pembelajaran kontekstual by clickmath4u

VIEWS: 5,388 PAGES: 100

									   EFEKTIVITAS PENDEKATAN KONTEKSTUAL
 (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING) DALAM
MENGATASI KESULITAN BELAJAR BAHASA INGGRIS
   SISWA KELAS II SEMESTER I SMP NEGERI 1
             BRANGSONG KENDAL
         TAHUN PELAJARAN 2004/2005


                       SKRIPSI


        Untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan
            Pada Universitas Negeri Semarang


                         Oleh :
                 Dinny Eritha Ningrum
                      1124000013




        FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
 JURUSAN KURIKULUM TEKNOLOGI PENDIDIKAN
                         2005
                       KATA PENGANTAR

     Puji Syukur penulis senantiasa panjatkan kepada Allah SWT yang telah

melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyusun skripsi ini

dengan judul “Efektivitas Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and

Learning) Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Bahasa Inggris Siswa Kelas II

Semester I Sekolah Menengah Pertama Negeri I Brangsong Kota Kendal

Tahun Pelajaran 2004/2005”. Penulis sangat bersyukur karena dapat

menyelesaikan skripsi ini guna memenuhi sebagian persyaratan untuk

memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas

Negeri Semarang.

     Dalam proses penyusunan skripsi ini penulis menyadari banyak pihak yang

telah membantu dan memberikan dorongan sehingga pada akhirnya skripsi ini

dapat berjalan dengan lancar. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis

mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat :

1. Dr. A.T. Soegito, SH. MM; Rektor Universitas Negeri Semarang

  yang telah memberikan kesempatan dalam rangka penulisan skripsi

  ini.

2. Drs. Siswanto, MM; Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas

  Negeri Semarang yang telah memberikan ijin penelitian.
3. Drs. Haryanto, Ketua Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan

  Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan ijin

  penelitian.

4. Dr. Nugroho, M.Psi; Pembimbing I yang telah memberikan

  bimbingan dan pengarahan dengan sabar dan bijaksana serta

  memberikan dorongan dari awal hingga akhir penulisan skripsi ini.

5. Dra. Nurussa’adah, M.Si; Pembimbing II yang telah memberikan

  bimbingan dan pengarahan dengan sabar dan bijaksana serta

  memberikan dorongan dari awal hingga akhir penulisan skripsi ini.

6. Dra. Hj. Amien Ariyatna Yusuf; Kepala Sekolah SMP Negeri I

  Brangsong     Kendal,    yang    telah   memberikan     ijin   untuk

  melaksanakan penelitian.

7. Pujiono, S.Pd dan Setyawati Rini, S.Pd; Guru Bahasa Inggris kelas

  II-F dan II-B yang telah memberikan bantuan dan dorongan untuk

  menyelesaikan skripsi ini.

8. Keluarga besarku yang ada di Semarang yang selalu memberikan

  semangat baik secara material maupun spiritual.

9. Teman-temanku yang telah membantu dan selalu memberikan

  motivasi dalam penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat ditulis satu

  persatu.
     Dengan segala kerendahan hati, Penulis menyadari bahwa karya

  ini masih belum sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang

sifatnya membangun dari berbagai pihak sangat diharapkan. Akhirnya

semoga skripsi ini dapat berguna dan bermanfaat bagi penulis sendiri

             khususnya dan pembaca pada umumnya.



                                              Semarang, Januari

                                                  2005



                                                         Penulis
                               SARI


  Ningrum, Dinny Eritha. 2005. Judul “Efektivitas Pendekatan

       Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) Dalam

       Mengatasi Kesulitan Belajar Bahasa Inggris pada Siswa

       Kelas II Semester I Sekolah Menengah Pertama Negeri I

       Brangsong Kota Kendal Tahun Pelajaran 2004 – 2005”.

    Skripsi. Jurusan Kurikulum Teknologi Pendidikan, Fakultas

    Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang. Pembimbing

      I Dr. Nugroho, M.Psi. Pembimbing II Dra. Nurussa’adah,

                                 M.Si.



 Kata Kunci : Efektivitas, CTL, Kesulitan Belajar, Kuantitatif,

                           Eksperimen.



        Penelitian ini diadakan dengan latar belakang bahwa pada

dasarnya masih terdapat kesulitan dalam belajar Bahasa Inggris Siswa

 Sekolah Menengah Pertama sebab pembelajaran yang dilaksanakan

  sehari-hari masih menggunakan pendekatan konvensional dalam

proses pembelajarannya. Sedangkan pendekatan CTL bila digunakan

 dalam pembelajaran akan dapat memenuhi kebutuhan siswa karena
CTL merupakan metode pembelajaran baru yang menuntut keaktifan

   guru dan siswa atau menuntun siswa untuk menemukan sendiri

          kandungan materi pelajaran dengan pengalaman.

         Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana

 efektivitas pelaksanaan pendekatan CTL pada proses pembelajaran

   siswa SMP Negeri I Brangsong Kendal dan untuk mengetahui

   seberapa besar pengaruh penerapan pendekatan CTL terhadap

keberhasilan belajar siswa dibandingkan dengan model pembelajaran

 konvensional pada mata pelajaran Bahasa Inggris Siswa Kelas II-F

         dan II-B Semester I Tahun Pelajaran 2004 – 2005.

         Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan

   ketentuan SMP Negeri I Brangsong Kendal Kelas II-F sebagai

kelompok eksperimen dan kelas II-B sebagai kelompok kontrol yang

sebelumnya telah di matching terlebih dahulu dengan menggunakan

nilai pre-test. Desain eksperimen yang digunakan dalam penelitian ini

 adalah pola randomized control group pretest-posttest. Pelaksanaan

   eksperimen dilakukan sejak bulan September – Oktober 2004.

 Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan menggunakan analisa data

                            dari statistik.
      Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas II-F dan II-B

   SMP Negeri I Brangsong Kendal Tahun Pelajaran 2004 – 2005

 dengan jumlah 96 siswa, pengambilan untuk sampel menggunakan

teknik cluster random sampling atau sampel acak berkelompok yang

 sebelumnya telah di matching terlebih dahulu dengan hasil 40 siswa

 yang dibagi dalam dua kelompok. Untuk kelompok eksperimen 20

             siswa dan untuk kelompok kontrol 20 siswa.

     Sebelum pelaksanaan eksperimen, maka instrumen tersebut telah

  diuji cobakan terlebih dahulu untuk mengetahui tingakat validitas,

 reliabilitas, indeks kesukaran dan daya pembeda soal. Dari 25 soal

yang telah diuji cobakan yang dinyatakan valid sebanyak 20 soal yang

     selanjutnya akan digunakan dalam penelitian. Dari analisis

 reliabilitasnya diperoleh rempiris 0,9746 dengan taraf signifikansi 5%,

diperoleh rtabel 0,444. karena r11 > rtabel, maka dapat disimpulkan bahwa

 instrumen yang akan digunakan dalam penelitian tersebut reliabel.

      Tehnik pengumpulan data dengan menggunakan test yaitu pre-

test dan post-test. Hasil rata-rata pre-test untuk kelompok eksperimen

 adalah 72,60 dan untuk kelompok kontrol adalah 72,15. Sedangkan

  hasil post-test memiliki mean dari kelompok eksperimen sebesar

  81,75 dan kelompok kontrol sebesar 75,75. Teknik analisis yang
     digunakan untuk menguji hipotesis ini adalah t-test. Hasil dari

perhitungan statistik diperoleh bahwa nilai thitung sebesar 1,855. Hasil

   ini bila dikonsultasikan pada tabel t dengan taraf signifikansi 5%

  diperoleh ttabel sebesar 1,69. Dari hasil data tersebut menunjukkan

 bahwa thitung lebih besar daripada ttabel, ketentuannya yaitu Ho ditolak

                            dan Hi diterima.

          Berdasarkan ketentuan di atas dapat disimpulkan bahwa

 penelitian ini menolak hipotesis nihil (Ho) yang menyatakan bahwa

   “Siswa yang menempuh proses belajar mengajar dengan model

pembelajaran CTL hasil belajarnya tidak berbeda dengan siswa yang

   menempuh proses belajar mengajar dengan model pembelajaran

konvensional” dan menerima hipotesis penelitian (Hi) yang berbunyi “

    Siswa yang menempuh proses belajar mengajar dengan model

 pembelajaran CTL hasil belajarnya lebih baik daripada siswa yang

   menempuh proses belajar mengajar dengan model pembelajaran

                             konvensional”.

     Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian di atas, penulis sarankan

   hal-hal sebagai berikut : (1) Kepada Guru di Sekolah Menengah

    Pertama hendaknya dapat mengembangkan kreativitas dalam

  melaksanakan pembelajaran yang diantaranya dengan menerapkan
pendekatan belajar mengajar model CTL dalam setiap mata pelajaran

  (khususnya mata pelajaran bahasa), (2) Kepada Guru disampaikan

untuk senantiasa bersikap terbuka terhadap inovasi dan merespon aktif

   dan kreatif setiap perkembangan pendidikan, sehingga apa yang

      dilakukan terhadap siswa benar-benar berguna, baik bagi

kehidupannya sendiri maupun orang lain, (3) Kepada Kepala Sekolah

  agar dapat mengevaluasi kegiatan belajar yang dilaksanakan oleh

 Guru dan mengadakan monitoring secara rutin dengan tujuan untuk

      mengingatkan para Guru agar dapat melaksanakan proses

pembelajaran dengan baik dan (4) Kepada Instansi atau Lembaga yang

  terkait dengan penyelenggaraan pendidikan di sekolah, disarankan

      untuk mengadakan pelatihan khusus tentang pelaksanaan

  pembelajaran model CTL kepada para Guru, sehingga para Guru

dapat bekerja dengan lebih baik dan professional yang nantinya dapat

            meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.
                                  BAB I

                          PENDAHULUAN



                         1.1. Latar Belakang

           Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan

potensi dirinya melalui proses pembelajaran dan/atau cara lain yang dikenal

dan diakui oleh masyarakat. Didukung oleh kemajuan ilmu dan teknologi,

dunia pendidikan secara nyata telah berkembang pesat, terlihat dengan adanya

pendidikan Bahasa Inggris dimulai sejak di Sekolah Dasar. Selama ini,

memang kita akui bahwa siswa tingkat dasar di Indonesia masih lemah dalam

penguasaan Bahasa Inggris, juga tertinggal dalam penguasaan ilmu

pengetahuan lanjutan dibanding siswa negara lain yang bahasa ibunya bukan

Bahasa Inggris juga. Laporan Human Development Report United

Development Program (UNDP) tahun 1997 menyatakan bahwa Indeks

Pembangunan Manusia (HDI) yang meliputi pendidikan, kesehatan dan

perekonomian dari 173 negara, Indonesia berada pada peringkat 102 di tahun

2001 dibandingkan dengan Jepang pada peringkat ke-8, dan Thailand ke-47.

           Kasihani K.E. Suyanto (2003), menerangkan tahun 2002 responden

3.404 siswa di sepuluh propinsi (Jatim, Jateng, DIY, Bali, NTT, Sulsel,

Kalteng, Kalsel, Sumbar, dan Sumsel) menunjukkan bahwa siswa dengan

NEM tinggi (66,9%) dan dengan NEM rendah (56,4%) telah belajar Bahasa

Inggris ketika di SD. Mereka merasa senang belajar Bahasa Inggris (89,4%
NEM tinggi dan 85,4% NEM rendah). Walaupun merasa senang, mereka juga

menyatakan bahwa belajar Bahasa Inggris itu sulit. Sayang sekali rasa senang

belajar Bahasa Inggris di SD ini ketika di SMP justru menurun menjadi 63%

dan lebih dari separuh (62,9%) menyatakan mengalami kesulitan dalam

pelajaran Bahasa Inggris.

           Hasil survey The Political and Economic Risk Consultancy (PERC)

di Hongkong menyatakan sistem pendidikan di Indonesia menempati peringkat

12 di Asia setelah Vietnam, sehingga Indonesia harus mengejar kemajuan

negara lain dengan memperbaiki kualitas pendidikannya. Kenyataan dan

penelitian diagnostik (Sadtono dkk, 1996) menunjukkan bahwa hasil belajar

Bahasa Inggris di SMP masih jauh dari target yang diharapkan. Sebagai contoh

nilai rata-rata tes untuk mengukur ketrampilan membaca 48 siswa SLTP 2

Boyolali Jawa Tengah adalah 4,2 yang menunjukkkan bahwa lebih dari 75%

siswa memiliki ketrampilan membaca dan penguasaan kosakata yang rendah

(Syamsudin, 2001). Hal tersebut sejalan dengan NEM Bahasa Inggris siswa

tahun 1998/1999 sebesar 4,18 dan tahun 2000/2001 sebesar 4,85 yang

dihubungkan dengan skor TOEFL antara 400-500 yang diperoleh guru

instruktur Bahasa Inggris yang diberikan secara random. Kenyataan di

lapangan juga menunjukkan bahwa tenaga kerja Indonesia (TKI) dan tenaga

kerja wanita (TKW) yang keluar negeri kebanyakan lulusan SD/SMP yang

belum dapat berbicara dalam bahasa asing terutama Bahasa Inggris walaupun

dalam bahasa yang sangat sederhana sehingga mereka sukar untuk
berkompetisi dengan tenaga kerja dari negara Philipina dan Thailand yang

dapat berbahasa Inggris. (Depdiknas. 2002. Juklak Inggris SLTP)

           Mengikuti era globalisasi dan AFTA sejak tahun 2003, tidak dapat

diragukan bahwa bahasa asing merupakan alat komunikasi terpenting sekaligus

merupakan salah satu ketrampilan hidup (life skill) yang harus dikuasai oleh

seseorang, khususnya siswa. Hal itu sesuai dengan Undang – Undang No. 25

Tahun 2000 tentang Propenas 2000 – 2004 dengan tujuan untuk mengantisipasi

era globalisasi dunia pendidikan.

           Untuk itu, anak usia dini lebih baik telah diajarkan bahasa asing.

Ditinjau dari kondisi psikologis anak, saat anak berumur 4 tahun,

perkembangan kapasitas otak hanya 50%. Namun, akan melaju cukup pesat

ketika ia di atas 4 tahun menjelang 8 tahun. Saat itu, perkembangan otaknya

bisa mencapai 80%. Memang, tak salah bila pakar linguistik yang

menyebutkan usia 6-12 tahun merupakan masa emas atau paling ideal untuk

belajar bahasa selain bahasa ibu (bahasa pertama). Pada masa ini anak lebih

berhasil pada penguasaan fonologi (tata bunyi) bahasa Inggris. Sedangkan pada

anak lebih tua 6-15 tahun lebih berhasil pada penguasaan morfologi (satuan

bentuk bahasa terkecil) dan sintaksisnya (susunan tata kalimat). ( Kompas, 14

September 2002 )

           Alva Handayani ( 14 September 2002 ), dosen Fakultas Psikologi

Unisba yang sedang menyelesaikan S-II di program Pasca Sarjana Unpad

mengungkapkan otak anak usia 6-15 tahun masih plastis dan lentur sehingga

proses penyerapan bahasa lebih mulus. Lagipula daya penyerapan bahasa pada
anak berfungsi secara otomatis. Cukup dengan pemajanan diri (self exposure)

pada bahasa tertentu. Masa emas itu tidak dimiliki oleh orang dewasa.

Pengajaran Bahasa Inggris pada anak harus memakai cara seperti kalau kita

membawa anak ke dunia yang berkomunikasi dengan Bahasa Inggris. Anak

dihadapkan langsung dengan lingkungan yang berbahasa Inggris. Dengan

begitu, anak akan secara otomatis menyerapnya.

           Dalam proses belajar mengajar di sekolah, siswa Sekolah

Menengah Pertama seringkali masih merasa sulit belajar Bahasa Inggris

bahkan cenderung bosan mengikuti proses belajar mengajar di kelas karena

strategi pelajaran yang digunakan oleh guru kurang variatif dan

menyenangkan. Pada saat sedang belajar di kelas, mereka sering bermain atau

minta izin keluar dengan berbagai alasan. Tentunya sistem pembelajaran yang

dilakukan di kelas bagi sekolah dengan sistem full day, tentu bisa menimbulkan

kejenuhan. Bila dibiarkan dapat berakibat fatal yaitu anak menjadi malas

belajar bahkan mogok sekolah.

           Untuk menjawab kebutuhan terhadap penguasaan Bahasa Inggris,

kurikulum di Indonesia telah mengalami beberapa perubahan (Dardjowidjojo,

2000). Dimulai dengan pendekatan tata bahasa dan terjemahan (1945), oral

(1968), audio-lingual (1975), komunikatif (1984) dan kebermaknaan (1994).

Perubahan drastis dalam tahap perumusan kurikulum standar terjadi di tahun

1984 saat pengajaran bahasa asing bergeser dari behaviorism menuju

konstruktivisme. Bahasa dipandang sebagai suatu fenomena sosial, dan

pengajaran bahasa seharusnya lebih menekankan pada penggunaan, bukan
pada struktur bahasa. Mengacu paradigma baru ini, kurikulum 1984 dan 1994

bercita-cita membangun kemampuan siswa untuk berkomunikasi dalam Bahasa

Inggris secara aktif. Akan tetapi, cita-cita dalam kurikulum 1984 dan 1994

sama sekali tidak mendarat dan terlaksana. Sebagian besar guru Bahasa Inggris

di Indonesia belum kompeten dan lancar berbahasa Inggris. Kesulitan dalam

ujian listening Bahasa Inggris bukan hanya disebabkan oleh alasan teknis tetapi

juga mismatch (ketidakterkaitan) antara apa yang diajarkan dengan apa yang

diujikan.

