Docstoc

Hubungan Tingkat Konsumsi Energi, Karbohidrat dan BMI dengan Tingkat Kesegaran Jasmani Atlet Sepakbola

Document Sample
Hubungan Tingkat Konsumsi Energi, Karbohidrat dan BMI dengan Tingkat Kesegaran Jasmani Atlet Sepakbola Powered By Docstoc
					HUBUNGAN TINGKAT KONSUMSI ENERGI, KARBOHIDRAT, BMI DAN
  PERSENTASE LEMAK TUBUH DENGAN TINGKAT KESEGARAN
  JASMANI ATLET SEPAKBOLA YUNIOR PADA PERIODE LATIHAN




                              Artikel Penelitian
              disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan
             studi pada Program Studi Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran
                             Universitas Diponegoro




                                disusun oleh :
                    WAHYUNINGTYAS SARDJONO
                                 G2C004279




     PROGRAM STUDI ILMU GIZI FAKULTAS KEDOKTERAN
                  UNIVERSITAS DIPONEGORO
                               SEMARANG
                                     2009
HUBUNGAN TINGKAT KONSUMSI ENERGI, KARBOHIDRAT, BMI DAN PERSENTASE LEMAK
TUBUH DENGAN TINGKAT KESEGARAN JASMANI ATLET SEPAKBOLA YUNIOR PADA
PERIODE LATIHAN
Wahyuningtyas S*, Yekti Wirawanni**

ABSTRAK
Latar Belakang : Kesegaran jasmani yang baik dapat menunjang prestasi atlet. Banyak faktor yang
mempengaruhi kesegaran jasmani antara lain asupan gizi dan status gizi. Karbohidrat adalah sumber energi
utama saat olahraga intensitas tinggi sehingga diperlukan pemulihan energi yang cepat pada masa latihan agar
optimal. Usia yunior membutuhkan pengaturan energi yang tepat karena energi dibutuhkan untuk latihan fisik
dan pertumbuhan. Status gizi yang baik menggambarkan kesegaran jasmani yang baik.
Tujuan : Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat konsumsi energi, karbohidrat, BMI dan
persentase lemak tubuh dengan tingkat kesegaran jasmani atlet sepakbola yunior pada periode latihan.
Metode : Rancangan penelitian adalah cross-sectional dengan jumlah sampel 29 orang diambil melaui metode
consecutive sampling. Konsumsi energi dan karbohidrat diperoleh melalui recall. Kesegaran jasmani diukur
dengan metode multistage step test. Persentase lemak tubuh diukur dengan alat Bioelectrical Impedance Analyzer
(BIA). Analisis data menggunakan program Statistic Package for the Social Science (SPSS) 11 for windows.
Analisis univariat untuk mendeskripsikan karakteristik subyek. Analisis bivariat untuk mengetahui hubungan
antar variabel dengan uji korelasi Rank Spearman
Hasil : Sebagian besar subyek (62%) memiliki kesegaran jasmani baik. Tidak ada hubungan bermakna antara
tingkat konsumsi energi dan karbohidrat dengan tingkat kesegaran jasmani. Tidak ada hubungan antara BMI dan
kesegaran jasmani. Terdapat hubungan antara persentase lemak tubuh dengan kesegaran jasmani (r = -0,634; p =
0,000).
Kesimpulan :. Ada hubungan antara persen lemak tubuh dengan kesegaran jasmani.
Kata Kunci : tingkat konsumsi energi, karbohidrat, BMI, persentase lemak tubuh, kesegaran jasmani, atlet
sepakbola yunior.


* Mahasiswa Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro
** Dosen Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro
THE ASSOCIATION BETWEEN ENERGY AND CARBOHYDRATE INTAKE, BMI, BODY FAT
PERCENTAGE WITH PHYSICAL FITNESS IN JUNIOR FOOTBALL ATHLETES AT EXERCISE
PERIOD
Wahyuningtyas S*, Yekti Wirawanni**

ABSTRACT
Background : Physical fitness is important for athletes to reach an achievement. Food intake and nutritional
status are external factors determining physical fitness. Carbohydrate is main source of energy especially for
athletes with high intensity sports so its needed for energy recovery at exercise period to obtain an optimal
physical exercise. Yunior age needs energy maintainance properly because use for activity and growth. Nutrition
status can describe physical fitness value.
Objective : The aim of the study is to analyze correlation between energy and carbohydrate intake, BMI, body
fat percentage with physical fitness in junior football athletes at exercise period.
Method : The study design was cross sectional with consecutive counted 29 sample. Energy and carbohydrate
intake were collected by recall method. Physical fitness was measured with multistages step test. Body fat
percentage was measured by Bioelectrical Impedance Analyzer (BIA) 530. Datas were analyzed by Statistic
Package for the Social Science (SPSS) 11for windows. Univariat analysis use to describe subject characteristic.
Bivariat analysis use to know correlation between variables with Rank Spearman.
Result : Most of physical fitness of subject (62%) have good physical fitness. The result with bivariat analysis
showed that there was no association between level of energy and carbohydrate intake with physical fitness.
There was no correlation between BMI and physical fitness. But was found association between body fat
percentage with physical fitness (r = -0,634; p = 0,000).
Conclusion : There was found correlation between level body fat percentage with physical fitness.
Keywords : energy and carbohydrate intake, BMI, body fat percentage, physical fitness, junior football athletes


* Student of Nutrition Science Study Program, Medical Faculty of Diponegoro University
** Lecturer of Nutrition Science Study Program, Medical Faculty of Diponegoro University
PENDAHULUAN

