SAMBUTAN MENTERI AGAMA RI PADA PEMBUKAAN KONFERENSI ISLAM REFORMASI by luk10459

VIEWS: 217 PAGES: 3

									                   SAMBUTAN MENTERI AGAMA RI
                PADA PEMBUKAAN KONFERENSI ISLAM
         "REFORMASI PEMIKIRAN DAN PENDIDIKAN DUNIA ISLAM"
               YADIM (MALAYSIA) DAN CMM (INDONESIA)
                TANGGAL 10 FEBRUARI 2006 DI JAKARTA

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
      Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang
senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua, sehingga pada hari ini
kita dapat menghadiri Upacana Pembukaan Konfenensi Islam "Reformasi Pemikinan dan
Pendidikan Dunia Islam" yang akan berlangsung sejak tanggal 10 Februari 2006 dalam
suasana yang penuh dengan keakraban dalam kerangka semangat Ukhuwah Islamiyah.
      Perkenankanlah pada kesempatan ini, kami menyampaikan salam dan permohonan maaf
diri Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden RI, yang tidak dapat hadir pada acara yang
mulia ini, karena adanya kewajiban lain yang harus dilaksanakan.
      Seperti yang telah direncanakan, kegiatan ini merupakan forum yang sangat strategis
dalam pengembangan pemikiran agama dan Sumber Daya Manusia (SDM). Maju tidaknya
sebuah agama tergantung dari kreativitas pemikiran penganut agama itu sendiri.
      Agama sebagai sistem nilai tidak cukup hanya menjadi kajian dan objek studi semata,
tetapi ajaran agama secana keseluruhan haruslah dipahami dan diamalkan oleh setiap
individu, keluarga, masyarakat, serta menjiwai segenap sisi kehidupan berbangsa dan
bernegara. Untuk itu, saya menghargai peran dan kepedulian Yayasan Dakwah Islamiyah
Malaysia (YADIM) dan Center for Moderate Muslim (CMM) yang memiliki komitmen
intelektual yang tinggi dalam rangka menunjang tugas pembangunan di bidang agama.
      Pada kesempatan ini, saya ingin menyampaikan bahwa Departemen Agama akan terus
memberikan dorongan kepada semua komponen umat Islam yang terus berusaha melakukan
reformasi pemikiran dan pendidikan dalam dunia Islam. Bahwa umat Islam saat ini sedang
dalam kondisi yang sangat memperihatinkan dalam berbagai bidang, baik ekonomi maupun
sosial budaya. Kondisi tersebut diperparah dengan isu-isu terorisme yang terus menerus
dilekatkan ke pundak umat Islam. Ditambah akhir-akhir ini mengenai pelecehan orang-orang
Barat terhadap keagungan Nabi Muhammad SAW melalui kartun yang dimuat dalam media
cetak di Denmark dan di beberapa negara Eropa lainnya. Kita harus cepat sadari bersama,
bahwa semua itu disebabkan oleh stagnasi pembaharuan pemikiran dan kualitas pendidikan
umat Islam yang masih rendah.
      Ada dua hal yang perlu mendapat perhatian. Pertama, dalam bidang pemikiran
keagamaan, masih kita saksikan kencangnya pertentangan dua arus pemikiran besar dalam
Islam, yaitu Islam fundamental dan Islam liberal. Kelompok yang mengidentifikasikan diri
dengan Islam fundamental menganggap gagasan-gagasan Islam liberal akan dapat merusak
tatanan Islam sebagaimana yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Mereka tidak ragu
mengkategorikan Islam liberal sebagai racun masyarakat yang harus dipangkas dan dibasmi
karena mengusung ide-ide yang memiliki semangat Barat. Sebaliknya, kelompok Islam yang
mengaku liberal menganggap Islam fundamental sebagai ancaman terhadap kemoderenan,
demokrasi, toleransi, pluralisme, inklusifisme, HAM dan lain-lain yang hakikatnya menjadi
inti ajaran Islam itu sendiri. Bagi Islam liberal, Islam fundamental dituduh menjadi lahan
subur tumbuhnya paham dari sikap radikalisme tanpa kompromi di tengah kehidupan yang
semakin terbuka.



