POSYANDU kkn
Document Sample


POSYANDU Penanggung jawab : 1. ......... 2. ......... Nara Sumber 1. .......... 2. .......... Peserta 3. KKN ( ................. orang) 4. Warga ( ............... orang) Posyandu Sekaligus Urus Ekonomi dan Spiritual Otonomi Award kategori utama kinerja politik tahun ini diraih Kabupaten Lumajang. Apa capaian inovasi paling menonjol yang dilakukan kabupaten di lereng Semeru ini sehingga mendapat apresiasi tertinggi dari The Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi (JPIP)? Berikut laporan peneliti JPIP Redhi Setiadi dan Wawan Sobari. Pagi itu Sutianah, 46, warga RW V kelurahan Ditotrunan, Lumajang, bergegas menuju balai RW. Dia harus siap di tempat tersebut tepat pukul 08.00. "Hari ini (Rabu, 14/5) ada kegiatan posyandu di RW V," kata Sutianah. Di pos pelayanan terpadu (posyandu) Margi Rahayu tempatnya berkiprah, Sutianah dipercaya jadi sekretaris. Ibu rumah tangga itu sudah aktif menjadi kader posyandu lebih dari 15 tahun. Sutianah adalah contoh dari ribuan kader posyandu di Kabupaten Lumajang. Hingga akhir 2007, tercatat ada 6.750 kader posyandu yang tersebar di seluruh wilayah Lumajang. Di kabupaten penghasil pisang itu, posyandu dijadikan sarana paling konkret partisipasi warga dalam membangun daerah. Karena itu, posyandu dimodifikasi sedemikian rupa. Tidak hanya berkutat pada masalah kesehatan ibu, balita, dan orang tua lanjut usia (lansia), tetapi juga melaksanakan fungsi pendidikan luar sekolah, bina mental spiritual, dan ekonomi produktif. Posyandu menjadi ujung tombak skema besar gerakan membangun masyarakat sehat (Gerbangmas). Akronim Gerbangmas sudah dikenal luas hingga pelosok desa. Sosialisasi gerakan yang dicanangkan bupati Lumajang pada 10 Januari 2005 itu memang sangat gencar dilakukan. Seolah Gerbangmas sudah menjadi ikon kedua kabupaten ini setelah pisang agung. Dipilihnya posyandu sebagai ujung tombak gerakan karena dua hal. Pertama, posyandu sudah ada dan relatif tersebar hingga tingkat RW. Kedua, posyandu merupakan bentuk kegiatan dari, oleh, dan untuk masyarakat. Atas dua pertimbangan ini, posyandu ditetapkan sebagai sarana gerakan partisipasi warga. Karena itu, semua posyandu di kabupaten ini dinamakan Posyandu Gerbangmas. Modifikasi posyandu dilakukan baik secara substantif maupun administratif. Secara substantif fungsi dan peran posyandu ditingkatkan menjadi enam bidang. Yakni, pelayanan kesehatan balita dan ibu, ketahanan keluarga, pendidikan luar sekolah, bina mental spiritual, pola hidup bersih dan sehat, dan pemberdayaan ekonomi produktif. Secara administratif, untuk mewadahi partisipasi yang lebih luas posyandu dijadikan kegiatan terbuka yang melibatkan kaum pria dan wanita. Hasilnya, posyandu di Lumajang berbeda 180 derajat dari posyandu di daerah lain. Yang paling terlihat, beberapa ketua posyandu di Lumajang adalah kaum pria. Ini tidak mungkin terjadi di daerah lain. Posyandu Mardi Rahayu adalah salah satu dari sekian banyak posyandu yang dipimpin kaum pria. Posyandu yang terdiri atas dua lantai itu diketuai Hariyadi Eko Romadon. "Di Lumajang saat ini, bukan hal yang tabu seorang pria menjadi ketua dan pengurus posyandu. Ini semua berkat sosialisasi Gerbangmas," kata Hariyadi. Pria yang juga dosen di Universitas Lumajang itu menambahkan, selain dirinya, ada dua pria lagi yang menjadi pengurus posyandu. Mereka adalah Hariono dan Saiful Fadholi yang masing-masing menangani ekonomi produktif dan bina mental spiritual. Pemberdayaan ekonomi produktif di lingkungan posyandu RW V Kelurahan Ditotrunan diwujudkan dengan budidaya ikan air tawar dalam karamba. Sungai yang membelah kelurahan di pusat kota ini dimanfaatkan untuk menaruh ratusan karamba ikan yang terbuat dari semen. Untuk pemberdayaan ekonomi produktif ini, lain posyandu lain pula kegiatannya. Masing- masing mempunyai kegiatan berbeda-beda sesuai dengan potensi lokal. Misalnya, posyandu Gerbangmas Kartini di Desa Purworejo, Kecamatan Senduro. Pemberdayaan ekonomi produktif di posyandu ini ditempuh dengan budidaya tanaman hias dan usaha kripik tempe. Pengurus posyandu terdiri atas sembilan orang. Semuanya warga masyarakat setempat. Komposisi pengurus biasanya terdiri atas tokoh masyarakat dan kader posyandu. Pelibatan tokoh masyarakat dalam kegiatan posyandu menjadi kata kunci keberhasilan Gerbangmas di Lumajang. Lalu, bagaimana peran pemerintah kabupaten? Setiap tahun pemkab mengucurkan dana stimulan Rp 10 juta per posyandu. Penggunaannya, Rp 4 juta untuk biaya operasional dan Rp 6 juta untuk intervensi program. Partisipasi masyarakat dan pihak ketiga memungkinkan dana ini berkembang hingga puluhan juta rupiah. Gerakan pemberdayaan posyandu di kabupaten ini juga tergolong sangat masif. Perkembangannya cukup signifikan. Pada 2005 awalnya hanya ada 34 posyandu. Kemudian, berkembang menjadi 500 buah pada 2006 dan 750 buah pada 2007.(mk)
Get documents about "