Skripsi PURWANTO by elipldoc

VIEWS: 950 PAGES: 45

									                                     BAB I

                               PENDAHULUAN



A. Latar Belakang Masalah

      Matematika merupakan bagian dari        kurikulum pendidikan mempunyai

   peranan penting dan strategis dalam upaya peningkatan kualitas lulusan agar

   mampu bertindak atas dasar pemikiran logis, rasional, kritis, cermat dan efektif

   dalam kehidupan sehari-hari dan dapat digunakan dalam mempelajari ilmu

   pengetahuan lainnya. Karena matematika mempunyai peranan yang sangat

   penting dalam upaya peningkatan kualitas SDM, maka upaya peningkatan

   proses belajar-mengajar perlu terus dilakukan dan ditingkatkan.

      Keberhasilan pendidikan anak disekolah merupakan harapan orang tua,

   pemerintah dan masyarakat pada umumnya. Karena keberhasilan pendidikan

   anak   mempunyai     peranan    yang   sangat   penting   dalam    peningkatan

   pembangunan bangsa ini, sebab maju mundurnya pembangunan bangsa ini

   ditangan mereka mengingat mereka merupakan generasi penerus bangsa.

   Keberhasilan pendidikan anak disekolah akan mencapai hasil yang diharapkan

   itu tergantung pada proses belajar – mengajar yang melibatkan guru, siswa,

   orang tua dan pihak terkait lainnya.

      Dalam hal ini guru memgang peranan yang sentral dalam keseluruhan

   proses belajar-mengajar. Guru dituntut harus mampu meningkatkan kualitas

   belajar para peserta didik dalam bentuk kegiatan belajar yang sedemikian rupa

   dapat menghasilkan pribadi yang mandiri, pelajar yang efektif, pekerja yang

   produktif, dan anggota masyarakat yang baik.
   Dalam rangka mengahsilkan pribadi yang mandiri, pelajar yang efektif dan

pekerja yang produktif seorang guru harus dapat menciptakan suasana dalam

proses belajar-mengajar agar dapat merangsang siswa untuk lebih giat lagi

dalam belajar. Selain itu didalam proses belajar-mengajar harus terjadi

hubungan timbale balik antara seorang guru dengan pelajar sehingga akan

menciptakan pembelajaran yang efektif dan produkti. Tetapi kenyataan

dilapangan menunjukkan kegiatan proses beljar mengajar disekolah masih

banyak didominasi oleh guru sebagaimana yang dikemukakan oleh Slamet, dkk

(dalam Wulan, 2003 : 2) bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran disekolah

dasar dan menengah masih didominasi oleh kegiatan Ekspositori, dimana guru

menerangkan dan siswa mendengarkan. Jarang ada persoalan yang dilontarkan

guru untuk dipecahkan        bersama oleh siswa secara ilmiah. Akibatnya

pembelajaran berjalan hanya satu arah. Dalam hal ini fungsi dan peranan guru

menjadi amat     dominant, dilain pihak       siswa   hanya    menyimak     dan

mendengarkan informasi atau pengetahuan yang diberikan gurunya. Hal ini

menjadikan kondisi yang tidak proposional dan guru sangat aktif, tetapi

sebaliknya siswa menjadi pasif dan tidak aktif.

   Pandangan dan kegiatan interaksi belajar mengajar semacam ini tidak

benar, sebab dalam konsep belajar mengajar adalah guru sebagai tenaga

pengajar tidak mendominasi kegiatan tetapi membantu menciptakan kondisi

yang kondusif serta memberikan motivasi dan bimbingan agar siswa dapat

mengembangkan potensi dan kreatifitasnya melalui kegiatan belajar.

   Dalam rangka membimbing, membina dan memberikan motivasi kearah

yang dicita-citakan, mak interaksi antara guru dan siwa harus bersifat edukatif.
   Interaksi edukatif ini atau yang secara khususnya dinamakan interaksi belajar

   mengajar adalah sebagai suatu proses hubungan timbale balik yang memilki

   tujuan tertentu, yakni untuk mendewasakan anak didiknya agar nantinya agar

   dapat berdiri sendiri.

   Untuk itu perlu dipikirkan agar pembelajaran matematika bisa merangsang

   interaksi belajar mengajar agar pembelajaran tidak hanya berjalan searah yang

   pada akhirnya bisa mengembangkan potensi dan kreatifitasnya. Salah satu cara

   yang bisa dilakukan adalah dengan menerapkan model kontekstual dalam

   pembelajaran matematika.


B. Perumusan Masalah

       Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, masalah
   dalam penelitian ini adalah : Apakah penggunaan Model Kontekstual dalam
   pembelajaran matematika dapat meningkatkan prestasi siswa?


C. Tujuan Penelitian

       Tujuan penelitian secara umum adalah untuk meningkatkan prestasi

   pembelajaran matematika dengan menggunakan model kontekstual melalui

   Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

       Secara khusus, tujuan penelitian setelah penggunaan model kontekstual

   diterapkan dalam proses belajar- mengajar diperoleh gambaran tentang :

   1. Ada tidaknya peningkatan aktivitas belajar siswa

   2. Ada tidaknya peningkatan interaksi antara siswa dengan siswa

   3. Ada tidaknya peningkatan prestasi beljar siswa pada pembelajaran

       matematika
D. Manfaat Hasil Penelitian

   1.   Bagi siswa, jika penggunaan model kontekstual dalam proses belajar-

        mengajar terhadap pembelajaran matematika mendapat hasil yang baik,

        maka siswa dapat menerapkan terhadap ilmu pengetahuan lainnya, agar

        dapat mengahasilkan hasil yang lebih baik.

   2. Bagi guru, bisa memberikan wawasan dan pengalaman dalam penelitian

        tindakan kelas sebagai solusi permasalahan yang dihadapi siswa dan guru

        untuk mencapai tujuan pembelajaran

   3. Bagi peneliti, dapat memberikan gambaran sejauhmana penggunaan model

        kontekstual dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan kualitas

        pembelajaran kearah yang lebih baik.
                                       BAB II

                                KAJIAN PUSTAKA

A. Belajar

2.1 Definisi Belajar

       Belajar adalah seluruh proses pendidikan disekolah. Kegiatan belajar

merupakan proses meraksi terhadap semua situasi yang ada disekitas individu

menurut Nana Sudjana (dalam Roestad, 1997 : 14) berpendapat bahwa “ Belajar

adalah proses yang diarahkan kepada tujuan, proses berbuat melalui berbagai

pengalaman, yaitu proses melihat, mengamati, dan memahami sesuatu”.

       Belajar menurut pengertian psikologi, belajar merupakan proses perubahan

tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenihu

kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan dinyatakan dalam

seluruh aspek tingkah laku. Menurut Hudojo, H (1990 : 1) menyatakan bahwa “

Belajar merupakan suatu proses kegiatan yang mengakibatkan suatu perubahan

tingkah laku ” sedangkan menurut Tabrani, A (dalam Sudirja, 2003 : 3)

menyatakan “ Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu un tuk

memeperoleh suatu perubahan tingkah laku secara keseluruhan sebagai hasil

pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.

Sardimman (dalam Wulan, 2003 : 7) yang menyatakan “ Belajar itu merupakan

perubahan tin gkah laku atau penampilan dengan serangkaian kegiatan misalnya,

membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan sebagainya. Dimana belajar itu

akan lebih baik        kalau sisubjek belajar itu mengalami atau melakukannya ”

sedangkan pendapat Surya, M (2004 : 48) menyimpulkan bahwa “ Belajar ialah

suatu proses yang dilakukan oleh individu yang memperoleh suatu perubahan
tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu

sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya ”. Fontana ( Winataputra, 1992 : 2 )

mengemukakan pengertian belajar adalah proses perubahan yang relative tetap

dalam prilaku individu sebagai hasil dari pengalaman.

