Docstoc

Provinsi Jawa Tengah

Document Sample
Provinsi Jawa Tengah Powered By Docstoc
					KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Salam Sejahtera, Pembangunan daerah merupakan bagian integral dan penjabaran dari pembangunan nasional dalam rangka pencapaian sasaran pembangunan yang disesuaikan dengan potensi, aspirasi dan permasalahan pembangunan di daerah termasuk Provinsi Jawa Tengah. Pembangunan daerah memanfaatkan sumber daya yang dimiliki untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat yang nyata, antara lain pada kesempatan kerja, lapangan berusaha, dan akses terhadap pengambilan kebijakan. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah telah memberikan kewenangan yang luas kepada pemerintah daerah untuk menentukan kebijakan dan program pembangunan yang terbaik bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan kemajuan daerah masing-masing, sesuai dengan kewenangan yang dimiliki. Namun, dengan kondisi demografis, geografis, infrastruktur, dan kemajuan ekonomi yang tidak sama, serta kapasitas sumberdaya manusia dan alam yang berbeda, maka salah satu konsekuensi logis dari pelaksanaan otonomi daerah adalah adanya perbedaan kinerja pembangunan antardaerah. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan disebutkan bahwa evaluasi adalah rangkaian kegiatan membandingkan realisasi masukan (input), keluaran (output), dan hasil (outcome) terhadap rencana dan standar. Evaluasi Kinerja Pembangunan Provinsi Jawa Tengah yang dilaksanakan oleh Tim Independen Universitas Diponegoro bertujuan memberikan masukan terhadap penyusunan rencana pembangunan di tahun-tahun yang akan datang. Evaluasi ini diawali dengan mengidentifikasi pelaksanaan pembangunan dengan memahami Rencana Srategis Provinsi Jawa Tengah 2003 – 2008 terutama agenda,sasaran, dan indikator kinerja. Langkah selanjutnya adalah pengumpulan data primer dan sekunder. Data sekunder diperoleh dari berbagai sumber seperti Badan Pusat Statistik (BPS), SKPD terkait, hasil kajian dan laporan penelitian yang relevan. Sedangkan data primer diperoleh antara lain melalui FGD (Focus Group Discussion) dengan stakeholders pembangunan daerah yang dilakukan guna mendukung dan menyempurnakan data-data sekunder yang telah dihimpun. Pada kesempatan ini kami mengucapkan terimakasih kepada Bappenas yang telah memberikan kepercayaan Tim Independen Universitas Diponegoro melaksanakan kegiatan evaluasi terhadap pelaksanaan pembangunan di Jawa Tengah. Secara khusus ucapan terimakasih juga kami sampaikan kepada SKPD terkait, Bappeda, Biro Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Tengah dan para nara sumber yang telah memberikan masukan dalam penyusunan instrumen maupun penentuan indikator evaluasi. Laporan Akhir ini jauh dari sempurna. Kritik dan saran kami harapkan untuk perbaikan. Semoga hasil evaluasi yang kami lakukan bermanfaat dalam menentukan arah pembangunan Jawa Tengah di masa yang akan datang. Semarang, Desember 2008 Rektor,

Prof.Dr.dr. Susilo Wibowo, MS. Med.Sp.And

i

DAFTAR ISI
Kata Pengantar ........................................................................................................................................ Daftar lsi ............................................................................................................................................ Bagian 1 PENDAHULUAN .............................................................................................................. Bagian 2 AGENDA MEWUJUDKAN INDONESIA YANG AMAN DAN DAMAI ........................ Bab 2.1 Pengantar Agenda Mewujudkan Indonesia Aman dan Damai ...................................... Bab 2.2 Pengembangan Kebudayaan Yang Berlandaskan pada Nilai-nilai Luhur .................... Bab 2.3 Peningkatan Keamanan, Ketertiban dan penanggulangan Kriminalitas ....................... Bab 2.4 Pencegahan dan Penanggulangan Konflik ..................................................................... Bab 2.5 Pemantapan Politik Luar Negeri dan Peningkatan Kerjasama Internasional ................ Bagian 3 AGENDA MEWUJUDKAN INDONESIA YANG ADIL DAN DEMOKRATIS ............. Bab 3.1 Pengantar Agenda Mewujudkan Indonesia Yang Adil dan Demokratis ........................ Bab 3.2 Pembenahan Sistem dan Politik Hukum ......................................................................... Bab 3.3 Penghapusan Diskriminasi Dalam Berbagai Bentuk ...................................................... Bab 3.4 Penghormatan, Pemenuhan dan Penegakan Atas Hukum dan Pengakuan Atas HAM .................................................................................................................................. Bab 3.5 Peningkatan Kualitas Kehidupan dan Peran Perempuan Serta Kesejahteraan dan Perlindungan Anak ........................................................................................................... Bab 3.6 Revitalisasi Proses Desentralisasi dan Otonomi Daerah ............................................... Bab 3.7 Pencapaian Tata Pemerintahan Yang Bersih dan Berwibawa ...................................... Bab 3.8 Perwujudan Lembaga Demokrasi Yang Makin Kokoh ................................................... Bagian 4 AGENDA MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT ...................................... Bab 4.1 Pengantar Agenda Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat ............................................. Bab 4.2 Penanggulangan Kemiskinan .......................................................................................... Bab 4.3 Peningkatan Investasi dan Ekspor Non Migas ............................................................... Bab 4.4 Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur ................................................................. Bab 4.5 Revitalisasi Pertanian ....................................................................................................... Bab 4.6 Pemberdayaan Kooperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah .............................. Bab 4.7 Peningkatan Kemampuan llmu Pengetahuan dan Teknologi ........................................ Bab 4.8 Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan .................................................................................... Bab 4.9 Pemantapan Stabilitas Ekonomi Makro .......................................................................... Bab 4.10 Pembangunan Perdesaan ............................................................................................... Bab 4.11 Pengurangan Ketimpangan Wilayah ............................................................................... Bab 4.12 Peningkatan Akses Masyarakat Terhadap Pendidikan Yang Berkualitas .................... Bab 4.13 Peningkatan Akses Masyarakat Terhadap Layanan Kesehatan Yang Lebih Berkualitas ........................................................................................................................ Bab 4.14 Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Sosial ................................................... i ii 1 9 9 12 18 25 29 35 35 38 46 52 61 75 87 94 101 101 115 128 133 138 154 162 168 175 184 192 200 210 220

ii

Bab 4.15

Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Kecil Berkualitas Serta Pemuda dan Olahraga ........................................................................................................................... Bab 4.16 Peningkatan Kualitas Kehidupan Beragama .................................................................. Bab 4.17 Perbaikan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Pelestarian Mutu Lingkungan Hidup Bab 4.18 Peningkatan Kualitas dan Aksesbilitas Pelayanan Infrastruktur .................................... Bab 4.19 Penanganan dan Pengurangan Resiko Bencana .......................................................... Bagian 5 ISU-ISU STRATEGIS DI PROVINSI JAWA TENGAH ................................................. Bab 5 Isu-Isu Strategis di Provinsi Jawa Tengah ...................................................................... Bagian 6 P E N U T U P ................................................................................................................... Bab 6 Penutup ............................................................................................................................. SUMBER DATA ......................................................................................................................................

227 246 251 261 286 294 294 295 295 302

iii

BAGIAN 1 PENDAHULUAN

BAB 1.1
Pendahuluan

I. Pentingnya Mekanisme Evaluasi Internal
Tiga tahun perjalanan Kabinet Indonesia Bersatu merupakan saat yang paling tepat untuk melakukan evaluasi atas kinerja pemerintahan dan langkah-langkah yang telah dilakukan untuk mewujudkan visi, misi, dan sasaran yang dijanjikan pada rakyat. Lebih dari separuh perjalanan pemerintahan telah dilalui dengan berbagai capaian yang dihasilkan melalui kerja keras seluruh jajaran kabinet beserta birokrasi pendukungnya. Berbagai masalah dan tantangan baik yang ringan maupun yang berat, baik yang bersumber dari sisi internal (domestik) maupun eksternal (global) telah dihadapi bersama. Perpaduan antar masalah dan tantangan dengan upaya yang telah dilakukan menghasilkan berbagai capaian atas sasaran yang dijanjikan pada awal pemerintahan. Dalam masa awal pemerintahan, telah dirumuskan RPJMN 2004-2009 yang memuat visi,misi, strategi, agenda, sasaran dan program prioritas yang dilatarbelakangi oleh berbagai permasalahan yang dihadapi pada saat pemerintahan ini terbentuk. Berbagai masalah tersebut secara ringkas dapat dikelompokkan menjadi sebelas pokok permasalahan seperti berikut ini: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Masih rendahnya pertumbuhan ekonomi mengakibatkan rendah dan menurunnya tingkat kesejahteraan rakyat dan munculnya berbagai masalah-masalah sosial mendasar. Kualitas sumber daya manusia masih rendah. Masih rendahnya kemampuan dalam mengelola sumber daya alam dan lingkungan hidup. Masih lebarnya kesenjangan pembangunan antardaerah. Masih rendahnya dukungan infrastruktur dalam pelaksanaan pembangunan. Belum tuntasnya penanganan secara menyeluruh terhadap aksi saparatisne di Nangroe Aceh Darussalam (NAD) dan Papua bagi terjaminnya integritas Negara Kesatuan Republik Indonesia. Masih tingginya kejahatan konvensional dan transisional. Masih kurangnya kemampuan, jumlah dan personel TNI serta sangat terbatasnya alutsista. Masih banyaknya peraturan perundang-undangan yang belum mencerminkan keadilan, kesetaraan, dan penghormatan serta perlidungan terhadap hak asasi manusia. 10. Rendahnya kualitas pelayanan umum kepada masyarakat. 11. Belum menguatnya pelembagaan politik lembaga penyelenggaraan negara dan lembaga kemasyarakatan.

