imperium

Document Sample
imperium Powered By Docstoc
					IMPERIUM
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002
Tentang Hak Cipta
Lingkup Hak Cipta
Pasal 2:
1. Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang
Hak Cipta untuk
mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya, yang timbul secara
otomatis
setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menu
rut peraturan
perundangan-undangan yang berlaku.
Ketentuan Pidana:
Pasal 72
1. Barangsiapa dengan sengaja melanggar dan tanpa hak melakukan
 perbuatan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Ayat (1) atau Pasal 49 Ayat (1)
 dan Ayat (2)
dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (sat
u) bulan dan/
atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau p
idana penjara
paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.
000.000,00 (lima
miliar rupiah).
2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedar
kan, atau menjual
kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta
 atau hak
terkait sebagai dimaksud pada Ayat (1) dipidana dengan pidana penj
ara paling lama
5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima
 ratus juta
rupiah).
IMPERIUM
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Jakarta, 2008
ROBERT HARRIS
a
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
nurulkariem@yahoo.com
MR. Collection's
mjbookmaker by:
http://jowo.jw.lt
IMPERIUM
by Robert Harris
Copyright © 2007 by Robert Harris 2006
Robert Harris has asserted his right under the Copyright,
Designs and Patents Act, 1988 to be identified as the author of this
work
IMPERIUM
Alih bahasa: Femmy Syahrani
Editor: Siska Yuanita
GM 402 08.032
Foto sampul: © Araldo de Luca/CORBIS
© Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Jl. Palmerah Barat 33-37, Jakarta 10270
Diterbitkan pertama kali oleh
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama,
anggota IKAPI
Jakarta, Mei 2008
416 hlm; 23 cm
ISBN-10: 979 - 22 - 3774 - 7
ISBN-13: 978 - 979 - 22 - 3774 - 0
Dicetak oleh Percetakan Gramedia, Jakarta
Isi di luar tanggung jawab percetakan
Untuk mengenang
Audrey Harris
1920-2005
dan kepada
Sam
TIRO, M. Tullius, sekretaris Cicero. Dia bukan hanya
juru tulis sang orator, dan asisten dalam kegiatan penulisannya;
dia pun penulis dengan reputasi yang patut
diperhitungkan, serta pencipta stenografi, yang memungkinkan
ucapan pembicara publik dicatat secara lengkap
dan benar, secepat apa pun ia berbicara. Setelah Cicero
wafat, Tiro membeli peternakan di lingkungan Puteoli,
dan ke sanalah dia pensiun, dan hidup, menurut Hieronymous,
hingga usia seratus tahun. Asconius Pedianus (dalam
Milon. 38) merujuk buku keempat tentang kehidupan
Cicero karya Tiro.
Dictionary of Greek and Roman Biography and Mythology,
Jilid III, disunting oleh William L. Smith, London, 1851
"Innumerabilia tua sunt in me officia, domestica, forensia,
urbana, provincialia, in re privata, in publica, in studiis,
in litteris nostris..."
"Sungguh tak terkira pengabdianmu kepadaku—di
dalam dan luar rumah, di dalam dan luar Roma,
dalam urusan pribadi dan umum,
dalam kajian dan karya tulisku..."
Cicero, surat kepada Tiro, 7 November 50 SM
BAGIAN SATU
SENATOR
79-70 SM
"Urbem, urbem, mi Rufe, cole et in ista luce viva!"
Roma! Berdiamlah di Roma, kawanku yang baik,
dan hiduplah dalam cahayanya!"
Cicero, surat kepada Caelius, 26 Juni 50 SM
a
I
NAMAKU Tiro. Selama 36 tahun aku bekerja sebagai sekretaris
kepercayaan negarawan Romawi, Cicero. Pada mulanya tugas ini
terasa menggairahkan, lalu mencengangkan, kemudian melelahkan,
dan akhirnya sangat berbahaya. Pada tahun-tahun itu, kukira
dia lebih lama melewatkan waktu denganku daripada dengan
siapa pun, termasuk keluarganya sendiri. Aku menyaksikan rapat
pribadinya dan mengantarkan pesan rahasianya. Aku menuliskan
pidato, surat, dan karya tulisnya, bahkan puisinya—begitu deras
arus kata-katanya, sehingga aku harus menciptakan sesuatu yang
umum disebut stenografi untuk mengatasi banjir kata-kata tersebut,
sistem yang kini masih digunakan untuk mencatat perdebatan
senat, dan untuk itu baru-baru ini aku diberi uang pensiun
yang lumayan. Uang ini, bersama sedikit warisan dan
kebaikan hati beberapa teman, sudah memadai untuk memenuhi
kebutuhanku pada masa pensiun ini. Aku tidak perlu banyak.
