Docstoc

contoh skrpsi

Document Sample
contoh skrpsi Powered By Docstoc
					                                     BAB I

                               PENDAHULUAN



A. Latar Belakang

       Menyandang gelar sebagai salah satu institusi pendidikan Islam sekaligus

"benteng moral" tentulah merupakan sebuah prestasi sekaligus beban tersendiri

bagi pesantren. Walaupun gelar tersebut tidak pernah diberikan secara formal,

namun tanggung jawab yang dibebankan kepadanya hampir mengalahkan realitas

yang telah berlangsung selama ini.

       Namun disadari atau tidak, dibalik posisinya yang sering dianggap sebagai

lembaga pendidikan dengan sistem yang masih tradisional, eksistensi pesantren

sebagai salah satu Institusi pendidikan yang masih konsisten dalam menjaga dan

mengembangkan nilai-nilai moral hinggá saat ini masih diakui oleh banyak pihak,

walaupun pada kenyataannya akhir-akhir ini indikasi yang mengarah pada

pengikisan nilai-nilai moral makin nampak.

       Tentu saja realitas ini bukan merupakan berita baik bagi pesantren karena

sesuai dengan posisinya sebagai salah satu pemegang control social ketika dia

sendiri sudah mulai terbawa oleh arus deras pergeseran moral, maka sesuatu yang

selama ini disandarkan kepadanya akan mengalami pergeseran pula.

       Namur nampaknya, fenomena itu hampir tidak disadari baik oleh

komunitas pesantren maupun masyarakat secara umum. Karena disamping

kepercayaan masyarakat kepada pesantren yang sudah terlanjur mengakar,




                                      1
                                                                                     2




pesantren sendiri masih merasa memberikan muatan-muatan moral, walaupun

pada prakteknya bobot muatan moral yang diberikan mengalami penurunan.1

Pertanyaannya, jika pada lembaga yang notabene dijadikan acuan moral mulai

mengalami degradasi, dan kondisi itu tidak memperoleh perhatian dan

penanganan secara serius kecuali oleh beberapa kalangan saja, maka bagaimana

dengan kondisi dan peran pesantren kedepan? Masihkah pesantren memiliki

kompetensi untuk tetap mempertahankan identitasnya sebagai institusi yang

senantiasa mempertahankan nilai nilai moral?

       Dan juga pesantren dari masa kemasa tetap up to date dengan kaidah

                              ‫اٌّحبفضخ ػٍٝ اٌمذ٠ُ اٌصبٌح ٚاالخذ ثبٌجذ٠ذ االصٍح‬

Artinya :

( "melestarikan tradisi-tradisi yang lama dan melakukan pembaharuan yang

lebih baik") sebagai landasan ideal yang memberikan semangat kepada pesantren

untuk selalu self introspaktion. Pondok pesantren sebagaimana yang disebutkan

Abdurrahman wahid adalah sebagai sub kultural yang memiliki keunikan-

keunikan. Hal ini ditunjukkan dengan adanya pemisahan yang jelas kehidupan

dengan masyarakat yang lebih besar, konsepsi-konsepsi yang khas sepert tentang

barokah, hubungan kyai dengan santri, dan sebagainya. Keunikan pesantren

sebagai subkultural juga tampak dalam aspek-aspek seperti: cara hidup yang

dianut, pandangan hidup dan tata nilai yang diikuti serta hirarkhi kekuasaan intern

tersendiri yang diakui sepenuhnya.



1
 Ach.Taufiq.M, , Dkk Makalah, MAK-BU 2005 " Menengok kembali Relefensi Pesantren Sebagai
Lembaga Pendidikan Moral ". Hal: 1
                                                                            3




       Gambaran karakteristik lain yang menandai keunikan pesantren antara lain

kesediaan melakukan segenap perintah kyai guna kelak memperoleh barokah serta

penekanan nilai-nilai yang dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Adapun

tujuan utama pesantren adalah mengembangkan pikiran manusia dan mengatur

tingkah laku serta perasaanya    berdasarkan ajaran Islam ala ahli sunnah wal

jamaah. Karena dengan lantaran ilmu agama akan dapat membentuk kepribadian

muslim yang sholih dan akrom. Lebih-lebih dizaman sekarang ini, manusia

memasuki kehidupan yang penuh dengan tantangan, masalah kehidupan sosial

ekonomi muncul silih berganti. Kemajuan dalam segala aspek kehidupan yang

mengabaikan tuntunan agama menyebabkan pergeseran nilai-nilai kerhidupan

yang semakin lama semakin menyesatkan perasaan dan pemikiran, dan akibatnya

tidak sedikit yang hanyut dalam kemajuan zaman tanpa memperhatikan lagi

ajaran agama dalam kehidupan mereka, termasuk pula dalam pergaulan modern

yang melibatkan diri didalamnya. Oleh karena itu penanaman moral budi pekerti

muslim sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia yang penuh kemajuan ilmu

pengetahuan dan tehnologi, tak terbayangkan apa jadinya jika perkembangan ilmu

pengetahuan dan tehnologi tanpa dibarengi dengan tuntunan agama.

       Disamping itu juga kemajuan-kemajuan yang ada telah melahirkan bentuk

kehidupan yang timpang . Disatu sisi mereka berkelebihan secara materi, tetapi

disisi yang lain mereka merasa kosong secara mental spiritual.

       Berdasarkan uraian di atas upaya untuk melakukan pengkajian mendalam

atas strategi pendidikan moral dipondok pesantren mutlak diperlukan. Sehingga

dapat dilakukan pembenahan atas kekurangan-kekurangan yang ada, yang
                                                                                      4




akhirnya akan menjadikan pesantren tetap mampu memainkan peran vitalnya

seperti yang menjadi tujuan pendiriannya.2



B. Rumusan Masalah

          Berdasarkan latar belakang di atas, permasalahan yang akan dikaji melalui

penelitian ini adalah :

          1. Bagaimana pandangan pesantren terhadap pendidikan moral?

          2. Bagaimana strategi pendidikan moral dilingkungan pesantren?

          3. Bagaimana evaluasi strategi pendidikan moral di pondok pesantren?

          4.Bagaimana implikasi pendidikan moral dipesantren terhadap prilaku

           anak didik?



C. Tujuan Penelitian

          Berangkat dari rumusan masalah tersebut diatas tujuan penelitian ini

adalah:

    1. Untuk mengetahui pandangan pesantren terhadap pendidikan moral.

    2. Untuk mengetahui strategi pendidikan moral yang ada dalam

          lingkungan pesantren.

    3. Untuk mengetahui evaluasi pendidikan moral di pesantren

    3. Untuk mengetahui implikasi pendidikan moral dipesantren terhadap

          prilaku anak didik atau santri.




2
 Taufiq Hindayantoni , Pendidikan Budi Pekerti Di Pondok Pesantren Manba'ul Ma'arif
Denanyar Jombang, STAI-BU.2008, Hal:1
                                                                              5




D. Kegunaan Penelitian

       Kegunaan penelitian yang termuat dari penelitian adalah sebagai berikut:

       1.    Untuk memperoleh gambaran yang jelas dan konkrit mengenai

             strategi pesantren dalam pembinaan moral dan akhlak santri.

       2.    Sebagai bahan masukan bagi semua pihak yang berkecimpung dalam

             dunia pendidikan khususnya dilingkungan pesantren.

       3.    Sebagai bahan masukan pada semua pihak khususnya para

             pemangku pesantren dan semua pihak yang terkait dengannya.



E. Batasan Istilah

       Untuk menghindari terjadinya perbedaan pemahaman terhadap istilah-

istilah yang digunakan dalam penelitian ini, perlu dikemukakan penegasan

istilah.Istilah-istilah dimaksud dikemukakan berikut ini

1). Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang didalamnya terdapat

     komponen-komponen pembelajaran yang terdiri dari kyai, kitab kuning,

     ustadz, santri, dan pengurus sebagai aktor atau pelaku serta beberapa buah

     bangunan: kediaman pengasuh, surau atau masjid, tempat pengajaran, dan

     tempat tinggal santri yakni ribath atau asrama.

2). Moral adalah membingkai setiap hubungan antar manusia dan juga dengan

     makhluk hidup lainnya, nilai moral adalah setiap kebaikan yang

     dilaksanakan manusia dengan kemauan yang baik dan untuk tujuan yang

     baik pula, moral adalah ajaran tentang baik buruk yang diterima umum

     mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya; akhlak, budi pekerti.
                                                                                          6




3)    Strategi adalah suatu cara dimana organisasi/ lembaga akan mencapai

      tujuannya,     sesuai    dengan     peluang-peluang       dan     ancaman-ancaman

      lingkungan eksternal yang dihadapi, serta sumber daya dan kemampuan

      internal.3




G. Sistematika Pembahasan

        BAB I : PENDAHULUAN

                   Pembahasan dalam bab ini merupakan awal dari pembahasan

                   pada bab-bab berikutnya, dan merupakan acuan sekaligus

                   pedoman bagi langkah-langkah berikutnya. yang terdiri-dari:

                   a. Latar belakang masalah

                   b. Rumusan masalah

                   c. Tujuan penelitian

                   d. Kegunaan penelitian

                   e. Sistematika pembahasan




3
 A.Halim,Rr.Suhartini Dkk, (eds.) Manajemen Pesantren, (Penerbit Pustaka Pesantren Yogjakarta
2005), hal:115
                                                                                7




                                      BAB II

                            METODE PENELITIAN



A. Menetukan Jenis Penelitian dan Pendekatannya

   Metode yang dipilih dalam penulisan ini adalah metode pendekatan kualitatif

dapat diartikan sebagai penelitian yang menghasilkan data diskriptif mengenai

kata-kata lisan maupun tertulis dan tingkah laku yang dapat diamati dari buku-

buku yang diteliti atau penelitian pustaka, dan pendekatan ini dianggap yang lebih

memungkinkan untuk mencapai kebenaran obyektif dibanding metode-metode

yang lainnya.

   Sedangkan pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini juga adalah

pendekatan filosofis yaitu meneliti arti, nilai dan maksud yang diekspresikan

dalam fakta.

B. Sumber Data

   Dalam       Penulisan/penyusunan   skripsi   ini   penulis   memilih   penulisan

kepustakaan, oleh karena itu memerlukan sumber data yang berupa buku-buku

yang berkenaan dengan tema yang akan dibahas yakni, " Strategi Pendidikan

Moral Di Pondok Pesantren ".

   Adapun sumber-sumber data tersebut adalah sebagai berikut:

1. Sumber Data Primer

   Data primer adalah data langsung dan segera diperoleh dari sumber data untuk

tujuan khusus dengan kata lain, data primer adalah sumber asli, sumber tangan




                                      7
                                                                            8




pertama yakni data yang diperoleh dari buku-buku artikel, makalah dan lain

sebagainya, yang berkenaan dengan tema yang di bahas

2. Sumber Data Sekunder

    Data sekunder adalah data yang diperoleh dari bahan pustaka yang relevan

dengan pembahasan skripsi ini.



C. Metode Pengumpulan Data

    Adapun tehnik pengumpulan data yang digunakan dalam pembahasan skripsi

ini adalah dengan mencari buku-buku yang relevan dengan fokus masalah,

kemudian membaca bab-bab tertentu yang diinginkan dan diklasifikasikan sesuai

dengan pembahasan, kemudian teori atas ketentuan yang sesuai dengan bab-bab

skripsi.

1. Metode Induktif

    Yaitu metode yang digunakan berdasarkan asas-asas, teori-teori atau konsep-

konsep dan kondisi yang bersifat umum. Tujuannya adalah mengambil

kesimpulan yang bersifat khusus.

2. Metode Deduktif

    Yaitu metode yang digunakan untuk menyelidiki sesuatu perangkat atau

didasarkan pada pengetahuan fakta-fakta khusus. Untuk menemukan fakta-fakta

yang bersifat umum.
                                                                              9




D. Teknik Analisis Data

   Adapun tehnik analisa datanya meliputi analisa data diskriptip kualitatip, dan

konten analisis, sebagai berikut:

a. Diskriptif Kualitatif

   Yaitu mengkaji dan mengkaitkan data-data yang diperoleh guna mendapatkan

penjelasan terhadap permasalahan yang dibahas untuk dipaparkan dalam bentuk

penjelasan.

b. Konten Analisis

   Yaitu dilakukan dengan memberi perbandingan pada konteks lain dengan

kontinyu sehingga penulis memandang cukup bagi konsep-konsep teori yang

diharapkan.
                                                                            10




                                   BAB III

                            HASIL PENELITIAN



A. Konsep Pesantren

1. Sejarah Pesantren

       Berbicara tentang pesantren tidak akan lepas dari pembahasan tentang

pendidikan Islam, sebagaimana tidak lepas dari sejarah perkembangan Islam.

Dalam sejarah Islam masjid mempunyai peranan penting khususnya dalam bidang

pendidikan Islam, sehingga dikatakan bahwa kemajuan atau kemunduran Islam

pada suatu negara tergantung pada kemajuan atau kemunduran masjid dalam

kegiatannya.

