pemeriksaan jentik berkala by kulanavhiea

VIEWS: 917 PAGES: 23

									By : Febry Fahmi, Kedokteran Universitas riau, november 2009.




                                             BAB I
                                      PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang
       Memasuki milenium baru, Departemen Kesehatan telah mencanangkan Gerakan
Pembangunan Berwawasan Kesehatan, yang dilandasi paradigma sehat. Paradigma sehat
adalah cara pandang, pola pikir, atau model pembangunan kesehatan yang bersifat holistik,
melihat masalah kesehatan yang dipengaruhi oleh banyak faktor yang bersifat lintas sektor
dan upayanya lebih di arahkan pada peningkatan, pemeliharaan, dan perlindungan kesehatan.
Secara makro paradigma sehat berarti semua sektor memberikan kontribusi positif bagi
pengembangan prilaku dan lingkungan sehat, secara mikro berarti pembangunan kesehatan
lebih menekankan upaya promotif dan preventif tanpa mengesampingkan upaya kuratif dan
rehabilitatif. Berdasarkan paradigma sehat ditetapkan visi Indonesia sehat 2010, di mana ada
3 pilar yang perlu mendapat perhatian khusus, yaitu lingkungan sehat, prilaku sehat dan
pelayanan kesehatan yang bermutu, adil, dah merata. 1
       DBD merupakan salah satu penyakit infeksi virus yang penyebarannya dilakukan oleh
nyamuk Aedes. Penyakit ini pertama kali dilaporkan setelah adanya kejadian luar biasa
(KLB) di Jakarta dan Surabaya pada tahun 1968. Semenjak itu jumlah kasus dan daerah yang
terjangkit semakin meluas, hampir di seluruh kota-kota besar di Indonesia, termasuk di Riau
pernah dinyatakan sebagai daerah endemik DBD oleh Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru pada
tahun 2005. Tahun 2007 seluruh kecamatan di Pekanbaru juga pernah dinyatakan endemis
DBD oleh Dinas Kesehatan Kota. 2
       Faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan dan penyebaran kasus DBD sangat
kompleks yaitu pertumbuhan penduduk yang tinggi, urbanisasi yang tidak terencana dan
tidak terkendali, tidak adanya kontrol nyamuk yang efektif di daerah endemis dan adanya
peningkatan sarana transportasi. Selama ini upaya efektif untuk mencegah dan
mengendalikan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah dengan pengendalian
vektornya. Upaya-upaya yang sudah dilakukan antara lain dengan pemutusan rantai nyamuk
penularnya dengan cara penaburan larvasida, fogging focus dan Pemberantasan Sarang
Nyamuk (PSN) yang meliputi; pengurasan tempat penampungan air, menutup tempat
penampungan dan penguburan barang bekas. 3
       Salah satu hasil kesepakatan dalam Pertemuan Nasional Penanggulangan Kejadian
Luar Biasa (KLB) Demam Berdarah Dengue (DBD) yang diikuti 400 peserta dari jajaran
Depkes, Komisi VII DPR-RI, para Gubernur, Kepala Dinas Kesehatan dan Ketua Tim
                                                1
By : Febry Fahmi, Kedokteran Universitas riau, november 2009.




Penggerak PKK di 12 provinsi KLB DBD, para Bupati/Walikota, Kadinkes Kabupaten/Kota
dan Ketua Tim Penggerak PKK di 40 Kab/Kota, Instansi terkait, Perwakilan Lembaga
Internasional di Indonesia, para Direktur RSUP terpilih, Ketua IRSJAM, LSM terkait dan
Direktur Eijkman Institute di Jakarta tanggal 5 Maret 2004 yaitu fokus program
penanggulangan DBD adalah Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). 4
       Sampai saat ini obat untuk membasmi virus dan vaksin untuk mencegah penyakit
Demam Berdarah Dengue (DBD) belum tersedia, oleh karena itu upaya yang paling tepat
untuk menanggulanginya adalah dengan memberantas vektor (nyamuk penularnya) yaitu
nyamuk Aedes Aegypti yang berkembang biak di tempat penampungan air jernih baik di
dalam rumah maupun di luar rumah. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI
No.1091/MENKES/SK/X/2004 tentang Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang
Kesehatan Di Kabupaten/Kota menyebutkan bahwa salah satu langkah Pencegahan dan
Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah kegiatan pemberantasan
vektor yang meliputi : 5
       a. Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN DBD) dengan
           cara ‖3 M Plus‖.
       b. Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) tiap 3 bulan sekali tiap desa/kelurahan endemis
           pada 100 rumah/bangunan dipilih secara acak (random sampling) yang
           merupakan evaluasi hasil kegiatan PSN DBD yang telah dilakukan masyarakat.
       Program Kesehatan Lingkungan Puskesmas Rawat Inap Muara Fajar memiliki
berbagai kegiatan seperti :
   1. Pemeriksaan dan pengawasan sanitasi tempat-tempat umum
   2. Pemeriksaan rumah tangga sehat
   3. Pemantauan pencemaran pestisida
   4. Pemeriksaan kondisi TPA
   5. Pengawasan industri rumah tangga
   6. Pengawasan TPM
   7. Pemeriksaan keluarga dengan kepemilikan sanitasi dasar
   8. Pengawasan rumah makan/restoran
   9. Pendataan dan pengawasan depot air minum
   10. Pendatan dan pengawasan jasa boga
   11. Pemeriksaan prasarana umum yang memenuhi syarat.
       Salah satu kegiatan bagian Kesehatan Lingkungan Puskesmas Rawat Inap Muara
Fajar adalah pemeriksaan jentik nyamuk Aedes yang dilakukan setiap bulan. Berdasarkan
                                                2
By : Febry Fahmi, Kedokteran Universitas riau, november 2009.




