Docstoc

Kisah Tragedi 12 Mei 1998 ver Mahasiswa Demonstran

Document Sample
Kisah Tragedi 12 Mei 1998 ver Mahasiswa Demonstran Powered By Docstoc
					“Kisahku di balik tragedi kami”
11 tahun yang lalu, darah pahlawan muda menetes di tanah.

11 tahun yang lalu, tembakan membabibuta memberhangus harapannya.

11 tahun sudah, kami yang ditinggalkan, berjuang melawan pahitnya

ingatan.
Sinopsis Buku
Buku ini berkisah tentang catatan kesaksian seorang mahasiswa demonstran bernama
San-san / Lay Ming San, saat dia harus berada di sejumlah kejadian bersejarah di
Indonesia dari tahun 1998-2000. Seperti : Tragedi Trisakti, Kerusuhan Mei‟98,
pendudukan gedung MPR/DPR oleh mahasiswa, Tragedi Semanggi I dan Tragedi
Semanggi II. Kisahnya antara lain seperti:
Bagaimana saat menyaksikan dari dekat kerusuhan hari pertama tgl 13 Mei 1998?
Bagaimana dia mendapatkan kiriman surat kaleng berisi ancaman agar tidak mengikuti
Rapat Akbar di Monas 20 Mei 1998?
Bagaimana bisa dia bersama kawannya yang bernama Yopie menyadap chanel HT
milik aparat?
Bagaimana kejadian yang mencekam saat mahasiswa dikepung dan diusir aparat dari
gedung MPR/DPR pada tanggal 22 Mei 1998?
Bagaimana saat melihat mayat pahlawan reformasi yang gugur di Semanggi I dan
peluru seperti apa yang telah membunuh para mahasiswa itu?
Bagaimana cerita terjadinya bentrokan pertama di fly over Taman Ria Senayan?
Seperti apa Tragedi Semanggi II di kampus Unika Atmajaya?
Mengapa saat itu ada yang mengirim dua mobil pick up berisi bom molotov ke Unika
Atmajaya?
Mengapa dia yang anti kekerasan dan penakut bisa berpikiran membuat bom molotov
ala ambon?
Seperti apa rasanya dia dan temannya Patrik saat melihat te mbakan sniper yang hanya 1
meter di depan langkahnya?
Seperti apa terkena ledakan gas air mata oleh aparat di Semanggi II?
Bagaimana dia harus merasakan pahitnya ditangkap dan dipenjara dua kali karena
berdemonstrasi tanpa ijin?
Buku ini juga menceritakan seperti apa pergerakan organisasi mahasiswa saat itu
seperti FKSMJ, Famred dan Forkot.
Buku ini pun dilengkapi oleh foto-foto kejadian tersebut diatas.

Selamat Membaca.
San-san
DAFTAR ISI

Bab I     Catatan kesaksianku “Tragedi Trisakti dan Kerusuhan Mei 1998”

Bab II    Catatan kesaksianku “Tragedi Semanggi I”

Bab III    Catatan kesaksianku ”Bentrokan di Taman Ria Senayan”

Bab IV     Catatan kesaksianku ”Aku dan kawan-kawan dipenjara”

Bab V      Catatan kesaksianku “Bubarkan Golkar dan aku ditangkap lagi”

Bab VI     Catatan khusus “Elemen Aksi Mahasiswa”

Bab VII Catatan kesaksianku “Tragedi Semanggi II”

Bab VIII Kronologi Catatan Reformasi tahun 1998-1999

Bab IX     Catatan khusus “Mengenang Penculikan para aktivis Prode m”

Bab X      Catatan Akhirku dan Pesan Moral Kawan-kawan Famred

Bab XI      SUMBER INSPIRASIKU
BAB I

Catatan kesaksianku “Tragedi Trisakti dan Ke rus uhan Mei 1998”



Padamu negeri… aku datang hanya untuk dihabisi…
Padamu negeri…aku datang hanya untuk dizolimi…
Padamu negeri…haus nyawa telah membutakan hati…
Bagimu negeri…masih adakah nurani…
Di balik dua kelopak mataku,
Kering kumenangis, Hambar kutertawa,
Akankah masih kupercaya??
Setelah Kau biarkan itu semua terjadi…
Dimanakah keadilan? Beritahu aku…
Haramkah bila kami memohonkan itu?
Dalam Sunyi lidahku bernyanyi…suara sumbangku yang sedih.




Selasa 12 Mei 1998…
      Catatanku, sudah terlalu banyak jumlahnya penderitaan rakyat. Sudah terlalu
lama penguasa yang memakai cara-cara kekerasan dalam memimpin negaranya, ada di
bangku „tahta‟. Terlalu banyak darah menetes, selalu tanpa pengadilan. Seaka n patung
dewi keadilan yang ditutup matanya adalah symbol keadilan yang tak lagi bisa melihat
di Negara ini.
Aku masih kuliah, walau cuti 2 semester, di UKRIDA Tanjung Duren. Kuliah sambil
bekerja untuk menambah pengalaman dan uang jajanku. Aku sering berdiskusi dengan
papaku, tentang apa saja perkembangan politik. Papaku memang seorang yang
perhatian terhadap setiap perkembangan politik, hukum dan ekonomi di dunia.
Mungkin salah satu dari 4 anak lelaki papa, hanya aku yang menurunkan kebiasaan
papa tersebut. Pernah aku bilang sama papa, bahwa aku ingin ikut berdemontrasi
dengan kawan-kawan di kampusku Ukrida, akan tetapi papa tidak menyetujuinya,
karena aku seorang keturunan Cina, uratnya dagang, bukan politik. Aku akhirnya
menjelaskan pada papa, dan sedikit membahas kondisi ekonomi dan politik yang ada
pada saat itu. Aku juga setiap hari mengikuti berita demonstrasi mahasiswa di TV, dan
anak kampusku pun kayaknya harus ikut bergerak. Beberapa kampus mulai bentrok
dengan aparat. Setiap hari berita yang tersaji adalah mahasiswa dan rakyat berjuang
melawan „penjajahan‟ penguasa Orde Baru yang melarang mereka berdemonstrasi.
Hampir setiap hari, ada saja mahasiswa yang terluka akibat bentrokan tersebut. Karena
mereka mau demonstrasi keluar kampusnya untuk memperjuangkan nasib rakyatnya
kok dilarang. Semua serba dihadapi aparat dengan represif, dengan pentungan dan
tembakan. Harga sembako yang sangat tinggi, U$ Dollar pun menembus angka
Rp17.000/U$. Kantor kita saja sedang colaps, karena berhutang pada bank dalam
bentuk U$ Dollar.Sepertinya ini sudah mendekati puncak dari kemarahan mahasiswa
dan rakyatnya. Dan kurasa (feeling), semua kampus akan mengadakan perjuangan yang
akbar tidak lama lagi. Sehingga gesekan yang panas akan sangat mungkin terjadi.
Apalagi “Eyang Soeharto” terpilih lagi pada tanggal 10 Maret 1998 yang lalu untuk ke
tujuh kalinya menjadi Presiden di negeri ini. Sungguh komedi di dalam MPR/DPR.
Karena dua partai terpilih ditambah satu golongan karya, kembali memilih kakek yang
sudah 32 tahun menjadi raja di negeri ini yang banyak hutangnya kepada IMF.
Kapitalis terlalu menggurita. Kesempatan selalu ada buat yang kaya.
      Beberapa kawan sempat bertanya padaku, apakah Indonesia ini akan menjadi
milik para konglomerat Cina? Itulah taktik „adu dombanya‟ rezim Orde Baru. Disatu
sisi kami dikenai diskriminasi, bahkan untuk urus KTP (Kartu Tanda Penduduk) saja
kami dipersulit. Hidup dengan stigma negatif “Non Pribumi” yang berlaku seperti
stempel di tubuh kami, seakan-akan rasa nasionalis kami dipertanyakan. Sudah tentu
pintu masuk untuk menjadi pegawai negeri yang dianggap nasionalis juga akan
tertutup. Akhirnya kami hanya diberi ruang untuk berdagang. Itu pun kami menjadi
„Sapi Perahan‟ oknum-oknum aparat pemerintahan. Kami dirantai dengan SKBRI.
Dipaksa berganti nama dengan nama yang sesuai dengan negeri ini. Kami selalu dalam
posisi yang „lemah tak berdaya‟ dan siap menjadi „mangsa‟. Dimana ada kerusuhan,
pastinya rumah Cina yang terbakar. Banyak diantara kami yang mencoba bermain mata
dengan oknum aparat hanya untuk minta perlindungan dan menakuti oknum yang
lainnya. Hal itu sangat lumrah dan manusiawi sekali bila orang mencoba bertahan
hidup di negeri ini. Karenanya sering aku melihat banyak stiker, kalender atau foto
yang „berbau‟ militer atau kepolisian di banyak rumah orang keturunan Cina. Intinya
tetap sama saja. Diperas oknum yang satu untuk menghindari perasan dari oknum yang
lainnya. Sangat ironis bila dibayangkan orang keturunan Cina di negeri ini.
      Penguasa Orde Baru melakukan „taktik adu domba‟ terhadap sesama orang
keturunan Cina. Sebagian besar dari orang keturunan Cina dipersulit hidupnya,
sementara segelintir dari kami diberi fasilitas oleh negara, „dipelihara‟ keberadaannya
dan usahanya diberi akses yang luar biasa. Muncul kemudian „Konglomerasi‟ yang
terdiri dari orang keturunan Cina yang memiliki begitu banyak usaha, selalu pakai baju
„batik‟ dan selalu terlihat dekat dengan penguasa Orde Baru, yakni Soeharto. Diantara
dari mereka adalah : Lim Sioe Liong / Sudono Salim (Sa lim Group), Oei Ek Tjong /
Eka Tjipta Widjaja (Sinar Mas Group), The Kian Seng / Mohammad „Bob‟ Hassan
(Nusamba), Go Ka Him / Suhargo Gondo Kusumo (Dharmala Group), Gho Swie Kie
(Gunung Sewu), Lie Wen Tjen / Mochtar Riady (Lippo Group), Tjie Siem Hoan /
Ir.Ciputra (Ciputra Group), The Nien King (Argo Manunggal), Liem Tjoen Ho /
Sjamsul Nursalim (Gajah Tunggal / BDNI), Phang Djun Phen / Prayogo Pangestu
(Barito Pacific), Tan Tjoe Hien / Hendra Rahardja (Bank Harapan Sentosa), Liem Bian
Koen / Sofjan Wanandi (Gemala), Rauw Jauw Oe / Usman Atmadja (Danamon), Ho
Sioe Khioen / Samadikun Hartono (Modern Group) dan lain- lainnya. Aku tidak
menyebut para konglomerat ini sebagai pengkhianat keturunan Cina. Mereka ini
memang sengaja „diciptakan‟ oleh Orde Baru dan bukan berarti lepas dari judul “Sapi
Perahan” yang lebih „gemuk‟. Lengkaplah sudah nasib kami di negeri ini. Mulai dari
masyarakat keturunan Cina yang kecil „diperah‟ oleh oknum yang kecil sampai dengan
masyarakat keturunan Cina yang besar diperah oleh oknum yang besar.
        Taktik adu domba juga dilakukan antara orang keturunan Cina dengan
keturunan lainnya yang hidup di negeri ini. Tersebutlah istilah „pribumi‟ dan „non
pribumi‟. Adu domba ini menyebar mulai dari tingkatan paling atas, yakni dikalangan
pengusaha antara konglomerat Cina dengan pengusaha Pribumi, sampai tingkatan
warga biasa. Konglomerat Cina bisa terlihat bidang usahanya dimana- mana,
ditayangkan pula di media cetak dan elektronik, yang telah menebar „benih-benih‟
kecemburuan sosial yang melekat dikalangan masyarakat menengah ke bawah. Benih
itu yang tanpa disadari oleh para konglomerat Cina akan menjadi „siap panen‟ suatu
saat nanti.
       Walaupun aku seorang keturunan Cina, akan tetapi aku pun tidak suka bila
diskriminasi terlalu terlihat nyata. Aku seorang nasionalis sejati, Indonesia tanah airku.
Di hatiku ada rasa sosial yang sangat kental, yang mengharuskan aku perduli dengan
sesama. Tetapi papaku tetap tidak mengijinkannya. “Nanti mati ditembak
aparat”.katanya.
“Papa, kalau aku ditakdirkan mati, gak perlu saat demonstrasi, ketika jalan kaki
ditrotoar pun bisa saja ditabrak mobil dan mati”. Jawabku.
       Biarlah aku menjadi contoh buat masyarakat keturunan Cina lainnya bahwa
orang Cina harus perduli dengan kondisi negeri ini dan tidak „takut‟ menghadapi segala
resiko yang akan datang mengancam. Biarlah Cina yang satu ini, bisa dilihat oleh
masyarakat Indonesia, bahwa ada juga orang Cina yang ikut pula berjuang „turun ke
jalan‟ bersama-sama yang lainnya. Semoga tabir eksklusif yang selalu dituduhkan
orang terhadap orang keturunan Cina akan segera hancur. Aku yakin, bahwa aku
bukanlah satu-satunya orang Cina yang akan ikut demonstrasi dengan mahasiswa
lainnya.
       Orang tuaku belum tahu,ketika setiap aku pergi bekerja di salah satu kantor
finance di daerah Mangga Besar, aku selalu pergi ke kampus. Yang ada dalam hatiku
adalah semangatku menjadi lebih keras lagi. Jaket almamater dan handuk, selalu ada
terselip diantara berkas kontrak kredit mobil dalam tas kerjaku. Dalam hatiku tetap
berkata “aku harus memanaskan kampusku, mendesak para petinggi mahasiswanya,
karena mereka kelihatan santai dan sama sekali tidak mau ikut dalam perjuangan”.
Dengan tekad bulat itulah, aku pun memacu motorku dengan sedikit cepat dan sekitar
jam 11 siang, aku berangkat ke kampusku tercinta, Ukrida. Dan langsung pergi ke
lantai 6 dikantor SMPT (Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi). dan kebetulan disana aku
bertemu dengan Ketua SMPT(Sonny L Kapito), Wakil SMPT (George Marteyes) &
Sekum (Erik). (Red : SMPT sekarang disebut BEM singkatan dari Badan Eksekutif
Mahasiswa) . (Red : Erik sendiri nantinya akan bergabung ke TRK singkatan dari Team
Relawan untuk Kemanusiaan pimpinan Romo Sandyawan).
Aku mencoba mendesak mereka, agar UKRIDA ikut serta dalam demonstrasi
menurunkan harga sembako. Mengapa? Pertama, malu dong, masa kampus yang lain
sudah bergerak membela rakyat kok kita belum apa-apa. Kedua, apa mau dikirimin
celana dalam dan BH kayak di kampus yang lain??
       Sekedar info, memang waktu itu ada kabar beberapa kampus yang tidak ik ut
demonstrasi menentang kenaikan harga sembako, konon akan dikirimi, entah dari
mana, celana dalam wanita dan BH, lengkap dengan tulisan yang kira-kira
mengatakan bahwa kita banci. Konyol, lucu dan bikin panas hati. Hehehe.
       Memang kalau soal gejolak politik, adrenalinku selalu tersengat. Akhirnya kami
bergosip politik di ruang SMPT sampai ke kantin kampus. Sekitar jam 12 siang ada
selentingan kabar, di kampus tetangga (USAKTI / Trisakti) sudah mulai turun ke jalan.
Bagiku itu hal yang sangat mengejutkan, karena sudah tersiar, setiap demonstrasi
mahasiswa tidak boleh keluar dari wilayah kampus. Kami segera kembali lagi ke lantai
6, dan masuk kesatu kelas untuk mengintip dari jendela, and then… ternyata bener lho,
para mahasiswa Trisakti keluar dari kampus, walaupun mereka hanya sampai kantor
walikota Jak-Bar saja, tetapi itu bisa memicu bentrokan dengan aparat keamanan.
Karena disetiap berita yang ku baca di Koran, bentrokan pasti terjadi apabila
mahasiswa berusaha berdemonstrasi keluar dari kampusnya.
       Sampai dengan sekitar jam 5, tidak terlalu jelas apa yang terjadi, tiba-tiba
terdengar letusan, banyak asap dan anak Trisakti berhamburan kembali ke kampusnya,
dan aku lihat ada beberapa yang terjatuh di jalanan jaket almamater birunya terlihat
jelas, dan chaos pun terjadi. Setelah kembali ke dalam kampus, mahasiswa Trisakti
masih pula ditembaki.
Kami langsung berlarian menuju ke lantai bawah untuk melihat lebih jelas lagi. Akan
tetapi tak terlihat apapun .. suasana mencekam…suara tembakan tak juga
berhenti…karena kami takut…kami tak tau apa saja yang terjadi saat itu…kami terlalu
jauh…oh Tuhan..apa yang harus kami lakukan…
Malam itu kami sepakat untuk cari berita atau info apapun, untuk besok pagi kumpul di
kantor SMPT….
       Sesampainya di rumah, aku pun diinterogasi sama orang tuaku. Ternyata, berita
di TV lebih cepat sampai ke rumahku. Aku bilang pada mereka, aku tidak mengerti dan
tidak lihat apa-apa saat ke kampus. Soalnya hari ini tidak main ke kampus. “Kan kerja
pa..” jawabku untuk menghilangkan kecurigaan mereka. Yaa besok aku harus bolos
kerja lagi nih. Hehehe…demi adrenalin politik , ya harus rela berkorban. Tetapi ada
yang aneh dengan berita di TV. Mengapa yang diberitakan berbeda-beda. ada stasiun
TV yang mengatakan dua orang yang gugur, ada yang bilang lima belas. Aku pun
sampai bingung. Waktu itu belum banyak beredar dan sanggup beli yang namanya hand
phone. Yang aku punya hanyalah “pager” berbentuk kotak yang bunyinya bip..bip..bip.
bagaimana mau cari berita kemana- mana.hehehe




   In memoriam “Tragedi Trisakti” (12 Mei 1998)

       Alm.Elang Mulya Lesmana
       Mahasiswa Trisakti (Tehnik Arsitektur 96) , Jakarta

       Alm.Hafidin Royan
       Mahasiswa Trisakti (Tehnik Sipil 95) , Jakarta

       Alm.Hendriawan Sie
       Mahasiswa Trisakti (Manajemen 96) , Jakarta
       Alm.Hery Hartanto
       Mahasiswa Trisakti (Tehnik Mesin 95), Jakarta
Sumber foto Tatan Sy ufana/AP                            Sumber Foto Professor Barry N. Stein Michigan State University USA




Sumber Courtessy film Tragedi Trisa kti da n Sema nggi
Sumber Courtessy film Tragedi Trisa kti da n Sema nggi




Sumber foto Julian Siho mbing,Ko mpas                    Sumber fotohttp://www.indonesiamedia.co m/2008/5/EARLY/opini/TTRAGEDI.htm
Sumber Courtessy film Tragedi Trisa kti da n Sema nggi




Sumber Foto Professor Barry N. Stein Michigan State University USA
Sumber Foto Mosista Pambudi




Pemakaman Pahlawan Reformasi
Sumber foto Imam B / Jotaro




Saat mengenang 9 tahun Tragedi berdarah Trisakti
Inilah cuplikan email-email yang tampil di internet Apakabar@clark.net setelah Tragedi
Trisakti terjadi. Aku hanya menampilkan 4 saja, karena yang lainnya terdapat tulisan
agak „keras‟ .



To: Apakabar@clark.net
Date: Wed, 13 May 1998 08:35:10 -0700
Subject: SELAMAT JALAN USIA MUDA......
From: menanti@juno.com (Kaktus Vores)
INNALILLAHI WAINNA LILLAHI ROJIUN
Selamat jalan Pahlawan Reformasi, Selamat jalan anak-anak kami
Selamat jalan adik-adik kami, Selamat jalan kakak-kakak kami
Selamat jalan kekasih, Selamat jalan kawan
Selamat jalan usia muda……Pergilah dengan tenang
Doa kami seluruh bangsa menyertaimu
Dalam perjalanan kembali keharibaanNya.
Perjuangan dan pengorbananmu tidak akan sia-sia,
Ceceran darah telah kering, Air matapun telah terkuras,
Tinggal semangat yang berkobar-kobar untuk melanjutkan perjuangan
Demokrasi atau mati.


Wassalam
            PERHIMPUNAN PELAJAR INDONESIA DI JERMAN
      VEREINIGUNG INDONESISCHER STUDENTEN IN DEUTSCHLAND e.V
            INDONESIAN STUDENTS UNION IN GERMANY
----------------------------------------------------------------------


Kepada Yth, P E N G U R U S P U S A T
                              HAUPTVORST AND




                              Berlin, 13 Mei 1998
Sejalan dengan kepergian rekan-rekan mahasiswa Trisakti yang telah
menjadi korban oleh kebengisan peluru senjata dalam aksi mahasiswa
Hari Selasa di Jakarta, kami segenap mahasiswa Indonesia di Jerman,
yang tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia di Jerman,
menyampaikan rasa belasungkawa sedalam-dalamnya. Semoga arwahnya
diterima disisi Tuhan.



Hormat kami,
A.n Pengurus Pusat 97-98
Iwan Setiabudi Deddy Priadi
(KETUA )(S EK UM )
Date: Wed, 13 May 1998 02:32:54 -0700 (PDT)
From: Mahasiswa Indonesia <mahasiswa_canberra@yahoo.com>
Subject: Press release
To: apakabar@clark.net


PRESS RELEASE
AKSI DAN PERNYATAAN MAHASISWA INDONESIA DI CANBERRA, AUSTRALIA
Atas terjadinya tragedi berdarah di Universitas Trisakti Jakarta pada
hari Selasa, 12 Mei 1998,
Kami Mahasiswa Indonesia di Canberra,
1. Menyatakan rasa turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas
wafatnya 4 mahasiswa Universitas Trisakti di Jakarta tanggal 12
Mei 1998.
2. Mengutuk pembunuhan terhadap 4 orang mahasiswa Universitas
Trisakti oleh aparat keamanan di Jakarta tanggal 12 Mei 1998.
3. Menuntut pertanggungjawaban Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata
Republik Indonesia, Jend. Purn. Soeharto atas te rjadinya pembunuhan
tersebut.
Canberra, 13 Mei 1998
Mahasiswa Indonesia di Canberra, Australia
To: apakabar@clark.net
Date: Tue, 12 May 1998 18:03:21 -0700
From: "Komite Aksi Unpad" <kam-unpad@mailexcite.com>
Subject: DUKA CITA UNTUK KAWAN-KAWAN
DUKA CITA UNTUK KAWAN-KAWAN TRISAKTI
Kawan-kawan mahasiswa,
Petani-petani yang masih tak layak hidupnya,
Buruh-buruh yang masih tertindas,
Seluruh rakyat Indonesia yang tercinta...
Empat orang tunas bangsa ini telah terenggut oleh kebiadaban. Duka cita
yang mendalam bagi kita semua bahwa korban kezaliman rezim ini harus
bertambah. Kita tidak pernah menginginkan ada banyak korban. Duka cita ini
hendaknya memompa energi kita untuk lebi h menekankan pentingnya
reformasi. Penanganan militer apapun alasannya yang menimbulkan kematian
dalam sebuah demonstrasi menunjukkan negara ini telah benar-benar salah
urus. Dalam negara yang diurus dengan baik tidak akan ada penembakan dalam
proses penyampaian aspirasi baik di dalam kampus maupun di muka umum.
Kita tidak cukup hanya berduka, walaupun itu yang paling mungkin
dilakukan. Kita tidak cukup hanya mengutuk kekerasan. Kita tak cukup hanya
menyesalinya. Tidak cukup dengan pasrah kepada Tuhan. Maka datanglah dan
sampaikanlah aspirasi. Nyatakan bahwa ini semua harus diakhiri.


KOMITE AKSI MAHASISWA UNIVERSITAS PADJADJARAN
(KAM-Unpad)
Rabu, 13 Mei 1998…
“Airmata para ibu…darah para anak…nyawa para mahasiswa…
Menuntutlah kepada siapa, yang bukan Pencipta, tetapi mengaku kuasa…
mengaku ksatria…mengaku pembela.
Jika kau masih mampu berteriak, maka teriaklah…selama suaramu ada.
Jika kau hanya sanggup menangispun tak apa.
Biarkanlah batu nisan anakmulah yang akan membelamu ibu.
Basahnya tanah makam anakmulah yang akan mewakilimu berteriak di
telinga dan di dalam pikiran mereka yang gila dan haus darah.
Sampai mereka takkan ulangi hasrat jahanamnya itu”.




       Jam 9 pagi aku sudah tiba di kampusku, lengkap dengan pakaian ala kampus
dan jaket almamater birunya UKRIDA. Aku lihat beberapa teman-teman ada yang
menggelar kain hitam panjang. “Wah pasti buat spanduk nih”.pikirku. Yaa sudah aku
bantu-bantu sebentar disana. Tulisan warna putih “Turut Berduka Cita atas gugurnya
mahasiswa Trisakti” tertera di kain hitam, sangat mengharukan. Setelah siap, kami
sekitar 50 orang berangkat jalan kaki ke Kampus Trisakti (soalnya dekat) untuk berbe la
sungkawa. Sampai disana penjagaan sangat ketat, siapapun yang tidak membawa kartu
mahasiswa dilarang masuk. Terlihat mahasiswa dengan jaket almamater biru tua,
dengan raut muka kurang tidur, dan beberapa ada yang pake kacamata hitam, mungkin
buat menutupi air mata dan kesedihan mereka tadi malam.


Mata temanku…
yang tersisa hanyalah sorot garang, penuh kemarahan yang siap
tertumpah…
Meledak kepada siapapun yang mengganggu…
Serta mungkin sejuta pertanyaan yang berulang…
Apa salah kawan kami?
Mereka berteriak atas nama perut rakyatnya yang lapar…
Yang juga rakyatmu, bukan?
Dan harus kau ambil nyawanyakah?
       Saat tiba di dalam wilayah kampus, aku pun sempat berkeliling dan termangu
ketika melihat bercak darah yang telah mengering di antara taburan bunga, di lantai
gedung Syarif Thayeb, dan juga lubang pada kaca gedung yang melengkapi bukti fisik
aksi penembakan kemarin, sangat nyata terlihat. Sekitar jam 11 siang, kondisi mulai
terasa sesak, di kampus yang sedang berduka, sudah penuh dengan mahasiswa dari
berbagai kampus. Tiba-tiba ada segerombolan massa dengan memakai baju koko dan
berpeci, memaksa ingin masuk untuk menghormati terakhir kalinya para “Pahlawan
Reformasi” tersebut. Tentu saja kawan-kawan Trisakti menolak mereka, dengan alasan
mereka tidak punya kartu mahasiswa, dan mereka tidak dikenal… rupanya kawan2
Trisakti takut, ada intel yang masuk ke kampus mereka. Sempat terjadi ketegangan.
Akhirnya mereka bisa dihalau.. mereka kemudian sepertinya melaksanakan sholat goib
di jalanan sekitar S.Parman. merekapun berteriak-teriak ke arah mahasiswa agar ikut
keluar turun ke jalan bersama dengan mereka untuk demonstrasi ke DPR. Mereka pun
memprovokasi dengan teriakan “mahasiswa pengecut”. Terus mereka sempat melempar
batu yang dibalas oleh kawan-kawan yang ada di dalam kampus.
       Sekitar jam 13.00, tak tahu datang dari mana, begitu banyak massa didepan
kampus arah Jalan Kyai Tapa..termasuk beberapa diantaranya memakai seragam
sekolah SMP dan SMA. Tiba-tiba ada sebuah truk tanah berwarna kuning, dicegat oleh
anak yang berseragam SMA. Cukup dekat ketika aku menyaksikan peristiwa tersebut,
melihat aksi perampasan mobil itu, walaupun aku masih berada dalam area kampus.
Tiba-tiba mobil rampasan tadi ditabrakan ke Pom Bensin dekat terminal Grogol. Massa
bersorak…Polisi datang menghalau mereka, langsung dilawan mereka dengan
melemparkan batu dan berteriak “pembunuh…pembunuh…pembunuh” berulang kali.
Wah,…. ini bisa jadi provokasi atau penyulut api kawan-kawan yang berada di dalam
kampus. Benar saja dugaanku, terutama kawan-kawan Trisakti, ketika mereka melihat
“si baju cokelat”, mereka pun mulai mengamuk, mencaci maki, berteriak-teriak
“Weiii….anjing lo..Pembunuh…Pembunuh…Pembunuh” berkali-kali ada. Buat aku,
itu adalah hal yang sangat wajar. Kawan mereka dibunuh begitu saja, dan yang
membunuh sudah berani muncul di depan muka mereka. Sungguh sakti sekali kan?
Dari arah atas fly over arah depan Mal Ciputra, sudah tiba sekitar 8 brigade motor
mengacungkan senapannya, siap membidik mahasiswa… “oh Tuhan… bisa terjadi lagi
nih”.pikirku. Dan kali ini korbannya bisa saja berasal dari berbagai kampus yang
kebetulan sedang berada di Trisakti. Aku dan beberapa kawan-kawan serentak mundur
dan mulai menjauh dari pagar kampus dan sebagian yang wanita disuruh berlindung di
belakang gedung… apa yang terjadi??… kawan-kawan Trisakti benar-benar sudah tak
peduli dengan nyawa mereka lagi. Mereka mencoba menantang Polisi dengan keluar
dari pintu kampus yang ada didekat kampus Untar. Mereka pun mulai melempari Polisi
itu dengan batu. Melihat keberanian kawan-kawan Trisakti tersebut, barulah kawan-
kawan dari kampus yang lain juga mulai berani dan ikut melempar. Ajaibnya…Polisi
itu kabur dari atas fly over Jl.Kyai Tapa.
       Aku akhirnya penasaran, dan dengan nyaliku yang tinggal sedikit… kucoba
keluar dari pintu kampus yang sama. Ternyata disana sudah ada pula kawan-kawan
berjaket merah hati dari Untar. Ternyata…mereka sama emosionalnya dengan anak2
Trisakti. Sekilas sempat ku tanya pada beberapa dari mereka “Kenape lo pada emosi
begitu sih?”. Jawaban mereka “kalo lo jadi gue…liat anak Trisakti di depan mata lo
ditembakin dan dipukulin dan dibunuh, apa yang lo rasa saat ini?” baru aku menyadari,
bahwa kampus mereka yang bersebelahan dengan TKP, mengakibatkan mereka dapat
dengan jelas melihat apa yang terjadi kemarin. “trus kenape lo ga ikutan demo
kemarin?” Tanyaku lagi. “Soalnya anak Trisakti bilang, ini demo internal mereka, ga
ada yang boleh ikut. Gue dan kawan-kawan Untar juga ikut nyambitin waktu aparat itu
nembak, makanya ada sebagian peluru ikut masuk ke kampus Untar.” Ujarnya lagi
Tiba-tiba kawannya yang memegang teropong teriak-teriak sambil menunjuk-nunjuk ke
arah mal Ciputra. “Ada sniper di atas mal, ini kayak kemarin
settingannya”....”manaaa?”....”itu dekat tulisan Lee”…(maksudnya Billboard
bertuliskan Lee Cooper).
Memang aku melihat samara-samar, sekitar 2-3 orang berbaju hitam, topi hitam, di
atas Mal Ciputra, dan tak jelas mereka sedang apa dan apakah mereka itu sniper atau
bukan. Tapi kawan Untar itu yakin dengan pengelihatannya, karena dia memegang
teropong yang standard seperti kepunyaan tentara. Kata-kata dia “…kayak kemarin
settingannya…” apakah kawan Untar tersebut juga melihat ada kesamaan antara 12 Mei
kemarin dengan saat ini? Aku tidak mengerti dan mencoba untuk waspada saja. Kalau
benar itu sniper, lebih baik aku masuk ke dalam kampus saja. Mau itu sniper atau orang
iseng main layangan di atas mal Ciputra, aku tak ambil pusing. Lebih baik pikirkan cara
pulang ke kampus Ukrida.
       Setelah itu, sekitar jam 2 siang, terdengar teriakan dari dalam kampus, “Polisi
datang..siap-siap..” “Oh Tuhan, ngapain lagi sih tuh orang-orang”.pikirku. dan tanpa
dikomando lagi , aku pun langsung terbirit-birit masuk ke kampus sambil mencari-cari
orang dengan warna jaket almamater kampusku disekitar mahasiswa yang sebagian
panik berlarian dan sebagian lagi sibuk memunguti batu. Ketika aku bertemu beberapa
kawan, aku ajak mereka untuk pergi dari “Hot Spot” Trisakti, dan memikirkan jalan
keluarnya dari mana saja yang memungkinkan kita keluar dari sini. Kemungkinan besar
akan chaos lagi. Benar saja dugaanku, Polisi yang dilempari batu oleh mahasiswa,
mulai menembakan gas air mata dan peluru (entah yang karet panas atau yang timah
panas). “trattatatattatat…duuuar”. Aku sudah tak perduli dengan keadaan di sini. Lebih
baik menyelamatkan diri.
“Gue dapet akal, gimana kalo kita manjat dinding Trisakti dan naik atap asbes Untar,
trus cabut dari belakang kantin Untar dan kabur ke Jl.Tawakal, baru lewat jalan tikus
dan balik ke kampus.” Ujarku. Ya sudah, kami semua berlarian ke arah tembok.
Sesampainya disana, ternyata sudah ramai mahasiswa yang sedang antri memanjat
tangga di tembok tersebut. Hehehe
       Akhirnya kami pun bisa lolos dari situasi tersebut, dan balik ke kampus.
Ternyata kawan-kawan yang lainnya sudah tiba juga di kampus. Kita pun saling
bercerita pengalaman masing- masing saat kabur dari kampus Trisakti. Sekitar jam
18.00, aku pamit pulang dengan kawan –kawan SMPT. Tak lupa mereka bilang, “San,
besok datang lagi pagi-pagi. Jangan lupa lo bawa baju ganti dan alat mandi”. Yang
kujawab dengan “lo pikir gue mau tidur di Kampus apa? Rumah gue tuh deket, di
Jelambar, tinggal tiga kali melangkah juga nyampe.hehehe”. Aku mempunyai motor
Suzuki Satria warna Merah, yang baru saja aku kredit 5 bulan yang lalu. Itu motor
bebek tercanggih, kata penjualnya. “giginya aja ada 5, RX King aja giginya cuman ada
4 doang, dijamin kebut deh”. Kata salesnya. Langsung saja ku jawab begini sama
salesnya “Sombong bener tuh motor, baru punya gigi 5 aja belagu, masih kalah lo,
Kakek tetangga gue aje ga punya gigi, tapi larinya bisa kenceng kalo liat orang yang
maling mangga di rumahnye. Bisa lari ga tuh motor kalo ga punya gigi ??” hehehe
sudah dulu ketawanya. Kita kembali ke cerita lagi nih.
       Ketika aku melewati rute yang biasa ku lewati saat pulang ke rumah, di tepi kali
dekat diskotik Top One. Kala itu hari sudah gelap. Tiba-tiba terdengar bunyi
kompyang, praaang. Ternyata botol-botol bir sedang dilempar di jalan tepat di depan
diskotik Top One. beruntung saja aku pakai jaket almamater, soalnya ketika aku dicegat
sama gerombolan tak dikenal itu, ada yang bilang “Jangan diganggu. Dia kan
mahasiswa, ayo silakan lewat dik”.…fiiuuhh… nyaris aku jadi dendeng sapi . ketika
lewat Jl.daan mogot, kulihat showroom Toyota dekat Indosiar sudah dima suki massa
dan akupun bergegas pergi tidak mau melihat lagi. Mencekam sekali, apalagi ditambah
dengan gelapnya malam. yang dapat kupastikan belum ada yang terbakar. Karena tak
kulihat asap atau api membara. Hanya aksi memecahkan kaca-kaca waktu itu. walau
aku tidak berani kebut saat membawa motorku. Jadi dengan “hati berkecamuk gelisah
campur takut terkentut-kentut sampai cabut kalang kabut…busyet.. standing dan
terbang.. memangnye oemar bakri”…hehehe
       Sampai di rumah, aku diinterogasi lagi oleh orang tuaku lagi. Beruntung saja
jaket almamaterku sudah kusimpan sebelum masuk ke dalam rumah. Aku tidak bisa
tidur juga walau sudah mengantuk. Di luar rumahku sangat gaduh. Setelah kulihat
ternyata para tetanggaku sedang berkumpul. Mereka sedang menyiapkan keamanan
yang waspada 24 jam, dan mulai mendirikan posko darurat. Sialnya pos itu didirikan di
depan rumahku. “Payah.. pasti deh kena giliran jaga. Sudah siangnya kerja keras di
Trisakti, malamnya disuruh siskamling”. Keluhku dalam hati. Kalau tetangga yang lain
membawa senjata tajam seperti golok sampai clurit… aku hanya membawa rokok saja.
Soalnya kupikir buat apa juga bawa-bawa golok? memangnya bisa dihisap? hehehe
       Waktu menunjukan sekitar jam 20.00, kepalaku sedikit pusing melihat para
tetangga, orang kampung depan rumahku, yang membawa gerobak pemulung menuju
ke arah Jl.Tubagus Angke. Ternyata disana sudah mulai penjarahan. Dari kios kecil
sampai toko besar dan rumah orang. Mereka sudah seperti berbelanja di supermarket
saja yang membawa trolly. Hatiku geram saat melihat barang jarahan yang dibawa
mereka. Teganya mereka. Bahkan sempat kudengar kabar, ada sebuah toko bangunan
yang dibakar , gara-gara si empunya toko tidak mau buka pintu untuk dijarah. Ketika
pintu bisa didobrak, orang itu kabur ke lantai dua rukonya. Dan mereka sekeluarga mati
terbakar di lantai dua tersebut.
F*** you man!!! They are human being man!!!