       Ketika Nabi Muhammad Saw, datang di Madinah pertama kali yang ia

kerjakan adalah membangun masjid. Dimasjid itulah ia mulai membangun

masyarakat Islam. Dimasjid itu pula ia mengerjakan sholat dan berceramah

(berdakwah ) mengajar orang-orang muslim tentang agamanya.

       Beginilah awal mula sistem pondok pesantren, sedangkan orang-orang

yang belajar adalah para sahabat rosul dan mereka itulah orang-orang yang belajar

langsung dari Rosulullah Muhammad SAW. Mereka dapat disebut murid-murid

pesantren. Dan keluarlah dari pesantren ulama-ulama besar yang namanya tidak

akan terhapus hingga kini diantaranya Abu Dzar, Abu Darda‟, Abu Hurairah dan

lain-lain. Kemudian kaum muslimin membuka negara-negara baru dan Islam

tersebar didalamnya secara bebas, dan masjid-masjid didirikan pada setiap tempat

dan menjadi jantung kehidupan masyarakat Islam, pusat peribadatan dan


                                      10
                                                                         11




kebudayaan, dan masjid-masjid itulah pusat kegiatan pendidikan Islam yang

disampaikan oleh para 'Ulama dan Kyai.

       Setelah Islam sampai dinegara kita Indonesia, dan tersebar didalamnya,

maka didirikan masjid-masjid disetiap tempat yang didiami orang-orang Islam.

Dan masjid itu menjadi sentral masyarakat Islam dan pusat kegiatan pendidikan

Islam yang khusus. Seperti masjid Demak di Demak, masjid Ampel di Surabaya,

masjid Giri di Gresik dan lain-lain. Dalam masjid tersebut sebagai tempat

belajarnya ulama-ulama besar yang kita sebut Wali Songo Mereka mengajarkan

agama kepada masyarakat luas. Dan masjid-masjid yang telah kita sebutkan itu

dianggap pondok-pondok pesantren yang pertama di Indonesia.

       Adapun pondok pesantren yaitu mula-mula ada seorang kyai („Alim)

kemudian datang beberapa orang santri yang ingin mengecap (belajar) ilmu

pengetahuan dari kyai tadi. Semakin hari semakin banyak santri yang datang,

akhirnya tak dapat lagilah mereka tinggal dirumah kyai itu.

       Pondok-pondok yang dibangun oleh para santri tersebut, mereka diami

selama belajar dengan kyai. Pondok juga disebut “ pesantren “ di Jawa barat, “

Penyantren “ di Madura, “ Rangkah atau Meunasah “ di Aceh dan “ Surau “ di

Sumatera Barat.



2. Pengertian Pesantren

       Untuk membatasi arti pondok pesantren merupakan hal yang sulit, karena

para ulama atau cendekiawan berbeda pendapat, dan berbeda dalam sudut

pandangnya, di antaranya yaitu:
                                                                                          12




          Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang didalamnya terdapat

komponen-komponen pembelajaran yang terdiri dari kyai, kitab kuning ustadz,

santri dan pengurus sebagai aktor atau pelaku serta beberapa buah bangunan:

kediaman pengasuh surau atau masjid tempat pengajaran dan asrama atau ribath

sebagai tempat tinggal para santri. Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam

tertua yang telah berfungsi sebagai salah satu benteng pertahanan umat Islam,

pusat dakwah dan pusat pengembangan masyarakat muslim di Indonesia. Kata

pesantren atau santri berasal dari bahasa Tamil yang berarti “ guru mengaji “.

Sumber lain menyebutkan bahwa kata itu berasal dari bahasa india “ shasti “ dari

akar kata “ sastra “ yang berarti “ buku-buku suci “. Buku-buku agama atau

buku-bukui tentang ilmu pengetahuan”. Diluar pulau jawa lembaga pendidikan ini

disebut dengan nama lain, seperti surau (di Sumatera Barat) daerah (Aceh) dan

pondok (daerah lain). Pesantren adalah lembaga pendidikan tradisional Islam

untuk mempelajari, memahami, mendalami, menghayati dan mengamalkan ajaran

Islam dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman

perilaku seharí-hari. KH. Imam Zarkasyi berkata devinisi yang umum pesantren

adalah terwujudnya hal-hal; lembaga pendidikan Islam dengan sistem asrama,

kyai sebagai central figurnya, masjid sebagai titik pusat yang menjiwai. Mu‟thi

Ali mengatakan pondok pesantren adalah status lembaga pendidikan yang sistem

pendidikan dan pengajarannya mempunyai ciri-ciri tertentu.4

          Kekhususan pesantren dibanding dengan lembaga-lembaga pendidikan

lainnya adalah para santri atau murid yang tinggal bersama dengan kyai atau guru


4
    Suismanto, " Menelusuri Jejak Pesantren ".Sleman Yogjakarta: Alief Press 1 Maret 2004 Hal:49
                                                                                 13




mereka    dalam    satu   kompleks    tertentu   yang      mandiri,   sehingga   dapat

menumbuhkan ciri-ciri khas pesantren sebagai berikut:

1. Adanya hubungan yang akrab antara santri dan kyai.

2. Santri taat dan patuh kepada kyainya.

3. Para santri hidup secara mandiri dan sederhana.

4. Adanya semangat gotong royong dalam suasana penuh persaudaraan.

5. Para santri terlatih hidup yang disiplin dan tirakat.

    Agar dapat melaksanakan tugas mendidik dengan baik, biasanya sebuah

pesantren memiliki sarana fisik yang minimal terdiri-dari sarana dasar, yaitu

masjid atau langgar sebagai pusat kegiatan, rumah tempat tinggal kyai dan

keluarganya, pondok tempat tinggal santri, dan ruangan-ruangan belajar.

    Pesantren juga memiliki lima elemen dasar yang merupakan satu kesatuan tak

terpisahkan dan berada pada satu kompleks tersendiri, yaitu:

1. Pondok. dalam tradisi pesantren pondok merupakan asrama dimana para santri

    tinggal bersama dan belajar dibawah bimbingan kyai. Pada umumnya

    komplek pesantren dikelilingi pagar sebagai pembatas yang memisahkan

    dengan masyarakat umum di sekelilingnya.5

2. Masjid.dalam struktur pesantren masjid merupakan unsur dasar yang harus

    dimiliki pesantren karena ia merupakan tempat utama yang ideal untuk

    mendidik dan melatih para santri, khususnya didalam mengajarkan tata cara

    Ibadah, pengajaran kitab-kitab Islam klasik, dan kegiatan kemasyarakatan.




5
  Sugiyanta, Akhlak Santri Abad 21, Studi Kasus Di Pondok Pesantren Manba'ul Ma'arif
Denanyar Jombang. IKAHA 2002, Hal:33
                                                                            14




   Masjid pesantren biasanya dibangun dekat rumah kediaman kyai dan berada

   ditengah-tengah kompleks pesantren.

   Dalam tradisi pesantren, pengajaran kitab-kitab Islam klasik lazimnya

   memakai metode-metode sebagai berikut:

   a. Metode Sorogan yaitu bentuk belajar mengajar dimana kyai hanya

       menghadapi seorang santri atau sekelompokan kecil santri.

   b. Metode Wetonan dan bandongan yaitu metode belajar dengan sistem

       ceramah. Kyai membaca kitab dihadapan kelompok santri tingkat lanjutan

       dalam jumlah besar pada waktu-waktu tertentu.

   c. Metode Musyawarah adalah sistem belajar dalam bentuk seminar untuk

       membahas setiap masalah yang berhubungan dengan pelajaran santri

       ditingkat tinggi. Metode ini menekankan keaktifan pada pihak santri, yaitu

       santri harus aktif mempelajari dan mengkaji sendiri buku-buku yang telah

       ditentukan kyainya.

   d. Metode Hafalan. Metode ini berlangsung dimana santri menghafal texs

       atau kalimat tertentu dari kitab yang di pelajarinya. Materi hafalan

       biasanya berbentuk syair atau nazhom. Sebagai pelengkap metode hafalan

       Sangat efektif untuk memelihara daya ingat (memorizing) santri terhadap

       materi yang dipelajari, karena dapat dilakukan baik didalam maupun di

       luar kelas.

3. Kyai

       Menurut asal-usulnya kata “ Kyai “mempunyai arti yang berbeda-beda

sesuai dengan sudut pandang diantaranya yaitu:
                                                                         15




-    Kyai sebagai gelar kehormatan bagi barang-barang yang dianggap

     keramat, umpamanya “ kyai garuda kencana “ dipakai untuk debutan

     kereta emas yang ada di Keraton Yogyakarta.

    - Kyai sebagai gelar untuk orang tua yang mempunyai keutamaan ilmu

     agama.

    - Kyai sebagai gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada seorang ahli

     agama Islam yang memiliki atau menjadi pimpinan pondok dan mengajar

     kitab-kitab Islam klasik kepada para santrinya. Nah yang terakhir inilah

     yang lebih populer di masyarakat Indonesia.

    - Gelar kehormatan untuk orang-orang tua pada umumnya.

     Adapun budaya yang ada dalam pesantren sangat jauh berbeda dengan

lembaga       pendidikan   lainnya.   Karena   pondok   pesantren   mempunyai

keistimewaan tersendiri yang tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan lainnya.

Seperti panca jiwa pesantren. Adapun panca jiwa pesantren yang kami

maksud adalah sebagai berikut;

     1. Jiwa keihlasan

     Yaitu yang berarti sepi ing pamrih rame ing gawe dan tidak terdorong oleh

keinginan memperoleh keuntungan tertentu, tetapi semata-mata karena ibadah,

karena Allah (lillaahi ta'ala). Kyai dan guru di pondok pesantren ikhlas

didalam mendidik dan mengajar, santri di pondok ihlas dalam belajar, suasana

di pondok selalu diliputi oleh keihlasan.
                                                                      16




2. Jiwa kesederhanaan

   Yaitu berati hidup bersahaja atau wajar. Kehidupan sehari-hari di pondok

harus sederhana. Hidup sederhana bukan berarti pasif atau nerimo. Hidup

sederhana juga bukan berarti melarat atau miskin.hidup sederhana karena

kesederhanaan itu mengandung unsur kekuatan, kesanggupan, ketabahan hati

serta penguasaan diri dan menjadi senjata ampuh dalam menghadapi

perjuangan hidup dan segala kesulitan.

3. Jiwa Ukhuwah Islamiyah yang demokratis.

   Yaitu yang berarti bahwa kehidupan di pondok harus selalu di liputi oleh

suasana dan perasaan persaudaraan yang akrab, sehingga segala kesenangan

dan kesusahan di rasakan bersama dengan jalinan perasaan keagamaan.

Persaudaraan ini bukan saja selama di dalam pondok atau pesantren itu

sendiri, tetapi juga harus dapat mempengaruhi kearah persaudaraan dan

persatuan ummat dalam masyarakat luas.

4. Jiwa kemandirian.

   Mandiri di sini dalam artian bahwasanya santri di dalam pondok tidak

diajarkan untuk hidup yang tidak mudah menggantungkan hidupnya pada

orang lain kecuali menggantungkan dirinya pada Allah SWT belaka.

5. Jiwa bebas dalam memilih alternatif jalan hidup dan menentukan masa

   depan dengan jiwa besar dan sikap optimistis menghadapi segala

   problematika hidup berdasarkan nilai-nilai Islam
                                                                                   17




        Kecuali itu pesantren di dalam menjalankan roda pendidikannya

        mempunyai prinsip-prinsip sistem pendidikan tersendiri. Adapun prinsip-

        prinsip sistem pendidikan pesantren sebagai berikut:

        a. Sukarela dan mengabdi

        b. Kearifan

        c. Kesederhanaan

        d. Mengatur kegiatan bersama

        e. Mandiri

        f. Mengamalkan ajaran agama

        g. Pesantren adalah tenpat mengamalkan ilmu dan mengabdi

        h. Tanpa ijazah6

4. Santri

        Menurut pengertian yang dipakai dalam lingkungan pesantren, seorang

    alim hanya bisa disebut kyai bilamana memiliki pesantren dan santri yang

    tinggal dalam pesantren tersebut untuk mempelajari kitab-kitab agama Islam

    Kata-kata santri memiliki dua makna yakni:

    1. Santri adalah murid yang belajar ilmu agama Islam di pondok pesantren

        yang datang dari jauh maupun dekat.