1

Provinsi Jawa Tengah memiliki beberapa kesamaan dan keterkaitan dengan permasalahan dalam konteks nasional, namun beberapa diantaranya lebih bersifat lokal, selengkapnya permasalahan pokok yang dihadapi di Jawa Tengah adalah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Masih lemahnya struktur ekonomi Masih rendahnya pertumbuhan ekonomi Masih terdapatnya disparitas antar wilayah Belum berkembangnya investasi Masih tingginya angka pengangguran Masih banyaknya penduduk miskin Masih belum berkembangnya bidang pendidikan Pelayanan dasar kesehatan masih terbatas Belum optimalnya penanganan Penyakit Masyarakat, PMKS dan penyalahgunaan Napza

10. Masih terbatasnya infrastruktur 11. Kerusakan sumber daya alam dan lingkungan 12. Tuntutan peningkatan pelayanan publik semakin meningkat 13. Euforia penyelenggaraan otonomi daerah 14. Pelanggaran Hukum dan HAM 15. Meningkatnya kriminalitas, pekerja anak, dan eksploitasi seksual 16. Masih adanya daerah-daerah yang rawan bencana 17. Masih banyaknya balita yang mengalami gizi buruk 18. Kurang terjadi pengarusutamaan gender. Tentu setelah tiga tahun, masyarakat bertanya sejauh mana masalah-masalah tersebut telah dapat diatasi? Atau, sejauhmana masalah tersebut dapat diselesaikan dan kalau belum, bagaimana cara mencapaiannya dalam jangka waktu pemerintahan yang masih tersisa kurang dari dua tahun? Atau masalah tersebut adalah masalah struktural jangka panjang seperti peningkatan kualitas sumber daya manusia, maka tentu pertanyaannya adalah bagaimana langkah-langkah percepatan harus dipersiapkan dan dilakukan sehingga mempermudah pemerintahan selanjutnya. Untuk menjawab pertanyaan di atas tentunya harus dilakukan evaluasi yang menyeluruh terhadap strategi, program dan langkah yang diterapkan. Sebagai pemerintah yang diberi mandat langsung oleh rakyat melalui proses pemilihan umum yang sangat demokratis, evaluasi semacam ini menjadi penting sebagai bagian dari pertanggung jawaban rakyat secar terbuka. Karena itu, dengan niat yang tulus dan rasa tanggung jawab, dalam laporan ini akan dikemukakan berbagai hasil evalusi internal pemerintah. Evaluasi internal ini sangat penting karena beberapa alasan berikut ini.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

2

Pertama, evaluasi internal merupakan bagian penting dalam menciptakan good governance (tata kelola pemerintahan yang baik) yang merupakan jiwa dri proses reformasi yang telah dirintis sejak sepuluh tahun yang lalu. Good governance mensyaratkan dua unsur utama yakni transparency (keterbukaan) dan accountability (pertanggungjawaban). Keduanya mensyaratkan sebuah mekanisme evaluasi tentang kinerja dan proses implementasi dari seluruh program dan langkah yang dilakukan oleh pemerintah. Dengan adanya evaluasi yang jujur, suka rela, dan akurat dan obyektif. Sebagai bagian dari keterbukaan, maka publik harus mampu mengakses secara mudah semua hasil tersebut. Kedua, melalui sebuah proses evaluasi juga dapat dipaparkan kinerja atau berbagai kemajuan yang telah dapat dicapai. Paparan ini semakin penting karena Jawa Tengah sebagai sebuah daerah harus mampu mengukur kemampuan diri sendiri untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Ketiga, dengan tergambarkannya kemajuan yang telah dicapai maka bisa juga diukur sejauh mana gap (kesenjangan) apa yang telah dicapai tersebut dengan sasaran-sasaran yang telah disepakati dalam RPJMN di tingkat daerah tahun 2004-2009. Akan ada sasaran yang masih jauh atau sulit untuk tercapai dan adapula sasaran yang telah tercapai bahkan terlampaui. Keempat, dengan mengetahui gap antara sasaran dan pencapaian maka langkah berikut adalah melakukan identifikasi atas beberapa faktor penyebab terjadinya gap. Penyebab bisa saja berasal dari faktor-faktor eksternal yang menyebabkan sulitnya pencapaian sebuah sasaran. Salah satu contoh yang mutakhir mengenai hal ini adalah naiknya harga energi dan pangan di pasaran dunia secara drastis yang menyebabkan melemahnya daya beli masyarakat serta membawa tekanan yang amat berat terhadap kondisi APBD. Bisa juga penyebabnya adalah faktor-faktor internal (domestik) baik yang sifatnya struktural, temporer, alamiah, maupun man-made. Tentu setiap faktor membawa konsekuensi sendiri-sendiri yang menuntut langkah-langkah penyelesaian yang berbeda-beda. Dengan melakukan identifikasi sumber penyebab gap, maka dapat diketahui tingkat kompleksitas masalah dan pekerjaan rumah yang dihadapi. Kelima, langkah berikutnya tentu merumuskan berbagi langkah yang diperlukan untuk menutup gap tersebut. Bagi sasaran yang masih jauh untuk tercapai, maka perlu dirumuskan langkah-langkah yang dapat membuat kemajun secara lebih cepat, karena lebih penting adalah menjaga konsistensi kebijakan bahawa selalu ada pada arah yang benar (on the right track). Bagi sasaran yang diperkirakan akan lebih cepat bisa tercapai, maka langkah yang perlu dilakukan adalah bagaimana mempertahankan gerak (pace) dan momentum tersebut.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

3

II. Sasaran dan Prioritas RPJMN 2004-2009
Untuk mewujudkan visi dan misi RPJMN 2004-2009, telah ditetapkan 3 agenda pembangunan nasional dengan rincian program untuk masing-masing prioritas. Ketiga agenda pembangunan tersebut adalah: 1. 2. 3. Menciptakan Indonesia yang Aman dan Damai Mewujudkan Indonesia yang Adil dan Demokratis Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat Indonesia

Sebagai salah satu provinsi di Indonesia, maka Jawa Tengah juga memiliki komitmen yang kuat untuk ikut melaksanakan agenda pembangunan nasional tersebut dalam pelaksanaan pembangunan di Jawa Tengah, melalui pelaksanaan kewenangan desentralisasi, dekonsentrasi, maupun tugas pembantuan. Agenda pembangunan yang pertama yakni mewujudkan Indonesia Aman dan Damai memiliki tiga buah sasaran yang ingin dicapai. Sasaran pertama adalah Meningkatkan Rasa Aman dan Damai, dengan prioritas: (1) Peningkatan Rasa Saling Percaya dan Harmonisasi Antar Kelompok Masyarakat; (2) Pengembangan Kebudayaan yang Berlandaskan pada Nilai-nilai Luhur; (3) Peningkatan Keamanan, Ketertiban, dan Penanggulangan Kriminalitas. Sasaran Kedua, adalah Semakin Kokohnya NKRI, dengan prioritas: (1) Pencegahan dan Penanggulangan Konflik; (2) Pencegahan dan Penanggulangan Gerakan Terorisme; dan (3) Peningkatan Kemampuan Pertahanan Negara, Sasaran Ketiga adalah Semakin Berperannya Indonesia dalam Menciptakan Perdamaian Dunia, dengan prioritas Pemantapan Politik Luar Negeri dan Peningkatan Kerjasama Internasional. Dalam konteks Jawa Tengah, agenda pembangunan nasional yang pertama tersebut juga telah dijabarkan dalam langkah perencanaan dan pelaksanaan pembangunan, dengan beberapa penekanan yang spesifik sesuai kewenangan yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah Provinsi. Beberapa prioritas dari sasaran cenderung menjadi wilayah kewenangan Pemerintah sehingga Jawa Tengah tidak memiliki instrumen kebijakan yang dirancang khusus untuk pembangunan bidang tersebut, misalnya terkait dengan pencegahan dan penanggulangan gerakan terorisme; dan peningkatan kemampuan pertahanan negara. Selengkapnya agenda pembangunan nasional yang pertama, “Mewujudkan Indonesia Aman dan Damai”, dilaksanakan di Jawa Tengah dengan prioritas pada: (1) Pengembangan Kebudayaan yang Berlandaskan Pada Nilai-Nilai Luhur; (2) Peningkatan Keamanan, Ketertiban, dan Penanggulangan Kriminalitas; (3) Pencegahan dan Penanggulangan Konflik; (4) Pemantapan Politik Luar Negeri dan Peningkatan Kerjasama Internasional.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

