MODEL KESULITAN BELAJAR by clickmath4u

VIEWS: 11,465 PAGES: 75

									       MODEL KURIKULUM
       BAGI PESERTA DIDIK
YANG MENGALAMI KESULITAN BELAJAR




         PUSAT KURIKULUM
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
  DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
                2007
                                                      ABSTRAK
Tujuan pembangunan nasional yaitu bahwa setiap warga negara berhak mendapat
pendidikan yang layak dan bermutu. Hal tersebut mengalami kendala karena belum
adanya perangkat kurikulum yang dapat mengakomodasi dan melayani kebutuhan spesifik
peserta didik. Sementara peserta didik sendiri memiliki kekhasan baik secara fisik, mental,
sosial, emosional, maupun kecerdasan. Salah satu yang memiliki kekhasan dalam
emosional adalah peserta didik yang mengalami kesulitan belajar. Mereka memiliki
kecerdasan rata-rata atau di atas rata-rata tetapi biasanya mengalami kesenjangan antara
prestasi belajar dengan potensi yang dimilikinya. Sementara sistem pembelajaran di
sekolah belum memungkinkan penyediaan layanan pendidikan yang sesuai untuk peserta
didik berkesulitan belajar.
Pengembangan model kurikulum bagi peserta didik yang mengalami kesulitan belajar ini
diharapkan dapat menjadi salah satu upaya dalam menangani peserta didik berkesulitan
belajar. Model kurikulum ini dapat digunakan sebagai salah satu acuan, pedoman, maupun
rambu-rambu bagi sekolah dalam menyelenggarakan pembelajaran bagi peserta didik
yang berkesulitan belajar. Didalam model ini terdapat informasi mengenai kesulitan
belajar sehingga dapat memberikan gambaran bagi sekolah dalam mengenali karakteristik
peserta didik berkesulitan belajar sehingga mereka mendapatkan pembelajaran dan
layanan yang sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing. Lebih lanjut,
pengembangan model kurikulum bagi peserta didik berkesulitan belajar ini dapat dijadikan
pedoman dalam menyusun kurikulum tingkat satuan pendidikan yang dapat
mengakomodasi peserta didik berkesulitan belajar pada satuan pendidikan dasar.
Ruang lingkup pengembangan model kurikulum ini meliputi model kurikulum bagi
peserta didik yang mengalami kesulitan belajar untuk Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah
(SD/MI), cakupan kesulitan belajar yang dibahas adalah kesulitan belajar membaca
(disleksia), menulis (disgrafia), dan berhitung (diskalkulia). Pengembangan model ini
melibatkan berbagai ahli pendidikan dan para praktisi yang berpengalaman yang berasal
dari perguruan tinggi, tenaga pendidik dan kependidikan, dan pihak lain yang terkait.
Kegiatan pengembangan ini dilaksanakan melalui beberapa tahap, antara lain: Penyusunan
Desain, Kajian Konsep, Kajian Kebutuhan Lapangan, Penyusunan Kerangka Model,
Penyusunan Model, Ujicoba Model, Analisis Hasil Ujicoba, Perbaikan Model, Presentasi
Model, Penyempurnaan Model, dan Finalisasi. Metode yang digunakan antara lain
pengumpulan data, observasi, workshop, diskusi fokus, serta wawancara. Pengembangan
kegiatan kajian kebutuhan lapangan dilakukan di daerah Tangerang sedangkan untuk
ujicoba model dilakukan di daerah Boyolali dan Garut.
Kegiatan ini menghasilkan model kurikulum bagi peserta didik yang mengalami kesulitan
belajar dan Contoh KTSP bagi Peserta didik yang mengalami kesulitan belajar, baik yang
dibuat oleh tim kerja maupun yang berasal dari sekolah yang dijadikan sekolah ujicoba
untuk model kurikulum bagi peserta didik berkesulitan belajar.
Dalam menangani masalah kesulitan belajar, perlu kerjasama antara guru, orang tua, serta
peserta didik. Salah satu faktor yang mempengaruhi lambatnya penanganan kesulitan
belajar dikarenakan kurangnya pengetahuan dan keterampilan guru dalam mengenali
peserta didik yang mengalami kesulitan dalam belajarnya. Untuk itu perlu dilakukan
identifikasi bagi peserta didik yang berguna untuk membantu dalam menangani peserta
didik yang mengalami kesulitan dalam belajar serta untuk menentukan metode
pembelajaran yang tepat untuk peserta didik tersebut. Guru dapat menggunakan Program
Pembelajaran Individual (PPI) sebagai salah satu upaya dalam menangani peserta didik
berkesulitan belajar. Program pembelajaran individual ini dirancang dan dilaksanakan
pada peserta didik secara individual.

13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007             i
                                                         DAFTAR ISI

 Abstrak .......................................................................................................................     i
 Daftar Isi .....................................................................................................................   ii
 Bab I      Pendahuluan ..............................................................................................              1
            A. Latar Belakang .....................................................................................                 1
            B. Landasan Hukum .................................................................................                     1
                C. Tujuan ..................................................................................................         2
                D. Ruang Lingkup .....................................................................................               2

 Bab II         Pengembangan Konsep ...............................................................................                  3
                A. Definisi Kesulitan Belajar ....................................................................                   3
                B. Karakteristik Kesulitan Belajar ............................................................                      4
                C. Klasifikasi ............................................................................................          5
                D. Identifikasi ...........................................................................................         10

 Bab III        Model Kurikulum Bagi Peserta Didik Berkesulitan Belajar .....................                                       12
                A. Pendahuluan/Identitas Sekolah/Lembaga ............................................                               12
                B. Perumusan Visi, Misi, Tujuan .............................................................. 12
                C. Struktur dan Muatan Kurikulum ..........................................................                         12
                D. Kalender Pendidikan ............................................................................                 14
                E. Perencanaan Pembelajaran bagi Peserta Didik Berkesulitan Belajar ...                                             14
                F. Kegiatan Pembelajaran bagi Peserta Didik Berkesulitan Belajar ........                                           15
                G. Penilaian ............................................................................................... 26
                H. Program Pembelajaran Individual (PPI) ..............................................                             29

 Bab IV         Penutup ......................................................................................................      30

 Daftar Pustaka ............................................................................................................        31

 Format 1 - Program Pembelajaran Individual (PPI) ................................................... 32
 Format 2 - Program Pembelajaran Individual (PPI) ................................................... 33
 Contoh Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) untuk Peserta Didik yang
                                                                                                                   34
 Mengalami Kesulitan Belajar .....................................................................................




13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007                                                          ii
                                                     BAB I
                                                 PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
   Tujuan pembangunan nasional mengarah pada upaya peningkatan kesejahteraan dan
   kualitas hidup secara merata di seluruh pelosok tanah air sesuai yang diamanatkan
   UUD 1945. Dengan demikian secara hukum seluruh warga negara dijamin untuk
   memiliki hak yang sama dalam menikmati hasil-hasil pembangunan termasuk hak
   untuk memperoleh pendidikan yang layak dan bermutu.
     Pendidikan yang layak dan bermutu merupakan sesuatu yang sangat penting dalam
     menumbuhkan hidup menjadi utuh dan sempurna. Melalui proses pendidikan itulah
     kepribadian individu dimatangkan dan dikembangkan, sehingga seorang peserta didik
     menjadi manusia yang dewasa, utuh, dan mandiri. Proses pendidikan tersebut sangat
     diperlukan bagi peserta didik, termasuk bagi peserta didik berkesulitan belajar.
     Harapan pemerintah untuk dapat melayani seluruh komponen masyarakat akan
     pendidikan yang layak dan bermutu selama ini belum sepenuhnya bisa terwujud
     dengan adanya berbagai kendala di berbagai aspek. Kendala tersebut terletak pada sisi
     komponen pendidikan itu sendiri sebagai subjek maupun pada kondisi masyarakat
     (peserta didik) sebagai objek.
     Salah satu aspek sisi komponen pendidikan yang menjadi kendala adalah belum
     adanya perangkat kurikulum yang dapat mengakomodasi dan melayani kebutuhan
     spesifik peserta didik. Sementara peserta didik sendiri memiliki kekhasan baik secara
     fisik, mental, sosial, emosional, maupun kecerdasan.
     Peserta didik berkesulitan belajar memerlukan perhatian khusus. Mereka memiliki
     kecerdasan rata-rata atau di atas rata-rata. Di sekolah reguler, peserta didik
     berkesulitan belajar umumnya tidak terdeteksi secara baik oleh guru. Mereka biasanya
     mengalami kesenjangan antara prestasi belajar dengan potensi yang dimilikinya.
     Sistem pembelajaran di sekolah reguler belum memungkinkan penyediaan layanan
     pendidikan yang sesuai untuk peserta didik berkesulitan belajar. Untuk itu diperlukan
     upaya-upaya tertentu agar peserta didik berkesulitan belajar di sekolah-sekolah reguler
     dapat ditangani.
     Salah satu upaya dalam penanganan bagi peserta didik berkesulitan belajar yaitu
     dengan dikembangkannya sebuah model kurikulum khusus bagi mereka yang
     berkesulitan belajar. Model kurikulum ini merupakan rancangan pengalaman
     pembelajaran menyeluruh bagi peserta didik berkesulitan belajar pada satuan
     pendidikan tertentu.

B. Landasan Hukum
   1. Undang-undang Dasar 1945 pasal 31
       • ayat (1) mengamanatkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan
         pendidikan
       • ayat (3) pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem
         pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak
         mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan
         undang-undang.

13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007               1
     2. Undang-undang No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Peserta didik
         • pasal 48
           Pemerintah wajib menyelenggarakan pendidikan dasar minimal 9 (sembilan)
           tahun untuk semua peserta didik.
     3. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
         • pasal 5 ayat (2) :
           Warga Negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual dan
           atau social berhak memperoleh pendidikan khusus.
         • pasal 32 ayat (1) :
           Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki
           tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik,
           emosional, mental, sosial dan atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat
           istimewa.
     4. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 22, 23, 24 tahun 2006 tentang Standar
          Isi, Standar Kompetensi Lulusan, dan Pelaksanaan.

C. Tujuan
     Tujuan Umum:
     Model kurikulum ini dapat dijadikan acuan bagi sekolah dalam menyelenggarakan
     pendidikan, sehingga kebutuhan akan layanan pendidikan bagi setiap peserta didik
     dapat terpenuhi.
     Tujuan Khusus:
     Model kurikulum bagi peserta didik yang berkesulitan belajar disusun dengan tujuan :
     • Memberikan gambaran kepada guru dan pihak lain dalam mengenali karakteristik
        peserta didik berkesulitan belajar.
     • Memberikan rambu-rambu kepada guru dalam menyelenggarakan pembelajaran
        bagi peserta didik berkesulitan belajar.
     • Memberikan arah dalam mengembangkan pembelajaran bagi peserta didik
        berkesulitan belajar.

D. Ruang Lingkup
   Lingkup pengembangan model kurikulum bagi peserta didik berkesulitan belajar
   meliputi:
   1. Model kurikulum bagi peserta didik berkesulitan belajar ini untuk Sekolah
      Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI).
   2. Kesulitan belajar yang dibahas dalam model ini meliputi:
      a. Kesulitan belajar membaca atau disleksia
      b. Kesulitan belajar menulis atau disgrafia
      c. Kesulitan belajar berhitung atau diskalkulia




13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007            2
                                              BAB II
                                       PENGEMBANGAN KONSEP

A. Definisi Kesulitan Belajar
   Secara harfiah kesulitan belajar merupakan terjemahan dari Bahasa Inggris “Learning
   Disability” yang berarti ketidakmampuan belajar. Kata disability diterjemahkan
   ”kesulitan” untuk memberikan kesan optimis bahwa anak sebenarnya masih mampu
   untuk belajar. Istilah lain learning disabilities adalah learning difficulties dan learning
   differences. Ketiga istilah tersebut memiliki nuansa pengertian yang berbeda. Di satu
   pihak, penggunaan istilah learning differences lebih bernada positif, namun di pihak
   lain istilah learning disabilities lebih menggambarkan kondisi faktualnya. Untuk
   menghindari bias dan perbedaan rujukan, maka digunakan istilah Kesulitan Belajar.
   Berikut ini beberapa definisi mengenai kesulitan belajar.
   • Hammill, et al., (1981)
        Kesulitan belajar adalah beragam bentuk kesulitan yang nyata dalam aktivitas
        mendengarkan, bercakap-cakap, membaca, menulis, menalar, dan/atau dalam
        berhitung. Gangguan tersebut berupa gangguan intrinsik yang diduga karena
        adanya disfungsi sistem saraf pusat. Kesulitan belajar bisa terjadi bersamaan
        dengan gangguan lain (misalnya gangguan sensoris, hambatan sosial, dan
        emosional) dan pengaruh lingkungan (misalnya perbedaan budaya atau proses
        pembelajaran yang tidak sesuai). Gangguan-gangguan eksternal tersebut tidak
        menjadi faktor penyebab kondisi kesulitan belajar, walaupun menjadi faktor yang
        memperburuk kondisi kesulitan belajar yang sudah ada.
   • ACCALD (Association Committee for Children and Adult Learning Disabilities)
        dalam Lovitt, (1989)
        Kesulitan belajar khusus adalah suatu kondisi kronis yang diduga bersumber dari
        masalah neurologis, yang mengganggu perkembangan kemampuan
        mengintegrasikan dan kemampuan bahasa verbal atau nonverbal.
        Individu berkesulitan belajar memiliki inteligensi tergolong rata-rata atau di atas
        rata-rata dan memiliki cukup kesempatan untuk belajar. Mereka tidak memiliki
        gangguan sistem sensoris.
   • NJCLD (National Joint Committee of Learning Disabilities) dalam Lerner, (2000)
        Kesulitan belajar adalah istilah umum untuk berbagai jenis kesulitan dalam
        menyimak, berbicara, membaca, menulis, dan berhitung. Kondisi ini bukan
        karena kecacatan fisik atau mental, bukan juga karena pengaruh faktor
        lingkungan, melainkan karena faktor kesulitan dari dalam individu itu sendiri saat
        mempersepsi dan melakukan pemrosesan informasi terhadap objek yang
        diinderainya.
        Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kesulitan belajar
        merupakan beragam gangguan dalam menyimak, berbicara, membaca, menulis,
        dan berhitung karena faktor internal individu itu sendiri, yaitu disfungsi minimal
        otak. Kesulitan belajar bukan disebabkan oleh faktor eksternal berupa lingkungan,
        sosial, budaya, fasilitas belajar, dan lain-lain.




13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007                3
 B. Karakteristik Kesulitan Belajar
    Mencermati definisi dan uraian di atas tampak bahwa kondisi kesulitan belajar
    memiliki beberapa karakteristik utama, yaitu:
    1. Gangguan Internal
        Penyebab kesulitan belajar berasal dari faktor internal, yaitu yang berasal dari
        dalam anak itu sendiri. Anak ini mengalami gangguan pemusatan perhatian,
        sehingga kemampuan perseptualnya terhambat. Kemampuan perseptual yang
        terhambat tersebut meliputi persepsi visual (proses pemahaman terhadap objek
        yang dilihat), persepsi auditoris (proses pemahaman terhadap objek yang
        didengar) maupun persepsi taktil-kinestetis (proses pemahaman terhadap objek
        yang diraba dan digerakkan). Faktor-faktor internal tersebut menjadi penyebab
        kesulitan belajar, bukan faktor eksternal (yang berasal dari luar anak), seperti
        faktor lingkungan keluarga, budaya, fasilitas, dan lain-lain.
    2. Kesenjangan antara Potensi dan Prestasi
        Anak berkesulitan belajar memiliki potensi kecerdasan/inteligensi normal, bahkan
        beberapa diantaranya di atas rata-rata. Namun demikian, pada kenyataannya
        mereka memiliki prestasi akademik yang rendah. Dengan demikian, mereka
        memiliki kesenjangan yang nyata antara potensi dan prestasi yang
        ditampilkannya. Kesenjangan ini biasanya terjadi pada kemampuan belajar
        akademik yang spesifik, yaitu pada kemampuan membaca (disleksia), menulis
        (disgrafia), atau berhitung (diskalkulia).
    3. Tidak Adanya Gangguan Fisik dan/atau Mental
        Anak berkesulitan belajar merupakan anak yang tidak memiliki gangguan fisik
        dan/atau mental.

      Kondisi kesulitan belajar berbeda dengan kondisi masalah belajar berikut ini:
      a. Tunagrahita (Mental Retardation)
          Anak      tunagrahita memiliki inteligensi antara 50-70. Kondisi tersebut
          menghambat prestasi akademik dan adaptasi sosialnya yang bersifat menetap.
      b. Lamban Belajar (Slow Learner)
          Slow learner adalah anak yang memiliki keterbatasan potensi kecerdasan,
          sehingga proses belajarnya menjadi lamban. Tingkat kecerdasan mereka sedikit di
          bawah rata-rata dengan IQ antara 80-90. Kelambanan belajar mereka merata pada
          semua mata pelajaran. Slow learner disebut anak border line (”ambang batas”),
          yaitu berada di antara kategori kecerdasan rata-rata dan kategori mental
          retardation (tunagrahita)
      c. Problem Belajar (Learning Problem)
          Anak dengan problem belajar (bermasalah dalam belajar) adalah anak yang
          mengalami hambatan belajar karena faktor eksternal. Faktor eksternal tersebut
          berupa kondisi lingkungan keluarga, fasilitas belajar di rumah atau di sekolah, dan
          lain sebagainya. Kondisi ini bersifat temporer/sementara dan mempengaruhi
          prestasi belajar.