                                            1
      Namun, satu hal yang harus dijadikan bahan renungan kita semua adalah bahwa Nabi
Muhammad SAW diutus oleh Allah SWT di muka bumi ini adalah untuk menyempurnakan
akhlak. Kesempurnaan akhlak yang baik akan bisa kita sandang ketika kita mampu
menginternalisasikan nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam ajaran Islam. Ketika
Muhammad SAW diutus sebagai Nabi dengan kultur dan bahasa Arab melalui Al-Quran dan
Al-Hadis, maka dalam logika yang sangat sederhana bahwa umat Islam yang mempunyai
kultur yang sangat majemuk dan beragam perbedaan sudut pandang, maka amat wajar jika
terjadi beragam perbedaan dalam menafsirkan atau memahami setiap teks ajarannya, baik
yang bersifat non prinsip maupun yang prinsip sekalipun. Karena toh sesuatu nilai yang
dianggap prinsip dan tidak prinsip pun ternyata juga menjadi wacana perdebatan yang
mungkin tidak akan pernah habis. Padahal mereka sama-sama beriman kepada Allah SWT,
mengakui Muhammad SAW sebagai Rasul, Al-Quran dan Al-Hadits sebagai pegangan,
percaya kepada hari akhir dan lain-lain.
      Untuk itulah, dalam rangka menjaga kebersaman dan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam
dengan semangat pembaharuan pemikiran Islam, setajam apapun perbedaannya dalam
memahami dan menafsirkan teks ajaran Islam seharusnya kita letakkan ke dalam kelengkapan
khazanah intelektual yang bisa dipertanggungjawabkan. Yang penting, niat dan kerangka
intelektual yang digunakan bisa dipertanggungjawabkan secara moral dalam membangun nilai
kemulyaan akhlak dan kemajuan peradaban yang madani.
      Saya berharap wacana pembaharuan pemikiran Islam jangan hanya berhenti pada
lingkup teks yang sering menimbulkan perdebatan dan tidak produktif. Tapi pembaharuan
pemikiran Islam harus juga difokuskan pada evolusi peradaban menuju teknologi modern
dengan mengambil semangat kemajuan Islam pada abad pertengahan. Karena peran teknologi
di tengah peradaban global memiliki kunci yang sangat vital dalam membangun sebuah
bangsa.
      Kedua, dalam kaitannya dengan pendidikan, termasuk pendidikan agama dapat
dikatakan sedang menghadapi tantangan yang cukup berat, yaitu agama dihadapkan pada
suatu kenyataan terhadap kencangnya tekanan arus globalisasi. Oleh karena itu, umat Islam
harus siap menghadapi era tersebut. Kehidupan masyarakat baru seperti itu dituntut adanya
kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas tinggi, yaitu SDM yang benar-
benar mempunyai kualitas akademik, skill dan keunggulan moralitas (agama) yang baik.
      Sebagai konsekuensi logis dalam rangka menciptakan SDM yang berkualitas tinggi
diperlukan mutu pendidikan yang baik pula sebagai proses dinamis yang memadai. Sekarang
yang menjadi pertanyaan adalah, sejauh mana kualitas SDM produk pendidikan umat Islam?
Kalau kita mau jujur, bahwa produk SDM umat Islam masih rendah.
      Berdasarkan posisi serta tantangan seperti diuraikan di atas, bagaimanakah wujud umat
Islam dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan sebagai upaya memperbaiki kualitas
SDM yang memadai? Secara otomatis jawabannya adalah masyarakat yang berpendidikan
baik. Oleh karena itu, proses pendidikan, khususnya dalam menghadapi tantangan dan
persaingan masa depan harus ditujukan pada reformasi kelembagaan dan kurikulum
pendidikan secara utuh, agar pendidikan umat Islam memiliki kemampuan untuk
melaksanakan peran, fungsi dan misinya secara maksimal.
      Paradigma sistem pendidikan yang dimiliki umat Islam selama ini perlu dikaji dan
disempurnakan. Bangunan pendidikan selama ini berpedoman pada konsepsi input-output
analysis atau education productionfunction. Paradigma yang mempunyai akar teori pada
bidang ekonomi produksi ini berkeyakinan bahwa apabila input diperbaiki, maka secara
otomatis output akan menjadi baik pula. Landasan teori yang berhasil dalam dunia industri
ternyata tidak selalu dapat dibuktikan dalam dunia pendidikan. Hal ini dikarenakan lembaga
pendidikan tidak bisa disamakan dengan pabrik dalam dunia industri, sebab input pendidikan
bukan input statis melainkan input dinamis yang banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor,
khususnya faktor proses dan konteks pendidikan. Karena itu paradigma sistem pendidikan



                                            2
umat Islam harus mencakup kedua faktor tersebut (proses dan konteks) disamping faktor
input dan output pendidikan. Bahkan dalam hal pendidikan, input justru tidak terlalu
dipermasalahkan. Faktor-faktor proses dan konteks itulah yang mempengaruhi dan
menentukan output pendidikan. Karena itu, masalah-masalah seperti manajemen, kurikulum,
kualitas guru, metode belajar menjadi sangat penting dalam proses pendidikan.
      Saya sangat apresiatif terhadap Konferensi Umat Islam ini sebagai upaya membuka
wacana reformasi pengembangan pemikiran dan pendidikan Islam dalam rangka mencapai
peradaban madani yang sejahtera dan berkeadilan.
      Akhirnya, dengan membaca "Bismillahirrahmanirrahim" Koferensi Islam "Reformasi
Pemikiran dan Pendidikan Dunia Islam" dibuka.
      Demikian, semoga Allah SWT meridhoi niat baik kita bersama.
Ihdinash-Shirathal Mustaqiem,
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

                                                               Jakarta, 10 Februari 2006
                                                               Menteri Agama RI
                                                                      ttd
                                                               Muhammad M. Basyuni




Disampaikan pada Acara Pembukaan Konferensi Islam "Reformasi Pemikiran Dan Pendidikan Dunia Islam"
YADIM (Malaysia) dan CMM (Indonesia), tanggal 10 Februari 2006 di Hotel Sahid Jakarta.




                                                   3

								
To top