Docstoc

SELAMAT DATANG - PowerPoint

Document Sample
SELAMAT DATANG - PowerPoint Powered By Docstoc
					    SELAMAT DATANG


PROF. DR. BAGIR MANAN, SH, MCL


             DALAM RANGKA
     STUDIUM GENERALE MAHASISWA
       PPS-MAGISTER HUKUM UNILA
          SABTU, 13 FEBRUARI 2010
                     DAFTAR RIWAYAT HIDUP

I. Data Pribadi
• Nama                       : Prof. Dr. Bagir Manan, S.H., MCL
• Tempat/tgl lahir           : Lampung, 6 Oktober 1941
• Jenis Kelamin              : Laki-laki
• Agama                      : Islam
• Status                     : Kawin
• Status Dosen               : Pegawai Negeri Tetap
• Pangkat/Gol                : Pembina Utama, IV/e
• Jabatan                    : Guru Besar
• Alamat rumah               : Jl. Akuntansi No. 11 Cigadung I
                               Bandung
• Tel/fax                    : 022-250 1143
• Alamat kantor              : Jl. Imam Bonjol No. 21 Bandung
• Tel/fax                    : 022 250 8514
II. Riwayat Pendidikan

A. Pendidikan Formal
1. SDR di Lampung Lulus Tahun 1955
2. SLTP di Lampung Lulus Tahun 1958
3. SLTA di Lampung Lulus Tahun 1961
4. Sarjana Fakultas Hukum Unpad Lulus Tahun
   1967
5. Master of Comparative Law, Souther Methodist
   University Law School, Dallas, USA Lulus Tahun
   1981
6. Doktor Ilmu Hukum, Unpad Lulus Tahun 1990
B. Kursus/Penataran/Pelatihan

•   1. Akta Mengajar Lima, 1982
•   2. Penataran Tenaga Pengajar, FH Unpad, 1974
•   3. Penataran Pengajar HTN, FH Unpad, 1976
•   4. Intensive English Course (Advanced Level), United States
    International Communication Agency (USICA), Jakarta, 1979
•   5. English Language and Orientation Program, Boston University,
    Massachusetts, USA, 1980
•   6. Kursus Bahasa Belanda, Erasmus Huis, Jakarta, 1988
•   7. Penataran P4 Tk Provinsi Jawa Barat, 1980
•   8. Program for Observation and Analysis of Government System,
    The Academy for Educational Development, Washington DC, USA,
    1993
•   9. De Studie van Administratiefrecht ter Voorbereiding van Een
    Proefscrift, Nedelandse voor Jurische Samenwerking met Indonesia,
    Leiden, 1988
III. Jabatan Struktural/Fungsional yang Sedang/Pernah Diduduki

•   1. Anggota Dewan Pers Terpilih 2010-2013
•   2. Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia, 2001-2008
•   3. Hakim Agung, 2000-2008
•   4. Anggota Komisi Ombudsman Nasional, 2000
•   5. Rektor Universitas Islam Bandung, 2000-2001
•   6. Ketua Umum Yayasan Pendidikan Islam, 2000-2001
•   7. Direktur Jenderal Hukum dan Perundang-undangan Departemen
    Kehakiman, 1995-1998
•   8. Ketua Bagian Hukum Tata Negara, Fakultas Hukum Unpad,
    1995-1998
•   9. Ketua Paguyuban Hak Asasi Manusia (PAHAM) Fakultas Hukum
    Unpad, 1998-sekarang
•   10. Direktur Perundang-undangan Departemen Kehakiman, 1990-
    1995
•   11. Ketua Perkumpulan Ahli Perundang-undangan, 1991-1995
•   12. Staf Ahli Menteri Kehakiman, 1974-1976
•   13. Dekan Fakultas Hukum Universitas Islam Bandung, 1977-1979
IV. Pengalaman Penelitian

•   1. Penelitian dan Pengkajian Peraturan Perundang-undangan Perumahan, Penyusunan Naskah
•      Akademis Peraturan Perundang-undangan Pemukiman, Kerjasama WPMB, Departemen
•      Pekerjaan Umum – FH Unpad, 1971-1975
•   2. Penelitian hak Milik Atas Tanah dan Penyusunan Naskah Akademis RUU Hak Milik Atas Tanah,
•      Kerjasama Direktorat Jenderal Agraria Departemen Dalam negeri – FH Unpad, 1975
•   3. Penelitian Peraturan Perundang-undangan di Bidang Perhubungan dan Penyusunan Naskah
•      Akademis RUU di Bidang Perhubungan, Kerjasama Departemen Perhubungan – FH Unpad,
•      1979 – 1980
•   4. Penelitian dan Pengkajian Peraturan Perundang-undangan di Bidang Perumahan, Kerjasama
•      Kantor Menpera – FH Unpad, 1985
•   5. Penelitian dan Pengkajian Peraturan Perundang-undangan Penataan Kota, Kerjasama
•      Departemen Pekerjaan Umum – FH Unpad, 1975 – 1976
•   6. Pengkajian Penyempurnaan Pembinaan Peradilan, Departemen Kehakiman – FH Unpad, 1975
•      1976
•   7. Pengkajian dan Penelitian Hukum Adat di Jawa Barat, 1979 – 1981
•   8. Pengkajian Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945, BPHN, 1993
•   9. Penelitian Hukum Agraria, BPHN, 1987
•   10. Pengkajian dan Penelitian Penataan Ruang, Kerjasama Departemen Pekerjaan Umum – FH
•       Unpad, 1992
•   11. Pengkajian Teknik Perundang-undangan, BPHN, 1990
•   12. Penelitian untuk Disertasi mengenai Hubungan Pusat dan Daerah, 1986 – 1990
•   13. Penelitian Hukum Perhubungan di Belanda, Malaysia dan Singapura, 1979
V. Buku

•   1. Konvensi Ketatanegaraan, 1987, Armico, Bandung
•   2. Peranan Peraturan Perundang- undangan dalam Pembinaan Hukum
    Nasional, 1987, Armico, Bandung
•   3. Dasar-Dasar Peraturan Perundang-undangan di Indonesia, 1992,
    Indco-Hill, Jakarta
•   4. Kekuasaan Kehakiman Republik Indonesia, 1995, LPPM Unisba,
    Bandung
•   5. Pertumbuhan dan Perkembangan Konstitusi Suatu Negara, 1995,
    Mandar Maju, Bandung
•   6. Kedaulatan Rakyat, Hak Asasi Manusia dan Negara Hukum, 1996,
    Gaya Media Pratama, Jakarta
•   7. Perjalanan Historis Pasal 18, 1993, UNSIKA, Karawang
•   8. Hubungan Pusat dan Daerah Berdasarkan UUD 1945, Pustaka Sinar
    Harapan, Jakarta
•   9. Beberapa Masalah Hukum Tata Negara Indonesia, 1993, Alumni,
    Bandung
•   10. Pengantar Hukum Administrasi Indonesia, 1993, Gadjah Mada
    University Press
•   11. Pengantar Hukum Administrasi Indonesia (Edisi Revisi), 1994, Gadjah Mada
    University Press
•   12. Beberapa Masalah Hukum Tata Negara Indonesia (Edisi Revisi), 1997,
    Alumni, Bandung
•   13. Lembaga Kepresidenan, 1999, PSH UII-Gama Media
•   14. Perkembangan Pemikiran dan Pengaturan HAM di Indonesia, 2000, Yayasan
    Hak Asasi Manusia Demokrasi dan Supremasi Hukum – Alumni Bandung
•   15. Teori dan Politik Konstitusi, 2003, FHUII Press, Yogyakarta
•   16. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah, 2001, FHUII Press, Yogyakarta
•   17. MPR, DPR dan DPD Menurut UUD Baru, 2003, FHUII Press, Yogyakarta
•   18. Perkembangan UUD 1945, 2005, FHUII Press, Yogyakarta
•   19. Lembaga Kepresidenan (Edisi Revisi), 2006, FHUII Press, Yogyakarta
•   20. Konvensi Ketatanegaraan (Edisi Revisi), 2006, FHUII Press, Yogyakarta
•   21. Kekuasaan Kehakiman Menurut UU No. 4 Tahun 2004, 2007, FHUII Press,
    Yogyakarta
•   22. Hukum Positif Indonesia (Satu Kajian Teoritik), 2004, FHUII Press,
    Yogyakarta
•   23. Kewarganegaraan Dalam UU No. 12 Tahun 2006, 2008, FHUII Press,
    Yogyakarta
•   24. Dimensi-dimensi HAM (Editor), 2009, Pusat Studi Kebijakan Negara
    Fakultas
•       Hukum Universitas Padjadjaran
•   25. Hukum Tata Negara Dalam UUD 1945, akan terbit
VI. Artikel/Makalah

