Docstoc

cari cari kesempatan ama cowok doyan sex

Document Sample
cari cari kesempatan ama cowok doyan sex Powered By Docstoc
					TAKSI




  by

 Tcamy
                           TAKSI
        Gerigi metalik melingkar mengelilingi bongkah karet hitam menggelinding
mulus melintasi jalan Jendral Sudirman. Kerikil-kerikil kecil berloncatan di sekitar
gesekan ban-ban dan aspal berantakan di beberapa kawasan Jakarta pinggiran. Sinar
mentari mulai menggerayang di balik awan pagi yang masih perawan, di tengah
Jakarta yang sedang digandrungi hujan.
        Surjanto, 25 September 1959. Memulai tugas sejak sembilanpuluh enam
sampai sekarang. Sejuta cerita terdengar dari kursi belakang, kadang dari kursi depan.
Dua minggu, duapuluh kali buka tutup pintu. Menjelang duaribu delapan agak lebih
laku!? Maklum!? Mau tahun baru!?.




                                                                                    1
Berangkat dari rumah:
Senin, 17 Desember 2007
06.30
                                          Penumpang 1
                     Arjuna dari Parung Kuda

        Ketika Sang Raja Siang memancar garang, Jakarta lengang. Orang-orang
metropolis tipe menengah ke bawah lebih suka naik angkutan kota atau Busway
daripada naik taksi. Mahal sih!? Apalagi merk yang ku supiri tidak memakai tulisan
TARIF LAMA!?. SEPI!!.
        Aura panas kompor gas, angin kering yang membawa ribuan butir debu
sehalus bedak tabur, matahari siang bolong yang katanya bisa menyebabkan kangker
kulit, ketiganya membabi buta menyergap tubuhku yang baru saja di balur minyak
tawon oleh wanita tercantik se antero jagat raya. Sengatan sinar ultraviolet yang
menurut iklan body lotion bisa membuat kulit putih menjadi hitam membakar kulitku
yang sudah hampir hitam menjadi benar-benar hitam.
        Aku tertidur kurang lebih sepuluh menit di dalam taksi yang terparkir tepat di
bawah pohon besar yang pada batangnya terdapat tulisan YULI CINTA IPANK dan
ASHOI IN DE HOI DI CIUM AMOI. Satu hal lagi yang paling ku ingat dari pohon
itu adalah rantingnya yang sudah mulai reot karena terlalu sering di gelantungi jaket
kulit palsu milik para tukang ojek.
        Di pelataran sempit tepat pinggir comberan besar bau busuk di daerah
Pancoran, Jakarta Selatan aku mendapat penumpang pertama setelah tujuh jam
menunggu sampai seragam bercorak burung terbang berwarna biru yang telah di
strika oleh wanita tercantik se antero jagat raya ikut-ikutan menjadi bau.

Upi           : “Naek naon, A?”
               (“Naik apa, A?”)
Tama          : “Naek naon nya? Teuing atuh!? Aa ge lieur!?”
               (“Naik apa ya? Gak tau juga deh!? Aa juga bingung!?”)
                “Coba urang tanyakeun heula ka si bapa eta!?”
               (“Coba aku tanyain dulu ke bapak yang itu!?”)
                “Pa, kalou pergi ke Senayan teh naek apah?”
Surjanto      : “Naik taksi saya juga bisa, Mas!?”
                “Monggo…”
Tama          : “Pi!? Monggo ceunah!?”
               (“Pi, Monggo katanya!?”)
Upi           : “Taksi mah mahal atuh, A!?”
               (“Taksi mah mahal dong, A!?)
Tama          : “Teu nanaon lah… Urang nu mayar!?”
               (“Gak apa-apa lah, Aku yang bayar!?)
Upi           : “Ng’geus atuh mun kitu mah!?”
               (“Ya udah deh kalo gitu!?”)
                “Sok… Aa heula naek!?”
               (“Ya udah… Aa duluan yang naik!?”)
Surjanto      : “Monggo Mas… Mba…”




                                                                                    2
        Aku bukan penggemar tape singkong yang biasa disebut peuyeum oleh orang-
orang Bandung, tapi aku tau kalau penumpangku datang dari kampung. Sesosok
jejaka hitam manis dengan kemeja kebesaran bercorak kotak-kotak berwarna abu-abu
nampak begitu ceria walaupun di tibani backpack berisi tiga gulungan peta dan buku-
buku seberat batu di balik tubuhnya yang kuyu. Perawan tinggi semampai berbusana
panjang berwarna kuning keemasan membawa serentet rantang mengikuti sang jejaka
manis di belakang.
        Rambut klimis, sedikit kumis, celana lepis, tersenyum manis. Sungguh sebuah
deskripsi yang menggelikan untuk seorang pemuda metropolitan. Ikat pinggang hitam
melingkar tepat di atas pusar melilit perut sang jejaka yang tinggi menjulang, namun
kering kerontang. Sang gadis berhalis tebal yang menjinjing rantang berambut
kepang, ikal mayang membuat jejaka manis mabuk kepayang.

Upi           : “Aa tanyakeun heula atuh ongkosna sabaraha?”
               (“Aa tanyain dulu dong ongkosnya berapa?”)
Tama          : “Ke heula atuh, Pi!? Sabar!?”
               (“Ntar dulu dong, Pi!? Sabar!?”)
Surjanto     : “Ada yang bisa saya Bantu, Mas?”
Tama         : “Ah… tidak, Pa… Cuman pingin tau sajah, kalou naik mobil taksi
ongkos sampai Senayan berapah?”
Surjanto     : “Lho ya monggo dilihat saja argonya, Mas!?”
Upi          : “Tingali dina argo ceunah, Aa!?”
               (“Diliat di argo katanya, Aa!?”)
Tama          : “Argo teh naon?”
               (“Argo tuh apa?”)
Upi           : “Argo teh ekeur ningalian harga!?”
               (“Argo tuh yang buat ngeliatin harga!?”)
Tama          : “Oh… aya nyah?”
               (“Oh… Ada ya?”)
Upi           : “Teuing… Tanyekeun deui coba dimana argona?”
               (“Tau deh, tanyain lagi coba dimana argonya?”)
Tama          : “Hapunten, Bapa… Argonya teh dimana? Saya belum pernah naik
taksi inih… Hapunten, Bapa… Maaf!?”
Surjanto      : “Argonya dimana?”
                “Mas ndak tau argonya dimana?”
Tama          : “……………………………….”

       Jika orang bicara “don’t judge a book by the cover”, maka istilah itu tidak
berlaku untuk sosok gadis jelita dan pria muda yang duduk di belakangku. Dari
representasi fashion mereka yang tidak sejalan dengan manusia era duaribuan, kukira
paling tidak pasangan yang tengah jatuh cinta ini akan berbicara sesuai dengan
pergaulan anak muda seusia mereka.
       Tapi ternyata tidak juga, rambut klimis, sedikit kumis, celana lepis, dan
senyum manis milik sang jejaka nyatanya tidak menjamin bahwa orang yang
kampungan punya kelebihan pada delapanpuluh persen air yang terkandung pada otak
mereka.
       Jangankan berdiskusi tentang letak Colosseum di Roma atau Tembok Raksasa
di Republik Raktat Cina, mencari letak argo yang ada di depan mata saja ternyata
mereka tidak bisa.

Surjanto      : “Iki lho, Mas…”


                                                                                  3
                “Lhaa… iki!?”
                “Iki namanya ARGO!?”
                “Gunanya untuk memberi tau berapa ongkos yang harus Mas
bayar!?”
                 “Ngerti Mas?”
Upi            : “Masya Allah Aa…”
                 “Limarebu, Aa!?”
                (“Limarebu, Aa!?”)
                “Meni mahal-mahal teuing!?”
                (“Kok mahal banget sih!?”)
Tama           : “Maaf, Bapa… Itu tidak salah belum sampai tujuan sudah enamribu
tujuhratus?”
Surjanto     : “Yo ndak salah Mas…”
               “Kalau naik taksi memang begini!?”
               “MAHAL!!”
Tama         : “Oh kitu!?”
Surjanto     : “Bagaimana? Mau di lanjutkan atau tidak sampai Senayan?”
               “Kalau Mas ndak punya uang untuk bayar saya ndak berani bawa
Mas sampai Senanyan!?”
               “Jauh itu, Mas!?”
               “Bisa Rugi saya!?”
Upi          : “Kumaha atuh, A?”
                (“Gimana dong, A”)
Tama           : “Emmhh… Tidak apa-apa, Pa… terus sajah sampai Senanyan!?”
                 “Da saya juga tidak tau kalou harus turun lagi teh kesananyah harus
naik apah!?”
Surjanto     : “Bisa sampai seratus ribu ini Mas kalau macet!?”
Upi          : “Saratus rebu, Aa… Kumaha?”
                (“Seratus ribu, Aa… Gimana?”)
                “Aya teu acisna?”
                (“Ada ga uangnya?”)
Tama           : “Aya… Aya…”
                (“Ada… Ada…”)
                “Tos lah… cicing heula Upi na!?”
                (“Udah… diem aja dulu Upinya!?”)
Surjanto       : “Bagaimana?”
Tama           : “Sudah… Tidak apa-apa, Pa… Diteruskan sajah!?”
Surjanto       : “…………………………………………………..”

       Hatiku sedikit khawatir. Perasaan tertipu dan fikiran buruk tentang penusukan
terhadap supir-supir taksi yang kubaca di koran-koran ibukota sempat menggerayangi
anganku yang tidak bisa berhenti berprasangka.
       Sepanjang jalan aku diam, sang gadis tidak berhenti berbicara, nampaknya ia
khawatir dengan keadaan kantong sang pangeran pembawa peta. Saat itu aku hanya
berdoa, mudah-mudahan saja tidak pulang luka-luka, paling tidak jika harta disita, aku
masih bisa berjumpa keluarga.

Tama           : “Di Senanyan ada lomba, Bapa tau tidak?”
Surjanto       : “Di senanyan memang selalu banyak lomba…”
                 “Saya juga pernah main bola!?”
Tama           : “Oh kitu!? Saya juga suka, Pa main sepak bola!?”


                                                                                    4
Surjanto    : “Memang Mas mau tanding bola?”
Tama        : “Tidak… bukan sepak bola!?”
Surjanto    : “Lalu?”
Tama        : “Saya teh ada lomba semacam cerdas cermat”
              “Hadiahnya lumayan…”
Surjanto    : “Cerdas cermat apa, Mas?”
Tama        : “Yah gitu ajah…”
              “Menjawab pertanyaan!?”
              “Berhitung!?”
Surjanto    : “Memang sampean sekolah?”
Tama        : “Saya kelas dua SMA, Pa…”
Surjanto    : “Sekolah dimana?”
              “Moso anak sekolah ndak tau letak argo?”
Tama        : “Heuheuh…”
              “Itu mah karna saya belum pernah naik mobil taksi!?”
              “Di kampung tidak ada taksi!?”
Surjanto    : “Memangnya kalau sekolah Mas naik apa?”
Tama        : “Jalan sajah, Pa…”
              “Da sekolahnya juga tidak jauh!?”
              “Hanya dua kilo!?”
Surjanto    : “Dua kilo itu jauh lho, Mas!?”
              “Pie?”
              “Jaman sekarang ini sudah banyak mobil!?”
              “Ada angkot! Ada bis!?”
              “BOHONG ini Masnya…”
              “Moso sekolah dua kilo jalan kaki!?”
Tama        : “He’euh…”
              “Serius saya Bapa…”
              “Pan kalou di kampung saya mah sekolahnya teh lewatin jembatan
kayu!?”
               “Di bawahnya teh ada kali!?”
               “Kalou naik sapedah juga takut roboh…”
               “Mak’lum sudah reot!?”
               “Makanyah saya lebih pilih jalan kaki sajah!?”
Surjanto     : “Memang kampung, Mas dimana?”
Tama         : “Parung Kuda, Bapa…”
               “Lamun Bapa mau menuju ka Sukabumi…”
               “Naaah… bapa teh pasti ngalewatan kampung sayah!?”
               “Dari pinggir jalan teh teruuuuus sajah masuk ke dalam!?”
               “Jauh lamun dari pinggir jalan mah!?”
               “Sapuluh kilo ada lah!?”
               “Nanti di sanah ada kebon jagong!?”
               “Kebun jagung maksud sayah!?”
               “Naah, habis melewati kebon jagong… Baru Bapa sampai di
kampung sayah!?”
Surjanto     : “Walah… walah… ndak ngerti saya, Mas!?”
               “Saya ndak pernah ke daerah sana!?”
               “Setiap taun saya pulangnya ke Yogya, Mas!?”
Tama         : “Oh Jogja?”
               “Waaah… Enak atuh, Pa…”


                                                                          5
Surjanto       : “Enak bagaimana?”
Tama           : “Ya enak atuh!?”
                 “Jogja teh pan kota pelajar!?”
                 “Biasanya pasilitasnyah lengkap!?”
                 “Pendidikan juga terjamin!?”
                 “Kuliah di UGM salah satu cita-cita saya itu, Pa!?”
Surjanto       : “Sok tau…”
                 “Memangnya Mas sudah pernah ke Yogya?”
                 “Belum toh!?”
Tama           : “Memang belum…”
                 “Tapi saya tau sedikit!?”
Surjanto       : ‘Tau opo?”
Tama           : “Tau tentang UGM, nasi gudeg, Sheila on 7, Letto, malah saya juga
tau lambang Jogjakarta teh artinyah apah!?”
Surjanto       : “Lambang opo?”
                 “Saya saja orang Yojo ndak tau arti lambangnya!?”
                 “Memang opo arti lambangnya?”
Tama           : “Arti lambanya teh kira-kira beginih… ”
                 “Kalou secara keseluruhan bintang bersudut lima melambangkan
Ketuhanan Yang Maha Esa”
                 “Tugu yang bersayap melambangkan perikemanusiaan”
                 “Lingkaran merah yang mngelilingi lingkaran putih melambangkan
kebangsaan”
                 “Ombak dengan rangkaian bunga teratai melambangkan kerakyatan”
                 “Padi dan kapas melambangkan kesejahteraan sosial”
                 “Nah lamun unsur kepemimpinan Jogja nyah terlihat dari gambar
sayap tugu dengan jumlah bagian dalam sembilan, yang berarti Hamengkubuwono
IX, dan bagian luar ada delapan, yang berarti Sri Paku Alam VIII”
                 “Begitu Pa, kalou tidak salah mah!?”
Surjanto       : “…………………………………………………………………….”
                 “Tau darimana sampean tentang lambang Yogyakarta?”
Tama           : “Baca buku atuh Bapa!?”
                 “Saya teh memang banyak tau tentang Jogja karna saya pingin sekali
kuliah di Jogja!?”
                 “Kalou saya punya biaya mah, Insya Allah saya pingin ke Jogja!?”
                 “Bukannya saya tidak mau kuliah di Jakarta!?”
                 “Siapa juga atuh yang tidak mau jadi anak UI?”
                 “Tapi da lamun di Jakarta teh biaya hidupna MAHAL!?”
                 “Lamun di Jogja mah sepertinya agak ringan!?”
                 “Saya juga bisa kerja supaya tidak terlalu membebankan ema!?”
                 “Cari-cari magang di Jogja pan keliatanya teh lebih mudah daripada
di Jakarta!?”
Surjanto       : “Memang cita-cita Mas rencananya mau jadi apa?”
Tama           : “Saya mah mau jadi sarjana tehnik arsitektur, Bapa!?”
                 “Rencananya mah pingin membangun kampung!?”
Upi            : “Ngabangun jambatan di kampung urang oge aatuh Aa…”
               (“Membangun jembatan di kampung kita juga dong, Aa…”)
Tama          : “Iya atuh eta mah PASTI!?”
               (“Iya dong, itu mah PASTI!?”)




                                                                                 6
Upi          : “Nanti kalau si Aa sudah punya uang mah kita juga berencana mau
nikah!?”
                “Bener teu, A?”
Tama          : “Heheheh…”
Surjanto      : “Huaaallaaah… Masih muda kok bicaranya sudah nikah, Mba?”
Upi           : “Ah… umur kita sekarang juga sudah dalapanbelas, Bapa!?”
                “Tidak apa-apa kalou sudah siap mah nikah sajah!?”
                “Bener teu, A?”
Tama          : “Heu’euh lah!?”
                “Eta mah gampang!?”
                “Memang kalou kita sudah banyak uang, sudah nikah, Upi maunya
kita bulan madu kemanah? Heuheuheuh…”
Upi           : “Ka Hongkong meureun, Aa… Heuheuh…”
              (“Ke Hongkong mungkin, Aa… heuheuh…”)
Tama         : “Ka Hongkong?”
Surjanto     : “Hualaah… Gaya sampean… Seperti konglomerat saja!?”
               “Memangnya di Hongkong apa bagusnya?”
               “Di Glodok sini juga banyak Mba orang-orang Hongkong!?”
Tama         : “Kalou ke Hongkong mah… Mungkin kita mau ke Victoria Peak,
Bapa!?”
Surjanto     : “Tempat opo itu, Mas?”
Tama         : “Itu mah tempat bagus, Bapa!?”
               “Di sana kita bisa melihat Hongkong dari atas bukit!?”
               “Tapi harus naik Peak Tram dulu!?”
               “Semacam kendaraan untuk menuju ke atas nyah!?”
               “Da Sepertinya teh memang bagus!?”
Surjanto     : “Ooo…Begitu!?”
               “Tak kira Hongkong itu sama saja dengan Glodok, Mas!?”
               “Ternyata ndak juga toh!?”
Tama         : “Hahah…”
               “Si Bapa mah aya-aya wae!?”
               “Terus?”
               “Selain ke Hongkong, Upi mau kemana lagih?”
Upi          : “Oh lamun teu ka Hongkong…”
               “Ka Venecia oge teu nanaon lah, A!?”
              (“Oh kalau ga ke Hongkong ke Venecia juga nggak apa-apa lah, A”)
Surjanto      : “Waah… Venecia itu jauh Mba… Di Eropa!?”
                “Saya sering lihat liputannya di TV!?”
                “Bagus itu Mba, kita bisa naik perahu!?”
                “Tapi kalau saya pikir, Mba lebih baik ke Hongkong saja!?”
                “Lebih dekat daripada ke Eropa!?”
Tama          : “Hahahah… Yah tidak apa-apa atuh, Bapa… Mun punya uang mah
jangankan ka Venice, Upi mau keliling dunia juga okeh!?”
Upi           : “Ah… Tidak usah keliling dunia Upi mah, Aa!?”
                “Ke Venecia sajah sudah seperti surga!?”
                “Romantis!?”
                “Hihihih”
Surjanto      : “Yang romantis itu Perancis, Mba!?”
                “Saya sudah lihat liputannya!?”
                “Waaaah… Jalananannya bagus sekali lho!?”



                                                                                 7
                “Banyak lampu-lampu!?”
Tama          : “Hahahah… Ari Si Bapa!?”
                “Lampu mah dimana-mana juga banyak, Bapa!?”
                “Perancis teh memang romantis, tapi da disanah tidak ada
RialtoBridge seperti di Venice!?”
                “Heeeuh… Eta mah tempat meni Romantis pisan, Bapa…”
Surjanto      : “Opo itu, Mas Rialto Brits?”
Tama          : “Oh… itu teh jembatan yang melintas di atas Grand Canal!?”
                “Bapa pasti pernah liat di tipi!?”
                “Sungai yang panjang tea!?”
                “Sungai yang lamun kita ke sanah teh harus naek gondola!?”
                “Parahu yang bapa bilang tadi!?”
                “Ah, pasti bapa sudah pernah lihat liputannyah!?”
Surjanto      : “Ooooh…”
                “Nggeh, Mas!? Nggeh!?”
                “Saya memang sudah pernah lihat liputannya!?”
                “Jadi perahu itu namanya gondola… baru tau saya, Mas!?”
                “Saya juga kepingin sekali itu ajak istri saya ke sana naik gondola!?”
Tama          : “Hayu atuh, bareng-bareng sama sayah!?”
                “Hahahah….”
Upi           : “Hahahahah…”
Surjanto      : “Hoo…Boleh itu Mas!?”
                “Kapan?”
                “Hahahah…”

        Setelah beberapa menit aku ngobrol dengan mereka, aku berubah fikiran,
ternyata “don’t judge a book by the cover” berlaku juga pada jejaka manis bergaya
kampungan yang semakin ia bicara semakin pembicaraannya mengalahkan style nya
itu. Pantas saja si gadis kepang ikal mayang jatuh cinta pada jejaka sampai rela jauh-
jauh menjinjing rantang.
        Perjuangan kekasih tercinta cukup sulit untuk sampai ke ranah Batavia. Bukan
tanpa cita-cita, ia hanya ingin meraih secarik kertas beasiswa untuk menamatkan
study SMA. Sekolah kecil, terpencil, bermurid secuil berhasil mengirimkan arjunanya
ke Jakarta dalam rangka Lomba Cerdas Cermat Remaja Nusantara. Pratama Indra
Perdana, typical nama orang Sunda, ia berharap menjadi juara.

Surjanto       : “Macet Mas!? Sudah duapuluhlima ribu!?”
Tama           : “Iya Bapa… tidak apa-apa… Sok ajah!?”
                 “Saya siap kalou uang seratus mah!?”
Surjanto       : “Maklum ini Mas… Jakarta sudah terlalu banyak orang!?”
                 “Orang desa seperti saya ini yang bikin Jakarta penuh!?”
                 “Mending saya sudah dapat kerja!?”
                 “Lha teman saya… sama-sama lulusan SMA!?”
                 “Luntang-lantung dia… Ndak punya apa-apa!?”
Tama           : “He’euh Pa…”
                 “Saya juga suka tidak percaya kalou lihat sinetron di tipi teh kesannya
semua orang Jakarta teh kaya-kaya…”
                 “Padahal mah dari luas 661,62 kilo meter persegi, Jakarta teh hanya
ditinggalin oleh tujuhpuluh lima persen orang miskin!?”



                                                                                      8
               “Buat apa atuh produser pilem menayangkan mimpi-mimpi indah buat
orang-orang di kampung lewat sinetron?”
               “Adik saya sajah pinginnya teh pakai baju jiga nu di sinetron wae!?”
               “Yang rambutna teh di palalintir!?”
               “Galing-galing kariting!? Di cet warna warni!?”
               “Meni jiga jurig!?”
               (Udah kaya setan!?”)
              “Yah pokonamah begitulah akibatnyah!?”
              “Meni loba urang ti kampung nu asup ka Jakarta!?”
              (“Banyak sekali orang dari kampung yang masuk ke Jakarta”)
                “Kalou sudah begini yang susah teh da pemerintah juga!?”
                “Bener teu, Pa?”
Surjanto      : “Nggeh Mas!? Betul!?”
                “Saya juga ndak suka itu sama film-film yang hanya menawarkan
mimpi untuk orang-orang desa!?”
                “JAHAT itu Mas!?”
                “Pergaulan di desa jadi ikut-ikutan bebas seperti di Jakarta!?”
                “Di kampung saya saja sudah dua yang hamil di luar nikah!?”
                “Keterlaluan itu, Mas!?”
                “Pengaruh tivi itu mas!?”
Tama          : “Itu mah di kampung sayah juga banyak, Bapa!?”
                “Malah PSK terbanyak teh rata-rata dari Sukabumi dan Cianjur!?”
                “Maklum saya mah…”
                “Jangankan di Indonesia yang negaranya besar beginih!?”
                “Yang susah di urus!?”
                “PBB sajah sudah menyatakan kalou sekitar 25 ribu orang di dunia
saja teh meninggal setiap harinya hanya karena lapar!?”
                “Jadi ya wajar atuh mun kemiskinan teh bisa memaksa orang untuk
menjadi PSK, mencuri, ya atuh kumaha? Daripada mati lapar?”
                “Tapi yang saya tidak habis pikir teh kenapa atuh ada yang namanyah
human trafficking?”
                “Jualan orang itu teh Bapa!?”
Surjanto      : “Jualan orang?”
                “Masya Allah!? Jahatnyaaaaa…”
Tama          : “He’euh!? JAHAT!?”
                “Pan padahal mereka yang menjual manusia teh sama-sama manusia
juga!?”
                “Kenapah atuh mereka tidak punya perasaan?”
                “Hhhh… Da eta mah semuanyah juga kembali ke iman masing-
masing orang!?”
                “Jangankan kita orang Indonesia…”
                “Orang Mesir oge nu nagarana sudah kaya… Yang kekayaan
alamnya teh ada minyak, besi, posfat, emas, titanium... Perempuan-perempuannya
juga masih banyak yang bekerja menjadi PSK!?”
                “Padahal mun dipikir-pikir mah di sanah banyak muslimnyah!?”
                “Itu kan jelas-jelas memang imannyah sajah yang mulai BOBROK!?”
                “Memang semuanyah juga manusianya da yang harus di benerkeun
teh!?”
                “Bener teu, Pa?”
Surjanto      : “Betul Mas!? Betul sekali itu!?”



                                                                                 9
                “Pada akhirnya memang iman yang menentukan semua hal!?”
Tama          : “Yah waloupun sayah juga belum bisa di bilang beriman…”
                “Tapi Insya Allah saya mah lurus-lurus sajah, Pa!?”
                “Tidak punya uang juga yang penting usaha!?”
                “HALAL!?”
                “Insya Allah ada jalan!?”
                “Contohnya seperti inih sajah!?”
                “Jauh-jauh sayah datang dari Parung Kuda ke Jakarta!?”
                “Tidak ada suporter!?”
                “Tidak ada orang tua!?”
                “Untung inih juga ada Upi yang mau menemani!?”
                “Mun henteu mah da urang teh sorangan wae!?”
               (“Kalo nggak mah ya saya sih sendirian aja!?”)
                “Hanya di kasih bekal duaratus rebu oleh sekolah!?”
                “Dan limapuluh rebu oleh ema…”
                “Untung sayah punya tabungan juga!?”
                “Yah satu minggu di Jakarta mudah-mudahan cukuplah!?”
                “Nekad sajah saya mah berangkat!?”
                “Demi beasiswa ini teh, Bapa!?”
                “Demi cita-cita!?”
Upi           : “AMIN, Aa…”
                “Insya Allah Aa bisa kalou mau usaha!?”
                “Upi mah da ngadoakeun Aa wae!?”
               (“Upi mah selalu doain Aa terus…”)
Tama          : “Heheh…”
                “Nuhun atuh, Pi mun kitu mah!?”
               (“Heheh… Mmakasih banget ya, Pi kalo gitu!?”)
Upi           : “Sami-sami, Aa!?”
               (Sama-sama, Aa)
Surjanto      : ^_^

        Semakin aku melihat semangat sang jejaka, semakin besar juga aku merasa
sinaran cinta yang membara dari sang gadis jelita. Saingan Tama datang dari Jakarta,
Palembang, Jaya Pura dan Surabaya. Hebat!? Empat dari kota besar, dan satu bukan.
Tidak dari kota hujan, atau Parijs van Java. Di antara mereka berlima, hanya Tama
satu-satunya siswa yang datang dari SMA beratap reot di daerah Parung Kuda.
Pratama Indra Perdana adalah satu-satunya siswa yang berhasil menjadi pahlawan
berotak gemilang dari tanah Sunda.
        Rantang berisi lupis ketan ditabur kelapa dan kuah gula jawa mulai di buka.
Aku cicipi satu potong, rasanya enak, tidak bohong. Sang gadis menyuapi pahlawan
hati dengan berseri-seri. Manisnya bekal buatan sang permaisyuri meleleh memecah
lidah si pejantan melebihi nikmatnya permen cokelat ala Fremantle berkali-kali.




                                                                                 10
                                     Penumpang 2
               Semalam Bersama Prameswari

        Mewangi bagaikan kereta kencana, taksiku berbelok di daerah Salemba.
Lambaian jemari lentik sang penyelamat nyawa berseri cantik membuat dag dig dug
liar seperti tersengat listrik. Baru kali ini aku melihat wajah semanis tebu murni.
Tiada kesal ia menanti di dekat tumpukan karung goni. Pancaran senyum penuh kasih
di balut jas putih mengembang untukku setelah membuka pintu tertatih-tatih,
“Terimakasih…”, ucapnya lirih.
        Cucu hawa yang bersandar penuh wibawa merenungi kisah cintanya yang
akan terpisah dua benua. Sang pemuja datang tergesa-gesa membawa sekuntum
bunga. Lili putih seputih wajah sang empunya, senyumannya bak puteri raja, teriris
menahan perih di dalam dada. Sulit rasanya berpisah dengan belahan jiwa.
        Kukira sesaat lagi di langit Tuhan akan menghadirkan lukisan terang Sang
Dewi Bulan. Pemuja akan bertahan sampai terpisah malam, sebelum yang tercinta
menghilang dari hadapan. Pasti kembali tahun depan, ia berucap penuh harapan.

Prameswari    : “Simbara… Makasih ya bunganya…”
                “Seharusnya kamu tuh ga usah repot-repot segala kasih lili ini buat
saya!?”
Simbara       : “Ga usah bilang gitu, Ri!?”
                “Bunga itu ga ada setengahnya dari semua yang udah kamu lakuin ke
aku, kok!?”
               “Aku gak tau lagi apa yang harus aku kasih!?”
               “Cuma bunga ini yang aku pikir cocok!?”
Prameswari : “Makasih ya Sim…”
               “Tapi sebaiknya kamu turun sekarang!?”
               “Kamu harus istirahat!?”
               “Saya mau pulang ke kontrakan, mau packing!?”
               “Sana masuk!?”
Simbara      : “Aku sengaja pesen taksi ini buat kita!?”
               “Jalan, Pak!? Taman Ismail Marzuki!?”
               “Aku mau bantu kamu packing!? Abis itu kita makan malem!?”
               “Aku punya surprise buat kamu!?”
Prameswari : “KITA?”
               “Sim!? JANGAN!?”
               “Kamu harus pulang!?”
               “Istirahat!?”
               “STOP, Pak!?”
Simbara      : “Nggak!?”
               “JALAN, Pak!?”
               “Ri, Aku mau sama kamu!? Hari ini aku mau ajak kamu makan siang,
makan malam, jalan-jalan, apapun yang kamu mau akan aku lakuin malem ini
sebelum kamu pergi!?”
Prameswari : “Apa-apaan sih Sim!?”
Simbara      : “Aku udah bilang kan kalau aku cinta sama kamu!?”


                                                                                11
Prameswari      : “Sim!?”
                  “Ngerti apa kamu soal cinta!?”
                  “Saya sudah tunangan dengan dr. Rarki!?”
                  “NEKAD kamu!?”
Simbara         : “Aku udah dewasa, Ri!?”
                  “Aku bisa milih siapa aja perempuan yang aku cintai!?”
 Prameswari : “Tapi saya dokter!?”
                  “Duapuluh delapan tahun!? Sudah mau menikah!? SADAR, Sim!?”
Simbara         : “Masalahnya apa?”
                  “Taun depan aku lulus kuliah!?”
                  “Aku akan jadi Sarjana Ekonomi!?”
                  “Aku gak takut kalo cuma harus bersaing sama dr. Rarki!?”
                  “Aku ini laki-laki dewasa, Ri!?”
                  “Sama seperti dr. Rarki!?”
Prameswari : “Tapi saya dan dr. Rarki akan menikah taun depan!?”
Simbara         : “Siapa yang tau?”
                  “Ri!? Aku cinta sama kamu dan aku akan terus perjuangin cinta aku
ke kamu sampe aku di vonis mati!?”
                  “Aku ga minta kamu putus sama dr. Rarki sekarang!?”
                  “Aku cuma minta kamu untuk bisa cinta sama aku kaya aku cinta
sama kamu!?”
                  “Paling gak sampe taun depan!?”
                  “Aku akan nunggu kamu sampe kamu pulang!?”
                  “Aku yakin taun depan aku udah jadi lebih dewasa!?”
                  “Taun depan aku dua tiga!?”
                  “Aku pasti udah punya gaji yang cukup!?”
                  “Tunda pernikahan kamu sampe aku bisa tunjukin ke kamu kalau aku
bisa lebih baik dari dr. Rarki!?”
Prameswari : “Kalau bicara itu dipikir dulu, Sim!?”
                  “Kamu punya Yanira!?”
                  “Dia cinta sama kamu!?”
Simbara         : “Tapi aku gak cinta sama dia!?”
                  “Aku cinta sama kamu!?”
                  “Selama aku sakit kamu yang ngerawat aku!?”
                  “Bukan Yanira!?”
Prameswari : “Itu tugas saya sebagai dokter pengganti!?”
                  “Dr. Rarki yang suruh saya menggantikan dia untuk merawat kamu di
sini!?”
                  “Tolong lah Sim, jangan persulit kepergian saya!?”
Simbara         : “Apa kamu sama sekali gak ada perasaan sama aku, Ri?”
                  “Setelah apa yang udah kita lewatin bareng selama hampir satu
taun?”
Prameswari : “Saya sayang sama kamu seperti saya sayang sama adik saya
sendiri!?”
Simbara         : “Adik apa,Ri?”
                  “Salah besar kalau kamu mengganggap laki-laki dewasa seusia aku
sebagai adik!?”
                  “Kamu kira aku anak kecil yang ketika aku ngeliat kamu setiap hari
mondar-mandir ke kamar aku, kasih obat sama aku, masakin aku dan terus-terusan
support mental aku lalu bisa aku anggap sebagai kakak aku?”


                                                                                 12
                “NGGAK, Ri!?”
Prameswari : “Tapi itu profesi saya, Sim!?”
                “Saya dokter pribadi kamu!?”
                “Saya dibayar mahal oleh orangtua kamu!?”
                “Saya menghargai profesi saya dan TOLONG!?”
                “Sebagai rekan kerja kamu juga harus mengerti posisi saya!?”
Simbara       : “Rekan kerja?”
                “Rekan kerja yang setiap pagi bangunin aku dan nyiapin air panas?”
                “Rekan kerja yang selalu nungguin sampai aku sadar dari pingsan!?”
                “Rekan kerja yang setiap hari masakin aku bubur gandum? Jus
melon? Susu kedelai?”
                “Itu semua bikin aku GILA, Ri!?”
                “Bukan obat-obatan itu yang buat aku bisa duduk di sini sekarang!?”
                “Bukan zat bio aktif anti oksidan polifenol flavonoid yang ada dalam
dark chocolate atau Lycopene dan Selenium dan segala macem zat sialan yang sering
kamu bilang itu yang bikin aku sehat sekarang, Ri!?”
                “BUKAN!?”
                “Tapi kamu!?”
                “Kehadiran kamu selama satu tahun ini yang bisa bikin aku
berangsur-angsur sembuh!?”
                “Aku bisa semangat ngejelanin setiap hari aku karena aku tau kalau
aku akan ketemu kamu!?”
                “Dan ketika kamu tiba-tiba mutusin pergi?”
                “Kamu kira aku seneng?”
                “Aku sakit, Ri!?”
                “Bukan fisik aku yang sakit!?”
                “Hati aku yang sakit!?”
                “Tapi aku tetep berusaha kuat!?”
                “Aku berusaha sembuh supaya aku bisa nunggu kamu sampe taun
depan!?”
Prameswari : “Sim, aku sayang sama kamu, tapi aku mencintai dr. Rarki!?”
                “Menikah dengan dia adalah salah satu tujuan hidup aku!?”
                “Kamu masih muda!?”
                “Kalau memang kamu tidak cinta sama Yanira, kamu masih punya
banyak teman perempuan yang lain kan?”
                “Dear misalnya!?”
                “Saya lihat dia sering jenguk kamu!?”
                “Atau Kenny?”
                “Selia?”
                “Mereka semua...”
Simbara       : “UDAH LAH, Ri!?”
                “Harus berapa kali aku bilang?”
                “Mereka semua cuma temen!?”
                “Mereka gak ada apa-apanya dibanding kamu!?”
                “Cewek secantik apapun gak akan bisa ngalahin perasaan aku ke
kamu!?”
                “Bahkan kalau aku nekad, aku akan susul kamu ke London!?”
Prameswari : “GILA kamu, Sim!?”
Simbara       : “Aku NGGAK GILA!?”
                “Tunangan kamu itu yang GILA!?”


                                                                                  13
                 “Salah besar dia kirim kamu buat gantiin dia ngerawat aku!?”
                 “Dia lupa kalau setahun yang lalu umur aku udah dua satu!?”
                 “Dari dulu sampe sekarang dia masih anggep aku anak kecil!?”
                 “Dulu emang dia bisa bohongin aku!?”
                 “Obat batuk dia bilang vitamin rasa jeruk!?”
                 “Dia bisa sogok aku pake mobil-mobilan atau beliin aku gameboy
supaya aku mau minum obat!?”
                 “Tapi sekarang?”
                 “Anak kecil yang bisa dia boongin itu udah berkembang!?”
                 “Sekarang aku udah jadi laki-laki dewasa!?”
                 “Sama seperti dia!?”
                 “Dia gak bisa sogok aku pake apapun supaya aku berenti mencintai
kamu!?”
                 “Dia yang salah udah ngebiarin kamu sedeket ini sama aku!?”
                 “Dia lupa apa kalau cowok seumuran aku ini ga bisa tahan kalau
harus berurusan sama cewek cantik yang ngerawat aku setiap hari?”
                 “Atau jangan-jangan karena dia pikir aku nge-drugs jadi aku ga
mungkin gimana-gimana sama kamu?”
                 “Setiap manusia itu punya kesalahan!?”
                 “Tapi kesalahan itu bukan buat di pelihara!?”
                 “Kesalahan itu buat di perbaikin!?”
                 “Aku udah tobat, Ri!?”
                 “Kamu yang berhasil ngedorong aku buat tobat!?”
Prameswari : “Hhh… kelakuan kamu aja masih egois begini…”
                 “Gimana saya bisa percaya sama laki-laki yang kekanak-kanakan
seperti kamu?”
                 “Taun depan usia saya sudah duapuluh sembilan!?”
                 “Perempuan seumur saya hanya bisa satu pikiran dengan laki-laki
yang punya pemikiran ke depan!?”
                 “Mana bisa saya hidup dengan orang yang masih suka menjelek-
jelekan orang lain di belakang?”
                 “Yang bandel kalau dikasih tau!?”
                 “Ya seperti kamu ini!?”
                 “Cari lah perempuan yang pantes sama kamu, Sim!?”
                 “Jangan ngeyel!?”
Simbara        : “Aku gak ngeyel, Ri!?”
                 “Aku cuma pengen perjuangin perasaan aku!?”
                 “Aku manusia biasa!?”
                 “Aku ngelakuin ini karena aku mikirin masa depan aku!?”
                 “Bukan cuma untuk main-main!?”
                 “Aku emang cuma anak kecil kalo dibandingin sama tunangan kamu
yang udah hampir tigapuluh delapan itu!?”
                 “Tapi kedewasaan gak bisa diliat dari umur!?”
                 “Aku akan tunjukin sama kamu kalo aku BISA dapetin kamu!?”
                 “Dan dr.Rarki harus ngakuin kekalahannya sama aku!?”
                 “Enak aja…”
                 “Dulu dia maksa-maksa nyuntik aku!?”
                 “Sampe nangis-nangis aku tetep dipaksa!?”
                 “Gantian!? Sekarang biar dia yang tau rasa!?”
Prameswari : “Hhh…”


                                                                                14
                 “Ya udahlah, Sim!?”
                 “Terserah kamu aja!?”
                 “Kita liat aja nanti!?”
                 “Kalau Tuhan berkehendak lain…”
                 “Apa boleh buat?”
                 “Jodoh saya bukan saya yang menentukan!?”
Simbara        : “Naaaah!?”
                 “Gitu donk!?”
Prameswari : “Tapi juga bukan KAMU!?”
Simbara        : “…………………………………………...”
Prameswari : “Pak, nanti kalau sudah sampai TIM, kita muter balik!? Nanti kalau
bapak liat gang yang ada wartegnya, bapak masuk aja!?”
                 “Wartegnya yang cat biru ya, Pak!?”
                 “Nanti dari sana terus lurus aja!? Kita berenti di nomor 40!?”
                 “Rumah yang cat merah muda!?”
                 “Yang ada kanopi biru tua!?”
Surjanto       : “Oh, Monggo… Bu dokter!?”
Prameswari : “Sampai kontrakan, kamu makan siang ya, Sim!?”
                 “Saya punya brokoli, jagung muda, ada wortel juga kalo gak salah!?”
                 “Dua hari terakhir saya lihat kamu terlalu banyak makan junk food!?”
Simbara        : “Iya, Ri!?”
                 “Apa aja yang kamu bilang pasti aku ikutin, kok!?”
                 “Nanti kamu yang masak kan?”
Prameswari : “Memangnya kamu bisa masak sendiri?”
Simbara        : “Yaaa…”
                 “Kalau kamu mau aku masak?”
                 “Aku bisa!?”
                 “Jangankan MASAK!?”
                 “Kalau kamu mau aku nyebur ke laut!? Ngadu renang sama ikan hiu
aku juga mau kok!?”
                 “Itu semua kan aku lakuin demi kamu!?”
Prameswari : “Serius?”
Simbara        : “Dua rius malah!?”
Prameswari : “Oh gitu?”
Simbara        : “Iya lah!?”
                 “Aku nih cinta sama kamu!?”
                 “Harus rela berkorban donk!?”
                 “Kamu jangan ngeremehin aku!?”
Prameswari : “Oooh… OKE!!”
                 “Kalau begitu…”
                 “Nanti jangan lupa kamu tumis sayurannya pakai tomat, bawang
merah, bawang putih dan bawang bombai!?”
                 “Wheat germ oil nya ada di kulkas!?”
                 “Jangan pakai MSG”
                 “Garam gula secukupnya!?”
                 “Kalau mau agak pedas gak apa-apa, asal jangan terlalu banyak
cabe!? Tiga cukup!?”
                 “Biar ada rasanya ditambah saus tiram aja!?”
                 “Kalau mau agak berwarna pake kecap!?”
                 “Semua bahannya ada di dapur saya!?”


