topenghitamkelam by gendutkribo

VIEWS: 43 PAGES: 80

									TOPENG HITAM
mjbookmaker by:
http://jowo.jw.lt

Ambhita Dyaningrum

 Malam beringsut perlahan. Bunyi binatang malam bersahut-sahutan
 di kejauhan. Penjaga portal di pintu gerbang terkantuk-kantuk d
engan televisi masih menyala di sudut ruang. Wajahnya menengadah
 dan mulutnya yang ternganga mengeluarkan bebunyian yang mengusi
k kesunyian malam. Gelap menyembunyikan tiga bayang-bayang hitam
 yang bergerak tanpa suara menuju pusat kompleks gedung yang meg
ah berkubah itu. Kegesitan tampak dari gerak-gerik menonaktifkan
 sistem keamanan dengan portable computer yang didudukkan di rer
umputan kering, yang malam itu digayuti embun. Isyarat mata bers
ahut-sahutan dari wajah-wajah yang bertopeng hitam dan jari-jema
ri yang dibalut kaus tangan warna hitam pula. Dalam hitungan ket
iga, bayangan-bayangan itu berbagi tugas. Lasak di malam yang ti
dur.


 Tiba-tiba dingin mulai terasa hangat. Gelap tiba-tiba disibakkan
cahaya benderang. Penjaga portal terbangun karena merasa pipinya m
enghangat. Ia risau dalam dengkurnya, kemudian akhirnya terjaga. D
ari kaca-kaca jendela ia melihat nyala yang terang. Ia terperanjat
 melihat sinar kemerah-merahan menjulang dari dinding-dinding gedu
ng berkubah. Kantuknya terenggut tiba-tiba oleh dentuman mahadahsy
at dari jantungnya. Kebakaran!


 Ia memeriksa sistem keamanan. Mati. Alarm tak berfungsi. Ia mer
aih gagang telepon di meja. Tak ada nada sambung. Ia kian panik.
 Napasnya mendengus-dengus. Layar monitor pemantau seluruh siste
m gedung mati. Ia kemudian berlari sekencang-kencangnya ke arah
gedung yang terbakar. Berteriak-teriak memanggil nama teman-tema
nnya dengan lolong yang lebih buruk dari suara serigala yang ter
luka.



 Sementara itu, tiga bayang-bayang hitam telah bergerak mundur d
engan senyum kemenangan di sudut bibir mereka masing-masing. Ket
iganya saling mengacungkan ibu jari. Misi telah selesai dijalank
an. Kemudian bayang-bayang itu bersicepat dengan waktu, mengenda
p-endap di pekat malam yang telah diracuni panas dan terang caha
ya api. Menghilang seperti partikel debu di udara. Dan di suasan
a seperti itu, derum kendaraan sekeras apa pun tenggelam dalam k
egaduhan yang lebih mencemaskan yang datang dari gedung yang ter
bakar.



 Stepa kembali datang ke perpustakaan tua sore itu. Entah doronga
n dari mana yang membuat ia merasa tertarik dengan bangunan usang
 yang telah dimakan usia itu. Dinding perpustakaan mulai berlumut
 dan retak-retak sehingga membentuk liang-liang. Liang-liang keci
l itu dihuni semut-semut yang kerap kali muncul ke permukaan beri
ring-iringan. Lantainya yang lembap dan terasa dingin di kaki mem
buat Stepa merasa senang menyentuhkan telapak kakinya disana saat
 asyik membaca.Ada sensasi tersendiri dengan senyap itu.



 Penjaga perpustakaan yang juga telah dimakan usia, Pak Raste nam
anya (untunglah namanya bukan Rasta), berambut keriting kecil-kec
il dan berkacamata setebal kaca nako jendela. Ia tampaknya baik,
hanya sedikit tegang pembawaannya. Barangkali ia termasuk orang y
ang sangat takut berbuat kesalahan. Ia berhati-hati sekali dalam
bekerja, mencatat, dan memasukkan data ke komputer. Sambil melaku
kan pekerjaannya, ia juga tetap mengawasi gerak-gerik orang dari
balik kacamatanya yang tebal. Ia mencurigai orang-orang yang masu
k ke perpustakaan dengan baju tebal. Ia pikir mereka berniat menc
uri buku dari perpustakaan dengan cara menyembunyikannya di balik
 baju. Hal itu pernah terjadi sebelumnya berulang kali, sehingga
membuat Pak Raste jadi trauma. Rasa cemas membuat ia selalu memel
ototi setiap orang yang keluar masuk perpustakaan, kendati sebena
rnya perpustakaan telah dipasangi detektor untuk mencegah pencuri
an. Jadi, siapa pun yang melakukan kecurangan tak akan bisa lolos
 dari pengawasan. Namun, meskipun ia bukan termasuk jenis orang y
ang ramah dan mau berkompromi, Stepa menyukai orang tua itu karen
a mengingatkan ia pada pria yang ia sebut Ayah, yang telah mening
gal sekian tahun silam.
 Mengherankan sebetulnya, bila Pak Raste begitu paranoid dengan i
si perpustakaannya, mengingat nyaris tak ada buku baru disana . P
engunjungnya pun tak terlalu banyak, kecuali orang-orang yang mem
ang melakukan riset dan mahasiswa yang mencari data untuk tugas a
khir mereka.



 Isi perpustakaan itu sama tuanya dengan gedung dan penjaganya. Ia
 seperti berhenti sejak sekitar sepuluh tahun yang silam. Tahun te
rbitan terakhir yang bisa ia temukan telah melampaui waktu itu. Bu
ku-buku di perpustakaan Pak Raste seperti simpanan arsip yang tela
h kedaluwarsa dan hanya ditumpuk begitu saja, kemudian tak ada ars
ip baru. Berhenti begitu saja di tahun itu.



 Suatu kali Stepa merasa tertarik dengan buku-buku yang diletakka
n di rak paling atas. Ia bersusah-payah menarik tangga dan mencob
a menjangkau buku-buku, di rak paling atas. Debu meliputi tepi-te
pi buku membuat ia beberapa kali bersin. Kebanyakan buku-buku yan
g diletakkan disana adalah buku-buku sejarah, antropologi, dan ke
dokteran yang usianya sudah sangat tua. Kertasnya telah menguning
 dimakan waktu. Mungkin karena sudah terlalu tua dan diperkirakan
 tidak lagi dicari banyak orang sehingga diletakkan di tempat yan
g sulit dijangkau. Stepa hanya memuaskan rasa ingin tahunya denga
n melihat judul-judul buku dan sekilas isinya. Ia harus beberapa
kali bersin karena debu dan bau apak yang menggelitik hidungnya.
Ia kurang tertarik dengan bidang-bidang itu, sehingga kemudian ke
mbali meletakkan buku-buku yang ditengoknya ke tempat semula. Tib
a-tiba, setelah membolak-balik buku, ia didatangi oleh Pak Raste
dan mendapatkan teguran darinya.



 “Hei, Anak muda. Buku apa sebenarnya yang kau cari?” ujarnya gus
ar. Rupanya bunyi berkeriut tangga besi yang sudah mulai karatan
dan suara debum buku yang dibolak-balik dengan tergesa oleh Stepa
 telah mengusik telinga tuanya. Stepa nyengir mendengar teguran i
tu. Ia kemudian turun dari tangga.
 “Hanya melihat-lihat,” sahutnya kalem, “siapa tahu ada buku yang s
aya butuhkan di atassana .”



“Dan sudah kau temukan buku itu?”



 “Ehm...,” Stepa berpikir sejenak. “Tidak. Tidak ada buku yang say
a perlukan. Tidak ada yang cukup menarik juga. Hanya arsip-arsip k
uno yang tampaknya sudah sangat ketinggalan zaman.”



 “Kalau begitu segera saja cari buku di tempat lain, yang mudah te
rjangkau, yang menarik dan yang kau butuhkan. Dan jangan bikin gad
uh perpustakaan.”



 Ups. Stepa menutup mulutnya dengan tangannya. Galak benar orang
 tua ini, gerutunya dalam hati. Ia segera turun dari tangga. Pak
 Raste mengawasi dari balik kacamatanya yang tebal. Bola mata tu
a yang abu-abu itu seperti hendak menembus keluar lewat kacamata
nya. Stepa mengangguk sambil tersenyum-senyum tatkala melewati o
rang itu.



“Maaf, Pak Raste....”



 Ia kemudian berada di sudut lain, di bagian buku-buku sastra, fav
oritnya. Ia mengambil salah satu buku dari rak itu. Hmm..., sebuah
 novel kuno. Salah satu koleksi kesayangan Nenek. Stepa meraih buk
u yang lain. Sebuah novel juga. Kemudian ia mencari tempat di meja
 kosong dekat jendela.
 Ditelusurinya huruf demi huruf di hadapannya. Sesekali keningnya
 berkerut. Kesungguhan terpancar di wajahnya. Tarikan garis-garis
 wajahnya yang mengendur dan mengencang adalah cerminan gejolak b
atinnya. Kalau sudah begitu ia biasanya lupa waktu. Tanpa sadar h
ari sudah mulai gelap. Ia segera tersadar ketika tahu-tahu Pak Ra
ste sudah mulai merapikan buku-buku yang bergeletakan di atas mej
a dengan rak kereta dorongnya.



 “Sudah hampir malam, Anak muda,” ujarnya dengan suara rendah. I
a sudah tidak segalak sebelumnya.



“Ya, Pak,” Stepa mengangguk sembari menutup buku di hadapannya.
Ia memandang berkeliling. Hanya tinggal ia dan Pak Raste. Stepa
melirik arloji yang melilit pergelangan tangannya. Pukul tujuh
malam kurang enam menit. Ia terkaget-kaget. Tidak menyangka bisa
setahan itu membaca novel ratusan halaman itu. Ia menandai hala
man dengan pembatas buku.



 “Mau kau pinjam novel itu?” tanya Pak Raste. “Jam pinjam sebenar
nya sudah habis, dan komputernya sudah saya matikan. Tapi, kalau
kau ingin meminjamnya... baiklah saya catat dulu di buku, besok b
aru saya masukkan datamu ke komputer.”



“Kalai begitu terima kasih sekali, Pak. Novel ini bagus sekali. Saya
sangat menyukainya.”



 “Tentu saja. Novel itu mendapatkan penghargaan tinggi di zamanny
a. Penulisnya memang luar biasa. Ia bertangan dingin. Hampir semu
a karyanya meledak di pasaran dan menjadi buku yang paling dicari
 orang. Terutama yang satu ini. Saya juga sangat menggemari karya
-karya penulis novel ini.”



 Stepa mengangguk-angguk. Ia diam-diam keheranan mendengar penutu
ran Pak Raste. Orang tua galak itu ternyata juga memiliki selera
sastra yang bagus. Ya, ia sudah sering mendengar nama penulis itu
 dalam pelajaran tentang sejarah sastra. Penulis itu berada pada
jajaran atas penulis di zamannya. Karya-karyanya selalu menjadi m
asterpiece. Ia menatap kulit sampulnya yang berwarna merah darah.
 Stepa kemudian beranjak dari tempat duduknya.



“Tolong catatkan ini dulu, Pak Raste,” katanya. “Saya pinjam dulu.”



Pak Raste mengangguk sambil tetap meneruskan pekerjaannya.



 “Sudahlah kau pergi saja. Saya sudah hapal judul novel dan penulisn
ya. Lagi pula, saya sudah bosan melihatmu di sini.”



Stepa mengangkat bahunya tinggi-tinggi.



“Okey, thanks.”



 Sebelum pergi ia menyempatkan menepuk bahu Pak Raste dengan akrab
 sehingga orang tua itu menjadi kaget. Stepa segera melesat keluar
 sambil bersiul-siul. Di pintu keluar alarm berbunyi. Stepa berbal
ik dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
“Pak Raste telah memberikan rekomendasi!” teriaknya.



 Pak Raste tampak kesal karena ia sendiri lupa bahwa alarm itu ak
an berbunyi bila Stepa melangkah keluar. Sambil mengomel-ngomel i
a melangkah hendak mematikan alarm. Sementara itu Stepa sudah lar
i tunggang-langgang.



 Saking tergesa-gesanya, Stepa menabrak seseorang di dekat pintu k
eluar. Sepatu ketsanya berdecit-decit di lantai saat ia mengerem l
arinya. Tetapi sudah terlambat. Tak ayal bahunya menerjang sesosok
 tubuh di depan pintu itu. Terdengar suara teriakan tertahan seora
ng wanita dan buku-buku yang berjatuhan.



 Dan itulah dia. Seorang wanita yang pucat pasi berdiri di hadapan
nya dengan mulut ternganga saking kagetnya. Wajah tirus dan tubuh
kurusnya tersembunyi tidak terlalu baik di balik jaketnya yang teb
al. Penampilannya tidak terlalu menarik. Hanya saja, matanya yang
lebar sungguh terlihat sangat cerdas. Kekagetan luar biasa di waja
h si gadis tak urung membuat Stepa menyesal bercampur geli.



 “Maaf,” ujar Stepa. Ia berjongkok memunguti buku-buku si gadis ya
ng berjatuhan. Sekilas matanya melirik judul-judul di kulit buku.
Ia menangkap judul besarnya: Anatomy, Surgery, Double Helix..., si
 gadis buru-buru merebut buku-bukunya dari tangan Stepa. Ia merasa
 tidak senang.



 Stepa mengamati wajah si gadis. Ia kemudian teringat bahwa ia per
nah melihat gadis itu di suatu tempat. Ia memegang jidatnya. Di ma
na ya? Tolol, gadis itu memang selalu kemari di saat perpustakaan
sudah hampir tutup. Stepa menepuk jidadnya. Barangkali pacar Pak R
aste. Ia tersenyum sendiri.
 Tahu-tahu gadis itu melesat meninggalkannya. Ia melangkah masu
k ke perpustakaan dengan langkah-langkah yang panjang.



 “Hei..., perpustakaan sudah tutup!” seru Stepa. “Si tua Raste tida
k akan mau melayanimu. Besok saja kembali.”



 Si gadis tak memberikan perhatian sedikit pun. Ia terus saja mela
ngkah masuk. Stepa menggerutu.



“Ya, terserah kaulah...”



Nadine mengetuk-ngetuk kaca pintu dapur dengan keras.

“Hello..., anybody home?”



 Elisa yang sedang berdiri memunggunginya, di antara bising suara
 mixer, menoleh. Celemek di tubuhnya penuh bercak adonan kue.Ada
tepung lekat di pipi kanannya. Nadine tersenyum geli melihatnya.



“Hai...,” Lisa menyambutnya senang. “Sorry, saya sedang sibuk bikin
kue.”



Nadine mengelap tepung di pipi sahabatnya dengan tisu.
 “Adaapa, nih? Kok pakai acara bikin kue segala? Seperti bukan Lisa
saja. Bik Inah ke mana?”



“Belanja bahan-bahan yang saya butuhkan untuk membuat kue.”



Lisa segera menyorongkan kursi.



 “Duduklah,” ujarnya riang. Nadine tak menghiraukannya. Ia mengam
ati adonan kue di atas meja. Mencolek sedikit dengan telunjuk dan
 mencicipinya.



”Nyam, nyam..., enak. Kue apa, nih?”



 “Itu kue truffle coklat. Kalau kau cukup bersabar menunggu matang
, kau akan bisa merasakan kue buatanku yang lezat.”



“Truffle? Hmm..., belum matang saja sudah enak begini.”



 Nadine hendak mencolek lagi tapi Elisa dengan sigap menjauhkan t
angannya.



“Eit, jangan. Nanti cita rasanya jadi buruk karena kotoran di jari
mu. Kau makan yang lain saja yang sudah matang. Oke?”
“Apa itu yang sudah matang? Mana itu yang sudah matang?”



“Kerupuk di toples itu.”



“Huh!”



“Tunggu, ya?”



