Docstoc

Provinsi Lampung

Document Sample
Provinsi Lampung Powered By Docstoc
					Laporan Akhir 

Pendahuluan 

(ii) 

Measureable: Indikator kinerja yang ditetapkan mempresentasikan tentang sesuatu dan jelas  ukurannya. Kejelasan pengukuran menunjukkan di mana dan bagaimana cara mendapatkan  datanya. 

(iii)  Attributable:  Indikator  kinerja  yang  ditetapkan  bermanfaat  untuk    kepentingan  pengambilan  keputusan.    Hal  ini  menunjukkan  bahwa  indikator  kinerja  yang  ditetapkan  merupakan  perwujudan dari data/informasi yang memang diperlukan untuk pengambilan keputusan.  (iv)  Relevant: Indikator kinerja sesuai dengan ruang lingkup program dan dapat menggambarkan  hubungan sebab­akibat antar indikator.  (v)  Timely:  Indikator  kinerja  yang  ditetapkan  dikumpulkan  datanya  dan  dilaporkan  tepat  pada  waktunya.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008

Tim Independen Universitas Lampung

11 

BAGIAN II AGENDA MENINGKATKAN AMAN DAN DAMAI

Laporan Akhir 

Pengantar Agenda Mewujudkan Indonesia yang Aman dan Damai 

Bab II.1 Pengantar Agenda Mewujudkan Indonesia Aman dan Damai 

Agenda  Pertama  dalam  RPJMN  2004­2009  adalah  Mewujudkan  lndonesia  yang  Aman  dan  Damai.  Dalam  agenda ini terdapat tiga sasara pokok dengan prioritas dan arah kebijakan, sebagai berikut :  Sasaran  pertama  adalah  meningkatnya  rasa  aman  dan  damai.  Hal  ini  akan  tercermin  dari  menurunnya  ketegangan  dan  ancaman  konflik  antar  kelompok  maupun  golongan  masyarakat,menurunnya  angka  kriminatitas secara nyata di perkotaan dan pedesaan serta menurunnya secara nyata angka perampokan dan  keiahatan  di  lautan  dan  penyelundupan  lintas  batas.  Untuk  mencapai  sasaran  tersebut,  prioritas  pembangunan nasional tahun 2004­2009 diletakkan pada:  Peningkatan  Rasa  Saling  percaya  dan  Harmonisasi  Antarkelompok  Masyarakat  dengan  kebijakan  yang  diarahkan untuk:  1.  Memperkuat harmoni yang ada dan mencegah tindakan­tindakan yang menimbulkan ketidak adilan  sehingga  terbangun  masyarakat  sipil  yang  kokoh,  termasuk  membangun  kembali  kepercayaan  sosial antar kelompok masyarakat.  2.  Memperkuat dan mengartikulasikan identitas bangsa.  3.  Menciptakan  kehidupan  intern  dan  antarumat  beragama  yang  saling  menghormati  dalam  rangka  menciptakan suasana yang aman dan damai serta menyelesaikan dan mencegah konflik antar umat  beragama  serta  meningkatkan  kualitas  pelayanan  kehidupan  beragama  bagi  seluruh  lapisan  masyarakat agar dapat memperoleh hak­hak dasar dalam memeluk agamanya masing­masing dan  beribadat sesuai agama dan kepercayaannya.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

12

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pengantar Agenda Mewujudkan Indonesia yang Aman dan Damai 

Pengembangan  Kebudayaan  yang  Berlandaskan  pada  Nilai­nila  Liuhur  dengan  kebijakan  yang  diarahkan  untuk:  1.  Mendorong terciptanya wadah yang terbuka dan demokratis bagi dialog kebudayaan agar benturan­  benturan yang terjadi tidak melebar menjadi konflik social;  2.  Mendorong tuntasnya proses  modernisasi yang  dicirikan dengan  terwujudnya  Negara kebangsaan  Indonesima modern yang berkelanjutan dan menguatnya masyarakat sipil;  3.  Revitalisasi nilai­nilai kearifan lokal sebagai salah satu dasar pengembangan etika pergaulan sosial  untuk memperkuat identitas nasiona;  4.  Meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap budaya dan produk­produk dalam negeri;  Peningkatan  Keamanan,  Ketertiban,  dan  Penanggulangan  Kriminalitas  dengan  kebijakan  yang  diarahkan  untuk:  1.  Menegakkan hokum dengan tegas, adil, dan tidak diskriminatif;  2.  Meningkatkan kemampuan lembaga keamanan Negara;  3.  Meningkatkan  peranserta  masyarakat  untuk  mencegah  kriminalitas  dan  gangguan  keamanan  dan  ketertiban di lingkungannya masing­masing;  4.  Menanggulangi dan mencegah tumbuhnya permasalahan yang berkaitan dengan penggunaan dan  penyebaran narkoba;  5.  Meningkatkan kesadaran akan hak­hak dan kewajiban hokum masyarakat;  6.  Memperkuat kerjasama internasional untuk memerangi kriminalitas dan kejahatan lintas Negara;  Sasaran  kedua  dalam  Agenda  Mewujudkan  Indonesia  yang  Aman  dan  Damai  adalah  semakin  kokohnya  NKRI  berdasarkan  Pancasila,  Undang­Undang  Dasar  1945,  dan  Bhinneka  Tunggal  lka.  Hal  ini  tercermin  dengan  tertanganinya  kegiatan­kegiatan  yang  ingin  memisahkan  diri  dari  NKRI,  meningkatnya  daya  cegah  dan  tangkal  negara  terhadap  ancaman  bahaya  terorisme  bagi  tetap  tegaknya  kedaulatan  N  KRI,  baik  dari  ancaman  dalam  maupun  luar  negeri.  Untuk  mencapai  sasaran  tersebut,  prioritas  pembangunan  nasionaI  tahun 2004­2009 diletakkan pada:  Pencegahan  dan  Penanggulangan  separatisme  dengan  kebijakan  yang  diarahkan  untuk  pencegahan  dan  penanggulangan  separatisme  didaerah  Nanggroe  Aceh  Darussalam  (NAD)  dan  Papua.  Kebijakan  ini  akan

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

13 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pengantar Agenda Mewujudkan Indonesia yang Aman dan Damai 

dilakukan  secaral  komprehensi,  termasuk  menindak  secara  tegas  aksi  separatisme  dengan  tetap  menghormati hak­hak masyarakai sipil.  Pencegahan dan Penanggulangan Gerakan Terorisme dengan kebijakan yang diarahkan untuk:  1.  Menyusun dan menerapkan kerangka hukum antiterorisme yang efektif;  2.  Meningkatkan kemampuan dan kapasitas kelembagaan antiterorisme;  3.  Membangun kemampuan menangkal dan menanggulangi terorisme;  4.  Memantapkan operasional penanggulangannya;  5.  Meningkatkan kerjasama untuk memerangi terorisme;  Peningkatan  Kemampuan  Pertahanan  Negara  yang  diarahkan  untuk  meningkatkan  profesionalisme  TNI  dalam modernisasi peralatan pertahanan Negara dan mereposisi peran TNI dalam kehidupan sosial­politik,  mengembangkan secara bertahap dukungan pertahanan, serta meningkatkan kesejahterana prajurit.  Sasaran  ketiga  dari  Agenda  Mewujudkan  Indonesia  yang  Aman  dan  Damai  adalah  semakin  berperannya  Indonesia dalam menciptakan perdamaian dunia. Untuk mencapai sasaran tersebut, prioritas pembangunan  nasionaI tahun 2004­2009 diletakkan pada:  Pemantapan Potitik Luar Negeri dan Peningkatan Kerjasama Internasional dengan kebijakan yang diarahkan  untuk:  1.  Meningkatkan kualitas diplomasi Indonesia dalam rangka memperjuangkan kepentingan nasional;  2.  Melanjutkan  komitmen  Indonesia  terhadap  pembentukan  identitas  dan  pemantapan  integrasi  regional, khususnya di Association Of South East Asian Nations (ASEAN)  3.  Melanjutakan komitmen Indonesia terhadap upaya­upaya pemantapan perdamaian dunia.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

14 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Rasa Saling Percaya dan Harmonisasi Antar Kelompok Masyarakat 

Bab II.2 Peningkatan Rasa Saling Percaya dan Harmonisasi Antar Kelompok Masyarakat 

Lampung  adalah  daerah  yang  berpenduduk  majemuk,  yaitu  terdiri  atas  penduduk  dalam  beragam  etnis  Lampung,  Jawa,  Sunda,  Banten,  Padang,  ,  Sumsel,  Batak,  Madura,  Bugis,      dsb.  Secara  sosiologis  keragaman  etnis  tersebut  tidak  menjadi  persoalan  yang  berarti  untuk  membangun  sebuah  tatanan  masyarakat yang berbasis pluralisme karena sejauh ini, proses interaksi sosial diantar komunitas etnis tidak  menimbulkan dampak negatif yang merusakan tatanan sosial dan integrasi nasional. I. Permasalahan  Namun,  terkadang  muncul  konflik  antar  penduduk  pendatang  dengan  penduduk  asli,  yang  dipicu  oleh  persoalan  akumulasi  diskriminasi  kebijakan  pemerintah    yang  sangat  tidak  menguntungkan  bagi  para  penduduk asli, yang berakibat terjadinya ketimpangan antara penduduk. II. Kondisi Awal RPJMN 2004­2009  Pada  awal  penyusunan  RPJMN,  kondisi  Indonesia  diwarnai  oleh  berbagai  persoalan  seperti  kesenjangan  sosial  dan  ekonomi  yang  berpotensi  memecah­belah  masyarakat  dalam  kelompok­kelompok  secara  tidak  sehat  dan  berpotensi  merenggangkan  hubungan  antara  masyarakat  dan  menimbulkan  rasa  ketidakadilan.  Kondisi ini pada gilirannya dapat menjadi awal terjadinya disintegrasi nasional.  Konflik  sosial  dan  politik  masa  lampau  berpotensi  muncul  kembali  apabila  tidak  dilakukan  penyelesaian  secara menyeluruh dengan cara yang tepat. Agar proses konsolidasi demokrasi berjalan dengan efektif perlu

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

15

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Rasa Saling Percaya dan Harmonisasi Antar Kelompok Masyarakat 

dilakukan  rekonsiliasi  nasional  yang  lebih  terarah,  adil  dan  menyeluruh  untuk  menyelesaikan  konflik  masa  lalu.  Peran  pemerintah  sebagai  fasilitator  dan  mediator  dalam  penyelesaian  konflik  juga  masih  belum  efektif.  Pemerintah  belum  memiliki  kapasitas  dan  profesionalitas  dalam  merespon  konflik.  Pemerintah  juga  kurang  transparan  dan  kurang  optimal  melibatkan  masyarakat  dalam  menentukan  kebijakan  publik  yang  akan  diterapkan  di daerah tertentu. Kurangnya  koordinasi dan saling koordinasi antar lembaga  pemerintah serta  masih kurangnya kualitas hubungan antara pemerintah dan masyarakat sipil dalm menciptakan situasi damai  berdampak pada kurang efektifnya penyelesaian konflik.  Kebijakan  komunikasi  dan  informasi  nasional  belum  optimal.  Intervensi  kebijakan  yang  terlalu  besar  dalam  diseminasi  informasi,  seperti  kebijakan  sensor  yang  berlebihan  dan  informasi  sepihak  dapat  berakibat  kontraproduktif  dalam  pemeliharaan  serta  saling  percaya  dan  harmoni  masyarakat.  Kebijakan  yang  lebih  memperbesar akses masyarakat terhadap proses perumasan kebijakan publik, diharapkan output­nya dapat  memperkecil  kesenjangan    informasi  antara  kelompok  masyarakat,  yang  pada  gilirannya  akan  sangat  menentukan  peningkatan  saling  pengertian  dan  saling  percaya  antar  berbagai  kelompok  masyarakat  yang  ada.  Memasuki  tahun  kedua  pemerintah  Kabinet  Indonesia  Bersatu,  konflik  yang  berdimensi  kekerasan  di  beberapa daerah yang dilatarbelakangi antara lain oleh adanya faktor kompleksitas kepentingan sosial politik,  ketidakadilan,  kesenjangan  kesejahteraan  ekonomi,  serta  provokasi  yang  mengekploitasi  perbedaan­  perbedaan  etnis,  agama  dan  golongan,  relatif  sudah  memperlihatkan  gejala  pengurangan,  baik  kualitas  maupun  kuantitasnya.  Namun  demikian,  faktor­faktor  pemicu  konflik  tampaknya  belum  sepenuhnya  dapat  dikendalikan dan bukan mustahil dapat menjadi faktor pemicu pecahnya konflik baru.  Selain  itu,  persoalan  kemampuan  dan  kredibilitas  Pemerintah  dalam  memberikan  pelayanan  kepada  masyarakat merupakan salah satu faktor yang berpotensi memicu timbulnya konflik. Kondisi lainnya adalah  masih  rendahnya  keterlibatan  masyarakat  dan  komunikasi  serta  dialog  yang  konstruktif  antar  anggota  masyarakat dalam menyelesaikan berbagai persoalan kemasyarakatan. Hal ini tentu dapat membuka ruang  bagi terbukanya konflik sosial politik. Bahkan, akan dapat memicu peningkatan eskalasi di wilayah konflik bila  tidak diwaspadai.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

16 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Rasa Saling Percaya dan Harmonisasi Antar Kelompok Masyarakat 

III. Sasaran Yang Ingin Dicapai  Sasaran dari Peningkatan Rasa Saling Percaya dan Harmonisasi Antarkelompok Masyarakat adalah:  1.  Menurunnya  ketegangan  dan  ancaman  konflik  antarkelompok  masyarakat  atau  antargolongan  di  daerah­daerah rawan konflik;  2.  Terpeliharanya situasi aman dan damai; serta  3.  Meningkatnya  partisipasi  masyarakat  dalam  proses  pengambilan  keputusan  kebijakan  publik  dan  penyelesaian persoalan sosial kemasyarakatan. IV. Arah Kebijakan  Arah kebijakan dari Peningkatan Rasa Saling Percaya dan Harmonisasi Antarkelompok Masyarakat adalah:  1.  Menintensifkan komunikasi lintas sektoral (lintas agama, budaya dan kelompok) untuk meminimalisir  konflik kepentingan antara kelompok suku di Lampung.  2.  Mendorong secara konsisten proses pembauran dalam masyarakat Lampung.  3.  Mendorong  peran  pemerintah  daerah  untuk  berpartisipasi  secara  aktif  membuat  program­program  yang genuine bagi memutus sekat anti­pembauran dalam masyarakat Lampung.  4.  Mereposisikan dan mereorientasikan kembali program transmigrasi pemerintah pusat menjadi tidak  hanya berlandaskan pada factor persebaran penduduk secara geografis saja akan tetapi lebih dari  itu bagaimana program­program sejenis dilaksanakan dengan mempertimbangkan aspek kesamaan  budaya dan prilaku masyarakat transmigran itu sendiri. V. Pencapaian 2005­2007  Kebijakan  pemerintah  untuk  memajukan  daerah  transmigarasi  telah  menimbulkan  kesenjangan  yang  menyolok antara daerah transmigran yang sebagain besar adalah penduduk yang berasal dari Jawa dengan  daerah  penduduk  asli.  Secara  kasat  mata,  kehidupan  dan  infrastruktur  penduduk  daerah  pendatang  jauh  lebih maju dibandingkan di daerah penduduk asli.  Persoalan  kesenjangan  ini,  seringkali  ditafsirkan  dan  difahami    oleh  para  penganut  kulturalis,  bahwa  keterbelakangan di orang­orang Lampung asli, karena mereka  tidak memiliki etos kerja yang seulet, sebaik  orang­orang  Jawa.  Tesis  ini  tidak  cukup  memiliki  argumen  yang  cukup  kuat,  karena  para  penduduk  asli
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

17

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Rasa Saling Percaya dan Harmonisasi Antar Kelompok Masyarakat 

sebelum  para  pendatang  datang  ke  Lampung  sudah  dikenal  memiliki  tradisi  pertanian  lahan  kering  yang  sangat kuat. Mereka berhasil menanam Lada dan Kopi  yang dikenal  berbagai negara. Logika yang sangat  sederhana, sangat tidak mungkin mereka berhasil bertani lada, kalau tidak diimbangi dengan etos kerja yang  kuat.  Berdasarkan  analisis  demikian,  maka  keterbelakangan  daerah  penduduk  asli  Lampung  lebih  banyak  disebabkan  oleh  persoalan  struktural  yang  mengkondisikan  penduduk  asli  menjadi  tertinggal.  Realitas  ketertinggalan itulah yang kemudian menimbulkan ruang terjadinya konflik. Penduduk asli, tidak bisa bertahan  dalam tradisi kehidupan pertanian mereka yang khas, sebagian dari mereka (generasi penerusnya)  beralih  profesi  seperti  menjadi  buruh,  supir,  dsb.  Namun,  tidak  cukup  bisa  mendongkrak  kesejahtraan  mereka.  Sementara dikalangan kelas menengah dan atas (elit) yang berhasil menempuh pendidikan mereka berupaya  menjadi pegawai birokrasi pemerintah daerah. Dalam pengamatan sejauh ini,  penduduk Lampung asli yang  duduk  di  birokrasi  pemerintahan,  cukup  banyak  yang  berhasil.  Namun,  belum  bisa  menjadi  simbol  bahwa  kemudian itu menjadi cermin keberhasilan masyarakat Lampung secara keseluruhan .  Keinginan  para  pengambil  kebijakan  untuk  mendongkrak  dan  mensejajarkan  kehidupan  penduduk  asli  Lampung  dengan  penduduk  pendatang,  sepanjang  pemerintahan  Orde  Baru  tidak  pernah  muncul.  Bahkan  sepanjang itu pula, muncul image bahwa orang penduduk Lampung Asli sulit untuk  dirubah mentalistasnya  untuk  bisa  maju  dan  berkembang.  Image  ini  yang  kemudian  mengurungkan    keinginan  untuk  memajukan  orang Lampung.  Di era pemerintahan pasca Orde Baru, muncul kesadaran dikalangan pemerintah daerah Provinsi Lampung  untuk memberdayakan desa­desa adat atau kampung­kampung tua yang tertinggal, melalui proyek Kampung  Tuha.  Program  ini  secara  politis  menunjukkan  bahwa  disamping  ada  pengakuan  terhadap  realitas  ketertingalan  masyarakat  Lampung  Asli,  juga  pemerintah  daerah  berkeinginan  untuk  melakukan  akselerasi  penduduk asli Lampung yang tinggal di Desa­desa.  Program pemberdayaan Kampung  Tua, ternyata tidak  bisa bertahan  lama, hanya  berjalan kurang lebih 1­2  tahun, program ini tidak ada keberlanjutannya dan hasilnyapun belum bisa dinilai, apakah sudah berhasil atau  belum memberdayakan kampung Tua.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

18 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Rasa Saling Percaya dan Harmonisasi Antar Kelompok Masyarakat 

Singkat  kata,        dalam  konteks  ketertingglan  penduduk  asli  Lampung,  maka  Lampung    berpotensi  konflik  karena  penduduk  asli  terseret  oleh  para  transmigran.  Mereka  merasa  diperlakukan  tidak  adil;  para  transmigran diberi fasilitas kehidupan yang baik, sedangkan mereka diabaikan.  Disamping itu, konflik politik di Lampung, biasanya terjadi dalam wilayah perebutan jabatan politis, yaitu pada  saat  pemilihan  bupati,  walikota  atau  gubernur.  Pada  era  Pemerintahan  Orde  Baru,  tidak  sempat  mencuat  persoalan  konflik  tersebut,  karena  proses  penentuan  jabatan  bupati/walikota/gubernur,  lebih  banyak  ditentukan  oleh Pemerientah Pusat, sehingga dari unsur manapun (sebagian besar droping dari pusat, dan  berasal dari Tentara) tidak terjadi resistensi.  Namun di era pemerintahan pasca Orde Baru, muncul konflik politik dalam proses pemilihan jabatan politis.  Isu  yang  diangkat  berpusat  pada  persoalan  etnisitas,  yang  dikemas  dalam  isu  putra  daerah.  Umumnya,  penduduk  asli  Lampung,  menghendaki    agar  putra  daerah  dijadikan  salah  satu  kriteria  dalam  persyaratan  pemilihan  walikota/bupati/gubernur.    Isu  putra  daerah  sempat  mencuat  menjadi  wacana  politik  lokal,  tidak  hanya di Lampung, tapi dihampir semua daerah, isu putra daerah menjadi komoditas politik yang layak dijual  dalam arena pemilihan jabatan politis.  Khusus  untuk  kasus  Lampung,  isu  putra  daerah  tidak  berhasil  masuk  dalam  persyaratan  formal  untuk  pemilihan  jabatan  politis,  karena  terjadi  penafsiran  yang  beragam.  Sebagian  dan  umumnya  penduduk  asli  Lampung,  menginterpretasikan  putra  daerah  itu  dalam  pengertian  antropologis,  yaitu  yang  disebut  putra  daerah  adalah  mereka  yang  dikategorikan  penduduk  asli  Lampung,  yaitu  keturunan  orang  Lampung  Asli  ,  dilahirkan  di  Lampung,  berbudaya  dan  Berbahasa  Orang  Lampung  Asli.  Sementara  para  penduduk  pendatang,  menafsirkan  pengertian  putra  daerah,  bukan  dalam  konteks  antropologis,  tapi  yang  dimaksud  putra daerah adalah mereka  yang berdomisili di Lampung  yang  sudah cukup Lama, dilahirkan  di Lampung  walaupun  keturunan  orang Jawa. Dalam pengertian ini, yang dimaksud dengan  putra daerah bukan  dalam  pengertian etnisitas.  Perdebatan  isu  putra  daerah  di  Lampung,  sekalipun  tidak  mempunyai  implikasi  politik  terhadap  keberlangsungan pemilihan jabatan politis, tapi menyisakan  konflik  yang  tersembunyi antara penduduk asli  dengan penduduk pendatang.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

19 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Rasa Saling Percaya dan Harmonisasi Antar Kelompok Masyarakat 

Persoalan  isu  putra  daerah,  merupakan  isu  yang  belum  final.  Artinya,  masih  mengundang  potensi  konflik  yang  tersembunyi.  Sementara  bersamaan  munculnya  isu  putra  daerah,  berkembang  kelompok­  kelompok/komunitas  etnis  yang  dikemas  dalam  kelompok  budaya  atau  seni.  Seperti  :  Paku  Banten,  perkumpulan ini terdiri atas yang mayoritas orang­orang Banten,  yang bergerak dibidang seni silat. Batang  Hari  Sembilan,  perkumpulan  orang­orang  etnis  Sumatra  Selatan,  Lampung  Sai,  perkumpulan  orang­orang  yang  beretnis  Lampung  dan kelompok  pendatang.  Juga,  muncul perkumpulan orang­orang Padang, Jawa  Barat, Pangenyongan (Jateng),dsb.  Kemudian, dalam 2 atau 3 tahun  terakhir  ini muncul Kelompok  PATRI  (Perkumpulan Putra­Putri Transmigrasi Indonesia) yang sebagian besar adalah keturunan transmigran orang­  orang Jawa dan Sunda.  Munculnya pengelompokan etnis  tersebut, merupakan realitas  sosial masyarakat Lampung, yang kemudian  dijadikan  komoditas  politik  untuk  kepentingan  persaingan  politik  dalam  pemilihan  jabatan  politis.  Isu  paket  calon jabatan politispun kemudian muncul seperti : Lampung­Jawa atau Jawa Lampung. Namun, fenomena  konflik, lebih dominan sebagai problem elit, bukan problem masyarakat bawah, karena sejauh ini, kelompok  elitlah yang memproduksi munculnya berbagai potensi konflik.  Realitas sosial politik masyarakat Lampung dalam beragam etnis dan berimplikasi terhadap persaingan politik  dalam  jabatan  politis,  menunjukkan  bahwa    persoalan  keragaman  secara  politis  belum  bisa  diselesaikan  bahkan  ada kecenderungan penonjolan etnis  dijadikan  komoditas  politik  untuk  pencarian dukungan. Dalam  bahasa  politik  etnis,  fenomena  itu  dimunculkan  dalam  ungkapan  “bukan  orang  kita”  atau  “tidak  memprioritaskan orang impor” untuk menyebut sinisme terhadap penduduk pendatang.  Apakah kemudian realitas keberagaman tersebut akan cenderung dibiarkan, seolah­olah tidak ada persoalan  yang  secara  signifikan  tidak  akan  mengganggu  keutuhan  masyarakat  Lampung?  Jika  persoalan  tersebut  dibiarkan, maka secara hipotesis potensi konflik akan cenderung terpelihara dan akan membuka ruang konflik  yang suatu saat akan menimbulkan konflik yang lebih keras.  Sampai sejauh ini, pemerintah daerah provinsi  Lampung  belum  memiliki  konsep  yang  jelas  dalam  membangun  integrasi  bangsa.  Bahkan  ada  kecenderungan tidak jelas apa yang harus dilakukan oleh pemerintah daerah dalam menghadapi persoalan  tersebut. Akibatnya, tindakan pemerintah cenderung reaktif.    Pemerintah daerah baru melakukan tindakan  setelah terjadi peristiwa konflik.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

20 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Rasa Saling Percaya dan Harmonisasi Antar Kelompok Masyarakat 

VI. Tindak Lanjut  Program  ini  bertujuan  untuk  membangun  kembali  pluralisme  sosial  politik  di  Provinsi  Lampung,  serta  memulihkan kondisi mental masyarakat di daerah­daerah yang pernah dilanda konflik, Kegiatan pokok yang  dilaksanakan antara lain adalah:  1.  Mengintensifkan kembali forum­forum silaturahmi dan komunikasi lintas budaya dan etnis di wilayah  Lampung.  2.  Memfasilitasi reposisi dan redefinisi pelaksanaan  transmigrasi di Provinsi Lampung  sehingga tidak  menimbulkan gejolak budaya yang akan menimbulkan marginalisasi indigenous people (suku asli).  3.  Fasilitasi  upaya  intensifikasi  program­program  integrasi  bangsa  khususnya  di  wilayah  Lampung  secara berkesinambungan dan berkelanjutan dengan arah dan orientasi pencapaian yang jelas. VII. Penutup  Demikianlah  pemaparan  dari  bidang  kajian  Peningkatan  Rasa  Saling  Percaya  dan  Harmonisasi  Antar  Kelompok  Masyarakat  semoga  kajian  ini  bermanfaat  bagi  pengambil  kebijakan  dalam  membuat  blue  print  pembangunan lokal khususnya Provinsi Lampung.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

21

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pengembangan Kebudayaan yang Berlandaskan pada Nilai­ Nilai Luhur 

Bab IV.3 Pengembangan Kebudayaan yang Berlandaskan Pada Nilai – Nilai Luhur 

Terpaan  arus  globalisasi  juga  pada  tahapan  tertentu  menghakis  budaya  lokal  untuk  berkembang.  Sebagai  contoh perkembangan  ICT yang begitu pesat pada akhirnya membuat dunia semakin kecil dan budaya pop  menjadi  trend  dunia  yang  pada  satu  sisi  akan  mengancam  eksistensi  dari  budaya  local.  Dalam  konteks  kebudayaan di Lampung, sebagai salah satu provinsi yang memiliki budaya yang tinggi seperti kepemilikan  terhadap bahasa dan aksara kebudayaan di Lampung masuk pada satu tahap yang agak mengkhatirkan I. Permasalahan  Selain dari arus globalisasi yang menghakis budaya lokal, maka beberapa hal yang menjadi kendala dalam  konteks pengembangan kebudayaan di Lampung adalah masih adanya factor inferior budaya, sebuah factor  yang  memarjinalkan  budaya  Lampung  oleh  masyarakat  Lampung  itu  sendiri,  hal  ini  secara  politik  juga  merupakan imbas dari politik homogenitas orde baru, oleh sebab itu di era Otonomi Daerah ini dibuka sebuah  peluang untuk melahirkan  pemahaman akan budaya Lampung yang lebih terbuka dan komprensif sehingga  permasalah tesebut sedikit demi sedikit dapat teratasi. II. Kondisi Awal RPJMN 2004­2009  Pada  awal  RPJMN  2004­2009  pengembangan  kebudayaan  yang  berlandaskan  pada  nilai­nilai  luhur  dihadapkan pada permasalahan sebagai berikut: 2.1 Masih Lemahnya Kemampuan Mengelola Keragaman Budaya  Gejala  tersebut  dapat  dilihat  dari  menguatnya  orientasi  kelompok,  etnik,  dan  agama  yang  berpotensi  menimbulkan  konflik  sosial  dan  bahkan  disentegrasi  bangsa.  Fenomena  ini  mengkhawatirkan  karena 22

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pengembangan Kebudayaan yang Berlandaskan pada Nilai­ Nilai Luhur  Indonesia terdiri dari sekitar 520 suku. Masalah ini juga semakin serius akibat dari semakin terbatasnya ruang  publik  yang  dapat  diakses  dan  dikelola  bersama  oleh  masyarakat  multikultur  untuk  penyaluran  aspirasi.  Fenomena  keterbatasan  ruang  publik  ini  muncul  karena  ada  kecenderungan  pengalihan  ruang  publik  ke  ruang privat akibat desakan ekonomi. 2.2 Terjadinya Krisis Jati Diri (identitas) Nasional  Nilai­nilai  solidaritas  sosial,  kekeluargaan,  keramahtamahan  sosial,  dan  rasa  cinta  tanah  air  yang  pernah  dianggap  sebagai  kekuatan  pemersatu  dan  ciri  khas  bangsa  Indonesia,  makin  pudar  bersamaan  dengan  menguatnya  nilai­nilai  materialisme.  Demikian  pula  kebanggaan  atas  jati  diri  bangsa  seperti  penggunaan  bahasa Indonesia yang baik dan benar, semakin terkikis oleh nilai­nilai yang dianggap lebih unggul. Identitas  nasional  meluntur  akibat  cepatnya  penyebaran  budaya  global  yang  negatif,  serta  tidak  mampunya  bangsa  Indonesia  mengadopsi  budaya  global  yang  lebih  relevan  bagi  upaya  pembangunan  bangsa  dan  karakter  bangasa.  Laju  pembangunan  ekonomi  yang  kurang  diimbangi  oleh  pembangunan  karakter  bangsa  telah  mengakibatkan terjadinya krisis budaya yang selanjutnya memperlemah ketahanan budaya. 2.3. Kurangnya Kemampuan mengelola Kekayaan Budaya  Dalam  era  otonomi  daerah,  pengelolaan  kekayaan  budaya  menjadi  tanggung  jawab  pemerintah  daerah.  Namun sampai dengan saat ini, kualitas pengelolaan dan pemeliharaan dalam pelaksanaannya masih sangat  beragam.  Beragamnya  kualitas  pengelolaan  tidak  hanya  disebabkan  oleh  kecilnya  kapasitas  fiskal,  namun  juga  kurangnya  pemahaman,  apresiasi,  kesadaran,  dan  komitmen  pemerintah  daerah  terhadap  kekayaan  budaya.  Pengelolaan  kekayaan  budaya  juga  masih  belum  sepenuhnya  menerapkan  prinsip  tata  pemerintahan  yang  baik  (good  governance).  Sementara  itu,  apresiasi  dan  kecintaan  masyarakat  terhadap  budaya dan produk dalam negeri juga masih rendah, antara lain dikarenakan keterbatasan informasi. III. Sasaran Yang Ingin Dicapai  Sasaran pengembangan kebudayaan yang berlandaskan pada nilai­nilai luhur adalah:  1.  Menurunnya  ketegangan  dan  ancaman  konflik  antar  kelompok  masyarakat  di  wilayah  hukum  Provinsi Lampung.  2.  Semakin  kokohnya  Negara  Kesatuan  Republik  Indonesia  (NKRI)  yang  berdasarkan  Pancasila,  Undang­Undang Dasar 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika; 23 

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pengembangan Kebudayaan yang Berlandaskan pada Nilai­ Nilai Luhur  3.  Semakin  berkembangnya  penerapan  nilai  baru  yang  positif  dan  produktif  dalam  rangka  memantapkan  budaya  nasional  yang  terwujud  dalam  setiap  aspek  kebijakan  pembangunan  di  Wilayah Provinsi Lampung; dan  4.  Meningkatnya pelestarian dan pengembangan kekayaan budaya lokal Lampung. IV. Arah Kebijakan  Arah kebijakan pengembangan kebudayaan yang berlandaskan pada nilai­nilai luhur adalah:  1.  Mengembangkan buadaya local Lampung yang lebih bagi mendorong tercipatanya pengembangan  dan pelestarian budaya daerah;  2.  Mengantisipasi  juggernaut  politics  dari  globalisasi  dengan  pilihan  ideology  budaya  yang  jelas  sehingga terpaan globalisasi tidak menghakis budaya lokal Lampung;  3.  Reaktualisasi  nilai­nilai  indigenous  dan  nilai­nilai  pengetahuan  local  (local  knowledge)  Lampung  sebagai bagian dari strategi memenangkan budaya local dalam pergaulan antar bangsa.  4.  Meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap budaya dan produk­produk dalam negeri khususnya  produk  lokal  Lampung, sehingga  ketergantungan  bangsa  terhadap  produk  luar  bertahap  dikurangi  dalam  konteks  yang  lebih  luas  hal  ini  juga  akan  sangat  membantu  bangsa  keluar  dari  ketergantungan dunia dan dapat hidup berdikari sebagai sebuah bangsa.. V. Pencapaian 2005­2007  Dalam catatan sejarah kepolitikan nasional di Indonesia, fenomena pergolakan politik yang mengarah pada  disintegrasi  nasional  bukan  sebuah  fenomena  politik  baru.  Beberapa  peritiswa  politik  yang  mendandai  terjadinya  fenomena  diistegrasi  nasional  sudah  terjadi  pada  era  demokrasi  terpimpin  sampai  era 
1  Pemerintahan Suharto. 

Sentimen  etnosentrisme  sebenarnya  sangat  keras  berlaku  di  tiga  daerah  Aceh,  Papua  dan  Riau  hal  ini  mengemuka pasca tumbangnya rezim Soeharto dan seiring dengan dilaksanakannya kebijakan desentralisasi  muncul keinginan yang kuat di beberapa daerah untuk melepaskan diri dari NKRI. 

1 ) lihat Syamsuddin Haris, Otonomi Daerah, Demokratisasi, dan Pendekatan Alternatif Resolusi Konflik Pusat­Daerah, Jurnal Ilmu Politik, AIPI, 2002, 37­40.
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

24 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pengembangan Kebudayaan yang Berlandaskan pada Nilai­ Nilai Luhur  Untuk  kasus  etnosentrisme  di  Lampung  kelihatan  masih  lebih  bersahaja.  Sekitar  enam  ribu  warga  Bandar  Lampung, (21/3) yang umumnya  petani dari delapan kabupaten di Lampung itu, berkumpul untuk menuntut  "kemerdekaan dari segala macam penindasan" terhadap rakyat dengan menggunakan momentum peringatan  hari jadi Provinsi Lampung yang ke­36. (Waspada 22/03/00).  Jadi,  di  Lampung  fenomena  tutuntutan  untuk  melepaskan  dari  NKRI  tidak  muncul,  yang  terjadi  adalah  fenomena  konflik  antar  warga,  yang  dipicu  kerana  persoalan  perselisihan  antar  warga,  konflik  antar  warga  dengan pemerintah dan perusahan yang umumnya bersumber dari persoalan kasus tanah, dan konflik antar  warga  karena  persoalan  etnis  dan  agama.    Data  pada  tabel  di  bawah  ini  adalah  konflik  yang  terjadi  di  Lampung dalam kurun waktu lima tahun terakhir ini :  Tabel 2.3­1  Konflik di Kabupaten Lamsel No 1  2  3  4  5  Kecamatan Palas  Candi Puro  Negri Katon  Sidomulyo  Penegahan  Desa Bumi Jaya  Banyu Mas  Negara Saka  Way Galem dengan  Asahan Jabung  Way Mulih (banten)  dengan Kunyir  (Lampung)  Merbau Mataram,  Candi Puro dengan  Jabung  Gebeng, Hanura,  Sukajaya dengan  Lempasing  Palas Pasemah  Jenis Konflik Konflik Warga  Konflik Warga  Konflik Warga  Konflik Warga  Konflik antar Warga  Penyebab Konflik  Pengrusakan tempat ibdah karena  perbedaan pemahaman agama  Pembunuhan terhadap warga karena  dituduh sebagai dukun santet  Akibat pemekaran desa dan pemilihan  kades  Konflik antar desa yang bertetangga  Perbedaan suku, yang dipicu karena  perkelahian antar pemuda  Konflik antar desa yang bertetangga 

6 

Ketibung 

Konflik Antar Warga 

7 

Padang  Cermin  Palas 

Konflik antar Warga 

Dipicu oleh perilaku pemuda yang  emosional yang menyeret warga desa  Karena perbedaan antar suku dan  kesenjangan sosial  Konflik antar desa yang bertetangga  Konflik dipicu karena masalah  perbatasan

8 

Konflik antar Warga 

9  10 

Gedong  Tataan  Kedongdong 

Pujo Rahayu  Konflik antar Warga  dengan Karang Rejo  Sukaraja dengan  Konflik antar Warga  Padang Cermin 

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

25 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pengembangan Kebudayaan yang Berlandaskan pada Nilai­ Nilai Luhur  11  Tanjung  Sidosari  Konflik Masalah  Tanah  Konflik warga dengan PTPN VII Unit  Usaha Bergen dan PT DHL, karena  sengketa tanah  Konflik masalah tanah antara warga  dengan PT Daya Kalianda Raya,  karena batas tanah yang tidak jelas dan  pemanfaatan lahan  Konflik tanah warga Kalianda dengan  PTPN VII Unit Kalianda, karena  pemanfaatan lahan perkebunan  Pemanfaatan lahan oleh warga untuk  bercocok tanaman dan bertempat  tinggal 

12 

Ketibung 

Tanjungan 

Konflik Masalah  Tanah 

13 

Kalianda 

Kalianda 

Konflik masalah  tanah 

14 

Padang  Cermin 

Padang Cermin 

Konflik masalah  tanah 

Tabel 2.3­2  Konflik di Kota Bandar Lampung No 1  Kecamatan Teluk Betung  Barat  Kelurahan Jenis Konflik Kota Karang/Ged  Konflik antar warga  Pakuon, Kuripan,  Olok Gading,  Sukarame II  Panjang Selatan  Konflik antar warga  Gudang Lelalng  dan Gudang  Agen  Kawasan  Terminal  Kampung  Cungkeng dg  Gudang Agen  Batu Putu  dengan  Sukadanham  Way Halim  Permai  Konflik antar warga  Penyebab Konflik  Konflik dipicu karena perkelahian antar  warga 

2  3 

Panjang  Teluk 

4  5 

Rajabasa  Teluk Betung  Selatan  Kemiling 

Konflik antar warga  Konflik antar warga 

6 

Konflik antar warga 

7 

Sukarame 

Konflik Masalah  tanah 

Konflik dipicu oleh tindakan preman  yang ada disekitar terminal Panjang  Dipicu oleh perselisihan antar anggota  masyarakat yang meluas menjadi  konflik antar warga  Konflik dipicu oleh tindakan preman  yang ada disekitar terminal Rajabasa  Dipicu oleh perselisihan antar warga  yang meluas menjadi konflik antar  warga  Dipicu oleh perselisihan antar warga  yang meluas menjadi konflik antar  warga  Konflik terjadi karena pengembangan  pemukiman penduduk dengan  dibangunnya sejumlah perumahan, yg  berdampak pd penduduk di luar  perumahan karena terkena banjir akibat  penimbunan tanah perumahan

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

26 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pengembangan Kebudayaan yang Berlandaskan pada Nilai­ Nilai Luhur  Tabel 2.3­3  Konflik di Kabupaten Tanggamus No 1  Kecamatan Pulau  Panggung  Sumber Rejo  Kota Agung  Desa/Kelurahan Tanjung Begulung,  Sinar Mulya/Tanjung  Jati  Argopeni  Kampung Baru  Tanjung Aman  Kampung Baru,  Tanjung AMan  Jenis Konflik Konflik Warga  Penyebab Konflik  Perselisihan antar warga 

2  3 

Konflik Warga  Konflik  Masalah tanah  Konflik  masalah tanah 

4 

Kota Agung 

Dipicu karena main hakim sendiri  terhadap pencuri  Konflik warga dengan PT Tanggamus  karena ada perselisihan antara warga  dg fihak perusahaan  Konflik warga dengan PT Amust  karena ketidakharmonisan antar warga  dengan perusahaan 

Tabel 2.3­4  Konflik di Lampung Timur No Kecamatan 1  Metro Kibang  Desa Jaya Asri  Jenis Konflik Konflik Warga  Penyebab Konflik  Konflik terjadi antara warga desa  dengan aparat kepolisian yang dipicu  usaha penegakan hukum oleh aparat,  namun menggunakan cara yang tidak  simpati sehingga memancing  kemarahan warga.  Konflik antar warga dipicu oleh  pemekaran desa dan pemilik Kepala  Desa.  Perkelahian antara pemuda desa  dengan pemuda desa tetangga.  Konflik biasanya dipicu oleh perselisihan  antara sebagian pemuda/masyarakat.  Konflik biasanya dipicu oleh perselisihan  antara sebagian pemuda/masyarakat.  Konflik biasanya dipicu oleh perselisihan  antara sebagian pemuda/masyarakat  Konflik biasanya dipicu oleh perselisihan  antara sebagian pemuda/masyarakat  Konflik biasanya dipicu oleh perselisihan  antara sebagian pemuda/masyarakat

2 

Batanghari 

Bale Kencono 

Konflik Warga 

3  4  5 

Batanghari  Way Jepara  Labuhan Ratu 

Bale Kencono  Jepara dengan  Sriwangi  Warga Labuhan  Ratu dengan  Preman Pasar  Muara Gading  Mas dengan  Tanjung Aji  Wana dengan  Tanjung Aji  Nibung dengan  Way Mili 

Konflik Warga  Konflik antar  Warga  Konflik antar  Warga  Konflik antar  Warga  Konflik antar  warga  Konflik antar  warga 

6 

Labuhan  Maringgai  Labuhan  Maringgai  Labuhan  Maringgai 

7  8 

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

27 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pengembangan Kebudayaan yang Berlandaskan pada Nilai­ Nilai Luhur  9  Labuhan  Maringgai  Maringgai  dengan  Segading  Labuhan  Maringgai  dengan Muara  Gading Mas  Asahan dengan  Semarang Baru  Asahan dengan  Umbul Jeruk  Konflik antar  warga  Konflik antar  warga  Konflik biasanya dipicu oleh perselisihan  antara sebagian pemuda/masyarakat  Konflik biasanya dipicu oleh perselisihan  antara sebagian pemuda/masyarakat 

10  Labuhan  Maringgai 

11  Jabung  12  Jabung 

Konflik antar  warga  Konflik antar  warga 

Konflik biasanya dipicu oleh perselisihan  antara sebagian pemuda/masyarakat  Konflik biasanya dipicu oleh perselisihan  antara sebagian pemuda/masyarakat 

13  Jabung 

Bungkuk dengan  Konflik antar  Waway Karya  warga  Sidorejo dengan  Karang Anyar  Asahan dengan  Adi Rejo  Asahan dengan  Beringin  Konflik antar  warga  Konflik antar  warga  Konflik antar  warga  Konflik antar  warga  Konflik masalah  tanah 

Konflik biasanya dipicu oleh perselisihan  antara sebagian pemuda/masyarakat  Konflik biasanya dipicu oleh perselisihan  antara sebagian pemuda/masyarakat  Konflik biasanya dipicu oleh perselisihan  antara sebagian pemuda/masyarakat  Konflik biasanya dipicu oleh perselisihan  antara sebagian pemuda/masyarakat  Konflik biasanya dipicu oleh perselisihan  antara sebagian pemuda/masyarakat  Konflik yang terjadi antara warga  dengan pemerintah/pengelola kawasan  TNWK dipicu oleh perselisihan  pemanfaatan lahan antara warga  dengan pihak pengelola kawasan TNWK  Konflik yang terjadi antara warga  dengan PT. Taru Prakarti dengan  PT.NTF dipicu oleh perselisihan  pemanfaatan lahan antara warga  dengan pihak perusahaan.  Konflik yang terjadi antara warga  dengan pemerintah/pihak Kehutanan  dipicu oleh perselisihan pemanfaatan  lahan Register 38 Gunung Balak antara  warga dengan pengelola kawasan

14  Jabung 

15  Jabung 

16  Jabung 

17  Bandar Sribawono  Sribawono  dengan  18  Way Japara  Rajabasa Lama,  Suka Jaya 

19  Sukadana 

Sukadana 

Konflik masalah  tanah 

20  Sekampung 

Lintas Desa 

Konflik masalah  tanah 

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

28 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pengembangan Kebudayaan yang Berlandaskan pada Nilai­ Nilai Luhur  21  Reg. 9 Way  Kambas  Lintas Desa  Konflik masalah  tanah  Konflik yang terjadi antara warga  dengan PT. Inhutani Tropical Fruit dipicu  oleh perselisihan pemanfaatan lahan  antara warga dengan pihak perusahaan.  Konflik ini terjadi karena penyerobotan  lahan milik warga kebon Damar oleh  warga desa Braja Mas dan Braja Fajar 

22  Mataram Baru 

Kebon Damar 

Konflik masalah  tanah 

Tabel 2.3­5  Konflik di Lampung Tengah No Kecamatan 1  Seputih Agung  Desa Gayau Sakti  Jenis Konflik Konflik Warga  Penyebab Konflik  Tindakan main hakim sendiri terhadap  pencurian yang berasal dari desa  Tanjung Ratu  Konflik biasanya dipicu oleh  perkelahian antar pemuda yang  kemudian melibatkan warga desa  secara luas  Merupakan kampung tua yang telah  ada sejak zaman Belanda tingginya  angka pengangguran menyebabkan  meningkatnya kriminalitas (perjudian  dan premanisme) kondisi ini lambat  laun dapat menyebabkan potensi  konflik warga  Konflik warga diawali perkelahian antar  pemuda yang kemudian melibatkan  warga secara luas  Mayoritas warga kampung Buyut Udik  adalah Penduduk Asli (lampung).  Pernah terjadi Konflik dengan pemuda  desa Komering Agung yang dipicu  perkelahian di arena hiburan organ  tunggal, namun sudah ada perjanjian  perdamaian.  Masyarakat desa sebagian besar terdiri  dari suku Lampung dan Jawa yang  bekerja sebagai petani. Pernah terjadi  konflik dengan warga desa Tanjung  Ratu yang diawali tindakan main hakim  sendiri terhadap pencuri yang berasal  dari desa Tanjung Ratu.

2 

Pubian 

3 

Bumi Ratu Nuban 

Negeri  Kepayungan  dengan Nyukang  Harjo  Rengas 

Konflik Warga 

Konflik antar  warga 

4 

5 

Seputih Mataram  dan Terbanggi  Besar  Gunung Sugih 

Terbanggi Besar  dengan Merapi  Buyut Udik 

Konflik Warga 

Konflik antar  warga 

6 

Gunung Sugih 

Buyut Ilir 

Konflik antar  warga 

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

29 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pengembangan Kebudayaan yang Berlandaskan pada Nilai­ Nilai Luhur  7  Padang Ratu,  Anak Tuha, Anak  Ratu Aji  11 Kampung  Konflik masalah  tanah  Konflik antar warga desa terkait  masalah tanah areal BPPT dan HPL  Depdiknas tentang pemanfaatan lahan  antara warga dengan pihak perusahaan  serta pihak Depnakertrans  Konflik warga dengan PT. Gunung Aji  Jaya terjadi karena kurang  terbangunnya kehormatan antara  perusahaan dan masyarakat sekitar.  Konflik antar warga dengan PT.  Gunung Madu Plantations dipicu belum  adanya kesepahaman tentang  pemanfaatan lahan antara warga dan  pihak perusahaan  Ditempat mayoritas masyarakat jawa  yang bekerja sebagai petani. Terdapat  perselisihan dalam penggunaan lahan  PT. KAI oleh warga, tanah yang  dipinjamkan PT. KAI sebagai hak guna  bangunan diperjual belikan dan  disewakan oleh warga.  Konflik antar warga kampung dengan  PT. Tunas Baru Lampung tentang  gugatan masyarakat mengklaim bahwa  perusahaan menguasai lahan lebih dari  HGU yang dimiliki. 

8 

Padang Ratu 

Padang Ratu 

Konflik masalah  tanah 

9 

Terbanggi Besar 

Gunung Batin 

Konflik masalah  tanah 

10  Bekri 

Sinar Banten 

Konflik masalah  tanah 

11  Terbanggi Besar  dan Way  Pengubuan 

3 Kampung 

Konflik masalah  tanah 

Tabel 2.3­6  Konflik di Lampung Utara No Kecamatan 1  Abung Barat  Desa Sukamaju  Jenis Konflik Konflik antar  Warga  Penyebab Konflik  Konflik antar warga pada awalnya  dimulai oleh perkelahian antar pemuda  yang kemudian melibatkan warga desa  Terjadinya konflik biasanya dipicu oleh  mudahnya pemuda/warga terpancing  emosi dan provokasi sehingga konflik  antar pemuda/warga mudah terjadi  Konflik warga diawali oleh perkelahian  antar pemuda yang kemudian  melibatkan warga dari masing­masing  desa sehingga konflik menjadi meluas

2  Bukit Kemuning 

Bukit Kemuning  Konflik antar  dengan Way Isem  Warga 

3  Bunga Mayang 

Sukadana Udik  dengan Negara  Tuba 

Konflik antar  Warga 

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

30 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pengembangan Kebudayaan yang Berlandaskan pada Nilai­ Nilai Luhur  4  Kotabumi  Suku Abung  dengan Suku  Sungkai  Konflik antar  Warga  Konflik dipicu oleh mudanya  pemuda/warga terpancing emosi dan  terprovokasi sehingga konflik antar  pemuda/warga mudah terjadi.  Konflik antar warga diawali oleh  perkelahian antar pemuda yang  kemudian melibatkan warga dari masing­  masing desa sehingga konflik menjadi  meluas.  Kelurahan ini merupakan salah satu  kelurahan di Kotabumi yang menjadi titik  perekonomian yang biasanya dijadikan  lahan bagi preman untuk melakukan  pemerasan. Meskipun belum dalam  skala kelurahan kotabumi pasar, selain  itu pada kelurahan ini tercatat ditahun  2006 terjadi kebakaran juga.  Konflik antar warga desa dengan PT  Daya Itoh dan PT Humas Jaya dipicu  belum adanya kesepahaman tentang  pemanfaatan lahan antara warga dan  pihak perusahaan  Konflik yang terjadi antar warga dengan  pihak PT Gunung Aji kurang  terbangunnya keharmonisan antara  perusahaan dan masyarakat sekitarnya.  Konflik antar warga desa PTPN VII  Bunga Mayang dipicu belum adanya  kesepahaman tentang pemanfaatan  lahan antara warga dan pihak  perusahaan. 

5  Blambangan Pagar  Pagar dengan  (Abung Selatan)  Blambangan 

Konflik antar  Warga 

6  Kotabumi 

Kotabumi Udik 

Konflik antar  warga 

7  Abung Timur 

Lintas Desa 

Konflik masalah  tanah 

8  Abung Selatan 

Lintas Desa 

Konflik masalah  tanah 

9  Sungkai  Selatan 

Lintas Desa 

Konflik masalah  tanah 

Tabel 2.3­7  Konflik di Tulang Bawang No Kecamatan 1  Banjar Agung  Desa Jenis Konflik Dwi Warga  Konflik antar  Tanggul dengan  warga  preman Pasar Unit  II  Panaragan  Konflik antar  dengan Karta  warga  Penyebab Konflik  Konflik yang terjadi antara warga dengan  preman karena masyarakat merasa  terganggu dengan ulah preman yang  dianggap membangun ketertiban warga  Konflik antar warga dipicu oleh keributan  antar pemuda dan tidak cepat diantisipasi  oleh parat desa dan tokoh masyarakat.

2 

Tuba Timur 

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

31 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pengembangan Kebudayaan yang Berlandaskan pada Nilai­ Nilai Luhur  3  Tuba Tengah  Pulung Kencana  Konflik antar  warga  Kelurahan ini merupakan titik  perekonomian di kecamatan tulang  bawang tengah sama halnya dengan  daerah lain pasar ini menjadi tempat  praktek­praktek pemasaran.  Perekonomian antar pemuda desa yang  meluas seiring menjadi pemicu terjadinya  konflik antar warga.  Desa ini berbatasan dengan desa daya  murni, secara umum masalah yang sering  terjadi adalah perselisihan antar pemuda.  Pemicu perselisihan biasanya terjadi  pada saat organ tunggal yang dipicu oleh  miras dan narkoba  Daya Murni merupakan kelurahan yang  menjadi titik perekonomian dan arus lalu  lintas, beberapa kerawanan yang sering  muncul adalah pemerasan selain itu  konflik pemuda juga sering terjadi.  Masyarakat di desa ini mayoritas petani  ketidakjelasan status kepemilikan tanah  warga menjadi masalah tersendiri.  Terdapat beberapa kasus dimana antar  warga terjadi sengketa tanah.  Konflik warga dengan PT. SIL dan PT  BNIL terjadi karena pemanfaatan lahan  pertanian oleh warga, yang menurut  perusahaan bukan lahan warga  melainkan lahan perusahaan.  Konflik warga dengan PTPN VII terjadi  karena pemanfaatan lahan pertanian oleh  warga yang menurut perusahaan bukan  lahan warga melainkan lahan  perusahaan.  Konflik warga dengan PT Silva inhutani  terjadi karena pemanfaatan lahan  pertanian oleh warga, yang menurut  perusahaan bukan lahan warga  melainkan lahan perusahaan, juga  adanya penebangan pohon milik inhutani  oleh warga.

4 

Tumi Jajar 

Kurnia Jajar 

Konflik antar  warga  Konflik warga 

5 

Tumijajar 

Daya Sakti 

6 

Daya Murni 

Daya Murni 

Konflik warga 

7 

Tulang rawang Udik  Kerta Raharja 

Konflik masalah  tanah 

8 

Menggala 

Konflik masalah  tanah 

9 

Gunung Terang 

Konflik masalah  tanah 

10 

Mesuji 

Konflik masalah  tanah 

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

32 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pengembangan Kebudayaan yang Berlandaskan pada Nilai­ Nilai Luhur  11  Terbanggi Besar  dan Way  Pengubuan  3 Kampung  Konflik masalah  tanah  Konflik antar warga kampung dengan PT.  Tunas Baru Lampung tentang gugatan  masyarakat yang mengklaim bahwa  perusahaan menguasai lahan lebih dari  HGU yang dimiliki.  Konflik terjadi antara petani tambak  dengan PT DCD, karena pengelolaan  lahan tambak  Maslah yang terjadi antara warga dengan  PT HIM menyangkut penggunaan lahan,  hal ini berpotensi menimbulkan konflik. 

12 

Rawa Jitu 

Konflik masalah  tanah  Konflik masalah  tanah 

13 

Tuba Tengah 

Tabel 2.3­8  Konflik di Way Kanan No Kecamatan 1  Pakuan Ratu  Desa Lintas Desa  Jenis Konflik Konflik masalah  tanah  Penyebab Konflik  Konflik yang terjadi antar warga dengan  pihak PT PSMI kurang terbangunnya  keharmonisan antar perusahaan dan  masyarakat sekitarnya  Sebelum tahun 1954 daerah masih  masuk Provinsi Subagsel, setelah  menjadi Provinsi Lampung hingga saat ini  tidak ada kejelasan batas tanah milik  transmigran dan milik pribumi (Lampung),  sehingga berpotensi terjadinya konflik 

2 

Bahuga 

Sapto Ronggo 

Konflik masalah  tanah 

Tabel 2.3­9  Konflik di Lampung Barat No Kecamatan 1  Karya Penggawa  Desa Menyacang  Jenis Konflik Konflik antar  warga  Penyebab Konflik  Sebagian besar masyarakat bekerja  sebagai petani (padi) dan perkebunan  (damar) pernah terjadi konflik warga)  Sebagai masyarakat bekerja di  perkebunan sawit (plasma) dan sebagian  petani. Mayoritas warga adalah marga  ngambur, pernah terjadi konflik dengan  warga desa Kota Batu (marga Ngaras)  yang mengakibatkan 1 orang meninggal.

2 

Bengkunat 

Gd C Kuningan 

Konflik antar  warga 

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

33 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pengembangan Kebudayaan yang Berlandaskan pada Nilai­ Nilai Luhur  3  Pesisir Selatan  Way Jambu  Konflik Masalah  Tanah  Konflik terjadi dengan perkebunan sawit  PT KCMU, karena tidak adanya kejelasan  krendit petani pasma terjadi PT KCMU,  selain itu juga terdapat perambah  kawasan TNBBS  Konflik terjadi dengan perkebunan sawit  PT KCMU, karena tidak adanya kejelasan  kredit petani pasma terhadap PT KCMU. 

4 

Bengkunat 

Sumber Agung 

Konflik masalah  tanah 

Dari kasus di beberapa Daerah yang ingin memisahkan dari NKRI pada umumnya bersumber dari persoalan  ketidakadilan di bidang ekonomi dan politik. Pengisapan sumberdaya alam oleh pemerintah pusat dan pola  penerapan sistem sentralisme kekuasaan adalah dua persoalan besar yang menyebabkan keinginan Daerah  untuk melepaskan dengan NKRI.  Rangkaian kebijakan ekonomi­politik secara makro yang diterapakan Pemerintah Orde Baru yaitu penerapan  strategi  pertumbuhan  ekonomi  dan  dan  penciptaan  bangunan  politik  yang  diarahkan  pada  terpeliharanya  tertib  politik  dan  stabilitas  nasional  merupakan  pilihan  yang  paling  efektif  yang  dilakukan  oleh  Pemerintah  Orde Baru dalam mengatasi warisan struktural pemerintah Orde Lama.  Dalam kurun waktu 32 tahun rezim Orde Baru berkuasa, strategi yang dilakukan oleh Pemerintah Orde Baru  itu  memang  efektif  stabilitas  pemerintahan  bisa  terpelihara  walaupuan  dengan  cara  yang  dipaksakan  dan  sampai  dengan  sebelum  terjadinya  krisis  di  bidang  ekonomi  pertumbuhan  ekonomipun  bisa  dijalankan  dengan efektif.  Dalam periode Pemerintahan Orde Baru, gejolak politik di daerah bisa dikendalikan. Inilah prestasi Orde Baru  yang  patut  dibanggakan.  Integrasi  nasional  dalam  pengertian  penyatuan  berbagai  golongan  primordial,  seperti etnik, daerah, bahasa dsb, hampir dapat dikatakan tidak ada persoalan yang berarti.  Namun,  pada  periode  Orde  Baru  jika  integrasi  nasional  tidak  hanya  dilihat  dalam  perspektif  pemilihan  primordial, tapi dilihat dari berdasarkan pemilihan lapisan status sosial ekonomi, akan ditemukan sejumalah  persoalan  integrasi  nasional,  yaitu  kita  temukan  sekelompok  kecil  warga  negara  Indonesia  yang  memiliki  kekayaan bertrilyun­trilyun rupiah, sedangakan disi yang lain terdapat sejumlah warga negara kita lebih dari  sepuluh  kali  jumlah  penduduk  Singapura  atau  dua  kali  penduduk  Malaysia)  yang  berada  di  bawah  garis

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

34 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pengembangan Kebudayaan yang Berlandaskan pada Nilai­ Nilai Luhur  kemiskinan  Kemudian,  terdapat    beberapa  pengusaha  yang  memiliki  asset  ekonomi  yang  bermilyar­milyar  dolar  Amerika  dan  dengan  ringan  hati  menerima  subsidi    dan  berbagai  kemudahan  dari  Pemerintah,  sedangkan dipihak lain terdapat jutaan wiraswasta gurem yang seolah­olah tidak relevan dengan kehidupan 
2  bisnis modern dan karenanya tidak memperoleh layanan kredit bank­pemerintah  ). 

Persoalan  integrasi  berdasarkan  pemilihan  lapisan  status  sosial  ekonomi  ini  sesungguhnya  yang  menyebebakan terjadinya ketidak sejalanan antara pencapaian pemerataan kesejahtaraan masyarakat yang  lebih baik dengan pola kebijakan ekonomi­politik secara makro.  Fenomena  munculnya  konflik  di  Pusat­Daerah  yang  mencuat  pada  era reformasi  dan  otonomi  daerah  dan  mengarah pada terciptanya disintegrasi nasional sangat mungkin disebabkan oleh warisan kebijakan ekonomi  politik Orde Baru. Kondisi kepolitikan nasional dalam masa transisi yang ditandai oleh ketidak jelasan dalam  membangun format politik dan belum pulihnya kehidupan ekonomi telah mendorong munculnya perlawanan  diberbagai  daerah  baik  di  bidang  ekonomi  maupun    politik  untuk  melakukan  tuntutan  terhadap  pemerintah  pusat.  Jika ditelaah sesungguhnya esensi perlawanan Dearah terhadap  Pusat lebih banyak menampilkan  sebuah  tuntutan  akan  perubahan  ekonomi,  politik  dan  moral  pemerintahan  yang  lebih  baik.  Kalaupun  beberapa  daerah      sampai  menuntut  mendirikan  sebuah  negara  yang  merdeka,  secara  hipotetis  cenderung  hanya  wujud  kekecewaan  yang  sangat  ekstrim  dan  dilihat  dari  aspek  historis,  sosiologis  dan  realitas  dukungan  politik negara­negara luar sangat sulit untuk diwujudkan.  Jadi,  ekspresi  politik  daerah yang    melakukan  perlawanan terhadap    Pusat  hanya  sebatas  isu  politik  yang  tidak  memberikan  efek  sensasi  yang  sangat  dahsyat  terhadap  negara­negara  luar.    Persoalannya  akan  menjadi  lain  apabila  problem  politik  Pusat­Daerah  itu  kemudian  dibiarkan  tanpa  ada  upaya  untuk  mencegahnya  dengan  kebijakan­kebijakan  yang  efektif,  maka  sangat  mungkin  kekecewaan  Daerah    akan  terakumulasi menjadi sebuah potensi untuk melepaskan dari NKRI. 

2

) Lihat Mocthar Mas’oed, 1994, halaman 11­12.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

35 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pengembangan Kebudayaan yang Berlandaskan pada Nilai­ Nilai Luhur  VI. Tindak Lanjut  Program  ini  bertujuan  untuk  membangun  kembali  pluralisme  sosial  politik  di  Provinsi  Lampung,  serta  memulihkan kondisi mental masyarakat di daerah­daerah yang pernah dilanda konflik, Kegiatan pokok yang  dilaksanakan antara lain adalah:  1.  Mengintesifkan  kembali  forum­forum  silaturahmi  dan  komunikasi  lintas  budaya  dan  etnis  untuk  mencegah terjadinya koflik yang berdasarkan SUKU, AGAMA DAN RAS di Provinsi Lampung.  2.  Memfasilitasi  pelestarian  local  knowledge  budaya  Lampung  termasuk  juga  didalamnya  adalah  menyosialisasikan pemahaman terhadap budaya masyarakat local kepada masyarakat pendatang.  3.  Fasilitasi upaya memasukkan kajian­kajian budaya local dalam kurikulum sekolah (SD, SLTP, SMU  dan Perguruan Tinggi) di Provinsi Lampung  4.  Menggalakkan sejenis kampanye hari budaya (culture day) yang akan dijadikan event tahunan bagi  menradisikan budaya lokal Lampung. VII. Penutup  Demikianlah  pemaparan  dari  bidang  kajian  Pengembangan  Kebudayaan  yang  Berlandaskan  Pada  Nilai  –  Nilai Luhur semoga kajian ini bermanfaat bagi pengambil kebijakan dalam membuat blue print pembangunan  lokal khususnya Provinsi Lampung.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

36

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Keamanan, Ketertiban, dan Penanggulangan Kriminalitas 

Bab II.4 Peningkatan Keamanan, Ketertiban dan Penanggulangan Kriminalitas 

Persoalan kebangsaan hari ini sangat terkait erat dengan persoalan semakin meningginya angka kemiskinan.  Dan  korelasi  positif  angka  kemiskinan  dengan  kriminalitas  menunjukkan  fenomena  jika  angka  kemiskinan  meninggi  maka  secara  otomatis  angka  kriminalitas  juga  akan  semakin  meninggi.  Pada  tahapan  tertentu  sector  kemiskinan  sudah  merupakan  bagian  dari  prioritas  pembangunan  (RPJM  2004­2009),  akan  tetapi  untuk mendukung penaggulangan kriminalitas perlu untuk dibuat program­program yang mengarah langsung  terhadap hal­hal tersebut. I. Permasalahan  Dalam  konteks  Lampung  merujuk  data  yang  didapatkan  dari  beberapa  satuan  kerja  yang  terkait  maka  didapatkan  permasalahan  yang  mengemuka  adalah  persoalan  narkoba  dan  kejahatan  hutan  atau  illegal  logging. II. Kondisi Awal RPJMN 2004­2009  Gangguan keamanan secara umum masih dalam tingkat terkendali. Meskipun demikian, tidak bisa dipungkiri  bahwa perkembangan variasi kejahatan dan aktualisasi konflik horisontal semakin kompleks dan meningkat.  Hal ini utamanya terjadi pada tindak gangguan keamanan di sekitar wilayah perbatasan dan wilayah yuridiksi  laut  Indonesia.  Berbagai  gangguan  keamanan  di  wilayah  Indonesia  tersebut  harusnya  diimbangi  dengan  penuntasan  penanganan  oleh  penegak  hukum.  Jika  tidak,  hal  ini  akan  melemahkan  rasa  kepercayaan  masyarakat terhadap institusi pemerintah secara keseluruhan.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

37

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Keamanan, Ketertiban, dan Penanggulangan Kriminalitas 

Kriminalitas  merupakan  ancaman  nyata  bagi  terciptanya  masyarakat  yang  aman,  tentram,  dan  damai.  Kembali meningkatnya indeks kriminalitas  dari 86 pada  2002 menjadi 99 pada  2003  harus diwaspadai dan  diantisipasi.  Terlebih  lagi,  peningkatan  indeks  kriminalitas  ini  ternyata  diikuti  pula  dengan  stagnasi  penyelesaian kasus yang dapat diselesaikan. Sepanjang 1999­2003, penyelesaian kriminalitas hanya mampu  menyelesaikan rata­rata 55,5 persen kasus.  Peredaran dan penyalahgunaan narkoba merupakan ancaman serius bagi kelangsungan hidup bangsa dan  negara. Sebagian besar pengguna narkoba adalah generasi muda. Dari 2 juta pencandu narkoba, sekitar 90  persen adalah generasi muda. Dalam konteks Lampung kasus narkoba pun cukup tinggi merujuk data yang  didapat dari Polda Lampung 2008.  Pada bagian lain, gangguan keamanan, ketertiban, dan penanggulangan kriminalitas juga dipicu oleh luasnya  wilayah  laut,  keanekaragaman  hayati  laut,  dan  kandungan  sumber  daya  kelautan  Lampung.    Berbagai  kekayaan  sumber  daya  alam  (SDA)  ini  mendorong  banyak  pihak  asing  untuk  memanfaatkan  secara  illegal  SDA laut Lampung melalui berbagai bentuk illegal fishing dan mining.  Pemanfaatan  SDA  kehutanan  yang  berlebihan  untuk  kepentingan  jangka  pendek  dan  tindak  kejahatan  terhadap sumber daya kehutanan telah mengakibatkan deforestasi berlebihan. Hal ini tidak hanya berujung  pada  kerugian  masyarakat,  bangsa,  dan  negara  dalam  jangka  pendek,  tetapi  juga  jangka  panjang.  Tindak  kejahatan terhadap sumber daya kehutanan yang kian marak adalah: perilaku tebang berlebih (over cutting),  pembalakan  liar  (illegal  logging).  Terus  merajalelanya  permasalahan  tersebut  bermuara  pada  lemahnya  pengawasan  dan  penegakan  hukum  dalam  praktek  pengelolaan  sumber  daya  kehutanan.  Selain  tidak  memadainya sarana dan prasarana penunjang tugas, hal ini juga tidak  lepas  dari kurangnya kapasitas  dan  konsistensi aparat penegak hukum.  Berbagai  tindak  gangguan  juga  disebabkan  oleh kepatuhan  dan  disiplin  masyarakat  terhadap  hukum  yang  semakin berkurang. Meningkatnya berbagai tindak kejahatan dan pelanggaran hukum menunjukkan semakin  turunnya  kepatuhan  dan disiplin masyarakat terhadap hukum. Kepatuhan  dan disiplin merupakan  prasyarat  sekaligus  tantangan  dalam  menciptakan  kondisi  keamanan  dan  ketertiban  masyarakat.  Perbedaan  pemahaman  terhadap  keanekaragaman  budaya,  kondisi  sosial,  kesenjangan  kesejahteraan,  tingkat  pengangguran,  tingkat  kemiskinan,  serta  kepadatan  penduduk  merupakan  faktor  korelatif  kriminogen  dan 38 

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Keamanan, Ketertiban, dan Penanggulangan Kriminalitas 

police  hazard. Jika tidak  melakukan pembinaan  dan pengelolaan yang  baik, maka  hal  ini akan  mendorong  munculnya  kejahatan  dan  konflik  horisontal.  Faktor  korelatif  kriminogen  dan  police  hazard  hanya  dapat  diredam oleh sikap, perilaku dan tindakan masyarakat yang patuh dan disiplin terhadap hukum.  Belum  optimalnya  penangan  kriminalitas,  penegakan  hukum,  pengelolaan  ketertiban  masyarakat,  serta  kelambatan  antisipasi  penanganan  kejahatan  transnasional  menjadi  salah  satu  penyebab  utama  maraknya  berbagai  kriminalitas.  Lemahnya  profesionalisme  lembaga  penegak  hukum  menyebabkan  kekebalan  bagi  pelaku  gangguan  keamanan,  ketertiban,  dan  kriminalitas.  Oleh  karena  itu,  lembaga  penegak  hukum  harus  mampu  meningkatkan  profesionalisme  dalam  mengintegrasikan  aspek  struktural  (institusi,  organisasi,  susunan dan kedudukan), aspek instrumental (filosofi, doktrin, kewenangan, kompetensi, kemampuan, fungsi,  dan iptek), dan aspek kultural (manajemen sumber daya, manajemen operasional, dan system pengamanan  di masyarakat).  SDM Kepolisian Republik  Indonesia (POLRI) masih  memprihatinkan. Kuantitasnya masih belum memenuhi  standar  yang  ditetapkan  oleh  Perserikatan  Bangsa­Bangsa  (PBB),  yaitu  1  personil  polisi  untuk  400  orang  penduduk.  Pada  2004,  rasio  jumlah  personil  POLRI  dengan  jumlah  penduduk  adalah  1  berbanding  750.  Meskipun rasio ini masih jauh dari target, tetapi rasio ini sudah lebih baik dibanding periode sebelumnya yang  sebesar  1  berbanding  900.  Namun  demikian,  peningkatan  profesionalitas  POLRI  masih  harus  terus  ditingkatkan.  Untuk  itu,  diperlukan  penguatan  kapasitas  yang  meliputi  budaya  kerja,  motivasi,  pendidikan,  pelatihan, dan peralatan. Di samping itu, agar masyarakat mampu membina sistem keamanan dan ketertiban  dilingkungannya,  polisi  harus  mampu  berperan  sebagai  pembina  dan  penyelia  dalam  rangka  mendukung  terbentuknya mekanisme community policing (pemolisian masyarakat). III. Sasaran Yang Ingin Dicapai  Sasaran dari Peningkatan Keamanan, Ketertiban dan Penanggulangan Kriminalitas adalah sebagai berikut:  1.  Menurunnya  angka  pelanggaran  hukum  dan  indeks  kriminalitas  di  Provinsi  Lampung,  serta  meningkatnya penuntasan kasus kriminalitas untuk menciptakan rasa aman masyarakat;  2.  Terungkapnya  jaringan  kejahatan  internasional  terutama  narkotika,  perdagangan  manusia,  dan  pencucian uang yang berada dalam wilayah hukum Provinsi Lampung;

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

39 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Keamanan, Ketertiban, dan Penanggulangan Kriminalitas 

3.  Terlindunginya  keamanan  lalu  lintas  informasi  rahasia  lembaga  negara  sesudah  diterapkannya  AFTA  dan  zona  perdagangan  bebas  lainnya  terutama  untuk  lembaga/fasilitas  vital  negara  yang  berada dalam wilayah hukum Provinsi Lampung;  4.  Menurunnya  jumlah  pecandu  narkoba  dan  mengungkap  kasus  serta  dapat  diberantasnya  jaringan  utama supply narkoba dan prekursor di wilayah hukum Provinsi Lampung;  5.  Menurunnya  jumlah  gangguan  keamanan  dan  pelanggaran  hukum  di  laut  terutama  pada  alur  perdagangan  dan  distribusi  serta  alur  pelayaran  internasional  yang  berada  dalam  wilayah  hukum  Provinsi Lampung;  6.  Terungkapnya  jaringan  utama  pencurian  sumber  daya  kehutanan,  serta  membaiknya  praktek  penegakan hukum dalam pengelolaan sumber daya kehutanan dalam memberantas illegal logging,  over cutting, dan illegal trading yang berada dalam wilayah hukum Provinsi Lampung;  7.  Meningkatnya kepatuhan dan disiplin masyarakat terhadap hukum;  8.  Meningkatnya kinerja Polri tercermin dengan  menurunnya  angka  kriminalitas, pelanggaran hukum,  dan  meningkatnya  penyelesaian  kasus­kasus  hukum  yang  berada  dalam  wilayah  hukum  Provinsi  Lampung. IV. Arah Kebijakan  Sasaran tersebut dicapai dengan meningkatkan peran serta masyarakat dan meningkatkan profesionalisme  institusi  yang  terkait  dengan  masalah  keamanan  dalam  rangka  terjaminnya  keamanan  dan  ketertiban  masyarakat, tertib dan tegaknya hukum, serta terselenggaranya perlindungan, pengayoman, dan pelayanan  kepada masyarakat. Sejalan dengan hal tersebut, kebijakan yang akan ditempuh meliputi:  1.  Mengintensifkan  kinerja  lembaga­lembaga  hukum  daerah  untuk  dapat  secara  cepat  menyelesaikan kasus­kasus kriminalitas yang berada dalam wilayah hukum Provinsi Lampung.  2.  Mengintesifkan  peran­peran  kerjasama  Polda  dengan  stake  holders  bagi  mengungkan  kasus  kejahatan tinggi seperti narkoba, illegal trading dan perdagangan manusia yang berada dalam  wilayah hukum Provinsi Lampung.  3.  Memaksimalkan  peran  dinas  kehutanan  daerah  dan  polisi  kehutanan  untuk  menekan  angka  kejahatan hutan atau illegal logging yang berada dalam wilayah hukum Provinsi Lampung.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

40 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Keamanan, Ketertiban, dan Penanggulangan Kriminalitas 

4.  Menghimpun  kekuaatan  dan  kebersamaan  di  masyarakat  bagi  menjadi  trigger  pelanggaran  kriminalitas dalam masyarakat itu sendiri.  5.  Menintesifkan  operasi­operasi  yang  bertujuan  memberantas  peredaran  narkoba  sampai  pada  unit  komando  yang  terkecil  (Polda  s/d  Polsek)  bagi  mengurangi  peredaran  narkoba  di  masyarakat yang berada dalam wilayah hukum Provinsi Lampung.  6.  Meningkatkan  profesionalisme  aparat  yang  tekait  erat  dengan  pemberantasan  kejahatan  terutama  kepolisian,  kejaksaan  dan  dinas  kehutanan  yang  berada  dalam  wilayah  hukum  Provinsi Lampung.  7.  Memberikan  intensif serta reward dan punishment terhadap  aparat daerah yang  lalai ataupun  berhasil  mengungkap  kasus­kasus  kriminalitas  yang  berada  dalam  wilayah  hukum  Provinsi  Lampung.  8.  Intensif melakukan sosialiasasi bagi menumbuhkan kesadaran di masyarakat terhadap apa dan  bagaimana yang  merupakan bagian dari tindak  pidana kriminilitas  yang  berada dalam wilayah  hukum Provinsi Lampung. V. Pencapaian 2005­2007  Pada  sub  bab  ini  akan  dibahas  beberapa  persoalan  yang  terkait  dengan  masalah  peningkatan keamanan,  ketertiban dan penangulangan kriminalitas. a) Penyalahgunaan Narkoba  Angka penyalahgunaan narkoba di Lampung data dari Bulan Januari sampai September 2008 terdapat  357 kasus JTP (jumlah tindak pidana). b) Perdagangan Manusia  Untuk kasus perdagangan manusia data sampai bulan September 2008 di Lampung hanya ada 5 kasus. c) Kejahatan Kehutanan di Lampung  Propinsi Lampung memiliki luas hutan yang cukup besar yaitu sekitar 666.815,72 Ha. Data di bawah ini  adalah jumlah luas hutan di beberapa Kabupaten di Prov Lampung .

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

41 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Keamanan, Ketertiban, dan Penanggulangan Kriminalitas 

Tabel 2.4­1  Luas Hutan di Lampung No 1  2  3  4  5  6  7  8  Kabupaten Lampung Utara  Lampung Selatan  Lampung Barat  Lampung Timur  Lampung Tengah  Way Kanan  Tulang Bawang  Pesawaran  Jumlah Luas Hutan (Ha)  27.777, 71  108.857,41  214.643,77  151.380,16  49.861,00  83.916,00  45.570,92  12.586,46 666.815,72 

Sumber : Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, 2008 

Jumlah kejahatan kehutanan di Lampung menunjukkan jumlah yang cukup besar. Data pada tabel di bawah  ini adalah kejahatan kehutanan di Lampung dalam perkembangan tiga  tahun terakhir ini (2004­2006).  Tabel 2.4­2  Kasus Kejahatan Kehutanan di Lampung No 1  2  3  4  5  6  7  8  9  10  11  2005  Tahun 2004  Lokasi Dishut Prov  Lampung  Way Kanan  Lamteng  BTN Bukit  Barisan  Dishut Prov  Lampung  Lampura  Tanggamus  Lambar  Tulang  Bawang  Way Kanan  Lamteng  Jumlah Kasus 2  1  2  11  7  2  2  6  1  1  3  Catatan Kasus  Jenis kasus kejahatan bidang kehutanan di  Lampung terdiri atas :  1.  Menebang HH tanpa izin pejabat,  menjual HH dan menduduki kawasan  secara tidak sah  2.  Membeli hasil husatan dan menduduki  kawasan hutan secara tidak sah  3.  Mengangkat hasil hutan tanpa SKSHH  4.  Menebang pohon jenis jati di dalam  kawasan hutan  5.  Membantu mengangkut hasil  penebangan pohon di dalam kawasan  secara tidak sah  6.  Menanam dan melakukan penyulingan  Nilam dalam kawasan hutan

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

42 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Keamanan, Ketertiban, dan Penanggulangan Kriminalitas 

12 

13  14  15  2006 

BTN Bukit  Barisan  Selatan  BTN Way  Kambas  Dishut Prov  Lampung  BTN Bukit  Barisan  Selatan 

6 

10  19  3 

7.  Pembuatan akta tanah dalam kawasan  8.  Menebang pohon jati didalam kawasan  hutan TAHURA WAR  9.  Penyalahgunaan SKSHH

VI. Tindak Lanjut  1.  Penegakan  hukum  dan  pemrosesan  yang  adil  dan  berimbang  di  setiap  wilayah  hukum  provinsi  Lampung baik di darat maupun laut yang berada dalam wilayah hukum Provinsi Lampung;  2.  Meningkatkan  Operasi  keamanan  oleh  penegak  hukum  Polda,  Korem,  Danlanal  dan  Polisi  Kehutanan  untuk  menekan  lajut kriminalitas, illegal  logging, Illegal Fishing dan Illegal  Mining  yang  berada dalam wilayah hukum Provinsi Lampung;  3.  Peningkatan kapasitas kelembagaan institusi penegak keamanan baik Polda, Korem, Danlanal dan  Polisi Kehutanan;  4.  Mengembangkan dan membangun sebuah system keamanan yang terorganisir dan terpusat untuk  mencegah  semakin  meningginya  angka  kriminalitas  yang  berada  dalam  wilayah  hukum  Provinsi  Lampung  5.  Pelibatan  masyarakat  dalam  upaya  pengamanan  asset­aset  strategis  daerah  yang  berada  dalam  wilayah Provinsi Lampung  6.  Intensifikasi  upaya  monitoring  bersama  aparatur  dan  masyarakat  terhadap  kawasan  hutan  yang  berada dalam wilayah hukum Provinsi Lampung; VII. Penutup  Demikianlah  pemaparan  dari  bidang  kajian  Keamanan,  Ketertiban  dan  Penanggulangab  Kriminalitas  Luhur  semoga  kajian  ini  bermanfaat  bagi  pengambil  kebijakan  dalam  membuat  blue  print  pembangunan  lokal  khususnya Provinsi Lampung.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

43 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pencegahan dan Penanggulangan Separatisme 

Bab II.5 Pencegahan dan Penanggulangan Separatisme 

Runtuhnya  Uni  Sovyet  adalah  sebagai  contoh  implikasi  langsung  dari  perkembangan  globalisasi  yang  menyebabkan disintegrasi beberapa negara, hal yang sangat nyata dalam kehidupan politik dunia pada era  1990­an. Uni Sovyet adalah sebuah negara yang sangat luas terdiri dari beberapa wilayah serta etnik yang  beragam,  dengan  pahaman  komunisme  selama  beberapa  dekade  Uni  Sovyet  menjadi  sebagai  sebuah  negara  yang  besar  mampu  untuk  tetap  bertahan  dari  ancaman  disintegrasi.    Akan  tetap  hambatan  krisis  ekonomi akibat dari arus globalisasi menyebabkan diintegrasi tidak tertahankan. I. Permasalahan  Dalam konteks Lampung,  merujuk data yang didapatkan  dari beberapa satuan kerja yang  terkait gerakan­  gerakan  separatisme  hampir  dipastikan  tidak  terdapat  di  Provinsi  Lampung,  akan  tetapi  sebagai  sebuh  daerah jangkar Ibukota Negara kemungkinan untuk terjadinya bias area separatisme bisa saja terjadi. II. Kondisi Awal RPJMN 2004­2009  Diyakini, berbagai upaya separatisme di beberapa wilayah NKRI ini disebabkan oleh kebijakan pembangunan  yang  dirasakan  kurang  memiliki  keberpihakan  terhadap  masyarakat.  Kondisi  masyarakat  di  kedua  wilayah  tersebut tertinggal dari sisi keejahteraan, ekonomi, pendidikan, dan kesehatan dibandingkan dengan wilayah  lainnya  di  Indonesia  meskipun  kedua  wilayah  tersebut  memiliki  kekayaan  sumberdaya  alam  (SDA)  dalam  jumlah  besar.  Akibatnya,  banyak  simpati  yang  tertumpah  pada  masyarakat  di  kedua  wilayah  tersebut.  Dasayangkan,  simpati  ini  diajdikan  kekuatan  moral  untuk  mendorong  masyarakat  di  daerah  tersebut  untuk  memisahkan diri dari NKRI. 44

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pencegahan dan Penanggulangan Separatisme 

Selain  karena  membutuhkan  waktu  yang  lama,  membesarnya  skala  separatisme  juga  menambah  tingkat  kesulitan  uapaya  penanganan.  Adanya  potensi  separatisme  membuktikan  masih  lemahnya  pemahamanan  konsepsi  dan  pengalaman  prinsip  multikulturalisme.  Hal  ini  sangat  mengkhawatirkan  mengingat  bahwa  perbedaan  etnis,  agama,  budaya,  dan  ideologi  kerap  digunakan  sebagai  isu  untuk  memisahkan  diri  dari  NKRI. Oleh karena itu, penting bagi bangsa ini untuk terus membangun persatuan dan kesatuan, menghargai  perbedaan, dan saling menjaga toleransi dalam berperikehidupan, berbangsa, dan bernegara. III. Sasaran Yang Ingin Dicapai  Sasaran dari Pencegahan dan Penanggulangan Separatisme adalah sebagai berikut:  1.  Menurunnya  kekuatan  organisasi  separatis  dan  melemahnya  dukungan  simpatisan  gerakan  separatism di dalam dan luar negeri yang berada dalam wilayah hukum Provinsi Lampung;  2.  Membaiknya  pemerataan  pembangunan  di  daerah  rawan  konflik  dan  separatisme  yang  tercermin  dari meningkatnya kondisi sosial ekonomis masyarakat;  3.  Terdeteksi dan dapat dicegahnya potensi separatisme yang berada dalam wilayah hukum Provinsi  Lampung;  4.  Tumbuh  berkembangnya  pemahaman  dan  pengamalan  multikulturalisme  di  kalangan  pemimpin,  masyarakat, dan media local di Lampung. IV. Arah Kebijakan  Sasaran tersebut dicapai dengan arah kebijakan sebagai berikut:  1.  Menumbuhkan  kesadaran  dan  pemahaman  kepada  masyarakat  terhadap  pentingnya  proses  integrasi  bangsa  sebagai  sebuh  pemahaman  kebangsaan  yang  berada  dalam  wilayah  hukum  Provinsi Lampung.  2.  Pemerataan  pembangunan  bagi  daerah­daerah  rawan  konflik  di  Lampung  yang  berpotensi  menimbulkan konflik.  3.  Menjaga  stabilitas  keamanan  dan  ideologis  di  daerah­daerah  perbatasan  di  Wilayah  Provinsi  Lampung terutama perbatasan antar provinsi.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

45 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pencegahan dan Penanggulangan Separatisme 

V. Pencapaian 2005­2007  Termonitornya dan terdeteksinya laju gerak gerakan­gerakan separatisme yang berada dalam wilayah hukum  Provinsi Lampung melalui  merupakan pencapaian yang telah dicapai medio 2005­2007. Agar kondisi ini tetap  bertahan  dan  konsisten  serta  berkelanjutan  diperlukan  program­program  yang  jelas  terhadap  pemantapan  integrasi bangsa. VI. Tindak Lanjut  Kegiatan pokok yang dilakukan adalah:  1.  Intesifikasi Operasi keamanan dan penegakan hukum dalam hal penindakan awal separatisme yang  berada dalam wilayah hukum Provinsi Lampung;  2.  Upaya keamanan dan ketertiban di wilayah perbatasan dan pulau­pulau terluar yang berada dalam  wilayah hukum Provinsi Lampung;  3.  Pendekatan  persuasif  secara  intensif  kepada  masyarakat  yang  berada  dalam  wilayah  hukum  Provinsi Lampung yang rawan terhadap pengaruh separatisme. VII. Penutup  Demikianlah pemaparan dari bidang kajian Pencegahan dan Penanggulangan Separatisme semoga kajian ini  bermanfaat  bagi  pengambil  kebijakan  dalam  membuat  blue  print  pembangunan  lokal  khususnya  Provinsi  Lampung.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

46

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pencegahan dan Penanggulangan Gerakan Terorisme 

Bab II.6 Pencegahan dan Penanggulangan Gerakan Terorisme 

Tindakan teorisme merupakan sebuah extra ordinary crime (kriminalitas tingkat tinggi), tindakan terror secara  tidak  langsung  telah  melanggar  keberadaan  Hak  Azasi  Manusia.  Salah  stu  butir  Universal  Declaration  of  Human Right dijelaskan bahwa tindakan membuat seseorang atau kelompok lain berada dalam rasa cemas  dan ketakutan masuk dalam kategori pelanggaran HAM berat, dan terorisme adalah bagian dari hal tersebut.  Peristiwa 9/11 di Amerika  Serikat telah  membukakan mata  dunia bahwa tindakan  terorisme menjadi gejala  yang harus direspon secara cepat dan tepat, salah penangan maka implikasinya akan panjang. I. Permasalahan  Dalam konteks Lampung,  merujuk data yang didapatkan  dari beberapa satuan kerja yang  terkait gerakan­  gerakan  separatisme  hampir  dipastikan  tidak  terdapat  di  Provinsi  Lampung,  akan  tetapi  sebagai  sebuh  daerah jangkar Ibukota Negara kemungkinan untuk  terjadinya bias  area terjadi, apalagi merujuk  pada  data  intel polda di wilayah ini terdapat beberapa orang yang merupakan alumni Afganistan. II. Kondisi Awal RPJMN 2004­2009  Sebagai  Negara  yang  terlibat  dalam  pergaulan  internasional,  Indonesia  akan  terpengaruh  oleh  perubahan  ideologi,  ekonomi,  politik,  dan  keamanan  internasional.  Demikian  pula,  kebijakan  keamanan  internasional  untuk  memerangi  terorisme  yang  digagas  oleh  negara­negara  adidaya,  juga  menjadi  permasalahan  bagi  Indonesia.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

47

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pencegahan dan Penanggulangan Gerakan Terorisme  Peledakan  bom  di  Kedutaan  Besar  Australia,  meskipun  terjadi  di  Indonesia,  namun  hal  tersebut  mnegindikasikan adanya pesan ketidaksenangan pelaku terorisme terhadap kebijakan luar negeri Australia.  Demikian  pula  peledakan  bom  di  Kedutaan  Besar  Indonesia  di  Perancis,  mengindikasikan  adanya  pesan  tertentu kepada Indonesia yang membuat kebijakan tidak menguntungkan bagi organisasi pelaku terorisme.  Sementara itu, kegiatan terorisme yang bernuansa lokal atau domestik memiliki karakter yang lebih spesifik.  Peledakan  bom  di  rumah­rumah  ibadah,  perkantoran  pemerintah,  rumah  pejabat  penegak  hukum,  atau  tempat­tempat  umum  lainnya  cenderung  bernuansa  politik  dan  SARA.  Giatnya  proses  hukum  terhadap  mantan  pejabat  eksekutif  dan  legislatif  di  daerah  yang  diduga  melakukan  tindak  pidana  korupsi  telah  memunculkan serangkaian teror kepada aparat penegakan hukum yang berisikan pesan untuk menghentikan  proses hukum pelaku korupsi. Sedangkan peledakan bom di tempat­tempat ibadah seperti gereja dan masjid  cenderung  ditujukan  untuk  mengadu  domba  antar­kelompok  agama  di  masyarakat.  Upaya  adu  domba  tersebut seringkali berhasil membakar amarah kelompok penganut agama, sehingga konflik horisontal tidak  dapat terelakkan.  Meskipun saat ini kejadian terorisme lokal cendrung menurun, akan tetapi pelaksanaan proses hukum yang  tidak  dibarengi  dengan  pengawalan  keamanannya  berpotensi  memunculkan  aksi­aksi  terorisme  bom.  Oleh  karena  itu,  dalam  etiap  proses  hukum  kejahatan  politik  dan  korupsi,  pemerintah  telah  melakukan  upaya  pengamanan yang lebih kuat.  Selain  itu,  meskipun  upaya­upaya  penanggulangan  aksi­aksi  terorisme  telah  mendapatkan  perhatian  yang  serius  dari  pemerintah  Indonesia,  namun  potensi  aksi­aksi  terorisme  yang  diduga  terkait  dengan  jaringan  terorisme internasional masih merupakan permasalahan keamanan dalam negeri. Kekhawatiran ini didukung  oleh  sulitnya  menangkap  aktor  dan  pelaku  utama  berbagai  aksi  terorisme  di  berbagai  wilayah  Indonesia  sebagai akibat terbatasnya kualitas dan kapasitas institusi intelijen.  Keberhasilan  menangkap  dan  mengungkap  identitas  pelaku  peledakan  bom  Bali,  Hotel  J.W.  Marriot,  atau  Kedutaan Besar Australia oleh aparat keamanan saat ini diprediksikan masih terbatas pada jaring­jaring kecil  dan belum menyentuh jaring­jaring besar. Dengan demikian, dikhawatirkan  masih akan  terjadi serangkaian  aksi  terorisme  dan  pengungkapan  jaringan  dan  sel  terorisme  belum  dapat  dituntaskan  sampai  ke  akar­  akarnya.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

