Docstoc

Kebijakan Pertahanan Jepang dan Keamanan Semenanjung Korea pada - DOC

Document Sample
Kebijakan Pertahanan Jepang dan Keamanan Semenanjung Korea pada - DOC Powered By Docstoc
					 Kebijakan Pertahanan Jepang dan Keamanan Semenanjung Korea
                      pada Tahun 1990-an
(Reinhard Drifte, The Journal of East Asian Affairs, Vol. VI, No. 1 Winter/Spring 1992)



B. Level Regional
Bertolak belakang dari Eropa, keragaman Asia adalah sumber dari banyak konflik. Cepatnya
modernisasi dan industrialiasi dari kebanyakan negara Asia telah menciptakan banyak
ketegangan politik dan sosial. Ekuilibrium/perimbangan ras di beberapa negara sangatlah tipis.
Kebanyakan negara tidak mempunyai aturan yang dilembagakan mengenai suksesi
kepemimpinan. Terdapat banyak konflik teritorial yang tak terselesaikan yang bisa pecah
menjadi konflik terbuka walaupun bukan perang. Indochina masih disibukan dengan perang.
Walaupun Eropa baru yang “diperluas” mengalami beberapa masalah yang serupa, di sana
terdapat kondisi-kondisi yang lebih baik untuk mendapatkan solusi kooperatif untuk setidaknya
membatasi masalah-masalah tersebut. Sebagai akibatnya walaupun Eropa sedang melakukan
langkah-langkah yang lebih maju dalam kontrol senjata dan perlucutan senjata yang nyata,
belanja militer di Asia Tenggara kenyataannya semakin meningkat.
        Terlepas dari alasan-alasan keragaman politik, budaya atau ekonomi, bangsa Asia tak
pernah mempunyai kesamaan persepsi ancaman keamanan bipolar seperti halnya bangsa
Eropa. Aliansi keamanan antara China dan Uni Soviet dibentuk dalam kaitannya dengan Jepang.
Dalam aliansi-aliansi keamanan antara kedua adikuasa dan kedua negara Korea, ancaman dari
salah satu fihak merupakan faktor yang menentukan. ANZUS dibentuk untuk mengatasi Jepang
walaupun persepsi ancaman kemudian bergeser ke arah Uni Soviet. Walaupun signifikansi
ancaman Uni Soviet untuk traktat keamanan Jepang-Amerika Serikat tak pernah setara dengan
persepsi Uni Soviet pada ancaman Jerman Barat.
         Dengan adanya keadaan-keadaan ini, penciptaan pengaturan keamanan multilateral di
Asia terbukti tidak mungkin. Yang terjadi, kita menemukan banyaknya pengaturan keamanan
bilateral yang diusahakan untuk dikaitkan secara efisien satu sama lain dengan tanpa hasil oleh
Amerika Serikat. Walaupun ASEAN didirikan dikarenakan ancaman keamanan dari Indochina,
ASEAN hanya berfungsi sebagai suatu forum untuk mengkoordinasikan kebijakan-kebijakan
keamanan tertentu. Terlepas dari perang di Indochina, tidak ada persepsi ancaman yang sama
di negara-negara anggota. Tidak berhasilnya upaya-upaya Amerika Serikat sebelumnya untuk
menciptakan organisasi keamanan multilateral membuktikan hal ini.
         Terdapat traktat-traktat antara Amerika Serikat di satu fihak dan Jepang, Korea Selatan
dan Filipina di fihak lain, dan juga antara Uni Soviet dan sekutu-sekutu komunisnya. Keragaman
dari bahkanpun negara-negara beorientasi Barat membuat suatu integrasi horizontal di bidang
keamanan sangat tidak mungkin untuk melebihi konsep kabur dari “kesiagaan kooperatif.”
Selain itu, traktat-traktat keamanan bilateral ini menghadapi beragama ketegangan, terlepas
dari perkembangan hubungan kedua adikuasa.                   Pengaturan-pengaturan multilateral
memungkinkan sampai tingkatan tertentu difusi ketegangan, dan sebagian anggota bisa
melepaskan diri dengan perilaku yang tak akan bisa diakomodasi di dalam hubungan bilateral,
misalnya, perbedaan dalam kontribusi oleh masing-masing negara NATO semakin menciptakan
gesekan-gesekan namun aliansi tersebut secara keseluruhan telah berhasil tetap solid. Masalah
pangkalan di Filipina bisa diselesaikan, namun apapun hasilnya, keefektifan kehadiran militer
Amerika Serikat akan mendapatkan kerugian. Untuk Filipian ancaman Uni Soviet tak pernah
bersifat sangat nyata dan alasan-alasan ekonimi lebih berpengaruh untuk pemeliharaan traktat
tersebut. Traktat keamanan Amerika Serikat-Korea Selatan semakin tidak menjadi populer di
Korea dan setelah ancaman dai Korea Utara hilang atau Korea Selatan merasa bisa
menanganinya sendiri, kehadiran fisik militer Amerika Serikat akan menjadi kecil. Ancaman Uni
Soviet selalu ada di bawah ancaman dari Korea Utara dan perbaikan dramatis dalam hubungan
dengan Moskow – apalagi disintegrasi berkelanjutan dan semakin parahnya ekonomi dan
pemerintahan di Uni Soviet – akan tidak memungkinkannya untuk menggantikan ancaman
Korea Utara.


