Lembaga Pendidikan Islam Era Awal Islam

Document Sample
Lembaga Pendidikan Islam Era Awal Islam Powered By Docstoc
					 Makalah Disusun Dalam Rangka Memenuhi Tugas Mata Kuliah :

                  Sejarah Pendidikan Islam




                       Dosen Pengampu:

                    Ainul Harits, Lc., M.Ag.




                            Oleh :

                Hery Witanto (2008120020079)




           FAKULTAS TARBIYAH BAHASA ARAB

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) ALI BIN ABI THALIB

                        SURABAYA
                          0

                            2010
        Pendidikan adalah sebuah keniscayaan untuk melakukan perubahan nyata
dari masyarakat jahili menuju masyarakat madani. Islam memberikan perhatian
besar terhadap pendidikan. Hal ini dapat dilihat dari awal mula turunnya wahyu
kepada Nabi Muhammad adalah ayat yang memerintahkannya untuk membaca,
(surat al-Alaq 1-5). Membaca yang dimaksudkan adalah mengulang pelafalan
ayat-ayat yang dibacakan oleh malaikat Jibril kepadanya. Hal ini adalah cara yang
memungkinkan pada saat itu mengingat Nabi Muhammad adalah seorang yang
ummi, yang tidak dapat menulis dan membaca (tulisan). Maka demikianlah
seterusnya Beliau mendapat pengajaran dari Allah, di samping juga Allah
memerintahkannya untuk mengajarkan ilmu-ilmu itu kepada kaumnya.

        Untuk menjaga keberlangsungan, keteraturan, dan ketertiban pendidikan,
sehingga dapat mencapai sasaran yang diinginkan, adalah sangatlah urgen
pembentukan suatu lembaga, yaitu lembaga pendidikan. Dalam perjalanan
sejarahnya yang harum, dikarenakan sebuah tuntutan zaman, lembaga ini
mengalami perkembangan dari masa ke masa dan memunculkan bentuk lembaga
baru. Sehingga akhirnya kita mendapati berbagai bentuk kelembagaan dalam
pendidikan Islam dengan masing-masing keistimewaannya. Berikut kami
paparkan lembaga-lembaga tersebut yang muncul di masa awal Islam.




    A. Daar (Rumah)

        Lembaga pendidikan Islam pertama dalam sejarah Islam adalah lembaga
pendidikan yang berada dalam rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam di Mekkah1 di
atas bukit Shafa.2 Di sinilah Rasulullah memberikan pencerahan dan pengajaran
agama Islam kepada sejumlah orang yang menerima dakwah yang Beliau lakukan
dengan sembunyi-sembunyi.

1
  Dr. Abbas Mahbub, Ushul al-Fikri at-Tarbawy fi al-Islam (Beirut: Dar Ibn Katsir, 1987 M/1408
H), hlm. 70.
2
  Shofiyyurrahman al-Mubarakfury,ar-Rahiq al-Makhtum (Riyadl: Dar al-Islam, 1994 M/1414 H),
hlm. 91-92.
                                              1
        Selain juga terdapat pengajaran-pengajaran tersembunyi di masing-masing
rumah sahabat Beliau, dengan mendatangkan seorang sahabat yang telah belajar
al-Quran dari Beliau, untuk membacakan dan mengajarkannya kepada penghuni
rumah yang telah masuk Islam, sebagaimana dalam kisah awal mula Umar bin al-
Khattab masuk Islam, yang mana ia mendapati Khabbab bin al-Aratti sedang
membacakan al-Quran untuk saudara perempuan Umar, Fathimah, dan suaminya,
Sa’id bin Zaid di rumah keduanya.3

