Docstoc

Sadhana cam tHEOLOGI hINDU

Document Sample
Sadhana cam tHEOLOGI hINDU Powered By Docstoc
					                         THEOLOGI HINDU
   I. PENDAHULUAN


       Agama merupakan ajaran yang bersumber dari penguasa Agung alam semesta,
sebagai awal, tengah dan akhir dari sarwabhawa (segala yang ada). Ia sangat sempurna,
tanpa cacat, tanpa noda, tanpa awal, tengah, dan akhir. Bagaimanapun kita memikirkan-
Nya sangatlah tidak mungkin membayangkan Ia yang Maha sempurna dengan pikiran
yang   sangat      terbatas.   Lalu   bagaimanakah    cara   Hindu   mengenal   siapa   yang
disembahnya?


       Sebelum memasuki materi Siwa Tattwa perlu dipahami pola pikir yang akan
mengantarkan kita belajar Hindu secara benar. Menurut Drs. I Gede Sura, sedikitnya ada
tiga pola pikir:


1. Pola pikir Ilmiah yaitu pola pikir yang didasarkan pada proses ilmiah atau dikenal juga
   dengan kebenaran keilmuan. Pola pikir ini sangat berguna dalam penelitian-penelitian
   ilmu pengetahuan yang lebih mengedepankan logika. Orang yang berhasil
   menerapkan pola pikir ini dikenal dengan ilmuan. Misalnya Einstein, Thomas Alpha
   Edison, dsb.


2. Pola pikir Filsafat, didasarkan pada renungan secara mendalam oleh manusia
   sehingga kebenaran yang diperoleh adalah kebenaran filsafati, sedangkan sang
   perenung yang memperoleh jawaban atas pokok persoalan yang dipecahkan disebut
   Filosof atau filsuf. Misalnya: Plato, Aristoteles, dsb.



3. Pola pikir Agama yang bersumber dari keyakinan. Karena bersumber dari keyakinan
   maka pola pikir agama lebih mengutamakan rasa. Pola pikir agama sangat
   dipengaruhi oleh ajaran dari masing-masing agama, karena itu agama yang berbeda
   memiliki pola pikir yang berbeda pula. Pola pikir Agama Hindu akan berbeda dengan
   pola pikir Islam, Kristen, Katolik maupun Buddha.


       Untuk memperoleh cara berfikir yang sistematis, seseorang harus memilah-milah
sendiri dalam pikirannya apakah ini agama, apakah ini filsafat ataukan ilmiah. Namun
dalam kenyatannya terkadang ada kaitan antara satu pola pikir dengan pola pikir yang
lain, yang mana hal ini akan menimbulkan kerancuan apabila tidak didasari oleh Wiweka.


Oleh: I GEDE ADNYANA, S.Ag, SADHANA CAMP 1 SE-KALTIM, BONTANG 13-16 SEPTEMBER 2007
Campur aduk pola pikir agama-agama sangat sering terjadi sehingga terkesan adanya
pemaksaan atau penjajahan oleh satu agama terhadap agama yang lain.




A. Tuhan Dalam Weda
      Didalam Veda kita bisa melihat begitu banyak nama Dewa yang seringkali bahkan
tidak kita temukan pemujaannya dewasa ini. Dewa berasal dari kata Dev yang artinya
sinar, Dewa dalam hal ini merupakan sinar suci dari Sang Hyang Widhi Wasa. Jumlah
Dewa-Dewa dalam Reg Weda I. 139. 11 disebutkan ada 33:




      Ye dewaso divy ekadasa stha prthivyam adhy ekadasa stha,
      apsuksito mahinaikadasa stha te devaso yajnyamimam jusadhvam.


Artinya:
      Wahai para Dewa (33 Dewa), sebelas di sorga, sebelas di bumi, dan
      sebelas di langit, semoga engkau bersuka cita dengan persembahan suci
      ini.