C. Dampak Periode Pasca Perang Dingin
         Cakupan perubahan di Asia Timur dalam periode pasca Perang Dingin adalah lebih kecil
daripada di Eropa, dan sebagai akibatnya hasil-hasil jangka pendek dari perubahan-perubahan
ini juga kurang begitu spektakuler. Uni Soviet sedang menarik 200.000 tentaranya dari Asia
Timur, termasuk dua pertiga level tentaranya di Mongolia, memperamping Armada Pasifiknya,
dengan memotong jumlah kapal di armada tersebut, mengurangi latihan-latihan militer,
menarik kebanyakan pasukannya dari Vietnam, hal-hal tersebut hanyalah perubahan-perubahan
yang besar saja. Selain itu, Uni Soviet juga mengizinkan Mongolia untuk melakukan suatu
pembangunan politik yang lebih independen, menekan Korea Utara dan Vietnam untuk
berperilaku lebih bertanggung jawab, dan mengurangi dukungan ekonominya untuk para
sekutu tradisionalnya karena alasan-alasan ekonomi dan juga politik.
         Hubungan Sino-Uni Soviet juga semakin diperbaiki, dan kedua fihak sedang
menyelesaikan perselisihan perbatasan mereka dan sedang mengembangkan langkah-langkah
pembangunan kepercayaan. Dalam suatu pernyataan yang agak tidak biasa pada Mei 1991
kedua fihak menyatakan bahwa mereka tidak lagi menjadi ancaman satu sama lain. Korea
Selatan mungkin fihak yang paling diuntungkan di fihak Barat dengan terciptanya hubungan
diplomatik dengan Uni Soviet pada September 1990 dan terlaksananya tiga KTT antara para
pemimpin kedua negara dalam jangka 12 bulan. Pengaruh positif pada stabilitas semenanjung
Korea mulai dirasakan dan pembicaraan-pembicaraan antara Korea Utara dan Jepang mengenai
pembentukan hubungan diplomatik tidak bisa dijelaskan tanpa perubahan dalam kebijakan Uni
Soviet. Jika para fihak yang berperang di Kambija pada akhinya bisa mengatasi perbedaan
mereka, hal ini dimungkinkan hanya dengan pengaruh penengahan Uni Soviet dan
pengurangan bantuan ekonominya pada sekutu-sekutunya di semenanjung Indochina.
Pembicaraan antara Hanoi dan Beijing mengenai isu Kamboja pada musim panas 1991 harus
dilihat dalam kaitannya dengan hal ini. Niatan Uni Soviet untuk mengembangkan Timur Jauh
Uni Soviet dan membukanya untuk pengaruh menggiurkan booming ekonomi di Asia Timur
akan juga mempunyai suatu pengaruh positif pada keamanan Asia Timur.
        Walaupun perubahan-perubahan Uni Soviet tidak secara otomatis mengarah pada
runtuhnya negara-negara komunis Asia, hal ini tidak berarti bahwa rezim-rezim komunis yang
ada sekarang di Asia Timur akan terus terjaga keberadaannya. Kekalahan komunisme di Eropa
merupakan suatu kejutan yang besar bagi mereka dan perkembangan-perkembangan di Eropa
dan juga kemunduran ekonomi bisa mempercepat keruntuhan mereka. Para bekasa negara
komunis Eropa menanggung beban besar dalam mendukung perekonomian mereka yang
sedang menderita dan mere dan juga Uni Soviet menghentikan subsidi mereka. Baik pers Uni
Soviet dan Kementerian Luar Negeri Uni Soviet telah, misalnya, mengkritik pemerintah Vietnam.
