pemeriksaan Sanitasi tempat umum by kulanavhiea

VIEWS: 10,382 PAGES: 16

									By : Febry Fahmi, Kedokteran Universitas Riau, November 2009


                                            BAB I
                                      PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang
       Sarana dan bangunan umum merupakan tempat dan atau alat yang dipergunakan oleh
masyarakat umum untuk melakukan kegiatannya, oleh karena itu perlu dikelola demi
kelangsungan kehidupan dan penghidupannya untuk mencapai keadaan sejahtera dari badan,
jiwa dan sosial, yang memungkinkan penggunanya hidup dan bekerja dengan produktif
secara social ekonomis. Sarana dan bangunan umum dinyatakan memenuhi syarat kesehatan
lingkungan apabila memenuhi kebutuhan fisiologis, psikologis dan dapat mencegah
penularan penyakit antar pengguna, penghuni dan masyarakat sekitarnya, selain itu harus
memenuhi persyaratan dalam pencegahan terjadinya kecelakaan. 1
       Menurut laporan terbaru Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2006 sebanyak
24 % dari penyakit global disebabkan oleh segala jenis faktor lingkungan yang dapat dicegah
serta lebih dari 13 juta kematian tiap tahun disebabkan faktor lingkungan yang dapat dicegah.
Empat penyakit utama yang disebabkan oleh lingkungan yang buruk adalah diare, infeksi
Saluran Pernapasan Bawah, berbagai jenis luka yang tidak intens, dan malaria. 2
       Sanitasi merupakan salah satu tantangan yang paling utama bagi negara negara
berkembang. Menurut WHO, penyakit diare membunuh satu anak di dunia ini setiap 15 detik,
karena access pada sanitasi masih terlalu rendah. Hal ini menimbulkan masalah kesehatan
lingkungan yang besar, serta merugikan pertumbuhan ekonomi dan potensi sumber daya
manusia pada skala nasional. 3
       Penyakit-penyakit berbasis lingkungan masih penyebab utama kematian di Indonesia.
Kecenderungan ini juga semakin mendapatkan legitimasi seiring dengan munculnya flu
burung dan flu babi, dua penyakit yang sangat berkaitan dengan sanitasi lingkungan. Di
Xxxxx sendiri, data penyakit berbasis lingkungan pada tahun 2004, didapatkan data malaria
sebanyak 236 kasus, tahun 2005 198 kasus, tahun 2006 195 kasus. TB paru pada tahun 2004
didapatkan 347 kasus, tahun 2005 633 kasus, tahun 2006 287 kasus. DBD tahun 2004 253
kasus, tahun 2005 839, tahun 2006 347 kasus. Diare tahun 2006 1.059 kasus, ISPA tahun
2006 231 kasus. Oleh karena itu, ke depan semakin dibutuhkan upaya yang intensif dan
serius dari banyak pihak terkait untuk melakukan intervensi terahadap faktor lingkungan.2, 3, 4
       Program kesehatan lingkungan Puskesmas xxxxx telah melakukan kegiatan pendataan
dan pengawasan sanitasi tempat-tempat umum, namun kegiatan tersebut belum sesuai target
yang ditetapkan Depkes RI. Dari laporan kegiatan program Kesling bulan Januari-November
                                               1
By : Febry Fahmi, Kedokteran Universitas Riau, November 2009


2009, terdapat 42 tempat umum yang ada di wilayah Puskesmas xxxxx, baru 14 yang pernah
dilakukan pemeriksaan sanitasi. Jika dipersentasikan, cakupan pelayanannya adalah 33,33%,
sedangkan menurut standar pelayanan minimal Kabupaten/kota yaitu 80%. Hasil wawancara
dengan penanggung jawab program Kesling, permasalahan terletak pada kurangnya jumlah
tenaga sanitarian dengan wilayah kerja yang luas, serta banyaknya beban kerja lainnya.
Selain itu formulir pemeriksaan dan inspeksi sanitasi untuk tempat-tempat umum belum
tersedia lengkap.


1.2. Tujuan Penulisan
1.2.1 Tujauan Umum
       Teroptimalnya kegiatan pendataan dan pengawasan sanitasi tempat-tempat umum.


