metoda-inventarisasi - PowerPoint Presentation

Document Sample
metoda-inventarisasi - PowerPoint Presentation Powered By Docstoc
					 DIKLAT INVENTARISASI HUTAN

             MATA AJARAN
    METODE INVENTARISASI


            Team teaching
          Bebas Sinuhaji, SP.
        Henri Manik, SP, MSi.
      Ir. H. Normanzis Jambak


BALAI DIKLAT KEHUTANAN PEMATANGSIANTAR
TIU = Setelah selesai mengikuti pelajaran ini
 peserta diklat dapat menjelaskan tentang
        Metode Inventarisasi Hutan

• TIK = Setelah selesai mengikuti pelajaran
  ini peserta mampu menjelaskan tentang
  Perencanaan kegiatan Inventarisasi hutan
  (kayu dan non kayu), Menjelaskan teknik
  sampling dan Mengolah data baik secara
  manual maupun komputer.
       • POKOK BAHASAN

1. Penentuan jumlah samel (Intensitas
   sampling)
2. Ploting sampel di peta
3. Sampling titik
4. Sampling sistematik
5. Sampling stratifikasi
6. Pengolahan data secara manual dan
   komputer
PENGERTIAN & TUJUAN INVENTARISASI

LATAR BELAKANG
•   Belum diketahui secara pasti potensi &             penyebaran
    keakeragaman hayati (flora) pada kawasan hutan :

a.   Hutan konservasi          : 23,24 juta ha
b.   Hutan lindung             : 29,10 juta ha
c.   Hutan Produksi Terbatas   : 16,21 juta ha
d.   Hutan Produksi            : 27,74 juta ha
e.   HPK                       : 13,67 juta ha

    Luas total hutan Indonesia 120,35 juta ha, telah ditunjuk oleh
    Menhut 109,9 juta ha
(Sumber : Renstra Dephut 2005-2009)
Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi:
a.  Mamalia : 515 jenis (12% mamalia di dunia)
b.  Reptilia : 511 jenis (7,3% reptilia di dunia)
c.  Burung : 1.531 jenis (17% burung di dunia)
d.  Amphibia : 270 jenis
e.  Binatang tak bertulang : 2.827 jenis
f.  Tumbuhan sebanyak : 38.000 jenis

Hutan & keanekaragaman hayati terdegradasi, diakibatkan:
a.  Penebangan hutan (legal/over cutting; illegal)
b.  Kebakaran hutan dan lahan (sengaja maupun tak sengaja)
c.  Perambahan hutan
d.  Konversi lahan
e.  Ekslpoitasi keanekaragaman hayati
f.  Pertambahan jumlah penduduk
g.  Lemahnya kesadaran lingkungan dan hukum
h.  Lemahnya penegakan hukum
•    Menurut UU No. 41/1999 pasal 13 : inventarisasi hutan
     dilaksanakan untuk mengetahui dan memperoleh data dan
     informasi tentang sumber daya, potensi kekayaan alam hutan,
     serta lingkungannya secara lengkap.
•    Kegiatan inventarisasi hutan diantaranya dilakukan dengan
     teknik survei terhadap:
a.   Status kawasan hutan
b.   Keadaan fisik hutan
c.   Flora dan fauna
d.   SDM masyarakat sekitar hutan
e.   Kondisi sosekbud dalam & sekitar hutan
•   Perlu diketahui potensi & penyebaran keanekaragaman hayati
    pada kawasan hutan seluas 120,35 juta ha itu (Inventarisasi
    Nasional)

                      Lakukan survei (Propinsi)
                   Lakukan survei (Kabupaten/kota)



•   Untuk mempelajari & melengkapi data perkiraan potensi &
    penyebaran flora :

                   Menurut data / laporan terdahulu
                    Laporan terbaru / saat ini berapa ????
Setiap tindakan dan perlakuan dalam pemanfaatan
SDA/H harus dapat mewujudkan azas kelestarian.
Perlu rencana yang mantap dan rasional,dasarnya
data yang teliti, obyektif, lengkap mengenai si-kon
SDA/H dan lingkungannya serta potensi
Data dan informasi yang dimaksud dapat dihimpun
dan diperoleh melalui kegiatan inventarisasi SDA/H
Sesuai dengan sifat data maupun informasi yang
diperlukan, maka kegiatan inventarisasi harus
dilaksanakan secara teliti, obyektif, dan representatif,
dan cara-cara atau teknik yang efektif dan efisien.
                    PENGERTIAN

Inventarisasi semula kegiatan dibidang ekonomi
perusahaan terutama yang berkaitan dengan dunia
perniagaan atau perdagangan.
Bahasa latin yaitu invenier yang artinya menghimpun
informasi mengenai keadaan barang-barang yang
dimiliki baik untuk keperluan sendiri (barang inventaris)
maupun yang akan dijual (barang dagangan).
Kegiatan yang dilakukan ialah membuat daftar
(inventarium) yang membuat keadaan barang-barang
tersebut seperti jumlah, jenis, kualitas, kondisi barang,
dll.
inventarisasi hutan merupakan suatu kegiatan bersifat ilmiah
dalam rangka menghimpun dan memperoleh data/informasi
tentang kekayaan yang terkandung di dalam sumber daya
alam berupa hutan tesebut.