        Dinyatakan bahwa walaupun militer Uni Soviet sedang mengurangi kekuatan secara
kuantatif di Asia, perbaikan kualitatif sedang dilanjutkan. Suatu sinyal yang buruk diberikan
pada niatan Uni Soviet dengan adanya transfer peralatan militer Uni Soviet dari area yang
termasuk kesepakatan kontrol senjata terencana mengenai pasukan konvensional di Eropa ke
Siberia dan Timur Jauh Uni Soviet, sehingga dengan jelas melanggar semangat kesepakatan
dan juga idealisme politik mengenai indivisibility keamanan fihak Barat. Setelah mendapatkan
pelajaran dari kesepakatan INF, negara-negara Barat memprotes Uni Soviet setelah pada
awalnya kurang memperhatikannya. Pemerintah Jepang segera mengambil isu ini dan
menggunakannya sebagai salah satu alasan mengapa dalam penilaiannya atas era pasca
Perang Dingin, tidak terdapat hal yang benar-benar berubah di Asia Timur. Langkah Uni Soviet
juga cenderung mengorbankan kepentingan keamanan negara-negara Asia Timur untuk
mendapatkan détente di Eropa. Pada satu poin selama perdebatan INF Uni Soviet telah
menawarkan untuk menarik SS-20-nya dari medan Eropa namun membiarkan beberapa
peluncur (rudal) di Siberia, suatu usulan yang untuk sementara secara serius dipertimbangkan
oleh para negara Eropa Barat dan Amerika Serikat. Dalam suatu kompromi antara NATO dan
Uni Soviet pada Juni 1991, NATO terikat kesepakatan yang akan memungkinkan Uni Soviet
untuk mempertahankan peralatan paling modern yang telah ditariknya dari area CFE sambil
menghancurkan peralatan yang lebih tua dengan disertai verifikasinya, sehingga secara efektif
mengorbankan kembali kepentingan keamanan Asia Timur. Walaupun Jepang telah menangkap
masalah ini, RRC, yang paling terancam oleh peralatan yang ditempatkan di luar area CFE,
bersikap diam mengenai hal ini dikarenakan kepentingannnya dalam memperbaiki hubungan
dengan Moskow dan dalam membeli persenjataan Uni Soviet yang modern. Dalam
perkembangan lain, terdapat pernyataan-pernyataan yang bertentangan dari para pejabat Uni
Soviet mengenai keputusan untuk menarik diri sepenuhnya dari Vietnam, sekarang dengan
alasan bahwa beberapa negara Asia Tenggara menginginkan suatu kehadiran militer Uni Soviet,
dan juga pasukan militer Amerika Serikat, untuk berjaga-jaga atas kemungkinan buruk dari
Jepang, China atau India. Disintegrasi Uni Soviet dan kekacauan ekonomi dan politiknya akan
mungkin sekali lebih mengurangi kemampuan Moskow untuk mempertahankan
pasukan/kekuatan militer seperti halnya yang sudah dilakukannya sejauh ini.
        Namun, bukan hanya keuntungan-keuntungan jangka pendek yang lebih spektakuler
dibanding Eropa, terdapat juga lebih banyak resiko yang terlibat dalam perubahan-perubahan
tersebut. Dalam kasus negara-negara komunis Asia, resiko-resiko ini tampak cukup jelas dan
adalah hal yang jelas mengapa mereka mereka mengkhawatirkan perubahan-perubahan ini dan
ingin menahannya: Implikasi kebijakan-kebijakan Uni Soviet ini secara langsung ataupun tidak
langsung mengancam kelangsungan rezim mereka.
        Banyak resiko juga terlibatkan bagi negara-negara Asia lain yang sifatnya kurang begitu
jelas atau lebih sulit diakui keberadaannya. Eropa dan Asia sama-sama dihadapkan dengan
fakta geografis yang tak bisa dihilangkan bahwa apapun perubahan dalam kebijakan Uni Soviet,
Uni Soviet akan dengan satu atau cara lain terus hadir sebagai tetangga mereka, dan
komponennya yang paling penting, Rusia, masih merupakan kekuatan yang cukup besar untuk
menciptakan suatu ancaman keamanan bahkan jikapun Uni Soviet menghilang dan bahkan
jikapun tidak ada persepsi ancaman Uni Soviet yang sama dirasakan di Asia.