13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007               4
C. Klasifikasi
   1. Kesulitan Belajar Perkembangan (Praakademik)
      Kesulitan yang bersifat perkembangan meliputi:
      a. Gangguan Perkembangan Motorik (Gerak)
          Gangguan pada kemampuan melakukan gerak dan koordinasi alat gerak.
          Bentuk-bentuk gangguan perkembangan motorik meliputi; motorik kasar
          (gerakan melimpah, gerakan canggung), motorik halus (gerakan jari jemari),
          penghayatan tubuh, pemahaman keruangan dan lateralisasi (arah).
           b. Gangguan Perkembangan Sensorik (Penginderaan)
              Gangguan pada kemampuan menangkap rangsang dari luar melalui alat-alat
              indera. Gangguan tersebut mencakup pada proses:
               • Penglihatan,
               • Pendengaran,
               • Perabaan,
               • Penciuman, dan
               • Pengecap.
           c. Gangguan Perkembangan Perseptual (Pemahaman atau apa yang
              diinderai)
              Gangguan pada kemampuan mengolah dan memahami rangsang dari proses
              penginderaan sehingga menjadi informasi yang bermakna. Bentuk-bentuk
              gangguan tersebut meliputi:
               • Gangguan dalam Persepsi Auditoris, berupa kesulitan memahami objek
                  yang didengarkan.
               • Gangguan dalam Persepsi Visual, berupa kesulitan memahami objek yang
                  dilihat.
               • Gangguan dalam Persepsi Visual Motorik, berupa kesulitan memahami
                  objek yang bergerak atau digerakkan.
               • Gangguan Memori, berupa ingatan jangka panjang dan pendek.
               • Gangguan dalam Pemahaman Konsep.
               • Gangguan Spasial, berupa pemahaman konsep ruang.
           d. Gangguan Perkembangan Perilaku
              Gangguan pada kemampuan menata dan mengendalikan diri yang bersifat
              internal dari dalam diri anak. Gangguan tersebut meliputi:
               • ADD (Attention Deficit Disorder) atau gangguan perhatian
               • ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) atau gangguan perhatian
                   yang disertai hiperaktivitas.
      2. Kesulitan Belajar Akademik
         Kesulitan Belajar akademik terdiri atas:
         a. Disleksia atau Kesulitan Membaca
            Disleksia atau kesulitan membaca adalah kesulitan untuk memaknai simbol,
            huruf, dan angka melalui persepsi visual dan auditoris. Hal ini akan
            berdampak pada kemampuan membaca pemahaman.
            Adapun bentuk-bentuk kesulitan membaca di antaranya berupa:
                Penambahan (Addition)
                Menambahkan huruf pada suku kata
                 Contoh : suruh disuruh; gula gulka; buku bukuku

13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007           5
                    Penghilangan (Omission)
                    Menghilangkan huruf pada suku kata
                     Contoh : kelapa lapa; kompor                             kopor; kelas   kela
                    Pembalikan kiri-kanan (Inversion)
                    Membalikkan bentuk huruf, kata, ataupun angka dengan arah terbalik kiri-
                    kanan.
                     Contoh : buku duku; palu lupa; 3          ε; 4    µ
                    Pembalikan atas-bawah (ReversalI)
                    Membalikkan bentuk huruf, kata, ataupun angka dengan arah terbalik atas-
                    bawah.
                     Contoh : m w; u n; nana uaua; mama wawa; 2 5; 6 9
                    Penggantian (Substitusi)
                    Mengganti huruf atau angka.
                     Contoh : mega meja; nanas                          mamas; 3         8

             b. Disgrafia atau Kesulitan Menulis
                Disgrafia adalah kesulitan yang melibatkan proses menggambar simbol-
                simbol bunyi menjadi simbol huruf atau angka.
                Kesulitan menulis tersebut terjadi pada beberapa tahap aktivitas menulis,
                yaitu:
                     Mengeja, yaitu aktivitas memproduksi urutan huruf yang tepat dalam
                     ucapan atau tulisan dari suku kata/kata. Kemampuan yang dibutuhkan
                     aktivitas mengeja antara lain (1) Decoding atau kemampuan
                     menguraikan kode/simbol visual; (2) Ingatan auditoris dan visual atau
                     ingatan atas objek kode/simbol yang sudah diurai tadi; untuk (3)
                     Divisualisasikan dalam bentuk tulisan.
                        Menulis Permulaan (Menulis cetak dan Menulis sambung) yaitu aktivitas
                        membuat gambar simbol tertulis. Sebagian anak berkesulitan belajar
                        umumnya lebih mudah menuliskan-huruf- cetak yang terpisah-pisah
                        daripada menulis-huruf-sambung. Tampaknya, rentang perhatian yang
                        pendek menyulitkan mereka saat menulis-huruf-sambung. Dalam
                        menulis-huruf-cetak, rentang perhatian yang dibutuhkan mereka relatif
                        pendek, karena mereka menulis ”per huruf”. Sedangkan saat menulis-
                        huruf-sambung rentang perhatian yang dibutuhkan relatif lebih panjang,
                        karena mereka menulis ”per kata”.
                        Kesulitan yang kerap muncul dalam proses menulis permulaan antara
                        lain:
                         1) Ketidakkonsistenan bentuk/ukuran/proporsi huruf
                         2) Ketiadaan jarak tulisan antar-kata
                         3) Ketidakjelasan bentuk huruf
                         4) Ketidakkonsistenan posisi huruf pada garis
                        Dalam disgrafia terdapat bentuk-bentuk kesulitan yang juga terjadi pada
                        kesulitan membaca, seperti:
                         1) penambahan huruf/suku kata
                         2) penghilangan huruf/suku kata
                         3) pembalikan huruf ke kanan-kiri
                         4) pembalikan huruf ke atas-bawah
                         5) penggantian huruf/suku kata

13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007                         6
                        Menulis Lanjutan/Ekspresif/Komposisi merupakan aktivitas menulis
                        yang bertujuan mengungkapkan pikiran atau perasaan dalam bentuk
                        tulisan. Aktivitas ini membutuhkan kemampuan (1) berbahasa ujaran;
                        (2) membaca; (3) mengeja; (4) menulis permulaan.
             c. Diskalkulia atau Kesulitan Berhitung
                Kesulitan berhitung adalah kesulitan dalam menggunakan bahasa simbol
                untuk berpikir, mencatat, dan mengkomunikasikan ide-ide yang berkaitan
                dengan kuantitas atau jumlah. Kemampuan berhitung sendiri terdiri dari
                kemampuan yang bertingkat dari kemampuan dasar sampai kemampuan
                lanjut. Oleh karena itu, kesulitan berhitung dapat dikelompokkan menurut
                tingkatan, yaitu kemampuan dasar berhitung, kemampuan dalam menentukan
                nilai tempat, kemampuan melakukan operasi penjumlahan dengan atau tanpa
                teknik menyimpan dan pengurangan dengan atau tanpa teknik meminjam,
                kemampuan memahami konsep perkalian dan pembagian. Untuk lebih
                jelasnya dapat dilihat pada uraian di bawah.
                     Kemampuan dasar berhitung, terdiri atas:
                       i. Mengelompokkan           (classification),     yaitu     kemampuan
                          mengelompokkan objek sesuai warna, bentuk, maupun ukurannya.
                          Objek yang sejenis dikelompokkan dalam suatu himpunan, misalnya
                          himpunan kursi, himpunan kelereng merah, himpunan bola besar,
                          dan lain-lain.
                          Pada anak yang kesulitan mengklasifikasi, anak tersebut kesulitan
                          menentukan bilangan ganjil dan genap, bilangan cacah, bilangan
                          asli, bilangan pecahan, dan seterusnya.
                      ii. Membandingkan (comparation), yaitu kemampuan membandingkan
                          ukuran atau kuantitas dari dua buah objek. Misalnya:
                               Penggaris A lebih panjang dari penggaris B
                               Bola X lebih kecil dari Bola Y
                               Bangku Merah lebih banyak dari Bangku Biru, dan seterusnya.
                     iii. Mengurutkan (seriation), yaitu kemampuan membandingkan ukuran
                          atau kuantitas lebih dari dua buah objek. Pola pengurutannya sendiri
                          bisa dimulai dari yang paling minimal ke yang paling maksimal atau
                          sebaliknya.
                          Contohnya:
                               Penggaris A paling pendek, Penggaris B agak panjang, dan
                               Penggaris C paling panjang;
                               Bola X paling besar, Bola Y lebih kecil, dan Bola Z paling
                               kecil;
                               Bangku Merah paling banyak, Bangku Biru lebih sedikit, dan
                               Bangku Hijau paling sedikit;
                               5 – 4 – 3 atau 20 – 40 – 70 – 80 – 100; dan seterusnya.
                     iv. Menyimbolkan (simbolization), yaitu kemampuan membuat simbol
                          atas kuantitas yang berupa angka/bilangan (0-1-2-3-4-5-6-7-8-9)
                          atau simbol tanda operasi dari sebuah proses berhitung seperti tanda
                          + (penjumlahan), - (pengurangan), x (perkalian), atau ÷
                          (pembagian), < (kurang dari), > (lebih dari), dan = (sama dengan)
                          dan lain-lain. Penguasaan simbol-simbol tanda ini akan berguna saat
                          anak melakukan operasi hitung.


13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007                7
                         v. Konservasi, yaitu kemampuan memahami, mengingat, dan
                            menggunakan suatu kaidah yang sama dalam proses/operasi hitung
                            yang memiliki kesamaan. Bentuk konkret dari konservasi adalah
                            penggunaan rumus atau kaidah suatu operasi hitung. Dalam sebuah
                            operasi hitung berlangsung proses yang serupa untuk objek
                            kuantitas yang berbeda. Misalnya dengan memahami konsep
                            penjumlahan anak akan tahu bahwa 2+5 adalah 7 dan 4+9 adalah
                            13; karena meskipun jumlah angkanya berbeda tetapi pola
                            hitungannya sama. Anak akan mengalami kesulitan saat
                            menterjemahkan kalimat bahasa menjadi kalimat matematis pada
                            soal cerita.
                        Kemampuan dalam menentukan nilai tempat;
                        Dalam berhitung/matematis, pemahaman akan nilai tempat adalah
                        sesuatu yang penting, karena bilangan ditentukan nilainya oleh urutan
                        atau posisi suatu angka di antara angka lainnya. Dalam matematika,
                        bilangan yang terletak di sebelah kiri nilainya lebih besar dari bilangan
                        di sebelah kanan. Misalnya pada bilangan 15; angka ”1” nilainya adalah
                        1 puluhan sedangkan angka ”5” adalah ”5 satuan”. Konsep nilai puluhan
                        dan satuan melekat pada posisi/tempatnya masing-masing. Begitu juga
                        nilai ratusan, ribuan, puluhribuan, dan seterusnya. Pemahaman mengenai
                        konsep nilai tempat juga penting dalam operasi hitung. Pada operasi
                        penjumlahan konsep ini akan mengarahkan penentuan berapa nilai yang
                        disimpan, sedangkan operasi pengurangan konsep nilai tempat akan
                        mengarahkan penentuan berapa nilai yang dipinjam.
                        Contoh:
                           19           Menjumlah dengan               atau    19       Menjumlah semua
                           23 +         tidak menghiraukan                     23 +     bilangan tanpa melihat
                           32           teknik menyimpan                      312       makna nilai tempat

                            54           Mengurang dengan                     54        Mengurangi semua
                            27 -         tidak menghiraukan                   27 -      bilangan yang lebih
                                         teknik meminjam                                besar dengan bilangan
                            37                                                33        yang lebih kecil


                        Kemampuan melakukan operasi penjumlahan dengan atau tanpa
                        teknik menyimpan; dan pengurangan dengan atau tanpa teknik
                        meminjam.
                        Anak yang tidak menguasai tahapan konservasi akan kesulitan
                        melakukan operasi hitung. Anak yang belum menguasai konsep nilai
                        tempat akan mengalami kesulitan dalam proses operasi hitung
                        penjumlahan dengan menyimpan atau pengurangan dengan meminjam.
                        Berikut ini contoh penerapan konsep nilai tempat pada operasi hitung.

                                         Penjumlahan dengan                      Pengurangan
                                             menyimpan
                                                                               dengan meminjam
                                            +    11
                                                                                -     10     +
                                                63
                                                18 +                            6     75
                                                81                                    27-
                                                                                      48
13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007                                      8
                        Kemampuan memahami konsep perkalian dan pembagian
                        Konsep perkalian merupakan lanjutan dari konsep operasi penjumlahan.
                        Perkalian pada dasarnya adalah penjumlahan yang berulang (sebanyak
                        angka pengalinya). Sedangkan konsep pembagian adalah lanjutan dari
                        konsep operasi pengurangan. Pembagian pada dasarnya adalah
                        pengurangan yang berulang (sebanyak angka pembaginya).
                        Kedua konsep operasi hitung ini akan bisa dikuasai anak hanya bila anak
                        telah menguasai konsep penjumlahan dan pengurangan.
                        Pada anak yang kesulitan mengalikan atau membagi akan cenderung
                        menebak-nebak jawaban atau tidak cermat melakukan proses
                        penghitungan.
                        Contoh:
                         Perkalian dijadikan penjumlahan                      =2 x5=7
                         Perkalian yang tidak cermat                          =2 x5=8
                         Pembagian dijadikan pengurangan                      = 12 : 3 = 9
                         Pembagian yang tidak cermat                          = 12 : 3 = 6
                         Dan seterusnya.


                        Kemampuan Menjumlah dan Megurang Bilangan Bulat
                        Bilangan bulat terdiri dari bilangan positif dan negatif. Penjumlahan
                        bilangan bulat positif dengan bilangan bulat positif lain pada umumnya
                        tidak ditemukan kendala.
                        Misal:      10 + 3 = 13
                                      7 + 13 = 20
                        Pada operasi pengurangan yang nilai pengurangnya lebih kecil, juga
                        tidak ditemukan kendala.
                        Misal:       10 - 3 = 7
                                     17 - 8 = 9


                        Kesulitan-kesulitan yang dihadapi pada operasi penjumlahan dan
                        pengurangan bilangan bulat yaitu:
                         (1) Penjumlahan bilangan bulat positif dengan negatif
                             Contoh: 14 + (-10) = ....
                                      5 + (- 9) = ....
                         (2) Penjumlahan bilangan bulat negatif dengan positif
                             Contoh: - 7 + 9 = ....
                                     - 8 + 3 = ....
                         (3) Penjumlahan bilangan bulat negatif dengan negatif
                             Contoh: -8 + (-7) = ....
                                     -9 + (-12) = ....
                         (4) Pengurangan bilangan bulat positif dengan positif (bilangan
                             pengurangan lebih besar)
                             Contoh: 6 – 10     = ....
                                     8 – 12     = ....

13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007                  9
                         (5) Pengurangan bilangan bulat positif dengan negatif
                             Contoh: 7 – (-10) = ....
                                     9 – (-3) = ....
                         (6) Pengurangan bilangan bulat negatif dengan positif
                             Contoh: - 4 – 8   = ....
                                     -5 – 9    = ....
                         (7) Pengurangan bilangan bulat negatif dengan negatif
                             Contoh: - 3 – (-5) = ....
                                     -7 – (-2) = ....

                    Dari uraian di atas, tampak bahwa kemampuan berhitung merupakan
                    kemampuan yang sifatnya bertingkat. Dimulai dari tingkat yang paling
                    sederhana, yaitu kemampuan dasar (seperti klasifikasi, komparasi, seriasi,
                    serta simbolisasi dan konservasi) sampai kemampuan yang kompleks (yang
                    sifatnya operasional seperti nilai tempat, operasi hitung penjumlahan,
                    pengurangan, perkalian, dan pembagian).
                    Dengan demikian, kesulitan berhitung (diskalkulia) pada anak berkesulitan
                    belajar pun bisa terjadi pada tingkat-tingkat kemampuan tersebut.

D. Identifikasi
   Identifikasi dalam hal ini merupakan proses untuk menemukenali individu agar
   diperoleh informasi tentang jenis-jenis kesulitan belajar yang dialami. Untuk
   mengantisipasi kekeliruan dalam klasifikasi dan agar dapat diberikan layanan
   pendidikan pada anak berkesulitan belajar, diperlukan semacam instrumen untuk
   mengidentifikasi kondisi kesulitan belajar tersebut.
   Instrumen ini berupa tabel inventori atau daftar ceklis. Instrumen ini bisa digunakan
   guru kelas untuk mengidentifikasi kemampuan siswanya. Identifikasi dilakukan
   melalui observasi atau pengamatan. Pada umumnya karakteristik peserta didik dapat
   dikenali setelah 3 bulan pertama setelah mengikuti pembelajaran di kelas.
   Melalui identifikasi akan diperoleh informasi tentang klasifikasi kesulitan belajar
   yang dialami anak. Dari klasifikasi tersebut dapat disusun perencanaan program dan
   tindakan pembelajaran yang sesuai. Identifikasi dilakukan melalui pengamatan
   dengan menggunakan instrumen daftar cek. Berikut ini instrumennya.

                                Identifikasi Awal Anak Berkesulitan Belajar

       No.                                      Perilaku yang teramati                  Ceklis
         1.     Perhatian mudah teralih
         2.     Lambat dalam mengikuti instruksi atau menyelesaikan tugas
         3.     Tidak kenal lelah atau aktivitas berlebihan
         4.     Sering kehilangan barang-barang atau mudah lupa
         5.     Sering menabrak benda saat berjalan
         6.     Cenderung ceroboh
         7.     Kesulitan mengikuti ritme atau ketukan
         8.     Kesulitan bekerjasama dengan teman
         9.     Kesulitan meniru gerakan yang dicontohkan


13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007                 10
       No.                                      Perilaku yang teramati              Ceklis
        10.  Kesulitan melempar dan menangkap bola
        11.  Kesulitan membedakan arah kiri–kanan, atas-bawah, depan–belakang
        12.  Kesulitan dalam mengenal huruf
        13.  Kesulitan untuk membedakan huruf “ b-d, p-q, w-m, n-u “
        14.  Kualitas tulisan sangat buruk (tidak terbaca)
        15.  Kehilangan huruf saat menulis
        16.  Kurang dapat memahami isi bacaan
        17.  Menghilangkan kata saat membaca
        18.  Kosakata terbatas
        19.  Kesulitan untuk mengemukakan pendapat
        20.  Kesulitan untuk mengenali konsep angka dan bilangan
        21.  Kesulitan memahami soal cerita
        22.  Kesulitan membedakan bentuk geometri (lingkaran, persegi, persegi
             panjang, dan segitiga)
       23. Kesulitan membedakan konsep +, -, x dan :
       24. Sulit membilang secara berurutan
       25. Sulit mengoperasikan hitungan
       Perilaku lain yang teramati:




      Bila dari hasil pengamatan, seorang anak menunjukkan lebih dari delapan item
      perilaku dalam daftar ceklis ini, kemungkinan anak tersebut berisiko mengalami
      kesulitan belajar (Sumarlis, 2007). Untuk memperoleh informasi yang lebih akurat
      mengenai kondisi kesulitan belajarnya, anak bisa dirujuk kepada tenaga ahli
      (psikolog, pedagog), sehingga layanan pendidikan yang diberikan kepada anak
      berkesulitan belajar menjadi lebih tepat. Namun, tanpa rujukan tenaga ahli pun, guru
      tetap dapat menyusun program dan melaksanakan pembelajaran bagi peserta didik
      yang mengalami kesulitan belajar.




