Docstoc

TEPUNG TAWAR UNTUK PARA PEMIMPIN BANGSA

Document Sample
TEPUNG TAWAR UNTUK PARA PEMIMPIN BANGSA Powered By Docstoc
					       TEPUNG TAWAR UNTUK PARA PEMIMPIN BANGSA



PEMIMPIN JUGA MANUSIA, KADANG TERLINTAS PIKIRAN DUSTA, KATA TAK BIJAK, PRILAKU
NISTA. “TEPUNG TAWAR” MUNGKINKAH BISA MENJADI OBAT PENYAKIT BAGI MEREKA?

Om Awignamastu Namasiddham,

      Begitu banyak masalah yang dihadapi akibat pelanggaran-pelanggaran dalam pesta
demokrasi “contreng” 2009, seakan mencoreng wajah demokrasi di negri ini. Kecurangan
yang terjadi menandakan bahwa bagsa ini lupa akan kejujurannya, lupa akan dasar
Negara pancasila, atau bahkan lupa “Ketuhanan Yang Maha Esa”, dimana sebagaian tokoh
yang terjun dalam dunia politik tidak malu lagi akan dosa dari kebohongan-kebohongan,
yang bahkan mengatasnamakan Tuhan. Semoga tepung tawar bias mengingatkan para
pemimpin yang hanya memperjuangkan nasibnya sendiri.

      Tepung tawar merupakan salah satu sarana upacara dalam Agama Hindu yang
berfungsi sebagai pembersih. Penggunaan tepung tawar dalam suatu upakara merupakan
sebuah keharusan baik dalam manusa yadnya, dewa yadnya, bhuta yadnya, Rsi Yadnya
maupun pitra yadnya. Karena demikian pentingnya unsur tepung tawar ini dalam setiap
upacara keagamaan Hindu, maka Tradisi matepung (bertepung) tawar sejak zaman dahulu
telah menjadi tradisi Nusantara yang berlangsung bahkan mungkin sebelum kedatangan
Hindu di Nusantara.

      Hal ini terbukti dengan masih lestarinya upacara tepung tawar ini diberbagai
daerah seperti Aceh, Medan, Riau, Lampung, Kalimatan, Nusa Tenggara apalagi Bali.
Secara umum mereka melaksanakan adat tepung tawar ini untuk perkawinan maupun ada
bencana. Bahkan di Nusa Tenggara upacara tepung tawar digunakan untuk mendamaikan
dua desa yang sedang berselisih. Di Bali tepung tawar menjadi salah satu komponen
dalam upacara agama Hindu, bahkan hingga saat ini seluruh umat Hindu menggunakan
tepung tawar terutama dalam banten untuk panca yadnya. Jika dilihat dari bahan tepung
tawar ditiap-tiap daerah umumnya berbeda-beda, namun tujuannya sama yaitu berfungsi
sebagai pembersih dan menolak bala. Bahan tepung tawar ada yang manggunakan beras
dicampur kunyit, dedaunan seperti sirih, jeruk, dan sebagainya.

      Dalam upacara agama Hindu Bahan tepung tawar adalah berupa beras yang
direndam dtumbuk halus bersama daun dadab. Pada umumnya tepung tawar ini
ditempatkan pada pesucian atau penyeneng, bersama dengan segau, kekosok, sesarik dan
benang tukelan (benang dari kapas asli). Jika dilihat semua bahan itu berfungsi sebagai
pembersih. Hal ini jelas tersirat pula dalam mantra dari tepung tawar:

      “Om Sajnya asta sastra, tepung tawar amunahaken, segau agluaraken sebel kandel
lara roga baktan-Mu”.

      Artinya kurang lebih:

      “ Om Hyang Widdhi dengan kuasa delapan kekuatan-Mu, tepung tawar
memusnahkan abu nasi (segau), mengeluarkan kotoran yang lekat, kedukaan dan penyakit
para penyembah-Mu”.

