Kemiskinan ; Inspirasi Menuju Perubahan

Document Sample
Kemiskinan ; Inspirasi Menuju Perubahan Powered By Docstoc
					0
       Kemiskinan adalah masalah sosial yang ternyata menjadi sebab terjadinya
beberapa problem sosial di masyarakat seperti kejahatan, prostitusi, kurang gizi,
dan kerusakan lingkungan. Bertolak dari itu tulisan ini hendak memaparkan
korelasi antara kemiskinan dan problem-problem sosial yang menyebabkan dan
atau disebabkan oleh kemiskinan. Karena dengan mengetahui hal itu diharapkan
dapat membantu dalam menentukan kebijakan atau solusi yang tepat untuk
menyudahi semua problem sosial tersebut. Metode yang digunakan adalah dengan
mengumpulkan data sekunder berupa buku-buku bacaan dan artikel-artikel di
internet yang relevan dengan pembahasan. Dari pengkajian diketahui beberapa
pengertian atau batasan kemiskinan, terutama oleh BPS dan Bank Dunia.
Diketahui pula bahwa penyebab kemiskinan ada tiga ; natural, kultural, dan
struktural. Didapatkan juga hubungan antara kemiskinan dengan kesehatan,
pendidikan, tindak kriminal, prostitusi, kerusakan lingkungan, dan perilaku
masyarakat miskin beserta solusi sebagai arah pembangunan yang hendaknya
direalisasaikan demi perubahan menuju kemajuan.




                                        1
           Makalah ini hendak menguraikan beberapa problematika sosial-
masyarakat yang timbul akibat kemiskinan. Untuk mendekatkan kepada inti
pembahasan maka dipaparkan pula pengertian kemiskinan, macam-macam tolok
ukurnya,       sebab-sebabnya,       dan   kaitan    antara    kemiskinan      dan    beberapa
problematika sosial yang terdapat pada masyarakat. Kemudian pada akhir
pembahasan akan coba diketengahkan beberapa solusi dalam mengatasi
kemiskinan berikut kesimpulan dari pembahasan.

           Penulisan berangkat dari kenyataan bahwa kemiskinan menjadi satu
masalah sosial yang amat serius, tumbuh di setiap dimensi dan sendi-sendi
kehidupan bermasyarakat. Kemiskinan merupakan fenomena yang begitu mudah
dijumpai di mana-mana. Tak hanya di desa-desa, tapi juga di kota-kota.

           Kemiskinan pun menimbulkan beberapa problem sosial yang menghambat
laju pembangunan menuju bangsa yang maju dan besar. Suatu bangsa tidak akan
menjadi bangsa yang besar kalau mayoritas masyarakatnya masih miskin dan
lemah. Maka, untuk menjadi bangsa yang besar, mayoritas masyarakatnya tidak
boleh hidup dalam kemiskinan dan lemah.1




           Miskin secara Etimologi berarti tidak berharta; serba kekurangan
(berpenghasilan sangat rendah); kemiskinan adalah hal miskin; keadaan miskin.2



           Dalam pengkajian terhadap kemiskinan didapati beberapa terminologi
yang sering digunakan. Terminologi ini dapat membantu memperkenalkan

1
  Abdul Ghopur, “Indonesia dan problem kemiskinan” dalam http://www.dutamasyarakat.com/
artikel-27674-indonesia-dan-problem-kemiskinan.html, (26/04/2010).
2
    Anonim, “Kamus Besar Bahasa Indonesia” dalam http://pusatbahasa.diknas.go.id/, (20/04/2010).




                                                 2
batasan (tolok ukur) kemiskinan dan sebab-sebabnya sehingga memudahkan
dalam mengurai benang kusut kemiskinan dengan segala problematikanya.

      1. Kemiskinan Relatif

           Menurut Coehran, Mayer Core, dan Cayer, kemiskinan relatif adalah
kondisi kemiskinan seseorang dalam kaitannya dengan rata-rata kondisi
kemiskinan orang lain dalam suatu masyarakat. 3

           Misalkan seorang berpenghasilan 20 juta rupiah per bulan relatif lebih
makmur dibandingkan orang yang berpenghasilan 2 juta rupiah per bulan. Atau
seorang berpenghasilan 2 juta rupiah per bulan dengan jumlah anggota keluarga 5
orang relatif kekurangan dibandingkan dengan seorang berpenghasilan sama
namun hanya hidup berdua dengan istrinya.

           Kemiskinan relatif merupakan kondisi miskin karena pengaruh kebijakan
pembangunan yang belum mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat
sehingga menyebabkan ketimpangan distribusi pendapatan. Standar minimum
disusun berdasarkan kondisi hidup suatu negara pada waktu tertentu dan perhatian
terfokus pada golongan penduduk “termiskin”, misalnya 20 persen atau 40 persen
lapisan      terendah     dari   total   penduduk      yang    telah    diurutkan    menurut
pendapatan/pengeluaran. 4

           Berdasar penghitungan tersebut akan diketahui berapa persen dari PDB
yang disumbangkan oleh 40 persen lapisan terendah dari total penduduk. Pada
Sesunas BPS 2009 dikatahui bahwa 40 % penduduk dengan pendapatan terendah
menyumbangkan 21,22 % dari total PDB nasional. Sedangkan 40 % penduduk
dengan pendapatan menengah menyumbang sebesar 37,54 % dan 20 % penduduk
dengan pendapatan tertinggi menyumbang sebesar 41,24 %. Ketimpangan
distribusi pendapatan pada tahun 2009 naik 0,02 sebesar 0,37 dari 0,35 pada tahun



3
    Anonim, tanpa judul, http://pandeglangkab.go.id/files/desa_miskin__ii.pdf
4
    Anonim, “Kemiskinan” dalam http://kepri-dev.bps.go.id/en/description-a-terms/84-penjelasan-
teknis/100-kemiskinan, (26/04/2010).




                                                3
2008. Nol menujukkan kemerataan sempurna dan satu menggambarkan
ketimpangan sempurna.

      2. Kemiskinan Absolut

           Prijono Tjiptoherijanto memberikan pengertian kemiskinan absolut
sebagai ketidakmampuan seseorang dalam melampaui ukuran kemiskinan yang
telah ditetapkan.5

           Kemiskinan absolut ditentukan berdasarkan ketidakmampuan untuk
memenuhi kebutuhan pokok minimum seperti pangan, sandang, kesehatan,
perumahan dan pendidikan yang diperlukan untuk bisa hidup dan bekerja.
Kebutuhan pokok minimum diterjemahkan sebagai ukuran finansial dalam bentuk
uang. Nilai kebutuhan minimum kebutuhan dasar tersebut dikenal dengan istilah
garis kemiskinan. Penduduk yang pendapatannya dibawah garis kemiskinan
digolongkan sebagai penduduk miskin.6

           Gambaran kemiskinan absolut adalah seperti tragedi Daeng Basse, nama
ibu yang meninggal dunia bersama anaknya yang berusia lima tahun. Mereka
meregang nyawa di rumah mereka yang terletak di sebuah sudut Kota Makassar
karena selama tiga hari mereka tidak makan apa-apa, sedangkan anak yang satu
lagi harus dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan sekarat. Daeng Basse
meninggalkan desanya di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, untuk beradu
nasib di Makassar, kota yang menjanjikan perbaikan hidup. Di Makassar dia
bekerja sebagai tukang cuci, menopang penghasilan suaminya yang berjuang
sebagai tukang becak. Penghasilan mereka statis, sedangkan harga-harga terus
melonjak naik di luar kontrol bersamaan dengan kebutuhan yang juga meningkat
karena keduanya beranak-pinak, hingga akhirnya tragedi itu terjadi. Meski




5
    Anonim, tanpa judul, http://pandeglangkab.go.id/files/desa_miskin__ii.pdf
6
    Anonim, “Kemiskinan” dalam http://kepri-dev.bps.go.id/en/description-a-terms/84-penjelasan-
teknis/100-kemiskinan, (26/04/2010).




                                                4
dikabarkan bahwa kematian ibu dan anak itu akibat diare, namun tentunya kalau
mereka tidak miskin, mereka tidak akan mati karena diare. 7

         Ketidakmampuan Daeng Basse sekeluarga untuk makan paling tidak
sekali sehari bahkan hingga tidak mampu makan apapun selama tiga hari
menandakan keluarga ini berada di bawah garis kemiskinan. Atau jika
diasumsikan bahwa akibat kematian mereka adalah diare, ketidakmampuan
mereka untuk berupaya mengatasi penyakit “remeh” semacam diare hingga
berlarut-larut, menunjukkan bahwa mereka tidak ada uang yang dianggarkan
untuk mengatasi penyakit tersebut.

