Pemanfaatan Limbah Penyulingan Nilam dan Pemupukan TSP pada by bnw26232

VIEWS: 384 PAGES: 6

									Akta Agrosia Vol. 5 No.1 hlm. 8-13. Jan-Jun 2002                                             ISSN 1410-3354


   Pemanfaatan Limbah Penyulingan Nilam dan Pemupukan TSP pada
                   Pertumbuhan Tanaman Nilam

   Application of Patchoily distillation waste and Phosphorous Fertilizer on
                               Patchoily growth

                          Roosarina Dewi Indah1) dan Nanik Setyowati2)
                          1)
                               Dosen Fakultas Pertanian Universitas Rejang Lebong
                                2)
                                   Dosen Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu


                                                ABSTRACT
          This reseach was conductedto study the effect patchoy waste and phosphorous fertilizer on the
patchoy growth. A field experimental has done on Ultisols at Kandang Limun village . The experiment was
arranged in Split Plot Design with P. cablin as a main plot and TSP dosage as sub plot with three replications.
Result of the experiment showed that the best Nilam growth reached on 133 kg.ha-1 for TSP (60 kg.P2 05 .ha-
1
  )for Nilam waste. It was interacting between TSP fertilizer and Patchoy waste on bud length and branch
number in early growth. Beside that correlation between plant height le, branch number, root and leaf fresh
weight and root and leaf dry weight of P. cablin.
Keyswords :Patchoily, waste, phosphorous.



                                                          organik tanah, pembenah tanah dan pemasok
PENDAHULUAN                                               hara bagi tanaman, baik dalam bentuk kompos
                                                          atau pun mulsa.
     Nilam (Pogostemon cablin, Benth)                           Bahan     organik    mampu      menjaga
merupakan salah satu tanaman yang                         ketersediaan air di dalam tanah. Selain itu
menghasilkan minyak atsiri utama di                       bahan organik berperan dalam memperbaiki
Indonesia.     Minyak nilam ini banyak                    sifat kimia tanah terutama pH, Al-dd dan KTK
dibutuhkan oleh konsumen baik di dalam                    (Buurman dan Dai, 1976 dalam Sastrosoedarjo,
maupun di luar negeri sebagai salah satu bahan            1984) dan menghasilkan senyawa-senyawa
penting pada industri parfum, kosmetik dan                yang berfungsi sebagai “chelate” yang
obat-obatan (Sadaryani dan Sugiharti, 1993)               bersenyawa dengan Fe, Al dan Mn (Gaur, 1980
      Propinsi Bengkulu khususnya Kabupaten               dalam Hakim dan Moersidi 1985).
Bengkulu Utara merupakan daerah potensial                        Pupuk TSP selain untuk menambah
penghasil nilam dan minyak nilam. Jika                    ketersediaan hara P juga menjadi sumber
volume minyak nilam yang dihasilkan tinggi,               energi bagi mikrobiologi tanah serta mengikat
kuantitas limbah nilam pada industri                      unsur hara lain seperti nitrogen. Menurut
penyulingan minyak nilam pun semakin                      Soepardi (1979) P berperan dalam metabolisme
banyak. Dengan demikian perlu upaya                       energetik dan proses biosintetik.      Dalam
pemanfaatan limbah nilam secara tepat dan                 metabolisme energetik P berperan dalam
efisien.                                                  pembentukan ATP.         Energi ini digunakan
      Tanaman nilam banyak mengangkut unsur               tanaman untuk mengangkut dan merombak
hara dari dalam tanah sehingga kandungan                  senyawa-senyawa menjadi komponen yang
unsur hara limbah nilam lebih tinggi                      diperlukan seperti lemak, yang akan
dibandingkan bahan organik lainnya. Limbah                menunjang pembentukan minyak nilam.
ini dapat digunakan sebagai sumber bahan
Indah: Limbah Nilam dan Pupuk TSP pada Tanaman Nilam                                         13