      Dalam uraian tersebut jelas bahwa daun dadap mengandung asta sastra yang
disamakan dengan asta aiswarya yang dapat melenyapkan:

      1. Sebel Kandel atau kotoran yang melekat dalam diri manusia. mengacu pada
          Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-aspek agama Hindu yang
          disyahkan PHDI adalah: Suatu keadaan tidak suci menurut pandangan Agama
          Hindu yang disebabkan karena: kematian, menstruasi, melahirkan anak, keguguran
          kandungan, pawiwahan/ perkawinan, gamia-gamana, salah timpal, hamil diluar
          nikah, berzina, bayi lahir di mana ayah-ibunya belum/ tidak menikah, sakit gede
          (lepra, aids).
              Di samping itu dalam ajaran Agama Hindu disebutkan ada sepuluh kotoran
          yang lekat pada diri manusia yang hendaknya selalu dibersihkan, antara lain:
          Tandri (malas), kleda (suka menunda-nunda), teja (pikiran gelap), kulina
          (sombong,suka menghina/ menyakiti hati orang), kuhaka (keras kepala), metraya
          (sombong dan berbohong/ melebih-lebihkan), megata (kejam), ragastri (suka
          berzina), bhaksa bhuwana (suka membuat orang lain melarat), & kimburu (senang
          menipu)
          Selain Dasa Mala juga ada Tri Mala yaitu tiga macam kotoran dan kebatilan jiwa
          manusia akibat pengaruh negatif dan nafsu yang sering tidak dapat terkendalikan
          dan sangat bertentangan dengan etika kesusilaan. Antara lain: Mithya hrdya
          (berperasaan dan berpikiran buruk), Mithya wacana (berkata sombong, angkuh,
          tidak menepati janji), Mithya laksana (berbuat yang curang / culas / licik /merugikan
          orang lain)
2. Lara yaitu kedukaan atau kesedihan yang dialami setiap orang, atau dapat pula
   dikatakan penderitaan, yang dialami dalah kehidupan ini seperti yang
   disebutkan dalam Wrhaspatti Tattwa sebagai berikut:


   Nihan tang adhyatmika siddhi ngaranya,
   ika wang humilangaken ikang duhka telu,
   ndya ta yang duhka telu ngaran, adhyatmika duhka,
   adhibhautika duhka, adhidaivika duhka.
   (Wrhaspatti Tattwa, 33)


   Artinya:


   Inilah yang disebut adhyatmika sidhi Orang yang dapat menghilangkan tiga sumber derita
   (penyakit). Tiga sumber derita itu adalah adhyatmika duhka (derita yang penyebabnya
   berasal dari dalam diri), adhibhautika duhka (derita yang penyebabnya berasal dari luar
   diri), adhidaivika duhka (derita yang penyebabnya berasal dari karma pada penjelmaan di
   masa-masa lampau).


3. Roga, penyakit yang diderita yang biasa terjadi bila keseimbangan dan
   keharmonisan dari ketiga unsur tri dosha terganggu, yang menyebabkan fungsi dari sistem
   yang ada di dalam tubuh akan terganggu. Keadaan inilah yang menyebabkan timbul suatu
   vyadhi (penyakit) dan keadaan yang demikian disebut roga (sakit).
   Menurut Ayurveda, prinsip utama dalam menjaga keseimbangan unsur tri dosha agar tubuh
   tetap svasthya atau sehat ada tiga hal pokok atau upasthamba yang harus dilakukan, yaitu:
          Ahara, melakukan diet seimbang. Makan dan minum sesuai kebutuhan, baik dalam
           kuantitas maupun kualitas. Bila keadaan dilanggar, maka keseimbangan ketiga unsur
           tri dosha akan terganggu dan akan mengakibatkan sistem jaringan ubuh
           terpengaruh, kekebalan tubuh tidak seimbang akhirnya tubuh menjadi sakit.


          Nidra, tidur nyenyak. Dalam sehari sebaiknya tidur kurang lebih selama sepertiga
           hari. Dengan tidur nyenyak sistem jaringan tubuh dapat mengadakan pemulihan,
           sehingga badan menjadi segar setelah jaga. Bila kurang tidur mmaka unsur pitta
           akan meningkat, yang menyebabkan gangguan terhadap keseimbangan tri dosha
           dalam tubuh, yang mengakibatkan fungsi sistem jaringan tidak optimal, akhirnya
           tubuh menjadi sakit.
                 Vihar, prilaku, gaya hidup yang alami. Maksudnya gaya hidup yang tidak alami ini
                  adalah merokok berlebihan, minum alkhohol hingga mabuk, sering bergadang
                  semalamann, sering berkelahi, sedih berlarut-larut, melakukan senggama
                  berlebihan dapat mengganggu sistem kekebalan tubuh, sehingga kuman penyakit
                  gampang masuk ke dalam tubuh.




