Docstoc

KUMPULAN GESTALT

Document Sample
KUMPULAN GESTALT Powered By Docstoc
					                            Artikel Psikologi Perkembangan


« Kembali ke Kategori



Author : Dennis Adrian
Published : 2009/04/13 23:08:44
Category : Psikologi
Sub Category : Psikologi Perkembangan

Comment

   |


                                        Teori Gestalt



Gestalt adalah sebuah teori yang menjelaskan proses persepsi melalui
pengorganisasian komponen-komponen sensasi yang memiliki hubungan, pola, ataupun
kemiripan menjadi kesatuan. Teori gestalt beroposisi terhadap teori strukturalisme.
Teori gestalt cenderung berupaya mengurangi pembagian sensasi menjadi bagian-
bagian kecil.


Teori ini dibangun oleh tiga orang, Kurt Koffka, Max Wertheimer, and Wolfgang Köhler.
Mereka menyimpulkan bahwa seseorang cenderung mempersepsikan apa yang terlihat
dari lingkungannya sebagai kesatuan yang utuh.



Teori Belajar Gestalt

       Perintis teori Gestalt ini ialah Chr. Von Ehrenfels, dengan karyanya “Uber
Gestaltqualitation“ (1890). Aliran ini menekankan pentingnya keseluruhan yaitu
 sesuatu yang melebihi jumlah unsur-unsurnya dan timbul lebih dulu dari pada bagian-
bagiannya. Pengikut-pengikut aliran psikologi Gestalt mengemukakan konsepsi yang
berlawanan dengan konsepsi aliran-aliran lain . Bagi yang mengikuti aliran Gestalt
perkembangan itu adalah proses diferensiasi. Dalam proses diferensiasi itu yang primer
ialah keseluruhan , sedangkan bagian –bagiannya adalah sekunder; bagian-bagian
hanya mempunyai arti sebagai bagian dari pada keseluruhan dalam hubungan
fungsional dengan bagian-bagian yang lain ; keseluruhan ada terlebih dahulu baru
disusul oleh bagian-bagiannya. Contohnya kalau kita bertemu dengan seorang teman
misalnya, dari kejahuan yang kita saksikan terlebih dahulu bukanlah bajunya yang baru
, melainkan teman kita itu secara keseluruhan selanjutnya baru kemudian kita saksikan
adanya hal-hal khusus tertentu misalnya baju yang baru.

       Selanjutnya Wertheimer, seorang yang di pandang pendiri aliran ini
mengemukakan eksperimennya mengenai                 “Scheinbewegung“ (gerak semu)
memberikan kesimpulan, bahwa pengamatan mengandung hal yang melebihi jumlah
unsur-unsurnya. Penelitian dalam bidang optik ini juga di pandang berlaku ( kesimpulan
serta prinsip-prinsipnya ) di bidang lain, seperti misalnya di bidang belajar.

Pokok-pokok Teori Belajar Gestalt

Psikologi Gestalt bermula pada lapangan pengamatan ( persepsi ) dan mencapai
sukses yang terbesar juga dalam lapangan ini. Demonstrasinya mengenai peranan
latar belakang dan organisasinya terhadap proses-proses yang diamati secara
fenomenal demikian meyakinkan sehingga boleh dikatakan tidak dapat di bantah.

Ketika para ahli Psikologi Gestalt beralih dari masalah pengamatan ke masalah belajar,
maka hasil-hasil yang telah kuat / sukses dalam penelitian mengenai pengamatan itu
dibawanya dalam studi mengenai belajar . Karena asumsi bahwa hukum –hukum atau
prinsip-prinsip yang berlaku pada proses pengamatan dapat ditransfer kepada hal
belajar, maka untuk memahami proses belajar orang perlu memahami hukum-hukum
yang menguasai proses pengamatan itu.

Pada pengamatan itu menekankan perhatian pada bentuk yang terorganisasi (organized
form) dan pola persepsi manusia . Pemahaman dan persepsi tentang hubungan-
hubungan dalam kebulatan (entities) adalah sangat esensial dalam belajar. Psikologi
Gestalt ini terkenal juga sebagai teori medan (field) atau lazim disebut cognitive field
theory. Kelompok pemikiran ini sependapat pada suatu hal yakni suatu prinsip dasar
bahwa pengalaman manusia memiliki kekayaan medan yang memuat fenomena
keseluruhan lebuh dari pada bagian- bagiannya.

   Keseluruhan ini memberikan beberapa prinsip belajar yang penting, antara lain :

   1.   Manusia bereaksi dengan lingkunganya secara keseluruhan, tidak hanya secara
        intelektual, tetapi juga secara fisik, emosional,sosial dan sebagainya
   2.   Belajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungan.
   3.   Manusia berkembang sebagai keseluruhan sejak dari kecil sampai dewasa,
        lengkap dengan segala aspek-aspeknya.
   4.   Belajar adalah perkembangan kearah diferensiasi ynag lebih luas.
   5.   Belajar hanya berhasil, apabila tercapai kematangan untuk memperoleh insight.
   6.   Tidak mungkin ada belajar tanpa ada kemauan untuk belajar, motivasi membei
        dorongan yang mengerakan seluruh organisme.
   7.   Belajar akan berhasil kalau ada tujuan.
   8.   Belajar merupakan suatu proses bila seseorang itu aktif, bukan ibarat suatu
        bejana yang diisi.

Belajar sangat menguntungkan untuk kegiatan memecahakan masalah. Hal ini
nampaknya juga relevan dengan konsep teori belajar yang diawali dengan suatu
pengamatan. Belajar memecahkan masalah diperlukan suatu pengamatan secara
cermat dan lengkap. Kemudian bagaiman seseorang itu dapat memecahknan masalah
mrnurut J. Dewey ada 5 upaya pemecahannya yakni:

   1.   Realisasi adanya masalah. Jadi harus memehami apa masalahnya dan juga harus
        dapat merumuskan
   2.   Mengajukan hipotesa, sebagai suatu jalan yang mungkin memberi arah
        pemecahan masalah.
   3.   Mengumpulkan data atau informasi, dengan bacaan atau sumber-sumber lain.
   4.   Menilai dan mencobakan usah pembuktian hipotesa dengan keterangan-
        keterangan yang diperoleh.
   5.   Mengambil kesimpulan, membuat laporan atau membuat sesuatu dengan hasil
        pemecahan soal itu.

Teori medan ini mengibaratkan pengalaman manusia sebagai lagu atau melodi yang
lebih daripada kumpulan not, demikian pila pengalaman manusia tidak dapat dipersepsi
sebagai sesuatu yang terisolasi dari lingkungannya. Dengan kata lain berbeda dengan
teori asosiasi maka toeri medan ini melihat makna dari suatu fenomena yang relatif
terhadap lingkungannya. Sesuatu dipersepsi sebagai pendek jika objek lain lebih
panjang. Warna abu-abu akan terlihat lebih cerah pada bidang berlaatr belakang hitam
pekat. Warna abu-abu akan terliaht biru pada latar berwarna kuning.

Belajar melibatkan proses mengorganisasikan pengalaman-pengalaman kedalam pola-
pola yang sistematis dan bermakna. Belajar bukan merupakan penjumalahan (aditif),
sebaliknya belajar mulai dengan mempersepsi keseluruhan, lambat laun terjadi proses
diferensiasi, yakni menangkapbagian bagian dan detail suatu objek pengalaman.
Dengan memahami bagian / detail, maka persepsi awalakan keseluruhan objek yang
semula masih agak kabur menjadi semakin jelas. Belajar menurut paham ini merupakan
bagian dari masalah yang lebih besar yakni mengorganisasikan persepsi kedalam suatu
struktur yang lebih kompleks yang makin menambah pemahaman akan medan. Medan
diartikan sebagaikeseluruhan dunia yang bersifat psikologis. Seseorang meraksi
terhadap lingkungan seauai dengan persepsinya terhadap lingkungan pada saat
tersebut. Manusia mempersepsi lingkungan secara selektif, tidak semua objek masuk
kedalam fokus persepsi individu, sebagian berfungsi hanya sebagai latar.

Tekanan ke-2 pada psikologi medan ini adalah sifat bertujuan dari prilaku manusia.
Individu menetaokan tujuan berdasarkan tilikan (insight) terhadap situasi yang
dihadapinya. Prilakunya akan dinilai cerdas atau dungu tergantung kepada memadai
atau tidaknya pemahamanya akan situasi.
Hukum-Hukum Belajar Gestalt

Dalam hukum-hukum belajar Gestalt ini ada satu hukum pokok , yaitu hukum Pragnaz,
dan empat hukum tambahan (subsider) yang tunduk kepada hukum yang pokok
itu,yaitu hukum –hukum keterdekatan , ketertutupan, kesamaan , dan kontinuitas.

