Docstoc

proposal penelitian PROPOSAL PENELITIAN UNIVERSITAS HASANUDDIN FAKULTAS EKONOMI JURUSAN

Document Sample
proposal penelitian PROPOSAL PENELITIAN UNIVERSITAS HASANUDDIN FAKULTAS EKONOMI JURUSAN Powered By Docstoc
					PROPOSAL PENELITIAN




                  UNIVERSITAS HASANUDDIN
                     FAKULTAS EKONOMI
                   JURUSAN ILMU EKONOMI




 ANALISIS PERGESERAN SEKTOR - SEKTOR EKONOMI DI
         KABUPATEN BONE TAHUN 1998 – 2008

                              OLEH :


                      NAMA    : BURHANUDDIN
                      NIM     : A11107106




                             MAKASSAR
                               2010
JUDUL PENELITIAN :

 ANALISIS PERGESERAN SEKTOR - SEKTOR EKONOMI DI KABUPATEN BONE
                        TAHUN 1998 – 20O8



                                   I. PENDAHULUAN

  A. Latar Belakang Masalah

         Perkembangan daerah sebagai integral dari pembangunun nasional dilaksanakan
  berdasarkan prinsip otonomi daerah dan pengaturan sumber daya nasional yang memberikan
  kesempatan bagi peningkatan demokrasi dan kinerja daerah untuk meningkatkan
  kesejahteraan masyarakat menuju masyarakat yang bebas korupsi, kolusi, dan nepotisme
  ( undang-undang otonomi daerah, 1999 ). Penyelenggaraan pemerintah daerah sebagai sub
  sistem pemerintah negara dimaksudkan untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna
  penyelenggaraan pemerintah dan pelayanan masyarakat sebagai otonomi. Daerah mempunyai
  kewenangan dan tanggung jawab menyelenggarakan kepentingan masyarakat berdasarkan
  prinsip-prinsip keterbukaan, partisipasi masyarakat, dan pertanggungjawaban kepada
  masyarakat.
         Kunci pembangunan daerah dalam mencapai sasaran pembangunan nasional secara
  efisien dan efektif adalah perencanaan koordinasi dan keterpaduan antara sektor
  pembangunan, sektor tersebut di daerah disesuaikan dengan kondisi dan potensi yang
  dimiliki oleh masing-masing daerah. Tujuan pembangunan dalam kebijakan pembangunan
  daerah adalah untuk menyelaraskan pertumbuhan dan mengurangi kesenjangan dan tingkat
  kemajuan antar daerah, melalui pembangunan serasi dan terpadu antar sektor pembangunan
  daerah yang efisien dan efektif menuju tercapainya kemandirian daerah.
         Secara makro pertumbuhan atau PDRB dari tahun ke tahun merupakan salah satu
  indikator dari keberhasilan pembangunan daerah dimana dalam hal ini PDRB dikategorikan
  dalam berbagai sektor ekonomi yaitu :
  1. Sektor Pertanian
  2. Sektor Pertambangan dan Penggalian
3. Sektor Industri Pengolahan
4. Sektor Listrik,Gas, Dan Sektor Air Bersih
5. Sektor Bangunan
6. Sektor Perdaganagn, Hotel, dan Restoran
7. Sektor Angkutan Dan Komunikasi
8. Sektor Keuangan, Persewaan, Dan Jasa Perusahaan
9. Sektor Jasa-Jasa
       Pertumbuhan PDRB tidak lepas dari peran setiap sektor-sektor ekonomi tersebut di
atas, besar kecilnya kontribusi pendapatan setiap sektor ekonomi merupakan hasil
perencanaan secara sektoral yang dilaksanakan di daerah.
       Masalah utama di dalam pelaksanaan pembangunan di daerah adalah kurang
mampunya pemerintah daerah melaksanakan strategi perencanan yang matang serta kurang
jelinya pemerintah daerah dalam melihat pergeseran-pergeseran yang terjadi dari tahun ke
tahun dalam sektor ekonomi. Disinilah peranan Badan Perencanaan Daerah (BAPPEDA)
cukup dominan dalam menentukan arah serta rencana pembangunan daerah agar
pembangunan di daerah berjalan sesuai prioritas sektor yang diinginkan.

       Dari latar belakang masalah yang diuraikan, maka penulis tertarik untuk mengadakan
penelitian tentang Analisis Pergeseran Sektor-Sektor Ekonomi Di Kabupaten Bone Tahun
1998 -2008.