•Tujuan Inventarisasi Hutan adalah usaha mendapatkan
gambaran secara teliti, obyektif, menyeluruh dan pasti
mengenai situasi dan kondisi sumber daya hutan yang
sedang dan/atau akan dikelola atau diusahakan.
meningkat.
• Kegunaannya adalah :
-sarana penunjang penyusunan rencana kegiatan
- landasan bagi penggarisan kebijakan dalam rangka
pengusahaan dan pemanfaatan sumber daya hutan secara
sehat atas prinsip hasil yang maksimal dan lestari .
       MACAM INVENTARISASI HUTAN

1.CAKUPAN WILAYAH HUKUM.
• Inventarisasi Hutan Dunia (IHD) atau World Forest Inventory
  (WFI)----Dunia FAO (anggota PBB)
• Inventarisasi Hutan Regional (IHR) atau Regional Forest
  Inventory (RFI)----Benua
• Inventarisasi Hutan Nasional (IHN) atau National Forest
  Inventory (NFI) ---- negara
  Indonesia NFI pertamakali dilaksanakan 1969 oleh Direktorat
  Inventarisasi dan Perencanaan Kehutanan Dirjen Kehutanan
• Inventarisasi Hutan Guna Keperluan Manajemen Hutan (IHM)
  atau Management Forest Inventory (MFI)----Areal/Kawasan
  Hutan (Kelas perusahaan Hutan) atau KPH,CDK,HPH
  -Perencanaan jangka Panjang (satu daur), Jangka menengah
  (5 atau 10 tahun) dan Jangka Pendek (tahunan)
2.SARANA DAN PRASARANA
•Inventarisasi Hutan Secara Langsung (IHL) atau Direct Forest
Inventory (DFI).----pengukuran langsung ke lapangan
•Inventarisasi Hutan Secara Tidak Langsung (IHTL) atau
Indirect Forest Inventory (IFI), dengan bantuan citra muka
bumi berupa potret udara atau citra landsat.

3. KWANTITA AREAL CONTOH PENGAMATAN
•Inventarisasi Hutan secara sensus (IHSS) atau Census
Forest Inventory (CFI) ------ dilakukan 100%.
•Inventarisasi Hutan secara sampling (IHSP) atau Sampling
Forest Inventory (SFI) ----- Cuplikan (sampling acak), agar
bisa dianalisa secara statistik.
4. KONTINUITAS PENGUKURAN DAN PENGAMATAN
• Incidental Forest Inventory (IFI)----Sewaktu-waktu bila ada
   keperluan (Rencana Jangka Panjang, Study Kelayakan dsb)
• Continuous Forest Inventory (CFI) atau Inventarisasi
   berulang, setiap periode tertentu ( 3 atau 5 tahun).--- Untuk
   mengetahui perkembangan tumbuh (riap).
1. CARA BERPETAK

PETAK UKUR JALUR
 Pertama kali digunakan dengan lebar 40 m

 Kesalahan sampling besar : pohon di tepi jalur

 Pertimbangan lebar jalur : Semakin lebar semakin mewakili
  populasi; kesalahan semakin besar.

 Lebar jalur untuk inventarisasi hutan alam klimaks terbaik
  20 meter

 Butuh biaya dan waktu yang besar
 Untuk kelompok hutan yang luas dan belum diketahui
  keadaan sebelumnya.
 Efektif untuk mempelajari perubahan keadaan vegetasi
  menurut keadaan tanah, topografi, dan ketinggian.
 Jalur contoh dibuat memotong garis topografi, sungai,
  naik atau turun lereng pegunungan.
 Jalur yang biasa digunakan lebar 10 - 20 m dan jarak
  antara jalur 200 – 1000 m tergantung intensitas sampling
 Kelompok hutan : luas > 10.000 ha Intensitas 2 % dan
  luas < 1000 ha Intensitas 10 %.
 Untuk satu kelompok hutan minimal harus ada 5 jalur,
  jarak 1 – 5 km.
 Dibagi dalam petak kontinyu : pohon : 10 m; 20 m ; 50 m;
  Sapling, poles : 10 x 10; dan anakan : 2 x 2 atau 2 x 5 m
PETAK UKUR PERSEGI/GARIS BERPETAK
 Bentuk persegi panjang atau bujur sangkar : Persegi
  panjang lebih efektif dari bujur sangkar

 Penyederhanaan dari bentuk jalur

 Menekan biaya tanpa mengorbankan kecermatan
  sampling

 Jarak antara petak ukur ditetapkan secara sistimatik

 Kesulitan dalam membuat sudut tegak lurus di lapangan

 Kesalahan menetapkan pohon tepi

 Cocok untuk inventarisasi anakan dan tumbuhan bawah
 Modifikasi petak ganda dan jalur, yaitu : melompati satu
  atau lebih petak-petak dalam jalur dengan jarak yang
  sama
 Bentuk petak contoh dapat persegi, bujur sangkar atau
  lingkaran
 Ukuran petak untuk pohon : 10 x 10 m; 20 x 20 m atau
  20 x 50 m atau lingkaran 0,1 ha dengan jari-jari 17,8
  meter
 Dapat juga untuk pohon dibuat cara jalur dan untuk
  permudaan cara garis berpetak yaitu : sedling= 2 x 2 m;
  Sapling = 5 x 5 m; dan poles = 10 x 10 m;
PETAK UKUR LINGKARAN
 Cocok untuk hutan tanaman
 Lebih teliti dan mudah dibuat di lapangan
 Umumnya luas petak ukur tidak lebih dari 0,1 hektar, yaitu
  dengan jari-jari lingkaran 17,8 meter
 Semakin kecil diameter tegakan semakin kecil petak ukur
  yang digunakan
 Pada hutan jati :
     0,01   ha : tegakan umur s/d 10 th
     0,025 ha : tegakan umur 11 – 30 th
     0,05 ha : tegakan umur 31- 50 th
 Batas petak ukur dicek dengan tali sepanjang jari-jari
  lingkaran, jika ada pohon di sekitar batas petak ukur
MENETAPKAN BESAR/JUMLAH SAMPLING

1. Luas minimal suatu petak ukur yang dapat mewakili
   tegakan
2. Jumlah minimal petak-petak sampling agar mewakili
   tegakan

CARA PETAK TUNGGAL
 Mempelajari satu sampling yang mewakili satu tegakan
  hutan
 Besar petak contoh tidak terlalu kecil sehingga tidak
  menggambarkan keadaan tegakan
 Ukuran minimal tergantung pada kerapatan tegakan dan
  banyaknya jenis
 Makin banyak jenis makin besar ukuran petak tunggal
Menetapkan ukuran minimum Petak Tunggal
 Daftar semua jenis pohon dalam satu petak kecil
 Ukuran petak diperbesar 2 kali dan jenis pohon didaftar
 Penambahan dilanjutkan sampai : Penambahan luas
  petak tidak menyebabkan penambahan jumlah jenis
  pohon sebesar 5 – 10 %.

