klien tampak wajar dan
masuk akal.
          * Setelah beberapa latihan dinyatakan berhasil, konselor
hendaknya mendorong klien berlatih sendiri. Setelah praktek/ latihan
perlu adanya umpan balik dari konselor.
          * d. Pekerjaan rumah
          * Pekerjaan rumah hendaknya sederhana dan bertahap. Tugas-tugas
pekerjaan rumah hendaknya dimulai dengan rasional untuk pekerjaan rumah.
Di samping itu, pekerjaan rumah berisi 6 komponen yaitu: apa yang
dikerjakan klien, kapan tingkah laku tersebut harus terjadi, di mana
tingkah laku tersebut terjadi, bagaimana mencatat tingkah laku tersebut
dan yang terakhir
  12. Macam Strategi konseling
          * Tought stopping, Cognitive restructuring , Systematic
Desensitization , Modeling, Asertif Training , Self Management ,
Pengambilan Keputusan, Relaksasi , Empty Chair , Role Play, Role
Rehearsal , Exagrasi , Hypnotherapy, Shaping , Behavior Contrac, Cover
reinforcement , Extinction, Satiation (penggelontoran), Menggunakan
Humor, Konfrontasi, Verbal Shock, Permision (pemberian kesempatan),
Proteksi, Eksplanasi, Ilustrasi, Interpretasi , Kristalisasi, Menciptakan
hubungan baru , Mempertajam pemahaman diri, Memberi nasihat ,
Melaksanakan rencana, Sosiodrama, Self modeling, Imitasi, Home
assignment, Biblotherapy , Diskusi, Simulasi , Gaming, Paradoctial
intention , self control dll.
  13. Strategi Tought Stopping
          * Untuk membantu menghilangkan gambaran diri yang negatif.
          * Untuk klien yang terikat oleh pikiran-pikiran negatif yang
selalu diulang
          * Langkah-langkah TS
          * 1. Rasional
          * Pertama konselor akan menerangkan dasar pemikiran. konselor
harus menunjukkan bagaimana pikiran klien yang mengganggu (gagal) dengan
cara apa klien dapat keluar dari masalah itu tanpa diganggu oleh pikiran-
pikiran itu.
  14.
          * 2. Berhenti Berpikir / Thought Stopping yang diarahkan oleh
konselor (Overt Interuption Conselour)
          * Pada tahap ini konselor yang bertanggung jawab untuk
mengintrupsi pikiran. intrupsi ini terbuka (Overt), yaitu dengan mengucap
kata”Stop” yang keras, dapat pula disertai dengan tepukan tangan,
mengetuk meja ataupun dengan siulan.
          * Awal mula klien diperintahkan untuk menyatakan semua pikiran-
pikirannya secara keras. Kata-kata (verbalisasi) tersebut memungkinkan
konselor untuk menentukan pernyataan yang mana, yang tepat untuk
dihentikan, seperti contoh berikut:
          * Konselor meminta klien untuk duduk bersandar (relax) dan
membicarakan semua pikiran ini masuk ke dalam benak (alam pikiran.
          * Konselor meminta klien untuk mengungkapkan dengan kata-kata
secara keras tentang pikiran-pikiran tersebut . jika mincul …..” Kapanpun
anda mulai berfikir apa saja sampaikan pada saya “
          * Pada Saat Klien Mengungkapkan Pikiran-Pikiran Yang
Menyalahkan Diri (Self –Defeating) , Konselor Mengintrupsi Dengan Keras
Kata “ Stop” , Dan Dapat Disertai Tepuk Tangan , Siulan, atau Menepuk
Meja.
          * Konselor menunjukkan bagaimana interupsi yang tidak terduga
tadi adalah efektif dalam menghilangkan pikiran-pikiran negatif.
  15.
          * 3.Berhenti berpikir / TS yang diarahkan oleh klien (Overt
intruption Client)
          * Setelah klien belajar untuk mengontrol pikiran negatifnya
sebagai respon dari interupsi konselor tadi, maka klien menerima tanggung
jawab untuk mengintrupsinya sendiri. Pertama klien mengarahkan diri
sendiri seperti yang telah diarahkan oleh konselor tadi. Tahap ni
berlangsung seperti berikut :
          * Klien dengan sengaja membangkitkan pikiran-pikiran nya
tentang apapun dan membicarakan segala macam pikiran ini masuk kedalam
alam pikirannya.