            Menurut Adji Esa ( 7 Oktober 2003 ), di masa silam ada ungkapan

bijak seperti “bawalah kelas ke bawah pohon yang rindang”. Yang terjadi

justru anak-anak sekolah menghadapi suasana belajar yang tidak

menyenangkan seperti penegakan disiplin belajar yang keras dan kaku. Siswa

tidak ditumbuhkan minat belajar, tetapi dipaksa mau belajar. Akibatnya hari

libur sekolah dianggap siswa sebagai hari kebebasan yang ditunggu-tunggu.

Siswa Sekolah Menengah Pertama sekarang tampaknya dipaksakan untuk

mempelajari tiga bahasa yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Bahasa

Daerah. Bahkan, terkadang ada sekolah yang mengajarkan juga bahasa Arab

atau Mandarin. Dengan kenyataan itu, bisa dibayangkan bagaimana beratnya

beban siswa. Padahal, mantan Mendikbud Prof. Dr. Fuad Hassan pernah

membuat pernyataan yang patut direnungkan yaitu kualitas pendidikan

sesungguhnya tidak ditentukan oleh banyaknya mata pelajaran, melainkan

daya serap yang maksimal atas pelajaran yang diterimanya di sekolah. (http

://www.Pikiran Rakyat.com/cetak/1003/07/0303.htm – 17k)
           Pengajaran Bahasa Inggris di sekolah lebih banyak berfokus pada

pengajaran tata bahasa dan kurang memberikan kesempatan pada siswa untuk

berlatih berbicara dalam Bahasa Inggris. Akibatnya muncul keluhan siswa

bahwa Bahasa Inggris merupakan bahasa kebatinan karena hanya dibatin saja

dan tidak dapat berbicara, mengapa siswa SMP tidak dapat berbicara Bahasa

Inggris sebaik lulusan kursus dan mengapa tidak dapat berbicara dalam Bahasa

Inggris seperti orang asing yang sedang berbicara dalam Bahasa Indonesia

walaupun terpatah-patah. Sehingga konsep yang harus diusahakan antara lain

meningkatkan kesadaran akan pentingnya menyajikan pembelajaran Bahasa

Inggris dengan mengikutsertakan siswa secara aktif, interaktif dan komunikatif

melalui berbagai alat bantu kegiatan atau tugas yang dapat mendorong siswa

untuk berlatih menggunakan bahasa yang dipelajarinya. Akan tetapi

pemahaman yang kurang sempurna atas konsep-konsep tersebut membuat

tujuan pengajaran kurang berhasil. Selain itu, perlunya sarana atau buku yang

bervariasi, bergambar dapat menarik siswa untuk memiliki minat baca yang

tinggi.

           Dalam proses belajar aktif di sekolah, siswa tidak hanya menerima

materi pelajaran semata melainkan diberikan kesempatan seluas-luasnya

mengembangkan olah pikir dan wawasannya sehingga mereka tidak lagi

merasa malu-malu dan berani mengambil inisiatif dalam proses belajar

mengajar. “Yang terpenting bagaimana membuat anak didik senang, ibaratnya

belajar sambil bermain, sehingga anak didik bisa leluasa belajar,” kata Agnes,

Pembantu dekan II Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
Katolik Widya Mandala Surabaya ( Kompas, 18 Agustus 2001 ). Agnes lebih

lanjut mengatakan, pengalaman selama ini, keberanian siswa dalam proses

belajar aktif masih kurang dan mereka cenderung malu-malu untuk berperan

aktif. Dengan demikian peran guru sangat menentukan proses belajar yang

menekankan pada belajar aktif siswa, sehingga akan terbangun interaksi, dalam

proses belajar khususnya mata pelajaran Bahasa Inggris.

           Misalnya mencoba menerapkan pendekatan kontekstual

(Contextual Teaching and Learning). Merupakan konsep belajar yang

membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi

dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara

pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka

sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Kelebihan konsep belajar ini yaitu

hasil pembelajaran diharapkan alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja

dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi

pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil.

           Sesuai dengan teori di atas maka dapat dicari berbagai macam

kesulitan belajar Bahasa Inggris bagi anak Sekolah Menengah Pertama, yang

kemudian akan berpengaruh terhadap proses belajar mengajar yang diberikan

oleh guru. Dengan mengetahui kesulitan dalam belajar Bahasa Inggris dapat

membantu guru dalam memberikan pelajaran dan menerapkan strategi belajar

yang akan dipakai. Sehingga dapat menghasilkan pembelajaran yang optimal.

           Berdasar latar belakang masalah tersebut maka pembelajaran

dengan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) Bahasa
     Inggris bagi anak usia Sekolah Menengah Pertama, diangkat menjadi

     permasalahan penelitian ini.

                    Sehingga penulis terdorong untuk melakukan penelitian mengenai

     Efektivitas Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)

     Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Bahasa Inggris pada Siswa Kelas II

     Semester I SMP Negeri 1 Brangsong Kendal Tahun Pelajaran 2004/2005.




     1.2. Rumusan Masalah

                    Berdasarkan uraian di atas, maka permasalahan dalam penelitian

     ini adalah :

1.    Adakah perbedaan hasil belajar Bahasa Inggris antara kelompok belajar yang

      menggunakan pendekatan kontekstual dengan kelompok yang tidak

      menggunakan pendekatan kontekstual?

2.    Seberapa besar efektivitas proses belajar mengajar Bahasa Inggris dengan

      pendekatan kontekstual untuk mengatasi kesulitan belajar Bahasa Inggris?




1.3. Tujuan Penelitian

           Tujuan penelitian ini adalah :

1.    Untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan hasil belajar Bahasa Inggris antara

        kelompok yang menggunakan pendekatan kontekstual dengan kelompok

        yang tidak menggunakan pendekatan kontekstual.
2.     Untuk mengetahui seberapa besar efektivitas penggunaan pendekatan

       kontekstual yang diberikan oleh guru dalam memberikan mata pelajaran

       Bahasa Inggris.




1.4. Manfaat Penelitian

                Berdasarkan tujuan penelitian di atas, dapat diperoleh manfaat atau

     pentingnya penelitian. Adapun manfaat penelitian ini adalah :




1. Manfaat Teoritis

                Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dalam

     pengembangan ilmu pengetahuan, selain itu juga dapat memberi pemahaman

     psikologis terhadap guru-guru dalam penggunaan pendekatan kontekstual

     (Contextual Teaching and Learning) khususnya mata pelajaran Bahasa Inggris.

2. Manfaat Praktis

         Bagi Peneliti

         Untuk menambah pengetahuan dan berbagai sarana untuk menerapkan

         pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah terhadap masalah nyata yang

         dihadapi oleh dunia pendidikan.

         Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan pada pihak

sekolah, yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam

memacu belajar siswa.

Bagi Fakultas

Dapat digunakan sebagai bahan untuk mengembangkan pengetahuan serta

bahan perbandingan bagi pembaca yang akan melakukan penelitian,

khususnya tentang efektifitas penggunaan pendekatan kontekstual

(Contextual Teaching and Learning ) dalam kegiatan belajar mengajar.
                                       BAB II
                      LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS




A. KAJIAN PUSTAKA
2.1. Konsep Bahasa

2.1.1. Bahasa dan Berbahasa

               Bahasa dan berbahasa adalah dua hal yang berbeda. Bahasa adalah

alat verbal yang digunakan untuk berkomunikasi, sedangkan berbahasa adalah

proses penyampaian informasi dalam berkomunikasi itu.

2.1.1.1. Hakikat Bahasa

                  Bahasa itu adalah satu sistem, sama dengan sistem-sistem lain,

     yang sekaligus bersifat sistematis dan bersifat sistemis. Jadi, bahasa itu bukan

     merupakan satu sistem tunggal melainkan dibangun oleh sejumlah subsistem.

     Sistem bahasa ini merupakan sistem lambang, sama dengan sistem lambang

     lalu lintas, atau sistem lambang lainnya. Hanya, sistem lambang bahasa ini

     berupa bunyi, bukan gambar atau tanda lain. Dan bunyi itu adalah bunyi bahasa

     yang dilahirkan oleh alat ucap manusia.

2.1.1.2.Asal – Usul Bahasa

                  Banyak teori telah dilontarkan para pakar mengenai asal-usul

     bahasa. Beberapa diantaranya adalah :

a.    F. B. Condillac (1975), seorang filsuf bangsa Perancis berpendapat bahwa

      bahasa itu berasal dari teriakan-teriakan dan gerak-gerik badan yang bersifat

      naluri yang dibangkitkan oleh perasaan atau emosi yang kuat. Kemudian
      teriakan-teriakan ini berubah menjadi bunyi-bunyi yang bermakna, dan yang

      lama kelamaan semakin panjang dan rumit.

b.    Von Sclegel (1975), seorang ahli filsafat bangsa Jerman, berpendapat bahwa

      bahasa-bahasa yang ada di dunia ini tidak mungkin bersumber dari satu

      bahasa. Asal-usul bahasa itu sangat berlainan tergantung pada faktor-faktor

      yang mengatur tumbuhnya bahasa itu. Ada bahasa yang lahir dari onomatope

      yaitu peniruan bunyi alam, ada juga yang lahir dari kesadaran manusia.

c.    Brooks (1975), memperkenalkan satu teori mengenai asal-usul bahasa yang

      sejalan dengan perkembangan psikolinguistik. Bahasa itu lahir pada waktu

      yang sama dengan kelahiran manusia. Bahasa pada mulanya berbentuk bunyi-

      bunyi tetap untuk menggantikan atau sebagai simbol bagi benda, hal, atau

      kejadian tetap di sekitar yang dekat dengan bunyi-bunyi itu. Kemudian bunyi-

      bunyi itu dipakai bersama oleh orang-orang di tempat itu.

2.1.1.3. Fungsi – Fungsi Bahasa

                  Fungsi bahasa adalah alat interaksi sosial, dalam arti alat untuk

     menyampaikan pikiran, gagasan, konsep, atau juga perasaan (Chaer, 1995).

     Wardhaugh (1972), seorang pakar sosiolinguistik juga mengatakan bahwa

     fungsi adalah alat komunikasi manusia, baik lisan maupun tulisan. Namun,

     fungsi ini sudah mencakup lima fungsi dasar. Kelima fungsi dasar ini

     mewadahi konsep bahwa bahasa alat untuk melahirkan ungkapan-ungkapan

     batin yang ingin disampaikan seorang penutur kepada orang lain. (Michel,

     1967 : 51)
    Fungsi ekspresi adalah penggunaan bahasa untuk pernyataan senang, benci,

    kagum, marah, jengkel, sedih, dan kecewa dapat diungkapkan dengan bahasa

    meskipun tingkah laku, gerak-gerik, dan mimik juga berperan dalam

    pengungkapan ekspresi batin itu.

    Fungsi informasi adalah fungsi untuk menyampaikan pesan atau amanat

    kepada orang lain.

    Fungsi eksplorasi adalah penggunaan bahasa untuk menjelaskan suatu hal,

    perkara, dan keadaan.

    Fungsi persuasi adalah penggunaan bahasa yang bersifat mempengaruhi atau

    mengajak orang lain untuk melakukan sesuatu secara baik-baik.

    Fungsi entertainment adalah penggunaan bahasa dengan maksud menghibur,

    menyenangkan, atau memuaskan perasaan batin.

                Karena bahasa ini digunakan manusia dalam segala tindak

  kehidupan, sedangkan perilaku dalam kehidupan itu sangat luas dan beragam,

  maka fungsi-fungsi bahasa itu bisa menjadi sangat banyak sesuai dengan

  banyaknya tindak dan perilaku serta keperluan manusia dalam kehidupan.

  (Chaer, 1995 : Nasaban, 1984)

2.1.1.4. Struktur Bahasa

                Dalam setiap analisis bahasa ada dua buah konsep yang perlu

  dipahami, yaitu struktur dan sistem. Struktur menyangkut masalah hubungan

  antara unsur-unsur di dalam satuan ujaran, misalnya antara fonem dengan

  fonem di dalam kata, antara kata dengan kata di dalam frase, atau juga antara
  frase dengan frase di dalam kalimat. Sedangkan sistem berkenaan dengan

  hubungan antara unsur-unsur bahasa pada satuan-satuan ujaran yang lain.




2.1.2. Hubungan Berbahasa, Berpikir dan Berbudaya

               Berbahasa adalah penyampaian pikiran atau perasaaan dari orang

  yang berbicara mengenai masalah yang dihadapi dalam kehidupan budayanya.

  Jadi, kita lihat berbahasa, berpikir, dan berbudaya adalah tiga hal atau tiga

  kegiatan yang saling berkaitan dalam kehidupan manusia.

a. Teori Wilhelm Von Humboldt

         Wilhelm Von Humboldt (1767 – 1835), sarjana abad ke – 19,

    menekankan adanya ketergantungan pemikiran manusia pada bahasa.

    Maksudnya, pandangan hidup dan budaya suatu masyarakat ditentukan oleh

    bahasa masyarakat itu sendiri. Anggota-anggota masyarakat itu tidak dapat

    menyimpang lagi dari garis-garis yang telah ditentukan oleh bahasanya itu.

b. Teori Sapir - Whorf

         Edward Sapir (1884 – 1939) linguis Amerika memiliki pendapat yang

    hampir sama dengan Von Humboldt. Sapir mengatakan bahwa manusia hidup

    di dunia ini di bawah “belas kasih” bahasanya yang telah menjadi alat

    pengantar dalam kehidupannya bermasyarakat. Telah menjadi fakta bahwa

    kehidupan suatu masyarakat sebagian “didirikan” di atas tabiat-tabiat dan

    sifat-sifat bahasa itu. Karena itulah, tidak ada dua buah bahasa yang sama

    sehingga dapat dianggap mewakili satu masyarakat yang sama. Setiap bahasa
    dari satu masyarakat telah “mendirikan” satu dunia tersendiri untuk penutur

    bahasa itu.

          Benjamin Lee Whorf (1897 – 1941), murid Sapir, menolak pandangan

    klasik mengenai hubungan bahasa dan berpikir yang mengatakan bahwa

    bahasa dan berpikir merupakan dua hal yang berdiri sendiri. Pandangan klasik

    juga mengatakan meskipun setiap bahasa mempunyai bunyi-bunyi yang

    berbeda, tetapi semuanya menyatakan rumusan-rumusan yang sama yang

    didasarkan pada pemikiran dan pengamatan yang sama. (Simanjuntak, 1987).

c. Teori Jean Piaget

          Piaget (1962), sarjana Perancis berpendapat justru pikiranlah yang

    membentuk bahasa. Tanpa pikiran bahasa tidak akan ada. Pikiranlah yang

    menentukan aspek-aspek sintaksis dan leksikon bahasa, bukan sebaliknya.

          Piaget mengembangkan teori pertumbuhan kognisi. Piaget

    mengemukakan dua hal penting mengenai hubungan bahasa dengan kegiatan-

    kegiatan intelek (pikiran), sebagai berikut :

    1.   Sumber kegiatan intelek tidak terdapat dalam bahasa, tetapi dalam

         periode sensomotorik, yaitu satu sistem skema, dikembangkan secara

         penuh dan membuat lebih dahulu gambaran-gambaran dari aspek-aspek

         struktur golongan-golongan dan hubungan-hubungan benda-benda

         (sebelum mendahului gambaran-gambaran lain) dan bentuk-bentuk dasar

         penyimpanan dan operasi pemakain kembali.
    2.   Pembentukan pikiran yang tepat dikemukakan dan berbentuk terjadi pada

         waktu yang bersamaan dengan pemerolehan bahasa. Keduanya memiliki

         suatu proses yang lebih umum, yaitu konstitusi fungsi lambang pada

         umumnya. Fungsi lambang ini mempunyai beberapa aspek.

         Piaget menegaskan bahwa intelek (pemikiran) sebenarnya adalah aksi

    atau perilaku yang telah dinuranikan dan dalam kegiatan-kegiatan

    sensomotorik termasuk juga perilaku bahasa.. yang perlu diingat adalah

    bahwa dalam jangka waktu sensomotor ini kekekalan benda merupakan

    pemerolehan umum.

d. Teori Eric Lenneberg

          Eric Lenneberg (1964) mengajukan teori yang disebut Teori

    Kemampuan Bahasa Khusus. Menurut beliau, banyak bukti yang

    menunjukkan bahwa manusia menerima warisan biologi asli berupa

    kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang khusus untuk

    manusia dan yang tidak ada hubungannya dengan kecerdasan dan pemikiran.

          Bukti bahwa manusia telah dipersiapkan secara biologis untuk

    berbahasa menurut Lenneberg adalah sebagai berikut :

         Kemampuan berbahasa sangat erat hubungannya dengan bagian-bagian

         anatomi dan fonologi manusia, seperti bagian-bagian otak tertentu

         (bagian konteks tertentu) yang mendasari bahasa.

         Jadwal perkembangan bahasa yang sama berlaku bagi semua kanak-

         kanak normal. Semua kanak-kanak bisa dikatakan mengikuti strategi dan
         waktu pemerolehan bahasa yang sama, yaitu lebih dahulu menguasai

         prinsip-prinsip pembagian dan pola persepsi.

         Perkembangan bahasa tidak dapat dihambat meskipun pada kanak-kanak

         yang mempunyai cacat tertentu seperti buta, tuli, atau memiliki orang tua

         pekak sejak lahir. Namun, bahasa kanak-kanak ini tetap berkembang

         dengan hanya sedikit keterlambatan.

         Bahasa tidak dapat diajarkan pada makhluk lain. Hingga saat ini belum

         pernah ada makhluk lain yang mampu menguasai bahasa, sekalipun telah

         diajar dengan cara-cara yang luar biasa.

e. Teori Bruner

          Bruner (1965) memperkenalkan teori yang disebutnya Teori

    Instrumentalisme. Menurut teori ini bahasa dapat membantu pemikiran

    manusia supaya dapat berpikir lebih sistemis. Bahasa dan pemikiran

    berkembang dari sumber yang sama. Bahasa sebagai alat pemikiran harus

    berhubungan langsung dengan perilaku aksi, dan dengan struktur perilaku ini

    pada peringkat permulaan.