       Sepakbola merupakan cabang olahraga yang paling digemari di seluruh dunia
termasuk Indonesia. Pencapaian prestasi dalam olahraga ini sebagai hal yang membanggakan
bangsa. Keberhasilan prestasi olahraga disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya yaitu
tingkat kesegaran jasmani yang baik pada seorang atlet.1,5
       Kesegaran jasmani adalah kemampuan seseorang untuk menyelesaikan tugas sehari-
hari dengan mudah tanpa merasa cepat lelah dan masih mempunyai sisa cadangan tenaga
untuk menikmati waktu senggang maupun pekerjaan yang mendadak serta bebas dari
penyakit. Komponen terpenting dari kesegaran jasmani yaitu daya tahan kardiorespirasi yang
digunakan sebagai indikator kemampuan aerobik atau dikenal dengan ambilan oksigen
maksimum (VO2 maksimal). Seorang atlet yang memilki tingkat kesegaran jasmani tinggi
menggambarkan bahwa kemampuan ambilan oksigennya besar. Oksigen diperlukan tubuh
untuk proses metabolisme zat-zat gizi.1,2,3
       Faktor-faktor yang mempengaruhi kesegaran jasmani dibagi menjadi dua yaitu faktor
internal dan eksternal. Faktor internal meliputi genetik, umur, jenis kelamin. Sedangkan faktor
eksternal antara lain yaitu asupan gizi, status gizi, status kesehatan, aktifitas fisik dan
komposisi tubuh.2 Penelitian Fajar menunjukkan 79,6% siswa Sekolah Sepak Bola (SSB)
Malang memiliki kesegaran jasmani dengan kategori rendah.3
       Status gizi merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi kesegaran
jasmani. Keadaan gizi kurang maupun gizi lebih dapat merugikan tubuh terutama saat
menerima beban kerja. Status gizi yang baik diperoleh melalui asupan zat gizi yang optimal.
Pengaturan makanan secara tepat diperlukan untuk memenuhi kualitas dan kuantitas gizi pada
saat masa latihan, bertanding maupun pemulihan yaitu dengan memenuhi jumlah energi dan
komposisi zat gizi secara seimbang sesuai dengan kebutuhan individual setiap harinya. Status
gizi dapat digambarkan melalui body mass index (BMI) dan persentase lemak tubuh.4,5
       Atlet usia remaja membutuhkan energi yang tinggi untuk pertumbuhan selain untuk
aktivitasnya yang berat. Pada usia remaja tingkat kesegaran jasmani masih terus dapat
ditingkatkan hingga mencapai nilai optimal sehingga pada usia ini merupakan saat yang tepat
untuk membentuk kebugaran seseorang.9,12
       Simpanan karbohidrat dalam bentuk glikogen otot, memberikan kontribusi yang paling
besar dalam menghasilkan energi terutama untuk aktivitas dengan intensitas tinggi seperti
sepakbola. Oleh karena itu, pemulihan simpanan karbohidrat setiap hari harus menjadi
prioritas bagi atlet yang menjalani latihan secara intensif. Idealnya seorang atlet membutuhkan
karbohidrat sebesar 55-65% dari total energi per hari pada masa latihan dan jumlah ini dapat
ditingkatkan pada masa menjelang pertandingan.5,6,7
        Berdasar penelitian Mirza Hapsari tahun 2006-2008 pada atlet sepakbola di kota
Pasuruan, Bantul dan Yogyakarta menunjukkan bahwa rata-rata pemenuhan gizi pemain
sepakbola dari tiga klub tersebut masih kurang. Penelitian Aryanti pada atlet sepakbola PSS
Yogyakarta, menunjukkan adanya pengaruh asupan karbohidrat terhadap kebugaran atlet, rata-
rata jarak tempuh atlet meningkat setelah ditingkatkan asupan karbohidratnya pada periode
latihan.6 Tetapi penelitian Ferry pada    atlet sepakbola PS. Semen Padang menunjukkan
hubungan yang tidak bermakna antar konsumsi karbohidrat dengan kesegaran jasmani.18
        Berdasar penjelasan di atas peneliti ingin mengetahui hubungan antara tingkat
konsumsi energi, karbohidrat, BMI dan persentase lemak tubuh dengan tingkat kesegaran
jasmani pada atlet di Lembaga Pendidikan Sepak Bola Bonansa saat periode latihan. Bonansa
merupakan salah satu LPSB di kota Surakarta yang telah berhasil meraih berbagai prestasi.


METODE PENELITIAN
        Jenis penelitian ini adalah observasional dengan rancangan belah lintang yang
termasuk dalam lingkup gizi olahraga. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober 2009.
Subyek penelitian adalah siswa Lembaga Pendidikan Sepak Bola Bonansa Universitas Sebelas
Maret Surakarta. Subyek berjumlah 29 orang yang diperoleh dengan teknik consecutive
sampling yang memenuhi kriteria inklusi yaitu bersedia menjadi sampel dan mengikuti semua
tahap dalam proses pengambilan data serta tidak sakit selama pengambilan data. Besar sampel
minimal menggunakan rumus koefisien korelasi dengan tingkat kekuatan 80% dan tingkat
kemaknaan 0,05 sehingga didapatkan sampel minimal 33 orang. Namun dalam proses
pengambilan data, peneliti hanya mendapatkan 29 orang sebagai sampel yang memenuhi
kriteria inklusi.
        Variabel bebas dalam penelitian ini adalah tingkat konsumsi energi dan karbohidrat,
BMI (body mass index) serta persentase lemak tubuh. Variabel tergantungnya adalah tingkat
kesegaran jasmani. Data primer yang dikumpulkan yaitu identitas subyek, usia, berat badan,
tinggi badan, asupan energi dan karbohidrat selama 2x24 jam dan persentase lemak tubuh.
        Kesegaran jasmani didefinisikan sebagai kebugaran seseorang yang diperoleh
berdasarkan nilai VO2 maksimal menggunakan metode multistage fitness test. Instrumen yang
digunakan dalam metode ini yaitu tape recorder, kaset panduan tes, lapangan dengan panjang
20 m. Pengukuran dilakukan dengan melintasi lapangan secara bolak-balik sesuai dengan
panduan pada kaset. Kemudian hasil balikan (shuttle) dicocokkan dengan tabel nilai VO2
maksimal. Nilai VO2 maksimal memiliki satuan ml/kgBB/menit. Data tingkat kesegaran
jasmani dikategorikan sebagai berikut : rendah jika nilai < 25; sedang jika nilai 25-33; cukup
jika nilai 34-42; bagus jika nilai 43-52; dan tinggi jika nilai >52.8,9
        Tingkat konsumsi energi didefinisikan sebagai persentase dari perbandingan antara
rerata jumlah asupan energi dengan jumlah kebutuhan energi perhari setiap individu. Rerata
jumlah asupan energi perhari diperoleh melalui recall makanan 2x24 jam dengan metode
wawancara. Wawancara dilakukan pada hari minggu dan rabu, bagi subyek yang tidak
mengikuti latihan pada hari tersebut, recall dilakukan dengan home visit. Hasil recall diproses
menggunakan software nutrisoft sehingga didapatkan jumlah asupan energi pada hari pertama
dan kedua, kemudian dicari reratanya. Jumlah kebutuhan energi diperoleh dengan
memperhitungkan BMR, SDA, faktor pertumbuhan dan aktivitas fisik tiap subyek. Data
tingkat konsumsi energi yang diperoleh dikategorikan sebagai berikut: defisit jika nilai < 70%;
kurang jika nilai 70-80%; sedang jika nilai 80-90%; dan baik jika nilai > 90%.11
        Tingkat konsumsi karbohidrat didefinisikan sebagai persentase dari perbandingan
antara rerata jumlah asupan karbohidrat dengan jumlah kebutuhan energi perhari setiap
individu. Jumlah asupan karbohidrat perhari diperoleh melalui recall. Data tingkat konsumsi
karbohidrat dikategorikan yaitu kurang jika nilai < 55% dan baik jika nilai ≥ 55%.5
        BMI subyek diperoleh dengan perhitungan z score berat badan menurut umur (BB/U)
dan tinggi badan menurut umur (TB/U). Data berat badan diambil menggunakan timbangan
digital dengan tingkat ketelitian 0,1 kg sedangkan data tinggi badan diperoleh dengan
menggunakan microtoice kapasitas 200 cm dan tingkat ketelitian 0,1 cm. Data BB/U
diklasifikasikan menjadi gizi buruk jika < -3 SD; underweight jika < -2 SD sampai ≥ -3 SD;
normal jika ≥ -2 SD sampai +2 SD; overweight jika > +2SD sampai +3 SD; obese jika > +3
SD. Data TB/U diklasifikasikan menjadi pendek jika < -2 SD; normal jika ≥ -2 SD sampai +2
SD; tinggi jika > +2SD.10
        Persentase lemak tubuh didefinisikan sebagai persentase massa lemak tubuh
dibandingkan berat badan total yang diperoleh melalui alat Bioelectrical Impedance Analyzer
(BIA) 530 Jawon Medical dalam satuan persen (%). Diperlukan data berat badan, tinggi badan
dan usia subyek dalam pengukuran meggunakan alat BIA. Data persentase lemak tubuh
dikategorikan yaitu underfat jika < 10%, normal jika 10-20%, overfat jika 21-25% dan obese
jika > 25%.12
        Analisis data menggunakan program komputer Statistic Package for the Social Science
(SPSS) 11 for windows. Analisis univariat digunakan untuk mendiskripsikan karakteristik
subyek. Sebelum uji hipotesis, dilakukan uji normalitas data menggunakan Sphiro-Wilk karena
jumlah sampel kurang dari 50. Analisis bivariat digunakan untuk melihat hubungan tingkat
konsumsi energi, karbohidrat, BMI dan persentase lemak tubuh dengan tingkat kesegaran
jasmani. Analisis ini menggunakan uji korelasi Rank Spearman karena terdapat variabel yang
berdistribusi tidak normal.