      Pertumbuhan nilam berlangsung baik jika        bahan tersebut dibalik sampai kompos tersebut
didukung oleh kondisi tanah yang subur,              matang (21 hari).
gembur, kaya akan bahan organik, kapasitas                Lahan dicangkul sedalam lebih kurang 30
pertukaran kation besar dan mampu menahan            cm, kemudian dibuat petak-petak percobaan
air (Soepadyo dan Tan, 1868 dalam Tasma dan          dengan ukuran 1,8 m x 1,2 m. Jarak antar
Wahid, 1988). Namun kondisi umum tanah               petak dalam petak utama 0,3 m dan jarak antar
Ultisol memiliki sifat fisik, kimia dan biologi      petak 0,5 m. Kompos LPN diberikan dengan
yang kurang baik bagi pertumbuhan nilam.             cara dibenamkan pada saat pembuatan petak
Tanah ini miskin hara, kapasitas pertukaran          percobaan. Pemupukan Urea (46% N) dan KCl
kation rendah dan struktur tanah kurang baik         (45% K2 O) dengan dosis 150 kg.ha -1 dan 60
serta mempunyai ion-ion Aluminium (Al) yang          kg. ha -1 serta pemupukan TSP (45% P2 O5 )
dapat meracuni tanaman sekaligus mengikat            dengan dosis sesuai perlakuan diberikan pada
kuat hara P tanah sehingga tidak dapat               saat tanam di sekitar tanaman dengan
dimanfaatkan oleh tanaman (Rahardjo et al.,          kedalamam kurang lebih 15 cm dari permukaan
1984). Pemberian kompos atau mulsa pada              tanah.
tanaman nilam diharapkan dapat memperbaiki                  Bahan tanam yang digunakan adalah stek
kondisi       tanah     sehingga     mendukung       batang yang berumur kurang lebih satu tahun
pertumbuhan tanaman nilam.                           dengan panjang 20 cm (3 - 4 mata tunas). Stek
      Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui      ditancapkan ke dalam tanah pada polybag
pengaruh limbah nilam dan pemupukan TSP              dengan kemiringan 45o . Stek-stek tersebut
terhadap pertumbuhan tanaman muda nilam              kemudian di letakkan pada tempat yang
pada tanah Ultisol dan mengetahui korelasi           ternaungi atap rumbia.             Tunas-tunas
antar variabel yang diamati.                         bermunculan setelah tanaman berumur 2-3
                                                     minggu dan pada saat ini tanaman mulai
BAHAN DAN METODE                                     dibiasakan mendapat penyinaran matahari
                                                     langsung dengan cara mengurangi naungan
     Penelitian dilaksanakan di Desa Kandang
                                                     sebelum dipindahkan ke lahan.
Limun, Kecamatan Muara Bangkahulu,
                                                            Bibit dipindahkan pada umur 4 minggu
Kotamadia Bengkulu pada tanah Ultisol,               dengan jarak tanam 0,3 m x 0,3 m. Mulsa
dengan mengunakan Rancangan Acak Terpisah            limbah nilam diletakkan di atas permukaan
(Split Plot Design). Dosis pupuk TSP sebagai         tanah yang telah ditanami pada petak utama
petak utama terdiri atas tiga taraf yaitu 67, 133,   yang mendapat perlakuan tersebut.
dan 200 kg.ha -1 , sedangkan limbah nilam                   Pengendalian gulma dilakukan dengan
sebagai anak petak terdiri atas tanpa
                                                     mencabut. Untuk mencegah serangan hama
penambahan limbah nilam, 10 ton.ha -1 mulsa,
                                                     dan penyakit, tanaman disemprot dengan
dan 10 ton.ha -1 kompos limbah nilam. Masing-
                                                     insektisida Sevin 85 S (bahan aktif Karbaril 85
masing kombinasi perlakuan diulang tiga kali.                                      -45
                                                     %) dan fungisida Dithane M (bahan aktif
     Kompos dibuat di dalam tanah yang               Mankozeb 80 %) sejak tanaman berumur 3
berukuran 1m x 1 m x 1,5 m (p x l x t).              minggu, dengan konsentrasi 2 g liter -1 air.
Limbah nilam (5 - 10 cm) dimasukkan ke               Penyiraman dilakukan tiap hari bila tidak turun
tempat pengomposan dengan ketebalan lebih            hujan.
kurang 30 cm. Limbah disiram dengan air                     Tinggi tunas utama diukur setiap
untuk mempertahankan kelembaban, kemudian            minggu, jumlah cabang per tanaman dihitung
dilapisi dengan tanah setebal 3 cm. Pekerjaan        pada minggu ke-4 dan ke-8, bobot segar dan
tersebut diulangi sekali lagi dan di tempatkan       kering akar serta bobot segar dan kering daun
di atas lapisan pertama sehingga kebutuhan           ditimbang pada akhir pengamatan. C/N rasio
kompos dapat terpenuhi. Bagian teratas ditutup       mulsa dan kompos limbah nilam dianalisa
dengan plastik hitam. Setiap tujuh hari sekali       sebelum penanaman dan pada akhir
    Akta Agrosia Vol. 5 No.1 hlm. 8-13. Jan-Jun 2002                                                 10
                                                                                                     1

