Docstoc

Kasus Bank Century dan Risiko Keuangan Negara

Document Sample
Kasus Bank Century dan Risiko Keuangan Negara Powered By Docstoc
					Kasus Bank Century dan Risiko Keuangan Negara
Slamet RI – suaraPembaca

Jakarta – Kasus Bank Century mencuat ketika Pemerintah melalui Lembaga
Penjamin Simpanan (LPS menyuntikkan modal sebesar Rp 6,76 triliun untuk
menyelamatkan bank tersebut. Jumlah ini menjadi begitu besar dan menarik perhatian
masyarakat karena dana penyelamatan Bank Century semula diperkirakan hanya
sebesar Rp 632 miliar. Kenaikan jumlah ini mengakibatkan berbagai tudingan kepada
Bank Indonesia (BI) dan Departemen Keuangan sebagai penentu kebijakan
penyelamatan Bank Century pada 20 November 2008 melalui Komite Stabilitas
Sistem Keuangan.

Dari kasus ini isu utama yang dipermasalahkan adalah mengenai tepat atau tidaknya
keputusan penyelamatan Bank Century oleh Pemerintah pada November 2008.
Pemerintah melalui BI dan Departemen Keuangan berpendapat bahwa penyelamatan
Bank Century melalui suntikan dana tersebut sudah tepat dengan alasan untuk
menghindari risiko sistemik yang mungkin timbul dari ditutupnya bank tersebut
sehingga dikhawatirkan terulangnya kembali krisis keuangan seperti tahun 1998 lalu.

Atas keputusan ini banyak pihak menilai bahwa keputusan menyelamatkan Bank
Century tidak tepat. Selain menggunakan uang negara yang merupakan uang rakyat
alasan mengenai kemungkinan terjadinya risiko sistemik kurang bisa
dipertanggungjawabkan. Menurut pihak yang tidak setuju dengan penyelamatan bank
ini ditutupnya Bank Century tidak akan mengganggu kestabilan sistem perbankan
negara kita karena secara market share Bank Century hanya mempunyai mencakup
0,1% jumlah nasabah perbankan di Indonesia.

Selain itu aset Bank Century hanya berjumlah 0,3% dari total aset perbankan
Indonesia. Mereka juga yakin bahwa penutupan Bank Century tidak akan
menimbulkan rush pada sistem perbankan nasional atau pun terulangnya krisis
keuangan tahun 1998.

Isu lain yang muncul terkait suntikan dana tersebut adalah adanya dugaan
penyelewengan terhadap suntikan modal tersebut yang mengalir ke pihak-pihak
tertentu. Banyak pihak meragukan kebenaran aliran modal tersebut karena adanya
benturan kepentingan. Adanya benturan kepentingan ini menyebabkan keputusan
untuk menyelamatkan Bank Century ditengarai hanya untuk menyelamatkan deposan-
deposan besar dan bukan untuk menyelamatkan sistem perbankan.

Systemic Risk

Waktu itu alasan utama Pemerintah untuk menyelamatkan Bank Century adalah
kekhawatiran akan terjadinya systemic risk dan rush pada sistem perbankan nasional.
Penutupan Bank Century pada waktu terjadinya krisis keuangan global (November
2008) dikhawatirkan membawa dampak berantai yang parah seperti kasus 1998.

Penutupan Bank Century diperkirakan akan mengakibatkan kepanikan pada
nasabahnya. Kepanikan ini mendorong nasabah-nasabah lain akan berbondong-
bondong menarik uangnya pada banyak bank. Terutama bank-bank kecil sekelas
Century dan memindahkan ke bank-bank yang lebih besar.

Penarikan besar-besaran ini mengakibatkan bank-bank yang pada awalnya sehat
menjadi ikut bermasalah dan mengalami masalah likuiditas. Sebagai akibatnya bank-
bank ini akan berusaha mencari pendanaan dengan meminjam dana dari bank-bank
besar melalui pinjaman antar bank.

Dalam hal ini bank-bank besar cenderung lebih berhati-hati dalam mengucurkan
dananya sehingga bank-bank kecil semakin terdesak karena kesulitan memperoleh
likuiditas. Dalam keadaan seperti inilah banyak bank akan berjatuhan.

Sistem perbankan akan mengalami rush dan mengakibatkan naiknya suku bunga
pinjaman secara tajam. Selain itu akan banyak terjadi kredit macet sehingga nasabah
akan mengalami kerugian dan sektor industri juga akan terkena dampaknya.

Sebagai akibatnya bank-bank besar pun akan terkena dampaknya dan terjadilah
kelumpuhan sistem perbankan. Akibat lebih jauh adalah merosotnya kredibilitas
sistem perbankan nasional sehingga akan terjadi capital outflows secara besar-
besaran. Hal ini akan berpengaruh terhadap investasi nasional, country risk, dan
sistem ekonomi Indonesia secara keseluruhan.

Menurut BI definisi systemic risk adalah adalah risiko kegagalan salah satu peserta
dalam memenuhi kewajibannya yang jatuh tempo sehingga menyebabkan peserta lain
juga mengalami kesulitan likuiditas yang pada gilirannya menjadi tidak mampu
memenuhi kewajiban-kewajibannya. Bank Indonesia mendasarkan dampak kriteria
systemic risk pada 5 (lima) hal yaitu 1) Dampak pada institusi keuangan, 2) Dampak
pada pasar keuangan, 3) Dampak pada sistem pembayaran, 4) Dampak pada psikologi
pasar, dan 5) Dampak kepada sektor riil.
                                  ANALISIS

Dari kasus ini isu utama yang dipermasalahkan adalah mengenai tepat atau tidaknya
keputusan penyelamatan Bank Century oleh Pemerintah pada November 2008.
Pemerintah melalui BI dan Departemen Keuangan berpendapat bahwa penyelamatan
Bank Century melalui suntikan dana tersebut sudah tepat dengan alasan untuk
menghindari risiko sistemik yang mungkin timbul dari ditutupnya bank tersebut
sehingga dikhawatirkan terulangnya kembali krisis keuangan seperti tahun 1998 lalu.

Menurut BI definisi systemic risk adalah adalah risiko kegagalan salah satu peserta
dalam memenuhi kewajibannya yang jatuh tempo sehingga menyebabkan peserta lain
juga mengalami kesulitan likuiditas yang pada gilirannya menjadi tidak mampu
memenuhi kewajiban-kewajibannya. Bank Indonesia mendasarkan dampak kriteria
systemic risk pada 5 (lima) hal yaitu 1) Dampak pada institusi keuangan, 2) Dampak
pada pasar keuangan, 3) Dampak pada sistem pembayaran, 4) Dampak pada psikologi
pasar, dan 5) Dampak kepada sektor riil.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:806
posted:5/27/2010
language:Indonesian
pages:3