          * Konselor meminta klien untuk mengatakan “stop” dengan keras
kapanpun bila klien menemukan pikiran-pikiran yang negatif …”kali ini
anda dapat mengarahkan diri anda sendiri, apabila muncul pikiran-pikiran
yang negatif tadi interupsilah sendiri dengan kata “stop” yang keras”…..
  16.
          * 4. Berhenti berpikir / TS yang diarahkan oleh klien (Covert
Intruption )
          * Pada bebrapa kasus, rasanya tidak praktis dan bijaksana bagi
klien untuk mengintrupsi diri secara terbuka. Bayangkan saja apabila
klien berada di tempat-tempat umum, dibus tiba-tiba berteriak “stop” !.
oleh sebab itu pada tahap berikut ini sama juga seperti tahap sebelumnya
ini :
             * Klien membiarkan pikiran-pikiran nya masuk ke dalam alam
pikirannya
           * Ketika klien akan mengintrupsi dengan kata-kata “stop” cukup
dalam hati saja (covert).
           * 5. Pergantian dari pikiran asertif, positif / netral
           * Pada dasarnya klien diajarkan untuk mengganti pikiran-pikiran
kerespon asertif setelah di intrupsi. Respon ini mungkin dapat kontadiksi
dengan isi dari pikiran negatifnya. (catatan : sperti coping thought pada
restructuring kognitif).
           * Konselor dapat memberikan contoh yang dapat mengganti setelah
menghentikan pikiran yang negatif (self-defeating). Selanjutnya konselor
meminta klien untuk mempraktekkan dengan suara yang keras. “…..setelah
anda memberi tanda “stop” kepada diri anda sendiri, gantilah pikiranmu
dengan sesuatu yang positif (lihat contoh coping thought)kemudian anda
nanti memikirkan tentang hal itu dan dapat dilakukan dari waktu ke waktu
dengan suara yang keras.
  17.
           * Berikutnya klien diminta untuk mempraktekkan pergantian ini
setelah klien mengintrupsi diri secara terbuak (overt intruption)
           * setelah itu klien melatihnya dengan cara tertutup (covert
intruption )
           * Klien di dorong terus agar berlatih mengganti pikiran
asertif, positif/ netral sampai beberapa kali. Setiap kali pikiran yang
diganti harus berbeda-beda sehingga pengulangan-pengulangan terhadap satu
pikiran tidak muncul.
           * 6. Pekerjaan Rumah dan tindak lanjut
           * PR ini diperlukan agar klien terus berlatih, dan dapat
menguatkan kontrol klien dalam menghentikan pikiran yang negatif (self-
defeating) jika sewaktu-waktu muncul.
  18. Strategi Cognitive Restructuring
           * membantu klien belajar mengenal dan menghentikan pikiran-
pikiran negatif / yang merusak diri, tetapi juga mengganti pikiran-
pikiran tersebut dengan pikiran yang positif.
           * Banyak klien yang tidak bertindak sesuai dengan apa yang
diinginkannya karena takut akan konsekuensi dari tindakan tersebut.
Biasanya ketakutan-ketakutan seperti : “saya mungkin ditolak”, saya
mungkin melakukan kesalahan”, atau mungkin ada seseorang yang tidak
membenarkan tindakan-tindakan saya, dan sebagainya. Sering kali
ketakutan-ketakutan ini sangat tidak rasional ,dan tidak logis.
  19.
           * Tahapan CR:
           * Rational: tujuan dan tinjauan singkat prosedur .
           * Dalam Restructuring Cognitive, rasional digunakan untuk
memperkuat keyakinan klien bahwa "pernyataan diri" dapat
mempengaruhi prilaku, dan khususnya pernyataan-pernyataan diri negatif
atau pikiran-pikiran menyalahkan diri dapat menyebabkan tekanan
emosional. Setelah rasional diberikan, klien diminta persetujuannya
(contracting) untuk bersedia mencoba melakukan strategi ini atau tidak.