B. Perumusan masalah

       Pembangunan daerah diarahkan untuk mengacu pemerataan pembangunan dalam
rangka meningkatkan kesejahteraan dan meningkatkan pendayagunaan potensi yang dimilki
daerah secara optimal. Dari latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka dapat
dirumuskan pokok permasalahan sebagai berikut :

1. Bagaimana perubahan sektor ekonomi Kabupaten Bone yang terjadi tahun 1998 - 2008.
2. Bagaimana pertumbuhan sektor ekonomi di Kabupaten Bone.
3. Sektor-sektor mana yang merupakan sektor potensial (basis) yang merupakan sektor
   andalan dalam struktur perekonomian di Kabupaten Bone tahun 1998 - 2008 berdasarkan
   analisis (LQ).




C. Batasan masalah

       Penelitian ini hanya dibatasi pada masalah pergeseran sektor-sektor ekonomi yang
terdiri dari sektor pertanian, sektor pertambangan dan penggalian, Sektor industri
pengolahan, sektor listrik, gas, dan air bersih, sektor bangunan, sektor perdagangan, hotel,
dan restoran, Sektor angkutan, dan komunikasi, sektor keuangan, persewaan dan jasa
perusahaan dan sektor jasa-jasa yang terjadi di Kabupaten Bone pada tahun 1998-2008.


D. Tujuan dan kegunaan

1. Tujuan penelitian

   a. Untuk mengetahui pergeseran pangsa setiap sektor ekonomi.
   b. Untuk mengetahui komponen-komponen yang mempengaruhi pada perekonomian
       daerah Kabupaten Bone.
   c. Untuk mengetahui sektor mana yang merupakan sektor potensial (basis) di Kabupaten
       Bone.




2. Kegunaan Penelitian

   a. Bagi pemerintah daerah diharapkan dapat menjadi tambahan informasi sekaligus
       bahan evaluasi agar lebih memantapkan peran perencanaan daerah dari tahun ke
       tahun.
   b. Sebagai bahan informasi bagi penelitian lain yang berminat pada masalah
       perencanaan daerah.
   c. Bagi penulis penelitian ini merupakan hasil aplikasi serta penerapan langsung dari
       salah satu alat analisis yang didapat dari bangku kuliah.




Hipotesis


1. diduga Terjadi pergeseran atau perubahan struktur dalam sektor ekonomi Kabupaten
   Bone selama tahun 1998-2008.
2. diduga Sektor potensial atau sektor basis masih di dominasi oleh sektor pertanian, sektor
   bangunan, dan sektor angkutan dan komunikasi.
3. didugaTingkat pertumbuhan sektor ekonomi Kabupaten Bone cenderung meningkat dan
   mempunyai potensi yang dapat diandalkan untuk memberikan kontribusi bagi daerah.
                              II. KERANGKA PEMIKIRAN


       A. Definisi Perencanaan Ekonomi


       Perencanaan merupakan suatu proses yang berkesinambungan yang mencangkup
keputusan- keputusan atau pilihan – pilihan berbagai alternatif penggunaan sumberdaya
untuk mencapai tujuan – tujuan tertentu pada masa yang akan datang (Conyers & Hills ,
1994) Berdasarkan definisi diatas berarti ada empat elemen dasar perencanaan yaitu :

a. Merencanakan berarti memilih

b. Perencanaan merupakan alat pengalokasian sumberdaya

c. Perencanaan merupakan alat untuk mecapai tujuan
d. Perencanan untuk masa depan (Lincolin Arsyad,1999)
       Arthur lewis dalam bukunya berjudul Development Planning (1966). Membagi
perencanaan dalam 6 (enam) pengertian yaitu :

1. Istilah perencanaan seringkali dihubungkan dengan letak geografis, bangunan, tempat
   tinggal, bioskop dan lainnya. Di negara sedang berkembang hal ini sering disebut dengan
   istilah perencanaan kota dan negara (town and country planning) atau perencanaan kota
   dan daerah (urban and regional planning).

2. Perencanaan mempunyai arti keputusan penggunaan dan pemerintah dimasa yang akan
   datang.

3. Ekonomi berencana adalah ekonomi dimana setiap unit produksi hanya memanfaatkan
   sumber daya manusia, bahan baku, dan peralatan yang dialokasikan dengan jumlah
   tertentu dan menjual produknya hanya kepada perusahaan atau perorangan yang ditunjuk
   oleh pemerintah.