pengamatan dilakukan analisa terhadap                  HASIL DAN PEMBAHASAN
kandungan fosfor jaringan tanaman.
       Apabila hasil analisis keragaman                     Pupuk TSP dan limbah nilam secara
memperlihatkan pengaruh yang nyata, maka               terpisah berpengaruh terhadap pertumbuhan
dilanjutkan dengan uji lanjut Beda Nyata               tanaman nilam.     Hasil analisis keragaman
Terkecil. Untuk mengetahui hubungan antar              menunjukkan TSP berpengaruh terhadap
variabel yang diamati dilakukan uji korelasi.          variabel pertumbuhan nilam kecuali bobot
                                                       segar dan kering akar. Di sisi lain, LPN
                                                       mempengaruhi tinggi tanaman dan akar nilam
                                                       (Tabel 1).

   Tabel 1. Hasil analisis varian beberapa variabel yang diamati

    Variabel                                          F-hitung
                                   TSP             Limbah Nilam           Interaksi
    Tinggi tanaman 2 mst         10,837*              7,601*                  2,130ns
    Tinggi tanaman 3 mst          9,178*             18,477**               3,726*
    Tinggi tanaman 4 mst          6,952*             10,678**               0,876ns
    Tinggi tanaman 5 mst         11,464**            18,062**               0,316ns
    Tinggi tanaman 6 mst          7,225*             7,667**                0,405ns
    Tinggi tanaman 7 mst          7,789*             14,812**               1,466ns
    Tinggi tanaman 8 mst          9,345*             13,635**               1,378ns
    Jumlah cabang 4 mst          11,193*              3,677ns               4,476*
    Jumlah cabang 8 mst           7,261*              1,829ns               1,352ns
    Bobot segar daun              1,335*              0,938ns               0,524ns
    Bobot kering daun             0,253*              0,282ns               0,673ns
    Bobot segar akar              3,897ns             4,377*                1,771ns
    Bobot kering akar             0,735ns             3,959*                1,916ns
   Keterangan:
   mst = minggu setelah tanam                      * = berbeda nyata
   ns = berbeda tidak nyata                        ** = berbeda sangat nyata