                                                                                   15
Simbara      : “HAH?”
Prameswari   : “Mau kan?”
               “BERKORBAN?”
Simbara      : “Ups..”
               “Salah ngomong kan gue…”
Prameswari   : “Ya?”
Simbara      : “Oh!?”
               “Hahah…”
               “Oke-oke!?”
               “Aku masak!?
               “Gitu aja tuh?”
               “Gampang amat!?”
               “Ga ada yang lebih susah?”
Prameswari   : “Oh gitu?”
               “Mau yang lebih susah?”
               “Bagus!?”
               “Kalau gitu sekalian kamu buatin telur pindang dan tuna panggang!?”
               “Nanti saya kasih resepnya!?”
               “Kamu yang kerjain!?”
               “OKE?”
Simbara      : “HAH?”
               “Masakan apaan tuh?”
Prameswari   : “Kenapa?”
               “Gak bisa?”
Simbara      : “Hah?”
               “Hahah…”
               “Bisaaaaaa….”
               “Simbaraaaaa…”
               “Gitu aja sih?”
               “Ckhh…”
               “Kechiiil!?”
Prameswari   : “Oke..”
               “Good!?”
Simbara      : “Heheh!?”
               “Matiiiiii…. Gue!?”

       Tatapan senang akan tantangan kulihat begitu membara dari spion depan…
Kupikir si bocah ingusan memang akan menjadi pemenang. Dua benua tidak menjadi
penghalang bagi sang pejuang. Bidadarinya akan terbang menjauhi bayang-bayang.
Namun mata tombak penuh hasrat tak akan berhenti menyerang sebelum usai perang.

Simbara      : “Ri, kamu hati-hati ya di London!?”
               “Jangan macem-macem!?”
               “Jangan terpengaruh sama pergaulan bebas!?”
Prameswari   : “Tenang Sim…”
               “Saya bisa jaga diri!?”
               “Dan jaga HARGA DIRI!?”
Simbara      : “Percayaaa …”
               “Hehehe…”
Prameswari   : “Maksud kamu?”


                                                                               16
Simbara       : “Yaaa…”
                “Masa iya sih dokter se Jaim kamu mau terlibat sama drugs atau free
sex?”
Prameswari     : “Jaim?”
Simbara        : “Hehehe…”
                 “Becanda!?”
Prameswari : “Saya tidak akan pernah bersentuhan dengan drugs, alkohol apalagi
free sex karena saya tau akibatnya tidak bagus untuk kesehatan!?”
                 “Saya belum mau mati konyol, Sim!?”
                 “Buat apa saya sekolah kedokteran kalau pada akhirnya kalah sama
rayuan obat-obatan terlarang dan free sex!?”
                 “Seharusnya saya yang kasih nasihat itu sama kamu!?”
                 “Jangan lagi kamu mengulang kebodohan kamu!?”
                 “Apalagi kalau sampai tambah berani coba ini itu?”
                 “Hati-hati kamu, Sim!?”
Simbara        : “Jadi kamu kawatir nih ceritanya?”
                 “Heheheh…”
                 “Iya, Ri!?”
                 “Aku kan udah janji sama kamu…”
                 “Aku mau nungguin kamu!?”:
                 “Aku janji ga akan ngulangin kesalahan aku!?”
                 “Aku ga akan nge drugs lagi!?”
                 “Apalagi nge sex!?”
                 “Kan ntar mau punya istri dokter!?”
                 “Heheheh…”
Prameswari : “Jangan suka obral janji!?”
                 “Jiwa kamu masih labil, Sim!?”
                 “Saya ingatkan ya…”
                 “Gara-gara HIV 20 juta orang mati konyol!?”
                 “Dan 42 juta orang lainnya down karma stress harus nunggu ajal
sebagai OHIDA!?”
                 “Jangan macem-macem kamu!?”
                 “Jauhin temen-temen kamu yang bawa pengaruh buruk!?”
                 “Kasian orangtua kamu, Sim!?”
                 “Kuliah kamu udah tertunda dua tahun!?”
                 “Belajar yang serius!?”
                 “Jangan pernah main-main dengan pendidikan!?”
                 “Biayanya mahal!?”
                 “Inget!?”
                 “Kamu itu termasuk satu dari sekian juta anak muda yang beruntung”
                 “Milyaran orang lainnya…”
                 “MISKIN!?”
                 “Gak beruntung!?”
                 “Bayangin aja!?”
                 “Satu orang dalam 3,5 detik mati karena gak bisa makan!?”
                 “Kamu bisa kuliah sampai sini aja itu udah HEBAT!?”
                 “Kamu harus syukurin itu!?”
                 “Kamu harus jadi orang!?”
                 “Kamu kan calon sarjana ekonomi!?”
                 “Kamu majukan lah ekonomi dalam negeri!?”


                                                                                17
                  “Bereskan eksploitasi buruh kecil yang dilakukan orang-orang kaya
gak bertanggung jawab!?”
                  “Buka lapangan kerja baru supaya mengurangi pengangguran!?”
                  “Gunain ilmu kamu supaya gak mubazir!?”
                  “Jangan kebanyakan main!?”
Simbara         : “PASTI, Ri!?”
                  “Jangan khawatir!?”
                  “Aku akan wujudin semua cita-cita kamu!?”
                  “Bahkan aku punya rencana buat buka sekolah gratis dengan sistem
subsidi silang antara anak-anak yang mampu dan anak-anak yang gak mampu!?”
Prameswari : “Oya?”
                  “HEBAT!?”
                  “Modalnya besar loh, Sim!?”
Simbara         : “Pegang jari-jari aku!?”
                  “Aku akan jadi musisi terkenal!?”
                  “Percuma kapalan kalo gak bisa cari makan!?”
                  “Aku janji sama kamu album keduaku bakalan laris di pasar!?”
                  “Aku akan serius main musik!?”
                  “Tanpa narkoba!?”
                  “Tanpa free sex!?”
                   “Aku gak akan kalah sukses sama Slank atau Ari Lasso!?”
                  “Mereka juga sama kaya aku!?”
                  “Mereka orang-orang yang berhasil bangkit dari drugs tapi pada
akhirnya bisa buktiin sama masyarakat kalau musik mereka bisa di terima walaupun
mereka ex-user!?”
                  “Seratus persen keuntungan dari album kedua aku nanti bakal aku
salurin buat bikin sekolah yang aku cita-citain itu!?”
                  “Dan kalo kita bener-bener jodoh”
                  “Rencananya sih aku mau namain sekolah itu PRAMESWARI
SCHOOL!?”
                  “Makanya, Ri!?”
                  “Aku butuh kamu untuk terus dukung aku!?”
                  “Aku optimis kok kalo aku bisa!?”
                  “Kamu percaya kan?”
                  “Makanya aku berharap banget kalo kamu mau nerima aku!?”
                  “Ga harus sekarang!?”
                  “Aku sadar sekarang kasta ku masih ada jauh di bawah dr. Rarki!?”
                  “Tapi taun depan!?”
                  “Aku janji!?”
                  “Aku akan 10 kali lebih baik dari tunangan kamu itu!?”
                  “Kamu bisa kan pertimbangin aku?”
Prameswari : “Hhh…”
                  “Gimana ya, Sim?”
                  “Seandainya aja saya lima tahun lebih muda dari sekarang…”
                  “Mungkin saya bisa jatuh cinta sama kamu!?”
                  “Kamu tuh SINTING!?”
                  “Gak peduli status orang tapi PD nya besar!?”
                  “Saya salut sama kamu!?”
Simbara         : “WHAT?”
                  “Hahahaha…”


                                                                                18
                “SALUT?”
                “Ckh… Kamu tuh bikin aku GR aja, Ri!?”
                “Hihihihi…”
Prameswari : “Tapi sayangnya itu cuma PENGANDAIAN!?”
                “Terlalu IRONI bicara pengandaian di depan kamu!?”
Simbara       : “Heuh?”
                “Maksud kamu?”
Prameswari : “Gak kok!?”
                “Gak penting!?”
                “Pak, itu di depan udah mau deket wartegnya!?”
                “Jangan lupa belok ya…”
Surjanto      : “Monggo, Bu Dokter!?”
                “Saya ingat kok!?”
Prameswari : “Oh… iya..iya..”
Simbara       : “Ri…”
Prameswari : “Ya?”
Simbara       : “IRONI karena sebetulnya kamu juga cinta sama aku tapi kamu ga
bisa cinta sama aku karena umur kita yang sedikit beda dan status kamu yang udah
tunangan sama Dr. Rarki?”
                “Gitu, Ri?”
Prameswari : “Apa sih, Sim!?”
                “Ga penting, ah!?”
Simbara       : “Ri…”
                “Asal kamu percaya sama aku…”
                “Asal kamu mau yakinin perasaan kamu!?”
                “Aku yakin semua halangan itu bisa kamu ilangin kok dari otak
kamu!?”
                “Ri!?”
                “Ri denger aku, Ri!?”
                “Aku tau kamu cinta sama aku!?”
                “Aku udah ngerasa kalo kamu cinta sama aku sejak beberapa bulan
terakhir!?”
                “Perasaan itu gak bisa diboongin, Ri!?”
                “Mencintai siapapun gak pernah salah!?”
                “Cinta itu gak akan ada batasnya selama kita gak nyalahin peraturan
agama!?”
                “Kita gak ada hubungan darah!?”
                “Kamu juga belum nikah!?”
                “Kita bisa Ri ngejalanin semua ini!?”
                “BISA!?”
Prameswari : “Rumah yang ada kanopi biru ya, Pak!?”
Simbara       : “Ri, kamu denger aku donk, Ri!?”
Surjanto      : “Sini, Bu!?”
Prameswari : “Iya… Stop, Pak!?”
                “Berapa?”
                “Oh… Tiga delapan ya?”
                “Iya… Ini uangnya limapuluh!?”
                “Kembali sepuluh aja!?”
Simbara       : “Ri!!”
Surjanto      : “Kembali sepuluh ya, Bu!?”


                                                                                19
               “Monggo!?”
Prameswari   : “Oke… Makasih ya, Pak!?”
Simbara      : “Ri kamu denger aku kan Ri!?”
Prameswari   : “Turun, Sim!?”
Simbara      : “Ck…”
               “Jangan SOMBONG lah Ri!?”
Prameswari   : “Sim!?”
               “Turun!?”
               “Jangan kaya anak kecil, ah!?”
Simbara      : “Loh!?”
               “Kamu juga jangan nyakitin aku kaya gini donk!?”
               “Dari tadi aku ngomong sama kamu… Kamu diem aja!?”
               “Jangan pura-pura bego deh!?”
Prameswari   : “Ga enak sama bapaknya, Sim!?”
               “Turun!?”
Simbara      : “Ri!?”
Surjanto     : “Mmm… Maaf ini Bu dokter!?”
               “Bukannya saya mau ikut campur!?”
               “Betul lho itu kata Masnya…”
               “Cinta itu ndak pandang buluh!?”
               “Jangan takut salah kalau memang tidak menyalahi apa-apa!?”
               “Dijawab saja dulu!?”
               “Saya setuju kalau Bu dokter dengan Mas-nya…”
               “Sama-sama cantik dan ganteng gitu lho, Bu!?”
               “Sama-sama HEBAT!?”
               “Ndak pa pa satu tahun itu ndak lama kok, Bu!?”
               “Jangan membohongi perasaan sendiri karena prinsip yang terlalu
keras!?”
               “Saya memang hanya supir taksi… Dan Ibu dokter!?”
               “Tapi soal cinta… Saya jauh lebih mengerti lho, Bu!?”
               “Usia saya sudah empatpuluh delapan!?”
               “Duapuluh tahun lebih tau tentang cinta dibangkan Bu dokter!?”
               “Maaf lho, Bu!?”
               “Maaf… Sekali lagi maaf!?”
Simbara      : “Ri!?”
               “Tuh!? Kamu denger kan kata bapak supir?”
               “Hah?”
               “Makasih ya, Pak!?”
Surjanto     : “Monggo, Mas!?”
Simbara      : “Ri… Supir taksi aja tau gimana perasaan aku!?”
               “Dan aku yakin kamu lebih tau!?”
               “Setaun terakhir ini kamu yang selalu rawat aku, Ri!?”
               “Ironi memang!?”
               “Tapi…”
Prameswari   : “Hhhh…”
               “Oke!! Oke!!”
               “Puter balik, Pak!?”
Surjanto     : “Ya, Bu?”
Prameswari   : “Puter balik!?”
Surjanto     : “Lho?”


                                                                                20
               “Ndak jadi turun, Bu?”
Prameswari   : “Gak!?”
               “Terus ke Ancol aja, Pak!?”
Surjanto     : “Lho Bu Dokter?”
Simbara      : “Ri, kamu kenapa?”
Prameswari   : “Kamu terlalu CEREWET!?”
               “Saya mau bicarakan masalah ini sama kamu!?”
               “Empat mata!?”
               “Deal?”
Surjanto     : “Oooh…”
               “Ya… Ya…”
               “Monggo, Bu Dokter!?”
               “Saya mengerti!?”
               “Saya antar ke Ancol sekarang ya, Bu?”
Simbara      : “Ri…”
               “Kamu kenapa, Ri?”
               “Marah?”
               “Kamu nggak jadi packing malem ini?”
Prameswari   : “Jadi!?”
               “Tapi nanti!?”
Simbara      : “Kapan?”
Prameswari   : “Setelah kita bicarakan masalah ini!?”
               “Tentang keberangkatan saya besok dan…”
Simbara      : “DAN?”
Prameswari   : “Dan soal taun depan!?”
Simbara      : “Kamu?”
Prameswari   : “Saya punya pertimbangan!?”
               “Kita bicara disana!?”
Simbara      : “Pertimbangan?”
               “Untuk apa?”
Prameswari   : “Ya untuk kamu!?”
Simbara      : “Hah?”
               “Untuk Aku?”
               “Serius?”
Surjanto     : “Saya doakan berhasil, Mas!?”
Prameswari   : “Dua rius!?”
Simbara      : “HAH?”
               “Dua rius?”
               “Hahahahahah …”
               “Makasih ya Ri!?”
               “Yo’i Pak!?”
               “BERHASIL, Pak!?”
Surjanto     : “Monggo, Mas!?”
               “TOS!?”
Simbara      : “TOS!?”
               “Hahahahah…”
Prameswari   : “Jangan kaya anak kecil, Sim!?”
               “Saya bilang kan masih dalam pertimbangan!?”
               “Belum tentu gimana-gimana juga!?”
Simbara      : “BODO!?”


                                                              21
               “Paling nggak…”
               “Kamu udah kasih aku kesempatan!?”
               “Supaya seharian ini aku bisa sama kamu sebelum kamu pergi!?”
Prameswari   : “Cuma itu?”
Simbara      : “Dan tentunya pertimbangan kamu soal taun depan!?”
               “Dimana ada kemauan disitu ada jalan!?”
               “Dimana ada kesempatan PASTI disitu ada keberhasilan!?”
               “Heheheh…”
               “Yeeeeeeeeeeeeeeeeeees!?”
               “NGEBUT Pak!?”
Surjanto     : “OKE Mas…”
Simbara      : “Hahahahahah…”
Surjanto     : ^_^
Prameswari   : “Hhhh…. Childish!?”




                                                                               22
                                        Penumpang 3
                          Ksatria Bermata Bola

        Terkadang aku rindu dengan alunan nyaring gendher dalam pertunjukan
wayang kulit. Kakekku adalah seorang dalang dan nenekku ahli memainkan
enggrang. Saat tulang mereka belum dilanda osteoporosis, nenek dan kakekku sering
menyempatkan waktu berkejaran denganku untuk main petak umpet, bahkan kadang
menjadi wasit sepak takraw. Permainan kampung anak-anak Bantul di tahun
enampuluhan yang sekarang sudah jarang kulihat di jalan-jalan kota besar. Aku
berlarian di halaman rumah yang luas dan penuh dengan tanaman obat. Peristiwa
yang sudah berlalu kurang lebih empatpuluh tahun lalu membuatku tersenyum malu
namun terharu.
        Roda-roda otak di dalam tulang tengkorak me-rewind kenangan masa itu
ketika aku melihat segerombol anak berbaju lusuh melempar-lemparkan bola kasti di
belakang taksi. Tawa mereka memecah keheningan sore yang bagiku sangat
melelahkan. Dari kejauhan ku lihat beberapa ABG berambut gimbal berkelopak mata
hitam beraliran black metal pemuja setan tiba-tiba menyerang dan menghajar anak
yang tidak mau menyerahkan uang. Sungguh permainan yang tidak mengasyikan.
Seandainya saja aku hidup di zaman ini mungkin kakek dan nenekku akan lebih cepat
meninggal.

       “ … Wooooooooooooooooiiiiiiiiiiiiiiiiiii… tungguin gua lo!? Woooiii!?
Tunggu!!?? Balikin duit gua BANGSAT !?... ”

Lamia          : “Pak, narik ga?”
Surjanto       : “Oh… Monggo, Non!? Kemana?”
Lamia          : “Kota!?”
Surjanto       : “Monggo!? Silahkan!?”

       Aku tersentak kaget ketika lamunanku buyar oleh suara nyaring seorang
pelanggan. Aku berdiri sambil merapihkan seragam, lalu membungkuk sambil
membuka pintu untuk mempersilahkan nona manis berambut panjang bergaya
wartawan masuk dan duduk di kursi belakang.

Lamia          : “Thank You!?”

        Pintu tertutup kembali, lalu aku masuk ke dalam taksi.

        “…Woooooooiiiiiiiiii itu duit gua… anjiiiiiiiiiiiiiiiiing!?...”

Lamia          : “Ckh… Tu anak-anak apaan sih si teriak-teriak gitu? Jalan, Pak!?”

        Kuinjak kopling, lalu masuk gigi satu, di gas pelan-pelan, taksi mulai melaju.

Lamia          : “Rame ya, Pak!? Udah lima taun loh saya nggak di sini!?”
Surjanto       : “Memang lima tahunnya dimana, Non?”
Lamia          : “Perth…”


                                                                                     23
Surjanto      : “Ya??”
Lamia         : “PERTH!?”
                “Oh… Oh… sorry-sorry ... Maksudnya Australia!?”
Surjanto      : “Oooohh… Iya…iya…”
                “Sekolah, Non?”
Lamia         : “S1 Ekonomi!?”

       Nona menoleh ke belakang lalu ke depan lalu ke belakang lalu kedepan lalu ke
belakang lalu ke depan.

Lamia         : “Emh... Pak… Bentar deh, pelan-pelan deh!?”
                “Tu anak kenapa ya?”
                “Itu yang tadi temennya teriak-teriak kan? Kok kayaknya mukanya
berdarah-darah gitu?”
Surjanto      : “Dipukul barangkali, Non!? Rebutan uang biasanya!?”
Lamia         : “HAH? SERIUS?”

       Nona menoleh ke belakang lalu ke depan lalu ke belakang lalu kedepan lalu ke
belakang lalu ke depan.

Lamia          : “Loh!? Pak!!?? Loh!!?? Pak berenti dulu, Pak!? Tu anak pingsan!?
Pingsan ga si tuh?”
                  “Hah?”
                 “Oh!? Iya Pak beneran pingsan!? Turun Pak!? Turun!? Itu harus di
angkat loh, Pak!?”
                 “Itu gimana sih? Kok temen-temennya malah kabur? Tukang ojek
juga pada diem aja lagi!?”
                 “Masya Allah, Pak!!?? Kita bawa ke rumah sakit deh!? Turun cepet,
Pak!? Cepet!?”
Surjanto       : “Monggo Non …”

        Kami turun tergesa-gesa. Nona manis kelihatan pucat, panik, takut, namun
semangat. Nona loncat dari taksi, berlari ke belakang, semakin kencang, tanpa peduli
siulan tukang-tukang yang nongkrong di depan gang. Aku berlari di belakang sambil
merapihkan seragam, semakin lama semakin kencang.

Lamia         : “De!? Ade… De.. Denger suara gue nggak, De!? Hah? Duh!? Nggak
ya? Pingsan beneran berarti ni anak!?”
                “Pak… Bapak angkat badannya… Saya kakinya… Oke, Pak!?”
                “Oke ya!?”
                “Yuk… satu… dua… tiga… Heeeuup!?”
                “Yah… SIP!?”
                 “Duh… BERAT!?”
                 “Yok Pak… bawa ke taksi!?”
                 “Heupphhh…”
                 “Masya Allah!? Beratnya… Parah banget ni anak!?”
                 “Yuk, Pak… Cepet dikit!?”

        Anak laki-laki pingsan di keroyok preman. Tidak ada yang menolong sudah
biasa. Tukang ojek banyak bicara “Biarin aja!? Ntar jugar bangun sendiri!? Jangan


                                                                                  24
di manja!?”. Tapi nona tetap semangat, mengangkat, berjalan tegap, udara pengap,
sedikit nekad.

Surjanto      : “Non buka pintunya, Non!?”
                “Pindah tangan aja!?”
                “Kakinya biar tak pegang …”
                “Pelan-pelan, Non!?”
                “Iyaaa… Oke Non!?”
                “Non masuk dulu!?”
                “Iya…”
                “Tarik kakinya, Non!?”
                 “Iya…”
                “Itu kepala awas!?”
                 “Iya…”
                 “Di geser Non!? Biar saya tutup pintunya!?”
Lamia         : “Okeh, Pak!? Sip!? Tutup aja!?”
Surjanto      : “Sudah ya, Non!? Saya tutup ya?”
Lamia         : “Okeh, Pak!?”

       Pintu taksi ditutup, AC dinyalakan, perih tenggorokan, perut keroncongan.

Surjanto       : “Hhhh ….. glek.. glek.. glek…. Minum, Non?”
Lamia          : “Hah? Gak, Pak!? Thanks…”
                 “Huuuffhhh… Capek… Berat juga ya ni anak!?”
Surjanto       : “Mmmhhh… sebelum jalan, maaf itu posisi kepalanya, Non!?”
Lamia          : “Oh!? Iya…iya… sorry!?”
                  “Begini ya, Pak?”
                  “Oh gini!?”
                  “Iya… Iya…”
                 “Ini kepalanya biar saya pangku aja… Heeeuuppp…”
                  “Gini kali ya?”
                 “Nah… gini enak nih!?”
Surjanto       : “Iya, Non!? Begitu saja!? Biar non nya juga ndak keberatan!?”
Lamia          : “Iya… heheheh… Ya udah, Pak… Jalan lagi deh!? Sambil cari-cari
klinik!? Tapi kalo ni anak bisa disadarin ya udah!? Nanti langsung kita bawa pulang
aja!? Yuk Pak, jalan lagi!?”
Surjanto       : “Monggo, Non!?”
Lamia          : “Hhhhh… Ade… Ade… ada-ada aja!?”
                 “Mukanya sampe baret begini!?”
                 “Sebentar ya… Gue obtain!?”
                 “Emmh… Pak, ini tolong, Pak!? Tas saya di taro depan aja!?”
                 “Eeeeeeeeeeiiiiiithhh... Awas, Pak!? Ada Laptop sama kamera!?
Hati-hati!?”
                 “Iyaaa… Sip!? Nitip depan ya, Pak!?”
Surjanto       : “Saya ada minyak tawon, Non!? Mungkin berguna?”
Lamia          : “Minyak tawon? Oh boleh deh!? Mana siniin!? Daripada gue harus
kasih dia napas buatan!? Males juga!?”
Surjanto       : “Ini, Non!? Silahkan!?”
Lamia          : “Oke Thanks, Pak!?”
                 “Hhhhppp… Duh!? Pala apa batu si nih!?”


                                                                                   25
                 “Pak, coba tissue dulu deh!? Ada air putih gak? Sekalian deh!? Ni
lukanya harus di bersihin dulu nih!? Bonyok gini tampangnya!?”
Surjanto       : “Monggo, Non!? Ini tisunya!? Ini airnya!?”
Lamia          : “Okeh!? Thanks Pak!?”
                 “Eh, Pak ni bener aer putih kan? Bukan aer aki?”
Surjanto       : “Insya Allah air putih kok, Non!? Barusan saya minum!?”
Lamia          : “Oh gitu? Hehe.. Sip… Sip…”
                 “Heeeuuhhh… parah ni anak nih !? Ini sih lukanya dibaret pake piso
nih!? Parah banget sih!? Tapi pingsannya ini mah bukan karna baretannya!? Laper
kali ni anak!? Ga makan trus di pukulin!?”
Surjanto       : “Biasa itu, Non!? Disini banyak anak jalanan!?”
Lamia          : “Anak jalanan sih anak jalanan!? Tapi ga bisa gini juga dong, Pak!?
Do’i kan manusia!? Gila aja maen tonjok maen baret!? Sakit kali!?”
                 “Tadi minyak tawon mana, Pak?”
Surjanto       : “Sudah sama Non tadi!?”
Lamia          : “Hah? Gitu ya?”
                 “Mana ya?”
                 “Ooohhh… iya…iya… Ni dia!? Hehehehe… Sorry, Pak!?
Kedudukan!? Pantes dari tadi pantat gue panas!?”
                 “…………………………………………………………….”
                 “Wooooiii… De!? Bangun!?”
Surjanto       : “Dicocol tisu itu Non minyaknya!? Lalu di angin-anginkan saja di
hidungnya!?”
Lamia          : “Dicocol tissue gimana? ………………….”
                 “Ooooohhh… Maksudnya di tuang ke tissue gitu minyaknya?”
                 “Ohhh… Ya… Ya… Pinter juga bapak!? Bentar… Bentar…”
                 “Nah… gini kan?”
                 “Iyaa… Sip!? Hahah!? Mabok-mabok deh lo!?”
Surjanto       : “Umur delapan sembilanan itu, Non!?”
Lamia          : “Apaan?”
Surjanto       : “Itu.. Anak itu!?”
Lamia          : “Oh… Anak ini!? Ooohhh… iya…iya… emang!? Seumur ponakan
saya kayaknya sih ni anak!?”

       Nona terus menolong, terkadang bengong, minta tolong. Kasihan… Nona
kebingungan, anak jalanan masih pingsan.

Lamia         : “De… Ade… bangun, De!?”
                “Eh, Pak!? Palanya gerak!? Udah mulai sadar nih kayaknya!?”
                “Bener deh ni anak kayanya pingsannya karna lemes!? Soalnya
baretnya cuma tiga gores!? Ga terlalu dalem juga!? Mungkin kaget kali ya, Pak waktu
di keroyok!? Hhhh… Kasian benget!?”
                “De… Ade… bangun yuk!?”
                “Adeeeeee…. De… Nah melek nih!? Deee… Bangun yuk!?”

      Anak jalanan gelagapan, kepala benjol, wajah merah, berdarah-darah,
“Aaauuu…” Sakit katanya. Nona senang, matanya berbinar-binar, senyumnya
mengembang, cantik rupawan.

Rahmat        : “……………………………………………………”


                                                                                 26
Lamia         : “Yuk… yuk… bangun yuuuuuuk…!? Gue berat nih mangku lo dari
tadi!?”
               “Heeeuuupp… Iyaaaa… Pinter!? Bangun yaaaaa…. Udah sadar
kan?”
                “Yuk, gue bantu!?”
                “Pelan-pelan deh!?”
                “Pelan-pelan yaaa…”
                “Heeeeuuuupp!?”
                “Iyaaaaa…. Okeeee… Good!?”
Rahmat        : “Eeeee…. uuuuuu…. ggg… hhhh….”
Lamia         : “Sakit, De?”
Rahmat        : “………………………………………………”
Lamia         : “Ya udah, lo senderan aja deh ya ke bangku!?”
                “Nih… pake jaket gue!?”
                “Sini gue Bantuin!?”
Rahmat        : “Sss…. gg… hhh... Sakit!?”
Lamia         : “Iya… pelan-pelan yaaa…”
                “Iya… Nih… tangan kirinya mana?”
                “Masukin pelan-pelan!?”
                “Iya… Eh awas hati-hati!?”
                “Iya gitu!?”
                “Tuh bisa!?”
                “Kegedean yaaa? Heheh…”
                “Ya udah ga pa pa… Tapi enakan kan? Anget?”
Rahmat        : “Hhh… gg…. Sssss… hhh… Sakit…”
Lamia         : “Ya udah awas kepala lo jangan di pegang-pegang!?”
                “Sini-sini!?”
                “Emmm… Pak!? Boleh tolong tissue lagi, Pak!? Yang banyak aja
sekalian!?”
Surjanto      : “Monggo, Non!?”
Lamia         : “Thanks, Pak!?”
Rahmat        : “Ssshhhh… adoowww… Sakit!?”
Lamia         : “Sorry… Sorry… Ini gue udah pelan-pelan!?”
                “Hhhh… Kasian banget sih lo, De…”
                “Oh iya… By the way… Nama lo siapa?”
Rahmat        : “…………………………………………”
Lamia         : “Heemh?”
Rahmat        : “…..…………………………………….”
Lamia         : “Siapa?”
Rahmat        : “………………………………..……….”
Lamia         : “Kok diem aja!?”
Rahmat        : “………………………………………..”
Lamia         : “……………………………………….”
Rahmat        : “……………………………………….”
Lamia         : “??????????????????????????????????”
Rahmat        : “Mm… Sss…. ttt… Addooowwwhh… Sakit!?”
Lamia         : “Awhh.. iya…iya… maaf yaaa… Maaf… Maaf!?”
Rahmat        : “………………………………………”
Lamia         : “Eh, nama?
                “Nama lo siapa?”


                                                                               27
Rahmat        : “Awwwhhh…………………………”
Lamia         : “Hah?”
Rahmat        : “…………………… Raa… doowwhh… Rahmat, Kak!?”
Lamia         : “Hah? RAHMAT?”
Rahmat        : “Iya … Hhh… sss… RAHMAT, Kak!?”
Lamia         : “Ooohh… iya… iya… Rahmat!?”
                “Terus, umur lo?”
Rahmat        : “…………………………………….”
Lamia         : “Umur lo berapa?”
Rahmat        : “Se … aawwhh… belas!? Sebelas, kak!?”
Lamia         : “Sebelas??”
                “Udah ABG juga lo!? Salah kita, Pak!? Dia udah sebelas taun!?
Bukan lapan taun!?”
Surjanto      : “…………………………………….”
Lamia         : “Badanlo kecil amat sih!? Kaya anak umur lapan taun!? Jarang
makan ya?”
Rahmat        : “………………………………”
Lamia         : “Rumah?”
Rahmat        : “………………………………”
Lamia         : “Rumah lo dimana? Biar gue anter dulu nih lo ke rumah lo!?”
Rahmat        : “……………………………”
Lamia         : “Dimana?”
Rahmat        : “Aaa…. www…. hhhh….”
Lamia         : “……………………………”
Rahmat        : “Hh… gg… kk… ss… Hh… gg… kk… ss… Aa… dddd… ooo…
www… hhhhhhh….”
Lamia         : “Duh… Sorry!?”
Rahmat        : “Sa… kiiiiii… ttt……. Hhh… gg… kk… ss… Haa… haaa… ddd…
uuu… hhh…. Saaa… kk… hhh… iii… tttt…. Sakiiiiit Kaaaa… Heeuuunnggg…. Sss
… saaaakkkkiiiiiiiit!?”
Lamia         : “Ssss… Duh!? Maaf… Maaf…”
                “Iya gue tau lo sakit!? Duh!? Gimana ya!?”
                “Iya… Iya… Gue tau lo perih banget!? Tapi jangan nangis
donk!? Gue jadi ribet nih!?”
Rahmat        : “Hggkkss… Haa… haddduuuhhh…. Saaakkhhhiiit…. Sakiiiiit
Kaaaa… Heeuuunnggg…. Sss … saaaakkkkiiiiiiiit … Kaaaaa…..”
Lamia         : “Duh… Iya… Iya… Ssss… Heeeiii… Jangan ….”
                “Heeei… Iya maaf!?”
                “Hei … Rahmat…”
                “RAHMAT!!!”
                “BOY DON’T CRY!!!”
Rahmat        : “Hkksss…..saaa…kiiii….iiiit!?”
Lamia         : “Ssssttt … Iya tau… Ini juga gue lagi obtain!? Tahan dong!?”
                “Ayo dong, Mat!? Anak cowok jangan cengeng!?”
                “Rumah lo dimana?”
                “Ssssttt …. Rahmat… Udah donk!?”
                “Hei…Hei… Rumah lo dimana? Ntar gue anter!?”
                “Ntar gue bilang sama nyokap atau bokaplo tadi lo di pukulin
orang!?”
                “Udah yaaa… Eh!!?? Ayo donk!? Anak cowok ga boleh nangis ah!?


                                                                          28
JAGOAN!?”
Rahmat    : “Hhhgggsss… Saaaaaaaakiiiiiiiii….. iiiiiiiiiiiit………”
Lamia     : “Iya… Gue tau lo sakit!?”
            “Makanya… Lo harus balik!? Rumahlo dimana?”
Rahmat    : “Ssssss….. Aaaawwww….”
            “Rumah Mat… Rumah… Ssssss….”
            “Mat ga punya rumah … Ssss…. Ka … Ssss… Mat ga punya orang
tua!?”
Lamia     : “Gak pu…”
            “HAH?”
            “Apaan?”
            “Ga???? Lo ga?”
Rahmat    : “Aaaaaaaaaaaaaaaawww…. Hgksss… Shaa... kiit… Kaaaaa….
Hgks…………… SAKIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIT ……….…”
Lamia     : “???????????????????????????????????????????????????”
Rahmat    : “Shaaaaaa….kiiiiit…. Sakit banget Ka…. Saaakiiiit…”
Lamia     : “Hah? Oh… Eh Ya Ampun… iya… Maaf… Sorry Mat, Sorry!?”
Rahmat    : “HHggggggsssss….. ssshhhhaaaakkkkiiiiiiiiiiiiiiiiit……”
Lamia     : “………………………………………….”

       Nona terdiam sebentar, menelan liur ke dalam tenggorokan. Matanya resah,
badannya gerah, tapi nona tidak menyerah. Sambil mengusap kepala si anak jalanan,
nona memandang ke arah kemacetan. Parfumnya bercampur bau darah, keringat dan
daki bocah preman.

Surjanto       : “ Heei… jangan nagis!? Jagoan!? Ayo… Ayo…Mat!? Jangan
nangis!?”
Rahmat         : “Hggsss… Ma… aaf… Pak… Hhggssss… Tapi Mat
Shaaakiii…..iiiit!?”
Lamia          : “………………………………………………….”
Rahmat         : “AAAADDDOOOWWWHHHH…. Shaaakit, Kak!?”
Lamia          : “Hah? Sakit?”
                 “Oh, Ya ampun… kena yang ke gores ya? Sakit banget?”
Rahmat         : “Iyaa Kaa.. Hgss.. sakiiiiiiiit!?”
Lamia          : “Ya udah… Ceup yah!?”
                 “Mmm…”
                 “Elo..”
                 “Kalo gitu… Elo biasanya tinggal dimana?”
                 “Sehari-hari lo?”
Rahmat         : “Sssssss….”
                 “Mat baru lima hari sampe Jakarta, Ka!? Sssssss…. Aaawww…”
Lamia          : “Maksud lo baru nyampe lima hari?”
Rahmat         : “Ibu Mat kelindes kereta!? Kita dari Jombang nyari Bapa!? Sssss…”
Lamia          : “Ibu?”
                 “WHAT?”
                 “Ma?”
                 “Maksud lo ibu lo kelindes kereta?”
                 “Ibu?”
                 “Ibu lo? Kelin… ?”
Surjanto       : “Ibu kamu Rukminah, Mat?”


                                                                               29
Rahmat         : “Iya, Pak!?”
Lamia          : “Ruk?”
                 “Rukminah?”
                 “Bapak?”
                 “Bapak kenal?”
Surjanto       : “Baca kompas kalo ndak salah ada perempuan kelindes kereta, Non!?
Tiga hari yang lalu!? Di Manggarai!? Namanya Rukminah!? Loncat dia, Non!?”
Lamia          : “LONCAT???”

                “…………………………………………………………..’
                “Terus?”
                “Kelindes?”
Surjanto      : “Kelindes, Non!? Hancur!?”
Lamia         : “………………………………………………………………………”
Rahmat        : “………………………………………………………………………”
Surjanto      : “………………………………………………………………………”

       Mata nona bertambah basah, pikirannya menerawang jauh ke rumah. Nona
menggerakan badannya berbalik arah, memainkan jari berkuku merah. Tatapan itu
semakin lama semakin menyipit, mungkin dia takut, mungkin hanya sedikit.
       Nona mengikat rambut hitamnya ke samping telinga bergiwang metalik. Dia
cantik seperti gadis Bali yang sedang memperagakan tarian klasik. Keningnya
berkerut, bibirnya cemberut, namun ia tidak terlihat kusut. Sambil mengusap kepala si
anak bau kecut, badan nona berbalik lalu mendekap si kecil yang tetap nurut.

Lamia         : “Ancur?”
                “Kelindesnya?”
                “Loncat?”
                “Pas keretanya lagi jalan?”
Rahmat        : “Iya… Kak… Hks… Keretanya… Hks… Lagi ngebut…”
Lamia         : “…………………………………………………………..”
                “… I see …”
                “Emang…”
                “Emang Bapak lo di Jombang?”
Rahmat        : “Kata ibu gitu, kak!? Bapak ninggalin Jakarta udah sepuluh taun!?”
Lamia         : “…………………………………………………………………….”
                “Heuh?”
                “……………………………………………………………………..”
                “Sepuluh taun!?”
                 “Jadi…”
                 “Jadi Ibu lo sama lo pergi ke Jombang buat nyari bokap lo yang udah
ngilang sepuluh taun?”
Rahmat        : “Iya, kak…”
Lamia         : “Gak ketemu?”
Rahmat        : “Nggak Ka…”
Lamia         : “Hhhhhhhhh …………………………………………”
                “Iyalah!?”
                “Cowok BRENGSEK kaya gitu mana mungkin ketemu!?”
                “…………………………………………………”
                “PARAH!?”


                                                                                  30
                 “………………….… Hhhhhhhh ….……………”
                 “Okeh …”
                 “…………………………………………………”
                 “Ya udah!?”
                 “Sekarang …”
                 “… Mm…”
                 “Mmmm…”
                 “Kita ganti topik aja!?”
                 “Ga usah ngomongin ginian lagi!?”
Surjanto       : “Oh… Iya, Non!?”
                 “Monggo!?”
Lamia          : “Mmmmm…. Lo?....”
                 “Mmmm…”
                 “Lo laper Mat?”
Rahmat         : “………………………………”
Surjanto       : “………………………………”
Lamia          : “Heh… Mat… Jangan nunduk gitu donk!? Gue nanya serius nih!? Lo
laper ga?”
Rahmat          : “………………………………”
Lamia           : “Mat!!?”
Rahmat          : “………………….. Iya Ka… Hks… Mat… la… hkss… Laper…”
Lamia           : “Eeeiittsss…. Eeiittsss… Mat!? Jangan nangis lagi donk!? Eh!?
Mat!!? Mat!!? Ssstt… Ceup ah!?”
                  “Eh… anak cowok ga boleh nangis sering-sering!? Kalo nangis terus
ntar kaya anak cemen loh!?”
                  “Anak cowok harus lebih tegar!? Harus kuat!? Ayo dong!? Ceup…”
Rahmat          : “Hks… Hhhh….. gg…. Kk…. ssss….. Hks…..”
Lamia           : “Duuh!? Gimana nih!?”
                  “Emhh… Ya udah… Gini deh Mat, kita bikin perjanjian!?”
                  “Kalo lo gak nangis terus… Abis ini kita makan!? Sama pak supir
juga!? Gue yang traktir!? Gimana?”
Surjanto        : “Saya juga, Non?”
Lamia           : “Iya donk!? Bapak juga!? Ntar kita makan diiiiiiiiiiiiiiiiiiii?
Mmmmmmmmm…”
                  “Bapak sukanya dimana?”
Surjanto        : “Heuheuh… Walah… saya sih… ap..pha…saja, Non!? Dimana
saja…”
Lamia           : “Hahah… Apa aja ya, Pak?”
                  “Okeh-okeh!?”
                  “Mmmm… Kalo lo Mat? Suka apa? Ayam goreng suka?”
Rahmat          : “……………………………………..”
                  “Hee… uuu…. ggg…. Kkk… ssss…. Hks… hh… gggg… Hks…
Kk.. hkssss….”
Lamia           : “Heeeiii… Rahmaaat!?”
                  “Mat… Udah donk!? Ko masih nangis sih?”
                  “Hhhh… Gimana ya? Mmmm…”
                  “Mat… Mat lo denger gue ya…”
                  “Ibu lo ga akan bahagia kalo dia ngeliat lo kaya gini!? Ibu lo loncat
dari kereta karena dia pengen ngurangin beban hidupnya!? Dia putus asa!? Tapi dia
ninggalin lo di sini!? Supaya lo bisa terus berjuang!?”


