KB yang cocok untuk ibu menyusui by embagus

VIEWS: 6,640 PAGES: 4

More Info
									Nakita -- Panduan Tumbuh Kembang Balita                                                                                                            Page 1 of 4




                                                                Redaksi              Dari Kami          Tokoh & Buah Hati           Kesehatan
                                                               Problema         Menyambut Si Kecil            Dunia Bayi              Gaya
                                                                 Menu               Dunia Batita           Dunia Prasekolah      Konsultasi Ahli
                                                               Teropong                 Tips               Surat Ayah Ibu           Chatting
                                                                                    Topik Lepas               Klinik Ibu




                                                                KB APA SIH YANG COCOK BAGI IBU
                                                                           MENYUSUI
                                                          Yang jelas jangan gunakan alat kontrasepsi yang menghambat produksi ASI.


                                                          S etelah menjalani proses persalinan yang
                                                          cukup melelahkan, selanjutnya ibu memasuki
                                                          masa nifas selama sekitar 40 hari. Usai masa
                                                          nifas, biasanya siklus menstruasi mulai normal
                                                          kembali yang artinya ibu sudah bisa hamil
                                                          kembali. Nah, agar tidak terjadi hamil
                                                          "sundulan" atau hamil lagi sementara anak
                                                          sebelumnya masih bayi, ibu perlu memakai
                                                          kontrasepsi. Masalahnya, sebagian alat
                                                          kontrasepsi akan mengganggu proses produksi
                                                          ASI yang sedang sangat dibutuhkan oleh bayi.
                                                          Kalau begitu kontrasepsi apa saja yang cocok?

                                                          KONTRASEPSI ALAMI

                                                          Untuk bisa mendapatkan kontrasepsi alami, ibu dianjurkan menyusui secara
                                                          eksklusif. Pada saat menyusui, tubuh ibu memproduksi hormon prolaktin.
                                                          Sementara secara timbal balik, kadar hormon ini menjadi tinggi untuk bisa tetap
                                                          merangsang produksi ASI. Nah, sebagai efek sampingannya, peningkatan hormon
                                                          prolaktin menyebabkan ovulasi tidak terjadi sehingga menstruasi pun jadi tertunda.

                                                          Pada saat menyusui ini, tubuh ibu tak mampu menghasilkan sel telur yang matang.
                                                          Jadi meskipun sel sperma berhasil masuk, sel telur yang ada tidak siap untuk
                                                          dibuahi. Alhasil, kehamilan pun tidak terjadi.

                                                          Boleh dibilang, menyusui bayi dengan ASI eksklusif merupakan salah satu metode
                                                          ber-KB alami. Dalam istilah umum disebut kontrasepsi alami atau dalam bahasa
                                                          medis disebut LAM (Lactation Amenorrhoe Methode). Memang, efek kontrasepsi dari
                                                          menyusui ini berbeda-beda masanya. Ada yang kembali haid setelah satu bulan
                                                          berhenti menyusui. Namun, ada juga yang harus menunggu berbulan -bulan



http://www.tabloid-nakita.com/artikel.php3?edisi=06306&rubrik=kecil                                                                                  6/2/2007
Nakita -- Panduan Tumbuh Kembang Balita                                                                                                        Page 2 of 4



                                                          lamanya sampai akhirnya haid juga. Namun begitu, pada beberapa kasus ada ibu
                                                          menyusui yang "kecolongan". Jadi haid yang tak kunjung muncul itu bisa saja
                                                          karena ibu telah hamil lagi.

                                                          Kesimpulannya, efek kontrasepsi dengan menyusui tak dapat diandalkan seratus
                                                          persen. Ada beberapa persyaratan yang mesti dipenuhi: selain harus memberikan
                                                          ASI ekslusif tanpa ditambah apa pun, bahkan setetes air, syarat lainnya ibu belum
                                                          mendapatkan haid setelah melahirkan.

