penduduk dan tenaga kerja

Document Sample
penduduk dan tenaga kerja Powered By Docstoc
					Makalah Teori ekonomi kependudukan




              PENDUDUK DAN TENAGA KERJA




                               OLEH :

                         BURHANUDDIN

                         ( A11107106 )



                  JURUSAN ILMU EKONOMI

                     FAKULTAS EKONOMI

                UNIVERSITAS HASANUDDIN

                                2010
                                PENDAHULUAN

         Pembangunan nasional di bidang sosial ekonomi telah mem berikan
dampak     positif   terhadap    pemecahan   masalah-masalah   kependudukan.
Walaupun demikian, hingga tahun terakhir Repe lita IV pertumbuhan
penduduk masih perlu diturunkan sedangkan kualitas penduduk masih perlu
ditingkatkan. Masalah lain adalah persebaran yang belum merata. Masih cukup
tingginya laju pertumbuhan penduduk disebabkan masih lebih tingginya
tingkat kelahiran dibanding tingkat kematian. Pertumbuhan penduduk yang
tinggi    menyebabkan    hasil-hasil   pembangunan   kurang    bisa   dirasakan
masyarakat. Oleh karena itu upaya langsung untuk menurunkan tingkat
kelahiran masih perlu ditingkatkan. Tingkat kematian, terutama kematian bayi
dan anak, erat kaitannya dengan masalah kualitas penduduk. Untuk
meningkatkan kualitas penduduk usaha yang dapat menaikkan tingkat
kesehatan, pengetahuan dan sikap serta perilaku masyarakat untuk hidup sehat
terus ditingkatkan.Upaya langsung untuk menurunkan tingkat kelahiran dilak -
sanakan melalui program keluarga berencana, yaitu dengan mengajak
pasangan usia subur (PUS) agar memakai alat kontrasepsi. Jumlah PUS yang
memakai alat kontrasepsi ini terus di-tingkatkan. Sedangkan jenis alat
kontrasepsi yang dipakai ditingkatkan kepada yang lebih efektif. Usaha yang
dirintis sejak Pemerintahan Orde Baru ini telah memberikan hasil yang
menggembirakan. Pada tahun 1988/89, 18,8 juta pasangan usia subur telah
ikut program keluarga berencana. Di samping tujuan penurunan tingkat
kelahiran keikutsertaan dalam program keluarga berencana juga dimaksudkan
untuk lebih meningkatkan kesejahteraan penduduk, terutama ibu dan anak.
Sebelumnya telah kita ketahui bahwa tujuan pembangunan ekonomi adalah

peningkatan standar hidup penduduk negara yang bersangkutan yang biasa diukur

dengan pendapatan riil perkapita. Standar hidup tidak akan dapat dinaikkan kecuali

jika output total meningkat dengan lebih cepat daripada pertumbuhan jumlah

penduduk. Untuk mempengaruhi perkembangan output, maka diperlukan adanya

penambahan investasi yang cukup besar untuk dapat menyerap pertambahan

penduduk. Pada kesempatan kali ini, akan membahas tentang hubungan pertumbuhan

penduduk dengan perkembangan ekonomi. Peningkatan                    kesejahteraan

masyarakat, terutama peningkatan derajat kesehatannya, akan berpengaruh

menurunkan tingkat kematian, terutama kematian bayi dan anak. Pada tahun

1980 angka kematian bayi diperkirakan 108 per seribu kelahiran. Angka itu

turun menjadi sekitar 70 - 75 pada tahun 1985. Usaha-usaha untuk

menurunkan angka kematian bayi terus dilakukan antara lain melalui

peningkatan pelayanan kesehatan. Diusahakan agar pelayanan kesehatan dapat

dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat dengan mudah dan murah. Di

samping itu juga terus diusahakan agar mutu gizi penduduk dan mutu

pendidikan makin meningkat.