 Ukuran Ptk    Jmlh Spcs   Penambahan Jlh    Penambahan %
   0,4 ha        103              -                  -
   0,8 ha        144             41                 39
   1,2 ha        171             27                 19
   1,6 ha        190             19                 11
   2,0 ha        205             15                 7,8
 Luas minimum untuk hutan hujan tropika 3 hektar

 Satu petak tunggal dapat dibuat : 20 x 1500 meter atau
  disebut sebagai jalur terbatas (panjang jalur 1500 meter)

 Untuk memudahkan perisalahan jalur dapat dibagi
  menjadi petak-petak bersambung ukuran 20 x 50 meter
  atau 0,1 ha.
Cara Petak Tunggal :
1.   Tentukan ukuran petak pertama, misalnya 0,4 Ha, kemudian
     daftarkan jenis – jenis pohon yg terdapat dalam petak kecil itu
2.   Kemudian ukuran petak diperbesar lagi 2 kali (0,8 Ha), catat /
     daftarkan lagi jenis – jenis pohon yg masuk petak itu
3.   Lanjutkan perbesaran petak sampai saat dimana penambahan
     luas petak itu tidak menyebabkan penambahan yg berarti pada
     banyaknya jenis
4.   Banyaknya, luas minimum ini ditetapkan dengan dasar :
     penambahan luas petak tdk menyebabkan kenaikan jumlah jenis
     lebih dari 10 % atau 5 %
5.   Dari daftar banyaknya jenis dan ukuran petak dibuat lengkung
     area species ( jlh. Jenis = ordinat = sumbu y, dan luas / ukuran
     petak sebagai absis / sumbu X )
Misalnya kita memiliki daftar sbb :
Ukuran   Acre    Petak/Ha       Banyaknya               Penambahan
                                 Species
                                                 Jumlah              %
     1              0,4            103              -              -
     2              0,8            144             41             38
     3              1,2            171             27             19
     4              1,6            190             19             11
     5              2,0            205             15             7,8
     6              2,4            216             11             5,3



  Dari daftar diatas telah nyata, bahwa luas petak minimum 1,6 atau 2,0 Ha,
  karena pada luas tersebut penambahan banyaknya jenis hanya 11 dan
  7,8 % saja.
Lihat gambar kurva lengkung area
species berikut ini :
Banyaknya       Maka luas minimum ditetapkan pada bagian kurva yang
  Jenis         mulai mendatar (titik M) , yaitu dari 4 acre (1,6 Ha) ke atas.
  Pohon         Dari daftar diatas, nyata bahwa luas petak minimum adalah
                1,6 Ha / 2 Ha, karena pada luas tsb penambahan banyaknya
     240        jenis hanya 11 % dan 7,8 %

     210                                 M
     180
     150
     120
     90

     60
      30
                                                                       Acre
            0   1      2       3       4        5
                           Luas Petak ( Ha )
KESUKARAN PADA PENGGUNAAN KURVA LENGKUNG SPECIES
AREA INI ADALAH :

1.   Dalam menentukan bagian kurva yang mulai mendatar (
     harus terus dilanjutkan penambahan luas petak s/d luas / besar
     minimum didapat ).
2.   Banyaknya penelitian di daerah tropika menghasilkan
     lengkung species area yang terus naik, karena banyaknya
     jenis pohon yang terdapat dalam tegakan



     Karena titik berat analisa vegetasi terletak pada komposisi jenis
     ( spesies ), maka dalam menetapkan besar atau banyaknya petak -
     petak sampling perlu digunakan kurva ( lengkung ) spesies area
     untuk menetapkan :
1.   Luas / besar minimum suatu petak yang dapat mewakili tegakan
2.   Jumlah minimal petak - petak sampling kecil yang diperlukan agar
     hasilnya mewakili keadaan tegakan.
2. CARA TAMPA BERPETAK /
   SAMPLING TITIK

 Untuk menaksir secara langsung luas bidang dasar
  tegakan per satuan luas
 Tidak diperlukan pembuatan petak ukur
 Sampel hanya berupa titik sepanjang garis yang telah
  ditetapkan arahnya dengan kompas
 Teknik inventarisasi hutan paling cepat, mudah, murah,
  hanya menaksir volume
 Data jumlah batang per hektar dan diameter pohon tidak
  diperoleh
 Dari data luas bidang dasar, ditetapkan Volume tegakan
  dengan bantuan Tabel hasil
• CARA PETAK GANDA
• Pengambilan contoh menggunakan banyak
  petak contoh yang tersebar merata : cara
  sistimatik sampling
• Banyaknya petak contoh ditetapkan dengan
  cara petak tunggal
• Pohon : ukuran petak contoh 0,1 ha yaitu 20 x
  50 m
• Sapling dan semak : 0,01 ha; seddling : 0,001
  ha
• Pengambilan banyaknya petak contoh yang
  harus digunakan dapat ditentukan dengan
  lengkung spesies area.
CARA BITTERLICH
 Menggunakan tongkat “Bitterlich”
 Semua pohon yang berdiameter lebih besar dan sama
  dengan sisi plat seng alat di daftar namanya
 Luas Bidang Dasar Tiap Jenis dihitung dengan rumus :
              (B) = N/n x 2,3 m2/hektar
     N = Banyaknya pohon dari jenis yang bersangkutan
     n = Banyaknya titik pengamatan jenis ditemukan
     2,3 = faktor bidang dasar alat
 Tentukan arah kompas, dan pada titik-titik tertentu yang
  ditetapkan secara sistimatis dilakukan pengukuran.