                                                                                    31
                 “Mat, lo gak boleh putus asa!? Ibu lo udah besarin lo sendirian!? Dia
kuat!? Walopun tanpa bokaplo yang BRENGSEK itu!? Walopun dia ga punya uang!?
Dia bisa sebelas taun besarin lo!?”
                 “Lo gak boleh bikin penderitaan ibu lo di sana semakin gede!? Lo
harus tunjukin sama ibu lo kalo elo bisa tumbuh jadi anak yang kuat!? Anak hebat!?
Lo anak cowok yang nantinya akan jadi cowok yang bertanggung jawab!? Bukan jadi
cowok BRENGSEK kaya bokaplo!?”
                 “Lo harus tunjukin sama ibulo kalo lo beda sama bokap lo!? Ibu lo
pasti bahagia Mat!? Jangan nangis!? Lo harus semangat!? Lo harus jalanin hiduplo!?”
                 “Lo ngerti kan apa yang gue omongin barusan? Hah? Gue tau lo udah
gede!? Gue yakin lo pasti ngerti omongan gue!? Jadi pleaseee… Please jangan nangis
lagi!? Lo kuat kok, Mat!? Lo pasti bisa!? Percaya sama gue!?”
Rahmat         : “………………………………………….”

       Anak jalanan menangis histeris sampai kelelahan. Dia mendangah pelan penuh
harapan. Wajahnya kaku banyak goresan. Nona menghapus tangis perlahan-lahan.
Tersenyum lebar melepas beban. Bocah preman mau makan. Nona berhasil menjadi
teman.

Rahmat     : “…………………………………”
Lamia      : “MAT!!”
Rahmat     : “…………………………………”
Lamia      : “TERSERAH LO DEH!!”
Rahmat     : “…………………………………”
Lamia      : “…………………………………”
Rahmat     : “Hksss…. Kak…”
             “Iya… Kak… Hks… Iya…”
             “Rahmat … Hks… Rahmat … Hks… Rahmat suka ayam goreng!?
Hks… Bakwan!? Hks… Sayur asem juga suka… Hks… Kak!?”
Lamia      : “………………………………………………………..”
Rahmat     : “Hkss… I…. Hks… Iya… Kak…. Hks…”
Lamia      : “………………………………………………………..”
             “Lo?”
             “Lo suka?”
             “SUKA?”
             “Ayam?”
             “Lo?”
             “Ahahahahahahahahah…”
             “Lo suka ayam goreng? Sayur asem?”
             “SUKA, Mat?”
Surjanto   : ^_^
Rahmat     : “Iya, Kak… Hks… Mat suka!? Mat laper! Mat mau makan!?”
Lamia      : “……………………………………………………………....”

        Nona menjadi malaikat bagi jiwa kecil yang menderita. Bibirnya menganga
seperti mau makan serangga. Berlonjakan seperti anak balita!? “Hihihi… hahaha…”
Bingung harus berkata apa, si bocah akhirnya mau bicara. Tangannya menggenggam
erat pena, meremas jari-jemari karena terlena. Nona menggerang gembira, hatinya
bak terbakar bara.



                                                                                   32
Lamia          : “Good, Mat!?”
                 “Gue seneng…”
                 “Gue SENEEEEENG BANGET!? Lo ngerti apa yang gue maksud!?”
                 “Ya udah… Terus?”
                 “Terus lo suka apa lagi?”
                 “Hah?”
                 “Rendang? Sate? Ooohh… Pizza?”
                 “Pizza suka nggak? Hahah… Bapak? Suka Pizza gak, Pak?”
Surjanto       : “Hahah… Saya sih nasi saja, Non!? Ndak suka pizza… pizza itu kalo
ndak salah pakai keju ya, Non!? Saya ndak suka keju!? Mual nanti saya, Non!?”
Lamia          : “Oooohhh… Gitu?? Ya udah!? Kalo gitu masakan padang suka dong,
Pak?”
Surjanto       : “Monggo, Non!? Kalau itu suka!?”
Lamia          : “Hahah… Elo, Mat?”
Rahmat         : “Suka Kak…”
Lamia          : “Ooohh… gitu!? Jadi pada suka nih? Okeee….”
                 “Kalo gitu… Ntar kalo ada rumah makan padang berenti, Pak!? Nanti
biar saya yang traktir!?”
                 “Nanti lo makan yang banyak, Mat?”
Rahmat         : “Iya, kak!?”
Lamia          : “Oke deh … Sip kalo gitu!?”
                 “Sekarang ketawa dong lo!?”
                 “Ayo, Mat… Ketawa!?”
                 “Dikiiiiiiiiiiit aja!?”
Rahmat         : “…………………………………”
Surjanto       : “Mat, itu kakaknya suruh kamu ketawa lho!? Ayo!? Sudah mau di
kasih makan lho kamu tuh!?”
Rahmat         : “……………………………….”
Surjanto       : “Mat!? Itu lho!?”
Lamia          : “Hahah… Ya udah deh!? Lo belom bisa ketawa ya?”
                 “Ya udah!?”
                 “Hhhh…”
                 “Yang penting lo jangan nangis lagi!? SEMANGAT!! Oke?”
                 “Sabar ya, Mat!?”
                 “Lo hebat kok!?”

      Paling tidak anak jalanan mau tersenyum. Nona tertawa semakin gembira,
matanya bulat seperti bola, raut ceria tidak merana, gagah bagaikan seorang ksatria.

Lamia         : “Lo sekolah, Mat?”
Rahmat        : “Nggak Ka…”
Lamia         : “Baca? Bisa?”
Rahmat        : “Sedikit!?”
Lamia         : “Waaaaaaaaah… HEBAT!? Belajar ma siapa lo?”
Rahmat        : “Ibu…”
Lamia         : “Ibu? Oh… Oke!?”
                “Punya kakak? Ade?”
Rahmat        : “Gak ada…”
Lamia         : “Pernah kerja?”
Rahmat        : “Pernah Ka… Ngamen!? Jual gorengan!?”


                                                                                 33
Lamia          : “Ngamen? Waaahhh… Kalo lo suka ngamen, tar lo belajar nyanyi aja
sama gue!? Gini-gini juga gue jago nyanyi lo, Mat!? Hahahaha… Mau lo gue ajarin?”
Rahmat         : “Mau, Kak!?”
Lamia          : “Hahah… Trus? Gitar?”
                 “Gitar? lo bisa maen gitar?”
Rahmat         : “Gitar? Waaahhh… paling bisa itu, kak!?”
Lamia          : “Oyaaa?? Waaaaaaaaah!? HEBAT!? Emang jodoh nih gue ketemu
lo!? Hahahah… Suka gue ada anak kecil kaya lo!? Tar kita latihan, Mat!? Mau ga
latihan sama gue?”
Rahmat         : “Mau banget, Ka!?”
Lamia          : “Mau ya? Hahah… Sip deh!? Nanti kita latihan!?”
                 “Gue kumpulin anak-anak tukang ngamen seumuranlo, trus gue
bentuk band deh!? Jadi biar kalian ngamennya terarah!? Mau?”
Rahmat         : “Beneran kak?”
Lamia          : “Ya beneran donk!? Masa gue boong!? Mau gaaaaa?”
Rahmat         : “Mau banget, kak!? Mau!?”
Lamia          : “Hahahahah… Trus kalo gorengan? Siapa yang bikin? Ibu juga?”
Rahmat         : “Iya kak… Ibu yang bikin, Mat sama anak-anak lain cuma dagang
keliling aja… di stasiun biasanya!?”
Lamia          : “Oh gitu!?… Ibulo jadi bosnya gitu?”
Rahmat         : “Iya kak…”
Lamia          : “Wah HEBAT ya dia!?”
                 “Trus kalo lo gue suruh jualan gorengan lagi gimana? Mau ga?”
Rahmat         : “Mau ka!? Mat udah banyak langganan kok!? MAU!?”
Lamia          : “Ntar yang masak pembokat gue!? Enak loh masakan dia!? Bikin
gorengannya juga enak banget!?”
                 “Ntar lo sambil ngamen jual gorengan juga!? Gue siapin
dorongannya!?”
                 “Ntar kalo duitlo udah banyak nih!? Yaaa… Cepe lah!? Lo
sekolah!?”
                 “Gue biayain!?”
                 “Tapi lo juga harus sambil kerja buat biayain hidup lo sehari-hari!?”
                 “Soal makan lo bisa makan di rumah gue!? Gimana? Mau?”
Rahmat         : “Iya, Kak!? Mau… Mau banget!?”
Lamia          : “Lo jujur gak tapinya?”
Rahmat         : “Jujur kok, kak!? Kata ibu kan walopun Mat gak punya duit, Mat ga
boleh nyomot duit dari majikan kalo lagi di kasih kerjaan!? Inya Allah Mat mau kak!?
BISA!?”
Lamia          : “Ah masa? Bener nih?”
Rahmat         : “Bener Ka…”
Lamia          : “Terus? Kalo jujur … Kenapa lo tadi berantem?”
                 “Trus? Lo ngambil uang kan? Ampe bisa di keroyok gitu?”
Rahmat         : “Iya, Kak… Maaf…”
                 “Abisnya tadi Mat belon makan dua hari, tadi Mat cuman ngambil
dua rebu buat beli bakwan sama aer putih!?”
                 “Mat janji ga bakalan nyolong lagi, Kak!? Mat mau kerja!? Mat mau
sekolah!? Mat mau jadi polisi, Kak!? Bener!?”

      Mata nona kembali berkaca, namun kini lebih berwarna. Senyum pengelana
mengukuh penuh makna, nona bermata bola benar-benar ksatria.


                                                                                   34
Lamia         : “Dua hari ga makan?”
                “Lo laper banget, Mat?”
Rahmat        : “Iya, ka!? Mat laper banget!?”
Lamia         : “……………………………………………………………”
                “Mmmm… Pak…”
                “Masih lama ga rumah makan padang nya?”
Surjanto      : “Oh ndak Non, itu lho!? Habis belokan!?”
Lamia         : “Oohh… itu? Oh… ya… ya… keliatan!?”
                “Ya udah!? Cepetan Pak!? Saya laper nih!? Si Rahmat juga!? Bapak
juga kan?”
Surjanto        : “Heheh… nggeh, Non!?”
                  “Nah itu lho, Non!? Tu lho yang ada payung-payung!?”
Lamia           : “Aaahhh… Iyaaa… Simpang Raya!? Sip-sip!? Enak tuh!?”
                  “Yuk deh!? Ngebut, Pak!? Calon polisi udah laper nih!?”
Surjanto        : “Hahahah… Terimakasih banyak lho, Non!?”
Lamia           : “Hueheheheh… Santai, Pak!?”
                  “Kapan lagi kita makan sama pengamen cilik yang bakal jadi polisi?”
Surjanto        : “AMIN!? Tapi polisi jujur lho, Mat!?”
Rahmat          : “SIAP KOMANDAN!?”
Lamia           : “Hahahah…”
                  “Eh…Mat!? Udah nyampe nih!?”
Rahmat          : “Iya, kak!?”
Lamia           : “Waaahhh… tapi parkirannya penuh, Pak!? Eh nggak deng!?”
                  “Eh Pak… Pak… itu tuh!? Inova item keluar tuh!?”
Surjanto        : “Oh… Iya Non, monggo!? Non turun saja dulu!? Biar saya parkir!?”
Lamia           : “Oh gitu!? Jadi bapak parkir dulu?”
                  “Ya udah!? Oke-oke!? Tapi ntar nyusul ya, Pak!? Jangan nggak!?
                  “Yuk, Mat!? Turun!?”
                  “Bentar… gue dulu!?...”
                  “Yok sekarang Lo, Mat!?”
                  “Oh iya… Pak tas saya maaf, Pak!?”
Surjanto        : “Tas? Oh… Monggo, Non!? Ini… tasnya!?”
Lamia           : “Iyaaa… Thank You, Pak!?”
                  “Yuk Mat!? Pelan-pelan…”
                  “Awasss… pelan-pelan!? Pala lo masih benjol tu!?”
                  “Eh itu jaketnya seletingin donk!?”
                  “Iyaaa gitu!? Sip!?”
                  “Pak, bapak jangan lupa loh!? Ntar masuk!? Jangan Nggak!? Saya
traktir kok, Pak!?”
                  “Kita duluan ke dalem ya!?”
Surjanto        : “Oh oke, Non… Mari!? Saya parkir dulu!? Nanti saya masuk!?”
Lamia           : “Okeeeee… deeee …. Bapak… Di tunggu ya, Pak!?”
Surjanto        : “Monggo, Non!?”
Lamia           : “Yuk, Mat!?”
                  “Pinter!? Jagoan!? Calon polisi emang harus kaya gini!? Ga nangis!?”
                  “Yuk!? Masuk!?”
Rahmat          : “ Iya kak!? Mat gak nangis lagi!?”
                  “Makasih ya, Ka!?”



                                                                                   35
Lamia         : “Heheheheh… Oke Boz!? Sama-sama!? Tar lo makan yang banyak…
Gue beliin apaaaaaaaa aja yang lo mau!? Okeh??”
Rahmat        : “Okeh, Ka!?”
Lamia         : “Hahahahah… Okeh!? Gitu dong!? Senyum dari tadi!? Kan
ganteng!?”
Rahmat        : “….Hhmhmm…. Heheheheh….”




                                                                        36
                                     Penumpang 4
                          Praja Muda Karana

        Entah aku yang ketinggalan zaman ataukah anak muda sekarang yang terlalu
edan. Guru kok dilawan, di bicarakan, bahkan di hina dengan memakai nama
samaran. Tarzan!? Ku rasa itu bukan nama asli sang pahlawan. Maksunya pahlawan
tanpa tanda jasa yang sedang kubicarakan.
        Memang lebih baik mengangkut nona-nona daripada tuan muda. Mengaku
mantan PRAMUKA tapi cepat lupa budaya. Mentang-mentang ayah ibu kaya,
kelakuan jadi semena-mena.


Deroy         : “Eh, lo tau ga si… si Ucup ancur banget nantangin Tarzan tadi pagi!?
Goblok banget dah tu anak!?”
Bamki         : “BUSET… Serius lo?”
                “KACAU tu orang!?”
                “Nantangin apaan emang?”
Momon         : “Biasa… Ngajak ribut!?”
                “Dia ga bikin tugas…”
                “Lo tau kan tugas kita macem apaan!?”
                “Skema instalasi listrik ruangan plus design instalasi listriknya!”
                “Kurang susah apa lagi tu tugas?”
                “Udah seminggu di suruh bikin… Malah ke Bali dia ma ceweknya!?”
                “Mati lah!? Bonyok dia biru-biru kena tampol satu ruang dosen!?”
                 “Udah tau dosen kita suka maen gampar!?”
                 “Apalagi si Tarzan tuh!? GOKIL ABIS kan tu dosen!? Biasa idup
 ama monyet si!? Hahahahaha….”
Deroy         : “Hahahahahah….”
Bamki         : “Hahahahahah…. Goblok abis!? Terus?”
                “Apa kabar tuh si Ucup?”
                “Di hajar beneran dia?”
Momon         : “Tau deh… Iya kali!?”
                “Geblek emang tu anak!?”
                “Tu tugas kan susah banget nyet!?”
                “Gua aja kaga keluar kamar cuma buat bikin gituan!?”
                “Lima hari man!?? Lima hari!!??”
Deroy         : “Iya lah… canggih abis si Tarzan ngasih tugas ke gua bikin rangkaian
skematik!?”
                “Hahahaha… untung gua bisa!?”
                “BISA GILA!!??”
                “Hahahaha…”
                “Tapi sumpah kocak abis!?”
                “Lu liat ga sih tadi tampang si Ucup melongo ga ngerti apa-apaan?”
                “Goblok banget!? TOLOL!?”
                “Sumpah TOLOL!?”
Momon         : “Yo’i…”
                “Tadi pas si Tarzan nanyain tugas, dia malah bengong, garuk-garuk


                                                                                 37
pala!?”
                “Srek…srek…”
                “Hahahaha… Gila… Mo mapus tu anak!?”
                “Mo gua ketawain ga tega!?”
                “Nge-pink gitu tampangnya!?”
                “Udah buluk makin buluk!?”
                “BUSUK jadinya!?”
Bamki         : “Hahahah… Serius lo?”
                “Ah sial!? Kaga liat gua tadi!?”
                “Seru abis tuh kayaknya si Ucup!!??”
Momon         : “Nah elu kemane aje, tong…”
                “Kaga kuliah kan lu? Baru nongol jam sebelas…”
                “Parah banget lu!?”
Bamki         : “Yeeee… anak Mesin ngajakin gua tanding basket!?”
                “Cabut gua man!?”
                “Cuman aja tugas si Tarzan udah gua dititipin Hakim!?”
                “Sorry … Ga bego kaya si Ucup gua…”
                “Hehehehe…”
Deroy         : “Sial lu, maen basket kaga ngajak-ngajak gua!?”
                “Tanding apa ngiseng doang?”
                “Mending gua ngikut lu tadi!?”
                “Bete gua dengerin si Tarzan ngemengin Alexander Graham Bell
berulang-ulang!?”
                “Udah berapa kali coba dia bahas?”
                “Pas Alexander Graham Bell meninggal taun 1922, seluruh saluran
telepon di Amerika di putus selama 1 menit sebagai penghormatan”
                “Seribu kali man dia ngulang-ngulang gituan terus!?”
Momon         : “Ah… gembel lu Roy…”
                “Absen lu udah empat dodol!?”
                “Mo ga lulus lagi lu?”
                “Pikiranlu cabut mulu!?”
Deroy         : “Ah, santhaaaii…”
                “UTS gua dapet tujuh kemaren!?”
                “Lu brapa lu, Bam?”
                “Lima lu ngaku!?”
                “DABLEK lu…”
                “Hahahaha…”
Bamki         : “Eh gua si mending!?”
                “Si Ucup tuh lebih ancur!”
                “Dapet tiga tau ga lo!?”
                “Parah banget dia!?”
                “Hahahaha….”
Deroy         : “Hahahahaha…”
                “Ancur emang!!??”
                “Parah dah tu anak…”
                “Kaga mikir apa nyokapnya stress banget mikirin dia?”
Momon         : “Kenal lu ma nyokapnya?”
Deroy         : “Nyokapnya temen nyokap gua kali!?”
                “Hahahahaha….”
Bamki         : “Serius Lo?”


                                                                                  38
Deroy         : “Yo’i …”
                “Tukang gossip tu tante-tante!? PARAH!?”
                “To ga lo… Rambut nyasak mulu tiap hari!?”
                “Bikin Global warming!? Mending bagus!?”
                “Ozon abis gara-gara hair spraynya!?”
                “Hahahaha…”
Momon         : “Yo’i!?”
                “Metil Bromida man!?”
                “Hahahahaha…”
Deroy         : “Tar gua ceng-in ah!?”
                “Goblok banget sih tu anak!?”
Bamki         : “Hahahahah …”
                “Segitu carenya lo ama nyokap si Ucup!?”
                “Jangan-jangan ada maen lu!?”
                “Hahahahaha….”
Deroi         : “ANJRIT!? Tae banget lo!?”
                “Mending gua nyomot cewek di Mahakan daripada sama tante
Tante model gituan!?”
Bamki         : “Hahahahah… PISS…”
                “Trus, Nyokapnya tau ga tuh dia ke Bali bulan madu ama si Lani?”
Momon         : “Kaga sih gua rasa!?”
Deroy         : “Hahahaha…”
                “Kalo nyokapnya ampe tau, bonyok lagi tu anak di gamparin!?”
                “Dia kan bilangnya mo naek Bromo ama anak-anak PRAMUKA
SMA seminggu!?”
                “Najis kan padahal ke Bali?”
                “Kempes dah tuh lama-lama si Lani!?”
Momon         : “Emang GOKIL bocah!?”
                “Ancur abis!? Hahahahaha….”
Bamki         : “Hahah… geblek... geblek…”
Momon         : “Eh, besok maen PS yok…”
                “Winning Eleven 2008” di rumah gua!?
Deroy         : “Beli baru lo? PS tiga?”
                “Canggiiiiih !!??”
                “Emang lu dah beli sticknya?
Momon         : “Huedheee… udah donk!?”
                “Ade gua sih yang Beli…hahahaha…”
Bamki         : “Si Kribo?”
                “Buseeeettt…. Tajir abis ade lu nyet!?”
                “Hahahah…. Kaga kaya lu!?”
                “GEMBEL!?”
Deroy         : “Yok dah…”
                “Boleh-boleh…”
                “Eh Bam… lu ajak si Ucup Bam!?”
                “Biar ELING dikit tu anak!?”
Bamki         : “Hahah… Sip-sip… Tar gua ajakin!?”
                “Mao lah dia pasti!?”
                “Eh, tapi kita bolos donk besok?
                “Jam brape si?”
Deroy         : “Hahahaha….”


                                                                                   39
                “Ya ia lah… Cabut aje jam trahir!?”
                “Si Mahmud kan yang ngajar!?”
                “Males gua!?”
                “Absen lu masih pada full kan ma dia?”
Bamki         : “Hahahahahahah…”
                “Yo’i… Gampang-gampang!?”
Momon         : “Hahah…..”
                “Ya ude… Besok jam tiga jalan!?”
                “Makan dulu kita di kampus!?”
                “Tar si Citra ngamuk kalo gua kaga nemenin dia makan siang!?”
                “Jangan lupa ajak si Ucup!?”
Deroy         : “Citra mulu lo!?”
                “BASI!?”
                “Dah sepet tu cewek!?”
                “Bekas si Andre!? “
                “Ahahahah…”
Bamki         : “Tau lo!?”
        `       “Mending Atika!?”
                “Lebih keriting!?”
Momon         : “Apanya kriting?”
Deroy         : “Otaknya KRITING!?”
                “Hahahahahah…”
Bamki         : “Yoi’ Otaknya kriting!?”
                “Kacau emang tu cewek!? Hahah…”
Momon         : “Hahahahahahah….”

       Hari menunjukan pukul 00.45, namun tuan muda masih berada di luar istana.
Mungkin mereka menganggap gerbang tinggi terbangun seperti penjara. Orang tua
mereka bekerja membanting tulang, pergi pagi kadang lupa pulang. Harusnya mereka
bisa datang untuk sekedar makan malam, tapi tuan muda lebih memilih pesta pora
bersama teman-teman.
       Wanita tercantik se antero jagat pernah bilang bahwa salon itu mahal. Tapi
pergi ke Bali seratus kali lebih mahal. Entah bagaimana tuan muda bisa membuang-
buang uang, berbicara kosong di belakang tanpa peduli perasaan orang.




Pulang ke rumah :
Selasa, 18 Desember 2007
01.05 WIB


                                                                                40
Berangkat dari rumah :
Selasa, 18 Desember 2007
09.00 WIB


                                    Penumpang 1
                              Party of Three

       Pagi ini aku cukup bahagia, aku memang senang jika mendapat penumpang
yang berprilaku mesra. Bukan saling jatuh cinta antara dua gender yang masih belia,
melainkan pancaran kehangatan sebuah keluarga. Wanita cantik berusia senja, gadis
manis berseragam SMA, dan dua orang bocah yang senang bercanda.
       Mungkin sepuluh tahun lagi aku akan mendapatkan kehangatan selakyanya
penumpang ke pertamaku. Anakku akan menikah dan memberiku dua orang cucu,
selucu Rere dan Randu.

Rere          : “Oma, cokelatnya buat aku yang mana Oma?”
Randu         : “Kakak yang bilu, aku yang putih ya?”
                “Yang pake katang ya Oma?”
Rere          : “Iiiiihhh adeee…”
                “Tadi kan kakak milihnya yang putih!?”
                “Kamu yang biru…”
                “Kamu kan anak cowok…”
                “Masa mau yang putih!?”
                “Anak cowok kan warnanya biru!?”
                “Ya kan Oma?”
Oma           : “Ya udah nanti di bukanya di rumah aja…”
                “Nanti Rere buka setengah, Ndu juga buka setengah!?”
                “Nanti sama-sama coba aja sedikit-sedikit!?”
Randu         : “Iiiiiihhh…. Ga mau Oma….”
                “Ini kan punya Ndu!?”
                “Ndu ga doyan yang punya kakak!?”
Rere          : “Ih… kamu maaah…”
                “Kan kata Oma juga di bagi-bagi!?”
Tante Mia     : “Ssssstttt…. Berisik!?”
                “Ya udah ntar tante aja yang bagi!?”
                “Udah!?”
                “Tante lagi ngapalin nih!?”
                “Jangan berisik, ah!?”
Randu         : “Ih… tanteeee….”
                “Emang tante lagi belajal apa tih?”
Tante Mia     : “Hah?”
                “Iya ini belajar ini…”
Randu         : “Belajal apa taaaaanteeeeeeee….”
                “Ndu Liat bukunaaaa…”
Oma           : “Heeehhh… Ndu…”


                                                                                41
              “Udah ah sini Oma pangku, jangan gangguin tante!?”
              “Tantenya lagi belajar tuh!?”
Randu       : “Aaaahhh…. Ga mau….”
              “Aku mau duduk di depan cama tante!?”
              “Tante pangkuuuuuuu…”
Rere        : “Ihhh…. Ndu… Ga boleh nakal!?”
              “Tantenya kan lagi belajar!?”
Tante Mia   : “Ndu…eh….Ndu… sakit dong ah!?”
              “Ini lepasin dong… Rambut tante sakit!?”
              “Jangan di tarik-tarik gitu donk, Ndu….”
              “Aaaah…. adhaaaaaawwwwww…”
              “RANDU!!!”
Oma         : “RANDU…”
              “Sssstttt…. Sini sayang…”
              “Sini-sini sama Oma ya…”
              “Bobo’an ya…”
              “Ka Rere sana’an Ka… nih adenya mau bobo’an!?”
Rere        : “Aaaaahhh…. Oma, aku pegel tauuuu…”
              “Ini kan udah sempit!?”
Oma         : “Kakak… Ngalah dong Kak…”
              “Oma bilang geser ya geser dong!?”
              “Ngalah sama adenya!?”
Rere        : “Iiiiiiihhhhh…. Oma mah…jahat!?”
Randu       : “Ihhhh…. Ihhhh kakak nangis!?”
              “Kaka cengeng kaya anak kecil!?”
Rere        : “Kamu sih nakal!? Sana ah!? Bete!?”
Tante Mia   : “Heh… Udah-udah…”
              “Ya udah Ndu mau duduk sama tante?? Mau pindah ke depan??”
              “Mah, sini’in Mah Ndunya…”
Oma         : “Loh kamu katanya lagi ngafalin?”
              “Udah si Ndu sama Mama aja lah… belajar aja lah kamu!?”
Rere        : “Ia nih … ade sih!?”
              “Kan jadi ganggu tante!?”
Tante Mia   : “Ya udah gak apa-apa…”
              “Udah Mah sini’in Ndunya…”
              “Kasian si Rere!?”
Randu       : “Aku mau cama tante aja!?”
              “Oma awas!!??”
Tante Mia   : “Yok… sini…. sini…”
              “Heeeuuup… yaaaa…”
              “Duuuhh… Ndu…jangan nakal gitu!!??”
              “Heeeuup…. Mana berat lagi…”
              “Nddduuuttt!?”
Oma         : “Dasar Ndu… Ndu…”
              “Ya udah… sini Rere sama Oma sini yok!?”
Rere        : “Ga mau…”
              “Aku disini aja!!”
Tante Mia   : “Rere… kok gitu sama Oma? Kaya orang musuhan?”
              “Jangan gitu ah!?”
              “Dosa loh!?”


                                                                           42
Rere        : “Abis Oma gitu!?”
              “Jahat!?”
Oma         : “Iya… iya… maaf deh…”
              “Oma ga jahat lagi deh!?”
              “Yuk sini yuk…”
              “Nanti sampe rumah kita jajan es teler…”
              “Mau ga?”
Tante Mia   : “Waaahhh…. Es teler…. Enak banget!!??”
              “Ndu mau gaaaaaaa??”
Randu       : “Mauuuuuuuuuuu tanteeeeee…”
              “Ihhh… Emang kaka ga mau ya kak?”
Rere        : “Yeeeee…. enak aja…. Kaka mau…”
              “Kan Oma mau beliin kaka yeeeeeeeeee…”
              “Bukan beliin kamu…”
Oma         : “Iya… iya… nanti oma beliin semua ya…”
              “Rere, Ndu sama tante Mia juga…”
              “Kita makan bareng-bareng yaaaa…”
              “Nanti kita juga sekalian beliin papa mama kamu… Gimana?”
              “Kita makan bareng di rumah Oma!? Yah?”
Rere        : “Iya… Nanti Oma beliin mama papa juga yaaa…”
              “Tapi aku nambah ya Oma… yang banyak!?”
              “Ade dikit aja!!??”
Oma         : “Iya…iya… tenang aja…”
              “Ssstttt…. Rahasia tapi ya… jangan sampe ketauan ade!?”
              “Nanti kamu Oma beliin es telernya dua kali!? Sssstt…”
              “Terus kamu mau apa lagi?”
Rere        : “Aku mau makan BAKSO Oma!?”
              “Ntar Oma beliin aku yaaaaa….”
              “Tapi Ndu ga usah ya Oma!?”
              “Rahasiaaaa…. ssstttt…”
Tante Mia   : “Nah yaaaaaaaaaaaaaaaaa….”
              “Rere sama Oma bisik-bisik!?”
              “Ada apa hayoooo?”
              “Kita ga di kasih tau nih….”
Randu       : “Iya nih Oma cama kakak maen bitik-bitikan…”
              “Ndu ga di kacih tau!?”
Rere        : “Yeeeee…. Kamu mau tau aja sih!?”
              “Kamu kan anak kecil!?”
Oma         : “Iya udah!? Nggak!?”
              “Oma gak maen bisik-bisikan kok!?”
              “Ga maen rahasia-rahasiaan!?”
              “Pokoknya ntar kita makan es teller rame-rame… Okeeeeeiiii?”
Tante Mia   : “Okeeeeiii Oma…”
              “Ayo dong!? Bilang dong!?”
              “Okeeeiii Oma!?”
Randu       : “Okeeeiii Omaaa…”
Tante Mia   : “Hahahah… Gitu dong!?”
              “Pinteeeeer!?”
              “Ini nih baru namanya ponakan tante yang paling ganteng!?”
              “Muuaaaccchhh…”


                                                                             43
Randu       : “Aaaahhh tante bau taaauuuuuuuuu…….”
Rere        : “Hahahaha… tante dikatain bau sama Ade!?”
              “Belom mandi sih tante!?”
              “Hahahahah…”
Tante Mia   : “Ih… Enak aja!?”
              “Kamu tuh yang bau!?”
              “Cubit nih!?”
Rere        : “Aaaaaahhh…”
              “Tante…”
              “Sakit!?”
Randu       : “Hahahahahah….”
Tante Mia   : “Hahahaha…”
Rere        : “Hahahahah….”
              “Eh… Oma… Oma… yang tadi jadi kan?”
              “Jadi ya Oma ya?”
Oma         : “Yang tadi yang mana?”
Rere        : “Iiihhh… Oma…”
              “Yang tadi aku mau di beli’in es teler dua sama bakso!?”
Oma         : Ooohhh…. Yang iu??”
              “Iyaaaa…. Tenang!?”
              “Jadi kok!?”
              “Kan rahasia katanya…”
              “Sssstt… Makanya jangan keras-keras!?”
Rere        : “Ups iya…”
              “Rahasia kan ya Oma…”
              “Sssssstt…”
Oma         : “Ssssssstttt….”
Rere        : “Heheheheheh….”




                                                                         44
                                      Penumpang 2
           Tertunda Bukan Berarti Mati Muda
        Setauku orang yang lebih cepat gagal akan lebih cepat juga menuai
keberhasilan. Semakin seseorang tidak pernah merasakan gagal, semakin sulit pula ia
menerima kegagalan disaat ia merasakan kegemilangan.
        Jangankan manusia se hebat Thomas Alfa Edison yang pernah bilang “Our
greatest weakness lies in giving up. The most certain way to succeed is always to try
just one more time”. Aku yang hanya supir taksi lulusan SMA saja mengerti kalau
gagal itu adalah awal kesuksesan. Sulit memang, tapi aku yakin, jika aku saja berhasil
melewati hidupku, apalagi nona manis yang sedang duduk gelisah di jok belakangku.

Nila          : “Geb, tar lo wisuda pake kebaya model apaan?”
Gaby          : “Tau juga deh Nil…”
                “Ya gitu aja kali ya… yang biasa-biasa aja!?”
Nila          : “Cowok lo dateng dong?”
Gaby          : “Mungkin dateng mungkin nggak!?”
                “Dia juga lagi sibuk ngurusin kuliahnya soalnya!?”
Nila          : “Ya elah!? Amrik gitu deket!?”
                “Cuma 16 jam!?”
                “Lagian cowoklo tajir banget gitu!?”
                “Dateng lah pasti!?”
Gaby          : “Ya mudah-mudahan sih!?”
                “Eh Nil, napa sih lo nanya-nanya gituan?”
                “Lo jangan gitu dong!?”
                “Tampang lo tuh!?”
                “BASI banget!?”
Nila          : “Ya iyalah…”
                “Gue kan lulusnya MOLOR!?”
                “Sirik gue ma lo!?”
                “Sedih tau ga sih ga bisa wisuda bareng angkatan sendiri!?”
                “Padahal kan gue ga bego-bego amat!?”
                “Sama aja ngepasnya sama lo!?”
                “Cuma gue lebih sial aja kali!?”
                “Sial BANGET malah!?”
Gaby          : “Ckh… Elo mah ngomongnya gitu banget si!?”
                “Ya udah lah… santai aja!?”
                “Lo tuh kurang lancar di sini kan mungkin bakal lancar di bidang
lain!?”
                “Semua itu ga bisa di prediksi kan, Nil!?”
Nila          : “Yo’i!?”
                “Lancar banget gue kalo boker!?”
Gaby          : “Ah elah lo…”
                “Serius gue!?”
                “Jangan gitu donk, Nil!?”
Nila          : “Ya abis… Males banget gue!?”
                “Umur gue udah berapa nyong? 22!?”
                “Nambah setaun lagi?”


                                                                                   45
              “Umur 23 gue baru lengser dari sini!?”
              “Kakak gue umur segitu udah pada gawe!? Malah udah kawin!?”
              “Ck… tau nih!? Gue tuh sial banget to ga taun ini!?”
              “Akhir 2007 tuh taun sial gue!?”
              “Udah ga lulus!? Diputusin pacar!?”
              “Cobaan gue udah kaya orang yang kena tsunami tau ga!?”
Gaby        : “Yeeee… Apaan si lo!?”
              “Ektrim banget lo ah!?”
              “Dosa!?”
              “Jangan suka nyalahin nasib!?”
              “Itu kan udah keputusan Yang Di Atas!?”
              “Jangan protes mulu!?”
              “Tawakal aja!?”
              “Semua pasti ada hikmahnya, kok!?”
Nila        : “Hikmah emang ada!?”
              “Toko roti sebelah rumah gue namanya toko “HIKMAH”!?”
              “Anak yang punya toko namanya Hikmah!?”
              “Temen SD gue!?”
Gaby        : “Ach!? Ga lucu banget lo!?”
              “Gue ngomong bener-bener malah sensi mulu!?”
              “Sentimen banget gitu lagi muke lu!?”
Nila        : “Ya abis!?”
              “KLISE tau ga omongan lo!?”
              “Lo ga bilang gitu juga gue tau!?”
              “Kegagalan itu keberhasilan yang tertunda!?”
              “Tapi capek gue ketunda mulu!?”
              “Kapan berhasilnya?”
              “Kapan lancarnya?”
              “Boker gue doang yang lancar!?”
              “Itu juga ga kurus-kurus!?”
Gaby        : “Ckh.. apaan si lo!?”
              “Jayus!?”
              “Ga nyambung!?”
              “Eh… daripada lo pusing-pusing gitu mending kita jalan aja deh ke
puncak!?”
              “Mo ga?”
              “Mumpung libur sebulan!?”
Nila        : “Puncak?”
              “Ogah, ah!?”
              “Mending gue nyari lowongan magang!?”
              “Ikut casting apa kek, jadi SPG apa kek!?”
              “Pengen nayri duit!?”
              “Kasian nyokap gue… Harus biayain gue terus!?”
              “Harusnya kan gue udah lulus taun ini!?”
              “Ini malah nambah-nambahin beban dia ampe taun depan!?”
              “Hhhhhh… Tau gini bunuh diri aja gue dari kemaren!?”
Gaby        : “Ah… elo mah!?”
              “NGOMONG TUH DI AYAK!?”
              “Hati-hati!?”
              “PAMALI!?”


                                                                                  46
              “Setiap omonganlo tuh di denger sama malaikat!?”
              “Tau lo!??”
              “Eh, Nil!?”
              “Gue ngajak lo tuh serius!?”
              “Baik-baik!?”
              “Lo kan yang selalu ga mau!?”
              “Nolak terus kalo di ajak!?”
              “Nil… Udah lah Nil…”
              “Lupain bentar lah masalah study!?”
              “Ngaso-ngaso bentar lah kita!?”
              “Kemana kek!?”
              “Kalo puncak males… kita jalan deh kemana gitu!?”
              “Nonton kek, makan apa kek, kalo nggak kita ke Dufan deh naek
tornado!?”
               “Belom pernah kan lo?”
               “Lo bisa teriak-teriak di sana!?”
Nila         : “Tornado?”
               “Belom si!?”
               “Tapi tau ah!? Liat aja ntar!?”
               “Gue bener-bener lagi nggak mood ngapa-ngapain!?”
               “Eh… bentar-bentar si Sena nelfon nih!?”
               “Halo.. Sen… dimana?”
                “……………………...”
               “Emm… kita udah nyampeee …. ??? ….”
               “Nyampe mana sih ni? Nyampe mana, Geb?”
Gaby         : “Hah?”
               “Nyampe mana ya?”
               “Tau deh!?”
               “Bentar!?”
               “Pak, ni kita udah nyampe mana ni, Pak?”
Surjanto     : “Oh… Ini kita sudah sampai di da…”
Nila         : “Daerah Gandaria….”
               “Gandaria Geb!?”
Surjanto     : “Betul Mba…”
Gaby         : “Oh… iya…iya… bener Nil!?”
Nila         : “Halo… Sen…”
               “Gue dah di Gandaria!?”
               “Bentar lagi nyampe Radio Dalem, kok!?”
               “Lo nunggu depan Salon Firman kan?”
               “……………………………………”
               “Okeh-okeh, Sip-sip tar kalo dah deket gue miskol!?”
                “…………………………………....”
               “Oh… Okee… Okeee…”
               “Byeee…”
               “…………………………………….”
Gaby         : “Dia nunggu di salon?”
Nila         : “Yo’i!?”
               “Eh, tar kalo udah mo deket lo miskol dia ya?”
               “Gue fakir miskol nih!?
               “Hehehehe….”


