Docstoc

filsafat ilmu OLEH KELOMPOK 2 MUHAJIR HUSNI MUBARAK IRWANTO GANI SAHARUDDIN

Document Sample
filsafat ilmu OLEH KELOMPOK 2 MUHAJIR HUSNI MUBARAK IRWANTO GANI SAHARUDDIN Powered By Docstoc
					      OLEH :

    KELOMPOK 2

     MUHAJIR
  HUSNI MUBARAK
   IRWANTO GANI
    SAHARUDDIN
   A. BASO AMRI
    AMIRUDDIN
ASWIDY WIJAYA CIPTA
     HARSADI
                                    BERPIKIR KRITIS

       Secara garis besar, ada dua macam cara berpikir, yaitu cara berpikir autistik dan

berpikir realistik atau kritis. Berpikir autistik seringkali disebut sebagai mengkhayal,

melamun atau berfantasi. Dengan berpikir autistik orang melarikan diri dari kenyataan,

melihat hidup sebagai gambar-gambar yang fantastik.

       Sebaliknya, berpikir kritis disebut sebagai nalar (reasoning), yaitu berpikir secara

logis, berdasarkan fakta-kfakta yang ada dan menyesuaikan dengan dunia nyata, beserta

semua dalil/hukum-hukumnya. Berpikir kritis dilakukan dengan dua cara, yaitu berpikir

deduktif dan berpikir induktif.

       Berpikir deduktif adalah proses berpikir yang menerapkan kenyataan-kenyataan yang

berlaku umum kepada ha-hal yang bersifat khusus. Kesimpulan yang dihasilkan dalam

berpikir deduktif dimulai dari hal-hal umum menuju hal-hal khusus.

       Berpikir induktif justru sebaliknya, dimulai dari hal-hal khusus kemudian ditarik

kesimpulan secara umum. Kesimpulan yang dihasilkan dalam berpikir induktif merupakan

generalisasi dari hal-hal khusus.




   1. Berpikir deduktif

       Kita semua kiranya telah mengenal bahwa jumlah sudut dalam sebuah segitiga adalah

180 derajat. Pengetahuan ini mungkin saja kita dapat dengan jalan mengukur sudut-sudut

dalam sebuah segitiga dan kemudian menjumlahkannya. Di pihak lain, pengetahuan ini bisa
didaptkan secara deduktif dengan mempergunakan matematika. Seperti diketahui berpikir

deduktif adalah proses pengambilan kesimpulan yang didasarkan pada premis-premis yang

kebenarannya telah ditentukan. Untuk menghitung jumlah sudut dalam segitiga tersebut kita

mendasarkan kepada premis bahwa kalau terdapat dua garis sejajar maka sudut-sudut yang

dibentuk kedua garis sejajar tersebut dengan garis ketiga adalah sama. Premis yang kedua

adalah bahwa jumlah sudut yang dibentuk oleh sebuah garis lurus adalah 180 derajat.

        Kedua premis tersebut kemudian kita terapkan dalam berpikir deduktif untuk

menghitung jumlah sudut-sudut dalam sebuah segitiga. Dalam hal ini kita melihat bahwa

dalam segitiga ABC kalau kita tarik garis p melalui titik A yang sejajar dengan BC maka titik

A dapat didaptkan tiga sudut yakni, α1, α2, α3, yang ketiga-tiganya membentuk suatu garis

lurus. Jadi dengan contoh seperti di atas secara deduktif matematika menemukan pengetahuan

yang baru berdasarkan premis-premis yang tertentu.


    2. Berpikir induktif

        Ilmu secara sederhana dapat didefenisikan sebagai pengetahuan yang telah teruji

kebenarannya. Semua pernyataan ilmiah adalah bersifat factual, dimana konsekuensi dapat

diuji baik dengan jalan mempergunakan panca indera, maupun dengan mempergunakan alat-

alat yang membantu panca indera tersebut. Pengujian secara empiris merupakan salah satu

mata rantai dalam metode ilmiah yang membedakan ilmu dari pengetahuan-pengetahuan yang

lain.

        Pengujian Mengharuskan kita untuk menarik kesimpulan yang bersifat umum dari

kasus-kasus yang bersifat individual. Umpamanya jika kita ingin mengetahui berapa tinggi
rata-rata anak umur 10 tahun di sebuah tempat maka nilai tinggi rata-rata yang dimaksudkan

itu merupakan sebuah kesimpulan umum yang ditarik dalam kasus-kasus anak umur 10 tahun

di tempat itu. Jadi dalam hal ini kita menarik kesimpulan berdasarkan logika induktif. Di

pihak lain maka penyusunan hipotesis merupakan penarikan kesimpulan yang bersifat khas

dari pernyataan yang bersifat umum dengan mempergunakan deduksi. Kedua penarikan

kesimpulan ini tidak sama dan tidak boleh dicampuradukkan. Logika deduktif berpaling

kepada matematika sebagai sarana penalaran penarikan kesimpulan sedangkan logika induktif

berpaling kepada statistika. Statistika merupakan pengetahuan untuk melakukan penarikan

kesimpulan induktif secara lebih seksama.