       Sedangkan dalam Reg Weda III. 9.9 bukan hanya 33 Dewa melainkan ada 3339
Dewa, dan diantara semua Dewa Reg Weda menggambarkan Surya sebagai Dewa
tertinggi. Hal ini ditegaskan dalam Reg Veda I.50.10:




      Udvayam tamasaspari jyotis pasyanta uttaram,
      Devam devatra suryamaganma jyotiruttamam.


Artinya:
      Lihatlah menjulang tinggi di angkasa, cahaya yang terang benderang
      mengatasi kegelapan telah datang, Ia adalah Surya, Dewa dari seluruh
      Dewata, cahaya-Nya yang terang itu betapa indahnya.




      Weda sebagai sumber pertama dan utama memuat begitu banyak Dewa, yang
dihubungkan dengan wilayah atau lingkungan, bahkan aktivitas dan sifatnya. Agni
berhubungan dengan bumi, angkasa dengan Vayu dan Indra sebagai Dewatanya, surga
dengan surya sebagai dewatanya. Semua Dewa-Dewa merupakan manifestasi dari Tuhan

Oleh: I GEDE ADNYANA, S.Ag, SADHANA CAMP 2 SE-KALTIM, BONTANG 13-16 SEPTEMBER 2007
Yang Tunggal, hal ini diuraikan dalam Reg Weda Mandala I Sukta 164 Mantra ke-46
yangmenyebutkan:


      Indram Mitram Varuna Agni ahur atho divyah sasuparno garutman,
      Ekam sad vipra bahudha vadhantyagnim yamam matarisvanam ahuh.




Artinya:
      Mereka menyebutkan Indra, Mitra, Varuna, Agni, dan dia yang
      bercahaya yaitu Garutman yang bersayap elok.
      Satu itu (Tuhan) sang bijaksana menyebut dengan banyak nama seperti
      Agni, Yama, Matarisvan.


      Dalam komentarnya tentang Dewa-Dewa Drs. I Gede Sura memberikan
kesimpulan yang sangat kuat yang dapat dijadikan kesimpulan. Dewa merupakan
perwujudan Sang Hyang Widhi Wasa atau manifestasi dari Yang Maha Tunggal.


      Demikian pula salah seorang Yogin dari India Sri Aurobindo memaparkan tentang
nama Dewa dengan tafsiran yang menkajubkan; Agni berarti Tuhan yang Maha
Mengetahui dan yang sangat dimuliakan; Indra berarti Tuhan Yang Maha Cemerlang;
Soma sebagai tuhan yang layak kita cintai, dan kita abdi; Varuna adalah Tuhan Yang
Maha Adil, Maha Mulia; Savita, Tuhan Sang Pencipta; Visnu, Tuhan Maha Ada; Pusan,
Tuhan sebagai pemelihara; dan Marut adalah nafas vital.


      Melalui kutipan diatas dapat kita simpulkan bahwa nama-nama Dewa sangat
populer pada Jaman Weda yang dikaitkan dengan alam pengalaman manusia. Dewa
yang berbeda dipandang memiliki fungsi yang berbeda, namun semuanya adalah
perwujudan dari Yang Esa. Dengan demikian maka ajaran Ketuhanan dalam Veda adalah
ajaran yang mengajarkan bahwa Tuhan adalah Esa adanya, namun ia meliputi segala
mempunyai banyak nama. Ia yang esa berada pada semua yang ada dan semua yang
ada berada pada yang Esa.




B. TUHAN DALAM UPANISAD
      Upanisad artinya duduk di dekat guru untuk mendengarkan ajaran. Cara belajar
Upanisad banyak dilakukan     diasrama-asrama dalam hutan-hutan (aranya) sehingga
kitab upanisad sering disebut juga Kitab Aranyaka. Lahirnya kitab Upanisad merupakan
babak baru bagi perkembangan Agama Hindu di India, yaitu peralihan dari Zaman

Oleh: I GEDE ADNYANA, S.Ag, SADHANA CAMP 3 SE-KALTIM, BONTANG 13-16 SEPTEMBER 2007
Brahmana yang lebih mengutamakan Yajnya sebagai jalan mendekatkan diri Kehadapan
Sang Hyang Widhi Wasa.