48 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pencegahan dan Penanggulangan Gerakan Terorisme  Aksi  terorisme  internasional  dalam  jangka  pendek  seringkali  berdampak  cukup  nyata  terhadap  upaya  menciptakan  iklim  investasi  yang  kondusif  di  dalam  negeri.  Oleh  karena  itu,  kemampuan  menangani  dan  menangkap  pelaku  serta  mengungkapkan  jaringan  terorisme  dapat  dijadikan  tolok  ukur  keberhasilan  mengamankan aktivitas dunia usaha. Belum tertangkapnya tokoh kunci terorisme merupakan tantangan bagi  upaya meningkatkan pertumbuhkan ekonomi melalui peningkatan pembentukan modal asing. Katidakpastian  jaminan  keamanan  dalam  negeri  dari  ancaman  terorisme,  bisa  jadi  merupakan  salah  satu  jawaban  utama  mengapa  pertumbuhan  investasi  asing  di  bidang  industri  masih  berjalan  lambat,  yaitu  hanya  berkisar  3­4  persen  selama  tiga  tahun  terakhir.  Hal  ini  pula  yang  menempatkan  Indonesia  pada  posisi  ke­139  dari  144  negara yang layak menjadi tujuan investasi dunia dalam World Invesment Report. III. Sasaran Yang Ingin Dicapai  Sasaran pencegahan dan penanggulangan terorisme adalah sebagai berikut:  1.  Menurunnya kejadian tindak terorisme yang berada dalam wilayah hukum Provinsi Lampung;  2.  Meningkatnya  ketahanan  masyarakat  terhadap  aksi  terorisme  yang  berada  dalam  wilayah  hukum  Provinsi Lampung;  3.  Meningkatnya  daya  cegah  dan  tangkal  negara  terhadap  ancaman  terorisme  yang  berada  dalam  wilayah hukum Provinsi Lampung. IV. Arah Kebijakan  Sasaran tersebut dicapai dengan arah kebijakan sebagai berikut:  1.  Memantapkan  operasional penanggulangan terorisme yang berada dalam wilayah  hukum Provinsi  Lampung;  2.  Melakukan  sosialisasi  dan  upaya  perlindungan  masyarakat  yang  berada  dalam  wilayah  hukum  Provinsi Lampung terhadap aksi terorisme;  3.  Menyiapkan  pranata  dan  melaksanakan  penegakan  hukum  yang  berada  dalam  wilayah  hukum  Provinsi Lampung bagi penanggulangan terorisme berdasarkan prinsip demokrasi dan HAM;  4.  Membangun kemampuan penangkalan dan penanggulangan terorisme yang berada dalam wilayah  hukum Provinsi Lampung.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

49 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pencegahan dan Penanggulangan Gerakan Terorisme  V. Pencapaian 2005­2007  Tindakan  tegas  dan  pelkasanaan  eksekusi  mati  terhadap  para  terpidana  tindak  pidana  terorisme  yang  dilakukan  oleh  pemerintah  telah  memberikan  penilaian  dan  persepsi  awal  terhadap  keseriusan  pemerintah  untuk  memberantas  terorisme.  Pada  bagian  yang  yang  paling  penting  sebenarnya  adalah  bukan  perang  melawan  terorisme  secara  fisik  akan  tetapi  yang  lebih  penting  lagi  bagaimana  membongkar  kesadaran  ideologis  yang  semu  dari  pada  teroris  untuk  bisa  bersikap  tidak  radikal  dalam  melihat  sebuah  persoalan  kebangsaan. VI. Tindak Lanjut  Adapun  tindak  lanjut  program  dalam  konteks  Lampung  terhadap  tindak  pidana  terorisme  adalah  sebagai  berikut: 1.  Mengintensifkan  pengawasan  oleh  masyarakat  bersama  aparat  untuk  menekan  tindak  pidana  terorisme yang berada dalam wilayah hukum Provinsi Lampung.  2.  Menciptakan  system  keamanan  yang  berbasis  masyarakat untuk  menjadi  trigger  penanggulangan  tindak pidana terorisme yang berada dalam wilayah hukum Provinsi Lampung. VII. Penutup  Demikianlah  pemaparan  dari  bidang  kajian  Pencegahan  dan  Penanggulangan  Gerakan  Terorisme semoga  kajian  ini  bermanfaat  bagi  pengambil  kebijakan  dalam  membuat  blue  print  pembangunan  lokal  khususnya  Provinsi Lampung.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

50

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Kemampuan Pertahanan Negara 

Bab II.2 Peningkatan Kemampuan Pertahanan Negara 
Pertahanan  Negara  menjadi  hal  yang  sangat  penting  dalam  sebuah  Negara,  terutama  sekali  di  era  keterbukaan  dimana  kejahatan  tidak  hanya  menjadi  masalah  satu  Negara­ansichlebih  dari  itu  kejahatan  menjadi lintas Negara, untuk mendukung hal tersebut maka sangat diperlukan sebuah postur TNI yang ideal. I. Permasalahan  Banyak  hal  yang  terkait  erat  dengan  persoalan  Ketahanan  Negara  terdapat  beberapa  hal  yang  menonjol  dalam konteks ini, adanya beberapa konflik perbatasan misalkan konflik blok Ambalat dengan Malaysia dan  Transnational Crime (kriminalitas lintas Negara) menjadi hal yang paling menonjol untuk segera diselesaikan. II. Kondisi Awal RPJMN 2004­2009  Di awal periode RPJMN, kebijakan pertahanan belum sepenuhnya bersifat komprehensif dan lebih difokuskan  pada  aspek  kekuatan  inti  pertahanan.  Potensi  dukungan  pertahanan  yang  merupakan  salah  satu  aspek  penting dalam pertahanan semesta belum didayagunakan secara optimal sebagai akibat dari kebijakan dan  strategi pertahanan yang bersifat parsial. Selain itu, postur pertahanan yang tersedia belum mencukupi untuk  dapat  dijadikan  acuan  bagi  pembangunan  kekuatan  pertahanan  darat,  laut,  dan  udara  yang  mampu  mencegah dan mengatasi ancaman secara lebih efektif.  Kemampuan pertahanan negara yang kuat sangat bergantung pada kebijakan dan strategi pertahanan serta  kemampuan  kekuatan  inti  pertahanan  yaitu  TNI  dan  kemampuan  komponen  cadangan  pertahanan.  Permasalahan mendasar dalam meningkatkan profesionalisme anggota TNI adalah fasilitas pendidikan yang  kurang memadai, medan dan fasilitas latihan yang terbatas, alat instruksi dan penolong instruksi yang relatif
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

51

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Kemampuan Pertahanan Negara 

kadaluwarsa, serta peralatan pendidikan dan latihan yang juga terbatas. Masalah kesejahteraan prajurit dan  belum  tersiapkannya  potensi  dukungan  pertahanan  seperti  rakyat  terlatih  dalam  jumlah  yang  cukup  juga  merupakan permasalahan masih akan dihadapi dalam peningkatan kemampuan pertahanan beberapa tahun  mendatang.  Selain  itu,  masalah  besar  lain  yang  dihadapi  TNI  adalah  jumlah  alat  utama  sistem  persenjataan  (alutsista)  yang sangat terbatas dengan kondisi yang rata­rata sudah uzur dan tidak sesuai lagi dengan perkembangan  teknologi kemiliteran.  Upaya  memodenisasi  alutsista  secara  bertahap  terhambat  oleh  embargo  yang  dilakukan  oleh  beberapa  negara.  Kondisi  ini  diperparah  dengan  relatif  rendahnya  upaya  pemanfaatan  industri  pertahanan  nasional  dalam memenuhi kebutuhan alutsista. Kesenjangan antara kebutuhan alutsista dengan kemampuan teknologi  dan finansial industri pertahanan nasional merupakan salah satu penyebab ketertinggalan teknologi alutsista  dan ketergantungan sumber alutsista dari negara lain.  Menurunnya  kemampuan  pertahanan  disebabkan  pula oleh anggaran yang  tersedia. Anggaran pertahanan  yang  dapat  disediakan  baru  74,1  persen  dari  kebutuhan  minimal  anggaran  pertahanan.  Sedangkan,  kebutuhan minimal anggaran pertahanan tersebut dirancang untuk mengganti penyusutan alutsista TNI dan  menutup kesenjangan  antara kondisi nyata TNI saat ini dengan  kebutuhan minimal personel dan peralatan  TNI  seperti  yang  tercantum  dalam  TOP  (Tabel  Organisasi  dan  Personel)  dan  DSPP  (Daftar  Susunan  Personel dan Peralatan).  Di samping itu, pada  awal RPJMN pendayagunaan warga negara sebagai salah satu komponen cadangan  dalam sistem pertahanan negara belum dapat berjalan secara optimal. Manfaat dari bela negara tidak hanya  untuk  kepentingan  pertahanan  negara semata, tetapi  lebih jauh dari itu perubahan sikap mental dan sosial  masyarakat serta memiliki perngaruh luas bagi kemajuan suatu bangsa.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

52 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Kemampuan Pertahanan Negara 

III. Sasaran Yang Ingin Dicapai  Sasaran peningkatan kemampuan pertahanan negara dalam 5 tahun mendatang adalah:  1.  Tersusunnya  Rancangan  Postur  Pertahanan  Indoneisa  berdasarkan  Strategic  Defense  Review  (SDR)  dan  Strategi  Raya  Pertahanan  dalam  periode  2005–2006  yang  disusun  sebagai  hasil  kerjasama civil society dan militer;  2.  Meningkatnya profesionalisme anggota TNI baik dalam operasi militer untuk perang maupun selain  perang;  3.  Meningkatnya  kesejahteraan  prajurit  TNI  terutama  kecukupan  perumahan,  pendidikan  dasar  keluarga prajurit, jaminan kesejahteraan akhir tugas;  4.  Meningkatnya  jumlah  dan  kondisi  peralatan  pertahanan  ke  arah  modernisasi  alat  utama  sistem  persenjataan dan kesiapan operasional;  5.  Meningkatnya  penggunaan  alutsista  produksi  dalam  negeri  dan  dapat  ditanganinya  pemeliharaan  alutsista oleh industri dalam negeri;  6.  Teroptimasinya anggaran pertahanan serta tercukupinya anggaran minimal secara simultan dengan  selesainya reposisi bisnis TNI;  7.  Terdayagunakannya  potensi  masyarakat  dalam  bela  negara  sebagai  salah  satu  komponen  utama  pertahanan negara.  8.  Terfasilitasinya postur tubuh TNI yang ideal guna mendukung misi pertahanan Negara. IV. Arah Kebijakan  Sasaran tersebut dicapai dengan arah kebijakan sebagai berikut:  1.  Melanjutkan program penajamkan dan mengsinkronkan kebijakan pertahanan dengan kontektualitas  yang terdapat di Provinsi Lampung;  2.  Melanjutkan  program  meningkatkan  peran  serta  masyarakat  dan  meningkatkan  profesionalisme  institusi yang terkait dengan pertahanan negara yang berada dalam wilayah Provinsi Lampung;  3.  Melanjutkan  program  meningkatkan  kemampuan  dan  profesionalisme  TNI  mencakup  dimensi  alutsista,  material,  personil  serta  prasarana  dan  sarana  yang  berada  dalam  wilayah  Provinsi  Lampung;

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

53

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Kemampuan Pertahanan Negara 

4.  Melanjutkan  program  meningkatkan  kesejahteraan  anggota  TNI  dan  pendirian  sistem  ansuransi  prajurit yang berada dalam wilayah Provinsi Lampung;

V. Pencapaian 2005­2007  Dalam  beberapa  aspek  pemerintah  telah  melakukan  kebijakan  yang  turut  mendukung  untuk  meminimalisir  terjadinya transnational crime, antara lain dengan adanya visi Strategic Defense Review (SDR) dan Strategi  Raya Pertahanan. Kedua visi ini secara minimal  telah mampu untuk  menekan  laju transnational crime dan  konflik  perbatasan,  pada  tahapan  tertentu  juga  operasi  militer  yang  dilakukan  mampu  menjadi  jembatan  komunikasi  lintas  Negara  yang  secara  dini  berfungsi  untuk  menekan  semakin  intens­nya  konflik  antar  perbatasan. VI. Tindak Lanjut  Kegiatan pokok yang dilakukan adalah:  1.  Melanjutkan  program  kerjasama  penelitian  dan  pengembangan  pertahanan  guna  menghasilkan  kajian­kajian tentang konsep pertahanan;  2.  Melanjutkan program penelitian dan pengembangan bidang materiil dan insani;  3.  Melanjutkan program kerjasama penelitian dan pengembangan bidang kedirgantaraan, perkapalan,  teknik  sipil,  industri  alat  berat,  otomotif,  elektronika  dan  kimia  untuk  mendukung  pemenuhan  kebutuhan alat peralatan pertahanan. VII. Penutup  Demikianlah pemaparan dari bidang kajian Peningkatan Kemampuan Pertahanan Negara semoga kajian ini  bermanfaat  bagi  pengambil  kebijakan  dalam  membuat  blue  print  pembangunan  lokal  khususnya  Provinsi  Lampung.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

54 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pemantapan Politik luar Negeri dan Peningkatan Kerjasama Internasional 

Bab II.1 Pemantapan Politik Luar Negeri dan Peningkatan Kerjasama Internasional 

Globalised World menjadi tema sentral dalam konteks politik internasional hari ini. Globalisasi adalah sebuah  bahasan  yang  sangat  penting  terutama  dalam  pendekatan­pendekatan  politik  internasional.  Terbukanya  sistem politik  dunia pada  saat ini  menuju kecenderungan  ke arah yang  lebih demokratis  adalah salah satu  dampak yang ditimbulkan oleh globalisasi, dengan menggunakan perkembangan teklnologi ICT (Information  Communiation  and  Technology)  seperti  internet  dan  hand  phone  globalisasi  menjadi  semakin  berkembang  tidak hanya dalam tataran dunia sosial akan  tetapi mengarah kepada wacana ekonomi politik serta praktek  ekonomi  politik  di  setiap  negara.  Misalnya  apa  yang  sedang  terjadi  baik  hal  yang  bersifat  positif  ataupun  negatif  dalam  konteks  politik  Indonesia  dengan  cepat  akan  mempengaruhi  bursa  saham  di  Strait  Times­  Singapura, Kuala Lumpur Stock Exchange (KLSE) ataupun Dow Jones di New York. I. Permasalahan  Dunia  tanpa  batas  (Borderless)  menjadi  salah  satu  tema  yang  penting  dalam  wacana  politik  internasional  dunia.  Dalam  konteks  politik  dunia  misalnya  berkembangnya  demokrasi  pada  negara­negara  maju  berdampak kepada negara­negara berkembang. Tidak hanya itu globalisasi juga membawa dampak negatif  dimana kapitalisme global yang merupakan ideologi besar yang kemudian mengatasnamakan ianya sebagai  “globalisasi”  semakin  membuat  negara­negara  dunia  ketiga  menjadi  sangat  bergantung  kepada  negara­  negara besar.  Dalam  trend  politik  dunia  interdepedensi  negara  bangsa  satu  dengan  yang  lain  menjadi  hal  yang  tidak  terhindarkan,  ketergantungan  negara­negara  satelite  kepada  negara  sentral  (hegemonic  state)  menjadi  hal 55

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pemantapan Politik luar Negeri dan Peningkatan Kerjasama Internasional 

yang  tidak  terhindarkan,  oleh  sebab  itu  trens  politik  dunia­pun  mengalami  sebuah  perubahan  dari  konsep  depedensi menjadi interdepedensi. II. Kondisi Awal RPJMN 2004­2009  Pada  awal­awal  tahun  pelaksanaan  RPJMN  2004­2009,  hubungan  internasional  banyak  diwarnai  berbagai  isu  politik, keamanan dan ekonomi global. Hingga  saat  ini  dan juga yang  akan  datang, diperkirakan hal ini  masih akan terus berlanjut. Untuk mewujudkan Indonesia yang berperan penting dalam dunia internasional,  diperlukan  kesinambungan  dan  konsistensi  pemantapan  peranan  politik  luar  negeri  dan  kerjasama  internasional.  Politik  luar  negeri  dan  kerjasama  internasional  harus  menekankan  pada  posisi  Indonesia  sebagai  negara  yang  memiliki  integritas  dan  kapasitas.  Hal  ini  dapat  diperoleh  melalui  optimalisasi  pemanfaatan  diplomasi  dan  kerjasama  internasional  yang  memaknai  secara  positif  berbagai  peluang  menguntungkan bagi kepentingan nasional.  Dalam RPJMN 2004­2009, telah ditetapkan  bahwa sasaran pemantapan  politik  luar negeri dan kerja sama  internasional adalah semakin berperannya Indonesia dalam hubungan internasional dan dalam menciptakan  perdamaian dunia. Secara bertahap, hal ini diharapkan dapat memulihkan citra Indonesia dan kepercayaan  internasional. Sasaran ini dicapai melalui pelaksanaan kebijakan yang diarahkan pada peningkatan kualitas  diplomasi  Indonesia  dalam  rangka  memperjuangkan  kepentingan  nasional.  Selain  itu,  untuk  melanjutkan  kepentingan  Indonesia  terhadap  pembentukan  identitas  dan  pemantapan  integrasi  regional,  khususnya  di  negara­negara  anggota  Association  of  South  East  Asian  Nation  (ASEAN).  Peran  Indonesia  dalam  menciptakan  perdamaian  dunia  juga  diupayakan  dengan  terus  menegaskan  pentingnya  memelihara  kebersamaan, multilateralisme, saling pengertian dan  perdamaian dalam politik dan hubungan internasional.  Penyelenggaraan politik  dan hubungan  luar negeri pada awal RPJMN 2004­2009 banyak dihadapkan pada  sejumlah permasalahan, seperti: adanya potensi disintegritas terkait dengan separatisme di Papua, persolan  perbatasan  dengan  tentara  tetangga,  kerjasama  dalam  lingkup  ASEAN,  persoalan  Timur  Tengah  terkait  dengan  konflik  Israel­Palestina,  peran  Indonesia  dalam  Dewan  Hak  Asasi  Manusia  (HAM)  Perserikatan  Bangsa­Bangsa  (PBB),  pencalonan  Indonesia  menjadi  anggota  tidak  tetap  Dewan  Keamanan  PBB,  pelaksanaan  diplomasi  publik  dalam  rangka  peningkatan  citra  Indonesia  di  luar  negeri  dan  perlindungan  warga negara Indonesia (WNI) di luar negeri. 56 

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pemantapan Politik luar Negeri dan Peningkatan Kerjasama Internasional 

III. Sasaran Yang Ingin Dicapai  Sasaran  yang  hendak  dicapai  dalam  Pemantapan  Politik  Luar  Negeri  dan  Peningkatan  Kerjasama  Internasional  adalah  semakin  meningkatnya  peranan  Indonesia  dalam  hubungan  internasional  dan  dalam  menciptakan  perdamaian  dunia,  serta  pulihnya  citra  Indonesia  dan  kepercayaan  masyarakat  internasional  serta  mendorong  terciptanya  tatanan  dan  kerjasama  ekonomi  regional  dan  internasional  yang  lebih  baik  dalam mendukung pembangunan nasional. IV. Arah Kebijakan  Arah kebijakan dari Pemantapan Politik Luar Negeri dan Peningkatan Kerjasama Internasional adalah :  1.  Meningkatkan  kualitas  diplomasi  Indonesia  dalam  rangka  memperjuangkan  kepentingan  nasional  termasuk  dalam  penyelesaian  masalah­masalah  perbatasan  dan  dalam  melindungi  kepentingan  masyarakat  Indonesia  di  Luar  Negeri  yang  berimplikasi  pada  kepentingan  masyarakat  Lampung  secara khusus;  2.  Melanjutkan  komitmen  Indonesia  terhadap  pembentukan  identitas  dan  pemantapan  integrasi  regional,  khususnya  di  ASEAN  yang  berimplikasi  pada  kepentingan  masyarakat  Lampung  secara  khusus;  3.  Menegaskan  pentingnya  memelihara  kebersamaan  melalui  kerjasama  internasional,  bilateral  dan  multilateral maupun kerjasama regional lainnya, saling pengertian dan perdamaian dalam politik dan  hubungan internasional;  4.  Meningkatkan dukungan dan peran masyarakat internasional dan tercapainya tujuan pembangunan  nasional yang berimplikasi pada kepentingan masyarakat Lampung secara khusus;  5.  Meningkatkan  koordinasi  dalam  penyelenggaraan  hubungan  luar  negeri  sesuai  dengan  undang­  undang. V. Pencapaian 2005­2007  Dalam  banyak  hal  pencapaian  target  yang  dibebankan  pada  tahun  2005­2007  sudah  relative  baik  hal  ini  dapat  dilihat  misalkan  peran  aktif  Indonesia  dalam  menciptakan  iklim  demokrasi  di  Myanmar,  pengalaman  terhadap proses integrasi ASEAN COMMUNITY 2020, dan banyak hal lain yang sudah dicapai termasuk juga
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

57

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pemantapan Politik luar Negeri dan Peningkatan Kerjasama Internasional 

menubuhkan  sebuah  badan  yang  secara  khusus  menangani  persoalan  Tenaga  Kerja  Indonesia  di  Luar  Negeri, yang dalam beberapa tahun terakhir menyebabkan  masalah  WNI di luar negeri semakin meningkat. VI. Tindak Lanjut  Kegiatan pokok yang dilakukan adalah :  1.  Melanjutkan  upaya  peningkatan  upaya  penanggulangan  kejahatan  lintas  batas  negara  seperti  terorisme, pencucian uang, kejahatan narkotika, penyelundupan dan perdagangan manusia melalui  kerjasama bilateral, regional dan multilateral yang dilakukan secara inklusif, demokratis dan sejalan  dengan  prinisp­prinsip  hukum  internasional;  yang  juga  berimplikasi  pada  kepentingan  masyarakat  Lampung secara khusus serta  2.  Meningkatkan Partisipasi masyarakat Lampung dalam menciptakan perdamaian dunia. VII. Penutup  Demikianlah pemaparan dari bidang kajian Pemantapan Politik Luar Negeri dan Peningkatan Kerjasama  Internasional semoga kajian ini bermanfaat bagi pengambil kebijakan dalam membuat blue print  pembangunan lokal khususnya

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

58 

Tim Independen Universitas Lampung

BAGIAN III AGENDA MEWUJUDKAN INDONESIA YANG ADIL DAN DEMOKRATIS

Laporan Akhir 

Pengantar Agenda Mewujudkan Indonesia yang Adil dan Demokratis 

Bab III.1 Pengantar Agenda Mewujudkan Indonesia yang Adil dan Demokratis 

Agenda mewujudkan  Indonesia yang  adil dan demokratis merupakan  agenda penting untuk  mewujudkan  5  sasaran, yaitu : 

a.  Meningkatnya keadilan dan penegakkan hukum yang tercermin dari terciptanya sistem hukum yang adil, 
konsekuen, dan tidak diskriminatif serta memberikan perlindungan dan penghormatan HAM, terjaminnya  konsistensi  seluruh  peraturan  perundang­undangan  di  tingkat  pusat  dan  daerah  sebagai  bagian  dari  upaya memulihkan kembali kepercayaan masyarakat akan kepastian hukum. 

b.  Terjaminnya  keadilan  gender  bagi  peran  perempuan  dalam  berbagai  bidang  pembangunanyang 
tercermin dalam berbagai perundangan, program pembangunan, dan kebijakan publik. 

c.  Meningkatnya  pelayanan  kepada  masyarakat  dengan  menyelenggarakan  otonomi  daerah  dan 
kepemerintahan daerah yang baik serta terjaminnya konsistensi seluruh peraturan pusat dan daerah, dan  tidak  bertentangan  dengan  peraturan  yang  lebih  tinggi  dalam  rangka  meningkatkan  keadilan  daerah­  daerah untuk membangun. 

d.  Meningkatnya pelayanan birokrasi kepada masyarakat.  e.  Terlaksananya  pemilu  tahun  2009  secara  demokratis,  jujur,  dan  adil  dengan  menjaga  mmentum 
konsilidasi demokrasi yang sudah terbentuk berdasarkan hasil pemilu tahun 2004.  Secara umum kelima sasaran tersebut di atas  telah dijalankan  oleh pemerintah daerah Propinsi Lampung,  walaupun belum optimal. Namun beberapa hal memang perlu mendapat prioritas agar perwujudan sasaran  tersebut  dapat  dirasakan  oleh  masyarakat  Lampung.  Wujud  pelaksanaan  RPJM  Nasional  di  Propinsi  Lampung, ditindaklanjuti dengan ditetapkannya Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Lampung Nomor: 6 Tahun  2007  Tentang  Rencana  Pembangunan  Jangka  Panjang  Daerah  (RPJPD)  Provinsi  Lampung  Tahun  2005­  2025.  PJPD  ini  berisikan  program­program  jangka  panjang  daerah  yang  masih  bersifat  umum,  sehingga  masih  dibutuhkan  intrumen  kebijakan  yang  lebih  terarah  untuk  jangka  menengah  (RPJMD)  dan  jangka  pendek. Namun karena kedua hal tersebut belum ditetapkan, program­program untuk jangka menengah dan  jangka pendek masih mengacu pada Rencana Srategik (Renstra) Daerah.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

59

Laporan Akhir 

Pembenahan Sistem dan Politik Hukum 

Bab III.2 Pembenahan Sistem Hukum Nasional dan Politik

I. Pengantar  Pembenahan sistem hukum nasional dan politik hukum sebagaimana dicanangkan dalam berbagai kebijakan  pemerintah  pusat  juga  dijalankan  oleh  pemerintah  daerah  Propinsi  Lampung.  Berbagai  kebijakan  dan  program  pembenahan  sistem  hukum  dan  politik  hukum  di daerah  dijalankan  sesuai  dengan  pembangunan  sistem  hukum  nasional  Indonesia  yang  terdiri  dari:  pembangunan  substansi  hukum,  struktur  hukum  dan  budaya hukum. II. Kondisi Awal RPJM di Propinsi Lampung  Pembangunan  sistem  hukum  di  daerah,  pada  prinsipnya  adalah  mengimplementasi  atau  menindaklanjuti  program  pembangunan  sistem  hukum  nasional.  Pada  awal  RPJM  kondisi  peraturan  perundang­undangan  baik  di pusat, lebih­lebih di daerah sarat dengan ketidak  sinkronan, ketidakkonsistenan  antara produk yang  satu  dengan  yang  lain,  antara  produk  hukum  daerah  dengan  produk  hukum  nasional,  karena    adanya  paradigma  baru  tentang  demokrasi  dan  desentralisasi  yang  belum  mantap  di  daerah.  Berbagai  tindakan  pemerintah daerah juga banyak yang belum didasarkan pada ketentuan hukum, karena beberapa peraturan  pelaksana UU Nomor 32 Tahun 2004 belum ditetapkan.  Kondisi awal RPJM dibidang pembangunan hukum di Propinsi Lampung masih disibukan dengan penetapan  dasar hukum dibidang pemerintahan daerah sehubungan dengan ditetapkannya UU Nomor 32 Tahun 2004  yang  menggantikan  UU  Nomor  22  Tahun  1999.  Berbagai  produk  hukum  yang  ditetapkan  masih  berkisar  tentang pembenahan struktur pemerintahan daerah dan peningkatan PAD untuk pembiayaan pemerintahan  daerah. Produk­produk perda yang dihasilkan dalam waktu singkat hanya berorientasi pada peningkatan PAD  saja, sehingga cendrung tidak sesuai dengan asas dan tujuan dari perda itu sendiri. Pada masa ini banyak  perda  yang  dianulir  karena  tidak  sesuai  dengan  tujuan  pembentukannya  dan  bertentangan  dengan  produk  hukum  yang  lebih  tinggi  atau  mengandung  biaya  tinggi  yang  dapat  memberatkan  masyarakat.  Kondisi  ini
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

60

Laporan Akhir 

Pembenahan Sistem dan Politik Hukum  diperparah lagi dengan hubungan antara ekskutif dan legislatif yang tidak harmonis. Apa yang diajukan oleh  pihak  eksekutif ditolak  oleh legislatif termasuk tentang penetapan  APBD begitu pula sebaliknya. Hubungan  yang  tidak  harmonis  ini  dipicu  oleh  konflik  pemilihan  gubernur  Lampung  yang  cukup  panjang,  sehingga  pembangunan di Propinsi Lampung terhambat.  Pada  awal­awal  PRJM  di  Propinsi  Lampung  berbagai  produk  hukum  cenderung  diabaikan  masyarakat,  karena  perda  tersebut  tidak  berpihak  kepada  masyarakat.  Disamping  itu,  sebagai  dampak  adanya  desentralisasi, perda yang dihasilkan oleh pemda dan DPRD kabupaten/kota secara substansi banyak yang  hanya  meniru  perda  daerah  lain  yang  sudah  lebih  dahulu  ada  dan  tentunya  tidak  sesuai  dengan  kondisi  masyarakat di daerah yang bersangkutan.  Dari aspek kelembagaan hukum dan penegakan hukum, ternyata masih kurangnya personil aparat penegak  hukum dan kurangnya saran dan prasarana, seperti perkantoran dan peralatan­peralatan lain, pembangunan  aspek struktur dari sistem hukum juga belum optimal dilakukan, terlebih lagi sumber  daya  penegak  hukum  masih  menggunakan  paradigma  lama,  yaitu  dengan  tindakan  refresif,  sehingga  kepercayaan  masyarakat  terhadap  penegakkan  hukum  menjadi  melemah  dan  terdapatnya  indikasi  bahwa  para  penegak  hukum  kehilangan kewibawaan untuk menegakkan hukum dan keadilan. Akibat kepercayaan yang rendah terhadap  kewibawaan penegakan hukum, masyarakat menyelesaikan masalah hukum dengan caranya sendiri, seperti  kasus  main hakim sendiri terhadap  pencurian kendaraan bermotor yang  beberapa kali terjadi, pembakaran  Kantor Polisi Sektor dan tindakan kekerasan lainnya.  Seiring dengan eforia demokrasi dan desentralisasi yang sedang berjalan, masyarakat daerah Lampung juga  terimbas  situasi  tersebut.  Berbagai  tuntutan,  baik  dibidang  penguasaan  tanah  yang  tadinya  tidak  terdapat  tuntutan­tuntutan  karena  proses  pengalihan  hak  telah  selesai  adanya  eforia  demokrasi  dibeberapa  tempat,  tuntutan masyarakat terhadap hak penguasaan tanahnya yang telah dikuasai perusahaan atau badan usaha  kembali muncul. Budaya hukum yang lebih menonjolkan hak dan tidak diiringi dengan kewajiban juga dipicu  oleh sikap dari penegak hukum dan pemda yang tidak secara tegas memutuskan berbagai sengketa (tanah,  pendudukan hutan lindung, perambahan hutan, pengerusakan sumber daya laut dengan menggunakan alat­  alat  dan  bahan  perusak  dan  sebagainya)  dalam  masyarakat  dan  tidak  jelasnya  pengaturan  hukum  yang  ditetapkan. III. Sasaran yang Ingin Dicapai  Sasaran yang ingin dicapai dalam pembangunan hukum  pada tahun 2004­2009 adalah:  a.  Yurisdiksi wilayah laut dan Wilayah udara terlindungi dengan baik.  b.  POLRI yang profesional dalam melaksanakan tugas sehingga masyarakat terlindungi dan terayomi.
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

61 

Laporan Akhir 

Pembenahan Sistem dan Politik Hukum  c.  Peran serta masyarakat dalam mendukung terwujudnya ketentraman dan ketertiban menguat.  d.  Tindak kriminal penyalahgunaan NAPZA, perdagangan anak dan rendah.  e.  Lembaga demokrasi dan masyarakat politik mantap kuat, dan mandiri.  f.  Peran masyarakat sipil (civil society) kuat dan mandiri.  g.  Pemerintahan  berdasarkan  hukum,  birokrasi  yang  profesional  dan  netral,  menegakkan  hukum  secara  adil, konsekuen dan tidak diskriminatif.  h.  Penyalahgunaan wewenang dan praktek birokrasi yang sarat KKN rendah. IV. Arah Kebijakan  Kebijakan pembangunan hukum dalam RPJM 2004­2009 di Propinsi Lampung, meliputi:  a.  Perlindungan  wilayah  yurisdiksi  laut  ditingkatkan  dalam  upaya  melindungi  sumber  daya  laut  bagi  kemakmuran  sebesar­besarnya  untuk  rakyat.  Perlindungan  terhadap  wilayah  yurisdiksi  laut  dilakukan  dengan  meningkatkan  kekuatan  dan  kemampuan  pertahanan  untuk  melakukan  pengawasan  dan  penegakan  hukum  internasional  serta  dengan  meningkatkan  kemampuan  deteksi  dan  penangkalan  di  laut. Perlindungan wilayah yurisdiksi udara ditingkatkan sebagai upaya untuk menjaga kedaulatan secara  menyeluruh dengan membangun sistem pemantauan dan deteksi di wilayah udara serta meningkatkan  kemampuan menangkal penebangan illegal.  b.  Pembangunan  ketentraman dan ketertiban masyarakat, diarahkan  untuk meningkatkan profesionalisme  POLRI beserta institusi terkait dengan masalah ketentraman dan meningkatkan peran serta masyarakat  dalam  rangka  mewujudkan  terjaminnya  ketentraman  dan  ketertiban  masyarakat,  tertib  dan  tegaknya  hukum, serta terselenggaranya perlindungan, pengayoman, dan pelayanan pada masyarakat.  c.  Profesionalisme  SDM  kepolisian  ditingkatan  melalui  penyempurnaan  seleksi,perbaikan  pendidikan  dan  pelatihan,  dan  pembangunan  spirit  of  the  corps.  Peningkatan  profesionatisme  tersebut  diikuti  dengan  peningkatan  bertahap  kesejahteraan  aparat  kepolisian  melalui  kenaikan  penghasilan,  penyediaan  dan  fasilitas  rumah tinggal,  jaminan kesehatan, dan tunjangan  purna tugas. Peran serta masyarakat dalam  penciptaan  keamanan  masyarakat  dibangun  melalui  mekanisme  pemolisian  masyarakat.  Pemolisian  masyarakat berarti masyarakat turut bertanggung jawab dan berperan aktif dalam penciptaan keamanan  dan  ketertiban  dalam  bentuk  kerjasama  dan  kemitraan  dengan  polisi  dalam  menjaga  keamanan  dan  ketertiban.  d.  Peningkatan peranan komunikasi dan informasi yang ditekankan pada proses pencerdasan masyarakat  dalam  kehidupan  politik  dilakukan  dengan:  (1)  Mewujudkan  kebebasan  pers  yang  lebih  mapan  dan  terlembaga  serta  menjamin  hak  masyarakat  luas  untuk  berpendapat  dan  mengontrol  jalannya  penyelenggaraan  negara  secara  cerdas  dan  demokratis.  (2)  Mewujudkan  pemerataan  informasi  yang  lebih  besar  dengan  mendorong  munculnya  media  massa  daerah  yang  independen.  (3)  Mewujudkan
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

62 

Laporan Akhir 

Pembenahan Sistem dan Politik Hukum  deregulasi  yang  lebih  besar  dalam  bidang  penyiaran  sehingga  dapat  lebih  menjamin  pemerataan  informasi  secara  nasional  dan  mencegah  monopoli  informasi.  (4)  Menciptakan  jaringan  informasi  yang  lebih bersifat interaktif antara masyarakat dan kalangan pengambil keputusan politik untuk menciptakan  kebijakan  yang  lebih  mudah  dipahami  masyarakat.  (5)  Menciptakan  jaringan  teknologi  informasi  dan  komunikasi yang  mampu menghubungkan seluruh link yang ada di pelosok daerah. (6) Memanfaatkan  jaringan teknologi informasi dan komunikasi secara efektif agar mampu memberikan informasi yang lebih  komprehensif pada masyarakat internasional.  e.  Pembangunan materi hukum daerah yang harmonis, baik terhadap kepentingan umum maupun terhadap  peraturan perundang~undangan yang derajatnya lebih tinggi.  f.  Kualitas  dan  kemampuan  aparatur  hukum  dikembangkan  melalui  peningkatan  profesionalisme  melalui  sistem  pendidikan  dan  pelatihan  dengan  kurikulum  yang  akomodatif  terhadap  setiap  perkembangan  pembangunan; dan pengembangan sikap aparatur hukum yang menjunjung tinggi kejujuran, kebenaran,  keterbukaan  dan  keadilan,  bebas  dari  korupsi,  kolusi  dan  nepotisme,  serta  bertanggung  jawab  dalam  bentuk  perilaku  yang  teladan.  Pelaksanaan  tugas  dan  kewajiban  aparat  hukum  secara  profesional  didukung  oleh  sarana  dan  prasarana  hukum  yang  memadai  serta  diperbaiki  kesejahteraannya  agar  di  dalam melaksanakan tugas dan kewajiban aparatur hukum dapat berjalan dengan baik dan terhindar dari  pengaruh dan intervensi pihak­pihak dalam bentuk korupsi, kolusi dan nepotisme.  g.  Peningkatan perwujudan masyarakat yang mempunyai kesadaran hukum yang tinggi terus ditingkatkan  dengan  lebih  memberikan  akses  terhadap  segala  informasi  yang  dibutuhkan  oleh  masyarakat,  memberikan akses pada masyarakat terhadap pelibatan dalam berbagai proses pengambilan keputusan  pelaksanaan  pembangunan, sehingga setiap anggota masyarakat menyadari dan menghayati hak  dan  kewajibannya  sebagai  warga  negara  serta  terbentuk  perilaku  warga  negara  yang  mempunyai  rasa  memiliki dan taat hukum. Peningkatan perwujudan masyarakat yang mempunyai kesadaran hukum yang  tinggi  harus  didukung  oleh  pelayanan  dan  bantuan  hukum  pada  masyarakat  dengan  biaya  yang  terjangkau, proses yang tidak berbelit dan penetapanputusan yang mencerminkan rasa keadilan.  Arah  kebijakan  pembangunan  hukum  di  daerah  Lampung,  pada  umumnya  melaksanakan  arah  kebijakan  pembangunan  hukum  nasional.  Pembangunan  hukum  di  Propinsi  Lampung  juga  bertumpu  pada  tiga  subsistem hukum tersebut di atas yang disesuaikan dengan kondisi daerah Lampung. V. Pencapaian RPJMN di Propinsi Lampung  a.  Subsistem  substansi,  dilakukan  dengan  menetapkan  beberapa  produk  hukum  daerah  (peraturan  daerah),  baik  terkait  dengan  pelaksanaan  pemerintahan  daerah,  seperti  penetapan  perda  yang  terkait  dengan  struktur  organisasi  pemerintahan  sebagai  pelaksanaan  PP  Nomor  41  Tahun  2007,  penetapan
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

63 

Laporan Akhir 

Pembenahan Sistem dan Politik Hukum  perda  retribusi,  pajak,  untuk  peningkatkan  PAD,  lingkungan  dan  tata  ruang,  untuk  penataan  kondisi  lingkungan  yang  lebih  baik  dan  sehat,  dan  perda  lainnya  sebagai  bentuk  pengaturan  kehidupan  masyarakat. Ditetapkannya perda ini sebagai wujud dari pembenahan sistem hukum Indonesia, dimana  segala tindakan pemerintah baik di pusat maupun daerah harus didasarkan pada hukum.  Pembenahan  sistem  hukum  di  Propinsi  Lampung  telah  dilakukan  secara  berkesinambungan,  baik  substansi hukum yang berupa perda, sampai tahun 2008 telah ditetapkan 13 perda dengan rincian tahun  2004 sebanyak 4 perda, tahun 2005 sebanyak 3 perda dan tahun 2006 sebanyak 6 perda. Dari 13 perda  yang  telah ditetapkan  dalam kurun waktu tersebut hanya satu perda yang dicabut, karena tidak  sesuai  dengan  wewenang  daerah.  Perda  yang  dicabut  tersebut  adalah  Perda  Nomor  7  Tahun  2000  tentang  Pengelolaan Hutan. Pencabutan perda ini karena substansi yang diatur kontraprodukif konsistensi hirarki  hukum  dan  secara  substansi  kontraproduktif  dengan  asas  hukum.  Perda  yang  dicabut  ini  berkaitan  dengan pajak, sementara pengelolaan hutan tidak termasuk dalam perda pajak. Dari 2.398 perda yang  dibatalkan  (bermasalah)  sampai  tahun  2008,  Perda  di  propinsi  Lampung  tidak  termasuk  yang  dicabut.  Dalam  kaitannya  dengan  produk  hukum  daerah  yang  mengadobsi  adat  sebagai  upaya  pembaruan  hukum nasional, Propinsi Lampung telah menetapkan Perda Nomor 2 Tahun 2008 tentang Penggunaaan  Bahasa  dan  Arsitektur  Lampung,  dan  Perda  Nomor    Tahun  2007  tentang  Pengelolaan  Sumber  Daya  Alam.  b.  Subsistem  struktur,  yaitu  pembangunan  kelembagaan  hukum  yang  didalamnya  terdapat  pula  aparat  hukum.  Pembangunan  kelembagaan  hukum  di  Propinsi  Lampung  dilakukan  dengan  pembangunan  sarana  dan  prasarana  perkantoran,  khususnya  di  daerah­daerah  yang  belum  memiliki  kelembagaan  hukum,  seperti;  pembangunan  Polres,  Kejaksaan  Negeri,  Pengadilan  Negeri,  di  Tanggamus,  Tulang  Bawang  dan  Lampung  Timur,  maupun  Pembangunan  Rumah  Tahanan  Anak  di  Kota  Bumi  Lampung  Utara dan Rumah Tahanan Narkoba di Way Hui Bandar Lampung. Di bidang peningkatan SDM penegak  hukum, cukup banyak aparat penegak hukum (polisi, jaksa dan hakim yang melanjutkan studi di Unila.  Penegakan  hukum  oleh  aparat  penegak  hukum  dilakukan  secara  konsisten  dan  konsekuen  untuk  menjamin  tegaknya  kepastian  hukum  dimana  pelanggar  hukum  dilakukan  proses  hukum,  termasuk  penyelesaian hukum bagi aparat penegak hukum dan aparat pemerintah yang melakukan pelanggaran  hukum.    Pengaasan  yang  intensif  terhadap  wilayah  laut,  khususnya  dari  tindakan  yang  akan  menyebabkan terjadi kerusakan SDA laut, penegakan hukum bagi illegal loging dan sebagainya.  c.  Budaya  hukum,  dilakukan  dengan  sosialisasi  hukum  kepada  masyarakat,  baik  yang  dilakukan  oleh  Kanwil  Hukum  dan  HAM,  Perguruan  Tinggi,  Biro  Hukum  Pemda  dan  Pengadilan  Negeri,  baik  secara

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

64 

Laporan Akhir 

Pembenahan Sistem dan Politik Hukum  sendiri­sendiri maupun bekerja sama. Di samping itu telah dibentuk poskadarkum dari kalangan pemuda,  ibu­ibu dan masyarakat umum.  Dalam kontek penegakan hukum yang merupakan bentuk kesadaran hukum masyarakat, sampai tahun 2008  terdapat 15 perkara gugatan yang ditangani Biro Hukum Setda Propinsi Lampung, dimana gugatan tersebut  ditujukan kepada Gubernur atau Dinas Instansi, baik terkait dengan keputusan gubernur, seperti:  a)  SK Gubernur No. G/009/B.I/HK/2001 tanggal 13 Januari 2006 tentang Peresmian Pemberhentian  PAW Anggota DPRD Kabupaten Lampung Timur;  b)  Gugatan perkara perdata terkait tanah  lokasi lahan  plasma rakyat yang  dikuasai oleh PT. BSMI  dan  PT.  ILP  yang  dilakukan  oleh  rakyat  Kampung  Kagungan  Dalam,  Sri  Tanjung,  dan  Nipah  Kuning Kabupaten Tulang Bawang.  c)  Gugatan  atas  Keputusan  Gubernur  No.  G/133/B.VII/HK/2006  dan  No.  G/165/B.VII/  HK/2006  tentang Dewan Pengupahan Daerah dan LKS Tripartit.  d)  Gugatan  kepada  Kadis  Kehutanan  tentang  Pohan  Jati  660  batang  di  atas  tanah  yang  masuk  Kawasan Hutan Lindung Batu Serampok Register 17  e)  Gugatan  Perkara  TUN  No.04/G.TUN/2007/PTUN  BL  tentang  Keputusan  Gubernur  Lampung  No.G/108/IV.08/2007  tentang  Pemberhentian  Tidak  dengan  Hormat  Sdr.  Deni  Fitriawan,  M.M  sebagai PNS.  f)  Gugatan  Perkara  TUN  No.0/G.TUN/2007/PTUN  BL  tentang  Gugatan  terhadap  Keputusan  Gubernur  Lampung  No.  G/882.3/2819/IV.08/2007  tentang  Pemberhentian  Dengan  Hormat  Sdr.  Fadhil Hakim sebagai PNS, dll.  Beberapa gugatan kepada pemerintah daerah di atas, menggambarkan bahwa kesadaran masyarakat akan  hukum semakin meningkat. Pada masa lampau tidak dijumpai gugutan­gugatan terhadap pemerintah daerah.  Namun  saat  ini,  tindakan  pemerintah  daerah  yang  tidak  sesuai  dengan  rasa  keadilan  masyarakat  dapat  dipastikan akan digugat masyarakat. Kesadaran hukum masyarakat ini, tidak lain dari adanya kebijakan dan  program­program dari instansi terkait untuk membentuk kesadaran hukum masyarakat, seperti Pembentukan Penegakan Hukum Terpadu,  guna  mengantisipasi  keamanan  pasca  Pilgub  Lampung  dan  Pemilu  2009.  Selain  itu,  kesadaran  hukum  masyarakat  juga  dipengaruhi  oleh  komitmen  pemerintah  daerah  untuk  menegakkan hukum.  Pencapaian  pembenahan  hukum  sebagaimana  diuraikan  di  atas,  disadari  belumlah  optimal.  Hal  ini  dapat  dilihat    dari  aspek  substansi  masih  banyak  perda  yang  belum  berpihak  kepada  masyarakat,  khususnya  masyarakat  miskin  walaupun  perda­perda  tersebut  tidak  bertentangan  secara  hirarki  maupun  substansi.  Namun  mengingat  banyaknya  perda­perda  yang  berorientasi  pada  pencapaian  PAD,  sehingga  secara
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

65 

Laporan Akhir 

Pembenahan Sistem dan Politik Hukum  substansi  perda­perda  tentang  retribusi  dan  pajak  masih  dirasakan  memberatkan  masyarakat,  khususnya  masyarakat miskin (perda dengan biaya tinggi). Ditetapkannya berbagai produk hukum di daerah yang belum  beroarientasi  pada  tujuan  ideal  ditetapkannya  hukum,  karena  masih  banyak  penetapan  perda  tidak  didasarkan pada kondisi dan kebutuhan serta kepentingan masyarakat, sehingga tidak jarang lahirnya perda  atau peraturan lainnya mendapat reaksi negatif dari masyarakat.  Selain  itu,  beberapa  perda  yang  terkait  dengan  Struktur  Organisasi  Pemerintah  seperti  Perda  Provinsi  Lampung Nomor 10 Tahun 2007 tentang Pembentukan, Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah  dan Perda Nomor 11 Tahun 2007 Pembentukan, Organisasi Dan Tata Kerja Dinas Daerah Provinsi Lampung,  sebagai  tindaklanjut  dari  Peraturan  Pemerintah  Nomor  38  Tahun  2007  tentang  Pembagian  Urusan  Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota  dan  Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007  tentang Organisasi Perangkat Daerah yang  diharapkan  miskin  struktur  dan  kaya  fungsi  tetapi  justru  sebaliknya,  sehingga  antara  bidang  satu  dengan  yang  lain  seringkali tumpoang tindih kewenangan.  Dari aspek kelembagaan  hukum, masih dijumpai pelanggaran­pelanggaran hukum oleh aparat. Perwujudan  terhadap pembenahan kelembagaan hukum, baik dari aspek sarana dan prasarana maupun aparat, tidaklah  mudah. Beberapa hal masih dijumpai adanya penyelesaian perkara yang ditangani belum proporsional dan  profesional,  baik  pada  tingkat  penyidikan,  penuntutan  maupun  keputusan.  Kecendrungan  aparat  penegak  hukum yang  masih ragu­ragu dalam penyelesaian perkara yang  dilakukan para pejabat akan  menimbulkan  opini negatif dari masyarakat terhadap  upaya  penegakan  supremasi hukum. Hal ini  tentunya  tidak  terlepas  dari  budaya  hukum  aparat  itu  sendiri.  Keyakinan  aparat  penegak  hukum  terhadap  kepastian  hukum  juga  masih belum maksimal dimiliki oleh setiap mental aparat. VI. Rekomendasi Tindak Lanjut  Pencapaian sasaran tentang pembenahan sistem hukum di daerah, masih diperlukan langkah­langkah dan  program­program sebagai berikut:  a.  Perlu  dilakukannya  evaluasi  terhadap  perda  baik  secara  vertikal  maupun  harizontal,  termasuk  didalamnya  substansi  yang  terkait  dengan  keberpihakan  terhadap  masyarakat  miskin  (perda  tentang  APBD).  b.  Kelembagaan hukum yang akan merumuskan dan menghasilkan produk hukum juga diperlukan adanya  upaya melakukan identifikasi dan inventarisasi terhadap kebutuhan dan kondisi masyarakat.  c.  Pembenahan  struktur  hukum  melalui  penguatan  kelembagaan  dengan  meningkatkan  kualitas  dan  profesionalisme aparatur pelayanan dan penegak hukum.
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

66 

Laporan Akhir 

Pembenahan Sistem dan Politik Hukum  d.  Menyelenggarakan sistem peradilan yang cepat, murah dan transfaran serta memastikan bahwa hukum  diterapkan  dengan  adil  dan  memihak  pada  kebenaran,  terutama  agi  masyarakat  miskin  dan  termajinalkan.  e.  Peningkatan  kesadaran  hukum  dan  HAM,  baik  melalui  sosialisasi,  penyuluhan  dan  pendidikan  bagi  penyelenggara negara dan masyarakat. Kegiatan ini dapat berkoordinasi dan berkerjasama dengan PT  dan  memasukan  materi  kesadaran  hukum  dalam  kurikulum  semua  level  pendidikan,  sehingga  bangsa  Indonesia  sudah  sejak  dini  mengetahui  akan  tertib  hukum  yang  nantinya  diharapkan  akan  muncul  bangsa yang sadar hukum. VII. Penutup  Berdasarkan  paparan  kondisi  pelaksanaan  RPJM  di  Propinsi  Lampung,  pemda  telah  banyak  melakukan  upaya  pembenahan  bidang  hukum,  baik  substansi  hukum,  strukur,  maupun  budaya  hukum  masyarakat.  Upaya­upaya  ini  terus  berjalan  dansampai  pada  tahun  2008  dapat  dicatat  bahwa  upaya  tersebut  belum  optimal  disebabkan  terdapatnya  masalah­masalah  politik  dan  perubahan  struktur  pemda,  sehingga  pembenahan substansi hukum masih terfokus pada usaha melengkapi instrumen hukum yang terkait dengan  pemda. Sementara itu, upaya­upaya lain, seperti;  penegakan hukum tanpa diskriminatif, penyadaran hukum  bagi masyarakat terus dilakukan. Diharapkan dengan cepatnya proses demokrasi di Lampung, seperti Pilgub  dan Pemilu 2009 nanti upaya ini akan menampakan hasilnya Oleh sebab itu, gerak demokrasi yang ada di  daerah Lampung, perlu pula diantisipasi dan mendapat tindakan segera dari pemerintah,agar pembangunan  hukum dapat berjalan, sebagaimana telah digariskan dalam RPJM 2004­2009.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

67 

Laporan Akhir 

Penghapusan Diskriminasi dalam Berbagai Bentuk 

Bab III.3 Penghapusan Diskriminasi dalam Berbagai Bentuk

I. Pengantar  Penghapusan  segala  bentuk  diskriminasi  dalam  kehidupan  berbangsa  dan  bernegara  merupakan  unsur  penting untuk  mewujudkan  tujuan negara yang termaktub dalam Pembukaan  UUDNRI 1945. Penghapusan  bentuk  diskriminasi  ini,  sebetulnya  telah  dijamin  dalam  konsititusi  Indonesia  namun  dalam  prakteknya  belumlah  secara  optimal  terwujud.  Berbagai  kasus  tentang  diskriminasi,  khususnya  perlakuan  terhadap  hukum masih sering terjadi.  Penguatan  komitmen  pemerintah  Indonesia  dalam  melakukan  penolakan  terhadap  berbagai  bentuk  diskriminasi antara lain tertuang dalam ratifikasi Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk  Diskriminasi terhadap Perempuan (International Convention on the Elimination of All Form of Discrimination  Against Women/CEDAW) yaitu melalui UU Nomor 7 Tahun 1984 dan diperkuat dengan UU Nomor 29 Tahun  1999  tentang  Ratifikasi  Konvensi  Internasional  tentang  Penghapusan  Segala  Bentuk  Diskriminasi  Rasial  (International Covention on the Elimination of All of Racial Discrimination 1965). II. Kondisi Awal RPJM di Propinsi Lampung  Pencapaian  berbagai  rencana  aksi  di  atas  di  daerah  Lampung  masih  diwarnai  dengan  berbagai  kasus  kekerasan terhadap perempuan. Pada tahun 2004 terdapat 134 kasus, Tahun 2005 terdapat 176 kasus dan  tahun 2006 terdapat 341 kasus. Kasus kekerasan  terhadap perempuan banyak dilakukan akibat dari tekanan  ekonomi,  informasi  yang  terbuka  dari  berbagai  media  yang  terkait  dengan  pornografi  dan  pornoaksi  serta  lemahnya  pendidikan  agama  bagi  anak­anak  remaja  dan  pemuda  juga  turut  menjadi  faktor  pemicu  terjadi  tindakan kekerasan baik terhadap perempuan maupun anak­anak.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

68

Laporan Akhir 

Penghapusan Diskriminasi dalam Berbagai Bentuk  Pencapaian RPJM yang rendah  ini, tentunya  tidak  terlepas dari peran orang tua yang  menganggap  bahwa  anak adalah hak orang tua tanpa mempedulikan hak anak itu sendiri, sebagai contoh banyaknya ibu­ibu yang  dengang  sengaja membiarkan  anak­anak  menjadi pengemis  dijalanan, bahkan  membiarkannya demi untuk  menafkahi  keluarga.  Di  sisi  lain,  aparat  Polisi  Pamong  Praja  (POL  PP)  yang  seharusnya  melakukan  pelarangan  terhadap  adanya  tindakan  membiarkan  anak  menjadi  pengemis  jalanan  ternyata  juga  belum  mengambil  tindakan  tegas.  Tindakan  untuk  mengatasi  masalah­masalah  sosial  juga  telah  dilakukan  oleh  Pemda  baik  propinsi  maupun  kabupaten/kota,  hal  ini  terbukti  dengan  ditetapkannya  Perda  yang  melarang  memberikan sesuatu kepada pengemis jalanan. Namun penegakan perda ini masih belum dijalankan dengan  pertimbangan sosial dan prikemanusiaan.  Dibidang perlindungan bagi TKI di laur negeri, Propinsi Lampung cukup banyak mengirim TKI dan TKW ke  luar negeri, rekruitmen TKI dan TKW ini dilakukan oleh agen­agen dari Jakarta, sehingga Pemerintah Daerah  tidak mengetahui jika warganya menjadi TKI ke laur negeri. Namun jika terjadi kasus, pemerintah daerah juga  yang dimintai pertanggung jawaban. III. Sasaran yang Ingin Dicapai  Berbagai rencana aksi telah ditetapkan, seperti; rencana aksi yang terkait dengan penghormatan, pemenuhan  dan penegakan terhadap hukum dan HAM, Rencana Aksi  Nasional Pemberanasan  Korupsi, Rencana Aksi  Nasonal  Penghapusan  Eksploitasi  Seksual  Komersial  Anak,  rencana  Aksi  Nasional  Penghapusan  Bentuk­  bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak dan Program Nasional Bagi Anak Indonesia (PNBAI) 2015. Adapun  sasaran yang akan dicapai,  yaitu:  a.  Terlaksananya  peraturan  perundang­undangan  di  daerah  sebagai  implementasi  dari  hak­hak  warga  negara yang terantum dalam UUDNRI 1945.  b.  Terciptanya aparat dan sistem pelayanan publik yang adil dan dapat diterima oleh setiap warga negara.  c.  Terkoordinasinya  dan  terharmonisasinya  pelaksanaan  peraturan  perundang­undangan  yang  tidak  menonjolkan  kepentingan  tertentu,  sehingga  dapat  mengurangi  perlakuan  diskriminatif  terhadap  warga  negara. IV. Arah Kebijakan  Upaya penghapusan diskriminasi dalam berbagai bentuk diarahkan kepada kebijakan untuk menciptakan  penegakan dan kepastian hukum yang konsisten, adil dan tidak diskriminatif dengan langkah­langkah:  a.  Meningkatkan  upaya  penghapusan  diskriminasi  termasuk  ketidakadilan  gender  bahwa  setiap  warga  negara memiliki kedudukan yang sama di hadapan hukum tanpa terkecuali.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

69 

Laporan Akhir 

Penghapusan Diskriminasi dalam Berbagai Bentuk  b.  Menetapkan  hukum  dengan  adil,  melalui  perbaikan  sistem  hukum  yang  profesional,  bersih  dan  berwibawa.  c.  Penerapan dan penegakan hukum dan HAM dilaksanakan secara tegas, Lugas dan profesional dengan  tetap berdasarkan pada penghormatan terhadap HAM, keadilan dan kebenaran, terutama dalam proses  penyelidikan,  penyidikan,  dan  persidangan  yang  transparan,  dan  terbuka  dalam  rangka  mewujudkan  tertib  sosial  dan  disiplin  sosial  sehingga  mendukung  pembangunan  serta  memantapkan  stabilitas  nasional yang mantap dan dinamis. V. Pencapaian RPJMN di Propinsi Lampung  Untuk  merealisasi  rencana  aksi  yang  telah  ditetapkan  oleh  pemerintah  daerah  Propinsi  Lampung,  dalam  bidang  regulasi  telah  ditetapkan  beberapa  perda  yang  terkait  dengan  perlindungan  anak  dan  eksploitasi  seksual, yaitu Perda tentang Trifficking, Perda tentang Pekerja Anak dan Perda tentang Perlindungan Anak.  Di samping itu, juga telah dilakukan program pembuatan rumah singgah, dan berbagai program lainnya yang  tujuannya untuk perlindungan bagi anak­anak dari kekerasan sebagai tantangan kehidupan.  Berbagai  program  rencana  aksi  HAM,  Kanwil  Hukum  dan  HAM  Propinsi  Lampung  juga  telah  melakukan  berbagai sosialisasi, termasuk evaluasi terhadap berbagai perda yang erkait dengan HAM. VI. Rekomendasi Tindak Lanjut  Upaya yang perlu dilakukan untuk mencapai sasaran dalam akhir RPJM ini adalah:  a.  Beberapa program aksi nasional terkait dengan penghapusan bentuk kerja terburuk utk anak yang perlu  ditindaklanjuti dengan perda  perlu segera ditetapkan, seperti larangan bagi orang tua memperkerjakan  anak menjadi pengemis di jalanan dan sebagainya.  b.  Perlu  peningkatan  kesadaran  aparat  untuk  lebih  intensif  dalam  menegakkan  peraturan  perundang­  undangan yang terkait dengan diskriminasi perlakuan, baik dalam hukum, ekonomi, maupn politik.  c.  Dibidang  pengiriman tenaga  kerja di daerah ke luar negeri, diperlukan kebijakan  tentang lisensi Nurse,  Indonesia yang sampai saat ini masih membeli lisensi dari Filipina. Selain itu, untuk pemantauan TKI dan  TKW yang bekerja di luar negeri dan memudahkan pencari kerja mendapatkan pekerjaan di luar negeri  diperlukan system On Line Pengiriman TKI atau TKW. VII. Penutup  Upaya  untuk  mengatasi  berbagai  masalah  penghapusan  diskriminasi  dalam  berbagai  bentuk  meruakan  upaya yang tidak berhenti hanya sebatas priode­priode tertentu saja. Upaya ini terus berproses dan tentunya
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

70 

Laporan Akhir 

Penghapusan Diskriminasi dalam Berbagai Bentuk  memerlukan  partisipasi  dan  keterlibatan  seluruh  lembaga  pemerintahan,  LSM,  maupun  masyarakat.  Tanpa  adanya  partisipasi  aktif  berbagai  pihak  tersebut,  penghapusan  diskriminatif  tidak  akan  erhasil  karena  tindakan­tindakan tersebut seringkalitidak terekspose secara luas. Oleh sebab itu, untuk mendapat perhatian  secara seksama oleh masyarakat, peran media masa sangat diharapkan, sehingga penyebarluasan informasi  kepada  masyarakat  akan  membangun  kesadaran  masyarakat  untuk  melakukan  perlawanan  terhadap  tindakan diskriminasi dalam berbagai bentuk.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

71 

Laporan Akhir 

Penghormatan, Pengakuan, dan Penegakan Hukum dan Hak Asasi Manusia 

Bab III.4 Penghormatan, Pengakuan, dan Penegakan Hukum dan Hak Asasi Manusia

I. Pengantar  Penegakan  hukum  dan  ketertiban  merupakan  syarat  mutlak  bagi  upaya  penciptaan  Indonesia  yang  damai  dan  sejahtera.  Jika  hukum  ditegakkan  dan  ketertiban  diwujudkan,  maka  kepastian,  rasa  aman,  tentram,  ataupun  kehidupan  yang  rukun  akan  dapat  terwujud.  Namun  ketiadaan  penegakan  hukum  dan  ketertiban  akan  menghambat  pencapaian  masyarakat  yang  berusaha  dan  bekerja  baik  untuk  memenuhi  kebutuhan  hidupnya.  Hal  ini  menunjukkan  adanya  keterkaitan  yang  erat  antara  damai,  adil  dan  sejahtera.  Untuk  itu  perbaikan dari aspek keadilan akan memudahkan pencapaian kesejahteraan dan kedamaian. II. Kondisi Awal RPJM di Propinsi Lampung  Secara  umum  kondisi  awal  RPJM  di  propinsi  Lampung,  penghormatan,  pemenuhan  dan  penegakan  atas  hukum dan pengakuan atas HAM, hampir sama dengan di daerah lain, yaitu:  a.  Masih banyaknya  pelanggaran hukum dan HAM, seperti pengusiran PKL, program bantuan yang tidak  memihak kepada petani, nelayan, dan guru terpencil yang juga merupakan pelanggaran terhadap HAM,  karena  UUDNRI  secara  tegas  menetapkan  bahwa  penghidupan  yang  layak  merupakan  hak  warga  negara dan HAM.  b.  Banyaknya pelanggaran HAM yang tidak bertanggungjawab dan tidak dapat dihukum, karena penegakan  hukum masih banyaknya KKN.  c.  Tidak berfungsinya institusi negara yang berwenang dan wajib menegakkan hukum.  d.  Penegakan hukum dan kepastian hukum belum dinikmati masyarakat.  e.  Penegakan hukum yang diskriminatif, khususnya yang terjadi antara pengusaha dan masyarakat dalam  konflik pertanahan, perambahan hutan dan sebagainya.  f.  Penegakan hukum terhadap tindakan korupsi, illegal loging, illegal fishing dan kerusakan ekosistem laut,  akibat  penangkapan  ikan  dengan  bom  dan  potas.  Saat  ini  sekitar  82  persen  dari  7.325  hektare  areal

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

72

Laporan Akhir 

Penghormatan, Pengakuan, dan Penegakan Hukum dan Hak Asasi Manusia  terumbu karang di Teluk Lampung dalam kondisi rusak. Dari jumlah itu, sebanyak 50 persen terumbu di  bawah  penutupan  dan  hanya  9,6  persen  yang  masih  terjaga  sangat  baik.    Penegakan  hukum  hanya  terbatas pada masyarakat kecil tetapi tidak sampai pada tindakan tegas dari para juragan, cukong, dan  bekeng­bekeng yang ada dibalik tindakan itu, jikapun ada seringkali tidak tuntas. III. Sasaran yang Ingin Dicapai  Sasaran yang ingin dicapai terhadap upaya penghormatan, pengakuan dan penegakan atas hukum dan HAM  diarahkan  ntuk  mencapai  sasaran  yaitu  terlaksananya  berbagai  langkah­langkah  rencana  aksi  yang  terkait  dengan penghormatan, pemenuhan dan penegakan terhadap hukum dan HAM. IV. Arah Kebijakan  Arah kebijakan yan digariskan untuk pencapaian sasaran tersebut, dilakukan dengan langkah­langkah:  a.  Meningkatkan  upaya  pemajuan,  perlindungan,  penghormatan,  pengakuan  dan  penegakan  hukum  dan  HAM  b.  Menegakan  supremasi  hukum  secara  adil,  konsekuen,  tidak  diskriminatif,  dan  memihak  pada  rakyat  kecil.  c.  Menggunakan  nilai­nilai  budaya  daerah  sebagai  salah  satu  sarana  untuk  mewujudkan  terciptanya  kesadaran hukum masyarakat.  d.  Meningkatkan kerjasama yang harmonis antara kelompok atau golongan dalam masyarakat agar mampu  saling memahami dan menghormati keyakinan dan pendapat masing­masing.  e.  Meningkatkan  koordinasi  yang  intensif  dengan  aparat  penegak  hukum yang  bersih,  jujur,  amanah  dan  adil  untuk  terciptanya  ketentraman  dan  ketertiban  bagi  semua  golongan,  masyarakat,  swasta,  dan  pemerintah. V. Pencapaian RPJMN di Propinsi Lampung  Pencapaian terhadap sasaran RPJM dibidang penghormatan, pemenuhan  dan penegakan atas  hukum dan  pengakuan atas HAM telah dilakukan berbagai upaya, antara lain:  a.  Komitmen  aparat  penegak  hukum  untuk  menegakan  hukum  tanpa  diskriminatif,  baik  tindakan  bagi  pejabat, maupun masyarakat yang melanggar hukum.  b.  Koordinasi antar aparat penegak hukum dalam pemberantasan korupsi, illegal loging, khususnya terkait  dengan perlindungan Taman Hutan Raya Wan Abdurrachman telah dilakukan peningkatan pengawasan,  walaupun  dengan  personil  yang  sangat  terbatas  dan  telah  dibentuk  Tim  Gabungan  yang  terdiri  dari,  unsur  Kejaksaan  Tinggi  Lampung,  unsur  Polda  Lampung,  unsur  Pemerintah  Propinsi  (Biro  Hukum),

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

73 

Laporan Akhir 

Penghormatan, Pengakuan, dan Penegakan Hukum dan Hak Asasi Manusia  Dinas  Kehutanan  Propinsi  Lampung,  unsur  BKBH  Unila,  UPTD  Tahura  War,  Uspika.  Demikian  pula  halnya dengan penegakan hukum bagi pelanggaran  illegal fishing.  c.  Upaya  koordinasi  antara penegakan  hukum secara  secara terus  menerus  dilakukan,  lebih­lebih  dalam  menghadapi  berbagai  isu  konflik  antar  golongan,  penduduk  dan  antara  pendukung  dalam  pilgub  dan  pemilu 2009, walaupun disadari masih sangat lemah, karena ego sektoral masing­masing instansi.  d.  Dibuka  kantin  kejujuran,  di  sekolah­sekolah  di  daerah  Lampung  Selatan.  Lampung  Barat  (Liwa).  Kota  Bumi (Lampung Utara), dan dibukanya akses ke Komisi Pemberantasan Korupsi sebagai penghubung.  e.  Dibentuknya  Babinkamtibmas,  Polmas,  Bapolbaket,    Gakumdu  dan  berbagai  kegiatan  yang  dilakukan  untuk penegakan hukum dan pencegahan terjadinya pelanggaran hukum, baik secara individu maupun  kelompok.  f.  Berbagai kegiatan dan program yang telah digariskan dalam bidang penegakan hukum dan pelanggaran  HAM ini didukung pula oleh LSM yang bergerak dibidang ini, seperti; LSM Lada, LSM Damar, LBH, KBH  dan berbagai LSM yang ikut memantau penegakan hukum serta perlindungan bagi warga negara yang  mendapat perlakuan sewenang­wenang dari aparat dan pejabat. VI. Rekomendasi Tindak Lanjut  Pencapaian RPJM di Propinsi Lampung sebagaimana diuraikan pada bagian terdahulu, belum dapat diangap  berhasil  pada  saat  ini,  karena  kebijakan,  program  tersebut  masih  terus  berproses  dan  proses  ini  tentunya  tidak  akan  berhenti  selama  kelangsungan  adanya  NKRI.  Dari  hal­hal  yang  telah  dilakukan,  diperlukan  tindaklanjut kebijakan dan program tersebut antara lain:  a.  Penyelesaian konflik  pertanahan dan perambahan hutan. Dalam bidang  ini masih perlu ketagasan dari  pemerintah  baik  pusat  dan  daerah.  Konflik  pertanahan,  perambahan  hutan  masyarakat  sekitar  hutan  perlu  dilakukan  secara  persuasif,  misalnya  penjarahan  tanah  register  45.  Pendudukan  Register  45  diduduki oleh masyarakat. Sebelum dilakukan tindakan hukum tanpa toleransi, perlu dlakukan pendataan  ulang terhadap wilayah hutan­hutan yang dapat dikonversi dan hutan lindung dan sebagainya. Jika tidak  adanya  kepastian  terhadap  batas  wilayah  hutan,  maka  konflik  ini  akan  berlangsung  terus.  Namun  jika  telah  ditetapkan  secara  pasti,  untuk  menjamin  keamanan  perlu  adanya  penegakan  hukum  berupa  tindakan tegas tanpa toleransi.  b.  Berbagai  program  dan  kegiatan  yang  dilakukan,  seperti  Gakumdu  ,  kantin  kejujuran,  kadarkum  dan  sebagainya tidak terhenti pada saat pembukaan dan pada acara­acara serimonial saja, tetapi harus terus  digalakkan,  dalam  hal  ini  tentunya  diperlukan  perencanaan  yang  baik  dan  diperlukan  anggaran  yang  tidak  sedikit  oleh  sebab  itu,  untuk  terwujudnya  agenda  adil  dan  demokratis  ini  diperlukan  partisipasi  semua pihak, termasuk penyediaan dana.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

74 

Laporan Akhir 

Penghormatan, Pengakuan, dan Penegakan Hukum dan Hak Asasi Manusia  c.  Dalam rangka pelaksanaan rencana aksi perlindungan anak dan rencana aksi penghapusan eksploitasi  seksual  komersial  anak,  Propinsi  Lampung  perlu  melakukan  langkah­langkah  terencana  yang  berupa  membentuk  lembaga  pengawasan  terhadap  tindakan­tindakan  eksploitasi  terhadap  anak,  pengawasan  terhadap pekerja yang berada di luar negeri dan melakukan perlindungan terhadapnya.  d.  Menuntaskan  seluruh  kasus­kasus  yang  terkait  dengan  diskriminasi  hukum  dan  perlakuan  tidak  adil,  tindakan korupsi, tindakan kekerasan rumah tangga, penegakan hukum. VII. Penutup  Pelaksanaan program Penghormatan, pemenuhan dan penegakkan atas hukum dan pengakuan atas HAM,  merupakan suatu kegiatan yang berproses tanpa henti. Oleh sebab itu, partisipasi semua pihak diperlukan,  baik  pada  tingkat  perumusan  kebijakan,  pelaksanaan  maupun  penegakan  hukumnya.  Selain  itu,  komitmen  penegakan  hukum  yang  transfaran,  jujur  dan  adil  tanpa  memandang  golongan  dan  kelompok  tertentu  merupakan  kunci  keberhasilan  program  ini.  Masyarakat  daerah  Lampung  mengharapkan  agar  penegakan  hukum yang tidak diskriminatif, haruslah dimulai dari sikap aparat yang diiringi dengan penetapan kebijakan  yang berpihak pada penghomatan HAM.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

75 

Laporan Akhir 

Peningkatan Kualitas Kehidupan dan Peran Perempuan serta Kesejahteraan dan Perlindungan Anak 

Bab III.5 Peningkatan Kualitas Kehidupan dan Peran Perempuan serta Kesejahteraan dan Perlindungan Anak

I. Pengantar  Kualitas  kehidupan  dan  peran  perempuan  serta  kesejahteraan  dan  perlindungan  anak  merupakan  unsur  penting  dari  terwujudnya  cita­cita  bangsa  dan  negara  sebagaimana  tercantum  dalam  Pembukaan  Alinia  IV  UUDNRI 1945. Perlindungan anak dan peempuan perlu ditekankan karena mereka merupakan kunci sukses  dalam membentuk karakteristik bangsa yang berbudaya dan bermental Indonesia. Peningkatan kualitas hidup  mereka  perlu  mendapat  prioritas  dalam  setiap  program­program  pembangunan  kesejahteraan  masyarakat.  Pembiayaan terhadap berbagai program ini perlu mendapat alokasi yang layak dalam APBN maupun APBD,  termasuk yang berada di Propinsi Lampung. Sejalan dengan program ini peningkatan kualitas hidup paralel  dengan  pengentasan  kemiskinan.  Perlakuan  peran  perempuan  dan  perlakuan  kekerasan  terhadap  anak  sangat  dipengaruhi  oleh  kondisi  ekonomi  keluarga.  Oleh  sebab  itu,  peningkatan  kualitas  kehidupan  harus  difokuskan pada meningkatan ekonomi keluarga. II. Kondisi Awal RPJM di Propinsi Lampung  Pada  tahun  2003  –  2004  kondisi  pembangunan  untuk  peningkatan  kualitas  hidup  dan  peran  perempuan  masih termajinalkan, hal ini dapat diketahui dari ngka kesenjangan diberbagai bidang, baik pendidikan, angka  buta huruf yang cukup besar masih diduduki oleh perempuan, dibidang kesehatan, angka gizi buruk anak dan  ibu hamil juga masih tinggi, angka angkatan kerja perempuan, begitu pula peran perempuan dibidang politik  yang  masih rendah.  Pada  hal  untuk  memperjuangkan  kepentingan  dan  kebutuhan  perempuan,  baik  dalam  proses  perumusan  kebijakan  maupun  pelaksanaannya  merekalah  yang  lebih  mengetahuinya,  sehingga  keterlibatan  perempuan  di  lembaga  perumus  dan  pembentuk  kebijakan,  keberadaan  perempuan  perlu  dilibatkan dalam berbagai level pengambilan keputusan.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

76

Laporan Akhir 

Peningkatan Kualitas Kehidupan dan Peran Perempuan serta Kesejahteraan dan Perlindungan Anak  Perlakuan terhadap perempuan, termasuk didalamnya terhadap anak, seperti penjualan perempuan dan anak  melalui Batam, sek komersial anak juga mewarnai kondisi awal RPJM di Propinsi Lampung. Hal ini tentunya  tidak terlepas dari tingkat kesejahteraan keluarga. Perkembangan jumlah keluarga prasejahtera dan sejahtera  dilihat melalui Jumlah Keluarga Pra Sejahtera Alasan Ekonomi (KPS AE) pada tahun 2000 sebanyak 443.916  KK  (28,71  %)  dan  ada  tahun  2003  menjadi  485.481  KK  (29,13  %),  sedangkan  pada  tahun  2004  sebesar  510.885  KK  (29,92  %),  jumlah  Keluarga  Pra  Sejahtera  Non  Alasan  Ekonomi  (KPS  NAE)  tahun  2000  mencapai  135.405  KK  (8,76  %),  dan  tahun  2003  menjadi  149.514  KK  (8,97  %),  sedangkan  tahun  2004  sebesar 152.276 KK atau 8,92 %. III. Sasaran yang Ingin Dicapai  Dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan dan peran perempuan serta kesejahteraan dan perlindungan  anak, sasaran pembangunan di Propinsi Lampung juga mengacu pada sasaran RPJM tahun 2004­2009,  yaitu:  a.  Terjaminya keadilan gender dalam berbagai perundangan, program pembangunan, dan kebijakan publik.  b.  Menurunnya kesenjangan pencapaian pembangunan antara perempuan dan laki­laki yang diukur oleh  angka GDI dan GEM.  c.  Menurunnya tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak.  d.  Meningkatnya kesejahteraan dan perlindungan anak. IV. Arah Kebijakan  Untuk  mencapai  sasaran  tersebut,  kebijakan  pembangunan  bidang  pemberdayaan  perempuan  dan  perlindungan anak diarahkan pada:  a.  Meningkatkan keterlibatan perempuan dalam proses politik dan jabaan publik  b.  Meningkatkan taraf pendidikan dan layanan kesehatan serta bidang pembangunan lainnya.  c.  Meningkatkan kampanye anti kekerasan terhadap perempuan dan anak.  d.  Menyempurnakan  perangkat  hukum  pidana  yang  lebih  lengkap  dalam  melindungi  setiap  individu  dari  berbagai tindak kekerasan, eksploitasi, dan diskriminasi, termasuk kekerasan dalam rumah tangga.  e.  Meningkatkan kesejahteraan dan perlindungan anak.  f.  Memperkuat  kelembagaan,  koordinasi,  dan  jaringan  pengarusutamaan  gender  dan  anak  dalam  perencanaan,  pelaksanaan,  pemantauan,  dan  evaluasi  dari  berbagai  kebijakan  dan  program,  dan  kegiatan  pembangunan  di  segala  bidang,  termasuk  pemenuhan  kmitmen­komitmen  internasional,  penyediaan data dan statistik gender, serta peningkatan partisipasi masyarakat.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

77 

Laporan Akhir 

Peningkatan Kualitas Kehidupan dan Peran Perempuan serta Kesejahteraan dan Perlindungan Anak  V. Pencapaian RPJMN di Propinsi Lampung 

a.  Dibidang  regulasi  terkait  dengan  peningkatan  kualitas  kehidupan  dan  peran  perempuan  serta 
kesejahteraan  dan  perlindungan  anak  di  Propinsi  telah  ditetapkan.  Namun  penegakan  perda­perda  ini  masih belum optimal dilaksanakan. 

b.  Dalam  rangka  memberikan  perlindungan  yang  cepat,  telah  dijalankan  program  Tesa  (Telpon  Sahabat 
Anak) yang diperuntukan untuk laporan, informasi dan komunikasi bagi anak, juga telah dibangun desa  model  kota  layak  anak  di  Kabupaten  Lampung  Selatan,  Pembangunan  Lapas  dan  Bapas  anak  di  Lampung Utara, Metro dan Bandar Lampung. 

c.  Perbaikan  kualitas  hidup perempuan dan anak  dibidang  pendidikan  terus  diupayakan,  pemberantasan 
buta aksara untuk perempuan (usia 15­45 thn) 2006­2008 yang melibatkan mahasiswa. Taraf pendidikan  penduduk Provinsi Lampung mengalami peningkatan yang tercermin dari tingkat melek huruf yang terus  meningkat.  Demikian  pula  angka  partisipasi  sekolah  (APS)  kelompok  umur  7­12  tahun  mengalami  peningkatan, sedangkan angka partisipasi sekolah kelompok  umur 13­15 tahun  mengalami penurunan.  Hal ini menunjukkan masih tingginya angka putus sekolah pada sekolah lanjutan tingkat atas. Data tahun  2005 tercatat APS kelompok umur 7­12 tahun sebesar 100 %; yang berarti bahwa seluruh anak umur 7­  12 tahun sudah dapat mengikuti pendidikan di sekolah, kelompok umur 13­15 tahun sebesar 87 %; yang  diharapkan pada tahun 2009 seluruhnya telah mengikuti pendidikan di sekolah dan kelompok umur 16­18  tahun  sebesar 48,16 %, yang diharapkan pada  tahun 2005 seluruhnya  sudah mengikuti pendidikan di  sekolah.  Upaya  ini  masi  terus  dilakukan  agar  perbaikan  kualitas  hidup  masyarakat  Lampung  dan  meningkat, melalui pelaksanaan  program BOS untuk bidang pendidikan  dan berbagai bantuan lainnya,  pengobatan gratis bagi masyarakat yang tidak mampu untuk bidang kesehatan dan sebagainya. 

d.  Melakukan pendidikan dan keterampilan  untuk program desa PRIMA (Perempuan Indonesia Maju dan 
Mandiri) 

e.  Peningkatan  ekonomi  produktif  dengan  pemanfaatan  potensi  lokal  (kripik  pisang)  termasuk  di  lapas 
narkoba. VI. Rekomendasi Tindak Lanjut  Berbagai  program  yang  telah  dilakukan  untuk  peningkatan kualitas  kehidupan  dan  peran  perempuan  serta  kesejahteraan  dan  perlindungan  anak,  perlu  ditingkahkan  dengan  fokus  pada  program­program  yang  langsung  menyentuh  bidang  ekonomi  kerakyatan,  karena  pemenuhan  kebutuhan  pokok  bagi  keluarga  di  desa­desa masih memperihatinkan dan hal ini akan menjadi kendala utama dalam peningkatan kualitas anak  dan perempuan dimasa yang akan datang.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

78

Laporan Akhir 

Peningkatan Kualitas Kehidupan dan Peran Perempuan serta Kesejahteraan dan Perlindungan Anak  Pemberdayaan  perempuan,  khususnya  di  desa­desa  dan  wilayah  pesisir  perlu  diprioritaskan,  karena  sebagian  besar  ketertinggalan  perempuan  berada  di  wilayah  ini.  Penekanan  pada  pemberdayaan  ekonomi  dapat  diarahkan  pada  pilar  pemberdayaan  usaha­usaha  produktif  yang  berbasis  home  industri,  seperti;  pembuatan krupuk udang  dan ikan, terasi, dan produk­produk  yang  menggunakan  bahan baku  ikan. Untuk  desa  yang  mata  pencarian  penduduk  dibidang  pertanian,  pemberdayaan  bidang  usaha  dapat  difokuskan  pada  usaha  pembuatan,  kue  kering  yang  selama  ini  banyak  dilakukan  dan  dipasarkan,  usaha  pembuatan  kripik pisang, singkong, nangka dan makanan ringan lainnya yang berbahan baku hasil pertanian dan saat ini  telah  menjadi  IKON  makanan  daerah  Lampung,  sebagai  daya  tarik  wisata  yang  berkunjung  ke  Lampung,  sebagaimana  dapat  dilihat  di  Pusat  Oleh­Oleh  Propinsi  Lampung  Jln,  Zainal  Abiding  Pagar  Alam  Bandar  Lampung.  Program­program pendampingan dan pelatihan­pelatihan usaha untuk home industri, perlu dilakukan dengan  alokasi pendanaan dari APBD dengan menggunakan tenaga ahli dari perguruan tinggi di Lampung. Program  pengentasan kemiskinan, pemberdayaan masyarakat yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat juga perlu  diarahkan pada masyarakat pesisir di daerah Lampung, karena wilayah Lampung  sebagian meliputi wilayah  pesisir. VII. Penutup  Peningkatan  kualitas  kehidupan  dan  peran  perempuan  serta  kesejahteraan  dan  perlindungan  anak  masih  merupakan prioritas yang harus dilaksanakan, karena kualitas hidup dan kesejahteraan, khususnya bagi anak  akan menentukan masa depan kelangsungan bangsa dan negara Indonesia. Oleh sebab itu, seluruh program  pembangunan  daerah  yang  ada  tentunya  harus  terfokus  untuk  meningkatkan  kesejahteraan  masyarakat,  bantuan­bantuan modal untuk home industri, dan pemberdayaan masyarakat dibidang usaha kecil dan mikro  yang  berbasis  perempuan  perlu  terus  ditingkatkan,  karena  peningkatan  kualitas  hidup  dan  kesejahteraan  perempuan  dan  anak  akan  berpengaruh  terhadap  kualitas  kehidupan  masyarakat  daerah  Lampung  secara  keseluruhan.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

79 

Laporan Akhir 

Revitalisasi Proses Desentralisasi dan Otonomi Daerah 

Bab III.6 Revitalisasi Proses Desentralisasi dan Otonomi Daerah

I. Pengantar  Berlakunya UU Nomor 32 Tahun 2004 telah mengubah paradigma hubungan pemerintah pusat dan daerah  yang    menciptakan  kebijakan  desentralisasi  dan  otonomi  daerah.  Kebijakan  desentralisasi  dan  otonomi  daerah  pada  dasarnya  adalah  upaya  penyempurnaan  dari  kebijakan  masa  lalu  yang  bersifat  sentralistik.  Desentralisasi  dan  otonom  daerah  sejalan  pula  dengan  prinsip  demokrasi  yang  menghargai  keragaman  berdasarkan  tingkat  kemajuan  ekonomi,  kualitas  SDM,  serta  tingkat  kekayaan  sumber  daya  alam  masing­  masing daerah.  Propinsi Lampung yang berada di pintu gerbang selatan untuk memasuki pulau Sumatera, memiliki sumber  daya alam, penduduk yang cukup banyak dan beragam. Sumber daya alam dan penduduk yang beragam ini  merpakan  potensi  daerah  yang  dapat  dijadikan  modal  peningkatan  pembangunan  daerah  Lampung.  Pada  masa  transisi wewenang  daerah ini, sebagai Propinsi yang cukup dekat dengan  Ibu Kota Negara tentunya  menjadikan  daerah  ini  sangat  dipengaruhi  oleh  suasana  kekuasaan  negara,  termasuk  persoalan­persoalan  demokrasi, HAM, otonomi daerah dan desentralisasi. II. Kondisi Awal RPJM di Propinsi Lampung  Dalam masa transisi berlakunya UU Nomor 22 Tahun 1999 dan diperbiki dengan UU Nomor 32 Tahun 2004,  Propinsi  Lampung  dan  juga  propinsi­propinsi  lainnya  disibukan  dengan  penyesuaian  paradigma  baru  pemerintah  daerah.  Perubahan  kewenangan  daerah  yang  lebih  besar,  pemerintah  daerah  praktis  mempersiapkan  berbagai  regulasi  dan  perubahan  kelembagaan  di  daerah.  Tumpang  tindih  kewenangan  antara  pusat  dan  daerah,  antara  propinsi  dan  kabupaten/kota  dan  antara  kabupaten/kota  masih  mewarnai  kondisi  awal  RPJM  di  Propinsi  Lampung.  Dibidang  keuangan  daerah,  pemerintah  daerah  sibuk  dengan  pencarian  sumber­sumber  keuangan  (PAD)  dengan  cara  menetapkan  berbagai  perda  retribusi  dan  pajak,  dimana APBD hanya sekitar Rp. 900 Milyar, sehingga pemerintah daerah terkesan sibuk dengan urusannya
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

80

Laporan Akhir 

Revitalisasi Proses Desentralisasi dan Otonomi Daerah  sendiri  dan  menelantarkan  masyarakat  di  daerah.  Selain  itu,  Propinsi  Lampung  juga  disibukan  dengan  pemekaran wilayah, tidak  kurang terdapat 7 wilayah  kabupaten baru yang diusulan untuk  dibentuk  menjadi  daerah  otonom  baru,  sehingga  eforia  otonomi  daerah  benar­benar  meninggalkan  pembangunan  daerah,  belum  lagi  pada  awal  Tahun  2004  Propinsi  Lampung  masih  diwarnai  dengan  sengketa  Pilgub,  sehingga  pemerintahan  baru  yang  terpilih  melalui  DPRD  tidak  dapat  optimal  melaksanakan  pembangunan  daerah.  Seiring  dengan  perjalanan  waktu  kelembagaan  pemerintahan  daerah  Lampung  mulai  tertata,  tugas  dan  fungsi  badan  dan  dinas  daerah  mulai  dapat  berjalan  dan  seiring  dengan  tertatanya  kelembagaan  daerah  dengan kewenangannya, APBD Lampung meningkat dari tahun ke tahun dan pembangunan mulai berjalan  dan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. III. Sasaran yang Ingin Dicapai  Sasaran yang ingin dicapai dalam revitalisasi proses disentralisasi dan otonomi daerah, tidak lain untuk:  a.  meningkatkan  pelayanan  kepada  masyarakat  dengan  menyelenggarakan  otonomi  daerah  dan  kepemerintahan daerah yang baik,  b.  terjaminnya  konsistensi seluruh peraturan pusat dan daerah dan tidak  bertentangan  dengan  peraturan  dan  perundangan  yang  lebih  tinggi  dalam  rangka  meningkatkan  keadilan  bagi  daerah­daerah  untuk  membangun.  c.  Meningkat Pendapatan Asli Daerah (PAD) secara signifikan dan berkontribusi penting dalam keuangan  daerah.  d.  Terjaganya  keuangan  daerah  dan  terkelola  dengan  baik,  transparan,  akuntabel,  dan  efektif  yang  didukung oleh sistem informasi manajemen keuangan daerah berbasis Teknologi Informasi.  e.  Menurunnya kesenjangan pembangunan antar Kabupaten/Kota keeil. IV. Arah Kebijakan  a.  Peranan pemerintah yang efektif dan optimal diwujudkan sebagai fasilitator, regulator, sekaligus sebagai  katalisator pembangunan di berbagai tingkat guna efisiensi dan efektivitas pelayanan publik, terciptanya  lingkungan usaha yang kondusif dan berdaya saing, dan terjaganya keberlangsungan mekanisme pasar.  b.  Peningkatan  kerjasama  antar  daerah  kabupaten/kota  ditingkatkan  dalam  rangka  memanfaatkan  keunggulan komparatif maupun kompetitif daerah; menghilangkan ego Pemerintah Kabupaten/Kota yang  berlebihan,  serta  menghindari  timbulnya  inefisiensi  dalam  pelayanan  publik.  Pembangunan  kerjasama  antar  daerah  melalui  sistem  jejaringan  antar  daerah  akan  sangat  bermanfaat  sebagai  sarana  berbagi  pengalaman,  saling  berbagi  keuntungan  dari  kerjasama,  maupun  saling  berbagi  dalam  memikul

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

81 

Laporan Akhir 

Revitalisasi Proses Desentralisasi dan Otonomi Daerah  tanggung  jawab pembiayaan  secara proporsional, baik  dalam pembangunan  dan pemeliharaan sarana  dan prasarana, maupun untuk pembangunan lainnya.  c.  Pengembangan  kapasitas  pemerintah  daerah  ditingkatkan  melalui  peningkatan  kapasitas  aparatur  pemerintah  daerah  melalui  pendidikan  dan  pelatihan;  peningkatan  kapasitas  kelembagaan  pemerintah  daerah;  peningkatan  kapasitas  keuangan  pemerintah  daerah  termasuk  upaya  peningkatan  kemitraan  dengan masyarakat dan swasta dalam pembiayaan pembangunan daerah ditingkatkan; serta penguatan  lembaga legislatif.  d.  Pengembangan  aparatur pemerintah daerah diarahkan  pada pembinaan  karir yang  terpola, terencana,  konsisten,  dan  berkelanjutan  berdasarkan  merit  system  mengoptimalkan  mekanisme  tour  of  duty  dan  tour  of  area;  pengembangan  sistem  informasi  kepegawaian  berbasis  IT,  pembinaan  sikap  mental  dan  perilaku aparatur pemerintah daerah yang baik, bersih, berwibawa, bertanggung jawab, dan profesional.  Pendidikan dan pelatihan aparatur di bidang tugasnya secara kontinyudan berkelanjutan.  e.  Peningkatan  kinerja  pelayanan  publik  yang  berorientasi  pada  kepuasan  masyarakat  dengan  mengembangkan standar pelayanan minimum yang didukung oleh infrastruktur pelayanan pemerintahan  dengan menerapkan sistem informasi manajemen berbasis IT (e­goverment).  f.  Pengembangan  pengawasan  aparatur  pemerintah  yang  intensif,  efektif,  dan  berkesinambung­an,  baik  secara internal/melekat, fungsional, maupun pengawasan eksternal oleh masyarakat. V. Pencapaian RPJMN di Propinsi Lampung  Upaya yang dilakukan Pemerintah Daerah Propinsi Lampung sampai Tahun 2008 dapat diketahui hasilnya  dari:  a.  Kegiatan  penataan  peraturan  perundang­undangan  dengan  ditetapkannya  Perda  tentang  Struktur  Organisasi  Kelembagaan  Daerah,  baik  Instansi  teknis  daerah  maupun  dinas­dinas  daerah.  Adapun  struktur terdiri dari:  1.  Instansi  Teknis,  terdiri  dari  Badan  Perencanaan  Pembangunan  Daerah,  Badan  Penelitian  dan  Pengembangan  Daerah,  Badan  Kesatuan  Bangsa  dan  Politik  Daerah,  Badan  Pengelolaan  Lingkungan Hidup Daerah, Badan Ketahanan Pangan Daerah, Badan Penanaman Modal Daerah,  Badan  Pengelolaan  Perpustakaan,  Arsip  dan  Dokumentasi  Daerah,  Badan  Pemberdayaan  Masyarakat  dan  Pemerintah  Desa  Daerah,  Badan  Pendidikan  dan  Pelatihan  Daerah,  Badan  Perwakilan Pemerintah Provinsi Lampung  di Jakarta, Rumah Sakit Umum Daerah, Rumah Sakit  Jiwa Daerah, Inspektorat Daerah, Badan Kepegawaian Daerah, Satuan Polisi Pamong Praja  2.  Dinas­Dinas  daerah,  terdiri  dari;  Dinas  Pendidikan,  Dinas  Pemuda  dan  Olahraga,  Dinas  Kesehatan,  Dinas  Sosial,  Dinas  Tenaga  Kerja,  Kependudukan  dan  Transmigrasi,  Dinas  Perhubungan,  Dinas  Komunikasi  dan  Informatika,  Dinas  Kebudayaan  dan  Pariwisata,  Dinas
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

82 

Laporan Akhir 

Revitalisasi Proses Desentralisasi dan Otonomi Daerah  Pekerjaan  Umum,  Dinas  Koperasi,  Usaha  Mikro,  Kecil  dan  Menengah,  Dinas  Perindustrian  dan  Perdagangan,  Dinas  Pertanian  Tanaman  Pangan  dan  Hortikultura.  Dinas  Perkebunan,  Dinas  Peternakan  dan  Kesehatan  Hewan,  Dinas  Kelautan  dan  Perikanan,  Dinas  Kehutanan,  Dinas  Pertambangan dan Energi, Dinas Pendapatan  3.  Biro,  terdiri  dari:  Biro  Tata  Pemerintahan  Umum,  Biro  Otonomi  Daerah,  Biro  Hukum,    Biro  Perekonomian, Biro Administrasi Pembangunan, Biro Keuangan Biro Sosial, Biro Pemberdayaan  Perempuan,  Biro  Mental  Spiritual,  Biro  Perlengkapan  dan  Aset  Daerah,  Biro  Organisasi,  Biro  Umum, dan  4.  Kelembagaan lainnya, staf ahli, UPT Dinas dan kelompok jabatan fungsional.  b. Selain itu, telah pula dihasilkan 13 perda dengan hanya satu perda yang dianulir  c.  Untuk  kapasitas  pegawai  negeri  sipil,  Pemerintah  Daerah  Provinsi  Lampung  tahun  2007  mempunyai  aparatur  berjumlah  7.743  orang,  terdiri  atas  laki­laki  5.333  orang  (68,88%),  dan  wanita  2.410  orang  (31,12%).  Berdasarkan  latar  belakang  pendidikannya,  PNS  Pemerintah  Provinsi  Lampung  masih  didominasi lulusan Sekolah Lanjutan Atas yaitu sebanyak 3.352 orang (44,22%). Sedangkan jumlah PNS  yang  telah  menyelesaikan  program  Doktor  atau  S­3  hanya  4  orang  (0,05%).  Jabatan  struktural  pada  Pemerintah  Provinsi  Lampung  yang  telah  diisi  mencapai  905  buah.  Sebagian  besar  jabatan  sturktural  tersebut,  yakni  68,7%,  diduduki  oleh  pejabat  eselon  IV  A.  Secara  keseluruhan  PNS  yang  menduduki  jabatan  struktural  mencapai  11,93%,  sedangkan  PNS  yang  menduduki  jabatan  fungsional  mencapai  10,38%,  dan  sisanya  adalah  PNS  Non  Struktural.  Sebagian  besar  PNS,  yakni  sebanyak  4.987  orang  (65,78%) berada pada golongan III, sebanyak 1996 orang (26,32%) berada pada golongan II; 502 (6,62%)  orang  berada  pada  golongan  IV,  dan  sisanya  96  orang  (1,26%)  berada  pada  golongan  I.  2.233.  Sedangkan pegawai honorer, sampai tahun 2007 telah diangkat dan tersisa 284 orang pegawai honorer  yang belum diangkat  d.  Pengelolaan  pembiayaan  pembangunan,  langkah  awal  yang  dilakukan  yaitu  menetapkan  Peraturan  Daerah  Provinsi  Lampung  Nomor  3  Tahun  2003  tentang  Pokok­pokok  Pengelolaan  Keuangan  Daerah  (Lembaran  Daerah  Provinsi  Lampung  Tahun  2003  Nomor  22  Seri  A  Nomor  8,  Tambahan  Lembaran  Daerah Nomor 1). Pada tahun 2008 target pendapatan daerah sebesar Rp. 1,62  Triliun telah terealisasi  Rp. 1,54 Triliun atau telah terealisasi 95,20 %, realisasi ini terdiri dari: PAD sebesar Rp.819,1 milyar, dana  perimbangan Rp.790,6 milyar, dan pendapatan lain­lain yang sah sebesar Rp. 13,5 milyar. Hal ini sesuai  dengan  Perda  Propinsi  Lampung  Nomor  9  Tahun  2007  tentang  APBD  Perubahan  Lampung  2008  dan  Peraturan Gubernur Nomor 37 Tahun 2008 tentang Penjabaran APBD Lampung 2008.  Adapun perkembangan keuangan pemerintah daerah Propinsi Lampung, sebagaimana tertera dalam Tabel  3.6­1 berkut ini.
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

83 

Laporan Akhir 

Revitalisasi Proses Desentralisasi dan Otonomi Daerah  Tabel 3.6­1  Perkembangan Keuangan Pemerintah Daerah Propinsi Lampung No 1  2  3  4  Tahun Anggaran 2004  2005  2006  2007  Anggaran (000 Rp) Pendapatan 671.553.125  745.860.831  1.122.027.862  1.262.181.464  Pengeluaran  839.196.066  937.810.831  1.518.761.075  1.518.761.075 

Sumber: Lampung Dalam Angka, 2007. 