       Sebagai landasan mengenai apa yang dimaksud belajar berikut ini akan

dikemukakan beberapa definisi :

   1. Gagne (dalam Karso, 2001 : 51) menyatakan bahwa“ Belajar terjadi apabila

       suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa

       sedeikian rupa sehingga perbuatannya berubaha dari waktu sebelum ia

       mengalami situasi tadi ”


   2. Morgan (dalam Karso, 2001 : 51) Mengemukakan “ Belajar adalah setip

       perubahan yang relative menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai

       suatu hasil dari latihan atau pengalaman”


   3. Witherington (dalam Wulan, 2003 : 8) mengemukakan “ Belajar adalah

       suatu perunbahan didalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu

       pola baru daripada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan,

       kepandaian dan suatu pengertian.


   Dari definisi –difinisi yang dikemukakan diatas, dapat dikemukakan adanya

   beberapa elemen yang penting yang mencirikan pengertian tentang belajar,

   yaitu bahwa :
   1. Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, dimana perubahan

       itu dapat mengerah kepada tingkah laku yang lebih baik tetapi juga ada

       kemungkinan mengarah tingkah laku yang lebih buruk.


   2. Belajar merupakan perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman

       atau dengan kata lain belajar itu akan terjadi jika sisubjek belajar itu

       melalukkan atau mengalaminya sendiri.


   3. Untuk dapat disebut belajar, maka perubahan itu harus relative mantap.

   4. Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut
       berbagai aspek kepribadian baik fisik maupun psikis.

       Berdasarkan hal diatas, jelaslah bahwa belajar itu merupakan sebuah

perubahan tingkah laku baik dari segi fisik maupun psikis yang terjadi karena

adanya suatu proses interaksi antara diri manusia dengan lingkungannya yang

dilakukannya secara berulang-ulang.


   Adapun definisi belajar dalam konteks kontekstual menurut Sanjaya (dalam

Endang, 2005 : 9), antara lain :


   a. Belajar bukanlah mengkahapal, akan tetapi proses mengkontruksikan

        pengetahuan sesuai dengan pengalaman yang mereka miliki. Oleh karena

        itu semakin banyak pengalaman maka akan semakin banyak pula

        pengetahuan yang mereka peroleh.


   b. Belajar bukan sekedar mengumpulkan fakta yang lepas-lepas. Pengetahuan

        itu pada dasarnya merupakan organisasi dari semua yang dialami, sehingga
    dengan pengetahuan yang dialami akan berpengaruh terhadap pola – pola

    perilaku manusia, seperti pola berpikir, pola bertindak kemampuan

    memecahkan persoalan.


c. Belajar adalah proses pemevahan masalah, sebab dengan memecahkan

    masalah anak akan berkembang secara utuh yang bukan hanya

    perkembangan intekstual akan tetapi juga mental dan emosi. Belajar secara

    kontekstual adalah belajar bagaimana anaka menghadapi persoalan.


d. Belajar adalah prose pengalaman sendiri berkembang secara bertahap dari

    sederhana menuju yang kompleks. Oleh karena itu beljar tidak dapat

    sekaligus, akan tetapi sesuai dengan kemampuan irama siswa.


e. Belajar pada hakekatnya ialah menangkap kemampuan dari kenyataan.

    Oleh karena itu, pengetahuan yang diperoleh adalah pengetahuan yang

    memiliki makna untuk kehidupan anak-anak.


2.2. Kegiatan Belajar


   Seseorang dikatakan telah belajar sesuatu kalau padanya terjadi perubahan

tertentu, misalnya saja dari tidak bisa membaca menjadi bisa membaca, asalnya

tidak tahu menjadi bisa tahu, dari tidak bisa menulis menjadi bisa menulis.

Namun tidak semua perubahan yang terjadi pada diri seseorang terjadi karena

orang tersebut telah belajar melainkan perubahan terjadi karena kematangan,

misalnya bayi yang tadinya tidak tengkurap menjadi bisa tengkurap. Dalam hal

ini, ada suatu hal yang harus disebutkan bahwa perubahan sebagai hasil belajar
   itu diperoleh Karena individu yang bersangkutan berusaha untuk melakukan

   perubahan itu.


        Dari uraian diatas Nasoetion (dalam Wulan, 2003:12) mengidentifikasi

   cirri-ciri kegiatan yang disebut belajar sebagai berikut:


   a. Belajar adalah aktifitas yang menghasilkan perubahan individu yang belajar

        baik yang actual maupun potensial.


   b. Perubahan itu pada dasarnya berupa telah didapatkannya kemampuan baru

        yang berlaku dalam waktu yang relatif lama.


   c. Perubahan itu terjadi karena usaha.

   Dari cirri-ciri kegitan diatas, belajar merupakan adanya perubahan yang terjadi

pada diri individu. Hal ini sejalan dengan cirri-ciri perubahan dalam kegiatan

belajar menurut Slameto (dalm Fathurohman,1998 : 34) meliputi:


   a. Perubahan yang terjadi berlangsung secara sadar, sekurang-kurangnya

        sadar bahwa pengetahuannya bertambah, sikapnya berubah, kecakapanya

        berkembang dan lain-lain.


   b.    Perubahan dalam belajar bersipat kontinu dan fungsional. Belajar bukan

        proses yang statis, karena terus berkenbang secara gradual dan setiap hasil

        belajar memiliki makna dan guna yang praktis.


   c. Perubahan yang bersipat positif dan aktif. Belajar senantiasa menuju

        perubahan yang lebih baik.
    d. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara, bukan hasil belajar jika

        perubahn itu hanya sesaat,seperti berkeringat, bersin dan lain-lain.


    e. Perubahn dalam belajar bertujuan dan terarah. Sebelum belajar, seseorang

        telah mencari apa yang berubah pada dirinya setelah melalui belajar.


    f. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku, bukan bagian –nagian

        tertentu secara parsial.


    Perubahan prilaku pada siswa, dalam konteks pengajaran jelas merupakan

produk dan usaha guru melalui kegiatan mengajar. Hal ini dapat dipahami karena

mengajar merupakan suatu aktivitas khusus yang dilakukan guru untuk menolong

dan membimbing anak didik memperoleh perubahan dan pengembangan

sikap,penghargaan dan pengembangan.


    Selanjutnya menurut William (dalam Hamalik,2001 : 31) yang menyimpulkan

cirri-ciri belajar berikut:


    a. Proses belajar ialah pengalaman, berbuat mereaksi dan melampaui.


    b. Proses itu melalui bermacam-macam ragam pengalaman dan mata

        pelajaran, mata pelajaran yang berpusat pada suatu tujuan tertentu.


    c. Pengalaman belajar secara maksimum bermakna bagi kehidupan murid.


    d. Pengalaman belajar bersumber dari kebutuhan dan tujuan murid sendiri

        yang mendorong motivasi yang kontinu.
e. Belajar bersumber dari kebutuhan dan tujuan murid sendiri yang

   mendorong motivasi yang kontinu.


f. Proses belajar dan hasil usaha belajar secara material dipengaruhi oleh

   perbedaan-perbedaan individual dikalangan murid-murid.


g. Proses belajar yang terbaik apabila pengalaman-pengalaman dan hasil-hasil

   yang diinginkan disesuaikandengan kematangan murid.


h. Proses belajar yang baik apabila murid mengetahui status dan kemajuan.


i. Proses belajar yang merupakan kesatuan fungsional dari berbagai prosedur.


j. Hasil-hasil belajar secara fungsioal bertalian satu sama lain, tetapi dapat

   didiskusikan secara terpisah.


k. Proses belajar berlangsung secara efektif dibawah bimbingan yang

   merangsang dan membimbing tanpa tekanan dan paksaan.


l. Hasil-hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-

   pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan.


m. Hasil-hasil belajar di terima oleh murid apabila memberi kepuasan pada

   kebutuannya dan berguna serta bermakna baginya.


n. Hasil-hasil belajar dilengkapi dengan jalan serangkaian pengalaman-

   pengalaman yang dapat dipersamamakan dan dengan pertimbangan yang

   baik.
   o. Hasil-hasil belajar itu lambat laun dipersatukan menjadi kepribadian

       dengan kecepatan yang berbeda-beda.