Klien tidak boleh dipaksa untuk menerima keyakinan konselor.
           * Identitifikasi pikiran klien dalam situasi problem .
           * Setelah klien menerima rasional yang diberikan, langkah
berikutnya adalah melakukan suatu analisis terhadap pikiran-pikiran klien
dalam situasi yang mengandung tekanan atau situasi yang menimbulkan
kecemasan.
  20.
          * Pengenalan dan Latihan coping thought .
          * Pada tahap ini, terjadi perpindahan fokus dari pikiran-
pikiran klien yang merusak diri menuju ke bentuk pikiran lain yang tidak
kompatibel dengan pikiran yang merusak diri. Pikiran-pikiran yang tidak
kompatibel ini disebut sebagai pikiran yang menanggulangi (coping thought
= ct) atau pernyataan yang menanggulangi (coping statement= cs), atau
intruksi diri menanggulangi (coping self-intruction= csi). Semuanya
dikembangkan untuk klien. Pengenalan dan pelatihan cs tersebut
  21.
          * Pindah dari pikiran-pikiran negatif ke coping thoughts .
          * Setelah klien mengidentifikasi pikiran-pikiran negatif dan
mempraktekkan cs alternatif, konselor selanjutnya melatih klien untuk
pindah dari pikiran-pikiran negatif ke cs. Terdapat dua kegiatan dalam
prosedur ini, yaitu: (1) pemberian contoh peralihan pikiran oleh
konselor, dan (2) latihan peralihan pikiran oleh klien.
          * Pengenalan dan latihan penguat positif .
          * Bagian terakhir dari Cognitive Restructuring berisikan
kegiatan mengajar klien tentang cara-cara memberikan penguatan bagi
dirinya sendiri untuk setiap keberhasilan yang dicapainya. Ini dapat
dilakukan dengan cara konselor memodelkan dan klien mempraktekkan
pernyataan-pernyataan diri yang positif. Maksud dari pernyataan diri
positif ini adalah untuk membantu klien menghargai setiap keberhasilanya.
Meskipun konselor dapat memberikan penguatan sosial dalam wawancara,
klien tak selalu dapat tergantung pada dorongan dari seseorang ketika ia
dihadapkan pada situasi yang sulit. Untuk mempermudah klien, konselor
dapat menjelaskan maksud dan memberikan contoh tentang pernyataan diri
positif; kemudian meminta klien untuk mempraktekkannya.
  22.
          * Tugas rumah dan Tindak lanjut .
          * Tugas rumah ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan
kepada klien untuk mempraktekkan ketrampilan yang diperoleh dalam
menggunakan cs dalam situasi yang sebenarnya.
  23. Strategi Systematic Desensitization
          * Prosedur ini didasarkan pada suatu asumsi bahwa kemampuan
stimuli khusus yang menimbulkan kecemasan dapat dikurangi atau diperlemah
jika terjadi suatu respon antagonistik (yang berlawanan) terhadap
kecemasan (Wolpe dalam Blackham, 1981). Jika seseorang dapat belajar
memberi respon asertif atau respon rileks terhadap stimuli dan situasi
yang selalu muncul, kecemasan dapat dihambat atau dikurangi.
  24.
          * Langkah-langkah Systematic Desensitization:
          * Melatih klien untuk relaks . Langkah pertama kali dalam
prosedur SD adalah membantu klien untuk relaks dengan menggunakan
prosedur-prosedur relaksasi, misalnya prosedur relaksasi yang
dikembangkan oleh Johnson (1978). Tujuan utama dari latihan relaksasi ini
adalah untuk membantu klien menurunkan getaran-getaran fisiologis dan
untuk menimbulkan suatu perasaan yang positif dan netral. Dalam prosedur
ini seringkali diinginkan untuk menetapkan derajat relaksasi yang telah
dicapai oleh klien dengan meminta mereka untuk menunjukkannya pada suatu
skala relaksasi dengan rentangan dari 1 sampai dengan 10. Skala 1
menunjukkan keadaan relaks yang lengkap (klien bisa tertidur), dan skala
10 menunjukkan masih adanya kecemasan yang kuat (Blackham, 1984). Jika
telah berhasil mempraktekkan latihan relaksasi dengan konselor, ia
selanjutnya didorong mempraktekkan di rumah.