 Elisa mematikan mixer. Ia kemudian menuangkan adonan ke dalam lo
yang yang telah dialasi kertas roti yang diolesi mentega. Dengan
gerakan pelan ia meratakan adonan itu ke dalam loyang. Adonan kue
 di dalam loyang itu dimasukkannya ke dalam oven. Nadine terus me
mperhatikan gerak-gerik Elisa yang cekatan.



Setelah itu Elisa duduk di dekat Nadine.



“Adaapa? Baru dari mana?” tanya Elisa.



 “Saya heran...,” desah Nadine seperti tak mendengar pertanyaan s
ahabatnya. “Mengapa seorang Elisa tiba-tiba menjadi sangat membum
i? Menjadi wanita biasa, bercelemek, dan membuat adonan?Ada sesua
tu yang salah di sini. Seharusnya akulah yang bertanya kepadamu,
‘Adaapa?’ Karena kau sangat tidak biasa menjadi seseorang yang ‘s
angat biasa’.”



Elisa tertawa.
“Kau pasti sangat ingin tahu,kan ?”



 “Tentu saja. Atau, kau ingin membuka bisnis restoran karena s
udah bosan dengan pekerjaanmu yang sekarang? Kau sedang berusa
ha mengumpulkan resep dan mencoba-cobanya?”



 “Motifnya tidak selalu bisnis, Sayang. Kenapa kau menduga ke arah i
tu?”



 “Everything deals with money. Yang saya tahu kau selalu begitu. T
idak ada yang kau kejar selain untuk mendapatkan uang. Kau selalu
punya rencana di balik kepalamu bila tiba-tiba melakukan hal-hal y
ang di luar kebiasaan. Biasanya motifmu selalu motif ekonomi. Jang
an menyangkal itu karena saya tahu benar siapa kau.”



Tawa Lisa kian keras.



 “Oh, kali ini kau salah mengambil kesimpulan, Nona manis.Ada sis
i lain dalam diriku yang mungkin kau lupakan. Saya ini romantis.
Saya melakukan sesuatu karena saya sangat menginginkannya. Saat i
ni saya tiba-tiba ingin melakukan pekerjaan yang lazim dilakukan
oleh kaumku, membuat kue. Kalau saya berhasil melakukannya, maka
saya sungguh layak disebut wanita yang baik. Tak serumit yang kau
 pikirkan. Dan, mana tahu, dengan keterampilanku memasak ini suat
u waktu saya dengan bangga akan berkencan di rumah saja, having d
inner dengan hidangan yang kubuat dengan tanganku sendiri. Kau ta
hu, pria selalu jatuh hati kepada wanita yang bisa membuat masaka
n enak.”
 “Jadi, kalau boleh kutebak, saat ini kau sedang mempersiapkan ken
canmu? Kau sedang jatuh cinta?”



 “Ya..., boleh saja kau tebak begitu. Tapi, sebentar, saya mau bikin
krim dulu untuk kueku.”



 Nadine tiba-tiba saja menjadi bosan. Ia berharap menemukan Elisa y
ang biasanya. Bicara tentang hal-hal spektakuler, bukan hanya sekad
ar kue truffle dan kencan. Elisa yang selalu membicarakan info-info
 terkini dan bukan hal-hal biasa seperti pekerjaan wanita di dapur.



Nadine mendesah karena ketakmengertiannya pada sikap Elisa.



 “Jadi, cintalah yang bisa membuatmu gelap mata?” tanyanya denga
n wajah suram.



“Apa? Gelap mata?”



 “Ya, kusebut ini gelap mata. Kau belum pernah melakukan hal-hal
 yang tidak kau sukai untuk mendapatkan sesuatu. Kalau sekarang
kau melakukannya, apa itu bukan gelap mata namanya?”



“Jangan sinis begitu, dong. Kau mulai seperti Hasta.”
“Siapa Hasta?”



“Temanku. Pria yang selalu memandang dunia dengan sinis.”



 “Baik. Sekarang langsung saja saya bertanya padamu, kau sedang j
atuh cinta dengan siapa rupanya?”



 “Nah, yang ini baru Nadine yang kukenal. Straight to the point. Tapi
 yang ini belum bisa saya jawab sekarang. Tapi yang pasti, kali ini s
aya benar-benar jatuh cinta.”



“Seserius apa? Jangan-jangan kau mau menikah?”



“Wah, tepat pada sasaran.”



“Jadi benar kau mau menikah?”



 “Ah, kenapa sih kau selalu saja menanggapi dengan serius? Cobalah
untuk sedikit lebih relaks. Ini bukan tugas dokter yang memerlukan
penanganan serius. Terkadang kita juga perlu libur membicarakan hal
-hal yang ‘gawat’. Santailah sedikit....”



 Nadine tersipu-sipu mendengar kata-kata Elisa. Selama ini ia mema
ng selalu disibukkan dengan hal-hal yang serba serius. Sebagai seo
rang calon dokter, pekerjaan menuntut ia menjadi seorang yang seri
us, bahkan cenderung perfeksionis, dan gila logika. Terkadang Elis
a dapat mengimbanginya sehingga mereka terlibat perdebatan seru te
ntang banyak hal yang serius. Di lain waktu, seperti saat itu, Eli
sa menjadi orang yang ingin bicara hal-hal ringan namun penuh pere
nungan. Latar belakang Elisa sebagai seorang yang berasal dari dis
iplin ilmu sosial humaniora membuat ia sangat humanis, yang ingin
membicarakan hal-hal yang kontemplatif. Namun, Nadine tak pernah b
isa melakukannya.



 Elisa sibuk mengaduk krim di atas kompor gas. Nadine merasa cap
ai menunggunya memberikan jawaban yang memuaskan. Begitulah sela
lu Elisa yang dikenalnya selama lebih dari sepuluh tahun lamanya
. Nadine belum juga terbiasa dengan kebiasaan menggantung kalima
tnya. Seperti halnya Elisa biasa menggantung suatu keadaan dan m
enyingkir diam-diam ke wilayah aman di mana ia bisa bersembunyi
untuk tak mengakhiri kengambangan itu. Karena itu jualah Elisa p
unya banyak teman jalan. Pacarnya cuma satu, tapi ia bisa berken
can dengan beberapa orang lain dalam waktu yang bersamaan tanpa
ada kejelasan hubungan. Dan ia sengaja memilih wilayah abu-abu,
yang menurutnya paling aman dari segala hukum dan teori karena m
engandung praduga tak bersalah. Amanlah pula ia dari tudingan ‘b
erselingkuh’ atau ‘punya pacar lebih dari satu’, karena kenyataa
nnya ia memang hanya punya satu pacar. Selebihnya hanyalah ‘teman jalan’.



 Elisa sangat menikmati hal itu. Ia beruntung dikaruniai wajah yang
 cantik. Ia juga pintar bergaul dan memiliki inner beauty yang kuat
. Nyaris tanpa cacat. Menurut Nadine, Tuhan sedang sangat berbahagi
a saat menciptakan Elisa. Dengan bakatnya yang besar, Elisa kini me
njadi seorang reporter di Space TV, sebuah stasiun televisi swasta.
 Karirnya sedang bagus-bagusnya.



 Sayang, pada akhirnya hubungan Elisa dengan pacarnya harus seles
ai. Keputusan Johan untuk meninggalkan Elisa merupakan pukulan ya
ng meruntuhkan kesombongan gadis itu. Ia mengira Johan akan tetap
 mempertahankannya, kendati apa pun yang ia lakukan. Ia tak perna
h berpikiran bahwa Johan akan meninggalkannya suatu ketika setela
h capai untuk selalu memahami. Tinggallah Elisa berkubang dalam k
esedihannya, dan di saat itulah semua ‘teman jalan’ menjadi tidak
 berarti sama sekali, karena permainan tidak lagi menarik tanpa s
eorang kekasih di sampingnya.



 Setelah ditinggalkan Johan, Elisa tampaknya malas berhubungan la
gi dengan pria. Nadine bisa melihat bahwa sesungguhnya Elisa mera
sa sangat kesepian. Ia berusaha untuk membunuh kesepiannya dengan
 bekerja. Selain bekerja sebagai reporter, Elisa juga menyanyi di
 kafe di saat-saat senggangnya. Semua itu dilakukannya demi mengh
ilangkan kesedihan.



 Setelah semua yang terjadi, dan setelah sekian lama tidak lagi ber
kencan, kalau tiba-tiba Elisa berdiam di rumah dan melakukan pekerj
aan yang tak pernah ia sukai sebelumnya dan alasannya adalah karena
 cinta, maka itu berarti benar-benar telah terjadi sesuatu pada dir
inya.



Kini sepotong truffle coklat telah terhidang di hadapan Nadine.
Nadine mengendus aromanya yang harum. Hidungnya kembang-kempis.
Elisa tersenyum puas melihatnya.



“Ayo dicicipi dan kemudian berkomentarlah. Berikan kritik, saran,
atau apa saja karena saya membutuhkannya.”



 Nadine mengambil sendok kecil di pinggir piring. Ia menyendok la
pisan atas truffle yang kenyal dan lembut kemudian disuapkan ke m
ulutnya. Rasa manis menyentuh lidahnya. Nadine mengunyahnya hingg
a tandas.



“Enak,” ujarnya sambil menyendok lagi. Kali ini ia benar-benar lahap
.



 “Ini luar biasa,” pujinya tulus. “Ini karya pertamamu, dan rasany
a benar-benar menakjubkan. Bagaimana kalau kau berhenti saja jadi
reporter, bukalah sebuah restoran, saya jamin kalau semua hidangan
nya selezat ini kau bisa menangguk uang lebih banyak dibandingkan
dengan penghasilanmu kini setiap bulannya. Kau berbakat.”



 Elisa tertawa senang mendengar pujian sahabatnya. Ia menyodorkan
segelas air putih dingin kepada Nadine.



 “Saya hanya ingin membuktikan dugaan orang bahwa saya hanyalah
seorang wanita modern-hedonis yang tak mengenal pekerjaan-pekerj
aan rumah tangga adalah salah sama sekali. Saya bisa melakukan p
ekerjaan ini, dan hasilnya pun tidak mengecewakan. Setidaknya ad
a pengakuan dari seseorang yang mencicipi masakanku. Pengakuanmu
 sebagai seorang yang memiliki selera makan tinggi adalah sebuah
 indikator bahwa hasil masakanku cukup representatif. Bukankah d
emikian?”



    Nadine terkekeh.



    “Mencari pengakuan rupanya, he?”



    “Seandainya dia ada di sini dan mendengar komentarmu…,”



 “Tunggu tunggu, siapa ‘dia’ itu?” tukas Nadine. Telinganya cukup
tajam untuk dapat menangkap setiap kata yang diucapkan Elisa.
Elisa mengibaskan tangannya dengan sikap meremehkan.



 “Ah, tidak cukup penting,” ujarnya. “Sebaiknya tidak usah kita bicar
akan.”



 “Hm…,” Nadine menjilat-jilat bibirnya yang masih meninggalkan sisa
manis coklat. “Ah, saya sampai lupa tujuanku kemari,” tiba-tiba ia m
enepuk jidatnya, “ini gara-gara truffle coklatmu.”



 Nadine mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah amplop be
rwarna merah hati.



“Undangan ke pesta Raia, Kamis besok.”



“Adaapa?” Elisa tertegun menatap undangan itu.



“Kau lupa? Raia ulang tahun Kamis besok.”



Ekspresi kaget Elisa mengendur. Ia menghela napas.



“Oh ya, saya hampir lupa,” desahnya.
 “Hampir lupa? Kau memang lupa,kan ?” sergah Nadine. Ia mengamat
i perubahan ekspresi di wajah Elisa. Apakah hubungan mereka suda
h begitu renggang sehingga Elisa melupakan ulang tahun Raia, ata
u Elisa yang terlalu sibuk dengan urusannya sendiri? Mungkin bah
kan Elisa lupa punya teman bernama Raia.



Tatapan tajam Nadine membuat Elisa merasa bersalah.



“Maafkan saya, saya benar-benar lupa,” ucap Elisa lirih.



 “Kau mau datang,kan ?” Nadine berusaha membuatnya tidak merasa
bersalah lebih lama.



“Kau datang?”



“Ya, tentu saja. Kau juga datang,kan ?”



 Elisa membaca undangan itu sekilas, kemudian meletakkannya di at
as meja. Wajah cantiknya terlihat resah. Nadine menangkap perubah
an itu.



“Mungkin saya tidak bisa datang.”



“Kenapa?”
“Saya ada tugas meliput ke luarkota .”



 Kening Nadine berkerut. Dicarinya kejujuran di mata Elisa tapi wani
ta sahabatnya itu menghindar.



“Kau tidak sedang berbohong kepadaku?”



Elisa menggeleng.



 “Saya harus pergi ke Merican, meliput Human Care, perusahaan bio
teknologi yang terbakar beberapa hari yang lalu. Kau ingatkan per
usahaan itu, yang pernah menggemparkan karena berhasil melakukan
rekayasa genetika terhadap seekor kucing? Ingat the laughing cat?”



Nadine mengangguk.



 “Ya, the laughing cat. Tentu saja saya ingat. Kita pernah mendisk
usikannya. Dokter Karel pun pernah menceritakannya kepadaku.”



“Dosen pujaanmu itu?” goda Elisa.



Nadine memerah mukanya.
“Ya, dosen pujaanku,” akunya malu-malu. “Ngomong-ngomong, apa
penyebab kebakaran perusahaan itu?”



 “Belum ditemukan penyebabnya. Saya menduga ini sabotase. Bany
ak pihak yang tidak menyukai perusahaan ini karena dianggap me
langgar hukum agama dan sangat tidak manusiawi. Mereka melakuk
an pekerjaan sebagai Tuhan dengan bermain-main dengan kehidupa
n makhluk-Nya.



 Bukan main ya, teknologi zaman ini? Sulit membayangkan gen manus
ia bisa dipindahkan pada seekor kucing sehingga membuatnya memili
ki sebagian sifat manusia. Saya tak pernah belajar ilmu biologi a
tau kedokteran sehingga bagiku sangat muskil untuk dilakukan. Nya
tanya memang itu yang terjadi. Lagi pula, proyek itu sangat meren
dahkan martabat manusia. Untuk apa mereka melakukan eksperimen-ek
sperimen gila seperti itu?”



 “Itulah teknologi. Teknologilah yang sekarang telah menguasai
manusia, bukan lagi manusia yang menguasai teknologi. Manusia m
enjadi rakus mencoba-coba segala hal, apa pun bentuk dan dampak
nya bagi kehidupan manusia, bagi rasa kemanusiaan. Yang terpent
ing adalah bagaimana mereka mendapatkan pengakuan bahwa merekal
ah yang terhebat di antara semuanya.”



“Mengerikan.”



“Kapan kau berangkat?” Nadine bertanya.



“Besok.”
“Hati-hatilah, banyak orang jahat disana .”



Elisa tertawa mendengarnya.



 “Jangan khawatir. Saya tidak pergi sendirian. Liputan ini sangat penti
ng buat karirku. Ini berita besar.”



 “Saya tahu, tapi saya ingin kau baik-baik saja. Kau tidak tahu se
perti apa situasi disana . Bukan tidak mungkin keadaannya cukup be
rbahaya. Bukankah perusahaan itu seharusnya sudah ditutup? Banyak
kasus kegagalan kloning yang mereka lakukan beberapa waktu lalu.”



 “Pimpinan perusahaan itu sedang dalam proses pemeriksaan. Beber
apa anak buahnya dimintai keterangan. Tapi anehnya, satu persatu
 mereka meninggal. Yang lucu, kabarnya keracunan makanan, tapi a
neh sekali kalau hanya orang-orang yang diperiksa itu yang kerac
unan, sementara karyawan yang lain tidak. Padahal mereka makan m
akanan yang sama.Ada isu mengatakan orang-orang itu telah menela
n semacam pil yang meyebabkan kematian mereka, tapi sejauh ini p
ara dokter belum bisa membuktikannya.”



 Hasta memiliki banyak teman wanita, tapi entah mengapa ia merasa su
lit sekali untuk jatuh cinta.