        Pada fase Mekkah, geliat pendidikan Islam di Madinah setelah musim haji
tahun kesebelas dari kenabian juga memulai babak baru. Hal ini berkat gerakan
dakwah yang dilancarkan oleh beberapa orang dari Bani Khazraj dari penduduk
Yatsrib (Madinah) yang menerima dakwah Rasulullah pada saat menunaikan haji
ke Mekkah. Ketika kembali ke Madinah mereka memulainya dengan menemui
para   pembesar      kabilah-kabilah      di       Madinah,   menerangkan      Islam    dan
mendakwahkannya. Mereka masuk dari pintu ke pintu hingga hampir tidak ada
rumah melainkan penghuninya telah mengetahui berita akan kenabian
Muhammad bin Abdillah dan risalah Islam yang dia bawa.4 Namun mereka
tidaklah puas demikian saja, bahkan mereka mengajukan kepada Rasulullah agar
mengutus ke Madinah seorang yang dapat mengajari Islam dan al-Quran. Maka
kemudian Rasulullah mengutus Mush’ab bin Umair5 setelah terlaksana Baiat
Aqabah pertama pada musim haji tahun keduabelas kenabian dan mendapat
sambutan dan penerimaan dari sebagian besar penduduk Madinah.

        Jika mengacu pada pembahasan pendidikan Islam, maka pada masa ini
tidak didapati lembaga pendidikan Islam melainkan rumah-rumah para sahabat.
Adapun penyebutan adanya lembaga yang disebut kuttab6 oleh beberapa literatur
adalah kurang tepat, meski sebelum masa Islam lembaga kuttab telah didapati di



3
  Ibid, hlm. 103.
4
  Ibid, hlm. 136, 143, dan 144.
5
  Ibid, hlm. 144. Lihat Dr. Muhammad Musthafa al-A’dzam, Diraasaat fi al-Hadits an-Nabawy
wa Tarikh Tadwinihi (Bairut : al-Maktab al-Islamy, 1992 M/1413 H), hlm. 48.
6
   Kuttab mengandung unsur huruf kaf-ta’-ba’ seperti pada ka-ta-ba, kitabah (menulis), kuttab
berasal dari kata taktiib, ta’liim al-kitabah (pengajaran tulis-menulis).
                                               2
Mekkah, Thaif, Madinah, al-Anbar, al-Hirah, dan Daumatul Jandal (dekat Syam)7,
namun lembaga-lembaga ini bukanlah lembaga pendidikan Islam.

       Pendidikan di rumah ini agaknya berlanjut hingga Nabi berhijrah ke
Madinah, di samping pembelajaran untuk para sahabat yang tinggal di serambi
(shuffah) masjid Beliau yang lama. Dr.Muhammad Mushtafa al-A’dzamy dalam
bukunya menukil perkataan Ibnu Sa’ad, bahwa Ibnu Ummi Maktum berhijrah ke
Madinah tidak lama setelah perang Badar, lalu singgah di daar al-qurro’ yaitu di
rumah Makhramah bin Naufal. Entah apakah rumah itu sebagai tempat tinggal
para qurro’ (penghafal al-Quran) atau sebagai tempat belajar atau kedua-duanya,
dan Dr. Muhammad cenderung dengan kemungkinan terakhir.8

       Pendidikan di rumah-rumah ulama masih berlanjut hingga kurun-kurun
berikutnya meskipun pusat pendidikan beralih ke masjid. Namun dikarenakan
alasan tertentu sebagian ulama membuka majelis di rumah-rumah mereka, yang
terkadang diperuntukkan untuk satu atau beberapa siswa didik tertentu pula.

       Pelajaran yang dapat dipetik, bahwa rumah adalah tempat yang perlu
mendapat perhatian besar dalam menciptakan pendidikan awal bagi anak-anak.
Terlebih pada akhir-akhir ini homescholling telah mendapat perhatian dan
pengakuan dari pemerintah. Mengingat perkataan orang arab bahwa ibu adalah
madrasah pertama, maka layaklah jika kita semakin mendayagunakan wanita
dalam kapasitasnya sebagai ibu dari anak-anaknya, untuk mendidik dan membina
mereka hingga menjadi generasi yang cerdas dan terampil. Karenanya wanita
hendaknya mengambil kesempatan yang seluas-luasnya untuk meningkatkan
kemapanan     ilmu    dan    mengambil     peran    yang    sebesar-besarnya     dalam
mendedikasikan dirinya pada jalur yang tepat sesuai fitrahnya dalam rangka ikut
serta membangun masyarakat, bangsa, dan negara.