   Untuk memahami kegiatan yang disebut belajar itu perlu dilakukan analisis

untuk menemukan persoalan-persoalan apa yang terlibat didalm kegiatan belajar.

Dimuka telah disebutkan bahwa belajar merupakan suatu proses. Sebagai suatu

proses sudah tentu harus ada yang diproses (masukan atau input) dan hasil dari

pemrosesan (keluaran atau output). Jadi dalam hal ini kita bisa menganalisis

kegiatan belajar itu dengan pendekatan analisis system. Dengan pendekatan

analisis ini sekaligus dapat dilihat adanya berbagai factor yang dapat

mempengaruhi proses dan hasil belajar. Dengan pendekatan system, kegiatan

belajar dapat digambarkan sebagai bertikut:


                                 Instrumental input




      Raw input                 Teaching-Learningprocess             Out put




                                Environmental input


                                      Gambar 2


                  Skema kegiatan belajar menurut pendekatan sistem


   Skema diatas menunjukan bahwa adanya masukan mentah (Raw input), yaitu

siswa, merupakan bahan baku yang perlu diolah, dalam hal ini diberi pengalaman.
Pengetahuan belajar tertentu dalam proses belajar-mengajar (teaching-learning

process). Disamping proses belajar-mengajar tentu ada sejumlah factor lingkungan

yang merupakan masukan lingkungan (environ mental input) dan berfungsi

sejumlah factor yang sengaja dirancang dan dimanifulasi (instrumen input) untuk

menunjang tercapainya keluaran yang dikehendaki (out put) berbagai factor

tersebut berinteraksi satu sama lain dalam menghasilkan keluaran tertentu.


   Dengan mengacu pada uraian diatas,maka bisa dikatakan bahwa intteraksi

belajar-mengajar adalah hubungan aktif dua arah antara pendidik dengan anak

didik dalam melaksanakan proses belajar-mengajar guna mencapai tujuan yang

telah di tetapkan.


B. Pembelajaran Kontekstual


1. Pengertian Kontekstual


Kontekstual adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada

proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang

dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga

mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.


   Dari konsep tersebut, minimal tiga hal yang terandung di dalamnya.


   1. Kontekstual    menekankan kepada        proses keterlibatan    siswa   untuk

       menemukan materi, artinya proses belajar diorientasikan pada proses

       pengalaman secara langsung. Pada proses dalam konteks kontekstual tidak
       mengharapkan agar siswa hanya menerima pelajaran, akan tetapi proses

       mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran.


   2. Kontekstual mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara

       materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, artinya siswa

       dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar

       disekolah dengan kehidupan nyata.


   3. Kontekstual mendorong siswa untuk menerapkannya dalam kehidupan,

       artinya konttekstual bukan hanya mengharapkan siswa dapat memahami

       materi yang dipelajarinya, akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat

       mewarnai prilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Materi pelajaran dalam

       kontek kontekstual bukan untuk ditumpuk diotak dan kemudian dilupakan

       akan tetapi segala bekal mereka dalam mengarungi kehidupan nyata.


   Sehubungan dengan hal tersebut, terdapat lima karakteristik penting dalam

proses pembelajaran yang menggunakan kontekstual seperti dijelaskan oleh

Sanjaya. W (dalam Endang , 2006 : 8) sebagai berikut:


   1. Pembelajaran merupakan proses pengaktipan pengetahuan yang sudah ada,

       artinya apa yang akan di pelajari tidak terlepas dari pengetahuan tyang

       sudah dipelajari dengan demikian pengetahuan yang akan diperoleh siswa

       adalah pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan satu sama lain.


   2. Pembeljaran konstektual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan

       menambah pengetahuan baru. Pengetahuan baru itu diperoleh dengan cara
       deduktif. Artinya pembelajaran dimulai dengan mempelajari secara

       keseluruhan, kemudian memperhatikan detail.


   3. Pemahaman pengetahuan, artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk

       dihapal tapi untuk dipahami dan diyakini, misalnya dengan meminta

       tanggapan dari yang lain tentang pengetahuan yang diperolehnya dan

       berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan itu dikembangkan.


   4. Mempraktikan pengetahuan dan pengalaman tersebut artinya pengetahuan

       dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam

       kehidupan siswa, sehingga tampak perubahan prilaku siswa.


   5. Melakukan repleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan hal ini

       dilakuan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan atau penyempurnaan

       strategi.


   Berikut akan diuraikan mengenai petunjuk komponen utama pembelajaran

konstektual:


   a. Konstukti visme (contruti visme)


           Kontrutivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan

       baru dalam struktur kognitip siswa berdasarkan pengalaman. Menurut

       konstruktivisme, pengetahuan itu memang berasal dari luar akan tetapi

       dikonstruksi oleh dan dari dalam diri seseorang.
   Dengan demikian pengetahuan itu tidak bersipat statis akan tetapi bersipat

   dinamis tergantung individu yang melihat dan mengkonstruksinya. Peaget

   (dalam endang, 2006:7).


   Menyatakan hakikat pengetahuan sebagai berikut:


      a. pengetahuan bukanlah merupakan gambaran dunia kenyataan

          belaka, akantetapi selalu merupakan konstrusi kenyataan melalui

          kegitan subjek.


      b. Subjek membentuk skema kognitip, kategori, konsep, dan struktur

          yang perlu pengetahuan


      c. Pengetahuan dibentuk dalam struktur konsepsi seseorang. Struktur

          konsepsi membentuk pengetahuan bila konsep itu berlaku dalam

          berhadapan dengan penalaman-pengalaman seseorang


      d. Pembelajaran melalui konstektual pada dasarnya mendorong agar

          siswa dapat mengkonstruksikan pengetahuan melalui proses

          pengamatan dan pengalaman.


b. inkuiri (menemukan)

          Artinya, proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan

   penemuan melalui proses berpikir secara sistematis, pengetahuan bukanlah

   sejumlah fakta dari hasil mengingat akan tetapi hasil dari proses

   menemukan sendiri. Dengan demikian dal proses perencanaan, guru

   bukanlah mempersiapkan materi yang harus dihapal, akan tetapi merancang
   pembelajaeran yang memungkinkan siswa dpat menemukan sendiri materi

   yan harus dipahaminya.




c. Bertanya (questioning)


          Belajar pada hakikatnya ialah bertanya dan menjawab pertanyaan,

   bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan individu,

   sedangka menjawab pertanyaan mencerminkan kemampua seseorang

   dalam berpikir. Dalm proses pembelajaran melalui konstektual guru tidak

   menyampaikan informasi begitu saja, akan tetapi memancing agar siswa

   dapat menemukan sendiri. Oleh sebab itu peran bertanya sangat

   penting,sebab   melalui   pertanyaan   guru   dapat   membimbing      dan

   mengarahkan siswa untuk menemukan setiap materi yang dipelajarinya.


d. Masyarakat belajar (learning community)


       Dalam kontekstual penerapan asas masyarakat belajar dapat dilakukan

   dengan menerapkan pembelajaran melalui kelompok belajar, siswa dibagi

   kelompok yang anggotanya        bersipat heterogen, baik dilihat dari

   kemampuan dan kecepatan belajarnya, maupun dilihat dari bakat dan

   minatnya.


e. Pemodelan (Modeling)


       Maksudnya adalahproses pembelajaran dengan menggunakan sesuatu

   contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Misalnya guru memberikan
   contoh bagaimana cara melempar bola, guru kesenian memberi contoh

   bagaimana memainkan musik.