    2. Santri adalah gelar bagi orang-orang sholeh dalam agama Islam.

            Santri merupakan elemen yang esensial dari suatu pesantren, baik yang

    selama 24 jam tinggal di pesantren atau yang hanya beberapa jam saja dalam




6
 Sugiyanta, Akhlak Santri Dalam Abad 21 ( Studi Kasus Di Pondok Pesantren Manbaul Ma'arif
Denanyar Jombang ) Skripsi IKAHA 2002,Hal: 36-37
                                                                         18




setiap harinya. Dengan demikian menurut tradisi pesantren terdapat dua

kelompok santri,yaitu:

1. Santri mukim yakni murid-murid yang berasal dari daerah yang jauh dan

   menetap dalam pesantren. Santri yang sudah lama mukim dalam pesantren

   biasanya menjadi kelompok tersendiri dan sudah memikul tanggung jawab

   merngurusi kepentingan pesantren seharí-hari, mengajar santri-santri muda

   tentang kitab-kitab rendah dan menengah. Kebanyakan mereka datang dari

   jauh, karena mereka memilih pondok-pondok yang bonafid dan terkenal

   menurutnya.

2. Santri kalong yaitu murid-murid yang berasal dari desa sekelilingnya, yaitu

   biasanya mereka tidak tinggal di pondok kecuali kalau waktu-waktu

   relajar (sekolah dan mengaji) saja, mereka bolak balik dari rumah (mbajak/

   nglajo) dalam bahasa jawanya.

Motifasi santri pergi dan menetap disuatu pesantren diantaranya yaitu:

1. Ia ingin mempelajari kitab-kitab lain yang membahas Islam lebih mendalam

   dibawah bimbingan kyai yang memimpin pesantren tersebut.

2. Ia ingin memperoleh pengalaman kehidupan pesantren baik dalam bidang

   pengajaran, keorganisasian maupun ingin hubungan dengan pesantren-

   pesantren terkenal.

3. Ia ingin memusatkan studinya di pesantren tanpa disibukkan oleh aktifitas

   atau kewajiban-kewajiban sehari-hari dirumah.Disamping itu dengan
                                                                                        19




        tinggal di pesantren yang jauh dari kampungnya, yang bisa menyebabkan

        ia tidak mudah pulang balikmeskipun kadang-kadang menginginkannya.7



5. Pondok

        Tempat-tempat pemukiman para santri di pesantren terkenal dengan

    sebutan " Pondok ". Istilah pondok barang kali berasal dari pengertian asrama

    para santri, atau tempat tinggal mereka yang terbuat dari bambu. Atau barang

    kali berasal dari bahasa " Funduuk ' yang berarti hotel atau asrama/tempat

    penginapan maka dari itu bila dikatakan pergi kepondok berarti pergi ke

    pesantren. Pondok menurut istilah indonesia berarti gubug atau rumah kecil.

    Di pesantren biasanya dibangun rumah-rumah kecil atau kamar-kamar dekat

    masjid dan disekeliling kediaman kyai, dan rumah-rumah kecil inilah tempat

    murid-murid/santri, sehingga memungkinkan diberlakukannya disiplin santri,

    karena mereka berdiam di dalam pondok ( asrama ).

        Sistem asrama bagi para santri merupakan ciri khas tradisi pendidikan

    pesantren yang membedakannya dari sistem pendidikan tradisional di masjid-

    masjid yang berkembang di Indonesia. Pada zaman dahulu hampir seluruh

    komplek merupakan milik kyai, tetapi sekarang berangsur-angsur berubah

    menjadi bukan milik kyai saja, melainkan milik yayasan atau badan wakaf

    atau masyarakat. Hal itu disebabkan para kyai sekarang memperoleh sumber-

    sumber keuangan untuk mengongkosi pembiayaan dan perkembangan

    pesantren dari yayasan atau masyarakat. Walaupun demikian para kyai masih

7
  Suismanto, Menelusuri Jejak Pesantren ( Sleman Yogjakarta: Alief Press, 1 Maret 2004 Hal:
54-55 ).
                                                                                         20




      tetap memiliki kekuasaan mutlaq atas pengurusan pondok atau komplek

      tersebut. Para penyumbang sendiri beranggapan bahwa para kyai berhak

      memperoleh dana dari masyarakat dan dana itu dianggap sebagai milik Tuhan.

           Ada dua alasan utama dalam perubahan sistem kepemilikan pesantren,

      pertama; pesantren dizaman dahulu tidak memerlukan pembiayaan yang besar,

      baik karena jumlah santrinya yang tidak banyak maupun karena kebutuhan

      akan jenis alat-alat bangunan dan lain-lainnya relatif sangat kecil. Kedua Kyai

      pesantren maupun ustadz pembantu-pembantunya termasuk kelompok mampu

      pedesaan, sehingga mereka mampu membiayai sendiri baik kebutuhan

      kehidupannya maupun kebutuhan penyelenggaraan pengajaran dan pendidikan

      di pesantrennya.8



6. Masjid

           Masjid sebagai elemen yang tidak dapat dipisahkan dari pesantren, bahkan

      sebagai tempat yang paling tepat (strategis) untuk mendidik para santri,

      terutama dalam praktek sholat lima waktu berjamaah, khutbah dalam sholat

      jumat dan pengajaran kitab-kitab Islam klasik.

           Sistem pendidikan Islam yang terpusat dimasjid sejak masjid Quba'

      didirikan di Madinah di zaman Nabi Muhammad Saw tetap terpancar dalam

      sistem pesantren. Sejak masa nabi, masjid telah menjadi pusat pendidikan

      Islam. Dimanapun kaum muslimin berada mereka selalu menggunakan masjid

      sebagai tempat pertemuan, pusat pendidikan, aktifitas administrasi dan


8
    Drs, Suismanto M.Ag. MenelusuriJejak Pesantren ,(Yogjakarta Alief Press 2004). Hal:56-57
                                                                                             21




       kultural, bahkan pada zaman sekarangpun masih kita temukan para 'Ulama

       (Kyai) yang mengajar murid-murid di masjid dengan penuh pengabdian, serta

       memberi wejangan dan anjuran kepada murid-muridnya untuk meneruskan

       tradisi yang sudah terbentuk sejak zaman permulaan Islam.9

           Lembaga-lembaga pesantren di jawa memelihara terus tradisi ini, para

       kyai selalu mengajar murid-muridnya dimasjid dan menganggap masjid

       sebagai tempat yang palin tepat untuk menanamkan disiplin para murid dalam

       mengerjakan kewajiban sholat lima waktu, memperoleh pengetahuan agama

       dan kewajiban agama yang lain. maka seorang kyai yang ingin

       mengembangkan sebuah pesantren, biasanya pertama mendirikan masjid di

       dekat rumahnya. Langkah ini biasanya di ambil atas perintah gurunya yang

       telah menilai bahwa ia akan sanggup memimpin sebuah pesantren.10

7. Pengurus

           Pengurus adalah sekelompok orang yang diberi amanat untuk mengurus,

mengelola, mendidik dan membimbing seorang santri yang ada dalam pondok

pesantren dan juga mengatur manajemen pondok pesantren, pengurus di pondok

pesantren umumnya dipilih dari unsur-unsur pondok yang dalam hal ini mencakup

guru, pembina dan santri.

           Dengan keberagaman unsur ini, maka tingkatan tanggung jawab yang

diemban diklasifikasikan sebagai berikut:




9
     Drs. Suismanto M.Ag, "Menelusuri Jejak Pesantren "Yogjakarta, Alief Press, hal; 58-59
10
     Zamakhsari Dhofier, Tradisi Pesantren, (LP3ES Jakarta 1983) Hal; 49
                                                                           22




1) Sebagai pengurus ia bertanggung jawab terhadap keberlangsungan segala

agenda dan aktifitas di pondok pesantren serta mengorganisir kegiatan-kegiatan

yang ada, pengurus mempunyai peran diantaranya sebagai berikut:

a. Peran organisator

       Peran organisator disini diartikan bahwa pembina mengorganisasi dan

menggerakkan santri untuk melakukan kerja kepengurusan dan kegiatan-kegiatan

yang ada. Sehingga diharapkan dapat membentuk kepribadian yang disiplin dan

mandiri.

b. Peran Manager

       Peran manager disini dapat diartikan bahwa pengurus mengatur segala

aktifitas yang dilakukan oleh warga pesantren. Tentunya dengan adanya

mangemen yang baik dapat membantu dalam kepembinaan terutama dalam

pembentukan kepribadian santri.

c. Pembuat Kebijakan

       Peran pengurus dalam pembuatan kebijakan ini diartikan bahwa pengurus

membuat kebijakan-kebijakan yang bersifat operasional dalam menentukan arah

pendidikan dan kepembinaan pondok pesantren.

d. Pelaksana Kebijakan

       Di samping sebagai pembuat kebijakan pengurus juga bertindak sebagai

pelaksana kebijakan. Pada peran ini meliputi kebijakan yang dibuat oleh pengurus

sendiri dan kebijakan dari pengasuh. Adapun peran pelaksana kebijakan disini

dapat dibagi menjadi tiga:
                                                                              23




1. Motor (Penggerak)

       Penggerak dalam artian bahwa santri yang merupakan peserta didik

dengan tingkat kedewasaan yang masih kurang sehingga belum punya

kemandirian yang baik, oleh karena itu dalam setiap kegiatan maka pengurus

selalu menggerakkan santri baik secara langsung ataupun tidak langsung.

2. Monitoring (Pengawas)

       Pengurus melakukan pengawasan terhadap haliyah (keadaan) santri yang

baik yang berkenaan dengan perilaku, perkataan, etika, kedisiplinan dan lain-lain.

3. Pemberi Sanksi

       Pengurus tidak secara langsung memberikan sanksi tetapi lebih pada

memberikan pertimbangan Departemen Keamanan Dan Ketertiban dalam hal

pemberian sanksi pada santri yang melakukan pelanggaran.

2). Pengurus sebagai seorang guru di pondok pesantren mempunyai fungsi

sebagai berikut

a). Sebagai Mu'allim

       Sebagai seorang Muallim (pengajar) dalam melakukan proses pendidikan

yang ada di pondok pesantren menggunakan sistem pendidikan pesantren seperti

metode sorogan, bandongan dan muhafadhoh (hafalan).

b). Sebagai Murobbi

       Sebagai Murobbi seorang pengurus berusaha untuk mencerminkan dirinya

sebagai orang yang selalu konsisten ucapan dan perbuatan. Pada fungsinya

sebagai Murobbi pembina lebih berperan sebagai orang tua.
                                                                                     24




c). Sebagai Muaddib

        Pembina sebagai Muaddib lebih berperan sebagai pemberi uswah hasanah

(suri tauladan) karena pembina merupakan public figure. Oleh karena itu sebagai

muaddib dalam setiap perkataan, perilaku dan perbuatannya selalu menjadi

sorotan dan perhatian santri, disamping itu pembina memiliki peran sebagai

pembimbing moral spiritual yang konsisten.

        Dari peran sebagai guru ini sesuai dengan peran pengurus dalam prespektif

pendidikan Islam yaitu pendidik adalah murobbi, muallim, dan muaddib

sekaligus. Artinya seorang pendidik harus memiliki sifat-sifat robbani, bijaksana,

terpelajar, tanggung jawab, kasih sayang terhadap peserta didik dan harus

menguasai      ilmu    teoritik,   kreatif,   memiliki      komitmen      tinggi    dalam

mengembangkan ilmu dan sikap menjunjung tinggi nilai-nilai ilmiah, serta

mampu mengintegrasikan ilmu dan amal sekaligus.11



8. Proses Pengajaran Di Pesantren

        Proses pengajaran pada zaman dahulu lebih banyak memperhatikan

pengajaran kitab-kitab klasik, yang di karang oleh „Ulama‟ salaf yang mengikuti

pola pikir (Madzhab Asy-Syafi‟i). Kitab-kitab itu mencakup seluruh aspeknya

yaitu, Nahwu, Shorof, Fiqih, Hadits, Tafsir, Tauhid, Tasawuf, dan Akhlak.

        Adapun metode pengajarannya lebih banyak menggunakan metode antara

lain:




11
 Taufiq Hindayantoni, Pendidikan Budi Pekerti Di Pondok Pesantren, (Skripsi, STAI-BU,2008),
Hal: 55-58
                                                                                          25




a.     Metode Weton yaitu, metode penyampaian secara ceramah kepada jamaah

       dimana para santri duduk di sekeliling kyai atau ustadz berbentuk halaqoh,

       kemudian para kyai itu menerangkan satu kitab dan para santri menyimak

       kitab-kitab mereka serta menulis arti kata di bawah deretan teks(memberi

       makna gandul). biasanya waktu pengajarannya sebelum atau sesudah sholat

       fardhu.

b. Metode sorogan yaitu, pembacaan dihadapan kyai, yakni setiap murid secara

       bergiliran    menghadap        dan    membawa        kitabnya,     lalu    bapak   kyai

       membacakannya dan menterjemahkan dalam bahasa daerah dan santri tersebut

       mendengarkan dan menulis apa yang di katakan oleh kyai, di sela-sela teks

       yang ada (memberi makna gandul). 12



B. Pandangan Pesantren Tentang Pendidikan Akhlak, Etika atau Moral



1. Pengertian Pendidikan Akhlak

           Kata pendidikan berasal dari kata dasar "didik" mendapat imbuhan awalan

"pe" dan akhiran "an" sehingga terbentuk kata pendidikan yang artinya cara

mengajar atau perihal mengajar. Sedangkan yang dimaksud dengan mendidik

adalah menanamkan atau menyampaikan pengetahuan pada peserta didik, atau

dengan pengertan lain mengajar adalah memberikan ajaran-ajaran berupa ilmu

pengetahuan kepada seseorang atau beberapa orang sehingga mereka dapat

memiliki dan memahami ajaran-ajaran tersebut. Adapaun akhlak merupakan


12
     Suismanto, ," Menelusuri Jejak Pesantren ",Yogjakarta, Alief Press 2004: 58-59
                                                                             26




sinonim dari kata moral, etika. Dan dalam hal ini akan penulis paparkan satu

persatu tentang arti dari kalimat-kalimat tersebut diatas.