                                                                              47
Gaby           : “Yah elo mah kapan juga lo ga pernah isi pulsa!?”
                 “Percuma lo punya hp dua biji!?”
Nila           : “Udah sih…”
                 “Bawel aja lo!?”
                 “Eh, Pak, ntar kita nyalon dulu yuk!?”
                 “Potong rambut kita rame-rame…”
                 “Hehehehe…”
Gaby           : “Yeeee… Apaan si lo!?”
                 “Ngaco banget!?”
                 “Jangan dengerin Pak!?”
                 “Biasa orang GILA ngomongnya anay!?”
Nila           : “Hahahaha…”
Gaby           : “Eh Nil, berenang yuk!?”
Nila           : “Ayok…”
                 “Kapan?”
Gaby           : “Lo bisanya kapan?”
                 “Kan elo nih yang libur-libur gini keserang BT mendadak gara-gara
serangan shock tiba-tiba!?”
Nila           : “Ya elah, Lo…”
                 “Biasa aja kaleee…”
Gaby           : “Ya udah!?”
                 “Makanya…”
                 “Yuk!? Kapan?”
                 “Terserah lo deh!?”
                 “Lo bisanya kapan?”
                 “Besok mo ga?”
Nila           : “Hah?”
                 “Besok?”
                 “Males ah…”
                 “Lagi panas gini nih cuaca!?”
                 “Tar item gue!?”
                 “Udah kuliah MOLOR!? Item lagi!?”
                 “Ga banget sih!?”
                 “Gue harus jaga kulit nih!?”
                 “Biar bisa nyambil jadi SPG!?”
Gaby           : “Tuh kan!?”
                 “NGESELIN lo kan!?”
                 “Di ajak ngapa-ngapain ujung-ujungnya pasti gitu!?”
                 “Udah sih Nil ga usah terlalu stress!?”
                 “Ga usah bahas kuliah terus!?”
                 “Bisa gila lo lama-lama!?”
Nila           : “Ya elo sih gak ngerasain gimana rasanya molor kuliah dengan umur
setua gue, dengan keadaan yang sebokek gue!?”
                 “Nyes banget to ga sih!?”
                 “Nih hati gue nih!?”
                 “Belah nih kalo lo mo liat se perih apaan hati gue!?”
                 “Gila lo…”
                 “Kalo gue TAJIR ABIS sih gak pa pa deh!?”
                 “Lha ini?”
                 “Ekonomi nge-pas gini!?”


                                                                               48
                  “Udah gitu gue tuh tinggal 10 SKS Lagi sebenernya!?”
                  “Dikit lagi kan?”
                  “Ama lo juga banyakan lo!?”
                  “Tapi ya tetep aja gue ga bisa WISUDA taun ini karena jadwalnya
pada bentrok!?”
                “DALEM to ga?”
                “Rasanya kaya mau bunuh diri aja gue!?”
                “Buang-buang umur!?”
Gaby          : “Duh Nil!?”
                “Iya… gue ngerti kok!?”
                “Gue tau rasanya!?”
                “Tapi ya gimana?”
                “Lo harus kuat ngadepin ini semua!?”
                “Ini semua ga bisa berubah!?”
                “Lo harus jalanin!?”
                “Hhhh… Ya udah deh Nil, sekarang gue harus bantu lo apa?”
                “Lo maunya gimana?”
Nila          : “Yaaa… ga gimana-gimana juga sih!?”
                “Tau deh ah!?”
                “Ya paling kalo lo mo bantu gue sih yaaa… Kasih gue kerjaan!?”
                “Apa kek!?”

       Pedih yang terbersit di mata nona muda berwajah bulat terlalu jelas terlihat
sampai mimiknya tersayat-sayat. Aku tidak mengerti tentang persoalan pendidikan.
Sekolah saja hanya sampai tamat SMA, tapi aku pintar, lulus tepat waktu, tidak
pernah tertunda seperti nona itu.
       Wanita tercantik seantero jagat raya pernah bilang padaku, semakin sulit kita
menjalani hidup, semakin kuat kita melewati berbagai kesulitan yang muncul
kemudian. Jika rasa sakit itu di ibaratkan semegah gunung, maka semakin kita bisa
mendakinya dengan susah payah, walaupun peluh keringat tertumpah ke tanah, lama
kelamaan kita bisa menancapkan bendera kemenangan di atas puncak tertinggi
gunung tersebut. Jika gunung itu sudah bisa kita daki, maka hanya keindahanlah yang
akan kita nikmati dari atas puncak kemenangan.

Surjanto      : “Maaf, Mba…”
                “Ini sudah dekat salon ini Mba!?”
                “Sudah bisa miskol!?”
Nila          : “Dih!?”
                “Tau aja ni bapak kita harus miskol kalo udah deket!?”
                “Buset deh!?”
                “Hahaha…”
                “Miskol Geb!?”
Surjanto      : “Hehehehe…”
Gaby          : “Iya… Udah!?”
                “Nah tuh!?”
                “Tuh dia tuh anaknya!?”
                “Kiri-kiri Pak…”
Surjanto      : “Sini mba… ”
Gaby          : “Iyaa… SIP!?”
                “Buka pak pintunya!?”


                                                                                    49
Surjanto     : “Monggo, Non!?”

       Aku bergegas keluar, membuka pintu untuk nona yang segar berbinar-binar.
Rupawan, namun sedikit liar. Nona duduk di depan, berbalik ke belakang menegur
teman-teman. Aku kembali ke kursi depan, memegang stir siap mengantar.

Sena         : “Haaaiii…”
               “Gile lo semua lama banget seeech!?”
Gaby         : “Heeeiii…”
               “Sory-sory…”
               “Tadi si Nila lama banget nih!?”
Nila         : “Hoi Sen, hehehe…”
               “Sorry ye…”
               “Heheheh…”
               “Dah, Pak!? Sip!?”
               “Jalan lagi Pak!?”
Gaby         : “Mayestik ya, Pak!?”
               “Jangan lupa!?”
Surjanto     : “Monggo…”
Sena         : “Heh, Nil!?”
               “Gimana lo?”
               “Masih stress?”
               “Hahaha…”
Nila         : “Udah deee… Ngomongin itu terus!?”
               “Tau de yang udah pada mau wisuda!?”
               “SELAMET YEEEE….”
Gaby         : “Sen, Ah!?”
               “Lo tu bawel deh!?”
Sena         : “Ih Nila… Sorry-sorry…”
               “Ga gitu maksud gue!?”
Nila         : “Iya… Udah santai aja!?”
Gaby         : “Tuh kan!?”
               “Lo sih!?”
               “Udah, ah bahas yang laen aja!?”
Sena         : “Iya-iya Sorry!?”
               “Eh Bo, tar temenin gue ke RSPP bentar yuk!?”
Nila         : “Ngapain lo ke RSPP?”
               “Yuk boleh!?”
               “Kali aja masuk TV!?”
Sena         : “Yeeee…”
               “Apaan sih lo?”
               “Kagak…”
               “Gue mau ketemu Beben!?”
Nila         : “Apaan tuh Beben!?”
Sena         : “Apaan sih lo?”
               “Itu gacoan gue yang baru kaleeee!?”
Nila         : “Chhiieeeee elaaaahhh… GACOAN!?”
               “Hahahaha… Bahasa lo KAMPUNG banget sih!?”
               “Gebetan kali maksudlo?”
               “Hahah….”


                                                                            50
Gaby   : “Hahahahahaha….”
Sena   : “Yeeee…”
         “Terserah gue donk mo gacoan kek!? Gebetan kek!?”
Nila   : “Hahaha…”
         “Eh emangnya ngapain tuh GACOAN lo di RSPP?”
         “Sakit apa kerja?”
Sena   : “Kerja donk!?”
Gaby   : “Oya?”
         “Hebat!?”
         “Dokter?”
Sena   : “Bukan!?”
         “Dia jaga di apotiknya!?”
Gaby   : “Oooowww…”
Nila   : “Ganteng Sen?”
Gaby   : “Hahahahaha…”
         “Pertanyaan lo tuh ga jauh-jauh dari fisik deh, Nil!?”
Nila   : “Yeee!? Biarin!?”
         “Kaya lo ga doyan aja ma yang ganteng-ganteng!?”
Gaby   : “Hahahaha…”
Sena   : “Hahahaha…”
         “Tau lo Geb!?”
         “Biasanya juga elo yang iritabilita ama cowok ganteng!?”
Nila   : “Hahahah…”
         “Tau lo!?”
         “Dasar MUNAROH!?”
Gaby   : “Ah udah si!?”
         “Gak penting!?”
         “Eh terus gimana tuh Sen, si Nila tanya ganteng ga GACOAN lo?”
Sena   : “Hahahaha…”
         “Ganteng kok ganteng!?”
         “Makanya gue mau ngelabain doi!?”
         “Umur 24 loh!?”
         “Oke kan?”
Gaby   : “Ih najong?”
         “Tua banget!?”
Nila   : “Dih!?”
         “Sok imut banget lo, Geb!?”
         “Umur lo juga udah 21!?”
         “Tiga taun lagi juga lo 24 tau ga!?”
Sena   : “Hahahaha… tau lo!?”
         “Sok muda banget!?”
         “Eh tapi doi cocok Bo ma gue!?”
         “Taun ini kan gue 23!? Kayanya sih pas aja!?”
Nila   : “Pas banget Sen!?”
         “Kawin aja langsung!?”
         “HADAASSS!?”
Gaby   : “Hahahahahaha….”
Nila   : “Hahahahahaha…”
Sena   : “Yeeeee…. Sabar donk!?”
         “Tunggu gue lulus dulu!?”


                                                                          51
Nila   : “Ya udah si…”
         “LULUS taun ini juga!?”
Sena   : “Dddeeeuuu…”
         “Sensi deh kalo ngomongin lulus-lulusan!?”
Nila   : “Gitu deh!?”
         “Kaya kulit bayi!?”
         “Sensitive …”
         “Makanya jangan nyenggol-nyenggol donk!?”
Gaby   : “Dah lah… Nil!?”
         “Kalo idup lo di hantuin sama gituan ga bakal tenang!?”
         “Udah… Nikmatin aja iduplo!?”
         “Lo masih muda kok!?”
         “Santai!?”
Nila   : “Iya muda banget!?”
         “Baru 18 taun gue!?”
Gaby   : “Yeeeee… Bukan gitu!?”
         “Paling nggak kan lo lebih muda dari Sena!?”
         “Ya ga Sen?”
         “Hahahaha…”
Sena   : “Wah!!??”
         “PARAH!?”
         “Parah lo bawa-bawa umur!?”
         “Sialan!?”
Nila   : “Heu..heu..”
Sena   : “Nyengir lo Nil!?”
         “Seneng bahas-bahas umur!?”
         “Eh… Tapi bener juga kok kata si Gaby!?”
         “Santai aja lagi!?”
         “Lo kira lo doang yang nunda kelulusan?”
         “Gue nih?”
         “Nih liat gue!?”
         “Gue juga lima taun di UI!? Biasa aja… tenang aja gue!?”
         “Umur gue juga udah 23!?”
         “Tapi santai aja kan?”
         “Toh pada akhirnya gue lulus-lulus juga!?”
Nila   : “Ya elo kan BEDA sama gue!?”
         “Hueheheh…”
         “Ya nggak gitu Sen!?”
         “Gimana ya?”
         “Susah juga sih jelasinnya!?”
         “Iya sih!?”
         “Gue tau gue harusnya santai aja!?”
         “Tapi ya??”
         “Kaya lo nggak ngerti aja!?”
         “Gue kan dapet musibahnya baru!?”
         “Lo kan udah setaun yang lalu!?”
         “Wajar lah kalo gue masih shock!?”
Sena   : “Iya gue ngerti…”
         “Ya udah makanya sekarang gini deh!?”
         “Lo monya gimana?”


                                                                    52
           “Kerja?”
           “Yuk kita cari kerja bareng-bareng!?”
           “Mana sini CV lo… gue taro deh dimana-mana!?”
           “Lo maunya jadi apaan?”
           “SPG?”
Nila     : “Boleh!?”
           “Tapi SPG yang elit dikit ya?”
           “Hehehehe…”
Sena     : “Yeee…”
           “Belom apa-apa aja udah banyak maunya lo!?”
           “Ya udah!?”
           “Kita usaha dulu lah bareng-bareng!?”
           “Jadi apa kek, terima aja!?”
Gaby     : “Bener tuh Nil!?”
           “Yang penting HALAL!?”
Sena     : “Ga halal juga ga pa pa sih kalo terpaksa!?”
           “Hahahahahah…”
Gaby     : “Hahahahaha… Kacau lo!?”
           “Hahahahaha….”
Nila     : “Tau ni orang!?”
           “Parah….”
           “Emangnya gue kaya elo?”
           “Nista banget jadi orang!?”
           “Hahahahahahahaha…”
Sena     : “Hahahahahaha…”
Gaby     : “Lagian Nil se lima taun-lima taunnya anak UI?”
           “Bisa lah dapet posisi bagus di kerjaan lo ntar!?”
           “Percaya deh sama gue!?”
           “Apalagi IPK lo kan lumayan tuh!?”
Nila     : “Mayan sih!? Masih 2,8 an!?”
Sena     : “Tuh kan… Mayan lah!?”
           “STANDART sih!?”
           “Cuma yaaa… lo dapet IPK segitu kan karena lo ngulang sepuluh
SKS!?”
           “Tapi segitu aja udah masuk keren banget loh, Nil!?”
Nila     : “Oh ya…”
           “Keren banget?”
           “Iya… Emang keren banget!?”
           “Ampe nyokab gue ngamuk-ngamuk!?”
           “Nangis-nangis!?”
           “Pingsan-pingsan dua hari!?”
           “Masuk UGD!?”
           “Boong deng!? ga segitunya!? Hehehehe…”
           “Tapi ngamuk-ngamuk bener loh!?”
           “Makanya Sen!?”
           “Tetep aja kalo di mata nyokap gue 2,8 tuh agak-agak nista!?”
           “Secara kaka gue?”
           “Udah PMDK!?”
           “Teknik elektro!?”
           “Skripsi A!?”


                                                                           53
                “Lulus cum laude pula!?”
                “Jadi ya paling nggak…”
                “Spesial buat gue… anaknya yang agak-agak dablek ini…”
                “IPK 3,00 tuh baru bisa diterima and baru agak-agak bikin
nyokap bahagia dikit!?”
Sena          : “Hmmm… gitu ya?”
                “Susah juga sih ya…”
                “Tapi emang iya sih Nil, kaka lo emang GOKIL banget otaknya!?”
                “Lo kebanting banget ama dia!?”
                “Hahahahaha….”
                “Kalo gue jadi nyokap lo juga gue bakal tengsin banget punya anak
kaya lo!?”
                “Hahahaha… PISS!?”
                “Becanda… becanda…!?”
                “Maaf yaaaaa….”
                “Hehehehe…. ”
Gaby          : “Parah lo Sen!?”
                “Tapi emang iya sih!?”
                “Setuju gue!!??”
                “Hahahaha…”
Sena          : “Hahahaha…!?”
                “Udah ah!??”
                “Gila lo!?”
Gaby          : “Hehe…”
                “Iya… Iya…”
                “Ya udah lah Nil…”
                “Lama-lama juga nyokap lo ngerti kok!?”
                “Sabar aja!?”
                “Elo tuh dikasih cobaan kaya gini berarti lo tuh mampu!?”
                “Bukan KLISE ya Nil!?”
                “Gue serius!?”
                “Lo ga bego kok!?”
                “Lo percaya kan sama kemampuan lo?”
Nila          : “Ya iya sih!?”
                “Tau gue!?”
                “Cuma yaaa… butuh waktu aja kali yaaa buat nerima kalo gue bakal
wisuda taun depan!?”
                “Tuir banget tau ga lo?”
Sena          : “Hahahahaha….”
                “Udah!?”
                “Santai!?”
                “Banyak kok yang wisuda umur 25 juga!?”
                “Lo mah ga seberapa tuir kali!?”
                “Nasib lo bakal sama ama gue….”
                “Santai!?”
Nila          : “Hhhh…”
                “Kenapa nasib gue harus sama kaya lo ya?”
                “Jiji banget gue!?”
                “Hahahah…”
                “Ya tapi emang iya juga sih….”


                                                                                54
         “Santai aja lah ya…”
         “Udah kejadian juga!?”
         “Makin di pikirin makin tua gue!?”
Gaby   : “Hahah...”
         “Gitu donk lo!?”
         “Ketawa!?”
         “Dah makanya…”
         “Jangan pusing-pusing lagi lah!?”
         “Okeh!?”
Sena   : “Daripada lo pusing mendingan kita ngurusin badan!?”
         “Ke salon!?”
         “Jalan-jalan!?”
         “Makan!?”
         “Belanja!?”
         “Sambil cari-cari lowongan gawe cari cowok juga!?”
         “Setali tiga uang, Nil!?”
         “Hahahaha…”
         “Gimana?”
         “Yok!?”
Gaby   : “Hihi…”
         “Iya tuh… bener!?”
         “Makanya tadi kan gue ajak berenang!?”
         “Biar singset!?”
         “Yuk!?”
         “Bareng-bareng!?”
         “Siapa tau lo dapet cowok baru!?”
         “Mayan kan!?”
Sena   : “Hahahahaha…”
Nila   : “Iyaaa…iyaaa…”
         “Mau deh gue… SIP!!??”
         “Eh, btw trus gimana tuh?”
Gaby   : “Gimana apaan?”
Nila   : “Itu calon suami lo Sen…”
         “Si Mas Beben GANTENG yang jaga apotik di RSPP?”
         “Hahahahahahah….”
Gaby   : “Hahahahahahah…”
Sena   : “Ah… Sialan lo Nil!?”
         “Ganteng Ko… serius!?”
         “Yuk-yuk!?”
         “Makanya kita ke RSPP yuuuuuukkk…”
         “Temenin gue!?”
Gaby   : “Ihhh… Males banget sih Lo!?”
         “Agresif banget nyamper-nyamperin!?”
         “Hahahaha…”
Nila   : “Iya lah…”
         “Sena gitu!?”
         “Makin tua makin agresif!?”
         “Harus buru-buru kawin lo Sen!?”
         “Udah UP!?”
         “Hahahahahaha…. Parah!?”


                                                                55
               “Hahahahah….”
Sena         : “Usia Panik maksudlo?”
Nila         : “Bukan!!??”
               “UP!? Udah Pengen!?”
               “Hahahaha…”
Sena         : “Ahah.. Sialan lo!?”
               “Pengen apaan?”
Gaby         : “Hahahahaha…”
Nila         : “Pengen Kawwwiiiiiinnn Kaleeeeeeee…..”
Sena         : “Hahahahahahahahahah ……”
Nila         : “Hahahahahahahahahah ……”
Surjanto     : ^_^




8 Jam tidak dapat penumpang
Pulang ke rumah:
Selasa, 18 Desember 2007
22.00 WIB




                                                        56
Berangkat dari rumah:
Rabu, 19 Desember 2007
10.00 WIB



                                     Penumpang 1
                    I’am Here For You, but…

        Kemarin aku hanya berhasil memperoleh pemasukan dari dua penumpang,
mungkin belum rezeki. Pagi ini aku keluar pukul enam, wanita tercantik seantero
jagat raya memintaku berangkat lebih siang karena ia telah menyiapkanku bubur
ayam special untuk sarapan. Cuaca nampak marah pada ibu kota, awannya masih
hitam belum berubah warna, serasa masih pukul tiga.
        AC yang ku nyalakan tidak lebih dingin dari hembusan angin di luar jendela.
Gerimis rapih menyiram Jakarta hingga asap hitam pembuat bencana tidak terlalu
nyata terhirup masyarakat yang berdiri menunggu angkutan ke tempat kerja. Bagiku
air seperti itu akan turun sangat menyeramkan bagaikan badai katrina.


Riana         : “Taksi!?”
                “Pagi Pak, Tanah Abang ya, Pak?”
Surjanto      : “Monggo, Mba!?”

       Wanita cantik memakai terusan hitam bola-bola yang tidak utuh menutupi
seluruh paha adalah penumpang pertamaku di hari Rabu. Di tangan kirinya ia
menjinjing sekotak kue yang harumnya mampu melewati bulu hidungku. Bolu kukus
rasa pandan sepertinya. Wanita berwedges renda itu duduk tergesa-gesa, membenahi
rok pendeknya, membersihkan tasnya dari serpihan butir lembut gerimis yang mulai
merata di jalan raya tepat ketika ia masuk dan memasang kacamata.


Riana         : “Yap…Oke!? Jalan Pak!?”
                “Emm… Maaf Pak, AC nya tolong dikecilin sedikit!?”
                “Ini saya lagi kurang enak badan!?”
Surjanto      : “Monggo, Mba!?”
Riana         : “Iya… Oke, Terimakasih, Pak!?”

       Tangan putih halus sang wanita muda lihai merogoh ke dalam sling bag hitam
yang sepadan dengan terusan. Hand Phone besar berwarna biru bergambar Pooh di
ambil lalu di tekan-tekan.

               “Hhhh… Yayangku… Yayangku…”
               “Ah nih…”
               …………………………..
               “Halo… Halo Sayang!?”
               …………………………..


                                                                                57
              “Yang kamu dimana nih?”
              “Aku on the way ke kamtor kamu loh!?”
              …………………………..
              “Haha…”
              “Ada deeeehh…”
              …………………………..
              “Hehe…”
              “Ya nggak, aku mau main aja ke sana!?”
              “Ga apa-apa kan?”
               ………………………….
              “Kenapa?”
              “Kamu gak di kantor?”
              …………………………..
              “Loh…”
              “Kamu bilang hari ini ada meeting sama orang kedutaan di kantor?”
              “Aku mau ngajak kamu makan di luar ntar siang abis kamu
meeting!?”
                …………………………..
                “Ih ayang lupa ya…”
                “Hari ini kan aku ga ada kuliah!?”
                ……………………………
                “Loh ya bukan gitu…”
                “Aku kan aku cuma mau kasih surprise…”
                “Masa kamu ga seneng sih?”
                …………………………….
                “Hah?”
                “Ko pulang?”
                …………………………….
                “Loh ya ga bisa dong, Yang, aku kan udah di jalan!?”
                “Udah tanggung naek taksi nih!?”
                “Ya udah gak apa-apa deh, nanti selesai kamu meeting, kamu
samperin aja aku di kantin bawah!?”
                “Gak apa-apa kok aku nunggu dua jam!?”
                “Suer deh!?”
                …………………………….
                “Ya iya makanya…”
                ……………………………..
                “Oh…iya…iya gak apa-apa ko, aku cuma sebentar!?”
                “Bener-bener cuma mau ngajak kamu makan siang aja!?”
                “Kalo abis itu kamu mau pergi lagi ya gak apa-apa!?”
                “Aku juga mau langsung ke Senayan, ada janji sama Sinta sama
Merri!?”
                ……………………………..
                “Yaaah… ayang…kamu ko gitu si!?”
                “Aku kan cuma sebentar!?”
                “Kamu jangan bete gitu donk!?”
                ……………………………..
               “Ga bete!Ga bete!…”
                “Ga bete tapi ko gitu sih?”
               ………………………………


                                                                            58
                “Iiiiihhh….’
                “Iya, tapi nada ngomong kamu itu loh!?”
                “Jangan gitu donk!?”
                “Biasa aja!?”
                “Aku kan jadi ga enak!?”
                “Kesannya aku ganggu kamu banget gitu dateng-dateng ke kantor!?”
                “Padahal kan aku cuma pengen kasih kejutan!?”
                “Kamu ga seneng apa didatengin pacarnya?”
               ……………………………..
               “Lho… ya banyak kerjaan kan bisa ditunda sebentar!?”
              “Emangnya kamu ga capek?”
              “Ga mau makan siang?”
              “Ga mau ketemu aku?”
              “Ya udah nanti kerjaaannya aku bantuin deh!?”
               …………………………….
               “Ih!?”
               “Kamu tuh kok ga pengertian banget sih!?”
               “Kita kan udah ga ketemu seminggu lebih!?”
               “Sekarang aku sempet-sempetin dateng kamu malah kaya gini!?”
               ……………………...........
              “Ya udah deh kalo gitu aku ga jadi ke kantor kamu!?”
               .……………………………
               “Ya udah… ya udah!?”
                “Terserah!?”
                “Kamu kerja aja sana!?”
               …………………………….
               “Ya…ya… aku balik aja deh!?”
                “Ya udah… Met kerja!?”
                “Maaf ganggu!?”
                “Bye!!”

      Wajah segar wanita muda mulai suram semuram cuaca di luar. Air matanya
menetes perlahan menghapus sedikit zat kimia yang tertempel pada wajahnya yang
masam.

Surjanto      : “Tisu, Mba!?”
                “Mba….”
                “Monggo tisu nya, Mba!?”

       Wanita tercantik seantero jagat raya pernah bilang padaku, jika seorang wanita
sedang menangis, hal pertama yang harus dilakukan seorang teman adalah
memberikan tissue padanya. Perhatian kita adalah obat yang cukup baik utuk bisa
menenangkan sedikit perasaan sakit yang sedang dirasakannya.
       Hal kedua adalah memeluk dan mengusap kepalanya sehingga bisa
membuatnya merasa sepuluh kali lebih baik daripada memaksanya untuk bicara. Tapi
dalam kasus ini aku hanya bisa melakukan hal yang pertama, karena hal yang kedua
hanya akan kulakukan pada wanita tercantik seantero jagat raya.
       Tapi jika hal pertama saja tidak berhasil, apa yang harus kulakukan untuk
menghibur sang nona selanjutnya?



                                                                                  59
Riana         : “Hksss… Sial!?”
                “Ni cowok ngeselin banget sih!?”
                “Apa sih maunya!?”
                “Rese!?”
                “GAK PENGERTIAN!?”
                “Gue kan pengen ketemu dia!?”
                “Kenapa dia gak mau ketemu gue?”
                “Kalo gue jadi dia gue bakal luangin waktu gue sebanyak-banyaknya
buat ketemu pacar gue!?”
                “Dasar cowok NGESELIN!?”
                “RESE!?”
                “Pak… tolong radio atau kaset apa gitu, Pak!?”
Surjanto      : “Oh monggo, Mba…”
                “Sebentar, dicari dulu!?”
Riana         : “Yang agak melo ya, Pak!?”
                “Sekalian deh!?”
                “Udah BETE!? Ujan!?”
                “Lagunya melo juga biar AMBRUK sekalian!?”
Surjanto      : “Sabar Mba…”
                “Maaf, bukan mau ikut-ikut!?”
                “Tapi ya… Jangan dimasukan ke hati gitu lho, Mba!?”
                “Maaf…”
Riana         : “Hmmmhhh…”
                “Iya…”
                “Makasih ya, Pak!?”
Surjanto      : “Sama-sama, Mba!?”
                “Emmhhh…”
                “Albumnya Anang Kris Dayanti mau, Mba!?”
Riana         : “Yah?”
                “Oh… Jangan… Jangan Anang Kris Dayanti!?”
                “Yang baruan dikit!?”
Surjanto      : “Ini apa ini?”
                “Oh… Kembar Srikandi, Mba?”
                “Tapi dangdut ini… Mau, Mba?”
                “Agak melo ini Mba musiknya!?”
Riana         : “Heh?”
                “Heheh… Emmm…”
                “Yang lain dulu deh…”
                “Ada ga?”
                “Kalo emang cuma dua pilihan, Anang Kris Dayanti aja ga apa-apa
deh!?”
Surjanto      : “Oh sebentar!?”
                “Oh… ini ada!?”
                “Kasetnya Agnes Monika!?”
                “Gimana, Mba?”
Riana         : “Agnes Monika ya?”
                “Boleh deh…”
                “Eh sebentar…”
                “Itu apa, Pak yang sampul cokelat?”
Surjanto      : “Oh … ini?”


                                                                               60
Riana         : “Ah…iya…yang itu!?”
Surjanto      : “Yang ini?”
                “Ini apa ya Mba?”
                “Ndak tau ini bukan punya saya….”
                “Punya anak saya ini, Mba sepertinya!?”
Riana         : “Aaaah… iya… iya… yang itu aja!?”
                “Fire House!?”
                “Nah iya…okeh-okeh!?”
                “Pasang itu aja Pak….”
Surjanto      : “Oh monggo… Mba…”
                “Sebentar saya pasang!?”

        Wajah nona yang muram dan sedikit geram terlihat lebih tentram ketika ku
pasangkan sebuah lagu yang entah apa artinya namun setelah sedikit kudengar
ternyata cukup lumayan.

        “ …I guess the time was right for us to say. We’d take our time and live our
lives together day by day...”

Riana         : “Aaaaaa…..Ya ampun…”
                “Love of a Livetime nih ya?”
                “Enak banget ni lagu!?”
                “Jangan di kecilin ya, Pak!?”
                “Udah pas segini aja…”
                “Makasih ya Pak!? ”
Surjanto      : “Monggo, Mba!?”

               “ …Well make a wish and send it on a prayer. We know our dreams
can all come true with love that ...”

       Sambil menikmati alunan lagu barat milik anak gadisku, wanita muda
berkawat gigi itu memainkan hand phonenya kembali. Kini wajahnya agak ceria, zat
kimia tebal yang menempel di sekitar pipinya sudah sedikit pudar terhapus air mata.
Menurutku sekarang ia terlihat lebih cantik daripada ketika ia masuk dan mengibas-
ngibaskan rok pendeknya yang terkena sedikit tetesan hujan beberapa menit yang lalu.

               “Halo…”
               ……………………………..
                “Halo Sinta…”
               “Ta, Riana nih!?”
               “Ta… Lo lagi dimana?”
                ……………………………..
               “Ooohh…”
               “Eh, Ta, bisa ngomong bentar ga?”
               ………………………………
               “Ngghhh…”
               “Ga ada apa-apa sih, cuma mau cerita dikit!?
               ………………………………
               “Ya biasa lah…”
               “Itu… Si Sigit!?”


                                                                                 61
                 ……………………………..
                “Iya… Tau tuh!?”
                “Dia tu ngeselin banget deh, Ta!?”
                 ……………………………..
                “Ya iya, masa ya gue mau maen ke kantornya, mau ngajak dia makan
siang, eh dia malah ga mau!?”
                “Udah gitu kayanya bete gitu deh mau gue datengin!?”
                ………………………………
                “Ya gitu deh…”
                “Nada ngomongnya tuh ga ngenakin gitu tau ga lo?”
                “Yang bilang tiba-tiba meetingnya ga di kantor lah!?”
                “Yang bilang jadwal meetingngnya molor satu jam lah!?”
                “Kalo gue kesana gue bakal bete nunggu dia lama banget lah!?
Alesannya buat ga ketemu gue tuh banyak banget gitu deh, Ta!?”
                ………………………………
                “Ckh.. Positive thinking gimana lagi?”
                “Udah hampir dua minggu lo Ta gue ga ketemuan sama dia!?”
                “Dia juga sms gue cuma seminggu sekali!?”
                “Kalo gue sms duluan ga di bales!?”
                “Terus sekarang tuh hari Rabu!?”
                “Gue libur kuliah!?”
                “Gue dateng nyamperin dia ke kantor harusnya gak apa-apa dong?”
                “Harusnya dia seneng dong!?”
                “Dia ga kangen apa sama gue?”
                “Gue nih ceweknya Ta!?”
                ………………………………
                “Banyak kerjaan?”
                “Oke deh banyak kerjaan!?”
                “Tapi ya gak seharusnya dia ngomong setinggi itu di telfon kan!?”
               ………………………………..
                “Gue bener-bener sakit hati Ta!?”
                “Gue ga suka diginiin terus!?”
                “Emangnya gue cewek apaan?”
                “Kalo dia lebih milih kerjaannya daripada gue ya udah lah!?”
                “Putus aja kita!?”
                ………………………………..
                “Ya ampun, Ta…”
                “Gue tuh udah coba sabar!?”
                ……………………………….
                “Lo tau ga sih?”
                “Gue bawain dia cake bikinan gue sendiri!?”
                “Maksud gue hari ini gue mau bawain ke kantornya!?”
                “Terus kita makan siang sebentar!?”
                “Satu jam aja kok Ta, ga lebih!?”
                “Tapi untuk satu jam aja tuh dia bener-bener ga bisa sisihin waktu
buat gue!?”
                ………………………………..
                “Gue capek diginiin terus!?”
                “Gue juga udah bilang gue lagi di taksi!?”
                “Eh, tapi dia malah nyuruh gue balik!?”


                                                                               62
           “Apa coba?”
           “Ga ngehargain gue banget tau ga sih dia!?”
            ………………………………..
           “Iya sih, Ta!?”
           “Tapi tau deh!?”
           ………………………………….
            “Oh iya lupa, bentar-bentar!?”
           ………………………………...
           “Pak, ini kita nanti lurus aja ya Pak, ke kuningan, ga jadi ke Tanah
Abang!?”
           “Iya… Makasih Pak, maaf ya…”
           …………………………………
           “Hhh… untung lo ingetin gue!?”
           “Saking keselnya nih gue ampe lupa bilang!?”
           …………………………………
           “Hehehehe…”
           “Iya-iya… Bener!?”
           …………………………………
           “Ya gitu deh Ta…”
           “Pokonya hari ini gue tuh bete banget aja…”
           ………………………………….
           “Iya sih!?”
           ………………………………….
           “Hah?? Apa? Putus-putus, Ta!?”
           …………………………………
           “Hah??”
           …………………………………
            “Nah… Nah… Udah nih!?”
           “Gimana tadi?”
           …………………………………
           “Oooh… Iya…emang…emang…”
           “Tapi yaaa… gimana ya?”
           “Gue udah keburu bikin cakenya!?”
           …………………………………
           “Hhhh…. Tau ah!?”
           “Bodo!?”
           …………………………………
           “Ya udah-udah!?”
           “Ga usah bahas dia lagi!?”
           “Bikin bad mood aja!?”
           “Eh btw, lo keluar kantor jam sebelas kan?”
           …………………………………
           “Ya udah gue nyampe jam sepuluhan kali Ta!?”
           …………………………………
           “Nanti gue tunggu di??”
           “Ah gimana kalo gue tunggu di Ambasador aja?”
           “Males deh gue nunggu lo di kantor!?”
           “Gimana?”
           …………………………………
           “Ia jadi nanti lo jemput gue disana!?”


                                                                            63
                  “Abis itu baru kita ke Senayan!?”
                   …………………………………
                   “Ya gak tau juga sih…”
                   “Nanti kalo gue nyampe gue sms lo deh gue nunggu dimana!?”
                  “Tar lo sms Merri!?”
                  “Gimana?”
                  .………………………………..
                  “Iya…iya…”
                  “Jadi nanti kita langsung ke Senayan City aja!?”
                  “Tunggu Food Courd aja ntar!?”
                  “Gimana?”
                  …………………………….….
                  “Oke ya?”
                  “Daripada gue juga suntuk di kantor lo, mendingan gue liat-liat apa
gitu disana!?”
                   “Ya gak?”
                   ………………………………
                   “Ya udah kalo gitu!?”
                   ………………………………
                   “Hehehe…”
                   “Oke deh, Thanks ya Ta…”
                   ……………………………...
                   “Sorry ya ganggu kerjaan lo…”
                   ……………………………...
                   “Hehehehe…”
                    …………………………….
                    “Oke-oke…”
                   “Ya udah ya, Ta…”
                  ………………………………..
                   “Yo… Dadah!?”
                  ……………………………….
                   “Byeee…”
                   .…………………………….
Riana            : “Hhhhh…”
                   “Oya Pak, nanti kita ke Mal Ambasador aja ya!?”
                   “ITC Kuningan situ!?”
                   “Hehehe… Maaf ya Pak, ganti-ganti terus!?”
Surjanto         : “Oh, baik Non, Ndak apa-apa…”
                   “Saya antar!?”
                   “Ndak apa-apa…”
Riana            : “Bapak kok koleksi lagunya bagus-bagus sih?”
                   “Seleranya sama kaya selera saya!?”
                   “Hehehehe… Apalagi ini nih…”
                   “Tuh, ada The Corrs, ini Fire House!?”
                   “Hahaha… Bapak gaul juga ya…”

       Wajah muram wanita muda berganti riang gembira, ia bernyanyi bak burung
di angkasa. Suaranya mengalun membuat hatiku merana. Ada kesedihan terpancar
dari matanya, namun ada kekuatan yang bisa menghalangi seluruh rasa takutnya.
WANITA!!.


                                                                                  64
               “… I am here for you, always here for you. When you need a shoulder
to cry on. Someone to rely on, I am here for you … So you think that love is long
overdue. Tired of looking for someone to care. Let me tell you now the choice is up to
you. But you know I will always be there…”

Surjanto      : “Bagus, Mba suaranya!?”
                “Ndak ikut Indonesian Idol saja, Mba?”
Riana         : “Hahahahah…”
                “Bisa aja nih, Bapak!?”
Surjanto      : “Lho ya betul, Mba!?”
                “Ndak bohong saya!?”
Riana         : “Ckh…”
                “Nggak lah, Pak!?”
                “Males!?”
                “Ngantinya kaya ngantri sembako!?”
Surjanto      : “Walah Mba ini…”
                “Sayang itu suaranya bagus begitu, lebih baik di salurkan to, Mba!?”
Riana         : “Hahahah…”
                “Saya cuma suka nyanyi aja, kok!?”
                “Ini nih!?”
                “Lagunya PAS banget!?”
                “I’m here forYou!?”
                “Hhhh…”
               “I’am here for him, but he ain’t here for me!?”
                “Hahahaha…”
                “DALEM!?”
Surjanto      : “Hehe…”
                “Sabar, Mba!?”
Riana         : ^_^




                                                                                   65
                                      Penumpang 2
          I Wanted to Take Nothing From You

        Bukannya aku takut menghadapi orang asing, namun kepercayaan diriku
untuk berbicara dengan bahasa internasional yang pernah ku dapatkan tigapuluh tahun
silam sedikit membuatku brigidik ketika bertatapan langsung dengan mahluk yang
menurut sejarah dunia selalu menjadi penguasa.
        Menurutku orang-orang Amerika adalah manusia pembuat keputusan yang
kelakuannya ada-ada saja. Bahkan NASA pernah membantah statement bahwa foto
yang terekam tahun 1976 di kawasan Cydonia yang memperkuat dugaan bahwa di
planet Mars pernah ditinggali sejenis manusia adalah tidak ada.
        Entah bagaimana sosok tinggi besar ini bisa membuat dunia percaya tentang
penolakan mereka sekalipun planetologis telah menyatakan bahwa dilihat dari lapisan
daratannya, planet mars merupakan sebuah lautan dan di sana telah ditemukan
semacam puing yang merupakan sisa peradaban.
        Mereka memang tinggal di bumi, namun semesta tunduk pada wibawa masa
lalu dengan ilmu tinggi. Berlibur ke Indonesia merupakan hal mudah yang bisa
dilakukan dengan uang jajan sehari-hari, bahkan untuk anak-anak di usia remaja yang
belum mandiri. Power nenek moyang yang perkasa tidak bisa menahan anak cucunya
untuk tidak jatuh cinta. Hari ini aku bisa melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa
ternyata ORANG AMERIKA JUGA MANUSIA.

Bang Iman     : “Mas… Mas Sur…”
                “Ini penumpang bawa nih!?”
                “Bule!?”
                “Ke Pasar Minggu!?”
                “Mau Mas?”
                “Ini tadi tiba-tiba bini nelepon!?”
                “Si Deni panas tinggi!?”
                “Saya takut demam berdarah aja nih!?”
                “Tolong ye Mas!?”
                “Emmhh…”
                “Mister, Meses, Em sori, Yu berdua!?”
                “Iye… yu ber tu…”
                “Go tu next teksi wit may frind!”
                “Hi hev nem is Mas Suryanto!?”
                “Iye…”
                “Yu go tu sebelah aje ye…”
                “Ni, maap-maap tadi bini koling-koling!?”
                “Em Sori ye Meses, Mas, Mister!?”
                “Ni saya kaga redi nih kalo ama bule begini nih!?”
                “Em sori ye…”
                “So plis muv tu teksi is blu!?”
                “Iye deh… kaga ngarti kan lu?”
                “Hehehe…Plis, sten ap!?”
                “Never going tu yu wit mi deh ye…”
                “Hehehehe…”


                                                                                  66
               “Gut bay tu yu tu…”
               “Hehehehe…”
               “Yo Mas Sur!?”
               “Makasih!?”
               “Nih titip-titip bule dua biji!?”
               “Duluan, Mas!?”
               “Saya balik dulu…”
               “Takut ada apa-apa ama si Deni!?”
               “Asalamualaikum!?”
Surjanto     : “Waaalaah…”
               “Waalaikumsalam”
               “Yo wes lah Man!?”
               “Tak bawa!?”
               “Good Morning, Sir!?”
Dave         : “Good Morning!?”
               “Selamach pagi bapak supir taxi!?”
Surjanto     : “Selamat pagi…”
               “Silahkan masuk Mister!?”
Anna         : “Cerima kasich!?”
Surjanto     : “Mau kemana Mister?”
Dave         : “Kami mau pergi ke Pasar…”
               “Ini alamat lengkapnya…”
               “Apakah bapak tahu?”
Surjanto     : “PASAR?”
               “Ooohh…”
               “Pasar Minggu?”
               “Oh… ia.. tau-tau!?”
               “Baik!?”
               “Saya antar ke sana Mister…”
               “Mari… silahkan!?”
               “Sambil di nikmati lagu dari Kris Dayanti!?”
               “Penyanyi kesukaan istri saya…”
               “Mari…”
Dave         : “Ok, thanks!?”
               “Cerima Kasich Bapak supir!?”