   Penduduk yang terkonsentrasi di suatu tempat umumnya menimbulkan

tekanan   yang   besar   terhadap   lingkungan    sekitarnya   dan    mempersulit

penggunaan sumber daya manusia secara lebih efisien. Di lain pihak

kekurangan penduduk       di   suatu daerah    akan menyebabkan         kurangnya
pemanfaatan sumber daya alam yang ada. Demi peningkatan efisiensi su mber

daya yang ada, ketimpangan yang demikian perlu diatasi. Pada tahun 1980

diperkirakan 62,1% penduduk bertempat tinggal di pulau Jawa yang lu asnya

hanya sekitar 6,9% dari seluruh luas wilayah Indonesia. Sejak itu ketimpangan

tersebut telah agak berkurang. Pada tahun 1988 diperkirakan bagian penduduk

Indonesia yang tinggal di pulau Jawa telah menurun menjadi 60,2%.




A. PERANAN PENDUDUK DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI

    Ada 4 aspek penduduk yang perlu diperhatikan negara-negara sedang

    berkembang, yaitu:

-   Adanya tingkat perkembangan penduduk yang relatif tinggi

-   Adanya struktur umum yang favorable

-   Tidak adanya distribusi penduduk yang merata

-   Tidak adanya tenaga kerja yang terlatih dan terdidik



    1. Tingkat Perkembangan Penduduk yang Tinggi

       Tidak selamanya pertumbuhan penduduk yang cepat memberikan dampak

yang negatif terhadap perkembangan ekonomi dalam suatu negara. Kaum klasik

mengemukakan bahwa pertumbuhan penduduk yang cepat pada suatu negara yang

maju, akan memberikan dampak positif. Dengan bertambahnya penduduk maka daya

beli masyarakat semakin meningkat. Hal ini dikarenakan dalam negara maju, tingkat
tabungan yang dimiliki mampu mengimbangi laju pertumbuhan penduduk, sehingga

dengan penduduk yang banyak justru meningkatkan purchasing power. Permintaan

akan meningkat seiring bertambahnya penduduk. Penawaran pun akan bertambah

pula karena semakin banyak kebutuhan penduduknya yang harus dipenuhi. Efek yang

lain, dengan semakin banyaknya penduduk yang berkualitas, maka sektor tenaga

kerja ahli mudah didapat. Apalagi di negara maju ditunjang oleh banyak faktor. Hal

ini sesuai dengan pendapat Keynes, bahwa dalam negara maju meningkatnya

produktivitas tenaga kerja dan permintaan tenaga kerja akan selalu mengiringi

kenaikan jumlah penduduk.

       Pertumbuhan penduduk di negara berkembang umumnya memberikan efek

yang negatif, karena pertumbuhan penduduk tidak diimbangi dengan kualitas dan

produktivitas manusianya tersebut. Sebagaimana dijelaskan oleh Kaum Klasik bahwa

selalu ada perlombaan antara tingkat perkembangan output dengan tingkat

perkembangan penduduk yang akhirnya akan dimenangkan oleh perkembangan

penduduk. Hal itu terjadi karena penduduk juga berfungsi sebagai tenaga kerja,

sehingga biasanya sering terdapat kesulitan dalam penyediaan lapangan pekerjaan.

Kalau misalnya penduduk tersebut dapat mendapatkan pekerjaan, maka akan dapat

meningkatkan kesejahteraan bangsanya, namun apabila tidak, mereka akan menjelma

menjadi pengangguran yang hanya akan meningkatkan angka ketergantungan dan

otomatis menurunkan tingkat kesejahteraan suatu negara. Produktivitas penduduk di

negara berkembang relatif rendah sehingga mengakibatkan rendahnya produksi. Hal

itu dikarenakan sebagian besar penduduk di negara berkembang berasal dari sektor
agraris, sehingga hasil dari produksinya biasanya hanya habis untuk dikonsumsi

sendiri. Bahkan untuk konsumsi sendiri saja masih kurang, sehingga mereka tidak

terlalu memikirkan tentang menabung (saving) apalagi investasi.