Laporan Evaluasi Program Kerja Bagian Kesling Puskesmaas Muara Fajar tahun 2008
didapatkan cakupan target dari kegiatan ini masih kurang dari 95% dengan perhitungan, dari
1839 jumlah bangunan yang terdata di kelurahan Muara Fajar, 420 bangunan diperiksa jentik,
dan 297 bangunan (70,71%) bebas jentik.
       Dari analisa terhadap laporan bulanan program Kesling didapatkan bahwa
pemeriksaan jentik belum sesuai pedoman dari Dirjen P2PL dimana tidak dilakukan setiap 3
bulan, serta tidak adanya formulir JPJ (juru pemeriksa jentik) atau formulir hasil pemeriksaan
jentik. Menurut Departemen Kesehatan RI tentang Pemberantasan Demam Berdarah tahun
1996 menyatakan angka bebas jentik pada 100 rumah sampel harus > 95%.


1.2 Tujuan Kegiatan
1.2.1 Tujuan umum
—Optimalisasi pelaksanaan kegiatan PJB pada program kesehatan lingkungan Puskesmas
Muara Fajar.


1.2.2 Tujuan khusus
   1. Teridentifikasinya masalah di kegiatan PJB melalui data sekunder, wawancara dan
       observasi.
   2. Teranalisisnya setiap permasalahan yang ada di kegiatan PJB.
   3. Diperolehnya penyebab timbulnya masalah utama yang dihadapi dalam pelaksanaan
       kegiatan PJB melalui data sekunder, pendekatan/metode wawancara dan observasi.
   4. Diperolehnya beberapa solusi dan alternatif pemecahan masalah pada kegiatan PJB.




                                                3
By : Febry Fahmi, Kedokteran Universitas riau, november 2009.




                                            BAB II
                                   TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Kesehatan Lingkungan
       Menurut World Health Organization (WHO), kesehatan lingkungan adalah suatu
keseimbangan ekologi yang harus ada antara manusia dan lingkungan agar dapat menjamin
keadaan sehat dari manusia.7 Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI)
mendefinisikan kesehatan lingkungan sebagai suatu kondisi lingkungan yang mampu
menopang keseimbangan ekologi yang dinamis antara manusia dan lingkungannya untuk
mendukung tercapainya kualitas hidup manusia yang sehat dan bahagia.6
—      Terdapat 17 ruang lingkup kesehatan lingkungan menurut World Health Organization
(WHO), yaitu :7
    1. Penyediaan air minum
    2. Pengelolaan air buangan dan pengendalian pencemaran
    3. Pembuangan sampah padat
    4. Pengendalian vektor
    5. Pencegahan/pengendalian pencemaran tanah oleh ekskreta manusia
    6. Higiene makanan, termasuk higiene susu
    7. Pengendalian pencemaran udara
    8. Pengendalian radiasi
    9. Kesehatan kerja
    10. Pengendalian kebisingan
    11. Perumahan dan pemukiman
    12. Aspek kesling dan transportasi udara
    13. Perencanaan daerah dan perkotaan
    14. Pencegahan kecelakaan
    15. Rekreasi umum dan pariwisata
    16. Tindakan-tindakan sanitasi yang berhubungan dengan keadaan epidemi/wabah,
       bencana alam dan —perpindahan penduduk
    17. Tindakan pencegahan yang diperlukan untuk menjamin lingkungan.
    Di Indonesia, berdasarkan undang-undang No. 23 tahun 1992 tentang Pokok-Pokok
Kesehatan pasal 22 ayat 3 menyebutkan bahwa kesehatan lingkungan meliputi
kegiatan/program penyehatan air dan udara, pengamanan limbah padat, limbah cair, limbah


                                                4
By : Febry Fahmi, Kedokteran Universitas riau, november 2009.




gas, radiasi, kebisingan, pengendalian vektor penyakit dan penyakit berbasis lingkungan, dan
penyehatan atau pengamanan lainnya. 8


2.2. Penyakit Demam Berdarah Dengue
       DBD merupakan salah satu penyakit infeksi virus yang penyebarannya dilakukan oleh
nyamuk Aedes. Virus dengue ditularkan dari orang ke orang melalui gigitan nyamuk Aedes.
Aedes Aegypti merupakan vektor epidemi paling utama namun spesies lain seperti Ae.
Albopictus, Ae. Polynesiensis anggota dari Ae. Scutellaris complex dan Ae. Niveus juga
dianggap sebagai vektor sekunder. 9
       Seseorang yang di dalam darahnya mengandung virus dengue merupakan sumber
penular penyakit DBD. Bila penderita tersebut digigit nyamuk penular, maka virus dalam
darah akan ikut terisap masuk ke dalam lambung nyamuk. Selanjutnya virus akan
memperbanyak diri dan tersebar di berbagai jaringan tubuh nyamuk termasuk di dalam
kelenjar liurnya. Kira - kira 1 minggu setelah mengisap darah penderita, nyamuk tersebut siap
untuk menularkan kepada orang lain. Virus ini akan akan berada dalam tubuh nyamuk
sepanjang hidupnya. Oleh karena itu nyamuk Ae.aegypti yang telah mengisap virus dengue
ini menjadi penular (infektif) sepanjang hidupnya. Penularan ini terjadi karena setiap kali
nyamuk menusuk (menggigit), sebelum mengisap darah akan mengeluarkan air liur melalui
saluran alat tusuknya (proboscis) agar darah yang diisap tidak membeku. Bersama air liur
inilah virus dengue dipindahkan dari nyamuk ke orang lain. 9
       Gejala demam berdarah biasanya berupa demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang
jelas, berlangsung terus-menerus selama 2 – 7 hari, manifestasi perdarahan (petekie, purpura,
perdarahan konjungtiva, epistaksis, ekimosis, perdarahan mukosa, epistaksis, perdarahan
gusi, hematemesis, melena, hematuri) termasuk uji Tourniquet (Rumple Leede) positif,
trombositopeni (jumlah trombosit <100.000/µL), hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit
>20%), disertai dengan atau tanpa pembesaran hati (hepatomegali). 10


2.3. Nyamuk Penular DBD 9
       Demam berdarah dengue dapat ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti maupun Aedes
albopictus. Sampai saat ini yang paling berperan dalam penularan penyakit ini ialah Aedes
aegypti karena hidupnya di dalam rumah, sedangkan Aedes albopictus di kebun - kebun
sehingga lebih jarang kontak dengan manusia.