Orang lanjut usia dapat hidup dengan makan udara, dan aku sudah
sangat tua—hampir seratus tahun, atau demikianlah aku diberitahu.
Sepanjang beberapa dasawarsa setelah kematiannya, aku sering
ditanya, biasanya dengan berbisik-bisik, seperti apa Cicero sebenarny
a,
tetapi aku selalu berdiam diri. Bagaimana aku tahu
siapa yang mata-mata pemerintah dan siapa yang bukan? Setiap
saat bisa saja aku dibinasakan. Namun, karena hidupku sudah
13
a
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
MR. Collection's
mendekati ajal, dan karena aku tidak takut pada apa pun lagi—
siksa pun tidak, karena aku tidak akan bertahan sedetik pun di
tangan algojo atau pembantunya—kuputuskan untuk mengajukan
karya ini sebagai jawabanku. Aku akan mendasarkan tulisan ini
pada ingatanku, dan pada dokumen-dokumen yang dipercayakan
kepadaku. Karena sisa waktuku tinggal sedikit, aku berniat menulisk
annya
dengan cepat, menggunakan sistem stenoku, pada
beberapa puluh gulung kecil kertas terbaik—jenis Hieratica tentu
saja—yang telah lama kukumpulkan untuk tujuan ini. Sebelumnya
aku mohon maaf atas semua kesalahan dan ketidakpantasan
gaya menulisku. Aku juga berdoa kepada dewa-dewa agar aku
sempat mencapai akhir cerita ini sebelum ajal menjemputku.
Kata-kata terakhir Cicero kepadaku adalah permintaan agar aku
menyampaikan kebenaran tentang dirinya, dan inilah yang akan
kuupayakan. Jika dia tidak senantiasa tampil sebagai simbol budi
pekerti, biarlah. Kekuasaan memberikan banyak kemewahan bagi
manusia, tetapi dua tangan yang bersih jarang termasuk di dalamnya
.
Dan tentang kekuasaan serta dirinyalah aku akan berdendang.
Yang kumaksud adalah kekuasaan politis resmi—yang dalam bahasa
Latin dikenal sebagai imperium—kekuasaan atas hidup dan
mati, sebagaimana dimandatkan oleh negara kepada seseorang.
Ratusan orang mengincar kekuasaan tersebut, tetapi Cicero adalah
sosok unik dalam sejarah republik ini, dalam arti dia mengejarnya
tanpa bantuan sumber daya apa pun selain bakatnya
sendiri. Tidak seperti Metellus atau Hortensius, dia bukan berasal
dari keluarga aristokrat yang agung, dengan piutang budi politik
turun-temurun selama beberapa generasi yang dapat ditagih pada
saat pemilu. Dia tidak memiliki armada perang perkasa yang
mendukung pencalonannya, seperti Pompeius atau Caesar. Dia
tidak memiliki harta berlimpah seperti Crassus untuk melicinkan
jalan. Yang ia miliki hanyalah suaranya—dan dengan kekuatan
tekad semata, dia mengubahnya menjadi suara paling termasyhur
di dunia.
14
***
Usiaku 24 tahun ketika aku mulai mengabdi kepadanya. Usianya
27 tahun. Aku budak rumah, yang dilahirkan di tanah keluarga
di perbukitan dekat Arpinum, dan belum pernah melihat Roma.
Dia pengacara muda, yang menderita kelelahan saraf, dan sedang
berjuang mengatasi cacat alami yang besar. Pasti tak banyak
orang yang bersedia bertaruh pada keberhasilan kami.