             “… Pergi saja cintaku pergi… Bilang saja pada semua… Biar semua
tau adanya … Diriku kini sendiri…ho … o … ho …”

Anna         : “Dave, I know nothing about Jakarta!?”
Dave         : “Uhuh…We will walk about the city!?”
Anna         : “Does your friend go to school in here?”
               “In Jakarta?”
Dave         : “I don’t know!?”
Anna         : “Have you ever met that girl before?”
Dave         : “Yes, I first saw her about two years ago!?”
Anna         : “Two years ago?”
Dave         : “Yup…”
Anna         : “Good!?”
               “There is somebody mad!?”


                                                                         67
         “Wat is her name?”
Dave   : “Karina…”
         “20 years old!?”
         “She is a student…”
         “Pretty…”
         “Long black hair…”
         “Dark skin…”
Anna   : “STOP!?”
Dave   : “She dances very cleverly…”
         “She sings beautiffuly…”
         “She is simple but attractive…”
         “I like her!?”
Anna   : “Disgusting!?”
         “That’s very hurt!?”
         “I hate you!?”
Dave   : “What?”
         “Who do you speak to?”
Anna   : “Nobody!?”
Dave   : “Hmm…”
         “Whatever!?”
         “Anna…”
         “This vest is for her!?”
         “What do you think?”
Anna   : “Put it in your bag!?”
         “I don’t like it!?”
         “I am very fond of using shirt instead using vest!?”
Dave   : “Anna…”
         “Are you Ok?”
Anna   : “Yes!?”
         “Why?”
Dave   : “Hmmm…”
         “You don’t look normal!?”
         “I don’t understand!?”
Anna   : “Didn’t you understand?”
Dave   : “What??”
         “Undestand what?”
Anna   : “ Don’t be STUPID Dave!?”
Dave   : “Don’t be ANGRY Anna!!!!!??”
Anna   : “…………………………………”
Dave   : “??????????????????????????????”
Anna   : “Do you love her?”
Dave   : “What?”
Anna   : “ Ya…”
         “I’ve understood what you mean!?”
         “You’r fall in love with her!”
         “Aren’t you?”
Dave   : “Yaaa… IT MAY BE TRUE!?”
         “But, I don’t know!?”
         “Why?”
Anna   : “I’ll go to Bali!!”


                                                                68
                “Next week!?”
Dave          : “Bali?”
                “Yes Anna… Me too!?”
                “Shall we go with Karina?”
                “We shalln’t have spoken Indonesian well next week but she speaks
English very well!?”
                “She can help us!?”
Anna          : “Must we go to Bali with her?”
                “She should do her duty at school!?”
Dave          : “But next week is holiday, Anna!?”
Anna          : “I DON’T CARE!?”
Dave          : “Hei…”
                “What’s Up ANNA!!??”
Surjanto      : “Ya Mister?”
                “Sorry, ada apa?”
                “Mister panggil I??”
Dave          : “Oh…Oh…tidak…tidak…”
                “I’m sorry!?”
                “Maaf bapak!?”
Surjanto      : “Oh, iya tidak apa-apa, I pikir Mister marah sama I…”
                “I think You angry with me gitu Mister sampai teriak-teriak!?
                “Hehehehe….”
Dave          : “Oh??”
                “Oh… tidak bapak…tidak!?”
                “Saya tidak marah kepada bapak!?”
Surjanto      : “Oh gitu…”
                “Iya, Not problem…”
                “Hehehehe…”
                “Mmmm, tapi, maaf ini….”
                “By the way”
                “Where do you live, Mister?”
                “Why you go to Pasar Minggu now?”
                “Wat’s your problem?”
                “Walaaah… Ngomong opo aku ini!?”
                “Understand or not Mister?”
Dave          : “Ahaa…”
                “Bapak supir mengerti bahasa Inggris?”
Surjanto      : “Iya, little-litle!?”
                “Hehehe, dulu pernah study sampai SMA”
Dave          : “Ah ya…”
                “Good!?”
Surjanto      : “Mister bisa bahasa Indonesia?”
                “Can speak Indonesia yes Mister?”
Dave          : “Ya…”
                “Saya bisa berbicara bahasa Indonesia!?”
                “Dulu saya pernah berlibur di sini selama enam bulan!?”
Surjanto      : “Oh begitu!?”
                “Itu Mis disebelah itu pacar?”
Dave          : “Hahah..”
                “My Be!?”


                                                                                69
Surjanto        : “CANTIK Mister!?”
                  “Good!? Byutivul!?”
Dave            : “Hahahah…”
Anna            : “STOP IT DAVE!?”
                  “I don’t understand!?”
                  “Good!!??”
                  “So… Bapak, where can I get a bus to Bali?”
                  “I’ll go to Bali!?”
                  “ALONE!!?”
Dave            : “ANNA!!!”
Surjanto        : “Wadduuhhh…”
                  “Don’t go to Bali alone, Miss!?”
                  “Bahaya!? Very-very DANGERS!?”
                  “Mending juga, better ditemani oleh Mas Misternya ini!?’
                  “Go to Bali together gitu Miss!?…”
                  “Mmmmm kalau bus to Bali?”
                  “Bus to Bali I don’t really understand Miss, but, may be…”
                  “Mmmm…”
                  “If you…”
                  “If you want to go to Bali, you must go with aeroplane!?”
                  “Because Bali is very very far away from here gitu Miss!?”
Anna            : “How far is it from Jakarta?”
Surjanto        : “Mmmm…”
                  “How far is it ya?”
                  “Waddduuhhh…”
                  “Pokoknya about three times or four times from air port Sukarno
Hata to air port yang di Bali!?”
                  “But, itu juga kalau tidak salah!?”
                  “If I not wrong gitu, Mis!?”
Anna            : “Do you have a guide book or information about Bali?”
                  “I want to leave tomorrow!?”
                  “Without YOU and also your GIRL FRIEND!?”
Dave            : “What??”
Surjanto        : “Waaahhh…”
                  “I don’t have, Miss!?”
                  “I’m sorry!?”
                  “My be you can get many information about Bali in travel agent…”
                  “If I sih don’t really really understand…”
                  “Maaf Miss, I’m sorry!?”
Dave            : “Girl friend??”
                  “Anna, what did you mean?”
                  “You can’t but your emotions Anna!?”
                  “Why?”
                  “She’s but a friend!? Just friend!?”
                  “Whose heart is this?”
Anna            : “Dave…”
                  “She came slowly into your heart!?”
                  “Higer and deeper!?”
                  “How about me?”
                  “I’am better but she is the best of us!?”


                                                                                 70
             “I don’t know what you like!?”
Dave       : “Let us stop debating, Anna!?”
             “We should be here, but we went back home!?”
             “Together!?”
             “Without her!?”
             “She is but a friend!?”
             “Anna… This is my heart!?”
             “This one is yours!?”
             “Don’t be jeleous, Anna!? Don’t be jeleous!?”
Anna       : “She annoys me, Dave!?”
Dave       : “Anna, Karina is a good friend”
             “She always help me every time when I were in Indonesia!?”
             “I’ve never seen her!?”
             “I just… just want to meet her again!?”
Anna       : “There are many girls in Indonesia, not only Karina, Dave!?”
Dave       : “But, how many good girls are there in here?”
Surjanto   : “There aren’t many!?”
Dave       : “Thanks bapak supir!?”
             “There aren’t many, Anna!?”
Anna       : “There aren’t many!?”
Dave       : “Good Anna!?”
             “You know the answer!?”
Anna       : “……………………………………….”
Dave       : “……………………………………….”
Anna       : “Dave…”
             “Are you love me?”
Dave       : “……………………………………….”
Anna       : “???????????????????????????????????”
Surjanto   : ^_^
Dave       : “Anna, There is nothing beautiful!?”
             “Except you!?”
             “Your always feel well!?”
             “You never come late!?”
             “You are always kind!?”
             “I wanted to take nothing from you, but a love!?”
Anna       : “…………………………”
Dave       : “…………………………”
Anna       : “Are you sure?”
Dave       : “YES Anna…”
Anna       : “Thanks, Dave!?”
Surjanto   : “Wah… gawat ini…”
             “Hehehe…”
             “Saya ganti lagunya ya Mister…”
             “I will change the song!?”
             “The romantic one!?”
             “Kesukaan anak gadis saya”
             “Yang nyanyi I don’t know sih Mister!?”
             “Tapi the song is very-very delicious, kok!?”
             “Hehehehe…”



                                                                            71
             “ … So lately, been wondering… who will be there to take my place…
when I’m gone you’ll need love to light the shadows on your face…”

Dave          : “I Love You, Anna”
Anna          : “I Love You too, Dave!?”

              “… if a great wave shall fall and fall upon us all… Then between the
sand and stone, could you make it on your own…”

Surjanto      : “Waaahhh…”
                “Gawat ini!?”
                “Masih jam dua siang!?”
                “Kok sudah lihat adegan begini!?”
                “Haduuuhhh…”
                “Wong Londo… Wong Londo…”
                “Dimana-mana main sikat saja!?”
                “Hhhhhhhhh….”




                                                                               72
                                   Penumpang 3
                        Anakku Harapanku
        “… Run away with my heart… run away with my hope… run away with my
love… I know, just quite how… my life and love may still go on… in your heart, in
your mind… I’ll stay with you for all of time…”
        “… I’m feeling so low, wishing you could make my world so pure, take away
the hurt so I wouldn’t be so far gone …”

Bu Min        : “Maaf Pak supir…”
                “Ini lagu bahasa Inggrisnya boleh diganti ndak Pak?”
                “Maaf lho ini, saya ndak suka lagunya… ndak mengerti!?”
                “Wong deso… hehehe…”
                “Bisa tolong putar saluran lain saja, Pak?”
                “Keroncong atau kalau ndak ada ya berita saja ndak apa-apa?”
Surjanto      : “Oh… Monggo, Bu!?”
                “Saya ganti!?”
Bu Min        : “Nggeh Pak…”
                “Ya… ya… Iya… Nggeh Pak…”
                “Ya yang itu saja…”

      “… Guys… balik lagi nih sama Evita yang bakal ngasih lo tips-tips keren di
tahun 2008!? Buat cewek-cewek yang lagi pada jomblo…Pas banget nih kalo lo
semua bikin perubahan baru yang pastinya bakalan …”

Bu Min        : “Lho… Lho…”
                “Ndak…”
                “Bukan…”
                “Bukan berita yang begini!?”
                “Coba putar sedikit lagi…”
                “Berita politik saja…”
                “RRI saja Pak, bagus biasanya…”
                “Nah!? Iya… Nggeh ini saja!?”
                “Iya… ini saja Pak, Pas!?”
                “Maturnuwon…”

       “… Pendengar… banjir yang melanda Kampung Melayu sudah mulai surut,
namun warga yang mengevakuasi barang-barang berharganya masih nampak berlalu
lalang di sekitar wilayah …”

Bu Min        : “Naaahhh… Nggeh… Iki!!??”
                “Sudah!?”
                “Saluran ini saja ndak apa-apa”
                “Maturnowon…”
Bu Min        : “……………………...…..…………………...….…..….……………”
Mas Gatot     : “Bu…”
Bu Min        : “Hmmm…”
Mas Gatot     : “Bu!!”


                                                                               73
Bu Min        : “Hmmm…”
Mas Gatot     : “BU!!!”
Bu Min        : “Hmmm…”
Mas Gatot     : “IBU!!”
                “Diajak bicara ko malah ham..hem..ham..hem...”
                “Wes to!!”
                “Jangan dengar berita dulu!?”
                “Aku sedang bicara!?”
                “Suamimu sedang bicara!?’
                “Mbo ya di simak sebentar gitu lo, Bu!?”
Bu Min        : “Iya Mas… Iya…”
                “Ono opo sih?”
                “Aku dengar kok!?”
Mas Gatot     : “Lho ya kalau dengar mbo ya hadap sini sebentar!?”
Bu Min        : “Nggeh, Mas… iya!?”
                “Ono opo si, Mas?”
Mas Gatot     : “Nah begitu kan enak!?”
Bumin         : “Iya…Iya…”
                “Yo wes…”
                “Kenapa?”
Mas Gatot     : “Begini Bu, Aku itu sebenarnya sedang bingung!?”
                “Mumet sekali ini ota’ku ini!?”
Bu Min        : “Mumet kenapa lagi to Mas?”
Mas Gatot     : “Itu lho!!??”
                “Pie?”
                “Anakmu!!”
                “Si Marwan!?”
Bu Min        : “Memangnya si Marwan kenapa lagi?”
Mas Gatot     : “Lo ya itu…”
                “Si Marwan itu…”
                “Dia itu kapan lulusnya to Bu?”
                “Sudah lama kuliah kok ndak kelar-kelar…”
                “Heran aku!!”
Bu Min        : “Lho kok Mas malah tanya aku sih…”
                “Yo aku juga ndak tau, Mas…”
                “Wong aku juga heran!?”
                “Sudah tujuh tahun kuliah kok ndak lulus-lulus!!??”
                “Kelakuan anakmu itu lo, bikin malu!?”
                “Aku juga mumet ini Mas kalau bicara soal si Marwan!?”
                “Mangkel ini Mas hatiku!?”
Mas Gatot     : “Lho ya makanya, Bu!?”
                “Si Marwan itu kan anakmu juga!?”
                “Anak kita!?”
                “Bantulah cari jalan keluar untuk dia!?”
                “Aku ini sudah pusing biayai dia sekolah!?”
                “Umur sudah duapuluh lima kok belum kelar juga!?”
                “Anak-anak temanku itu umur segitu sudah bisa kasih uang untuk
orangtuanya!?”
                “Heran aku, Bu!?”
                “Dulu umur dualima aku sudah nimang-nimang si Marwan!?”


                                                                                 74
              “Lha dia?”
              “Jangankan nimang-nimang!?”
              “Urus dirinya sendiri saja ndak becus!?”
              “Kita ini kan sudah uzur…”
              “Kok masih saja disuruh tanggung malu!?”
              “Heran aku, Bu!?”
Bu Min      : “Uzur?”
              “Sopo sing uzur?”
              “Kita?”
              “Hemh!?”
              “Enak’e!?”
              “Mas yang sudah uzur!!”
              “Aku sih belum!?”
Mas Gatot   : “Ckhs..”
              “Yo wes to Bu!!??”
              “Ndak usah bicarakan soal uzurnya!?”
              “Wong kita ini sedang bicarakan si Marwan kok!?”
              “Lha lalu si Yanti itu pie?”
              “Katanya si Marwan itu serius sama si Yanti?”
              “Kalo memang begitu ya sudahlah, Bu… kita kawinkan saja
mereka!?”
Bu Min      : “Kawin?”
              “Yo aku si ndak masalah…”
              “Kalau si Marwan mau dikawinkan yo wes…”
              “Tinggal lamar!?!”
              “Kawinkan!?!”
              “Beres!?!”
              “Kita punya cucu!?”
              “Kuliah ndak lulus-lulus yang penting dia jadi pegawai negeri!?”
              “Nanti kita kasak-kusuk saja!!”
              “Tesnya ndak terlalu penting!?”
              “Mas kenal to sama Pak Mansur?”
              “Yo wes…”
              “Gampang!?”
Mas Gatot   : “Wenak’e dewe!!?”
              “Pak Mansur itu atasanku lho, Bu…”
              “Ndak bisa sembarang minta kong kalikong!?”
              “Harus ada ijazah!?”
              “Mau pasang dimana lagi mukaku ini?”
              “Sudah tua kok masih mau main sogok!?”
Bu Min      : “Lho!?”
              “Pie tos Mas iki?”
              “Aku ini kan hanya kasih saran!?”
              “Kalau ndak mau ya sudah!?”
              “Mas tunggu saja sampai si Marwan lulus!?”
              “Aku sih ndak tau kapan dia lulus?”
              “Wong kerjanya saja main lotre!?”
Mas Gatot   : “Lho ya mbo jangan begitu to, Bu!?”
              “Aku ini kan ndak terlalu ngerti soal kuliah!?”
              “Bisa mati berdiri aku, Bu kalau harus dipaksa urus Si Marwan


                                                                                 75
terus!?”
                 “Mau sampai kapan lagi kita harus urus dia?”
                 “Wong harusnya saja dia kok yang sudah urus kita!?”
Bu Min         : “Lho ya makanya…”
                 “Tadi tak kasih saran!?”
                 “Mbo ya dicoba dulu itu saranku!?”
                 “Hubungi dulu Pak Mansur!?”
                 “Kalo Mas ndak berani… Yo wes…”
                 “Aku yang hubungi!?”
                 “Mana sini…”
                 “Coba berapa nomor hp nya?”
                 “Tak sms…”
                 “Tak hubungi langsung kalau perlu!?”
Mas Gatot      : “Huaalaaahh…”
                 “Sms opo?”
                 “Ndak sopan ah, Bu…”
                 “Malu nanti aku!?”
                 “Keluarga kita itu sudah banyak ditolong!?”
                 “Kalau sekarang mau minta tolong lagi yo ndak enak to, Bu!?”
                 “Apalagi minta tolong untuk si Marwan?”
                 “Dia itu ndak punya ijazah!?”
                 “Pemalas!?”
                 “Malu nanti aku kalau harus nyogok untuk anak model begitu!?”
Bu Min         : “Lo ya pie to Mas iki…”
                 “Yo aku itu ndak langsung bicara nyogok to Mas!?”
                 “Aku juga sadar…”
                 “Kalau mau nyogok juga kita nyogok pakai apa?”
                 “Kambing?”
                 “Wong kambing hanya segitu-segitunya!?”
                 “Aku itu hanya ingin minta tolong supaya anak kita itu jalannya
untuk jadi pegawai negeri itu dimudahkan!?”
                 “Itu juga aku ndak langsung tu de poin!?”
                 “Aku tanya kabarnya dulu, kabar istrinya, kabar anaknya…”
                 “Yo aku juga ngerti kok cara basa basi!?”
                 “Ndak usah Mas kasih tau, perempuan lebih tau soal begini kok!?”
                 “Mas ini bisanya hanya protes!!”
                 “Marah!!”
                 “Ndak suka sama anak!!”
                 “Minta saran!!”
                 “Tapi sudah disarankan begini-begitu ndak mau terima juga!?”
                 “Kalau begitu yo ndak maju-maju to Mas!?”
                 “Jangan hanya protes saja lah mas!?”
                 “Usaha sedikit!?”
                 “Malu berkali-kali yo namanya membela anak!?”
                 “Sampai ngemis-ngemis juga tak ladeni demi anak!?”
                 “Pie to Mas iki!?”
                 “Capek aku!?”
Mas gatot      : “…………………………….…??????????..........................................”
Bu Min         : “???????????..................??????????????”
Surjanto       : “?????????????????????????????????????????????????????????????”


                                                                                 76
       Perjuangan orangtua memang besar. Malu tak apa asal sukses di tangan. Buah
hati adalah titipan Tuhan. Jika suatu saat aku bertemu Marwan, maka akan aku
beritahukan ia sebuah pesan.
       Waktu kecil ayah bunda bersabar karena anak sering melawan, beranjak besar
mereka masih bersabar karena di anggap tidak pengertian, sudah dewasa mereka tetap
bersabar walaupun anak tidak memberi imbalan. Bukan harta atau perhiasan, ayah
bunda hanya mengharapkan kebahagian untuk sang buah hati sampai akhir
kehidupan. Maka tunjukkan!! Jangan hanya menjanjikan angan-angan.




Pulang ke rumah:
Rabu, 19 Desember 2007
23.57 WIB




                                                                               77
Berangkat dari rumah:
Kamis, 20 Desember 2007
07.00 WIB


                                       Penumpang 1
                      Sahabat Bukan Malaikat
         Kecewa pada sahabat adalah biasa, namun jika dikhianati sahabat itu baru luar
biasa. Anak remaja memang selalu digelendoti masalah. Maklum… Proses pencarian
jati diri. Menangis tak henti karena sakit hati lakukanlah. Cinta itu butuh perjuangan.
Jika kita mau menanti maka pasti ia akan segera datang.
         Jangan menyesal karena penghianatan. Di dunia ini masih banyak kawan yang
diciptakan Tuhan. Semua yang terjadi biarlah terjadi. Jangan pernah menganggap
jatuh harga diri jika kita dikhianati. Sahabat bukan malaikat, karena cinta itu mudah
hinggap seperti lalat. Jalanilah sesuai adat istiadat. Menjadi pencari cinta namun tetap
terhormat.

Tari : “Hhhhhh… gila!”
       “Gue tuh gak nyangka ternyata selama ini dia yang ngerjain gue!?”
       “Ngomong gini gitu ternyata dia yang muna!?”
       “Sialan banget sih mereka!?”
       “Gila ya Win, kalo gue ga lo halangin…”
       “Gue tabok aja tu muka si pecun tadi!?”
Wina : “Aduh Tari!?”
       “Kalo lo nampar muka tu anak yang ada elo kali yang di benci ama Rendi!?”
Tari : “Ya udah sih…”
       “Rendi!!”
       “Cowok model kaya gitu…”
       “Yang ada dia tuh sama sekali ga pantes dapetin gue!?”
       “Emang dia tu cocok banget sama si pecun!?”
       “Sama-sama BERENGSEK!?”
Wina : “Sssttt… apaan sih Lo?”
       “Eling Tar …”
       “Jangan kalah sama keadaan!?”
       “Sabar ya…”
       “Gue bete deh liat lo berubah brutal gini?”
       “Ga asik ah!?”
       “Eh Bas, bantuin gue dong!?”
       “Diem aja lagi lo dari tadi!?”
Abas : “Duh Win, ga ikut-ikut deh gue!?”
       “Mhhh…”
       “Gimana donk, Win?”
       “Mhhhh…”
       “Tar-Tar…”
       “Ya…”
       “Iya sih Tar…”
       “Ya…”


                                                                                     78
         “Setau gue Rendi tu sama si Manda ga ada hubungan apa-apa…”
         “Ya emang aja si Mandanya yang agak-agak gimana gitu!?”
         “Gue juga ga ngerti sih!?”
         “Tapi masalahnya emang ga bakal jadi segede tadi kalo si Rendi bisa tegas
sama si Manda!?”
         “Ya lo tau lah si Rendi anaknya gimana?”
         “Udah lah Tar…”
         “BANCi emang tu anak!?”
         “Lupain aja!?”
Tari : “hks…hks…hks…”
         “Gue ga tau lagi deh Bas…”
         “Ga tahan lagi…”
         “Gue…tu…”
         “Gue benci banget sama tu orang dua…”
         “Brengsek banget mereka…”
         “Gue ga suka banget diginiin”
         “Manda tuh SAHABAT gueeeee, Baaas!?”
Wina : “Duh Tar…”
         “Ceup dong…”
         “Lo jangan nangis gitu!?”
         “Ga pantes tau ga lo nangis gara-gara orang kaya mereka!?”
         “Lo tu…”
         “Aduh … Tar…”
         “Sabar ya Tar…”
Tari : “Gue ga ngerti lagi harus gimana Win”
         “Gue tuh sayang banget sama Rendi…”
         “Tapi dia JAHAT banget sama gue…”
         “Gue bingung aja Win!!??”
         “Dia tu BRENGSEK banget…”
         “Emang salah gue sama dia tuh apa sih, Win?”
         “Kenapa dia bisa selingkuh sama sahabat gue sendiri?”
         “Kenapa sama Manda?”
         “JAHAT banget itu Win!?”
Abas : “Duh Tar…”
         “Udah lah, lo jangan nangis terus!?”
         “Gak pantes lo nangisin orang gila kaya gitu!?”
         “Jangan jadi cewek lembek gara-gara dia lah, Tar!?”
Wina : “Sssttt…”
         “Apaan si lo?”
         “Jangan manas-manasin suasana, ah!?”
         “Bagus dia nangis!?”
         “Kalo nggak…”
         “Bisa gantung diri tau lo saking betenya dikhianatin sama pacar and sahabat
sendiri!?”
         “Dah sana deh lo!?”
         “Tuh liat jalanan….”
         “Ck…mana ujan gede banget lagi nih!?”
Abas : “Duh!!??”
         “Pusing deh gue liat cewek begini nih!!???”
         “Ach!!??”


                                                                                  79
       “Nih…nih… Win… Nih jaket gue…”
       “Kasian tuh si Tari!!”
       “Dingin kali!!??”
       “Tar Pake jaket gue nih Tar!!??”
Wina : “Tar…”
       “Pake ya Tar…”
       “Ceup donk…”
       “Duh…”
       “Ya udah lo senderan aja ya ke gue… sini…”
       “Hhhh… sabar ya…”
       “Semua pasti ada hikmahnya ko Tar!!??”
Tari : “Gue tuh sakiit banget Win!?”
       “Saakiiiiiit bangeet!?”
Wina : “Iya… Iya…”
       “Gue ngerti!?”
       “Udah ya”
       “Sabar yaaa…”




                                                    80
                                      Penumpang 2
                   Salah Faham Awal Dendam

        Hidup sudah sulit jangan dibuat rumit. Salah sedikit bisa menjadi bukit.
Seandainya yang menjadi anak bawang berbuat salah maka minta maaflah. Guru
harus dihormati, hukum alam berbicara rendahkan hati pada ia yang membakti. Jika
ingin selamat ikutilah peraturannya. Selagi masih benar, jangan pernah merasa
terhina. Sebagai manusia kedudukan itu pasti ada.
        Jika yang tua tidak mau mengalah maka bicaralah, utarakan apa yang salah.
Jangan menyimpan resah dibalik kisah. Mungkin hanya salah faham, mungkin hanya
kekhilafan. Jangan pernah diam pada keluhan, jika tidak ingin ada dendam.

Ibu Margareta : “Saya kurang suka deh Mba sama si Lita…”
                 “Anak tingkat tiga yang rambut panjang, yang bawa jazz merah
itu, tau kan Mba?”
                 “kesannya dia ga merhatiin saya gitu Mba kalo saya lagi ngajar!?”
Surjanto       : “?????????????????????????????????????”
Ibu Surti      : “Yah namanya juga mahasiswa Mar…”
                 “Wajar kalo mereka bikin salah….”
                 “Emang salahnya apa sih?”
                 “Nyeleneh dia?”
                 “Si Lita yang suka ngurusin bakti sosial itu kan?”
                 “Yang anak senat kalo gak salah!?”
Ibu Margareta : “Iya bener!?”
                 “Si Lita yang itu!?”
                 “Ya abis gimana ya Mba, nyeleneh sih nggak, tapi ko kesannya dari
tatapannya tuh dia ga suka gitu Mba sama saya!?”
                 “Kalau saya kasih tugas tuh ko kesannya ngegampangin aja!?”
                 “Padahal belum tentu kan hasilnya betul semua!?”
                 “Merhatiin aja nggak ko!?”
Ibu Surti      : “Udah di tegor?”
                 “Coba aja bilang ke PA nya…”
                 “Kalo nggak salah Pak Darma deh…”
Ibu Margareta : “Ah, males saya Mba kalo harus berurusan sama PA nya…”
                 “Ini sih antara kita aja, Mba!?”
                 “Liat aja nanti, kalau dia macem-macem!?”
                 “Yang rugi juga dia!?”
                 “Saya nggak seneng sih kalo ada mahasiswa yang kesannya
nantang!?”
Ibu Surti      : “Nantangnya tuh gimana sih?”
                 “Coba cerita yang jelas gitu Mar!?”
Ibu Margareta : “Ya nantang aja Mba…”
                 “Saya tegor juga dia malah senyam senyum…”
                 “Kayaknya gak nyesel sama sekali gitu!?”
                 “Kayaknya malah sok gak bersalah gitu Mba…”
                 “Sebel kan saya digituin!?”
                 “Saya tuh maunya dia minta maaf kek!”


                                                                                 81
                “Dia kan mahasiswa!?”
                “Udah tau salah jangan gitu dong harusnya!?”
Ibu Surti     : “Ya maksud saya panggil aja dia biar dia minta maaf sama kamu?”
                “Ya kalau menurut saya sih jangan hanya ngeluh di belakang!?”
                “Kasian lah… Anak-anak kan kuliah bayar!?”
                “Mending sih ditegor aja!?”
                “Di peringatin lah supaya dia bisa lebih jaga sikap kalau masuk
kuliah kamu!?”
Ibu Margareta : “Ah … Nggak ah…”
                “Kalau dia ga ada inisiatif minta maaf ke saya biarin aja lah Mba…”
                “Biar dia kapok!?”
                “Gak berurusan sama saya lagi!?”
                “Mentang-mentang saya dosen muda dia ga bisa ngenyekin saya gitu
aja dong Mba!?”
Ibu Surti     : “Yah…”
                “Coba deh di diskusikan dulu sama Pak Darma!?”
                “Setau saya si Lita kan emang suka gak sadar sama salahnya…”
                “Sibuk sih dia Mar…”
                “Terlalu banyak kegiatan mungkin!?”
                “Jadi suka ngeselin kamu kalau di kelas…”
                “Jadi kaya nggak merhatiin gitu”
Ibu Margareta : “Males ah Mba…”
                “Biarin aja dia begitu!?”
                “Kalau dia ngeselin lagi ya berarti dia cari masalah besar sama
saya!?”
                “Saya sih gitu aja!?”
Ibu Surti     : “Hhhhh… iya deh…”
                “Terserah kamu!?”
                “Tapi ya di coba aja!?”
                “Mudah-mudahan si Lita ga cari gara-gara lagi!?”
Ibu Margareta : “Mudah-mudahan deh Mba…”
                “Mudah-mudahan dia bisa insaf!?”
Ibu Surti     : “Ya gimana bisa insaf kalau gak kamu kasih tau, Mar?”
Ibu Margareta : “Heuh!?”
                “Biarin aja lah Mba!?”
                “Yok, Mba…”
                “Duluan…”
Ibu Surti     : “Oh…”
                “Monggo…”
                “Hati-hati… salam buat suamimu Mar…”
Ibu Margareta : “kiri Mas!?”
                “Stop depan….”
                “Iyaaa… Stop!?”
                “Yuk Mba…”
                “Duluan…”
                “Sampe senin”




                                                                                 82
                                    Penumpang 3
                           Bob vs Smoothing
Citra      : “Mei!?”
             “Rambutlo lucuan di bob deh kalo gue rasa!?”
Meisa      : “Masa sih Cit?”
             “Tipis gini…”
             “Rambut gue tuh yang lurus banget gitu!?”
             “Yang suka lepek gitu tau ga lo…”
             “Kayanya aneh deh kalo di bob!?”
Citra      : “Justru kalo di bob volume rambutlo jadi makin keliatan!?”
             “Kan ke angkat ke atas gitu tuh rambutlo…”
             “Trus ntar lo minta yang depannya tuh dipanjang-panjangin gitu…”
             “Tau kan lo?”
Meisa      : “tau…tau…”
             “Yang emo-emo gitu kan?”
Citra      : “Nggak…”
             “Bukan emo kali!?”
             “Kalo emo tuh yang miring-miring panjang ke samping gitu!?”
             “Gimana si… kaya si…”
Meisa      : “Oooohhh…”
             “Kaya si Larisa ya?”
Citra      : “Nah!?”
             “Iya-iya bener!!??”
             “Kaya gitu!?”
             “Kalo gitu tuh bagusan yang mukanya tirus gitu kaya semacem
mukanya BCL!?”
Meisa      : “Oh iya-iya bener!?”
             “BCL model rambutnya emo ya sekarang!?”
             “Iya gue liat tuh di acara gosip apaaaaa gitu!?”
             “Hahaha…”
Citra      : “Ya iya makanya lo lucuan di bob!?”
             “Serius gue…”
             “Lo kan mukanya rada-rada bulet dikit!?”
             “Gue liat di majalah kalo ga salah Katie Holmes deh yang di bob!?”
             “Lucu banget gitu!?”
Meisa      : “Ya iya laaaah…”
             “Katie Holmes mah di apain juga lucu!?”
             “Secara gitu do’i!?”
             “SELEB!?”
             “Bule!?”
             “Lo samain ma gue!?”
             “Sialan lo!?”
             “Gue mah disamain ama Dian Sastro juga udah cukup!?”
             “Hahahahaha….”
Citra      : “Hahahahaha…”
             “Eh terus, kalo gue diapain nih Mei?”
             “Serius lo gue bagus di smoothing?”


                                                                              83
               “Rambut gue masih perawan nih!?”
               “Ga asik banget kalo tiba-tiba jadi kaku-kaku gitu gara-gara
smoothing!?”
Meisa        : “Yeeee…”
               “Yang kaku-kaku tuh bonding tau!?”
               “Kalo smoothing jadinya ya malah smooth aja gitu kaya iklan
shampo…”
               “Kali ya itu juga…”
               “Ga ngetri juga sih gue kalo rambutlo gimana nasibnya?”
               “Lo kan ikal-ikal ga jelas gimanaaaa gitu!?”
               “Hahahaha….”
Citra        : “Eh tapi serius ya ntar kalo gue nambah obat minjem duitlo dulu…”
               “Gue cuma bawa pe’gow gini Mei!?”
               “Kurang ga sih?”
               “Serem nih… Ngepas banget!?”
               “Secara ya rambut gue sepanjang-panjang apaan gini!?”
Meisa        : “Iaaa…”
               “Santai aja kali!?...
                “Eh…”
               “Cit…Cit…”
               “Itu…”
               “Itu kan si Sari!!??”
               “Itu… Bo”
               “Dia jalan sama Amir!?”
               “Sumpah gue ga boong…”
               “Bang… Bang… Pelan-pelan Bang!?”
               “Tuh…tuh!!??”
               “Ya kan??”
               “Liat ga lo??”
               “Tuh… baju merah garis-garis!?”
               “Berduaan Cit…”
               “Gila…gila…”
Citra        : “Mana sih??”
               “Ga keliatan gue!!??
Meisa        : “Masya Allah…”
               “Itu!!??”
               “Noh… noh…”
               “Kanan… kanan…!!”
Citra        : “Mana sih???”
               “Mana???”
               “Oooooohhhh….”
               “Ooooohhhh…. Iya…iya…”
               “Oh!!?? Ya ampun…”
               “Sumpah!!?? Ia banget!!??”
               “Itu si Sari Mei…”
               “Sumpah…”
               “Seriuusss….”
               “Gila… Gila… Gossip baru!!??”
               “Eh sms Uci cepet!!??”
               “Sms… Sms…”


                                                                               84
                                     Penumpang 4
           Antara Amsterdam dan Jakarta
       Koper, ransel, pouch bag, dan sebuah sling bag berwarna pink berjejalan
menjadi penumpang baru bagasi. Seorang anak muda berjenis kelamin pria bergaya
hiphop memakai hoodie motif vertikal dan hipster hitam berjalan dengan coolnya
menuju pelataran.
       Dua orang lainnya bergaya biasa saja. Yang pria memakai capri dan kemeja,
yang wanita memakai jeans dan sabrina. Yang paling nyentrik adalah nona berambut
pendek yang agak tertinggal jauh karena sibuk berbelanja, ia nampak kerepotan
menjinjing clutch berpita, braid bag berwarna jingga, memakai pet bercorak bunga,
opaque, terusan panjang model bateau neck dan sepatu open-toe berwarna merah
muda. Mereka berjejalan masuk kedalam taksi menuju kebayoran.

Elga          : “Bedankt, Nar…”
               (“Makasih, Nar)
Zainar        : “Ga geseran Ga!?”
                “Si Yudis ga muat nih…”
Elga          : “Oh… Ia bentar!?”
                “Ni topi gue lebar banget nih!?”
                “Naaaah… Udah!?”
Surjanto      : “Biar saya bantu, Mas…”
                “Ia itu tas jinjingnya bisa dibawa itu, Mba!?”
                “Iyaaa…”
                “Itu Mbanya geser sedikit!?”
                “Topinya dilepas saja itu, Mba!?”
Elga          : “Adduuuh…”
                “Ribet banget sih, ah!?”
                “Dah nih, dah gue lepas!?”
Surjanto      : “Lhaaa… iyaaa..”
                “Begitu kan enak, Mba!?”
                “Monggo pintunya saya tutup!?”
                “Mas nya silahkan masuk!?”
Yudis         : “Oke…”
                “Makasih, Pak!?”
Meta          : “Oyyy… Dis… Nar…”
                “Barang-barang lo dah taro bagasi semua kan?”
                “Itu tas baju sama yang ransel pegang aja!?”
                “Muat lah ya??”
Zainar        : “Oh… Sip-sip Met!?”
                “Muat banget!?Sip!!??”
Yudis         : “Misi bentar Ga…”
                “Nah…sip…”
                “Pas!?”
                “Masuk lo Met cepetan!?”
                “Pas op!”
               (Awas hati-hati!?”)
Meta          : “Okeh…okeh…”



                                                                              85
                  “Dah!!??”
                  “Dah kan?”
Zainar          : “Sip?”
                  “Ready?”
                  “Eh Elga!?”
                  “Topi aja yang lo urusin!?”
                  “Tas lo tuh geser dikit!?”
                  “Dah belom?”
Elga            : “Seeeppp…”
                  “Udah!?”
                  “Jalan Bos!?”
Zainar          : “Okeh… SIP ya?”
                  “Kebayoran Baru Pak!?”
Surjanto        : “Yang lewat Ratu Plaza itu to Mas?”
Zainar          : “Oh iya… Abis tol lewat Grogol!?”
                  “Abis itu biasa lah lewat Taman Anggrek terus keluar Smanggi…
belok kanan!”
                  “Nanti lewat Sudirman ke arah Ratu Plaza…”
                  “Ntar sebelom Blok M saya kasih tau lagi…”
                  “Kita lewat jalan tikus aja!?”
Surjanto        : “Oh… Monggo, Mas!?”
Zainar          : “Oy, belakang…”
                  “Yang baru dateng…”
                  “Gimana lo berdua?”
                  “Asik ga di Belanda?”
                  “Sepi banget dari tadi!?”
Elga            : “Ya gitu deh Nar…”
                  “Biasa aja sih!?”
                  “Enakan disini…”
                  “Di sana dingin!?”
                  “Gak tahan gue kalo pake tanktop”
                  “Se zomer zomer nya juga masih tetep dingin!?”
                  “Apalagi makanannya?”
                  “Heeeeuh!?”
                  “Kangen deh gue ama bakso bogem!?”
Meta            : “Hahaha…”
                  “Gokil lo!?”
                  “Balik-balik yang lo inget bakso bogem!?”
                  “Apa kek gitu yang bagusan dikit!?”
Zainar          : “Eh tapi emang enak banget kali Met tu bakso!?”
                  “Kaya lo ga doyan aja si!?”
Elga            : “Setuju Nar!?”
                  “Enak banget!?”
                  “Eh abis ini makan yuk!?”
                  “Ik heb honger!?”
                 (“Gue laper!?”)
                  “Gue yang traktir deh!?”
Meta            : “Lo mo traktir?”
                  “Makan apaan?”
                  “Bogem?”


                                                                                  86
           “Hehehe…”
           “Boleh-boleh!?”
Zainar   : “Halah…”
           “Dasar lo cuprit!?”
           “Makan aja nyengir lo!?”
Elga     : “Emang dia mah!?”
           “Liat aja tuh badannya melar kaya ban abis pompa!?”
           “Dih…”
           “Ampe kaget tau ga gue liat si Meta gendut gini!?”
           “Hahaha…”
Meta     : “Ah udah ga usah bahas badan gua!?”
           “Ini efek global warming tau ga lo!?”
           “Pemanasan global bikin badan gua melar!?”
           “Banyak sampah sih!?”
           “Udah ah Ga!?”
           “Cerita kek lo gimana di belanda!?”
           “Eh, Dis… Diem aja lo!?”
           “Molor?”
           “Buset deh!!??”
           “Dateng-dateng molor!?”
           “Cerita dong ma gue gimana lo kuliah jauh-jauh!?”
Yudis    : “Hah?”
           “Oh… gua??”
           “Hhmmm…”
           “Hooo…aaa…hhh…”
           “Gua ga tidur ber jam-jam di pesawat!?”
           “Gila!?”
           “Parno gue!?”
           “Takut mati!?”
           “Tegang!! bwwrrr…”
Elga     : “Tau ni anak aneh banget!?”
           “Tau ga mulai dari Amsterdam dia udah cupu gitu!?”
           “Stress dia kalo udah mau balik!?”
           “Parno mulu!?”
           “Oya…oya…”
           “Asal lo pada tau ya…”
           “Ni anak nih ada maen sama bule!?”
           “Namanya Janeke!?”
           “Ketemunya di Amsterdam!?”
           “Di Van Gogh Museum”
           “Nge-date nya keliling kota naek sepeda…”
           “Nyewanya 5 sampe 10 euro tiap hari!?”
           “Murahan banget ga sih?”
           “Hueheheh”
Meta     : “Heheheeh…”
           “Romantis amat lo Dis…”
           “Nge-date naek sepeda!?”
           “Hahahaha…”
           “Terus?”
           “Si Janeke itu?”