4

Agenda Pembangunan yang kedua yakni Mewujudkan Indonesia yang Adil dan Demokratis memiliki lima sasaran sebagai berikut. Sasaran pertama adalah Meningkatnya Keadilan dan Penegakan Hukum, dengan prioritas: (1) Pembenahan Sistem Hukum Nasional dan Politik Hukum; (2) Penghapusan Diskriminasi dalam Berbagai Bentuk, dan (3) Penghormatan, Pemenuhan, dan Penegakan atas Hukum dan Pengakuan atas Hak Asasi Manusia. Sasaran Kedua adalah Terjaminnya Keadilan Gender, dengan prioritas: Peningkatan Kualitas Kehidupan dan Peran Perempuan serta Kesejahteraan dan Perlindungan Anak. Sasaran Ketiga adalah meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dengan menyelenggarakan otonomi daerah dan kepemerintahan yang baik, dengan prioritas: Revitalisasi Proses Desentralisasi dan Otonomi Daerah. Sasaran Keempat adalah Meningkatnya Pelayanan Birokrasi kepada Masyarakat, dengan prioritas: Penciptaan Tata pemerintahan yang Bersih dan Berwibawa. Sasaran Kelima adalah Terlaksananya Pemilihan Umum tahun 2009, dengan prioritas: Perwujudan Lembaga Demokrasi yang Makin Kokoh. Agenda pembangunan nasional yang kedua secara keseluruhan, baik sasaran maupun prioritasnya dapat dilaksanakan dalam konteks perencanaan dan pelaksanaan pembangunan di Provinsi Jawa Tengah. Perencanaan dan pelaksanaan tersebut tentunya dikaitkan dengan kewenangan yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah Provinsi, artinya secara substansial dilakukan beberapa penyesuaian, misalnya pembenahan sistem hukum dalam konteks daerah. Selengkapnya agenda pembangunan nasional yang kedua, “Mewujudkan Indonesia yang Adil dan Demokratis” dilaksanakan dengan prioritas pada: (1) Pembenahan Sistem dan Politik Hukum; (2) Penghapusan Diskriminasi dalam Berbagai Bentuk; dan (3) Penghormatan, Pengakuan, dan Penegakan atas Hukum dan Pengakuan atas Hak Asasi Manusia; (4) Peningkatan Kualitas Kehidupan dan Peran Perempuan serta Kesejahteraan dan Perlindungan Anak; (5) Revitalisasi Proses Desentralisasi dan Otonomi Daerah; (6) Pencapaian Tata Pemerintahan yang Bersih dan Berwibawa; (7) Perwujudan Lembaga Demokrasi yang Makin Kokoh. Agenda yang ketiga yakni meningkatkan kesejahteraan masyarakat memiliki lima sasaran sebagai berikut. Sasaran pertama adalah menurunnya jumlah penduduk miskin menjadi 8,2 persen pada tahun 2009, serta terciptanya lapangan kerja yang mampu mengurangi pengangguran terbuka menjadi 5,1 persen pada tahun 2009 dengan didukung oleh stabilitas ekonomi yang terjaga, dengan prioritas: (1) Penanggulangan Kemiskinan; (2) Peningkatan Investasi dan Ekspor Non Migas; (3) Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur; (4) Revitalisasi Pertanian; (5) Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Mengengah; (6) Peningkatan Pengelolaan BUMN; (7) Peningkatan Kemampuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi; (8) Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan, (9) dan Pemantapan Stabilitas Ekonomi Makro. Sasaran Kedua adalah Berkurangnya Kesenjangan Antarwilayah dengan prioritas: (1) Pembangunan Perdesaan, dan (2) Pengurangan Ketimpangan Pembangunan Wilayah. Sasaran ketiga adalah Meningkatnya Kualitas Manusia secara Menyeluruh, dengan prioritas: (1) Peningkatan Akses masyarakat terhadap Pendidikan yang

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

5

Berkualitas; (2) Peningkatan Layanan Masyarakat Terhadap Kesehatan yang Berkualitas; (3) Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Sosial; (4) Pembangunan Kependudukan , dan keluraga Kecil Berkualitas serta Pemuda dan Olah raga; (5) Peningkatan Kualitas Kehidupan Beragama. Sasaran Keempat adalah Membaiknya Mutu Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Sumber Daya Alam yang mengarah pada pengarusutamaan (mainstreaming) prinsip pembangunan berkelanjutan di seluruh sektor dan bidang pembangunan, dan prioritas: Perbaikan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Pelestaraian Mutu Lingkungan Hidup. Sasaran kelima adalah membaiknya infrastruktur, Peningkatan dan Aksesibilitas ke Jasa Pelayanan dan Peningkatan Kapasitas, Kualitas, dan jangkauan Pelayanan. Pada agenda pembangunan nasional yang ketiga, Provinsi Jawa Tengah juga melakukan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan yang relevan dengan substansi yang diharapkan. Agenda pembangunan nasional yang ketiga ini memang sangat terkait dengan kebutuhan masyarakat di Jawa Tengah, karena menyangkut beberapa hal yang sangat substansial, seperti: pembangunan perekonomian, pembangunan kewilayahan, pembangunan sumber daya manusia, pelestarian lingkungan hidup, dan pembangunan infrastruktur. Agenda pembangunan nasional yang ketiga, “Agenda Mewujudkan Indonesia yang Adil dan Demokratis”, dilaksanakan di Jawa Tengah dengan prioritas pada: (1) Penanggulangan Kemiskinan; (2) Peningkatan Investasi dan Ekspor Non Migas; (3) Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur; (4) Revitalisasi Pertanian; (5) Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Mengengah; (6) Peningkatan Kemampuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi; (8) Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan; (10) dan Pemantapan Stabilitas Ekonomi Makro; (11) Penanggulangan Pedesaan; (12) Pengurangan Ketimpangan Wilayah; (13) Peningkatan Akses Masyarakat Terhadap Pendidikan yang Berkualitas; (14) Peningkatan Layanan Masyarakat Terhadap Kesehatan yang Berkualitas; (15) Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Sosial; (16) Pembangunan Kependudukan , dan keluraga Kecil Berkualitas serta Pemuda dan Olah raga; (17) Peningkatan Kualitas Kehidupan Beragama; (18) Perbaikan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Pelestaraian Mutu Lingkungan Hidup; (19) Peningkatan Kualitas dan Aksesibilitas Pelayanan Infrastruktur; (20) Penanganan dan Pengurangan Resiko Bencana.

III. Sistematika dan Ringkasan Hasil Evaluasi
Laporan evaluasi ini dibagi dalam lima bagian dimana bagian pertama adalah pendahuluan dan bagian terakhir adalah penutup. Bagian kedua membahas agenda Menciptakan Aman dan Damai. Bagian ketiga mendiskusikan agenda Mewujudkan Indonesia yang Adil dan Demokratis, serta bagian keempat mengetengahkan agenda Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat indonesia. Bagian ini merupakan inti dari Laporan ini yaitu membahas hasil evaluasi atas tiga genda pembangunan.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

6

Sistematika evaluasi yang digunakan dalam laporan ini setidaknya berisi tiga hal utama sebagai berikut ini. Pertama, dalam setiap bab – dari Bab 2.2 sampai dengan bab 4.20 – didahului dengan pemaparan mengenai kondisi awal, sasaran yang ingin dicapai, dan kegiatan prioritas yang akan dilakukan. Didalamnya dijelaskan sasaran indikatif yang bersifat kuantitatif dan kualitatif bersama dengan tahpan-tahapan pencapaiannya. Kedua, diuraikan sejauhmana sasaran telah mampu dicapai beserta langkah-langkah yang telah dilakukan. Pada dasarnya yang dilakukan adalah gap analisys yakni berupaya membandingkan antara yang ingin dicapai dengan yang telah dilakukan atau telah dicapai. Ketiga, setiap bab ditutup dengan langkah-langkah selanjutnya yang perlu dilakukan. Bagi capian yang dianggap sepenuhnya belum memenuhi target, maka langkah yang harus dilakukan adalah bagaimana melakukan akselerasi supaya capaian pada tahun 2009 nanti setidaknya lebih mendekati sasarannya. Bagi capaian yang sudah melampaui sasaran, atau setidak-tidaknya telah memenuhi sasaran, maka yang harus dilakukan adalah mempertahankan kinerja pencapian yang kurang lebih sama atau bahkan lebih baik hingga tahun 2009 nanti. Secara umum bisa dikatakan bahwa pencapaian atas tiga agenda pembangunan 2004-2009 belum memenuhi harapan yang diinginkan namun telah berada dalam arah yang benar (on the right track). Agenda pertama telah cukup mampu dilaksanakan dengan baik terbukti dengan terbangunnya situasi dan kondisi Jawa Tengah yang kondusif dalam melaksanakan pembangunan dan kehidupan bermasyarakat, terjaga dan berkembangnya kebudayaan berbasis pada nilai-nilai luhur bangsa, berkurangnya angka kriminalitas dan konflik sehingga tercipta keamanan dan ketertiban, serta meningkatkan hubungan kerjasama internasional antara Provinsi Jawa Tengah dengan berbagai pemerintah daerah di luar negeri. Agenda kedua cukup mampu membawa seluruh masyarakat Jawa Tengah pada kemajuan yang berarti. Tentu yang paling penting adalah meletakkan tonggak-tonggak kehidupan masyarakat secara konsisten dan teratur, dari waktu ke waktu, dalam mewujudkan Jawa Tengah yang aman, damai, adil, dan demokratis serta sejahtera. Saat ini keamanan, kedamaian, keadilan, dan demokrasi telah menjadi lebih baik dibanding tiga tahun yang lalu. Begitupun dimasa yang akan datang, hal tersebut harus ditingkatkan dan dipelihara secara terus menerus. Agenda yang Ketiga yaitu meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia, harus diakui merupakan tantangan yang terberat. Sasaran pencapaian di tahun 2009 untuk tingkat kemiskinan dan tingkat pengangguran walaupun telah terjadi penurunan namun masih lebih tinggi dari sasaran yang akan dicapai. Perkembangan terakhir menunjukkan angka kemiskinan dan pengangguran dapat diturunkan dalam kecepatan yang lebih tinggi dalam dua tahun terakhir ini. Sasaran lainnya berupa pertumbuhan ekspor dan investasi selama tiga tahun terakhir ini sudah berada di atas rata-rata target pencapian. Walaupun demikian, upaya untuk terus