Sedangkan  realisasi  APBD  Propinsi  Lampung  tahun  anggaran  2004­2007,  tergambar  dalam  Tabel  3.6­2  Berikut ini  Tabel 3.6­2  Realisasi APBD Propinsi Lampung No 1  2  3  4  Tahun Anggaran 2004  2005  2006  2007  Anggaran (000 Rp) Pendapatan 822.726.454  1.045.734.784  1.122.027.862  Pengeluaran  751.108.751  865.266.187  1.294.948.833 

Sumber: Lampung Dalam Angka, 2007. 

e. Otonomi daerah baru. Sampai tahun 2008 tidak kurang terdapat 5 kabupaten merencana­kan pemekaran  wilayah,  yaitu  Lampung  Barat  merencanakan  pemekaran  1  kabupaten,  yaitu  Kabpaten  Pesisir  Selatan,  Kabupaten  Tulang  Bawang  merencanakan  2  daerah  pemekaran,  yaitu  kabupaten  Mesuji  dan  Tulang  Bawang Barat, Kabupaten Tanggamus merencanakan 1 daerah pemekaran, yaitu kabupaten Pringsewu,  Kabupaten  Lampung  Selatan  1  daerah  pemekaran,  yaitu  Kabupaten  pesawaran,  kabupaten  Lampung  Tengah  2  daerah  pemekaran,  yaitu  Kabupaten  Lampung    tengah  Timur  dan  Lampung  Tengah  Barat.  Proses  pemekaran  kabupaten  ini  ada  yang  hanya  berhenti  sampai  pada  tingkat  studi  kelayakan,  yaitu  Kabupaten  Lampung  Tengah,  pada  tingkat  proses  lebih  lanjut  di  Jakarta,  yaitu  pemekaran  Kabupaten  Lampung  Barat,  dan  terdapat  yang  telah  disetujui  dan  telah  ditetapkan  dengan  UU,  yaitu  Kabupaten  Pesawaran yang merupakan pemekaran Kabupaten Lampung Selatan, Kabupaten Mesuji dan kabupaten

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

84 

Laporan Akhir 

Revitalisasi Proses Desentralisasi dan Otonomi Daerah  Tulang  Bawang  Barat  yang  merupakan  pemekaran  dari  kabupaten  Tulang  Bawang,  dan  Kabupaten  Prngsewu merupakan pemekaran Kabupaten Tanggamus.  Pemekaran kabupaten baru yang telah berjalan di Propinsi Lampung, yaitu Kabupaten Pesawaran, sampai  saat ini masih dalam tahap pembenahan sarana dan sarana perkantoran dan pelaksanaan pemerintahan,  sementara itu, Kabupaten Pringsewu, Mesuji dan Tulang Bawang Barat walaupun  telah ditetapkan  tetapi  belum diresmikan. Keadaan kabupaten baru ini masih dalam persiapan dan tidak  terdapat kecendrungan  adanya  perebutan  aset  daerah  dan  pada  umumnya  telah  tersedia  sarana  dan  prasarana  perkantoran  walaupun masih bersifat sementara. VI. Rekomendasi Tindak Lanjut  Berbagai capaian program revitalisasi proses desentralisasi dan otonomi daerah di Propinsi Lampung  sebagamana ergambar di atas, telah menunjukkan adanya peningkatan pelayanan kepada masyarakat.  Dinamika otonomi daerah di propinsi ini juga mulai terasa. Namun demikian beberapa program yang perlu  ditindaklanjuti adalah:  a.  Kelembagaan  pemerintah  daerah  yang  belum    menjalankan  tugas  dan  fungsinya  optimal  perlu  ditingkatkan  dengan  program­program  peningkatan  kapasitas  kelembagaan,  pendidikan  dan  pelatihan  bagi PNS untuk meningkatkan kualitas SDM PNS, dan pembenahan sarana dan prasarana perkantoran,  terlebih  lagi  dengan  peningkatan  kesiapan  data,  karena  seringkali  tidak  dijumpai  data  yang  lengkap  di  setiap dinas instansi.  b.  Penataan peraturan daerah, dalam program ini diperlukan adanya upaya harmonisasi perda­perda yang  telah ditetapkan da perda­perda yang akan ditetapkan.  c.  Pembenahan  terhadap  daerah­daerah  otonom  baru,  serta  melakukan  tindaklanjut  terhadap  proses  pemisahan daerah baru dengan daerah induk. Sedangkan bagi daerah yang telah terbentuk perlu segera  dilakukan pembenahan, baik penetapan kepala daerah secara definitif  maupun peningkatan sarana dan  prasarana perkantoran dan pembenahan  PNS, baik  untuk  penempatan maupun  kualitas  SDM PNS itu  sendiri.  d.  Perlu dilakukan peningkatan pelayanan kepada masyarakat, khususnya yang terkait dengan pelayanan  umum,  seperti  pelayanan  bidang  kesehatan,  pelayanan  bidang  pendidikan,  perizinan,  dan  pelayanan  yang  dilakukan oleh aparat pemerintah daerah lainnya, seperti: pelayanan  terhadap keluhan gangguan  telpon, listrik, data, kebersihan pada fasilitas umum dan pelayanan terhadap sertifikat tanah dan gedung.  e.  Penataan  sumber­sumber  keuangan  dan  penggunaannya  yang  lebih  diprioritaskan  untuk  masyarakat,  khususnya untuk masyarakat miskin dan perlu dihindari penggunaan APBD untuk keperluan dinas yang  tidak bermanfaat langsung bagi masyarakat.
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

85 

Laporan Akhir 

Revitalisasi Proses Desentralisasi dan Otonomi Daerah  VII. Penutup  Perwujudan dan program  revitalisasi proses desentralisasi dan otonomi daerah, diperlukan rencana matang  khususnya  terkait  dengan  kelengkapan  instrumen  kebijakan  sehubungan  dengan  perubahan  kelembagaan  dengan berlakunya UU No.32 Tahun 2004 dan PP No. 41 Tahun 2007. Disamping itu, diperlukan kontrol yang  ketat  terhadap  penggunaan  APBD  yang  difokuskan  pada  pembiayaan  program  yang  berpihak  kepada  masyarakat  miskin.  Kelembagaan  daerah  yang  dibentuk  juga  diprioritaskan  kepada  daerah­daeah  otonom  baru.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

86

Laporan Akhir 

Penciptaan Tata Pemerintahan yang Bersih dan Berwibawa 

Bab III.7 Pencapaian Tata Pemerintahan yang Bersih dan Berwibawa

I. Pengantar  Salah satu prioritas pembangunan nasional dalam rangka mewujudkan Indonesia yang adil dan demokratis  adalah melalui penciptaan tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa, baik di pusat maupun di daerah.  Berlakunya  UU  Nomor  32  Tahun  2004  tentang  Pemerintahan  Daerah,  pemerintah  daerah  Lampung  yang  merupakan salah satu propinsi di Negara Kesatuan Republik Indonesia, dituntut mampu mengemban tugas­  tugas  pembangunan  secara lebih mandiri dan terencana  dengan  keterpaduan sektor­sektor pembangunan.  Profesionalitas lembaga maupun aparatur pemerintah sangat dituntut dalam rangka mewujudkan pemerintah  yang bersih (Good Governance). Terselenggaranya Good Governance merupakan persyaratan pemerintahan  untuk mewujudkan aspirasi masyarakat dan mencapai tujuan serta cita­cita bangsa bernegara.  Reformasi  birokrasi  diterapkan  untuk  menciptakan  good  publik  governance  yang  mengedapankan  prinsip­  prinsip; keterbukaan, akuntabilitas, efektif, transfaransi, dan mem­buka partisipasi masyarakat. Pelaksanaan  prinsip­prinsip  ini  ditujukan  untuk  menjamin  kelancaran,  keserasian,  keterpasuan  tugas  dan  fungsi  penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan. II. Kondisi Awal RPJM di Propinsi Lampung  Pada  awal  dimulainya  era  desentralisasi  dan  otonomi  daerah,  propins  Lampung  masih  dilanda  oleh  krisis  kepemimpinan.  Penyalahgunaan  kewenangan  terjadi  yang  berkaitan  dengan  aparat  pemerintahan,  baik  eksekutif maupun legislatif. Kasus­kasus tersebut dapat dilihat dari tindakan aparat pemerintah dan anggota  DPRD yang melakukan tindakan korupsi, baik yang bersifat individual maupun kolektif, yaitu penyalahgunaan  keuangan negara.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

87

Laporan Akhir 

Penciptaan Tata Pemerintahan yang Bersih dan Berwibawa  III. Sasaran yang Ingin Dicapai  Meningkatnya pemahaman aparatur tentang tata kelola pemerintahan yang baik  dengan ditandai oleh :  a.  Meningkatnya profesionalisme aparatur tinggi untuk mewujudkan pemerintah yang bersih (bebas KKN),  berwibawa, bertanggung jawab, dan profesional.  b.  Desentralisasi  dan  otonomi  daerah  semakin  kuat.  Meningkatnaya  sinergitas,  keterpaduan,  dan  keserasian pembagian tugas dan pelayanan pemerintahan antar pemerintah Provinsi dengan Pemerintah  Kabupaten/Kota baik.  c.  Terwujudnya  Pemerintahan  yang"  berorientasi  keWirausahaan  (probisnis)  yang  mendorong  inovasi  manajemen pemerintahan. IV. Arah Kebijakan  a.  Peranan pemerintah yang efektif dan optimal diwujudkan sebagai fasilitator, regulator, sekaligus sebagai  katalisator pembangunan di berbagai tingkat guna efisiensi dan efektivitas pelayanan publik, terciptanya  lingkungan usaha yang kondusif dan berdaya saing, dan terjaganya keberlangsungan mekanisme pasar.  b.  Peningkatan  kerjasama  antar  daerah  kabupaten/kota  ditingkatkan  dalam  rangka  memanfaatkan  keunggulan komparatif maupun kompetitif daerah; menghilangkan ego Pemerintah Kabupaten/Kota yang  berlebihan,  serta  menghindari  timbulnya  inefisiensi  dalam  pelayanan  publik.  Pembangunan  kerjasama  antar  daerah  melalui  sistem  jejaringan  antar  daerah  akan  sangat  bermanfaat  sebagai  sarana  berbagi  pengalaman,  saling  berbagi  keuntungan  dari  kerjasama,  maupun  saling  berbagi  dalam  memikul  tanggung  jawab pembiayaan  secara proporsional, baik  dalam pembangunan  dan pemeliharaan sarana  dan prasarana, maupun untuk pembangunan lainnya.  c.  Pengembangan  kapasitas  pemerintah  daerah  ditingkatkan  melalui  peningkatan  kapasitas  aparatur  pemerintah  daerah  melalui  pendidikan  dan  pelatihan;  peningkatan  kapasitas  kelembagaan  pemerintah  daerah;  peningkatan  kapasitas  keuangan  pemerintah  daerah  termasuk  upaya  peningkatan  kemitraan  dengan masyarakat dan swasta dalam pembiayaan pembangunan daerah ditingkatkan; serta penguatan  lembaga legislatif.  d.  Pengembangan  aparatur pemerintah daerah diarahkan  pada pembinaan  karir yang  terpola, terencana,  konsisten,  dan  berkelanjutan  berdasarkan  merit  system  mengoptimalkan  mekanisme  tour  of  duty  dan  tour  of  area;  pengembangan  sistern  informasi  kepegawaian  berbasis  IT,  pembinaan  sikap  mental  dan  perilaku aparatur pemerintah daerah yang baik, bersih, berwibawa, bertanggung jawab, dan profesional.  Pendidikan dan pelatihan aparatur di bidang tugasnya secara kontinyu dan berkelanjutan.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

88

Laporan Akhir 

Penciptaan Tata Pemerintahan yang Bersih dan Berwibawa  e.  Peningkatan  kinerja  pelayanan  publik  yang  berorientasi  pada  kepuasan  masyarakat  dengan  mengembangkan standar pelayanan minimum yang didukung oleh infrastruktur pelayanan pemerintahan  dengan menerapkan sistem informasi manajemen berbasis IT (e­goverment).  f.  Pengembangan  pengawasan  aparatur  pemerintah  yang  intensif,  efektif,  dan  berkesinambungan,  baik  secara internal/melekat, fungsional, maupun pengawasan eksternal oleh masyarakat.  g.  Penuntasan penanggulangan penyalahgunaan kewenangan aparatur negara dicapai dengan penerapan  prinsip­prinsip tata pemerintahan yang baik pada semua tingkat dan lini pemerintahan dan pada semua  kegiatan  pemberian  sanksi  yang  seberat­beratnya  pada  pelaku  penyalahgunaan  kewenangan  sesuai  dengan  ketentuan  yang  berlaku  peningkatan  intensitas  dan  efektivitas  pengawasan  aparatur  negara  melalui  pengawasan  internal,  pengawasan  fungsional  dan pengawasan  masyarakat;  peningkatan etika  birokrasi  dan  budaya  kerja  serta  pengetahuan  dan  pemahaman  para  penyelenggara  negara  terhadap  prinsip ketata­pemerintahan yang baik. V. Pencapaian RPJMN di Propinsi Lampung  RPJM yang telah dirumuskan dan dilaksanakan di Propinsi Lampung dalam rangka mewujudkan pencapaian  tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa telah dilakukan melalui tindakan­tindakan:  a.  Melakukan  sosialisasi  tentang  tata  pemerintahan  yang  baik,  pedoman  dan  indikator  penerapan  tata  pemerintahan yang baik  b.  Pemerintah  Desa/Kelurahan  sebagai  lini  organisasi  pemerintahan  di  tingkat  paling  bawah  terus  mengalami penguatan. Pada tahun 2005 terdapat 1.986 Desa, 174 Kelurahan, dan 180 Kecamatan.  c.  Dalam rangka mewujudkan clean government dan good governance. Pemerintah Provinsi Lampung telah  mengambil beberapa kebijakan yaitu: melaksanakan pendidikan dan latihan bagi aparatur, peningkatan  kesejahteraan  pegawai;  pengaktifan  Gerakan  Disiplin  Nasional  (GDN).  Penegakan  hukum  bagi  aparat  pemerintahan  yang  dimulai  dengan  penegakan  disiplin  pegawai.  Pada  waktu­waktu  tertentu  diadakan  operasi disiplin oleh aparat POL PP di tempat­tempat perbelanjaan dalam jam­jam kantor. Upaya ini tidak  lain  untuk  menanamkan  rasa  disiplin  bagi  pegawai,  sekaligus  menumbuhkan  ketauladanan  bagi  PNS  kepada  masyarakat  dan  bagi  PNS  yang  disiplin  kerjanya  baik  diberikan  penghargaan  termasuk  penghargaan  bagi  PNS  yang  memasuki  purna  bhakti.  Salah  satu  upaya  untuk  meneiptakan  aparatur  yang  bersih adalah mengefektifkan  pelaksanaan pengawasan. Hasil pemeriksaan yang telah dilakukan  oleh  lembaga  pengawasan  fungsional  (Bawasda)  pada  tahun  2005  telah  berhasil  mencegah  kerugian  negara sebesar Rp. 5,8 Millyar.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

89 

Laporan Akhir 

Penciptaan Tata Pemerintahan yang Bersih dan Berwibawa  VI. Rekomendasi Tindak Lanjut  Menindaklanjuti  hasil­hasil  yang  telah  dicapai  dalam  RPJM  2004­2009,  perlu  dilakukan  upaya  lanjutan  sebagai berikut:  a.  meningkatkan  upaya­upaya  pencegahan  tindak  pidana  korupsi  dalam  ranka  meminimalisir  praktek­  praktek  korupsi  diberbagai  sektor  yang  diikuti  dengan  perbaikan  sistem  pengawasan  dan  akuntabilitas  aparatur negara.  b.  Meningkatkan  kualitas  pelayanan  publik,  seperti  perizinan  investasi,  perpajakan,  kepabeanan,  administrasi satu atap, pengadaan barang dan jasa, pertanahan dan sebagainya.  c.  Upaya pemerintah dalam rangka meningkatkan pelayanan terhadap pajak kendaraan bermotor dengan  nomor Lampung sebagaimana dilakukan perlu pula dilanjutkan dengan pengawasan yang lebih intensif,  sehingga benar­benar dapat meningkatkan pendapat daerah, sekaligus  membangun  tertib administrasi  kendaraan bermotor. VII. Penutup  Upaya mewujudkan tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa, merupakan keinginan semua pihak dalam  kehidupan berbangsa dan bernegara. Kehancuran dan kemajuan suatu negara salah faktor ditentukan oleh  mental dan kualitas aparat pemerintahan. Pemerintahan yang korup akan menghancurkan kehidupan bangsa  ini.  Oleh  sebab  itu.  Untuk  terwujudnya  Indonesia  sejahtera,  aman,  tertib  dan  adil  tentunya  harus  didahului  dengan pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Pengalaman sejarah, tidak saja di Indonesia tetapi juga di  negara­negara  lain  sudah  cukup  membuktikan  bahwa  pemerintahan  yang  bersih  dan  berwibawa  akan  membawa rakyatnya menuju ke tujuan negara, yaitu masyarakat yang sejahtera, adil dan makmur.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

90

Laporan Akhir 

Perwujudan Lembaga Demokrasi yang Makin Kokoh 

Bab III.8 Perwujudan Lembaga Demokrasi yang Makin Kokoh

I. Pengantar  Sasaran pokok kelima untuk agenda mewujudkan Indonesia yang adil dan demokatis adalah terpeliharanya  momentum  awal  konsilidasi  demokrasi  dengan  terlaksananya  secara  efektif  fungsi  dan  peran  lembaga  penyelenggara Negara dan lembaga kemasyarakatan. Selain itu agenda tersebut juga menetapkan sasaran  terhadap meningkatnya partisipasi masyarakat dalam roses penyusunan kebijakan publik serta terlaksananya  pemilu yang  lebih demokratis, jujur, adil pada  tahun  2009  dengan  priorotas  pembangunan  yang  diletakkan  pada perwujudan lembaga demokratis yang makin kokoh. II. Kondisi Awal RPJM di Propinsi Lampung  Kondisi  awal  RPJM  di  Propinsi  Lampung  dalam  bidang  ini,  sebagaimana  tergambar  di  atas,  masih  dalam  masa  transisi terdapat banyak kebijakan yang saling tumpang  tindih, karena belum adanya ketentuan yang  jelas  terhadap  berbaga  kewenangan  yang  diberikan  oleh  pemerintah  kepada  pemerintah  daerah.  Ketidakjelasan ini membuka peluang praktek KKN baik di lembaga eksekutif maupun legislatif. Perencanaan  pembangunan yang dibiayai dengan APBD masih beraorientasi pada kepentingan proyek, belum didasarkan  pada  kondisi  dan kebutuhan  masyarakat.  Koordinasi  antar instansi  belum  berjalan  secara  maksimal  akibat  adanya  ketidakjelasan  Gubernur  yang  akan  memimpin  propinsi  ini.  Partisipasi  masyarakat  dalam  setiap  keputusan  publik  diwarnai  dengan  kepentingan  golongan  atau  kelompok,  sehingga  arah  dan  kebijakan  pembangunan sarat dengan kepentingan kelompok, khususnya partai politik. III. Sasaran yang Ingin Dicapai  Sasaran  yang  hendak  dicapai  dalam  RPJM  terkait  dengan  bidang  perwujudan  lembaga  demokrasi  yang  makin kokoh, terdiri dari:  a.  Berkurangnya secara nyata praktek korupsi di birokrasi, dan dimulai dari tataran (jajaran) pejabat yang  paling atas.
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

91

Laporan Akhir 

Perwujudan Lembaga Demokrasi yang Makin Kokoh  b.  Terciptanya  sistem  kelembagaan  dan  ketalaksanaan  pemerintahan  yang  bersih,  efisien,  tranfaran,  profesionalisme dan akuntabel.  c.  Terhapusnya aturan, peraturan dan praktek yang bersifat diskriminatif terhadap warga negara, kelompok,  atau golongan masyarakat.  d.  Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan publik.  e.  Terjaminya  konsistensi  seluruh  peraturan  pusat  dan  daerah  dan  tidak  bertentangan  peraturan  baik  secara vertikal maupun harizontal. IV. Arah Kebijakan  Kebijakan perwujudan lembaga demokratis yang makin kokoh diarahkan untuk:  a.  Penataan  peran  negara  dan  masyarakat  yang  dititikberatkan  pada  pembentukan  kemandirian  dan  kedewasaan  masyarakat,  dan  pembentukan  kelas  menengah  yang  kuat  dalam  bidang  ekonomi  dan  pendidikan. Penataan peran negara dan masyarakat juga diarahkan  pada penataan fungsi­fungsi yang  positif  dari  pranata­pranata  kemasyarakatan,  lembaga  hukum  dan  lembaga  politik  untuk  membangun  kemandirian masyarakat dalam mengelola berbagai potensi konflik sosial yang merusak.  b.  Penataan proses politik  yang  dititik  beratkan  pada  proses pengalokasian/representasi kekuasaan  yang  diwujudkan  dengan:  (1)  Meningkatkan  Secara  terus  menerus  kualitas  proses  dan  mekanisme  seleksi  publik  yang  lebih  terbuka  bagi  pejabat  politik  dan  publik.  (2)  Mewujudkan  komitmen  politik  yang  tegas  terhadap  pentingnya  kebebasan  media  massa,  keleluasaan  berserikat,  berkumpul,  dan  menyatakan  pendapat setiap warganegara berdasarkan aspirasi politiknya masingmasing.  c.  Pengembangan  budaya  politik  yang  dititikberatkan  pada  proses penanaman nilai­nilai demokratis  yang  diupayakan  melalui:  (1)  Penciptaan  kesadaran  budaya  dan  penanaman  nilai­nilai  politik  demokratis  terutama penghormatan nilai­nilai HAM, nilai­nilai persamaan, anti kekerasan, serta nilai nilai toleransi,  melalui berbagai wacana dan media. (2) Upaya  mewujudkan berbagai wacana peningkatan kesadaran  mengenai memelihara persatuan bangsa.  d.  Mewujudkan  pelembagaan  yang  lebih  kokoh  dengan  mempertegas  tugas,  wewenang,  dan  tanggung  jawab dar seluruh kelembagaan negara/pemerintahan yang berdasarkan mekanisme cheks and balance.  e.  Memperkuat peran masyarakat sipil.  f.  Memperkuat kualitas desentralisasi dan otonomi dareah.  g.  Mewujudkan pelembagaan dan mendorong berjalannya rekonsiliasi nasional beserta segala kelengkapan  kelembagaannya.  h.  Menjamin  pengembangan  media  dan  kebebasan  media  dalam  mengkomunikasikan  kepentingan  masyarakat.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

92 

Laporan Akhir 

Perwujudan Lembaga Demokrasi yang Makin Kokoh  V. Pencapaian RPJMN di Propinsi Lampung  Berbagai  kebijakan  yang  ditempuh  oleh  Pemerintah  Propinsi  Lampung  pada  tahun­tahun  terakhir  menunjukkan hasil yang meningkat.  a.  Jumlah  praktek  korupsi  yang  melibatkan  pemerintah  daerah  semakin  menurun  dari  tahun  ke  tahun,  walaupun  ada  juga  telah  dilakukan  penindakan,  melalui  proses  penyelesaian  tindak  pidana  korupsi  di  daerah.  Aparat  penegak  hukum  juga  telah  melakukan  koordinasi  dengan  memuka  hubungan  on  line  dengan KPK.  b.  Tingkat  transfaransi  dan  akuntabilitas  kinerja  daerah  semakin  membaik,  hal  ini  terbukti  dengan  dibentuknya laporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah (LAKIP) yang berfungsi untuk:  1.  Sebagai  sarana/instrumen  penting  untuk  melaksanakan  reformasi  dalam  penyeleng­garaan  tugas­  tugas pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan masyarakat.  2.  Sebagai cara dan sarana yang  efektif untuk  mendorong seluruh aparatur pemerintah meningkatkan  disiplin  dalam  menerapkan  prinsip­prinsip  good  governance  dan  fungsi­fungsi  manajemen  kerja  secara taat asas.  3.  Sebagai  cara  dan  sarana  yang  efektif  untuk  meningkatkan  kinerja  instans  pemerintah/unit  kerja  berdasarkan  rencana  kerja  yang  jelas  dan  sistemtis  dengan  sasaran  yang  terukur  secara  berkelanjutan;  4.  Sebagai  alat  untuk  mengetahui  dan  mengukur  tingkat  keberhasilan  atau  kegagalan  dari  setap  pimpinan  instansi/unit  kerja  dalam  menjalankan  misi,  tugas/jabatan,  sehinggadapat  dijadikanfaktor  utama dalam evaluasi kebijakan, program kerja, struktur organisasi, dan penetapan alokasi anggaran  setiap tahun bagi setiap instansi/unit kerja.  5.  Sebagai  cara  dan  sarana  untuk  mendorong  usaha  penyempurnaan  struktur  organisasi,  kebijakan  publik,  ketatalaksanaan,  mekanisme  pelaporan,  metode  kerja  dan  prosedur  pelayanan  masyarakat  berdasarkan  permasalahan  nyata  yang  dihadapi  dalam  pelaksanaan  manajemen  pemerintahan  secara berkelanjutan.  c.  Partisipasi  masyarakat  terhadap  dalam  musrenbang  juga  mengalami  peningkatan.  Pada  Tahun  2007,  telah  dilaksanakan  musyawarah  rencana  pembangunan  (Musranbeng),  untuk  mendapatkan  masukan  dalam  rangka  penyempurnaan  rancangan  awal  Rencana  Kerja  Pemerintah  Daerah  (RKPD)  yang  memuat prioritas pembangunan daerah, pagu indikatif pendanaan berdasarkan Satuan Kerja Perangkat  Daerah  (SKPD),  rancangan  alokasi  dana  desa  termasuk  dalam  pemutakhiran  ini  adalah  informasi  mengenai  kegiatan  yang  pendanaannya  berasal  dari  APBD,  Propinsi,  APBN  dan  sumber  pendanaan  lainnya. Selain itu, untu mendapatkan  rincian rancangan awal Kerangka  Rencana Kerja Anggaran dan

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

93

Laporan Akhir 

Perwujudan Lembaga Demokrasi yang Makin Kokoh  Kerangka regulasi menurut SKPD yang berhubungan dengan pembangunan (Forum SKPD atau Forum  Gabungan SKPD)  d.  Jumlah  partai  politik  dan  organisasi  non  partai  politik  dan  Lembaga  Swadaya  Masyarkat  (LSM)  juga  mengalami  peningkatan.  Pada  saat  ini  jumlah  porpol  yang  terdaftar  di  Propinsi  Lampung  34  parpol.  Perkembangan politik di Provinsi Lampung dapat dilihat dari perkembangan aktivitas masyarakat melalui  organisasi  politik.  pada  tahun  2004,  terdapat  paling  tidak  65  Partai  Politik  terdaftar  dengan  potensi  sumber daya manusia dan kekuatan potensial yang beragam, tetapi hanya 24 partai Politik yang berhasil  mengikuti Pemilu 2004. Berdasarkan hasil Pemilu 2004. Beberapa partai politik  meraih perolehan kursi  terbanyak di legislatif (DPRD Provinsi Lampung), yaitu: Partai Golkar (16 kursi), PDIP (13 kursi), PKB (6  kursi), PKS (6 kursi), Partai Demokrat (6 kursi), PAN (6 kursi), Partai Bintang Reformasi (4 kursi), PPP (4  kursi), PKPB (3 kursi) dan PPDK (1 kursi). Pada tingkat DPR RI, wakil dari Provinsi Lampung sebanyak  17 orang di DPR dan 4 orang di DPD. Secara umum kondisi politik telah berkembang sangat dinamis dan  semakin demokratis. Anggotra DPRD Provinsi Lampung  dan DPR RI daerah pemilihan Lampung  telah  mampu mengembangkan  fungsinya sebagai wakil rakyat dengan  membawa berbagai aspirasi ataupun  menerima aspirasi masyarakat, baik di Gedung DPRD ataupun di berbagai lokasi lainnya. Mulai periode  2004­2009,  DPRD  Provinsi  Lampung  telah  mengembangkan  sistem  penjaringan  aspirasi  masyarakat  dengan mekanisme penyerapan aspirasi masyarakat di daerah pemilihan.  Dinamika masyarakat Lampung juga dapat dilihat dari perkembangan jumlah LSM yang bergerak pada  berbagai  bidang  kehidupan.  Jumlah  LSM  bergerak  dalam  bidang  tertentu  sampai  dengan  akhir  tahun  2005  mencapai  69  buah.  Perkembangan  peran  dan  fungsi  organisasi  kemasyaraktan/LSM  saat  ini  semakin meningkat, baik dari segi kuantitas maupun kualitas, serta semakin menunjukkan kedewasaan  dalam berorganisasi. Ini terlihat  melalui hubungan  interaksi  organisasi dengan  masyarakat, baik  dalam  penyerapan  aspirasi  maupun  dalam  advokasi  dalam  meyampaikan  aspirasi  di  bidang  politik,  ekonomi,  sosial budaya,. maupun pelayanan publik. Dinamika kegiatan ormas dan LSM juga diperlihatkan dengan  berfungsinya kontrol terhadap kinerja Pemerintah Daerah maupun DPRD.  e.  Dalam agenda politik propinsi, dari awal RPJM samai saat ini telah melaksanakan 8  kali pilbup dan satu  kali  pilgub  dengan  partisipasi  masyarakat  dalam  pesta  demokrasi  pilkada  tercatat  67  %  dari  sekitar  6.500.000  mata  pilih.  Selama  berlangsungnya  pilkada  baik  pimilihan  bupati/walikota  dan  pemilihan  gubernur  berlangsung  tertib,  aman  dan  lancar.  Hal  ini  dapat  dibuktikan  dengan  tidak  ditemukan  kasus  yang  kerusuhan  antar  pendukung.  Walaupun  terjadi  perbedaan  paham  terhadap  hasil  pilkada  yang  diselesaikan  melalui proses hukum,  tetapi suasana ketertiban masyarakat cukup kondusif sampai saat  ini.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

94 

Laporan Akhir 

Perwujudan Lembaga Demokrasi yang Makin Kokoh  VI. Rekomendasi Tindak Lanjut  Menindaklanjuti program perwujudan lembaga demokrasi yang makin kokoh dan menilai capaian­capaian  yang ada, maka dapat direkomendasikan hal­hal sebagai berikut:  a.  Perlu  lebih  ditingkatkan  upaya  transfaransi  dan  akuntabilitas  pelaksanaan  pemerintahan  melalui  sosialisasi dan komunikasi program pembangunan secara kontinyu kepada masyarakat.  b.  Dalam mewujudkan partisipasi masyarakat terhadap kebijakan publik, perlu diumumkan secara terbuka  terhadap proses perumusan kebijakan, pelaksanaan dan evaluasinya, baik yang dilakukan oleh legislatif  maupun  pihak  eksekutif.  Kebijakan­kebijakan  yang  ditetapkan  selama  ini  belum  dapat  diakses  oleh  seluruh masyarakat, karena masih dilakukan secara terbatas saja. VII. Penutup  Dinamika  politik  masyarakat  daerah  Lampung,  selama  2004­2008  berlangsung  secara  aman  dan  tertib.  Namun demikian, beberapa persoalan yang masih perlu tindaklanjut yaitu terkait dengan penetapan secara  definitif Gubernur Lampung. agar kondisi masyarakat dan pembangunan Lampung ke depan dapat berjalan.  Peningkatan  partisipasi  masyarakat  terhadap  pembangunan  bidang  politik  juga  diperlukan  melalui  kegiatan  sosialisasi politik, khususnya menghadapi pemilihan presiden, pemilihan anggota legislatif 2009 yang diikuti  oleh  banyak  partai  politik.  Untuk  meningkatkan  partisipasi  masyarakat  dibidang  politik  diperlukan  penyebarluasan  informasi;  proses  rekrutmen  calon  anggota  legislatif,  sistem  pemilu,  maupun    hal­hal yang  terkait dengan pelaksanaan pemilu pada masyarakat secara benar.  Berdasarkan pemaparan seluruh RPJM 2004­2009 dan pelaksanaannya untuk agenda adil dan demokratis,  dapat  disimpulkan  bahwa  di  Propinsi  Lampung  program  tersebut  secara  umum  telah  dilaksanakan,  masih  dalam  proses  pelaksanaan,  dan  beberapa  kegiatan  akan  dilaksanakan  dalam  kurun  waktu  satu  tahun  ke  depan. Dari 5 sasaran yang telah ditetapkan, dapat diketahui capaiannya sebagai berikut: 

a.  Sasaran 1; meningkatnya keadilan dan penegakan hukum yang tercermin dari terciptanya sistem hukum 
yang  adil, konsekuen, dan tidak  diskriminatif serta memberikan  perlindungan  dan penghormatan HAM,  terjaminnya  konsistensi  seluruh  peraturan  perundang­undangan  di  tingkat  pusat  dan  daerah  sebagai  bagian  dari  upaya  memulihkan  kembali  kepercayaan  masyarakat  akan  kepastian  hukum.  Pencapaian  terhadap  upaya  ini  telah  dilakukan  dengan  penetapan  beberapa  perda  terkait  dengan  pembenahan  kelembagaan daerah, pembenahan kelembagaan penagak hukum, melakukan penegakan hukum secara  konsisten, berbagai program lain yang ditujukan untuk membentuk budaya hukum masyarakat.  Berbagai  program  ini  dari  tahun  ke  tahun  semakin  meningkat,  seiring  dengan  tuntutan  dan  perkembangan  masyarakat Lampung.
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

95

Laporan Akhir 

Perwujudan Lembaga Demokrasi yang Makin Kokoh 

b.  Sasaran II; terjaminnya  keadilan gender bagi peran perempuan dalam berbagai bidang  pembangunan. 
Pencapaian  program  ini  tercermin  dari  upaya  penetapan  beberapa  produk  perda  terkait  dengan  perempuan  dan  anak,  menjalankan  beberapa  program  terkait  dengan  peningkatan  kesejahteraan  perempuan dan anak, dan berbagai program aksi untuk melaksanakan rencana aksi yang terkait dengan  keadilan gender dan perlindungan anak. 

c.  Meningkatnya  pelayanan  kepada  masyarakat  dengan  menyelenggarakan  otonomi  daerah  dan 
kepemerintahan daerah yang baik serta terjaminnya konsistensi seluruh peraturan pusat dan daerah, dan  tidak  bertentangan  dengan  peraturan  yang  lebih  tinggi  dalam  rangka  meningkatkan  keadilan  daerah­  daerah  untuk  membangun.  Sasaran  ini  telah  diperoleh  capaian  dengan  berbagai  upaya  harmonisasi  hukum,  baik  melalui  program  harmonisasi  hukum  Kanwil  Hukum  dan  HAM  Propinsi  Lampung,  perumusan­perumusan  naskah  akademik  oleh  perguruan  tinggi,  maupun  evaluasi  dari  Departemen  Dalam Negeri. 

d.  Meningkatnya pelayanan birokrasi kepada masyarakat, Pencapaian program ini terlihat dari; peningkatan 
pelayanan dibidang kesehatan dan pendidikan, pengurusan izin yang semakin cepat 

e.  Terlaksananya  pemilu  tahun  2009  secara  demokratis,  jujur,  dan  adil  dengan  menjaga  momentum 
konsilidasi  demokrasi  yang  sudah  terbentuk  berdasarkan  hasil  pemilu  tahun  2004.  Melalui  berbagai  upaya yang dilakukan capaian yang diperoleh yaitu terlaksananya Pilkada (pilgub dan pilbup/pilwali kota)  telah  berjalan  secara  tertib  aman  dan  terkendali,  walaupun  terdapat  sengketa  pilkada,  kondisi  masyarakat  tetap  kondusif.  Hal  ini  menunjukkan  bahwa  kesadaran  masyarakat  akan  demokrasi  politik  semakin baik.  Berbagai  capaian  agenda  adil  dan  demokratis  ini,  ke  depan  tentunya  perlu  terus  diupayakan    baik  dalam  bentuk  perencanaan,  pelaksanaan  maupun  pengawasannya,  sehingga  program­program  pembangunan  Daerah Lampung ke depan dapat terwujud.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

96 

BAGIAN IV AGENDA MENINGKATKAN KESEJATERAAN SOSIAL

Laporan Akhir 

Pengantar Agenda Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat 

Bab IV.1 PENGANTAR AGENDA MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

Sasaran pertama  secara Nasional adalah menurunnya jumlah penduduk miskin menjadi 8,2 persen  pada  tahun  2009  serta  terciptanya  lapangan  kerja  yang  mampu  mengurangi  pengangguran  terbuka  menjadi  5,1  persen  pada  tahun  2009  dengan  didukung  oleh  stabilitas  ekonomi  yang  tetap  terjaga.  Kemiskinan  dan  pengangguran  diatasi  dengan  strategi  pembangunan  ekonomi  yang  mendorong  pertumbuhan  yang  berkualitas dan berdimensi pemerataan melalui penciptaan lingkungan usaha yang sehat.  Untuk  mencapai  sasaran  tersebut  pertumbuhan  ekonomi  secara  Nasional  diupayakan  meningkat  dari  5,5  persen pada tahun 2005 menjadi 7,6 persen pada tahun 2009 atau rata­rata tumbuh sebesar 6,6 persen per  tahun.  Upaya  untuk  mendorong  pertumbuhan  ekonomi  ditempuh  dengan  menciptakan  lingkungan  usaha  yang  sehat  untuk  meningkatkan  peranan  masyarakat.  Dari  sisi  pengeluaran,  pertumbuhan  ekonomi  ditingkatkan  terutama  dengan  menggalakkan  investasi  dan  meningkatkan  ekspor  non­migas  Peranan  investasi  masyarakat  dalam  PNB  diupayakan  meningkat  dari  16,0  persen  pada  tahun  2004  menjadi  24,4  persen  pada  tahun  2009; sedangkan peranan  investasi pemerintah dalam PNB diupayakan meningkat dari  3,4  persen  pada  tahun  2004  menjadi  4,1  persen  pada  tahun  2009.  Sejalan  dengan  membaiknya  perekonomian dunia, ekspor non­migas  diharapkan  meningkat secara bertahap  dari 5,5 persen pada  tahun  2005  menjadi  8,7  persen  pada  tahun  2009.  Sejalan  dengan  meningkatnya  investasi  dan  daya  saing  perekonomian,  sektor  pertanian,  industri  pengolahan  non­migas,  dan  sektor­sektor  lainnya  diupayakan  tumbuh rata­rata sekitar 3,5 persen, 8,6 persen, dan 6,8 persen per tahun.  Untuk mencapai sasaran tersebut, disusun prioritas dan arah kebijakan pembangunan sebagai berikut.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

97

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pengantar Agenda Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat  Penangulangan  Kemiskinan  dengan  kebijakan  yang  diarahkan  untuk  menghormati,  melindungi  dan  memenuhi  hak­hak  dasar  masyarakat  miskin  yang  meliputi  hak  atas  pangan,  kesehatan,  pendidikan,  pekerjaan,  perumahan,  air  bersih,  tanah,  lingkungan  hidup  dan  sumber  daya  alam,  rasa  aman,  serta  hak  untuk berpartisipasi dalam perumusan kebijakan publik.  Peningkatan Investasi dan ekspor non migas  dengan kebijakan  yang diarahkan  untuk menghapus ekonomi  biaya  tinggi  antara  lain  dengan:  menyederhanakan  prosedur  perijinan  investasi,  termasuk  bagi  UKM;  menciptakan  kepastian  hukum  yang  menjamin  kepastian  usaha,  termasuk  mengurangi  tumpang  tindih  kebijakan antar pusat dan daerah serta antar sektor; menyempurnakan kelembagaan investasi yang berdaya  saing, efisien, transparan, dan non­diskriminatif; menyederhanakan administrasi perpajakan dan kepabeanan  melalui  reformasi  perpajakan  dan  kepabeanan;  menciptakan  insentif  investasi  yang  tepat  sasaran  dalam  upaya  penyebaran  investasi  yang  makin  banyak  ke  luar  Jawa  terutama  Kawasan  Timur  Indonesia;  mendorong  pemulihan  fungsi  intermediasi  perbankan;  meningkatkan  penyediaan  infrastruktur;  revitalisasi  kelembagaan  promosi  ekspor;  meningkatkan  pelayanan  support  at  company  level;  pengembangan  sarana  pembiayaan  perdagangan;  serta  memperkuat  kelembagaan  pengamanan  perdagangan  internasional  (safeguard/anti­dumping).  Selanjutnya  untuk  meningkatkan  penerimaan  devisa,  kebijakan  pariwisata  diarahkan  untuk  meningkatkan  efektivitas  promosi  dan  pengembangan  produk­produk  wisata  dan  meningkatkan sinergi dalam jasa pelayanan pariwisata.  Peningkatan  Daya  Saing  Industri  Manufaktur  dengan  kebijakan  diarahkan  untuk  meningkatkan  utilitas  kapasitas  terpasang;  memperkuat  struktur  industri;  memperkuat  basis  produksi;  meningkatkan  daya  saing  dengan  tekanan  pada  industri­industri  yang  menyerap  lebih  banyak  tenaga  kerja;  memenuhi  kebutuhan  dalam negeri; memiliki potensi ekspor; serta mengolah sumber daya alam di dalam negeri.  Revitalisasi  Pertanian  dalam  arti  luas  yang  diarahkan  untuk  mendorong  pengamanan  ketahanan  pangan,  peningkatan  daya  saing,  diversifikasi,  peningkatan  produktivitas  dan  nilai  tambah  produk  pertanian,  peternakan,  perkebunan,  perikanan  dan  kehutanan  untuk  peningkatan  kesejahteraan  petani  dan  nelayan,  melalui:  (1)  peningkatan  kemampuan  petani  dan  nelayan  serta  penguatan  lembaga  pendukungnya,  (2)  pengamanan ketahanan  pangan, (3) peningkatan akses  petani dan nelayan  kepada  sumber daya  produktif  seperti teknologi, informasi pemasaran, pengolahan dan permodalan, (4) perbaikan iklim usaha dalam rangka  meningkatkan  diversifikasi  usaha  dan  memperluas  kesempatan  berusaha,  (5)  peningkatan  kemampuan  manajemen dan kompetensi kewirausahaan di kalangan  pelaku  usaha  bidang  pertanian dan perikanan, (6) 98 

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pengantar Agenda Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat  mendorong peningkatan standar mutu komoditas, penataan dan pengembangan industri pengolahan produk  pertanian dan perikanan untuk  meningkatkan daya saing dan nilai tambah, (7) peningkatan efisiensi sistem  distribusi,  koleksi  dan  jaringan  pemasaran  produk  untuk  perluasan  pemasaran,  dan  (8)  peningkatan  pemanfaatan sumber daya perikanan dan optimasi pemanfaatan hutan alam, pengembangan hutan tanaman  serta  hasil  hutan  non  kayu,  untuk  mendukung  pertumbuhan  ekonomi  dengan  tetap  menjaga  kelestarian  sumber daya alam dan lingkungan hidup.  Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah dengan kebijakan yang diarahkan untuk (1)  mengembangkan  usaha  kecil  dan  menengah  (UKM)  agar  memberikan  kontribusi  yang  signifikan  terhadap  pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan daya saing; (2) mengembangkan usaha  skala mikro dalam rangka  peningkatan pendapatan pada kelompok  masyarakat berpendapatan rendah; (3)  memperkuat  kelembagaan  dengan  menerapkan  prinsip­prinsip  tata  kepemerintahan  yang  baik  (good  governance)  dan  berwawasan gender dengan  cara  memperbaiki  lingkungan  usaha  dan  menyederhanakan  prosedur perijinan, memperluas akses kepada sumber permodalan khususnya perbankan, memperluas dan  meningkatkan  kualitas  institusi  pendukung  yang  menjalankan  fungsi  intermediasi  sebagai  penyedia  jasa  pengembangan  usaha,  teknologi,  manajemen,  pemasaran  dan  informasi;  (4)  memperluas  basis  dan  kesempatan  berusaha  serta  menumbuhkan  wirausaha  baru  berkeunggulan,  termasuk  mendorong  peningkatan  ekspor;  (5)  meningkatkan  UMKM  sebagai  penyedia  barang  dan  jasa  pada  pasar  domestik,  khususnya  untuk  memenuhi  kebutuhan  masyarakat  banyak;  dan  (6)  meningkatkan  kualitas  kelembagaan  koperasi sesuai dengan jati diri koperasi  Peningkatan  Pengelolaan  BUMN  dalam  rangka  meningkatkan  kinerja  dan  daya  saing  BUMN  dengan  kebijakan  yang diarahkan untuk  melanjutkan restrukturisasi BUMN yang  semakin terarah dan efektif sesuai  dengan orientasi dan fungsi.  Peningkatan  Kemampuan  Ilmu  Pengetahuan  dan  Teknologi  dengan  kebijakan  yang  diarahkan  untuk:  (1)  meningkatkan fokus dan kapasitas litbang iptek; (2) mempercepat proses difusi dan pemanfaatan hasil­hasil  iptek; (3) memperkuat kelembagaan iptek; dan (4) menciptakan iklim inovasi dalam bentuk skema insentif.  Perbaikan  Iklim  Ketenagakerjaan  dengan  pengembangan  kebijakan  pasar  tenaga  kerja  yang  fleksibel  dan  penataan hubungan industrial yang mencerminkan asas keadilan dan kondusif bagi peningkatan produktivitas  dan inovasi.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

99 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pengantar Agenda Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat  Pemantapan  Stabilitas  Ekonomi  Makro  yang  diarahkan  untuk  menjaga  dan  mempertahankan  stabilitas  ekonomi  makro yang  telah dicapai  dengan  memberi ruang yang  lebih  luas  untuk  mendorong pertumbuhan  ekonomi. Dalam kaitan itu, upaya yang ditempuh mencakup: (1) penyusunan formulasi APBD dengan tujuan  mengembalikan  kemampuan  fiskal  sebagai  salah  satu  instrumen  perekonomian  yang  efektif  untuk  menciptakan lapangan kerja melalui dorongan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan berkualitas; (2)  pengembangan  strategi  pengelolaan  pinjaman  luar  negeri  sebagai  pelengkap  pembiayaan  pembangunan  dengan mendasarkan pada prinsip pengelolaan yang efisien dan memungkinkan meningkatnya kemampuan  membayar; (3) peningkatan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter antara Pemerintah dan Bank Indonesia  dengan  tetap  menjaga  peran  masing­masingnya;  serta  (4)  peningkatan  upaya  penyehatan  dan  penertiban  lembaga­lembaga  keuangan  dan  perbankan  dalam  rangka  meningkatkan  peran  lembaga­lembaga  tersebut  sebagai intermediasi ke sektor­sektor produksi. Sasaran kedua  adalah  berkurangnya  kesenjangan  antar  wilayah  yang  tercermin  dari  meningkatnya  peran  perdesaan  sebagai  basis  pertumbuhan  ekonomi  agar  mampu  meningkatkan  kesejahteraan  masyarakat  di  pedesaan;  meningkatnya  pembangunan  pada  daerah­daerah  terbelakang  dan  tertinggal;  meningkatnya  pengembangan wilayah yang didorong oleh daya saing kawasan dan produk­produk unggulan daerah; serta  meningkatnya  keseimbangan  pertumbuhan  pembangunan  antar  kota­kota  metropolitan,  besar,  menengah,  dan kecil dengan memperhatikan keserasian pemanfaatan ruang dan penatagunaan tanah.  Untuk mencapai sasaran ini, disusun prioritas pembangunan dan arah kebijakan sebagai berikut  Pembangunan Perdesaan dengan mengembangkan diversifikasi kegiatan ekonomi perdesaan; meningkatkan  promosi  dan  pemasaran  produk­produk  pertanian  dan  perdesaan  lainnya;  memperluas  akses  masyarakat  perdesaan ke sumber daya­sumber daya produktif, pelayanan publik dan pasar; meningkatkan keberdayaan  masyarakat  perdesaan  melalui  peningkatan  kualitasnya,  penguatan  kelembagaan  dan  modal  sosial  masyarakat  perdesaan;  meningkatkan  kesejahteraan  masyarakat  perdesaan  serta  meminimalkan  risiko  kerentanan; serta mengembangkan praktek­praktek budidaya pertanian dan usaha non pertanian yang ramah  lingkungan dan berkelanjutan.  Penguranagn  Ketimpangan  Pembangunan  Wilayah  dengan:  (a)  mendorong  percepatan  pembangunan  dan  pertumbuhan wilayah­wilayah strategis dan cepat tumbuh yang selama ini masih belum berkembang secara  optimal, sehingga dapat menjadi motor penggerak bagi wilayah­wilayah tertinggal di sekitarnya dalam suatu 100 

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pengantar Agenda Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat  ‘sistem  wilayah  pengembangan  ekonomi’  yang  sinergis;  (b)  meningkatkan  keberpihakan  pemerintah  untuk  mengembangkan  wilayah­wilayah  tertinggal  dan  terpencil  sehingga  wilayah­wilayah  tersebut  dapat  tumbuh  dan  berkembang  secara  lebih  cepat  dan  dapat  mengejar  ketertinggalan  pembangunannya  dengan  daerah  lain; (c) mengembangkan wilayah­wilayah perbatasan dengan mengubah arah kebijakan pembangunan yang  selama ini cenderung berorientasi inward looking menjadi outward looking, sehingga kawasan tersebut dapat  dimanfaatkan  sebagai  pintu  gerbang  aktivitas  ekonomi  dan  perdagangan  dengan  negara  tetangga,  baik  dengan  menggunakan  pendekatan  pembangunan  melalui  peningkatan  kesejahteraan  (prosperity  approach)  maupun  keamanan  (security  approach);  (d)  menyeimbangkan  pertumbuhan  pembangunan  antar  kota­kota  metropolitan,  besar,  menengah,  dan  kecil  secara  hirarkis  dalam  suatu  ‘sistem  pembangunan  perkotaan  nasional;’  (e)  meningkatkan  keterkaitan  kegiatan  ekonomi  yang  berada  di  wilayah  perdesaan  dengan  yang  berada di perkotaan; (f) mengoperasionalisasikan ’Rencana Tata Ruang’ sesuai dengan hirarki perencanaan  (RTRW­Nasional,  RTRW­Pulau,  RTRW­Provinsi,  RTRW­Kabupaten/Kota)  sebagai  acuan  koordinasi  dan  sinkronisasi pembangunan antar sektor dan antar wilayah. Sasaran ketiga adalah meningkatnya kualitas manusia yang secara menyeluruh tercermin dari membaiknya  angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) serta meningkatnya pemahaman dan pengamalan ajaran­ajaran  agama. Secara lebih rinci, sasaran meliputi:  Meningkatnya akses  masyarakat terhadap  pendidikan  dan meningkatnya mutu pendidikan  yang  antara lain  ditandai  oleh:  menurunnya  jumlah  penduduk  yang  buta  huruf;  meningkatnya  secara  nyata  persentase  penduduk  yang  dapat  menyelesaikan  program  wajib  belajar  9  tahun;  berkembangnya  pendidikan  kejuruan  yang ditandai dengan meningkatnya jumlah tenaga terampil; meningkatnya kualitas dan relevansi pendidikan  yang  ditandai  oleh:  (a)  meningkatnya  proporsi  pendidik  formal  dan  non  formal  yang  memiliki  kualifikasi  minimun dan sertifikasi sesuai dengan jenjang kewenangan mengajar; (b) meningkatnya kualitas hasil belajar  yang diukur dengan meningkatnya persentase siswa yang lulus evaluasi hasil belajar; dan (c) meningkatnya  hasil penelitian, pengembangan dan penciptaan ilmu pengetahuan  dan teknologi oleh perguruan tinggi dan  lembaga litbang serta penyebarluasan dan penerapannya pada masyarakat.  Meningkatnya  akses  masyarakat  terhadap  pelayanan  kesehatan  masyarakat  yang  ditandai  oleh  meningkatnya  angka  harapan  hidup,  menurunnya  tingkat  kematian  bayi  dan  kematian  ibu  melahirkan,  dan  perbaikan status gizi.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

101 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pengantar Agenda Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat  Meningkatnya perlindungan dan kesejahteraan sosial, yang ditandai dengan: (a) meningkatnya kualitas dan  aksesibilitas  pelayanan,  rehabilitasi,  bantuan  sosial,  dan  jaminan  kesejahteraan  sosial  bagi  penyandang  masalah  kesejahteraan  sosial  (PMKS); (b)  meningkatnya  mutu  manajemen  dan  profesionalisme  pelayanan  kesejahteraan  sosial;  (c)  tersusunnya  sistem  perlindungan  sosial  nasional;  (d)  meningkatnya  keserasian  kebijakan kesejahteraan sosial; (e) meningkatnya akses masyarakat terhadap pelayanan sosial dasar melalui  institusi dan lembaga sosial; dan (f) terjaminnya bantuan sosial bagi korban bencana alam dan sosial.  Terkendalinya pertumbuhan penduduk dan meningkatnya keluarga kecil berkualitas yang ditandai dengan: (a)  menurunnya  laju  pertumbuhan  penduduk  menjadi  1,14  persen;  tingkat  fertilitas  total  menjadi  2,2  per  perempuan;  persentase  pasangan  usia  subur  yang  tidak  terlayani  (unmetneed)  menjadi  6  persen;  (b)  meningkatnya peserta KB laki­laki menjadi 4,5 persen; pemakaian alat kontrasepsi yang efektif dan efisien;  usia perkawinan pertama menjadi 21 tahun; (c) meningkatnya partisipasi keluarga dalam pembinaan tumbuh­  kembang anak; (d) meningkatnya jumlah Keluarga Pra­Sejahtera dan Keluarga Sejahtera­I yang aktif dalam  usaha  ekonomi  produktif;  dan  (e)  meningkatnya  jumlah  institusi  masyarakat  dalam  penyelenggaraan  pelayanan  keluarga  berencana  dan  kesehatan  reproduksi;  tertatanya  pembangunan  kependudukan  yang  ditandai dengan: (a) meningkatnya keserasian kebijakan kependudukan dalam rangka peningkatan kualitas,  pengendalian  pertumbuhan  dan  kuantitas,  pengarahan  mobilitas  dan  persebaran  penduduk  yang  serasi  dengan daya dukung alam dan daya tampung lingkungan, baik di tingkat nasional maupun daerah; dan (b)  meningkatnya  cakupan  jumlah  kabupaten  dan  kota  dalam  pelaksanaan  Sistem  Informasi  Administrasi  Kependudukan;  serta  meningkatnya  partisipasi  pemuda  dan  budaya  olahraga  yang  ditandai  dengan:  (a)  meningkatnya  keserasian  berbagai  kebijakan  pemuda  di  tingkat  nasional  dan  daerah;  (b)  meningkatnya  kualitas  dan  partisipasi  pemuda  di  berbagai  bidang  pembangunan;  (c)  meningkatnya  keserasian  berbagai  kebijakan  olahraga  di  tingkat  nasional  dan  daerah;  (d)  meningkatnya  kesehatan  jasmani  masyarakat  dan  prestasi  olahraga;  dan  (e)  tersedianya  sarana  dan  prasarana  olahraga  bagi  masyarakat  sesuai  dengan  olahraga unggulan daerah.  Meningkatnya pemahaman, penghayatan, dan pengamalan ajaran agama dalam kehidupan bermasyarakat,  berbangsa,  dan  bernegara  serta  meningkatnya  kepedulian  dan  kesadaran  masyarakat  dalam  memenuhi  kewajibannya dalam rangka mengurangi kesenjangan pendapatan masyarakat.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

102 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pengantar Agenda Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat  Sasaran keempat  adalah  membaiknya  mutu  lingkungan  hidup  dan  pengelolaan  sumber  daya  alam  yang  mengarah pada pengarusutamaan (mainstreaming) prinsip pembangunan berkelanjutan di seluruh sektor dan  bidang pembangunan.  Untuk  mencapai  sasaran  tersebut,  prioritas  pembangunan  diletakkan  pada perbaikan pengelolaan sumberdaya alam dan pelestarian mutu lingkungan hidup dengan  kebijakan  yang  diarahkan  untuk: (1)  mengelola  sumber  daya  alam  untuk  dimanfaatkan  secara  efisien,  adil,  dan  berkelanjutan  yang  didukung  dengan  kelembagaan  yang  handal dan penegakan  hukum yang  tegas, (2) mencegah  terjadinya  kerusakan  sumber  daya  alam  dan  lingkungan  hidup  yang  lebih  parah,  sehingga  laju  kerusakan  dan  pencemaran  semakin  menurun;  (3)  memulihkan  kondisi  sumber  daya  alam  dan  lingkungan  hidup  yang  rusak;  (4)  mempertahankan  sumber  daya  alam  dan  lingkungan  hidup  yang  masih  dalam  kondisi  baik  untuk  dimanfaatkan  secara  berkelanjutan,  serta  meningkatkan  mutu  dan  potensinya;  serta  (5)  meningkatkan  kualitas lingkungan hidup. Sasaran kelima adalah membaiknya infrastruktur yang ditunjukkan oleh meningkatnya kuantitas dan kualitas  berbagai sarana penunjang pembangunan.  Untuk mencapai sasaran tersebut, prioritas diberikan pada Percepatan Pembangunan Infrastruktur. Upaya  ini  dilakukan  awalnya  pada  perbaikan  infrastruktur  yang  rusak  untuk  memulihkan  mengembalikan  kinerja  pelayanan  dengan  titik  berat  pada  perbaikan  infrastruktur  pertanian  dan  perdesaan,  infrastruktur  ekonomi  strategis,  dan  di  daerah  konflik.  Upaya  selanjutnya  adalah  perluasan  kapasitas  infrastruktur  dengan  fokus  pembangunan  infrastruktur  baru  yang  diarahkan  pada  infrastruktur  di  daerah  terpencil  dan  tertinggal,  infrastruktur  yang  melayani  masyarakat  miskin,  dan  infrastruktur  yang  menghubungkan  dan  atau  melayani  antardaerah.  Partisipasi  swasta  didorong  terutama  untuk  wilayah  yang  potensi  pertumbuhan  ekonominya  besar  untuk  menjamin tingkat pengembalian (return) yang  wajar. Disamping itu swasta akan  didorong untuk  melakukan  pelayanan infrastruktur atas nama pemerintah, dalam bentuk universal service obligation (USO) atau publik  service  obligation  (PSO).  Penyempurnaan  mekanisme  PSO  dititikberatkan  pada  pelayanan  yang  dilakukan  oleh BUMN dan membuka kesempatan PSO untuk pelaku non BUMN/BUMD. Untuk menunjang transparansi  dan  akuntabilitas  pelayanan,  standar  pelayanan  minimum  (SPM)  di  bidang  infrastruktur  akan  diluncurkan  sebagai benchmark kualitas pelayanan pemerintah.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

103

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pengantar Agenda Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat  Dari  sisi  pemerintah,  alokasi  pembiayaan  infratruktur  diupayakan  agar  tidak  menurun.  Adapun  untuk  mendorong  partisipasi  swasta  prioritas  diletakkan  untuk  menciptakan  dana  investasi  infrastruktur  yang  mampu memfasilitasi dan mempercepat realisasi investasi swasta di bidang infrastruktur.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

104 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Penanggulangan Kemiskinan 

Bab IV.2 Penanggulangan Kemiskinan

I.

Pengantar 

Kemiskinan  adalah  kondisi  dimana  seseorang  dalam  kekurangan  sehingga  pendapatannya  rendah,  pendidikanya  rendah,  kesehatannya  rendah,  perumahannya  sederhana  dan  cenderung  tidak  sehat  serta  kondisi yang serba kurang. Kalau kita membahas kemiskinan maka umumnya perhatian tertuju pada kondisi  serba kekurangan tersebut sebagai akibat ketidakmampuannya menyediakan kebutuhan tersebut.  Karena  itu,  umumnya  upaya  penanggulangan  kemiskinan  banyak  tertuju  pada  pemberian  fasilitas  untuk  sekolah, berobat dan memenuhi kebutuhan pokok. Memang hal ini adalah kebutuhan mendesak yang harus  segera dipenuhi. Tapi hal ini hanya menyelesaikan dampak kemiskinan bukan menyelesaikan kemiskinan itu  sendiri.  Secara  teoritis  kemiskinan  dibedakan  menjadi  kemiskinan  kultural  dan  kemiskinan  struktural.  Kemiskinan  kultural  adalah  kemiskinan  karena  faktor  internal  sehingga  mereka  tidak  berdaya  terhadap  kehidupannya  sendiri.  Akibatnya  mereka  cenderung  menerima  dan  tidak  mampu  keluar  dari  kondisinya.  Kemiskinan  struktural  adalah  kemiskinan  karena  faktor  eksternal  sehingga  mereka  tidak  mampu  memanfaatkan  lingkungan. Akibatnya mereka cenderung apatis dan tidak mampu keluar dari kondisinya.  Problem  kemiskinan  adalah  ketiadaan  aset  sehingga  mereka  tidak  punya  pekerjaan  untuk  memperoleh  pendapatan  secara  memadai.  Ada  banyak  program  kemiskinan  dibidang  ekonomi,  tapi  umumnya  belum  menyentuh pada peningkatan kemampuan orang miskin meningkatkan pendapatannya.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

105

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Penanggulangan Kemiskinan 

Umumnya kemiskinan di Lampung disebabkan ketiadaan aset baik lahan, dana, ataupun keahlian. Akibatnya  mereka  tidak  punya  pekerjaan  dan  juga  tidak  punya  pendapatan  ataupun  kalau  punya  pendapatan  maka  pendapatannya kecil sehingga tidak sebanding dengan kebutuhan hidup secara layak dan manusiawi.  Sebagian  besar  orang  miskin  ada  di  perdesaan.  Mereka  umumnya  tidak  punya  lahan  sehingga  hanya  berstatus  sebagai  buruh  tani.  Adapun  petani  yang  memiliki  lahan  seringkali  tidak  dapat  optimal  memanfaatkan lahannya karena keterbatasan keahlian ataupun ketiadaan dana (modal kerja) serta seringkali  daya dukung lahan yang memadai karena terbatasnya air. II. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah Lampung  Pada tahun 2005 secara nasional BPS telah melakukan sensus kemiskinan guna mendata penduduk miskin.  Hasil  pendataan  BPS  pada  tahun  2005  menunjukkan  bahwa    jumlah  rumah  tangga  miskin  di  Provinsi  Lampung  sebanyak  663.018  RT,  dan  terbesar  ada  di  Kabupaten  Lampung  Selatan  sebanyak  151.704  RT  diikuti  Kabupaten  Lampung  Tengah  dan  Lampung  Timur  masing­masing  97.914  RT  dan  90.236  RT.  RT  Miskin terendah ada di Kabupaten Way Kanan sebesar 38.864 RT dan Kota Metro sebanyak 4.857 RT. Jika  per  RT  diasumsikan  beranggotakan  4  (empat)  orang,  terdiri  dari  ibu,  bapak  dan  2  anak,  maka  jumlah  penduduk miskin Lampung tahun 2005 sebanyak 2,65 juta jiwa.  Secara lengkap jumlah RT miskin di Provinsi  LampungTahun 2005 dapat dilihat pada tabel berikut :  Tabel 4.2­1  Jumlah Rumah Tangga Miskin Provinsi Lampung Tahun 2005  No KABUPATEN/KOTA  1.  Lampung Barat  2.  Tanggamus  3.  Lampung Selatan  4.  Lampung Timur  5.  Lampung Tengah  6.  Lampung Utara  7.  Way Kanan  8.  Tulang Bawang  9.  Metro  10.  Bandarlampung  Provinsi Lampung
Sumber : BPS Provinsi Lampung, 2005

RT MISKIN  39.233  68.894  151.704  90.236  97.914  66.280  38.864  51.675  4.857  53.361 663.018

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

106 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Penanggulangan Kemiskinan 

III. Sasaran Yang Ingin Dicapai  Sasaran penanggulangan kemiskinan terkait dengan sasaran pembangunan yang tercantum dalam agenda  lain.  Sasaran  penanggulangan  kemiskinan  dalam  lima  tahun  adalah  menurunnya  jumlah  penduduk  miskin  laki­laki dan perempuan  dan terpenuhinya  hak­hak  dasar masyarakat miskin secara bertahap. Secara rinci,  sasaran tersebut adalah:  1.  Menurunnya persentase penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan menjadi 8,2 persen pada  tahun 2009;  2.  Terpenuhinya kecukupan pangan yang bermutu dan terjangkau;  3.  Terpenuhinya pelayanan kesehatan yang bermutu;  4.  Tersedianya pelayanan pendidikan dasar yang bermutu dan merata;  5.  Terbukanya kesempatan kerja dan berusaha;  6.  Terpenuhinya kebutuhan perumahan dan sanitasi yang layak dan sehat;  7.  Terpenuhinya kebutuhan air bersih dan aman bagi masyarakat miskin;  8.  Terbukanya akses masyarakat miskin dalam pemanfaatan SDA dan terjaganya kualitas lingkungan  hidup;  9.  Terjamin dan terlindunginya hak perorangan dan hak komunal atas tanah;  10.  Terjaminnya rasa aman dari tindak kekerasan; dan  11.  Meningkatnya partisipasi masyarakat miskin dalam pengambilan keputusan.  Dalam dokumen RPJMN Lampung maka sasaran yang hendak dicapai adalah:  1.  Meningkatkan  peluang  berusaha  dan  bekerja  dengan  tingkat  penghasilan  keluarga  yang  memungkinkan hidup layak dan berkeempatan menabung.  2.  Tercapainya tingkat pendapatan perkapita rata­ rata 1,49 juta pada tahun 2008 (harga konstan 2003)  3.  Menurunnya presentasi jumlah penduduk miskin, Keluarga Pra Sejahtera dan meningkatnya jumlah  Keluarga Sejahtera.  4.  Meningkatnya pelayanan kesejahteraan sosial bagi penyandang masalah sosial.  5.  Pembinaan  dan  dan  pembuatan  prasarana  dasar  pemukiman  untuk  mewujudkan  peningkatan  kualitas hidup masyarakat.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

107

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Penanggulangan Kemiskinan 

IV. Arah Kebijakan  Secara  umum  dan  spesifik  isu  mengenai  penanggulangan  kemiskinan,  tidak  ada  secara  khusus  tersurat  dalam dokumen Rencana Stratejik (Renstra) Provinsi Lampung 2004­2009, hanya saja Secara tersirat dalam  Rencana  Stratejik  (Renstra)  Provinsi  Lampung  2004­2009,  upaya  penanggulangan  kemiskinan  tercakup  dalam  Misi­2  yakni  ;  membangun  dan  mengoptimalkan  potensi  perekonomian  daerah  dengan  berbasiskan  agribisnis dan ekonomi kerakyatan yang tangguh, unggul, dan berdaya saing.  Misi  ini  ditujukan  untuk  membangun  dan  mengoptimalkan  seluruh  potensi  ekonomi  daerah  dalam  rangka  memberikan  peluang  yang  seluas­luasnya  bagi  masayarakat  untuk  meningkatkan  kesejahteraan  ekonomi.  Melalui  misi  ini  akan  disinergikan  semua  potensi  dari  semua  pelaku  ekonomi,  dunia  usaha,  lembaga  keuangan  dan  kelembagaan  dalam  rangka  membangun  ekonomi  kerakyatan  yang  memiliki  daya  saing.  Potensi  pertanian  dan  agribisnis  akan  tetap  menjadi  prioritas  dengan  didukung  pengembangan  sektor  industry dan jasa. Kebijakan ekonomi dengan pendekatan kemitraan yang sinerjik dan saling menguntungkan  antara petani/masayarakat dan pengusaha juga akan terus dikembangkan untuk membangun perekonomian  yang tangguh dan berdayasaing tersebut. V. Pencapaian RPJMN di daerah Lampung (2005­2007) 5.1 Posisi Capaian hingga 2007 

Meski  secara  nasional  jumlah  penduduk  miskin  berkurang  sebesar  17%  namun  pada  beberapa  provinsi  termasuk  Provinsi  Lampung  justru  terjadi  sebaliknya  yakni  jumlah  penduduk  miskin  semakin  bertambah.  Menurut Tjipto Sanyoto, Kepala BPS Lampung, jumlah penduduk miskin di Provinsi Lampung meningkat dari  1,57  juta  orang  (21,42%)  tahun  2005  menjadi  1,66  juta  orang  (22,19%)  tahun  2007  (Harian  Umum  Radar  Lampung, Kamis, 2 Agustus 2007).  Adapun distribusi rumah tangga miskin (RTM) menurut kabupaten/kota di  Propinsi Lampung Tahun 2007 tertera pada Tabel 1.  Tabel  dibawah  menunjukkan  bahwa  sebanyak  65%  penduduk  miskin  berada  di  perdesaan  yang  sebagian  besar berdomisili di Kabupaten Way Kanan, Tulang Bawang, Tanggamus, Lampung Selatan, dan Lampung

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

108

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Penanggulangan Kemiskinan 

Barat.  Hal ini karena daerah­daerah tersebut memiliki aksesibilitas yang rendah sehingga akses masyarakat  kepada pelayanan pokok (ekonomi, kesehatan, dan pendidikan) sangat terbatas.  Berbeda  dengan  perdesaan,  permasalahan  kemiskinan  di  perkotaan  lebih  disebabkan  oleh  rendahnya  aksesibilitas ekonomi masyarakat yang ditunjukkan oleh indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan yakni  sebesar 4,92 dan 1,64.  Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan indeks kedalaman dan keparahan  kemiskinan di perdesaan yakni 3,86 dan 1,06. Secara kuantitas masalah kemiskinan di desa lebih dominan,  namun dari sisi intensitas­kualitas justru masalah kemiskinan di kota lebih tinggi.  Tabel 4.2­2  Jumlah rumah tanga miskin (RTM) per kabupaten/kota di Provinsi Lampung, Tahun 2007 NO. 1  2  3  4  5  6  7  8  9  10  KABUPATEN Lampung Tengah  Lampung Barat  Way Kanan  Bandar Lampung  Lampung Utara  Lampung Timur  Tulang Bawang  Tanggamus  Lampung Selatan  Metro  Jumlah  JML RTM 113.634  49.506  44.385  10.588  69.734  99.633  66.604  77.943  172.155  701  704.883  DESA TERTINGGAL DESA RTM  63  19.514  109  28.865  127  25.948  3  1.293  87  13.957  33  10.526  101  34.871  125  31.391  117  44.563  0  209  765  211.137 

Sumber:  Form 1 Penentuan Desa Sasaran Penanggulangan Kemiskinan Provinsi Lampung,  BAPPEDA Provinsi Lampung, Tahun 2007 

Di samping itu, masalah kesejahteraan sosial ditunjukkan juga oleh data jumlah fakir miskin yang mencapai  1,27 juta orang, anak terlantar sebanyak 52.144 orang, dan anak jalanan sebanyak 3.172 orang pada tahun  2005.  Pada  tingkat  nasional  upaya  penanggulangan  kemiskinan  telah  dilaksanakan  oleh  Pemerintah  melalui  beberapa  program  mulai  dari  Inpres  Desa  Tertinggal  (IDT),  Pengembangan  Ekonomi  Lokal  (PEL),

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

109 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Penanggulangan Kemiskinan 

Pengembangan  Ekonomi  Masyarakat  di  Daerah  (PEMDKE,  PNPM,  PPK),  hingga  ke  bentuk  Bantuan  Langsung  Tunai  (BLT),  bantuan  beras  untuk  rakyat  miskin  (Raskin),  bantuan  obat  untuk  keluarga  miskin  (Gakin),  dan  lain­lain.    Meskipun  secara  umum  masih  memiliki  berbagai  kelemahan,  program­program  tersebut sampai batas­batas tertentu bermanfaat bagi kelompok masyarakat miskin.  Pada dokumen LAKIP Pemerintah Provinsi Lampung  tahun 2007  disebutkan  bahwa pencapaian Sasaran 9  dari  Misi  2,  yaitu  menurunnya  prosentase  jumlah  penduduk  miskin,  Keluarga  Pra  Sejahtera  (KPS),  dan  meningkatnya  Keluarga  Sejahtera  (KS)  ternyata  tidak  terjadi  dan  bahkan  tidak  terukur  secara  akurat.  Padahal  berbagai  program  khusus  untuk  penanggulangan  kemiskinan  telah  diluncurkan  sejak  tahun  2000.  Digulirkannya  program­program  khusus  tersebut  mencerminkan  bahwa  pada  tataran  komitmen  sesungguhnya Pemerintah Provinsi Lampung sudah cukup memadai terkait penanggulangan kemiskinan.  Program khusus penanggulangan kemiskinan yang telah dijalankan di Provinsi Lampung antara lain: Desaku  Maju  Sakai  Sambayan  (DMSS),  Program  Pemberdayaan  Ekonomi  Kerakyatan  Kampung  Tua  (PPEK­KT),  dan  Program  Pengembangan  ITTARA  (Industri  Tepung  Tapioka  Rakyat),  dll.  Patut  diakui  bahwa  program­  program tersebut belum mencapai hasil yang diharapkan. Apabila dikaji lebih lanjut ada beberapa kelemahan:  (a) ada sebagian program yang belum menyentuh langsung persoalan­persoalan dasar kemiskinan, (b) ada  sebagian program yang  sudah  dikemas dengan  baik, namun terhenti di tengah  jalan, dan (c) ada program  yang masih terbatas (berkutat) pada koordinasi dan penyamaan persepsi antara pihak­pihak (instansi) yang  terkait dengan penanggulangan kemiskinan.  Upaya  pengentasan  kemiskinan  juga  dapat  dipengaruhi  oleh  isu  politik  yang  berkembang  di  daerah.  Perlu  dijelaskan  bahwa  karena  sesuatu  hal  yang  terkait  dengan  masalah  politik,  maka  pada  tahun  2006  APBD  Provinsi  Lampung  tidak  mengalami  proses  pembahasan  oleh  DPRD  seperti  mekanisme  normal.  Sebagai  salah  satu  dampaknya,  upaya  penanggulangan  kemiskinan  baik  pada  tataran  kebijakan  maupun  pada  pelaksanaan  program pada  tahun 2006  tidak  berjalan secara utuh. Selain itu, proses transisi pemerintahan  yang tidak mulus (akibat proses pergantian Gubernur Lampung yang berlarut­larut) mengakibatkan masalah  penanggulangan  kemiskinan  kehilangan  gregetnya,  termasuk  pada  masa  awal    kepemimpinan  Gubernur  Definitip.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

110 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Penanggulangan Kemiskinan 

Pada  tingkat  kabupaten/kota  di  Provinsi  Lampung,  program  penanggulangan  kemiskinan  tahun  2006  tetap  berjalan dengan berbagai bentuk, seperti: Program Gerakan Masyarakat Membangun (GEMA) Tapis Berseri  di  Kota  Bandar  Lampung,  Program  Jejamo  Ngebangun  Sai  Bumi  Nengah  Nyappur  di  Kabupaten  Tulang  Bawang,  Program  Beguwai  Jajamo  Wawai  di  Kabupaten  Lampung  Tengah,  dan  Program  Gerakan  Membangun  Beguai  Jejama  Sai  Betik  di  Kabupaten  Lampung  Barat.    Keempat  program  tersebut  lebih  menekankan kepada pembangunan infrastruktur perdesaan, dari pada pemberdayaan ekonomi rakyat miskin.  Perlu dicatat pula bahwa isu kemiskinan mulai mendapat tempat sentral dalam APBD Provinsi Lampung sejak  tahun 2007, ketika konflik DPRD dan Pemerintah Propinsi Lampung selesai, sehingga APBD berhasil dibahas  dan ditetapkan menjadi Perda. Pada tahun 2007 Pemerintah Provinsi Lampung telah menetapkan 200 desa  miskin sebagai sasaran program penanggulangan kemiskinan, dengan target alokasi dana sekitar Rp 1 milyar  per desa per tahun anggaran.  Komitmen  pemerintah  daerah  untuk  menanggulangi  kemiskinan  tersebut  ternyata  belum  diikuti  dengan  prencanaan  dan  sistem  pengelolaan    program  yang  baik.  Hal  ini  tercermin  pada  pelaksanaan  program/kegiatan yang  sepenuhya diserahkan  kepada Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD), sehingga  masing­masing  kegiatan  cenderung  berjalan  sendiri­sendiri  sesuai  dengan  tugas  pokok  dan  fungsi  (TUPOKSI) masing­masing SKPD. Daya serap masyarakat desa miskin dan tertinggal  masih sangat rendah  yakni sebesar Rp 25 juta sampai Rp 50 juta, relatif rendah dibandingkan dengan alokasi dana yang disiapkan  per desa.  Fenomena ini, sekali lagi mencerinkan bahwa program tidak  disertai dengan upaya peningkatan  kapasitas  internal  dan  eksternal  kelompok  masyarakat  miskin.  Akibatnya,  dampak  program  terhadap  penanggulangan  kemiskinan  sangat  rendah.  Sebagaimana  dimaklumi  bersama  bahwa  kemiskinan  merupakan  masalah  yang  kompleks  sehingga  penanggulangannya  harus  dilakukan  secara  sistematis,  terpadu, dan berkesinambungan.  Dari analisis di atas, tampak jelas bahwa Pemerintah Provinsi Lampung harus segera mengembangkan suatu  model  atau  konsep  yang  ”sistematis  dan  komprehensif”  untuk  penanggulangan  kemiskinan.  Model  atau  konsep yang dikembangkan harus bersifat partisipatif dan disesuaikan dengan karakteristik kemiskinan yang  ada di Provinsi Lampung. Karena itu pengembangan model tersebut harus  didukung oleh hasil­hasil kajian  akademik yang cukup, sehingga mampu menyentuh esensi permasalahan secara efektif.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

111 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Penanggulangan Kemiskinan 

Pada  tahun  2006  program penanggulangan kemiskinan di Provinsi Lampung  tercantum  dalam Sasaran 9  Misi 2 yakni: Menurunnya persentase jumlah penduduk miskin KPS dan meningkatnya keluarga sejahtera di  Propinsi Lampung (LAKIP Pemerintah Provinsi Lampung 2007).  Selanjutnya pada dokumen LAKIP tampak  bahwa kegiatan yang berkaitan dengan penangulanggan kemiskinan ada sembilan kegiatan.  Indikator kinerja sasaran 9 adalah:  1.  Meningkatnya kinerja pengelolaan PMT­AS dan terciptanya kesepakatan pemahaman semua pihak  2.  Tercapainya tujuan Program Penanggulangan Kemiskinan  3.  Berfungsinya UPK  4.  Meningkatnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat  5.  Masyarakat menerima harga jual produk yang layak  6.  Tersedianya sarana keterampilan  7.  Meningkatnya keberdayaan masyarakat  8.  Semakin cepatnya pembangunan sosial  Untuk mencapai mencapai indikator keberhasilan tersebut, telah dilaksanakan sembilan kegiatan yakni:  1.  Pemantauan Pelaksanaan PMTAS di 10 kabupaten/kota.  2.  Koordinasi Komite Penanggulangan Kemiskinan (KPK) dan monitoring PKPS­BBM  3.  Pemantauan dan Pembinaan PPK  4.  Orientasi Forum UPK­PPK pada 8 Kabupaten dan 60 Kecamatan Penerima PPK Fase I, II, dan III  5.  Pelatihan lanjutan Manajemen Keuangan UPK­PPK pada 8 Kabupaten dan 35 Kecamatan Fase III.  6.  Pasar Murah menyambut Hari Raya, Pasar Sabtu dan Minggu  7.  Pengembangan Usaha dan Kesempatan Kerja di Daerah Tertinggal  8.  Pendampingan Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan  9.  Pendampingan Program Percepatan Pembangunan Daerah Tertingal dan Khusus 5.2 Permasalahan Pencapain Sasaran 

Disamping masalah terbatasnya jumlah anggaran yang ada di Pemerintah Daerah, bentuk koordinasi antara  Pemerintah  Pusat,  Propinsi  dan  Kabupaten/Kota  serta  koordinasi  antar  Satker  Strategis  seperti  Dinas

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

112 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Penanggulangan Kemiskinan 

Pertanian, Dinas Perkebunan, Dinas Perikanan, Dinas Peternakan, Dinas Kehutanan dan dinas lainnya serta  dengan  Lembaga  Perguruan    Tinggi  dan  Litbang  terapan  akan  menjadikan  kemiskinan  sebagai  fokus  program  pembangunan  harus  terus  ditingkatkan  dan  dicari  bentuk  terbaiknya,  dikarenakan  isu  kemiskinan  bukan merupakan isu yang mudah untuk di selesaikan tanpa melibatkan semua stakeholder pembangunan di  Provinsi Lampung. VI. Rekomendasi Tindak Lanjut 6.1 Upaya Yang Dilakukan Untuk Mencapai Sasaran 

Upaya  pengentasan  dan  pengurangan  jumlah  penduduk  miskin  di  Provinsi  Lampung  sebaiknya  diawali  dengan  Perumusan  kebijakan  penanggulangan  kemiskinan  di  Provinsi  Lampung  hendaknya  dilakukan  dengan tahapan sebagai berikut:  a.  Dimulai dari melakukan kajian yang komprehensif tentang faktor penyebab kemiskinan  b.  Melaksanakan  FGD  dengan  masyarakat  miskin  guna  menilai  usulan  kebutuhan  penanggulangan  kemiskinan di tingkat kelompok sasaran  c.  Melaksanakan  FGD  ditingkat  Pemerintah  Kabupaten/Kota  dan  Provinsi  untuk  merumuskan  kebijakan  perencanaan  penanggulangan  kemiskinan  yang  tepat  untuk  masing­masing  daerah  dan  kelompok  sasaran.  d.  Membangun sistem monitoring dan evaluasi guna mengukur keberhasilan program dan efektivitas suatu  kebijakan.  Semua  proses  perumusan  tersebut  harus  berbasis  partisipasi  masyarakat  miskin  sehingga  penyelesaian  masalah kemiskinan bisa di selesaikan sampai ke akar masalah dan terfokus sasaran masyarakat yang akan  mendapat bantuan program ini. VII. Penutup  Secara  umum  kemiskinan  yang  terjadi  di  Provinsi  Lampung,  bukan  hanya  terjadi  di  pedesaan  tapi  juga  berada  di  wilayah  perkotaan,  sehingga  langkah  untuk  penyelesainya  harus  berdasarkan  spesifiksi  lokasi.  Usaha dan program pengentasan  kemiskinan yang  berbasis masyarakat adalah sangat efektif. Tujuan dari

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

113 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Penanggulangan Kemiskinan 

pengentasan  kemiskinan  ini  adalah  meningkatkan  kondisi  masayarakat  menjadi  lebih  sejahtera  secara  berkelanjutan.  Upaya  ini  akan  bersifat  jangka  panjang  (berkesinambungan)  bila  dibandingkan  dengan  program bantuan dalam bentuk tunai.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

114 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Investasi dan Ekspor Non Migas 

Bab IV.3 Peningkatan Investasi dan Ekspor Non Migas

I.

Pengantar 

Perekonomian  Indonesia  membaik  selepas  krisis  ekonomi  1997­1998,  yang  ditandai  dengan  semakin  membaiknya  pertumbuhan  dan  stabilitas  ekonomi  makro,  beberapa  faktor  yang  berperan  penting  dalam  mendorong pertumbuhan ekonomi adalah investasi dan ekspor. Meskipun pertumbuhan investasi dan ekspor  selama  pasca  krisis  telah  menunjukan  perkembangan  yang  cukup  baik,  namun selama  kurun  waktu  1999­  2003,  angka  pertumbuhannya  secara  umum  masih  berada  dibawah  angka  pada  saat  sebelum  krisis.  Penyebab utama dari rendahnya pertumbuhan investasi ini adalah iklim usaha yang belum mendukung.  Meskipun pertumbuhan investasi dan ekspor sudah menunjukan adanya perbaikan, namun pemerintah tetap  terus berupaya untuk membenahi iklim berinvestasi dan meningkatkan daya saing produk ekspor Indonesia,  agar pertumbuhan investasi dan ekspor dapat lebih besar kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi. II. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah Lampung  Provinsi Lampung  sebagai salah satu provinsi yang  ikut dalam persaingan pembangunan ekonomi, sampai  saat ini masih mengandalkan sektor pertanian sebagai tulang punggung perekonomiannya.  Menurut catatan  statistik, sektor pertanian memberi sumbangan yang sangat signifikan yaitu selalu di atas 40 persen.  Pada  tahun  2005,  kontribusi  sektor  pertanian  adalah  42,35  persen    terhadap  PDRB  Lampung  menurut  harga  konstan  tahun  2000  (BPS,  2006).    Jika  dilihat  dari  sisi  penawaran  maka  subsektor  perkebunan  tanaman  perkebunan memiliki peran yang cukup besar dalam sektor pertanian.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

115

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Investasi dan Ekspor Non Migas 

Total  realisasi  investasi  PMDN  tahun  2005  di  Provinsi  Lampung  telah  mencapai  Rp  1,33  trilyun,  angka  tersebut meningkat sebesar Rp 115,08% dibandingkan investasi PMDN tahun 2004.  PMA juga mengalami  peningkatan  yang  cukup  signifikan  yaitu  sebesar  444,09%.    Peningkatan  nilai  investasi  yang  cukup  besar  tersebut  menunjukkan  Provinsi  Lampung  sangat  kondusif  sebagai  daerah  tujuan  investasi  untuk  kemajuan  Lampung.  Perkembangan  ekspor  non  migas  Lampung  tahun  2004  sebesar  US$  705.005,92  juta,  dengan  komoditas  ekspor  utamanya    adalah  Kopi,  teh  dan  rempah­rempah  sebesar  US$  181.187,22  juta  atau  25,7%,  bubur  kayu sebesar US$ 155.289,34 juta atau 22,03%, dan Ikan dan udang sebesar US$ 98.670,65 juta (14%).

III. Sasaran Yang Ingin Dicapai  Sasaran yang  hendak  dicapai  dalam  upaya  meningkatkan investasi  dan  ekspor  non­migas  adalah  sebagai  berikut: 1.  Terwujudnya  iklim  investasi  yang  sehat  melalui  reformasi  kelembagaab  di  berbagai  tingkatan  pemerintahan  yang  mampu  mengurangi  praktik  ekonomi  tinggi.  Reformasi  dimaksud  mencakup  upaya untuk menuntaskan sinkronisasi sekaligus deregulasi peraturan antarsektor dan antara pusat  dengan  daerah  serta  peningkatan  kapasitas  kelembagaan  untuk  implementasi  penyederhanaan  prosedur  perijinan  untuk  start  up  bisnis,  penyempurnaan  sistem  perpajakan  dan  kepabeanan,  penegakan hukum untuk meningkatkan keamanan dan ketertiban berusaha.  2.  Peningkatan  efisiensi  pelayanan  ekspor­impor  kepelabuhanan,  kepabeanan,  dan  administrasi  (verifikasi  dan restitusi)  perpajakan  ke  tingkatan  efisiensi  di  negara­negara  tetangga  yang  maju  di  lingkungan ASEAN. Dalam 3 (tiga) tahun pertama diharapkan setengahnya telah dicapai.  3.  Pemangkasan prosedur perijinan start up dan operasi bisnis ke tingkatan efisiensi di negara­negara  tetangga  yang  maju  perekonomiannya  di  lingkungan  ASEAN.  Dalam  3  (tiga)  tahun  pertama,  diharapkan setengahnya telah tercapai.  4.  Meningkatnya  investasi  secara  bertahap  sehingga  peranannya  terhadap  Produk  Nasional  Bruto  meningkat.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

116 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Investasi dan Ekspor Non Migas 

5.  Meningkatnya pertumbuhan ekspor secara bertahap.  Dalam RPJMN Lampung sasaran yang ingin  dicapai  adalah  meningkatnya  ekspor  daerah  Lampung  sehingga  tercapainya  neraca  perdagangan  yang menguntungkan.  6.  Meningkatnya efisiensi dan efektivitas sistem distribusi nasional, tertib niaga dan kepastian berusaha  untuk mewujudkan perdagangan dalam negeri yang kondusif dan dinamis.  7.  Meningkatnya  kontribusi  pariwisata  dalam  perolehan  devisa  menjadi  sekitar  USD  10  miliar  pada  tahun 2009.  8.  Meningkatnya kontribusi kiriman devisa dari tenaga kerja Indonesia yang berada di luar negeri.

