EVALUASI PELAKSANAAN PROGRAM POSYANDU DI PUSKESMAS TLOGOMULYO

Document Sample
EVALUASI PELAKSANAAN PROGRAM POSYANDU DI PUSKESMAS TLOGOMULYO Powered By Docstoc
					                                   Working Paper Series No. 15
                                     April 2007, First Draft




EVALUASI PELAKSANAAN PROGRAM POSYANDU
 DI PUSKESMAS TLOGOMULYO, TEMANGGUNG


  Heri Sutadi, Eunice Setiawan, Mubasysyir Hasanbasri




                             Katakunci:
                              posyandu
                                kinerja
                               evaluasi




                         -Tidak Untuk Disitasi-

Program Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan,Universitas
                              Gadjah Mada
                            Yogyakarta 2007
    Heri Sutadi, Eunice Setiawan, Mubasysyir Hasanbasri; WPS No.15 April 2007 1st draft




           EVALUATION OF POSYANDU IMPLEMENTATION
                 IN TLOGOMULYO PUSKESMAS
                 TEMANGGUNG CENTRAL JAVA

            Heri Sutadi1, Eunice Setiawan2, Mubasysyir Hasanbasri3

                                       Abstract

Background Posyandu is a key primary health activity in rural
communities. Although posyandus have been there for many years, their
effectiveness is rarely reported. Revitalization of posyandu has become
program of the ministry of health. Beside posyandu as a routine
puskesmas activity, rural community hold posyandu as their contribution
to help their community members. Growth monitoring and medical
examination screen children with minor illness and growth stunting early.
This study attempts to evaluate the performance of posyandu and the
significant role of cadres in its management.

Method This cross sectional study use posyandu regular report to
Tlogomulyo Puskesmas of Temanggung from 2002 to 2006. Analysis
unit is village. The study also collect information from focused group
discussion and ask cadres to write their opinion about posyandu and
their roles. Data collection took place in November 2006. Research
questions provide the basis for data analysis.
Finding Although posyandus perform less that national expectation,
they vary by village context. Performance of posyandu seen from the
presence and completeness of cadre participation is difficult to interpret.
Community participation acts as an independent factor. Outcome
indicator of posyandu is better when health workers take action to rend
home visit for weighing babies. Villages with higher social economic
status show performance better than that with relatively low
socioeconomic status.
Conclusion The finding of the study shows clearly that posyandu
perform less than expected. Puskesmas run posyandu as minimalist as
routine activities. Problems found in the implementation are not solved
proportionately. The study suggests that health centers should consider
variation in posyandu performance according village context. Giving
attention to village with poor performance, puskesmas could allocate
limited resources to that of essential to areas of great impact. Posyandu
need organization that orients toward cadre reward. Managing cadres
could make them work more satisfied and better position in the
community.

Keywords: performance, midwives, antenatal service



1
  District Health Office Puncak Jaya, Province of Papua
2
  Magister Health Policy and Service Management, Gadjah Mada University, Yogyakarta
3
  Magister Health Policy and Service Management, Gadjah Mada University, Yogyakarta



Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM                                         2
http://lrc-kmpk.ugm.ac.id
Heri Sutadi, Eunice Setiawan, Mubasysyir Hasanbasri; WPS No.15 April 2007 1st draft




