sanitasi by elipldoc

VIEWS: 6,556 PAGES: 25

									               SANITASI AIR BERSIH:
                              Oleh Dedeh

Air merupakan unsur utama bagi hidup kita di planet ini. Kita mampu bertahan hidup
tanpa makan dalam beberapa minggu, namun tanpa air kita akan mati dalam beberapa
hari saja. Dalam bidang kehidupan ekonomi modern kita, air juga merupakan hal
utama untuk budidaya pertanian, industri, pembangkit tenaga listrik, dan transportasi.

Semua orang berharap bahwa seharusnya air diperlakukan sebagai bahan yang sangat
bernilai, dimanfaatkan secara bijak, dan dijaga terhadap cemaran. Namun
kenyataannya air selalu dihamburkan, dicemari, dan disia-siakan. Hampir separo
penduduk dunia, hampir seluruhnya di negara-negara berkembang, menderita
berbagai penyakit yang diakibatkan oleh kekurangan air, atau oleh air yang tercemar.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, 2 miliar orang kini menyandang risiko
menderita penyakit murus yang disebabkan oleh air dan makanan. Penyakit ini
merupakan penyebab utama kematian lebih dari 5 juta anak-anak setiap tahun.

Sumber-sumber air semakin dicemari oleh limbah industri yang tidak diolah atau
tercemar karena penggunaanya yang melebihi kapasitasnya untuk dapat diperbaharui.
Kalau kita tidak mengadakan perubahan radikal dalam cara kita memanfaatkan air,
mungkin saja suatu ketika air tidak lagi dapat digunakan tanpa pengolahan khusus
yang biayanya melewati jangkauan sumber daya ekonomi bagi kebanyakan negara.

Banyak orang memang memahami masalah-masalah pencemaran dan lingkungan
yang biasanya merupakan akibat perindustrian, tetapi tetap saja tidak menyadari
implikasi penting yang dapat terjadi. Sebagian besar penduduk bumi berada di
negara-negara berkembang; kalau orang-orang ini harus mendapatkan sumber air
yang layak, dan kalau mereka menginginkan ekonomi mereka berkembang dan
berindustrialisasi, maka masalah-masalah yang kini ada harus disembuhkan. Namun
bagaimanapun masalah persediaan air tidak dapat ditangani secara terpisah dari
masalah lain. Buangan air yang tak layak dapat mencemari sumber air, dan sering kali
tak teratasi. Ketidaksempurnaan dalam layanan pokok sistem saluran hujan yang
kurang baik, pembuangan limbah padat yang jelek juga dapat menyebabkan hidup
orang sengsara. Oleh karena itu, meskipun makalah ini memusatkan diri terutama
pada air dan sanitasi, dalam jangka panjang akan sangat penting memikirkannya dari
segi pengintegrasian layanan-layanan lingkungan ke dalam suatu paket pengelolaan
air, sanitasi, saluran, dan limbah padat yang komprehensif.



         Ketersediaan dan Kelangkaan Air

Air merupakan elemen yang paling melimpah di atas Bumi, yang meliputi 70%
permukaannya dan berjumlah kira-kira 1,4 ribu juta kilometer kubik. Apabila dituang
merata di seluruh permukaan bumi akan terbentuk lapisan dengan kedalaman rata-
rata 3 kilometer. Namun hanya sebagian kecil saja dari jumlah ini yang benar-benar
dimanfaatkan, yaitu kira-kira hanya 0,003%. Sebagian besar air, kira-kira 97%, ada
dalam samudera atau laut, dan kadar garamnya terlalu tinggi untuk kebanyakan
keperluan. Dari 3% sisanya yang ada, hampir semuanya, kira-kira 87
persennya,tersimpan dalam lapisan kutub atau sangat dalam di bawah tanah.

Dalam satu tahun, rata-rata jumlah tersebut tersisa lebih dari 40.000 kilometer kubik
air segar yang dapat diperoleh dari sungai-sungai di dunia. Bandingkan dengan
jumlah penyedotan yang kini hanya ada sedikit di atas 3.000 kilometer kubik tiap
tahun. Ketersediaan ini (sepadan dengan lebih dari 7.000 meter kubik untuk setiap
orang) sepintas kelihatannya cukup untuk menjamin persediaan yang cukup bagi
setiap penduduk, tetapi kenyataannya air tersebut seringkali tersedia di tempat-tempat
yang tidak tepat. Misalnya, lembah sungai Amazon memiliki sumber yang cukup
tetapi mengekspor air dari sini ke tempat-tempat yang memerlukan adalah tidak
ekonomis.

Selain itu, angka curah hujan sering sangat kurang dapat dipercaya, sehingga
persediaan air yang nyata sering jauh di bawah angka rata-rata yang ditunjukkan.
Pada musim penghujan, hujan sangat hebat, namun biasanya hanya terjadi beberapa
bulan setiap tahun; bendungan dan tandon air yang mahal diperlukan untuk
menyimpan air untuk bulan-bulan musim kering dan untuk menekan kerusakan
musibah banjir. Bahkan di kawasan-kawasan "basah" ini angka yang turun-naik dari
tahun ke tahun dapat mengurangi persediaan air yang akan terasa secara nyata.
Sedangkan di kawasan kering seperti Sahel di Afrika, masa kekeringan yang
berkepanjangan dapat berakibat kegagalan panen, kematian ternak dan merajalelanya
kesengsaraan dan kelaparan.

Pembagian dan pemanfaatan air selalu merupakan isu yang menyebabkan
pertengkaran, dan sering juga emosi. Keributan masalah air bisa terjadi dalam suatu
negara, kawasan, ataupun berdampak ke benua luas. Di Afrika, misalnya, lebih dari
57 sungai besar atau lembah danau digunakan bersama oleh dua negara atau lebih;
Sungai Nil oleh sembilan, dan Sungai Niger oleh 10 negara. Sedangkan di seluruh
dunia, lebih dari 200 sungai, yang meliputi lebih dari separo permukaan bumi,
digunakan bersama oleh dua negara atau lebih. Selain itu, banyak lapisan sumber air
bawah tanah membentang melintasi batas-batas negara, dan penyedotan oleh suatu
negara dapat menyebabkan ketegangan politik dengan negara tetangganya.

Karena air yang dapat diperoleh dan bermutu bagus semakin langka, maka
percekcokan dapat semakin memanas. Di seluruh dunia, kira-kira 20 negara, hampir
semuanya di kawasan negara berkembang, memiliki sumber air yang dapat diperbarui
hanya di bawah 1.000 meter kubik untuk setiap orang, suatu tingkat yang biasanya
dianggap kendala yang sangat mengkhawatirkan bagi pembangunan, dan 18 negara
lainnya memiliki di bawah 2.000 meter kubik untuk tiap orang.

Lebih parah lagi, penduduk dunia yang kini berjumlah 5,3 miliar mungkin akan
meningkat menjadi 8,5 miliar pada tahun 2025. Beberapa ahli memperkirakan bahwa
tingkat itu akan menjadi stabil pada angka 16 miliar orang. Apapun angka
terakhirnya, yang jelas ialah bahwa tekanan yang sangat berat akan diderita oleh
sumber-sumber bumi yang terbatas. Dan laju angka kelahiran yang tertinggi justru
terjadi tepat di daerah yang sumber-sumber airnya mengalami tekanan paling berat,
yaitu di negara-negara berkembang.

Dalam tahun-tahun belakangan ini, sebagian besar angka pertumbuhan penduduk
terpusat pada kawasan perkotaan. Pertumbuhan penduduk secara menyeluruh di
negara-negara berkembang kira-kira 2,1 persen setahun, tetapi di kawasan perkotaan
lebih dari 3,5%. Daerah kumuh perkotaan atau hunian yang lebih padat di kota yang
menyedot pemukim baru termiskin tumbuh dengan laju sekitar 7% setahun.

Hunian pinggiran yang lebih padat sering dibangun secara membahayakan di atas
tanah yang tak dapat digunakan untuk apapun, seperti bukit-bukit terjal yang labil
atau daerah-daerah rendah yang rawan banjir. Kawasan semacam itu tidak sesuai
dengan perencanaan kota yang manapun, dipandang dari segi tata-letak ataupun
kebakuan. Karena kawasan semacam itu dianggap sah secara hukum dan bersifat
"darurat", pemerintah kota biasanya tidak cepat melengkapinya dengan prasarana
seperti jalan, gedung sekolah, klinik kesehatan, pasokan air, dan sanitasi. Namun
sebenarnya hunian semacam ini tak pelak akan menjadi pola bagi kota yang harus
dilayani dengan prasarana modern; hal ini mempunyai implikasi-implikasi baik untuk
pemecahan secara teknis maupun secara lembaga yang akan diperlukan sebagai
syarat supaya segala layanan mencapai semua orang dan berkesinambungan.

Di sementara negara, masalah terbesar mengenai persediaan air berkembang bukan
hanya dari masalah kelangkaan air dibanding dengan jumlah penduduk, melainkan
dari kekeliruan menentukan kebijakan tentang air, dan baru menyadari masalah-
masalah tersebut lama setelah akibat yang tak dikehendaki menjadi kenyataan. Jadi
meskipun penambahan investasi dalam sektor ini diperlukan, penambahan itu perlu
disertai dengan perubahan: Prioritas utama haruslah pada cara pemanfaatan paling
bijak terhadap investasi besar yang telah ditanam dalam sektor ini setiap tahun.



          Pengumpulan Sanitasi

Hampir tiap orang mengetahui `masalah air'. Tapi hampir tak seorangpun di luar
sektor itu yang tahu bahwa ada masalah sanitasi yang sama seriusnya dengan masalah
air yang telah mendapat publikasi lebih baik. Padahal, terdapat hubungan yang erat
antara masalah sanitasi dan penyediaan air.

  Kesehatan. Semua penyakit yang berhubungan dengan air sebenarnya berkaitan
dengan pengumpulan dan pembuangan limbah manusia yang tidak benar. Itulah
sebabnya estimasi pengurangan penyakit di tabel 2 menunjuk ke penyediaan air dan
sanitasi. Memperbaiki yang satu tanpa memperhatikan yang lainnya sangatlah tidak
efektif.

  Penggunaan air. Toilet siram desain lama membutuhkan 19 liter air dan bisa
memakan hingga 40% dari penggunaan air untuk kebutuhan rumah tangga. Dengan
jumlah penggunaan 190 liter air per kepala per hari, mengganti toilet ini dengan unit
baru yang menggunakan hanya 0,7 liter per siraman bisa menghemat 25% dari
penggunaan air untuk rumah tangga tanpa mengorbankan kenyamanan dan kesehatan.
Sebaliknya, memasang unit penyiraman yang memakai 19 liter air di sebuah rumah
tanpa WC bisa meningkatkan pemakaian air hingga 70%. Jelas, hal ini tidak
diharapkan di daerah yang penyediaan airnya tidak mencukupi, dan hal tersebut juga
bisa menambah jumlah limbah yang akhirnya harus dibuang dengan benar.