HASIL PENELITIAN

1.   Karakteristik Subyek

        Subyek dalam penelitian ini berjumlah 29 orang. Jumlah subyek kurang dari jumlah
sampel minimal yaitu 33 orang. Hal ini disebabkan keterbatasan waktu dalam proses
penelitian. Subyek yang hadir pada hari pengambilan data nilai kesegaran jasmani hanya
berjumlah 29 orang. Selama proses penelitian ini, tidak dimungkinkan adanya pengambilan
nilai kesegaran jasmani pada hari lain lagi karena padatnya jadwal latihan di PLSB Bonansa.
        Usia subyek berkisar antara 11 sampai 15 tahun. Frekuensi terbanyak adalah subyek
berusia 11 tahun yaitu sebanyak 9 orang (31%). Nilai minimum, maksimum, rerata dan
standar deviasi dari variabel penelitian ditunjukkan dalam tabel 1.


Tabel 1. Nilai minimum, maksimum, rerata dan standar deviasi variabel penelitian
Variabel                                    n       minimal      Maksimal          mean±SD
Usia (tahun)                                29         11           15             12,62±1,45
Nilai tes kesegaran jasmani (ml/kgBB/mnt)   29       29,5          54,3            42,36±5,49
Konsumsi energi (%)                         29       65,18        104,47           89,61±7,84
Konsumsi karbohidrat (%)                    29       40,25        59,42            52,48±4,41
Z score BB/U (SD)                           29       -2,31         1,92            -0,84±0,93
Z score TB/U (SD)                           29       -2,42         1,02            -1,06±0,78
Lemak tubuh (%)                             29        15,3         29,1            20,75±3,61
2.   Kesegaran Jasmani

       Berdasarkan hasil pengukuran dapat diketahui bahwa nilai kesegaran jasmani terendah
29,5 ml/kgBB/menit dan nilai tertinggi 54,3 ml/kgBB/menit. Rerata nilainya 42,36±5,49.
Tidak ada subyek yang memiliki tingkat kesegaran jasmani rendah. Lebih dari setengah
jumlah sampel memiliki tingkat kesegaran jasmani bagus dan tinggi (62 %).


Tabel 2. Distribusi Frekuensi Subyek Menurut Kategori Tingkat Kesegaran Jasmani
Kategori tingkat kesegaran jasmani               N                        %
Sedang                                           3                       10,3
Cukup                                            8                       27,7
Bagus                                            17                      58,6
Tinggi                                           1                        3,4
Total                                            29                      100



3.   Konsumsi Energi dan Karbohidrat
       Persentase konsumsi energi berkisar antara 65,18 – 104,47 % dari kebutuhan energi
per hari setiap subyek dengan rerata 89,61±7,84 dan karbohidrat antara 40,25 – 59,42 %
dengan rerata 52,48±4,4. Sebagian besar subyek (55,3%) memiliki tingkat konsumsi energi
baik tetapi hanya 34,5% yang mempunyai tingkat konsumsi karbohidrat baik.


Tabel 3. Distribusi Frekuensi Subyek Menurut Kategori Tingkat Konsumsi Energi dan Karbohidrat
Kategori tingkat konsumsi                        N                        %
Energi
Defisit                                           1                       3,4
Kurang                                            1                       3,4
Sedang                                           10                       34,5
Baik                                             16                       55,3
Lebih                                             1                       3,4
Karbohidrat
Kurang                                           19                       65,5
Baik                                             10                       34,5


4.   BMI (Body Mass Index) dan Persentase Lemak Tubuh
       Pengukuran status gizi subyek dilakukan melalui z score menurut BB/U dan TB/U.
Perhitungan z score BB/U menunjukkan rerata sebesar -0,84±0,93 dengan kisaran nilai
minimal -2,31 SD dan nilai maksimal 1,92 SD. Hampir seluruh subyek (93,1%) berstatus gizi
normal.
       Status gizi subyek berdasar perhitungan z score TB/U menunjukkan rerata sebesar -
1,06±0,78 dengan kisaran nilai minimal -2,42 SD dan nilai maksimal 1,02 SD. Sebanyak
93,1% berstatus gizi normal.
        Persentase lemak tubuh subyek memiliki rerata 20,75±3,61 dengan kisaran 15,3
hingga 29,1%. Sebagian besar tergolong normal yaitu sebesar 72,4%. Distribusi frekuensi
subyek berdasar BMI dan persentase lemak tubuh ditunjukkan dalam tabel 4.


Tabel 4. Distribusi Frekuensi Subyek Menurut Kategori Status Gizi
Kategori BMI                                                                                        N                   %
BB/U
Underweight                                                                                      2                     6,9
Normal                                                                                          27                     93,1
TB/U
Pendek                                                                                           2                     6,9
Normal                                                                                          27                     93,1
Persentase lemak tubuh
Normal                                                                                          21                     72,4
Overfat                                                                                          7                     24,2
Obese                                                                                            1                     3,4


Hubungan tingkat konsumsi energi dengan tingkat kesegaran jasmani
     Uji korelasi antara tingkat konsumsi energi dengan tingkat kesegaran jasmani
menghasilkan nilai r = -0,139; p = 0,472. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan
yang bermakna antara tingkat konsumsi energi dengan tingkat kesegaran jasmani (p = 0,472)
dengan arah     hubungan yang negatif (r = -0,139). Jadi, artinya semakin tinggi tingkat
konsumsi energi maka semakin rendah tingkat kesegaran jasmaninya.
                                                                    60
                            nilai kesegaran jasmani (ml/kgBB/mnt)




                                                                    50




                                                                    40




                                                                    30




                                                                    20
                                                                         60        70          80          90   100   110


                                                                          persentase konsumsi energi (%)
                                                                              r = -0,139; p = 0,472