Suara Cicero saat itu belum menjadi alat yang menggentarkan
seperti di kemudian hari, hanya suara serak yang sesekali cenderung

gagap. Aku yakin masalahnya adalah kepalanya disesaki
begitu banyak kata, sehingga saat penuh tekanan, kata-kata itu
tersangkut di tenggorokannya, ibarat sepasang domba yang, ketika
didesak kawanan dari belakang, berimpitan di gerbang karena
berusaha melewatinya bersamaan. Yang pasti, kata-kata tersebut
sering terlalu muluk untuk dapat dipahami para
pendengarnya. "Si Cendekiawan", demikian julukan para pendengarn
ya
yang gelisah, atau "si Yunani"—dan kedua sebutan ini
tidak dimaksudkan sebagai pujian. Meskipun tak ada yang meraguka
n
bakatnya dalam oratoria, perawakannya terlalu lemah
untuk mengusung ambisinya, dan tekanan terhadap pita suaranya
akibat beracara beberapa jam, sering kali di udara terbuka dan
di segala musim, membuat suaranya serak atau habis hingga berhari
-
hari. Insomnia kronis dan lemah pencernaan menambah
penderitaannya. Jujur saja, jika dia ingin terjun ke bidang politik,
sebagaimana yang didambakannya dengan sangat, dia membutuhka
n
bantuan profesional. Oleh karena itu, dia memutuskan pergi
ke luar Roma beberapa lama, merantau untuk menyegarkan pikiran
sekaligus berkonsultasi dengan guru-guru retorika terkemuka,
yang sebagian besar tinggal di Yunani dan Asia Kecil.
Karena aku bertanggung jawab merawat perpustakaan kecil
milik ayahnya, dan memiliki pengetahuan yang cukup baik tentang
Yunani, Cicero meminta izin ayahnya untuk meminjamku,
15
sebagaimana orang meminjam buku, dan membawaku ke Timur.
Tugasku adalah mengatur perjalanan, menyewa kendaraan, membay
ar
guru, dan seterusnya, dan setelah setahun, akan kembali
ke majikan lamaku. Pada akhirnya, seperti buku yang amat bermanfa
at,
aku tidak pernah dikembalikan.
Kami bertemu di pelabuhan Brundisium pada hari kami dijadwalkan
bertolak. Ini terjadi pada masa pemerintahan konsul
Servilius Vatia dan Claudius Pulcher, tahun ke-675 setelah berdirinya
Roma. Cicero saat itu belum menjadi sosok mengesankan
seperti di kemudian hari, yang raut wajahnya begitu terkenal sehingg
a
dia tak mungkin melangkah di jalanan sepi tanpa dikenali
orang. (Apa gerangan yang terjadi pada ribuan patung dada dan
lukisan wajah itu, yang dulu menghiasi begitu banyak rumah
pribadi dan gedung umum? Mungkinkah semuanya benar-benar
dihancurkan dan dibakar?) Pemuda yang berdiri di dekat dermaga
pada pagi musim semi itu bertubuh kurus dan bahunya melengkung,

lehernya sangat jenjang, dan di situ jakun yang besar, sebesar
kepalan bayi, naik-turun bilamana dia menelan. Matanya
menonjol, kulitnya pucat, pipinya tirus: pendeknya, dia mencerminka
n
kondisi tubuh yang tidak sehat. Aku ingat saat itu berpikir,
Yah, Tiro, sebaiknya kaunikmati perjalanan ini sepuasnya, karena
pasti tak akan berlangsung lama.
Pertama-tama kami ke Athena, tempat Cicero menjanjikan
dirinya sendiri keasyikan mempelajari filsafat di Akademi. Aku
membawakan tasnya ke ruang kuliah dan sedang berbalik hendak
pergi saat dia memanggilku kembali dan bertanya aku hendak
ke mana.
"Duduk di tempat teduh bersama budak-budak lainnya," sahutku,
"kecuali ada hal lain yang Tuan perlukan."
"Tentu saja ada," katanya. "Aku ingin kau melakukan tugas
yang sangat melelahkan. Aku ingin kau masuk ke sini bersamaku
dan belajar sedikit filsafat, supaya aku punya teman bicara dalam
perjalanan kita yang panjang."
Jadi aku mengikutinya masuk, dan mendapat hak istimewa
16
mendengarkan Antiochus dari Ascalon sendiri menekankan tiga
prinsip dasar Stoisisme—bahwa budi pekerti itu cukup untuk
memperoleh kebahagiaan, bahwa budi pekerti sajalah yang baik,
dan bahwa emosi tidak dapat dipercaya—tiga aturan sederhana
yang, andai saja diikuti manusia, dapat memecahkan semua masalah

di dunia. Semenjak itu, aku dan Cicero sering memperdebatkan
persoalan-persoalan semacam itu, dan dalam wilayah
akal ini, perbedaan status kami selalu terlupakan. Kami tinggal
bersama Antiochus selama enam bulan, lalu melanjutkan perjalanan
ke tujuan kami yang sesungguhnya.