a.       Isu Kependudukan

         Di negara berkembang, masalah kependudukan merupakan masalah yang sulit

untuk diatasi. Hal ini dikarenakan pertumbuhan penduduk tidak diimbangi dengan

tingkat tabungan yang cukup. Apalagi jika kualitas penduduk itu sendiri tidak cukup

bagus setidaknya untuk memproduksi atau memenuhi kebutuhannya sendiri. Dia akan

menjadi pengangguran yang tentunya akan mengurangi tingkat kesejahteraan. Oleh

karena    itu,   di   negara   berkembang   dibutuhkan   suntikan   investasi   untuk

mengembangkan perekonomian.



b.   Trend Fertilitas dan Mortalitas

         Pada umumnya tingkat kelahiran yang tinggi dihubungkan dengan kemiskinan

nasional. Namun adalah keliru bila kita menyiimpulkan bahwa berhubung angka

kelahiran yang tinggi pada umumnya terdapat di negara miskin. Sedangkan angka

kelahiran rendah terdapat di negara maju. Maka dengan meningkatkan pendapatan

per kapita lalu tingkat kelahiran akan menurun. Juga tidak ada kepastian hubungan

antara laju pertumbuhan pendapatan nasional per kapita dengan tingkat kelahiran.

Namun jelas ada bukti bahwa ada hubungan positif anatara sidtribusi pendapatan

dengan tingkat kelahiran. Akhirnya kita dapat menyimpulkan bahwa negara-negara

yang berjuang untuk mengurangi tidak meratanya penghasilan atau dengan kata lain
berusaha menyebarkan hasil (benefit) dari pembangunan ekonomi ke sebagian besar

penduduk akan mungkin sekali mampu menurunkan tingkat kelahiran daripada negar-

negara yang kurang memperhatikan pemerataan hasil pembangunan ekonominya.




c. Pertumbuhan Penduduk dan Kebutuhan Investasi

       Untuk meningkatkan output, tambahan investasi harus cukup besar sehingga

dapat meningkatkan penghasilan riil per kapita. Tetapi kesulitan dalam hal ini sering

dialami oleh negara berkembang, sesuai dengan Teori Perangkap pada Keseimbangan

Pendapatan yang Rendah Malthus. Kesimpulannya untuk dapat mempertinggi

penghasilan per kapitanya negara berkembang memerlukan kebijakan dorongan yang

besar. Atau perekonomian harus memenuhi apa yang disebut “usaha minimum yang

sangat perlu”. Pembangunan yang secara sedikit demi sedikit pun bisa dilakukan asal

dengan memilih sektor yang yang mempunyai kapasitas berkembang yang cepat.



     2. Struktur Umur yang Tidak Favorable

       Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, bahwa pada umumnya pada

negara yang berkembang memiliki angka ketergantungan yang tinggi karena besarnya

jumlah penduduk usia muda. Proporsi yang besar dari penduduk usia muda ini tidak

menguntungkan bagi pembangunan ekonomi, karena:
  I.        Penduduk golongan usia muda, cenderung untuk memperkecil angka

       penghasilan per kapita dan mereka semua merupakan konsumen dan bukan

       produsen dalam perekonomian tersebut.

II.      Adanya golongan penduduk usia muda yang besar jumlahnya di suatu negara

         akan mengakibatkan lebih banyak alokasi faktor-faktor produksi ke arah

         “investasi-investasi sosial” dan bukan ke “investasi-investasi kapital”. Oleh

         karena itu, paling tidak ia akan menunda perkembangan ekonomi.