       Akhlak menurut bahasa adalah berasal dari bahasa arab          ‫ اخالق‬yang

merupakan bentuk jama' dari    ‫ خٍك‬yang mempunyai arti budi pekerti, tabi'at dan

watak, firman Allah dalam surat Al-Qolam: 4

                                                             ُ١‫ٚأه ٌؼٍٝ خٍك ػظ‬

Artinya:

"Sesungguhnya engkau (Muhammad SAW) berjalan diatas perangai yang mulia".

Sabda Nabi:

                                                     ‫أّب ثؼثذ الرُّ ِىبسَ االخالق‬

Artinya:

"Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia".( HR.Ahmad )



       Dalam kebahasaan, akhlak sering disebut dengan moral atau etika

2. Pengertian Ilmu Akhlak

       a. Didalam Encyclopedia britanica, dikatakan ilmu etika adalah studi

           yang sistematik tentang tabi'at dan pengertian-pengertian nilai baik,

           jelek, benar, salah, perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh

           seseorang serta tentang prinsip-prinsip umum yang membenarkan

           untuk mempergunakannya terhadap sesuatu.
                                                                           27




       b. Dalam Encyclopedia of Islam, dijelaskan bahwa ilmu akhlak adalah

           ilmu tentang kebaikan dan cara mengikutinya kejahatan dan cara untuk

           menghindarinya

       c. Dalam Mu'jam al wasid:

   ‫ػٍُ اخالق ػٍُ ِٛ ضٛػٗ احىبَ ل١ّزٗ رزؼٍك ثبالػّبي اٌزٟ رٛضغ ثبٌحسٓ ٚاٌمج١ح‬

Artinya:

       "Ilmu akhlak adalah ilmu yang pembahasannya tentang nilai-nilai yang

       berkait dengan perbuatan manusia yang dapat disifatkan dengan baik dan

       jelek".

                 Sedangkan Ahmad Amin dalam kitabnya Al Akhlak menjelaskan:

ُٙ‫ػٍُ ٠ٛضح ِؼٕٝ اٌخ١ش ٚاٌششٚ٠ج١ٓ ِب٠ٕجغٝ اْ رىْٛ ػٍ١ٗ ِؼبٍِخ إٌبس ثؼض‬

                      ٌُٙ‫ثؼضب ٚ٠سشخ اٌغب٠خ اٌزٟ ٠ٕجغٝ اْ ٠مصذ٘بإٌبس فٝ اػّب‬

Artinya:

                 "Ilmu akhlak adalah ilmu yang menjelaskan arti baik buruk,

                 menjelaskan apa yang seharusnya dilakukan manusia dalam

                 pergaulan dengan sesama serta menjelaskan nilai-nilai tertinggi

                 yang harus menjadi tujuan dan cita-cita manusia dalam

                 perjalanan hidupnya".

                  a. Menurut Al Ghozali

 ِٓ ‫اٌخٍك ػجبسح ػٓ ٘١ئخ فٝ إٌفس ساسخخ ٚػٕٙب رصذس االفؼبي ثسٌٙٛخ ٚ٠سش‬

                                                        ‫غ١شحبجخ اٌٝ فىشٚسٚ٠خ‬
                                                                            28




Artinya:

              "Khuluk adalah gambaran tentang gerakan jiwa yang telah

              mendarah daging yang karena gerakan itu dapat menimbulkan

              suatu pekerjaan yang dapat ditunaikan dengan mudah tanpa

              memerlukan pertimbangan pikiran"( Al Ghozali,56 )

       Akhlak adalah perilaku sehari-hari yang dicerminkan dalam ucapan, sikap

dan perbuatan. Bentuknya yang kongkrit adalah hormat dan santun kepada orang

tua, guru dan sesama manusia, suka bekerja keras, suka belajar, tak suka

membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berguna, menjauhi dan tidak mau

melakukan kerusakan, merugikan orang, mencuri, menipu atau berbohong.

Terpercaya jujur, pemaaf dan berani. Tidak mau minum-minuman keras dan

menjauhi prilaku seks menyimpang apalagi melakukan hubungan seks dengan

yang bukan istrinya, bercita-cita luhur untuk memajukan bangsa dan mengatasi

masalah kemanusiaan.

       Dalam kerangka yang lebih luas, berakhlak berarti "hidup untuk menjadi

rahmat bagi sekalian alam" Artinya hidup berguna bukan hanya untuk umat islam

tetapi untuk umat manusia dan alam sekitarnya, bersikap santun dan tidak

merusak nilai-nilai kemanusiaan, hewan, tumbuh-tuimbuhan, udara, dan air

sebagai ciri manusia berakhlak luhur.

       Dari beberapa definisi diatas menjadi jelas bahwa ilmu akhlak adalah ilmu

tentang nilai yang baik dan jelek. Jadi kalau ada buku yang membahas tentang

akhlak berarti buku tersebut bersifat pasif manakala isi buku tersebut tidak bisa

mempengaruhi sikap jiwa seseorang yang mempelajarinya.
                                                                                     29




          Kitab suci Al qur'an adalah kitab tentang nilai yang isinya tentang apa

yang baik yang harus dilakukan oleh manusia, dan apa yang tidak baik yang harus

ditinggalkannya, seperti bagaimana etika dalam pergaulan, etika kepemimpinan,

menghormati orang tua, dan lain-lain. Al qur'an tidak bernilai apa-apa apabila

kaum muslimin tidak merespons dan mengamalkan nilai-nilai dan ajaran yang

terkandung didalamnya.

          Siti Aisyah pernah ditanya tentang akhlak Nabi Muhammad SAW, ia

menjawab akhlak nabi adalah Al qur'an (ْ‫اٌمشا‬        ٗ‫)وبْ خٍم‬

Artinya:

          " Akhlak nabi adalah Al Qur'an "

          Ini artinya Nabi Muhammad SAW merespon dan mengamalkan seluruh

nilai dan ajaran Al qur'an. Dengan demikian seorang muslim dapat dikatakan telah

berakhlak Al qur'an apabila telah merespon nilai-nilai dan ajaran yang

dikandungnya. 13

3. Arti Etika

          Etika secara etimologis adalah berasal dari bahasa Yunani ethos, yang

berarti adat kebiasaan, dalam kamus Bahasa Indonesia, etika diartikan ilmu

pengetahuan tentang asas-asas akhlak. Sedangkan secara terminologis, Ahmad

Amin menegaskan etika ialah ilmu yang menjelaskan arti baik buruk, menjelaskan

apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia. Moral secara etiumologis berasal

dari bahasa latin mores, bentuk plural dari mos yang berarti kesusilaan, tabiat atau

kelakuan. Dalam Kamus Umum bahasa Indonesia dari W.J.S.Poerwodarminto

13
     H. M.Romli Arif, Kuliah Akhlak Tasawuf I ,(BMT Mu'amalah IKAHA Tebu Ireng 2004), Hal:
2
                                                                                            30




dijelaskan bahwa moral adalah ajaran baik buruk dari perbuatan. Sedangkan moral

secara terminologis adalah suatu istilah yang digunakan untuk menentukan batas-

batas dari sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan yang secara layak

dapat dikatakan benar-salah baik buruk (Nata,2002). Dalam arti memberikan

batasan terhadap aktifitas manusia dengan ketentuan baik atau buruk.

          Dengan demikian antara etika dan moral terdapat kesamaan dalam obyek

pembahasannya tentang perbuatan manusia. Namun terdapat perbedaan standar

tentang ketentuan baik dan buruk. Etika menentukan nilai perbuatan manusia baik

atau buruk dengan standar aqal (rasio). Sedangkan moral menentukan nilai baik
                                                                                    14
atau buruk dengan standar norma-norma yang berlaku di masyarakat

a. Adab atau Akhlak Santri Dalam Bergaul

          Kita ketahui bersama bahwa manusia yang didalamnya termasuk santri itu

sangat membutuhkan akan kehidupan bermasyarakat dengan sesamanya ,sebab ia

tidak mungkin hidup seorang diri dalam menghasilkan segala sesuatu yang

menjadi keperluannya dan kebutuhan pokok kehidupannya.

          Oleh karena itu kita tidak akan bisa lari dari pergaulan dengan orang lain

dan menghindari dari kehidupan masyarakat dengan mereka yang berlatar

belakang berbeda, baik dari segi adat, akhlak, status sosial dan lain sebagainya.

Maka didalam pondok pesantren diajarkan tentang adab santri dalam

berkomunikasi dan bergaul baik dengan Allah maupun dengan manusia adalah

sebagai berikut:




14
     Lilik Nur Kholidah. Reorientasi Pendidikan Islam, ( Pasuruan: Hilal Pustaka, 2006 ),107-108
                                                                          31




1. Akhlak Santri terhadap Allah SWT

       Didalam pondok pesantren santri diajari tentang bagaimana dan apa yang

seharusnya dilakukan oleh santri terhadap sang pencipta, yaitu Allah SWT.

Didalam lingkungan pondok pesantren semua aktifitas santri yang dilakukan

harus didasari hati yang ikhlas semata-mata hanya karena Allah SWT. Maka

seorang santri harus bisa menyerahkan diri sebagai hamba terhadap Sang pencipta

yaitu Allah SWT, sebagaimana ikrar kita didalam waktu sholat:

                             ٓ١ٌّ‫اْ صالرٝ ٚٔسىٝ ِٚح١بٞ ِّٚبرٝ هلل سة اٌؼب‬

Artinya;

       " Sesungguhnya sholat saya,ibadah saya,hidup saya, dan kematian saya

       semata-matahanya karenaMu Ya Allah "

       Kecuali itu, santri menyadari bahwa mereka diciptakan oleh Allah SWT

hanya supaya beribadah kepada-Nya, sebagaimana firman Allah:

                            ) 56 ‫ِٚبخٍمذ اٌجٓ ٚاالٔس اال ٌ١ؼجذْٚ, ( اٌذاس٠بد‬

Artinya:

" Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka

beribadah kepada-Ku " (Adz-Dzariyat, 56)

       Berdasakan firman Allah diatas maka santri dalam melaksanakan aktifitas

sehari-hari selalu diniati ibadah kepada Allah SWT.

       Drs Thoyib Sah Saputro mengatakan dalam bukunya bahwa seorang

hamba yang ta'dhim dan tawadhu' kepada Sang Pencipta hendaknya harus

melakukan beberapa hal sebagai berikut:
                                                                                       32




1. Mempercayai bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang wajib disembah.

2. Tidak boleh menyekutukan Allah kepada sesuatu apapun.

3. Melakukan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

4. Mampu mencintai Allah diatas segala-galanya.15



2. Akhlak Santri Terhadap Rosululloh SAW

            Santri yang yang benar-benar mengagungkan dan meyakini bahwa

            Rosululloh SAW itu adalah benar-benar utusan Allah SWT, maka harus

            melakukan beberapa hal diantaranya yaitu:

1. Mempercayai atau meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan

     Allah SWT.

2. Harus meyakini bahwa apa yang disampaikan oleh Rasulullah itu adalah benar.

3. Melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala apa yang di larang-

     Nya.

4. Mampu mencintai diatas segala-galanya setelah Allah SWT.

5. Mau menjadikan Rasulullah sebagai Uswatun Hasanah.

3. Akhlak Santri terhadap Kyai dan Guru

            Ketahuilah bahwa santri atau pelajar hendaknya mengagungkan ilmu dan

      'Ulama (ahli ilmu) serta memuliakan dan menghormati guru. Tanpa demikian,

      maka tidak akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Sebagaimana dikatakan,

      bahwa kesuksesan cita-cita seseorang disebabkan ia sangat mengagungkan

      ilmu dan guru serta memuliakan dan menghormatinya. Sebaliknya, kegagalan

15
  Sugiyanta, Akhlak Santri Abad 21 Studi Kasus Di Pondok Pesantren Manba'ul ma'arif Denanyar
Jombang, (Skripsi IKAHA Jombang, 2002), Hal:39-41
                                                                       33




   seseorang dalam belajar itu karena tidak mau mengagungkan, memuliakan dan

   menghormatinya, bahkan meremehkannya.