   Biaya dan pemulihan biaya. Biaya pengumpulan, pengolahan dan pembuangan
limbah meningkat dengan cepat begitu konsumsi meningkat. Merencanakan hanya
satu sisi penyediaan air tanpa memperhitungkan biaya sanitasi akan menyebabkan
kota berhadapan dengan masalah lingkungan dan biaya tinggi yang tak terantisipasi.
Pada tahun 1980, Bank Dunia melaporkan bahwa dengan menggunakan praktek-
praktek konvesional, untuk membuang air dibutuhkan biaya lima sampai enam kali
sebanyak biaya penyediaan. Ini adalah untuk konsumsi sekitar 150 hingga 190 liter
air per kepala per hari. Informasi lebih baru dari Indonesia, Jepang, Malaysia dan A.
S. menunjukkan bahwa rasio meningkat tajam dengan meningkatnya konsumsi; dari
1,3 berbanding 1 untuk 19 liter per kepala per hari menjadi 7 berbanding 1 untuk
konsumsi 190 liter dan 18 berbanding 1 untuk konsumsi 760 liter.
Perlu diperhatikan pula bahwa pungutan untuk saluran pembuangan limbah biasanya
jauh lebih rendah dari pada pungutan air, padahal biaya pembuangan limbah lebih
tinggi.
Juga, perusahaan-perusahaan air berhasil melakukan kontrol atas tingkatan pungutan
dan bisa memberikan sangsi (seperti menghentikan layanan) apabila pungutan tak
dibayar. Sementara itu, pungutan pembuangan limbah di banyak negara hanyalah
sebagian kecil dari pendapatan umum pajak kota yang tidak hanya terlalu kecil tapi
juga tidak ditarik; atau, kalaupun ditarik, dialihkan pada bagian operasi kota lainnya.
  Penggunaan ulang air. Jika sumber daya air tidak mencukupi, air limbah
merupakan sumber penyediaan yang menarik, dan akan dipakai baik resmi disetujui
atau tidak. Karena itu peningkatan penyediaan air cenderung mengakibatkan
peningkataan penggunaan air limbah, diolah atau tidak. Masalah yang harus
dipertimbangkan oleh perencana adalah mereka juga harus memperhatikan sumber-
sumber daya tersebut supaya penggunaan ulang ini tidak merusak kesehatan
masyarakat.
Dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut, banyak perhatian telah diberikan pada
pembuatan sistem sanitasi yang tahan lama, hemat air, bisa diterima oleh orang-orang
yang akan memakainya, dan memungkinkan penggunaan kembali limbah yang telah
diolah. Pengembangan sanitasi yang paling penting dalam dekade ini adalah
pengesahan bentuk-bentuk sanitasi yang sebelumnya dianggap primitif. Setelah
beberapa tahun penelitian terapan dan kemajuan teknologi, kakus luar rumah telah
ditransformasi menjadi instalasi sederhana tapi canggih yang memberikan tingkat
kenyamanan dan kesehatan yang tinggi. Dua teknologi penting yang berhubungan
dengan kakus ini adalah: lubang kakus yang diperbaiki dan diberi ventilasi
(Ventilated Improved Pit latrine/VIP latrine) dan toilet siram guyur (Pour Flush
Toilet/PF toilet). Dua teknologi ini biayanya jauh lebih sedikit daripada toilet
konvensional yang dihubungkan ke tanki septik atau sistem saluran pembuangan.
Bank Dunia menunjukkan adanya keuntungan biaya sekitar 15 berbanding 1.

Lubang kakus VIP dan PF memiliki beberapa kelebihan dibandingkan sistem di
tempat ("on-site system") yang tradisional dan sistem saluran pembuangan
konvensional. Kelebihan-kelebihan itu adalah:

   1. Lubang kakus VIP dan toilet PF sederhana, bisa diandalkan, higienis dan
      terjangkau biayanya.
   2. Bisa dibangun dengan bahan-bahan lokal dan hanya membutuhkan sedikit
      keahlian teknis untuk perancangannya, dan bisa dibangun sendiri oleh
      individu atau masyarakat hanya dengan bantuan secukupnya saja dari luar.
   3. Membutuhkan sedikit ruang sehingga cocok untuk daerah yang penuh sesak.
   4. Tetap bisa beroperasi meskipun air langka. Untuk beroperasi VIP tidak
      membutuhkan air, sedangkan toilet PF hanya butuh dua liter air per siraman
      (plus air yang digunakan untuk membersihkan badan) dan air inipun bisa
      didapatkan dari air buangan (bekas untuk mandi, mencuci dan semacamnya).
   5. Pengolahan kotoran yang rumit tidak dibutuhkan. Jika ada lubang-lubang
      kakus yang bisa digilir pemakaiannya maka lubang-lubang kakus ini
      memungkinkan pengolahan kotoran di tempat itu juga dan pemulihan unsur
      hara yang aman untuk tanah.
   6. Bisa diubah menjadi sistem yang lebih canggih.
   7. Yang lebih penting lagi, teknologi ini sangat disukai oleh orang-orang yang
      memakainya.

Begitu konsumsi air dan kepadatan penduduk meningkat, sistem 'on-site' tidak lagi
bisa mengatasi volume limbah kotoran yang makin banyak. Salah satu pemecahan
tradisional masalah itu ialah penggunaan tanki septik untuk mengolah limbah
sebelum limbah kotoran itu dibuang ke resapan bawah tanah. Tetapi cara ini mahal
dan mudah gagal. Resapan akan buntu jika muatannya luber, seperti yang sering
terjadi karena tanki tidak dikosongkan dengan benar. Sebagai akibatnya, luapan yang
terolah dengan buruk dibuang secara melanggar hukum ke selokan-selokan di pinggir
jalan        atau       menjadi        genangan-genangan        di       permukaan.
Jalan keluarnya ialah dengan menggunakan saluran pembuangan bebas limbah padat
(solids-free sewarage/SFS) yang awalnya dikembangkan di A.S. dan Australia dan
sekarang menyebar ke negara-negara berkembang. Sistem ini menggunakan jaringan
pipa kecil (seringkali dari plastik) yang dipasang untuk membawa luapan dari tanki
septik ke suatu tempat kemudian dibuang ke saluran pembuangan utama atau ke
instalasi pengolahan. Selain mengumpulkan luapan tanki septik, SFS bisa digunakan
di instalasi-instalasi baru asalkan ada tanki antara sederhana yang memungkinkan
pengolahan                                                                       awal.
Brazil adalah salah satu negara yang memelopori pengembangan sistem pembuangan
kotoran yang murah. Proyek perintisnya menggunakan "sistem pembuangan kotoran
yang disederhanakan" (simplified sewerage) yang merupakan adaptasi dari sistem
pembuangan konvensional dengan menggunakan kriteria yang mencerminkan
kemajuan pengetahuan sekarang dan tersedianya bahan. Dengan cara ini biaya bisa
dihemat hinga 40% sampai 50%. Desain ini memungkinkan lebih sedikit lubang got,
waktu merancang yang lebih pendek, dan ukuran-ukuran pipa minimum yang lebih
kecil (pipa plastik yang sekarang sudah menggantikan pipa beton atau tanah), serta
pipa ditanam lebih dangkal (karena udara dingin bukan masalah di sebagian besar
negara                                                                    berkembang).
Dulu, sistem yang terpusat lebih mendapat perhatian. Tetapi, dengan urbanisasi yang
makin cepat, kondisinya menjadi tidak ekonomis untuk mengumpulkan kotoran ke
tangki antara yang besar dan membawanya ke suatu pusat untuk diolah. Juga, dengan
mengingat kegagalan sistem pengolahan di masa lalu, hal ini bisa menyebabkan
bencana lingkungan. Jalan keluar dari masalah ini yang lebih baik adalah dengan
membuat instalasi yang tidak terpusat, dan setiap instalasi melayani suatu bagian
kota. Dengan cara ini biaya bisa dihemat secara signifikan. Di kota Toledo di negara
bagian Parana, Brasilia, diperkirakan bahwa dengan menyediakan 15 instalasi
pengolahan dan tidak hanya dua, penghematan bisa mencapai 15%. Instalasi yang
tidak terpusat seperti itu juga mampu mengatasi salah satu masalah yang muncul
dengan adanya urbanisasi yang tak terkendali saat ini, yaitu: hampir tidak mungkin
merancang pemecahan yang memakan lebih sedikit biaya untuk instalasi pengolahan
yang terpusat dengan usia desain paling tidak 20 tahun jika para perencana kota tidak
bisa menentukan pola penggunaan tanah di kota di masa yang akan datang.
Di banyak negara berkembang, limbah cair sering dibuang tanpa diolah, atau limbah
melewati instalasi pengolahan yang cara kerjanya tidak beres sehingga aliran yang
keluar dari instalasi tersebut tidak lebih baik daripada limbah mentah. Banyak orang
tidak menyadari bahwa seandainyapun pengolahan limbah konvensional yang ada
bekerja cukup efektif, aliran yang keluar masih tetap sangat 'patogenis'. Karena aliran
itu akan dan seharusnya digunakan lagi untuk penyediaan air atau irigasi, hal ini jelas
merupakan                       masalah                   yang                  serius.
Jalan keluar ideal dari masalah ini ialah dengan menggunakan kolam-kolam
penyeimbang (stabilisator) untuk pengolahan. Kolam-kolam yang mudah dirawat dan
dioperasikan ini memberikan waktu penahanan yang lama sehingga patogen-patogen
itu bisa mati secara alami. Dalam kondisi yang sesuai, aliran dari kolam ini atau
sistem pengolahan yang lain bisa diberi 'polesan' akhir di tanah-tanah rawa, alami
atau buatan. Teknik ini relatif baru, tapi tampaknya akan bertambah penting di masa
mendatang.
Masalah utama dengan kolam penyeimbang adalah dibutuhkan tanah luas yang
langka                       di                     kota-kota                    besar.
Untuk masalah ini ada tiga jalan keluar. Pertama, membagi kota menjadi sub-sub
bagian dan menggunakan sistem pengolahan tak terpusat. Dengan cara ini biaya bisa
dihemat. Cara kedua ialah meletakkan kolam-kolam ini agak di luar kota. Ketika kota
meluas, kolam bisa 'didaurulang' untuk pengembangan kota, dan limbah cair yang
masuk dipompa ke dalam kolam baru yang letaknya lebih luar lagi. Cara ketiga ialah
mengadopsi cara pengolahan limbah yang sedikit berbeda. Jika kolam penyeimbang
dipakai untuk menumbuhkan gulma rumput bebek (lemna), maka kolam ini nanti bisa
digunakan untuk berternak ikan; atau jika rumput bebek itu dikeringkan bisa menjadi
makanan ikan dan unggas. Cara ini mengubah limbah yang sebelumnya merupakan
masalah kota yang memakan banyak biaya menjadi sumber protein yang
menghasilkan pemasukan uang. Produktivitas kolam ini begitu tinggi sehingga
bentuk budidaya air ini mungkin secara ekonomi akan sangat menarik kecuali sampai
tanah       itu      hampir        habis      termakan        pengembangan        kota.
Bentuk pengolahan limbah kotoran yang menggunakan rumput bebek atau tanaman
lain seperti bunga bakung air sebenarnya secara informal telah ada selama bertahun-
tahun. Namun sekarang cara ini dikembangkan sebagai alat yang lebih resmi dan
sistematis untuk memecahkan kebutuhan daerah perkotaan. Di Calcutta misalnya,
suatu sistem budidaya air dengan pakan limbah cair sekarang bisa menghasilkan 20
ton ikan segar setiap hari untuk dijual di kota itu. Suatu sistem rumput bebek di
Bangladesh yang mengolah limbah cair dari 3.000 orang membutuhkan biaya operasi
kurang dari 200 taka per hari. Rumput bebek yang dipanen (0.5 ton basah per hari)
dan diolah sebagai makanan unggas bernilai sekitar 500 taka per hari; kalau
digunakan untuk beternak ikan malah bisa menjadi 3. 500 taka per hari. Ini mungkin
merupakan satu-satunya instalasi pengolahan limbah berkesinambungan di dunia
yang menghasilkan keuntungan dari operasinya.

1.                                Pengertian                                  sanitasi
Sanitasi adalah bagian dari sistem pembuangan air limbah, yang khususnya
menyangkut pembuangan air kotor dari rumah tangga, kantor, hotel, pertokoan (air
buangan dari WC, air cucian, dan lain-lain). Selain berasal dari rumah tangga, limbah
juga dapat berasal dari sisa-sisa proses industri, pertanian, peternakan, dan rumah
sakit                               (sektor                               kesehatan).
(Sumber: Said, 1987:12)