•   1. Tantangan terhadap Perkembangan Hukum Administrasi Negara, Pascasarjana FH UII,
•      Yogyakarta, 2009
•   2. Unifinaksi Hukum Waris, BPHN, Jakarta, 2009
•   3. Pembatalan Keputusan Menteri dan Akibat Hukumnya, Universitas Riau, Pakanbaru,2009
•   4. Demokrasi, Pemilihan Umum dan Agenda Lima Tahun Kedepan, FISIP Unpad, 2009
•   5. Perubahan Kelima UUD 1945, FH Unpad, 2008
•   6. Masa Depan Peradilan Tata Usaha Negara, Varia Peradilan No. 281, 2009
•   7. Hukum, Hakim dan Masyarakat, 2009
•   8. Hubungan Ketatanegaraan Mahkamah Agung (dan Mahkamah Konstitusi) denganKomisi
•      Yudisial (Suatu Pertanyaan), 2006
•   9. Tanggung Jawab Sosial Pemerintah Daerah, 2008
•   10. Mengadili Menurut Hukum, 2005
•   11. Sistem Hukum Indonesia Dari Masa Ke Masa, Tanpa Tahun
•   12. Perlindungan Hukum Terhadap Pejabat Publik Daerah, 2007
•   13. Peranan Pengadilan Mendorong Bantuan Hukum Bagi Masyarakat Marginal, Tanpa
    Tahun
•   14. Mediasi Sebagai Alternatif Menyelesaikan Sengketa, 2006
•   15. Hakim Sebagai Pembaharu Hukum, 2007
•   16. Pembaharuan Lembaga-lembaga Negara Dalam UUD 1945 Baru, 2007
•   17. Peranan Pendidikan Tinggi Hukum Dalam Reformasi Hukum, 2007
•   18. Kekuasaan Kehakiman Yang Bertanggungjawab, 2000
•   19. Reorientasi Politik Hukum Nasional, 1999
•   20. Peranan Fakultas Hukum dalam Mengembangkan Otonomi Daerah, 2000
•   21. Hukum dan Hak Asasi Manusia, 2000
•   22. Dekolonialisasi Hukum, Hakim dan Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945, 2000
•   23. Peran Hakim Dalam Dekolonialisasi Hukum, 2000
•   24. Peranan Organisasi Kemasyarakatan Membangun dan Melaksanakan Supremasi Hukum, 2000
•   25. Membangun Supremasi Hukum, 2000
•   26. Peranan Masyarakat Membangun, 2000
•   27. Hambatan Penegakan Supremasi Hukum, 2000
•   28. Fungsi Ombudsman, 2000
•   29. Peranan Hukum Menuju dan Dalam Indonesia Baru, 2000
•   30. Peranan Hukum Dalam Pergeseran Nilai Sosial Budaya Masyarakat Memasuki Era Reformasi,1999
•   31. Perumusan Prioritas dan Sistematika Kerja Agenda Reformasi di Bidang Hukum, 2000
•   32. Kewajiban Asasi Dalam Era Pembaharuan UUD 1945, 2000
•   33. Memberantas KKN Di Lingkungan Peradilan, 2001
•   34. UUD 1945 Tidak Mengenal Hak Prerogatif, 2000
•   35. Pemberdayaan Hukum, 2001
•   36. Konsep Pokok Penyelenggaraan Negara dan Perubahan Konstitusi, 2001
•   37. Politik dan Administrasi Pertanahan, 2001
•   38. Peranan Prolegnas Dalam Perencanaan Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, 2000
•   39. Mewujudkan Peradilan Yang Bersih dan Berwibawa Melalui Good Governance, 2004
•   40. Dimensi Hukum dan Kelembagaan dalam Pembangunan, 2004
•   41. Demokrasi Pancasila: Tinjauan Pelaksanaan Bidang Hukum, Politik dan Hak Asasi Manusia, 1998
•   42. Kekuasaan Prerogatif, 1998
•   43. Menyambut Undang-Undang Baru Pemerintahan Daerah, 1999
•   44. Visi dan Misi Reformasi Hukum dan Keadilan Berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, 2000
•   45. Hubungan Pusat dan Daerah Dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah, 1999

•   Bandung, Februari 2010
    Bagir Manan
HUKUM PEMERINTAHAN DAERAH



       Bagir Manan
•   1. Pendahuluan

•          Otonomi daerah dimaksudkan sebagai otonomi yang didasarkan pada
    teritorial (territorial autonomy, territorial autonomie). Selain otonomi yang
    berbasis teritorial atau kewilayahan, ada otonomi fungsional (functional
    authority, functioneel autonomie).
•          Otonomi daerah adalah satuan pemerintahan mandiri (otonom) dalam
    batas wilayah tertentu (dalam lingkungan negara kesatuan) yang berhak
    dan berwenang mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan
    tertentu sebagai urusan rumah tangga daerah yang bersangkutan.
•          Otonomi fungsional adalah satuan pemerintahan mandiri (otonom)
    yang berhak dan berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan
    tertentu yang tidak dibatasi atau ditentukan berdasarkan wilayah atau
    daerah tertentu, melainkan mengatur dan mengurus fungsi pemerintahan
    tertentu.
•          UUD 1945 hanya memuat (mengatur) otonomi teritorial.
•          Uraian di bawah hanya mengenai otonomi teritorial sebagaimana
    dimaksud UUD 1945 Bab VI tentang Pemerintahan Daerah, Pasal 18, Pasal
    18A dan Pasal 18B.[1]

    [1] Pasal 18 ayat (1): “Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah
    provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota yang tiap-tiap provinsi, kabupaten, dan kota itu mempunyai
    pemerintahan daerah, yang diatur dengan undang-undang.
           Menurut undang-undang, satuan pemerintahan yang menjalankan otonomi
    disebut pemerintahan daerah.[1] Karena itu hukum di bidang otonomi daerah disebut
    juga hukum pemerintahan daerah. Apabila ada otonomi fungsional (selain otonomi
    daerah), cukup dinamakan hukum otonomi atau hukum pemerintahan otonom. Uraian
    ini akan menggunakan tema hukum pemerintahan daerah. Otonomi dapat dibedakan
    antara otonomi dalam arti luas (autonomy in the broad sense) dan otonomi dalam arti
    sempit (autonomy in the narrow sense). Dalam arti luas meliputi otonomi dalam arti
    sempit (lazim disebut otonomi) dan tugas pembantuan (co-administration,
    medebewind). Pemerintahan daerah meliputi urusan otonomi dan tugas pembantuan.
    Dengan demikian lebih tepat menggunakan sebutan hukum pemerintahan daerah dari
    pada hukum otonomi daerah.