Kamis, 14 Mei 1998…
       Aku sendiri juga bingung, kenapa aku berani berpergian pagi itu untuk ke kampus
setelah kejadian yang mencekam tadi malam. Yang jelas, aku punya pertimbangan. Yang
pertama, dugaanku polisi dan tentara pasti sudah keluar dari “sarangnya” untuk
mengamankan situasi yang ada. Kedua, rasa ingin tahuku lebih besar dari rasa takutku.
Meskipun aku kurang tidur akibat berjaga-jaga semalam,
       Sesampainya di kampusku, ternyata kawan-kawan sudah terlihat berdatangan.
Disana kami sempat berbagi cerita. Tentang apa saja yang terjadi kemarin malam yang
sangat mencekam. Ternyata hal itu belum terjadi di semua wilayah. Di dalam hati kami,
tidak ada sedikit pun keinginan bahwa kami menjadi “anak sejarah” yang ikut
menyaksikan perubahan besar yang akan terjadi terhadap negara ini, bahkan berperan
serta di dalam perubahan tersebut. Seperti juga seorang anak yang dilahirkan oleh ibunya,
anak tersebut tidak pernah meminta untuk dilahirkan. demikian juga kami. Perubahan
besar yang aku maksudkan adalah, ketika negara sudah tidak lagi menghargai suara
rakyatnya, maka perubahan besar biasanya akan terjadi. Sejarah itu seperti roda pedati,
yang akan selalu berputar dan berulang kembali. Tanda-tanda jaman sudah sangat jelas
terlihat, bahwa akan ada perubahan besar sebentar lagi.
       Ketika kira-kira jam 10 pagi, aku mendengar dari radio kecilku yang selalu
kubawa kemana-mana, dari Radio Sonora, bahwa pagi ini telah terjadi kerusuhan dan
penjarahan setidaknya di 3 daerah. Yaitu daerah Cengkareng Jakarta Barat, Glodok dan
sekitarnya serta daerah Slipi Jaya. Aku segera mengingatkan yang lainnya untuk waspada
dan jangan bepergian dulu. Karena situasi tak terkendali. Sekitar jam 12 siang, kami
mulai jenuh, karena tidak berani kemana- mana dan tidak ada sesuatu yang bisa
dikerjakan. Anehnya, walaupun seharusnya jam 12 siang itu matahari sedang terik-
teriknya (seharusnya), akan tetapi yang ada hanyalah cuaca seperti mendung. Karena
mataharinya tertutup asap kerusuhan. Begitu menyeramkan.
       Kawan-kawanku dari Fakultas kedokteran, yang rata-rata berasal dari Indonesia
bag Timur mulai „gatal‟ kakinya. Mereka itu bakat olahraganya tinggi dan selalu
kelebihan energi. Maka dimulailah permainan sepak bola. Karena kakiku gatal juga,
akupun ikut pula menendang bola. Segera kulepas bajuku dan bergabung dengan mereka.
Jadilah kami bermain bola dengan dinaungi „cendawan-cendawan‟ asap kerusuhan
disekeliling lapangan bola.
       Kira-kira sekitar jam 14.00, muncul sekelompok massa dari arah Mal Taman
Anggrek tiba di depan kampus Ukrida. Mereka terdiri dari masyarakat (seumur pemuda
25 tahun), dan para pelajar SMP dan SMA. Sekilas aku sadar…kampus kami adalah
kampus berlandaskan agama minoritas, yang kudengar dari radio, memang ada beberapa
tempat ibadahnya dibakar massa (Maaf, aku tidak ada bermaksud menyinggung SARA).
Dan benar saja, massa mulai menggedor dan menggoyang-goyangkan gerbang kampus
kami, dan memperlihatkan senjata tajam maupun tumpul dengan cara diacung-acungkan
kepada kami. Mereka juga sempat berteriak „bakar‟..‟bakar‟. Dengan spontan kita semua
berhenti bermain bola. Dan dengan sedikit panik mencoba mencari alat perlawanan
seadanya dan seketemunya. Ada batu yaa batu..ada potongan besi ya pegang saja.
Pokoknya bisa untuk bertahan hidup. Mereka berteriak “buka pintunya”. Para satpam
kampus pun mulai ciut nyalinya. Makanya kami segera menuju pintu gerbang untuk
mencoba menahan mereka sambil mencoba membujuknya supaya tidak melakukan yang
tidak kita inginkan. Kemudian terjadilah hal yang lucu. Waktu kawan-kawan Ukrida
mulai mendekati gerbang kampus, massa teriakannya sedikit melemah. Aku rasa sih,
mereka ciut juga nyalinya melihat tampang sangar / garang kawan-kawanku yang dari
Indonesia bagian Timur itu. hehehe Apalagi kawanku yang bernama Frederik. Dia itu
seorang mahasiswa fakultas kedokteran Ukrida, badannya kurus, Irian sekali
tampangnya…mana kumisan lagi. Gahar kan? Padahal kalau lagi berkumpul bersama,
kerjanya hanya bercanda dan tertawa.hihihi
Syukurnya tiba-tiba dari arah Tanjung Duren, sekelompok brigade motor Polisi,
tebakanku sih dari Polsek Tanjung Duren, mulai menembak ke arah kerumunan massa.
Mereka pun kocar-kacir. Bahkan ada orang yang tadinya dengan galak teriak “bakar”
“bakar” sekarang mohon- mohon sama kita untuk diajak masuk ke kampus, biar tidak
ditembak aparat. Kontan permintaan tersebut ditolak mentah- mentah. Yang jelas, kalau
mau masuk kampus kan harus ijin dulu, isi formulir dulu dsb, hehehe.
Hari itu aku menginap saja di kampus. Purek III, Bp.Sugeng Wahyudi, menyediakan
„penginapan gratis‟ untuk para mahasiswa yang terjebak. Malam itu aku terus memantau
perkembangan berita dari radio (yang kala itu beritanya lebih akurat dan lebih cepat).
Tetapi sekarang aku bisa tidur pulas. Karena tadi aku juga sempat menelpon (tentunya
pakai telpon koin di kampus) ke rumahku untuk menanyakan kondisi di sana,dan juga
agar orang tuaku tidak khawatir. Rumahku di Jelambar aman.


Adalah kami yang dikata orang hanya bisa berdagang.
Adalah kami yang diserukan orang tak bisa sesuaikan diri.
Adalah kami yang disangka orang tidak cinta negeri ini.
Tetapi warna hatiku juga merah dan putih.
Kenapa kami yang selalu dibedakan?
Bahkan identitas diripun ditandai.
Seakan kami tak akan diterima oleh kalian.
Karena perbedaan kelopak mata dan warna kulitkah?
Karena itukah aku tidak diperkenankan berjuang untuk negeri yang sudah
melahirkanku?
Bung, kami pun merasakan penderitaan yang sama.
Jadi aku putuskan untuk menjadi pejuang demi mereka.
Ini adalah hak diriku sebagai manusia.
Sumber Foto Maha Ekas Swasta




Sumber Foto http://jed.revolutia.info/2008_05_01_archive.html
Sumber Foto Professor Barry N. Stein Michigan State University USA




Sumber Foto http://www.peacefulindonesia.com/
Sumber Foto www.library.thinkquest.org




Sumber Foto http://202.146.4.30/index.php/read/artikel/187
Sumber Foto CNN News




Sumber Foto http://lateline.muzi.net/gallery/pfg/english/1004796.shtml?pfm=10001723
Sumber foto CHMURKI




Sumber Foto Kompas Online
Sumber Foto CNN News
Yang aku ungkapan ini bukan bertujuan menyinggung sesuatu hal yang bersifat rasis,
melainkan sebuah pengungkapan bahwa etnis kami juga turut serta membangun dan
berjuang memajukan negeri ini. Jangan musuhi etnis kami!! Semuanya jangan selalu
digeneralisasi. Perumpamaanku seperti Satu orang yang bersalah, satu kampung yang
dibunuh. Setiap suku bangsa pasti ada orang yang baik dan yang jahat. Dan jangan
sampai kita diadu domba oleh orang yang tidak bertanggung jawab, demi kepentingan
kelompoknya sendiri. Hancurkan diskriminasi!!!




Jumat, 15-17 Mei 1998
        Para tokoh-tokoh politik mulai bermunculan (maksudku berkomentar ini dan itu).
Mereka mulai memanfaatkan situasi yang ada. Seperti cendawan yang tumbuh di musim
hujan. Maklum saja, waktu musim kemarau, cendawannya dilarang tumbuh sih. Hehehe.
Dari beritanya radio kecilku, mereka sepertinya mulai mendesak Yang Mulia “daripada
Soeharto” untuk turun tahta.
        Kemudian muncul pula tokoh-tokoh seperti Emha Ainun Najib, W.S Rendra dan
Nurcholish Madjid. Jadilah mereka ke Istana beramai-ramai untuk memaksa Soeharto
turun tahta.
        Yang sangat kusayangkan adalah dua tokoh vokal yang sedang berada di dalam
tahanan politik. Mereka adalah Sri Bintang Pamungkas (dituduh berbuat makar dengan
mendirikan PUDI (Partai Uni Demokrasi Indonesia) dan memproklamirkan diri sebagai
calon presiden masa depan, katanya sudah menghina “Eyang”) dan Budiman Sudjatmiko
(Ketua PRD yang dituduh terlibat kerusuhan 27 Juli 1996, yang menimbulkan kerusuhan
meluas, dan partainya dituduh berfaham komunis). Pasti akan semakin „panas‟ dan „seru‟
bila mereka bebas di luar penjara saat ini.
        Adapula yang seperti Sarwono Kusumaatmadja, mantan Sekjen Golkar, yang
menjadi “dokter gigi” saat di wawancarai oleh Ira Koesno ketika acara Liputan 6 siang
SCTV hari Sabtu tanggal 16 Mei 1998. Beliau mengibaratkan kepemimpinan nasional
yang sekarang ini seperti orang sakit gigi yang sudah terlalu parah , jadi giginya tidak
bisa ditambal, harus dicabut giginya”. Perumpamaan yang disampaikan Sarwono, kontan
membuat panas situasi yang ada. Termasuk Peter F.Gontha, salah seorang pemegang
saham SCTV, yang langsung memberikan skorsing terhadap Ira Koesno akibat arah
pertanyaan kepada Sarwono Kusumaatmadja yang terlalu pro terhadap reformasi.
Keberanian Sarwono Kusumaatmadja membuatku salut sama beliau. Mana ada di jaman
ini, orang berani berkomentar negatif tentang “Eyang”?
       Lain lagi dengan ulahnya Amien Rais, yang berencana mengadakan „apel akbar‟
sejuta rakyat di lapangan Monas pada tanggal 20 Mei 1998, sekalian merayakan hari
kebangkitan nasional. Itu sama saja dengan gerakan „people power‟. Amien Rais
merencanakan kegiatan tersebut untuk mem‟pressure‟ pemerintahan „Eyang‟
       Setiap hari yang paling aku tunggu adalah cerita soal Prabowo. Karena sangat
membingungkan, mengapa mantunya presiden itu tidak ada manuver yang berarti untuk
melindungi mertuanya. Padahal dia itu powerfull. Kalau dia menggunakan pasukannya,
walau akan terjadi mungkin semacam perang saudara yang berdarah-darah, akan tetapi
semua musuh politik mertuanya pasti akan mundur dengan sendirinya. Apalagi saat ini
dia menjabat sebagai Pangkostrad, sebuah jabatan paling mempunyai kekuatan, sebab
Kostrad yang aku tahu adalah yang memiliki tentara terbanyak dikalangan TNI.
       Wah, pokoknya acara TV dan Koran saat ini lebih banyak berita politik dan
ekonominya daripada sinetronnya. Saat surfing di internet pun, yang kebanyakan ada
berita gossip- gossip politik. Kita pun harus telaah semua berita yang ada. Karena tidak
sedikit berita yang terkadang tidak masuk akal. Kalau aku sendiri, lebih suka berita di
internet. Karena di Koran atau di TV kurang „menyengat‟. Mungkin takut dibredel.
Semua media cetak dan elektronik terkadang diarahkan dalam sebuah „Pool‟ seperti TV
Pool. Seperti Taksi saja yang bermarkas di pool nya. Hehehe
       Sebenarnya, ada sebuah kejadian „panas‟ yang berlangsung sekitar bulan Maret
1998 yang baru lalu. Kalau tidak salah tanggal 7 Maret 1998, sebuah majalah ibukota
yang bernama D&R Edisi 29/XXI/1998, yang sampul depan majalahnya memasang
Kartu Remi „King‟ yang gambar rajanya diganti dengan dua wajah Eyang Soeharto yang
kedua wajahnya diletakkan saling terbalik pada kartu itu. Judul cover majalah tersebut
adalah “Presiden di tengah krisis”.
       Wah, sungguh berani majalah tersebut. Waktu majalah itu beredar kabar akan
dibredel, masyarakat umum, termasuk juga aku, berusaha mendapatkan edisi D&R yang
satu itu. Namun ternyata aku kurang beruntung. Karena setelah mencari seharian, tak
kudapatkan majalah yang harganya kini mencapai ratusan ribu Rupiah. Menurut berita
yang kudengar, Menpen R.Hartono yang mantan KSAD itu, langsung mengeluarkan
pernyataan bahwa meskipun majalah D&R sudah meminta maaf, namun proses hukum
sampai di pengadilan akan terus dijalankan. Tuntutannya adalah “pelecehan kepala
negara”. Sebenarnya gambar sampul depan majalah D&R tersebut bisa diartikan banyak
pengartian. Bisa saja merupakan hal yang positif, karena di dalam kartu itu, posisi „King‟
adalah nilai yang tertinggi. Akan tetapi kalau dilihat dari sisi negatif juga bisa. Kartu remi
itu kan melambangkan alat yang sering dipergunakan untuk berjudi. Sehingga akan
mempermalukan kepala negara, yang seakan menjadi „raja judi‟, atau kepala negara bisa
dipakai untuk berjudi. Lain halnya bila logo yang dipakai misalkan saja pohon beringin.
Walau sering dibilang orang „pohon angker‟, akan tetapi itukan lambang partai
politiknya. Sehingga tidak mungkin menjadi salah persepsi dan salah diartikan.

Sumber Foto www.rajasidi.multiply.com




------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Senin 18 Mei 1998
        Pagi ini, aku bangun tidur agak pagi, sekitar jam 6.30, walaupun aku belum cukup
tidurnya karena tidur beramai-ramai dengan kawan-kawan, tetap saja lebih baik kutahan
ngantuknya. Karena aku tidak biasa tidur di kampus dengan cara bergerombol dan hanya
beralaskan tikar. Tidak nyaman saja. Ketika aku bangun dari tidurku, sempat terkaget
saat melihat seperti ada bayangan seseorang dari arah jendela kelas tempatku menginap.
Tak tahunya si Yopie Kontos sedang pipis di jendela. Langsung aku lempar pakai kotak
bekas rokok. Busyet, ga ada malunya itu anak. Menclok di jendela kayak burung kakak
tua.hehehe. Suasana mencekam kemarin membuatku mudah terkejut. Oh iya, Yopie
Kontos itu , nama „kontos‟ berasal dari penyanyi tenar saat itu, Memes. Yopie bilang
“karena penyanyi itu wanita, maka namanya memes. Kalau gue kan lelaki, makanya
nama gue kontos”. Hihihi orang gila yang permanent. Aku dan kontos pernah menyadap
channel HT (Handie Talkie) nya polisi. Begini ceritanya. Di rumahku, ada bekas menara
pemancar breaker Orari kepunyaan Om ku almarhum. Tentunya saat itu sudah tidak ada
yang mempergunakannya lagi. Makanya itu tiang sekitar 4 meter, aku dan kontos bawa
berdua-duaan naik motor malam- malam ke kampus kami. Sampai di kampus, kami pun
mencuri sejumlah kabel, untuk dipasangkan ke menara pemancar, yang oleh Yopie
dibawa ke lantai 7, dan kami pasang HT di lantai dasar. HT nya pun kami pinjam dari
anak-anak pencinta alam Ukrida. Setelah itu tentunya bisa ditebak. Semua pergerakan
Polisi dan Tentara bisa kami pantau, meskipun dengan bahasa sandi me reka yang rada
sulit dipahami. Sampai aku buat coretan kata-kata yang dipakai mereka, untuk kemudian
aku artikan. Misalnya: Solo Bandung itu sama dengan standby, semut-semut itu sama
dengan mahasiswa, delapan enam itu dimengerti dsb. Bahkan nantinya sebelum kami
berangkat demonstrasi, kami pun memantau situasi lewat HT dulu, apa yang sedang
terjadi di luar sana.
        Kembali dari bangun tidur, aku pun keluar sebentar di tempat parkir, karena aku
suka metik buah chery yang ada di halaman kampus. Tiba-tiba kulihat ada amplop
berwarna putih. Jelas sekali terlihat diantara warna conblock yang abu-abu. Karena
penasaran, aku ambil dan kubaca. Isi amplop itu berupa surat yang bertuliskan, “kalau
kalian mau selamat, jangan ikut acara di Monas”. Ternyata surat kaleng yang ada dalam
amplop putih itu. Aku pun langsung lari terbirit-birit masuk ke gedung kampus karena
takut ada intel yang siap menembak. Hehehe
Isi surat kaleng itu akhirnya jadi menu sarapan pagi untuk kami semua. Mulai deh kami
berdiskusi, namanya juga mahasiswa. Dan jujur kami semua takut, apalagi Prabowo
sempat mengatakan ke TV bahwa “Jangan coba-coba mengadakan apapun namanya di
Monas” benar juga kata Prabowo itu, jangan coba-coba, buat anak sih coba-coba. Hehehe
memangnya iklan minyak kayu putih. Keputusan dari diskusi tersebut, kita akan melihat
perkembangan yang ada dan kabar terakhir dari berbagai kampus. Takutnya kejadian
„Tragedi Tiannanmen‟ di Beijing, China – bisa terulang di Monas.
Aku juga dengar kabar dari gedung MPR/DPR, ada konferensi pers ya ng digelar
Bp.Harmoko ketua MPR saat itu yang menganjurkan sebaiknya Soeharto untuk turun.
Harmoko mendapatkan julukan saat itu adalah Hari- hari Omong Kosong.hehehe lucu
sekali pernyataan itu. Sama saja telah membuat „murid menendang pantat gurunya‟.
Tidak takut kualat Harmoko itu. karena dari seorang wartawan bisa menjadi Menteri
Penerangan, bahkan kini Ketua MPR, adalah berkat daripada Soeharto.
Hari ini kudengar dari radio, kawan-kawan dari berbagai elemen Mahasiswa mulai masuk
ke gedung MPR/DPR. Jumlahnya sekitar ratusan saja. Yang kudengar adalah dari Forkot,
FKSMJ, KAMMI dan HMI. Berarti merekalah pengunjung pertama yang „menginap‟
disana.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------




Selasa 19 Mei 1998
          Akhirnya ribuan mahasiswa dari berbagai kampus dan element beserta rakyat hari
ini menyerbu gedung MPR/DPR untuk mendudukinya, dan mendesak Soeharto turun.
          Terngiang di telingaku yel- yel nya para Mahasiswa “turun-turun-turunkan harga,
turunkan harto dan keluarga” terus ada lagi yang rada kejam seperti “gantung-gantung-
gantung soeharto, gantung soeharto di taman lawang”. Lagu yang kejam. Kasihan sekali
kalau tiap hari dipaksa melihat bencong. Tidak terbayang deh.
Ada lagi yang seperti mars ABRI yang diplesetin…judulnya adalah „Uang‟ biasanya
korlap akan ambil suara dulu…”uuaaang,uuaanng”
“Uangkatan bersenjata republik Indonesia, tidak berguna, bubarkan saja,
Diganti menwa (resimen mahasiswa) ya sama saja, lebih baik diganti pramuka,
Naik bis kota ga pernah bayar, apalagi makan di warung padang, tukang perkosa istri
orang, tukang pukul mahasiswa.” Lagu ini benar-benar wujud emosi para mahasiswa
terhadap militer yang sudah semena- mena terhadap mahasiswa. Perlakuan represif militer
saat menangani aksi demonstrasi mahasiswa, sampai membuat kawan-kawan Trisakti
terbunuh, adalah hal yang tak mungkin dapat dengan mudah dilupakan oleh para
mahasiswa. Pembunuhan dibalas nyanyian, tentulah tidak sebanding artinya bukan.
Bayangkan pula para orang tua yang putranya dibunuh oleh aparat. Dan jangan dibilang
kami ini komunis. Kenyataan yang ada, para aparat bertindak terlampau represif.
Tuduhan komunis itu sudah sering aku dengar di jaman orde baru ini. Sedikit
berseberangan dengan pemerintah, pasti dicap komunis. Ini efek ketakutannya
pemerintah terhadap paham komunis, atau hanya upaya menjaga kelangsungan
„kerajaan‟nya orde baru sehingga terlalu „keras‟ menyingkirkan musuh politiknya?
Kemudian ada pula lagu “Indonesia Tanah Air Siapa”, yang memplesetkan lagu wajib
nasional “Indonesia Pusaka” itu. Seperti ini lagunya…
Indonesia tanah air siapa?
Katanya tanah air saya.
Indonesia sejak dulu kala…
Janjinya rakyat sejahtera…
Nyatanya kini ku bertanya,
Petani digusur sawahnya,
Rakyat kecil miskin dan sengsara…
Sampai akhir menutup mata”.


Miris sekali hatiku bila menyanyikan lagu itu. bahkan air mata membayang akan menetes
jatuh.
         Aku yakin sekali kalau yel- yel itu juga berperan besar dalam suatu gerakan
mahasiswa yang turun ke jalan. Long march yang begitu jauh tak akan terasa lelah bila
kita terus menyanyikan lagu- lagu diatas. Sebenarnya masih banyak lagi lagu- lagu
perjuangan mahasiswa. Kalau ditulis, mungkin bisa 3 album rekaman.hehehe
         Kembali ke Gedung MPR/DPR, Untung saat itu ada kesadaran penuh dari pa ra
mahasiswa untuk tidak secara beramai-ramai ribuan orang menaiki atap gedung kura-
kura dan tidak ada yang main bakar-bakaran. Bisa musnah gedung bersejarah itu. Setelah
itu aku ke gedung nusantara IV. Di sana sudah ada kavling-kavling yang dibatasi tali
rafia dan spanduk. Tiap lantai kavling itu kepunyaan kampus atau elemen aksi tertentu.
Pokoknya situasinya mirip seperti pengungsi atau seperti kamar kost saja. Banyak lemari
arsip yang ada disana kulihat sudah terbongkar, arsipnya sudah berserakan, kaca
lemarinya pecah, kaki bangku dan mejanya banyak yang patah-patah dsb. Suasana di sini
penuh dengan aroma „balas dendam‟nya rakyat. Arsip rapat MPR/DPR yang berserakan
dijadikan alas tidur. Biar mimpinya ketemu angota DPR kali yaa.hehehe.
         Alasan yang aku lihat, mengapa kawan-kawan sampai bersikap seperti itu, adalah
karena MPR/DPR lah, yang sudah digaji mewakili rakyat tetapi malah 5D(Datang,
Duduk, Diam, Dengkur dan Duit) serta merekalah yang telah melanggengkan kekuasaan
daripada Soeharto, sampai 32 tahun beserta kroninya menyengsarakan rakyat Indonesia.
MPR/DPR yang „mandul‟ yang hanya menjadi “Yes Boss” kepada Soeharto yang
seyogyanya menjadi mandatarisnya. Kalau mereka takut akan ancaman dan keselamatan
jiwanya, lebih baik jangan mendaftar jadi anggota MPR/DPR. Kira-kira seperti itu yang
kubaca dari sikap-sikap mereka. Setelah kampusku Ukrida dapat kavling, aku pun
kembali ke rumah untuk istirahat dan menyiapkan segala keperluan buat menginap di
Gedung Rakyat ini.


------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Rabu, 20 Mei 1998,
         Amien Rais, akhirnya hari ini membatalkan niatnya untuk demonstrasi „people
power‟ di Monas, karena beliau menyatakan kuatir akan terjadi hal- hal yang tidak
diinginkan. Memang menyeramkan kalau sampai dilaksanakan. Aku saja mendapat
kiriman „surat kaleng‟ berisi ancaman, apalagi yang mau mengadakan, Amien Rais bisa
dapat‟surat baja‟ kali yaa.hehehe. Harmoko pun kembali memanaskan suasana dengan
mendesak Soeharto untuk turun. Malah Soeharto didesak „turun tahta‟ paling lambat
tanggal 22 Mei 1998. Kalau tidak mau turun, maka MPR/DPR akan memilih lagi
Presiden yang baru. Untung aku ada di rumah, sehingga aku kebagian informasi penting
ini. Hehehe seru sekali melihat Harmoko tambah lagi murtadnya kepada „sang guru‟nya.
Mungkin dia sakit kepala juga karena kantornya „diacak-acak‟ rakyat dan mahasiswa.
Ditambah lagi hari ini, 16 menteri kabinetnya Soeharto ikut memperkeruh suasana
dengan mengundurkan diri. Pengunduran terseb ut pasti memukul telak “Eyang” dan lebih
mempresure kedudukannya.

   1. Ginandjar Kartasasmita sebagai Menko Ekuin merangkap Kepala Bappenas.
   2. Tanri Abeng sebagai Menteri Negara Pendayagunaan BUMN
   3. Theo L Sambuaga sebagai Menteri Tenaga Kerja
   4. Akbar Tanjung sebagai Menteri Negara Perumahan Rakyat dan Pemukiman.
   5. Kuntoro Mangkusubroto sebagai Menteri Pertambangan dan Energi
   6. AM Hendropriyono sebagai Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah
       hutan.
   7. Giri Suseno sebagai Menteri Perhubungan
   8. Rachmadi Bambang Sumadhijo sebagai Menteri Pekerjaan Umum
   9. Haryanto Dhanutirto sebagai Menteri Negara Pangan Hortikultura dan Obat-
       obatan.
   10. Rahardi Ramelan sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi merangkap Kepala
       BPPT.
   11. Abdul Latief sebagai Menparsenibud.
   12. Subiakto Tjarawerdaja sebagai Menteri Koperasi dan Pembinaan Pengusaha
       Kecil.
   13. Theo L Sambuaga sebagai Menteri Tenaga Kerja.
   14. Justika S Baharsyahsebagai Menteri Pertanian.
   15. Sanyoto Sastrowardoyo sebagai Menteri Negara Investasi dan Kepala BKPM.
   16. Sumohadi sebagai Menteri Kehutanan dan Perkebunan.
Sumber : owner- indonesia- l@indopubs.com.




         Hari ini perkembangan politik sudah semakin genting. Bahkan sudah dalam
hitungan hari, Ibu Pertiwi sedang genting…mengapa?? Karena kalau Soeharto melawan
dengan pasukan yang setia padanya, termasuk mantu kesayangannya Pangkostrad
Prabowo, bisa jadi Mahasiswa yang berada di gedung „kura-kura‟ akan dipaksa
menyingkir. Dan orang-orang yang murtad sama „Eyang Soeharto‟ akan ditangkapi.
Termasuk sebelas menteri, dan khususnya Wiranto sebagai Pangab, yang tidak
mengamankan situasi di gedung „kura-kura‟, sehingga kedaulatan „Eyang‟ terganggu.
Akan tetapi ongkosnya terlalu tinggi, karena bisa jadi perang saudara antara yang setia
sama „Eyang‟ dengan yang kontra. Tambah hancur lagi Negeri yang kondisi Rupiah ke
U$D nya saat itu mencapai Rp 17.000/ U$. ditambah harga sembako yang begitu tinggi.
Karena pertimbangan situasi panas itu, aku memilih hari ini untuk dirumah saja. Lebih
aman dan cepat dapat informasi.




------------------------------------------------------------------------------------------------------------




Kamis, 21 Mei 1998,
         Eyang Soeharto pada jam 9 pagi, mengumumkan pengunduran dirinya di depan
TV. Wah leganya hatiku. Karena Indonesia tidak jadi hancur berkeping-keping. Eh…
ternyata dia mengangkat wakilnya, kalau aku tak salah dengar, yang terkenal menukar
pesawat terbang dengan beras ketan, yaitu B.J.Habibie. Tak kusangka, kenapa Soeharto
mau melepaskan tahtanya kepada Habibie yang bukan orang Jawa itu? Karena konon
kalau nama orangnya huruf paling belakangnya bukan “O”, akan susah jadi pucuk
pimpinan. Berarti peta politik dan kekuasaan juga akan bergeser ke arah Indonesia
Timur. Memang secara konstitusional, yang tertulis di UUD 45 juga cukup jelas, bila
Presiden berhalangan, maka yang akan menggantikannya adalah Wakil Presiden. Akan
tetapi relakah para pendukung Soeharto melepas kekuasaan yang pasti akan sangat
berbeda tersebut? Pasti Habibie akan terus diganggu. Apalagi dia itu orang sipil. Karena
di negeri ini, bila menjadi pimpinan sekelas Camat atau Bupati pun, lebih diutamakan
adalah seorang berlatar belakang militer. Yang pernah aku baca di berbagai novel,
apabila seorang ayah telah tiada, maka akan terjadi perebutan harta warisan. Apakah
konteks ini bisa terjadi pada saat ini?
Malam itu aku berangkat ke kampus aja yang dekat dari rumah, dan di sana sambil cari
informasi.




------------------------------------------------------------------------------------------------------------




Jumat, 22 Mei 1998,
         Gatal juga hatiku ingin juga melihat suasana di gedung „kura-kura‟, penasaran
berkecamuk diotakku, apa yang sekarang terjadi disana. Sekitar jam 12 siang akupun tiba
di Gedung Nusantara IV. Aku mencari kawan-kawan kampusku, kok ga ketemu. Kira-
kira jam 14.00 tibalah sekelompok orang bersorban dan berjubah putih, dengan muka
brewok dan berjanggut, tampangnya sangar, berusaha mengusir mahasiswa dari
kompleks MPR/DPR. Sebagian mahasiswa mulai mengadakan perlawanan. Tidak
disangka, kelompok itu punya ilmu yang bisa membuat mahasiswa terpental sekitar 3
meter. Gawat, ciut lagi keberanianku. Pelan-pelan aku pergi dari sana untuk kembali ke
kampus. Hanya satu jam aku pun tiba di Tanjung duren. Aku bertemu dengan beberapa
kawan-kawan yang baru mau berangkat kesana. Aku bilang situasi di sana sedang panas.
Cari tahu dulu lewat radio, gerombolan bersorban masih ada ga? akupun menceritakan
apa yang kulihat. Nampaknya kawan-kawan setuju untuk pending keberangkatan. Sekitar
jam 17.30 , terdengar disana sudah aman. Barulah kita berangkat ramai-ramai kesana
sekitar 8 orang. Sampai digerbang sekitar jam 18.30, ternyata gerbang tersebut sudah
penuh sesak Mahasiswa. Pintu sudah dijaga tentara dan dibuka hanya untuk orang yang
mau keluar. Yang masuk tidak diperbolehkan. Ada apa ini?? aku dan kawan-kawan
mengira pasti ini untuk melemahkan kekuatan mahasiswa yang didalam. Karena pasti
jumlahnya lambat laun menjadi sedikit. Sedang enaknya aku mengantri di gerbang
MPR/DPR, tiba-tiba ada seorang pria yang memakai baju dan celana panjang putih, agak
sedikit „kemayu‟ memegang pundakku. Sontak aku terkejut. Ada apa pula pria „jadi-
jadian‟ ini? Hehehe. Ternyata itu orang bertanya “Mas, lagi demontrasi yaa?”.kujawab
“iya, ada apa ya?” tanyaku penuh curiga. “oh nggak, cuma mau tanya,nanti habis demo
mau kemana?” tanyanya lagi. “balik ke kampus dong” jawabku mulai sewot. “Ooh, mau
ikut jalan-jalan gak sama kita?” tanyanya lagi sambil menunjuk beberapa orang “kaum
kemayu” yang berada disekitar aku juga. “kagak mau, makasih, yang lain aja deh, jangan
gue. Jangan ganggu gue.” jawabku ketus. Ini „homo‟ ga tahu aturan. Lagi kondisi
demonstrasi kayak begini, masih sempat-sempatnya cari mangsa. Kawanku yang
bernama Anom sampai tertawa melihat aku „ditawar‟ homo. Hehehe
       Kembali disituasi di pintu gerbang, maka mulailah para mahasiswa yang berada
disana marah- marah dan berteriak-teriak. Ada sebagian mahasiswa yang sedang
berkumpul dan akupun sempat bertanya pada mereka “Bagaimana ini?”, “kita cari jalan
masuk yang lain dekat Manggala Wanabhakti.” Ujar mereka. Ya sudah sekitar 50 an
orang kami berjalan ke arah Manggala Wanabhakti. Setibanya disana , ternyata ada
mahasiswa yang sedang berjaga di pintu yang setinggi 1,5 m itu ,yang lebih menyerupai
pagar. Dengan melompati pagar itulah, kami bisa kembali masuk ke Kompleks
MPR/DPR. Tiba di „kavling‟ Ukrida, aku bertemu Kak Adeley. Perlu diketahui, Kak
Adeley adalah (Perempuan Super, mahasiswi Fakultas Kedokteran Ukrida, yang punya
link politik luas, sekarang mungkin masih aktif di GMKI). Kami sempat menceritakan
kondisi diluar. Menurut feeling Kak Adeley, kita harus lebih hati- hati lagi, akan ada
bahaya. Mahasiswa pun mulai berjaga-jaga diluar gedung Nusantara IV maupun di dalam
gedung. Sekitar jam 20.00, mahasiswa yang berjaga-jaga diluar, berteriak-teriak sembari
memegang kepalanya yang berdarah, “Ada PP didepan, semua bersiaga”. (red:
PP=Pemuda Pancasila). Kondisi didalam gedung mulai panik dan ribut sekali. Setelah
memastikan kawan-kawan yang di luar sudah masuk semuanya ke dalam gedung, maka
pintu ditutup dan diikat pakai tali, dan diganjal dengan meja dan lemari kayu. Gawat…
kami terjebak di dalam. Kekuatan kami kira-kira 500 an orang. Akupun akhirnya nekat
juga, dan mulai bersiap-siap mencari alat perlindungan diri (bukan kondom yaa.hehehe).
Aku menemukan kaki bangku yang masih ada paku-pakunya. Fiiuh, lumayanlah buat
berjaga-jaga. Situasi mencekam berlangsung sampai sekitar jam 22.30, pintu depan yang
kami tutup mulai terdengar ada yang mencoba mendobrak. Semua tambah panik lagi.
Kupikir kenapa hari ini kita selalu diadu dengan warga sipil?? Dan “bbrrrruuuuakk” pintu
terbuka…bukan orang Pemuda Pancasila yang muncul. Ternyata Marinir berbaret ungu
sekitar ratusan orang. Dengan senapan laras panjang mereka mendesak masuk dan
diantara salah satunya, mungkin komandannya, berteriak begini “semuanya jongkok,
buang senjata kalian…tangan di kepala..cepaat” setelah itu terdengar ratusan senjata
dikokang bersamaan…oh Tuhan. kubuang kayu berpaku dari pegangan tangan, dan
bergabung sama yang lain untuk berjongkok dan dengan tangan di kepala. Kulihat muka
kawan-kawan pucat pasi, tapi kulihat kak Adeley yang ada disampingku hanya tegang,
tidak ada rasa takut terlihat di wajahnya. Salut sama cewek super ini. Kepalaku sudah
menunduk dan tidak berani melihat ke arah marinir, dia malah sibuk melihat sana-sini,
kayak mencari sesuatu. Kemudian kita digiring keluar halaman Gedung. Dari sana aku
baru berani coba curi-curi pandang. Di luar ada lampu kamera, kayak shooting film saja
pikirku. Banyak wartawan, termasuk ada wartawan asing (bule) yang menaiki tangga
kecil untuk menggambil gambar dari kameranya. Sepertinya kubaca stiker di kameranya,
CNN. Dan ternyata pula, diatap gedung nusantara IV sudah ada puluhan tentara dengan
posisi membidik ke arah kami. Sebagian terlihat menurunkan spanduk yang telah
dipasang Mahasiswa di atap tersebut. Sebagian lagi menurunkan spanduk yang diikat di
tiang bendera. Masihku ingat tulisan spanduknya “Turunkan Soeharto”. Kak Adeley
sempat berpesan padaku, “San, ketika wartawan ini sudah ga ada lagi, dan ketika
Komandan tentara itu berteriak Atas nama UUD 45 dan Pancasila, anda kami tahan”, lo
cepet-cepet taroh tas ransel lo di kepala, trus lo nunduk aja. Karena kalo ada tembakan,
ga langsung kena kepala”…keringat dinginku mulai muncul mendengar penjelasan kak
Adeley…aku mulai berdoa sejadi-jadinya. Aku rada menyesal juga, “kenapa gue ga di
rumah aja”.umpatku dalam hati. Tiba-tiba ada kabar berbisik, beberapa kawan ada yang
melihat Prabowo di dalam mobil ambulance dekat kerumunan tentara dan sedang briefing
dengan anak buahnya. Entah itu benar atau salah, yang jelas kurasa, tambah pucat lagi
mukaku berkeringat dingin, langsung aku ingin pipis dan perutku mulas-mulas. Prabowo?
Yang konon kata banyak orang, terlibat dalam penculikan para aktivis itu, ada disini?
Bisa jadi pembantaian nih. Pikirku seorang Prabowo berarti tidak suka dengan aktivis,
kalau pasukannya benar terlibat menculik para aktivis itu. Apalagi sekarang di depan
matanya, jumlah aktivisnya banyak dan tinggal dipanen. “Mudah- mudahan itu orang
salah lihat, jangan sampai Prabowo yang dalam ambulance”. Pikirku. Dan mulutku mulai
komat-kamit baca doa. Itulah manusia, cuma saat kepepet saja nama Tuhannya bisa
dipanggil puluhan kali.hehehe
Tiba-tiba terdengar teriakan lantang yang membuat aku terkejut. Teriakan tersebut
berasal dari Komandan Marinir dengan memakai corong pengeras suara. “Kami dari
Marinir Angkatan Laut, diperintahkan untuk membersihkan tempat ini, saya kasih waktu
10 menit untuk kalian berembug, bila kalian bersedia meninggalkan tempat ini, akan
kami sediakan kendaraan sebanyak 32 bis. Akan tetapi bila kalian tidak mau pergi dari
tempat ini, maka akan berhadapan dengan kami. 10 menit dari sekarang.” Wah..benar-
benar pemaksaan. Aku sih pilih pergi dari sini saja. Situasi mendadak tegang dan
mencekam. Ada beberapa kawan mahasiswa yang radikal, memilih bertahan. Aku sempat
melihat, para wartawan sudah diusir dari wilayah Kompleks MPR/DPR. Habis sudah
saksi kami, bila kami dihabisi ,malam ini, tak akan ada yang membuktikan di depan
dunia seperti apa kejadiannya. Kita akan mati sia-sia. ”Tuhan, tolonglah kami” doaku
dalam hati.
Sempat terjadi keributan antar mahasiswa yang mau bertahan dan mau pulang. Akhirnya
10 menit lewat, dan kami menyatakan bersedia untuk pulang dari Kompleks DPR/MPR
ini. Dan kita akan melanjutkan perjuangan di luar untuk mengawasi pemerintahan
Habibie. Kami semua masuk ke dalam 32 bis kota, dan menuju ke kampus Unika
Atmajaya, sebagai kesepakatan dengan Marinir. Ketika keluar gerbang utama MPR/DPR,
sempat aku terharu. Karena begitu banyak masyarakat dan para mahasiswa yang tidak
bisa masuk ke dalam, mengelu-elukan kami seperti pahlawan pulang dari medan perang.
Akhirnya kami pun saat itu bernyanyi “Besok..balik lagi...balik lagi…balik lagi…”.
Sumber foto Kompas