2.1.3.   Perkembangan Pemerolehan Bahasa

                Pemerolehan bahasa atau akuisisi bahasa adalah proses yang

   berlangsung di dalam otak seseorang kanak-kanak ketika memperoleh bahasa

   pertamanya atau bahasa ibunya. Pemerolehan bahasa biasanya dibedakan dari

   pembelajaran bahasa (language learning). Pembelajaran bahasan berkaitan

   dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seorang kanak-kanak
mempelajari bahasa kedua, setelah dia memperoleh bahasa pertamanya. Jadi,

pemerolehan bahasa berkenaan dengan bahasa pertama, sedangkan

pembelajaran bahasa berkenaan dengan bahasa kedua.

             Ada dua proses yang terjadi ketika seorang kanak-kanak sedang

memperoleh bahasa pertamanya, yaitu proses kompetensi dan proses

performansi. Kompetensi adalah proses penguasaan tata bahasa yang

berlangsung secara tidak disadari. Proses kompetensi ini menjadi syarat untuk

terjadinya proses performansi yang terdiri dari dua buah proses, yaitu proses

pemahaman melibatkan kemampuan atau kepandaian mengamati atau

kemampuan mempersepsi kalimat-kalimat yang didengar. Sedangkan

penerbitan melibatkan kemampuan mengeluarkan atau menerbitkan kalimat-

kalimat sendiri.

2.1.3.1. Karakteristik Bahasa

         Kita biasanya bicara, mendengar, dan membaca tanpa pernah

memikirkan tentang hal tersebut. Bahasa sama sekali dekat dengan kita. Di sisi

lain, ketika kita mencoba belajar sebuah bahasa baru atau memulai memikirkan

tentang bagaimana bahasa diperoleh anak kecil, itu sama seperti memberikan

penjelasan yang panjang. Apa itu bahasa, dan bagaimana kita dapat memulai

mengerti bahasa itu ?

2.1.3.2. Komponen Bahasa

         Bahasa adalah fenomena kompleks yang mempunyai beberapa elemen

yang saling berhubungan. Bahasa dibangun dari bunyi yang merupakan signal
perbedaan makna yang disebut fonem. Morfem adalah unit terkecil yang

mempunyai makna, leksikal cocok untuk kata sederhana, walaupun

gramatikalnya merubah kata. Makna kata adalah fokus dari semantik,

walaupun dengan menunjukkan bahwa kata dapat dikombinasi ke dalam unit

terbesar / dapat membentuk keseluruhan makna kata. Pragmatik menunjukkan

efek dari konteks bahasa.

Bagan 1.1 :

                            Komponen Bahasa


                               BAHASA


                                  Struktur
        Bunyi                     Bahasa                       Makna
        Bahasa                                                 Bahasa




Bunyi         Fonem         Morfem       Sintaksis     Semantik        Pragmatik



John A. and Roger H, 1987 : 141

Phones / bunyi

Bunyi manusia dapat dibuat dengan vokalnya yang menjadi dasar untuk semua

bahasa. Dengan jelas, mengenal cara berbicara (logat) mengenai bunyi dan

belajar membuat bunyi.

Phonemes / fonem
Fungsi bunyi dibedakan satu kata dari kata yang lain dalam bahasa khusus.

Dapat diartikan unit terkecil dari bunyi yang berbeda dalam menghasilkan

bunyi dalam perbedaan makna.

Morphemes / morfem

Dari beberapa bahasa dapat dibuat dari unit terkecil yang mempunyai makna.

Syntax / sintaksis

Bahasa tidak hanya kata. Dalam berbahasa, kata mempunyai bagian unit

terbesar, seperti frase, klausa, atau kalimat. Sintaksis adalah ucapan yang

digunakan menurut aturan bahasa bahwa kata adalah kombinasi makna dalam

unit terbesar.

Semantics / semantik

Tujuan dari bahasa adalah penyampaian makna. Anak – anak dan orang

dewasa menggunakan bahasanya untuk memberikan pengertian, membuat

permintaan, aksi protes dan memberikan informasi kepada yang lainnya.

Semantik adalah setiap kata dapat membentuk keseluruhan makna kata dari

kombinasi kata.

Pragmatics / pragmatik

Efek dari konteks bahasa.

2.1.3.3. Pengetahuan Ilmu Bahasa

         Anak – anak menggunakan bahasa dengan lancar jauh sebelum

mereka mempunyai banyak pengetahuan tentang bahasa. Tidak sampai
  setengah dari masa kanak – kanak dapat membuat anak berfikir tentang bahasa

  merupakan bagian abstraksi dari dirinya.

           Perkembangan pengetahuan ilmu bahasa, bagaimanapun juga telah

  memberikan kemampuan untuk menganalisa dan menggunakan bahasa secara

  singkat. Pengetahuan ilmu bahasa datang dalam beberapa bentuk. Satu bentuk

  dari pengetahuan ilmu bahasa adalah realisasi kata yang terpisah dari

  referensinya. (John A. Glover, Roger, 1987 : 150)

           Dua periode utama dalam pembentukan bahasa pada manusia yaitu :

1. Periode Preling, dari lahir sampai umur 1 tahun : apa yang diucapkan tidak

  mengandung arti.

2. Periode Linguistik, satu tahun ke atas : apa yang diucapkan mulai mengandug

  arti.

           Bersuara menjadi cara berkomunikasi dan ini merupakan awal dari

  bahasa yang sebenarnya. Kombinasi dari komunikasi dan vokalisasi menandai

  awal periode linguistik. Ketika anak-anak bergumam mereka tidak dibatasi

  oleh arti. Bergumam adalah latihan yang baik untuk anak-anak, namun tidak

  dapat disebut bunyi atau bahasa. Kata-kata pertama bunyi berbeda dengan

  kata-kata orang dewasa. Secara bertahap kata-kata yang diucap menjadi lebih

  jauh dari konteks walaupun pada tahap presimbolik kata-kata mengikuti aksi /

  tindakan. Pada tahap selanjutnya, anak sudah mampu mengartikan kata-kata.

  Perkembangan kosakata pada anak sejalan dengan pertambahan umur.

  Penggunaan kata – kata pada anak dengan tujuan :
    a. Untuk tujuan kognitif ; memberi nama, mengomentari tindakan, dsb.

    b. Untuk tujuan instrumental ; meminta atau menyatakan keinginan.

Anak dapat mulai menggunakan kalimat setelah mereka menguasai kosakata,

kemudian berkembang menjadi kalimat komplek, tahapan tersebut disebut

replacement sequences. Menjelang usia 3 – 4 tahun, anak sudah dapat

menguasai elemen bahasa terpenting seperti kosakata, fungsi kata, sintaksis

bahkan mampu menyusun kata menjadi kalimat, selain itu mereka juga

menguasai dasar percakapan dengan beragam topik.

Sebagian besar kosakata yang digunakan orang-orang tidak dipelajari melalui

pembelajaran formal. Tetapi mereka mengenali kata-kata baru dari percakapan

melalui kegiatan membaca, hingga kosakata mereka semakin bertambah.

Pencarian arti atau makna kata tidak hanya didapat melalui kamus tetapi

dengan menerkanya disesuaikan dengan konteks kata tersebut diucapkan.

Pada pertengahan tingkat sekolah dasar, percakapan anak-anak berkembang

sangat cepat. Siswa perlu belajar berinteraksi baik dalam kelompok besar

maupun kecil. Ruang kelas merupakan wadah yang penting bagi

perkembangan percakapan, dimana guru bertanggung jawab untuk

menciptakan lingkungan pembelajaran yang efektif. Pada usia 10-11 tahun,

anak mulai dapat melihat bahwa bahasa mempunyai ciri-ciri obyektif yang

dapat diteliti. Mereka telah mempunyai kemampuan metalinguistik yaitu

kemampuan untuk menganalisa bahasa secara obyektif.

2.1.3.4. Beberapa Hipotesis Tentang Pemerolehan Bahasa
     Hipotesis Nurani

             Setiap bangsawan (penutur asli suatu bahasa) tentu mampu memahami

     dan membuat (menghasilkan, menerbitkan) kalimat-kalimat dalam bahasanya

     karena dia telah “menuranikan” atau “menyimpan” dalam nuraninya akan tata

     bahasa bahasanya itu menjadi kompetensi (kecakapan) bahasanya, juga telah

     menguasai kemampuan-kemampuan performansi (pelaksanaan) bahasa itu.

             Hipotesis nurani lahir dari beberapa pengamatan yang dilakukan para

     pakar terhadap pemerolehan bahasa kanak-kanak (Lenneberg, 1967, Chomsky,

     1970). Diantara hasil pengamatan tersebut adalah sebagai berikut :

a.    Semua kanak-kanak yang normal akan memperoleh bahasa ibunya asal saja

      “diperkenalkan” pada bahasa ibunya itu. Maksudnya, dia tidak diasingkan

      dari kehidupan ibunya (keluarganya).

b.    Pemerolehan bahasa tidak ada hubungannya dengan kecerdasan kanak-kanak.

      Artinya, baik anak yang cerdas maupun yang tidak cerdas akan memperoleh

      bahasa itu.

c.    Kalimat-kalimat yang didengar kanak-kanak seringkali tidak gramatikal,

      tidak lengkap dan jumlahnya sedikit.

d.    Bahasa tidak dapat diajarkan kepada makhluk lain, hanya manusia yang dapat

      berbicara.

e.    Proses pemerolehan bahasa oleh kanak-kanak dimanapun           sesuai dengan

      jadwal yang erat kaitannya dengan proses pematangan jiwa kanak-kanak.
f.    Struktur bahasa sangat rumit, kompleks, dan bersifat universal. Namun, dapat

      dikuasi kanak-kanak dalam waktu yang relatif singkat, yaitu dalam waktu

      antara tiga atau empat tahun saja.

              Mengenai hipotesis nurani ini perlu dibedakan adanya dua macam

     hipotesis nurani yaitu hipotesis nurani bahasa yang merupakan satu asumsi

     yang menyatakan bahwa sebagian atau semua bagian dari bahasa tidaklah

     dipelajari atau diperoleh tetapi ditentukan oleh fitur-fitur nurani yang khusus

     dari organisme manusia, dan hipotesis nurani mekanisme menyatakan bahwa

     proses pemerolehan bahasa oleh manusia ditentukan oleh perkembangan

     kognitif umum dan mekanisme nurani umum yang berinteraksi dengan

     pengalaman. (Simanjuntak, 1977). Maka beda kedua hipotesis ini adalah

     bahwa hipotesis nurani bahasa menekankan terdapatnya sesuatu “benda”

     nurani yang dibawa sejak lahir yang khusus untuk bahasa dan berbahasa.

     Sedangkan hipotesis nurani mekanisme terdapatnya suatu “benda” nurani

     berbentuk mekanisme yang umum untuk semua kemampuan manusia. Bahasa

     dan berbahasa hanyalah sebagian saja dari yang umum itu.

     Hipotesis Tabularasa

              Tabularasa secara harfiah berarti “kertas kosong”, dalam arti belum

     ditulis apa-apa. Kemudian, hipotesis ini menyatakan bahwa otak bayi pada

     waktu dilahirkan sama seperti kertas kosong, yang nanti akan ditulis atau diisi

     dengan pengalaman-pengalaman. Hipotesis ini pada mulanya dikemukakan

     oleh John Locke seorang tokoh empirisme yang sangat terkenal kemudian
dianut dan disebarluaskan oleh John Watson seorang tokoh terkemuka aliran

behaviorisme dalam psikologi.

         Teori pembelajaran bahasa pelaziman operan menyatakan bahwa

perilaku berbahasa seseorang dibentuk oleh serentetan ganjaran yang beragam-

ragam yang muncul di sekitar orang itu. Seorang kanak-kanak yang sedang

memperoleh sistem bunyi bahasa ibunya, pada mulanya akan mengucapkan

semua bunyi yang ada pada semua bahasa yang ada di dunia ini pada tahap

berceloteh (babling period). Namun, orang tua si bayi atau kanak-kanak itu

hanya memberikan bunyi-bunyi yang ada dalam bahasa ibunya saja. Maka

dengan demikian, si bayi hanya dilazimkan untuk menirukan bunyi-bunyi dari

bahasa ibunya saja. Lalu, si bayi akan menggabungkan bunyi-bunyi yang telah

dilazimkan itu untuk menirukan ucapan-ucapan orang tuanya. Jika tiruannya

itu betul atau mendekati ucapan yang sebenarnya, maka dia akan mendapat

“hadiah” dari ibunya berupa senyuman, tawa, ciuman, dan sebagainya. Bisa

dikatakan bahasa kanak-kanak itu berkembang setahap demi setahap, mulai

dari bunyi, kata, frase atau kalimat. Menurut teori behaviorisme ini bahasa

adalah sekumpulan tabiat-tabiat atau perilaku-perilaku. Tabiat-tabiat seperti

inilah yang dituliskan pada “kertas kosong” tabularasa otak kanak-kanak.

Hipotesis Kesemestaan Kognitif

         Dalam kognitifisme hipotesis kesemestan kognitif yang diperkenalkan

oleh Piaget telah digunakan sebagai dasar untuk menjelaskan proses-proses

pemerolehan bahasa kanak-kanak. Urutan pemeroleh ini secara garis besar

adalah sebagai berikut :
a. Antara usia 0 – 1,5 tahun kanak-kanak mengembangkan pola-pola aksi dengan

  cara bereaksi alam sekitarnya. Kemudian pola ini diatur menjadi struktur-

  struktur akal (mental). Berdasarkan struktur-struktur akal ini kanak-kanak

  mulai membangun satu dunia benda-benda yang kekal yang lazim disebut

  kekekalan benda. Maksudnya, kanak-kanak telah mulai sadar bahwa meskipun

  benda-benda       yang   pernah   diamatinya   atau   disentuhnya   hilang   dari

  pandangannya, namun tidak berarti benda-benda itu tidak ada lagi di dunia ini.

b. Setelah struktur aksi dinuranikan, maka kanak-kanak memasuki tahap

  representasi kecerdasan, yang terjadi antara usia 2 tahun samapai 7 tahun. Pada

  tahap ini kanak-kanak telah mampu membentuk representasi simbolik benda-

  benda seperti permainan simbolik, peniruan, bayangan mental, gambar-gambar

  dan lain-lain.

c. Setelah tahap representasi kecerdasan, dengan representasi simboliknya

  berakhir, maka bahasa kanak-kanak semakin berkembang dan dengan

  mendapatkan nilai-nilai sosialnya.




2.1.4. Pembelajaran Bahasa Kedua

                   Digunakannya istilah pembelajaran bahasa karena diyakini bahwa

  bahasa kedua dapat dikuasai hanya dengan proses belajar, dengan cara sengaja

  dan sadar. Hal ini berbeda dengan penguasaan bahasa pertama atau bahasa ibu

  yang diperoleh secara alamiah, secara tidak sadar di dalam lingkungan

  keluarga pengasuh kanak-kanak itu. (Chaer dan leonie, 1995).
             Penggunaan istilah bahasa – ibu perlu dilakukan dengan hati-hati

sebab banyak kasus terjadi, terutama di kota besar yang multilingual seperti

Jakarta, bahasa ibu seseorang bukanlah bahasa yang digunakan atau dikuasai

ibu sejak lahir. Di Jakarta banyak pasangan suami istri, yang bila berdua saja

menggunakan bahasa daerah tetapi bila ada kanak-kanaknya mereka

menggunakan bahasa Indonesia. Dengan demikian bahasa-ibu atau bahasa

pertama si anak adalah bahasa Indonesia dan bukan bahasa yang digunakan

oleh ibu dan bapaknya. Jadi, sebenarnya penggunaan istilah bahasa pertama

akan lebih tepat daripada penggunaan bahasa ibu. Kanak-kanak yang berada

pada masa kritisnya memang mudah untuk belajar bahasa. Berbeda dengan

orang dewasa atau mereka yang masa kritisnya sudah lewat tidak akan mudah

belajar bahasa lain, apalagi pengganti bahasa yang sudah dinuranikannya

dengan bahasa lain.

             Ellis (1986 : 215) menyebutkan adanya dua tipe pembelajaran

bahasa yaitu tipe naturalistik dan tipe formal di dalam kelas. Yang pertama tipe

naturalistik bersifat alamiah tanpa guru dan tanpa kesengajaan. Pembelajaran

berlangsung di dalam lingkungan kehidupan bermasyarakat. Dalam masyarakat

bilingual atau multilingual tipe naturalistik banyak dijumpai. Tipe kedua yang

bersifat formal berlangsung di dalam kelas dengan guru, materi, dan alat-alat

bantu belajar yang sudah dipersiapkan. Seharusnya hasil yang diperoleh secara

formal dalam kelas ini jauh lebih baik daripada hasil secara naturalistik.

Namun, kenyataan di negeri kita yang bisa kita saksikan hingga sekarang hasil

pembelajaran bahasa sangat tidak menggembirakan. Berbagai penyebab telah
  teridentifikasikan dan berbagai perbaikan telah dilakukan, tetapi hasilnya sama

  saja. Tetap tidak memuaskan. Hal ini sering menjadi cibiran generasi tua yang

  mendapat pendidikan bahasa kedua pada zaman Belanda dulu.