2.                     Pengertian                      Air                    limbah
Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri
maupun domestik (rumah tangga), yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat
tertentu tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis. Dengan
konsentrasi dan kuantitas tertentu, kehadiran limbah dapat berdampak negatif
terhadap lingkungan terutama bagi kesehatan manusia, sehingga perlu dilakukan
penanganan                              terhadap                             limbah.
Beberapa hal yang berkaitan dengan pengertian dan kegiatan yang berhubungan
dengan      limbah     cair     menurut    (PP     82     thn   2001),     yaitu     :
a. Air adalah semua air yang terdapat di atas dan di bawah permukaan tanah, kecuali
air                        laut                       dan                       fosil.
b. Sumber air adalah wadah air yang terdapat di atas dan di bawah permukaan tanah
seperti akuifer, mata air, sungai, rawa, danau, situ, waduk dan muara.
c. Pengelolaan kualitas air adalah upaya pemeliharaan air sehingga tercapai kualitas
air yang diinginkan sesuai peruntukkannya untuk menjamin agar kualitas tetap dalam
kondisi                                                                  alamiahnya.
d. Pengendalian pencemaran air adalah upaya pencegahan dan penanggulangan
pencemaran air serta pemulihan kualitas air untuk menjamin kualitas air agar sesuai
dengan                        baku                      mutu                      air.
e. Pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi,
dan atau komponen lain kedalam air oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas air
turun sampai ketingkat tertentu yang menyebabkan air tidak berfungsi lagi sesuai
dengan                                                               peruntukkannya.
f. Limbah cair adalah sisa dari suatu hasil usaha dan atau kegiatan yang berwujud
cair.
g. Baku mutu limbah cair adalah ukuran batas atau kadar unsur pencemar yang
ditenggang keberadaannya dalam limbah cair yang akan dibuang atau dilepas ke
dalam        sumber       air      dari     suatu      usaha      atau      kegiatan.
h. Limbah cair adalah limbah yang berbentuk air, karena umumnya limbah cair yang
dihasilkan oleh voluters baik limbah rumah tangga maupun industri adalah dalam
bentuk            air           yang           dibuang           ke           sungai.
(PP                         82                       thn                       2001).
2.1                      Sumber                       Air                    Limbah
Air limbah (sewage) juga dapat diartikan sebagai air dan cairan yang merupakan sisa
dari kegiatan manusia di rumah tangga/limbah domestik dan commercial buildy
(kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan keuntungan) atau industri. Dari sini,
kita dapat mengenal penggolongan air limbah yaitu air limbah industri dan limbah
domestik.
 (www.wikipedia.com).
2.2.1                      Air                    Limbah                    Domestik
Air limbah domestik adalah air bekas yang tidak dapat dipergunakan lagi untuk
tujuan semula baik yang mengandung kotoran manusia (tinja) atau dari aktivitas
dapur, kamar mandi dan air cucian dimana kuantitasnya antara 50-70% dari rata-rata
pemakaian             air          bersih           (120-140        liter/orang/hari).
Sumber air limbah domestik berasal dari aktivitas rumah tangga, kantor, commercial
buildy (hotel, restoran, rumah sakit), dll. Yang umumnya Sumber air limbah domestic
ini berasal dari kamar mandi, tempat cuci, dapur dan toilet/kakus. Pengolahan air
limbah, sangat berkaitan dengan karakteristik air limbah. Air limbah rumah tangga
jika      dilihat      dari      sumbernya        ada     dua    macam,         yaitu:
1) Air limbah rumah tangga yang bersumber dari toilet/kakus (black water).
2)     Air      limbah      rumah       tangga     non     kakus   (grey      water).
Adapun limbah domestik ini memiliki kandungan bahan berupa 99,9 persen air dan
0,1                       persen                      bahan                    padat.
Karakterikstik air limbah rumah tangga dari WC/kakus seperti terlihat pada tabel di
bawah ini :

Tabel                                                                             2.1
Karakteristik               Air                   Limbah                   WC/kakus
No                 Parameter                     Satuan                   Konsentrasi
1              pH              -                -6,5               –              7,0
2                    Temperatur                          °C                       37
3                    Amonium                           Mg/L                       25
4                      Nitrat                         Mg/L                          0
5                      Nitrit                         Mg/L                          0
6                     Sulfat                          Mg/L                         20
7                     Phospat                         Mg/L                         30
8                                     CO2                                      Mg/L
9                    HCO3-                           Mg/L                        120
10                     BOD5                          Mg/L                        220
11                     COD                           Mg/L                        610
12                    Khlorida                        Mg/L                        45
13 Total Coli MPN 3 X 105

Sumber:        Laboratorium       Balai     Lingkungan       Permukiman,       1994
Karakteristik air limbah rumah tangga non kakus berdasarkan hasil penelitian
Puslitbang      Permukiman       seperti   pada   tabel     di    bawah    ini     :
Tabel                                                                            2.2
Karakteristik             Air             Limbah             Non             Kakus
No                   Parameter                  Satuan                  Konsentrasi
1                          pH                          -                         8,5
2                        Tempratur                       °C                       24
3                       Amonium                       Mg/L                        10
4                         Nitrat                     Mg/L                          0
5                       Nitrit                    Mg/L                       0,005
6                        Sulfat                     Mg/L                         150
7                       Phospat                      Mg/L                        6,7
8                         CO2                       Mg/L                          44
9                       HCO3-                       Mg/L                        107
10                        DO                       Mg/L                         4,01
11                       BOD5                       Mg/L                         189
12                        COD                       Mg/L                        317
13                       Khlorida                     Mg/L                        47
14            Zat           Organik           Mg/L            KMnO4             554
15                Detergen               Mg/L               MBAS                 2,7
16                      Minyak                      Mg/L                     <0,05
Sumber:           Laboratorium           TL        ITB          tahun          1994
Tinggi rendahnya mutu air limbah disuatu tempat dipengaruhi oleh karakteristik air
limbah secara fisik, kimia maupun biologi dengan parameter seperti berikut :
Tabel                                                                            2.3
karakteristik    air    limbah     secara    fisik,    kimia      maupun     biologi
No             Karakteristik             Air           Limbah             Parameter
1       Fisik        Temperatur,      Kekeruhan,        Warna,       dan        Bau.
2                         Kimia                         a)                       pH
b)         organik         (karbohidrat,       protein,         lemak,        fenol)
c)       anorganik        (zat      mineral        yang        mengurangi        O2,
zat               beracun                dan               logam              berat).
3 Biologi Terdiri dari golongan mikroorganisma yang terdapat dalam air (golongan
koli).

Karakteristik fisik, kimia dan biologi terdapat hubungan yang saling bergantung dan
saling             mempengaruhi              satu           sama            lainnya.
Sebagai contoh , temperatur air limbah berhubungan langsung dengan keaktifan
mikroorganisme, sehingga air limbah dapat membusuk dan bau, contoh lainnya
adalah adanya hubungan tak langsung antara mikroorganisma dengan karakteristik
kimia.
Untuk mengukur sampai berapa jauh tingkat pengotor air, maka dapat digunakan
beberapa parameter antara lain : BOD (Biochemical Oxigen Demand), COD
(Chemical Oxigen Demand), SS (Suspended Solid), bakteri koli, dan golongan
amoniak.
Parameter-parameter ini dipakai pula untuk mengukur kemampuan pengolahan air
limbah. Berdasarkan kekuatannya, air limbah digolongkan dalam 3 jenis yaitu : kuat,
sedang                                    dan                                 lemah.
Jenis kekuatan tersebut biasanya dinyatakan dengan tingkat BOD, yaitu:
?        Kuat,         bila       nilai       BOD         >        300         mg/L.
?       Sedang,         bila       nilai      BOD        100        -300        mg/L
?       Lemah,           bila       nilai       BOD        <        100         mg/L
Sumber:http://www.kimpraswil.go.id/Limbah.pdf.

2.2.2            Air          Limbah            Non           Domestik/Industri
Air limbah Non domestik/Industri adalah air limbah yang bersumber dari aktivitas
industri, pertanian, dan sejenisnya. Sedangkan kandungan limbah industri ini
tergantung pada bahan dan teknologi yang digunakan serta barang hasil produksi
yang akan dihasilkan.

Karakteristik                                                                  limbah:
1.                                  Berukuran                                    mikro
2.                                                                            Dinamis
3.                 Berdampak                    luas                  (penyebarannya)
4.        Berdampak           jangka          panjang         (antar         generasi)
Faktor        yang        mempengaruhi           kualitas       limbah          adalah:
1.                                  Volume                                      limbah
2.                   Kandungan                     bahan                    pencemar
3.                  Frekuensi                   pembuangan                      limbah
? Berdasarkan karakteristiknya, limbah industri dapat digolongkan menjadi 4 bagian:
1.                                    Limbah                                       cair
2.                                   Limbah                                       padat
3.               Limbah                 gas                dan                 partikel
4.       Limbah        B3         (Bahan         Berbahaya        dan        Beracun)
dengan kriteria yang tercantum dalam peraturan pemerintah No.18 Tahun 1999
tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, limbah B3 terbagi atas
dua     macam      yaitu    yang      spesifik     dan    yang      tidak     spesifik.
Perbedaan pokok antara limbah B3 spesifik dan tidak spesifik terletak pada cara
penggolongan yaitu pada limbah spesifik digolongkan kedalam jenis industri, sumber
pencemaran, asal limbah, dan pencemaran utama sedangkan pada limbah tidak
spesifik penggolongannya atas dasar kategori dan bahan pencemar.
? Hal-hal yang Perlu Dicantumkan dalam Pemberian Ijin Pembuangan Limbah Cair
Dalam PP No. 82 tahun 2001 ditetapkan kriteria-kriteria tentang ijin pembuangan
limbah cair yang dapat diberikan kepada industri yang harus mencantumkan hal-hal
berikut:
a.             Kewajiban                untuk              mengolah                limbah
b. Persyaratan mutu dan kuantitas limbah cair yang boleh dibuang kemedia
lingkungan.
c.        Persyaratan         cara         pembuangan          air        limbah          .
d. Persyaratan untuk mengadakan sarana dan prosedur penanggulangan keadaan
darurat.
e. Persyaratan untuk melakukan pemantauan mutu dan debit air limbah
f. Persyaratan lain yang ditentukan oleh hasil pemeriksaan analisis mengenai dampak
lingkungan yang erat kaitannya dengan pengendalian pencemaran air bagi usaha dan
atau kegiatan yang wajib melaksanakan analisis mengenai dampak lingkungan.
g. Larangan pembuangan secara sekaligus dalam satu saat atau pelepasan dadakan.
h. Larangan untuk melakukan pengenceran limbah cair dalam upaya penataan batas
kadar                                yang                                 dipersyaratkan.
i. Kewajiban melakukan swapantau dan kewajiban untuk melaporkan hasil
swapantau.
?                      Indikasi                     Pencemaran                         Air
Indikasi pencemaran air dapat kita ketahui baik secara visual maupun pengujian.
1. Perubahan pH (tingkat keasaman / konsentrasi ion hidrogen) Air normal yang
memenuhi syarat untuk suatu kehidupan memiliki pH netral dengan kisaran nilai 6.5
– 7.5. Air limbah industri yang belum terolah dan memiliki pH diluar nilai pH netral,
akan mengubah pH air sungai dan dapat mengganggukehidupan organisme
didalamnya. Hal ini akan semakin parahjika daya dukung lingkungan rendah serta
debit air sungai rendah. Limbah dengan pH asam / rendah bersifat korosif terhadap
logam.
2. Perubahan warna, bau dan rasa Air normak dan air bersih tidak akan berwarna,
sehingga tampak bening / jernih. Bila kondisi air warnanya berubah maka hal tersebut
merupakan salah satu indikasi bahwa air telah tercemar. Timbulnya bau pada air
lingkungan merupakan indikasi kuat bahwa air telah tercemar. Air yang bau dapat
berasal darilimba industri atau dari hasil degradasioleh mikroba. Mikroba yang hidup
dalam air akan mengubah organik menjadi bahan yang mudah menguap dan berbau
sehingga                                   mengubah                                   rasa.
3. Timbulnya endapan, koloid dan bahan terlarut Endapan, koloid dan bahan terlarut
berasal dari adanya limbah industri yang berbentuk padat. Limbah industri yang
berbentuk padat, bila tidak larut sempurna akan mengendapdidasar sungai, dan yang
larut sebagian akan menjadi koloid dan akan menghalangi bahan-bahan organik yang
sulit diukur melalui uji BOD karena sulit didegradasi melalui reaksi biokimia, namun
dapat                diukur                menjadi                uji                COD.
Adapun komponen pencemaran air pada umumnya terdiri dari :
?                       Bahan                       buangan                          padat
?                       Bahan                      buangan                         organic
?                     Bahan                      buangan                        anorganik
?      Dampak        limbah       cair      dari     hasil-hasil      industri,      yaitu:
1) Merusak komponen dan memperburuk kondisi lingkungan dan kerusakan pada
komponen                                 lingkungan                               lainnya.
Seperti kematian ikan, keracunan pada manusia dan ternak, kematian plankton,
akumulasi dalam daging ikan dan moluska, terutama bila limbah cair yang
mengandung racun As, CN, Cr, Cd, Cu, F, Hg, Pb, atau Zn.
2)      Akan       meningkatkan        timbulnya       penyakit       pada       manusia.
? Untuk mengatasi limbah ini diperlukan pengolahan dan penanganan limbah. Pada
dasarnya       pengolahan       limbah       ini     dapat       dibedakan       menjadi:
1.            Pengolahan              menurut             tingkatan             perlakuan
2.            Pengolahan             menurut             karakteristik             limbah
Untuk mengatasi limbah Pelaku industri harus melakukan cara-cara pencegahan
pencemaran lingkungan dengan melaksanakan teknologi bersih, memasang alat
pencegahan pencemaran, melakukan proses daur ulang dan yang terpenting harus
melakukan pengolahan limbah industri guna menghilangkan bahan pencemaran atau
paling tidak meminimalkan bahan pencemaran hingga batas yang diperbolehkan.