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

7

memanfaatkan momentum pertumbuhan ekspor dan impor merupakan tugas berat mengingat kondisi eksternall (globalisasi) di masa sekarang dan ditahun-tahun mendatang tampaknya akan menjadi lebih berat dan penuh dengan ketidakpastiannya menyusul terjadinya krisis ekonomi baru secara global. Pencapaian atas sasaran lain dalam agenda yang ketiga, yakni berkurangnya kesenjangan antar daerah, peningkatan kualitas manusia, membaiknya mutu lingkungan hidup dan pengelolaan sumber daya alam, serta membaiknya infrastruktur setidak-tidaknya telah sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

8

BAGIAN 2 AGENDA MEWUJUDKAN INDONESIA YANG AMAN DAN DAMAI

BAB 2.1
Pengantar Agenda Mewujudkan Aman dan Damai

Berkaitan dengan Agenda Mewujudkan Indonesia yang Aman dan Damai, disusun 3 (tiga) sasaran pokok dengan prioritas dan arah kebijakan sebagai berikut. Sasaran pertama adalah meningkatnya rasa aman dan damai tercermin dari menurunnya ketegangan dan ancaman konflik antarkelompok maupun golongan masyarakat; menurunnya angka kriminalitas secara nyata di perkotaan dan pedesaan; serta menurunnya secara nyata angka perampokan dan kejahatan di lautan dan penyelundupan lintas batas. Untuk mencapai sasaran tersebut, prioritas pembangunan nasional tahun 2004-2009 diletakkan pada: 1. Pengembangan Kebudayaan yang Berlandaskan pada Nilai-Nilai Luhur Kebijakan yang diarahkan untuk pengembangan kebudayaan yang berlandaskan pada nilai-nilai luhur: (1) mendorong terciptanya wadah yang terbuka dan demokratis bagi dialog kebudayaan agar benturan-benturan yang terjadi tidak melebar menjadi konflik sosial; (2) mendorong tuntasnya proses modernisasi yang dicirikan dengan terwujudnya Negara kebangsaan Indonesia modern yang berkelanjutan, dan menguatnya masyarakat sipil; (3) revitalisasi nilai-nilai kearifan lokal sebagai salah satu dasar pengembangan etika pergaulan sosial untuk memperkuat identitas nasional; serta (4) meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap budaya dan produk-produk dalam negeri. Keberagaman seni dan budaya di Jawa Tengah merupakan modal dasar pembangunan bagi pengembangan pariwisata dan bidang kebudayaan itu sendiri. Potensi tersebut perlu digarap intensif sesuai dengan karakteristik daerah sehingga nantinya dapat memperkaya khasanah budaya daerah yang akhirnya dapat memberikan kontribusi serta mendukung pengembangan sektor pariwisata. Dalam rangka pembinaan budaya di tingkat sekolah, Jawa Tengah telah mencoba menerapkan kurikulum bahasa Jawa sebagai mata pelajaran muatan lokal pada jenjang SD/MI/, SMP/MTs dan SMA/MA/SMK. Selain itu surat keputusan Gubernur Jawa Tengah nomor 434/83/2006 tentang Penggunaan Bahasa Jawa di Lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sebagai komitmen untuk mendukung pelestarian bahasa dan budaya daerah. Beberapa hal yang telah dicapai dalam bidang kebudayaan antara lain pelestarian benda-benda cagar budaya, konservasi dan pembangunan kawasan situs, berkembangnya jumlah Perpustakaan

9

Daerah maupun Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Terselenggaranya pergelaran seni di kabupaten/kota, bantuan subsidi bagi organisasi Kesenian di kabupaten/kota se Jawa Tengah, serta terselenggaranya kegiatan Pekan Seni untuk pelajar dari tingkat SD, SLTP, dan SLTA. 2. Peningkatan Keamanan, Ketertiban, dan Penanggulangan Kriminalitas Upaya peningkatan keamanan, ketertiban, dan penanggulangan kriminalitas adalah dengan menegakkan hukum dengan tegas, adil, dan tidak diskriminatif; meningkatkan kemampuan lembaga keamanan negara; meningkatkan peran serta masyarakat untuk mencegah kriminalitas dan gangguan keamanan dan ketertiban di lingkungannya masing-masing, menanggulangi dan mencegah tumbuhnya permasalahan yang berkaitan dengan penggunaan dan penyebaran narkoba, meningkatkan kesadaran akan hak-hak dan kewajiban hukum masyarakat, serta memperkuat kerjasama internasional untuk memerangi kriminalitas dan kejahatan lintas negara. Situasi dan kondisi wilayah Jawa Tengah relatif stabil dan dinamis, meskipun demikian tidak boleh mengabaikan adanya situasi yang terjadi dalam skala nasional. Karena pada dasarnya pekembangan situasi yang terjadi di daerah lebih diwarnai oleh gesekan politik ditingkat nasional yang berdampak pada situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di daerah. Sasaran kedua adalah semakin kokohnya NKRI berdasarkan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika yang tercermin dari tertanganinya tindakan-tindakan yang ingin memisahkan diri dari NKRI; meningkatnya daya cegah dan tangkal negara terhadap ancaman bahaya terorisme bagi tetap tegaknya kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia baik dari ancaman dalam maupun luar negeri. Untuk mencapai sasaran tersebut, prioritas pembangunan nasional tahun 2004-2009 diletakkan pada: 1. Pencegahan dan Penanggulangan saparatisme terutama di Aceh dan Papua dengan kebijakan yang akan dilakukan secara komprehensif termasuk menindak secara tegas aksi separatisme dengan tetap menghormati hak-hak masyarakat sipil. 2. Pencegahan dan penanggulangan gerakan terorisme yang diarahkan untuk menyusun dan menerapkan kerangka hukum antiterorisme yang efektif, meningkatkan kemampuan dan kapasitas kelembagaan antiterorisme, membangun kemampuan menangkal dan menanggulangi terorisme serta memantapkan operasional penanggulangannya; dan meningkatkan kerjasama untuk memerangi terorisme. 3. Peningkatan kemampuan pertahanan negara yang diarahkan untuk meningkatkan profesionalisme TNI dalam modernisasi peralatan pertahanan negara dan mereposisi peran TNI dalam kehidupan sosialpolitik, mengembangkan secara bertahap dukungan pertahanan, serta meningkatkan kesejahteraan prajurit.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

10

Belum berfungsinya deteksi dini dan pencegahan awal separatisme. Terbukti pada tahun 2005 terdapat kasus unjuk rasa 534 kali, yaitu unjuk rasa mengenai masalah politik 209 kali, masalah ekonomi 147 kali, masalah sosial budaya 80 kali, pendidikan 14 kali, dan kamtibmas 24 kali. Skala separatisme yang telah membesar menyulitkan penanganan separatisme sehingga membutuhkan penanganan dalam waktu yang lama. Aksiaksi separatisme yang membesar tersebut adalah salah satu bukti kelambatan antisipasi dan minimnya upaya pencegahan serta penanganan awal potensi separatisme. Sasaran ketiga adalah semakin berperannya Indonesia dalam menciptakan perdamaian dunia. Untuk itu, prioritas pembangunan diletakkan pada Peningkatan politik luar negeri dan kerjasama internasional dengan kebijakan yang diarahkan untuk meningkatkan kualitas diplomasi Indonesia dalam rangka memperjuangkan kepentingan nasional; melanjutkan komitmen Indonesia terhadap pembentukan identitas dan pemantapan integrasi regional khususnya di ASEAN; serta melanjutkan komitmen Indonesia terhadap upaya-upaya pemantapan perdamaian. Stabilitas dan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah tidak dapat dilepaskan dari pengaruh lingkungan global. Era globalisasi yang dipacu oleh perubahan-perubahan teknologi terutama dibidang komunikasi dan transportasi ternyata membuat dunia semakin sempit. Kemudahan-kemudahan teknologi transportasi dan komunikasi tersebut telah mengakibatkan semakin intensifnya transaksi-transaksi para pelaku ekonomi antar negara. Kemudahan-kemudahan ini merupakan peluang bagi Jawa Tengah untuk memperluas pasar, melakukan kerjasama investasi, membangun jaringan kerjasama yang lebih luas dengan masyarakat internasional, sehingga akan meningkatkan kapasitas Jawa Tengah. Sistem pasar bebas yang dianut oleh sebagian besar negara dunia, dan sistem pemerintahaan Daerah berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999, lebih memberikan peluang pada Provinsi Jawa Tengah untuk melakukan kerjasama langsung antar Provinsi di Luar Negeri, maupun antara Provinsi Jawa Tengah dengan dunia bisnis dari luar negeri. Dengan kerjasama-kerjasama yang berskala internasional tersebut diharapkan akses pasar dari pengusaha-pengusaha Jawa Tengah menjadi semakin luas. Dengan munculnya AFTA dan semakin berkembangnya ekonomi China, Korea Selatan dan Vietnam, maka akan lebih terbuka kemungkinan untuk membangun aliansi yang saling menguntungkan dengan daerah-daerah di negaranegara tersebut. Perjanjian-perjanjian imbal beli dengan Provinsi dari negara-negara tetangga tersebut akan semakin terbuka. Demikian juga pertukaran tenaga ahli, pertukaran teknologi antar Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi di negara-negara tetangga akan memberikan dampak sinergi positif bagi perkembangan Jawa Tengah.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