2.1.4.1. Sejarah Perkembangan Bahasa

          Adanya pembelajaran bahasa sejak adanya interaksi antara dua

  masyarakat atau lebih yang memiliki bahasa yang berbeda. Anggota sosial dari

  masyarakat yang satu tentu akan mempelajari bahasa dari masyarakat yang lain

  agar dapat berinteraksi dengan anggota masyarakat lain itu. Berabad-abad

  lamanya pembelajaran bahasa berlangsung tanpa perubahan. Perubahan yang

  berarti, dalam arti perubahan pandangan dan adanya inovasi baru dimulai tahun

  1880. Menurut Nurhadi (1990) dalam sejarah perkembangannya ada empat

  tahap penting yang dapat diamati sejak 1880 sampai dasawarsa 80-an. Tahap

  pertama adalah periode antara 1880 – 1920. Pada tahap ini terjadi rekonstruksi

  bentuk-bentuk metode langsung yang pernah digunakan atau dikembangkan

  pada zaman Yunani dulu. Metode langsung yang pernah digunakan pada awal

  abad-abad Masehi direkonstruksi dan diterapkan di sekolah-sekolah. Selain itu,

  dikembangkan juga metode bunyi (phonetic method) yang juga berasal dari

  Yunani. Tahap kedua adalah masa antara tahun 1920 – 1940. Pada masa ini di

  Amerika dan Kanada terbentuk forum belajar bahasa asing yang kemudian

  menghasilkan aplikasi metode-metode yang bersifat kompromi. Ini merupakan

  perluasan dari tehnik-tehnik pengajaran membaca yang sudah ada, dikaitkan

  dengan tujuan-tujuan pengajaran bahasa yang lebih khusus. Tahap ketiga,

  adalah masa antara tahun 1940 – 1970, yang kemunculannya dilatarbelakangi
  oleh situasi peperangan (Perang Dunia II), di mana orang berikhtiar mencari

  metode belajar bahasa asing yang paling cepat dan efisien untuk dapat

  berkomunikasi dengan pihak-pihak yang bertikai.

2.1.4.2. Asumsi Hipotesis Pembelajaran Bahasa

a. Hipotesis Kesamaan Antara Bahasa Pertama dan Bahasa Kedua

           Hipotesis ini menyatakan adanya kesamaan dalam proses belajar

  bahasa pertama dan belajar bahasa kedua. Kesamaan itu terletak pada urutan

  pemerolehan struktur bahasa. Unsur kebahasaan tertentu akan diperoleh

  terlebih dahulu, sementara unsur kebahasaan lain diperoleh baru kemudian.

b. Hipotesis Kontrastif

           Hipotesis ini menyatakan bahwa kesalahan yang dibuat dalam belajar

  bahasa kedua adalah karena adanya perbedaan antara bahasa pertama dan

  bahasa kedua. Sedangkan kemudahan dalam belajar bahasa kedua disebabkan

  oleh adanya kesamaan antara bahasa pertama dan bahasa kedua. Jadi, adanya

  perbedaan antara bahasa pertama dan bahasa kedua akan menimbulkan

  kesulitan dalam belajar bahasa kedua, yang mungkin juga akan menimbulkan

  kesalahan, sedangkan adanya persamaan antara bahasa pertama dan bahasa

  kedua akan menyebabkan terjadinya kemudahan dalam belajar bahasa kedua.

c. Hipotesis Krashen

           Stephen Krashen mengajukan sembilan buah hipotesis yang saling

  berkaitan, antara lain :

  1). Hipotesis Pemerolehan (acquisition) dan Belajar (learning)
 Penguasaan suatu bahasa perlu dibedakan adanya pemerolehan dan belajar.

 Pemerolehan adalah penguasaan suatu bahasa melalui cara bawah sadar atau

 alamiah dan terjadi tanpa kehendak yang terancang. Proses pemerolehan tidak

 melalui usaha belajar yang formal dan eksplisit. Belajar adalah usaha sadar

 untuk secara formal dan eksplisit menguasai bahasa yang dipelajari, terutama

 yang berkenaan dengan kaidah-kaidah bahasa.

2). Hipotesis Urutan Alamiah

 Hasil penelitian menunjukkan adanya pola pemerolehan unsur-unsur yang

 relatif stabil untuk bahasa pertama, bahasa kedua, maupun bahasa asing.

3. Hipotesis Monitor

 Menyatakan adanya hubungan antara proses sadar dalam pemerolehan

 bahasa. Kita dapat berbicara dalam bahasa tertentu adalah karena sistem yang

 kita miliki sebagai hasi dari pemerolehan, dan bukan dari hasil belajar. Semua

 kaidah tata bahasa yang kita hafalkan tidak selalu membantu kelancaran

 dalam berbicara. Kaidah tata bahasa yang kita kuasai ini hanya berfungsi

 sebagai monitor saja dalam pelaksanaan (performansi) berbahasa.

4. Hipotesis Masukan

 Seseorang menguasai bahasa melalui masukan (input) yang dapat dipahami

 yaitu dengan memusatkan perhatian pada pesan atau isi, dan bukan pada

 bentuk.

5.   Hipotesis Afektif (Sikap)
 Orang dengan kepribadian dan motivasi tertentu dapat memperoleh bahasa

 kedua dengan lebih baik dibandingkan orang dengan kepribadian dan sikap

 yang lain. Seseorang dengan kepribadian terbuka dan hangat akan lebih

 berhasil dalam belajar bahasa kedua dibandingkan dengan orang yang

 kepribadiannya agak tertutup.

6.   Hipotesis Bakat

 Bakat bahasa mempunyai hubungan yang jelas dengan keberhasilan belajar

 bahasa kedua. Sikap secara langsung berhubungan dengan pemerolehan

 bahasa kedua, sedangkan bakat berhubungan dengan belajar. Mereka yang

 mendapat nilai tinggi dalam tes bakat bahasa, pada umunya berhasil baik

 dalam tes tata bahasa.

7.   Hipotesis Filter Afektif

 Sebuah filter yang bersifat afektif dapat menahan masukan sehingga

 seseorang tidak atau kurang berhasil dalam usahanya untuk memperoleh

 bahasa kedua. Filter itu dapat berupa kepercayaan diri yang kurang, situasi

 yang menegangkan, sikap defensif, dan sebagainya, yang dapat mengurangi

 kesempatan bagi masukan untuk masuk ke dalam sistem bahasa yang dimiliki

 seseorang.

8.   Hipotesis bahasa Pertama

 Bahasa pertama anak akan digunakan untuk mengawali ucapan dalam bahasa

 kedua, selagi penguasaan bahasa kedua belum tampak. Jika seorang anak

 pada tahap permulaan belajar bahasa kedua dipaksa untuk menggunakan atau
    bebicara bahasa kedua, maka dia akan menggunakan kosakata dan aturan tata

    bahasa pertamanya.

   9.   Hipotesis Variasi Indivuidual dalam Penggunaan Monitor

    Cara seseorang memonitor penggunaan bahasa yang dipelajarinya ternyata

    bervariasi. Ada yang terus-menerus menggunakannya secara sistematis, tetapi

    ada pula yang tidak pernah menggunakannya. Namun, diantara keduanya ada

    pula yang menggunakan monitor itu sesuai dengan keperluan atau

    kesempatan untuk menggunakannya.

d. Hipotesis Bahasa Antara

            Bahasa antara (interlanguage) adalah bahasa atau ujaran yang

   digunakan seseorang yang sedang belajar bahasa kedua pada satu tahap

   tertentu, sewaktu dia belum dapat menguasai dengan baik dan sempurna

   bahasa kedua itu. Bahasa antara memiliki ciri bahasa pertama dan bahasa

   kedua.




e. Hipotesis Pijinisasi

            Menyatakan bahwa dalam proses belajar mengajar bisa saja selain

   terbentuknya bahasa antara juga yang disebut bahasa pijin (pidgin), yaitu

   sejenis bahasa yang digunakan oleh satu kelompok masyarakat dalam wilayah

   tertentu yang berada di dalam dua bahasa tertentu. Bahasa pijin ini digunakan

   untuk keperluan singkat dalam masyarakat yang masing-masing memiliki
     bahasa sendiri. Jadi, bisa dikatakan bahasa pijin ini tidak memiliki penutur asli

     (Chaer dan Agustina, 1995).

2.1.4.3. Faktor-Faktor Penentu dalam Pembelajaran Bahasa Kedua

              Beberapa faktor yang berkaitan dengan keberhasilan pembelajaran

     bahasa kedua :

a.    Faktor Motivasi

            Brown (1981), menyatakan bahwa motivasi adalah dorongan dari

      dalam, dorongan sesaat, emosi atau keinginan yang menggerakkan seseorang

      untuk berbuat sesuatu. Sedangkan menurut Lambert (1972), menyatakan

      motivasi adalah alasan untuk mencapai tujuan secara keseluruhan.

            Dalam kaitannya dengan pembelajaran bahasa kedua, motivasi itu

      mempuinyai dua fungsi, yaitu

      (1) Fungsi integratif adalah motivasi itu mendorong seseorang untuk

           mempelajari suatu bahasa karena adanya keinginan untuk berkomunikasi

           dengan masyarakat penutur bahasa itu atau menjadi anggota masyarakat

           bahasa tersebut.

      (2) Fungsi instrumental adalah motivasi itu mendorong seseorang untuk

           memiliki kemauan untuk mempelajari bahasa kedua karena tujuan yang

           bermanfaat atau karena dorongan ingin memperoleh suatu pekerjaan atau

           mobilitas sosial pada lapisan atas mayarakat tersebut (Gardner dan

           Lambert, 1972 : 3)

b.    Faktor Usia
          Dalam hal kecepatan dan keberhasilan belajar bahasa kedua, dapat

     disimpulkan :

     (1) Anak-anak lebih berhasil daripada orang dewasa dalam pemerolehan

         sistem fonologi atau pelafalan.

     (2) Orang dewasa maju lebih cepat daripada anak-anak dalam bidang

         morfologi dan sintaksis.

     (3) Anak-anak lebih berhasil daripada orang dewasa tetapi tidak selalu lebih

         cepat.

     (‘Oyama, 1976; Dulay, Burt, dan Krashen, 1982; Asher dan Gracia, 1969).

          Disimpulkan bahwa, perbedaan umur mempengaruhi kecepatan dan

     keberhasilan belajar bahasa kedua pada aspek fonologi, morfologi dan

     sintaksis tetapi tidak berpengaruh dalam pemerolehan urutannya.

c.   Faktor Penyajian Formal

          Steiberg (1979 : 166), menyebutkan karakteristik lingkungan

     pembelajaran bahasa kedua di kelas atas lima segi sebagai berikut :

     (1) Lingkungan pembelajaran bahasa kedua di kelas sangat diwarnai oleh

         fakor psikologi sosial kelas yang meliputi penyesuaian-penyesuaian,

         disiplin, dan prosedur yang digunakan.

     (2) Dilakukan preseleksi terhadap data linguistik, yang dilakukan guru

         berdasarkan kurikulum yang digunakan.

     (3) Disajikan kaidah-kaidah gramatikal secara eksplisit untuk meningkatkan

         kualitas berbahasa siswa yang tidak dijumpai di lingkunagn alamiah.
     (4) Disajikan data dan situasi bahasa yang artifisial (buatan), tidak seperti

         dalam lingkungan kebahasaan alamiah.

     (5) Disediakan alat-alat pengajaran seperti buku teks, buku penunjang, papan

         tulis, tugas-tugas yang harus diselesaikan.

d.   Faktor Bahasa Pertama

     (1) Menurut teori stimulus-respon oleh kaum behaviorisme, bahasa adalah

         hasil perilaku stimulus-respon. Apabila seorang pembelajar ingin

         memperbanyak penggunaan ujaran, dia harus memperbanyak penerimaan

         stimulus. Oleh karena itu peranan lingkungan sebagai sumber datangnya

         stimulus menjadi dominan dan sangat penting di dalam membantu proses

         pembelajaran bahasa kedua.

     (2) Teori kontrastif menyatakan bahwa keberhasilan belajar bahasa kedua

         sedikit banyaknya ditentukan oleh keadaan linguistik bahasa yang telah

         dikuasi sebelumnya oleh si pembelajar (Klein, 1986 : 5). Berbahasa

         kedua adalah suatu proses transferisasi. Maka, jika struktur bahasa yang

         dikuasai (bahasa pertama) banyak mempunyai kesamaan dengan bahasa

         yang dipelajari, akan terjadilah semacam pemudahan dalam pross

         transferisasinya.

e.   Faktor Lingkungan

          Dulay (1985 : 14) menerangkan bahwa kualitas lingkungan bahasa

     sangat penting bagi seorang pembelajar untuk dapat berhasil dalam

     mempelajari bahasa baru (bahasa kedua). Lingkungan bahasa dapat

     dibedakan atas :
 (1) Lingkungan Formal yaitu salah satu lingkungan dalam belajar bahasa

      yang memfokuskan pada penguasaan kaidah-kaidah bahasa yang sedang

      dipelajari secara sadar (Dulay, 1985 : 19 dan Ellis, 1986 : 297).

      Lingkungan bahasa mempunyai ciri : a). bersifat artifisial, b). merupakan

      bagian dari keseluruhan pengajaran bahasa di sekolah atau di kelas dan

      c). pembelajar diarahkan untuk melakukan aktivitas bahasa yang

      menampilkan kaidah-kaidah bahasa yang dipelajarinya dan diberikan

      balikan oleh guru dalam bentuk koreksi terhadap kesalahan yang

      dilakukan oleh pembelajar.

 (2) Lingkungan Informal bersifat alami atau natural, tidak dibuat-buat. Yang

      termasuk lingkungan informal antara lain bahasa yang digunakan teman-

      teman sebaya, bahasa pengasuh atau orang tua, bahasa yang digunakan

      anggota kelompok etnis pembelajar, yang digunakan media massa,

      bahasa guru baik di kelas maupun di luar kelas. Dalam pembelajaran

      bahasa kedua, bahasa penutur asing menurut Hatch (1983) dan Ellis

      (1986) berperan sebagai a). pengembang komunikasi, b). pembentuk

      ikatan batin dengan pembelajar dan c). sebagai model pembelajaran.

        Dalam pembelajaran bahasa kedua, bahasa pertama dapat

mengganggu penggunaan bahasa kedua pembelajar. Pembelajar akan

cenderung mentransfer unsur bahasa pertamanya ketika melaksanakan

penggunaan bahasa kedua. Akibatnya terjadilah apa yang dalam kajian

sosiolinguistik disebut interferensi, campur kode, dan kekhilafan (error).

(Nababan, 1984)
2.1.5. Pembelajaran Bahasa Inggris

2.1.5.1. Pengertian Mata Pelajaran Bahasa Inggris

               Bahasa Inggris adalah bahasa asing yang dianggap penting

  diajarkan untuk tujuan penyerapan dan pengembangan ilmu pengetahuan,

  teknologi dan seni budaya serta pengembangan hubungan antar bangsa

  (Depdiknas, 2004 : 1).

               Mata pelajaran Bahasa Inggris diajarkan di Sekolah Menengah

  Pertama dianggap perlu oleh masyarakat di daerah yang bersangkutan dan

  didukung oleh adanya guru yang berkemampuan untuk mengajarkan mata

  pelajaran tersebut. Adapun pelaksanaan pengajaran Bahasa Inggris sebagai

  mata pelajaran dapat mulai diajarkan pada kelas I SMP.

2.1.5.2.Fungsi Belajar Bahasa Inggris

               Mata pelajaran Bahasa Inggris berfungsi sebagai wahana

  pengembangan diri siswa dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan seni

  budaya, sehingga pertumbuhan mereka tetap berkepribadian Indonesia.

               Bahasa Inggris merupakan mata pelajaran Sekolah Menengah

  Pertama kelas I, II dan III. Bahasa Inggris merupakan mata pelajaran yang

  mengembangkan ketrampilan berkomunikasi lisan dan tulisan untuk

  memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan serta

  mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya. (Depdiknas, 2004 :

  1)
2.1.5.3. Tujuan Belajar Bahasa Inggris

a) Mata pelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Menengah Pertama bertujuan agar

    siswa memiliki ketrampilan menyimak, membaca, memberikan pendapat dan

    menulis secara baik.

b) Mata pelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Menengah Pertama diajarkan

    pengetahuan mengenai ragam bahasa dalam konteks sehingga para siswa

    dapat menafsirkan isi berbagai bentuk teks lisan maupun tertulis dan

    meresponnya dalam bentuk kegiatan yang beragam dan interaktif.

c) Alokasi waktu mata pelajaran Bahasa Inggris disediakan waktu 4 (empat) jam

    pelajaran setiap minggu (disesuaikan dengan ketentuan sekolah setempat).

d) Pola pembinaan mata pelajaran Bahasa inggris di Sekolah Menengah Pertama

    dikembangkan dengan menekankan keterpaduan dan keterkaitan (link and

    match) antara keluarga, sekolah, dan masyarakat dengan memperhatikan

    faktor bakat, minat dan kemampuan siswa.

e) Penilaian, tujuan penilaian adalah untuk mengukur tingkat keberhasilan siswa

    dalam menguasai bahan pelajaran yang diberikan dalam kurun waktu tertentu.

    Ada tiga cara dalam penilaian, yaitu test tertulis, test lisan, dan test perbuatan.

    Sedangkan jenis penilaian terbagi atas penilaian harian (tiap pokok bahasan),

    penilaian satuan bahasan (gabungan beberapa pokok bahasan), penilaian akhir

    semester dan penilaian akhir tahun. (Depdiknas 2004 : 3)

2.1.5.4. Ruang Lingkup

                Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Menengah Pertama

  mencakup ketrampilan menyimak, berbicara, membaca dan menulis sederhana
   dalam Bahasa Inggris. Penekanan pembelajaran pada ketrampilan berbicara

   mengenai ungkapan-ungkapan yang ada hubungannya dengan lingkungan

   siswa di rumah, di sekolah dan di masyarakat. Adapun ruang lingkup

   pembelajaran muatan lokal Bahasa Inggris di Sekolah Menengah Pertama

   meliputi ungkapan-ungkapan dan kalimat-kalimat sederhana mengenai :

                (1) Sport              (3) Clothes

                (2) Health             (4) City Life

                   Dari ruang lingkup tersebut, penyajian materi meliputi berbagai

   indikator : mendengar (listening), bicara (speaking), membaca (reading),

   menulis (writing). (Depdiknas, 2004)

              Materi yang dipilih untuk diuji cobakan adalah materi health and

   clothes. Pada materi ini siswa diharapkan mampu mencari makna gambar dan

   kalimat dalam Bahasa Inggris dan menafsirkan hasilnya untuk memahami

   tentang doctors, paramedics, diseases, kinds of clothes and making clothes

   yang akan disesuaikan dengan menggunakan pendekatan CTL. Materi health

   and clothes ini diterapkan kepada siswa dengan menggunakan pembelajaran

   CTL yaitu siswa diminta untuk mengadakan diskusi dengan memahami

   gambar dan teks secara kelompok serta mendengar bacaan dari guru

   (listening), setelah itu disuruh untuk mengevaluasi sendiri bagaimana kegiatan

   yang telah dilakukan oleh siswa tersebut.