IV. Arah Kebijakan  Dalam rangka mewujudkan sasaran yang telah ditetapkan kebijakan bagi penciptaan iklim investasi dan  peningkatan daya saing ekspor nasional adalah:  1.  Mengurangi praktik ekonomi biaya tinggi.  2.  Menjamin kepastian usaha dan meningkatkan penegakan hukum.  3.  Mengembangkan kebijakan investasi.  4.  Meningkatkan akses dan perluasan pasar produk ekspor industri.  5.  Meningkatkan kinerja perdagangan dalam kegiatan.  6.  Meningkatkan kepariwisataan.  Sementara dalam RPJMD (Renstra) Lampung tahun 2004­2009 arah kebijakan adalah:  1.  Pemberlakuan mekanisme insentif dan disinsentif dalam mendorong pertumbuhan dan pemerataan  investasi.  2.  Membuka dan mengembangkan potensi investasi baru serta dukungan untuk promosi  dan investasi  daerah.  3.  Mengembangkan dan mengoptimalkan sistem agribisnis berbasis pertanian.  4.  Implementasi ekonomi kerakyatan.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

117 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Investasi dan Ekspor Non Migas 

V. Pencapaian RPJMN di daerah Lampung (2005­2007) 5.1 Posisi Capaian hingga 2007

5.1.1 Perkembangan Kinerja Ekspor  Kontribusi  komoditas  kelompok  industri  manufaktur  di  Provinsi  Lampung  terhadap  ekspor  non­migas  pada  tahun  2007  mencapai  US$  771,224,010  juta  atau  54.03  %  dari  total  ekspor  Lampung.  Dan  mengalami  penurunan  jika  dibandingkan dengan  pencapain tahun  2006 dimana mencapai US$ 888,352,107 Juta atau  62.48 % dari total ekspor Lampung, Besarnya ekspor pada kelompok industri manufaktur ini pada tahun 2007  terutama dikontribusi oleh Industri makanan dan minuman dengan nilai mencapai US$ 565,852,995 juta atau  39.80 dari total nilai ekspor Lampung.  Tujuan  eskpor  utama  dari  produk  yang  dihasilkan  di  Provinsi  Lampung  dari  tahun  2006­2007  tetap  tidak  mengalami  perubahan  tujuan  utama  yakni  ke  Amerika  Serikat  dan  di  susul  kemudian  ke  Jepang.  Struktur  tujuan ekspor yang masih di dominasi dua Negara ini yakni berturut­turut untuk 2007 adalah sebesar 15.11 %  dan 13.52 % dari total ekspor Provinsi Lampung.  Tabel 4.3­1  Perkembangan Ekspor Komoditas Non Migas Provinsi Lampung Menurut Negara Tujuan Negara Tujuan 1. Afrika  2. Amerika  Amerika Serikat  Kanada  Amerika Latin  Amerika Lainnya  3. Asia  Malaysia  Filipina  Singapura  Jepang  Korea Selatan  RRC  Taiwan  2006 US$ 40,315,075  269,399,720  247,330,631  5,052,527  211,572  16,804,990  630,695,901  29,980,934  9,800,109  89,997,956  203,908,486  51,995,452  93,341,496  49,651,598  % 2.84  18.95  15.11  0.36  0.01  1.18  44.36  2.11  0.69  6.33  14.34  3.66  6.56  3.49  2007 US$ 2.8436,661,880  238,126,330  215,610,658  3,126,976  3,289,103  16,099,593  761,749,746  53,845,215  30,604,351  23,911,911  193,037,168  69,892,133  127,295,945  50,907,119  %  2.57  16.68  15.11  0.22  0.23  1.13  53.37  3.77  2.14  1.68  13.52  4.90  8.92  3.57

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

118

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Investasi dan Ekspor Non Migas 

Asia Lainnya  4. Australia  5. Eropa  Inggris  Belanda  Perancis  Jerman  Italia  Eropa Lainnya 

102,019,870  5,661,733  475,732,551  58,632,298  142,609,112  30,477,870  97,868,196  59,732,594  145,044,779  1,421,804,980 

7.18  0.40  33.46  4.12  10.03  2.14  6.88  4.20  10.20 

212,255,904  12,527,501  378,243,612  57,956,573  89,365,737  13,740,190  85,037,023  58,669,076  131,431,586  1,427,309,069 

14.87  0.88  26.50  4.06  6.26  0.96  5.96  4.11  9.21 

Sumber : Bank Indonesia Bandar Lampung 

Perkembangan  Ekspor  Komoditas  Non  Migas  Provinsi  Lampung  Menurut  Klasifikasi  International  Standard  Industrial  Classification  (ISIC)  dari  tahun  2006  dan  tahun  2007  tetap  di  dominasi  oleh  kelompok  industri  Pertanian  yakni  berturut­turut  28.34  %  dan  34.12  %,  hal  ini  membuat  kelompok  industri  pertanian  menjadi  sumber penggerak utama pertumbuhan ekonomi Lampung dari tahun ke tahun.  Tabel 4.3­2  Perkembangan Ekspor Komoditas Non Migas Provinsi Lampung Menurut Klasifikasi International Standard  Industrial Classification (ISIC) Kelompok ISIC US$ Pertanian  A  Pertanian  B  Kehutanan  C  Perikanan  Pertambangan dan Penggalian  Industri Manufaktur  A  B  C  D  E  Makanan dan Minuman  Tekstil  Kayu  Kertas  Kimia  410,563,794  402,880,534  6,611,005  1,072,255  122,889,079  888,352,107  565,852,995  138,363  12,881,756  203,331,043  16,262,813  2006 % 28.88  28.34  0.46  0.08  8.64  62.48  39.80  0.01  0.91  14.30  1.14  US$ 495,732,878  486,956,167  7,754,927  1,021,784  160,352,181  771,224,010  459,630,940  585,780  6,217,212  236,657,068  14,260,949  2007 %  34.73  34.12  0.54  0.07  11.23  54.03  32.20  0.04  0.44  16.58  1.00

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

119 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Investasi dan Ekspor Non Migas 

F  G  H  I  J  K  L  M 

Karet dan Plastik  Tambang Non Logam  Logam Dasar  Logam Olahan  Mesin dan Peralatan  Peralatan Medis dan Optik  Mebel  Lainnya 

368,248  4,630,282  2,028  12,555,039  63,964,364  14,222  2,362,849  5,988,105  1,421,804,980 

0.03  0.33  0.00  0.88  4.50  0.00  0.17  0.42 

124,531  3,247,250  17,883  4,406,958  23,705,398  0  1,747,976  20,622,065  1,427,09,069 

0.01  0.23  0.00  0.31  1.66  0.00  0.12  1.44  100.00 

Sumber : Bank Indonesia Bandar Lampung 

Sementara itu beberapa perbaikan di sektor  perdagangan yang telah dilakukan adalah:  1.  Perlindungan konsumen dan pengamanan perdagangan.  2.  Peningkatan pengembangan ekspor.  3.  Peningkatan efisiensi perdagangan.  4.  Pembinaan pedagang kaki lima dan asongan. 5.1.2 Penanaman Modal Dalam Negri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA)  Beberapa program yang telah dilaksanakan dalam rangka pengembangan investasi di daerah adalah:  1.  Program pengembangan potensi dan investasi daerah  2.  Pemerataan investasi antar daearh dan peningkatan produksi  3.  Penciptaan iklim, investasi yang kondusif  Total  realisasi  penanaman  modal  di  Provinsi  Lampung  dari  tahun  2006  dan  2007  mengalami  tren  yang  ini  terlihat  dari  nilai  realisasi  proyek  dan  jumlah  proyek  yang  dilaksanakan  yang  terus  menurun  dari  tahun  ketahun.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

120 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Investasi dan Ekspor Non Migas 

Tabel 4.3­3  Persetujuan Investasi di Provinsi Lampung Tahun 2006 ­ 2007 Tahun Jumlah Proyek 2006  2007  18  12  PMA Nilai (ribu US$) 178,282.6  247,681.3  Jumlah Proyek 13  7  PMDN Nilai (ribu US$)  3,763,050,000.0  951,356,400.0 

Sumber : Dinas Promosi Investasi dan Pariwisata Provinsi Lampung

5.1.3 Sektor Pariwisata  Kinerja pariwisata di daearh Lampung berimbas juga dengan adanya isu – isu negatif seperti terorisme,  wabah flu burung, keamanan dan ketertiban, berkembangnya beberapa isu dan masih lemahnya  pengembangan pariwisata berdampak pada kinerja sektor pariwisata.  Data menunjukkan bahwa jumlah wisatawan yang berkunjung ke Lampung pada tahun 2006 baik wisatawan  mancanegara maupun wisatawan domestik berjumlah 850.661 (naik  22,48% dibandingkan tahun 2003).  Wisatawan mancanegara naik  27,08 % dibandingkan dengan tahun 2005, sedangkan wistawan domestik  naik 22,44% dibandingkan tahun 2005.  sedangkan jumlah tenaga kerja yang terserap terbanyak 5.296 orang. 5.2 5.2.1 Permasalahan Pencapain Sasaran Investasi 

1.  Kurang memadainya dukungan infrastruktur (jalan dan energi)  2.  Masih rumit dan panjangnya proses perizinan  3.  Persoalan kewenangan penanam modal pada masing – masing level pemerintah 5.2.2 Ekspor 

1.  Masih adanya hambatan non tarif dalam ekspor  2.  Lemahnya sistem pengamanan
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

121 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Investasi dan Ekspor Non Migas 

3.  Pasar ekspor masih terkonsentrasi di tempat para ekport tradisional  4.  Ketersediaan infrastruktur yang kurang  5.2.3  Pariwisata 

1.  Lemahnya pengelolaan daerah tujuan wisata  2.  Lemahnya koordinasi dalam pengembangan pariwisata  3.  Ketersediaan infrastruktur yang kurang

VI. Rekomendasi Tindak Lanjut 6.1 Investasi  Langkah penting yang akan di tempuh dalam rangka peningkatan kinerja investasi kedepan adalah ;  1)  Mempercepat perbaikan dan pembangunan infrastruktur  2)  Mengimplementasikan proses perizinan yang semakin baik, luas, transparan dan cepat  3)  Meningkatkan kualitas dan produktivitas tenaga kerja  4)  Meningkatkan daya tarik investasi, untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah yang merata  dan mengurangi kemiskinan secara luas. 6.2 Ekspor  Langkah penting yang akan di tempuh dalam rangka peningkatan ekspor kedepan adalah ;  1)  Meningkatkan  kualitas  pelayanan  kelembagaa  pusat  promosi  ekspor  sesuai  kebutuhan  eskportir  secara berkelanjutan  2)  Mempertahankan pertumbuhan ekspor  3)  Meningktakan  kerjasama  perdagangan  internasional  dalam  rangka  memperluas  akses  pasar  kenegara tujuan ekspor.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

122 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Investasi dan Ekspor Non Migas 

6.3 Pariwisata  Langkah penting yang akan di tempuh dalam rangka peningkatan pariwisata kedepan adalah ;  1)  Mempercepat perbaikan dan pengembangan infrastruktur  2)  Meningkatkan daya tarik pariwisata melalui berbagai event yang telah berlangsung selama ini. VII. Penutup  Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mempercepat tingkat pertumbuhan ekonomi yang berkualitas  dan berkelanjutan adalah dengan  meningkatkan investasi dan ekspor. Hingga  tahun 2004, kinerja investasi  dan  ekspor  masih  belum  terlalu  mengembirakan.    Oleh  karena  langkah  perbaikan  perlu  dilakukan    agar  investasi  dan  kinerja  ekspor  semakin  meningkat.  Investasi  yang  dikembangkan  adalah  investasi  yang  menyerap  tenaga  kerja  dalam  jumlah  banyak  seperti  investasi  di  bidang  agroindustri  agar  struktur  ekspor  Provinsi Lampung  semakin berkembang dari ekspor produk primer ke  produk sekunder dan tersier  dengan  nilai tambah yang  tinggi.  Dengan demikian pertumbuhan  ekonomi meningkat yang  diikuti dengan  semakin  besarnya lapangan kerja dan PDRB Lampung akan semakin meningkat.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

123

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur 

Bab IV. 4 Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur

I.

Pengantar 

Daya saing industri manufaktur sangat dipengaruhi faktor internal dan eksternal, untuk faktor internal industri  dipengaruhi oleh kemampuan teknologi dan modal, sedangkan untuk faktor eksternal daya saing dipengaruhi  oleh  kondisi  iklim  berusaha  domestik.  secara  lebih  spesifik  terdapat  5  faktor  penting  yang  mengakibatkan  kurang kondusifnya iklim usaha domestik. Pada tataran makro, hal ini disebabkan oleh adanya 3 faktor yaitu :  (a) tidak kondusifnya kondisi stabilitas makro; (b) buruknya kualitas kelembagaan publik dalam menjalankan  fungsinya sebagai fasilitator dan pusat pelayanan; (c) lemahnya  kebijakan  pengembangan teknologi dalam  memfasilitasi kebutuhan peningkatan produktifitas. Sementara itu, pada  tataran mikro atau tataran bisnis, 2  faktor  yang  menonjol  adalah:  (a)  rendahnya  efisiensi  usaha  pada  tingkat  perusahaan;  dan  (b)  lemahnya  persaingan antara perusahaan.  Keterkaitan  kebijakan  di  bidang  industri  oleh  pemerintah  pusat  dan  daerah  menjadi  sangat  penting  dalam  upaya  untuk  meningkatan daya  saing  industri, selama ini  lokasi industri manufaktur 80 persen  diantaranya  berada di  Pulau  Jawa dan  sangat  sedikit  yang  berada  di  luar  pulau  jawa,  terlebih  yang  berada  di  Provinsi  Lampung.  Sebagai  akibat  dari  kondisi  ini.  Kontribusi  indutri  manufaktur  terhadap  pertumbuhan  ekonomi  Lampung  menjadi  tidak  terlalu  dominan,  dan  sektor  pertanian  masih  menjadi  penyumbang  terbesar  terhadap  perkembangan ekonomi Lampung dari tahun ke tahun.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

124

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur 

Kajian  Komite  Pemantauan  Pelaksanaan  Otonomi  Daerah  (KPPOD)  tentang  daya  saing  investasi  228  Kabupaten/Kota di Indonesia tahun 2005. Menempatkan Kota Bandar Lampung pada peringkat “A” sebagai  kota  yang  memiliki  daya  saing  yang  baik  dan  menempatkan  Kabupaten  Lampung  Timur  pada  peringkat  terendah yakni “E” sebagai kabupaten yang rendah dan kurang dapat menarik investasi. II. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah Lampung  Beberapa  permasalahan  yang  dihadapi  industri  manufaktur  di  Lampung  adalah  relatif  sama  dengan  permasalahn yang ada di nasional yakni ; 2.1. Lemahnya struktur industri manufaktur  Salah satu permasalahan utama yang di hadapi oleh industri manufaktur adalah lemahnya struktur industri,  hal  ini  diakibatkan  oleh  strategi  kebijakan  industrialisasi  terdahulu  yang  bersifat  broad­based.  Akibat  dari  strategi ini adalah tidak terbangunnya industri pendukung yang menghubungkan antara industri hilir dan hulu  (hollow­moddle).  Kondisi  ini  ditunjukan  antara  lain;  kurang  tersedianya  jaringan  pemasok  bahan/  komponen/sub­assembly kepada industri besar penghasil barang jadi (original equipment manufacture/OEM),  jaringan  pemasok  yang  ada  merupakan  pemasok  lapis  pertama.  IKM  (industri  kecil  menengah)  yang  seharusnya dapat berperan sebagai jaringan pemasok lapis berikutnya belum terbagun dengan baik. Hal ini  menyebabkan keterkaitan antara industri besar dan IKM masih lemah.  Lemahnya  hubungan  hulu­hilir  juga  ditunjukkan  oleh  struktur  ekspor,  yang  masih  didominasi  oleh  produk  sektor  primer  dengan  nilai  tambah  rendah  seperti  minyak  sawit  (CPO),  kopi,  kakao,  karet,  cokelat,  rotan,  kayu, hasil­hasil laut.  Selain itu, iklim persaingan yang kurang sehat juga menyebabkan lemahnya industri manufaktur, banyak sub­  sektor industri yang  beroperasi dalam kondisi mendekati monopoli. Hal  ini ditunjukan  oleh tingginya indeks  konsentrasi untuk dua perusahaan (CR2).

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

125 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur 

2.2. Rendahnya Kualitas SDM, tingkat produktifitas dan kemampuan penguasaan teknologi.  Permasalahan lain sektor industri adalah rendahnya produktivitas. Terkait dengan kemampuan penguasaan  teknologi  dan  kualitas  SDM.  Beberapa  industri  mengalami  penurunan  produktivitas  karena  keusangan  teknologi.  Demikian pula, SDM di sektor industri belum menunjukan kualitas yang menggembirakan. Hal ini  akibat belum optimalnya pelaksanaan kebijakan pendididkan dan pelatihan yang berorientasi pada keperluan  industri (link and Match). 2.3. Kondisi Lainnya  Selain  kedua  hal  tersebut  di  atas,  rendahnya  daya  saing  sektor  industi  juga  disebabkan. Pertama  belum  memadainya  layanan  umum  serta  praktik  KKN  (Korupsi  Kolusi  Nepotisme)  yang  mengakibatkan  meningkatnya  biaya  Overhead  industri  manufaktur  cukup  tinggi.  Menurut  Kajian  Komite  Pemantauan  Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD). Pengeluaran untuk berbagai pungutan dan biaya buruknya layanan  umum menambahkan biaya overhead sekitar 8,7 – 11,2 persen. Kedua,  masih  tingginya  biaya  modal  dari  lembaga  keuangan/perbankan.  Belum  tuntasnya  penyehatan  perbankan  nasional,  ditandainya  dengan  sulitnya  aksessibilitas  permodalan  dan  relative  tingginya  biaya  modal. Ketiga,  administrasi  perpajakan  yang  belum  optimal.  Saat  ini  masih  terdapat  berbagai  kelemahan  dan  inefisiensi  dalam  administrasi  perpajakan,  terutama  yang  terkait  dengan  restitusi  produk­produk  industri  ekspor. Hal tersebut mengakibatkan daya saing produk ekspor menjadi berkurang. Karena ketidakefisienan  ini kemudian dibebankan ke harga jual. Keempat. Industri manufaktur juga menghadapi masalah membanjirnya produk­produk impor illegal. Masalah  ini  mengakibatkan  turunnya  pangsa  pasar  dan  volume  produksi,  bahkan  terhentinya  produksi  beberapa  pabrik. Kelima, terbatasnya kapasitas infrastruktur serta timpangnya kondisi antardaerah.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

126

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur 

III. Sasaran Yang Ingin Dicapai  Secara Nasional sasaran yang akan dicapai dalam peningkatan daya saing industri manufaktur adalah  sebagai berikut:  1.  Sektor  industri  manufaktur  (non­migas)  ditargetkan  tumbuh  dengan  laju  rata­rata  8,56  persen  per  tahun.  2.  Target  penyerapan  tenaga  kerja  dalam  lima  tahun  adalah  sekitar  500  ribu  per  tahun  (termasuk  industri  pengolahan  migas).  Sejalan  dengan  upaya  revitalisasi  pertanian  dan  pedesaan,  langkah  pengembangan  untuk  mewujudkan  industrialisasi  perdesaaan  menjadi  sangat  penting.  Sedangkan  bagi  industri  berskala  menengah  dan  besar  penyerapan  tenaga  kerja  baru  akan  mengandalkan  investasi baru.  3.  Terciptanya  iklim  usaha  yang  lebih  kondusif  baik  bagi  industri  yang  sudah  ada  maupun  investasi  baru  dalam  bentuk  tersedianya  layanan  umum  yang  baik  dan  bersih  dari  KKN,  sumber­sumber  pendanaan yang terjangkau, dan kebijakan fiskal yang menunjang.  4.  Peningkatan pangsa sektor industri manufaktur di pasar domestik, baik untuk bahan baku maupun  produk akhir.  5.  Meningkatnya volume ekspor produk manufaktur dalam total ekspor nasional, terutama pada produk  ekspor industri manufaktur yang daya saingnya masih potensial untuk ditingkatkan.  6.  Meningkatnya proses alih teknologi dari foreign direct investment (FDI).  7.  Meningkatnya  penerapan  standardisasi  produk  industri  manufaktur  sebagai  faktor  penguat  daya  saing produk nasional.  8.  Meningkatnya  penyebaran  sektor  industri  manufaktur  ke  luar  Pulau  Jawa,  terutama  industri  pengolahan hasil sumberdaya alam.  Dalam RPJMD (Renstra) Lampung  Tahun 2004  – 2009, sasaran yang  ingin dicapai dalam pengembangan  sektor industri adalah;  1.  Berkembangnya produk – produk unggulan daerah dan industri berbasis pertanian  2.  Meningkatnya diversifikasi usaha dan daya saing ekonomi wilayah secara merata  3.  Meningkatnya jumlah unit usaha ekonomi lokal.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

127

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur 

IV. Arah Kebijakan  Secara lebih terinci, dalam Rencana Stratejik  (Renstra) Provinsi Lampung  2004­2009, Misi­2  ; Membangun  dan mengoptimalkan potensi perekonomian daerah dengan berbasiskan agribisnis dan ekonomi kerakyatan  yang tangguh, unggul, dan berdaya saing.  Misi  ini  ditujukan  untuk  membangun  dan  mengoptimalkan  seluruh  potensi  ekonomi  daerah  dalam  rangka  memberikan  peluang  yang  seluas­luasnya  bagi  masayarakat  untuk  meningkatkan  kesejahteraan  ekonomi.  Melalui  misi  ini  akan  disinergikan  semua  potensi  dari  semua  pelaku  ekonomi,  dunia  usaha,  lembaga  keuangan  dan  kelembagaan  dalam  rangka  membangun  ekonomi  kerakyatan  yang  memiliki  daya  saing.  Potensi  pertanian  dan  agribisnis  akan  tetap  menjadi  prioritas  dengan  didukung  pengembangan  sektor  industry dan jasa. Kebijakan ekonomi dengan pendekatan kemitraan yang sinerjik dan saling menguntungkan  antara petani/masayarakat dan pengusaha juga akan terus dikembangkan untuk membangun perekonomian  yang tangguh dan berdayasaing tersebut. V. Pencapaian RPJMN di daerah Lampung (2005­2007) 5.1 Posisi Capaian hingga 2007 

Dari  hasil  survei  industri  yang  dilakukan  BPS  Lampung  terlihat  bahwa  jumlah  perusahaan  industri  besar/sedang di Provinsi Lampung tahun 2005 adalah 177 perusahaan. Jika dibandingkan dengan keadaan  tahun  2006  dengan  jumlah  319  perusahaan,  maka  secara  total  terjadi  penambahan  sebanyak  142  perusahaan atau naik sekitar  70,4 persen.  Pekerja  yang  diserap  oleh  perusahaan  industri  besar/sedang  pada  tahun  2005  sebanyak  57.659  orang.  Sedangkan pada tahun 2006 sebanyak 98.145 orang.  Klasifikasi industri yang paling menonjol baik dari segi  banyaknya  perusahaan  output,  penyerapan  tenaga  kerja  maupun  nilai  tambah  yang  diciptakan  atau  kombinasi  usaha  adalah  industri  makanan  lainnya  (KKI  154)  sebanyak  19.571  orang  (29,82  persen),  kemudian industri pengolahan dan pengawetan daging, ikan, buah­buahan, sayuran, minyak (KKI 151) dan  industri penggilingan padipadian, tepung dan makanan ternak (KKI 153).

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

128

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur 

Pada tahun 2005, nilai tambah atas dasar harga pasar yang diciptakan oleh seluruh usaha industri besar dan  sedang adalah sebesar 5.786,903 milyar rupiah. Jika dibandingkan dengan nilai tambah tahun 2004 sebesar  4.751,453 milyar rupiah maka pada tahun 2005 terjadi kenaikan sebesar 1.035,450 milyar rupiah atau sekitar  21,79 persen.  Sedangkan pad tahun 2006 nilai tambah produksi atau dasar harga pasar sebesar 7.789.855  milyar.  Tabel 4.4­1  Perusahaan Industri Besar/Sedang dan Tenaga Kerja  di Propinsi Lampung Tahun 2004 – 2005 Tahun 2 0 0 5  2006  Banyaknya Perusahaan 177  319  Banyaknya Tenaga kerja 57.659  98.145  Pengeluaran untuk Tenaga Kerja (000 Rp.)  769.143.983  1.406.703.432 

Sumber : Badan Pusat Statistik Propinsi Lampung

5.2

Upaya yang Dilakukan Hingga Tahun 2007 

Untuk  mencapai  sasaran  di  daerah  ditempuh  dengan  program  pembuatan  dan  pengembangan  sektor  industri khususnya industri pengolahan dengan program antara lain;  1.  Peningkatan kapasitas Iptek Sistem Produksi  2.  Peningkatan industri kecil dan menengah  3.  Peningkatan kemampuan Teknologi industri  4.  Pengembangan sektor – sektor industri potensial  5.  Pengembangan industri kecil dan menengah 5.3 Permasalahan Pencapain Sasaran 

Permasalahan pencapain sasaran peningkatan daya saing industri manufaktur antara lain adalah :  1)  Dukungan  Infrastruktur  khususnya  jalan  dan  energy  masih  perlu  ditingkatkan  sesuai  dengan  kebutuhan sektor industri;.  2)  Kompetensi tenaga kerja perlu ditingkatkan sesuai dengan tuntutan perkembangan industri;  3)  Hubungan industri perlu semakin kondusif bagi pengembangan industri;

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

129 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur 

4)  Daya tarik untuk berusaha di sektor industri perlu lebih diitingkatkan;  5)  Perangkat  permesinan  industri  sudah  banyak  yang  tua  sehingga  hasilnya  kurang  memenuhi  tuntunan pasar;  6)  Penguasaan teknologi di dunia industri perlu lebih diitingkatkan.

VI. Rekomendasi Tindak Lanjut  Berdasarkan  posisi  capaian  di  atas,  maka  upaya  yang  dilakukan  untuk  meningkatkan  daya  saing  industri  manufaktur di Provinsi Lampung adalah sebagai berikut ;  1.  Perbaikan  iklim  usaha  untuk  meningkatkan  pembangunan  usaha  industri  yang  baru  maupun  pengoperasian industri yang sudah ada;  2.  Tetap  didorong  pembangunan  infrastruktur  seperti  pembangunan  akses  ke  pusat  produksi  dan  distribusi serta penyediaan tenaga listrik;  3.  Peningkatan kualitas dan ketersedian balai­balai latihan kerja yang profesional, perbaikan peraturan  perundang­undangan, yang  di ikuti pembuatan peraturan daerah yang  mendukung perkembangan  industri manufaktur di Lampung;  4.  Perlu disediakan insentif bagi industri­industri prioritas;  5.  Mendorong restrukturisasi industri;  6.  Peningkatan perlindungan pasar dalam negri dari produk­produk impor illegal;  7.  Pemberdayaan peranan industri kecil dan menengah;  8.  Pengembangan  dunia  industri  melalui  :  (1)  peningkatan  penelitian  dan  inovasi  teknologi;  (2)  peningkatan kompetensi dan keterampilan tenaga kerja; (3) penyedian layanan informasi pasar; (4)  fasilitasi proses alih teknologi dari industri PMA; serta (5) penyedian sarana dan prasarana umum  untuk pengendalian mutu dan pengembangan produk. VII. Penutup  Kinerja  industri  manufaktur  di  Provinsi  Lampung  menunjukan  masih  diperlukannya  upaya  yang  lebih  baik  untuk meningkatkan daya saing industri non migas baik di dalam pasar domestik maupun di pasar global.  Hal  ini  mengingat  besarnya  kontribusi  sektor  ini  dalam  perekonomian  daerah,  baik  terhadap  PDRB  maupun

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

130 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur 

penciptaan lapangan kerja. Industri manufaktur yang berbasis pertanian sangat layak untuk terus mendapat  dukungan  dari  pemerintah  daerah  mengingat  besarnya  kontribusi  dan  serapan  tenaga  kerja  yang  dapat  digulirkan untuk meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi di wilayah Lampung.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

131 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Revitalisasi Pertanian 

Bab IV.5 Revitalisasi Pertanian

I. Pengantar  Sektor  pertanian  merupakan  sektor  yang  sangat  besar  perannya  dalam  pembangunan  Provinsi  Lampung  secara  keseluruhan.  Berdasarkan  PDRB  Daerah  tahun  2005,  Sektor  Pertanian  menyumbang  sebesar  36,99% dan 18,69% disumbangkan oleh sub­sektor tanaman pangan dan hortikultura.  Menurut data dari Bappeda Provinsi Lampung (2007), luas daratan secara keseluruhan di Provinsi Lampung 
2  +  35.376  km  .    Berdasarkan  data  yang  tercatat  dari    Dinas  Pertanian  dan  Ketahanan  Pangan  Provinsi 

Lampung (2007), dari luas daratan tersebut tercatat seluas 362.261 ha (10,24%) merupakan lahan sawah dan  862.647 ha (24,38%) merupakan lahan kering berupa tegalan, kebun, ladang atau huma yang dalam proses  produksinya sangat bergantung pada curah hujan secara alami.  Dalam rangka  meningkatkan  roduksi pertanian, air merupakan faktor yang mutlak  untuk diperhatikan.  Bagi  tanaman, air merupakan sumberdaya sangat diperlukan karena hampir semua proses fisika, kimia dan biologi  di  dalam  tanah  dan  proses  fisiologis  tanaman  memerlukan  air.  Sebagai  gambaran,  tanaman  segar  mengandung air empat sampai delapan kali berat dari brangkasannya.  Setiap kilogram berangkasan kering  yang  dihasilkan,  memerlukan  beberapa  ratus  kilogram  air,  dan  setiap  kilogram  biji­bijian  yang  dihasilkan  seperti  beras,  memerlukan   satu  sampai  tiga  ton  air.  Tanaman  dapat  hidup  untuk  beberapa  minggu  tanpa  adanya pasokan hara yang cukup, sebaliknya kalau kekurangan air satu hari saja pada periode pertumbuhan  aktifnya, tanaman tersebut bisa  layu atau mati.  Walaupun kandungan hara cukup tersedia di dalam tanah,  akan tetapi apabila tidak tersedia cukup air maka tanaman tersebut akan mati.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

132

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Revitalisasi Pertanian 

Penurunan jumlah curah hujan juga sudah terjadi di Lampung. Penurunan curah hujan tahunan ini berdampak  pada  penurunan  produktivitas  pertanian, yang  sebagian besar kehidupan masyarakat Lampung  bergantung  pada pertanian.  Pola curah hujanpun sudah mulai tidak beraturan lagi, dan secara umum terakumulasi pada  musim  hujan  saja;  sedangkan  pada  musim  kemarau  mempunyai  curah  hujan  yang  sangat  sedikit.  Pada  musim  hujan  terjadi  kelebihan  air,  yang  juga  kadang­kadang  menimbulkan  masalah  banjir  dan  masalah  degradasi lahan kering; sedangkan pada musim kemarau juga terjadi masalah karena kekurangan air. Kondisi  yang demikian sangat tidak menguntungkan bagi petani secara umum.  Menurut  laporan  Bappeda  Provinsi  Lampung  tahun  2005,  93%  pemakaian  air  dimanfaatkan  untuk  penggunaan sektor pertanian, untuk  kegiatan domestik  5%, dan 2% sisanya untuk  berbagai sektor lainnya.  Namun kebutuhan air untuk sektor pertanian yang sangat besar tersebut saat ini menghadapi permasalahan  kelangkaan  air  yang  amat  serius,  yaitu  adanya  variasi  musim  dan  ketimpangan  spasial  ketersediaan  air.  Menurunnya  ketersediaan  air  akhir­akhir  ini  disebabkan  oleh  kerusakan  lingkungan  yang  terjadi  di  daerah  aliran sungai (DAS) daerah hulu akibat kerusakan hutan yang tidak  terkendali. Di daerah Lampung, hampir  semua kondisi DAS mengalami kerusakan berat, hal ini terbukti dengan makin besarnya angka nisbah debit  maksimum  dan  debit  minimum  (Q  maks/Q  min)  lebih  besar  dari  20.    Menurut  penelitian  Uni  Eropa  menunjukkan bahwa nisbah Q max/Q min DAS Batu Tegi naik dari 5 pada tahun 1968 menjadi 33 pada tahun  2001.  Nilai ini menunjukkan bahwa kerusakan DAS sudah sangat kritis.  Revitalisasi  pertanian  yang  merupakan  tulang  punggung  perekonomian  rakyat  di  Provinsi  Lampung  harus  diperhatikan  dengan  serius  dan  secara  komprehensif.    Revitalisasi  pertanian  harus  didekati  dari  berbagai  sektor  yang  mendukung,  sehingga  sumberdaya  alam  dapat  dimanfaatkan  secara  maksimal  dengan  tetap  menjaga  kelestariannya.  Selain  menjaga  ketersediaan  sumberdaya  air  yang  cukup  dan  tersedia sepanjang  tahun,  juga  harus  didukung  oleh  infra  strukur  penunjang  yang  memadai.  Untuk  mewujutkan  realitas  revitalisasi  pertanian,  maka  fungsi  irigasi  harus  berjalan  secara  optimal,  yang  diikuti  dengan  penerapan  teknologi pertanian yang tepat.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

133 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Revitalisasi Pertanian 

II. Kondisi Awal RPJM (2004­2009)  Pada awal RPJM 2004­2009, tingkat kesejahteraan petani dan nelayan relatif masih memprihatinkan.  Hal ini  dapat dilihat, antara lain, dari tingginya tingkat kemiskinan di daerah perdesaan dan pesisir serta cenderung  menurunnya indeks nilai tukar petani/nelayan (NTP).  Permasalahan  lain  yang  dihadapi  petani/nelayan  pada  tahun  awal  RPJM  2004­2009  adalah  masih  sangat  terbatasnya akses kepada sumber daya produktif, termasuk permodalan dan layanan usaha.  Disamping itu,  tingkat  produktivitas  yang  ada  juga  tergolong  rendah  sebagai  akibat  dari  rendahnya  alih  teknologi  dan  diseminasi teknologi pengolahan produk. III. Sasaran yang Ingin Dicapai  Sasaran  yang  ingin  dicapai  dari  revitalisasi  pertanian  pada  RPJM  2004­2009  adalah  tingkat  pertumbuhan  rata­rata sektor pertanian dalam arti luas, termasuk perikanan dan kehutanan sebesar 3,52% pertahun.  Untuk mencapai sasaran tersebut, maka dibuat sasaran antara seperti:  1.  Meningkatkan  kemampuan  petani,  nelayan  dan  pembudidaya  ikan  untuk  dapat  menghasilkan  komoditas yang berdaya saing tinggi.  2.  Terjaganya  tingkat  produksi  beras  daerah  secara  swasembada  untuk  mengamankan  kemandirian  pangan.  3.  Diverspikasi produksi, ketersediaan, dan konsumsi pangan untuk menurunkan ketergantungan pada  beras.  4.  Meningkatnya ketersediaan pangan ternak dan ikan di daerah.  5.  Meningkatnya konsumsi masyarakat terhadap protein hewani yang berasal dari ternak dan ikan.  6.  Meningkatnya daya saing dan nilai tambah produk pertanian dan perikanan.  7.  Meningkatnya produksi dan ekspor hasil pertanian dan perikanan.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

134

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Revitalisasi Pertanian 

8.  Meningkatnya  kemampuan  petani  dan  nelayan  dalam  mengelola  SDA  secara  lestari  dan  bertanggung jawab.  9.  Semakin optimalnya nilai tambah dan manfaat hasil hutan kayu.  10.  Meningkatnya hasil hutan non­kayu 30% dari produksi tahun 2004. IV. Arah Kebijakan  Arahan masing – masing pokok kebijakan tersebut meliputi:  1.  Arah dari kebijakan  peningkatan kemampuan pelaku pertanian dan perikanan serta penguatan lembaga  pendukungnya:  a)  Revitalisasi penyuluhan dan pendampingan petani;  b)  Menghidupkan dan memperkuat lembaga pertanian dan perdesaan;  c)  Meningkatkan kemampuan/kualitas sumberdaya manusia (SDM) pertanian;  2.  Arah kebijakan pengamanan ketahanan pangan:  a)  Mempertahankan  tingkat  produksi  beras  daerah  untuk  mencukupi  kebutuhan  masyarakat  secara  swasembada;  b)  Meningkatkan ketersediaan pangan ternak dan ikan di daerah;  c)  Melakukan diversifikasi pangan untuk menurunkan ketergantungan beras;  3.    Arah  dari  kebijakan  peningkatan  produktivitas,  daya  saing,  dan  nilai  tambah  produk  pertanian  dan  perikanan:  a)  Peningkatan  pemanfaatan  sumber  daya    perikanan  dalam  mendukung  ekonomi  dengan  tetap  menjaga kelestariannya;  b)  Pengembangan  usaha  pertanian  dengan  pendekatan  kewilayahan  terpadu  dengan  konsep  pengembangan agribisnis;  c)  Penyusunanan  langkah  –  langkah  kongkrit  untuk  meningkatkan  daya  saing  produk  pertanian  dan  perikanan;  d)  Penguatan sistem pemasaran dan manajemen usaha untuk mengelola risiko usaha pertanian serta  untuk mendukung pengembangan agroindustri;

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

135 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Revitalisasi Pertanian 

4.  Arah dari kebijakan pemanfaatan hutan untuk diversifikasi usaha dan mendukung produksi pangan:  a)  Peningkatan nilai tambah dan manfaat hasil hutan kayu;  b)  Pemberian insentif pengembangan Hutan Tanaman Industri (HTI);  c)  Peningkatan partisipasi kepada masyarakat luas dalam pengembangan hutan tanaman;  d)  Peningktan produksi hasil hutan nonkayu untuk kesejahteraan masyarakat sekitar hutan;

V. Pencapaian 2005­2007 5.1 Upaya yang dilakukan hingga Tahun 2007  5.1.1  Memantapkan ketersediaan pangan masyarakat serta penganekaragaman konsumsi pangan. Adapun  program – program yang terkait:  1.  Peningkatan Produktivitas:  a.  Penyebarluasan penggunaan pupuk berimbang.  b.  Penyebarluasan Penggunaan VUTB/Hibrida.  c.  Pengembangan  satu kali mewiwit dua kali panen (SAWIT DUPA).  d.  Penyebarluasan penggunaan benih bermutu.  e.  Penyebarluasan penggunaan pupuk hayati.  2.  Perluasan Areal Tanam.  a.  Optimalisasi pemanfaatan lahan dan air.  b.  Penambahan baku lahan.  c.  Pengembangan lahan penyangga produksi padi di lahan rawa.  3.  Pengembangan Perbenihan.  a.  Peningkatan penyediaan benih bermutu.  b.  Pemantapan penilaian varietas dan mutu benih.  c.  Pemantapan kelembagaan perbenihan.  d.  Pengembangan informasi perbenihan.  4.  Pengembangan Perlindungan Tanaman.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

136 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Revitalisasi Pertanian 

a.  Penurunan luas serangan OPT utama.  b.  Peningkatan kelembagaan.  c.  Pemasyarakatan dan penerapan PHT.  d.  Penanggulangan OPT dan penanganan dampak fenomena iklim.  5.  Pengembangan diverspikasi Pangan (Produksi dan konsumsi).  a.  Pengembangan produksi pangan lokal/alternatif.  b.  Pengembangan pola tanam.  6.  Pemantapan distribusi pangan antar wilayah.  a.  Perwilayahan komoditas tanaman pangan.  b.  Perwilayahan komoditas tanaman hortikultura.  7.  Meningkatkan kualitas dan keamanan pangan masyarakat.  8.  Koordinasi penyusun kebijakan.  5.1.2  Meningkatkan efisiensi dan produktivitas serta nilai tambah produk tanaman pangan dan hortikultura.  Adapun program yang terkait :  1.  Peningkatan produktivitas dan mutu produk tanaman pangan dan hortikultura.  a.  Penerapak teknologi budidaya  b.  Pengembangan teknilogi panen dan pasca panen.  c.  Penerapan teknologi budidaya organik.  2.  Mengembangkan Agroindustri pedesaan  a.  Fasilitasi dukungan pengembangan agroindustri.  b.  Koordinasi pengembangan agroindustri.  3.  Mengembangkan pasar produk tanaman pangan dan hortikultura.  a.  Pengembangan informasi pasar.  b.  Fasilitasi pengembangan terminal dan sub terminal agribisnis.  4.  Melestarikan sumberdaya pertanian.  ­  Rehabilitasi dan konservasi lahan.  5.  Meningkatkan nilai tambah produk tanaman pangan dan hortikultura.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

137 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Revitalisasi Pertanian 

a.  Pengembangan agrowisata.  b.  Fasilitasi pengembangan pengolahan hasil.  5.1.3  Memberdayakan  petani  serta  masyarakat  pedesaan  melalui  pengembangan  sistem  dan  usaha  agribisnis yang berdaya saing dan berkerakyatan dan program – program adalah:  1.  Meningkatkan kapasitas, kualitas SDM pelaku usaha pertanian.  a.  Pelatihan penangkar benih.  b.  Sekolah lapang PHT.  c.  Sekolah lapang agribisnis.  d.  Sosialisasi sistem keamanan mutu produk.  2.  Mengembangkan kelembagaan pertanian.  a. Pengembangan kelembagaan pertanian.  3.  Meningkatkan akses terhadap lahan, modal, dan teknologi.  a. Pengembangan kemitraan agribisnis tanaman pangan dan hortikultura.  4.  Meningkatkan perlindungan usaha.  a. Menyiapkan kebijakan yang melindungi usahatani.

5.2 Posisi Capaian Hingga Tahun 2007  5.2.1  Keragaan produksi padi dan palawija.  Tahun  2005  tercatat  realisasi  panen  mencapai  496.538  ha  meningkat  0,05%  dari  tahun  2004,  dengan  produksi padi sebesar 2.124.144 ton. Tahun 2004, produksi padi sebesar 2.091.996 ton.  Kemudian pada  tahun 2006 tercatat realisasi luas panen mencapai 494.102 ha.  Luasan  ini  meningkat  0,40%  dari  luasan  tahun  2005.  Sedangkan  produksi  mencapai  2.129.914  ton,  atau  meningkat  sebesar  1,18%  dari  produksi ahun 2005. Selanjutnya realisasi panen pada tahun 2007 seluas 526.554 ha, atau meningkat 6,04%

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

138 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Revitalisasi Pertanian 

dari tahun  2006. Kemudian produksi meningkat menjadi 2.303.491 ton atau meningkat 8,15% dari produksi  tahun sebelumnya.  Setiap  tahun  terjadi  peningkatan  produksi  padi.    Peningkatan  produksi  ini  terjadi  dikarenakan  program  intensifikasi  dan  ekstensifikasi  pertanian.    Program  intensifikasi  seperti  penggunaan  benih  unggul,  pemupukan  yang  berimbang,  penaggulangan  hama  dan  penyakit  yang  mengganggu  tanaman,  serta  penanganan  panen  dan  pasca  panen  melalui  bantuan  alsintan.    Sedangkan  ekstensifikasi  diarahkan  pada  lahan­lahan  yang  belum  banyak  digarap yaitu  lahan  rawa  lebak  dan  rawa  pasang  surut.  Pada  tanggal 18  Desember  2008  Gubernur  Lampung  berserta  Bupati    Lampung  Barat,  Tulang  Bawang,  Lampung  Utara,  Lampung Tengah, dan Bupati Lampung Selatan  memperoleh Penghargaan Ketahanan Pangan dari Presiden  RI atas keberhasilan Provinsi Lampung meningkatkan Produksi Beras Nasional dan Ketahanan Pangan 2008. 5.2.2 Tingkat penyediaan konsumsi  Penyediaan  konsumsi  pangan  di  Prov.  Lampung  pada  tahun  2005  mengalami  surplus  475.580  ton.  Penyediaan beras sebesar 1.203.393 ton, sedangkan kebutuhan sebasar 727.812 ton.  Kemudian pada tahun  2006  penyedianaan  konsumsi  masih  mengalami  surplus  sebesar  435.615  ton.  Produksi  beras  pada  tahun  2006 sebesar 1.206.661 ton, sedangkan kebuthan untuk konsumsi sebesar 771.047 ton.  Selanjutnya pada  tahun 2007 juga terjadi surplus produksi beras sebesar 573.406 ton. Produksi beras sebesar 1.355.986 ton,  sedangkan produksi mencapai 782.579 ton.  Penyediaan  konsumsi  untuk  prov.  Lampung    sampai  saat  ini  masih  surplus  dari  produksi  daerah,  bahkan  banyak produksi beras yang keluar daerah.

5.2.3 Peningkatan ketahanan pangan  Salah  satu  program  dalam  peningkatan  ketahanan  pangan  dimasyarakat  adalah  dengan  melaksanakan  Program Desa Mandiri Pangan. Program ini telah dimulai pada tahun 2006­2009:

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

139 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Revitalisasi Pertanian 

Tahun I (2006)  merupakan tahap persiapan; tahun II (2007) merupakan tahap penumbuhan; tahun III (2008)  merupakan tahap pengembangan ; dan tahun IV (2009) Tahap mandiri.  Pada tahun I (2006) telah ditetapkan 8 desa dengan 14 Kelompok Afinitas yang tersebar pada 4 kabupaten  yaitu Tanggamus, Lampung Tengah, Lampung Utara, dan Tulang Bawang.  Masing­masing kabupaten dipilih  2  desa.    Kemudian  pada  tahun  II  (2007)  telah  ditetapkan  8  desa  lagi  dengan  61  Kelompok  Afinitas  yang  tersebar pada 4 kabupaten yang sama, yang  masing­masing kabupaten dipilih 2 desa  sebagai pilot projek.  Selanjutnya pada tahun III  (2008) telah ditetapkan 8 desa lagi dengan 95 Kelompok Afinitas yang tersebar  pada 6 kabupaten yaitu Tanggamus, Lampung Tengah, Lampung Utara, Tulang Bawang,  Way Kanan, dan  Lampung  Barat.    Pembagian  desa  yang  dijadikan  pilot  projek  diambil  satu  desa  untuk  4  kabupaten  yang  sudah dipilih dua tahun sebelumnya, sedangkan untuk kabupaten yang baru yaitu Kabupaten Way Kanan dan  Lampung Barat masing­masing dipilih 2 desa.  Dalam  mendukung  program  ketahanan  pangan  ini,  pemerintah  daerah  telah  membentuk  dan  menerbitkan  surat keputusan tentang Kelomok Kerja Dewan Ketahanan  Pangan, yang  terdiri dari Unsur Pemda, Satker  terkait, serta Perguruan Tinggi.  Kelompok kerja terdiri dari Pokja Teknis dan Pokja Ahli.  a)  Program pengembangan agribisnis  Satker  Pembinaan  dan  Pengembangan  Hortikultura  Lampung  telah  melakukan  pembinaan  terhadap  agribisnis hortikultura seperti jeruk 265 ha, manggis 130 ha, durian 180 ha, pisang 110 ha, cabe merah 54 ha,  dan rimpang 5 ha.  Pada tahun 2006 Satker menambah pembinaan agribisnis berupa jeruk 100 ha, manggis  100 ha, durian 100 ha, pisang 50 ha, dan cebe merah 20 ha.  b)  Program pemberdayaan masyarakat pertanian  Dalam menjalankan program ini, di Prov. Lampung telah dibentuk organisasi penunjangnya seperti:  a.  Satker Peningkatan Pendapatan Petani­Nelayan Kecil (P4K).  b.  Satker Balai Diklat Pertanian Hajimena.  c.  Satker Pengembangan Kelembagaan dan Ketahanan Pangan Masyarakat.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

140 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Revitalisasi Pertanian 

Untuk  merealisasikan  revitalisasi pertanian, di Prov. Lampung telah dibentuk  lembaga  baru yaitu (1) Badan  Ketahanan Pangan  dan (2) Badan Koordinasi Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan. Kemudian  juga lebih mengoptimalkan fungsi lembaga­lembaga yang ada seperti (1) Badan Pemberdayaan Masyarakat  dan Pemerintahan Desa dan (2) Badan Pendidikan dan Latihan. 5.2.4 Realisasi Program Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan 

1.  Untuk Sapi Potong.  a.  Peningkatan kualitas pakan melalui gemr pakan, integrasi ternak dan tanaman,  pengembangan  bahan  baku pakan lokal, pengembangan pabrik  pakan  mini, pengembangan pemberian pakan  lengkap,  peningkatan  pengawasan  mutu  pakan.    Pendistribusian  ternak  kepada  penduduk  miskin  b.  Peningkatan derajat kesehatan ternak melalui penambahan jumlah Puskeswan lengkap dengan  sarana  dan  prasarananya,  sosialisasi  siskeswan,  prioritas  penanganan  penyakit  strategis,  optimalisasi tindak dan pengawasan karantina, dan lalulintas hewan ke luar daerah.  c.  Pelayanan reproduksi dengan peningkatan straw, kulitas dan kuantitas inseminator, kawin alam,  serta pelayanan PKB dan ATR.  d.  Penyebaran  bibit  unggul,  pengaturan  pengeluaran  bibit,  pengendalian  pemotongan  betina  produktif, peningkatan peran pengawas bibit.  e.  Pengembangan  pemasaran  dengan  meningkatkan  posisi  tawar  peternak,  penyediaan  pasar  hewan dan meningkatkan jaminan pasar.  f.  Pengembangan  teknologi dan informasi melalui penyuluhan, percontohan, kaji terap, magang,  study banding, dll.  g.  Peningkatan akses pembiayaan petani ternak.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

141 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Revitalisasi Pertanian 

2.  Unggas.  a.  Pengembangan kelembagaan LDCC (local desease control centre) yang melibatkan partisipasi  lokal, serta terintegrasi dengan siskeswannas.  b.  Regulasi  indstri  perunggasan,  khususnya  aspek  tata  ruang,  lalu  litas  dan  tata  niaga,  serta  pengaturan budidaya unggas pada sektor 3 dan 4.  c.  Percontohan “perkampungan ayam kampung”.  d.  Pengembangan pabrik pakan mini dengan penggunaan bahan baku lokal.  e.  Penyediaan bibit yang terjamin mutunya.  3.  Pengembangan Kambing Saburai  a.  Pengembangan standar operasional prosedur pembentukan kambing saburai.  b.  Penanganan  reproduksi  antara  lain  inseminator,  kwalitas  straw,  penyebaran  pejantan  (kawin  alam), dll.  c.  Peningkatan bibit melalui seleksi, penjaringan, penyebaran bibit PE.  d.  Peningkatan derajat kesehatan hewan, pakan, dll.  4.  Pengembangan hewan lainnya seperti kerbau, sapi perah, itik, burung puyuh, entok, ayam kalkun,  dll. VI. Tindak Lanjut  Provinsi  Lampung  merupakan  salah  satu  provinsi  yang  dapat  memenuhi  sendiri  kebutuhan  pangannya  (Swasembada  Pangan),  bahkan  dapat  memasuk  kekurangan  untuk  daerah­daerah  disekitarnya    termasuk  daerah Jabodetabek.  Untuk meningkatkan revitalisasi pertanian terutama untuk lahan sawah, ketersediaan  air  yang  cukup  dan  tepat  waktu  mutlak  adanya.    Kondisi  saat  ini  di  daerah  lampung  banyak  terdapat  kerusakan  saluran  irigasi  dan  telah  berkurangnya  sumber  air  sebagai  air  irigasi.  Untuk  mengatasi  permasalahan ini, maka diperlukan kordinasi antar dinas instasnsi terkait. Untuk pemeliharaan jaringan irigasi
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

142 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Revitalisasi Pertanian 

merupakan  kewenangan  dari  Dinas  PU,  sedangkan  untuk  menjaga  kelestarian  sumberdaya  air  merupakan  kewenagan  dari  Dinas  Kehutanan  serta  Balai  DAS.    Usaha  GN­RHL  telah  digulirkan  oleh  pemerintah,  tapi  dalam  pelaksanaannya  diperlukan  pengawasan  yang  lebih  intensif  terutama  pada  saat  pemeliharaan  tanaman.  Untuk  bidang  peternakan,  provinsi  lampung  sudah  dapat  beswasembada  daging  dan  bahkan  sudah  dapat  memasok daging pada daerah sekitarnya. VII. Penutup  Revitalisasi  pertanian  secara  umum  telah  berjalan  di  Provinsi  Lampung,  namun  untuk  memaksimalkan  produksi  pangan  terutama  beras  perlu  diintensifkan  pemeliharaan  sarana  irigasi  yang  banyak  mengalami  kerusakan,  sehingga  saluran  irigasi  dapat  berfungsi  secara  maksimal.    Selain  itu  juga  perlu  dilakukan  pengawasan  yang lebih ketat tentang ketersediaan sarana produksi yang  cukup  dan pada saat yang tepat,  serta gejolak penurunan harga pada saat panen raya.  Kemudian juga sangat diperlukan produk hukum yang  mengikat  dalam  mencegah  percepatan  alih  fungsi  lahan  dari  lahan  pertanian  ke  lahan  non­pertanian.  Penetapan lahan abadi untuk produksi pangan perlu dipertimbangkan untuk ditetapkan dalam suatu UU atau  Perda.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

143 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah 

Bab IV.6 Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah

I. Pengantar  Pemberdayaan  Koperasi  dan  Usaha  Mikro,  Kecil  dan  Menengah  (UMKM)  merupakan  upaya  yang  penting  untuk meningkatkan kesempatan kerja dan berusaha dalam rangka meningkatkan pendapatan masyarakat,  sehingga pada gilirannya dapat mengurangi kemiskinan dan meningkatkan taraf hidup.  Kegiatan  koperasi  dan  UMKM  yang  mencakup  hamper  seluruh  lapangan  usaha  dan  tersebar  diseluruh  daerah,  bahkan  didaerah  terpencil,  memberi  kesempatan  bagi  masyarakat  untuk  memperbaiki  dan  meningkatkan ekonomi.  Oleh karena keberadaan  koperasi dan UMKM yang menyentuh kegiatan ekonomi  sebagian  besar  rakyat,maka  pemberdayaan  koperasi  dan  UMKM  menjadi  pilihan  yang  strategis  dalam  pembangunan nasional, mengingat perannya sebagai penyeimbang pemerataan, penyumbang pertumbuhan  daerah,  dan  penyerapan  tenaga  kerja.    Dengan  meningkatnya  peran  dan  kemampuan  UMKM,  maka  keejahteraan sosial dan ekonomi rakyat banyak akan meningkat. II. Kondisi Awal RPJMD 2004­2009 (Tahun 2004­2005)  Koperasi  dan  UMKM  di  Indonesia  memang  besar  dan  mendominasi  perekonomian  nasional.    Jumlah  koperasi  dan  UMKM  yang  besar  tersebut  belum  didukung  dengan  kualitas  yang  memadai.    Hal  ini  menyebabkan  kontribusi  terhadap  pengembangan  usaha  rakyat,  penyerapan  tenaga  kerja,  dan  perekonomian secara  umum  kurang  optimal.    Adapun  sejumlah  masalah  koperasi  dan  UMKM  di  Lampung  sama halnya dengan kondisi umum di Indonesia adalah sebagai berikut:  1.  Rendahnya produktivitas  2.  Terbatasnya akses kepada sumber daua produktif  3.  Masih rendahnya kualitas kelembagaan dan organisasi koperasi  4.  Kurang kondusifnya iklim usaha

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

144

Laporan Akhir 

Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah  III. Sasaran yang Ingin Dicapai  Sasaran umum pemberdayaan koperasi dan UMKM seperti dirumuskan dalam RPJMN 2004­2006 adalah:  1.  Meningkatnya  produktivitas  UMKM  dengan  laju  pertumbuhan  lebih  tinggi  dari  laju  pertumbuhan  produktivitas nasional;  2.  Meningkatnya proporsi usaha kecil formal;  3.  Meningkatnya nilai ekspor produk usaha kecil dan menengah dengan laju pertumbuhan lebih tinggi  dari laju pertumbuhan niali tambahnya;  4.  Berfungsinya sistem untuk menumbuhkan wirausaha baru berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi;  dan  5.  Meningkatnya kualitas kelembagaan dan organisasi koperasi sesuai dengan jati diri koperasi.  Sedangkan  dalam RPJMD Lampung  usaha sasaran yang hendak  dicapai adalah meningkatkan jumlah unit  usaha  ekonomi  lokal,  kemitraan  antara  UKM  dan  pengusaha  menengah  dan  besar  serta  berkembangnya  usaha kecil dan menengah, seiring dan sejajar bersama dengan usaha menengah dan besar dengan prinsip  keadilan dan demokrasi ekonomi. IV. Arah Kebijakan  Dalam rangka mewujudkan sasaran tersebut pemberdayaan koperasi dan UMKM akan dilaksanakan dengan  arah kebijakan sebagai berikut:  1.  Mengembangkan  Usaha Kecil Menengah  (UKM) denga  arahan untuk  memberikan  kontribusi yang  signifikan  kepada  pertumbuhan  ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan daya saing.  Sementara, pengembangan usaha skala mikro lebih diarahkan untuk memberikan kontribusi dalam  peningkatan pendapatan pada kelompok masyarakat berpendapatan rendah;  2.  Memperkuat  kelembagaan  dengan  menerapkan  prinsip  –  prinsip  tata  kelola  yang  baik  (good  governance) dan berwawasan gender;  3.  Mmperluas  basis  dan  kesempatan  berusaha  serta  menumbuhkan  wirausaha  baru  yang  berkeunggulan;  4.  Mengembangkan  UMKM  agar  makin  berperan  sebagai  penyedia  barang  dan  jasa  pada  pasar  domestik;  5.  Membangun koperai yang diarahkan dan difokuskan pada upaya – upaya untuk:  a)  Membenahi  dan  memperkuat  tatanan  kelembagaan  dan  organisasi  koperasi  ditingkat  makro,  meso,  maupun  mikro.    Selain  itu,  ditegakkannya  kepastian  hukum  yang  mampu  menjamin

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

145

Laporan Akhir 

Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah  terlindunginya koperasi dan/atau anggotanya dari praktiuk – praktikpersaingan usaha yang tidak  sehat;  b)  Meningkatkan pemahaman, kepedulian, dan dukungan pemangku  kepentingan  (Stakeholders)  kepada koperasi;  c)  Meningktakan kemandirian gerakan koperasi.  Dalam RPJMD Lampung  2004  – 2009  arah kebijakan  pemberdayaan  koperasi dan usaha  mikro, kecil dan  menengah sebagai berikut:  1.  Mengembangkan  skema  kemitraan,  dukungan  kredit  produksi  untuk  usaha  kecil  menengah  dan  fasilitasi pengembangan investasi;  2.  Menumbuhkembangkan  jiwa  enterprener  dikalangan  pelaku  usaha  ekonomi  rakyat  (kecil  dan  mikro)  melalui pemberdayaan manajemen dan permodalan serta teknis usaha yang besar;  3.  Mengembangkan  pola kemitraan antara pengusaha kecil, mikro dan menengah  dengan penguasaha  besar;  4.  Meningkatkan peran lembaga keuangan dalam membantu permodalan;  5.  Meningkatkan daya saing usaha ekonomi kecil dan menengah dalam skala regional maupun global. V. Pencapaian 2005 ­ 2007 5.1 Upaya yang Dilakukan hingga Tahun 2007  Dalam  rangka  mencapai  sasaran  pelaksanaan  pemberdayaan  koperasi  dan  UMKM  sesuai  arah  kebijakan  RPJMN 2004 – 2009, maka di provinsi Lampung juga dilakukan serangkaian programyang meliputi:  1.  Penciptaan iklimusaha  yang  lebih sehat untuk  membuka kesempatan berusaha seluas  – luasnya ,  menjamin kepastian usaha, dan mendorong terbentuknya efisiensi ekonomi;  2.  Pengembangan  dan  peningkatan  kapasitas  institusi  pendukung  usaha  UMKM  agar  mampu  meningkatkan akses kepada sumber daya produktif;  3.  Pengembangan kewirausahaan dan keunggulan kompetitif UMKM melalui pemanfaatan iptek;  4.  Pemberdayaan  usaha  skala  mikro  untuk  meningkatkan  pendapatan  masyarakat  yang  bergerak  dalam kegiatan usaha ekonomi di sektor informal, terutama yang masih berstatus keluarga miskin;  5.  Peningkatan  kualitas  koperasi  untuk  berkembang  secara  sehat  dan  membangun  efisiensi  kolektif  terutama bagi pengusaha mikro dan kecil.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

146 

Laporan Akhir 

Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah  5.2 Permasalahan Pencapaian Sasaran  Koperasi dan UMKM masih dihadapkan pada beberapa persoalan klasik  yang belum terpecahkan.  Secara  mikro, koperasi dan UMKM masih memiliki kinerja yang perlu ditingkatkan, antara lain pada aspek:  1.  Tingkat produktivitas usaha dan tenaga kerja;  2.  Akses pasar dan informasi;  3.  Akses kepada modal, terutama modal investasi yang masih rendah;  4.  Pemanfaatan teknologi yang masih sangat terbatas;  5.  Kualitas SDM yang belum memadai;  6.  Manajemen yang umumnya belum profesional. VI. Tindak Lanjut  Meskipun  peran  koperasi  dan  UMKM  semakin  menunjukkan  peningkatan,  namun  untuk  mencapai  sasaran  dalam RPJMN 2004 – 2009 perlu dilakukan upaya tindak lanjut agar langkah – langkah kebijakan yang telah  dirintis dapat berlangsung secara berkelanjutan, diantaranya:  1.  Percepatan  untuk  menyelesaikan  peratuiran  perundang­undangan  yang  berkaitan  dengan  penjaminan  kredit,  koperasi,  dan  UMKM,  termasuk  penyusunan  produk  perundang  –  undangan  turunannya,  antara  lain  tentang  kegiatan  usaha  simpan  pinjam,  kemitraan  pola  subkontrak,  dan  peningktan fasilitasi perizinan serta formalisasi badan usaha bagi koperasi dan UMKM;  2.  Menggiatkan  program  yang  mendorong  pertumbuhan  yang  berpihak  pada  rakyat  miskin,  yaitu  melalui  perluasan  jangkauan  dan  kapasitas  pelayanan  LKM,  baik  dengan  sistem  pembiayaan  konvensional maupun pola bagi hasil/syariah;  3.  Meningkatkan kemampuan pengusaha mikro dala aspek manajemen usaha dan teknis produksi;  4.  Perluasan akses kepada sumber modal, melalui:  a)  Pengembangan produk  danb jasa pembiayaan nonbank;  b)  Peningkatan skim penjaminan kredit, khususnya untuk memenuhi kebutuhan modal investasi;  c)  Penyusunan  kebijakan  dan  strategi  nasional  pengembangan  LKM  yang  menyeluruh  dan  terpadu, termasuk penuntasan dan pengakuan status LKM tradisional yang berbentuk nonbank  dan nonkoperasi.  Hal ini perlu diikuti denga skim pembinaan.  5.  Memasyarakatkan  kewirausahaan  dan  pengembangan  sistem  insentif  bagi  wirausaha  baru,  terutama koperasi, dan UMKM yang berbasis iptek.  Melalui  langkah  –  langkah  tindak  lanjut  dan  upaya  minimalisasi  permasalahan,  diperkirakan  potensi  dan  kontribusi koperasi dan UMKM dalam perekonomian dapat ditingkatkan.
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

147

Laporan Akhir 

Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah  VII. Penutup  Dengan potensi dan peran yang strategis, koperasi dan UMKM akan mampu menjadi kekuatan nyata untuk  menggerakkan kegiatan ekonomi masyarakat sekaligus menjadi tumpuan dalam meningkatkan kesejahteraan  sosial  dan  ekonomi.    Meskipun  selama  ini  belum  maksimal,  koperasi  dan  UMKM  telah  memberikan  konstribusi yang cukup besar dalam mendukung kehidupan ekonomi rakyat dalam penyerapan tenaga kerja  dalam pengembangan ekonomi daerah.  Pemberdayaan  koperasi  dan  UMKM  yang  dilaksanakan  secara  berkelanjutan  dan  konsistensi  disertai  dukungan  komitmen  yang  kuat  dari  segenap  komponen  dan  institusi  terkait  diharapkan  dapat  mendukung  pencapaian sasaran – sasaran pembangunan nasional dalam RPJMN 2004  – 2009.  Kerjasama kemitraan  antara  koperasi  dengan  UMKM  dan  dengan  Perusahaan  Besar  yang  saling  menguntungkan  perlu  ditingkatkan lagi di masa mendatang.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

148

Laporan Akhir 

Peningkatan Pengelolaan BUMN 

Bab IV.7 Peningkatan Pengelolaan BUMN

I.

Pengantar 

Keberadaan Badan usaha milik Negara (BUMN) yang merupakan salah satu wujud nyata pasal 33 UUD 1945  memiliki posisi strategis  bagi peningkatan kesejahteraan rakyat. Upaya peningkatan efisiensi BUMN sangat  penting  dalam  mendorong  kinerja  BUMN  agar  mampu  berperan  sebagai  alat  negara  untuk  meningkatkan  kesejahteraan rakyat dengan memberi pelayanan kepada masyarakat yang lebih baik dan tidak membebani  keuangan Negara. Selain BUMN di harapkan  mampu berkontribusi terhadap  penerimaan ekonomi nasional  dan  BUMN  diharapkan  membantu  dapat  mendorong  pembangunan  daerah  sekitar  dimana  dia  berusaha  (corporate social responsibilty)  Pada  tahun  2007  dari  139  BUMN  yang  ada,  hanya  PTP.  Nusantara  VII  (persero)  yang  berkantor  pusat  di  Provinsi  Lampung,  hal  ini  menjadikan  sumbangsih  BUMN  terhadap  perekonomian  lampung  tidak  terlalu  signifikan dan besar. II. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah Lampung  Pada awal RPJMN 2004­2009. Pemerintah memiliki 158 BUMN yang bergerak dalam 37 sektor usaha terdiri  dari 119 Persero, 12 Persero Terbuka (Tbk), 13 Perusahaan Jawatan (Perjan), 19 patungan minoritas dan 7  perusahaan holding.  Di  Provinsi  lampung  jumlah  BUMN  yang  merupakan  cabang/unit  usaha  terdiri  dari  11  diantaranya  BUMN  yang  bergerak  dibidang  Perbankan,  asuransi,  Konstruksi,  Perdagangan,  Pertamina,  Kehutanan,  tambang,  Perhubungan,  Industri,  jasa  dan  Telekomunikasi.  Selain  itu,  Pemerintah  Provinsi  lampung  memiliki  perusahaan  Daerah (BUMD)  yakni  PD.    Wahana  Raharja,  PT.  Bank  Lampung,  dan  PT.  KAIL.    Dari  ketiga

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

149

Laporan Akhir 

Peningkatan Pengelolaan BUMN  BUMD  tersebut  baru  PT.  Bank  Lampung  yang  menunjukkan  kinerja  baik  dan  memberikan  konstribusi  bagi  Pendapatan Asli Daerah. III. Sasaran Yang Ingin Dicapai  Sasaran yang hendak dicapai dalam pengelolaan BUMN lima tahun mendatang adalah meningkatnya kinerja  dan  daya  saing  BUMN  dalam  rangka  memperbaiki  pelayanannya  kepada  masyarakat  dan  memberikan  sumbangan terhadap keuangan negara IV. Arah Kebijakan  Dalam rangka mendukung dan mewujudkan kebijakan pemerintah pusat, arah kebijakan Pemerintah Provinsi  Lampung  dalam  upaya  peningkatan  kinerja  dan  daya  saing  BUMN,  harus  mengacu  pada  kebijakan  pemerintah pusat. Namun demikian tidak  ada payung  hukumnya  tentang Peran Pemda dalam pengelolaan  BUMN.  Kebijakan pemerintah pusat dalam pengelolaan BUMN yang diarahkan pada:  1.  Melakukan  koordinasi  dengan  departemen/instansi  terkait  untuk  penataan  kebijakan  industrial  dan  pasar BUMN terkait;  2.  Memetakan  BUMN  yang  ada  ke  dalam  kelompok  BUMN  publik  service  obligation  (PSO)  dan  kelompok BUMN komersial (business oriented);  3.  Melanjutkan langkah­langkah restrukturisasi yang semakin terarah dan efektif terhadap orientasi dan  fungsi BUMN, meliputi restrukturisasi manajemen, organisasi, operasi dan sistem prosedur dan lain  sebagainya,  4.  Memantapkan  penerapan  prinsip­prinsip  Good  Corporate  Governance  (GCG),  yaitu  transparansi,  akuntabilitas, keadilan dan responsibilitas pada pengelolaan BUMN PSO maupun BUMN komersial,  dan  5.  Melakukan  sinergi  antar  BUMN  agar  dapat  meningkatkan  daya  saing  dan  memberikan  multiplier  effect kepada  perekonomian Indonesia. Resource  based  economic yang  memberikan  nilai tambah  akan ditumbuh kembangkan. V. Pencapaian RPJMN di daerah Lampung (2005­2007)  Pada 2007, pengembangan BUMN telah menunjukan kemajuan yang  signifikan. Terutama bila ditinjau dari  sisi  kontribusinya  terhadap  penerimaan  Negara  dan  fungsinya  dalam  memberikan  layanan  kepada  masyarakat.  Sebagai  Provinsi  yang  minim  memiliki  BUMN  yang  berkantor  Pusat  di  daerah  Lampung,

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

150 

Laporan Akhir 

Peningkatan Pengelolaan BUMN  tentunya  hubungan  yang  sinergis  yang  kontinyu  antara  pemerintah  daerah  dan  BUMN  sedikit  dan  jarang  dilakukan.  PT.    Perkebunan  Nusantara  VII  (Persero)  dibentuk  berdasarkan  Peraturan  Pemerintah  Nomor  :  12  Tahun  1996  tanggal  14  Februari  1996  yang  merupakan  penggabungan  dari  PT  Perkebunan  X  (Perseo),  PT  Perkebunan  XXXI  (Persero),  Eks  Proyek  PT  Perkebunan  XI  (Persero)  di  Lahat  dan  Eks  Proyek  PT  Perkebunan XXIII (Persero) di Bengkulu.  PT Perkebunan Nusantara VII (Persero) didirikan dengan maksud  untuk turut serta dalam melaksanakan dan menunjang kebijakan dan Program Pemerintah di bidang ekonomi  dan  pembangunan  Nasional  pada  umumnya  serta  subsektor  Perkebunan  pada  khususnya  dengan  tujuan  memupuk  keuntungan berdasarkan prinsip –prinsip perusahaan  yang  sehat berlandaskan azas  Tri Dharma  perkebunan yaitu:  1.  Mempertahankan  dan  meningkatkan  sumbangan  dibidang  perkebunan  bagi  pendapatan  Nasional  melalui upaya produksi dan pemasaran dari berbagai jenis komoditi perkebunan untuk kepentingan  konsumsi dalam negeri maupun eksport non migas (devisa)  2.  Memperluas lapangan kerja dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat pada umumnya serta  meningkatkan taraf hidup petani dan karyawan pada khususnya  3.  Memelihara kelestarian sumber daya alam dan lingkungan, air serta kesuburan tanah  Saat ini komoditi yang sedang dibudidayakan mencakup empat jenis yaitu, karet, kelapa sawit, tebu dan the  yang semuanya dikelola dengan teknologi modern, manajemen terpadu dan didukung sumber daya manusia  yang  professional  dibidangnya  masing –  masing.   Wilayah kerja pengelolaan tersebut tersebar di Provinsi  lampung  sebanyak  10  unit  Usaha  (  6  UU  di  Distrik  Sekampung  dan  4  UU  di  Distrik  Seputih),    Sumatera  Selatan sebanyak 14 unit usaha (7 UU di Distrik Muara Enim dan 7 UU di Distrik Banyuasin ), dan Bengkulu  sebanyak 3 Unit Usaha dibawah naungan  Distrik  Bengkulu.  Areal tanaman menghasilkan  (TM) terdiri dari:  Areal Inti 78.523 hektar dan Areal Plasma 53.107 hektar.  Tabel 4.7­1  Perkembangan Tingkat Kesehatan PTPN VII  No  Uraian  1  Aspek Keuangan  2  Aspek Operasional  3  Aspek Administrasi  Total  Tingkat Kesehatan perusahaan  Bobot  70  15  15  100  2004  67,00  13,67  14,00  94,67  sehat  AA  2005  69,50  11,02  14,00  94,52  sehat  AA  2006  70,00  12,79  14,00  96,79  sehat  AA  2007  70,00  12,82  14,00  96,82  Sehat  AAA

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

151 

Laporan Akhir 

Peningkatan Pengelolaan BUMN  Sebagai  wujud  tanggung  jawab  sosial  BUMN,  pemerintah  mengadakan  program  kemitraan  dan  bina  lingkungan BUMN.  Pada tahun  2006, untuk  provinsi Lampung PTP. Nusantara VII (persero) dan PT. Bukit  Asam telah aktf membantu pengembangan industri kecil dan menngah dengan program mitra binaan. VI. Rekomendasi Tindak Lanjut  Dari sasaran dan permasalahan yang ada, kebijakan dari pemerintah pusat tentang pengelolan BUMN harus  mampu  didukung  dan  diterjemahkan  oleh  pemerintah  daerah  namun  diperlukan  adanya  payung  hukum  tentang keterkaitan Pemerintah Daerah, contohnya seperti kemudahan dalam perizinan, kemudahan dalam  berinvestasi. Sehingga nantinya BUMN dapat turut serta dan aktiv dalam upaya pembangunan di daerah dan  lokasi usahanya. VII. Penutup  BUMN didirikan dengan tujuan antara lain untuk memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian  nasional pada umumnya dan penerimaan Negara pada khususnya. Disamping itu, pendirian BUMN ditujukan  untuk  menyelenggarakan  kemanfaatan umum berupa penyedian barang dan/atau jasa  yang  bermutu tinggi  dan  memadai  bagi  pemenuhan  hajat  hidup  orang  banyak;  menjadi  perintis  kegiatan­kegiatan  usaha  yang  belum dapat dilaksanakan oleh sektor swasta dan koperasi; serta turut memberikan bimbingan dan bantuan  kepada  pengusaha  golongan  ekonomi  lemah,  koperasi,  dan  masyarakat  terutama  yang  berlokasi  didekat  usahanya  berdiri.  Untuk  itu,  peningkatan  pengelolaan  BUMN  senantiasa  akan  semakin  penting  untuk  diperhatikan.  Perlu  ditingkatkan  lagi  inisitatif  kerjasama  anatara  BUMN  dengan  Koperasi  dan  UMKM  di  sekitar Unit Usaha BUMN agar keberadaan BUMN tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat sekitarnya.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

152 

Laporan Akhir 

Peningkatan Kemampuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 

Bab IV.8 Peningkatan Kemampuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

I. Pengantar 

Tingkat  kemampuan  dan  penguasaan  iptek  sangat  menentukan  daya  saing  bangsa  dalam  era  global.  Pengalaman selama ini membuktikan  bahwa potensi sumber  daya  alam ternyata tidak  bermakna  signifikan  dalam mendongkrak daya saing bangsa dan daerah, ketika tidak didukung oleh SDM yang berkualitas serta  penguasaan  dan  penerapan  iptek.  Terkait  dengan  penguasaan  dan  penerapan  ipteks,  perguruan  tinggi  memiliki peranan  yang  sangat strategis.  Oleh karena itu, maka  salah satu tolok  ukur untuk  menilai kinerja  keberhasilan suatu perguruan tinggi adalah produk iptek hasil kegiatan riset yang dilakukannya.  Pada era otonomi daerah, maka peranan pemerintah daerah (Pemda) dalam memajukan iptek di daerahnya  menjadi sangat relevan untuk dikaji ulang agar dapat dioptimalkan.  Pengelolaan sumberdaya daerah harus  dilakukan secara optimum, berkelanjutan, dan berbasis kajian akademik, sehingga dapat dihasilkan  produk  unggulan daerah yang berdaya saing tinggi.  Upaya tersebut tentu saja harus didukung oleh paket teknologi  yang tepat guna, yang pengembangannya berbasis riset dan kajian akademik.  Pada sisi lain, peranan pihak industri atau swasta dalam pengembangan iptek nasional masih sangat rendah.  Sampai saat ini, dana kegiatan R & D di Indonesia hanya 20% yang berasal dari pihak industri, sedangkan di  negara yang maju ipteknya (misalnya Jepang dan Korea Selatan) sekitar 84% dana R & D berasal dari pihak  industri.    Pada  era  yang  semakin  kompetitif  ini  sudah  saatnya  pihak  industri/swasta  nasional  mulai

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

153

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Kemampuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 

memasukkan  aspek  riset  dan  teknologi  dalam  visi  dan  misinya,  shingga  dapat  ikut  berkiprah  signifikan  terhadap pembangunan nasional menuju peningkatan daya saing bangsa.  Dengan  sumberdaya  (humanware  dan  hardware)  yang  dimiliki,  maka  perguruan  tinggi  seharusnya  siap  menggagas dan menggalang kerjasama dengan pihak eksternal (pemda dan industri) untuk pengembangan  dan penerapan iptek, terutama teknologi yang sesuai dengan kebutuhan pengembangan daerah dan industri  setempat.  Pada sisi lain, dengan sumberdaya alam dan dana yang dikelola, maka pihak Pemda dan Industri  harus pula berpartisipasi aktif dalam pengembangan paket teknologi yang sesuai dengan kebutuhan daerah  dan  industri.    Ketiga  pihak  sesungguhnya  dapat  membangun  kerjasama  partnership  untuk  percepatan  pembangunan daerah, dalam pola kerjasama tripartit. II. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah  Pada awal RPJMN 2004 – 2009, program pengembangan iptek di Provinsi Lampung belum terkelola dengan  baik.    Sumber  daya  kelembagaan  iptek  yang  ada  bergerak  sendiri­sendiri,  tanpa  koordinasi  yang  baik.  Sebagai  akibatnya,  maka  luaran  iptek  yang  dihasilkan  untuk  menunjang  pembangunan  di  daerah  menjadi  tidak jelas dan tidak terukur.  Kelemahan pengelolaan  program dan kegiatan pengembangan iptek di Provinsi  Lampung sebelum era RPJMN 2004 – 2009 meliputi banyak aspek, termasuk:  1.     Aspek perencanaan program pengembangan ipteks;  1.  Aspek kebijakan pembiayaan program pengembangan ipteks;  2.  Aspek koordinasi program pengembangan dan penerapan ipteks;  3.  Aspek diseminasi dan penerapan paket produk ipteks.  Terkait dengan upaya pengembangan iptek di daerah sebelum RPJMN 2004 – 2009, Provinsi Lampung telah  membentuk  Badan  Penelitian  dan  Pengembangan  Daerah  (Balitbangda)  dan  Dewan  Riset  Daerah  (DRD).  Namun,  kedua  lembaga  baru  tersebut  belum  dapat  berfungsi  optimal,  sehingga  pengembangan  iptek  di  Provinsi  Lampung  masih  menghadapi  banyak  kendala.    Pada  era  RPJMN  2004  –  2009,  ada  upaya  Pemerintah Provinsi Lampung untuk meningkatkan perhatian terhadap pengembangan iptek sehingga isu ini  menjadi prioritas perhatian, termasuk pada RPJM berikutnya.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

154 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Kemampuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 

III. Sasaran yang Ingin Dicapai  Mencermati berbagai kelemahan yang diuraikan di atas dan untuk mendukung pencapaian sasaran RPJMN  2004  –  2009,  maka  melalui  Dewan  Riset  Daerah  Provinsi  Lampung  telah  ditetapkan  sasaran  yang  ingin  dicapai pada program pengembangan iptek di Provinsi Lampung sebagai berikut:  1.  terwujudnya konsolidasi seluruh sumberdaya iptek yang ada di Provinsi Lampung, termasuk sumber  daya kelembagaan, SDM, dan sarana prasarana riset);  2.  terwujudnya  koordinasi,  efisiensi,  dan  produktivitas  dalam  pelaksanaan  program  dan  kegiatan  penelitian  dan  pengembangan  (litbang)  ipteks  di  Provinsi  Lampung,  menuju  penyusunan  program  pembangunan berbasis iptek hasil kajian akademik.  3.  dihasilkannya berbagai paket teknologi tepat guna sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan dunia  usaha/industri. IV. Arah Kebijakan  Pada kurun waktu RPJMN 2004 – 2009, arah kebijakan pengembangan ipteks di Provinsi Lampung adalah:  1.  Pengembangan  dan  Penataan  Sumberdaya  Riset  (termasuk  Kelembagaan,  SDM,  dan  Sarana­  Prasarana Riset)  2.  Penelitian, Pengembangan, dan diseminasi di bidang Teknologi Pengelolaan SDA dan Lingkungan  3.  Penelitian dan Pengembangan, dan diseminasi di bidang Ekonomi, Keuangan, dan Dunia Usaha  4.  Penelitian  dan  Pengembangan,  dan  diseminasi  di  bidang  Kebijakan,  Pemerintahan,  Hukum,  dan  Sosial Budaya. V. Pencapaian RPJMN di Daerah (2005 – 2007)  Pada  kurun  waktu  pelaksanaan  RPJMN  2004  –  2009  di  Provinsi  Lampung,  secara  umum  pencapaian  pengembangan di bidang ipteks adalah:

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

155

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Kemampuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 

1.  Terjadi  penguatan  kelembagaan  Badan  Penelitian  dan  Pengembangan  Daerah  (Balitbangda)  dan  Dewan Riset Daerah (DRD) Provinsi Lampung.  2.  Ada  peningkatan  alokasi  dana  APBD  Provinsi  untuk  mendukung  berbagai  kegiatan  penelitian  dan  pengembangan.  Namun,  proporsi  alokasi  dana  tersebut  belum  mencapai  angka  minimal  1%  dari  nilai PDRB seperti yang diharapkan dalam PERDA.  3.  Telah  dicapai  kesepahaman  dan  kesepakatan  dari  seluruh  stakeholder  pengembangan  iptek  di  daerah,  bahwa  Provinsi  Lampung  akan  membangun  dan  mengembangkan  diri  menjadi  ”Pusat  Unggulan Pengembangan Energi Berbasis Biomassa” di Indonesia, yang akan dimulai persiapannya  pada tahun 2009.  4.  Pengembangan  pusat  unggulan  tersebut  pada  ”Point  C”  akan  dikoordinasikan  oleh  Universitas  Lampung dan akan berpusat di Kampus II Unila di Sulusuban Kabupaten Lampung Tengah.  5.  Telah  terwujud  agenda  tahunan  ”Lomba  Penelitian  dan  Pengembangan  Teknologi”  di  tingkat  Provinsi Lampung dan Kota Bandar Lampung, yang saat ini sudah masuk tahun III.  6.  Telah dilakukan sosialisasi dan diseminasi paket teknologi  hasil lomba pada  (”Point e”) ke  daerah  kabupaten.  7.  Telah diterbitkan jurnal ilmiah ”Sains dan Teknologi Lampung” dan Bulletin Pembangunan Provinsi  Lampung” secara rutin 2 kali dalam 1 tahun, yaitu pada bulan Maret dan September.  8.  Meningkatnya  jumlah  competitive  research  grant  dari  pemerintah  pusat  lebih  dari  30%  yang  diperoleh dosen di Daerah Lampung. VI. Rekomendasi Tindak Lanjut  1.  Diperlukan upaya lanjutan untuk penguatan dan koordinasi kelembagaan riset yang ada di Provinsi  Lampung.  2.  Perlu penyusunan fokus dan agenda riset di daerah, sehingga riset dapat menghasilkan produk yang  nyata dan sesuai dengan kebutuhan spesifik pembangunan daerah.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

156 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Kemampuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 

3.  Perlu ditingkatkan proporsi alokasi dana untuk kegiatan riset di daerah, baik melalui APBN maupun  APBD.  4.  Perlu ditingkatkan upaya diseminasi hasil­hasil penelitian dan paket teknologi kepada khalayak yang  lebih luas, untuk mendorong peningkatan nilai tambah dan daya saing produk.  5.  Peningkatan  peran  IPTEKS  dalam  pembangunan  daerah  dan  pemberdayaan  masyarakat  (Knowledge base development strategy).

VII. Penutup  Semua  kalangan  diharapkan  mencermati  bahwa  peranan  iptek  semakin  strategis  pada  era  global  yang  sangat  kompetitif.    Kerena  itu,  diharapkan  kebijakan  dan  program  pembangunan  ke  depan  harus  mulai  berbasis ipteks dan kajian akademik. Dengan cara ini, maka  dapat diharapkan  akan diperoleh nilai tambah  yang tinggi sehingga mampu meningkatkan daya saing daerah dan daya saing bangsa..

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

157 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan 

Bab IV.9 Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan

I.

Pengantar 

Penciptaan  iklim  ketenagakerjaan  yang  sehat  dan  kondusif  sangat  penting  untuk  menciptakan  lapangan  pekerjaan bagi penduduk Indonesia karena bekerja adalah jembatan bagi terciptanya suatu kehidupan yang  layak. Banyaknya angkatan kerja yang tidak terserap pada lapangan kerja formal membuat mereka terpaksa  memilih masuk dan berpartisipasi pada lapangan kerja informal.  Pemerintah menempatkan  penciptaan kesempatan kerja seluas­luasnya sebagai salah satu sasaran pokok  dalam agenda pembangunan jangka menengah nasional 2004­2009.  Lapangan kerja yang perlu diciptakan  adalah lapangan kerja yang layak. Yaitu lapangan kerja produktif dan mampu memberikan perlindungan yang  memadai bagi pekerja.  Kondisi  ketenagakerjaan  secara  umum  dipengaruhi  kondisi  internal  dan  eksternal,  untuk  kondisi  internal  dapat diwakili oleh kemampuan atau skill dari pekerja untuk dapat terserap di dunia kerja, sedangkan untuk  faktor  eksternal  diwakili  oleh  kondisi  perekonomian  secara  makro  (seperti,  kenaikan  harga  BBM,  kenaikan  suku bunga Bank Indonesia (SBI), dan kebijakan pemerintah) lainnya. II. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah Lampung  Tahun 2004  jumlah penduduk Lampung  diperkirakan mencapai 6,92 juta jiwa. Jumlah penduduk usia kerja  (15 tahun ke atas) setiap tahun selalu mengalami peningkatan pada tahun 2003 sebesar 4,68 juta jiwa dan  tahun 2004 sebesar 4,71 juta jiwa dengan angkatan kerja pada tahun tersebut berturut­turut 4,11 juta jiwa dan 158

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan 

4,3 juta jiwa.  Sedangkan tingkat pengangguran tahun 2003 dan 2004 di Provinsi Lampung sebesar 333.535  jiwa dan 355.740 jiwa.  Sepanjang periode 2004/2005, total tingkat penggaguran terbuka di Provinsi Lampung mengalami penurunan  dari  8,27  menjadi  8,17  persen  dari  angkatan  kerja  yang  ada.  Angka  ini  lebih  rendah  dari  angka  nasional  tingkat penggaguran terbuka yang  mengalami peningkatan dari 10,3 juta menjadi 11,9 juta atau meningkat  dari 9,9 menjadi 11,2 persen dari angkatan kerja.  Peningkatan  jumlah  pengangguran  disebabkan  meningkatnya  jumlah  angkatan  kerja  yang  belum  mendapatkan  pekerjaan.  Permasalahan  yang  masih  sulit  diatasi  adalah    tingginya  angka  pengangguran,  rendahnya kualitas angkatan kerja, terbatasnya kesempatan kerja untuk itu III. Sasaran Yang Ingin Dicapai  Sasaran  yang  hendak  dicapai  dalam  lima  tahun  mendatang  adalah  menurunya  tingkat  penggangguran  terbuka menjadi 5,1 persen pada akhir 2009.  Sasaran yang hendak dicapai dalam RPJMD (Renstra) Provinsi Lampung adalah:  1.  Meningkatkan peluang berusaha dan bekerja  2.  Mengurangi jumlah angkatan kerja yang menganggur IV. Arah Kebijakan  Dengan kondisi pasar kerja yang sebagain besar adalah lapangan kerja informal, sebagian besar angkatan  kerjanya  memiliki  tingkat  pendidikan  dan  keterampilan  yang  rendah,  serta  sebagian  besar  berusia  muda,  kebijakan  ketenagakerjaan  diarahkan  pada  upaya  membuka  kesempatan  kerja  dan  meningkatkan  produktivitas angkatan kerja melalui pengenalan teknologi inovatif dan tepat guna.  Arah kebijakan dalam RPJMD Provinsi Lampung adalah:  1.  Merumuskan  strategi  peningkatan  kualitas  SDM  sesuai  dengan  perkembangan  ekonomi  dan  teknologi;

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

159 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan 

2.  Rehabilitasi dan bantuan bagi sekolah keguruan dan pelatihan yang professional  3.  Meningkatkan kualitas tenaga kerja yang memiliki kompetensi untuk menghadapi era global. V. Pencapaian RPJMN di daerah Lampung (2005­2007) 5.1 Posisi Capaian hingga 2007 

Kondisi  ketenagakerjaan  di  Provinsi  Lampung  tahun  2007  mengalami  perbaikan.  Jumlah  penduduk  yang  bekerja tercatat meningkat dari 3,06 juta pada Agustus 2006 menjadi 3,28 juta pada Agustus 2007. Demikian  pula dengan angka pengangguran pada Agustus 2007 turun 3,16% dibandingkan angka pada Agustus 2006,  yaitu dari 30,8 juta orang (9,13% dari total angkatan kerja) menjadi 26,9 juta jiwa (7,58%).  Meskipun demikian, indikator kesejahteraan masyarakat lainnya  relatif tidak  banyak mengalami perubahan.  Kesejahteraan  petani  cenderung  mengalami  penurunan.  Begitu  pula  dengan  jumlah  penduduk  miskin,  dibandingkan dengan kondisi pada tahun 2005, kondisi pada tahun 2007 relatif tidak mengalami perbaikan.  Ketimpangan  pendapatan  masih  belum  menunjukkan  perkembangan  yang  menggembirakan,  Indeks  Pembangunan Manusia, yang merupakan salah satu indikator kesejahteraan masyarakat relatif tidak banyak  berubah.  Pertumbuhan  ekonomi  Propinsi  Lampung  berpengaruh  positif  dalam  menciptakan  lapangan  kerja sehingga  menyebabkan  Tingkat  Partisipasi  Angkatan  Kerja  (TPAK)  di  propinsi  Lampung  mengalami  peningkatan.  TPAK tumbuh yaitu dari 68,39% pada bulan Februari 2007 menjadi 69,6% pada bulan Agustus 2007. Seering  dengan hal tersebut, dalam periode yang sama terdapat pertambahan jumlah penduduk yang bekerja, yaitu  dari  3,17  juta  orang  pada  bulan  Februari  2007,  menjadi  3,28  juta  orang  pada  bulan  Agustus  2007  atau  terdapat penambahan sebesar 110 ribu orang

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

160 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan 

Tabel 4.9­1  Indiaktor ketenagakerjaan di Provinsi Lampung (Ribuan) uraian Penduduk Usia 15 tahun keatas  Angkatan Kerja  Bekerja  Penggangguran Terbuka  Bukan Angkatan Kerja  Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja  Tingkat Pengangguran Terbuka 
Sumber : BPS dan Bank Indonesia Bandar Lampung 

Februari 2006 4,961.70  3,442.30  3,106.30  335.90  1,519.40  69.38  9.76 

Agustus 2006 4,997.50  3,371.80  3,064.10  307.70  1,625.70  67.47  9.13 

Februari 2007 5,046.40  3,451.10  3,165.10  285.90  1,595.40  68.39  8.29 

Agustus 2007  5,101.40  3,550.50  3,281.40  269.10  1,551.00  69.60  7.58 

Berakhirnya masa Panen raya pada akhir triwulan I­2007 menyebabkan berkurangnya jumlah penduduk yang  bekerja pada sektor pertanian. Meski demikian, terjadi penambahan tenaga kerja pada sektor perdagangan  serta sektor industry  Tabel 4.9­2  Penduduk yang bekerja menurut lapangan kerja utama di Provinsi Lampung (Ribuan) uraian Pertanian  Industri  Konstruksi  Perdagangan  Angkutan dan  Pergudangan  Jasa Kemasyarakatan  Lainnya  Februari 2006 Agustus 2006 Februari 2007 Agustus 2007  2.069.30  1.892.20  2.062.20  1.879.30  125.20  246.90  141.60  262.60  106.30  141.50  85.80  141.80  418.40  371.30  448.30  521.80  146.10  120.40  152.10  143.40  216.80  24.20  263.60  28.20  240.20  34.90  296.10  36.40 

Sumber : BPS dan Bank Indonesia Bandar Lampung 

Sektor pertanian masih mendominasi penyerapan tenaga kerja, yaitu sebesar 1.879 juta orang (54,7% dari  penduduk  yang  bekerja).  Sementara  sektor  perdagangan  menyerap  521  ribu  orang  (15,2%).  Sedangkan
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

161 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan 

sektor  lain  yang  cukup  besar  adalah  sektor  jasa  kemasyarakatan  yang  menyerap  296  ribu  orang.  Berdasarkan status pekerjaan, terdapat dua status yaitu informal dan formal, dimana pekerjaan formal adalah  mereka yang berstatus berusaha dibantu buruh tetap dan buruh/karyawan, sementara informal adalah yang  berstatus  diluar formal. Kenaikan  jumlah pekerja didominasi oleh sektor informal, yaitu penduduk berstatus  berusaha sendiri bertambah sekitar 57 ribu orang dan pekerja bebas naik sebesar 30 ribu orang.  Tabel 4.9­3  Penduduk yang bekerja menurut status pekerjaan di Provinsi Lampung (Ribuan) Uraian Berusaha Sendiri  Berusaha dibantu buruh tidak tetap  Berusaha dibantu buruh tetap  Buruh/karyawan  Pekerja bebas di Pertanian  Pekerja bebas non Pertanian  Pekerjaan tak dibayar 
Sumber : BPS dan Bank Indonesia Bandar Lampung 

Februari 2006 464.80  873.60  57.00  528.10  199.10  83.50  894.20 

Agustus 2006 508.70  771.70  78.90  570.80  161.20  115.10  857.70 

Februari 2007 413.40  839.70  70.60  598.20  218.90  117.80  906.50 

Agustus 2007  470.90  839.70  76.70  630.50  222.80  143.90  896.90 

Penetapan Upah Minimum Provinsi (UMP) Provinsi Lampung pada tahun 2007 sebesar Rp. 555.000,00 per  bulan.  Sedangkan  besarnya  Kebutuhan  Hidup  Minimum  (KHM)  pekerja  yang  tercatat  pada  Dinas  Tenaga  Kerja  Provinsi  Lampung  Tahun  2006  rata­rata  sebesar  Rp.  554.521,00.  Dengan  demikian  UMP  Provinsi  Lampung sudah berada di atas angka KHM pekerja.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

162 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan 

Tabel 4.9­4  Besarnya Kebutuhan Hidup Minimum (KHM) Pekerja dan Penetapan Upah Minimum Propinsi (UMP)  Daerah Lampung Tahun 2004 ­ 2007 (Rupiah) Tahun 2004  2005  2006  2007  Kebutuhan Hidup Minimum 377.500  396.456  589.540  554.521  Upah Minimum Propinsi 377.500  405.000  505.000  555.000  Surat Keputusan Gubernur Lampung  No. G/379/B.VIII/HK/2003  Tanggal 23 Desember 2003  No. G/407/B.VII/HK/2004  Tanggal 15 Desember 2004  No. G/473/B.VII/HK/2005  Tanggal 31 Desember 2005  No. G/515/B.VII/HK/2006  Tanggal 29 Desember 2006 

Sumber : Badan Pusat Statistik Propinsi Lampung 

Jumlah pencari kerja yang terdaftar di Provinsi Lampung untuk tahun 2006 adalah sebanyak 60.717. Dimana  sebagian besar pencari kerja berasal dari Kota Bandar Lampung dengan jumlah pencari kerja 26.257 orang  atau sebesar 43,24 %. Dari jumlah total di Provinsi Lampung, sebagian besar pencari kerja memiliki tingkat  pendidikan  SLTA,  yaitu  sebanyak  39.325  atau  sebesar  64,77  %.  Sedangkan  pencari  kerja  dengan  tingkat  pendidikan  sarjana  S1  sebanyak  12.706  orang  atau  sebesar  20,93 %  dari  total  keseluruhan  pencari kerja.  Namun, jumlah lowongan kerja yang tersedia di Provinsi Lampung tahun 2006 hanya sebesar 3.579 saja. Hal  ini berarti lowongan pekerjaan yang ada saat ini masih kurang. 5.2 Permasalahan Pencapaian Sasaran 

Faktor  utama  yang  menjadi  alasan  meningkatnya  angka  pengangguran  adalah  iklim  investasi  yang  masih  kurang kondusif.  Iklim yang kurang kondusif ini disebabkan oleh banyak hal yang diantaranya adalah kondisi  iklim ketenagakerjaan yang erat kaitanya dengan penciptaan pasar kerja yang luwes. VI. Rekomendasi Tindak Lanjut  Penciptaan  lapangan  kerja  seluas­luasnya  bukanlah  suatu  tugas  mudah.  Berbagai  upaya  dilakukan  pemerintah untuk memperbaiki iklim ketenagakerjaan ini, antara lain :

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

163 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan 

1.  Menciptakan  lapangan  pekerjaan  formal  atau  modern  yang  seluas­luasnya.  Dengan  kualifikasi  angkatan kerja yang tersedia, maka lapangan kerja formal yang diciptakan didorong ke arah industri  padat pekerjaan, industri menengah dan kecil, serta industri yang berorientasi ekspor;  2.  Memberikan  dukungan  yang  diperlukan  agar  pekerjaan  dapat  berpindah  dari  pekerjaan  dengan  produktivitas rendah ke pekerjaan dengan produktivitas lebih tinggi. Upaya­upaya pelatihan tenaga  kerja harus terus ditingkatkan dan disempurnakan agar perpindahan tersebut dapat terjadi.  Kebijakan  yang  ditempuh  untuk  menciptakan  lapangan  kerja  formal  dan  meningkatkan  produktivitas  pekerjaan dilaksanakan dengan;  1.  Menciptakan  fleksibilitas  pasar  kerja  dengan  memperbaiki  aturan  main  ketenagakerjaan  yang  berkaitan  rekrutmen,  outsourcing,  pengupahan,  pemutusan  hubungan  kerja  (PHK),  serta  memperbaiki aturan main yang mengakibatkan perlindungan yang berlebihan;  2.  Menciptakan kesempatan kerja melalui investasi;  3.  Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia dengan memperbaiki pelayanan pendidikan, pelatihan  serta memperbaiki pelayanan kesehatan;  4.  Memperbaharui program­program perluasan kesempatan kerja yang dilakukan oleh pemerintah;  5.  Memperbaiki berbagai kebijakan yang berkaitan dengan migrasi tenaga kerja; dan  6.  Menyempurnakan  kebijakan  program  pendukung  pasar  kerja  dengan  mendorong  terbentuknya  informasi pasar kerja serta membentuk bursa kerja. VII. Penutup  Membaiknya  iklim  ketenagakerjaan  dapat  mendorong  penciptaan  kesempatan  kerja  baru  dan  menurunkan  tingkat  penggangguran.  Berbagai  upaya  yang  dilakukan  pemerintah  telah  memberikan  hasil  yang  nyata.  Meskipun  belum  optimal,  setidaknya  berbagai  kegiatan  yang  dilakukan  selama  ini  dapat  menjadi  landasan  bagi  perbaikan  iklim  ketenagakerjaan  dimasa  dating.  Hal  ini  ditandai  dengan  telah  menurunnya  tingkat  penganguran terbuka, meningkatnya kualitas  hubungan  industrial, meningkatnya kualitas  tenaga  kerja, dan  membaiknya kebijakan migrasi ketenagakerjaan.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

164 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pemantapan Stabilitas Ekonomi Makro 

Bab IV.10 Pemantapan Stabilitas Ekonomi Makro

I.