1.2.2. Tujuan Khusus
       Tujuan khusus makalah ini adalah :
       1. Teridentifikasinya masalah-masalah dalam program Kesehatan Lingkungan
           Puskesmas xxxxx
       2. Diketahuinya prioritas masalah program Kesehatan Lingkungan Puskesmas xxxx.
       3. Diperolehnya penyebab masalah belum optimalnya pendataan dan pengawasan
           sanitasi tempat-tempat umum pada program Kesehatan Lingkungan.
       4. Diperolehnya beberapa alternatif pemecahan masalah belum optimalnya
           pendataan dan pengawasan sanitasi tempat-tempat umum pada program
           Kesehatan Lingkungan.
       5. Dilaksanakannya upaya pemecahan masalah dalam rangka mengoptimalkan
           pendataan dan pengawasan sanitasi tempat-tempat umum.
       6. Terevaluasinya kegiatan pemecahan masalah dalam rangka mengoptimalkan
           pendataan dan pengawasan sanitasi tempat-tempat umum.




                                               2
By : Febry Fahmi, Kedokteran Universitas Riau, November 2009


                                            BAB II
                                  TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Kesehatan Lingkungan
       Menurut World Health Organization (WHO), kesehatan lingkungan adalah suatu
keseimbangan ekologi yang harus ada antara manusia dan lingkungan agar dapat menjamin
keadaan sehat dari manusia. Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI)
mendefinisikan kesehatan lingkungan sebagai suatu kondisi lingkungan yang mampu
menopang keseimbangan ekologi yang dinamis antara manusia dan lingkungannya untuk
mendukung tercapainya kualitas hidup manusia yang sehat dan bahagia.5
—      Terdapat 17 ruang lingkup kesehatan lingkungan menurut World Health Organization
(WHO), yaitu :6
    1. Penyediaan air minum
    2. Pengelolaan air buangan dan pengendalian pencemaran
    3. Pembuangan sampah padat
    4. Pengendalian vektor
    5. Pencegahan/pengendalian pencemaran tanah oleh ekskreta manusia
    6. Higiene makanan, termasuk higiene susu
    7. Pengendalian pencemaran udara
    8. Pengendalian radiasi
    9. Kesehatan kerja
    10. Pengendalian kebisingan
    11. Perumahan dan pemukiman
    12. Aspek kesling dan transportasi udara
    13. Perencanaan daerah dan perkotaan
    14. Pencegahan kecelakaan
    15. Rekreasi umum dan pariwisata
    16. Tindakan-tindakan sanitasi yang berhubungan dengan keadaan epidemi/wabah,
       bencana alam dan—perpindahan penduduk
    17. Tindakan pencegahan yang diperlukan untuk menjamin lingkungan.
Di Indonesia, berdasarkan undang-undang No. 23 tahun 1992 tentang Pokok-Pokok
Kesehatan pasal 22 ayat 3 menyebutkan bahwa kesehatan lingkungan meliputi
kegiatan/program penyehatan air dan udara, pengamanan limbah padat, limbah cair, limbah