13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007             11
                                                        BAB III
      MODEL KURIKULUM BAGI PESERTA DIDIK BERKESULITAN BELAJAR



A. Pendahuluan/ Identitas Sekolah/Lembaga
   Berisi mengenai profil sekolah, memuat nama, alamat, dan bila perlu sejarah
   berdirinya sekolah.

B. Perumusan Visi, Misi, Tujuan
   Berisi visi, misi dan tujuan sekolah
      • Visi
         Memuat sasaran yang akan dicapai pada tingkat satuan pendidikan. Visi
         mengarah pada pemberian layanan kebutuhan peserta didik berkesulitan belajar.
      • Misi
         Memuat langkah-langkah untuk mewujudkan visi dengan memberikan layanan
         secara umum dengan memperhatikan peserta didik berkesulitan belajar.
      • Tujuan Satuan Pendidikan
         Tujuan Pendidikan Nasional tertuang dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang
         Sistem Pendidikan Nasional yaitu bahwa “pendidikan nasional bertujuan untuk
         berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
         bertaqwa kepada Tuhan Yang Mahaesa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
         kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
         jawab (Pasal 3)”.
          1. Tujuan Umum
              Disesuaikan dengan tujuan institusional (tujuan tingkat satuan pendidikan)
             2. Tujuan Khusus
                Disesuaikan dengan tujuan masing-masing mata pelajaran dengan
                memperhatikan hambatan yang dialami peserta didik berkesulitan belajar
                yang berfokus pada tujuan pencapaian kompetensi.

C. Struktur dan Muatan Kurikulum, meliputi:
   1. Struktur Kurikulum
      Struktur kurikulum merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus
      ditempuh oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Kedalaman muatan
      kurikulum pada setiap mata pelajaran pada setiap satuan pendidikan dituangkan
      dalam kompetensi yang harus dikuasai peserta didik sesuai dengan beban belajar
      yang tercantum dalam struktur kurikulum. Kompetensi yang dimaksud terdiri atas
      standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan berdasarkan
      standar kompetensi lulusan. Muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri
      merupakan bagian integral dari struktur kurikulum pada jenjang pendidikan dasar
      dan menengah.
      Struktur kurikulum SD/MI disusun berdasarkan standar kompetensi lulusan dan
      standar kompetensi mata pelajaran.


13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007           12
      2. Muatan Kurikulum
          Terdiri dari:
          • Mata Pelajaran
              meliputi Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia,
              Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS),
              Seni Budaya dan Keterampilan, serta Pendidikan Jasmani, Olahraga dan
              Kesehatan yang dikembangkan ke dalam silabus berdasarkan standar
              kompetensi dan kompetensi dasar.
              Untuk kelas I, II, dan III mata pelajaran diajarkan secara terpadu/tematik.
              Sedangkan pada kelas IV, V, dan VI mata pelajaran diajarkan berdiri sendiri.
             •    Muatan Lokal
                  Disesuaikan dengan situasi, kondisi, dan kekhasan daerah masing-masing.
             •    Kegiatan Pengembangan Diri
                  Kegiatan yang dilakukan diluar jam belajar efektif yang disesuaikan dengan
                  situasi dan kondisi sekolah yang bertujuan mengembangkan potensi diri,
                  bakat, dan minat peserta didik agar mampu mengaktualisasikan diri.
             •    Pengaturan Beban Belajar
                  Beban belajar ditentukan berdasarkan pada:
                  a. Alokasi waktu
                  b. Kalender pendidikan

                                       Contoh Format Pengaturan Beban Belajar

                                                                                 Minggu
                                                Satu Jam           Jumlah jam
                                                                                 Efektif      Waktu        Jumlah
                      Satuan                  Pembelajaran        Pembelajaran
                                    Kelas                                         Per      Pembelajaran     Jam
                    Pendidikan                 Tatap Muka          Per Minggu
                                                                                 Tahun      Per Tahun     Pertahun
                                                 (Menit)
                                                                                 Ajaran



                         ...          ...            ...                ...        ...          ...          ...




            •     Ketuntasan Belajar
                  Ketuntasan belajar disepakati oleh pihak sekolah dan komite sekolah pada
                  awal tahun pelajaran dengan mempertimbangkan kompetensi individu.
                  Ketuntasan setiap indikator yang telah ditetapkan dalam suatu kompetensi
                  berkisar antara 0 s/d 100%.
            •     Kenaikan Kelas dan kelulusan
                  Kenaikan kelas berdasarkan ketuntasan belajar dan kompetensi yang dicapai
                  peserta didik.
                  Penentuan peserta didik yang naik kelas dilakukan oleh sekolah dalam suatu
                  rapat dewan guru dengan mempertimbangkan SKB sikap, penilaian, budi
                  pekerti, dan kehadiran peserta didik yang bersangkutan.
                  Standar Minimal Kelulusan Sekolah Dasar dibuat oleh BSNP untuk dijadikan
                  acuan penyusunan naskah soal Ujian Sekolah sesuai dengan ketentuan PP 19

13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007                                 13
                  Tahun 2005 Pasal 72 ayat (1), peserta didik dinyatakan lulus dari satuan
                  pendidikan pada pendidikan dasar setelah:
                  a. Menyelesaikan seluruh program pembelajaran
                  b. Memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh
                      mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia,
                      kelompok kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran
                      estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan.
                  c.    Lulus Ujian Sekolah/Madrasah untuk kelompok mata pelajaran Ilmu
                      Pengetahuan dan Teknologi.
            •     Pendidikan Kecakapan Hidup
                  Pendidikan kecakapan hidup merupakan keterampilan yang diberikan untuk
                  mengembangkan potensi, bakat, dan minat sebagai bekal hidup dimasa
                  depan.
            •     Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal dan Global
                  Sekolah yang memiliki karakteristik dan keunggulan di bidang tertentu dapat
                  mengembangkan pendidikan berbasis keunggulan baik lokal maupun global
                  untuk mengoptimalkan kemampuan yang dimiliki.
                  Misal: Sekolah memiliki keunggulan di bidang Bahasa Inggris maka dapat
                         mengembangkan pembelajaran dwibahasa (bilingual).
 D. Kalender Pendidikan
    Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta
    didik selama satu tahun ajaran yang mencakup permulaan tahun pelajaran, minggu
    efektif belajar, waktu pembelajaran efektif dan hari libur.
 E. Perencanan Pembelajaran bagi Peserta Didik Berkesulitan Belajar
    1. Melakukan Asesmen
        • Asesmen Akademik
           Mengumpulkan informasi tentang kemampuan membaca, menulis, dan
           berhitung.
        • Asesmen Non-akademik
           Mengumpulkan informasi tentang perilaku anak.
    2. Menetapkan Setting Pembelajaran
        • Kelas Reguler
            Peserta didik berkesulitan belajar berada di kelas reguler tanpa dipisah
            dengan peserta didik yang lain. Apabila peserta didik berkesulitan belajar
            yang berada di kelas reguler mendapat layanan sesuai dengan kebutuhannya
            maka disebut kelas Inklusif. Layanan yang diberikan dapat menggunakan
            setting individual seperti yang dijelaskan di bawah (bagian c). Sedangkan
            bila peserta didik berkesulitan belajar tidak mendapat layanan maka disebut
            kelas integrasi.
        • Kelompok
            Beberapa peserta didik berkesulitan belajar digabung dalam satu ruang
            khusus dan diberikan layanan pembelajaran tersendiri.
             •    Individual
                  Setting pembelajaran ini dirancang dan dilaksanakan pada peserta didik
                  secara individual. Dalam pelaksanaannya, guru melayani peserta didik
                  berkesulitan belajar secara terpisah atau dapat melayani peserta didik
                  berkesulitan belajar bersama peserta didik yang lain di dalam kelas (klasikal).

13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007                   14
            Setting pembelajaran di atas dapat dilakukan di sekolah model inklusif ataupun
            sekolah reguler pada umumnya.
      3. Mempertimbangkan Pendekatan Pembelajaran
          Perencanaan pembelajaran untuk peserta didik berkesulitan belajar perlu
          mempertimbangkan beberapa pendekatan. Masing-masing pendekatan
          pembelajaran memiliki asumsi yang berbeda-beda. Berikut ini beberapa
          pendekatan pembelajaran.
            a. Pendekatan Perkembangan:
               • Kemampuan peserta didik berkembang sesuai dengan usia.
               • Kemampuan atau hambatan dipengaruhi oleh tahap perkembangan
                 sebelumnya.
            b. Pendekatan Perilaku:
               • Kemampuan atau hambatan peserta didik muncul dalam bentuk perilaku
               • Kemampuan atau hambatan yang muncul merupakan masalah saat ini
            c. Pendekatan Kognitif:
               • Peserta didik harus mempelajari makna belajar
               • Belajar merupakan proses penataan pikiran
               • Pemahaman merupakan tujuan dari proses dan hasil belajar
            d. Pendekatan Humanistik
               Pendekatan humanistik merupakan pandangan yang berusaha memahami
               manusia sebagai makhluk yang bermartabat. Beberapa hal yang patut menjadi
               perhatian dalam pendekatan humanistik adalah:
                • Kebutuhan individu
                • Potensi diri
                • Pengembangan harga diri
            Setiap peserta didik memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Ragam kebutuhan
            ini perlu diperhatikan, agar potensi peserta didik dapat berkembang secara
            optimal. Menurut Maslow, kebutuhan dasar meliputi kebutuhan fisik, rasa aman,
            harga diri, kebutuhan akan cinta kasih, dan kebutuhan akan aktualisasi diri.
            Karena keunikannya, seorang peserta didik memiliki kebutuhan yang berbeda
            dengan peserta didik lain dan kondisi ini perlu diidentifikasi.
            Selain memperhatikan kebutuhan individual, potensi setiap peserta didik perlu
            digali. Dengan memahami kelebihan dan kekurangan setiap peserta didik,
            pengarahan diri peserta didik dapat dikembangkan. Dalam hal ini, aspek-aspek
            positif dari peserta didik lebih ditekankan, sehingga harga dirinya dapat
            ditngkatkan. Dengan harga diri yang tinggi, diharapkan peserta didik lebih
            memiliki kesediaan belajar dan mengembangkan diri.
            Tujuan dari pendekatan humanistik pada dasarnya untuk mengembangkan
            potensi dan aktualisasi seluruh kemampuan peserta didik. Dalam pembelajaran,
            perlu dikembangkan sikap empatik agar proses pembelajaran dapat berlangsung
            secara optimal. Dengan demikian, peserta didik dapat belajar dengan rasa aman,
            nyaman, dalam situasi pembelajaran yang menyenangkan.
      4. Menyiapkan Rancangan Pembelajaran Individual
          Tahapan-tahapan dalam pembelajaran sesuai dengan setting pembelajaran (setting
          inklusif/kelompok dan setting individual).



13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007             15
F. Kegiatan Pembelajaran bagi Peserta Didik Berkesulitan Belajar
   1. Pembelajaran Membaca
       Membaca Permulaan merupakan proses penerjemahan simbol bunyi menjadi
       bunyi yang bermakna. Sedangkan Membaca Pemahaman merupakan proses
       menemukan makna/pesan/informasi dari bacaan.
       Beberapa tahapan membaca antara lain:
        • Pra-Membaca memerlukan proses pengenalan konsep arah (atas-bawah;
          depan-belakang; kanan-kiri), bentuk simbol huruf, dan konsep urutan.
        • Membaca Permulaan memerlukan proses pengenalan huruf, suku kata, tanda
          baca, kata, dan kalimat. Ketepatan artikulasi dan Intonasi juga dikembangkan
          pada tahap membaca permulaan ini.
        • Membaca Pemahaman memerlukan proses pemahaman makna kata,
          kelompok kata dan kalimat.
       Pembelajaran membaca dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan-
       pendekatan sebagai berikut:
       a. Pendekatan Perkembangan
          Menilik proses tahapan belajar membaca di atas, pendekatan teori per-
          kembangan memandang bahwa membaca merupakan bentuk kemampuan
          yang dipengaruhi oleh faktor kemampuan pra-membaca.
          Oleh karena itu, penanganan kesulitan membaca lebih diarahkan pada
          penguatan kemampuan pra-membacanya. Latihan-latihan persepsi visual amat
          dipentingkan di sini, misalnya:
           • Latihan konsep lateral yang mengembangkan konsep arah (atas-bawah,
              depan-belakang, tengah-tepi, kiri-kanan)
           • Aktivitas pengenalan simbol/bentuk bermakna (tanda panah, gambar
              simbol umum, huruf, angka)
           • Aktivitas mengurutkan benda (sesuai warna, bentuk, pola, dan seterusnya)
           • Aktivitas mengaitkan antara bentuk pola huruf dan bunyinya
           • Rekomendasi : Metode Selusur untuk aktivitas membaca permulaan dan
              Metode Pengalaman Berbahasa untuk aktivitas membaca pemahaman.

                       a)   Metode Selusur (V-A-K-T)
                            Pra-Membaca dan Membaca Permulaan dengan Pendekatan Perkembangan
                            • Prinsip:     Mendayagunakan sebanyak-banyaknya kemampuan sensoris atau penginderaan.
                                           1. Visual        : penglihatan
                                           2. Auditori      : pendengaran
                                           3. Taktil        : perabaan
                                           4. Kinestetik    : kesadaran pola gerak
                            •   Langkah-langkah:
                                1. Perlihatkan sebuah huruf berukuran besar
                                2. Guru menyebutkan nama huruf & anak mengulanginya
                                3. Guru mencontohkan cara menelusuri pola huruf itu dengan jari tangan
                                4. Anak menelusuri pola huruf itu dengan jari tangan sendiri.
                                5. Saat menelusuri pola huruf, anak membunyikan nama hurufnya.
                                6. Ulangi kegiatan tersebut dua atau tiga kali.
                                7. Berikan anak selembar kertas berisi pola titik-titik huruf tersebut.
                                8. Anak merangkaikan titik-titik pola huruf tersebut.
                                9. Saat merangkaikan titik-titik pola huruf, anak membunyikan nama hurufnya.
                                10. Anak “menuliskan” pola huruf di udara, sambil membunyikan nama hurufnya.
                                11. Tugaskan anak menulis huruf tersebut di kertas polos, sambil membunyikan nama
                                    hurufnya.
                                                                       (Fernald,1988 & Gillingham, 1976 dalam Lerner, 2000)




13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007                                                   16
                     b)     Metode Pengalaman Berbahasa
                            Metode Membaca Permulaan dengan Pendekatan Perkembangan
                            • Prinsip
                               1. Mengintegrasikan sekaligus 4 aspek berbahasa (menyimak, berbicara, membaca,
                                  dan menulis)
                               2. Bahasa harus dapat menyampaikan pesan/informasi
                               3. Pesan/informasi berasal dari anak sendiri
                               4. Guru memfasilitasi anak agar mendayagunakan kemampuan berbahasanya untuk
                                  menyampaikan dan menerima informasi
                            • Langkah-langkah
                               1. Anak ditugaskan menceritakan pengalaman atau pikirannya
                               2. Guru menuliskan pengalaman atau pikiran anak tersebut di papan tulis
                               3. Cerita di papan tulis ini menjadi materi bacaan
                               4. Anak disuruh membaca bacaan itu
                               5. Anak lain memberi komnetar, pendapat dan saran terhadap cerita tersebut
                               6. Anak menyalin cerita tersebut
                               7. Secara bertahap, pada kegiatan-kegiatan selanjutnya, anak dilatih untuk
                                  menuliskan sendiri ceritanya
                                                                              (Kirk & Minskoff, dalam Lerner 2000)



           b. Pendekatan Perilaku
              Menilik proses tahapan belajar membaca di atas, pendekatan teori perilaku
              memandang bahwa membaca merupakan bentuk kemampuan yang
              kemampuan dan hambatannya tampak pada saat proses membacanya sendiri.
              Ketidaklancaran membaca merupakan salah satu bentuk hambatan yang sering
              tampak.