 Tiba-tiba ponsel Elisa berbunyi. Beberapa saat kemudian Elisa tampa
k serius berbicara di ponsel. Nadine tidak terlalu memperhatikan. Ia
 meneguk air putih dingin di meja. Mengetuk-ngetukkan jemarinya di a
tas meja. Berpikir-pikir.



 Seminggu yang lalu ia berdiskusi dengan Dokter Karel tentang biote
knologi. Betapa ironis, kemajuan teknologi telah mulai menggerogoti
 apa yang disebut dengan ‘nilai-nilai’. Sains tak lagi dapat berjal
an beriringan dengan ideologi-ideologi nilai. Sains murni hakikatny
a sebagai output intelektual manusia yang tak akan bisa berkembang
manakala ia harus berhadapan dengan teologi, misalnya. Sains berseb
erangan dengan teologi dan metafisika.



 Bioteknologi yang pada awalnya bertujuan untuk meningkatkan tara
f hidup manusia: kebutuhan akan jenis tumbuhan pangan yang unggul
, memperbaiki varietas ternak, kebutuhan obat, dan lain-lain mula
i bergeser. Setelah semua permasalahan satu per satu dapat diatas
i, mulailah timbul egosentris manusia. Timbul keinginan-keinginan
 menciptakan sesuatu yang lebih hebat, lebih spektakuler. Pada pe
rkembangan selanjutnya, manusia mulai melacurkan diri pada sains
dan menjadi budaknya.



 Nilai-nilai tidak lagi memainkan bagian penting dalam menentukan
 apakah teknologi dapat diterapkan atau tidak dalam kehidupan man
usia. Eksperimen-eksperimen yang dilakukan para ilmuwan untuk men
ggali lebih dalam lagi, kemudian berujung pada sesuatu yang tanpa
 disadari atau bahkan dengan sepenuh kesadaran telah memincangi k
eharmonisan kehidupan manusia. Itu sudah dimulai sejak puluhan ta
hun silam ketika orang mulai dapat menghasilkan replika genetis d
an bermunculanlah makhluk-makhluk kopian yang sama persis satu sa
ma lain. Dimulailah suatu peradaban baru yang terbalik, di mana k
asta manusia bisa lebih rendah ketimbang seekor kucing. Sebentar
lagi akan muncul terminologi baru tentang seekor manusia, atau se
orang kucing.



 “Aku harus bersiap-siap,” tiba-tiba Elisa menyentakkan lamunan N
adine. “Tolong sampaikan permintaan maafku pada Raia karena tidak
 bisa datang ke pestanya. Lain kali aku akan berkunjung ke rumahn
ya.”



“Kau mau ke mana?”



 “Adaperkembangan baru. Cameraman kami sakit dan kami harus seg
era mencari penggantinya.”



 Elisa tak memerincinya lebih jauh karena ia segera melesat dari
dapur menuju kamarnya di lantai atas. Nadine mendengar ia berteri
ak pada pembantunya yang baru saja datang untuk segera meneruskan
 pekerjaan yang ditinggalkannya di dapur. Pembantu itu, Bik Inah,
 menatapnya kebingungan. Nadine pun kemudian segera beranjak perg
i dari tempat itu.



 Stepa berada di depan jendela apartemennya di lantai tujuh. Ia se
dang menikmati hujan. Sudah lama ia merindukan hujan turun. Bumi s
udah terlalu kerontang karena sudah lama sekali tak dibasahi air h
ujan. Barangkali ini pun hujan buatan karena menurut badan meteoro
logi, hujan pertama tahun ini baru akan turun sekitar tiga bulan l
agi. Aroma khas mengambang di udara.



 Mestinya saat itu Stepa pergi ke perpustakaan Pak Raste untuk me
ngembalikan novel yang dipinjamnya. Sayang sekali novel itu tak d
apat memberinya inspirasi apa pun. Sesuatu yang sangat ia butuhka
n saat itu adalah inspirasi. Sesuatu yang dapat membangunkannya d
ari tidur panjang. Sesuatu yang membangkitkan gairah dan membuatn
ya menjadi hidup, sesuatu yang telah lama tak dirasakannya. Sesua
tu yang lezat, yang menerbitkan air liur.
 Stepa meraih secangkir kopi di meja dan menyeruputnya. Rasa ha
ngat membasahi tenggorokan, kemudian mengalir ke dadanya. Teras
a nyaman.



 Ia merindukan kerja. Ia teringat hiruk-pikuk suasana kerja. Teri
akan sutradara, hilir-mudik pergantian adegan, diskusi dengan kru
, break syuting, artis yang tidak disiplin, jam syuting yang molo
r, proses editing yang rumit, pengisian suara. Ia akrab dengan su
asana itu dulu. Ia pernah menjadi bagian dari satu proses kreatif
 ke proses kreatif lainnya. Berada di balik kamera dan mengemas a
degan demi adegan, angle demi angle. Merekam bagian yang terpisah
-pisah kemudian mengumpulkannya menjadi sebuah paket yang utuh da
n bercerita. Stepa adalah seorang cameraman. Ia telah menghasilka
n banyak karya. Film-film layar lebar telah dirambahnya. Karierny
a cukup pesat, lebih pesat ketimbang studinya. Ia bahkan jauh leb
ih berpengalaman di dunia nyata, mempraktikkan ilmu yang belum tu
ntas dipelajarinya dalam pendidikan formal. Ia seorang yang haus,
 tak pernah lelah belajar dan menimba pengalaman. Ia memiliki ban
yak obsesi besar dalam hidupnya. Kemudaan dan idealisme telah mem
bentuk sebuah kepribadian yang kokoh. Pengalaman hidup di usia mu
da telah menempa dan mengasah mata batinnya. Itu tampak dari gera
k-geriknya yang selalu waspada dan penuh perhitungan.



 Sepasang matanya yang dalam menyembunyikan begitu banyak rahasia
 hidup. Ia melalui kehidupan tanpa sosok seorang ibu. Ia dibesark
an oleh seorang ayah dan nenek. Stepa selalu mengatakan bahwa ia
tidak pernah dilahirkan dari rahim seorang wanita, tapi keluar da
ri sebuah batu yang terbelah. Pernyataan yang selalu menjadi baha
n lelucon kawan-kawannya. Si Anak Batu, julukannya. Stepa dikatak
an bersaudara dengan Epro, karena kawannya itu tak punya ayah. Ka
ta kawan-kawan, Stepa sebenarnya dilahirkan dari orang tua yang s
ama. Ibu mereka adalah ibu Epro, yang hamil di luar nikah dan akh
irnya pergi bekerja ke luar negeri dan tak pernah kembali, dan ay
ah mereka adalah ayah Stepa yang tak pernah menikahi ibu Epro hin
gga akhir hayatnya. Kenyataannya, mereka berdua memang tampak mir
ip. Hanya saja, Epro lebih keras ketimbang Stepa. Ia adalah anak
batu yang sebenarnya.
 Kehidupan Stepa tidak terlalu bahagia. Ayah dan Neneknya sangat
 mencintainya dan mereka hidup berkecukupan, tapi ia selalu mera
sa kesepian dalam hidupnya karena tak punya saudara. Oleh karena
 itu, ketika Nenek meninggal dan beberapa tahun kemudian disusul
 ayahnya, Stepa merasa itu hanyalah kesepian lain yang timbun-me
nimbun. Kesepian jualah yang membuat ia memutuskan menjadi seora
ng pengelana. Ia tak pernah menetap, kecuali di saat-saat ia men
ginginkan. Ia menyukai hiruk-pikuk, bertemu dengan banyak orang
dan mengamati mereka. Kesepian membuatnya mencari keriuhan. Ia m
asuk sebuah organisasi bawah tanah yang menyebut diri mereka seb
agai Koloni Pembebas, berteriak-teriak tentang ideologi dan sist
em, memprotes segala bentuk penindasan dengan alasan pembebasan
manusia. Aktivitas yang sempat menyeretnya ke dalam petualangan
dan pelarian tiada henti. Ia dan kawan-kawannya, termasuk Epro,
telah menurunkan rezim penindas yang telah berkuasa selama berpu
luh tahun. Sebuah sejarah negeri yang berulang. Dan mereka dielu
-elukan sebagai pahlawan bangsa.



 Setelah rezim berganti, kehidupan berjalan tenang kembali. Stepa b
isa bekerja dengan tenang dengan penghasilan yang cukup layak. Saya
ng, di dunia kerja, ia terjebak karena idealismenya. Ia didepak kel
uar ketika dianggap terlalu banyak bicara dalam sebuah produksi fil
m. Akar permasalahan sebenarnya terletak pada keseriusan Stepa dala
m bekerja. Ia terlalu berangan menjadikan film itu seperti apa yang
 ia inginkan, padahal itu sama sekali bukan wewenangnya. Dan sepert
i apa yang biasanya terjadi pada orang-orang idealis, ia akhirnya d
isingkirkan. Padahal, film itu adalah salah satu obsesi besarnya da
lam hidup. Kini, apalagi setelah film itu beredar dan mendapatkan b
anyak pujian dalam berbagai festival, ia merasa sangat terpukul kar
ena merasa pernah menjadi bagian dari ruh film itu, sebelum pada ak
hirnya dijadikan pecundang.



 Di tengah-tengah keterpurukannya, Stepa kembali ke kampus. Beru
saha menemukan kembali banyak hal yang telah lama ia tinggalkan.
 Dinamika kehidupan kampus, diskusi di sudut-sudut gedung, ekspe
rimen-eksperimen, kuliah di ruang terbuka. Ia menemukan napas ba
runya. Ia memang sangat terlambat dibandingkan dengan teman-tema
n seangkatannya, tetapi ia menemukan kembali kepercayaan dirinya
. Orang-orang telah mengakui kehebatannya. Dosen-dosen kerap men
jadikannya narasumber, teman-teman banyak bertanya kepadanya. Di
 tengah-tengah sekumpulan teori, ia adalah wujud praktik nyata y
ang sebenarnya, lengkap dengan benturan-benturan yang dialaminya
. Semua benar-benar nyata. Maka Stepa sedang berusaha untuk bang
un dan tidak menoleh lagi ke belakang. Terakhir kali ia sedang t
ertarik mempelajari karya-karya sastra lama. Ia sedang merencana
kan sebuah proyek besar. Oleh karena itu, ia kini banyak berkeli
aran ke perpustakaan-perpustakaan kuno untuk melakukan riset dat
a. Termasuk ke perpustakaan wilayah tua dan dijaga juga oleh seo
rang tua, bernama Raste.



Ponsel Stepa tiba-tiba berbunyi. Nomor tak dikenal masuk.



“Halo?”



“Selamat sore, saudara Stepa….”



“Sore,” Stepa mengernyitkan dahi. “Siapa ini?”



 “Siapa aku tidak penting. Seorang cameraman kami sakit dan kami
 tak punya cameraman lain yang sedang punya waktu untuk bepergia
n dalam waktu beberapa hari. Bagian yang penting adalah, kami me
nawari Anda pekerjaan ini. Anda mau?”



Stepa nyaris tersedak.
“Kenapa saya?”



 “Kami sudah tahu kualitas Anda. Anda akan mendapatkan imbalan y
ang pantas, dan mungkin Anda bisa direkrut menjadi tim tetap kam
i untuk seterusnya. Bagaimana, tawaran yang menarik, bukan?”



 Stepa terdiam beberapa saat. Ia berusaha menebak orang yang seda
ng berbicara dengannya. Ia teringat seseorang karena pada beberap
a kali ia menangkap tipikal suara yang sama.



 “Kami membutuhkan jawaban segera, saudara Stepa. Kalau Anda ber
sedia, kami menunggu Anda di studio Space TV sampai pukul tujuh
malam ini. Kalau tidak, tawaran kami cabut kembali dan akan kami
 berikan pada orang lain. Tim kami akan berangkat besok.”



 “Tunggu,” potong Stepa, ”liputan seperti apa yang harus saya tanga
ni?”



 “Meliput perusahaan bioteknologi Merican yang terbakar, Human Car
e.”



Tiba-tiba saja Stepa merasa bergairah.



 “Saya akan ambil tawaran itu!” serunya. “Jadi ke mana saya harus p
ergi?”
“Studio Space TV lantai tiga. Temui Hasta disana .”



 “Hasta?” ulang Stepa kaget, tapi telepon keburu ditutup dari sebera
ng. Stepa nyaris meledak saking gembiranya. Ia melonjak-lonjak seper
ti anak kecil, berteriak-teriak kegirangan dan berlari-lari ke selur
uh penjuru ruangan. Tertawa-tawa dari sudut ke sudut seperti orang g
ila. Ia tak peduli. Ia merasa kegilaan itu telah membuatnya hidup ke
mbali.



 Namanya Hasta. Postur tubuhnya tinggi, dan meskipun tak bisa dib
ilang tampan, wajahnya tidaklah terlalu buruk. Ia bisa mendapatka
n skor tujuh dari skala 10. Ciri khasnya adalah: selalu mengenaka
n topi di kepalanya. Ia berdalih melindungi wajahnya dari sengata
n matahari. Ia sering kali bekerja di lapangan dan itu membuatnya
 merasa harus melindungi kulitnya yang sensitif terhadap sinar ma
tahari. Kulit tembaganya tampak buruk bila terkena sengatan sinar
 matahari secara terus-menerus. Akan mucul bintik-bintik kemeraha
n di pipi dan hidungnya, dan bila sudah begitu ia harus kerepotan
 mengoleskan krim penetral untuk mengatasinya. Sembuhnya pun maka
n waktu. Oleh karena itu ia kini lebih suka memakai topi untuk me
lindungi wajahnya, sambil tak lupa mengoleskan sunscreen di wajah
nya. Terkadang, saking bersemangatnya ia mengoleskan krim, mukany
a tampak seperti dibedaki. Akibatnya, ia ditertawakan kawan-kawan
nya. Tapi demi kulit kesayangannya, Hasta mau melakukan apa pun.
Ia tak pernah memedulikan komentar kawan-kawannya.



 “Kalian belum pernah merasakan kulit kalian direbus dalam panci su
p? Seperti itulah yang selalu aku rasakan bila membiarkan wajahku t
erbakar sinar matahari. Lebih baik kalian mati ketawa ketimbang aku
 mati matang direbus matahari,” kilah Hasta selalu.



 Sejak remaja Hasta telah tumbuh dengan energi berlebih. Ia hipera
ktif. Tak ada waktu berdiam buatnya. Progresivitas telah menjadi t
eman hidupnya sepanjang waktu. Setiap hitungan detik adalah peruba
han baginya. Progres adalah sesuatu yang niscaya.



 Menjadi workaholic adalah stadium berikutnya. Hasta, si gila ker
ja. Dua puluh empat jam sehari baginya adalah dua puluh jam kerja
 dan hanya menyisakan empat jam untuk berbaring-baring memejamkan
 mata. Tak jarang ia kena insomnia, tapi ia tidak seperti baterai
 yang harus recharge setiap saat. Energinya seperti tak pernah ha
bis. Hanya saja, ia punya totally day off yang digunakannya untuk
 mengumpulkan kekurangan jatah tidurnya setiap hari. Ia memanfaat
kan hari itu sebaik-baiknya. Kawan-kawannya telah maklum bila har
i libur Hasta tiba, maka segala akses kepadanya akan diputus. Ia
tidak mengizinkan siapa pun menghubungi dan mengganggunya. Ia aka
n kembali siaga keesokan harinya, bersemangat seperti anak muda y
ang kelebihan daya.



 Jarang orang melihat Hasta sakit. Ia kuat seperti baja. Kendati t
ubuhnya tidak terlampau besar, Hasta tampaknya punya banyak sekali
 cadangan energi dalam tubuhnya.



 Ia sesekali mendoping tubuhnya dengan suplemen, dan ia tetaplah man
usia normal yang sekali waktu tertidur saat kelelahan. Celakanya, se
sekali itu terjadi saat ia bekerja.