4. Perencanaan berarti setiap penentuan sasaran produksi oleh pemerintah.
   5. Penerapan sasaran untuk perekonomian secara keseluruhan dengan maksud untuk
      mengalokasikan semua tenaga kerja, devisa, bahan mentah dan sumberdaya lainnya ke
      berbagai bidang perekonomian.

   6. Untuk menggambarkan sarana yang digunakan pemerintah untuk memaksakan sasaran-
      sasaran yang ditetapkan.

          Perencanaan sebenarnya merupakan suatu proses yang berkesinambungan dari waktu
   ke waktu dengan melibatkan kebijaksanaan (polycy) dari pembuat keputusan berdasarkan
   sumber daya yang tersedia dan disusun secara sistematis.

          Maka pelaksanaan perancangan pembuatan perencanaan itu pada dasarnya adalah
   mengambil suatu kebijaksanaan dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut
   (Soekartawi, 1990).

   1. Perencanaan berarti memilih berbagai alternatif yang terbaik dari sejumlah alternatif yang
      ada.

   2. Perencanaan berarti pula alokasi sumberdaya yang tersedia baik sumberdaya alam
      maupun sumberdaya manusia.

   3. Perencanaan mengandung arti rumusan yang sistematis yang didasarkan pada
      kepentingan masyarakat banyak.

   4. Perencanaan juga menyangkut masalah tujuan atau sasaran tertentu yang harus dicapai.

   5. Perencanaan juga dapat diartikan atau dikaitkan dengan kepentingan masa depan.

          Meskipun tidak ada kesepakatan diantara para ekonomi berkenaan dengan istilah
   perencanaan ekonomi mengandung arti pengendalian dan pengaturan perekonomian dengan
   sengaja oleh pemerintah untuk mencapai sasaran dan tujuan tertentu didalam jangka waktu
   tertentu pula. (Lincolin arsyid, 1999)


B. Fungsi Perencanaan Ekonomi
          Beberapa buku literatur perencanaan pembangunan (Development planning)
   pembahasan terhadap pentingnya perencanaan ini sering dikaitkan dengan pembangunan itu
   sendiri. Dengan demikian, pembahasan pentingnya aspek perencanaan yang dikaitkan
   dengan aspek pembangunan dapat diklarifikasikan menjadi dua topik utama, yaitu :

   1. Perencanaan sebagai alat dari pembangunan.

   2. Perencanaan sebagai tolok ukur dari berhasil atau tidaknya pembangunan tersebut.

          Secara sistematis, kaitan antara aspek perencanaan dan pembangunan dapat
   digambarkan seperti gambar 1 dibawah ini :

                                         Gambar 1

                   Skema hubungan Antara Perencanaan dan Pembangunan




                                 Sebagai alat




             Perencanaan


                                                     Pembangunan
                                Sebagai tolok ukur


                                                         Pembangunan yang berencana



   Perencanaan dianggap sebagai alat pembangunan karena perencanaan memang merupakan
alat strategis dalam menuntun jalannya pembangunan. Suatu perencanaan yang disusun secara
acak-acakkan (tidak sistematis) dan tidak memperhatikan aspirasi target group (sasaran), maka
pembangunan yang dihasilkan tidak seperti yang diharapkan. Dengan demikian dalam konteks
perencanaan, sebagai alat maka mempunyai keunggulan komprehensif sebagai berikut :

   a. Perencanaan dapat dipakai sebagai alat untuk dijadikan pedoman dalam pelaksanaan
       pembangunan.
   b. Perencanaan dapat dipakai sebagai alat penentuan sebagai alternatif dan berbagai
      kegiatan pembangunan.

   c. Perancanaan dapat dipakai sebagai penentuan skala prioritas.

   d. Perencanaan dapat dipakai sebagai alat peramalan (forecasting) dari kegiatan dari masa
      ke masa yang akan datang. (Soekartawi, 1990)

          Sementara menurut Lincolin Arsyad fungsi-fungsi perencanaan adalah sebagai
   berikut:

   a. Dengan perencanaan diharapkan terdapatnya suatu pengarahan kegiatan, adanya pedoman
      bagi pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang ditujukan kepada tujuan pembangunan.

   b. Dengan perencanaan dapat dilakukan suatu perkiraan potensi-potensi, prospek-prospek
      perkembangan, hambatan serta resiko yang mungkin dihadapi pada masa yang akan
      datang.

   c. Perencanaan memberikan kesempatan untuk mengadakan pilihan yang terbaik.
   d. Dengan perencanaan dilakukan penyusunan skala prioritas dari segi pentingnya tujuan.
   e. Perencanaan sebagai alat untuk mengukur atau standar untuk mengadakan pengawasan
      evaluasi.