        Gambar 1. Diagram tebar hubungan persentase konsumsi energi dengan nilai kesegaran jasmani
Hubungan tingkat konsumsi karbohidrat dengan tingkat kesegaran jasmani
       Uji korelasi antara tingkat konsumsi karbohidrat dengan tingkat kesegaran jasmani
menghasilkan nilai r = -0,190; p = 0,323. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan
yang bermakna antara tingkat konsumsi karbohidrat dengan tingkat kesegaran jasmani (p =
0,323) dengan arah hubungan yang negatif (r = -0,190). Jadi, artinya semakin tinggi tingkat
konsumsi katbohidrat maka semakin rendah tingkat kesegaran jasmaninya.
                                                                 60
                         nilai kesegaran jasmani (ml/kgBB/mnt)




                                                                 50




                                                                 40




                                                                 30




                                                                 20
                                                                      30                40                   50   60


                                                                       persentase konsumsi karbohidrat (%)

                                                                                         r = -0,190; p = 0,323

       Gambar 2. Diagram tebar hubungan persentase konsumsi karbohidrat dengan nilai kesegaran
       jasmani


Hubungan status gizi menurut BB/U dengan tingkat kesegaran jasmani

       Uji korelasi antara status gizi menurut BB/U dengan tingkat kesegaran jasmani
menghasilkan nilai r = -0,314; p = 0,097. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan
yang bermakna antara status gizi menurut BB/U dengan tingkat kesegaran jasmani (p = 0,097)
dengan arah hubungan negatif (r = -0,314). Artinya, semakin tinggi status gizi BB/U maka
semakin rendah kesegaran jasmaninya.
                                                                     60




                             nilai kesegaran jasmani (ml/kgBB/mnt)
                                                                     50




                                                                     40




                                                                     30




                                                                     20
                                                                          -3           -2             -1         0              1         2


                                                                           z score bb/u (SD)
                                                                                                   r = -0,314; p = 0,097
       Gambar 3. Diagram tebar hubungan status gizi menurut BB/U dengan nilai kesegaran jasmani


Hubungan status gizi menurut TB/U dengan tingkat kesegaran jasmani
      Uji korelasi antara status gizi menurut TB/U dengan tingkat kesegaran jasmani
menghasilkan nilai r = -0,084; p = 0,664. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan
yang bermakna antara status gizi menurut TB/U dengan tingkat kesegaran jasmani (p = 0,664)
dengan arah hubungan yang negatif                                                                      (r = -0,084). Artinya, semakin tinggi status gizi
TB/U maka semakin rendah kesegaran jasmaninya.
                                                                     60
                          nilai kesegaran jasmani (ml/kgBB/mnt)




                                                                     50




                                                                     40




                                                                     30




                                                                     20
                                                                      -2,5      -2,0        -1,5    -1,0   -,5    0,0      ,5       1,0   1,5


                                                                           z score tb/u (SD)
                                                                                                   r = -0,084; p = 0,664
      Gambar 4. Diagram tebar hubungan status gizi menurut TB/U dengan nilai kesegaran jasmani
Hubungan persentase lemak tubuh dengan tingkat kesegaran jasmani
       Uji korelasi antara persentase lemak tubuh dengan tingkat kesegaran jasmani
menghasilkan nilai r = -0,634; p = 0,000. Hal ini menunjukkan ada hubungan yang bermakna
antara persentase lemak tubuh dengan tingkat kesegaran jasmani (p = 0,000) dengan arah
korelasi negatif (r = -0,634). Artinya semakin tinggi persentase lemak tubuh maka semakin
rendah tingkat kesegaran jasmani.
                                                        60
                nilai kesegaran jasmani (ml/kgBB/mnt)




                                                        50




                                                        40




                                                        30




                                                        20
                                                             14    16     18    20     22    24     26        28   30


                                                              persentase lemak tubuh (%)
                                                                                      r = -0,634; p = 0,000
       Gambar 5. Diagram tebar hubungan persentase lemak tubuh dengan nilai kesegaran jasmani




PEMBAHASAN

Gambaran lokasi penelitian

       Lembaga Pendidikan Sepak Bola Bonansa berdiri pada tanggal 19 Juni 1998 di bawah
naungan Pusat Pengembangan Olahraga Universitas Sebelas Maret Surakarta. Prestasi yang
telah dicapai LPSB Bonansa antara lain juara turnamen sepakbola Piala Specs III Jateng –
DIY 2002, mewakili Indonesia dalam turnamen sepakbola Kanga Cup XIII di Australia tahun
2004, juara nasional U-15 Piala Menpora 2009 dan terpilihnya salah satu siswa sebagai
pemain timnas PSSI U-15 yang bertanding dalam The 4th Asian School Football U-15
Championship di Kinabalu, Sabah, Malaysia tahun 2009.
    Jadwal latihan dilakukan tiga kali dalam seminggu yaitu setiap hari rabu, jumat dan
minggu. Latihan teknik, taktik, strategi permainan dan kerjasama tim dilakukan setiap hari
rabu dan jumat selama dua jam yaitu pukul tiga hingga lima sore. Pada hari minggu dilakukan
latihan fisik selama satu setengah jam pada pukul tujuh hingga setengah sembilan pagi.
Latihan fisik berupa satu paket latihan yang disebut Sircuit Training yang terdiri dari delapan
bentuk latihan. Setiap bentuk latihan membutuhkan waktu 10 menit. Latihan fisik ini
bertujuan untuk melatih keseimbangan, kelincahan, koordinasi, daya tahan, kecepatan dan
kekuatan otot.