   1. Hukum Pragnaz

      Hukum Pragnaz ini menunjukkan tentang berarahnya segala kejadian , yaitu
   berarah kepada Pragnaz itu, yaitu suatu keadaan yang seimbang, suatu Gestalt
   yang baik. Gestalt yang baik , keadaan yang seimbang ini mencakup sifat-sifat
   keturunan, kesederhanaan ,kestabilan, simetri dan sebagainya.

       Medan pengamatan, jadi juga setiap hal yang dihadapi oleh individu, mempunyai
   sifat dinamis, yaitu cendrung untuk menuju keadaan Pragnaz itu , keadaan
   seimbang . Keadaan yang problematis adalah keadaan yang tidak Pragnaz, tidak
   teratur, tidak sederhana, tidak stabil, tidak simetri , dan sebagainya dan pemecahan
   problem itu ialah mengadakan perubahan kedalam struktur medan atau hal itu
   dengan memasukkan hal-hal yang dapat membawa hal problematis ke sifat
   Pragnaz.

   2. Hukum-hukum tambahan

        Ahli-ahli psikologi Gestalt telah mengadakan penelitian secara luas dalam
   bidang penglihatan dan akhirnya mereka menemukan bahwaobjek-objek
   penglihatan itu membentuk diri menjadi Gestalt-gestalt menurut prinsip-prinsip
   tertentu. Adapun prisip-prinsip tersebut dapat dilihat pada hukum-hukum, yaitu :

   1.   Hukum keterdekatan
   2.   Hukum ketertutupan
   3.   Hukum kesamaan

         Selain dari hukum-hukum tambahan tersebut menurut aliran teori belajar
gestalt ini bahwa seseorang dikatan belajar jika mendapatkan insight. Insight ini
diperoleh kalau seseorang melihat hubungan tertentu antara berbagai unsur dalan
situasi tertentu. Dengan adanya insight maka didapatlah pemecahan problem,
dimengertinya persoalan; inilah inti belajar. Jadi yang penting bukanlah mengulang-
ulang hal yang harus dipelajari, tetapi mengertinya, mendapatkan insight. Adapun
timbulnya insight itu tergantung

a. Kesangupan

   Maksudnya kesanguapan atau kemampuan intelegensi individu.

b. Pengalaman
   Karena belajar, berati akan mendapatkan pengalaman dan pengalaman itu
   mempermudah munculnya insght.

c. Taraf kompleksitas dari suatu situasi.

   Dimana semakin komplek situasinya semakin sulit masalah yang dihadapi.

d. Latihan

   Dengan banyaknya latihan akan dapat mempertinggi kesangupan memperoleh
   insight, dalam situasi-situasi yang bersamaan yang telah dilatih .

e. Trial and eror

   Sering seseorang itu tidak dapat memecahkan suatu masalah. Baru setelah
   mengadakan percobaan-percobaan, sesorang itu dapat menemukan hubungan
   berbagai unsur dalam problem itu, sehingga akhirnya menemukan insight.

Menurut Hilgard(1948 : 190-195) memberikan enam macam sifat khas belajar dengan
insight :

1. Insight termasuk pada kemampuan dasar

  Kemampuan dasar berbeda-beda dari individu yang satu ke individu yang lain. Pada
umumnya anak yang masih sangat muda sukar untuk belajar dengan insight ini.

2. Insight itu tergantung pengalaman masa lampau yang relevan.

3. Insight tergantung kepada pengaturan secara eksperimental

4. Insight itu didahului oleh suatu periode coba-coba

5. Belajar dengan insight itu dapat diulangi

6. Insight yang telah sekali didapatkan dapat dipergunakan untuk menghadapi situasi-
    situasi yang baru



Teori gestalt banyak dipakai dalam proses desain dan cabang seni rupa lainnya, karena
banyak menjelaskan bagaimana persepsi visual bisa terbentuk. Persepsi jenis ini bisa
terbentuk karena:

   1.   Kedekatan posisi (proximity)
   2.   Kesamaan bentuk (similiarity)
   3.   Penutupan bentuk (closure)
   4.   Kesinambungan pola (continuity)
   5.   Kesamaan arah gerak (common fate)

Faktor inilah yang menyebabkan kita sering bisa merasakan keteraturan dari pola-pola
yang sebenarnya acak. Misalnya saat seseorang melihat awan, dia dengan mudah bisa
menemukan bentuk muka seseorang. Hal ini disebut pragnan.




Terbentuknya perilaku dapat terjadi karena proses kematangan dan dari proses
interaksi dengan lingkungan. Cara yang kedua inilah yang paling besar pengaruhnya
terhadap perilaku manusia.


Terbentuknya dan perubahan perilaku karena proses interaksi antara individu dengan
lingkungan ini melalui suatu proses yakni proses belajar. Oleh sebab itu, perubahan
perilaku dan proses belajar itu sangat erat kaitannya. Perubahan perilaku merupakan
hasil dari proses belajar.


Dibawah ini akan diuraikan beberapa teori proses belajar.


1. Teori Stimulus dan Transformasi
Perkembangan teori proses belajar yang ada dapat dikelompokkan kedalam 2 kelompok
besar, yakni stimulus-respons yang kurang memperhitungkan faktor internal dan teori
transformasi yang telah memperhitungkan faktor internal.


Teori stimulus-respons yang berpangkal pada psikologi asosiasi dirintis oleh John Locke
dan Heart. Didalam teori ini apa yang terjadi pada diri subjek belajar merupakan
rahasia atau biasa dilihat sebagai kotak hitam (black box).


Belajar adalah mengambil tanggapan-tanggapan dan menghubungkan tanggapan-
tanggapan dengan mengulang-ulang. Tanggapan-tanggapan tersebut diperoleh melalui
pemberian stimulus atau rangsangan-rangsangan. Makin banyak dan sering diberikan
stimulus maka makin memperkaya tanggapan pada subjek belajar. Teori ini tidak
memperhitungkan faktor internal yang terjadi pada subjek belajar.


Kelompok teori proses belajar yang kedua sudah memperhitungkan faktor internal,
antar lain :


a. Teori transformasi yang berlandaskan pada psikologi kognitif seperti yang
dirumuskan oleh Neiser, yang mengatakan bahwa proses belajar adalah transformasi
dari masukan (input) kemudian input tersebut direduksi, diuraikan, disimpan,
ditemukan kembali dan dimanfaatkan.


Transformasi dari input sensoris bersifat aktif melalui proses seleksi untuk dimasukkan
ke dalam ingatan (memory). Meskipun teori ini dikembangkan berdasarkan psikologi
kognitif tetapi tidak membatasi penelaahannya pada domain pengetahuan (kognitif)
saja tetapi juga meliputi domain yang lain (afektif dan psikomotor).


Para ahli psikologi kognitif juga memperhitungkan faktor eksternal dan internal dalam
mengembangkan teorinya. Mereka berpendapat bahwa kegiatan belajar merupakan
proses yang bersifat internal dimana setiap proses tersebut dipengaruhi oleh faktor-
faktor eksternal, antara lain metode pengajaran. Proses ini dapat digambarkan pada
diagram (lihat gambar).
b. Teori Gestalt mendasarkan pada teori belajar pada psikologi Gestalt yang
beranggapan bahwa setiap fenomena terdiri dari suatu kesatuan esensial yang melebihi
jumlah unsur-unsurnya.


Bahwa keseluruhan itu lebih daripada bagian-bagiannya. Didalam peristiwa belajar,
keseluruhan situasi belajar itu amat penting karena belajar merupakan interaksi antara
subjek belajar dengan lingkungannya. Selanjutnya para ahli psikologi Gestalt tersebut
menyimpulkan, seseorang dikatakan belajar bila ia memperoleh pemahaman (insight)
dalam situasi problematis.


Pemahaman itu ditandai dengan adanya a) suatu perubahan yang tiba-tiba dari
keadaan yang tak berdaya menjadi keadaan yang mampu menguasai atau
memecahkan masalah (problem) b) adanya retensi c) adanya peristiwa transfer.
Pemahaman yang diperoleh dari situasi, dibawa dan dimanfaatkan atau ditransfer ke
dalam situasi lain yang mempunyai pola atau struktur yang sama atau hampir sama
secara keseluruhannya (bukan detailnya).


2. Teori-Teori Belajar Sosial (Social Learning)


Untuk melangsung kehidupan, manusia perlu belajar. Dalam hal ini ada 2 macam
belajar, yaitu belajar secara fisik, misalnya menari, olah raga, mengendarai mobil, dan
sebagainya, dan belajar psikis.