       Sementara 'Ulama mengatakan, bahwa menghormati itu lebih baik

   daripada taat. Bukankah, telah kita ketahui bersama, bahwa manusia tidak

   akan kufur lantaran tidak mau mengindahkan perintah Allah dan menjauhi

   semua larangannya.

       Diantara mengagungkan ilmu adalah dengan cara mengagungkan guru.

   Sayyidina Ali Karromallahu Wajhah berkata:

           ‫أب ػجذ ِٓ ػٍّٕٝ حشفب ٚاحذا,اْ شبء ثبع ٚاْ شبءاػزك ٚاْ شبء اسزشق‬

Artinya:

   "Aku tetap menjadi hamba atau budak seseorang yang telah mengajarku

   sekalipun hanya satu huruf. Jika ia menjualku bolehlah, dan jika ia

   menetapkan aku sebagai budak dan tawanan akupun mau".



   Sampai sejauh itulah Sayyidina Ali dalam mengagungkan dan menghormati

gurunya. Oleh karena itu santri juga wajib mengagungkan dan menghormati

gurunya. Diantara mengagungkan kyai dan guru harus diperhatikan oleh seorang

santri atau murid sebagai berikut:

1. Jangan berjalan di muka gurunya.

2 Jangan menduduki tempat duduk gurunya.

3. Jangan mendahului bicara di muka guru kecuali dengan izinnya.

4. Jangan banyak bicara di hadapan gurunya.

5. Jangan bertanya sesuatu yang membosankanya.
                                                                                            34




6. Jika berkunjung ke rumah gurunya harus mengenal waktu.

7. Selalu mohon keridloannya.

8. Menjauhi hal-hal yang menimbulkan kemarahan gurunya.

9. Melaksanakan semua perintah guru asal bukan perintah untuk melakukan

     maksiat.

10. Menghormati anak-anak, famili, dan anak-anak gurunya.16

           Bahkan Syekh Hafidz Hasan Al Mas‟udi mengatakan bahwa santri harus

     bisa lebih mengagungkan dan menghormati kepada kyai dan gurunya dari pada

     orang tuanya.karena sesungguhnya guru itulah yang mendidik ruh mereka.

           Pernyataan ini juga di kuatkan oleh Syekh Muhammad Syakir beliau

     mengatakan :

          ِٓ ‫٠بثٕٟ:ارا ٌُ رحزشَ اسزبرن فٛق احزشاِه الث١ه ٌُ رسزف١ذ ِٓ ػٍِٛٗ ٚال‬

                                                                                   ‫دسٚسٗ ش١ئب‬

Artinya:

           ”Wahai anakku apabila engkau tidak menghormati gurumu lebih dari

           ayahmu maka engkau tidak akan dapatkan manfaat dari ilmu dan

           pelajaran yang di sampaikannya”

           Sejauh itulah seharusnya penghormatan yang dilakukan oleh santri kepada

kyai dan gurunya, supaya mendapatkan ilmu yang bermanfaat baik di dunia

maupun di akhirat.

4. Akhlak Santri Terhadap Kedua Orang Tuanya.



16
     Drs.Aliy As'ad terjemah kitab " Ta'limul Muta'allim ", Kudus, Menara Kudus,1978, hal:22-25
                                                                            35




       Ibu dan bapak adalah manusia yang paling dekat dengan kita. Sejak kita

masih berada di alam rahim, ibu bapaklah yang pertama memikirkan tentang

kita.kemudian kita lahir di dunia, ibu bapak juga yang pertama menaruh perhatian

dengan segala kasih sayang. Kita merasakan sakit, sedih, juga bapak ibu kita yang

pertama memperhatikan kita. Ibu bapak adalah manusia pertama yang paling

dekat dengan kita

       Lebih lanjut kita merasakan bahwa ibu bapak adalah manusia yang

bersedia mencurahkan kasih sayangnya kepada kita sepanjang masa.kasih sayang

yang yang mereka berikan meliputi pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohani.ibu

dan bapak mengupayakan untuk memberikan materi sebagai pemenuhan

kebutuhan jasmani juga memberiakan kasih sayang untuk memenuhi kebutuhan

rohani.kita sakit ibu bapaklah yang berupaya mengobati, kita sedih ibu bapaklah

yang berupaya menghibur.dan yang tak kalah pentingnya ibu bapaklah yang

membekali kita ilmu pengetahuan mendidik kita sehingga kita mampu hidup dan

menyesuaikan dengan lingkungan bahkan kita bisa sukses dalam kehidupan.

       Islam mengajarkan agar seseorang berbakti serta mentaati ibu dan bapak

selam ibu bapak tidak menyuruh untuk menyekutukan Alloh SWT.setelah kita

menunaikan kewajiban terhadap Allah SWT, maka kewajiban berikutnya adalah

berbakti kepada ibu bapak.banyak ayat Al Qur‟an menerangkan tentang perintah

berbuat baik kepada ibu bapak antara lain:
                                                                                       36




Surat An Nisa‟ ayat:36

ٓ١‫ٚاػجذٚااهلل ٚالرششوٛا ثٗ ش١ب ٚثبٌٛاٌذ٠ٓ احسبٔب ٚثزٜ اٌمشثٝ ٚاٌ١زبِٝ ٚاٌّسبو‬

ْ‫ٚجبسرٜ اٌمشثٝ ٚاٌجبس اٌجٕت ٚصبحت اٌجٕت ٚاثٓ اٌسج١ً ِٚبٍِىذ ا٠ّبٔىُ,ا‬

                                         )31 ‫اهلل ال٠حت ِٓ وبْ ِخزبال فخٛسا,( إٌسبء‬

Artinya :

           ”Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukannya dengan

           sesuatu apapun, dan berbuat baiklah kepada orang tuamu kerabat

           dekatmu anak yatim orang miskin tetangga dekat tetangga jauh teman

           sejawat ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak

           menyukai orang-orang yang sombong dan membanga-banggakan

           diri”.(Q.S.An Nisa’:36)17

           Pada umumnya santri dalam melaksanakan aktifitas selalu berlandaskan

dengan hukum Islam. Maka semestinya santri terhadap kedua orang tuanya harus

berbakti dan berbuat baik kepadanya. Di dalam kitab akhlak ”Taisirul

Khalaq”diterangkan tentang tata cara berbakti dan berbuat baik kepada orang tua

sebagai berikut:

1. Mentaati segala perintahnya kecuali untuk diajak maksiat kepada Allah SWT.

       atau berakhlak karimah maka ketika bergaul dengan sesama temannya harus

       mampu menunjukkan ekspresi penuh kegembiraan, hormat, bicaranya sopan

       raut muka berseri-seri dam mampu menarik simpatinya teman dalam pondok




17
     Depag RI, Al-Qure'an Dan Terjemahnya, (Bandung, Gema Risalah Press 1992) Hal:123-124
                                                                                 37




2. Ketika duduk bersama kedua orang tuanya tenang dan menundukkan

       kepalanya.

3. Tidak menyakiti kedua orang tuanya walaupun dengan perkataan ”hus”. Maka

       semestinya santri harus berhati-hati dan sopan santun kepada orang tuanya

       baik dalam berbuat maupun berkata supaya tidak menyinggung atau menyakiti

       orang tuanya.

4. Dan tidak boleh banyak bicara atau membantah kepada kedua orang tuanya.

5. Ketika berjalan bersama tidak boleh mendahuluinya kecuali untuk

       melayaninya.

6. Mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran dengan cara yang baik,

       karena hal ini dapat menyelamatkan kedua orang tuanya dari api neraka18

5. Akhlak Santri Terhadap Teman atau Saudara-Saudaranya.

           Santri yang berbudi pekerti yang baik pesantren itu bermacam-macam, ada

     yang lebih tua, sebaya dan juga ada yang lebih muda. Maka dalam

     menghadapinya atau berakhlak kepada mereka tentunya berbeda-beda.

1.         Kepada Teman Yang Lebih Tua

           Di dalam bergaul dengan teman yang lebih tua santri seharusnya dapat

           selalu bersikap hormat dan sopan santun kepada semua yang lebih tua

           .Sebagaimana sabda Nabi Muhamad SAW.Yang artinya ”Tiada seseorang

           pemuda yang menghormati orang tua usianya, melainkan Allah

           menyediakan orang-orang yang akan menghormatinya jika ia telah tua

           usianya ”.(H.R.Turmudzi)


18
     Syekh Hafidz Hasan Al Masudi dalam kitab " Taisirul Khalaq ", hal: 8
                                                                         38




2.    Etika Terhadap Yang Lebih Muda

      Selanjutnya yaitu bergaul dengan orang yang lebih muda,termasuk juga

      terhadap   orang   yang   keadaan   perekonomian,    pengetahuan    dan

      pengalamannya lebih lemah dibanding kita, juga anak yatim dan fakir

      miskin.

      Terhadap mereka itu kita wajib menyantuni dan bersikap penuh kasih

      sayang.Tidak berbuat dan berkata-kata kasar kepada mereka, tidak

      mengejek dengan janji-janji kosong, tidak menghina keadaannya dan

      sebagainya.

      ‫ػٓ ػجذ اهلل اثٓ ػّش, ػٓ إٌجٝ صٍٝ اهلل ػٍ١ٗ ٚسٍُ, ِٓ ٌُ ٠شحُ صغ١شٔب‬

ٜ‫ٚ٠ؼشف حك وج١شٔب فٍ١س ِٕب, سٚاٖ اثٛ داٚدٚاٌزشِز‬

      Artinya:

      Dari Abdillah Bin Amr:dari Nabi Muhammad SAW bersabda”barang

      siapa yang tidak berbelas kasihan kepada yang lebih kecil dan tidak mau

      tahu haknya orang yang lebih tua maka bukan termasuk golonganku

      ”.(H.R.Abu Daud dan Turmudzi),(Sunan Abi Dawud Juz:4 Hal.286)

       )‫ٌ١س ِٕبِٓ ٌُ ٠شحُ صغ١شٔب ٌُٚ ٠ٛلش وج١شٔب, (اٌحذ٠ذ‬

      Artinya,

      "Bukanlah termasuk umatku orang yang tidak menyayangi yang kecil dan

      menghormati yang lebih tua"

      Oleh karena itu Islam menganjurkan kita agar bersikap merendah dan

santun kepada sesama mukmin, termasuk kepada orang yang lebih muda dari kita.
                                                                                      39




Walaupun kita memiliki banyak kelebihan di banding adik-adik kita atau orang

yang lebih muda. Kita tidak boleh bersikap sombong dan congkak terhadap

mereka. Justru kita harus menghargai dan memperhatikan kebutuhan mereka serta

membantunya dengan penuh kasih sayang.

        Apabila kita tidak bersikap hormat, sopan dan merendah terhadap orang

yang lebih muda dan orang yang keadaannya kurang di banding kita, niscaya
                                                           19
merekapun tidak akan hormat dan menghargai kita.



C. Strategi Pendidikan Moral Di Pondok Pesantren

        Strategi pendidikan moral suatu cara menyampaikan tentang moral atau

budi pekerti kepada peserta didik dari pengertian ini maka masalah strategi

mengajar ini adalah merupakan suatu hal yang sangat prinsip dalam proses belajar

mengajar karena strategi adalah cara yang dalam fungsinya merupakan alat

untukmencapai       suatu    tujuan.   Maka      apabila        seorang   pendidik   dalam

menyampaikan sejumlah informasi kurang aktif, dapat menghambat tercapainya

tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya. Dengan demikian, semakin baik

strategi yang digunakan, maka akan semakin efektif pula pencapaian tujuan.

Choirul Anam menjelaskan strategi pendidikan budi pekerti sebagai berikut:

        Ada empat model pembelajaran moral yang dapat dipilih sebagai

alternatif, yakni pertama. Model sebagai mata pelajaran tersendiri seperti mata

pelajaran akhlak. Di madrasah.Kedua model terinttegrasi dalam semua bidang

studi. Ketiga, model di luar pengajaran, pada kegiatan ekstrakurikuler. Dan

19
 ٍSugiyanta, Akhlak Santri Dalam Abad 2 , Studi Kasus Di Pondok Pesantren Manbaul Ma'arif
Denanyar Jombang,Skripsi IKAHA Jombang 2002 Hal: 48-50
                                                                              40




keempat, model gabungan. Setiap model memiliki kelebihan dan kelemahan

masing-masing.

       Model pertama, lebih terfokus dan memiliki rencana yang matang untuk

menstruktur pembelajaran dan mengukur hasil belajar siswa. Model ini

memberikan kesempatan yang lebih luas kepada guru untuk mengembangkan

kreatifitasnya. Tetapi kelemahannya, guru bidang studi yang lain tidak ikut

bertanggung jawab. Dengan model ini kecenderungan pembelajaran hanya

diberikan sebatas pengetahuan kognitif saja.

       Model kedua, model pembelajaran terintegrasi dalam semua bidang studi,

semua guru adalah pendidikan moral tanpa kecuali. Semua guru ikut bertanggung

jawab dan pembelajaran moral tidak selalu bersifat informative kognitif,

melainkan bersifat terapan pada tiap bidang studi. Sedangakn kelemahannya, jika

terjadi perbedaan persepsi tentang nilai-nilai moral diantara para guru, maka justru

akan membingungkan siswa.