                                                                 87
           “Bule?”
           “Cewek cowok Dis?”
           “Londo asli tuh si Janeke?”
Yudis    : “Aaahh elah lu berisik banget lu pada…”
           “Comel abeesss!?”
Zainar   : “Eh…Lo parah lo!?”
           “Ga bilang-bilang gue punya cem-ceman bule!?”
Meta     : “Loh??”
           “Terus gimana tuh nasib si Cintya?”
           “Putus?”
           “Aaahhh…”
           “Katanya lu mau kawin?”
           “Basi lo ahirnya kecantol bule juga!?”
           “Btw, cewek cowok sih??”
Elga     : “Eh jangan salah si Cintya juga kecantol bule!?”
Meta     : “Hah?”
Zainar   : “Hahahahaha….”
           “Pantes lo nyari bule juga!?”
           “Dendem lo nyet?”
           “Hahahah…”
Yudis    : “Ya Elah…”
           “Biasa aja kaleee…”
           “Ni aja ni anak satu suka gede-gedein gossip!?”
Elga     : “Biarin!?”
           “Bete sih gue sama si Cintya…”
           “Ik heb een hekel aan haar, omdat ze altijd over mijn fashion praat”
          (“Gue sebet sama dia, soalnya dia selalu ngomongin tentang fashion gue!?”)
           “Kaya dia cantik aja!?”
           “Weeek!!”
Yudis    : “Ya… Ya… Udah ah…”
           “Ga usah bahas gituan mulu!?”
           “Nih Nar, Met, gua ada kaos keren banget!?”
           “Topi, cokelat, tas, buat anak-anak juga ada!?”
           “Oya ada stroopwafel juga nih!?”
           “Cemilan!?”
           “Bae kan gua…”
Zainar   : “Yoooiii…”
           “Tajir abis!!??”
           “Hahahaha…”
           “Liat coba mana buat gua apaan?”
           “Kaos apaan Dis?”
           “Kaos Holland?”
           “Jangan-jangan gambar tulip lagi?”
           “Ah… itu mah nyablon sendiri juga bisa!?”
Yudis    : “Elah lo ah bawel banget!?”
Meta     : “Eh Astagfirullah…”
           “Apaan nih??”
           “Buset Dis!?”
Elga     : “Apaan sih??”
Yudis    : “Apaan sih lo?”


                                                                                       88
           “Hah??”
           “Ohhh…. Ini…”
           “Hehehehe…”
Elga     : “Apaan sih??”
           “Ohhhh…”
           “Yah elah!!??”
           “Cape deh Dis!!??”
           “Film bokep lo bawa-bawa kesini!?”
           “Di Glodok juga banyak kali!?”
           “Murah juga!?”
Zainar   : “Serius lo Dis bawa gituan?”
           “Buset lo!?”
           “Bawa berapa?”
           “Bagi gue atu!?”
Meta     : “Dih amit-amit lo pada ga dimana ga dimana bawanya gituan!?”
Yudis    : “Weesss…”
           “Beda Met…”
           “Jangan salah!?”
           “Tiga dimensi!?”
           “Gue sengaja nih beli di Rotterdam!?”
Zainar   : “Serius lo?”
           “Waaaaahhh…”
           “Oke bet dah!?”
Yudis    : “Yoi Nar!?”
           “Tar lo nginep rumah gua aje…”
           “Heheheheh”
Elga     : “Geli banget sih lo!?”
           “foei!”
          (Jijik!?”)
           “Eh daripada ngomentarin si Yudis…”
           “GAK PENTING!?”
           “Nih… gua juga bawa kaos kaki lucu banget buat di bagi-bagi!?”
           “Rajutan asli!?”
           “Anget buat winter!?”
Meta     : “Menurutlo Indonesia saljuan?”
           “Edan deh lo kalo bawa barang!?”
Yudis    : “Hahahaha…”
           “Salah banget emang ni anak!?”
           “Udah gue bilang beli cokelat aja!?”
           “Malah beli kaos kaki gituan banyak banget lagi belinya dua losin!?”
Randu    : “Hahahahahah….”
Elga     : “Iiiihhhh…”
           “Ko lo pada gitu sih!?”
           “Ini kan lucu banget!?”
           “Ya udah si kalo ga mau!?”
           “Gue sumbangin aja ke anak-anak panti asuhan!?”
Meta     : “Eh…”
           “Loh…”
           “Yahhhh…”
           “Ngambek…”


                                                                             89
           “Eh Ga…”
           “Iya Ga… iya…”
           “Lucu banget ko Ga…”
           “Tuh apalagi yang pink!?”
           “Yang pink buat gue yaaa…”
           “Lucu ko…”
Zainar   : “Heheh…”
           “Iya Ga…”
           “Santai… ada yang orange ga?”
           “Belanda banget kan tuh?”
           “Gue minta satu yaaa!?”
Yudis    : “Hahahhaha….”
           “Dasar ada-ada aja lo Ga…Ga…”
           “Hehehe…”
           “Jadi ga ngantuk lagi gue…”
           “Eh btw, udah masuk tol ya?”
           “Pake duit lu dulu Nar!?”
           “Duit gua Euro semua nih!?”
           “Hahahaha”
Zainar   : “Ah CAPEK lo!?”
Yudis    : “Hahaha… Piss!?”
           “Eh… ga… Elga…”
           “Jangan ngambek dong!?”
           “Addduhhhh…”
           “Elga ntar manisnya ilang loh kalo manyun mulu!?”
Zainar   : “Hahahah….”
           “Odong lu!?”
           “Gombal abis!?”
Yudis    : “Diem aja lu Ran…”
           “Hehehe…”
Zainar   : “Tau Ga …”
           “Maaf deh kalo gue ada salah!?”
           “Udah dong ah!?”
           “Kita kan disini buat jemput lo!?”
           “Dah jangan bete-bete yaaaa!?”
Meta     : “Iya nih Elga…”
           “Hmmm… Eh gini-gini…”
           “Gimana kalo ntar kita mampir ke T.A bentar?”
           “Oooohh gue tau…”
           “Kita makan bebek bakar Yogi aja gimana?”
           “Di Kedoya situ?”
           “Sebelah T.A?”
           “Yuk mau ga?”
           “Hah?”
           “Ga?”
           “Mau ya?”
Zainar   : “Yah elah… Ko T.A si!?”
           “Jangan T.A ato kedoya lah Met?”
           “Jauh banget dari rumah!?”
Yudis    : “Hhhhmmm…”


                                                               90
              “Dari pada T.A mending langsung Blok M aja!?”
              “Roti bakar Edi gimane?”
              “Yuk sana bentar yuk!?”
              “Trus abis itu kita lanjut makan bogem!?”
Meta        : “Gitu ya??”
              “Ya udah deh…”
              “Gue sih dimana aja yang penting makan!?”
              “Laper nih gue….”
              “Krucukan perut gue!?”
              “Ayok…”
              “Boleh-boleh!?”
              “Kita ngeroti aja!?”
              “Eh ga…”
              “Yah si…”
              “Masih ngambek aja…”
              “Ga, yuk…”
              “Kita makan!?”
              “Iya-iya yang tadi kita becanda ko!?”
              “Ah elo si Dis!?”
              “Bete kan dia, ah!?”
Elga        : “Hhh…”
              “Iya-iya… UDAH!?”
              “Ikut aja gue…”
              “Terserah lo deh!?”
Zainar      : “Hihihihi…”
              “Nah lo Meta!?”
Yudis       : “Hahahaha…”
              “Tos dulu dong Nar!?”
Meta        : “Yeee…”
              “Ko jadi gue sih!?”
              “Najis lo pada!?”
Zainar      : “hahahah…”
              “Yaya!!??”
              “Ya udah biarin aja!?”
              “Ntar juga bae sendiri!?”
              “Pak nanti Blok M terus aja ya Pak!?”
              “Nanti saya kasih tau!?”
              “Kita ke roti bakar Edi!?”
              “Bunderan!?”
Surjanto    : “Monggo, Mas!?”
Yudis       : “Hueheheheheh….”
Zainar      : “Hueheheheheh….”



Pulang ke rumah:
Kamis, 20 Desember 2007
23.10 WIB




                                                              91
Berangkat dari rumah:
Sabtu, 22 Desember 2007
08.30 WIB



                                       Penumpang 1
                Cintaku Bersemi di Taksi Biru

        Bukannya aku sengaja tidak menuliskan kisahku di tanggal dua satu, tapi
begitulah pekerjaanku. Kemarin, seharian aku tidak berhasil mendapatkan seorangpun
penumpang. Ku tunggu dari pukul enam hingga pukul sembilan, dari hanya duduk di
bawah jembatan, menyantap sarapan, hingga terdengar suara azan, yang kulakukan
hanya diam dan mampir ke mushola untuk jum’atan.
        Hari ini aku berangkat tidak terlalu pagi. Menunggu rezeki ditemani sinar
matahari. Jam sepuluh aku sarapan nasi uduk, jam satu aku duduk sambil menikmati
kopi tubruk, jam tiga aku menyaksikan pertunjukan ludruk, jam lima aku makan pecel
dan krupuk dan jam delapan mataku sudah hampir ngantuk.
        Ku coba mencari sedikit lagi. “Moso sih masih ndak ada rezeki sama sekali?”.
Jam sebelas aku hampir kelelahan, namun tak kusangka rezeki datang. Penumpang
yang nampak habis berkencan berjalan bergandengan di depan pemakaman.
        Lelaki tampan duduk belingsatan di dalam malam ditemani hujan…
“JALAN!?” Perintah sang teman kencan padaku pelan.

Sofyan        : “Hei…”
                “Gimana hari ini?”
                “Seneng ga?”
Lira          : “Yah?”
                “Ooohh…”
                “Hehe…”
                “Hari ini ya?”
                “Hmmm… lumayan kok…”
Sofyan        : “Cuma lumayan aja ya Li?”
Lira          : “Emang maunya gimana?”
Sofyan        : “Hmmmm…”
                “Ya…”
                “Ga tau juga sih!?”
Lira          : “Mmmm…”
                “Sebenernya sih gue seneng banget Yan hari ini…”
                “Makasih ya lo udah traktir gue…”
                “Itu tadi kan mahal banget Yan…”
Sofyan        : “Ah… santai aja kali Li…”
                “Yang penting lo kenyang!?”
                “Hehehe…”
Lira          : “Gitu ya??”
Sofyan        : “Eh Li…”
                “Emangnya elo suka banget ya sama kalung domba yang waktu itu lo


                                                                                 92
liat?”
Lira          : “Iya…”
                “Itu tuh lucu banget tau ga sih!?”
                “Gue tuh pengen banget beli kalung itu!?”
                “Ya cuma ntar aja kali ya…”
                “Gue ngumpulin uang dulu!?”
Sofyan        : “Oooohhh…”
                “Emang harganya mahal banget ya?”
                “Kan sebenernya bisa aja kalo lo mau beli!?”
Lira          : “Ia sih Yan…”
                “Cuma kan bulan ini pengeluaran gue banyaaaaak banget!?”
                “Apalagi kemaren nyokap sama kakak gue ultah!?”
                “Jadi ya pengeluaran gue tuh ga ke manage aja gitu…”
Sofyan        : “Oh gitu Li…”
                “Hehehe…”
                “Eh Li, gue mau tanya sesuatu sama lo deh…”
                “Tapi lo jawab yang jujur ya…”
Lira          : “Hah?”
                “Mau Tanya?”
                “Mmmm emang mau tanya apa Yan?”
                “Tanya aja kali…”
                “Formal banget sih lo!?”

       Bibirnya digigit berulang-ulang, wajahnya semu kemerahan, gadis manja salah
tingkah, lelaki tampan menelan ludah.

Sofyan        : “Mmmmm… “
                “Gini Li…”
                “Emmmm…”
                “Kalo elo tuh…”
                “Lo suka warna pink, merah apa putih?”

      Yaaaah… Payah… Gadis manja yang sudah resah tiba-tiba nampak marah…
Wajahnya tak jadi memerah, membuka kipas karena gerah.

Lira          : “Hah?”
                “Warna?”
                “Oh…”
                “Jadi lo cuma mau tanya itu??”
                “Ya elah…”
                “Gitu aja formal banget sih!?”
Sofyan        : “Loh…”
                “Emangnya lo berharap gue nanya apa?”
Lira          : “Hah??”
                “Ah… Nggak ko…”
                “Gak…”
                “Gue ga berharap lo nanya apa-apa…”
                “Gue kira ada yang penting aja gitu!?
Sofyan        : “Misalnya?”
Lira          : “Hah?”


                                                                               93
                “Misalnya gimana?”
                “Aneh banget sih lo!?”
                “Lo yang mau nanya juga…”
                “Malah nanya balik gue!?”
                “Aneh!?”
Sofyan        : “Iya Li…”
                “Kan Lo kira gue bakalan nanya hal yang penting…”
                “Trus pas gue tanya warna lo bilang ga penting!?”
                “Emang kalo yang penting menurutlo tuh misalnya apa?”
Lira          : “Yeee…”
                “Mana gue tau…”
                “Aneh deh lo!!??”
                “Jadi gue yang di tanyain…”
                “Lo yang mo nanya gue juga!!??”
Sofyan        : “Ya nggak…”
                “Abis lo tiba-tiba BETE gitu?”
                “Kan gue jadi bingung!?”
Lira          : “Hhhh… Dasar cowok LEMOT!?”
                 “OKE”
                “Yang penting menurut gue itu??”
                “Yaaaaa… misalnya….”
                “Ya… misalnya lo mau nawarin gue kerjaan di perusahaan manaaa
gitu!?”
               “Atau ada proyek gede trus lo mau tanya apa gue bisa nanganin
keuangannya apa nggak!?”
               “Gitu!!??”
               “Itu menurut gue penting banget!?”
               “NGERTI lo!?”
Sofyan       : “Hah?”
               “Hahahahahahahahah…”
               “Jadi gitu ya Li….”
               “Itu yang menurutlo penting?”
               “Yayayaya… heheheh…”
               “Ya nggak lah…”
               “Gue ga mau nanya yang seberat itu kok sama lo!?”
               “Gue emang cuma mau tanya warna aja!?”
               “Ga apa-apa kan?”
Lira         : “Ya…”
               “Gak apa-apa lah!?”
               “Kenapa emang?”
Sofyan       : “Ya gak kenapa-kenapa!?”
               “Lo jawab aja!?”
Lira         : “Hmmm warna kesukaan gue tuh item!?”
               “Jadi… Pink, merah atau putih tuh ga ada yang gue suka sama
sekali!?”
Sofyan       : “Oooowww…”
               “Gitu yaaa…”
Lira         : “Kenapa emang lo tanya-tanya gituan?”
Sofyan       : “Ah Nggak kok…”
               “Ga apa-apa!?”


                                                                                94
Lira       : “Oh…ya udah…”
Surjanto   : “??????????????”
Sofyan     : “Li…”
Lira       : “Yap?”
Sofyan     : “Lo sempet liat cewek yang tadi duduk di sebelah meja kita ga?”
Lira       : “Cewek?”
             “Yang mana?”
             “Ada dua kali ceweknya!?”
Sofyan     : “Ya emang ada dua!?”
             “Maksud gue yang muda!?”
             “Mereka kan berdua!?”
             “Yang satu neneknya yang satu cucunya!?”
Lira       : “Ooohhh… he’eh!?”
             “Tau…”
             “Kenapa lo?”
             “Naksir sama dia?”
Sofyan     : “Ah… Naksir sih nggak…”
             “Cuma menurut gue sih dia cantik aja…”
Lira       : “Oooohhh… Cantik?”
             “Kalo gitu kenapa lo ga kenalan aja tadi?”
Sofyan     : “Ah males juga sih Li kalo kenalan…”
Lira       : “Kenapa?”
             “Katanya cantik?”
             “Cupu dong lo kalo gitu!?”
             “Kenalan dong!?”
             “Tanya nomer hpnya biar bisa sms-an!?”
Sofyan     : “Ya abis gimana dong?”
             “Dia emang cantik!?”
             “Tapi gue bingung aja…”
Lira       : “Bingung kenapa?”
             “Ga usah bingung kaleee…”
             “Dia masih manusia ciptaan Tuhan kok!?”
Sofyan     : “Iya emang dia manusia ciptaan Tuhan!?”
             “Tapi ya gue bingung aja…”
             “Abis dia tuh kan udah cantik…”
             “Cuma ntah kenapa ko yang duduk di depan gue jauh lebih cantik
ya?”
Lira       : “Hah?”
             “Maksudlo?”
             “Yang duduk di depan lo jauh lebih cantik?”
             “Neneknya tu cewek gitu maksudlo?”
Sofyan     : “Neneknya?”
             “Hahahaha…”
             “Masa ia sih gue ngomongin neneknya?”
             “Bukan kali Li…”
             “Yang duduk di depan gue bukan neneknya…”
             “Neneknya emang duduk di depan gue!?”
             “Cuma jauh di depan gue!?”
             “Tapi ada satu lagi yang bener-bener duduk tepat di depan gue!?”
Lira       : “HAH?”


                                                                                95
           “Gue maksud lo?”
Sofyan   : “Iya Li…”
Lira     : “Hah?”
Sofyan   : “Iya elo?”
Lira     : “Hah?”
           “Gue?”
           “Ih!?”
           “NORAK lo ah!?”
Sofyan   : “Loh ko NORAK?”
           “Hahahaha… Lira…Lira…”
           “Iya Li… ELO!?”
           “Malem ini lo keliatan cantiiiiiiiik banget!?”
Lira     : “??????????????????????????????????????”
Sofyan   : “SERIUS gue!?”
Lira     : “Eemmhhh…”
           “Gitu ya?”
           “Masa sih?”
           “Biasa aja kali Yan…”
           “Jadi GR nih gue…”
           “Hehe… Kalo menurut lo gitu siiih…”
           “Ya….udah…”
           “Makasih!?”
Sofyan   : “Hehehe…”
           “Eh Li… gue punya dua kado nih buat lo…”
           “Mungkin kado pertama lo ga akan suka!?”
           “Tapi kado yang ke dua lo pasti suka!?”
Lira     : “Hah?”
           “Kado?”
           “Ada kado?”
           “Ya ampun…”
           “Emangnya kado apa?”
           “Kenapa lo jadi repot-repot gitu si?”
           “Jadi enak nih gue!?”
Sofyan   : “Hehehehe…”
           “Ah Lira…”
           “Gue ga repot kok…”
           “Asal lo seneng…”
           “Gue juga pasti seneng!?”
Lira     : “Oh gitu…”
           “Mang apaan Yan kadonya?”
           “Mana sini gue liat!?”
Sofyan   : “Mmmmm…”
           “Sebentar…”
           “Ini yang pertama…”
           “Nih…”
Lira     : “Apa nih?”
Sofyan   : ^_^
Lira     : “Oh?”
           “Ya!?”
           “YA AMPUN!!??”


                                                            96
                “BUNGA MAWAR??”
Sofyan        : “Iya, Li!?”
Lira          : “BAGUS BANGET!?”
                “Makasih ya Yan!?”
                “Bagus banget!?”
                “Sumpah!?”
Sofyan        : “Iya sih bagus…”
                “Tapi maaf ya…”
                “Gue cuma nemu tiga warna!?”
                “Merah, pink sama putih!?”
                “Gue ga nemu warna item!?”
                “Maaf ya…”
                “Tapi mudah-mudahan si lo suka walopun diantara tiga bunga ini ga
ada satupun warna yang lo suka!?”
Lira          : “Oh?”
                “Oh Ya Ampun…”
                “Yan…”
                “Gue…”
                “Maksud gue…”
                “Mmm…”
                “Gue tadi maksudnya ga gitu Yan!?”
                “Gue suka banget ko sama mawar!?”
                “Sorry…”
                “Tadi gue jawabnya ngasal banget!?”
                “Serius…”
                “Gue suka ko…”
                “Gue sukaaaaa banget!?”
                “Tiga-tiganya gue suka!?”
                “Makasih banget ya Yan!?”
                “Maafin gue yaaa…”
                “Tadi gue jawab item boongan ko…”
                “Suer…”
                “Gue suka pink ko sebenernya…”
                “Maaf yaaaaa…”
Sofyan        : “Hihihihi…”
                “Iya Li…”
                “Gak apa-apa kok!?”
                “Kalo ternyata lo suka gue malah seneng banget!?”
Lira          : “Iya..”
                “Gue suka kok!?”
                “Sukaaaaaa banget…”
                “Makasih ya Yan!?”
Sofyan        : “Iya…iya…”
                “Ya udah…”
                “Yang penting kado yang kedua ini gue yakin lo pasti suka…”
Lira          : “Oh…gitu…”
                “Emang apa kadonya??”
Sofyan        : “Nih…”
                “Buka aja!?”
Lira          : “Ini ya…”


                                                                                97
           “Bentar…”
           “Apaan nih!?”
           “Ya ampun!?”
           “Ini apa??”
           “Oh ya ampun…”
           “Sofyaan…”
           “Ini kalung domba!?”
           “Ya ampun…”
           “Serius!?”
           “Elo beliin buat gue?”
           “Ya ampun Sofyan…”
           “Gila…”
           “Ini…”
           “Aduh…”
           “Sumpah…Gue ga tau harus bilang apa lagi sama lo…”
           “Ini bagus banget!?”
           “Gue seneng banget dapet kalung ini!?”
           “Makasih banget Yan!?”
           “Gue ga nyangka…”
           “Ya ampun…”
           “Lo baik banget sih!?”
           “Makasih ya Yan!?”
           “Makasih…”
Sofyan   : “Iya…iya…”
           “Ya udah…”
           “Di pake dong kalungnya…”
           “Atau coba sini gue pakein!?”
Lira     : “Hah?”
           “Oh iya-iya…”
           “Pakein?’
           “Oh iya… boleh…boleh!!??”
           “Duh…Gue jadi bingung nih!!??”
           “Hehehehehe…”
Sofyan   : “Lo pasti cantik banget pake kalung ini!?”
Lira     : “…………………………………”
Sofyan   : “…………………………………”
Lira     : “Udah??”
Sofyan   : “Udah!?”
           “SIP!?”
           “Bagus!?”
           “Cantik!?”
Lira     : “Bagus?”
           “Cantik?”
           “Apaan cantik?”
           “Gue?”
           “Oh kalungnya?”
           “Oh…Coba ya gue liat di kaca…”
           “Sebentar…”
           “Kaca…kaca…”
           “Ah nih…”


                                                                98
                “Coba…..”
                “Waaaahhhhhhhhh…. Keren banget!?”
                “Cocok banget sama gue…”
                “Ni kalung tuh gue banget tau ga!!??”
                “Ddduuuhhh….”
                “Makasih ya Yan…”
                “Makasih banget!?”
                “Duhhh… Sumpah nih gue jadi salting gini…”
                “Gawat banget!?”
                “Duh… Mati deh gue…”
                “Makasih banget ya Yan!?”
Sofyan        : “Iya Li…”
                “Sama-sama…”
                “Hehehe…”
                “Lo kok kayanya jadi bingung gitu?”
                “Santai aja kali…”
                “Hehehe…”
                “Eh, Li…”
                “Mmmm… gue juga mau bilang makasih karena hari ini lo udah mau
dinner sama gue…”
Lira          : “Hah?”
                “Oh!?”
                “Iya Yan…”
                “Sama-sama…”
                “Lagian gue seneng ko dinner sama lo…”
                “Makanannya enak… GRATIS lagi!?”
                “Hehehehe…”
Sofyan        : “Hehehehe…”
                “Iya…iya…”
                “Hmmm… kalo lo seneng…. Kalo gitu…”
                “Mau ga Li…”
                “Kalo setiap malem minggu kita dinner kaya gini lagi?”
Lira          : “Hah?”
                “Setiap malem minggu dinner kaya gini lagi?”
                “Maksudlo dinner kaya gini lagi tuh gimana??”
Sofyan        : “Iya…”
                “Jadi tiap malem minggu gue jemput lo ke rumah!?”
                “Kita jalan-jalan…”
                “Kita nonton, kita dinner, kita kaya gini lagi aja tiap minggu!?”
                “Persis kaya gini!?”
                “Ga kurang… Ga lebih!?”
                “Gimana?”
                “Mau ya Li?”
Lira          : “Hah?”
                “Maksudlo??”
                “Ng…”
Sofyan        : “Nge-date!?’
                “Iya…”
                “Maksud gue kita Nge-date!?”
                “Kita pacaran!?”


                                                                               99
           “Pacaran kaya Romeo sama Juliet!?”
           “Rama sama Sinta!?”
           “Aladin sama Jasmin!?”
           “Gitu!?”
           “Gimana?”
           “Mau kan Li?”
Lira     : “Nge-date!?”
           “Kita??”
           “Nge-date??”
           “Mmmmm…”
           “………………………………”
           “………………………………”
           “Iiiiii…”
           “Iya… Iya…”
           “Iya ya udah…”
           “Gue mau deh…”
           “Terserah lo aja deh!?”
           “Gue mau kita nge-date deh!?”
           “Iya!?”
           “Sip”
           “Duh, ko gue jadi bego gini sih?’
           “Hehe… maaf ya Yan!?”
           “Biasa…”
           “Kalo ada yang gini-gini gue bawaannya mules…”
           “Heheheh…”
           “Ya udah… iya…”
           “Gue..”
           “Gue mau deh Nge-date sama lo!?”
           “Nge-date kaya gini!?”
           “Kaya Romeo sama Juliet”
           “Rama sama Sinta”
           “Aladin sama Yasmin!?”
           “Iya…”
           “Gue…”
           “Gue mau Nge-date sama lo Yan…”
Sofyan   : “HAH?”
           “MAU Li?”
Lira     : “Iya…”
           “MAU!?”
Sofyan   : “Jadi malem ini kita JADIAN?”
Lira     : “Heheh…”
           “Gitu deh!?”
Sofyan   : “Oh Ya Allah…”
           “SERIUS??”
           “Jawabanlo ko cepet banget, Li!?”
           “Lo gak mikir-mikir dulu?”
Lira     : “NGGAK!?”
Sofyan   : “Kenapa?”
Lira     : “Yeeee…. Nanya-nanya!?”
           “MAU GA gue jadi pacar lo?”


                                                            100
             “Tar gue cabut lagi nih omongan gue!?”
Sofyan     : “Oh… Eh… Jangan… Jangan…”
             “Jangan donk!?”
             “Ya udah deh gue gak nanya-nanya lagi!?”
Lira       : “Hihihihihi….”
             “Jadiiiiiiiiiiiii….??”
Sofyan     : “JADI??”
Lira       : “Yeeee….”
             “MUPENG Lo ya?”
             “Masih PENASARAN?”
Sofyan     : “Hah?”
             “Ya abis?”
Lira       : “Heheheh…”
             “Yadah deeee….”
             “JADI….”
             “Kan sebenernya gue juga udah nunggu dari sebulan yang lalu!?”
             “Lo nya aja LAMA gak nembak-nembak gue!?”
             “Heheheheh…”
             “Udah, ah!?”
             “Malu sama bapaknya!?”
Sofyan     : “Hah?”
             “Oooooooooooooooooooooo….”
             Jadi Gituuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu………..”
             “Hihihih…”
             “Jadi Lo juga??”
Lira       : “Iyaaaa….”
             “Udah ah!? Jangan LEBAY!?”
Sofyan     : “Ya bukannya LEBAY!?”
             “Heheheheheh….”
             “Abis gue GAK NYANGKA!?”
Lira       : “Gak nyangka kalo gue suka ma lo?”
Sofyan     : “Iyaaa…”
Lira       : “LEMOT sih!?”
             “Hahahahah…”
Sofyan     : “Hahahahahh…”
             “Ddduuuhhh…. MAKASIH Ya Liii…”
             “Gue tuh seneng banget deh malem ini!?”
             “Ahirnya gue bisa jadi cowoklo setelah setaun ngarep!?”
Lira       : “HAH?? SETAUN??”
             “Hahahahahah…”
             “PARAH!?”
             “Gue kira gue doang yang sebulan NGAREP!?”
             “Ternyata lo lebih parah!?”
             “Hahahahaha…”
Sofyan     : “Iyaaaaaaa…”
             “Seneng lo?”
             “DASAR Cewek!?”
Lira       : “Hahahahahah….”
Surjanto   : “Hueheheh…”
             “SELAMAT lho Mas, Mba… Sudah JADIAN!?”


                                                                              101
              “Semoga langgeng”
Lira        : “Heheheh…”
              “Makasih ya, Pak!?”
Sofyan      : “AMIN!?”
              “Semoga sampe NIKAH ya, Pak!?”
Lira        : “Hahahah…”
Surjanto    : “Waaahhh…”
              “Iya… Saya doakan!?”
              “Tapi kalau nikah jangan lupa undang-undang saya, Mas!?”
Sofyan      : “PASTI, Pak!?”
Lira        : “Heheheh…”
              “Lucu nih si bapak!?”
Surjanto    : “Mba juga…”
              “Hahahahahah….”
Sofyan      : “Hahahahahah….”
Lira        : ^_^




Pulang ke rumah:
Minggu, 23 Desember 2007
00.30 WIB




                                                                         102
Berangkat dari rumah:
Minggu, 23 Desember 2007
09.00 WIB


                                 Penumpang 1
                        Perawan Malang
         Semangatku ingin patah ketika kulihat pancaran rindu dendam sang perawan
di kala malam. Hatinya sakit, ingin menjerit namun rumit. Kakanda kebingungan,
terlilit badai persoalan di keadaan yang belum mapan. Semoga Tuhan mau
memaafkan. Terkadang emosi melarutkan logika yang dimengerti menjadi tidak dapat
di mengerti.
         Berdua dengannya adalah segalanya. Rahim dan darah mengikat perasaan
berat. Kacau dunia ketika sang raga menghadapi ancaman Sang Pencipta. Air susu
yang mengalir di darah bayi kecil mungil membesarkan anak-anak manusia dengan
berbagai macam kelalaian. Darah masih tetap merah, air mata masih tetap bening,
kawan masih tetap berlarian, menuai kebahagiaan menuju masa depan.
         Jangan menyerah walaupun salah, Jika Tuhan berjanji akan memaafkan, maka
bertaubatlah wahai kawan. Cinta itu akan tetap ada karena cobaan yang mendera
harus tetap dihadang bersamanya. Kakanda tercinta genggamlah ia. Erat jangan di
lepaskan. Lelaki perkasa pasti akan berani melawan murka. Minta maaf pada yang
kuasa, hingga kayu lapuk bisa menjadi cendana. Alam semesta turut membela, jika
anak manusia berencana di dalam do’a.


Bahar         : “Sayang… udah ya!?”
                “Kamu jangan nangis terus!?”
                “Aku janji aku bakal dateng!?”
                “Aku ngadep papa kamunya besok ya!?”
                “Beneran besok!?”
                “Sekarang aku gak bisa!?”
                “Mamaku belum tau!?”
                “Nanti setelah aku ketemu dia, aku akan ngomong kok sama dia!?”
                “Kamu lanjut sendiri gak aku anter sampe rumah gak apa-apa ya?”
                “Maaf ya!?”
                “Udah donk nangisnya…”
                “Aku tuh sayang banget sama kamu!?”
                “Kamu jangan kaya gini dong kalo gak mau bikin aku makin
bingung!?”
Puspita       : “Hks..”
                “Kamu tuh emang JAHAT!? Tau ga?”
Bahar         : “Yang… Kamu jangan ngomong gitu!?”
                “Aku tuh bukannya JAHAT!?”
                “Aku serius!?”
                “Hari ini kau bener-bener gak bisa!?”
                “Bukan gak mau!?”
                “Hhhhhhhh…. Gimana dong Yang….”
                “Ya udah ntar malem abis aku ngomong sama mama!?”


                                                                              103
               “Aku langsung caw ke rumah kamu deh!?”
               “Aku JANJI!?”
               “SUMPAH!?”
               “Kamu percaya kan?”
               “Aku tuh gak akan ninggalin kamu sendirian!?”
               “Ini anak aku!?”
               “Anak kita!?”
               “Aku ga akan lari!?”
               “Please… Kasih kesempatan sebentaaaaaarrr…. Aja!?”
               “Aku juga kan harus ngomong dulu sama orang tua aku!?”
               “Ini nggak gampang, Yang!?”
               “Pleaseee… jangan gini!?”
               “Pleaseee!?”
Puspita      : “Hks..”
               “Tapi.. Hks.. Papaku udah…Hks.. nunggu kamu… Hks .. hari ini!?”
               “Hks.. Sore ini!?”
               “Hks.. Aku harus bilang .. Hks.. apa … Hks.. ke Papa?”
               “Hks… kalau kamu .. Hks.. gak dateng?”
               “Hks.. Dia .. Hks.. udah marah .. Hks.. banget .. Hks.. sama kita..
Hks.. Yang!?”
Bahar         : “Yaa… Iya… Aku ngerti!?”
                “Papa kamu udah nunggu!?”
                “Iya aku juga akan ngadep beliau kok!?”
                “Kamu jangan ngomong macem-macem dulu!?”
                “Kamu ngertiin aku juga dong, Yang!?”
                “Huuffhh… Oke…”
                “Sekarang aku berlutut di sini…”
                “Aku SUMPAH sama kamu!?”
                “Mana tangan kamu!?”
                “Sini tangan kamu!?”
Puspita       : “Hks.. Nggak!?”
Bahar         : “Yang…”
                “Mana tangan kamu…”
                “Sini!?”
                “Aku…”
Puspita       : “Hks.. GAK!?”
                “Lepasin tangan aku!?”
                “Hks.. Aku gak mau liat kamu sumpah-sumpah!?”
                “Hks.. Bangun kamu!?”
                “Hks.. Bangun!?”
                “Bangun!?”
Bahar         : “Yang!?”
                “Please… Please… jangan gini!?”
                “Jangan lepasin tangan kamu!?”
                “Sini!?”
                “Aku… Aku mau SUMPAH sama kamu!?”
                “Aku!?”
Puspita       : “NGGAK!!??”
Bahar         : “SAYANG!?”
Puspita       : “NGGAK!?”


                                                                                104
            “AKU GAK MAU JANJI!!??”
            “AKU MAU KAMU DATENG!?”
Bahar     : “Sayaaaangg…”
            “Aku…”
Puspita   : “NGGAK!?”
Bahar     : “PUSPITA!!??”
Puspita   : “Hks… Hks… Hks…”
Bahar     : “Puspita…”
            “Kamu jangan gini dong!?”
            “Gimana kita bisa kuat kalo gini aja kamu ga bisa tahan emosi
kamu!?”
            “Hhhh… Sekarang kamu liat mata aku!?”
            “Liat!?”
Puspita   : “Hks… Hks…”
Bahar     : “Yang…”
            “Kamu percaya kan aku sayang banget sama kamu?”
            “Hah?”
            “Kita ngejalanin ini emang baru satu taun!?”
            “Kurang bahkan!?”
            “Umur aku emang masih sembilanbelas!?”
            “Kamu delapanbelas!?”
            “Tapi, Yang!?”
            “Aku berani sumpah!?”
            “Aku gak bisa hidup tanpa kamu!?”
            “Aku bisa mati kalau gak ada kamu di samping aku!?”
            “Aku cuma butuh waktu!?”
            “Sebentar!?”
            “Sedikit!?”
            “Aku harus bilang sama orang tua aku tentang ini!?”
            “Aku pasti dateng ke rumah kamu!?”
            “Malem ini!?”
            “Aku janji!?”
            “Aku dateng malem ini!?”
            “Gak akan nunggu sampe besok!?”
            “Sumpah Yang!?”
            “Kamu harus percaya!?”
            “Kamu percaya kan sama aku?”
            “Hah?”
            “Percaya kan?”
            “Yang…”
            “Liat mata aku Yang!?”
Puspita   : “Hks.. Gak tau!?”
            “Hks.. Aku gak tau!?”
            “Hks.. Aku … Hks.. Aku.. bi …Hks.. ngung!?’
            “Hks.. Hks..”
            “Aku bingung… Hks…”
Bahar     : “Sayaaaang…”
            “Jangan nangis kaya gini donk!?”
            “Please!?”
            “Oh GOD!?”


                                                                            105
             “Harus gimana lagi gue!?”
             “Shit!!?”
Surjanto   : “… hhhh v_v hhhhh …”
Bahar      : “Oke… Oke…”
             “Sekarang gini aja!?”
             “Kamu ikut aja ke rumah aku!?”
             “Kita ngadep orang tua aku bareng!?”
             “Berdua!?”
             “Aku akan bilang ke mereka kalo kamu ngandung anak aku!?”
             “Gimanapun aku nanti!?”
             “Mau di tabok!?”
             “Di tendang atau di usir dari rumah!?”
             “Aku siap!?”
             “Aku janji…”
             “Nanti malem kita bareng-bareng ke rumah kamu!?”
             “Aku siap!?”
             “Aku pasti siap malem ini juga!?’
             “Demi kamu!?”
             “Gimana?”
             “Yang?”
             “Mau kan?”
             “Heuh?”
             “Mau kan kamu ikut aku ngadep orang tua aku sekarang?”
             “Heuh?”
Puspita    : “Hks.. Hks..”
             “Aku .. Hks… Aku gak .. Hks.. Aku gak tau Yang!?”
             “Hks.. Aku bingung!?”
             “Hks.. A .. Hks.. Aku… Hks… takut!?’
             “Hks.. Aku takut… Hks… Banget … Hks… Yang.. Hks..”
Bahar      : “Sssstt… Sayaaaang!?”
             “Udah dong!?”
             “Jangan takut…”
             “Aku ada di sini!?”
             “Aku ada di sini sama kamu!?”
             “Buat kamu!?”
             “Kamu tenang ya?”
             “Aku akan jagain kamu sampe kapanpun!?”
             “Sampe seumur hidup aku!?”
             “Aku berani sumpah!?”
             “Kamu tenang!?”
             “Yah?”
             “Heuh?”
             “Ya, yang!?”
             “Ceup!?”
             “Udah… Udah… Jangan nangis lagi!?”
             “Kita akan rawat bayi kita sampe dia gede!?”
             “Sampe dia dewasa!?”
             “Kita akan jadi orang tua yang baik!?”
             “Aku akan jadi ayah yang baik buat dia!?”
             “Kamu juga akan jadi ibu yang baik!?”