Tabel 1.1 :

Kurikulum Mata Pelajaran Bahasa Inggris Kelas II SMP
                                                         Jumlah

                                                          Jam /
    No.                Mata Pelajaran
                                                        Minggu




          Pendidikan Pancasila dan                          2
    1.
          Kewarganegaraan

    2.    Pendidikan Agama                                  2

    3.    Bahasa Indonesia                                  6

    4.    Matematika                                        6

    5.    Ilmu Pengetahuan Alam ( IPA )                     6

    6.    Ilmu Pengetahuan Sosial ( IPS )                   6

    7.    Kerajinan Tangan dan Kesenian                     2

    8.    Pendidikan Jasmani dan Kesehatan                  2

    9.    Bahasa Inggris                                    4

    10.   Muatan Lokal ( Sejumlah Mata Pelajaran )          6

                Jumlah Jam / Minggu                        42




Keterangan :

Lamanya 1 jam pelajaran untuk kelas I1 adalah 45 menit ( GBPP SMP Kelas II

)
2.1.6.   2.1.5.5. Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah dengan di Kursus

                        Belajar Bahasa Inggris di sekolah Dasar dan Menengah

           memenuhi dua tujuan. Pertama, siswa perlu menyiapkan diri agar bisa

           membaca buku teks dalam bahasa Inggris di tingkat perguruan tinggi. Kedua,

           kemampuan berbahasa Inggris masih digunakan sebagai faktor penentu guna

           mendapatkan pekerjaan dan imbalan menarik. Tetapi, meskipun anak sudah

           belajar Bahasa Inggris selama bertahun-tahun di sekolah, umumnya

           kompetensi dalam bahasa ini di kalangan lulusan sekolah menengah secara

           umum masih tergolong sangat rendah.

                        Kurikulum 2004 berkeinginan membangun siswa untuk mampu

           berkomunikasi dalam Bahasa Inggris. Siswa perlu memahami dan

           menggunakan Bahasa Inggris untuk mengembangkan rasa percaya diri dan

           memiliki kompetensi dalam berbahasa tersebut, sehingga dapat memenuhi

           tuntutan lingkungan sekolah, pekerjaan, dan pendidikan selanjutnya. Dengan

           kurikulum tersebut, hasil yang ingin dicapai ialah para siswa yang mampu

           menguasai Bahasa Inggris secara aktif serta memiliki wawasan yang luas.

                        Ketidakmampuan sekolah mengajarkan bahasa asing, terutama

           Bahasa Inggris mendorong munculnya kursus – kursus bahasa. Mulai dari

           kursus yang dikelola perwakilan resmi negara asing seperti The British

           Council, Goethe Institut, Netherlands Education Centre (NEC), sampai kursus

           privat milik perseorangan. Sementara sekolah – sekolah secara de fakto masih

           mengacu pada pengajaran tata bahasa dan hafalan aturan bahasa, kursus-kursus

           justru menekankan ketrampilan berbicara yang mampu mengungkapkan
pendapat dan pikirannya. Beberapa kursus tidak segan-segan mempromosikan

program “lancar berbicara dalam tiga bulan” untuk menarik konsumen. Bahkan

untuk mempercepat ketrampilan berbicara, beberapa kursus menyediakan guru

penutur asli (native speaker). Pada kenyataannya, mayoritas kursus Bahasa

Inggris ditujukan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris dalam

kehidupan sehari – hari, bukan untuk tujuan lain. Tidak untuk mengejar nilai

atau prestasi tetapi untuk memenuhi kebutuhan pelipatgandaan intelegensi

yang belum bisa dipenuhi di sekolah, oleh karena itu cara belajar eksperimental

tidak sekadar duduk, dengar, catat, pasti ditekankan. Aktivitas di luar ruangan,

seperti kemah, tinggal di rumah penduduk, mendengarkan kaset dan menonton

film perlu diperkenalkan. “Belajar harus ada unsur menyenangkan, bukan

paksaan, “tutur Gerda K. Wanei, Ketua Jurusan Bimbingan konseling Fakultas

Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta.

(Kompas, 8 Juli 2004)

             Bobot penilaian saat ujian pun amat berbeda dengan yang terjadi

di sekolah. Di kursus, kemampuan membaca, mendengarkan, menulis dan

berbicara mendapat bobot paling tinggi sementara gramatika dianggap sebagai

penunjang. Pendekatan yang berbeda ini mampu melahirkan pembelajar bahasa

yang fasih berbahasa asing.

             Proses pembelajaran bahasa asing mencakup dua hal yang

seharusnya saling menunjang, yaitu ketepatan dan kelancaran (accurancy dan

fluency). Pengajaran di sekolah formal terlalu menekankan ketepatan.

Meskipun kurikulum Bahasa Inggris telah berganti beberapa kali, kenyatannya
  siswa tetap saja menghafalkan daftar panjang kata kerja beraturan dan tidak

  beraturan tanpa konteks dan rumusan sekian banyak tenses. Penekanan

  berlebihan pada ketepatan berbahasa ternyata bukan hanya penghambat

  kelancaran berkomunikasi tetapi juga mematikan rasa senang dan motivasi

  belajar.

               Sebaliknya di jalur informal (kursus), kelancaran berkomunikasi

  dijadikan fokus. Secara ekstrem kursus yang menjajikan “lancar berbicara

  dalam tiga bulan” akan mengabaikan ketepatan aturan berbahasa (struktur

  bahasa, pelafalan, dan kosakata). Berbeda dengan kegiatan pembelajaran di

  sekolah formal, aktivitas belajar bahasa asing di kursus dibuat menarik dan

  menyenangkan. Ada banyak permainan dan kesempatan untuk menggunakan

  bahasa asing. Tetapi memang mustahil mengajar seseorang untuk bisa lancar

  berbahasa asing dalam waktu singkat.

a. Masalah – Masalah dalam Pengajaran Bahasa Inggris di Sekolah

  1.   Kurangnya guru berbicara dengan Bahasa Inggris di dalam kelas.

  2.   Pelajaran terlalu menekankan pada tata bahasa bukan pada percakapan,

       tetapi siswa kurang diberi arahan mengenai bagaimana dan apa fungsi dari

       unsur – unsur tata bahasa yang mereka pelajari.

  3.   Kosa kata yang diberikan kurang berguna (bersifat teknis) dalam

       percakapan sehari – hari.

  4.   Sering terjadi pengulangan materi pelajaran Bahasa Inggris.

b. Kegiatan Belajar Mengajar di Sekolah
         Sistem pengelolaan kurikulum 2004 menuntut kegiatan belajar mengajar

   yang memberdayakan semua potensi peserta didik untuk menguasai

   kompetensi yang diharapkan. Pemberdayaan ini diarahkan untuk mendorong

   individu belajar sepanjang hayat dan mewujudkan masyarakat belajar yang

   dilandasi oleh prinsip-prinsip, antara lain :

   1) Berpusat pada peserta didik

   2) Mengembangkan kreativitas peserta didik

   3) Menciptakan kondisi menyenangkan dan menantang

   4) Mengembangkan beragam kemampuan yang bermuatan nilai

   5) Menyediakan pengalaman belajar yang beragam

   6) Belajar melalui berbuat

         Pelaksanaannya diwujudkan dengan menerapkan berbagai strategi dan

   metode pembelajaran yang efektif, kontekstual dan bermakna. Untuk

   mengembangkan dan meningkatkan kompetensi, kreativitas, kemandirian,

   kerjasama, solidaritas, kepemimpinan, empati, toleransi dan kecakapan hidup

   pesert didik.




2.2.   Konsep Contextual Teaching and Learning

2.2.1. Latar Belakang CTL

                   Sejauh ini pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan

   bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Kelas

   berfokus pada guru sebagai sumber pengetahuan utama, kemudian ceramah

   sebagai pilihan utama strategi belajar. Maka perlu strategi baru yang lebih
memberdayakan siswa, sebuah pendekatan pembelajaran yang tidak

mengharuskan siswa menghafal fakta-fakta tetapi mendorong siswa

mengkonstruksi pengetahuannya sendiri.

             Ada kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran

bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar

akan lebih bermakna jika anak “mengalami” apa yang yang dipelajarinya,

bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan

materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat jangka pendek, tetapi gagal

dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka

panjang.

             Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning)

merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang

diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat

hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam

kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Proses

pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan

mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi

pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil. Siswa perlu mengerti apa

makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka dan bagaimana

mencapainya. Dalam upaya pencapaiannya, mereka memerlukan guru sebagai

pengarah dan pembimbing.

             Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa

mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi
   daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim

   yang bekerjasama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas

   (siswa). Sesuatu yang baru (pengetahuan dan ketrampilan) datang dari

   ‘menemukan sendiri’, bukan dari ‘apa kata guru’. Kontekstual hanyalah sebuah

   strategi pembelajaran. Seperti halnya strategi pembelajaran yang lain,

   kontekstual dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan lebih

   produktif dan bermakna. Pendekatan kontekstual dapat dijalankan tanpa harus

   mengubah kurikulum dan tatanan yang ada.

                   Melalui landasan filosofi konstruktivisme, pendekatan

   kontekstual (CTL) dipromosikan menjadi alternatif strategi belajar yang baru.

   Melalui strategi CTL siswa diharapkan belajar melalui ‘mengalami’ bukan

   ‘menghafal’.

2.2.1.1. Landasan Teoritis

            Contextual Teaching and Learning memiliki landasan yang kuat dan

   merupakan hasil penelitian di alam psikologi pendidikan dan psikologi sosial,

   antara lain :

a. Sains Kognitif :

   1) Semua proses belajar terjadi dari pengetahuan dan pengalaman yang telah

       diperoleh sebelumnya.

   2) Pengetahuan dikonstruksi dalam berbagai ragam konteks untuk diterapkan

       pada konteks yang baru.

b. Konstruktivisme
  1) Struktur pengetahuan setiap orang berbeda dengan struktur pengetahuan

       orang lain, setiap pengetahuan masing-masing individu dibentuk secara

       unik oleh pengalaman hidup dan pilihan-pilihan individu.

  2) Seseorang mengkonstruksi pengetahuannya di dalam struktur dan melalui

       interaksi sosial.

  3) Pengetahuan yang dimiliki oleh individu atau masyarakat tidak statis.

c. Teori motivasi : Belajar amat efektif bila dimotivasi oleh keberhasilan dalam

  melaksanakan tugas.

d. Teori Kecerdasan Ganda

  1) Setiap orang belajar dan mencapai sesuatu secara berbeda. Perbedaan ini

       antara lain kecepatan belajar atau banyaknya belajar yang dapat

       dikuantifikasi dalam skala linier.

  2) Seseorang memiliki dan mengembangkan ketrampilan dan bakat yang

       berbeda serta bernilai sama.

  3) Pengetahuan yang dimiliki oleh individu atau masyarakat tidak statis.



2.2.2. Hakekat Pembelajaran CTL

             Pembelajaran konstektual ( Contextual Teaching and Learning )

adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang

diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat

hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam

kehidupan mereka sehari-hari. Sesuai dengan mottonya yang berbunyi : Student
Learn Best By Actively Constructing Their Own Understanding (CTL Academy

Fellow, 1999)

(Cara belajar terbaik adalah siswa mengkonstruksikan sendiri secara aktif

pemahamannya)

             2.2.2.1. Ditinjau dari pemikiran tentang belajar

        1.   Proses Belajar

                 Belajar tidak sekedar menghafal tetapi harus mengkonstruksikan

                 pengetahuan

                 Belajar dari mengalami, dan bermakna bukan sekedar diberi

                 oleh guru

                 Pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang itu terorganisasi dan

                 mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang sesuatu

                 persoalan (subyect matter)

                 Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta

                 atau proposisi yang terpisah, tetapi mencerminkan ketrampilan

                 yang dapat diterapkan

                 Manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam mensikapi

                 situasi baru

                 Dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang

                 berguna, dan bergelut dengan ide-ide

                 Proses belajar dapat mengubah struktur otak yang berpengaruh

                 pada perilaku

        2.   Transfer Belajar
               Belajar dari “mengalami”, bukan dari ‘pemberian’

               Ketrampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang

               terbatas (sempit), sedikit demi sedikit

               Tahu untuk apa ia belajar, dan bagaimana menggunakan

               pengetahuan dan keterampilan itu

      3.   Siswa sebagai Pembelajar

               Ada kecenderungan untuk belajar hal baru dengan cepat

               Hal-hal yang sulit perlu strategi belajar

               Peran guru membantu menghubungkan antar “yang baru” dan

               yang sudah diketahui

               Tugas guru sebagai fasilitator agar informasi baru bermakna,

               siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri

      4.   Pentingnya Lingkungan Belajar

               Belajar berpusat pada siswa

               Strategi belajar lebih dipentingkan dibanding hasilnya

               Proses penilaian (assessment) yang benar, sebagai umpan balik

               Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok


2.2.2.2. Lima Elemen Pembelajaran Konstektual

             ( Zahorik, 1995, 14 – 22 )

      1.   Activating Knowledge

           Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada

      2.   Acquiring Knowledge
                 Pemerolehan pengetahuan baru dengan cara mempelajari secara keseluruhan, kemudian
                 memperlihatkan detailnya

           3.    Understanding knowledge

                Pemahaman pengetahuan dengan cara menyusun:

                 a. Konsep sementara / hipotesis

                 b. Melakukan sharing kepada orang lain agar mendapat tanggapan /

                     validasi

                 c. Konsep tersebut direvisi & dikembangkan

           4.    Applying Knowledge

                 Mempraktekkan pengetahuan & pengalaman

           5.    Reflecting Knowledge

                 Melakukan refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan



2.2.3. Konsep Dasar CTL

                     Konsep dasar pembelajaran kontekstual adalah pendekatan dalam

     pembelajaran dengan kegiatan mengajar dari guru yang menghubungkan

     materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata dan kegiatan belajar yang

     memotivasi siswa agar menghubungkan dan menerapkan pengetahuannya pada

     kehidupan sehari-hari sebagai anggota keluarga dan masyarakat.

                     Langkah-langkah penerapan CTL secara garis besar adalah

     sebagai berikut :

a.    Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara

      bekerja sendiri, menemukan sendiri dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan

      dan ketrampilan barunya.
b.    Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiri untuk semua topik.

c.    Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.

d.    Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok).

e.    Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.

f.    Lakukan refleksi di akhir pertemuan.

g.    Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.




2.2.4. Pembelajaran CTL di Kelas

                  CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa

     saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan CTL memiliki

     tujuh komponen utama yaitu :

1. Konstruktivisme (Constructivism)

           Constructivism merupakan landasan berfikir (filosofi) pendekatan CTL,

     yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang

     hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-

     konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah

     yang siap untuk diambil dan diingat. Siswa dibiasakan untuk memecahkan

     masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan

     ide-ide. Guru tidak akan mampu mengkonstruksikan semua pengetahuan

     kepada siswa. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka

     sendiri. Esensi dari teori konstruktivis adalah ide bahwa siswa harus

     menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain,

     dan apabila dikehendaki informasi itu menjadi milik mereka sendiri.
        Dalam pandangan konstruktivis, strategi memperoleh lebih diutamakan

  dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan.

  Untuk itu tugas guru adalah menfasilitasi proses tersebut dengan :

  a.   menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa

  b.   memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri

  c.   menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar

2. Menemukan (Inquiri)

        Pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan

  hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri.

  Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan

  menemukan, apapun materi yang diajarkannya.

         Siklus inkuiri :

       Observasi (Observation)

       Bertanya (Questioning)

       Mengajukan Dugaan (Hipotesis)

       Mengumpulkan Data (Data Gathering)

       Penyimpulan (Conclussion)

3. Bertanya (Questioning)

        Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari bertanya.

  Bertanya merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis CTL. Bertanya

  dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong,

  membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa, kegiatan

  bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang
  berbasis inquiri, yaitu menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah

  diketahui dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya.

        Dalam sebuah pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna

  untuk :

  (1) menggali informasi, baik administrasi maupun akademis

  (2) mengecek pemahamn siswa

  (3) membangkitkan respon kepada siswa

  (4) mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa

  (5) mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa

  (6) memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru

  (7) untuk membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa

  (8) untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa

        Hampir pada semua aktivitas belajar, questioning dapat diterapkan antara

  siswa dengan siswa, antara guru dengan siswa, antara siswa dengan guru,

  antara siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas, dan sebagainya.

  Aktivitas bertanya juga ditemukan ketika siswa berdiskusi, bekerja dalam

  kelompok ketika menemui kesulitan, ketika mengamati, dan sebagainya.

4. Masyarakat Belajar (Learning Community)

        Dalam kelas CTL guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran

  dalam kelompok-kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok

  yang anggotanya heterogen. Yang pandai mengajari yang lemah, yang tahu

  memberi tahu yang belum tahu, yang cepat menangkap mendorong temannya

  yang lambat, yang mempunyai gagasan segera memberi usul, dan seterusnya.
  Kelompok siswa bisa sangat bervariasi bentuknya, baik keanggotaan, jumlah,

  bahkan bisa melibatkan siswa di kelas atasnya, atau guru melakukan kolaborasi

  dengan mendatangkan seorang ahli ke kelas.