2. Hukum Pemerintahan Daerah Sebagai Kajian Mandiri

•          Sejak sepuluh tahun yang lalu atau lebih, pada hampir semua Fakultas Hukum
    di Indonesia, diajarkan asas dan kaidah hukum pemerintahan daerah sebagai mata
    kuliah tersendiri, terpisah dari Hukum Tata Negara atau Hukum Administrasi Negara.
•          Apakah pemilahan ini menunjukkan telah terbentuk cabang atau disiplin ilmu
    hukum baru yaitu Hukum Pemerintahan Daerah?
•          Semula, pemilahan pengajaran asas dan hukum pemerintahan daerah semata-
    mata didorong oleh kebutuhan praktis belaka yaitu:
•   Pertama; pengajaran dengan sistem kredit semester. Sistem kredit semester
    mempunyai dampak:
(1)Tidak semua materi dengan sistem pengajaran satu tahun (sistem
   tradisional) dapat diselesaikan. Pada sistem kredit semester, pertemuan
   (classical) hanya empat bulan (12 – 16 kali pertemuan). Sekedar ilustrasi
   yaitu Hukum Perdata (BW) dan Hukum Dagang (WvK) yang begitu luas
   bahannya. Jangankan dengan sistem kredit semester, sistem pengajaran
   satu tahun pun tidak pernah selesai. Setiap tahun merupakan lanjutan dari
   tahun sebelumnya (Buku I, Buku II, Buku III, kepailitan dan bahan-bahan
   lain, sedangkan Buku IV bergabung dengan Hukum Acara). Demikian pula
   Hukum Dagang, seperti bentuk-bentuk badan usaha, surat-surat berharga,
   pengangkutan, dan lain-lain acap kali masing-masing topik harus dibahas
   berbulan-bulan. Waktu ujian, yang dihadapi tidak semata-mata yang
   diajarkan pada tahun yang bersangkutan, tetapi bahan-bahan sebelumnya.
   Pak Dosen dengan menggunakan prinsip bahwa hakikat mahasiswa adalah
   mandiri dan belajar sendiri tidak mau tahu bagaimana cara mahasiswa
   mempelajari bahan yang bertahun-tahun tersebut. Mahasiswa tidak kalah
   akal. Disamping minta bantuan para senior atau asisten dalam bentuk yang
   disebut ”tenteer”, cara lain yaitu mengumpulkan semua soal tahun-tahun
   sebelumnya. Kalau ujian lisan (biasa dipakai sebutan ujian mondeling)
   dilakukan dengan ”menguping” pertanyaan yang diajukan kepada rekan-
   rekan mahasiswa terdahulu. Di suatu Fakultas Hukum, ada penjaga pintu
   yang diperbolehkan keluar masuk ruang ujian (menyampaikan berkas,
   minuman, atau dipanggil). Bapak penjaga ini berfungsi juga sebagai
”penyadap” pertanyaan-pertanyaan. Setiap kali keluar dari ruangan, Pak
penjaga melaporkan pada mahasiswa yang menunggu di luar, pertanyaan-
pertanyaan. Sekali-sekali disertai jawabannya. Bukan main. Ketika
mahasiswa, saya tidak pernah menjadi ”kuli catat” semacam itu. Bukan
karena tidak butuh, tetapi sudah ada ”kawan-kawan seperjuangan” yang
melakukan tugas itu. Hasilnya cukup memuaskan. Suatu kali saya
mendapat angka yang lebih bagus dari pada kawan yang sudah
mempertaruhkan waktu sebagai pengintai. Tentu saja, saya diomeli habis-
habisan. Pernah pula saya melakukan akrobat lain menghadapi ujian lisan
dengan bahan yang begitu banyak. Saya berspekulasi hanya menghafal
beberapa materi (topik). Lainnya diserahkan pada garis tangan. Paling
tidak, ada dua mata kuliah yang dilakukan dengan spekulasi seperti itu yaitu
Hukum Organisasi Internasional dan Hukum Perdata Internasional. Ketika
mulai menghadapi pertanyaan-pertanyaan, saya membuat jawaban
memutar agar guru saya terpancing ke materi yang saya pelajari, dan
beliau masuk ”killing ground”. Jawaban-jawaban menjadi sangat lancar dan
lulus dengan baik. Sebagai guru, saya tidak menghadapi mahasiswa
dengan sapu jagat. Sebelum mulai, acap kali saya tanyakan materi yang
dipelajari. Disitulah pertempuran. Ada pula dongeng dari Fakultas Hukum
lain. Untuk suatu mata kuliah, mahasiswa berulang-ulang tidak lulus,
meskipun ”rasa-rasanya” sudah belajar keras. Sejumlah mahasiswa
memutuskan ke dukun yang memberikan kerikil-kerikil (batu kecil) yang
sudah diberi mantera. Pak dukun memerintahkan:
•   agar batu-batu kecil, sambil lewat dilemparkan ke halaman rumah Pak
    Dosen sebagai pelunak hati. Pak Dosen yang kebetulan ada di muka,
    heran melihat mahasiswanya berseliweran dan melemparkan sesuatu.
    Hasilnya, tetap tidak (belum juga) lulus. Obat yang paling mujarab
    adalah belajar dan belajar, membaca dan membaca, bukan sistem
    kebut semalam (sks).
•   Untuk mengatasi ketidakcukupan waktu akibat sistem kredit semester,
    bahan ajaran dipecah-pecah dan diajarkan tersendiri, seperti Hukum
    Pemerintahan Daerah, Hukum Kewarganegaraan dan Keimigrasian,
    Hukum Hak Asasi Manusia, dan lain-lain.
•   Kedua, untuk menggenapkan kelengkapan pengajaran. Sebagai
    kelanjutan sistem pengajaran kredit semester ada jumlah kredit sebagai
    syarat lulus menjadi sarjana. Misalnya, antara 144 – 160 kredit (menurut
    saya jumlah ini terlalu besar). Untuk itu, diperlukan bermacam-macam
    mata kuliah mandiri yang mempunyai nilai kredit tersendiri pula. Kalau
    nilai kredit yang diberikan rendah (misalnya, dua kredit), diperlukan
    banyak sebaran mata kuliah. Rekayasa memecah-mecah mata kuliah
    ada bahayanya yaitu sebaran mata kuliah terlalu banyak, materi
    pengajaran seolah-olah diada-adakan agar dapat memenuhi syarat lulus,
    dan secara ilmiah penguasaan materi tidak terintegrasi. Untuk yang
    terakhir, beberapa kawan bereaksi. Sekarang masa spesialisasi,
    penguasaan secara utuh suatu cabang ilmu tidak lagi begitu penting.
    Kalaupun masih dianggap perlu, integrasi dilakukan melalui filsafat
    hukum.
•   Suatu mimpi. Apalagi ada kecenderungan filsafat tidak lagi sebagai payung,
    tetapi sebagai ilmu tersendiri.
•   Ketiga; pertumbuhan tenaga pengajar dengan berbagai spesialisasi
    (spesialis Hukum Lingkungan, spesialis HAKI, spesialis Hukum
    Pemerintahan Daerah, dan lain-lain). Para ahli yang spesialis ini perlu diberi
    porsi pengajaran untuk mengembangkan spesialisasinya.
•   Keempat; sebagai pendalaman materi kuliah tertentu, terutama untuk
    tingkat program pengajaran lanjutan (pasca sarjana).
•         Kembali pada hukum pemerintahan daerah. Ditinjau dari tradisi ilmu-
    ilmu kenegaraan, Hukum Pemerintahan Daerah yang mengatur organisasi
    dan tata cara menyelenggarakan pemerintahan daerah, masuk ke dalam
    kajian Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara.
•   Pertama; sebagai kajian Hukum Tata Negara.
•   Seperti diajarkan Logemann, Hukum Tata Negara mempelajari hukum
    tentang organisasi negara.[1] Pemerintahan daerah adalah organisasi
    negara tingkat lebih rendah atau dapat disebut sebagai sub organisasi
    negara. Dengan demikian, hukum mengenai pemerintahan daerah
    merupakan bagian dari hukum organisasi negara yang menjadi obyek
    Hukum Tata Negara.
•   Kedua; sebagai kajian Hukum Administrasi Negara.
•   Hukum Administrasi Negara adalah hukum yang mengatur (menentukan)
    cara-cara pemerintah (administrasi negara) menjalankan pemerintahan
    (menjalankan administrasi negara), yang mencakup:
(1) Hukum yang mengatur internal administrasi negara.
(2) Hukum yang mengatur hubungan administrasi dengan warga atau
      penduduk negara.
(3) Hukum yang mengatur hak dan kewajiban warga atau penduduk terhadap
      pemerintah (administrasi negara).
•         Dengan demikian karena hukum yang mengkaji pemerintahan daerah
      hanya mengenai tata cara pemerintahan daerah menjalankan
      pemerintahan (administrasi negara), maka masuk rumpun hukum
      administrasi negara.
•     Sebagai pengajaran tersendiri, Hukum Pemerintahan Daerah adalah
      hukum administrasi negara khusus (special administrative law,
      bijzondere administrative recht) di samping hukum administratif umum
      (general administrative law, algemene administratief recht). Materi hukum
      administrasi umum mencakup – antara lain – pengertian, sejarah,
      sumber, macam-macam keputusan, dan asas-asas hukum administrasi
      negara. Di Belanda, salah satu sumber utama hukum administrasi umum
      adalah Algemene Wet Bestuursrecht (AWB).
•         Apakah Hukum Pemerintahan Daerah (telah) memenuhi syarat
      sebagai cabang ilmu hukum yang berdiri sendiri?
•         Ada beberapa ukuran yang perlu dikaji, yaitu: (1) bahan-bahan hukum
      (legal materials); (2) hubungan dengan cabang atau disiplin ilmu hukum
      lain; (3) sifat khusus; dan (4) kajian-kajian yang sudah ada.
•     1. Bahan hukum (legal materials)
•        Untuk menuju suatu cabang ilmu hukum yang berdiri sendiri, bahan-
      bahan hukum berfungsi sebagai sumber hukum.
a. Bahan hukum tertulis.
      Bahan hukum tertulis pemerintahan daerah dijumpai dalam UUD, Undang-
      Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri, Peraturan Daerah,
      Peraturan Kepala Daerah, sampai pada peraturan-peraturan tingkat desa.
      Selain itu, didapati pula berbagai aturan (peraturan) kebijakan
      (beleidsregels) baik yang ditetapkan (besluit) pusat atau oleh daerah.
b. Bahan hukum tidak tertulis
      Bahan hukum tidak tertulis dijumpai dalam hukum adat yang masih berlaku,
      praktek-praktek pemerintahan daerah, putusan-putusan hakim, dan lain-lain.
c. Bahan hukum dalam bentuk teori-teori otonomi (pemerintahan daerah) yang
      bersumber dari hasil kajian (penyelidikan) ilmu hukum atau ajaran (doktrin)
      otonomi, seperti doktrin yang menyangkut sistem otonomi, hubungan pusat
      dan daerah, dan lain-lain.