Pendudukan Gedung MPR/DPR oleh para Mahasiswa angkatan 98




Beristirahat di gedung rakyat
Sumber foto majalah Tempo




Mahasiswa menduduki gedung MPR/DPR




Sumber Foto Saptono




Mahasiswa bergembira saat Soeharto membacakan pi dato pengunduran dirinya
BAB II

Catatan kesaksianku “Tragedi Semanggi I”



       Setelah kami diusir dari Kompleks MPR/DPR , dan dikembalikan ke Kampus
Unika Atmajaya, para mahasiswa ternyata membuat hal itu bukan sebagai akhir dari
perjuangannya, melainkan menjadi awal dari perjuangan yang panjang, penuh intrik dan
lebih banyak darah, serta seleksi alam terhadap kesetiaan dan komitmen perjuangannya.
Para mahasiswa yang berjuang sepakat menyatakan bahwa kampus Atmajaya menjadi
basis “perjuangan moral mahasiswa” dengan alasan kampus itulah yang paling strategis.
Kenapa dikatakan strategis? Karena terdekat dengan gedung MPR/DPR , dekat ke Istana
Presiden / Wapres, dekat ke Gedung Bank Indonesia di Thamrin, tidak jauh dari Kantor
perwakilan PBB yang juga di Thamrin, dekat Bundaran HI yang bisa dijadikan starting
point dalam mendapatkan perhatian saat menyampaikan pesan demonstrasi, lebih mudah
bila ke gedung Kejagung di Blok M, tidak jauh dari kawasan Cendana, tidak jauh dari
kantor-kantor kedutaan besar, lebih mudah ke rumah B.J Habibie di patra kuningan
etc..etc. Lihat betapa strategisnya posisi kampus Atmajaya.
       Para mahasiswa mulai memasuki fase “memilih” bentuk dan konsep perjuangan.
Ada yang memakai jalur diplomasi dan negosiasi seperti FKSMJ (Forum Komunikasi
Senat Mahasiswa Jakarta). Ada yang tidak mau ber”manis- manis” dengan birokrat seperti
Forkot (Forum Kota) dan FAMRED (Front Aksi Mahasiswa Untuk Reformasi dan
Demokrasi) dengan pimpinan bergiliran oleh simpul-simpul kampus pendukungnya.
       Kelompok mahasiswa lainnya, yang belum bergabung kemana- mana, masih
bersikeras bahwa perjuangan akan lebih aman bila mereka „bermain‟ secara internal
dengan para anggota dari kampusnya sendiri , sehingga mereka menjaga jarak dengan 3
organisasi Mahasiswa di atas. Mereka pun membentuk “keluarga besar” di kampusnya
masing- masing. Contoh KAMTRI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Trisakti), JAMOER
(Jaringan Aksi Mahasiswa Moestopo untuk Reformasi) , GEMPUR (Gerakan Mahasiswa
Pancasila Untuk Reformasi), KAM Mercubuana, KBUI (Keluarga Besar Univ.Indonesia)
etc..etc. sehingga dari situlah mahasiswa mulai terpecah-pecah dalam satuan yang lebih
kecil. Untungnya diantara senior yang ada masih saling berkomunikasi, membahas isu
politik yang ada, kemudian di bawa ke dalam barisannya masing- masing.
       Isu Politik yang berkembang saat itu adalah,
   1. Adili Soeharto atas dosa politik (begitu banyak pembunuhan tanpa pengadilan
       terlebih dahulu) dan dosa ekonominya terhadap rakyat Indonesia (hutang Negara
       yang membengkak serta memonopoli kekayaan dan alam Indonesia hanya untuk
       Keluarga dan kerabat terdekatnya).
   2. Turunkan Habibie, karena Soeharto adalah produk Pemilu gagal, dan sudah
       ditolak oleh rakyat (melalui MPR/DPR) saat 20 Mei 1998, maka termasuklah
       disitu Habibie dalam satu paket Presiden dan Wakil Presiden.
   3. Bubarkan MPR/DPR dan bentuk Dewan Rakyat Indonesia / Komite Rakyat
       Indonesia, yang terdiri dari kelompok cendikiawan, para anggota LSM dan Ulama
       dari semua agama yang semuanya itu bertugas untuk menggantikan MPR/DPR
       yang dinilai gagal dalam bertugas. Karena Soeharto telah gagal, maka yang
       bertugas memilih “si orang gagal” juga harus bertanggung jawab. Setelah itu
       barulah diadakan suatu „Sidang Rakyat‟ untuk memilih pemimpin yang baru
       untuk masa transisi sebagai penanggung jawab untuk mempersiapkan pemilu
       yang legitimate, jujur dan adil.
   4. Menolak Dwi Fungsi ABRI. Salah satu faktor mengapa militerisme bisa
       mendominasi segala aspek di negeri ini. Mulai dari jabatan-jabatan sampai kepada
       gaya militer yang disampaikan saat menghadapi rakyatnya.


       Inilah tugas para mahasiswa yang paling baru dan jauh dari selesai. Kemudian
muncullah berita di TV bahwa MPR akan mengadakan Sidang Istimewa pada tanggal 10-
13 November 1998, untuk meminta pertanggung jawaban dari Presiden Habibie. Apabila
laporan tersebut ditolak oleh MPR, maka Habibie wajib mengundurkan diri setelah
mengadakan Pemilu untuk mencari calon Presiden dan Wakil Presiden yang baru.
       Maka mulailah para mahasiswa untuk berencana mempresure Sidang Istimewa
untuk menolaknya. Karena 4 hal di atas,apapun yang dikerjakan oleh legislatif dan dan
Eksekutif adalah tidak sah. Dan segera serahkan kekuasaan pada Dewan Rakyat
Indonesia, jangan lagi mengadakan sidang yang hanya menghabiskan uang rakyat,
apalagi pihak yang menghabisinya tidak sah. Berita demi berita di berbagai media mulai
memanaskan suasana. Mahasiswa berencana mengadakan demonstrasi besar-besaran
(Bahkan lebih besar dari People Power Mei 1998 dahulu), untuk menduduki kembali
gedung MPR/DPR , membubarkan Sidang Istimewa dan mengembalikan kedaulatan
rakyat kepada Dewan Rakyat Indonesia. Militer mulai bermanuver dengan mengadakan
penggalangan kekuatan massa sipil yang dipersenjatai, yang dinamakan Pamswakarsa.
Didepan TV mereka disorot membawa bambu runcing, dan berbagai senjata tajam, serta
berikat kepala putih. Pamswakarsa diposisikan disekeliling kompleks MPR/DPR untuk
mengamankan jalannya Sidang Istimewa dari gempuran mahasiswa. Mengapa di dalam
pikiran militer Indonesia memang seperti itu. Selalu yang diadu sipil lawan sipil. Seperti
di Tim- Tim, Fretilin melawan Aitarak bentukan ABRI. Kemudian dalam perebutan
kantor PDI di Jl.Diponegoro 27 Juli 1997, kubu PDI proMega yang ada di dalam Kantor
diserbu oleh kubu PDI proSuryadi yang konon terdiri dari para atas „preman sewaan‟
yang penyerbuannya “dilindungi” oleh aparat keamanan.


       Untuk lebih jelasnya seperti apakah pergerakan mahasiswa pada saat
„menyambut‟ Sidang Istimewa 9-12 November 1998, maka inilah Kesaksian dari kawan
Famred, Abdullah (IKIP Rawamangun Jakarta).


Senin, 9 November 1998
Aksi mahasiswa baru bisa diselenggarakan di depan kampus YAI. Malam hari, kawan-
kawan dari berbagai kampus menginap di koridor-koridor kampus UI Salemba.
Namun, tengah malam harus mengungsi ke koridor kampus YAI karena pihak UI
Salemba merasa keberatan dan menolak kampusnya untuk dijadikan base camp atau
tempat berkumpulnya mahasiswa.


Selasa, 10 November 1998
Aksi kembali dilakukan, kali ini massa mahasiswa mulai bergerak saat tengah hari dari
kampus YAI Diponegoro menuju Mega Ria Cikini, lalu memutar ke kiri menuju Tugu
Proklamasi yang saat itu masih dikuasai massa pendukung Habibie. Massa Famred,
dengan pilihan aksi active non violencenya berhasil memenangkan perang „urat saraf‟
dengan kubu pendukung Habibie / Pamswakarsa. Tapi harus diakui, ada sinergi antara
gerakan anti kekerasan Famred dengan massa warga sekitar Tugu Proklamasi yang juga
mengepung dengan aksi keras. Karena khawatir bentrokan berdarah bakal terjadi, maka
aparat kepolisian lalu mengevakuasi massa pendukung Habibie / Pamswakarsa. Sekitar
pukul 21.00 wib Tugu Proklamasi berhasil dikuasai Famred, dan massa mahasiswa serta
LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang semuanya bergabung dalam AKRAB
(Aliansi Rakyat Bersatu).


Rabu, 11 Novembe r 1998
Hingga pukul 13.00 tengah hari, dialog yang diwadahi dalam agenda S-R(Sidang Rakyat)
terjadi. Hanya saja, tokoh-tokoh besar yang diharapkan hadir tidak datang. Setelah itu
massa Famred yang berjumlah ribuan dan massa AKRAB lainnya bergerak menembus
Jalan Diponegoro menuju Jalan Imam Bonjol. Namun, seorang mahasiswa UI entah
karena panik apa tidak dia menabrak barikade prajurit kostrad. Beberapa prajurit cedera
dan dirawat di RS St.Carolus. Namun, tak berapa lama setelah insiden itu, beberapa
massa Famred dari kampus IISIP menjadi sasaran kekerasan prajurit ABRI. Korban
dibawa petugas PMI ke RS St Corolus. Malam itu massa Famred menginap di kampus
YAI Jl.Diponegoro Jakarta.


Kamis, 12 Novembe r 1998
Sekitar pukul 13.00 WIB kawan-kawan Famred yang berjumlah ribuan dan beberapa
kampus yang tergabung dalam KAMJAK(Kesatuan Aksi Mahasiswa Jakarta), bersama-
sama di dalam payung AKRAB untuk mengkondisikan aksi di depan kampus YAI dan
long march dari jalan Salemba Raya ke arah Kampung Melayu lalu belok ke kanan
menyusuri jalan Cassablanca. Saat sore hari, massa mahasiswa baru sampai di fly over
Karet. Karena situasi hujan, semua massa mahasiswa basah kuyub. Dalam kondisi massa
mahasiswa yang menggigil, melintaslah sebuah truk ABRI yang bertutupkan kawat di
tikungan fly over Karet menuju ke arah Unika Atmajaya. Truk itu berisi banyak prajurit.
Mereka mencoba memprovokasi kawan-kawan Famred yang kelelahan. Beberapa dari
kawan-kawan mahasiswa sempat berusaha mengejar truk ABRI tersebut, di mana para
prajurit yang berada di dalamnya mengarahkan senapan ke arah mahasiswa. Namun
akhirnya tak terjadi insiden yang berarti. Semua massa mahasiswa selamat. Sesampai
kami di depan Unika Atmajaya, hujan kian lebat. Barisan massa mahasiswa dihadang
oleh pasukan marinir dengan bersenjatakan senapan siap tempur. Karena kelelahan,
Korlap yang dipegang Wahab (dari simpul Unija) menyerukan massa mahasiswa untuk
masuk dan beristirahat di Unika Atmajaya. Situasi saat malam hari tanggal 12
November 1998 itu begitu mencekam. Sweeping terhadap mahasiswa kabarnya
terjadi di banyak bus kota, dilakukan oleh massa Pamswakarsa, pendukung Presiden BJ
Habibie. Benar tidaknya kabar itu memang sulit diverifikasi, karena malam itu semua
massa hiruk pikuk di Atmajaya, mereka bergerombol antar kampus, dan tidur dalam
kondisi kedinginan dan basah kuyub.
       Sumber data lainnya berasal dari http://id.wikipedia.org/wiki/Tragedi_Semanggi
yang menyebutkan bahwa pada hari Kamis, 12 November 1998 ratusan ribu mahasiswa
dan masyrakat bergerak menuju ke gedung DPR/MPR dari segala arah, Semanggi-Slipi-
Kuningan, tetapi tidak ada yang berhasil menembus ke sana karena dikawal dengan
sangat ketat oleh tentara, Brimob dan juga Pamswakarsa (pengamanan sipil yang
bersenjata bambu runcing untuk diadu dengan mahasiswa). Pada malam harinya terjadi
bentrok di daerah Slipi dan Jl. Sudirman, puluhan mahasiswa masuk rumah sakit. Ribuan
mahasiswa dievekuasi ke Atma Jaya. Satu orang pelajar, yaitu Lukman Firdaus, terluka
berat dan masuk rumah sakit. Beberapa hari kemudian ia meninggal dunia.
Sekarang tibalah pada hari terakhir Sidang Istimewa. Dan Inilah kesaksianku.



Jumat, 13 November 1998,

       Ini hari terakhir Sidang Istimewa. Sebelumnya sudah dari tanggal 10-12
November 1998, terjadi bentrokan berkali-kali. Kami mendapat berita harus berkumpul
di kampus Atmajaya pukul 12 Siang hari ini. Aku dan kawan kawan sekitar 100 an orang
berangkat naik bis. Untuk keamanan, jaket almamater kami masukan ransel, karena
beritanya banyak bis yang sudah dicegat aparat keamanan dan disuruh balik ke kampus
lagi. Bahkan ada yang baru keluar pagar kampusnya sudah ketahuan mau ke Atmajaya,
sehingga ditahan tidak bisa keluar kampus. Aparat mencoba mengurangi kekuatan kami.
Perlahan tapi pasti kami tiba di daerah pejompongan, dan berjalan kaki sampai ke Benhil
(red:Jalan Bendungan Hilir) , kemudian …oh my God… begitu banyak para mahasiswa
yang ada di kawasan Semanggi. Kalau yang aku lihat dari depan kampus Atmajaya
sampai ke Gedung Mayapada Tower dekat Casablanca, dan semua jalurnya penuh sesak,
tolong dicatat, penuh sesak dengan Mahasiswa yang memakai jaket almamater berwarna-
warni.


         Tim kami Ukrida berada dibawah pimpinan kak Adeley (cewek super). Kata kak
Ade, lebih baik kita berada di tengah. Karena kalau yang diserang di depan, kita masih
bisa kabur, demikian juga kalau yang diserang di belakang. Setelah dapat posisi PWT
(Posisi Wenak Tenan) kata Yopie Kontos, yang diinstruksikan kak Ade, kami sibuk
mendengarkan orasi para pimpinan mahasiswa yang berada paling depan (yang posisinya
tepat di awal jembatan semanggi) dan langsung berhadapan dengan „tembok‟ aparat
campuran dari tentara dan polisi.
Tiba-tiba dari barisan mahasiswa di belakang dari arah Thamrin, ada kabar burung entah
dari mana asalnya, yang mengatakan puluhan massa Pamswakarsa mencoba menyerang
dan membubarkan Mahasiswa yang ada. Suasana mulai gaduh. Bahkan teman-teman
Ukrida yang “High Voltage Emotional” mulai hilang dari kumpulan barisan, mencoba
berlari ke belakang, membantu kawan-kawan yang ada di sana. Aku tidak heran sama
emosi mereka tersebut, itu juga berkat „provokasi‟ yang tidak disadari dari TV dan koran
yang sering menyiarkan berita soal Pamswakarsa. Sekitar 25 menit, kegaduhan selesai.
Apa yang terjadi, aku pun tak tahu. Orang begitu banyak, bahkan Pamwakarsanya saja
tak jelas terlihat. Sialan… militer mengumpulkan preman untuk lawan mahasiswa yang
kesehariannya cuma bermodalkan buku?? Fakta dari penjelasan kawanku itu baru
terjawab, jauh setelah Tragedi Semanggi I. Ketika aku bermain ke ruma h seorang teman
di wilayah Sinar Budi Jakarta Utara, dekat lokalisasi Kalijodo, aku pun bertemu dengan
salah seorang “Anak Macan” nya atau disebut juga „preman Kalijodo‟. Bersama dia , aku
berbicara „ngalor ngidul‟ sambil minum sedikit yang agak keras.(bukan es batu balok
yaa). Namanya aku rahasiakan, orang Makasar, badannya kekar, rambutnya gondrong.
Wah pokoknya kayak cerita di TV, “Wiro Sableng” gitu deh.hehehe Terbongkar juga
rahasia Pamwakarsa itu. jadi si Bule bersama preman seluruh Jakarta dikumpulka n sama
Tentara, dikasih pengarahan, dikasih sangu (atau uang lelah melalui atasannya) ,
kemudian diberangkatkan ke kompleks MPR/DPR. Dasar pengecut. Beraninya panggil
preman.
       Kembali pada front line, atau barisan terdepan.sekitar jam 4 sore, barisan
mahasiswa terdepan mulai tidak sabar untuk menerobos pagar polisi, dorongan mulai
terjadi, kemudian negosiasi lagi. Aku dan beberapa kawan Ukrida coba beranjak dari
tengah ke depan untuk cari tahu apa yang terjadi. Belum juga sampai barisan depan,
hanya berhasil maju sekitar 10 meter dari barisan tengah, tiba-tiba terdengar bunyi
tembakan bertubi-tubi…traatattatatat…senapan semi otomatis dari polisi mulai
ditembakkan. Ditambah lagi dentuman gas air mata …Buuummm….duuuaarrr…semua
teriak-teriak. Aku sempat melihat ada di samping kiri kananku yang jatuh terinjak-injak,
termasuk cewek-cewek. Memang kondisi saat itu dengan ribuan mahasiswa berlarian
panik sambil berteriak-teriak, sungguh sangat membuat aku ketar-ketir. “Sorry banget”.
dalam hatiku berkata, aku tidak bisa menolong, karena aku juga ingin hidup. Semua
barisan mahasiswa kocar-kacir. Sebagian lari ke Bendungan hilir, sebagian terus ke
Thamrin, sebagian ke Jl.Garnisun, sebagian ke Cassablanca, sebagian masuk kampus.
Pokoknya benar-benar kondisi saat itu mahasiswa kocar-kacir. Aku pilih masuk ke dalam
kampus saja. Pertimbangannya, aku takut ada kumpulan polisi di sekitar jalanan yang tadi
kusebutkan diatas. Kalau di dalam kampus lebih aman. Karena aku bisa berlindung di
dalam beton gedung Atmajaya. “Tratattatatat ….Syiuuuttt…duuuaarr….Suara tembakan
tidak juga berhenti menyalak, jantungku seperti mau copot saat tentara mulai berlari
mendekati mahasiswa sambil berteriak-teriak, tapi aku belum juga berhasil masuk ke
kampus. bagaimana bisa masuk? yang mengantri lo mpat pagar kampusnya banyak.
Apalagi sebagian cewek-cewek yang notabene gerakannya kurang cekatan. Dalam waktu
singkat, aku terpikir untuk masuk lewat lapangan rumput di samping kampus yang
ditutup pakai seng.(sekarang sudah jadi tempat parkir). Tetapi disana ada orang bodoh,
yang membawa sepeda motor saat demo,dan ketika „chaos‟ terjadi dia sedang berusaha
menyelamatkan motornya lewat lapangan rumput itu yang seng nya sudah terbuka sekitar
lebar 1 meter. Akhirnya itu „orang bodoh‟ aku dorong saja ke samping, dan motornya
kujadikan pijakan untuk masuk ke dalam seng. Tapi dasar motor sialan, tulang kering
kaki kiriku menghantam pull step (pijakan kaki) nya. Jadi terpincang-pincanglah kakiku.
Masa bodoh lah, yang penting nyawaku selamat.
       Setelah masuk ke kampus, aku pun mencari kawanan Ukrida. Bertemunya hanya
kak Ade. “Busyeet nih cewek, masa gue kalah cepet sama dia, sakti mandraguna seperti
Mantili adik Raja Madangkara Brahma Kumbara dalam Film Saur Sepuh”.ujarku dalam
hati. (Walah tambah ngaco) . Kak Ade bilang cari yang lain dan arahkan diatas, dilantai
dua posisi yang kak Ade tunjuk. Yaa sudah sedapatnya bertemu dengan kawan yang lain
aku bawa ke atas.
Akhirnya, dari sekitar 100 an orang, kami hanya tersisa 15 orang. Saat itu sekitar jam
18.00 hari sudah mulai gelap. Tembakan belum juga berhenti diarahkan pada kami.


Aku bertanya pada kak Ade “kak kita harus bagaimana? Kita ga tahu, apakah ada teman
yang kena tembak atau ga.tapi apakah kita cari tahu, atau, cari selamat?” kata kak ade,
jangan kemana- mana dulu, tetap disini, sambil tunggu situasi diluar. Dasar aku yang
orangnya tidak sabaran, akhirnya aku turun mencari kawan-kawan Ukrida yang lain
sambil mengendap-endap. Tiba-tiba , entah siapa yang berteriak, “awas, hati- hati,
matikan semua lampu, ada sniper!”, sialan… tambah lemas dengkulku. sudah kaki kiri
masih pincang. Benar juga, ada suara kaca bagian luar gedung pecah “praaang” beberapa
kali, tetapi tak ada kudengar suara letusan tembakan yang seirama dengan pecahnya kaca
itu. Dan aku sempat mendengar hal itu sebanyak 3 kali. Jarak aku dengan sumber suara
pecahan kaca tersebut sekitar 4 meter saja. Disekitarnya aku tidak melihat adanya
Mahasiswa yang memecahkan kaca dengan sengaja. “Mana mungkin juga, rata-rata
posisi kami pada tiarap bersembunyi di balik tembok.” Pikirku.
       Saat aku mendekati Hall Aula Atmajaya yang letaknya di depan Kampus, di dekat
tempat parkir mobil. Dari jauh, aku sudah mendengar beberapa Mahasiswa berteriak
“Allahuakbar” berkali-kali. Ada juga suara tangisan cewek-cewek. Karena penasaran,
kucoba mendekati sumber suara teriakan tersebut. And then….oh my God….ada
genangan darah di beberapa tempat. Begitu ramai penuh sesak dan lantainya becek,
karena genangan darah yang menetes di lantai sudah terinjak- injak oleh orang yang lalu
lalang. Yang pertama kali kulihat dari kumpulan orang disana adalah yang berjaket
almamater warna orange milik Atmajaya, yang jaket-jaketnya pun terkena banyak bercak
darah, baru kulihat pertama kalinya mayat mahasiswa dengan darah mengucur dari
hidung dan badan penuh darah. Dan baru kutahu kemudian bahwa itulah mayat pahlawan
reformasi yang bernama Bernardus R Norma Irmawan , yang akrab dipanggil Wawan
oleh teman-temannya, Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya, Jakarta.
(perlu diketahui, sampai sekarang, motor Alm.wawan masih tersimpan di ruang
HIMA Atmajaya, untuk mengenang beliau semasa hidupnya).
Kemudian aku berusaha mendekati sekumpulan mahasiswa disebelah kanan pintu masuk
Hall Aula Atmajaya, terlihat mayat mahasiswa, yang penuh darah di badannya, mukanya
dan dari hidungnya pun keluar darah. Teman-temannya berteriak-teriak memanggil
namanya, Teddy, baru kutahu kemudian bahwa dialah Pahlawan Reformasi yang
bernama Teddy Wardani Kusuma, Mahasiswa Fakultas Teknik Mesin Institut
Teknologi Indonesia, Serpong.
Kawan, tanpa sadar air mataku menetes, badanku langsung lemas terduduk disalah satu
pojokan aula, sambil sesekali memperhatikan mereka, yang berteriak-teriak histeris, Dan
aku melihat pemandangan mengerikan, yakni genangan darah dimana- mana. Aku melihat
banyak lagi mahasiswa yang digotong masuk dan berdarah pula. Kupikir tak mungkin
yang meninggal cuma dua orang yang tadi saja. Tapi mataku sudah tak kuat lagi melihat
mayat dan darah. Darah yang berasal dari para mahasiswa yang tanpa memperdulikan
keselamatannya, berkorban demi rakyatnya.
       Sempat aku kuatkan tubuhku untuk berdiri, karena melihat kawan-kawannya
Alm.Teddy dari ITI Serpong, mulai berlari keluar aula, dan sambil berteriak
“Allahuakbar” mereka mencoba menghampiri barisan polisi yang tela h membunuh
kawannya itu. mereka sempat melemparkan batu sambil berteriak “Anjing pembunuh,
senjata kalian dibeli pakai uang rakyat, kenapa digunakan untuk me mbunuh
rakyat?”. Sangat miris hatiku mendengar teriakan campur isak tangis tersebut. Akan
tetapi kawan-kawan dari kampus lainnya, mencoba menarik mereka untuk kembali ke
dalam kampus, dengan alasan “Jangan lagi ada yang gugur, kawan. Perjuangan kita
masih panjang, jangan korbankan nyawamu sekarang.” Akhirnya setelah beberapa kali
dibujuk barulah mereka berhasil ditarik. Aku mulai mendengar kawan-kawan
menyanyikan lagu “Gugur Bunga” sebagai tanda penghormatan terhadap kawan-kawan
yang telah gugur pada hari ini sebagai pahlawan. Lagu tersebut menggema di dalam Hall
Aula Atmajaya dengan diiringi isak tangis kawan-kawan lainnya,Dan beberapa yang
lainnya berteriak penuh kemarahan. “Pembunuh-Pembunuh-Pembunuh”. Semua itu
membuat bulu kudukku merinding. Air ludahku tercekat ditenggorokanku yang kering.
Rasa sedih, marah, dan ngeri telah bercampur aduk di dalam hatiku ini. Yang paling
mendominasi adalah rasa ngeri. Betapa mengerikannya para “pembunuh mahasiswa” itu.
       Perlu diketahui, setelah beberapa jasad para pahlawan Reformasi di visum di
RSCM, maka diketemukan hal yang aneh. Proyektil peluru yang berhasil d iangkat,
bukanlah proyektil peluru yang biasa. Melainkan peluru special yang dinamakan Quik
Shok buatan Amerika Serikat. Peluru tersebut termasuk peluru yang kejam, karena
proyektil pelurunya bisa pecah menjadi tiga bagian dan terpental ke tiga arah.
Sehingga bila terkena korban, akan sangat mematikan. Lebih mematikan dibandingkan
peluru tajam. Lihat gambar dibawah ini yang aku dapatkan dari surfing di internet. Yang
berwarna hitam adalah pecahan proyektil peluru Quik Shok.
Sumber berita : http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp / Xpos, No 47/I/28 Nopember -
4 Desember 98.
        Penetration          Segment           Velocity Energy               Drop           Flight
Range

Yards    in Gelatin         Dispersion            FPS         Ft. Lbs. Inches Time (sec.)


 0             0                   0             1,500         2,458            0            0.000


25            15               6-1/2"            1,314         1,886           1/2           0.053

50            16"                 6"             1,169         1,492         2 1/3           0.114


75         16-1/2"             5-1/2"            1,069         1,247         5-3/4           0.181


100           16"                 5"              996          1,084           11            0.254


125           16"                 5"              939            963        18 1/3           0.332

150        16 2/3"             4-1/2"             889            863           28            0.414

 * Segment Dispersion is the pattern the three pieces take as they angle away from the center of impact.
The Quik-Shok Sabot Slug was designed to eliminate over-penetration and minimize
ricochet. The Quik-Shok projectile either separates into three pieces when penetrating a
liquid or tissue target, or expands to a large, ellipsoidal shape when impacting a hard
surface. This transformation drastically reduces its velocity and energy and limits its post-
impact range. This, of course, minimizes the threat to downrange bystanders and property.

Sumber Foto http:// www.triton-ammo.com/index.html dan http:// www.mpbpolywad.com/



       Menurut hasil visum, pada salah satu jasad , yaitu Alm.Teddy dari ITI Serpong,
ditemukan proyektil menembus dari pinggang, kemudian terpencar ke tiga arah, satu di
jantung , satu di tenggorokan dan satu lagi melejit keluar dari tubuh lewat
punggungnya…seketika Teddy langsung tewas di tempat. Juga pada saat mengotopsi
jenasah Alm.Engkus Kusnadi pahlawan reformasi dari kampus UNIJA, para dokter
RSCM harus menggergaji terlebih dahulu tengkorak kepalanya, untuk mengeluarkan
salah satu proyektil peluru yang bersarang disana, yang akhirnya menjadi salah satu yang
menyebabkannya gugur. (Sumber informasi dari wawancara dengan para aktivis Famred
yang ikut melihat saat otopsi. nama dan asal kampus dirahasiakan). Ahli forensik
Universitas Indonesia, dr. Budi Sampurno, yang mengotopsi jenazah Alm.Wawan
(Atmajaya) dan Alm.Sigit (YAI) , memastikan bahwa peluru tajam pecah tiga di tubuh
korban. (Sumber dari www.tv7.co.id). Alm.Wawan(Atmajaya) tewas ditembak peluru
tajam tepat di jantung dan paru-paru kirinya. Saat itu ia hendak menolong korban di
lokasi.(Sumber dari TEMPO Interaktif, Rabu, 10 November 2004)


       Mengapa tentara memakai peluru yang sadis itu untuk menembak rakyatnya? Bila
kami para mahasiswa bersalah, tangkaplah kami, adili kami menurut hukum yang berlaku
di negara ini. Karena Indonesia adalah negara hukum.Jangan dibunuh!! Tidak ada
satupun dari mereka yang mempunyai hak mencabut nyawa manusia kecuali Sang
Penciptanya. Sehingga penghilangan nyawa para mahasiswa itu sudah bertentangan
dengan hukum- hukum yang berlaku di negara ini, termasuk HAM (Hak Asasi Manusia),
Asas Praduga tidak bersalah, pencideraan terhadap Pancasila sila ke 2 kemanusiaan
yang adil dan beradab, serta bertentangan dengan UUD 45 pasal 28 yang berbunyi
kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pendapat secara lisan maupun
tulisan. Dan kurasa sudah tidak perlu lagi memakai dalil agama untuk mencari
kebenaran tindakan membunuhnya militer terhadap para mahasiswa.
Atau kalau memakai azas hukum militer sekalipun, pembunuhan terhadap rakyat s udah
termasuk pelanggaran terhadap sapta marga dan sumpah prajurit yang kandungan isi di
dalamnya bersendikan Pancasila dan setia terhadap UUD 45, serta selalu bertaqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa. Coba saja lihat di bawah ini, maka akan terkuak, siapa
seharusnya yang bertanggung jawab atas pembunuhan mahasiswa dan mengapa
peristiwa ini sulit terkuak kebenarannya yakni “Siapakah Dalang Pembunuhan
Mahasiswa di Trisakti dan Semanggi?”. Tentara itu dilatih untuk patuh. Silakan kalian
baca, maka kalian akan mengerti yang aku maksudkan tersebut.

Sapta Marga :

   1. Kami Warga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang bersendikan Pancasila.

   2. Kami Patriot Indonesia, pendukung serta pembela Ideologi Negara yang
      bertanggung jawab dan tidak mengenal menyerah.

   3. Kami Kesatria Indonesia, yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta
      membela kejujuran, kebenaran dan keadilan.

   4. Kami Prajurit Tentara Nasional Indonesia, adalah Bhayangkari Negara dan
      Bangsa Indonesia.

   5. Kami Prajurit Tentara Nasional Indonesia, memegang teguh disiplin, patuh dan
      taat kepada pimpinan serta menjunjung tinggi sikap dan kehormatan Prajurit.

   6. Kami Prajurit Tentara Nasional Indonesia, mengutamakan keperwiraan di dalam
      melaksanakan tugas, serta senantiasa siap sedia berbakti kepada Negara dan
      Bangsa.