       Modeling merupakan asaa yang cukup penting dalam pembelajaran

   kontekstual,   sebab    melalui   modeling   siswa   dapat terhindar   dari

   pembelajaran teoritis-abstrak yang memunkinkan terjadinya verbalisme.


f. Refleksi (Reflektion)


       Refleksi adalah pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang

   dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian atau peristiwa

   kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya melalui proses

   refleksi, pengalaman belajar itu akan di masukkan dalam stuktur kognitif

   siswa yang pada akhirnya akan menjadi bagian dari pengetahuan yang

   dimilikinya.


g. Penilaian nyata (Authentic assessment)


       Adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi

   tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa. Penilaian ini

   diperlukan untuk mengetahuiapakah siswa benar-benar belajar atau tidak.


       Penilaian autentik dilakukan secara terintegrasi dengan proses

   pembelajaran. Penilaian ini dilakukan secara terus menerus selama kegiatan

   pembelajaran berlangsung. Oleh sebab itu, tekanannya diarahkan kepada

   proses belajar bukan kepada hasil belajar.
           Dari ketujuh komponen tersebut, pembelajaran kontekstual merupakan

       pembelajaran yang berdasarkan pada dunia nyata, berpikir tingkat tinggi.

       Aktifitas siswa aplikatif, berbasis masalah nyata, penilaian komprehensif,

       dan pembentukan manusia yang mempunyai akal dan nurani.


Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan beberapa hal berikut ini :


   1. Pembelajaran     kotekstual    merupakan     konsep    pembelajaran     yang

       menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia

       kehidupan peserta didik secara nyata, sehingga para peserta didik mampu

       menghubunkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan

       sehari-hari. Melalui proses penerapan kompetensi dalam kehidupan sehari-

       hari, peserta didik akan merasakan pentingnya belajar, akan memperoleh

       makna yang mendalam terhadap apa yang dipelajarinya.


   2. Tugas    guru    dalam   pembelajaran    kontekstual   adalah   memberikan

       kemudahan belajar kepada peserta didik, dengan menyediakan berbagai

       sarana dan sumber belajar yang memadai . guru bukan hanya

       menyampaikan materi pembelajaran yang berupa hapalan, tetapi mengatur

       lingkungan dan strategi pembelajaran yang memungkinkan peserta didik

       belajar. Lingkungan yang kondusif sangat penting dan sangat menunjang

       pembelajaran kontekstual, dan keberhasilan pembelajaran keseluruhan.
                                    BAB III


                           METODE PENELITIAN


A. Subjek penelitian


   Yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah siswa SMP PGRI

   Bantargadung VII D sebanyk 28 orang yang terdiri dari 13.siswa laki-laki dan

   15 siswa perempuan.


B. Metode penelitian


       Penelitian   ini    dilaksanakan       dengan    menggunakan       metode

   PenelitianTindakan Kelas (PTK) yang berusaha mengkaji dan merefleksikan

   proses dan produk pengajaran dikelas. Proses pembelajaran tidak terlepas dari

   adanya interaksi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, keadaan kelas

   dan materi sehingga dalam penelitian ini yang di teliti adalah proses dan hasil

   belajar.


       Pemilihan metode ini didasarkan pendapat ahli yang menyatakan bahwa

   melalui PTK dapat memperbaiki dan meningkatkan layanan dan propessional

   guru dalam menangani proses belajar mengajar, Borg (dalam Rophayati, 2003 :

   12) menambahkan bahwa tujuan utama PTK adalah mengembangkan

   keterampilan guru yang bertolak dari kebutuhan untuk menanggulangi berbagai

   permasalahan penbelajaran actual yang dihadapi dikelasnya dan atau

   disekolahnya dengan atau tanpa program pelatihan khusus. Selain itu juga

   pemilihan metode ini agar tenaga           secara propessional, yaitu dapat
meningkatkan     kompetensi    dalam    mengatasi    masalah    pembelajaran

(memberdayakan guru dalam mengambil prakarsa yang semakin mandiri ).


    Guru dalam hal ini peneliti, melakukan pengajaran dengan menggunakan

prangkat pembelajaran yang telah direncanakan dan disusun oleh peneliti.


    Langkah-langkah bentuk penelitian tindakan kelas yang peneliti lakukan

diadopsi dari alur Penelitian Tindakan Kelas menurut Kemmis dan Taggart.


    Tahapan penelitian tindakan kelas menurut Kemmis dan Taggart sebagai

berikut :


    a. menyusun rancangan tindakan ( perencanaan ), yang menjelaskan

        tentang apa yang akan dilakukan untuk memperbaiki, meningkatkan

        atau perubahn prilaku dan sikap, dan bagaimana tindakan tersebut

        dilakukan.


    b. Pelaksanaan tindakan, yaitu penerapan isi rancangan didalam kegiatan

        sesuai upaya perbaikan, peningkatan atau perubahan yang diinnginkan.


    c. Observasi / pengamatan, yaitu pelaksanaan, pengamatan yang

        dilakukan bersamaan dengan dampak tindakan yang dikenakan atau

        dilaksanakan terhadap siswa. Jika pelaksana atau pengamat, maka harus

        melakukan “pengamatan balik “ untuk mencatat apa yang terjadi.


    d. Refleksi / pantulan, yaitu mengkaji ,melihat dan mempertimbangkan

        atas hasil atau dampak dari tindakan yang telah dilakukan. Informasi
                 dari refleksi merupakan bahan untuk menyusun rencana pada siklus

                 berikutnya.


                 Alur Peneliti Tindakan Kelas menurut Kemmis dan Taggart yang

             disajikan seperti dalam diagram berikut :


                                     SIKLUS I

    Permasalahan dimulai                                       Alternatif Pemecahan
       dengan masalah                                          (Rencana Tindakan )
         kontekstual



  Analisis hasil observasi            Evaluasi tindakan,       Pelaksanaan Tindakan I
        Tindakan I                    observasi,catatan,
                                       lapangan, tanya
                                      jawab,tes tertulis,
                                       pekerjaan rumah


 Refleksi hasil observasi
       Tindakan I
                                        SIKLUS II



Identifikasi hal-hal yang perlu                              Rencana tindakan II
diperbaiki pada tindakan I




  Analisis hasil observasi           Evaluasi tindakan
        TindakanI                    observasi,catatan       Pelaksanaan Tindakan II
                                      lapangan, Tanya
                                     jawab, tes tertulis




  Refleksi hasil observasi
        Tindakan II
C. Pengumpulan Data

Intrumen dalam penelitian ini adalah :

1. Tes

   Tes ini dilaksanakan setiap akhir pembelajaran satu sub pokok bahasan (tes

   formatif) dan pada akhir pembelajaran satu pokok bahasan ( tes sub sumatif).

   Tes ini dilakukan untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa atau daya serap

   siswa terhadap materi pelajaran yang disajikan dalam proses pembelajaran.

2. Angket

   Angket ini digunakan untuk mengungkap sikap siswa secara umum terhadap

   pembelajaran matematika dengan menggunakan model kontekstual.

3. Lembar Kerja Siswa (LKS)

   Lembaran ini digunakan sebagai bahan ajar yang diperlukan untuk mendukung

   data yang diperoleh dari hasil tes.