                                               3
By : Febry Fahmi, Kedokteran Universitas Riau, November 2009


gas, radiasi, kebisingan, pengendalian vektor penyakit dan penyakit berbasis lingkungan, dan
penyehatan atau pengamanan lainnya. 7
        Lingkungan merupakan salah satu faktor penentu derajat kesehatan, disamping
beberapa variabel lainnya seperti perilaku, keberadaan pelayanan kesehatan dan herediter.
Penyakit dengan jumlah terbesar setiap tahun, dalam konteks kesehatan, kesakitan, dan
kecacatan yang diakibatkan oleh faktor lingkungan antara lain ; 2
       Diare sebagian besar disebabkan air yang tidak bersih, sanitasi dan hygiene yang
        buruk.
       Infeksi Saluran pernapasan bawah, sebagian besar disebabkan oleh polusi udara, di
        dalam dan luar ruangan.
       Luka yang tidak intens selain luka akibat kecelakaan, sebagian besar disebabkan oleh
        tata kota yang buruk atau tata rancang lingkungan yang buruk dari sistem transportasi.
       Malaria, sebagian besar akibat sumber air yang buruk, pengelolaan penggunaan lahan
        dan rumah yang memungkinkan keberadaan vektor berkembang biak.
       Kerusakan paru obstruksi kronis atau Chronic Obstructive Pulmonary Diseases,
        sebagian besar disebabkan paparan debu dan partikulat di tempat kerja serta bentuk
        lain dari polusi udara di dalam dan luar ruangan.
       Kondisi perinatal
Laporan WHO menunjukkan bahwa faktor lingkungan berpengaruh secara signifikan
terhadap lebih dari 80 % penyakit-penyakit tersebut. Lebih jauh lagi, secara kuantitatif hanya
risiko faktor lingkungan tersebut yang dapat berubah. Upaya yang dapat dilakukan untuk
mengurangi penyakit akibat lingkungan ini antara lain : 2
       Peningkatan persediaan air bersih pada rumah tangga
       Higiene lingkungan yang lebih baik
       Penggunaan bahan bakar dan pembersih yang lebih aman
       Peningkatan keamanan lingkungan sehat
       Penggunaan dan pengelolaan materi beracun di rumah dan tempat kerja
       Pengelolaan sumber air bersih yang lebih baik
Dengan mengoptimalkan langkah terhadap faktor lingkungan, jutaan kematian dapat dicegah
tiap tahun, yang juga patut diperhatikan adalah perlunya kerjasama dengan sektor yang
memilki keterkaitan erat dengan faktor lingkungan, seperti energi, transportasi, pertanian, dan
industri. 2



                                               4
By : Febry Fahmi, Kedokteran Universitas Riau, November 2009


2.2. Sanitasi Tempat-tempat Umum
       Sanitasi, menurut kamus bahasa Indonesia diartikan sebagai pemelihara kesehatan.
Menurut WHO, sanitasi adalah upaya pengendalian semua faktor lingkungan fisik manusia,
yang mungkin menimbulkan atau dapat menimbulkan hal-hal yang merugikan, bagi
perkembangan fisik, kesehatan, dan daya tahan hidup manusia. 3
       Tempat-tempat umum yaitu tempat kegiatan bagi umum, yang mempunyai tempat,
sarana dan kegiatan tetap, diselenggarakan badan pemerintah, swasta, dan atau perorangan,
yang dipergunakan langsung oleh masyarakat. Jenis tempat-tempat umum antara lain : 8, 9
 a. Yang berhubungan dengan sarana Pariwisata :
             -    Penginapan/Losmen
             -    Mess
             -    Kolam Renang
             -    Bioskop
             -    Tempat Hiburan
             -    Tempat Rekreasi
             -    Bilyard
             -    Tempat Bersejarah
 b. Yang berhubungan dengan sarana Perhubungan :
             -    Terminal Angkutan Darat
             -    Terminal Angkutan Sungai
 c. Yang berhubungan dengan sarana Komersial :
             -    Pemangkas Rambut
             -    Salon Kecantikan
             -    Pasar-Pasar
             -    Apotik
             -    Toko Obat
             -    Perbelanjaan
 d. Yang berhubungan dengan sarana Sosial :
         -       Tempat-Tempat Ibadah
         -       Rumah Sakit
         -       Klinik Bersalin
         -       Sekolah-Sekolah/Asrama
         -       Panti Asuhan
 e. Kantor-Kantor Pemerintahan dan Swasta termasuk Bank-Bank Pemerintah dan Swasta.
                                               5
By : Febry Fahmi, Kedokteran Universitas Riau, November 2009


       Sanitasi tempat-tempat umum merupakan usaha untuk mengawasi kegiatan yang
berlangsung di tempat-tempat umum terutama yang erat hubungannya dengan timbulnya atau
menularnya suatu penyakit, sehingga kerugian yang ditimbulkan oleh kegiatan tersebut dapat
dicegah. Sarana dan bangunan umum dinyatakan memenuhi syarat kesehatan lingkungan
apabila memenuhi kebutuhan fisiologis, psikologis dan dapat mencegah penularan penyakit
antar pengguna, penghuni dan masyarakat sekitarnya, selain itu harus memenuhi persyaratan
dalam pencegahan terjadinya kecelakaan. Penyelenggaraan sarana dan bangunan umum
berada di luar kewenangan Departemen Kesehatan, namun sarana dan bangunan umum
tersebut harus memenuhi persyaratan kesehatan. Hal ini telah diamanatkan pada UU No.23
Tahun 1992 tentang Kesehatan. 1