          Yang lebih penting adalah bahwa pengurangan ketegangan adikuasa bisa mengancam
komitmen militer Amerika Serikat untuk Asia yang diinginkan oleh banyak pemimpin Asia untuk
alasan-alasan yang tidak berkaitan dengan pedi. Satu fungsi dari Amerika Serikat adalah untuk
mengimbangi bangkitnya Jepang. Fungsi yang lain adalah kebangkitan kekuatan-kekuatan
regional dengan cita-cita hegemoni. Bahaya yang yang ini adalah lebih nyata di Asia dibanding
di Eropa dikarenakan negara-negara seperti India, Indonesia, Vietnam atau China. Sepanjang
suatu pengaturan keamanan regional masih jauh dari terwujud seperti saat ini, Amerika Serikat
akan menjadi satu-satunya kekuatan untuk mengimbangi ancaman yang sekarang lebih
mendesak dibandingkan dengan gerakan militer Uni Soviet apapun. Perang Teluk tahun 1991
telah menunjukan pengaruh destabilisasi dari suatu kekuatan regional dengan cita-cita
hegemoni, khususnya jika mereka bergerak secara satu persatu. Bisa dinyatakan bahwa
seandainya Irak cukup puas hanya dengan wilayah ladang minyak yang dipertikaikan di utara
Kuwait, Irak bisa saja menghindarkan diri dari agresi dan pendudukan atas tetangganya
tersebut. Asia mempunyai banyak titik-titik rawan potensial, termasuk sejumlah masalah
teritorial yang belum terpecahkan. Kepulauan Spratley, yang terletak di dekat sumber-sumber
minyak yang menjanjikan dan menguasai jalur-jalur komunikasi laut yang vital, diperselisihkan
oleh Vietnam, China, Taiwan, Filipina dan Malaysia. Akan menjadi sulit untuk mengandalkan
hanya pada para adikuasa untuk menangkal suatu kekuatan regional yang penuh determinasi
dan tanpa ampun dari pengambil-alihan kepulauan tersebut secara keseluruhan atau hanya
sebagian.pada tahun 1991, para negara yang mengklaim bagian dari kepulauan tersebut
bertemu pertama kalinya bersama dengan China untuk membahasa masalah tersebut. Amerika
Serikat telah meninggalkan ambisi sebelumnya untuk mengkaitkan kesepakatan-kesepakatan
keamanan bilateralnya dengan suatu cara yang efektif, dan sekarang mengajukan ide
“kesiagaan kooperatif.” Pada saat yang sama Amerika Serikat menentang setiap pembahasan
isu-isu keamanan yang berbasis regional, karena mengkhawatirkan bahwa hal tersebut akan
memperlemah aliansi-aliansi bilateralnya di Asia dan menerapkan batas-batas pada kehadiran
militernya di kawasan ini. AL Amerika Serikat semakin menambah latihan perangnya bersama
dengan negara-negara Asia Tenggara dan telah menandatangani pada November tahun 1990
suatu kesepakatan dengan Singapura untuk mengizinkan “penugasan latihan” jet-jet AU dan
lebih banyak kunjungan kapal. Dengan tidak adanya suatu pengaturan keamanan multilateral
yang signifikan, negara-negara ASEAN semakin memperkuat jaringan ikatan pertahanan
bilateral yang sudah ada.


D. Penilaian Jepang atas Lingkungan Strategisnya yang Berubah
         Penilaian resmi Jepang terhadap lingkungan strategi Asia Timur yang berubah adalah
sangat berhati-hati dan berniat untuk tidak bersikap terlalu berharap. Pada level adikuasa,
pemerintah Jepang menyatakan bahwa “pemotongan Uni Soviet atas bagian kekuatannya bisa
menciptakan kekuatan militer yang lebih efesien dan modern” karena pemotongan tersebut
mempengaruhi peralatan yang usang terlebih dahulu. Walaupun jumlah kapal selam dan
permukaan menurun, Jepang menyaksikan suatu peningkatan bobot kapal. Pengurangan
aktivitas AL Uni Soviet juga tidak dikatakan sebagai tidak sangat signifikan dengan menjelaskan
perubahan ini sebagai reorganisasi militer, perlunya untuk menghemat bahan bakar dan
keinginan untuk mengurangi ketegangan saat ini bukan suatu reorientasi fundamental dalam
doktrin militer Uni Soviet. Konsesi terbesar dalam White Paper Pertahanan 1990 pada
perkembangan-perkembangan baru dalam lingkungan strategi Asia Timur adalah penghilangan
penggambaran Uni Soviet sebagai suatu “ancaman potensial.” Merupakan keinginan yang
sangat kuat dari PM Kaifu untuk menghilangkan karakterisasi Uni Soviet ini. Di fihak lain
pemerintah Jepang tak pernah sekhawatir Amerika Serikat mengenai ancaman Uni Soviet, yang
membedakan tinjauan Jepang yang lebih bersifat regional dengan perspektif global Amerika
Serikat. Selain itu, pemerintah Jepang selalu menunjuk kelemahan ekonomi Uni Soviet sebagai
faktor penghalang utama bagi proyeksi kekuatan Uni Soviet, dan memburuknya ekonomi saat
ini hanya meningkatkan penilaian Jepang ini mengenai kemampuan militer Uni Soviet. Pada
level kekuatan regional, situasi di sektir Jepang dianggap “secara konstan tidak stabil dan bisa
berubah-ubah” dan perhatian terpusat pada keberlanjutan ketegangan di semenanjung Korea,
perang di Kamboja dan isu Teritori Utara.