          3. Distribusi Penduduk yang Tidak Seimbang

            Tingkat urbanisasi yang tinggi pada umumnya terjadi pada daerah-daerah

  yang sudah maju. Sebab para penduduk lebih banyak berpindah dari daerah yang

  kurang maju ke daerah yang lebih maju, sehingga pada negara maju tingkat

  urbanisasi lebih kecil. Adanya tingkat upah yang leih menarik di sektor industri

  mendorong penduduk yang ada di desa berpindah ke kota yang menyebabkan

  penduduk di negara maju yang bekerja di sektor pertanian lebih sedikit. Berbeda

  dengan di negara yang berkembang. Urbanisasi yang tinggi menyebabkan

  ketidakseimbangan dalam proses perkembangan ekonomi antara sektor pertanian

  dengan sektor industri. Ketidakseimbangan distribusi penduduk baik antara desa dan

  kota maupun antara daerah yang lebih berkembang dan daerah yang kurang

  berkembang       akan    menghambat    jalannya      pembangunan   ekonomi   karena

  pembangunan ekonomi memerlukan mobilitas tenaga kerja yang lebih mudah, yang

  didapati di negara-negara atau daerah-daerah yang memiliki distribusi penduduk yang

  lebih merata.
4. Kualitas Tenaga Kerja yang Rendah

  Rendahnya kualitas penduduk merupakan penghalang pembangunan ekonomi

suatu negara disebabkan oleh tingkat pendidikan dan pengetahuan tenaga kerja yang

rendah. Maka menurut Schumacher pendidikan merupakan sumber daya yang

terbesar manfaatnya dibandingkan faktor-faktor produksi yang lain.



2. MASALAH KEPENDUDUKAN DI INDONESIA

     A. Masalah Akibat Angka Kelahiran

1. Total Fertility Rate (TFR)

  Hasil perkiraan tingkat fertilitas (metode anak kandung) menunjukan bahwa

penurunan tingkat fertilitas Indonesia tetap berlangsung dengan kecepatan yang

bertambah seperti nampak pada tabel di bawah ini :



         Periode (tahun)        TFR %          Penurunan/tahun

         1967 -1970             5,605            1,7

         1971 -1975             5,200            2,3

         1976 -1979             4,680            2,8

         1980 -1984             4,055                3,9

         1987 -1990             3,222                2,1



  Tingkat fertilitas secara keseluruhan dari periode 1981- 1984 ke periode 1986-

1989 turun sebesar 18 % atau sekitar 3,9% pertahun. Namun tingkat penurunan
fertilitas mulai melambat atara periode 1986-1989 dan 1987-1990 yaitu menjadi 2,1%

rata-rata pertahun.



2. Age Spesific Fertility Rate (ASFR)

   Hasil SP71 dan SP80 masih menunjukan bahwa tingkat kelahiran untuk kelompok

umur wanita 20-24 tahun adalah yang tertinggi. Namun demikian terjadi pergeseran

ke kelompok umur (25 -29) tahun pada hasil SP80 dan ini akan memberikan dampak

terhadap penurunan tingkat gfertilitas secara keseluruhan (Trend Fertilitas, Mortalitas

dan Demografi, 1994: 18) Berdasarkan dua kondisi di atas dapatlah disebutkan

beberapa masalah (terkait dengan SDM) sebagai berikut :

1) Jika fertilitas semakin meningkat maka akan menjadi beban pemerintah dalam hal

   penyediaan aspek fisik misalnya fasilitas kesehatanketimbang aspek intelektual.

2) Fertilitas meningkat maka pertumbuhan penduduk akan semakin meningkat tinggi

   akibatnya bagi suatu negara berkembang akan menunjukan korelasi negative

   dengan tingkat kesejahteraan penduduknya.

Jika ASFR 20- 24 terus meningkat maka akan berdampak kepada investasi SDM

yang semakin menurun.



B. Masalah akibat Angka Kematian

   Selama hampir 20 tahun terakhir, Angka Kematian Bayi (AKB) mengalami

penurunan sebesar 51,0 pada periode 1967-1986. Tahun 1967 AKB adalah 145 per

1000 kelahiran, kemudian turun menjadi 109 per 1000 kelahiran pada tahun 1976.
Selama 9 tahun terjadi penurunan sebesar 24,8 persen atau rata-rata 2,8 persen per

tahun. Berdasarkan SP90, AKB tahun 1986 diperkirakan sebesar 71 per 1000

kelahiran yang menunjukan penurunan sebesar 34,9 persen selama 10 tahun terakhir

atau 3,5 persen pertahun (Trend Mortalitas, 66).