11

BAB 2.2
Pengembangan Kebudayaan yang Berlandaskan pada Nilai-nilai Luhur

I. Pengantar
Bangsa Indonesia dikenal oleh masyarakat internasional sebagai bangsa yang memiliki karakteristik budaya khas “ketimuran” yaitu bangsa yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai moral, sopan-santun, ramah, berbudipekerti halus, serta agamis. Dewasa ini karakter positif khas “ketimuran” ini mengalami ancaman yang sangat berat yaitu dihadapkan pada kondisi dimana kadar nilai moral melemah, krisis jatidiri dan kepribadian pada sebagian masyarakat. Keadaan ini menjadikan kebudayaan (seni-budaya) yang memiliki fungsi utama dan sifatnya kodrati, menempati peran strategis dalam membangun bangsa dan negara yaitu menggarap sisi nilai rohani kemanusiaan. Perkembangan masyarakat yang sangat cepat sebagai akibat dari globalisasi dan pesatnya kemajuan teknologi komunikasi dan informasi membutuhkan penyesuaian tata nilai dan perilaku. Dalam suasana dinamis tersebut, pengembangan kebudayaan diharapkan dapat memberikan arah bagi perwujudan identitas nasional yang sesuai dengan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Di samping itu pengembangan kebudayaan dimaksudkan untuk menciptakan iklim kondusif dan harmonis sehingga nilai-nilai kearifan lokal akan mampu merespon modernisasi secara positif dan produktif sejalan dengan nilai-nilai kebangsaan. Dalam rangka pengembangan kebudayaan, Provinsi Jawa Tengah telah melakukan pelestarian benda cagar budaya, konservasi dan pembangunan kawasan situs, berkembangnya jumlah perpustakaan daerah maupun Taman Bacaan Masyarakat (TBM).

II. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah
Pengembangan kebahasaan dan kesusastraan di Jawa Tengah telah dirintis beberapa tahun yang lalu. Penyelenggaraan kongres Bahasa Jawa pada tahun 2006 merupakan bukti bahwa pelestarian kebahasaan dan kesusastraan memperoleh perhatian yang cukup dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Jumlah lembaga pemerhati bahasa dan sastra daerah tahun 2006 sebanyak 16 lembaga, sedangkan lembaga pelestarian dan pengembangan Bahasa Indonesia sebanyak 14 lembaga.

12

Pada tahun 2007 jumlah perpustakaan desa/kelurahan berjumlah 1.276 unit dan 937 unit dalam kondisi kurang baik, sedangkan perpustakaan sekolah berjumlah 26.849 unit, dan 733 dalam kondisi rusak berat, 997 rusak sedang dan 3.436 rusak ringan. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah melakukan pembinaan kesenian dan kebudayaan daerah antara lain pentas kesenian tradisional seperti wayang kulit, lomba thekthek, pentas seni siswa dan masyarakat, bengkel seni, dan sebagainya. Untuk membina tradisi peninggalan sejarah dan permuseuman Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah menyelenggarakan kegiatan ritual 1 Muharam dan tradisi Sedekah Laut di berbagai daerah dan lomba cerita rakyat. Selain itu, telah melaksanakan kegiatan konservasi pendataan dan teknis tata penyajian koleksi dan sarana museum, pemugaran dan konservasi benda cagar budaya. Sampai tahun 2007 jumlah cagar budaya yang terdokumentasi di 35 kabupaten/kota sejumlah 1.076 lokasi. Selain itu, Jawa Tengah memiliki situs peninggalan sejarah seperti situs kepurbakalaan di Sangiran Sragen, Taman wisata Borobudur dan Prambanan serta beberapa museum daerah yang terdokumentasi 1.810 lokasi yang tersebar didaerah. Sebagai wujud dari keberagaman budaya, Jawa Tengah memiliki kelompok masyarakat penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang bejumlah 205 organisasi. Dari jumlah tersebut sebanyak 96 organisasi (46,34 persen) telah mendapat pembinaan oleh pemerintah, berupa sumbangan bagi penyelenggaraan kegiatan penghayatan kepercayaan terhdap Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian masih terdapat 53,66 persen atau 110 organisasi yang belum dibina pemerintah. Dari uraian di atas, maka pembangunan bidang kebudayaan di Provinsi Jawa Tengah masih dihadapkan pada beberapa permasalahan, antara lain: (1) Kurang optimalnya fasilitasi apresiasi dan pengembangan bahasa serta sastra daerah dan Indonesia; (2) Kurangnya pendayagunaan dan pengembangan perpustakaan serta media penyiaran pendidikan dan kebudayaan; (3) Kurang optimalnya apresiasi karya seni budaya daerah; (4) Kurang optimalnya upaya penyelamatan dan pemanfaatan benda cagar budaya sebagai asset peninggalan sejarah; (5) Rendahnya perhatian terhadap pelestarian budaya spiritual.

III. Sasaran yang Ingin Dicapai
Sasaran pengembangan kebudayaan yang berlandaskan pada nilai-nilai luhur di Provinsi Jawa Tengah adalah: 1. Terwujudnya pengembangan bahasa dan sastra daerah serta pendayagunaan perpustakaan sebagai pusat informasi pengetahuan. 2. Terwujudnya pengembangan dan pelestarian kesenian dan nilai-nilai budaya.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

13

3. Terwujudnya pembinaan serta pelestarian tradisi, peninggalan sejarah dan permuseuman. 4. Terwujudnya pembinaan kepada organisasi dan penghayatan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

IV. Arah Kebijakan
Arah kebijakan pengembangan kebudayaan yang berlandaskan pada nilai-nilai luhur di Provinsi Jawa Tengah adalah: 1. Meningkatkan apresiasi pengembangan bahasa dan sastra Daerah/Indonesia; 2. Meningkatkan pengembangan dan pendayagunaan perpustakaan dan media penyiaran pendidikan dan kebudayaan; 3. Mengembangkan apresiasi dan karya seni budaya daerah; 4. Meningkatkan upaya penyelamatan dan pemanfaatan benda cagar budaya sebagai aset peninggalan sejarah; 5. Meningkatkan pembinaan organisasi dan penganut penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME.

V. Pencapaian RPJMN di Daerah (2005-2007) 5.1 Upaya yang Dilakukan HIngga Tahun 2007 1.
Pengembangan Kebahasaan, Kesusasteraan dan Kepustakaan Dalam upaya Pengembangan Kebahasaan, Kesusasteraan dan Kepustakaan hasil yang telah dicapai sampai tahun 2007 antara lain :

a. Telah dilakukan pengadaan bahan pustaka untuk daerah binaan SD, SLTP, SMA, dan PT. Pada
tahun 2004 dilakukan pengadaan sebanyak 17.480 eks. Kemudian pada tahun 2005 menjadi 40.000 eks dan tahun 2006 menjadi 60.000 eks.

b. Selain itu juga telah dilaksanakan kegiatan pembinaan teknis bagi pustakawan, dan workshop
pembinaan teknis produksi media audio visual dan media pembelajaran.

2.

Pembinaan Kesenian dan Nilai-nilai Budaya Program ini untuk mendorong, mengembangkan dan memelihara nilai-nilai luhur budaya bangsa serta meningkatkan kualitas seni budaya daerah. Dalam upaya Pembinaan Kesenian dan Nilai-nilai Budaya hasil yang telah dicapai sampai tahun 2007 antara lain: Apresiasi terhadap kesenian dan para pelaku kesenian didaerah diwujudkan dengan adanya festival budaya daerah secara rutin setiap tahun, serta pemberian bantuan kepada para seniman Jawa Tengah sebanyak 70 orang seniman/tahun selama tahun 2004 hingga 2006.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

14

3.

Pembinaan Tradisi, Peninggalan Sejarah dan Permuseuman Program ini untuk menyelamatkan, melestarikan dan mengembangkan serta mendayagunakan kebudayaan daerah yang bersumber dari warisan budaya bangsa. Dalam upaya Pembinaan Tradisi, Peninggalan Sejarah dan Permuseuman hasil yang telah dicapai sampai tahun 2007 antara lain:

a. b. c.