       Penarikan   kesimpulan    secara     induktif   menghadapkan   kita   kepada   sebuah

permasalahan mengenai banyaknya kasus yang harus kita amati sampai kepada suatu

kesimpulan yang bersifat umum. Jika kita ingin mengetahui berapa tinggi rata-rata anak umur

10 tahun di Indonesia, umpamanya, lalu bagaimana caranya kita mengumpulkan data untuk

sampai pada kesimpulan tersebut? Tentu saja dalam hal ini maka hal yang paling logis adalah

dengan jalan melakukan pengukuran tinggi badan terhadap seluruh anak umur 10 tahun di

Indonesia. Pengumpulan data seperti ini tak diragukan lagi akan memberikan kesimpulan

mengenai tinggi rata-rata anak tersebut di negara kita. Namun kegiatan seperti ini

menghadapkan kita kepada masalah lain yang tak kurang rumitnya, yakni kenyataan bahwa

dalam pelaksanaannya kegiatan seperti itu membutuhkan tenaga, biaya, dan waktu banyak

sekali. Dapat dibayangkan betapa kegiatan pengujian hipotesis akan mengalami hambatan

yang sukar dapat diatasi sekiranya proses pengujian tersebut harus dilakukan dengan
pengumpulan data seperti itu. Hal ini akan menjadikan kegiatan ilmiah menjadi suatu yang

sangat mahal yang mengakibatkan penghalang bagi kemajuan bidang keilmuan.

       Untunglah dalam hal ini statistika memberikan sebuah jalan keluar. Statistika

memberikan cara untuk dapat menarik kesimpulan yang bersifat umum dengan jalan

mengamati hanya sebagian dari populasi yang bersangkutan. Jadi untuk mengetahui tinggi

rata-rata anak umur 10 tahun di Indonesia kita tidak melakukan pengukuran terhadap seluruh

anak yang berumur tersebut di seluruh Indonesia, namun cukup hanya dengan jalan

melakukan pengukuran terhadap sebagian anak saja.

   a) Karakteristik berpikir induktif

   Kegiatan ilmiah memerlukan penelitian untuk menguji hipotesis yang diajukan. Penelitian

pada dasarnya merupakan pengamatan dalam alam empiris apakah hipotesis tersebut memang

didukung oleh fakta-fakta. Jika umpamanya kita mempunyai hipotesis bahwa orang muda

suka musik pop namun tidak music keroncong maka kita harus melakukan pengujian untuk

memperlihatkan bahwa hipotesis tersebut benar, dengan jalan mengumpulkan fakta mengenai

kesukaan music orang-orang muda. Tentu saja kita tidak bias mengadakan wawancara dengan

seluruh orang muda dan untuk itu statistika terapan memberikan jalan bagaimana memilih

sebagian dari orang muda tersebut sebagai contoh yang representif dan obyektif dari

keseluruhan populasi orang muda tersebut. Demikian juga statistika memberikan jalan

bagaimana kita menarik kesimpulan yang bersifat umum dari contoh tersebut dengan tingkat

peluang dan kekeliruannya. Jelaslah kiranya bahwa tanpa menguasai statistika adalah tak

mungkin untuk dapat menarik kesimpulan induktif dengan sah.
   Untuk mempercepat perkembangan kegiatan keilmuan di negara kita maka penguasan

berpikir induktif dengan statistika sebagai alat berpikirnya harus mendapatkan perhatian yang

sungguh-sungguh. Dalam perjalanan sejarah statistika memang sering mendapat tempat yang

kurang layak. Statistika merupakan sarana berpikir yang diperlukan untuk memproses

pengetahuan secara ilmiah. Sebagai bagian dari perangkat metode ilmiah maka statistika

membantu kita untuk melakukan generalisasi dan menyimpulkan karakteristik suatu kejadian

secara lebih pasti dan bukan terjadi secara kebetulan.
                                     DAFTAR PUSTAKA



Syafi’ie, Inu Kencana. 2004. Pengantar Filsafat. Bandung: Refika Aditama.

Sudarsono. 2001. Ilmu Filsafat : Suatu Pengantar. Jakarta: Rineka Cipta.

Bakhtiar, Amsal. 2004. Filsafat Ilmu. Jakarta : Rajawali Press.

S. Suriasumantri, Jujun. 1996. Filsafat Ilmu : Sebuah Pengantar Populer. Jakarta : Pustaka
Sinar Harapan.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:1056
posted:6/4/2010
language:Indonesian
pages:7