         Beragam faktor bisa menjelaskan sikap berhati-hati ini. Pertama-tama, kutipan-kutipan
di atas adalah dari Badan Pertahanan yang sesuai sifatnya akan sangat enggan untuk
mengubah perspektifnya dengan sangat cepat. Namun, sumber-sumber lain juga
memperkirakan bahwa Uni Soviet sedang memodernisasi pasukannya di Timur Jauh dan bahwa
Uni Soviet mempunyai, pada awal musim panas 1991 sekitar 480.000 personel militer,
termasuk AU dan AL, tetap di Timur Jauh dan Transbaykal MD dan Mongolia, dengan total
gabungan 12.600 tank dan 1.690 pesawat. Pada saat yang sama, terdapat kekhawatiran yang
jelas bahwa opini publik Jepang, dipicu oleh hasil-hasil spektakuler dari pasca Perang Dingin di
Eropa, akan bersikap berlebih-lebihan dan mengharapkan tingkatan hasil yang sama untuk Asia
yang mempunyai situasi strategi yang berbeda. Kedua, perubahan-perubahan ini terjadi dalam
suatu waktu ketika pemerintah sedang mengerjakan rencana pertahanan 5 tahun barunya dan
terdapat kekhawatiran di fihak militer Jepang untuk alasan-alasan militer dan di fihak politikus
untuk alasan-alasan perlindungan hubungan komprehensif Jepang-Amerika Serikat bahwa
Jepang akan tidak bisa memenuhi pengharapan Amerika Serikat bagi Jepang untuk
menanggung beban pertahanan yang lebih esar. Seperti yang kita aja lihat kemudian, Amerika
Serikat sangat menentang kontrol persenjataan AL di Asia Pasifik dan pemerintah Jepang ada di
bawah tekanan untuk mencegah tuntutan-tuntutan populer untuk adanya langkah-langkah
kontrol persenjataan di Asia, yang berulang kali diajukan oleh Uni Soviet. Ketiga, dengan
memperhitungkan kunjungan Gorbachev ke Jepang pada April tahun 1991, pemerintah
menginginkan untuk menggunakan sikap tenangnya terhadap perubahan Uni Soviet dalam
kebijakan keamanan dan luar negeri untuk mempertahankan tekanan pada Moskow untuk
mendapatkan solusi yang diinginkan atas konflik teritorial. Terlepas dari kegagalan kunjungan
Gorbachev untuk memajukan isu teritorial, Jepang terus menggunakan isu kontrol persenjataan
atau bahkan CBM untuk kepentingan tuntutan teritorialnya. Uni Soviet telah, misalnya,
mengusulkan pada tahun 1988 penandatanganan suatu Incidents at Sea Agreement sepeti
halnya yang sudah dijalankan bersama negara-negara Barat lain namun pemerintah Jepang
telah secara konsisten menolaknya. Secara ekonomi, Jepang tidak terlalu tertarik oleh usulan
Uni Soviet. Bagian Asia dari Uni Soviet hanya memberikan insentif yang kecil bagi Jepang, dan
bisnis Jepang sangat skeptis mengenai peluang keberhasilan reformasi ekonomi Gorbachev.
Terakhir, dikarenakan aliansi eratnya dengan Amerika Serikat, pemerintah Jepang telah, di
masa lalu, terlalu menaruh fokus pada ancaman Uni Soviet dan dengan pengurangan ancaman
ini, Jepang menghadapi masalah dalam meyakinkan opini publik bahwa bahkan tanpa adanya
ancaman Uni Soviet pun, masih ada sejumlah ancaman lain dari konflik-konflik regional.
Berlebihannya penekanan pada ancaman Uni Soviet juga dibutuhkan untuk alasan-alasan
diplomatis karena pemerintah Jepang tidak bisa menyebutkan secara terbuka bahwa salah satu
ancaman potensial regional utama datang dari China dengan siapa Jepang mempunyai
hubungan yang baik dalam satu bagian karena menginginkan untuk mengurungkan keinginan
China untuk berpaling pada sarana militer untuk menetapkan klaim teritorialnya atau menjaga
sub-sub wilayah lain seperti Indochina tetap lemah. Kekhawatiran/perhatian Jepang mengenai
stabilitas aliansi pertahanan Jepang-Amerika Serikat juga mendorong pemerintah Jepang untuk
terkadang tampak lebih terikat dengan skenario lama ancaman Uni Soviet dari pada Amerika
Serikat sendiri.