    3. Kemiskinan Struktural

        Soetandyo Wignjosoebroto dalam “Kemiskinan Struktural : Masalah dan
Kebijakan” yang dirangkum oleh Suyanto mendifinisikan, kemiskinan stuktural
adalah kemiskinan yang ditengarai atau didalihkan bersebab dari kondisi struktur,
atau tatanan kehidupan yang tak menguntungkan karena tatanan itu tak hanya
menerbitkan akan tetapi juga melanggengkan kemiskinan di dalam masyarakat. 8

        Dengan kata lain, kemiskinan struktural artinya struktur yang membuat
orang menjadi miskin, dimana masyarakat tidak dilibatkan dalam pengambilan
keputusan dan tidak mendapatkan akses secara baik. 9

        Misalnya, kebijakan pendidikan yang mengharuskan siswa memiliki
seragam sekolah menyebabkan banyak anak usia sekolah yang tak dapat
merasakan pendidikan. Masyarakat menjadi miskin oleh karena birokrasi yang
korup, peraturan yang memihak, yang membuat mereka tak dapat menjangkau




7
   Anonim, “Kemiskinan yang Membunuh (Editorial Media Indonesia)” dalam http://agus
didin.multiply.com/journal/item/113, (13/05/2010).
8
  Anonim, “Kemiskinan” dalam http://kepri-dev.bps.go.id/en/description-a-terms/84-penjelasan-
teknis/100-kemiskinan, (26/04/2010).
9
 Sarmiati, “Kemiskinan Kultural dan FGD-RK” dalam http://www.p2kp.org/wartaarsipdetil.asp
?mid=1939&catid=2&, (26/04/2010).




                                              5
hak-hak dasar untuk kesejahteraan seperti sarana kesehatan, sarana pendidikan,
pelayanan publik.10

          Gambaran kemiskinan adalah sebagaimana yang harus dialami oleh
Sahara, 34, warga Kampung Panglayungan,RT 03/03, Ds. Kubang, Kec. Pasir
Kuda, Kab. Cianjur, Jawa Barat, tewas saat menjalani proses persalinan di
Puskesmas, Pagelaran, Cianjur Selatan. Diduga, tewasnya korban akibat kelalaian
petugas Puskesmas. Korban terlantar akibat pihak keluarga tidak mampu
menyiapkan biaya administrasi sebesar Rp.200 ribu.11

          Ketidakberdayaan Wawan, suami Sahara, seorang buruh tani, untuk segera
mendapatkan uang administrasi tersebut, yang secara nominal relative kecil, tapi
jumlah sebesar terasa berat baginya, dan pelayanan Puskesmas yang tidak optimal
karena biaya administrasi yang tidak segera terbayar adalah contoh dari sekian
kasus warga miskin yang tidak mampu mengakses pelayanan publik karena
kemiskinan mereka dan diskriminasi sosial oleh para penyelenggara pelayanan
publik.

      4. Kemiskinan Kultural

          Kemiskinan kultural adalah budaya yang membuat orang miskin, yang
dalam antropologi disebut Koentjaraningrat dengan mentalitas atau kebudayaan
kemiskinan sebagai adanya budaya miskin. Seperti, masyarakat yang pasrah
dengan keadaannya dan menganggap bahwa mereka miskin karena turunan, atau
karena dulu orang tuanya atau nenek moyangnya juga miskin, sehingga usahanya
untuk maju menjadi kurang.12



10
     Rahmad Setiadi, “Kemiskinan (Bagian 1)” dalam http://www.mail-archive.com/indo-marxist@
yahoogroups.com/msg02516.html, (03/05/2010)
11
   Rustandi, “Gara-Gara Tak Mampu Bayar Administrasi Ibu Hamil Meregang Nyawa” dalam
http://www.budibach.com/home/index.php?option=com_content&view=article&id=149:gara-gara
-tak-mampu-bayar-administrasi-ibu-hamil-meregang-nyawa&catid=20:reportase&Itemid=27,
(16/05/2010).
12
  Sarmiati, “Kemiskinan Kultural dan FGD-RK” dalam http://www.p2kp.org/wartaarsipdetil.asp
?mid=1939&catid=2&, (26/04/2010).




                                              6
       Kemiskinan berkepanjangan yang menimpa seseorang hingga anak
turunnya ditambah lagi keadaannya secara struktural tidak memberikannya sedikit
celah untuk meningkatkan taraf hidupnya, akan menumbuhkan sikap pesimis,
skeptis, dan pasrah akan kondisinya tersebut. Dalam bentuk lain juga didapati
bahwa mereka cenderung enggan untuk melakukan pekerjaan kasar yang sama
seperti pekerjaan orang tua atau masyarakat miskin di daerahnya. Juga budaya
hura-hura melalui pesta atau perayaan adat.

       Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Prof. Dr. Alo Liliweri, staf
Dosen Ilmu Komunikasi pada Universitas Nusa Cendana Kupang bahwa
kebanyakan orang NTT yang dilahirkan dan dibesarkan di NTT tidak bersedia
meneruskan pekerjaan orangtuanya sebagai petani. Namun, ketika ia keluar dari
NTT atau berpindah ke kabupaten lain di NTT, ia sukses bekerja sebagai petani
atau pekerja kasar lain. Kecenderungan menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di
masyarakat NTT sangat tinggi ketimbang menjadi wiraswasta. Jika tidak diterima
sebagai PNS, mereka memilih tinggal di rumah, bergantung hidup kepada kedua
orangtua. Tidak ada kemauan menjadi wiraswasta.13

       Lebih lanjut Liliweri memaparkan bahwa kebanyakan orang NTT lebih
suka "pesta". Kehidupan sumir, hura-hura selama berhari-hari sampai larut
malam. Harta benda disumbangkan kepada tuan penyelenggara pesta dengan
pertimbangan akan mendapat balasan serupa saat ia menyelenggarakan pesta.
Sikap gotong royong saat berpesta menyebabkan segala sesuatu dipestakan,
seperti masuk rumah baru, pesta sambut baru (komuni pertama), sunatan, cukur
rambut anak, pernikahan, ibu melahirkan, wisuda, dan lulus ujian akhir nasional. 14




13
      Lihat Kris Bheda, “Menyoal Akar Kemiskinan Masyarakat Flores”           dalam
http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=3160, (05/04/2010).
14
       Kris  Bheda,   “Menyoal    Akar    Kemiskinan     Masyarakat Flores”   dalam
http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=3160, (05/04/2010).




                                         7
      5. Kemiskinan Natural

          Kemiskinan Natural adalah kondisi seseorang atau daerah tertentu yang
secara alamiah tidak dapat mendukung kesejahteraan, seperti cacat fisik, cacat
mental, usia lanjut, dan keterbatasan sumber daya alam.

          Kemiskinan ini dialami oleh seorang yang sejak lahir mengalami cacat
tubuh, tak punya kaki atau tangan, tak punya akal sehat, juga orang-orang yang
punya sifat prevert, mengurung diri, individual, sehingga membuat mereka tak
bisa mengembangkan diri, menginginkan kemajuan.

          Kemiskinan akibat kondisi alam yang tidak mendukung seperti Flores,
yang secara alamiah termasuk daerah yang gersang dan tandus. Hal ini tidak dapat
dipungkiri karena fakta membuktikan curah hujan yang rendah dan musim panas
yang panjang. Problem alamiah ini diperparah dengan keadaan geografis Flores
yang tergolong rentan akan bencana alam. Hampir sebagian besar masyarakat
Flores bertani secara musiman, dan amat tergantung pada hasil pertanian jangka
panjang. Sementara yang menetap di pesisir pantai menggantungkan hidupnya
pada hasil tangkapan laut. Dari sini dapat diukur kemampuan ekonomi rata-
ratanya, bahwa pendapatan perkapita sangat rendah dan masih terbilang berada di
bawah garis kemiskinan.15



          Menentukan tolok ukur kemiskinan akan sangat membantu dalam
pendataan statistik masyarakat miskin. Sehingga berdasarkan data statistik
tersebut dapat ditentukan kebijakan yang tepat untuk menanggulangi kemiskinan.
Berikut beberapa tolok ukur kemiskinan menurut beberapa pihak ;




15
     Kris Bheda, “Menyoal Akar Kemiskinan Masyarakat Flores” dalam http://www.wikimu.com
/News/DisplayNews.aspx?id=3160, (05/04/2010).