 Hasta telah beberapa kali mencoba-coba berbagai macam pekerjaan.
 Ia memulai karier benar-benar dari nol. Ia pernah bekerja di seb
uah koran kuning dengan gaji yang hanya cukup digunakan untuk mak
an sehari-hari dengan menu yang sederhana. Ia nyaris tak pernah b
ersenang-senang dengan penghasilan sekecil itu. Hampir satu tahun
 ia bertahan dengan keadaan itu, hingga kemudian berpindah bekerj
a di sebuah stasiun radio, menjadi penyiar. Gajinya sedikit lebih
 baik, dan ia mendapat kerja sampingan sebagai MC dengan penghasi
lan yang cukup membuat tabungannya sedikit demi sedikit mulai ter
isi. Keberuntungan mulai berpihak kepadanya semenjak ia menggelut
i bidang itu. Tak lama kemudian ia ditawari bekerja di sebuah sta
siun televisi baru, Space TV, di mana ia benar-benar memiliki kar
ier yang sesungguhnya. Hasta mulai merasakan mantap bekerja di Sp
ace TV, sebagai seorang news director. Ia benar-benar menikmati p
ekerjaannya.



 Tak ada yang benar-benar luar biasa dalam kehidupan pribadi Has
ta. Ia dilahirkan sebagai anak tunggal. Keluarganya adalah kelua
rga kaya raya. Ayahnya seorang pengusaha sukses, sedangkan ibuny
a seorang ibu rumah tangga yang mengabdi pada suami dan sangat m
encintai anaknya. Ia memiliki saudara sepupu bernama Epro, yang
dibesarkan bersamanya semenjak kecil. Bersama Epro, Hasta terlib
at petualangan-petualangan hebat di masa mudanya.



 Kendati besar di lingkungan yang rapi dan beradab, Hasta lebih
 memilih hidup leluasa dengan membebaskan dirinya dari segala k
eterikatan aturan keluarganya. Kecintaan ibunyalah yang menyela
matkan ia dari deraan ikat pinggang ayahnya saat penyakit pembe
rontaknya kambuh. Hasta kecil suka bermain ke permukiman-permuk
iman kumuh, bergaul dengan pengamen-pengamen yang kerap mangkal
 di ujung gang dekat rumahnya, atau berteman dengan gelandangan
. Bersama mereka, ia merasa bisa mewujudkan fantasi-fantasinya
menjadi figur seorang pahlawan. Bersama mereka, ia bisa menjadi
 tokoh penyelamat yang selalu dapat memberikan bantuan ketika m
ereka membutuhkan. Hasta sering membawakan makanan dan buah-bua
han yang ia curi dari kulkas rumahnya, memberikan uang saat mer
eka membutuhkan, membawakan buku-buku bacaan, atau bercerita te
ntang tempat-tempat yang pernah ia kunjungi. Ia sangat senang m
elihat mata mereka berbinar-binar penuh kekaguman saat mendenga
rkan ceritanya tentang hal-hal menakjubkan.



 Sayang, Epro tak pernah menyukai kesenangan Hasta. Ia menemani
Hasta, tetapi dengan wajah yang cemberut. Ia selalu memaksa Hast
a untuk segera pulang. Mereka adalah anak-anak yang tak punya ke
inginan, begitu ia selalu mencerca. Orang-orang yang tak punya m
asa depan dan tak mau berusaha meraih mimpi-mimpi mereka. Mereka
bukanlah siapa-siapa.



 Epro lebih memilih bergaul dengan orang-orang berpendidikan. Ora
ng tua Hasta memiliki sebuah rumah di samping rumah utama yang di
kontrak oleh para mahasiswa dan Epro lebih memilih bermain ke tem
pat itu ketimbang menemani Hasta menyusuri gang-gang becek untuk
menjadi pahlawan bagi kawan-kawan miskinnya. Pada usia yang relat
if masih sangat muda, 15 tahun, Epro telah menjadi pengagum Niets
zche. Ia fasih bicara filsafat dan kerap kali mencuri kata-kata y
ang sering diucapkan oleh para mahasiswa itu. Kegilaan pemikirann
ya selalu membuat mata Hasta berkunang-kunang. Namun, kendati pem
ikiran Hasta dan Epro sangat bertolak belakang, mereka sangat ruk
un dan saling menghargai. Epro selalu bersikap menjadi pelindung
Hasta. Usianya yang dua tahun lebih tua membuat ia memosisikan di
rinya sebagai kakak Hasta, walaupun ia lahir dari adik ibu Hasta,
 dan seharusnya Hastalah yang menjadi kakak sepupu baginya. Ia se
lalu mengalah kepada Hasta, nyaris dalam segala hal.



 Kedua bersaudara itu, Hasta dan Epro, sama-sama tidak terlalu ter
tarik pada wanita. Hingga Hasta menginjak usia 32 tahun, ia belum
juga menikah. Hasta mempunyai banyak teman wanita, tetapi ia sulit
 sekali jatuh cinta. Ia sering berkencan, tetapi tak pernah menjat
uhkan pilihan pada salah satu teman kencannya. Ia alergi dengan ko
mitmen. Baginya, menjalin hubungan dengan wanita berarti harus sia
p dengan komitmen, lengkap dengan segala risikonya. Dan dia bukan
laki-laki yang mudah jatuh cinta.



 Satu-satunya wanita yang pernah membuatnya menatap beberapa je
nak lebih lama, menahan napas di dada, dan mengembuskannya perl
ahan dengan segenap perasaan, adalah seseorang bernama Raia. Se
orang wanita yang ia kenal di suatu tempat dan waktu. Seorang y
ang pernah menggetarkan hatinya, membuat bahasanya yang lihai m
enjadi kaku. Yang membuat matanya berkunang-kunang, seperti yan
g dilakukan pemikiran-pemikiran gila Epro terhadapnya.
 Ia hanya sekali itu jatuh cinta, di usia 20-an, saat Raia manis b
ermata lembut itu mengusik hari-harinya. Raia yang tidak pernah me
ngerti mengapa Hasta yang pandai bicara tiba-tiba menjadi bisu di
hadapannya. Ia yang tak pernah cermat melihat setiap perubahan emo
si Hasta setiap kali harus berhadapan dengannya. Geletar jemari Ha
sta saat menatap lekat matanya, lipatan dahinya saat bicara dan be
rusaha mencari cara mengatasi galaunya.



 Kenaifan itu muncul bila dengan Raia. Segala bahasa menjadi tak
 bisa diterjemahkan, bahkan dengan diam dan isyarat mata. Bersam
a Raia, diam pun berbicara banyak. Lebih panjang dari dialog dal
am sandiwara apa pun. Lebih memayahkan, kendati menghangatkan tu
buh yang menggigil.



 Hasta menyukai Raia sejak mula bertemu. Mereka satu kampus, mes
ki berbeda tahun dan jurusan. Berada dalam satu komunitas jurnal
isme kampus, Hasta jadi kerap bertemu dengan Raia. Sayangnya, wa
ktu itu Raia sudah punya kekasih. Hasta hanya bisa mengagumi Rai
a dari kejauhan tanpa punya keberanian untuk mengusik. Hanya saj
a, ia sering kali tak bisa menyingkirkan keinginan-keinginan unt
uk mendapatkan Raia dari kepalanya. Maka sering dikuntitnya Raia
 ketika ia tak bersama dengan kekasihnya, hanya untuk mencari ke
sempatan menyapa dan menikmati sepasang matanya yang sebening te
laga. Kalau bisa, mengajaknya bercakap tentang apa saja.



 Hasta sering berdoa agar Raia putus dengan pacarnya, tetapi kar
ena doa itu buruk, Tuhan rupanya tak mau mendengarkannya. Raia t
ak kunjung putus dengan pacarnya, bahkan kemudian mereka bertuna
ngan.



 Saat itulah Hasta mulai berontak. Hatinya berteriak-teriak. Ia tid
ak merelakan Raia menjadi milik siapa pun. Ia tidak ingin Raia lepa
s dari tangannya. Ia ingin mengatakan perasaannya kepada Raia. Ia i
ngin dunia tahu bahwa ia cinta Raia dan ingin memilikinya. Lalu den
gan hati berapi-api, suatu hari ia memutuskan untuk menemui Raia.



 Ketika itu Raia sedang ada kuliah. Hasta menunggu di depan ruang
kuliahnya. Beribu macam perasaan bergolak di dadanya. Kecemasan ya
ng mendera sejak ia memutuskan bicara membuat ia nyaris seperti or
ang gila. Ia telah berulang kali menyusun kalimat di benaknya, tap
i setiap kali menghafal ia selalu lupa. Ia berusaha membuat kalima
t baru, tetapi selalu terasa janggal dan lucu. Hasta sudah tidak b
isa lagi berpikir. Ia ingin mengatakannya tanpa kesalahan sedikit
pun. Ia ingin kalimat yang sempurna. Argumen yang logis. Penyampai
an yang terjaga. Namun, lagi-lagi lebur oleh kecemasan yang membel
itnya.



 Kerja, kerja, dan kerja adalah cara Hasta membungkam kerinduanny
a pada Raia.



 Raia menemukan ia tengah menunggu dengan sikap tergugu. Sebatang
 rokok terselip di bibirnya, mata kemerahan yang kurang tidur, da
n rambut yang acak-acakan. Ia menghalangi langkah Raia di pintu.



“Halo,”sapa Raia,”menunggu siapa?”



“Menunggumu,”sahut Hasta. Ia tak berani menatap.



Kening Raia berkerut. ”Aku?” ia menunjuk dadanya.



“Ya, kau.”
“Adaapa?”



“Eh….”



 Gugup menyerang kembali. Hasta membuang sisa rokoknya ke lantai
, kemudian menginjaknya dengan sepatu. Raia menunggu kata-katany
a, tapi beberapa saat Hasta tak bisa bicara.



“Hasta, ada apa?”



Hasta kemudian menemukan kata-kata.



“Sudah makan siang?” tanyanya.



“Belum.”



“Aku traktir makan siang. Mau?”



 Raia tercengang. Ia menatap Hasta takjub. Bola matanya berbinar
sesaat. Senyumnya muncul.
 “Tapi kenapa? Kau ulang tahun, atau baru dapat rezeki? Tulisanmu d
imuat di majalah? Kok, tiba-tiba ingin mentraktirku makan siang?”



 “Hanya…,” Hasta menguatkan keberaniannya. “Ingin makan siang
denganmu. Salahkah?”



Raia masih terheran-heran.Ada kebimbangan di wajahnya.



 “Please…?” Hasta meredupkan matanya, memohon. Raia menjadi g
ugup. Ia berdehem untuk meredakan kegugupannya.



 “Oke,” sahutnya. “Tapi setengah jam lagi aku ada kuliah. Kita ke kan
tin yang dekat saja.”



 Begitulah. Setengah jam itu sangat singkat. Hasta mati akal. Tak mu
ngkin dalam waktu sesingkat itu ia bisa leluasa berpikir, apalagi be
rkata-kata. Tapi ia tahu, Raia mulai bisa membaca hatinya.



“Kau bertunangan, Raia?”



“Ya.”



“Dengan pacarmu itu?”
“Tentu saja. Dengan siapa lagi? Tentu denganNara .”



Hmm, jadi namanyaNara .



“Kau cinta dia?”



 “Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja aku cinta dia. Aku tidak
akan mau bertunangan dengan orang yang tidak aku cintai. Kenapa
memangnya?”



“Lalu kau akan menikah?”



“Ya tentu saja. Dan punya anak dengannya. Ha…ha…ha....”



 Tawa Raia mengiris dada Hasta. Oh, ia benar-benar tak paham, piki
rannya kecut. Betapa polosnya.



“Kau benar-benar cinta dia? Sejak kapan kau jatuh cinta padanya?”



“Aku lupa tepatnya sejak kapan. Tapi… ya, aku cinta dia.”



“Sebesar apa cintamu?”
 Raia terkekeh. Benar-benar geli ia mendengar pertanyaan bodoh H
asta. Matanya berair karena tertawa. Namun, ia menghentikan tawa
nya saat menemukan wajah Hasta sangat serius.



“Kau aneh,” Raia berkata sebal. “Wawancara untuk apa ini?”



“Maaf.”



“Tapi, kenapa kau menanyakan hal itu? Kenapa kau ingin tahu?”



“Karena… ini….”



 “Karena apa? Bicaralah, jangan berbelit-belit. Biasanya kau pintar bi
cara.”



“Tidak denganmu,” desah Hasta.



“Kenapa bisa begitu?”



“Kenapa bisa begitu?”



“Ya, kenapa bisa begitu? Dan jangan kau ulangi pertanyaanku lagi.”
 Raia mulai merasa terancam. Ia merasakan sesuatu yang menegakka
n bulu kuduknya. Hasta tidak sedang main-main.Ada sesuatu yang s
alah dengan dirinya.



“Kau tahu jawabannya, Raia?”



 “Kalau aku tahu, aku tidak akan bertanya padamu,” Raia berkata ket
us.



“Karena aku sangat….”



“Ya? Sangat apa?” desak Raia tak sabar.



“Menginginkan. Menginginkanmu.”



 Raia terenyak. Ia tidak siap mendengar jawaban itu. Mulutnya terng
anga, jemarinya gemetaran di atas meja, dan wajahnya pias seperti k
ertas. Hasta tidak tega melihatnya seperti itu.



“Maafkan aku, Raia,” keluhnya pahit.



 Untung saja Raia cepat bisa memulihkan dirinya. Ia meminum orang
e juice-nya hingga tandas.
 “Aku tahu aku tidak seharusnya seperti ini. Aku telah mengacaukan
mu. Ini sungguh tidak adil buatmu. Kau baru saja bertunangan dan a
ku berani-beraninya mengusikmu dengan pertanyaanku. Tapi, keberani
an ini, sebelum hilang lagi setelah kukumpulkan sejak lama, harus
kukeluarkan sekarang juga. Kau harus tahu ini. Mungkin kau hanya p
erlu tahu. Tak lebih dari itu, karena tak mungkin aku bisa menghar
apkan yang lebih dari sekadar ‘asal kau tahu’. Dan sekarang setela
h aku mengatakan ini, aku merasa lega karena telah terlepas dari i
mpitan beban yang kutanggung selama ini. Sekali lagi maafkan aku,
Raia.”



 Raia bergeming.Ada sesuatu yang berkecamuk di dadanya. Tanpa sad
ar ia memutar-mutar cincin di jari manisnya.



 “Aku tak paham, Hasta…,” ucap Raia datar. “Aku tak pernah bisa m
embacamu. Kau tampak tak peduli dengan siapa pun. Kau hanya pedul
i dengan bagaimana mendapatkan berita-berita spektakuler, headlin
e news, membangun opini publik. Lebih tertarik dengan angle penga
mbilan gambar dengan kamera, teknologi digital, dunia cyber, edit
ing berita, reportase yang baik, wawancara eksklusif, diskusi yan
g argumentatif. Kau lebih peduli dengan bagaimana mendekati orang
-orang hebat dan menjadi seperti mereka. Kau aktif dalam kegiatan
-kegiatan sosial. Kau tidak peduli dengan seorang Raia. Siapa Rai
a buatmu?”



 “Raia bagiku adalah… puisi. Raia bagiku adalah matahari, bintang
, senandung, udara. Raia bagiku adalah mimpi indah yang membuatku
 tak ingin bangun lagi. Kehangatan saat udara menjadi dingin meny
esakkan.”



“Kau ngawur.”
 ”Aku tahu aku ngawur karena menyukaimu sejak mula, padahal aku t
ahu kau tidak sendiri. Aku takut dengan perasaanku sendiri.”



 Hasta mengembuskan napas keras-keras. Setidaknya, beban itu tel
ah berkurang. Tapi tidak demikian dengan Raia. Ia pergi meningga
lkan Hasta dengan mendung menggantung di wajahnya.