         Kesimpulannya, orang bisa mengatakan bahwa lingkungan strategi telah menjadi suatu
stimulus bagi kebijakan pertahanan Jepang namun tak pernah mempunyai dampak yang sama
pada kebijakan pertahanan Jepang seperti halnya di negara-negara Eropa. Yang ada adalah
penggunaan prisma Timu-Barat Amerika Serikat dan juga pertimbangan-pertimbangan aliansi
keamanan Jepang-Amerika Serikat yang memberikan pada persepsi resmi Jepang terhadap
lingkungan keamanannya signifikansi besar dan fokus pada ancaman Uni Soviet. Untuk alasan-
alasan ini pemerintah Jepang, sampai Juli 1991, telah bersikap sangat acuh pada setiap
pembahasan regional mengenai isu-isu keamanan, dengan secara ketat mengikuti jalur Amerika
Serikat. Namun, seperti yang akan kita lihat kemudian, Jepang sekarang telah menjadi lebih
cenderung untuk mempertimbangkan perubahan-perubahan positif dalam lingkungan
keamanannya.


       V. Kebijakan Pertahanan Jepang
         Dikarenakan barunya era pasca Perang Dingin, hasil yang kurang spektakuler di Asia
Timur, dan ketakutan Jepang terhadap kesehatan hubungan komprehensif dengan Amerika
Serikat yang menentang kontrol persenjataan AL di Asia, hanya terdapat sedikit perubahan
dalam kebijakan pertahanan Jepang. Prinsip dasarnya adalah masih untuk mempunyai suatu
kemampuan untuk secara mandiri mengusir serangan-serangan skala kecil dan untuk membalas
serangan-serangan skala besar dengan bantuan pasukan Amerika Serikat di dalam dan di
sekitar Jepang. Kebijakan pertahanan dasar ini terus didasarkan pada persepsi fundamental
mengenai situasi internasional seperti diungkapkan dalam “NDPO” 1976, yaitu, bahwa dengan
mempertimbangkan keseimbangan militer hanya terdapat sedikit kemungkinan adanya suatu
bentrokan militer skala penuuh antara Timur dan Barat dan bahwa walaupun kemungkinan
suatu perang militer yang pecah di lingkungan Jepang tidak bisa dikesampingkan, perimbangan
militer dan hubungan keamanan Jepang-Amerika Serikat akan melindungi Jepang. Namun
dalam dekade terakhir, kemampuan militer Jepang telah meningkat secara signifikan dengan
mencatat suatu rata-rata pertimbuhan anggaran pertahanan yang nyata sebesar lebih dari 5
persen pertahun dalam bentuk yen. Sebagai akibatnya level kemampuan pertahanan seperti
yang ditentukan dalam NDPO 1976 sebagian besar telah dicapai pada tahun 1990. Selain itu,
seperti disebutkan di atas, “Guidelines for US-Japan Defense Cooperation” 1978 telah mengarah
pada suatu integrasi yang sangat erat dari kemampuan pertahanan Jepang ke dalam struktur
kekuatan Amerika Serikat.
        Dengan latar belakang pembangunan AL dan AU Uni Soviet yang signifikan, upaya
counter MSDF dan ASDF sangatlah besar. MSDF telah berkonsentrasi pada ASW dengan
pembelian sejumlah besar P-3C (45 tahun 1977, 100 tahun 1985) dan penempatan 68 kapal
tempur permukaan utama (6 kapal perusak, 58 frigate, 15 kapal selam). Persenjataan inti ASDF
adalah F15 yang dipunyainya sejumlah 135 pada tahun 1990. selain itu, Jepang mempunyai
lebih dari 80 pesawat tempur-pencegat F4EJ dan 70 pesawat tempur pendukung F-1. Strategi
GSDF didasarkan pada asumsi bahwa Uni Soviet, jika terjadi suatu perang besar, akan
menduduki sebagian Hokaido untuk menjamin akses bebas menuju Pasifik. Untuk alasan ini,
Jepang sedang mengembangkan suatu kekuatan rudal yang impresif di Hokkaido.