      Kandungan      P    jaringan     tertinggi       P tanah sehingga total kandungan P tanaman
didapatkan pada lahan yang dipupuk TSP                 meningkat.
dengan dosis 133 kg, sebesar 0,26% dari bobot                 Hasil     uji      beda    nyata   terkecil
kering tanaman nilam. Jika hasil bobot kering          menunjukkan bahwa dosis TSP terbaik untuk
nilam tiap hektar per tahun sekitar 1,173 ton,         pertumbuhan tanaman nilam adalah 133 kg.ha -
                                                       1
maka P yang diangkut oleh tanaman nilam                  (60 kg P 2 O5 . ha –1 ). Dosis TSP 200 kg.ha -1
sebesar 67,78 kg. P 2 O5 . ha -1 . Dengan              tidak berpengaruh lebih baik dibandingkan
demikian, terbukti bahwa nilam cukup banyak            dengan dosis 133 kg.ha -1 terhadap pertumbuhan
menyerap hara P dari dalam tanah untuk                 tinggi tunas dan jumlah cabang (Tabel 2). Hal
mendukung pertumbuhannya.                              ini diduga karena pada saat P tanaman telah
      Penambahan P melalui pemberian pupuk             tercukupi, respon tanaman tidak lagi ke arah
TSP akan meningkatkan hara yang ada di                 pertumbuhan vegetatif tanaman tetapi mulai
dalam tanah. Menurut Fitter dan Hay (1981),            dialokasikan untuk kegiatan lain seperti proses
proporsi P yang berada dalam bentuk                    metabolisme        yaitu       penyusunan     dan
anorganik bertambah akan meningkatkan hara             perombakan protein kompleks dan lemak
      .
Indah: Limbah Nilam dan Pupuk TSP pada Tanaman Nilam                                                13

Tabel 2. Hasil uji beda nyata terkecil (BNT) perlakuan TSP terhadap variabel tinggi tanaman dan
          jumlah cabang

Dosis        TT-2       TT-3     TT-4        TT-5      TT-6       TT-7       TT-8      JC-4         JC-8
TSP (kg
ha–1 )
133        3,499a     6,990a   12,009a    15,336a    18,291a    20,277a    22,279a   11,259a    26,732a
200        2,333 b 4,009b       7,833a    10,854 b   14,060ab   15,879ab   17,651b   10,148a    30,389ab
67         2,972 b 5,129 b      7,736a    10,472 b   12,454 b   14,046 b   15,694b    8,445 b   23,796 b
Keterangan :
TT-2 = tinggi tunas 2 minggu setelah tanam
JC- 4 = jumlah cabang 4 minggu setelah tanam

       Bobot segar dan kering daun serta bobot         dosis 200 kg. Tennant (1975) melaporkan
segar dan kering akar secara statistik                 bahwa pemberian P yang tinggi menyebabkan
berpengaruh tidak nyata terhadap perbedaan             bobot akar tanaman gandum menurun sehingga
dosis pupuk TSP. Meskipun demikian jika                mempengaruhi bobot akar tanaman tersebut.
dilihat dari rata-rata perlakuan tetap                        Dari hasil uji Beda Nyata Terkecil
menunjukkan peningkatan.          Dari data            (BNT) terlihat bahwa kompos memberikan
pengamatan didapatkan variabel tinggi tunas,           hasil lebih baik dibandingkan dengan
jumlah cabang, bobot segar dan kering daun,            perlakuan lainnya (Tabel 3). Hal tersebut
bobot segar dan kering akar serta rata-rata P          diduga karena adanya perbedaan sifat kimia,
total jaringan menunjukkan peningkatan                 fisika dan biologi kompos dan mulsa limbah
sampai dengan dosis 133 kg dan menurun pada            nilam
       .

Tabel 3. Hasil uji beda nyata terkecil (BNT) perlakuan limbah nilam terhadap variabel tinggi
       tanaman dan bobot akar

 Perlaku TT-2 TT-3 TT-4             TT-5             TT-6       TT-7       TT-8      BSA        BKA
 an
 Kompo 3,454 6,676 11,213a          13,952a          16,645a 19,013a 20,970a 3,926a             1,353a
 s         a     a
 Mulsa 2,611 4,805       8,667 b 12,313b             14,891a 16,598b 18,693b 3,180a             0,989 b
           b     b                                    b                       b
 Kontrol 2,741 4,648     7,694 b 10,398c             13,269b 14,593c 15,963c 2,699              0,996 b
           b     b                                                            b
Keterangan :
TT-2 = tinggi tunas 2 minggu setelah tanam
BSA = bobot segar akar
BKA = bobot kering akar

