Docstoc

dharma wacana banten nyepi

Document Sample
dharma wacana banten nyepi Powered By Docstoc
					                         RANGKAIAN PELAKSANAAN NYEPI

Dharma Wacana Tielm ka Sanga 25 Maret 2009, Menyambut Tahun Baru Saka 1931,
Pura Buana Agung Kota Bontang.

   1. MELASTI
      Melasti merupakan prosesi rangkaian Nyepi mencari sumber air atau lautan, sebagai salah satu upaya
      melebur kotoran dunia. Lautan adalah ciptaan Tuhan yang mempunyai kekuatan melebur segala kotoran
      secara nyata. Tuhan meresap dalam ciptaannya, dan dilautan beliau bergelar Varuna/ Baruna. Memohon
      anugrah kepada Sang Hyang Baruna agar kesengsaraan dunia dimusnahkan, penderitaan dan kecemaran
      dunia musnah, lebur dilautan. Memohon tirta kamandalu (air suci kehidupan).
      Waktu pelaksanaan tepatnya setiap pangelong ke-13 sasih ka sanga. Melasti merupakan pensucian bagi
      pratima (nyasa, pralingga) yang menjadi lambang atau simbul dari Sang Hyang Widdhi Wasa yang dilakukan
      di lautan. Mengapa harus dilakukan?
      Jika tidak maka akan dapat menimbulkan kacaunya dunia. Segala macam kekacauan akan semakin
      mengganas akibat buta kala yang meraja lela. Brahma sebagai pencipta akan menciptakan Buchari desa,
      teluh tranjana (yang menyebabkan kesedihan), Wisnu sebagai pemelihara berubah wujud kedewataannya
      menjadi Kala (waktu pemusnah), Iswara (bersifat menyempunakan) sehingga terwujud penyakit yang meraja
      lela dan mengerikan (Sundarigama hal. 7) Jadi terkandung doa yang amat mulia dimana umat Hindu tidak
      mendoakan dirinya sendiri tetapi mendoakan semua mahluk agar sehat & bahagia.
      Dalam kesempatan ini di larung berupa upakara suci yang melambangkan kesucian batin, ayam
      melambangkan ego yang harus dibuang atau dilebur, dan itik lambang kebijaksanaan. Dengan lenyapnya
      egoisme tumbuhlah kebijaksanaan, dengan kebijaksanaan manusia bisa mengarungi kehidupan ini dengan
      lebih baik demi tercapainya kebahagiaan dunia (jagadhita) dan kebagaiaan rohani (moksa).
   2. TAWUR
      Tawur kesanga dilaksanakan pada tilem ka sanga diperempatan jalan dengan menggunakan upakara berupa
      caru (disesuaikan dengan tingkatan), Caru meruapakan upakara dengan bahan dasar binatang korban berupa
      ayam, itik, anjing, sapi, atau kerbau tergantung tingkatannya. Untuk kota bontang tahun ini umat hindu
      menggunakan tawur (caru) ayam, yang di olah sedemikian rupa yang menggambarkan urip dunia yaitu 33,
      memohon kehadapan Hyang Widdhi agar para Bhuta menjadi somya (dari Bhuta kala menjadi Bhuta Hita). Ini
      merupakan suatu pesan moral agar umat manusia hidup harmonis dengan alam.
   3. NYEPI
      Intinya adalah menciptakan suasana sepi. Yang didukung oleh Catur Bratha Penyepian; amati gni/ tidak
      menyalakan api, amati karya/ tidak bekerja, amati lelanguan/ tidak menikmati hiburan, amati lelungaan/ tidak
      bepergian. Dilaksanakan dalam tiga tingakatan sesuai dengan kemampuan antara lain nista (jagra: melek),
      madya (jagra/ melek & upawasa/ berpuasa), utama (jagra/ melek, upawasa/ berpuasa, & monabrata/ tidak
      berbicara), dimulai ketika matahari belum terbit sampai keesokan harinya (24 jam).
   4. NGEMBAK GENI
      Menikmati hasil dari melaksanakan Bratha Nyepi, berupa redanya api hawa nafsu yang ada dalam diri
      manusia. Maaf-memaafkan satu dengan lainnya dengan saling mengunjungi.