       “Masyarakat belajar” bisa terjadi apabila ada proses komunikasi dua

  arah. “Seorang guru yang mengajari siswanya” bukan contoh masyarakat

  belajar karena komunikasi hanya terjadi satu arah, yaitu informasi hanya

  datang dari guru ke arah siswa, tidak ada arus informasi yang perlu dipelajari

  guru yang datang dari arah siswa. Dalam contoh ini yang belajar hanya siswa

  bukan guru.

       Kalau setiap orang mau belajar dari orang lain, maka setiap orang lain

  bisa menjadi sumber belajar, dan ini berarti setiap orang akan sangat kaya

  dengan pengetahuan dan pengalaman. Metode pembelajaran dengan tehnik

  “learning community” ini sangat membantu proses pembelajaran di kelas.

  Prakteknya dalam pembelajaran terwujud dalam :

     Pembentukan kelompok kecil

     Pembentukan kelompok besar

     Mendatangkan ahli ke kelas (tokoh, olahragawan, dokter, dan sebagainya)

     Bekerja dengan kelas sederajat

     Bekerja kelompok dengan kelas di atasnya

     Bekerja dengan masyarakat




5. Pemodelan (Modeling)
        Dalam sebuah pembelajaran ketrampilan atau pengetahuan tertentu, ada

  model yang bisa ditiru. Model itu berupa cara mengoperasikan sesuatu, cara

  melempar bola dalam olah raga, contoh : karya tulis, cara menghafal bahasa

  Inggris, dan sebagainya. Atau guru memberi contoh cara mengerjakan sesuatu.

  Dengan begitu, guru memberi model tentang bagaimana cara belajar.

        Model juga dapat didatangkan dari luar. Seorang penutur asli berbahasa

  Inggris sekali waktu dapat dihadirkan di kelas untuk menjadi model cara

  berujar, cara bertutur kata, gerak tubuh ketika berbicara, dan sebagainya.

6. Refleksi (Reflection)

        Refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau

  berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa yang

  lalu. Siswa mengendapkan dengan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur

  pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari

  pengetahuan sebelumnya. Kunci dari semua itu adalah, bagaimana

  pengetahuan itu mengendap di benak siswa. Siswa mencatat apa yang sudah

  dipelajari dan bagaimana menerapkan ide-ide baru.

        Pada akhir pembelajaran guru menyisakan waktu sejenak agar siswa

  melakukan refleksi. Realisasinya berupa :

       Pernyataan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu,

       Catatan atau jurnal di buku siswa,

       Kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari itu,

       Diskusi,
      Hasil karya.

7. Penilaian Yang Sebenarnya (Authentic Assessment)

        Penilaian authentic adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa

  memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan

  belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa

  mengalami proses pembelajaran dengan benar. Kemacetan belajar siswa harus

  diketahui sejak awal dengan cara mengidentifikasi data. Hal ini dilakukan

  supaya siswa terbebas dari kemacetan belajar.

  7.1 Karakteristik authentic assessment :

              Dilaksanakan    selama     dan   sesudah    proses   pembelajaran

       berlangsung

              Digunakan untuk formatif muapun sumatif

              Berkesinambungan

              Terintegrasi

               Dapat digunakan sebagai feed back

  7.2 Hal-hal yang dapat digunakan untuk penilaian :

      1.   Proyek kegiatan dan laporannya

      2.   Pekerjaan rumah

      3.   Kuis

      4.   Karya siswa

      5.   Presentasi atau penampilan siswa

      6.   Demonstrasi

      7.   Laporan
      8.       Jurnal

      9.       Hasil tes tulis

      10. Karya tulis

7.3 Karakterisrtik pembelajaran berbasis CTL adalah sebagai berikut :

      1.       Kerja sama

      2.       Saling menunjang

      3.       Menyenangkan, tidak membosankan

      4.       Belajar dengan bergairah

      5.       Pembelajaran terintegrasi

      6.       Menggunakan berbagai sumber

      7.       Siswa aktif

      8.       Sharing denga teman

      9.       Siswa kritis, guru kreatif

      10. Dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa,

               peta-peta, gambar, artikel, humor, dan lain-lain

      11. Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor, tetapi hasil karya siswa,

               laporan hasil praktikum, karangan siswa dan lain-lain




Tabel 1.2. :
Perbedaan Pendekatan Kontekstual dengan Pendekatan Konvensional
No        PENDEKATAN CTL                              PENDEKATAN
                                                     KONVENSIONAL
1    Siswa aktif terlibat                     Siswa penerima informasi

2    Belajar dengan kerja sama                Belajar individual

3    Berkait dengan kehidupan nyata           Abstrak dan teoritis

4    Perilaku            dibangun       atas Perilaku dibangun atas kebisaan

     kesadaran diri

5    Keterampilan            dikembangkan Keterampilan dikembangkan atas

     atas dasar pemahaman                     dasar latihan

6    Memperoleh kepuasan diri                 Memperoleh pujian atau nilai saja

7    Kesadaran           tidak    melakukan Tidak     melakukan        yang    jelek

     yang jelek tumbuh dari dalam             karena takut hukuman

8    Bahasa        diajarkan          dengan Bahasa        diajarkan          dengan

     pendekatan                  komunikatif, pendekatan struktural, kemudian

     digunakan dalam konteks nyata            dilatihkan

9    Pemahaman                        Rumus Rumus berada di luar diri siswa

     dikembangkan                berdasarkan yang harus diterangkan, diterima,

     skemata yang telah ada dalam dihafal dan dilatihkan

     diri siswa

10   Pemahaman             rumus       relatif Rumus adalah kebenaran absolut

     berbeda

11   Siswa      aktif,     kritis,   bergelut Siswa   pasif   hanya      menerima

     dengan ide                               tanpa kontribusi ide

12   Pengetahuan           dibangun     dari Pengetahuan dibangun dari fakta,
         kebermaknaan                        konsep atau hukum

   13    Pengetahuan selalu berkembang Kebenaran bersifat absolut dan

         sejalan dengan fenomena baru        pengetahuan bersifat final.

   14    Siswa        bertanggung     jawab Guru adalah penentu jalannya

         memonitor dan mengembangkan proses pembelajaran

         pembelajaran

   15    Pengahargaan               terhadap Pembelajaran                  tidak

         pengalaman        siswa     sangat memperhatikan pengalaman

         diutamakan

   16    Hasil belajar diukur dengan Hasil belajar hanya diukur dengan

         prinsip Alternative Assessment      tes

   17    Pembelajaran terjadi di berbagai Pembelajaran hanya terjadi di

         tempat, konteks dan setting         dalam kelas

   18    Penyesalan adalah hukuman dari Sanksi        adalah   hukuman      dari

         perilaku jelek                      perilaku jelek

   19    Perilaku baik berdasar motivasi Perilaku baik berdasar motivasi

         instrinsik                          ekstrinsik

   20    Berperilaku baik       karena dia Berperilaku baik karena terbiasa

         yakin itulah yang terbaik dan melakukan begitu, dan karena

         bermanfaat.                         mendapat hadiah




B. HIPOTESIS
        Hipotesis penelitian ini yaitu :
  “Siswa yang menempuh proses belajar mengajar dengan model

 pembelajaran CTL hasil belajarnya lebih baik daripada siswa yang

  menempuh proses belajar mengajar dengan menggunakan model

                   pembelajaran konvensional”.

       Oleh karena itu dalam penelitian ini hipotesis penelitian (Hi)

  yang berbunyi “Siswa yang menempuh proses belajar mengajar

dengan model pembelajaran CTL hasil belajarnya lebih baik daripada

siswa yang menempuh proses belajar mengajar dengan menggunakan

 model pembelajaran konvensional” harus diubah terlebih dahulu ke

 dalam hipotesis nihil (Ho) yang berbunyi “Siswa yang menempuh

   proses belajar mengajar dengan model pembelajaran CTL hasil

 belajarnya tidak berbeda dari siswa yang menempuh proses belajar

       mengajar dengan model pembelajaran konvensional”.
                                   BAB III
                              METODE PENELITIAN



  Berdasarkan klasifikasi menurut metodenya, penelitian ini adalah penelitian
  eksperimen (Ruseffendi dan Achmad Sanusi, 1994 : 27-32), penelitian yang
  benar-benar untuk melihat hubungan sebab akibat. Peneliti melakukan
  perlakuan terhadap variabel bebas (paling tidak sebuah) dan mengamati
  perubahan yang terjadi pada satu variabel terikat atau lebih.


  3.1 Obyek Penelitian
  3.1.1. Populasi
     Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas II-B dan II-F SMP
     Negeri 1 Brangsong Kendal masing – masing kelas sebanyak 48 siswa.
     Jumlah seluruhnya adalah 96 siswa.
3.1.2. Sampel

     Berdasarkan sifat populasi di atas, maka sampel penelitian ini adalah
     sebagian dari siswa kelas II-B dan II-F Tahun Ajaran 2004/2005.
     Sampel dalam penelitian ini menggunakan dua kelompok, masing-masing
     sebagai kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Setiap kelompok
     terdiri dari 20 siswa. Jumlah seluruhnya adalah 40 siswa. Pengambilan
     sampel berdasarkan teknik cluster random sampling (sampel acak
     berkelompok) dan tidak secara individu terhadap siswa melainkan
     kelompok siswa dalam satu kelas (Sugiarto, 2001 : 73).
3.1.3. Definisi Operasional Variabel

     1. Efektivitas : dalam penelitian ini efek yang ditimbulkan akibat yang

        berarti adanya daya guna dan membawa hasil di dalam penggunaan

        pendekatan Contextual Teaching and Learning pada pembelajaran

        Bahasa Inggris (Poerwadarminta, 1980 : 250).

     2. Pendekatan Kontekstual ( Contextual Teaching and Learning ) : konsep

        belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya

        dengan dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan

        antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam
        kehidupan mereka sehari-hari sebagai anggota keluarga dan masyarakat

        (Johnson, Elaine : 1996)

     3. Bahasa Inggris : mata pelajaran yang digunakan sebagai wahana untuk

        meningkatkan interaksi global yang memerlukan bahasa sebagai alat

        berkomunikasi. Penguasaan Bahasa asing menjadi lebih penting. Secara

        individual, penguasaan bahasa asing menjadi salah satu modal utama

        keunggulan kompetitif, dan oleh karena itu penguasaan bahasa asing

        menjadi salah satu ciri sumber daya manusia yang berkualitas ( Huda,

        1999 : 405 ).

     4. Kesulitan belajar Bahasa Inggris : ketidak berhasilan seseorang mencapai

        taraf kualifikasi belajar tertentu (berdasarkan ukuran kriteria keberhasilan

        seperti dinyatakan dalam tujuan instruksional khusus atau ukuran

        kemampuan dalam program pengajaran) khususnya dalam mata pelajaran

        Bahasa Inggris.


3.2 Metode Pengumpulan Data

  Untuk mendapatkan data dari variabel-variabel penelitian yang akan diteliti
  digunakan metode pengumpulan data sebagai berikut :
     a. Metode Dokumentasi

  Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data nama dan jumlah siswa kelas

  II-B dan II-F.

     b. Metode Tes

  Dalam menggunakan metode tes ini, peneliti menggunakan instrumen berupa

  tes atau soal-soal tes. Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang
  berapa besar pengaruh penerapan CTL terhadap hasil belajar siswa yang

  mengalami kesulitan belajar Bahasa Inggris.

      c. Metode Observasi

  Metode observasi ini digunakan sebagai penunjang dalam melakukan suatu

  penelitian. Metode ini juga digunakan untuk memperoleh keterangan tentang

  keberhasilan pendekatan CTL yang akan diterapkan.




3.3 Desain Eksperimen

      Dalam penelitian ini penulis menggunakan desain eksperimental yang

sebenarnya/eksperimen sungguhan dengan pola randomized control – group pre

test – post test design. Dalam rancangan ini sekelompok subyek yang diambil dan

populasi tertentu dikelompokkan secara rambang menjadi dua kelompok yaitu

kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen dikenai

variabel perlakuan tertentu dalam jangka waktu tertentu, lalu kedua kelompok ini

dikenai pengukuran yang sama, lalu dibandingkan hasilnya. Perbedaan yang

timbul dianggap bersumber pada variabel perlakuan (Rachman, 1996 : 53).

              Desain eksperimen pola Randomized Control-Group Pretest-Posttest Design dapat digambarkan sebagai
  berikut :

         Group                       Pre Test                Treatment                  Post Test

               E                         T1                        X                        T2

               K                         T1                                                 T2
Gb 01. Desain Eksperimen pola Randomized Control-Group Pretest-Posttest

Design

         Sumber : Suryabrata (1998 : 45).

Keterangan :
E = Group eksperimen
K = Group kontrol
T1 = Soal pre test
X = Pengajaran dengan menggunakan pendekatan CTL
T2 = Soal post test

  Kelompok eksperimen (E) maupun kelompok kontrol (K) sebelum melakukan
  penelitian melakukan pre test terlebih dahulu untuk mengetahui apakah hasil
  dari pre test (T1) tersebut sama atau berbeda. Setelah itu baru kelompok
  eksperimen diberi suatu perlakuan khusus (Treatment) sedangkan kelompok
  kontrol tidak diberi perlakuan. Setelah itu baru kedua kelompok baik
  eksperimen maupun kontrol diberi post test (T2). Setelah itu baru dapat
  diketahui apakah pengajaran dengan model CTL lebih baik atau tidak.
     Eksperimen yang dilakukan dalam penelitian ini adalah proses pembelajaran

bidang studi Bahasa Inggris yang dilakukan di kelas II-F SMP Negeri 1

Brangsong Kendal yang diberi perlakuan dengan menggunakan model

pembelajaran CTL yang seterusnya disebut sebagai kelompok eksperimen,

sedangkan 1 kelas yang lain sebagai kelompok kontrol tanpa diberi perlakuan

apapun dengan menggunakan model pembelajaran konvensional yang dalam hal

ini menggunakan kelas II-B SMP Negeri 1 Brangsong Kendal.



3.4 Matching dan Kontrol

3.4.1. Matching

             Skor awal siswa yang berupa skor pre-test dari masing – masing kelas

diurutkan dari nilai tertinggi hingga terendah, kemudian diambil secara
berpasangan. Siswa yang skornya tidak mendapat pasangan tidak diambil.

Pengambilan siswa dari kelompok pasangan yang berlebih dilakukan secara acak.

Jumlah tiap-tiap kelompok sebanyak 20 siswa. Penentuan menjadi kelompok

eksperimen atau kelompok kontrol dilakukan secara acak Aspek yang dimatching

yaitu nilai pre-test siswa yang telah diketahui nilainya lalu dilakukan secara acak

untuk menentukan sampel penelitian yang rata-ratanya hampir sama dan sebagian

pendukung yaitu jenis kelamin siswa yang dalam penelitian ini 10 putra dan 10

putri baik itu kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen. Dengan cara

tersebut dipenuhi persyaratan bahwa kedua kelompok berangkat dari kondisi yang

sama, sehingga perbedaan hasil kedua kelompok tersebut akibat adanya

perlakuan.

3.4.2. Kontrol

             Kontrol terhadap kelompok dalam penelitian ini digunakan prosedur

pengambilan secara acak dengan matching kelompok. Sedangkan kontrol terhadap

variabel ekstra dilakukan terhadap peristiwa khusus, kematangan, pre-test,

instrument pengukur regresi statistika, perbedaan memilih subjek, kehilangan,

interaksi kematangan dan seleksi (Sudjana, 2001 : 22).



3.5. Metode Penyusunan Instrumen

3.5.1. Instrumen Penelitian

             Sesuai dengan permasalahan dan variabel yang akan diuji dalam

penelitian ini instrumen yang digunakan adalah jenis tes yakni tes hasil belajar.

Bentuk tes yang digunakan adalah tes buatan guru (tidak baku) dengan bentuk tes
objektif yang telah diuji tingkat validitas, reliabilitas, taraf kesukaran dan daya

pembeda.

            Selain itu karena peneliti perlu mendeskripsikan proses pembelajaran

dengan menggunakan model pendekatan CTL, instrumen non tes digunakan untuk

mendeskripsikan proses pembelajaran yang menggunakan model CTL yaitu

berupa observasi.

3.5.2. Uji Coba Instrumen

            Sebelum diujikan pada kelas subyek penelitian, soal terlebih dahulu

diuji cobakan pada kelas lain. Tujuan uji coba dalam penelitian ini adalah untuk

memperoleh butir tes yang masuk dalam kategori baik dan bisa dipakai untuk

penelitian dengan mengetahui reliabilitas, validitas, indeks kesukaran, dan daya

pembeda soal. Adapun responden yang dipilih adalah siswa kelas II-A SMP

Negeri 1 Brangsong Kendal. Pemilihan kelas II-A SMP Negeri 1 Brangsong

Kendal sebagai responden uji coba didasarkan atas pertimbangan bahwa kelas II

di SMP Negeri 1 tersebut juga memiliki kesetaraan atau kesamaan karakteristik

dengan subyek penelitian.

3.5.3. Analisis Perangkat Tes

            Instrumen penelitian ini menggunakan tes objektif. Agar dalam

penelitian memunyai kualitas tinggi, maka instrumen yang digunakan harus

memenuhi syarat-syarat sebagai alat pengukur yang baik. Dalam hal ini instrumen

berupa soal-soal tes, syarat-syarat yang dimaksud terdiri dari :

(1) Analisis Validitas
     Pemenuhan validitas logis (validitas berdasarkan logika atau penalaran)

dilakukan sejak penyusunan instrumen. Soal-soal tes disusun berdasarkan materi

pelajaran dan kurikulum yang berlaku di sekolah (Arikunto, 2001 : 65-68). Dalam

penelitian ini, jenis validitas empiris yang dicari adalah validitas item. Sebuah

item dikatakan valid apabila mempunyai dukungan yang besar terhadap skor total.

Skor pada item tersebut menyebabkan skor total menjadi tinggi atau rendah.