Pengantar 

Stabilitas  ekonomi  makro  adalah  prasyarat  bagi  pertumbuhan  yang  tinggi  dan  berkualitas  yang  bertujuan  untuk  meningkatkan  kesejahteraan  rakyat.  Untuk  menjaga  stabilitas  ekonomi.  Pemerintah  perlu  melakukan  berbagai upaya secara terus menerus dan menetapkan kebijakan yang disesuaikan dengan perkembangan  kondisi  ekonomi  yang  terjadi. Diantaranya  pemerintah  terus  melakukan  pemantapan  kesinambungan  fiskal  melalui  penurunan  defisit  secara  bertahap.  Selain  itu.  Pemerintah  juga  melakukan  reformasi  kebijakan  perpajakan  dan  kepabeanan  serta  optimalisasi  penerimaan  Negara  bukan  pajak  (PNBM).  Agar  penetapan  kebijakan dan upaya yang dilakukan dapat dengan tepat. Perlu pula dukungan pengembangan data statistika  yang akurat.  Mengingat  pentingnya  stabilitas  ekonomi  makro  bagi  kelancaran  dan  pencapaian  sasaran  pembangunan  nasional, Pemerintah bertekad untuk terus menciptakan dan memantapkan stabilitas ekonomi makro. Salah  satu arah kerangka ekonomi makro dalam jangka menengah adalah untuk menjaga stabilitas ekonomi makro  dan mencegah timbulnya fluktuasi yang berlebihan di dalam perekonomian.  Stabilitas  ekonomi makro tidak hanya tergantung pada  pengelolaan besaran ekonomi makro semata, tetapi  juga  tergantung  kepada  struktur  pasar  dan  sektor­sektor.  Untuk  memantapkan  stabilitas  ekonomi  makro,  kebijakan ekonomi makro, melalui kebijakan fiskal dan moneter yang terkoordinasi baik, harus didukung oleh  kebijakan reformasi struktural, yang ditujukan untuk memperkuat dan memperbaiki fungsi pasar, antara lain

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

165

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pemantapan Stabilitas Ekonomi Makro 

pasar modal dan uang, pasar tenaga  kerja serta pasar barang dan jasa, dan sektor­sektor meliputi seperti  sektor industri, pertanian, perdagangan, keuangan dan perbankan. II. Kondisi Awal RPJMN di Daerah Lampung  Pada awal RPJMN 2004­2009, perekonomian Lampung  di warnai oleh kondisi ekonomi makro yang  masih  rentan terhadap berbagai gejolak, yang disebabkan oleh kondisi eksternal dan makro ekonomi yang berimpas  ke daerah. Selain itu pada awal RPJMN 2004­2009, laju inflasi dan tingkat suku bunga masih relative  lebih  tinggi. Pada tahun 2004. Laju inflasi tercatat sebesar 6,4 persen, suku bunga SBI adalah 7, 3 persen dan nilai  tukar adalah Rp. 8.928 per USD.  Angka ini  masih jauh  lebih tinggi dibandingkan Negara­Negara tetangga.  Dimana laju inflasi dan tingkat bunga nya berturut­turut berkisar antara 0,5 – 1,8 persen dan 1,0 – 2,8 persen,  hal ini pada gilirannya menyebabkan menurunnya daya saing perekonomian nasional dibandingkan Negara­  negara tersebut.  Kondisi lain adalah harga minyak mentah dunia yang mulai meningkat di awal tahun  2005. Peningkatan ini  secara  langsung  mengancam  ketahanan  anggaran  Negara  dan  mengancam  stabilitas  perekonomian,  meningkatnya  harga  minyak  dapat  mendorong  tingkat  inflasi.  Juga  menekan  nilai  tukar  dan  meningkatkan  suku bunga.  Kenaikan  harga  minyak  dunia  mengakibatkan  kenaikan  harga  BBM  dalam  negeri  pada  bulan  Maret  dan  terbesar pada bulan oktober 2005 yang naik sekitar 120 persen. Kenaikan harga BBM dalam negeri ini telah  berpengaruh terhadap melonjaknya nilai tukar menjadi sekitar Rp. 12.000 per USD pada pertengahan 2005.  Meningkatnya BI rate menjadi 12,75 persen pada akhir 2005. Dan melonjaknya inflasi menjadi 17,1 persen  dari  6,4  persen  pada  tahun  2004,  yang  semuanya  lebih  tinggi  dari  sasaran  RPJMN,  dengan  dinaikannya  harga BBM tersebut, tekanan terhadap nilai tukar dan inflasi mereda pada tahun 2006. 2.1 Perkembangan Pendapatan Regional Provinsi Lampung  Tahun  2004,  PDRB  Provinsi  Lampung  dengan  migas  atas  dasar  harga  konstan  tahun  1993  sebesar  Rp  8.675,27  Milyar  sedangkan  tanpa  migas  sebesar  Rp  8.527,57  Milyar.    Konsumsi  domestik  sebesar  Rp.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

166 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pemantapan Stabilitas Ekonomi Makro 

6.534,68  Milyar  dan  memiiki  kontribusi  terbesar  (76%)  dalam  pembentukan  PDRB,  sisanya  disumbangkan  oleh Investasi sebesar Rp. 3.082,95 Milyar (36%), dan net ekspor sebesar (12%). Sampai dengan bulan Juni  2005  PDRB  Provinsi  Lampung  baru  mencapai  Rp  4.743,95  Milyar.  Pada  periode  ini  peranan  konsumsi  domestik sangat dominan dalam pembentukan PDRB.  Pertumbuhan  ekonomi  Lampung  dengan  migas  pada  tahun  2004  (atas  dasar  harga  konstan  tahun  1993)  sebesar 4,4% dan tanpa migas sebesar 4,5%. Pada periode ini pertumbuhan ekonomi Lampung lebih banyak  dibantu  oleh  sektor  keuangan,  persewaan  dan  jasa  perusahaan  yang  mengalami  pertumbuhan  sebesar  17,0%,  dan  sektor  bangunan  sebesar  7,7%.    Sektor­sektor  lainnya  memiliki  pertumbuhan  dibawah  pertumbuhan  ekonomi daerah.  Sektor pertanian yang  memiliki peranan  paling besar dalam perekonomian  hanya mampu tumbuh sebesar 3,9%.  Pada tahun 2005 pertumbuhan ekonomi dengan migas turun menjadi 3,6% dan tanpa migas sebesar 3,6%.  Pertumbuhan  ekonomi  Lampung  tersebut  lebih  banyak  disumbangkan  oleh  sektor  bangunan  yang  tumbuh  sebesar  10,5%,  Listrik  gas  dan  air  bersih  sebesar  6,8%,  sektor  perdagangan,  hotel  dan  restoran  sebesar  4,9%, sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 4,6%, serta sektor industri pengolahan sebesar 3,9%.  Sektor­sektor lainnya memiliki pertumbuhan dibawah pertumbuhan ekonomi daerah.  Sektor pertanian yang  memiliki  peranan  paling  besar  dalam  perekonomian  hanya  mampu  tumbuh  sebesar  2,3%,  dan  sektor  keuangan,  persewaan  dan  jasa  perusahaan  yang  pada  tahun  2004  menjadi  leader  pertumbuhan  ekonomi  Lampung, pada tahun 2005 ini justru mengalami pertumbuhan yang negatif sebesar 0,8%.  Pada  periode  ini  peranan  konsumsi  domestik  dalam  pembentukan  PDRB  masih  sangat dominan,  peranan  investasi  turun  sebesar  5,1%  dan  peranan  ekspor  netto  juga  turun  sebesar  1,3%.    Dengan  kata  lain  pertumbuhan  ekonomi  Lampung  sangat  tergantung  pada  konsumsi  masyarakat  (RT)  yang  mengalami  pertumbuhan sebesar 12,6%  Peranan  investasi  dalam  mendorong  pertumbuhan  ekonomi  Lampung  masih  belum  optimal  walaupun  sumbangan investasi terhadap pertumbuhan ekonomi menunjukkan trend yang positif.  Sampai dengan bulan  Juni  II  tahun  2005,  berdasarkan  survey  kegiatan  dunia  usaha  (BPS)  menunjukkan  adanya  peningkatan  investasi yang dilakukan oleh dunia usaha. Persetujuan investasi tercatat sebanyak 4 (empat) proyek PMDN 167 

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pemantapan Stabilitas Ekonomi Makro 

sebesar  Rp.  1,12  Trilyun,  dan  5  (enam)  proyek  PMA  dengan  total  nilai  US$  84,83  juta.    Sebagian  besar  proyek bergerak di bidang industri pengolahan hasil pertanian dan perkebunan. Namun sampai akhir tahun  2005  peranan  realisasi  (investasi  riil)  terhadap  peningkatan  nilai  tambah  bruto  (NTB)  pada  perekonomian  Lampung  masih  mengalami  keterbatasan,  sehingga  peranannya  terhadap  perekonomian  daerah  menurun  menjadi 5,1%. 2.2 Ekspor dan Impor Provinsi Lampung  Perkembangan  ekspor  non  migas  Lampung  tahun  2004  sebesar  US$  705.005,92  juta,  dengan  komoditas  ekspor  utamanya    adalah  Kopi,  teh  dan  rempah­rempah  sebesar  US$  181.187,22  juta  atau  25,7%,  bubur  kayu sebesar US$ 155.289,34 juta atau 22,03%, dan Ikan dan udang sebesar US$ 98.670,65 juta (14%).  Pada triwulan  I dan  II tahun  2005, ekspor non migas  berturut­turut sebesar US$ 210.432,65 juta dan US$  304.813,17 juta.  Pada Triwulan I tahun 2005, komoditas ekspor utama meliputi Kopi teh dan rempah­rempah  (US$  41.317,54  juta  atau  19,63%),  bubur  kayu  (US$  37.362,97  juta  atau  17,76%)  dan  olahan  dari  buah­  buahan/sayuran  (US$  25.315,61  juta  atau  12,03%).    Sedangkan  pada  Triwulan  II  Tahun  2005  komoditas  ekspor non migas utama adalah Kopi, teh dan rempah­rempah (US$ 56.588,35 juta atau 18,56%), Lemak dan  minyak hewan/Nabati (US$ 46.157,31 juta atau 15,14%) dan Bubur Kayu (45.990,4 juta atau 15,09%).  Berdasarkan negara tujuan, ekspor Propinsi Lampung tahun 2004 terbesar ke negara­negara kawasan Asia  (US$ 347.771 juta atau 47,79%), terutama ke negara Jepang (16,74%), RRC (8,53%) dan Malaysia (5,42%),  Kawasan Eropa (US$ 205.526,5 juta atau 28,24%) terutama negara Jerman (7,75%), Belanda (6,34%) dan  Italia (3,73%), dan Kawasan Amerika (US$ 149.574,39 juta atau 20,55%) terutama negara Amerika Serikat  (19,40%)  dan  Amerika  Latin  (0,68%). Demikian  pula  pada  triwulan  I  dan  II  Tahun  2005  kawasan­kawasan  tersebut masih merupakan kawasan dan negara­negara tujuan ekspor terbesar Provinsi Lampung.  Impor  komoditas  non  migas  Provinsi  Lampung  pada  tahun  2004  sebesar  US$  62.445,53  juta,  dengan  komoditas  utama  antara  lain  pupuk  (22,45%),  binatang  hidup  (20,10%),  Ampas/Sisa  Industri  Makanan  (11,29%),  dan  Besi  dan  Baja  (10,27%).    Pada  Triwulan  I  tahun  2005  impor  non  migas  mencapai  US$  10.099,06  juta  dengan  komoditas  utama  Besi  dan  Baja  (33,14%),  Binatang  Hidup  (19,46%)  dan  Gula  dan

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

168 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pemantapan Stabilitas Ekonomi Makro 

Kembang  Gula  (14,89%).    Sedangkan  pada  Triwulan  II  Tahun  2005  impor  non  migas  Lampung  mencapai  US$  31.078,02  juta  dengan  komoditas  utama  antara  lain  pupuk  (23,54%),  binatang  hidup  (13,84%)  dan  Ampas (11,62%).  Perkembangan  ekspor  Provinsi  Lampung  pada  tahun  2004  dan  2005  secara  agregate  selalu  mengalami  penurunan  sebesar  17,6%  pada  tahun  2004  dan  44,2%  pada  tahun  2005.  sedangkan  impor  Provinsi  Lampung pada tahun 2004 tumbuh sebesar 19,4% dan tahun 2005 turun sebesar 42,9%. 2.3 Kenaikan haga­harga (Inflasi)  Pada  triwulan  I  Tahun  2005  laju  inflasi  di  Bandarlampung  sebesar  8,84%  lebih  tinggi  jika  dibandingkan  dengan  akhir  triwulan  IV  tahun  2004  sebesar  5,22%.    Hal  ini  disebabkan  adanya  tekanan  kenaikan  harga  bahan  bakar  minyak  (BBM)  yang  diberlakukan  pada  tanggal    1  Maret  2005.    Kelompok  transportasi  dan  komunikasi  menjadi  penyumbang  utama  kenikan  inflasi  sebesar  1,85%  diikuti  kelompok  makanan  jadi,  minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,78%.  Pada periode ini tingkat inflasi regional sebesar 8,84% lebih  tinggi dibandingkan dengan inflasi nasional 8,81%.  Dengan demikian laju kenaikan harga­harga di Provinsi  Lampung  selama  periode  tersebut  dapat  dikatakan  lebih  tinggi  dari  tingkat  kenaikan  harga­harga  secara  nasional.  Pada  triwulan  II  Tahun  2005  laju  perkembangan  inflasi  di  Bandarlampung  sebesar  7,71%  lebih  rendah  dibandingkan dengan Triwulan I Tahun 2005 (8,84%), namun masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan laju  kenaikan  harga  pada  periode  yang  sama  tahun  2004  sebesar  7,12%.    Jika  dibandingkan  dengan  inflasi  nasional, laju kenaikan harga di Bandarlampung tersebut masih lebih tinggi (inflasi nasional pada triwulan II  Tahun 2005 sebesar 7,42%).  Pada triwulan III dan IV inflasi di Bandarlampung diperkirakan akan semakin  tinggi  lagi,  mengingat  adanya  tekanan  kenaikan  harga  akibat  naiknya  harga  BBM  yang  diberlakukan  pemerintah per tanggal 1 Oktober 2005 yang diperkirakan akan mendorong kenaikan harga dari sisi produksi  (cost push inflation) dan tekanan kenaikan permintaan akibat kebutuhan selama bulan puasa, hari raya dan  tahun baru serta liburan sekolah (seasonal factors).  Disamping itu ekspektasi masyarakat terhadap kenaikan  harga masih cukup tinggi.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

169 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pemantapan Stabilitas Ekonomi Makro 

Inflasi  di  Provinsi  Lampung  sampai  dengan  bulan  November  2005  rata­rata  sebesar  10,59%  per  bulan.  Namun angka ini menjadi semakin tinggi jika kita lihat selama 5 (lima bulan terakhir, dimana inflasi Provinsi  Lampung  selalu berada di atas  inflasi nasional.   Bahkan Bulan Oktober dan November menembus  level di  atas 20%, atau tepatnya 22,15% pada Bulan Oktober dan 21,26% pada Bulan November 2005.  Kenaikan  harga  (inflasi  tersebut)  akan  semakin  terasa  membebani  masyarakat  apabila  tingkat  kenaikan  pendapatan masyarakat tidak mengalami kenaikan secara proporsional sesuai kenaikan harga­harga.  Di sisi  lain kondisi tersebut juga akan mengoreksi pertumbuhan ekonomi regional, sehingga secara riil pertumbuhan  ekonomi  regional  Provinsi  Lampung  akan  melambat.  Untuk  itu  langkah­langkah  stabilisasi  harga  dan  pengendalian  distribusi  barang  dan  jasa  kebutuhan  pokok  merupakan  prioritas  utama  pada  periode  yang  akan datang. 2.4 Nilai Tukar Petani  Petani  merupakan  komponen  penduduk  yang  terbesar  di  Provinsi  Lampung.  Upaya  peningkatan  kesejahteraan  petani  berarti  juga  peningkatan  sebagian  besar  penduduk  Provinsi  Lampung.  Peningkatan  kesejahteraan petani antara lain dilihat pada nilai tukar petani (NTP).  Indeks Nilai Tukar Petani (NTP) di Provinsi Lampung Tahun 2003 sebesar 73,6%, dan tahun 2004  sebesar  90,4%.  Walaupun indeks NTP tersebut naik, namun kenaikan kebutuhan hidup petani yang tercermin dalam  indeks  yang  dibayar  petani  (Buyed  Index)  masih  lebih  tinggi  dari  pendapatan  yang  diterima  petani  yang  tercermin dalam indeks yang diterima petani (Received Index).  Hal ini terutama terjadi pada saat­saat panen  raya  tiba.    Namun  pada  Tahun  2005  NTP  diperkirakan  akan  semakin  tertekan  disebabkan  karena  pada  periode ini kenaikan harga­harga secara umum (inflasi) terutama untuk komoditas pokok mengalami kenaikan  yang  cukup  signifikan,  sedangkan  kebijakan  harga  produk­produk  pertanian  belum  mengalami  kenaikan.  Melihat ketatnya impor produk­produk pertanian, dan tingginya subsidi di bidang kesehatan, pendidikan dan  beberapa  pelayanan  publik  lainnya.  Kebijakan  pembatasan  impor  produk­produk  pertanian  diharapkan  mampu meningkatkan Recieved Indeks petani, sedangkan subsidi sektoral tadi dapat menekan buyed indeks  petani. Pada tahun 2005, nilai tukar petani diperkirakan relatif lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2004,  namun  masih  lebih  tinggi  dibandingkan  dengan  tahun  2003.  Kebijakan­kebijakan  yang  pro  kepada  petani 170 

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pemantapan Stabilitas Ekonomi Makro 

(meningkatkan ketersediaan sarana produksi pertanian: pupuk, benih dan pestisida dengan harga terjangkau  dan tepat waktu) sangat dibutuhkan untuk membantu petani mengatasi kebutuhannya. 2.5 Pendapatan Perkapita dan Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Lampung  Pada  tahun  2004  jumlah  penduduk  pada  pertengahan  tahun  meningkat  menjadi  6.915.950  jiwa  dengan  pertumbuhan  sebesar  0,92%.  Pada akhir  tahun  2004  jumlah  penduduk  Lampung    sebesar  7.028.388  jiwa.  (BPS, 2005) dan pada tahun 2005 jumlah penduduk Lampung diperkirakan sebesar 7.093.049 jiwa.  Pada  tahun  2004,  atas  dasar  harga  konstan  tahun  1993,  pendapatan  perkapita  pertahun  tanpa  migas  Provinsi  Lampung  sebesar  Rp  1.247.910,­  dan  dengan  migas  sebesar  Rp  1.254.386,­.  Pada  tahun  2005  pendapatan perkapita dengan migas sebesar Rp. 1.260.149,­ perkapita pertahun, dan tanpa migas sebesar  Rp. 1.235.181,­ per kapita pertahun.  Atas  dasar  harga  berlaku,  perkembangan  pendapatan  perkapita  penduduk  Lampung  tahun  2004  sebesar  5.233.585,­ sedangkan tahun 2005 sebesar Rp. 5.439.269,­.  Namun inflasi di Propinsi Lampung pada dua  periode ini cukup tinggi. Tahun 2004 kenaikan harga (inflasi) sebesar 5,22% dan 2005 sebesar 10,59%.  Pada  tahun  2004  IPM  Provinsi  Lampung  sebesar  68,4,  dengan  perkembangan  indeks  komponen  yang  hampir sama dengan tahun 2003. Indeks kelangsungan hidup tahun 2005 sebesar 71, Indeks pengetahuan  sebesar 77,6 dan indkes daya beli sebesar 56,6. Secara nasional nilai IPM Propinsi Lampung berada pada  urutan 19 dari 33 Provinsi, yang berarti mengalami penurunan 1 (satu) tingkat dari tahun 2004 yang berada  pada urutan 18. III. Sasaran Yang Ingin Dicapai  Terpeliharanya  stabilitas  ekonomi  makro  yang  dapat  mendukung  tercapainya  pertumbuhan  ekonomi  yang  cukup tinggi dan berkualitas serta peningkatan kemampuan pendanaan pembangunan, baik yang bersumber  dari pemerintah maupun swasta dengan tetap menjaga stabilitas nasional.  Dalam RPJMD Lampung usaha sasaran hak yang hendak di capai adalah:

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

171 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pemantapan Stabilitas Ekonomi Makro 

1.  Tercapainya target pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi yaitu rata – rata 5,36 % (2004 – 2009)  (skenario absolut);  2.  Meningkatnya ekspor daerah Lampung sehingga tercapai neraca perdagangan. IV. Arah Kebijakan  Untuk  mencapai  sasaran  yang  di  tetapkan,  arah  kebijakan  yang  diambil  antara  lain  adalah  dengan  terus  menciptakan kepercayaan masyarakat, baik dalam dan luar negeri terhadap pelaksanaan program­program  pembangunan.  Secara lebih terinci, dalam Rencana Stratejik  (Renstra) Provinsi Lampung  2004­2009, Misi­2  ; membangun  dan mengoptimalkan potensi perekonomian daerah dengan berbasiskan agribisnis dan ekonomi kerakyatan  yang tangguh, unggul, dan berdaya saing.  Misi  ini  ditujukan  untuk  membangun  dan  mengoptimalkan  seluruh  potensi  ekonomi  daerah  dalam  rangka  memberikan  peluang  yang  seluas­luasnya  bagi  masayarakat  untuk  meningkatkan  kesejahteraan  ekonomi.  Melalui  misi  ini  akan  disinergikan  semua  potensi  dari  semua  pelaku  ekonomi,  dunia  usaha,  lembaga  keuangan  dan  kelembagaan  dalam  rangka  membangun  ekonomi  kerakyatan  yang  memiliki  daya  saing.  Potensi  pertanian  dan  agribisnis  akan  tetap  menjadi  prioritas  dengan  didukung  pengembangan  sektor  industry dan jasa. Kebijakan ekonomi dengan pendekatan kemitraan yang sinerjik dan saling menguntungkan  antara petani/masayarakat dan pengusaha juga akan terus dikembangkan untuk membangun perekonomian  yang tangguh dan berdayasaing tersebut. V. Pencapaian RPJMN di daerah Lampung (2005­2007)  Dalam  Statistik  Indonesia  2007  yang  dikeluarkan  BPS,  data  yang  tersedia  dalam  membandingkan  tingkat  pencapaian  dan  posisi  Provinsi  Lampung  dibandingkan  dengan  Provinsi  tetangga  di  Pulau  Sumatera  baru  tersedia  dari  tahun  2002­2005.  Sehingga  dalam  mebandingkan  perkembangan  perekonomian  Lampung  dengan  Provinisi  Lain  untuk  tahun  2006  dan  2007  menjadi  sukar  dilakukan.  Hal  ini  yang  mebuat  stigma  bahwa Provinsi Lampung  sebagai Provinsi termiskin kedua di Sumatera terus  melekat dikarenakan  ketidak

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

172 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pemantapan Stabilitas Ekonomi Makro 

tersedian  data  dari  BPS  untuk  membandingkan  kinerja  perekonomian  per  Provinsi  untuk  tahun  2006  dan  2007.  Tabel 4.10­5  Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto atas dasar Harga Konstan 2000  menurut Provinsi (persen), 2002­2005 Provinsi Produk Domestik Regional Bruto 2002 2003 20,07  5,52  4,56  4,81  4,69  5,26  2,64  3,08  5,86  5,00  3,08  3,68  4,73  5,37  5,62 5,76 6,85  11,80  ­  ­  5,71  4,51  4,50  4,78  2004* ­9,63  5,74  5,47  2,93  5,38  4,63  5,38  5,07 3,20  6,47  2,93  5,03  2005** ­13,45  5,48  5,73  5,41  5,57  4,84  5,82  3,76 3,25  6,57  3,16  5,68  Produk Domestik Regional Bruto Tanpa Migas 2002 2003 2004* 2005**  7,96  3,70  1,76  1,20  4,63  4,94  6,00  5,52  4,69  5,26  5,47  5,73  7,63  7,30  9,01  8,53  6,19  5,55  6,48  6,25  4,44  5,74  6,79  6,92  4,73  5,37  5,38  5,82 3,90 5,63 5,76 4,35  6,85  5,06  4,31  4,50  ­  ­  7,42  7,16  5,53  5,54  6,08  5,75  5,23  5,69  5,97  6,57 

Nanggroe Aceh Darusalam  Sumatera Utara  Sumatera Barat  Riau  Jambi  Sumatera Selatan  Bengkulu  Lampung Kepulauan Bangka Belitung  Kepulauan Riau  Sumatera  Indonesia 
Sumber : Statistik Indonesia 2007  *    Angka Sementara **  Angka sangat Sementara 

Tabel 4.10­6  Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto per kapita atas dasar Harga Konstan 2000  menurut Provinsi (persen), 2002­2005 Provinsi Produk Domestik Regional Bruto 2002 Nanggroe Aceh Darusalam  Sumatera Utara  Sumatera Barat  18,40  3,25  4,09  2003 0,57  4,97  1,06  2004* ­6,30  4,00  4,10  2005** ­12,22  2,71  5,02  Produk Domestik Regional Bruto Tanpa Migas 2002 6,46  3,31  4,09  2003 ­1,17  5,10  1,06  2004* 5,51  4,25  4,10  2005**  2,65  2,75  5,02

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

173 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pemantapan Stabilitas Ekonomi Makro 

Riau  Jambi  Sumatera Selatan  Bengkulu  Lampung Kepulauan Bangka Belitung  Kepulauan Riau  Sumatera  Indonesia 
Sumber :  statistik Indonesia 2007  *    Angka Sementara **  Angka sangat Sementara

­1,59  4,00  0,73  1,77  4,40 5,88  ­  3,83  1,03 

0,99  1,39  14,87  14,43  4,64 3,74  ­  4,58  3,40 

0,85  3,68  2,95  3,75  3,57 ­0,41  4,32  1,72  3,66 

4,03  5,15  2,46  5,81  3,00 1,30  ­0,35  1,64  4,32 

3,20  4,33  2,06  1,77  2,70 5,88  ­  3,66  1,74 

1,03  1,92  17,16  14,43  4,51 ­2,52  ­  5,61  4,30 

6,81  4,75  5,06  3,75  4,25 0,66  5,25  4,84  4,58 

7,11  5,82  4,49  5,81 3.58  2,53  0,20  4,19  5,20 

5.1 Perkembangan Pendapatan Regional Provinsi Lampung  Pada  tahun  2006  perekonomian  Lampung  mengalami  pertumbuhan  sebesar  4,93  persen.  Indikator  pertumbuhan ekonomi ini menunjukkan adanya tanda­tanda pemulihan pada kondisi perekonomian Lampung  secara  keseluruhan.  Pemulihan  perekonomian  Lampung  ditunjang  oleh  kenyataan  bahwa  hampir  semua  sektor telah mengalami pertumbuhan  positif. Beberapa sektor mengalami pertumbuhan  yang sangat berarti  seperti sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan (11,61 persen), Pertanian (5,41 persen), sektor  Pengangkutan dan Komunikasi (5,16 persen) dan Perdagangan, Hotel dan Restoran (5,10 persen).  Perekonomian Lampung didominasi oleh 4 (empat) sektor kegiatan ekonomi, yakni sektor Pertanian, sektor  Perdagangan/Hotel/Restoran, sektor Industri Pengolahan dan sektor Jasa­jasa. Hal ini terlihat dari kontribusi  masing­masing  sektor  tersebut  terhadap  pembentukan  PDRB  Provinsi  Lampung.  Jika  dilihat  dari  kondisi  setahun terakhir, maka pada tahun 2005 kontribusinya adalah 42,75 persen; 15,73 persen; 13,19 persen; dan  7,63 persen.  Apabila PDRB dibagi dengan jumlah penduduk pertengahan tahun, maka akan diperoleh PDRB Per Kapita.  PDRB Per Kapita atas dasar harga berlaku menggambarkan besarnya nilai PDRB per penduduk, sedangkan
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

174 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pemantapan Stabilitas Ekonomi Makro 

PDRB  Per  Kapita  atas  dasar  harga  konstan  2000  dapat  menunjukkan  besarnya  PDRB  riil  Per  Kapita  penduduk. Selama kurun waktu 2003 ­ 2006 PDRB Per Kapita Provinsi Lampung atas dasar harga berlaku  menunjukkan peningkatan. Pada tahun 2003 PDRB Per Kapita atas dasar harga berlaku sebesar 4,648 juta  rupiah, naik menjadi 6,760 juta rupiah pada tahun 2006.  Tabel 4.10­7  Pekembangan PDRB Provinsi Lampung Berdasarkan Sektor di Provinsi Lampung Sektor Pertanian  Pertambangan & Penggalian  Industri Pengolahan  Listrik, Gas dan Air Bersih  Bangunan  Perdagangan, Hotel & Restoran  Pengangkutan & Komunikasi  Keuangan, Persewaan & jasa Perusahaan  Jasa­jasa  PDRB 
Sumber : Bank Indonesia Bandar Lampung 

2004 3.9  0.9  3.9  3.6  7.7  2.4  2.4  17.0  2.0  4.4 

2005 2.3  1.2  3.9  6.8  10.5  4.9  4.6  (0.8)  3.3  3.6 

2006 6.2  (5.4)  4.2  3.4  2.9  4.8  5.6  12.6  1.9  5.2 

2007  3.7  1.5  7.2  6.2  5.3  6.7  11.3  11.0  (0.5)  5.3 

Tabel 4.9­8  Indikato Ekonomi Provinsi Lampung INDIKATOR MAKRO Indeks Harga Konsumen  Laju Inflasi (y­o­y)  PDRB ­ harga konstan (miliar Rp)  Pertanian  Pertambangan & Penggalian  Industri Pengolahan  Listrik, Gas & Air Bersih  Bangunan  13,187.2  850.7  4,070.2  107.8  1,528.8  13,664.00  863.20  4,363.40  114.40  1,610.10 2006 148.78  6.03  2007  158.57  6.58 

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

175 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pemantapan Stabilitas Ekonomi Makro 

Perdagangan, Hotel & Restoran  Pengangkutan & Komunikasi  Keuangan, Persewaan & Jasa Perusah  Jasa­jasa  LPE (y­o­y)  Nilai Ekspor (juta US$)  Volume Ekspor (ribu ton)  Nilai Impor (juta US$)  Nilai Impor (juta US$) 
Sumber : Bank Indonesia Bandar Lampung

4,852.4  1,841.5  2,054.9  2,353.7  5.3  384.52  1,531.56  66.83  177.94 

5,176.80  2,049.40  2,280.70  2,341.20  5.2  422.95  1,334  130.28  213.1 

5.2 Ekspor dan Impor Provinsi Lampung  Berdasarkan klasifikasi International Standard Industrial Classification (ISIC), ekspor non migas dari Provinsi  Lampung  hingga  bulan  November  2007  didominasi  oleh  ekspor  komoditas  kelompok  industri  manufaktur  dengan nilai mencapai US$707,2 juta atau 59,5% total ekspor. Besarnya ekspor pada kelompok ini terutama  dikontribusi oleh Industri makanan dan minuman dengan nilai mencapai US$421,4 juta atau 32,3% dari total  nilai  ekspor.  Sementara  itu,  ekspor  kelompok  pertanian  dan  kelompok  pertambangan/penggalian  hingga  November 2007 masingmasing tercatat sebesar US$447,0 juta (34,3%) dan US$149,3 juta (11,5%). 5.3 Kenaikan haga­harga (Inflasi)  Laju  inflasi  Propinsi  Lampung  pada  triwulan  IV­2007  menurun  bila  dibandingkan  laju  inflasi  pada  triwulan  sebelumnya.  Laju  inflasi  pada  triwulan  IV­  2007  tercatat  2,23%  (qtq),  lebih  rendah  dibandingkan  dengan  inflasi triwulan III­2007 sebesar 3,40% (qtq) dan lebih rendah dibanding inflasi periode yang sama tahun 2006  yaitu  sebesar  2,31%  (qtq).  Secara  tahunan  laju  inflasi  Propinsi  Lampung  yang  diwakili  oleh  inflasi  Kota  Bandar Lampung hingga Desember 2007 tercatat sebesar 6,58% (yoy), lebih tinggi dibanding periode yang  sama  tahun  2006  sebesar  6,03%  (yoy).  Dibandingkan  dengan  inflasi  nasional,  laju  inflasi  Kota  Bandar

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

176 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pemantapan Stabilitas Ekonomi Makro 

Lampung  secara  tahunan  tercatat  sedikit  lebih  rendah  dibandingkan  inflasi  nasional  yang  tercatat  sebesar  6,59%.  Tekanan  inflasi  pada  triwulan  laporan  dipengaruhi  oleh  karena  kenaikan  harga  BBM  industri  serta  adanya  tekanan permintaan. Meningkatnya permintaan seiring dengan faktor musiman perayaan Hari Raya Idul Fitri,  Idul Adha, Natal, dan Tahun Baru yang berlangsung pada triwulan laporan. Sementara adanya kenaikan BBM  industri akibat tingginya harga minyak dunia juga turut mendorong peningkatan harga secara umum 5.4 Nilai Tukar Petani  Semakin  tinggi  NTP,  relative  semakin  sejahtera  tingkat  kehidupan  petani.  Perkembangan  harga  produk  pertanian, harga komoditas yang dikonsumsi rumah tangga, biaya produksi, dan penambahan barang modal  mempengaruhi pergerakan NTP.  Nilai  Tukar  Petani  Provinsi  Lampung  pada  Bulan  Juli  2007  turun  3,21%  dibandingkan  dengan  bulan  Juni  menjadi  105,42%.  NTP  ini  lebih  rendah  dibandingkan  NTP  nasional  106,27.  Pada  Bulan  Agustus  NTP  kembali  turun  menjadi  105.18.  Secara  year  on  year  NTP  Bulan  Agustus  2007  ini  turun  1,87%  terhadap  Agustus  tahun  2006  yang  mencapai  107,18.  Indeks  harga  yang  diterima  petani  di  Lampung  pada  Bulan  Agustus  lalu naik  1,05% dibanding dengan Bulan Juli, yaitu dari 627,87 menjadi 634,4. Kenaikan ini terjadi  pada  kelompok  bahan  makanan  dan  tanaman  perkebunan  rakyat.  Pada  kelompok  bahan  makanan  tiga  subkelompok  mengalami kenaikan indeks, yaitu subkelompok  padi, palawija, dan sayursayuran. Sementara  itu,  indeks  subkelompok  buah­buahan  turun.  Pada  Bulan  Agustus  2007,  indeks  harga  yang  dibayar  petani  Lampung mengalami kenaikan indeks 1,28% disbanding dengan indeks Bulan Juli 2007, dari 595,53 menjadi  603,13.  Naiknya  indeks  harga  yang  dibayar  petani  lebih  tinggi  dibandingkan  dengan  indeks  harga  yang  diterima petani, sehingga NTP turun. Hal ini mengindikasikan berkurangnya daya beli petani.  Propinsi Lampung sebagai daerah lumbung pangan seyogyanya kesejahteraan petani lebih terpikirkan. Perlu  dicari cara bagaimana memotong simpul­simpul agar harga yang diterima petani bisa meningkat dan harga  yang harus dibayar petani bisa rendah. Dengan produktivitas Lampung 43,75 kuintal/ha, Lampung menempati  urutan  kedua  di  Sumatera  setelah  Sumatera  Barat,  yang  memiliki  produktivitas  46  kuintal/ha.  Meskipun

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

177 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pemantapan Stabilitas Ekonomi Makro 

produksi Lampung dan Sumatera Barat ini tinggi di Sumatera, namun jika dibandingkan dengan daerah Jawa  dan Bali, masih jauh dibawah VI. Rekomendasi Tindak Lanjut  Dari  kinerja  tahun  2006  dan  2007  terlihat  bahwa  pertumbuhan  ekonomi  di  Provinsi  Lampung  selalu  lebih  rendah  dari  pertumbuhan  nasional,  hal  ini  mebuat  posisi  Lampung  sebagai  daerah  tujuan  investasi  baru  menjadi tidak terlalu tinggi. Sehingga perlu disusun langkah­langkah yang lebih sistematis dalam mendorong  pertumbuhan ekonomi dan mengendalikan inflasi di daerah VII. Penutup  Stabilitas  ekonomi makro adalah salah satu prasyarat utama bagi pertumbuhan  yang tinggi dan berkualitas  yang  selanjutnya  dapat  berkontribusi  terhadap  peningkatan  kesejakteraan  masyarakat.  Sinergi  yang  baik  dalam menentukan kebijakan fiskal dan moneter merupakan hal penting untuk mewujudkan tujuan tersebut.  Posisi Lampung sebagai pintu gerbang masuk ke pulau sumatera dan sekaligus sebagai daerah penyangga  Ibukota Negara yang sangat strategis harus bisa terus diitngkatkan dan di maksimalkan perannya.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

178 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pembangunan Perdesaan 

Bab IV.11 Pembangunan Perdesaan
I. Pengantar  Pembangunan perdesaan merupakan agenda strategis pembangunan nasional.  Kebijakan tersebut sangat  tepat dari sisi pertumbuhan ekonomi dan pemerataan.  Selain itu, daya saing Bangsa Indonesia sangat  ditentukan oleh keberhasilan pembangunan di kawasan perdesaan yang meliputi sebagian besar sumber  daya (SDA dan SDM).  Seperti diketahui, bahwa lebih dari 60% penduduk Indonesia tinggal di kawasan  perdesaan  Umumnya, penduduk dikawasan perdesaan tersebut hidup dari kegiatan produksi pertanian.  Sampai saat ini  peranan sector pertanian, termasuk subsektor peternakan, dalam pembangunan ekonomi masih cukup  signifikan terutama dari segi penyerapan tenaga kerja, nilai ekspor dan produk domestic bruto (PDB), serta  pemenuhan kebutuhan hidup pokok rakyat.  Secara nasional, pada tahun 2007 sekitar 43.7% tenaga kerja  dari total angkatan kerja terserap oleh sector pertanian perikanan dan kehutanan (PPK).  Oleh Karena itu  sector PPK dikenal sebagai sector padat rakyat yang berpotensi menyerap angkatan kerja dan  menanggulangi kemiskinan, terutama dikawasan perdesaan. II. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah  Pada awal RPJMN 2004­2009, pembangunan perdesaan di Provinsi Lampung sudah dimulai.  Namun proses  perencanaan dan pengelolaan program pembangunan perdesaan di Provinsi Lampung belum optimal.  Cukup  banyak program, yang cenderung bersifat local sehingga belum memperlihatkan sinergi satu sama lain.  Sebagai akibatnya, maka hasil yang dicapai belum optimal dan sulit terukur dengan tepat.  Pada tahun 2003­  2004 di Provinsi Lampung telah dilakukan “Program Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan – Kampung Tua  (PPEK­KT).  PPEK­KT  difokuskan kepada pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui penguatan kelembagaan  masyarakat, termasuk kelembagaan ekonomi  masyarakat di perdesaan.  Kelembagaan ekonomi masyarakat
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

179

Laporan Akhir 

Pembangunan Perdesaan  yang dibangun secara bottom­up adalah pengembangan usaha ekonomi produktif (UEP),  yang merupakan  sektor riel dan pengembangan lembaga keuangan masyarakat perdesaan, yang merupakan sektor finansial.  Dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada, program tersebut berjalan selama 2 tahun, tetapi pada  tahun 2005 program tersebut terhenti lebih karena adanya perubahan kebijakan politik.  Secara umum dapat diidentifikasi bahwa kelemahan dalam perencanaan dan pengelolaan pembangunan  perdesaan di Provinsi Lampung sebelum era RPJMN 2004­2009meliputi banyak hal, termasuk:  a)  Aspek pengembangan konsep pemberdayaan masyarakat perdesaan yang sesuai dengan  karakteristik lokal;  b)  Aspek perencanaan program pembangunan perdesaan, termasuk aspek pendataan dan  penyusunan target;  c)  Aspek kebijakan dan keberpihakan pemerintah daerah (eksekutif dan legislatif) terhadap  pembangunan perdesaan;  d)  Aspek koordinasi dalam implementasi program pembangunan serta system monitoring dan evaluasi. III. Sasaran yang Ingin Dicapai  Mencermati berbagai kelemahan yang diuraikan di atas dan untuk mendukung pencapaian sasaran RPJMN  2004­2009, maka ditetapkan bahwa secara umum sasaran yang ingin dicapai pada program pembangunan  perdesaan di Provinsi Lampung antara lain sebagai berikut:  a)  Terwujudnya pusat pertumbuhan ekonomi baru yang berbasis masyarakat di kawasan perdesaan;  b)  Terwujudnya koordinasi antar sector, menuju sinergi dalam pembangunan perdesaan;  c)  Penanggulangan kemiskinan diperdesaan, dengan memanfaatkan sumberdaya local untuk  peningkatan produksi. IV. Arah Kebijakan  Pada kurun waktu RPJMN 2004 – 2009, arah kebijakan pembangunan perdesaan di Provinsi Lampung  adalah: a)  Pengembangan kawasan perdesaan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis  sumberdaya local dan berwawasan lingkungan;  b)  Pengembangan industri pengolahan hasil (proses hilir) dikawasan perdesaan untuk peningkatan nilai  tambah produk yang dihasilkan;  c)  Peningkatan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha dikawasan perdesaan, sehingga dapat  menekan arus urbanisasi.
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

180 

Laporan Akhir 

Pembangunan Perdesaan  V. Pencapaian RPJMN di Daera (2005 – 2007)  Pada kurun waktu pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009 di Provinsi lampung, secara umum pencapaian  pengembangan di bidang pembangunan perdesaan adalah:  a)  Sudah dilakukan pembangunan ekonomi di daerah tertinggal (desa miskin), yaitu pengembangan  infrastruktur pada lebih dari 200 desa tertinggal di Provinsi Lampung;  b)  Sudah dilakukan kegiatan pengembangan Desa Mandiri Energi, yang dilaksanakan oleh Badan  Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Provinsi Lampung.  Survai telah dilakukan di  40 desa dan pengembangan sudah dimulai pada 2 desa;  c)  Telah dilaksanakankan serangkaian pengembangan wilayah perdesaan, antara lain melalui pilot  project Pengembangan Kemitraan agribisnis Jagung di Desa Bandar Agung, Kecamatan Bandar  Sribhawono Kabupaten lampung Timur; pengembangan akses ekonomi masyarakat melalui program  reforma agrarian, dll. VI. Rekomendasi Tindak Lanjut  a)  Pembangunan Perdesaan harus tetap menjadi prioritas strategis pembangunan nasional dalam  RPJMN 2010 – 2014;  b)  Pembangunan perdesaan diarahkan untuk mengembangkan pusat pertumbuhan ekonomi baru  berbasis masyarakat dan sumberdaya lokal serta berwawasan lingkungan;  c)  Pembangunan ekonomi dikawasan perdesaan diarahkan untuk mulai fokus pada pengembangan  proses hilir atau industri pengolahan hasil yang bernilai tambah tinggi;  d)  Perlu ditingkatkan proporsi alokasi dana untuk pembangunan kawasan perdesaan;  e)  Perlu diprioritaskan pembangunan infrastruktur TIK di kawasan perdesaan, sehingga masyarakat  dapat leluasa mengakses informasi pasar.  f)  Peningkatan peran pemerintahan desa dalam pembangunan perdesaan sebagai upaya peningkatan  otonomi desa di masa mendatang. VII. Penutup  Semua kalangan diharapkan mencermati bahwa pembangunan perdesaan adalah semakin strategis pada era  global yang  sangat kompetitif.  Karena itu, diharapkan pembangunan perdesaan kedepan dapat dipercepat,  diarahkan kepada pengembangan industri proses hilir, dan berwawasan lingkungan, menuju peningkatan  daya saing produk.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

181

Laporan Akhir 

Pembangunan Perdesaan 

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

182

Laporan Akhir 

Pengurangan Ketimpangan Pembangunan Wilayah 

Bab IV. 12 Pengurangan Ketimpangan Pembangunan Wilayah

I.

Pengantar 

Ketimpangan  wilayah  merupakan  salah  satu  permasalahan  yang  pasti  timbul  dalam  pembangunan.  Ketimpangan  wilayah  menjadi  signifikan  ketika  wilayah  dalam  suatu  negara  terdiri  atas  beragam  potensi  sumber daya alam, letak geografis, kualitas sumber daya manusia, ikatan etnis atau politik. Keberagaman ini  selain dapat menjadi sebuah  keunggulan, juga sangat berpotensi menggoncang stabilitas  sosial dan politik  nasional.  Salah  satu  jalan  untuk  mengurangi  ketimpangan  wilayah  ialah  menyelenggarakan  pembangunan.  Namun,  pembangunan  tidak  serta  merta  dapat  mengurangi  ketimpangan  wilayah.  Oleh  karena  itu,  sangat  penting untuk mengedepankan kembali konsep pemerataan dalam pembangunan di Indonesia.  Ketimpangan  pembangunan  antara  wilayah  yang  terjadi  di  Indonesia  dapat  dilihat  dari  berbagai  aspek.  Secara  umum,  hal  ini  merujuk  pada  perbedaan  tingkat  kesejahteraan  dan  perkembangan  ekonomi.  Untuk  menguranginya,  upaya  percepatan  pembangunan  di  wilayah  relative  tertinggal  sudah  dilakukan,  namun  hasilnya belum dapat sepenuhnya dinikmati oleh masyarakat. Oleh karena itu ketimpangan menjadi masalah  yang penting dan harus diatasi.  Kebijakan untuk mengatasi ketimpangan pembangunan antar daerah diarahkan pada beberapa aspek yang  salah satunya adalah pengembangan wilayah­wilayah strategis. Pengembangan wilayah strategis diharapkan  dapat  menjadi  pusat  pertumbuhan  yang  memberikan  dampak  positif  bagi  wilayah  –  wilayah  disekitarnya.  Perhatian  pemerintah  terhadap  perkembangan  daerah  tertinggal  dan  pengurangan  ketimpangan  meningkat

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

182

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pengurangan Ketimpangan Pembangunan Wilayah 

sejalan  dengan  upaya  pencapaian  sasaran  dalam  RPJMN  2004­2009,  berbagai  program  sektoral  dan  pemihakan  penggaran  mulai  diarahkan  pada  program­program  yang  bertujuan  untuk  mengurangai  ketimpangan  wilayah.  Untuk  mengetahui  kinerja  terhadap  pelaksanaan  rencana  maka  dilakukan  evaluasi  guna mengetahui capai yang telah diraih selama tahun 2004­2009.  Pada  saat  ini  ketimpangan  antarwilayah  di  Indonesia  masih  dapat  terlihat  di  antara  wilayah  perkotaan  dan  perdesaan,  antara  wilayah  yang  lebih  maju  dan  wilayah  tertinggal,  antara  metropolitan,  kota  besar,  menengah,  dan  kecil,  antara  perkotaan  dan  perdesaan,  serta  ketertinggalan  juga  dialami  pada  daerah  perbatasan dan pulaupulau kecil terluar. Salah satu aspek penting dalam menangani pengembangan wilayah  di Indonesia ialah mengatasi ketimpangan sosial dan ekonomi antara wilayah Jawa dan luar Jawa. II. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah Lampung  Kondisi  awal  saat  RPJMN  dirumuskan,  terdapat  beberapa  kendala  dalam  upaya  pelaksanaan  pemerataan  pembangunan, kendala yang dihadapi ini terkait dengan pengembangan kawasan berbasis potensi sebagai  penggerak  pertumbuhan  ekonomi.  Permasalah  ini  diantaranya  berhubungan  dengan  keterbatasan  infrastruktur,  sumber  daya  manusia  (SDM),  kelembagaan,  akses  terhadap  input/sarana  produksi,  akses  pasar,  akses  modal,  serta  akses  teknologi  dan  informasi.  Pada  saat  yang  sama,  adanya  kecenderungan  percepatan pembangunan yang  berbeda­beda  mengakibatkan  pembangunan  terkonsentrasi pada kota­kota  besar dan wilayah­wilayah yang sudah maju.  Kota­kota nasional yang seharusnya menjadi penggerak bagi pembangunan disekitarnya, khususnya wilayah  pedesaan,  justru  memberikan  dampak  yang  merugikan  (Backwash  effects).  Hal  ini  antara  lain  dikarenakan  kurang  berfungsinya  system  kota.  Kota  nasional  secara  hirarkis  sehingga  belum  dapat  memberikan  pelayanan  yang  efektif  dan  optimal  bagi  wilayah  pengaruhnya.  Di  samping  itu  masih  terjadi  ketidakseimbangan pertumbuhan antara kota­kota besar, metropolitan dengan kota­kota menengah dan kecil,  dimana pertumbuhan kota­kota besar dan menengah masih terkonsentrasi di pulau jawa dan bali. Pada saat  yang sama, kota­kota besar dan kota­kota metropolitan mengalami pertumbuhan penduduk yang cepat dan

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

183 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pengurangan Ketimpangan Pembangunan Wilayah 

yang  tidak  diimbangi  dengan  pengolahan  (manajemen)  ketersedian  fasilitas  perkotaan,  seperti  perumahan,  transportasi  dan  pusat­pusat  distribusi  yang  menyediakan  barang  dan  jasa  yang  terjangkau  bagi  kelompok  miskin.  Masyarakat yang berada di wilayah tertinggal pada umumnya masih belum banyak tersentuh oleh program­  program pembangunan sehingga akses terhadap pelayanan social dan ekonomi masih sangat terbatas. Hal  ini  lebih  lanjut  menyebabkan  keterisolasian  dari  wilayah  di  sekitarnya.  Oleh  karena  itu,  hal  ini  memerlukan  perhatian dan keberpihakan pembangunan yang besar dari pemerintah.  Dalam  hal  ini  yang  menyebabkan  terhambatnya  upaya  pengembangan  wilayah  tertinggal,  antara  lain  ;  (1).  Terbatasnya akses transportasi yang menghubungkan wilayah tertinggal dengan wilayah yang relative lebih  maju;  (2)  kepadatan  penduduk  yang  relative  rendah  dan  tersebar;  (3)  kebanyak  wilayah­wilayah  ini  miskin  sumberdaya,  khususnya  sumberdaya  alam  dan  manusia  namun  dalam  kondisi  wilayah  kaya  akan  sumberdaya alam seringkali pengelolaanya kurang optimal karena keterbatasan sarana dan prasarana, (4).  Belum  di  prioritaskannya  pembangunan  di  wilyah  tertinggal  oleh  pemerintah  daerah  karena dianggap  tidak  menghasilkan pendapatan asli daerah (PAD) secara langsung; (5). Belum optimalnya dukungan sektor terkait  untuk pengembangan wilyah­wilayah ini. III. Sasaran Yang Ingin Dicapai  Kondisi  wilayah­wilayah  yang  masih  relatif  belum  maju  dan  tertinggal  sangat  membutuhkan  intervensi  kebijakan  pembangunan  dari  pemerintah,  sehingga  diharapkan  dapat  mempercepat  pembangunan  di  wilayah­wilayah  ini  yang  pada  akhirnya  dapat  meningkatan  kualitas  hidup  dan  kesejahteraan  masyarakat  secara keseluruhan. Sasaran dari pengurangan ketimpangan pembangunan antar wilayah adalah:  1.  Terwujudnya  percepatan  pembangunan  di  wilayah­wilayah  cepat  tumbuh  dan  strategis,  wilayah  tertinggal, termasuk wilayah perbatasan dalam suatu ‘sistem wilayah pengembangan ekonomi’ yang  terintegrasi dan sinergis;

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

184 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pengurangan Ketimpangan Pembangunan Wilayah 

2.  Terwujudnya  keseimbangan  pertumbuhan  pembangunan  antar  kota­kota  metropolitan,  besar,  menengah, dan kecil secara hirarkis dalam suatu ‘sistem pembangunan perkotaan nasional;’  3.  Terwujudnya percepatan pembangunan kota­kota kecil dan menengah, terutama di luar Pulau Jawa,  sehingga  diharapkan  dapat  menjalankan  perannya  sebagai  ‘motor  penggerak’  pembangunan  di  wilayah­wilayah  pengaruhnya  dalam  ‘suatu  sistem  wilayah  pengembangan  ekonomi,’  termasuk  dalam melayani kebutuhan masyarakat warga kotanya;  4.  Terkendalinya  pertumbuhan  kota­kota  besar  dan  metropolitan  dalam  suatu  ‘sistem  wilayah  pembangunan  metropolitan’  yang  compact,  nyaman,  efisien  dalam  pengelolaan,  serta  mempertimbangkan pembangunan yang berkelanjutan;  5.  Terwujudnya  keterkaitan  kegiatan  ekonomi  antar  wilayah  perkotaan  dan  perdesaan  dalam  suatu  ‘sistem wilayah pengembangan ekonomi’ yang saling menguntungkan;  6.  Terwujudnya  keserasian  pemanfaatan  dan  pengendalian  ruang  dalam  suatu  ‘sistem  wilayah  pembangunan yang berkelanjutan.’  7.  Terwujudnya sistem pengelolaan tanah yang efisien, efektif, serta terlaksananya penegakan hukum  terhadap hak atas tanah masyarakat dengan menerapkan prinsip­prinsip keadilan, transparansi, dan  demokrasi.  Dalam RPJMD Provinsi lampung yang hendak dicapai adalah:  1.  Meningkatnya diversifikasi usaha dan daya saing ekonomi wilayah secara merata;  2.  Sinkronisasi dan Sinergi dengan pemantauan masyarakat daerah;  3.  Tercapainya sinergi pemberdayaan daerah dan pemberdayaan nasional di daerah;  4.  Tercapainya sinergi kebijakan dan program pembangunan Kabupaten/Kota;  5.  Tercapainya  bentuk  –  bentuk  kerjasama  antar  Kabupaten  /Kota  dalam  rangka  efektivitas  dan  sinkronisasi pelaksanaan pembangunan dengan mediasi pemerintah provinsi.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

185 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pengurangan Ketimpangan Pembangunan Wilayah 

IV. Arah Kebijakan  Secara  umum  dan  spesifik  isu  mengenai  pengurangan  ketimpangan  pembangunan  nasional  dalam  hal  ini  ketimpangan  antara  wilayah  yang  ada  di  wilayah  Provinsi  Lampung,  dalam  dokumen  Rencana  Stratejik  (Renstra) Provinsi Lampung  2004­2009, dalam misi ke  5 dan 8  “peningkatan kesinergian dan keterpaduan  serta keharmonisan pembangunan, pemerintahan dan pelayanan kemasyarakatan pemerintahan provinsi dan  kabupaten/kota”.  1.  Memantapkan kinerja dan koordinasi  dan fasilitasi kepada Kabupaten/Kota;  2.  Kerjasama  pembangunan  antar  Kabupaten/Kota  dalam  rangka  keterpaduan  program  pember­  dayaan;  3.  Kerjasama  pembangunan  antar  kabupaten/Kota  dalam  membuat  networking  dan  menghindari  persaingan yang tidak sehat;  4.  Wilayah Provinsi Lampung merupakan satu kesatuan yang harus dibangun secara bersama. V. Pencapaian RPJMN di daerah Lampung (2005­2007) 5.1 Upaya Yang Dilakukan Hingga 2007 

Dalam  table  laju  pertumbuhan  perkabupaten  dan  kota  di  provinsi  Lampung  tahun  2003­2006,  terdapat  ketimpangan dalam pembangunan di kabupaten Lampung Timur dengan Kabupaten/Kota Lainnya di Provinsi  Lampung. Kabupaten Lampung  Timur tahun  2006 hanya  mengalami pertumbuhan  sebesar 1,53, ini sangat  berbeda jauh dengan Kota Bandar Lampung yang mampu tumbuh pada tahun 2006 sebesar 6,81.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

186

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pengurangan Ketimpangan Pembangunan Wilayah 

Tabel 4.12­1  Laju Pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000 menurut  Kabupaten/Kota Propinsi Lampung Tahun 2003 ­ 2006 (Persen) 2003 2,61  4,21  3,44  6,54  5,61  5,12  4,12  4,70  9,57  8,97  5,76  2004 5,44  5,52  4,32  ­0,77  6,13  5,37  4,66  4,51  8,12  3,90  5,07  2005 3,98  4,74  4,21  ­0,14  5,17  4,80  4,08  4,86  4,72  4,43  4,02  2006  2,48  5,53  5,08  1,53  5,80  4,85  4,17  5,79  6,81  5,94  4,93 

Kabupaten Lampung Barat  Kabupaten Tanggamus  Kabupaten Lampung Selatan  Kabupaten Lampung Timur  Kabupaten Lampung Tengah  Kabupaten Lampung Utara  Kabupaten Way Kanan  Kabupaten Tulang Bawang  Kota Bandarlampung  Kota metro  Provinsi Lampung 
Sumber ; Badan Pusat Statistik Propinsi Lampung 

Tabel 4.12­2  Banyaknya Desa Mendapat Bantuan Program Pengembangan  Kecamatan (PPK) Tahun 2006 Propinsi Lampung

Kabupaten Lampung Barat  Kabupaten Tanggamus  Kabupaten Lampung Selatan  Kabupaten Lampung Timur  Kabupaten Lampung Tengah  Kabupaten Lampung Utara  Kabupaten Way Kanan  Kabupaten Tulang Bawang  Kota Bandarlampung  Kota metro  Provinsi Lampung 
Sumber : Badan Pusat Statistik Propinsi Lampung

Banyaknya Desa ­  ­  ­  139  126  203  109  81  ­  ­  ­ 

Dana Rp.  ­  ­  ­  11.500.000.000,­  10.000.000.000,­  11.750.000.000,­  6.000.000.000,­  5.000.000.000,­  ­  ­  ­ 

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

187 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pengurangan Ketimpangan Pembangunan Wilayah 

Dari data jumlah kecamatan yang mendapat bantuan program pengembangan kecamatan (PPK) tahun 2006.  Yang  paling  banyak  mendapat  bantuan  adalah  Kabupaten  Lampung  Utara  sebanyak  203  desa,  dan  yang  paling di Kabupaten Tulang Bawang sebanyak 81 desa.  Program Nasional dalam upaya percepatan pengurangan ketimpangan pembangunan yang telah terlaksana  di  Provinsi  Lampung  untuk  tahun  2007  adalah  pembangunan  kawasan  terpadu  mandiri  di  tempat  transmigrasi. Program KTM di kawasan transmigrasi pada dasarnya diarahkan untuk memperkuat ketahanan  pangan  nasional  dan  memenuhi  kebutuhan  papan;  mendukung  ketahanan  nasional  melalui  stabilitas  keamanan nasional melalui stabilitas keamanan di daerah perbatasan; mendukung pengembangan kebijakan  energi  alternative  di  kawasan  transmigrasi;  mendorong  pemerataan  pertumbuhan  ekonomi  dan  strategi  pemerataan investasi daerah serta merupakan bagian dari pelaksanaan program mengatasi kemiskinan dan  pengangguran secara berkesinambungan. Kawasan KTM ini akan dilengkapi dengan beragam fasilitas publik  antara lain puskesmas, pasar, atau pusat perbelanjaan, dan berbagai kantor lembaga pemerintahan.  Delapan kawasan yang menjadi pilot project KTM ini terletak di salah satunya Mesuji (Lampung)  diperkirakan  akan menjadi pusat pertumbuhan baru dalam waktu sekitar 15 tahun. 5.2 Permasalahan Pencapain Sasaran

Perkotaan  Permasalahan  yang  masih  dihadapi  dalam  pembangunan  perkotaan  dan  usaha  menciptakan  keterkaitan  antara desa dan kota adalah kurang berfungsinya sistem kota­kota nasional dalam pengembangan wilayah.  Pembangunan  kota­kota  yang  hierarkis  belum  sepenuhnya  terwujud  sehingga  belum  dapat  memberikan  pelayanan  yang  efektif  dan  optimal  bagi  wilayah  pengaruhnya.  Keterkaitan  antarkota­kota  dan  antar  kota­  desa yang berlangsung saat ini tidak semuanya saling mendukung dan sinergis. Hal ini dapat dilihat dari  (1)  belum optimalnya peran kota kecil dan menengah dalam menstimulan pertumbuhan wilayah;  (2)  belum terbangunnya keterkaitan spasial dan mata rantai produksi antara pertanian dan  masukan inputnya antara kawasan perkotaan dan perdesaan; dan

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

188 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pengurangan Ketimpangan Pembangunan Wilayah 

(3)  belum efektifnya peran kota­kota kecil dan menengah sebagai kota perantara dari proses produksi di  perdesaan, di kota­kota besar dan metropolitan. Tata Ruang dan Pertanahan  Permasalahan yang dihadapi dalam bidang penataan ruang antara lain adalah:  a)  belum lengkapnya peraturan perundangundangan  dan norma standar prosedur manual (NSPM) di  bidang penataan ruang menyebabkan penataan ruang sulit diimplementasikan di lapangan;  b)  rencana  tata  ruang  belum  dimanfaatkan  secara  optimal  dalam  mitigasi  dan  penanggulangan  bencana, peningkatan daya dukung wilayah, dan pengembangan kawasan;  c)  rencana  tata ruang  belum dapat dijadikan  sebagai pedoman di dalam  pelaksanaan  pembangunan  maupun dalam pemberian perizinan pemanfaatan ruang;  d)  kurangnya sinkronisasi dan harmonisasi antar produk perencanaan tata ruang yang mengakibatkan  terjadinya konflik kelembagaan di dalam pelaksanaan penyusunan rencana tata ruang yang bersifat  makro dan mikro;  e)  kurangnya koordinasi antarinstansi pemerintahan di bidang penataan ruang;  f)  masih lemahnya kepastian hukum di dalam pengendalian pemanfaatan ruang;  g)  masih  besarnya  potensi  terjadinya  konflik  pemanfaatan  ruang  laut,  pesisir,  dan  pulau­pulau  kecil  serta  belum  optimalnya  pemanfaatan  sumber  daya  laut,  pesisir,  dan  pulau­pulau  kecil  karena  kurangnya koordinasi penataan ruang dan belum lengkapnya pedoman penataan ruang laut, pesisir,  dan pulau­pulau kecil;  h)  belum terpadunya pengelolaan pulau­pulau kecil, termasuk pulau­pulau kecil terluar dan pulau­pulau  kecil di wilayah perbatasan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah;  i)  lemahnya  kualitas  pemanfaatan ruang  dan pengendalian pemanfaatan ruang, terutama kurangnya  dukungan sistem informasi dan pemantauan penataan ruang telah mengakibatkan sering terjadinya  konflik pemanfaatan ruang antarsektor, antarwilayah, dan antarpelaku

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

189 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pengurangan Ketimpangan Pembangunan Wilayah 

j)  terjadinya  alih  fungsi  lahan  yang  disebabkan  oleh  meningkatnya  urbanisasi  dan  aglomerasi  perkotaan  yang  berimplikasi  pada  terjadinya  alih  fungsi  lahan  pertanian  produktif  menjadi  lahan  permukiman/perkotaaan, dan alih fungsi lahan kawasan lindung menjadi non lindung;  k)  semakin maraknya pemekaran wilayah yang tidak didukung oleh penataan ruang yang terencana;  l)  masih  terbatasnya  keterlibatan  masyarakat  dalam  penyelenggaraan  penataan  ruang  sehingga  rencana tata ruang belum sepenuhnya menjadi acuan dalam pemanfaatan ruang;  m)  belum efektifnya pengawasan penyelenggaraan kegiatan penataan ruang di daerah;  n)  belum optimalnya penyelenggaraan penataan ruang di daerah;  o)  belum  optimalnya  peran  pemerintah  daerah  dalam  bidang  penataan  ruang  sebagai  sektor  dasar  dalam pembangunan daerah; dan  p)  diperlukannya  penguatan  landasan  penyelenggaraan  penataan  ruang  agar  lebih  efektif  dan  operasional melalui Undang­undang No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, perbaikan kualitas  Rencana Tata Ruang Wilayah dan pengendalian pemanfaatan ruang. Permasalahan dalam bidang pertanahan adalah:  a)  terdapat ketimpangan pemilikan dan penguasaan tanah, atau terkonsentrasi pada sekelompok kecil  masyarakat  b)  tingginya jumlah konflik dan sengketa tanah;  c)  belum memadainya jaminan kepastian hukum atas tanah yang tercermin dari tingkat sertifikasi yang  baru mencapai 41,5% dari total jumlah bidang tanah; dan  d)  belum optimalnya kondisi sistem pengelolaan dan administrasi pertanahan di Indonesia. Permasalahan yang dihadapi dalam pembangunan daerah tertinggal adalah  (a)  rendahnya  ketersediaan  infrastruktur,  terutama  akses  transportasi  (keperintisan  dan  PSO)  dan  komunikasi (USO) serta listrik perdesaan;  (b)  rendahnya tingkat pelayanan sosial dasar terutama pendidikan dan kesehatan;

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

190 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pengurangan Ketimpangan Pembangunan Wilayah 

(c)  belum  optimalnya  pemanfaatan  sumber  daya  dan  pengembangan  potensi  ekonomi  lokal,  terutama  dalam  hal  koordinasi  dan  kerjasama  kelembagaan,  baik  di  pusat  maupun  di  daerah  dan  keuangan  daerah;  (d)  lemahnya kapasitas kelembagaan pemerintah daerah dalam mengelola potensi sumber daya lokal; dan  (e)  rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat setempat. VI. Rekomendasi Tindak Lanjut  Tindak lanjut yang diperlukan dalam pembangunan perkotaan adalah:  a.  Menyusun  dan  menyiapkan  struktur  perkotaan  dalam  usaha  memantapkan  peran  serta  fungsi  kota  untuk mendukung pengembangan kota­kota secara hirarkis dan memiliki keterkaitan kegiatan ekonomi  antar kota yang sinergis dan saling mendukung;  b.  Mengembangkan  dan  mengoptimalkan  peran  kota  kecil  dan  menengah  sebagai  pendukung  ekonomi  perdesaan;  c.  Meningkatkan pelayanan kebutuhan dasar perkotaan;  d.  Peningkatan  kapasitas  pemerintah  daerah  kabupaten/kota  dalam  pelayanan  publik  dan  pengelolaan  lingkungan perkotaan;  e.  Peningkatan kemampuan dalam pengembangan kemitraan dengan swasta; serta  f.  Meningkatkan daya  saing kawasan perkotaan melalui peningkatan kualitas  kelembagaan, optimalisasi  penataan ruang dan pengembangan infrastruktur dasar.  Di  samping  itu  untuk  Provinsi  Lampung  Penetapan  kawasan­kawasan  prioritas  pembangunan  seperti:  kawasan  andalan/unggulan/terpadu  telah  membagi  habis  hampir  semua  ruang  wilayah  Propinsi  Lampung,  tentunya diharapkan dapat memacu pertumbuhan dan pemerataan ekonomi wilayah.  a)  Kawasan unggulan yang diharapkan dapat mengurangi ketimpangan wilayah dan menurunkan  angka  kemiskinan  adalah:  dalam  RTRWN  2007  ditetapkan  5  Kawasan  Andalan  Nasional  di  Lampung  yaitu:  Bandarlampung­  Gunung  Sugih;  Kotabumi  dan  sekitarnya;  Mesuji  dan  sekitarnya, Liwa­Krui; Krakatau dan sekitarnya.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

191 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pengurangan Ketimpangan Pembangunan Wilayah 

b)  Selanjutnya di tingkat Propinsi juga ditetapkan kawasan unggulan Propinsi dan Kabupaten/Kota  yaitu:  Kawasan  wisata  Bakauheni/Tugu  Siger,  Kawasan  wisata  Batu  Putu,  Gunung  Betung,  Kawasan  TERBAGUS  (Terbanggi  Besar­  Gunung  Sugih),  Kawasan  Agropolitan  (Pekalongan,  Kabupaten  Lampung  Timur  dan  Gisting  Kabupaten  Tanggamus),  Kawasan  Kota  Mandiri  Terpadu Mesuji, Kabupaten Tulang Bawang, Kawasan Wisata Terpadu Lombok, Danau Ranau  Kabupaten  Lampung  Barat.    Kawasan  andalan  ini  jika  tidak  dilengkapi  dengan  kelembagaan  yang  kuat,  maka  dikhawatirkan  hanya  akan  menjadi  konsep  saja,  disamping  itu  hendaknya  pemerintah  juga  menyesuaikan  program­program  pengembangan  kawasan  ini  dengan  penangulangan kemiskinan di kawasan tersebut.

VII. Penutup  Hasil pembanguan nasional yang telah dilakuakn selama ini ternyata masih belum bisa dinikmati oleh seluruh  masyarakat.  Hal  ini  menyebabkan  kesenjangan  pertumbuhan  dan  tingkat  pembangunan  antar  wilayah.  Dengan luas wilayah terbesar kedua di Pulau Sumatera, Lampung mempunyai potensi ketimpangan wilayah  yang  besar  diantara  wilayahnya.  Saat  ini  Provinsi  Lampung  terdiri  atas  10  Kabupaten/Kota,  dan  potensi  pemekaran  wilayah  perlu  untuk  terus  di  kaji  agar  ketimpangan,  terutama  wilayah  yang  jauh  dari  pusat  pemerintahan dapat teratasi dengan pemekaran (salah satu alternative mengurangi rentang kendali yang luas  di  beberapa  Kabupaten,  seperti  Kabupaten  Tulang  Bawang  dan  Lampung  Utara).  Dan  daerah  yang  sudah  mampu berdiri sendiri perlu terus di dukung untuk dapat mandiri dan berkembang maju.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

192 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Pendidikan yang Berkualitas 

Bab IV.13 Peningkatan Akses Masyarakat Terhadap Pendidikan yang Berkualitas
I. Pengantar  Pendidikan  merupakan  proses  sosialisasi  sekaligus  pewarisan  nilai­nilai  dari  satu  generasi  ke  generasi  berikutnya. Melalui proses pembelajaran dan interaksi sosial, pendidikan juga dapat menjadi instrumen utama  dalam  internalisasi,  adaptasi,  akulturasi,  dan  penciptaan  budaya  baru,  di  samping  sebagai  proses  transfer  ilmu pengetahuan dan teknologi.  Dalam  perspektif  ekonomi,  pendidikan  terbukti  dapat  memacu  pertumbuhan  ekonomi  suatu  negara.  Peningkatan  kualitas  pendidikan  akan  meningkatkan  produktivitas  yang  nantinya  akan  meningkatkan  pendapatan.  Hal  ini  pada  gilirannya  akan  membuat  kemiskinan        masyarakat  dapat  diturunkan  sehingga  kesejahteraan masyarakat  dapat ditingkatkan.  Mengingat peran penting dan strateginya pendidikan, peningkatan akses dan pemerataan layanan pendidikan  merupakan  salah  satu  prioritas  pembangunan  Provinsi  Lampung    dalam  rangka  menjadikan  Provinsi  Lampung  unggul  dalam  berbagai  aspek    dan  mengantarkan  masyarkat  Lampung  siap  bersaing  dalam  menghadapi  pasar  bebas.    Oleh  karena  itu  Dinas  Pendidikan  Provinsi  Lampung    berupaya  meningkatkan  perluasan dan pemerataan kesempatan dan mendapatkan pelayanan pendidikan yang berkualitas sehingga  masyarakat  Lampung  baik  laki­laki  maupun  perempuan,      dapat  mengikuti  pendidikan  paling  tidak  sampai  jenjang pendidikan dasar.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

193

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Pendidikan yang Berkualitas 

II. Kondisi Awal RPJMN Lampung 2004­2009 2.1 Kondisi Tingkat Pendidikan  A.  Kondisi perkembangan pendidikan di Provinsi Lampung tahun 2005­2006, 2007 –2008  dapat dilihat  pada tabel  sebagai berikut:  Tabel 4.13­1  Data Pendidikan Provinsi Lampung Tahun 2004 –2008 
No  Jenjang  Status  2003/04  Negeri  Swasta  Jumlah  Negeri  Swasta  Jumlah  Negeri  Swasta  Jumlah  Negeri  Swasta  Jumlah  Negeri  Swasta  Jumlah  Negeri  Swasta  Jumlah  Negeri  Swasta  Jumlah  Negeri  Swasta  Jumlah  Negeri  Swasta  Jumlah  Negeri  Swasta  Jumlah  Negeri  Swasta  Jumlah  Negeri  Swasta  Jumlah  8  1253  1261  4368  210  4568  0  3  3  47  497  544  336  613  949  0  3  3  21  440  461  99  197  296  24  178  202  12  155  167  0  4  4  4905  3553  8458  2004/05  9  1254  1263  4300  200  4500  0  3  3  50  464  514  347  574  921  0  3  3  22  434  456  112  202  314  28  177  205  14  158  172  1  5  6  4883  3474  8357  Tahun  2005/06  9  1254  1263  4348  207  4555  0  3  3  51  568  619  385  564  949  0  3  3  21  472  493  128  208  336  38  183  221  15  175  190  1  5  6  4996  3642  8638  2006/07  15  1472  1487  4349  209  4558  0  3  3  51  614  665  470  590  1060  0  3  3  22  495  517  132  215  347  42  179  221  15  183  198  1  5  6  5097  3968  9065  2007/08  19  1690  1709  4351  212  4563  3  5  8  51  660  711  555  617  1172  0  4  4  24  519  543  136  223  359  47  175  222  15  192  207  2  6  8  5203  4303  9506

1 

TK 

2 

SD 

3 

SDLB 

4 

MI 

5 

SMP 

6 

SMPLB 

7 

MTs 

8 

SMA 

9 

SMA 

10 

MA 

11 

SMLB 

Total Sekolah 

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

194

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Pendidikan yang Berkualitas 

1. Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah  a.  Pendidikan Prasekolah  Pada tahun 2005/2006 jumlah TK di Provinsi Lampung sebanyak 1.263 unit terdiri dari 9 unit negeri  dan 1.254 unit swasta, dari 9 unit TK negeri hanya 1 unit TK Pembina tingkat Provinsi dan 8 unit TK  Pembina  tingkat  Kabupaten/Kota. Jumlah  guru    TK  Pembina  sebanyak  57  orang  sedangkan  guru  DPK  1.009  orang  dan  guru  yayasan  /  honor  3.127  orang.  Jumlah  siswa  Taman  Kanak­kanak  di  Provinsi Lampung sebanyak 65.153 orang.  Pada tahun 2007/2008 jumlah TK di Provinsi Lampung sebanyak 1.704 unit terdiri dari 17 unit negeri  dan 1.690 unit swasta, dari 19 unit TK negeri hanya 2 unit TK Pembina tingkat Provinsi dan 17 unit  TK Pembina tingkat Kabupaten/Kota. Jumlah guru  TK Pembina sebanyak 57 orang sedangkan guru  DPK  1.009  orang  dan  guru  yayasan  /  honor  3.127  orang.  Jumlah  siswa  Taman  Kanak­kanak  di  Provinsi  Lampung  sebanyak  74.973  orang.  Dalam  peningkatan  mutu  pengelolaan  TK,  maka  TK  Pembina berfungsi sebagai Pembina bagi TK swasta yang berada di lingkungannya.  b.  Pendidikan Dasar Tingkat SD/MI  Jumlah  Sekolah  Dasar  (SD)  dan  Madrasah  Ibtidaiyah  (MI)  di  Provinsi  Lampung  tahun  2005/2006  sebanyak 5.174 dari jumlah tersebut 775 diantaranya SD/MI swasta, jumlah siswa SD/MI sebanyak  1.028.209 orang dan ruang  kelas 32.878 ruang. Adapun siswa yang  mengulang sebanyak  42.665  orang sedangkan yang putus sekolah sebanyak 3.651 orang. Jumlah  guru SD/MI sebanyak 46.035  orang yang terdiri dari 39.891 orang guru yang bertugas di SD/MI negeri dan 6.143 orang guru yang  bertugas di SD/MI swasta.  Jumlah  Sekolah  Dasar  (SD)  dan  Madrasah  Ibtidaiyah  (MI)  di  Provinsi  Lampung  tahun  2007/2008  sebanyak 5.274 dari jumlah tersebut 872 diantaranya SD/MI swasta, jumlah siswa SD/MI sebanyak  1.043.521 orang dan ruang  kelas 54.341 ruang. Adapun siswa yang  mengulang sebanyak  42.665  orang sedangkan yang putus sekolah sebanyak 3.651 orang.  c.  Pendidikan Luar Biasa

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

195

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Pendidikan yang Berkualitas 

Pendidikan  luar  biasa  tingkat  SDLB  negeri  di  Provinsi  Lampung  berjumlah  3  unit,  ruang  kelas  27  dengan siswa 390 orang dan tenaga guru 38 orang sedangkan SLB berjumlah 4 unit swasta dengan  jumlah siswa 466 orang dengan guru 92 orang.  Pendidikan luar biasa tingkat SDLB negeri di Provinsi Lampung tahun 2007/2008 berjumlah 3 unit,  ruang kelas 27 dengan siswa 162 orang dan tenaga guru 38 orang sedangkan SLB berjumlah 5 unit  swasta dengan jumlah siswa 345 orang dengan guru 58 orang.  d.  Pendidikan Dasar Tingkat SMP/MTs  Jumlah SMP/MTs  di Provinsi Lampung adalah sebanyak 1.442 unit yang  terdiri dari 385 unit SMP  negeri,  21  unit  MTs  negeri,  90  lokasi  SMP  terbuka  dan  564  unit  SMP  swasta  serta  472  unit  MI  swasta.  Total  siswa  SMP/MTs  tahun  2005/2006  sebanyak  388.002  siswa  sedangkan  jumlah  guru  30.821 orang dan ruang kelas 9.778 ruang.  Jumlah SMP/MTs  di Provinsi Lampung  tahun  2007/2008   adalah sebanyak  1.800 unit yang  terdiri  dari 555 unit SMP negeri, 24 unit MTs negeri, 85 lokasi SMP terbuka dan 617 unit SMP swasta serta  519  unit  MI  swasta.  Total  siswa  SMP/MTs  tahun  2007/2008  sebanyak  393.620  siswa  sedangkan  jumlah guru 28968 orang dan ruang kelas 10.096 ruang.  e.  Program Wajar Dikdas 9 Tahun  Pelaksanaan Dikdas 9 tahun hingga tahun 2005/2006 telah berhasil meningkatkan angka partisipasi  siswa  baik  di  jenjang  SD/MI  maupun  SMP/MTs.  Total  siswa  yang  tertampung  di  SD/MI  sebanyak  1.028.209  orang,  sedangkan  jumlah  siswa  SD/MI  usia  7  –  12  tahun  sebanyak  887.311  APK  dan  APM SD/MI 110,27 % dan 95,16 % sedangkan untguk tingkat SMP/MTs, jumlah siswa seluruhnya  387.002 orang dan siswa SMP/MTs   usia 13­15 tahun sebanyak 308.056 dengan demikian APK dan  APM SMP/MTs masing­masing 83,21 % dan 66,23 %.  Pelaksanaan Dikdas 9 tahun hingga tahun 2007/2008 telah berhasil meningkatkan angka partisipasi  siswa  baik  di  jenjang  SD/MI  maupun  SMP/MTs.  Total  siswa  yang  tertampung  di  SD/MI  sebanyak  1.037.334 orang, sedangkan APK dan APM SD/MI 110,39 % dan 95,88 % sedangkan untguk tingkat

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

196 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Pendidikan yang Berkualitas 

SMP/MTs, jumlah siswa seluruhnya 393.620 orang  dan  APK dan APM SMP/MTs masing­masing  89,11% dan 67,90%.  f.  Program Menengah (SMA/SMK/MA)  Pada tahun 2005/2006 jumlah SMA di Provinsi Lampung sebanyak 336 unit terdiri dari 128 unit SMA  negeri  dan 208 unit SMA swasta. Jumlah siswa sebanyak 113.389 orang yang didukung oleh 7.963  orang tenaga guru. SMK sebanyak 221 unit terdiri SMK negeri sebanyak 38 unit dan 183 unit SMK  swasta.  SMK  tersebut  masing­masing  terdiri  dari  6  jenis  sekolah  kejuruan  antara  lain  kelompok  Pertanian  dan  Kehutanan,  Kelompok  Teknologi  dan  Industri,  Kelompok  Bisnis  dan  Manajemen,  Kelompok Pariwisata, Kelompok Kesejahteraan Masyarakat, Kelompok Seni dan Kerajinan. Jumlah  siswa SMK sebanyak 61.070 orang dan guru sebanyak 5.563 orang. Saat ini siswa yang tertampung  pada pendidikan lanjuta atas (SMA/MA/SMK) sebanyak 197.989 orang dan siswa SMA/MA dan SMK  usia 16 – 18 tahun sebanyak 170.154 orang, sehingga APK dan APM SMA/MA dan SMK masing­  masing sebesar 43,15 % dan 37,09 %  Pada tahun 2007/2008 jumlah SMA di Provinsi Lampung sebanyak 359 unit terdiri dari 136unit SMA  negeri  dan 223 unit SMA swasta. Jumlah siswa yang terteampung  sebanyak 110.211 orang yang  didukung oleh 9.721 orang tenaga guru. SMK sebanyak 222 unit terdiri SMK negeri sebanyak 47 unit  dan 175 unit SMK swasta. SMK tersebut masing­masing terdiri dari 6 jenis sekolah kejuruan antara  lain  kelompok  Pertanian  dan  Kehutanan,  Kelompok  Teknologi  dan  Industri,  Kelompok  Bisnis  dan  Manajemen,  Kelompok  Pariwisata,  Kelompok  Kesejahteraan  Masyarakat,  Kelompok  Seni  dan  Kerajinan.  Jumlah  siswa  SMK  sebanyak  62.396  orang  dan  guru  sebanyak  5.738  orang.  Saat  ini  siswa yang tertampung pada pendidikan lanjutan atas (SMA/MA/SMK) sebanyak 202.284 orang dan  APK dan APM SMA/MA   masing­masing sebesar 48,15 % dan 37,90 % 2. Bidang Pendidikan Tinggi  Pendidikan  Tinggi di Provinsi Lampung  berkembang pesat seiring dengan  pertambahan  penduduk  dan  kemajuan  pembangunan.  Letak  Provinsi  Lampung  yang  strategis  juga  memungkinkan  kedatangan peserta didik dari berbagai daerah di luar Lampung yang memasuki perguruan tinggi di

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

197 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Pendidikan yang Berkualitas 

Lampung.  Meningkatnya  demand  pendidikan  tinggi  di  Lampung  ternyata  ditanggapi  dengan  baik  oleh masyarakat dengan mendirikan perguruan tinggi swasta.  Pada  saat  ini  telah  berdiri  dan  beroperasi  sebanyak  63  perguruan  tinggi,  yang  terdiri  dari  5  perguruan tinggi negeri (PTN) dan 58 perguruan tinggi swasta (PTS). Perguruan tinggi negeri, yaitu  Universitas  Lampung,  Politeknik  Pertanian  Negeri  Bandar  Lampung  (POLITANI),  Institut  Agama  Islam Negeri (IAIN) Bandar Lampung, Politeknik Kesehatan Tanjung Karang dan STAIN Metro.  Sedangkan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) tersebar di beberapa kabupaten/kota Provinsi Lampung,  yaitu 37 PTS berkedudukan di Bandar Lampung, 9 PTS di Metro, 7 PTS di Lampung Utara, 4 PTS di  Tenggamus, 3 di Lampung Selatan dan 2 PTS Way Jepara Lampung Timur.  Dilihat dari jenis program studi yang ada cukup lengkap, mulai dari eksakta, teknik, sosial, agama,  humaniora, dan kependidikan. Namun masih ada ketimpangan antara program studi eksakta/teknik  dibandingkan dengan program studi non eksakta. 3. Bidang Pendidikan Pemuda dan Olahraga  Keadaan dan perkembangan pendidikan luar sekolah, pemuda dan olah raga di Provinsi Lampung  dapat di uraikan sebagai berikut ini:  a.  Pembinaan Generasi Muda  Pembinaan generasi muda 2005/2006 dilakukan melalui program­program: 
·  · 

Pembinaan organisasi pemuda terhadap 35 organisasi;  Pembinaan tenaga sarjana penggerak pembangunan pedesaan (SP3) sebanyak 35 tenaga  sarjana;  Pembinaan tenaga pemuda produktif (KUP) sebanyak 100 orang;  Pembinaan pemuda pelopor, kesiswaan dan mahasiswa;  Pembinaan gerakan pramuka;  Pertukaran pemuda antar Negara. 

·  ·  ·  · 

Pembinaan generasi muda tahun 2007/2008 dilakukan melalui program­program:

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

198 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Pendidikan yang Berkualitas 

·  · 

Pembinaan organisasi pemuda terhadap 35 organisasi;  Pembinaan tenaga sarjana penggerak pembangunan pedesaan (SP3) sebanyak 15 tenaga  sarjana;  Pembinaan tenaga pemuda produktif (KUP) sebanyak 40 kelompok;  Pembinaan pemuda pelopor, kesiswaan dan mahasiswa;  Pembinaan gerakan pramuka;  Pertukaran pemuda antar Negara. 