       Model ketiga, model pembelajaran moral di luar pembelajaran melalui

kegiatan ekstrakurikuler, lebih mengutamakan pengolahan dan penanaman moral

melalui kegiatan untuk membahas dan mangupas nilai-nilai hidup moral melalui

pengalaman-pengalaman konkrit, sehingga nilai-nilai moral itu tertanam dan

terhayati dalam hidupnya.

       Model keempat, model gabungan, memerlukan kerja sama yang baik

dengan pihak-pihak luar yang terkait. Kelebihan model ini, menuntut keterlibatan

banyak pihak, memerlukan banyak waktu untuk koordinasi, banyak biaya dan
                                                                             41




diperlukan kesepahaman yang mendalam, apalagi jika melibatkan pihak di luar

sekolah.

       Dari keterangan di atas, menurut hemat peneliti, metode yang dapat

digunakan dalam pendidikan moral atau budi pekerti adalah sebagai berikut:

1. Metode teladan atau uswah hasanah

2. Metode cerita atau kisah

3. Metode nasehat

4. Metode pembiasaan

5. Metode hukuman dan ganjaran

6 Metode ceramah atau khotbah

       Untuk lebih jelasnya peneliti paparkan satu persatu dari macam-macam

metode tersebut diantaranya:

a. Metode teladan atau uswah hasanah

       Metode teladan atau uswah hasanah adalah metode pengajaran dengan

cara memberikan teladan dari pihak pendidik, sehingga anak didik dapat

menyerap pengajaran secara ilmu dan amal.

b. Metode cerita atau kisah

       Yaitu dengan mengutip kisah peristiwa sejarah hidup manusia yang

menyangkut ketaatan atau kemungkarannya dalam hidup terhadap Allah. Dengan

metode ini pula kebanyakan ayat-ayat Al-Quran diturunkan.

c. Metode nasihat

       Yakni mendidik budi pekerti dengan kata-kata mutiara. Contoh untuk

metode ini adalah kisah Lukman Al Hakim dalam mendidik putranya.
                                                                          42




d. Metode pembiasaan

       Dengan membiasakan anak didik untuk berlaku akhlak al karimah

sehingga anak tersebut menjadi tabiat atau watak.

e. Metode hukuman dan ganjaran

       Yaitu dengan memberikan hukuman jika anak didik melakukan hal-hal

yang tidak sejalan dengan akhlak al karimah, atau memberikan ganjaran jika anak

didik melakukan sesuatu yang benar menurut tinjauan akhlak al karimah.

f. Metode ceramah atau khotbah

       Dari sekian banyak metode, metode ini adalah metode yang terbanyak

digunakan oleh para pendidik.

g. Metode diskusi atau mujadalah

       Dengan metode ini, pendidik melatih anak didik untuk belajar menghargai

pendapat orang lain.

       Sedangkan pendekatannya yang dapat digunakan untuk pendidikan

moral/budi pekerti adalah:

1). Pendekatan keteladanan, dengan memberikan keteladanan yang baik yang

langsung melalui penciptaan kondisi pergaulan yang akrab atas unsur-unsur

pondok. Pendidik sebagai pelaku pendidikan mencerminkan akhlak-akhlak terpuji

yang akan menjadi cerminan bagi anak didiknya.

2). Pendekatan pengalaman, yakni dengan memberikan pengalaman pada santri

sebagai peserta didik dalam rangka berperilaku sopan.
                                                                            43




3). Pendekatan pembiasaan, yakni dengan memberikan kesempatan pada santri

untuk melakukan hal-hal yang baik dan meninggalkan hal-hal yang buruk dalam

membentuk akhlak al karimah.

4). Pendekatan fungsional, yakni dengan mengajarkan akhlak dengan menekankan

pada segi kemanfaatannya bagi santri sesuai dengan tingkat perkembangannya.

         Sekaligus dalam pendidikan juga harus memilki sistem evaluasi sebagai

tolak ukur dari penyerapan ilmu yang telah diajarkan.

         Evaluasi adalah pengumpulan kenyataan secara sistematis untuk

menetapkan apakah dalam kenyataannya terjadi perubahan dalam diri siswa dan

untuk menetapkan sejauh mana tingkat perubahan dalam diri pribadi siswa.

         Evaluasi dalam kaitannya dengan pendidikan memiliki berbagai metode

dan cara diantaranya:

1). Tes Penempatan

         Adalah tes yang disajikan di awal tahun ajaran untuk mengukur kesiapan

siswa.

2). Tes Formatif

         Adalah tes yang disajikan di tengah program pengajaran untuk memantau

kemajuan hasil belajar.

3). Tes Diagnostik

         Adalah tes yang bertujuan untuk mendiagnosa kesulitan belajar agar dapat

memperoleh upaya-upaya perbaikan.

4). Tes Sumatif

         Tes jenis ini diberikan di akhir tahun akhir jenjang pendidikan.
                                                                            44




       Dengan demikian, dapat penulis simpulkan bahwa strategi pendidikan

moral atau budi pekerti menyangkut dua hal yaitu metode pendekatan dan

evaluasi.

       Dalam penyajian ini penulis juga menjelaskan dalam tentang upaya-upaya

yang harus ditempuh oleh unsur-unsur pesantren (Kyai, Guru, Pembina) dalam

mendidik moral santri adalah sebagai berikut:

1. Memberikan Uswatun Hasanah (suri tauladan yang baik)

       Metode uswatun hasanah ini penulis kira metode yang lebih tepat saat ini,

 untuk menanamkan kejiwaan dan perilaku atau budi pekerti yang luhur terhadap

 anak didik supaya tak terpengaruh oleh budaya negatif yang datang dari

 luar.Santri sebagai peserta didik yang belum mempunyai kedewasaan berfikir

 maka ia sebenarnya lebih senang mencontoh dan meniru pada orang lain. Kyai,

 guru sebagai publik figur hendaknya selalu tampil yang sesempurna mungkin

 dihadapan seorang santri , sehingga seorang santri melihat pada sisi kebaikan

 yang dimiliki oleh seorang kyai dan guru.Dengan mencerminkan akhlak atau

 moral yang baik yang dilakukan oleh seorang guru dan kyai maka dengan

 sendirinya santri atau anak didik akan menirunya.Dan juga kunci atau strategi

 seorang kyai dan guru adalah dengan ibda' bi nafsik, hendaknya seorang kyai

 dan guru mengawali dirinya dalam melakukan kebaikan maka secara tidak

 langsung sebenarnya dia telah mengajarkan akan berbuat baik pada santri.

       Dengan memberikan uswah yang baik seperti sifat sabar, istiqomah, teguh

 pendirian, wirai tidak berkata kotor, giat dalam menjalankan tugas mengajar dan

 sebagainya yang dilakukan secara kontinu maka dengan sendirinya akan
                                                                            45




 membawa santri untuk ikut kepadanya. Sehingga uswah tersebut mampu masuk

 kedalam diri dan menjadi kepribadian yang kuat. Dan menurut Ust.Mujiono

 Zaini ada tiga bentuk uswah yang harus dilakukan oleh kyai, guru kepada santri

 yakni:

a. Uswah Qouliyah

       Uswah Qouliyah berupa perkataan merupakan pemberian contoh dengan

menggunakan ucapan-ucapan yang baik.Dalam pergaulan dengan santri

hendaknya seorang guru menjaga lisannya untuk tidak mengucapkan perkataan

yang kotor dan berdusta serta jangan melarang santri tetapi dirinya melakukan.

Uswah Qouliyah juga dapat diartikan sebagai pemberian nasehat-nasehat dan

bercerita   tentang    nabi,   para   sahabat,   wali,   dan   para   ulama-ulama

terkenal.Sehingga santri dapat mengerti dan memahami untuk selanjutnya

mencontoh dan mengidolakannya.

b. Uswah Fi'liyah

       Uswah fi'liyah (contoh berupa perbuatan) yakni memberikan contoh

dengan konsisten guru dengan apa yang diucapkannya. Sebagai seorang guru

hendaknya tidak hanya bisa mengucapkan dan memerintah tetapi juga mampu

mengerjakannya, sehingga ketika seorang santri diperintah oleh kyai maupun

gurunya, ia dengan senang hati akan menerimanya. Perkataan seorang kyai

maupun guru akan mempunyai pengaruh yang sangat besar ketika dibarengi

dengan perbuatannya.
                                                                            46




c. Uswah Haliyah

       Dalam pergaulan dengan santri segala gerak dan langkah pendidik selalu

menjadi sorotan santri, maka sebagai seorang pendidik harus mampu menjaga

haliyahnya dihadapan santri.Uswah Haliyah merupakan hal yang sangat penting.

Uswah Haliyah ini meliputi segala aktifitas yang dilakukan oleh seorang pendidik,

seperti gaya berpakaian, gaya makan, gaya berjalan, dan memberikan

penghormatan pada pengasuh dan sebagainya.

       Termasuk keberhasilan Rosulullah dalam berdakwah diantaranya adalah

 menggunakan metode uswatun hasanah, sekaligus para kyai, guru, serta

 pengurus perlu meningkatkan dan mengembangkan nilai-nilai akhlaqul karimah

 dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai akhlaqul karimah yang perlu

 diaktualisasikan oleh kyai, guru serta pengurus diantaranya adalah:

a. Sikap jujur (Ashhidqu), sikap ini mengandung arti kejujuran, kebenaran,

 kesungguhan dan keterbukaan, dan juga sidqu merupakan refleksi keberadaan

 manusia yang paling otentik yang bersumber dari hati nurani (Al-qalbu) sikap

 ini sangat berguna untuk mengantisipasi dan mengatasi makin berkembangnya

 sikap manipulasi, korupsi dan kolusi di setiap tingkatan birokrasi maupun

 dibidang yang lain.

b. Sikap dapat dipercaya dan menepati janji (Al-amanah Wal-wafa' bil ahdi).

 Sikap ini mengandung arti dapat dipercaya setia dan tepat janji. Sikap yang

 demikian ini dapat memperkokoh dan menjamin integritas pribadi sebagai

 manusia sejati yang senantiasa hadir, terlibat, dipercaya, bersedia dan mampu

 memecahkan masalah-masalah sosial. Sikap demikian sangat dibutuhkan karena
                                                                              47




 persoalan yang menyangkut sosial kemasyarakatan cenderung meningkat dan

 seakan semakin sulit untuk teratasi.

c. Sikap adil (Al-adalah), yaitu bersikap dan bertindak adil dalam segala situasi.

 Sekaligus sikap adil ini penting untuk mengantarkan generasi mendatang agar

 tidak terseret dalam sikap nepotisme, monopoli, dan kesewenang-wenangan

 yang kemungkinan makin berkembang di saat leberalisme makin tak terkendali.

d. Sikap saling tolong-menolong (At-ta'awun), sikap ini merupakan inti dari

 solidaritas. Dan solidaritas ini sendiri harus dikaitkan dengan pengertian

 kebajikan (Al-birru), dedekasi, dan kredibilitas pribadi karena pada gilirannya

 nanti ia akan menjadi penyangga bagi siklus (tata kehidupan) sosial.Dalam

 menghadapi era globalisasi sangat dibutuhkan kekuatan solidaritas yang tinggi

 karena budaya indifidualistis akan semakin keras pengaruhnya ditengah-tengah

 kehidupan masyarakat modern.

e. Sikap konsisten (istiqomah) adalah nilai keajegan atau tidak bergeser dari nilai-

 nilai kebenaran berdasarkan nilai-nilai kepribadian bangsa, sosial budaya bangsa

 maupun nilai-nilai yang bersifat religius. Sikap ini sangat penting dimiliki dan

 diamalkan seorang kyai ,guru karena tugasnya menjaga nilai-nilai sosial budaya

 agar tidak luntur dan lenyap, sekaligus sebagai filter terhadap pengaruh budaya

 asing yang semakin pesat mengalir keseluruh lapisan masyarakat.

f. Sikap sabar (Ash-shobru), sebaiknya seorang kyai, guru harus menerapkan

 sikap sabar dalam mendidik, membimbing, mengasuh para santri dalam belajar

 maupun dalam menghadapi segala macam cobaan dan rintangan hidup yang

 dialaminya.dalam hal ini ulama mengatakan dalam kitab ta'limul mutallim
                                                                          48




 bahwasanya "tak bisa engkau raih ilmu tanpa memakai enam senjata yakni

 cerdas sabar dan loba dan jangan lupa mengisi saku sang guru, petunjuk guru

 dan lama masanya", salah satunya adalah sabar dan juga Allah itu menyukai

 seorang hamba yang sabar.