Dalam belajar psikis ini termasuk juga belajar sosial (social learning) dimana seseorang
mempelajari perannya dan peran-peran orang lain dalam konteks sosial. Selanjutnya
orang tersebut akan menyesuaikan tingkah lakunya dengan peran orang lain atau peran
sosial yang telah dipelajari.


Cara yang sangat penting dalam belajar sosial menurut teori stimulus-respons adalah
tingkah laku tiruan (imitation). Teori dengan tingkah laku tiruan yang penting disajikan
disini adalah teori dari Millers, NE dan Dollard, serta teori Bandura A. dan Walter RH.
2.1 Teori Belajar Sosial dan Tiruan Dari Millers dan Dollard


Pandangan Millers dan Dollard bertitik tolak pada teori Hull yang kemudian
dikembangkan menjadi teori tersendiri. Mereka berpendapat bahwa tingkah laku
manusia itu merupakan hasil belajar. Oleh karena itu untuk memahami tingkah laku
sosial dan proses belajar sosial, kita harus mengetahui prinsip-prinsip psikologi belajar.


Prinsip belajar itu terdiri dari 4, yakni dorongan (drive), isyarat (cue), tingkah laku balas
(respons), dan ganjaran (reward). Keempat prinsip ini saling mengait satu sama lain,
yaitu dorongan menjadi isyarat, isyarat menjadi respons, respons menjadi ganjaran,
dan seterusnya.


Dorongan adalah rangsangan yang sangat kuat terhadap organisme (manusia) untuk
bertingkah laku. Stimulus-stimulus yang cukup kuat pada umumnya bersifat biologis
seperti lapar, haus, seks, kejenuhan, dan sebagainya. Stimulus-stimulus ini disebut
dorongan primer yang menjadi dasar utama untuk motivasi. Menurut Miller dan Dollard
semua tingkah laku (termasuk tingkah laku tiruan) didasari oleh dorongan-dorongan
primer ini.


Isyarat adalah rangsangan yang menentukan bila dan dimana suatu respons akan
timbul dan terjadi. Isyarat ini dapat disamakan dengan rangsangan diskriminatif.
Didalam belajar sosial, isyarat yang terpenting adalah tingkah laku orang lain, baik yang
langsung ditujukan orang tertentu maupun yang tidak, misalnya anggukan kepala
merupakan isyarat untuk setuju, uluran tangan merupakan isyarat untuk berjabat
tangan.


Mengenai tingkah laku balas (respons), mereka berpendapat bahwa manusia
mempunyai hirarki bawaan tingkah laku. Pada saat manusia dihadapkan untuk pertama
kali kepada suatu rangsangan tertentu maka respons (tingkah laku balas) yang timbul
didasarkan pada hirarki bawaan tersebut. Setelah beberapa kali terjadi ganjaran dan
hukuman maka tingkah laku balas yang sesuai dengan faktor-faktor penguat tersebut
disusun menjadi hirarki resultan (resultant hierarchy of respons).
Disinilah pentingnya belajar dengan coba-coba dan ralat (trial and error learning).
Dalam tingkah laku sosial, belajar coba-ralat dikurangi dengan belajar tiruan dimana
seseorang tinggal meniru tingkah laku orang lain untuk dapat memberikan respons
yang tepat. Sehingga ia tidak perlu membuang waktu untuk belajar dengan coba-ralat.


Ganjaran adalah rangsang yang menetapkan apakah tingkah laku balas diulang atau
tidak dalam kesempatan yang lain. Menurut Miller dan Dollard ada 2 reward atau
ganjaran, yakni ganjaran primer yang memenuhi dorongan-dorongan primer dan
ganjaran sekunder yang memenuhi dorongan-dorongan sekunder.


Lebih lanjut mereka membedakan 3 macam mekanisme tingkah laku tiruan, yakni :


a. Tingkah Laku Sama


Tingkah laku ini terjadi pada 2 orang yang bertingkah laku balas (respons) sama
terhadap rangsangan atau isyarat yang sama. Contoh 2 orang yang berbelanja di toko
yang sama dan dengan barang yang sama. Tingkah laku yang sama ini tidak selalu
hasil tiruan maka tidak dibahas lebih lanjut oleh pembuat teori.


b. Tingkah laku Tergantung (Matched Dependent Behavior)


Tingkah laku ini timbul dalam interaksi antara 2 pihak dimana salah satu pihak
mempunyai kelebihan (lebih pandai, lebih mampu, lebih tua, dan sebagainya) dari pihak
yang lain. Dalam hal ini, pihak yang lain atau pihak yang kurang tersebut akan
menyesuaikan tingkah laku (match) dan akan tergantung (dependent) pada pihak yang
lebih.


Misalnya kakak adik yang sedang bermain menunggu ibunya pulang dari pasar.
Biasanya ibu mereka membawa coklat. Terdengar ibunya pulang, kakak segera
menjemput ibunya kemudian diikuti oleh adiknya. Ternyata mereka mendapatkan coklat
(ganjaran). Adiknya yang semula hanya meniru tingkah laku kakaknya, dilain waktu
meskipun kakaknya tidak ada, ia akan lari menjemput ibunya yang baru pulang dari
pasar.


c. Tingkah Laku Salinan (Copying Behavior)


Seperti tingkah laku tergantung, pada tingkah laku salinan, peniru bertingkah laku atas
dasar isyarat yang berupa tingkah laku pula yang diberikan oleh model. Demikian juga
dalam tingkah laku salinan ini, pengaruh ganjaran dan hukuman sangat besar terhadap
kuat atau lemahnya tingkah laku tiruan.


Perbedaannya dengan tingkah laku tergantung adalah dalam tingkah laku tergantung
ini si peniru hanya bertingkah laku terhadap isyarat yang diberikan oleh model pada
saat itu saja. Sedangkan pada tingkah laku salinan, si peniru memperhatikan juga
tingkah laku model di masa yang lalu maupun yang akan dilakukan di waktu
mendatang.


Hal ini berarti perkiraan tentang tingkah laku model dalam kurun waktu yang relatif
panjang ini akan dijadikan patokan oleh di peniru untuk memperbaiki tingkah lakunya
sendiri dimasa yang akan datang sehingga lebih mendekati tingkah laku model.


3. Teori Belajar Sosial dari Bandura dan Walter


Teori belajar sosial yang dikemukakan Bandura dan Walter ini disebut teori proses
pengganti. Teori ini menyatakan bahwa tingkah laku tiruan adalah suatu bentuk
asosiasi dari rangsang dengan rangsang lainnya. Penguat (reinforcement) memang
memperkuat tingkah laku balas (respons) tetapi dalam proses belajar sosial, hal ini
tidak terlalu penting.


Aplikasi teori ini adalah apabila seseorang melihat suatu rangsang dan ia melihat model
bereaksi secara tertentu terhadap rangsang itu maka dalam khayalan atau imajinasi
orang tersebut, terjadi rangkaian simbol-simbol yang menggambarkan rangsang dari
tingkah laku tersebut. Rangkaian simbol-simbol ini merupakan pengganti dari hubungan
rangsang balas yang nyata dan melalui asosiasi, si peniru akan melakukan tingkah laku
yang sama dengan tingkah laku model.


Terlepas dari ada atau tidak adanya rangsang, proses asosiasi tersembunyi ini sangat
dibantu oleh kemampuan verbal seseorang. Selain dari itu, dalam proses ini tidak ada
cara-coba dan ralat (trial and error) yang berupa tingkah laku nyata karena semuanya
berlangsung secara tersembunyi dalam diri individu.


Hal yang penting disini adalah pengaruh tingkah laku model pada tingkah laku peniru.
Menurut Bandura, pengaruh tingkah laku model terhadap tingkah laku peniru ini
dibedakan menjadi 3 macam, yakni :


a. Efek modeling (modelling effect), yaitu peniru melakukan tingkah-tingkah laku baru
melalui asosiasi sehingga sesuai dengan tingkah laku model.


b. Efek menghambat (inhibition) dan menghapus hambatan (disinhibition) dimana
tingkah-tingkah laku yang tidak sesuai dengan tingkah laku model dihambat timbulnya
sedangkan tingkah laku yang sesuai dengan tingkah laku model dihapuskan
hambatannya sehingga timbul tingkah laku yang dapat menjadi nyata.


c. Efek kemudahan (facilitation effect), yaitu tingkah-tingkah laku yang sudah pernah
dipelajari oleh peniru lebih mudah muncul kembali dengan mengamati tingkah laku
model.