 Sejak saat itu Raia selalu berusaha menjauh. Hasta bisa memahami m
engapa ia bersikap begitu. Ia pun mulai belajar untuk melupakan Rai
a. Ia telah berjanji untuk tidak lagi mengusik Raia dan menimbulkan
 kebingungan baginya. Cintanya kepada Raia tak pernah hilang. Bahka
n, saat ia telah lulus terlebih dahulu dan meninggalkan Raia disana
 , ada separuh hatinya yang tertinggal, dan keping-keping itu dia b
iarkan begitu saja. Di saat-saat sepi, malam-malam saat aktivitasny
a berhenti, Raia selalu muncul di benaknya. Kerinduan ia bungkam de
ngan kerja dan kerja. Tak ada jeda, karena jeda berarti Raia. Dan i
a sangat tersiksa.



 Malam itu, sepulang kerja, Hasta mendengar suara Raia kembali. Se
telah sekian lama, ia tak juga lupa dengan suara itu. Raia meningg
alkan pesan di mesin penjawab teleponnya.



 “Selamat malam, Hasta. Masih ingat Raia? Ini aku. Lama tidak berju
mpa. Bagaimana kabarmu? Aku dengar kau sukses. Selamat, ya. Karier
boleh pesat, tapi jangan lupa, tubuhmu juga perlu istirahat. Masih
workaholic, ‘kan? Kau perlu dikontrol. Carilah istri. Oke, kapan-ka
pan aku telepon lagi. Bye….”



Hasta benar-benar tak menyangka. Ia memutar rekaman itu beberapa
kali untuk meyakinkan dirinya bahwa suara itu benar-benar suara
Raia. Setelah merasa pasti, ia segera mencari nomor telepon Raia
di phonebook ponselnya, tapi tak ia temukan. Rupanya nomor itu te
lah terhapus darisana semenjak Hasta memutuskan untuk melupakan R
aia.



 Ia kemudian mengaduk-aduk laci meja, mencari buku-buku telepon
lama. Dilacaknya nama Raia dengan penuh semangat. Setelah sekian
 lama, tujuh tahun lebih, jantungnya mulai berdegup kencang lagi
. Ia berseru gembira ketika menemukan nomor ponsel Raia. Ia kemu
dian menekan tombol-tombol ponselnya. Menunggu, berharap-harap c
emas. Yup, diangkat!



“Halo… siapa ini?”



 Hasta memutuskan sambungan. Ia tiba-tiba disergap resah. Suara y
ang mengangkat telepon itu… suara seorang pria!



 Tepat pukul tujuh malam. Stepa telah sampai di lantai tiga studio
 Space TV. Ia celingukan.Ada sebuah ruangan kaca besar yang terlet
ak di sebelah kanannya. Ia segera mengayuh langkah kesana . Stepa
melongokkan kepalanya ke dalam ruangan. Sepi. Hanya beberapa gelin
tir orang di dalam ruangan, menghadapi berkas-berkas. Salah seoran
g dari mereka, laki-laki berusia 50 tahunan, melihatnya.



“Mencari siapa?” ia bertanya seraya mendekat.



“Hasta. Saya mencari Hasta.”
“Ah, Hasta di studio 3.Ada keperluan apa, kalau saya boleh tahu?”



 “Eh, saya Stepa. Saya kemarin dihubungi orang Space TV dan dimi
nta menemui Hasta malam ini….”



 “Ah, ya. Stepa. Hasta sudah menceritakannya kepada saya. Vina, to
long antar Bung Stepa ini ke studio menemui Hasta.”



Stepa menduga bapak itu adalah pimpinan. Seorang wanita berusia
30-an, gemuk, tetapi berwajah manis tersenyum dan mempersilakan
Stepa mengikutinya.



 “Hasta dan kru besok pagi-pagi berangkat. Mereka sudah memberit
ahukan tugas Anda?” tanya Vina sembari mereka melangkah bersisia
n.



 “Belum, Mbak,” Stepa menggeleng. “Dia belum memberi tahu detail
nya. Saya hanya ditawari menggantikan cameraman yang sakit untuk
 sementara.”



 “Besok pagi kru akan berangkat ke Merican untuk meliput perusahaa
n bioteknologi yang terbakar. Sudah dengar berita itu, bukan?”



“Ya, saya sudah mendengarnya.”



“Nah, kami akan melakukan liputan khusus kesana besok. Banyak ha
l yang menarik disana , terutama karena penyebabnya belum diketah
ui secara pasti, dan mengapa perusahaan itu nyaris tak pernah dik
etahui luas oleh masyarakat, baru terdengar ketika berita kegagal
an kloning manusia yang pada akhirnya bocor itu menghebohkan masy
arakat.”



 Stepa hanya mengangguk-angguk mendengarkan. Langkah cepat Vin
a membuat ia terseok-seok mengikuti.



 “Tunggu di sini,” Vina berbisik ketika mereka sampai di depan seb
uah pintu. Ia kemudian melangkah masuk dan mendekati seorang laki-
laki yang sedang mengamati jalannya syuting berita.



 Kemudian Vina membisikinya dan mereka melangkah keluar. Stepa me
micingkan matanya. Ia mengenali laki-laki bertopi rimba yang berj
alan bersama Vina ke arahnya. Sosok itu memutar kembali ingatan m
asa lalunya yang hampir buram. Ia sangat akrab dengan sosok itu.



“Hasta! Kau rupanya…”



 Sebuah pertemuan yang mengharu-biru. Kedua sahabat lama itu ber
pelukan erat. Hasta dan Stepa. Keduanya larut dalam kenangan lam
a. Beberapa saat memori masa lalu seperti diputar ulang di benak
 keduanya. Masa-masa muda yang penuh gairah dan petualangan. Ste
pa sulit berkata-kata. Ia hanya memukul bahu Hasta dengan mata b
erkaca-kaca.



“Kau…,” ia seperti mengerang. “Rupanya kau….”
 “Waktu aku mendapatkan teleponmu kemarin, aku tak sampai memik
irkan bahwa Hasta itu benar-benar kau. Aku tak mengira kau masi
h mengingat aku. Dari mana kau mendapatkan nomorku yang baru?”
Stepa ingin tahu.



Hasta balas memukul bahunya pelan.



“Banyak jalan menuju Roma, Bung,” Hasta tertawa. “Ini bukan Roma,
jadi lebih banyak jalannya.”



“Kau masih pintar berkata-kata, rupanya,” sindir Stepa.



“Dan kau makin gemuk. Sudah hidup enak, he?” balas Hasta.



“Kau lebih hitam dan jelek. Cuaca tidak bagus lagi buat kulitmu.”



 “Setidaknya aku lebih tampan darimu,” Hasta membalas tak kalah se
ngit. “Ingat, aku pernah menjadi model sampul majalah kampus dan k
au tidak. Itu berarti wajahku dianggap lebih layak jual ketimbang
kau.”



Kedua sahabat lama itu tertawa terkekeh-kekeh.



 Aku hanya melakukan aktivitas laki-laki, tidak seperti kau yang peso
lek. Seperti wanita saja. Kau masih suka pakai bedak, ‘kan?”
 Ejekan itu meluncur lagi dari mulut Stepa setelah sekian lama. Eje
kan karena Hasta suka memakai krim pelindung kulit terlalu tebal se
hingga mukanya tampak seperti dibedaki. Saling ejek yang acap dilak
ukan dulu terulang kembali.



“Kita turun ke kafe saja, biar enak ngobrolnya,” ujar Hasta. Stepa
mengangguk setuju.



 Kemudian sembari asyik berbincang mereka menuju lift, turun ke l
antai satu gedung itu, menuju Kafe Étude. Kafe itu bernama Étude,
 karena berangkat dari konsep penyajian eksperimen-eksperimen mus
ik baru.Ada sebuah band pengisi tetap di kafe itu. Mereka selalu
menyajikan format-format musik baru. Jam session. Musik-musik eks
perimental dengan beat-beat rendah hingga tinggi, dengan nuansa k
lasik hingga kontemporer atau techno, disajikan. Semua aliran mus
ik mereka mainkan. Grup yang terdiri darilima personel itu sangat
 rajin menggubah komposisi musik. Setiap hari pengunjung kafe dib
eri suguhan yang berbeda. Lebih hebatnya lagi, mereka sering kali
 mendatangkan penyanyi atau grup band terkenal ke kafe itu. Akiba
tnya Kafe Étude jadi mahal karena tidak sekadar menyajikan makana
n atau minuman, tetapi juga hiburan yang berkelas.



 Hasta mengajak Stepa ke sebuah sudut kafe. Hasta memesankan mi
numan. Seorang pelayan wanita menarik perhatian Stepa.



 “Hmm… cantik,” komentarnya singkat ketika Hasta menyikutnya kare
na ia tak juga melepaskan pandangnya pada gadis cantik berkaki je
njang itu.
 “Di sini banyak gadis cantik,” ujar Hasta. “Kau tidak akan kecewa
bila datang kemari. Oh, ya, hari apa ini? Ah, Kamis malam, ya? Kebe
tulan sekali. Nanti sebentar lagi, akan muncul seorang penyanyi yan
g bisa membuat mulutmu sulit dikatupkan.”



“Oh, ya?” Stepa kian tertarik.



“Tapi, tentu saja kita harus bicara bisnis dulu….”



 “Ya, jangan sampai lupa. Itu yang paling penting,” Stepa memper
baiki posisi duduknya. “Jadi bagaimana? Pekerjaan macam apa yang
 kau tawarkan kepadaku, konkretnya?”



 ”Begini, sebagai awalnya, aku ingin bercerita dulu. Tanpa kau ta
hu, aku telah menemukan jejakmu sejak lama. Aku mengenal pimpinan
mu. Aku memantau perkembanganmu. Karya-karyamu bagus, kariermu su
dah beranjak. Sayang, kau belum bisa meninggalkan identitas mahas
iswamu. Kau terlalu idealis. Saat ini, ketika benar-benar hidup d
i dunia nyata, paham idealisme itu harus kita ubah menjadi materi
alisme. Idealisme harus kita singkirkan demi materi yang akan kit
a dapatkan. Dan kau masih belum cukup berani melakukan itu. Atau
barangkali, kau terlalu sombong.”



“Aku selalu idealis, Hasta. Aku akan selalu begitu dalam hidupku.”



 “Tidak. Idealisme menjadi paradigma yang tak dapat dipertahankan
ketika kita telah terjun di dunia yang sesungguhnya.Ada banyak hal
 yang harus kita korbankan demi hidup. Mungkin masih bisa berlaku
ketika kita masih harus tak berbenturan dengan banyak kepentingan
sementara kita tak punya posisi tawar yang cukup kuat. Dengan kata
 lain, kita tak punya otoritas. Maka yang bisa kita lakukan bukanl
ah menyerang, tetapi bertahan dengan menggunakan strategi lain, me
ncari celah-celah kecil untuk menjadi yang diperhitungkan. Karena
kita tak punya posisi tawar yang kuat, maka bila tak hati-hati dal
am melangkah, otoritas bisa melemparkanmu jauh-jauh dari lingkaran
 tempatmu berpijak.”



 “Hmm…,” Stepa mencermati mimik wajah Hasta. “Oke. Lantas sete
lah kau menemukan jejakku?”



 “Ketika kau diberhentikan dari pekerjaanmu, aku merasa harus m
elakukan sesuatu. Skill-mu terlalu berharga untuk disia-siakan.
 Apalagi aku tahu, mantan bosmu itu akan berusaha menyebarkan b
erita buruk tentang kau pada kawan-kawannya yang mungkin akan m
emperebutkanmu. Di sinilah posisimu kurang menguntungkan. Kau t
ak tercatat sebagai warga negara yang berkelakuan baik, bukan?
Sejarah hidupmu sebagai seorang pemberontak, atau apa pun itu b
ahasa yang mereka gunakan untuk menyudutkanmu, sungguh sangat t
idak menguntungkan buatmu. Kau, hampir bisa dipastikan akan kes
ulitan menemukan pekerjaan lagi. Padahal, dengan kemampuanmu, k
au ini sebenarnya harta yang sangat berharga yang harus dimanfaatkan.”



 “Jadi itulah sebabnya kau buru-buru menghubungiku? Untuk memanf
aatkan harta berharga itu?”



 “Ya, begitulah,” Hasta tersenyum. “Simbiosis mutualisme. Kau un
tung karena dapat pekerjaan, aku pun beruntung karena menemukan
harta berharga. Saat ini kami punya agenda mendesak, liputan khu
sus ke Merican, dan cameraman kami tiba-tiba saja jatuh sakit. K
ami membutuhkan tenaga seorang cameraman yang andal dan berpenga
laman. Kau memenuhi kualifikasi ini. Jadi, aku memberikan sebuah
 penawaran: maukah kau bekerja sama dengan kami? Tentu saja deng
an imbalan yang setimpal.”
Stepa, tanpa berpikir panjang lagi, mengangguk.



“Jangan terburu-buru mengambil keputusan,” Hasta tersenyum geli
melihat antusiasme kawannya.



 “Yang aku butuhkan saat ini… kau tahu? Sesuatu yang membuatku hi
dup kembali. Kerja. Menjadi ada.”



“Kau kehilangan eksistensi dirimu?” goda Hasta.



 “Aku kehilangan segalanya,” desah Stepa. “Itu sangat mengerikan.
Kerja membuat hidup, dan aku harus kehilangan itu selama ini. Tawa
ran ini adalah oase di padang tandus. Jadi apa yang harus aku laku
kan sekarang?”



 “Bersiaplah berangkat ke Merican besok pagi. Sebuah perusahaan b
ioteknologi terbakar. Dugaan sementara mengarah ke sabotase. Mung
kin persaingan bisnis atau semacamnya. Perusahaan ini tahun lalu
menjadi sangat kontroversial karena telah melakukan sepuluh kali
pengklonaan terhadap manusia, dan nyaris lima puluh persen gagal.
 Dua embrio tidak tumbuh sempurna, satu menyebabkan ibu tumpangny
a terkena choriocarcinoma, sejenis kanker pada rahim sehingga har
us digugurkan, yang lain mengalami gagal jantung, dan sisanya men
inggal setelah lahir. Catatan terburuk sepanjang abad artifisial
ini. Direktur perusahaan ini sedang mempertanggungjawabkan perbua
tannya di depan pengadilan. Perusahaan ini sedang dalam proses li
kuidasi. Sayang pemiliknya belum tertangkap. Tapi melihat prosedu
r penangkapannya yang berbelit, kemungkinan besar ia tidak akan t
ertangkap. Mungkin mendapatkan suaka di luar negeri.
 “Sebelumnya, perusahaan ini menciptakan the laughing cat. Kucing
klon, yang pada proses pengklonaannya ditambahkan gen manusia. Kuc
ing itu, menurut desas-desus, memiliki inteligensi seperti manusia
, dan mengeong dengan suara yang lebih mirip suara tawa manusia. P
royek rahasia yang akhirnya terbongkar saat terjadi kericuhan bebe
rapa waktu itu. Bayangkan, barangkali kasta kita sekarang berada s
atu tingkat di bawah kucing itu.”



 Stepa tercengang mendengarkan penuturan Hasta. Ia hampir-hampir
tidak mempercayai berita itu jika tak mendengarnya sendiri dari m
ulut Hasta, orang yang berkecimpung langsung dalam berita-berita
aktual. Apakah negeri ini sudah begitu majunya sehingga dapat mel
akukan lompatan teknologi sejauh itu? Benarkah era artifisial itu
 benar-benar nyata, bukan hanya isapan jempol belaka? Bukan sekad
ar dongeng khayal belaka?”



 Ia pernah membaca jurnal sains yang terbit beberapa puluh tahun s
ilam di perpustakaan Pak Raste. Jurnal itu memuat sejarah ketika p
ertama kali kloning ditemukan. Ketika itu kata cloning merupakan k
osa kata baru, ketika pengetahuan manusia terhadap rekayasa biolog
ik penciptaan klon, terhadap organisme selain tanaman belum pernah
 dapat dibuktikan. Klon diambil dari kata klón, bahasa Yunani, yan
g berarti tunas.