                Model layanan pembelajaran yang ditawarkan oleh pendekatan pembelajaran
                ini berupa kegiatan remediasi, seperti:
                 • Pembiasaan membaca huruf, suku kata, kata dan kalimat yang secara
                    bertahap taraf kesulitannya kian ditingkatkan
                 • Pengenalan huruf, suku kata, kata dan kalimat, terutama pada bagian di
                    mana anak kerap menunjukkan kesulitan.
                 • Rekomendasi : Metode Bunyi untuk aktivitas membaca permulaan dan
                    Metode Linguistik untuk aktivitas membaca pemahaman

                       a)     Metode Bunyi/Fonik
                              Metode Membaca Permulaan dengan Pendekatan Perilaku
                              • Prinsip
                                 1. Menamai huruf sesuai dengan “bunyi”-nya.
                                     Misalnya:     Huruf “k” dibunyikan /ek/ atau /ke/.
                                                        “g” dibunyikan /eg/ atau /ge/.
                                 2. Contoh Pelafalan
                                         Kata kaki          : ek - a - ek - i,
                                         bukan              : ka - a - ka – i
                              •   Langkah-langkah
                                  1. Anak diperintahkan menggunakan bunyi huruf saat mengeja
                                  2. Anak memanjangkan bunyi huruf tersebut saat akan menyambungkan dengan
                                      bunyi huruf lain.
                                  3. Pengajaran dimulai dengan susunan huruf KV-KV lalu dilanjutkan dengan pola
                                      huruf lain yang lebih rumit
                                  4. Anak dikenalkan dengan bunyi konsonan rangkap sebagai satu kesatuan bunyi.
                                      Misalnya konsonan /ng/ dan /ny/
                                  5. Selain itu anak juga dikenalkan dengan bunyi diftong (vokal rangkap sebagai
                                      sebagai satu kesatuan bunyi. Misalnya diftong /ai/, /au/, dan /oi/
                                                                              (Kirk & Minskoff, dalam Lerner 2000)


13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007                                          17
                     b)    Metode Linguistik
                           Metode Membaca Permulaan/Lanjut dengan Pendekatan Perilaku
                           • Prinsip
                              1. Anak dapat menyimpulkan sendiri pola hubungan antara simbol huruf dan
                                  bunyi dari simbol huruf tersebut.
                              2. Mengajarkan kata secara utuh
                              3. Penekanan pada kemiripan bunyi
                              4. Tidak memperhatikan makna kalimat
                           •   Langkah-langkah
                               1. Berikan anak beberapa kata yang bermiripan
                                    Misal : Anjing dan kucing
                                               Anjing dan kucing suka daging
                                               Anjing dan kucing berguling
                               2. Tugaskan anak untuk membaca nyaring rangkaian kalimat tersebut
                               3. Ulangi sampai anak sadar kemiripian bunyi
                               4. Biarkan anak mengulang kata/kalimat meski belum paham maknanya
                                                                                         (Barnhart dalam Lerner, 2000)



             c. Pendekatan Kognitif
                Menilik proses tahapan belajar membaca di atas, pendekatan teori kognitif
                memandang bahwa membaca merupakan suatu pemrosesan terhadap
                informasi yang berupa pola-pola. Baik itu pola penggabungan huruf menjadi
                suku kata, suku kata menjadi kata maunpun gabungan kata menjadi kalimat.
                Pola-polanya sendiri bisa diajarkan secara langsung maupun secara tak
                langsung, atau anak akan menemukan sendiri polanya.
                Model layanan pembelajaran yang ditawarkan oleh pendekatan pembelajaran
                ini berupa kegiatan penemuan pola-pola seperti:
                • Menemukan pola gabungan huruf vokal-konsonan menjadi suku kata
                    tertentu
                • Menggunakan pola kata tertentu dalam kalimat (D-M dan M-D; frasa,
                    kata majemuk, kata ulang, dll.)
                • Memahami pola kalimat sesuai jabatan katanya.
                • Melakukan proses membaca pemahaman secara bertahap, sehingga
                    pengalaman membaca menjadi sesatu yang bermakna
                • Rekomendasi : Metode Pengalaman Berbahasa untuk aktivitas
                    membaca permulaan dan Metode SAS, Metode KWL, Metode
                    Mindmap untuk aktivitas membaca pemahaman

                          a)   Metode Pengalaman Berbahasa
                               Metode Membaca Permulaan dengan Pendekatan Perkembangan
                               • Prinsip
                                  1.   Mengintegrasikan sekaligus 4 aspek berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan
                                       menulis)
                                  2.   Bahasa harus dapat menyampaikan pesan/informasi
                                  3.   Pesan/informasi berasal dari anak sendiri
                                  4.   Guru memfasilitasi anak agar mendayagunakan kemampuan berbahasanya untuk
                                       menyampaikan dan menerima informasi
                               •   Langkah-langkah
                                   1.  Anak ditugaskan menceritakan pengalaman atau pikirannya
                                   2.  Guru menuliskan pengalaman atau pikiran anak tersebut di papan tulis
                                   3.  Cerita di papan tulis ini menjadi materi bacaan
                                   4.  Anak disuruh membaca bacaan itu
                                   5.  Anak lain memberi komnetar, pendapat dan saran terhadap cerita tersebut
                                   6.  Anak menyalin cerita tersebut
                                   7.  Secara bertahap, pada kegiatan-kegiatan selanjutnya, anak dilatih untuk menuliskan
                                       sendiri ceritanya
                                                                                                                      (Bloom)


13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007                                                     18
                       b)   Metode S-A-S [Sintesis-Analisis-Struktur]
                            Metode Membaca Permulaan dengan Pendekatan Kognitif
                            • Prinsip
                                1. Guru memfasilitasi anak agar mendaya-gunakan kemampuan
                                    berbahasaMenggunakan 2 proses berpikir, yaitu sintesis dan analisis
                                2. Sintesis : proses berpikir memadukan
                                3. Analisis : proses berpikir mengurai
                                4. Anak dibiasakan memproses teks secara utuh
                                5. Kata/kalimat diurai menjadi suku kata, huruf, lalu dikembalikan menjadi kata &
                                    kalimat kembali
                            • Langkah-langkah
                                1. Berikan anak sebuah kata
                                2. Anak mengeja kata itu menjadi sukukata
                                3. Anak mengurai kata itu menjadi huruf-huruf
                                4. Ulangi, sampai anak menyadari hubungan antara bunyi dan sukukata/huruf
                                5. Dengan mengeja, anak merangkai kembali huruf tersebut menjadi sukukata/kata
                                6. Anak membaca utuh kata tersebut
                      Catatan: Proses yang sama bisa diterapkan ke dalam kalimat.




 c)   Metode K-W-L [Known-Want-Learned]
      Metode Membaca Pemahaman dengan Pendekatan Kognitif
       • Prinsip
          1. Membiasakan anak membaca secara terstruktur
          2. Proses membaca dibagi dalam 3 tahap, yaitu: menggali pengetahuan sebelum membaca,
              tujuan saat membaca, dan memperoleh manfaat setelah membaca.
          3. Sistem tabulasi akan memudahkan proses kegiatan dengan metode ini.
       • Langkah-langkah
          1. Tanyai anak mengenai apa yang sudah diketahui tentang teks bacaan
          2. Ajak anak memahami apa yang ingin diketahuinya dari teks bacaan
          3. Tanyai anak mengenai apa yang diperolehnya dari teks bacaan
          4. Gunakan tabel KWL

                        K                                      W                               L
                (Sebelum membaca)                       (Saat membaca)                 Setelah membaca
                  What we KNOW                    What we WANT to find out         What we have LEARNED
                                                   Apa yang INGIN kita
         Apa yang sudah kita KETAHUI                                           Apa yang telah kita PELAJARI
                                                          temukan
             (Mengenai isi bacaan)                                                   (Dari isi bacaan)
                                                      (Dari isi bacaan)


                                         Tabel KWL untuk Siswa
             Nama         : ____________                          Kelas/Sem : _______
             Judul Bacaan : ___________________________________________________________
                                K                                   W                             L


                ......................               .....................         ....................
                ......................               .....................         ....................
                ......................               .....................         ....................
                       .........                           .........                     .........

                                                                                    (Ogle dalam Lerner, 2000)




13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007                                         19
           d)    Metode MINDMAPPING [Pemetaan Pikiran]
                  Metode Membaca Pemahaman dengan Pendekatan Kognitif
                  • Prinsip
                      1. Diasumsikan selaras dengan proses berpikir manusia
                      2. Menuliskan kerangka berpikir dalam bentuk gambar (visual)
                      3. Pokok Pikiran diletakkan di tengah gambar
                      4. Semakin jauh letaknya dari cabang semakin rinci uraiannya
                      5. Bisa digunakan ketika membaca pemahaman maupun merancang tulisan
                   •   Langkah-langkah
                       1.  Contoh berikut digunakan untuk membimbing dalam merangkumbacaan
                       2.  Anak disuruh membuat bulatan di tengah-tengah kertas
                       3.  Anak menuliskan pokok pikiran dari yang dibaca di dalam bulatan tersebut
                       4.  Anak disuruh membuat garis untuk cabang-cabang di sekitar bulatan tersebut (Misalnya
                           empat buah cabang)
                       5.  Pada masing-masing garis dituliskan
                           -    Topik 1         : _______________________________
                           -    Topik 2         : _______________________________
                           -    Topik 3         : _______________________________
                           -    Topik 4         : _______________________________
                       6.  Bila sudah selesai membuat mind-map-nya, anak dapat dilanjutkan dengan menuliskan
                           ringkasan bacaan dengan panduan kerangka tersebut
                       7.  Bimbinglah anak untuk selalu mengacu pada kerangka mind-map yang dibuat.

                                                                                                    (Hernowo, 2004, McGregor, 2004)


             Contoh-contoh Mindmap (Kosong)
                                                          
                                                             Topik 1                  Topik 2




                                                                              TOPIK
                                                                              UTAMA


                                                              Topik 3                  Topik 4




             Contoh-contoh Mindmap (Sudah Berisi)
                                Bertelur                         Berkembang biak
                                Unggas                                                                        Penyerbukan
                                 Reptil                                                                         Tumbuhan
                                                                                                                Berbunga
                                Beranak                                                         Generatif
                                             Generatif
                                                                        Ciri Utama
                                Mamalia


                                Bertelur                                MAKHLUK
                                Beranak                                                   Tumbuhan
                                                Hewan                                                             Alami
                               Bbrp Reptil
                                                                         HIDUP                                 Spora Tunas
                                                                                                                 Rimpang


                                                                         Manusia                  Vegetatif
                                Membelah
                                             Vegetatif
                                  diri                                                                           Buatan
                                                                         Generatif
                                  Amuba                                                                         Cangkok
                                                                                                              Okulasi Enten
                                                                         Beranak
                                                                          Mamalia




13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007                                                           20
       2. Pengembangan Kemampuan Menulis
          Menulis Permulaan merupakan aktivitas menerjemahkan simbol bunyi menjadi
          simbol visual (huruf). Sedangkan Menulis Komposisi adalah penuangan ide,
          pikiran, dan perasaan secara tertulis.
          Beberapa tahapan menulis antara lain:
            • Pra-Menulis meliputi kemampuan motorik halus, ketepatan posisi tubuh dan
               tangan saat menulis, ketepatan pengaturan pensil-kertas, pengenalan pola-
               bentuk huruf. Perkembangan pra-menulis ini juga dipengaruhi oleh
               kemampuan persepsi visual dan auditoris.
            • Menulis-Permulaan meliputi pengenalan bentuk huruf, gerakan membuat
               pola bentuk huruf, dan aktivitas mengaitkan simbol bunyi dengan simbol
               visual-huruf.
            • Menulis-Komposisi (Mengarang) meliputi aktivitas menuangkan ide,
               pikiran dan perasaan secara tertulis, sehingga dapat dipahami oleh orang
               yang sebahasa (Hallahan, Kauffman, & Lloyd, 1985). Aktivitas ini meliputi
               pemahaman dan penerapan akan penataan dan pengembangan pokok pikiran
               dalam bentuk karangan.
            Pendekatan kemampuan menulis dapat dilakukan dengan menggunakan
            pendekatan-pendekatan berikut ini:
             a. Pendekatan Perkembangan
                Pendekatan teori perkembangan memandang bahwa kemampuan menulis
                dipengaruhi oleh kemampuan pra-menulis. Oleh karena itu, penanganan
                kesulitan menulis lebih diarahkan pada penguatan kemampuan pra-
                menulisnya. Beberapa latihan untuk mengembangkan kemampuan membaca
                dapat pula digunakan untuk mengembangkan kemampuan menulis, misalnya:
                • Latihan konsep lateral yang mengembangkan konsep arah (atas-bawah,
                    depan-belakang, tengah-tepi, kiri-kanan.
                • Aktivitas membuat pola simbol/bentuk/pola garis lurus, garis lengkung,
                    atau pola geometris, dan pada akhirnya pola huruf dan angka. Proses
                    membuat garis bisa dilakukan dengan menyambungkan titik-titik,
                    menyambungkan 2 buah titik menelusuri lorong, dst.
                • Latihan mewarnai gambar tanpa melewati garis batas juga baik untuk
                    melatih koordinasi visual-motorik
                • Rekomendasi         : Metode Fernald/Multisensori untuk menulis
                    permulaan dan Latihan-latihan Gravomotor dan Occupational Therapy
                        a)   Metode FERNALD/MULTISENSORI
                             Metode Menulis Permulaan dengan Pendekatan Perkembangan
                             • Prinsip
                                1.   Metode nama lain dari metode multisensori
                                2.   Bisa diterapkan pada huruf maupun kata
                             •   Langkah-langkah
                                 1.  Anak memilih kata yang akan dipelajari
                                 2.  Guru menuliskan kata dimaksud di kertas/papan tulis
                                 3.  Guru membacakan kata dengan lafal yang tepat, anak-anak mengikutinya
                                 4.  Anak menelusuri huruf-huruf, melafalkan kata itu bebrapa kali, lalu menuliskannya di
                                     kertas dengan menyalin dari tulisan gurunya sambil tetap melafalkan bunyi katanya.
                                 5.  Kemudian anak disuruh menuliskan kata tersebut tanpa melihat kambali contoh tulisan
                                     guru.
                                 6.  Kalau pada tahap ini anak melakukannya dengan benar, maka ulangi kembali langkah-
                                     langkahnya dari langkah ke-4.
                                 7.  Bila anak sudah benar-benar menguasainya, simpanlah kata tersebut di tempat
                                     khusus,sehingga nanti bisa digunakan untuk bahan mengingat dan bahan bercerita.
                                                                                      (Fernald, 1984 dalam Lerner, 2000)


13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007                                                 21
             b. Pendekatan Perilaku
                Pendekatan teori perilaku memandang bahwa menulis merupakan bentuk
                keterampilan yang perlu terus dilatih untuk semakin mengasah dan mening-
                katkan taraf kemahirannya. Kesulitan dan hambatan dalam menulis mencer-
                minkan kurang terampilnya anak melakukan aktivitas menulis. Oleh karena
                itu, model pembelajaran yang ditawarkan pendekatan ini berupa aktivitas
                yang diharapkan mengembangkan kemampuan koordinasi motorik (mata-
                tangan), kemahiran mengasosiasikan bunyi dan bentuk hurufnya, dan
                meningkatkan daya ingatnya. Bentuk latihan-latihannya antara lain:
                • Latihan menulis dengan huruf tegak bersambung dan huruf tak
                    bersambung
                • Aktivitas menjiplak, menyalin dan membuat bentuk huruf, kata atau
                    kalimat
                • Latihan dikte, baik itu dikte suku kata, kata maupun dikte kalimat
                • Latihan menemukan huruf/kata tertentu dalam teks lalu menuliskannya
                • Rekomendasi : Metode Dikte untuk aktivitas menulis, baik pada tahap
                    menulis permulaan maupun menulis lanjut dan Mengarang dengan
                    panduan gambar

                     a)   METODE DIKTE
                          Metode Menulis Permulaan/Lanjut dengan Pendekatan Perilaku
                          • Prinsip
                             1. Mendayagunakan kemampuan sensoris: Visual, Auditori, Taktil, dan
                                 Kinestetik
                             2. Membiasakan anak mengasosiasikan bunyi (auditoris) dengan bentuk (visual)
                                 huruf.
                             3. Membiasakan anak menuliskan (kinestetik) atas bunyi (auditoris) dalam
                                 bentuk gambar huruf (visual)
                             4. Melatih proses menulis secara praktis
                           •   Langkah-langkah
                               1. Anak menyimak huruf/kata yang dilafalkan guru
                               2. Ulangi pelafalan bila perlu
                               3. Anak menulis sambil melafalkan huruf/kata
                               4. Guru menulis contoh huruf/kata di papan tulis
                               5. Anak menyalin contoh dari gurunya di bawah ulisannya sendiri.
                               6. Ulangi langkah-langkah tersebut 2 – 3 kali.
                               7. Koreksi secara bersama-sama

                                                            (Fernald, 1988 & Gillingham, 1976 dalam Lerner, 2000)

                     b)   Latihan Mengarang dengan Panduan Gambar
                          Metode Menulis Lanjut dengan Pendekatan Perilaku
                          • Prinsip
                             1. Mendayagunakan kemampuan sensoris: visual, auditori, taktil, dan kinestetik
                             2. Membiasakan anak memaknai gambar dengan kata-kata/kalimat
                             3. Melatih proses menulis secara praktis
                          •    Langkah-langkah
                               1. Berikan gambar tunggal, misalnya anak yang sedang menyapu
                               2. Di samping kanan gambar tersedia tullisan
                                                    a.    Siapa?            _____________
                                                    b.    Sedang apa?       _____________
                                                    c.    Di mana?                   _____________
                                                    d. Kalimat               _____________
                               3.   Anak ditugaskan mengisi jawaban pertanyaan tersebut
                               4.   Terakhir, anak disuruh merangkaikan jawaban pertanyaan tersebut dalam bentuk
                                    kalimat
                               5.   Pola kalimat bisa diubah sesuai dengan kebutuhan. Begitu juga gambarnya.