D. Menentukan Jumlah Siklus

         Sebelum penelitian ini dilaksanakan, terlebih dahulu menetapkan jumlah

siklus yang digunakan, yaitu sebanyak dua siklus, dimana siklus satu membahas

beberapa materi esensial. Siklus satu dan siklus dua masing-masing terdiri dari dua

kali tatap muka/pertemuan pada setiap akhir siklus dilaksanakan tes sebagai tes

sebagai evaluasi atau penilaian.

Untuk lebih jelas peneliti menguraikan sebagai berikut :

   -     Siklus satu melaksanakan rencana pelajaran kesatu, dan diakhiri

         tes/evaluasi kesatu
   -   Siklus dua           melaksanakan rencana           pelajaran kedua dan diakhiri

       tes/evaluasi.

       Setelah      berakhir    proses    belajar    mengajar    dua     kompetensi    dasar

   dilaksanakan tes atau evaluasi, sebagai ulangan harian

E. Tahap Pelaksanaan

       Dalam penelitian ini menggunakan dua siklus, siklus satu dan siklus dua.

   Proses kegiatan belajar mengajar dikelas dengan uraian sebagai berikut :

    Siklus Satu

                  Dalam siklus satu terbagi dua kali pertemuan/tatap muka dikelas.

       Setiap tatap muka, guru dalam proses mengajar berpedoman pada rencana

       pelajaran yang sudah disiapkan dan selalu menggunakan model

       kontekstual, pada akhir kegiatan belajar mengajar guru melaksanakan

       penilaian proses yang soalnya                sudah dipersipkan dalam rencana

       pelaksanaan pembelajaran. Siswa diberi tugas untuk mengerjakan soal-soal

       pekerjaan rumah.

                  Setelah    dua   kali   tatap     muka    selesai    dilaksanakan,   maka

       dilaksanakan tes prestasi pada akhir siklus satu, dan hasil pekerjaan siswa

       dinilai.

    Siklus dua

                  Siklus dua terbagi dua kali         tatap muka. Tatap muka pertama

       berlangsung sesuai dengan rencana dan menggunakan model kontekstual,

       demikian pada tatap muka kedua. Pada akhir siklus dua dilaksanakan tes

       prestasi yang kedua, dan hasil pekerjaan siswa dinilai.
Secara umum dalam tahap pelaksanaan proses belajar mengajar setiap rencana

pelajaran mencakup kegiatan sebagai berikut :

Kegiatan awal        : - Membahas PR (jika ada)

                     -     Memebrikan motivasi dan apersepsi, sebelum memasuki

                           behan pelajaran yang akan dijelaskan.

Kegiatan inti        : - Menjelaskan materi inti yang diajarkan dengan

                          Model kontekstual.

                         - Membahas contoh-contoh soal yang sesuai

Pengembangan         : - siswa mengerjakan latihan soal, dengan bimbingan guru

                     seperlunya, guru berkeliling kelas untuk memberikan

                     bantuan kepada siswa yang mendapat kesulitan.

Penutup              : - Siswa diarahkan membuat rangkuman atau kesimpulan

                         - Siswa diberi tugas dirumah untuk mengerjakan soal-soal

                          Latihan yang bervariasi.

       Sedangkan tahap pelaksanaan penelitian secara keseluruhan dapat diuraikan

sebagai berikut :

Tahap awal           : - Pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

                         - Pembuatan instrumen

Tahap pelaksanaan    : - Melaksanakan proses pembelajaran

                         - Mengamati melalui observasi selama proses

                           Pembelajaran

Tahap penilaian      : - Tes hasil siklus dan tes harian

Tahap analisa        : - Analisa hasil tes

                         - Analisa hasil observasi
F. Tahap Evaluasi

       Pada tahap evaluasi ini dimulai dengan pemberian tes setelah mengajarkan

 beberapa materi sebanyak dua kali tatap muka/pertemuan.

       Untuk tes setiap siklus menggunakan seperangkat soal bentuk uraian

 sebanyak lima (5) soal.

       Tes dilaksanakan pada akhir setiap siklus kegiatan belajar mengajar. Setiap

 hasil pekerjaan siswa pada masing-masing tes dinilai dengan menggunakan

 bobot dan penskoran yang telah ditentukan. Nilai yang digunakan dua angka

 (angka puluhan) dan nilai maksimal 100.


           Pada tahap evaluasi,dapat melihat keberhasilan dan peningkatan

prestasi belajar matematika siswa pada masing-masing siklus, salah satu

gambaranbahwa prestasi siswa sudah baik ataupun belum dapat dilihat dari tingkat

ketuntasan belajar dikelas itu.
                                  PENENTUAN KKM
                              PELAJARAN MATEMATIKA
                                     KELAS VII
                               TH. AJARAN 2006/2007
                                                                                      KKM
Standar Kompetensi : 3. Menggunkan bentuk aljabar, persamaan dan pertidaksamaan
                           linier satu variabel, dan perbandingan dalam pemecahan
                           masalah
Aspek            : Aljabar

                                                           KRITERIA KKM               Skor
  Kompetensi Dasar             Hasil Belajar        Komplek- Intake sarana
                                                    sitas        siswa   pendukung
3.1   Membuat model       * Mengubah masalah
      matematika dari       kedalam model mate-
      masalah yang ber-     matika berbentuk
      kaitan dengan         persamaan linier satu
      persamaan linier      variabel                        65      60           45
      satu variabel
                                                            65      60           45

3.2   Menyelesaikan       * Menyelesaikan
      model matematika      masalah sehari-hari             60      55           55
      dari masalah yang     yang diubah kedalam
      berkaitan dengan      model matematika
      persamaan linier      berbentuk persamaan
      satu variabel         linier satu variabel
                                                            60      55           55


                                                                 Bantargadung, Pebruari
      Mengetahui,                                                2007
                                                                 Guru Mata
      Kepala Sekolah,                                            Pelajaran,




      DEDI RUKMANA, S,Pd, M,Pd                                      PURWANTO
                                     BAB IV

                    PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN



Pembahasan hasil penelitian yang dikemukakan adalah :

A. Hasil Penelitian Siklus Satu dan Pembahasan

B. Hasil penelitian Siklus Dua dan Pembahasan

C. Pembahasan Hasil Tes Dua Kompetensi Dasar dan Hubungannya dengan Tiap

   Siklus

Hasil Penelitian dan pembahasan tiap siklus penulils uraikan sebagai berikut :

A. Hasil Penelitian dan Pembahasan Siklus Satu

   1. Tindakan, Hasil dan Refleksi

               Pembelajaran siklus satu dilaksanakan pada tanggal 12 sampai

       dengan 28 Pebruari 2007. materi yang disajikan adalah pokok bahasan

       persamaan linier satu variabel pada sub pokok bahasan penerapan

       persamaan linier satu variabel. Tindakan yang dilakukan adalah dengan

       menggunakan model kontekstual dalam pembelajaran dikelas. Dengan

       gambaran pelaksanaan, guru menyajikan sesuai dengan rencana pengajaran

       yang telah disiapkan, antara lain meliputi pendahuluan yang berisi :

       introduksi, motivasi, revisi, dan apersepsi. Setelah itu dilanjutkan dengan

       pengembangan, yaitu guru bersama-sama siswa membahas tentang materi

       atau konsep yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ditetapkan

       dengan menggunakan pembelajaran model kontekstual.

               Setelah selesai menjelaskan guru memberi contoh soal dan

       diselesaikan bersama-sama siswa, kemudian diberi soal lainnya, siswa
diminta menyelasaikan jawabannya. Selanjutnya masuk ke pengembangan

yaitu siswa di beri soal-soal latihan untuk dikerjakan,guru berkeliling

melihat cara siswa mengerjakan soal, sambil memberi bantuan seperlunya

kepada siswa yang mendapat kesulitan pada waktu yang ditentukan siswa

selesai mengerjakan soal, maka jawaban siswa dibahas, apabila jawabannya

masih salah maka ditunjukan jawaban yang sebenarnya.

