Docstoc

HADIS DI MATA ORIENTALIS

Document Sample
HADIS DI MATA ORIENTALIS Powered By Docstoc
					                          HADIS DI MATA ORIENTALIS


       Hadis atau sunnah yang diyakini oleh umat Islam sebagai sumber hukum kedua
setelah al-Qur'an, merupakan sebuah khazanah keislaman yang harus dijaga
keotentikannya, sehingga apa yang sampai pada kita berupa khabar yang disandarkan
kepada Nabi saw adalah benar-benar dari beliau.
       Motifasi untuk menjaga keontentikan al-sunnah (khususnya kritikan para ulama
terhadap orang yang menyampaikan hadis dalam hal ini adalah sanad) sudah dimulai
semenjak setelah terjadinya perseteruan antara Ali dan Muawiyah yang pada akhirnya
dimenangkan oleh pihak Muawiyah. Setelah peristiwa tersebut umat Islam khususnya
golongan ahli sunnah wal jamaah sangat berhati-hati untuk menerima hadis yang mereka
dengar dari orang lain. Sebelum mereka menerima hadis yang katanya dari nabi mereka
selalu bertanya bagaimana sanadnya? Hal ini sangat beralasan karena pada waktu itu
suasana politk masih panas dan fanatik terhadap suatu golongan tertentu berada pada titik
klimaks
       Sebenarnya kegiatan kritik hadis telah dimulai sebelum terjadinya fitnah antara
Ali dan Muawiyah. Dan kegiatan tersebut telah ada ketika Nabi SAW masih hidup,
walaupun    hanya   sebatas   kritik   terhadap   berita   yang   disampaikan   (matan).
Kritik terhadap matan hadis pertama kali dilakukan oleh Umar bin Khatab.
Kajian hadis ternyata tidak hanya diminati oleh orang-orang yang mengaku beragama
islam akan tetapi juga menjadi suatu hal yang sangat menarik dalam pandangan orang-
orang luar Islam yang lebih akrab disebut sebagai orientalis untuk menerlitinya, terlepas
dari motivasi yang melatar belakangi kegiatan mereka untuk meneliti hadis baik dari sisi
sanad maupun matan.
   1. Studi Para Orientalis

   Para orientalis barat itu meski ada satu dua yang niatnya baik dan jujur, namun
umumnya adalah orang-orang yang punya niat tidak baik terhadap ajaran Islam. Kalau
pun niatnya baik, tapi karena mereka tidak mengenal ajaran Islam dengan benar sesuai
dengan manhaj Rasulullah SAW, maka baik metode maupun kesimpulan akhirnya selalu
melenceng jauh dari objektifitas.

    Dan yang lebih parah lagi, umumnya para orientalis itu tidak menguasai
bahasa     arab,   tapi    sering   terdengar     mereka       melakukan kritik atas
kitab-kitab bahasa arab. Ini jelas dari awal tidak logis dan sama
sekali jauh dari kesan ilmiyah. Kalau pun ada satu dua yang mengerti
bahasa arab itu, maka kemampuannya sangat menyedihkan. Sehingga pada
dasarnya mereka tidak pernah mengerti dan tahu apa yang sedang mereka
baca. Tapi dengan gigih selalu melontarkan kritik disana sini.

    Dan yang palng parah, mereka pun tidak pernah bisa mandiri dalam
pendapatnya.    Bukti-bukti  ilmiyah   bercerita     kepada    kita   bahwa   para
orientalis itu memiliki struktur dan level senioritas. Umumnya yang
menjadi senior itu adalah          yang paling memusuhi           Islam, semacam
Goldziher, H.A.R Gib, Greetz dan sejenisnya. Bila ada di barisan
yuniornya yang menulis tentang Islam tapi agak condong untuk membela
Islam, maka para seniornya akan memusuhi dan mencaci makinya serta
akan     mengatakan    bahwa   tulisan  itu    terlalu    terbawa    perasaan  dan
sentimentil.