                                            8
      1. Kemiskinan Menurut Badan Pusat Statistik (BPS)

          Menurut BPS, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi
ekonomi untuk memenuhi kebutuhan makanan maupun non makanan yang
bersifat mendasar. 16

          Penghitungan didasarkan pada ukuran pendapatan (ukuran finansial), dari
besarnya rupiah yang dibelanjakan per kapita sebulan untuk memenuhi kebutuhan
minimum makanan dan bukan makanan. Untuk kebutuhan makanan digunakan
patokan 2100 kal per hari. Paket komoditi kebutuhan dasar makanan diwakili oleh
52 jenis komoditi (padi-padian, umbi-umbian, ikan, daging, telur dan susu,
sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, minyak dan lemak, dll). Adapun
pengeluaran kebutuhan minimum bukan makanan, meliputi pengeluaran untuk
perumahan, sandang, serta aneka barang dan jasa. Pengeluaran bukan makanan ini
dibedakan antara perkotaan dan pedesaan.17 Paket komoditi kebutuhan dasar
bukan makanan diwakili oleh 51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis
komoditi di perdesaan.

          Ketentuan BPS dengan kebutuhan makanan 2100 kkal per kapita per hari
dari kebutuhan kalori yang dianjurkan sebesar 2200 kkal per kapita per hari
adalah cukup moderat. Dr. Fiastuti Witjaksono, Sp.GK, MS, menyebutkan bahwa
kebutuhan kalori rata-rata orang dewasa adalah 1.500 hingga 2.000 kkal
tergantung aktivitas, jenis kelamin, dan berat badan.18

          Mengkonversikan 2100 kkal ke dalam rupiah tentunya sangat rumit.
Karena BPS memasukkan sebanyak 52 jenis komoditi sebagai perwakilan
termasuk minuman beralkohol. Namun kita ambil contoh sepiring nasi pecel

16
     Anonim, “Kemiskinan” dalam http://kepri-dev.bps.go.id/en/description-a-terms/84-penjelasan-
teknis/100-kemiskinan, (26/04/2010).
17
   Lihat anonim, “Syariat Islam dalam Masalah Kemiskinan” dalam http://politisimuslim.word
press.com/2007/04/18/syariat-islam-dalam-masalah-kemiskinan/, (20/04/2010), dan Anonim,
“Metode Penghitungan Kemiskinan” dalam http://sultra.bps.go.id/index.php?Itemid=2&id=39
&option=com_content&task=view, (03/05/2010).
18
  Anonim, “Sudah Diet Kok Nggak Langsing Juga?” dalam http://cyberwoman.cbn.net.id/cbprtl/
common/stofriend.aspx?x=Health+News&y=cybermed|0|0|63|5449, (15/05/2010).




                                                9
dengan seiris tempe atau tahu mengandung kira-kira 500 kkal senilai Rp.3.000.
Dengan asumsi makan 3 kali berarti tersisa 600 kkal untuk 2 gelas kopi atau 2
gelas        teh      sepadan       dengan         kira-kira     200      kkal      senilai
Rp.2.000 dan jajanan gorengan sejumlah 400 kkal senilai Rp.3.000. Sehingga
total rupiah untuk memenuhi 2100 kalori adalah 20 ribu rupiah per kapita per hari,
atau 600 ribu rupiah per bulan, atau USD 58,8 dengan asumsi nominal Rp.10.200,
atau senilai dengan pendapatan USD1 ppp per kapita per hari patokan resmi Bank
Dunia.

      2. Kemiskinan Menurut Bank Dunia

          Sejak tahun 1970-an, Bank Dunia menggunakan standar mata uang dolar
Amerika Serikat. Standar pengeluaran untuk makanan adalah 50 dolar AS untuk
pedesaan dan 75 dolar AS untuk perkotaan per kapita per tahun. Pada tahun 1971
kurs dasar dolar adalah 126 terhadap rupiah. Standar ini masih dijadikan acuan
internasional dengan modifikasi pengertian kemiskinan adalah keadaan tidak
tercapainya kehidupan yang layak dengan penghasilan USD 2,00 per hari.19

          Penghasilan USD2 per kapita per hari adalah standar yang diusulkan oleh
Bank Dunia. Adapun standar resmi yang digunakan Bank Dunia adalah orang
yang berpenghasilan setara atau dibawah USD1 per hari. Standar inilah yang
sering menjadi patokan para pengamat dan politisi di satu sisi dan pemerintah
dengan standar versi BPS. Para pengamat dan politisi menilai bahwa standar
kemiskinan BPS tidak relevan untuk saat ini dan amat jauh dibandingkan dengan
standar versi Bank Dunia. BPS pun memberikan keterangan tentang standar Bank
Dunia yang dipahami secara salah oleh para pengamat dan politisi.




19
     Anonim, “Syariat Islam Dalam Masalah Kemiskinan” dalam http://politisi muslim.wordpress
.com/2007/04/18/syariat-islam-dalam-masalah-kemiskinan/, (20/04/2010).




                                              10
         BPS tentang Standar Kemiskinan Bank Dunia20

         Metodologi yang diaplikasikan oleh BPS melalui pendekatan konsumsi
dan sangat berbeda dengan metodologi Bank Dunia. Kabiro Humas dan Hukum
BPS M Sairi Hasbullah menilai bahwa selama ini terjadi salah pemahaman dalam
membaca angka kemiskinan di beberapa para pengamat dan politisi. Karena
mereka berpatokan bahwa kategori kemiskinan adalah mereka yang memiliki
pendapatan per kapita per hari sebesar USD2 dalam pengertian kurs atau
exchange rates di masing-masing negara. Padahal yang digunakan oleh Bank
Dunia adalah USD1 dalam pengertian purchasing power parity (PPP). Artinya,
dengan USD1 dibelanjakan di Amerika, maka dihitung nilai setara dalam rupiah
jika barang dan jasa itu diperoleh di Indonesia.

         Sairi juga menerangkan bahwa selama ini Bank Dunia mengambil data
dari BPS dan diolah kembali oleh Bank Dunia. Lebih lanjut, ukuran kemiskinan
yang dipakai di Indonesia terbilang relatif moderat. Bahkan garis kemiskinan di
Indonesia jauh lebih layak dibandingkan ukuran nasional yang diaplikasikan di
China dan India dengan nilai di bawah USD1 ppp.

         Nilai tukar PPP adalah konsep yang memperhitungkan daya beli yang
berbeda-beda di tiap negara, karena standar hidup yang berbeda. Ketika perbedaan
daya beli ini diperhitungkan, nilai tukar rupiah secara riil menjadi lebih kuat dari
nilai nominalnya. Selama ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam satuan
PPP biasanya 2-3 kali lebih kuat dari kurs nominal. Artinya, satu dolar di New
York hanya cukup untuk membeli satu buah hot dog; tapi di Jakarta dengan nilai
yang sama ia bisa membeli seporsi makanan dengan asupan yang setara dengan
tiga buah hot dog.21




20
     Ahmad   Nabhani,   “BPS   Keberatan   Angka   Kemiskinan   Versi    Bank   Dunia”   dalam
http://economy.okezone.com/read/2009/08/18/20/249012/20/bps-keberatan-angka-kemiskinan-
versi-bank-dunia, (03/05/2010).
21
   Anonim, “Angka Kemiskinan dalam Kampanye” dalam http://www.siwah.com/pendidikan
/marketing-politik/angka-kemiskinan-dalam-kampanye.html, (16/05/2010).




                                              11
         Seperti dilaporkan pada The Big Mac Index 2008 oleh The Economist
bahwa harga hamburger BigMac senilai USD2,04 di Amerika sepadan dengan
Rp.18.700 di Indonesia dengan kurs terhadap dollar ppp adalah Rp.5.238 pada
saat rata-rata kurs rupiah bernilai Rp.9.152 per USD1. Sedangkan pada tahun
2009 menjadi Rp. 5.854 dengan kurs rupiah sesungguhnya Rp.10.200.

         Dalam perhitungan ppp, garis kemiskinan BPS kurang lebih setara dengan
1,74 dolar AS per hari. Garis kemiskinan BPS 2009 sebesar Rp. 200.262 per
bulan, sama dengan 34,2 dolar per bulan atau sekitar 70 sen per hari dalam
perhitungan nominal. Kita dapatkan rasio antara kurs ppp dan nominal adalah 2,4.
Artinya, standar resmi 1 dolar ppp oleh Bank Dunia setara dengan pendapatan
nominal sebesar 2,4 dolar per hari dengan nominal sebenarnya (asumsi
Rp.10.200), atau 72 dolar per bulan, atau Rp 734.400 per bulan.