Kesegaran Jasmani
       Kemampuan menggunakan oksigen oleh tubuh merupakan kunci yang menentukan
penggunaan bahan bakar dan keberhasilan berprestasi pada atlet. Kemampuan maksimal tubuh
dalam mengambil oksigen disebut VO2 maksimal. Nilai VO2 maksimal merupakan ukuran
untuk menentukan tingkat kesegaran jasmani seseorang. Jadi dapat disimpulkan nilai
kesegaran jasmani yang semakin tinggi menggambarkan semakin maksimal kemampuan
ambilan oksigen seseorang. Oksigen diperlukan tubuh untuk proses metabolisme zat-zat gizi
untuk menghasilkan energi.2,10,14
       Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar subyek memiliki tingkat kesegaran
jasmani dalam kategori bagus dan tinggi (60,2%) dengan rerata nilai VO2 maksimal sebesar
42,36 ml/kg/menit. Hasil ini lebih baik bila dibandingkan dengan nilai kesegaran jasmani
siswa SSB Tugu Muda Semarang yang memiliki rerata 34,36 ml/kg/menit dan siswa SSB
Malang yang hanya memiliki rerata VO2 maksimal sebesar 24,27 ml/kg/menit.3 Kesegaran
jasmani dipengaruhi oleh dua faktor yaitu internal dan eksternal. Faktor internal meliputi
faktor genetik, usia dan jenis kelamin. Faktor eksternal antara lain asupan gizi, status gizi,
status kesehatan, latihan fisik dan komposisi tubuh.2
       Subyek dalam penelitian ini masuk dalam golongan remaja yang rentang usianya
antara 11 sampai 15 tahun. Kesegaran jasmani seseorang akan terus meningkat hingga usia 20
tahun dan akan mencapai maksimal pada usia 20-25 tahun. Oleh karena itu, latihan fisik
secara rutin sangat diperlukan pada golongan usia remaja sehingga bisa tercapai kesegaran
jasmani yang optimal. Tingkat kesegaran jasmani yang dapat tercapai secara optimal di masa
muda dapat mencegah terjadinya penyakit degeneratif pada masa tuanya.9,12,14
       Tingkat kesegaran jasmani subyek pada umumnya tergolong baik karena subyek telah
menjalani latihan fisik secara rutin. Latihan fisik yang rutin dapat meningkatkan fungsi
jantung, paru-paru dan pembuluh darah dalam mengambil dan mengedarkan oksigen ke
seluruh jaringan tubuh.5,12,13
Konsumsi Energi dan Karbohidrat
       Asupan gizi merupakan salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi kesegaran
jasmani seseorang. Peran energi dalam olahraga penting diperhatikan karena kelelahan dapat
terjadi akibat tidak cukupnya ketersediaan energi yang diperlukan dari glikogen otot atau
glukosa darah. Kelelahan tersebut, baik pada masa latihan ataupun pertandingan dapat
menurunkan prestasi.4,5,15
       Besarnya kebutuhan energi tergantung dari jumlah energi yang diperlukan setiap hari
dengan memperhitungkan beberapa komponen yaitu basal metabolic rate (BMR), specific
dynamic action (SDA), aktifitas fisik dan faktor pertumbuhan.1,4 Sebaran tingkat konsumsi
energi subyek yaitu baik dan sedang sebanyak 55,3% dan 34,5 % serta lebih dan defisit
masing-masing 3,4%. Jadi, berdasar hasil penelitian lebih dari setengah jumlah subyek telah
memenuhi > 90% jumlah kebutuhan energi dengan rerata 89,61%. Rerata jumlah kebutuhan
energi subyek per hari yaitu sebesar 2455,2 kalori sedangkan rerata asupan energi per hari
yaitu 2223,9 kalori.
       Sumber energi terbesar saat melakukan aktifitas olahraga dengan intensitas yang tinggi
seperti sepakbola yaitu karbohidrat karena merupakan zat gizi yang paling cepat proses
pemecahannya. Oleh karena itu seorang atlet membutuhkan asupan karbohidrat 55 – 70%
jumlah kebutuhan energi saat latihan dan dapat ditingkatkan jumlahnya saat periode
pertandingan. Meskipun demikian, asupan lemak dan protein secara tepat juga tidak bisa
diabaikan karena selama periode latihan, atlet juga membutuhkan asupan lemak dan protein
untuk memperbaiki jaringan-jaringan yang rusak dan untuk pembentukan otot.4,5,13 Hasil dari
penelitian hanya 10 orang (34,5%) yang mengkonsumsi karbohidrat > 55% dari total
kebutuhan energinya, sisanya mengkonsumsi karbohidrat < 55% total energi. Rerata tingkat
konsumsi karbohidrat hanya 52,48%.

Body Mass Index (BMI) dan persentase lemak tubuh
       Status gizi mencerminkan keseimbangan antara zat-zat gizi yang masuk dalam tubuh
dengan zat-zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh. Status gizi yang baik menggambarkan
kesegaran jasmani yang baik pula pada seseorang. Banyak cara untuk mengetahui status gizi,
salah satunya yaitu dengan mengukur BMI dan persentase lemak tubuh.10,15 Status gizi adalah
faktor eksternal yang mempengaruhi tingkat kesegaran jasmani.2
       Status gizi untuk anak usia dibawah 18 tahun dapat diketahui dengan menghitung z
score berdasar BB/U dan TB/U.10 Status gizi berdasar z score BB/U menunjukkan bahwa 27
subyek (93,1%) tergolong normal dan 2 subyek (6,9%) underweight dengan nilai reratanya
yaitu – 0,84 SD. Status gizi berdasar z score TB/U menunjukkan 27 subyek (93,1%) normal
dan 2 subyek (6,9%) tergolong pendek dengan nilai reratanya – 1,06 SD. Hasil ini dapat
disimpulkan bahwa hampir seluruh subyek berstatus gizi baik, hal ini karena adanya korelasi
dimana sebagian besar subyek memiliki tingkat konsumsi energi yang baik.4,10
       Persentase lemak tubuh lebih menggambarkan status gizi seorang atlet karena melihat
komposisi tubuhnya. Komposisi tubuh digambarkan dengan jumlah seluruh bagian tubuh yang
terdiri dari jaringan lemak dan jaringan bebas lemak. Jaringan bebas lemak terdiri dari massa
otot, tulang dan organ tubuh. Semakin rendah persentase lemak tubuh seseorang maka
semakin baik tingkat kesegaran jasmaninya.12,14,15,16 Berdasar penelitian sebagian subyek
tergolong normal yaitu sebanyak 21 orang (72,4%) dengan rerata 20,75%.
       Pada hasil penelitian terdapat satu anak yang stunting, yaitu dengan BB/U underweight
dan TB/U pendek, tetapi tergolong dalam persentase lemak yang normal dan mempunyai
tingkat kesegaran jasmani yang cukup.