?      Baku      Mutu      Limbah       Cair      Bagi       Kawasan        Industri
Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 3 Tahun 1998
tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kawasan Industri. Maka telah ditetapkan baku
mutu limbah cair bagi kawsan industry seperti yang tertera pada tabel di bawah ini :
Tabel 2.4

Baku          mutu        limbah       cair      bagi    kawasan    industri
Parameter Kadar Maksimum (mg/L) Beban Pencemaran Maksimum (kg/hari.Ha)
BOD                            5                      50                4,3
COD                                       100                           8,6
TSS                                      200                           17,2
Ph                           6,0                       -                9,0
DEBIT                    LIMBAH                  CAIR            MASIMUM
1 l per detik per Ha lahan kawasan yang terpakai

Berdasarkan keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup no. 3 tahun 1998 tentang
baku mutu limbah cair bagi kawasan industri maka penghitungan untuk penetapan
beban pencemaran maksimum pada jumlah unsur pencemar yang terkandung dalam
aliran limbah cair maka digunakan perhitungan sebagai berikut:

1. Beban Pencemaran Maksimum

Keterangan                                                                     :
BPM = Beban Pencemaran maksimum yang diperbolehkan, dinyatakan dalam kg
parameter                               per                                hari.
(Cm)j =Kadar maksimum parameter j seperti tercantum dalam lampiran I Keputusan
ini,                 dinyatakan                   dalam                   mg/l.
Dm =Debit Limbah cair maksimum seperti tercantum dalam lampiran I, dinyatakan
dalam      L       limbah       cair      per       detik        per    hectare.
A = Luas lahan kawasan yang terpakai, dinyatakan dalam hectare (HA).
f = factor konversi = 1 kg * 24 x 3600 detik = 0,086 … (II.1.2)
1.00.0                                 mg                                   hari
2.                Beban                 pencemaran                   sebenarnya
Beban pencemar sebenarnya dihitung dengan cara sebagai berikut :

Keterangan                                                              :
BPA = Beban pencemaran sebenarnya, dinyatakan dalam kg parameter per hari
(CA)j = Kadar sebenarnya parameter j, dinyatakan dalam mg/l.
DA = Debit limbah cair sebenarnya, dinyatakan dalam liter/detik
F = faktor konversi = 0,086

2.3         Pemilihan       teknologi         pembuangan         air       limbah
Dasar-dasar pertimbangan dalam pemilihan teknologi pengolahan (pembungan) air
limbah di tiap-tiap daerah umumnya memiliki faktor-faktor yang berbeda. Faktor-
faktor pertimbangan untuk menetapkan teknologi pengolahan air limbah yang tepat di
suatu                                 daerah,                                yaitu:
1. Kepadatan penduduk: Faktor ini dapat menjadi indikator akan tersedia atau
tidaknya lahan yang cukup untuk membangun sistem pengolahan limbah
? Jika kepadatan penduduk lebih dari 500 orang per ha, maka teknologi pembuangan
air                           limbahnya                              menggunakan:
1.                             Sewerage                               konvensional
2.                               Interceptor                                 sewer
3.                                 Shallow                                   sewer
4.           Tangki             septik           dan            shallow           sewer
Yang bertanggung jawab atas teknologi pembuangan air limbah tersebut adalah
pemerintah.
? Jika kepadatan penduduk lebih dari 300 orang per ha atau lebih dari 150 orang per
ha,     maka       teknologi     pembuangan        air     limbahnya      menggunakan:
2.                                     Cubluk                                   kembar
3.                      Cubluk                      kembar                     bersama
4.                                     Cubluk                                   tunggal
5.                                       Septic                                     tank
2.                      Penyediaan                        air                    bersih.
Penyediaan air bersih sangat penting diperhatikan, karena kondisi tersedia atau
tidaknya air bersih di suatu daerah akan menentukan dari kelancaran operasi sistem
pengoahan air limbah. Yang mana, untuk sistem pembungan terpusat itu memerlukan
penyediaan air bersih yang relatif lebih terjamin dibandingkan dengan sistem
pembungan setempat. Hal ini dikarenakan sistem terpusat memerlukan proses
penggelontoran               yang              baik            dan            terjamin.
3.                                     Keadaan                                    tanah.
Faktor keadaan tanah yang tidak dapat meresapkan air tidak mungkin diterapkan
untuk sistem pembungan setempat, karena sistem ini memerlukan areal peresapan.
Dan kondisi tanah seperti itu, sistem peresapannya dapat dipastikan tidak dapat
berjalan                                   dengan                                  baik.
4.                       Keadaan                         air                      tanah.
Kondisi air tanah yang dangkal tidak cocok untuk diterapkan pada sistem pembungan
air limbah setempat. Hal ini dikarenakan kondisi tersebut menyebabkan sistem
peresapan tidak akan berjalan dengan baik. Selain itu, effluent dari sistem pembungan
setempat ini akan mencemari air tanah dangkal, terutama jika air tanah tersebut
dipergunakan               sebagai             sumber             air           minum.
5.            Keadaan               tofografi            (penampang              tanah).
Faktor kemiringan tanah ini akan mempengaruhi pemilihan teknologi pengolahan air
limbah. Kondisi tanah yang memiliki kemiringan kurang dari 2 persen akan
menyulitkan dalam penerapan sistem pembungan terpusat. Hal ini didasarkan
penanaman pipa pada bagian hilir akan dalam sekali. Atau jika terpaksa, maka akan
dilakukan dengan sistem pemompaan. Dan ini berarti memerlukan investasi dana
yang                                      tidak                                    kecil.
6.                               Kemampuan                                 membangun.
Faktor ini jelas-jelas berkait dengan kemampuan setiap daerah untuk membangun
teknologi yang dipilih. Apabila perencanaan yang tidak tepat dan cermat, bisa jadi
ada kemungkinan teknologi yang telah dipilih tidak dapat diterapkan karena
ketidakmampuan tenaga setempat untuk membangun atau minimal penerapannya
akan mundur waktunya hingga kondisi tenaga (SDM) daerah tersebut telah cukup
mampu                                   untuk                              membangun
7.             Kondisi              sosial             ekonomi              masyarakat.
Faktor ini lebih tepat dalam menekankan pada kondisi dan status ekonomi masyarakat
setempat. Hal ini tentunya, diperlukan akan adanya pemberdayaan masyarakat
setempat berkait dengan pembebanan biaya pembangunan dan operasional
penyelenggaraan pengolahan air limbah. Karena tidak mungkin biaya operasional dan
pemeliharaan alat-alat pengolahan air limbah terus-terus ditanggung oleh pemerintah
daerah setempat. Lebih-lebih saat ini telah dilakukan otonomi daerah.

2.4              Sistem             pembuangan              air            limbah
a.       Sistem        sanitasi     setempat     (On         Site      Sanitation)
Proses pembuangan dan pengolahan air limbah dilakukan secara bersamaan di tempat
yang biasanya menggunakan cubluk atau septic tank. Bila pada suatu waktu cubluk
atau septic tank tersebut sudah penuh dengan lumpur tinja, maka harus disedot dan
diangkut dengan truk tinja ke IPLT (Instalasi Pengelolaan Lumpur Tinja) untuk
disempurnakan prosesnya agar tidak merusak atau mencemari lingkungan.
Pembuangan air limbah dengan sistem ini dalam praktek sehari-harinya dapat dilihat
dalam                                                                    kegiatan:
a) Individual, yaitu sistem pembuangan melalui kloset, peturasan yang dilakukan oleh
masing-masing                keluarga              pada              setiap             rumah.
b) Komunal, yaitu sistem pembuangan melalui kloset yang dilakukan secara bersama-
sama oleh beberapa keluarga yang biasanya berupa jamban jamak, MCK umum, atau
septic                                     tank                                      komunal.
Keuntungan         pemakaian          system       pembuangan           setempat        adalah:
?                      Biaya                        pembuatan                           murah;
?          Biasanya            dibuat           oleh           sector            swasta/pribadi
?                     Teknologi                          cukup                       sederhan;
?      System       sangat       privasi       karena       terletak       pada      persilnya;
? Operasi dan pemeliharaan dilakukan secara pribadi masing;masing;
Kerugian        pemakaian           system        pembuangan           setempat         adalah:
?           Tidak             selalu            cocok              disemua              daerah;
?          Sukar          mengontrol             operasi           dan           pemeliharaan;
? Bila pengendalian tidak sempuran maka air limbah dibuang
b.     Sistem     sanitasi     tidak     setempat/terpusat        (Off      Site    Sanitation)
Proses pembuangan air limbah atau penyaluran air limbah yang berasal dari rumah-
rumah dan berbagai fasilitas lainnya, seperti air sisa mandi, air sisa cucian, dan
seterusnya, serta air limbah yang berasal dari sisa-sisa proses industri dialirkan
melalui jaringan perpipaan menuju IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) untuk
diolah                                     secara                                     terpusat.
Keuntungan         pemakaian           system        penyaluran          terpusat       adalah:
?               Pelayanan                   yang                 lebih                nyaman;
?           Menampung               semua            air           limbah            domestic;
?      Pencemaran        air      tanah       dan      lingkungan         dapat      dihindari;
?        Cocok         untuk           daerah        dengan          kepadatan           tinggi;
?          Masa/umur              pemakaian             relative           lebih           lama.
Kerugian         pemakaian           system        penyaluran           terpusat        adalah:
?             Memerlukan                  pembiayaan                  yang               tinggi;
? Memerlukan tenaga yang trampil untuk operasional dan pemeliharaan;
? Memerlukan perencanaan dan pelaksanaan untuk jangka panjang;
? Nilai manfaat akan terlihat apabila sistem telah berjalan dan semua penduduk yang
terlayani

2.5 Persyaratan teknis untuk tangki septik (SK SNI T-07-1989-F):

a) Bahan bangunan harus kuat, tahan terhadap asam, dan kedap air. Bahan bangunan
yang dapat dipilih untuk bangunan dasar, penutup, dan pipa penyalur air limbah
adalah batu kali, bata merah, batako, beton biasa, beton bertulang, asbes, semen,
PVC,                 keramik,             dan                plat             besi.
b) Bentuk empat persegi panjang (2:1 s/d 3:1) dengan ukuran disesuaikan jumlah
pemakai (25 orang) dan waktu pengurasan untuk ukuran kecil (1 kk). Pipa penyalur
air limbah dari bahan PVC, keramik, atau beton yang berada di luar bangunan harus
kedap air, kemiringan minimum 2 %, belokan lebih besar dari 45 % dipasang clean
out atau pengontrol pipa dan belokan 90 % sebaiknya dihindari atau dengan dua kali
belokan atau memakai bak kontrol, dilengkapi dengan pipa aliran masuk dan keluar,
serta pipa udara (diameter 0,05 m dan tinggi 2 m di atas tanah). Dilengkapi dengan
lubang pemeriksa untuk keperluan pengurasan dan keperluan lainnya. Tangki dapat
dibuat dengan dua ruang atau lebih untuk menaikkan efisiensi pengolahan dengan
panjang tangki ruang pertama 2/3 bagian dan ruang kedua 1/3 bagian. Jarak tangki
septik dan bidang resapan ke bangunan = 1,5 m, jarak dengan sumur = 10 m dan jarak
dengan           pipa          air         bersih          =          3         m.
c) Tangki dengan bidang resapan lebih dari 1 jalur, perlu dilengkapi dengan kotak
distribusi.
d) Sarana pengolahan efluen dapat berupa bidang resapan: ukuran bidang resapan
disesuaikan dengan daya serap tanah dan jumlah pemakai, pipa resapan (panjangnya
minimum 10 cm) dari bahan yang tahan korosi dengan bidang resapan dibuat miring
dengan                     kemiringan                     0,2                   %.
e) Sumur resapan digunakan untuk tangki septik yang melayani kurang dari 25 orang
(sumur 0,8 m tinggi 1 m), diisi kerikil/batu pecah setinggi 3-8 cm, dan dinding sumur
dilapisi                                  dengan                                  ijuk.
Yang bertanggung jawab atas teknologi pembuangan air limbah tersebut adalah
masyarakat           dengan              bimbingan            instansi         terkait.
(Sumber: Manajemen Infrastruktur, Robert J.Kodojatie, Ph.D)

“Ruang kosong” di dalam septic tank merupakan ruang antara bagian teratas lumpur
dan bagian terbawah/alas dari buih. Penetapan ini dilakukan atas dasar pergerakan
limbah masuk dan keluar dari tangki. Dimensi vertikal tanki tergantung pada
dalamnya penetrasi pipa keluar atau saluran pembuangan dan rencana area tangki.
Semakin besar rencana area ruang kosong, semakin rendah pula kecepatan horizontal,
sehingga sedimentasi lebih efektif.