Kegiatan penyuluhan tenaga Pembina kesejarahan dan nilai tradisional dengan sasaran sebanyak 120 tenaga Pembina/tahun Lomba penulisan sejarah kepahlawanan yang diselenggarakan pada tahun 2005 dan 2006 dan masing-masing diikuti oleh 30 peserta. Transliterasi buku bahasa Jawa yang dilaksanakan pada tahun 2005 sebanyak 3.500 buku dan pada tahun 2006 sejumlah 3.500 buku bahasa Jawa.

4.

Pembinaan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Program ini untuk meningkatkan pembinaan kepada organisasi dan penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai budaya spiritual dan tidak mengarah pada pembentukan agama baru. Dalam upaya Pembinaan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa hasil yang telah dicapai sampai tahun 2007 antara lain:

1. 2.

Sarasehan penghayatan, bimbingan keorganisasian Bantuan pembinaan organisasi penghayatan.

5.2 Posisi Capaian hingga Tahun 2007
Posisi capaian hingga tahun 2007 dalam pengembangan kebudayaan yang berlandaskan pada nilai-nilai luhur adalah: 1. Berbagai langkah pembinaan pengembangan kebahasaan dan kesusastraan yang dilakukan selama ini belum menunjukan hasil yang maksimal diindikasikan penggunaan Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa yang baik dan benar belum menjadi perilaku keseharian masyarakat Jawa Tengah. 2. Pembinaan kesenian dan kebudayaan daerah menjadi tidak optimal karena tidak didukung dengan pemahaman dan apresiasi masyarakat terhadap kesenian daerah serta kuatnya pengaruh budaya luar negeri (asing) terhadap budaya daerah. 3. Upaya untuk meningkatkan kulitas layanan perpustakaan serta media penyiaran pendidikan dan kebudayaan, melalui bahan pengadaan kepustakaan untuk daerah binaan SD, SLTP, SMA, dan PT dari tahun 2003-2006 menunjukan peningkatan signifikan.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

15

4. Tahun 2007, langkah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam rangka pembinaan dan pengembangan perpustakaan yang diupayakan dengan sarana dan prasarana hasilnya belum optimal karena masih terbatasnya akses/keterjangkauan serta rendahnya minat baca masyarakat. 5. Upaya pelestarian tradisi dan peninggalan sejarah juga dapat dilakukan melalui penulisan buku-buku pendokumentasian melalui media audio visual mengenai berbagia kesenian dan tradisi yang ada di kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah karena setiap kabupaten/kota memiliki kebudayaan yang belum dikenal secara luas, sehingga selain sebagai upaya pelestrian dan dokumentasi kebudayaan, juga dapat berfungsi sebagai sarana pendidikan bagi generasi muda untuk mengenali kebudayaan daerah serta sebagia media memperkenalkan Jawa Tengah dikancah yang lebih luas.

5.3 Permasalahan Pencapaian Sasaran
Permasalahan pencapaian sasaran dalam pengembangan kebudayaan yang berlandaskan pada nilai-nilai luhur adalah: 1. Program pengembangan kebahasaan dan kesusastraan belum mendapat perhatian yang serius sehingga tidak nampak kegiatan yang nyata dalam upaya pengembangan tersebut. 2. Kegiatan pembinaan peninggalan sejarah dan permuseuman belum didukung oleh kesadaran masyarakat untuk menjaga kelestarian benda-benda cagar budaya. 3. Upaya pelestarian tradisi dan peninggalan sejarah kebudayaan yang belum dikenal secara luas.

VI. Tindak Lanjut
Upaya yang dilakukan untuk mencapai sasaran dalam pengembangan kebudayaan yang berlandaskan pada nilai-nilai luhur adalah: 1. Menambah jumlah dan judul bahan pustaka untuk daerah binaan SD, SLTP, SMA, dan PT. 2. Kerjasama dengan media lokal (radio, televisi, surat kabar) untuk meningkatkan penyebarluasan bahasa dan sastra daerah melalui acara pembinaan kesenian dan nilai-nilai budaya serta pembinaan tradisi juga perlu lebih diintensifkan dengan upaya pelestarian berbagai tradisi lokal yang ada dimasing-masing daerah dengan kegiatan yang nyata. 3. Pemerintah perlu lebih merangkul para praktisi, pemerhati maupun para akademisi yang concern terhadap masalah kesenian, kebudayaan dan tradisi sehingga dapat dipetakan kondisi dan potensi kesenian dan kebudayaan yang ada melalui berbagai pendekatan sejarah mapun antropologi maupun pendekatan sosial lainnya.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

16

4. Pelestarian dan pengembangan kesenian daerah dengan merangkul kelompok-kelompok kesenian di daerah, serta para pemerhati dan akademisi yang memiliki concern dengan kebudayaan dan kesenian lokal. 5. Peningkatan pemberian bantuan bagi para seniman dan pekerja seni lainnya, baik dari jumlah nominal maupun penerimaannya. 6. Penulisan buku-buku dan pembuatan film dokumenter/media audio visual mengenai berbagia kesenian dan tradisi yang ada dikabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah. 7. Menggandeng instansi terkait seperti Museum dan Badan Arsip Daerah untuk mengadakan kegiatan kunjungan dan pelatihan mengenai pemanfaatan koleksi museum dan Badan Arsip Daerah yang dikaitkan dengan persoalan kekinian. 8. Perlu juga diangkat keterlibatan tokoh lokal dan kebijaksanaan lokal (local wisdom) mengingat kemunculan tradisi biasa melibatkan peranan tokokh lokal. 9. Pembinaan penghayatan kepercayaan perlu lebih diintensifkan sehingga dapat menjadi khasanah kebudayaan yang memperkaya daerah, dan agar tidak mengarah pada terbentuknya agama baru yang dapat menimbulkan gejolak di masyarakat.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

17

BAB 2.3
Peningkatan Keamanan, Ketertiban, dan Penanggulangan Kriminalitas

1. Pengantar
Situasi dan kondisi di wilayah Provinsi Jawa Tengah relatif stabil dan dinamis, meskipun demikian tidak boleh mengabaikan adanya situasi yang terjadi dalam skala nasional. Karena pada dasarnya pekembangan situasi yang terjadi di daerah lebih diwarnai oleh gesekan politik ditingkat nasional yang berdampak pada situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di daerah. Gangguan keamanan secara umum masih dalam tingkat terkendali, meskipun demikian terdapat perkembangan variasi kejahatan dan aktualisasi konflik horisontal serta peningkatan indeks kriminalitas di sekitar wilayah konflik yang meresahkan dan berakibat pada pudarnya rasa aman masyarakat. Berbagai gangguan keamanan di wilayah Indonesia tersebut yang belum dapat diimbangi dengan penuntasan penanganan oleh penegak hukum dapat melemahkan rasa kepercayaan masyarakat terhadap institusi pemerintahan secara keseluruhan. Di Provinsi Jawa Tengah untuk penanganan berbagai tindak kriminal seperti penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika dan obat-obatan terlarang (Narkoba) pada tahun 2005 sebanyak 2.229 orang dan pada tahun 2006 naik menjadi 2.638 orang, dan illegal logging pada tahun 2006 sebanyak 36.802 batang serta berbagai tindak kriminalitas lainnya secara kuantitas maupun kualitas belum menunjukkan perbaikan. Tetapi upaya tersebut akan terus dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan agar kondisi aman dan tertib dapat semakin diwujudkan.

2. Kondisi Awal RPJM-N di Tingkat Daerah
Kriminalitas merupakan ancaman nyata bagi terciptanya masyarakat yang aman, tenteram dan damai. Meningkatnya indeks kriminalitas dari 9.898 kasus pada tahun 2005, 13.466 kasus pada tahun 2006 menjadi 13.634 kasus pada tahun 2007 harus diwaspadai dan diantisipasi oleh aparat keamanan dalam meningkatkan kinerjanya agar dapat memberikan jaminan keamanan bagi masyarakat.