Aliran retorika yang dominan pada masa itu adalah apa yang
disebut metode Asiatik. Dengan gaya rumit dan berbunga-bunga,
penuh frase angkuh dan irama berdenting, penyampaiannya disertai
dengan mengayun-ayunkan tubuh dan berjalan mondarmandir.
Di Roma, pendukung utamanya adalah Quintus Hortensius
Hortalus, yang secara umum dipandang sebagai orator
terkemuka masa itu, dan gerakan kakinya yang gesit membuatnya
dijuluki sang "Maestro Menari". Cicero, yang ingin mengetahui
kiat-kiatnya, sengaja mencari semua mentor Hortensius:
Menippus dari Stratonikeia, Dionysius dari Magnesia, Aeschylus
dari Knidos, Xenocles dari Adramyttium—nama-nama itu sendiri
sudah menggambarkan citarasa gaya mereka. Cicero menghabiskan
berminggu-minggu bersama masing-masing orang tersebut,
mempelajari metode mereka dengan sabar, sampai akhirnya dia
merasa telah menguasainya.
"Tiro," katanya kepadaku suatu malam, sambil makan sepiring
sayuran rebus yang biasa, tanpa selera, "aku sudah bosan dengan
penari-penari berminyak wangi ini. Aturlah perahu dari Loryma
ke Rhodus. Kita akan mencoba car a lain, dan mendaftar di sekolah
Apollonius Molon."
Demikianlah, pada suatu pagi musim semi, selepas subuh, ketika
selat Laut Carpathus tampak semulus dan seputih mutiara
(mohon kalimat berbunga-bunga yang sesekali kutuliskan ini dimaklu
mi:
aku terlalu banyak membaca puisi Yunani, sehingga tak
17
mampu lagi mempertahankan gaya Latin yang kaku), kami diseberan
gkan
oleh para pendayung dari daratan utama ke pulau
tua yang berbatu-batu itu. Di dermaga, sosok gempal Molon sendiri
telah menanti kami.
Molon seorang pengacara, berasal dari Alabanda, yang membela
para terdakwa di pengadilan-pengadilan Romawi dengan
cemerlang, dan pernah diundang untuk berbicara di depan senat
dalam bahasa Yunani—kehormatan yang belum pernah terdengar—
dan setelahnya dia pensiun ke Rhodus dan membuka sekolah
retorika. Teori oratorianya, yang bertolak belakang dengan
teori Asiatik, sederhana saja: jangan terlalu banyak bergerak,
tegakkan kepala, jangan menyimpang dari inti pembicaraan, buat
mereka tertawa, buat mereka menangis, dan setelah kau memperole
h
simpati mereka, duduklah cepat-cepat—"Karena," kata
Molon, "tak ada yang mengering lebih cepat daripada air mata."
Ini jauh lebih sesuai dengan selera Cicero, dan dia berserah di
bawah ajaran Molon sepenuhnya.
Tindakan pertama Molon adalah memberinya semangkuk telur
rebus dengan saus ikan bilis pada malam itu, dan, setelah Cicero
menghabiskannya—dengan berkeluh-kesah, sungguh—dia melanjutk
an
dengan sepotong besar daging merah, dibakar di atas
arang, ditemani secawan susu kambing. "Kau perlu daging, anak
muda," kata Molon kepada Cicero, sambil menepuk dadanya sendiri
yang bidang. "Buluh lemah tak mungkin bisa menyuarakan
nada yang perkasa." Cicero melotot kepadanya, tetapi dengan
patuh mengunyah sampai piringnya kosong, dan malam itu, untuk
pertama kalinya dalam berbulan-bulan, dia tidur nyenyak.
(Aku mengetahuinya, karena dulu aku tidur di lantai di luar pintu
kamarnya.)
Saat fajar menyingsing, latihan fisik dimulai. "Berbicara di dalam
forum," kata Molon, "sebanding dengan berlomba lari. Perlu
stamina dan kekuatan." Dia menonjok Cicero main-main, yang
berseru "Uf!" keras-keras dan terhuyung ke belakang, hampir
terjatuh. Molon menyuruhnya berdiri dengan kaki terpentang,
18
lutut kaku, lalu membungkuk dan menyentuh tanah di sebelah
kedua kaki, dua puluh kali. Setelah itu, dia menyuruhnya berbaring
tertelentang dengan tangan di belakang kepala dan berulang-
ulang bangkit duduk tanpa menggeser kaki. Dia menyuruhnya
berbaring menelungkup dan mengangkat tubuh hanya
dengan kekuatan tangan, sekali lagi dua puluh kali, sekali lagi
tanpa menekuk lutut. Itulah program hari pertama, dan setiap
hari setelah itu latihan-latihan lain ditambahkan dan durasinya
ditingkatkan. Cicero kembali tidur nyenyak, dan tak pernah ada
lagi masalah dengan selera makannya.