2.3. Pedoman Penyehatan Sarana Dan Bangunan Umum 1
       Dasar pelaksanaan kegiatan pendataan dan pengawasan sanitasi tempat-tempat umum
adalah Kepmenkes 288/Menkes/SK/III/2003 tentang Pedoman Penyehatan Sarana dan
Bangunan Umum. Menurut Kepmenkes tersebut, batasan pengertian penyehatan sarana dan
bangunan umum, adalah upaya kesehatan lingkungan, dalam pengendalian faktor risiko
penyakit pada sarana dan bangunan umum. Faktor resiko penyakit adalah hal-hal yang
memiliki potensi terhadap timbulnya penyakit.
       Tujuan diadakannya penyehatan sarana dan bangunan umum adalah sebagai upaya
untuk meningkatkan pengendalian faktor risiko penyakit dan kecelakaan pada sarana dan
bangunan umum. Adapun sasaran dari kegiatan ini adalah :
 a. Lingkungan Pemukiman antara lain perumahan, asrama, pondok pesantren,
     condominium / apartemen, rumah susun dan sejenisnya.
 b. Tempat umum antara lain hotel, penginapan, pasar, bioskop, tempat rekreasi, kolam
     renang, terminal, Bandar udara, pelabuhan laut, pusat perbelanjaan dan usaha-usaha
     yang sejenis.
 c. Lingkungan kerja antara lain kawasan perkantoran, kawasan industri, atau yang
     sejenisnya.
 d. Angkutan umum antara lain bus umum, pesawat udara komersial, kapal penumpang,
     kapal ferry penumpang, kereta api dan sejenis.
 e. Lingkungan lainnya antara lain tempat pengungsian, daerah transmigrasi, lembaga
     permasyarakatan, sekolah dan sejenis.
 f. Sarana Pelayanan Umum antara lain samsat, bank, kantor pos dan tempat ibadah yang
     sejenis.
                                               6
By : Febry Fahmi, Kedokteran Universitas Riau, November 2009


 g. Sarana Kesehatan antara lain rumah sakit, puskesmas, laboratorium, pabrik obat, apotik
     dan yang sejenis.
Untuk pelaksanaan kegiatan di tingkat pusat, adalah Direktorat Jenderal Pemberantasan
Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen PPM & PL), dan sebagai penanggung
jawab program adalah Direktur Jenderal PPM & PL. Untuk pelaksanaan di tingkat propinsi
sebagai penanggung jawab adalah Gubernur Kepala Daerah dan Pelaksananya adalah Kepala
Dinas Kesehatan Propinsi. Pelaksanaan di Tingkat Kabupaten, sebagai Penanggung jawab
program adalah Bupati / Walikota dan pelaksananya adalah Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten / Kota. Di Tingkat Kecamatan Penanggung jawab pelaksanaan program adalah
Camat dan pelaksananya adalah Kepala Puskesmas.
       Dinas Kabupaten/kota memiliki unit pelaksana teknis yang bertanggung jawab
menyelenggarakan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya yaitu Puskesmas. Lingkup
kegiatan yang dilakukan dalam program penyehatan sarana dan bangunan umum di tingkat
Kabupaten/Kota adalah :
   a. Perencanaan
       1) Membuat program kegiatan upaya penyehatan sarana dan bangunan umum.
       2) Mengumpulkan data, menetapkan prioritas dan implementasi / pelaksanaan
           program serta melakukan evaluasi.
   b. Pengawasan kualitas
       Pengawasan kualitas yang dilakukan, meliputi :
       1) Inspeksi sanitasi.
       2) Pengambilan sample dan pemeriksaan sample
       3) Analisa data dan rumusan pemecahan masalah, serta memberi rekomendasi untuk
           tindak lanjut.
   c. Investigasi
       Invstigasi dilakukan bila ditemukan adanya Kejadian Luar Biasa, dan atau keluhan
       dari masyarakat.
   d. Tindak lanjut
       Tindak lanjut dilakukan berdasarkan hasil monitoring dan investigasi, melalui
       penyuluhan, pelatihan, perbaikan dan pemeliharaan.
       Sebagai sumber daya yang diperlukan untuk kegiatan Penyehatan Sarana dan
Bangunan Umum adalah :
   1. Sumber daya manusia