         Dikarenakan perubahan-perubahan dalam hubungan Timur-Barat, Jepang menunda
rencana pertahanan 5 tahun barunya untuk tahun fiskal 1991-1995 sampai akhir 1990. terlepas
dari situasi internasional yang membaik, diputuskan untuk tidak mengubah Defense Program
Outline tahun 1977 yang menetapkan batas-batas tenaga manusia dan material, hanya evaluasi
situasi intenasionalnya yang berubah. Rencana baru tersebut mempunyai karakteristik –
karakteristik berikut:
       -   penggantian dan modernisasi peralatan utama
       -   peningkatan kemampuan logistik, inteljen, komando dan komunikasi
       -   pendorongan senjata R & D untuk mendapatkan kemandirian teknologi yang lebih
           besar
       -   perbaikan kondisi hidup dan kerja untuk tentara SDF
       Kerangka keuangan untuk Midterm Defense Program yang baru ditetapkan pada
22.750 milyar yen dengan 37,4 persennya adalah untuk personel, 22,4 untuk peralatan frontal,
dan 40,2 untuk meningkatkan kemampuan pendukung belakang. Kebalikan dari rencana-
rencana sebelumnya selama tahun 1980an, tingkat pertumbuhan tahunan pada periode 1991-
1995 hanya akan menjadi 3 persen. Selain itu jumlah total tank dan kapal perusak akan
menurun pada akhir rencana tersebut dari masing-masing 1,205 menjadi 1,136 dan 62 menjadi
58.
        Berdasar program yang baru Jepang akan membeli 4 pesawat AWACS dari Amerika
Serikat, meneruskan untuk menggantikan rudal permukaan-ke-udara Nike dengan rudal
permukaan-ke-udara Patriot 36, mendapatkan 10 kapal perusak, termasuk 2 kapal perusak
AEGIS dan lebih jauh mempelajari pembelian radar OTH. Terlepas dari pengurangan jumlah
kapal perusak, bobot kapal akan meningkat sebesar 41.000 ton.
         Kebijakan pertahanan Jepang harus mengakomodasi elemen-elemen kunci berikut dari
strategi Amerika Serikat di Jepang:
-   pengurangan level-level pasukan Amerika Serikat di Jepang, utamanya di Okinawa, dalam
    unit-unit darat dan pendukung
-   pendorongan oleh Amerika Serikat untuk meningkatkan kemampuan pertahanan teritorial
    dan kemampuan untuk mempertahankan jalur laut sampai sejauh 1.000 mil laut, namun
    tidak mendukung setiap “perkembangan yang bersifat destabilisasi pada kemampuan
    proyeksi kekuatan.”
-   Pelibatan Jepang lebih erat dalam upaya-upaya Amerika Serikat dengan sekutu-sekutu
    Barat untuk mempertahankan stabilitas dalam kawasan-kawasan kunci dunia.
-   Peningkatan dukungan keuangan Jepang untuk pasukan Amerika Serikat yang beroperasi
    dari Jepang (dan bukan hanya yang berpangkalan di Jepang).
-   Pendorongan pembelian maksimum dari Amerika Serikat untuk alasan-alasan ekonmomi
    dan interoperabilitas (saling memakai).
        Pemerintah Jepang telah kurang lebih bersikap bekerjasama dengan pengharapan
tuntutan Amerika Serikat dan juga partner paling pentingnya ini. Pertama-tama, Jepang
mempertimbangkan hubungan dengan Amerika Serikat secara komprehensif, termasuk aspek
keamanan, politik, ekonomi dan teknologi. Saat hubungan tersebut semakin menegang
dikarenakan peningkatan pertikaian ekonomi, pemerintah Jepang cenderung memenuhi
tuntutan Amerika Serikat dalam bidang keamanan. Tuntutan Amerika Serikat pada Jepang
untuk memberi kontribusi pada upaya Perang Teluk tahun 1990-1991 dengan lebih dari sekedar
dana adalah satu contoh terbaru tekanan Amerika Serikat pada Jepang untuk memberi
kontribusi lebih banyak pada pertahanan Barat. Pada akhirnya SDF mengirimkan satu armada
kecil dengan lima kapal ke Teluk untuk membantu membersihkan ranjau setelah Jepang
memberikan $ 13 milyar yang sebagian besar digunakan untuk menutupi belanja militer yang
dilakukan Amerika Serikat dan Inggris. Kedua, Jepang semakin khawatir mengenai
kemungkinan efek negatif dari penarikan berkala Amerika Serikat dari kawasan tersebut dan
perlunya untuk menutupinya dengan lebih banyak lagi upaya pertahanan Jepang. Suatu
pasukan pertahanan dan kebijakan pertahanan Jepang yang lebih mandiri akan dilihat sebagai
ancaman bagi para tetangganya. Makanya Jepang mempunyai banyak kepentingan dalam
mempertahankan kehadiran Amerika Serikat di kawasan tersebut bahkan jikapun mereka harus
membayar lebih banyak untuk kehadirannya dan pada saat yang sama diingatkan oleh
Washington atas “fungsi penyumbat”-nya (cork function).