      Secara tradisi kita mengenal 108 kitab Upanisad yang merupakan ulasan-ulasan
dari guru yang berbeda misalnya: Isa upanisad, Chandogya Upanisad, Brhadaranyaka
Upanisad, Kena Upanisad, Svetasvatara Upanisad, Maitri Upanisad, Prasna Upanisad, dan
sebagainya. Yang sangat menakjubkan dalam kitab Upanisad adalah ulasan-ulasan yang
begitu mendalam mengenai Brahman dan Atman, Maya dan penciptaan alam semesta,
karma dan penjelmaan serta ajaran tentang moksa.


      Istilah Brahman untuk menyebut Tuhan dalam kitab-kitab Upanisad sangatlah
populer. Brahman berasal dari akar kata “brh” yang artinya yang memberi hidup,
menumbuhkan, menjadikan hidup, menjadikan berkembang, meluap (Pudja, 1983: 14).
      Penjelasan mengenai Brahman dapat kita lihat dalam Mandukya Upanisad,
Enlightenment Withhout God, oleh Swami Rama:


      Kata Brahman berasal dari akar kata brha atau brhi yang berarti meluap,
      mengembang, pengetahuan atau yang meresapi segala. Kata ini selalu dalam
      jenis kelamin neutrum (banci), Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan berada diluar
      konsep jenis kelamin laki-laki (masculinum) dan wanita (femininum) dari segala
      sesuatu yang ersifat dualis. Brahman hadir di mana-mana, maha tahu, maha
      kuasa, itulah sifat dasar dari satu kebenaran Mutlak itu. Ia adalah kebenaran
      sejati, kesadaran tertinggi, yang tidak pernah dipengaruhi oleh perubahan sifat
      duniawi, adalah Brahman itu, Ia yang menjadikan diri-Nya sendiri dan memenuhi
      seluruh alam semesta untuk menampakkan diri-Nya sendiri itulah Brahman.
      Brahman itu tidak berbeda dari Sang diri, seluruh umat manusia hakikatnya
      adalah Brahman,. Berpangkal dari pandangan ini seluruh umat manusia pada
      hakikatnya adalah satu dan sama. Menempatkan pertentangan dan perbedaan
      terhadap seluruh umat manusia adalah suatu kerugian yang sangat besar dan
      mengejawantahkan kesatuan di dalam dan di luar akan mencapai tujuan tertinggi

      Ulasan-ulasan mengenai Brahman yang meresapi segala, ada dimana-mana,
berwujud kebenaran tertinggi, maha mengetahui juga terdapat dalam upanisad-upanisad
yang sangat banyak jumlahnya. Banyaknya uraian Brahman menunjukkan bahwa para
Rsi, para bijaksana tidak pernah henti-hentinya merenungkan, mencari jawaban atas
alam ini, yang menciptakan, yang memelihara dan kembalinya nanti hanyalah satu yaitu
Brahman.


      Sebagaimana halnya dalam Weda, dalam Upanisad juga ditemukan berbagai
sebutan untuk Tuhan (Brahman). Dalam Isa Upanisa Tuhan dipanggil Isa sebagai Yang
Maha Esa, sedangkan dalam Aitareya Upanisad III. 1. 3 disebutkan:




Oleh: I GEDE ADNYANA, S.Ag, SADHANA CAMP 4 SE-KALTIM, BONTANG 13-16 SEPTEMBER 2007
      Segalanya diciptakan oleh Brahman, segalanya diatur oleh Indra. Prajapati Bapa
      semua makhluk, semua Dewa-dewa itu dan Panca Maha Bhuta, seperti tanah,
      udara ether, air dan cahaya, semua makhluk besar dan kecil dan salah satu dari
      benih-benih itu, dan yang lahir dari telur, yang alhir dari lendir, yang lahir melalui
      kandungan, dan tumbuh-tumbuhan yang meninggi karena biji,, kuda-kuda dan
      bunatang ternak, , manusia dan gajah-gajah, memang demikian, apa saja yang
      bernafas dan segalanya yang bergerak ini, dan segala sesuatu yang dapat
      terbang, dan yang tidak bergerak, dituntun oleh kebijaksanan-Nya dan mereka
      memiliki kekuatan kebijaksanaan itu. Kebijaksanaan itu yang memperhatikan
      dunia, Kebijaksanaan itu yang menjadi landasannya, Kebijaksanaan itu adalah
      Brahman Yang Abadi.

      Dengan demikian maka Brahman adalah nama Tuhan yang umum dalam
Upanisad-upanisad. Brahman Bukan hanya maha ada, ada dalam semua tetapi semua
yang ada, ada di dalam Brahman.




C. TUHAN DALAM AGAMA HINDU DI INDONESIA (SIWA TATTWA)
      Agama Hindu yang berkembang di Indonesia, secara umum disebut ajaran Hindu
Saiwa Sidhanta. Seperti dalam uraian di atas baik dalam Weda maupun upanisad Tuhan
dipanggil dengan sebutan yang berbeda, di Nusantara juga ditemukan nama-nama
Tuhan yang berbeda. Jika di India nama-nama Tuhan lebih dikenal sebagai Dewa yang
merupakan sinar suci Sang Hyang Widhi, maka di Indonesia lebih populer dengan
sebutan Bhatara.


      Istilah Bhatara berasal dari akar kata bhatr yang artinya pelindung. Hal ini jelas
menunjukkan bahwa Tuhan yang menjadi obyek pemujaan sebagai aspek pelindung,
artinya keinginan rasa aman, nyaman sangat dibutuhkan bagi sebagian besar rakyat
Nusantara. Karena itu segala yang melindungi disebut dengan Bhatara. Misalnya Bhatara
Brahma lebih populer daripada Dewa Brahma, Bhatara Wisnu lebih populer dari Dewa
Wisnu demikianlah nama Bhatara itu menjadi sangat umum dalam Lontar-lontar Tattwa,
yang merupakan sumber ajaran Ketuhanan dalam Agama Hindu di Indonesia.


      Secara umum sebutan untuk Tuhan dalam masyarakat Indonesia adalah Sang
Hyang Widhi Wasa. Menurut Drs. I Gede Sura dan kawan-kawan Sang Hyang Widhi
Wasa berarti Yang Menakdirkan Yang Maha Kuasa, yang dalam bahasa Bali
diterjemahkan dengan Sang hyang Tuduh atau Sang hyang Titah. Namun              istilah   ini
tidak secara tertulis disebutkan dalam sumber lontar. Dalam Sastra lontar yang sebagian
besar bercorak Siwa yang ditemukan di Indonesia, Tuhan dipanggil dengan sebutan
Bhatara Siwa. Dengan demikian maka agama Hindu di Indonesia secara umum memuja
Bhatara Siwa sebagai Sang Hyang Widhi Wasa.



Oleh: I GEDE ADNYANA, S.Ag, SADHANA CAMP 5 SE-KALTIM, BONTANG 13-16 SEPTEMBER 2007
      Seperti halnya Weda maupun Upanisad maka ajaran Ketuhanan dalam Siwa
Tattwa tidaklah berbeda, mengingat Weda sebagai Sumber tertinggi ajaran Dharma.
Dalam lontar Jnanasiddhanta kita dapati uraian tentang Tuhan yang senada dengan
Weda maupun Upanisad:




      Sa Eko bhagawan sarwah
      Siva karana karanam,
      Aneko viditah sarwah
      Catur vidhasya karanam



      Ekatwanekatwa swalaksana Bhattara. Ekatwa ngaranya, kahidep maka
      laksana ng Siwatatwa. Ndan tunggal, tan rwatiga kahidepanira,
      Mangekalaksana Siwa karana juga, tan paprabedha.
      Aneka Ngaranya kahidepan bhattara maka laksana caturdha. Caturdha
      ngaranya laksananiran sthula, suksma, parasunya.




