Docstoc

Skripsi Rina

Document Sample
Skripsi Rina Powered By Docstoc
					                                 PENDAHULUAN


       Peningkatan populasi ternak sangat penting untuk pemenuhan kebutuhan akan

protein asal hewani. Upaya yang dilakukan pemerintah dalam rangka pemenuhan

protein asal hewani adalah meningkatkan mutu genetik diantaranya melalui

persilangan. Salah satu ternak yang mendapatkan program ini adalah sapi Bali yang

disilangkan dengan beberapa pejantan. Pejantannya yaitu Peranakan Onggole,

Simental, Brahman, Anggus, Limosin, dilakukan melalui Inseminasi Buatan (IB).

Persilangan dapat meningkatkan mutu dan keragaman genetik sehingga seleksi efektif

dilakukan, selain itu persilangan menghasilkan heterosis efek.

       Heterosis efek adalah perbedaan antara rata-rata hasil keturunan dari suatu

persilangan dengan rata-rata hasil dari tetuanya. Penyebab heterosis diduga karena

adanya gen non aditif yang menyebabkan dominant, over dominant, dan epistasis,

karena heterosis disebabkan oleh gen non aditif maka besarnya heterosis tidak dapat

diduga terlebih dahulu.

       Ternak dalam hidupnya mengalami suatu proses yaitu proses pertumbuhan.

Pertumbuhan itu adalah perubahan ukuran-ukuran yang meliputi perubahan berat

hidup, bentuk, dimensi linear, dan komposisi tubuh, termasuk perubahan komponen-

komponen tubuh. Proses pertumbuhan yang terjadi pada semua jenis terkadang

berjalan cepat, lambat, dan bahkan terjadi sebelum mencapai kedewasaan. Untuk

melihat ternak tumbuh dengan baik yaitu salah satunya melakukan penimbangan.

Penimbangan bobot badan pada ternak sebaiknya dilakukan 1 bulan sekali, akan



                                                                                1
                                                                                       2




tetapi pada peternak penimbangan bobot badan ini malah diabaikan padahal

penimbangan bobot badan pada ternak sangat penting untuk dilakukannya seleksi,

selain itu penimbangan bobot badan pada ternak sangatlah sulit dilakukan.

        Salah satu solusi untuk mengatasi kesulitan dalam penimbangan ternak adalah

dengan mengukur ukuran-ukuran tubuh yang paling tepat, karena diduga ukuran-

ukuran memiliki keeratan hubungan dengan bobot badan, Keeratan hubungan atau

sering disebut korelasi. Korelasi terbagi menjadi 2 bagian yaitu korelasi genetik dan

fenotipe.

        Korelasi genetik adalah korelasi dari pengaruh gen aditif atau nilai pemuliaan

antara dua sifat dari kriteria seleksi. Korelasi genetik dapat terjadi karena adanya gen-

gen yang bersifat “Pleitropy” dan adanya “Linkage gen”. sedangkan korelasi fenotip

terjadi akibat adanya lingkungan antara dua sifat (Warwick, 1985).

        Seberapa besar nilai korelasi genetik dan fenotip berat 1 tahun serta

bagaimana pengaruh berat 1 tahun terhadap ukuran – ukuran tubuh pada anak sapi

Bali hasil persilangan belum diketahui. Sehubungan maksud tersebut maka dilakukan

penelitian ini.
                                                                                3




                               TINJAUAN PUSTAKA




                                Deskripsi Sapi Bali
       Sapi Bali merupakan sapi potong asli Indonesia dan merupakan hasil

domestikasi dari banteng (bibas banteng), (Harjosubroto, 1994) dan merupakan sapi

asli Pulau Bali (Payne dan Rollinson, 1974 dan Sultan, 1988).

       Sapi Bali merupakan breed sapi asli Indonesia mempunyai potensi yang besar.

Sapi Bali mempunyai populasi dengan jumlah 2.632.125 ekor atau sekitar 26,92%

dari total populasi sapi potong yang ada di Indonesia (Anonimous, 1999).

       Sapi Bali memiliki keunggulan yaitu tingkat kesuburannya tinggi. Jarak

beranak lebih dari pada sapi Eropa dan sapi Zebu dagingnya bertekstur lembut dan

tak berlemak. Pada tahun 1970-an sapi Bali ekspor untuk memenuhi permintaan

daging di pasar singapura, Malaysia, dan Hongkong (Arianto, 2006).

       Sapi bali dikenal mempunyai fertilitas yang tinggi, mencapai 87% di pulau

Bali (Rastika dan Darmadja, 1976). Pertambahan bobot badan hariannya mencapai

0,7 kg/hari dengan manajemen pemeliharaan yang baik (Abidin, 2006). Kekurangan

sapi Bali adalah termasuk bangsa sapi masak lambat dan mencapai kedewasaan

sekitar 3 tahun. Adapun penampilan produktivitas sapi Bali di beberapa Provinsi

dapat terlihat pada Tabel 1.




                                                                                3
                                                                                4




       Tabel 1. Penampilan Produktivitas Sapi Bali di Beberapa Provinsi di
                Indonesia.
                                              Rata-rata

Karakteristik                Sul-Sel      NTT      NTB       Bali     B.C

Berat Lahir (Kg)                13        13,5     14,3      16       18

Berat Sapih (g)                 70        71,4      72        86      97

Berat 1 Tahun (Kg)            112,5       115      118,4    127,5    143

Berat 1,5 Tahun Betina        150         154       160      167,4   190

Berat 1,5 tahun Jantan        162         165       171      182     207

BB betina siap kawin (kg)     165         167       168      170     180

BB jantan siap kawin (kg)     215         220       240       255    270

Berat dewasa (5 thn) btn       224        235      238,5      264    300

Berat dewasa (5 thn) jtn       337       355       363        395     494

Sumber : Pane 1991



                            Perbaikan Mutu Genetik

       Menurut cunningharm (1982), bahwa secara umum perbaikkan mutu genetik

anak dapat dikelompokkan dalam 2 hal yaitu (a). Seleksi pada suatu populasi ternak

yang ada pada suatu daerah, (b). Memasukkan darah baru (Breed) baru kedalam

populasi ternak disuatu daerah. Seleksi akan efektif dilakukan untuk meningkatkan

populasi ternak bila variasi genetik ternak didalam suatu populasi pada daerah

tersebut besar. Bila variasi genetiknya dalam suatu populasi kecil, maka tindakan

yang tepat dilakukan seleksi atau mempelajari breed bangsa ternak apa yang sesuai
                                                                                 5




dengan lingkungan daerah tersebut dan berapa besar persentase darah yang

dikehendaki.

       Perbaikan mutu genetik melalui persilangan maupun pembentukan bangsa

baru tidak akan berhasil bila tidak diikuti dengan perbaikan manajemen pemeliharaan

ternak, oleh karena itu perbaikan mutu genetik harus dilakukan bersama-sama dengan

pengololaan yang baik dan efisien (Becker, 1985)

       Tujuan utama untuk melakukan persilangan antara sapi lokal dengan sapi

Impor adalah untuk memperbaiki mutu sapi lokal atau untuk tujuan produksi

langsung misalnya pada sapi perah, tetapi ada pula yang bertujuan untuk menutupi

kebutuhan bibit sapi betina (Pane, 1990).

       Subandiyo dan Anggraini (1996), menyatakan bahwa hasil persilangan pada

umumnya mempunyai peforma yang lebih baik dibandingkan dengan tetuannya,

ataupun hasil persilangan antar breed

       Secara genetik persilangan meningkatkan persentase Heterozigositas sehingga

dengan demikian meningkatkan variasi genetik. Tujuan utama persilangan adalah

mengabungkan dua sifat atau lebih yang berbeda yang semula terdapat pada dua

bangsa ternak kedalam suatu persilangan (Harjosubroto, 1994). Warwick, dkk.

(1990), menyatakan bahwa heterosis adalah perbedaan antara rata-rata hasil

keturunan dari suatu persilangan dengan rata-rata hasil dari tipe tetuanya.
                                                                                  6




                                   Heretabilitas

       Menurut Warwick (1995), Heritabilitas adalah istilah yang yang digunakan

untuk menunjukkan bagian dari keragamaan total dari suatu sifat yang diakibatkan

oleh pengaruh genetik. Heritabilitas dapat diperhitungkan dalam dua konteks secara

luas pengaruh keturunan termasuk semua pengaruh gen, yaitu aditif, dominanan, dan

epistasis. Memasukkan darah baru kedalam suatu populasi ternak akan meningkatkan

ragam genetik dalam populasi tersebut sehingga menaikkan nilai heritabilitas yang

diperoleh (Harjosubroto, 1994).

       Menurut Falconer (1981) bahwa heritabilitas besar dari 0,3 tergolong kategori

tinggi. Menurut Preston (1974), bahwa heritabilitas disebut dalam kategori tinggi

adalah besar dari 0,5.

       Menurut Pane (1986) bahwa heritabilitas berat badan 1 tahun pada sapi Bali

berkisar 0,35 – 0,8. Besar kecilnya nilai heritabilitas didalam suatu populasi yang

dianalisis akan tergantung pada jumlah pejantan yang diamati, cara pengambilan

sample dan metode perhitungan yang digunakan.



                          Korelasi Genetik dan Fenotip

       Korelasi genetik merupakan suatu nilai yang menunjukkan keeratan hubungan

antara satu sifat lainnya secara genetik (Dalton, 1980). Korelasi genetik    adalah

korelasi dari pengambilan aditif atau nilai pemuliaan antara dua sifat dan kriteria

seleksi, korelasi genetik, dapat terjadi karena adanya gen-gen yang bersifat
                                                                                     7




“Pleitropy” dan adanya “linkage gen”. sedangkan korelasi fenotip terjadi akibat

adanya lingkungan antara 2 sifat (Falconner, 1981).

       Menurut Pane (1986) bahwa pengertian tentang korelasi genetik mempunyai

arti penting karena : 1). Korelasi genetik dapat menimbulkan perubahan yang terjadi

pada generasi berikutnya, 2). Korelasi genetik dapat dipergunakan untuk

merencanakan perbaikkan ukuran-ukuran seleksi, 3). Korelasi genetik dapat

dimanfaatkan dalam keadaan suatu sifat sulit untuk ditingkatkan dan sifat lainnya

dapat digunakan untuk memperbaiki sifat tersebut.

       Menurut Dalton (1980) bahwa nilai korelasi genetik berkisar antara -1 sampai

lebih kurang 1. Korelasi dikatakan sedang bila kecil dari 0,25 – 0,5 dan berkorelasi

tinggi bila besar dari 0,50 (Warwick, dkk. 1995).

       Pirchner (1969), mengemukakan bahwa seleksi suatu sifat akan berpengaruh

terhadap sifat lain apabila terdapat korelasi genetik yang besar antara kedua sifat

tersebut. Dijelaskan pula bahwa nilai korelasi dapat digunakan untuk mengukur

respon korelasi dalam seleksi, yaitu apabila seleksi dilakukan terhadap sifat yang

pertama yang nilai korelasi genetiknya besar pada kelompok tetua akan berpengaruh

terhadap sifat kedua pada keturunannya. Laslay (1978), menyatakan bahwa dua sifat

yang memiliki nilai korelasi positif berarti seleksi untuk memperbaiki satu sifat dapat

meningkatkan sifat yang lainnya, sedangkan bila nilai korelasinya negative berarti

dengan menyeleksi satu sifat akan memperburuk sifat lainnya.