2. Hubungan dengan cabang atau disiplin ilmu hukum lain.

     Telah diuraikan hubungan (keterkaitan) Hukum Pemerintahan Daerah
     dengan Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara yang
     menempatkan kajian Hukum Pemerintahan Daerah berwajah ganda,
     sebagai kajian Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara. Belum
     pula hubungan dengan Ilmu Politik (demokrasi), manajemen, dan lain-lain.
     Aneka ragam hubungan (keterkaitan) tersebut menunjukkan kekayaan
     analisis Hukum Pemerintahan Daerah. Membiarkan kajian Hukum
     Pemerintahan Daerah menjadi bagian aneka ragam disiplin ilmu sehingga
     berserak-serak menyebabkan tidak ada kebulatan kajian yang terintegrasi.
•     Hal ini bukan saja menimbulkan kesulitan praktis karena terpecah-pecah, juga kesulitan
      konseptual yang akan menghalangi pengembangan teori dan konsep hukum otonomi
      daerah yang mandiri. Menjadikan Hukum Pemerintahan Daerah sebagai cabang atau
      disiplin ilmu hukum yang berdiri sendiri lebih memungkinkan pengembangan konsep
      atau teori Hukum Pemerintahan Daerah yang mandiri.

3. Sifat khusus kajian Hukum Pemerintahan Daerah

Sifat khusus berkaitan dengan fungsi pemerintahan daerah pada umumnya yang meliputi:

a. Fungsi pengelolaan pemerintahan atau manajemen pemerintahan. Esensi
      manajemen adalah efisiensi, efektivitas dan produktivitas. Melalui
      desentralisasi (otonomi) pelayanan terhadap masyarakat dapat
      diselenggarakan secara efisien, efektif dan produktif.
b. Fungsi pelayanan publik. Fungsi ini hanya dapat berjalan dengan baik kalau
      pemerintahan didekatkan dengan masyarakat. Desentralisasi (otonomi)
      adalah sarana mendekatkan pemerintahan dengan masyarakat.
c.Fungsi politik. Fungsi politik terutama berkaitan dengan demokrasi. Desentralisasi
      (otonomi) meluaskan peluang demokrasi.
d. Fungsi polisionil. Fungsi ini berkaitan dengan penegakan hukum, menjaga dan
      memelihara ketertiban umum.
e. Fungsi keragaman (kebhinekaan). Indonesia adalah negara yang penuh
      keragaman. Desentralisasi (otonomi) memberi peluang pelayanan yang
      memuaskan berdasarkan perbedaan-perbedaan.
f. Fungsi menjaga persatuan. Desentralisasi (otonomi) memberi peluang menumbuhkan rasa
      diakui dan diperhatikan.
• Agar sifat-sifat khusus di atas dapat dikaji secara terpadu diperlukan
  metode yang khusus pula. Tanpa metode yang khusus tidak akan
  dapat dikembangkan kajian Hukum Pemerintahan Daerah secara
  terpadu. Salah satu metode khusus yaitu metode antar disiplin
  (interdisciplinary approach). Metode antar disiplin dalam Hukum
  Pemerintahan Daerah tidak hanya penting sebagai instrumen
  pengkajian. Tidak kalah penting dalam pembentukan dan
  penerapannya.

4. Kajian-kajian yang sudah ada
• Kajian mengenai pemerintahan daerah beraneka ragam. Seperti
   telah dikemukakan, kajian hukum dilakukan baik dalam lingkup
   Hukum Tata Negara maupun Hukum Administrasi Negara. Di luar
   hukum, kajian pemerintahan daerah dilakukan dilapangan Ilmu
   Administrasi Negara (public administration) dan Ilmu Politik yang
   berkaitan dengan bermacam kajian, seperti hubungan pusat dan
   daerah, demokrasi, pemilihan umum, dan lain-lain.
•       Dari berbagai aspek di atas, sudah saatnya kajian Hukum
   Pemerintahan Daerah tidak lagi sekedar efisiensi dan efektivitas
   pengajaran Hukum Tata Negara atau Hukum Administrasi Negara,
   melainkan sebagai cabang atau disiplin ilmu yang berdiri sendiri.
3. Materi Pengajaran Hukum Pemerintahan Daerah