Artinya:


      SifatBhatara adalah Eka dan aneka. Eka artinya Ia dibayangkan bersifat
      Siwa Tattwa. Ia hanya Esa, tidak dibayangkan dua atau tiga. Ia bersifat
      Esa saja sebagai Siwa karana (Siwa sebagai Pencipta)tiada perbedaan.
      Aneka artinya Bhattara dibayangkan bersifat Caturdha artinya adalah
      stula suksma para sunya.




      Uraian yang demikian akan banyak kita jumpai dalam sumber-sumber Siwatattwa
yang lain, yang pada akhirnya mengarahkan kita untuk menarik kesimpulan Tuhan Itu
Satu. Tuhan yang satu ada dalam yang banyak, dan yang banyak ada dalam yang satu.
Atau semua yang ada bersumber dari Tuhan, ada didalam Tuhan, diresapi oleh Tuhan.
Nama Tuhan didasarkan pada sifat dan fungsi yang dilekatkan pada aspek kekuatan
Brahman. Hal ini dapat kita jumpai dalam lontar Bhuwanakosa Patalah III sloka76:




      Brahmasrjayate lokam
      Visnuve palakastitam
      Rudratve samharasceva
      Tri murttih nama evaca

Artinya:

Oleh: I GEDE ADNYANA, S.Ag, SADHANA CAMP 6 SE-KALTIM, BONTANG 13-16 SEPTEMBER 2007
      Adapun penampakan Bhatara Siwa dalam mencipta dunia ini adalah:
      Brahma wujudNya waktu menciptadunia ini,
      Wisnu wujudNya waktu memelihara dunia ini,
      Rudra wujudnya waktu mempralina dunia ini,
      Demikianlah tiga wujudNya (Tri Murti) hanya beda nama.


      Dalam uraian diatas Bhatara Siwa sebagai Tri Murti, yang satu berwujud tiga
sesuai dengan fungsinya. Bhatara Siwa adalah Brahma Wisnu dan Iswara, maka Brahma
Wisnu dan Iswara adalah Bhatara Siwa. Yang satu berwujud tiga, maka yang tiga
itu sesungguhnya satu.


      Dalam beberapa uraian Siwa Tattwa juga kita dapati ajaran yang menyatakan
Tuhan bersifat Imanen dan transenden. Imanen artinya hadir dimana-mana, transenden
artinya mengatasi pikiran dan indriya manusia. Berikut kutipan slokanya:




      Sivas sarwagata suksmah
      Bhutanam antariksavat
      Acintya mahagrhyante
      Na indriyam parigrhyante


Artinya:


      Bhatara Siwa meresapi segala, Ia gaib tak dapat dipikirkan, Ia seperti
      angkasa, tak terjangkau pikiran dan indriya.




      Dari kutipan sloka diatas disimpulkan bahwa Bhatara Siwa memiliki sifat meresapi
segala, artinya Ia hadir pula dalam setiap pikiran manusia maupun indria, namun Ia tak
dapat dijangkau oleh pikiran manusia, karena Ia mengatasi pikiran dan Indriya. Ia hadir
dalam diri kita namun tidak kita ketahui karena keterbatasan manusia. Karena Ia hadir
dan meresapi segala maka ia maha mengetahui, tidak ada satupun mahluk yang bisa
lepas dari pengamatannya. Segala tindakan manusia, semut dan kuman bahkan daun
yang jatuh sekalipun selalu ada dalam pengelihatannya.



Ia ada pada semua yang ada, semua yang
ada berada dalam diri-Nya.