Untuk pelatihan pidato sesungguhnya, Molon mengajak muridnya
yang bersemangat itu keluar dari halaman yang teduh, memasuki
terik siang hari, dan menyuruhnya membacakan bacaan
latihan Molon—biasanya adegan pengadilan atau solilokui dari
Menander—sambil berjalan mendaki bukit terjal tanpa jeda. Dengan
cara ini, sementara kadal berkeliaran di sekitar kaki dan hanya
kerik jangkrik di pepohonan zaitun sebagai pendengar, Cicero
memperkuat paru-paru dan mempelajari cara mengucapkan jumlah
kata maksimum dalam satu tarikan napas. "Atur nada penyampaian
mu
di rentang tengah," Molon mengajarkan. "Di situlah
letak kekuatan. Jangan terlalu tinggi atau terlalu rendah." Pada
sore hari, untuk proyeksi bicara, Molon mengajaknya turun ke
pantai berkerikil, mengatur jarak tujuh puluh meter (jangkauan
maksimum suara manusia), dan menyuruhnya berpidato melawan
debur dan desis lautan—Molon menjelaskan, itu suara yang paling
mendekati gumam tiga ribu orang di ruang terbuka, atau dengung
latar beberapa ratus orang yang bercakap-cakap dalam senat.
Cicero harus terbiasa dengan gangguan seperti ini.
"Tapi bagaimana dengan isi pidatoku?" tanya Cicero. "Aku harus
menarik perhatian, terutama melalui kekuatan argumen, bukan?"
Molon mengangkat bahu. "Aku tak peduli soal isi. Ingat
Demosthenes: 'Hanya ada tiga hal yang penting dalam oratoria.
Penyampaian, penyampaian, dan sekali lagi: penyampaian."'
19
"Dan gagapku?"
"G-g-gagap juga t-t-tidak menggangguku," sahut Molon sambil
menyeringai dan mengedipkan mata. "Sungguh, kegagapan malah
menambah daya tarik dan kesan jujur yang menguntungkan.
Demosthenes sendiri sedikit cadel. Pendengar merasa akrab dengan
kekurangan seperti ini. Yang membosankan hanyalah kesempurnaan.

Nah, mundurlah di sepanjang pantai ini dan usahakan
agar suaramu tetap terdengar olehku."
Demikianlah, sejak sangat dini, aku mendapatkan hak istimewa
melihat kiat-kiat oratoria diturunkan dari seorang pakar kepada
pakar lain. "Jangan memiringkan leher secara feminin, jangan
memain-mainkan jari. Jangan menggerakkan bahu. Kalau harus
menggunakan jari untuk berisyarat, coba tekuk jari tengah dan
tahan dengan jempol, luruskan tiga jari lain—seperti itu, bagus.
Tentu saja mata harus selalu searah dengan gerakan, kecuali saat
kita menolak: 'Ya dewa-dewa, hindarkan kami dari wabah itu!'
atau 'Aku merasa tidak pantas menerima kehormatan seperti
itu.'"
Tidak ada yang boleh dituliskan, karena orang yang layak disebut
orator tak akan bisa membayangkan dirinya membaca naskah
atau merujuk lembar catatan. Molon menyukai metode
standar menghafal pidato: metode perjalanan khayalan berkeliling
rumah si pembicara. "Letakkan topik pertama yang ingin kaubicaraka
n
di aula masuk, dan bayangkan topik itu tergeletak di
situ, lalu topik kedua di atrium, begitu seterusnya, berjalan berkelilin
g
rumah sebagaimana kau biasa melakukannya, menempatkan
satu bagian pidatomu tidak hanya di setiap ruangan, tetapi
di setiap relung dan patung. Pastikan setiap tempat mendapat
pencahayaan yang baik, terdefinisikan dengan jelas, dan unik. Kalau
tidak, kau akan meraba-raba layaknya orang mabuk yang
mencari tempat tidurnya seusai pesta."