Contoh : pada satu titik pengukuran, terdapat 5 pohon (lebih
dari satu jenis) yang masuk. B = 5/1 x 2,3 = 11,5 m2/ha.
Jika
CARA KUADRAN
 Tentukan arah kompas, dan            tetapkan   titik-titik
  pengukuran secara sistimatis
 Pada titik pengukuran dibuat garis-garis kuadran (garis
  imajiner/khayalan)
 Tiap kuadran didaftar nama jenis dan diukur diameter
  setiap satu pohon yang terdekat dengan titik pengukuran.
 Ukur jarak pohon dengan titik pengukuran
 Lakukan pengukuran sampai semua titik selesai
 Hitung jarak pohon rata-rata (d) :
    d = (d1+ d2 + d3 + ….. dn ) : n
    d1= … dn = jarak masing-masing pohon
    n = banyaknya pohon
                                        d2
Titik Pengukuran

                                             Jarak
                                             Pengukura
                                             n
      d1




                                   d3
               d4


                    Garis Kompas
Contoh pengukuran kuadran

No.       No.      Jenis    Jarak   Diameter   Luas Bidang
Titik   Kuadran              (m)      (cm)        dasar
 1        1        Puspa     8        64         0,3215
          2       Sungkai    6        46         0,1659
          3        Puspa     6        40         0,1255
          4       Medang     7        35         0,0959
 2        1        Pulai     6        42         0,1382
          2       Jambu      9        32         0,0804
          3        Pulai     9        37         0,1073
          4       Sungkai    6        41         0,1318
 3        dst
CARA BERPASANGAN
 Pengukuran dan pendaftaran dilakukan pada titik-titik
  sepanjang garis kompas
 Pada tiap titik dipilih pohon terdekat dengan titik tersebut
 Tarik garis tegak lurus dari titik ke pohon yang ditetapkan
 Pohon kedua sebagai pasangannya : yang terdekat
  dengan pertama, letaknya sisi lain garis kompas
 Ukur jarak antara pohon pertama dan kedua
 Hitung jarak pohon rata-rata (d)
    d = 0,8 x (d1+ d2 + d3 + ….. dn ) : n
         d1= … dn = jarak masing-masing pohon
         n = banyaknya jarak yang dicatat

         Kerapatan seluruh jenis = Luas : (0,8 x d)
                        Jarak
                        Pengukuran




Pohon
Kedua          L                     Pohon
                                     Pertama



                       Titik
                       Pengukuran


        Garis Kompas
RANGKAIAN KEGIATAN INVENTARISASI HUTAN

• Pembuatan peta kerja :
  - Membuat peta kerja (TOP, RBI, JOG, TEMATIK)
  - Ploting lokasi (Peta Kawasan Reg.)
  - Menetapkan baseline
  - Membuat jalur ukur (track)
  - Menetapkan titik ikatan
  - Menyiapkan blangko-blangko dan administrasi
  - Menyiapkan alat dan bahan

• Pelaksanaan lapangan :
  - Mencari titik ikatan
  - Menetapkan starting point
  - Membuat rintis jalur
  - Pencacahan pohon dan keterangan lain yg diperlukan

• Pengolahan data :
INVENTARISASI
1.Terestris (pengamatan langsung ke lapangan)
2. Non tersetris seperti Penginderaan jauh (Potret
  Udara atau Citra).

Inventarisasi terestris (sensus atau sampling)
•Untuk mengetahui potensi tegakan (eksploitasi
seperti URKT HPH
•Monitoring perkembangan penggunaan lahan
•Penelitian pertumbuhan riap tanaman seperti
kegiatan Enumerasi/Re-Enumerasi
•Analisas vegetasi (Hutan alam)
•Inventarisasi non kayu seperti rotan, bakau, sagu,
nipah, kemenyan, bambu, damar mata kucing dan lain
sebagainya.
• Tujuan survei sangat menentukan dalam
  penyusunan rencana kerja, karena akan
  berbeda waktu dan biayanya apabila
  survei yang dilakukan dengan cara sensus
  dibandingkan dengan cara sampling.
 • Sensus  biasanya dilakukan dalam kegiatan
 esploitasi misalnya untuk URKT HPH, ganti rugi
 bagi areal pinjam pakai seperti pembangunan
 jaringan transmisi tegangan tinggi oleh PLN,
 Stasion relay Televisi ataupun Tower untuk Telkom.

 •Sedangkan survei untuk kegiatan inventarisasi
 lainnya dilaksanakan dengan cara sampling.
                          PETA KERJA
• Pembuatan Peta kerja disesuaikan dengan petunjuk teknis masing-
  masing jenis kegiatan.
• Sensus arah jalur diusahakan sesuai mata angin: U – S atau T – B.
• Sampling, peletakan jalur tergantung intensitas sampling.
• Pedoman peletakan jalur
  -menetapkan base line (garis terpanjang) yang mungkin dibuat
  dalam areal yang letaknya sejajar dengan garis kontur.
  -Jalur-jalur ukur diletakkan tegak lurus dengan garis baseline tersebut
  -peletakan jalur dilakukan dengan cara sistematik sampling with
  random start, dimana jalur pertama diletakkan secara acak, jalur
  selanjutnya diletakkan secara sistematis.
  -jarak antar jalur disesuaikan dengan intensitas sampling dengan
  rumus dJ = 100% : Intensitas sampling x lebar jalur.
• Pada peta kerja juga diletakkan posisi titik ikatan berupa titik pasti
  seperti titik triangulas, titk markant seperti pertigaan sungai, pertigaan
  jalan, jembatan atau titik GPS, atau dengan bantuan GPS.
           PELAKSANAAN LAPANGAN

Pengumpulan data lapangan :
• -Data primer meliputi : Titik ikatan,jenis, tinggi dan
  diameter pohon yang terdapat di sepanjang jalur
  survei serta kondisi lapangan berupa kelerengan
  maupun jenis flora fauna dilindungi.
• -Data sekunder meliputi : sosial ekonomi, iklim,
  geologi, tanah dan lainnya dapat diperoleh
  dengan cara wawancara ataupun dengan
  mempelajari dari pustaka yang ada.