                                                5
By : Febry Fahmi, Kedokteran Universitas riau, november 2009.




   1. Siklus hidup nyamuk Aedes aegypti
               Nyamuk Aedes aegypti mengalami metamorphosis sempurna yaitu : telur -
       jentik - kepompong - nyamuk. Stadium telur, jentik, kepompong hidup di dalam air.
       Pada umumnya telur akan menetas menjadi jentik dalam waktu kurang lebih 2 hari
       setelah telur terendam air. Stadium jentik biasanya 6 - 8 hari. Stadium pupa /
       kepompong 2 - 4 hari. Telur menjadi nyamuk dewasa mencapai 9 - 10 hari. Umur
       nyamuk betina dapat mencapai 2 -3 bulan.
   2. Perilaku Nyamuk dewasa
               Nyamuk jantan mengisap cairan tumbuhan atau sari bunga untuk keperluan
       hidupnya. Sedangkan nyamuk betina mengisap darah. Darah manusia lebih disukai
       daripada darah binatang (bersifat antrofilik). Darah (proteinnya) diperlukan untuk
       mematangkan telur agar jika dibuahi oleh nyamuk jantan dapat menetas. Waktu yang
       diperlukan untuk menyelesaikan perkembangan telur mulai dari nyamuk mengisap
       darah sampai telur dikeluarkan antara 3 - 4 hari.
                 Setelah mengisap darah nyamuk hinggap / beristirahat di dalam atau kadang
       di luar rumah. Tempat hinggap yang disenangi ialah benda - benda yang bergantung,
       seperti pakaian, kelambu atau tumbuhan di dekat tempat perkembangbiakan, tempat
       yang agak gelap dan lembab. Di tempat ini nyamuk menunggu proses pematangan
       telurnya. Setelah proses pematangan telur selesai, nyamuk betina akan meletakkan
       telurnya di dinding tempat perkembangbiakan sedikit di atas permukaan air.
       Kebiasaan nyamuk Aedes aegypti mengisap darah siang hari. Aktif mengisap pada
       jam 08.00 - 13.00 dan 15.00 - 17.00.
   3. Tempat perkembangbiakan
                 Tempat perkembangbiakan utama ialah tempat penampungan air / bejana
       atau genangan air yang tidak berhubungan langsung dengan tanah, di dalam atau
       sekitar rumah atau tempat - tempat umum, biasanya tidak melebihi jarak 500 meter
       dari rumah.
   4. Variasi musiman
               Pada musim hujan tempat perkembangbiakan nyamuk yang pada waktu
       kemarau kosong, mulai terisi air. Telur yang belum sempat menetas dalam tempo
       singkat menetas. Semakin banyak tempat penampungan air alamiah yang terisi air
       hujan dan dapat dipergunakan sebagai tempat perkembangbiakan. Bertambahnya
       populasi nyamuk ini merupakan salah satu faktor peningkatan penularan virus
       dengue.
                                                6
By : Febry Fahmi, Kedokteran Universitas riau, november 2009.




2.4. Kegiatan Pengendalian Vektor
       Pengendalian Vektor adalah semua kegiatan yang bertujuan untuk menekan
kepadatan jentik nyamuk yang berperan sebagai vektor penyakit di rumah atau bangunan
yang meliputi perumahan, perkantoran, tempat umum, sekolah, gudang, dsb. Jentik nyamuk
penular (vektor) adalah semua jentik nyamuk yang terdapat dalam tempat penampungan air
di dalam maupun di sekitar rumah/bangunan, bak mandi, tempayan dan plastik-plastik bekas,
kaleng bekas, ban bekas dan tempat air lainnya. Rumah/bangunan bebas jentik nyamuk Aedes
adalah rumah/bangunan yang bebas jentik nyamuk Aedes di satu wilayah kerja pada kurun
waktu tertentu. Target Rumah/ bangunanbebas jentik nyamuk Aedes adalah : 5
        Tahun 2005 : 95 %
        Tahun 2010 : > 95 %
Langkah-langkah kegiatan pengendalian vektor adalah sebagai berikut : 5
   1. Surveilans Tempat Perindukan Vektor
       -   Pendataan rumah / bangunan di wilayah kerja
       -   Pemeriksaan tempat perindukan vektor pada rumah / bangunan
       -   Pengolahan data hasil pemeriksaan tempat perindukan vektor
       -   Rekomendasi kepada petugas kesehatan dan sektor terkait
       -   Laporan kepada atasan langsung dan sektor terkait
       -   Penyebarluasan (sosialisasi, diseminasi informasi) hasil surveilans/pengamatan
           kepada lintas program dan lintas sektor maupun swasta dan masyarakat.
   2. Pengendalian Vektor
       -   Investigasi rumah / bangunan dan lingkungan yang potensial jentik di wilayah
           kerja melalui survey lingkungan, sosekbud, dan survey entomologi.
       -   Menentukan jenis pengendalian vektor sesuai dengan permasalahan di wilayah
           kerja.
       -   Melakukan pemberantasan vektor sesuai dengan jenisnya.
   3. Penyuluhan dan Penggerakan Masyarakat
       -   Melakukan identifikasi masalah sesuai dengan sasaran
       -   Menentukan jenis media penyuluhan sesuai dengan sasaran
       -   Menentukan materi penyuluhan pengendalian vektor
       -   Melaksanakan      penyuluhan     dan       penggerakan   masyarakat   dalam   rangka
           pengendalian vektor khususnya tempat perindukan
       -   Menghimpun feed back/umpan balik yang diberikan oleh sasaran.