Sebuah sistem akan mempunyai validitas yang tinggi apabila skor pada item

tersebut mempunyai kesejajaran dengan korelasi dan untuk mengetahui validitas

item digunakan korelasi (Arikunto, 2001 : 76).

     Dalam hal ini digunakan rumus korelasi Biserial yaitu :

                  M p − Mt   p
        rpbis =
                     St      q

  Keterangan :
     rpbis   = Koefisien korelasi biserial
     Mp      = Rata-rata skor total yang menjawab benar pada butir soal
     Mt      = Rata-rata skor total
     St      = Standart deviasi skor total
     p       = Proporsi siswa yang menjawab benar pada setiap butir soal
     q       = Proporsi siswa yang menjawab salah pada setiap butir soal

     Setelah diperoleh harga rpbis dikonsultasikan dengan tabel nilai r product

moment. Dengan taraf signifikansi tertentu, jika harga rpbis > rtabel maka perangkat

tes tersebut valid. Sedang item soal yang tidak valid tidak digunakan dalam

penelitian. (Suharman, 1990 : 163).

  Dari hasil data pada lampiran 5 contoh perhitungan validitas butir soal terdapat
  pada lampiran 6. Pertanyaan nomor 1 diperoleh hasil rpbis = 0,788. Hasil
  tersebut kemudian dikonsultasikan pada tabel nilai r product moment. Dari
  tabel nilai r product moment diperoleh nilai 0,444. Berdasarkan data tersebut
  diketahui bahwa harga rpbis lebih besar daripada rtabel, maka soal tersebut valid.
  Langkah untuk mencari koefisien korelasi pertanyaan instrumen nomor 1
  sampai 25 ditempuh dengan menggunakan cara yang sama seperti terlihat pada
  lampiran 5. Ringkasan hasil perhitungan tingkat validitas instrumen penelitian
  yang menunjukkan valid adalah nomor 1, 2, 3, 4, 5, 6, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 15,
  17, 19, 21, 22, 23, 24, 25. Dari jumlah 25 soal yang akan digunakan untuk
  penelitian sebesar 20 soal.
(2) Analisis Reliabilitas

  Suatu tes dapat dikatakan mempunyai kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut
  dapat memberikan hasil yang tetap (Arikunto, 2001 : 86).
     Dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan rumus Kuder –

Richardson 20 (K – R 20) sebagai berikut :


              k  s − ∑ pq 
                        2
       r11 =        
                            
                             
              k − 1    s2 

     Keterangan :

     r11 = reliabilitas tes secara keseluruhan
     p    = proporsi subyek yang menjawab item yang benar
     q    = proporsi subyek yang menjawab item yang salah (q = 1-p)
     ∑ pq = jumlah hasil perkalian antara p dan q
     k    = banyaknya item soal
     s    = standar deviasi dari tes

      (Arikunto, 2001 : 100)

     Langkah awal menghitung reliabilitas dengan rumus K-R 20 adalah

   membuat tabel skor responden uji coba seperti terlihat pada lmpiran 5.

   Berdasarkan perhitungan reliabilitas yang terdapat pada lampiran 7

   menunjukkan bahwa r11 sebesar 0,9746. Menurut Ruseffendi (1994 : 149)

   Besarnya koefisien korelasi reliabilitas berkisar antara 0,00 – 1,00. Semakin

   mendekati angka satu koefisien reliabilitas semakin baik, sedangkan rtabel

   sebesar 0,444. Maka r11 > rtabel maka instrumen tersebut adalah reliabel.

(3) Indeks Kesukaran
     Teknik perhitungan indeks kesukaran adalah dengan menghitung berapa test

yang gagal menjawab benar atau memperoleh skor nilai dibawah lulus untuk tiap-

tiap soal. Langkah awal menentukan indeks kesukaran adalah membuat tabel kerja

mengenai hasil jawaban responden terhadap soal-soal yang akan diuji cobakan.

     Untuk soal bentuk objektif digunakan rumus sebagai berikut :

              JBA + JBB
       IK =
              JS A + JS B

     Keterangan :

     IK       = Indeks Kesukaran
     JBA      = Jumlah yang benar pada butir soal pada kelompok atas
     JBB      = Jumlah yang benar pada butir soal pada kelompok bawah
     JSA      = Banyaknya siswa pada kelompok atas
     JSB      = Banyaknya siswa pada kelompok bawah

     Klasifikasi atau ketentuan yang digunakan adalah :

            IK = 0,00 adalah soal terlalu sukar
     0,00 < IK ≤ 0,30 adalah soal sukar
     0,30 < IK ≤ 0,70 adalah soal sedang
     0,70 < IK ≤ 1,00 adalah soal mudah
     (Suharman, 1990 : 112)

  Langkah awal untuk menentukan indeks kesukaran adalah membuat tabel kerja
  mengenai hasil jawaban responden terhadap soal-soal uji coba seperti terlihat
  pada lampiran 5. Dari tabel tersebut diketahui soal no 7, 10, 14, 16, 18, 20
  termasuk soal sukar. Soal no 2, 3, 4, 5, 8, 12, 13, 15, 17, 19, 22, 25 termasuk
  soal sedang. Soal no 1, 6, 9, 11, 21, 23, 24 termasuk soal mudah. Hasil
  perhitungan tingkat kesukaran soal terdapat pada lampiran 8.
(4) Daya Pembeda soal

     Langkah awal untuk mencari indeks deskriminasi adalah membuat tabel

kerja yang dikelompokkan antara kelompok atas denagn kelompok bawah. Untuk

mencari indeks deskriminasi ditentukan terlebih dahulu jumlah responden

kelompok atas yang menjawab benar dan kelompok bawah yang menjawab benar.
      Untuk menghitung daya pembeda dari alat yang diukur digunakan rumus

sebagai berikut :

               JBA − JBB
        DP =
                  JS A

      Keterangan :

      DP    = Indeks Deskriminasi
      JBA   = Jumlah yang benar pada butir soal pada kelompok atas
      JBB   = Jumlah yang benar pada butir soal pada kelompok bawah
      JSA   = Jumlah siswa pada kelompok atas

      Klasifikasi untuk daya pembeda adalah sebagai berikut :

             DP 0,00 adalah soal sangat jelek
      0,00 < DP ≤ 0,20 adalah soal jelek
      0,20 < DP ≤ 0,40 adalah soal cukup
      0,40 < DP ≤ 0,70 adalah soal baik
      0,70 < DP ≤ 1,00 adalah soal sangat baik
   (Suharman, 1990 : 112)
      Berdasarkan hasil perhitungan dalam mencari daya pembeda soal terdapat

pada lampiran 5. Dari hasil perhitungan tersebut dapat diketahui bahwa soal no 7,

14, 18, 20 tergolong jelek. Soal no 4, 9, 11, 12, 13, 16, 21, 24 tergolong cukup.

Soal no 1, 2, 3, 5, 6, 8, 10, 15, 17, 19, 22, 23, 25 tergolong soal baik. Contoh

perhitungan soal terdapat pada lampiran 9.



3.6. Analisis Data

1. Tahap Awal

   a. Uji Homogenitas

         Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui kesamaan varians antara

   kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol. Untuk hal itu digunakan Uji

   F (Sudjana, 1996 ) sebagai berikut :
                                                      Ketentuan : Tolak Ho jika Fo ≥ Ft
                      Varians − terbesar
         Fo =
                      Varians − terkecil                         Terima Ho jika Fo ≤ Ft

   b. Uji Normalitas Sampel

             Untuk menguji normalitas sampel digunakan teknik statistik X kuadrat

   dengan rumus :
                                     2
               O − Ei
                  k
                                 
     X = ∑ i
         2
               E                
                                 
         i =1     i             

   Keterangan :

   X2    = Chi kuadrat
   Oi    = Frekuensi yang diperoleh dari data penelitian
   Ei    = Frekuensi yang diharapkan
   k     = Banyak kelas interval

   Kriteria pengujian :

   Jika X2 data ≤ X2                     tabel   dengan derajat kebebasan dk = k – 3 dan taraf

   signifikasi α = 5%, maka data yang diperoleh berdistribusi normal. Demikian

   juga sebaliknya (Sudjana, 1989 : 273)

2. Analisis Tahap Akhir

        Untuk mengetahui tingkat CTL pengaruhnya terhadap prestasi belajar

Bahasa Inggris pada pokok bahasan Health dan Clothes digunakan tehnik

statistika Uji-t rumus sebagai berikut :


                    X1 − X 2
             t=
                     1 1
                  s     +
                     n1 n2


               Dimana,


             s=
                       (n1 − 1)s12 + (n2 − 1)s22
                             n1 + n2 − 2
Ketentuan :

Ho ditolak apabila t ≥ t (1 − α )(n1 + n2 − 2 )

Keterangan : X 1 = Mean Kelompok 1

               X 2 = Mean Kelompok 2 (Sudjana, 1996 : 243)
                                   aBAB IV

                      LAPORAN HASIL PENELITIAN



4.1. Gambaran Umum Subjek Penelitian

  SMP Negeri 1 Brangsong Kendal terletak di jalan Raya No. 65 Kecamatan
  Brangsong Kota Kendal yang dipimpin oleh Ibu Dra. Hj. Amien Ariyatna
  Yusuf. SMP Negeri 1 Brangsong Kendal ini mempunyai 20 kelas. Proses
  pembelajaran sehari-hari menggunakan sistem guru kelas dengan model
  pembelajaran konvensional, yaitu model pembelajaran dan pembelajarannya
  masih berpusat pada guru.
           Daftar formasi lengkap mengenai personalia di SMP Negeri           1

Brangsong Kendal ini pada tahun ajaran 2004/2005 di sajikan pada lampiran 31.

Jumlah keseluruhan siswa SMP Negeri 1 Brangsong Kendal ini adalah 907.

Sedangkan jumlah siswa kelas II-F dan kelas II-B yang dipilih menjadi sampel

penelitian masing-masing berjumlah 48. Daftar nama siswa-siswi kelas II-F dan

II-B SMP Negeri 1 Brangsong Kendal terdapat pada lampiran 26 dan 27. Serta

daftar siswa yang terpilih menjadi sampel penelitian kelas eksperimen dan kelas

kontrol terdapat pada lampiran 28 dan 29. Kelas II-F ini digunakan sebagai kelas

eksperimen yang model pembelajarannya menggunakan pendekatan kontekstual

(CTL). Sedangkan kelas II-B dijadikan sebagai kelas kontrol, proses pembelajaran

yang biasa dilakukan yaitu model konvensional.



4.2. Penyajian Data

          Data yang diperoleh sebagai hasil pengukuran variabel dalam penelitian

ini berupa daftar hasil observasi dan skor observasi yang terdapat pada lampiran

36. Untuk deskripsi pelaksanaan pembelajaran, data hasil belajar yaitu
perbandingan antara nilai pre-test dan nilai post-test untuk kelompok eksperimen

dan kelompok kontrol.



4.3. Analisis Data

4.3.1. Analisis Deskriptif

   Hasil observasi terhadap variabel model pembelajaran CTL menunjukkan

   bahwa model pembelajaran tersebut menghasilkan skor rata-rata yang tinggi

   yang terdapat pada lampiran 36. Aspek penggunaan bahasa oleh guru, suasana

   belajar secara umum, minat siswa terhadap materi pembelajaran, penggunaan

   sumber belajar selama proses pembelajaran, variasi dan ketepatan penggunaan

   media atau metode, partisipasi siswa dalam pencapaian tujuan pembelajaran,

   kerjasama siswa dalam proses belajar, penghargaan terhadap siswa, dan

   prosedur pelaksanaan evaluasi jumlah rata-rata skornya adalah 3. Hal ini dapat

   disimpulkan bahwa proses pembelajaran yang terjadi berlangsung dengan baik.

a. Hasil Pre-Test

   Hasil pre-test ini digunakan untuk mengetahui korelasi antara nilai sebelum
   perlakuan dan nilai sesudah perlakuan. Selain itu pre-test juga sangat
   diperlukan untuk matching. Hasil pre-test digunakan untuk memilih siswa yang
   akan digunakan dalam melaksanakan penelitian. Adapun daftar subjek terpilih
   sebagai sampel penelitian kelas eksperimen terdapat pada lampiran 28 dan
   daftar subjek terpilih sebagai sampel penelitian kelas kontrol terdapat pada
   lampiran 29. Hasil pre-test selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 41. Dari
   data tersebut diketahui nilai rata-rata kelompok eksperimen adalah 72,60 dan
   kelompok kontrol sebesar 72,15.
   b. Hasil Post-Test
          Untuk mengetahui keberhasilan eksperimen yang telah dilakukan yaitu

melakukan tes akhir yang menggunakan soal-soal tes yang telah diuji cobakan

seperti terdapat pada lampiran 41. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa nilai
rata-rata kelompok eksperimen adalah 81,75 sedangkan nilai rata-rata kelompok

kontrol sebesar 75,75.

4.3.2. Analisis Inferensial

a. Uji Persyaratan

         Untuk menguji normalitas digunakan rumus statistik X kuadrat dengan

ketentuan Jika X2 data ≤ X2   tabel    dengan derajat kebebasan dk = k – 3 dan taraf

signifikansi α = 5 %, maka data yang diperoleh berdistribusi normal. Demikian

juga sebaliknya (Sudjana 1989 : 273).

             Hasil pengujian terhadap nilai hasil belajar siswa dari kedua

kelompok masing-msing menghasilkan harga X2 sebesar 1,2910 untuk kelompok

eksperimen dan 2,4864 untuk kelompok kontrol. Harga X2 tabel dengan derajat

kebebasan dk = 5-3 dan taraf signifikansi α = 5% sebesar 5,99. Perbandingan

kedua kelompok itu X2 ≤ X2    tabel.   Dengan demikian Ho yang menyatakan bahwa

data tersebut berdistribusi normal diterima seperti yang terdapat pada lampiran 50

dan 51. Berdasarkan perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa data tentang

hasil belajar siswa dari kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol

berdistribusi normal.

             Adapun untuk uji homogenitas digunakan uji-F dengan ketentuan :

Tolak Ho jika Fo ≥ Ft dan terima Ho jika Fo ≤ Ft. Perhitungannya terdapat pada

lampiran 52. Hasil perhitungannya menunjukkan bahwa harga Fo adalah 2,1474

dan harga Ft sebesar 2,53. Dari perhitungan tersebut diketahui bahwa Fo ≤ Ft,

dengan demikian Fo diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa nilai

hasil belajar siswa kedua kelompok yang akan dibandingkan bersifat homogen.
               Berdasarkan hasil perhitungan uji normalitas dan uji homogenitas di

atas dapat disimpulkan bahwa nilai tes hasil belajar siswa, baik kelompok

eksperimen maupun kelompok kontrol telah memenuhi syarat untuk pengujian

selanjutnya.

b. Uji Hipotesis

          Dalam penelitian ini uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji-t.

Hipotesis yang dapat diuji adalah hipotesis nihil (Ho). (Sudjana, 1996 : 239)

          Oleh karena itu dalam penelitian ini hipotesis penelitian (Hi) yang

berbunyi “Siswa yang menempuh proses belajar mengajar dengan model

pembelajaran CTL hasil belajarnya lebih baik daripada siswa yang menempuh

proses belajar mengajar dengan menggunakan model pembelajaran konvensional”

harus diubah terlebih dahulu ke dalam hipotesis nihil (Ho) yang berbunyi “Siswa

yang menempuh proses belajar mengajar dengan model pembelajaran CTL hasil

belajarnya tidak berbeda dari siswa yang menempuh proses belajar mengajar

dengan model pembelajaran konvensional”.

          Langkah awal untuk mendapatkan harga t adalah mencari nilai rata-rata

dan simpangan baku kemudian dikonsultasikan ke dalam rumus di atas. Hasil

perhitungan ttest (t) kemudian dikonsultasikan dengan t pada tabel (ttabel). Terima

Ho jika t < ttabel dan terima Ho jika t > ttabel.

          Perhitungan analisis statistik t-test nilai posttest untuk kelompok

eksperimen dan kelompok kontrol terdapat pada lampiran 53 yang menghasilkan t

sebesar 1,855 dan ttabel sebesar 1,69.
         Dari hasil data tersebut menunjukkan bahwa nilai t lebih besar daripada

ttabel, ketentuannya yaitu Ho ditolak dan Hi diterima.

         Berdasarkan ketentuan di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian ini

menolak hipotesis nihil (Ho) yang mengatakan bahwa “Siswa yang menempuh

proses belajar mengajar dengan model pembelajaran CTL hasil belajarnya tidak

berbeda dari siswa yang menempuh proses belajar mengajar dengan model

pembelajaran konvensional” dan menerima hipotesis penelitian (Hi) yang

berbunyi “Siswa yang menempuh proses belajar mengajar dengan model

pembelajaran CTL hasil belajarnya lebih baik daripada siswa yang menempuh

proses   belajar    mengajar     dengan      menggunakan   model   pembelajaran

konvensional”.

         Untuk mengetahui besarnya pengaruh pembelajaran CTL terhadap

peningkatan hasil belajar siswa digunakan rumus Koefisien Korelasi Biserial

(Sudjana : 1996)

         Perhitungan analisis besarnya pengaruh pendekatan CTL terhadap hasil

belajar siswa terdapat pada lampiran 54. Dari hasil data yang ada menunjukkan

bahwa pendekatan CTL mempunyai pengaruh yang cukup signifikan terhadap

hasil belajar siswa yaitu sebesar 12,71 %.