7
  Dr. Muhammad Musthafa al-A’dzam, Diraasaat fi al-Hadits an-Nabawy wa Tarikh Tadwinihi,
h.44. Lihat juga Ushul al-Fikri at-Tarbawy fi al-Islam, h.78.
8
  Dr. Muhammad Mushtafa al-A’dzamy, Diraasaat fi al-Hadits an-Nabawy, hlm.53.
                                           3
     B. Kuttab

        Di muka telah disebutkan bahwa lembaga kuttab ini telah ada sejak masa
jahiliyyah sebelum Islam. Pada awal masa Islam, lembaga khusus seperti ini
dalam artian sebagai lembaga pendidikan Islam belum ada.9 Namun
dimungkinkan pengajaran baca-tulis dilakukan di rumah-rumah para sahabat di
samping pengajaran Islam, mengingat pada fase itu ada sejumlah kecil dari para
sahabat Nabi yang dapat menulis dan membaca semisal Abu Bakar ash-Shiddiq,
Umar bin al-Khattab, Utsman bin Affan dan Abdullah bin Amr bin al-Ash, dan
selainnya, serta dari kaum wanita semisal Hafshah istri Nabi, Ummu Kultsum
binti Uqbah, dan selain mereka.10

        Pasca hijrah setelah pendirian masjid, nampaknya Rasulullah menunjuk
beberapa orang yang kompeten untuk mengajarkan menulis dan membaca kepada
ahli shuffah semisal Abdullah bin Sa’id bin al-Ash, Ubadah bin ash-Shomit, dan
Ubay bin Ka’ab. Dan beberapa tawanan perang Badar dari kaum musyrikin
menebus dirinya dengan mengajarkan menulis kepada anak-anak.11

        Pada    masa     Khulafaur     Rasyidin     pendidikan     terhenti    pada    para
qurro’(penghafal al-Quran), karena para sahabat tersibukkan dengan dakwah dan
membangun pondasi-pondasi daulah yang baru.12 Barulah pada masa daulah
Umawiyyah keberadaan kuttab semakin berkembang seiring berkembangnya
wilayah daulah islamiyyah. Selain kuttab yang terintegrasi dengan masjid terdapat
kuttab yang bersifat independen dengan bangunan terpisah yang mampu
menampung peserta didik yang lebih banyak.

        Berdasar kandungan kurikulum yang diajarkan di kuttab, yang terdiri dari
pengajaran menulis dan membaca, menghafal al-Quran, kaligrafi, dan sirah Nabi,
dapatlah dikatakan bahwa pendidikan di kuttab adalah pendidikan dasar, semisal
TPA/TPQ, TK/RA, hingga SD/MI. Hanya saja waktu kelulusan antara satu anak

9
  Dr. Abbas Mahbub, Ushul al-Fikri at-Tarbawy fi al-Islam, hlm. 78.
10
   Ibid, hlm. 69 dan lihat juga Dr. Muhammad Mushtafa al-A’dzamy, Diraasaat fi al-Hadits an-
Nabawy, hlm.53.
11
   Dr. Muhammad Mushtafa al-A’dzamy, Diraasaat fi al-Hadits an-Nabawy, hlm. 50.
12
   Dr. Abbas Mahbub, Ushul al-Fikri at-Tarbawy fi al-Islam, hlm. 74.
                                             4
dengan lainnya tidaklah sama, sangat tergantung dengan kecerdasan dan
ketekunan masing-masing. namun di sisi lain sistem pendidikan mereka jauh
efektif dan efisien dibandingkan sistem pendidikan saat ini.13 Tentunya ini perlu
untuk menjadi perhatian para pendidik ke depan untuk mengevaluasi kembali
metode pengajaran mereka dan tidak segan untuk mengembangkan metode baru
meskipun     dengan    mengambil      metode    pendidikan     Islam    masa    awwal.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Malik bahwa kondisi (generasi) akhir
umat ini tidak akan menjadi baik melainkan dengan sesuatu yang karenanya
kondisi (generasi) awal mereka telah menjadi baik.