                                                  7
By : Febry Fahmi, Kedokteran Universitas riau, november 2009.




   4. Sosialisasi, Advokasi, dan Kemitraan
       -   Melakukan pertemuan untuk sosialisasi terhadap lintas program, lintas sektor
           terkait, swasta dan masyarakat.
       -   Menentukan jumlah dan jenis peraturan /pedoman yang akan disosialisasikan
       -   Melakukan advokasi thd pengambil keputusan di tk. kec.maupun kab/kota
       -   Menjalin jejaring kerjasama baik thp lintas sektor maupun swasta
       -   Hasil sosialisasi dilaporkan kepada atasan langsung dan sector terkait.
   5. Monitoring dan Evaluasi;
       -   Pemantauan secara terus menerus terhadap hasil surveilans tempat perindukan
       -   Pembinaan teknis terhadap pemerintah (dinas kesehatan, puskesmas), swasta dan
           masyarakat.
   6. Peningkatan SDM.
       -   Menentukan jenis pelatihan yg sesuai dg peserta yg dilatih
       -   Melaksanakan pelatihan pengendalian vektor.

2.5 Metode Surveilans Vektor DBD 11
       Dalam metode Surveilans Vektor yang ingin kita peroleh antara lain adalah data-data
kepadatan vektor. Ada beberapa metode survei yang bisa digunakan seperti metode survei
terhadap nyamuk, jentik dan survei perangkap telur (ovitrap).
   1. Survei nyamuk
           Survei nyamuk dilakukan dengan cara penangkapan nyamuk dengan aspirator
       umpan orang di dalam dan di luar rumah, masing-masing selama 20 menit per rumah
       dan penangkapan nyamuk yang hinggap di dinding dalam rumah yang sama.
   2. Survei jentik (pemeriksaan jentik)
           Survei jentik dilakukan dengan cara sebagai berikut:
           a. Semua tempat atau bejana yang dapat menjadi tempat perkembang-biakan
               nyamuk Aedes aegypti diperiksa (dengan mata telanjang) untuk mengetahui
               ada tidaknya jentik.
           b. Untuk memeriksa tempat penampungan air yang berukuran besar, seperti: bak
               mandi, tempayan, drum dan bak penampungan air lainnya. Jika pada
               pandangan (penglihatan) pertama tidak menemukan jentik, tunggu kira-kira ½
               -1 menit untuk memastikan bahwa benar jentik tidak ada.




                                                8
By : Febry Fahmi, Kedokteran Universitas riau, november 2009.




           c. Untuk memeriksa tempat-tempat perkembangbiakan yang kecil, seperti: vas
                bunga/pot tanaman air/botol yang airnya keruh, seringkali airnya perlu
                dipindahkan ke tempat lain.
           d. Untuk memeriksa jentik di tempat yang agak gelap, atau airnya keruh,
                biasanya digunakan senter.
           Metode survei jentik:
           a. Single larva
                Cara ini dilakukan dengan mengambil satu jentik di setiap tempat genangan
                air yang ditemukan jentik untuk diidentifikasi lebih lanjut.
           b. Visual
                Cara ini cukup dilakukan dengan melihat ada atau tidaknya jentik di setiap
                tempat genangan air tanpa mengambil jentiknya.
           Biasanya dalam program DBD mengunakan cara visual. Ukuran-ukuran yang
           dipakai untuk mengetahui kepadatan jentik Aedes aegypti:
                1) Angka Bebas Jentik (ABJ):
                   Jumlah rumah/bangunan yang tidak ditemukan jentik x1 00%
                   Jumlah rumah/bangunan yang diperiksa
                2) House Index (HI):
                   Jumlah rumah/bangunan yang ditemukan jentik x 100%
                   Jumlah rumah/bangunan yang diperiksa
                3) Container Index (CI):
                   Jumlah container dengan jentik x 100%
                   Jumlah container yang diperiksa
                4) Breteau Index (BI):
                   Jumlah container dengan jentik dalam 100 rumah/bangunan
                Angka Bebas Jentik dan House Index lebih menggambarkan luasnya
                penyebaran nyamuk disuatu wilayah.
   3. Survei perangkap telur (ovitrap)
           Survei ini dilakukan dengan cara memasang ovitrap yaitu berupa bejana, misalnya
       potongan bambu, kaleng (seperti bekas kaleng susu atau gelas plastik) yang dinding
       sebelah dalamnya dicat hitam, kemudian diberi air secukupnya, lalu dimasukkan
       padel. Ovitrap diletakkan di dalam dan di luar rumah di tempat yang gelap dan
       lembab. Setelah 1 minggu dilakukan pemeriksaan ada atau tidaknya telur nyamuk di
       padel.