                               Latar Belakang

       Pos Pelayanan Terpadu atau Posyandu adalah pusat
kegiatan yang diselenggarakan oleh masyarakat yang disebut
Kader untuk masyarakat secara rutin di desa, dibantu oleh
petugas Puskesmas dan Penyuluh Lapangan Keluarga
Berencana. Posyandu merupakan kegiatan rutin bulanan yang
bertujuan untuk Memantau pertumbuhan Berat Badan Anak Balita
dengan menggunakan Kartu Menuju Sehat; memberikan
konseling Gizi; dan memberikan pelayanan Gizi dan Kesehatan
Dasar seperti imunisasi dan penanggulangan Diare. Posyandu
setiap bulan dapat dipantau pertumbuhan, perkembangan dan
kesehatan anak Balita setempat. Diharapkan dengan Posyandu
pertumbuhan, perkembangan dan kesehatan anak Balita
terpantau dan terpelihara agar kelak diperoleh sumber daya
manusia yang berkualitas.
        Keberdayaan masyarakat penting dalam pembangunan
kesehatan. Ia dapat dicapai dengan memajukan partisipasi
masyarakat. Masyarakat dapat mendorong keberhasilan suatu
program melalui tiga cara, yaitu: 1) menyediakan informasi, 2)
menyediakan dukungan politik, 3) menyumbangkan sumber daya
(Bryant dan White, 1986). Dukungan masyarakat dapat dilihat
pada partisipasi masyarakat yang didefinisikan sebagai
pengambilan bagian dalam kegiatan bersama. Partisipasi juga
diartikan sebagai kesediaan untuk membantu berhasilnya setiap
program sesuai kemampuan setiap orang tanpa berarti
mengorbankan kepentingan diri sendiri. Dalam hal ini,
menggerakkan partisipasi masyarakat merupakan usaha untuk
mendapatkan dukungan masyarakat dalam rangka mensukseskan
program-program pemerintah. Dukungan masyarakat dapat
berupa tanggapan atau respon terhadap informasi yang
diterimanya, keterlibatan dalam perencanaan, keterlibatan dalam
pengambilan keputusan, keterlibatan dalam melakukan hal-hal
teknis, keterlibatan dalam memelihara dan mengembangkan hasil
pembangunan, dan keterlibatan dalam menilai pembangunan.
Dukungan masyarakat dipengaruhi oleh kebutuhan masyarakat,
kepentingan, adat-istiadat dan sifat-sifat komunal yang mengikat
setiap anggota masyarakat. Ndraha (1990) memperlihatkan
bahwa partisipasi masyarakat berfungsi sebagai masukan dan
keluaran. Sebagai keluaran, partisipasi masyarakat dapat
digerakkan atau dibangun. Partisipasi merupakan hasil stimulasi
atau motivasi yang dilakukan oleh penggerak pembangunan.
Dukungan suasana (social support) ditunjukkan oleh masyarakat.
Mereka ini adalah tokoh masyarakat dan pembuat opini umum.
Status sosial ekonomi daerah akan mempengaruhi kapasitas



Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM                                     3
http://lrc-kmpk.ugm.ac.id
Heri Sutadi, Eunice Setiawan, Mubasysyir Hasanbasri; WPS No.15 April 2007 1st draft




daerah itu untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang bertujuan
untuk kepentingan bersama.
       Ada beberapa penelitian yang berhubungan dengan
Posyandu yang pernah dilakukan. Penelitian ini berbeda dari tiga
penelitian yang relevan. Suryatin (2003) mempelajari faktor yang
berhubungan dengan partisipasi kader di posyandu. Ridwan
(2004) mempelajari pelatihan revitalisasi posyandu terhadap
kinerja. Widiastuti (2005) mempelajari pemanfaatan posyandu.
Pada penelitian ini akan memusatkan pada faktor desa dan kinerja
posyandu. Meskipun kader akan menjadi perhatian, tetapi bukan
sebagai individu, tetapi sebagai bagian dari status kapasitas desa.
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas
Posyandu dalam memberikan pelayanan di Desa. Secara khusus
ingin dipelajari (a) bagaimana kinerja Posyandu dilihat dari
cakupan? (b) apakah jumlah kader per jumlah balita berkaitan
dengan cakupan posyandu? (c) apakah status ekonomi desa
berkaitan dengan cakupan posyandu? (d) apakah komposisi
penduduk miskin berkaitan dengan cakupan posyandu?

                             Metode Penelitian

        Penelitian cross sectional ini mengambil data laporan
posyandu di puskesmas tahun 2002 hingga 2006. Wilayah
Kecamatan Tlogomulyo Kabupaten Temanggung. Unit analisis
adalah posyandu. Ada 48 posyandu yang akan dianalisis. Data
dianalisis sesuai dengan kebutuhan menjawab pertanyaan
penelitian. Untuk data kuantitatif akan dilakukan deskripsi
univariabel dan bivariabel. Kinerja posyandu diukur dari status gizi
yang tercermin sistem SKDN. Persentase yang naik timbangan
dibandingkan dengan yang datang. Data dari form pelaporan gizi.
Rasio kader dan balita diukur dari jumlah kader per desa
dibandingkan dengan jumlah balita yang ada di tempat itu. Rasio
tinggi jika nilai rasio itu lebih besar dari angka rata-rata. Rasio
rendah jika nilai rasio di bawah rata-rata. Status ekonomi desa
dilihat dari lapangan pekerjaan dari sebagian besar penduduk.
Komposisi penduduk miskin dilihat dari persentase keluarga
berstatus prasejahtera di desa dibandingkan seluruh keluarga.