Cicero bukan satu-satunya murid di akademi Molon pada musim
semi dan musim panas itu. Setelah beberapa waktu, bergabunglah
adik Cicero, Quintus, dan sepupunya, Lucius, dan juga
20
dua temannya: Servius, pengacara rewel yang ingin menjadi hakim,
dan Atticus—yang necis dan memesona—yang tidak berminat
pada oratoria, karena dia tinggal di Athena, dan jelas tidak
berniat berkarier dalam politik, tetapi senang melewatkan waktu
bersama Cicero. Mereka semua mengagumi perubahan kesehatan
dan penampilan Cicero, dan pada malam terakhir bersama—karena
saat itu sudah musim gugur dan sudah tiba waktunya pulang
ke Roma—mereka berkumpul untuk mendengarkan dampak
ajaran Molon pada kemampuan oratorianya.
Andai aku masih ingat apa yang dibicarakan Cicero malam itu
setelah bersantap, tetapi sayangnya aku adalah saksi hidup pernyata
an
sinis Demosthenes, bahwa isi tidak berarti apa-apa dibanding
penyampaian. Aku berdiri diam-diam tanpa terlihat, di
antara bayang-bayang, dan yang dapat kuingat sekarang hanyalah
ngengat yang berputaran laksana serpih abu di sekeliling obor,
gemintang di atas pekarangan, dan wajah terpukau pemuda-pemuda

itu, merona dalam cahaya api, menatap Cicero. Akan tetapi,
aku masih ingat kata-kata Molon, setelah anak didiknya
duduk dengan diiringi anggukan terakhir kepada juri khayalan.
Setelah hening panjang, Molon berdiri dan berkata, dengan suara
parau: "Cicero, aku mengucapkan selamat padamu dan aku kagum
padamu. Pada Yunani dan nasibnyalah aku merasa iba. Satusatunya
sisa kejayaan kami adalah kefasihan kami yang unggul,
dan sekarang itu pun telah kaurenggut. Pulanglah," katanya, dan
berisyarat dengan ketiga jari terjulur melintasi teras bercahaya
lampu, ke arah lautan yang jauh dan gelap, "pulanglah, anakku,
dan taklukkan Roma."
Baiklah. Bicara memang mudah. Namun, bagaimana caranya?
Bagaimana cara "menaklukkan Roma", tanpa senjata apa pun
selain suara?
Langkah pertama sudah jelas: menjadi senator.
Pada masa itu, untuk masuk ke senat, orang harus berusia sekurang-

kurangnya 31 tahun dan menjadi jutawan. Tepatnya, aset
21
senilai sejuta sestertius harus ditunjukkan kepada pihak berwenang
demi sekadar memenuhi persyaratan menjadi calon dalam pemilu
tahunan bulan Juli, saat dua puluh senator baru dipilih untuk
menggantikan senator yang wafat pada tahun sebelumnya atau
terlalu miskin untuk mempertahankan kursinya. Akan tetapi, dari
mana Cicero dapat memperoleh sejuta? Ayahnya jelas tidak memiliki
uang sebanyak itu: tanah keluarganya tidak luas dan sudah
berkali-kali digadaikan. Oleh karenanya, dia menghadapi tiga pilihan
tradisional. Namun, bekerja mencari uang terlalu banyak
makan waktu, dan mencurinya terlalu berisiko. Maka, tak lama
setelah kepulangan kami dari Rhodus, dia menikahi uang itu.
Terentia berusia tujuh belas tahun, berdada rata seperti anak lelaki,
berambut hitam pendek dengan ikal-ikal kecil yang rapat.
Saudari tirinya seorang perawan kuil Dewi Vesta, menjadi bukti
status sosial keluarganya. Lebih penting lagi, Terentia memiliki
dua blok apartemen kumuh di Roma, tanah hutan di pinggir
kota, dan peternakan; nilai seluruhnya: satu seperempat juta. (Ah,
Terentia: sederhana, agung, dan berada—sungguh hebat engkau!
Baru beberapa bulan lalu aku melihatnya, diusung dengan tandu
terbuka di jalan pesisir menuju Napoli, berteriak-teriak kepada
para penandu agar bergerak lebih cepat: rambutnya putih dan
kulitnya berkerut-kerut seperti walnut, tetapi selain itu tak ada
yang berubah.)