13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007                                         22
             c. Pendekatan Kognitif
                Pendekatan teori kognitif memandang bahwa menulis merupakan bentuk
                kemampuan terpola dan terencana dalam aktivitas mengaitkan, menuangkan,
                dan mengembangkan apa yang dipikirkan atau dirasakan dalam bentuk
                tulisan.
                • Latihan menemukan kaitan antara bunyi, simbol, dan makna.
                • Membuat gambar tentang apa yang dipikirkan atau dirasakan dalam
                    bentuk skema atau grafik
                • Melakukan proses menulis yang terencana, sehingga dapat menampung
                    pikiran dan perasaan yang ingin dituangkannya serta hasilnya dapat
                    dipahami oleh orang lain
                • Rekomendasi : Metode Mind Mapping, bisa digunakan untuk aktivitas
                    menulis permulaan maupun menulis komposisi dan Metode 5W+1H

                               a) Metode MINDMAPPING untuk Menulis
                                  Metode Menulis Lanjut/Komposisi dengan Pendekatan Kognitif
                                  • Prinsip
                                    1. Diasumsikan selaras dengan proses berpikir manusia
                                    2. Menuliskan kerangka berpikir dalam bentuk gambar
                                        (visual)
                                    3. Pikiran utama diletakkan di tengah gambar
                                    4. Semakin jauh letaknya dari cabang semakin rinci
                                        uraiannya
                                    5. Bisa digunakan ketika membaca maupun merancang
                                        sebuah tulisan
                                  • Langkah-langkah
                                    1. Contoh berikut digunakan ketika membimbing anak
                                        membuat karangan narasi
                                    2.  Anak disuruh membuat bulatan di tengah-tengah kertas
                                    3.  Anak menuliskan pokok pikiran di dalam bulatan tersebut
                                    4.  Anak disuruh membuat garis untuk cabang-cabang di
                                        sekitar bulatan tersebut (Misalnya empat buah cabang)
                                    5.  Pada masing-masing garis dituliskan
                                        - nama tokoh                 :
                                          _______________________________
                                        - tempat/waktu       :
                                          _______________________________
                                        - masalah/konflik :
                                          _______________________________
                                        - akhir cerita               :
                                          _______________________________
                                    6. Bila sudah selesai membuat mind-map, anak dapat
                                       dilanjutkan dengan menuliskan ceritanya dengan panduan
                                       kerangka tersebut
                                    7. Bimbingan anak untuk selalu mengacu pada kerangka mind-
                                       map yang dibuat.
                                                                              (Hernowo, 2004, McGregor, 2004)




13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007                                     23
                             b) Metode 5-W + 1H [Pemrosesan Informasi]
                                Metode Menulis Lanjut/Komposisi dengan Pendekatan Kognitif
                                • Prinsip
                                  1. Biasa digunakan sebelum mengarang
                                  2. Membimbing kerangka pikir yang teratur
                                  3. Kerangka berpikir berupa pertanyaan
                                  4. Jawaban dari pertanyaan merupakan kerangka karangan
                                      yang rinci
                                  5. Secara sepintas mirip dengan latihan mengarang dengan
                                      panduan gambar
                                • Panduan
                                  5W         What         : Apa? (Peristiwa)
                                             Who : Siapa (Pelaku)
                                             When         : Kapan? (Waktu)
                                             Where        : Di Mana? (Tempat)
                                             Why : Mengapa (Alasan/Tujuan)

                                       1H            How : Bagaimana? (Proses)
                                   • LANGKAH-LANGKAH
                                     1. Tentukan topik utama yang akan ditulis
                                     2. Ajukan 5 pertanyaan (apa, siapa, kapan, dimana, mengapa,
                                        dan bilangan) terhadap topik utama tersebut
                                     3. Jawablah 6 pertanyaan terhadap topik utama tersebut,
                                        paling tidak dalam bentuk 1 kalimat.
                                     4. Berarti ada 6 kalimat yang sudah kita buat
                                     5. Bila sudah terlatih, kembangkan 6 kalimat tersebut menjadi
                                        sub-subtopik
                                     6. Berarti ada 6 sub-topik yang sudah kita buat
                                     7. Kembangkan masing-masing topik itu dalam bentuk satu
                                        paragraf
                                     8. Proses mengarang dengan pola ini harus benar-benar
                                        terbimbing dan bertahap
                                                                                  (Hernowo, 2003)



       3. Pengembangan Kemampuan Berhitung
          Berhitung merupakan salah satu bagian dari kemampuan matematis. Berhitung
          adalah kegiatan memaknai dan memanipulasi bilangan dalam aktivitas
          menjumlah, mengurang, mengali dan membagi (Naga, dalam Abdurahman,
          1994).
          Sesuai taraf kesulitannya, secara sederhana, keterampilan berhitung bisa dipilah
          dalam beberapa tingkatan, yaitu:
          a. Pra-Berhitung meliputi beragam kemampuan prasyarat matematis, yaitu ke-
              mampuan melakukan mengelompokkan, membandingkan, mengurutkan,
              menyimbolkan, dan konservasi.
          b. Berhitung Sederhana meliputi aktivitas berhitung yang melibatkan kemam-
              puan operasi hitung sederhana (menjumlah, mengurang, mengali, membagi).
          c. Berhitung Kompleks meliputi aktivitas berhitung yang melibatkan
              kombinasi kemampuan operasi hitung sederhana (menjumlah, mengurang,
              mengali, membagi) secara bersamaan.

13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007                          24
            Pengembangan kemampuan berhitung dapat dilakukan dengan menggunakan
            pendekatan-pendekatan sebagai berikut:
            a. Pendekatan Perkembangan
               Pendekatan teori perkembangan memandang bahwa kemampuan berhitung
               dipengaruhi oleh kemampuan pra-berhitung. Oleh karena itu, penanganan
               kesulitan berhitung lebih diarahkan pada penguatan kemampuan pra-
               berhitung. Berikut beberapa bentuk aktivitas yang dapat diterapkan dalam
               pembelajaran berhitung dengan pendekatan perkembangan:
               • Latihan-latihan yang mengembangkan kemampuan mengelompokkan
                   objek, sesuai bentuk, warna, maupun ukurannya
               • Latihan-latihan yang mengembangkan kemampuan membandingkan dua
                   buah objek, berdasarkan ukuran (panjang-pendek, besar-kecil) jumlah
                   (banyak-sedikit, ganjil-genap), posisi (tinggi-rendah, atas-bawah, depan-
                   belakang, kiri-kanan), dan seterusnya.
               • Latihan mengaitkan simbol angka dengan jumlahnya.
                       Misalnya simbol angka 5 memiliki nama lima
                       Jumlah yang terkandung dari simbol itu [◊ ◊ ◊ ◊ ◊]
            b. Pendekatan Perilaku
               Pendekatan teori perilaku memandang bahwa berhitung merupakan bentuk
               keterampilan yang perlu terus dilatih untuk semakin mengasah dan mening-
               katkan taraf kemahirannya. Kesulitan dan hambatan dalam berhitung mencer-
               minkan kurang terampilnya anak melakukan aktivitas berhitung. Oleh karena
               itu, model pembelajaran yang ditawarkan pendekatan ini berupa aktivitas
               yang mempercepat dan mempermahir proses berhitung.
               Bentuk latihan-latihannya antara lain:
               • Membilang (mengurutkan nama bilangan)
               • Berhitung cepat dalam mencongak
               • Mengaitkan nama bilangan dengan jumlahnya
               • Latihan soal penjumlahan, dengan atau tanpa teknik menyimpan
               • Latihan soal pengurangan, dengan atau tanpa teknik meminjam
               • Latihan soal perkalian dan pembagian
               • Rekomendasi : Semua metode pengajaran dan latihan soal berhitung,
                   yang selain meningkatkan kemahiran berhitungnya sekaligus juga
                   mengembangkan daya ingat dan daya tahan belajar.
            c. Pendekatan Kognitif
               Pendekatan teori kognitif memandang bahwa berhitung merupakan bentuk
               kemampuan memahami pola dalam aktivitas menjumlah, mengurang,
               mengali, dan membagi. Pemahaman akan pola/rumus operasi hitung adalah
               tujuan yang ingin dicapai oleh pendekatan ini. Beberapa bentuk latihannya
               antara lain:
               • Melatih anak menemukan pola dan makna nilai tempat
               • Melatih anak menemukan cara mendayagunakan objek/benda untuk
                   memudahkan proses operasi hitungnya
               • Membimbing anak menemukan sifat operasi hitung, seperti sifat
                   komutatif, asosiatif dan distributif
               • Rekomendasi : Semua metode pengajaran aritmatika, yang
                   memampukan siswa menggunakan pola atau rumus operasi hitung



13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007               25
G. Penilaian
   1. Pengertian Penilaian
      Penilaian adalah penafsiran hasil pengukuran dan penentuan pencapaian hasil
      belajar.
     2. Fungsi Penilaian
        Fungsi penilaian adalah sebagai:
         • Alat untuk menetapkan penguasaan peserta didik terhadap kompetensi
         • Alat diagnosis
         • Alat prediksi
         • Grading/peringkat
         • Alat seleksi
         • Bimbingan
         • Alat untuk memberi motivasi belajar peserta didik
     3. Tujuan Penilaian
        Tujuan penilaian adalah sebagai berikut:
         • Menilai kemampuan individual melalui tugas tertentu.
         • Menentukan arah tindak lanjut pembelajaran
         • Membantu dan mendorong peserta didik
         • Bahan evaluasi guru setelah mengajar
         • Menentukan strategi pembelajaran
         • Untuk mengambil keputusan
         • Untuk menentukan aturan (policy)
         • Akuntabilitas lembaga
         • Meningkatkan kualitas pendidikan
     4. Pinsip-prinsip Penilaian
        • Validitas
           Validitas berarti menilai apa yang seharusnya dinilai dengan menggunakan alat
           yang sesuai untuk mengukur kompetensi.
        • Reliabilitas
           Reliabilitas berkaitan dengan konsistensi (keajegan) hasil penilaian. Penilaian
           yang ajeg (reliable) memungkinkan perbandingan yang reliable dan menjamin
           konsistensi.
        • Menyeluruh
           Penilaian harus dilakukan secara menyeluruh mencakup seluruh domain yang
           tertuang pada standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator pencapaian
           maupun aspek intelektual, sikap dan tindakannya. Penilaian harus menggunakan
           beragam cara dan alat untuk menilai beragam kompetensi peserta didik.
        • Berkesinambungan
           Penilaian dilakukan secara terencana, bertahap dan terus menerus untuk
           memperoleh gambaran pencapaian kompetensi peserta didik dalam kurun waktu
           tertentu
        • Obyektif
           Penilaian harus dilakukan secara adil, terencana, dan menerapkan kriteria yang
           jelas dalam pemberian skor.
          • Mendidik
            Penilaian dapat memperbaiki kualitas proses pembelajaran.


13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007             26
     5. Teknik/Cara Penilaian
        • Penilaian unjuk kerja (performance)
           Penilaian unjuk kerja merupakan penilaian yang dilakukan dengan mengamati
           kegiatan peserta didik dalam melakukan sesuatu. Motivasi, rasa kompetitif,
           kemampuan untuk bekerja sama dan menyatukan ide harus merupakan bagian
           dari penilaian. Unjuk kerja peserta didik dapat dinilai melalui kriteria penilaian
           yang terpadu dan menyeluruh dalam praktikum yang dilakukan dikelas, dan
           penilaian objektif dari guru terhadap peserta didik dengan melihat usaha
           peserta didik di kelas. Penilaian ini cocok digunakan untuk menilai
           ketercapaian kompetensi yang menuntut peserta didik melakukan tugas tertentu
           seperti praktik di laboratorium.
           Cara penilaian ini dianggap lebih otentik daripada tes tertulis karena yang
           dinilai lebih mencerminkan kemampuan peserta didik yang sebenarnya.
          •    Penilaian sikap
               Data penilaian sikap berasal dari hasil pengamatan guru terhadap sikap peserta
               didik yang berkaitan dengan perilaku umum (di dalam maupun di luar kelas)
               peserta didik yang menonjol baik positif maupun negatif. Penilaian sikap ini
               bersifat non kognitif, sehingga diukur adalah seperti kedisiplinan, keaktifan,
               tanggung jawab, kerajinan, kerapian, ketelitian.
               Contoh penilaian sikap di dalam sains: penilaian sikap ilmiah peserta didik
               dalam memecahkan permasalahan yang berkaitan soal-soal dengan sains.
          •    Penilaian tertulis
               Penilaian tertulis dilakukan dengan tes secara tertulis. Tes tertulis merupakan
               tes di mana soal yang diberikan kepada peserta didik dalam bentuk tulisan,
               namun jawaban yang diberikan peserta didik bisa dalam bentuk tulisan,
               mewarnai, menggambar, memberi tanda, melakukan sesuatu dan lain
               sebagainya.
               Bentuk penilaian tertulis dalam bidang sains misalnya: tes pilihan berganda,
               menjodohkan, isian singkat, uraian,dan sebab-akibat.
          •    Penilaian proyek
               Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang
               harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. Tugas tersebut berbentuk
               suatu investigasi yang dimulai sejak dari perencanaan, pengumpulan data,
               pengorganisasian, pengolahan, pelaporan dan penyajian data.
               Bentuk penilaian proyek dalam bidang sains misalnya: Penilaian proses
               pengerjaan proyek ilmiah yang mewajibkan peserta didik untuk melaporkan
               perkembangan proyeknya secara berkala dimulai dari tahap perencanaan,
               pengumpulan data, melaksanakan serangkaian percobaan, pengolahan data
               hasil percobaan, pelaporan dan penyajian hasil dalam bentuk demonstrasi dan
               penyampaian secara lisan maupun tulisan
          •    Penilaian produk
               Penilaian produk adalah penilaian terhadap proses hasil dan kualitas suatu
               produk.
               Penilaian produk dalam fisika misalnya membuat mesin sederhana atau alat
               pembelajaran selama program pengajaran berlangsung atau tidak, dan juga
               laporan praktikum yang secara berkala dilakukan dikelas. Selain itu bentuk
               karya ilmiah yang dihasilkan peserta didik juga suatu produk peserta didik
               yang bisa menjadi bahan penilaian.

13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007                 27
          •    Komunikasi (Presentasi)
               Menilai kemampuan peserta didik         menyalurkan ide, menyusun data,
               menganalisa dan mengambil kesimpulan secara jelas dan lengkap dalam
               laporan praktikum yang dilakukan secara berkala dikelas dan juga dalam karya
               ilmiah yang mereka buat. Kemampuan komunikasi peserta didik juga dapat
               dinilai selama kegiatan Strategi Belajar Terpadu (SBT) contohnya dalam
               diskusi atau debat ilmiah di kelas.
          •    Penilaian portofolio
               Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada
               kumpulan informasi yang menunjukan perkembangan kemampuan peserta
               didik secara individu dalam satu periode tertentu.
               Penilaian portofolio dalam bidang sains misalnya: penilaian suatu bentuk
               koleksi yang berkaitan dengan sains (serangga, daun, mineral, berita ilmiah,
               dan lain-lain).

          Sebagai tambahan dapat dilakukan penilaian diri (refleksi). Penilaian diri adalah
          suatu teknik penilaian. Dalam penilaian diri peserta didik diminta untuk menilai
          dirinya sendiri berkaitan dengan status, proses dan tingkat pencapaian kompetensi
          yang dipelajarinya.
          Penerapan penilaian diri (self assessment) dalam bidang sains dapat dilakukan
          dengan cara memberikan lembaran survei setelah peserta didik menuntaskan suatu
          tugas / kegiatan (misalnya: proyek ilmiah, percobaan, presentasi, dan lain-lain)

     6. Laporan Penilaian
        Laporan penilaian terbagi menjadi 2 (dua), yaitu:
        a. Laporan Kuantitatif
           Berisi laporan mengenai penilaian hasil belajar peserta didik dalam bentuk
           angka Penilaian kuantitatif menggunakan dua pendekatan penilaian, yaitu:
                 • Penilaian Acuan Patokan (PAP)
                    Mengacu pada patokan standar ketuntasan belajar (prestasi siswa,
                    dibandingkan patokan yang sudah ditetapkan sebelumnya). Hasil dari
                    pendekatan penilaian ini adalah nilai prestasi individu peserta didik.
              • Penilaian Acuan Norma (PAN)
                  Mengacu pada nilai rata-rata kelas (prestasi seorang peserta didik
                  dibandingkan dengan semua peserta didik di kelasnya).
          b. Laporan Kualitatif
             Berisi laporan mengenai penilaian hasil belajar peserta didik dalam bentuk
             deskripsi atau uraian. Selain aspek kognitif, dalam laporan ini diuraikan pula
             pengaruh aspek-aspek afektif dan psikomotor serta faktor-faktor eksternal
             peserta didik terhadap proses dan hasil belajarnya.
             Materi yang diuraikan dalam laporan kualitatif antara lain berupa:
             (1) Uraian perkembangan yang menunjukkan keunggulan dan kelemahan
                 peserta didik pada aspek akademik maupun perilaku.
             (2) Uraian mengenai perbandingan prestasi belajar seorang peserta didik
                 dengan peserta didik yang lain
             (3) Menguraikan kendala yang terjadi, solusi, dan rekomendasi yang
                 ditawarkan.


13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007              28
H. Program Pembelajaran Individual (PPI)
   Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa Program pembelajaran individual
   dirancang dan dilaksanakan pada peserta didik secara individual.
   Berikut ini tahapan-tahapan dalam membuat PPI.

      1. Membuat deskripsi kasus
         Guru membuat deskripsi mengenai kondisi peserta didik berkesulitan belajar, yang
         berisi kemampuan peserta didik dalam akademik maupun non akademik serta
         kesulitan peserta didik baik dalam pembelajaran yang berhubungan dengan
         membaca, menulis, maupun berhitung.

      2. Langkah-langkah penyusunan PPI
         a. Menentukan kemampuan siswa saat ini. Dalam hal ini perlu dilihat kelebihan
            dan kekurangan anak dalam membaca, menulis, dan berhitung.
         b. Setelah itu menentukan tujuan jangka panjang dan jangka pendek yang ingin
            dicapai untuk anak tersebut.
         c. Memilih strategi dan setting pembelajaran yang paling sesuai dengan
            kelebihan-kekurangan anak dan tujuan yang ingin dicapai.
         d. Merinci langkah-langkah pembelajaran yang akan dilakukan demi mencapai
            tujuan yang telah ditentukan.
         e. Memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk anak agar dapat mencapai tujuan
            jangka pendeknya.
         f. Menguraikan prosedur evaluasi sejalan dengan pencapaian tujuan.




13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007            29
                                                       BAB V
                                                      PENUTUP


Pelayanan bagi peserta didik berkesulitan belajar sudah banyak dilakukan, tetapi
pelayanan tersebut belum teradministrasikan dengan baik. Pelayanan umumnya bersifat
insidental dan belum tertuang dalam dokumen kurikulum sekolah. Hal ini menyebabkan
layanan yang diberikan kepada peserta didik berkesulitan belajar belum optimal. Oleh
karena itu dengan dikembangkannya model kurikulum ini diharapkan peserta didik
berkesulitan belajar di sekolah dapat terlayani kebutuhan pendidikannya.
Model pengembangan kurikulum untuk peserta didik berkesulitan belajar ini bisa
dijadikan acuan untuk mengembangkan program pembelajaran bagi peserta didik
berkesulitan belajar di SD/MI. Sekolah dapat mengembangkan lebih lanjut model ini
sesuai dengan kondisi masing-masing. Model kurikulum ini bukanlah satu-satunya model
yang harus digunakan sekolah. Dalam hal ini sekolah memiliki keleluasaan untuk
mengembangkan sendiri sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik. Terlebih
dalam hal metode atau strategi pembelajaran. Karena tidak ada metode atau strategi yang
salah atau benar, yang ada adalah metode/strategi yang tepat atau tidak tepat.