                                      Hasil

Kinerja Posyandu
       Kinerja Posyandu akan dilihat dari perbandingan antara
balita yang ditimbang oleh kader setiap bulan di masing-masing
desa selama tahun 2005 dan tahun 2006. Kami menggunakan
indikator Baik atau Buruk berdasarkan nilai hasil kunjungan balita



Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM                                     4
http://lrc-kmpk.ugm.ac.id
Heri Sutadi, Eunice Setiawan, Mubasysyir Hasanbasri; WPS No.15 April 2007 1st draft




yang ditimbang pada tahun 2006 di atas rata-rata hasil kunjungan
balita tahun tersebut dan kenaikan persentase dari tahun 2005 ke
tahun 2006.

              Tabel 1. Rata-rata Persentase Balita yang Ditimbang
                                                        Nilai di atas
                             Persentase kenaikan                             Nilai
   Desa        2005   2006                               rata-rata
                                  2005-2006                                 Kinerja
                                                        tahun 2005
Losari         62,7   77,9          15,2                      1                2
Gedegan        66,7   75,9           9,2                      1                2
Tlilir         71,3   79,3           8,0                      1                2
Sriwungu       72,0   82,3          10,3                      1                2
Kerokan        86,6   81,1          -5,5                      1                1
Candisari      91,1   90,3          -0,8                      1                1
Pagersari      62,8   70,5           7,7                      0                1
Legoksari      59,3   63,5           4,2                      0                1
Tlogomulyo     75,5   69,9          -5,6                      0                0
Tanjungsari    65,5   59,8          -5,7                      0                0
Balerejo       67,8   67,2          -0,6                      0                0
Langgeng       71,3   70,2          -1,1                      0                0
Rata-rata      69,4   73,2


        Pengukuran kinerja pada kolom 6 dibagi menjadi 3
kategori. Kenaikan dari tahun 2005 ke tahun 2006 dan nilai di atas
rata-rata 2006 masing-masing memiliki nilai 1. Jika tidak satu pun
terjadi hal di atas maka diberi nilai 0. Secara umum hasil rata-rata
kunjungan balita tahun 2006 lebih tinggi dari hasil tahun 2005
walaupun masih berada di bawah target nasional kunjungan balita
ke posyandu yakni 80%. Empat desa yang buruk kunjungan
balitanya adalah desa Tlogomulyo, Tanjungsari, Balerejo dan
Langgeng; tetapi yang paling buruk hasil kunjungan balitanya
adalah desa Tanjungsari. Hal ini disebabkan kunjungan balita
tahun 2006 paling rendah dibanding kunjungan balita tahun 2005,
dan hasil kunjungan balita pada tahun 2006 berada di bawah rata-
rata kecamatan. Desa yang hasil kunjungannya baik adalah desa
Losari, Gedegan, Tlilir dan Sriwungu; dan yang paling baik adalah
desa Sriwungu, karena hasil kunjungan balita tahun 2006
meningkat dibanding hasil kunjungan balita tahun 2005, dan lebih
tinggi dari pada rata-rata kecamatan. Kenaikan ini didukung peran
kader yang ”menjemput bola” dengan mendatangi dan
menimbang balita yang tidak dapat hadir saat posyandu
diselenggarakan.


Kenaikan Berat Badan
       Tabel 2 menunjukkan nilai kinerja disebut dua apabila hasil
pada tahun 2006 berada di atas rata-rata, dan terjadi peningkatan
hasil penimbangan balita dari tahun 2005 ke tahun 2006. Secara


Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM                                     5
http://lrc-kmpk.ugm.ac.id
 Heri Sutadi, Eunice Setiawan, Mubasysyir Hasanbasri; WPS No.15 April 2007 1st draft




umum hasil rata-rata kenaikan berat badan balita tahun 2006 lebih
rendah dari hasil tahun 2005 sehingga semakin jauh berada di
bawah target nasional kenaikan berat badan balita yakni 80%.
Empat desa yang buruk hasil kenaikan berat badan balitanya
adalah desa Tanjungsari, Kerokan, Sriwungu dan Langgeng;
tetapi yang paling buruk hasil kunjungan balitanya adalah desa
Langgeng, karena hasil kenaikan berat badan balita tahun 2006
merosot paling rendah dibanding hasil kenaikan berat badan balita
tahun 2005, dan berada di bawah rata-rata kecamatan tahun
2006. Desa yang hasil kenaikan berat badannya paling baik
adalah desa Pagersari, karena satu-satunya desa dengan hasil
kenaikan berat badan balita tahun 2006 meningkat dibanding hasil
tahun 2005, dan lebih tinggi dari pada rata-rata kecamatan
meskipun masih jauh berada di bawah target nasional kenaikan
berat badan balita yakni 80%. Hasil penimbangan balita tahun
2006 yang semakin jauh dari target nasional ini menunjukkan
adanya penurunan kenaikan berat badan balita yang
kemungkinan dipicu oleh adanya pengaruh krisis ekonomi yang
semakin terasa di desa.