   7. Kami Prajurit Tentara Nasional Indonesia, setia dan menepati janji serta
      Sumpah Prajurit.
Sumpah Prajurit :

Demi Allah saya bersumpah / berjanji :

   1. Bahwa saya akan setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
      berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

   2. Bahwa saya akan tunduk kepada hukum dan memegang teguh disiplin
      keprajuritan.

   3. Bahwa saya akan taat kepada atasan dengan tidak membantah perintah atau
      putusan.

   4. Bahwa saya akan menjalankan segala kewajiban dengan penuh rasa tanggung
      jawab kepada Tentara dan Negara Republik Indonesia.

   5. Bahwa saya akan memegang segala rahasia Tentara sekeras-kerasnya.



       Selesai di Hall Aula Atmajaya, aku dengan badan yang lemas, gara- gara melihat
hal- hal yang mengerikan tadi, mencoba kembali ke barisan Ukrida di lantai dua. Sampai
disana, Kak Ade dan kawan-kawan sudah hilang. Oh shit…kemana mereka. Aku dengan
panik berkeliling lagi cari teman yang tersisa, beruntung aku bertemu 3 orang kawan
Ukrida. Dan mereka mengatakan kawan yang lain sudah „escape‟ / pergi dari Atmajaya
melalui Jl.Garnisun dan ke jalan „tikus‟ (red:maksudnya gang kecil) yang ke arah
Cassablanca, dan balik ke Pejompongan. Yaa sudah, kami berempat akhirnya mengikuti
jalan rombongan yang pergi lebih dulu tersebut. Kami sempat ditembaki saat melintas di
jalan garnisun. Merinding mendengar bunyi letusannya. Apalagi dengar desing pelurunya
yang hinggap ditembok, “zzeeebb” jantungku mau copot rasanya. Aku berlari sambil
menundukkan badan dan dengan kaki pincang serta zig- zag biar ga ada aparat yang bisa
membidik diriku. Aku masuk ke jalan „tikus‟ menuju cassablanca. Saat mau ke Benhil,
kulihat aparat sudah mundur balik ke arah Semanggi. “horre..horre kita menang.” Ada
sekumpulan orang-orang disana berteriak-teriak. “Lho mereka ini siapa, kok pada ga
pake jaket almamater??” pikirku. Setelah mendekati kumpulan orang tersebut, barulah
aku tahu, bahwa mereka adalah rakyat. Rakyat yang mendengar dari radio dan menonton
berita di TV, sehingga mereka marah dan mulai berdatangan dari berbagai penjuru untuk
berjuang membantu mahasiswa. Ada tukang ojek, ada pelajar SMU, ada lagi pekerja-
pekerja kantoran yang masih terlihat pakaian kerjanya ikut melempar batu ke arah Polisi
dan Tentara. Lho, mahasiswanya pada kemana? yaa sudah tinggal sedikit. Sebagian besar
berada dipinggir jalan seperti orang yang lagi shock. Iyalah, siapa yang sangka aparat jadi
keparat yang begitu brutalnya menembaki mahasiswa, bahkan membunuh mahasiswa
yang tidak berdaya. Seandainya kami memegang senjata api, tentu tidak masalah kami
ditembaki. Sebab kami bisa membalas tembakan tersebut.


       Kembali ke kumpulan rakyat di sekitar depan jalan Bendungan Hilir tadi. Karena
terlarut euphoria teriakan kemenangan, aku agak sedikit lengah. Tiba-tiba ada teriakan
“awas, semuanya lari, mereka datang”. Shit…kakiku masih pincang dan letih sekali.
Terlihat dari jauh dua mobil water canon bergerak ke arah kerumunan massa disertai
tembakan gas air mata. Aku lari lagi dengan tenaga yang tersisa untuk masuk ke jalan
benhil. Aku sudah tidak peduli lagi seperti apa kejadian seterusnya disana. Yang penting
diriku selamat. Seiring berjalan kaki, aku bertemu dengan orang yang sebelumnya ada
disampingku saat di depan jalan Benhil. Dia mengatakan, bahwa tadi saat kerumunan
disemprot pakai water canon, tak tahunya airnya bikin gatal- gatal. Yang kena mata
langsung berteriak. Sadis sekali, air apakah itu?
       Ketika aku melewati depan Rumah Sakit AL.Mintoharjo di Benhil, selintas bisa
kulihat dengan mata kepalaku sendiri, berapa banyak mahasiswa dan rakyat ikut jadi
korban tembakan aparat. Sampai berkali-kali mobil ambulance meraung-raung keluar
masuk komplek rumah sakit. Dan menggotong masuk korban yang berjaket almamater
maupun yang tidak. Kondisi di rumah sakit juga mencekam. Ada yang histeris, ada yang
sedang membentur-benturkan kepala, ada yang menangis tersedu-sedu, ada yang
bengong dengan pandangan yang kosong, ada yang sedang berbaring di pinggir selasar
rumah sakit. Pokoknya tidak kalah kacaunya deh. Aku sekitar 20 menit istirahat di
parkiran mobilnya, sebelum melanjutkan jalan kaki. Oh Tuhan, kenapa mataku harus
melihat yang seperti begini terus sih?
       Akhirnya aku bisa pulang ke kampus menaiki bis. Tiba di kampus, kucari motor
dan „cabut‟ balik ke rumah. Sampai dirumah, kulihat orang tua, kakak dan adikku sedang
menonton berita di TV seputar perkembangan bentrokan mahasiswa di Semanggi, yang
membuat mereka khawatir. Karena tebakan mereka, aku pasti disana. Ketika aku masuk
ke rumah, orang tuaku langsung melotot matanya, and then aku pun menangis sesegukan.
Akhirnya merekapun tidak jadi marah. Malah bertanya kenapa aku menangis. Ya aku
bercerita semua kisah dan semua yang kulihat hari ini. Papaku sempat bilang “San-san,
kamu itu orang keturunan Cina. Janganlah ikut- ikut demo. Kita ini dagang sajalah. Kita
ga punya „urat‟ di politik. Bahaya kalau nyawa melayang.”
Dan aku bilang sama mereka, sumpah, kalau aku kapok.
Tapi sampai berapa lama kapoknya??? “Gak Janji deh”.




   In memoriam Tragedi Semanggi I (13 November 1998)

       Alm.Bernardus R Norma Irmawan
       Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya, Jakarta

       Alm.Engkus Kusnadi
       Mahasiswa Universitas Jakarta

       Alm.Heru Sudibyo
       Mahasiswa penyesuaian semester VII Universitas Terbuka, Jakarta

       Alm.Lukman Firdaus
       Pelajar Sekolah Menengah Umum Negeri (SMUN) 3 Ciledug, Tangerang

       Alm.Sigit Prasetyo
       Mahasiswa Teknik Sipil YAI Jakarta

       Alm.Teddy Wardani Kusuma
       Mahasiswa Fakultas Teknik Mesin Institut Teknologi Indonesia, Serpong

       Alm.Muzammil Joko

       Mahasiswa Universitas Indonesia, Jakarta

       Alm.Abdulah / Donit

       Alm.Uga Usmana
       Alm.Agus Setiana

       Alm.Budiono

       Alm.Sidik

       Alm.Doni Effendi

       Alm.Rinanto

       Alm.Sidik

       Alm.Kristian Nikijulong

       Alm.Hadi

17 orang tercatat meninggal dan 456 orang luka-luka.


Sumber data berasal dari Tim Relawan Untuk Kemanusiaan, Kontras dan website
IndoProtest - http://members.tripod.com/~indoprotest.




   Awan kelabu hari itu karena asap mesiumu…kami panik berlarian karena
   gelegar suara senjatamu…air mataku menetes karena kau bunuh
   rakyatmu…jeritan pilu orang tua karena nyawa anaknya direnggut
   olehmu…
   Kau robot atau manusia? Kau mengerti hukum atau tidak? Kau beragama
   atau tidak? Kau punya hati nurani atau tidak? pertanyaan yang
   membahana yang selalu bersarang di lembabnya hatiku yang
   menangis…Tatkala air mataku telah habis…
Sumber Foto Foto Professor Barry N. Stein Michigan State University USA
Sumber Foto http://id.wikipedia.org/wiki/Tragedi_Semanggi




Sumber Foto http://larassejati.multiply.com/photos/album/45/Tragedi_Semanggi
Sumber Foto http://larassejati.multiply.com/photos/album/45/Tragedi_Semanggi




   Sumber Foto http://larassejati.multiply.com/photos/album/45/Tragedi_Semanggi
Sumber Foto Professor Barry N. Stein Michigan State University USA




Sumber Foto Professor Barry N. Stein Michigan State University USA
BAB III

Catatan kesaksianku ”Bentrokan Taman Ria Senayan”



Kamis 17 Desember 1998
        Sebulan lebih setelah tragedi Semanggi terjadi, pada hari ini kami mengadakan
berdemonstrasi lagi. Aksi ini adalah aksi damai untuk menuntut pertanggung jawaban aparat yang
telah membunuh kawan-kawan kami 13 November 1998 yang baru lalu. Aksi ini direncanakan
merupakan aksi gabungan dari berbagai elemen mahasiswa seperti Famred, Forkot, Forbes,
Gempur, Komrad dsb. Targetannya jelas menembus barikade aparat untuk menuju depan gerbang
gedung MPR/DPR. Famred dari Manggarai akan melakukan long march (Jalan Jauh) ke
Atmajaya dan kemudian lanjut ke MPR/DPR. Sedangkan Forkot memilih langsung dengan
konvoinya dari arah Cawang menuju MPR/DPR.
        Untuk mencapai lokasi titik temunya Famred, aku dan kawan-kawan Ukrida bergerilya,
masuk ke bis yang kami sewa, eeh, lebih tepatnya sih dibajak.hehehe seketemunya depan
kampus, terus dicegat, penumpangnya disuruh turun, and then kami tawar menawar sama
sopirnya dekat sedikit berbelas kasihan, dan tidak lupa bilang “ini kan buat rakyat juga bang”.
Hehehe. Kenapa bergerilya? Karena banyak razia di setiap jalan yang kami lewati. Sehingga
pintu bis kami tutupi dengan mahasiswa yang menyamar jadi kenek, dan dialah yang akan
menolak semua penumpang yang bermaksud mau naik. Suasana di dalam bis terlihat kawan-
kawan Ukrida mulai tegang. Tim aksi Famred Ukrida seperti Patrik Kupang, Vendi Dengkul
(Simpul Famred Ukrida), Yuli Mami (cewek super), Desi OB, Robby Siahaan, Vicky “ Vekew”
,Charles, Daniel “Ambon” Boby, Yopie Kontos, David Bajaj dll, semua bermuka penuh
ketegangan. Dan akhirnya tiba di titik temu, Manggarai. Di sana sudah sekitar ribuan kawan dari
berbagai kampus dan siap dengan berbagai atribut demonya. Mulai dari spanduk, bendera,
selebaran agitasi, minuman mineral, handuk dan pakaian ganti, serta tidak lupa odol yang bisa
meredam pedihnya gas air mata.
        Jam 11 siang, setelah kami berkumpul di Pasaraya Manggarai, kemudian kami berjalan
menuju daerah kuningan. Ketika sampai dekat rumahnya Habibie di Patra, „pasukan‟pun berhenti
sebentar dan bermain-main dengan aparat. Sempat „dorong-dorongan‟ dan bernyanyi meledek
aparat. Terdengar kabar dari radio kecilku, bahwa Forkot sekitar jam 12 siang tadi sudah berada
di bawah jembatan layang Taman Ria Senayan. Kami pun bergegas menuju titik temu kedua
dengan elemen aksi yang lain di kampus Atmajaya. Sesampainya di Atmajaya sekitar jam 15.00,
kamipun kelelahan. Sehingga sebelum konsolidasi bergerak ke titik ketiga yaitu MPR/DPR, kami
mencoba istirahat dulu. Setelah jam menunjukan pukul 16.00 kami pun berangkat jalan kaki lagi.
Terlihat beberapa rombongan baru seperti Komrad, Forbes dan Gempur, mulai ikut masuk
barisan Famred, menyelip diantara kami. Sepanjang perjalanan itu aku pun melihat tindak-tanduk
mereka yang terkesan mencurigakan. Karena mereka tidak konsentrasi menyanyikan lagu-lagu
yang dipimpin korlap Famred. Sekitar 10 menit berjalan, mulailah terlihat buntut barisan Forkot
yang demikian besarnya, dengan begitu banyaknya tiang dan bendera merah-putih dengan tulisan
Forkot di tengahnya, yang begitu membuat gentar orang-orang yang melihatnya. Barisan Famred
pun menjadi sedemikian besar dan ramai pengikutnya mungkin menjadi dua kali lipatnya dari
awal di Manggarai, karena banyaknya yang ikut dari Atmajaya. Setibanya di bawah jembatan fly
over Taman Ria Senayan, sepertinya situasi mulai memanas dan Famred pun mulai merapatkan
barisan. Korlap sepertinya sedang memberi tanda bahwa pasukan Famred bersiap untuk
menerobos barisan barikade aparat. “Berarti bentrok dong”pikirku. Aku mulai pasang kuda-kuda
untuk berada di tengah barisan saja agar lebih aman. Kok Famred mau bentrok? Tidak mungkin
Famred melanggar ANVnya mereka. Berarti ada sesuatu yang sedang direncanakan, karena
kulihat para simpul mulai kasak-kusuk berkumpul di samping barisan.


Lihat ilustrasi denah di bawah ini.




Bulatan sebelah kanan = posisi Famred      Picture from google earth

Bulatan sebelah kiri = posisi Forkot

Silang = Aparat
         Kemudian aku Sempat melihat ada beberapa demonstran dari Forbes, mulai memasukan
bendera mereka ke dalam tas, kemudian dari tas mereka banyak tersimpan batu-batu. Dan tiba-
tiba mereka menyeberang jalan menuju barisan Forkot. Lalu aku pun langsung melapor kepada
Vendi (sebagai Simpul Famred dari Ukrida) atas semua manuver mereka itu. Kupikir mereka
pasti mau jadi provokator di aksi damai kali ini. Entah apa muatan politisnya, tetapi jelas
tujuannya adalah bentrokan dan berarti mereka melanggar kesepakatan awal aksi ini. Karena
negosiasi tidak juga berhasil, para pimpinan dari Famred berencana menembus barikade aparat
keamanan. Setelah semua sudah diberitahu via bisik-bisik rencana “nakal kami”, maka dengan
satu komando, massa dari Famred berpindah ke jalur tol yang menuju Cawang.


Lihat ilustrasi di bawah ini.




Bulatan sebelah kanan = posisi Famred       Picture from google earth

Bulatan sebelah kiri = posisi Forkot

Silang = Aparat




Terlihat aparat yang berjaga di depan kami tidak menyangka bahwa kami melakukan strategi
seperti itu. aparat yang berjaga di belakangnya mulai membantu melapis kelemahan teman-teman
mereka karena dikerjai Famred.
Belum lagi aparat bernafas lega, mereka kami buat kacau balau lagi dengan cara, kami berpindah
lagi ke jalur tol yang menuju Grogol. kejadian itu membuat situasi menjadi kacau. Aparat mulai
kocar-kacir. Forkot melihat ada peluang untuk mendobrak, maka mereka mulai mendesak aparat
sampai melewati jembatan layang Taman Ria Senayan. Bahkan melempar aparat dengan batu,
serta mulai tak terlihat bendera Forkotnya yang sudah disimpan ke dalam tas, sehingga batang
bambu yang polos itu, dibuat memukul aparat sampai ke tembok Taman Ria Senayan.


Lihat ilustrasi di bawah ini.




Bulatan sebelah kanan = posisi Famred      Picture from google earth

Bulatan sebelah kiri = posisi Forkot

Silang = Aparat




         Setelah Forkot memukul mundur aparat, mulailah terjadi hal yang aneh. Para PHH
(Pasukan Anti Huru hara) itu, nyalinya langsung ciut dan mencoba melarikan diri. Apalagi
blokade di sisi kiri mereka bobol oleh taktiknya Famred. Barisan yang kelabakan itu terlihat
panik dan berlarian. Barisan Famred dan Forkot mengerucut menjadi bersebelahan dan hanya
dipisahkan oleh pagar tol setinggi 1,5 meter saja. Dan aku lihat ada beberapa orang aparat yang
tertangkap oleh barisan Forkot dan langsung dipukuli beramai-ramai serta dilucuti tongkat,
tameng dan helmnya. Kemudian tertangkaplah komandan regu dari aparat itu. karena dia
mempunyai pistol di pinggangnya, maka para Forkoters, mulai bernafsu untuk merebut pistol itu.
Para anak buah dari aparat itu, melihat komandannya dikeroyok, balik lagi dan mencoba
melindungi atasannya. Tiba-tiba ada sebuah Helikopter bertuliskan POLISI, menembakan gas air
mata dari atas dan memperingati melalui perngeras suara, agar para demonstran melepas aparat
tersebut, atau akan ditembak dari atas Helikopter. Bala bantuan aparat dari gerbang MPR/DPR
mulai berdatangan. Jumlahnya pun ratusan dan mulai menembaki Forkot. Barisan depan Famred
tidak bergeming sama sekali dari tempatnya. Akan tetapi situasi mulai tak terkendali sehingga
kami terpukul mundur sampai tempat pertama tadi sebelum kami bermanuver. Pasukan yang ada
di atas jembatan pun mulai ikut menembaki mahasiswa yang coba melawan. Forkot terus
melempar batu dan bom molotov ke arah aparat, akan tetapi Famred tetap diam dan duduk walau
gas air mata mulai tiba dan menyemburkan asapnya untuk mengusir barisan Famred. Jam saat itu
sekitar 18.30, dan mulai gelap. Famred tetap ditembaki gas air mata walau tak melakukan apapun,
sehingga lambat laun barisannya berkurang. Dari arah barisan Forkot yang sedang chaos, terlihat
menyeberang ke arah Famred yang tidak chaos. Sebagian dari mereka mulai pindah jalur ke
posisi Famred, dan mulai melempar dari sana. Maka aparat menyangka bahwa barisan Famred
mulai melawan. Kami pun akhirnya kocar-kacir setelah ditembaki peluru karet oleh aparat dari
bawah dan atas jembatan. Pasukan Forkot dan Famred tersapu habis di Taman Ria Senayan dan
balik ke Atmajaya. Ketika di dekat jembatan Semanggi, ada sebuah mobil sedan warna hitam
menepi dan membuka kaca mobil dan berteriak kepada mahasiswa, bahwa dia mau memberikan
Air Mineral. Sekotak air itu pun habis diperebutkan para mahasiswa yang haus dan keletihan
berlari. Aku tidak ikutan ambil. Karena stock air di botol minumku masih banyak. Buat apa,
berat-beratin saja. Tiba-tiba beberapa mahasiswa yang meminum air pemberian orang tadi,
terlihat tersungkur dan muntah-muntah. Aku kaget setengah mati. Karena kupikir mereka
kesurupan. Mulutnya sampai ada yang berbusa. Ternyata itu adalah air mineral beracun.
Langsung para korban di bawa ke rumah sakit Jakarta.
        Sesampainya di dalam kampus Atmajaya… ternyata sudah demikian banyaknya
mahasiswa yang mundur. Kondisi seperti „pasar malam‟ saja. Karena mereka ramai menceritakan
keberhasilan mereka yang sempat menaklukkan aparat. Bahkan beberapa dari mereka
memamerkan tameng, masker, helm , sepatu dan tongkat aparat yang sudah berhasil direbut.
Sempat aku duduk sejenak diantara mereka. Beberapa yang kulihat sedang berbincang soal
“jimat” yang mereka bawa. Hehehe . beberapa diantara mereka pakai jimat dari Banten untuk
kebal tembakan. Ada yang berupa cincin, kain hijau atau putih bertulisan Arab, ada yang bawa
keris kecil dsb. Pantas saja, di Taman Ria Senayan, ada yang kulihat tertembak aparat, akan tetapi
tidak „tumbang‟ juga. Ini toh rahasianya. Hari ini adalah „kemenangan‟ bersejarah yang dilakukan
mahasiswa terhadap aparat. Mungkin aksi hari ini adalah cerminan hati para mahasiswa yang
marah karena „Tragedi Pembunuhan‟ di Semanggi 13 November 1998 yang baru lalu.
        Saat itu para pimpinan elemen aksi mulai mengadakan pertemuan. Terlihat para petinggi
Famred dan Forkot mulai berdebat. Aku kebagian berjaga-jaga di depan pintu, untuk mencegah
munculnya mata-mata yang coba mengintip. Tapi sedikit banyak aku mendengar apa yang
mereka bicarakan. Yakni tentang kenapa Forkot melanggar perjanjian aksi damai, jawab mereka ,
karena aparat yang memulai duluan. Tapi kenapa Forkot membawa demikian banyak bambu?
Pokoknya dari petinggi Famred mulai marah dan tidak percaya lagi dengan Forkot. Rapat
akhirnya bubar setelah terdengar aparat yang mengejar kami mulai mendekati Kampus Atmajaya.
Kami pun kembali ke kampus masing-masing untuk menghindari bentrokan lebih meluas. Yang
jelas pada hari ini, muncul keberanian di hati mahasiswa. Bahwa aparat itu sebenarnya bukannya
dewa. Mereka bisa juga dipukul mundur bila mahasiswa bersatu padu…
BAB IV

Catatan kesaksianku ”Aku dan kawan-kawan di penjara”



       Pemerintah mulai merasa terganggu oleh aksi mahasiswa yang semakin lama
semakin massive dan solid. Mahasiswa pun kian tertempa oleh kondisi „sulit‟ yang
mereka alami diberbagai tragedi. Mahasiswa menjadi leb ih matang, baik secara mental
maupun pikiran politiknya. Sempat kudengar dalam beberapa obrolan atau diskusi
informal para mahasiswa, menyayangkan bahwa kita tidak punya senjata. Bila mahasiswa
memiliki senapan atau granat, mungkin kami bisa membalas perlakuan mereka. Bahkan
saat itu ada selentingan yang tidak jelas nara sumbernya, mengatakan bahwa beberapa
dari faksi Militer mulai tidak kompak. Sebagian setuju dengan tindakan represif dalam
menghadapi Aksi Mahasiswa, dan sebagian menolak „membunuh‟ rakyat yang tidak
bersalah. Muncul isu, bahwa faksi yang menolak tersebut, akan menjembatani para
mahasiswa untuk memiliki persenjataan ala tentara. Terbayang di dalam benakku,
“Revolusi Turki”, yang para mahasiswanya merebut gudang senjata, kemudian balas
menembaki para tentara Turki yang telah membunuh rakyatnya. Tapi rupanya “gayung
tak bersambut”. Beberapa kawan mahasiswa, tidak mau menjadi “alat politik” siapapun
yang mencoba menggunakan kekuatan mahasiswa untuk mencapai tujuannya. Apalagi
Famred adalah elemen anti kekerasan. Meskipun aku dan kawan-kawan merasa jengkel
dan sakit hati dengan perlakuan aparat ketika menghadapi kami, tidak serta merta
tindakan itu harus kami balas dengan hal yang serupa. Itu sama saja dengan
mensejajarkan diri kami dengan para militer yang tega menghabisi nyawa rakyatnya dan
menganggap rakyatnya itu musuh dan pengkhianat Negara. Tentara dan mahasiswa,
adalah sama-sama warga Negara Indonesia. Tidak seharusnya bertikai dan saling
melakukan kekerasan. Sayangnya, mereka para tentara, hanya mau mendengar suara
perintah atasan mereka. Memang seperti itulah „gaya‟ militer dimana- mana.
       MPR/DPR dan pemerintah Habibie sepakat untuk meluncurkan UU No 9 tahun
1998 yang diundangkan pada tanggal 26 Oktober 1998, yakni mengenai ijin
berdemonstrasi. Sehingga bila ada demonstrasi yang pesertanya melebihi 100 orang,
wajib memberitahukan pihak aparat dan wajib meminta ijin demonstrasi. Yang membuat
dan yang menyetujui UU No 9 tahun 1998, pastinya didasari oleh rasa ketakutan
berlebihan terhadap aksi-aksi mahasiswa yang semakin lama semakin intensif dan berani.
Atau mereka merasa terganggu kenyamanannya saat duduk di kursi „empuk‟ jabatan
mereka. Maka dari itu, mereka secara bersama-sama dan demi melindungi kepentingan
bersama dengan dalih untuk menegakkan hukum, pastinya akan memakai „tameng‟
undang-undang yang baru itu untuk meredam aksi-aksi mahasiswa. Kawan-kawan di
Famred, tidak menyetujui hal ini. Alasannya adalah bila kita sudah memberitahukan dan
tidak diberi ijin, bagaimana? Kemudian bila semua informasi demonstrasi sudah ditangan
aparat, dari Jam berapa, mulai dimana, tujuan kemana, selesai jam berapa, jumlah massa
berapa banyak, siapa saja penanggung jawabnya, itu sama saja dengan kita membocorkan
strategi demonstrasi kita, sehingga aparat dengan mudah bisa mengantisipasinya. Apalagi
demonstrasi kita selalu bertentangan dengan penguasa. Bila konteksnya minta ijin, berarti
bisa saja diijinkan atau malah tidak diijinkan. Berarti setiap langkah kami tergantung
„restu‟ dari Polda Metro Jaya. Sementara bagi kami mereka adalah salah satu kelompok
aparat yang tangannya ikut „berlumur darah‟ saat Tragedi Trisakti dan Semanggi yang
baru lewat. Bila kami meminta „restu‟, sama saja kami memaafkan pelanggaran hukum
yang sudah mereka lakukan. Mengapa kami para mahasiswa harus mematuhi hukum
sedangkan aparat diperbolehkan tidak mematuhi hukum yang berlaku asalkan melindungi
penguasa dari gangguan mahasiswa. Intinya saat ini tidak ada yang bisa kami percaya
lagi. Baik dari Eksekutif, Legislatif, Yudikatif dan ABRI, semuanya tidak bisa kami
percayai lagi. Akhirnya kami sepakat untuk menolak UU no 9 th 1998 itu dengan cara
sengaja berdemonstrasi tanpa ijin. Setelah dipilih hari baiknya (kayak mau nikah
saja…hehehe), maka kami tentukan pada hari Selasa 9 Februari 1999, kami akan
menjajal / membangkang dengan cara melakukan demonstrasi di depan gerbang
MPR/DPR.


Selasa, 9 Februari 1999.
       Kami berkumpul sekitar jam 12 siang di kampus Atmajaya. Aku mendekati salah
satu kerumunan kawan-kawan yang sudah berada di parkiran mobil kampus Atmajaya.
Sebenarnya aku tidak terlalu mengenal dekat mereka itu. istilahnya tahu muka tidak tahu
nama, tapi aku kenal mereka dan mereka kenal aku atau sok akrab sok dekat. Hehehe
bingung kan? Kita mengobrol sambil duduk dan merokok. Anehnya rokok yang mereka
hisap itu baunya dan bentuknya beda dengan yang biasa aku hisap. Asapnya sangat
menyengat hidungku. Mulanya aku tak tahu bahwa rokok yang dihisap mereka itu adalah
„rokok setan‟ ala Bob Marley. Lintingan rokoknya kayak „pocong kecil‟. Ak u pun tak
mengerti rasanya, karena aku tidak pernah mencoba sebelumnya. Cara mereka menghisap
rokok itu sangat aneh. Rokoknya dihisap bergantian. Aku pun ditawari untuk ikutan
mencicipi hidangan asap neraka itu. mereka bilang itu cuma rokok biasa untuk membawa
“happy” biar tidak stress. Ya sudah, karena kata mereka aman, apalagi aku juga
penasaran, maka aku hisap saja sampai beberapa kali dan terbatuk-batuk. Asapnya tidak
enak, baunya menyengat di hidung. Pikirku “Apanya yang bisa bikin happy yaa?”
Tiba-tiba si Vendi datang, dan bilang sebentar lagi kita akan mulai. Aksi kali ini, dia yang
menjadi Koordinator Lapangan, dan “Hei San-san dan Patrik, lu ikut gue dan ada
disamping mobil yang bawa pengeras suara”. Tegas si Vendi. “Wah bisa budeg kuping
gue, kalo dekat speaker begitu banyak”. Pikirku. Mobil pickup berwarna biru dengan
hiasan banyak lampu di atasnya, kepunyaan Raymond dari STHI itulah yang akan
menjadi mimbar corong demonstrasi kali ini.
       Sekitar jam 13.00, aksipun dimulai. Kami pun keluar dari kamp us Atmajaya,
untuk menyusun barisan di jalanan. Aku dan kawan-kawan Ukrida, berada paling
belakang sekali. Ketika aksi berjalan kaki dimulai, kepalaku seperti merasa pusing, dan
tubuhku seperti kesemutan dari ujung kepala sampai ujung kaki. Yang kocaknya, kawan-
kawan yang lain, yang memberiku rokok setan itu, terus menerus tertawa bercanda dan
mata mereka seperti “Herman Ngantuk” artis jaman dahulu. Aku pun tertawa dengan
mereka walau aku ga ingin. Karena aku harus konsentrasi dan segera menuju Vendi yang
sudah berorasi di atas mobil komando, dan Patrik sudah berada di samping mobil
tersebut. Dengan langkah berat dan oleng beberapa saat, akhirnya akupun bisa mendekati
posisi Vendi di depan. Tepat di atas Jembatan Semanggi, kamipun berhenti sejenak,
untuk „memanaskan barisan‟ dengan lagu-lagu perjuangan. tiba-tiba dari arah Polda
Metro Jaya, muncul begitu banyak truk, (sekitar 40 truk), menyergap dari samping
barisan Famred. Semua kocar-kacir saat para polisi itu turun dari truk dan mulai
menangkapi para demonstran. Akupun terjebak di atas jembatan yang tinggi itu. beberapa
mahasiswa panik dan nekat turun dari atas jembatan dengan cara ala “Spiderman”.
Merayap di jembatan dan tangannya berdarah. Terlihat ada yang loncat bebas, dan
tersungkur dibawah jembatan, kemudian ditolong kawan-kawan yang berada dibawah.
Kalau tak salah lihat, itu kawan yang nekat, berasal dari kampus ABA/ABI. Tubuhku
lemas, dan kepala masih pusing, aku tidak bisa kabur. Ini pasti gara-gara rokok setan itu.
Kulihat kawan-kawan Ukrida sudah tidak ada lagi. Sisanya tinggal Vendi, Patrik, Samuel
dan aku.
       Barisan yang tersisa hanya yang dekat dengan mobil komando, karena tempat itu
paling tinggi. Sekitar puluhan orang jumlah kami. Tiba-tiba kawan mahasiswi dari STIE
Perbanas ditarik tangannya oleh aparat. Dia pun berontak sejadi-jadinya. Kawanku
Pontas dari kampus Untar, mendidih darah bataknya, dan berkata “Weii, kalo berani
jangan sama cewek dong, jangan tarik-tarik begitu lah”. Polisi itu memang menuruti kata
si Pontas. Dilepaskannya mahasiswi itu, akan tetapi sebagai gantinya, si Pontas yang
diseret ke tengah kerumunan polisi dan dipukuli, ditendang dan di injak- injak. Si Pontas
terlihat cuma sekilas dari warna jaket almamaternya yang merah hati diantara kerumunan
kaki puluhan polisi. Si Pontas pun berteriak-teriak, tapi herannya tidak ada teriak
“ampun”. Kami mencoba menembus kerumunan aparat dan menarik si Pontas kembali ke
barisan kami. Akhirnya kami berhasil menarik si Pontas lengkap dengan kepala
Plontosnya, kacamata yang lensanya sudah hilang dan bingkainya patah, discount bibir
berdarah, dan bonus mata biru lebam. Hehehe. Jaket almamaternya pun sudah berdebu.
Sedikit ceritaku tentang Pontas yang kukenal. Ini mahasiswa dari Fakultas Hukum
Kampus Untar. Orangnya pendiam dan pemalu. Teruta ma dengan wanita. Terlihat
dengan kacamata tebalnya itu, dia seperti kutu buku. Tapi kalau bicara dan sedang
bercanda, terlihatlah dia itu cerdas.
       Akhirnya kami pun diseret ke dalam truk dan dibawa ke Polda Metro Jaya. Kami
digiring ke halaman belakang dekat penjara. Sepanjang kami berjalan kaki, banyak polisi
yang mencemooh, meludah, meledek dan berkata-kata kasar serta menakuti kami. Wah,
kami sekarang ada dikandang mereka. Akan tetapi aku tidak ada rasa takut. Rasa hatiku
tetap “happy” dan mulutku tersenyum terus karena berusaha menahan tertawa. Sialan,
efek „rokok setan‟ masih ada sampai sekarang, termasuk kesemutannya. Bagaimana kalau
aparat itu tahu? Bisa habis aku dihajar kayak si Pontas. Ketika dibentuk suatu barisanpun,
aku sudah berusaha menutup mulutku agar tidak tertawa, dan kusamarkan dengan batuk
yang keras. Kawan-kawan yang lain menyangka aku sakit batuk.hehehe. setelah didata
lewat KTP masing- masing, kami semua dibawa masuk ke dalam penjara. Karena jumlah
kami begitu banyak, 55 orang, maka daripada memenuhi sel disana, maka kami pun
diletakkan di musholla, di tengah-tengah penjara, dekat ruang ganti polisi. Akan tetapi
yang mahasiswi, di letakkan di dalam ruang kantor penjara itu. kemudian yang terjadi
adalah, kami kelaparan dan kehausan. Tidak ada sisa air dan makanan sedikitpun.
Terutama karena pasokan rokok pun ikut menghilang, mulut kami asam, tapi menjadi
kreatif sekaligus jorok. Puntung sisa rokok yang ada disana aku kumpulkan, kemudian
pakai kertas koran, kulinting beberapa tembakau yang terlihat beberapa sudah
menghitam. Kukerjakan bersama Patrik, yang mungkin sampai saat ini, merokoknya
dengan rokok lintingan sendiri. Jarang sekali kulihat dia membeli rokok „jadi‟ di warung.
Ketika asap rokok mulai mengebul, beberapa kawan mendekat bergabung dengan kami
berdua. Alhasil, rokok rakitan tersebut, dihisap sekitar 6-7 orang secara
bergiliran.hehehe. kamar mandi di Polda itu jorok. Lantai dan dindingnya berlendir, gelap
serta bau pesing. Mau tak mau kita harus buang hajat disana. Aku tetap tidak bisa BAB,
karena tempatnya jauh dari layak tersebut. Sekitar jam 22.00 Polisi masuk ke tempat
kami untuk mendata ulang dan membagikan makanan. Kami bilang bahwa lebih baik
makan dulu. Karena badan kami sudah lemas. Akhirnya dibagikanlah nasi bungkus
sekitar 25 bungkus. Kata polisi tersebut, tadi kawan kalian yang membawa nasi tersebut.
Hah mana cukup nasi segitu buat orang seratus? Setiap bungkus nasi, akhirnya dikeroyok
sekitar 6 orang. Aku hanya kebagian satu genggam nasi saja. “Airnya mana pak?” Tanya
beberapa kawanku. “ga tahu, yang kita dapat dari kawan kalian ya segitu itu.” jawab
polisi lagi. Kawan-kawan mulai kesal dengan mereka para mahasiswa yang di luar
penjara. Mengapa tidak disuplai nasi bungkus yang banyak berikut airnya. Saatnya tanda
tangan berkas pemeriksaan dimulai. Kamipun mengakali tanda tangan dengan yang
palsu, dan saat cap jempol, terlebih dahulu jari jempol kami dilumuri bekas butiran nasi
agar tidak tercatat sidik jari yang seharusnya.hehehe.
       Menjelang jam 1 pagi, udara dingin dan sangat menusuk mulai turun dari ruang
terbuka di mushola itu. Aku dan kawan-kawan mulai menggigil. Bahkan kami tak
sanggup menjejakkan kaki kami di lantai. Karena sangat dinginnya, aku mengalaskan
kakiku dengan kardus kecil yang kudapatkan bekas nasi bungkus tadi. Dan bagaimana
tidurnya? Hanya satu cara, yaitu berjongkok dan pejamkan mata. Sambil memegangi
lutut, aku menggigil tidak berhenti. Ini tempat memang di design agar angin pagi hari
bisa masuk dengan leluasa dan menyiksa para tahanan disana.
Sekitar jam 3 pagi, aku dan kawan-kawan mulai lemah dan kehausan. Tiba-tiba, kawan
dari Trisakti bernama Hery dengan julukan si gusdur, karena badannya rada bulat,
membawa air minuman di botol air mineral yang besar. Spontan kawan-kawan ramai
menyerbu minuman itu sambil menjitak kepalanya. “monyong lu, punya minuman di
umpetin, dari tadi dong dikeluarin, bagi-bagi sama anak yang lain.”kataku. “sorry, silakan
diminum, gue masih punya banyak kok.” Katanya. Aku pun ikut minum sepuasnya,
sampai mataku merem- melek. “Wah makasih yaa.” Ujarku lagi. Tiba-tiba si Hery
Gusdur, pergi ke taman rumput samping mushola, dan membuka kran air, dan mulai
mengisi botolnya dengan air tersebut. “Ayo siapa yang mau minum gratis, masih banyak
nih”. “Sialan tuh orang, ga tahunya air kran yang masih mentah, dikasih ke kita. Tapi ga
berasa mentah yaa. Mungkin sangking hausnya kali.”ujarku yang disambut tawa kawan-
kawan yang lain. Setelah itu kami mulai mengalami mulas perut, dan sebagian lagi
mengalami diare.
       Sekitar jam 7 pagi, kami terbangun karena ada rombongan polisi yang datang.
Dipimpin oleh komandan yang bernama Bambang, yang mengaku sudah sekolah di FBI
Amerika Serikat sana. Kami pun dikuliahi oleh beliau agar jangan melanggar hukum lagi,
dan membujuk kami kembali ke kampus masing- masing untuk kuliah saja. Sambil
mengantuk dan menguap, aku dan kawan-kawan mendengarkan ocehan polisi itu dengan
“masuk kuping kiri dan keluar kuping kanan”. Selesai kuliah pagi, kami mulai berani
berkenalan dengan manusia di dalam sel tetangga ruangan kami. Di depan sel masing-
masing biasanya tertulis di papan, tentang nama, tanggal masuk dan kesalahan yang
mereka perbuat. Aku berusaha membujuk agar diberi rokok. “abang, tolong kami bang,
mulut asam ingin merokok, tolonglah bang, lemparkan barang sebatang. ” Akhirnya aku
dikasih 3 batang, yang langsung diserbu kembali oleh kawan-kawanku.
Ketika kami asyik merokok, tiba-tiba ada suara orang membentak kami dan orang
tersebut berpakaian polisi, lengkap dengan topi dan pentungannya. Kami sempat kaget.
Ternyata…kawan Famred yang bernama Masinton, bertubuh pendek gempal, kulit hitam
dan rambutnya keriting, menghilang ke dalam kamar ganti Polisi dan memakai seragam
tersebut untuk membuat kaget kami semua. Akupun sempat ke kamar ganti polisi itu
untuk lihat- lihat. Tidak ada apa-apa di sana, yang terlihat hanya seragam polisi saja.
Karena melihat Masinton berulah, kami pun tertawa terbahak-bahak. Rupanya tawa kami,
menyebabkan beberapa polisi, melongok ke lokasi kami, dan sempat melihat masinton
memakai seragam mereka. Masinton pun segera melepaskan pakaian polisinya dan
kembali ke kumpulan kami. Tiba-tiba, sekitar 40 orang polisi masuk ke lokasi kami
lengkap dengan senjata terkokang. Salah satunya berteriak membentak kami ”mana
teman kalian yang sudah memakai seragam kami? Dia sudah berani menghina korps
kami. Dia harus kami tangkap.Ayo cepat mengaku!!!”. Tidak ada satu kawanpun buka
suara. Kami semua menundukkan kepala, dan jantungku berdegup kencang. Karena
kesalahan kami diperbuat dikandang mereka. tidak ada saksi ya ng melihatnya bila terjadi
apa-apa.
Ada seorang polisi mengenali tubuh Masinton dan berkata “ini dia pak orangnya, saya
lihat dengan jelas muka dan tubuhnya.” Masinton pun di seret tangannya. Kamipun tidak
tinggal diam untuk menarik tangan Masinton yang satunya lagi, kemudian kami
mendorong dan mendesak para polisi itu untuk menjauhi Masinton. Setelah ketegangan
itu berlangsung sekitar 15 menit, akhirnya polisi itu pun meninggalkan kami, karena
pengacara kami 14 orang dari PBHI yang waktu itu diwakilkan 3 orang saja, datang ke
tempat dimana kami ditahan. “ffiiiuuhh, selamat deh Masinton. Disanalah aku berkenalan
dengan Bang Johnson Panjaitan dari PBHI. Kemudian jam 9 pagi, kamipun dibawa
memakai truk, ke pengadilan negeri Jakarta Pusat, sesuai dengan lokasi kami saat
tertangkap. Sepanjang perjalanan, kamipun menyanyikan lagu perjuangan mahasiswa dan
sambil sesekali berteriak “hidup rakyat” ketika terlihat dari celah kecil di dalam truk, ada
kerumunan rakyat yang menonton dipinggir jalan. Merekapun kadang berteriak “hidup
mahasiswa”. Sesampainya di lokasi pengadilan, tampak kawan-kawan yang tidak
tertangkap, sudah ada dan bernyanyi untuk kami. Begitu terharunya kami. Sambil
berjalan ke ruang sidang, kami pun melambaikan tangan kepada mereka, sebagai tanda,
bahwa kami sehat-sehat saja. Karena begitu banyaknya yang tertangkap, maka kami
dibagi menjadi beberapa kelompok di beberapa ruangan. Aku satu ruangan dengan
Vendi, Patrik dan Masinton. Di sana sudah banyak penonton dan wartawan yang meliput.
Aku langsung menunduk supaya mukaku jangan sampai ada di Koran atau TV. Bisa
habis dimarahi oleh orang tuaku. Sebelum dimulai membaca dakwaan, hakimpun
mengabsen kami satu persatu. Usia kami rata-rata 25-27 tahun. Ketika Masinton (STHI)
dan Suwandi (STF Driyarkara) dipanggil hakim, usia mereka ternyata 33-34 tahun.
Spontan kami semua di ruang sidang pun tertawa, termasuk hakimnya. “Kok ada
mahasiswa umur segitu sih, memang masih kuliah?” Tanya hakim pada mereka berdua.
“masih pak hakim, sedang skripsi”. Jawab mereka kompak. Hehehe. Ternyata MA
(Mahasiswa Abadi) juga mereka.
       Dakwaan pun akhirnya dibacakan. Kami dituduh melanggar UU no 9 tahun 1998
yang termasuk tindak pidana ringan (Tipiring). Selesai baca dakwaan, hakim pun
menghukum kami denda sebesar Rp 2750 dengan biaya sidang sebesar 500 rupiah per
orang saja. “yeee. Tahu begitu mah gue bayar saja Rp 15.000 deh, dan jangan dikurung
tahanan.”ujarku kesal. Setelah hakim ketok palu, aku pun berpelukan dengan Vendi dan
Patrik karena terharu. Kemudian ada yang memegang bahuk u. Ternyata Bp.Sugeng
Wahyudi dari Purek III Ukrida sampai menghadiri sidang ini. Beliau berkata denda akan
dibayar oleh kampus. Kalian secepatnya pulang ke kampus dan istirahat. Aku sangat
terharu atas kunjungan pak Sugeng tersebut. Dengan menyewa taksi, kami pun tiba di
kampus dan tidur di posko mahasiswa sampai puas dan sebelumnya makan dan minum di
warteg dekat kampus kami. Yaitu Warteg Iren yang terkenal. Sempat aku berpikir,
kasihan juga sopir taxi yang mengangkut kami yang badannya bau karena belum mandi
itu.hehehe
Hari yang panjang dan membuat penderitaan sudah lewat. Tapi belum tentu usai…
Sumber foto Kurnia Setiawan(Famred/Untar)