       Pada siklus satu, hasilnya masih sangat rendah, dapat dilihat dari

hasil pekerjaan siswa banyak yang masih salah. Menurut hasil observasi

selama kegiatan belajar mengajar, beberapa kelemahan siswa diantaranya :

1. Siswa belum sepenuhnya memahami materi

2. sarana belajar siswa belum semuanya lengkap seperti : buku dan LKS

3. Siswa belum terbiasa menemukan permasalahan sendiri

4. Kesulitan siswa menyelesaikan persamaan linier satu variabel

   Selain kelemahan –kelemahan siswa, terdapat juga kelemahan guru,

diantaranya :

1. Pada waktu menjelaskan materi, guru sering mendapat kesulitan dan

   hambatan, terutama pengetahuan prasarat siswa kurang menunjang

   materi yang sedang dibahas.

2. Guru belum sepenuhnya membimbing siswa dalam melakukan

   perhitungan yang teliti.

3. Contoh-contoh soal yang diberikan belum bervariasi dan kurang

   banyak.
       Mengingat kondisi diatas,, maka tes siklus satu hasilnya dapat dillihat

   pada Lampiran B.1, yang menunjukkan hal-hal sebagai berikut

   1. Nilai tertinggi yang diperoleh siswa            = 80

   2. Nilai terendah yang diperoleh siswa             = 30

   3. Jumlah nilai seluruh siswa                      = 1435

   4. Jumlah siswa                                    = 28

   5. Nilai rata-rata                                 = 51,25

   6. Jumlah siswa yang tuntas belajar                = 12

   7. Jumlah siswa yang tidak tuntas belajar          = 14

   8. Ketuntasan belajar secara umum/kelas            = 42,85 %

   9. Ketidaktuntasan belajar secara umum/kelas       = 57,15 %

           Memeperhatikan ketuntasan belajar siswa yang masih rendah, yaitu

   42, 85% dan nilai rata-rata 51,25, juga dengan masih adanya kelemahan-

   kelemahan, maka perlu adanya usaha-usaha perbaikan untuk meningkatkan

   ketuntasan belajar dan prestasi belajar siswa secara umum. Usaha-usaha

   perbaikan untuk      meningkatkan ketuntasan belajar dan prestasi belajar

   siswa secara umum. Usaha-usaha tersebut diantaranya sebagai berikut :

1. Siswa diberi nasihat, pengarahan dan bimbingan untuk memberikan

   keyakinan, ketenangan dan percaya diri bahwa mereka bisa memahami dan

   menyelesaikan soal-soal matematika.

2. Siswa di sarankan untuk secepatnya melengkapi sarana belajar seperti

   buku paket, untuk mendapatkan buku paket dengan cara meminjam di

   perpustakaan sekolah. Untuk berlatih soal dirumah, juga siswa disarankan

   memilki buku-buku soal latihan seperti LKS.
   3. Untuk mengingatkan pengalaman belajar sebelumnya, siswa diarahkan

      untuk membaca lagi catatan – catatan pelajaran sebelumnya. Dan sebelum

      kegiatan belajar di kelas dimulai, guru lebih mementingkan terlebih dahulu

      mengadakan apersepsi, setelah siswa siap, baru kegiatan belajar untuk

      materi baru dimulai.

   4. Pada waktu siswa mengerjakan soal-soal latihan, guru berkeliling untuk

      melihat dan membantu siswa yang mendapat kesulitan

   5. Diberikan contoh-contoh soal yang lebih banyak dan bentuk soal

      bervariasi.

             Dengan upaya-upaya perbaikan yang dilakukan diatas, serta

      memperhatikan     motivasi     siswa   jika   belajar   menggunakan   model

      kontekstual.cukup baik, maka proses belajar mengajar pada siklus

      berikutnya, dengan menggunakan model kontekstual. ]

B. Hasil Penelitian dan Pembahasan Siklus Dua

   1. Tindakan, Hasil dan Refleksi

      Siklus dua dilaksanakan pada tanggal 5 sampai dengan 22 maret 2007.

      Materi yang disajikan dan tindaka yang dilakukan, garis besarnya sama

      dengan siklus satu. Mengenai hasil dan refleksi pada siklus dua sebagian

      siswa sudah dapat menyelesaikan soal-soal penerapan persamaan linier

      satu variabel.

             Tes siklus dua menunjukkan hasil seperti yang tercantum pada

      lampiran B.2, pada table tersebut hasilnya sebagai berikut :
       1. Nilai tertinggi yang diperoleh siswa            = 70

       2. Nilai terendah yang diperoleh siswa             = 40

       3. Jumlah nilai seluruh siswa                      = 1530

       4. Jumlah siswa                                    = 28

       5. Nilai rata-rata                                 = 54,64

       6. Jumlah siswa yang tuntas belajar                = 19

       7. Jumlah siswa yang tidak tuntas belajar          =9

       8. Ketuntasan belajar secara umum/kelas            = 67,86 %

       9. Ketidaktuntasan belajar secara umum/kelas       = 32,14 %

       Berdasarkan hasil tes diatas menunjukkan siswa yang tuntas belajar 67,86

% dan tidak tuntas belajar 32,14 % dengan nilai rata-rata naik 5,53 jika

dibandingkan siklus satu.

       Hasil observasi selama berlangsung pembelajaran pada siklus dua, rata-rata

siswa masih kesulitan dalam membuat bentuk soal ke dalam bentuk matematika

dan cara penyelesaiannya kurang teliti, misalnya dalam penempatan bilangan

konstanta dan variabelnya. Namun siswa yang memiliki sikap memahami senang,

tertarik,aktif pada siklus dua cenderung mengalami peningkatan.

       Untuk meningkatkan siswa yang tuntas belajar, maka upaya yang dilakukan

guru untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan tersebut diatas adalah siswa

disarankan untuk lebih teliti dalam membuat bentuk soal ke dalam bentuk

matematika, karena hal ini sangat penting dalam menyelesaikan penerapan

persamaan linier satu variabel,penyelesaian penerapan persamaan linier satu

pariabel ini sangat penting dan banyak berguna dalam kehidupan seharii-hari agar

siswa mau sering berlatih, maka diberikan soal-soal latihan untuk dikerjakan
dirumah, terutama yang berkaitan dengan bentuk soal penerapan matematika

dalam kehidupan sehari-hari.

       Dari kedua siklus tersebut dapat diketahui bahwa fluktuasi persentase

ketutasan belajar selama pemberian tindakan bergerak dengan memberi

kecendrungan adanya peningkatan, meskipun siswa yang tuntas belajar secara

klasikal belum tercapai.
                                          BAB V

                                     PENUTUP



A. Kesimpulan

       Pembelajaran matematika pada pokok bahasan aljabar dengan sub pokok

bahasan Penerapan Persamaan Linier Satu Variabel dengan menggunakan

pembelajaran model kontekstual, dapat memberikan pengaruh yang cukup nyata

untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini ditunjukkan oleh adanya

kecenderungan bertambahnya nilai persentase ketuntasan yang berfluktuasi antara

39,22 % dan 67,86 %.


B. Implikasi

       Telah diketahui bahwa pembelajaran matematika dengan menggunakan

model kontekstual dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini merupakan

informasi yang dapat di pergunakan oleh guru dan siswa untuk meningkatkan

prestasi belajar siswa yang lebih baik.