    Tabel 2. Rata-rata persentase Kenaikan Berat Balita yang ditimbang
                          menurut desa dan tahun
                     %        %         Perbedaan         Dibanding         Nilai
         Desa
                    2005     2006       2005-2006         rata-rata        Kinerja
Pagersari           64,4      67,1          2,7                1               2
Legoksari           64,3      64,3          0,0                1               1
Balerejo            70,1      68,4          -1,7               1               1
Candisari           75,1      68,9          -6,2               1               1
Losari              47,1      47,2          0,1                0               1
Gedegan             51,9      59,0          7,1                0               1
Tlilir              50,6      54,7          4,1                0               1
Tlogomulyo          56,0      56,1          0,1                0               1
Tanjungsari         60,5      58,0          -2,5               0               0
Kerokan             67,1      59,4          -7,7               0               0
Sriwungu            62,7      61,9          -0,8               0               0
Langgeng            71,9      61,3         -10,6               0               0
Rata-rata           64,2      62,1



Kinerja Kader
      Keaktifan kader dapat dilihat pada jumlah kader yang hadir
saat posyandu diselenggarakan yakni lima orang atau lebih
disebut lengkap. Tabel 3 menunjukkan kehadiran kader yang
lengkap atau tidak lengkap tidak mempengaruhi kunjungan balita



Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM                                      6
http://lrc-kmpk.ugm.ac.id
Heri Sutadi, Eunice Setiawan, Mubasysyir Hasanbasri; WPS No.15 April 2007 1st draft




ke posyandu. Masyarakat masih belum menyadari manfaat
posyandu bagi anak balitanya. Tahun 2006 hubungan itu terlihat
hampir tiga kali lipat cakupan di atas rata-rata terkait dengan
kehadiran kader. Kemajuan ini berkat perjuangan para kader
untuk ”menjemput bola” dengan mendatangi dan menimbang
balita di rumah jika tidak dapat hadir saat posyandu
diselenggarakan. Ini memperlihatkan adanya hubungan antara
tercapainya kehadiran kader dengan tercapainya kunjungan balita.
Rata-rata kehadiran kader lengkap terhadap kunjungan bayi sejak
tahun 2002 sampai dengan tahun 2006. Hanya pada tahun 2002
kunjungan bayi ke posyandu dengan kader lengkap tidak sesuai,
tetapi pada tahun berikutnya kehadiran kader yang lengkap
sepadan dengan kunjungan bayi tercapai. Hal ini terjadi berkat
perjuangan para kader menyelenggarakan posyandu dengan cara
memberi penyuluhan kepada orang tua atau ibu bayi tentang
pentingnya penimbangan dan periksa kesehatan bagi bayinya di
posyandu.

 Tabel 3.Persentase Posyandu yang Kehadiran Kadernya di atas rata-rata
                 Kunjungan Balita dan Bayi di Posyandu
   Rata-rata Kehadiran
                               2002       2003       2004        2005        2006
          Kader
Kunjungan Balita
Tidak Lengkap                  50%        17%        20%         50%         25%
Lengkap                        17%        17%        14%         50%         63%
Total                           4          2          2           6           6
Kunjungan Bayi
Tidak Lengkap                  50%        67%        40%          50%        50%
Lengkap                        33%        83%        43%         100%        88%
Total                           5          9          5            11         9


        Desa kami sebut “miskin” bila jumlah penduduk miskin di
situ lebih besar dari 37%. Kami memeperoleh angka ini dari rata-
rata penduduk miskin sekecamatan Tlogomulyo menurut Biro
Pusat Statistik tahun 2006. Tabel 4 memaparkan kehadiran kader
terhadap status kemiskinan desa sejak tahun 2002 sampai
dengan tahun 2006. Hanya pada tahun 2002 kehadiran kader
status desa tidak miskin lebih rendah dibanding kehadiran kader
desa miskin, tetapi tahun berikutnya kehadiran kader desa tidak
miskin lebih baik daripada desa miskin. Hal ini terjadi
kemungkinan karena adanya keterbatasan kader desa miskin
yang lebih mengutamakan untuk survive bagi keluarganya.




Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM                                     7
http://lrc-kmpk.ugm.ac.id
Heri Sutadi, Eunice Setiawan, Mubasysyir Hasanbasri; WPS No.15 April 2007 1st draft




    Tabel 4. Rata-rata Kehadiran Kader yang Lengkap terhadap Status
                            Kemiskinan Desa
    Lebih dari 37%              2002       2003          2004   2005         2006
        Miskin                  57%        57%           57%    71%          57%
     Tidak miskin               40%        60%           60%    100%         80%
      Grand Total                6          6             7      10           8


       Tabel 5 memaparkan kunjungan balita sejak tahun 2002
sampai dengan tahun 2006. Tahun 2002 di desa tidak tertinggal
kunjungan balita ke posyandu lebih sedikit dibanding desa
tertinggal, tetapi tahun berikutnya kunjungan balita ke posyandu
desa tidak tertinggal lebih banyak. Hal ini terjadi karena ada peran
kader yang ”menjemput bola” dengan mendatangi dan
menimbang balita yang tidak hadir.

             Tabel 5. Rata-Rata Kunjungan Balita Ke Posyandu
                  2002            2003            2004          2005         2006
    Ya            43%             14%             14%           57%          29%
   Tidak          20%             20%             20%           70%          80%
   Total            4              2               2             6            6


       Tabel 6 menunjukkan persentase rata-rata balita yang naik
berat badannya menurut status Desa sejak tahun 2002 sampai
dengan tahun 2006. Sejak tahun 2002 sampai dengan tahun 2006
ternyata status desa yang tidak tertinggal tidak berpengaruh
terhadap kenaikan berat badan balita. Bahkan yang kenaikan
berat badan balitanya tidak mencapai rata-rata kecamatan lebih
banyak dari pada yang tercapai. Baru kemudian pada tahun 2006
jumlah desa yang mencapai rata-rata kecamatan dengan yang
tidak tercapai sama, padahal angka ini masih jauh berada di
bawah angka nasional yakni 80%.

                     Tabel 6. Balita naik berat badannya
                         2002            2003       2004        2005        2006
Tertinggal               14%             14%        14%         71%         57%
Tidak                     0%             20%        20%         40%         40%
Total                      1              1          1           7           6



Kepuasan Kader
       Kepuasan kader tersirat dari jawaban kader saat menjawab
pertanyaan peneliti, ”Apakah ada keluhan maupun harapan
selama anda menjalankan tugas sebagai kader Posyandu?”
Pengetahuan kesehatan dan belajar saat bekerja merupakan
salah satu faktor yang dihargai oleh kader. Seorang kader bahkan



Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM                                     8
http://lrc-kmpk.ugm.ac.id
Heri Sutadi, Eunice Setiawan, Mubasysyir Hasanbasri; WPS No.15 April 2007 1st draft