     C. Masjid

        Pertama yang dilakukan Rasulullah setiba di Madinah adalah membangun
masjid. Mengingat ia di samping sebagai tempat sholat berjamaah juga berfungsi
sebagai pusat dakwah dan pendidikan, markas strategi perang, dan peradilan.
Rasulullah benar-benar mengoptimalkan fungsional masjid dalam membangun
masyarakat Madinah menuju peradaban yang tidak didapati semisalnya hingga
kini.

        Di masjid Beliau terdapat tujuh puluh orang penuntut ilmu atau lebih, yang
tinggal di serambi lama masjid yang disebut shuffah, dan mereka dikenal dengan
sebutan ahlu shuffah, di antara mereka adalah Abu Hurairah yang senantiasa
mengikuti pengajaran Rasulullah. Nabi memberikan perhatian besar kepada ahlu
shuffah dengan memberi mereka makan dan sebagainya. Nabi juga mengutus
beberapa di antara mereka ke daerah-daerah hasil penaklukan yang membutuhkan
pengajar agama Islam dan al-Quran, dan imam sholat bagi penduduknya.




13
 Mira Astuti, Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam Era Awal ; Rumah, Kuttab, Masjid, Saloon,
Dan Madrasah, dalam Sejarah Pendidikan Islam dengan Editor : Prof. Dr. H. Samsul Nizar,
M.Ag., (Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2009), hlm. 115.
                                           5
        Di Madinah ketika itu selain masjid Nabi juga tercatat sembilan masjid
yang lain, dan dapat dimungkinkan juga kesembilan masjid itu difungsikan
sebagai madrasah14 dalam artian tempat belajar.

        Keberfungsian masjid sebagai pusat pendidikan berlanjut hingga kurun
setelahnya, bahkan hingga saat ini. Sistem pendidikan yang diterapkan adalah
sebagaimana yang diterapkan oleh Rasulullah, yaitu berupa halaqah-halaqah.
Sistem ini selain menyentuh dimensi intelektual peserta didik juga menyentuh
dimensi emosional dan spiritual mereka. Metode diskusi dan dialog kebanyakan
dipakai dalam berbagai halaqah. Dikte (imla’) biasanya memainkan peranan
pentingnya, tergantung kepada kajian dan topik bahasan. Uraian materi
disesuaikan dengan kemampuan peserta halaqah. Menjelang akhir sesi, diadakan
evaluasi    untuk     mengetahui      sejauh       mana   penyerapan     materi     beserta
pemahamannya terhadap peserta didik. Terkadang pengajar menyempatkan diri
untuk memeriksa catatan peserta didik, mengoreksi dan menambah seperlunya.
Seorang peserta didik juga bisa masuk dari satu halaqah ke halaqah lainnya sesuai
orientasi dan materi belajar yang ia ingin capai.15

        Masjid-masjid di masa keemasan Islam selalu dipenuhi dengan pencinta-
pencinta ilmu. Mereka tidak segan-segan melintasi ganasnya gurun pasir,
menyeberangi        lautan,   menempuh         puluhan    hingga     ratusan    kilometer,
menghabiskan waktu berbulan-bulan, demi mendatangi halaqah ilmu di Mekkah,
Madinah, Bashrah, Kuffah, Baghdad, Fustat (Mesir), dan Damaskus. Meskipun
tidak menutup kemungkinan di selain kota-kota peradaban Islam ini, namun sejak
awal kota-kota ini telah mengalami perkembangan yang menakjubkan. Hal ini
dikarenakan kota-kota tersebut sebagai pusat pemerintahan atau karena ia dekat
dengan pusat pemerintahan, terlebih di masa daulah Umawiyyah dan Abbasiyah.