·  ·  ·  · 

b.  Pembinaan Keolahragaan  Kegiatan yang dilakukan dalam pembinaan keolahragaan antara lain; pemassalan, pembibitan  dan  pembinaan  prestasi  olahraga.  Kegiatan  tersebut  dilakukan  melalui  POPDA,  kerjasama  dengan  KONI dan Pengurus  cabang  olahraga prestasi. Tahun 2005/2006  sasaran pembinaan  keolahragaan mencakup 14 cabang olahraga yang menonjol di Provinsi Lampung dengan 1.480  orang anggota. Cabang olahraga yang menonjol di Provinsi lampung  antara lain: angkat besi,  panahan, renang, sepak takraw, dan senam. 4. Bidang Kebudayaan  Pembinaan  kebudayaan  di  Provinsi  Lampung  meliputi  aspek  kesenian,  peninggalan  purbakala  (BCB), permuseuman dan organisasi penghayat kepercayaan Tuhan Yang Maha Esa. Pada tahun  2005/2006  di  Provinsi  Lampung  organisasi  kesenian  tercatat  127  organisasi  kesenian,  sedangkan  organisasi  yang  dibina/dikelola  sebanyak  87  cabang  organisasi  kesenian  baik  tradisional  maupun  kreasi baru, meliputi seni tari 30 organisasi, seni musik 12 organisasi, seni teater 15 organisasi dan  seni rupa 30 organisasi.  Pembinaan  terhadap  peninggalan  kepurbakalaan  dilakukan  melalui  kegiatan  pendataan,  pemeliharaan, pembinaan  dan pemanfaatan benda  cagar budaya  sosialisasi UU  No.5  tahun  1992  tentang  BCB.  Di  Provinsi  Lampung  tercatat  465  benda  cagar  budaya,  diantaranya  situs  kepurbakalaan sebanyak 93 lokasi terdiri dari menhir, dolmen, rumah adapt, kuburan kuno dan lain­

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

199

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Pendidikan yang Berkualitas 

lain.  Pembinaan  terhadap  sejarah  dan  nilai  tradisional  dilakukan  melalui  inventarisasi  nilai  budaya  dan permasyarakatannya.  Nilai  budaya  yang  terinventaris  meliputi  cerita  rakyat  15  buah,  ungkapan  tradisional  11  buah  dan  permainan  rakyat  15  buah.  Sedangkan  pembinaan  organisasi  penghayat  dilakukan  melalui  pendataan  dan  pembinaan  terhadap  organisasi  dan  anggota  tidak  menyimpang  dari  ketentuan  hukum  yang  berlaku.  Pada  tahun  2005  jumlah  organisasi  penghayat  di  Lampung  tercatat  22  organisasi dan anggota 2.550 orang.  Di Lampung terdapat 1 (satu) unit museum, yaitu Museum Provinsi lampung “Ruwa Jurai”. Kegiatan  pembinaan  permuseuman  antara  lain  pengadan,  pendataan,  penelitian,  pemeliharaan,  penyajian,  dan  publikasi  koleksi.  Pada  tahun  2005  jumlah  koleksi  museum  sebanyak  4.369  buah  yang  tergolong dalam 10 jenis koleksi, sedangkan jumlah warga yang berkunjung ke museum sebanyak  10.925 terdiri dari Wisata Domestik dan Mancanegara.  Berdasarkan keadaan seperti yang diuraiakan sebelumnya, maka pembinaan pendidikan di Provinsi lampung  dilaksanakan  mengacu  kepada  3 (tiga) strategi pembangunan pendidikan, yaitu pemerataan dan perluasan  kesempatan  pelayanan  pendidikan,  peningkatan  mutu  dan  relevansi  pendidikan,  dan  peningkatan  manajemen pendidikan.  B.  Pemerataan dan Perluasan Kesempatan Pelayanan Pendidikan  Pemerataan  dan  perluasan  kesempatan  pelayanan  pendidikan  diarahkan  untuk  memberikan  kesempatan  yang  seluas­luasnya  bagi  seluruh  lapisan  masyarakat  untuk  melaksanakan  untuk  melaksanakan  atau  mengikuti pendidikannya.  Dalam pelaksanaannya program ini diarahkan pada indikator sebagai berikut: 1. APK dan APM  Meningkatnya angka partisipasi suatu masyarakat dalam melaksanakan pendidikan disetiap jenjang  pendidikan  merupakan  sasaran  pokok  kebijakan  perluasan  dan  pemerataan  pendidikan.  Untuk

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

200 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Pendidikan yang Berkualitas 

merealisasikan  sasaran  tersebut,  akan  terus  mengupayakan  pembangunan  sarana  pendidikan  seperti  pembangunan  unit  gedung  baru  (UGB),  ruang  kelas  baru  (RKB)  terutama  bagi  daerah  pedesaan yang angka partisipasi (APK dan APM) masih rendah.  Dalam penuntasan Wajar Dikdas 9 Tahun, peranan lembaga pendidikan swasta sangat besar, oleh  karena  itu  pada  masa  mendatang  pembinaan  terhadap  sekolah  swasta  (SD  dan  SMP)  akan  ditingkatkan,  antara  lain  melalui  pembinaan  akreditasi  sekolah,  pemberian  dana  bantuan  operasional,  pelatihan  guru­guru,  pengadaan  buku  pelajaran,  sarana  dan  prasarana  pendidikan  termasuk beasiswa bagi siswa yang tidak mampu. 2. APK Jender  Keadaan yang berkembang dalam masyarakat khususnya di daerah pedesaan, faktor jender masih  merupakan  faktor  yang  membatasi  kesempatan  memperoleh  pendidikan.  Hal  ini  disebabkan  oleh  sosial  budaya  dan  ekonomi  yang  menimbulkan  pandangan  bahwa  prioritas  pendidikan  keluarga  masih  mengutamakan  anak  laki­laki  untuk  mendapatkan  pendidikan.  Pada  masa  mendatang  pemerataan pendidikan dilaksanakan dengan memberikan prioritas bagi anak perempuan antara lain  pemberian beasiswa, penyuluhan masyarakat, sehingga APK siswa perempuan dan APK siswa laki­  laki akan berkembang secara proporsional. 3. Rasio Siswa/Sekolah,siswa/kelas,siswa/Guru  Hingga  saat  ini  pengadaan  sarana  pendidikan  termasuk  pengadaan  guru  masih  mengarahkan  kepada  upaya  peningkatan  daya  tampung  siswa  di  setiap  jenis  dan  jenjang  pendidikan,  sehingga  pemenuhan standar rasio antara sekolah, kelas dan jumlah guru belum diterapkan secara maksimal.  Hal ini tentu terkait dengan kemampuan anggaran pemerintah yang masih terbatas. Dalam rangka  peningkatan pemerataan pendidikan di masa mendatang, rasio antara siswa dengan sekolah, kelas  dan  guru  akan  di  gunakan  sebagai  tolak  ukur  bagi  pemerataan  pendidikan,  dengan  kriteria  makin  kecil  rasio  antara  siswa  dengan  sekolah,  kelas  dan  guru,  maka  makin  terlaksana  pemerataan  pendidikan.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

201 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Pendidikan yang Berkualitas 

4. Angka Melanjutkan  Dalam setiap jenjang pendidikan persentase angka melanjutkan memiliki variasi yang berbeda. Hal  ini  menunjukkan  bahwa  makin  tinggi  jenjang  pendidikan,  maka  makin  banyak  siswa  yang  putus  sekolah. Misalnya tahun 2003/2004 yaitu 81,31%, dan pada tahun 2004/2005 naik menjadi 81,97%.  Pada tahun 2007/2008 menjadi 82,13%. Dengan demikian terdapat peningkatan angka melanjutkan  SD/MI ke SLTP/MTs, demikian juga dari SMP/MTs ke SMA/MA.  C.  Peningkatan Mutu dan Relevansi Pendidikan 1. Peningkatan Mutu Pendidikan  Dalam  tahap  perkembangan  penyelenggaraan  pendidikan,  mutu  pendidikan  telah  ditetapkan  menjadi sasaran pokok yang harus dicapai dengan tetap mempertahankan dan memperbaiki mutu  pendidikan yang telah dicapai selama ini. Sasaran ini sekaligus merupakan tantangan atas tuntutan  dan kebutuhan sesuai perkembangan masyarakat. Indikator peningkatan mutu tersebut antara lain:  a.  Nilai Ujian Akhir Nasional  Salah  satu  alat  pengendalian  untuk  menentukan  mutu  pendidikan,  saat  ini  pihak  Depdiknas  telah  menggunakan  sistem  evaluasi  yang  dilaksanakan  secara  nasional  yang  disebut  Ujian  Akhir  Nasional  (UAN)  mulai  dari  SMP/MTs  hingga  SMA/MA.  Sedangkan  untuk  SD/MI  dilaksanakan Ujian Akhir Sekolah (UAS). Setiap tahun pelajaran telah terjadi peningkatan nilai  UAN/UAS rata­rata siswa seluruh jenjang pendidikan di seluruh Provinsi Lampung. Peningkatan  nilai  UAN/UAS  tersebut  selain  mempengaruhi  kualitas  lulusan  sekolah,  juga  meningkatkan  presentase  rata­rata  siswa  yang  melanjutkan  pendidikan  ke  jenjang  pendidikan  yang  lebih  tinggi. Untuk masa mendatang keberhasilan yang telah dicapai tersebut akan terus ditingkatkan  dengan menggiatkan proses belajar mengajar disekolah. Dalam 3 tahun terakhir ini Depdiknas  telah menaikkan syarat nilai minimal kelulusan siswa pada ujian akhir nasional, yaitu dari 4,01  pada tahun 2003/2004, menjadi 4,25 pada tahu 2004/2005, dan 4,25 pada tahun 2005/2006 dan  5,25  pada  tahun  2007/2008.  Standar  minimal  nilai  kelulusan  ini  merupakan  salah  satu  upaya

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

202

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Pendidikan yang Berkualitas 

dalam  meningkatkan  kualitas  lulusan  yang  pada  akhirnya  akan  mengangkatkan  mutu  pendidikan.  b.  Angka Mengulang Kelas  Meningkatnya nilai Ujian Akhir Nasional rata­rata siswa setiap tahun pelajaran, mengindikasikan  bahwa  tingkat  kesadaran  siswa  untuk  melaksanakan  pendidikannya  makin  tinggi.  Adanya  peningkatan  nilai  UAN  rata­rata  tersebut  secara  langsung mempunyai  korelasi  dengan  angka  mengulang kelas. Dengan demikian makin tinggi kualitas lulusan siswa, maka makin berkurang  angka  siswa  mengulang.  Dalam  meningkatkan  mutu  pendidikan  di  masa  mendatang,  jumlah  angka  mengulang  akan  ditekan  hingga  sekecil  mungkin  melalui  peningkatan  kegiatan  belajar  siswa disekolah.  c.  Klasifikasi Guru (Kelayakan Mengajar)  d.  Jurusan Ijazah Guru  Penerimaan guru mulai dari jenjang SD hingga SLTA dilaksanakan sesuai dengan ijazah guru  yang dibutuhkan (berlatar belakang pendidikan). Oleh karena itu untuk tahun mendatang sistem  penerimaan  tersebut  terus  dipertahankan  sebagai  salah  satu  upaya  meningkatkan  mutu  pendidikan.  e.  Aktifitas Guru  Upaya  peningkatan  mutu  pendidikan  antara  lain  dilakukan  melalui  peningkatan  kemampuan  dalam melaksanakan  kegiatan belajar mengajar  di depan  kelas. Untuk  mencapai kemampuan  tersebut,  Depdiknas  mengembangkan  forum  komunikasi  atau  musyawarah  guru  bidang  studi  seperti  MGMP  dan  MOBS  sebagai  wadah  aktivitas  dalam  meningkatkan  pengetahuan  dan  keterampilan. Forum atau musyawarah ini hingga saat ini dianggap masih relevan, oleh karena  itu akan ditingkatkan pelaksanaannya baik volume kegiatan maupun materi kegiatannya.  f.  Kondisi Ruang Kelas  Kondisi  ruang  kelas  sangat  mempengaruhi  siswa  dalam  proses  belajar  mengajar,  seperti  perbandingan luas ruangan dengan siswa dan penataan ruang termasuk sirkulasi udara. Dalam  pembangunan  RKB  dan  UGB,  penataan  ruang  kelas  telah  dirancang  secara  baik  sesuai

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

203 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Pendidikan yang Berkualitas 

kebutuhan kegiatan proses belajar mengajar. Namun akibat jumlah calon siswa melebihi daya  tampung yang tersedia, mengakibatkan jumlah siswa dalam satu ruang melebihi ketentuan yang  telah ditentukan. Pada masa yang akan datang pemanfaatan kondisi ruangan dilakukan sesuai  dengan daya tampung yang ideal. 2. Peningkatan Relevansi Pendidikan  Fungsi  relevansi  dalam  sistem  pendidikan  senantiasa  difokuskan  kepada  kesesuaian  antara  keterampilan yang memiliki siswa lulusan jenjang tertentu dengan lapangan yang tersedia pada  dunia  usaha.  Dalam  kaitan  ini  indikator  relevansi  pendidikan  yang  perlu  dilaksanakan  pada  masa mendatang, yaitu :  a.  Kurikulum Muatan Lokal yang Sesuai Dengan Kondisi Daerah  Sesuai dengan kebijaksanaan pendidikan nasional, kurikulum muatan lokal merupakan bagian  dari  kurikulum  nasional  yang  materinya  bersumber  dari  kondisi  lingkungan  alam,  sosial  dan  budaya daerah.  Selama ini materi kurikulum yang diterapkan dijenjang SD antara lain bahasa daerah, kesenian  daerah dan bahasa inggris. Sedangkan materi kerikulum muatan lokal SMP antara lain:  1)  Bahasa daerah Lampung;  2)  Kesenian daerah Lampung;  3)  Keterampilan mengetik;  4)  Keterampilan sabuk kelapa;  5)  Keterampilan menggambar ornament tradisional lampung;  6)  Keterampilan elektro;  7)  Keterampilan sulaman tapis;  8)  Keterampilan perkebunan;  9)  Keterampilan pertanian;  10)  Keterampilan beternak kambing;  11)  Keterampilan menjahit;
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

204 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Pendidikan yang Berkualitas 

12)  Peternakan ayam ras;  13)  Peternakan ayam broiler;  14)  Perikanan.  Untuk  mendukung  pelajaran  muatan  lokal  tersebut  telah  disusun  GBPP.  Bila  dibandingkan  dengan  berbagai kekayaan  alam dan sosial budaya  daerah Lampung, maka  jenis  dan  jumlah  mata pelajaran kurikulum muatan lokal di atas masih perlu dilaksanakan beberapa hal:  1)  Peningkatan  kemampuan  guru  muatan  lokal  termasuk  bahasa  daerah  untuk  SD  melalui  pelatihan­pelatihan.  2)  Pengadaan sumber belajar seperti buku pegangan guru dan buku pelajaran siswa;  3)  Penyempurnaan kurikulum muatan lokal dengan melibatkan unsur terkait dan pakar.  b.  Penjurusan Berdasarkan Potensi Siswa  Sistem  penjurusan  siswa  dilaksanakan  ditingkat  SMA  dan  SMK.  Bagi  SMA  dan  SMK  sistem  penjurusan  siswa  dilaksanakan  berpedoman  dengan  kemampuan  dan  potensi  siswa  yang  bersangkutan,  misalnya  melalui  nilai  mata  pelajaran  tertentu  pada  rapor  atau  keterampilan  khusus. Pada masa mendatang penjurusan ini perlu dipertahankan dan ditingkatkan, sehingga  potensi yang dimiliki siswa dapat dikembangkan sesuai dengan jurusan yang ada.  Jenis keahlian/rumpun kejuruan pada SMK di Provinsi Lampung antara lain:  1)  SMK Kelompok pertanian dan kehutanan;  2)  SMK Kelompok teknologi dan industri;  3)  SMK Kelompok bisnis dan manajemen;  4)  SMK Kelompok pariwisata;  5)  SMK Kelompok kesejahteraan masyarakat;  6)  SMK Kelompok seni dan kerajinan.  Kelompok jurusan tersebut pada umumnya disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi daerah  Lampung.  Untuk  masa  mendatang  penambahan  kelompok  jurusan  terus  diupayakan  sesuai  dengan  kebutuhan  masyarakat  yang  makin  berkembang,  misalnya  kelompok  perikanan,

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

205 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Pendidikan yang Berkualitas 

pelayaran,  dan  sebagainya.  Selain  itu  pertimbangan  kelompok  jurusan  yang  ada  disesuaikan  dengan  kebutuhan,  seperti  jurusan  seni  dan  kerajinan  yang  baru  terdapat  1  (satu)  sekolah.  Pada  masa  mendatang  kelompok  ini  perlu  dikembangkan  dengan  baik  melalui  pembangunan  UGB maupun pendidikan swasta.  c.  Persentase SMK yang Melaksanakan Pendidikan Sistem Ganda PSG  Pada  tahun  2005/2006  terdapat  38  SMK  Negeri  di  Provinsi  Lampung  telah  melaksanakan  pendidikan  sistem  ganda  seperti  halnya  pada  tahun  lalu,  kendala  yang  dihadapi  antara  lain  keengganan perusahaan untuk bekerja sama dalam mendukung program tersebut. Pada masa  mendatang  diharapkan  seluruh  SMK  baik  negeri  maupun  swasta  telah  dapat  melaksanakan  pendidikan  sistem  ganda.  Upaya  ini  dilakukan  dengan  menggalang  kesadaran  perusahaan  terdekat agar bersedia melakukan kerja sama dengan SMK.  d.  Jumlah Lulusan yang Terserap di Sektor Ekonomi dan Presentasi Lulusan yang Menganggur  Dalam  realisasi  relevansi  pendidikan  khususnya  di  jenjang  SMK,  diwujudkan  dengan  meningkatkanya jumlah lulusan yang terserap di dunia usaha baik di daerah Lampung maupun  di luar Provinsi Lampung mulai dari sektor pertanian/agrobisnis hingga industri­industri. Namun  selain itu sebagai lulusan tersebut masih ada yang belum tertampung di dunia usaha. Mereka  bekerja membuka usaha sendiri atau bahkan masih menganggur. Pada masa yang akan datang  Pemerintah  Provinsi  Lampung  bersama  Depdiknas  akan  tetap  mengupayakan  kualitas  pendidikan  kejuruan  dan  membina  hubungan  kerja  sama  dengan  perusahaan­perusahaan  terdekat  sehingga  dunia  usaha  tersebut  bersedia  menampung  tenaga  kerja  yang  berasal dari  sekolah terdekat.  e.  Peningkatan Manajemen Pendidikan  Peningkatan  manajemen  pendidikan  dimaksudkan  agar  dalam  pengelolaan  pendidikan  dapat  diciptakan  efentivitas  dan  efesiensi.  Hal  ini  merupakan  salah  satu  prioritas  pemerintah  dalam  menghemat anggaran biaya. Pada masa yang akan datang peningkatan manajemen pendidikan  dilaksanakan melalui:

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

206 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Pendidikan yang Berkualitas 

1. 

Otonomi  dan  desentralisasi  sekolah,  yaitu  pemberian  kemandirian  dan  kebebasan  kepada sekolah untuk melaksanakan kewenangannya dan mengelola kebutuhan sendiri  secara mandiri, demokratis dan transparan dengan melibatkan komite sekolah; 

2. 

Penerapan  sistem  MPMBS,  yaitu  pemberian  keleluasaan  kepada  sekolah  dalam  menerapkan  aturan  yang  telah  ditentukan,  sehingga  dapat  dicapai  peningkatan  mutu  melalui pendayagunaan sarana dan prasarana pendidikan. 

D.  Pembinaan Pendidikan Masyarakat, Pemuda dan Olahraga 1. Pembinaan Pendidikan Luar Sekolah  Perencanaan pendidikan luar sekolah antara lain meningatkan peran kerja Paket A setara SD dan  paket  B  setara  SMP  dalam  menuntaskan  wajar  Dikdas  9  Tahun.  Peningkatan  ini  antara  lain  meningkatkan  jumlah  kelompok  belajar,  tutor  serta  daya  tampung.  Selain  itu  perlu  ditingkatkan  pendidikan  pemberantasan  buta  huruf  (PBH),  pembentukan  kelompok  belajar  usaha  (KBU),  pelatihan keterampilan dan program magang bagi lulusan SMP yang tidak melanjutkan ke Sekolah  Menengah (SM). 2. Pembinaan Generasi Muda  Pembinaan  generasi  muda  dimaksudkan  untuk  membentuk  manusia  yang  bertakwa,  bermoral,  berkepribadian  dan  berjiwa  kebangsaan  sebagai  generasi  penerus  bangsa.  Dalam  menghadapi  berbagai pengaruh negatif terhadap generasi muda, maka program pembinaan generasi muda yang  perlu ditingkatkan di masa mendatang dalam upaya mengantisipasi dekadensi moral generasi muda,  adalah: 
·  ·  · 

Pembinaan organisasi muda;  Pembinaan tenaga sarjana penggerak pembangunan pedesaan (SP3);  Pembinaan tenaga pemuda produktif (KP3);

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

207 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Pendidikan yang Berkualitas 

·  · 

Pembinaan pemuda pelopor, kesiswaan dan mahasiswa;  Pembinaan gerakan pramuka.

3. Pembinaan Keolahragaan  Kegiatan  yang  perlu  ditingkatkan  dalam  pembinaan  keolahragaan  antara  lain  permasalahan  olahraga  (mengolahragakan  masyarakat)  pembibitan  dan  pembinaan  prestasi  olahraga.  Kegiatan  tersebut  dilakukan  melalui  berbagai  kegiatan  dengan  melibatkan  organisasi  pembinaan  olahraga  baik  tingkat  pusat  maupun  daerah.  Selain  itu  kerjasama  dengan  KONI  dan  pengurus  cabang  olahraga prestasi tetap dilaksanakan dalam meningkatkan prestasi olahraga di daerah Lampung.  E.  Pembinaan Kebudayaan  Pembinaan  kebudayaan  di  Provinsi  Lampung  meliputi  aspek  kesenian,  peninggalan  Purbakala  (BCB),  permuseuman dan organisasi penghayat kepercayaan Tuhan Yang Maha Esa untuk tahun mendatang perlu  ditingkatkan,  baik  kualitas  maupun  kuantitasnya.  Pembinaan  kesenian  diarahkan  kepada  peningkatan  apresiasi masyarakat terhadap seni budaya. Selain itu penggalian seni budaya, pameran seni dan pagelaran  seni, lomba seni perlu ditingkatkan intensitasnya baik ditingkat sekolah, maupun nasional.  Dalam  pembinaan  terhadap  peninggalan  kepurbakalaan  perlu  ditingkatkan  melalui  kegiatan  pendataan,  pemeliharaan,  pembinaan  dan  pemanfaatan  benda  cagar  budaya  serta  sosialisasi  UU  No.  5  Tahun  1992  tentang BCB. Di Provinsi Lampung situs kepurbakalaan sebanyak 93 lokasi terdiri dari menhir, dolmen, rumah  adapt,  kuburan  kuno,  namun  baru  sebagian  kecil  yang  dipelihara.  Oleh  karena  itu  untuk  masa  mendatang  perlu  ditingkatkan  pembebasan  tanah/situs  kepurbakalaan,  pemugaran,  konservasi  dan  pengamanan  terhadap peninggalan tersebut agar terhindar kepunahannya.  Pembinaan terhadap sejarah dan nilai tradisional masih perlu ditingkatkan melalui inventarisasi nilai budaya  dan permasyarakatannya. Selain itu penelitian nilai­nilai budaya perlu dilakukan dalam rangka memanfaatkan  nilai budaya tersebut dalam mendukung pembangunan.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

208

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Pendidikan yang Berkualitas 

Museum  Negeri  Provinsi  lampung  “Ruwa  Jurai”  sebagai  satu­satunya  museum  di  Provinsi  Lampung  yang  perlu  ditingkatkan  pengelolaannya  baik  penelitian,  perawatan  koleksi,  maupun  peningkatan  apresiasi  masyarakat terhadap budaya melalui pelaksanaan pameran, baik yang bermisi pendidikan maupun wisata. 2.2 Kuantitas dan Kualitas Fasilitas Layanan Pendidikan  A.  Rasio Murid (per Ruang Kelas dan per Guru)  Secara  kuantitas,  fasilitas  layanan  pendidikandi  Provinsi  Lampung  sesungguhnya  sudah  cukup  memadai.  Rasio  murid  peruang  kelas  sebesar  32  untuk  Sekolah  Dasar  (SD)Negeri  dan  35  untuk  Sekolah  Dasar  (SD)Swasta  sedangkan Madrasah  Ibtidaiyah  (MI) Negeri 21 dan MI swasta 27, untuk  SMP negeri 35 dan  SMP swasta 44,  MTs Negeri 41 dan 37 untuk MTs swasta sedangkan  untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)  baik    negeri  maupun  swasta  sama  37  Sekolah  Menengah  Kejuruan  (SMK)  negeri  40  dan  34  untuk  SMK  swasta sedangkan Madrasah Aliyah (MA)negeri 37 dan untuk MA swasta 17. Sementara rasio murid per guru  sudah mencapai 20 untuk SD Negeri 24 untuk SD Swasta, sedangkan  MI Negeri 12 dan 18 untuk MI Swasta.  Sedangkan SMP Negeri 11 dan 19 untuk SMP swasta serta  MTs Negeri  14 dan 10 untuk MTs Swasta. SMA  Negeri  dan SMA Swasta sama 38, SMK Negeri 12 dan SMK Swasta 11,  MA Negeri  18 MA Swasta sangat  baik 7.  B.  Perpustakaan, Laboratorium, dan Ketersediaan Buku  Hingga  saat  ini,  pengadaan  sarana  dan  prasarana  pendidikan  khususnya  laboratorium,  perpustakaan,  alat  peraga dan media belajar masih tetap dilaksanakan sebagai bagian dari peningkatan mutu pendidikan. Pada  akhir tahun 2006/2007 yang akan datang diharapkan seluruh SMP dan SMA/SMK negeri telah memiliki ruang  perpustakaan dan laboratorium khususnya IPA.  Dalam  rangka  pemberlakuan  kurikulum  baru,  diharapkan  pengadaan  buku  pokok  pada  semua  jenis  dan  jenjang pendidikan  telah mengacu  pada  kurikulum 2004, yaitu kurikulum yang  berbasis kompetensi. Hal ini  mengingat pemerintah dalam hal ini Depdiknas segera akan memberlakukan kurikulum tersebut mulai tahun  pelajaran  2004/2005.  Oleh  karena  itu,  pengadaan  buku  baik  buku  pelajaran  pokok  dan  buku  penunjang  lainnya akan tetap dilaksanakan sampai mencapai rasio 1 : 1.
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

209 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Pendidikan yang Berkualitas 

C.  Kepemilikan Komputer dan Akses Internet  Kepemilikan  komputer  dan  akses  internet  sebagai  bentuk  pemanfaatan  teknologi  informasi  (TI)  dan  komunikasi  di  bidang  pendidikan  masih  terbatas.  Sampai  dengan  tahun  2008,  hanya      SD/MI,    SMP/MTs  SMA/MA/Sekolah Menengah Luar Biasa (SMLB) yang memiliki akses internetmasih sangat terbatas. 1. Standar Minimal Kualifikasi Akademik Pengajar  Peningkatan  kualifikasi  guru  mulai  dari  jenjang  SD  hingga  SMA  telah  menjadi  perhatian  Depdiknas.  Langkah  ini  dilakukan  melalui  program  penyetaraan,  antara  lain  untuk  guru  SD  mengikuti penyetaraan D2, guru SMP dan SMA mengikuti penyetaraan S1. Pada tahun 2003/2004  dari 39.699 orang guru SD, masih terdapat 24.118 yang belum mengikuti penyetaraan D2. Saat ini  yang sedang mengikuti program penyetaraan D2 sebanyak 2.078 orang, semester II, 300 orang,  semester  III,  478  orang.  Diharapkan  guru­guru  SD,  SLTP  dan  SLTA  akan  meningkatkan  kualifikasinya melalui penyetaraan pendidikan secara bertahap baik melalui anggaran pemerintah  maupun swadaya peserta. 2. Pelayanan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)  Pendidikan luar sekolah antara lain paket A setara SD, paket B setara SMP dan Paket C setara  SMA.  Jumlah  kelompok  belajar  paket  A  setara  SD  sebanyak  59  kelompok,  peserta  sebanyak  1.715  orang  dan  tutor  110  orang.  Jumlah  kelompok  belajar  paket  B  setara  SMP  sebanyak  218  kelompok, pesertanya sebanyak 6.974 orang dan tutor 1.125 orang. Sedangkan kelompok belajar  paket C setara SMA sebanyak 10 kelompok, peserta sebanyak 200 dan tutor 60 orang. Selain itu  di  lakukan  pemberantasan  buta  huruf  (PBH),  pembentukan  kelompok  belajar  usaha  (KBU),  pelatihan keterampilan dan program magang  bagi lulusan  SMP yang  tidak  melanjut ke  SMA. Di  Provinsi  Lampung  terdapat  177  kursus  yang  dikelola  swasta  yang  terdiri  dari  17  jenis  kursus  antara lain mengetik, akutansi, bahasa inggris, menjahit pakaian wanita, tat arias pengantin, tata  kecantikan rambut, komputer, bimbingan belajar dan lain­lain.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

210 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Pendidikan yang Berkualitas 

Di Provinsi Lampung tahun 2007/2008 terdapat 214 kursus yang dikelola swasta yang terdiri dari  17 jenis kursus antara lain mengetik, akutansi, bahasa inggris, menjahit pakaian wanita, tat arias  pengantin, tata kecantikan rambut, komputer, bimbingan belajar dan lain­lain.. III. Sasaran yang Ingin Dicapai 3.1 Perluasan dan Pemerataan Akses Pendidikan  a)  b)  c)  d)  e)  f)  g)  Penuntasan pendidikan Wajar diknas 9 tahun bebas biaya  Perluasan akses pendidikan wajar pada jalur non formal  penuntasan keaksaraan fungsional bagi usia > 15 tahun  Rehabilitasi gedung sekolah yang rusak  Perluasan akses pendidikan anak usia dini (PAUD)  perluasan akses pendidikan menengah  Perluasan akses SLB dan sekoalh inklusif

3.2 Peningkatan Mutu, Relevansi dan Daya Saing  a)  b)  c)  d)  Peningkatan fasilitas pembelajaran di sekolah  Peningkatan kompetensi dan sertifikasi guru  Peningkatan mutu akreditasi sekolah  Penerapan teknologi informasi untuk pendidikan

3.3 Pencitraan Publik dan Akuntabilitas Terhadap Pendidikan  a)  b)  c)  Pendataan berbasis SIM dan Jardiknas  Pengawasan dan pengendalian pembangunan pendidikan  Peningkatan citra publik pendidikan

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

211 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Pendidikan yang Berkualitas 

d)  IV.

Peningkaan kompetensi SDM

Arah Kebijakan 

Arah dan kebijakan peningkatan akses pendidikan berkualitas adalah sebagai berikut:  1.  Menyelenggarakan  Wajib  Belajar  Pendidikan  Dasar  Sembilan  Tahun  untuk  mewujudkan  pemerataan  pendidikan  dasar  yang  bermutu  di      Provinsi  Lampung  untuk  memenuhi  hak  dasar  warga negara. Untuk itu upaya penarikan kembali siswa putus sekolah dan lulusan SD termasuk  SDLB,  MI  dan  Paket  A  yang  tidak  melanjutkan  ke  jenjang  pendidikan  SMP/MTs/Paket  B  serta  upaya menurunkan angka putus sekolah harus dioptimalkan;  2.  Meningkatkan perluasan dan pemerataan pendidikan menengah jalur formal dan non formal baik  umum maupun kejuruan untuk mengantisipasi meningkatnya lulusan sekolah menengah pertama  sebagai  dampak  keberhasilan  Program  Wajib  Belajar  Pendidikan  Dasar  Sembilan  Tahun,  dan  penyediaan  tenaga  kerja  lulusan  pendidikan  menengah  yang  berkualitas  dengan  meningkatkan  relevansi pendidikan menengah dengan kebutuhan tenaga kerja;  3.  Meningkatkan  perluasan  dan  mutu  pendidikan  tinggi  termasuk  menyeimbangkan  dan  menyerasikan  jumlah  dan  jenis  program  studi  yang  disesuaikan  dengan  tuntutan  kebutuhan  pembangunan  dan  untuk  menghasilkan  lulusan  yang  memenuhi  kebutuhan  pasar  kerja  serta  peningkatan  dan  pemantapan  peran  perguruan  tinggi  sebagai  ujung  tombak  peningkatan  daya  saing bangsa  melalui penciptaan dan pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, dan  seni;  4.  Menyelenggarakan pendidikan non formal yang bermutu untuk memberikan pelayanan pendidikan  kepada  warga  masyarakat yang  tidak  mungkin  terpenuhi  kebutuhan  pendidikannya  melalui  jalur  formal terutama bagi masyarakat yang tidak pernah sekolah atau buta aksara, putus sekolah dan  warga  masyarakat  lainnya  yang  ingin  meningkatkan  dan  atau  memperoleh  pengetahuan,  kecakapan/keterampilan hidup dan kemampuan guna meningkatkan kualitas hidupnya;

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

212 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Pendidikan yang Berkualitas 

5.  Menyelenggarakan  pendidikan  khusus  bagi  peserta  didik  yang  memiliki  tingkat  kesulitan  dalam  mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan/atau memiliki  potensi kecerdasan dan bakat istimewa;  6.  Mengembangkan  kurikulum    lokal  yang  disesuaikan  dengan  perkembangan  ilmu  pengetahuan,  teknologi,  budaya  dan  seni  serta  perkembangan  global,  regional,  nasional  dan  lokal  termasuk  pengembangan  kinestetika  dan  integrasi  pendidikan  kecakapan  hidup  untuk  meningkatkan  etos  kerja dan kemampuan kewirausahaan peserta didik;  7.  Memantapkan pendidikan budi pekerti dalam rangka pembinaan akhlak mulia termasuk etika dan  estetika sejak dini di kalangan peserta didik, dan pengembangan wawasan kesenian, kebudayaan,  dan lingkungan hidup;  8.  Meningkatkan  jumlah  dan  kualitas  pendidik  dan  tenaga  kependidikan  lainnya  dengan  mempertimbangkan  peningkatan  jumlah  peserta  didik  dan ketepatan  lokasi,  serta  meningkatkan  kesejahteraan  dan  perlindungan  hukum  bagi  pendidik  agar  lebih  mampu  mengembangkan  kompetensinya dan meningkatkan komitmen mereka dalam melaksanakan tugas pengajaran;  9.  Mengembangkan  sistem  evaluasi,  akreditasi  dan  sertifikasi  termasuk  sistem  pengujian  dan  penilaian  pendidikan  dalam  rangka  mengendalikan  mutu  pendidikan  nasional  pada  satuan  pendidikan  sebagai  bentuk  akuntabilitas  penyelenggara  pendidikan,  serta  evaluasi  terhadap  penyelenggara pendidikan di tingkat kabupaten/kota;  10.  Meningkatkan  peran  serta  masyarakat  dalam  pembangunan  pendidikan  termasuk  dalam  pembiayaan  pendidikan,  penyelenggaraan  pendidikan  berbasis  masyarakat  serta  dalam  peningkatan  mutu  layanan  pendidikan  yang  meliputi  perencanaan,  pengawasan,  dan  evaluasi  program pendidikan.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

213 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Pendidikan yang Berkualitas 

V. Pencapaian 2005­2007 5.1 Upaya yang Dilakukan Hingga Tahun 2007  Untuk  mencapai  sasaran  RPJMD  2004­2009,  pemerintah  telah  melakukan  berbagai  upaya  dalam  suatu  kerangka kebijakan. Rangkaian upaya tersebut meliputi: 5.1.1 Perluasan Akses Pendidikan  a.  Angka  partisipasi  kasar  (APK)  PAUD  2007  telah  berhasil  mencapai  35%  disbanding  dengan  realisasi tahun  2006  yaitu terjadi peningkatan 32,95%. PAUD meliputi pendidikan  anak  usia dini  formal  (Taman  Kanak­Kanak,  Raudatul  Athfal)  dan  pendidikan  anak  usai  dini  non  formal  (kelompok bermain, taman penitipan anak, PAUD perintegrasian Posyandu, Bina Keluarga Balita,  Pendidikan Al­quran, sekolah minggu dan Bina Iman lainnya).  b.  Angka  partisipasi  murni  (APM)  SD/MI/SDLB/Paket  A  tahun  2007  telah  mencapai  110,71%  disbanding  dengan  tahun  2006  :  111 %  ada peningkatan  0,29%.  Peningkatan  APM  yang  relatif  kecil ini dapat diartikan  bahwa populasi anak  usia SD/MI yang tidak  bersekolah memang sudah  semakin sedikit. Mereka diduga adalah anak yang secara fisik, sosiologis memang sulit dan mahal  untuk dijangkau oleh layanan pendidikan, seperti penyandang cacat. Namun demikian bebrbagai  upaya dan pendekatan terus dilakukan  untuk melayani kelompok ini.  c.  Angka  Partisipasi  Kasar  (APK)  SMP/MTs/SMPLB/Pket  B  tahun  2007  telah  mencapai  86,71%  dibandingkan dengan APK tahun 2006 : 89,11 terjadi peningkatan 2,30%.  d.  Angka Partisipasi Kasar (APK) SMA/SMK/MA/SALB/Paket C tahun 2007 telah mencapai 50,37 %  dibandingkan dengan APK tahun 2006 : 46,19 % terjadi peningkatan 3,19 %.  e.  Prosentase Buta Aksara pada penduduk berusia 15 tahun ke atas tahun 2007 telah turun menjadi  6,75  %  dibandingkan  dengan  prosesntase  pada  tahun  2006  sebesar  7,25%  telah  terjadi

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

214

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Pendidikan yang Berkualitas 

penurunan  sebesar  0,50  %  Provinsi  lampung  optimis  bahwa  buta  aksara  di  Provinsi  Lampung  tahun 2009 dapat diturunkan menjadi 5 %. 5.1.2 Peningkatan Mutu, Relevansi dan Daya Saing  Kinerja Dinas Pendidikan Lampung tahun 2007 dalam peningkatan mutu daya saing pendidikan secara umum  sebagai berikut:  a.  Prosentase  kelulusan  SMP/MTs  pada  tahun  2007  mencapai  94,41  %    jika  dibandingkan  dengan  prosentase kelulusan tahun 2006 : 91,48 % terjadi peningkatan 2,93 %. Hal ini dapat dicapai antara  lain  karena  dilakukan  (1)  perbaiakn  sarana  prasarana  pembelajaran  seperti  rehebilitasi  ruang  belajar,  pemenuhan  sarana  lainnya  serta  didukung  adanya  program  BOS,  (2)  Peningkatan  kesejeahteran guru melalui bbantuan insentif guru daerah terpencil dan insentif guru pedesaan, (3)  Peningkatan kompetensi guru.  b.  Prosentase kelulusan SM/MK tahun 2007 mencapai 93,61 %  dan jika dibandingkan dengan tahun  2006 ada peningkatan sebesar 0,42  %  c.  Guru yang memenuhi kualifikasi S1/D4  mencapai 32% dan ada peningkatan dari rahun sebelumnya  sebesar 2,0%  d.  Terdapat  satu  SMK  di  Provinsi  Lampung  mendapat  sertifikat  ISO  9001  yaitu  SMK  1  Kotabumi  Lampung Utara.  e.  Perolehan kriteria rintisan standar nasional dan standar nasional di seluruh Provinsi Lampung : (1)  Rintisan  standar nasional 10 SD, (2) sekolah standar nasional (SSN)  12 SMP, (3) rintisan  standar  nasional 10 SMA dan (4) rintisan standar nasional 12 SMK.  f.  Jumlah  sekolah  yang  terakreditasi;    SMA  Negeri  dan  Swasta    43,14%  di  tahun  2007  sedangkan  pada tahun 2006 : 56,85% SMK  pada tahun 2007 39,32% dan pada tahun 2006 60,67 %.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

215 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Pendidikan yang Berkualitas 

g.  Peningkatan  relevansi  pendidikan,  berdasarkan  rasio  antara  SMA  dan  SMK  tahun  2006  adalah  60:40 dan pada tahun 2007 menjadi 59 : 41 5.1.3 Pembangunan Fasilitas Pelayanan Pendidikan Dasar dan Menengah  Tahun  2007,  pemerintah  membangun  unit  sekolah  baru (USB)  di  wilayah  Provinsi  Lampung  untuk  jenjang  SD/MI  dan  SMP/MTs,  baik  secara  regular  maupun  sistem  satu  atap.  Untuk  jenjang  SMP  pemerintah  membangun 41 USB. 5.1.4 Rehabilitasi Sekolah  Rehabilitasi  sekolah/madrasah  juga  mendapat  perhatian  dari  pemerintah.  Dalam  tiga  tahun  terakhir,  pemerintah telah merehabilitasi banyak sekolah maupun ruang kelas, walaupun masih terasa sangat kurang  karena masih banyak sekolah yang sudah meprihatinkan kondisinya. 5.1.5 Penyelenggaraan Pendidikan Kesetaraan  Untuk mendukung program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun, pendidikan kesetaraan Paket A  dan Paket B terus ditingkatkan. 5.1.6 Peningkatan Kualitas dan Kesejahteraan Pendidik  Undang­Undang (UU) Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen telah disahkan. UU tersebut menjadi  kerangka  acuan  dalam  peningkatan  kualitas  dan  kesejahteraan  pendidik.  Peningkatan  kualitas  pendidik  dilakukan baik melalui pendidikan/pelatihan gelar maupun non gelar, termasuk melalui Kelompok Kerja Guru  (KKG) dan musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Pada tahun 2007 lebih dari 6000 guru yang mengikuti  sertifikasi 5.1.7 Penyelenggaraan Pendidikan Keaksaraan Fungsional  Pendidikan keaksaraan fungsional terus ditingkatkan agar dapat menurunkan angka buta aksara penduduk.  Dalam tiga tahun terakhir, terus dilaksanakan   pendidikan keaksaraan fungsional

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

216 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Pendidikan yang Berkualitas 

5.2 Posisi Capaian Hingga Tahun 2007  Adapun posisi capaian hingga tahun 2007 adalah sebagai berikut: 5.2.1 Taraf Pendidikan  Secara  umum,  taraf  pendidikan  penduduk  Provinsi  Lampung  terus  meningkat  dari  tahun  ke  tahun.  Hal  ini  ditunjukkan  oleh  meningkatnya  angka  partisipasi  murni  (APM),  APK,  dan  menurunnya  persentase  buta  aksara pada tahun   2006, dan 2007.  Selama  periode  2005­2007,  APK  PAUD  mengalami  peningkatan  sebesar  2,05    persen    .  Angka  tersebut  masih relatif rendah dan belum dapat menggambarkan keadaan sebenarnya. Hal ini dikarenakan tidak semua  anak usia 2­6 tahun dapat ditampung oleh PAUD.  Saat  ini,  distribusi  pencapaian  APK  pada  program  Wajib  Belajar  Pendidikan  Dasar  Sembilan  Tahun  telah  lebih merata walau masih terdapat banyak kekurangan. Pada tahun 2006, hanya meningkat 0,29 persen.  Untuk jenjang SMP/MTs/SMP Luar Biasa (SMPLB)/Paket B meningkat 2,30% dan SMA/MA/SMK meningkat  3,19% serta terjadi penurunan angka buta aksara 0,5%.  Banyak  lulusan  yang  terpaksa  lebih  memilih  membantu  ekonomi  keluarga  ketimbang  melanjutkan  jenjang  pendidikan.  Rendahnya partisipasi pendidikan juga terjadi pada pendidikan tinggi. Sampai tahun 2007, APK pada jenjang  pendidikan  tinggi  hanya  mencapai 17,25  persen.  Relatif  mahalnya  biaya  perkuliahan  di  PT  dan rendahnya  pendapatan per kapita masyarakat merupakan alasan utama rendahnya angka APK pendidikan tinggi. 5.2.2 Meningkatnya Kualitas dan Relevansi Pendidikan  Kualitas  dan  relevansi  pendidikan  masih  perlu  diingkatkan  mengingat  banyak  satuan  pendidikan  yang  ada  belum mampu menciptakan  lulusan  yang kompeten. Beberapa faktor utama yang mempengaruhi timbulnya  masalah ini yaitu:

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

217

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Pendidikan yang Berkualitas 

5.3 Permasalahan Pencapaian Sasaran  Ada bebera  faktor utama penyebab kesenjangan akses pendidikan, yaitu: faktor ekonomi dan geografis serta  faktor budaya. Data Statistik Pendidikan 2006 menunjukkan bahwa alasan utama anak tidak sekolah adalah  karena orang tua tidak mampu membiayai sekolah atau mereka harus bekerja. Ketidakmampuan ini diduga  berhubungan  erat  dengan  biaya  tidak  langsung  yang  harus  dikeluarkan  oleh  orang  tua,  seperti:  biaya  transportasi,  infrastruktur  yang  belum  memadai  atau  ketidaktersediaan  sarana  transportasi.  Meskipun  jarak  sekolah tidak terlalu jauh, jika kondisi jalan buruk dan/atau tidak ada transportasi umum, orangtua seringkali  enggan untuk menyekolahkan anaknya.  Kendala berikutnya  dalah masalah geografis  yang  ditunjukkan dengan  keterpencilan wilayah. Anak­anak  di  wilayah  terpencil  sulit  untuk  menjangkau  fasilitas  pendidikan  yang  umumnya  agak  jauh  dari  tempat  tinggal  mereka.  Meskipun  di  beberapa  daerah  telah  dibangun  sekolah  berasrama,  orangtua  terkadang  tidak  mengijinkan anaknya tinggal di asrama.  Kendala berikutnya adalah budaya masyarakat yang masih menganggap pendidikan itu bukan sesuatu yang  harus mendapat prioritas utama dan dengan anggapan bahwa ayng penting anaknya sudah dapat membaca  maka sekolahnya tidak perlu diteruskan. VI. Tindak Lanjut  Untuk meningkatkan pelayanan pendidikan di Provinsi Lampung, maka tindak lanjut yang direkomendasikan  adalah sebagai berikut :  1.  Peningkatan pelayanan kualitas pendidikan SDM berbasis IMTAQ, budi pekerti, dan kemampuan  penguasaan IPTEK.  2.  Peningkatan  peran  dan  fungsi  serta  kualitas  lembaga­lembaga  penyelenggaraan  pendidikan  dasar, menengah dan pondok pesantren.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

218

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Pendidikan yang Berkualitas 

3. 

Pengembangan  pendidikan  dan  pelatihan  serta  pembinaan  untuk  membangun  kemandirian  peserta didik yang berwawasan kewiraswastaan. 

4.  5. 

Mendayagunakan lembaga­lembaga pelatihan (BLK) yang berorientasi IPTEK dan keterampilan.  Meningkatkan  penyediaan  sarana  prasarana  pendidikan  di  setiap  jenjang,  serta  pemerataan  tenaga pendidik di seluruh Kabupaten/Kota.

VII. Penutup  Peningkatan kuantitas  dan kualitas  pendidikan  akan  meningkatkan produktivitas, hal ini  juga akan  memacu  pertumbuhan  ekonomi  suatu  daerah.  Oleh  karena  itu,  upaya  perbaikan  dan  peningkatan  pendidikan  yang  konsisten  dan  berkesinambungan  tidak  dapat  ditawar­tawar  lagi.  Walaupun  banyak  kendala  yang  dihadapi  oleh pemerintah daerah dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas pendidikan di Provinsi Lampung, prestasi  yang sudah dicapai adalah  adanya peningkatan APK, APS dan penurunan angka buta aksara.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

219 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Kesehatan yang Berkualitas 

Bab 4.14 Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Kesehatan yang Berkualitas

I. Pengantar  Sesuai  dengan  UUD  1945,  pembangunan  kesehatan  merupakan  upaya  untuk  memenuhi  salah  satu  hak  dasar rakyat, yaitu hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan. Pembangunan kesehatan harus dipandang  sebagai  suatu  investasi  untuk  peningkatan  kualitas  sumber  daya  manusia  dan  mendukung  pembangunan  ekonomi, serta memiliki peran penting dalam upaya penanggulangan kemiskinan.  Secara umum status kesehatan dan gizi masyarakat telah menunjukkan perbaikan seperti dilihat dari angka  kematian bayi, kematian ibu  melahirkan  dan prevalensi gizi kurang. Angka kematian bayi menurun dari 46  (1997) menjadi 35 per 1.000 kelahiran hidup (2002­2003) dan angka kematian ibu melahirkan menurun dari  334 (1997) menjadi 307 per 100.000 kelahiran hidup (2002­2003). Umur harapan hidup meningkat dari 65,8  tahun  (1999)  menjadi  66,2  tahun  (2003).  Prevalensi  gizi  kurang  (underweight)  pada  anak  balita,  telah  menurun dari 34,4 persen (1999) menjadi 25,8 persen (2002). Namun demikian, status kesehatan ini masih  jauh tertinggal dibandingkan dengan  kemajuan yang  dicapai oleh negara­negara ASEAN maupun  berbagai  komitmen global antara lain seperti pencapaian sasaran Millennium Development Goals (MDGs).  Beberapa  permasalahan  dan  tantangan  yang  dihadapi  dalam  pembangunan  kesehatan  antara  lain  adalah  masih tingginya disparitas status kesehatan. Meskipun secara nasional kualitas kesehatan masyarakat telah  meningkat,  akan  tetapi  disparitas  status  kesehatan  antartingkat  sosial  ekonomi,  antarkawasan,  dan  antarperkotaan­perdesaan masih cukup tinggi.  Selain itu, status kesehatan penduduk miskin masih rendah. Angka kematian bayi pada kelompok termiskin  adalah 61 dibandingkan dengan 17 per 1.000 kelahiran hidup pada kelompok terkaya. Penyakit infeksi yang  merupakan  penyebab  kematian  utama  pada  bayi  dan  balita,  seperti  ISPA,  diare,  tetanus  neonatorum  dan
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung

220

Laporan Akhir 

Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Kesehatan yang Berkualitas  penyulit kelahiran, lebih sering terjadi pada  penduduk miskin. Penyakit lain yang  banyak diderita penduduk  miskin  adalah  penyakit  tuberkulosis  paru,  malaria  dan  HIV/AIDS.  Rendahnya  status  kesehatan  penduduk  miskin terutama disebabkan oleh terbatasnya akses terhadap pelayanan kesehatan karena kendala geografis  dan kendala biaya (cost barrier). Demikian juga pelayanan persalinan oleh tenaga kesehatan pada penduduk  miskin, hanya 39,1 persen dibanding 82,3 persen pada penduduk kaya. Penduduk miskin belum terjangkau  oleh  sistem  jaminan/asuransi  kesehatan.  Asuransi  kesehatan  sebagai  suatu  bentuk  sistem  jaminan  sosial  hanya menjangkau 18,74 persen (2001) penduduk, yang sebagian besar di antaranya adalah pegawai negeri  dan penduduk mampu. Walaupun Undang­Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) telah ditetapkan,  pengalaman  managed  care  di  berbagai  wilayah  menunjukkan  bahwa  keterjangkauan  penduduk  miskin  terhadap pelayanan kesehatan belum cukup terjamin.  Permasalahan penting lainnya yang dihadapi dalam pembangunan kesehatan adalah terjadinya beban ganda  penyakit. Pola penyakit yang diderita oleh masyarakat sebagian besar adalah penyakit infeksi menular seperti  tuberkulosis  paru,  infeksi  saluran  pernafasan  akut  (ISPA),  malaria,  diare,  dan    penyakit  kulit.  Namun  demikian, pada  waktu yang  bersamaan terjadi peningkatan penyakit tidak  menular  seperti penyakit jantung  dan  pembuluh  darah,  serta  diabetes  mellitus  dan  kanker.  Selain  itu  Indonesia  juga  menghadapi  emerging  diseases seperti demam berdarah dengue (DBD), HIV/AIDS, chikunguya, Severe Acute Respiratory Syndrom  (SARS). Dengan demikian telah terjadi  transisi epidemiologi sehingga Indonesia menghadapi beban  ganda  pada waktu yang bersamaan (double burden). II. Sasaran Pembangunan Tahun 2009  Sasaran pembangunan kesehatan pada akhir tahun 2009 pada memprerioritaskan pada peningkatan akses  masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang antara lain tercermin dari indicator dampak yang antara lain  tercermin pada beberapa indikator sebagai berikut:  1.  2.  3.  4.  Meningkatnya umur harapan hidup;  Menurunnya angka kematian bayi dari 35 menjadi 26 per 1000 kelahiran hidup;  Menurunnya angka kematian Ibu melahirkan dari 307 menjadi 226 per 100.000 kelahiran hidup; dan  Menurunya prevalensi Gizo kurang pada anak balita dari 25,8 persen menjadi 20 persen;

III. Arah Kebijakan Pembangunan Tahun 2009  Pembangunan  kesehatan  diarahkan  untuk  (1)  peningkatan  jumlah,  jaringan,  dan  kualitas  puskesmas;  (2)  peningkatan  kualitas  dan  kuantitas  tenaga  kesehatan;  dan  (3)  pengembangan  sistem  jaminan  kesehatan

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung

221 

Laporan Akhir 

Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Kesehatan yang Berkualitas  masyarakat (jamkesmas), terutama bagi penduduk miskin; (4) peningkatan sosialisasi kesehatan lingkungan  dan  pola  hidup  sehat;  (5)  peningkatan  pendidikan  kesehatan  pada  masyarakat  sejak  usia  dini;  dan  (6)  pemerataan dan peningkatan kualitas fasilitas kesehatan dasar. IV. Capaian Sasaran Sampai Tahun 2008 

(1.)  Peningkatan jumlah, jaringan, dan kualitas puskesmas;  Peningkatan  kualitas  puskesmas  meskipun  belum  optimal  telah  dilakukan  terutama  pada  aspek  fisik  dengan  program rehabilitasi infrastruktur Puskesmas  di berbagai lokasi di Propinsi Lampung. Sampai  pada  pertengahan  2008,  akses  terhadap  sarana  kesehatan  sudah  mencapai  3,5  dari  angka  ideal  5  puskesmas.  Peningkatan kualitas Puskesmas juga dilakukan dengan peningkatan fasilitas rawat inap  pada beberapa Puskesmas sehingga dapat meningkatkan kualitas Puskesmas sebagai sarana layanan  kesehatan  masyarakat.  Namun  peningkatan  kualitas  ini  belum  dapat  dilakukan  secara  menyeluruh  terutama  pada  level  puskesmas  pembantu  di  daerah  yang  relatif  terpencil.  Jumlah  Puskesmas  mencapai  jumlah  217  yang  40  diantaranya  sebagai  puskesmas  rawat  inap,  sedangkan  jumlah  puskesmas  pembantu  mencapai  kurang  lebih  tiga  kali  lipat  jumlah  puskesmas  yang  ada.  Dengan  demikian jumlah layanan kesehatan (yankes) yang berkualitas masih terbatas.  (2.)  Peningkatan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan;  Peningkatan  kualitas  sarana  puskesmas  belum  dapat  diimbangi  dengan  peningkatan  kualitas  tenaga  kesehatan terutama tenaga dokter. Kondisi ini belum termasuk keberadaan dokter tersebut yang tidak  selalu  di  tempat  mengingat  jangkauan  daerah  yang  tidak  mudah.  Tenaga  perawat  dan  bidan  desa  jumlahnya juga masih belum memadai terutama untuk mengantisipasi target penurunan angka kematian  bayi dan angka kematian ibu melahirkan. Jumlah dokter spesialis di Propinsi Lampung juga masih jauh  dari angka ideal mengingat hanya sekitar 40% rumah sakit di seluruh Wilayah Propinsi Lampung yang  mempunyai  empat  dokter  spesialis.  Hal  ini  terkendala  mengingat  pengangkatan  tenaga  kesehatan  terutama dokter spesialis bukan kewenangan Dinas Kesehatan.  (3.)  Pengembangan sistem jaminan kesehatan masyarakat (jamkesmas), terutama bagi penduduk miskin;  Jaminan  kesehatan  untuk  masyarakat  miskin  telah  mulai  dilaksanakan  dengan  membebaskan  biaya  pengobatan  bagi  masyarakat  miskin  (keluaga  miskin­Gakin)  di  rumah  sakit  umum  daerah  melalui  program  jaminan  pemeliharaan  kesehatan  bagi  masyarakat  miskin  (JPK­MM).  Namun  pada  pelaksanaanya  masih  terkendala  dengan  belum  semua  keluarga  dengan  kategori  miskin  mempunyai  kartu gakin yang berfungsi sebagai jaminan layanan kesehatan bagi penduduk miskin. Akses yang tidak  mudah  juga menjadi kendala pemantauan  dan implementasi jamkesmas  di daerah terpencil seperti di
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung

222 

Laporan Akhir 

Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Kesehatan yang Berkualitas  kabupaten Lampung Barat dan kabupaten Way Kanan. Hal ini juga terlihat dari jumlah puskesmas yang  masih minim pada dua daerah tersebut dibandingkan dengan luas daerah yang harus dilayani. Kendala  jarak  dan  kesulitan  transportasi  serta  distribusi  kartu  miskin  yang  masih  terkendala.  Program  apotek  rakyat dan obat serba seribu masih terkendala pelaksanaanya  di daerah miskin dan terpencil, namun  relatif lebih berjalan dengan baik di daerah perkotaan.  (4.)  Peningkatan sosialisasi kesehatan lingkungan dan pola hidup sehat;  Program  gerakan  hidup  sehat  telah  dilakukan  dengan  bentuk  penyuluhan  dan  pendampingan  masyarakat. Kegiatan ini juga banyak melibatkan peran aktif lebaga swadaya masyarakat dalam upaya  peningkatan kesehatan lingkungan dan hidup sehat. Program ini masih sangat diperlukan dan diperkuat  mengingat  jenis  penyakit  yang  masih  banyak  diderita  oleh  masyarakat  adalah  diare,  TBC,  DBD  dan  Malaria yang ketiganya sangat berhubungan dengan kesehatan lingkungan dan pola hidup sehat.  (5.)  Kendala dalam pencapaian sasaran  Kendala utama yang dihadapi dalam pencapaian sasaran adalah belum rapinya basis data kesehatan  sehingga relatif sulit dalam melakukan evaluasi capaian indikator yang telah disepakati. Anggaran yang  terbatas  (kurang lebih hanya  3% dari APBD) menjadikan  skala prioritas  harus  disusun  secara cermat  agar  pencapaian  sasaran  lebih  efektif  dengan  dana  yang  terbatas.  Penanganan  masalah  kesehatan  pada penduduk miskin sangat terkait dengan bidang lain sehingga intervensi yang dilakukan cenderung  tidak  dapat dilakukan hanya  oleh dinas  kesehatan namun harus  terpadu dengan  program sektor lain.  Kesulitan akses transportasi dan jarak menjadi kendala utama masih belum idealnya akses masyarakat  terhadap  yankes.  Sistem  pengangkatan  tenaga  kesehatan  yang  belum  optimal  juga  masih  menjadi  bahan pemikiran untuk dapat lebih diefektifkan terutama untuk daerah miskin dan terpencil.  (6.)  Upaya yang perlu dilakukan untuk mencapai sasaran  Upaya  yang  perlu  dilakukan  dalam  meningkatkan  capaian  sasaran  RPJMN  dan  indikator  Indonesia  Sehat  2010  adalah  dengan  membangun  sistem  basis  data  kesehatan  yang  efektif  untuk  keperluan  evaluasi  capaian  indikator  dan  perencanaan  program  ke  depan.  Peningkatan  anggaran  dalam  mendukung pelaksanaan program harus dilakukan dengan tanpa mengesampingkan sumber dana non  konvensional.  Penanganan  masalah  kesehatan  secara  terpadu  dengan  program  sektor  lain  menjadi  kata  kunci  yang  sangat  penting.  Peningkatan  akses  masyarakat  terhadap  yankes  harus  dilakukan  dengan  menambah  jumlah  yankes  terutama  di  wilayah  yang  rasio  yankesnya  masih  rendah.  Sistem  pengangkatan tenaga kesehatan harus lebih diefektifkan dengan berbasis pada kebutuhan masyarakat  terutama untuk daerah miskin dan terpencil.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung

223 

Laporan Akhir 

Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Sosial 

Bab IV.15 Peningkatan Perlindungan Kesejahteraan Sosial

I. Pengantar  Mewujudkan  kesejahteraan  sosial  merupakan  salah  satu  aspek  yang  paling  penting  dalam  pencapaian  sebuah negara, kesejahteraan sosial yang tinggi mengindikasikan bahwa negara tersebut berada pada level  kemakmuran  yang  tinggi,  hal  yang  paling  dihadapi  dalam  konteks  Lampung  adalah  bahwa  sebaran  kesejahteraan tidak merata, banyak area yang maju dan sejahtera akan tetapi pada bagian lain banyak area  atau kawasan di daerah ini yang masih masuk dalam kategori miskin. II. Kondisi Awal RPJMN 2004­2009  Perlindungan  dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat indonesia sebagaimana diamanatkan  oleh UUD  1945 sangat diperlukan. Meskipun beberapa kegiatan pembangunan kesejahteraan sosial menunjukkan hasil  yang  lebih  baik,  namun  beberapa  masalah  masih  harus  mendapat  perhatian  untuk  segera  ditangani.  Permasalahan  penting  yang  perlu  mendapatkan  perhatian  adalah  belum  tercukupinya  kebutuhan  dasar  manusia,  seperti  pangan,  sandang,  perumahan,  dan  interaksi  sosial,  terutama  pada  mereka  yang  memiliki  keterbatasan  kemampuan  dalam  mengakses  berbagai  sumber  pelayanan  sosial  dasar.  Berbagai  permasalahan  pembangunan  kesejahteraan  sosialyang  bersifat  konvensional  masih  terus  dihadapi,  yang  ditandai dengan  rendahnya  kualitas  manajemen dan profesionalisme pelayanan  kesejahteraan sosial, serta  belum  serasinya  kebijakan  penyelenggaraan  kesejaheraan  sosial,  serta  belum  serasinya  kebijakan  penyelenggaraan kesejahteraan sosial di tingkat nasional dan daerah.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

224

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Sosial  Permasalahan  sosial  yang  sulit  diperkirakan  secara  cepat dan  tepat  adalah  bencana  alam,  seperti  gempa  bumi,  banjir  dan  kekeringan,  maupun  secara  bencana  sosial,  seperti  kerusuhan  sosial,  yang  sering  kali  menimbulkan  banyak korban umumnya  sulit diprediksi waktu kejadian dan lokasinya. Permasalahan akibat  bencana juga sering dihadapi adalah laporan data mengenai bencana dari lokasi bencana umumnya datang  terlambat dan dan kurang akurat. Permasalahan pokok yang dihadapi adalah masih terbatasnya kemampuan  sumberdaya manusia dan teknologi dalam memprediksi kemungkinan terjadinya bencana alam.  Penanganan  korban  bencana  alam  ataupun  eks­korban  kerusuhan  sosial  yang  terjadi  di  beberapa  daerah  perlu  terus  diupayakan  agar  terjaga  kelangsungan  hidupnya.  Namun,  sikap  mental  sebagian  waga  masyarakat  yang  bermukim  di  sekitar  wilayah  rawan  bencana  alam  yang  tidak  mengiginkan  untuk  dipindahkan  menjadi  penghambat  kelancaran  penanganan  bencana.  Selain  itu,  penempatan  kembali  eks­  korban kerusuhan sosial di lokasi asal maupun baru seringkali menimbulkan masalah sosial, psikologis, dan  kecemburuan sosial antara pendatang degan penduduk setempat.  Jumlah  sumber  daya  manusia  yang  terdidik,  terlatih  dan  berkemampuan  di  bidang  kesejahteraan  sosial  dirasakan  masih  kurang,  sehingga  menghambat  pelaksanaan  program  kesejahteraan  sosial.  Selain  itu,  sarana dan prasarana bagi penyelenggaraan kegiatan pelayanan dan rehabilitasi masih jauh dari memadai,  indikator  kesejahteraan  sosial  yan  beragam  dan  belum  tertatanya  sistem  dan  standar  pelayanan  minimal  bidang kesejahteraan sosial terutama dalam penentuan sasaran masih menjadi hambatan. Selain itu, jaringan  kerja antara tenaga kerja sosial masyarakat dan koordinasi kerja antar instansi di tingkat nasional dan daerah  masih lemah.  Dari  segi  perundangan­undangan,  perlindungan  sosial  yang  telah  ada  bentuknya  masih  bervariasi  dan  masing­masing  institusi  mempunyailandasan  hukum  sendiri.  Skema  perlindungan  sosial  tersebut  terpisah  satu  sama  lain  dan  belum  ada  suatu  undang­ndang  yang  memayungi  secara  menyeluruh  pada  suatu  perlindungan  sosial secara nasional dan terintegrasi. Undang­Undang (UU) Nomor. 40 tahun  2004  tentang  Sistem  jaminan  Sosial  Nasional,  belum  mangatur  berbagai  hal  yang  terkait  dengan  bantuan  sosial.  Cangkupan yang berkaitan dengan jaminan sosial pun relatif masih rendah. Demikian pula dengan bantuan  sosial  yang  diperuntukkan  bagi  penduduk  miskin,  hanya  terbatas  cakupannya  pada  bidang  pendidikan,  kesehatan, dan pangan (melalui skema beras miskin).

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

225 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Sosial  III. Sasaran Yang Ingin Dicapai  Sasaran perlindungan dan kesejahteraan sosial pada tahun 2004­2009 adalah sebagai berikut:  1.  Meningkatnya  aksesibilitas  penyandang  masalah  kesejahteraan  sosial  terhadap  pelayanan  sosial  dasar;  2.  Meningkatnya  kualitas  hidup  penyandang  masalah  kesejahteraan  sosial  sesuai  harkat  dan  martabat  kemanusiaan;  3.  Meningkatnya kemampuan  dan kepedulian sosial masyarakat dalam pelayanan  kesejahteraan sosial  secara melembaga dan berkelanjutan;  4.  Meningkatnya  ketahanan  sosial  individu,  keluarga  dan  komunitas  masyarakat  dalam  mencegah  dan  menangani permasalahan kesejahteraan sosial;  5.  Tersusunnya sistem perlindungan sosial nasional;  6.  Meningkatnya keserasian kebijakan kesejahteraan sosial;  7.  Terjaminnya bantuan sosial dan meningkatnya penanganan korban bencana alam dan sosial; dan  8.  Meningkatnya kualitas manajemen pelayanan kesejahteraan sosial.  Dalam  RPJMD  Provinsi  Lampung,  sasaran  yang  hendak  dicapai  dalam  peningkatan  perlindungan  kesejahteraan sosial adalah:  1.  Meningkatnya pelayanan kesejahteraan sosial bagi penyandang masalah sosial;  2.  Menurunnya tingkat penyalahgunaan psikotropika. IV. Arah Kebijakan  Guna mencapai sasaran di atas, arah kebijakan perlindungan dan kesejahteraan sosial yang memperhatikan  keserasian kebijakan nasional dan daerah serta kesetaraan gender, adalah sebagai berikut:  1.  Melanjutkan  program  peningkatkan  kualitas  pelayanan  dan bantuan  dasar  kesejahteraan sosial  bagi  penyandang masalah kesejahteraan sosial;  2.  Melanjutkan  program  peningkatkan  pemberdayaan  fakir  miskin,  penyandang  cacat,  dan  kelompok  rentan sosial lainnya;

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

226

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Sosial  3.  Melanjutkan  program  peningkatkan  kualitas  hidup  bagi  PMKS  terhadap  pelayanan  sosial  dasar,  fasilitas pelayanan publik, dan jaminan kesejahteraan sosial;  4.  Mengembangkan  dan  menyerasikan  kebijakan  untuk  penanganan  masalah­masalah  strategis  yang  menyangkut masalah kesejahteraan sosial;  5.  Memperkuat ketahanan sosial masyarakat berlandaskan prinsip kemitraan dan nilai­nilai sosial budaya  bangsa;  6.  Mengembangkan sistem perlindungan sosial nasional;  7.  Melanjutkan  program  peningkatkan  kualitas  manajemen  pelayanan  kesejahteraan  sosial  dalam  mendayagunakan sumber­sumber kesejahteraan sosial;  8.  Meningkatkan pelayanan bagi korban bencana alam dan sosial; dan  9.  Melanjutkan  program  peningkatkan  prakarsa  dan  peran  aktif  masyarakat  termasuk  masyarakat  mampu,  dunia  usaha,  perguruan  tinggi,  dan  Orsos/LSM  dalam  penyelenggaraan  pembangunan  kesejahteraan sosial secara terpadu dan berkelanjutan.  Dalam  RPJMD  Provinsi  Lampung  arah  kebijakan  yang  akan  ditempuh  dalam  peningkatan  perlindungan  kesejahteraan sosial adalah:  1.  Menurunnya jumlah penyandang masalah sosial;  2.  Meningkatkan pengawasan dan kesadaran masyarakat tentang bahaya NAFZA. V. Pencapaian 2005­2007  Pada  titik  tertentu  masalah  kesejahteraan  sosial  di  Lampung  merupakan  bagian  yang  relatif  sulit  untuk  diwujudkan, akan tetapi pada bagian tertentu banyak program yang telah dilakukan oleh pemerintah daerah  dalam  rangka  mewujudkan  program  kesejahteraan  masyarakat,  melanjutkan  program­program  yang  telah  dilakukan secara berkesinambungan merupakan hal positif yang terus mesti dilanjutkan.  Dalam kurun waktu 2004 – 2009 Lampung merancang program prioritas yakni:  1.  Program peningkatan kualitas pelayanan kesejahteraan sosial bagi penyandang masalah sosial; dan  2.  Meningkatkan  pengawasan  dan  penyalahgunaan  Narkotika,  Psikotropika  dan  Zat  Aditif  lainnya  (NAFZA).

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

227 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Sosial  Sementara itu beberapa program dan kegiatan yang telah dilakukan adalah:  1.  2.  3.  4.  5.  6.  7.  Pemberdayaan  fakir  miskin,  Komunitas  Adat  Terpencil  (KAT)  dan  Penyandang  Masalah  Kesejahteraan sosial (PMKS) lainnya;  Pelayanan dan rehabilitasi kesejahteraan sosial;  Pembinaan anak terlantar  Pembinaan para penyandang cacat dan trauma;  Pembinaan panti asuhan dan panti jompo;  Pembinaan eks penyandanng penyakit sosial, eks nara pidana, PSK, Narkoba dan penyakit sosial  lainnya;  Pemberdayaan kelembagaan kesejahteraan sosial.

VI. Tindak Lanjut  Beberapa tindak lanjut dalam aspek kesejahteraan sosial Provinsi Lampung adalah sebagai berikut:  1.  Membenahi sistem jaminan sosial bagi warga miskin di Provinsi Lampung.  2.  Merangkul  stake  holders  untuk  memformulasikan  bentuk  kegiatan  yang  mempunyai  implikasi  langsung terhadap peningkatan kesejahteraan sosial masyarakat Provinsi Lampung.  3.  Memanfaatkan secara maksimal corporate social resposibility (CSR) perusahaan transnational yang  berada  di  Lampung  untuk  membantu  menciptakan  economic  tricle  down  effect  bagi  peningkatan  kesejahteraan masyarakat sekitarnya. VII. Penutup  Secara  umum  kondisi  kesejahteraan  sosial  Provinsi  Lampung  masih  perlu  mendapat  perhatian  yang  lebih  serius.    Rendahnya  kualitas  penanganan  penyandang  masalah  kesejahteraan  sosial  dan  masih  lemahnya  penanganan korban bencana alam dan sosial

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

228 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Kecil Berkualitas serta Pemuda dan Olahraga 

Bab IV.16 Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Kecil Berkualitas serta Pemuda dan Olahraga
I. Pengantar 

Pembangunan  kependudukan  dan  keluarga  kecil  berkualitas  merupakan  langkah  penting  dalam  mencapai  pembangunan  berkelanjutan.  Hal  ini  diselenggarakan  melalui  pengendalian  kuantitas  penduduk  dan  peningkatan kualitas insani dan sumber daya manusia. Karakteristik pembangunan antara lain dilaksanakan  melalui pengendalian pertumbuhan penduduk, keluarga berencana, dan dengan cara pengembangan kualitas  penduduk,  melalui  pewujudan  keluarga  kecil  yang  berkualitas  dan  mobilitas  penduduk.  Dalam  kaitan  itu,  aspek  penataan  administrasi  kependudukan  merupakan  hal  penting  dalam  mendukung  perencanaan  pembangunan,  baik  di  tingkat  nasional  maupun  daerah.  Adapun  pemuda  sebagai  bagian  dari  penduduk  merupakan aset pembangunan bangsa, terutama dalam bidang ekonomi. Guna mendukung langkah di atas,  menumbuhkan  budaya  olahraga  yang  lebih  luas  bagi  seluruh  lapisan  masyarakat  menjadi  aspek  penting  dalam peningkatan kualitas penduduk Indonesia. II. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah Lampung  Provinsi  Lampung  dengan  luas  wilayah  3.528.835  ha  pada  tahun  2004  memiliki  penduduk  sebanyak  6.915.950 orang yang terdiri dari 3.563.313 laki­laki dan 3.352.637 perempuan dengan kepadatan penduduk  196 jiwa per km2 (LDA 2004/2005).

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

229

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Kecil Berkualitas serta Pemuda dan Olahraga 

Pada  2005  jumlah  penduduk  Lampung  bertambah  menjadi  7.116.177  orang  dan  meningkat  menjadi  7.211.586  orang  pada  tahun  2006.  Peningkatan  jumlah  penduduk  yang  terus  bertambahan  membawa  konsekuensi ekonomi untuk pemenuhan kebutuhan dasar.  Sama  halnya  dengan  kondisi  secara  nasional,  maka  kondisi  yang  ada  di  Provinsi  lampung  menghadapi  masalah yang sama yakni:  1.  Belum serasinya kebijakan kependudukan dalam mendukung pembangunan berkelnjutan;  2.  Belum  tertatanya  administrasi  kependudukan  dalam  rangka  membangun  sistem  pemberdayaan,  pemertaan dan pembangunan berkelanjutan;  3.  Masih tingginya laju pertumbuhan dan jumlah penduduk;  4.  Masih tingginya tingkat kelahiran;  5.  masih  kurangnya  pengetahuan  dean  kesadaran  masyarakat  terutama  penduduk  usia  sedang  dan  remaja akan hak – hak reproduksinya;  6.  Rendahnya partisipasi dalam ber KB;  7.  Kurangnya akses dan kualitas pelayanan KB;  8.  Lemahnya fasilitasi daerah terutama Kabupaten/Kota dalam melaksanakan program KB;  9.  Rendahnya kualitas pemuda  10.  Rendahnya budaya olahraga III. Sasaran Yang Ingin Dicapai  Untuk  pembangunan  kependudukan dan keluarga kecil berkualitas  serta pemuda dan olahraga dalam lima  tahun mendatang, disusun tiga sasaran pokok sebagai berikut. Sasaran pertama adalah terkendalinya pertumbuhan penduduk dan meningkatnya keluarga kecil berkualitas  ditandai  dengan:  (a)  Menurunnya  rata­rata  laju  pertumbuhan  penduduk  menjadi  sekitar  1,14  persen  per  tahun; tingkat fertilitas total menjadi sekitar 2,2 per perempuan; persentase pasangan usia subur yang tidak  terlayani  (unmet  need)  menjadi  6  persen;  (b)  Meningkatnya  peserta  KB  laki­laki  menjadi  4,5  persen;  (c)  Meningkatnya penggunaan metode kontrasepsi yang efektif serta efisien; (d) Meningkatnya usia perkawinan
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

230 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Kecil Berkualitas serta Pemuda dan Olahraga 

pertama  perempuan  menjadi  21  tahun;  (e)  Meningkatnya  partisipasi  keluarga  dalam  pembinaan  tumbuh­  kembang anak; (f) Meningkatnya jumlah Keluarga Pra­Sejahtera dan Keluarga Sejahtera­I yang aktif dalam  usaha  ekonomi  produktif;  dan  (g)  Meningkatnya  jumlah  institusi  masyarakat  dalam  penyelenggaraan  pelayanan keluarga berencana dan kesehatan reproduksi. Sasaran kedua  adalah:  (a)  Meningkatnya  keserasian  kebijakan  kependudukan  dalam  rangka  peningkatan  kualitas,  pengendalian  pertumbuhan  dan  kuantitas,  pengarahan  mobilitas  dan  persebaran  penduduk  yang  serasi dengan daya dukung alam dan daya tampung lingkungan, baik di tingkat nasional maupun daerah; dan  (b)  Meningkatnya  cakupan  jumlah  kabupaten  dan  kota  dalam  pelaksanaan  Sistem  Informasi  Administrasi  Kependudukan. Sasaran ketiga  adalah:  (a)  Meningkatnya  keserasian  berbagai  kebijakan  pemuda  di  tingkat  nasional  dan  daerah;  (b)  Meningkatnya  kualitas  dan  partisipasi  pemuda  di  berbagai  bidang  pembangunan;  (c)  Meningkatnya  keserasian  berbagai  kebijakan  olahraga  di  tingkat  nasional  dan  daerah;  (d)  Meningkatnya  kesehatan dan kebugaran jasmani masyarakat serta prestasi olahraga; dan (e) Mengembangkan dukungan  sarana dan prasarana olahraga bagi masyarakat sesuai dengan olahraga unggulan daerah.  Dalam  RPJMD  Provinsi  lampung  sasaran  yang  hendak  dicapai  dibidang  kependudukan  dan  keluarga  kecil  berkualitas tidak ada secara spesifik tersurat, namun bidang kepemudaan dan olahraga sasaran yang hendak  dicapai adalah:  1.  Meningkatkan peran generasi muda dan pemuda dalam pembangunan;  2.  Meningkatkan prestasi olahraga daerah dan berkembangnya kegiatan olahraga dalam masyarakat. IV. Arah Kebijakan  Secara umum dan spesifik isu mengenai Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Kecil Berkualitas, tidak  ada secara khusus tersurat dalam dokumen Rencana Stratejik (Renstra) Provinsi Lampung 2004­2009 yang  ada  kegiatan  peningkatan  peranan  wanita  dalam  pemberdayaan.  Namun  dibidang  kepemudaan  dan  olahraga arah kebijakan yang akan ditempuh adalah:
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

231 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Kecil Berkualitas serta Pemuda dan Olahraga 

1.  Meningkatka peran generasi muda dalam pembangunan daerah;  2.  Meningkatkan peran kaum perempuan dalam pembangunan;  3.  Mendorong program menggalakkan masyarakat dan meningkatkan prestasi olahraga daerah. V. Pencapaian RPJMN di daerah Lampung (2005­2007)  Berdasarkan  hasil  estimasi  jumlah  penduduk  tahun  2005,  jumlah  penduduk  Lampung  tahun  2006  tercatat  sebesar  7.211.586  orang.  Dari  total  penduduk  sebanyak  7.211.586  orang,  51,48  persen  atau  sebanyak  3.712.436 orang laki­laki sedangkan selebihnya yaitu 3.499.150 orang perempuan. Berarti rasio jenis kelamin  atau sex ratio penduduk Lampung adalah sebesar 106,10.  Dengan  luas  wilayah  3.528.835  Ha  berarti  kepadatan  penduduknya  mencapai  204  jiwa  per  km2.  Jumlah  wilayah  administrasi  di  Provinsi  Lampung  pada  tahun  2006  tercatat  jumlah  kabupaten/kota  sebanyak  10,  terdiri  dari  2  kota  dan  8  kabupaten.  Sedangkan  jumlah  kecamatan  dan  desa/kelurahan  masing­masing  sebanyak 204 kecamatan dan 2.279 desa/kelurahan  Tabel 4.16­1  Jumlah Penduduk Propinsi Lampung Menurut Kabupaten/Kota Tahun 1997 – 2006 2004 Kabupaten Lampung Barat  Kabupaten Tanggamus  Kabupaten Lampung Selatan  Kabupaten Lampung Timur  Kabupaten Lampung Tengah  Kabupaten Lampung Utara  Kabupaten Way Kanan  Kabupaten Tulang Bawang  Kabupaten KotaBandarlampung  388.113  801.609  1.192.296  890.298  1.082.494  555.099  359.844  733.520  788.937  2005 378.005  821.119  1.281.104  919.274  1.129.352  554.617  359.945  750.672  793.746  2 0 0 6  380.208  824.922  1.312.527  929.159  1.146.158  559.172  361.810  763.360  803.922

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

232 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Kecil Berkualitas serta Pemuda dan Olahraga 

Kabupaten Kota metro  Provinsi Lampung 
Sumber : Badan Pusat Statistik Propinsi Lampung 

123.740  6.915.950 

128.343  7.116.177 

130.348 7.211.586 

Sama halnya dengan program nasional maka upaya yang telah dilakukan di Provinsi lampung hingga Tahun  2007 adalah:  1.  Program keserasian kebijakan kependudukan;  2.  Program penataan administrasi kependudukan;  3.  Program keluarga berencana;  4.  Program kesehatan reproduksi remaja;  5.  Program ketahanan dan pemberdayaan keluarga;  6.  Program penguatan kelembagaan keluarga kecil berkualitas;  7.  Pembinaan kepemudaan dan pemberdayaan perempuan;  8.  Pembinaan olahraga di daerah.  Jumlah  akseptor  KB  baru  pada  tahun  2005  sebanyak  194.222  orang  dengan  pemakaian kontrasepsi  yang  paling diminati adalah suntikan sebanyak 92.341 pemakai (48,34%).  Akseptor KB baru yang dicapai pada tahun 2006 (222.310 orang) ternyata kurang dari target (232.550 orang)  yang ditetapkan BKKBN yaitu sekitar 95,59 persen. Jenis kontrasepsi yang paling diminati oleh akseptor baru  masih  sama  dengan  yang  paling  diminati  pada  tahun  sebelumnya  yaitu  suntikan,  sebesar  107.454  orang  (48,33 persen) kemudian disusul jenis pil, sebanyak 87.074 orang (36,17 persen).  Sedangkan jumlah klinik KB di Provinsi Lampung pada tahun 2006 terdiri dari klinik KB pemerintah 814 unit,  swasta 64, pelayanan KB Rumah Sakit Pemerintah 11 unit dan swasta 20 unit.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

233 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Kecil Berkualitas serta Pemuda dan Olahraga 

Dalam bidang olahraga, cabang angkat besi merupakan cabang yang mampu memberikan sumbangsih yang  cukup dominan dalam perolehan  mendali untuk  kontingan  Lampung  dalam dua PON terkakhir. Padepokan  angkat besi “Gajah Lampung’ ini berlokasi di Pringsewu Kabupten Tanggamus. VI. Rekomendasi Tindak Lanjut  Berdasarkan  pemasalah  dan  tantangan  yang  dihadapi,  serta  kondisi  pencapaian  sasaran  RPJMN  sampai  tahun  2007.  Maka  upaya  yang  akan  dilakukan  dibidang  pembangunan  kependudukan  dalam  mencapai  sasaran RPJMN 2004­2009 adalah ;  1.  Himbauan  kepada  pemerintah  Kota/kabupaten  tentang  pentingnya  pemanfaatan  dokumen  kependudukan untuk pelayanan public  2.  Pemberian  stimulant  baik  sarana  dan  prasarana  kepada  pemerintah  kota/kabupaten  dalam  penerapan Sistem Informasi Adminstrasi Kependudukan (SIAK).  3.  Meningkatkan SDM aparat Pemerintahan Daerah, baik kualitas maupun kuantitas berupa pelatihan­  pelatihan tentang SIAK.  4.  Mempercepat  pembangunan  database  kependudukan  Kabupaten/kota  untuk  tersedianya  data  kependudukan yang berbasis registrasi/pelayanan.  5.  Membanguan system informasi (interphase) nomor induk kependudukan dengan istansi terkait, serta  menyusun Surat Keputusan Bersama dengan instansi terkait untuk pemanfaatan NIK sebagai nomor  identitas bersama.  Berdasarkan  pemasalah  dan  tantangan  yang  dihadapi,  serta  kondisi  pencapaian  sasaran  RPJMN  sampai  tahun  2007.  Maka  upaya  yang  perlu  dilakukan  dibidang  pembangunan  keluarga  kecil  berkualitas  dalam  mencapai sasaran RPJMN 2004­2009 adalah ;  1.  Peningkatan  advokasi  kepada  Pemerintah  Kabupaten/Kota  agar  memberikan  prioritas  (kelembagaan, tenaga lapangan, sarana/prasarana, dan anggaran) memadai untuk program KB;  2.  Peningkatan  konsolidasi  dan  perumusan  strategi  tepat  dan  cermat  agar  sasaran  akhir  KB  2009  dapat tercapai.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

234 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Kecil Berkualitas serta Pemuda dan Olahraga 

3.  Penurunan  kesenjangan  pencapaian  program  antar  daerah  sehingga  sasaran  nasional  dapat  tercapai;  4.  Pengkajain kemabali kebijakan dan startegi operasional dalam rangka pencapaian sasaran­sasaran  KS (keluarga Sejahtera);  5.  Penguatan  mekanisme  operasional  dan  pemberdayaan  seluruh  potensi  masyarakat  dalam  pelaksanaan program;  6.  Pencarian  pendekatan  dan  terobosan  baru  dalam  rangka  perluasan  sasaran  sesui  segmentasi  wilayah dan tingkat fertilisasi.  7.  Pencarian  terobosan  untuk  peningkatan  pemakaian  kontrasepsi  secara  efektif  dan  efisien,  serta  kesertaan pria dalam pemakaian kontrasepsi.  8.  Peningkatan  program  kesehatan  reproduksi  remaja  yang  diarahkan  untuk  menurunkan  fertilisasi  kelompok umur muda (kelompok 15­19);  9.  Peningkatan  keikutsertaan  peserta  KB  sebagai  anggota  kelompok  UPPKS  untuk  meningkatkan  ekonomi keluarga;  10.  Penguatan program pelembagaan keluarga kecil berkualitas untuk peningkatan SDM KB di lapangan  baik secara kuantitas mauoun kualitas, serta memperkuat jejaring institusi masyarakat.  Sedangkan upaya yang perlu dilakukan untuk mencapai sasaran RPJMN dalam pembangunan pemuda dan  olahraga adalah sebagai berikut ;  1.  Peningkatan  koordinasi  antarinstansi  baik  di  tingkat  pusat  maupun  daerah  dalam  rangka  mengembangkan  system  perencanaan,  pelaksanaan  dan  pengendalian  pembangunan  kependudukan.  2.  Pengembangan kelembagaan pemuda di tingkat pusat dan daerah;  3.  Penyusunan  kebijakan­kebijakan  pembangunan  kepemudaan,  meliputi  kewirausahaan,  kemitraan  pemuda dan masyarakat, serta kepemimpinan dan kepeloporan pemuda.  4.  Peningkatan  upaya  pencegahan  penyalahgunaan  narkoba  melalui  pengembangan  program  pemberantasan  penjualan  dan  pengedaran  narkoba  (PANTAS  JUARA);  pencegahan  masalah­

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

235 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Kecil Berkualitas serta Pemuda dan Olahraga 

masalah social generasi muda seperti penyakit menular HIV/AIDS, pornografi dan pornoaksi serta  bahaya lainnya.  5.  Peningkatan  upaya  penumbuhan  kewirausahaan  dan  kecakapan  hidup  pemuda  melalui  program  pengembangan  kelompok  usaha  pemuda  produktif  (KUPP),  pemuda  bahari,  kepramukaan  dan  program pengembangan Rumah Olah Mental Pemuda Indonesia (ROMPI).  6.  Peningkatan pengerahan tenaga terdidik dalam upaya percepatan dan penggerakan pembangunan  di pedesaan (SP3)  7.  Pengkajian kebijakan­kebijakan pembagunan olahraga  8.  Peningkatan kualitas olahraga pendidikan secara terkoordinasi dengan pendekatan lintas sektoral;  9.  Pengembangan olahraga rekreasi, antara lain olahraga bahari (sport and tourism);  10.  Pengembangan kualitas system pembinaan olahraga prestasi secara berjenjang dan berkelanjutan  melalui pendekatan lintas disiplin dan pemberdayaan induk­induk organisasi cabang olahraga;  11.  Peningkatan pemberian penghargaan bagi pelaku olahraga yang berdedikasi dan berprestasi;  12.  Peningkatan pemberian penghargaan bagi pelaku olahraga yang berdedikasi dan berprestasi;  13.  Peningkatan jumlah dan kuliatas serta kompetensi pelatihan, penelitian, praktisi dan teknisi olahraga;  14.  Pengemabnagan iptek olahraga sebagai pendorong peningkatan prestasi olahraga; serta  15.  Peningkatan peran dunia usaha dalam pengembangan sarana dan prasarana olagraga. VII. Penutup  Penduduk  merupakan  modal  utama  pembangunan,  namun,  jumlah  penduduk  yang  besar  dengan  pertumbuhan  cepat  disertai  dengan  kualitas  rendah  akan  memperlambat  tercapainya  tujuan  pembanguan.  Berbagai program dilakukan dalam pembangunan  sumber  daya  manusia, antara lain melalui pengendalain  pertumbuhan  penduduk,  pembangunan  keluarga  kecil  berkualitas,  serta  pembangunan  keluarga  kecil  berkualitas, serta pembangunan pemuda dan olahraga.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

236 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Kualitas Hidup Beragama 

Bab IV.17 Peningkatan Kualitas Kehidupan Beragama

I.