                                                                         106
            “Kita akan rawat anak kita sama-sama!?”
            “Yah?”
            “Heuh?”
            “Jangan Nangis lagi yah!?’
            “Udah!?”
            “Aku bisa gila kalo terus-terusan liat kamu kaya gini!?”
            “Please!?”
            “Udah ya…”
            “Kita adepin semua bareng-bareng!?”
            “Kamu ga usah takut!?”
            “Jangan pernah ngerasa takut!?”
            “Aku ada di sini!?”
            “Oke?”
            “Udah ya…”
            “Sekarang kamu apus air mata kamu!?”
            “Liat aku sekarang!?”
            “Smile!?”
            “Senyum!?”
            “Ayo!? Jangan nunduk gitu!?”
            “Kamu harus kuat!?”
            “Kamu harus bisa berjalan tegak!?”
            “Jangan takut!?”
            “Bangun Yang!?”
            “Jangan nangis!?”
            “Ayo!?”
Puspita   : “Aku … Hks… Aku takut naggung DOSA nya… Hks… yang!?”
Bahar     : “Kita hadepin bareng-bareng!?”
            “Kita gak akan buat dosa lagi setelah ini!?”
            “Kita akan rawat bayi kita!?”
            “Apapun yang terjadi!?”
            “PERCAYA!?”
            “Percaya sama aku, yang!?”
            “Sekarang kamu liat aku!?”
            “hapus air mata kamu!?”
Puspita   : “Hks.. iYa...”
            “Aku gak… Hks… Gak akan… Hks… Nangis… Lagi!?”
Bahar     : “Good!?”
            “Kamu harus terus begitu sampai kapanpun!?”
            “Itu …”
            “Itu sekarang kamu apus air mata kamu!?”
            “Terus sekarang kamu senyum!?”
            “Kamu keliatan jauh lebih cantik kalo kamu senyum!?”
            “Aku tau kamu bisa!?”
            “Sekarang kamu tarik nafas kamu!?”
            “Tarik nafas!?”
Puspita   : “Hhhhhhhhhhhh”
            “Hhhhhhhhhhhh”
Bahar     : “Kamu lebih baik kan?”
            “Iya?”
Puspita   : “Iya… Hks…”


                                                                       107
              “Iya…”
Bahar       : “Aku tau kamu kuat!?”
              “Kamu jangan pernah takut lagi!?”
              “Di sini ada aku!?”
              “Kamu pasti bisa!?”
Puspita     : “Hks.. iya..”
              “Hks.. A.. Aku.. Hks..”
              “Gak… Hks.. Takut!?”
              “Aku.. Hks.. Gak… Takut!?”
              “Aku .. Hks.. Aku .. sayang banget .. Hks.. sama kamu!?”
Bahar       : “Hhhhh… Aku juga sayang banget sama kamu…”
Puspita     : “Aku gak .. hg.. Gak.. Nangis lagi!?”
              “Hg.. Yang!?”
Bahar       : “Iya!?”
              “Bagus!?”
              “Hapus air mata kamu ya!?”
              “Terus senyum kaya gitu!?”
              “Aku tau kamu berani!?”
              “Kita hadapin ini semua bareng-bareng ya…”
              “Aku bener-bener sayang banget sama kamu!?”
              “Sayaaang banget sama kamu!?”
Surjanto    : “ … *_* … *_* … ”

Pulang ke rumah:
Minggu, 23 Desember 2007
22.00 WIB




                                                                         108
Berangkat dari rumah:
Senin, 24 Desember 2007
07.00 WIB

                                        Penumpang 1
                          Arisan Kelas Kakap
        Menurut wanita tercantik seantero jagat raya arisan adalah ajang kumpul-
kumpul bagi orang berduit, terutama istri-istri orang berduit. Kalau tidak punya duit
mending irit-irit untuk makan seiprit. Dalam sebuah arisan, biasanya bukan
kebersamaannya yang dinilai, tapi pakaian, jamuan makan, perhiasan bahkan ada lho
beberapa orang yang jualan.
        Ada berbagai macam jenis arisan di Indonesia. Ada yang yang dinamakan
arisan keluarga, arisan RT, arisan Darma Wanita, arisan kantor, arisan orang tua
murid, arisan istri-istri pejabat, arisan artis, arisan rekan bisnis, dan masih banyak
arisan-arisan lain yang menurutku terlalu buang-buang waktu untuk disebutkan.
        Berjualan di dalam arisan memang biasa dilakukan perempuan. Ada yang
jualan daster kodian, membawa catalog penawaran, bahkan merentetkan perhiasan
dari emas-emasan hingga berlian. HEBAT!!.
        Aku tidak terlalu mengerti tentang bagaimana persaingan ibu-ibu di dalam
sebuah arisan. Tapi wanita tercantik seantero jagat raya pernah bilang bahwa jika
ingin menjadi penjual yang eksis dalam sebuah perkumpulan, maka jadilah seorang
pekerja keras. Seberat apapun permintaan pelanggan maka sebagai penjual, kita harus
bisa mengusahakan. Bolak-balik menukar barang karena kurang sreg di badan, minta
maaf karena pesanan yang dibawa tidak sesuai ukuran dan mengeluarkan modal
besar-besaran agar bisa menarik perhatian.
        Seperti yang pernah kubaca di sebuah artikel majalah, Edison mengatakan,
“Genius is 1 percent inspiration and 99 percent perspiration”. Maka seorang
businesswoman haruslah bisa menyesuaikan diri dengan selera pasar dan perubahan
jaman. Jika tidak, bisa-bisa digeser orang dan kalah saingan.

Yunda         : “Mba…”
                “Jadi penjualan yang terakhir hanya bisa dapet keuntungan tigabelas
juta?”
                “Emang ada saingan baru ya, Mba?”
Sita          : “Yah…”
                “Gimana ya Yun…”
                “Masalahnya tas-tas begini udah mulai kalah pamor sama yang ada di
mol!?”
Yunda          : “Ya tapi kan saya ambil langsung dari Paris, Mba!?”
                 “Dari sananya saja saya beli tigaratus euro!?”
                 “Kalau menurut saya sih sedeng Mba kalau kita jual lima jutaan ke
ibu-ibu arisan!?”
                 “Masalahnya saya bolak baliknya aja udah mahal loh!?”
                 “Belum lagi disananya…”
                 “Milih-milih tasnya memang dikira ga ribet?”
                 “Ribet lho Mba…”
                 “Saya juga harus gaji beberapa orang asisten!?”


                                                                                  109
                “Jadi kayaknya emang udah pas segitu Mba…”
                “Udah murah itu!?”
Sita          : “ Saya juga tau”
                “Emang murah kok kalo kita jual di kisaran lima sampai delapan juta
setengah!?”
                 “Tapi ya gimana Yun!?”
                 “Kamu tau kan?”
                 “Tas-tas ber merk seperti Louis Vuitton, atau apa itu Yun, yang
designernya Karl Lagerfeld?”
Yunda          : “Oh… Chanel maksud Mba!?”
Sita           : “Iya… Chanel!? Atau Juicy Couture dan Anya Hindmarch yang KW
1 aja udah mirip banget lho sama aslinya!?”
                 “Dompet-dompet juga!?”
Yunda          : “Loh… Tapi Juicy Couture atau Anya Hindmarch itu kan buat ABG,
Mba!? Masa ibu-ibu pake yang seperti itu?
Sita           : “Lho… Maksud saya itu hanya contoh merk-merk yang sudah edar
KW 1 nya di pasaran!?”
                 “Harganya jauh lebih murah tapi kwalitasnya ga ketauan asal-
asalan!?”
Yunda          : “Gitu ya, Mba?”
                 “Jadi sekarang udah banyak ibu-ibu yang ngelirik barang-barang KW
1 daripada barang asli?”
Sita           : “Ya iya dong Yun!?”
                 “Ibu-ibu kan lebih suka milih harga murah!?”
                 “Ga sampai tiga juga tapi gensinya udah ada!?”
                 “Jadi kita juga agak susah gitu kalo mau saingan sama mereka!?”
Yunda          : “Ah, masa sih Mba…”
                 “Tapi saya sih ga bisa lho kalau harus pakai barang palsu!?”
                 “Ko kesannya mendukung pembajakan gitu!?”
Sita           : “Ya itu kan kamu!?”
                 “Tapi kita juga kan harus liat pasaran!?”
                 “Nih ya, percaya gak Yun, dompet BRAUN BUFFEL aku yang ini
nih…”
                 “Ini KW 1 loh!?”
                 “Anakku beliin harganya satu koma dua!?”
                 “Padahal aslinya empat juta apa lima juta gitu deh!?”
                 “Coba…”
                 “Ga sangka kan kamu!?”
Yunda          : “Ah… masa sih Mba??”
                 “Yang bener ah, ini ga asli?”
                 “Ko bagus ya, Mba…”
                 “Kulitnya sama persis lho kaya yang asli!?”
Sita           : “Ya iya…”
                 “Makanya Yun…”
                 “Jangan salah kamu!?”
                 “Namanya barang-barang populer macem begini sih emang banyak
gini gitunya!?”
                 “Malah ya Yun”
                 “Yang asli jadi kalah lho sama yang KW 1 atau KW 2 nya!?”
Yunda          : “Ah tapi kalau KW 2 kayaknya udah keliatan ya Mba…”


                                                                                110
                 “Ga sebagus aslinya!?”
Sita           : “Oh, ya iya…”
                 “Saya juga gak level sih Yun beli yang KW 2!?”
                 “Agak jauh juga sih harganya!?”
                 “Kalau yang KW 1 ini satu koma dua!?”
                 “Yang KW 2 tuh sekitar tujuh setengah gitulah!?”
Yunda          : “Iya sih Mba…”
                 “Eh Mba, kalo usaha tas kita terancam gini… apa kita buka ketering
aja ya Mba?”
                “Mau nggak?”
                “Anak saya kan jadi EO!?”
                “Jadi nanti kalo ada yang hajatan biar keteringnya dari dalem aja!?
Dari kita!?”
                 “Jadi kaya satu paket gitu lho Mba!?”
                 “Gimana?”
Sita           : “Ya boleh aja sih”
                 “Tapi kalau pesta nikah atau ultah kaya gitu kan jarang-jarang Yun!?”
                 “Musiman!?”
                 “Kalau menurut saya sih…”
                 “Usaha tas kita terus aja di jalanin!?”
                 “Tapi sesuai selera pasar”
                 “Kita tambahin aja barang-barang KW 1 merk-merk mahal!”
                 “Terus kita tambahin baju juga!?”
                 “Jadi kita beli tuh kios sebelah!?”
                 “Kabarnya sih emang mau di jual Yun!?”
                 “Nanti kita buat beberapa sekat buat baju-baju remaja”
                 “Baju dewasa dan khusus ibu-ibu!?”
                 “Kita design sendiri aja!?”
                 “Baju muslimnya juga jangan lupa!?”
                 “Kita pakein payet-payet mutiara gitu!?”
                 “Ih… Itu favorit ibu-ibu loh!?”
                 “Kita juga joint lah sama si Hana!?”
                 “Dia kan punya konfeksi!?”
                 “Nah designernya anak saya!?”
                 “Kan dia belajar design dari sekolah ESMOD dan Susan Budiarjo!?”
                 “Gampang!?”
                 “Saya yakin…”
                 “Laku tuh Yun!?”
                 “Prospeknya bagus banget!?”
Yunda          : “Gitu ya, Mba?”
                 “Ya boleh juga sih, Mba…”
                 “Jadi bisnisnya kita kembangin aja gitu ya…”
                 “Ketering juga, tas juga, baju juga!?”
                 “Tapi modalnya kira-kira harus nambah berapa dong, Mba?”
                 “Empat ratus empat ratus cukup kali ya, Mba!?”
                 “Buat beli kios sebelah sama modal-modal lainnya…”
Sita           : “Iya lah…”
                 “Segitu juga cukup!?”
                 “Kita kecil-kecilan aja dulu bikinnya!?”
                 “Nanti deh biar saya hubungin si Hana!?”


                                                                                  111
Yunda          : “Ya udah…”
                 “Nanti kita omongin lagi aja!?”
                 “Saya juga kan harus ngomong dulu sama Mas Herri, sama si Mitha
juga yang soal keteringnya!?”
Sita           : “Iya dong”
                 “Pasti nanti kita ketemuan lagi Yun secepatnya!?”
Yunda          : “Yah paling pas arisan di rumah Bu Widodo, Mba!?”
Sita           : “Lho jangan dong Yun!?”
                 “Nanti kita ketemuan aja sendiri!?”
                 “Sambil ngopi-ngopi gitu!?”
                 “Sekalian saya ajak si Hana, sama anak saya!?”
Yunda          : “Oh gitu?
                 “Oke deh Mba kalau gitu!?”
                 “Mudah-mudahan aja ya bisnis kita yang sekarang bisa sukses!?”
Sita           : “Iya… mudah-mudahan deh Yun!?”
Surjanto       : “Maaf Ibu… Sudah masuk Pondok Indah, belok mana ini?”
Sita           : “Oh… terus aja, Pak!? Rumah saya deket gado-gado Kartika!?”
Surjanto       : “Monggo, Bu!?”
Yunda          : “Keasikan ngobrol kita, Mba!?”
Sita           : “Iya ini… Sampai lupa!?”
                 “Heumheum..”
Surjanto       : -_-




                                                                              112
                                Penumpang 2
                   Adikku dan Pacarku
Alfo        : “De, kamu jangan bilang mama ya kaka jadian sama Tissa!?”
Riva        : “Iya Ka santai aja!?”
              “Tapi Ka, jujur ya…”
              “Aku tuh lebih setuju kaka jadian sama Windi loh sebenernya!?”
              “Dia tuh lebih cantik, lebih asik, pinter, yah cocok lah sama kaka!?”
              “Ga pendek-pendek amat ga tinggi-tinggi amat!?”
              “Ga gendut-gendut amat!?”
              “Ga kurus-kurus amat!?”
Alfo        : “Lah emangnya kalo si Tissa kenapa?”
              “Dia juga cantik!? Baik lagi!?”
              “Dah gitu dia kan pinter banget!?”
              “Masuk IPB nya aja dapet PMDK!?”
Riva        : “Ya iya sih…”
              “Tapi ya ga ngerti juga deh Ka!?”
              “Kalo menurut aku sih dia tuh kaya kurang gaul aja gitu!?”
              “Aku ngeliatnya rada-rada cupu!?”
              “Bajunya biasa banget!?”
              “Ga asik kaya si Windi!?”
              “Kalo si Windi kan aku ajakin shoping nyambung banget!?”
              “Seleranya lumayan oke!?”
              “Lagian kenapa sih ko kaka jadi jadian sama si Tissa?”
              “Kan dulu kaka deketnya sama Windi!?”
Alfo        : “Ya ga tau… namanya juga jodoh… ya gitu deh!?”
              “Lagian ya De, si Windi tuh anaknya rada-rada manja!?”
              “Ya sama lah sama kamu!?”
              “Ga dewasa!?”
              “Anak SMA baget!?”
Riva        : “Ih, kaka ga banget sih!?”
              “Aku tuh udah kuliah!?”
              “Ko anak SMA banget sih!?”
              “Udah enam bulan yang lalu kaleee!?”
Alfo        : “Hahahaha…”
              “Tuh… tuh… kan… gitu aja ngelewe!?”
              “Anak kecil banget sih lo!!??”
              “Hahaha… Beda sama Tissa!?”
              “Kalo Tissa tuh dewasa…”
              “Ga kaya anak SMA!?”
              “Ga manja kaya kamu!?”
              “Eh pokoknya janji ya De, jangan bilang-bilang sama mama!?”
              “Males kaka ntar si Tissa disuruh ke rumah lah, di wawancara ini
itulah!?”
              “Sama tuh nasibnya kaya cowok kamu!?”
              “Siapa? Monyet?”
              “Hahahaha…”
Riva        : “Iiiihhhh… Kaka…”


                                                                                 113
                “Moneee…”
                “Jangan sok-sok plesetan deh!?”
                “Ga lucu!?”
Alfo          : “Hahahahaha….”
                “Lagian nama ko Mone sih!?”
                “Aneh banget!?”
Riva          : “Ih biarin… sirik aja!?”
                “Eh, Ka… si Tisaa juga aneh!?”
                “Rambutnya kucrit gitu!?”
                “Poni’an ga jelas banget!?”
                “Kurus kaya papan penggilesan!?”
                “Aku jauh lebih cantik dari dia!?”
Alfo          : “Yeeee… gitu!?”
                “Keki sendiri!?”
                “Hahaha…”
                “Biarin aja sih!?”
                “Si Monyet juga sama kaka gantengan kaka!?”
Riva          : “Ih Moneeeeeeee….”
                “Kaka tuh jahat banget sih!?”
                “Ngata-ngatain pacar aku monyet!?”
                “Kaka tuh kaya monyet!?”
Alfo          : “Hahahahaha….”
Riva          : “…………………”
Alfo          : “Hihihi…”
                “Eh, De… hhhmmmm… maraaah… ngambeeeek…”
                “Yah… gitu aja ngambek!?”
                “Tadinya kaka mau traktir sate tuh padahal!?”
Riva          : “………………….”
Alfo          : “De… ah, ya udah… sate ples tongseng!?”
                “Nyam… nyam… nyam…”
Riva          : “BODO!?”
Alfo          : “Hahahahaha….”
                “Ya udah deh!?”
                “Diem aja deh kalo gitu!?”
Riva          : “…………………”
Alfo          : “…………………”
Riva          : “Aaaaaahhh….”
                “Kakaaaaaaaa….”
                “Iya…”
                “Aku mau sate sama tongsengnya!?”
Alfo          : “…………………”
Riva          : “Iiiiiiihhhhhhhhh Kakaaaaaa….”
Alfo          : “Apaaaaaaaaaa?”
                “Huuuuuuuu….”
                “Dasaaaarrr!!???”
                “MANJA!?”
Riva          : “Heheheheheh….”
                “Eh ka, kalo menurut aku sih mendingan juga mama tau kalo kaka
udah jadian sama Tissa!?”
                “Emang sih pertamanya bakal di resein!?”


                                                                                 114
             “Tapi lama-lama juga nggak!?”
             “Aku aja sekarang udah ga di resein lagi!?”
             “Paling sebulan dua bulan ko di wawancaranya!?”
             “Tahan aja kali Ka!?”
             “Kalo kaka ga bilang berarti kaka pengecut dong?”
             “Hahahaha…. Malu sama umur!?”
             “Gitu aja ga brani!?”
             “Hhhmmm… Payah!?”
Alfo       : “Yeeee…. Bukan gitu, De!?”
             “Kaka lagi males aja sekarang!?”
             “Ga siap di bawelin sama mama!?”
             “Capek tau…”
             “Lagian ntar kasian Tissanya!?”
             “Kamu juga kan gara-gara mama rese banget gitu, si Monyet eh…
Mone… hehehehe…”
             “Jadi jarang ke rumah!?”
             “Kalo pacaran diem-diem!?”
             “Di jemput depan warung!?”
             “Hahahahaha…”
             “Kaka sih daripada kaya begitu mendingan diem-diem aja!?”
             “Ntar kalo udah jalan setaun…”
             “Pas udah waktunya kawin baru deh ngaku!?”
             “Mau di resein juga kan Tissanya udah mau jadi mantunya mama!?”
             “Hahahahaha…”
Riva       : “Huuuuuuu… PD banget!?”
             “Kaya mama bakal setuju aja kaka sama Tissa!?”
Alfo       : “Wheeessssss….”
             “Tenang aja…”
             “Liat ntar!?”
             “Apa yang bakal Kaka lakuin!?”
             “Santhaaaaaiiiiii…..”
Riva       : “Emang Kaka mau ngelakuin apaan?”
Alfo       : “Adaaa deeeeee….”
Riva       : “Iiiihhhh…”
             “Pelit banget sih!?”
             “Apaan ga Ka??”
Alfo       : “Dih… gitu!?”
             “Maksa!?”
             “Haha… kenapa?”
             “Kamu mau nyontek ya sama si Monyet??”
Riva       : “Ih… Cape de…”
             “Kaya ga ada kerjaan aja nyontek Kaka!?”
             “Kaka aja cupu!?”
             “Ga berani kenalin Tissa ke mama!?”
             “Weeeeeekkkk!?”
Alfo       : “Hihihihihihihi……”
             “Lucuuuuuuuuuuuuu deh kamu!?”
Riva       : “Aaaaaaaaaahh kaka awas!?”
             “Ntar rambut aku kusut!?”
             “Sana jauh-jauh!?”


                                                                          115
         “Bau tau!?”
Alfo   : “Yeeeee…. Enak aja!?”
Riva   : “Emang!?”
Alfo   : “Hehehehehe…”
         “Eh…eh… De…”
Riva   : “Apa!?”
Alfo   : “Adeee…”
Riva   : “Apa seeehhh….”
Alfo   : “Heheheh…”
         “Eh, De… lusa temenin ke Senen yuk!?”
Riva   : “Ih… Males!?”
         “Ngapain juga coba ke tempat gituan?”
Alfo   : “Ya cari baju lah!?”
Riva   : “Beli baju mah ke PIM aja!?”
         “Kalo nggak di Mangga Dua tuh numpuk!?”
         “Banyak banget!?”
Alfo   : “Yeeee… Ga ngerti ni anak!?”
         “Kaka lagi ga punya duit!?”
         “Tapi pengen punya jaket yang nyentrik!?”
Riva   : “Dih!?”
         “Ga punya duit ya udah!?”
         “Diem!?”
         “Ga usah kecentilan mau beli jaket segala!?”
Alfo   : “Yeeee…”
         “Namanya punya pacar baru!?”
         “Boleh dong gaya dikit!?”
Riva   : “Dih … parah!?”
         “Mau pacaran… gaya-gaya depan pacar ga modal!?”
         “Bajunya beli bekas!?”
         “Ih… najong deh!?”
Alfo   : “Yeeeee…. Biarin aja!?”
         “Yang penting keren!?”
         “Yuk!?”
         “Ayo lah…”
         “Tar kamu Kaka beliin es doger deh!?”
         “Es doger deket situ enak loh!?”
Riva   : “Ihhhh…”
         “Ogah!?”
         “Ga level!?”
         “Tar aku sakit tipes!?”
         “KOTOR!?”
Alfo   : “Haaahhh… payah niiih!?”
         “BELAGU!?”
         “Punya ade tapi ga asik!?”
Riva   : “Yeee… biarin aja!?”
         “Weeeeekkk!?”
Alfo   : “Huuuhhh…. Dasaaar!?”
Riva   : “Aaaah… kaka udah di bilang jangan pegang-pegang pala!?”
         “Tar rambut aku rusak tau!?”
         “Kusut!?”


                                                                    116
Alfo          : “Hahahahaha…”
                “Eh… bentar-bentar, De!?”
                “Ada telfon!?”
Riva          : “Siapa?”
                “Pacar ya?”
Alfo          : “Eh… iya…hallo…”
                “Hallo, Sa!?”
Riva          : “Heemmm… yang PUNYA PACAR BARU!?”
                “Cieeeeeeeeee….”
Alfo          : “Riva!!!”
                “Ssstt… Diem!?”
Riva          : “BODO!?”
Alfo          : “Hah?”
                “Oh … hehehe… Nggak… ini nih si Riva!?”
                “Biasa… anak kecil!?”
                “Emang suka norak gitu…hehehehe…!?”
Riva          : “Dih… kaka tuh NORAK!?”
                “Nih!! Tuh!!”
                “Rasain!?”
Alfo          : “Adddooowww…”
                “Sakit donk, De!?”
Riva          : “Hahahahah….”
Alfo          : “Hah?”
                “Oh… hehehehe… nggak… nggak…”
                “Ini rambut aku di jambak sama si jelek!?”
                “Ada apa Sa?”
                “Kangen ya sama aku?”
                “Hehehehehe…”
                “Baru sehari aja udah kangen?”
                “Eh tapi aku juga kangen sih sama kamu!?”
                “Ehmm…ehm…”
Riva          : “Weeeekkk…”
                “Gombal!?”
Alfo          : “Iya nih…”
                “Aku lagi di taksi!?”
                “Abis nemenin si Riva ke ultah temennya!?”
                “Biasa lah… anak ABG!?”
                “Ultah ke-17 gitu deh temennya!?”
Riva          : “Bukan temen aku kaleeee…”
                “Dia junior aku waktu SMA!?”
Alfo          : “Oh… iya… Makasih!?”
                “Hehehehe… kamu juga cantik banget ko kemaren pake baju yang
pink itu!?”
                “Cocok kok Sa sama kamu!?”
                “Hehehehe…”
Riva          : “Ihhh… ngomongin apa sih!?”
                “Aneh banget!?”
Alfo          : “De… ssstttt!!??”
                “Bisa diem ga?”
                “BRISIK!!”


                                                                           117
         “Ya Sa…”
         “Gimana…gimana?”
         “Ooohhh… Iya lah!?”
         “Pasti!?”
         “Kamu tenang aja ya…”
         “Nanti pasti aku beliin kok!?”
         “Kamu suka yang gambar kelinci apa yang bintang kecil-kecil itu?”
         “Kan ada tiga macem kan?”
         “Kalo yang love love gitu kan katanya kamu ga suka!?”
         “Jadi tinggal yang kelinci sama yang bintang-bintang itu kan?”
         “ Nah iya!?”
         “Di antara dua itu kamu suka yang mana?”
Riva   : “Kaka mau beliin si Tissa apaan sih?”
         “Kaka!!??”
         “Heh!!??”
         “Kaka!!??”
         “Ih… BUDEK!?”
Alfo   : “Oh…”
         “Yang bintang-bintang aja?”
Riva   : “KAKA!?”
Alfo   : “Oh gitu?”
         “Masa sih!?”
         “Oooohh… oke…oke…”
         “Ya udah kalo gitu ntar aku liat lagi ya ada cacatnya apa nggak ya!?”
Riva   : “Kaaaaaaaa…”
Alfo   : “Apa sih, De!?”
         “Bentar donk, ah!?”
         “Oh Nggak!?”
         “Ini biasa si Riva mau tau aja urusan anak gede!?”
         “Rese emang!?”
         “Trus…trus…”
Riva   : “Kaka JELEK!?”
Alfo   : “Oh…gitu!?”
         “Oke…oke…”
         “Kamu tenang aja!?”
         “Aku pasti pilihin yang paling bagus deh buat kamu!?”
         “Hehehehehe…
         “Eh Sa, btw, kamu besok jadi ke Blok M?”
Riva   : “Kaka jelek!?”
Alfo   : “Loh ya iya lah aku anterin!?”
         “Masa kamu jalan sendirian…”
         “Nanti kalo kamu kenapa-napa…”
         “Aku yang bunuh diri!?”
         “Hahahaha”
Riva   : “Kakaaaaaaaaaaa….”
Alfo   : “Yeee… kamu kok gitu sih?”
         “Hahahaha… Iya donk…”
         “Aku kan sayang kamu!?”
         “Hehehehehe”
Riva   : “Ih… jiji!?”


                                                                           118
Alfo   : “Oh gitu!?”
         “Oh Ya nggak apa-apa lah Sa…”
         “Kamu tuh ga usah ngerasa gimana-gimana sama aku!?”
         “Aku kan cowok kamu!?”
         “Iya-iya…”
         “Santai aja!?”
         “Kamu mau aku jemput jam berapa besok?”
Riva   : “Nyemienyemienyemie…”
         “Huh!?”
         “GOMBAL!?”
Alfo   : “Jam delapan?”
         “Jam setengah sembilan deh!?”
         “Gimana?”
         “Jam lapan aku masih tidur Sa kayaknya!?”
         “Hehehehe…”
Riva   : “KAKA KEBO siiiiih!?”
Alfo   : “Iya…”
         “Biasa nih…”
         “Sekarang aja jam segini masih di taksi!?”
         “Kan capek nanti!?”
         “Jadi aku harus bobo dulu sampe pagi…”
         “Jam lapan bangun!?”
         “Baru deh setengah sembilan aku caw ke rumah kamu!?”
         “Gimana?”
Riva   : “Kakak JELEEEEEK!?”
Alfo   : “Iya… Naek motor aja yaaa…”
         “Mobil aku dipake buat nganter Riva ke kampus soalnya…”
         “Ga pa pa yah?”
         “Hihi…”
         “Makasih ya…”
         “Kamu pengertian banget deh!?”
         “Hehehehe…”
Riva   : “Ck.. Ko aku jadi kambing hitam sih!?”
         “Bilang aja emang itu bukan mobil kaka!?”
         “Orang itu mobil mama!?”
         “DASAR!?”
Alfo   : “Sssttt… Bawel!?”
Riva   : “Biarin!?”
Alfo   : “Heuh!?”
         “HAH?”
         “Oh… Nggak ko…hehehehe…”
         “Ini si Riva… suka gini kalo udah malem!?”
         “Biasa … anak kecil!?”
         “Harus diumpanin susu kali!?”
         “Hehehehe…”
Riva   : “Yeeeee…”
Alfo   : “Oh gitu!?”
         “Iya deh…”
         “Oke-oke…”
         “Ya udah….”


                                                                   119
               “Kamu juga bobo jangan malem-malem!?”
               “Tar sakit lagi!?”
               “Oke?”
               “Hehehe…”
               “Iya…iya… aku juga ga bobo malem-malem deh!?”
               “Iya sayang… tenang aja!?”
               “SIP!?”
               “Oke…Oke Sa…”
               “Iya…”
               “Ya udah!?”
               Byeee…”
               “Love You!?”
               “Wa’alaikumsalam!?”
Riva         : “Lepye…weeekkk…Jijiiiiiiiiiiiii….”
Alfo         : “DASAR RESEEEEEEEEEEEEEE!?”
Riva         : “Aaaaaaaaaaa….”
               “Sakit kakaaaaaaaaaa…..”
               “Ampun….Ampun!?”
Alfo         : “Makanya… Jangan suka ngeledek!?”
               “Nih kaka jitak lagi nih!?”
               “Rambut di acak-acakin nih!?”
               “Nih!?”
Riva         : “Haaaaaaa…..Ampunnnn…”
               “Iya…Iya… Ampun Ka… Aaaaa…. Ampun!?”
               “Ampun Kaka…..”
               “Sakiiiiiiiit!?”
               “Adddooohhh… baru creambath neeehhhhh!?”
Alfo         : “Hahaha….Nih!?”
               “Sukur!?”
               “Rasain!?”
               “Hahahahaha…..”
               “Jail sih jadi orang!?”
               “Bawel!?”
               “Rasain nih!?”
               “Hahahahahahaha……..”
Riva         : “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa….”
               “Hahahahahah….”
               “Kaka sakiiiit!?”
               “JELEK!?”
Alfo         : “MANJA!?”
Surjanto     : ^_^


Pulang ke rumah:
Senin, 24 Desember 2007
23.45 WIB




                                                               120
Berangkat dari rumah:
Selasa, 25 Desember 2007
06.00 WIB

                                     Penumpang 1
         Pesan Kebaya Bersama Calon Mertua
       Mungkin di Eropa hari ini sedang turun salju dan anak-anak TK sedang
mengadakan parade keliling kota memakai busana carnaval yang berwarna-warni
sambil bernyanyi riang memuja sang kakek penunggang kereta rusa.
       Jalan raya di Jakarta agak lengang di hari natal, bahkan bau sampah di
pangkalan DAMRI tidak terlalu menyengat ketika aku melewati Pasar Minggu untuk
yang kedua kali. Tak jauh dari situ ku pinggirkan taksiku seraya menjemput seorang
ibu muda berkerudung cokelat dan gadis mungil berkulit pucat.
       Mereka terlihat seperti pasangan ibu dan anak yang sangat kompak. Sama-
sama cantik dan selalu tersenyum hangat. Namun ternyata tebakanku kurang tepat.
Status mereka masih menjadi calon ibu dan calon menantu, itu juga jika sang gadis
sudah terikat dengan putera perjaka sang bunda bermata abu-abu.
       Agak sedikit mengherankan mengapa di dunia ini ada hubungan yang tidak
menyenangkan. Hubungan seorang ibu dan anak perempuannya ternyata bisa menjadi
sangat rumit. Baru sedikit berjalan baik, sedetik kemudian berubah menjadi musuh
bubuyutan dengan persoalan pelik. Seperti yang pernah ku saksikan di salah satu
episode serial Lost selama beberapa menit. Aku tak menyangka masih bisa
menemukan jalinan bersahaja diantara dua mahluk cantik di kota besar yang
berukuran sempit. Andai saja semua ibu dan anak perempuannya bisa saling
menyayangi, dunia akan terasa indah karena dihiasi banyak bidadari yang saling
melindungi.

Calon mertua : “Pasar Raya, Pak!?”
Calon menantu: “Loh, bu… Kita langsung aja ke Mahakamnya!?”
               “Kan butiknya di sana!?”
Calon mertua : “Ya nggak langsung dong Lin!?”
               “Kan ibu mau liat-liat modelnya dulu di Pasar Raya!?”
               “Siapa tau harga mol lebih murah!?”
Calon menantu: “Tapi kan kalau di mol modelnya pasaran!?”
               “Ntar yang punya hajat samaan lagi sama yang di undang!?”
Calon mertua : “Iya sih…”
               “Cuma yaaa…”
               “Paling nggak liat-liat aja dulu modelnya!?”
               “Masang payetnya gimana?”
               “Biar nanti kita nggak buntu aja pas ditanya maunya kaya apa!?”
               “Kan penjait suka nyerahin modelnya ke kita dulu!?”
               “Takutnya yang dari dia kita nggak cocok gitu Lin!?”
Calom menantu: “Oh gitu… iya sih!?”
                “Bener juga…”
                “Eh tapi kalo aku pengen yang tangannya lonceng gitu… tau ga,
bu?”


                                                                                 121
                 “Jadi tuh kebayanya nge-pas badan!?”
                 “Warna krem… ada bordiran di tangan sini…nih…”
                 “Nah terus di bagian leher sampai bawah sini dikasih manik-
manik gitu!?”
                 “Warna emas gitu, bu!?”
                 “Trus yang bagian depannya tuh agak nyerong ke bawah kaya kebaya
klasik gitu!?”
               “Lucu ga bu kalo kaya gitu!?”
Calon mertua : “Bisa sih!?”
               “Cuma kalo menurut ibu sih warna krem terlalu biasa deh Lin!?”
               “Yang agak-agak nge-jreng aja gitu!?”
               “Misalnya merah ati atau perak atau sekalian emas aja!?”
               “Kan kamu yang mau tunangan!?”
               “Kalo warna krem tuh kesannya pucet!?”
               “Biar aja nanti ade kamu yang pake warna krem!?”
               “Keluarga yang muda-muda lah gitu!?”
               “Kalo ibu sama mama kamu sih pake yang agak kalem tapi ceria gitu
aja, Lin!?”
               “Kaya biru muda atau warna salem ke jingga-jinggaan!?
               “Ya nggak?”
               “Kamu jangan krem!?”
               “Apalagi nanti si Rafi kan orangnya item begitu!?”
               “Pake merah ati lebih bagus loh!?”
               “Lebih nunjukin warnanya dia!?”
               “Kalo krem kebanting nanti dia sama kamu!?”
               “Kamu kan putih!?”
               “Nanti dia makin bluwek aja!?”
Calon menantu: “Merah ati?”
               “Boleh sih!?”
               “Tapi apa nggak ketuaan tuh bu buat aku!?”
               “Mendingan emas deh!?”
               “Bikin kaya kebaya sunda gitu!?”
Calon mertua : “Emas boleh!?”
               “Bagus juga!?”
               “Asal jangan krem aja sih Lin!?”
               “Kurang wah gitu kayaknya!?”
               “Eh tapi dana buat kostum kita cuma ibu siapin sepuluh loh!?”
               “Kira-kira cukup nggak?”
Calon menantu: “Ya dicukupin lah, bu!?”
               “Ini kan baru tunangan!?”
               “Kostum kita ya yang biasa-biasa aja juga!?”
               “Ga usah yang terlalu heboh gimana gitu!?”
               “Nanti, kalo mau merit baru tuh cling sana cling sini!?”
               “Emang dana total dari ayah berapa sih?”
Calon mertua : “Cuma tigapuluh sih, Lin!?”
               “Kan dari mama kamu ibu dapet duapuluh!?”
               “Yah dicukupin lah ya limapuluh buat makanan, cincin, baju sama
tenda!?”
Calon menantu: “Iya lah, bu…”
               “Ga usah yang terlalu mewah!?”


                                                                               122
                “Lagian makanannya juga ga usah dobel-dobel lah!?”
                “Kalo prasmanan ya prasmana aja…”
                “Kalo saung-saung ya saung-saung aja!?”
Calon mertua : “Lho ya nggak gitu dong…”
                “Relasi ayah kan banyak!?”
                “Temen-temen ibu?”
                “Temen-temen mama kamu!?”
                “Temen-temen kamu?”
                “Temen-temen Rafi?”
                “Belum lagi ade-ade si Rafi sama ade kamu?”
                “Kakak kamu?”
                “Mereka juga mau ajak temen-temennya kan?”
                “Malu loh kalo makanannya ga banyak!?”
                “Kalo menurut ibu sih gak apa-apa lah dobel-dobel gitu!?”
                “Toh prasmanannya kan ketering dari temen ibu!?”
                “Murah kok!?”
                “Ibu pesen yang satu piring limabelas ribu!”
Calon menantu: “Sepiring lima belas ribu tuh buat berapa orang, bu?”
Calon martua : “Ah ya gak banyak sih!?”
                “Paling buat limaratus orang!?”
                “Kita nggak undang banyak kok!?”
                “Itu juga nanti dilebihin jumlahnya…”
                “Kan limaratus tuh cuma undangan buat kepala keluarganya aja!?”
                “Belom lagi dia bawa anak istrinya!?”
                “Jadi yaa… lebih-lebihin aja lah biar aman gitu, Lin!?”
                “Daripada kurang kan malu-maluin”
Calon menantu: “Emang limabelas ribu tuh makanannya apa aja, bu?”
Calon mertua : “Yah standar aja sih!?”
                “Ibu pesen sop kimlo, rendang, sapi cah cabe ijo, ayam panggang,
capcai, kerupuk udang, sambel ijo sama sambel merah!?”
                “Oh satu lagi sama sosis di tumis pake jagung muda apa gimana
gitu!? Katanya bonus!?”
Calon menantu: “Oooowww…”
                “Trus kalo saungnya? Mesen saung apa aja?”
Calon mertua : “Belom di pesen sih, Lin!?”
                “Si Rafi kan katanya yang mau koling temennya?”
                “Bener gak tu anak?”
                “Tau deh!?”
                “Ntar coba kamu tanya lagi!?”
                “Biasanya anak cowok tuh suka nggak paham deh soal gini-ginian!?”
                “Mending kamu aja yang urus!?”
                “Ibu kurang tau pastinya!?”
                “Tapi katanya sih dia mau pesen yang jajanan-jajanan biasa gitu
lah!?”
                “Kaya bakso, lontong sayur, sate, somai, gado-gado, mpek-mpek,
rujak, es doger, oh dia juga mau mesen kue-kue jajanan pasar yang manis-mais gitu
katanya!?”
Calon menantu: “Oh gitu?”
                “Serius tuh, bu?”
                “Banyak amat?”


                                                                             123
                 “Udah kaya kawinan aja?”
                 “Hahahahaha…”
                 “Apa nggak terlalu heboh tu, bu?”
                 “Ck…ck…ck…”
Calon mertua : “Ah ya terlalu heboh si ya nggak dong Lin!?”
                 “Gimana sih kamu!?”
                 “Kalau nanti kamu nikah mah pastinya harus lebih heboh dari ini!?”
                 “Ntar kamu nikah di gedung aja!?”
                 “Kita sewa Bidakara atau Antam kali ya?”
                 “Murah mana tuh?”
                 “Kamu cari informasinya gih”
Calon menantu: “Ih, bu… Sewa gedung mah kemahalan, ah!?”
                 “Mending di rumah aja!?”
                 “Biar aku sama Rafi yang dekor!?”
                 “Aku kan jago dekor!?”
                 “Rafi juga!?”
                 “Dia tuh suka banget dekor-dekor ruangan gitu!?”
                 “Ngapain mahal-mahal sewa gedung?”
                 “Rumah aku juga bisa kok disulap jadi kaya gedung!?”
Calon mertua : “Kamu tuh gimana sih?”
                 “Kan kalau di rumah gak ada gengsinya, Lin!?”
                 “Malu lah sama temen-temen ayah!?”
                 “Masa tunangan sama nikahan ga ada bedanya!?”
                 “Gak ah!?”
                 “Nikah mah di gedung aja!?”
                 “Ya kan kamu sama Rafi juga bisa dekor gedungnya sendiri!?”
                 “Ga usah pake-pake EO!?”
Calon menantu: “Ya sih!?”
                 “Cuma kan mahal banget, bu!?”
                 “Yaaaa… Tapi gak apa-apa sih!?”
                 “Kalo ayah sama ibu maunya gitu ya udah!?”
                 “Tapi asal bener aja ya, bu ntar biar aku yang dekor!?”
                 “Biar gak mahal-mahal bayar EO lah!?”
                 “Uangnya mending juga buat kita nyicil rumah!?”
Calon mertua : “Ya iya dong Lin…”
                 “Ibu juga ga mau mahal-mahal bayar EO!?”
                 “Ngapain pake EO kalo anak ibu dan calon mantu ibu tuh mantan
ketua panitia acara pagelaran drama dan tari se jawa Bali!?”
                 “Itu si Clara!? Ade kamu?”
                 “Dia juga kan anak mading katanya?”
                 “Biasanya kalo di sekolahnya suka gitu-gituan kan pinter dekor-dekor
juga kan?”
                 “Bisa lah Bantu-bantu!?”
Calon menantu: “Iya, Bu!?”
Calon mertua : “Terus itu soal cicil rumah?”
                 “Tenang aja… soal itu mah udah dipikirin!?”
                 “Sementara abis nikah kamu tinggal aja dulu di rumah ibu!?”
                 “Kan si Rafi punya uang duapuluh apa dualima gitu!?”
                 “Kamu juga katanya udah nabung sampe limabelas?”
                 “Ntar kurang-kurangnya paling ditambahin sama ayah buat DP!?”