2. Menanamkan jiwa aqidah atau keimanan yang kuat pada anak didiknya (santri),

 sebab dengan iman yang yang kuat pada akhirnya nanti tidak mudah

 terpengaruh, tergiur atau terbius oleh keindahan dunia apalagi perkara-perkara

 yang maksiat pada allah SWT. Sebab iman tidaklah berati kalau hanya percaya

 dan tidak membantah, akan tetapi iman hakikatnya adalah kombinasi antara

 athifah, fikriyah dan irodah yang menggerakkan hati untuk mengerjakan

 kebaikan yang dapat memberikan kemaslahatan bagi individu pada khususnya

 dan orang banyak pada umunya. Karena mereka merasa meyakini bahwa Allah

 SWT, senantiasa mengetahui segala perbuatan yang mereka lakukan baik di

 tempat yang sunyi maupun ditempat yang ramai. Dengan keyakinan seperti

 inilah mereka merasa bahwa segala amal perbuatannya dan ucapannya merasa

 selalu dipantau oleh Alloh SWT. Yang akhirnya mereka sangat berhati-hati

 dalam berbuat dan melangkah karena mereka khawatir kalau perbuatannya

 melanggar ajaran Allah SWT. Oleh karena itu rupanya yang perlu ditekankan

 pada saat sekarang ini oleh pondok pesantren adalah menanamkan aqidah atau

 keimanan terhadap anak didiknya, Insya Allah dengan keimanan dan aqidah

 yang kuat mereka akan selamat dari pengaruh-pengaruh negatif yang sudah

 banyak menyimpang dari ajaran syari'at agama Islam.
                                                                                  49




3. Meningkatkan kegiatan-kegiatan spiritual keagamaan untuk taqarrub atau

 mendekatkan diri pada Allah SWT, seperti: sholat wajib lima waktu berjamaah,

 wirid, manaqib, tahlil, istighotsah, diba' sholat lail (tahajjud, hajat) dan lain-lain,

 dan tirakat-tirakat lainnya. Dengan tujuan untuk melatih para santri agar gemar

 melakukan ibadah atau amal-amal sholeh mendekatkan diri pada Allah SWT

 dan meningkatkan ketaqwaan atau rasa takut mereka pada Allah SWT. Dengan

 kedekatan hati mereka pada Allah, Insya' Allah mereka akan mampu

 menetralisir dan menjauhkan diri dari pengaruh budaya negatif yang sudah

 menyimpang atau bertentangan dengan ajaran Islam.

4. Membuat Tradisi

       Membuat tradisi merupakan terjemahan dari pendekatan kebiasaan, yakni

 dengan memberikan kesempatan pada santri untuk melakukan yang baik dan

 meninggalkan perkara yang tidak baik dalam membentuk moral atau akhlak

 santri. Sekaligus lingkungan adalah salah satu faktor yang sangat memberikan

 pengaruh terhada seorang indifidu.Sehingga sebagai upaya untuk menciptakan

 tradisi yang baik, sehingga tradisi tersebut menjadi kebudayaan,dan ternyata

 salah satu upaya inilah yang ternyata sangat efektif dalam membentuk moral

 atau akhlak santri yang baik.Dan sebenarnya dalam pembentukan akhlak atau

 moral santri tidak hanya kita memberikan ilmu pengetahuan dan uswah saja

 tetapi kita juga harus menciptakan tradisi atau budaya pesantren yang baik,

 seperti budaya mengormati guru dan pengasuh, orang tua, menghargai sesama

 teman sikap saling tolong menolong dan, menciptakan budaya membaca dan

 muthola'ah pelajaran, takror (mengulang-ulang pelajaran) dan lain sebagainya
                                                                                    50




     Maka sebagai upaya untuk membentuk moral atau budi pekerti yang baik adalah

     dengan menciptakan tradisi yang baik pula. Dan juga seorang santri akan lebih

     cepat dapat mengamalkan ilmunya ketika lingkungan mendukungnya.20

5. Memberikan Doktrin

      Metode ini adalah aplikasi dari hukuman dan ganjaran yang diterapkan dalam

sebuah peraturan. Yang pada akhirnya mampu menjadikan santri memiliki sebuah

nilai-nilai yang tidak ada diselain pesantren. Pesantren mempunyai nilai-nilai

yang berbeda dengan lembaga pendidikan lain, dimana seorang pengasuh

mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kemajuan pesantren, begitupun

terhadap pendidikan budi pekerti atau akhlak seorang santri. Sekaligus

pembentukan nilai-nilai kepesantrenan dalam diri seorang santri adalah dengan

memberikan doktrin-doktrin tentang nilai-nilai yang harus dimiliki oleh santri,

doktrin-doktrin tersebut tertuangkan dalam peraturan pesantren yang berupa

kewajiban dan larangan santri. Dengan adanya doktrin yang kuat aklan nilai-nilai

pesantren diharapkan akan menjadi kebiasaan pada diri seorang santri, sehingga

dengan sendirinya akan menjadi senyawa dalam diri seorang santri.

      Dan nilai-nilai yang ada dipesantren tersebut diharapkan dapat diterima oleh

santri sehingga haruslah dibangun sebuah kesadaran. Kesadaran tersebut berawal

dari adanya doktrin mengenai larangan dan kewajiban santri.

6.Membangun kedewasaan

          Membangun kedewasaan disini adalah aplikasi dari pendekatan funsional,

dimana santri diajarkan untuk memahami aspek kemanfaatan (fungsi) dari sebuah

  Taufiq Hindayantoni Pendidikan Budi Pekerti Di Pondok Pesantren Manba'ul Ma'arif Skripsi
STAI-BU 2008,Hal:60-66
20
                                                                             51




akhlak. Sehingga diharapkan santri mampu untuk memilah dan memilih suatu hal

yang positif dan negatif untuk kemudian menjadi sebuah kepribadian.

       Kepribadian yang kuat dapat dibangun dengan menumbuhkan kedewasaan

pada diri santri. Kedewasaan ini terlihat dari ketaatan terhadap aturan-aturan dan

kegiatan yang ada di pondok pesantren, sehingga dengan timbulnya kedewasaan

maka dengan sendirinya akan membentuk sebuah kepribadian. Sekaligus

kedewasaan itu terbangun dengan melatih kesadaran akan norma-norma dan nilai

baik dan buruk. Melatih kesadaran santri terhadap aturan adalah dengan

menjelaskan arti penting aturan dan nilai-nilai yang dibuat, sehingga aturan

tersebut tidaklah menjadi penjara tetapi menjadi pondasi diri untuk hidup lebih

teratur dan disiplin. Langkah inilah yang ternyata sedang dicoba untuk

membangun kedisiplinan santri.

7. Membangun Komunikasi

       Dalam hal ini peneliti melihat bahwa interaksi antara seorang santri

berjalan 24 jam dalam sehari semalam. Dan dalam interaksi tersebut pendidik

selalu membaur dengan santri. Ketika dalam bergaul seringkali seorang guru

mengkomunikasikan tentang nilai-nilai yangbaik terhadap santrinya, sehingga

kegiatan apapun akan bernilai ilmu. Dengan berinteraksi langsung seorang guru

akan mudah mengetahuim karakter masing-masing santri. Dari karakter yang

berbeda ini kemudian guru mengkomunikasikan tentang nilai-nilai pesantren

sehingga dengan sendirinya ia mengetahui dan mengerti. Dengan terbangunnya

komunikasi yang baik dengan santri maka akan mudah bagi seorang pendidik

memberikan nasehat-nasehat kepada santri. Metode ini rupanya lebih berhasil
                                                                                     52




daripada ceramah atau pengajian lainnya. Karena santri lebih rileks sehingga lebih

mudah memahami apa yang disampaikan oleh guru.



D. Evaluasi Dalam Pendidikan Moral Di Pondok Pesantren

       Pelaksanaan Pendidikan moral atau budi pekerti sebagaimana dijelaskan

oleh penulis diatas bahwa pelaksanaan pendidikan moral atau budi pekerti di

pondok pesantren dilaksanakan dua model yakni:

1. Model mata pelajaran tersendiri

2. Model diluar pelajaran

       Penulis menemukan bahwa evaluasi pendidikan moral atau budi pekerti di

pondok pesantren dilaksanakan dalam dua bentuk yakni:

1. Tes Formatif yakni dengan mengevaluasi hasi belajar setiap selesai jam

   pelajaran, atau dengan cara muhafadhoh (menghafalkan) yang disetorkan

   setiap santri pada masing-masing guru.

2. Tes Sumatif, yakni dengan pelaksanaan ujian bersama yang dimotori oleh

   lembaga non formal yakni madrasah diniyah pada umumnya disetiap tiga

   bulan sekali.

       Sedangkan untuk evaluasi pendidikan moral atau budi pekerti di pondok

pesantren dengan model pengajaran kedua yakni melalui rapat diantara pengurus

pondok pesantren.21




   Taufiq Hindayantoni, Pendidikan Budi Pekerti Di Pondok Skripsi STAI-BU 2008,hal: 63-6421
                                                                                Pesantrenf
                                                                             53




E. Implikasi Pendidikan Moral Di Pondok Pesantren

       Dari paparan diatas penulis akan memaparkan implikasi atau hasil dari

strategi pendidikan moral di pesantren diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Akhlak Santri Terhadap Allah SWT

       Pondok pesantren merupakan lembaga untuk tafaqquh fiddin, yang

didalamnya mempelajari tentang berbagai ilmu, khususnya ilmu agama yang

didalamnya terdapat hal-hal yang mengatur tentang hubungan manusia dengan

Allah SWT,dan kaitannya dengan ini peneliti menemukan beberapa bentuk

kegiatan yang terkait dengan moral atau akhlak santri terhadap Allah SWT,

diantaranya adalah:

1. Melakukan sholat berjamaah lima waktu

2. Istighotsah

3. Tahlil

4. Manaqib

5. Dhiba' dan lain-lain.

       Sekaligus santri dipondok pesantren tidak hanya ngaji dan memaknai kitab

saja tetapi santri harus ada usaha bathin yang dilakukan yakni mengistiqomahkan

berpuasa sunnah sepert puasa senin dan kamis, qiyamul lail ( ibadah malam hari )

dan menjaga diri dari perbuatan yang dapat membawa pada santri lupa dengan

kewajibannya.
                                                                           54




2. Akhlak kepada Rosul

          Yakni mengimani menpelajari dan mengamalkan terhadap apa yang

disampaikan oleh nabi adalah sesuatu yang hak, yang harus diikuti oleh seluruh

umat Islam.

3. Moral atau budi pekerti santri pada diri sendiri.

          Terkait dengan moral dan akhlak santri pada diri sendiri peneliti

menemukan beberapa moral budi pekerti yang dimiliki oleh santri diantaranya

adalah:

1. Kedisiplinan

          Kaitanya dengan ini penulis menemukan fakta beberapa kedisiplinan yang

dilakukan oleh santri antara lain, disiplin jamaah sholat, berangkat sekolah,

disiplin mengaji dan lain sebagainya.

2. Kesabaran

          Kaitanya dengan kesabaran sungguh sangat penting karena menjadi salah

satu kunci keberhasilan seorang santri dalam mencapai suatu tujuan, dalam hal

ini KH. Jamaluddin Ahmad pernah bercerita bahwasanya ada seorang santri dari

Probolinggo mondok di Tambakberas dan sekolah di MI sampai beberapa tahun

dia tidak pernah naik kelas bahkan sampai teman sekelas diwaktu MI sudah keluar

dan tamat dari Mu'allimin dia masih saja dibangku MI, tapi karena kesabarannya

dalam belajar dan mengabdi dipesantren dia kemudian dipanggil oleh kyai Wahab

agar supaya pulang kata kyai Wahab kamu sudah cukup mondok di Tambakberas,

dan kyai Wahab bilang, Insya' Allah kamu jadi orang yang alim, akhirnya dia

pulang kekampung halamannya, dan dia sekarang menjadi berhasil dan menjadi
                                                                            55




kyai yang mempunyai santri kurang lebih 2000 santri.itu karena kesabaran dan

ketekunannya dalam mengabdi dan menuntut ilmu di pondok pesantren.22

3. Istiqomah

          Keistiqomahan merupakan satu hal yang sangat ditekankan didalam

pondok pesantren karena mereka melihat bahwa disamping kedisiplinan,

keistiqomahan merupakan kunci utama keberhasilan belajar santri. Dan peneliti

melihat bahwa banyak santri yang memiliki keistiqomahan dan kedisiplinan

karena selalu dicerminkan oleh sosok kyai atau pengasuh yang istiqomah

pula.disamping itu santri berkeyakinan bahwa istiqomah adalah pangkalnya

karomah. Disamping beberapa sifat tersebut juga ada yang dimiliki oleh santri

seperti sifat ikhlas, qona'ah, tawakkal, dan lain sebagainya.