          * Mengkonstruksikan hirarkhi kecemasan . Langkah kedua dalam SD
adalah mengkontruksikan suatu hirarkhi kecemasan. Hirarkhi berisikan
suatu urutan atau serangkaian situasi ( scene ) yang menimbulkan
kecemasan secara bertingkat. Ini dilakukan dengan cara meminta klien
untuk menspesifikasi situasi-situasi yang menimbulkan derajat kecemasan
yang berbeda. Klien diminta untuk menilai setiap situasi pada suatu skala
yang merentang dari 1(sedikit atau tak ada kecemasan) hingga 10
(kecemasan kuat). Biasanya, 10 sampai dengan 50 dimasukkan dalam
hirarkhi, tapi jumlah tersebut tergantung pada kompleksitas masalah
klien. Lebih dari itu, setiap item hirarkhi harus didefinisikan dalam
arti yang sangat spesifik atau konkrit.
  25.
          * Imaginasi dan visualisasi . Jika hirarkhi kecemasan telah
dikontruksikan dan klien dapat mencapai suatu keadaan relaksasi otot yang
mendalam dan konsisten, desensitization dimulai. Klien dibantu untuk
relaks dan diminta untuk menunjukkan jarinya jika ia telah mencapai suatu
derajat relaksasi yang diinginkan. Jika klien telah menunjukkan jarinya,
item pertama dari hirarkhi ditunjukkan. Klien memvisualisasikan adegan
hirarkhi pertama tersebut selama lima sampai dengan sepuluh detik dan
kemudian diminta untuk menghentikan imaginasi. Perhatiannya dengan segera
diarahkan kepada perasaan rilaks yang dialaminya. Untuk mempertinggi
perasaan relaks tersebut klien diminta untuk memvisualisasikan adegan
kendali yaitu suatu adegan yang telah diidentifikasi sebelumnya yang
diketahui dapat menimbulkan perasaan aman dan senang pada klien.
          * Jika klien telah mampu memvisualisasi item pertama dan tidak
mengalami perasaan cemas, item kedua dalam hirarkhi disajikan dalam cara
yang sama, begitu seterusnya setiap item disajikan hingga setiap situasi
dapat divisualisasikan dengan perasaan yang relaks. Jika klien mengalami
kecemasan ketika item disajikan, ia diinstruksikan untuk menghentikan
imegeri. Klien didorong untuk relaks, dan ketika relaksasi yang memadai
telah dicapai, item disajikan kembali.
  26. Strategi Modeling
          * Strategi modeling adalah suatu strategi dalam konseling yang
menggunakan proses belajar melalui pengamatan terhadap model dan
perubahan perilaku yang terjadi karena peniruan. Menurut Nelson (1995)
Strategi modeling merupakan strategi pengubahan perilaku melalui
pengamatan perilaku model. Salah satu jenis strategi modeling adalah
modeling partisipan. Dibawah ini akan diuraikan modeling partisipan.
          * Modeling partisipan terdiri dari demonstrasi model, praktik
terbimbing, dan pengalaman-pengalaman yang berhasil (Bandura, 1976).
Modeling partisipan berasumsi bahwa penampilan seseorang yang berhasil
merupakan cara yang efektif menghasilkan perubahan.
          * Modeling partisipan juga dapat digunakan untuk mengurangi
perasaan dan perilaku menghindar pada diri seseorang yang dikaitkan
dengan aktivitas atau situasi yang mengkhawatirkan (Bandura, dkk, 1969,
1975, 1974, 1977). Misalnya tukang cat yang merasa takut jatuh dari
tempat tinggi (acrophobia). Modeling partisipan ini juga dapat digunakan
untuk mengatasi phobia sekolah, takut bertanya, tidak tahu cara memulai
pembicaraan, kurang komunikasi sosial, kurang asertif, kurang mampu
mengasuh anak, dan kekurangan kebugaran fisik.