                                                9
By : Febry Fahmi, Kedokteran Universitas riau, november 2009.




2.6 Tata Cara melakukan Survei Larva/jentik di Lapangan 11
       Pemeriksaan jentik berkala (PJB) merupakan pemeriksaan tempat penampungan
air dan tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti untuk mengetahui adanya jentik
nyamuk. Kegiatan ini dilakukan di rumah-rumah dan tempat- tempat umum. Selain
melakukan pemeriksaan jentik berkala petugas memberikan penyuluhan tentang
pemberantasan sarang nyamuk kepada masyarakat atau pengelola tempat umum.
Dengan kunjungan yang berulang- ulang yang disertai dengan penyuluhan tersebut
diharapkan masyarakat dapat termotivasi untuk melaksanakan pemberantasan sarang
nyamuk secara teratur.
       Selain oleh kader, PKK, Jumantik, atau tenaga pemeriksa jentik lainnya, pemeriksaan
jentik berkala (PJB) juga dilakukan oleh masing-masing puskesmas, pada tempat-tempat
perkembang-biakan nyamuk Aedes aegypti di 100 sampel rumah/bangunan yang dipilih
secara acak dan dilaksanakan secara teratur setiap 3 bulan untuk mengetahui hasil kegiatan
PSN DBD oleh masyarakat. Rekapitulasi hasil PJB dilaksanakan oleh puskesmas setiap bulan
dengan melakukan pencatatan hasil pemeriksaan jentik di pemukiman (rumah) dan tempat-
tempat umum pada FORMULIR JPJ-2.
     Contoh cara memilih sample 100 rumah/bangunan sebagai berikut:
       1. Dibuat daftar RT untuk tiap desa/kelurahan
       2. Setiap RT diberi nomor urut
       3. Dipilih sebanyak 10 RT sample secara acak (misalnya dengan cara systematic
           random sampling) dari seluruh RT yang ada di wilayah desa/kelurahan
       4. Dibuat daftar nama kepala keluarga (KK) atau nama TTU dari masing-masing RT
           sampel atau yang telah terpilih.
       5. Tiap KK/rumah/TTU diberi nomor urut, kemudian dipilih 10 KK/rumah/TTU
           yang ada di tiap RT sampel secara acak (misalnya dengan cara sistimatik random
           sampel).
   Cara melakukan systematic random sampling:
   1. Sampel RT, misalnya:
       a. Kelurahan X dengan jumlah 100 RT
       b. Setiap RT diberi nomor urut (RT 1 sampai dengan RT 100).
       c. Jumlah RT sampel sebanyak 10 RT, sehingga interval: 100/10 = 10
       d. Ambil kertas gulungan bernomor 1 sampai dengan 10 (dikocok).
       e. Misal keluar angka 3, maka RT nomor urut 3 terpilih sebagai sampel pertama.



                                               10
By : Febry Fahmi, Kedokteran Universitas riau, november 2009.




       f. Sampel selanjutnya adalah dengan menambahkan: 3 + 10 = 23 (RT No.13), 13 +
           10 = 23 (RT No. 23) dan seterusnya sampai terpilih sebanyak 10 RT sampel.
   2. Sampel rumah/bangunan
       a. Buat daftar rumah/bangunan dari tiap-tiap RT sample, misal RT 1: 30
           rumah/bangunan, sampel 10 rumah untuk tiap RT, maka interval 30/10 = 3
       b. Ambil gulungan kertas bernomor 1 sampai dengan 3, dikocok, misal keluar angka
           2, maka KK (rumah) atau bangunan dengan nomor urut 2 terpilih sebagai sampel
           pertama
       c. Sampel selanjutnya adalah dengan menambah 2 + 3 = 5 (rumah/bangunan dengan
           nomor urut 5 dan seterusnya sampai terpilih 10 rumah/bangunan).
       d. Pengambilan sampel 10 rumah/bangunan dari RT terpilih lainnya dilakukan
           dengan cara yang sama, sehingga rumah/bangunan dari 10 RT sampel berjumlah
           100 rumah/bangunan.
       e. Hasil PJB dicatat dan dilaporkan ke dinas kabupaten/kota.


2.7. Upaya Peningkatan Mutu
           Upaya peningkatan mutu ini dimulai dengan mendapatkan topik permasalahan
    yang kemudian dilakukan observasi kegiatan terhadap topik permasalahan yaitu dibidang
    Kesling Puskesmas Muara Fajar Pekanbaru. Observasi dilaksanakan melalui pendekatan
    program. Kemudian dilakukan wawancara dengan petugas kesehatan dibidang Kesling
    yang dimulai pada bulan November 2009. Hasil observasi dan wawancara didiskusikan
    dengan pembimbing kegiatan upaya peningkatan mutu untuk menentukan permasalahan
    yang perlu mengalami perbaikan.
            Metode yang digunakan dalam upaya peningkatan mutu ini adalah metode Plan,
    Do, Check, and Action (PDCA cycle) yang didasari atas masalah yang dihadapi
    (problem-faced) ke arah penyelesaian masalah (problem solving). Konsep PDCA cycle
    pertama kali diperkenalkan oleh Walter Shewhart pada tahun 1930 yang disebut dengan
    ―Shewhart cycle―. Selanjutnya konsep ini dikembangkan oleh Dr. Walter Edwards
    Deming yang kemudian dikenal dengan ‖ The Deming Wheel”. PDCA cycle berguna
    sebagai pola kerja dalam perbaikan suatu proses atau sistem. Ada beberapa tahap yang
    dilakukan dalam PDCA cycle, yaitu:
     a. Plan
         1. Mengidentifikasi output pelayanan, siapa pengguna jasa pelayanan, dan harapan
             pengguna jasa pelayanan –tersebut melalui analisis suatu proses tertentu.
                                               11
By : Febry Fahmi, Kedokteran Universitas riau, november 2009.




         2. Mendeskripsikan proses yang dianalisis saat ini
               Pelajari proses dari awal hingga akhir, identifikasi siapa saja yang terlibat
                dalam prose tersebut.
               Teknik yang dapat digunakan : brainstorming
         3. Mengukur dan menganalisis situasi tersebut
               Menemukan data apa yang dikumpulkan dalam proses tersebut
               Bagaimana mengolah data tersebut agar membantu memahami kinerja dan
                dinamika proses
               Teknik yang digunakan : observasi
               Mengunakan alat ukur seperti wawancara
         4. Fokus pada peluang peningkatan mutu
               Pilih salah satu permasalahan yang akan diselesaikan
               Kriteria masalah : menyatakan efek atas ketidakpuasan, adanya gap antara
                kenyataan dengan yang diinginkan, spesifik, dapat diukur.
         5. Mengidentifikasi akar penyebab masalah
               Menyimpulkan penyebab
               Teknik yang dapat digunakan : brainstorming
               Alat yang digunakan : fish bone analysis Ishikawa
         6. Menemukan dan memilih penyelesaian
               Mencari berbagai alternatif pemecahan masalah
               Teknik yang dapat digunakan : brainstorming
     b. Do
         1. Merencanakan suatu proyek uji coba
               Merencanakan sumber daya manusia, sumber dana, dan sebagainya.
               Merencanakan rencana kegiatan (plan of action)
         2. Melaksanakan Pilot Project
               Pilot Project dilaksanakan dalam skala kecil dengan waktu relatif singkat (± 2
               minggu)
     c. Check
         1. Evaluasi hasil proyek
               Bertujuan untuk efektivitas proyek tersebut
               Membandingkan target dengan hasil pencapaian proyek (data yang
                dikumpulkan dan teknik pengumpulan data harus sama)