C. Proses Perencanaan Ekonomi


          Proses perencanaan merupakan hal mendasar yang harus diperhatikan oleh para
   pembuat keputusan (perencanaan), adapun proses perencanaan ekonomi tersebut dibagi
   kedalam empat tahap diantaranya adalah:

   1. Tahap pertama, pada tahap ini diterapkan tujuan oleh pemimpin politik, serta prioritas
      tujuan untuk mengarahkan para perencana jika terjadi konflik tujuan.
   2. Tahap kedua, adalah mengukur ketersediaan sumberdaya yang langka sebelum periode
      perencanaan tersebut.
3. Tahap ketiga, hampir dari semua upaya ekonomi ditujukan untuk memilih berbagai cara
   (kegiatan dan alat) yang bisa digunakan untuk mencapai tujuan nasional.
4. Tahap keempat, perencanaan mengerjakan proses pemilihan kegiatan yang penting dan
   mungkin untuk mencapai tujuan nasional (welfare fungtion) tanpa terganggu adanya
   kendala-kendala sumberdaya dan organisasional. Hasil dari proses ini adalah strategi
   pembangunan (Development strategy) atau rencana mengatur kegiatan-kegiatan yang
   akan dilakukan selama beberapa tahun (biasanya lima tahun). (Lincoln Arsyad, 1999)



      Pertumbuhan dan Perkembangan Ekonomi menurut Adam Smith membagi tahapan
pertumbuhan ekonomi menjadi lima tahap yang berurutan, yaitu dimulai dari masa
perburuan, masa berternak, masa bercocok tanam, masa perdagangan dan yang terakhir
adalah masa perindustrian. Menurut teori ini, masyarakat akan bergerak dari masyarakat
tradisional kemasayarakat modern yang kapitalis. Dalam prosesnya, pertumbuhan ekonomi
akan semakin terpacu dengan adanya sistem pembagian kerja antar pelaku ekonomi. Dalam
hal ini, Adam Smith memandang pekerja sebagai salah satu input bagi proses
produksi.Pembagian kerja merupakan titik sentral pembahasan dalam terori Adam Smith,
dalam upaya meningkatkan produktifitas tenaga kerja. Dalam pembangunan ekonomi, modal
memegang peran penting. Menurut teori ini, akumulasi modal akan menentukan cepat atau
lambatnya pertumbuhan ekonomi yang terjadi pada suatu negara. Modal tersebut diperoleh
dari tabungan yang dilakukan masyarakat. Adanya akumulasi modal yang dihasilkan dari
tabungan, maka pelaku ekonomi dapat menginvestasikan kesektor riil, dalam upaya untuk
meningkatkan penerimaannya.

      Menurut Adam Smith proses pertumbuhan akan terjadi secara simultan dan memiliki
hubungan keterkaitan satu dengan lain. Timbulnya peningkatan kinerja pada suatu sektor
akan meningkatkan daya tarik bagi pemupukan modal, mendorong kemajuan tekhnologi,
meningkatkan spesialisasi dan memperluas pasar hal ini akan mendorong pertumbuhan
ekonomi semakin pesat. Proses pertumbuhan ekonomi sebagai suatu ‘fungsi tujuan’, pada
akhirnya harus tunduk pada ‘fungsi kendala’, yaitu keterbatasan sumberdaya ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi akan mengalami keterlambatan jika daya dukung alam tidak mampu
lagi mengimbangi aktivitas ekonomi yang ada. Keterbatasan sumberdaya merupakan faktor
yang dapat menghambat ekonomi tersebut, bahkan dalam perkembangan hal tersebut justru
menurunkan tingkat pertumbuhan ekonomi. (Mudrajad kuncoro, 1997)