18

Pembangunan di bidang keamanan dan ketertiban masyarakat menghadapi tantangan yang cukup berat, terutama dalam hal menghadapi ancaman stabilitas dan tuntutan perubahan serta dinamika perkembangan masyarakat yang begitu cepat, seiring dengan perubahan sosial politik yang membawa implikasi pada segala bidang kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat di daerah. Permasalahan yang dihadapi dalam pembangunan keamanan dan ketertiban masyarakat saat ini, adalah: (1) Belum optimalnya jaminan rasa aman dan tenteram bagi masyarakat; (2) Masih dijumpainya gangguan kriminal dan konflik sosial di masyarakat; (3) Adanya kecenderungan menurunnya semangat nasionalisme persatuan dan kesatuan bangsa pada sebagian masyarakat; (4) Relatif menurunnya pemahaman dan penghayatan Pancasila sebagai ideologi negara. Potensi yang dimiliki untuk mewujudkan stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat, adalah: (1) Terpeliharanya situasi yang kondusif bagi penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah; (2) Tersedianya segenap komponen potensi masyarakat yang memiliki kemampuan rakyat terlatih (Ratih) dan perlindungan masyarakat (Linmas). Sedangkan maraknya peredaran dan penyalahgunaan narkoba merupakan ancaman serius bagi kelangsungan hidup bangsa. Sebagian besar yaitu sekitar 90 persen dari 2 (dua) juta pecandu narkoba adalah generasi muda. Di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2005 terdapat 2.229 orang yang terkait kasus penyalahgunaan narkoba, dan meningkat menjadi 2.638 orang yang terkait kasus penyalahgunaan narkoba. Dampak dari masalah peredaran dan penyalahgunaan narkoba mencakup dimensi kesehatan baik jasmani dan mental, dimensi ekonomi dengan meningkatnya biaya kesehatan, dimensi sosial dengan meningkatnya gangguan keamanan dan ketertiban, serta dimensi kultural dengan rusaknya tatanan perlikaku dan norma masyarakat secara keseluruhan. Lemahnya pengawasan dan penegakan hukum pengelolaan sumber daya kehutanan. Pemanfaatan hutan yang berlebihan untuk kepentingan jangka pendek dan tindak kejahatan terhadap sumber daya kehutanan telah mengakibatkan deforestasi berlebihan yang pada akhirnya akan merugikan masyarakat, bangsa dan negara. Tindak kejahatan terhadap sumber daya kehutanan yang terdapat di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2005 volume kayu yang dicuri sebesar 80,04 m3 dan pada tahun 2006 sebesar 707,18 m3. Sedangkan jumlah kasus pencurian dan penyelundupan kayu tahun 2005 terdapat 156 kasus dan tahun 2006 menjadi 176 kasus. Berdasarkan Undang Undang Kehutanan Nomor 41 tahun 1999, luas lahan yang berfungsi hutan minimal adalah sebesar 30 persen dari luas daratan. Di Provinsi Jawa Tengah luas lahan yang berfungsi hutan hanya sebesar 869.934,61 ha (26,73 persen), sehingga kekurangan luas lahan yang harus dipenuhi sebesar 106.3419,27 ha atau 3,27 persen. Kawasan hutan negara tersebut tidak semuanya dalam kondisi

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

19

optimal, sebab hutan yang dikelola PT Perhutani tersebut mendapat gangguan yang sangat serius. Sejak tahun 1997 sampai dengan 2002 jumlah pohon yang dicuri dan dijarah sebanyak 8.041.222 batang dengan kerugian finansial sebesar Rp. 1.444.987.772.000,-. Terus merajalelanya permasalahan tersebut bermuara kepada lemahnya pengawasan dan penegakan hukum dalam praktik pengelolaan sumber daya kehutanan yang tidak bisa terlepas dari kurangnya kapasitas dan konsistensi aparat penegak hukum, serta tidak mencukupinya sarana dan prasarana penunjang tugas.

3. Sasaran yang Ingin Dicapai
Sasaran dari peningkatan keamanan, ketertiban, dan penanggulangan kriminalitas adalah sebagai berikut: 1. Terwujudnya situasi kamtibmas yang kondusif untuk mendukung penyelenggaan pemerintahan dan pembangunan. 2. meningkatnya partisipasi satuan Ratih dan Linmas sebagai pelaksanaan fungsi perlindungan masyarakat termasuk dalam penanganan bencana didaerah. 3. meningkatnya rasa persatuan dan ksatuan bangsa untuk mendukung terpelirahanya iklim kamtibmas secara kondusif. 4. meningkatnya wawasan kebangsaan dan nilai-nilai nasionalisme sebagai pilar pemersatu seluruh komponen masyarakat di daerah NKRI. 5. Menurunnya angka pelanggaran hukum dan indeks kriminalitas, serta meningkatnya penuntasan kasus kriminalitas untuk menciptakan rasa aman masyarakat. 6. Terungkapnya jaringan utama pencurian sumber daya kehutanan, serta membaiknya praktek penegakan hukum dalam pengelolaan sumber daya kehutanan dalam memberantas illegal logging. 7. Menurunnya jumlah pecandu narkoba dan mengungkap kasus serta dapat diberantasnya jaringan utama penyedia narkoba dan prekusor. 8. Terungkapnya jaringan utama pencurian sumberdaya kehutanan, serta membaiknya praktek penegakan hukum dalam pengelolaan sumber daya kehutanan dalam memberantas ilegal logging, over cutting dan illegal trading.

4. Arah Kebijakan
Sasaran tersebut dicapai dengan meningkatkan peran serta masyarakat dan meningkatkan profesionalisme institusi yang terkait dengan masalah keamanan dalam rangka terjaminnya keamanan dan ketertiban masyarakat, tertib dan tegaknya hukum, serta terselenggaranya perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat. Sejalan dengan hal tersebut, kebijakan yang akan ditempuh:

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

20

1. Melakukan upaya sinergis komprehensif dalam menyeimbangkan dan memadukan pengurangan pemasokan dan pengurangan permintaan narkoba. 2. Mencegah dan menindak pelaku praktek usaha kehutanan yang menyalahi peraturan dan perundangan yang berlaku, baik di hutan produksi, hutan lindung, dan hutan konservasi. 3. Peningkatan keamanan dan ketertiban masyarakat untuk mendukung terwujudnya iklim kondusif dalam kehidupan masyarakat. 4. Pelestarian nilai-nilai nasionalisme sebagai pilar pemersatu seluruh masyarakat di daerah Jawa Tengah dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

5. Pencapaian RPJMN di Daerah (2005-2007) 5.1. Upaya yang Dilakukan hingga tahun 2007
Sampai saat ini, berbagai upaya yang telah ditempuh menunjukkan hasil yang signifikan terhadap upaya peningkatan upaya kemanan, ketertiban, dan penanggulangan kriminalitas. Capaian tersebut tertuang dalam program sebagai berikut: 1. Peningkatan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat. Program ini untuk mewujudkan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat yang kondusif serta meningkatkan kemampuan pengamanan melalui deteksi dini terhadap setiap gejala gangguan dan ancaman kamtibmas yang dapat menimbulkan kerawanan-kerawanan di daerah. 2. Peningkatan Rakyat Terlatih (Ratih) dan Perlindungan Masyarakat (Linmas). Program ini untuk upaya-upaya peningkatan dan pengembangan kemampuan satuan-satuan rakyat terlatih (Ratih) serta perlindungan di daerah. 3. Peningkatan Persatuan dan Kesatuan Bangsa. Program ini untuk meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa di seluruh jajaran aparatur serta tingkatan maupun komponen masyarakat dalam rangka mendukung terwujudnya stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat di daerah. 4. Peningkatan Kesadaran Bela Negara. Program ini untuk meningkatkan kesadaran bela negara yang tinggi, kemandirian dan daya tangkal yang tangguh bagi setiap insan masyarakat yang merupakan modal dasar yang kuat dan bagian yang tidak terpisahkan bagi upaya menjamin kelangsungan hidup berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. 5. 6. Perlindungan hutan dan konservasi alam Pengawasan obat, makanan dan minuman yang berbahan berbahaya. masyarakat (Linmas) sebagai inti penanggulangan dini terhadap setiap gangguan/ancaman/bahaya termasuk bencana pada lingkungan pemukiman, pendidikan dan pekerjaan

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

21

5.2. Posisi Capaian hingga tahun 2007
Sejalan dengan berbagai sasaran dan arah kebijakan yang ingin dicapai untuk meningkatkan keamanan, ketertiban, dan penanggulangan kriminalitas sejumlah upaya yang telah ditempuh adalah: 1. 2. 3. 4. Peningkatan keamanan dan ketertiban masyarakat untuk mendukung terwujudnya iklim kondusif dalam kehidupan masyarakat; Pelestarian nilai-nilai nasionalisme sebagai pilar pemersatu seluruh masyarakat di daerah Provinsi Jawa Tengah dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Melakukan koordinasi dan pengamanan secara komprehensif serta pembinaan kamtibmas yang berkelanjutan; Mengoptimalkan partisipasi rakyat terlatih yang tergabung dalam kelembagaan pertahanan sipil dan keamanan rakyat sebagai pelaksanaan fungsi perlindungan masyarakat termasuk dalam penanganan bencana di daerah; 5. Menumbuhkembangkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa untuk mendukung terciptanya iklim kamtibmas yang kondusif, meningkatkan nilai-nilai luhur kegotongroyongan dan mengembangkan sikap kesetiakawanan yang melibatkan seluruh komponen masyarakat; 6. 7. 8. 9. Meningkatkan pengetahuan wawasan kebangsaan bagi seluruh komponen masyarakat di daerah. Mewujudkan masyarakat Jawa Tengah terutama generasi muda yang terbebas dari narkoba. Pengawasan obat, makanan, dan minuman serta bahan berbahaya yang diwujudkan dengan kegiatan pelatihan pencegahan dan penanggulangan NAPZA bagi petugas kesehatan. Penguatan ketahanan bangsa dan kewapadaan nasional dalam berbagai dimensi kehidupan yang diwujudkan melalui kegiatan: lokakarya/penataran ketahanan bangsa se Provinsi Jawa Tengah yang dilaksanakan setiap tahun; orientasi ketahanan bangsa yang dilaksanakan setiap tahun; koordinasi pencegahan peredaran narkoba. 10. Diadakannya program pemantapan pra kondisi pengelolaan hutan. Antara lain program SIG DAS Serayu, Comal, Jratun Seluna dan Solo. 11. Pengadaan optimalisasi pemanfaatan hutan. Melalui program pelatihan masyarakat 120 orang, penyusunan jalur tracking TN Merapi, Demplot tanaman hias. 12. Teridentifikasinya kawasan hutan lindung di 4 kawasan antara lain hutan lindung Dieng, hutan lindung Gunung Lawu. Penyusunan buku konsepsi hasil hutan serta semiloka, pelatihan UKM IPHHK dan evaluasi IPHHK. Selain itu juga diadakan penertiban tata usaha pendapatan kehutanan, Bintek Pejabat P2PSDH 100 orang, pengendalian tata usaha hasil hutan di 54 lokasi dan 4 pelabuhan. 13. Terwujudnya kecermatan pendapatan kehutanan PSDH, SP3 dan retribusi hasil hutan se Jawa Tengah sebagai usaha frekuensi penertiban illegal logging.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