Pengantar 

Memeluk  agama  dan  beribadat  menurut  keyakinan  masing­masing  merupakan  hak  semua  warga  negara  yang  dijamin  oleh  Undang­Undang.  Di  Indonesia  hak  tersebut  diatur  dalam  Undang­Undang  Dasar  (UUD)  1945  Bab  XI  pasal  29  ayat  1  dan  2.  Dalam  pasal  tersebut  ditegaskan  bahwa  Negara  berdasarkan  atas  Ketuhanan  Yang  Maha  Esa  dan  Negara  menjamin  kemerdekaan  tiap­tiap  penduduk  untuk  memeluk  agamanya masing­masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaanya itu.  Pembangunan  agama  harus  dipandang  sebagai  suatu  investasi  penting  bagi  peningkatan  kesejahteraan  masyarakat. Dalam hal ini, kesejahteraan mencakup dimensi lahir, batin, material, dan spiritual. Lebih dari itu,  agama juga menghendaki agar pemeluknya menjalani kehidupan dengan aman dan damai. Sejalan dengan  realitas  kehidupan  beragama  yang  berkembang  di  masyarakat,  pengembangan  nilai­nilai  keagamaan  dan  peningkatan kerukunan umat beragama menjadi sasaran utama dalam pembangunan agama.  Untuk  itu,  pembangunan  agama  dapat  ditempuh  melalui  beberapa  cara.  Diantaranya  adalah,  pertama,  peningkatan  kualitas  pelayanan  serta  pemahaman  pada  agama  dan  kehidupan  beragama.  Kedua,  peningkatan  dimensi  kerukunan  hidup  beragama  yang  mendukung  sikap  saling  percaya  dan  harmonisasi  antar kelompok masyarakat.  Pembangunan  dimensi kerukunan  beragama penting dilakukan untuk  meningkatkan kesadaran masyarakat  mengenai  kemajemukan  sosial.  Dengan  demikian,  suasana  kehidupan  masyarakat  yang  penuh  toleransi,  tenggang  rasa,  dan  harmonis  akan  tercipta.  Pada  cakupan  yang  lebih  luas,  hal  tersebut  diharapkan  dapat  memberikan kontribusi nyata dalam mewujudkan Indonesia yang aman, damai dan sejahtera.
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

237

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Kualitas Hidup Beragama 

II. Kondisi Awal RPJMN 2004­2005 Kualitas Pendidikan Agama dan Keagamaan, serta Kehidupan Beragama yang Belum Memadai  Pada  2004­2005,  pembangunan  agama  di  Provinsi  Lampung  masih  dihadapkan  pada  persoalan  kualitas  kehidupan beragama yang belum memadai. Ajaran agama sebagai sistem nilai seharusnya dapat dipahami,  dihayati, dan diamalkan dalam kehidupan sehari­hari. Namun faktanya, masyarakat masih sering melakukan  perilaku  negatif  yang  menyimpang  dari  nilai  dan  norma  agama.  Misalnya,  perilaku  asusila,  praktik  korupsi,  kolusi,  dan  nepotisme  (KKN),  penyalahgunaan  narkoba,  pornografi,  pornoaksi,  dan  berbagai  perilaku  yang  melanggar nilai­nilai agama lainnya.  Pendidikan  agama dan keagamaan belum dapat dilaksanakan  secara optimal bagi pengembangan pribadi,  watak, dan akhlak mulia peserta didik. Hal ini dikarenakan pendidikan agama belum sepenuhnya diarahkan  pada latihan pengalaman secara nyata, pembentukan sikap, maupun perilaku untuk berakhlak mulia.  Permasalahan  pendidikan  agama  yang  terjadi  pada  lembaga  pendidikan  formal  ternyata  tidak  hanya  ditemukan  pada  sekolah  umum  saja,  namun  juga  pada  sekolah  keagamaan.  Banyak  faktor  yang  menyebabkan  timbulnya  permasalahan  tersebut.  Diantaranya  adalah  muatan  kurikulum  yang  kurang  komprehensif atau lebih menitikberatkan pada masalah­masalah ritual keagamaan. Selain itu, juga terdapat  keterbatasan sarana dan prasarana. Pelayanan Kehidupan Beragama Belum Memadai  Kondisi ini terlihat antara lain dari kurangnya sarana dan prasarana ibadah (terutama daerah terpencil), dan  belum optimalnya pemanfaatan tempat peribadatan. Padahal, pada kurun waktu tersebut, upaya peningkatan  mutu pelayanan kehidupan beragama melalui pembangunan sarana dan prasarana terus dilakukan. Misalnya,  pembangunan  sarana  dan  prasarana  di  daerah  yang  terkena  bencana  terisolir,  serta  pemberian  bantuan  rehabilitasi bagi sarana keagamaan yang mengalami kerusakan ringan.  Pembangunan  fasilitas  pendukung  seperti  kantor  urusan  agama  (KUA)  juga  dilakukan  terutama  di  daerah  pemekaran.  Hal  ini  dikarenakan  tidak  semua  wilayah  kecamatan  mempunyai  KUA.  Selain  itu,  kurangnya

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

238

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Kualitas Hidup Beragama 

jumlah,  kualitas,  dan  mobilitas  tenaga  aparat  juga  mengakibatkan  semakin  terbatasnya  pelayanan  fasilitas  keagamaan. Padahal, KUA yang berbasis di tingkat kecamatan merupakan lini terdepan dalam memberikan  pelayanan keagamaan bagi masyarakat.  Berdasarkan fenomena di atas, pengurangan kesenjangan fasilitas keagamaan antara perkotaan dan daerah  terpencil menjadi tantangan yang harus dihadapi. Sarana dan prasarana ibadah terutama di daerah terpencil  harus  ditingkatkan.  Sedangkan  fungsi  tempat  ibadah  yang  ada  di  perkotaan  harus  lebih  dioptimalkan.  Optimalisasi  tersebut  terutama  terkait  dengan  fungsi  tempat  ibadah  sebagai  pusat  pendalaman  dan  pemahaman  ajaran  agama,  serta  pengembangan  kegiatan­kegiatan  keagamaan  baik  yang  bersifat  ritual  keagamaan maupun sosial kemasyarakatan. Pengelolaan Dana Sosial Keagamaan yang Belum Optimal  Pada 2004­2005, pengelolaan dana sosial keagamaan mulai dari pengumpulan sampai pendistribusian masih  belum  optimal.  Dana  sosial  keagamaan  memiliki  peran  yang  sangat  strategis.  Di  satu  sisi,  dana  sosial  keagamaan  merupakan  bentuk  pengalaman  ajaran  agama.  Di  sisi  lain,  dana  sosial  keagamaan  dapat  membantu dalam mengentaskan masyarakat dari kemiskinan.  Tidak  optimalnya  pengelolaan  dana  sosial  keagamaan  disebabkan  oleh  beberapa  tantangan  dan  permasalahan.  Diantaranya  adalah,  pertama,  kurangnya  transparansi  pengelola  dana  sosial  keagamaan.  Akibatnya masyarakat menjadi ragu, bahkan ada sebagian dari masyarakat tidak percaya kepada pengelola  dana  sosial  keagamaan  tersebut.  Kedua,  kurangnya  profesionalisme  tenaga  pengelola.  Ketiga,  kurangnya  kesadaran  dan  kepedulian  dari  masyarakat  yang  mampu  secara  ekonomi  untuk  memperhatikan  kelompok  masyarakat miskin. Pelayanan Ibadah Haji yang Masih Kurang Memuaskan 

Pada  2004­2005,  penyelenggaraan  ibadah  haji  masih  kurang  memuaskan.  Hal  ini  terjadi  karena  masih  tingginya  biaya  penyelenggaraan ibadah haji (BPIH), pelayanan di tanah air, sampai dengan permasalahan  pelayanan  di tanah suci. Kekecewaan itu terus  terjadi meskipun sebenarnya kualitas  pelayanan ibadah  haji  sudah diupayakan agar lebih baik setiap tahunnya.
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

239 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Kualitas Hidup Beragama 

Upaya  perbaikan  kualitas  pelayanan  ibadah  haji  yang  telah  dilakukan  meliputi  beberapa  hal.  Pertama,  penggunaan  sistem  daftar  tunggu  guna  menjamin  kepastian  keberangkatan  jamaah  calon  haji.  Kedua,  penggunaan  jalur  penerbangan  langsung  Jakarta­Madinah  yang  sebelumnya  ditempuh  melalui  Jeddah.  Dengan  jarak  tempuh  yang  lebih  pendek  tersebut  diharapkan  akan  mengurangi  beban  fisik  dan  psikologis  para jamaah haji. Ketiga, penyediaan makanan gratis selama sembilan hari ketika bermukim di Madinah.  Peningkatan kualitas pelayanan ibadah haji ditekankan pada beberapa hal, diantaranya adalah:  1.  Kepastian keberangkatan bagi jamaah calon haji;  2.  Penyediaan fasilitas pelayanan pendukung di Arab saudi;  3.  Peningkatan pemahaman tentang pelaksanaan ibadah haji yang sesuai dengan syariat;  4.  Peningkatan kompetensi petugas haji serta pemahaman dan penghayatan manasik haji yang lebih  komprehensif; dan  5.  Pengurangan biaya tidak langsung yang dibebankan kepada jamaah haji. Peran Lembaga Sosial Keagamaan dan Lembaga Pendidikan Keagamaan yang Belum Optimal  Pada 2004­2005, peran lembaga sosial keagamaan dan lembaga pendidikan masih belum optimal. Padahal,  kontribusi  nyata  dalam  peningkatan  kesejahteraan  masyarakat  telah  dilakukan  sejak  periode  sebelum  kemerdekaan.  Peningkatan  peran  lembaga  tersebut  dilakukan  antara  lain  melalui  pelatihan  manajemen  kepada pengelola lembaga, bantuan sarana dan prasarana, serta block grant untuk kegiatan operasional.  Peran  sosial  kemasyarakatan  lembaga  sosial  keagamaan  tersebut  telah  cukup  efektif,  terutama  bagi  masyarakat  miskin  dan  di  daerah  perdesaan.  Namun,  sebagian  besar  dari  lembaga  tersebut  belum  dapat  menjawab seluruh tantangan dan dinamika yang berkembang di masyarakat. Oleh karena itu, permasalahan  yang  dihadapi  adalah  bagaimana  meningkatkan  kapasitas  serta  kualitas  lembaga  sosial  keagamaan  dan  lembaga  pendidikan  keagamaan.  Sehingga  mereka  mampu  berperan  sebagai  agen  perubahan  sosial,  khususnya bagi masyarakat disekitarnya.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

240 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Kualitas Hidup Beragama 

Ketimpangan Sosial­Ekonomi yang Melahirkan Konflik Intern dan Antar umat Beragama  Konflik ini pada mulanya disebabkan oleh ketimpangan sosial dan ekonomi, namun pada kenyataanya sering  memanfaatkan  sentimen  agama.  Hal  ini  sangat  mengganggu  upaya  untuk  mewujudkan  persatuan  dan  kesatuan bangsa. Oleh karena itu, beberapa upaya  untuk menciptakan  kembali kerukunan  umat beragama  telah dilakukan melalui forum musyawarah/dialog, kerjasama antar pemeluk agama, pembentukan sekretariat  bersama  baik  di  pusat  maupun  di  daerah,  pendidikan  berwawasan  multikultural,  dan  rehabilitasi  mental  korban paska kerusuhan.  Namun, upaya ini kurang optimal dalam menyelesaikan konflik ini. Hal tersebut dikarenakan masih seringnya  terjadinya ketegangan sosial yang diakibatkan faktor ekonomi atau budaya, yang berpotensi memicu konflik  intern  dan  antar  umat  beragama.  Kondisi  inilah  yang  menjadi  kendala  dalam  mewujudkan  kehidupan  harmonis di masyarakat. III. Sasaran  Dari kondisi awal tersebut, maka sasaran pembangunan agama pada akhir tahun 2009, adalah: 1. Peningkatan Kualitas Pelayanan dan Pemahaman Agama serta Kehidupan Beragama  a.  Meningkatnya kualitas pemahaman, penghayatan, dan pengalaman ajaran agama dalam kehidupan  bermasyarakat,  berbangsa  dan  bernegara,  sehingga  kualitas  masyarakat  dari  sisi  rohani  semakin  baik. Upaya ini juga ditujukan pada anak peserta didik di semua jalur, jenis dan jenjang pendidikan,  sehingga pemahaman dan pengamalan ajaran agama dapat ditanamkan sejak dini pada anak­anak;  b.  Meningkatnya kepedulian dan kesadaran masyarakat dalam memenuhi kewajiban membayar zakat,  wakaf,  infak,  shodaqoh,  kolekte,  dana  punia,  dan  dana  paramita  dalam  rangka  mengurangi  kesenjangan sosial di masyarakat;  c.  Meningkatnya  kualitas  pelayanan  kehidupan  beragama  bagi  seluruh  lapisan  masyarakat  sehingga  mereka dapat memperoleh hak­hak dasar dalam memeluk agamanya masing­masing dan beribadat  sesuai agama dan kepercayaannya;  d.  Meningkatnya kualitas manajemen ibadah haji dengan sasaran penghematan, pencegahan korupsi,  dan peningkatan kualitas pelayanan terhadap jemaah haji; serta

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

241

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Kualitas Hidup Beragama 

e.  Meningkatnya peran lembaga sosial keagamaan dan lembaga pendidikan keagamaan sebagai agen  pembangunan  dalam  rangka  meningkatkan  daya  tahan  masyarakat  dalam  menghadapi  berbagai  krisis.  2. Peningkatan Kerukunan Intern dan Antar umat Beragama  Terciptanya  harmoni  sosial  dalam  kehidupan  Intern  dan  antar  umat  beragama  yang  toleran  dan  saling  menghormati  dalam  rangka  menciptakan  suasana  yang  aman  dan  damai,  sehingga  konflik  yang  terjadi  di  beberapa daerah dapat diselesaikan dan tidak terulang di daerah lain. IV. Arah Kebijakan  Sesuai dengan agenda pembangunan nasional, arah kebijakan pembangunan agama diprioritaskan pada dua  hal.  Pertama,  peningkatan  kualitas  pelayanan  dan  pemahaman  agama  serta  kehidupan  beragama.  Kedua,  peningkatan kerukunan intern dan antarumat beragama. 1. Peningkatan kualitas pelayanan dan pemahaman agama serta kehidupan beragama  a.  Peningkan kualitas pemahaman, penghayatan, dan pengamalan ajaran agama;  b.  Peningkatan  kualitas  pendidikan  agama  dan  pendidikan  keagamaan  pada  semua  jalur,  jenis,  dan  jenjang pendidikan;  c.  Peningkatan kualitas tenaga kependidikan agama dan keagamaan;  d.  Peningkatan kesadaran masyarakat dalam membayar zakat, wakaf, infak, shodaqoh, kolekte, dana  punia, dan dana paramita; dan peningkatan profesionalisme tenaga pengelola;  e.  Peningkatan  kualitas  tenaga  penyuluh  agama  dan  pelayanan  keagamaan  lainnya,  terutama  yang  bertugas di daerah rawan konflik dan daerah terpencil;  f.  Peningkatan  kualitas  penataan  dan  pengelolaan  serta  pengembangan  fasilitas  pada  pelaksanaan  ibadah,  dengan  memperhatikan  kepentingan  seluruh  lapisan  umat  beragama  dengan  akses  yang  sama bagi setiap pemeluk agama;  g.  Pembinaan keluarga harmonis (sakinah/bahagia/sukinah/hita sukaya) untuk menempatkan keluarga  sebagai pilar utama pembentukan moral dan etika;

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

242 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Kualitas Hidup Beragama 

h.  Peningkatan  kualitas  dan  kapasitas  lembaga  sosial  keagamaan  dan  lembaga  pendidikan  keagamaan; serta 2. Peningkatan kerukunan intern dan antarumat beragama  a.  Peningkatan  upaya  menjaga  keserasian  sosial  di  dalam  kelompok­kelompok  keagamaan  dengan  memanfaatkan kearifan lokal dalam rangka memperkuat hubungan sosial masyarakat;  b.  Pencegahan kemungkinan berkembangnya potensi konflik di dalam masyarakat yang mengandung  sentimen  keagamaan  dengan  mencermati  secara  responsif  dan  mengantisipasi  secara  dini  terjadinya konflik;  c.  Penyelesaian  konflik  sosial  yang  berlatar  belakang  agama  melalui  mekanisme  resolusi  konflik,  dengan mengutamakan keadilan dan persamaan hak untuk mendapatkan perdamaian hakiki;  d.  Pemulihan  kondisi  sosial  dan  psikologis  masyarakat  pasca  konflik  melalui  penyuluhan  dan  bimbingan keagamaan; serta  e.  Peningkatan kerjasama intern dan antar umat beragama di bidang sosial ekonomi. V. Pencapaian 2005­2008 5.1. Upaya yang Dilakukan hingga 2008  Untuk  mencapai  sasaran  RPJMN,  maka  berbagai  upaya  telah  dilakukan  dalam  suatu  kerangka  kebijakan.  Rangkaian upaya tersebut adalah sebagai berikut: 5.1.1. Program Peningkatan Pemahaman, Penghayatan, Pengamalan, dan Pengembangan Nilai­nilai Keagamaan 

Peningkatan  pemahaman,  penghayatan,  pengamalan,  dan  pengembangan  nilai­nilai  keagamaan  kepada  masyarakat  ditempuh  melalui  beberapa  kegiatan  pokok.  Kegiatan  pokok  tersebut  meliputi  penerangan  dan  penyuluhan  agama,  penyempurnaan  metodologi,  serta  peningkatan  wawasan  juru  dakwah.  Kegiatan  penerangan  agama  itu  sendiri  diselenggarakan  oleh  umat  berbagai  agama  dalam  bentuk  penyuluhan.  Sasaran penyuluhan itu adalah penganut agama masing­masing baik di kota maupun desa, termasuk daerah  terpencil.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

243 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Kualitas Hidup Beragama 

Pada  akhir  2007,  program  peningkatan  pemahaman,  penghayatan,  pengamalan,  dan  pengembangan  nilai  keagamaan direalisasikan dalam beberapa kegiatan, di antaranya adalah:  1.  Pemberian  bantuan sarana peribadatan;  2.  Pemberian bantuan organisasi sosial/yayasan/LSM;  3.  Bimbingan dan dakwah agama;  4.  Pelaksanaan acara dengar pendapat dengan tokoh agama dan lembaga masyarakat;  5.  Pendataan tanah wakaf;  6.  Pelaksanaan monitoring dan evaluasi;  7.  Pelaksanaan nikah, talak, cerai, dan rujuk.  8.  Pembinaan dan bimbingan ibadah sosial;  9.  Pembinaan dan bimbingan lembaga zakat dan wakaf serta ZIS;  10.  Pembinaan penyuluh agama;  11.  Pendidikan dan pelatihan teknis dan fungsional;  12.  Penyelenggaraan lomba, sayembara dan festival. 5.1.2. Program Peningkatan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan  Pada  akhir  2007,  telah  dilaksanakan  beberapa  kegiatan  dalam  rangka  menanamkan  nilai­nilai  keagamaan  kepada peserta didik melalui sekolah. Diantaranya adalah:  1.  Pemberian bantuan beasiswa;  2.  Pemberian bantuan untuk organisasi sosial/yayasan/lembaga swadaya masyarakat;  3.  Pemantauan dan evaluasi;  4.  Pelaksanaan program monitoring dan evaluasi;  5.  Pemberian bimbingan pemberdayaan fungsi dan manajemen tempat ibadah;  6.  Pelaksanaan acara dengar pendapat dengan organisasi/lembaga/tokoh masyarakat;  7.  Pelaksanaan kerjasama antar instansi pemerintah /swasta/lembaga;  8.  Pembinaan pendidikan agama pada sekolah umum;  9.  Pembinaan dan pengembangan tenaga kependidikan dan ketenangan PT;

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

244 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Kualitas Hidup Beragama 

10.  Pembinaan generasi muda;  11.  Pengadaan buku­buku perpustakaan;  12.  Penyelenggaraan lomba, sayembara dan festival;  13.  Pengadaan alat pendidikan;  14.  Peningkatan mutu pendidikan agama. 5.1.3. Program Peningkatan Pelayanan Kehidupan Beragama 1. Sarana dan Prasarana Peribadatan  Dalam upaya meningkatkan pelayanan kehidupan beragama yang merata dan bermutu, ketersediaan sarana  dan  prasarana  yang  memadai  sangat  diperlukan.  Untuk  itu,  pemerintah  bersama  masyarakat  terus  meningkatkan  kemudahan  umat  beragama  dalam  menjalankan  ibadahnya.  Di  samping  itu,  pembangunan  fasilitas  sarana  dan  prasarana  peribadatan  juga  dilakukan.  Hal  ini  ditempuh  melalui  pembetian  bantuan  pembangunan  dan  rehabilitasi  tempat  peribadatan.  Tujuannya  adalah  untuk  mendorong  peran  masyarakat  dalam memenuhi kebutuhan akan tempat peribadatan secara sawadaya.  Pada akhir  2007, pemerintah terus  meningkatkan jumlah tempat ibadah  dan prasarana keagamaan. Hal ini  ditempuh dengan pembangunan berbagai tempat peribadatan. 2. Pembangunan Balai Nikah dan Penasehatan Perkawinan (BNPP)  Pada  akhir  tahun  2007,  pemerintah  banyak  membangun  BNPP.  Tujuannya  adalah  untuk  membina  kesejahteraan keluarga terutama dalam hal perkawinan. Hal ini dilakukan karena pencatatan nikah dan rujuk  merupakan salah satu tugas pokok dari KUA yang berlokasi di kecamatan.  BNPP memiliki beberapa tugas. Diantaranya adalah pelayanan dalam hal perkawinan, penyuluhan Undang­  Undang  tentang  perkawinan,  dan  peningkatan  motivasi  masyarakat untuk  melaksanakan  keluarga sakinah.  Selain  itu,  BNPP  juga  bertugas  untuk  memberikan  layanan  keagamaan  kepada  masyarakat  secara  lebih  profesional. Hal ini ditempuh melalui peningkatan mutu pegawai pencatat nikah (PPN) dan pembangtu PPN,  dan peningkatan layanan keagamaan bagi keluarga.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

245 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Kualitas Hidup Beragama 

3. Pengelolaan Dana Sosial Keagamaan  Bimbingan,  pelayanan,  dan  pembinaan  pranata  keagamaan  seperti  zakat,  infaq,  sedekah,  dan  wakaf.  Tujuannya  adalah  untuk  mendorong  kegiatan  sosial  yang  produktif  dalam  rangka  meningkatkan  kesejahteraan masyarakat dan mengentaskan kemiskinan.  Oleh karena itu, pelayanan terhadap zakat, infaq, sedekah, dan wakaf semakin ditingkatkan. Zakat, infaq, dan  sedekah dihimpun melalui Badan Amil Zakat dan Sedekah (BAZIS)  yang  tersebar di semua provinsi. Dana  yang terhimpun digunakan sebesar­besarnya untuk kesejahteraan umat. Sedangkan layanan terhadap wakaf  direalisasikan  dalam  bentuk  pemberian  sertifikat  tanah  wakaf.  Dengan  sertifikat  tersebut  diharapkan  tanah  wakaf  memiliki  kekuatan  hukum.  Sehingga  tanah  wakaf  menjadi  lebih  bermanfaat  untuk  pengembangan,  kesejahteraan kehidupan masyarakat.  Pada  akhir  2007,  layanan  zakat,  infaq,  sedekah  semakin  meningkat.  Hal  ini  terjadi  karena  pembinaan  lembaga  zakat  infaq,  sodaqoh  (ZIS)  dilakukan  secara  intensif.  Selain  itu,  pemerintah  juga  melakukan  pendidikan  dan  pelatihan  masyarakat,  pendidikan  dan  pelatihan  teknis,  dan  penyelenggaraan  kegiatan  ceramah, diskusi, seminar, atau pun serasehan.  Layanan  keagamaan  di  bidang  wakaf  juga  semakin  intensif.  Hal  ini  tercermin  dari  peningkatan  jumlah  sertifikat tanah  wakaf, pembuatan buku  juknis/juklak,  tim pendataan tanah  wakaf, bantuan untuk  organisasi  sosial (orsos)/yayasan/lembaga sosial kemasyarakatan (LSM)  dan pemberian subsidi. 4. Peningkatan Layanan Ibadah Haji  Pemerintah  semakin  meningkatkan  layanan  ibadah  haji.  Hal  ini  ditempuh  dengan  perbaikan  sistem  komputerisasi  haji  terpadu  (siskohat).  Diantaranya  adalah  terkait  masalah  pendaftaran  haji,  penulisan  dokumen paspor, dan penentuan quota haji per provinsi. Selain itu, perbaikan layanan juga ditempuh dengan  diadakannya  test  psikologi  dalam  rekrutmen  petugas  haji.  Pada  akhir  2007,  layanan  haji  semakin  ditingkatkan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa indikator. Diantaranya adalah:  1.  Pelaksanaan bimbingan hajidan umrah, serta pembinaan petugas haji;  2.  Pelaksanaan kerjasama antar instansi pemerintah, swasta, atau pun lembaga terkait;
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

246

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Kualitas Hidup Beragama 

3.  Pemeliharaan jaringan sistem dan informasi;  4.  Pembuatan buku juklak/juknis;  5.  Pengadaan sarana dan prasarana gedung;  6.  Perbaikan peralatan kantor dan sarana gedung;  7.  Pengurusan visa/paspor. 5.1.3 Program Pengembangan Lembaga­lembaga Sosial Keagamaan dan Lembaga Pendidikan Keagamaan 

Pada  akhir  2007,  telah  dilaksanakan  beberapa  kegiatan  terkait  program  pengembangan  lembaga­lembaga  sosial keagamaan dan lembaga pendidikan keagamaan. Diantaranya adalah:  1.  Pemberian bantuan beasiswa;  2.  Pemberian bantuan pembangunan/rehabilitasi tempat ibadah;  3.  Pemberian bantuan untuk orsos/yayasan/LSM;  4.  Pemberian bantuan usaha ekonomi produktif;  5.  Pelaksanaan bimbingan dan dakwah agama;  6.  Pelaksanaan kerjasama antar instansi pemerintah/swasta/lembaga terkait;  7.  Pembinaan dan bimbingan ibadah sosial;  8.  Pembinaan dan pendataan sekolah swasta;  9.  Pembinaan dan pelayanan pondok pesantren;  10.  Pembinaan generasi muda;  11.  Pembinaan mental dan agama;  12.  Pendidikan dan pelatihan fungsional, masyarakat dan teknis;  13.  Pembinaan olahraga dan kesenian;  14.  Pembuatan buku juknis/juklak;  15.  Pendidikan Al­Qur’an dan penyelanggaraan MTQ;  16.  Pengadaan alat pendidikan;  17.  Peningkatan kualitas tenaga pengelola lembaga sosial keagamaan dan lembaga pendidikan;  18.  Peningkatan luar sekolah pada pondok pesantren;

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

247 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Kualitas Hidup Beragama 

19.  Penyelenggaraan ceramah/diskusi/seminar/sarasehan;  20.  Pengadaan buku­buku perpustakaan;  21.  Penyelenggaraan pendidikan salafiyah dan pengembangan santri; 5.1.4 Program Penelitian dan Pengembangan Agama 

Pada  akhir  2007,  telah  dilaksanakan  beberapa  kegiatan  terkait  program  penelitian  dan  pengembangan  agama. Diantarnya adalah:  1.  Pelaksanaan monitoring dan evaluasi;  2.  Pembinaan dan pengembangan administrasi keuangan;  3.  Pembuatan buku juknis/juklak;  4.  Pembudayaan dan pemasyarakatan;  5.  Penelitian pengembangan bidang sosial dan ekonomi;  6.  Penyelenggaraan ceramah/diskusi/seminar/sarasehan;  7.  Penyusunan indikator sasaran dan indikator keberhasilan; serta  8.  Peningkatan pengkajian kerukunan umat beragama. 5.1.5 Program Peningkatan Kerukunan Umat Beragama 

Terdapat beberapa kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka pembinaan kerukunan hidup umat beragama.  Kegiatan  tersebut  antara  lain  musyawarah  internal  pemuka  agama,  musyawarah  antara  pemuka  berbagai  agama dengan pemerintah, dan musyawarah cendekiawan antar agama.  Pada akhir 2007, terdapat beberapa kegiatan telah dilaksanakan terkait program ini. Diantaranya adalah:  1.  Pemberian bantuan penanggulangan bencana alam dan kerusuhan;  2.  Pemberian bantuan sarana peribadatan;  3.  Pemberian bantuan untuk organisasi sosial (orsos)/yayasan/LSM;  4.  Pemberian bantuan pelayanan masyarakat;  5.  Pemberian bimbingan dan kemitraan umat;

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

248 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Kualitas Hidup Beragama 

6.  Penyelenggaraan acara dengar pendapat dengan organisasi/lembaga/tokoh msyarakat;  7.  Pembinaan mental dan agama;  8.  Penyelenggaraan program pendidikan dan pelatihan masyarakat;  9.  Pengadaan buku perpustakaan;  10.  Pengadaan alat pengolah data;  11.  Peningkatan pengkajian kerukunan umat beragama; serta  12.  Penyelenggaraan ceramah/diskusi/seminar/sarasehan. 5.2 Posisi Capaian hingga 2007 

Seperti  telah  dikemukakan  sebelumnya,  sasaran  dalam  RPJMN  2004­2009  ini  meliputi  beberapa  indikator  capaian. Capaian masing­masing sasaran diuraikan sebagai berikut: 5.2.3 Kualitas Pemahanan, Penghayatan, dan Pengamalan Ajaran Agama 

Pada  akhir  2007,  kualitas  pemahaman,  penghayatan,  dan  pengamalan  ajaran  agama  masih  hampir  sama  seperti  tahun  2004­2005.  Pembangunan  agama  di  Indonesia  masih  dihadapkan  pada  persoalan  kualitas  kehidupan beragama yang belum memadai. Ajaran agama masih belum diamalkan dalam kehidupan sehari­  hari secara optimal. Hal ini terlihat dari masih tingginya perilaku negatif yang menyimpang dari nilai­nilai dan  norma agama. Misalnya, perilaku asusila, praktik KKN, penyalahgunaan narkoba, pornografi, pornoaksi, dan  berbagai perilaku yang melanggar nilai­nilai agama lainnya.  Di samping itu, perbaikan dari sisi pendidikan agama dan keagamaan juga masih belum dapat sepenuhnya  mengembangkan  pribadi,  watak,  dan  akhlak  mulia  peserta  didik.  Padahal  selama  tahun  2005­2007  pemerintah  telah  aktif  memberikan  bantuan  untuk  meningkatkan  pemahaman  ajaran  agama.  Misalnya:  pemberian  bantuan  operasional  juru  penerang  agama,  pemberian  bantuan  kepada  organisasi  sosial/yayasan/LSM,  pengadaan  bimbingan  dan  dakwah  agama,  pembinaan  dan  bimbingan  ibadah  sosial,  pembinaan kepada penyuluh agama, maupun pengembangan kelembagaan.  Pencapaian  program  pemahaman,  penghayatan,  dan  pengamalan  ajaran  agama  yang  belum  optimal  disebabkan banyak hal. Salah satunya adalah karena pendidikan agama masih belum sepenuhnya diarahkan

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

249 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Kualitas Hidup Beragama 

pada latihan pengamalan secara nyata, pembentukan sikap, maupun perilaku untuk berakhlak mulia. Selain  dilakukan oleh lembaga pendidikan formal, pendidikan agama juga dilakukan oleh keluarga, lembaga sosial  keagamaan,  lembaga  pendidikan  tradisional  keagamaan,  dan  tempat­tempat  ibadah.  Sehingga,  apapun  bentuk bantuan yang diberikan hanya sedikit berpengaruh terhadap kondisi pemahaman, penghayatan, dan  pengamalan ajaran agama di masyarakat.  Permasalahan  pendidikan  agama  yang  terjadi  pada  lembaga  pendidikan  formal  ternyata  tidak  hanya  ditemukan  pada  sekolah  umum  saja,  namun  juga  pada  sekolah  keagamaan.  Banyak  faktor  yang  menyebabkan  timbulnya  permasalahan  tersebut.  Diantaranya  adalah  muatan  kurikulum  yang  kurang  komprehensif  atau  lebih  menitikberatkan  pada  masalah­masalah  nilai  keagamaan,  terbatasnya  sarana  dan  prasarana, lemahnya penguasaan materi dan metodologi pengajaran, belum memadainya jumlah dan mutu  tenaga pendidikan, serta belum optimalnya kegiatan belajar mengajar.  Pada 2005­2007, kondisi pemahaman, penghayatan, dan pengamalan ajaran agama masih belum optimal.  Hal  ini  ditandai  dengan  munculnya  kontradiksi  tentang  pembentukan  Undang­Undang  pornografi  dan  pornoaksi, serta munculnya intepretasi baru terhadap ajaran agama seperti aliran baru keagamaan. Untuk itu  tantangan yang dihadapi dalam pembangunan agama adalah bahwa pengamalan agama dalam bentuk sikap  dan  perilaku  masyarakat  sehari­hari  sesuai  atau  paling  tidak  mendekati  nilai­nilai  moral,  etika,  dan  pesan­  pesan dari ajaran agama. 5.2.4 Kondisi Fasilitas Keagamaan 

Pada  akhir  2007,  pemenuhan  hak  dasar  rakyat  dalam  beragama  melalui  perbaikan  kualitas  pelayanan  kehidupan  beragama  semakin  membaik.  Hal  ini  dikarenakan  program  peningkatan  pelayanan  kehidupan  beragama juga semakin membaik. Perbaikan  kualitas  pelayanan  kehidupan beragama ini dapat dilihat dari  beberapa  indikator.  Diantaranya  adalah  meningkatnya  kuantitas  sarana  dan  prasarana  peribadatan,  meningkatnya bantuan untuk pengadaan kitab suci, dan meningkatnya jumlah BNPP di tingkat kecamatan.  Peran  tempat  ibadah  dan  kitab  suci  dalam  meningkatkan  pemahaman  dan  penghayatan  nilai­nilai  agama  masih belum optimal. Hal ini ditandai dengan  kesenjangan  jumlah dan peran tempat  ibadah  antara daerah  perkotaan  dan  daerah  terpencil.  Meskipun  demikian,  pemerintah  terus  berupaya  mengatasi  kesenjangan

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

250 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Kualitas Hidup Beragama 

tersebut. Untuk mengurangi kesenjangan dari segi jumlah, pemerintah telah memberikan bantuan pengadaan  sarana  dan  prasarana  di  daerah  terpencil.  Sedangkan  kesenjangan  dari  segi  peran  diatasi  dengan  meningkatkan beragam pelatihan dan pembinaan  keagamaan terutama di daerah perkotaan. Dalam hal  ini  pemerintah menggunakan tempat peribadatan sebagai sentral kegiatan keagamaan.  Perbaikan  kualitas  peran  dan  kuantitas  kitab  suci  juga  terus  ditingkatkan.  Perbaikan  peran  kitab  suci  dilakukan  dengan  mendorong  para  ahli  untuk  mengembangkan  penafsiran  kitab  suci  sesuai  dengan  perkembangan  zaman  serta  tuntutan  pembangunan.  Sedangkan  perbaikan  dari  segi  kuantitas  dilakukan  dengan  menambah  persediaan  kitab  suci  beserta  terjemahan,  tafsir  kitab  suci,  dan  buku­buku  keagamaan  lainnya. Meskipun dari segi kuantitas semakin meningkat, namun dari peran kitab suci masih belum optimal.  Hal  ini  terkait  dengan  masih  lemahnya  pemahaman,  penghayatan,  dan  pengamalan  masyarakat  terhadap  ajaran agama. Padahal kitab suci merupakan acuan utama dalam agama dan kehidupan beragama. 5.2.5 Tingkat Kepedulian Masyarakat dalam Menjalankan Ajaran Agama untuk Kepentingan Sosial  Pada akhir 2007, tingkat kepedulian masyarakat dalam menjalankan ajaran agama untuk kepentingan sosial  semakin meningkat.  Hal  ini didukung  dengan  upaya  pemerintah yang  juga meningkatkan pelayanan  terkait  pengelolaan  dana  sosial  keagamaan  seperti  dana  infaq,  zakat,  shodaqoh,  persembahan  kasih/pelayanan  kasih (termasuk dana kolekte), dana punia, dan dana paramita serta ibadah sosial lainnya. Sehingga, tingkat  partisipasi  masyarakat  mulai  dari  proses  pengumpulan  sampai  dengan  pendistribusian  kepada  kelompok  masyarakat yang berhak secara keseluruhan juga meningkat.  Pemerintah  menempuh  beberapa  cara  untuk  meningkatkan  kinerja  pengelolaan  dana  sosial  keagamaan.  Pemerintah terus mengarahkan peningkatan jumlah dan kualitas lembaga sosial keagamaan yang tersebar di  semua  provinsi.  Sedangkan  untuk  pengelolaan  tanah  wakaf,  tanah  gereja,  pelaba  pura,  dan  vihara,  pelayanan  direalisasikan  dalam bentuk  bantuan untuk  memperoleh sertifikat  tanah. Dengan sertifikat tanah  tersebut diharapkan memiliki kekuatan hukum. Sehingga aset­aset yang dimiliki lembaga sosial keagamaan  menjadi lebih bermanfaat untuk pengembangan, kesejahteraan kehidupan masyarakat. 5.2.6 Kualitas Manajemen Ibadah Haji

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

251 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Kualitas Hidup Beragama 

Kualitas  manajemen  ibadah  haji  terus  ditingkatkan.  Perbaikan  dari  segi  manajemen  ibadah  haji  ditujukan  untuk efisiensi, pencegahan korupsi, dan pengurangan biaya tidak langsung yang dibebankan kepada jemaah  calon haji. Meskipun demikian, hingga akhir 2007 masih banyak terdapat keluhan masyarakat terkait layanan  ibadah haji, seperti kondisi pemondokan, katering, dan penerbangan. 5.2.7 Peran Lembaga Sosial Keagamaan Sebagai Agen Pembangunan 

Peran  lembaga  sosial  keagamaan  sebagai  agen  pembangunan  masih  belum  optimal.  Meskipun  demikian,  pemerintah  terus  meningkatkan  peran  lembaga  sosial  melalui  peningkatan  kapasitas  dan  kualitas  lembaga  sosial  keagamaan  dan  lembaga  pendidikan  keagamaan.  Intervensi  yang  dilakukan  antara  lain:  pendidikan  dan  pelatihan  kepada  pengelolan  lembaga;  bantuan  operasional  proses  belajar  mengajar;  penyediaan  fasilitas  sarana  dan  prasarana;  diikut  sertakan  dalam  upaya  penuntasan  wajib  belajar  pendidikan  dasar  9  tahun. 5.2.8 Harmonisasi Sosial dalam Kehidupan Intern dan Antarumat Beragama 

Pemerintah  terus  berupaya  mewujudkan  harmonisasi  sosial  dalam  kehidupan  intern  dan  antar  umat  beragama.  Hal  ini  ditempuh  dengan  menangani  daerah  konflik  dan  mensosialisasikan  Peraturan  Bersama  Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 dan Nomor 9. Peraturan tersebut berisi tentang pedoman  pelaksanaan tugas kepala daerah/wakil kepala daerah dalam pemeliharaan kerukunan umat beragama dan  pendirian  rumah  ibadat,  pemberdayaan  forum  kerukunan  umat  beragama  di  tingkat  kabupaten/kota  dan  provinsi, pelayanan kepada umat Khonghucu, dan orientasi tenaga rekonsiliasi.  Kemajuan di bidang kerukunan umat beragama telah tampak hasilnya. Hal ini diperhatikan dengan intensitas  dan  semangat  kerjasama  lintas  agama,  serta  terbentukanya  Forum  Kerukunan  Umat  Beragama  (FKUB)  di  berbagai provinsi, kabupaten/kota bahkan ditingkat kecamatan. Namun demikian, fakta tersebut tidak berarti  menghapus persoalan­persoalan yang muncul dalam kehidupan umat beragama. Setidaknya pola hubungan  kehidupan antar dan intern umat beragama masih mengalami pasang surut. Hal ini sejalan dengan dinamika  sosial,  politik,  ekonomi,  dan  globalisasi  yang  juga  turut  mewarnai  pola  kehidupan  umat  beragama  di  Indonesia.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

252 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Kualitas Hidup Beragama 

5.3

Permasalahan Pencapaian sasaran

5.3.3 Pendidikan Agama dan Keagamaan, Pemahaman, Penghayatan, serta Pengamalan Ajaran yang Kurang Optimal  Terdapat  beberapa  permasalahan  yang  menyebabkan  kuarangnya  pemahaman,  penghayatan,  dan  pengamalan  ajaran  agama  di  masyarakat.  Kehidupan  beragama  pada  sebagian  masyarakat  masih  berada  pada  tataran  simbol­simbol  keagamaan  dan  belum  bersifat  substansial.  Hal  ini  tercermin  antara  lain  pada  gejala  negatif  seperti  perilaku  asusila,  praktik  KKN,  penyalahgunaan  narkoba,  pornografi,  pornoaksi,  dan  perjudian.  Selain  itu,  angka  perceraian  yang  tinggi  dan  ketidakharmonisan  keluarga  menunjukkan  masih  lemahnya peran keluarga sebagai basis pembinaan masyarakat dan bangsa. Berbagai perilaku masyarakat  yang  bertentangan  dengan  moralitas  dan  etika  keagamaan  itu  jelas  menggambarkan  kesenjangan  antara  ajaran agama dengan pemahaman dan pengamalannya.  Pendidikan agama dan pendidikan keagamaan juga belum sepenuhnya berjalan efektif. Hal tersebut, antara  lain disebabkan oleh:  a)  Kurikulum  pendidikan  agama  lebih  menekankan  aspek  kognitif  dan  kurang  memperhatikan  aspek  pengamalan ajaran agama dalam pembentukan akhlak dan karakter;  b)  Jumlah pendidik dan tenaga kependidikan lainnya yang bermutu belum mencukupi;  c)  Sarana dan prasarana yang terbatas; serta  d)  Fasilitas pendukung lainnya yang tidak memadai.  Padahal di sisi lain, arus globalisasi terutama melalui media cetak dan elektronik dapat masuk dengan cepat  ke lingkungan keluarga dan masyarakat. Hal ini dikhawatirkan akan mempengaruhi peserta didik dan perilaku  sosial yang  tidak  sejalan dengan  ajaran agama. Oleh karena itu, peran pendidikan agama dan keagamaan  menjadi sangat penting guna membentengi peserta didik dari dampak globalisasi.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

253

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Kualitas Hidup Beragama 

5.3.4 Fasilitas dan Pelayanan Keagamaan Belum Memadai  Pelayanan  kehidupan  beragama  masih  belum  memadai.  Hal  ini  disebabkan  oleh  kurangnya  sarana  dan  prasarana  ibadah  terutama  di  lingkungan  sekolah  dan  di  daerah  terpencil.  Di  samping  itu,  masih  belum  seluruh kecamatan memiliki  gedung  kantor urusan  agama (KUA). Akibatnya, banyak masyarakat, terutama  yang  tinggal di daerah terpencil, belum dapat  terlayani secara baik. Kondisi tersebut ditambah lagi dengan  belum  tercukupinya  tenaga  pegawai  baik  secara  jumlah  maupun  kualitas,  sehingga  pelayanan  KUA  yang  sudah ada juga masih belum optimal.  Selain itu, pelayanan terkait produk halal juga menghadapi banyak permasalahan. Permasalahan ini berkaitan  dengan  sertifikasi  dan  labelisasi  produk  yang  hanya  menjangkau  sebagian  kecil  dari  produk  makanan,  minuman, obat­obatan, kosmetik dan produk lain yang dikonsumsi oleh masyarakat, apalagi di daerah yang  selama ini hanyamerupakan  tempat pemasaran produk  tersebut yang  tidak  mempunyai kewenangan  untuk  melabelasisinya.  Hambatan ini disebabkan oleh beberapa hal; antara lain, lemahnya koordinasi instansi dan  lembaga  terkait  yang  berwenang,  kurangnya  sumber  daya  manusia  yang  memadai  sebagai  pengelola  sertifikasi dan labelisasi, dan kurangnya informasi dan pedoman tentang labelisasi dan sertifikasi produk halal  kepada masyarakat. 5.3.5 Pengelolaan Dana Sosial Keagamaan yang Belum Optimal 

Pengelolaan  dana  sosial  keagamaan  masih  belum  optimal.  Meskipun  berbagai  lembaga  pengelola  dana  infaq, zakat, shodaqoh, persembahan kasih/pelayanan kasih (termasuk dana kolekte), dana punia, dan dana  paramita  telah  didirikan,  namun  dalam  pelaksanaannya  dinilai  masih  berjalan  kurang  efektif.  Hal  ini  disebabkan oleh pelaksanaan Peraturan Pemerintah tentang pengelolaan zakat sebagai tindak lanjut adanya  UU  Nomor  38  Tahun  1999  tentang  Pengelolaan  Zakat  yang  belum  optimal.  Sedangkan  hambatan  dalam  pengelolaan  wakaf  adalah  karena  belum  tersosialisasinya  secara  luas  Undang­Undang  Nomor  41  Tahun  2004 tentang Wakaf.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

254

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Kualitas Hidup Beragama 

5.3.6

Manajemen Layanan Ibadah Haji yang Belum Optimal 

Berbagai  masalah  masih  dihadapi  dalam  layanan  ibadah  haji.  Permasalahan  tersebut  mencakup  tahap  pendaftaran,  pemberangkatan,  perjalanan  dari  Lampung  ke  Jakarta,  serta  masalah  umum  seperti  pemondokkan di Makkah dan Madinah, wukuf di Arafah, bermalam (mabit) di Muzdalifah, dan pelaksanaan  lempar  jumrah.  Selain  itu,  pelaksanaan  ibadah  haji  juga  dihadapkan  pada  masalah  kualitas  sarana  yang  masih  terbatas,  baik  di  asrama  embarkasi,  asrama  transit,  maupun  fasilitas  untuk  pelayanan  haji  di  Arab  Saudi. 5.3.7 Peran dan Fungsi Lembaga­lembaga Sosial dan Lembaga Pendidikan Keagamaan yang Belum Optimal  Upaya  peningkatan  peran  dan  fungsi  lembaga­lembaga  sosial  keagamaan  belum  sepenuhnya  berhasil  dilaksanakan. Meskipun jumlahnya terus bertambah, namun tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas dan  profesionalisme  kelembagaan.  Akibatnya,  lembaga­lembaga  tersebut  tidak  dapat  menunaikan  perannya  sebagai bagian dari agen  perubahan sosial dalam masyarakat. Lembaga­lembaga  sosial juga dinilai belum  mampu  berperan  mengurangi  dampak  negatif  ekstrimisme  yang  dapat  memicu  terjadinya  konflik  antar  kelompok baik intern umat beragama maupun antar umat beragama. 5.3.8 Kehidupan Harmoni Sosial Belum Sepenuhnya Dapat Dijuwudkan  Kehidupan  harmoni  di  dalam  masyarakat  belum  sepenuhnya  dapat  diwujudkan.  Hal  ini  terjadi  akibat  munculnya  ketegangan  sosial  yang  sering  melahirkan  konflik  intern  dan  antar  umat  beragama.  Konflik  ini  pada  mulanya  disebabkan  oleh  ketimpangan  sosial  dan  ketidakadilan  ekonomi  yang  sering  kali  memanfaatkan sentimen agama dan etnik. Selain itu, konflik tersebut juga diakibatkan oleh tingkat pendidikan  masyarakat yang masih rendah dan penegakan hukum yang masih lemah. Sebelumnya, konflik tersebut tidak  pernah mencuat menjadi kasus besar dan dalam skala luas seperti sekarang ini. Hal ini dikarenakan dalam  tatanan  kehidupan  masyarakat  sudah  ada  berbagai  kearifan  lokal  dan  adat  istiadat  yang  dapat  menjadi  wadah komunikasi dan konsultasi. Di mana, wadah tersebut bersifat lintas wilayah, agama, dan suku bangsa.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

255

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Kualitas Hidup Beragama 

Selain itu, salah satu potensi konflik yang perlu diperhatikan dan selalu diwaspadai adalah:  (i)  pelaksanaan  Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 2006/Nomor 8 Tahun  2006  tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah dalam Pemeliharaan Kerukunan  Umat  Beragama,  Pemberdayaan  Forum  Kerukunan  Umat  Beragama  dan  Pendirian  Rumah  Ibadat;    (ii)  adanya  sebagian  elemen  masyarakat  yang  tidak  menghormati/menghargai  perbedaan  dan  keragaman  kelompok lain. VI. Tindak Lanjut 6.1. Upaya yang Dilakukan untuk Mencapai Sasaran 6.1.1. Upaya untuk Meningkatkan Pendidikan Agama dan Keagamaan, Pemahaman, Penghayatan, Pengamalan, serta Pengembangan Nilai­nilai Ajaran Agama  Dengan  tingkat  capaian  pada  saat  ini,  maka  upaya  yang  dilakukan  untuk  mencapai  target  pembangunan  agama di bidang pendidikan agama dan keagamaan pada 2009 adalah sebagai berikut:  1.  Penyediaan  tenaga  pendidik  dan  tenaga  kependidikan,  serta  pelatihan  bagi  pendidik  bidang  agama  dan keagamaan dengan memberi tambahan muatan materi wawasan multikulturisme; serta  2.  Pemberian beasiswa bagi pendidik bidang agama yang mengikuti program pendidikan ke jenjang yang  lebih tinggi.  Sedangkan  upaya  untuk  meningkatkan  pemahaman,  penghayatan,  pengamalan,  dan  pengembangan  nilai­  nilai ajaran agama dilakukan dengan kebijakan berikut:  1.  Penyuluhan dan bimbingan keagamaan bagi masyarakat dan aparatur negara;  2.  Pembinaan calon penganten (Suscaten) dan pelaksanaan nikah, rujuk;  3.  Pelatihan bagi penyuluh, pembimbing, mubalig/dai dan orientasi bagi pemuka agama;  4.  Pembentukan  jaringan  dan kerjasama lintas  sektor serta masyarakat untuk  memberantas  pornografi,  pornoaksi, praktik KKN, perjudian, penyalahgunaan narkoba, prostitusi, dan berbagai praktik asusila;  5.  Bantuan sarana dan prasarana penerangan dan bimbingan keagamaan;

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

256 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Kualitas Hidup Beragama 

6.  Pemberian bantuan pada dakwah untuk daerah tertinggal, terpencil, pasca konflik dan bencara alam,  serta bantuan operasional penyelenggaraan kegiatan keagamaan seperti Musabaqah Tilawatil Qur’an  (MTQ dan STQ), Pesparawi, Utsawa Dharma Gita, Festival Seni Baca Kitab Suci Agama Buddha dan  kegiatan sejenis lainnya. 6.1.2. Upaya untuk Meningkatkan Mutu Fasilitas dan Pelayanan Keagamaan  Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan mutu fasilitas keagamaan pada 2009 adalah sebagai berikut:  1.  Pembangunan  dan  rehabilitasi  sarana  keagamaan  berupa  rumah  ibadah  terutama  di  daerah  yang  terkena bencana;  2.  Pembangunan gedung KUA di daerah yang belum memiliki gedung KUA;  3.  Pemberian bantuan sarana ibadah di lingkungan sekolah;  4.  Penyediaan sarana ibadah;  5.  Peningkatan pemanfaatan tempat peribadatan untuk kegiatan dan aktifitas sosial masyarakat. 6.1.3. Upaya untuk Meningkatkan Partisipasi Masyarakat Dalam Penghimpunan Dana Sosial  Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penghimpunan dana sosial adalah  sebagai berikut:  Optimalisasi pengelolaan dana sosial keagamaan terutama pada pengembangan wakaf produktif;  Pengelolaan  dana  sosial  keagamaan  secara  profesional,  terbuka  dan  akuntabel  sebagaimana  layaknya lembaga keuangan lainnya yang sewaktu­waktu dapat diaudit oleh akuntan publik;  Peningkatan  profesionalisme  tenaga  pengelola  dana  sosial  keagamaan  melalui  bimbingan  dan  pelatihan di berbagai daerah termasuk lingkungan BUMN dan perusahaan swasta;  Pelaksanaan  koordinasi,  pendataan  dan  pemantauan,  bantuan  sarana  dan  operasional,  pengadaan  buku bantuan, dan pengadaan forum konsultasi akuntansi dana sosial keagamaan; serta  Pelaksanaan revisi Undang­Undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

257 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Kualitas Hidup Beragama 

6.1.4. Upaya untuk Meningkatkan Kualitas Layanan Ibadah Haji  Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas layanan ibadah adalah sebagai berikut:  1.  Peningkatan kepastian berangkat bagi jamaah calon haji;  2.  Perbaikan kondisi pemondokan, katering, dan penerbangan;  3.  Rehabilitasi gedung dan fasilitas asrama embarkasi dan transit haji;  4.  Penyediaan fasilitas pelayanan pendukung di Arab Saudi;  5.  Peningkatan pemahaman tentang pelaksanaan ibadah haji;  6.  Peningkatan kompetensi petugas haji; serta  7.  Pemahaman dan pengahayatan manasik haji yang lebih komprehensif. 6.1.5. Upaya untuk Memberdayakan Lembaga Sosial Keagamaan dan Lembaga Pendidikan Keagamaan  Upaya  yang  dilakukan  untuk  memberdayakan  lembaga  sosial  keagamaan  dan  lembaga  pendidikan  keagamaan adalah sebagai berikut:  1.  Pelatihan  manajemen  pengelola  lembaga  dan  bantuan  operasional  untuk  mendukung  kegiatan  lembaga;  2.  Peningkatan peran lembaga sosial keagamaan, lembaga pendidikan agama, dan keagamaan sebagai  agen perubahan sosial. Peran yang dimaksud adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan memberi  kesempatan pendidikan bagi masyarakat kurang mampu terutama di daerah perdesaan;  3.  Peningkatan kualitas penelitian dan pengembangan agama; serta  4.  Pelatihan tenaga peneliti melalui:  5.  Sosialisasi  hasil­hasil  penelitian  dan  pengembangan  melalui  kegiatan  workshop,  seminar,  dan  penerbitan;  6.  Penyelenggaraan  lomba­lomba  penulisan/karya  ilmiah,  buku  cerita,  sketsa  dan  komik  keagamaan;  serta  7.  Pelaksanaan  kajian  terhadap  dampak  negatif  modernisasi,  globalisasi,  serta  perubahan  sosial  yang  semakin cepat dan kompleks.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

258

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Kualitas Hidup Beragama 

6.1.6. Upaya untuk Memantapkan Kerukunan Umat Beragama  Upaya yang dilakukan untuk memantapkan kerukunan umat beragama adalah sebagai berikut:  1.  Pelaksanaan kegiatan pertemuan, dialog, dan kerjasama antar pemuka agama;  2.  Pembentukan posko­posko harmonisasi dan Seketariat Bersama Forum Kerukunan Umat Beragama di  berbagai daerah; serta  3.  Pengembangan pendidikan multikultural. 6.2. Perkiraan Pencapaian Sasaran RPJMN 2004­2009

6.2.1. Perkiraan Pencapaian Sasaran dalam Rangka Peningkatan Pendidikan Agama dan Keagamaan, Pemahaman, Penghayatan, Pengamalan, serta Pengembangan Nilai­nilai Ajaran Agama  Melalui  rangkaian  program  yang  telah  dan  akan  berlangsung,  maka  peningkatan  pendidikan  agama  dan  keagamaan pada 2009 yang diperkirakan dapat dicapai sebagai sasaran RPJMN 2004­2009, antara lain:  1.  Meningkatnya  jumlah  tenaga  pendidik  dan  tenaga  kependidikan  yang  memiliki  wawasan  multikulturisme; serta  2.  Tersalurkannya beasiswa bagi pendidik bidang agama yang mengikuti program pendidikan ke jenjang  yang lebih tinggi.  Sedangkan  perkiraan  capaian  dalam  rangka  peningkatan  pemahaman,  penghayatan,  pengamalan,  dan  pengembangan nilai­nilai ajaran agama pada 2009, antara lain:  1.  Meningkatnya wawasan dan pemahaman agama di kalangan masyarakat dan aparatur negara;  2.  Meningkatnya jumlah keluarga harmonis yang dibina;  3.  Meningkatnya kualitas dan kuantitas penyuluh, pembimbing, mubalig/dai, serta pemuka agama;  4.  Berkurangnya pornografi, pornoaksi, praktik KKN, perjudian, penyalahgunaan narkoba, prostitusi, dan  berbagai jenis praktik asusila;  5.  Meningkatnya jumlah sarana dan prasarana penerangan dan bimbingan keagamaan;  6.  Berkembangnya materi, metodologi, manajemen penyuluhan, dan bimbingan keagamaan;

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

259

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Kualitas Hidup Beragama 

7.  Meningkatnya aktivitas keagamaan di daerah tertinggal, terpencil, pasca konflik dan bencana alam. 6.2.2. Perkiraan Pencapaian Sasaran dalam Rangka Peningkatan Mutu Fasilitas dan Pelayanan Keagamaan  Perkiraan capaian dalam rangka peningkatan mutu fasilitas keagamaan pada 2009, antara lain:  1.  Tersedianya sarana keagamaan berupa rumah ibadah di daerah bencana;  2.  Tersedianya gedung KUA di daerah yang belum memiliki gedung KUA;  3.  Meningkatnya jumlah sarana keagamaan yang layak;  4.  Meningkatnya jumlah sarana ibadah di lingkungan sekolah;  5.  Meningkatnya jumlah sarana ibadah; serta  6.  Meningkatnya manfaat yang bisa dirasakan dengan keberadaan tempat peribadatan. 6.2.3. Perkiraan Pencapaian Sasaran dalam Rangka Peningkatan Partisipasi Masyarakat Dalam Penghimpunan Dana Sosial  Perkiraan capaian dalam rangka peningkatan partisipasi masyarakat dalam penghimpunan dana sosial pada  2009, antara lain:  1.  Terkelolanya wakaf produktif secara optimal;  2.  Terkelolanya  dana  sosial  keagamaan  secara  profesional,  terbuka  dan  akuntabel  sebagaimana  layaknya lembaga keuangan lainnya yang sewaktu­waktu dapat diaudit oleh akuntan publik;  3.  Meningkatnya kinerja lembaga pengelola dana sosial keagamaan;  4.  Terciptanya koordinasi antar lembaga pengelola dana sosial keagamaan; serta  5.  Meningkatnya dana sosial keagamaan yang dihimpun dan disalurkan. 6.2.4. Perkiraan Pencapaian Sasaran dalam Rangka Peningkatan Kualitas Layanan Ibadah Haji  Perkiraan capaian dalam rangka peningkatan kualitas layanan ibadah pada 2009, antara lain:  1.  Meningkatnya kepercayaan jemaah calon haji akan kepastian pemberangkatan;  2.  Meningkatnya kualitas pemondokan, katering, dan penerbangan:

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

260 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Kualitas Hidup Beragama 

3.  Meningkatnya fasilitas layanan pendukung di Arab Saudi;  4.  Meningkatnya pemahaman tentang pelaksanaan ibadah haji;  5.  Meningkatnya kompetensi petugas haji; serta  6.  Meningkatnya pemahaman dan penghayatan manasik haji yang lebih komprehensif. 6.2.5. Perkiraan Pencapaian Sasaran dalam Rangka Pemberdayaan Lembaga Sosial Keagamaan dan Lembaga Pendidikan Keagamaan  Perkiraan  pencapaian  sasarn  dalam  rangka  pemberdayaan  lembaga  sosial  keagamaan  dan  lembaga  pendidikan keagamaan pada 2009, antara lain:  1.  Meningkatnya kualitas manajemen sosial keagamaan dan lembaga pendidikan keagamaan;  2.  Terciptanya relasi yang harmonis antar kelompok masyarakat;  3.  Lembaga  sosial  keagamaan,  lembaga  pendidikan  agama,  dan  keagamaan  diharapkan  lebih  mampu  menjadi motivator dan fasiliator berbagai kebutuhan masyarakat sesuai dinamika yang berkembang;  4.  Meningkatnya mutu pembinaan dan partisipasi masyarakat dalam hal:  a)  Pelayanan kehidupan beragama;  b)  Peningkatan pemahaman, penghayatan, pengamalan dan pengembangan nilai­nilai keagamaan;  c)  Peningkatan mutu dan relevansi pendidikan agama dan keagamaan;  d)  Peningkatan kerukunan dan harmonisasi kehidupan beragama;  e)  Peningkatan mutu pembinaan  lembaga  sosial keagamaan dan lembaga  pendidikan  keagamaan;  serta  f)  Pemberdayaan dan pemanfaatan lektur keagamaan.  5.  Meningkatnya kualitas dan kuantitas tenaga peneliti. 6.2.6. Perkiraan Pencapaian Sasaran dalam Rangka Pemantapan Kerukunan Umat Beragama  Perkiraan pencapaian sasaran dalam rangka pemantapan kerukunan umat beragama pada 2009, antara lain:  1.  Terlaksananya langkah antisipasi dini dan upaya pencegahan meningkatnya potensi konflik;

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

261 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Kualitas Hidup Beragama 

2.  Terciptanya  harmonisasi  masyarakat  melalui  posko­posko  harmonisasi  dan  Sekretariat  Bersama  Forum Kerukunan Umat Beragama; serta  3.  Terciptanya wawasan yang luas dan penghargaan pada keberagaman. VII. Penutup  Pembangunan agama merupakan suatu investasi masa depan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.  Namun,  di  tahun  awal  perumusan  RPJMN  2004­2009  terdapat  berbagai  permasalahan  yang  menghambat  tercapainya  pembangunan  agama.  Kendala  tersebut  antara  lain:  (1)    Pendidikan  agama  dan  keagamaan,  pemahaman, penghayatan, dan pengamalan ajaran agama yang kurang optimal; (2)  Fasilitas dan pelayanan  keagamaan yang belum optimal; (3)  Pengelolaan dana sosial yang belum optimal; (4)  Manajemen layanan  ibadah haji yang belum optimal; (5)  Peran dan fungsi lembaga­lembaga sosial yang belum optimal; serta (6)  Kehidupan harmoni belum sepenuhnya dapat diwujudkan.  Dalam  kondisi  ini,  berbagai  upaya  telah  dilakukan  pemerintah  untuk  memperbaiki  kondisi  keagamaan  masyarakat,  sehingga  sasaran  pembangunan  agama  dalam  RPJMN  2004­2009  dapat  dicapai.  Untuk  itu,  upaya­upaya  tersebut perlu terus  ditingkatkan untuk  dapat memberikan  dampak  secara langsung  pada: (1)  Peningkatan pendidikan agama dan keagamaan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan ajaran agama;  (2)    Peningkatan  fasilitas  dan  pelayanan  keagamaan;            (3)    Peningkatan  pengelolaan  dana  sosial;  (4)  Peningkatan  manajemen  layanan  ibadah  haji;  (5)    Peningkatan  peran  dan  fungsi  lembaga­lembaga  sosial;  serta  (6)    Terwujudnya  kehidupan  yang  harmoni.  Dengan  demikian  beberapa  bentuk  tindak  lanjut  dari  program­program yang  ada, akan  diupayakan pada  2008­2009. Selain  itu, upaya  yang  lebih konsisten dan  intensif dalam menjalankan program pembangunan agama yang sudah ada akan dilakukan.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

262 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Perbaikan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Pelestarian Fungsi Lingkungan Hidup 

Bab IV.18 Perbaikan Pengelolaan Sumber Daya Alam Dan Pelestarian Lingkungan Hidup

I. Pengantar  Sumberdaya alam merupakan modal  dasar  pada daerah  yang mata pencaharian penduduknya  sebagian  besar tergantung pada pertanian  (agraris).   Daya saing sektor pertanian pada era global lebih ditentukan  oleh  tingkat  kesiapan  SDM,  kelembagaan,  serta  inovasi  teknologi  dalam  pengelolaan  sumberdaya.  Perguruan  tinggi  memiliki  peranan  yang  sangat  strategis  dalam  peningkatan  kesiapan  SDM  serta  pengembangan dan inovasi teknologi (amanat UU No. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian,  Pengembangan, dan Penerapan Iptek).  Selama  3  tahun  terakhir  Unila  dan  Pemerintah  Provinsi  Lampung  mengembangkan  model  Inisiatif  Kerjasama Tripartit antara ‘Perguruan Tinggi – Pemerintah Daerah –  Industri’ pada berbagai sektor dalam  pengelolaan sumberdaya alam.  Kerjasama tersebut terutama ditujukan menggagas peningkatan kesiapan  SDM  masyarakat  desa,  kelembagaan  masyarakat,  produktivitas  dan  kualitas  produk  pertanian,  serta  efisiensi  proses  produksi  pertanian,  sehinga  diharapkan  mendapat  hasil  yang  maksimum  dan  dapat  diusahakan  secara  berkelanjutan.    Pendekatan  budaya  dan  pengembangan  usaha  ekonomi  produktif  berbasis masyarakat lebih dikedepankan dalam program pemberdayaan ekonomi petani. II. Kondisi Awal RPJM 2004­2009 2.1 Sumber Daya Hutan  Berdasarkan  data  dari  BPS  (2003),  luas  kawasan  hutan  di  Provinsi  Lampung  menurut  SK  Menhutbun  No.256/KPTS/II/2000  dan  Perda  Nomor  5/2001  tentang  Penataan  Ruang  Wilayah  Provinsi  Lampung 263

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Perbaikan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Pelestarian Fungsi Lingkungan Hidup 

tercatat seluas 1.004.735 Ha atau 30,43% dari total luas wlayah Lampung (BPS, 2003).  Menurut statusnya,  luas areal kawasan hutan ini terdiri atas: Hutan lindung seluas 317.615 Ha (31,6%), Hutan Suaka Alam dan  Hutaan Wisata 462.030 Ha (46%), Hutan Produksi Terbatas 33.358 Ha (3,32%), dan Hutan Produksi Tetap  191.732  Ha (19%). Hampir sebagian besar  wilayah kawasan hutan  tersebut  sudah  mengalami  kerusakan  akibat ulah masyarakat yang tidak bertanggung jawab, berupa perladangan liar dan kebun kopi.  Diperkirakan areal hutan yang efektif sesuai dengan fungsinya berkisar antara 50 – 60%. Mengingat kondisi  vegetasi  di  daerah  tangkapan  air  yang  terus  terdegradasi  dan berubah  fungsinya  sehingga  tidak  mampu  berfungsi  optimal  sebagai  daerah  penangkapan  dan  penyimpanan  air,  maka  sumber  air  di  Provinsi  Lampung  sangat  menurun  baik  dari  segi  kwantitas  maupun  kulaitasnya.  Keadaan  sumber air  tidak  stabil  dan  sangat  fluktuatif  tergantung  pada musim.  Pada  musim  hujan  terjadi  kebanjiran  dan  sebaliknya pada  musim kemarau terjadi kekeringan, sehingga semuanya tidak menguntungkan bagi usaha pertanian.  Potensi sumberdaya air di sungai dan sumber mata air tergantung pada kemampuan daerah tangkapan air  masing  masing  wilayah  (catchment  area),  yang  sebagian  besar  merupakan  kawasan  lindung  dan  suaka  alam.  Potensi  sumberdaya  air  terutama  berada  pada  lokasi  kawasan  hutan  di  Kabupaten  Tanggamus,  Lampung Barat, serta Lampung Selatan. Berdasarkan hasil rekalkulasi ulang dari Dinas Kehutanan Provinsi  Lampung, tingkat penutupan lahan di Indonesia Tahun 2005 diperoleh landcover kawasan hutan di Provinsi  Lampung sebagai berikut : 

Tabel 4.18­1  Katagori Penutupan Lahan berdasarkan Fungsi Hutan di Provinsi Lampung, tahun 2007  Kategori Penutupan Lahan  Non Hutan  (%)  (Ha)  (%)  Total  Tidak Ada  (Ha)  (%)  (Ha)  (%) 

No  1 

Fungsi Hutan  Kawasan  hutan  konservasi 

Hutan  (Ha) 

140.700 

32,68 

193.244 

44,89 

96.530 

22.42 

430.474 

100

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

264 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Perbaikan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Pelestarian Fungsi Lingkungan Hidup 

2 

Kawasan  hutan lindung  Kawasan  hutan  produksi  terbatas  Kawasan  hutan  produksi  tetap 

44.400 

13,98 

260.600 

82,05 

12.615 

3,97 

317.615 

100 

3 

5.000 

14,99 

26.558 

79,62 

1.800 

5,40 

33.358 

100 

4 

8.200 

4,28 

161.600 

84,28 

21.932 

11,44 

191.732 

100 

Jumlah 

198.300 

20,38 

642.200 

65,97 

132.877 

13,65 

971.179 

100 

Sumber:  Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, 2007. 

Pada Tabel 1 terlihat bahwa kerusakan hutan di Provinsi Lampung sangat serius.  Daerah kawasan hutan  konservasi  yang merupakan  jantung dari  siklus air  pada daerah DAS hanya  tingal  32,68 %  yang ditutupi  oleh tumbuhan hutan, sedangkan 67,32% sudah bukan lagi tumbuhan hutan.  Kemudian kawasan lindung  lebih  serius  lagi  kerusakannya, dimana  hanya  13,98%  ditutupi oleh  tumbuhan  hutan;  sedangkan 86,02%  sisanya bukan  lagi  tumbuhan hutan,  bahkan ada  yang  sudah merupakan  daerah  terbuka.    Idealnya  dua  kategori  hutan  ini  seluruhnya  harus  ditutupi  oleh  tumbuhan  hutan,  sehingga  fungsi  hidro­orologis  dari  kawasan hutan  yang mengatur  tata air di bagian hulu dapat berfungsi dengan baik.   Kerusakan hutan  ini  terjadi akibat tidak ada ketaatan masyarakat terhadap penggunaan fungsi tata ruang yang sudah dibuat dan  disepakati  oleh  Pemerintah  Daerah  dan  DPRD,  sehingga  berdampak  yang  sangat  luas  terhadap  siklus  hidrologis yang ada, yang pada akhirnya akan mempengaruhi sistem pertanian yang  merupakan sumber  pendapatan masyarakat terbesar di Provinsi Lampung. 2.2 Sumber Daya Kelautan  Selain bidang pertanian, sektor perikanan di Provinsi Lampung sangat potensial untuk dimanfaatkan secara  maksimal.   Menurut  laporan dari  Dinas  Kelautan dan Perikanan Provinsi  Lampung  (2007),   luas  perairan
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

265 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Perbaikan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Pelestarian Fungsi Lingkungan Hidup 

2  laut  Provinsi  Lampung  (12  mil)  ada  24.820  km  dan  luas  total  daerah  tangkapan  wilayah  perairan  darat  2  17.807  km  .    Wilayah  ini  merupakan  potensi  pendapatan  bagi  masyarakat.  Sayangnya  tidak  semua 

masyarakat mampu mengakses sumberdaya yang melimpah tersebut karena biaya yang diperlukan relatif  lebih besar dibandingkan dengan besarnya penerimaan nelayan.  Dibutuhkan investasi dan pengembangan  kapasitas SDM nelayan. III. Sasaran yang Ingin Dicapai  Sasaran  yang ingin dicapai adalah pemulihan dan menjaga  kelestarian sumberdaya alam baik di daratan  maupun  di  laut,  sehingga  dapat  dimanfaatkan  dengan  maksimal  secara  berkelanjutan.    Tanggung  jawab  memperbaiki dan menjaga kelestarian sumberdaya alam ini bukan merupakan tanggung jawab salah satu  instansi  saja, akan tetapi merupakan tanggung jawab seluruh komponen masyarakat.  Diharapkan kepada  seluruh masyarakat untuk tidak menimbulkan pencemaran pada alam baik pencemaran di darat maupun di  laut. Kesadaran seluruh lapisan masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian sumberdaya alam seperti  fungsi  hutan  secara  luas  akan  menimbulkan  hasrat  kita  untuk  menjaga  kelestarian  hutan,  yang  secara  langsung  telah  turut  memperbaiki  kelestarian  sumberdaya  alam  yang  harus  diwariskan  kepada  generasi  mendatang  secara utuh.  Dengan  memperbaiki  kondisi  hutan  yang ada,  maka  kita  secara  tidak  langsung  telah  memperbaiki  system  hidro­orologis  secara  umum,  yang  pada  akhirnya  akan  dapat  memperbaiki  kesejahteraan  masyarakat  Lampung  yang  sebagian  besar  hidupnya  bergantung  pada  Sektor  Pertanian  secara luas. IV. Arah Kebijakan  Prinsip dasar dalam pembangunan yang berkelanjutan harus dijabarkan dalam bentuk instrumen kebijakan  dan perundangan lingkungan yang dapat diaplikasikan di masyarakat.  Tujuannya adalah untuk mendorong  investasi  pembangunan  jangka  menengah  diseluruh  sektor  serta  bidang  terkait  dalam  memanfatkan  sumberdaya alam dengan tetap menjaga kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

266 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Perbaikan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Pelestarian Fungsi Lingkungan Hidup 

4.1 Pembangunan Kehutanan.  1.  Tegaknya hukum, khususnya dalam pemnerantasan pembalakan liar (illegal Logging) dan  penyelundupan kayu.  2.  Optimalisasi nilai tambah dan manfaat hasil hutan kayu.  3.  Meningkatnya hasil hutan bukan kayu sebesar 30% dari produksi tahun 2004.  4.  Konsevasi hutan dan rehabilitasi lahan untuk menjamin pasokan air serta sistem  penopang kehidupan lainnya.  5.  Berkembangnya kemitraan antara pemerintah, pengusha, dan masyarakat dalam  pengelolaan hutan lestari. 4.2 Pembangunan Kelautan.  1.   Membaiknya pengelolaan ekosistem pesisir, laut, dan pulau­pulau  kecil  yang dilakukan  secara lestari, tepadu, serta berbasis masyarakat.  2.   Serasinya peraturan perundangan yang terkait dengan pengelolaan serta pemanfaatan  sumberdaya pesisir dan laut.  3.  Terintegrasinya pembangunan laut, pesisir, dan daratan dalam satu kesatuan  pengembangan wilayah.  4.  Terselenggaranya pemanfaatan ruang laut, pesisir, dan pulau­pulau kecil secara serasi  sesuai dengan daya dukung lingkungannya.  5.  Terwujudnya ekosistem pesisir dan laut yang terjaga kebersihan, kesehatan, dan  produktivitasnya.  6.  Meningkatnya upaya mitigasi bencana alam laut, dan keselamatan masyarakat yang  bekerja di laut dan yang tinggal di pesisir dan pulau­pulau kecil. 4.3 Pembangunan Pertambangan dan Sumberdaya Mineral.  1.   Meningkatnya investasi pertambangan dan sumberdaya mineral dengan perluasan  lapangan kerja dan kesempatan berusaha.  2.   Meningkatnya produksi dan nilai tambah produk pertambangan.  3.  Teridentifikasinya kawasan rawan bencana geologi sebagai upaya pengembangan  sistem mitigasi bencana. 267

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Perbaikan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Pelestarian Fungsi Lingkungan Hidup 

4.  Berkurangnya kegiatan pertambangan tanpa ijin (PETI) dan usaha­usaha pertambangan  yang merusak dan menimbulkan pencemaran.  5.  Meningkatnya kesadaran pembangunan kerkelanjutan dalam eskploitasi energi dan  sumberdaya mineral.  6.  Dilakukannya usaha pertambangan yang mencegah timbulnya pencemaran dan  kerusakan lingkungan. 4.4 Pembangunan Lingkungan Hidup.  1.  Meningkatnya kualitas air permukaan (sungai, danau, dan situ) serta kualitas air tanah disertai  pengendalian dan pemantauan terpadu antar sektor.  2.  Terkendalinya pencemaran pesisir dan laut melalui pendekatan terpadu antara kebijakan  konservasi tanah di wilayah daratan dengan ekosistem pesisir serta laut.  3.  Meningkatnya upaya pengelolaan  sampah perkotaan dengan menempatkan perlindungan  lingkungansebagai salah satu faktor penentu kebijakan.  4.  Menigkatnya kesadaran masyarakat  akan pentingnya memelihara  sumberdaya alam dan  lingkungan hidup.

V. Pencapaian 2005­2007 5.1 Bidang Kehutanan. a. Pengamanan hutan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan.  1)  Pemerintah daerah Prov. Lampung telah membuat SK Gubernur Lampung  No.G/300/B­IV/HK/2005, untuk memberantas pemberantasan penebangan kayu  hutan secara ilegal dan peredarannya dengan pembentukan Tim Kerja  Pemberantasan Penebangan Liar di Kawasan Hutan dan Peredarannya.  2)  Telah bekerjasama dengan pihak keamanan berupa pembuatan MoU antara Pemrov.  Lampung dengan POLDA Lampung, KOREM 043 GATAM, KOLANAL Panjang,  Kejati Lampung, dan Bupati/Walikota se Provinsi Lampung, tentang « penghentian  kerusakan hutan alam di Provinsi Lampung ».
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

268 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Perbaikan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Pelestarian Fungsi Lingkungan Hidup 

3)  Pelibatan masyarakat dalam upaya pengamanan hutan dilakukan melalui rekruitmen  relawan dan volunteer untuk pengamanan swakarsa dalam kegiatan pengamanan  hutan. b. Rehabilitas dan konservasi SDA.  1)  Pelaksanaan kegiatan GN­RHL dimulai tahun 2003 yang dilaksanakan oleh seluruh  satuan kerja atau dinas baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.  Realisasi  penanaman sampai tahun 2005 seluas 67.256 ha dengan rincian pegiatan  penanaman pertahun berturut­turut seluas 31.201 ha (tahun 2003), 14.750 ha (tahun  2004), dan 21.305 ha (tahun 2005).  2)  Percepatan rehabilitasi dengan memberikan aksesibilitas pengelolaan bagi  masyarakat spt. Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (PHBM) melalui  peningkatan partisipasi masyarakat dalam upaya rehabilitasi dan pelestarian hutan  dengan memanfaatkan jenis­jenis « multi Purpose Tree Species (MPTS) » melalui  pola tumpang sari.  3)  Pembinaan masyarakat dalam rangka meningkatkan minat menanam pohon, melalui  kegiatan « Gerakan Lampung Menghijau  (GLM)», yaitu penyediaan bibit tanaman  hutan untuk masyarakat.  4)  Untuk percepatan rehabilitasi, Dishut Prov. Lampung juga telah menjalin kerjasama  dengan pihak ketiga dan perguruan tinggi seperti dengan IPB dan UNILA.  5)  Untuk mendukung terlaksananya rehabilitasi dengan tertib dan terarah, maka  dilakukan pembuatan tataruang kawasan hutan, spt. Di kawasan hutan mangrove  Lampung Timur, Taman Hutan Raya Wan Abdulrahman (TAHURA) dan catcmen  Batu Tegi.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

269 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Perbaikan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Pelestarian Fungsi Lingkungan Hidup 

c. Revitalisasi Sektor Kehutanan.  1)  Seiring dengan berkurangnya bahan baku kayu industri, mengupayakan peningkatan  produktivitas lahan­lahan tidur untuk menjadi hutan rakyat (diluar kawasan) dan  Hutan Tanaman Rakyat (di dalam kawasan).  2)  Untuk industri pengolahan hasil hutan bukan kayu (HHBK), pemrintah Prov. Lampung  melakukan pembinaan masyarakat dalam meningkatkan teknik pengolahan untuk  menambah nilai jual pruduk HHBK.  Beberapa industri HHBK yang dikembangkan  spt: lebah madu, damar, rotan, pengolahan melinjo, dll. d. Pemberdayaan ekonomi masyarakat di dalam dan sekitar kawasan hutan.  1)  Pengelolaan hutan berbasis masyarakat (PHBM), dikembangkan MPTS dimana hasil  berupa HHBK diperuntukkan bagi masyarkat.  2)  Pemberian modal usaha kepada koperasi disekitar hutan.  3)  Pembangunan usaha masyarakat disekitar hutan produksi melalui kegiatan  pembuatan hutan tanaman bernilai ekonomis seperti karet.  4)  Kerjasama pembangunan hutan dengan pihak ketiga dan perguruan tinggi dalam  pemanfaatan potensi sekitar hutan, seperti pemanfaatan sumberdya air untuk  budidaya ikan lele, budidaya jamur tiram, bunga hias, dll.  5)  Pengembangan pola Silvofisheri (hutan­tambak) di hutan mangrove, seperti  pengolahan kerang hijau, bandeng presto, dll. e. Pemantapan kawasan hutan.  1)  Melaksanakan pemeliharaan batas hutan melalui kegiatan rekonstruksi batas, baik  dengan pusat maupun daerah serta menyelesaikan konflikntata batas sesuai  peraturan dan ketentuan yang berlaku.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

270

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Perbaikan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Pelestarian Fungsi Lingkungan Hidup 

2)  Mengarahkan desa­desa yang sudah terlanjur definitif di dalam kawasan hutan  menjadi desa wana. 5.2 Bidang Perikanan.  a.  Menghidupkan  kembali usaha  tambak udang yang  selama  ini berhenti beroperasi, mendorong  pembukaan tambak udang baru, serta mengmbangkan industri pendukung dan penunjang.  b. Pengembangan industri perikanan secara terpadu, baik secara vertikal dari hulu ke hilir, maupun  secara horizontal dengan melibatkan pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) di setiap lokasi  usaha.  c.    Pemanfaatan secara maksimal potensi Teluk Lampung dengan menata pesisir  sebagai daerah  kawasan terpadu yang modern antara pemukiman, industri parawisata, dan kawasan bisnis. 5.3 Pembangunan Pertambangan dan Sumberdaya Mineral  Program disektor pertambangan dan energi dibagi dalam 4 yaitu:  a.   Program Penanggulangan Kemiskinan.  Pada tahun 2006 telah dibagikan bantuan pembngki listrik tenaga surya (PLTS) sebanyak 577  unit  yang ditempatkan  pada 43 desadi 5  kabupaten.   Selain  itu  juga adanya bantuan 3 unit  Pembangkit  Listrik  Tenaga  Piko  Hidro  (PLTPH),  yang  ditempatkan  di  Desa  Marang  Kecamatan Pesisir Selatan Kabupaten Lampung Barat.  Kemudian pada tahun 2007 melalui dana APBD dan APBN telah diserahkan bantuan 1.883  unit PLTS yang ditempatkan pada 10 kabupaten/kota yang disebar pada 124 desa.  Kemudian  pada tahun yang  sama  juga  telah diserahkan  sebanyak 4 unit PLTPH  yang  itempatkan di 2  kabupaten,  masing­masing  satu  desa.    Selanjutnya  juga  diserahkan  bantuan  6  unit  Pembangkit  Listrik  Tenaga  Mikro  Hidro  (PLTMH)  yang  ditempatkan  pada  5  desa  di  4  kabupaten.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

271 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Perbaikan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Pelestarian Fungsi Lingkungan Hidup 

b.   Program Pengembangan Energi Baru Terbarukan.  Untuk  merealisasikan  program  ini,  pada  than  206  telah  dilakukan  pemetaan  potensi  energi  terbarukan  pada  10  kabupaten/kota.    Kemudian  pada  tahun  2007  dilakukan  kampaye  dan  pengawasan penghematan konsumsi hemat energi.  c.   Pengembangan Sumberdaya Mineral.  Pada  tahun  2006  telah  dilakukan  eksplorasi  detil  sumberdaya  zeolit  yang  berlokasi  di  Kecamatan  Sidomulyo  Kabupten  Lampung  Selatan.  Kemudian  dilanjutkan  dengan  studi  kelayakan pada tahun 2007.   Selain itu juga telah dilakukan penyelidikan sumberdaya kaolin  yang berlokasi di Kecamatan Giham dan Way Tuba Kabupaten Way Kanan pada tahun 2006.  Kemudian  pada  tahun  2007  dilakukan  penyelidikan  sumberdaya  kapur  yang  berlokasi  di  Kecamatan Blambangan Umpu Kabupaten Way Kanan.  d.   Program Penyebarluasan Data dan Informasi  Pada  tahun  2006  telah  dibangunlocal  area  network  (LAN)  dan  sistem  informasi  geografis  (SIG).  Selanjutnya pada tahun 2007 dilakukan pengmbangan untuk dua kegiatan ini.  Selain  itu  juga setiap tahun diadakan promosi  potensi pertambangan dan energi yang ada di Prov.  Lampung. 5.4 Pembangunan Lingkungan Hidup  Kegiatan  pembangunan  bidang  lingkungan  hidup  di  Provinsi  Lampung  di  bawah  Badan  Pengendalian Lingkungan Hidup Prov. Lampung.  Kegiatan yang  telah dilakukan pada tahun 2007   sebagai berikut:  a.  Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup, dengan rangkaian        kegiatan:  1.    Koordinasi  penilaian  kota  sehat  dalam  rangka  merebut  ADIPURA.    Kegiatan  ini  dilanjutkan  pada  tahun  2008  dengan  melakukan  pemantauan  kota  sehat  di  10  Kabupaten/Kota di Prov. Lampung.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

272 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Perbaikan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Pelestarian Fungsi Lingkungan Hidup 

2.    Pemantauan  kualitas  lingkungan,  dengan  memfungsikan  laboratorium  yang  ada  di  BAPEDALDA  Prov.  Lampung.    Pada  tahu  2008  kegiatan  ini  dilaksanakan  dengan  inventarisasi  dan  identifikasi  kualitas  air  sungai  pada  6  DPS  dalam  wilayah  Provinsi  Lampung (Way Sekampung, Way Tulang Bawang, Way Seputih, Way Pengubuan, dan  Way  Terusan).    Selain  tiu  juga  dilakukan  pembinaan  terhadap  kinerja  laboratorium  lingkungan hidup daerah pada 10 kabupaten/kota.  3.    Peningkatan  peringkat  kinerja  perusahaan  (PROPER)  dan  pemantauan  kualitas  lingkungan, untuk meminimalkan pencemaran lingkungan. Kegiatan ini diteruskan pada  tahun  2008  dengan  melakukann  inspeksi  lapang  erhadap  70  industri  guna  mengevaluasi ketaatan pelaku usaha dalam pengalolaan lingkungan hidup (Proper).  4.    Penyusunan  kebijakan  pengendalian  pencemaran  dan  perusakan  lingkungan  hidup,  berupa  Draft  Perda  Pengelolaan  Wilayah  Pesisir  dan  tersedianya  lokasi  yang  memenuhi  syarat  teknis  kegiatan  pengelolaan  limbah  B3.  Kegiatan  ini  pada  tahun  2008 dilakukan  kegiatan pendampingan pengelolaan Rawa Pacing Kabupaten Tulang  Bawang berupa penyebaran bibit ikan untuk pengayaan spesies di Rawa Pacing, dan  pemberian  bantuan  bibit  pohon  kepada  masyarakat  di  sekitar  Rawa  Pacing  untuk  meningkatkan vegetasi di sekitar rawa.  5.  Koordinasi penyusunan AMDAL pada perusahaan wajib AMDAL di 10 Kabupaten/Kota.  Kegiatan koordinasi ini dilanjutkan pada tahun 2008.  b.  Program Perlindungan dan Konservasi Sumberdaya Alam.  Pada tahun 2007, kegiatan ini berupa  koordinasi  peningkatan  pengelolaan  kawasan  konservasi.  Pada  tahun  2008  program  ini  berkembang menjadi beberapa kegiatan seperti:  1.  Kegiatan peningkatan konservasi daerah tangkapan dan sumber­sumber air.  Realisasi  kegiatan  ini  berupa  pembentukan  lokasi  bank  pohon  di  Desa  Kibang  Kecamatan  Menggal  Kabupaten  Tulang  Bawang,  kemudian  juga  adan  kegiatan  pendampinga  3  kampung  konservasi  yaitu  Desa  Pacing  Kecamatan  Menggala  Kabupaten  Tulang  Bawang, Desa Sungai Langka Kecamatan Gedung Tataan Kabupaten Pesawaran, dan  Desa Margasari Kecamatan Labuhan Maringgai Kabupaten Lampung Timur. 273 

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Perbaikan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Pelestarian Fungsi Lingkungan Hidup 

2.  Kegiatan peningkatan peranserta masyarakat dalam perlindungan dan konservasi SDA.  Dalam meningkatkan peranserta masyarakat dalam konservasi SDA ini, maka diadakan  lomba memperebutkan Kalpataru pada masing­masing kelompok tani atau masyarakat  adat.    Tujuan  diadakannya  lomba  ini  adalah  untuk  memacu  aktivitas  masing­masing  kelompok dalam perlindungan dan konservasi SDA.  c.    Program  rehabilitasi  dan  pemulihan  cadangan  sumberdaya  alam,  yaitu  perencanaan  dan  penyusunan program pembangunan pengendalian sumberdaya alam dan lingkungan hidup.  d.  Program peningkatan kualitas dan akses informasi sumberdaya alam dan lingkungan hidup, yaitu  pengembangan  data  dan  informasi  lingkungan  dengan  hasil  tersusunnya  laporan  “Status  Lingkungan  Hidup  Daerah”  tahun  2007.    Pada  tahun  2008  juga  disusun  Laporan  Status  Lingkungan Hidup Provnsi Lampung Tahun 2008, dan buku Kumpulan Data Lingkungan Hidup.  Selain  itu juga dilakukan kegiatan peningkatan edukasi  dan komunikasi  masyarakat mengenai  peraturan perundang­undangan lingkungan hidup di Kabpaten/Kota.  e.    Program  peningkatan  pengendalian  polusi,  berupa  penyuluhan  Hukum  Lingkungan  dan  penegakan hukum lingkungan.

VI. Tindak Lanjut  Pembangunan  dan  pengelolaan  sumberdaya  alam  adalah  suatu  kegiatan  yang  tidak  dimensi  ruang  dan  waktu,  sehingga  harus  dilakukan  secara  terus  menerus  setiap  waktu  dan  disemua  tempat.    Kemudian  pembangunan bidang SDA ini tidak dapat dilakukan hanya oleh salah  satu sektor saja, akan tetapi harus  dilakukan  secara  komprehensif  oleh  semua  sektor  yang  terkait.    Untuk  itu  peran  koordinasi  antar  sektor  sangat  mutlak  diperlukan.  Perkembangan  sumberdaya  alam  harus  selalu  dimonitor  secara  rutin  dan  berkala,  karena  SDA  berkembang  sangat  dinamis.  Peran  perguruan  tinggi  daerah  sebagai  mitra  pembangunan dari pemerintah daerah sangat diperlukan sbagai sumber ilmu pengetahuan dan teknologi di  daerah.    Penegakan  hukum  harus  dijalankan  dengan  efektif  bagi  pelanggar  yang  melakukan  kerusakan  terhadap sumberdaya alam.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

274 

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Perbaikan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Pelestarian Fungsi Lingkungan Hidup 

VII. Penutup  Secara  umum  program  pengelolaan  sumberdaya  alam  dan  perbaikan  lingkungan  hidup  di  Provinsi  Lampung telah berlangsung dengan baik, namun untuk memaksimalkan potensi perikanan laut di Provinsi  Lampung  perlu  digalang  kerjasama  dengan  pihak  swasta  sebagai  pemilik  modal.  Kemudian  untuk  melestarikan  fungsi  hutan  pada daerah aliran  sungai  (DAS), perlu meningkatkan peran  serta masyarakat  mulai  dari  tahap  perencanaan  sampai  dengan  tahap  pemeliharaan  hingga  monitoring  dan  evaluasi,  sehingga  masyarakat  difungsikan  sebagai  pelestari  hutan.    Untuk  mensukseskan  program  ini  tentunya  harus  dibentuk  dan  digiatkan  kelompok­kelompok  pelestari  lingkungan  dengan  insentif­insentif  yang  menjanjikan dari pemerintah.  Kerjasama Pemerintah, Pemerintah Daerah dan Perguruan tinggi di daerah  sangat diperlukan guna meningkatkan keberdayaan masyarakat dalam bersinergi dengan perusahaan guna  mengoptimalkan fungsi hutan dan DAS untuk pembangunan berkelanjutan.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

275

Tim Independen Universitas Lampung

Laporan Akhir 

Peningkatan Kapasitas, Kualitas, dan Aksesibilitasi  Pelayanan Infrastruktur 

Bab IV.19 Peningkatan Kapasitas, Kualitas dan Aksesibilitasi Pelayanan Infrastruktur
4.19.1 Sumber Daya Air I. Pengantar  Pembangunan  sumber  daya  air  ditujukan  untuk  memenuhi  kebutuhan  hidup  manusia  dan  meningkatkan  kesejahteraannya.  Pembangunan  sumber  daya  air  selama  ini  dilakukan  melalui  empat  program,  yaitu:  (i)  Program Pengembangan, Pengelolaan, dan Konservasi Sungai, Danau, dan Sumber Air Lainnya; (ii) Program  Pengembangan  dan  Pengelolaan  Jaringan  Irigasi,  Rawa,  dan  Jaringan  Pengairan  Lainnya;  (iii)  Program  Pengembangan dan Penyediaan Air Baku; serta (iv) Program Pengendalian Banjir dan Pengamanan Pantai.  Selain  kegiatan  pembangunan  fisik,  sampai  dengan  tahun  2007  pemerintah  juga  dilakukan  pemberdayaan  masyarakat  termasuk  perkumpulan  petani  pemakai  air  (P3A)  yang  mencakup  organisasi,  teknis,  dan  administrasi.  Diharapkan  masyarakat  petani  dapat  meningkatkan    peran  dan  tanggung  jawabnya  dalam  pengelolaan  irigasi.  Penyelesaian  penyusunan  beberapa  peraturan  pemerintah  (PP)  dan  peraturan  di  bawahnya  sebagai  acuan  pelaksanaan  UU  No.  7  Tahun  2004  tentang  Sumber  Daya  Air  juga  dilakukan  sehingga dapat lebih memperjelas peran dan tanggung jawab masing­masing stakeholder dan memperlancar  pelaksanaan pengembangan dan pengelolaan sumber daya air.  Meskipun sampai dengan tahun 2007 telah dilakukan upaya konservasi air, pengembangan jaringan irigasi,  penyediaan  air  baku,  pengendalian  banjir  dan  pengamanan  pantai,  serta  upaya  memenuhi  perangkat  peraturan  perundangan  dan  peningkatan  partisipasi  masyarakat,  namun  masih  perlu  upaya  lanjutan  agar  hasilnya  dapat  lebih  dirasakan  oleh  masyarakat  secara  adil  dan  berkelanjutan.  Hal  ini  disebabkan  masih  terdapatnya berbagai permasalahan, antara lain: (1) menurunnya daya dukung sumber daya air, baik air permukaan maupun air tanah. Kondisi  ini  disebabakan  antara  lain  oleh  kerusakan daerah hulu  terutama  penurunan fungís hutan Taman Nasional Bukit Barisan (TNBBS) sebagai hulu sebagian besar sungai­sungai  di  Lampung  sehingga  ketersediaan  air  permukaan  semakin  menurun  yang  mengakibatkan  terjadinya  penggunaan  air  tanah  yang  tidak  terkendali.    (2) Kecilnya alokasi operasi dan pemeliharaan prasarana
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

276

Laporan Akhir 

Peningkatan Kapasitas, Kualitas, dan Aksesibilitasi  Pelayanan Infrastruktur  sumber daya air.  (3) Lemahnya koordinasi dan partisipasi masyarakat. Peningkatan  koordinasi  dalam  pengembangan  dan  pengelolaan  sumber  daya  air  dan  partisipasi  masyarakat  diperlukan  dalam  rangka  menjamin keberlanjutan sumber daya air. (4) Belum dibangunnya basis data dan sitem informasi sumber daya air sebagai acuan data di Lampung. Sistem informasi yang dapat diakses seluruh stakeholder dapat  meningkatkan transparansi, akuntabilitas, serta menumbuhkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan.

II. Sasaran Pembangunan Tahun 2009 
Sasaran  pembangunan  sumber  daya  air  dalam  tahun  2009  diprioritaskan  pada:  (1)  tercapainya  pola  pengelolaan  sumber  daya  air  yang  terpadu  dan  berkelanjutan;  (2)  terkendalinya  potensi  konflik  air,  (3)  terkendalinya  pemanfaatan air tanah; (4) meningkatnya kemampuan  pemenuhan  kebutuhan air bagi rumah  tangga, permukiman, pertanian dan industri dengan prioritas utama untuk kebutuhan pokok masyarakat dan  pertanian;  (5)  berkurangnya  dampak  banjir  dan  kekeringan;  (6)  terkendalinya  pencemaran  air;  (7)  terlindunginya  daerah  pantai  dari  abrasi  air  laut  terutama  pada  pulau­pulau  kecil,  daerah  perbatasan  dan  wilayah  strategis;  (8)  meningkatnya  partisipasi  masyarakat;    (9)  meningkatnya  kualitas  koordinasi  dan  kerjasama  antar  instansi;  (10)  terciptanya  pola  pembiayaan  yang  berkelanjutan;  (11)  tersedianya  data  dan  system  informasi  yang  actual,  akurat  dan  mudah  diakses;  (12)  pulihnya  kondisi  sumber­sumber  air  dan  prasarana  sumber  daya  air,  ketersediaan  air  baku  bagi  masyarakat,  pengendalian  banjir  terutama  pada  daerah perkotaan, serta pulihnya kondisi pantai di Nanggroe Aceh Darussalam dan sebagai wilayah Sumatra  Utara akibat bencana alam.