    Apalagi orientalis yang sampai masuk Islam semacam Maurice Buccile,
maka pastilah akan dipojokkan oleh para seniornya. Karena itu jangan
dikira kalau orientalis      itu pasti    objektif dan ilmiyah.    Kebanyakan
dari    mereka    justru   sekedar   bikin     sensasi dan  aktualisasi   diri.
Sehingga buat kita para orang Islam ini, sudahlah . . . jangan terlalu
banyak berharap dengan apa yang mereka lakukan. Kalaupun mereka benar
dan masuk Islam semua pun, Islam tidak akan menjadi lebih tinggi
Izzahnya, karena yang meninggikan izzah Islam itu hanya Allah semata.

2. Kedudukan Shahabat

   Kalau studi yang dikatakan itu sedang mencari dan membuktikan
kebenaran hadits dari tingkat shahabat seperti Abu Hurairah kepada
Rasulullah  SAW,      maka     ini  jelas-jelas    perangkap besar yang siap
mencaplok umat Islam yang tidak mengerti ilmu hadits.

   Kelihatan jelas dan pasti bahwa          studi   itu   memang   untuk    merusak
pemahaman dan aqidah Islam. Mengapa ?
    Karena dalam pandangan aqidah Islam ahlussunnah wal jamaah, para
shahabat itu semuanya adalah `udul (adil). Mereka adalah orang-orang
yang diridhai oleh Allah SWT dalam Al-Quran. Dalam Al-Quran telah
disebutkan bahwa mereka itu adalah orang-orang yang diredhai.

    Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama dari golongan
muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan
baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan
Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai
di    dalamnya   selama-lamanya.     Mereka  kekal di dalamnya. Itulah
kemenangan yang besar.(QS. At-Taubah : 100).

    Kalau masih mempertanyakan kebenaran shahabat radhiyallahu anhum dalam
meriwayatkan hadits, maka ini adalah usaha pembusukan aqidah Islam.
Karena kedudukan para shahabat itu sangat vital dalam ajaran Islam.
Mereka adalah jembatan antara umat Islam ini dengan Rasulullah SAW.
Sehingga       dengan    menyerang     posisi    dan    kedudukan para shahabat,
orientalis itu ingin menebang pohon Islam dari akarnya.

    Hal itulah yang pernah dilakukan oleh Ignaz Goldziher, seorang
orientalis yahudi dari Hongaria. Dia menuduh bahwa metodologi kritik
hadits yang ada selama ini lemah, karena hanya menggunakan kritik
sanad dan tidak menggunakan kritik matan. Padahal sebenarnya kritik
matan pun sudah dikenal dan digunakan dalam metodolgi para ulama
Islam. Hanya saja yang dimaksud Goldziher itu tidak lain adalah bahwa
matan sebuah hadits itu harus sesuai dengan `kemauannya` dia sendiri.
Untuk itu dia mengatakan bahwa matan harus sesuai dengan politik,
sains. Sosio kultural dan seterusnya.

    Yang jadi contoh sasaran kritiknya apa lagi kalau bukan hadits shahih
tentang Al-Aqsha yang berbunyi :

  Tidak diperintahkan bepergian kecuali untuk mendatangi          tiga   masjid   :
Masjid Al-Aqsha, Masjid Al-Haram dan Masjid Nabawi". .

    Goldziher yang yahudi itu menuduh bahwa hadits itu palsu. Dan dia
mengarang cerita bahwa Abdul Malik bin Marwan (khalifah dari Dinasti
Umayyah di Damaskus) merasa khawatir apabila Abdullah bin Zubair (yang
memproklamirkan      dirinya    sebagai    khalifah    di  Mekkah)     mengambil
kesempatan dengan menyuruh orang-orang Syam yang sedang melakukan
ibadah haji di Mekkah untuk berbaiat kepadanya. Karena itu menurut
Goldziher, Abdul Malik bin Marwan memerintahkan Az-Zuhri untuk
mengarang hadits yang intinya untuk pergi haji tidak harus ke Mekkah
tapi cukup ke Al-aqsha saja. Sungguh durjana Goldziher itu sampai
tega-teganya mengarang cerita dan melontarkan tuduhan hina kepada
tokoh-tokoh   Islam.     Padahal    hadits   itu    shahih dan    lolos   seleksi
Al-Bukhari yang terkenal ketat dalam          mensortir   hadits.     Dan   umat   Islam
seluruh dunia sepakat akan keshahihannya.