  Tabel Perkiraan Angka Harapan Hidup (AHH) Tahun Nilai

    SP1971       45,7

    SP 1980      52,2

    SP 1990      59,8

    Sumber: BPS Jatim, 1996.

  Sejalan dengan penurunan AKB, AHH menunjukan kenaikan. Pada tahun 1971

AHH adalah 45,7 yang kemudian naik 6,5 tahun menjadi 52,2 pada SP80 dan

mengalami kenaikan 7,6 menjadi 59,8 pada SP90.

Masalah yang muncul akibat tingkat mortalitas adalah :

1) Semakin bertambahnya Angka Harapan Hidup itu berarti perlu adanya peran

pemerintah di dalam menyediakan fasilitas penampungan.

2) Perlunya perhatian keluarga dan pemerintah didalam penyediaan gizi yang

  memadai bagi anak-anak (Balita).

3) Sebaliknya apabila tingkat mortalitas tinggi akan berdampak terhadap reputasi

  Indonesia dimata dunia.

Pemecahan masalah angka kelahiran dan kematian :

 a) Kelahiran

    Angka kelahiran perlu ditekan melalui :
    1. Partisipasi wanita dalam program KB.

    2. Tingkat pendidikan wan ita wanita mempengaruhi umur kawin

       pertama dan penggunaan kontrasepsi.

    3. Partisipasi   dalam     angkatan       kerja   mempunyai   hubungan

       negatif dengan      fertilitas

    4. Peningkatan ekonomi dan sosial.


 b) Kematian

    Angka kematian perlu ditekan :

    1. Pelayanan kesehatan yang lebih baik
    2. Peningkatan gizi keluarga
    3. Peningkatan pendidikan (Kesehatan Masyarakat)


B.Masalah Komposisi Jumlah Penduduk
   Jumlah penduduk Indonesia berdasarkan hasil sensus tahun 1990 berjumlah
179246785 dari jumlah tersebut komposisi usianya tidak berimbang yang
menyebabkan timbulnya masalah-masalah baru. Katagori Berdasarkan Usia Sebagai
Berikut :


    U S I A(Thn)                Jumlah (Jiwa)
    0–4                         20.985.144
    5-9                         23.223.058
    10 – 14                     21.482.141
    15 - 19                     18.926.983
    20 - 24                     16.128.352
    25 - 29                     15.623.530
    30 - 34                      13.245.794
    35 – 39                       11.184.217
    40 - 44                       8.081.636
    45 - 49                       7.565.664
    50 - 54                       6.687.586
    55 - 59                       4.831.697
    60 - 64                       4.526.451
    65 - 69                       2.749.724
    70 - 74                       2.029.026
    >75                              4.415
    Sumber : Kantor BPS Jawa Timur
  Berdasarkan angka-angaka tersebut tampak penumpukan jumlah penduduk pada
usia muda, yaitu usia 0 -4 tahun berjumlah 20985144 jiwa, usia 5-9 tahun sebesar
23223058 jiwa dan 10 -14 tahun 21428141 jiwa yang mana pada usia tersebut belum
produktif masih tergantung pada orang-orang lain terutama keluarga.


Masalah-masalah yang dapat timbul akibat keadaan demikian adalah :


1) Aspek ekonomi dan pemenuhan kebutuhan hidup keluarga. Banyaknya beban
tanggungan yang harus dipenuhi biaya hidupnya oleh sejumlah manusia produktif
yang lebih sedikit akan mengurangi pemenuhan kebutuhan ekonomi dan hayat hidup.