1. Pengukuran titik ikatan.
Titik ikatan adalah titik pasti yang terdapat di peta
dan mudah ditemukan di lapangan yang posisinya
terdekat ke starting point (titik awal pekerjaan).
 2. Pembuatan rintis dan unit contoh.
 • Rintisan dibuat dengan membersihkan semak-semak
    ataupun tumbuhan bawah sekitar sumbu jalur selebar ± 1
    meter selurus mungkin dengan menggunakan kompas
 • untuk mengukur jarak (sebaiknya gunakan tali tambang).
 • Lebar jalur ditentukan 20 meter, 10 meter berada di sebelah
    kiri as jalur dan 10 meter disebelah kanan as jalur.
 • Unit contoh disesuaikan dengan metode yang digunakan.


3. Pengukuran tinggi.
   Pengukuran tinggi pohon dilakukan dengan menggunakan
   alat yang tersedia seperti Cristian meter, hagameter atau
   spiegel relascope. Tinggi pohon diukur dari pangkal sampai
   cabang pertama (bebas cabang)
• 4. Pengukuran Diameter.
• Diameter pohon diukur pada ketinggian setinggi
  dada (± 1,30 meter) dari permukaan tanah atau
  20 cm diatas banir dengan menggunakan alat
  ukur diameter misalnya phi band (pita diameter)
  atau meet band (pita keliling) atau spiegel
  relascope.


 5. Pengukuran Kelerengan.
 Pengukuran kelerengan dilakukan pada setiap
 jarak 50 meter jarak miring (lapangan) dengan
 menggunakan alat ukur kelerengan seperti
 Clinometer, abney level, hagameter.
           TAHAPAN KEGIATAN
• Persiapan
  (peta dasar, peta penafsiran potret udara, peta tata
  guna hutan, peta tanah dan geologi, peta iklim dan
  peta kerja), persiapan bahan dan peralatan (alat ukur,
  perlengkapan), pembuatan bagan pengambilan
  contoh serta penentuan organisasi kerja dan susunan
  pelaksana).
 •Pelaksanaan lapangan
 Pengumpulan data primer (penentuan titik awal,
 pembuatan jalur dan petak ukur, pengukuran dan
 pencatatan data pada petak ukur, pengukuran data
 sekunder (letak dan luas, hidrologi, topografi,
 geologi dan tanah, kesesuaian lahan, bentang alam
 spesifik, iklim, keadaan flora dan fauna, keadaan
 penduduk serta perhubungan)
• Pengolahan data
  Penyuntingan data, pengkodean data dan
  perhitungan.
• Analisis data terdiri dari penentuan Indeks
  Nilai Penting (INP), tingkat
  kenekaragaman jenis dan pola
  penyebaran.
• Pembuatan Laporan
                   TENAGA KERJA
a. Pengamatan tidak langsung
Melalui Potret Udara atau Citra satelit memerlukan kwalifikasi tenaga
yang handal (terampil, mampu, berdedikasi dan bermotivasi yang tinggi,
berwawasan luas dll) baik untuk spesifikasi sebagai Photogrammetrist
dan atau serial photo interpreter. Jumlah tenaga yang disediakan
tergantung kwantita atau volume pekerjaan.




b. Pengamatan langsung (konvensional).
Jumlah tenaga yang dibutuhkan sesuai dengan petunjuk teknis
berjumlah 10 orang dengan perincian sebagai berikut ;
Tenaga pengukur               : 1 orang
Pembantu ukur                 : 1 orang
Pengenal pohon                : 1 orang
Tenaga rintis                 : 3 orang
Tenaga kompas                 : 1 orang
Juru masak                    : 2 orang
Tenaga keamanan               : 1 orang
• c. Biaya dan Waktu.
• Jumlah dan besarnya biaya serta waktu sangat
  tergantung jenis pengukuran dan pengamatan yang
  akan dilaksanakan (langsung atau tidak langsung),
  volume atau kwantita pekerjaan dan lokasi.


 d. Adiministrasi
 •Urusan administrasi (keuangan, surat menyurat) harus
 diselesaikan sebelum berangkat ke lapangan. Surat
 menyurat (SPT) dan surat pengantar ke instansi daerah
 (Kabupaten) adalah yang utama.
 •Sebelum ke lokasi tim harus melapor untuk mendapatkan
 surat pengantar ke penguasa wilayah setempat sampai
 kepada kecamatan maupun lurah/kepala desa,
           TEKNIK SAMPLING
•   Populasi, artinya keseluruhan obyek yang
    diamati. Guna analisis statistik, unit populasi
    ini diberi notasi N.
•   Contoh atau sample, artinya sebagian dari
    unit populasi yang diambil secara . Notasi
    yang digunakan n.
•   Jumlah unit contoh ini umumnya dinyatakan
    dalam satuan prosen dan disebut intensitas
    sampling (I).
     n
I
     • Besarnya intensitas sampling dapat
     N
       x100%

       dihitung dengan menggunakan rumus
       sebagai berikut :
                       n
                I = -------- x 100%
                       N

       Keterangan :
       I       = Intensitas sampling
       n       = Besarnya sampling (cuplikan/contox)
       N       = Populasi
               INVENTARISASI HUTAN
  1. Cara Sensus
  2. Cara Sampling.

•Random sampling atau Simple Random Sampling.
•Semua unit contoh di random, ketelitiannya tinggi apabila unit
populasinya seragam (Hutan tanaman)

 •Systematic sampling
 •Hanya unit contoh pertama saja yang dirandom, unit
 sampling selanjutnya sistematik (teratur).
 •Jarak antar jalur sama
 •Cocok untuk hutan alam
 •Peletakan jalur tegak lurus terhadap kontur.
             RANDOM SAMPLING
• Random sampling (simple random sampling),
  merupakan cara sampling dimana semua unit contohnya
  benar-benar dipilih/diletakkan secara acak.
• Teknik sampling ini akan benar-benar menghasilkan atau
  memberikan ketelitian yang tinggi apabila unit
  populasinya dalam keadaan seragam. lebih sesuai
  apabila diterapkan pada hutan-hutan tanaman.