       Dengan demikian, seyogyanya para guru menggunakan model kontekstual

dalam proses belajar mengajar di kelas sebagai alternative, dalam rangka

meningkatkan prestasi belajar matematika.


C. Saran - saran

       Penelitian ini telah dapat membuktikan secara deskripsi bahwa prestasi

matematika siswa yang menggunkan model kontekstual dalam pembelajaran, dapat

meningkatkan meskipun belum maksimal.
       Melihat dari hasil penelitian ini, peneliti akan menyampaikan saran-saran

yang mudah-mudahan dapat berguna bagi kemajuan dalam dunia pendidikan, dan

dalam mata pelajaran matematika khususnya.


Adapun saran-saran dari peneliti yang dapat disampaikan adalah sebagai berikut :

           1. Para guru metematika SMP khususnya, sebaiknya mempergunakan

              model kontekstual dalam pengajaran matematika pada pokok

              bahasan aljabar dengan sub pokok bahasan penerapan persamaan

              linier satu variabel.
                             DAFTAR PUSTAKA




Hamalik, O. (1990). Proses Belajar Mengajar. Jakarta : PT Bumi Aksara.


Hudoyo, H. (2003). Strategi Belajar Mengajar Matematika. Malang : IKIP

                   Malang.


Roestad, S. (1997). Skripsi. Bandung : UNPAS.


Rohayati, A. (2001). Strategi Belajar Mengajar dan Teknik Evalusi Hasil

                     Pembelajaran Matematika. Bandung : Kanwil Departemen

                     Agama.


Rohayati, Y. (2003). Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Metakognotif

                     Untuk Meningkatkan Kemampuan Penalaran Siswa SMU.

                     Skripsi. Bandung : UPI.


Sudirja, W. (2002). Skripsi. Bandung : UNPAS.


Surya, M. (2004). Psikologi Pembelajaran & pengajaran. Bandung : Pustaka Bani

                     Quraisy.


Wulan, S. R. (2003). Proposal Penelitian. Bandung : UPI.
     LAMPIRAN


INTRUMEN PENELITIAN
            RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Mata pelajaran        : Matematika
Kelas                 : VII ( tujuh )
Semester              : II (dua)
Pertemuan             : I (satu)
Alokasi Waktu         : 2 x 40 „
Standar Kompetensi : 3.       Menggunakan bentuk aljabar, persamaan dan
                              Pertidaksamaan linier satu variabel, dan perbandingan
                              dalam pemecahan masalah.
Kompetensi Dasar : 3.1 Membuat model matematika dari masalah yang
                              berkaitan dengan persamaan dan pertidaksamaan
                              linier satu variabel.
Indikator             : * Mengubah masalah kedalam model matematika
                      berbentuk persamaan linier satu variabel
I. Materi pokok       : Persamaan dan Pertidaksamaan Linier Satu Variabel
 Pokok Bahasan        : Penerapan Persamaan Linier Satu Variabel
II. Tujuan Pembelajaran : * Siswa dapat menyebutkan cirri persamaan lilnier satu
                              veriabel
                           * Siswa dapat membuat model matematika kedalam
                              bentuk persamaan linier satu variabel.
III. Metode/Pendekatan Pembelajaran :
                          * Metode : Ceramah bervariasi
                          * Pendekatan       : Model Kontekstual
IV. Langkah-langkah Pembelajaran
  a. Kegiatan Awal
    Apersepsi
    Mengingat kembali tentang persamaan linier satu variabel
    Tanya jawab tentang meteri yang akan dipelajari
 b. Kegiatan inti
    Guru menjelaskan tentang membuat model matematika dalam bentuk
        persamaan linier variabel dan cara penyelesaiannya.
     Guru memberikan contoh model matematika dan cara penyelesaiannya
        tentang persamaan linier satu variabel
     Contoh :
    Jumlah tiga buah bilangan berurutan sebesar 42, buatlah ke dalam bentuk
    model matematika !
    Penyelesaian :
    Misalkan bilangan bulat ke-1 adalah a, maka bilangan bulat ke-2 adalah a+1,
    dan bilangan bulat ke-3 adalah a + 2 sehingga :
    A + (a+1) + (a+2) = 42
   c. Kegiatan akhir
     Menarik kesimpulan tentang materi persamaan linier satu variabel pada
        pokok bahasan penerapan persamaan linier satu variabel
     Guru memberikan tugas tentang cara membuat model matematikanya untuk
        dikerjakan dirumah
V. Alat/bahan dan sumber belajar
        a. Alat/bahan                :
        b. Sumber belajar            : Matematika untuk kelas VII karangan Yuniarto
                                     penerbit Sinergi
VI. Penilaian
    a. Prosedur         : Mengadakan tes pada akhir pembelajaran
    b. Jenis tes        : Tertulis
    c. Bentuk tes       : Esai
    d. Soal tes         : Terlampir


                                                        Sukabumi, Pebruari 2007
                                                               Peneliti,




                                                              Purwanto
                                                           NIM : 020305322
            RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Mata pelajaran       : Matematika
Kelas                : VII ( tujuh )
Semester             : II (dua)
Pertemuan            : II (satu)
Alokasi Waktu        : 2 x 40 „
Standar Kompetensi : 3.      Menggunakan bentuk aljabar, persamaan dan
                             Pertidaksamaan linier satu variabel, dan perbandingan
                             dalam pemecahan masalah.
Kompetensi Dasar : 3.2 Menyelesaikan model matematika dari masalah yang
                             berkaitan dengan persamaan linier satu variabel.
Indikator            : * Menyelesaikan model matematika suatu masalah yang
                     berkaitan dengan persamaan linier satu variabel.
I. Materi pokok      : Persamaan dan Pertidaksamaan Linier Satu Variabel
 Pokok Bahasan       : Penerapan Persamaan Linier Satu Variabel
II. Tujuan Pembelajaran : * Siswa dapat membuat model matematika berbentuk
                             persamaan linier satu variabel.
                          * Siswa dapat menyelesaikan model matematika suatu
                             masalah yang berkaitan dengan persamaan linier satu
                             variabel.
III. Metode/Pendekatan Pembelajaran :
                          * Metode          : Ceramah bervariasi
                          * Pendekatan      : Model Kontekstual
IV. Langkah-langkah Pembelajaran
  a. Kegiatan Awal
    Apersepsi
    Mengingat kembali tentang membut model matematika dalam bentuk
        PLSV
    Tanya jawab tentang meteri yang akan dipelajari
 b. Kegiatan inti
     Guru menjelaskan tentang membuat model matematika dalam bentuk
        persamaan linier variabel dan cara penyelesaiannya.
     Guru memberikan contoh model matematika dan cara penyelesaiannya
        tentang persamaan linier satu variabel
     Contoh :
    Jumlah tiga buah bilangan berurutan sebesar 42, buatlah ke dalam bentuk
    model matematika !
    Penyelesaian :
    Misalkan bilangan bulat ke-1 adalah a, maka bilangan bulat ke-2 adalah a+1,
    dan bilangan bulat ke-3 adalah a + 2 sehingga :
    a + (a+1) + (a+2) = 42                        sehingga :
    a + a+1+a+2 = 42                              bilangan pertama : 13
    3a + 3 = 42                                   bilangan ke-2     : 14
    3a = 42 – 3                                   bilangan ke – 3   : 15
    3a = 39
    a = 39/3 = 13
   c. Kegiatan akhir
     Menarik kesimpulan tentang materi persamaan linier satu variabel pada
        pokok bahasan penerapan persamaan linier satu variabel
     Guru memberikan tugas tentang cara membuat model matematikanya untuk
        dikerjakan dirumah
V. Alat/bahan dan sumber belajar
        a. Alat/bahan                :
        b. Sumber belajar            : Matematika untuk kelas VII karangan Yuniarto
                                     penerbit Sinergi
VI. Penilaian
    a. Prosedur         : Mengadakan tes pada akhir pembelajaran
    b. Jenis tes        : Tertulis
    c. Bentuk tes       : Esai
    d. Soal tes         : Terlampir
                        SOAL LATIHAN SIKLUS SATU


Pokok Bahasan          : Aljabar

Sub Pokok Bahasan      : Penerapan Persamaan Linier Satu Variabel

1. Tiga bilangan bulat berurutan jumlahnya 12, nyatakan

       a. Dalam bentuk model matematika

       b. Berapa nilai bilangan tersebut?