13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007          30
                                              DAFTAR PUSTAKA


Abdurrahman, Mulyono. 2003. Pendidikan Anak Berkesulitan Belajar, Jakarta:
Depdikbud RI
Halahan, Daniel P. & Kaufman, James M. 1994.Exceptional Children - 9th Edition,
Massachuset: Allyn & Bacon
Hernowo. 2003. Melejitkan Diri dengan Mengarang, Bandung: Mizan
Harwell, Joan M. 2000. Information & Materials for LD, New York: The Center of
Applied Research in Education
Istiningrum, Maria (2005) Meningkatkan Keterampilan Mengarang pada Anak
Bekesulitan Belajar melalui Pendekatan Proses di SD Pantara Jakarta Selatan, Skripsi,
Tidak diterbitkan, Jakarta: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta
Lerner, Janet.2000. Learning Disabilities - 9th Edition, Boston: Houghton Mifflin
Company
McGregor, Sandy. 2004. Piece of Mind, Jakarta: Gramedia
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 22, 23, 24 tahun 2006 tentang Standar Isi,
Standar Kompetensi Lulusan, dan Pelaksanaan.
Sumarlis, Vitriani.(2005) Kontribusi Aspek Motorik, Persepsi, dan Bahasa Terhadap
Risiko Kesulitan Belajar (Identifikasi Dini yang Dilakukan Di Tingkat Prasekolah),
Thesis, Tidak Diterbitkan, Depok: Fak Psikologi UI
Sunardi, dkk.1997. Menangani Kesulitan Belajar Membaca, Jakarta: Depdikbud RI
Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Vallet, Robert E.1969. Programming Learning Disabilities, California: Fearon Publisher




13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007          31
                                                      Format 1– PROGRAM PEMBELAJARAN INDIVIDU (PPI)


       Nama                                :                                                      Kelas/Semester           :
       Tanggal Lahir                       :                                                      Tahun Pelajaran          :
       Usia                                :                                                      Jenis Kesulitan          :
       Orang tua/Wali                      :                                                      Profesi Orang tua/Wali   :


   Deskripsi                              Tujuan                                                                 Pelaksanaan
                                                                               Strategi   Media      Evaluasi                    Penanggungjawab
(Kondisi saat ini)                  Panjang      Pendek                                                          Wkt    Target




 13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007                 32
                 Format 2 - PROGRAM PEMBELAJARAN INDIVIDU (PPI)



A. Identitas Siswa
      Nama                                         :
      Tempat dan tanggal lahir                     :
      Umur                                         :
      Jenis kelamin                                :
      Nama orang tua                               :
      Alamat                                       :
      Kelas                                        :
      Tahun Pelajaran                              :
      Jenis Kesulitan                              :

B. Deskripsi (kondisi peserta didik saat ini)

A. Pelaksanaan
   • Tujuan Jangka Panjang

       • Tujuan Jangka Pendek


       • Strategi Pembelajaran Individu

       • Media


       • Evaluasi

       • Waktu Pelaksanaan


       • Target

       • Penanggungjawab




13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007   33
                                                       CONTOH

          KURIKULUM TINGKAT SATUAN
                                          PENDIDIKAN

               Untuk Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan
                                  Belajar
            (Kurikulum ini merupakan contoh KTSP yang dibuat oleh Tim Pengembang
             Model dengan mengacu pada Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang
                                 Mengalami Kesulitan Belajar)




                                 DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
                             BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
                                                PUSAT KURIKULUM
                                                    JAKARTA 2007




13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007        34
                                                                 Daftar Isi

       Daftar Isi ……………………………………………………………………….........                                                                                      1

       I. Pendahuluan

            A. Latar Belakang ...............................................................................................               2

            B. Landasan ........................................................................................................            2


       II. Visi, Misi, dan Tujuan Sekolah

            A. Visi …………………………………………………………..…..................                                                                             3

            B. Misi ................................................................................................................        3

            C. Tujuan ............................................................................................................          3


       III. Struktur dan Muatan Kurikulum

            A. Struktur Kurikulum …………………………...……………………….........                                                                           3

            B. Muatan Kurikulum ……………………...…….……………………….........                                                                            5


       IV. Kalender Pendidikan …………………………………………...........................                                                                  8

       Lampiran
         1. Silabus
         2. RPP
         3. PPI




13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007                                                            35
I.    Pendahuluan
      A. Latar Belakang
          Pendidikan yang layak dan bermutu merupakan usaha yang sangat penting dalam
          menumbuhkan hidup menjadi utuh dan sempurna. Dimana melalui proses
          pendidikan itulah kepribadian individu dimatangkan dan dikembangkan; sehingga
          seorang peserta didik menjadi manusia yang dewasa, utuh, dan mandiri. Proses
          atau langkah pengembangan tersebut sangat diperlukan bagi peserta didik,
          termasuk bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti
          proses pembelajaran.
          Harapan pemerintah untuk dapat melayani seluruh komponen masyarakat akan
          pendidikan yang layak dan bermutu selama ini belum bisa terwujud dengan
          adanya berbagai kendala di berbagai aspek.
          Salah satu aspek sisi komponen pendidikan yang menjadi kendala tersebut adalah
          belum adanya perangkat kurikulum yang secara khusus mengakomodasi dan
          melayani kebutuhan spesifik dari peserta didik. Sementara menilik kondisi realita
          di lapangan kita menyadari bahwa peserta didik memiliki kekhasan baik secara
          fisik, mental, sosial, emosional, serta kecerdasan.
          Peserta didik yang berkesulitan belajar merupakan peserta didik yang memerlukan
          perhatian khusus. Mereka memiliki kecerdasan rata-rata atau di atas rata-rata. Di
          sekolah reguler, peserta didik yang berkesulitan belajar umumnya tidak terdeteksi
          secara baik oleh guru. Mereka biasanya mengalami kesenjangan antara prestasi
          belajar dengan potensi yang dimilikinya. Diperlukan upaya-upaya tertentu agar
          peserta didik-peserta didik berkesulitan belajar yang berada di sekolah-sekolah
          reguler dapat tertangani.
      B. Landasan
          Perlunya menyediakan kurikulum khusus bagi peserta didik berkesulitan belajar
          didasarkan pada:
          1. Undang-undang No. 20 Tahun 2003, pasal 32 ayat (1); Pendidikan khusus
              merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan
              dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional,
              mental, sosial dan atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.
           2. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22, 23, dan 24 Tahun 2006
              tentang Standar Isi, Standar Kompetensi Lulusan, dan Pelaksanaan Permen 22
              dan 23.

II. Visi, Misi, dan Tujuan Sekolah
    1. Visi
        Membentuk manusia yang berkualitas, bertaqwa, cerdas, terampil, dan mandiri
      2. Misi
         a. Menyelenggarakan pendidikan sesuai dengan kebutuhan lokal berasaskan
              Standar Nasional yang ditetapkan.
         b. Memberikan layanan yang proporsional bagi seluruh ragam kebutuhan peserta
              sesuai dengan potensi masing-masing individu peserta didik yang mengalami
              kesulitan belajar.
         c. Mengembangkan potensi, bakat, dan kompetensi masing-masing peserta didik
              untuk mencapai kemandirian di dalam masyarakat


13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007              36
     3. Tujuan
        a. Meletakkan kemampuan dasar baca, tulis, dan hitung
        b. Mengembangkan kematangan individu secara kognitif, inovasi, dan spiritual
        c. Mengembangkan minat, bakat, dan keterampilan dalam rangka menyiapkan
           masa depan.

III. Struktur dan Muatan Kurikulum
      A. Struktur Kurikulum
          Struktur kurikulum merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus
          ditempuh oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Kedalaman muatan
          kurikulum pada setiap mata pelajaran pada setiap satuan pendidikan dituangkan
          dalam kompetensi yang harus dikuasai peserta didik sesuai dengan beban belajar
          yang tercantum dalam struktur kurikulum. Kompetensi yang dimaksud terdiri atas
          standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan berdasarkan
          standar kompetensi lulusan. Muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri
          merupakan bagian integral dari struktur kurikulum pada jenjang pendidikan dasar
          dan menengah.
           Cakupan kelompok mata pelajaran terbagi dalam lima kelompok mata pelajaran
           agama dan akhlak mulia; kewarganegaraan dan kepribadian; ilmu pengetahuan
           dan teknologi; estetika; jasmani, olahraga dan kesehatan.
           Struktur kurikulum SD/MI meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam
           satu jenjang pendidikan selama enam tahun mulai Kelas I sampai dengan Kelas
           VI. Struktur kurikulum SD/MI disusun berdasarkan standar kompetensi lulusan
           dan standar kompetensi mata pelajaran dengan ketentuan sebagai berikut.
           1) Kurikulum SD/MI                   memuat        8     mata      pelajaran,   muatan   lokal,   dan
              pengembangan diri
           2) Substansi mata pelajaran IPA dan IPS pada SD/MI merupakan “IPA Terpadu”
              dan “IPS Terpadu”.
           3) Pembelajaran pada kelas I s.d. III dilaksanakan melalui pendekatan tematik,
              sedangkan pada kelas IV s.d. VI dilaksanakan melalui pendekatan mata
              pelajaran.
           4) Jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran dialokasikan sebagaimana
              tertera dalam struktur kurikulum. Satuan pendidikan dimungkinkan
              menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara
              keseluruhan.
           5) Alokasi waktu satu jam pembelajaran adalah 35 menit.
           6) Minggu efektif dalam satu tahun pelajaran (dua semester) adalah 36 minggu.




13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007                                   37
                                           Struktur Kurikulum SD/MI

                                                                                   Kelas dan Alokasi Waktu
                                         Komponen
                                                                              I      II     III   IV, V, dan VI
                  A. Mata Pelajaran
                     1. Pendidikan Agama                                      2       2     2          3
                     2. Pendidikan Kewarganegaraan                            2       2     2          2
                     3.    Bahasa Indonesia                                   3       4     4          5
                     4. Matematika                                            3       4     4          5
                     5. Ilmu Pengetahuan Alam                                 3       2     4          5
                     6. Ilmu Pengetahuan Sosial                               2       2     3          3
                     7. Seni Budaya dan Keterampilan                          3       2     3          4
                     8. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan
                                                                              3       3     4          4
                        Kesehatan
                  B. Muatan Lokal
                     1. Bahasa Inggris                                        2       2     2          2
                     2. Teknologi               Informasi            dan      2       2     2          2
                        Komunikasi


                  C. Pengembangan Diri*)
                     1. Sepak bola                                            2       2     2          2
                     2. Seni Musik                                            2       2     2          2
                     3. Pencak Silat                                          2       2     2          2
                     4. Melukis                                               2       2     2          2
                     5. Bermain Peran                                         2       2     2          2


                  D. Pembelajaran Remedial                                    2       2     2          2
                                         Jumlah                               39     39     44         47

           *) Untuk Pengembangan Diri, bidang yang dipilih berdasarkan kemampuan
              siswa yang menonjol sehingga dapat lebih dikembangkan.

      B. Muatan Kurikulum
         1) Mata Pelajaran
            meliputi Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia,
            Matematika, Ilmu Pegetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS),
            Seni Budaya dan Keterampilan, serta Pendidikan Jasmani, Olahraga dan
            Kesehatan yang dikembangkan ke dalam silabus berdasarkan standar
            kompetensi dan kompetensi dasar.
         2) Muatan Lokal
            Disesuaikan dengan situasi, kondisi, dan kekhasan daerah masing-masing.

13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007                                   38
           3) Kegiatan Pengembangan Diri
              Kegiatan yang dilakukan diluar jam belajar efektif yang disesuaikan dengan
              situasi dan kondisi sekolah yang bertujuan mengembangkan potensi diri,
              bakat, dan minat peserta didik agar mampu mengaktualisasikan diri, seperti:
              a. Sepak Bola          : Melatih koordinasi motorik, kerja sama, sosialisasi.
              b. Seni Musik          : Melatih koordinasi motorik.
              c. Pencak Silat        : Melatih pengendalian diri/emosi, melatih jiwa
                                       kompetisi, motorik.
              d. Melukis             : Melatih motorik, ekspresi, kreatifitas.
              e. Bermain Peran : Melatih motorik, memori, kerja sama, sosialisasi,
                                       ekspresi.
           4) Pengaturan Beban Belajar
              Beban belajar ditentukan berdasarkan pada:
              • Alokasi waktu
              • Kalender pendidikan
              • Jam belajar efektif (JBE)
           5) Ketuntasan Belajar
              Ketuntasan belajar disepakati oleh pihak sekolah dan komite sekolah pada
              awal tahun pelajaran dengan mempertimbangkan kompetensi individu.
              Ketuntasan setiap indikator yang telah ditetapkan dalam suatu kompetensi
              berkisar antara 0 s/d 100%.

                                    STANDAR KETUNTASAN BELAJAR (SKB)
                                            Komponen                          Target Ketuntasan Belajar

                A. Mata Pelajaran
                    1. Pendidikan Agama                                               70 %
                    2. Pendidikan Kewarganegaraan                                     70 %
                    3. Bahasa Indonesia                                               65 %

                    4. Matematika                                                     60 %

                    5. Ilmu Pengetahuan Alam                                          70 %

                    6. Ilmu Pengetahuan Sosial                                        70 %

                    7. Seni Budaya dan Keterampilan                                   70 %

                    8. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan                     75 %
                B. Muatan Lokal
                    1. Bahasa Inggris                                                 60 %

                    2. Teknologi Informasi dan Komunikasi                             70 %

                C. Pengembangan Diri*)
                    1. Sepak bola                                                     75 %

                    2. Seni Musik                                                     75 %

                    3. Pencak Silat                                                   75 %

                    4. Melukis                                                        75 %

                    5. Bermain Peran                                                  75 %

13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007                        39
           6) Kenaikan Kelas dan kelulusan
              Kenaikan kelas berdasarkan ketuntasan belajar dan kompetensi yang dicapai
              peserta didik.
              Penentuan peserta didik yang naik kelas dilakukan oleh sekolah dalam suatu
              rapat dewan guru dengan mempertimbangkan SKB sikap, penilaian, budi
              pekerti, dan kehadiran peserta didik yang bersangkutan.
              Standar Minimal Kelulusan Sekolah Dasar dibuat oleh BSNP untuk dijadikan
              acuan penyusunan naskah soal Ujian Sekolah sesuai dengan ketentuan PP 19
              Tahun 2005 Pasal 72 ayat (1), peserta didik dinyatakan lulus dari satuan
              pendidikan pada pendidikan dasar setelah:
               • Menyelesaikan seluruh program pembelajaran
               • Memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata
                   pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok
                   kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan
                   kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan.
               • Lulus Ujian Sekolah/Madrasah untuk kelompok mata pelajaran Ilmu
                   Pengetahuan dan Teknologi ; dan
               • Lulus Ujian Nasional.
           7) Pendidikan Kecakapan Hidup
              Pendidikan kecakapan hidup merupakan keterampilan yang diberikan untuk
              mengembangkan potensi, bakat, dan minat sebagai bekal hidup dimasa depan.
           8) Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal dan Global
              Sekolah yang memiliki karakteristik dan keunggulan di bidang tertentu dapat
              mengembangkan pendidikan berbasis keunggulan baik lokal maupun global
              untuk mengoptimalkan kemampuan yang dimiliki.
              Misal: Sekolah memiliki keunggulan di bidang Bahasa Inggris maka dapat
              mengembangkan pembelajaran bilingual.

IV. Kalender Pendidikan
      Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta
      didik selama satu tahun ajaran yang mencakup permulaan tahun pelajaran, minggu
      efektif belajar, waktu pembelajaran efektif dan hari libur.
      1. Permulaan tahun pelajaran adalah bulan Juli setiap tahun dan berakhir pada bulan
         Juni tahun berikutnya.
      2. Hari libur sekolah ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan
         Nasional, dan/atau Menteri Agama dalam hal yang terkait dengan hari raya
         keagamaan, Kepala Daerah tingkat Kabupaten/Kota, dan/atau organisasi
         penyelenggara pendidikan dapat menetapkan hari libur khusus.
      3. Pemerintah Pusat/Provinsi/Kabupaten/Kota dapat menetapkan hari libur serentak
         untuk satuan-satuan pendidikan.
      4. Kalender pendidikan untuk setiap satuan pendidikan disusun oleh masing-masing
         satuan pendidikan berdasarkan alokasi waktu sebagaimana tersebut pada dokumen
         Standar Isi ini dengan memperhatikan ketentuan dari pemerintah/pemerintah
         daerah.




13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007            40
                                                                                   SILABUS


Mata Pelajaran                           : Matematika
Kelas / Semester                         :V/2
Standar Kompetensi                       : 5. Menggunakan pecahan dalam pemecahan masalah

                                                                                                                              Alokasi    Alat/Bahan/Sumbe
Kompetensi Dasar               Materi Ajar                Indikator               Kegiatan Pembelajaran        Penilaian
                                                                                                                               Waktu              r
5.2 Menjumlahkan               Penjumlahan          - Menjumlahkan            • Siswa mengamati penjelasan   Teknik tes:      4    jam   Sumber:
    dan                        dan                    bentuk pecahan            guru tentang operasi         - Tertulis       pelajara   - Silabus
    mengurangkan               pengurangan            biasa                     penjumlahan pecahan biasa    - Penugasan      n          - Buku cetak
    berbagai bentuk            pecahan              - Mengurangkan              dengan gambar atau benda                                    matematika
    pecahan                                           bentuk pecahan            konkrit                      Bentuk-                     - Gambar
                                                      biasa                   • Siswa menyimak penjelasan    bentuk:                     - Benda konkrit
                                                                                guru tentang operasi         - Tes lisan                    (buah, kertas,
                                                                                penjumlahan pecahan biasa    - Essay                        karton, dll)
                                                                                tanpa menggunakan gambar                                 - Gunting/pisau
                                                                                atau benda konkrit           Instrument:                    untuk alat
                                                                              • Siswa mengamati penjelasan   - Daftar tugas                 potong
                                                                                guru tentang operasi
                                                                                pengurangan pecahan biasa
                                                                                dengan gambar atau benda
                                                                                konkrit
                                                                              • Siswa menyimak penjelasan
                                                                                guru tentang operasi
                                                                                pengurangan pecahan biasa
                                                                                tanpa menggunakan gambar
                                                                                atau benda konkrit




13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007                             41
             RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Mata Pelajaran                        : Matematika
Kelas / Semester                      :V/2
Standar Kompetensi                    : Menggunakan pecahan dalam pemecahan masalah
Alokasi Waktu                         : 4 x pertemuan
I.     Kompetensi Dasar
       Menjumlahkan dan mengurangkan berbagai bentuk pecahan
II.    Indikator
       • Menjumlahkan bentuk pecahan biasa
       • Mengurangkan bentuk pecahan biasa
III. Tujuan Pembelajaran
     Siswa dapat melakukan operasi penjumlahan dan pengurangan pecahan biasa
IV. Materi Ajar
    Penjumlahan dan pengurangan pecahan
V.     Metode Pembelajaran
       - Ceramah
       - Pemberian tugas
       - Tanya jawab
VI. Langkah-langkah Pembelajaran
       Pertemuan I:
       A. Kegiatan Awal (Apersepsi) :
             Siswa mengamati benda konkrit (seperti: semangka, apel, dan jeruk)
             Siswa diminta menyebutkan nilai pecahan biasa berdasarkan benda yang
             disajikan
          Contoh:




                                       1                                                1
            sebuah apel, sebelah apel ( )                              sebelah kesemek ( )
                                       2                                                2




               Sebuah apel                                              sebuah strawberi

       B. Kegiatan Inti
            1. Siswa membuat pecahan dari benda yang disediakan. Misalnya membagi
               sebuah apel menjadi 4 bagian yang sama besar.
            2. Siswa menentukan nilai dari suatu bagian apel. Misalnya 1 bagian, 2 bagian,
               dsbnya.
            3. Menentukan penjumlahan dengan bagian-bagian apel. Misalnya 1 bagian
               apel digabungkan dengan 1 bagian apel lainnya.