Oleh: I GEDE ADNYANA, S.Ag, SADHANA CAMP 7 SE-KALTIM, BONTANG 13-16 SEPTEMBER 2007
D. PARAMASIWATATTWA, SADASIWATATTWA, ATMIKATATTWA

      Setelah memamahi keesaan Tuhan, mungkin akan bingung jika melihat
banyaknya bangunan (pelinggih) pada Pura. Bahkan pada pura yang berbeda jumlahnya
berbeda, bentuknyapun kadang berbeda pula. Terlebih lagi nama Bhatara (manifestasi
Tuhan) juga berbeda. Misalnya Bhatara Gunung Agung, Bhatara Semeru, Bhatara Dalem
dan masih banyak sederetan Bhatara yang tidak kita kenal, bahkan ada pula Bhatara
dalam bahasa Persia yaitu Ratu Syahbandar.


      Kedatangan Hindu di Indonesia tidak secara keras mengahpuskan budaya dan
kepercayaan masyarakat yang berkembang sebelum jaman Hindu. Hal ini dapat dilihat
adanya sederetan nama-nama Bhatara dalam bahasa pribumi, misalnya Ratu Wayan,
Made, Nyoman, Ketut, Ratu Ngurah. Nama-nama bhatara ini jelas sekali tidak ada dalam
Weda. Lalu apakah kita telah lepas dari ajaran Weda? Apakah Weda tidak lagi menjiwai
ajaran Hindu Nusantara?


      Bila kita tidak cermat dan teliti pastilah kita akan berteriak kembali pada Weda,
karena semua yang ada sekarang tidak ada lagi di dalam Weda. Akan tetapi sebagai
manusia yang memiliki wiweka maka kita harus bisa lebih bijaksana menyikapi hal ini.
Jika dengan ketelitian dan kecermatan ternyata tidak ditemukan benang merah antara
Hindu Nusantara dengan Weda maka barulah kita mengatakan kembali ke Weda. Untuk
lebih memantapkan keyakinan kita marilah kita lihat bagaimana Tuhan menempati
semua yang ada, memenuhi alam semesta.


      Upanisad mengajarkan Brahman memiliki dua aspek yaitu Saguna Brahman dan
Nirguna Brahman. Saguna Brahman adalah Tuhan yang memiliki sifat maha kuasa, Maha
pencipta, Maha Besar, Maha kecil, Maha ada dan seterusnya atau Tuhan yang telah
dilekatkan dengan berbagai penyifatan. Sedangkan nirguna Brahman adalah Tuhan yang
tanpa sifat apapun, tak dapat dipahami. Saguna Brahman disebut juga Apara Brahman,
sedangkan Nirguna Brahman disebut juga Para Brahman.


      Ajaran Nirguna Brahman dan Saguna Brahman dalam Upanisad sejalan dengan
ajaran Siwa Tattwa dalam ajaran Ketuhanan Hindu di Indonesia. Dalam Lontar Wrhaspati
Tattwa dan, Tattwa Jnana kita dapati ajaran Paramasiwatattwa, Sadasiwatattwa dan
Atmikatattwa. Dalam Tattwajnana disebutkan ada dua hakikat tertinggi yaitu Cetana dan
Acetana yaitu kesadaran dan ketidaksadaran. Kesadaran disebut juga Siwa Tattwa
sedangkan ketidaksadaran disebut Maya Tattwa. Dari Cetana lahirlah Purusa, dari
Acetana lahirlah Prakerti, pertemuan keduanya melahirkan ciptaan. Proses penciptaan
menurut ajaran Siwa Tattwa dapat kita lihat dalam bagan berikut ini:
Oleh: I GEDE ADNYANA, S.Ag, SADHANA CAMP 8 SE-KALTIM, BONTANG 13-16 SEPTEMBER 2007
                                        BHATARA SIWA