                                               7
By : Febry Fahmi, Kedokteran Universitas Riau, November 2009


       Kegiatan ini didukung oleh tenaga kesehatan lingkungan yang memiliki pengetahuan
       dan ketrampilan yang memadai. Tenaga kesehatan lingkungan adalah petugas atau
       pengelola yang memperoleh pendidikan atau pelatihan dibidang kesehatan
       lingkungan.
   2. Peralatan
       Untuk menunjang kegiatan diperlukan instrumen yaitu :
       a. Formulir Pengamatan
           1) Formulir pemeriksaan
           2) Formulir Inspeksi Sanitasi
       b. Peralatan pengukuran kualitas lingkungan antara lain :
           1) Pengukur pencahayaan (Lightmeter)
           2) Pengukur kelembaban (Hygrometer)
           3) Pengukur mikroba dalam ruangan (Microbiological Test Kit)
           4) Pengukur kebisingan (Integrating Sound Level Meter)
           5) Pengukur kualitas air
           6) Pengukur kualitas udara (Air Polution Test Kit)
           7) Sanitarian Kit
           8) Vector Kit
           9) Peralatan lain yang dipergunakan untuk mengukur kualitas lingkungan
   3. Metode
       Kegiatan ini dilaksanakan secara berkala, sekurang-kurangnya 2(dua) kali dalam satu
       tahun. Pengawasan pada kejadian luar biasa (KLB) dilakukan sesuai dengan kondisi
       setempat dan memperhatikan risiko atau gangguan pada kesehatan masyarakat. Cara
       pengawasan dilakukan melalui wawancara, pengamatan, pengukuran, analisa
       laboratorium, penyusunan laporan dan tindak lanjut.
   4. Dana
       Sumber pendanaan yang diperlukan dapat diperoleh melalui :
           a. APBN
           b. APBD
           c. Bantuan Luar Negeri
           d. Bantuan lain yang tidak mengikat




                                               8
By : Febry Fahmi, Kedokteran Universitas Riau, November 2009


2.4. Kerangka Teori Proyek Peningkatan Mutu
           Upaya peningkatan mutu ini dimulai dengan mendapatkan topik permasalahan
    yang kemudian dilakukan observasi kegiatan terhadap topik permasalahan yaitu dibidang
    Kesling Puskesmas Xxxxx Xxxxx. Observasi dilaksanakan melalui pendekatan program.
    Kemudian dilakukan wawancara dengan petugas kesehatan dibidang Kesling yang
    dimulai pada bulan November 2009. Hasil observasi dan wawancara didiskusikan
    dengan pembimbing kegiatan upaya peningkatan mutu untuk menentukan permasalahan
    yang perlu mengalami perbaikan.
            Metode yang digunakan dalam upaya peningkatan mutu ini adalah metode Plan,
    Do, Check, and Action (PDCA cycle) yang didasari atas masalah yang dihadapi
    (problem-faced) ke arah penyelesaian masalah (problem solving). Konsep PDCA cycle
    pertama kali diperkenalkan oleh Walter Shewhart pada tahun 1930 yang disebut dengan
    ―Shewhart cycle―. Selanjutnya konsep ini dikembangkan oleh Dr. Walter Edwards
    Deming yang kemudian dikenal dengan ‖ The Deming Wheel”. PDCA cycle berguna
    sebagai pola kerja dalam perbaikan suatu proses atau sistem. Ada beberapa tahap yang
    dilakukan dalam PDCA cycle, yaitu:
     a. Plan
         1. Mengidentifikasi output pelayanan, siapa pengguna jasa pelayanan, dan harapan
               pengguna jasa pelayanan –tersebut melalui analisis suatu proses tertentu.
         2. Mendeskripsikan proses yang dianalisis saat ini
               Pelajari proses dari awal hingga akhir, identifikasi siapa saja yang terlibat
                dalam prose tersebut.
               Teknik yang dapat digunakan : brainstorming
         3. Mengukur dan menganalisis situasi tersebut
               Menemukan data apa yang dikumpulkan dalam proses tersebut
               Bagaimana mengolah data tersebut agar membantu memahami kinerja dan
                dinamika proses
               Teknik yang digunakan : observasi
               Mengunakan alat ukur seperti wawancara
         4. Fokus pada peluang peningkatan mutu
               Pilih salah satu permasalahan yang akan diselesaikan
               Kriteria masalah : menyatakan efek atas ketidakpuasan, adanya gap antara
                kenyataan dengan yang diinginkan, spesifik, dapat diukur.