Akhirnya bandura dan Walter menyatakan bahwa teori proses pengganti ini dapat pula
menerangkan gejala timbulnya emosi pada peniru yang sama dengan emosi yang ada
pada model. Contohnya seseorang yag mendengar atau melihat gambar tentang
kecelakaan yang mengerikan maka ia berdesis, menyeringai bahkan sampai menangis
ikut merasakan penderitaan tersebut.
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari




Penggunaan pola warna dan arah panah membuat otak mengelompokkan lingkaran kuning terpisah dari
lingkaran biru, walaupun sebenarnya memiliki bentuk identik

Gestalt adalah sebuah teori yang menjelaskan proses persepsi melalui pengorganisasian
komponen-komponen sensasi yang memiliki hubungan, pola, ataupun kemiripan menjadi
kesatuan. Teori gestalt beroposisi terhadap teori strukturalisme. Teori gestalt cenderung berupaya
mengurangi pembagian sensasi menjadi bagian-bagian kecil.

[sunting] Sejarah
Teori ini dibangun oleh tiga orang, Kurt Koffka, Max Wertheimer, and Wolfgang Köhler.
Mereka menyimpulkan bahwa seseorang cenderung mempersepsikan apa yang terlihat dari
lingkungannya sebagai kesatuan yang utuh.

[sunting] Penggunaan
Teori gestalt banyak dipakai dalam proses desain dan cabang seni rupa lainnya, karena banyak
menjelaskan bagaimana persepsi visual bisa terbentuk. Persepsi jenis ini bisa terbentuk karena:



    1.   Kedekatan posisi (proximity)
    2.   Kesamaan bentuk (similiarity)
    3.   Penutupan bentuk
    4.   Kesinambungan pola (continuity)
    5.   Kesamaan arah gerak (common fate)
Faktor inilah yang menyebabkan kita sering bisa merasakan keteraturan dari pola-pola yang
sebenarnya acak. Misalnya saat seseorang melihat awan, dia dengan mudah bisa menemukan
bentuk muka seseorang. Hal ini disebut pragnan.




Teori kedekatan:
Kotak akan                                                                                  Teori continuity:
                                                                       Teori
dikelompokkan       Teori                                                                   Lingkaran akan
                                                                       penutupan:Walaupun
menjadi 3, A-B, C-D kemiripan:Lingkaran                                                     membentuk pola garis
                                                                       semu, kotak akan
dan E               akan dikelompokkan                                                      diagonal walaupun
                                                                       dibentuk dengan
                    terpisah dari kotak                                                     sebenarnya tersusun
                                                                       menutup garis
                                                                                            acakterputus
                                    Teori belajar gestalt
                                          Summar y rating: 2 stars   (12 Tinjauan)

Kunjungan : 1401

Comments : 0

kata : 900




oleh : nelimarhayati

Pengarang : Arie Asnaldi

Diterbitkan di: Desember 09, 2008

Psikologi Gestalt bermula pada lapangan pengamatan ( persepsi ) dan mencapai sukses yang
terbesar juga dalam lapangan ini. Demonstrasinya mengenai peranan latar belakang dan
organisasinya terhadap proses-proses yang diamati secara fenomenal demikian meyakinkan
sehingga boleh dikatakan tidak dapat di bantah.
Ketika para ahli Psikologi Gestalt beralih dari masalah pengamatan ke masalah belajar, maka
hasil-hasil yang telah kuat / sukses dalam penelitian mengenai pengamatan itu dibawanya
dalam studi mengenai belajar . Karena asumsi bahwa hukum –hukum atau prinsip-prinsip yang
berlaku pada proses pengamatan dapat ditransfer kepada hal belajar, maka untuk memahami
proses belajar orang perlu memahami hukum-hukum yang menguasai proses pengamatan itu.
Pada pengamatan itu menekankan perhatian pada bentuk yang terorganisasi (organized form)
dan pola persepsi manusia . Pemahaman dan persepsi tentang hubungan-hubungan dalam
kebulatan (entities) adalah sangat esensial dalam belajar. Psikologi Gestalt ini terkenal juga
sebagai teori medan (field) atau lazim disebut cognitive field theory. Kelompok pemikiran ini
sependapat pada suatu hal yakni suatu prinsip dasar bahwa pengalaman manusia memiliki
kekayaan medan yang memuat fenomena keseluruhan lebuh dari pada bagian- bagiannya.
Keseluruhan ini memberikan beberapa prinsip belajar yang penting, antara lain :
1. Manusia bereaksi dengan lingkunganya secara keseluruhan, tidak hanya secara intelektual,
tetapi juga secara fisik, emosional,sosial dan sebagainya
2. Belajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungan.
3. Manusia berkembang sebagai keseluruhan sejak dari kecil sampai dewasa, lengkap dengan
segala aspek-aspeknya.
4. Belajar adalah perkembangan kearah diferensiasi ynag lebih luas.
5. Belajar hanya berhasil, apabila tercapai kematangan untuk memperoleh insight.
6. Tidak mungkin ada belajar tanpa ada kemauan untuk belajar, motivasi membei dorongan
yang mengerakan seluruh organisme.
7. Belajar akan berhasil kalau ada tujuan.
8. Belajar merupakan suatu proses bila seseorang itu aktif, bukan ibarat suatu bejana yang diisi.
Belajar sangat menguntungkan untuk kegiatan memecahakan masalah. Hal ini nampaknya juga
relevan dengan konsep teori belajar yang diawali dengan suatu pengamatan. Belajar
memecahkan masalah diperlukan suatu pengamatan secara cermat dan lengkap. Kemudian
bagaiman seseorang itu dapat memecahknan masalah mrnurut J. Dewey ada 5 upaya
pemecahannya yakni:
1. Realisasi adanya masalah. Jadi harus memehami apa masalahnya dan juga harus dapat
merumuskan
2. Mengajukan hipotesa, sebagai suatu jalan yang mungkin memberi arah pemecahan
masalah.
3. Mengumpulkan data atau informasi, dengan bacaan atau sumber-sumber lain.
4. Menilai dan mencobakan usah pembuktian hipotesa dengan keterangan-keterangan yang
diperoleh.
5. Mengambil kesimpulan, membuat laporan atau membuat sesuatu dengan hasil pemecahan
soal itu.
Teori medan ini mengibaratkan pengalaman manusia sebagai lagu atau melodi yang lebih
daripada kumpulan not, demikian pila pengalaman manusia tidak dapat dipersepsi sebagai
sesuatu yang terisolasi dari lingkungannya. Dengan kata lain berbeda dengan teori asosiasi
maka toeri medan ini melihat makna dari suatu fenomena yang relatif terhadap lingkungannya.
Sesuatu dipersepsi sebagai pendek jika objek lain lebih panjang. Warna abu-abu akan terlihat
lebih cerah pada bidang berlaatr belakang hitam pekat. Warna abu-abu akan terliaht biru pada
latar berwarna kuning.
Belajar melibatkanproses mengorganisasikan pengalaman-pengalaman kedalam pola-pola
yang sistematis dan bermakna. Belajar bukan merupakan penjumalahan (aditif), sebaliknya
belajar mulai dengan mempersepsi keseluruhan, lambat laun terjadi proses diferensiasi, yakni
menangkapbagian bagian dan detail suatu objek pengalaman. Dengan memahami bagian /
detail, maka persepsi awalakan keseluruhan objek yang semula masih agak kabur menjadi
semakin jelas. Belajar menurut paham ini merupakan bagian dari masalah yang lebih besar
yakni mengorganisasikan persepsi kedalam suatu struktur yang lebih kompleks yang makin
menambah pemahaman akan medan. Medan diartikan sebagaikeseluruhan dunia yang bersifat
psikologis. Seseorang meraksi terhadap lingkungan seauai dengan persepsinya terhadap
lingkungan pada saat tersebut. Manusia mempersepsi lingkungan secara selektif, tidak semua
objek masuk kedalam fokus persepsi individu, sebagian berfungsi hanya sebagai latar.
Tekanan ke-2 pada psikologi medan ini adalah sifat bertujuandari prilaku manusia. Individu
menetaokan tujuan berdasarkan tilikan (insight) terhadap situasi yang dihadapinya. Prilakunya
akan dinilai cerdas atau dungu tergantung kepada memdai atau tidaknya pemahamanya akan
situasi
Dalam hukum-hukum belajar Gestalt ini ada satu hukum pokok , yaitu hukum Pragnaz, dan
empat hukum tambahan (subsider) yang tunduk kepada hukum yang pokok itu,yaitu hukum –
hukum keterdekatan , ketertutupan, kesamaan , dan kontinuitas.
PENDEKATAN GESTALT