Lumpur dan buih mengotori ruang kosong dalam septic tank, sehingga percepatan
horisontal meningkat. Akibatnya, kotoran padat terbawa arus tersebut. Untuk tangki
dalam dimensi umum, ruang kosong dibentuk sekitar 1 kaki di bawah pangkal saluran
pembuangan atau lewat pipa, dan buih seharusnya tidak bertumpuk lebih rendah dari
3 inci di atas dasar saluran pembuangan atau pipa. Hal ini berarti dengan penetrasi 16
inci dalam saluran pembuangan atau lewat pipa, maka ruang bersih akan mempunyai
15 inci dimensi vertikal. Hasilnya berlipat dengan rencana area tangki, dan
menghasilkan volume minimum tangki untuk masukan limbah dan sedimentasi,
sedangkan sisa volume tangki yang tersedia untuk akumulasi buih dan kotoran.
Sebenarnya, ketika ruang bersih yang ada berkurang 15 inci, maka tangki harus
dibersihkan                dari           buih               dan             kotoran.
2.5.1                       Lokasi                    septic                      tank
Lokasi septic tank sebaiknya direncanakan supaya mencegah terjadinya kontaminasi
sumber atau potensi sumber air bersih. Tangki harus dalam jarak minimum 50 kaki
dari sumber air dan lokasi dengan permukaan kering harus jauh dari semua sumber
persediaan air bersih.

Jarak Minimum           dari Tangki        Septik    atau    Bidang/Sumur Resapan
Terhadap                      Suatu                     Unit                    Tertentu
Jarak     Dari      Septic      Tank      (Tangki      Septik)       Bidang     Resapan
Bangunan                   1.50                 m                  1.50               m
Sumur                   10.00                 m                  10.00                m
Pipa          air           bersih           3.00           m            3.00         m
Sumber:                      SK                     SNI                     T-07-1989-F
2.5.2                       Detail                      septic                      tank
Terdapat perbedaan pendapat dalam Departemen Kesehatan menyangkut ukuran
septic tank untuk pelayanan rumah tangga. Secara umum, diketahui bahwa kapasitas
minimum untuk septic tank harus 500 galon di bawah saluran air limbah dengan
ruang paling sedikit tidak kurang dari 1 kaki di atas saluran air limbah itu.

2.6                               Jamban                                (kakus)
Jamban atau kakus merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Pembuatan
jamban merupakan usaha manusia untuk memelihara kesehatan dengan membuat
lingkungan tempat hidup yang sehat. Dalam pembuatan jamban sedapat mungkin
harus diusahakan agar jamban tidak menimbulkan bau yang tidak sedap. Selain itu,
kontruksi yang kokoh dan biaya yang terjangkau perlu dipikirkan dalam membuat
jamban.
Syarat-syarat yang perlu diperhatikan dalam pembuatan jamban adalah sebagai
berikut:
1. Tidak mengakibatkan pencemaran pada sumber-sumber air minum, dan permukaan
tanah           yang          ada          di          sekitar         jamban.
2. Menghindarkan berkembangbiaknya/tersebarnya cacing tambang pada permukaan
tanah.
3. Tidak memungkinkan berkembangbiaknya lalat dan serangga lain.
4. Menghindarkan atau mencegah timbulnya bau dan pemandangan yang tidak sedap
dipandang.
5.    Mengusahakan       kontruksi     yang     sederhana,    kuat,    dan   murah.
6. Mengusahakan sistem yang dapat digunakan dan diterima masyarakat setempat.
Dalam penentuan letak kakus, ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu jarak
terhadap sumber air dan kakus. Penentuan jarak tergantung pada:
1.          Keadaan             daerah           datar          atau         lereng.
2.      Keadaan       permukaan       air     tanah      dangkal      atau    dalam
3. Sifat, macam, dan susunan tanah berpori atau padat, pasir, tanah liat atau kapur
Faktor tersebut di atas merupakan faktor yang mempengaruhi daya peresapan tanah.
Di Indonesia pada umumnya jarak yang berlaku antara sumber air dan lokasi jamban
berkisar    antara     8    s/d    15     meter     atau    rata-rata    10   meter.
Dalam penentuan letak jamban ada tiga hal yang perlu diperhatikan:
1. Bila daerahnya berlereng, kakus atau jamban harus dibuat di sebelah bawah dari
letak sumber air. Apabila tidak mungkin dan terpaksa diatasnya, maka jarak tidak
boleh kurang dari 15 meter dan letak harus agak ke kanan atau kekiri dari letak
sumur.
2. Bila daerahnya datar, kakus sedapat mungkin harus di luar lokasi yang sering
digenangi                                                                     banjir.
Bila tidak memungkinkan, maka hendaknya lantai jamban (di atas lobang) dibuat
lebih tinggi dari permukaan air yang tertinggi pada waktu banjir.
3.          Mudah           dan           tidaknya          memperoleh           air.
Sumber: www.iptek.net.id/ind/warintek/Pengelolaan_sanitasi.php.

2.7 Tata cara bangunan MCK umum (Nomor SNI: 03-2399-1991)
Tata cara perencanaan bangunan MCK umum dimaksudkan untuk memberikan
ukuran dan batasan minimum bangunan MCK guna perlindungan kesehatan dan
pembinaan                            kesejahteraan                          masyarakat.
Persyaratan:
a) Lokasi: waktu tempuh dari rumah penduduk 2 menit (jarak 100 m), luas daerah
pelayanan          maksimum        untuk      1      MCK        adalah        3        ha.
b) Kapasitas pelayanan: harus dapat melayani pada saat jam sibuk, banyaknya ruang
tergantung                                jumlah                                pemakai.
c) Penyediaan air bersih: sumber air bersih dari PDAM, air tanah, sumur
bor/gali/mata air dan kuantitas air untuk mandi 20 ltr/org/hr, cuci 15 ltr/org/hr, kakus
10                                                                             ltr/org/hr.
d) Bahan bangunan: menggunakan bahan setempat dengan spesifikasi sesuai standar
bahan                                                                         bangunan.
e) Konstruksi: sederhana tanpa perhitungan, namun bila daya dukung tanah kurang
baik                     perlu                 dilakukan                    perhitungan.
f) Plumbing: MCK perlu dilengkapi dengan sistem plumbing untuk pipa air bersih
untuk                  air              kotor              dan                  drainase.
g) Fasilitas terdiri dari kamar mandi, tempat cuci, dan kakus. Dilengkapi dengan
instalasi listrik. (Sumber: Said, 1987:12)

2.8              Peran           Lokasi           Penimbunan      Limbah
1)                    Tujuan                 penimbunan            limbah
Tujuan pembuatan penimbunan limbah ialah menstabilkan limbah padat dan
membuatnya menjadi bersih melalui penyimpanan limbah secara benar dan
penggunaan           fungsi        metabolis      alami      yang   benar.
2) Klasifikasi lokasi penimbunan limbah

3)           Klasifikasi          struktur         penimbunan            limbah
Lokasi penimbunan limbah digolongkan ke dalam 5 jenis menurut struktur
sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 1 dan Gambar 1. Dari segi mutu lindi dan gas
yang ditimbulkan dari lokasi penimbunan limbah, baik metode penimbunan limbah
semi-aerobik maupun aerobik yang dikehendaki.
Tabel         2.8.      Klasifikasi       Struktur       Penimbunan          limbah
Penimbunan limbah anaerobik Limbah padat harus ditimbun kedalam galian di area
tanah datar atau lembah. Limbah berisi air dan dalam keadaan anaerobik.
Penimbunan limbah saniter anaerobik Penimbunan limbah anaerobik dengan penutup
berbentuk "sandwich". Kondisi limbah padat sama dengan penimbunan limbah
anaerobik.
Penimbunan limbah saniter anaerobik yang telah disempurnakan (penimbunan limbah
saniter yang telah disempurnakan) Memiliki sistem penampungan lindi di dasar
lokasi penimbunan limbah. Sedangkan yang lainnya sama seperti penimbunan limbah
saniter anaerobik. Kondisinya tetap anaerobik dan kadar air jauh lebih sedikit
dibandingkan       dengan       penimbunan       limbah       saniter    anaerobik.
Penimbunan limbah semi-aerobik Saluran penampungan lindi lebih besar dari pada
saluran penimbunan limbah saniter yang telah disempurnakan. Lubang saluran
dikelilingi udara dan salurannya ditutupi batu yang telah dihancurkan kecil-kecil.
Kadar air pada limbah padat kecil. Oksigen disediakan bagi limbah padat dari saluran
penampungan                                                                     lindi
Penimbunan limbah aerobik Di samping saluran penampungan lindi, pipa persediaan
udara dipasang dan udara didorong agar memasuki limbah padat sehingga kondisinya
menjadi lebih aerobik dibandingkan dengan penimbunan limbah semi-aerobik.

Gambar 2.3. Klasifikasi struktur penimbunan limbah

4)          Struktur         penimbunan           limbah          semi-aerobik
Sebagaimana diperlihatkan pada Gambar 2, penimbunan limbah semi-aerobik
memungkinkan terjadinya proses masuknya udara melalui pipa penampung lindi yang
dipasang di dasar penimbunan limbah, yang membantu memperbesar terjadinya
proses aerobik, dan membuat bakteri aerobik menjadi aktif, serta mempercepat
terjadinya                        dekomposisi                           limbah.
Gambar 2. Jenis Penimbunan limbah dan Sistem Penampungan Lindi

Selanjutnya kegiatan ini akan membuat mutu dari lindi menjadi lebih baik dengan
terjadinya penurunan kepekatan lindi, juga mengurangi terbentuknya gas berbahaya,
yang seluruhnya dapat menimbulkan stabilisasi lokasi dari penimbunan limbah
menjadi           lebih         cepat.         Lihat          Gambar           3.
Gambar 3. Perubahan Kadar Kepekatan Lindi dalam BOD sesuai dengan jenis
Penimbunan

5)     Fasilitas       lokasi     penimbunan       limbah      saniter     khusus
Lokasi penimbunan limbah dapat melaksanakan fungsinya hanya apabila kita
memiliki rancangan dan cara kerja yang baik. Rancangan yang baik dengan cara kerja
yang buruk atau rancangan yang buruk dengan cara kerja yang baik tidak akan
menimbulkan          hasil     yang        baik.      Lihat       Gambar        4.
Gambar 4. Ilustrasi konsep Lokasi Penimbunan limbah Sanitasi Khusus

2.9.                             Pemanfaatan                                Limbah
Limbah manusia merupakan sumber daya yang digunakan secara luas dibanyak
bagian dunia. Petunjuk ini memusatkan perhatian pada tiga cara penggunaan yang
paling                    umum                       berikut                    ini:
1)      Pemanfaatan       air      limbah       untuk       pengairan      tanaman
Dalam dua dasawarsa yang lalu telah terjadi peningkatan yang mencolok dalam
penggunana air limbah untuk pengairan tanaman, terutama di daerah kering dan
daerah kering musiman baik di negeri industri maupun negara sedang berkembang.
Hal       itu     terjadi     sebagai      akibat       beberapa      faktor       :
• Meningkatnya kelangkaan air pilihan lain untuk pengairan, diperburuk oleh
meningkatnya kebutuhan kota akan penyediaan air minum dan tumbuhnya pengakuan
oleh para perencana sumber daya air akan kepentingan dan nilai pemanfaatan kembali
air                                                                         limbah;
• Mahalnya harga pupuk buatan dan pengakuan akan nilai unsur hara dalam air
limbah,        yang        secara     nyata        meningkatkan        hasil        panen;
• Ditunjuknya bahwa ancaman kesehatan dan kerusakan tanah adalah minimum jika
diambil             tindakan              pencegahan              yang               perlu;
• Mahalnya biaya instalasi pengelolaan air limbah yang maju ; dan
• Penerimaan budidaya masyarakat akan penggunaan limbah itu.
2)              Pemanfaatan              ekskreta            dalam              pertanian
Kebiasaan kuno dalam penggunanan ekskreta manusia pada tanah telah memelihara
kesuburan tanah di banyak negeri asia bagian timur dan pasifik bagian barat selama
lebih dari 4000 tahun, dan tetap merupakan satu-satunya pilihan penggunaan dalam
pertanian di daerah tanpa sarana sistem riol. Kebanyakan rumah tangga dinegara
sedang berkembang masih tetap akan kekurangan sistem riol sampai masa depan
yang dapat diduga. Oleh karena itu tekanan harus diberikan pada pembuatan sistem
penyehatan ditempat yang memungkinkan penggunaan aman ekskreta yang tersimpan
seperti                                                                             kakus.
3)     Pemanfaatan       ekskreta    dan      air   limbah    dalam     budidaya        air
Budidaya air mengacu kepada kebiasaan cara kuno dalam budidaya ikan, terutama
ikan mas dan mujair, dan pemanfaatan tanaman air, kangkung air dan teratai.
Pemupukan kolam budidaya air dengan limbah manusia dan hewan telah dilakukan
selama ribuan tahun di asia ; sekarang paling sedikit dua pertiga hasil peternakan ikan
dunia       berasal    dari     kolam      yang      dipupuk     dengan      cara      itu.
•                    Segi                       Kesehatan                    Masyarakat
Penyakit terkait-ekskreta sangat umum dinegara sedang berkembang, dan ekskreta
serta air limbah sama-sama mengandung konsentrasi tinggi patogen-ekskreta, bakteri,
virus, protozoa dan cacing. Penggunaan ekskreta dan air limbah dalam pertanian atau
budidaya air dapat menimbulkan ancaman yang nyata pada kesehatan masyarakat
hanya                 jika                hal              berikut                 terjadi:
a) Dosis infeksi patogen-ekskreta mencapai lahan pertanian atau kolam, atau patogen
itu memperbanyak diri dilahan pertanian atau kolam, membentuk dosis yang
menimbulkan                                                                       infeksi;
b)         Dosisi        infeksi       itu        mencapai        inang         manusia;
c)                      Inang                     menjadi                      terinfeksi;
d) Infeksi itu menyebabkan penyakit atau penyebaran lebih lanjut.