      3. Kemiskinan Menurut Islam

         Dalam Islam terdapat dua istilah yang diidentikkan sebagai kemiskinan,
yaitu fakir dan miskin. Syekh an-Nabhani mengategorikan yang punya harta
(uang), tetapi tak mencukupi kebutuhan pembelanjaannya sebagai orang fakir.
Sementara itu, orang miskin adalah orang yang tak punya harta (uang), sekaligus
tak punya penghasilan.22 Sehingga berdasar pengertian ini fakir adalah seperti
orang yang berpenghasilan atau memiliki harta sebesar Rp.400 ribu per bulan
sedangkan kebutuhan pokoknyanya per bulan adalah Rp.500 ribu atau
berpenghasilan Rp.2 juta per bulan namun ia harus menanggung kebutuhan
seorang istri dan 3 orang anaknya. Adapun miskin adalah orang yang tidak
memiliki harta dan penghasilan untuk mencukupi kebutuhannya melainkan dari
meminta-minta, seperti kondisi pengemis dan gelandangan di kota-kota.

         Dalam kitab Syarh Zaadul Mustaqni’23 disebutkan bahwa orang fakir
adalah yang tidak memiliki apapun atau hanya mampu memenuhi sebagian

22
     Anonim, “Kemiskinan Dalam Pandangan Islam” dalam http://kmmstks bandung.wordpress
.com/2010/02/04/kemiskinan-dalam-pandangan-islam/, (20/04/2010).
23
   Asy-syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin, asy-Syarh al-Mumti’ ‘ala Zaadil-Mustaqni’,
(ad-Damam :Dar Ibn al-Jauzi, 1424 H), hal.220-223.




                                            12
kebutuhan pokoknya. Sedangkan orang miskin adalah orang yang mendapatkan
sebagian besar atau separuh dari kebutuhan pokoknya.

       Menurut syaikh al-‘Utsaimin, pensyarah kitab tersebut, bahwa kebutuhan
yang dimaksudkan tidaklah hanya kebutuhan pribadi orang itu saja, bahkan
mencakup kebutuhannya dan kebutuhan orang yang menjadi tanggungannya.
Kebutuhan yang dimaksud tidaklah terbatas hanya pada sesuatu yang dapat
memberinya kecukupan dalam makan, minum, tempat tinggal, dan pakaian,
bahkan mencakup hingga bahkan kebutuhan untuk menikah. Maka seandainya
ada seorang yang butuh untuk menikah, sedangkan dia telah memiliki harta yang
dapat mencukupinya untuk makan, minum, pakaian, dan tempat tinggalnya, akan
tetapi dia tidak punya cukup harta untuk mahar, maka kita memberinya harta yang
dapat dia gunakan untuk menikah, meskipun harta yang dibutuhkan itu banyak.

       Dan jika seorang memiliki harta yang dapat mencukupi kebutuhan makan,
minum, tempat tinggal, dan pakaian untuknya, akan tetapi dia adalah seorang
pelajar (penuntut ilmu) yang membutuhkan kepada beberapa buku (dektat) untuk
dibeli, maka kita memberinya sejumlah harta sebatas yang dapat menutupi
kebutuhannya akan buku-buku tersebut.

       Dalam ranah fiqh Islami memang terjadi perbedaan pendapat tentang
manakah yang kondisinya lebih memprihatinkan antara fakir dan miskin. Namun
pengertian yang dikemukakan para pakar fiqh untuk istilah yang menunjukkan
kondisi ketidakberdayaan yang ringan dan istilah yang menunjukkan kondisi
ketidakberdayaan yang berat, adalah berdekatan maknanya. Perbedaan pandangan
ini adalah jika penyebutan antara faqir dan miskin terjadi dalam satu konteks
pembicaraan seperti pada QS. At-Taubah ayat 60 tentang 8 golongan yang berhak
menerima zakat. Namun jika kata fakir atau miskin disebutkan bersendirian tanpa
yang lainnya atau tidak dalam satu konteks pembicaraan, maka mereka sepakat
bahwa miskin adalah sinonim dari fakir.




                                          13
       4. Kemiskinan Menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana
           Nasional

           Sebagaimana dalam pengertian kategori Keluarga Pra Sejahtera, yaitu
apabila : tidak dapat melaksanakan ibadah menurut agamanya; seluruh anggota
keluarga tidak mampu makan dua kali sehari; seluruh anggota keluarga tidak
memiliki pakaian berbeda untuk di rumah, bekerja, sekolah, dan bepergian; bagian
terluas dari rumah berlantai tanah; serta tidak mampu membawa anggota keluarga
ke sarana kesehatan. 24

       5. Kemiskinan Menurut Panduan Keluarga Sejahtera (1996: 10)

           Kemiskinan adalah suatu keadaan dimana tidak sanggup memelihara
dirinya sendiri dengan taraf kehidupan yang dimiliki dan juga tidak mampu
memanfaatkan tenaga, mental maupun fisiknya dalam memenuhi kebutuhannya. 25

       6. Kemiskinan Menurut Kalangan Lembaga Swadaya Masyarakat
           (LSM) 26

           Masyarakat miskin secara umum ditandai oleh :

           Ketidakberdayaan/ketidakmampuan (powerlessness).

           Tidak mampu/berdaya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar,
           seperti pangan dan gizi, sandang, papan, pendidikan dan kesehatan, (basic
           need deprivation).

           Tidak mampu/berdaya untuk melakukan kegiatan usaha produktif
           (unproductiveness).

           Tidak mampu/berdaya untuk menjangkau akses sumber daya sosial dan
           ekonomi (inacces-sibility).



24
     Anonim, “Syariat Islam dalam Masalah Kemiskinan”, (20/04/2010).
25
   Anonim, “Dampak Kemiskinan Terhadap Masyarakat” dalam http://smpkebondalem.blogspot
.com/2009/04/dampak-kemiskinan-terhadap-masyarakat.html, (25/04/2010).
26
     Anonim, “Syariat Islam dalam Masalah Kemiskinan”, (20/04/2010).




                                               14
           Tidak mampu/berdaya menentukan nasibnya sendiri serta senantiasa
           mendapat perlakuan diskriminatif, mempunyai perasaan ketakutan dan
           kecurigaan, serta sikap apatis dan fatalis (vulnerability).

           Tidak mampu/berdaya untuk membebaskan diri dari mental dan budaya
           miskin, serta senantiasa merasa mempunyai martabat dan harga diri yang
           rendah (no freedom for poor). Misalkan budaya cangkrukan (Jawa Timur)
           atau ongkang-ongkang (Jawa Barat), yaitu duduk-duduk ‘bermalas-
           malasan’ di warung, gardu ronda, atau semisalnya sering didapati pada
           masyarakat miskin, baik dengan begadang di malam hari dan didapati juga
           di siang hari. Fenomena ini lebih nampak nyata pada golongan pemuda
           pengangguran. Mereka menggantungkan kebutuhan mereka pada orang
           tua mereka yang miskin, atau jika terpaksa tidak jarang melakukan
           pemalakan di jalanan, dan sebagainya.

           Orang miskin kebanyakan merasa rendah diri sehingga banyak didapati
           mereka cenderung memilih tempat duduk paling belakang atau menyimak
           dari luar ketika berada dalam suatu pertemuan.

       7. Kemiskinan menurut PP No. 42/198127

           Fakir miskin adalah orang/keluarga yang sama sekali tidak mempunyai
sumber mata pencaharian dan tidak mempunyai kemampuan untuk memenuhi
kebutuhan hidup yang layak bagi kemanusiaan atau orang/keluarga yang
mempunyai sumber mata pencaharian, tapi tidak dapat memenuhi kebutuhan yang
layak bagi kemanusiaan.




           Ismawan mengutarakan bahwa penyebab kemiskinan dan keterbelakangan
adalah persoalan aksesibilitas. Akibat keterbatasan dan ketertiadaan akses
manusia        mempunyai       keterbatasan     (bahkan     tidak      ada)   pilihan   untuk
mengembangkan hidupnya, kecuali menjalankan apa terpaksa saat ini yang dapat

27
     Anonim, “Syariat Islam dalam Masalah Kemiskinan”, (20/04/2010).




                                               15
dilakukan (bukan apa yang seharusnya dilakukan). Dengan demikian manusia
mempunyai keterbatasan dalam melakukan pilihan, akibatnya potensi manusia
untuk mengembangkan hidupnya menjadi terhambat. 28

          Kemudian berdasarkan pengamatan dan pemahaman akan terminologi
kemiskinan yang dikemukakan oleh para ahli sosial ekonomi, didapatkan bahwa
sebab-sebab kemiskinan kembali kepada dua hal yang mendasar sifatnya, yaitu
sebab-sebab yang bersifat natural, kultural, dan struktural.