D. Pengertian Pembangunan Ekonomi Daerah



       Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses dimana pemerintah daerah dan
masyarakat mengelola sumberdaya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan antara
pemerintah daerah dengan sektor swasta untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dan
merangsang perkembangan kegiatan ekonomi (pertumbuhan ekonomi) dalam wilayah
tersebut. (Lincolin Arsyad, 1999)

       Masalah pokok dalam pembangunan daerah adalah terletak pada penekanan terhadap
kebijakan-kebijakan pembangunan yang berdasarkan pada kekhasan daerah yang
bersangkutan (endogenous development) dengan menggunakan potensi sumberdaya manusia,
kelembagaan, dan sumberdaya fisik secara lokal (daerah). Orientasi ini mengarahkan kita
kepada pengambilan inisiatif-inisiatif yang berasal dari daerah tersebut dalam proses
pembangunan untuk menciptakan kesempatan kerja baru dan merangsang kegiatan ekonomi.

       Pembangunan ekonomi daerah suatu proses yaitu proses yang mencakup
pembentukan-pembentukan       institusi   baru,   pembangunan   industri-industri   alternatif,
perbaikam kapasitas tenaga kerja yang ada untuk menghasilkan produk dan jasa yang lebih
baik, identifikasi pasar-pasar baru, alih ilmu pemngetahuan, dan pengembangan perusahaan-
perusahan baru.

       Setiap upaya pembangunan ekonomi daerah mempunyai tujuan utama untuk
meningkatkan jumlah dan jenis peluang kerja untuk masyarakat daerah. Dalam upaya untuk
mencapai tujuan tesebut, pemerintah daerah dan masyarakat harus secara bersama-sama
mengambil inisiatif pembangunan daerah. Oleh karena itu, pemerintah daerah beserta daerah
beserta partisipasi masyarakatnya dan dengan dengan menggunakan sumberdaya yang ada
harus menafsir potensi sumberdaya yang diperlukan untuk merancang dan membangun
perekonomian daerah. (Lincolin Arsyad, 1999)
E.Perencanaan Pembangunan Ekonomi Daerah


       Perencanaan pembangunan ekonomi daerah bisa dianggap sebagai perencanaan untuk
memperbaiki penggunaan sumberdaya publik yang tersedia didaerah tersebut dan untuk
memperbaiki kapasitas sektor swasta dalam menciptakan nilai sumberdaya swasta secara
bertanggung jawab.

       Pembangunan ekonomi yang efisien membutuhkan secara seimbang perencanaan
yang lebih teliti mengenai penggunaan sumber daya publik dan sektor swasta : petani,
pengusaha kecil, koperasi, pengusaha besar, organisasi sosial harus mempunyai peran dalam
proses perencanaan.

       Ada tiga (3) impilikasi pokok dari perencanaan pembangunan ekonomi daerah :

    1. perencanan pembangunan ekonomi daerah yang realistik memerlukan pemahaman
tentang hubungan antara daerah dengan lingkungan nasional dimana daerah tersebut
merupakan bagian darinya, keterkaitan secara mendasar antara keduanya, dan konsekuensi
akhir dari interaksi tersebut.


   2. sesuatu yang tampaknya baik secara nasional belum tentu baik untuk daerah dan
sebaliknya yang baik di daerah belum tentu baik secara nasional.


    3. Perangkat kelembagaan yang tersedia untuk pembangunan daerah, misalnya
administrasi, proses pengambilan keputusan, otoritas biasanya sangat berbeda pada tingkat
daerah dengan yang tersedia pada tingkat pusat. Selain itu, derajat pengendalian kebijakan
sangat berbeda pada dua tingkat tersebut. Oleh karena itu perencanaan darah yang efektif
harus bisa membedakan apa yang seyogyanya dilakukan dan apa yang dapat dilakukan,
dengan menggunakan sumber daya pembangunan sebaik mungkin yang benar-benar dapat
dicapai, dan mengambil manfaat dari informasi yang lengkap yang tersedia pada tingkat
daerah karena kedekatan para perencananya dengan obyek perencanaan. (Lincolin arsyad,
1999)
                              III. METODOLOGI PENELITIAN