                                                                                 124
               “Mama kamu juga udah siapin kok!?”
               “Itu mobil yang di rumah kan buat kamu katanya!?”
               “Lumayan lah kalian udah ada bekel buat ke depannya!?”
Calon menantu: “Iya sih, bu…”
               “Trus motornya si Rafi gimana?”
Calon mertua : “Ya itu nanti dia bawa lah!?”
               “Tapi kalo mobil?”
               “Kayanya nggak deh Lin!?”
               “Kan ayah beli itu dulu waktu anak-anak masih pada sekolah buat
rame-rame nganter gitu lah!?”
               “Kebetulan yang paling gede si Rafi ya jadi kayaknya milik pribadi
dia deh!?”
               “Ade-adenya sih cuma ikut aja!?”
               “Tinggal terima anter jemput!?”
Calon menantu: “Iya, bu… Gak apa-apa!?”
               “Aku sih yang penting nanti abis nikah kita berdua bisa mandiri!?”
               “Ga numpang-numpang sama mama atau ibu lagi!?”
Calon mertua : “Loh?”
               “Kok gitu?”
               “Emang kenapa?”
               “Takut keganggu ya?”
               “Udah mau buru-buru pisah dari orang tua nih?”
Calon menantu: “Ihhh… gak gitu ibuuu…”
               “Ya kan namanya udah punya keluarga sendiri kan harus siap hidup
lepas!?”
               “Kita ga ada maksud ninggalin orang tua kok!?”
               “Beneran!?”
               “Ibu jangan ngomong gitu donk!?”
Calon mertua : “Ya abis kamu!?”
               “Ngomongnya begitu!?”
               “Lagian kamu tuh ya!?”
               “Tenang aja lah Lin!?”
               “Kamu juga nikah masih taun depan kok!?”
               “Masih bisa siap-siap buat nambah-nambah modal!?”
               “Kamunya juga lulus kuliah dulu!?”
               “Kerja dulu!?”
Calon menantu: “Ya aku kan udah kerja, bu…”
Calon mertua : “Iya, tapi kan baru magang-magang aja!?”
               “Tunggu yang tetep dulu lah!?”
               “Kamu tinggal satu semester lagi kan?”
Calon menantu: “Ya Insya Allah, bu… heheheh…”
Calon mertua : “Ya makanya… cepet-cepet lulus!?”
               “Biar ibu cepet-cepet nimang cucu!?”
               “Oiya… mulai awal taun depan kamu udah mulai lulur pengantin lo
ya…”
Calon menantu: “Wadduuhhh…”
               “Kok mulai awal taun depan sih, bu?”
               “Cepet banget!?”
Calon mertua : “Loh ya iya… kamu tuh nikah bulan September loh!?”
               “September awal!?”


                                                                               125
               “Jadi paling nggak bulan Maret tuh kamu udah mulai luluran!?”
               “Dua minggu sekali nanti ibu panggilin ke rumah kamu!?”
               “Itu juga pasti kamu ada malesnya!?”
               “Paling nggak kamu sepuluh kali luluran loh Lin sebelum nikah!?”
               “Biar bersih!?”
               “Mama kamu juga setuju kok!?”
               “Ibu udah ngomong!?”
Calon menantu: “Hah?”
               “Ya ampun… Harus segitunya ya, bu!?”
               “Hihihihi…”
Calon mertua : “Lho ya iya dong!?”
               “Gimana sih kamu nih!?”
               “Supaya malam pertamanya gak malu-maluin!?”
               “Nih bekas-bekas luka kaya gini nih… Ilangin!?”
               “Biar mulus dari ujung rambut sampe ujung kaki!?”
               “Kamu juga harus rajin-rajin minum jamu dari sekarang!?”
               “Puasa senen kemis!?”
               “Biar nanti pas nikah auranya keluar!?”
               “Pangling gitu kalau tamu-tamu liat kamu!?”
Calon menantu: “Ya ampuuun… Makin susah aja tuh kayaknya!?”
               “Hahaha… Jamu juga ya?”
               “Hmmm… Iya deh!?”
               “Aku sih terserah bos aja!?”
               “Hehehehehe….”
Surjanto     : Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn ………

Surjanto      : “Hoalaah... Masya Allah…”
                 Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnn……. Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnn……
Calon menantu: “Astagfirullah… Bapaaaaaaaaaaak!?”
Surjanto      : Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnnnnnn ………
Calon mertua : “Ya Allah Lin… Bapaaaak… Eh awas bapaaaaak…”
Surjanto      : Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnnnnnnn ………
Surjanto      : “Haddduuuuhhhh… Haddduuuuhhhh…”
                “Pie to ndo… ndo…”
Calon menantu: “Pak, hati-hati dong, Pak!?”
Calon mertua : “YA ALLAH…. BAPAK!!???”
                “Ah!!??”
                “Jangan ngebut-ngebut gitu dong Pak!?”
                “Itu untung gak ketabrak tu anak tadi!?”
Surjanto      : “Maaf Bu… Mba…”
Calon mertua: “Hhh… Lagian kok tu anak nyebrang sembarangan aja sih!?”
                “Ibunya kemana coba?”
                “Hhhh…. Bikin jantungan aja ah!?”
                “Ada-ada aja!?”
                “Kalo celaka kan bikin susah orang!?”
                “Gimana sih!?”
Surjanto      : “Iya, bu… Maaf!?”
                “Itu tadi sedan item itu kok maen salip aja!?”
                “Itu anak juga maen nyebrang ndak liat-liat!?”
                “Maaf Bu… Mba…”


                                                                                           126
Calon mertua : “Iya… itu!?”
               “Sedan kurang ajar!?”
               “Hhh… Amit-amit lo Pak…”
               “Ini lagi ngomong-ngomong nikah tiba-tiba begini!?”
               “Jadi ling-lung saya!?”
               “Amit-amit kalau sampe kenapa-kenapa!?”
               “Ih!?”
               “Udah deh Lin, ah… Pamali ngomongin nikah di jalan!?”
               “Jadi ngilu gini hati ibu!?”
               “Masya Allah!?”
               “Hhhhh… Kamu gak apa-apa kan Lin?”
Calon menantu: “Aku nggak apa-apa ko, bu!?”
               “Lain kali hati-hati ah, Pak nyupirnya!?”
               “Untung aja penumpangnya gak ada yang jantungan!?”
               “Coba kalo jantungan?”
               “Bisa gawat tuh, Pak!?”
Surjanto     : “Haduh… “
               “Iya Mba…”
               “Maaf itu tadi… saya…”
Calon menantu: “Iya…iya…”
               “Tadi bukan salah bapak!?”
               “Saya liat ko!?”
               “Itu sedannya yang salah!?”
               “Ya udah… pokoknya hati-hati aja, Pak!?”
               “Peringatan tuh tadi biar bapak juga jangan terlalu ngebut!?”
Surjanto     : “Iya Mba, maaf!?”
Calon menantu: “Ya udah…”
               “Gak apa-apa kok!?”
               “Ibu kaget banget ya?”
               “Masih ngilu, bu?”
               “Ya udah-udah!?”
               “Gak apa-apa kok!?”
               “Tuh Pasar Rayanya udah depan tuh, bu!?”
               “Abis lampu merah sampe kita!?”
Calon mertua : “Mana?”
               “Oh itu?”
               “Iya… Alhamdulillah, deh!?”
               “Hhhh…. Nanti sampai depan pintu ya, Pak!?”
               “Lewat depan aja nanti belok kiri!?”
               “Masuk ke dalem!?”
Surjanto     : “Oh iya, bu…”
               “Monggo!?”
Calon menantu: “Hhhhhh…”
               “Sabar ya, bu!?”
               “Aku usap-usap nih belakangnya!?”
Calon mertua : “Untung gak jantungan Ibu, Lin!?”
               “Hhhhhh….”
Calon menantu: “Iya… Iya…”
               “Sabar ya …”
               “Nah… Nih…”


                                                                               127
               “Nih sampe nih bu Pasar Raya!?”
Calon mertua : “Oh gitu!?”
               “He’euh deh!?”
               “Yuk siap-siap yuk!?”
               “Rambut kamu nih!?”
               “Nih jepitannya rapihin!?”
Surjanto     : “Maaf Bu, berhentinya di sini atau bukan?”
Calon menantu: “Nggak, Pak…”
               “Terus dikit lagi!?”
Surjanto     : “Oh… Monggo, Mba!?”
Calon menantu: “Naaah… Iya…iyaaa….sini aja, Pak!?”
               “Sini…”
               “Iya sini kiri!?”
Surjanto     : “Sini Mba?”
               “Sebentar…”
               “Iyaa… ”
Calon menantu: “Iya…sip!?”
               “Yuk bu…”
               “Berapa Pa? Dua tiga ya?”
               “Ibu ada dualima gak, bu?”
Calon mertua : “Yah Lin, kayaknya uang ibu duapuluh ribu sama lima puluh ribu
deh!?”
               “Recehannya abis!?”
               “Kamu ada lima ribuan Lin?”
               “Biar pas aja!?”
Calon menantu: “Oh… bentar-bentar!?”
               “Bentar ya, Pak!?”
Surjanto     : “Oh iya Mba!?”
               “Ndak apa-apa…”
               “Ndak usah buru-buru!?”
Calon mertua : “Ada Lin?”
Calon menantu: “Ada kok, bu… Bentar!?”
               “Nah!!??”
               “Nih limaribu!?”
               “Ibu duapuluhnya siniin!?”
               “Iya…”
               “Nih, Pak!?”
               “Dua lima ya, Pak!?”
Surjanto     : “Oh monggo, Mba!?”
               “Saya terima!?”
Calon menantu: “Makasih ya, Pak!?”
Surjanto     : “Oh iya…”
               “Terimakasih kembali, Mba!?”
Calon mertua : “Ya udah yuk, Lin!?”
               “Ibu turun duluan!?”
               “Yok, Pak… Duluan!?”
Surjanto     : “Oh iya…”
               “Mari, Bu”
               “Mari, Mba…!?”
Calon menantu: “Yok, Pak!?”


                                                                         128
                “Hati-hati!?”
                “Jangan ngebut-ngebut!?”
Surjanto      : “Oh Nggeh Mba…”
                “Nggeh!?”
                “Mari… Mba…”

       Hhhh… Alhamdulillah aku masih selamat… Mungkin benar kata-kata nona
berwajah pucat. Sedan hitam dan anak yang tiba-tiba loncat merupakan peringatan
Tuhan agar aku tidak terlalu semangat. Kejar setoran sampai jam dua lewat, belum
juga mampir sholat. Hari ini kuputuskan pulang cepat, ingin bertemu anak-anak dan
minta di pijat.




Pulang ke rumah:
Selasa, 25 Desember 2007
17.00 WIB




                                                                             129
Berangkat dari rumah:
Kamis, 27 Desember 2007
11.30 WIB


                                       Penumpang 1
                   Tante Ningrat Doni Nikmat
       Tinggi 180cm, berat 75kg, wajah ganteng, hidung mancung, mata besar, halis
tebal, bibir merah, rambut cepak, kuning langsat, senyum memikat, profesi
mahasiswa, keuangan pas-pasan, servis memuaskan, kelahiran delapan sembilan,
Doni Iryawan.
       Tinggi 160cm, berat 50kg, wajah mulus, dagu tirus, mata kucing, halis
runcing, rambut merah, senyum ramah, uang berlimpah, Rika Amalia Ferdinansyah.

Doni          : “Tante…”
                “Makasih ya udah ngajak Doni jalan-jalan…”
                “Doni tuh ngerasa tersanjung banget bisa jalan sama wanita se elegan
tante!?”
               “Tapi tante emang cantik banget sih hari ini!?”
               “Cantiiiiiiiiik banget!?”
Tante Riska : “Ah masa sih, Don…”
               “Bisa aja kamu!?”
               “Eh, Don, minggu depan mau ga kamu temenin tante lagi?”
               “Tante mau jalan ke puncak!?”
               “Yuk kita jalan yuk!?”
Doni         : “Oh boleh te, tapi naik mobil kan?’
               “Jangan ngumpet-ngumpet gini lagi donk!?”
               “Deg-degan tau!?”
Tante Riska : “Iya…iya…”
               “Kamu tenang aja!?”
               “Hari ini kita naik taksi kan karena suami tante pulangnya jam
sebelas malem!?”
               “Kalau pake mobil bisa ketauan donk, Don!?”
               “Ini kan tante bilangnya ada pertemuan sama ibu-ibu Darma
Wanita!?”
Doni         : “Ih tante nih!?”
               “Tukang bo’ong!?”
               “Heuheu…”
               “Emang kalo minggu depan suami tante pulangnya jam berapa?”
Tante Riska : “Oh… Dia ada tugas lima hari ke Monako!?”
               “Jadi ga pulang-pulang!?”
               “Sepi deh tante!?”
               “Cuma tinggal kamu yang bisa nyemenin tante!?”
               “Hehehehehe…”
Doni         : “Iya… tante tenang aja!?”
               “Aku pasti akan temenin tante ko!?”
               “Kapan aja tante butuh, aku pasti bakal selalu ada deket tante!?”


                                                                                   130
Tante Riska     : “Terus itu gimana tuh Don?”
                  “Siapa?”
                  “Si Ine?”
                  “Cewek yang ngejar-ngejar kamu itu loh!?”
Doni            : “Oooohh… Ine?”
                  “Ah… Ga penting te!?’
                  “Anak kecil kaya gitu!?”
                  “Ga berasa juga!?”
                  “Seruan juga sama tante!?”
                  “Heuheu…”
Tante Riska     : “Gitu ya Don?”
                  “Masa sih?”
                  “Eh, Don… Kapan-kapan kita jalan ke Singapur yuk…”
                  “Nanti tante belanjain kamu baju-baju, celana jeans, hp!?”
                  “Eh hp disana murah-murah loh, Don!? Serius deh…”
                  “Di sana tuh ada kaya semacam pasar gitu yang ngejual alat-alat
elektronik!?”
                  “Seru deh, Don!?”
                  “Lebih murah dari di sini lho!?’
                  “Bener deh!?”
Doni            : “Gitu ya te?’
                  “Seru donk!?”
                  “Ayok kapan-kapan!?”
                  “Tapi bener ya te tepatin janjinya…”
                  “Kebetulan emang Doni belom pernah ke Singapur!?”
Tante Riska     : “Iya donk bener!?”
                  “Kamu libur panjang kuliahnya kapan?”
                  “Kalo kamu udah libur juga tante pasti langsung ajak kamu jalan
kok!?”
                  “Tante kan juga mau beli alat buat ngencengin perut!?”
                  “Udah gembyor gini…”
                  “Di Singapur harganya agak miring daripada di Jakarta!?”
Doni            : “Hah?”
                  “Alat apaan te?”
                  “Alat buat ngencengin perut gembyor?”
                  “Ah tante…”
                  “Ngapain sih!?”
                  “Ga usah kali te…”
                  “Kalo Doni liat sih perut tante tuh masih mulus banget kok!?”
                  “Masih kenceng semua!?”
                  “Tante tuh masih seksi lagi!?”
                  “Serius deh!?”
Tante Riska     : “Hah?”
                  “Ah masa sih?”
                  “Bisa aja kamu, Don!?”
                  “Ahahahahaha…”
                  “Tapi paha tante tuh kalo pake jeans udah keliatan gede, Don!?”
                  “Coba deh kamu perhatiin!?”
                  “Ya kan?”
                  “Malu tante kalo jalan sama kamu kayanya jauh banget gitu!?”


                                                                                    131
                “Udah kurang pantes lagi!?”
Doni          : “Ya ampun tante…”
                “Nggak kok…”
                “Paha tante juga masih kenceng!?”
                “Kaki tante jenjang!?”
                “Bagus deh pokoknya!?”
                “Kalah lah kalo cuma anak-anak ABG aja sih!?”
                “Tante PD donk te…”
                “Doni aja sampe keleperan gini sama tante!?”
                “Masa tante masih gak PD sih!?”
                “Hahahahaha….”
                “Asal tante tau aja ya, suami tante tuh emang bego banget!?”
                “Punya istri cantik, seksi, HOT malah sering di tinggal-tinggal ke luar
negeri!?”
                “Payah banget!?”
                “Kan yang kebagian rejekinya jadi Doni!?”
                “Hahahaha…”
Tante Riska   : “Iya ya Don…”
                “Ahahahahahahah…”
                “Kamu tuh emang paling bisa!?”
                “Eh tapi gak apa-apa juga lagi!”
                “Kalo dia gak pergi-pergi mana mungkin tante bisa sama kamu kaya
gini!?”
                 “Kan enakan juga begini…”
                 “Ya gak?”
                 “Ahahahahahaha….”
Doni           : “Hehehehe…”
                 “Tante nih, bikin Doni seneng aja!?”
                 “Tapi Doni juga emang sayang banget sama tante sih!?”
                 “Abis setiap Doni pacaran sama cewek-cewek seumur Doni, mereka
tuh ga asik banget deh, te!?”
                 “Basi mereka!?”
                 “Belom manjanya!?”
                 “Belom minta diperhatiinnya!?”
                 “Belom ngajak jalannya?”
                 “Tapi cuma punya modal pas-pasan!?”
                 “Ah pokoknya boring deh, te!?”
                 “Beda kalo sama tante!?”
                 “Asik!?”
Tante Riska : “Iiiiiiiihhhh… Doni kamu bisa aja!?”
                 “Tante jadi GR deh!?”
                 “Hehehehe…”
                 “Ya udah… Ya udah…”
                 “Kamu emang milik tante seorang kok!?”
                 “tinggal kamunya nih yang setia sama tante apa nggak?”
Doni           : “Ya ia donk, te!?”
                 “Doni PASTI setia sama tante!?”
Tante Riska : “Eh, Don, besok tante mau spa nih!?”
                 “Ikutan yuk!?”
                 “Kamu kan udah lama gak spa!?”


                                                                                   132
                “Itu badan kamu di bersihin biar enak tantenya!?”
                “Tapi sebelom spa kita fitness dulu ya…”
                “Kamu temenin tante!?”
                “Nanti biar tante kenalin kamu sama temen-temen deket tante!?”
                “Tapi kamu janji ya…”
                “Jangan jelalatan sama temen-temen tante!?”
Doni          : “Oh… boleh banget tante!?”
                “Besok Doni temenin deh!?”
                “Waaaahhh…”
                “Tante tenang aja…”
                “Doni ga bakalan jelalatan!?”
                “Emangnya temen-temen tante ada yang secantik tante?”
                “Ga ada lah pastinya!?”
                “Hehehehehehe…”
                “Doni sih masih kesemsem sama tante!?”
                “Ga bisa pindah ke lain hati!?”
Tante Riska   : “Ah Doni…”
                “Bisa aja kamu!!??”
                “Hahahahahaha….”
Doni          : “hahahahaha….”
Surjanto      : Hhhhh…
                EDAN!?




                                                                                 133
                                      Penumpang 2
     Teman Baruku Seorang Tukang Jamu
       Setauku hanya sayur mayur dan buah-buahan alami yang mengandung
antioksidan, beta karoten dan vitamin C lah yang dapat membersihkan tubuh dari
pengaruh buruk asap rokok, alkohol, serta radiasi alat-alat elektronik yang berlebihan.
       Namun ternyata minuman sehat yang katanya dibuat dari rempah-rampah
alami yang berfungsi sebagai obat juga di andalkan oleh masyarakat Indonesia dari
zaman dahulu kala. Jika tidak, bagaimana mungkin kakek nenekku mempunya sedikit
lahan untuk menanam dedaunan itu dan bagaimana mungkin pada zaman semodern
ini masih saja banyak pengusaha jamu yang mangkal di pinggir jalan ketika sore
berganti malam padahal obat-obatan import sudah banyak berdar di pasaran.
       Pertalian manusia, hewan dan tumbuhan memang tidak bisa diputuskan oleh
gunting kehidupan, bahkan sejak tahun 3.500 Sebelum Masehi, akar, daun dan kulit
batang tumbuh-tumbuhan serta minyak, kulit, tanduk, isi perut dan susu binatang
digunakan Ratu Cleopatra, sebagai pembuat kosmetik untuk mempercantik raga dan
menjaga kesehatan.
       Bukan sombong atau mau pamer keajaiban, tapi aku sangat setuju ketika Koes
Ploes membuat syair “Bukan lautan hanya kolam susu, tongkat dan jala bisa
menghidupimu”. Sebenarnya tidak hanya Amerika yang bisa berkuasa, jika dahulu
nenek moyang kita mau mendalami banyak ilmu, masyarakat Indonesia sekarang
akan menjadi guru bukan hanya pintar menawarkan jamu.

Dadang         : “Asalamualaikum…”
                 “Sonten bapa, ieu Dadang!?”
                (“Malam bapa, ini dadang!?”)
                “Iyah… ini Dadang asisten Pa Dodi yang jualan mobil tea!?”
                “Mangga, bapa jadinya mau pilih mobil yang warna apah?”
                “……………………………..”
                “Iyah… he’euh!?”
                “Iyah udah deal lah soal harga mah sama bos sayah!? “
                “Pan DP nya juga sudah satu juta!?”
                “Sayah hanya minta kejelasan warna!?”
                “Tipenya mah sudah pasti pan yah?”
                “………………………………”
                “Yang LGX?”
                “Iyah… mangga, Pa… mangga!!??”
                “……………………………….”
                “Oh kitu? Boleh-boleh!!??”
                “Besok Pak Dodi mungkin bisa datang jam sebelas atou jam
duabelas!?”
                “Nanti saya sampaikan lah…”
                “…………………………………..”
                “Iyah…mangga…mari!?”
                “Terimakasih banyak, Pak!?”
                “………………………………….”
                “Mangga… Mangga…!?”
                “…………………………………”


                                                                                   134
                “Wa’alaikumsalam!?”
Dadang        : “Hadduuhh… ripuh!?”
                “Hehehe… hapunten bapa sopir… perkenalkan, sayah Dadang!?”
                “Inih, Pak, sayah bawa dagangan!?”
                “Jamu!?”
                “Mungkin bapak minat!?”
                “Bagus, Pak…”
                “Apalagih pan bapa teh suka nyupir sampai malam…”
                “Inih… minum inih bagus!?”
                “Saya juga minum Pa…”
                “Jadi enakan badan sayah!?”
                “Enteng gitu rasanya teh seger buger sampei malam juga masih
seger!?”
Surjanto      : “Ohhh… jualan jamu, Mas?”
                “Iya… Iya…”
                “Berapa satu?”
Dadang        : “Inih yang satu boks beginih harganyah tigapuluh rebu!?”
                “Lamun yang satuan ginih satunyah tigarebu limaratus!?”
                “Untung beli yang satu boks bapa!?”
                “Jatuh harga satuannya teh jadi tigarebu rupiah!?”
Surjanto      : “Ada pilihan jamu apa saja itu, Mas!?”
Dadang        : “Banyak Pa!?”
                “Ada yang pegel linu!?”
                “Ada yang sehat lelaki!?”
                “Ada untuk sakit perut!?”
                “Masuk angin!?”
                “Peluntur lemak perut juga ada Pa kalou agak buncit bagus inih
minum inih!?”
Surjanto      : “Yang buat perempuannya ndak ada, Mas?”
Dadang        : “Oh… yang buat perempuan juga ada!?”
                “Boleh kalou mau mah!?”
                “Kalou minat ada di rumah sayah banyak!?”
                “Justru lebih banyak pilihan daripada di toko jajamu biasa!?”
                “Mun sekarang mah sayah hanya bawa singset wanita sama jamu
menstruasi!?”
                “Bagus inih diminum wanita yang sedang datang bulan!?”
                “Jadi bersih ceunah mah!?”
                “Boleh kalou bapa punya istri atou anak gadis…”
                “Minun inih bagus Pa!?”
Surjanto      : “Harganya berapa kalau yang buat perempuan?”
Dadang        : “Sami Pa…”
                “Sama sajah!?”
                “Kalou satuan tiga satengah!?”
                “Lamun yang satu boks tigapuluh rebu!?”
                “Isi sepuluh!?”
                “Minat Pa?”
                “Yang manah?”
                “Silahkan ajah di pilih!?”
                “Yang lelaki buat bapa boleh…”
                “Yang perempuan juga sok… boleh!?”


                                                                                 135
             “Siapa tau pan yah kita bisa jadi langganan!?”
Surjanto   : “Oh gitu…”
             “Ya boleh lah…”
             “Saya coba yang singset wanita dua dulu!?”
             “Yang sehat lelaki…ya… tiga boleh lah!?”
Dadang     : “Tidak mau coba yang satu boks sajah bapa?”
             “Lebih hemat!?”
Surjanto   : “Yo ndak usah dulu lah!?”
             “Nanti kalau cocok, ada jodoh, saya beli ke Mas lagi jamunya!?”
Dadang     : “Oh gituh…”
             “Mangga, silahkan!?”
             “Inih jamu singset wanita dua, sehat pria tilu!?”
             “Nah inih saya kasih sakalian nomor henpon sayah!?”
             “Nanti kalau bapa minat bisa hubungi sayah kesinih!?”
             “Kapan sajah Insya Allah bisa!?”
             “Mangga Pa…di tarima!?”
             “Iyah!?”
             “Mangga … semuanyah jadi tujuhbelasrebu limaratus!?”
Surjanto   : “Tujuhbelasribu limaratus…”
             “Iya…”
             “Ini uangnya duapuluh ribu!?”
Dadang     : “Oh mangga…”
             “Jadi kembalinnyah teh duarebu limaratus!?”
             “Mangga bapa, ditarima!?”
             “Iyah…”
             “Haturnuhun bapa!?”
Surjanto   : “Sama-sama Mas!?”
Dadang     : “Hhhh…”
             “Jam sabaraha ayeuna teh, bapa? Hapunten!?”
             “Haduh!!?? sudah jam duabelas?”
             “Haduh!? Mana jalanan macet kieu!? “
             “Ini mah pasti cape yah Pa nyupir beginih mah!?”
             “Hhhh… Tapi bagus bapa!?”
             “Mun bapa minum jamu tadi mah pasti cenghar besok paginyah!?”
             “Dari pagi pan yah bapa sudah cape nyetir beginih?”
Surjanto   : “Lha iya Mas”
             “Kadang dari jam empat subuh saya sudah narik kalau di panggil
tugas!?”
Dadang     : “Haduh…. Haduh… eta tah!?”
             “Encok tah!?”
             “Suka pegel linu nu kitu mah!?”
             “Makanya bapa dirajinin ajah nginum eta jamu!?”
             “Bagus hasilnyah!?”
Surjanto   : “Saya juga suka minum jamu!?”
             “Tapi ya kalo ndak istirahat ya sama saja ini Mas!?”
             “Namanya juga sudah umur segini ya memang ini penyakitnya!?”
Dadang     : “Iyah saya juga sama!?”
             “Usia bapa berapa?”
             “Opatpuluh limaan ada?”
Surjanto   : “Saya Empatpuluh delapan Mas!?”


                                                                            136
Dadang        : “He’euh!?”
                “Bener!?”
                “Umur segitu mah bagus minum jamu inih!?”
                “Bener!?”
                “Sayah juga sekarang usia sudah empat puluh tiga!?”
                “Sudah mulai carangkeul awak!?”
                “Pegel-pegel Pa di belakang sini nih!?”
                “Nih!?”
                “Naah… Tapi da minum jamu inih mah hilang pegelnyah!?”
                “Bener!?”
                “Hilang!?”
Surjanto      : “Oh…iya nanti saya coba!?”
                “Kalau memang bagus nanti saya hubungi Mas lagi!?”
Dadang        : “He’euh…”
                “Mangga Pa, boleh!?”
                “Ada disituh… Nomer henpon sayah sudah di kasih!?”
                “Kalou mau konsultasi juga bisa!?”
                “Bapa datang sajah ke rumah!?”
                “Boleh!?”
Surjanto      : “Oh gitu…”
                “Oke-oke…”
Dadang        : “Hhhh…”
                “Ini mah ampun…”
                “Macet sampai begini yah Pa?”
                “Padahal sudah mau pagi ini teh!?”
Surjanto      : “Iya…”
                “Sudah biasa Mas…”
                “Saya begini tiap hari!?”
                “Yah… namanya juga cari uang!?”
                “Kalau ndak begini ya anak istri hidup dari mana?”
Dadang        : “Iyah sih… sama!?”
                “Sayah juga kalou tidak jualan jamu, tidak kerja serabutan cari
sampingan sanah sinih manah cukup buat biaya anak sekolah!?”
                “Repot !?”
                “Jaman sekarang mah da lieur!?”
                “Uang teh meni susaaaah…”
Surjanto      : “Memang Mas sehari-hari kerja apa?”
Dadang        : “Jaga loket bis kota, Pa!?”
                “Kalou di terminal teh ada yang suka kasih karcis ka sopir–sopir?”
                “Terang teu? Tau tidak?”
                “Nah… itu yang di dalam kotak nu kecil tea!?”
                “Nah disituh saya kerja!?”
                “Kabagean sif pagi!?”
Surjanto      : “Ooohhh…”
                “Iya saya tau… ya..ya…”
Dadang        : “Hhhh…”
                “Kalou sayah ngandelkeun gajih ti dinya wae mah da saya teh ga
akan sanggup biayain anak istri!?”
                “Inih juga sayah naek taksi karna tadi temen sayah yang kasih
ongkos!?”


                                                                                 137
                  “Yeuh… ngan saratus rebu saratus rebuna!?”
                  (“Nih… Cuma seratu ribu seratus ribunya!?”)
                   “Tadinyah sayah mau pakai sajah uangnyah buat bekel!?”
                   “Tapi da namanya amanah, di suruh naek taksi!?”
                   “Nanti daripada sayah nilep tidak berkah?”
                   “Ya sudah saya jadi sajah naek taksi bapa!?”
                   “Inih juga baru sakali-sakalina sayah naek taksi!?”
                   “He’euh!? Bener Pa!?”
                   “Saya mah da teu pernah bohong!?”
                   “Bener!?”
Surjanto         : “Hahahaha… iya ndak apa-apa Mas!?”
                   “Yang penting sudah pernah naik taksi!?”
                   “Jangankan Mas…”
                   “Saya saja belum bisa ngajak anak istri saya naik taksi!?”
                   “Mereka saja yang suami dan bapaknya sopir taksi sehari-harinya
naik angkot!?”
                   “Naik bis kota!?”
                   “Taksi mahal sih, Mas!?”
Dadang           : “Hhhh… iyah memang!?”
                   “Begitulah hidup Pa!?”
                   “Suka susah di kompromi!?”
                   “Orang susah mah makin susah!?”
                   “Orang kaya mah makin senang!?”
Surjanto         : “Memang Mas, apalagi Jakarta!?”
                   “Edan!?”
                   “Saya itu kalau dapat penumpang macam-macam!?”
                   “Jadi saya ini selain nyupir, belajar juga dari hidup macem-macem
orang!?”
                  “Ada yang stress karna masalah cinta, masalah anak, pendidikan!?”
                   “Ada bule kesasar!?”
                    “Bahkan ada lho Mas, istri penggede yang masih main sama anak
ingusan!?”
                 “Baru saja mereka turun!?”
                 “Sebelum Mas naik!?”
                 “Itu saya sampai ndak habis pikir Mas!?”
                 “Usianya mungkin empatpuluhan akhir atau bahkan lebih, wong istri
penggede itu rata-rata awet muda kok!?”
                 “Cantik Mas!?”
                 “Tapi ya begitu!?”
                 “Kelakuannya ndak terpuji sama sekali!?”
                 “Gandengannya usia delapanbelas sampai duapuluh satuan lah
Mas!?”
                 “Wong masih kuliah ko!?”
Dadang         : “Hah, yang begitu mah memang banyak Pa!?”
                 “Sieun!?”
                 “Serem mun dipikir-pikir mah!?”
                 “Yah… ginih-ginih juga ternyata ada enaknya jadi orang kecil!?”
                 “Paling tidak istri kita teh tidak macem-macem!?”
                 “Yah alhamdulillah lah…”
                 “Saya mah tawakal sajah sama Allah!?”


                                                                                     138
                 “Supaya keluarga sayah teh dijaga!?”
                 “Supaya sayah lepas dari mudarot!?”
                 “Kitu we, Pa harapan sayah mah!?”
Surjanto       : “Lho ya sama Mas, saya juga begitu!?”
                 “Yang penting cari uang halal!?”
                 “Kasih makan anak istri halal!?”
                 “Darah keluarga halal!?”
                 “Kalau tiba-tiba di panggil mati ya ndak terlalu bimbang!?”
                 “Sudah ada tabungan pahala!?”
                 “Paling tidak tanggung jawab sama keluarga ndak pakai uang haram
sudah terlaksana!?”
                 “Ya ndak Mas”
Dadang         : “He’euh sarua lah Pa!?”
                 “Saya juga sama!?”
                 “Yang penting mah redo gusti Alloh!?”
                 “Cukup itu juga!?”
                 “Jadi tenang hidup kita!?”
Surjanto       : “Hahahahah… Betul, Mas!?”
                 “Mas, maaf, namanya siapa, Mas?”
                 “Maaf tadi saya lali!?”
                 “Lupa!?”
                 “Hehehehe…”
Dadang         : “Oh… Lupa?”
                 “Iyah tidak apah-apah!?”
                 “Biasa lah Pa kalou lupa mah!?”
                 “Sayah Dadang!?”
                 “Ari bapa namina saha?”
               (“Kalo bapa namanya siapa?”)
Surjanto      : “Oh? Saya?”
                “Heheheheh…”
                “Maaf, itu tinggal dibaca saja, Mas!?”
Dadang        : “Apanyah yang dibaca?”
Surjanto      : “Itu lho, Mas!?”
                “Yaaa… Yaaa…”
                “Nah!?”
                “Itu!?”
Dadang        : “Oooohhh… inih!?”
                “Hohohoh… Hebat euy!?”
                “Sur … jan … to!?”
                “Oooohhh… Surjanto”
                “NIP: 731246578”
                “Hahah… iyah… hebat … hebat …!?”
Surjanto      : “Heheheheheh…”
                “Terimakasih, Mas …”
Dadang        : “Sami-sami, bapa!?”

Pulang ke rumah:
Jum’at, 28 Desember 2007
02.10 WIB




                                                                               139
Berangkat dari rumah:
Senin, 31 Desember 2007
19.30 WIB

                               Penumpang Special
        Ralung, Rantik, Gungga dan
    Wanita Tercantik Seantero Jagat Raya
         Jika Tuhan bisa menentukan letak air terjun Angel atau si mulut setan yang
mencapai ketinggian 978 meter tepasang kokoh di Canaima, Venezuela dan tidak ada
yang bisa melebihi ketinggian Gunung Everest dengan titik 8.848 meter di atas
permukaan bumi, maka tidak ada juga yang bisa menghalangiku untuk memberi nama
terindah untuk ketiga buah hati kesayanganku.
         Putera Mahkota pertama yang lahir dari rahim wanita tercantik seantero jagat
raya ku beri nama ia Ralung Ahantirwa. Kependekan dari sebuah pengharapan
seorang bapak kurus kering yang tidak bekerja agar si buah hati akan tumbuh menjadi
Raja Ulung Anugerah Tuhan Teristimewa. Tumpahan tinta di kertas akte kelahiran
yang di buat tahun delapanpuluh enam adalah sebuah rasa syukur yang ku lukiskan
pada bayi laki-laki mungil yang lahir di Yogyakarta, duapuluh satu tahun silam.
         Wanita tercantik seantero jagat raya adalah bibit dari keunggulan putera
puteriku. Legenda permaisuri Firaun yang bernama Permaisuri Nefertiti, wanita
tercantik di kala itu, tidak bisa mengalahkan kecantikan wanita yang telah melahirkan
ketiga anak-anakku. Hati murni dan senyum manisnya yang mulai memudar di usia
empatpuluh dua tidak pernah luruh ditelan masa. Kebijakan serta kasih yang terpancar
dari sorot matanya kini ada dalam raga Rantik Malanilam, Ratu Cantik Malaikat
Penghuni Alam, buah cinta keduanya. Puteri Mahkota yang untuk kedua kalinya
berhasil dibebaskan oleh wanita tercantik seantero jagat raya dari rahimnya walaupun
ia harus meregang nyawa. Lilitan tali pusar yang tidak mau melepaskan mahluk
mungil kemerahan membuat hatiku berdetak takut sampai menyimpuhkan lutut
dihadapan Sang Maha Hidup, kala itu, delapanbelas Januari Sembilanpuluh satu.
         Tidak adanya hujan sejak tahun 1903 sampai 1918 di Chile, Afrika tidak bisa
mengubah keputusan Sang Empunya Kuasa jika ia ingin terus menurunkan tebaran
rintik-rintik-Nya sampai 350 hari dalam waktu satu tahun di Gunung Wai’ale’ale,
Hawai, benua Amerika. Begitupula dengan wanita tercantik seantero jagat raya.
Rahimnya yang sudah tidak kuat membawa sebuah jiwa ternyata dianugerahkan
peristiwa tak terkira pada tahun duaribu tiga. Ia mengandung putera ketigaku yang
lahir sehat, tiga kilo koma empat. Gungga Diptatraga, Gunung Syurga Dicipta Untuk
Putera Ketiga. Nama yang kucipta dengan begitu bangga. Ku harapkan ia akan
tumbuh menjadi lelaki kuat dan perkasa seperti gunung yang Tuhan ciptakan untuk
para penghuni syurga. Panjang umur seperti pohon zaitun yang hidup sampai 1.500
tahun di Negara Mediterania dan tampan seperti Nabi Yusuf yang mampu membuat
wanita tergila-gila.
         Aku memang bukan pribadi yang mengesankan namun aku lelaki yang
menyenangkan. Mendapat istri berparas rupawan merupakan prestasiku di kala
bujangan. Cindrawati Harmiah Hamandali, wanita Sunda keturunan Arab Tiong Hoa,
idaman banyak lelaki. Butuh empat tahun untuk ‘ngantri’ dan dua tahun untuk
mendekati. Tak kusangka akhirnya ia bisa kunikahi.




                                                                                 140
        Sejak sembilanpuluh enam aku menjadi supir taksi, belum sekalipun aku
mampu membawa anak istri menikmati Jakarta tanpa wara wiri. Debu dan polusi
selalu mereka hadapi tanpa pernah sakit hati.
        Aku berjanji suatu saat nanti aku akan membawa permaisyuri, para pangeran
dan seorang puteri pergi berkeliling dunia dengan percaya diri. Ku dorong koper besar
ke dalam bandara, kunaiki kendaraan bersayap raksasa, kusebrangi lautan lewat
angkasa, ku injakan kakiku di benua yang berbeda-beda. Bukan hanya Amerika yang
menantangku untuk sampai di sana. Tapi Asia, Australia, Eropa, Afrika dan jika
waktuku habis, bukan neraka yang akan ku kunjungi, tapi syurga yang akan ku
tinggali.
        Jika seorang tukang pos di Perancis bernama Ferdinand Cheval bisa
membangun Ideal Palace dalam waktu 33 tahun hanya dengan mengumpulkan batu
yang ada di jalanan, lalu menyusunnya diam-diam di waktu malam, namun kastilnya
bisa terealisasikan, mengapa seorang supir taksi yang ingin membahagiakan anak istri
dengan menyebrangi mimpi tidak bisa diwujudkan?. Aku yakin keberhasilan itu perlu
perjuangan. Bukan hanya sebuah perjuangan namun jutaan buah perjuangan.
        Pelajaran bermakna banyak kudapatkan dari berbagai penumpang. Dari yang
kecil hingga yang besar, dari yang alim hingga yang brutal. Semua itu ku jadikan
pelajaran agar bisa terus hidup ke depan. Malam ini, malam tahun baru, ku ajak dua
pangeranku, satu tuan puteriku dan seorang permaisyuriku. Keluargaku belum pernah
naik taksi, IRONI! Tapi tidak jadi, karena malam ini kami benar-benar pergi.

Ralung        : “Ayah… Ralung boleh belajar nyetir ga, Yah?”
Surjanto      : “Memangnya untuk apa?”
                “Kamu kan ndak punya kendaraan…”
Ralung        : “Sebentar lagi Ralung dapet mobil dinas dari kantor!?”
                “Insya Allah taun depan naik pangkat!?”
Surjanto      : “Alhamdulillah….”
                “Bu, Ralung naik pangkat, Bu!?”
Rantik        : “Alhamdulillah, Mas…”
                “Terus Yah… Kalau taun depan Rantik dapet PMDK di keperawatan
UI gimana?”
                  “Ayah bisa biayain?”
Wanita Tercantik Seantero
Jagat Raya      : “Asal kalian YAKIN dan ada kemauan, Insya Allah, Tuhan akan
selalu kasih jalan!?”
Surjanto        : “Nah… Betul itu kata ibu!?”
Ralung          : ^_^
Rantik          : “Alhamdulillah… Kalo gitu…”
                  “Sini Gungga… Mba Pangku!?”
                  “Sebentar lagi kita liat laut… Kita jalan-jalan ke Ancol!?”
Gungga          : “Assssiiiiiiiiiikk Lauuuuuuuuuuuuuut!?”
                  “Makacih ayah…”
Surjanto        : ^_^

       Jika sudah seperti ini alasan apalagi yang bisa meyakinkan aku untuk tidak
mencintai keluargaku?. Tiupan terompet begitu meriah membuat telingaku kaku-
kaku. Bulan hampir berganti menjadi Januari. Aku akan tetap menjadi supir taksi,
namun anak-anakku? Hhmmmm… KITA LIHAT SAJA NANTI!?.



                                                                                 141

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:705254
posted:3/8/2008
language:Indonesian
pages:142