 Kloning dipakai untuk menyebut jenis reproduksi aseksual yang di
lakukan pada tanaman, yaitu dengan cara stek batang. Pembiakan in
i bertujuan untuk mendapatkan bibit tanaman unggul di bidang agri
kultura pada tebu, hortikultura pada mangga, dan florikultura pad
a anggrek. Tanaman yang dihasilkan dari reproduksi aseksual ini m
engandung seperangkat replika genetik yang sama persis dengan ind
uknya, termasuk pada DNA sequence, sel, atau organisme.
 Keberhasilan teknologi klon pada tanaman ini menumbuhkan pemikir
an baru untuk mencobakannya pula pada hewan. Apabila dari reprodu
ksi vegetatif tanaman bisa diambil sifat-sifat baik untuk diturun
kan pada anaknya agar ia terseleksi menjadi bibit yang berkualita
s unggul, maka bila ini dilakukan pada hewan pun akan berakibat s
ama. Maka dilakukanlah eksperimen-eksperimen untuk memecahkan kod
e genetika pada hewan agar teknik kloning ini dapat diterapkan. K
eberhasilan memecahkan kode ini adalah pintu bagi manusia utuk me
njadi ‘pencipta.’.



  Hasta dan Elisa tetap merasa bisa bekerja sama, meski mereka sela
lu berbeda pendapat dan hati mereka sering panas oleh pertengkaran
.



 Siapa pun yang dapat memecahkan kode genetika ini, dan mampu
memahami asam deoksiribosenukleat penyusun protein pembentuk k
ode genetika, maka di tangannyalah bermula suatu kehidupan. Se
telah penemuan demi penemuan kloning, baik terhadap tumbuhan m
aupun hewan, mulailah klon dicobakan pada manusia.



 Dua orang peneliti bernama Jerry L. Hall dan Robert J. Stillman m
elakukan klon embrio manusia yang poliploid, embrio yang berasal d
ari sebuah sel telur yang dibuahi dua atau lebih sel sperma, denga
n menggunakan zona pelucidia artifisial. Tetapi, para ahli itu men
ghentikan pertumbuhan embrio dan tidak menanamkannya di dalam rahim.



 Penemuan spektakuler ini mengundang banyak kontroversi karena di
anggap tidak manusiawi, bahkan jahat dan bertentangan dengan kehe
ndak Tuhan. Namun demikian, tentu saja, penelitian diam-diam teru
s berlangsung. Keberhasilan demi keberhasilan diraih dan bukti ny
ata jerih payah itu telah didapatkan. Perusahaan Human Care adala
h sebuah perusahaan bioteknologi yang diam-diam dibiayai oleh pem
erintah dan lembaga tertentu. Ia bereksperimen menciptakan produk
-produk manusia kopian. Pro-kontra kloning masih terus berkelanju
tan, tetapi produk-produk Human Care makin mengalami diversifikas
i. Perusahaan ini menawarkan paket-paket artifisial. Namun, klon
belum ditawarkan secara terbuka. Karena menyangkut berbagai kepen
tingan, perusahaan yang melayani jasa reproduksi artifisial pada
manusia ini pun seperti mendapatkan legitimasi, bahkan sponsorshi
p dari pihak pemerintah.



 Tiba-tiba Stepa merasa punggung tangannya ditepuk. Ia segera te
rsadar kembali dari pengembaraan pikirannya. Hasta masih ada di
hadapannya. Ia menunjuk ke atas panggung.



“Itu penyanyi cantik yang aku ceritakan padamu tadi.”



 Stepa mengikuti arah telunjuk Hasta. Sesaat kemudian terdengar de
caknya.



 “Aku benci mengatakan ini, tapi tampaknya aku mengenal penyanyi i
tu. Siapa, ya?”



Hasta mendekatkan wajahnya.



 “Aku juga benci mengatakan ini padamu. Tapi dia itu Elisa Morena, r
eporter Space TV. Dia sesekali ikut menyanyi di sini. Kau pasti seri
ng melihatnya di televisi. Dia itu female reporter of the year, Miss
 Knows Everything,” nada suara Hasta terdengar kurang enak di teling
a Stepa.



Stepa memperhatikan Elisa baik-baik. Wanita itu cantik. Tubuhnya
yang tinggi dan langsing dibalut busana putih satin dengan pundak
terbuka. Kulitnya putih bening seperti pualam. Ia menyanyikan sebu
ah lagu lama berirama jazz.



 “Besok pagi-pagi benar kita akan berangkat bersama,” ujar Hasta. “K
au, aku, dan penyanyi itu.”



Tekanan pada kalimat terakhir Hasta mengherankan Stepa.



“Kau tampaknya kurang menyukai Elisa,” kata Stepa.



 “Siapa bilang? Aku mengaguminya,” elak Hasta. Ia kemudian berlag
ak memperhatikan Elisa di panggung. “Hmm… ia memang cantik, tapi
sayang, suaranya tidak terlalu merdu, bukan? Kurasa ia agak memak
sakan diri. Barangkali ia ingin semua orang menganggap ia bisa me
lakukan segalannya. Tapi, sebenarnya tidak ada orang yang bisa me
lakukan segalanya. Mereka dikaruniai bakat masing-masing. Elisa m
ungkin jenius dalam reportase, tapi suaranya tidak terlalu bagus
untuk menjadi seorang penyanyi.”



 “Itu sarkasme, jelas kau bukan hanya kurang menyukainya, tapi k
au memang benar-benar tidak respek kepadanya,” serang Stepa. Hat
inya merasa geli dengan komentar-komentar Hasta.



 “Hanya merasa iba,” Hasta membuat dalih yang lain. “Tapi kami ada
lah tim. Aku tidak boleh merasa tidak menyukainya. Ia bebas melaku
kan apa pun yang disukainya, meskipun belum tentu disukai oleh ora
ng lain.”
 Nadine berjalan bergegas di sepanjang koridor rumah sakit. Ia men
dekap diktat di dadanya rapat-rapat. Suasana rumah sakit yang leng
ang itu membuat bulu kuduknya berdiri. Ia sedang melewati lorong y
ang paling sepi dari seluruh bagian rumah sakit. Lorong di depanny
a itu bercabang, bila berbelok ke kiri, ia masuk ke bangsal utama,
 dan bila lurus, lorong itu akan menurun menuju sebuah tempat yang
 paling sunyi dan purba: kamar mayat.



 Nadine menepis pikiran-pikiran buruk dari kepalanya. Ia menelan
ludah berkali-kali dan berusaha menyusun kekuatan. Ia mengutuki s
aat-saat itu. Ia mengutuki Dokter Karel yang seharian tidak muncu
l di kampus sehingga ia harus kerepotan mencarinya di rumah sakit
, hendak menyerahkan tugas asistensi para mahasiswa kepadanya.



 Ketika Nadine menghubunginya lewat telepon, Dokter Karel menyuru
hnya mengantarkan tugas para mahasiswa itu ke Rumah Sakit Faruya
di atas pukul tujuh, karena saat itu Dokter Karel berada di sana,
 meeting dengan para dokter di rumah sakit itu.



 Nadine tiba-tiba saja berkeringat dingin. Ia berusaha untuk tida
k menatap lurus ke depan. Ia berusaha melemparkan pandangnya ke p
intu-pintu ruangan di sepanjang koridor, ke arah taman, dan meras
a lega ketika satu dua perawat atau pembesuk melintas. Ia merasa
sedikit terhibur karena bertemu dengan satu-dua orang sebelum mak
in dekat dengan jalan menurun itu. Ah, matanya tiba-tiba saja ter
tumbuk pada lorong di depannya. Ada beku yang menggigit pada wila
yah yang paling terasing itu. Nadine menahan napas. Ia makin mend
ekat.



 Tahu-tahu Nadine merasa sendiri. Tak satu pun orang di sekitarnya,
 padahal justru di saat-saat seperti itu ia butuh mereka untuk menu
mbuhkan keberaniannya. Bila sendiri, ia tak memiliki banyak keberan
ian. Nyalinya ciut seketika, tatkala tak bisa lagi menghindarkan ta
tapan. Matanya selalu membentur pagar besi itu, lorong yang curam j
alannya, sepi-gelap di ujung depan sana. Ia ingin segera berbelok k
e arah kiri, tapi kakinya terlalu cepat meluncur dan tak bisa diken
dalikan. Langkah Nadine limbung.



 Gawat, pikirnya kalut. Bagaimana kalau tiba-tiba kakiku tak bisa di
rem meluncur ke arah pagar itu dan tak bisa dibelokkan?



 Jantung Nadine berdegup-degup. Keringatnya berlelehan membasah
i kening dan melembapkan telapak tangannya yang mendekap diktat
. Sementara kakinya bersicepat, mulutnya komat-kamit berdoa. Tu
han, lindungi aku!



 Nadine terus berdoa. Beberapa langkah lagi ia tiba di percabangan
lorong. Ia mengayuh kakinya kuat-kuat dan terus berkonsentrasi untu
k segera banting setir ke arah kiri. Dan…yup! Berhasil!



    Brak!!



 Nadine terpekik kaget. Ia terpelanting ke belakang setelah menabra
k sesosok tubuh. De Javu! Ia merasa seperti pernah mengalami ini se
belumnya, tapi ia tidak bisa mengingat kapan peristiwa itu terjadi.



    Seorang perawat yang masih cukup muda tersenyum geli melihatnya
.



 “Ma…maaf,” Nadine berkata terbata-bata. Ia merasa malu karena yak
in perawat itu tahu apa yang dipikirkannya.
 “Hati-hati kalau jalan. Pelan-pelan saja, di sini tidak ada apa-apa, ko
k.”



Nadine merasa mukanya merah padam.



 “Eh, anu… saya mencari Dokter Karel,” ia buru-buru berkata, ber
usaha untuk menutupi rasa malunya. “Anda tahu di mana saya bisa
menemukannya?”



 “Dokter Karel sedang meeting dengan dokter-dokter yang lain, di r
uang rapat. Lurus saja, belokan kanan pertama, ruangan nomor tiga,
 ada tulisan Meeting Room di pintunya. Kelihatannya rapat mereka b
elum selesai.”



“Oh, begitu. Terima kasih, ya?”



“Anda perlu diantar tidak?” goda perawat itu. Nadine nyengir.



“Tidak perlu, terima kasih. Sudah dekat, bukan?”



 “Ya, sudah dekat. Dan tidak sesepi di sini. Anda bakalan banyak b
ertemu dengan keluarga pasien yang sedang duduk-duduk di sepanjang
 koridor.”
 “Sekali lagi, terima kasih….” Nadine melirik label nama yang terpasa
ng di dada perawat itu, “Rio….”



“Sama-sama, Nona.”



 Nadine melanjutkan langkahnya. Kali ini hatinya terasa ringan. Ben
ar saja kata Rio, setelah melewati lorong itu ia bertemu dengan ban
yak keluarga pasien. Nadine merasa aman.



 Ia melihat papan petunjuk di percabangan lorong selanjutnya. Mee
ting Room ada di sebelah kanan percabangan. Nadine mengamati ruan
gan satu per satu.



Meeting Room.



 Nadine berhenti tepat di depan pintu ruangan. Apabila diamati, jar
ak pintu ruangan itu dengan pintu ruangan di sebelahnya cukup jauh.
 Ruangan rapat itu cukup besar rupanya.



 Nadine merasa kecewa karena rapat belum selesai. Ia mendekatkan
telinganya ke pintu, kemudian mengintip dari lubang kaca di pintu
. Masih ada beberapa orang, atau tinggal beberapa orang?



 Nadine memutuskan untuk menunggu. Ia duduk tak jauh dari ruangan
. Ia duduk di pinggir koridor bersama beberapa orang yang telah t
erlebih dahulu datang.
 Ia melempar senyum kepada seorang pria tua yang duduk di sampi
ngnya. Pria itu membalas dengan ramah.



“Menunggu siapa?” ia bertanya kepada Nadine.



“Dokter Karel,” sahut Nadine, “dosen saya. Saya mau mengumpulkan
tugas.”



“Ah, mahasiswi kedokteran rupanya?”



Nadine mengangkat bahunya, “Ya, begitulah.”



“Rapat para dokter itu kelihatannya akan lama.”



“Oh, ya? Mengapa?”



 “Mereka sedang merembuk masalah-masalah lain. Banyak hal di lua
r tugas kemanusiaan yang mereka anggap lebih penting untuk dijal
ankan, ketimbang sekadar memeriksa pasien dan mendengarkan keluh
an mereka. Payah para dokter itu.”



Nadine tiba-tiba tertarik dengan lelaki itu.
 “Menurut Anda, para dokter itu sedang merembuk apa, selain kondis
i para pasien di rumah sakit ini, atau yang berkaitan dengan tugas
 mereka sebagai dokter?”



“Proyeklah… Proyek berduit. Apa lagi?”



“Proyek apa?”



 “Manalah saya tahu, Nona. Tapi, yang pasti berduit. Dosen Anda, Dokt
er Karel itu, pasti ada di balik ini semua.”



“Bagaimana Bapak bisa tahu? Proyek apa yang Bapak maksud?”



“Ya, barangkali semacam Human Care, perusahaan bioteknologi di
Merican yang barusan terbakar itu. Barangkali perusahaan semacam
itu dengan nama baru.”



 Ngaco. Orang tua itu agak tidak beres, Nadine membatin. Enak saja
dia bicara.



“Anda tahu apa tentang Human Care?”



 Nadine mencermati pria tua itu. Ia merasa tertipu dengan pandanga
n matanya sendiri. Kalau mau jeli, ia menemukan bahwa ternyata pri
a tua itu bukan berasal dari golongan biasa. Ia seorang yang berpe
ndidikan dan berkedudukan. Ia melihat penampilannya yang trendi da
n rapi. Lipatan pada bajunya menunjukkan bahwa ia sangat rapi, tel
iti, intelek, dan terawat, tentu saja. Kerutan di keningnya sangat
 mengesankan bagi Nadine. Ia barangkali seorang pengusaha sukses a
tau sejenisnya,dari kaum the have.



 “Human Care?” pria tua itu terkekeh. “Ya, saya tahu. Perusahaan
yang bercita-cita menggantikan Tuhan dengan menciptakan manusia b
eraneka rupa. Dan tidak bertanggung jawab atas hasilnya.”



Nadine tercengang mendengarnya.



 “Bapak tampaknya tahu betul tentang sepak terjang perusahaan biot
eknologi Merican itu?” pancing Nadine.



Pria itu mengangguk-angguk.



“Tentu saya tahu. Saya adalah salah seorang korban.”



 Tiba-tiba pintu ruangan rapat terbuka. Para dokter keluar dari ru
angan itu. Wajah-wajah serius itu belum lagi mengendur. Mereka mel
angkah seperti robot. Suara sepatu mereka mengetuk-ngetuk lantai y
ang licin. Nadine mengenali beberapa orang di antaranya.



 Sampai para dokter itu meninggalkan ruangan, Nadine belum juga mel
ihat sosok Dokter Karel. Ia jadi cemas, khawatir penantiannya terny
ata sia-sia belaka.
 Pintu ruangan yang sedikit terbuka diintipnya. Sayup-sayup masih
terdengar suara-suara dari dalam ruangan. Nadine merasa agak lega,
 tapi ia masih belum yakin Dokter Karel ada di dalam. Ia menajamka
n telinganya.



 Suara-suara itu saling bersahutan, seperti orang yang sedang memp
erdebatkan sesuatu. Sesekali mereka merendahkan suara apabila yang
 lain terlalu keras bicara. Kemudian suara mereka seperti ditahan,
 namun akhirnya kembali meninggi. Suara-suara itu tak dapat ditang
kap dengan jelas oleh telinga Nadine.



 Rasa ingin tahu dan ingin bertemu dengan Dokter Karel secepatnya
 membuat Nadine nekat masuk ke ruangan itu. Ia menemukan ruangan
dengan meja besar di tengah-tengah kursi-kursi yang telah ditingg
alkan penghuninya. Botol-botol air mineral dan kotak kudapan masi
h berserak di atas meja.



 Ternyata suara pertengkaran itu berasal dari ruangan kecil di dalam
nya. Dan Nadine bisa mengenali, salah satu suara itu adalah suara Do
kter Karel.