Kurang cocok untuk hutan alam karena :
a.Hutan alam (di luar pulau Jawa) belum dikelola dan
dimanfaatkan dengan menggunakan kegiatan penataan
secara teratur.
b. Hutanalam memiliki variasi yang tinggi baik dalam hal jenis,
ukuran maupun umurnya. (sampling jelek = hasil jelek)
      Kesalahan statistik ini sering disebut dengan
         istilah kesalahan sampling, yang dapat
         direduksi/ diperkecil dengan cara :
•   Meningkatkan/menambah jumlah unit contoh
    yang diamati atau dengan kata lain
    meningkatkan intensitas sampling.
•   Membagi-bagi populasi yaitu areal hutan yang
    diamati menjadi bagian-bagian yang
    keadaannya lebih homogen atau seragam.
    Bagian-bagian yang kondisinya seragam ini
    disebut stratum dan kegiatannya biasa disebut
    dengan istilah stratifikasi.
• Kesalahan non statistik yang mungkin
  terjadi disebabkan oleh :
  -Tenaga kerja kurang terampil
  -Alat ukur yang digunakan tidak teliti
  -Kondisi obyek yang diamati kurang
  mendukung
  -Lingkungan sekitar obyek yang diamati
  kurang mendukung
  - Mencegah atau mengurangi kesalahan
  non statistik tersebut adalah dengan
  memperbaiki faktor penyebabnya.
          SISTEMATIC SAMPLING
 Sistematic sampling, hanya unit contoh
 pertamanya saja yang dipilih secara acak,
 sedangkan unit contoh yang berikutnya diletakkan
 secara mekanik yang bersifat sistematik (teratur)
 dengan jarak yang sama sama.


• Sampling sistematik ini sangat sesuai bila
  diterapkan pada hutan alam.
• Hasil yang dihimpun dengan cara sampling
  sistematik dapat mengambarkan keseluruhan
  variasi yang terdapat/dimiliki oleh hutan alam
  tersebut.
• Sampling sistematik, bahwa semua unit
  contoh yang akan diamati di lapangan
  harus diletakkan tegak lurus garis-garis
  kontur atau sungai atau jalan serta
  mengikuti kemiringan lereng atau
  topografi lapangan.
• Dengan ketentuan tersebut maka setap
  unit akan memberikan gambaran
  tentang variasi keadaan yang ada pada
  hutan alam yang bersangkutan.
      Keuntungan.
          Hemat cost yaitu tenaga, waktu dan dana
          (uang)
          Menghimpun data/informasi yang ketelitiannya
          dapat diatur dan relatif tinggi
          Memiliki sasaran yang lebih besar
 Kerugian.
 Tidak mendapatkan gambaran yang riil keadaan
  seluruh populasi (sumber daya hutan) yang diamati
 Data/informasi yang diperoleh memiliki 2 (dua)
  macam kesalahan yaitu pengukuran (kesalahan
  non statistik) dan kesalahan sampling (kesalahan
  statistik)
 Aturan-aturan teknik pelaksanaan yang berlaku
  seringkali tidak dapat diterapkan secara konsekwen
  sesuai dengan keadaan umum lapangan
      DATA INVENTARISASI HUTAN
1.DATA PRIMER
• Tegakan hutan dan perkembangannnya
  -Tipe hutan
 -Struktur dan komposisi tegakan
 -Potensi tegakan (Jenis, volume, jumlah batang)
 -Tumbuhan bawah dan permudaan alam
 -Lokasi pohon-pohon harapan (pohon inti, pohon yang
 akan ditebang dll)

• Dilakukan dengan cara observasi lapangan.
2. DATA SKUNDER
a. Lahan Hutan
   -Letak dan Luas
   -Konfigurasi lapangan
   -Geologi
   -Tanah hutan (jenis, struktur, tekstur dll)
   -Perairan (Hidrologi), Drainase, sungai besar,cabang, ranting.

b. Lingkungan sekitar.
   1. Fisik lingkungan
       -Kondisi iklim (curah hujan, hari hujan, angin, suhu,
        kelembaban udara, penyinaran matahari)
       -Transportasi (Darat, Udara dan air)
       -Perhubungan (POS, telepon, telegram,SSB, ORARI dll)
2. Kondisi Sosek masyarakat sekitar hutan.
  - pemukiman
  -Kependudukan (Umur, Jumlah, mata pencaharian,
  tenaga kerja, agama, adat
  istiadat dll)
  -pendidikan (Jjenis dan jumlah sekolah, jumlah guru
  dan murid)
  -kesehatan (Sarana Kesehatan Rumah Sakit,
  Poliklinik, Apotik, Perawat, Dokter, Bidan, dikin
  beranak)
       PERENCANAAN SURVEY
• Tujuannya adalah agar pelaksanaan survey
  dapat berjalan efektif dan efisien artinya benefit
  (data dan informasi yang teliti, obyektif dan
  representatif) dengan cost (tenaga, waktu dan
  biaya) lebih besar. B/C > 1