                                                9
By : Febry Fahmi, Kedokteran Universitas Riau, November 2009


         5. Mengidentifikasi akar penyebab masalah
               Menyimpulkan penyebab
               Teknik yang dapat digunakan : brainstorming
               Alat yang digunakan : fish bone analysis Ishikawa
         6. Menemukan dan memilih penyelesaian
               Mencari berbagai alternatif pemecahan masalah
               Teknik yang dapat digunakan : brainstorming
     b. Do
         1. Merencanakan suatu proyek uji coba
               Merencanakan sumber daya manusia, sumber dana, dan sebagainya.
               Merencanakan rencana kegiatan (plan of action)
         2. Melaksanakan Pilot Project
               Pilot Project dilaksanakan dalam skala kecil dengan waktu relatif singkat (± 2
               minggu)
     c. Check
         1. Evaluasi hasil proyek
               Bertujuan untuk efektivitas proyek tersebut
               Membandingkan target dengan hasil pencapaian proyek (data yang
                dikumpulkan dan teknik pengumpulan data harus sama)
               Target yang ingin dicapai 80%
               Teknik yang digunakan: observasi dan survei
               Alat yang digunakan: kamera dan kuisioner
         2. Membuat kesimpulan proyek
               Hasil menjanjikan namun perlu perubahan
               Jika proyek gagal, cari penyelesaian lain
               Jika proyek berhasil, selanjutnya dibuat rutinitas
    d. Action
        1. Standarisasi perubahan
               Pertimbangkan area mana saja yang mungkin diterapkan
               Revisi proses yang sudah diperbaiki
               Modifikasi standar, prosedur dan kebijakan yang ada
               Komunikasikan kepada seluruh staf, pelanggan dan suplier atas perubahan
                yang dilakukan.
                                                10
By : Febry Fahmi, Kedokteran Universitas Riau, November 2009


              Lakukan pelatihan bila perlu
              Mengembangkan rencana yang jelas
              Dokumentasikan proyek
        2. Memonitor perubahan
              Melakukan pengukuran dan pengendalian proses secara teratur
              Alat yang digunakan untuk dokumentasi




                                  Gambar 2.1. PDCA cycle




                                              11
By : Febry Fahmi, Kedokteran Universitas Riau, November 2009


                                             BAB III
                        KEGIATAN PROYEK PENINGKATAN MUTU


     Tabel 3.3 Penentuan prioritas masalah program Kesling di Puskesmas xxxxx.
                                                 Kemampuan
  Kriteria Masalah        Urgensi     Solusi                         Biaya     Total   Rank
                                                    merubah
Kegiatan pendataan dan
pengawasan sanitasi          3           2             2               1        12          I
tempat-tempat umum
Kegiatan pemeriksaan
                             3           2             1               1         6          II
rumah tangga sehat.
Kegiatan pendataan dan
pengawasan sanitasi
                             3           1             1               1         3       III
tempat pengolahan
makanan
           Berdasarkan tabel penentuan prioritas masalah, dapat disimpulkan bahwa, yang
   menjadi prioritas masalah dan selanjutnya akan dicari altenatif pemecahan masalah, yaitu
   belum optimalnya pelaksaanaan kegiatan pendataan dan pengawasan sanitasi tempat-
   tempat umum di wilayah kerja Puskesmas Xxxxx.