 Nadine ragu-ragu sesaat. Ia telah berada di dalam ruangan rapat,
tetapi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia berharap pembicaraa
n di ruangan kecil itu segera berakhir sehingga ia dapat segera me
nyerahkan tugasnya, dan kemudian lekas-lekas pulang. Ia sudah mera
sa sangat letih.



 Namun, tampaknya pembicaraan itu belum juga akan berakhir. Nadin
e mempertajam pendengarannya. Ada sekitar tiga orang di dalam rua
ngan itu. Dari pintu ruangan yang terbuka ia melihat salah seoran
g dari mereka mondar-mandir, tetapi yang pasti bukan Dokter Karel
. Dokter Karel tinggi besar, sementara bayangan itu pendek dan ge
muk.



 Nadine tetap tak bisa menangkap pembicaraan mereka dengan jelas.
 Suara-suara mereka seperti gema yang memantul dari dinding ke di
nding tanpa menimbulkan makna baginya. Kemudian terdengar suara g
ebrakan di meja, dan orang yang nyaris berkelahi membuat Nadine t
erperanjat kaget. Jantungnya berdebar-debar. Ia mempunyai firasat
 bahwa situasi akan sangat tidak menguntungkan baginya bila ia te
tap tinggal di sana. Akhirnya Nadine memutuskan untuk menunggu Do
kter Karel di luar ruangan rapat. Tapi, belum lagi langkahnya sam
pai di pintu, ia mendengar suara teguran keras dari balik punggun
gnya.



“Anda mencari siapa, Nona?”



 Nadine membalikkan tubuhnya dengan kaget. Seorang pria gemuk, p
endek, berkepala botak dengan helai-helai rambut beruban, mengen
akan jas dokter, berdiri beberapa meter di hadapannya. Matanya m
enatap tajam kepada Nadine, seolah ingin menelannya bulat-bulat.
 Nadine menghindari tatapannya.



“Saya… mencari Dokter Karel,” ujarnya terbata.



 Tiba-tiba dari dalam ruangan kecil muncul dua orang. Salah satu d
ari mereka adalah Dokter Karel, yang telah ditunggu Nadine selama
hampir dua jam. Kini ia sudah muncul.



“Saya mau menyerahkan tugas asistensi hari ini,” Nadine berkata
 lagi. Dokter Karel berjalan menghampirinya. Nadine harus mendon
gak untuk dapat menatap wajah Dokter Karel. Ia menyerahkan map y
ang semenjak tadi dibawanya bersama diktat.



“Terima kasih, Nadine.”



 Nadine menangkap sesuatu yang asing dari jawaban yang dingin itu.
 Dokter Karel sama sekali tidak ramah kepadanya, tidak seperti bia
sanya. Di hadapan para dokter itu, Nadine tiba-tiba merasa gamang.
 Tatapan mereka menyelidik, seolah ingin membawa ia ke sudut ruang
, menarik kerah bajunya, dan menghujaninya dengan pertanyaan-perta
nyaan seperti mengapa ia berada di tempat itu, dan apa yang telah
ia curi dengar dari pembicaraan mereka. Nyali Nadine ciut seketika
, rasanya persis seperti ketika harus melalui koridor kamar mayat.



“Kalau begitu, saya permisi dulu, Dokter…,” suaranya bergetar.



 “Silakan,” Dokter Karel yang menjawab. Ia mengantarkan Nadine hin
gga ke pintu.



 Beberapa saat setelah Nadine keluar dari ruangan rapat, hendak pu
lang, Dokter Karel menyusulnya.|



“Nadine.”



Nadine menoleh dan berhenti.
 “Tadi, apakah kau sudah lama masuk ke ruangan rapat ketika Dok
ter Amar keluar dan menemukanmu?”



“Belum, saya baru saja masuk.”



“Kau mendengar pembicaraan kami?”



“Tidak, Dok. Sama sekali tidak.”

“Kau yakin?”


“Saya tidak sempat mendengarkan apa pun.”


 Nadine kembali menangkap sesuatu yang aneh. Apa yang sangat rah
asia dengan pembicaraan para dokter itu? pikirnya heran. Ingin m
enghancurkan dunia?

 “Nadine,” Dokter Karel menahan ketika dilihatnya Nadine akan men
eruskan langkahnya.

 Kini mereka saling berhadapan. Raut muka Dokter Karel serius, tet
api keramahan yang sempat lenyap dari wajah itu semenjak tadi tela
h sedikit mencair. Nadine dapat melihat pesona itu kembali memanca
r. Kematangan usia telah membentuk karakter tersendiri dalam diri
Dokter Karel.

 “Seandainya kau sempat, sedikit saja, menangkap pembicaraan ka
mi, aku rasa kau cukup bijaksana untuk tidak pernah menganggapn
ya ada. Kau mengerti maksudku?”

Nadine tercengang mendengarnya.

“Apa maksud Dokter?” ia bertanya bingung.
Dokter Karel berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk membuat
Nadine mengerti.



 “Itu tadi, semata-mata hanyalah pertengkaran antarkawan. Kesala
hpahaman yang biasa terjadi dalam sebuah hubungan persahabatan,
dan tidak ada kaitannya dengan profesionalisme kerja. Wajar, buk
an?”



Nadine mulai paham. Ia mengangguk-angguk.



 “Tentu, Dokter Karel. Itu hal yang sangat biasa terjadi. Saya men
gerti. Saya tidak mendengarkan pembicaraan Anda, dan tentu saja, k
alau yang Anda khawatirkan adalah saya akan menceritakan hal ini k
epada orang lain, saya tidak akan melakukannya.”



Dokter Karel tersenyum lega. Ia menepuk bahu Nadine pelan.



“Terima kasih, Nadine. Kau memang asistenku yang paling baik.”



Muka Nadine jadi kemerah-merahan.



 “Tak jadi soal, Dokter,” ia berusaha untuk biasa-biasa saja. “Tapi
, Dokter…” ia berusaha mencegah ketika Dokter Karel hendak berbalik
 meninggalkannya.
 “Apakah Dokter sudah mau pulang? Saya perlu kawan untuk keluar da
ri rumah sakit ini. Saya…, agak jeri sendirian. Apalagi harus mele
wati kamar mayat itu….”



Dokter tercengang sesaat, tapi kemudian ia tertawa.



 “Kau takut, Nadine? Kau calon dokter, dan mayat itu hanyalah rag
a yang telah mati yang telah biasa kau pegang-pegang. Mengapa pul
a harus takut? Kau aneh.”



 “Saya hanya…,” Nadine jadi agak canggung mendengar komentar Dokte
r Karel yang sebenarnya telah ia duga sebelumnya. “Bukankah, seper
ti halnya bertengkar dengan kawan sendiri, merasa takut pada hal-h
al gaib di luar logika ilmiah itu juga wajar, Dok?”



 “Baiklah. Kau rupanya telah membalikkan kata-kataku sendiri,” Dokt
er Karel mengalah. “Aku juga mau pulang. Kau boleh bersamaku keluar
 dari rumah sakit ini, melalui jalan yang lain. Tidak melalui kamar
 mayat. Oke?”



  Hasta dan Elisa tetap merasa bisa bekerja sama, meski mereka sela
lu berbeda pendapat dan hati mereka sering panas oleh pertengkaran
.



 Ada jalan lain, ya Dok?” Nadine tiba-tiba merasa menjadi orang pa
ling bodoh sedunia. Mengapa ia tak memikirkan kemungkinan itu?
 “Sedikit lebih jauh karena harus memutar. Tapi tak apa, akan ku tu
njukkan kepadamu. Jalan itu nanti berakhir di pintu utara, di tempa
t parkir mobil. Aku mau mengambil berkas-berkasku dulu di kantor, b
aru kemudian kita keluar besama.”



Nadine mengiyakan dengan gembira.



 Sesaat kemudian Nadine dan Dokter Karel telah melangkah bersisia
n. Berjalan di samping dokter itu membuat Nadine merasa tenang. S
osoknya yang gagah telah memberikan rasa aman dan Nadine merasa t
erlindungi. Tiba-tiba Nadine merasa sangat beruntung bisa berada
dalam jarak sedekat itu dengan Dokter Karel, menjadi asisten dose
n baginya. Banyak yang merasa iri terhadap Nadine karena kedekata
nnya dengan Dokter Karel, yang pada usia yang sebenarnya tidak cu
kup muda lagi, 38 tahun, telah membuat banyak wanita tergila-gila
. Sayang ia bernasib malang. Istrinya meninggal setengah tahun ya
ng lalu, dan ia kini hidup sendirian karena belum memiliki seoran
g anak pun. Ia baru beberapa minggu lalu memutuskan untuk pindah
ke sebuah apartemen. Rumah besar terlalu lapang untuk seorang dud
a, demikian menurutnya. Ia tak bisa mengatur rumah sebesar itu ta
npa sentuhan tangan wanita, dan kesepian akan makin terasa ketika
 kelengangan telah menyergap dari seluruh penjuru ruangan.



 Di apartemen ia merasa tenang karena tak harus terganggu dengan
 kenangan-kenangan lama karena kesepian tak banyak mendapatkan r
uang. Bila tiba-tiba hening mulai menggelisahkannya, Dokter Kare
l memiliki sebuah home theatre yang suaranya memenuhi seluruh ru
angan dan ia tak akan lagi merasa kesepian.



 Dokter Karel memberikan isyarat kepada Nadine untuk menunggu d
i luar sementara ia masuk ke kantor untuk mengambil berkas-berk
asnya. Pada saat itu datang seseorang mendekati Nadine. Pria ya
ng duduk bersamanya sewaktu menunggu Dokter Karel. Nadine menga
ngguk dan terseyum melihatnya.



“Mana Dokter Karel?” pria itu bertanya.



“Sedang mengambil beberapa file di dalam.”



 Nadine kini dapat lebih jelas mengamati pria itu. Ia tampak ter
pelajar dan bukan orang sembarangan. Pakaian yang melekat di tub
uhnya sudah pasti bermerek mahal. Mungkin ia seorang pengusaha a
tau semacamnya. Namun, ada yang lebih menarik perhatian Nadine k
etimbang penampilannya. Wajahnya seperti sedang dicekam gelisah.



“Kenapa Dokter Karel lama?” tanyanya lagi setelah beberapa saat
mereka menunggu.



 “Entahlah,” Nadine menggedikkan bahu. “Bapak ada perlu juga deng
an Dokter Karel?”



 Pada saat itu Dokter Karel sudah keluar dari ruangannya. Ia terte
gun saat melihat lelaki yang berada di samping Nadine, tetapi ia k
emudian berhasil mengubah mimik mukanya. Senyum Dokter Karel menge
mbang. Ia menjabat tangan lelaki itu.



“Apa kabar, Pak Norman?”



“Akhirnya saya dapat bertemu dengan Anda, Dokter. Saya ingin bic
ara banyak dengan Anda. Ini mengenai anak saya. Dia…,”



 “Eh, Pak Norman,” Dokter Karel mengajak lelaki itu agak menjauh d
ari Nadine. “Saya saat ini belum punya waktu untuk membicarakannya
. Saya ditunggu urusan lain yang juga sangat penting. Jadi mohon,
jangan sekarang kita bicarakan hal ini. Kita cari waktu yang agak
longgar agar bisa lebih leluasa bicara. Bagaimana?”



 “Tapi saya harus membicarakannya dengan Anda sekarang juga, Do
kter. Kita telah lama menunda pertemuan kita. Andalah yang mena
ngani kasus anak saya…”



 “Oke, oke,” Dokter Karel menenangkan lelaki itu. “Bagaimana kalau
 besok sore, sepulang saya mengajar? Saya ada di apartemen kira-ki
ra pukul lima sampai pukul tujuh. Anda bisa menemui saya di aparte
men.”



 Lelaki bernama Norman itu menimbang-nimbang sejenak. Ia masih k
elihatan tidak puas dengan jawaban Dokter Karel dan berusaha men
awar lagi. Dokter Karel buru-buru mencegahnya berbicara, ia meno
leh ke arah Nadine dengan sorot mata meminta pengertian.



“Sebentar ya, Nadine. Saya bicara sebentar dengan Bapak ini.”



Nadine mengangguk.



 Dokter Karel mengajak Pak Norman menjauh. Mereka terlibat pemb
icaraan yang sangat serius. Nadine dapat melihat ekspresi wajah
 Pak Norman yang sangat tegang. Dokter Karel berusaha untuk men
enangkannya, tetapi itu tampaknya membuat Pak Norman makin kesa
l. Kemudian Nadine melihat Pak Norman seperti sedang mengancam
Dokter Karel. Ia menunjuk-nunjuk wajah Dokter Karel, suaranya m
eninggi kendati Nadine tak dapat menangkap perkataannya. Setela
h itu, bergegas dengan langkah-langkahnya yang panjang meningga
lkan Dokter Karel yang termangu.



Nadine menghampiri Dokter Karel, melihat wajahnya yang muram.



 “Tampaknya ini hari yang berat buat Anda, ya Dok?” tanyanya hati-h
ati.



“Begitulah, Nadine.”



 “Boleh tahu, ada apa sebenarnya? Kelihatannya semua masalah ini s
aling berkaitan, antara rapat tadi, pertengkaran Anda dengan rekan
-rekan kerja Anda, kemudian bapak yang tadi. Betul, Dok?” pancing
Nadine lebih lanjut.



“Bagaimana kau bisa menyimpulkan semua itu saling berkaitan?”



“Hanya menebak-nebak.”



“Tidak benar, tidak ada kaitannya.”
 “Ada yang bisa saya bantu, Dok? Saya asisten Anda dan Anda tida
k perlu merasa sungkan untuk meminta bantuan saya,” Nadine membe
ranikan diri menawarkan jasa.



Dokter Karel tersenyum mendengarnya.



 “Tidak perlu, Nadine. Terima kasih. Kau sudah cukup banyak memban
tu. Lagi pula, saya bisa menyelesaikannya sendiri. Kau tidak perlu
 khawatir.”



 Nadine sedikit merasa lega ketika melihat Dokter Karel akhirnya b
isa tersenyum. Ia menikmati perjalanan keluar mereka dengan hati b
erbunga-bunga.



Selalu saja bertengkar.

 Stepa baru saja bergabung dengan Hasta dan Elisa beberapa jam, t
api ia sudah melihat begitu banyak pertengkaran di antara keduany
a. Hal-hal kecil saja mereka ributkan, apalagi hal-hal besar sepe
rti konsep pekerjaan. Hasta selalu memandang sebelah mata pendapa
t-pendapat Elisa, dan sebaliknya, Elisa selalu menyangkal apa pun
 yang diucapkan oleh Hasta. Keduanya sama-sama angkuh dan keras k
epala. Masing-masing merasa lebih tahu dari yang lain.



 Stepa tidak habis pikir bagaimana mereka bekerja dalam suasana y
ang selalu panas seperti itu. Mereka selalu berteriak satu sama l
ain. Stepa hanya bisa terbengong-bengong ketika berusaha melerai
dan tak pernah berhasil. Sopir yang membawa kendaraan mereka, Ana
s namanya, hanya tertawa-tawa seolah peristiwa itu merupakan hal
yang sangat biasa terjadi. Sesekali ia malah menimpali dan menamb
ah-nambahi hingga perdebatan kian meruncing. Tidak ada yang mau m
engalah di antara mereka. Perdebatan baru akan berhenti saat mere
ka sudah merasa capai dengan disertai gerutu panjang yang masih t
erdengar.



 “Jangan heran,” ucap Anas sambil nyengir. “Mereka memang begitu,
seperti anjing dan kucing. Entah siapa yang kucing dan siapa yang
anjing. Kalau bertemu dan tidak bertengkar, pasti ada sesuatu yang
 salah. Mungkin keduanya sedang sakit gigi.”