berterimakasih bisa diikutkan dalam pelatihan kader sehingga
kader dapat belajar dan memperoleh banyak pengetahuan yang
diterapkan dalam perilaku yang selama ini tidak mereka pahami.
Mereka bahkan berharap kader memiliki kemampuan yang lebih
baik lagi sehingga bisa memelihara kesehatan keluarga dan
masyarakat. Seorang kader lain berterima kasih karena menjadi
kader membuka dirinya kapada pemahaman tentang flu burung,
ASI ekslusif, diare, pertumbuhan bayi, gizi, dan penyakit infeksi.
Kader kemudian menjadi memahami pola hidup sehat dan
pencegahan berbagai macam penyakit. Contoh-contoh lain dari
pernyataan kader adalah ”Saya senang karena dapat menambah
pengetahuan tentang cara merawat bayi sejak dalam kandungan
sampai balita; saya senang sekali tambah pengalaman;
mengetahui tentang sedikit kesehatan; pengalaman saya menjadi
kader adalah menambah pengalaman saya cara mendidik anak;
saya merasa senang karena saya tambah pengetahuan bagi diri
saya juga masyarakat lainnya.”
        Alasan sosial juga menentukan keaktifan kader. Kader
senang berkumpul dengan sesama kader. Bagi mereka, setiap
kegiatan pos-yandu menambah pengalaman dan bimbingan.
Dengan berkumpul bersama, mereka dapat berbagi pengalaman
tentang kesehatan. Seorang kader mengaku secara pribadi, ia
merasa senang dan bangga menjadi kader karena berguna bagi
masyarakat setempat dan merasa mempunyai tanggung jawab.
Lebih jauh, menjadi kader merupakan amal perbuatan yang hanya
mengharapkan balasan dari Tuhan Yang Maha Esa. Selain alasan
sosial, ada kader yang tertarik pada bonus. Bagi mereka, menjadi
kader menarik karena memperoleh bonus berupa payung,
seragam dan kepercayaan dari masyarakat. Seorang kader
mengaku dirinya sangat diperhatikan oleh perangkat desa,
terutama Pak Lurah. Kader bisa mendapat tanah bengkok dari
Kelurahan. Di beberapa puskesmas, kader memperoleh obat
gratis.
       Tantangan menjadi kader. Salah pengertian dari
masyarakat seringterjadi. Ada warga masyarakat yang mengira
akan memperoleh banyak bayaran apabila ada pasien askes yang
perlu diantar ke rumah sakit. Meskipun tidak pernah menerima
bayaran, kader seringkali diduga memperoleh uang dari asuransi
kesehatan. Dari sisi masyarakat, tantangan kader berupa
kesadaran masyarakat yang kurang untuk menimbangkan balita.
Masyarakat yang kurang memahami arti penting posyandu tidak
mau menimbangkan anak balitanya. ”Jadi kader yang repot
karena masyarakat selalu mementingkan kepentingannya sendiri”.
Balita sering tidak ditimbang ke posyandu karena orang tua sibuk
sehingga tidak terpantau naik atau turun timbangannya. Kader



Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM                                     9
http://lrc-kmpk.ugm.ac.id
Heri Sutadi, Eunice Setiawan, Mubasysyir Hasanbasri; WPS No.15 April 2007 1st draft




juga mengeluh karena petugas puskesmas datang terlalu siang
sehingga masyarakat harus menunggu terlau lama.
       Harapan terhadap puskesmas. Kader mengharapkan
puskesmas     memberikan     keterampilan     untuk    menyuluh
masyarakat karena sering kali merasa sulit menjawab atau
menggunakan alat bantu apabila ada pertanyaan dari masyarakat.
Jika kader memiliki pengetahuan dan bisa memberi penyuluhan
dengan benar maka kesalahan tafsir dapat dihindari. Kader sendiri
mengusulkan agar masalah kebersihan lingkungan menjadi
perhatian puskesmas saat petugas mendatangi posyandu.
Kebersihan lingkungan merupakan salah satu faktor penyebab
timbulnya penyakit baik dari limbah kotor atau kondisi kumuh.
Kader juga mengharapkan ada honor untuk setiap pertemuan
karena kegiatan kader pantas diimbali jasa. Berhubung kader
tidak dibayar, kader meminta pelayanan keluarga berencana
untuk mereka digratiskan.

                                Pembahasan

       Dimana peran puskesmas? Puskesmas sejak awal
merupakan bentuk tanggung jawab pemerintah dalam bidang
primary health care and primary care. Sebagai badan primary
health care, puskesmas melindungi masyarakat dengan cara
mengidentifikasi masalah yang menjadi ancaman bersama dan
menjadikan mereka sebagai program prioritas. Demi kepentingan
bersama itu, puskesmas merupakan alat kebijakan yang
memberikan proteksi kepada masyarakat agar tidak terjangkit
penyakit dan mengalami gangguan kesehatan. Sebagai fungsi
primary care, puskesmas berperan mendeteksi penyakit yang
membutuhkan penanganan lanjutan. Puskesmas berusaha
menjangkau masyarakat yang tidak memiliki masalah kesehatan
dan karena itu tidak datang mencari pertolongan. Puskesmas
mendukung pelayanan yang diberikan oleh kader melalui staf
yang ditunjuk ke posyandu. Kader bisa melaksanakan
penimbangan. Tetapi ketika terjadi masalah yang memerlukan
tindak lanjut, kapasitas kader sangat terbatas. Tindak lanjut
biasanya diserahkan kepada keluarga agar mereka melakukan
kunjungan ke puskesmas. Puskesmas idealnya membantu
seluruh posyandu. Tetapi jika hal itu dilakukan, bisa juga terjadi
ketidakadilan. Posyandu dengan kader desa yang kuat sudah bisa
mandiri dan memerlukan bantuan sedikit dari puskesmas.
Sebaliknya posyandu dengan kemampuan yang lemah justru
sangat memerlukan bantuan. Puskesmas dalam hal ini dapat
memprioritaskan daerah dengan posyandu yang lemah
dibandingkan yang kaya.



Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM                                10
http://lrc-kmpk.ugm.ac.id
Heri Sutadi, Eunice Setiawan, Mubasysyir Hasanbasri; WPS No.15 April 2007 1st draft




       Penelitian ini hanya menganalisis data yang tersedia dan
bersifat luas. Jika ada data puskesmas mengenai siapa yang
bertanggung jawab pada masing-masing memperlihatkan kinerja
posyandu sehingga kita tidak bisa mencek apakah ada masalah
dalam fungsi puskesmas dalam mengupayakan sebuah posyandu
berjalan dengan prosedur yang bagus. Keadaan ini memastikan
perlunya evaluasi tahunan untuk menilai apakah fungsi tenaga
puskesmas itu berjalan atau tidak. Monitoring yang benar tentang
status gizi dan pertumbuhan anak membutuhkan strategi yang
sangat berbeda tergantung dari masalah kesehatannya dan status
sosial ekonomi penduduk yang memiliki masalah. Petugas
puskesmas dan kerja sama dengan kader belum merespon
kebutuhan spesifik dari penduduk yang memerlukan bantuan.
      Fungsi Kader. Kader bisa dianggap sebagai perwakilan dari
masyarakat yang bekerja untuk masyarakat sendiri. Kader bekerja
sebagai res-pon fungsi sosial saat melihat pelayanan di
puskesmas tidak selalu mudah dijangkau oleh anggota
masyarakat. Sayangnya masih banyak masyarakat belum
menghargai pekerjaan kader. Kepala desa banyak membantu
kader agar mereka bisa lebih senang bekerja, seperti dengan
memberi hadiah berupa tanah bengkok atau pemerintah desa
mengangkat kader seolah-olah setingkat dengan perangkat desa.
       Fungsi    Puskesmas.       Keberhasilan   fungsi   kader
membangkitkan masyarakat untuk datang ke posyandu, tidak
terlepas dari fungsi penting puskesmas sebagai pembina kader.
Pembinaan puskesmas saat ini sebatas apa yang dilakukan
secara langsung dalam kegiatan lapangan. Meski demikian, fungsi
puskemas perlu dibangun kembali sebagai pemberdaya kader.
Pelatihan yang sederhana tentang pengobatan ringan dan
kegiatan public health perlu dilakukan karena sangat bermanfaat
bagi kader untuk kepentingan masyarakat.

Kesimpulan
       Kinerja posyandu di Tlogo Mulyo masih di bawah rata-rata
nasional. Meskipun demikian, kinerja antar desa cukup bervariasi.
Kinerja posyandu sulit diukur dari kehadiran dan kelengkapan
mereka karena kehadiran masyarakat merupakan faktor luar yang
tersendiri. Indikator kinerja outcome posyandu bisa lebih baik
pada kasus kader menjemput bola ke rumah-rumah dan
menimbang balita. Desa yang relatif mampu menunjukkan kinerja
yang lebih bagus dibandingkan dengan desa yang relatif miskin.
Penelitian ini memperlihatkan secara jelas ada masalah dalam
kinerja posyandu tetapi kebijakan puskesmas dalam mengelola
posyandu baru terbatas melaksanakan kegiatan rutin.



Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM                                11
http://lrc-kmpk.ugm.ac.id
Heri Sutadi, Eunice Setiawan, Mubasysyir Hasanbasri; WPS No.15 April 2007 1st draft




       Puskesmas perlu memperhatikan variasi antar desa agar
petugas dapat terfokus di desa yang kinerjanya lebih buruk.
Dengan memfokuskan desa yang perlu perhatian, maka beban
petugas tidak terlalu berat dan bisa menghasilkan dampak yang
lebih jelas. Posyandu memerlukan pengorganisasian lebih
berorientasi pada penghargaan kader. Pengelolaan kader mampu
membuat kader lebih senang bekerja dan memperoleh kedudukan
yang membuat mereka terhormat.




                               Daftar Pustaka


Anonim, 2003. National Plan of Action Indonesia’s Education for
All, Draft. National Coordination Forum Education for All

Departemen Kesehatan, 1990. Pedoman Kerja Puskesmas, Jilid
IV. Depkes RI, Jakarta.