Materi pengajaran Hukum Pemerintahan Daerah dapat dibedakan:
Pertama; materi pengajaran umum.
Materi pengajaran umum mencakup teori-teori atau konsep-konsep yang
memberikan pengetahuan dasar mengenai Hukum Pemerintahan
Daerah, yang meliputi:
(1) Pengertian Hukum Pemerintahan Daerah.
(2)Hubungan antara pemerintah daerah dan bentuk negara
(3)Sumber-sumber Hukum Pemerintahan Daerah
(4)Sistem dan susunan pemerintahan daerah
(5)Hubungan antara Hukum Pemerintahan daerah dengan Hukum Tata
Negara dan Hukum Administrasi Negara
(6)Fungsi pemerintahan daerah
(7)Letak Hukum Pemerintahan Daerah dalam susunan pembagian
(pemisahan) kekuasaan negara
(8)Sejarah dan perkembangan Hukum Pemerintahan Daerah
(9)Asas-asas umum pemerintahan daerah
(10)Hubungan atau titik taut (knopping punten) antara Hukum
Pemerintahan Daerah dengan Ilmu Administrasi Negara (public
administration) dan Ilmu Politik (political science)
• Kedua; materi pengajaran khusus.
• Materi pengajaran khusus terutama mengenai hukum
  positif, yang akan berbeda-beda dari waktu ke waktu
  (karena perubahan peraturan perundang-undangan,
  praktek pemerintahan, dan putusan hakim), dan
  berbeda-beda antara negara yang satu dengan
  negara yang lain. Dalam rangka mendalami hukum
  positif, materi pengajaran hukum dilengkapi dengan
  pengamatan perbandingan yang bersifat metodologis
  baik sebagai pengamatan historis internal
  (perkembangan dalam negara yang bersangkutan),
  maupun dengan negara lain. Selain itu, materi
  pengajaran khusus dapat diberikan melalui putusan-
  putusan hakim, misalnya putusan mengenai sengketa
  kewenangan antara pemerintah pusat dan pemerintah
  daerah, putusan mengenai pengujian peraturan
  perundang-undangan yang berkaitan dengan
  pemerintahan daerah, dan lain-lain.
• 4. Hukum Pemerintahan Daerah di Indonesia

•       Pemerintahan daerah (otonom) adalah salah satu sendi
  konstitusional Negara Republik Indonesia.[1] Sendi-sendi
  konstitusional lain adalah prinsip-prinsip yang dimuat dalam
  Pembukaan UUD 1945 dan Pancasila, sendi negara hukum, sendi
  demokrasi ekonomi, dan lain-lain. Semua UUD yang berlaku dan
  pernah berlaku selalu memuat sendi-sendi otonomi (UUD 1945,
  Konstitusi RIS 1949 dan UUDS 1950). Sejak tahun 1945 (sejak
  merdeka) telah ditetapkan berbagai undang-undang (peraturan
  perundang-undangan) mengenai bentuk dan susunan pemerintahan
  daerah.[2]
•       Perubahan atau penggantian undang-undang tidak semata-
  mata karena perubahan UUD atau karena perkembangan konsep
  atau teori kenegaraan atau pemerintahan, dinamika sosial,
  kemajuan ilmu dan teknologi, melainkan termasuk juga perubahan
  politik (kebijakan) negara atau pemerintah. Bahkan dapat dikatakan,
  politik negara atau pemerintah yang paling dominan mempengaruhi
  berbagai peraturan perundang-undangan pemerintahan daerah.
Akibatnya, meskipun undang-undang dibentuk atas dasar UUD yang sama,
   tetapi isi undang-undang pemerintahan daerah berbeda-beda satu sama
   lain. Di bawah regim UUD 1945 telah dibentuk berbagai undang-undang
   (UU No. 1 Tahun 1945, UU No. 18 Tahun 1965, UU No. 22 Tahun 1999 dan
   UU No. 32 Tahun 2004), tetapi dengan isi yang berbeda-beda. Perbedaan-
   perbedaan mencakup – antara lain – mengenai susunan daerah otonom, isi
   otonomi (otonomi luas atau tidak luas), desentralisasi atau sentralisasi,
   hubungan keuangan, hubungan pengawasan, kedudukan dan hubungan
   dengan pemerintahan asli (seperti desa), sistem otonomi, dan lain-lain.
   Ketentuan UUD ditafsirkan menurut kehendak kekuasaan yang dominan,
   bukan berdasarkan sendi-sendi dasar, dan maksud sendi otonomi itu
   sendiri. Akibatnya pergulatan, bahkan ketegangan (spanning, tension) tidak
   pernah mereda. Selalu ada berbagai keluhan, lebih-lebih pada tataran
   pelaksanaan (implementasi). Keluhan-keluhan tidak saja datang dari
   daerah. Tidak kurang-kurangnya dari pusat. Misalnya, dalam rangka
   perimbangan keuangan antara pusat dan daerah diadakan sistem Dana
   Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK). Keluhan daerah
   tetap mengalir, karena cara-cara penetapan DAU dan DAK dianggap tidak
   (kurang) mencerminkan kenyataan-kenyataan di suatu daerah atau daerah-
   daerah yang bersangkutan. Demikian pula isi otonomi. Timbul keluhan baik
   dari daerah maupun pusat. Dari daerah, secara diam-diam maupun melalui
   berbagai peraturan pelaksanaan (implementing regulations) ada semacam
   proses sentralisasi (stilwijgend centralisatie), seperti pengaturan mengenai
   anggaran pendapatan dan belanja daerah (termasuk hal-hal seperti uang
   kehormatan anggota DPRD).
•   Ada beberapa alasan obyektif pusat untuk melakukan ”supervision”
    pelaksanaan otonomi luas. Pertama; otonomi adalah sub sistem negara
    kesatuan. Pengawasan pusat senantiasa melekat dalam otonomi (geen
    autonomie zonder toezich). Otonomi adalah zelfstandigheid, tetapi bukan
    onafhankelijkheid. Kedua; penggunaan anggaran pendapatan dan belanja
    daerah (termasuk yang berasal dari DAU dan DAK) harus benar-benar
    untuk kesejahteraan rakyat. Ada daerah yang sampai menggunakan 40%
    dari pendapatan asli daerah (PAD) untuk anggaran DPRD. Sebaliknya, ada
    pula keluhan dari pusat terhadap otonomi luas. Daerah acap kali
    menetapkan suatu kebijakan yang tidak sesuai bahkan bertentangan
    dengan kebijakan pusat. Misalnya, hal-hal yang berkaitan dengan
    pertanahan, pungutan yang berkaitan dengan investasi, acap kali justeru
    menimbulkan hambatan investasi karena – antara lain – menimbulkan
    investasi biaya tinggi (high cost investation). Demikian pula soal
    penguasaan dan pengelolaan hutan yang dapat mempengaruhi kebijakan
    pusat mengenai lingkungan, lebih-lebih yang berkaitan dengan kewajiban
    internasional seperti perubahan iklim (climate change) atau pemanasan
    global (global warming). Semua ini dilakukan daerah dengan dalih otonomi
    luas. Segala sesuatu yang tidak secara nyata ditetapkan sebagai
    wewenang pusat adalah wewenang daerah. Suatu ketentuan yang sangat
    mirip dengan hubungan antara Pemerintah Federal dengan Negara Bagian
    di Amerika Serikat.[1] Banyak lagi hal lain, yang menunjukkan persoalan
    otonomi belum selesai.
•Apakah akan selesai? Pengalaman negara-negara maju, yang
berpengalaman dengan pemerintahan daerah dan otonomi, persoalan
otonomi dengan contoh-contoh yang disebutkan di atas tidak pernah
selesai. Karena itu, baik secara ilmiah, hukum, dan kebijakan terus
menerus dilakukan berbagai penyelidikan, kajian, pembaharuan hukum,
serta berbagai rumusan kebijakan untuk memecahkan masalah-masalah
otonomi.
      Pengalaman Indonesia. Persoalan-persoalan otonomi di
Indonesia timbul – antara lain – karena:

(1) Pemerintahan kediktaturan
• Suatu pemerintahan kediktaturan mempunyai pembawaan anti
demokrasi (anti partisipasi rakyat), dan sentralistik, karena pemerintahan
berpusat pada satu tangan atau sebuah regim, sedangkan otonomi
merupakan instrumen demokrasi dan desentralisasi (bukan sentralisasi).
(2) Politik purbasangka terhadap daerah
• Otonomi atau desentralisasi dianggap sebagai benih perpecahan
bangsa. Untuk menjaga proses sentrifugal yang akan menuju perpecahan,
pengawasan kepada daerah harus diperbesar, kekuasaan dan kemandirian
daerah harus dibatasi.
(3) Politik keseragaman
• Keseragaman dianggap sebagai perwujudan untuk menjamin
persamaan (formal equality) dengan mengabaikan persamaan substantif
(substantive equality)[yang harus memungkinkan perbedaan demi keadilan
yang akan memberi kepuasan dan menciptakan harmoni.
(4) Dalam suasana euphoria, daerah memandang otonomi sebagai
     kemandirian yang terlepas dari prinsip-prinsip negara kesatuan.
     Urusan pemerintahan yang termasuk urusan rumah tangga
     daerah dipandang sebagai suatu kekuasaan yang tidak lagi
     terkait dengan pusat. Semestinya, daerah memahami dengan
     baik asas-asas penyelenggaraan otonomi daerah, seperti:
     a. Urusan rumah tangga daerah bersumber dari penyerahan sebagian
        urusan pemerintahan (administrasi negara) pusat, kecuali urusan-
        urusan yang melekat pada pemerintahan asli (seperti, desa). Pusat
        (dengan undang-undang) dapat menarik, mengubah, atau
        mengurangi suatu urusan rumah tangga daerah, dan melakukan
        supervisi terhadap daerah, bahkan melakukan penguasaan apabila
        daerah tidak mampu menjalankan pemerintahan dengan (konflik
        yang merugikan publik), atau karena ada kepentingan atau ancaman
        yang bersifat nasional.
    b Sebagai negara kesatuan, penyelenggaraan negara dan
    pemerintahan, pada tingkat tertinggi ada pada pusat. Dalam
    negara kesatuan, pusat adalah satu-satunya sumber kekuasaan
    negara dan pemerintahan.
    c. Sebagai negara kesatuan, semua urusan penyelenggaraan
    negara dan pemerintahan pada dasarnya merupakan satu
    kesatuan. Penyelenggaraan pemerintahan daerah bukan sesuatu
    yang terpisah dari pemerintah pusat.
Selain berbagai isu (issues) di atas, dihadapi pula berbagai persoalan lain, antara lain:
a.Pergeseran kekuasaan dari kepala daerah ke DPRD
•       Pergeseran ini mengikuti pergeseran kekuasaan dari Presiden ke DPR. Semula, pergeseran ini
        begitu kuat karena kepala daerah bertanggung jawab kepada DPRD. Setiap saat, seperti melalui
        laporan tahunan, kepala daerah menjadi sangat lemah di hadapan DPRD (UU No. 22 Tahun 1999).
        Meskipun telah diadakan perubahan (UU No. 32 Tahun 2004) dengan perubahan-perubahannya),
        DPRD tetap kuat karena disertai bermacam-macam hak (seperti DPR). Dari executive heavy (strong
        executive) bergeser menjadi “DPRD heavy”. Kehendak atau kemauan DPRD lebih menentukan dari
        kepala daerah. Semestinya yang harus dikembangkan bukanlah pergeseran untuk melemahkan
        yang satu terhadap yang lain, melainkan membangun sistem keseimbangan antara DPRD dan
        Kepala Daerah. DPRD yang memegang hak anggaran (hak budget), mempunyai anggaran
        tersendiri. Meskipun diperlukan persetujuan kepala daerah, DPRD dengan kekuasaannya
        menentukan sendiri besaran anggarannya, termasuk menaikkan sendiri pendapatan aneka ragam
        nomenklatur, dan kepala daerah umumnya menyetujui anggaran tersebut. Telah dikemukakan ada
        DPRD yang menggunakan 40% dari PAD yang bersangkutan.
b. Korupsi
•       Pada tahun 2000, dalam salah satu tulisan yang dimuat Harian Pikiran Rakyat Bandung, saya telah
        mencatat kekhawatiran korupsi di daerah akan meningkat akibat tambahan berbagai pendapatan
        daerah (DAU, DAK, disamping PAD). Ternyata dugaan tersebut menjadi kenyataan. Kekhawatiran
        lain adalah penggunaan uang yang banyak tidak terarah sebagaimana mestinya. Ada kepala daerah
        yang menghamburkan keuangan daerah dengan berkelana di Jakarta dan pindah dari hotel ke
        hotel, bukan berada di daerahnya.
c. Letak titik berat otonomi
•       Hingga sekarang masih tetap dipersoalkan tempat yang tepat untuk titik berat otonomi daerah. Ada
        yang berpendapat titik berat otonomi di provinsi. Ada yang berpendapat di kabupaten/kota. Salah
        satu fungsi otonomi adalah mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, karena itu semestinya titik
        berat otonomi ada pada kabupaten/kota. Dalam kaitan pendapat mengenai titik berat otonomi pada
        kabupaten/kota, ada yang menghendaki provinsi hanya sebagai wilayah administratif.[1]
        Memperhatikan ketentuan UUD 1945, Pasal 18 ayat (2), baik provinsi, kabupaten, atau kota adalah
        satuan pemerintahan otonom (mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas
        otonomi dan tugas pembantuan). Dengan demikian, tidak mungkin membentuk provinsi
        adminsitratif, kecuali mengubah Pasal 18 UUD 1945. Muhammad Yamin dalam pidato di hadapan
        BPUPKI tahun 1945 menghendaki otonomi, terutama pada desa yang sudah diperbaharui
        (modernisasi). Pemikiran ini pernah tertuang dalam UU No. 22 Tahun 1948 yang menghendaki
        otonomi luas pada desa.
d. Tata    cara pemilihan kepala daerah
•         Pemilihan langsung kepala daerah yang diharapkan meningkatkan mekanisme
          demokrasi, ternyata menimbulkan berbagai persoalan. Pemilihan langsung telah
          meluaskan money politics sebagai alat membeli suara. Ketika hal yang sama terjadi
          pada pemilihan oleh DPRD dikatakan permainan uang juga ada dan lebih mudah
          dilakukan karena melibatkan jumlah orang yang terbatas. Cukup membayar separoh
          jumlah anggota DPRD ditambah satu (mayoritas absolut atau absolute majority)
          sudah menjamin kemenangan. Selain itu, pemilihan oleh anggota DPRD, rawan
          tekanan dan suara akan didominasi partai besar.

Secara konseptual aspek-aspek negatif pemilihan oleh DPRD dapat ditiadakan
      dengan pemilihan langsung.
•     Pertama; politik uang akan sangat berkurang, karena tidak mungkin membeli
      seluruh suara rakyat pemilih (berjuta-juta). Ternyata tidak demikian. Bertrilyun-trilyun
      rupiah dibelanjakan untuk membeli suara. Praktek menggunakan uang sebagai cara
      membeli kekuasaan, memperbesar peluang penyalahgunaan kekuasaan. Lebih dari
      itu, politik uang untuk membeli kekuasaan, merupakan suatu perbuatan amoral.
      Kekuasaan tidak lagi tanggung jawab tetapi sekedar hegemoni yang merupakan
      perbuatan demoralisasi demokrasi. Tidak kalah penting adalah akibat buruk terhadap
      rakyat. Partisipasi rakyat diukur dan ditentukan oleh pasar uang (money market),
      bukan pasar idea (market of idea). Pemilihan menjadi semacam pasar suap dan
      rakyat menjadi terlatih atau biasa menerima suap. Hal ini bukan saja demoralisasi
      politik atau demoralisasi kekuasaan, tetapi demoralisasi masyarakat dan
      meruntuhkan nilai mengenai hal yang baik dan buruk yang akan meruntuhkan cita-
      cita dan sendi bernegara.
•   Kedua, dengan pemilihan langsung, para calon kepala daerah dan wakil
    kepala daerah yang diajukan partai-partai, diharapkan sebagai orang-orang
    terbaik yang akan menjalankan pemerintahan sesuai dengan sendi-sendi
    dan tujuan negara serta berpegang pada prinisp-prinsip pemerintahan yang
    baik (general principles of good administration, algemene beginselen van
    behoorlijkbestuur). Lain harapan, lain kenyataan, lain das Sollen lain das
    Sein.