2.10 Manajemen Pelayanan Limbah Cair (Wastewater Management)
Untuk memperkuat eksplansi mengenai manajemen pelayanan air limbah ini, menerik
untuk disimak studi yang dilakukan oleh Larry Taylor di amerika serikat tentang
subtraktabilitas dan eksklutabilitas, tingkat kemerosotan, skala ekonomi dan tingkat
keperluan akan koordinasi. Subtraktabilitas menunjukkan suatu keadaan yang
mempengaruhi konsumsi pengguna jasa tambahan terhadap pengguna jasa secara
keseluruhan. Semakin rendah subtraktabilitas menunjukan bahwa masuknya
pengguna jasa atau konsumen baru tidak membawa pengaruh terhadap semua
konsumen untuk menggunakan barang atau jasa yang ada. Barang – barang atau jasa
yang mempunyai tingkat subtraktabilitas yang tinggi disebut dengan barang – barang
atau              jasa             yang               dikonsumsi               bersama.
Eksklutabilitas adalah kemampuan untuk mengontrol akses terhadap barang dan jasa.
Eksklutabilitas yang tinggi menunjukan keadaan yang mudah untuk mencegah
konsumen           mengkonsumsi           barang        dan         jasa       tersebut.
Kemerosotan (sunkness) menunjukan kepada suatu keadaan dimana nilai modal
merosot pada saat kegiatan produksi barang dan jasa dilakukan. Pada kegiatan
produksi barang dan jasa dengan tingkat keperjuangan (contestability) yang tinggi,
maka      masuk     atau   keluar      dari    kegiatan    tersebut    relatif   murah.
Derajat keperluan koordinasi menunjukkan pada jangkauan pekerjaan yang
melibatkan organisasi – organisasi pemerintah. Berapa instansi pemerintahan yang
terlibat dalam menangani suatu instalasi air limbah? Semakin banyak instansi yang
terlibat, maka semakin sulit koordinasi yang harus dilakukan. Jaringan kerja
(network) yang luas menunjukkan bahwa proyek yang dibangun membutuhkan
investasi       yang      besar         dan      keterlibatan       banyak        pihak.
Dari study yang dilakukan oleh. Larry Taylor menunjukkan bahwa penyaluran limah
secara konvensional, gorong – gorong, stasiun pompa air limbah dan sarana
pengelolaan air limbah mempunyai tingkat subtraktabilitas, ekskludabilitas, derajat
kemerosotan, skala ekonomi dan tingkat keperluan koordinasi yang berbeda,
sebagaimana digambarkan berikut ini.

Tabel 2.9 Aktivitas dan sifat barang serta aspek produksi manajemen air limbah
Aktivitas          Sifat       barang        Aspek          produksi        eksternalitas
Tingkat subtraktabilitas Tingkat eksklutabilitas Tingkat kemerosotan Skala ekonomi
Tingkat                                                                       koordinasi
Gorong-gorong         Rendah     Tinggi     Tinggi      Sedang     Sedang     Kesehatan
Stasion pompa Rendah Tinggi Tinggi Sedang Rendah Polusi Air
Pengelola air limbah rendah Tinggi Tinggi Sedang Rendah Polusi Air
Sumber                   :              Larry                Taylor.                1994
Dari penelitian yang diadakan oleh larry taylor diatas menunjukkan bahwa gorong –
gorong atau sistem penyaluran air limbah konvensional, stasion pompa dan sarana
pengelolaan air limbah (PAL) mempunyai tingkat subtraktabilitas yang rendah.
Masuknya konsumen atau pengguna jasa ketiga sarana tersebut tidak terlalu
berpengaruh terhadap konsumen yang lama . sebaliknya, ketiganya mempunyai
tingkat eksklutabilitas yang tinggi, karena konsumen tidak mudah untuk menggunkan
fasilitas-fasilitas tersebut atau akses menggunakannya sulit. Keadaan terakhir ini
mengacu pada kondisi di negara – negar maju, dimana kondisi manajemen limbah
cair telah cukup mapan dan tertata dengan baik. Sarana gorong-gorong, stasion
pompa dan pengelola air limbah telah dirancang untuk sejumlah penduduk atau
rumah tangga atau rumah. Jika seseorang mendirikan rumah baru disuatu daerah, ia
harus mendaftarkan diri pada instansi pemerintah yang khusus menangani limbah cair
untuk dapat mengakses ke saluran pembuangan limbah. Pemberian akses biasanya
disertai dengan pembayaran pajak atau retribusi kepada negara, yang pada gilirannya
akan digunakan untuk memperbesar kapasitas dari sarana yang ada.
Ditinjau dari segi kemerosotan, ketiga sarana mempunyai karakteristik yang sama,
yaitu tingkat kemerosotan tinggi. Biaya modal yang dikeluarkan dengan cepat
merosot. Artinya, nilai modal yang ditanamkan pada ketiga prasarana tersebut cepat
merosot nilainya. Nilai modal yang cepat merosot ini harus segera dikompensasi
dengan              perbaikan           infrastruktur           secara           priodik.
Ditinjau dari skala ekonomis, ketiga sarana air limbah ini termasuk dalam kategori
sedang. Biaya yang dibutuhkan untuk membuang prasarana tersebut tidak terlalu
besar dan membutuhkan investasi yang mahal. Berbeda dengan pembangunan jalan
tol yang membutuhkan modal yang besar dan pelibatan pihak swasta yang didanai
konsorsium tertentu. Pendanaan pembangunan gorong-gorong kota tidak terlalu
memerlukan struktur pendanaan yang rumit, karena secara langsung dapat didanai
melalui                    anggaran                 belanja                  pemerintah.
Di Indonesia, pembangunan sarana pengelolaan air limbah masih sepenuhnya
menjadi tanggung jawab pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah
daerah (kota madya). Biasanya pendanaan pembangunan gorong-gorong kota dan
stasion pengolahan air limbah dilakukan melalui subsidi pemerintah pusat dan
pinjaman                                    luar                                  negeri.
Kebijakn yang diterapkan di indonesia dalam mengelola air limbah secara formal
adalah seperti yang diarahkan oleh departemen PU (Direktorat Jendral Cipta Karya)
pada awalnya atau Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah
(KIMPRASWIL) sebagai depertemen tehnis yang membina pengelolaan air limbah di
Indonesia.
2.11        Pokok-Pokok         Permasalahan         Pengelolaan        Air      Limbah
Berdasarkan konsep manajemen pengelolaaan air limbah, persoalan yang muncul
pada              pengelolaan          air            limbah           adalah           :
1. Aspek Kelembagaan: bentuk kelembagaan yang cocok dengan besarnya
kewenangan dan sumber daya manusia sebagai salah satu unsur pengelola kurang
memadai             dari        jumlah          maupun           kualifikasinya         ;
2. Aspek Teknis Operasional: keterbatasan sarana dan prasarana pengurasan dan
pengumpulan (truk tinja), instalasi pengolah lumpur tinja (IPLT), serta instalasi
pengolah air limbah (IPAL) sebelum dibuang ke badan air ;
3. Asepek Pembiayaan: tidak seimbangnya besar biaya operasional – pemeliharaan
(O dan M) pengelolaan dan besarnya penerimaan retribusi sebagai konsekwesi logis
pelayanan                                                            pengelolaan;
4. Aspek Pengaturan: tidak dimilikinya kebijakan pengaturan pengelolaan didaerah
yang mampu memberikan motivasi kesadaran peran serta masyarakat untuk ikut
secara utuh dalam pengelolaan secar terpusat baik menyangkut pembiayaan dan
teknis       operasional         sehingga        berwawaskan          lingkungan;
5. Aspek Peran serta Masyarakat: kesadran masyarakat untuk ikut serta secara utuh
dalam pengelolaan perlu ditingkatkan.

2.12 Undang-undang dan peraturan Nasional dan regional serta kebijaksanaan Daerah
Terkait                 pengelolaan                  Air                   limbah
Secara Umum beberapa perundang-undangan dan peraturan yang terkait dengan
pelaksanaan pengelolaan air limbah nasional maupun regional adalah:
• Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup;
• Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tenang Pajak dan Retribusi Daerah;
• Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisi Mengenai Dampak
Lingkungan                                                             (AMDAL);
• Keputusan Menteri PU Nomor 69/PRT/1995 Tentang Pedoman Teknis Mengenai
Damapk         Lingkungan      Proyek       Bidang         Pekerjaan       Umum
Disamping perundang-undangan,Peraturan dan Kebijakan diatas maka pengelolaan
air limbah secara operasional harus mengacu pada standarisasi yang sudah ada
seperti:
• SK SNI T -07 -1989-F Tentang Petunjuk Teknis Pembuatan Tangki septik;
• SK SNI T -08 -1998 –F Tentang Tata Cara Perencanaan Bangunan MCK Umum.
• SK SNI T -09 – 1998 –F Petunjuk Teknis Pembuatan Saluran Pembuangan Air
Limbah                                                                    (SPAL).
• Standar Pelayanan Minimal (SPM) tahun 2001.