                                               12
By : Febry Fahmi, Kedokteran Universitas riau, november 2009.




               Target yang ingin dicapai 80%
               Teknik yang digunakan: observasi dan survei
               Alat yang digunakan: kamera dan kuisioner
         2. Membuat kesimpulan proyek
               Hasil menjanjikan namun perlu perubahan
               Jika proyek gagal, cari penyelesaian lain
               Jika proyek berhasil, selanjutnya dibuat rutinitas
    d. Action
        1. Standarisasi perubahan
               Pertimbangkan area mana saja yang mungkin diterapkan
               Revisi proses yang sudah diperbaiki
               Modifikasi standar, prosedur dan kebijakan yang ada
               Komunikasikan kepada seluruh staf, pelanggan dan suplier atas perubahan
                yang dilakukan.
               Lakukan pelatihan bila perlu
               Mengembangkan rencana yang jelas
               Dokumentasikan proyek
        2. Memonitor perubahan
               Melakukan pengukuran dan pengendalian proses secara teratur
               Alat yang digunakan untuk dokumentasi




                                   Gambar 2.1. PDCA cycle



                                                13
By : Febry Fahmi, Kedokteran Universitas riau, november 2009.




                                            BAB III
                 KEGIATAN PEMERIKSAAN JENTIK NYAMUK AEDES
                             DI PUSKESMAS MUARA FAJAR


3.1. PLAN
     3.1.1. Identifikasi Masalah
         Proses identifikasi masalah dilakukan dengan cara :
           1. Observasi.
           2. Wawancara dengan staff dengan staf di bagian Kesling.
           3. Data sekunder..
—Dari data-data tersebut teridentifikasikan beberapa masalah, yaitu :
                                Tabel 3.1. Identifikasi Masalah
No.          Aspek yang dinilai                  Masalah                    Evidance base
1.     Kegiatan pemeriksaan jentik      Belum optimalnya           Wawancara :
       berkala                          kegiatan pemeriksaan      - Belum adanya petugas
                                        jentik berkala                  terlatih untuk program
                                                                        pemberantasan vektor.
                                                                  - Belum adanya protap
                                                                        tentang PJB.
                                                                  - Rendahnya kesadaran
                                                                        masyarakat melakukan
                                                                        kegiatan 3M Plus.
                                                                   Observasi :
                                                                   Tidak adanya formulir
                                                                   JPJ (juru pemeriksa
                                                                   jentik)
                                                                   Data sekunder :
                                                                    Persentase pencapaian
                                                                        program tahun 2008 <
                                                                        70,71%.
                                                                    Dari laporan bulanan
                                                                        kegiatan PJB dilakukan
                                                                        1 kali sebulan.


                                               14
By : Febry Fahmi, Kedokteran Universitas riau, november 2009.




2.     Kegiatan pengawasan sanitasi     Masih ada tempat-tempat       Wawancara :
       tempat-tempat umum.              umum yang belum               - Jumlah tenaga
                                        diperiksa hygiene dan           dirasakan masih kurang.
                                        sanitasinya, seperti sarana   Data sekunder :
                                        pendidikan, dan hotel.         Sarana pendidikan :
                                                                        Laporan bulanan PKM
                                                                        bulan April-Oktober
                                                                        hanya 1 dari 7 yang
                                                                        diperiksa.
                                                                       Hotel :
                                                                        Laporan bulanan PKM
                                                                        dari 1 hotel yang ada
                                                                        tidak pernah dilakukan
                                                                        pemeriksaan hygiene
                                                                        dan sanitasi hotel.
3.     Kegiatan pemeriksaan rumah       Belum optimalnya              Wawancara :
       tangga sehat.                    pemeriksaan rumah             - Jumlah tenaga
                                        tangga sehat di wilayah         dirasakan masih kurang.
                                        kerja PKM Muara Fajar.        - Wilayah kerja yang
                                                                       luas.
                                                                      Data sekunder :
                                                                       Dari laporan bulanan
                                                                        sebanyak 1839 rumah
                                                                        tangga rata-rata hanya
                                                                        1-2% yang diperiksa.


     3.1.2. Penentuan Prioritas Masalah
         Berdasarkan permasalahan yang ditemukan ditetapkan satu prioritas masalah dengan
     metode scoring yang menggunakan pertimbangan 4 aspek yaitu:
     1. Urgensi/kepentingan
            nilai 1 tidak penting
            nilai 2 penting
            nilai 3 sangat penting

                                               15
By : Febry Fahmi, Kedokteran Universitas riau, november 2009.




   2. Solusi
            nilai 1 tidak mudah
            nilai 2 mudah
            nilai 3 sangat mudah
   3. Kemampuan merubah
            nilai 1 tidak mudah
            nilai 2 mudah
            nilai 3 sangat mudah
   4. Biaya
            nilai 1 tinggi
            nilai 2 sedang
            nilai 3 rendah
         Penetuan prioritas masalah dibuat ke dalam tabel penentuan prioritas masalah sebagai
berikut :
 Tabel 3.2 Penentuan prioritas masalah program Kesling di Puskesmas Muara Fajar.
                                                  Kemampuan
  Kriteria Masalah            Urgensi   Solusi                   Biaya     Total     Rank
                                                      merubah
Kegiatan pemeriksaan
                                3         2              2          3        12        I
Jentik Berkala (PJB)
Kegiatan pemeriksaan
                                2         2              1          2         7        II
rumah tangga sehat.
Kegiatan pengawasan
sanitasi tempat-tempat          2         2              1          1         6       III
umum.