                                                          Jika syarat tersebut tak terpenuhi, tentunya menyusui tak dapat diandalkan sebagai
                                                          kontrasepsi alami. "Apalagi kalau bayi sudah mendapat makanan tambahan (berarti
                                                          bayi menyusu lebih sedikit), maka metode kontrasepsi alami tak berfungsi dengan
                                                          baik. Hormon yang memproduksi ASI pun mulai berkurang. Akhirnya masa
                                                          kesuburan pun kembali pulih," papar dr. Judi Januadi Endjun, Sp.OG., dari
                                                          subbagian Fetomaternal Departeman Obstetri dan Ginekologi FK UPN Veteran serta
                                                          RSPAD Gatot Subroto. Ia menambahkan, "Umumnya enam bulan setelah
                                                          melahirkan para ibu sudah kembali haid. Kenapa? karena pada saat itu ibu sudah
                                                          tak memberikan ASI eksklusif lagi."

                                                          KONTRASEPSI HORMONAL

                                                          Memang cukup banyak alat kontrasepsi yang bisa digunakan untuk mencegah atau
                                                          menunda kehamilan. Khusus bagi ibu menyusui, KB hormonal yang digunakan
                                                          berupa hormon progesteron. Sedangkan, kontrasepsi hormonal berupa kombinasi
                                                          progesteron dan estrogen dilarang digunakan. Perlu diketahui, hormon estrogen
                                                          dapat mengganggu produksi ASI.

                                                          Ada beberapa fungsi dari hormon progesteron, di antaranya mencegah pengeluaran
                                                          sel telur dari indung telur, mengganggu bertemunya sperma dan sel telur karena sel
                                                          telur jadi bergerak lambat, mengentalkan cairan di leher rahim sehingga sulit
                                                          ditembus sperma, dan membuat lapisan dalam rahim menjadi tipis sehingga tak
                                                          layak menjadi tempat bertumbuh hasil konsepsi.

                                                          Kontrasepsi progesteron untuk ibu menyusui ini tersedia dalam bentuk:

                                                          1. Pil

                                                          Pil progesteron harus dikonsumsi setiap hari. Alat kontrasepsi ini cukup banyak
                                                          digunakan para ibu menyusui. Kandungan progesteronnya tidak menekan produksi
                                                          hormon prolaktin sehingga produksi ASI bisa tetap banyak. Namun, waspadai pula
                                                          efek samping yang mungkin terjadi. Misalnya, berat badan bertambah, muncul rasa
                                                          mual, pusing bahkan muntah, dan bercak di kulit wajah seperti vlek hitam.
                                                          Kemudian, kaki dan tangan jadi sering kram, liang sanggama kering, perdarahan
                                                          dari vagina yang tidak teratur, haid tak kunjung datang, dan dapat pula
                                                          mengganggu fungsi hati dan ginjal.

                                                          2. Suntikan

                                                          Penyuntikan dilakukan setiap tiga bulan. Tidak memengaruhi jumlah maupun
                                                          kualitas ASI. Efektif mencegah kehamilan sampai tiba waktunya disuntik kembali.
                                                          Umumnya, kegagalan terjadi karena lupa atau ketidakpatuhan ibu terhadap jadwal
                                                          penyuntikan. Dampak yang mesti diperhatikan adalah meningkatnya berat badan,




http://www.tabloid-nakita.com/artikel.php3?edisi=06306&rubrik=kecil                                                                              6/2/2007
Nakita -- Panduan Tumbuh Kembang Balita                                                                                                         Page 3 of 4



                                                          perdarahan tak teratur dan haid tak datang bahkan selama berbulan-bulan.

                                                          MENGATASI EFEK BURUK

                                                          Menurut Judi, sebelum memilih alat kontrasepsi hormonal, hal penting yang harus
                                                          diperhatikan adalah bahwa kondisi fisik ibu harus sehat. Kemudian, tak boleh ada
                                                          gangguan hati dan sebagainya. Pasalnya, hormon ini akan diproses di hati.
                                                          "Makanya, bagi ibu yang mempunyai gangguan fungsi hati tak boleh menggu-nakan
                                                          KB hormonal."

                                                          Kemudian, ibu sebaiknya berkonsultasi dengan dokter bila mengalami keluhan.
                                                          Biasanya sebelum menggunakan alat kontrasepsi, ibu diberi informasi tentang efek
                                                          samping yang mungkin muncul. Dengan begitu ibu sudah tahu sebelum akhirnya
                                                          memilih sarana ini. Diharapkan ibu tak mengalami kekhawatiran berlebihan di
                                                          kemudian hari jika mengalami efek samping tersebut. "Lagi pula, efek yang terjadi
                                                          umumnya bersifat sementara. Apalagi setiap ibu mungkin mengalami gejala atau
                                                          dampak yang berlainan."

