PRESENTASI KONSULTAN UNDP DIHADAPAN BUPATI NIAS PADA TGL 25-04-2007

Reviews
Shared by: Djauhari Noor
Tags
Stats
views:
595
rating:
2(1)
reviews:
0
posted:
1/30/2009
language:
English
pages:
0
PELAKSANAAN PROGRAM KONSULTASI DI BRR-NIAS KONSULTAN: 1. Dick Beetham (Geotechnic Engineer/Engineering Geologist) 2. Djauhari Noor (Spatial Planner/Engineering Geologist) 3. Bill Sinclair (Structure Engineer/Building Code) Tugas dan misi di BRR Nias mencakup : 1. Melaksanakan penilaian lapangan pada infrastruktur yang rusak akibat gempa didasarkan atas kondisi tektonik, data geologi dan data geoteknik. Melakukan evaluasi dari hasil penilaian lapangan terhadap infrastruktur yang rusak (bangunan dan jembatan) dalam kontek konstruksi dan lokasi keruangan (spasial) Memfasilitasi dalam penyusunan rencana tata ruang wilayah dan kota yang berbasis mitigasi bencana alam, khususnya untuk gempa dan tsunami. 2. 3. 4. Mengkaji ulang peraturan-peraturan yang berkaitan dengan bangunan (building code) dan implementasinya. 5. Usulan penerapan Program Pengelolaan Resiko Bencana Alam, khususnya gempabumi dan tsunami HUBUNGAN ANTARA GEOLOGI DENGAN BENCANA ALAM DI PULAU NIAS GEOLOGI PULAU NIAS 1. Fisiografi a. Satuan Geomorfologi Dataran Rendah Mencakup 35%, ketinggian 0-50 m, tersusun dari endapan sungai, rawa dan pantai. b. Satuan Geomorfologi Perbukitan Bergelombang Mencakup 65%, ketinggian 50-800 m, landai – terjal, tersusun dari batuan Melange, Formasi Lelematua, Formasi Gomo, dan Formasi Gunung sitoli Fisiografi Pulau Nias 2. Stratigrafi (Tatanan Batuan)  Tatanan batuan Pulau Nias dapat dikelompokan menjadi 5 satuan batuan (formasi), dari yang tertua ke muda adalah : 1. Komplek Melange (Bancuh) 2. Formasi Lelematua 3. Formasi Gomo 4. Formasi Gunungsitoli 5. Alluvium Kolom Stratigrafi Pulau Nias Holosen - Resen Aluvium Boulder batugamping, pasir, lumpur, dan lempung Batugamping terumbu, Batugamping, Napal, Batupasir kuarsa, Lempung pasiran Plio-Plistosen Gunungsitoli Miosen Tengah – Pliosen Awal Gomo Batulempung, Napal, Batupasir, Batugamping selang seling Napal tufaan, Tufa dan Gambut Miosen Awal – Miosen Akhir Lelematua Perselingan Batupasir, Batulempung, Lanau, Konglomerat dan Tufa sisipan Batubara dan Serpih Oligosen – Miosen Awal Bawah Melange Bongkah bongkah Peridotit, Serpentinit Gabro, Basalt, Skist, Graywacke, Serpih, Batugamping Breksi, Konglomerat, Rijang, tertanam dalam masa dasar Lempung terkersikan Peta Geologi Pulau Nias Tektonik dan Struktur Geologi Posisi Tektonik Pulau Nias Forearc Island Penampang Melintang Pulau Nias Pusat hiposenter Gempabumi Pusat hiposenter Gempabumi 3. Struktur Geologi Struktur Geologi pulau Nias terdiri dari: 1. Lipatan (Fold) Berupa sinklin dan antiklin simetri berarah Baratlaut – Tenggara 2. Sesar / Patahan (Fault) Sesar Naik (Thrust fault), Sesar Mendatar (Strike slip fault), dan Sesar Normal. Berarah Barat Laut – Tenggara 3. Kelurusan (Lineament) Berarah Baratlaut - Tenggara 5. Kondisi Pantai Hasil pengamatan kondisi pantai pasca gempa Nias :  Pantai Utara (Lahewa), Barat (Sirombu), dan Selatan (Sorake) naik / terangkat setinggi 1 – 4 meter, garis pantai maju ke arah laut sejauh 200 m. Pintai Timur Turun (subsidence) 0,3 meter. Perkembangan pengangkatan daratan pantai terlihat jelas dalam citra Ikonos dengan terbentuknya teras-teras pantai dan di lapangan dapat dengan mudah dikenali seperti di Toyolawa dan Sirombu. Pengangkatan dataran pantai sangat erat kaitannya dengan kejadian gempa bumi seperti yang terjadi pada tanggal 28 Maret 2005   Coast Uplifted at Lahewa Uplifted coast at Sirombu Citra Ikonos memperlihatkan jejak jejak dari teras pantai yang mengindikasikan pengangkatan pulau Nias sebagai produk dari gempabumi. 