       Mengapa daun dadap dipilih sebagai bahan tepung tawar? Daun dadap adalah
sejenis tanaman atau tumbuhan berupa pohon. Batang ada yang berduri dan ada yang
halus. Daun tiga bersatu dan berbentuk belah ketupat. Secara tradisional daun dadap
berguna untuk mengobati beberapa penyakit Bagian yang Digunakan Daun dan kulit kayu.
Nama Latin Erythrinae Folium; nama local Daun Dadap Serep. Daun dadap memiliki
kegunaan mengatasi demam, pelancar ASI, sariawan perut, mencegah keguguran (obat
luar), nifas (obat luar), perdarahan bagian dalam (obat luar), sakit perut (obat luar). Kulit
kayuberguna untuk : Batuk, Sariawan perut.

       Daun dadap disebut juga kayu sakti, hal ini mungkin sekali terkait karena
kegunaannya. Disamping itu ada cerita tantric yang berkembang yaitu tentang ikan gabus
yang   melakukan     tapa   dibawah     pohon     dadap.    Karena    ketekunannya      akhirnya
permohonannya dikabulkan oleh Hyang Widdhi. Maka segeralah ikan gabus ini menjelma
menjadi seekor trenggiling yang hidupnya didarat. Jika dikupas secara seksama maka ada
tiga komponen penting dalam cerita tadi yaitu telaga atau kolam, ikan gabus, pohon
dadap, dan klesih atau trenggiling.

       Telaga adalah lambang dunia ini, ikan gabus mewakili sifat rajas dan tamas,
dimana kita ketahui bersama bahwa ikan gabus sangat rakus makannya, karena itu ia
tergolong predator. Pohon dadab tempatnya bertapa mengandung makna hati-hati atau
waspada, artinya waspada terhadap sifat-sifat buas dan selalu eling. Klesih adalah
gambaran manusia yang telah mencapai pencerahan, ia tidak lagi rakus seperti ikan
gabus, kemanapun pergi selalu meninggalkan suara atau pesan dharma. Apabila ada
bahaya ia menggulung badannya sendiri seperti bola, hal ini bermakna introspeksi diri
atau melakukan koreksi kedalam diri. Sedangkan istilah tepung tawar bermakna bahwa
segala yang bersifat negative, hanya bisa ditawarkan atau dinetralkan, bukan dihapuskan.
Baik dan buruk merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan ini, namun
sebagai manusia kita bisa merubah sifat buruk kita menjadi lebih baik. Tepung sendiri
berasal dari buah padi, padi lambang Dewi Sri, dewi kemakmuran , buah itu Phala, jadi
harus ada niat menjaga agar alam ini selalu lestari kesuburannya, membawa
kemamkmuran bagi setiap insan.

      Hal ini tentu merupakan tugas yang cukup berat bagi kita agar mampu melayani
Tuhan dengan melayani umatn-Nya (Madawa sewa Manawa Sewa) Dengan demikian maka
yang diharapkan dari upacara tepung tawar itu adalah meruwat, mengubah dari sifat yang
kurang baik menjadi lebih baik. Inilah yang harus selalu diusahakan oleh setiap orang agar
selama hidupnya didunia ini selalu mengalami perubahan kearah kemajuan, baik dalam
urusan dunia maupun dalam urusan rohani, atau gelar urip dan gelar patinya hendaknya
seimbang. Terlebih lagi para pemimpin kita yang saat ini tengah sibuk memperjuangkan
nasibnya agar bila melenggang ke kursi legislative, atau bahkan menjadi orang nomor satu
di Indonesia. Jika para pemimpin menghayati dan meresapi bahkan mengambil hikmah
dari filosofis tepung tawar dalam kehidupan ini, niscaya akan menjadi pemimpin yang
sehat lahir batin menuju mokshartam jagadhita, bukan hanya bagi dirinya tetapi bagi
bangsa yang rindu akan pemimpin yang membawa kemakmuran bagi negri ini.

      Om Santih, santih, santih Om

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:162
posted:5/27/2010
language:Indonesian
pages:5
About Guru SMPN 1 BONTANG