      Kompos limbah nilam yang digunakan               tersebut ke dalam tanah sehingga dapat
untuk penelitian telah mengalami proses                dimanfaatkan oleh tanaman.
dekomposisi yang lebih baik (nisbah C/N =                    Di sisi lain, mulsa limbah nilam belum
10,2) dibandingkan dengan mulsa (nisbah C/N            terdekomposisi dengan sempurna sehingga
= 30,19). Tisdale et al (1985) menyatakan              unsur hara yang terdapat dalam limbah nilam
bahwa nisbah C/N yang kurang dari 20 akan              belum dapat dimanfaatkan oleh tanaman.
cepat melepaskan nitrogen dari bahan organik           Mulsa limbah nilam lebih berpengaruh pada
    Akta Agrosia Vol. 5 No.1 hlm. 8-13. Jan-Jun 2002                                                      12
                                                                                                          1

aspek pemeliharaan kelembaban air di dalam            Pada fase tersebut terlihat bahwa lahan yang
tanah atau pencegahan penguapan air tanah             ditambah kompos dan pupuk TSP pada dosis
yang berlebihan. Menurut Sudrajat dan A.              133 kg memberikan hasil terbaik. Hal ini
Abdurachman (1985), mulsa dapat mengurangi            menunjukkan bahwa pada awal pertumbuhan
evaporasi      dan    setelah     terdekomposisi      tanaman dibutuhkan bahan organik yang telah
menambah unsur hara dalam tanah.                      terdekomposisi untuk mendukung kelarutan
       Ketersediaan air sangat penting untuk          pupuk TSP tersebut.
proses      pertumbuhan       tanaman     seperti            Pada minggu-minggu berikutnya kedua
transpirasi, mempertahankan turgor dan                faktor tersebut tidak berinteraksi karena banyak
pembentukan senyawa baru.             Air dalam       faktor lain yang mempengaruhi. Faktor-faktor
tanaman berfungsi sebagai pelarut, alat               tersebut antara lain adalah kondisi tanah yang
transportasi unsur hara dan hasil fotosintesis ke     masam sehingga P yang diberikan menjadi P
seluruh jaringan (Hakim et al., 1986). Dengan         yang tidak larut sedangkan dosis limbah nilam
adanya ketersediaan air bagi tanaman                  yang diberikan tidak mencukupi untuk
diharapkan akan mendorong pertumbuhan sel             mengatasi masalah tersebut.
baru, sehingga dapat menunjang pertumbuhan                   Tabel 4 memperlihatkan korelasi positif
vegetatif tanaman.                                    antar variabel yang diamati.          Ini berarti
       Interaksi tidak terjadi antara dosis TSP       peningkatan satu variabel diikuti dengan
dan macam pemanfaatan limbah nilam                    peningkatan nilai variabel lainnya. Bobot segar
terhadap pertumbuhan nilam pada semua                 dan kering daun berkorelasi kuat dengan
variabel yang diamati, kecuali tinggi tunas           seluruh variabel kecuali bobot kering akar
pada 3 MST dan jumlah cabang pada 4 MST.
       .
Tabel 4. Nilai koefisien korelasi antar variabel pada 8 minggu setelah tanam