        Di masjid-masjid ini di masa itu terdapat ulama-ulama yang mumpuni,
memiliki akreditasi dan kapabilitas keilmuan yang sulit dicari tandingannya.

14
   Dr. Muhammad Mushtafa al-A’dzamy, Diraasaat fi al-Hadits an-Nabawy, hlm. 52.
15
  Zainal Efendi Hasibuan, “Profil Rasulullah Sebagai Pendidik Ideal : Telaah Pola Pendidikan
Islam Era Rasulullah Fase Mekkah dan Madinah” dalam Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam,
(Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2009), hlm. 10.
                                               6
Mereka memiliki spesialisasi keilmuan semisal dalam ilmu tafsir terdapat
Qotadah, Mujahid, Ikrimah, Zaid bin Aslam, dan selain mereka. Kemudian dalam
jajaran ahli bidang fiqih adalah Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam asy-
Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal. Selanjutnya berderet jajaran penjaga
hadits-hadits Rasulullah di antaranya Sayyid bin Musayyib, Atha’ bin Abi Rabah,
dan selainnya, juga Sibawaih dengan madrasah nahwunya, dan selain mereka
sangatlah banyak.

           Adalah sebuah agenda besar bagi para pendidik saat ini untuk
menumbuhkan semangat belajar kepada anak didiknya seperti yang pernah
dimiliki ulama-ulama besar dengan kilauan ilmu dan keharuman perjalanan hidup
mereka dalam menuntut ilmu, hingga mencapai kedudukan yang demikian
tingginya. Hal ini selain memerlukan pondasi sistem pendidikan yang
mendukung, juga menuntut keteladanan yang dapat diambil dari kepribadian para
pendidik sendiri. Di samping juga dorongan motivasi yang terus-menerus secara
emosional dan spiritual dari pendidik kepada anak didiknya, di masjid atau di
lembaga pendidikan lainnya.

      D. Shoolunat al-Adab

           Shoolunat al-Adab pada mulanya merupakan majelis sastra yang
diselenggarakan oleh para khalifah. Penyair-penyair arab berkumpul dalam
majelis ini memperdengarkan syairnya kepada khalifah pada saat itu. Jika khalifah
merasa senang dengan syair seorang penyair, ia akan memberi sang penyair
sejumlah hadiah. Majelis ini telah ada pada masa daulah Umawiyyah dan semakin
berkembang pada masa daulah Abbasiyah.

           Adapun Harun Nasution yang berpendapat bahwa shoolun al-adab yang
bertolak dari majelis-majelis khulafaur rasyidin, sebagai tempat untuk berfatwa
dan sarana diskusi16 adalah suatu statemen yang memerlukan pembuktian. Jika
yang dimaksud shoolun al-adab adalah majelis musyawarah dan diskusi terhadap
berbagai permasalahan yang mereka hadapi, maka ini benar telah ada di masa

16
     Mira Astuti, Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam Era Awal, hlm. 118.
                                               7
Umar bin al-Khaththab yang mana di antara anggota majelisnya adalah Abdullah
bin Abbas yang paling muda di antara anggota-anggota yang lain17, namun Umar
memilihnya dikarenakan kecerdasannya dalam menganalisa suatu permasalahan.
Namun pengambilan kesimpulan seperti ini keluar dari pengertian Shoolun
al-adab sebagai suatu majelis kasusastraan atau sanggar seni dan sastra, atau yang
semisalnya.