5 4 3 Sirombu 2 1 PENILAIAN TERHADAP BENCANA ALAM 1. GEMPABUMI DAN TSUNAMI Gempa Aceh 26 Desember 2004 (M=9.3) dan Gempa Nias 28 Maret 2005 (M=8.7) telah mengakibatkan korban jiwa, harta benda dan infrastruktur yang ada serta melumpuhkan sendi sendi perekonomian masyarakat Nias. Hasil wawancara dengan penduduk di wilayah Sirombu, Sorake dan Lahewa saat terjadi tsunami ketinggian gelombang mencapai 2-3 m. Topografi dengan ketinggian 0-5 m merupakan wilayah / zona yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap bencana tsunami, sedangkan ketinggian 5-10 m memiliki tingkat kerawanan sedang hingga rendah. Untuk kepastian perlu dilakukan survei yang teliti dan kajian secara komprehensif sehingga dapat dibuat suatu Peta Zonasi Kerentanan Bahaya Tsunami. 2. FAKTOR FAKTOR YANG MERUBAH BAHAYA GEOLOGI MENJADI BENCANA ALAM 1. Pertumbuhan Penduduk 2. Kemiskinan 3. Degradasi Lingkungan 4. Tidak Tersedianya Informasi 3. MITIGASI BENCANA ALAM 1. Penerapan Geologi Dalam Perencanaan Tata Ruang 2. Geologi yang berkaitan dengan penilaian resiko dan pemetaan bahaya geologi 3. Pencegahan yang berhubungan dengan bahaya geologi 4. Peringatan dini dan pengelolaan geologi yang berhubungan dengan bahaya geologi 5. Aspek kesehatan dalam mengurangi bencana alam 6. Penguatan Jaringan kelembagaan untuk mitigasi bencana 7. Aspek geologi lain yang terkait dengan mitigasi bencana KESIMPULAN 1. Perencanaan tata ruang dan zonasi lahan secara tidak langsung dapat melindungi aset dan properti terlebih lagi jika peraturan dilaksanakan secara konsisten akan menambah tingkat keselamatan dari suatu bencana alam. Dalam strategi rekontruksi diperlukan keseimbangan antara kebutuhan dan keinginan masyarakat yang berhubungan dengan relokasi maupun pembangunan kembali di tempat asalnya. Dengan adanya bencana membuka peluang untuk menata kembali pola pembangunan yang sudah ada guna meminimalkan kerugian yang mungkin terjadi di masa mendatang. Di sisi lain dapat juga menimbulkan masalah yang sangat serius ketika membangun kembali komunitas secara cepat seperti sebelum terkena bencana. Pembangunan kembali harus mengacu pada proses perencanaan tata guna lahan dan peran aktif dari masyarakat sangat dibutuhkan. 2. 3. Dalam rangka membangun sistem yang memadai guna keperluan mitigasi dampak bencana alam, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengetahui bagaimana suatu bahaya geologi tertentu akan menjadi suatu bencana. Suatu wilayah yang rentan terhadap bencana alam atau sangat mungkin terkena bencana harus ditetapkan serta resiko yang mungkin terjadi apabila bencana alam tersebut benar benar melanda daerah tersebut. 4. Bencana alam adalah suatu bencana yang disebabkan oleh gaya yang berasal dari dalam bumi, dimana kemampuan manusia untuk mencegahnya sangat terbatas. Disamping itu manusia dapat menjadi faktor yang sangat penting dalam menambah tingkat kerusakan dan bahkan manusia dapat merubah suatu potensi bencana menjadi bencana. 5. Dengan adanya bencana membuka peluang untuk menata ulang pola pembangunan yang sudah ada untuk meminimalkan kerugian di masa mendatang. Di sisi lain dapat juga menimbulkan tekanan yang sangat besar dalam membangun kembali komunitas secara cepat seperti sebelum terkena bencana. Pembangunan kembali harus merujuk pada proses perencanaan tata guna lahan dan partisipasi aktif dari masyarakat sangat dibutuhkan. PROGRAM DAN REKOMENDASI 1. Pengadaan dan Ketersediaan Data Geologi : - Peta Zonasi Kerentanan Tsunami - Peta Kerentana Bahaya Gempa - Peta Kerentanan Longsoran Tanah - Peta Kestabilan Wilayah 2. Penyusunan Tata Ruang Wilayah dan Kota Berbasis Mitigasi Bencana Alam.

Related docs
premium docs
Other docs by Djauhari Noor
Bab 3 Mineral dan Batuan
Views: 310  |  Downloads: 34
Chapter-1 Geologi dan Masalah Lingkungan
Views: 52  |  Downloads: 10
Daftar Pustaka
Views: 7  |  Downloads: 0
Proses Perencanaan Tataguna Lahan
Views: 336  |  Downloads: 43
Bahaya Geologi
Views: 231  |  Downloads: 38
Sumberdaya Geologi
Views: 475  |  Downloads: 48
Pengelolaan Pesisir dan Laut
Views: 426  |  Downloads: 54
Bab-1 Pendahuluan
Views: 411  |  Downloads: 30
DAFTAR ISI PENGANTAR GEOLOGI
Views: 641  |  Downloads: 50
DAFTAR PUSTAKA
Views: 56  |  Downloads: 6
DAFTAR PUSTAKA
Views: 135  |  Downloads: 23
Chapter 3 Minerals and Rocks
Views: 1907  |  Downloads: 174
Bab-6 Penginderaan Jauh
Views: 2250  |  Downloads: 189
Bab-11 Paleogeografi
Views: 746  |  Downloads: 95