                         CETANA                                ACETANA




                          PURUSA                               PRAKRTI


                                          CITTA/ MAHAT


                                                 BUDDHI


                          AHAMKARA(BHUTADI, TAIJASA, WAIKRTA)


                                        PANCA TANMATRA


                                        PANCA MAHABHUTA


                               BUWANA AGUNG + BUWANA ALIT




      Kesadaran atau Siwa Tattwa itu bertingkat sesuai dengan besarnya pengaru Maya
yang emelakt padanya. Paramasiwatattwa adalah kesadaran Bhatara Siwa yang tertinggi
yang tak tersentuh oleh sifat apapun, sehingga tidak bisa untuk dibayangkan apalagi
diarcakan. Ia tanpa bentuk, tanpa sifat, beliau hanyalah kesadaran abadi.


      Jenjang kedua adalah Sadasiwatattwa, yaitu Bhatara siwa yang telah terpengaruh
maya, namun intensitasnya tidak terlalu banyak. Pada tingkatan ini Bhatara Siwa
dipenuhi   oleh   Sarwajna,   memilki    sifat    dan   kemahakuasaan    Cadu   Sakti   yang
dilambangkan dengan Asta Dala. Ia menjadi obyek pemujaan manusia, karena Maha
pengasih, Maha adil, Maha Bijak, Maha pemurah, Maha penyayang, Maha Pencipta dan
seterusnya.


      Jenjang ketiga adalah Atmikatattwa, yaitu Bhatara Siwa telah benar-benar ditutupi
Maya, sehingga lupa akan kesejatiannya. Ia menjadi jiwa sekalian makhluk karena alpa
Oleh: I GEDE ADNYANA, S.Ag, SADHANA CAMP 9 SE-KALTIM, BONTANG 13-16 SEPTEMBER 2007
inilah menyebabkan Ia tidak lagi Sarwajna, tidak lagi Sarwakarya, semua sifat Cadu Sakti
lenyap karena ditutupi Maya.
      Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa keberadaan Tuhan Yang Maha
Esa (Brahman) dari tak terpikirkan, mengalami penurunan kesadaran menjadi
Sadasiwatattwa, memiliki banyak gelar dan fungsi yang berbeda. Maka dari itulah umat
Hindu mendirikan banyak pelinggih, arca (nyasa) untuk memulyakan sifat Tuhan sesuai
dengan kebutuhan maupun profesinya. Bagi petani Tuhan dihadirkan sebagai Dewi Sri,
bagi pedagang Dewi Melanting atau laksmi adalah pujaannya, sedangkan pelajar dan
ilmuan maka Saraswati adalah Sang Dewi pemberi anugrah, demikian seterusnya.

Tuhan yang satu dalam yang banyak, yang banyak
dalam yang satu, itulah monoteisme Hindu Saiwa
Sidhanta.

E. SENI MENGALIR DARI VEDA
      Dalam hal menghubungkan diri dengan sang Maha pencipta atau yang dikenal
dengan “Yuj”, yang menjadi Yoga, Veda mengajarkan tiga esensi dasar, yang merupakan
sadhana, antara lain:
1. Mudra, yang berasal dari urat kata Mud, yang artinya membuat senang. Mudra
   adalah gerakan-gerakan atau sikap tangan yang menyenangkan para Dewa. Gerakan
   Mudra ini sangat beragam yang biasanya dilskuksn oleh Sulinggih saat mapuja.
   Mudra merupakan gerakan tangan yang sangat rahasia yang mengandung aspek
   Satyam yaitu kebenaran, Siwam yaitu kesucian, dan Sundaram atau keindahan.
   Karena itulah tidak sembarang orang boleh menggunakan Mudra. Hanya orang-orang
   sucilah   yang   boleh   menggunakannya.        Masyarakat    secara   umum     memiliki
   penggunaan yang terbatas seperti Anjali yang merupakan simbul dari lahir batin, dan
   amusti karana yang merupakan simbuldari Tri kona dan Tri Murti. Dari Mudra
   munculah berbagai seni tari yang terdiri dari seni tari sakral dan seni tari propan. Seni
   tari sakral seperti rejang Dewa, Sang Hyang Jaran, sang Hyang dedari dan
   sebagainya hanya boleh diperuntukkan bagi persembahan kepada para Dewa yang
   merupakan manifestasi Sang Hyang Widhi.