          * Ada 4 komponen dasar modeling partisipan yaitu rational,
modeling, partisipasi terbimbing, dan pengalaman yang berhasil. Di bawah
ini akan diuraikan keempat komponen tersebut.
  27.
          * Rasional
          * Berikut ini adalah contoh rasional modeling partisipan yang
dapat diberikan oleh konselor kepada klien:
          * “ Prosedur ini digunakan untuk membantu anda untuk mengatasi
ketakutan atau perilaku baru. Ada tiga hal utama yang akan kita lakukan
yaitu ; pertama, anda akan melihat beberapa orang mendemonstrasikan. . .
. . . . . . . Kedua, anda akan mempraktekkan kemampuan tersebut dengan
bimbingan saya selama wawancara konseling ini berlangsung. Ketiga, kami
akan mengatur bagi anda untuk melakukan kemampuan tersebut di luar
wawancara konseling yang memungkinkan anda memperoleh keberhasilan. Jenis
praktek ini akan membantu anda menampilkan apa yang anda rasa sulit anda
lakukan. Apakah anda mau mencobanya sekarang?”.
          * Modeling
          * Komponen modeling dari modeling partisipan terdiri dari 5
bagian:
          * Perilaku sasaran, jika kompleks, terbagi dalam serangkaian
bagian tugas .
          * Serangkaian kemampuan yang disusun dalam suatu hirarkhi.
          * Para model diseleksi.
          * Intruksi diberikan kepada klien sebelum demonstrasi model.
          * Model mendemonstrasikan masing-masing subtask secara
berturut-turut dengan pengulangan yang perlu.
  28.
          * Demonstrasi model
          * Dalam modeling partisipan, seorang model mendemonstrasikan
satu bagian kemampuan sekaligus. Sering kali diperlukan demonstrasi yang
diulang atas tanggapan yang sama. Demonstrasi ganda dapat diatur dengan
memiliki model single yang mengulang-ulang demonstrasi atau dengan
memiliki beberapa model yang mendemonstrasikan aktivitas atau tanggapan
yang sama. Model-model ganda memberikan keanekaragaman cara aktivitas
yang ditampilkan dan mampu dipercaya pada gagasan bahwa akibat-akibat
yang merugikan tidak akan terjadi.
  29.
          * Partisipasi Terbimbing
          * Setelah demonstrasi perilaku atau aktivitas, klien diberi
kesempatan dan bimbingan yang perlu untuk menampilkan perilaku yang
dimodelkan. Partisipasi terbimbing atau penampilan adalah salah satu
komponen pembelajaran yang paling penting untuk mengatasi situasi yang
menakutkan, dan untuk memperoleh perilaku yang baru. Partisipasi klien
dalam sesi modeling harus disusun dalam suatu sistem yang tidak
mengancam. Partisipasi ini ditujukan untuk “pengangkatan kemampuan baru
dan keyakinan, dari pada membuka kekurangan” (Bandura, 1976).
          * Partisipasi terbimbing terdiri atas 5 langkah berikut.
          * Praktek klien atas tanggapan atau aktivitas dengan bantuan
konselor
          * Umpan balik konselor
          * Pengunaan berbagai bantuan induksi bagi usaha-usaha praktek
awal.
          * Penghilangan bantuan induksi
          * Praktek klien yang diarahkan pada diri
          * Pengalaman Sukses atau penguatan
          * Komponen terakhir dari prosedur modeling partisipan adalah
pengalaman-pengalaman keberhasilan (penguatan). Klien pasti mengalami
keberhasilan dalam menggunakan apa yang mereka pelajari. Bandura (1976)
menyatakan bahwa perubahan-perubahan psikologis “ tak mungkin berjalan
efektif jika klien tidak mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pengalaman berhasil ditata dengan menyesuaikan program tranfer pelatihan
bagi masing-masing klien.
  30.
          * Self- Monitoring
          * Self-monitoring adalah suatu proses dimana klien mengamati
dan mencatat hal-hal tentang diri mereka dan interaksi mereka dengan
situasi lingkungan
  31.