Jadi Cicero, pada waktunya, menjadi senator—bahkan merajai
pemilu, karena kini dia dipandang sebagai pengacara terbaik kedua
di Roma, setelah Hortensius—lalu dalam rangka dinas wajib
pemerintahan, dikirim ke Provinsi Sisilia, sebelum diperbolehkan
menduduki kursi senat. Gelar resminya adalah quaestor, jabatan
magistratus paling junior. Istri tidak diperbolehkan menemani
suaminya dalam penugasan ini, jadi Terentia—aku yakin hal ini
melegakan hati Cicero—tinggal di rumah. Namun, aku ikut bersama
Cicero, karena saat itu aku sudah menjadi semacam perpanjangan
dirinya, digunakan tanpa berpikir, layaknya tangan
atau kaki tambahan. Salah satu alasan aku tak dapat dibuang
22
begitu saja adalah karena aku telah menciptakan suatu metode
untuk mencatat kata-katanya secepat dia mengucapkannya. Dari.
permulaan yang kecil—dengan segala kerendahan hati aku dapat
mengklaim diri sebagai pencipta tanda "&"—sistemku akhirnya
membengkak menjadi buku pegangan, yang berisi sekitar empat
ribu lambang. Sebagai contoh, aku menemukan bahwa Cicero
senang mengulang-ulang beberapa frase, yang kemudian kuringkas
menjadi satu garis, atau bahkan beberapa titik—yang
membuktikan satu hal yang telah diketahui kebanyakan orang,
bahwa politikus pada dasarnya mengatakan hal-hal yang sama
berulang kali. Dia mendikte kepadaku dari bak mandi dan dari
kursi santai, dari dalam kereta yang terayun-ayun dan saat berjalan-
jalan di pedesaan. Dia tidak pernah kehabisan kata dan aku
tidak pernah kehabisan lambang untuk menangkap dan merekam
kata-kata yang beterbangan di udara itu agar kekal selamanya.
Kami ditakdirkan untuk saling melengkapi.
Namun, kembali ke Sisilia. Jangan kuatir: aku tak akan menguraikan
kegiatan kami secara terinci. Seperti sebagian besar kegiatan
politik, kegiatan kami pun membosankan bahkan saat
kami mengalaminya, tanpa perlu dikenang lagi enam puluhan
tahun kemudian. Kenangan yang mengesankan, dan penting, adalah

perjalanan pulangnya. Cicero sengaja menangguhkan kepulangannya

satu bulan, dari Maret ke April, untuk memastikan
dia melewati Puteoli pada masa reses senat, persis saat semua
kelompok politik kelas atas berada di Teluk Napoli, menikmati
mandi mineral. Aku diperintahkan menyewa perahu berdayungdua-
belas terbaik yang kutemui, agar dia dapat memasuki pelabuhan
dengan bergaya, pertama kalinya mengenakan toga
bertepi ungu khas senator Republik Romawi.
Karena Cicero telah meyakinkan dirinya bahwa dia sukses besar
di Sisilia, dia harus menjadi pusat perhatian di Roma. Di seratus
petak pasar yang menyesakkan, di bawah keteduhan ribuan
pohon platanus Sisilia yang berdebu dan menjadi sarang tawon,
dia telah menegakkan keadilan Romawi, tanpa memihak dan de-
23
ngan penuh martabat. Dia membeli gandum dalam jumlah besar,
untuk memberi makan para pemilih di ibu kota, dan mengirimkannya

dengan harga termurah. Pidato-pidatonya dalam upacara
pemerintah merupakan adikarya kefasihan. Dia bahkan berpurapura
tertarik pada percakapan penduduk setempat. Dia tahu dia
menjalankan tugasnya dengan baik, dan dalam banjir laporan
resmi kepada senat, dia membualkan prestasinya. Harus kuakui
bahwa aku sesekali menghaluskan sesumbar ini sebelum menyerahk
annya
kepada kurir resmi, dan berusaha menyindir halus
Cicero bahwa mungkin Sisilia bukanlah pusat dunia. Dia tidak
menghiraukanku.