       Korelasi genetik dapat berubah dalam populasi yang sama selama beberapa

generasi apabila dilakukan seleksi secara intensif (Warwick, dkk. 1995). Pada sapi
                                                                                    8




potong sub tropis diketahui korelasi genetik antara berat lahir dengan berat sapih dan

korelasi genetik berat sapih dengan laju kenaikan bobot badan pasca sapih memiliki

korelasi positive sedang, sedangkan korelasi genetik laju kenaikkan berat badan pasca

sapih dengan efisiensi penggunaan pakan memiliki korelasi positif tinggi (Warwick,

dkk. 1995).

       Dickerson (1974), menyatakan korelasi genetik dan fenotipik antara bobot

sapih dengan bobot satu tahun sebesar 0,94 ± 0,09 dan 0,67 ± 0,03. Menurut Thrift

(1981) bahwa pada populasi terseleksi untuk jantan, korelasi genetik dan fenotipnya

masing-masing sebesar 1,01 ± 0,57 dan 0,81 sedangkan pada populasi kontrol sebesar

0,68 ± 0,26 dengan korelasi fenotip 0,79.

       Menurut Warwick dkk (1995) menyatakan korelasi fenotip dapat dibagi

menjadi bagian-bagian yang biasanya disebut korelasi lingkungan dan genetik.

Korelasi genetik adalah korelasi dari pengaruh genetic aditif atau nilai pemuliaan

antara kedua sifat tersebut. Korelasi lingkungan termasuk pengaruh genetik yang

bukan aditif.



                Hubungan Ukuran-Ukuran Tubuh dengan Bobot Badan

       Ukuran-ukuran tubuh seperti panjang badan, lingkar dada, dalam dada, tinggi

pundak, dan lebar dada dapat memberikan suatu petunjuk tentang bobot hidup dari

suatu ternak dengan ketelitian yang baik (Williamson dan Payne, 1987).

Pertumbuhan, bobot badan dan ukuran-ukuran tubuh dipengaruhi oleh umur (Pane,
                                                                                 9




1986), kondisi tubuh akan berpengaruh terhadap ukuran-ukuran tubuh (karnaen dan

sudono, 1991).

       Apabila umur meningkat maka sampai batas tertentu ukuran-ukuran tubuh

juga meningkat (Siregar, dkk. 1985). Sugeng (1992) menyatakan bahwa rangka dan

tulang tumbuh lebih cepat dalam waktu yang sangat singkat sesudah hewan

dilahirkan yang kemudian laju pertumbuhan menurun, setelah itu baru diikuti oleh

peningkatan laju pertumbuhan jaringan otot dan terakhir adalah lemak. Pertumbuhan,

bobot badan dan ukuran-ukuran tubuh (pertumbuhan) sesuai umur.

       Dimensi tubuh yang mempunyai tingkat kedewasaan awal, misalnya tinggi

pundak tidak baik untuk menaksir berat badan sebab tidak mempunyai koefisien yang

kecil, koefisien korelasi terbesar terdapat pada lingkar dada. Tingkat ketepatan

pengukuran lingkar dada lebih baik karena lebih mudah melakukan pengukurannya,

sehingga kesalahan dalam penaksiran bobot badan lebih kecil (Djagra, 1994).

       Menurut Harjosubroto (1994), ukuran-ukuran tubuh yang sering digunakan

adalah panjang badan, lingkar dada dan tinggi pundak yang semuanya merupakan

indicator dari bobot badan. Lana dkk (1983) bahwa dimensi tubuh yaitu panjang

badan, lingkar dada memiliki korelasi positif dengan bobot badan

       Soeparno (1998), menyatakan bahwa umur sangat mempengaruhi bobot

badan dari seekor ternak, semakin dewasa ternak semakin bertambah bobot badan.

Ukuran-ukuran tubuh serta tanda luar merupakan salah satu cara yang mudah untuk

menduga bobot badan maupun untuk mengetahui sifat keturunan dari seekor ternak

(Blakely, dan Bade, 1992).
                                                                               10




                          Bobot Badan Umur 1 Tahun

       Pertumbuhan pedet setelah disapih merupakan hal penting untuk diketahui,

karena pertumbuhan yang dicapai pedet merupakan kemampuan individu itu sendiri

dan pengaruh induk sudah tidak ada lagi. Bobot badan umur 1 tahun dapat digunakan

sebagai kriteria seleksi, karena pertumbuhan ternak tergantung kepada konsumsi dan

ketersediaan hijauan makanan ternak pada kondisi lapangan. Jika ketersediaan

makanan cukup dengan nilai gizi yang baik, maka pedet tersebut akan menunjukkan

kemampuan potensi genetiknya untuk bertumbuh. Dengan demikian akan dapat

bangsa dan pejantan mana yang baik untuk dipertahankan sebagai bibit.

       Sejalan dengan pernyataan Warwick, dkk (1987), bahwa laju kenaikkan berat

badan setelah sapih mempunyai korelasi yang tinggi dengan efisiensi makanan dan

produksi daging tidak berlemak. Selanjutnya dikatakan oleh lasley (1978), bahwa

bobot badan umur 1 tahun adalah satu sifat yang dapat digunakan sebagai pengganti

induk dan pejantan yang kemampuan produksinya sudah menurun.

       Selanjutnya pane (1960) melaporkan bobot badan sapi bali umur satu tahun

pada breeding center tanpa perlakuan khusus sebesar 149 kg. perbedaan berat badan

sapi bali umur atu tahun disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya faktor lokasi

dimana ternak dipelihara, kelompok jantan yang digunakan, jenis kelamin pedet dan

urutan kelahiran atau paritas. Sejalan dengan hasil penelitian liwa (1990) bahwa

bobot badan pedet umur 300 hari meningkat sejalan dengan peningkatan parietas

kelahiran. Peningkatan mulai terjadi pada parietas ketiga, kemudian keempat dan

kelima ,kedua dan pertama paling rendah.
                                                                         11




      Menurut   Goodwin    (1977),   menyatakan   bahwa   pertumbuhan   dan

perkembangan adalah pertambahan dan perubahana bentuk tubuh sampai mencapai

dewasa tubuh
                                                                                  12




                             METODE PENELITIAN




                          Tempat dan Waktu Penelitian

       Penelitian ini telah dilaksanakan di wilayah kerja Pos Inseminasi Buatan

Kabupaten Muaro Jambi Provinsi Jambi yang meliputi : Desa kebon XI, Jambi Kecil,

Sungai Sembumbun, dan Petaling. Mulai dari tanggal 21 Mei sampai dengan tanggal

08 Juli 2009.



                              Rancangan Penelitian

                                 Materi Penelitian

       Materi penelitian ini adalah ternak sapi milik petani peternak turunan pertama

(F1) dari pejantan Bali, Simental, Limousin. Jumlah anak sapi hasil IB yang

digunakan dalam penelitian ini sebanyak 117 ekor, perkawinan induk bali dengan

pejantan bali sebanyak 37 ekor, persilangan Simental x Bali sebanyak 36 ekor dan

persilangan Limousin x Bali sebanyak 44 ekor. Alat yang digunakan adalah pita ukur,

tumbangan digital, tongkat ukur, kandang penjepit.



Cara Kerja

       Cara kerja pada penelitian ini adalah ternak tersebut dimasukkan kedalam

kandang penjepit, pada lantai kandang penjepit terlebih dahulu diberikan papan (besi)

dari timbangan digital yang dialirkan dengan menggunakan arus AKI. Setelah didapat




                                                                                 12
                                                                                  13




hasil penimbangan dikalikan dengan koefisien dari timbangan digital sebesar 0.45,

setelah dikalikan didapatlah bobot badan ternak yang sesungguhnya. Kemudian

setelah ditimbang ternak langsung dilakukan pengukuran ukuran-ukuran tubuh yang

meliputi : Panjang Badan (PB), Lingkar Dada (LD), dan Tinggi Pundak (TP). PB dan

LD dilakukan pengukuran dengan menggunakan pita ukur sedangkan TP dengan

menggunakan tongkat ukur.



                Metode Penelitian dan Teknik Pengambilan Sampel

        Metode penelitian yang digunakan adalah “survey”, teknik pengambilan

sample dilakukan sensus terhadap peternak yang mengikuti program inseminasi

buatan. Pengamatan langsung dilapangan terhadap bobot badan dan ukuran-ukuran

tubuh yang diteliti.



                                Data Yang Dihimpun

        Data yang dihimpun dalam penelitian ini adalah Berat umur 1 tahun, Lingkar

Dada, Tinggi Pundak, Panjang Badan, nama atau kode pejantan dan anak, silsilah.

        Adapun batas pengukuran bagian-bagian tubuh ternak tersebut adalah sebagai

berikut :

        a. Bobot Badan (BB)

            Ditimbang dengan menggunakan timbangan dengan kapasiatas 1.000 Kg

            dengan tingkat ketelitian 0,01.

        b. Lingkar Dada (LD)
                                                                                 14




           Lingkar dada diukur tepat dibelakang benjolan tulang bahu dengan

           menggunakan pita ukur dengan satuan cm.

       c. Tinggi Pundak (TP)

           Tinggi pundak diukur tegak lurus dari bagian tertinggi pundak sampai

           tempat pijak datar dengan menggunakan tongkat ukur dalam satuan cm.

       d. Panjang Badan (PB)

           Panjang badan diukur dari jarak lurus dari benjolan pangkal kaki depan

           sampai benjolan tulang duduk.



 Koreksi Umur 365 hari (1 Tahun)

       Untuk menghilangkan pengaruh perbedaan umur pada tiap kelompok umur,

sebelum analisa varian terhadap data terlebih dahulu dilakukan standarisasi kebobot

usia sesuai dengan kelompok umur yaitu 365 hari (1 tahun) dengan menggunakan

cara sebagai berikut:

       Pertama dibuat regresi sederhana antara tampilan (bobot badan, panjang

badan, lingkar dada, dalam dada dan tinggi pundak) dengan umur sapi saat

pengukuran (dalam hari), tampilan sekatagori (y) dan umur sekatagori (x).

Selanjutnya dilakukan penghitungan tampilan pada setiap kelompok umur dengan

cara berikut

       TS = (365 – UI) b + TI

Dimana :
                                                                                  15




TS = Tampilan Standarisasi                      b   = Koefisien Regresi

UK = Umur Kelompok                              TI = Tampilan Individu

UI = Umur Individu



 Koreksi Jenis Kelamin

           Seperti diketahui akibat perbedaan pengaruh hormon jenis kelamin, maka

    ternak jantan mempunyai kemampuan menimbun protein kedalam jaringan tubuh

    yang lebih besar dari ternak betina. Hal ini akan menyebabkan ternak jantan

    memiliki bobot badan yang lebih besar dari ternak betina. Faktor koreksi jenis

    kelamin bertujuan untuk menghilangkan pengaruh perbedaan jenis kelamin jantan

    dan betina terhadap ukuran-ukuran tubuh serta berat badan anak sapi Bali hasil

    persilangan dengan beberapa bangsa pejantan.