Oleh: Boy Soedarmadji

Frederick Perls (1893-1970) adalah pendiri pendekatan konseling Gestalt. Frederick dilahirkan
di Berlin dan berasal dari keluarga Yahudi. Masa mudanya adalahmasa masa-masa yang penuh
dengan masalah. Dia mengganggap dirinya sebagai sumber masalah dalam keluarganya dan dia
bermasalah dengan pendidikannya. Bahkan di kelas tujuh, Frederick sempat tinggal kelas
sebanyak dua kali dan bahkan keluar dari sekolah karena dia memiliki masalah dengan
gurunya.
Walaupun di masa mudanya Frederick memiliki masalah dengan pendidikan, tetapi dia dapat
menyelesaikan sarjananya, dan pada tahun 1916 dia bergabung dengan angkatan darat Jerman
pada PD I.
Proses perkembangan teori Gestalt tidak bisa dilepaskan dari sosok Laura (Lore) Posner (1905-
1990). Dia adalah isteri Frederick perls yang secara signifikan turut mengembangkan teori
Gestalt. Laura dilahirkan di Pforzheim Jerman. Awal mulanya dia adalah seorang pianis sampai
dengan umur 18 tahun. Pada awalnya, Laura juga seorang pengikut aliran Psikoanalisa, yang
kemudian pindah untuk mendalami teori-teori Gestalt. Pada tahun 1926, Laura dan Perls secara
aktif melakukan kolaborasi untuk mengembangkan teori Gestalt, hingga pada tahun 1930
akhirnya mereka menikah. Pada tahun 1952, mereka mendirikan New York Institute for Gestalt
Therapy.
Pandangan tentang manusia
Walaupun pada awalnya Frederick merupakan pengikut aliran psikoanalisa, tetapi dalam
perkembangannya, teori Gestal banyak bertentangan dengan teori Sigmund Freud. Jika
Psikoanalisa memandang manusia secara mekanistik, maka Frederick memandang manusia
secara holistic. Freud memandang manusia selalu dikuasai oleh konflik (intrapsychic conflict)
awal masa anak-anak yang ditekan, maka Frederick memandang manusia pada situasi saat ini.
Sehingga Gestalt lebih menekankan pada pada apa yang dialami oleh konseli saat ini daripada
hal-hal yang pernah dialamai oleh konseli, dengan kata lain, Gestalt lebih memusatkan pada
bagaimana konseli berperilaku, berpikiran dan merasakan pada situasi saat ini (here and now)
sebagai usaha untuk memahami diri daripada mengapa konseli berperilaku seperti itu.
Teori Gestalt merupakan suatu pendekatan konseling yang didasarkan pada suatu pemikiran
bahwa individu harus dipahami pada konteks hubungan yang sedang berjalan dengan
lingkungan (ongoing relationships). Sehingga salah satu tujuan konseling yang ingin dicapai
oleh Gestalt adalah menyadarkan (awareness) konseli terhadap apa yang sedang dialami dan
bagaimana mereka menangani masalahnya. Gestalt berkeyakinan bahwa melalui kesadaran ini
maka perubahan akan muncul secara otomatis.
Pendekatan Gestalt mengarahkan konseli untuk secara langsung mengalami masalahnya
daripada hanya sekedar berbicara situasi yang seringkali bersifat abstrak. Dengan begitu,
konselor Gestalt akan berusaha untuk memahami secara langsung bagaimana konseli berpikir,
bagaimana konseli merasakan sesuatu dan bagaimana konseli melakukan sesuatu, sehingga
konselor akan “hadir secara penuh” (fully present) dalam proses konseling sehingga yang pada
akhirnya memunculkan kontak yang murni (genuine contacs) antara konselor dengan konseli.
Gestalt meyakini bahwa konseli adalah sosok yang terus tumbuh dan memiliki kemampuan
untuk berdiri di atas dua kakinya sendiri serta mampu mengatasi masalahnya sendiri. Hal ini
membuat pendekatan Gestalt memiliki dua agenda besar dalam proses konseling yaitu, a)
menggerakkan konseli untuk berubah dari environmental support ke self-support dan b)
integrasi ulang terhadap bagian-bagian kepribadian yang tidak dimiliki (reintegrating the
disowned parts of personality).
Agenda sebagaimana disebut di atas berpengaruh terhadap proses konseling yang akan
dilakukan oleh konselor. Dalam proses konseling, konselor tidak memiliki agenda khusus,
konselor tidak memiliki keinginan-keinginan, memahami bagaimana konseli berhubungan
dengan lingkungan secara saling ketergantungan (interdependence). Hal ini mengarahkan
konselor untuk menekankan proses dialog selama proses konseling. Pendekatan ini akan
menciptakan kontak yang spontan yang pada akhirnya berujung pada bagaimana konselor dan
konseli memahami proses konseling itu sendiri (moment-to-moment experience).
Salah satu pemikiran penting dari teori Gestalt adalah memandang individu sebagai agen yang
dapat melakukan regulasi diri (self-regulate). Pengontrolan diri akan muncul jika individu
secara sadar memahami apa yang terjadi di sekitarnya. Proses terapi hanya akan memfasilitasi
bagaimana kesadaran itu muncul dan bagaimana kesadaran tersebut berinteraksi dalam proses
konseling.
Yontef (1993) menyatakan secara eksplisit bahwa, “In Gestalt therapy there are no "shoulds."
Instead of emphasizing what should be, Gestalt therapy stresses awareness of what is. What is,
is. This contrasts with any therapist who "knows" what the patient "should" do”.
Pola pikir di atas menunjukkan bahwa dalam proses konseling, konseli akan berusaha
mengenali siapa dirinya dan menjadi dirinya sendiri. Sebab Gestalt yakin bahwa permasalahan
tidak akan selesai jika konseli masih menjadi orang lain. Masalah akan selesai jika konseli
secara sadar memahami siapa dirinya. Sehingga, dalam proses konseling, konseli akan
difasilitasi untuk memahami siapa dirinya dan bukan diarahkan untuk menjadi apa.

Prinsip Teori Gestalt
Dalam terapi Gestalt, pengalaman menyeluruh (pikiran, perasaan dan sensasi tubuh) dari
individu menjadi perhatian yang sangat penting. Pendekatannya lebih dipusatkan pada kondisi
di sini dan saat ini (here and now) yaitu menyadari apa yang terjadi dari waktu ke waktu
(moment by moment).

Holism keseluruhan merupakan teori Gestalt yang utama. Gestalt tidak memandang manusia
bagian perbagian. Manusia tidak bisa hanya diketahui dari komponen fisiknya saja, atau dari
komponen psikisnya saja. Tetapi mengenal manusia harus dilakukan secara komprehensif, yaitu
dari sisi psikis dan fisiknya. Selain itu, mengenal manusia tidak didasarkan pada diri individu
itu saja, tetapi terintegrasi dengan lingkungan di mana individu tersebut berada. Perls (dalam
Brownell, 2003) menyatakan bahwa holism dideskripsikan sebagai suatu keseluruhan bentuk
kesadaran manusia yang meliputi respon motorik, respon perasaan, respon pikiran yang
dimiliki oleh organisme.

Field Theory adalah teori Gestalt yang menyatakan bahwa mengenal manusia harus dilihat pula
lingkungan di mana manusia itu berada. Dengan demikian, konselor akan memberikan
perhatian lebih kepada konseli terhadap interaksinya dengan lingkungan (keluarga, sekolah,
masyarakat, tempat kerja). Dengan kata lain, bahwa field theory merupakan suatu metode
untuk mendeskripsikan keseluruhan medan (field) yang dialami oleh konseli. pada saat ini. Hal
ini lebih daripada hanya sekedar menganalisis kejadian-kejadian yang telah terjadi dalam
hubungannya dengan lingkungan (Yontef, 1993).

The Figure-Formation Process dideskripsikan sebagai usaha individu untuk melakukan
pengorganisasian atau memanipulasi lingkungannya dari waktu ke waktu.

Organismic Self-Regulation merupakan sebuah proses dimana seseorang berusaha dengan
keras untuk menjaga keseimbangan yang secara terus menerus diganggu oleh kebutuhan-
kebutuhan. Jika usaha untuk menjaga keseimbangan ini berjalan dengan baik maka mereka
akann kembali ke dalam posisi utuh. Pada dasarnya manusia memiliki kekuatan yang secara
alami akan mengarahkan mereka untuk melakukan proses penyeimbangan dalam dirinya.
Proses penyeimbangan ini berbentuk proses asimilasi, mengakomodasi perubahan atau
menolak pengaruh-pengaruh dari luar. Masalah seringkali muncul saat seseorang berusaha
untuk melakukan pemutusan kontak (interruption contacts).