        Masing-masing shoolunat al-adab pada era Umawiyyah dan Abbasiyyah
memiliki tata susila yang khusus dan kebiasaan yang telah menjadi tradisi,
sehingga setiap yang diperkenankan menghadirinya harus mengikuti aturan
tersebut. Dan jika dibandingkan sekarang, shoolun al-adab saat itu sudah setara
dengan universitas sastra yang ada di dunia. Keberadaannya bertahan hingga akhir
daulah Abbasiyyah.18

     E. Madrasah

        Kata Madrasah berasal dari bahasa Arab yang berarti tempat belajar siswa,
sehingga mencakup rumah, istana, masjid, kuttab, surau, shoolun al-adab, dan
lain-lain.19 Sedangkan secara terminologis adalah lembaga pendidikan yang
mengajarkan ilmu agama Islam secara formal dengan menggunakan sarana belajar
dan kurikulum dalam bentuk klasikal. Dari pengertian tersebut nampak bahwa
institusi madrasah berbeda dengan institusi-institusi pendidikan Islam sebelumnya
terutama dari aspek pengajaran.20

        Ahli sejarah berbeda pendapat tentang awal munculnya madrasah.
Sejarawan seperti George Makdisi dan Ahmad Shalabi, mengungkapkan bahwa
madrasah untuk pertama kali didirikan oleh Wazir Nizam al-Mulk pada tahun 459
H. ditepi sungai Dajlah (Tigris) Baghdad yang kemudian dikenal dengan



17
   Lihat Shahih Bukhari, Kitab at-Tafsir/Surat “Idza Jaa-a Nashrullah”/hadits ke-4969 dan 4970.
18
   Mira Astuti, Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam Era Awal, hlm. 119-120.
19
   Ibid, hlm. 120.
20
    Ode Abdurrachman, “Eksistensi dan Perkembangan Lembaga Pendidikan Islam (Menelusuri
Sejarah dan Perkembangannya Masa Abbasiyyah)”, dalam http://infolepas.blogspot.com/
2006/05/eksistensi-dan-perkembangan-lembaga.html (21 Februari 2010).
                                              8
madrasah Nizamiyah. Dan akhirnya dikembangkan sampai di Balkah, Nishapur,
Harrah, Asfahan, Bashrah, dan sekitarnya.

          Adapun peneliti sejarawan, Richard Bulliet dan dibenarkan oleh sejarawan
pendidikan Islam Naji Ma’ruf mengungkapkan bahwa eksistensi madrasa-
madrasah yang lebih tua ada di kawasan Nishapur, Iran pada sekitar tahun 400 H,
juga terdapat madrasah di wilayah Persia yang berkembang 165 tahun sebelum
madrasah Nizamiyah. Madrasah yang tertua ini adalah madrasah Miyan Dahiya
yang didirikan oleh Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad di Nishapur.

          Namun demikian harus diakui bahwa pengaruh madrasah Nizamiyah,
ternyata melebihi pengaruh madrasah-madrasah sebelumnya. Ia merupakan
fondasi sekliagus prototipe dari kelanjutan pendidikan Islam saat ini.21 Maka
tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa pendirian universitas-universitas di
Barat merupakan hasil inspirasi dari pengaruh madrasah Nizamiyah. Demikian
halnya George Makdisi, dalam beberapa tulisannya mengatakan bahwa tradisi
akademik saat ini secara historis banyak mengambil keuntungan dari tradisi
madrasah.22




          Keberadaan institusi pendidikan pada masa keemasan Islam hendaknya
menjadi perhatian bersama insan pendidik saat ini. Bagaimana mereka dapat
mencapai kemajuan dari peradaban yang gelap menuju peradaban yang terang
benderang. Berkembang tahap demi tahap sesuai tuntutan jaman. Menggerakkan
hati demikian banyak orang untuk mencintai ilmu dan bersungguh-sungguh dalam
meraihnya hingga muncul di antara mereka orang-orang yang menjadi rujukan
dalam bidangnya.