           Apabila dalam uji F dengan analisa varian pola klasifikasi satu arah berat

badan pedet jantan lebih besar dari berat badan pedet betina, maka data berat pedet

bertina diubah menjadi stara data pedet jantan dengan menggunkan factor koreksi

dari scott (1971), yaitu :

           BSi (tk) = BSi(b) x FKJK                           FKJK =      XiJ

                                                                          XiB

Dimana :

BSi (tk)          = Berat pedet pada fase pertumbuhan ke-I terkoreksi

i                 = 1 (berat sapih), 2 (berat satu tahun)
                                                                  16




BSi(b)   = Berat pedet betina pada fase pertumbuhan ke-i

FKJK     = Faktor koreksi jenis kelamin

XiJ      = Rataan berat pedet jantan pada fase pertumbuhan ke-i

XiB      = Rataan berat pedet betina pada fase pertumbuhan ke-i
                                                                               17




                                Analisis Statistika

        Dalam menganalisa data menggunakan analisis statistika, analisis meliputi:

Heritabilitas, korelasi genetik berat umur 1 tahun dengan ukuran-ukuran tubuh,

korelasi fenotip berat umur 1 tahun dengan ukuran-ukuran tubuh.

1. Heritabilitas

        Pendugaan nilai heritabilitas berat 1 tahun dan laju pertumbuhan pasca

sapih menggunakan metode korelasi saudara tiri sebapak (Paternal Halfsib

Correlation), menurut petunjuk Becker (1975).

        COVHS = 1/4 VA2 + 1/16 VAA2 + 1/16 VAAA2

Keterangan :

COVHS          = Peragam saudara tiri sebapak

VA2            = Ragam genetik aditif

VAA2           = Ragam interaksi dua genetik aditif

VAAA2          = Ragam interaksi tiga genetik aditif

        Secara aditif gen bersifat bebas dan tidak terjadi korelasi sehingga nilai

covarian antara gen menjadi nol (VAA = VAAA = 0).

        COVHS = 1/4 VA

        VA         = 4 COSHS

Dalam analisa statistika COVHS = σ2s jadi σ2A = 4 COSHS = 4 σ2s, jadi :

        σ2A = 4 COSHS = 4 σ2
                                                                            18




Sedangkan rumus untuk menduga ragam lingkungan (σ2 w) adalah :

σ2 w = σ2 T - COVHS

σ2 w = σ2 T - σ2 s

σ2 T = σ2 s - σ2 w

σp    = σ2 T = σ2 s + σ2 w

                      2 A         4CovHS           4 2 s
Jadi nilai h2   =            =              =
                      2P           2 P          2s  2w

        Analisa statistik untuk menduga nilai heritabilitas di atas, yaitu

menggunakan analisis varian pola klasifikasi satu arah, dimana pejantan sebagai

perlakuan dan keturunannya sebagai ulangan. Model matematikanya adalah

sebagai berikut :

        Yik = μ + αi + εik

Keterangan :

Yik     = Hasil pengamatan pada individu ke-k anak pejantan ke-I

Μ       = Rataan populasi

αi      = Pengaruh pejantan ke-I

εik     = Pengaruh lingkungan yang tidak terkontrol individu anak ke-k anak

          pejantan ke-i
                                                                                                 19




         Tabel 2. Analisis Varians untuk menghitung nilai Heritabilitas sebagai

berikut :

Sumber Keragaman                  Db                  JK            KT       Komponan Ragam

        Pejantan              S–1                   JKP(s)        KTP(s)         σ2 w + k σ2 s

     Dalam Pejantan           n–S                   JKP(w)        KTP(w)             σ2 w

         Korelasi dalam kelas, yaitu suatu ukuran kemiripan antara saudara tiri,

dapat ditentukan sebagai berikut :

                                       s2
         t         =                                 =       Korelasi dalam kelas sebapak
                                   w   s2
                                    2




         Nilai heritabilitas sama dengan 4t atau dalam bentuk komponen ragam

seperti tertera berikut ini :

                                                4 s2
Heritabilitas          (h2)       =
                                              w   s2
                                               2




         Galat baku heritabilitas diduga dengan menggunakan persamaan sebagai

berikut :

                                    2(1  t ) 2 [1 (k 1)t ]2
Gb (h2)            =          4
                                        k (k 1) ( s 1)


Jumlah Anak Perpejantan (k)                    =
                                                      1
                                                          (n. 
                                                                 ni2 )
                                                     S 1        n.

Keterangan :

ni       = Jumlah anak pejantan ke-I
                                                                             20




s       = Jumlah pejantan

n       = Jumlah anak keseluruhan



2. Korelasi Genetik

        Pendugaan korelasi genetik berat 1 tahun dengan ukuran-ukuran tubuh

Sapi Bali hasil persilangan beberapa bangsa pejantan menggunakan analisis ragam

dan peragam saudara tiri sebapak dengan pola klasifikasi satu arah menurut

Becker (1975). Model analisis genetik :

Covs            = ¼ Cov A                                  Cov A = 4 Cov s

σs              = CovHS           = ¼ σA

Sehingga

                              4Cov A(12)
rg              =
                          4 2 A(1) 4 2 A( 2)

                                      Cov S (12)
Korelasi genetik (rg) =
                                     2 S (1)  2 S ( 2)

Keterangan :

rg       = Korelasi genetik

Cov(12) = Peragam genetik

σS(1)    = Ragam genetik sifat pertama

σS(2)    = Ragam genetik sifat kedua
                                                                                 21




        Rumus untuk menghitung galat baku korelasi genetik adalah berdasarkan

petunjuk Becker (1975) sebagai berikut :

                    r2 g 2
Var (rg)        =      2
                         (a Var HKTS + b2 Var HKTW) / Cov2 xy
                     k

                + (a2 Var KTs(X) + b2 Var KTw(Y)) / 4σ2 X

                + (a2 Var KTs(Y) + b2 Var KTw(Y)) / 4σ2 Y

                - [(a2 Cov (KTs(X) KTPs) + b2 Cov (KTw(X) KTPw)]/ σ2X CovXY

                - [(a2 Cov (KTs(X) KTPs) + b2 Cov (KTw(Y) KTPw)]/ σ2Y CovXY

                + [(a2 Cov (KTs(X) KTs(Y)) + b2 Cov (KTw(X) KTPw(Y))]/ 2σ2xσ2Y

Gb rg      =   var rg

Keterangan Gb rg        =   Galat Baku Korelasi Genetik

           Tabel 3. Analisis Peragam (Covarians) yaitu :

        Sumber               Db         JHK         KHT      Komponan Ragam

     Keragaman

        Pejantan            S–1       JHKP(s)      KHTP(s)      Covw + k Covs

   Dalam Pejantan           n–S       JHKP(w)     KHTP(w)           Covw




3. Korelasi Fenotip

Cov p = ¼ Cov p  Cop = 4 Cov p

p = Cov HP = ¼ p
                                                                                    22




                       4Covp (12)
Sehingga : rp =
                     4  2 p 1 4 2 p2

                                Covp (12)
Korelasi fenotipik (rp) :
                               p 2 1 p 2 2

Keterangan :

rp             = Korelasi fenotipik

Cov p (12) = Peragaman fenotipik

2 p(1)        = Ragam fenotipik sifat pertama

2 p(2)        = Ragam fenotipik sifat kedua

Rumus untuk menghitung alat baku kordasi fenotipik adalah :

6b rp =     Var rp

          Tabel 4. Analisis peragaman (covarians) yaitu :

Sumber Keragaman                Db                 JHK    KHT      Komponan Ragam


        Pejantan               S–1            JHKP(s)    KHTP(s)    Covw + k Covs

     Dalam Pejantan            n–S            JHKP(w)    KHTP(w)        Covw
                                                                                 23




                           HASIL DAN PEMBAHASAN



                                    Bobot Badan

       Berat satu tahun adalah berat badan yang diukur pada umur 365 hari, umur

saat dilakukan penimbangan pada penelitian ini 365 ± 14 hari. Rataan berat satu

tahun anak sapi Bali hasil persilangan dapat dilihat pada tabel 1.

         Tabel 5.    Rataan Bobot Badan Sapi Turunan Sapi Bali Umur 365 hari (1
                     Tahun) Hasil Persilangan dengan Beberapa Bangsa Pejantan
        .
       Bangsa Pejantan                Induk          Bobot Badan Umur 365 (Kg)
       Bali                           Bali                  156,53

       Simental                       Bali                   186.53

       Limousin                       Bali                   176,80

       Tabel 5. menunjukkan bahwa rataan berat satu tahun persilangan Simental x

Bali, Limousin x Bali dan perkawinan Bali x Bali setelah distandarisasi dengan

koreksi umur induk dan jenis kelamin dari yang tertinggi sampai terendah bobot

badan secara berurutan yaitu, persilangan Simental x bali > Limousin x Bali >

perkawinan Bali x Bali. Perbedaan rataan bobot badan pada persilangan Simental x

bali, Limosin x bali dan perkawinan Bali x Bali diduga karena adanya pengaruh

genetik dari pejantan dan berat badan bangsa penyilang yang lebih besar dengan laju

pertumbuhan yang lebih cepat dari sapi Bali. Hal ini menyebabkan persilangan

Simental x Bali memiliki bobot badan lebih besar dari bobot badan Limousin x Bali

dan perkawinan Bali x Bali.



                                                                                 23
                                                                                24




       Pejantan simental merupakan sapi bangsa Bos Taurus yang termasuk tipe

besar dan memiliki genetik yang lebih baik, terutama dalam pertumbuhan dan

pembentukan daging (Nane, 2009). Jika tipe besar yang memiliki pertumbuhan cepat

disilangkan dengan bangsa tipe kecil, maka bobot badan turunannya akan lebih tinggi

dari rataan kedua tetuanya. Sesuai dengan pendapat hasil penelitian gregori dkk.,

(1985), bahwa hasil perkawinan Bos Taurus dengan Bos Indicus akan lebih tinggi

dibandingkan dari hasil perkawinan sesama Bos Indicus.

       Hal ini karena perbedaan bangsa menyebabkan perbedaan genetik, sehingga

laju pertumbuhan dan berat satu tahun jjuga berbeda. Menurut Pane(1986) bahwa

berat badan sapi Bali umur satu tahun disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya

faktor lokasi dimana ternak dipelihara, kelompok jantan yang digunakan, jenis

kelamin pedet dan urutan kelahiran atau partus.


       .
                               Ukuran-Ukuran Tubuh
       Ukuran-ukuran tubuh sapi hasil persilangan induk Bali dengan beberapa

bangsa pejantan yang meliputi panjang badan, lingkar dada, dan tinggi pundak umur

365 hari disajikan pada table 6.
                                                                                 25




       Tabel 6.    Rataan Ukuran-Ukuran Tubuh Sapi Hasil Persilangan Induk Bali
                  dengan Beberapa Pejantan Umur 365 Hari.