   Tuduhan itu tentu saja dijawab oleh para ulama Islam, diantaranya
adalah Dr. Musthafa Al-A`zhami, seorang pakar hadits dan guru besar di
Univ. Riyadh Saudi Arabia. Beliau meruntuhkan tuduhan Goldziher dan
berhasil membuktikan

   3 Ilmu sanad dan riwayat hadits adalah ilmu yang sangat ilmiyah.

    Barat belum pernah memiliki kemampuan untuk meneleiti suatu riwayat
secara ilmiyah. Mereka tidak memiliki ilmuwan semacam Al-Bukhari,
Muslim, An-Nasa`i, Ibnu Majah, At-Tirmizy dan lainnya yang berkelana
keliling dunia mengejar riwayat sebuah hadits. Bahkan hingga hari ini
pun mereka tidak pernah bisa membayangkannya, apalagi melakukannya.

    Jangankan bicara tentang kejadian belasan abad yang lampau, sekedar
memastikan siapa yang membunuh JFK, presiden US itu pun sampai
sekarang tidak jelas. Ada banyak riwayat dalam kasus pembunuhan mantan
orang nomor satu di AS itu. Dan semuanya bila dibandingkan dengan satu
hadits dalam ilmu hadits, semuanya termasuk dhaif jiddan bahan mursal
dan maudhu`. Karena semua periwayatnya tidak ada yang memenuhi
kriteria `Adil dan Dhabit.

   `Adil dan Dhabit ? Ya, `Adil dan Dhabit adalah istilah yang tidak
pernah dikenal dalam sejarah peradaban barat. Padahal standar `Adil
dan dhabit itulah yang turut menentukan derajat sebuah hadits.

    Lalu bagaimana sebuah peradabana yang belum bisa mengeja istilah `Adil
dan Dhabit itu ingin mengajari METODOLOGI periwayatan hadits ?? Apakah
tidak terlalu PERCAYA DIRI ???

    Bukankah para ilmuwan barat telah berani berbohong selama sekian abad
kepada umat manusia tentang teori evolusi yang nyata-nyata tidak
ilmiyah ? Bukankah semua lukisan tentang manusia purba itu ternyata
hanya rekaan para seniman ? Lebih jauh lagi, bukankah lukisan Yesus
itu   jelas-jelas rekaan   manusia.   Apalagi dengan   assesoris tambahan
berupa kandang domba dan bunda Maria.

     Lalu bagaimana mungkin peradaban yang `kaya` dengan kebohongan itu
ingin mengajari metodologi ilmiyah, khususnya sejarah dan khususnya
lagi     tentang perkataan, perbuatan dan  taqrir  sosok  seorang  nabi
terakhir ?

   Kalau metologi ilmiyah dari bidang ilmu eksakta, barangkali kita masih
mengakuinya. Karena memang kasat mata dan bisa diindera. Benar
tidaknya pun langsung bisa dibuktikan. Tapi untuk urusan                 `kejujuran`,
hanya mereka yang terbukti jujur saja yang berhak untuk berkata jujur.

   Kritik Hadits Versi Orientalis

    Kalau ada diantara orientalis yang pernah berusaha menciptakan metode
kritik   hadits,  maka      sudah   bisa   dipastikan     arahnya, yaitu untuk
menjegal metodologi yang selama ini ada. Dengan demikian akan terjadi
perubahan besar dalam hukum-hukum Islam akibat dari berubahnya hadits
shahih menjadi maudhu` atau yang maudhu` malah akan jadi shahih.

    Dan akibat yang akan ditimbulkan sudah bisa anda bayangkan juga.
Nantinya syariah Islam akan berubah 180% derajat. Sesuatu yang haram
bisa jadi halal dan yang halal bisa jadi haram. Bahkan zina, khamar,
judi, mut`ah, mencuri dan segala kemungkaran menjadi halal. Dan
sebaliknya, jilbab, qishash, hudud dan menegakkan hukum Islam menjadi
terlarang. Karena haditsnya telah berubah status. Dan perubahannya itu
ditentukan oleh para orientalis.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:529
posted:5/28/2010
language:Indonesian
pages:5