 Kegunaannya adalah :
 •Merupakan pedoman, penuntun dan petunjuk
 •Alat kontrol yang mantap dan rasional
                  PERSIAPAN
A. Pengumpulan data-data dan peta yang terkait
  dengan perencanaan survei untuk dipelajari :
• Data-data atau lap[oran terdahulu
• Peta kawasan hutan penunjukan, kelompok
  hutan atau peta register
• Peta dasar (TOP, RBI, JOG) skala 1 : 50.000
• Peta penafsiran Potret Udara skala 1 : 50.000 s/d
  1 : 100.000 atau Penafsiran Citra satelit (landsat
  atau spot).
• Peta RTRWP skala 1 : 500.000
• Peta Penunjukan kawasan hutan Propinsi.
• Peta tematik (tanah, Geologi, iklim, kelerengan,
  curah hujan dll
B. bahan dan Peralatan :
   a. Alat Ukur.
       -Jarak (pita ukur 50 m)
       -Arah (Kompas)
       -Kelerengan (Clinometer, Abney level,
         kompas Brunton)
       -Tinggi Pohon (Haga Hypsometer, Cristian
         meter dll)
       -Diameter pohon (Phiband, Caliper dll)

 b. BahanPerlengkapan
       -Tally sheet
       -ATK
       -Camping Unit
       -Alat Dokumentasi
       -perlengkapan pribadi (termasuk obat-obatan)
C. Pembuatan bagan contoh
• Dibuat untuk memberikan kejelasan kedudukan
  (arah dan jarak) dari titik awal di peta yang mudah
  ditemukan di lapangan sebagai dasar peletakan
  jalur, petak untuk pengamatan vegetasi sesuai
  dengan intensitas sampling.

 Bagan ini di buat pada peta kerja dengan skala 1 : 50.000
 s/d 1 : 10.000

D. Organisasi Kerja dan susunan pelaksana
-Ketua Regu 1 orang, memimpin team dalam
pengamatan, pengukuran, pencatatan data dan
informasi lapangan.
-Anggota pelaksana 1 orang, tenaga teknis yang membantu
  ketua regu dalam pencacahan dan pencatatan data.
-Buruh kerja 10 orang, membantu ketua regu dalam :
• Tenaga pengukur        :      1     orang
• Pembantu ukur          :      1     orang
• Pengenal pohon         :      1     orang
• Tenaga rintis          :      3     orang
• Tenaga kompas          :      1     orang
• Juru masak             :      2     orang
• Tenaga keamanan        :      1     orang

Jumlah ini sesuai dengan tenaga yang tersedia dalam
  petunjuk teknis.
E. Tenaga Kerja
  a. Pengamatan tidak langsung
  Melalui Potret Udara atau Citra satelit memerlukan kwalifikasi tenaga
  yang handal (terampil, mampu, berdedikasi dan bermotivasi yang tinggi,
  berwawasan luas dll) baik untuk spesifikasi sebagai Photogrammetrist
  dan atau serial photo interpreter. Jumlah tenaga yang disediakan
  tergantung kwantita atau volume pekerjaan.




  b. Pengamatan langsung (konvensional).
  Jumlah tenaga yang dibutuhkan sesuai dengan petunjuk teknis
  berjumlah 10 orang dengan perincian sebagai berikut ;
  Tenaga pengukur               : 1 orang
  Pembantu ukur                 : 1 orang
  Pengenal pohon                : 1 orang
  Tenaga rintis                 : 3 orang
  Tenaga kompas                 : 1 orang
  Juru masak                    : 2 orang
  Tenaga keamanan               : 1 orang
• F. Biaya dan Waktu.
• Jumlah dan besarnya biaya serta waktu sangat
  tergantung jenis pengukuran dan pengamatan yang
  akan dilaksanakan (langsung atau tidak langsung),
  volume atau kwantita pekerjaan dan lokasi.


 G. Adiministrasi
 •Urusan administrasi (keuangan, surat menyurat) harus
 diselesaikan sebelum berangkat ke lapangan. Surat
 menyurat (SPT) dan surat pengantar ke instansi daerah
 (Kabupaten) adalah yang utama.
 •Sebelum ke lokasi tim harus melapor untuk mendapatkan
 surat pengantar ke penguasa wilayah setempat sampai
 kepada kecamatan maupun lurah/kepala desa,
     2. Rencana Pelaksanaan Lapangan :
a.   Pengumpulan data Primer :

    Tentukan titik awal, petak atau plot atau jalur dilapangan sesuai
     dengan bagan sampling seperti pada rencana kerja atau peta kerja

    Lakukan Pengamatan dan pengumpulan data yang terkait dengan
     komposisi jenis dan struktur vegetasi dalam masyarakat tumbuh –
     tumbuhan itu, sesuai dengan maksud dan metoda survei yang
     digunakan , misalnya dalam contoh, perisalahan tegakan hutan,
     untuk menentukan jumlah (abundance), kerapatan ( density ),
     frekwensi, dominansi (dominance ) ataupun permudaan pohon –
     pohon. Untuk pengamatan dan pengumpulan data lapangan tentu
     saja perlu dibedakan antara stadium : seedling (semai), sapling
     (pohon muda/pancang), tiang (poles) dan pohon.
Misalnya :

Pendataan dalam perisalahan tegakan hutan :
 Seedling (semai) : - permudaan mulai kecambah s/d setinggi 1,5 m
                       - dibagi dalam kelas – kelas tinggi 0 – 30 cm dan
                         30 – 150 cm
 Sapling ( sapihan, pancang ) :
      - permudaan yg tingginya 1,5 m dan lebih sampai pohon-pohon muda
  yang           berdiameter kurang dari 10 cm
      - dibagi dalam kelas – kelas ukuran tinggi yaitu 1,5 – 3 m, 3 m s/d
  pohon-         pohon muda berdiameter kurang dari 5 cm dan pohon-
  pohon muda              berdiameter 5 –        10 cm
 Pole ( tiang ) : pohon-pohon muda berdiameter 10 – 35 cm
 Pohon dewasa : berdiameter 35 cm up
 Jadi perdu, semak, dan tumbuh-tumbuhan bawah juga dihitung banyaknya,
  kerapatannya, % penutupannya, tingginya dan frekwensinya.
b. Pengumpulan data sekunder di
      lapangan :
      •   Keadaan fauna
      •   Bentang alam spesifik
      •   Penduduk dan Perhubungan
      •   Iklim
      •   Geologi dan tanah
      •   Hidrologi
      •   Letak dan luas kawasan hutan / lokasi

C. Pelaporan :
  - Hasil Lapangan
  - Analisa data
INVENTARISASI
1.Terestris (pengamatan langsung ke lapangan)
2. Non tersetris seperti Penginderaan jauh (Potret
  Udara atau Citra).