       Bangsa           Induk                   Ukuran-ukuran Tubuh (Cm)
       Pejantan                            PB          LD         TP

       Bali            Bali                99,14     124,73       96,89

       Limousin        Bali               113,93     146,74       110,85

       Simental        Bali               109,92      152,73      106,38

       Tabel 6. diatas menunjukkan bahwa ukuran-ukuran tubuh meliputi panjang

badan (PB), lingkar dada (LD), dan tinggi pundak (TP). Hasil persilangan induk sapi

Bali dengan beberapa bangsa pejantan lebih tinggi dibandingkan dengan hasil

perkawinan induk Bali dengan pejantan Bali.

       Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa LD persilangan Simental x bali >

Limousin x Bali > perkawinan Bali x Bali. kondisi ini menunjukkan bahwa

persilangan Simental x Bali dan Limousin x Bali memiliki ukuran-ukuran tubuh yang

lebih baik dari perkawinan Bali x Bali. Hal ini sesuai dengan pernyataan Subandiyo

dan Anggraini (1996) yang menyatakan bahwa hasil persilangan pada umumnya

mempunyai peforma yang lebih baik dibandingkan dengan tetuannya, ataupun hasil

persilangan antar breed. Selanjutnya menurut Lana dkk (1983) bahwa dimensi tubuh

yaitu panjang badan, lingkar dada memiliki korelasi positif dengan bobot badan. Dan

ditambahkan oleh Djagra (1994), dimensi tubuh yang mempunyai kedewasaan awal,

misalnya tinggi pundak tidak baik untuk menaksir berat badan sebab tidak

mempunyai koefisien yang kecil, koefisien terbesar terdapat pada lingkar dada.
                                                                                      26




Tingkat ketepatan pengukuran lingkar dada lebih baik karena lebih mudah

melakukan pengukurannya, sehingga kesalahan dalam penaksiran bobot badan lebih

kecil.



                                   Nilai Heritabilitas

         Hasil analisis data diketahui nilai heritabillitas bobot badan 1 tahun keturunan

sapi Bali hasil perkawinan dan persilangan umur 1 tahun meliputi bobot badan,

panjang badan, lingkar dada, dan tinggi pundak secara berurutan yaitu 0.7134 ±

0.6637, 0.6278 ± 0.6098, 0.6236 ± 0.6072, 0.7156 ± 0.6650. Hasil penelitian ini

menunjukkan nilai heritabilitas tergolong tinggi ini berarti keragaman genetik bobot

badan 1 tahun dan ukuran-ukuran tubuh hasil persilangan lebih besar ditentukan oleh

faktor genetik, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lingkungan.

         Tingginya nilai heritabilitas bobot badan dan ukuran-ukuran tubuh

menunjukkan besarnya keragaman genetic dalam populasi anak sapi Bali di

Kabupaten Muaro Jambi akibat memasukkan darah baru dalam populasi melalui

program inseminasi buatan. Tingginya nilai heritabilitas yang diperoleh pada

penelitian ini menyebabkan seleksi untuk meningkatkan mutu genetik generasi

berikutnya berdasarkan berat satu tahun dan ukuran-ukuran tubuh efektif dilakukan.

Hal ini sesuai dengan pernyataan Harjosubroto (1994), bahwa memasukkan darah

baru kedalam suatu populasi ternak akan meningkatkan ragam genetik dalam

populasi tersebut sehingga nilai heritabilitas yang diperoleh tinggi.
                                                                                         27




       Hasil penelitian ini juga sesuai dengan yang dikemukakan Pane(1986) bahwa

heritabilitas berat 1 tahun pada sapi Bali berkisar 0,35 – 0,8, dan ditambahkan oleh

warwick, dkk (1995) bahwa nilai heritabilitas berat 1 tahun pada sapi potong adalah

0,7. Besar kecilnya nilai heritabilitas didalam suatu populasi yang dianalisis akan

tergantung pada jumlah pejantan yang diamati, cara pengambilan sample dan metode

yang digunakan.



                                  Korelasi Genetik

       Korelasi genetik merupakan suatu nilai yang menentukan keeratan antara satu

sifat dengan sifat lainnya secara genetik (Dalton, 1980). Hasil analisis pendugaan

korelasi genetik antara BB dengan LD, BB dengan PB dan BB dengan TP, Pada

penelitian ini BB sangat erat terhadap LD, PB dan TP, sehingga diperoleh hasil

secara berurutan sebagai berikut 0.9506 ± 0.066 , 0.98 ± 0.026 , 0.9350 ± 0.082.

Kondisi ini   menunjukkan korelasi pada penelitian ini termasuk korelasi positif

kategori tinggi. Korelasi positif tinggi akan meningkatkan berat 1 tahun pada

generasi berikutnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Dalton (1981) bahwa nilai

korelasi genetik berkisar -1 sampai lebih kurang dari 1. Ditambahkan oleh Falconner

(1981) bahwa korelasi dinyatakan positif rendah berkisar 0,05 sampai 0,25 dan

korelasi positif sedang 0,25 sampai 0,5 serta korelasi positif tinggi 0,50 sampai 1,0.

       Berdasarkan hasil diatas korelasi genetik berat satu tahun termasuk kategori

tinggi. Korelasi genetik positif tinggi akan meningkatkan berat satu tahun pada

generasi berikutnya. Korelasi genetik berat satu tahun dalam penelitian ini sesuai
                                                                                   28




dengan pendapat warwick, dkk (1995) yang menyatakan bahwa korelasi genetik

berat sapih dengan berat satu tahun pada sapi potong adalah positif tinggi.



                                  Korelasi Fenotipe

       Hubungan antara dua sifat atau lebih pada sifat kuantitatif dapat dinyatakan

berkolerasi. Dalam pemulian ternak hubungan korelasi ini, salah satunya adalah

korelasi fenotipik. Korelasi fenotipik adalah hubungan antara satu sifat dengan sifat

lain yang mempengaruhi pada individu itu sendiri.

       Korelasi fenotipe BB sangat erat terhadap LD, PB dan TP yaitu masing-

masing 0.8241 ± 0.2529, 0.5331 ± 0.4753, 0.4535 ± 0.5199. Besarnya nilai korelasi

BB terhadap LD diperoleh akibat peragam genetik dan fenotipe yang tinggi, selain

itu tingginya nilai korelasi BB dengan LD ini juga disebabkan oleh ragam

lingkungan. Korelasi fenotipik yang positif tinggi berarti akan meningkatkan berat

satu tahun individu itu sendiri. Hal ini sesuai dengan Johnson dan randel (1966) yang

mengemukakan bahwa korelasi berat sapih dengan laju pertumbuhan pasca sapih

sampai umur 1 tahun adalah 0,33
                                                                         29




                             KESIMPULAN



Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa :

1. Persilangan induk sapi bali dengan pejantan simental atau limousin dapat

   meningkatkan produktivitas turunannya (F1) dan akan menghasilkan bobot

   badan yang lebih baik dibandingkan perkawinan induk bali dengan pejantan

   bali.

2. Ukuran-ukuran tubuh terutama lingkar dada merupakan ukuran-ukuran yang

   paling tepat digunakan untuk menduga bobot badan.

3. Ukuran-ukuran tubuh berkorelasi genetik tinggi dengan bobot badan.




                                                                        29
                                                                              30




                             DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Jaenal. 2006. Pengemukkan Sapi Potong. Cetakan ke Sepuluh. Agro Media
       Pustaka, Jakarta.

Anonimous, 1999. kajian Pola Pengembangan Peternakan Rakyat Berwawasan
      Agribisnis. Lembaga Penelitian IPB dan Direktorat Jendral Peternakan,
      Departemen Pertanian republik Indonesia.

Arianto, H. B. 2006. Pengemukkan Sapi Potong Secara Cepat. Cetakan ke enam,
       Penebar Swasdaya, Jakarta.

Becker,W. A. 1985. Manual Of Quantitative Genetik.4 th Edition. Published By
       Academia Enter Princes, Dulman. Washington.

Blakley, J dan H. Bade. 1992. Ilmu Peternakan. Gajah Mada University Press.
       Yogyakarta.

Cuningharm, A. P., 1982. Animal Breeding Under Changing Economic Cirmites
      Proc.Of The World Conggreson Sheep and Sheep Beef Cattle Breeding. ii : 7-
      9.

Dalton, D. c. 1980. An introduction to Practical Animal Breeding. Publishing Ltd.
       New York. USA. 81.

Dickerson, G. E. , Niklans Kumzi, L. V. Cundiff, R. M. Koch V. M. Arthoud, and K.
       E. Gregory, 1974. Selection Criteria For Effesient Beef Production. Jour.
       Anim. Socience. 39 : 659 – 73.

Djagra, I. B. 1994. Pertumbuhan Sapi Bali. Sebuah Analisis Berdasarkan Dimensi
       Tubuh. Majalah Ilmiah UNUD : Tahun XXI : No. 39, Bali.

Falconer, D. S. , 1981. Intoduction to Quantitative Genetics. Second Edition.
       Longman Group Limited. London and New York.

Goodwin, M. E. 1969 Beef Management and Production. 2 nd. Edition. A Practical
     Guide for Farmers and Student. Hutchinson of London, London.


Gregory, dkk. 1985. Breed Effect And Heterosis in Advanced Generation of
      Composite Population on Actual Weight and Condition Score of Beef Cows.
      Journal Animal Science.



                                                                               30
                                                                                      31




Harjosubroto, W. 1994. Aplikasi Pemuliaan Ternak di Lapangan. Grasindo. Jakarta.

Karnaen dan Soetomo. 1991. Hubungan antara Berat Badan, Berat Karkas dengan
      Lingkar Dada, Panjang Badan Sapi Peranakan Onggole, Dewasa Pada
      Berbagai Kondisi Tubuh dan Jenis Kelamin. Laporan Penelitian Fakultas
      Peternakan Universitas Padjajaran, Bandung.
                                                           rd
Lasley, I. J. 1987. Genetics Of Live Stock Improvement 3        Edition. Prenticetiallnc.
       Englewood Cliffs New Jersey. 334 -335.

Lana. K., Artika dan I. M Nitis. 1983. Pengaruh Konsentrat Terhadap Dimensi Tubuh
       Serta Korelasi dengan Berat Badan Sapi Bali Jantan Kebiri yang
       Dibandingkan. Procceding Pertemuan Ilmiah Ruminansia Besar P4 dan B3
       Departemen Pertanian Bogor.

Liwa, A. M. 1991. Produktivitas Sapi Bali di Sulawesi Selatan. Program Pasca
      Sarjana IPB, Bogor.

Nane. 2009. Http : WWW. Google.com. 2009.

Pane, I. J. 1978. Pemuliabiakan Ternak Sapi. PT Gramedia Utama, Jakarta.

Pane, I. 1986. Pemuliabiakan Ternak Sapi. PT Gramedia Utama, Jakarta.

Pane, I. 1991. Produktivitas dan Breeding Sapi Bali. Prosiding Seminar Nasional Sapi
        Bali. 2-3 September 1991. Fakultas Peternakan Universitas Hassanudin Ujung
        Pandang.