          * Strategi Self-Management :
          * Self-management adalah suatu proses dimana klien mengarahkan
perubahan tingkah laku mereka sendiri, dengan menggunakan satu strategi
atau kombinasi strategi. Klien harus aktif menggerakkan variabel
enternal, eksternal untuk melakukan perubahan yang diinginkan. Walaupun
konselor yang mendorong dan melatih prosedur ini, klienlah yang
mengontrol pelaksanaan strategi ini.
          * Ada tiga macam strategi self-management yaitu : self-
monitoring, stimulus-control dan self-reward. Self-monitoring adalah
upaya klien untuk mengamati diri sendiri, mencatat sendiri tingkah laku
tertentu (pikiran,perasaan dan tindakan) tentang dirinya dan interaksinya
dengan peristiwa lingkungan. Stimulus Control adalah merancang sebelumnya
antesedent atau isyarat pedoman / petunjuk untuk menambah atau mengurangi
tingkah laku. Self Reward adalah pemberian hadiah pada diri sendiri,
setelah tercapainya tujuan yang diinginkan.
  32. langkah-langkah self-monitoring a. Memilih target respon yang akan
dimonitor : jenis respon kekuatan / valensi respon jumlah respon
Discrimination of respon observation Berisi tujuan dan overview (gambaran
singkat) Prosedur strategi Rasional
  33. a. Saat mencatat / timing mencatat mencatat sebelum kemunculan
perilaku digunakan untuk mengurangi respon. Mencatat sesudah kemunculan
perilaku digunakan untuk menambah respon mencatat dengan segera mencatat
ketika tidak ada respon-respon lain yang menganggu pencatatan /
perencanaan b. Metode mencatat : menghitung frekuensi, mengukur lamanya,
mencatat terus menerus / kontinu, waktunya acak / sembarang / sampling c.
Alat mencatat : Portable seperti tusuk gigi, kerikil, Accessible seperti
tanda-tanda , bintang Mencatat respon
  34. Ketepatan intepretasi data Pemahaman tentang hasil evaluasi diri
dan dorongan diri Analisa data Memberitahukan kepada orang-orang untuk
mendapatkan dukungan lingkungan Display of data Membuat peta atau grafik
dari jumlah perolehan keseharian yang tercatat Membuat peta suatu respon
  35. Apa yang dapat kamu lakukan ? Bagaimana perasaanmu tentang hasil ?
Co = Sangat tak memuaskan 10 = Sangat memuaskan Bagaimana situasi
Berakhir ? Apa yang kamu pikirkan ? Apa yang kamu kerjakan ? Situasi Tgl
/ Waktu
  36. Beri nilai tingkat efektivitas penanganan anda terhadap situasi
tersebut. sedikit agak efektif sangat efektif amat sangat efektif Beri
nilai tingkat intensitas dari kecemasan: sedikit intens agak intens
sangat intens amat sangat intens Catat bagaimana respon anda - apa yang
kamu lakukan Catat pikiranmu atau hal-hal yang kamu katakan pada dirimu
ketika hal ini terjadi Catat pemicu kecemasan Menggambarkan situasi
terjadinya kecemasan Mencatat hari dan waktu peristiwa Petunjuk mencatat
Ketrampilan dalam mengatasi situasi Tingkat pemunculan Faktor- faktor
perilaku Dialog internal Peristi wa Exter nal Frekuensi respon kecemasan
Tanggal / waktu
  37.
          * Stimulus Control
          * Stimulus control adalah penyusunan / perencanaan kondisi-
kondisi lingkungan yang telah ditentukan sebelumnya, yang membuat
terlaksananya / dilakukannya tingkah laku tertentu. Kondisi lingkungan
berfungsi sebagai tanda / anteseden dari suatu respon tertentu. Dengan
kata lain anteseden merupakan suatu stimulus untuk suatu respon tertentu.
          * Contoh : Kebanyakan dari kita secara otomatis akan
memperlambat, meletakkan kaki kita pada rem dan menghentikan kendaraan
bila kita melihat lampu merah (traffic light). Lampu merah merupakan
stimulus yang telah mengontrol kita menghentikan mobil.