          Kemiskinan natural disebabkan ketidakberdayaan akibat cacat fisik atau
miskin sumber daya alam. Sedangkan kemiskinan kultural adalah akibat budaya
yang diakibatkan oleh faktor-faktor adat dan budaya suatu daerah tertentu yang
membelenggu seseorang tetap melekat dengan indikator kemiskinan. Hal itu
seperti beberapa acara adat yang mengharuskan biaya yang sangat tinggi, seperti
pesta pernikahan, kelahiran, kematian, persembahan kepada tempat-tempat yang
dianggap keramat, keterputusasaan akibat kemiskinan yang berkepanjangan, dan
sebagainya.

          Sedangkan sebab-sebab kemiskinan struktural dipengaruhi oleh hal-hal ini,
mencakup29 :

          Kurangnya demokrasi; hubungan kekuasaan yang menghilangkan
          kemampuan warga negara atau suatu negara untuk memutuskan masalah
          yang menjadi perhatian mereka;

          Kurangnya memperoleh alat-alat produksi (lahan dan teknologi) dan
          sumber daya (pendidikan, kredit, dan akses pasar) oleh mayoritas
          penduduk;




28
     Anonim, “Dampak Kemiskinan Terhadap Masyarakat” dalam http://smpkebondalem.blogspot
.com/2009/04/dampak-kemiskinan-terhadap-masyarakat.html, (25/04/2010).
29
   Carlos A. Heredia dan Equipo Pueblo, “Bank Dunia Dan kemiskinan” dalam http://members
.fortunecity.com/ edicahy/lendingc/chapt2.html, (18/04/2010).




                                               16
        Kurangnya mekanisme yang memadai untuk akumulasi dan distribusi
        modal;

        Disintegrasi (terceraiberainya) ekonomi nasional, yang berorientasi
        memenuhi pasar asing daripada pasar domestik;

        Pengikisan peran pemerintah sebagai perantara dalam meminimalkan
        ketimpangan sosial, contohnya melalui swastanisasi program-program
        sosial;

        Eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam dan tercemarnya
        ekosistem yang secara tidak proporsional berdampak kepada orang miskin;
        dan;

        Kebijakan-kebijakan yang menyebabkan monopolisasi ekonomi dan
        polarisasi   masyarakat,     yang    memacu      bertambahnya       penumpukan
        pendapatan dan kesejahteraan di satu pihak saja.




        Kemiskinan dalam kaitannya dengan pendidikan merupakan masalah pelik
tak berujung. Di satu sisi rendahnya tingkat dan mutu pendidikan serta tingginya
angka putus sekolah disebut sebagai dampak langsung dari kemiskinan.
Sementara di sisi yang lain kemiskinan yang tinggi mengakibatkan akses ke dunia
pendidikan menjadi tertutup. Pendidikan ‘dituduh’ tidak banyak membantu, entah
dengan alasan biaya pendidikan yang terlalu mahal atau alasan yang lain semisal
muculnya bias komersialisasi pendidikan.30




30
   Chrispyanus Bheda, “Kemiskinan di Flores-NTT, Sebuah Kisah Kusut” dalam http://ntt
onlinenews.com/ntt/index.php?view=article&id=4603%3Akemiskinan-di-flores-ntt-sebuah-kisah-
kusut&option=com_content&Itemid=64, (26/04/2010).




                                            17
           Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia pendidikan adalah “barang
mewah”. Selain karena faktor ekonomi yang belum mencapai titik aman, sekolah
juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit.31 Karenanya masyarakat miskin
kesulitan mendapat akses pendidikan yang layak, yang dengannya mereka mampu
bangkit dari lumpur kemiskinan.

           Adanya program sekolah gratis ternyata belum juga dapat menggerakkan
sebagian dari masyarakat miskin untuk memasukkan anak-anaknya ke sekolah. Ini
dikarenakan cara pandang mereka terhadap kualitas pendidikan di Indonesia
dimana mereka belum melihat adanya pengaruh pendidikan terhadap peningkatan
kesejahteraan mereka. Sehingga banyak didapatkan bahwa anak-anak mereka
terpaksa harus putus sekolah untuk membantu mereka mengurusi rumah atau
dalam pekerjaan. Bahkan beberapa dari mereka rela menjual tubuh anak gadisnya
di usianya yang masih memerlukan pendidikan.



            Martin Luther, yang dikenal sebagai salah seorang tokoh dalam sejarah
Amerika Serikat, mengatakan, kemiskinan dapat membuat orang susah jadi
pemberani, mendorong orang terdesak jadi penyimpang dan kriminal, serta
melecut emosi orang tertindas menjadi pelaku-pelaku yang bertentangan dengan
nilai-nilai moral. Orang miskin tiba-tiba bisa punya keberanian untuk
menumpahkan darah.32

           Gubernur Bali Dewa Made Beratha menyatakan kondisi Indonesia yang
kini masih dalam proses pemulihan di berbagai bidang, termasuk bidang ekonomi
akibat krisis multidimensi, telah membuka celah bagi merebaknya kejahatan
perdagangan perempuan dan anak-anak. "Faktor kemiskinan dan tidak tersedianya
lapangan kerja di pedesaan, kurangnya pendidikan serta keterbatasan informasi,



31
  Anonim, “Pendidikan dan Pengentasan Kemiskinan” dalam http://www.cmm.or.id/cmm-ind_
more.php?id=A4226_0_3_0_M, (26/04/2010).
32
     Abdul Wahid, “Prostitusi Negara dan Orang Miskin” dalam http://bataviase.co.id/, (26/04/2010).




                                                 18
menjadi salah satu penyebab terjadinya kejahatan perdagangan manusia di
Indonesia, terutama perempuan dan anak-anak," katanya.33

         Menurut Data ILO, sekitar 1,2 juta anak di dunia masih diperdagangkan
dan terjebak dalam pekerjaan berbahaya atau kerja paksa ke eksploitasi seksual.
Kajian cepat yang baru dilakukan ILO-IPEC pada tahun 2003 memperkirakan
jumlah pekerja seks komersial di bawah 18 tahun sekitar 1.244 anak di Jakarta,
Bandung 2.511, Yogyakarta 520, Surabaya 4.990, dan Semarang 1.623. Namun
jumlah ini dapat menjadi beberapa kali lipat lebih besar mengingat banyaknya
pekerja seks komersial bekerja di tempat-tempat tersembunyi, ilegal dan tidak
terdata.34

         Beberapa kejahatan pun tidak sedikit dilatarbelakangi oleh kemiskinan.
Misalkan di Bekasi, Maret 2008, seorang ibu membenamkan 2 anaknya sehingga
mati karena kemiskinan.35 Pencurian, penipuan, perampokan, penjarahan, dan
sebagainya adalah problem yang bersumber dari kemiskinan.

         Muhammad Mustofa mengupas kriminologi untuk kesejahteraan rakyat
Indonesia di dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Tetap FISIP UI,
pendapat bahwa ‘menangkap dan menghukum orang yang melakukan kejahatan
relatif mudah. Yang tidak mudah adalah membuat agar supaya orang tidak
melakukan kejahatan’ dijadikan sebagai landasan paparan oleh pakar kriminologi




33
     Anonim, “Kemiskinan Dorong Munculnya Kejahatan Perdagangan Perempuan”, dalam
http://www.suara karya-online.com/news.html?id=105933, (25/04/2010).
34
   Sumadi Wijaya, “Jumlah Anak-Anak Yang Dipasok Jadi Pelacur Di Indonesia Tinggi” dalam
http://www.eska.or.id/index.php?view=article&catid=52%3Aberita&id=84%3Ajumlah-anak-anak
-yang-dipasok-jadi-pelacur-di-indonesia-tinggi&format=pdf&option=com_content&Itemid=78,
(25/04/2010).
35
  Anonim, “Kemiskinan Di Negeri Ini & Dampaknya” dalam http://smpn3ngalam72.forumotion
.net/masalah-di-depan-mata-kita-semua-f9/kemiskinan-di-negeri-ini-dampaknya-t2.htm#2,
(25/04/2010).




                                          19
itu. Jalan keluarnya adalah menyejahterakan dulu rakyat Indonesia, baru
kemudian negara mempunyai alasan untuk menindak pelaku kejahatan.36



         Kemiskinan pangkal dari segala tindak kejahatan termasuk pelacuran dan
trafiking. Daerah Pantura merupakan penyumbang terbesar praktek pelacuran di
Indonesia. Hal ini terjadi karena kemiskinan. Demikian pernyataan Pakar Hukum
Tata Negara Universitas Padjadjaran (Unpad) Indra Perwira.37

         Sejak krisis moneter mendera Indonesia awal tahun 1997 lalu, jumlah anak
dan remaja yang terjebak di dunia prostitusi semakin meningkat. Setiap tahun
sejak terjadinya krismon, diperkirakan sekitar 150.000 anak di bawah usia 18
tahun menjadi pekerja seks. Sementara itu, setengah dari pekerja seks di Indonesia
berusia di bawah 18 tahun sedangkan 50.000 di antaranya belum mencapai usia 16
tahun.