Payne. W. J. A. and Rollinson, D. H. L. 1974. Bali Cattle. World Anim. Rev. 7, 13 –
       21.

Pichner, F. 1969, Populasi Genetics in Animal Breeding. W. H. Freeman and
       Comapany. San Fransisco. 103 -134.

Preston, T. R. and M. B. Wills. 1974. Intensive Beef Production. Second Ed.
       Pergamon, New York.

Rastika , M dan Darmadja. 1976. Performan Reproduksi Sapi Bali Dalam Prosesing
       seminar Reproduksi dari Sapi Bali. Dinas Peternakan Tingkat 1 Propinsi Bali.
       Pp 18-42.
                                                                                32




Siregar, C. Talib, K Dwiyanto, P. Sitepu, Kusnadi, H. Prasetyo dan Sitorus. 1995.
        Performance Sapi Bali di Nusa Tenggara Timur. Direktorat Bina Produksi.
        Direktorat Jenderal Peternakan dan Balai Penelitian.


Soeparno. 1998. Ilmu dan Teknologi Daging. Gajah Mada University Press.
      Yogyakarta.

Sugeng. 1992. Sapi Potong. Penebar Swadaya, Jakarta.

Subandiyo dan A. Angaraini. 1996. Pendekatan Konservasi In-Situ Aktif Sumberdaya
      Genetik Ternak Ruminansia. Balai Penelitian Ternak Bogor. Diskusi Panel
      Konservasi Pelestarian In-Situ Palsma Nutfah Ternak Ruminansia, Bogor.

Steel G. D. dan J. H. Torrie. 1989. Prinsip dan Prosedur Statistik Suatu Pendekatan
       Biometrik. Penerbit. PT. Gramedia. Jakarta.

Warwick, E. J. J. M. Astuti and W. Harjosubroto. 1987. Pemulin Ternak . Gajah
      Mada University. Press. Yogyakarta.

Warwick, E. J. J. M. Astuti and W. Harjosubroto. 1990. Pemulin Ternak . Gajah
      Mada University. Press. Yogyakarta.

Warwick, E. J. J. M. Astuti and W. Harjosubroto. 1995. Pemulin Ternak Cetakan Ke
      lima Universitas Gajah Mada,. Press. Yogyakarta.

Williamson, G. and W. J. A. Payne. 1982 An Intoduction Animal Husbandry in The
       Tropic. Longman, New York.

Williamson, G. and W. J. A. Payne. 1987 An Intoduction Animal Husbandry in The
       Tropic. Longman, New York.
                                                                         33




                                    LAMPIRAN


Lampiran 1. Faktor Koreksi Umur Induk dan Jenis Kelamin Anak sapi Bali
            Hasil Inseminasi Buatan Di Kabupaten Muaro Jambi.


Faktor Koreksi                      Rataan        Nilai Faktor Koreksi

1. Umur Induk
   2,5 tahun (kelahiran 1)            -                  1,07
   3-4 tahun (kelahiran 2)            -                  1,03
   5-9 tahun (Kelahiran 3 Keatas)     -                  1



Bobot 1 Tahun
   1. Jenis kelamin
       Jantan                       152,83
       Betina                       148,37
                                                                     34




Lampiran 2. Data Berat Badan dan Ukuran-ukuran Tubuh Keturunan Induk
            Sapi Bali (F1).

                Bangsa    Bobot      Panjang    Lingkar    Tinggi
No. Pejantan
               Pejantan   Badan       Badan      dada      Pundak
 1       2        3          4          5          6          7
 1     89913   Limousin    185.26     108.41     137.17     103.07
 2     89913   Limousin    185.76     109.17     137.82     104.42
 3     89913   Limousin    184.17     107.92     137.23     101.47
 4     89913   Limousin    175.60     106.24     170.12     100.46
 5     89913   Limousin    177.81     107.29     166.45     102.69
 6     89913   Limousin    180.85     108.06     180.11     102.51
 7     89913   Limousin    179.69     106.92     132.12     102.11
 8     89913   Limousin    184.48     108.06     180.01     103.44
 9     89913   Limousin    120.03     87.88      88.12      87.12
 10    89913   Limousin    120.05     99.89      156.55     111.12
 11    89913   Limousin    183.65     107.20     166.54     103.42
 12    89913   Limousin    174.37     105.42     131.88     101.44
 13    89913   Limousin    101.00     88.65      89.78      125.55
 14    89913   Limousin    178.75     104.44     132.40     102.02
 15    89913   Limousin    135.35     120.21     112.33     101.11
 16    89913   Limousin    178.40     105.44     133.75     101.08
 17    89913   Limousin    179.02     106.79     135.23     102.61
 18    89913   Limousin    199.15     154.14     189.88     126.36
 19    89913   Limousin    181.63     107.34     178.78     102.13
 20    89913   Limousin    190.25     188.25     185.55     145.56
 21    89913   Limousin    215.55     180.54     190.44     168.88
 22    89913   Limousin    145.55     98.99      130.23     101.79
 23    89913   Limousin    179.00     107.00     178.77     101.00
 24    89913   Limousin    180.00     107.96     133.00     103.09
 25    89913   Limousin    256.55     189.88     210.00     170.55
                                                                 35




Lanjutan Lampiran 2

                 Bangsa    Bobot    Panjang   Lingkar   Tinggi
No. Pejantan
                Pejantan   Badan     Badan     dada     Pundak
 1       2          3        4         5         6        7
 26    89913    Limousin   178.45    105.15   135.16    102.25
 27    89913    Limousin   184.29    106.01   135.85    120.33
 28    89913    Limousin   186.00    110.45   182.22    106.00
 29    89913    Limousin   182.00    106.95   181.11    102.00
 30    89913    Limousin   178.45    104.15   156.55    107.25
 31    89913    Limousin   254.12    178.88   212.23    187.78
 32    89913    Limousin   184.00    110.04   139.05    109.00
 33    89913    Limousin   182.00    108.95   136.08    107.00
 34    89913    Limousin   184.11    110.53   139.17    109.76
 35    89913    Limousin   185.26    108.41   137.17    103.07
 36    89913    Limousin   185.76    109.17   180.89    104.42
 37    89913    Limousin   184.17    107.92   180.12    101.47
 38    89913    Limousin   175.60    106.24   128.93    100.46
 39    89913    Limousin   177.81    107.29   132.95    102.69
 40    89913    Limousin   180.85    108.06   178.88    102.51
 41    89913    Limousin   179.69    106.92   170.25    102.11
 42    89913    Limousin   184.48    108.06   180.48    103.44
 43    89913    Limousin   120.03    87.88    110.78    102.22
 44    89913    Limousin   120.05    99.89    110.89    111.12
 45    60045    Simental   201.77    108.68   153.31    103.80
 46    60045    Simental   204.73    110.34   155.54    106.66
 47    60045    Simental   201.01    107.17   152.31    102.90
 48    60045    Simental   126.33    112.56   157.78    109.37
 49    60045    Simental   206.46    111.19   156.80    108.37
 50    60045    Simental   203.31    109.78   154.52    105.66
 51    60045    Simental   111.44    113.23    87.78    107.12
 52    60045    Simental   203.81    110.22   155.33    105.80
 53    60045    Simental   203.04    109.20   154.32    104.80
 54    60045    Simental   202.08    109.02   154.20    104.61
 54    60045    Simental   202.08    109.02   154.20    104.61
                                                                 36




Lanjutan Lampiran 2

                 Bangsa    Bobot    Panjang   Lingkar   Tinggi
No. Pejantan
                Pejantan   Badan     Badan     dada     Pundak
 1       2          3        4         5         6        7
 56    60045    Simental   203.54    109.45   154.03    105.48
 57    60045    Simental   204.95    110.51   154.23    107.00
 58    60045    Simental   200.09    106.42   150.75    102.32
 59    60045    Simental   201.58    107.75   152.32    103.00
 60    60045    Simental   200.08    106.05   159.75    104.49
 61    60045    Simental   114.41    114.77   103.31    109.56
 62    60045    Simental   207.00    113.15   160.52    108.49
 63    60045    Simental   120.33    114.00    98.99    108.18
 64    60045    Simental   205.04    111.28   155.05    107.09
 65    60045    Simental   202.00    108.05   153.06    105.78
 66    60045    Simental   204.32    110.00   154.01    106.56
 67    60045    Simental   110.12    111.75    88.87    107.34
 68    60045    Simental   200.95    106.42   151.63    102.87
 69    60045    Simental   132.22    114.23   157.75    108.32
 70    60045    Simental   205.00    111.35   159.12    109.32
 71    60045    Simental   203.04    109.20   154.32    104.80
 72    60045    Simental   202.08    109.02   154.20    104.61
 73    60045    Simental   201.28    107.07   152.00    103.03
 74    60045    Simental   203.54    109.45   154.03    105.48
 75    60045    Simental   204.95    110.51   154.23    107.00
 76    60045    Simental   200.09    106.42   150.75    102.32
 77    60045    Simental   201.58    107.75   152.32    103.00
 78    60045    Simental   200.08    106.05   159.75    104.49
 79    60045    Simental   114.41    114.77   103.31    109.56
 80    60045    Simental   207.00    113.15   160.52    108.49
 81    17958      Bali     120.25    95.32    123.75     93.60
 82    17958      Bali     126.12    97.50    125.27     95.93
 83    17958      Bali     151.36    92.12    122.05     90.32
 84    17958      Bali     180.78    145.55   175.45    126.36
 85    17958      Bali     190.25    110.14   180.66    120.33
 86    17958      Bali     153.12    93.66    122.94     91.28
 87    17958      Bali     156.91    97.42    125.29     95.93
                                                                  37




Lanjutan Lampiran 2

                  Bangsa    Bobot    Panjang   Lingkar   Tinggi
No.   Pejantan
                 Pejantan   Badan     Badan     dada     Pundak
 1       2           3        4         5         6        7
 88    17958       Bali     105.23    88.15     89.75     92.21
 89    17958       Bali     189.78    88.89    156.55     88.89
 90    17958       Bali     151.68    92.46    122.98     90.03
 91    17958       Bali     153.17    93.41    124.35     91.62
 92    17958       Bali     153.42    94.24    123.80     92.68
 93    17958       Bali     155.64    96.46    124.76     94.76
 94    17958       Bali     152.53    93.24    123.74     91.59
 95    17958       Bali     157.25    97.43    125.37     95.74
 96    17958       Bali     155.68    96.84    123.93     94.08
 97    17958       Bali     155.41    96.39    122.89     94.45
 98    17958       Bali     178.25    123.23   145.89    145.55
 99    17958       Bali     198.89    93.51     88.79     90.96
100    17958       Bali     155.42    96.87    124.34     94.08
101    17958       Bali     150.09    91.53    120.90     89.20
102    17958       Bali     153.45    94.25    123.80     92.88
103    17958       Bali     198.89    118.78   156.78     89.34
104    17958       Bali     155.58    88.88    124.86     94.09
105    17958       Bali     157.98    95.54    126.61     96.22
106    17958       Bali     109.36    97.04     99.98     95.89
107    17958       Bali     158.58    96.60    127.67     97.08
108    17958       Bali     198.78    94.12    145.89     86.54
109    17958       Bali     150.82    91.70    154.42     89.08
110    17958       Bali     150.25    91.10    120.42     89.78
112    17958       Bali     157.11    98.32    126.48     96.78
113    17958       Bali     156.60    97.01    125.00     95.08
114    17958       Bali     190.25    99.54    188.63     98.87
115    17958       Bali     96.66     95.71     94.44     93.42
116    17958       Bali     153.76    94.27    123.03     92.12
117    17958       Bali     210.13    140.54   189.78    120.24
                                                                38




                      Sapi Bali
    Rataan        127.28          112.13     88.62     90.99
    Jumlah        4963.99         4373.09   3455.99   3548.48
Standar Deviasi    15.52           10.43     6.08      12.16

                    Sapi Limousin
    Rataan        128.75          118.11     97.68    102.71
    Jumlah        3218.68         2952.69   2442.01   2567.93
Standar Deviasi    7.97            19.31     10.03     6.83

                    Sapi Simental
    Rataan        144.95          124.01     97.24    106.05
    Jumlah        5798.06         4960.23   3889.69   4241.95
Standar Deviasi    31.77           11.93     12.98     23.61
                                                                                         39




Lampiran 3. Perhitungan Nilai Heritabilitas Dan Galat Baku Bobot Badan
            Dengan Ukuran-Ukuran Tubuh.