          * Tingkah laku problem terjadi karena ketidak sesuaian stimulus
control.
          * Contoh : Dalam kasus kegemukan (obesitas). Respon makan orang
kegemukan banyak berhubungan dengan petunjuk lingkungan (stimulus) :
          * Meja makan ----------- ? makan
          * Berjalan kedapur -------- ? makan
          * Nonton T.V ---------- ? makan
          * Berjalan ke kulkas ------ ? makan
          * Berhenti di rumah makan -------- ? makan
          * Dalam kasus ini tujuan utama dari strategi stimulus control
adalah ---- ? mengurangi jumlah petunjuk / tanda / syarat yang
berhubungan dengan suatu yang tidak diinginkan dan secara simulton
menambah syarat / petunjuk antisiden yang dihubungkan dengan respon yang
diinginkan.
  38.
          * Contoh :
          * A. Stimulus control untuk mengurangi perilaku problem :
mengurangi berat badan ( makan berlebihan ).
          * Beri tanda pada satu piring untuk makan semua jenis makan dan
camilan
          * Jangan makan ketika membaca
          * Membeli makanan yang tidak berlemak
          * Susun kembali almari makan dan kulkas supaya makanan kecil
tidak mudah diambil
          * Simpan makanan di tempat tertutup
          * Atur makanan dipiring dan letakkan didapur, jangan di meja
makan
          * Pakai piring / mangkok yang lebih kecil agar makanan tampak
lebih banyak
          * B. Stimulus control untuk menambah jumlah perilaku . Menambah
pikiran positif tentang kemampuan dalam matematika.
          * 1. Buat sedikitnya 1 (satu) isyarat sebagai anteseden untuk
pikiran positif.
          * Misal : meletakkan pita / plester diatas arlojinya
          * 2. Membuat daftar beberapa pikiran positif tentang
matematika. Tiap pikiran positif dapat ditulis pada sebuah kertas yang
dapat dibawa klien
          * Suruh klien membaca / memikirkan pikiran positif pada kartu /
kertas tersebut setiap saat ia melihat arlojinya. Suruh dia mencari
kesempataan untuk melihat arlojinya sesering mungkin dan selanjutnya
mengkonsentrasikan pada satu pikiran positif ini
          * Ketika klien sampai dengan suatu saat dimana secara otomatis
memikirkan pikiran positif setelah melihat arlojinya buat syarat lain
misal : melihat tanda O pada buku matematika, setiap saat ia membaca buku
matematika dan melihat tanda O ia dapat menggunakan isyarat ini untuk
berkonsentrasi pada pikiran positif lainnya.
          * Ia dapat memperhatikan stimulus –control lebih banyak dengan
menggunakan tanda / isyarat lain. Misal : menaruh daftar pikiran positif
pada cermin , pintu kamar mandi – kamar tidur dan sebagainya.
  39.
          * Self – Reward
          * Self – reward digunakan untuk memperkuat atau menambah respon
yang diinginkan. Self reward berfungsi memepercepat target tingkah laku.
          * Ada 4 komponen yanag merupakan bagian integral dari prosedur
self reward yang efektif.
          * Pemilihan hadiah yang memadai yaitu; hadiah bersifat
mendidik, gunakan hadiah yang terjangkau, gunakan beberapa hadiah,
gunakan bermacam jenis (verbal, material, mutakhir, pontensial dsb),
tukar hadiah bila tidak cocok.
          * Pengadaan hadiah; klien sendiri yang menentukan kelayakan
respon yang ditargetkan. Tentukan sendiri seberapa banyak yang akan
dilakukan dalam hubungan dengan hadiah yang telah dipilih.
          * Pengaturan waktu Self – Reward, hadiah harus dilakukan
sesudahnya, bukan sebelum tingkah laku, hadiah harus disegerakan, hadiah
harus mengikuti perubahan, bukan janji-janji
          * Rencana untuk mempertahankan pengubahan diri, cari bantuan
orang lain untuk sharing atau menyalurkan hadiah, tinjauan data dengan
konselor

								
To top