Departemen Kesehatan, 1995a. ARIF Pedoman Manajemen
Peran Serta Masyarakat , Jakarta

Departemen Kesehatan, 1997. Pendekatan Kemasyarakatan.
Depkes RI, Jakarta

Departemen Kesehatan, 1999. Pedoman Pengenalan Tanda
Bahaya Pada Kehamilan, Persalinan dan Nifas. Depkes RI,
Jakarta

Departemen Kesehatan, 2000. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan
Masyarakat (JPKM). Depkes RI, Jakarta

Departemen Kesehatan, 2000. Paket KIE untuk Pemberdayaan
Masyarakat di Bidang Ibu dan Anak. Depkes RI, Jakarta

Departemen Kesehatan, 2000. Panduan MP-ASI. Depkes RI,
Jakarta

Departemen Kesehatan, 2000. Panduan Penggunaan KMS Balita.
Depkes RI, Jakarta

Departemen Kesehatan, 2000. Panduan Umum Pemberdayaan
Masyarakat di Bidang Kesehatan Ibu dan Anak. Depkes RI,
Jakarta



Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM                                12
http://lrc-kmpk.ugm.ac.id
Heri Sutadi, Eunice Setiawan, Mubasysyir Hasanbasri; WPS No.15 April 2007 1st draft




Departemen    Kesehatan,     2000.    Pedoman   Pelaksanaan
Pendekatan Partisipatif Masyarakat Dalam Meningkatkan Kinerja
Posyandu. Depkes RI, Jakarta.

Departemen Kesehatan, 2000. Pedoman Umum Mobilisasi dan
Pengelolaan Sumber Daya Masyarakat untuk Ibu dan Anak.
Depkes RI, Jakarta

Depatemen Kesehatan RI dan UNICEF, 1999, Panduan Umum
Pemberdayaan Masyarakat dalam bidang Kesehatan Ibu dan
Anak. Jakarta.

Depdagri, 1996. Panduan dari Berbagai Program Pembangunan
Masyarakat Desa, Jakarta.

Depdagri, 1999.Surat Edaran mendagri No.4113/536/Sc, tentang
Revitalisasi Posyandu, Jakarta.

Mubyanto, Soetisno, Retnandari, 1997. Menuju Kader Kesehatan
Desa yang efektif. Pusat Penelitian Pengembangan Pedesaan
dan Kawasan. Universitas Gadjah mada, Yogyakarta.

Ndraha, T, 1990, Pembangunan Masyarakat, Rineka Cipta,
Jakarta.

Pengaruh Revitalisasi Posyandu Terhadap Kinerja Posyandu Di
Kabupaten Tanggamus Propinsi Lampung. Tesis Pascasarjana
IKM Universitas Gadjah Mada.

Rakernas Luar Biasa PKK, 2000. Pedoman Kelembagaan PKK.
Bandung

Rakernas VI PKK, 2005. Tentang Pengelolaan dan Kelembagaan
PKK. Bandung

Ridwan. 2004. Pengaruh Revitalisasi Posyandu Terhadap Kinerja
Posyandu Di Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung

Sembiring, N., 2004. Posyandu sebagai Saran Peran Serta
Masyarakat dalam Usaha Peningkatan Kesehatan Masyarakat.
USU Digital Library.

Suryatin, Slamet. 2003. Beberapa Faktor Yang Berhubungan
Dengan Partisipasi Kader Dalam Kegiatan Posyandu Di Wilayah
Puskesmas Magelang Selatan Kota Magelang. Tesis
Pascasarjana IKM Universitas Gadjah Mada.


Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM                                13
http://lrc-kmpk.ugm.ac.id
Heri Sutadi, Eunice Setiawan, Mubasysyir Hasanbasri; WPS No.15 April 2007 1st draft




WHO, 1993. Kader Kesehatan Masyarakat, Alih                               bahasa
Adiheru.S, Penerbit Buku Kedoketran EGC, Yogyakarta.

Widiastuti, I Gusti Agung Ayu Mas. 2005. Peran Serta Masyarakat
Dan Tingkat Pemanfaatan Pelayanan Posyandu di Kota
Denpasar. Tesis Pascasarjana IKM Universitas Gadjah Mada.

Yulkadri, 2002. Memberdayakan Polindes. Kerjasama Pusat Studi
Kebijakan dan Kependudukan UGM dan Ford Foundation.

Zulkifli., 2004. Posyandu dan Kader Kesehatan. USU Digital
Library.




Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM                                14
http://lrc-kmpk.ugm.ac.id

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:2965
posted:5/29/2010
language:Indonesian
pages:14