 Ada beberapa degradasi yang didapati:
• (1) Pencalonan oleh atau melalui partai, mewajibkan calon membayar
   partai sebagai perahu. Dalam wacana sehari-hari disebut membeli
   perahu tidak murah. Praktek uang perahu menjadi sumber pendapatan
   partai. Akibatnya, ukuran yang dicalonkan atau didukung bukan terutama
   integritas, kecakapan, pengalaman, keterkaitan dengan rakyat,
   melainkan pembeli tertinggi perahu-perahu pendukung.
• (2) Usaha memenangkan pemilihan tidak terutama bertujuan memperoleh
   kepala daerah dan wakil kepala daerah yang terbaik, melainkan yang
   mampu mengumpulkan suara sebanyak-banyaknya yang ditentukan,
   kemampuan membeli suara. Kalaupun ada upaya membangun keterkaitan
   dengan pemilih hanya atas dasar alasan-alasan lain di luar komitmen atau
   keterikatan politik, pemerintahan atau fungsi-fungsi publik atau fungsi
   kemasyarakatan mencapai tujuan dan cita-cita negara.
•   Ketiga; dengan pemilihan langsung, diharapkan ada keeratan hubungan calon
    kepala dan wakil kepala daerah dengan rakyat. Tetapi praktek lama masih berlanjut
    (Orde Baru). Orang-orang yang tidak pernah memiliki hubungan sosial, dapat
    mendadak menjadi kepala daerah dan wakil daerah di suatu daerah. Kalaupun ada
    hubungan sosial dengan rakyat setempat, sama sekali tidak mengenal rakyat dan
    daerah yang dipimpin. Kalaupun mengenal sangatlah terbatas. Undang-Undang
    menentukan para calon wajib mengenal daerah dan rakyat daerah yang
    bersangkutan. Tetapi sekedar formalitas belaka, bukan secara substantif yaitu
    mengetahui dan memahami secara mendalam realitas-realitas daerah yang
    bersangkutan. Tentu ada jawaban yang mudah: ”semua dapat dipelajari kemudian”.
    Rakyat tidak membutuhkan ”murid”, melainkan membutuhkan pemimpin yang akan
    membawa mewujudkan sebesar-besarnya kemakmuran, kesejahteraan, dan keadilan
    sosial.

•   Keempat; pemilihan langsung diharapkan sebagai penopang upaya
    menyempurnakan demokrasi. Selain partisipasi langsung, pemilihan langsung
    merupakan cara membangun tanggung jawab yaitu pimpinan yang bertanggung
    jawab dan rakyat yang bertanggung jawab. Maraknya berbagai cara menjalankan
    pemerintahan yang tidak tepat (mismanagement), lebih menonjolkan pemerintahan
    atas dasar kebijakan (beleid, discretion) daripada hukum, menonjolnya selera-selera
    individual yang dijadikan program pemerintah, dan sikap-sikap lebih menonjolkan
    fungsi kekuasaan dalam memerintah atau lebih bertindak sebagai pangreh daripada
    sebagai pamong, menandakan suatu kebalikan dari suatu pengharapan.
    Keserakahan menggenggam dan menjalankan kekuasaan (Montesquieu) menjadi
    tontonan sehari-hari.
e. Hubungan antara provinsi dengan kabupaten/kota

   Provinsi, kabupaten, dan kota sebagai satuan
   pemerintahan otonom, masing-masing adalah badan
   hukum. Sebagai badan hukum, provinsi, kabupaten,
   kota adalah subyek hukum mandiri. Hubungan antara
   provinsi, di satu pihak dengan kabupaten, kota,
   walaupun berada dalam wilayah yang sama adalah
   hubungan antar badan hukum, baik dalam lapangan
   hukum keperdataan maupun hukum publik. Hubungan
   di lapangan hukum publik harus diatur atau ditentukan
   oleh undang-undang yang mengatur bentuk dan isi
   hubungan tersebut. Tanpa pengaturan tidak ada
   hubungan hukum publik antara provinsi dengan
   kabupaten dan kota. Hubungan di lapangan hukum
   keperdataan dilakukan menurut asas-asas dan kaidah
   umum hukum keperdataan.
• Ada beberapa cara mengenali hubungan publik antara provinsi
  dengan kabupaten, dan kota.
• Pertama; lingkungan wewenang dalam urusan pemerintahan
  daerah (otonomi). Memperhatikan ketentuan UU No. 32 Tahun 2004
  (demikian pula UU No. 22 Tahun 1999), jenis atau macam urusan
  rumah tangga pemerintahan provinsi tidak berbeda dengan urusan
  rumah tangga pemerintahan kabupaten, dan kota. Perbedaan hanya
  menyangkut daerah berlaku (wilayah provinsi di satu pihak dan
  wilayah kabupaten, wilayah kota di pihak lain), dan sifat
  pengaturan. Provinsi mengatur urusan pemerintahan yang berlintas
  kabupaten, dan kota. Meskipun berbeda cakupan wilayah dan sifat
  pengaturan, tetapi karena urusan pemerintahan yang diatur dan
  diurus obyek yang sama, akan menimbulkan berbagai masalah.
• (1) Sengketa wewenang (bevoegdheid geschillen), kecuali yang
  ditentukan secara spesifik bagian-bagian yang menjadi urusan
  rumah tangga provinsi dan urusan rumah tangga kabupaten, dan
  kota. Pembagian semacam ini tidak mudah dilakukan, karena pada
  dasarnya setiap urusan pemerintahan merupakan suatu kebulatan
  yang dapat berlintas batas satu sama lain.
•   (2) Efisiensi dan efektivitas. Urusan pemerintahan yang sama (demikian
    pula urusan di luar pemerintahan) yang serentak diurus dan diatur
    bermacam-macam lingkungan wewenang yang berbeda menimbulkan
    tumpang tindih wewenang (authority overlapping), akan sangat
    berpengaruh pada efisiensi dan efektivitas (lamban, birokratis dan mahal).
•   (3) Pertanggungjawaban. Dasar pemerintahan demokrasi adalah
    pertanggungjawaban (geen democratie zonder verantwoordelijk). Akibat
    tumpang tindih (supra), akan berpengaruh pada pertanggungjawaban,
    seperti saling melempar tanggung jawab, baik dalam arti responsibility
    maupun accountability.

    Kedua; cara lain membangun hubungan publik antara
    provinsi dengan kabupaten, dan kota dilakukan dengan
    melekatkan wewenang kepada gubernur (pejabat).
    Tetapi pelibatan ini bukan dalam kedudukan gubernur
    sebagai kepala daerah tetapi sebagai wakil pemerintah
    atau dapat disebut sebagai pejabat pemerintah pusat
    yang menjalankan fungsi dekonsentrasi bukan
    desentralisasi.
Dengan demikian, hubungan antara gubernur sebagai wakil pemerintah
pusat, bukan suatu bentuk hubungan antara provinsi dengan
kabupaten, dan kota, atau hubungan antar satuan-satuan
pemerintahan daerah otonom, melainkan hubungan antara pusat
(melalui gubernur sebagai wakil pusat) dengan kabupaten, dan kota.
Sekarang (UU No. 32 Tahun 2004, Pasal 38), wewenang gubernur sebagai
wakil pemerintah pusat meliputi pembinaan, pengawasan, dan
koordinasi. Meskipun lebih terbatas dibandingkan dengan, misalnya, UU
No. 5 Tahun 1974, tetapi setiap bentuk semacam ini senantiasa kembali
pada tarik menarik antara desentralisasi dan sentralisasi.
Mendudukkan gubernur sebagai wakil pemerintah pusat untuk melakukan
pembinaan, pengawasan, dan koordinasi merupakan cermin sentralisasi.
Lebih-lebih karena sebutan pembinaan, pengawasan, dan koordinasi tidak
jelas didefinisikan batas-batasnya. Di pihak lain, tanpa pembinaan,
pengawasan, dan koordinasi dapat menimbulkan penyelenggaraan
pemerintahan daerah yang tidak sesuai dengan fungsi pemerintahan yang
baik. Dalam kenyataan – dimanapun juga – fungsi pembinaan,
pengawasan, dan koordinasi tidak mungkin ditiadakan. Di pihak lain, jangan
sampai fungsi tersebut meniadakan otonomi daerah. Untuk itu perlu
diketemukan keseimbangan, dan tarik menarik yang tolerable.
f. Pemekaran daerah