 Variabel    TT           JC              BBA         BBD         BKA         BKD
 TT          ---------    0,818**         0,865**     0,888**     0,543ns     0,928**
 JC          0,818**      ---------       0,799**     0,963**     0,461ns     0,928**
 BBA         0,865**      0,799**         ---------   0,861**     0,819**     0,916**
 BBD         0,888**      0,963**         0,861**     ---------   0,551ns     0,963**
 BKA         0,543ns      0,461ns         0,819**     0,551ns     ---------   0,594ns
 BKD         0,928**      0,928**         0,916**     0,963**     0,594ns     ---------
Keterangan :
TT      = tinggi tanaman            BBD      = bobot basah daun
JC      = jumlah cabang             BKA      = bobot kering akar
BBA     = bobot basah akar                   BKD = bobot kering daun
       Fosfor yang diberikan merangsang
pembentukan perakaran dan kemudian diserap               KESIMPULAN
dalam bentuk ion H2 PO- oleh akar bersama
                                                              Dosis TSP 133 kg. ha -1 (60 kg. P 2 05 . ha -1 )
unsur-unsur hara lainnya. P yang berada dalam
                                                         dan kompos limbah nilam secara terpisah
jaringan perakaran kemudian ditranslokasikan
                                                         memberikan hasil terbaik bagi pertumbuhan
ke daun. Dalam perjalanannya, P berperan
                                                         tanaman nilam dibandingkan perlakuan
dalam pembelahan sel, baik di batang, tunas
                                                         lainnya. Interaksi antara TSP dan limbah
muda yang baru muncul maupun di dalam
                                                         nilam hanya terjadi pada variabel tinggi tunas
tunas itu sendiri, sehingga tinggi tunas dan
                                                         dan jumlah cabang di awal pertumbuhannya,
jumlah cabang meningkat yang pada akhirnya
                                                         serta terdapat korelasi positif antar variabel
akan meningkatkan bobot kering daun tanaman
                                                         tinggi tanaman, jumlah cabang, bobot basah
nilam.
                                                         akar dan daun serta bobot kering akar dan daun
                                                         tanaman nilam.
Indah: Limbah Nilam dan Pupuk TSP pada Tanaman Nilam                                        13


DAFTAR PUSTAKA                                    Soepardi, G. 1979. Sifat dan Ciri Tanah.
                                                      Diktat Kuliah Dasar-Dasar Ilmu Tanah.
Fitter, A.H.       dan R.K.M. Hay. 1981.              Fakultas Pertanian Universitas Gajah
     Enviromental Physiology of Plant.                Mada, Yogyakarta.
     diterjemahkan oleh Sri, A. dan E.D.          Sudjana. 1992. Tehnik Analisa Korelasi dan
     Purbayanti. 1992. Fisiologi Lingkungan           Regresi bagi Para Peneliti.          Tarsito,
     Tanaman. Gajah Mada University Press,            Bandung.
     Yogyakarta.                                  Sudrajat dan A. Abdurachman. 1985.
Hakim, L. dan S. Moersidi. 1985. Pengelolaan          Pengaruh tingkat pengairan dan bahan
     bahan organik tanah dengan kombinasi             organik terhadap sifat fisik tanah podzolik,
     pertanian tanaman pangan dan pupuk               penggunaan air dan hasil tanaman pangan.
     hijau. Pros. No 5. Penelitian Tanah.             Prosiding Penelitian Tanah. 5 : 353 –362.
     Cipayung, 18 – 20 Maret 1985. Pusat              Cipayung, 18 – 20 Maret 1985. Pusat
     Penelitian Tanah, Bogor. hal 264 – 281.          Penelitian Tanah, Bogor.
Hakim N., M.Y. Nyakpa, A.M. Lubis, S.G.           Tasma, I.M dan P.Wahid. 1988. Pengaruh
     Nugroho, Go Ban Hong, M.R. Saul,                 mulsa      dan     pemupukan        terhadap
     M.Amin Diha, dan H.H. Bailey. 1986.              pertumbuhan dan hasil tanaman nilam.
     Dasar-dasar Ilmu Tanah.       Universitas        Pros. Pertemuan Peneliti Tanah Indonesia
     Lampung, Lampung.                                XIV (1 – 2) : 34-39. Juli – Desember
Sadaryani, T.       dan E. Sugiharti. 1993.           1988, Bogor.
     Budidaya dan penyulingan minyak nilam        Tennant, D. 1975. Root growth of wheat I:
     (Pogostemon cablin, Benth). Balittro,            early patterns of multiplication and
     Bogor.                                           extention of wheat roots including effects
Sastrosoedarjo. 1984.     Peningkatan bahan           of level of nitrogen, phosphorus and
     organik dalam usaha lahan kering. Pros.          potassium in Aus. J. Agric. Res. 27 : 183
     Pertemuan Tehnis. Cisarua, 27 – 29               –196.
     Februari 1984. Pusat Penelitian Tanah,
     Bogor.

								
To top