4. Akhlak/Budi Pekerti Santri Terhadap Guru

          Hubungannya dengan guru peneliti menemukan dua budi pekerti santri

yang ada di pondok pesantren yakni:

1. Taat/ Patuh

          Santri di pondok pesantren secara keseluruhan memiliki ketaatan dan

kepatuhan yang lebih terhadap gurunya. Karena mereka beranggapan bahwa

kemanfaatan ilmu tergantung dengan keridhoan dari seorang guru, dan sebagai

jalan mendapatkan keridloannya adalah dengan jalan taat/ patuh terhadap

gurunya.Mereka yakin bahwa apa yang diperintahkan gurunya pasti memiliki

kebaikan walaupun tidak terlihat secara langsung. Peneliti melihat bahwa santri

memiliki sifat ringan tangan ketika ia diminta tolong oleh kyai/ gurunya.


22
     Responden: KH Jamaluddin Ahmad, Jombang 1 Maret 2010
                                                                            56




2. Tawadhu' / Andap Ashor

       Santri pondok pesantren secara keseluruhan mempunyai atau memiliki

sifat tawadhu' yang sangat besar terhadap gurunya terlebuh kepada pengasuh.

Dalam sifat tawadhu' ini peneliti menemukan dari beberapa bentuk penghormatan

santri sebagai rasa tawadhu'nya terhadap kyai dan gurunya antara lain:

a. Santri memiliki kebiasaan mencium tangan kyai dan gurunya.

b. Tidak menatap wajah guru ketika berhadapan.

c. Menundukkan kepala ketika berada didepan gurunya.

d. Suaranya lebih rendah ketika berbicara dengan gurunya.

e. Menggunakan bahasa yang sopan ketika berbicara

       Tetapi peneliti juga melihat bahwa ada santri yang berani dengan gurunya,

tetapi keberanian tersebut sebatas penolakan terhadap perintah guru yang sifatnya

emosi sesaat seperti terlihat setelah menerima ta'ziran atau hukuman dari seorang

kyai/ guru ketika ia melanggar tata tertib pondok pesantren.

       Pada sisi lain peneliti menemukan bahwa ada semacam dikotomi

(perbedaan) antara guru yang mengajar mata pelajaran umum yang berada di

sekolah formal dengan guru yang mengajar fan agama. Ini terlihat dari bentuk

penghormatan dan ketawadhu'an seorang santri terhadap guru tersebut. Santri

lebih memiliki penghormatan yang lebih terhadap guru fan agama karena mereka

lebih memiliki ta'alluq (hubungan) yang sangat besar.Dan begitu sebaliknya guru

pada pendidikan formal dihormati tetapi penghormatan terhadap mereka kurang

karena mereka merasa kurang memiliki ta'alluq (hubungan) terhadap guru

tersebut.
                                                                                     57




5. Akhlak/Budi Pekerti Santri Terhadap Sesama Teman

        Dalam hal ini santri pondok pesantren memiliki rasa senasib seperjuangan,

sehingga peneliti melihat mereka memiliki hubungan yang sangat erat antara satu

dengan yang lainnya.Budi pekerti yang muncul disini adalah bahwa santri tidak

merasa dirinya paling kaya, dan juga paling benar, tetapi merasa sama sebagai

santri yang sedang menuntut ilmu.

        Budi pekerti santri terhadap sesama disini peneliti melihat bahwa santri

memiliki sifat akhlak diantaranya:

1. Jiwa saling tolong menolong

2. Jiwa sosial

3. Tidak sombong dan tidak angkuh

4. Dan tidak mengganggu

        Tetapi peneliti juga melihat bahwa ada juga santri yang memiliki sifat

sombong dan individualis tetapi jumlahnya tidak banyak.

        Demikian paparan atau penjelasan dan analisis data tentang implikasi atau

hasil dari strategi pendidikan moral atau budi pekerti di pondok pesantren.23




23
 Sugiyanta, Akhlak Santri Dalam Abad 21 Studi Kasus Di Pondok Pesantren Manba'ul Maarif
Denanyar Jombang Skripsi 2002,
                                                                               58




                               BAB IV

                             PENUTUP



A. Kesimpulan

     Paparan    dan pembahasan penelitian ini telah diuraikan dimuka dengan

panjang lebar, maka dari jabaran tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut:

     Pesantren mempunyai karakteristik atau budaya yang tersendiri yang

mungkin tidak dimiliki oleh masyarakat atau lembaga-lembaga pendidikan

lainnya. Seperti pesantren mempunyai lima elemen yang tidak dapat dipisahkan,

yaitu pondok atau asrama, masjid atau musholla, pengajaran kitab-kitab klasik

(kitab kuning), santri dan kyai. Dan juga pesantren mempunyai ciri-ciri khas yang

juga tidak dimiliki oleh lembaga-lembaga lainnya seperti adanya hubungan yang

akrab antara santri dan kyai, santri taat patuh pada kyainya, para santri hidup

secara mandiri dan sederhana, adanya semangat gotong royong dalam penuh

persaudaraan yang tidak membedakan satu dengan lainnya, serta berlatih hidup

dengan disiplin dan tirakat, dan juga pesantren pada umumnya mempunyai visi

dan misi yaitu membentuk atau mencetak manusia yang:

       a. Bertaqwa pada Allah SWT dan taat menjalankan syari'at agama Islam.

       b. Berperangai manusia yang terpuji.

       c. Berbudi luhur berbadab sehat, berpengetahuan luas dan berpikir bebas.

       d. Berguna bagi masyarakat agama nusa dan bangsa.

       e. Dan bahagia lahir bathin dunia akhirat.
                                                                       59




        Walaupun begitu karakteristik dan budaya yang ada dipesantren ini

ternyata juga masih bisa dipengaruhi oleh budaya yang datang dari luar.

Memang pesantren tidak harus staknasi atau jalan ditempat tanpa mau

melihat dan mengetahui dan mengadakan perubahan-perubahan atau

perkembangan yang sesuai dengan perkembangan zaman yang ada dalam

era sekarang ini. Sebab cita-cita santri sekarang ini tidak sama dengan cita-

cita santri zaman dulu. Maka dari itu pesantren harus mampu mengubah

masa depannya, bukan hanya mampu mencetak kyai, ahli dakwah, ahli

tafsir, ahli hadits, ahli membaca kitab kuning dan lain sebagainya, akan

tetapi mampu mencetak cendekiawan-cendekiawan muslim yang mampu

menghadapi        dan   menyelesaikan   permasalahan-permasalahan       atau

problema yang terjadi dalam masyarakat pada zaman yang berkembang

pesat saat ini.

Akhlak santri sekarang ini mengalami kemunduran dibanding akhlak

santri zaman dulu, seperti kesadaran dan kesemangatan untuk melakukan

ibadah kepada Allah serta melaksanakan kebajikan-kebajikan lainnya

misalnya tolong-menolong, hidup gotong royong, juga melaksanakan

aktifitas-aktifitas sehari-hari seperti sekolah, mengaji, jamaah sholat

fardhu lima waktu dan kegiatan lainnya tergolong masih sangat rendah.

Sebab mereka dalam melaksanakan aktifitas tersebut belum mampu

muncul dari nalurinya masing-masing tetapi masih menggantungkan

motifasi dan pengawasan para kyai, guru atau pengurus. Begitu juga

aqidah atau keimanannya tergolong masih lemah. Mereka masih mudah
                                                                              60




       terombang-ambing atau terbawa arus serta terpengaruh oleh budaya-

       budaya yang datang dari luar.lain daripada itu masih banyak pula sifat-

       sifat terpuji yang harus ditanamkan pada diri santri sekarang ini yang rupa-

       rupanya sifat terpuji tersebut belum dapat melekat pada kepribadian santri

       atau masih terbilang rendah sekali santri dalam mengamalkannya.Adapun

       sifat terpuji yang perlu lebih diaktualisasikan dan ditanam pada diri santri

       adalah:

          -      Sikap jujur

          -      Sikap dapat dipercaya

          -      Sikap adil.

          -      Sikap suka tolong menolong-menolong.

          -      Sikap konsisten atau istiqomah.

       Sikap-sikap inilah yang kiranya sangat perlu diperhatikan oleh berbagai

       kalangan, sebab pada zaman sekarang ini sangat sedikit bahkan dapat

       dikatakan langka, orang-orang yang masih konsisten untuk mengamalkan

       atau melaksanakan sikap-sikap diatas.



B. Saran-saran

     Berangkat dengan adanya kemajuan sains dan tehnologi yang semakin pesat

dan cepat serta mampu membentuk kecenderungan pola kehidupan yang baru

yaitu sikap hidup materialistik, indifidualitas, dan pergaulan bebas dikalangan

remaja, yang dimana pola kehidupan yang baru ini mampu mempengaruhi serta

menggeser karakter santri dan budaya yang ada dipondok pesantren, maka dengan
                                                                            61




ini disini penulis dengan rendah hati dan tidak mengurangi rasa tawadhu' dan

hormat penulis menyarankan terhadap berbagai pihak terutama para pengelola

pesantren perlu meningkatkan peranannya baik dalam bidang pengajaran yang

menekankan aspek intelektual, dan penalaran maupun bidang pendidikan yang

lebih memperhatikan aspek sspiritual dan moralitas terhadap anak didik.

     Dalam rangka menciptakan seorang santri yang baik, dalam bidang

pendidikan kyai dan guru perlu lebih mengaktualisasikan nilai-nilai akhlakul

karimah atau memberikan uswatun hasanah dalam kehidupan sehari-hari. Adapun

nilai-nilai akhlakul karimah yang perlu lebih diaktualisasikan oleh kyai dan guru

dan juga ditanamkan pada jiwa santri adalah:

1. Sikap jujur

2. Sikap dapat dipercaya dan menepati janji

3. Sikap adil

4. Sikap suka tolong-menolong

5. Sikap konsisten (Istiqomah)

     Dan tidak kalah pentingnya agar supaya para kyai dan guru menanamkan

aqidah atau keimanan yang kuat pada jiwa santri, bisa dengan memberi nasehat

yang baik atau dengan dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat

mendekatkan diri pada Alloh SWT.Sekaligus setelah mengamati betapa besarnya

tugas yang diemban oleh seorang kyai/pemangku pesantren secara otomatis

menuntut kepada para pemangku pesantren untuk senantiasa intens serta sabar

dalam membina, membimbing, mengarahkan, menasehati dan lain sebagainya.

Dengan cara inilah mudah-mudahan para santri bisa selamat dari pengaruh-
                                                                       62




pengaruh negatif yang datang dari luar yang sudah banyak menyimpang dari

ajaran agama Islam dan juga mudah-mudahan pesantren mampu mencetak

generasi penerus yang bertaqwa kepada Allah SWT, berpengetahuan luas,

beramal sholeh dan berakhlakul karimah, serta bermanfaat bagi agama nusa dan

bangsa amin 3x yaarobbal aalamiin.

     Demikianlah saran-saran dengan iringan do'a yang dapat kami sampaikan

mudah-mudahan bermanfaat dan barokah baik didunia maupun diakhirat.amin x3

yaa robbal aalamiin.
                                                                       63




                         DAFTAR PUSTAKA



Drs. Suismanto M.Ag, 2004 Menelusuri Jejak Pesantren, Alief Pres
          Yogjakarta
Zamakhsari Dhofier,1990 Tradisi Pesantren, Studi Tentang Pandangan
          Hidup Kyai LP3ES Jakarta
H.M.Romli Arif, 2004 Kuliah Akhlak Tasawuf I, BMT Mu'amalah IKAHA
          Tebuireng Jombang.
Hanun Asrohah, M.Ag, 2001 Sejarah Pendidikan Islam
Azizah Hefni Dkk, 2005 Menengok Kembali Relefansi Pesantren Sebagai
          Lembaga Pendidikan Moral, Makalah MAK-BU
Sugiyanta, 2001/2002. Akhlak Santri Dalam Abad 21 , Studi Kasus Di
          Pondok Pesantren Manba'ul Ma'arif Denanyar Jombang
Taufik Hindayantoni, 2008 Pendidikan Budi Pekerti Di Pondok Pesantren
          Manba'ul     Ma'arif   Denanyar   Jombang   ,Skripsi     STAI-BU
          Jombang,
Syamsul Huda, M. Fil, eLKAF. 2002 Kultus Kyai Sketsa Tradisi Pesantren,
Aminatuz Zuhriyah, 2005/2006 Peran Sekolah dalam Membentuk Moral
          (makalah) MAK-BU Tambakberas Jombang
Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A. 2001         Pendidikan Islam     Tradisi dan
Modernisasi Menuju Milenium Baru, Ciputat Indah Permai, Kalimah
                 Dr.Husni Rahim, 2001 Arah Baru Pendidikan Islam Di
Indonesia Ciputat. PT.Logos Wacana Ilmu
Drs.H.Aliy As'ad.1978, Terjemah Ta'limul Muta'allim. Bimbingan bagi
          Penuntut Ilmu Pengetahuan, Menara Kudus
Mastuhu, 1994. Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren. Jakarta: INIS
Depag RI. 1992, Al-Qur'an Dan Terjemahnya, (Bandung, Gema Risalah Pres
          Bandung

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:5751
posted:6/4/2010
language:Indonesian
pages:63
Description: PERANAN PESANTREN DAN PENGEMBANGAN