13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007                  42
            4. Siswa menghitung penjumlahan dengan bantuan gambar.
               Contoh:



                                             +                                =



                               2                              3                       5
                                             +                                =
                               6                              6                       6
            5. Siswa menghitung penjumlahan pecahan biasa yang penyebutnya sama tanpa
               gambar
               Contoh:
                       2 3 5
                         + =
                       8 8 8
            6. Siswa menghitung pengurangan dengan bantuan gambar/benda
               Contoh:




                           3                                        2                        1
                                            -                                     =
                           4                                        4                        4

            7. Siswa menghitung pengurangan pecahan biasa yang penyebutnya sama tanpa
               bantuan benda konkrit atau gambar.
               Contoh :
                           7 5       2
                            − =
                          12 12 12

            8. Siswa menyelesaikan operasi hitung campuran                            penjumlahan   dan
               pengurangan pecahan biasa yang penyebutnya sama.
                              3 2 4 1
               Contoh:          + − =
                              8 8 8 8

            9. Siswa menyelesaikan soal-soal latihan penjumlahan, pengurangan, dan
               campuran pecahan biasa yang penyebutnya sama.


       C. Kegiatan Akhir
          • Guru menanyakan kepada siswa mengenai materi yang belum dipahami
          • Guru memberikan tugas/PR.

13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007                          43
       Pertemuan II:
       A. Kegiatan Awal
          Review pertemuan sebelumnya
       B. Kegiatan Inti
          1. Siswa menentukan pecahan senilai dengan bantuan gambar.
             Contoh:



                                                                          =


                                                              1               3
                  1 bagian                                                =
                                                              3               9

            2. Siswa menghitung penjumlahan dengan pecahan yang satu penyebutnya
               merupakan kelipatan yang lain
                  Contoh :
                                1 2 3 2 5
                                 + = + =
                                3 9 9 9 9

            3. Siswa menghitung pengurangan dengan pecahan yang satu penyebutnya
               merupakan kelipatan yang lain
                  Contoh :
                                3 3 6 3 3
                                 − = − =
                                4 8 8 8 8

            4. Siswa menyelesaikan operasi hitung campuran penjumlahan dan
               pengurangan dengan pecahan yang satu penyebutnya merupakan kelipatan
               yang lain.
               Contoh :
                          5 1 5 10 3 5              8
                           + − = + − =
                          6 4 12 12 12 12 12

            5. Siswa mengerjakan soal latihan penjumlahan, pengurangan, dan soal
               campuran pecahan biasa uang penyebutnya merupakan kelipatan yang
               lainnya.


       C. Kegiatan Akhir
          o Guru menanyakan kepada siswa mengenai materi yang belum dipahami
          o Guru memberikan tugas/PR.




13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007           44
       Pertemuan III:
       A. Kegiatan Awal
          Review pertemuan sebelumnya

       B. Kegiatan Inti
          1. Siswa menghitung penjumlahan pecahan biasa yang berbeda penyebutnya.
                  Contoh :
                                  2 1 4 3    7
                                   + = + =
                                  9 6 18 18 18

            2. Siswa menghitung pengurangan pecahan biasa yang berbeda penyebutnya.
                  Contoh :
                                  4 3 16 15 1
                                   − =  −  =
                                  5 4 20 20 20

            3. Siswa mengerjakan soal latihan penjumlahan, pengurangan, dan soal
               campuran pecahan biasa uang berbeda penyebutnya.
                  Contoh :
                                  3 1 3 12 5    6 11
                                   + − =   +  −  =
                                  5 4 10 20 20 20 20

            4. Formatif

       C. Kegiatan Akhir
          o Guru menanyakan kepada siswa mengenai materi yang belum dipahami
          o Guru memberikan tugas/PR.


       Pertemuan IV:
          Tes Unit (Materi keseluruhan)


VII. Alat/Bahan/Sumber Belajar
       1.   KTSP Matematika
       2.   Beberapa buah-buahan
       3.   Pisau
       4.   Gunting
       5.   Kertas warna

VIII. Penilaian
       1. Penilaian proses selama kegiatan belajar mengajar berlangsung
       2. Penilaian hasil dilaksanakan pada pertemuan terakhir




13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007           45
                            TES UNIT MATEMATIKA
                            KELAS / SEMESTER : V / 2
              MATERI : PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN

A. Pemahaman Gambar
   1. Tentukanlah nilai dari gambar yang darsir berikut ini!




                       ….                        ….                           ….         ….

     2. Tentukanlah nilai dari gambar yang darsir berikut ini!




                     ….                        ….                         ….            ….

3.     Tentukanlah nilai dari gambar yang darsir berikut ini!




                          ….                               ….                       ….

4.     Tentukanlah nilai dari gambar yang darsir berikut ini!




                       ….                               ….                         ….


13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007                   46
5.     Buatlah gambar dengan nilai pecahan di bawahnya!




                        .....                                   .....         .....



                          5                                      7            9
                          8                                     12            20


B. Penjumlahan
   Hitunglah penjumlahan berikut ini!
       4      2
   1)     +       = ....
       9      9
        3      2
   2)      +       = ....
       10      5
       14      7
   3)      +       = ....
       15     10
       5     2
   4)     +      = ....
       6     9
       3     3
   5)     +      = ....
       5     4

C. Pengurangan
   Hitunglah pengurangan berikut ini!
        9     3
   1)      -     = ....
       10    10

          11   5
     2)      -   = ....
          12   6

          14   3
     3)      -   = ....
          15 10

           8 5
     4)     -  = ....
           9 6

        3   2
     5) 4 - 5 = ....




13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007           47
                                                                                      SILABUS

Mata Pelajaran                : Bahasa Indonesia
Kelas/Semester                : 6 (Enam) / I (Satu)

MENDENGARKAN
Standar Kompetensi: 1. Memahami teks dan cerita anak yang dibacakan

                                                                                                                                            Alokasi    Sumber
  Kompetensi Dasar                          Indikator                     Materi Pokok      Kegiatan Pembelajaran             Penilaian
                                                                                                                                            Waktu      Belajar

 1.2 Mengidentifikasi                Menyebutkan tokoh-                 Menyimak            Menyimak cerita anak yang       Teknik Tes:     2 x 35    Standar Isi
     tokoh,    watak,                tokoh dalam cerita.                Cerita anak         dibacakan dengan penuh          • Tulisan       menit     2006
     latar, tema atau                Menjelaskan sifat-sifat                                perhatian                       • Lisan                   BinaBahasa
     amanat       dari               tokoh dalam cerita.                                    mengidentifikasi tokoh-         • Perbuatan               Indonesia
     cerita anak yang                Menentukan latar                                       tokoh dalam cerita                                        Kelas 6,
     dibacakan                       cerita                                                 menemukan sifat-sifat tokoh     Bentuk                    Erlangga
                                     Menentukan tema                                        dalam cerita                                              Buku-buku
                                                                                                                              Pilihan
                                     cerita                                                 membedakan sifat-sifat                                    yang relevan,
                                                                                                                              Ganda
                                     Menjelaskan amanat                                     tokoh dalam cerita.                                       majalah,
                                                                                                                              Isian/Essay
                                     cerita yang disimaknya                                 Menentukan latar cerita                                   koran
                                                                                            dengan mengutip kalimat         Instrumen
                                                                                            atau paragraf yang
                                                                                            mendukung                       • Daftar
                                                                                            Menentukan tema cerita             Tugas
                                                                                            yang disimaknya                 • Daftar
                                                                                            menuliskan kembali isi cerita      Pertanyaan
                                                                                            dengan bahasa sendiri
                                                                                            mendeskripsikan amanat
                                                                                            cerita yang disimaknya



13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007                             48
                         RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 Mata pelajaran              : Bahasa Indonesia
 Kelas / Semester            : VI / 1
 Waktu                       : 2 X 35 Menit


MENYIMAK
I. Standar Kompetensi
   Memahami teks dan cerita anak yang dibacakan.

II. Kompetensi Dasar
    Mengidentifikasi tokoh, watak, latar, tema atau amanat dari cerita anak yang
    dibacakan
III. Indikator
      1. Menyebutkan tokoh-tokoh dalam cerita
      2. Menjelaskan sifat-sifat tokoh dalam cerita dengan mengutip kalimat yang
         mendukung.
      3. Menentukan latar cerita dengan mengutip kalimat atau paragraf yang mendukung
      4. Menentukan tema cerita yang disimaknya
      5. Mejelaskan amanat cerita yang disimaknya
      6. Menuliskan kembali isi cerita dengan bahasa sendiri

IV. Materi Pokok                         : Menyimak cerita Anak
V. Langkah Pembelajaran
   A. Kegiatan Awal
      o Siswa menyimak penjelasan mengenai tabel yang berisi judul cerita, nama-
         nama tokoh, watak, latar tempat dan waktu serta kalimat pendukungnya
      o Siswa menyimak penjelasan penggunaan tabel sebagai panduan kegiatan
         belajar untuk materi ini.

     B. Kegiatan Inti
        o Siswa menyimak pembacaan cerita dengan penuh perhatian.
        o Siswa menuliskan nama-nama tokoh di kolom pada tabel yang disediakan.
        o Siswa menuliskan watak masing-masing tokoh cerita sesuai isi cerita
        o Siswa menjelaskan sifat tokoh-tokoh cerita dengan mengutip kalimat
           pendukungnya.
        o Siswa menentukan latar cerita dengan mengutip kalimat yang mendukung
        o Tanya jawab secara bergiliran antarsiswa mengenai jalinan cerita
        o Beberapa siswa mempresentasikan isi cerita berdasarkan catatan tabulasi dan
           diskusi sebagai bahan diskusi
        o Masing-masing siswa menentukan tema cerita yang disimak berdasarkan
           catatan tabulasinya.
        o Siswa menjelaskan amanat cerita yang disimaknya.
        o Menuliskan kembali isi cerita dengan menggunakan bahasa sendiri



13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007        49
     C. Kegiatan Akhir
        o Mengerjakan LKS
               Mengisi tabulasi pemahaman menyimak cerita
               Menuliskan ringkasan dari cerita yang didengarkan
               Menjawab pertanyaan cerita yang disimak
               Bersama-sama menyimpulkan isi cerita yang disimak

VI. Metode/Sumber Belajar
       A. Metode
          Tanya jawab, diskusi, penugasan

       B. Sumber Belajar
          Teks, Bina Bahasa Indonesia, SKKD

VII. Penilaian/ teknik tes:
       • Tulisan
       • Lisan
       • Perbuatan




                                                                              Jakarta,   2007
     Mengetahui




     Kepala Sekolah                                                            Guru




13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007                     50
     Lampiran Materi

A.     Teks Bacaan



                                                   L      U     N      A      S




      Ayah Aldi saeorang pedagang es mambo. Ibunya seoran pembuat kue. Berberapa
  bulan terakhir ini, ayah Aldi beralih menjadi penjual kue karena musim hujan mulai tiba.
  Kue dijajakan dari satu kampung ke kampung lainnya dengan gerobak dorong.
        Aldi dan kakaknya, Biko, bertugas membersihkan gerobak dan menata kue dalam
  gerobak. Beberapa hari ini tugas Biko mulai ringan karena Aldi sudah mau membantu. Hal
  itu tentu saja membuat Biko gembira.
       Biko pun mulai bertingkah. Ia mengurangi tugasnya dengan berpura-pura sibuk di
  belakang rumah. Sekarang gilranmu, Di. Sudah lama aku bekerja sendiri. Aku juga ingin
  seperti kamu dulu,” demikian alasan Biko.
        Pagi itu ayah mereka ingin siap pergi berjualan lebih pagi. Akan tetapi, kue belum
  selelai ditata. Tampak Aldi sedang bekerja sendirian.
          “Mana Biko?” tanya ayahnya.
          Aldi menunjuk ke arah belakang tanpa bicara. Ia takut terdengar kakaknya.
          “Biko, kemari!” ayahnya memanggil.
          “Saya sedang menyelesaikan PR, Yah,” katab Biko mengelak.
        “Nak, kamu jangan mau enaknya saja. Aldi belum begitu terampil menata kue ini.
  Kredit kita di bank memang sudah lunas. Tapi kita tetap harus meningkatkan semangat
  kerja. Karena biaya sekolahmu dari kue ini, Nak” nasihat ayahnya.
       Biko tampak tercenung. Segera kue-kue itu ditatanya. Bersamaan dengan itu sebuah
  mobil bak terbuka berhenti. Seorang ibu turun dan berkata, “Pak, kuenya tak perlu dibawa.
  Saya mau borong semuanya. Sekarang hitunglah harganya!”
      “Harga semuanya, seratus lima puluh ribu rupiah, Bu!” kata ayah. Biko dan Aldi
  mengangkut kue ke atas mobil.
        Pembeli pergi. Wajah ayah, Biko dan Aldi tampak gembira. Ayah kembali memberi
  nasihat bahwa kue buatan ibu mereka mulai dikenal orang. Pembeli harus dilayani dengan
  baik, mutu kue harus ditingkatkan, dan kebersihannya harus dijaga.
       Mendengar nasihat ayahnya, Biko dan Aldi sepakat akan membantu usaha orangtua
  mereka.




13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007           51
    Lampiran Materi

   B. Tabel Nama Tokoh dan Watak Tokoh Cerita – 1


        No          Nama                Sifat/Watak                              Kalimat Pendukung
                    Tokoh
         1




         2




         3




         4




         5




   C. Tabel Latar Waktu/Tempat


                  Latar Waktu/Tempat                                          Kalimat Pendukung
        Tempat
        Waktu




13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007                          52
                                                                                   SILABUS

Mata Pelajaran                : Ilmu Pengetahuan Sosial
Kelas/Semester                : IV / 2


Standar Kompetensi: 2. Mengenal sumber daya alam, kegiatan ekonomi, dan kemajuan teknologi di lingkungan kabupaten/kota dan provinsi

     Kompetensi                                                        Materi                                   Fasilitas                    Alokasi    Sumber
                                        Indikator                                 Kegiatan Pembelajaran       Pembelajaran     Penilaian
       Dasar                                                           Pokok                                                                 Waktu      Belajar

 2.3 Mengenal                • Menjelaskan                          Alat           Menjelaskan yang           • Modelling    Teknik Tes:     2 x 35    Standar Isi
     perkembangan              perkembangan alat                    komunikasi     dimaksud dengan alat                      • Tulisan       menit     BinaBahasa
                               komunikasi secara                                                              • Prompting
     teknologi                                                      tradisioanl    komunikasi tradisional                    • Lisan                   Indonesia
     produksi,                 ringkas                              dan            dan modern                                                          Kelas 6,
                                                                                                                             • Kinerja
     komunikasi,             • Menjelaskan manfaat                  modern         Mendeskripsikan jenis-                                              Erlangga
     dan                       alat komunikasi                                     jenis alat komunikasi                     Bentuk                    Buku-buku
     transportasi            • Menyebutkan alat-alat                               tradisional dan modern                                              yang relevan,
                                                                                                                               Pilihan
     serta                     teknologi komunikasi                                Mendeskripsikan ciri-                                               majalah,
                                                                                                                               Ganda
     pengalaman                tradisional dan modern                              ciri alat-alat teknologi                                            koran
                                                                                                                               Isian/Essay
     menggunakan                                                                   komunikasi tradisional
                             • Membedakan ciri-ciri
     nya                                                                           dan modern                                Instrumen
                               alat komunikasi
                                                                                   Membandingkan 2 jenis
                               tradisional dan modern
                                                                                   perbedaan alat-alat                       • Daftar
                             • Menjelaskan cara kerja                                                                           Tugas
                                                                                   teknologi komunikasi
                               alat-alat komunikasi
                                                                                   tradisional dan modern.                   • Daftar
                               tradisional dan modern                                                                           Pertanyaan
                                                                                   Menyimpulkan manfaat
                                                                                   penggunaan alat
                                                                                   komunikasi




13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007                             53
             RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
                                       (untuk setting klasikal-inklusif)

Mata Pelajaran                : IPS
Kelas / Semester              : IV / 2
Waktu                         : 2 x 35 menit


I.     Standar Kompetensi
       Mengenal sumber daya alam, kegiatan ekonomi, dan kemajuan teknologi di
       lingkungan kabupaten/kota dan provinsi

II.    Kompetensi Dasar
       Mengenal perkembangan teknologi produksi, komunikasi, dan transportasi serta
       pengalaman menggunakannya

III. Indikator
     • Menjelaskan perkembangan alat komunikasi secara ringkas
     • Menjelaskan manfaat alat komunikasi
     • Menyebutkan alat-alat teknologi komunikasi tradisional dan modern
     • Membedakan ciri-ciri alat komunikasi tradisional dan modern
     • Menjelaskan cara kerja alat-alat komunikasi tradisional dan modern


IV. Materi Pokok
    Alat komunikasi tradisional dan modern

V.     Langkah Pembelajaran
       A. Kegiatan Awal
          1. Beberapa siswa mencoba berkomunikasi jarak jauh dengan tanpa
             menggunakan alat
          2. Siswa berkomunikasi dengan menggunakan alat
       B. Kegiatan Inti
          1. Siswa dan guru mendiskusikan tentang kegiatan yang dilakukan saat kegiatan
             awal
          2. Siswa dengan bimbingan guru menyimpulkan manfaat penggunaan alat
             komunikasi
          3. Siswa menyimak dan mencatat penjelasan guru mengenai jenis-jenis alat
             komunikasi tradisional dan modern
          4. Siswa mendeskripsikan mengenai jenis-jenis alat komunikasi tradisional dan
             modern pada format mind map yang disediakan
          5. Siswa mengamati tayangan tentang perkembangan alat komunikasi dari taraf
             tradisional sampai modern
          6. Siswa menyimak penjelasan tambahan dari guru mengenai perkembangan
             alat komunikasi tradisional sampai modern
          7. Siswa menuliskan/mengisi jenis alat komunikasi modern atau tradisional ke
             dalam format mind map yang disediakan

13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007          54
            8. Siswa berdiskusi tentang cara kerja masing-masing alat komunikasi
            9. Siswa menuliskan cara kerja masing-masing alat komunikasi dalam tabel
                yang disediakan
            10. Siswa berdiskusi tentang ciri-ciri alat komunikasi tradisional/modern
            11. Siswa menuliskan ciri-ciri masing-masing alat komunikasi tradisional dan
                modern dalam table yang disediakan
            12. Siswa menampilkan hasil diskusi dan catatannya mengenai perbedaan jenis
                alat komunikasi tradisional/modern (ciri, manfaat).