2.13       Sanitasi     Berbasis         Masyarakat    (Ngampilan,        Yogyakarta)
•     Pengelolaan       Lingkungan         Hidup    Wilayah      Sungai      Winongo
Program Lingkungan Hidup Indonesia Jerman (ProLH) fase I (1999-2003)
memfasilitasi proses penyusunan suatu perencanaan pengelolaan lingkungan hidup di
wilayah Sungai Winongo. Dalam proses tersebut, Tim RBM (terdiri dari staf inter
sektor) mengawalinya dengan menyusun Profil Sungai Winongo, yang merupakan
referensi utama dalam penyusunan perencanaan, disamping keberadaan rencana tata
ruang yang sudah ada. Dalam perencanaan pengelolaan lingkungan hidup tersebut,
ditegaskan beberapa prioritas isu yang harus segera ditangani, antara lain
penanggulangan limbah cair domestik di daerah Ngampilan, Yogyakarta. Selain itu,
masyarakat setempat telah mengusulkan dibangunnya suatu pengolahan limbah cair
domestik        kepada       Walikota       Yogyakarta    sejak       tahun      2000.
• Situasi Pengolahan Limbah Cair di Propinsi D.I. Yogyakarta
Situasi pengolahan limbah cair di Yogyakarta sangat perlu ditingkatkan dan secara
ringkas dapat digambarkan sebagai berikut; hanya 9% dari seluruh populasi yang
terhubungkan dengan instalasi pengelolaan limbah cair publik, 42% memiliki sarana
sanitasi individual seperti septic tank, 0,2% menggunakan fasilitas komunal, dan 49%
masih melakukan pembuangan langsung ke lingkungan tanpa ada pengolahan.
Fasilitas publik pengolahan limbah cair belum bekerja sesuai kapasitasnya. Septic
tank individual yang telah ada pada umumnya tidak akurat dalam desain, operasional
dan pemeliharaan. Oleh karena itu, fasilitas ini tidak berfungsi semestinya.
Penempatannya pun sering terlalu dekat dengan sumur dimana penduduk
menggunakan             airnya            untuk        kebutuhan           sehari-hari.
•        Partisipasi       Masyarakat          Community        Base        Sanitation
Kampung Serangan merupakan wilayahberpenduduk padat dan matapencaharian
penduduknya bervariasi tetapi pendapatan rata-ratanya di bawah Rp 500.000,- per
bulan. Sebanyak 90 % keluarga memiliki WC sendiri dan sisanya menggunakan WC
Umum atau sungai. Semua WC yang ada di kampung ini tidak memiliki septic tank,
semua air limbah disalurkan melalui pipa menuju ke sungai, sehingga air sungai
menjadi                       kotor                     dan                      bau.
Pemerintah Propinsi D.I. Yogyakarta melalui BAPEDALDA dan Kantor
Pengendalian Dampak Lingkungan(PEDAL) Yogyakarta menjalin kerja sama dengan
pemerintah Jerman dalam program pembangunan instalasi pengolahan air limbah
dipayungi oleh Program Lingkungan Hidup Indonesia – Jerman (ProLH). Beberapa
instansi lain yang ikut terlibat dalam tahap persiapan dan perencanaan antara lain
Dinas Tata Kota, Dinas Kimpraswil, Dinas Kesehatan, Kantor Kecamatan dan Kantor
Kelurahan. Pembangunan instalasi pengolahan limbah domestik ini melibatkan
sebuah LSM yaitu LPTP (Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan) DEWATS
yang bertanggung-jawab untuk membangun instalasi pengolahan air limbah dan
persiapan sosial masyarakat. Dengan menggunakan CPA (Community Participatory
Assesssment) yang merupakan metode pendekatan yang mengkaji kondisi sanitasi
masyarakat dengan mengadopsi MPA (Methodolgy Participatory Assessment)dan
PHAST (Participatory Hygiene and Sanitation Transformation) untuk meningkatkan
partisipasi masyarakat agar bersedia terlibat secara aktif dalam perencanaan dan
pemeliharaan sarana sanitasi. Teknik CPA yang telah digunakan adalah Community
Mapping, Transect Walk, Partisipasi saat Pembangunan Pelayanan. Dari ke tiga
teknik ini, masyarakat bisa ikut menentukan kemungkinan jalur pipa utama dan HHC
(House Hold Connection), jumlah calon pemanfaat sarana sanitasi, panjang jalur dan
masalah-masalah yang mungkin timbul pada saat pembangunan. Dalam program ini
masyarakat juga dilibatkan untuk ikut membiayai dan merawat instalasi pengolahan
air limbah tersebut. Kontribusi masyarakat dalam pengadaan perpipaan HHC (House
Hold Connection) senilai Rp. 600.000,- yaitu untuk perpipaan dari saluran WC,
kamar mandi, tempat cuci, dan dapur ke pipa utama dan upah tenaga kerja.
Kontribusi perawatan instalasi adalah Rp 500,- per KK setiap bulannya. Pelaksanaan
konstruksi dimulai tanggal22 Desember 2003 dan berakhir pada bulan April 2004
untuk kemudian dilanjutkan dengan proses perpipaan. Proses per-pipaan selesai pada
awal bulan Mei 2004 dan mulai beroperasi pada tanggal 6 Mei 2003. Setelah 3 hingga
6 bulan beroperasi hasil tes laboratorium menunjukkan bahwa air limbah yang telah
diproses itu telah memenuhi standar baku mutu air limbah. Keberhasilan program ini
kini diikuti oleh Pemerintah Daerah untuk lokasi lain, dan didiseminasikan lebih luas
oleh Kementerian Lingkungan Hidup.

Daftar                                                                  Pustaka
Robert J. Kodoatie, 2003. Manajemen dan Rekayasa Infrastruktur. Pustaka Pelajar:
Jakarta.
Robert J. Kodoatie, 2005. Pengantar Manajemen Infrastruktur. Pustaka Pelajar:
Jakarta.
WWW.GOOGLE.COM                  13        Maret            2008           11.08
www.                                                             Wikipedia.com
http://www.kimpraswil.go.id/Limbah.pdf.
Modul Tugas Studio Permukiman Kota, 2008. Universitas Brawijaya Jurusan
Perencanaan Wilayah & Kota.
                    Air bersih dan pemeliharaannya

                                       Oleh Endang Sutarman



             Penggunaan dan Penyalahgunaan Sumber Air

Pertanian beririgasi merupakan pengguna air terbesar. Pada umumnya lebih 80% dari
air yang ada dicurahkan khusus untuk pertanian. Tetapi karena biasanya air
disalurkan dengan gratis atau dengan tarif yang banyak disubsidi, maka kecil sekali
dorongan niat untuk menggunakan air secara efisien, dan retribusinya, jika ada, tidak
akan mencukupi untuk pemeliharaan yang layak. Maka hasilnya ialah penggunaan
yang sangat tidak efisien efisiensinya kira-kira hanya di bawah 40% untuk seluruh
dunia dan kemerosotan mutu yang semakin melaju pada sistem yang semakin besar.

Efisiensi Air

Sesungguhnya efisiensi dapat ditingkatkan dengan baik dengan perbaikan cara
pengoperasian dan pemeliharaan sistemnya perbaikan saluran, pendataran lahan
supaya pembagian air dapat merata, penyesuaian antara banyaknya pelepasan air dari
tandon dan keperluan senyatanya di daerah hilir, dan pengelolaan yang lebih efektif
apabila air tersebut sudah sampai di lahan pertanian atau dengan menggunakan teknik
yang lebih efisien seperti irigasi tetesan. Perbaikan-perbaikan semacam itu sangat
penting mengingat besarnya dampak permintaan irigasi dan rasa keadilan bagi
penduduk perkotaan yang berjuang untuk kelangsungan pasok air yang memadai.
Sandra Postel, seorang pakar dalam penggunaan air dari Worldwatch Institute
mengatakan: "Hanya dengan meningkatkan 10% efisiensi penggunaan air di seluruh
dunia, kita akan dapat menghemat air yang cukup untuk memasok semua air
keperluan hunian di seluruh kawasan dunia".

Penghamburan air sungguh disayangkan sebab biasanya hal tersebut tidak diikuti
dengan peningkatan produktivitas pertanian seperti yang diharapkan. Tiadanya
penyaluran air yang baik pada lahan yang diairi dengan irigasi (untuk penghematan
dalam jangka pendek) dapat berakibat terjadinya kubangan dan penggaraman yang
akhirnya dapat menyebabkan hilangnya produktivitas.

   Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) PBB memperkirakan bahwa, karena
terjadinya penggaraman atau jeleknya drainase, seluas 45 juta hektar lahan pertanian
beririgasi di negara-negara berkembang memerlukan reklamasi hampir separo dari 92
juta hektar tanah beririgasi di kawasan dunia berkembang.

Tabel 1: Lingkup Pasokan Air dan Layanan Sanitasi di Negara-negara Berkembang
PENDUDUK
              1980                                                1990
( JUTA)

              Jumlah     Tanpa pasok air   Tanpa sanitasi Jumlah         Tanpa pasok air   Tanpa sanitasi

Kota          933        213 (23%)         292 (31%)      1.332          243 (18%)         377 (28%)
Desa          2.303      1.613 (70%)       1.442 (63%)    2.659          989 (37%)         1.364 (51%)
Sumber: Hasil-hasil Dasawarsa Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Internasional (1981-1990). Laporan No. A/45/327
UNESCO, Juli 1990, dengan beberapa ralat kecil menurut Kinley, David berjudul "Running Just to Stay in Place", dalam
Choice, Volume 2, No. 4, Desember 1993.



  Di sejumlah negara, terjadinya tanah kubangan dan penggaraman tanah telah
menghilangkan produktivitas tanah pertanian beririgasi seluas lahan yang dibuka oleh
proyek-proyek        irigasi       pada         tahun-tahun          akhir       ini.
  Di Mesir, suatu negara dengan ekonomi langka tanah, hampir separo dari tanah
yang dibudidayakan terutama di bagian barat delta Sungai Nil mempunyai tinggkat
penggaraman yang demikian tinggi sehingga berdampak pada produksi tani,
menurunkan hasil, dan mengarah pada penelantaran lahan irigasi, baik sementara
maupun selamanya.


  Suatu perkiraan di Meksiko, hilangnya panen yang disebabkan oleh penggaraman
tanah mencapai 1 juta ton panen bahan makan, suatu jumlah yang cukup untuk
mencatu kebutuhan pokok makanan untuk 5 juta orang.

Industri sesungguhnya menggunakan air jauh labih sedikit apabila dibandingkan
dengan irigasi, namun dampaknya mungkin parah, dipandang dari dua segi. Pertama,
penggunaan air bagi industri sering tidak diatur dalam kebijakan sumber daya air
nasional, maka cenderung berlebihan. Kedua, pembuangan limbah industri yang tidak
diolah dapat menyebabkan air permukaan atau air bawah tanah menjadi terlalu
berbahaya untuk dikonsumsi.

Penggunaan air bagi industri seringkali juga sangat tidak efisien. Karena tidak dapat
memasok kebutuhan industri melalui sistem yang dikelola oleh pemerintah daerah,
dan karena dorongan yang menggebu untuk pertumbuhan ekonomi, perusahaan
industri mengembangkan sendiri jaringan airnya secara swasta. Biaya air semacam ini
seringkali sangat rendah, dan karena biaya tersebut hanya merupakan bagian kecil
dari seluruh biaya manufaktur, maka mereka tidak merasa terdorong untuk
mengadakan konservasi. Sebagai contoh di Bangkok, Thailand, yang sangat
menderita akibat penghisapan air bawah tanah yang berlebihan, biaya yang harus
dikeluarkan air dari perusahaan air metropolitan berlipat delapan kali dari biaya yang
diperlukan untuk memompa air tanah secara swasta.

Banyaknya air yang diperlukan untuk manufaktur dapat sangat berbeda-beda,
tergantung pada proses industri yang diterapkan dan ukuran daur ulangnya.
Memproduksi satu ton baja dapat saja menghabiskan sampai 190.000 liter air atau
hanya 4.750 liter, dan satu ton kertas dapat menghabiskan sampai 340.000 liter atau
hanya 57.000 liter. Pengaturan yang tepat untuk penyedotan air dan pengenaan biaya
yang benar untuk air tersebut akan dapat mendorong orang untuk menggunakannya
secara lebih efisien tanpa harus mempengaruhi biaya produksi secara mencolok.
Biaya penggunaan air, bahkan di negara-negara yang tarifnya pun sudah sesuai
dengan biaya menyeluruh pemeliharaan sumber, biasanya hanya merupakan bagian
yang sangat kecil (1% sampai 3%) dari biaya produksi industri.

Tabel 2: Kemungkinan Pembatasan Penyakit Melalui Pasokan Air dan Sanitasi
                        Perkiraan banyaknya kasustiap Kemungkinan penyusutan lewat
Jenis penyakit          tahun     di    negara-negara peningkatan pasokan air dan
                        berkembang (kecuali cina)     sanitasi
Diare (murus)           875 juta                       225 juta (26%)
Cacing gelang (askaris) 900 juta                       260 juta (26%)
Cacing guinea           4 juta                         3 juta (78%)
Cacing tambang          800 juta                       615 juta (77%)
Trakoma                 500 juta                       135 juta (27%)
Karena keterbatasan data, semua angka di atas mengacu kepada kasus sakit, bukan
kematian. Lagi pula hendaknya dicatat bahwa tindakan yang diambil dapat mengurangi
kasus kematian tetapi bukan kasus sakit.

Sumber: Berdasar tulisan Esrey, Steven A., dkk, "Manfaat Kesehatan dari Perbaikan dalam
Pasokan Air dan Sanitasi. Laporan Teknik No. 66 Pasokan Air dan Sanitasi Arlington,
Virginia: Proyek Air dan Sanitasi untuk Kesehatan, Juli 1990.
Bahkan di industri-industri yang "padat air" jumlah air yang dipakai sangat kecil
biasanya 20% pada industri pengolahan pangan, 25% pada industri kertas, dan 33%
pada tekstil. Sisanya didaur-ulang (kecenderungan ini semakin meningkat di negara-
negara industri) atau dikeluarkan sebagai limbah cair. Penentuan tarif yang lebih
realistik, meskipun penting untuk sektor ini, tetap saja tidak merupakan dorongan
untuk penggunaan yang lebih efisien. Yang lebih penting adalah pengetatan alokasi
air dan persyaratan pengendalian pencemaran yang lebih keras. Contohnya seperti
Israel yang memiliki peraturan standar penggunaan air untuk berbagai macam
industri, dan memberi alokasi pembagian air yang disesuaikan. Sebagai hasilnya, di
negara itu rata-rata penggunaan air per unit produksi industri anjlok hingga 70%
selama dua dekade ini.