2) Aspek pemenuhan gizi
Kemampuan ekonomi yang kurang dapat pula berakibat pada pemenuhan makanan
yang dibutuhkan baik jumlah makanan (kuantitatif) sehingga dampak lebih lanjut
adalah adanya rawan atau kurang gizi (malnutrition). Pada gilirannya nanti bila
kekurangan gizi terutama pada usia muda ( 0 -5 tahun). Akan mengganggu
perkembangan otak bahkan dapat terbelakang mental ( mental retardation ). Ini
berarti mengurangi mutu SDM masa yang akan datang.
3) Aspek Pendidikan
Pendidikan memerlukan biaya yang tidak sedikit, sehingga diperlukan dukungan
kemampuan ekonomi semua termasuk orang tua. Apabila kemampuan ekonomi
kurang mendukung maka fasilitas pendidikan juga sukar untuk dipenuhi yung
mengakibatkan pada kualitas pendidikan tersebut kurang


4) Lapangan Kerja
Penumpukan jumlah penduduk usia muda atau produktif memerlukan persiapan
lapangan kerja masa mendatang yang lebih luas. Hal ini merupakan bom waktu
pencari kerja atau penyedia kerja. Apabila tidak dipersiapkan SDMnya dan lapangan
kerja akan berdampak lebih buruk pada semua aspek kehidupan. Alternatif
Pemecahan yang diperlukan :
 (a) Pengendalian angka kelahiran melalui KB.
 (b) Peningkatan masa pendidikan.
 (c) Penundaaan usia perkawinan


B. Masalah Kependudukan dan Angkatan Kerja.
  Penduduk usia kerja didefinisikan sebagai penduduk yang berumur 10 tahun
keatas. Mereka terdiri dari angkatan kerja dan bukan angkatan kerja (BPS : 1994,30).
Penduduk yang tergolong angkatan kerja dikenal dengan Tingkat Partisipasi
Angkatan Kerja (TPAK). TPAK menurut umur mengikuti pola huruf "U" terbalik.
Angkatan rendah pada usia-usia muda karena sekolah, kemudian naik sejalan
kenaikan umur sampai mencapai 25 -29 tahun, kemudian turun secara perlahan pada
umur-umur berikutnya (antara lain karena pensiun).
  Angka kesempatan kerja yang merupakan pebandingan antara penduduk yang
bekerja dengan angkatan kerja pada tahun 1993 cukup tinggi yaitu sekitar 97,2%. Ini
berarti angka penganguran kurang lebih hanya 2,8 0/00 (BPS:1994,30). Berdasarkan
hasil sensus tahun 1994 jumlah TPAK sebesar 19.254.554 (Sensus PBS; 1990,417)
sedangkan jumlah penduduk mencapai 179.247.283 jiwa sehingga TPAK meskipun
mungkin termasuk angkatan kerja. Melihat rasio TPAK dan Non TPAK tampaknya
jauh tidak seimbang hal ini kemungkinan dapat menyebabkan masalah antara lain:


(a) Produktifitas yang dihasilkan oleh sebagian kecil manusia kemungkinan bisa
   habis dikonsumsi sebagian besar penduduk.
(b) Pendapatan perkapita akan rendah sehingga berpengaruh pada sektor ekonomi
    masyarakat.


Alternatif Pemecahan Masalah :
(a) Penyediaan lapangan kerja
(b) Peningkatan mutu SDM melalui pendidikan dan keterampilan




A. LEDAKAN PENDUDUK (POPULATION EXPLOTION)



  Faktor utama yang menentukan perkembangan penduduk adalah tingkat kematian,

tingkat kelahiran, dan tingkat perpindahan penduduk. Dua faktor yang pertama sangat

besar pengaruhnya dalam mempengaruhi laju pertumbuhan penduduk. Jumlah

penduduk yang besar secara absolut akan bertambah lebih cepat daripada jumlah

penduduk yang kecil, walaupun laju pertumbuhannya sama.
B. PEMECAHAN MASALAH KEPENDUDUKAN