Hubungan tingkat konsumsi energi dan karbohidrat dengan tingkat kesegaran jasmani
       Hasil penelitian ini tidak ditemukan adanya hubungan yang bermakna antara tingkat
konsumsi energi dengan tingkat kesegaran jasmani dengan koefisien korelasi r = -0,139 dan
nilai p = 0,472. Hasil tersebut menunjukkan kekuatan hubungan sangat lemah dengan pola
negatif yang artinya semakin tinggi tingkat konsumsi energi semakin rendah kesegaran
jasmaninya. Sama halnya penelitian yang dilakukan oleh Saragih, hasil penelitian
menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara asupan energi dengan kesegaran
jasmani (p = 0,101)16 sedangkan hasil penelitian Ita pada atlet bola basket Satria Muda
Britama Jakarta juga menunjukkan tidak ada hubungan bermakna antara asupan energi dengan
kapasitas oksigen maksimal (p=0,064).17,24
       Menurut Almatsier, apabila konsumsi energi melalui makanan melebihi energi yang
dikeluarkan, maka kelebihan energi ini akan diubah menjadi lemak. Begitu pun juga dengan
kelebihan asupan karbohidrat akan diubah menjadi lemak. Menurut Sharkey, terdapat potensi
untuk meningkatkan kesegaran jasmani sebesar 15-25% dengan latihan dan dapat lebih besar
lagi dengan berkurangnya lemak tubuh. Kesegaran jasmani dihitung per unit berat badan,
sehingga jika lemak meningkat, kesegaran jasmani akan menurun.12,14,19
       Kebutuhan energi pada saat berolahraga dapat dipenuhi melalui sumber-sumber energi
yang tersimpan di dalam tubuh yaitu melalui pembakaran karbohidrat, pembakaran lemak,
serta kontribusi sekitar 5% melalui pemecahan protein. Diantara ketiganya, simpanan protein
bukanlah merupakan sumber energi yang langsung dapat digunakan oleh tubuh dan protein
baru akan terpakai jika simpanan karbohidrat ataupun lemak tidak lagi mampu untuk
menghasilkan energi yang dibutuhkan oleh tubuh.5,14,15,25
       Penggunaan antara lemak ataupun karbohidrat oleh tubuh sebagai sumber energi untuk
dapat mendukung kerja otot akan ditentukan oleh 2 faktor yaitu intensitas serta durasi
olahraga yang dilakukan. Pada olahraga intensitas rendah dengan waktu durasi yang panjang
seperti jalan kaki atau lari-lari kecil, pembakaran lemak akan memberikan kontribusi yang
lebih besar dibandingkan dengan pembakaran karbohidrat dalam hal produksi energi tubuh.
Namun walaupun lemak akan berfungsi sebagai sumber energi utama tubuh dalam olahraga
dengan intensitas rendah, ketersediaan karbohidrat tetap akan dibutuhkan oleh tubuh untuk
menyempurnakan pembakaran lemak serta untuk mempertahankan level glukosa darah. Pada
olahraga intensitas moderat-tinggi yang bertenaga seperti sprint atau juga pada olahraga
beregu seperti sepakbola atau bola basket , pembakaran karbohidrat akan berfungsi sebagai
sumber energi utama tubuh dan akan memberikan kontribusi yang lebih besar dibandingkan
dengan pembakaran lemak dalam memproduksi energi di dalam tubuh.5,14,15,16,17,22
       Kebutuhan energi dan karbohidrat seorang atlet pada saat latihan lebih besar daripada
kebutuhan pada saat bertanding. Pemulihan simpanan karbohidrat setiap hari harus menjadi
prioritas bagi atlet yang menjalani latihan yang intensif. Problem utama yang sering ditemui
atlet yang sedang berlatih dengan keras adalah kelelahan atau ketidakmampuan untuk
memulihkan rasa lelah, dari satu latihan ke latihan berikutnya. Hal ini kemungkinan karena
atlet tidak mengkonsumsi karbohidrat dalam jumlah yang adekuat setiap hari sehingga
simpanan glikogen otot dan hati akan habis. Penelitian menunjukkan bahwa pengosongan
simpanan glikogen secara bertahap dapat menurunkan daya tahan serta penampilan
atlet.1,2,6,19,20,21 Menurut penelitian, sebuah eksperimen pada atlet sepakbola yang diberi cairan
karbohidrat selama pertandingan, menunjukkan mereka dapat melakukan serangkaian uji tes
kesegaran fisik setelah pertandingan dengan nilai yang lebih baik daripada kelompok yang
tidak diberi cairan karbohidrat.23
       Hubungan antara tingkat konsumsi karbohidrat dengan tingkat kesegaran jasmani juga
tidak bermakna. Koefisien korelasinya r = -0,190 dan nilai p = 0,323 menunjukkan kekuatan
hubungan yang lemah berpola negatif yang berarti semakin tinggi tingkat konsumsi
karbohidrat maka semakin rendah kesegaran jasmaninya. Hal yang sama dikemukakan oleh
Ferry bahwa hasil penelitian diketahui hubungan tidak bermakna (p = 0,751) antara tingkat
konsumsi karbohidrat dengan daya tahan jantung paru.18,19 tetapi pada penelitian Ita
menunjukkan adanya hubungan antara asupan karbohidrat dengan nilai kapasitas oksigen
maksimal (p=0,007).24 Penelitian Aryati pada atlet sepakbola PSS Sleman saat periode latihan
juga menyebutkan bahwa adanya pengaruh asupan karbohidrat terhadap kebugaran.6
       Hubungan yang tidak bermakna antara tingkat konsumsi energi dan karbohidrat
dengan tingkat kesegaran jasmani terjadi karena kesegaran jasmani sendiri dipengaruhi oleh
banyak faktor selain asupan zat gizi. Faktor-faktor tersebut antara lain genetik, umur, jenis
kelamin, latihan fisik, status kesehatan dan komposisi tubuh. Faktor genetik mempengaruhi
sebesar 25-40% perbedaan nilai VO2 maksimal.2,5,12,14 Padahal penelitian ini tidak diteliti
faktor genetik. Selain itu latihan fisik sangat mempengaruhi kesegaran jasmani. Latihan fisik
yang bersifat aerobik yang dilakukan secara teratur dapat meningkatkan daya tahan
kardiorespirasi. Latihan tersebut dapat meningkatkan dan memaksimalkan kerja jantung dan
paru-paru.1,9,12 Tingkat kesegaran jasmani yang baik pada subyek lebih dimungkinkan karena
pengaruh dari latihan fisik karena subyek telah melakukan latihan fisik khusus secara teratur
setiap minggunya untuk meningkatkan komponen-komponen dari kesegaran jasmani seperti
kelincahan, keseimbangan, koordinasi, daya tahan otot dan daya tahan jantung.12 Adanya
hubungan yang tidak bermakna kemungkinkan juga disebabkan karena jumlah sampel yang
tidak memenuhi jumlah sampel minimal.

Hubungan BMI dan persentase lemak tubuh dengan tingkat kesegaran jasmani
       Berdasar analisis bivariat tidak ada hubungan yang bermakna antara status gizi
menurut BB/U dan TB/U dengan tingkat kesegaran jasmani (p=0,097 dan p=0,664). Hal ini
sama dengan penelitian yang dilakukan Ita pada atlet basket yang menunjukkan tidak ada
hubungan yang bermakna dengan arah pola hubungan yang negatif antara IMT dengan VO2
maksimal serta penelitian Huldani pada mahasiswa Lambung Mangkurat juga menyebutkan
hubungan yang tidak signifikan. Berbeda dengan penelitian Saragih menunjukkan adanya
hubungan yang signifikan antara status gizi dengan kebugaran jasmani. Begitu pula dengan
penelitian Pinzon yang menyebutkan bahwa kapasitas vital paru-paru seseorang dapat
dipengaruhi oleh indeks massa tubuh.17,24,26,27
       Arah hubungan penelitian ini berpola negatif dengan koefisien korelasi untuk BB/U r
= -0,314 dan untuk TB/U r = -0,084 yang artinya semakin besar nilai z score maka semakin
rendah kesegaran jasmaninya. Seperti yang dinyatakan Saragih, peningkatan status gizi ke
arah lebih akan mengakibatkan penurunan kesegaran jasmani. Tidak adanya hubungan yang
signifikan antara BMI dengan tingkat kesegaran jasmani dapat terjadi kemungkinan karena
banyak faktor lain yang juga mempunyai pengaruh yang besar terhadap nilai VO2
maksimal.4,5,17
       Analisis uji korelasi bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara
persentase lemak tubuh dengan tingkat kesegaran jasmani (p=0,000) dan berpola negatif
dengan koefisien korelasi r = -0,634 artinya semakin tinggi nilai persen lemak tubuh maka
semakin rendah nilai kesegaran jasmani. Hasil ini sama dengan penelitian pada atlet basket
Satria Muda Britama Jakarta yang menunjukkan adanya hubungan bermakna antara
persentase lemak tubuh dengan VO2 maksimal. Berbeda dengan hasil penelitian Galeh pada
atlet sepakbola senior yang meyebutkan tidak ada hubungan signifikan antara persentase
lemak tubuh dengan ketahanan fisik.24,28
       Secara umum penurunan lemak tubuh lebih dibutuhkan atlet daripada penurunan berat
badan. Pada beberapa kasus, lebih baik terjadi penurunan lemak tubuh pada atlet tetapi berat
badan naik dengan meningkatnya massa otot. Kelebihan lemak dalam tubuh dapat
memperlambat gerak seseorang dalam melakukan beban kerjanya. Oleh karena itu, perlunya
penurunan massa lemak bagi seorang atlet yaitu agar lebih mudah beraktifitas dan melakukan
olahraga yang mempunyai intensitas tinggi.4,6,20,25
       Keterbatasan pada penelitian ini adalah jumlah subyek yang tidak dapat memenuhi
besar sampel minimal serta tidak dikontrolnya faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap
kesegaran jasmani yaitu faktor genetik, kadar Hb serta keadaan psikis subyek saat dilakukan
penelitian.