Para aktivis Famred diadili melanggar UU No 9 tahun 1998
BAB V

Catatan kesaksianku “Bubarkan Golkar dan aku ditangkap lagi”



       Setelah aku ditangkap 9 Februari 1999 yang baru lalu, kini tibalah waktunya
“menantang untuk ditangkap” lagi. Hari ini aku bersama Famred akan berdemonstrasi
lagi. Sasarannya adalah kantor KPU (Komisi Pemilihan Umum). Mema ng pada
demonstrasi kali ini ada dua target yang ingin dicapai Famred. Pertama tetap melakukan
perlawanan terhadap UU No 9 Tahun 1998, dengan melakukan demonstrasi tanpa ijin.
Kedua melakukan sosialisasi pembubaran partai Golkar. Karena partai Golkar kami
anggap harus bertanggung jawab terhadap 32 Tahun lamanya telah memilih pemimpin
negara yang banyak melakukan kebijakan yang buruk hingga membuat sengsara rakyat
Indonesia. Sebenarnya selain Golkar, 2 partai yang lainnya seperti PPP dan PDI , juga
turut serta bertanggung jawab di dalam berbagai kebijakan yang tidak memihak rakyat.
Mereka yang hanya terdiam dan terpaku menuruti kemauan penguasa sehingga tidak ada
lagi pengawasan terhadapnya. Alasan yang sering kudengar adalah “kami tidak berdaya
menghadapi rezim Soeharto”. Alasan klasik, terdengar garing ditelingaku. Mereka sudah
berani mendaftar jadi anggota DPR, berarti mereka sudah harus tahu tanggung jawab dan
resikonya. Bilang saja kalau “penakut”, kan beres. Tapi kalau sudah bilang takut
mestinya mundur saja. Tidak ada gunanya juga mereka diberi jabatan. Fungsinya juga
sama saja dengan “boneka”. Buang-buang uang rakyat saja.
       Karena pengawasan yang lemah inilah, maka terjadilah mismanagement terhadap
pengelolaan negara. Begitu besar hutang negara yang d imanfaatkan hanya untuk
segelintir kelompok saja. Bahkan negara ini bisa saja digadaikan ketika kita tidak mampu
membayar hutang-hutang tersebut. Sama saja kita dijajah di negeri sendiri oleh lilitan
hutang bangsa asing melalui tangan IMF, organisasi dana moneter dunia. Belum lagi
program pemerintah yang seenak udelnya saja seperti transmigrasi dari Pulau Jawa ke
daerah tandus di Pulau Kalimantan, Sumatra dan Irian Jaya. Dari jaman kerajaan-
kerajaan di Indonesia dahulu, Pulau Jawa sudah terkenal dengan julukan “Jawa Dwipa”
yang artinya Pulau Padi. Akan tetapi, pulau yang sangat subur untuk bercocok tanam,
dijadikan daerah industri. Dan para petaninya dengan dijanjikan diberi tanah garapan
yang luas, dikeluarkan dari Pulau Jawa untuk menggarap tanah yang sungguh tandus.
Rakyat tidak punya hak, yang ada selalu kewajiban belaka. Tidak boleh menentang,
bersuara apalagi melawan. Itu hanyalah salah satu contoh.
       Walaupun anggota DPR itu berjubah „wakil rakyat‟, tetapi prilaku mereka tidak
mencerminkan suara yang diinginkan rakyatnya. Melainkan suara „penguasa‟ saja yang
diturutinya. Sungguh suatu pengkhianatan terhadap hati nurani rakyat. Memangnya pakai
uang siapa mereka digaji? Belum lagi sifat 5D para anggota dewan yang terhormat
(Datang, Duduk, Diam, Dengkur dan Duit). Begitu kesalnya kepada mereka, kami pun
sering menyanyikan lagu „merdu‟ bila sedang berdemo, khusus dipersembahkan untuk
mereka.
Orde baru…orde loyo.
DPR nya bego-bego.
Gak berani buka mulut yang keluar cuma kentut.
Dasar badut…badut…badut.
Adalagi lagu perjuangan yang paling sering dinyanyikan oleh mahasiswa seperti di bawah
ini,
32 tahun rakyat ditindas, 32 tahun rakyat dibohongi…
Lawan…lawan…lawan,lawan,lawan yeee.
Lagu itu memang tidak ditujukan hanya untuk anggota DPR, melainkan juga untuk Rezim
Orde Barunya Soeharto.
       Tetapi bila berdebat soal rakyat, mereka paling hebat. Kalau di depan media,
mereka pasti bertanya rakyat yang mana yang mahasiswa wakili? Kemudian mereka pasti
meminta bukti riil bahwa mahasiswa mewakili rakyat Indonesia, serta membalikkan kata-
kata untuk menyerang aksi-aksi mahasiswa, yang katanya pembuat onar dan pembuat
macet jalanan dan tidak ada rakyat yang mendukung aksi mahasiswa. Padahal kalau mau
tahu rakyat yang mana yang kami bela, mereka lihat saja sendiri ke kantong-kantong
kemiskinan di seluruh Indonesia. Dan memangnya kami para mahasiswa harus satu
persatu menanyai mereka, “Boleh kami me wakili anda?” kan tidak lucu. Yang bergerak
semata- mata adalah naluri dan hati nurani mahasiswa. Masalahnya mereka punya mata
dan hati atau tidak? Dan mereka punya malu dan martabat atau tidak? Bila jawabannya
tidak, maka kami para mahasiswa, malas „berdebat kusir‟ dengan manusia- manusia
seperti itu. Manusia yang sudah lupa, siapa yang menggaji mereka. Manusia yang hanya
mengutamakan kekuasaan dan harta saja. Manusia yang buta sehingga tidak mampu
melihat dan merasakan jerit tangis dan tetesan air mata rakyatnya.
       Bahwa kami para mahasiswa tidak akan „turun ke jalan‟ berdemonstrasi dan
membuat macet jalanan apabila mereka sudah melaksanakan kewajibannya terhadap
rakyatnya. Siapa sih yang mau berjalan diterik matahari, ditembaki, dipukuli, ditangkapi,
diculik dan dibunuh? Kami juga ingin belajar dengan tenang di bangku kuliah kami.
Kami juga ingin mewujudkan cita-cita kami masing- masing dan membahagiakan orang-
orang yang kami kasihi. Tapi kami siap mengorbankan itu semua dan berjuang untuk
kepentingan rakyat yang tertindas. Kami para mahasiswa yang berjuang dengan
mengorbankan cita-cita sendiri di atas kepentingan pribadi. Kami tidak ingin dilahirkan
sebagai „anak jaman‟ atau „anak sejarah‟ yang harus terlibat dalam banyak hal yang
berbahaya di dalam hidup kami. Apalah artinya macet dijalan? Setiap perjuangan pasti
butuh pengorbanan. Bagaimana lagi cara kami mempresure pemerintah yang salah bila
tidak turun ke jalan? Bila anda pembaca tahu jalan yang lebih benar dari yang aku
sampaikan, silakan saja beritahu aku. Semoga cara tersebut belum kami coba ke
pemerintah. Harapanku semoga perjuangan kami tidak malah membuat kami dibenci oleh
rakyat. Karena inti perjuangan kami adalah demi rakyat.




Selasa, 23 Februari 1999
       Rencana kami berdemonstrasi hari ini memang sengaja untuk ditangkap. Kami
penuh persiapan yang cukup agar tidak sengsara di dalam penjara yang dinginnya
„jahanam‟ itu. Kawan-kawan pun sudah menyiapkan mulai dari jaket sampai kain sarung,
berbagai makanan, air minum yang berlimpah dan terakhir rokok berbagai merk yang
lumayan banyaknya. Hehehe ceritanya balas dendam nih. Saat hari H, kami pun
berkumpul di jalan dekat KPU. Dan mulai seperti biasa orasi politik kawan-kawan
Famred. Ketika demonstrasi mulai berlangsung sekitar 30 menit, datanglah aparat
keamanan dari depan dan belakang kami. Di jalan itu memang tidak ada tempat untuk
meloloskan diri. Dan kami pun memang tidak berniat untuk itu. sempat terjadi
perlawanan dari kawan-kawan dengan cara „duduk‟ dan mengkaitkan tangan satu sama
lain. Sehingga pihak aparat kesulitan untuk mengangkut kami ke mobil- mobil yang telah
ada. Ketika salah satu dari kami ingin diangkat, maka rangkaian tangan yang lain
menariknya, sehingga perlu tenaga ekstra untuk mengangkat ratusan demonstran Famred
tersebut. Akhirnya kamipun berhasil ditangkap lagi sesuai dengan keinginan yang telah
kami rencanakan. Tidak ada bentrokan ataupun tembakan serta pukulan aparat. Aparat
pun sepertinya sudah mengenal karakter dari ANVnya Famred. Kami pun berhasil
memberikan suatu pembelajaran kepada masyarakat, seperti apa sebenarnya „aksi damai‟
itu sekaligus berhasil menyampaikan protes sosial kami.
       Sesampainya kami di dalam penjara Polda Metro Jaya lagi, di Mushola yang sama
lagi, kamipun dikurung lagi, diinterogasi lagi dan dicatat biodatanya lagi. Tapi tidak
semua „lagi‟ itu berulang kepada kami. Disana kami seperti berpesta dan bersenang-
senang saja. Karena kami tahu akan dikurung hanya 1 hari dan diadili dimana serta
dendanya pun tidak membuat kami gentar. Menjelang malam tiba, satu per satu bekal
yang kami kumpulkan mulai dikeluarkan dari ransel. Terlihat disana seperti pasar malam
yang ceria. Hehehe. Dengan santai kami membentuk kelompok-kelompok kecil dan
bermain kartu semalaman untuk mengusir bosan, sambil makan makanan kecil minum
dan merokok. Sungguh tidak ada sedikitpun kecemasan di wajah kami. Sehingga tanpa
beban kami menjalaninya. Sekitar jam 1 pagi, angin dingin mulai bertiup, kami pun mulai
memakai kain sarung atau jaket tebal serta koran bekas sebagai alas duduk untuk
pengusir rasa dingin. Alhasil, kami hangat-hangat selalu, dan asap rokok mengepul terus.
Hehehe.
Seperti biasa, pagi jam 7 kami diceramahi, dan jam 8 kami dibawa ke pengadilan untuk
diadili, dan disuruh bayar denda.


Ingatlah wahai penguasa…
Kami sudah terbiasa dengan penjaramu ini.
Malah sedikit kebal dengan kurunganmu.
Terserah apa maumu…
Kami tak akan gentar, tak akan mundur walau hanya selangkah.
Sampai kau lelah menangkapi kami…
Sampai kau bosan melihat kami…
Sampai kau enggan berurusan dengan kami…
Jangan mengira dengan menangkap, mengurung dan mengintimidasi kami,
lalu tak akan ada lagi „pertunjukan jalanan‟ dari kami?
Ada saranku untuk kau penguasa…
Lebih baik kau sekolah lagi saja…
Ambil mata pelajaran yang terpenting…
Yakni pelajaran “Sejarah Dunia”…
Biar kau buka matamu yang terpejam itu…
Bahwa di dalam sejarah…tak ada yang abadi!!!




       Akhirnya diriku mulai menerima semua kejadian ini dengan penuh kekuatan hati.
Seperti dejavu yang berulang kembali. Seperti adu „keras kepala‟ antara mahasiswa
dengan pemerintah. Tanpa adu fisik tentunya. Seperti itulah demonstrasi yang benar
menurut diriku. Beberapa elemen aksi yang lain ada menganggap hal yang seperti itu
adalah sia-sia atau tidak efektif jika kami hanya berteriak-teriak di jalan. Sebab telinga
pemerintah sepertinya sudah berlagak „tuli‟ dan masa bodoh. Sehingga cara paling tepat
menurut mereka adalah memberikan pelajaran, kalau perlu „pukulan kasih sayang‟
kepada mereka. Akan tetapi hal tersebut memberikan pelajaran yang salah terhadap
demokrasi di negeri ini. Sehingga rakyat akan terbiasa terhadap kekerasan sebagai setiap
jalan keluarnya. Nantinya setiap demonstrasi yang meliba tkan rakyat, yang ada hanyalah
teriakan garang serta siap menghadapi pentungan dengan balik memukul. Mereka akan
melakukan hal- hal yang represif. Untuk apa kita membalas perlakuan para aparat tersebut
dengan tindakan yang sama? Mereka memang kejam terhadap kita. Bila kita membalas
perlakuan kejam mereka dengan sebuah tindakan yang sama kejamnya, berarti apa
bedanya kita dengan mereka?
Ingatlah bahwa tujuan kita adalah membentuk Indonesia baru yang lebih baik, lebih
damai dan lebih sejahtera. Memangnya itu semua bisa diwujudkan dengan cara-cara
kekerasan? Tentunya bisa, akan tetapi apakah berlangsung lama? Karena setiap
kekuasaan yang direbut dengan cara-cara kekerasan, biasanya tidak akan berlangsung
lama. Akan datang balasan terhadap kekerasan yang lainnya, semacam balas dendam.
Sehingga rakyat akan lebih sengsara lagi. Ini bukan sebuah paparan idealismeku.
Melainkan realita dalam sebuah analisa yang lahir dari berbagai peristiwa dalam
kehidupanku. Berbeda pendapat adalah sah dalam demokrasi. Semua orang mempunyai
hak, dan harus mau mendengar pendapat orang lain. Apabila mereka tidak mau berjiwa
demokrasi, tidak mau mendengarkan pendapat orang, maka mereka adalah tirani yang
lebih cocok hidup di jaman kerajaan atau monarkhi yang otoriter.
       Tuduhan terhadap aksi-aksi mahasiswa yang telah ditunggangi atau disusupi
komunis adalah „lagu lama berkemasan baru‟. Apalagi bila ditunggangi partai politik
yang disebut-sebut sebagai partai yang beraliran komunis karena partainya tidak
berazaskan Pancasila, yakni PRD. Apakah hal itu benar atau salah, aku tidak
mengetahuinya. Karena aku tidak pernah masuk organisasi mereka. Yang jelas di dalam
organ Famred tidak ada satu orang pun yang bisa mengendalikan setiap keputusan dalam
setiap rapat untuk menentukan langkah atau gerakan. Rapat penentuan biasanya
berlangsung sampai pagi dini hari dan diikuti oleh semua simpul kampus. Tempat rapat
pun selalu bergantian mengelilingi kampus yang tergabung dalam Famred. Setiap simpul
mempunyai hak yang sama untuk berbicara atas nama kampusnya tanpa paksaan ataupun
tekanan. Sehingga di Famred selalu menjunjung tinggi azas demokrasi. Bahkan di dalam
rapat, kami biasanya diskusi dan berdebat sengit untuk menentukan setiap langkah. Mulai
dari isyu, sasaran, tanggal, tempat kumpul dsb. Tidak ada celah sekecil apapun untuk
bergabung dengan PRD ataupun partai lainnya. Malah Famred terkesan tidak mau
„berdekatan‟ dengan PRD. Mana ada aksi bersama „turun ke jalan‟ dengan para aktivis
PRD? Entah dimananya gerakan mahasiswa yang dibilang komunis, aku tak mengerti
sampai sekarang. Atau gara-gara beberapa kawan suka baca buku terlarang, seperti
Marx? Yang aku analisa, kawan-kawan merasa pemerintah sudah salah dalam
menetapkan platform negara dengan mengikuti gaya kapitalis barat yang notabene sudah
membentuk jurang yang dalam kelompok strata sosial ekonomi masyarakatnya. Kapitalis
hanyalah mengekslusifkan segelintir orang atau kelompok untuk lebih memperkaya
dirinya atau golongannya, sementara kelompok lainnya menengah ke bawah lebih ke arah
„memperdaya kemiskinan‟ yang mereka miliki. Sehingga kesimpulannya adalah kapitalis
itu tidak berpihak pada rakyat banyak. Atau yang miskin bertambah miskin, yang kaya
bertambah kaya.
       Kalau aku tidak salah mengartikan, Marx itu mengajarkan tentang sosialis yang
menitik beratkan pada ekonomi kerakyatan, yang pastinya lebih berpihak kepada rakyat.
Hanya itu, tidak ada yang lain dan sangat sederhana. Apakah karena kami
memperjuangkan sesuatu yang berpihak kepada rakyat, kami harus dicap sebagai
komunis? Atau aksi kami itu telah membuat tidur para penguasa dan kroni-kroninya tidak
nyaman lagi sehingga memakai fitnah murahan untuk mengadu domba mahasiswa
dengan rakyat? Yang diharapkan tentu saja mahasiswa tidak lagi didukung oleh rakyat
Indonesia, sehingga penguasa dan kroni-kroninya akan tertidur lelap apabila gerakan
mahasiswa ‘mati’. Dan kerajaan bisnis mereka akan tetap aman di dalam dunia kapitalis.
       Atau barangkali tindakan „keras‟ dalam setiap demonstrasi mahasiswa khususnya
kawan-kawan dari Forkot, yang seringkali bentrok dengan aparat, yang termasuk
dianggap komunis? Harus kita lihat dan cermati. Saat Soeharto lengser keprabon, aksi
mahasiswa dari Forkot itu tidak selalu berujung bentrok dengan aparat. Mereka sering
melakukan aksi pressure yang damai. Akan tetapi setelah tragedi Semanggi 13
November 1998, yang telah membuat banyak korban nyawa dan terluka dari pihak
masyarakat dan mahasiswa itulah yang membuat serta memicu, tidak hanya Forkot, tapi
semua elemen aksi mahasiswa menjadi lebih „keras‟ dan militant. Akan tetapi setiap
elemen aksi tentunya mempunyai cara „keras‟ yang berbeda untuk menyikapi peristiwa
Semanggi 13 November 1998 itu. Famred dengan ANV nya juga melakukan peningkatan
aksi dengan cara „keras‟ yang membandel atau membangkang terhadap penguasa yang
membiarkan pembunuhan itu terjadi hanya demi melindungi kekuasaannya dan Forkot
pun melakukan peningkatan bahkan lebih emosional dari elemen aksi yang lain.
Namanya juga jiwa muda, pastinya penuh dengan ledakan emosi kalau ada yang
memprovokasi.
Jadi kesimpulannya adalah jangan salahkan aksi mahasiswa menjadi lebih „keras‟ dari
biasanya, karena yang memprakondisikan atau yang memprovokasi mereka adalah
tindakan aparat sendiri. Dan perlu juga digarisbawahi, apakah ada aksi mahasiswa baik
secara umum maupun Forkot pada khususnya, yang telah menghilangkan nyawa aparat
sebanyak aparat menghilangkan nyawa rakyat dan mahasiswa? Aku pikir peristiwa
Trisakti 12 Mei 1998 itu akan jadi pembelajaran untuk aparat agar tidak lagi
menghilangkan nyawa orang „seenak jidatnya‟. Ternyata diulang kembali pada Semanggi
13 November 1998. Kalau ukurannya adalah kekerasan yang menjadi dasar tuduhan aksi-
aksi mahasiswa yang ditunggangi oleh komunis, maka aparatlah yang lebih ditunggangi
komunis dari pada mahasiswa. Karena aparat sudah terbukti lebih represif menghadapi
setiap aksi mahasiswa yang hanya bermodalkan poster, teriakan, corong pengeras suara
dan bambu untuk membalas perlakuan aparat. Dengan senjata perang yang lebih modern,
aparat sudah melakukan pembunuhan dan kekerasan terhadap warga negaranya. Dan
apapun alasannya, aparat sudah melanggar hukum yang berlaku. Tidak perlu lagi
menangkapi mahasiswa yang melanggar UU No 9 tahun 1998, aksi tanpa ijin tersebut. Itu
hanya aksi tanpa ijin yang tidak akan membunuh dan tidak akan membuat orang terluka.
Siapa yang pernah melihat aparat yang terlibat pembunuhan di Semanggi 13 November
1998 ditangkap dan diadili? Kalau begitu, kepada siapakah keadilan itu berpihak dan
siapakah yang sebenarnya komunis itu?
Semangat reformasi ini harus terus membara disetiap orang yang mau negeri ini berubah
lebih baik. Angkat tangan kiri kita sebagai lambang perlawanan dan ucapkan dengan
keras “Salam setengah merdeka”…(mengapa setengah merdeka? Kalau rezim otoriter
belum berubah, dan tidak memihak kepada rakyat, maka negeri kita belumlah merdeka).
BAB VI

Catatan kesaksianku “Elemen Aksi Mahasiswa”



       Setelah kejadian mengerikan yang sekarang disebut Tragedi Semanggi I,
Bentrokan Taman Ria dan beberapa penangkapan mahasiswa yang melangga r UU No 9
tahun 1998, maka perjuangan mahasiswa sempat mengalami masa stagnan. Beruntung
saja, beberapa senior dari organisasi mahasiswa masih tangguh. Sehingga dengan cepat
melakukan penyadaran ke teman-teman lainnya untuk bangkit. Aku akan mencoba
menceritakan bagaimana arah perjuangan mahasiswa, sebagian besar mulai bergeser dari
Kampus menuju Organisasi Mahasiswa. Atau yang kusebut sebagai “aksi lepas jaket
almamater”, dan meniadakan perbedaan almamater dan menyatu bersama menjadi
“Mahasiswa Indonesia”.
       Organisasi Mahasiswa yang aktif bergerak setelah Tragedi Semanggi I antara lain
FKSMJ, FORKOT, dan FAMRED. Untuk lebih jelasnya, akan aku jelaskan sedikit
tentang 3 organisasi tersebut.


       Pertama adalah “FAMRED” (Front Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan
Demokrasi). Motonya adalah “ANV” (Active, Non Violence) dan Non Partisan. Artinya
Famred merupakan wadah perjuangan mahasiswa yang selalu aktif bergerak, anti
kekerasan dan tidak akan membawa bendera manapun (seperti Parpol dsb) kecuali
benderanya Rakyat. Di Famred sendiri baru tergerak membuat bendera dan lambang
perjuangannya setelah Tragedi Semanggi I. sebelumnya hanya bendera kain hitam
bertuliskan FAMRED. Kemudian berkembang seperti di bawah ini.
Arti dari huruf „R‟ tersebut adalah “Rakyat Kuasa”. Maksudnya untuk pejuang
mahasiswa dari Famred, rakyatnya lah yang layak berdaulat dan berkuasa, bukan
pemerintahnya. Karena sebenarnya Pemerintah itu “Pelayan Masyarakat”. Para aktivis
pendiri Famred adalah eks aktivis dari Forkot yang berbeda pendapat tentang cara
berjuang, sehingga mereka “pecah”. Famred lebih menyukai cara-cara yang anti
kekerasan. Kuatnya Famred memegang teguh prinsip aksi aktif tanpa kekerasan
merupakan hasil diskursus gerakan yang panjang. Bahkan prinsip yang mendasari student
movement (gerakan mahasiswa), yang jelas berbeda dengan gerakan protes itu, menjadi
salah satu alasan kenapa kampus-kampus pendiri Famred sewaktu masih tergabung di
Forkot meminta pembubaran Forkot pada bulan Oktober 1998. Namun apa boleh dikata,
beberapa kampus tersebut kalah suara, bukan oleh kampus yang ingin mempertahankan
Forkot, tapi karena ada beberapa kampus yang abstain. Kampus-kampus ini akhirnya
mendirikan organ sendiri. Sementara beberapa kampus yang disebut pertama mendirikan
FAMRED dalam pertemuan di Kampus UNTAR pada pertengahan Oktober 1998.
(Sumber dari wawancara salah seorang mahasiswa senior Famred).
Famred karena faham ANV nya, maka bila ditangkapi, dipukuli atau ditembaki tidak
akan pernah membalas atau melawan dengan kekerasan. Bagi Famred, perjuangan ini
adalah gerakan moral. Tokoh ANV yang terkenal di dunia sejarah adalah “Mahatma
Ghandi”. Famred diikuti kira-kira 34 Kampus basis massa di Jakarta. Berafiliasi pula
dengan FPPI (Front Perjuangan Pemuda Indonesia) yang berbasis di Yogya dan AJI
(Aliansi Jurnalis Independen). Lebih menyukai long march (Jalan Jauh) saat
berdemonstrasi. Kampus yang bergabung pada Famred adalah : Unija, Unika Atmajaya,
ISTN, IKIP, Univ.Sahid, STHI, ABA/ABI,STF Driyarkara, IISIP, STIE Perbanas,
Aliansi Kampus Grogol (Trisakti, Untar, Ukrida dan UBinus), YAI, Tarakanita, Asmi,
dan Inter Study. Arah perjuangan organisasi adalah sayap k iri yang militan dan radikal ,
baik dalam berpikir atau bertindak, tidak mengenal istilah kompromi . Famred walaupun
terkesan “lemah” dengan taktik defend ANVnya, organisasi yang dipimpin secara
bergiliran dari tiap simpul-simpul kampus ini adalah organisasi pressure secara fisik. Bila
demonstrasi di jalan, mereka tetap terkenal “licin” dan “keras kepala”nya karena tidak
mau menyerah dan bernegosiasi begitu saja. Bahkan ketika UU no 9 tahun 1999, yang
mengharuskan mahasiswa yang mau berdemonstrasi, dengan massa diatas 100 orang,
wajib memberitahu dan meminta ijin kepada Kepolisian, Famred lah yang pertama kali
“menjajal” dan ditangkap anggotanya sebanyak sekitar 100 orang dan dikandangi di
Polda Metro Jaya, pada 6 Februari 2000. Dan pada tanggal 23 Februari 2000, sudah
kembali lagi ditangkapi ratusan orang, saat aksi menuntut pembubaran GOLKAR di
dekat KPU. Famred pun melakukan aksi sosial peduli terhadap anak-anak jalanan.
Famred mulai mengumpulkan sumbangan, baik baju bekas, makanan, Koran bekas,
buku-buku bekas dan semua yang bisa membantu anak jalanan. Posko darurat ada di
bawah Jembatan Tomang, untuk Anak Jalanan dan pengamen yang di Tomang, dan di
bawah jembatan Grogol, untuk anak jalanan dan pengamen di daerah Grogol dan
sekitarnya. Famred mengajari mereka membaca dan menulis, sampai menemani mereka
cari duit dengan cara mengamen di dalam bis kota. Itu sebagai wujud kepedulian dan
tindakan nyata Famred terhadap rakyat miskin kota.
Berikut adalah foto-foto kenangan saat aksi damai mahasiswa Famred digelar.
Sumber foto Kurnia Setiawan(Famred/Untar)




Sumber foto Kurnia Setiawan(Famred/Untar)
Sumber foto Kurnia Setiawan(Famred/Untar)




Sumber foto Kurnia Setiawan(Famred/Untar)
Sumber foto Kurnia Setiawan(Famred/Untar)




Sumber foto Kurnia Setiawan(Famred/Untar)
Sumber foto Kurnia Setiawan(Famred/Untar)




Sumber foto Kurnia Setiawan(Famred/Untar)
        Kedua adalah FORKOT (Forum Kota). Mahasiswa yang tergabung di dalam

Forkot lebih percaya bahwa perjuangan bisa berhasil bila kita melawan dengan

perjuangan fisik dan mampu mengalahkan „musuh‟. Tidak kenal kata kompromi. Kalau

perlu dengan cara „peperangan‟ pun akan mereka lakoni.

Beberapa tujuan yang menjadi target aksi dari Forkot antara lain:


1. Bentuk Mahkamah Rakyat untuk menyelesaikan persoalan persoalan rakyat.

2. Hukum Soeharto, Keluarga dan Kroni Kroninya.

3.   Bubarkan Golkar dan organisasi-organisasi bentukannya.

4.   Bersihkan KKN sampai ke akar akarnya.

5.   Demiliterisasi system dan kembalikan militer ke fungsi profesional.

6.   Hapuskan Dwifungsi ABRI

7.   Bersihkan birokrasi dari sisa-sisa rezim Orde Baru.


Forkot selain tergabung dengan sekitar 42 kampus, mereka pun diikuti oleh API (Aliansi

Pelajar Indonesia). API itu terdiri dari para siswa SMP dan SMA se Jabodetabek. Forkot

bila berdemonstrasi selalu mempergunakan alat transportasi kawalan motor- motor di

depan dan puluhan bis yang sarat penumpang, baik di dalam maupun di atas atapnya.

Pasukan Forkot selalu menarik perhatian dan sekaligus membuat gentar musuhnya

dengan membawa banyak sekali benderanya yang diikat pada tiang bambu, yang

nantinya kadang-kadang akan digunakan sebagai alat pertahanan diri bila terjadi chaos.

Dan biasanya, akhir dari demonstrasi Forkot, selalu berujung pada bentrokan mereka

dengan aparat yang menjadi “musuh abadi” mereka. Bahkan mereka tidak gentar

menghadapi panser dan water canon dengan hanya bersenjatakan batu, tongkat bendera
dan bom molotov. Arah perjuangan organisasi lebih ke arah sayap kiri yang radikal.