  Masalah penduduk merupakan masalah yang sukar untuk diatasi. Sebenarnya kita

dapat menerapkan suatu kebijakan dari sudut tingkat kematian untuk mengurangi

tingkat pertumbuhan penduduk yaitu dengan mencegah penurunan tingkat kematian

atau kata lain meningkatkan adanya kematian, hal yang bertentangan dengan hati

nurani manusia. Cara lain yaitu dengan mengurangi kepadatan penduduk di negara

yang sedang berkembang. Tetapi karena rendahnya tingkat skil maka hal ini juga sulit

sekali dilaksanakan. Oleh karena itu kebijakan terakhir yang mungkin bisa ditempuh

ialah dengan mempengaruhi tingkat kelahiran yang mana cara ini sudah diterima

sebagai cara yang layak di negara berkembang. Salah satunya program keluarga

berencana. Tetapi masih banyak ditemui kesulitan dalam aplikasinya, yang

disebabkan oleh:

    - Adanya kemelaratan dan buta huruf di negara berkembang

    - Perkembangan ilmu obat-obatan dan ilmu kesehatan masih melupakan faktor-

        faktor psikologis dari orang-orang yang akan menjadi akseptor



   C. PEMANFAATAN SUMBER DAYA MANUSIA

1.Beberapa Konsep Ketenagakerjaan

  Yang dimaksud dengan human resource disini adalah penduduk yang berupa

tenaga kerja (human power) yang dianggap sebagai faktor produksi. Tenaga kerja
adalah penduduk pada usia kerja yaitu antara 15-64 tahun. Penduduk dalam usia kerja

ini dapat digolongkan menjadi dua:

  o    Angkatan kerja labor forced

  o    Bukan angkatan kerja




1.Macam-macam Pengangguran

  Tenaga kerja yang menganggur aadalah mereka yang ada dalam umur angkatan

kerja dan sedang mencari pekerjaan pada tingkat upah yang berlaku. Di negara

berkembang pengangguran dapat digolongkan menjadi:

    a. Visible Employment

       Akan timbul apabila jumlah waktu kerja yang sungguh-sungguh digunakan

       lebih sedikit daripada waktu kerja yang disediakan untuk bekerja.

    b. Disguised Employment

       Pengangguran ini terjadi apabila para pekerja telah menggunakan waktu

       kerjanya secara penuh dalam suatu pekerjaan dapat ditarik ke sektor-sektor

       atau pekerjaan lain tanpa mengurangi sektor outpout yang ditinggalkan.

    c. Potential Under Employment

       Merupakan suatu perluasan dari pengangguran tak kentara dalam artian suatu

       pekerja dapat ditarik dari sektor tersebut tanpa mengurangi output, tetapi

       harus dibarengi dengan perubahan-perubahan fundamental dalam metode

       produksi yang memerlukan pembentukan kapital yang berarti.
    d. Memanfaatkan Tenaga-tenaga yang menganggur

       Tenaga yang menganggur merupakan persediaan faktor produksi yang dapat

       dikombinasikan dengan faktor produksi yang lain guna meningkatkan output

       di negara yang berkembang. Masalah pemanfaatan tenaga kerja yang

       menganggur ini baik segi penawaran maupun segi permintaan hanya

       diperlukan kapital yang relatif sedikit. Keuntungan tenaga yang menganggur

       tersebut misalnya saja dalam sektor pertanian yang tenaganya menganggur

       saat tidak musim panen dialihkan atau dimanfaatkan ke dalam industri-

       industri kecil seperti yang dinyatakan oleh Profesor Leibenstein bahwa

       kemampuan untuk menghasilkan lebih banyak tergantung pada kalori yang

       dimiliki tenaga kerja itu, sehingga tidak mudah untuk menarik tenaga kerja

       dari sektor pertanian yang kemudian akan diikuti oleh penarikan bahan

       makanan dari sektor pertanian pula.