Berdasarkan tabel penentuan prioritas masalah dapat disimpulkan bahwa yang menjadi
prioritas masalah dan selanjutnya akan dicari altenatif pemecahan masalah yaitu tidak
optimalnya pelaksaanaan program Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) di Puskesmas Muara
Fajar.




                                                 16
By : Febry Fahmi, Kedokteran Universitas riau, november 2009.




  3.1.3 Analisis Penyebab Masalah
          Berdasarkan tabel penentuan prioritas masalah di atas, di dapatkan prioritas
  masalah utama pada kegiatan ini adalah optimalisasi program Pemeriksaan Jentik Berkala
  (PJB) di Puskesmas Muara Fajar. Beberapa hal yang menjadi penyebab masalah tersebut
  antara lain terlihat dari bebagai aspek dibawah ini :


                                Tabel 3.3. Analisis Penyebab Masalah
       Masalah                Penyebab Timbulnya Masalah               Evidance Base
Belum optimalnya             Man                               Hasil wawancara belum ada
kegiatan pemeriksaan          Belum adanya pelatihan            pelatihan khusus tentang
jentk berkala                 pengendalian vektor bagi petugas pengendalian vektor DBD
                              PJB.                              bagi petugas PJB.


                             Methode                           Berdasarkan wawancara dan
                              Tidak ada protap mengenai tata    observasi, protap mengenai
                              cara pelaksanaan kegiatan         pemeriksaan jentik berkala
                              pemeriksaan jentik berkala        tidak ada.


                             Market                            Hasil wawancara dengan
                              Kurangnya kesadaran               petugas PJB kesadaran
                              masyarakat yang melakukan         masyarakat masih kurang
                              kegiatan PSN DBD seperti 3M       untuk melaksanakan kegiatan
                              Plus.                             3M Plus.


                             Material                          Hasil wawancara dan

                              Tidak adanya formulir JPJ-2       observasi tidak ada formulir

                              (Juru Pemeriksa Jentik) untuk     JPJ.

                              pencatatan hasil pemeriksaan
                              jentik.
Di bawah ini dapat dilihat hubungan antara keempat faktor tersebut dengan menggunakan
fishbone Analysis Ishikawa.




                                               17
By : Febry Fahmi, Kedokteran Universitas riau, november 2009.




                                       MARKET                                            MAN


              Kurangnya kesadaran                                  Belum adanya
              masyarakat                                           pelatihan
              melakukan 3M Plus                                    pengendalian
                                                                   vektor DBD bagi
                                                                   petugas PJB.

                                                                                               Belum optimalnya
                                                                                               program Pemeriksaan
                                                                                               Jentik Berkala (PJB)


                                                                     Tidak ada
                      Tidak adanya                                   protap PJB
                      formulir JPJ-2




                                   MATERIAL                                       METHODE


                                                      Gambar 3.1. Fishbone Analysis Ishikawa
                                                                       18
By : Febry Fahmi, Kedokteran Universitas riau, november 2009.


     3.1.4. Strategi Dan Alternatif Pemecahan Masalah Atau PoA (Plan of Action)
           Setelah melihat identifikasi masalah, maka perlu dicari alternatif pemecahan masalahnya yang diharapkan dapat memaksimalkan
     kegiatan Pemeriksaan Jentik Berkala pada program Kesehatan Lingkungan Puskesmas Muara Fajar.


                              Tabel 3.4. Strategi Dan Alternatif Pemecahan Masalah Atau PoA (Plan of Action)

          Penyebab            Alternatif                                                  Pelaksana                    Kriteria
No                                                   Tujuan        Sasaran     Tempat                  Waktu
          Masalah            Pemecahan                                                    Kegiatan                   Keberhasilan
1.     Belum adanya     Merekomendasikan         Adanya           Kepala      Puskesmas   Dokter      Desember   Indikator jangka
       pelatihan        pelatihan                petugas          Puskesmas               Muda        2009       pendek :
       pengendalian     pengendalian vektor      terlatih untuk                           IKM-IKK                 Tersampaikannya
       vektor bagi      bagi petugas PJB.        kegiatan                                                          rekomendasi ke
       petugas PJB.                              pengendalian                                                      kepala PKM.
                                                 vektor.                                                         Indikator jangka
                                                                                                                 panjang :
                                                                                                                  Adanya petugas
                                                                                                                   terlatih untuk
                                                                                                                   kegiatan
                                                                                                                   pengendalian
                                                                                                                   vektor.
2.     Tidak ada        Membuat protap PJB       Adanya           Pelaksana   Puskesmas   Dokter      Desember   Adanya protap PJB
       protap           sesuai dengan standar    pedoman          kegiatan                Muda        2009       pada bagian Kesling.
       mengenai tata    Dirjen P2PL.             dalam            PJB.                    IKM-IKK
       cara                                      melakukan
       pelaksanaan                               kegiatan PJB.
       kegiatan
       pemeriksaan
       jentik berkala