          Bertolak dari gua Hira’ di mana Rasulullah beribadah mendekatkan diri
kepada Allah, saat Jibril mendatanginya demi menyampaikan wahyu yang berisi
perintah membaca. Maka semenjak itu Rasulullah memulai memberikan


21
     Mira Astuti, Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam Era Awal, hlm. 121.
22
     Ode Abdurrachman, “Eksistensi dan Perkembangan Lembaga Pendidikan”.
                                              9
pengajaran kepada kerabat dekatnya dan orang-orang terdekatnya dengan
sembunyi-sembunyi. Ketika pengikut Beliau mulai berbilang maka diadakan
pengajaran terpusat di rumah al-Arqam.

       Kondisi kemudian menuntut didirikannya kuttab untuk pengajaran baca-
tulis, dan pendidikan lanjutan setelah itu adalah halaqah-halaqah di masjid.
Kemapanan hidup seiring meluasnya wilayah daulah Islam melahirkan kesukaan
dan kecintaan akan seni sastra sehingga diperlukan wadah yang dapat menampung
para peminatnya berupa shoolunat al-adab. Setelah itu berdirilah madrasah yang
pengajarannya bersifat klasikal, tertib, dan teratur.

       Demikianlah metamorfose institusi pendidikan Islam d i masa lalu. Telah
melahirkan banyak intelektual berkompeten dalam bidangnya dan berdedikasi
tinggi dalam menghantarkan generasi setelah mereka menuju kegemilangan dan
puncak keilmuan, menumbuhkan semangat untuk berkhidmat kepada ilmu
keislaman dan berani bereksplorasi dalam ilmu keduniawian.

       Diperlukan suatu racikan kurikulum yang seimbang antara pendidikan
spiritual-agamis dalam hal ini Islam dengan nilai-nilai al-Quran dan as-Hadits
yang agung, dan pendidikan intelektual-saintis, juga pendidik yang memiliki
kompetensi dan dedikasi tinggi menghilangkan kebodohan dari anak-didiknya,
teladan yang baik dalam segala perilakunya, untuk memperoleh pencapaian
pendidikan Islam yang maju dengan tidak meninggalkan aspek keduniaan pada
era modern saat ini.




                                          10
Abdurrachman, Ode, Eksistensi dan Perkembangan Lembaga Pendidikan
Islam (Menelusuri Sejarah dan Perkembangannya Masa Abbasiyyah,
dalam   http://infolepas.blogspot.com/2006/05/eksistensi-dan-perkembang
an-lembaga .html, (21/02/2010).

Al-A’dzam, Dr. Muhammad Musthafa, Diraasaat fi al-Hadits an-Nabawy
wa Tarikh Tadwinihi, Bairut : al-Maktab al-Islamy, 1992 M/1413 H.

Al-Mubarakfury, Shofiyyurrahman, ar-Rahiq al-Makhtum, Riyadl: Dar al-
Islam, 1994 M/1414 H.

Astuti, Mira, Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam Era Awal ; Rumah,
Kuttab, Masjid, Saloon, Dan Madrasah, dalam Sejarah Pendidikan Islam
dengan Editor : Prof. Dr. H. Samsul Nizar, M.Ag., Jakarta : Kencana
Prenada Media Group, 2009.

Hasibuan, Zainal Efendi, Profil Rasulullah Sebagai Pendidik Ideal : Telaah
Pola Pendidikan Islam Era Rasulullah Fase Mekkah dan Madinah, dalam
Sejarah Pendidikan Islam dengan Editor : Prof. Dr. H. Samsul Nizar,
M.Ag., Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2009.

Mahbub, Dr. Abbas, Ushul al-Fikri at-Tarbawy fi al-Islam, Beirut: Dar Ibn
Katsir, 1987 M/1408 H.




                                  11

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:6807
posted:5/23/2010
language:Indonesian
pages:12