Inventarisasi terestris (sensus atau sampling)
•Untuk mengetahui potensi tegakan (eksploitasi
seperti URKT HPH
•Monitoring perkembangan penggunaan lahan
•Penelitian pertumbuhan riap tanaman seperti
kegiatan Enumerasi/Re-Enumerasi
•Analisas vegetasi (Hutan alam)
•Inventarisasi non kayu seperti rotan, bakau, sagu,
nipah, kemenyan, bambu, damar mata kucing dan lain
sebagainya.
• Tujuan survei sangat menentukan dalam
  penyusunan rencana kerja, karena akan
  berbeda waktu dan biayanya apabila
  survei yang dilakukan dengan cara sensus
  dibandingkan dengan cara sampling.
 • Sensus  biasanya dilakukan dalam kegiatan
 esploitasi misalnya untuk URKT HPH, ganti rugi
 bagi areal pinjam pakai seperti pembangunan
 jaringan transmisi tegangan tinggi oleh PLN,
 Stasion relay Televisi ataupun Tower untuk Telkom.

 •Sedangkan survei untuk kegiatan inventarisasi
 lainnya dilaksanakan dengan cara sampling.
           TAHAPAN KEGIATAN
• Persiapan
  (peta dasar, peta penafsiran potret udara, peta tata
  guna hutan, peta tanah dan geologi, peta iklim dan
  peta kerja), persiapan bahan dan peralatan (alat ukur,
  perlengkapan), pembuatan bagan pengambilan
  contoh serta penentuan organisasi kerja dan susunan
  pelaksana).
 •Pelaksanaan lapangan
 Pengumpulan data primer (penentuan titik awal,
 pembuatan jalur dan petak ukur, pengukuran dan
 pencatatan data pada petak ukur, pengukuran data
 sekunder (letak dan luas, hidrologi, topografi,
 geologi dan tanah, kesesuaian lahan, bentang alam
 spesifik, iklim, keadaan flora dan fauna, keadaan
 penduduk serta perhubungan)
• Pengolahan data
  Penyuntingan data, pengkodean data dan
  perhitungan.
• Analisis data terdiri dari penentuan Indeks
  Nilai Penting (INP), tingkat
  kenekaragaman jenis dan pola
  penyebaran.
• Pembuatan Laporan
                      PETA KERJA

• Pembuatan Peta kerja disesuaikan dengan petunjuk teknis
  masing-masing jenis kegiatan.
• Sensus arah jalur diusahakan sesuai mata angin: U – S atau T –
  B.
• Sampling, peletakan jalur tergantung intensitas sampling.
• Pedoman peletakan jalur
  -menetapkan base line (garis terpanjang) yang mungkin dibuat
  dalam areal yang letaknya sejajar dengan garis kontur.
  -Jalur-jalur ukur diletakkan tegak lurus dengan garis baseline
  tersebut
  -peletakan jalur dilakukan dengan cara sistematik sampling with
  random start, dimana jalur pertama diletakkan secara acak, jalur
  selanjutnya diletakkan secara sistematis.
  -jarak antar jalur disesuaikan dengan intensitas sampling dengan
  rumus dJ = 100% : Intensitas sampling x lebar jalur.
• Pada peta kerja juga diletakkan posisi titik ikatan berupa titik pasti
  seperti titik triangulas, titk markant seperti pertigaan sungai,
  pertigaan jalan, jembatan atau titik GPS, atau dengan bantuan GPS.
           PELAKSANAAN LAPANGAN

Pengumpulan data lapangan :
• -Data primer meliputi : Titik ikatan,jenis, tinggi dan
  diameter pohon yang terdapat di sepanjang jalur
  survei serta kondisi lapangan berupa kelerengan
  maupun jenis flora fauna dilindungi.
• -Data sekunder meliputi : sosial ekonomi, iklim,
  geologi, tanah dan lainnya dapat diperoleh
  dengan cara wawancara ataupun dengan
  mempelajari dari pustaka yang ada.

1. Pengukuran titik ikatan.
Titik ikatan adalah titik pasti yang terdapat di peta
dan mudah ditemukan di lapangan yang posisinya
terdekat ke starting point (titik awal pekerjaan).
 2. Pembuatan rintis dan unit contoh.
 • Rintisan dibuat dengan membersihkan semak-semak
    ataupun tumbuhan bawah sekitar sumbu jalur selebar ± 1
    meter selurus mungkin dengan menggunakan kompas
 • untuk mengukur jarak (sebaiknya gunakan tali tambang).
 • Lebar jalur ditentukan 20 meter, 10 meter berada di sebelah
    kiri as jalur dan 10 meter disebelah kanan as jalur.
 • Unit contoh disesuaikan dengan metode yang digunakan.


3. Pengukuran tinggi.
   Pengukuran tinggi pohon dilakukan dengan menggunakan
   alat yang tersedia seperti Cristian meter, hagameter atau
   spiegel relascope. Tinggi pohon diukur dari pangkal sampai
   cabang pertama (bebas cabang)
• 4. Pengukuran Diameter.
• Diameter pohon diukur pada ketinggian setinggi
  dada (± 1,30 meter) dari permukaan tanah atau
  20 cm diatas banir dengan menggunakan alat
  ukur diameter misalnya phi band (pita diameter)
  atau meet band (pita keliling) atau spiegel
  relascope.


 5. Pengukuran Kelerengan.
 Pengukuran kelerengan dilakukan pada setiap
 jarak 50 meter jarak miring (lapangan) dengan
 menggunakan alat ukur kelerengan seperti
 Clinometer, abney level, hagameter.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:6260
posted:6/3/2010
language:Indonesian
pages:74