                                                          ALAT KONTRASEPSI IUD (INTRA UTERINE DEVICE)

                                                          Selain menggunakan alat kontrasepsi pil dan suntik, ibu menyusui juga dapat
                                                          menggunakan IUD atau AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim). Alat kontrasepsi
                                                          jenis ini takkan mempengaruhi isi, kadar, maupun kelancaran ASI. Penelitian
                                                          menunjukkan alat kontrasepsi ini sangat efektif dalam mencegah kehamilan. Sekali
                                                          dipakai bisa untuk selama 4-5 tahun. Setelah itu harus diganti dengan yang baru.

                                                          IUD ditempatkan setinggi mungkin dalam rongga rahim. Waktu pemasangan yang
                                                          paling baik adalah 40 hari setelah persalinan. Alasannya, pada saat itu mulut rahim
                                                          masih terbuka dan rahim dalam keadaan lunak. Pemeriksaan secara berkala harus
                                                          dilakukan setelah pemasangan satu minggu. Kemudian, pemeriksaan setiap bulan
                                                          selama tiga bulan berikutnya. Pemeriksaan selanjutnya dilakukan setiap enam bulan
                                                          sekali.

                                                          Efek samping yang biasa muncul adalah terjadinya sedikit perdarahan yang kadang
                                                          disertai mulas-mulas yang biasanya berlangsung tiga hari. Jika perdarahan
                                                          berlangsung terus-menerus dan dalam jumlah banyak, pemakaian IUD harus
                                                          dihentikan. Efek lainnya yang mungkin saja muncul adalah siklus haid terganggu,
                                                          muncul keputihan, dan terjadi infeksi selama pemakaian IUD. Infeksi terjadi karena
                                                          kurangnya pemeliharaan kebersihan dan jarang kontrol ke dokter kandungan.

                                                          Dampak berikutnya yang mungkin terjadi lainnya adalah kejang rahim ( uterine
                                                          cramp), serta rasa tidak enak pada perut bagian bawah. Hal ini karena terjadi
                                                          kontraksi rahim sebagai reaksi terhadap IUD yang merupakan benda asing dalam
                                                          rahim. Akan tetapi, dengan pemberian obat analgetik keluhan ini bisa segera
                                                          teratasi.

                                                          Nah Ibu, silakan pilih alat kontrasepsi yang paling sosok dan nyaman.


                                                              HIPERPROLAKTINEMIA ATAU BUKAN?
                                                          Secara alamiah, dalam tubuh ibu menyusui terjadi peningkatan kadar hormon




http://www.tabloid-nakita.com/artikel.php3?edisi=06306&rubrik=kecil                                                                               6/2/2007
Nakita -- Panduan Tumbuh Kembang Balita                                                                                                      Page 4 of 4


                                                          prolaktin. Peningkatan terus terjadi jika ibu kemudian menggunakan alat
                                                          kontrasepsi hormonal. Namun, peningkatan prolaktin pada ibu menyusui tak disebut
                                                          sebagai hiperprolaktinemia atau kelebihan hiperprolaktin, karena meningkatnya
                                                          prolaktin itu untuk mempertahankan kelangsungan proses menyusui. Itu hal yang
                                                          wajar terjadi," kata Judi.

                                                          Secara ilmiah, ada dua hormon yang saling bekerja sama pada ibu menyusui yaitu
                                                          prolaktin dan oksitosin. Prolaktin bertugas merangsang pembentukkan ASI.
                                                          Sedangkan oksitosin merangsang pengeluaran ASI. Kedua hormon tersebut
                                                          memang meningkat saat ibu menyusui. "Jadi sekali lagi pada ibu menyusui hal ini
                                                          tak bisa disebut hiperprolaktin. Kondisi itu terjadi pada orang dengan angka
                                                          prolaktin di atas rata-rata."

                                                          Hilman Hilmansyah. Foto: Iman/nakita



                                                         Menyambut Si Kecil edisi: Nomor 419 Tahun IX




http://www.tabloid-nakita.com/artikel.php3?edisi=06306&rubrik=kecil                                                                            6/2/2007

								
To top