SIMPULAN
       Tingkat kesegaran jasmani sebagian subyek baik yaitu dalam kategori bagus (58,6%)
dan tinggi (3,4%). Lebih dari setengah jumlah sampel memiliki tingkat konsumsi energi baik
(55,3%) Tetapi tingkat konsumsi karbohidrat yang baik hanya 34,5%. Sebesar 93,1% subyek
berstatus gizi baik menurut BB/U dan TB/U. serta 72,9% mempuyai persentase lemak tubuh
normal.
       Penelitian ini tidak menunjukkan hubungan yang bermakna antara tingkat konsumsi
energi, karbohidrat, status gizi menurut BB/U dan TB/U dengan tingkat kesegaran jasmani.
Tetapi terdapat hubungan yang signifikan antara persentase lemak tubuh dengan kesegaran
jasmani.


SARAN
       Diperlukan penelitian sejenis dengan lingkup yang lebih luas, dengan subyek yang
memenuhi besar sampel minimal serta dengan meneliti faktor-faktor lain yang mempengaruhi
kesegaran jasmani agar hasil penelitian dapat digeneralisasi pada populasi.


DAFTAR PUSTAKA
1.   Husaini MA, Primana DA. Gizi atlet sepakbola. Jakarta: Departemen Kesehatan; 2002.
2.   Harisenjaya RS. Penuntun tes kesegaran jasmani. Bandung: Refika Aditama; 1993. Hal
     10-30.
3.   Fajar, Tapriadi, Tami IN. Pola konsumsi, status gizi dan kesegaran jasmani siswa sekolah
     sepakbola di Malang. Edisi 29. Jakarta: Binadiknakes; 1998.
4.   Primana DA, Damayanti D. Pedoman pelatihan gizi olahraga untuk prestasi. Jakarta:
     Depkes RI Dirjen Kesehatan Masyarakat Direktorat Gizi Masyarakat; 2000.hal 15-33.
5.   Awari IM. Cairan, karbohidrat dan performa sepakbola. Polton Sport Science and
     Performance Lab [serial online] 2007 [dikutip 26 Mei 2009] Vol 1 No 5. Diunduh dari :
     http://www.pssplab.com
6.   Aryanti, Tjaronosari, Hidayat, Nur. Pengaruh asupan karbohidrat pada periode latihan
     terhadap kebugaran atlet sepakbola di klub PSS Yogyakarta. Nutrisia. Vol 5 No 2; 2004.
7.   Ika. Hubungan tingkat konsumsi energi, karbohidrat dan suplemen antioksidan dengan
     daya tahan (endurance) atlet pada priode latihan di pusat pelatihan klub bola basket
     Garuda Panasia Bandung [Skripsi]. Program Studi Gizi Kesehatan Fakultas Kedokteran
     Universitas Gajah Mada; 2008.
8.   The National Coaching Foundation; penerjemah MD-MFH. Multistage fitness test : a
     progressive shuttle-run test for the prediction of maximum oxygen uptake. Universitas
     Sebelas Maret Surakarta; 1999.
9.   Eri PD. Petunjuk praktis tes dan pengukuran olahraga. Fakultas Ilmu Keolahragaan
     Universitas Negeri Semarang; 2000.hal 34-51.
10. I Dewa Nyoman S, Bachyar B, Ibnu F. Penilaian status gizi. Jakarta: penerbit buku
     kedokteran EGC; 2001.hal 56-58,194-205.
11. WHO Western Pacific Region. The Asia-Pacific Perspective: Redefining obesity and its
     treatment. Australia: Health Communications Australia Pty Limited; 2000.
12. Sharkey BJ; penerjemah Eri Desmarini Nasution. Kebugaran dan kesehatan Ed 1. Jakarta
     : Raja Grafindo Persada; 2003.hal 80-85,272-279.
13. Berning JR. Nutrition for exercise and sports performance. In : Krause’s food, nutrition,
     and diet therapy. Philadelphia : Elsevier; 2004.p.616-631.
14. Nix S. Nutrition and physical fitness. In : William’s basic nutrition diet therapy 12th
     edition. Missouri : Elsevier; 2005.p.291-302.
15. Fink HH, Burgon LA, Mikesky AE. Practical Applications in Sports Nutrition. Boston :
     Jones and Bartlett Publishers; 2006.p.67-81.
16. Mihardja L. Sistem energi dan zat gizi yang diperlukan pada olahraga aerobik dan
     anaerobik. Gizmido. Vol 3 No 9 September 2004.
17. Saragih. Hubungan asupan energi dan kebugaran jasmani peserta senam aerobik wanita di
     sanggar senam kota Medan [Tesis]. Program Pascasarjana Universitas Gajah Mada
     Yogyakarta; 2004.
18. Ferry. Hubungan antara pola konsumsi karbohidrat, lemak dan faktor lain dengan daya
     tahan jantung paru atlet sepakbola PS Semen Padang divisi utama PSSI Liga Bank
     Mandiri IX tahun 2003 [Tesis]. Program Pascasarjana Universitas Gajah Mada
     Yogyakarta; 2004.
19. Almatsier S. Prinsip dasar ilmu gizi. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama; 2003.hal 79-
     92
20. Guerra I, Chaves R, Barros T, Tirapegui J. The influence of fluid ingestion on
     performance of soccer players during a match. Journal of Sports Science and Medicine
    [serial online] 2004 [dikutip 21 November 2009];3,198-202.             Available at :
    http://www.jssm.org
21. Slinger JD, Verstappen FT, Breda E, Kuipers H. The effect of body build and BMI on
    aerobic test performance in school children (10-15 years). Journal of Sports Science and
    Medicine [serial online] 2006 [dikutip 21 November 2009];5,699-706. Available at :
    http://www.jssm.org
22. Montfort V, Williams CA. Carbohydrate intake considerations for young athletes. Journal
    of Sports Science and Medicine [serial online] 2007 [dikutip 21 November 2009];6,343-
    352. Available at : http://www.jssm.org
23. Ostojic SM, Mazic S. Effects of a carbohydrate-electrolyte drink on specific soccer test
    and performance. Journal of Sports Science and Medicine [serial online] 2002 [dikutip 21
    November 2009];1,47-53. Available at : http://www.jssm.org
24. Ita. Hubungan antara asupan energi dengan indeks massa tubuh (IMT), persen lemak
    tubuh, dan kapasitas oksigen maksimal (VO2 max) alet pada periode latihan di pusat
    pelatihan klub bola basket Satria Muda Britama Jakarta [Skripsi]. Program Studi Gizi
    Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada; 2009.
25. Ilyas EI. Nutrisi pada atlet. Gizmindo. Vol 3 No 9 September 2004.
26. Huldani. Hubungan body mass index (BMI) dengan konsumsi oksigen maksimum (VO2
    max) pada mahasiswa kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru. Berkala
    Kedokteran. Vol 4 No 1 Maret 2005.
27. Pinzon R. Hubungan indeks massa tubuh dengan kapasitas vital paru-paru golongan usia
    muda. Buleti Penelitian Kesehatan 26 (1); 1999.
28. Galeh. Hubungan persentase lemak tubuh dengan ketahanan fisik atlet sepakbola
    [Skripsi]. Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro
    Semarang; 2008.
Contoh perhitungan kebutuhan energi subyek

Seorang subyek bernama Abel Galang berusia 11 tahun dengan berat badan 27,7 kg dan tinggi
badan 134 cm. Subyek melakukan latihan sepakbola dua kali seminggu selama 2 jam dan
latihan fisik satu kali seminggu selama 2 jam.