III. Arah Kebijakan Pembangunan Sumber Daya Air 
Pengelolaan  sumber  daya  air  dilaksanakan  dengan  memperhatikan  keserasian  antara  konservasi  dan  pendayagunaan, antara hulu dan hilir, antara pemanfaatan air permukaan dan air tanah, antara pengelolaan  demand  dan  pengelolaan  supply,  serta  antara  pemenuhan  kepentingan  jangka  pendek  dan  kepentingan  jangka panjang. Pada masa lalu fokus pembangunan lebih ditujukan pada pendayagunaan. Ke depan upaya  konservasi  akan  lebih  diutamakan  sehingga  akan  terjadi  keseimbangan  antara  upaya  untuk  memenuhi  kebutuhan jangka pendek dan upaya untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang. Selain itu, pola hubungan  hulu­hilir akan  terus  dikembangkan  agar tercapai pola pengelolaan yang  lebih berkeadilan. Pengembangan  dan  penerapan  sistem  conjuctive  use  antara  pemanfaatan  air  permukaan  dan  air  tanah  akan  digalakkan  terutama  untuk  menciptakan  sinergi  dan  menjaga  keberlanjutan  ketersediaan  air  tanah.  Untuk  itu,  pemanfaatan  air  tanah  akan  dibatasi,  terutama  untuk  pemenuhan  kebutuhan  air  baku  rumah  tangga  dan  usaha  pertanian  yang  secara  finansial  mempunyai  prospek  menguntungkan.  Upaya  yang  terlalu

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

277

Laporan Akhir 

Peningkatan Kapasitas, Kualitas, dan Aksesibilitasi  Pelayanan Infrastruktur  menitikbertakan pada sisi penyediaan (supply) terbukti kurang efisien dan efektif dalam rangka memecahkan  masalah  pengelolaan  sumber  daya  air.  Untuk  itu,  upaya  tersebut  perlu  disertai  dengan  upaya  melakukan  rasionalisasi permintaan dan penggunaan air melalui demand management.  Pendekatan  vegetatif  dalam  rangka  konservasi  sumber­sumber  air adalah  hal yang  sangat  perlu  dilakukan  karena  penting  dan  tak­tergantikannya  fungsi  vegetatif  dalam  konteks  lingkungan.  Namun  disadari  bahwa  hasil dari upaya  vegetatif tersebut bersifat jangka  panjang.  Untuk  itu, dalam 5 (lima) tahun  kedepan  upaya  vegetatif perlu diimbangi upaya­upaya lain, antara lain rekayasa keteknikan, yang lebih bersifat quick yielding.  Pembangunan tampungan air berskala kecil akan lebih dikedepankan, sedangkan pembangunan tampungan  air  dalam  sekala  besar  perlu  pertimbangan  yang  lebih  hati­hati  karena  menghadapi  masalah  yang  lebih  kompleks,  terutama  terkait  dengan  isu  sosial  dan  lingkungan.  Pola  pembangunan  berskala  kecil  ini  akan  mengurangi derajat konsentrasi biaya dan resiko pada suatu areal dan penduduk tertentu. Upaya konservasi  sumber­sumber  air  dilakukan  tidak  hanya  untuk  melestarikan  kuantitas  air,  tapi  juga  diarahkan  untuk  memelihara  kualitas  air.  Selain  itu,  upaya  konservasi  air  tanah  terus  akan  ditingkatkan  dengan  pengisian  kembali (recharging), pembuatan sumur resapan, atau dengan aplikasi teknologi lain yang tersedia dan layak.  Untuk  melindungi  sumber  daya  air  dan  bencana  banjir,  maka  perlu  dilakukan  pelestarian  situ­situ  dan  pengamanan daerah aliran sungai.  Pendayagunaan  sumber  daya  air  untuk  pemenuhan  kebutuhan  air  irigasi  pada  lima  tahun  ke  depan  difokuskan  pada  upaya  peningkatan  fungsi  jaringan  irigasi  yang  sudah  dibangun  tapi  belum  berfungsi,  rehabilitasi  pada  areal  irigasi  berfungsi  yang  mengalami  kerusakan,  dan  peningkatan  kinerja  operasi  dan  pemeliharaan. Upaya peningkatan fungsi jaringan akan dilakukan hanya pada areal yang ketersediaan airnya  terjamin  dan  petani  penggarapnya  sudah  siap,  dengan  prioritas  areal  irigasi  di  luar  pulau  Jawa.  Upaya  rehabilitasi akan diprioritaskan pada areal irigasi di daerah lumbung padi. Mengingat luasnya jaringan irigasi  yang  belum  berfungsi,  maka  pada  lima  tahun  ke  depan  tidak  perlu  lagi  dilakukan  upaya  pengembangan  jaringan  sawah  beririgasi  baru,  kecuali  menyelesaikan  proyek­proyek  yang  sudah  dimulai  dan  tengah  dikerjakan.  Operasi  dan  pemeliharaan  jaringan  irigasi  diselenggarakan  dengan  berbasis  partisipasi  masyarakat dalam seluruh proses kegiatan. Untuk mengendalikan kecenderungan meningkatnya alih fungsi  lahan,  akan  dikembangkan  berbagai  skema  insentif  kepada  petani  agar  bersedia  mempertahankan  lahan  sawahnya.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

278 

Laporan Akhir 

Peningkatan Kapasitas, Kualitas, dan Aksesibilitasi  Pelayanan Infrastruktur 

IV.  Pencapaian Sasaran Sampai Tahun 2008 
(1.) Pengembangan Pengelolaan dan konservasi Sungai, Danau, dan Sumber Air Lainnya  Outputs dari Program ini menunjukkan pencapaian outputs yang masih relative kurang disebabkan  oleh belum terselesaikannya target yang ditetapkan. Konservasi yang dilakukan masih terbatas pada  penghijauan  daerah  tangkapan  air  di  upstream  Bendungan  Batutegi  itupun  masih  sangat  kurang  dibandingkan dengan tingkat kerusakan yang diakibatkan oleh perambahan hutan. Konservasi pada  daerah bantaran atau sempadan sungai dan sempadan  sumber air lain masih terbatas  pada  studi  penanggulangan erosi tebing sungai dengan cara vegetatif. Kegiatan semacam ini hendaknya dapat  dikembangkan  lebih  lanjut  dengan  melibatkan  peran  aktif  masyarakat.    Mengingat  dengan  model  partisipatif  kegiata  konservasi  jauh  lebih  tinggi  tingkat  keberhasilanya,  disamping  juga  merupakan  amanat UU No.7 Th. 2004 tentang Sumber Daya Air.  Pembangunan embung (system tampungan  air hujan) juga banyak dilakukan namun belum terkoordinasi dengan  sector lain sehingga jaminan  keberlangsungan operasi pemeliharaannya masih belum terjamin.  (2.) Pengembangan dan Pengelolaan Jaringan Irigasi, Rawa dan Jaringan Pengairan Lainnya  Pada  aspek  ini  terdiri  dari  kegiatan  Operasi  Pemeliharaan  Bendung,  pencetakan  sawah  baru,  Pembangunan  Jaringan  Irigasi Air Tanah, serta rehabilitasi   jaringan  irigasi. Pada aspek ini  meski  pun  sudah  banyak  dilakukan  rehabilitasi  jaringan,  namun  masih  terkendala  dengan  keterbatasan  biaya  dibandingkan  panjang  jaringan  yang  harus  direhabilitasi.  Sampai  tahun  2008  beberapa  jaringan telah direhabilitasi antaralain  Daerah Irigasi (DI) Way Rarem, Way Biha, Way Tulungmas  dan Way Curup. Rehabilitasi yang dilakukan termasuk rehabilitasi shipon dan talang di DI tersebut.  Namun dampak  pada  tingkat produksi padi di DI yang direhabilitasi tersebut belum menampakkan  hasil, salah satunya disebabkan karena pada masa transisi tanggung jawab pengelolaan, banyak DI  yang tidak teruurus sehingga banyak lahan sawah yang ditanami tanaman perkebunan karena tidak  tersedianya air. Pada masa  transisi pengelolaan pemerintah pusat sudah  menyerahkan ke  daerah  sementara  pemerinah  daerah  sangat  terbebani  dengan  biaya  yang  besar  untuk  Operasi  dan  Pemeliharaan jaringan tersebut. Rehabilitasi jaringan irigasi rawa  juga dilakukan di DI Rawa Pidada.  Namun  secara  keseluruhan  rehabiltasi  dan  pemeliharaan  jaringan  masih  belum  mencukupi  untuk  mendorong program ketahanan pangan.  (3.) Penyediaan Air Baku  Cukup  banyak  kegiatan  pada  aspek  ini,  karena  merupakan  amanat  MDGs  untuk  mengurangi  setengah  jumlah penduduk yang  tidak  mempunyai akses  ke air bersih. Namun di lapangan  bukan  tanpa  kendala,  hampir  semua  PDAM  dalam  kondisi  tidak  sehat  ditambah  kenyataan  menurunnya
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

279 

Laporan Akhir 

Peningkatan Kapasitas, Kualitas, dan Aksesibilitasi  Pelayanan Infrastruktur  daya dukung sumber air di Propinsi Lampung. Sampai pada tahun 2008, telah dilakukan penguatan  PDAM  Bandar  Lampung  dan  PDAM  Kabupaten  Lampung  Barat  (Liwa).  Pembangunan  sarana  air  bersih baru juga dilakukan, meskipun masih terkesan ada koordinasi yang kurang dan program yang  tumpang  tindih antara yang  dilakukan Balai Besar dengan yang  dilakukan oleh Dinas  PU Propinsi  (Subdin  Kimpraswil).  Misalnya  untuk  menyusun  Masterplan  penyediaan  air  bersih  di  tingkat  Kabupaten kabupaten yang belum semua terealisasi sementara pembangunan dan pengadaan terus  dilakukan tanpa berdasar pada kebutuhan masyarakat. Keterkaitan program pada aspek ini dengan  konservasi sempadan sumber air juga kurang terkait.  (4.) Program Pengendali Banjir Pengaman Pantai  Pada  aspek  ini  terdapat  kegiatan  yang  belum  dilakukan  secara  terpadu,  mengingat  banjir  masih  terus  berlangsung  tanpa  perkembangan  penanganan  yang  signifikan.  Secara  umum  banjir  yang  terjadi  di  Propinsi  Lampung  diakibatkan  oleh  luapan  air  sungai  pada  lahan  sawah  produktif.  Penanggulangan  yang  dilakukan  sampai  dengan  tahun  2008  masih  terbatas  pada  pembangunan  tanggul  banjir.    Kegiatan  pengamanan  pantai  juga  masih  terbatas  pada  pembangunan  revetment  untuk  pengamanan  jalan  yang  berbatasan  langsung  dengan  pantai  itupun  hanya  terbatas  pada  tempat­tempat tertentu saja. Padahal pengamanan pantai membutuhkan system yang komprehensip  termasuk  mengakomodasi  refitalisasi  system  vegetasi  (mangrove)  yang  terbukti  lebih  efektif  dan  murah biaya Operasi dan Pemeliharaaannya.  (5.) Penataan Kelembagaan dan Tatalaksana  Program  ini  menunjukkan  capaian  yang  cukup  signifikan  mengingat  sebagian  besar  merupakan  pekerjaan perangkat lunak (software), yaitu berupa penyusunan NSPM, kajian, studi, pemberdayaan  masyarakat,  dll.  Diantara  kegiatan  pada  program  ini  dengan  capaian  yang  sedang  antara  lain  Pembentukan  P3A  dengan  prinsip  demokratis.  Kegiatan  ini  memerlukan  perhatian  khusus  karena  target  keseluruhan  secara  Nasional  pembentukan  P3A  yang  harus  diselesaikan  dalam  waktu  3  tahun kedepan adalah sebesar 9.500 P3A dan yang harus diselesaikan dalam sampai tahun 2009  berjumlah  6.500  P3A  namun  tingkat  capaian  pada  tahun  2006  masih  417  P3A  saja.  Penyusunan  darft Pola pengelolaan Wilayah Sungai juga sudah dan sedang dilakukan. Draft Pola untuk Wilayah  Sungai  Seputih  Sekampung  telah  dilaksanakan  pada  tahun  2007,  sedangkan  pada  tahun  2008  sedang disusun draft Pola Pengelolaan Wilayah Sungai Mesuji­Tulangbawang. Wilayah Sungai yang  belum  dimulai  penyusunan  polanya  adalah  Wilayah  Sungai  Semangka.  Kedua  Pola  yang  sedang  dan  telah  disusun  masih  terbatas  pada  pengolahan  data,  sedangkan  pada  tataran  kebijakan  dan  usaha untuk disahkan secara legal belum dilakukan.
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

280 

Laporan Akhir 

Peningkatan Kapasitas, Kualitas, dan Aksesibilitasi  Pelayanan Infrastruktur 

V. Kendala dan Upaya dalam Pencapaian Sasaran 
Secara  umum  kendala  utama  adalah  keterbatasan  anggaran,  sehingga  program  yang  dilakukan  terkesan  masih parsial dan menurut skala prioritas, sehingga hanya yang sangat mendesak yang dibiayai sedangkan  penanganan  sumber daya  air membutuhkan  pendekatan yang sistematis  dan berkesinambungan, untuk  itu  diperlukan  upaya  yang  terkoordinasi  berdasar  pada  wilayah  sungai  dengan  dasar  Pola  Pengelolaan  yang  disusun  secara  partisipatif.  Koordinasi  antar  sektor  juga  masih  menjadi  kendala  mengingat  masih  terdapat  program yang tumpang tindih, misalnya penanganan penyediaan air bersih yang dilakukan oleh Balai Besar  Wilayah Sungai Mesuji Sekampung (BBWSMS) dan Dinas PU Propinsi. Koordinasi pada tingkat perencanaan  dengan melibatkan semua pihak terkait menjadi tuntutan yang harus diatasi pada masa datang. Perencanaan  berlandaskan  hasil  penyusunan  Pola  Pengelolaan  Wilayah  Sungai  yang  partisipatif  harus  menjadi  acuan  perencanaan yang berbasis kebutuhan masyarakat.

4.19.2 Transportasi I. Pengantar 
Transportasi  secara  umum  berfungsi  sebagai  katalisator  dalam  mendukung  pertumbuhan  ekonomi,  pengembangan wilayah, dan pemersatu wilayah  Negara Kesatuan Republik  Indonesia (NKRI). Infrastruktur  transportasi  mencakup  transportasi  jalan,  perkeretaapian,  angkutan  sungai,  danau  dan  penyeberangan,  transportasi  laut  dan  udara.  Pada  umumnya  infrastruktur  transportasi  mengemban  fungsi  pelayanan  publik  dan  misi  pembangunan  nasional.  Di  sisi  lain  transportasi  juga  berkembang  sebagai  industri  jasa.  Pembangunan  transportasi,  diarahkan  untuk  mendukung  perwujudan  Indonesia  yang  lebih  sejahtera  dan  sejalan dengan perwujudan Indonesia yang aman dan damai serta adil dan demokratis.  Untuk mendukung perwujudan kesejahteraan masyarakat, maka fungsi pelayanan umum transportasi adalah  melalui  penyediaan  jasa  transportasi  guna  mendorong  pemerataan  pembangunan,  melayani  kebutuhan  masyarakat  luas  dengan  harga  terjangkau  baik  di  perkotaan  maupun  perdesaan,  mendukung  peningkatan  kesejahteraan masyarakat di wilayah pedalaman dan terpencil, serta untuk  melancarkan mobilitas distribusi  barang dan jasa dan mendorong pertumbuhan sektor­sektor ekonomi nasional. Oleh sebab itu pembangunan  transportasi  diarahkan  untuk  meningkatkan  pelayanan  jasa  transportasi  secara  efisien,  andal,  berkualitas,  aman  dan  dengan  harga  terjangkau.  Selain  itu  perlu  dikembangkan  pembangunan  sistem  transportasi  nasional  (Sistranas)  untuk  mencapai  keterpaduan  secara  intermoda  dan  keterpaduan  dengan  sistem  tata  ruang  nasional,  pembangunan  wilayah  dan  berkelanjutan;  serta  terciptanya  sistem  distribusi  nasional,

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

281

Laporan Akhir 

Peningkatan Kapasitas, Kualitas, dan Aksesibilitasi  Pelayanan Infrastruktur  regional dan internasional yang mampu memberikan pelayanan dan manfaat bagi masyarakat luas, termasuk  meningkatkan jaringan transportasi antara desa­kota dan daerah produksi­pemasaran serta memadai.  Pendanaan pemerintah sangat terbatas dalam memenuhi kebutuhan standard perawatan dan pemeliharaan  prasarana  dan  sarana  transportasi,  terutama  transportasi  jalan  dan  perkeretaapian.  Begitu  pula  untuk  pembangunan  jaringan  prasarana  dan  sarana  transportasi  yang  baru  ataupun  peningkatan  kapasitas  dan  kualitas  prasarana  transportasi  yang  ada.  Selain  itu,  untuk  mendukung  pembangunan  di  seluruh  wilayah  NKRI,  selain  diperlukan  peran  serta  masyarakat  dan swasta,  juga  diperlukan  tatanan  transportasi  nasional  dan wilayah yang dapat mewujudkan ketersediaan transportasi di dalam dan antar pulau secara lebih terpadu  dan  efisien,  baik  menggunakan  moda  transportasi  darat,  laut  dan  udara  serta  yang  bersinergis  dengan  pengembangan wilayah dan pembangunan sektor­sektor lainnya.  Permasalahan  yang  masih  dihadapi  pada  pembangunan  lalu  lintas  angkutan  jalan  sampai  dengan  tahun  2008,  baik  prasarana  dan  sarana  moda  transportasi  jalan  terutama  adalah  kelaikan  prasarana  dan sarana  jalan, disiplin dan keselamatan lalu lintas di jalan serta perkembangan armada dan pergerakan angkutan jalan  yang  terus  meningkat yang tidak  sebanding dengan perkembangan  panjang dan kapasitas  prasarana jalan  setiap  tahunnya.  Di  samping  itu,  masalah  kemacetan  dan  dampak  polusi  udara  khususnya  di  masih  merupakan tantangan yang harus diatasi. Jumlah kecelakaan lalu lintas dan pelanggaran lalu lintas, maupun  pelanggaran  muatan  lebih  di  jalan,  masih  tinggi  sehingga  memerlukan  koordinasi  dan  upaya  yang  lebih  intensif  di  masa  depan.  Tingkat  jangkauan  pelayanan  angkutan  jalan  di  wilayah  perdesaan  dan  terpencil,  masih  terbatas,  dilihat  dari  terbatasnya  pembangunan  prasarana  jalan  dan  penyediaan  angkutan  umum  perintis.

II. Sasaran Pembangunan Tahun 2009 
Sasaran  pembangunan  Sektor  Transportasi  secara  umum  adalah:  (1)  meningkatnya  kondisi  dan  kualitas  prasarana  dan  sarana  dengan  menurunkan  tingkat  backlog  pemeliharaan;  (2)  meningkatnya  jumlah  dan  kualitas  pelayanan  transportasi,  terutama  keselamatan  transportasi  nasional;  (3)  meningkatnya  kualitas  pelayanan  transportasi  yang  berkesinambungan  dan  ramah  lingkungan,  serta  sesuai  dengan  standar  pelayanan  yang  di  masyarakat.  (4)  meningkatnya  mobilitas  dan  distribusi  nasional  dan  wilayah;  (5)  Meningkatnya pemerataan dan keadilan pelayanan  transportasi baik  antar wilayah  maupun  antar golongan  masyarakat  di  perkotaan,  perdesaan,  maupun  daerah  terpencil  dan  perbatasan;  (6)  Meningkatnya  akuntabilitas pelayanan transportasi melalui pemantapan sistem transportasi nasional, wilayah dan lokal; (7)  khusu  unutk  daerah  yang  terkena  bencana  nasional  akan dilakukan  program rehabilitasi  sarana  prasarana

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

282 

Laporan Akhir 

Peningkatan Kapasitas, Kualitas, dan Aksesibilitasi  Pelayanan Infrastruktur  transportasi  dan  pembinaan  sumber  daya  manusia  yang  terpadu  dengan  program­program  sektor­sektor  lainnya dan rencana pengembangan wilayah.

III. Capaian Sasaran Tahun 2005 ­ 2007 
(1.) Subsektor Prasarana Jalan  Program untuk mempertahankan dan meningkatkan daya dukung, kapasitas, maupun dan kualitas  pelayanan prasarana jalan telah dilakukan baik dengan dana APBN maupun dari dana swadaya  masyarakat  melalui  program  pemberdayaan  di  tingkat  kabupaten  misalnya  dengan  Program  Gerakan  Masyarakat  Membangun  (GEMA)  Tapis  Berseri  di  Kota  Bandar  Lampung,  Program  Jejamo Ngebangun Sai Bumi Nengah Nyappur di Kabupaten Tulang Bawang, Program Beguwai  Jajamo  Wawai  di  Kabupaten  Lampung  Tengah,  dan  Program  Gerakan  Membangun  Beguai  Jejama Sai Betik di Kabupaten Lampung Barat namun program­program tersebut belum mampu  mendorong  percepatan distribusi  barang  dan  jasa  serta hasil  produksi  terutama  hasil  pertanian.  Sampai dengan  tahun  2008  rencana  pembangunan  jalan tol Babatan – Tegineneng  juga belum  terealisasi,  sehingga  menjadikan  penumpukan  transportasi  kedaraan  ke  jalan  dalam  kota  dan  mendorong  terjadinya  kemacetan.  Pembangunan  Jalan  lintas  pantai  Timur  juga  masih  belum  dapat  diselesaikan  sampai  dengan  tahun  2008  mengingat  kendala­kendala  teknis  di  lapangan  terutama  masalah  pembebasan  lahan.  prasarana  jalan  yang  baik/hotmix  baru  menyentuh  kawasan  pusat  perdagangan,  perkotaan,  pusat­pusat  peme­rintahan  dan  kawasan­kawasan  industri  besar  yang  berkembang  di  Lampung.  Prasarana  transportasi  menyentuh  wilayah  penghasil kopi, lada dan coklat yang berada di padalaman, sehingga petani membawa hasil bumi  mereka sangat kesulitan. Saat ini mereka “berjuang” sendiri dengan memanfaatkan “ojek”, sepeda  motor yang  disewakan  sebagai angkutan barang dengan  biaya  transportasi yang  sangat mahal.  Namun demikian usaha keraha peningkatan koordinasi diantara pemerintah pusat dan pemerintah  daerah untuk  memperjelas  hak  dan kewajiban dalam penanganan  prasarana jalan telah dimulai  dilakukan  dalam  konteks  pelayanan  intermoda  dan  sistem  transportasi  nasional  (Sistranas)  mengingat panjang jalan nasional di Propinsi Lampung  terus  meningkat dari hanya kurang lebih  800 km pada tahun 2003 menjadi hampir dua kali lipatnya pada tahun 2008. Namun hal ini tidak  diikuti dengan  panjang  jalan yang  di bangun/rehabilitasi pada jalan kelas dua sampai kelas tiga  yang  notabene  langsung  mendorong  peningkatan  transportasi  hasil  pertanian.  Namun  dengan  pemekaran  daerah  kabupaten  baru  diharapkan  keterbatasan  dana  dalam  pembangunan  jalan  dapat dikurangi.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

283 

Laporan Akhir 

Peningkatan Kapasitas, Kualitas, dan Aksesibilitasi  Pelayanan Infrastruktur  (2.) Sub Sektor transportasi darat  Peningkatan dan pemulihan kondisi pelayanan angkutan umum jalan raya, terutama terasa di Kota  Bandar  Lampung  dengan  diluncurkanya  Angkutan  Bis  dalam  Kota  dengan  fasilitas  AC,  namun  dengan  tidak  tepatnya  waktu  pemberangkatan  dan  tempat  pemberhentian  yang  disembarang  tempat menjadikan pengurangan kemacetan tidak tercapai. Penertiban kedisiplinan angkutan kota  serta  jumlahnya  yang  tidak  rasional  juga  menjadi  permasalahan  yang  masih  belum  nampak  program­program  untuk  mengatasinya.  Peningkatkan  pelayanan  penyeberangan  sebagai  pendukung  moda  transportasi  lainnya,  juga  telah  diprogramkan  dengan  program  perencanaan  revitalisasi  pelabuhan  srengsem,  namun  sampai  dengan  tahun  2008  realisasi  perencanaan  tersebut belum secara signifikan dilakukan. Pada sektor perkeretaapian, telah diluncurkan kereta  api komuter untuk melayani masyarakat ke dan dari Kota Bandar Lampung ke sejumlah daerah,  namun  fasilitas  ini  masih  dirasa  kurang  karena  jumlahnya  yang  masih  terbatas  dan  harus  mendahulukan  rangkaian  kereta  api  batubara  jika  terjadi  persimpangan.  Untuk  menyusun  perencanaan  ke  depan  Propinsi  Lampung  melalui  Peraturan  Gubenur  No.  8  tahun  2006  telah  menetapkan  Tata  Transportasi  Wilayah  Propinsi  Lampung  (TATRAWIL)  sebagai  acuan  pembangunan tansportasi serta pengembangan wilayah.  (3.) Sub Sektor transportasi laut  Pelabuhan  Panjang sebagai garda terdepan dalam malayani kebiatan transportasi laut terutama  untuk  komodisti  eksport  menjadikan  pelabuhan  ini  sangat  strategis  bagi  wilayah  Propinsi  Lampung.  Namun  kendala  koordinasi  antara  pemerintah  daerah  dengan  PT.  Pelindo  II  sebagai  pengelola  Pelabuhan  Panjang  masih  menjadi  hal  yang  harus  dipecahkan.  Untuk  mengatasi  hal  tersebut, telah dilakukan peningkatan kualitas layanan serta perluasan sarana prasarana bongkar  muat  di  Pelabuhan  Panjang  sampai  dengan  tahun  2008.  Disamping  itu  mulai  tahun  2006  telah  dimulai perencanaan dan revitalisasi pelabuhan Serengsem,  Pelabuhan Batu Balai (Kota Agung),  pelabuhan Bengkuat, Mesuji dan pelabuhan Pulau Tabuan sesuai fungsi masing­masing. Namun  rencana  tersebut  belum  ada  realisasi  yang  signifikan  terutama  dampak  terhadap  peningkatan  kualitas transportasi laut di Propinsi Lampung.  (4.) Sub Sektor transportasi udara  Dalam  program  untuk  menambah  dan  memperbaiki  pengelolaan  prasarana  dan  sarana  transportasi udara Raden Inten II, sampai dengan tahun 2008 telah dilakukan peningkatan sarana  prasarana  bandara  sepeti  memperpanjang  landasan  pacu,  pembangunan  gedung  kedatangan/pemberangkatan  VIP  serta  sarana  keselamatan  udara  dan  komunikasi  untuk
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

284 

Laporan Akhir 

Peningkatan Kapasitas, Kualitas, dan Aksesibilitasi  Pelayanan Infrastruktur  mendapatkan sertifikat operasional bandara. Untuk mengembangkan jalur penerbangan baru dari  dan ke  bandara Radin inten  telah dimulai dengan  melakukan perencanaan bandara di lampung  Barat dan Way Kanan, sebagai feeder penerbangan. Namun dampak terhadap perekonomian di  Wilayah Lampung belum terasa, mengingat kompetisi dengan moda transportasi lain cukup ketat  karena jarak dengan Jakarta juga tidak terlalu ekonomis untuk penerbangan udara.

4.19.3 Energi dan Ketenagalistrikan
A. ENERGI

I. Pengantar 
Dalam  TA  2009  permasalahan  sektor  energi  diperkirakan  meliputi:  masih  adanya  kesenjangan  antara  penyediaan  dengan  konsumsi  energi;  terbatasnya  infrastruktur  energi;  masih  bersarnya  ketergantungan  sektor  kepada  pemerintah;  belum  berjalanya  pelaksanaan  bisnis  energi  yang  prospektif  dan  efisien;  serta  masih rendahnya tingkat diversifikasi energi.  Sementara itu, sesuai dengan asumsi pertumbuhan  energi jangka  menengah yang mencapai sekitar 6,6 %  per  tahun,  diperkirakan  pembangunan  energi  tahun  2009  akan  mengalami  tantangan  berupa  pemenuhan  pasokan energi yang meningkat sekitar 7,1 % per tahun. Disamping itu, menjadi tantangan pula untuk secara  nyata  mulai  mengurangi  secara  signifikan  ketergantungan  terhadap  minyak  bumi  dan  meningkatkan  kontribusi gas serta batu bara, dan energi terbarukan lainnya dalam skala nasional. Penambahan infrastruktur  energi  berupa  pipa  gas  dan  minyak,  kapal­kapal  pengangkut,  serta  jaringan  distribusi  energi  diperkirakan  masih  menjadi  tantangan  yang  cukup  besar  di  tahun  2009  tersebut.  Salah  satu  tantangan  di  bidang  infrastruktur  dalam  tahun  2009  adalah  penyelesaian  pembangunan  pipa  gas  SSWJ  dan  pembangunan  implementasi pusat unggulan Propinsi Lampung sebagai pusat energi biomassa sehingga tambahan supply  energi dapat terpenuhi. II. Sasaran Pembangunan  Sesuai  dengan  rencana  jangka  menengah  sampai  dengan  tahun  2009,  dengan  asumsi  pertumbuhan  ekonomi sebesar 6,6% per tahun dan dengan elastisitas energi sekitar 1,2, maka sasaran permintaan energi  total  diproyeksikan  naik  sebesar  7,1%  per  tahunnya.  Dengan  adanya  upaya  peningkatan  efisiensi  dan  rehabilitasi infrastruktur energi diharapkan  pertumbuhan  permintaan energi dapat ditekan. Selain itu sesuai  dengan  kebijakan  diversifikasi  diperlukan  penganekaragaman  pemakaian  energi  non­BBM,  agar  dapat

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

285 

Laporan Akhir 

Peningkatan Kapasitas, Kualitas, dan Aksesibilitasi  Pelayanan Infrastruktur  mengurangi beban pemerintah untuk  mensubsidi BBM (khususnya  impor minyak mentah dan produk BBM)  secara bertahap dan sistematis.  Proyeksi perkembangan sektor energi pada tahun 2009 dilihat dari sisi supply untuk energi primer mencapai  1.280  juta  SBM  dan  demand  untuk  energi  final  mencapai  1.070  Juta  SBM.  Diharapkan  pada  tahun  2009  ketergantungan  impor  BBM  dapat  dikurangi,  diantaranya  melalui  peningkatan  produksi,  pembangunan  refinery dan langkah­langkah efisiensi termasuk konservasi BBM.  Sedangkan  sasaran  akhir  pembangunan  energi  adalah  harga  jual  energi  yang  mencerminkan  nilai  keekonomiannya dan beban pemerintah untuk mensubsidi BBM semakin berkurang,  atau paling tidak subsidi  diberikan langsung kepada masyarakat yang membutuhkan. III. Arah Kebijakan  Dalam  rangka  memenuhi  kebutuhan  energi  untuk  masa  datang  dalam  jumlah  yang  memadai  dan  dalam  upaya  menyediakan  akses  berbagai  macam  jenis  energi  untuk  segala  lapisan  masyarakat,  maka  perlu  diciptakan  suatu  sistem  baru  penyediaan  dan  transportasi  energi  yang  lebih  kompetitif  dan  mencerminkan  harga pasar. Hal ini dapat ditempuh dengan menyiapkan sarana dan prasarana lintas sektor, menghilangkan  monopoli  baik  di  sisi  bisnis  hulu  maupun  disisi  bisnis  hilir  untuk  sektor  migas,  maupun  di  sisi  pembangkit,  transmisi dan distribusi di sektor energi baru dan terbarukan lainnya.  Untuk mengatasi permasalahan di bidang energi dirumuskan kebijakan intensifikasi pencarian sumber energi,  penentuan harga energi, diverfisikasi energi, konservasi energi, bauran energi, dan pengendalian lingkungan  hidup dengan arah sebagai berikut. 1. Intensifikasi pencarian sumber energi  dilakukan  dengan  mendorong  secara  lebih  aktif  kegiatan  pencarian cadangan energi baru secara intensif dan berkesinambungan terutama minyak bumi, gas dan  batu  bara  dengan  menyisihkan  dan  pemanfaatan  sumber  daya  alam  untuk  kegiatan  survei  cadangan  baru,  seperti  pola  dana  reboasasi  pada  sektor  kehutanan.  Dana  cadangan  ini  dapat  diterapkan  pada  Kontraktor  Production  Sharing  (KPS)  yang  beroperasi  di  Indonesia.  Upaya  pencarian  sumber  energi  terutama  dilakukan  di  daerah­daerah  yang  belum  pernah  disurvei,  sedangkan  di  daerah  yang  sudah  terindikasi diperlukan upaya peningkatan status cadangan menjadi lebih pasti. 2. Penentuan harga energi  dilakukan  dengan    memperhitungkan  biaya  produksi  dan  kondisi  ekonomi  masyarakat. Melalui pengembangan kebijakan harga energi yang tepat, pengguna energi dapat memilih  alternatif jenis energi yang akan digunakan sesuai dengan nilai keekonomiannya. Harga energi ditetapkan
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

286 

Laporan Akhir 

Peningkatan Kapasitas, Kualitas, dan Aksesibilitasi  Pelayanan Infrastruktur  oleh  pemerintah  dengan  memperhatikan  beberapa  aspek,  yaitu  optimasi  pemanfaatan  sumber  daya  energi dan optimasi pemakaian energi, bagi hasil untuk eksplorasi/eksploitasi dan pemanfaatannya, pajak  dan meningkatkan daya saing ekonomi, melindungi konsumen dan asas pemerataan. 3. Diversifikasi energi  diarahkan  untuk  penganekaragaman  pemanfaatan  energi,  baik  yang  terbarukan  maupun yang tidak terbarukan, sehingga dicapai optimasi penyediaan energi regional/ nasional dengan:  (a)  mengurangi  pangsa  penggunaan  minyak  bumi  dalam  komposisi  penggunaan  energi  (energy  mix)  Indonesia,  antara  lain,  dengan  mengembangkan  infrastruktur  untuk  memproduksi  dan  menyalurkan  energi  (bahan  bakar)  fossil  selain  minyak  bumi,  yaitu  batubara,  gas  alam,  panas  bumi  dan  energi  alternatif lainnya; serta (b)  memasyarakatkan penggunaan bahan bakar gas di sektor transportasi, briket  baru  bara  dan  tenaga  surya  untuk  sektor  rumah  tangga;    untuk    sektor  industri  dikembangkan  pembangkit  panas  bumi  dan  mikrohidro;  serta  mengkaji  dan  mengembangkan  energi  alternatif  lainnya  seperti tenaga angin, biofuel. 4. Konservasi energi diupayakan penerapannya pada seluruh tahap pemanfaatan, mulai dari penyediaan  sumber daya energi sampai pada pemanfaatan akhir guna menjamin kepentingan generasi mendatang.  Upaya konservasi dilaksanakan  dalam dua sisi, yaitu sisi sumberdaya (sisi hulu) dan sisi pemanfaatan  akhir  (sisi  hilir).  Konservasi  di  sisi  hulu  adalah  upaya  mengkonservasi  sumberdaya  energi  yang  pemanfaatannya  berdasarkan  pada  pertimbangan  nilai  tambah  dan  kepentingan  generasi  mendatang  agar  sumberdaya  energi  dapat  dimanfaatkan  untuk  jangka  waktu  selama  mungkin,  sedangkan  konservasi  di  sisi  hilir  dilaksanakan  melalui  peningkatan  efisiensi  pemanfaatan  energi  akhir  di  semua  bidang. 5. Bauran energi (energy mix)  dikembangkan  untuk  mendapatkan  komposisi  penggunaan  energi  yang  optimum pada suatu kurun waktu tertentu bagi seluruh wilayah Indonesia. Komposisi pemanfaatan energi  yang optimum tersebut coba diperoleh dengan mempertimbangkan ketersediaan sumber­sumber energi  di Indonesia yang beraneka, profil permintaan energi yang bervariasi serta biaya­biaya yang dibutuhkan  untuk menyalurkan energi dari lokasi­lokasi tempatnya tersedia ke lokasi­lokasi permintaan. 6. Pengendalian lingkungan hidup  diupayakan  dengan  memperhatikan  semua  tahapan  pembangunan  energi mulai dari proses eksplorasi dan eksploitasi sumberdaya energi hingga ke pemakaian energi akhir  melalui  pemanfaatan  energi  bersih  lingkungan  dan  pemanfaatan  teknologi  bersih  lingkungan.  Pemanfaatan  energi  yang  memiliki  kadar  pencemaran  rendah,  seperti  bensin  yang  bebas  timbal  (Pb)  perlu  ditingkatkan.  Sektor  transportasi  secara  bertahap  perlu  mengurangi  emisi  gas  buang  kendaraan  bermotor  seperti  CO,  HO,  dan  NOx.  Pembangkit  listrik  dengan  memakai  bahan  bakar  batubara  perlu
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

287 

Laporan Akhir 

Peningkatan Kapasitas, Kualitas, dan Aksesibilitasi  Pelayanan Infrastruktur  mengembangkan  pemakaian  teknologi  batu  bara  bersih  (clean  coal  technology).  Di  sektor  industri  kebijaksanaannya diarahkan untuk mengurangi dan mengendalikan emisi gas buang. B. KETENAGALISTRIKAN I. Pengantar  Di bidang  ketenagalistrikan  saat ini kondisi cadangan kapasitas  tenaga  listrik  secara nasional sampai akhir  tahun  2007  masih  pada  tingkat  yang  cukup  mengkhawatirkan.  Di  bidang  pembangunan  listrik  perdesaan,sampai  saat  ini  pemerintah  tetap  mengalokasikan  pendanaannya  untuk  program  pembangunan  listrik  perdesaan  sebagai  wujud  tanggung  jawab  sosial.  Beberapa  kendala  dalam  pembangunan  listrik  perdesaan adalah kondisi geografis, kurangnya kemampuan pendanaan pemerintah serta letak pusat beban  yang  jauh  dari  pembangkit  listrik  dan  tingkat  beban  yang  secara  teknis  dan  ekonomis  belum  layak  untuk  dipasok oleh pembangkit skala besar.  Selanjutnya untuk menunjang kelangsungan pembangunan tenaga listrik yang berkesinambungan dilakukan  dengan  melaksanakan  restrukturisasi  sektor  ketenagalistrikan  agar  sektor  ini  mampu  berkembang  dan  menyediakan  tenaga  listrik  secara  efisien  dan  berkualitas  sehingga  memberikan  manfaat  bagi  konsumen  serta  mandiri  secara  finansial  bagi  penyedia  jasa  tenaga  listrik.  Salah  satu  kebijakan  dari  restrukturisasi  adalah  menyesuaikan  tarif  listrik  secara  bertahap  menuju  nilai  keekonomiannya.  Hal  ini  diharapkan  dapat  mengundang  partisipasi  pihak  swasta  untuk  berinvestasi  di  bidang  kelistrikan  terutama  untuk  pembangkit.  Bentuk  partisipasi  ini  dapat  dilihat  melalui  pemanfaatan  pembangkit  swasta  (Independent  Power  Producer’s/IPP’s). II. Sasaran Pembangunan  Sesuai  dengan  rencana  jangka  menengah  sampai  dengan  tahun  2009,  sasaran  bidang  ketenagalistrikan  untuk  tahun  2006  adalah  :  (i)  peningkatan  rasio  elektrifikasi  perdesaan  menjadi  sebesar  80,4%  dan  rasio  elektrifikasi  nasional  sebesar  55,8%;  (ii)  meningkatkan  efisiensi  di  pembangkit  melalui  rehabilitasi  dan  repowering;  (iii)  rehabilitasi,  debottlenecking  dan  uprating  serta  interkoneksi  transmisi  dan  distribusi;  (iv)  mengurangi  susut  jaringan  terutama  non­teknis  melalui  pelaksanaan  kegiatan  berbasis  teknologi  informasi  seperti  customer  information  system;  (v)  meningkatkan  partisipasi  masyarakat,  koperasi  dan  swasta  baik  sebagai penyedia, pembeli dalam bentuk curah maupun konsumen listrik sebagai pelanggan dan pengelola  usaha  penunjang  ketenagalistrikan,  baik  di  daerah  kompetisi  maupun  non­kompetisi;  Dengan  demikian

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

288 

Laporan Akhir 

Peningkatan Kapasitas, Kualitas, dan Aksesibilitasi  Pelayanan Infrastruktur  program  rehabilitasi,  repowering  pembangkit  yang  ada  serta  pembangunan  pembangkit  non­BBM  menjadi  prioritas. III. Arah Kebijakan Pembangunan  Secara  umum  pembangunan  ketenagalistrikan  nasional  diarahkan  pada:  (i)  pemenuhan  kebutuhan  tenaga  listrik  terutama  untuk  menjamin  pasokan  tenaga  listrik  di  daerah  krisis  listrik  serta  daerah  terpencil  dan  perdesaan; (ii) peningkatan infrastruktur tenaga listrik yang efisien dan handal; (iii) penciptaan struktur industri  ketenagalistrikan  yang  sesuai untuk daerah kompetisi dan non kompetisi; (iv) pemenuhan  tarif yang  sesuai  dengan  keekonomiannya;  (v)  terlaksana  penyempurnaan  kebijakan  dan  regulasi  bidang  ketenagalistrikan  sehingga  tercipta  iklim  yang  kondusif  untuk  investasi;  dan  (vi)  pemenuhan  industri  ketenagalistrikan  yang  berwawasan  lingkungan  termasuk  pemanfaatan  potensi  energi  baru  terbarukan  serta  penguasaan  aplikasi  dan  teknologi  serta  bisnis  ketenagalistrikan  untuk  mendukung  nilai  tambah  kegiatan  produktif  dan  memberikan efek ganda bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi. IV. Capaian Sasaran Energi dan Ketenagalistrikan Tahun 2005 ­ 2007  Sekian  lama  Propinsi  Lampung  dilanda  krisis  Energi  dan  pasokan  daya  listrik.  Akibat  dari  krisis  daya  ini  Lampung  banyak  kehilangan  kesempatan  emas,  beberapa  rencana  investasi  gagal.  Bahkan  banyak  pengusaha asing mundur karena kurangnya pasokan listrik. Namun kini, berbeda dengan beberapa daerah di  Sumatera  lainnya,  nampaknya  keberuntungan  tengah  berada  pada  Provinsi  Lampung.  Pasalnya,  setelah  beberapa tahun terbelit persoalan krisis pasokan daya, kini masyarakat Lampung boleh sedikit menarik napas  lega. Terhitung tahun  2007  hingga  beberapa tahun  kedepan, telah dan akan  beroperasi 2 unit pembangkit  listrik dan disusul kemudian sejumlah pembangkit serta infrastruktur kelistrikan lainnya akan dibangun di Bumi  Ruwa Jurai.  Tabel 4.19­1  Pembangkit Listrik Milik PLN di Provinsi Lampung Pembangkit Listrik PLTU Tarahan Unit III  PLTU Tarahan Unit IV  PLTU Lampung  PLTU Ulu Belu  Kapasitas 200 mw  200 mw  200 mw  110 mw  Perkiraan Beroperasi  2007  2007  2010  2011 

Dengan beroperasinya Pembangkit Listrik  Tenaga Uap (PLTU) Tarahan  maka  diharapkan  kondisi pasokan  daya  di  Lampung  relatif  semakin  membaik.  Apalagi  disusul  kemudian  dengan  pembangunan  Pembangkit

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

289 

Laporan Akhir 

Peningkatan Kapasitas, Kualitas, dan Aksesibilitasi  Pelayanan Infrastruktur  baru,  jaringan  Transmisi  dan  Gardu  Induk.  Beroperasinya  PLTU  unit  IV  ini,  dapat  memasok  daya  100  megawatt (mw), sedangkan PLTU unit III untuk saat ini dapat memasok sebesar 50 mw.  Meskipun  demikian,  pasokan  daya  listrik  di  Lampung  masih  pas­pasan  dan  belum  ada  cadangan  yang  memadai.  Pasalnya,  dengan  beban  puncak  harian  rata­rata  360  mw,  Lampung  masih  bergantung  pada  pasokan dari sistem interkoneksi Sumatera bagian selatan (Sumbagsel) sebesar 200 mw yang dipasok dari  PLTU  Tanjung  Enim.  Hal  ini  akibat  dua  pembangkit  yang  cukup  besar  yakni  PLTA  Way  Besai  dan  PLTA  Batutegi hanya mampu menghasilkan daya 90 mw.  Bahkan  PLTA  Batutegi  tak  beroperasi  sama  sekali  karena  debit  air  yang  ada  tak  mampu  menggerakkan  turbin. Demikian halnya dengan PLTA Way Besai yang berkapasitas 2x50 mw tidak mampu maksimal karena  keterbatasan suplai air.  Kondisi  listrik  di  Lampung  yang  menggunakan  pembangkit  listrik  tenaga  air  (PLTA)  memang  kerap  bermasalah dengan  musim. Pada musim hujan, meskipun  air banyak, mesin tetap tidak  bisa  dioperasikan,  karena menyebabkan banjir di daerah hilir. Sedangkan pada musim kemarau tidak bisa jalan karena tidak ada  air. Namun, dengan mulai turunnya hujan, PLN dapat memaksimalkan pemakaian Pembangkit Listrik Tenaga  Air (PLTA) Way Besai, sehingga diprediksikan defisit listrik Lampung dapat ditekan hingga 20 mw.  Karena  defisit  tersebut  maka  dilakukan  pemadaman.  Yang  terkena  dampak    pemadaman  adalah  rumahtangga  karena  sebagian  besar  pelanggan  PLN  adalah  rumah  tangga  (96,88%)  sementara  industri  hanya sebanyak 2,83%. Itu sebabnya, PLN berencana akan membangun PLTU Lampung berkapasaitas 2 x  100 mw dan PLTP Ulu Belu berkapasitas 2 x 55 mw.  Pada  tanggal  30  Oktober  lalu,  kontrak  proyek  PLTU  Lampung  yang  dikenal  dengan  Tarahan  II  ditandatangani,  antara  PT  Perusahaan  Listrik  Negara  (PLN)  dengan  PT  Adhi  Karya  (ADHI)  dan  akan  dikerjakan bersama dengan Jiangxi Electrical Overseas Engineering dengan porsi 35% dan perseroan 65%.  Proyek  PLTU  Lampung  2  x  100  mw  senilai  Rp595,1  miliar  (154,273  juta  dolar  AS),  berlokasi  di  Sinarlaut,  Sebalang,  Lampung  Selatan,  berjangka  33  bulan  sejak  November  2007  dengan  lingkup  kerja  antara  lain  teknik,  sistem  listrik  dan  pembangkitnya.  Situasi  kelistrikan  Lampung  kedepannya  akan  semakin  baik.  Lampung masih memiliki sumber energi lainnya yag potensial, diantaranya adalah geotermal dengan potensi  2.800 mw, sementara yang  sudah  dieksplorasi Pertamina 110 mw. Selain itu sebanyak  300 mw proyeknya  sedang diselesaikan oleh PT Medco. Masih banyak peluang untuk mengolah energi geotermal di Lampung.  Belum lagi etanol yang potensinya sangat besar dengan luas areal areal tanaman singkong 5 ribu hektar.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

290 

Laporan Akhir 

Peningkatan Kapasitas, Kualitas, dan Aksesibilitasi  Pelayanan Infrastruktur 

4.19.4 Pemukiman dan Perumahan
I. Pengantar  Sebagai  kelanjutan  upaya  yang  telah  dilakukan  sebelumnya,  langkah  pengurangan  jumlah  rumah  tangga  yang  belum  memiliki  rumah  akan  dilaksanakan  melalui  fasilitasi  pembangunan  rumah  sederhana  sehat,  pengembangan  rumah  swadaya  dan  pengembangan  rumah  susun  sederhana  sewa  (rusunawa)  serta  pelibatan  swasta  dalam  penyediaan  rumah  susun  sederhana  sewa.  Penanganan  kawasan  kumuh  dilaksanakan  melalui peningkatan kualitas  lingkungan permukiman, perbaikan  rumah, pemberian dukungan  prasarana dan sarana permukiman untuk perumahan PNS, TNI/Polri dan masyarakat berpenghasilan rendah.  Pembangunan  prasarana dan sarana air minum dan penyehatan lingkungan (air limbah, persampahan dan  drainase) telah dilakukan sejak Pelita I hingga saat ini. Banyak kemajuan yang telah dicapai, namun demikian  cakupan  pelayanan  air  minum  dan  penyehatan  lingkungan  di  Indonesia  masih  jauh  dari  memadai.  Akses  penduduk ke prasarana dan sarana pengolahan air limbah dasar (tidak diolah) mencapai 63,5 persen. Tingkat  pengelolaan persampahan masih sangat rendah. Data menunjukkan bahwa jumlah sampah terangkut masih  sangat  kurang.  Terkait  dengan  pelayanan  sistem  drainase,  hingga  kini  masih  terdapat  rumah  tangga  yang  mendiami kawasan rawan banjir permanen akibat buruknya kualitas dan kuantitas sistem jaringan drainase.  Permasalahan  utama  pembangunan  perumahan  adalah  makin  meningkatnya  jumlah  rumah  tangga  yang  belum memiliki rumah, terjadinya mismatch dalam pembiayaan perumahan, belum mantapnya kelembagaan  penyelenggara pembangunan perumahan; meningkatnya luasan kawasan kumuh. Tantangan yang dihadapi  adalah meniadakan  mismatch  dalam pembiayaan  perumahan, meningkatkan efisiensi dalam pembangunan  perumahan, meningkatkan pasar perumahan, dan mengembangkan pola subsidi yang efisien, transparan dan  akuntabel.  Permasalahan  utama  pembangunan  air  minum  adalah  masih  rendahnya  cakupan  pelayanan  air  minum  PDAM,  sulitnya  menurunkan  tingkat  kebocoran,  penerapan  tarif  yang  masih  dibawah  biaya  produksi.  Tantangan  pembangunan  air  minum  adalah  meningkatkan  kualitas  pengelolaan  air  minum,  peningkatan  kapasitas dan jangkauan pelayanan PDAM, penerapan tarif yang seasonable.  Permasalahan utama pembangunan air limbah adalah rendahnya cakupan pelayanan air limbah rendahnya  perilaku  masyarakat  dalam  penanganan  air  limbah.  Tantangan  pembangunan  air  limbah  adalah  meningkatkan  kesadaran  masyarakat  akan  pentingnya  perilaku  hidup  bersih  dan  sehat  (PHBS),  serta  mengembangkan pelayanan sistem pembuangan air limbah terpusat (sewerage system) dan sistem komunal.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

291

Laporan Akhir 

Peningkatan Kapasitas, Kualitas, dan Aksesibilitasi  Pelayanan Infrastruktur  Permasalahan utama pembangunan  persampahan adalah menurunnya  kualitas  pengelolaan persampahan,  pencemaran  udara  dan  air  yang  diantaranya  disebabkan  oleh  menurunnya  kualitas  pengelolaan  Tempat  Pembuangan Akhir (TPA), meningkatnya volume sampah yang dibuang ke sungai; makin terbatasnya lahan  di kawasan perkotaan untuk TPA. Tantangan pembangunan persampahan adalah meningkatkan kesadaran  masyarakat  tentang  ketidakpatutan  membuang  sampah  sembarangan,  meningkatkan  kerjasama  antara  pemerintah  kota/kabupaten  dalam  penanganan  persampahan  regional,  meningkatkan  kualitas  pengelolaan  persampahan, dan penerapan teknologi dalam penanganan persampahan.  Permasalahan utama pembangunan drainase  adalah makin meluasnya daerah genangan  yang disebabkan  oleh  makin  berkurangnya  lahan  terbuka  hijau,  tidak  berfungsinya  saluran  drainase  secara  optimal,  terpakainya  saluran  drainase  untuk  pembuangan  sampah,  rendahnya  operasi  dan  pemeliharaan  saluran  drainase.  Tantangan  pembangunan  drainase  adalah  meningkatkan  kesadaran  masyarakat  untuk  tidak  membuang sampah ke saluran drainase, mempertahankan luasan lahan terbuka hijau, meningkatkan operasi  dan pemeliharaan dalam drainase, pembangunan saluran drainase integratif dengan pengendalian banjir. II. Sasaran Pembangunan  Sasaran pembangunan perumahan adalah berkurangnya  jumlah rumah tangga yang belum memiliki rumah  yang ditunjang oleh tersedianya sumber pembiayaan dana jangka panjang, dan tersedianya pola subsidi yang  efektif; berkurangnya luasan kawasan kumuh.  Sasaran  penyediaan  subsidi  perumahan  bagi  masyarakat  berpenghasilan  rendah,  melalui  pembangunan  rumah susun sewa (RUSUNAWA), rumah susun sederhana milik (RUSUNAMI) melalui peran serta swasta,  serta peningkatan akses kredit mikro untuk pembangunan dan perbaikan perumahan berbasis keswadayaan  masyarakat.  Sasaran  umum  pembangunan  air  minum  adalah  meningkatnya  cakupan  pelayanan  air  minum  perpipaan  secara  nasional  yaitu  cakupan  pelayanan  air  minum  perpipaan  untuk  penduduk  yang  tinggal  di  kawasan  perkotaan dan di kawasan perdesaan diharapkan dapat meningkat.  Sasaran  umum  pembangunan  air  limbah  adalah  (i)  meningkatnya  akses  sanitasi  dasar,  (ii)  meningkatnya  kualitas  air  permukaan  yang  dipergunakan  sebagai  air  baku  bagi  air  minum;  (iii)  meningkatnya  tingkat  pemakaian  IPLT  dan  IPAL  yang  telah  dibangun,  (iv)  berkembangnya  pelayanan  sistem  pembuangan  air  limbah baik skala kota maupun komunal.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

292 

Laporan Akhir 

Peningkatan Kapasitas, Kualitas, dan Aksesibilitasi  Pelayanan Infrastruktur  Sasaran  umum  pembangunan  dan  pengelolaan  persampahan  yang  hendak  dicapai  adalah  meningkatnya  jumlah  sampah  terangkut  serta  meningkatnya  kinerja  pengelolaan  tempat  pembuangan  akhir  (TPA)  yang  berwawasan lingkungan (environmental friendly).  Sasaran umum pembangunan drainase adalah terbebasnya saluran­saluran drainase dari sampah sehingga  mampu  meningkatkan  fungsi  saluran  drainase  sebagai  pematus  air  hujan  dan  berkurangnya  wilayah  genangan permanen dan temporer. III. Arah Kebijakan Pembangunan  Arah kebijakan pembangunan perumahan adalah: 

1.  Meningkatkan penyediaan prasarana dan sarana dasar bagi kawasan rumah sederhana dan rumah 
sederhana sehat; 

2.  Meningkatkan penyediaan hunian (sewa dan milik) bagi masyarakat berpendapatan rendah;  3.  Meningkatkan  fasilitasi  dan  pemberdayaan  masyarakat  berpendapatan  rendah  dalam  penyediaan 
lahan, pembiayaan, serta prasarana dan sarana lingkungan melalui pembangunan perumahan yang  bertumpu pada masyarakat; 

4.  Mengembangkan kredit mikro pembangunan dan perbaikan rumah yang terkait dengan kredit mikro 
peningkatan  pendapatan (income  generating)  dalam  rangka  upaya  pemberdayaan  usaha  ekonomi  masyarakat miskin dan penciptaan lapangan kerja; 

5.  Menciptakan pola subsidi baru yang lebih tepat sasaran;  6.  Meningkatkan  peran  lembaga  yang  bertanggungjawab  dalam  pembangunan  perumahan  dan 
permukiman pada  semua tingkatan pemerintahan  serta fasilitasi pelaksanaan  revitalisasi penataan  kawasan permukiman yang transparan dan partisipatif. 

7.  Mengembangkan secondary mortgage facility (SMF) dan secondary mortgage market (SMM).  8.  Mengembangkan peraturan perundang­undangan dan kelembagaan pendukung SMF dan SMM;  9.  Mengembangkan insentif fiskal bagi swasta yang menyediakan hunian bagi buruh/karyawannya;  10. Meningkatkan kualitas pelayanan prasarana dan sarana lingkungan pada kawasan kumuh perkotaan 
dan pesisir/nelayan.  Arah kebijakan pembangunan air minum dan air limbah adalah: 

1.  Meningkatkan  peranserta  seluruh  pemangku  kepentingan  dalam  upaya  mencapai  sasaran 
pembangunan air minum dan air limbah;
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

293 

Laporan Akhir 

Peningkatan Kapasitas, Kualitas, dan Aksesibilitasi  Pelayanan Infrastruktur 

2.  Menciptakan  iklim yang  kondusif bagi dunia usaha  (swasta) untuk  turut berperanserta secara aktif 
dalam memberikan pelayanan air minum dan air limbah melalui deregulasi dan reregulasi peraturan  perundang­undangan yang terkait dengan kemitraan pemerintah­swasta (public­private­partnership); 

3.  Membentuk  regionalisasi  pengelolaan  air  minum  dan  air  limbah  sebagai  upaya  meningkatkan 
efisiensi pelayanan, efisiensi pemanfaatan sumber daya alam (air baku), dan meningkatkan kualitas  lingkungan; 

4.  Meningkatkan kinerja pengelola air minum dan air limbah melalui restrukturisasi kelembagaan  dan 
revisi peraturan perundang­undangan yang mengatur BUMD air minum dan air limbah; 

5.  Meningkatkan kualitas sumber daya manusia pengelola pelayanan air minum dan air limbah melalui 
uji kompetensi, pendidikan, pelatihan, dan perbaikan pelayanan kesehatan; 

6.  Mengurangi tingkat kebocoran pelayanan air minum;  7.  Mengembangkan  sistem  air  limbah  terpusat  (sewerage  system)  pada  kota­kota  metropolitan  dan 
kota besar secara bertahap; 

8.  Mengembangkan sistem air limbah komunal pada kawasan­kawasan padat perkotaan;  9.  Memulihkan pelayanan air minum dan air limbah yang rusak akibat bencana alam. 
Arah kebijakan pembangunan persampahan dan drainase adalah: 

1.  Meningkatkan  peranserta  seluruh  stakeholder  dalam  upaya  mencapai  sasaran  pembangunan 
persampahan dan drainase 

2.  Menciptakan  iklim yang  kondusif bagi dunia usaha  (swasta) untuk  turut berperanserta secara aktif 
dalam  memberikan  pelayanan  persampahan,  baik  dalam  handling­transportation  maupun  dalam  pengelolaan TPA; 

3.  Menciptakan  peraturan  perundang­undangan  yang  terkait  dengan  kemitraan  pemerintah­swasta 
(public­private­partnership) dalam pengelolaan persampahan; 

4.  Membentuk regionalisasi pengelolaan persampahan dan drainase;  5.  Meningkatkan kinerja pengelola persampahan dan drainase melalui restrukturisasi kelembagaan dan 
revisi peraturan perundang­undangan yang terkait; 

6.  Meningkatkan  kualitas  sumber  daya  manusia  pengelola  persampahan  dan  drainase  melalui  uji 
kompetensi, pendidikan, pelatihan, dan perbaikan pelayanan kesehatan; 

7.  Meningkatkan kinerja pengelolaan TPA sistem sanitary landfill.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

294 

Laporan Akhir 

Peningkatan Kapasitas, Kualitas, dan Aksesibilitasi  Pelayanan Infrastruktur  IV. Capaian Sasaran Tahun 2005­2007  Capaian pada  sektor keciptakaryaan yang  meliputi perumahan, air minum, limbah dan persampahan dapat  terlihat  dari  usaha  yang  telah  dilakukan  dengan  penyediaan  Rusunawa  bagi  masyarakat  nelayan  di  Kota  Bandar  Lampung  sebanyak  dua  blok  kembar  atau  berjumlah  empat  blok  yang  masing­masing  blok  dapat  dihuni sekitar 100 KK. Pembangunan rusunawa tersbut juga dimaksudkan untuk mengurangi daerah kumuh  di  Kota  Bandar  Lampung  dengan  mendorong  masyarakat  di  daerah  tersebut  untuk  pindah  ke  Rusunawa.  Kendala di lapangan masih cukup besar terutama tantangan sosial dan persepsi dan pola hidup masyarakat  yang  belum  terbiasa  dengan  rumah  susun.  Rumah  susun  juga  telah  dibangun  di  Universitas  Lampung  sebagai  upaya  dalam  menyediakan  tempat  penginapan  murah  bagi  mahasiswa.    Namun  pembangunan  rusunawa  dan  rusun  untuk  mahaiswa  tersebut  tidak  diikuti  oleh  pengelolaan  dan  penguatan  kelembagaan  yang  baik  sehingga  sampai  saat  ini  pemakaiannya  masih  belum  optimal,  bahkan  rusun  untuk  mahasiswa  belum dikelola untuk dihuni.  Pada  aspek  drainase  dan  pengelolaan  air  limbah  masih  terkesan  banyak  hal  yang  belum  dikelola  dengan  baik. Hal ini terlihat pada penanganan limbah dan drainase yang belum terintegrasi dengan sektor lain dan  terkesan tumpang  tindih. Upaya penyusunan  masterplan drainase  sudah  dilakukan namun implementasi di  lapangan masih belum memberikan dampak pada penurunan genangan air hujan.  Sektor  penyedian  air  minum  juga  telah  dilakukan  usaha  perbaikan  meskipun  masih  sangat  terbatas.  Penguatan  dan  penyehatan  lembaga  PDAM  dan  pendampingan  penyusunan  masterplan  air  minum  baik  yangdengan fasilitas perpipaan maupun non perpipaan sudah dimulai meskipun masih terbatas pada PDAM  Bandar  Lampung  dan  PDAM  Liwsa,  sehingga  belum  memberikan  dampak  yang  memadai.  Kondisi  kelembagaan  PDAM  di  Propinsi  Lampung  yang  semua  dalam  kondisi  kurang sehat  serta  menurunya  daya  dukung  sumber air membuat target MDGs  untuk menurunkan prosentase penduduk yang tidak  mempunyai  akses  pada  air  bersih  menjadi  hanya  setengahnya  menjadi  sangat  berat  untuk  dicapai.  Tantangan  ini  mengharuskan  Pemerintah  segera  mengalokasikan  program  untuk  mempercepat  pencapaian  target  MGDs  tersebut.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008 

Tim Independen Universitas Lampung 

295

BAGIAN V ISU – ISU STRATEGIS

Laporan Akhir 

Isu – isu Strategis 

BAB V ISU – ISU STRATEGIS

5.1 Identifikasi Isu – Isu Strategis
5.1.1 Isu Utama Pembangunan  Pada Dokumen Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2007 dinyatakan bahwa terdapat tujuh isu  utama (strategis) Pembangunan Daerah Lampung yakni: (1) Pendidikan, (2) Kesehatan, (3) Kemiskinan dan  kesempatan kerja, (4) Pemerintahan, (5) Ekonomi daerah, (6) Prasaran dasar wilayah, dan (7) Sumberdaya  alam dan lingkungan. Dari ketujuh isu tersebut, berdasarkan dokumen LAKIP Pemerintah Provinsi Lampung  Tahun 2007 dan hasil empat kali focus group discussion (FGD) dirumuskan bahwa isu yang dianggap paling  krusial dan perlu mendapat perhatian serius di Provinsi Lampung adalah isu kemiskinan.  Meski  secara  nasional  jumlah  penduduk  miskin  berkurang  sebesar  17%  namun  pada  beberapa  provinsi  termasuk  Provinsi  Lampung  justru  terjadi  sebaliknya  yakni  jumlah  penduduk  miskin  semakin  bertambah.  Menurut Tjipto, Kepala BPS Lampung, jumlah penduduk miskin di Provinsi Lampung meningkat dari 1,57 juta  orang (21,42%) tahun  2005 menjadi 1,66 juta orang (22,19%) tahun  2007 (Harian Umum Radar  Lampung,  tahun, 2007).   Sebagian besar (65%) penduduk miskin tersebut berada di perdesaan.  Berbeda  dengan  perdesaan,  permasalahan  kemiskinan  di  perkotaan  lebih  disebabkan  oleh  rendahnya  aksesibilitas ekonomi masyarakat yang ditunjukkan oleh indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan yakni  sebesar 4,92 dan 1,64.  Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan indeks kedalaman dan keparahan  kemiskinan di perdesaan yakni 3,86 dan 1,06. Secara kuantitas masalah kemiskinan di desa lebih dominan,  namun dari sisi intensitas­kualitas  justru masalah kemiskinan di kota lebih tinggi.   Di samping  itu, masalah  kesejahteraan  sosial  ditunjukkan  juga  oleh  data  jumlah  fakir  miskin  yang  mencapai  1,27  juta  orang,  anak  terlantar sebanyak 52.144 orang, dan anak jalanan sebanyak 3.172 orang pada tahun 2005.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008

Tim Independen Universitas Lampung

296

Laporan Akhir 

Isu – isu Strategis 

5.1.2 Profil Kemiskinan  Kemiskinan  adalah  kondisi  dimana  seseorang  dalam  kekurangan  sehingga  pendapatannya  rendah,  pendidikanya  rendah,  kesehatannya  rendah,  perumahannya  sederhana  dan  cenderung  tidak  sehat  serta  kondisi  yang  serba  kurang.  Karena  itu,  umumnya  upaya  penanggulangan  kemiskinan  banyak  tertuju  pada  pemberian fasilitas untuk sekolah, berobat dan memenuhi kebutuhan pokok.  Secara  teoritis  kemiskinan  dibedakan  menjadi  kemiskinan  kultural  dan  kemiskinan  struktural.    Kemiskinan  kultural  adalah  kemiskinan  karena  faktor  internal  sehingga  mereka  tidak  berdaya  terhadap  kehidupannya  sendiri.  Akibatnya  mereka  cenderung  menerima  dan  tidak  mampu  keluar  dari  kondisinya.  Kemiskinan  struktural  adalah  kemiskinan  karena  faktor  eksternal  sehingga  mereka  tidak  mampu  memanfaatkan  lingkungan. Akibatnya mereka cenderung apatis dan tidak mampu keluar dari kondisinya.  Umumnya kemiskinan di Lampung disebabkan ketiadaan aset baik lahan, dana, ataupun keahlian. Akibatnya  mereka tidak punya pekerjaan dan pendapatan ataupun kalau punya pendapatan maka pendapatannya kecil  sehingga  tidak  sebanding  dengan  kebutuhan  hidup  secara  layak  dan  manusiawi.    Sebagian  besar  orang  miskin ada di perdesaan.  Mereka umumnya  tidak  punya  lahan atau berstatus  sebagai buruh tani. Adapun  petani yang memiliki lahan namun tidak optimal memanfaatkannya karena keterbatasan keahlian, ketiadaan  modal kerja atau karena daya dukung lahan yang tidak memadai dan terbatasnya ketersediaan air.  Jika  dilihat  dari  peta  penyebarannya,  maka  kantong­kantong  kemiskinan  tersebar  di  kawasan  pesisir  perkotaan  (seperti:  Teluk  Betung  Selatan,  Kota  Bandarlampung)  maupun  perdesaan  (seperti:  Kecamatan  Bengkunat    Kabupaten  Lampung  Barat,  Kecamatan  Gedung  Meneng,  Kabupaten  Tulang  Bawang,  di  pedalaman  yang  aksesibilitasnya  rendah  seperti:  Wonosobo,  Kabupaten  Tanggamus,  dan  Kecamatan  Sungkai  Utara,  Kabupaten  Lampung  Utara.  Disamping  itu,  kantong  kemiskinan  juga  terdapat  di  kawasan  pinggiran kota yang berkembang cepat dan dilalui jalan Lintas Tengah Sumatera yaitu di Kecamatan Natar,  Kabupaten Lampung Selatan.  Penetapan  orde atau hirarki wilayah  berdasarkan  kriteria yang  umum seperti: jumlah penduduk, kepadatan  lalu  lintas,  tingkat  pembangunan  kekotaan  (urbanized)  menyebabkan  pembangunan  terkonsentrasi  di  wilayah­wilayah tersebut tanpa memperhatikan potensi lokal yang dapat menyentuh masyarakat di kantong­  kantong  kemiskinan.    Pengembangan  pusat­pusat  pertumbuhan  dengan  menetapkan  kawasan  tertentu,  apakah  kawasan  andalan,  unggulan,  prioritas,  ataupun  sejenisnya  belum  mampu  menurunkan  angka  kemiskinan secara signifikan.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008

Tim Independen Universitas Lampung

297

Laporan Akhir 

Isu – isu Strategis 

5.1.3 Evaluasi Penanggulangan Kemiskinan  Pada  tingkat  nasional  upaya  penanggulangan  kemiskinan  telah  dilaksanakan  oleh  Pemerintah  melalui  beberapa  program  mulai  dari  Inpres  Desa  Tertinggal  (IDT),  Pengembangan  Ekonomi  Lokal  (PEL),  Pengembangan Ekonomi Masyarakat di Daerah (PEMD), hingga ke bentuk Bantuan Langsung Tunai (BLT),  bantuan  beras  untuk  rakyat  miskin  (Raskin),  bantuan  obat  untuk  keluarga  miskin  (Gakin),  dan  lain­lain.  Meskipun secara umum masih memiliki berbagai kelemahan, program­program tersebut sampai batas­batas  tertentu bermanfaat bagi kelompok masyarakat miskin.  Pada dokumen LAKIP Pemerintah Provinsi Lampung  tahun 2006  disebutkan  bahwa pencapaian Sasaran 9  dari  Misi  2,  yaitu  menurunnya  prosentase  jumlah  penduduk  miskin,  Keluarga  Pra  Sejahtera  (KPS),  dan  meningkatnya  Keluarga  Sejahtera  (KS)  ternyata  tidak  terjadi  dan  bahkan  tidak  terukur  secara  akurat.  Padahal  berbagai  program  khusus  untuk  penanggulangan  kemiskinan  telah  diluncurkan  sejak  tahun  2000.  Digulirkannya  program­program  khusus  tersebut  mencerminkan  bahwa  pada  tataran  komitmen  sesungguhnya Pemerintah Provinsi Lampung sudah cukup memadai terkait penanggulangan kemiskinan.  Program khusus penanggulangan kemiskinan yang telah dijalankan di Provinsi Lampung antara lain: Desaku  Maju  Sakai  Sambayan  (DMSS),  Program  Pemberdayaan  Ekonomi  Kerakyatan  Kampung  Tua  (PPEK­KT),  dan  Program  Pengembangan  ITTARA  (Industri  Tepung  Tapioka  Rakyat),  dll.  Patut  diakui  bahwa  program­  program tersebut belum mencapai hasil yang diharapkan.  Apabila  dikaji  lebih  lanjut  ada  beberapa  kelemahan:  (a)  ada  sebagian  program  yang  belum  menyentuh  langsung  persoalan­persoalan  dasar  kemiskinan,  (b)  ada  sebagian  program  yang  sudah  dikemas  dengan  baik, namun terhenti di tengah jalan, dan (c) ada program yang masih terbatas (berkutat) pada koordinasi dan  penyamaan  persepsi  antara  pihak­pihak  (instansi)  yang  terkait  dengan  penanggulangan  kemiskinan.  Keadaan  ini  mencerminkan  bahwa  pemerintah  daerah  harus  segera  mengembangkan  model/konsep/pendekatan yang lebih ”sistematis dan komprehensif” untuk penanggulangan kemiskinan, yang  sesuai  dengan  karakteristik  kemiskinan  di  Provinsi  Lampung.    Pengembangan  model  harus  didukung  oleh  hasil­hasil kajian akademik yang cukup.  Pada  tingkat  kabupaten/kota  di  Provinsi  Lampung,  melanjutkan  program  tahun  2006,  program  penanggulangan kemiskinan tahun  2007 tetap berjalan dengan berbagai bentuk, seperti: Program Gerakan  Masyarakat Membangun (GEMA) Tapis Berseri di Kota Bandar Lampung, Program Jejamo Ngebangun Sai  Bumi  Nengah  Nyappur  di  Kabupaten  Tulang  Bawang,  Program  Beguwai  Jajamo  Wawai  di  Kabupaten  Lampung  Tengah,  dan  Program  Gerakan  Membangun  Beguai  Jejama  Sai  Betik  di  Kabupaten  Lampung

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008

Tim Independen Universitas Lampung

298

Laporan Akhir 

Isu – isu Strategis 

Barat.    Keempat  program  tersebut  lebih  menekankan  kepada  pembangunan  infrastruktur  perdesaan,  dari  pada pemberdayaan ekonomi rakyat miskin.  Perlu dicatat pula bahwa isu kemiskinan mulai mendapat tempat sentral dalam APBD Provinsi Lampung sejak  tahun 2007, ketika konflik DPRD dan Pemerintah Propinsi Lampung selesai, sehingga APBD berhasil dibahas  dan ditetapkan menjadi Perda. Pada tahun 2007 Pemerintah Provinsi Lampung telah menetapkan 200 desa  miskin sebagai sasaran program penanggulangan kemiskinan, dengan target alokasi dana sekitar Rp 1 milyar  per desa per tahun anggaran.  Komitmen  pemerintah  daerah  untuk  menanggulangi  kemiskinan  tersebut  ternyata  belum  diikuti  dengan  prencanaan  dan  sistem  pengelolaan    program  yang  baik.  Hal  ini  tercermin  pada  pelaksanaan  program/kegiatan yang  sepenuhya diserahkan  kepada Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD), sehingga  masing­masing  kegiatan  cenderung  berjalan  sendiri­sendiri  sesuai  dengan  tugas  pokok  dan  fungsi  (TUPOKSI) masing­masing SKPD.  Daya serap masyarakat desa miskin dan tertinggal  masih sangat rendah yakni sebesar Rp 25 juta sampai Rp  50 juta, relatif rendah dibandingkan dengan alokasi dana yang disiapkan per desa.  Fenomena ini, sekali lagi  mencerminkan  bahwa  program  tidak  disertai  dengan  upaya  peningkatan  kapasitas  internal  dan  eksternal  kelompok  masyarakat  miskin.  Akibatnya,  dampak  program  terhadap  penanggulangan  kemiskinan  sangat  rendah. Sebagaimana dimaklumi bersama bahwa kemiskinan merupakan masalah yang kompleks sehingga  penanggulangannya harus dilakukan secara sistematis, terpadu, dan berkesinambungan.  Berdasarkan  pemantauan  sampai  saat  ini,  tingkat  realisasi  program­kegiatan  SKPD  yang  terkait  dengan  penanggulangan  kemiskinan  masih  relatif  rendah.  Beberapa  catatan  pendahuluan  yang  dapat  disimpulkan  dari realisasi program­kegiatan menunjukkan bahwa hasilnya belum optimal. Meskipun program sudah fokus  pada  desa  miskin  yang  menjadi  sasaran,  namun  beberapa  kegiatan  ternyata  tidak  langsung  menyentuh  kelompok  masyarakat  miskin.  Diharapkan  pada  tahun  selanjutnya,  penanggulangan  kemiskinan  lebih  terprogram dan terkendali sehingga dampaknya dapat lebih dirasakan serta terukur tingkat capaiannya.  Dari analisis di atas, tampak jelas bahwa Pemerintah Provinsi Lampung harus segera mengembangkan suatu  model  atau  konsep  yang  ”sistematis  dan  komprehensif”  untuk  penanggulangan  kemiskinan.  Model  atau  konsep yang dikembangkan harus bersifat partisipatif dan disesuaikan dengan karakteristik kemiskinan yang  ada di Provinsi Lampung. Karena itu pengembangan model tersebut harus  didukung oleh hasil­hasil kajian  akademik yang cukup, sehingga mampu menyentuh esensi permasalahan secara efektif.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008

Tim Independen Universitas Lampung

299 

Laporan Akhir 

Isu – isu Strategis 

Selain  itu,  hal  yang  tidak  kalah  penting  adalah  pada  tahapan  implementasi  program.    Pemerintah  harus  memperhatikan  kembali  potensi  sumberdaya  yang  ada  di  perguruan  tinggi  dan  lembaga  penelitian  dan  pengembangan  (litbangterap)  sebagai  pusat  kepakaran.    Kepakaran  ratusan  bahkan  ribuan  dosen  serta  potensi puluhan ribu mahasiswa dapat dimanfaatkan untuk mengawal program penanggulangan kemiskinan.  Revitalisasi  program  Kuliah  Kerja  Nyata  (KKN)  perlu  dilakukan,  sehingga  mengarah  kepada  bentuk  KKN­  Tematik yang dikembangkan oleh Universitas Gajah Mada (UGM). 5.2 Evaluasi Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan 5.2.1 Keterkaitan antara Perencanaan Daerah dan Perencanaan Nasional  Secara  umum  sudah  ada  keterkaitan  antara  perencanaan  nasional  dan  daerah  dalam  penanggulangan  kemiskinan.    Hanya  saja  keterkaitan  tersebut  masih  cenderung  sebatas  strategi/kebijakan  umum.  Artinya,  belum ada kebijakan  nasional yang  berperspektif wilayah  sehingga masing­masing daerah dapat mengikuti  skala yang telah ditetapkan secara nasional.  Dalam konteks kemiskinan misalnya, antara Indonesia bagian barat berbeda dengan Indonesia bagian timur  tentunya  memiliki  intensitas  masalah  dan  karakteristik  yang  berbeda.  Dengan  sendirinya  membutuhkan  pendekatan  dan  prioritas  yang  berbeda  dalam  penanganannya,  dalam  hal  ini,  pusat  dalam  skala  nasional  dapat memetakan pendekatan dan metode penanggulangan kemiskinan maupun intensitas penyelesaiannya  secara regional. 5.2.2 Antisipasi Perencanaan terhadap Isu­isu Pembangunan  Perencanaan pembangunan daerah secara umum sudah peka terhadap isu­isu pembangunan, terutama isu­  isu  yang  sudah  menasional  seperti  kemiskinan,  pendidikan,  kesehatan,  dll.  Walaupun  perencanaan  pembangunan  daerah  sudah  mengakomodir  isu­isu  pembangunan  (kemiskinan),  tapi  seringkali  isu  pembangunan  (kemiskinan)  tersebut  belum  mendapat  penanganan  dalam  porsi  yang  pas.  Hal  ini  terkait  dengan  kesiapan  dan  kapasitas  aparatur  dalam  merumuskan  lebih  lanjut  kebijakan  dan  program  pembangunan khususnya dalam penanggulangan kemiskinan. 5.2.3 Proses Perencanaan dan Keterlibatan Stakeholders di Daerah  Proses  penyusunan  perencanaan  pembangunan  dilakukan  secara  partisipatif  dengan  melibatkan  stakeholders. Setiap SKPD melakukan forum public dengan mengundang stakeholders masing­masing untuk  membahas isu­isu pada sector yang menjadi tanggungjawabnya. Bahkan antara SKPD yang memiliki lingkup  yang sama melakukan forum publik secara bersama, misalnya, pertanian atau ekonomi, sosial, dll.
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008

Tim Independen Universitas Lampung

300 

Laporan Akhir 

Isu – isu Strategis 

Keterlibatan  stakeholders  dalam  proses  penyusunan  perencanaan  pembangunan  daerah  sudah  cukup  memadai. Hal yang perlu ditingkatkan adalah intensitas keterlibatan stakeholders. Karena selama ini forum­  forum  public  yang  diselenggarakan  cenderung  bersifat  formal  sehingga  kedalaman  pembahasan  isu­isu  pembangunan belum tercapai.  Kondisi ini yang secara tidak langsung ikut menyebabkan banyaknya program­kegiatan pembangunan yang  tidak  optimal  dalam  memecahkan  masalah  dan  mengatasi  isu­isu  pembangunan  (kemiskinan).  Karena  program­kegiatan tidak menyentuh pada akar permasalannya. 5.3 Evaluasi Pelaksanaan Pembangunan Daerah 5.3.1 Pencapaian dan Pemanfaatan Hasil (ouput and outcome)  Pada  tahun  2006  program penanggulangan kemiskinan di Provinsi Lampung  tercantum  dalam Sasaran 9  Misi 2 yakni: Menurunnya persentase jumlah penduduk miskin KPS dan meningkatnya keluarga sejahtera di  Propinsi  Lampung  (LAKIP  Pemerintah  Provinsi  Lampung  2007).    Untuk  mencapai  mencapai  indikator  keberhasilan tersebut, telah dilaksanakan sembilan kegiatan yakni:  1.  Pemantauan Pelaksanaan PMTAS di 10 kabupaten/kota.  2.  Koordinasi Komite Penanggulangan Kemiskinan (KPK) dan monitoring PKPS­BBM  3.  Pemantauan dan Pembinaan PPK  4.  Orientasi Forum UPK­PPK pada 8 Kabupaten dan 60 Kecamatan Penerima PPK Fase I, II, dan III  5.  Pelatihan lanjutan Manajemen Keuangan UPK­PPK pada 8 Kabupaten dan 35 Kecamatan Fase III.  6.  Pasar Murah menyambut Hari Raya, Pasar Sabtu dan Minggu  7.  Pengembangan Usaha dan Kesempatan Kerja di Daerah Tertinggal  8.  Pendampingan Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan  9.  Pendampingan Program Percepatan Pembangunan Daerah Tertingal dan Khusus  Semua  kegiatan  tersebut  lebih  memprioritaskan  kepada  aspek  penyamaan  persepsi  dan  konsep  penanggulangan kemiskinan dan aspek koordinasi dalam manajemen penanggulangan kemiskinan sehingga  diharapkan kinerja pengelolaan penang­gulangan kemiskinan menjadi semakin baik dan efektif.  Dari  sisi  output,  tampak  bahwa ke  sembilan  program  tersebut  telah  dilaksanakan  100 %  namun  dari  segi  outcome, pengelolaan penanggulangan kemiskinan di Provinsi Lampung masih belum optimal.  Di samping itu, program­program dan kegiatan­kegiatan lain yang berhubungan tidak langsung dengan upaya  penanggulangan  kemiskinan  telah  dilaksanakan  antara  lain:  pengembangan  SDA  dan  lingkungan,
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008

Tim Independen Universitas Lampung

301 

Laporan Akhir 

Isu – isu Strategis 

infrastruktur, penyediaan sarana dan prasarana pendidikan dan kesehatan, bantuan permodalan bagi UKM.  Program dan kegiatan tersebut tidak  dapat dievaluasi secara akurat karena program dan kegiatan tersebut  tidak  secara  eksplisit  difokuskan  untuk  orang  miskin.    Namun  demikian  angka  kemiskinan  di  Provinsi  Lampung hingga 2007 tetap tinggi.  Berdasarkan  uraian  diatas  disimpulkan  bahwa  output  program  penanggula­ngan  kemiskinan  telah  tercapai  dengan sangat baik sekali (100%) namun outcome dan dampaknya masih belum optimal. 5.3.2 Keberlanjutan Penanganan Isu  Rencana Tata Ruang Wilayah  Propinsi Lampung  seharusnya  berfungsi sebagai pedoman bagi Pemerintah  Propinsi  Lampung  dalam  menyusun  program  pembangunan  yang  lebih  aspiratif  dan  akomodatif  terhadap  kebutuhan  para  pelaku  pembangunan  agar  lebih  efektif,  efisien,  dan  berkesinambungan.  Kenyataannya  bahwa  Rencana  Tata  Ruang  Wilayah  Propinsi  Lampung  belum  dijadikan  pedoman  dalam  pembangunan  wilayah Propinsi Lampung.  Prospek  keberlanjutan  program­program  dalam  penanganan  isu  kemiskinan  tersebut  sangat  tergantung  kepada  beberapa  aspek  utama  diantaranya:  sumber  daya  alam,  infrastruktur,  sumber  daya  manusia,  kelembagaan, dan dukungan anggaran. Seluruh aspek tersebut secara umum diatur di dalam perencanaan  tata ruang wilayah. 5.3.3 Sumber Daya Alam  Sektor  pertanian  merupakan  sektor  yang  sangat  besar  perannya  dalam  pembangunan  Provinsi  Lampung  secara  keseluruhan.    Berdasarkan  PDRB  Daerah  tahun  2005,  Sektor  Pertanian  menyumbang  sebesar  36,99%  dan  18,69%  disumbangkan  oleh  sub­sektor  tanaman  pangan  dan  hortikultura  yang  dalam  proses  produksinya sangat bergantung pada curah hujan secara alami.  Penurunan jumlah curah hujan juga sudah terjadi di Lampung. Penurunan curah hujan tahunan ini berdampak  pada  penurunan  produktivitas  pertanian, yang sebagian besar kehidupan  masyarakat Lampung bergantung  pada pertanian.  Pola curah hujanpun sudah mulai tidak beraturan lagi, dan secara umum terakumulasi pada  musim  hujan  saja;  sedangkan  pada  musim  kemarau  mempunyai  curah  hujan  yang  sangat  sedikit.  Pada  musim  hujan  terjadi  kelebihan  air,  yang  juga  kadang­kadang  menimbulkan  masalah  banjir  dan  masalah  degradasi  lahan  kering;  sedangkan  pada  musim  kemarau  juga  terjadi  masalah  karena  kekurangan  air.  Kondisi yang demikian sangat tidak menguntungkan bagi petani secara umum.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008

Tim Independen Universitas Lampung

302 

Laporan Akhir 

Isu – isu Strategis 

Potensi sumberdaya air di sungai dan sumber mata air tergantung pada kemampuan daerah tangkapan air  masing masing wilayah (catchment area), yang sebagian besar merupakan kawasan lindung dan suaka alam.  Potensi  sumberdaya  air  terutama  berada  pada  lokasi  kawasan  hutan  di  Kabupaten  Tanggamus,  Lampung  Barat, serta Lampung Selatan.  Revitalisasi pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, dan peternakan yang merupakan tulang punggung  perekonomian  rakyat  di  Provinsi  Lampung  harus  diperhatikan  dengan  serius  dan  secara  komprehensif.  Revitalisasi pertanian dalam arti luas tersebut harus didekati dari berbagai sektor yang mendukung, sehingga  sumberdaya alam dapat dimanfaatkan secara maksimal dengan tetap menjaga kelestariannya.  Berdasarkan  uraian  di  atas,  degradasi  sumberdaya  lahan  dan  air  berdampak  kepada  semakin  rendahnya  produktivitas  lahan  dan  indeks  pertanaman  dan  pada  akhirnya  berdampak  kepada  penurunan  pendapatan  masyarakat  dan  peningkatan  jumlah  masyarakat  miskin.    Di  samping  itu  rendahnya  rasa  kebersamaan  di  masyarakat perdesaan  menyebabkan  meningkatnya angka kerawanan sosial, tindak  kriminalitas  meningkat  sehingga semakin meningkatkan jumlah penduduk miskin. 5.3.4 Infrastruktur  Beberapa isu yang muncul berkaitan dengan penyediaan infrastruktur adalah:  1.  Penyediaan  prasarana  dan  sarana  wilayah  di  Propinsi  Lampung  cenderung  masih  terkonsentrasi  di  perkotaan dan pada jalan­jalan utama yang tidak langsung menyentuh kelompok masyarakat miskin.  2.  Masih  terbatasnya  anggaran  untuk  pembangunan  dan  pemeliharaan  infrastruktur  (transportasi/perhubungan,  pengairan,dan  permukiman)  terutama  di  daerah­daerah  terpencil,  perbatasan, terisolir, transmigrasi, pesisir pantai, pulau­pulau kecil dan perbatasan yang bertujuan untuk  penanggulangan  kemiskinan.  Disamping  itu  pembangunan  infrastruktur  ada  yang  masih  belum  tepat  sasaran atau tidak sesuai kebutuhan masyarakat setempat.  3.  Pembangunan infrastruktur masih terputus­putus antara program yang satu dengan yang lain jadi belum  sebagai suatu program berkelanjutan, sehingga bisa lebih efisien dan efektif.  4.  Masih  kurang  keterlibatan  stakeholders  dalam  mendukung  penyediaan  infrastruktur,  terutama  swasta/dunia usaha dan masyarakat. 5.3.4 Sumber Daya Manusia  Kemiskinan di Lampung dekat sekali hubungannya dengan kualitas SDM. Berdasarkan pendidikan, sekitar 70  persen orang yang berumur 10 tahun keatas hanya tamat SD kebawah. Ini berarti ada yang hanya tamat SD,

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008

Tim Independen Universitas Lampung

303 

Laporan Akhir 

Isu – isu Strategis 

tidak tamat SD, dan bahkan tidak pernah bersekolah. Dalam kondisi yang demikian pendidikan tidak mampu  menjadi faktor kekuatan internal sehingga orang dapat keluar dari kondisinya.  Sayangnya  kondisi  ini  belum  bisa  tersahuti  secara  optimal  oleh  pemerintah,  yang  tercermin  pada  alokasi  anggaran  dibidang  pendidikan  yang  masih  kurang  dari  20%.    Kalau  saja  pemerintah  berkomitmen  untuk  mengalokasikan anggaran sebesar minimal 20% maka banyak hal yang bisa dilakukan untuk meningkatkan  kualitas SDM.  Pendidikan yang dikembangkan juga masih cenderung berorientasi umum sehingga sekolah kejuruan masih  sangat  terbatas  bahkan  peminatnya  pun  rendah.  Harus  ada  upaya  untuk  mengubah  orientasi  pendidikan  sehingga sesuai dengan kebutuhan dan potensi daerah.  Teknologi belum banyak menunjang peningkatan produktivitas. Karena itu, daerah harus  mampu mendifusi  teknologi  kepada  masyarakat  melalui  pengembangan  teknologi  yang  sesuai  dengan  potensi  daerah  serta  tingkat  kemampuan  masyarakat.  Problem­problem  dasar  usaha  tani  rakyat  harus  dapat  dicarikan  jalan  keluarnya secara teknologis. 5.3.5 Kemiskinan dilihat dari Perpesktif Kelembagaan  Penanggulangan  kemiskinan  membutuhkan  manajemen  yang  memadai.  Selama  ini  penanggulangan  kemiskinan  masih  dilakukan  secara  parsial  melalui  SKPD.  Tidak  ada  struktur  kelembagaan  yang  secara  penuh bertanggungjawab menangani penanggulangan kemiskinan.  Pada  tataran  kebijakan  ada  KPK  (Komite  Penanggulangan  Kemiskinan)  berada  di  Dinas  Pemberdayaan  Masyarakat  Desa  (PMD)  Provinsi  Lampung.    KPK  tersebut  belum  berjalan  secara  optimal.  Karena  membutuhkan  koordinasi,  sedangkan  PMD  bukan  lembaga  yang  punya  fungsi  koordinasi.    BAPPEDA  sebagai lembaga yang punya fungsi koordinasipun belum secara optimal menangani isu kemiskinan.  Selama  ini  kemiskinan  berada  di  bidang  sosbud  yang  terkait  dengan  bidang  pendidikan,  kesehatan,  dan  kesejahteraan sosial. Akibatnya  upaya  penanggulangan kemiskinan lebih berorientasi kepada penyelesaian  dampak dibandingkan dengan  upaya penanggulangan sumber atau penyebab kemiskinan.  Dengan  pola  sektoral  yang  selama  ini  ada,  kemiskinan  sulit  ditanggulangi,  karena  kemiskinan  bersifat  majemuk­lintas  sektoral.  Karena  itu  wajar  jika  pemahaman  aparatur  tentang  upaya  penanggulangan  kemsikinan cenderung parsial. Hal ini membutuhkan upaya untuk memberikan pendalaman pemahaman bagi  aparatur terhadap kompleksitas masalah kemiskinan.

Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Lampung Tahun 2008

Tim Independen Universitas Lampung

304 

Laporan Akhir 

Isu – isu Strategis 

Pendekatan  terpadu  dalam  penanggulangan  kemiskinan  membutuhkan  adanya  manajemen  terpadu  yang  fokus.  Karena  itu  harus  ada  mekanisme  perencanaan  dan monitoring  yang  terpadu  sehingga  pelaksanaan  penanggulangan  kemiskanan  melalui  SKPD  tetap  dalam  keterpaduan  program.    Oleh  karena  itu  aspek  struktur, manajemen dan aparatur sangatlah penting dan strategis. A. Struktur  Pada bulan Januari 2008 PP No. 41 Tahun 2007 mulai diterapkan di Provinsi Lampung.   Struktur organisasi  Pemda  Lampung  yang  berlaku  sekarang  masih  cenderung  umum  dalam  pengertian  tidak  ada  dinas  yang  secara  khusus  menangani  isu  atau  problema  publik  yang  sifatnya  isu  primer  dan  memerlukan  penangan  jangka  panjang,  semisal  isu  kemiskinan.  Masalah  kemiskinan  di  Lampung  baik  di  tingkat  propinsi  atau  di  kabupaten/kota tidak ditangani secara khusus oleh dinas/badan tertentu, namun, persoalan tersebut ditangani  beberapa dinas yang dikoordinasikan oleh Bappeda.  Secara kelembagaan penanganan kemiskinan dengan cara tersebut cenderung tidak efektif, karena program  kemiskinan  cenderung  menjadi  parsial  dan  tidak  berkesinambungan  bahkan  sampai  sekarang  Provinsi  Lampung belum memiliki Strategi Penanggulangan Kemiskinan (SPK) Jangka Panjang. Di samping itu, dalam  menanggulangi kemiskinan juga belum melibatkan  dunia usaha, ornop, Perguruan Tinggi, Litbangterap, dan  masyarakat miskin itu sendiri. B. Manajemen  Dari  sisi  perencanaan,  masalah  kemiskinan  bisa  diatasi  secara  efektif  apabila  didukung  oleh  proses  perencanaan pembangunan yang melibatkan peranserta masyarakat. Mekanisme tersebut selama ini diatur  melalui  musrenbang.  Musrenbang  dari  sudut  demokratisasi  perencanaan  pembangunan  merupakan  forum  yang  sangat strategis  untuk  mengakomodasi berbagai aspirasi masyarakat mulai dari tingkat Desa sampai  Kabupaten/Kota  dan  Provinsi.  Rakyat  diberikan  peluang  untuk  menyampaikan  be