Saat Ini (The Now)
Dalam pendekatan Gestalt, situasi saat ini merupakan hal yang sangat penting (the most
significant tense). Sehingga dalam proses konseling, konseli akan diajak untuk belajar
mengapresiasi dan mengalami secara penuh keadaan saat ini. Gestalt tidak akan mencari tahu
apa yang telah terjadi di masa lalu, tetapi lebih pada mendorong konseli untuk membicarakan
saat ini. Pemusatan pada masa lalu akan menjadi jalan bagi konseli untuk menghindari
masalahnya. Joel dan Edwin (1992) menyatakan ”What does this mean, "present centered"? In
essence, it means that what is important is what is actual, not what is potential or what is past,
but what is here, now”.
Untuk membantu konseli memahami keadaan saat ini, maka konselor dapat membantu dengan
memberikan kata tanya “Apa” dan “Bagaimana”, dengan demikian, kata tanya “Mengapa”
adalah kata tanya yang sangat jarang dipergunakan (Zimberoff dan Hartman, 2003). Bahkan,
seringkali konselor memotong pembicaraan konseli, jika konseli mulai berkutat dengan masa
lalunya. Konselor akan memotong pembicaraan konseli dengan pernyataan seperti, ”Apa yang
kamu rasakan pada saat kakimu bergoyang saat bicara?’ atau ”Dapatkah kamu merasakan
tekanan suaramu? Tidakkah kamu merasa ketakutan?” Usaha konselor ini adalah untuk
mengembalikan kesadaran konseli saat ini.
Konselor Gestalt meyakini bahwa pengalaman masa lalu, seringkali mempengaruhi keadaan
konseli saat ini, terlebih jika pengalaman masa lalu memiliki hubungan yang signifikan dengan
kejadian atau masalah yang dimiliki oleh konseli. Di lain pihak, karena (mungkin) ketakutannya
untuk menyelesaikan masalah, maka konseli cenderun untuk secara terus menerus
membicarakan masa lalunya. Untuk mengatasi masalah ini, maka konselor dapat mengajak
konseli untuk kembali ke saat ini dengan cara “membawa fantasinya ke saat ini” dan mencoba
untuk mengajak konseli untuk melepaskan keinginannya. Sebagai contoh, seorang anak
memiliki trauma dengan perilaku ayahnya. Konselor tidak mengajak konseli untuk
membicarakan apa yang telah terjadi, tetapi lebih mengajak konseli untuk merasakan saat ini
dan berorientasi pada pada apa yang ingin dilakukan (semisal, berbicara dengan ayahnya).

Urusan yang Belum Selesai (Unfinished Bussines)
Individu seringkali mengalami masalah dengan orang lain di masa lalu. Menurut Gestalt,
masalah masa lalu yang belum terselesaikan atau terpecahkan disebut dengan Unfinished
Bussiness yang dapat dimanifestasikan dengan munculnya kemarahan (resentment), amukan
(rage), kebencian (hatred), rasa sakit (pain), cemas (anxiety), duka cita (grief), rasa bersalah
(guild) dan perilaku menunda (abandonment).
Polster (dalam Corey, 2005) menyatakan bahwa beberapa bentuk perilaku akibat unfinished
bussines adalah seseorang akan asyik dengan dirinya sendiri, memaksa orang lain untuk
menuruti kehendaknya, bentuk-bentuk perilaku yang menempatkan dirinya sebagai orang
kalah, bahkan seringkali muncul simptom-simptom penyakit fisik.
Sebagai contoh ada seorang mahasiswa yang menganggap bahwa semua perempuan itu tidak
baik. Perilaku mahasiswa ini cenderung untuk menjauhi perempuan. Diketahui bahwa masa
lalu mahasiswa ini mengalami perlakuan yang buruk dari ibunya sewaktu berusia sekolah dasar
(unfinished bussines). Pendekatan Gestalt tidak berorientasi pada masa lalu atau berusaha
untuk mengorek perilaku orang tua yang menyebabkan dia berperilaku menjauhi perempuan.
Sebab, jika itu dilakukan, maka mahasiswa ini akan berusaha untuk meraih masa lalunya yang
hilang, dan dia akan berpikir menjadi anak kecil. Ini adalah proses yang tidak produktif.
Konselor Gestalt akan berusaha untuk membantu mahasiswa ini merasakan apa yang terjadi
saat ini. Konselor akan menfasilitasi mahasiswa ini untuk menunjukkan situasi yang terjadi saat
ini. Mahasiswa dibantu untuk menyadari bahwa perilakunya tidak produktif dan kemudian
mencari perilaku-perilaku yang lebih produktif.

Contact & Resisstance to Contact
Hal terpenting dalam kehidupan manusia adalah malakukan kontak atau bertemu dengan orang
lain di sekitar. Kirchner (2008) menyatakan bahwa setiap individu memiliki kemampuan untuk
melakukan kontak secara efektif dengan orang lain, dengan kemampuan itu, maka individu
akan dapat bertahan hidup dan tumbuh semakin matang. Semua kontak yang dilakukan oleh
individu memiliki keunikan sendiri-sendiri yang berujung pada bagaimana individu dapat
menyesuaikan dirinya dengan lingkungan.
Perls menyatakan bahwa proses kontak dilakukan dengan cara melihat, mendengar, membau,
meraba dan pergerakan. Lebih lanjut, Gestalt Institute of Cleveland (dalam Krichner, 2000)
menunjukkan bahwa proses kontak terjadi karena tujuh tingkatan yaitu (a) sensation, (b)
awareness, (c) mobilization of energy, (d) action, (e) contact, (f) resolution and closure, dan (7)
withdrawal.
Proses kontak individu dengan individu lain seringkali mengalami masalah. Masalah ini
seringkali muncul karena konseli cenderung untuk menghindari kontak dengan keadaan saat ini
dan orang lain. Krichner (2000) menyatakan ada empat hal yang menjadi masalah konseli yaitu
confluence, introjection, projection, dan retroflection

Energy & Blocks to Energy
Pendekatan Gestalt memperhatikan energy yang dimiliki oleh individu. Dimana teori ini
berkeyakinan bahwa untuk bisa menyelesaikan masalahnya, maka seseorang akan
mengeluarkan energy. Penutupan energy ini akan tampak pada keadaan fisik seseorang.
Seseorang yang tidak bisa mengeluarkan energinya, seringkali ditampakkan dengan perilaku
non verbal seperti, bernapas pendek-pendek, tidak focus dengan lawan bicara, berbicara dengan
suara tertahan, perhatian yang minimal terhadap sebuah obyek, duduk dengan kaki tertutup,
posisi duduk yang cenderung menjauhi lawan bicara dan lain sebagainya. Sebagai contoh,
seseorang yang pada saat ini ingin marah, tetapi tertahan, maka tubuhnya akan mereaksi
penahaman marah (sebagai upaya pelepasan energy) dengan bentuk-bentuk seperti napas
tersengal-sengal.
Dalam proses konseling, konselor berusaha untuk membantu kondisi pelepasan energy yang
dimiliki oleh konseli. Pada awalnya konseli diajak untuk mengenal perasaannya saat ini, dan
kemudian membantu untuk melepaskan energi yang tertahan tersebut.



PENDEKATAN KONSELING GESTALT

A. Konsep Dasar




             Pendekatan konseling ini berpandangan bahwa manusia dalam kehidupannya selalu
aktif sebagai suatu keseluruhan. Setiap individu bukan semata-mata merupakan penjumlahan
dari bagian-bagian organ-organ seperti hati, jantung, otak, dan sebagainya, melainkan merupakan
suatu koordinasi semua bagian tersebut. Manusia aktif terdorong kearah keseluruhan dan
integrasi pemikiran, perasaan, dan tingkah lakunya

Setiap individu memiliki kemampuan untuk menerima tanggung jawab pribadi, memiliki
dorongan untuk mengembangkan kesadaran yang akan mengarahkan menuju terbentuknya
integritas atau keutuhan pribadi. Jadi hakikat manusia menurut pendekatan konseling ini adalah :
(1) tidak dapat dipahami, kecuali dalam keseluruhan konteksnya, (2) merupakan bagian dari
lingkungannya dan hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan lingkungannya itu, (3) aktor
bukan reaktor, (4) berpotensi untuk menyadari sepenuhnya sensasi, emosi, persepsi, dan
pemikirannya, (5) dapat memilih secara sadar dan bertanggung jawab, (6) mampu mengatur dan
mengarahkan hidupnya secara efektif.

Dalam hubungannya dengan perjalanan kehidupan manusia, pendekatan ini memandang bahwa
tidak ada yang “ada” kecuali “sekarang”. Masa lalu telah pergi dan masa depan belum dijalani,
oleh karena itu yang menentukan kehidupan manusia adalah masa sekarang.

Dalam pendekatan ini, kecemasan dipandang sebagai “kesenjangan antara saat sekarang dan
kemudian”. Jika individu menyimpang dari saat sekarang dan menjadi terlalu terpaku pada masa
depan, maka mereka mengalami kecemasan.