       C. Kegiatan Akhir
          1. Siswa dan guru menyimpulkan pembelajaran tentang alat komunikasi
             tradisional dan modern
          2. Siswa menyimak tambahan penjelasan guru tentang jenis, ciri, manfaat alat
             komunikasi.

VI. Fasilitasi Pembelajaran bagi Peserta Didik yang Berkesulitan Belajar
     1. Modelling
     2. Prompt ing


VII. Metode/Sumber
     A. Metode
        Tanya jawab, diskusi, penugasan tabulasi, mindmapping

       B. Sumber Belajar
          Teks, gambar, contoh alat komunikasi, CD tentang perkembangan alat
          komunikasi, LKS

VIII. Penilaian
      • Kinerja
      • Tertulis




13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007           55
                                                     MIND MAP



     Tradisional

                                                                              Arti
                               Jenis


    Modern                                                Alat
                                                        Komunikasi

                                                                                     Manfaat




TABULASI


                                                Jenis/Ciri/Manfaat

                      Jenis                                         Ciri/Bentuk                Manfaat
                           Surat                     Tertulis
                           Kentongan                 Bambu
     Tradisional
                           …………..
                           …………..
                           Telegraf                  Tertulis/elektronik
                           Surat kabar               Tertulis/non elektronik
                           Radio                     Suara/elektronik
       Modern              Telepon                   Suara/elektronik
                           Televisi                  Gambar/gerak/suara/elektronik
                           …………..




13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007                              56
Kasus I:

                 Langkah penyusunan Program Pembelajaran Individu (PPI):

                                               DESKRIPSI KASUS

Iwan adalah anak laki-laki berusia 7 tahun 7 bulan yang duduk di kelas 1 SD. Di kelasnya
ada 43 siswa dengan satu orang guru. Saat ini Iwan telah mengenal beberapa huruf yang
sering digunakan sehari-hari. Sementara untuk huruf-huruf yang jarang digunakan seperti
X, V, F, Iwan masih mengalami kesulitan untuk menggunakannya.

Ketika diminta membaca, Iwan dapat membaca kata-kata yang terdiri dari dua suku kata,
dengan pola KV-KV. Untuk pola-pola yang lain, apalagi yang menggunakan huruf
sengau, Iwan mengalami kesulitan. Ketika menemukan huruf konsonan rangkap, Iwan
juga mengalami kesulitan. Biasanya ia menghilangkan salah satu hurufnya. Misalnya,
”empat” jadi ”epat”, ”tanda” jadi ”tada”.

Secara umum Iwan masih bisa bercakap-cakap dengan orang lain. Hanya saja apabila
diperhatikan secara lebih seksama, struktur bahasa yang digunakannya kurang baik karena
tidak mengikuti kaidah bahasa yang seharusnya.

Dengan kondisi Iwan saat ini, tampaknya ia perlu pembelajaran yang individual. Oleh
karena itu perlu disusun Program Pembelajaran Individual. Program ini dapat dilihat pada
bagian selanjutnya.




13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007           57
                                                                PROGRAM PEMBELAJARAN INDIVIDU (PPI)

    Nama                               : Iwan                                                              Kelas/Semester            :I/1
    Tanggal Lahir                      : Bandung, 10 April 2000                                            Tahun Pembelajaran        : 2006-2007
    Usia                               : 7 Tahun 7 bulan                                                   Jenis Kesulitan           : Kesulitan Menulis
    Orang tua/Wali                     : __________________
    Profesi Orang tua/Wali             :

             Deskripsi                                             Tujuan                                                                    Pelaksana
                                                                                           Strategi                 Media       Evaluasi                  PJ
         (Kondisi saat ini)                          Pendek        Panjang                                                                  Wkt Target
Kemampuan :                                      1. dapat      1. dapat           1. mengenalkan beberapa         1. gambar     1. anak    2X        2 - guru
1. mengenal huruf                                   melafalkan    melafalkan         benda/gambar                 2. benda      disuruh    seming Bula - orang
2. memahami penjelasan lisan                        kata yang     kata dengan     2. suruh anak untuk                nyata      mengucap   gu        n   Tua
3. bisa melafalkan dan                              mengandung    benar dalam        mengulangi ucapan guru       3. kartu      kan nama               - terapi
   menuliskan kata yang                             konsonan      kalimat         3. menuliskan nama benda           huruf      gambar
   mempunyai 2 suku kata                            rangkap       sederhan           tersebut
Kesulitan:                                       2.            2. dapat           4. menyuruh anak untuk
1. bicara yang tidak terstrukutur                   ampu          menuliskan         melihat huruf-huruf yang
2. melafalkan kata-kata dalam                       menuliskan    kata-kata          ada dalam tulisan
   kalimat                                          kata yang     serta           5. menyuruh anak untuk
3. kekurangan dalam menuliskan                      diucapkan     merangkaika        menuliskannya dengan
   huruf di tengah dan akhir                                      nnya dalam         sistem suku kata
   seperti huruf empat (epat),                                    dalam suatu     6. menyuruh anak untuk
   tujuh (tuju) …                                                 kalimat baik       mengucapkan sebelum
4. sulit untuk menuliskan yang                                    tulisan            menuliskannya
   mengandung konsonan                                            maupun lisan    7. apabila ada kesalahan
   rangkap                                                                           anak disuruh untuk tetap
                                                                                     mengucapkan/
                                                                                     membunyikan kata/suku
                                                                                     kata



    13 Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007                       58
Kasus II:

                 Langkah penyusunan Program Pembelajaran Individu (PPI):


                                              DESKRIPSI KASUS

Hani adalah anak perempuan berusia 11 tahun yang duduk di kelas 5 SD. Di kelasnya ada
40 siswa dengan satu orang guru. Saat ini Hani sudah dapat menjumlah dan mengurang
bilangan bulat positif. Hani juga dapat menjumlah bilangan negatif dengan negatif.

Hani dapat menjumlah bilangan negatif dengan negatif, tetapi Hani menemui kesulitan
ketika diminta menjumlah bilangan bulat yang berbeda, yaitu pada saat menjumlah
bilangan bulat positif dengan negatif dan menjumlah bilangan bulat negatif dengan positif.
Bulat negatif dengan positif, dan mengurang bilangan negatif dengan negatif, Hani
mengalami kendala.

Dengan kondisi Hani saat ini, tampaknya ia perlu pembelajaran yang individual. Oleh
karena itu perlu disusun Program Pembelajaran Individual. Program ini dapat dilihat pada
bagian selanjutnya.




Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007                59
                                                            PROGRAM PEMBELAJARAN INDIVIDU (PPI)
                                                               MATA PELAJARAN : MATEMATIKA

            Nama                                : Hani                           Kelas/Semester                : V/1
            Tanggal Lahir                       :                                Tahun Pembelajaran            : 2006/2007
            Usia                                : 11 Tahun                       Jenis Kesulitan               : Kesulitan Berhitung (Penjumlahan dan
                                                                                                                pengurangan bilangan bulat)
            Orang tua/Wali                      : Sri                            Profesi Orang tua/Wali        : Karyawan


       Deskripsi                                        Tujuan                                                                                           Pelaksana
No.                                                                                     Strategi                 Media          Evaluasi
   (Kondisi saat ini)                    Pendek                      Panjang                                                                    Wkt        Target      PJ
A. Kemampuan :                                                           Pembukaan                        1.   Remote         1. Anak disuruh    2x          2x    1. Guru
   1. Menjumlah dan             1. Dapat menjumlah 1. Dapat               1. Guru memperlihatkan               Control AC        menjumlah    seminggu    semingg 2. Orang
      mengurang                    bilangan bulat         menjumlah          remout control AC dan        2.   Buku              atau                         u       Tua
      bilangan bulat               negatif dengan         bilangan bulat     tanya jawab                       Tabungan &        mengurang
      positif                      positif dan negatif    dengan bantuan     kegunaannya.                      pinjaman          dg bantuan
   2. Menjumlah                    dengan positif         alat            2. Guru memperlihatkan          3.   Garis             kempyeng
      bilangan bulat               yang masih                                buku tabungan dan                 bilangan       2. Anak disuruh
      negatif dengan               sederhana dengan 2. Dapat                 pinjaman dari koperasi       4.   “Kempyeng”,       menjumlah
      negatif                      bantuan kempyeng       mengurang          kemudian tanya jawab              tutup botol yg    atau
                                                          bilangan bulat     makna menabung dan                sdh ditulis       mengurang
B. Kesulitan                    2. Dapat mengurang        dengan bantuan     meminjam.                         “+” atau “-“      tanpa
   1. Menjumlah                    bilangan bulat         alat                                                                   bantuan
      bilangan bulat               negatif dengan                        Kegiatan inti                                           kempyeng
      positif dengan               positif, negatif    3. Dapat           3. Guru membuat garis
      negatif                      dengan positif, dan    menjumlah dan      bilangan yang memuat
   2. Menjumlah                    negative dengan        mengurang          bilangan negatif dan
      bilangan bulat               negative yang          bilangan bulat     positif secara horizontal
      negatif dengan               masih sederhana        tanpa bantuan      atau vertikal.
      positif                      dengan bantuan         alat            4. Tanya jawab makna
   3. Mengurang                    kempyeng.                                 bilangan pada garis
      bilangan bulat                                                         bilangan tersebut
      positif dengan                                                      5. Memperkenalkan

      Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007                            60
    negatif                                                                   “kempyeng”, yakni bekas
 4. Mengurang                                                                 tutup botol yang sudah
    bilangan bulat                                                            ditulisi tanda + / -
    negatif dengan                                                            sebagai alat bantu
    positif                                                                   menghitung
5. Mengurang                                                                  penjumlahan.
    bilangan bulat                                                         6. Guru memberikan contoh
    negatif dengan                                                            menjumlah bilangan
    negatif                                                                   positif dengan potitif,
                                                                              negatif dengan negative
                                                                              yang sederhana dengan
                                                                              bantuan kempyeng.
                                                                           7. Siswa menjumlah
                                                                              bilangan spt contoh guru.
                                                                           8. Guru memberikan contoh
                                                                              menjumlah bilangan
                                                                              positif dengan negatif,
                                                                              negatif dengan positif
                                                                              yang sederhana dengan
                                                                              bantuan kempyeng
                                                                           9. Siswa menjumlah
                                                                              bilangan spt contoh guru.
                                                                           10. Guru memberikan
                                                                               contoh mengurang
                                                                               bilangan positif dengan
                                                                               positif, negatif dengan
                                                                               negative yang sederhana
                                                                               dengan bantuan
                                                                               kempyeng.
                                                                           11. Siswa mengurang
                                                                               bilangan spt contoh
                                                                               guru.
                                                                           12. Guru memberikan
                                                                               contoh mengurang
                                                                               bilangan positif dengan

Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007                                  61
                                                                                   negatif, negatif dengan
                                                                                   positif yang sederhana
                                                                                   dengan bantuan
                                                                                   kempyeng
                                                                               13. Siswa mengurang
                                                                                   bilangan spt contoh
                                                                                   guru.
                                                                               14. Menjumlah bilangan
                                                                                   bulat sederhana tanpa
                                                                                   bantuan kempyeng.
                                                                               15. Mengurang bilangan
                                                                                   bulat sederhana tanpa
                                                                                   bantuan kempyeng.




                                                                                                                  Jakarta, ………..
Mengetahui
Kepala SD ……                                                                                                      Guru Bidang Studi Matematika




…………………                                                                                                           …………………….
NIP. ...........                                                                                                  NIP. ………………




    Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007                                 62
                                                     LEMBAR KERJA SISWA
                                         PENJUMLAHAN BILANGAN BULAT DENGAN KEMPYENG
                                                           KELAS V-1
                                                        SEKOLAH DASAR

Konsep yang ditanamkan:

     Terdapat 2 jenis model, yang satu mewakili bilangan positif dan yang lain bilangan negatif.




     Bila bilangan positif dipasangkan dengan bilangan negatif, berapapun jumlahnya pasangan itu, maka nilainya nol.



                              =0




Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007                63
 A. LATIHAN DASAR


     •                                                                       =4



     •                                             `                         = (-3)




     •                                                                       =0




     •                                                                       =?


     Siswa diarahkan untuk diskusi hingga menemukan jawaban sebagai berikut:


                                                             Sama dengan :



                                                   = (-1 ), karena yang berpasangan nilainya nol.



Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007                            64
 B. PENJUMLAHAN



                3 + 2         =                                                 =5




                -3 + (-4) =                                                     = -7




                4 + (-5) =                                                      = -1




                -4 + 6        =                                                 =2




Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007   65
 C. PENGURANGAN


          •    4 - 3          =                                                 =1



          •    -5 - (-3) =                                                      = -2



 D. PENGURANGAN (Jika yang diambil kurang atau tidak ada)



          •    3 - (-4)       =                                                 =7




          •    -4 - 2         =                                                 = -6




          •    3 - 5          =                                                 = -2




Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007   66
 E. LATIHAN
      Latihan 1
      Selesaikalah soal-soal penjumlahan berikut ini dengan bantuan ”kempyeng”!
      Gambarkan hasilnya dibawah ini!
                a)     3+6            =                                    f)   9 + (-7)    =
                b)     5+6            =                                    g) 10 + (-6)     =
                c)     -4 + (-3)      =                                    h) -7 + 10       =
                d)     -3 + (-5)      =                                    i)   -10 + 8     =
                e)     5 + (-9)       =                                    j)   -9 + 6      =


           Latihan 2
           Selesaikalah soal-soal pengurangan berikut ini dengan bantuan ”kempyeng”!
           Gambarkan hasilnya dibawah ini!
               a) 8 - 3       =                     f) 8 - (-9)   =
                b)     3-7            =                                    g) 9 - (-6)      =
                c)     -8 - (-6)      =                                    h) -10 - 10      =
                d)     -3 - (-10) =                                        i)   -10 - 7     =
                e)     -9 - (-9)      =                                    j)   -9 - 5      =


          Latihan 3
           Selesaikalah soal-soal penjumlahan berikut ini tanpa bantaun ”kempyeng”!
                a)     4+7            =                                    f)   10 + (-3)   =
                b)     3+7            =                                    g) 9 + (-6)      =
                c)     -5 + (-4)      =                                    h) -8 + 9        =
                d)     -7 + (-4)      =                                    i)   -10 + 8     =
                e)     5 + (-10) =                                         j)   -9 + 7      =


           Latihan 4
           Selesaikalah soal-soal pengurangan berikut ini tanpa bantuan ”kempyeng”!
               a) 4 - 7        =                        f) 5 - (-7)     =
                b)     10 - 5         =                                    g) 10 - (-4)     =
                c)     -7 - (-4)      =                                    h) -9 - 9        =
                d)     -4 - (-9)      =                                    i)   -9 - 5      =
                e)     -10 - (-8) =                                        j)   -10 - 4     =




Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007                        67
                                                                           KUNCI JAWABAN LATIHAN

    Jawaban latihan 1


     a) 3 + 6 =                                                                                    =9



     b) 5 + 6 =                                                                                    = 11



     c) -4 + (-3)             =                                                                    = -7



     d) -3 + (-5)             =                                                                    = -8



     e) 5 + (-9)              =                                                                    = -4



     f) 9 + (-7) =                                                                                 =2




     g) 10 + (-6) =                                                                                =4


Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007                      68
     h) -7 + 10 =                                                               =3



     i) -10 + 8 =                                                               = -2




     j) -9 + 6 =                                                                = -3




     Jawaban Latihan 2

      a) 8 - 3      =                                                           =5



      b) 3 - 7      =                                                           =6




      c) -8 - (-6)            =                                                        = -2

Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007   69
      d) -3 - (-10)           =                                                 =7




      e) -9 - (-9)            =                                                 =0




      f) 8 - (-9) =                                                             = 17




      g) 9 - (-6) =                                                             = 15




Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007   70
      h) -10 - 10             =                                                 = -20




      i) -10 - 7 =                                                              = -17




      j) -9 - 5 =                                                               = -14




Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007   71
                                    Jawaban Latihan 3                                 Jawaban Latihan 4


                   a)    4 + 7 = 11                                        a) 4 - 7   = -3
                   b)    3 + 7 = 10                                        b) 10 - 5 = 5
                   c)    -5 + (-4)            = -9                         c) -7 - (-4)       = -3
                   d)    -7 + (-4)            = -11                        d) -4 - (-9)       =5
                   e)    5 + (-10)            = -5                         e) -10 - (-8)      = -2
                   f)    10 + (-3)            =7                           f) 5 - (-7) = 12
                   g)    9 + (-6)             =3                           g) 10 - (-4)       = 14
                   h)    -8 + 9 = 1                                        h) -9 - 9 = -18
                   i)    -10 + 8 = -2                                      i) -9 - 5 = -14
                   j)    -9 + 7 = -2                                       j) -10 - 4 = -14




Model Kurikulum bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar-2007                             72

								
To top