        Jepang sekarang membayar$ 2.5 milyar atau sekitar 42 persen dari pengeluaran $ 6
milyar Amerika Serikat untuk tentaranya yang beroperasi dari Jepang. Peningkatan porsi Jepang
adalah bagian dari Midterm Defense Program yang baru untuk 1991-1995. Pada Desember
1990, pemerintah Jepang mengumumkan kesediaannya untuk menyetujui suatu kesepakatan
dengan Amerika Serikat untuk meningkatkan bagiannya atas gaji yang dibayarkan pada orang-
orang yang bekerja untuk pasukan Amerika Serikat di Jepang dan juga tagihan-tagihan utilitas
sampai Jepang menutupi semua pembayaran tersebut pada tahun 1995. Jepang juga membeli
lebih banyak persenjataan Amerika Serikat berdasarkan program Foreign Military Sales
dibanding negara-negara lain manapun, dan lebih banyak dibanding gabungan Italia, Inggris,
Perancis dan Jerman.
        Pesawat tempur pendukung baru FSX akan dikembangkan bersama dengan Amerika
Serikat, dan juga dengan persenjataan-persenjataan yang lain. Jepang akan membawa
teknologinya untuk mengupgrade rudal Patriot. Pembelian piranti keras dan dorongan untuk
meningkatkan komunikasi, termasuk penggunaan staleit, akan meningkatkan kemampuan
Jepang untuk lebih baik dalam mengontrol wilayah udaranya dan jalur lautnya bersama dengan
Amerika Serikat. Program yang baru tersebut menyebutkan secara khusus juga studi lanjutan
mengenai pembelian kemampuan pengisian bahan bakar di udara yang akan menjadi langkah
selanjutnya namun sejauh ini mendapatkan penentangan domestik yang kuat. Yang sangat
penting juga adalah program pengembanganrudal ekstensi Jepang untuk rudal permukaan-ke-
kapal dan juga rudal pemandu permukaan-ke-udara jarak pendek.
        Kesimpulannya, kebijakan pertahanan Jepang berjalan untuk mengakomodasi tekanan
Amerika Serikat pada Jepang untuk berbuat lebih banyak untuk keamanan nasional, kawasan
dan global, sambil pada saat yang sama mecoba untuk tidak membuat jarak dengan para
tetangganya dengan kekuatan militernya yang semakin besar. Dilema Jepang adalah bahwa
semakin banyak Jepang berbuat untuk mengakomodasi keinginan Amerika Serikat untuk
berbuat lebih banyak untuk pertahanan, semakin banyak opini publik Amerika Serikat (yang
semakin bersikap bermusuhan pada Jepang dikarenakan gesekan ekonomi) akan menuntut
penarikan lanjutan militer dari Asia Timur. Solusi Amerika Serikat untuk dilema ini tampaknya
adalah mencapai pada suatu tingkatan integrasi kekuatan dengan SDF Jepang dan berbagi
tugas-tugas militer yang tidak akan memungkinkan Jepang lepas dari kendali.


       II. Aliansi Keamanan Jepang-Amerika Serikat
        Tekanan Amerika Serikat pada Jepang dimotivasi oleh faktor-faktor yang beragam, dan
seringkali overlapping. Pertama-tama, terdapat reaksi yang lebih bersikap mekanis pada fakta
bahwa Jepang secara ekonomi berperforma sangat baik sedangankan Amerika Serikat
mengalami kerugian dikarenakan persaingan ekonomi Jepang. Karena Amerika Serikat ingin
tetap sebagai suatu kekuatan Pasifik, juga dalam hal militer, Amerika Serikat semakin
mengandalkan Jepang dikarenakan penuurnan relatif dalam perekonomiannya. Jepang
makanya harus menanggung tanggung jawab pertahanan yang lebih besar dan memberikan
pembayaran lebih besar untuk payung keamanan Amerika Serikat. Kedua, dengan bangkitnya
apa yang disebut “Japanese Basher” (penentang Jepang) terdapat pikiran bahwa Jepang secara
ekonomi menjadi fihak yang mendapatkan terlalu banyak karena pengeluaran pertahanannya
tidak sesuai dengan kekuatan ekonominya dan memaksa Jepang untuk berbuat lebih banyak
dalam hal ini bisa mengurangi kekuatan kompetitifnya yang besar.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:132
posted:6/1/2010
language:Indonesian
pages:7