4.3.3. Pembahasan Hasil Penelitian

   Guru dan siswa merupakan dua faktor penting dalam setiap penyelenggaraan

   proses pembelajaran di kelas. Guru sebagai unsur utama dan pertama dalam

   proses pembelajaran, membutuhkan keterlibatan siswa demi tercapainya tujuan

   pembelajaran. Keberhasilan pendidikan adalah tanggung jawab guru. Oleh
  sebab itu, guru perlu merancang model pembelajaran yang efektif, sehingga

  tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal. Salah satu tolak ukur

  sebuah proses pembelajaran berkualitas atau tidak, dapat diketahui melalui

  hasil belajar siswa. Jika siswa-siswi di sekolah mempunyai hasil belajar yang

  tinggi, maka dapat diduga bahwa proses pembelajaran di sekolah tersebut

  memang berkualitas. Sebaliknya, jika hasil belajar siswa rendah besar

  kemungkinannya bahwa proses pembelajaran di sekolah tersebut kurang

  berkualitas. Hasil belajar umumnya dapat diketahui melalui nilai hasil tes

  belajar.

             Sistem pengelolaan kurikulum 2004 menuntut kegiatan belajar

mengajar yang memberdayakan semua potensi peserta didik untuk menguasai

kompetensi yang diharapkan. Pemberdayaan ini diarahkan untuk mendorong

individu belajar sepanjang hayat dan mewujudkan masyarakat belajar. Model

pembelajaran CTL yang dikaji dalam penelitian ini diduga merupakan model

pembelajaran yang efektif. Sebuah strategi belajar yang tidak mengharuskan siswa

menghafal     fakta-fakta,   tetapi   sebuah   strategi   yang   mendorong     siswa

mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Melalui strategi CTL,

siswa diharapkan belajar melalui mengalami bukan menghafal. Sesuatu yang baru

(pengetahuan dan ketrampilan) datang dari menemukan sendiri, bukan dari apa

kata guru (Departemen Pendidikan Nasional, Pendekatan Kontekstual : 2).

“Students learn best by actively constructing their own understanding” (Cara

belajar yang terbaik adalah siswa mengkonstruksikan sendiri secara aktif

pemahamannya) (CTL Academy Fellow, 1999). Oleh karena itu, kelas tidak selalu
berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, kemudian ceramah

menjadi pilihan utama strategi belajar yang biasa dilaksanakan di kelas

konvensional.

     Berdasarkan hal tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa dengan

     menggunakan pendekatan CTL guru mampu menyajikan ide-ide atau konsep-

     konsep yang sulit disampaikan secara lisan maupun tulisan agar lebih

     dimengerti oleh siswa.

      Ketrampilan dasar yang harus dimiliki guru dalam pembelajaran kontekstual :

1.    Memiliki motivasi yang tinggi untuk mengajar Bahasa Inggris dengan

      menerapkan strategi belajar yang menyenangkan (kontekstual).

2.    Memiliki kreativitas yang tinggi dalam menyesuaikan buku pelajaran dengan

      tingkat pengetahuan siswa dalam kehidupan nyata siswa.

3.    Membiasakan komunikasi Bahasa Inggris dalam kelas agar peserta didik

      tidak canggung dalam kehidupan sehari-hari.

4.    Menerapkan berbagai strategi pembelajaran di kelas dengan memanfaatkan

      bermacam sumber belajar. (buku, majalah, koran, vcd, tape recorder, dll)



      Kebaikan menggunaan pendekatan CTL :

1.    Bekerja sendiri, menemukan sendiri dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan

      dan ketrampilan baru

2.    Adanya kegiatan inquiri

3.    Kegiatan bertanya

4.    Menciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok)
5.   Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran

6.   Melaksanakan refleksi di akhir pertemuan

7.   Melaksanakan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara


4.3.3.1. Kekuatan CTL dalam Pembelajaran Bahasa Inggris

           Pendekatan kontekstual di kelas, pelaksanaannya diwujudkan dengan

menerapkan berbagai strategi dan metode pembelajaran yang efektif, kontekstual

dan bermakna. Hal ini dimaksudkan untuk mengembangkan dan meningkatkan

kompetensi, kreativitas, kemandirian, kerjasama, solidaritas, kepemimpinan,

empati, toleransi dan kecakapan hidup siswa yang dapat membentuk watak serta

meningkatkan peradaban dan martabat bangsa. Pada pembelajaran Bahasa Inggris

pendekatan kontekstual mengajak siswa secara aktif, interaktif, dan komunikatif

melalui berbagai alat bantu atau tugas yang dapat mendorong siswa untuk berlatih

menggunakan bahasa yang dipelajarinya. Sehingga pemahaman yang sempurna

terhadap konsep pengajaran berhasil dengan baik. Dengan melatih siswa menjadi

pembaca yang efisien melalui membaca cepat (speed reading) dan meningkatkan

minat baca serta penguasaan kosakata melalui pendekatan self access learning

yang mengarah pada kemandirian siswa sebagai pembelajar Bahasa Inggris

(autonomous language learners) (Syamsudin, 2001). Selain itu pemanfaatan

sarana atau buku-buku yang bervariasi, berwarna dan bergambar untuk menarik

siswa agar memiliki minat baca yang tinggi terhadap pelajaran Bahasa Inggris.



4.3.3.2. Kegairahan Pembelajaran Siswa dengan CTL
           Selama ini kita menyadari bahwa kelas-kelas kita tidak produktif.

Sehari-hari kelas hanya diisi dengan ceramah, sementara siswa dipaksa menerima

dan menghafal materi pelajaran yang diberikan. Dengan pendekatan kontekstual

(CTL) yang mengutamakan strategi belajar daripada hasil, siswa diharapkan

belajar melalui ‘mengalami’      dengan   mengkonstruksi    pengetahuan yang

dimilikinya dan menerapkan pada situasi dunia nyata siswa, dapat mengubah

anggapan kelas yang kurang produktif menjadi kelas yang aktif dengan

pembelajaran yang menyenangkan (enjoyable learning). Proses pembelajaran di

kelas menjadi aktif dan kreatif, karena siswa membangun sendiri pengetahuan

mereka melalui keterlibatan aktif di kelas, jadi siswa menjadi pusat kegiatan

bukan guru. Kegiatan inquiry dan bertanya merupakan salah satu strategi dalam

CTL untuk menggali sifat ingin tahu siswa. Selain itu keberadaan masyarakat

belajar menjadi nilai plus dalam pembelajaran karena siswa tidak belajar sendiri

tetapi saling bekerja sama (belajar dengan kelompok-kelompok) agar pengetahuan

dan pemahaman lebih mendalam. Sehingga menimbulkan kegairahan belajar

siswa karena adanya kebersamaan dalam memecahkan masalah, siswa yang

pandai dapat mengajari siswa yang lemah. Kemudian adanya pemodelan sebagai

contoh pembelajaran dapat meningkatkan semangat siswa untuk mencoba meniru

seperti apa yang telah dilihatnya, dengan demikian siswa tidak mengalami

kesulitan dalam mengkonstruksi pengetahuannya. Dalam pendekatan kontekstual

refleksi merupakan peranan penting, yaitu siswa mengendapkan apa yang baru

dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan baru yang merupakan pengayaan atau

revisi dari pengetahuan sebelumnya. Dengan begitu, siswa merasa memperoleh
sesuatu yang berguna bagi dirinya tentang apa yang baru saja dipelajarinya. Yang

terakhir, adanya authentic assessment untuk menilai kemampuan yang dimiliki

siswa tidak hanya dari hasil ulangan tetapi dari kegiatan yang dilakukan siswa

selama proses pembelajaran di kelas. Guru yang ingin mengetahui perkembangan

belajar Bahasa Inggris bagi para siswanya harus mengumpulkan data dari kegiatan

nyata saat para siswa menggunakan Bahasa Inggris bukan pada saat para siswa

mengerjakan tes Bahasa Inggris. Jadi siswa semakin tertarik dengan pembelajaran

model CTL karena mereka memperoleh nilai tambahan dari kegiatan

pembelajarannya di kelas yang dapat mempengaruhi nilai akhirnya.

           Dengan demikian, hasil belajar siswa sebagai tolak ukur yang harus

diuji kebenarannya. Untuk hal ini hasil belajar siswa yang menempuh proses

belajar mengajar dengan model pembelajaran CTL diperbandingkan dengan hasil

belajar siswa yang menempuh proses belajar mengajar dengan model

pembelajaran konvensional. Hasil analisis data dalam penelitian ini menunjukkan

bahwa siswa yang menempuh proses belajar mengajar dengan model

pembelajaran CTL hasil belajarnya berbeda secara signifikan dan lebih baik

daripada siswa yang menempuh proses belajar mengajar dengan model

pembelajaran konvensional.

           Perbedaan hasil belajar tersebut ditunjukkan oleh rata-rata hasil

belajar, antara kelompok siswa yang menempuh proses belajar mengajar dengan

model pembelajaran CTL dengan siswa yang menempuh proses belajar mengajar

dengan model pembelajaran konvensional. Hasil ttest sebesar 1,855 ≥ ttabel sebesar

1,69 menerima hipotesis penelitian yang menyatakan siswa yang menempuh
proses belajar mengajar dengan model pembelajaran CTL hasil belajarnya lebih

baik daripada siswa yang menempuh proses belajar mengajar dengan

menggunakan model pembelajaran konvensional.
                                                  BAB V
                                                 PENUTUP



     Guru wajib mengembangkan naluri anak dalam mempelajari hal-hal yang baru.

     Usaha tersebut perlu dilakukan sejak usia dini, mengingat pengertian yang

     terbentuk diharapkan akan mewarnai persepsi mereka di jenjang pendidikan

     yang berikutnya. Untuk keperluan teresebut guru dituntut untuk mengenal lebih

     dekat sisi kejiwaan anak, terutama taraf perkembangan intelegensinya.

     Mengakhiri laporan ini, diberikan simpulan untuk memudahkan pembaca membuat generalisasi pemahaman dan saran
     dalam kapasitas sebagai seorang peneliti.

5.1. KESIMPULAN

       Penyajian kesimpulan berdasarkan interpretasi peneliti sebagai berikut :

1.     Siswa yang menempuh proses belajar mengajar dengan model pembelajaran

       CTL hasil belajarnya berbeda dan lebih efektif daripada siswa yang

       menempuh           proses       belajar      mengajar         dengan       model        pembelajaran

       konvensional.

2.     Pengaruh penggunaan metode belajar mengajar CTL terhadap hasil belajar

       siswa mata pelajaran Bahasa Inggris siswa kelas II-F SMP Negeri 1

       Brangsong Kendal Tahun Ajaran 2004/2005 sebesar 12,71 %. Jadi

       pembelajaran CTL itu mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap hasil

       belajar siswa jika dibandingkan dengan pembelajaran konvensional yang

       berarti bahwa pembelajaran CTL memiliki pengaruh yang signifikan.

5.2. SARAN

     Dengan hasil penelitian ini, peneliti menyampaikan saran-saran yang berkaitan
     dengan upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia,
     khususnya jenjang pendidikan dasar agar hasil belajar siswa meningkat.
Saran-saran tersebut adalah sebagai berikut :

1.   Kepada       Guru   di   Sekolah   Menengah    Pertama     hendaknya    dapat

     mengembangkan kualitas profesinya. Dengan demikian eksplorasi pustaka

     dan eksperimen empirik tentang metode kontekstual terus dilaksanakan.

     Kreativitas    dalam     melaksanakan   pembelajaran     diantaranya   dengan

     menerapkan pendekatan belajar mengajar model CTL dalam setiap mata

     pelajaran.

2.   Kepada para Guru disampaikan untuk senantiasa bersikap terbuka terhadap

     inovasi dan merespon secara aktif dan kreatif setiap perkembangan

     pendidikan, sehingga apa yang dilakukan terhadap siswa benar-benar dapat

     berguna, baik bagi kehidupannya sendiri maupun orang lain.

3.   Kepada Kepala sekolah agar dapat mengevaluasi kegiatan belajar mengajar

     yang dilaksanakan oleh Guru dan mengadakan monitoring secara rutin

     dengan tujuan untuk mengingatkan para guru agar dapat melaksanakan proses

     pembelajaran dengan baik serta tercapai peningkatan kegiatan belajar

     mengajar yang optimal.

4.   Kepada Instansi atau Lembaga yang terkait dengan penyelenggaraan

     pendidikan di sekolah, disarankan untuk mengadakan pelatihan khusus

     tentang pelaksanaan pembelajaran model CTL kepada para Guru, sehingga

     para Guru dapat bekerja dengan lebih baik dan profesional yang nantinya

     dapat meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.

5.   Kepada Depdiknas, Dinas Pendidikan, Perguruan Tinggi (LPM, Lemlit,

     Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris), media massa dan lembaga lain yang
terkait untuk melakukan kegiatan-kegiatan pelatihan yang tujuannya

meningkatkan kemampuan dan ketrampilan berbahasa Inggris para guru SMP

terutama yang tidak mempunyai latar belakang pendidikan Bahasa Inggris.

Mereka harus dilatih terutama penguasaan bahasa.
DAFTAR PUSTAKA


Arikunto, Suharsimi. 2001. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
     Jakarta : Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
     Jakarta : Rineka Cipta.

Artsiyanti, Diba. 2002. Bagaimana meningkatkan Mutu Hasil Pelajaran Bahasa
      Inggris di Sekolah. http ://www. Artikel. us/Artsiyanti.html.

Azwar, Saefuddin. 2001. Tes Prestasi : Fungsi dan Pengembangan Pengukuran
    Prestasi Belajar (Edisi III). Yogyakarta : Pustaka Belajar.

Budiardjo, Syukur. 2002. Metode Peningkatan Kemampuan Bahasa. Jakarta :
     Kompas Edisi 24-5-2002.

Chaer, Abdul. 2003. Psikolinguistik. Jakarta : Rineka Cipta.

Darsono, Max, et al. 2000. Belajar dan Pembelajaran. Semarang : IKIP Semarang
     Press.

Depdiknas. 2002. Juklak Inggris SLTP. http ://www.                    Dikdasmen.
     Depdiknas.go.id/html/setdirjen/sekretariat%201/setdirjen –       program –
     juklak %20ING %20 SLTP.html.

Depdiknas. 2003. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning).
     Jakarta : Depdiknas.

Depdiknas. 2003. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003
Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta : Depdiknas.

Esa, Adjie. 2003. Sekolah mengalami Degradasi. http ://www. Pikiran
     Rakyat.Com/Cetak/1003/07/0303.htm – 17k.

Hanifa.   2002.      Serasa     Belajar     di   Rumah.        http      ://www.
     Republika.co.id/berita/Koran/2002/05/13/74526.shtm.

Johnson, Elaine. 1996. Contextual Teaching and Learning. California : Corwin
     Press. Inc.

John. A. Glover, Roger H. 1987. Educational Psychology Principles and
     Application. Boston Toronto : Little, Brown and Company.
Kaswanti Purwo, Bambang. 1998. Jangan Pakai Pola Dewasa. http ://www.
    Indomedia.Com/intisari/1998/September/b_bing.htm – 7k.

Kathy Sylva, Ingrid Lunt, 1987. Child Development A First Course
     (Perkembangan Anak). Jakarta : Arcan.

Kosasih, E. 1998. Kapan Anak Belajar Bahasa Inggris. http ://www.
     Indomedia.Com/intisari/1998/September/bing.htm – 18k.

Kustiman, Erwin. 2002. Bahasa Inggris Dihafal atau ?. http ://www.Pikiran
     rakyat. com/cetak/1102/22/0301.htm.

Margono, S. 1999. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta.

Nurlina, Nina. 2002. Perlukah Pengajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar.
     Pikiran Rakyat Cyber Media.Com

Poerwodarminto, Wjs. 1984. Kamus Besar Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : PN
     Balai Pustaka.

Rianto, Yatim. 1996. Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya : SIC
     Surabaya.

Rosdijati, Nani. 2004. Contextual Teaching and Learning. Semarang : Lembaga
     Penjamin Mutu Pendidikan Jawa Tengah.

Russefendi & Sanusi, Achmad. 1994. Dasar – Dasar Penelitian Pendidikan dan
     Bidang Non Eksakta lainnya. Semarang : IKIP Semarang Press.

Rusyam, A. Tabrani, et al. 1989. Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar.
     Bandung : Remadja Rosdakarya.

Sarnapi, Aji, Jalu. 2002. Problem Belajar Bahasa Inggris Bagi Anak Usia SD.
     http ://www. Pikiran-rakyat.Com/cetak/0902/14/hikmah/htm – 20k.

Somantri, Nurdin. 2003. Metode Peningkatan Kemampuan Bahasa. http ://www.
    Artikel.us/nsomantri 2.htm – 7 8k.

Sudjana. 1999. Pengantar Statistik. Bandung : Rineka Cipta.

Sudjana Nana, Awal Kusumah. 2000. Proposal Penelitian di Perguruan Tinggi.
     Bandung : PT sinar Baru Algensindo.

Sudjana Nana, Ibrahim. 2001. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung :
     Sinar Baru Algesindo.
Suharman. 1990. Evaluasi Pendidikan Matematika. Bandung : Wijaya Kusumah.

Sumardi, Mulianto. 1974. Pengajaran Bahasa Asing. Jakarta : Bulan Bintang.

Suminarsih. 2004. Contextual Teaching and Learning. Semarang : Lembaga
    Penjamin Mutu Pendidikan Jawa Tengah.

Suryabrata, Sumadi. 1998. Metodologi Penelitian. Jakarta : Raja Grafindo
     Persada.

Tim Pengadaan MKDK IKIP Semarang. 1990. Psikologi Perkembangan.
    Semarang : IKIP Semarang Press.

Widodo, Wahono. 2003. Pengajaran dan Pembelajaran Kontekstual. Semarang :
    Depdiknas.

Wisudo, Bambang. 2003. Maunya Pintar, Bisa – Bisa Malah Mundur. http
    ://www. kompas. com/kompas – cetak/0301/30/pendidikan/105006.htm.

  …… 2002. Lahan Bisnis Subur di Bandung. http ://www.Kompas.com/kompas
  – cetak/0205/02/daerah/laha26.htm.


  …… 2004. Pelajaran Bahasa Inggris Perlu Diperbaiki. http ://www.pikiran –
  rakyat.com/cetak/0504/13/03.09.htm.

								
To top