Analisis Ragam BB (Bobot Badan)

Sumber Keragaman        Db             JK                KT          Komponen Ragam

Pejantan                 2     17235,1864 8617,5932                      σ2 w + k σ2 s

Galat                   114    104168,44               913,7582               σ2 w




                         7779 ,01  6714 ,94  5791 ,75 2
Faktor Koreksi (FK) =
                                            117

                   = 3517177,01


Keragaman Antar    =
                         7779 ,012   
                                            6714 ,94 2   
                                                               5791 ,75 2
                              44                  36               37
Pejantan

                   = 3534412,19

JK Pejantan        = Keragaman Antar Pejantan – Faktor Korelasi

                   = 3534412,19 - 3517177,01

                   = 17235,1864

JK Anak            = (185,26)2 ……… + (210,13)2 – Keragaman Antar Pejantan

                   = 3638580,63 – 3534412,19

                   = 104168,44

                         17235,1864
KT Pejantan        =
                             2
                                                       40




                         = 8617,59

                             104168,44
KT Anak                  =
                                114

                         = 913,76

              1          ni 2 
K      =            ni        
           S  1 
                          ni  


       =
            1 
                 117 
                        442  362  372  = 39
                                              
         3  1 
                                117          
                                              

σ2w = KT Anak

       = 913,758261 (913,76)

           8617,59322  913,758261
σ 2s   =
                     39

       = 198,36018

              4  s2
h2     =
            s2   w2




              4 . 198 ,36
       =                     = 0,71
           198 ,36  913 ,76

              s
               2
t      =
           s   2
            2
                  w


                 198 ,36
       =                     = 0,1783
           198 ,36  913 ,76

Galat baku Heritabilitas Bobot Badan
                                                                                        41




                                     2

        2
                            2(1  t ) [1  (k  1)t ]
S. E. h            =
                              k (k  1)( s  1)

                                              2
                            2(1  0,1783 ) [1  (39  1)0,1783 ]
                   =
                                     39 (39  1)( 3  1)

                   = 0,6637



Analisis Ragam PB (Panjang Badan)

Sumber Keragaman        Db               JK              KT         Komponen Ragam

Pejantan                2           4585,3301        2292,6650          σ2 w + k σ2 s

Galat                   114         31757,83         278,5774                σ2 w




                         5013 ,07  3957 ,05  3668 ,212
Faktor Koreksi (FK) =
                                              117

                   = 1365191,075

                         5013 ,07 2    
                                           3957 ,05 2    
                                                               3668 ,212
Keragaman Antar    =
                               44                   36             37
Pejantan
                   = 1369776,405

JK Pejantan        = Keragaman Antar Pejantan – Faktor Korelasi

                   = 1369776,405 - 1365191,075

                   = 4585,3301

JK Anak            = (108,41)2 + ……… (140,54)2 – Kerragaman Antar Pejantan
                                                       42




                         = 1401534,23 – 1369776,405

                         = 31757,83

                              4585,3301
KT Pejantan              =
                                  2

                         = 2292,6650

                              31757,83
KT Anak                  =
                                114

                         = 278,5774

              1          ni 2 
K      =            ni        
           S  1 
                          ni  


       =
            1 
                 117 
                        442  362  372  = 39
                                              
         3  1 
                                117          
                                              

σ2w = KT Anak

       = 278,5774

           2292,6650  278,5774
σ 2s   =
                   39

       = 51,8592

             4 s
                2
h2     =
           s   2
            2
                  w


                4 . 51,8592
       =
           51,8592  278 ,5774

       = 0,63
                                                                                                 43




               s
                2
t       =
            s   2
             2
                   w


                  51,8592
        =
            51,8592  278 ,5774

        = 0,1569

                                           2
                                  2(1  t ) [1  (k  1)t ]
S. E. h2                 =
                                    k (k  1)( s  1)

                                                    2
                                  2(1  0,1569 ) [1  (39  1)0,1569 ]
                         =
                                           39 (39  1)(3  1)

                         = 0,6098

Analisis Ragam LD (Lebar Dada)

Sumber Keragaman             Db                JK              KT            Komponen Ragam

Pejantan                      2        11012,5012 5506,2506                      σ2 w + k σ2 s

Galat                        114          76797,71           673,6641                 σ2 w




                              6713 ,02  5282 ,71  4800 2
Faktor Koreksi (FK) =
                                                117

                         = 2411079,68

                              6713 ,02 2     
                                                    6714 ,94 2   
                                                                       5791 ,75 2
Keragaman Antar          =
                                     44                 36                 37
Pejantan
                         = 2422092,18

JK Pejantan              = Keragaman Antar Pejantan – Faktor Korelasi
                                                                             44




                         = 2422092,18 - 2411079,68

                         = 11012,50

JK Anak                  = (137,17)2 ……… + (189,78)2 – Keragaman Antar Pejantan

                         = 2498889,89 – 2422092,18

                         = 7679,71

                             11012,50
KT Pejantan              =
                                2

                         = 5506,25

                              7679,71
KT Anak                  =
                                114

                         = 673,6641

              1          ni 2 
K      =            ni        
           S  1 
                          ni  


       =
              1 
                   117 
                          442  362  372 
                                                
           3  1 
                                  117          
                                                

       = 39

σ2w = KT Anak

       = 673,6641

           5506,25  673,6641
σ 2s   =
                   39

       = 124,4305

             4 s
                2
h2     =
           s   2
            2
                  w
                                                                                              45




                 4 . 673 ,6641
        =
            673 ,6641  124 ,4305

        = 0,62

               s
                2
t       =
            s   2
             2
                   w


                    673 ,6641
        =
             673 ,6641  124 ,4305

        = 0,1559

                                          2

        2
                                 2(1  t ) [1  (k  1)t ]
S. E. h                  =
                                   k (k  1)( s  1)

                                                   2
                                 2(1  0,1559 ) [1  (39  1)0,1559 ]
                         =
                                          39 (39  1)(3  1)

                         = 0,6072

Analisis Ragam TP (Tinggi Pundak)

Sumber Keragaman             Db               JK             KT             Komponen Ragam

Pejantan                     2         3757,8681        1878,9340             σ2 w + k σ2 s

Galat                        114        22638,20         198,5807                 σ2 w




                              4859 ,87        3810 ,71  3585 ,07 
                                                                        2

Faktor Koreksi (FK) =
                                                  117

                         = 1283768,971
                                                                                  46




Keragaman Antar          =
                              4859 ,87 2   
                                                 3810 ,712   
                                                                   5791 ,75 2
                                    44               36                37
Pejantan
                         = 1287526,839

JK Pejantan              = Keragaman Antar Pejantan – Faktor Korelasi

                         = 1287526,839 - 1283768,971

                         = 3757,8681

JK Anak                  = (103,07)2 ……… + (120,24)2 – Keragaman Antar Pejantan

                         = 1310165,04 – 1287526,839

                         = 22638,20

                              3757,8681
KT Pejantan              =
                                  2

                         = 1878,9340

                              22638,20
KT Anak                  =
                                114

                         = 198,5807

              1          ni 2 
K    =              ni        
           S  1 
                          ni  


     =
              1 
                   117 
                          442  362  372 
                                                
           3  1 
                                  117          
                                                

     = 39

σ2w = KT Anak

     = 198,5807
                                                                    47




           1878,9340  198,5807
σ 2s   =
                    39

       = 43,2661

             4 s
                2
h2     =
           s   2
            2
                  w


               4 . 43,2661
       =
           43,2661  198 ,5807

       = 0,672

            s
             2
t      = 2
         s   2
                w


                  43,2661
       =
            43,2661  198 ,5807

       = 0,1788

                                       2
                             2(1  t ) [1  (k  1)t ]
S. E. h2                =
                                 k (k  1)( s  1)

                                               2
                             2(1  0,1788 ) [1  (39  1)0,1788 ]
                        =
                                       39 (39  1)(3  1)

                        = 0,6650
                                                                                             48




Lampiran 4. Perhitungan Nilai Korelasi Genetik Berat 1 tahun dan Galat Baku
            Pada Anak Sapi Balu Hasil Inseminasi Buatan Di Kabupaten
            Muaro Jambi.