Saat ini pun aku masih dapat mengenang Cicero waktu itu,
berdiri di haluan kapal, menyipitkan mata untuk melihat pelabuhan
Puteoli, ketika kami pulang ke Italia. Apa yang diharapkannya?
aku bertanya-tanya. Kelompok musik yang mengiringinya
menepi ke pantai? Perwakilan konsul yang mempersembahkan
mahkota daun dafhah? Memang ada kerumunan orang, tetapi
bukan untuk menyambutnya. Hortensius, yang sudah mengincar
jabatan konsul, sedang mengadakan perjamuan di atas beberapa
kapal pesiar berwarna meriah di dekat situ, dan para tamu sedang
menunggu diseberangkan ke pesta itu. Cicero melangkah
ke darat—tanpa diacuhkan. Dia melihat ke sekelilingnya dengan
bingung, dan saat itu beberapa orang penggembira, yang melihat
jubah senator Cicero yang masih baru dan berkilau, bergegas
mendatanginya. Cicero menegakkan bahu dengan penuh harap
gembira.
"Senator," panggil seseorang, "ada kabar apa dari Roma?"
Entah bagaimana, Cicero berhasil mempertahankan senyum.
"Aku bukan datang dari Roma, kawan baikku. Aku baru pulang
dari provinsi."
Seorang lelaki berambut merah, tak pelak lagi sudah sangat
mabuk, berkata, "Oooooh! Kawan baikku! Dia baru pulang dari
provinsi..."
Terdengar dengus tawa, nyaris tidak ditahan.
24
"Apanya yang lucu?" sela orang yang ketiga, ingin mendamaikan
suasana. "Kau tak tahu ya? Dia baru pulang dari Afrika."
Senyum Cicero kini tampak heroik. "Sebenarnya, dari Sisilia."
Barangkali percakapan yang senada dengan ini masih berlanjut.
Aku tak ingat lagi. Orang-orang mulai menjauh setelah menyadari
mereka tak akan mendapatkan gosip dari kota, dan tak lama
kemudian Hortensius datang dan mengantar sisa tamunya ke
perahu-perahu mereka. Kepada Cicero dia mengangguk, cukup
sopan, tetapi jelas-jelas tidak mengundangnya bergabung. Kami
ditinggalkan berdua.
Mungkin peristiwa ini tampak sepele, tetapi Cicero sendiri sering
berkata, pada saat inilah ambisi dalam dirinya mengeras
menjadi sekokoh karang. Dia dipermalukan—oleh kepongahannya
sendiri—dan dengan bukti kejam disadarkan tentang betapa
remeh dirinya di dunia ini. Lama sekali dia berdiri di sana, mengamat
i
Hortensius dan teman-temannya berpesta di seberang
perairan, mendengarkan seruling yang riang, dan ketika berpaling,
dia telah berubah. Aku tidak melebih-lebihkan. Aku melihat
sendiri di matanya. Baiklah, air mukanya tampak berkata,
kalian orang-orang tolol boleh bersuka ria; aku akan bekerja.
"Pengalaman ini, Tuan-tuan, kupandang lebih berharga bagiku
daripada andaikan waktu itu aku dielu-elukan dengan tepuk tangan
meriah. Sejak saat itu, aku tak lagi memikirkan apa yang
kira-kira didengar dunia tentang diriku: sejak hari itu, aku berupaya
agar aku dilihat secara pribadi setiap hari. Aku hidup di
mata masyarakat. Aku sering mengunjungi forum. Baik penjaga
pintu maupun tidurku tidak menghalangi siapa pun untuk masuk
ke rumah dan menemuiku. Saat aku tak ada pekerjaan pun, aku
tidak pernah berpangku tangan, sehingga aku tak pernah mengenal
apa yang disebut masa santai."
Aku menemukan alinea ini dalam salah satu pidatonya belum
lama ini, dan aku dapat menjamin kebenaran kata-kata tersebut.
Dia meninggalkan pelabuhan itu bagaikan lelaki dalam mimpi,
25
naik melalui Puteoli dan keluar ke jalan raya utama, tanpa sekali
pun menoleh ke belakang. Aku tertatih-tatih di belakangnya,
membawa koper sebanyak yang kubisa. Mula-mula langkahnya
lambat dan penuh pikiran, tetapi kian lama kian lekas, hingga
akhirnya dia berjalan begitu cepat ke arah Roma, dan aku kesulitan
menyamai langkahnya.
Dan dengan hal ini, berakhirlah gulungan kertas pertamaku,
dan dimulailah kisah Marcus Tullius Cicero yang sesungguhnya.
26
Dapatkan koleksi ebook-ebook lain yang tak kalah menariknya
di EBOOK CENTER http://jowo.jw.lt

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:42
posted:5/26/2010
language:Indonesian
pages:14