Dalam pendekatan gestalt terdapat konsep tentang urusan yang tak selesai (unfinished business),
yakni mencakup perasaan-perasaan yang tidak terungkapkan seperti dendam, kemarahan,
kebencian, sakit hati, kecemasan, kedudukan, rasa berdosa, rasa diabaikan. Meskipun tidak bisa
diungkapkan, perasaan-perasaan itu diasosiasikan dengan ingatan-ingatan dan fantasi-fantasi
tertentu. Karena tidak terungkapkan di dalam kesadaran, perasaan-perasaan itu tetap tinggal pada
latar belakang dan di bawa pada kehidupan sekarang dengan cara-cara yang menghambat
hubungan yang efektif dengan dirinya sendiri dan orang lain. Urusan yang tak selesai itu akan
bertahan sampai ia menghadapi dan menangani perasaan-perasaan yang tak terungkapkan itu.

B. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah

Individu bermasalah kaena terjadi pertentangan antara kekuatan “top dog” dan keberadaan
“under dog”. Top dog adalah kekuatan yang mengharuskan, menuntut, mengancam. Under dog
adalah keadaan defensif, membela diri, tidak berdaya, lemah, pasif, ingin dimaklumi.

Perkembangan yang terganggu adalah tidak terjadi keseimbangan antara apa-apa yang harus
(self-image) dan apa-apa yang diinginkan (self).

      Terjadi pertentangan antara keberadaan sosial dan biologis
      Ketidakmampuan individu mengintegrasikan pikiran, perasaan, dan tingkah lakunya
      Mengalami gap/kesenjangan sekarang dan yang akan datang
      Melarikan diri dari kenyataan yang harus dihadapi
      Spektrum tingkah laku bermasalah pada individu meliputi :
      Kepribadian kaku (rigid)
      Tidak mau bebas-bertanggung jawab, ingin tetap tergantung
      Menolak berhubungan dengan lingkungan
      Memeliharan unfinished bussiness
      Menolak kebutuhan diri sendiri
      Melihat diri sendiri dalam kontinum “hitam-putih” .

C. Tujuan Konseling

Tujuan utama konseling Gestalt adalah membantu klien agar berani mengahadapi berbagai
macam tantangan maupun kenyataan yang harus dihadapi. Tujuan ini mengandung makna bahwa
klien haruslah dapat berubah dari ketergantungan terhadap lingkungan/orang lain menjadi
percaya pada diri, dapat berbuat lebih banyak untuk meingkatkan kebermaknaan hidupnya.

Individu yang bermasalah pada umumnya belum memanfaatkan potensinya secara penuh,
melainkan baru memanfaatkan sebagaian dari potensinya yang dimilikinya. Melalui konseling
konselor membantu klien agar potensi yang baru dimanfaatkan sebagian ini dimanfaatkan dan
dikembangkan secara optimal.

Secara lebih spesifik tujuan konseling Gestalt adalah sebagai berikut.

      Membantu klien agar dapat memperoleh kesadaran pribadi, memahami kenyataan atau
       realitas, serta mendapatkan insight secara penuh.
      Membantu klien menuju pencapaian integritas kepribadiannya
      Mengentaskan klien dari kondisinya yang tergantung pada pertimbangan orang lain ke
       mengatur diri sendiri (to be true to himself)
      Meningkatkan kesadaran individual agar klien dapat beringkah laku menurut prinsip-
       prinsip Gestalt, semua situasi bermasalah (unfisihed bussines) yang muncul dan selalu
       akan muncul dapat diatasi dengan baik.

D. Deskripsi Proses Konseling

Fokus utama konseling gestalt adalah terletak pada bagaimana keadaan klien sekarang serta
hambatan-hambatan apa yang muncul dalam kesadarannya. Oleh karena itu tugas konselor
adalah mendorong klien untuk dapat melihat kenyataan yang ada pada dirinya serta mau
mencoba menghadapinya. Dalam hal ini perlu diarahkan agar klien mau belajar menggunakan
perasaannya secara penuh. Untuk itu klien bisa diajak untuk memilih dua alternatif, ia akan
menolak kenyataan yang ada pada dirinya atau membuka diri untuk melihat apa yang sebenarnya
terjadi pada dirinya sekarang.

Konselor hendaknya menghindarkan diri dari pikiran-pikiran yang abstrak, keinginan-
keinginannya untuk melakukan diagnosis, interpretasi maupun memberi nasihat.

Konselor sejak awal konseling sudah mengarahkan tujuan agar klien menjadi matang dan
mampu menyingkirkan hambatan-hambatn yang menyebabkan klien tidak dapat berdiri sendiri.
Dalam hal ini, fungsi konselor adalah membantu klien untuk melakukan transisi dari
ketergantungannya terhadap faktor luar menjadi percaya akan kekuatannya sendiri. Usaha ini
dilakukan dengan menemukan dan membuka ketersesatan atau kebuntuan klien.
Pada saat klien mengalami gejala kesesatan dan klien menyatakan kekalahannya terhadap
lingkungan dengan cara mengungkapkan kelemahannya, dirinya tidak berdaya, bodoh, atau gila,
maka tugas konselor adalah membuat perasaan klien untuk bangkit dan mau menghadapi
ketersesatannya sehingga potensinya dapat berkembang lebih optimal.

Deskripsi fase-fase proses konseling :

Fase pertama, konselor mengembangkan pertemuan konseling, agar tercapai situasi yang
memungkinkan perubahan-perubahan yang diharapkan pada klien. Pola hubungan yang
diciptakan untuk setiap klien berbeda, karena masing-masing klien mempunyai keunikan sebagai
individu serta memiliki kebutuhan yang bergantung kepada masalah yang harus dipecahkan.

Fase kedua, konselor berusaha meyakinkan dan mengkondisikan klien untuk mengikuti prosedur
yang telah ditetapkan sesuai dengan kondisi klien. Ada dua hal yang dilakukan konselor dalam
fase ini, yaitu :

Membangkitkan motivasi klien, dalam hal ini klien diberi kesempatan untuk menyadari
ketidaksenangannya atau ketidakpuasannya. Makin tinggi kesadaran klien terhadap
ketidakpuasannya semakin besar motivasi untuk mencapai perubahan dirinya, sehingga makin
tinggi pula keinginannya untuk bekerja sama dengan konselor.

Membangkitkan dan mengembangkan otonomi klien dan menekankan kepada klien bahwa klien
boleh menolak saran-saran konselor asal dapat mengemukakan alasan-alasannya secara
bertanggung jawab.

Fase ketiga, konselor mendorong klien untuk mengatakan perasaan-perasaannya pada saat ini,
klien diberi kesempatan untuk mengalami kembali segala perasaan dan perbuatan pada masa
lalu, dalam situasi di sini dan saat ini. Kadang-kadang klien diperbolahkan memproyeksikan
dirinya kepada konselor.

Melalui fase ini, konselor berusaha menemukan celah-celah kepribadian atau aspek-aspek
kepribadian yang hilang, dari sini dapat diidentifikasi apa yang harus dilakukan klien.

Fase keempat, setelah klien memperoleh pemahaman dan penyadaran tentang pikiran, perasaan,
dan tingkah lakunya, konselor mengantarkan klien memasuki fase akhir konseling.

Pada fase ini klien menunjukkan gejala-gejala yang mengindikasikan integritas kepribadiannya
sebagai individu yang unik dan manusiawi.

Klien telah memiliki kepercayaan pada potensinya, menyadari keadaan dirinya pada saat
sekarang, sadar dan bertanggung jawab atas sifat otonominya, perasaan-perasaannya, pikiran-
pikirannya dan tingkah lakunya.

Dalam situasi ini klien secara sadar dan bertanggung jawab memutuskan untuk “melepaskan”
diri dari konselor, dan siap untuk mengembangan potensi dirinya.
Teknik Konseling

Hubungan personal antara konselor dengan klien merupakan inti yang perlu diciptakan dan
dikembangkan dalam proses konseling. Dalam kaitan itu, teknik-teknik yang dilaksanakan
selama proses konseling berlangsung adalah merupakan alat yang penting untuk membantu klien
memperoleh kesadaran secara penuh.

Prinsip Kerja Teknik Konseling Gestal

Penekanan Tanggung Jawab Klien, konselor menekankan bahwa konselor bersedia membantu
klien tetapi tidak akan bisa mengubah klien, konselor menekankan agar klien mengambil
tanggung jawab atas tingkah lakunya.

Orientasi Sekarang dan Di Sini, dalam proses konseling konselor tidak merekonstruksi masa
lalu atau motif-motif tidak sadar, tetapi memfokuskan keadaan sekarang. Hal ini bukan berarti
bahwa masa lalu tidak penting. Masa lalu hanya dalam kaitannya dengan keadaan sekarang.
Dalam kaitan ini pula konselor tidak pernah bertanya “mengapa”.