Analisis Peragam BB terhadap LD

Sumber Keragaman        Db           JHK            KHT          Komponen Ragam

Pejantan                2      12848,499          6424, 36          σ2 w + k σ2 s

Galat                   114     71123,50           623,89                  σ2 w




Faktor Koreksi (FK) =
                        5692 ,75  7779 ,01  6714 ,94  * (4800  6713 ,02  5282 ,71) 2
                                                         117

                   = 2897865, 499


Keragaman Antar    =
                        5692 ,75 * 4800 2   
                                                  6713 ,02 * 7779 ,012   
                                                                               6714 ,94 * 5282 ,712
                                44                          36                          37
Pejantan
                   = 2910714,229

JHK Pejantan       = Keragaman Antar Pejantan – Faktor Korelasi

                   = 2910714,229 – 2897865,499

                   = 12848,499

JHK Total          = (185,26*137,17)2 + ……… (207,00*160,52)2

                   = 2981837,736

JHK Anak           = Jk Total – Keragaman Antar Pejantan

                   = 2981837,7360  2910714,229

                   = 71123,50
                                                     49




                          12848,499
KHT Pejantan          =
                              2

                      = 6424, 36

                          71123,50
KHT Anak              =
                            114

                      = 623,89

          1          ni 2 
K    =          ni        
       S  1 
                      ni  


     =
          1 
               117 
                      442  362  372  = 39
                                            
       3  1 
                              117          
                                            

C0v w                 = KHT Anak

                      = 623,89

                          6424,36  623,89
Cov s                 =
                                39

                      = 149,35

                                4 Covs
Rg                    =
                           (4 s21 ) (4 s22 )

                                  4 *149,35
                      =
                           (4 *198,36) (4 *124,43)

                      = 0,9506
                                                                                              50




Galat baku Korelasi genetik BB terhadap PB

S. E. rg           = Varrg

                   = 0,066

Analisis Peragam BB terhadap PB

Sumber Keragaman        Db         JHK               KHT         Komponen Ragam

Pejantan                2       8200,404         4100,202           σ2 w + k σ2 s

Galat                   114     25510,55          223,77                 σ2 w




                        5692 ,75  7779 ,01  6714 ,94  * (3668 ,21  5013 ,07  3957 ,05) 2
Faktor Koreksi (FK) =
                                                           117

                   = 2180566,63

                        5692 ,75 * 3668 ,212   
                                                     6713 ,02 * 5013 ,07 2   
                                                                                   6714 ,94 * 3957 ,05 2
KeragamanAntar     =
                                 44                            36                            37
Pejantan
                   = 2188766,04

JHK Pejantan       = Keragaman Antar Pejantan – Faktor Korelasi

                   = 2188766,04 – 2180566,63

                   = 8200,40

JHK Total          = (120,25*95,35)2 + ……… (207,00*113,15)2

                   = 2214277

JHK Anak           = Jk Total – Keragaman Antar Pejantan

                   = 2214277 2188766,04
                                                      51




                       = 25510,55

                            8200,40
KHT Pejantan           =
                               2

                       = 4100,20

                           25510,55
KHT Anak               =
                             114

                       = 233,77

            1          ni 2 
K    =            ni        
         S  1 
                        ni  


     =
          1 
               117 
                      442  362  372  = 39
                                            
       3  1 
                              117          
                                            

C0v w                  = KHT Anak

                       = 223,77

                           4100,20  223,77
Cov s                  =
                                 39

                       = 99,39

                                  4 Covs
Rg                     =
                             (4 s21 ) (4 s22 )

                                    4 * 99,39
                       =
                            (4 *198,36) (4 * 51,86)

                       = 0,98
                                                                                               52




Galat baku Korelasi genetik BB terhadap PB

S. E. rg           = Varrg

                   = 0,026

Analisis Peragam BB terhadap TP

Sumber Keragaman        Db         JHK                KHT         Komponen Ragam

Pejantan                2       7053,477          3526,74            σ2 w + k σ2 s

Galat                   114     16939,98          148,59                  σ2 w




                        5692 ,75  7779 ,01  6714 ,94  * (3585 ,07  4859 ,87  3810 ,71) 2
Faktor Koreksi (FK) =
                                                            117

                   = 2114540,88

                        5692 ,75 * 3585 ,07 2   
                                                      6713 ,02 * 4859 ,87 2    
                                                                                     6714 ,94 * 3810 ,712
KeragamanAntar     =
                                  44                            36                            37
Pejantan


                   = 2121593,36

JHK Pejantan       = Keragaman Antar Pejantan – Faktor Korelasi

                   = 2121593,36 – 2114540,88

                   = 7053,47

JHK Total          = (120,25*93,60)2 + ……… (207,00*113,108,49)2

                   = 2138533,34

JHK Anak           = Jk Total – Keragaman Antar Pejantan
                                                       53




                       = 2138533,34  2121593,36

                       = 16939,98

                            7053,47
KHT Pejantan           =
                               2

                       = 3526,74

                           16939,98
KHT Anak               =
                             114

                       = 148,59

            1          ni 2 
K    =            ni        
         S  1 
                        ni  


     =
            1 
                 117 
                        442  362  372  = 39
                                              
         3  1 
                                117          
                                              

C0v w                  = KHT Anak

                       = 148,59

                           3526,74  148,59
Cov s                  =
                                 39

                       = 86,62

                                  4 Covs
Rg                     =
                             (4 s21 ) (4 s22 )




                                    4 * 86,62
                       =
                            (4 *198,36) (4 * 43,27)

                       = 0,935
                                             54




Galat baku Korelasi genetik BB terhadap TP

S. E. rg           = Varrg

                   = 0,082
                                                                                                 55




Lampiran 4. Perhitungan Nilai Korelasi Fenotip tahun dan Galat Baku Pada

               Anak Sapi Balu Hasil Inseminasi Buatan Di Kabupaten Muaro

               Jambi.


Analisis Peragam BB terhadap LD

Sumber Keragaman            Db           JHK            KHT          Komponen Ragam

Pejantan                    2      12848,499          6424, 36          σ2 w + k σ2 s

Galat                       114     71123,50           623,89                  σ2 w




                            5692 ,75  7779 ,01  6714 ,94  * (4800  6713 ,02  5282 ,71) 2
Faktor Koreksi (FK) =
                                                             117

                        = 2897865, 499

                            5692 ,75 * 4800 2   
                                                      6713 ,02 * 7779 ,012   
                                                                                   6714 ,94 * 5282 ,712
Keragaman Antar         =
                                    44                          36                          37
Pejantan
                        = 2910714,229

JHK Pejantan            = Keragaman Antar Pejantan – Faktor Korelasi

                        = 2910714,229 – 2897865,499

                        = 12848,499

JHK Total               = (185,26*137,17)2 + ……… (207,00*160,52)2

                        = 2981837,736

JHK Anak                = Jk Total – Keragaman Antar Pejantan

                        = 2981837,7360  2910714,229
                                                      56




                      = 71123,50

                          12848,499
KHT Pejantan          =
                              2

                      = 6424, 36

                          71123,50
KHT Anak              =
                            114

                      = 623,89

           1          ni 2 
K   =            ni        
        S  1 
                       ni  

    =
           1 
                117 
                       442  362  372  = 39
                                             
        3  1 
                               117          
                                             

C0v w                 = KHT Anak

                      = 623,89

                          6424,36  623,89
Cov s                 =
                                39
                      = 149,35

Peragam Fenotipe      = Covs + CovW

                      = 149,35 + 623,89

                      = 773.24

Ragam BB              =    p 2 1 p 2 2

                      =    198,36  913,76
                      = 33,34

Ragam LD              =    p 2 1 p 2 2
                                                                                              57




                   = 124,43  673,66

                   = 28,25

                            Covp (12)
rp                 =
                         p 2 1 p 2 2

                               773 .24
                   =
                             33,34 * 28 ,25

                   = 0,82

Analisis Peragam BB terhadap PB

Sumber Keragaman        Db           JHK             KHT         Komponen Ragam

Pejantan                2         8200,404       4100,202           σ2 w + k σ2 s

Galat                   114       25510,55        223,77                 σ2 w




                        5692 ,75  7779 ,01  6714 ,94  * (3668 ,21  5013 ,07  3957 ,05) 2
Faktor Koreksi (FK) =
                                                           117

                   = 2180566,63

                        5692 ,75 * 3668 ,212   
                                                     6713 ,02 * 5013 ,07 2   
                                                                                   6714 ,94 * 3957 ,05 2
Keragaman Antar    =
                                    44                         36                            37
Pejantan

                   = 2188766,04

JHK Pejantan       = Keragaman Antar Pejantan – Faktor Korelasi

                   = 2188766,04 – 2180566,63

                   = 8200,40
                                                                58




JHK Total            = (120,25*95,35)2 + ……… (207,00*113,15)2

                     = 2214277

JHK Anak             = Jk Total – Keragaman Antar Pejantan

                     = 2214277 2188766,04

                     = 25510,55

                         8200,40
KHT Pejantan         =
                            2

                     = 4100,20

                         25510,55
KHT Anak             =
                           114

                     = 233,77

         1          ni 2 
K   =          ni        
      S  1 
                     ni  

    =
           1 
                117 
                       442  362  372  = 39
                                             
        3  1 
                               117          
                                             
C0v w                = KHT Anak

                     = 223,77

                         4100,20  223,77
Cov s                =
                               39

                     = 99,39

Peragam Fenotipe     = Covs + CovW

                     = 99,3 + 223,78

                     = 323,17
                                                                                               59




Ragam BB           =     p 2 1 p 2 2

                   =     198,36  913,76

                   = 33,34

Ragam PB           =        p 2 1 p 2 2

                   =     51,86  278,58

                   = 18, 178

                            Covp (12)
rp                 =
                         p 2 1 p 2 2

                                323 ,17
                   =
                             33,34 *18,178

                   = 0,533

Analisis Peragam BB terhadap TP

Sumber Keragaman        Db             JHK            KHT         Komponen Ragam

Pejantan                2           7053,477      3526,74            σ2 w + k σ2 s

Galat                   114         16939,98      148,59                  σ2 w



                        5692 ,75  7779 ,01  6714 ,94  * (3585 ,07  4859 ,87  3810 ,71) 2
Faktor Koreksi (FK) =
                                                            117

                   = 2114540,88

                        5692 ,75 * 3585 ,07 2   
                                                      6713 ,02 * 4859 ,87 2    
                                                                                     6714 ,94 * 3810 ,712
Keragaman Antar    =
                                     44                         36                            37
Pejantan
                                                                    60




                     = 2121593,36

JHK Pejantan         = Keragaman Antar Pejantan – Faktor Korelasi

                     = 2121593,36 – 2114540,88

                     = 7053,47

JHK Total            = (120,25*93,60)2 + ……… (207,00*113,108,49)2

                     = 2138533,34

JHK Anak             = Jk Total – Keragaman Antar Pejantan

                     = 2138533,34  2121593,36

                     = 16939,98

                         7053,47
KHT Pejantan         =
                            2

                     = 3526,74

                         16939,98
KHT Anak             =
                           114
                     = 148,59

         1          ni 2 
K   =          ni        
      S  1 
                     ni  

    =
           1 
                117 
                       442  362  372  = 39
                                             
        3  1 
                               117          
                                             
C0v w                = KHT Anak

                     = 148,59

                         3526,74  148,59
Cov s                =
                               39
                                           61




                   = 86,62

Peragam Fenotipe   = Covs + CovW

                   = 86,62 + 148,59

                   = 234.21

Ragam BB           =   p 2 1 p 2 2

                   =   198,36  913,76

                   = 33,34

Ragam TP           =   p 2 1 p 2 2

                   =     43,27  198,58

                   = 15,55

                        Covp (12)
rp                 =
                       p 2 1 p 2 2

                          235 ,21
                   =
                        33,34 *15,55

                   = 0,45
                                             62




KORELASI GENETIK DAN FENOTIP ANTARA BOBOT BADAN
   UMUR 1 TAHUN DENGAN UKURAN-UKURAN TUBUH
   PADA SAPI BALI HASIL PERSILANGAN


                    SKRIPSI


                     OLEH



               RINA CHRISNAWATI
                   E1A005031




             FAKULTAS PETERNAKAN
               UNIVERSITAS JAMBI
                     2009
                                                                                  63




KORELASI GENETIK DAN FENOTIP ANTARA BOBOT BADAN
 UMUR 1 TAHUN DENGAN UKURAN-UKURAN TUBUH PADA
           SAPI BALI HASIL PERSILANGAN
               Rina Chrisnawati (E1A005031)di bawah bimbingan
                Ir. Depison, Mp1) dan Dr. Ir. Gushairiyanto, Msi2)