   A. Analisis penyebab masalah
       Beberapa hal yang menjadi penyebab masalah dilihat dari beberapa aspek adalah pada
       tabel berikut.
                                 Tabel 3.4. Analisis Penyebab Masalah
               Masalah              Penyebab timbulnya masalah               Evidance base
       Belum optimalnya             Man                               Berdasarkan wawancara
       kegiatan pendataan dan        Terbatasnya jumlah sanitarian     jumlah sanitarian hanya
       pengawasan tempat-                                              1 orang dengan tugas
       tempat umum                                                     yang banyak.
                                    Methode                           Berdasarkan wawancara
                                     Belum tersedianya pedoman         pedoman untuk
                                     umum untuk pendataan dan          melakukan sanitasi
                                     pengawasan sanitasi.              tempat-tempat umum

                                               12
By : Febry Fahmi, Kedokteran Universitas Riau, November 2009


                                                                 belum ada.
                                   Material                     Berdasarkan observasi
                                    Tidak tersedianya formulir   dan wawancara peralatan
                                    pengamatan dan peralatan     untuk pemeriksaan
                                    pengukuran kualitas          belum tersedia, formulir
                                    lingkungan untuk melakukan   sanitasi tidak tersedia
                                    pemeriksaan sanitasi.        lengkap.
                                   Money                        Berdasarkan wawancara
                                    Belum tersedianya dana       dengan petugas Kesling
                                    khusus untuk                 dan Kepala Puskesmas
                                    penyelenggaraan kegiatan     belum ada dana khusus
                                    pendataan dan pengawasan     untuk penyelenggaraan
                                    sanitasi.                    kegiatan.
       Di bawah ini dapat dilihat hubungan antara keempat faktor di atas dengan
       menggunakan fishbone analysis Ishikawa.




                                                13
By : Febry Fahmi, Kedokteran Universitas Riau, November 2009




                                      MATERIAL                                        MAN


             Tidak tersedianya                                    Terbatasnya
             formulir pengamatan                                  jumlah tenaga
             dan peralatan sanitasi                               pelaksana


                                                                                            Belum optimalnya
                                                                                            kegiatan pendataan dan
                                                                                            pengawasan sanitasi
                                                                                            tempat-tempat umum.


                                                               Belum ada
              Belum                                            pedoman umum
              tersedianya dana                                 pendataan dan
              khusus untuk                                     pengawasan
              kegiatan                                         sanitasi


                                 MONEY                                            METHODE

                                                                         Gamba




                                                                        14
By : Febry Fahmi, Kedokteran Universitas Riau, November 2009


                                      r 3.1. Fishbone Ishikawa




                                              15
By : Febry Fahmi, Kedokteran Universitas Riau, November 2009




                                    DAFTAR PUSTAKA


   1. Depkes RI. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 288/MENKES/SK/III/2003 Tentang
       Pedoman Penyehatan Sarana Dan Bangunan Umum. Jakarta : 2003.
   2. Depkes RI. 2006. Intervensi Faktor Lingkungan Cegah 13 Juta Kematian.
       http://www.depkes.go.id [Diakses 7 Desember 2009].
   3. Arifin, Munif. 2009. Beberapa Pengertian Tentang Sanitasi Lingkungan.
       http://inspeksisanitasi.blogspot.com/2009/07/sanitasi-lingkungan. [Diakses 7
       Desember 2009].
   4. Seksi Penyehatan Lingkungan. Laporan rekapitulasi penyakit berbasis lingkungan
       Puskesmas kota Xxxxx. Xxxxx: Dinkes kota Xxxxx, 2006.
   5. Setiyabudi R. 2007. Dasar Kesehatan Lingkungan. Disitasi dari :
       http://www.ajago.blogspot.htm. [Diakses : 20 November 2009].
   6. World Health Organization (WHO). 2008. Environmental Health.
       http://www.WHO.int. [Diakses 20 November 2009].
   7. Depkes RI. Undang-undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan. Jakarta : 1992.
   8. PEMKO Muara Enim. PERDA Kabupaten Muara Enim No.3 Tahun 1992 Tentang
       Susunan Organisasi Dan Tata Kerja Dinas Sosial. Muara Enim : 1994.
   9. Adriyani, Seto. Manajemen Sanitasi Pelabuhan Domestik Di Gresik, Jurnal Kesehatan
       Lingkungan. Surabaya : 2005.




                                              16

								
To top