 Stepa berusaha untuk memahami, tapi ia tidak bisa. Oleh karena
itu, ia hanya berusaha untuk memaklumi. Keduanya memang sama-sam
a cerdas dan berusaha menonjolkan kecerdasan masing-masing. Terl
ebih lagi Elisa adalah lulusan dari luar negeri. Sudah pasti ia
merasa lebih unggul ketimbang Hasta yang produk dalam negeri. El
isa punya banyak pengalaman selama berkecimpung di dunia broadca
sting luar negeri. Ia merasa lebih banyak tahu ketimbang Hasta y
ang hanya produk lokal dan notabene adalah juniornya. Karena itu
lah ia merasa bahwa pendapatnya selalu harus diperhitungkan. Dan
 Hasta amat membenci kearoganan semacam itu.



 Elisa, menurut Hasta, adalah jenis manusia sombong yang suka men
onjolkan diri. Terkadang Elisa bahkan tak menyadari bahwa ia tak
benar-benar memiliki hal yang dibangga-banggakannya. Menyanyi di
kafe adalah salah satunya. Elisa sebenarnya tak begitu pandai men
yanyi, tetapi ia begitu percaya diri dengan suaranya. Ia meyakini
 bahwa entertain dapat disiasati dengan penampilan.Ada dua kemung
kinan mengapa penonton tak beranjak dari tempat duduknya saat men
ikmati suguhan musik. Karena terpesona pada merdunya suara penyan
yi, atau karena menariknya penampilan si penyanyi. Untuk kasus El
isa, sudah pasti penonton akan memilih yang kedua, karena suara E
lisa memang tidaklah istimewa, kalau tidak boleh dikatakan jelek.
 Hasta mendongkol dengan ‘ketidaktahudirian’ itu. Sebaliknya, ia
adalah seorang yang sangat down to earth dan low profile. Hanya p
ada Elisa ia merasa perlu meninggikan dirinya, hanya untuk meneka
n kesombongan wanita itu.
 Perjalanan menuju Merican memakan waktu sekitarlima jam. Kru ber
angkat berempat. Hasta, Elisa, Stepa, dan Anas. Baru setengah jam
 mobil berjalan, pertengkaran Hasta dan Elisa sudah dimulai. Awal
nya sebenarnya sangat remeh, Elisa bersin terus-menerus.



 “Kau kelihatan kurang sehat,” Anas menegurnya. Elisa yang mem
bekap hidungnya dengan sapu tangan, mengangguk mengiyakan.



“Beberapa hari ini aku kurang enak badan,” sahutnya.



 “Kau pasti kecapekan. Di saat kondisi tubuh tidak fit, penyakit a
kan mudah menyerang. Suaramu saja sengau begitu, mungkin kau mau f
lu.”



“Ya, nih, aku minggu ini memang kurang istirahat.”



 Basa-basi yang biasa, sebenarnya, tapi itu ditanggapi sinis oleh
Hasta. Ia tertawa. Elisa yang duduk di depan, di samping Anas, men
oleh ke belakang dengan wajah bertanya-tanya dan waspada. Rupanya
ia mengendus sesuatu di balik tawa Hasta.



 “Suaranya parau bukan karena dia mau flu, Nas,” ujar Hasta. “Tapi
 karena terlalu banyak menyanyi di kafe. Maklumlah, dia kan penyan
yi. Masa kau lupa?”



 “Oh, ya…,” seru Anas. “Betul juga kata Hasta. Mungkin suaramu hab
is karena menyanyi, bukan karena mau sakit flu.”
Elisa cemberut.



 “Kau jangan ikut-ikutan, Nas,” katanya ketus. “Hasta hanya ingin m
engejekku.”



 “Lho, kok mengejek? Aku justru kagum kepadamu. Di sela-sela age
nda kerjamu yang begitu padat, kau masih menyempatkan diri menya
nyi. Kafe Étude memang hebat. Mereka berani membayar mahal untuk
 hiburan berkelas dengan mengundang banyak penyanyi terkenal. Ba
hkan seorang reporter televisi pun memulai karier menyanyinya da
ri sana. Sayang, belum ada produser yang sempat melihat penampil
anmu di kafe. Bisa-bisa kau nanti beralih profesi menjadi penyan
yi dan Space TV bakalan kehilangan reporter terbaiknya.”



 Kata-kata yang cukup memukul. Hasta tidak sedang bercanda. Ia m
emberikan tekanan-tekanan khusus pada kalimatnya. Ia memang seda
ng menyindir Elisa dan Elisa cukup tanggap dengan arah kalimat H
asta.



 “Aku hanya memanfaatkan apa yang telah diberikan Tuhan kepadak
u.”



“Apa yang telah diberikan Tuhan kepadamu?”



“Suara.”
“Ah… suara rupanya,” Hasta tergelak.



 Elisa sangat tersinggung. Kini ia benar-benar membalikkan tubuhny
a, kedua lututnya naik di atas kursi mobil. Wajah cantiknya memera
h padam.



 “Apa sih maksudmu?” ia marah. “Kenapa begitu sinis pada hobi men
yanyiku?”



“Hobi yang aneh.”



 “Menyanyi? Aneh? Di mana letak keanehannya? Aku yakin hampir s
emua orang suka menyanyi. Hanya mungkin mereka tidak menyanyi d
i atas panggung sementara aku melakukannya. Lagi pula apa salah
nya? Bagiku, menyalurkan hobi itu perlu. Aku ingin menjadi peny
anyi, maka ketika aku punya kesempatan, aku mengambilnya. Penon
ton menyukaiku.”



 Hasta tak menjawab kali ini. Ia hanya tersenyum-senyum dan menga
lihkan pandangan ke luar jendela mobil.



 “Kau hanya iri, ‘kan? Kalau kau juga ingin jadi penyanyi, ya melama
rlah di Étude. Aku jamin kau tidak akan diterima!”



 “Apakah harus melalui tes dulu untuk bisa menyanyi di Étude?” St
epa buru-buru menyela. Ia berharap pertengkaran Elisa dan Hasta b
isa berhenti, tetapi rupanya kata-katanya yang kurang tepat malah
memperkeruh suasana.



 “Ya, tentu saja. Tapi, Elisa kan tidak harus melalui tes,” Hasta y
ang menjawab. Mulut Elisa yang sudah hendak menanggapi pertanyaan S
tepa, terkatup kembali.



“Elisa punya orang dalam, Step. Ia memacari pemilik Kafe Étude.”



 “Oh…,” Stepa segera menyadari kekeliruan kalimatnya. Ia jadi meras
a bersalah melihat Elisa kian murka.



 “Jangan didengarkan!” teriak Elisa. “Dia memang selalu ngaco! Has
ta, bisa tidak kau barang beberapa hari saja tidak usah mengganggu
ku?”



 “Siapa yang bermaksud mengganggu?” Hasta mengangkat bahu tinggi
-tinggi dengan sikap tak peduli yang menyebalkan. “Sama sekali t
idak berminat.”



 Elisa sangat jengkel. Merasa kehabisan kata-kata, ia kembali p
ada posisi duduknya semula dengan gerutu panjang yang masih ter
dengar. Sejenak kemudian ia sudah memejamkan mata, berusaha mer
edam kemarahannya. Keadaan pun menjadi tenang kembali.



 Hasta, Stepa, dan Anas kemudian berdiskusi tentang Human Care,
perusahaan bioteknologi Merican yang menjadi tujuan perjalanan m
ereka. Kontroversi yang beredar di masyarakat adalah bahwa perus
ahaan yang selama ini tidak banyak diketahui keberadaannya itu s
ebenarnya adalah proyek pemerintah. Mereka mendapatkan dana dari
 pemerintah untuk penelitian kloning terhadap manusia. Perusahaa
n itu sebelumnya telah hampir ditutup karena kasus the laughing
cat-nya yang menggemparkan dan kegagalan-kegagalan yang beruntun
 mereka lakukan. The laughing cat adalah sebuah kasus yang mengh
ebohkan dan memancing reaksi keras banyak kalangan. Tindakan men
gklonkan sel manusia ke dalam embrio kucing dianggap sebagai pen
ghinaan terhadap martabat manusia.



 Karena kasus beruntun yang menimpa Human Care, pihak donatur men
arik dukungannya. Aktivitas terpaksa diberhentikan seiring dengan
 diperkarakannya perusahaan ini di pengadilan. Namun, terlepas da
ri itu semua, perusahaan bioteknologi itu ternyata telah melangka
h lebih jauh dari apa yang dapat diamati oleh masyarakat. Masukny
a teknologi rekayasa genetika yang telah menggemparkan dunia seki
an puluh tahun silam itu ke Indonesia adalah benar-benar suatu pr
estasi sekaligus juga bahaya yang cukup mengancam bagi moralitas.
 Namun, kerja para ilmuwan itu begitu rapi. Mereka bekerja dalam
diam dan setiap langkah metodologis disimpan rapat-rapat sebelum
merasa benar-benar yakin akan keberhasilan mereka.



 “Mereka sangat berhati-hati, karena suatu kegagalan akan menghan
curkan karier dan nama mereka. Segalanya harus selalu diperhatika
n dengan matang,” Hasta berkata.



 “Tetapi mereka memang menerima klien dan servis pembuahan artifi
sial, ya?” Stepa mengerutkan keningnya.



 “Ya, berangkat dari pelayanan bayi tabung yang mereka tawarkan pa
da masa awal mereka berdiri. Mereka punya akses ke bank sperma int
ernasional dan klien tinggal pilih sperma siapa yang mereka ingink
an. Hittler? Atau John Travolta? Tinggal sebutkan nama yang mereka
 inginkan di dalam daftar, bereslah semua.”
 Ternyata saat itu Elisa sudah bangun dari tidurnya dan segera meli
batkan diri dalam percakapan.



 “Ya, dan kemudian kloning manusia juga telah mereka jadikan salah
satu pelayanan mereka. Jika kita review saat pertama kali kloning m
ulai disahihkan maka makhluk-makhluk kopian itu kini telah beranjak
 remaja,” ujar Elisa.



 “Di mana saja makhluk-makhluk kopian itu sekarang ini?” gumam St
epa.



 “Beberapa dari mereka masih berada dalam pengawasan intensif lab
oratorium besar Human Care. Mereka ditempatkan di sebuah lingkung
an yang dibentuk sedemikian rupa sehingga menyerupai komunitas be
lajar. Produk kopian itu berasal dari bibit-bibit manusia unggul
negeri kita. Bayangkan saja, dalam waktu sekitar lima hingga sepu
luh tahun ke depan akan bermunculan tokoh-tokoh penting generasi
kedua yang bakalan menguasai negeri ini, lengkap dengan karakter
turunannya.”



 “Apa maksudmu karakter turunan?” sergah Hasta. “Mereka belajar d
an beradaptasi dengan lingkungan. Pembentukan karakter bukanlah m
asalah genetika belaka. Faktor eksternal jauh lebih punya peran.”



 “Bagaimana sifat genetika yang diperoleh dari induknya?” Elisa m
elebarkan matanya. Ia merasa pendapatnya diremehkan. “Itu tetap a
kan melekat dalam dirinya. Bagaimanapun jiwa koruptor akan tetap
terbawa pada turunan klonnya, sebagaimana hasil klon orang-orang
pintar menyebabkan lahirnya jenius-jenius baru pula. Itulah menga
pa klon ada, karena ia dapat mengkopi genetika sama persis.”
 “Nona, yang menurun adalah ciri fisik, kapasitas otak, bakat, dan
sifat-sifat genetis lainnya. Behaviour bisa dibentuk oleh masyaraka
t. Kloning seorang koruptor bisa meniru kecerdasan induknya, tetapi
 apakah akan digunakan untuk menipu dan bermuslihat, itu tergantung
 dari bagaimana ia menyerap pelajaran tentang nilai-nilai, apakah k
orup itu dibenarkan atau tidak. Bagaimana menurutmu, Stepa?”



 Meskipun ragu-ragu karena melihat ekspresi Elisa yang menahan k
egeraman, Stepa lebih sepakat dengan pendapat Hasta. Ia mengangg
uk-angguk.



 “Jangan cuma mengangguk-angguk!” bentak Elisa. “Menurutmu send
iri bagaimana?”



 “Ya… aku lebih sepakat dengan Hasta. Tampaknya lebih masuk akal.
”



 Hasta tertawa penuh kemenangan dan Elisa menggerutu panjang. Ana
s yang melihat kejadian itu hanya tersenyum-senyum geli, tetapi t
ak berkomentar apa pun. Ia yang duduk paling dekat dengan Elisa,
tidak ingin mengambil risiko menjadi sasaran kemarahan Elisa bila
 ikut-ikutan mendukung Hasta.



 Di pesta ulang tahun Raia, pesta para eksekutif muda, ada kegel
isahan terpancar di raut wajah manis yang lembut itu. Nadine dap
at merasakannya. Raia berkali-kali mengedarkan pandangan ke sege
nap penjuru ruangan, seolah-olah ingin menemukan sesuatu atau se
seorang di sana. Wajahnya muram, hanya sesekali ia berusaha menu
tupinya dengan senyum. Ia tidak sedang berbahagia pada pesta ula
ng tahunnya. Tak ada seseorang yang mendampinginya. Nadine menel
an ludah. Ada rasa pahit tertelan di kerongkongannya. Apakah Rai
a mengharapkan Nara datang?



 Sebenarnya Nadine telah menyampaikan undangan pesta itu kepada
kakak laki-lakinya. Ia berusaha membujuk Nara untuk datang. Namu
n, Nara tak bergerak. Ia bahkan tak mengeluarkan sedikit pun sua
ra. Nadine akhirnya, setelah lelah bicara, meletakkan undangan u
lang tahun itu di karpet di samping Nara yang asyik bermain deng
an komputernya. Ia tahu, Nara hanya berusaha untuk tidak peduli.
 Ia memahami, Nara tengah berusaha meredam gejolak di dadanya ka
rena ia sebenarnya tidak pernah melupakan Raia. Sekeras apa pun
usahanya untuk melenyapkan Raia, ia tak pernah berhasil melakuka
nnya. Sepedih apa pun debar dada Nara, ia tetap saja menyebutkan
 nama Raia dalam setiap pembicaraan meski sekadar mengingat suat
u hal yang berkaitan dengannya, seperti film atau permen kesukaa
nnya. Atau hanya menyebutkannya tanpa maksud apa-apa. Namun, pan
dangan Nara sering kali terlihat kosong saat memorinya diputar k
embali. Mungkin saat itu ia membayangkan wajah Raia dan masa-mas
a ketika mereka masih bersama.

 Sungguh suatu pukulan yang teramat telak manakala tiba-tiba Ra
ia memutuskan pertunangan mereka.Ada hal-hal misterius yang mer
eka sembunyikan.Nara tak pernah mengakui penyebab sebenarnya, t
api cara ia menyikapi keputusan Raia menunjukkan bahwa kesalaha
n ada pada pihakNara . Kesalahaan yang tak dapat dimaafkan Raia.

 Tujuh tahun adalah masa yang cukup panjang untuk sebuah hubun
gan. Nadine tak dapat memahami mengapa kurun waktu itu bisa ru
ntuh begitu saja oleh suatu hal gegabah yang dilakukanNara . D
an bagaimana mungkin Nadine bisa melupakan saatNara menangis m
engiba-iba di hadapan Raia yang beku, memohon agar hubungan me
reka dipertahankan.

 Nadine yakin ada pihak ketiga di balik berakhirnya hubungan kaka
knya dengan Raia. Meskipun ia melihat dari sikap Raia bahwa Naral
ah yang menjadi biang peristiwa itu, di dalam hati kecilnya ia ma
sih belum mempercayai bahwa kesalahan sepenuhnya harus ditimpakan
 pada kakak satu-satunya itu. Perjalanan tujuh tahun sepasang kek
asih tidak akan mudah dihentikan kendati salah seorang melakukan
kesalahan dan berusaha kembali, kecuali bila ia benar-benar terse
sat atau seorang yang lain memang berusaha untuk meninggalkan. Na
dine melihat Raia telah kepayahan bersamaNara dan ia memang ingin
 berhenti. Nadine tahu betapa berat pula masalah itu buat Raia. I
a pun sama terlukanya denganNara . Barangkali lebih terluka.


Tamat

								
To top