         Kemiskinan ternyata juga memberikan saham akan tersebarnya peredaran
narkotika. Bupati Bengkulu, RL. H. Suherman SE., MM., menyatakan bahwa dari
aspek survei dalam beberapa tahun terakhir oleh sejumlah badan mencuat sebuah
fenomena baru, perempuan-perempuan lokal dijaring untuk menjadi kurir narkoba
lintas negara, sedangkan anak-anak jalanan di perkotaan diperkerjakan sebagai
kurir para pecandu. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor yang salah satunya
masalah kemiskinan, kurangnya tersedia lapangan kerja, selain tingkat
pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi juga masih sangat rendah,




36
  Iwan Sulistyo, “Pemenuhan Kebutuhan Pokok Kunci Stabilitas” (dimuat di Harian Singgalang,
Rabu, 16 Januari 2008) dalam http://iwansulistyo.wordpress.com/2007/10/16/pemenuhan-hak-dan-
kebutuhan-pokok-salah-satu-kunci-dari-stabilitas/, (25/04/2010).
37
   Aji Hutomo Putra (detikBandung), “Pelacuran dan Pornografi Akibat Kemiskinan” dalam
http://bandung.detik.com/read/2009/04/07/184446/1111956/486/pelacuran-dan-pornografi-akibat-
kemiskinan, (25/04/2010)




                                               20
khususnya dalam hal melindungi dari dari risiko kesehatan reproduksi, seperti
pencegahan penyebaran HIV/AIDS.38

           Ketidakberdayaan secara ekonomi terkadang menghalangi seseorang
untuk membina rumah tangga dengan menikah. Hal ini dapat disebabkan adat
yang menuntut pesta dengan biaya yang tidak rasional atau kondisi ekonomi yang
jauh dari layak. Di satu sisi kebutuhan akan adanya pasangan hidup baik secara
biologis maupun psikologis adalah kebutuhan fitri. Sehingga ketidakberdayaan itu
mengantarkannya kepada pergaulan bebas, baik dengan lawan jenis maupun
sejenis.




           Kemiskinan dan kerusakan ekologis sesuatu yang sangat sulit dipisahkan.
Kerusakan        ekologis    menyebabkan       kemiskinan,      sebaliknya      kemiskinan
menyebabkan kerusakan ekologis semakin tinggi, sehingga faktor ekologis
merupakan salah satu faktor utama penyebab kemiskinan Indonesia.39

           Kerusakan lingkungan dapat terjadi akibat disengaja ataupun tidak oleh
masyarakat yang hidup di sekitar lingkungan tersebut. Hal ini dikarenakan mereka
memiliki pemahaman yang rendah soal pentingnya menjaga kelestarian alam dan
lingkungan hidup. Kemiskinan akibat keterpurukan ekonomi bisa juga berdampak
pada sikap manusia terhadap lingkungannya, termasuk menebang kayu di hutan
dengan sembarangan yang mengakibatkan ketidakseimbangan dalam ekosistem.

           Demikian juga sebaliknya, lingkungan yang rusak dapat memiskinkan
masyarakat yang tinggal di sekitarnya seperti yang terjadi pada sungai-sungai
yang memuat aliran tailing PT. Freeport Indonesia di Timika - Papua. Masyarakat
yang awalnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dapat tercukupi akhirnya

38
     Anonim, “Kemiskinan Pengaruhi Peningkatan Seks Bebas dan Napza” dalam http://www.aids-
ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=2766, (26/04/2010)
39
   Syamsul Bahri, “Kerusakan Ekologis Sebabkan Kemiskinan di Indonesia” dalam http://puti-
jasmien.blogspot.com/2008/01/kemiskinan-dab-ekologis-di-indonesia_15.html, (29/04/2010).




                                             21
harus berpindah tempat akibat sungainya sudah tercemar dan mencari pekerjaan
baru di tempat yang baru. Masyarakat menjadi miskin karena tidak punya
kemampuan lain di tempat baru dengan mata pencaharian yang berbeda dana
pengelolaan alam yang berbeda pula.40



          Kesehatan merupakan hal yang sangat esensial bagi kehidupan seseorang,
keluarga, atau masyarakat. Namun kebutuhan ini menjadi suatu angan-angan bagi
masyarakat miskin. Kesulitan untuk memenuhi tuntutan perut menjadikan mereka
jauh dari memikirkan kesehatan. Kebutuhan akan jamban, air bersih, dan tempat
tinggal yang layak menurut kesehatan tidak bias mereka penuhi. Di sisi lain,
ketika mereka begitu membutuhkan layanan kesehatan maka mereka kesulitan
untuk mendapatkan akses dikarenakan biaya yang tidak mampu mereka tanggung.

          Dalam beberapa kasus bahkan untuk memenuhi kebutuhan gizi bagi balita
dan anak mereka pun menjadi sebuah problem yang sangat memprihatinkan. Jatah
beras miskin (raskin) yang didrop via ketua RT sekali per bulan tidak bisa ditebus
oleh yang berhak. Saat beras datang, mereka tidak sanggup mengganti biaya
transportasi karena sedang tidak punya uang (karena memang benar-benar
miskin). Pada akhirnya beras dibeli oleh orang yang lebih mampu.41

          Kekurangan gizi pada balita menjadi 54 % penyebab kematian balita di
dunia pada tahun 2002. Selain itu, balita yang mengalami kekurangan gizi akan
terhambat pertumbuhannya sehingga ketika dewasa dia akan mempunyai
kesehatan       dan   produktivitas    yang    lebih    rendah    daripada   anak   yang




40
     Aprila Russiana Amelia Wayar, “Kemiskinan dan Kerusakan Lingkungan” dalam http://www
.kulinet.com/baca/kemiskinan-dan-kerusakan-lingkungan/1032/, (25/04/2010).
41
  Anonim, “Kemiskinan Di Negeri Ini & Dampaknya” dalam http://smpn3ngalam72.forumotion
.net/masalah-di-depan-mata-kita-semua-f9/kemiskinan-di-negeri-ini-dampaknya-t2.htm#2,
(25/04/2010).




                                              22
pertumbuhannya normal.42 Rendahnya produktivitas ini berdampak pada
ketidakmampuannya untuk lepas dari kemiskinan. Hingga akhirnya menjadi
sebuah lingkaran setan berjuluk kemiskinan.

           Contohnya, seorang balita, Mujiono, berusia 17 bulan di Mojokerto, Jawa
Timur, yang berasal dari keluarga miskin menderita gizi buruk, dengan berat
badan hanya enam kilogram. Selain itu, bayi ini juga mengalami kelainan otak
dan paru-paru. Akibat desakan ekonomi keluarganya, Mujiono kerap ditinggal
ayah dan ibunya untuk bekerja. Sang ibu bekerja sebagai buruh cuci, sedangkan
ayahnya, bekerja sebagai tukang jahit. Akibatnya, balita ini terpaksa dititipkan ke
para tetangga secara bergantian.43



           Kemiskinan yang berkepanjangan ditambah ketidakberdayaan untuk
mengakses pekerjaan yang layak sedangkan kondisi menuntut seseorang untuk
bertahan hidup, juga turut membentuk prilaku pada orang tersebut. Prilaku
meminta-minta dengan segala bentuknya termasuk mengamen, hingga berhutang
kepada rentenir yang pada akhirnya akan menjebaknya dalam kubangan
kemiskinan.

           Sebagaimana insiden masyarakat yang berebut sedekah sehingga beberapa
di antara mereka mengalami luka-luka akibat terinjak-injak. Padahal ada orang
yang lebih berhak mendapatkan sedekah tersebut yang tidak memperoleh haknya.

           Kemiskinan turut pula membentuk mentalitas penjudi. Sebagian besar
masyarakat melakukan perjudian atas dasar ingin mendapatkan keuntungan yang
besar. Keinginan itu didasarkan atas keadaan ekonominya yang relatif rendah
sehingga membuat seseorang terpaksa untuk melakukan perjudian. Ekses yang


42
     Isna Harfin Yunaida, “Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kekurangan Gizi pada Balita
di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2003” dalam        http://lib.feb.ugm.ac.id/ebdl/gdl42/gdl.php?mod
=browse&op=read&id=pfeugm--yunaidaisn-757, (26/04/210).
43
   Diak Eko Purwoto, “Dampak Kemiskinan, Balita Menderita Gizi Buruk” dalam http://www
.indosiar.com/fokus, (25/04/2010).