                                     IKHTISAR

        Tujuan penelitian ini untuk mengetahui korelasi genetik dan fenotip bobot
badan dan ukuran-ukuran tubuh anak sapi Bali hasil persilangan dengan beberapa
pejantan dan perkawinan sesama Bali.
        Materi penelitian ini adalah ternak sapi milik masyarakat petani peternak
turunan (F1) dari pejantan Simental, Limousin dan Bali. Peralatan yang digunakan
meliputi timbangan digital dengan kapasitas 1.000 kg dengan tingkat ketelitian 0,01,
pita ukur, tongkat ukur, dan kandang penjepit.
        Metode penelitian yang digunakan adalah “survey”, teknik pengambilan
sample dilakukan secara sensus. Pengamatan langsung dilakukan dilapangan terhadap
berat 1 tahun serta pengukuran ukuran-ukuran tubuh dari sapi-sapi yang diteliti. Data
yang diperoleh dilapangan terlebih dahulu disetarakan dengan umur 1 tahun,
demikian juga ukuran-ukuran tubuh.Cara perhitungan nilai heritabilitas, korelasi
genetik dan fenotipe menggunakan petunjuk dari buku Becker dan menggunakan
program Microsoft Office excel.
        Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai heritabilitas Bobot badan,
Lingkar dada dan Tinggi Pundak secara berurutan sebagai berikut 0.7134 ± 0.6637,
0.6278 ± 0.6098, 0.6236 ± 0.6072, 0.7156 ± 0.6650. Nilai korelasi genetik diperoleh
BB terhadap PB, LD dan TP, secara berurutan yaitu 0.9506 ± 0.066 , 0.98 ± 0.026 ,
0.9350 ± 0.082. Nilai korelasi Fenotipe diperoleh BB terhadap PB, LD dan TP, secara
berurutan yaitu 0.8241 ± 0.2529, 0.5331 ± 0.4753, 0.4535 ± 0.5199.
        Hasil ini menunjukkan bahwa ukuran-ukuran tubuh yaitu lingkar dada
merupakan ukuran-ukuran yang paling tepat digunakan untuk menduga bobot badan,
Korelasi genetik yang tinggi menunjukkan peningkatan berat badan 1 tahun pada
generasi berikutnya, akan diikuti dengan pertambahan ukuran-ukuran tubuh lainnya.

Kata Kunci : Heritabilitas, korelasi genetic dan fenotipe.
   1. Pembimbing utama
   2. Pembimbing Pendamping.
                                                                                 64




                               Skripsi dengan judul

KORELASI GENETIK DAN FENOTIP ANTARA BOBOT BADAN
 UMUR 1 TAHUN DENGAN UKURAN-UKURAN TUBUH PADA
           SAPI BALI HASIL PERSILANGAN


                                   Disusun Oleh :

                             RINA CHRISNAWATI
                                  E1A005031

                  Telah Dipertahankan di Depan Tim Penguji
                     Pada Hari Selasa 10 November 2009

                      Ketua          : Ir. Depison, MP
                      Sekretaris     : Dr. Ir. Gushairiyanto, M.Si.
                      Anggota        : 1. Ir. Helmi Ediyanto, MP
                                       2. Ir. Silvia Erina, MP
                                       3. Ir. Farizal, MP


Menyetujui :
Pembimbing Utama,                                   Pembimbing Pendamping




Ir. Depison, MP                                     Dr.Ir. Gushairiyanto,Msi
NIP. 19671220 199203 1 003                          NIP. 19610807 198803 1 001

Mengetahui :                                        Mengetahui :
Pembantu Dekan I                                    Ketua Jurusan
Fakultas Peternakan                                 Produksi Ternak



Ir. Afzalani, MP                                    Ir. Darmawan, MP
NIP. 19640516 198902 1 001                          NIP. 19570615 198710 1 001
Tanggal :                                           Tanggal :
                                                                                                               65




                                                   DAFTAR ISI


                                                                                                  Halaman
HALAMAN PENGESAHAN

KATA PENGANTAR ......................................................................                    i

DAFTAR ISI .....................................................................................       iii

DAFTAR TABEL .............................................................................              v

DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................                vi

PENDAHULUAN .............................................................................               1

TINJAUAN PUSTAKA ....................................................................                   3

          Deskripsi Sapi Bali ................................................................          3

          Perbaikan Mutu Genetik ........................................................               4

          Heretabilitas ...........................................................................     6

          Korelasi Genetik dan Fenotip ...............................................                  6

          Hubungan Ukuran-Ukuran Tubuh dengan Bobot Badan ....                                          8

          Bobot Badan Umur 1 Tahun .................................................                  10

Metode Penelitian .............................................................................       12

          Tempat dan Waktu Penelitian ...............................................                 12

          Rancangan Penelitian ............................................................           12

                     Materi Penelitian .......................................................        12

                     Metode Penelitian dan Teknik Pengambilan Sampel                                  13

                     Data Yang Dihimpun ................................................              13

                     Koreksi Umur ...........................................................         14

                     Koreksi Jenis Kelamin .............................................              15


                                                                                                             iii
                                                                                                        66




                     Analisis Statistik .......................................................    17

HASIL DAN PEMBAHASAN ......................................................                        23

          Bobot Badan ..........................................................................   23

          Ukuran-Ukuran Tubuh .........................................................            24

          Nilai Heritabilitas ..................................................................   26

          Korelasi Genetik ...................................................................     27

          Korelasi Fenotipe ..................................................................     28

KESIMPULAN ................................................................................        29

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................              30

LAMPIRAN .....................................................................................     33




                                                                                                        iv
                                                                                                                  67




                                               DAFTAR TABEL


Tabel                                                                                                   Halaman
   1. Penampilan Produktivitas Sapi Bali di beberapa Provinsi
      di Indonesia ....................................................................................       4

   2. Analisis Varians Untuk Menghitung Nilai Heritabilitas ..............                                   19

   3. Analisis Pergaman (Covarians) Korelasi Genetik ........................                                21

   4. Analisis Pergaman (Covarians) Korelasi Fenotipe .......................                                22

   5. Rataan Bobot Badan Sapi Turunan Sapi Bali Umur 365 Hari
      (1Tahun) Hasil Persilangan dengan Beberapa Bangsa
      Pejantan ...........................................................................................   23

   6. Rataan Ukuran-Ukuran Tubuh Sapi Hasil Persilangan Induk Bali
      dengan Beberapa Pejantan Umur 365 Hari ...................................                             25




                                                                                                                  v
                                                                                                              68




                                       DAFTAR LAMPIRAN


Lampiran                                                                                       Halaman
  1. Faktor Koreksi Umur Induk dan Jenis Kelamin Anak Sapi Bali
     Hasil Persilangan di Kabupaten Muaro Jambi .............................                            33

  2. Data Berat Badan dan Ukuran-Ukuran Tubuh Keturunan Induk Sapi
     Bali (F1) .......................................................................................   34

  3. Perhitungan Nilai Heritabilitas Dan Galat Baku Bobot Badan
     Dengan Ukuran-Ukuran Tubuh ...................................................                      39

  4. Perhitungan Nilai Korelasi Genetik dan Galat Baku Pada Anak
     Sapi Bali Hasil Persilangan di Kabupaten Muaro Jambi ...........                                    48

  5. Perhitungan Nilai Korelasi Fenotipe dan Galat Baku Pada Anak
     Sapi Bali Hasil Persilangan di Kabupaten Muaro Jambi ..........                                     55




                                                                                                              vi
                                                                                 69




                             KATA PENGANTAR


       Puji syukut penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan

karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “KORELASI

GENETIK DAN FENOTIP ANTARA BOBOT UMUR 1 TAHUN DENGAN

UKURAN-UKURAN TUBUH PADA SAPI BALI HASIL PERSILANGAN”.

       Skripsi ini banyak memperoleh dukungan berbagai pihak, oleh karena itu

dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :

   1. Bapak Ir. Depison, MP dan Dr. Ir. Gushairiyanto, M.Si selaku pembimbing

       skripsi yang telah banyak memberikan saran, bimbingan serta masukkan

       dalam pembuatan skripsi ini

   2. Bapak Ir. Afzalani, MP selaku Dekan Fakultas Peternakan Universitas Jambi.

   3. Bapak Dr. Firmansyah, S.Pt MP selaku pembimbing akademik yang telah

       yang telah banyak memberikan bimbingan, saran dan masukkan yang

       berharga selama penulis menimbah ilmu di Fakultas Peternakan Universitas

       Jambi.

   4. Ibu Dr. Ir. Adriani, M.si selaku pembimbing lapangan yang telah banyak

       memberikan saran dan masukkan dalam penulisan laporan.

   5. Bapak, Ibu Dosen dan Seluruh staf Fakultas Peternakan Universitas Jambi.

   6. Bapak Ahmadi selaku Inseminator Peternakan Provinsi Jambi yang telah

       membantu dan memberikan izin melaksanakan penelitian.




                                                                                 i
                                                                               70




   7. Ayahanda Mardiwan dan Ibunda Chairisma, Bicik Erwina serta keluarga

       besar yang telah membantu dan memberikan cinta kasih sayang sehingga

       penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

   8. Teman-teman proter’05, teman posko 5 Tebo Kecamatan Rimbo Ilir yang

       telah memberikan semangat dan dorongan kepada penulis.

   9. Teman seperjuangan penelitian, suka dan duka Novian Heryanto yang telah

       memberikan dan dorongan dalam menyelesaikan skripsi ini.

       Penulis menyadari bahwa dalam penelitian ini masih belum sempurna, oleh

karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demu

penyempurnaan dalam penulisan skripsi ini.

       Semoga segala bantuan yang telah diberikan akan dapat balasan yang berlipat

ganda dari Allah SWT, Amin.




                                                  Jambi, November 2009




                                                         Penulis




                                                                              ii
                                                                              71




                              RIWAYAT HIDUP



       Penulis adalah anak pertama dari tiga bersaudara, dilahirkan di Jambi pada

tanggal 10 Mei 1987, dari pasangan ayahanda Mardiwan dan ibunda Chairisma.

       Penulis menamatkan pendidikan sekolah dasar di Sekolah Dasar No. 59/IV

Jambi tahun 1999, kemudian melanjutkan ke Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama

Negeri 6 Jambi dan tamat pada tahun 1999. Pada tahun 2004 penulis menamatkan

pendidikan Sekolah Menengah Umum Negeri 2 Jambi.

       Penulis terdaftar sebagai Mahasiswa di Fakultas Peternakan Program Studi

Sosial Ekonomi Peternakan Universitas Jambi tahun 2005, lalu pindah jurusan ke

Produksi Ternak Universitas Jambi pada tahun 2006. Tahun 2008 penulis

melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA) di Desa Pulung Rejo

Kabupaten Muaro Jambi. Penulis berhasil mempertahankan Skripsi di hadapan Tim

Penguji dan dinyatakan lulus sebagai Sarjana Peternakan pada Fakultas Peternakan

Universitas Jambi pada hari selasa 10 November 2009.



                                          Jambi,       November 2009




                                              Rina Chrisnawati

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:2756
posted:5/20/2010
language:Indonesian
pages:71