Air buangan industri sering dibuang tanpa melalui proses pengolahan apapun. Air
tersebut dibuang langsung ke sungai dan saluran-saluran, mencemarinya, dan pada
akhirnya juga mencemari lingkungan laut, atau kadang-kadang buangan tersebut
dibiarkan saja meresap ke dalam sumber air tanah. Kerusakan yang diakibatkan oleh
buangan ini sudah melewati proporsi volumenya. Banyak bahan kimia modern begitu
kuat sehingga sedikit kontaminasi saja sudah cukup membuat air dalam volume yang
sangat besar tidak dapat digunakan untuk minum tanpa proses pengolahan khusus.

Cara menolongnya adalah pencegahan bukan penyembuhan. Seperti laporan dari
Bank Dunia dan Bank Investasi Eropa berjudul Pencemaran Industri di Kawasan
Laut Tengah: "Perbaikan pada efisiensi dalam pengoperasian dan pemulihan sumber
air jauh lebih baik dan kemungkinan besar akan memberikan hasil yang lebih banyak
daripada pengolahan pada akhir proses yang mahal, sebab banyak masalah
pencemaran berkaitan langsung dengan masalah-masalah pengoperasian dan
pemeliharaan, serta rendahnya niat untuk konservasi dan pemulihan sumber air".

Penilaian terhadap masalah lingkungan di kawasan Laut Tengah yang dilaksanakan
oleh kedua organisasi tersebut menemukan bahwa pengolahan primer terhadap
limbah industri hanya akan menghabiskan biaya sebesar 10% hingga 20% dari biaya
pengolahan secara lengkap, namun dapat membuang 50 hingga 90 persen bahan-
bahan polutan yang paling berbahaya. Penyusutan buangan limbah industri yang
efektif, termasuk pengolahan primer, mungkin akan lebih berdampak lebih baik
terhadap lingkungan daripada mengutamakan cara pengolahan lengkap terhadap
limbah perkotaan yang volumenya jauh lebih kecil.

Tabel 3: Perkiraan Modal untuk                     Penyediaan         Pemasok        Air      Baru    dan
Layanan Pembuangan Limbah Air *)
             Th. 1900, jumlah Th. 2000, jumlah                     Perkiraan   biaya Jumlah     keseluruhan
                                                 Tambahan jumlah
             penduduk         penduduk                           per        unit biaya        dalm    juta
                                                 penduduk
             yang             (juta)                             dalam dolar dolar
                                                 yang      akan
             terlayani                                           tiap orang
                                                 dilayani (juta)
             (juta)
Pasokan air
            1.089             1.900              811               1300             105.000
perkotaan


Pembuangan
           955                1.900              945               350              331.000
limbah air
                                                                   Jumlah           436.000
*) Angka-angka yang disajikan di sini lebih kecil dari jumlah sesungguhnya yang diperlukan
untuk membangun dan mempertahankan biaya universal. Karena pada masa lampau
penekanan dipusatkan pada membangun yang baru, banyak sistem yang sekarang tidak
beroperasi lagi atau rusak berat dan memerlukan rehabilitasi, yang tentunya menambah
beban berat terhadap kebutuhan finansial. Perkiraan di atas juga tidak memasukkan
investasi besar yang diperlukan untuk keperluan perlindungan.

Sumber: Data penduduk dari hasil-hasil selama Dasawara Pasokan Air Minum dan Sanitasi
1981-1990. Laporan No. A/45/327, Dewan Ekonomi dan Sosial PBB, Juli 1990. Biaya satuan
per kapita diperoleh dari evaluasi dan laporan proyek Bank Dunia. Perkiraan ini
mengandaikan adanya sistem saluran air minum dan pembuangan terpusat yang penuh
dalam rumah tangga. Angka-angka ini baru merupakan petunjuk dan hendaknya tidak
dipakai untuk memperkirakan biaya untuk suatu wilayah tertentu.


Untuk memusatkan kepedulian pada jeleknya tingkat layanan di sektor air, PBB
menjuluki tahun 1980-an sebagai "Dasawarsa Penyediaan Air Minum dan Sanitasi
Internasional". Ada beberapa peningkatan yang cukup nyata terutama dalam layanan
penyediaan air kepada orang-orang miskin, tetapi pencapaian tersebut apabila
dipandang dari segi lingkungan, idak sedramatik seperti yang diharapkan. Seperti
ditunjukkan dalam Tabel 1, sampai akhir dasawarsa tersebut, meskipun ada banyak
peningkatan         jumlah         orang         yang         dilayani,   namun
ternyata jumlah orang di perkotaan yang tidak terlayani juga meningkat.

Kiranya pantas dicatat bahwa statistik yang dipaparkan pada Tabel 1 tersebut hampir
dapat dipastikan terlalu optimistik. Misalnya, statistik tersebut tidak mengungkapkan
mutu layanan yang mungkin saja rendah dan dapat mengancam lingkungan dan
kesehatan masyarakat. Sangat sering statistik itu mengasumsikan bahwa sekali
dibentuk, sebuah sistem akan terus bekerja dengan baik, padahal keadaan
sesungguhnya tidak selalu demikian.

Masalahnya bukan hanya karena tidak cukup persediaan air; air yang ada itu pun
tidak dikelola secara layak atau dibagikan secara merata.

   Bagian air yang hilang karena kebocoran terlalu besar. Dengan menengok kembali
pengalaman selama bertahun-tahun, Bank Dunia menemukan bahwa "air yang tidak
tertagih" rata-rata mencapai 35% dari keseluruhan pasokan (air yang tak tertagih =
UFW/ unaccounted-for water, yaitu air yang diproduksi tetapi tidak menghasilkan
uang karena kebocoran atau "kerugian administratif"). Menaikkan penjualan air dari
65% ke, katakan 85%, akan berarti penghematan 30% terhadap keadaan sekarang.

  Sering sebagian besar air yang tersedia hanya digunakan oleh sejumlah kecil
konsumen besar. Dalam suatu kota, 15% sambungan bermeter dapat menghasilkan
85% pemasukan uang dari konsumsi air. Enam persen peringkat atas dari seluruh
rumah tangga mengkonsumsi lebih dari 30% seluruh konsumsi domestik, 0,1% dari
atas menggunakan lebih dari 6%. Bahkan hanya 3 rangkaian industri saja membayar
separo dari jumlah keseluruhan konsumsi industri.

  Para pengguna tersebut membayar terlalu rendah untuk layanan. Biaya rata-rata
untuk produksi air oleh proyek pemasok yang dibiayai oleh Bank Dunia dalam masa
1966-81 adalah $ 1,29 untuk setiap 1.000 galon (+ 3.800 l). Harga rata-rata untuk
setiap 1.000 galon kira-kira $ 0,69. Karena tingkat rata-rata air yang tidak
menghasilkan uang mencapai hingga 35% maka harga efektif setiap 1.000 galon
menjadi hanya $ 0,45, atau kira-kira hanya 1/3 biaya memproduksinya.

  Kelompok orang lain terpaksa menggunakan alternatif yang mahal. Dale
Whittington dan rekan-rekannya mencatat dalam tulisan yang berjudul Penyajian Air
dan Pembangunan: Pelajaran dari Dua Negara, "Rumah tangga yang membeli air
dari para penjaja membayar dua kali hingga enam kali dari rata-rata yang dibayar
bulanan oleh mereka yang mempunyai sambungan saluran pribadi untuk volume air
yang hanya sepersepuluhnya."

Karena masalah-masalah tersebut maka para pengusaha air di beberapa negara
berkembang hidupnya sangat pas-pasan. Tarif yang dikendalikan secara politis
biasanya terlalu rendah untuk menutup biaya produksi; namun demikian banyak
tagihan rekening air tetap tidak terbayar, sehingga usaha perawatan untuk pencegahan
tidak terpedulikan. Oleh karena itu banyak kota yang berputar semacam lingkaran:
Perbaikan yang paling utama ditunda hingga sistem jaringannya mencapai ambang
kerusakan, tepat pada waktu itu dimulailah babak baru suatu proyek penanaman
modal yang besar. Pada gilirannya, karena desakan dari tuntutan layanan, hal tersebut
akan menyebabkan pemerintah kota terjebak dalam masa depan yang tak menentu.

Dalam hal demikian, biasanya mereka lebih mudah memperoleh dana untuk
membangun sistem penyediaan baru, yang secara politis sangat gampang dilihat,
daripada mencari dana untuk memperbaiki barang-barang yang mendekati
kebobrokan. Pemusatan perhatian pada perluasan pasokan dan tidak adanya kebijakan
nasional yang mengharuskan pengalokasian air lebih efisien, mengarah pada
keparahan penyedotan yang berlebihan terhadap jaringan lapisan sumber air bawah
tanah di banyak negara, diiringi dengan akibat yang serius yang sebenarnya sudah
dapat diperkirakan sebelumnya yaitu kelangkaan air, permukaan air yang jatuh di
bawah saluran pompa penyedot, dan air garam yang terserap ke dalam jaringan
lapisan sumber air dan menyebabkan air tak dapat dimanfaatkan untuk minum atau
irigasi.

  Di beberapa tempat di negara bagian Tamil Nadu di India bagian selatan yang tidak
memiliki hukum yang mengatur pemasangan penyedotan sumur pipa atau yang
membatasi penyedotan air tanah, permukaan air tanah anjlok 24 hingga 30 meter
selama tahun 1970-an sebagai akibat dari tak terkendalikannya pemompaan atau
pengairan.

  Pada suatu konperensi yang diselenggarakan baru-baru ini, seorang wakil dari
suatu negara yang kering melaporkan bahwa 240.000 sumur pribadi yang dibor tanpa
mengindahkan kapasitas jaringan sumber air mengakibatkan kekeringan dan
peningkatan kadar garam.

Penyia-nyiaan sumber air semacam ini tidak terbatas hanya pada negara-negara
berkembang saja; eksploitasi yang berlebihan terhadap sumber-sumber juga
merupakan masalah yang serius di banyak derah di Amerika Serikat. Seperlima dari
seluruh tanah irigasi di AS tergantung hanya pada jaringan sumber air (Aquifer)
Agallala yang hampir tak pernah menerima pasok secara alami. Selama 4 dasawarsa
terakhir, sistem jaringan yang tergantung pada sumber ini meluas dari 2 juta hektar
menjadi 8 juta, dan kira-kira 500 kilometer kubik air telah tersedot. Jaringan sumber
ini sekarang sudah setengah kering kerontang di bawah sejumlah negara bagian.

Sumber-sumber air juga mengalami kemerosotan mutu. Di samping pencemaran dari
limbah industri dan limbah perkotaan yang tidak diolah, sumber-sumber tersebut juga
mengalami pengotoran berat dari sisa-sisa dari lahan pertanian. Misalnya, di bagian
barat AS, sungai Colorado bagian bawah sekarang ini demikian tinggi kadar
garamnya sebagai akibat dari dampak arus balik irigasi sehingga di Meksiko sudah
tidak bermanfaat lagi, dan sekarang AS terpaksa membangun suatu proyek besar
untuk memurnikan air garam di Yuma, Arizona, guna meningkatkan mutu sungainya.

Situasi di wilayah perkotaan jauh lebih jelek daripada di daerah sumber. Banyak
rumah tangga yang terlayani terpaksa merawat WC dengan cara seadanya karena
langkanya air, dan tanki septik membludak karena layanan pengurasan tidak dapat
diandalkan, atau hanya dengan menggunakan cara-cara lain yang sama-sama tidak
tuntas dan tidak sehat. Bahkan andaikan hal ini tidak mengakibatkan masalah dari
para penggunanya sendiri, tetap juga sering berbahaya terhadap orang lain dan
merupakan ancaman bagi lingkungan, sebab limbah mereka lepas tanpa proses
pengolahan.

Itulah masalah-masalah para penerima layanan. Namun, kira-kira 30% penduduk
perkotaan harus menerima keadaan bahwa mereka tidak memiliki perangkat sanitasi
yang memadai. Hal ini berarti bahwa dalam suatu kota berpenduduk 10 juta orang,
setiap hari ada kira-kira 750 ton limbah manusia yang tak tertampung dan menumpuk
di sembarang tempat -mungkin 250.000 ton zat-zat penyebab penyakit tersebar di
jalan-jalan dan di tempat-tempat umum, atau di saluran-saluran air.

								
To top