A. Metodologi Penelitian
   1. Obyek Penelitian
     Penelitian ini dilakukan pada kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
     (BAPPEDA) Bone.
   2. Metodologi Penelitian
     Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus.
   3. Jenis Data
     a. Data Primer, Yaitu data yang diperoleh langsung dari kantor BAPPEDA, antara lain
        berupa data tentang jumlah PDRB Kabupaten Bone, dan jumlah PDRB Propinsi
        Sulawesi Selatan.
     b. Data Sekunder, Yaitu data yang diperoleh melalui studi pustaka yang bertujuan
        mendapatkan literatur dan hal-hal lain yang relevan, antara lain data yang diterbitkan
        oleh Badan Pusat Statistik, BAPPEDA dan sumber lain yang terkait dan relevan
        denagan obyek yang diteliti.
   4. Sumber Data
     a    Data dari (BPS) Badan Pusat Statistik Propinsi Sulawesi Selatan .
     b. Data dari (BPS) Badan Pusat Statistik Kabupaten Bone.
     c. Pola dasar pembangunan daerah Propinsi Sulawesi Selatan.
     d. Pola dasar pembangunan daerah Kabupaten Bone.
   5. Data Yang diperlukan
     a.   Data PDRB atas harga berlaku dan konstan pada Kab. Bone dan Propinsi Sulawesi
          Selatan tahun 1998 - 2008
     b.   Laporan laju pertumbuhan penduduk dan sektor-sektor ekonomi pada Kab. Bone dan
          Propinsi Sulawesi Selatan tahun 1998 - 2008
     c.   Data-data lain yang berhubungan dengan penelitian.

   6. Metode Pengumpulan Data

     a.   Metode Observasi, yaitu dengan melakukan pengamatan langsung terhadap obyek
          penelitian.
  b.   Metode Wawancara, yaitu dengan melakukan wawancara langsung dengan pimpinan
       dan karyawan Institusi terkait.

7. Metode Analisis
  a.   Analisis kualitas
       1.   Dalam penelitian ini digunakan tekhnik analisis perencanaan pembangunan yaitu
            Shif-Share (S-S) dan Location Quation (L-Q). Tekhnik analisis Shif-Share adalah
            suatu tekhnik analisis didalam perencanaan pembangunan yang menganalisis
            bagaimana pangsa masing-masing sektor dalam perekonomian daerah yang lebih
            rendah secara hirarkis. Dengan melihat perbandingan laju pertumbuan sektor-
            sektor perekonomian daerah sekaligus melihat bila daerah itu memperoleh
            pertumbuhan sebagai perubahan (D) suatu variabel wilayah yaitu pendapatan atau
            output sektor-sektor ekonomi daerah selama kurun waktu tertentu menjadi
            pengaruh pertumbuhan propinsi (N). Pengaruh propinsi disebut pengaruh pangsa
            (share), bauran industri (M), pengaruh bauran industri disebut bauran komposisi
            (proporsional shift) dan keunggulan kompetitif (C). Pengaruh keunggulan
            kompetitif disebut regional share, karena itulah tekhnik analisis ini dinamakan
            tekhnik analisis shif-share. Maenurut Prasetyo Soepono (1993) bentuk umum
            persamaan dari analisis shif-share dan komponen-komponen adalah sebagai
            berikut :
            Dij=Nij + Mij + Cij
            Keterangan :
            i      = Sektor ekonomi yang diteliti
            j      = Variabel ekonomi yang diteliti
       2. Dalam penelitian ini variabel yang digunakan adalah pendapatan atau nilai sektor
          yang dinotasikan sebagai (y)
            Dij    = y*ij-yij
            Nij    = yij.rn
            Mij    = yij (rin – rn )
            Cij    = yij ( rij- rin)
            Keterangan :
            Dij    = Variabel wilayah
            Nij    = Pertumbuhan daerah propinsi
            Mij    = Pengaruh Bauran industri
Cij        = Keunggulan kompetitif
yij        = Pendapatan sektor i Wilayah j (kabupaten)
y*         = Pendapatan tahun terakhir
rn         = Laju pertumbuhan PDRB di Wilayah n (propinsi)
rin        = Laju pertumbuhan i di Wilayah n ( propinsi)
rij        = Laju pertumbuhan sektor i di Wilayah j ( kabupaten )
Dimana rij, rin, dan rn mewakili laju pertumbuhan daerah kabupaten dan daerah
propinsi yang masing-masing didefinisikan sebagai berikut :
        ( y * ij  yij)
rij 
               yij
         ( y * in - yin)
rin 
                yin
        ( yn * -yn)
rn 
            yn
Keterangan :
rij        = Laju pertumbuhan sektor i di Wilayah j ( kabupaten )
rin        = Laju pertumbuhan i di Wilayah n ( propinsi)
rn         = Laju pertumbuhan PDRB di Wilayah n (propinsi)
y*         = Pendapatan tahun terakhir
yij        = Pendapatan sektor i Wilayah j (kabupaten)
yin        = Pendapatan sektor i di wilayah n ( propinsi )
yn         = PDRB wilayah n ( propinsi )