Orientasi Eksperiensial, konselor meningkatkan kesadaran klien tentang diri sendiri dan
masalah-masalahnya, sehingga dengan demikian klien mengintegrasikan kembali dirinya: (a)
klien mempergunakan kata ganti personal

klien mengubah kalimat pertanyaan menjadi pernyataan; (b)klien mengambil peran dan tanggung
jawab; (c) klien menyadari bahwa ada hal-hal positif dan/atau negative pada diri atau tingkah
lakunya

Teknik-teknik Konseling Gestalt

Permainan Dialog

Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan
yang saling bertentangan, yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog, misalnya :
(a) kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak; (b) kecenderungan bertanggung jawab
lawan kecenderungan masa bodoh; (c) kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak
bodoh” (d) kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung; (e) kecenderungan kuat
atau tegar lawan kecenderungan lemah

Melalui dialog yang kontradiktif ini, menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan
mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko. Penerapan
permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “kursi kosong”.

Latihan Saya Bertanggung Jawab

Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima
perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain.
Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien
menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : “…dan saya bertanggung jawab atas hal
itu”.

Misalnya :

“Saya merasa jenuh, dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu”

“Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang, dan saya bertanggung jawab
ketidaktahuan itu”.

“Saya malas, dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu”.

Meskipun tampaknya mekanis, tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan
klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya.

Bermain Proyeksi

Proyeksi artinya memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak
mau melihat atau menerimanya. Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara
memantulkannya kepada orang lain.Sering terjadi, perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada
orang lain merupakan atribut yang dimilikinya.

Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau
melakukan hal-hal yang diproyeksikan kepada orang lain.

Teknik Pembalikan

Gejala-gejala dan tingkah laku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-
dorongan yang mendasarinya. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran
yang berkebalikan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkannya.

Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis”
bagi klien pemalu yang berlebihan.

Tetap dengan Perasaan

Teknik dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak
menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. Konselor mendorong klien untuk tetap
bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu.

Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari
perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien
untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan
mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingklah laku dan perasaan yang ingin
dihindarinya itu.
Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru
tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang ingin dihindarinya
tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang
ingin dihindarinya itu.

PSIKOLOGI GESTALT

Ketika Behaviorisme berkembang pesat di Amerika Serikat, maka di negara Jerman muncul
aliran yang dinamakan Psikologi Gestalt (arti kata Gestalt, dalam bahasa Jerman, ialah bentuk,
pola, atau struktur). Para psikolog Gestalt yakin bahwa pengalaman seseorang mempunyai
kualitas kesatuan dan struktur. Aliran Gestalt ini muncul juga karena ketidakpuasan terhadap
aliran strukturalis, khususnya karena strukturalis mengabaikan arti pengalaman seseorang yang
kompleks, bahkan dijadikan elemen yang disederhanakan. Aliran psikologi Gestalt mempunyai
banyak tokoh terkemuka, antara lain Wolfgang Kohler, Kurt Koffka, dan Max Wertheimer.

Kata Gestalt sudah ada sebelum Wertheimer dan kawan-kawan menggunakannya sebagai nama.
Palland (dari Belanda) mengatakan bahwa pengertian Gestalt sudah pernah dikemukakan pada
jaman Yunani Kuno, Menurut Palland : Plato dalam uraiannya mengenai ilmu pasti
(matematika), telah menunjukkan bahwa dalam kesatuan bentuk terdapat bagian-bagian atau
sifat-sifat yang tidak terdapat (tidak dapat terlihat) pada bagian-bagiannya. Lalu ahli filsafat
Jerman (Goethe & Shiller) sudah sering menggunakan istilah Gestalt, demikian juga dengan
Wundt sendiri menggunakan telah menggunakan Gestalt sebagai satu asas yang ia namakan asas
sintesa kreatif.

Sebenarnya benih psikologi Gestalt pertama kali dimunculkan oleh Christian von Ehrenfels
(Orang Austria) yang pada tahun 1890 menulis suatu karangan/artikel disuatu majalah dengan
menggunakan pengertian Gestalt yaitu bahwa di dalam pengamatan terhadap pengamatan terjadi
peristiwa Gestalt . Mulai saat itulah istilah/pengertian Gestalt disebarluaskan.

Aliran psikologi Gestalt ini nampaknya merupakan aliran yang cukup kuat dan padu. Falsafah
yang dikemukakannya sangat mempengaruhi bentuk psikologi di Jerman, yang kelak juga akan
terasa pengaruhnya pada psikologi di Amerika Serikat (terutama dalam penelitian mengenai
persepsi). Hal itu nampak dari kedua aliran psikologi modern yang sejaman, yaitu aliran
Humanisme dan aliran Kognitif.

Landasan Filosofik (Filsafat Ilmu)
Telaah filosofik psikologi Gestalt dapat didekati dengan fenomenologi. Heidegger adalah juga
seorang fenomenolog. Fenomenologi memainkan peran yang sangat penting dalam sejarah
psikologi. Heidegger adalah murid Edmund Husserl (1859-1938), pendiri fenomenologi modern.
Husserl adalah murid Carl Stumpf, salah seorang tokoh psikologi eksperimental “baru” yang
muncul di Jerman pada akhir pertengahan abad XIX. Kohler dan Koffka bersama Wertheimer
yang mendirikan psikologi Gestalt adalah juga murid Stumpf, dan mereka menggunakan
fenomenologi sebagai metode untuk menganalisis gejala psikologis.

Fenomenologi adalah deskripsi tentang data (secara harafiah disebut the givens:yang diberi)
tentang pengalaman langsung). Fenomenologi berusaha memahami dan bukan menerangkan
gejala-gejala. Van Kaam merumuskannya sebagai metode dalam psikologi yang berusaha untuk
menyingkapkan dan menjelaskan gejala-gejala tingkah laku sebagaimana gejala-gejala tingkah
laku tersebut mengungkapkan dirinya secara langsung dalam pengalaman. Fenomenologi
kadang-kadang dipandang sebagai suatu metode pelengkap untuk setiap ilmu pengetahuan,
karena ilmu pengetahuan mulai dengan mengamati apa yang dialami secara langsung.

Ide tentang fenomenologi diungkapkan secara indah pada buku Kohler (1974) yang berjudul
Gestalt Psychology, sebagai berikut : Tampaknya ada satu titik tolak untuk psikologi, bahkan
untuk semua ilmu pengetahuan, yakni dunia sebagaimana kita alami apa adanya, secara naïf dan
tidak secara kritis. Kenaifan itu bisa hilang manakala kita melangkah terus.Masalah-masalah
mungkin timbul yang mula-mula sama sekali tertutup dari pandangan kita. Untuk
memecahkannya, mungkin perlu merancang konsep-konsep yang sepertinya hanya sedikit
berhubungan dengan pengalaman utama yang bersifat langsung. Walaupun demikian, seluruh
perkembangan harus mulai dengan suatu gambaran dunia yang naïf. Sumber ini adalah perlu
karena tidak ada dasar lain yang menjadi titik tolak ilmu pengetahuan.

Salah seorang di antara fenomenolog kontemporer yang paling fasih dan paling ulung adalah
Erwin Straus. Sebuah pembahasan ilmiah dan ringkas tentang fenomenologi oleh salah seorang
pendukung utamanya dari kalangan psikolog di Amerika Serikat dapat ditemukan dalam karya
MacLeod.
Fenomenologi sebagaimana terdapat dalam karya para psikolog Gestalt dan Erwin Starus,
pertama kali telah dipakai untuk meneliti gejala-gejala dari proses-proses psikologis seperti
persepsi, belajar, ingatan, pikiran, dan perasaan, tetapi tidak digunakan untk meneliti
kepribadian. Sebaliknya, psikologi eksistensial telah menggunakan fenomenologi untuk
menjelaskan gejala-gejala yang kerapkali dipandang sebagai wilayah bidang kepribadian.
Psikologi eksistensial dapat dirumuskan sebagai ilmu pengetahuan empiris tentang eksistensi
manusia yang menggunakan metode analisis fenomenologis.

Telaah aksiologi terhadap aliran psikologi Gestalt dapat didekati melalui teori keadilan. Terdapat
2 prinsip teori keadilan, menurut Rawls, yaitu :

   1. bahwa setiap orang memiliki persamaan hak atas kebebasan yang sangat luas hingga
      kompatibel dengan hak kebebasan orang lain;
   2. ketidaksamaan sosial dan ekonomi ditata sedemikian sehingga keduanya (sosial dan
      ekonomi) :
          o menjadi bermanfaat bagi setiap orang sesuai harapan yang patut, dan
          o memberi peluang yang sama bagi semua untuk segala posisi dan jabatan

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:5521
posted:6/4/2010
language:Indonesian
pages:28