                                                                       19
By : Febry Fahmi, Kedokteran Universitas riau, november 2009.


3.    Kurangnya          Merekomendasikan       Meningkatkan    Penanggung    Puskesmas   Dokter    Desember   Indikator jangka
      kesadaran           untuk dilakukan        kesadaran       jawab                     Muda      2009       pendek :
      masyarakat          penyuluhan berkala     masyarakat      program                   IKM-IKK               Tersampaikannya
      yang                tentang kegiatan       untuk           Kesling dan                                      rekomendasi ke
      melakukan           PSN DBD kepada         melakukan       Kepala                                           penanggung jawab
      kegiatan PSN        masyarakat pada        kegiatan PSN    Puskesmas                                        program dan kepala
      DBD 3M Plus.        waktu melakukan        DBD 3M                                                           Puskesmas
                          PJB ke rumah-          Plus.                                                           Tersampaikannya
                          rumah.                                                                                  brosur tentang
                         Merekomendasikan                                                                        kegiatan 3M Plus ke
                          untuk dilakukan                                                                         masyarakat.
                          tehnik komunikasi                                                                     Indikator jangka
                          perubahan perilaku                                                                    panjang :
                          masyarakat secara                                                                      Adanya penyuluhan
                          spesifik yaitu                                                                          berkala tentang PSN
                          Komunikasi                                                                              DBD pada waktu
                          Perubahan Perilaku                                                                      melakukan PJB ke
                          (KPP)/Communicati                                                                       rumah-rumah
                          on for Behavioral                                                                      Meningkatnya
                          Impact (COMBI)                                                                          kesadaran
                         Menyediakan dan                                                                         masyarakat untuk
                          menyampaikan                                                                            melakukan PSN
                          brosur tentang                                                                          DBD.
                          kegiatan 3M Plus
                          ke masyarakat.
4.    Tidak adanya      Merekomendasikan         Adanya          Penanggung    Puskesmas   Dokter    Desember   Indikator jangka
      formulir JPJ-2    untuk diadakannya        system          jawab                     Muda      2009       pendek:
      untuk             formulir JPJ-2 untuk     pencatatan      program                   IKM-IKK               Tersampaikannya
      pencatatan        pencatatan hasil PJB.    dan pelaporan   Kesling                                          rekomendasi ke
      hasil                                      yang sesuai                                                      kepala penanggung
      pemeriksaan                                dengan                                                           jawab program.
                                                                      20
By : Febry Fahmi, Kedokteran Universitas riau, november 2009.


      jentik.                                    standar yang        Indikator jangka
                                                 ditetapkan.         panjang :
                                                                      Adanya system
                                                                       pencatatan hasil PJB
                                                                       yang sesuai standar.




                                                                21
By : Febry Fahmi, Kedokteran Universitas riau, november 2009.


3.2. DO
       Kegiatan pelaksanaan pada pilot project dilakukan pada tanggal 10-15 Desember
2009. Kegiatan dilaksanakan sesuai alternatif pemecahan masalah yang telah disusun.
Seluruh alternatif pemecahan masalah dapat terlaksana sesuai Plan Of Action (PoA), yaitu :


                                         Tabel 3.5. Do
No                   Kegiatan                       Waktu Pelaksanaan   Terlaksana/Belum
1.    Memberikan surat rekomendasi                10 Desember 2009
      pelatihan pengendalian vektor bagi
      petugas PJB.
2.    Merekomendasikan untuk dilakukan            10 Desember 2009
      tehnik komunikasi perubahan perilaku
      masyarakat secara spesifik yaitu
      Komunikasi Perubahan Perilaku
      (KPP)/Communication for Behavioral
      Impact (COMBI)
3.    Memberikan surat rekomendasi untuk          10 Desember 2009
      dilakukan penyuluhan berkala tentang
      kegiatan PSN DBD kepada masyarakat
      saat dilakukannya kegiatan PJB.
4.    Memberikan surat rekomendasi untuk          10 Desember 2009
      diadakannya formulir JPJ-2 untuk
      pencatatan hasil PJB.
5.    Membuat dan menyerahkan protap PJB          15 Desember 2009
      sesuai dengan standar Dirjen P2PL.

6.    Menyediakan dan menyampaikan                15 Desember 2009
      brosur tentang kegiatan 3M Plus ke
      masyarakat.




                                               22
By : Febry Fahmi, Kedokteran Universitas riau, november 2009.


                                    DAFTAR PUSTAKA


1. Depkes RI. Panduan Manajemen PHBS Menuju Kabupaten/Kota Sehat. Jakarta : Pusat
   Promosi Kesehatan Depkes RI. 2002.
2. Riauterkini.com. 2007. Seluruh Kecamatan Di Pekanbaru Endemis DBD.
   http://www.riauterkini.com/politik.php?arr=13258. [Diakses 20 November 2008].
3. Salim M, Febriyanto. Survey Jentik Aedes aegypti Di Desa Saung Naga Kabupaten Oku
   Tahun 2005. Palembang : FK UNSRI 2005.
4. Depkes RI. 2004. KLB DBD Telah Menjadi Ancaman Kemanusiaan.
   http://www.depkes.go.id [Diakses 20 November 2009].
5. Depkes RI. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1091/Menkes/SK/X/2004 Tentang
   Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan Di Kabupaten/Kota.
   Jakarta : 2004.
6. Setiyabudi R. 2007. Dasar Kesehatan Lingkungan. Disitasi dari :
   http://www.ajago.blogspot.htm. [Diakses : 20 November 2009].
7. World Health Organization (WHO). 2008. Environmental Health. http://www.WHO.int.
   [Diakses 20 November 2009].
8. Depkes RI. Undang-undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan.
9. Jati SP. 2009. Sekilas Temtang Program Pemberantasan Penyakit DBD.
   http://www.scribd.com/documents/10911116. [Diakses 20 November 2009].
10. Depkes RI. Pedoman Pengobatan Dasar Di Puskesmas 2007. Jakarta : Departemen
   Kesehatan RI, 2007.
11. Dirjen P2PL Depkes RI. Modul Pelatihan Bagi Pelatih Pemberantasan Sarang Nyamuk
   DBD Dengan Pendekatan Komunikasi Perubahan Perilaku (Communication For
   Behavioral Impact). Jakarta : Dirjen P2PL. 2007.




                                               23

								
To top