•    Pemekaran daerah merupakan salah satu kemeriahan reformasi. Sampai-sampai,
     sekitar 50% atau lebih undang-undang yang dibentuk DPR periode 2004 – 2009
     adalah undang-undang pembentukan daerah otonom baru (provinsi, kabupaten,
     kota). Yang lebih menarik, berbagai undang-undang pembentukan daerah otonom
     tersebut, pada umumnya bersumber dari penggunaan hak inisiatif DPR, bukan
     inisiatif pemerintah (Presiden). Ditinjau dari struktur materi muatan, seperti juga
     undang-undang pembentukan pengadilan tingkat banding, sangat sederhana.
     Karena tidak secara langsung mengikat umum. Di lapangan Ilmu Hukum disebut
     undang-undang formal (formeel recht) yang berbeda dari pengertian undang-
     undang dalam arti formal (wet in formele zin).
•    Kecenderungan ini berbeda dengan yang terjadi di negara-negara Eropa yang
     justeru menuju konsolidasi dengan menggabungkan atau menyederhanakan
     susunan daerah-daerah pemerintahan yang sudah ada. Pertimbangan konsolidasi
     adalah dalam rangka efisiensi, efektivitas, ketersediaan sumber daya (resources),
     serta kecukupan anggaran. Semua aspek tersebut bertujuan untuk lebih menjamin
     kemandirian daerah. Pada saat ini, ada kebijakan moratorium (penghentian
     sementara) pembentukan pemerintahan daerah baru. Disamping itu, pemerintah
     sedang menyusun semacam peta pemerintahan daerah untuk dijadikan batas
     pembentukan pemerintahan daerah baru.
•    Kebijakan-kebijakan tersebut semestinya diikuti pula dengan ketentuan hak
     inisiatif DPR tidak berlaku untuk pembentukan pemerintahan daerah seperti
     pembentukan Undang-Undang APBN, Undang-Undang Ratifikasi. Pemerintahan
     daerah ada dalam lingkungan kekuasaan eksekutif, karena itu seyogyanya hanya
     eksekutif yang mengajukan inisiatif, bukan DPR.
g. Pilihan antara urusan pusat dan daerah

•   Semua berpikiran, rumusan UU No. 22 Tahun 1999
    dan UU No. 32 Tahun 2004 tentang pembagian
    urusan antara pusat dan daerah, menyerupai
    Amandemen ke-X UUD Amerika Serikat yang
    menetapkan segala sesuatu yang tidak ditetapkan
    sebagai urusan federal (Pasal I, sec. 8), atau yang
    tidak dinyatakan dilarang diselenggarakan negara
    bagian, adalah wewenang negara bagian. Dalam
    berbagai bahan bacaan, disebutkan kekuasaan residu
    (residual powers) ada pada negara bagian (kebalikan
    dari Kanada). Ternyata, baik UU No. 22 Tahun 1999
    maupun UU No. 32 Tahun 2004, tidak sepenuhnya
    demikian.
Dalam UU No. 22 Tahun 1999 ada embel-embel yang disebut
”urusan lain” yaitu berbagai wewenang yang bersifat kebijakan
untuk sejumlah urusan pemerintahan tertentu. Meskipun disebut
berbagai macam urusan lain, tetapi karena termasuk ke dalam
kategori kebijakan (beleid, discretion), dapat menjadi sumber
masalah hubungan antara pusat dan daerah. Kebijakan senantiasa
diperlukan, tetapi juga kebijakan diandaikan dengan orang yang
sedang berjalan di lereng yang licin (slippery slope). Kebijakan
mudah disalahgunakan, sewenang-wenang, dan sangat sulit
diawasi. Meskipun disebutkan kebijakan atau diskresi, tetap harus
memiliki landasan hukum (wewenang berdasarkan hukum), tujuan
yang akan dicapai tidak bertentangan dengan hukum (legal
purposeful), tetapi karena setiap bentuk kebijakan akan selalu
menekankan manfaat yang akan dicapai (doelmatigheid) sehingga
seolah-olah dibenarkan melonggarkan sifat hukum (rechtmatigheid),
mudah sekali menimbulkan pergesekan dengan wewenang di
bidang otonomi, bahkan dapat menggerogoti otonomi daerah.
Akibatnya, dasar otonomi luas hanya sekedar sebagai ungkapan
normatif tanpa isi atau materialisasi.
Hubungan wewenang untuk mewujudkan otonomi seluas-luasnya tidak
lebih baik diatur dalam UU No. 32 Tahun 2004, bahkan lebih mudah
bergeser ke arah sentralisasi dibandingkan dengan undang-undang
terdahulu. UU No. 32 Tahun 2004 seperti dengan sengaja pula tidak
menyebut rincian urusan-urusan tambahan tersebut. Dengan demikian,
pada dasarnya semua urusan pemerintahan dapat diatur dan diurus pusat.
Pembatasan hanya didasarkan pada kriteria ”eksternalitas, akuntabilitas,
efisiensi, dan keserasian hubungan antar pemerintahan”. Suatu kriteria
yang mulur mungkret (elastik) yang mudah disalahgunakan. Memang, UU
No. 32 Tahun 2004, juga memungkinkan daerah mengurus dan mengatur
urusan pemerintahan yang disebut urusan pemerintahan yang bersifat
pilihan. Ukuran-ukurannya juga mulur mungkret yang mudah menimbulkan
pergesekan dengan pusat (meliputi urusan pemerintahan yang secara
nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat
sesuai dengan kondisi, kekhasan, dan potensi unggulan daerah yang
bersangkutan). UU No. 32 Tahun 2004 menyebut urusan-urusan
pemerintahan pilihan sebagai ”urusan pemerintahan yang bersifat
concurrent”. Dalam konkurensi semacam ini, pusat biasanya memiliki posisi
yang lebih kuat dengan berbagai alasan, seperti kepentingan nasional,
peraturan pusat secara hirarkis lebih tinggi dari aturan-aturan daerah.
Bidang-bidang yang bersifat concurrent dikenali dalam UUD India dan UUD
Jerman.
• (1) India. Ada tiga rincian (lists) yang memuat
  wewenang (kekuasaan) pusat (federal), wewenang
  (kekuasaan) negara bagian, dan wewenang (kekuasaan)
  bersama (concurrent).
• (2) Jerman. UUD Jerman juga mengatur mengenai
  wewenang (kekuasaan) federal, wewenang (kekuasaan)
  negara bagian (Länder) dan wewenang (kekuasaan)
  concurrent. Wewenang negara bagian (Länder) serupa
  dengan Amandemen ke-X UUD Amerika Serikat (The
  Länder shall have the right to legislate in so far as this
  Basic Law does not confer legislative power on the
  Federation),dengan tambahan seperti India, yaitu ada
  rincian mengenai concurrent powers.
•      Demikian sebagai isu (issues) atau persoalan-
  persoalan mengenai penyelenggaraan otonomi daerah.
  Silih berganti undang-undang, ternyata belum berhasil
  memecahkan berbagai persoalan tersebut, apalagi
  menyelesaikan seluruh persoalan.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:634
posted:5/24/2010
language:Indonesian
pages:41