                                               23
ditimbulkan oleh perjudian berupa ketagihan yang akan membuat seorang yang
miskin akan tetap terkungkung dalam kemiskinannya. Dan tidak sedikit pula
orang kaya yang jatuh miskin akibat perjudian.

       Kemiskinan juga dapat mendorong orang untuk melakukan tindakan
penipuan, pencurian, dan kekerasan, semisal penipuan melalui gendam (semacam
hipnotis), pemalakan, meminta-minta dengan memaksa baik dengan ancaman
berupa ucapan hingga menodongkan senjata tajam, penjarahan seperti saat awal
masa reformasi, hingga pembunuhan. Dengan demikian dapat dipahami bahwa
kemiskinan adalah sumber kejahatan.




       Setelah diketahui beberapa problem sosial yang diakibatkan kemiskinan,
maka diperlukan jalan keluar untuk mempeti-eskan kemiskinan. Ditinjau dari
sebabnya kemiskinan terbagi menjadi kemiskinan natural, kultural dan
kemiskinan struktural. Maka solusi mengatasinya juga difokuskan kepada masing-
masing jenis kemiskinan dengan program jangka pendek dan panjang, serta
bersifat mendasar dan menyeluruh.

       Untuk mengatasi kemiskinan karena pembawaan alami, seperti cacat fisik
dan mental, maka Negara harus memberikan perlindungan dan jaminan sosial.
Adapun faktor keterbatasan sumber daya alam maka masyarakat dapat diarahkan
kepada usaha yang tidak berkenaan sumber daya alam, semisal bidang jasa dan
kemiliteran.

       Kemiskinan kultural yang. Indikator kemiskinan tersebut seyogyanya bisa
dikurangi atau bahkan secara bertahap bisa dihilangkan dengan mengabaikan
faktor-faktor adat dan budaya tertentu yang menghalangi seseorang melakukan
perubahan-perubahan ke arah tingkat kehidupan yang lebih baik. Berpikir secara
realistis dengan mengabaikan segala adat yang membebani kehidupan adalah satu
hal yang harus dilakukan masyarakat miskin yang masih terkungkung oleh adat
yang menjerumuskan mereka lebih dalam kepada jurang kemiskinan. Dan




                                       24
pemerintah dapat membantu dengan memberikan penyuluhan dan menerbitkan
semacam peraturan pemerintah guna membatasi beberapa adat tertentu seperti
pembatasan mahar untuk menikah yang tidak memberatkan masyarakat tersebut,
sebagaimana telah dilakukan oleh ulama dari beberapa kabilah di Saudi Arabia.

       Adapun kemiskinan struktural maka yang berwenang dan memiliki akses
yang lebih luas terhadap berbagai sektor kehidupan dan hajat hidup orang banyak
adalah pemerintah. Solusi-solusi yang diberikan hendaknya mencakup solusi
jangka pendek dan solusi jangka panjang yang memberikan peluang bagi
masyarakat miskin untuk bangkit dari kubangan kemiskinan.

       Pengadaan pendidikan gratis yang berkualitas dengan mempertimbangkan
relevansinya dengan kehidupan, efektivitas dan efisiensinya dalam membentuk
generasi yang produktif berjiwa wirausaha, sehingga pada akhirnya mampu
memutus rantai kemiskinan. Kemudian pengadaan pelatihan-pelatihan berbasis
kompetensi ketrampilan bagi para pengemis, pengamen, anak jalanan, dan
semisalnya, dapat membuka bagi mereka peluang untuk mendapatkan pekerjaan
yang lebih layak.

       Pengadaan pelayanan kesehatan yang memadai dan gratis dengan tidak
membedakan sifat pelayanannya antara si miskin dan si kaya. Birokrasi kesehatan
yang tidak berbelit-belit sehingga masyarakat miskin dapat dengan mudah dan
segera mendapatkan pelayanan yang terbaik, terlebih ketika kondisi mereka
sangat kritis. Kemudian pemberian penyuluhan-penyuluhan tentang kesehatan,
pengadaan pemukiman yang layak terlebih bagi masyarakat miskin di perkotaan,
air minum bersih, dan semacamnya.

       Diadakannya pendidikan gratis yang berkualitas belumlah cukup untuk
menghapus kemiskinan. Karena pendidikan tinggi tanpa ketersediaan lapangan
pekerjaan hanya akan menambah pengangguran dan mematikan potensi yang
telah didapatkan selama pendidikan. Sehingga pengadaan lapangan pekerjaan
dengan mengoptimalkan peran pemerintah dalam pengelolaan sumber daya alam,




                                       25
berupa pertanian, kehutanan, kelautan, barang-barang tambang, dan sebagainya,
adalah sangat mendesak untuk dilakukan.

       Membatasi kepemilikan modal asing terhadap perusahaan-perusahaan
yang bersentuhan dengan pengolahan sumber daya alam dan hajat masyarakat
perlu direalisasikan. Penggantian para ahli asing secara bertahap dengan para ahli
dari dalam negeri merupakan langkah penting agar di masa mendatang,
pengolahan sumber daya alam benar-benar dapat dilakukan secara mandiri.

       Kebijakan pembangunan yang memperhatikan keseimbangan ekosistem
dan ketersediaan lahan pertanian akan sangat membantu mengurangi ekses-ekses
yang tidak diinginkan berupa bencana akibat kerusakan lingkungan yang pada
akhirnya dapat menghambat kegiatan ekonomi masyarakat. Sempitnya lahan
pertanian berarti juga berkurangnya salah satu lapangan pekerjaan.

       Pemberian pinjaman modal berangsuran ringan dan atau pengadaan alat-
alat usaha untuk usaha kecil dan mekanisme yang mudah dan merata dapat
mendorong tumbuhnya perekonomian dan lapangan pekerjaan baru. Memberi
dorongan kepada masyarakat untuk berwirausaha, penyederhanaan birokrasi
perijinan usaha, pendaftaran hak kekayaan intelektual, dan sebagainya, juga dapat
membantu tumbuhnya usaha kecil menengah. Mendorong pertumbuhan wirausaha
dan membuka kesempatan masuk militer bagi para sarjana sebagaimana yang
sedang dilakukan pemerintah China saat ini.

       Mengikutsertakan masyarakat dalam program-program pembangunan
dinilai penting demi mengetahui apa yang segera mereka butuhkan sehingga
benar-benar dapat tercapai tujuan pembangunan dan dapat tepat mengenai
sasaran. Kemudian kebijakan nasional yang memihak masyarakat kecil yang
memberikan mereka ruang gerak untuk memperbaiki kesejahteraan hidup dan
meningkatkan harkat dan mertabat mereka.

       Hal mendasar yang harus segera diwujudkan adalah pemerintahan yang
bersih dari korupsi dan perbaikan mentalitas para pembuat kebijakan, sehingga
lebih peduli dengan kondisi rakyat miskin daripada mempeributkan penaikan




                                        26
segala tunjangan dan fasilitas. Dan ini harus dilakukan hingga tingkat desa dan
kelurahan, sehingga program-program pemerintah untuk masyarakat miskin
benar-benar sampai kepada yang berhak.

       Pembangunan manusia melalui pendidikan moral dan agama hendaknya
juga mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. Diharapkan dengan hal itu
dapat mengobati mentalitas buruk akibat kemiskinan yang berkepanjangan dan
mengubah menjadi masyarakat yang memiliki motivasi yang tinggi untuk tetap
berkreasi dan produktif meski di tengah kesulitan. Pada akhirnya dapat mengubah
mereka menjadi masyarakat yang besar dan mulia tanpa harus meminta-minta.




       Kemiskinan adalah ketidakberdayaan seseorang secara ekonomi untuk
memenuhi kebutuhan hidup yang layak. Hal itu disebabkan oleh faktor-faktor
alami, budaya, dan struktur social.

       Kemiskinan mengakibatkan dan diakibatkan oleh beberapa hal seperti gizi
buruk dan pendidikan rendah, dan kerusakan lingkungan. Selain juga
memunculkan problem-problem sosial seperti maraknya tindak kriminal,
prostitusi, pergaulan bebas,dan pemukiman kumuh. Dan juga menjadi faktor
meluasnya peredaran narkoba dan penularan HIV/AIDS, serta perilaku buruk
yang perlu segera mendapatkan penanganan.

       Solusi    untuk   menanggulangi    kemiskinan   natural    adalah    dengan
memberikan jaminan sosial kepada orang-orang cacat dan membuatkan suatu
wadah yang melatih mereka mengembangkan kreativitas meski dengan segala
keterbatasan mereka, serta menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat
miskin di suatu daerah yang miskin sumber daya alam.