2. Seorang ayah berumur 3 kali umur anaknya. Jumlah umur mereka 48 tahun

   Nyatakan :

       a. Dalam bentuk model matematika

       b. Berapa umur masing-masing?

3. Selisih bilangan sama dengan 8 kali bilangan yang lain, selisihnya 63, tentukan

       a. Nyatakan dalam bentuk persaman

       b. Berapa nilai bilangan tersebut?

4. Ana memiliki sekotak pensil. Jika 2 kali sekotak pensil ditambah 6 pensil

   seluruhnya 32 pensil, tentukan :

       a. buat kedalam bentuk persamaan

       b. berapa pensil dalam kotak?

5. Jumlah tiga buah bilangan adalah 60, bilangan kedua sama dengan tiga kali

   bilangan pertama, sedangkan bilangan ketiga sama dengan dua kali bilangan

   kedua, tentukan :

       a. Buatlah kedalam bentuk persamaan

       b. Bilangan berapa saja itu?
                 HASIL TES MATEMATIKA SIKLUS SATU
                 KELAS VII D SMP PGRI BANTARGADUNG


Pokok Bahasan         : ALJABAR
Sub Pokok Bahasan     : Penerapan Persamaan Linier Satu Variabel
Semester              : II
Tahun Pelajaran       : 2006/2007

                 SKOR YANG
                  DIPEROLEH         JML                            KETUNTASAN
     NAMA        SETIAP SOAL                      KETERCAPAIAN
NO                                 SKOR   NILAI
     SISWA                                            (%)          YA      TIDAK
             1    2   3   4    5     20

1   S-1   3 2         3   4    2    14     70          70          √
2   S-2   2 2         2   3    2    11     55          55          √
3   S-3   3 1         3   4    3    14     70          70          √
4   S-4   2 0         2   2    1    7      35          35                  √
5   S-5   3 1         2   2    2    10     50          50                  √
6   S-6   3 2         2   1    1    9      45          45                  √
7   S-7   2 3         2   0    2    9      45          45                  √
8   S-8   4 2         3   2    1    13     45          45                  √
9   S-9   3 3         2   1    1    10     50          50                  √
10 S-10   2 2         2   2    1    9      45          45                  √
11 S-11   3 2         1   2    0    9      45          45                  √
12 S-12   3 2         3   2    2    12     60          60          √
13 S-13   2 2         2   1    0    7      35          35                  √
14 S-14   2 2         1   0    1    6      30          30                  √
15 S-15   3 2         3   2    2    12     60          60          √
16 S-16   2 3         2   2    2    11     55          55          √
17 S-17   2 2         2   1    2    9      45          45                  √
18 S-18   3 3         2   2    2    12     60          60          √
19 S-19   2 2         1   2    1    8      40          40                  √
20 S-20   2 1         2   0    2    7      35          35                  √
21 S-21   3 2         2   0    2    9      45          45                  √
22 S-22   3 2         2   3    1    11     55          55          √
23 S-23   3 3         2   3    1    12     60          60          √
24 S-24   2 2         2   0    1    7      35          35                  √
25 S-25   3 2         0   1    1    7      35          35                  √
26 S-26   3 2         2   2    2    11     55          55          √
27 S-27   2 3         3   2    1    11     55          55          √
28 S-28   2 2         0   2    2    8      40          40                  √
RATA-RATA                                 49,11
TUNTAS                                                             39,28
TIDAK TUNTAS                                                               60,72
                     SOAL LATIHAN PADA SIKLUS II

Pokok Bahasan         : Aljabar

Sub Pokok Bahasan     : Penerapan Persamaan Linier Satu Variabel



   1. Jumlah tiga bilangan bulat berurutan adalah 42, tentukan :

          a. DAlam bentuk model matematika

          b. Berapa saja bilangan bulat itu ?

   2. Sebuah bilangan sebesar 5 kali bilangan yang lain, jumlah kedua bilangan

      itu 48, nyatakan :

          a. Dalam bentuk persamaan

          b. Bilangan berapa saja itu?

   3. Pada sebuah kelas terdapat 26 siswa. Siswa perempuan 4 kurangnya dari 2

      kali siswa laki-laki, tentukan :

          a. Dalam bentuk persamaan

          b. Berapa siswa laki-laki dan siswa perempuan ?

   4. Umur kakak 2 kali umur adiknya, jumlah umur mereka 36 tahun, nyatakan

          a. Dalam bentuk model matematika

          b. Berapa umur masing-masing ?

   5. Andi memiliki sekotak pensil di kurangi 3 pensil seluruhnya 37 pensil,

      tentukan :

          a. Buatlah kedalam bentuk model matematika

          b. Berapa pensil dalam kotak ?
                  HASIL TES MATEMATIKA SIKLUS DUA
                 KELAS VII D SMP PGRI BANTARGADUNG


Pokok Bahasan         : ALJABAR
Sub Pokok Bahasan     : Penerapan Persamaan Linier Satu Variabel
Semester              : II
Tahun Pelajaran       : 2006/2007

                 SKOR YANG
                  DIPEROLEH         JML                            KETUNTASAN
     NAMA        SETIAP SOAL                      KETERCAPAIAN
NO                                 SKOR   NILAI
     SISWA                                            (%)          YA      TIDAK
             1    2   3   4    5     20

1   S-1   3       2   3   4    2    14     70             70       √
2   S-2   3       3   1   3    2    12     60             60       √
3   S-3   4       1   2   3    2    12     60             60       √
4   S-4   2       1   2   2    1    8      40             40               √
5   S-5   3       2   1   3    2    11     55             55       √
6   S-6   2       3   2   1    1    9      45             45               √
7   S-7   2       2   2   3    2    11     60             60       √
8   S-8   3       2   3   2    1    11     55             55       √
9   S-9   3       3   2   1    2    11     55             55       √
10 S-10   3       2   2   2    1    10     50             50               √
11 S-11   2       2   1   2    0    8      40             40               √
12 S-12   3       2   2   3    2    12     60             60       √
13 S-13   2       3   2   1    2    10     50             50               √
14 S-14   3       2   1   2    1    10     50             50               √
15 S-15   3       2   2   2    3    12     60             60       √
16 S-16   3       3   1   2    1    10     50             50               √
17 S-17   3       2   2   2    2    11     55             55       √
18 S-18   2       3   2   2    2    11     55             55       √
19 S-19   2       1   1   3    2    9      45             45               √
20 S-20   2       2   2   3    2    11     55             55       √
21 S-21   1       2   3   0    2    9      45             45               √
22 S-22   3       1   2   3    2    11     55             55       √
23 S-23   3       1   2   2    4    12     60             60       √
24 S-24   4       2   2   3    2    13     65             65       √
25 S-25   3       3   1   2    3    11     55             55       √
26 S-26   3       3   2   1    2    11     55             55       √
27 S-27   4       3   3   2    2    14     70             70       √
28 S-28   3       2   2   2    2    11     55             55       √
RATA-RATA                                         54,64
TUNTAS                                                             67,86
TIDAK TUNTAS                                                               32,14

								
To top