Sama dengan Famred, akan tetapi berbeda dari cara perjuangannya. Keberanian Forkot

dalam bentrokan dengan aparat, telah menjadikan mereka sebagai incaran aparat dan

bahkan berbagai tindakan represif oleh aparat. Forkot juga mempunyai atau istilahku

menerbitkan „edisi‟ wanita supernya. Para Forkot Woman itu tidak kalah garang dan

gagah berani dengan para prianya. Bahkan para wanita Forkot sampai pernah ditangkap

dan dipenjarakan juga. Meskipun yang menangkap mereka adalah para Polwan (Polisi

Wanita), Wanita Forkot juga sempat bentrok fisik dengan para Polwan itu, dan akhirnya

mereka menyerah dan diseret ke dalam truk yang menga ngkut mereka ke Polda metro

jaya.

Salah satu tokoh Forkot yang terkenal di media adalah Adian Napitupulu. Seperti apakah

bendera Forkot yang dijadikan lambang perjuangannya? lihat dibawah ini.
Berikut adalah Foto-foto kenangan aksi yang terdapat pada Site internet Forkot (milis Jarkot),

http://donbendino.multiply.com dan http://www.bm-forkot.blogspot.com/.




           FORUM KOTA
Kami ada selama penindasan di bumi indonesia ada




Sumber foto http://Photobucket.com
Sumber foto http://Photobucket.com




Sumber foto http://Photobucket.com
Sumber Foto http://www.bm-forkot.blogspot.com/




Sumber Foto http://www.bm-forkot.blogspot.com/
Sumber Foto http://www.bm-forkot.blogspot.com/




Sumber Foto http://www.bm-forkot.blogspot.com/
Sumber Foto http://www.bm-forkot.blogspot.com/




         Ketiga adalah FKSMJ (Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta). Merupakan
gabungan para anggota Senat Mahasiswa di kampusnya masing- masing. Arah perjuangan
lebih ke arah sayap kanan yang mengutamakan diplomasi dan negosiasi. Dengan
mengatasnamakan perwakilan resmi kampus-kampus se Jakarta, FKSMJ memiliki power
legitimasi di mata pemerintah. Sehingga tak heran bila sering terlihat mereka bisa dengan
leluasa bernegosiasi dengan pihak-pihak yang terkait. Akan tetapi, pada kenyataannya
FKSMJ tidak memiliki massa yang solid dan militant seperti Famred dan Forkot. Bagi
elemen aksi yang lain, FKSMJ seringkali dicap pengkhianat, karena sudah mau
bernegosiasi dengan “pembunuh mahasiswa”. Dan juga dicap “Eksklusif”, karena hanya
beranggotakan mahasiswa yang berlabel “anggota senat mahasiswa”. Di balik dari semua
kecaman yang pahit itu, FKSMJ tetaplah merupakan contoh bagaimana beraneka
ragamnya / pluralitasnya konsep gerakan mahasiswa saat itu. FKSMJ adalah contoh
teladan gerakan mahasiswa yang tidak mengutamakan “fisik”, melainkan “intelektual”,
sesuai dengan arti mahasiswa itu sendiri, yakni calon cendikiawan yang berintelektual.
FKSMJ juga salah satu tonggak gerakan awal intelektual mahasiswa angkatan „98 yang
turut serta dalam pendudukan pertama gedung MPR /DPR pada 18 Mei 1998 , selain
Forkot, KAMMI dan HMI. FKSMJ juga dibelakang lahirnya deklarasi Ciganjur, yang
melahirkan 4 tokoh reformasi seperti : Amien Rais, Megawati, Sultan HB X dan Gusdur.
Kemudian yang aku lihat, FKSMJ menurunkan aktivitasnya setelah Soeharto lengser
keprabon. Sepertinya FKSMJ sudah cukup puas dengan itu, dan merasa tugas mereka
sudah selesai serta kembali belajar di kampus.
           Dari ketiga organisasi mahasiswa yang paling aktif saat itu, kemudian timbul
ketegangan di dalam organisasi masing- masing, sehingga muncullah sempalan-sempalan
kecil membentuk organisasi baru. Wajar saja, yang namanya mahasiswa. Otaknya pintar-
pintar, sehingga mereka tidak akan gampang menelan mentah-mentah opini yang tidak
disepakati oleh mereka. Kemudian muncul nama-nama elemen aksi yang baru seperti:
Forbes (Forum Bersama), Front Jakarta, Komrad (Komite Rakyat untuk Demokrasi),
Fronkot (Front Kota) yang didirikan oleh eks aktivis senior Forkot bernama Eli Salomo
(ISTN) dan Faisal Saimima (ABA/ABI) , LMND (Liga Mahasiswa Nasional Demokrat).
           Ada juga Organisasi Mahasiswa yang tetap berjuang sendiri dengan membawa
nama almamaternya, seperti: Universitas Pancasila, mereka tetap bergabung dengan
nama Gempur (Gerakan Mahasiswa Pancasila Untuk Reformasi), KBUI (Keluarga Besar
Universitas Indonesia), JAMOER (Jaringan Mahasiswa Moestopo untuk Reformasi),
KAMTRI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Trisakti) dsb.
Mereka semualah yang aku anggap sebagai Elemen Aksi Mahasiswa Angkatan‟98 di
Jakarta.
BAB VII

Catatan kesaksianku “Tragedi Semanggi II”



Kamis, 23 September 1999
          Sudah hampir sekitar 11 bulan sejak Tragedi Semanggi I. Pada hari ini,
mahasiswa akan kembali bergerak. Ada isu politik apa lagi? Tolak RUU PKB!!
Komisi I DPR akan mengesahkan RUU PKB (Rancangan Undang-undang
Penanggulangan Keadaan Bahaya) yang merupakan penyempurnaan RUU KKN
(Keselamatan Keamanan Negara) yang akan diadakan pada Sidang Umum MPR. Perlu
diketahui bahwa RUU PKB itu membenarkan aparat melakukan tindakan yang dianggap
perlu terhadap pihak-pihak atau perorangan yang dikategorikan dapat membahayakan
keselamatan negara. RUU PKB ini merupakan pengganti UU No 23/Prp/1959 tentang
Keadaan
Bahaya , yang merupakan RUU yang lebih keras, represif, dan sarat sanksi yang
berkategori pelanggaran HAM. Buat mahasiswa, hal itu disinyalir akan membawa angin
segar kepada aparat untuk menangkapi para demonstran, sehingga menghambat arus
reformasi, demokrasi serta upaya penghapusan dwi fungsi ABRI. Bahkan bisa saja
dimanfaatkan untuk “Kudeta” misalnya. Apalagi terdengar kabar, bahwa TNI sudah
terbagi ke beberapa faksi militer. Ada yang setuju dengan supremasi sipil dan ada juga
yang tidak setuju atau meragukan seorang sipil menjadi Presiden. Tentang pertanggung
jawaban seorang Habibie, di mata mahasiswa, itu sudah harga mati, harus ditolak.
Legitimasi pemerintahan Habibie tidak kuat landasannya, sehingga hanya bersifat transisi
belaka.
          Di kalangan organisasi mahasiswa yang aktif berjuang, sudah disepakati bahwa
kali ini adalah aksi gabungan semua elemen perjuangan, dengan titik temunya depan
gerbang gedung MPR/DPR. Dan semua elemen akan mencoba memecah konsentrasi
aparat dengan membagi area demonstrasi, sebelum pada akhirnya bertemu di titik sasaran
yaitu gerbang MPR/DPR.
          Akan tetapi pihak aparat nampaknya sudah mengendus rencana besar ini.
Sehingga seketika itu Militer mengerahkan pasukan 3 SSK PPRM (Pasukan Penindak
Rusuh Massa) dari Kostrad, yang dulunya pasukan tersebut di tempatkan pada konflik di
Aceh, sekarang sudah berada di Jakarta dalam rangka mengamankan jalannya SU MPR.
Bahkan di TV dan Koran, menampilkan foto-foto pasukan PPRM (Pasukan Penindak
Rusuh Massa) yang peralatannya lengkap melebihi PHH (Pasukan Anti Huru-Hara) yang
selama ini menangani demonstrasi mahasiswa. Bahkan mereka memakai masker kayak
film star wars saja. Kalau kami menyebutnya „kura-kura ninja‟. Hehehe. Sangking
seriusnya. Memang mahasiswanya bawa senjata apaan sih? Sampai ketakutan seperti itu?
Asal tahu saja, senapan yang dibawa pun bukan sekeda r M-16 atau senjata buatan pindad
lagi, melainkan senapan steyer yang sering dipakai oleh pasukan khusus di berbagai
Negara besar.


Sumber foto www.rajasidi.multiply.com




         Akan tetapi mahasiswa sepertinya tidak gentar dengan pemberitaan seputar
PPRM tersebut. Sekitar pukul 14.00, para mahasiswa Famred mulai tiba di kawasan
Semanggi, tepatnya di depan kampus Unika Atmajaya dengan membawa keranda
bertuliskan “turut berduka cita atas matinya hak asasi ma nusia” sebagai simbol
perlawanan terhadap akan disetujuinya RUU PKB tersebut. Aku dengar dari radio, bahwa
mahasiswa yang ada di daerah lampu merah Palmerah depan gedung JDC, mulai terlibat
bentrok dengan aparat yang menghadang mereka untuk tiba di depan MPR/DPR. Sekitar
jam 15.00,Famred dan elemen aksi lainnya berjumlah ribuan mahasiswa mahasiswa tiba
di kawasan Taman Ria Senayan, sekitar 500 meter dari gedung DPR/MPR dan sudah
memenuhi ruas jalan Gatot Subroto serta berhadapan langsung dengan aparat. Aku
sedikit gemetar karena melihat aksi „kura-kura ninja‟ PPRM bermasker dan berbaris rapi
seperti mau upacara bendera. Tapi dengan sedikit keberanian, aku mencoba menyapa
mereka dan berkata “Pak, pulang saja lah…kami ini hanya ingin demonstrasi, bukan cari
gara-gara. Sebaiknya bapak jangan menghalangi kami. Jangan menembak kami. Bapak
punya anak juga kan?”
       Tapi dasar robot, mereka tanpa ekspresi melotot marah melihatku. Susah memang
mempengaruhi mereka. yang pegang remote controlnya kan atasannya, bukannya
mahasiswa. Mana bisa mereka menuruti kemauan kami. Famred pun mulai aksi
pemanasan dengan bernyanyi- nyanyi di depan aparat. Tiba-tiba sekitar jam 16.30, aparat
mulai menembaki kami. Maka pecahlah perang „Semanggi bagian kedua‟ tersebut.
Aparat mulai menembak gas air mata dan peluru dengan bertubi-tubi. Suara tembakan
begitu menakutkan diriku. Aku pun lari terbirit-birit sambil menunduk dan mencoba
bersembunyi di antara mobil- mobil yang terjebak macet di dekat kawasan JCC. Setelah
dalam posisi yang agak jauh dari titik chaos tadi, dan setelah kurasa aku dalam jarak yang
aman, maka aku bisa membalikkan badan dan melihat ke arah jembatan fly over Taman
Ria Senayan. Di atas jembatan itu, para aparat menembaki para mahasiswa yang berada
di bawah mereka. Mahasiswa pun membalas perlakuan mereka dengan melempari aparat
menggunakan batu serta sebagian memukul aparat bertameng dengan menggunakan
tongkat bambunya. Bentrokan ini terus terjadi sampai menjelang sore sekitar jam 17.30.
Suasana masih terlihat panas. Saat itu aku jadi ingat tawuran anak-anak SMA yang sering
kulihat dulu. Bila mahasiswa yang maju menyerang aparat maka aparat pun mundur.
Tidak berapa lama, aparat mulai mendesak maju sehingga membuat para mahasiswa
mundur kembali. Proses „maju-mundur‟ ini terus berulang-ulang seakan tiada henti.
Sekitar jam 18.00 barisan mahasiswa pun perlahan dipukul mundur sampai ke arah
Semanggi. Sebagian dari kawan-kawan Famred terlihat masuk ke dalam kampus
Atmajaya. Sisanya entah dimana mereka berada. Situasi di depan kamp us Atmajaya
mulai kacau dan penuh ketegangan.


“Akhirnya Atmajaya dikepung dan ditembaki”


       Sekitar jam 19.00, Aparat mulai mendekati kampus Atmajaya. Bunyi rentetan
senapan otomatis dan suara dentuman senapan pelontar gas air mata mulai membahana di
kampus Atmajaya. Suara tersebut bersahut-sahutan seperti suara geledek di tengah hujan
badai. “traatatattaatattat…..syiiiuuuuttt….duuuuaaarrr”. Kami dikepung dan
ditembaki secara membabi buta tanpa henti. Akan tetapi ada juga para mahasiswa yang
tetap berani melawan rentetan peluru dari aparat tersebut. Terlihat olehku di jalanan
depan kampus Atmajaya, entah dari elemen aksi yang mana kerumunan mahasiswa itu.
Atau jangan-jangan masyarakat juga sudah ikut bergabung disana. Aku tidak berani
memastikan dari dekat siapakah mereka. Di antara kepulan asap gas air mata, kemudian
mereka pun mulai membalas aparat dengan lemparan batu dan bom molotov. Sementara
di dalam kampus Atmajaya terlihat para mahasiswa hilir mudik sibuk tak karuan. Muka
mereka semua terlihat tegang. Apalagi bila ada bunyi kaca yang pecah tertembak peluru
aparat dan tabung gas air mata yang nyasar masuk ke dalam bangunan kampus.
“Kompyang praaaannngg…pyaaarrr….” Kaca mobil dan kelas banyak yang pecah.
Aku kasihan sama yang punya mobil dan kebetulan diparkir saat ini. Dijamin bonyok dan
berlubang- lubang. Mudah- mudahan ada asuransi yang menggantikannya. Tapi apakah
ada klausul huru hara semacam ini? “Syiiiuuutt….duuuuaaarrr”. “Awaaaas …gas air
mata”. Para mahasiswa spontan memakai handuk yang sudah dibasahi air mineral
kemudian dililitkan ke hidung untuk menghindari gas air mata yang bertubi-tubi masuk
ke dalam kampus. Asap bekas gas air mata memenuhi di sekelilingku. Saat itu seperti
malam takbiran dan membakar petasan 3 truk saja. Tapi asap yang ini be rbeda dengan
asap petasan. Asap gas air mata, selain membuat mata kita perih dan berair, nafas kita
pun sesak kalau terhirup asap tersebut. Untuk mengcounter asap tersebut, kami pun
melumuri di bawah kelopak mata kami dengan pasta gigi atau odol. Entah Pro fesor mana
yang menemukan metode “mal function odol” tersebut. Yang jelas, metode tersebut
sangat membantu kami. Kebetulan karena kami suka menginap di kampus masing-
masing atau di kampus lainnya seperti kaum gypsi, sehingga kami pasti membawa
handuk dan odol. Sebab kalau tidak mandi dan gosok gigi, mana ada cewek yang mau
dekat sama kami. Hehehe. Cahaya kilatan tembakan aparat dapat terlihat dari jarak
sekitar 15 meter. Lututku gemetar ketakutan dan berusaha jalan mengendap-endap untuk
menghindari lokasi pertempuran itu. Ketika aku tiba di samping dekat kumpulan kantin,
tiba-tiba ada kawan yang teriak…”Awaaas...ada PHH dari sebelah mau masuuuk!!”
Kontan teriakan tersebut mendapat respon cepat dari kawan-kawan yang ditangannya
sudah memegang batu dan bom molotov. Sempat aku melihat ada sekitar 6 orang Polisi
PHH dengan tameng ditangannya dan sebagian membawa senapan, mencoba menerobos
masuk kampus Atmajaya dari sisi sebelah kanan yang berupa tanah kosong dikelilingi
oleh pagar seng. “Weiiii…Bangsaaat…maju kalo berani” “Serbuuuu”. Teriakan para
mahasiswa yang berada di dekat lokasi tersebut langsung disertai lemparan ke arah aparat
dengan batu dan bom molotov. Yang kulihat memang bertubi-tubi lemparan para
mahasiswa tersebut dibalas oleh tembakan aparat, dan ke mudian para aparat tersebut
mundur dan lari terbirit-birit karena terdesak.
       Setelah kejadian itu, aku pergi ke arah kantin. Di sana kulihat kerumunan
mahasiswa yang sedang mengambil botol soft drink dari dalam kantin yang tertutup
pagar teralis yang sudah dijebol. Kulihat aksi mereka sepertinya tidak ada yang
mengkoordinir. Semuanya bergerak masing- masing terpencar dalam kelompok-kelompok
kecil untuk membuat bom molotov. Usaha mereka itu bagiku adalah naluri
mempertahankan diri pada situasi tembakan aparat terus menerus yang mengarah ke
dalam kampus. Sungguh saat itu suasana benar-benar mencekam.
       Ada kejadian yang sedikit aneh, yakni kami yang ada di dalam kampus Atmajaya,
mendapat kiriman “Bingkisan bom molotov siap pakai”, oleh orang tak dikenal. Inilah
yang membuat heran kawan-kawan dari Famred yaitu Hengky Irawan(IISIP) dan Alex
Leonardo (Unika Atmajaya) yang ketika hari masih dini, dikejutkan dengan kedatangan
dua mobil bak terbuka berisi puluhan krat botol bom molotov. Botol – botol itu
merupakan botol bekas minuman energi, yang mungil. Kepada kedua sopir yang
mengangkut benda benda simbol kekerasan itu, ditanyakan asal- usulnya. Sang sopir
hanya menjawab tidak tahu. Kedua sopir mengaku hanya disuruh membawanya ke Unika
Atmajaya. Keteguhan memegang prinsip anti kekerasan yang diemban FAMRED,
membuat Hengky dan Alex Leonardo memutuskan untuk menghancurkan seluruh bom
molotov yang tak bertuan itu. Berbagai asumsi dari kawan-kawan yang menanggapi
kiriman tersebut. Bisa jadi kiriman bom molotov tersebut untuk mendiskreditkan
perjuangan para mahasiswa yang telah sengaja membuat senjata untuk bentrokan dengan
aparat. Padahal kenyataan yang terjadi, bom molotov yang dibuat oleh kawan-kawan
tidak lebih dari aksi spontanitas mempertahankan diri dari serangan me mbabi buta aparat.
Dan bom molotov itu sama sekali tidak dipersiapkan sebelum terjadinya bentrokan.
Asumsi yang lain adalah bom molotov itu salah kirim, atau kurirnya salah alamat.
Apakah kiriman tersebut untuk aparat keamanan yang kesal melihat mahasiswa terus
menerus melempar bom molotov tapi mereka tidak dibagi?hehehe. Atau malah ada
segelintir pengusaha nekat yang melihat peluang bisnis dengan berjualan bom molotov
dan kemudian mereka akan menjajakannya ala kaki lima di tepi jembatan Semanggi
lengkap dengan papan bertuliskan “Sedia bom molotov siap pakai, buy one get one” bisa
memakai kartu kredit Master Visa “Ging Sek” (Nungging dulu baru Digesek). Sehingga
bisa dicicil pembayarannya.hihihi. Lho jangan heran. Negara adidaya seperti Amerika
dan Rusia saja selalu aktif berjualan bermacam- macam senjata dengan memanfaatkan
konflik atau perang di negara lain, baik secara retail maupun MLM (Maut Lebih Mulus),
baik secara tunai, kredit atau dibarter pakai minyak samin.hehehe. Bisa saja kan
pengusaha bom molotov tersebut mendapat inspirasi dari prilaku Amerika dan Rusia.
       Kembali ke dalam kampus Atmajaya, Aku pun bergegas kembali ke hall basket
yang baru di bangun yang terletak di belakang kampus Atmajaya. Kulihat di sana banyak
kawan-kawan Famred sudah tergeletak tidur-tiduran di lantai. Mungkin karena mereka
letih seharian ini tidak ada henti- hentinya berjalan kaki dan berlari. Aku pun bertemu
dengan kawanku Patrik dan Daniel Boby di tempat ini. Aku mengajak mereka menjauh
dari hall basket. Ada rencana yang ingin aku buat tapi aku tak ingin kawan-kawan
Famred lainnya mendengar. Kemarahanku terhadap aparat sudah memuncak. Semut saja
bisa melawan apabila diinjak. Apalagi kami yang seorang manusia. Dari tadi aparat tidak
berhenti menembaki kami. Apakah kami membawa senjata dan balas menembak?
Mengapa tentara itu senang sekali kalau melihat mahasiswa terluka? Kayaknya bangga
betul kalau sudah berhasil menembak mahasiswa. Baiklah, aku orang yang penakut dan
sangat anti kekerasan pun sudah tidak mampu menahan kesabaran dan akan berusaha
melakukan perlawanan. Aku pun mengajak kawan-kawan yang berani untuk membuat
bom molotov. Tapi aku tidak mau melukai hati kawan-kawan Famred yang semangatnya
anti kekerasan. Apalagi kiriman bom molotov sebanyak 2 mobil saja mereka hanc urkan.
Maafkan aku kawan-kawan. Setelah berkumpul sekitar 5-6 orang kawan, barulah aku
berani mengutarakan hal tersebut. “Bagaimana kalo kita buat senjata untuk melawan
aparat” tanyaku. “Buat senjata apa san” Tanya mereka. “yaa bom molotov lah, apalagi.”
Jawabku. “yaa uda, cariin gue botol yang banyak, trus tar gue ajarin cara buat bom
molotov ala Ambon.” Kata Patrik. Setelah itu, aku mencari kawan-kawan Famred yang
punya jiwa ke kiri-kirian, hehehe, untuk bersama-sama membuat senjata untuk membalas
perlakuan aparat. Ketemulah beberapa kawan-kawan Binus, Untar, Trisakti dan Ukrida
untuk bersatu padu mencari botol di kantin kampus. Sesampainya aku dari mencari botol,
di parkiran motor Patrik dan yang lainnya sudah menyiapkan bensin di botol air mineral,
yang didapat dari „menyadap‟ motor- motor yang terjebak parkir di sana. Malah beberapa
spanduk dan baju para tukang bangunan yang lagi dijemur pun, diambil dan dipotong /
dirobek kecil-kecil untuk dijadikan sumbu. Memang kampus Atmajaya sedang
merenovasi Hall Basket mereka. Sehingga tidak heran si Patrik berhasil menemukan
tumpukan baju tukang yang sedang di jemur. “Trik, ini botolnya, lu butuh apalagi nih?”
tanyaku kepada Patrik. “Gue butuh pasir san, tolong lu cariin. Tadi gue liat dekat pintu
hall.” Ujar patrik. “Ini orang Kupang, mau ngapain lagi sih dengan pasir? mau bangun
rumah atau bikin bom molotov sih?” pikirku. Kemudian botol Coca-cola yang „kulitnya‟
rada tebal, ditumbuk sama Daniel boby untuk jadi sebesar kuku jari tangannya, dan
beberapa buah pecahan botol itu dimasukanlah kedalam botol yang masih utuh, beserta
pasir setinggi sekitar 5cm dan bensin sampai 4 cm dari bibir botolnya , baru dimasukan
sumbu. Ini bom teraneh yang pernah kulihat. “Ini dia bom Molotov ala Ambon sudah
jadi”. Teriak si Patrik. “Kita buat banyakan lagi san, sampai sekitar satu krat, baru kita uji
coba ke depan”. Kata Daniel boby.

       Sekitar jam 20.00, setelah kami selesai membuat satu krat, bom tersebut kami
bawa ke samping kiri Kampus Atmajaya, arah Plaza Semanggi sekarang. Dan disana ada
puluhan polisi yang sedang duduk makan nasi bungkus di bawah jembatan Semanggi.
Pelan-pelan kami pun sambil mengendap-endap, tiba di pagar kampus. Beberapa kawan
yang sudah tidak sabar mulai mengambil bom itu dan menyulutnya dengan api dari korek
gas. Karena terburu-buru akibatnya tangan kawan itu terbakar bom Molotov yang
bensinnya keluar dari botolnya. Untunglah tidak terjadi apa-apa dengannya. Kami test
lempar satu dulu. Siiiuuuut, bom terlempar tepat ke arah aparat. Tiba-tiba beberapa aparat
terbangun melihat api datang dari arah kampus dan mencoba menangkis dengan
tamengnya. Bom pun meledak, dan apinya seperti meloncat kemana-mana. “horre
berhasil” kata sebagian kawan. Polisi pun menjadi marah, dan mulai menembaki posisi
kami. Sehingga kami berlari masuk kembali ke dalam perlindungan gedung kampus.
Dalam hati aku pun berkata, “ooh, rupanya pasir itu yang jadi kunci dari bom itu,
sehingga apinya bisa meloncat dan mengenai aparat yang lainnya, nah pecahan botolnya
buat apa yaa?”. Ternyata kata Patrik, pecahan botol itu untuk „obat jerawat‟ nya aparat.
Karena ketebalan kulit botol Coca-cola tidak hancur bila terbakar api, akan ikut terpental
bersama ledakan bom. Perumpamaannya seperti granat. Yang mematikan dari ledakan
granat adalah, pecahan logam granatnya, bukan ledakan mesiunya.

       Akhirnya bom molotov serupa yang kami buat sebanyak-banyaknya, dan kami
suplai ke depan halaman kampus, depan jembatan Semanggi. Disana sudah banyak
mahasiswa yang masih bertempur dengan cara melempar batu. Oh iya, ba tu. Aku sempat
melihat banyak batu bekas bongkaran pembangunan hall basket di belakang. Nanti aku
akan cari cara untuk suplai ke depan. Mahasiswa yang melihat kami datang membawa
satu krat botol soft drink dan berteriak “yang haus..yang haus..” seperti ora ng berjualan
minuman di lampu merah, mulai mengira kami membawa minuman buat mereka.hehehe.
pas didekati, ternyata bom Molotov. Maka para mahasiswa itu, tanpa dikomando lagi,
mulai mengambil bom tersebut dan membalas tembakan aparat dengan melemparkan
bom itu. „Jualan‟ kami laku keras. Habis dalam sekejap. Kami pun balik ke belakang
untuk mengambil lagi. Di belakang sana, kawan-kawan tetap masih sibuk membuat bom.
Dan beberapa membantu aku mengambil batu dengan gerobak beroda tiga milik proyek,

       Karena suara tembakan mulai mereda dan terdengar semakin menjauh. Dan saat
aku dan Patrik sedang membawa sejumlah bom molotov di dalam krat minuman untuk
disuplai ke garis depan, ketika tiba di halaman parkir mobil kampus Atmajaya, ada suara
“Zzeeebbb…zzeeebbb” sebanyak 2 kali. Dan kulihat sekelebat seperti peluru yang lewat
dan masuk ke dalam tanah, dan dari dalam lubang terlihat debu tanahnya berasap. Itu
terjadi sekitar satu meter dari jarak kami berdua. Shit… sniper. Arah peluru dari atas,
kemungkinan dari gedung BRI II. Kontan saja aku dan Patrik melepas krat bom molotov
dan kabur terbirit-birit sambil teriak “Sniper…sniper, matiin lampu” dan berlindung ke
gedung-gedung. Tapi aku yakin sih, pasti sniper itu hanya menggertak dan menakut-
nakuti. Soalnya sengaja ditembakan untuk menghadang langkah kami. “waduuh, gimana
kalo kita kena tembak trik”. Teriakku sambil terus berlari ke belakang lagi. Sudahlah aku
duduk manis saja di hall, dengan gemetaran memikirkan sniper sialan yang tadi.
       Suara tembakan masih terus berlangsung ,tanpa kusadari waktu sudah sekitar jam
2 pagi. Beberapa mahasiswa terus memberikan perlawanan terhadap aparat yang terus
menerus mencoba menerobos kampus Atmajaya. Tiba-tiba, dari corong pengeras suara,
Sugeng, kawan Famred dari Atmajaya, memberitahukan kepada kawan-kawan yang ada
di hall basket untuk memperhatikan sejenak. Karena Purek III (Pembantu Rektor III) dari
Atmajaya ingin menyampaikan sesuatu. Akhirnya seorang bapak agak tua, pakai
kacamata pun berbicara. Intinya, para mahasiswa yang berada di kampus Atmajaya,
diminta untuk segera meninggalkan kampus ini, karena dia sudah mendapat peringatan
dari aparat yang berwenang, bahwa kampus ini sudah menjadi sarang mahasiswa yang
komunis, dan membangkang terhadap Pemerintah. Bila tidak mau pergi dari kampus,
maka kita akan terus dikepung. Penjelasan itu kontan mendapat teriakan “Wuuuuu” dari
para mahasiswa. Para simpul-simpul kampus elemen aksi mahasiswa pun menjawab,
bahwa kami akan tetap bertahan di dalam kampus, karena kami tidak lagi merasa a man di
luar sana. Mau pulang lewat mana yang aman? Kami tetap disini sampai situasi sudah
kondusif. Terserah pada aparat, maunya mereka apa. Kami tetap bertahan disini.
       Begitulah kira-kira situasi yang ada saat itu. dan sekitar jam 3 pagi dini hari,
aparat akhirnya mampu menembus ke dalam kampus. Aku dan kawan-kawan yang
sedang beristirahat didalam hall basket, tiba-tiba dikejutkan oleh suara teriakan beberapa
mahasiswa yang berlarian dengan muka pucat dan nafas terengah-engah., “Aparat masuk
kampus…cepat kabur…mereka sudah sampai parkiran mobil”. Shit… Suasana jadi kacau
balau dan acara istirahat menunggu pagi jadi terganggu. Akhirnya kami beramai-ramai
membereskan ransel dan pakaian yang jadi alas tidur, serta merta lari keluar dari hall
basket ini. .Aku pun lari sejadi-jadinya ke arah tembok belakang kampus, memanjat
tembok dan menyebrang ke rumah sakit Jakarta, untuk kemudian bersembunyi di semak-
semak. Aku mendengar suara tembakan berkali-kali dan pecahan kaca dari dalam
kampus, sampai sekitar 45 menit lamanya. Aku tak tahu lagi, apakah ada kawan-kawan
mahasiswa yang tidak sempat kabur dan tertangkap oleh aparat. Mudah- mudahan tidak
ada. Ketika bunyi-bunyian dari dalam kampus, sudah tak terdengar lagi, barulah sekitar
jam 4 pagi, beberapa dari kawan-kawan berani masuk kembali ke dalam kampus.
Jantungku sempat berdengup kencang, saat memasuki kampus lewat tembok yang tadi
aku panjat. Soalnya aku tidak tahu, apakah aparat masih ada dalam kampus atau sudah
pergi. Apalagi kalau ternyata ini semua jebakan belaka. Ketika kami balik ke kampus,
bisa saja disergap oleh mereka. Kami semua perlahan- lahan melangkah menyisiri semua
ruangan dalam kampus. Setibanya di halaman parkir, kulihat pemandangan menyedihkan
di sana. Hampir semua kaca-kaca mobil pecah dan berhamburan pecahannya di tanah.
Beberapa mobil terlihat beberapa bagiannya penyok-penyok. Mungkin karena dipukul
aparat yang masuk tadi. Beberapa kawan-kawan terlihat sudah berada di jalanan, tepat di
depan papan nama Unika Atmajaya, yang nampak begitu banyak bolongan bekas
tertembus peluru. Berarti situasi sudah aman, tanpa aparat. Tapi kemana kaburnya aparat
yang tadi? Sekitar 15 menit kemudian, situasi mulai ramai. Aku mulai mencari „souvenir‟
untuk dibawa pulang. Aku mendapatkan beberapa selongsong peluru dan peluru karet
yang masih utuh. Ketika sedang seru-serunya „melotot‟ ke bawah mencari yang „berkilau
kuning‟, para mahasiswa di depan kampus mulai terlihat gaduh. Ternyata mereka
menangkap orang berpakaian safari warna hitam- hitam, yang membawa HT. segera saja
aku ikut mendekati kerumunan itu. kemudian terdengar suara seorang mahasiswa
berteriak membentak orang itu. “Hei bangsat, lu polisi yaa?” bentaknya. “bukan mas,
saya cuma sekuriti kantor yang ganti shift dengan yang jaga pagi. Makanya saya pulang
sekarang.” Jawabnya dengan ketakutan. “kenapa lu bawa HT hah? Jangan banyak alasan
lu”. Teriaknya lagi sambil memukul orang itu. Kulihat baju dan celananya mulai
dipereteli oleh kawan-kawan, dan ban motornya pun ikut di kempesin anginnya. Aksi
tersebut sempat dilerai oleh para satpam dari Atmajaya. Tapi mereka pun tak kuasa
membendung kemarahan dari para mahasiswa tersebut. Terlihat memang plat nomor
motor itu berwarna merah. Pantas saja kawan-kawan pada emosi. Karena plat merah itu
berarti “Motornya pemerintah”. Pemerintah yang memerintahkan „body guard‟nya untuk
menembaki para mahasiswa semalam suntuk (kayak nanggap wayang saja.hehehe).Yang
jelas aksi tersebut hanyalah spontanitas dari kawan-kawan. Tidak ada yang kulihat
mengkoordinir atau mengkomandoi mereka. Mungkin kawan-kawan sangat emosional.
Apalagi setelah semalaman bentrok dengan aparat, tanpa bisa istirahat dengan tenang.
Setelah selesai dipereteli, orang tersebut disuruh pergi sambil menenteng motor yang
kempis bannya. Tiba-tiba dari arah Jl.Thamrin, muncul bis Patas yang membawa
penumpang sekitar 25 orang. Bis tersebut dicegat oleh para mahasiswa yang tadi juga,
dan dimasuki oleh beberapa orang mahasiswa sambil membawa tongkat. Karena aku
penasaran, maka aku ikut naik ke atas bis tersebut. Merekapun berkata “Semua
penumpang, kami minta KTP yang anda bawa untuk dikeluarkan. Yang sipil boleh
melanjutkan perjalanan, yang tentara atau polisi harus turun”. Syukurlah, semua
penumpang tersebut adalah sipil. Aku tak tahu apa yang terjadi, bila ada aparat yang
menaiki mobil tersebut. Aku pun ikut turun dari dalam bis, dan berjalan ke arah
Jl.Thamrin dekat Jl.Garnisun, untuk kembali melanjutkan jadi „pemulung‟ souvenir.
Hehehe. Aku berjalan sambil menyeret papan nama jalan Garnisun yang saat itu sudah
copot beserta tiangnya dari tempatnya semula. Niatku sebenarnya ingin mencopoti papan
hijaunya yang bertuliskan Jl.Garnisun untuk kenang-kenangan, tapi karena dilas begitu
kuatnya, ya akhirnya masih utuh- utuh juga. Mana mungkin aku bawa ke kampus sama
tiang-tiangnya, pakai apa bawanya? hehehe
       Saat sudah agak jauh dari kerumunan kawan-kawan… tiba-tiba dari arah
Jl.Thamrin, datang sebuah sedan…setelah dekat..baru aku melihat bahwa warna sedan itu
hijau…aku terpaku ketika melihat plat nomor mobil tersebut yang menunjukan plat
nomor tentara. Mobil itupun seperti terhenyak berhenti dan kaget. Mungkin sopirnya
kaget karena melihat ada mahasiswa sinting yang sedang berjalan sambil menyeret tiang
papan nama jalan Garnisun. Hehehe. Tiba-tiba kaca depan mobilnya terbuka…sopirnya
mengeluarkan pistol seperti jenis Barreta, dan kawan-kawan dibelakangku mulai
berteriak, “Weiii, ada mobil tentara, serbuuuu”. Mobil itupun memutar balik dengan
cepat, sampai ban mobilnya berbunyi mendecit, dan sopirnya tetap memegang pistol itu
tepat dihadapanku. Aku pun sudah tak mampu bergerak lagi, lemas semua gemetaran satu
tubuh, dan berharap, jangan sampai pistolnya meletus. Akhirnya mobil itupun berhasil
melarikan diri kembali ke Jl.Thamrin dengan lawan arah. Kawan-kawan serentak
menyalahkan aku “kenapa lu diam saja? Kok ga diberhentiin mobilnya?”tanya mereka.
“Lu kagak lihat yaa, sopirnya bawa beceng tau…boro-boro berhentiin tuh mobil, badan
gue uda gemeteran duluan lihat becengnya”.jawabku yang disambut koor “Oooh, dia
pegang beceng”.
Karena takutnya belum hilang, aku pun balik ke dalam kampus Atmajaya lagi untuk
istirahat. Hari mulai pagi, matahari sudah mulai terlihat „beroperasi‟. Sekitar jam 7.00
kami kembali diserbu tembakan aparat dari luar kampus. “trrraaattatattat”. Suara
menyeramkan dari senapan yang menyalak kembali harus kudengar. Aku bosan di dalam
kampus, dan mencoba berjalan ke arah Rumah sakit Jakarta dengan cara memanjat
tembok. Setibanya di jalan Garnisun, aku melihat kawan-kawan yang ditembaki gas air
mata…dan mereka mendadak „gila‟, dan berebutan kaleng gas air mata yang baru
ditembak oleh aparat tersebut untuk dibawa pulang sebagai souvenir. “Weeiitt, ini punya
gue yee”. Kemudian kaleng tersebut diceburkan ke dalam parit kecil dekat rumah sakit
Jakarta. Ada juga kaleng yang masih berasap, kemudian lubangnya ditutup pakai permen
karet untuk dilemparkan lagi ke kumpulan aparat nantinya. Aku pun tertarik mengikuti
aksi berani mereka. Pikirku “bosan juga yang diambil dari semalam cuma selongsong
peluru melulu. Kalau kaleng gas air mata, kayaknya lebih keren kan.” Dengan
bermodalkan odol berlapis-lapis di bawah kelopak mata bagian bawah aku mencoba
mencari keberuntungan.hehehe Tiba-tiba bunyi tembakan gas air mata lagi. Aku pun
berlarian menangkap kaleng yang ketika sampai di tanah, langsung berputar-putar seperti
gasing. Ketika kaleng tersebut sudah terpegang tanganku, tiba-tiba aku berteriak “Anjritt,
panas banget ini kaleng” terus aku lempar lagi, karena tanganku sedikit melepuh.
“Makanya, pakai dong handuk basah, uda tau kaleng panas, masih berani dipegang pakai
tangan”. Ujar seseorang.
Belum juga selesai urusan melepuh, muncul lagi tembakan gas air mata dari aparat, dan
tepat jatuhnya sekitar 1,5 m di sisi kiri kakiku. Aku pun seperti “ditonjok” oleh tinjunya
Mike Tyson. Badanku langsung terbaring lemas di aspal. Aku tak mengerti, kenapa
seperti itu efek ledakan kaleng sialan itu, dan membuat tubuhku seperti diinjak gajah.
Ambrukk, dan kawan-kawan yang melihat tubuhku jatuh, langsung menggotongnya ke
dalam kampus. Telingaku sakit dan berdenging. Aku diberi air minum dan sarapan oleh
kawan-kawan bagian kesehatan UKI Cawang. Yang ada di hall basket Atmajaya. Setelah
aku mulai segar, aku kapok cari souvenir lagi dan bergegas cari kawan-kawan Ukrida
untuk pulang ke kampusku saja. Sudah lelah, mengantuk, badan masuk angin dan
kepalaku pusing. Aku bertemu lagi dengan Patrik. Aku pun mengajak dia untuk pulang
menaiki bis ke arah Jl.Thamrin dan ke Roxy. Sampai di kampus, aku pun tertidur sampai
sore hari. Sore hari aku bangun dan menuju wastafel kamar mandi di kampus. Di depan
kaca aku kaget melihat, mataku kok kayak „bagong‟, berlumurkan odol disekelilingnya.
Oh iya, karena begitu lelahnya, aku langsung tidur tanpa membersihkan bekas odol (pasta
gigi) pelindung gas air mata yang aku pakai berlap is- lapis. “Aauuuuww” teriakku yang
kesakitan membersihkan berlapis- lapis bekas odol yang sudah „membatu‟ seperti fosil.
Efek dari odol itu, kulit sekitar mataku menjadi iritasi dan melepuh. Hehehe
       Setelah selesai dari kamar mandi dan bersantai sambil minu m kopi, aku
diberitahukan bahwa ada dua orang yang gugur pada bentrokan kali ini. Yang pertama
bernama Zainal, seorang anak tukang becak yang selalu setia ikut dalam setiap aksi
demonstrasi bersama Famred. Yang aku dengar, Alm.Zainal tewas karena ditembak
aparat dari jarak dekat. Korban yang kedua bernama Yap Yun Hap, salah satu dari
kawan-kawan UI yang tadi pagi baru tiba di lokasi. Ternyata ketika rombongan UI yang
baru tiba itu sedang berdiri tepat di depan Jl.Garnisun. Dan beberapa orang mahasiswa
sedang sarapan pagi, tiba-tiba ada rombongan aparat yang menaiki truk, sekitar dua mobil
(mungkin baru saja ganti shift jaga), melewati Kampus Atmajaya dan ke arah Thamrin,
sambil memberondongkan tembakan perlindungan ke arah Mahasiswa UI. Dan Yun Hap
pun tewas tertembak. Mungkin aparat yang bertempur semalam dengan kami itu takut,
kalau truknya yang tertutup rapat di sampingnya itu, akan dilempari bom molotov ala
ambon kayak semalam. Bisa mati konyol para tentara itu karena terjebak di dalam truk
yang terbakar. Makanya sambil berjalannya truk, sambil mereka menembak apa saja
yang dikiranya membahayakan mereka.
       Kasihan Yap Yun Hap, baru juga tiba. Dan para mahasiswa dari UI yang mungkin
tidak menguasai lapangan ketika itu, mana saja daerah yang aman dan yang berbahaya.
Sehingga mereka begitu tiba, tidak langsung masuk ke dalam kampus. Tapi diluar dari itu
semua, aku tetap menganggap Yun Hap adalah pahlawan kami para Veteran Perang
Semanggi II. Hormatku untukmu Yun Hap. Dengan kehadiran kawan-kawan dari UI itu
pun sudah menandakan bahwa mereka berpihak pada rakyat dan perjuangan mahasiswa
yang lainnya. Aku pun ikut datang ke Rumah Duka Abadi untuk melihat Yun Hap
terakhir kalinya. Kebetulan keluarga Yun Hap tinggal di Tanjung Duren, dekat kampus
Ukrida, dan rumah dukanya yang bernama Rumah Duka Abadi berada dekat Jelambar,
rumahku.
       Malam hari, aku pulang ke rumah… menonton TV dari siarannya SCTV yang
ketika itu sangat berani memberitakan apa saja dari lokasi kejadian. Berita hari itu,
Pangab Wiranto sedang konferensi pers. Di depan para wartawan, Wiranto pun,
menunjukan bom-bom molotov, yang berhasil disita oleh aparat pagi tadi, saat berhasil
masuk ke dalam kampus Atmajaya. Wiranto berkata, bom molotov ini, belum pernah
diketemukan dalam bentuk seperti ini. Daya ledak dan akibatnya lebih dahsyat dari yang
biasanya. Ketika kamera SCTV menyorot bom molotov tersebut, aku melihat bom
tersebut, di dekat bibir botolnya terbungkus lak-ban berwarna hitam menempel bersama
sumbunya. “Hah…perasaan kemarin aku ga lihat ada mahasiswa yang pegang bom
model begini. Apalagi sampai pakai lak-ban segala. Ini siapa yang buat? Kok ada yang
kerajinan bawa-bawa lak-ban disaat suasana sedang kacau seperti kemarin.” Pikirku
dalam hati.
Tebak sendirilah, aku tak mau banyak berkomentar. Untuk kawan-kawan yang telah
gugur aku ucapkan selamat jalan. Semoga arwah kalian diterima di sisiNya.