       Untuk menanggulangi kemiskinan kultural adalah dengan memberikan
penyuluhan      dan   menerbitkan     peraturan   pemerintah     yang      mengatur
penyelenggaraan acara adat sehingga tidak memberatkan masyarakat setempat.




                                         27
       Sedangkan    penanggulangan    kemiskinan    struktural   adalah   dengan
penyelenggaraan pelayanan sosial seperti kesehatan dan pendidikan, yang adil dan
merata, memihak warga yang miskin dan orang-orang cacat. Juga dengan
memberikan bantuan modal, alat produksi, dan pembinaan, penyediaan lapangan
pekerjaan dan pemukiman, juga kebijakan-kebijakan yang lebih memihak kepada
usaha mikro dengan tanpa mengabaikan usaha makro, serta pembangunan
spiritual masyarakat dan penyelenggaran pemerintah yang bersih dari KKN.




                                       28
Al-‘Utsaimin, Muhammad bin Sholih, asy-Syarh al-Mumti’ ‘ala Zaadil-
Mustaqni’, ad-Damam : Dar Ibn al-Jauzi, 1424 H.
Abdul Ghopur, “Indonesia dan problem kemiskinan” dalam http://www
.dutamasyarakat.com/artikel-27674-indonesia-dan-problem-kemiskinan.html,
(26/04/2010).
Abdul     Wahid,     “Prostitusi   Negara       dan    Orang      Miskin”     dalam
http://bataviase.co.id/, (26/04/2010).
Aji Hutomo Putra (detikBandung), “Pelacuran dan Pornografi Akibat
Kemiskinan”        dalam     http://bandung.detik.com/read/2009/04/07/184446/
1111956/486/pelacuran-dan-pornografi-akibat-kemiskinan, (25/04/2010)
Anonim, “Angka Kemiskinan dalam Kampanye” dalam http://www
.siwah.com/pendidikan/marketing-politik/angka-kemiskinan-dalam-kampa
nye.html, (16/05/2010).
Anonim,      “Dampak       Kemiskinan         Terhadap       Masyarakat”      dalam
http://smpkebondalem.blogspot.com/2009/04/dampak-kemiskinan-terhadap-
masyarakat.html, (25/04/2010).
Anonim,         “Kamus         Besar          Bahasa         Indonesia”       dalam
http://pusatbahasa.diknas.go.id/, (20/04/2010).
Anonim, “Kemiskinan Dalam Pandangan Islam” dalam http://kmmstks
bandung.wordpress.com/2010/02/04/kemiskinan-dalam-pandangan-islam/,
(20/04/2010).
Anonim,     “Kemiskinan      Di     Negeri      Ini    &     Dampaknya”       dalam
http://smpn3ngalam72.forumotion.net/masalah-di-depan-mata-kita-semua-
f9/kemiskinan-di-negeri-ini-dampaknya-t2.htm#2, (25/04/2010).
Anonim,     “Kemiskinan      Dorong       Munculnya        Kejahatan   Perdagangan
Perempuan”,        dalam       http://www.suarakarya-online.com/news.html?id
=105933, (25/04/2010).
Anonim, “Kemiskinan Pengaruhi Peningkatan Seks Bebas dan Napza” dalam
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&                sid=2766,
(26/04/2010)




                                         29
Anonim, “Kemiskinan yang Membunuh (Editorial Media Indonesia)” dalam
http://agus didin.multiply.com/journal/item/113, (13/05/2010).
Anonim, “Kemiskinan” dalam http://kepri-dev.bps.go.id/en/description-a-
terms/84-penjelasan-teknis/100-kemiskinan, (26/04/2010).
Anonim,    “Metode     Penghitungan     Kemiskinan”     dalam    http://sultra.bps
.go.id/index.php?Itemid=2&id=39&option=com_content&task=view,
(03/05/2010).
Anonim,     “Pendidikan     dan   Pengentasan     Kemiskinan”     dalam       http://
www.cmm.or.id/cmm-ind_more.php?id=A4226_0_3_0_M, (26/04/2010).
Anonim, “Sudah Diet Kok Nggak Langsing Juga?” dalam http://
cyberwoman.cbn.net.id/cbprtl/common/stofriend.aspx?x=Health+News&y=cy
bermed|0|0|63|5449, (15/05/2010).
Anonim,     “Syariat      Islam   Dalam      Masalah      Kemiskinan”         dalam
http://politisimuslim.wordpress.com/2007/04/18/syariat-islam-dalam-masalah-
kemiskinan/, (20/04/2010).
Anonim,     “Syariat      Islam    dalam    Masalah       Kemiskinan”         dalam
http://politisimuslim.wordpress.com/2007/04/18/syariat-islam-dalam-masalah-
kemiskinan/, (20/04/2010), dan
Anonim, tanpa judul, http://pandeglangkab.go.id/files/desa_miskin__ii.pdf
Bahri, Syamsul, “Kerusakan Ekologis Sebabkan Kemiskinan di Indonesia”
dalam http://puti-jasmien.blogspot.com/2008/01/kemiskinan-dab-ekologis-di-
indonesia_15.html, (29/04/2010).
Bheda, Chrispyanus, “Kemiskinan di Flores-NTT, Sebuah Kisah Kusut”
dalam            http://nttonlinenews.com/ntt/index.php?view=article&id=4603%3A
kemiskinan-di-flores-ntt-sebuah-kisah-kusut&option=com_content&Itemid=64,
(26/04/2010).
Bheda, Kris, “Menyoal Akar Kemiskinan Masyarakat Flores” dalam
http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=3160, (05/04/2010).
Heredia, Carlos A. dan Equipo Pueblo, “Bank Dunia Dan kemiskinan” dalam
http://members.fortunecity.com/edicahy/lendingc/chapt2.html, (18/04/2010).




                                      30
Nabhani, Ahmad, “BPS Keberatan Angka Kemiskinan Versi Bank Dunia”
dalam         http://economy.okezone.com/read/2009/08/18/20/249012/20/bps-
keberatan-angka-kemiskinan-versi-bank-dunia, (03/05/2010).
Purwoto, Diak Eko, “Dampak Kemiskinan, Balita Menderita Gizi Buruk”
dalam http://www .indosiar.com/fokus, (25/04/2010).
Rustandi, “Gara-Gara Tak Mampu Bayar Administrasi Ibu Hamil Meregang
Nyawa”      dalam    http://www.budibach.com/home/index.php?option=com_content
&view=article&id=149:gara-gara-tak-mampu-bayar-administrasi-ibu-hamil-mere
gang-nyawa&catid=20:reportase&Itemid=27, (16/05/2010).
Sarmiati, “Kemiskinan Kultural dan FGD-RK” dalam http://www.p2kp
.org/wartaarsipdetil.asp?mid=1939&catid=2&, (26/04/2010).
Setiadi, Rahmad, “Kemiskinan (Bagian 1)” dalam http://www.mail-archive
.com/indo-marxist@yahoogroups.com/msg02516.html, (03/05/2010)
Sulistyo, Iwan, “Pemenuhan Kebutuhan Pokok Kunci Stabilitas” dalam
http://iwansulistyo.wordpress.com/2007/10/16/pemenuhan-hak-dan-kebutuhan-
pokok-salah-satu-kunci-dari-stabilitas/, (25/04/2010).
Wayar, Aprila Russiana Amelia, “Kemiskinan dan Kerusakan Lingkungan”
dalam      http://www.kulinet.com/baca/kemiskinan-dan-kerusakan-lingkungan/1032/,
(25/04/2010).
Wijaya, Sumadi, “Jumlah Anak-Anak Yang Dipasok Jadi Pelacur Di
Indonesia      Tinggi”    dalam      http://www.eska.or.id/index.php?view=article&
catid=52%3Aberita&id=84%3Ajumlah-anak-anak-yang-dipasok-jadi-pelacur-di-
indonesia-tinggi&format=pdf&option=com_content &Itemid=78, (25/04/2010).
Yunaida,     Isna   Harfin,    “Faktor-faktor    yang    Mempengaruhi     Tingkat
Kekurangan Gizi pada Balita di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2003” dalam
http://lib.feb.ugm.ac.id/ebdl/gdl42/gdl.php?mod=browse&op=read&id       =pfeugm--
yunaidaisn-757, (26/04/210).




                                       31

				
DOCUMENT INFO
Description: Kemiskinan; Definisi (Pengertian) Kemiskinan secara Etimologi dan Terminologi; Tolok Ukur Kemiskinan; Kemiskinan menurut BPS versus Bank Dunia;Sebab-sebab Kemiskinan; Dampak-dampak Kemiskinan; Mengentaskan Kemiskinan Menuju Perubahan