Secara keseluruhan wilayah, persamaan untuk sektor i di wilayah adalah :
Dij        = yij . rn + yij (rin-rn) + yij (rij-rin)
Keterangan :
Dij        = Variabel wilayah
yij        = Pendapatan sektor i di wilayah j ( kabupaten )
     rij     = Laju pertumbuhan sektor i di wilayah j ( kabupaten)
     rin     = Laju pertumbuhan sektor i di wilayah n (propinsi)
     rn      = Laju pertumbuhan PDRB di wilayah n (propinsi)


3.   Dalam penelitian ini juga digunakan alat analisis Location Quotient (LQ),
     Location Quotien adalah salah satu tekhnik analisa dalam perencanaan
     pembangunan yang digunakan untuk menganalisa sektor potensial atau sektor
     basis dalam suatu daerah, dengan cara mengukur konsentrasi suatu sektor
     ekonomi dalam suatu daerah yaitu membandingkan peranan sektor tersebut dalam
     perekonomian daerah Kabupaten Banyumas dengan sektor sejenis dalam
     perekonomian Daerah Propinsi Jawa Tengah. Menurut Lincolin Arsyad (1993)
     rumus untuk menghitung LQ adalah
            yi * / yt *
     LQ 
             Yi / Yt
     Keterangan :
     LQ      = Koefisien LQ
     yi*     = Pendapatan (PDRB) sektor tertentu di Kabupaten Banyumas dalam
               Jutaan rupiah.
     yt*     = Pendapatan (PDRB) total daerah Kabupaten Banyumas dalam jutaan
               rupiah.
     Yi      = Pendapatan (PDRB) sektor tertentu di daerah Propinsi Jawa Tengah
               dalam jutaan Rupiah
     Yt      = Pendapatan (PDRB) total daerah Jawa Tengah dalam jutaan rupiah


Adapun klarifiasi LQ sebagai berikkut :
LQ > 1       Merupakan sektor basis dan kemampuan produksi sektor tersebut di suatu
             kabupaten lebih besar dibandingkan sektor sejenis di tingkat propinsi.
LQ = 1       Berarti kemampuan produksi sektor tersebut di suatu kabupaten sama
             dengan sektor sejenis di tingkat propinsi.
LQ < 1       Merupakan sektor non basis dan kemampuan produksi sektor tersebut
             disuatu kabupaten lebih kecil dibanding sektor sejenis pada tingkat
             propinsi.
 Adapun asumsi dalam analisis LQ adalah :
          a. Selera dan pola pengeluaran di suatu daerah dengan daerah lain di seluruh
             wilayah propinsi Jawa Tengah adalah sama.
          b. Setiap penduduk di setiap darah Kabupaten Banyumas mempunyai pola
             permintaan terhadap suatu barang dan jasa sama terhadap pola permintaan barang
             dan jasa pada tingkat propinsi Jawa Tengah.
          c. Tingkat konsumsi rata-rata untuk masing-masing barang dan jasa disetiap daerah
             sama.




                                  DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, L. 1999. Pengantar Perencanaan dan Pembangunan. Edisi Pertama. Penerbit BPFE.
Yogyakarta

Richardson, H. W. 1991. Dasar-dasar Ilmu Ekonomi Regional (Terjemahan) LPFE UI. Jakarta

Suparmoko, M. dan Irawan. 1995. Ekonomika Pembangunan. Penerbit BPFE. Yogyakarta.

Todaro, M. P. 2000. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Jilid 1. (Terjemahan Burhanuddin
Abdullah dan Harris Munandar). Penerbit Erlangga. Jakarta.

Winoto, J. 1995. Pembangunan : Sari Tema Teori-teori Pembangunan Lintas Madzhab. Program
Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan. Program Pascasarjana IPB.
Bogor.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:2324
posted:5/30/2010
language:Indonesian
pages:17