In Memoriam Tragedi Semanggi II (23 September 1999)

       Alm.Zainal
       Anak seorang tukang becak, Aktivis Famred

       Alm.Yap Yun Hap
       Mahasiswa Universitas Indonesia, Jakarta

Ternyata selain di Semanggi Jakarta, pada aksi penolakan UU PKB ini korban juga
berjatuhan di Lampung dan Palembang. Pada Tragedi Lampung 28 September 1999, 2
orang mahasiswa Universitas Lampung, Muhammad Yus uf Rizal dan Saidatul Fitriah,
tewas tertembak di depan Koramil Kedaton. Di Palembang, 5 Oktober 1999, Meyer
Ardiansyah (Universitas IBA Palembang) tewas karena tertusuk di depan Markas
Kodam II/Sriwijaya.

Sumber Data http://id.wikipedia.org/wiki/Tragedi_Semanggi.
Sumber foto AP Photo/Tatan Syuflana




Sumber foto World: Asia-Pacific Picture gallery: Violence in Jakarta
Sumber foto World: Asia-Pacific Picture gallery: Violence in Jakarta




Sumber foto World: Asia-Pacific Picture gallery: Violence in Jakarta
Sumber foto Supri/Reuters




Sumber foto AP Photo/Firdia Lisnawati
BAB VIII

Kronologi Catatan Reformasi tahun 1998-1999


   6 Januari 1998

   Pemerintah menyampaikan RAPBN 1998/1999 yang dinilai masyarakat sebagai
   yang berat, rawan dan penuh resiko dengan kurs dollar Rp. 4.000 terhadap rupiah.


   9 Januari 1998

   Masyarakat panik memborong barang kebutuhan pokok di pasar swalayan dan
   pasar-pasar tradisional.


   16 Januari l998

   Guna meredam gejolak krisis moneter, Pak Harto menandatangani kesepakatan
   dengan Direktur Pelaksanakan IMF Michael Camdessus.


   22 Januari 1998

   Rupiah tembus 17.000,- per dolar AS, IMF tidak menunjukkan rencana bantuannya.



   12 Februari 1998

   Soeharto menunjuk Wiranto, menjadi Panglima Angkatan Bersenjata.



   23 Februari 1998

   Suara Ibu Peduli (SIP) yang dipimpin oleh Dr.Karlina Leksono melakukan aksi protes di
   bundaran HI Thamrin Jakarta.
25 Februari 1998

Ratusan mahasiswa UI, ratusan anggota ILUNI (Ikatan Alumni UI) dan para tokoh angkatan
‟66 melakukan unjuk rasa di dalam kampus UI Salemba dan para mahasiswa menutup papan
“Selamat Datang Di Kampus Perjuangan Orde Baru” dengan dua helai kain putih. Bahkan
mahasiswa menghapus tulisan serupa pada papan di dekat Masjid Arief Rahman Hakim di
bagian tengah kampus dengan cat semprot berwarna hitam.



26 Februari 1998

Ribuan mahasiswa UI kembali melakukan unjuk rasa dengan mengelilingi Kampus UI
Depok. Tugu selamat datang bertuliskan Universitas Indonesia ditutupi spanduk putih
bertuliskan “Kampus Perjuangan Rakyat”. Demonstrasi tidak jadi keluar dari kampus karena
diblokir satu batalyon aparat keamanan.



1 Maret 1998

Soeharto membacakan pidato pertanggungjawabannya di depan Sidang Umum MPR. Sidang
Umum itu sendiri berlangsung dari tanggal 1-11 Maret 1998.



2 Maret 1998

Ratusan mahasiswa UI di dalam kampus UI Salemba menggelar aksi keprihatinan dan
mimbar bebas yang dikoordinir oleh Senat Mahasiswa UI. Tuntutannya meminta dialog
dengan MPR.



3 Maret 1998

Di Bandung, Ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi terlibat bentrokan dengan
aparat keamanan saat mereka bersikeras untuk melakukan long march dari kampus
Universitas Padjadjaran (Unpad) Dipati Ukur ke gedung DPRD Jawa Barat. Bentrokan yang
mengakibatkan 2 orang mahasiswa terluka itu berlangsung di depan kampus Unpad.



5 Maret 1998

Dua puluh orang perwakilan dari Senat Mahasiswa UI dan Badan Perwakilan Mahasiswa UI
mendatangi Sidang Umum MPR dan menyatakan menolak pertanggungjawaban Presiden
Soeharto.
10 Maret 1998

Soeharto terpilih kembali untuk masa jabatan lima tahun yang ketujuh kali dengan
menggandeng B.J. Habibie sebagai Wakil Presiden.



11 Maret 1998

Di Solo, ratusan mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) terlibat bentrokan dengan
aparat di depan gerbang kampus mereka saat aparat mencoba menghadang mereka yang ingin
berdemonstrasi menuntut reformasi ekonomi dan politik, keluar dari kampus UNS. Bentrokan
itu mengakibatkan 10 mahasiswa terluka dan 7 lainnya dirawat di rumah sakit.

Di Surabaya, sekitar lima ribu orang mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November (ITS)
terlibat bentrok dengan aparat keamanan saat mereka ingin berdemonstrasi keluar dari
kampus untuk menuntut penolakan hasil Sidang Umum MPR yang kembali mengangkat
Soeharto sebagai Presiden untuk ke tujuh kalinya itu. 10 orang mahasiswa terluka dan 1 unit
mobil polisi terbakar.



14 Maret 1998

Presiden Soeharto mengumumkan susunan kabinet pembangunan VII. Salah satu menterinya
adalah putri tertuanya sendiri Tutut Hardianti Rukmana.



16 Maret 1998

Di Jakarta, bentrokan terjadi antara mahasiswa Universitas Nasional (Unas) dengan aparat
keamanan saat para mahasiswa ingin berdemonstrasi keluar kampus menuju balai rakyat.
Belasan mahasiswa, belasan aparat dan 1 orang wartawan mengalami luka-luka.



17 Maret 1998

Di Solo, mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) diblokir oleh aparat dan dibubarkan
dengan gas air mata saat mereka hendak melakukan aksi damai dan melakukan aksi turun ke
jalan menuju balai kota. 25 orang mahasiswa mengalami luka-luka.
18 Maret 1998

Di Sumedang, para mahasiswa IKOPIN terlibat bentrok dengan aparat saat mereka mencoba
berdemonstrasi turun ke jalan. Bentrokan itu mengakibatkan 10 orang mahasiswa terluka.



19 Maret 1998

Di Bandar Lampung, mahasiswa dari Universitas Lampung terlibat bentrokan dengan aparat
di depan gerbang kampus mereka. Para mahasiswa dibubarkan aparat pentungan dan
tembakan gas air mata saat mencoba berdemonstrasi keluar dari kampus untuk menuntut
Reformasi Politik, Turunkan Soeharto dan Turunkan Harga. 72 orang mahasiswa ditangkap
aparat keamanan dan 12 orang lainnya luka-luka.



25 Maret 1998

Di Solo, bentrokan kembali terjadi di Universitas Sebelas Maret (UNS) antara mahasiswa
dengan aparat keamanan. Mahasiswa yang mencoba berdemonstrasi keluar kampus, kembali
mendapat hadangan aparat keamanan di depan gerbang kampus UNS. 15 orang mahasiswa
dan 10 orang aparat mengalami luka-luka.



2 April 1998

Di Yogyakarta, bentrokan terjadi antara mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM) dengan
aparat keamanan yang berasal dari Polres Sleman, TNI Yonif 493 Yogyakarta, Paskhas AU,
Kodim Sleman dan Kopassus. Bentrokan ini terjadi karena para mahasiswa dihadang oleh
aparat untuk tidak bolehberdemonstrasi keluar dari kampus. Dengan Water Canon, pentungan
dan tembakan gas air mata, aparat berhasil membubarkan demonstrasi mahasiswa sampai ke
dalam halaman kampus, sehingga mengakibatkan 53 orang mahasiswa terluka.




3 April 1998

Di Yogyakarta, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi kembali terlibat bentrokan dengan
aparat di depan gerbang kampus Universitas Gajah Mada (UGM). Aparat yang masuk ke
dalam kampus telah mengakibatkan beberapa motor yang diparkir di halaman kampus
mengalami kerusakan, koperasi mahasiswa diobrak-abrik dan kaca-kaca bangunan kampus
dipecahkan. 33 orang mahasiswa dan 6 orang aparat mengalami luka-luka.
4 April 1998

Di Yogyakarta, 25.000 orang mahasiswa UGM berkumpul di dalam kampus untuk
memprotes aksi brutal aparat yang sampai masuk dan merusak fasilitas kampus.

Mahasiswa IKIP Yogyakarta,saat mencoba berdemonstrasi di jalan, dipukuli aparat yang
membubarkan aksi mereka itu. 10 orang mahasiswa terluka.



5 April 1998

Mendikbud Wiranto Arismunandar mengeluarkan larangan demonstrasi mahasiswa untuk
tidak keluar dari kampus,



8 April 1998

 Di Surabaya, mahasiswa dari 13 perguruan tinggi di Surabaya terlibat bentrokan dengan
aparat keamanan di depan gerbang kampus Universitas Airlangga (Unair). 16 orang
mahasiswa terluka.



13 April 1998

Di Purwokerto, ratusan mahasiswa Universitas Jenderal Sudirman yang sedang mencoba
melakukan long march menuju gedung DPRD, terlibat bentrok dengan aparat yang
menghadangnya. 10 orang mahasiswa dan 3 aparat terluka dalam peristiwa ini.



15 April 1998

Di Jakarta, ribuan mahasiswa dari 30 kampus se-Jabotabek, mengadakan aksi demonstrasi
serentak di dalam kampus masing-masing.



16 April 1998

Di Purwokerto, sekitar 1000 orang mahasiswa Universitas Jenderal Sudirman kembali terlibat
bentrokan dengan aparat keamanan. 15 orang mahasiswa dan 4 orang aparat mengalami luka.

Di Bandung, sekitar 5000 orang mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) terlibat
bentrokan dengan aparat keamanan saat ingin berdemonstrasi keluar dari kampus untuk
mengkritik kebijakan orde baru. 9 orang mahasiswa terluka.
17 April 1998

Di Solo, para mahasiswa yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di Solo melakukan aksi
bersama dan terlibat bentrok dengan aparat yang mencoba menghadang mereka. 103 orang
mahasiswa mengalami luka-luka.



18 April 1998

Di Jakarta, Sejumlah menteri, Pangab dan tokoh masyarakat menggelar pertemuan dengan
mahasiswa di arena PRJ Kemayoran. Pemerintah menghimbau agar para mahasiswa
menghentikan unjuk rasa yang sudah menjurus anarkis.



21 April 1998

Di Bandung, mahasiswa UNISBA terlibat bentrokan dengan aparat saat para mahasiswa ingin
aksi keluar dari wilayah kampus. 7 orang mahasiswa dan 6 aparat kepolisian mengalami luka.



22 April 1998

Di Bandung, mahasiswa Unpad kembali bentrok dengan aparat di depan gerbang kampus
Unpad Jatinangor. 24 orang mahasiswa dan 10 aparat mengalami luka.



23 April 1998

Di Bali, sekitar 1000 orang mahasiswa dari Universitas Udayana Bali, terlibat bentrok dengan
aparat. Saat mencoba aksi keluar kampus. 11 orang mahasiswa Udayana terluka.

Di Medan, Mahasiswa Institut Teknologi Medan juga terlibat bentrok dengan aparat. 1 orang
mahasiswa terkena peluru tajam, 5 orang mahasiswa lainnya mengalami luka-luka.



25 April 1998

Di Medan, mahasiswa Universitas Sumatera Utara(USU) terlibat bentrokan dengan aparat.
Mahasiswa USU yang mengadakan aksi keprihatinan, dibubarkan oleh aparat yang
mendobrak pintu utama dan masuk ke dalam kampus serta berkali-kali menembakkan gas air
mata. 4 orang mahasiswa ditangkap, 9 orang mahasiswa terluka, 3 orang diantaranya
tertembak peluru karet.

Di Lombok, sekitar 1000 orang mahasiswa Universitas Mataram bentrok dengan aparat
keamanan. 10 orang mahasiswa terluka dalam peristiwa itu.

Di Malang, mahasiswa UNISMA terlibat bentrokan dengan aparat keamanan. Sebanyak 37
orang mahasiswa terluka.

Di Jambi, aksi bersama turun ke jalan para mahasiswa Universitas Jambi dengan mahasiswa
IAIN untuk menuju gedung DPRD tkI Jambi berujung bentrok dengan aparat yang
menghadang mereka.



27 April 1998

Di Lombok, para mahasiswa Universitas Mataram kembali terlibat bentrok dengan aparat,
saat mereka ingin berjalan kaki menuju rumah sakit untuk menengok kawan-kawan mereka
yang terluka saat aksi 25 April yang baru lalu. 7 orang mahasiswa mengalami luka-luka
pada insiden ini.



29 April 1998

Di Jakarta, mahasiswa Universitas Sahid (Usahid) terlibat bentrok dengan aparat keamanan
di depan kampus Usahid. 4 orang mahasiswa mengalami luka-luka.

Di Medan, sekitar 4000 orang mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) dan
masyarakat Medan terlibat bentrok dengan aparat keamanan di depan kampus USU. 10 orang
mahasiswa dan 1 orang pelajar mengalami luka-luka pada peristiwa ini.



30 April 1998

Di Semarang, para mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) terlibat bentrokan dengan
aparat keamanan di depan gerbang kampus Undip. 1 orang mahasiswa terluka pada
peristiwa ini.

Di Jakarta, para mahasiswa IAIN Syarif Hidayatullah terlibat bentrok di depan kampus
IAIN. 4 orang polisi mengalami luka-luka setelah perang batu dengan mahasiswa.

Di Malang, para mahasiswa Institut Teknologi Nasional Malang, terlibat bentrokan dengan
aparat, saat mencoba unjuk rasa keluar dari kampus. 10 orang mahasiswa terluka.
1 Mei 1998

Di Medan, para mahasiswa yang berkumpul di depan kampus Universitas Nommensen dan
UISU terlibat bentrok dengan aparat saat mereka ingin aksi keluar dari kampus. 10 orang
mahasiswa dan 1 orang dosen terluka saat insiden ini.



2 Mei 1998 (Hari Pendidikan Nasional)

Di Medan, Aksi bersama mahasiswa di beberapa kampus. Mahasiswa dan masyarakat terlibat
bentrokan dengan aparat. Keadaan memburuk dan berubah anarkis. Massa mulai membakar 1
unit mobil truk dan sebuah showroom mobil Timor berikut mobil yang ada didalamnya.
Demonstrasi di Medan kali ini, banyak menelan korban luka-luka.

Di Jakarta, mahasiswa kampus ABA/ABI yang mencoba aksi turun ke jalan terlibat bentrok
dengan aparat keamanan. 4 orang mahasiswa terluka.

Di Jakarta, Mahasiswa YARSI terlibat bentrokan dengan aparat keamanan di depan kampus
YARSI Cempaka Putih. 3 orang aparat terluka.

Di Jakarta, Sekitar 2000 orang mahasiswa IKIP Rawamangun terlibat bentrok dengan aparat
saat para mahasiswa melakukan orasi dan aksi damai. Aksi tersebut dibubarkan paksa oleh
aparat. Bentrokan berdarah ini sebanyak 33 orang mahasiswa mengalami luka-luka, 6
orang diantaranya terluka akibat tembakan aparat. 28 orang aparat juga mengalami luka-
luka.

Di Jember, Jawa Timur, mahasiswa dari berbagai Universitas yang ada di Jember, yang
tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Jember, terlibat bentrok dengan aparat saat
mahasiswa ingin long march ke kantor DPRD Jember. 1 orang mahasiswa terluka akibat
pukulan benda keras aparat keamanan.

Di Malang, Jawa Timur, para mahasiswa dari 6 perguruan tinggi se-Malang terlibat bentrok
dengan aparat keamanan di depan kampus Universitas Merdeka. 52 orang mahasiswa
terluka



4 Mei 1998

Harga BBM meroket 71%, disusul 3 hari (2-4 Mei 1998) terjadi kerusuhan di Medan dengan
korban sedikitnya 6 orang meninggal. Banyak etnis China mengungsi ke Malaysia dan
Singapura.
8   Mei 1998

Di Yogyakarta, Ribuan mahasiswa dan masyarakat di sepanjang jalan kolombo terlibat
bentrok dengan aparat. Aksi demonstrasi dibubarkan dengan tembakan gas air mata dan
semprotan air dari kendaraaan water canon ternyata tidak terkendali. Pengejaran ke kampus
IKIP Yogyakarta dan Universitas Sanata Dharma berbuahkan 7 orang ditangkap, 1 orang
mahasiswa Universitas Sanata Dharma(USD) Yogyakarta, bernama Mozes Gatotkaca
tewas terbunuh.



9   Mei 1998

Soeharto berangkat seminggu ke Mesir.



12 Mei 1998

Tragedi Trisakti, 4 Mahasiswa Trisakti terbunuh.



13 Mei 1998

Kerusuhan Mei 1998 pecah di Jakarta. Kerusuhan juga terjadi di kota Solo.

Soeharto yang sedang menghadiri pertemuan negara-negara berkembang G-15 di Kairo,
Mesir, memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Sebelumnya, dalam pertemuan tatap muka
dengan masyarakat Indonesia di Kairo, Soeharto menyatakan akan mengundurkan diri dari
jabatannya sebagai presiden.

Etnis Tionghoa mulai eksodus meninggalkan Indonesia.



14 Mei 1998

Demonstrasi terus bertambah besar hampir di seluruh kota-kota di Indonesia, demonstran
mengepung dan menduduki gedung-gedung DPRD di daerah.



18 Mei 1998

Ketua MPR yang juga ketua Partai Golkar, Harmoko, meminta Soeharto untuk turun dari
jabatannya sebagai presiden.
Jenderal Wiranto mengatakan bahwa pernyataan Harmoko tidak mempunyai dasar hukum;
Wiranto mengusulkan pembentukan "Dewan Reformasi".

Gelombang pertama mahasiswa dari FKSMJ, Forum Kota, UI , KAMMI dan HMI MPO
memasuki halaman dan menginap di Gedung DPR/MPR.



19 Mei 1998

Soeharto berbicara di TV, menyatakan dia tidak akan turun dari jabatannya, tetapi
menjanjikan pemilu baru akan dilaksanakan secepatnya.

Beberapa tokoh Muslim, termasuk Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Wahid, bertemu
dengan Soeharto.

Ribuan mahasiswa menduduki Gedung DPR/MPR, Jakarta.

Dilaporkan bentrokan terjadi dalam demonstrasi di Universitas Airlangga, Surabaya.



20 Mei 1998 (Hari Kebangkitan Nasional)

Amien Rais membatalkan rencana demonstrasi besar-besaran di Monas, setelah 80.000
tentara bersiaga di kawasan Monas.

500.000 orang berdemonstrasi di Yogyakarta, termasuk Sultan Hamengkubuwono X.
Demonstrasi besar lainnya juga terjadi di Surakarta, Medan, Bandung.

Harmoko mengatakan Soeharto sebaiknya mengundurkan diri pada Jumat, 22 Mei, atau
DPR/MPR akan terpaksa memilih presiden baru

Sebelas menteri kabinet pembangunan VII mengundurkan diri.



21 Mei 1998 (Soeharto Mengundurkan Diri)

Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya pada pukul 9.00 WIB

Wakil Presiden B.J. Habibie menjadi presiden baru Indonesia.

Jenderal Wiranto mengatakan ABRI akan tetap melindungi presiden dan mantan-mantan
presiden.

Terjadi perdebatan tentang proses transisi ini. Yusril Ihza Mahendra, salah satu yang pertama
mengatakan bahwa proses pengalihan kekuasaan adalah sah dan konstitusional.
22 Mei 1998

Habibie mengumumkan susunan "Kabinet Reformasi".

Letjen Prabowo Subiyanto dicopot dari jabatan Panglima Kostrad.

Di Gedung DPR/MPR, bentrokan hampir terjadi antara pendukung Habibie yang memakai
simbol-simbol dan atribut keagamaan dengan mahasiswa yang masih bertahan di Gedung
DPR/MPR. Mahasiswa menganggap bahwa Habibie masih tetap bagian dari Rezim Orde
Baru. Tentara mengevakuasi mahasiswa dari Gedung DPR/MPR ke Universitas Atma Jaya.



7 September 1998 (Robohnya Gerbang MPR/DPR)

Sekitar 3000 mahasiswa yang tergabung dalam Forkot melakukan aksi “perebutan kembali”
gedung MPR/DPR. Dalam aksi tersebut, mahasiswa Forkot mampu merobohkan Gerbang
Kompleks MPR/DPR dan terlibat bentrokan dengan aparat yang mengakibatkan sekitar 58
orang mahasiswa luka-luka. Aksi tersebut berlangsung dari sekitar jam 12 siang sampai jam 3
pagi dini hari. Forkot akhirnya mundur setelah tidak berhasil menguasai kembali gedung
MPR/DPR.



9 September 1998

Di Surabaya, ribuan mahasiswa dan masyarakat menyerbu gedung Grahadi dan terlibat
bentrokan yang besar dengan aparat.



10 September 1998

Ribuan mahasiswa yang tergabung dalam FKSMJ, mampu mengepung Istana Negara Jakarta
dan terlibat bentrokan dengan aparat.



26 Oktober 1998

MPR/DPR dan pemerintah Habibie sepakat untuk meluncurkan UU No 9 tahun 1998, yakni
mengenai ijin berdemonstrasi. Sehingga apabila ada demonstrasi yang pesertanya melebihi
100 orang, wajib memberitahukan pihak aparat dan wajib meminta ijin demonstrasi. Undang-
undang ini akan mulai diberlakukan pada tahun 1999.
28 Oktober 1998 (Hari Sumpah Pemuda)

Aksi bersama mahasiswa dalam memperingati hari Sumpah Pemuda yang dilakukan Famred,
Forkot dan FKSMJ dengan bergabung bersama dalam AKRAB (Aliansi Rakyat Bersatu).



10 November 1998

Deklarasi Ciganjur yang diprakarsai oleh mahasiswa, dihadiri dan disepakati oleh empat
tokoh politik Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Amien Rais, dan Sultan
Hamengku Buwono X.



11 November 1998
Mahasiswa dan masyarakat yang bergerak dari Jalan Salemba, bentrok dengan Pamswakarsa
di kompleks Tugu Proklamasi.


12 November 1998
Ratusan ribu mahasiswa dan masyarakat bergerak menuju ke gedung DPR/MPR dari segala
arah, Semanggi-Slipi-Kuningan, tetapi tidak ada yang berhasil menembus ke sana karena
dikawal dengan sangat ketat oleh tentara, Brimob dan juga Pamswakarsa (pengamanan sipil
yang bersenjata bambu runcing untuk diadu dengan mahasiswa). Pada malam harinya terjadi
bentrok di daerah Slipi dan Jl. Sudirman, puluhan mahasiswa masuk rumah sakit. Ribuan
mahasiswa dievekuasi ke Atma Jaya. Satu orang pelajar, yaitu Lukman Firdaus, terluka
berat dan masuk rumah sakit. Beberapa hari kemudian ia meninggal dunia.


13 November 1998 (Tragedi Semanggi I)

Sidang Istimewa MPR, Habibie membacakan laporan pertanggungjawabannya di depan
anggota dewan. Dan pada tanggal 13 November 1998, saat sidang hari terakhir, terjadilah
Tragedi Semanggi I, yaitu bentrokan antara ribuan mahasiswa yang berusaha mempresure
jalannya Sidang Istimewa dengan aparat yang berupaya membubarkannya. 17 orang
mahasiswa, pelajar, Aparat dan masyarakat tercatat meninggal dan 456 orang mengalami
luka-luka. Beberapa mahasiswa yang gugur, disebabkan oleh peluru quik shok yang
proyektil pelurunya bisa menyebar ke tiga bagian.



17 Desember 1998 (Bentrokan Taman Ria)

Mahasiswa yang melakukan aksi bersama untuk menuntut pengusutan korban Tragedi
Semanggi I, terlibat bentrokan dengan aparat. Mahasiswa sempat memukul mundur aparat
sebelum akhirnya dibubarkan oleh tembakan dan gas air mata. Bentrokan ini terjadi di bawah
jembatan fly over Taman Ria Senayan. Sehingga peristiwa ini dikenal oleh mahasiswa
sebagai “Bentrokan Taman Ria”.
9 Februari 1999

Sebanyak 55 orang mahasiswa dari Famred ditangkap karena melanggar UU No 9 tahun
1998, yakni mengenai ijin berdemonstrasi. Peristiwa penangkapan ini adalah yang pertama
kalinya setelah Undang-undang tersebut diberlakukan.




12 Mei 1999 (Satu Tahun Tragedi Trisakti)

Peringatan satu tahun Tragedi Trisakti. Kampus Trisakti menjadi pusat peringatan. Peringatan
itu sendiri juga dilakukan dengan cara aksi turun ke jalan di beberapa titik oleh FKSMJ,
Famred dan Forkot yang diwarnai bentrokan antara Forkot dengan aparat di sekitar
Bendungan Hilir Jakarta.



21 Mei 1999

Ribuan mahasiswa mengadakan perayaan "Satu Tahun Gerakan Reformasi Satukan Visi
Selamatkan Reformasi dan Tolak Anarki" yang diadakan di kampus UI Salemba yang
dihadiri oleh Ketua Senat Undip (Universitas Diponegoro) Semarang, Ketua Senat
Unair(Universitas Airlangga) Surabaya, Sekjen Presidium Mahasiswa Trisakti Jakarta,
Presiden BEM UI (Universitas Indonesia) Jakarta, Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa
UGM (Universitas Gajah Mada) Yogyakarta, Presiden KM ITB (Institut Teknologi
Bandung), Ketua Umum KAMMI, Ketua DPM IPB (Institut Pertanian Bogor), Ketua Senat
IKIP Jakarta, Ketua Senat IKIP Yogyakarta, Ketua Senat STAN, Ketua Senat Universitas
Mercubuana Jakarta. Selain itu, mahasiswa juga mengeluarkan “Enam Visi Reformasi”. Visi
itu dianggap sebagai barometer reformasi yang sukses.


23 September 1999 (Tragedi Se manggi II)

Komisi I DPR akan mengesahkan RUU PKB (Rancangan Undang-undang Penanggulangan
Keadaan Bahaya) yang merupakan penyempurnaan RUU KKN (Keselamatan Keamanan
Negara) yang akan diadakan pada Sidang Umum MPR. Ribuan mahasiswa yang tergabung
dalam berbagai organisasi seperti Famred, Forkot, Komrad, Forbes dsb, berunjuk rasa untuk
menentang pengesahan RUU PKB itu. Bentrokan terbesar terjadi di dua titik yaitu Palmerah
dekat gedung JDC dan depan kampus Atmajaya. Bentrokan yang berlangsung sampai siang
hari keesokan harinya telah berakibat puluhan orang terluka dan 2 orang tewas tertembak
peluru aparat dan 217 orang mengalami luka-luka.
   28 September 1999

   Selain di Jakarta, pada aksi penolakan UU PKB ini korban juga berjatuhan di
   Lampung. Pada Tragedi Lampung 28 September 1999, 2 orang mahasiswa
   Universitas Lampung, Muhammad Yusuf Rizal dan Saidatul Fitriah, tewas
   tertembak di depan Koramil Kedaton.



   5 Oktober 1999

   Di Palembang, Meyer Ardiansyah (Universitas IBA Palembang) tewas karena
   tertusuk di depan Markas Kodam II/Sriwijaya saat berdemonstrasi menentang UU
   PKB.



Sumber dari Wikipedia Indonesia, buku kerusuhan Mei 1998 (Fakta, Data dan Analisa), buku
Aksi Mahasiswa menuju Gerbang Reformasi, buku Pendudukan Gedung DPR/MPR,
IndoProtest - http://members.tripod.com/~indoprotest , Detik.com dan Kompas Online.
Bab IX      Catatan khusus “Mengenang Penculikan para aktivis Prode m”




Sumber Foto IKOHI



Jakarta, Februari 2000

        Berita tentang penculikan para aktivis yang mulai terkuak, ramai menghiasi beberapa

media cetak dan elektronik serta beberapa site di internet. Mulai dari berita siapa saja yang

diculik maupun siapa yang menculik. Dan ada beberapa aktivis yang pernah diculik, akan tetapi

dibebaskan oleh penculiknya, mulai „bernyanyi‟ di depan media. Menurut yang kucatat dari
berbagai berita tersebut, dari sekitar 23 orang aktivis yang menghilang dan 9 orang diantaranya

sudah dibebaskan.

Sumber berita yang kudapat tersebut berasal dari www.ikohi.blogspot.com, sebuah site yang

dipublish oleh Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI), dengan ketuanya Mugiyanto,

seorang aktivis yang pernah juga ikut diculik dan kemudian dibebaskan. Aku pun sempat bertemu

beliau untuk sedikit berbincang-bincang soal seputar aktivis yang hilang.