                                                                                                                1
BANTEN NYEPI UNTUK RUMAH TANGGA
Sesuai Dengan Kitab Sundarigama
Om Awignamastu Namo Siddham
Berikut ini merupakan petikan tatacara tawur ka sanga untuk tingkat rumah tangga yang dikutip dari kitab suci
Sundarigama. Kitab suci Sundarigama merupakan salah satu lontar indik yang erat kaitanya dengan bagian karma
kanda dari kitab Weda. Bagian Karma kanda mengutamakan korban yadnya sebagai sarana mendekatkan diri dengan
Sang Hyang Widdhi Wasa yang sangat populer pada jaman Brahmana.
1. Segehan Manca Warna 9 tanding, lauknya olahan ayam brumbun
      Cara membuat segehan manca warna yaitu disusun searah jarum jam mulai dari arah depan berturut-turut
       nasi putih, merah, kuning, hitam dan campuran keempat warna ditengah.
      Posisi mebanten nasi warna putih selalu didepan.
      Untuk olahan pada umumnya ayam dibuat lawar, sate, atau tum, atau disesuaikan dengan daerah.
2. segehan agung 1 tanding
      Cara membuat segehan agung secara filosofis adalah disesuaikan dengan urip dunia yaitu 33 atau 11.
       Segehan dibuat dari nasi (sego) lauknya bawang jahe atau jika ada iwak suro/ Hiu. Jika sebanyak 33 tanding
       dengan posisi:
          Timur 5 tanding, Selatan 9 tanding, Barat 7 tanding, Utara 4 tanding, Tengah 8 tanding
          Di atasnya ditaruh canang sebanyak 33 buah
          Didepanya ditaruh daksina lepas (kelapa, beras, telor, pisang, benang tetebus, perlengkapan daksina)
3. Segehan sasah 108 tanding
       Cara membuat segehan yaitu dengan membuat alas untuk nasi sebanyak 108, lauknya jeroan mentah
       ditanding dalam satu tamas atau satu tempat, dilengkapi dengan sebuah canang.
   4. Tempat Upakara di muka pintu keluar masuk pekarangan pekarangan, diberikan kepada Buta Raja, Buta kala,
       Kala Bala, dilanjutkan dengan Ngerupuk.
       Doa: Om pakulun sang Buta Raja, Buta kala, Kala Bala, iki ta manusanira angaturaken Segehan Manca Warna
       9 tanding, segehan agung, Segehan sasah 108, wusira mangan minum amukti sari sira, aja mewali muwah
       wehakena urip waras dirgaysa, Om Ing Namah.
5. Tatacara Ngerupuk:
   Setelah menghaturkan tawur didepan rumah kemudian dilanjutkan dengan mengelilingi rumah dengan membawa
   obor, sembar mesui, dengan puja penolak bala.
   Setelah selesai ngerupuk maka setiap keluarga diharapkan dapat natab byakala (meminimalkan kekuatan negatif
   dalam diri), sesayut lara melaradan (mengusir penyakit) dan prayascita (menjadikan pikiran suci) atau sekurang-
   kurangnya melukat dan mebersih, yang semuanya dilakukan dihalaman rumah.
   Iti Sundarigama ngaran maka drestaning pakertigama, ling ira Sang hyang Suksma licin, ring sawateking purohito
   kabeh, maka drestaning praja mandala, wenang linaksanan, dening wang saprajamandala kabeh, lamakna dresta
   praja Sri Aji, tekeng jagat hitania, apania, prakrti iki, suksma, uttama dahat.
   (Inilah Sundarigama namanya, yang merupakan tatacara yang dibenarkan dalam melaksanakan ajaran Agama,
   dari sabda Sang hyang Sukma licin, kepada para Rsi semuanya, sebagai pelaksana tata cara keagamaan di

                                                                                                                  2
wilayah suatu negara, dan yang patut dilaksanakan oleh masyarakat sewilayah bersangkutan semuanya, dengan
tujuan agar tentramlah negara dan pemerintahan, demikian pula sejahteralah rakyatnya, sebab tatacara yang
demikian itu adalah suci dan sangatlah utamanya).
Om Santih, santih, santih Om


                                                          Bontang, 25 Maret 2009

   Mengetahui

   Parisada Hindu Dharma Indonesia                                Narasumber

   Kota Bontang



   Agung Eka Purnawan                                             I Gede Adnyana, S.Ag

                                                                  NIP. 150324694




                                                                                                            3

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:430
posted:5/27/2010
language:Indonesian
pages:3
About Guru SMPN 1 BONTANG