Status gizi subyek :

BB/U                   = - 1,47 (normal)

TB/U                     = - 1,56 (normal)

Perhitungan energi :
BMR                    42 x 27,7              =       1163,4
SDA                    10% x 1163,4           =          116,34   +

                                                      1279,74
Growth                 12% x 1279,74          =          153,57   +

                                                      1433,31
                                                                  +
Aktivitas              25% x 1433,31          =          358,33
                                                      1791,64
Terbuang feses         10% x 1791,64          =          179,16   +

                                                      1612,48


Kebutuhan energi untuk aktivitas olahraga dalam 1 minggu :
Latihan sepakbola      = 2 x 120 x 7 = 1680 kalori
Latihan fisik          = 1 x 120 x 10 = 1200 kalori      +

                                           2880 kalori
Kebutuhan energi untuk aktivitas olahraga dalam 1 hari = 411,43 kalori
Total kebutuhan energi = 2023,91 kalori
                                   Descriptive Statistics

                              N         Minimum      Maximum         Mean       Std. Deviation
umur                               29          11          15           12,62            1,449
z score bb/u                       29      -2,310       1,920        -,83821          ,931683
z score tb/u                       29      -2,420       1,020       -1,06469          ,780838
persentase konsumsi
                                   29        65,18      104,47      89,6103          7,83814
energi
persentase konsumsi
                                   29        40,25          59,42   52,4841          4,40865
karbohidrat
vo2 maksimal                       29         29,5           54,3    42,359           5,4867
persentase lemak tubuh             29        15,30          29,10   20,7517          3,61007
Valid N (listwise)                 29




                  kategori tingkat kesegaran jasmani

                                                                Cumulative
                  Frequency       Percent     Valid Percent      Percent
Valid   sedang            3           10,3             10,3           10,3
        cukup             8           27,6             27,6           37,9
        bagus            17           58,6             58,6           96,6
        tinggi            1            3,4              3,4          100,0
        Total            29          100,0           100,0




                   kategori tingkat konsumsi energi

                                                                Cumulative
                  Frequency       Percent     Valid Percent      Percent
Valid   defisit           1            3,4              3,4             3,4
        kurang            1            3,4              3,4             6,9
        sedang           10           34,5             34,5           41,4
        baik             16           55,2             55,2           96,6
        lebih             1            3,4              3,4          100,0
        Total            29          100,0           100,0




                    tingkat konsumsi karbohidrat

                                                                Cumulative
                  Frequency       Percent    Valid Percent       Percent
Valid   kurang           19           65,5            65,5            65,5
        baik             10           34,5            34,5           100,0
        Total            29          100,0          100,0
                      kategori status gizi menurut bb/u

                                                                          Cumulative
                         Frequency        Percent         Valid Percent    Percent
Valid   underweight              2             6,9                  6,9           6,9
        normal                  27            93,1                 93,1        100,0
        Total                   29           100,0               100,0




                    kategori status gizi menurut tb/u

                                                                     Cumulative
                   Frequency       Percent      Valid Percent         Percent
Valid   pendek             2            6,9               6,9                6,9
        normal            27           93,1              93,1             100,0
        Total             29          100,0            100,0




                    kategori persentase lemak tubuh

                                                                     Cumulative
                   Frequency      Percent       Valid Percent         Percent
Valid   normal            21          72,4               72,4              72,4
        overfat            7          24,1               24,1              96,6
        obese              1           3,4                3,4             100,0
        Total             29         100,0             100,0




                                            Tests of Normality
                                                              a
                                    Kolmogorov-Smirnov                                Shapiro-Wilk
                             Statistic      df         Sig.               Statistic       df         Sig.
z score bb/u                      ,157         29        ,067                  ,878           29       ,003
z score tb/u                      ,102         29        ,200*                 ,965           29       ,426
persentase konsumsi
                                  ,118               29           ,200*       ,917            29       ,025
energi
persentase konsumsi
                                  ,137               29           ,177        ,953            29       ,217
karbohidrat
vo2 maksimal                      ,193               29           ,007        ,933            29       ,065
persentase lemak tubuh            ,145               29           ,123        ,955            29       ,244
  *. This is a lower bound of the true significance.
  a. Lilliefors Significance Correction
                                                                             Correlations

                                                                           persentase    persentase
                                                                            konsumsi      konsumsi                                persentase
                                                                             energi      karbohidrat   z score bb/u z score tb/u lemak tubuh vo2 maksimal
Spearman's rho     persentase konsumsi           Correlation Coefficient         1,000          ,639**         ,916**      ,759**        ,015       -,139
                   energi                        Sig. (2-tailed)                      ,         ,000           ,000        ,000          ,938        ,472
                                                 N                                  29            29             29          29            29          29
                   persentase konsumsi           Correlation Coefficient          ,639**       1,000           ,648**      ,535**        ,244       -,190
                   karbohidrat                   Sig. (2-tailed)                  ,000               ,         ,000        ,003          ,203        ,323
                                                 N                                  29            29             29          29            29          29
                   z score bb/u                  Correlation Coefficient          ,916**        ,648**       1,000         ,778**        ,220       -,314
                                                 Sig. (2-tailed)                  ,000          ,000              ,        ,000          ,251        ,097
                                                 N                                  29            29             29          29            29          29
                   z score tb/u                  Correlation Coefficient          ,759**        ,535**         ,778**     1,000         -,102       -,084
                                                 Sig. (2-tailed)                  ,000          ,003           ,000            ,         ,598        ,664
                                                 N                                  29            29             29          29            29          29
                   persentase lemak tubuh        Correlation Coefficient          ,015          ,244           ,220       -,102         1,000       -,634**
                                                 Sig. (2-tailed)                  ,938          ,203           ,251        ,598              ,       ,000
                                                 N                                  29            29             29          29            29          29
                   vo2 maksimal                  Correlation Coefficient         -,139         -,190          -,314       -,084         -,634**     1,000
                                                 Sig. (2-tailed)                  ,472          ,323           ,097        ,664          ,000           ,
                                                 N                                  29            29             29          29            29          29
  **. Correlation is significant at the .01 level (2-tailed).

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:3777
posted:5/19/2010
language:Indonesian
pages:25