Aktivis yang sudah dibebaskan antara lain:

    1. Desmond Junaidi Mahesa

        Seorang Sarjana lulusan Fakultas Hukum, Universitas Lambung Mangkurat. Desmond

        lahir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan pada tanggal 12 Desember 1965. Desmond

        merupakan Direktur Lembaga Bantuan Hukum Nusantara (LBHN) Jakarta, yang

        beralamat di Jalan Cililitan I no 11 Rt 07/08 Jakarta Timur. Dalam tugas kesehariannya

        lebih banyak mengurusi kasus-kasus hukum yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah

        antara lain: penggusuran tanah, tegangan tinggi dan lain sebaginya. Selain aktif sebagai

        direktur LBHN dia juga anggota Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI), serta Forum

        Kebangsan Indonesia, yang bertujuan untuk mensupport “Lengser Keprabon Mandek

        Pandito” yang diucapkan oleh Bapak Soeharto. Ia kini menjadi pengacara profesional,

        dan menjadi pengacara konglomerat Eka Cipta Wijaya, serta pembela Tommy Winata

        dalam kasus penyerangan terhadap kantor Majalah Tempo.



    2. Aan Rusdianto

        Lelaki kelahiran 13 April 1974 di Purworejo, Jawa Tengah. Saat diculik ia sedang berada

        di Rumah Susun Klender, Jakarta Timur, dia berprofesi sebagai Pengurus Pusat Partai

        Rakyat Demokratik (PRD). Kini ia aktif di Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia

        (IKOHI) dan beberapa lembaga kerakyatan lainnya.
3. Faisol Reza

   laki-laki yang berkaca mata dan lebih akrab dipanggil Riza, kelahiran 1 Januari 1973 di

   Probolinggo, Jawa Timur. Ketika diculik, ia adalah salah satu pimpinan PRD yang waktu

   itu beroperasi “dibawah tanah”. Setelah dibebaskan ia dipilih untuk menjabat sebagai

   ketua Partai Rakyat Demoratik (PRD) yang mengikuti Pemilu 1999. Jebolan berbagai

   pesantren ini sekarang aktif diberbagai organisasi politik alternatif.



4. Andi Arief

   Seorang Sarjana lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gajah Mada,

   jurusan Ilmu Pemerintahan. Ia dilahirkan di Bandar Lampung pada tanggal 20 November

   1970. Ketika diculik di Lampung, ia adalah salah satu pentolan Partai Rakyat Demokratik

   (PRD). Kini ia sedang menekuni dunia bisnis dan politik, tinggal di Bandar Lampung.



5. Nezar Patria

   Pria yang berkepribadian tenang, dan sering dipanggil dengan Nezar ini dilahirkan di

   Sigli, Aceh, pada tanggal 5 Oktober 1970. Ia adalah sarjana Filsafat, Universita Gajah

   Mada. Selama menjadi mahaiswa, aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan

   Jamaah Salahudin UGM (1990-1991), Biro Pers Mahasiswa Fakultas Filsafat UGM (

   1992-1996), dan terakhir dia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Solidaritas Mahasiswa

   Indonesia Untuk Demokrasi (SMID) tahun 1996. Ketika diculik, ia sedang bersama Aan

   Rusdianto di Rusun Klender. Sekarang ia menjadi wartawan Majalah Tempo.



6. Rahardjo Waluyo Djati

   Lelaki yang akrab dipanggil Jati dan dilahirkan di Jepara, pada tanggal 24 Desember

   1969. Ia diculik ketika sedang bersama Faisol Riza berjalan dari YLBHI di Cikini. Ketika

   diculik, ia adalah salah satu pimpinan Partai Rakyat Demokratik (PRD) dan tengah
   belajar di Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada (UGM). Sekarang ia menjadi

   Direktur Radio Voice of Human Rights.



7. Mugiyanto

   Lelaki yang akrab di panggil Mugi, dilahirkan di Jepara pada tanggal 2 November 1973.

   Ketika diculik, ia adalah mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada. Ia diculik

   beberapa saat setelah Aan Rusdianto dan Nezar Patria diambil dari Rusun Klender,

   Jakarta Timur. Saat itu, ia adalah salah satu pimpinan PRD yang mengurusi bidang

   internasional. Sekarang ia menjadi ketua organisasi para korban dan keluarga korban

   penghilangan paksa (penculikan), IKOHI.



8. Pius Lustrilanang

   Pria yang lahir di Palembang 34 tahun yang lalu. Ketika diculik, ia adalah karyawan di

   ISAI (Institut Studi Arus Informasi), Aktivis Aldera (Aliansi Demokratik Rakyat) serta

   Sekertaris Jenderal Solidaritas untuk Amien dan Mega (SIAGA) bertempat tinggal di

   Bandung. Sekarang ia membentuk organisasi para militer atau laskar bernama BRIGASS

   (Brigade Siaga Satu).



9. Haryanto Taslam

   Dia adalah aktivis DPP PDI yang punya jaringan ke grassroot PDI Megawati. Ia

   kemudian diculik dan beberapa bulan kemudian dibebaskan. Setelah dibebaskan, ia tidak

   mau memberikan kesaksian seperti yang lain. Ia kini menjadi anggota DPR dan

   Fungsionaris DPP PDI-P.
Mereka yang masih menghilang antara lain:

   1. Yani Afri

       Yani lahir di Jakarta pada tanggal 26 April 1971. Dia adalah seorang yang berprofesi

       sebagai sopir. Dia juga seorang aktivis PDI Megawati Wilayah Jakarta Utara dan ikut

       koalisi Mega Bintang dalam Pemilu 1997. Yani sempat ditahan di Makodim Jakarta

       Utara sebelum dia menghilang di Jakarta pada 26 April 1997. lelaki yang biasa di sapa

       Rian, diketahui menghilang setelah ada laporan dari orang tua korban yakni ibunya, yang

       bertempat tinggal di jalan dewa kembar RT 07/01 Jakarta Utara.



   2. Sonny

       Juga berprofesi sebagai sopir, merupakan teman Yani Afri,. menghilang di Jakarta pada

       tanggal 26 April 1997. Sonny juga aktif dalam perpolitikan yaitu fungsionaris Dewan

       Pimpinan Cabang (DPC) PDI Megawati Wilayah Jakarta Utara.



   3. Deddy Umar

       Deddy ,dengan yang akrab disapa Hamdun, lahir di Jakarta pada tanggal 29 Juli 1954. Dia

       merupakan suami dari artis Eva Arnas.

       Selain berprofesi sebagai pengusaha yang bertempat tinggal di Jalan Kebon Nanas

       Selatan II/2 Jakarta Timur, dia aktif di Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

       dan Koalisi Mega-Bintang dalam kampanye 1997. Deddy menghilang di Jakarta pada

       tanggal 29 Mei 1997.



   4. Noval Alkatiri

       Noval lahir pada tanggal 25 Mei 1967. Merupakan teman dari Deddy Umar. Dia juga

       seorang aktivis PPP. Dia menghilang di Jakarta pada hari yang sama dengan Deddy
   Umar, yakni tanggal 29 Mei 1997. Noval juga berprofesi sebagai pengusaha, dengan

   jabatan terakhir sebagai direktur. Pria yang bertempat tinggal di Jalan S no 20 Kebon

   Baru Tebet Jakarta Selatan, juga seorang aktivis Mega-Bintang pada Kampanye Pemilu

   1997.



5. Ismail

   Dia adalah sopir dari Dedy Umar. Dia menghilang di Jakarta pada hari yang sama dengan

   Deddy Umar dan Noval Alkatiri yaitu 29 Mei 1997. Kemungkinan besar diculik untuk

   menutupi jejak penculikan Dedy Umar.



6. Wiji Thukul

   Wiji Thukul lahir di Surakarta, pada tanggal 3 November 1967, sebagai anak dari seorang

   tukang becak di desa Sorogenen. Seorang penyair, aktivis yang tergabung dengan

   JAKKER (Jaringan Kerja Kesenian Rakyat ) yang termasuk underbouw PRD (Partai

   Rakyat Demokratik).

   Dia menghilang di Jakarta pada sekitar tanggal 10 Januari 1998. Wiji adalah seorang

   penulis puisi yang berisi protes sosialnya terhadap pemerintah yang menurutnya sudah

   banyak menyengsarakan rakyat, merebut hak rakyat dan tidak mau lagi mendengar

   keluhan rakyatnya, maka dia menulis puisi-puisi yang „menusuk‟ pemerintah. Menurut

   dugaanku inilah dasar kenapa Wiji pun ikut „hilang‟.



7. Suyat

   Suyat lahir di Sragen, Jawa Tengah, pada tanggal 1 Oktober 1975. Suyat adalah

   mahasiswa fakultas sosial dan politik di Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Solo.Dia juga

   seorang aktivis Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) yang
   merupakan underbouw dari Partai Rakyat Demokratik (PRD). Dia menghilang di Solo

   pada tanggal 12 Februari 1998.



8. Herman Hendrawan

   Herman lahir di Pangkal Pinang, Bangka pada tanggal 29 Mei 1971. Herman adalah

   mahasiswa pada sebuah Universitas Negeri di Surabaya (Unair). Dia juga aktif bergabung

   dengan Partai Rakyat Demokratik (PRD). Dia menghilang di Jakarta, pada tanggal 12

   Maret 1998



9. Petrus Bima Anugerah

   Petrus lahir di Malang pada tanggal 24 September 1973. Dia adalah mahasiswa di

   Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyakarya Jakarta. Dia juga aktif dalam beberapa

   kegiatan politik seperti di Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID)

   sebagai pengurus pusat dan Partai Rakyat Demokratik (PRD).

   Seorang aktivis SMID, afiliasi PRD, menghilang di Jakarta pada tanggal 30 Maret 1998.



10. M Yusuf

   Seorang guru, kelahiran Jakarta 18 September 1969, beralamat di Jalan Raden Saleh II/1

   no 7 Jakarta Pusat. diculik di depan rumahnya di Jakarta pada 7 Mei 1998.



11. Ucok Munandar Siahaan

   Kelahiran Jakarta, 17 Mei 1976, beralamat di Jalan Taufiq Rahman 47 Beji Timur Depok.

   Ucok seorang mahasiswa dari STIE Perbanas. Dia diculik saat kerusuhan 14 Mei 1998 di

   Jakarta. Aktifitasnya tidak begitu diketahui oleh pihak keluarganya selain sebagai

   seorang mahasiswa apalagi untuk ikut politik-politikan. Pada tanggal 12 Mei 1998

   sebelum lengsernya Soeharto, Ucok sempat mengatakan kepada Ibunya bahwa sebentar
        lagi Soeharto lengser.



    12. Yadin Muhidin

       Pria yang lahir di Jakarta 11 September 1976, setelah lulus Sekolah pelayaran langsung

        mengikuti beberapa ujian untuk masuk kerja di pelayaran. Bertempat tinggal di Jalan

        Baru Selatan Jakarta Utara ini bukanlah pemuda yang aktif dengan kegiatan-kegiatan

        politik. Kesehariannya di isi dengan aktifitasnya berkumpul sama-sama dengan teman-

        teman di sekitar rumahnya. Kalaupun aktif biasanya hanya pada acara-acara besar seperti

        buka puasa bersama di bulan Ramadhan dengan teman-teman Musholla di dekat

        rumahnya. Ketika itu sempat ditahan Polres Jakarta Utara. Dia menghilang di Jakarta

        pada tanggal 14 Mei 1998.




    13. Hendra Hambali

       Seorang siswa SMU, yang menghilang saat kerusuhan di Glodok, pada tanggal 15 Mei

        1998.



    14. Abdun Nasser

       kontraktor, hilang saat kerusuhan 14 Mei 1998, Jakarta



Yang ditemukan meninggal:

Leonardus Gilang

Seorang aktifis pengamen jalanan yang sering terlibat aksi mahasiswa di Jogja dan Solo. Gilang

hilang pada bulan April 1998 di Solo, dan ditemukan 3 hari kemudian di Magetan Jawa Timur

dalam keadaan meninggal dengan luka-luka tembakan di tubuhnya.
Siapakah yang bertanggung jawab atas penculikan para aktivis tersebut?

Bila melihat dari data dan berbagai berita yang pernah kubaca, tersebutlah sebuah tim khusus dari

Kopassus, yang berjuluk “Tim Mawar”. Merekalah yang diketahui telah menculik sebagian besar

dari para aktivis tersebut. Terkuaknya kronologis penculikan, tidak lepas dari keberanian

mengungkapkan sebuah kesaksian pertama di depan publik oleh salah seorang korban penculikan

yang telah dibebaskan, bernama Pius Lustrilanang. Tanpa menghiraukan keselamatan dirinya

yang telah diancam akan dibunuh oleh para penculiknya bila membeberkan kejadian ini, para

kawan-kawan Pius yang terbebas setelah diculik pun mulai berani bersaksi di depan publik.

Kesaksian-kesaksian itulah yang telah mengantar anggota “Tim Mawar” ke meja pengadilan

militer. Sedangkan para atasannya yang diyakini sebagai orang yang memerintahkan tim tersebut,

sama sekali tidak terkena sanksi yang berarti, yakni pensiun dini. Sungguh sangat mengherankan,

bagaimana sebuah kesatuan kecil yang mencoreng nama TNI, yang menjadi aparat penegak

hukum, telah melanggar ketentuan hukum dan perundang-undangan yang berlaku di negara ini.

Mereka tidak lagi mengindahkan azas praduga tidak bersalah. Karena seorang terdakwa itu

haruslah dibuktikan didepan pengadilan terlebih dahulu barulah ada ketetapan hukumnya dia

bersalah atau tidak. Apabila mereka dituduh komunis, maka buktikanlah itu di depan pengadilan.

Dengan penculikan itu, tim mawar juga melakukan pelanggaran HAM, dengan cara merebut

kebebasan berbicara, berpendapat serta kebebasan melakukan aktivitas politik yang

diperbolehkan oleh UUD 45 pasal 28. Mereka melakukan penangkapan tanpa surat perintah

penangkapan dan pengancaman saat menculik para korban. Mereka pun melakukan kekerasan

saat menginterogasi, yang membuat para korbannya menderita secara fisik dan psikis. Apakah

seorang warga negara tidak boleh berseberangan pendapat dengan penguasa? Apakah karena

alasan negara merasa terancam kedudukannya, maka sebuah institusi tentara diperbolehkan

menangkapi secara paksa warganya dan dianggap pengacau keamanan tanpa dibuktikan
dipengadilan? Belum lagi para aktivis yang masih menghilang, walaupun yang diakui oleh tim

mawar, mereka tersebut sudah dibebaskan, bagaimana nasib mereka sekarang?

Tidak ada pengusutan sungguh-sungguh yang bisa mengungkap keberadaan mereka korban

penculikan dan mengungkap para penanggung jawab atau pemberi perintah dari pihak yang

menculik yaitu tim mawar. Sebuah coretan hitam di wajah dewi keadilan.



“Rantai kekuatan dan gerigi perjuangan hatiku sudah putus…

Tatkala asa menunggu sinar telah tiada.

Walau tembok itu telah hancur…walau tirai sudah terkuak.

Hatiku tetap akan bertanya padamu…jawablah…

Dimanakah kawanku itu?

Kawan yang telah berani…

Berani berbeda denganmu.

Kawan yang entah gugur…entah hidup…

Yang batu nisannya pun tak kutemui…

Lalu dimanakah harus kuletakkan bunga ini…?

Dan dimanakah aku harus panjatkan doa?

Sedangkan kau hanya menyisakan bayangannya di hati kami…

Bayangan seorang Pahlawan.”
BAB X

Catatan Akhirku dan Pesan Moral Kawan-kawan Famred



Itulah semua kisahku…dibalik beberapa tragedi.

Yang akan selalu terbayang di benakku, begitu pahit dan pilunya kami

kala itu.

Dan yang akan selalu terngiang di telingaku, begitu gegap gempitanya

lagu perjuangan mahasiswa yang kami nyanyikan dengan gagah berani di

tengah desing peluru bangsa sendiri.

Serta yang akan selalu tersisa, saat meneteskan air mataku bila

mengingat semua kejadian ini.

Wahai kawan, mari kita renungkan, berapa banyak teman yang telah pergi.

Wahai kawan-kawanku…10 Tahun telah lewat.

Perjuangan kita memang belum selesai.

Tugas kita sekarang mengawal orde reformasi agar tidak menyengsarakan

rakyat lagi.

Apabila itu kembali terulang, maka bersiaplah kawan-kawanku…

Berjuanglah demi Sumpah Rakyat Indonesiamu.

Bersatulah demi sebuah Indonesia yang Baru.

Habis…



         Setelah begitu banyak peristiwa yang kami alami, sepertinya perjuangan ala

jalanan yang merupakan cara yang kami pilih, menjadi seperti kehabisan momentumnya.

Kami pun harus segera kembali ke bangku kuliah dan berusaha menyelesaikan studi kami

masing- masing dan berusaha mendidik calon generasi muda mahasiswa yang akan

menggantikan kami kelak bila penguasa tidak lagi berpihak kepada rakyat banyak. Aku
pun sepertinya kehilangan. Semua perjuangan yang kami lakukan hari demi hari haruslah

berhenti. Beberapa kawan ada yang masih ulet berjuang dalam berbagai organisasi atau

LSM. Beberapa menjadi karyawan dan sibuk berkarya.

       Pendidikan „jalanan‟ yang telah kami tempuh, membuat otak kami menjadi

berbeda. Terlalu lama berjuang mengakibatkan otak kita menjadi kritis serta selalu

berpikir soal rakyat dan pemerintah. Ketika kami harus membuka mata dan melihat

kenyataan bahwa kami harus hidup normal, itu menjadi sesuatu yang sulit. Mungkin

serupa dengan para pejuang era tahun 1945, setelah tidak ada musuh lagi yang harus

dihadapinya mereka pun harus rela melepaskan senjatanya dan kembali dari hutan- hutan

dan gunung-gunung untuk masuk ke kehidupan yang normal. Itu sungguh sulit. Dari tata

cara dan kebiasaan sampai pola pikir bertahan hidup pun harus dirubah 180°.

       Itulah efek dari kegiatan berpolitik yang kami jalani, yang telah membuat

beberapa orang menjadi „goyah‟ dan terpukul karena harus menghadapi kenyataan bahwa

perjuangan telah berhenti untuk sementara. Karena kita harus memberikan kesempatan

kepada pemerintahan yang baru terbentuk agar mereka bisa bekerja dengan tenang.

Dahulu kami para mahasiswa yang berjuang, selalu ada yang menyediakan makanan

seperti Suara Ibu Peduli (SIP). Sekarang untuk hidup, kami harus bekerja dan masuk ke

dunia pekerjaan yang nyata. Dahulu kami bekerja dengan cara berteriak, bernyanyi,

berkumpul dan turun ke jalan. Maka kami sekarang harus bekerja dengan tenang dan

bergantung pada kemampuan diri sendiri. Begitu banyak yang berbeda dengan kehidupan

kami yang dahulu.

       Beberapa kawan ‟98 ada yang masuk „panggung politik‟ dan menjadi anggota

MPR/DPR. Bagiku hidup itu suatu pilihan, dan itu adalah hak dari diri mereka sendiri.
Mereka pun saat menjadi pejuang mahasiswa tidak ada yang melarang. Aku tidak ngiri

atau cemburu dengan keputusan yang mereka ambil, meski diantara mereka ada yang

bergabung dengan partai yang dulu kami benci, Tapi sekali lagi itu hak asasi manusia.

Aku sangat menghormatinya. Mudah- mudahan mereka tak akan melupakan perjuangan

dan pengorbanan kawan-kawannya sendiri. Karena kalau mereka melupakan, maka aku

yakin „darah dan nyawa kawan-kawan yang telah gugur akan selalu menggugah hati

mereka. Aku pun yakin „hukum karma‟ akan berlaku apabila mereka menjadi sama

dengan orde baru yang dahulu kami turunkan.

       Kawan-kawanku para mantan aktivis „98, para elite politik yang sekarang bisa

menempati posisi atau jabatan mereka baik di eksekutif, legislatif dan judikatif, adalah

berkat perjuangan kita bersama. Janganlah kita merasa dimanfaatkan oleh mereka.

Karena kita pun dahulu berjuang tidak berharap pamrih atau pun bermimpi mendapatkan

suatu posisi/jabatan bukan? Apakah kawan-kawan yang gugur saat berjuang juga

mengharapkan suatu posisi/jabatan? Perjuangan kita murni hanya menuntut perubahan

nasib rakyat Indonesia. Itu perjuangan yang tulus. Tidak usah kalian kecewa dan terpukul

oleh karena mereka. Bila kalian kecewa, maka rakyat akan berpikir bahwa niat kalian

berjuang dahulu adalah untuk ambisi semata dalam memasuki pusaran arus politik yang

sama dengan motivasi para elite tersebut. Yang pada akhirnya akan merusak platform

cita-cita perjuangan hati nurani mahasiswa yang dahulu. Bila elite politik tersebut tidak

menjalankan amanat reformasi dan berbohong kepada kita, maka itu urusan pribadinya

dengan Tuhan.

       Untuk para mahasiswa yang sekarang, aku harap jaga idealisme muda kalian dan

jaga rakyat Indonesia kalau perlu dengan segenap darah dan nyawamu. Karena apabila
kita mendiamkan rakyat menangis, kelaparan dan terluka hatinya, maka berdosalah kita

sebagai anak muda yang masih mampu untuk berjuang menuntut perubahan. Bergeraklah

hanya apabila hati nuranimu berkata benar. Hati-hatilah agar tidak dimanfaatkan orang

lain dengan menjadi „pion‟ politik mereka yang siap mengorbankan kalian. Sehingga

perjuangan yang tulus akan menjadi hambar dan sia-sia. Tetaplah berjuang dengan cara

Anti Kekerasan. Jangan meniru prilaku mereka yang tega membunuh rakyatnya sendiri.

Jangan pula membalas perlakuan mereka. Sebab kalau langkah itu yang kalian ambil, apa

bedanya kalian dengan mereka? Tunjukanlah kepada dunia bahwa kalian adalah „benteng

pertahanan‟ rakyat yang cendikia dan mengutamakan perjuangan pikiran. Turun ke jalan

adalah alternatif terakhir buat kalian. Demonstrasi bukanlah pemecahan dari setiap

masalah yang ada. Belajarlah mendengarkan semua pihak meskipun mereka berbeda dari

kalian. Janganlah kalian hanya ingin didengarkan pendapatnya. Itu tidak demokratis!!

       Terakhir, kepada kalianlah aku berharap agar perjuangan ini tetap siap sedia

apabila ibu pertiwi memanggilmu kelak. Karena sejarah akan selalu terulang kembali!!

Dan bila lagu Ibu Pertiwi mulai dinyanyikan, itulah saatnya kalian bangkit.

“Ku lihat Ibu Pertiwi, sedang bersusah hati…air matanya berlinang

Mas intannya tergenang…hutan gunung sawah lautan…simpanan kekayaan.

Kini ibu sedang lara…merintih dan berdoa…” (Kutipan Lagu Ibu Pertiwi)
Sumber foto Kurnia Setiawan(Famred/Untar)




11 tahun yang lalu, darah pahlawan muda menetes di tanah.

11 tahun yang lalu, tembakan membabibuta memberhangus harapannya.

11 tahun sudah, kami yang ditinggalkan, berjuang melawan pahitnya

ingatan.
Semua ini aku persembahkan untuk….

   Para Pahlawan Reformasiku yang terhormat…
   Tragedi Trisakti (12 Mei 1998)

      Alm.Elang Mulya Lesmana
      Mahasiswa Trisakti (Tehnik Arsitektur 96) , Jakarta

      Alm.Hafidin Royan
      Mahasiswa Trisakti (Tehnik Sipil 95) , Jakarta

      Alm.Hendriawan Sie
      Mahasiswa Trisakti (Manajemen 96) , Jakarta

      Alm.Hery Hartanto
      Mahasiswa Trisakti (Tehnik Mesin 95), Jakarta



   Tragedi Se manggi I (13 Novembe r 1998)

      Alm.Bernardus R Norma Irmawan
      Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya, Jakarta

      Alm.Engkus Kusnadi
      Mahasiswa Universitas Jakarta

      Alm.Heru Sudibyo
      Mahasiswa penyesuaian semester VII Universitas Terbuka, Jakarta

      Alm.Lukman Firdaus
      Pelajar Sekolah Menengah Umum Negeri (SMUN) 3 Ciledug, Tangerang

      Alm.Sigit Prasetyo
      Mahasiswa Teknik Sipil YAI Jakarta

      Alm.Teddy Wardani Kusuma
      Mahasiswa Fakultas Teknik Mesin Institut Teknologi Indonesia, Serpong

      Alm.Muzammil Joko

      Mahasiswa Universitas Indonesia, Jakarta.

      Alm.Abdulah / Donit
   Alm.Uga Usmana

   Alm.Agus Setiana

   Alm.Budiono

   Alm.Sidik

   Alm.Doni Effendi

   Alm.Rinanto

   Alm.Sidik

   Alm.Kristian Nikijulong

   Alm.Hadi


 Tragedi Se manggi II (23 Septembe r 1999)

   Alm.Zainal
   Anak seorang tukang becak, Aktivis Famred

   Alm.Yap Yun Hap
   Mahasiswa Universitas Indonesia, Jakarta



Tragedi Lampung (28 September 1999)

   Alm.Muhammad Yusuf Rizal

   Mahasiswa Universitas Lampung

   Alm.Saidatul Fitriah

   Mahasiswa Universitas Lampung



Tragedi Pale mbang (5 Oktober 1999)

   Meyer Ardiansyah

   Mahasiswa Universitas IBA Palembang
Aku juga persembahkan tulisan ini kepada para orang tua dari Pahlawan

Reformasi dimanapun kalian berada.

“Bapak dan Ibu sekalian, bukan maksudku membuat kalian sedih, bukan pula bermaksud
mengorek luka di hati. Aku hanya ingin mengingatkan kepada kalian, bahwa anak yang
kalian lahirkan, kalian besarkan dan kalian didik, adalah seorang Pahlawan dan Ksatria.
Aku yakin kalian bangga memiliki mereka, dan pernah hidup bersama dengan seorang
pahlawan. Aku mewakili kawan-kawan angkatan ‟98, mengucapkan penghormatan yang
paling dalam dan banyak terimakasih kepada kalian. Kami tidak akan pernah sedikitpun
melupakan jasa-jasa mereka. Mohon maaf bila hanya itu yang mampu kami berikan
kepada seorang pahlawan. Sungguh tiada sebanding dengan perjuangan mereka. Apabila
kalian mau, anggaplah kami atau semua mahasiswa baik angkatan‟98 maupun yang ada
sekarang sebagai pengganti anak-anakmu itu, apabila hal itu mampu mengobati luka
hatimu. Terimakasih…Semoga Tuhan memberkati kalian semua dengan ketabahan yang
luar biasa”.
Kesaksianku ini aku persembahkan pula kepada…
Dan kawan-kawan Famred yang masih tersisa di dunia mereka masing masing,
Banyak yang aku lupa namanya. Hehehe maklum bro, sudah lama sekali. Tapi yang jelas ini
dari mereka yang masih aku ingat adalah Wahab Talau (Unija), Bernard (Unija), Irwa nsyah
alias Iing (Unija), Masinton Pasaribu (STHI), Ulung Rusman (Untar), Arif Rachman
(PMII/Untar), Kurnia Setiawan (Untar), Noval (Untar), Pontas (Untar), Elmo (Untar), Dicky
(Untar), Ong Kim Bu (Binus), Alex Leonardo (Atmajaya) , Bona Sigalingging (Atmajaya),
Indro (Atmajaya), Pahala (Atmajaya) , Lukito (Atmajaya), Alm.Sugeng (Atmajaya),
Abdullah (IKIP), Arie Purnama alias Birong (ITI Serpong), Edo (ITI Serpong), Upay (YAI),
Syafiq Alielha (STF Driyarkara), Swandy (STF Driyarkara), Dwi Violentino Budiman alias
Tino (STF Driyarkara), Hengky (IISIP), Harry alias „Gusdur‟ (Trisakti), Kasino (Moestopo),
Kokom (Tarakanita), Tessa (Inter Study), Sisi (Inter Study), Kiki (Inter Study), dan Gerda
(IBBI), Max (Inter Study), akhirnya para bidadari Famred dari Asmi, Inter Studi dan STIE
Perbanas.dll.
Pasukan Famred Ukrida Patrick Kupang, Vendi „Dengkul‟ Sutanto, Vicky Vekew, Robby
Siahaan, Charles, Yopie alias Kontos, David Bajaj, Daniel Boby, Anto alias Boedoet,
Christian alias Uwi- uwi , Juliana alias Mami, Nina Bastari nya Vendi, Desyanti alias OB,
Marini alias Shisimaru, Lenny alias Inel alias Goffy, Tigor, Yovita, Veronika, Meta
Kusuma, Stanley, Herry alias Meong, Belen alias Junkies, Michael Sipasulta, Mario, Young
Men, Samuel, dll.
Thanx to kawan-kawan Ukrida : Bp.Sugeng Wahyudi, Adeley, Sonny L Kapito, George
Marteyes, Erik Christian alias Kumis, Rudi Simanjuntak, Johan, Kalam Tukiman, Frederik,
Ferry Pangabean, Sugi, Thomas Sasongko , Santos Sambuaga, Petrus Persulessy, Roy „Bali‟,
Dewi Deborah alias Japra, Valentino, EY.Damon, Boy „Raksasa‟, Daniel alias Black, Fredy
Atmadja alias Ipet, Budi alias „Banteng‟ Cianjur, Sen Indradji alias Asen, dll.
Salam Setengah Merdeka….!!! Tentu kalian masih ingat yang aku tuliskan dibawah ini…..
              “Sumpah Rakyat Indonesia”
Kami Rakyat Indonesia bersumpah
Bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan…
Berbangsa yang satu, bangsa yang gandrung akan keadilan…
Berbahasa yang satu, bahasa kebenaran…tanpa kebohongan.


Indonesia Baru
Bersatu dan berpadu…menuju Indonesia baru.
Singkirkanlah benalu…singkirkan semua musuh-musuh.
Rakyat pasti menang melawan penindasan
Rakyat kita pasti akan menang…
Rakyat pasti menang rebut kedaulatan
Rakyat kita pasti akan menang…
Reformasi…reformasi…reformasi sampai mati


Catatan: Kata-kata Reformasi kemudian berganti menjadi Revolusi ketika kita terus menerus
dipukuli, ditembaki dan ditangkapi. Karena kita merasakan, kata-kata reformasi terlalu lunak
buat melawan tirani.


Orde Baru
Orde baru…orde loyo.
DPR nya bego-bego.
Gak berani buka mulut yang keluar cuma kentut.
Dasar badut…badut…badut.


32 Tahun
32 tahun rakyat ditindas, 32 tahun rakyat dibohongi.
Lawan…lawan…lawan lawan lawan yee.
Uang
Uangkatan bersenjata republik Indonesia,
Tidak berguna, bubarkan saja,
Diganti menwa ya sama saja,
Lebih baik diganti pramuka,
Naik bis kota ga pernah bayar, apalagi makan di warung padang,
Tukang perkosa bini orang, tukang pukul mahasiswa.”




Indonesia tanah air siapa
Indonesia tanah air siapa?
Katanya tanah air saya.
Indonesia sejak dulu kala…
Janjinya rakyat sejahtera…
Nyatanya kini ku bertanya,
Petani digusur sawahnya,
Rakyat kecil miskin dan sengsara…
Sampai akhir menutup mata”.


Yel-yel saat be rdemo
“Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan…”
“Satu komando, satu perlawanan…”


Siklus Reformasi.
Mahasiswa takut sama Dosen…
Dosen takut sama Dekan…
Dekan takut sama Rektor…
Rektor takut sama Menteri…
Menteri takut sama Presiden…
Presiden takut sama Mahasiswa…
Bab XI SUMBER INSPIRASIKU
Buku, Koran, Majalah, TV, Radio dan Film

   1. Aksi Mahasiswa Menuju Gerbang Reformasi.
      Penulis : A.Ariobimo Nusantara, R.Masri Sareb Putra, Y.B.Sudarmanto,
      Cetakan pertama tahun 1998 , Penerbit PT.Grassindo, Jakarta.

   2. Kerusuhan Mei 1998 (Fakta, Data dan Analisa)
      Penulis : Ester Indahyani Jusuf, Hotma Timbul, Olisias Gultom, Sondang Frishka,
      Cetakan ketiga, Oktober tahun 2008, Penerbit : SNB dan APHI, Jakarta.

   3. Pendudukan Gedung DPR/MPR
      Penulis : Heru Cokro
      Cetakan pertama, April 2008, Penerbit : PT.Mizan Publika, Jakarta.

   4. Kebenaran Akan Terus Hidup
       Penulis : IKOHI,
       Cetakan pertama, Agustus 2007, Penerbit : YAPPIKA, Jakarta.

   5. Catatan Seorang Demonstran.
       Penulis : Soe Hok Gie,
       Cetakan kesembilan, Agustus 2008, Penerbit : Pustaka LP3ES, Jakarta.

   6. Film „Student Movement‟
      Karya Tino Saroengallo, April 2007.

   7. Mewaspadai Kuda Troya Komunisme di Era Reformasi
      Penulis : Dra.Markonina Hartisekar, Drs.Akrin Isjani Abadi.
      Cetakan ketiga, Maret 2001, Penerbit : Pustaka Sarana Kajian, Jakarta

   8. Majalah Tempo Edisi Khusus 5 Tahun Reformasi 1998-2003
      Edisi 19-25 Mei 2003.

   9. Tionghoa Dalam Pusaran Politik
      Penulis : Benny G Setiono
      Cetakan Mei 2002, Penerbit Elkasa, Jakarta.

   10. Politik Huru-Hara Mei 1998.
       Penulis : Fadli Zon.
       Cetakan kesembilan, Desember 2004, Penerbit : Institute for Policy Studies, Jakarta.

   10. Majalah D&R Edisi 29/XXI/1998
       Judul “Presiden di tengah krisis”.

   11. Radio Sonora 92.00 FM

   12. Liputan Enam SCTV

   13. Seputar Indonesia RCTI
   14. GATRA Printed Edition




Situs Internet

   1. wikipedia Indonesia
   2. IndoProtest - http://members.tripod.com/~indoprotest
   3. www.Apakabar@clark.net
   4. www.kompas .com / Kompas Online.
   5. www.tempointeraktif.com
   6. poros@poboxes.com
   7. gsj@thepentagon.com
   8. http://www.Indo-News.com/
   9. http://www.detik.com/berita/199812/981217-1910.html
   10. http://www.suaramerdeka.com/harian/9803/06/nas9.htm
   11. Berita KontraS No.03/V-VI/2007 31
   12. Berita Kontras No.03/V-VI/2007 33
   13. Berita Kontras No.03/V-VI/2007 25
   14. http://www.detik.com/berita/199902/990210-1335.html
   15. http://www.gatra.com/2001-02-12/versi_cetak.php?id=3966
   16. http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
   17. apakabar@Radix.Net
   18. Jakarta IMC Editorial Group - Jakarta IMC
   19. http://www.kompas.com/kompas-cetak/9909/24/utama/dpr01.htm
   20. http://www.oposisi.com / Tabloid Oposisi / 29 Sep 1999
Sumber Foto

   1. http://jed.revolutia.info/2008_05_01_archive.html
   2. Maha Ekas Swasta
   3. Professor Barry N. Stein Michigan State University USA
   4. http://www.peacefulindonesia.com/
   5. www.library.thinkquest.org
   6. http://202.146.4.30/index.php/read/artikel/187
   7. CNN News
   8. http://lateline.muzi.net/gallery/pfg/english/1004796.shtml?pfm=10001723
   9. CHMURKI
   10. Kompas Online
   11. www.rajasidi.multiply.com
   12. Kurnia Setiawan(Famred/Untar)
   13. Site internet Forkot / admin@forumkota.org
   14. http://donbendino.multiply.com
   15. http://Photobucket.com / KM UIN Collection Foto
   16. Saptono
   17. Majalah Tempo
   18. Kompas
   19. http://www.mpbpolywad.com/
   20. http://www.triton-ammo.com/index.html
   21. google earth
   22. AP Photo/Tatan Syuflana
   23. World: Asia-Pacific Picture gallery: Violence in Jakarta
   24. Supri/Reuters
   25. AP Photo/Firdia Lisnawati
   26. http://larassejati.multiply.com/photos/album/45/Tragedi_Semanggi_
   27. http://www.bm-forkot.blogspot.com/

Thanks To : Toko Buku Delawas Tanjung Duren yang selalu mensupport dengan
memberikan diskon yang tak terkira setiap kali aku membeli buku-bukunya sebagai referensi aku
menulis.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:13493
posted:5/17/2010
language:Indonesian
pages:162