2. Mantra, merupakan lagu pujaan kepada Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala
   manifestasinya. Mantra adalah sarana menghubungkan diri dengan Sang Maha
   Pencipta dalam bentuk bahasa. Dari Mantra menimbulkan seni suara, seperti kakawin,
   kidung, macapat, bahkan sampai pada lagu-lagu modern dewasa ini. Seni suara
   dalam agama Hindu dipersembahkan kepada Tuhan. Mantra inipun memiliki tiga
   aspek yaitu Satyam, siwam dan sundaram. Karena itulah ada Kuta Mantra atau pusat
Oleh: I GEDE ADNYANA, S.Ag, SADHANA CAMP10SE-KALTIM, BONTANG 13-16 SEPTEMBER 2007
  dari mantra adalah sesuatu yang sangat sakral dan tidak boleh sembarang orang
  mengucapkan. Janganlah hal ini dianggap sebagai sesuatu yang menghambat
  kemajuan dunia spiritual Hindu. Justru rambu-rambu ini merupakan suatu upaya
  untuk menjaga aspek Siwam atau kesucian dari Mantra. Kuta mantra ibarat pintu
  rahasia untuk membuka kekuatan Tuhan, sehingga hanya orang-orang yang
  mampulah yang berhak membuka pintu rahasia ini.




3. Yantra, merupakan kiblat atau arah kemana kita menstanakan Sang Hyang widhi
  Wasa. Yantra dapat berupa gambar atau seni dua dimensi dan seni ukir atau gambar
  tiga dimensi. Atau dengan kata lain Yantra menimbulkan seni rupa yang dalam agama
  Hindu seni rupa juga di persembahkan kepada Tuhan. Pada akhirnya selain seni lukis,
  seni patung atau arca, maka berkembang pula banten yang juga merupakan simbul-
  simbul kebesaran Tuhan. Di samping itu juga munculnya aksara yang juga digunakan
  sebagai simbul atau stana dari Sang Hyang Aji Saraswati dalam manifestasinya
  sebagai Dewi Ilmu pengetahuan. Karena itu dalam Agama Hindu barang siapa
  menggunakan tulisan untuk hal-hal yang tidak baik maka itu adalah dosa, terlebih lagi
  aksara itu di gunakan tidak pada tempatnya, misalnya gambar-gambar Dewa Krisna
  yang banyak dicetak pada kaos, atau aksara sebagai simbul Tuhan seperti aksara Om
  di cetak dalam baju kaos. Maksudnya mungkin baik tetapi bayangkan ketika hendak
  mencuci baju, pakaian ini berbaur dengan pakaian dalam. Bukankah ini merupakan
  pelecehan terhadap agama sendiri? Gambar Dewa yang seharusnya di sakralkan
  tetapi malah dicampur dengan pakaian dalam.




                                                    Bontang, 13 September 2007

     Mengetahui
     Parisada Hindu Dharma Indonesia                Narasumber
     Kota Bontang



     Agung Eka Purnawan                                     I Gede Adnyana, S.Ag
                                                            NIP. 150324694




Oleh: I GEDE ADNYANA, S.Ag, SADHANA CAMP11SE-KALTIM, BONTANG 13-16 SEPTEMBER 2007
Oleh: I GEDE ADNYANA, S.Ag, SADHANA CAMP12SE-KALTIM, BONTANG 13-16 SEPTEMBER 2007

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:225
posted:5/27/2010
language:Indonesian
pages:12
About Guru SMPN 1 BONTANG