D. KUALITAS TENAGA KERJA

  Tenaga kerja merupakan faktor produksi yang heterogen sehingga diperlukan

adanya perencanaan tenaga kerja (man power planing) secara tepat. Ciri khusus yang

dimiliki faktor produksi ini adalah tidak dapat hilang atau berkurang apabila faktor

produksi itu dipakai, dimanfaatkan atau dijual. Sehingga nilainya semakin tinggi dan

keadaannya tidak berkurang. Tujuan utama faktor produksi ini           adalah guna

mendapatkan balas jasa yang disebut upah dan gaji sebagai harga dari tenaga kerja

tersebut. Jadi penawaran tenaga kerja terantung pada tinggi rendahnya tingkat upah.
Hubungan antara tingkat upah dan penawaran tenaga kerja perorangan sering

ditunjukkan oleh kurwa penawaran tenaga kerja yang berbelok ke belakang

(backward bending supply curve). Ini berarti bahwa setelah tingkat upah naik tidak

akan mendorong seseorang untuk bekerja lebih lama atau lebih giat karena pada

tingkat pendapatan yang relatif tinggi orang ingin hidup lebih santai. Tapi untuk

perekonomian sebagai keseluruhan, semakin tingginya tingkat upah masih akan

mendorong semakin banyak orang untuk masuk ke pasar tenaga kerja.
                                    PENUTUP

  Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa menurut jumlah penduduknya,

Indonesia termasuk negara yang besar dan menduduki urutan terbesar ke tiga di

antara negara-negara berkembang setelah Gina dan India. Menurut hasil sensus

penduduk tahun 1990 penduduk Indonesia berjumlah 179,4 juta jiwa. Jumlah tersebut

meningkat sekitar 1,98% per tahunnya. Berdasarkan hasil proyeksi penduduk tahun

1995 adalah 195,3 juta jiwa. Dari kondisi semacam ini timbul berbagai masalah

kependudukan antara lain: Ketidakmerataan penyebaran penduduk di setiap Propinsi.

Di Indonesia berdasarkan SP 1990 kurang lebih 60% penduduk Indonesia tinggal di

Pulau Jawa yang luasnya hanya 7% dari luas seluruh wilayah Indonesia. Sebaliknya

Kalimantan yang mempunyai luas 28 persen dari seluruh daratan Indonesia hanya

dihuni oleh lebih kurang lebih 5% penduduk sehingga secara regional kepadatan

penduduk sangatlah timpang.Tingkat pendidikan penduduk yang bekerja, tampak

masih rendah di mana tingkat pendidikan yang terbanyak adalah SD, yaitu 37,6% dari

seluruh penduduk yang bekerja. Hal tersebut menyebabkan ketidakseimbangan antara

permintaan akan tenaga kerja dengan penawaran tenaga kerja pada suatu tingkat upah

tertentu. Pada tahun 1993, dari sekitar 1,2 juta orang yang terdapat sebagal PENCARI

KERJA HANYA SEKITAR 328.000 atau 27 % yang memperoleh penempatan.
                     DAFTAR PUSTAKA



BPS, 1994, Profil Kependudukan Propinsi Jawa Timur, BPS, Jakarta.

BPS, 1994, Trend Fertilitas, Mortalitas dan Migrasi, BPS, Jakarta.

BPS, 1994, Proyeksi Penduduk Indonesia Per Kabupaten/Kodya 1990-
2000 BPS,Jakarta

Daldjoeni N, 1986, Masalah Penduduk dalam Fakta dan Angka,
Alumni Bandung

Goeltenboth, F. 1996, Applied Geography and Development, Volume 47
Institute for Scientific Co-operation, tumbingen Federal Republic of
Germany.

Lembaga Demografi, FEU I, 1981, Dasar-dasar Demografi FEUI,
Jakarta.
Tji Suharyanto, P, Urbanisasi, Surabaya Post, 23 September 1996.

Todaro, M. P. 2000. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Jilid 1.
(Terjemahan Burhanuddin Abdullah dan Harris Munandar). Penerbit
Erlangga. Jakarta.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:10567
posted:5/29/2010
language:Indonesian
pages:21