22

14. Pengembangan kelembagaan melalui pengendalian SKSHH di 8 kabupaten dan 20 KPH, Bintek penerbit 50 SKSHH orang. 15. Pengelolaan lingkungan alam. Melalui beberapa kegiatan : a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. Pengendalian dan pengusahaan hutan terendah 691,4 ha tertinggi 1543 ha. Terwujudnya reboisasi hutan lindung 320 ha, sedangkan luas berfluktuasi pertahun cenderung meningkat. Terpeliharanya gaharu 4.000 batang. Hutan rakyat pola kemitraan 27.075 ha tertinggi 60.118,1 ha, terendah 7010 batang, tertinggi 52. 750 batang. Peran serta masyarakat dalam perlindungan konservasi alam melalui pertemuan dan penilaian KPA, KK dan LSM serta Pramuka pertahun. Terbuatnya demplot penangkaran satwa 13 kabupaten yaitu berupa penangkaran rusa 5 unit dan pelatihan penangkaran satwa 30 orang. Tersusunnya dokumen Amdal Taharunegargoyoso dalam pembuatan sarana pendukung. Terbangunnya kebun raya Batu Raden. perlindungan dan pengendalian peredaran kayu dan flora fauna. Melalui forum perencanaan 4 kali pertahun. Terwujudnya musyawarah konsultasi teknis perhutanan dan terlaksananya penyuluhan perhutanan, realisasi penyuluhan perhutanan antara 5-20 kali pertahun dan publikasi 48 kali. Terlaksananya pelatihan dan pengelolaan hutan. Pelatihan yang dilakukan adalah PHBM yang melibatkan 228 orang.

5.3. Permasalahan 1. 2. 3. 4. 5.
Kurangnya koordinasi antar badan-badan intelijen pusat dan daerah dalam hal deteksi dini untuk meningkatkan keamanan, ketertiban, dan menanggulangi kriminalitas. Kurangnya SDM yang memadai dan mencukupi baik dari segi kualitas maupun kuantitas dalam rangka menciptakan lembaga kepolisian yang profesional. Kurangnya Peningkatan kualitas penegakan hukum di bidang narkoba. Kurangnya dukungan koordinasi, kualitas kemampuan sumberdaya manusia, administrasi, anggaran,sarana dan prasarana. Kurangnya penertiban illegal logging.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

23

6. Tindak Lanjut
Tindak lanjut yang dilakukan untuk mencapai sasaran peningkatan keamanan, ketertiban, dan penanggulangan kriminalitas adalah: 1. Pemerintah lebih meningkatkan koordinasi seluruh badan-badan intelijen pusat dan daerah dalam hal deteksi dini untuk meningkatkan keamanan, ketertiban, dan menanggulangi kriminalitas. 2. Mengembangkan SDM yang memadai dan mencukupi baik dari segi kualitas maupun kuantitas dalam rangka menciptakan lembaga kepolisian yang profesional. 3. Mendekatkan polisi dengan masyarakat agar masyarakat terdorong bekerjasama dengan kepolisian melalui pembinaan kepada masyarakat dalam membantu tugas pokok kepolisian untuk menciptakan keamanan dan ketertiban masyarakat. 4. Peningkatan kualitas penegakan hukum di bidang narkoba. 5. Upaya dukungan koordinasi, kualitas kemampuan sumberdaya manusia, administrasi, anggaran,sarana dan prasarana. 6. Penyelenggaraan kampanye se Jawa Tengah dan sosialisasi anti narkoba. 7. Penertiban illegal logging perlu ditingkatkan lagi.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

24

Bab 2.4
Pencegahan dan Penanggulangan Konflik

I. Pengantar
Isu terorisme global, gangguan penanggulangan konflik dan gangguan sosial lainnya secara langsung maupun tidak langsung menimbulkan kendala-kendala bagi Jawa Tengah untuk dapat mengimplementasikan strategi pembangunannya dengan baik. Kepanikan masyarakat akan bahaya terorisme tidak hanya akan mengganggu sektor-sektor yang langsung berhubungan dengan transaksi-transaksi luar negeri, tetapi juga sektor-sektor lain. Mobilitas penduduk terutama melalui udara, laut dan sektor pariwisata akan mengalami gangguan. Pembangunan di bidang keamanan dan ketertiban masyarakat menghadapi tantangan yang cukup berat, terutama dalam hal menghadapi ancaman stabilitas dan tuntutan perubahan serta dinamika perkembangan masyarakat yang begitu cepat, seiring dengan perubahan sosial politik yang membawa implikasi pada segala bidang kehidupan berbangsa, berdaerah dan bermasyarakat di daerah.

II. Kondisi Awal RPJMN di tingkat Daerah 2.1. Belum Berfungsinya Deteksi Dini dan Pencegahan Awal Konflik
Belum berfungsinya deteksi dini dan pencegahan awal konflik, hal ini dapat dilihat pada tahun 2005 di Provinsi Jawa Tengah terdapat kasus unjuk rasa 534 kali, yaitu unjuk rasa mengenai masalah politik 209 kali, masalah ekonomi 147 kali, masalah sosial budaya 80 kali, pendidikan 14 kali, dan kamtibmas 24 kali. Skala konflik yang telah membesar menyulitkan penanganan konflik sehingga membutuhkan penanganan dalam waktu yang lama. Aksi-aksi konflik yang membesar tersebut adalah salah satu bukti kelambatan antisipasi dan minimnya upaya pencegahan serta penanganan awal potensi konflik.

2.2. Menurunnya Semangat Nasionalisme
Adanya kecenderungan menurunnya semangat nasionalisme pada sebagian masyarakat ini dapat menyebabkan menurunnya rasa persatuan dan kesatuan bangsa. Oleh karena itu penting bagi bangsa untuk terus menerus membangun persatuan dengan menghargai perbedaan, dan saling menjaga toleransi dalam berperikehidupan, berbangsa dan berdaerah.

25

III. Sasaran Yang Ingin Dicapai 1. 2. 3.
Terdeteksi dan dapat dicegahnya potensi konflik. Meningkatnya rasa persatuan dan kesatuan bangsa untuk mendukung terpeliharanya iklim keamanan dan ketertiban masyarakat yang kondusif. Meningkatnya wawasan kebangsaan dan nilai-nilai nasionalisme sebagai pilar pemersatu seluruh komponen masyarakat didaerah dalam rangka NKRI

IV. Arah Kebijakan 1. 2. 3. 4.
Mendeteksi secara dini dan pencegahan awal potensi konflik. Melaksanakan pendidikan politik secara formal, informal, dialogis, serta melalui media massa dalam rangka meningkatkan rasa saling percaya. Menguatkan kelembagaan pemerintah daerah di bidang pelayanan publik. Pelestarian nilai-nilai nasionalisme sebagai pilar pemersatu seluruh masyarakat di daerah dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

V. Pencapaian RPJM-N di Tingkat Daerah 2005-2007 5.1. Upaya Yang Dilakukan Hingga Tahun 2007 1. 2. 3.
Inventarisasi data ketertiban dan keamanan di Provinsi Jawa Tengah berdasar Kabupaten/Kota yang ada yaitu 35 Kabupaten/Kota. Rapat koordinasi pengendalian keamanan dan ketertiban, jumlah peserta yang hadir dalam kegiatan rapat koordinasi yang diselenggarakan setiap tahun adalah 70 orang. Terfasilitasinya penyampaian aspirasi unjuk rasa oleh masyarakat. Pada tahun 2003 terdapat 15 Ormas dan 7 Orpol yang melakukan unjuk rasa. Pada tahun 2004 terdapat 14 Ormas dan 8 Orpol yang menyampaikan aspirasi, dan pada tahun 2005 terdapat 18 Ormas dan 4 Orpol yang melakukan penyampaian aspirasi.

4.

Untuk mengantisipasi berbagai kegiatan unjuk rasa telah dibuat posko siaga unjuk rasa yang berjalan setiap saat untuk mengantisipasi kemungkinan dampak negatif dari unjuk rasa seperti kerusuhan atau tindakan anarkis lainnya.

5. 6. 7.

Sarasehan wawasan kebangsaan se Provinsi Jawa Tengah yang telah dilaksanakan tahun 2003, 2004, 2005, dan 2006. Sarasehan pemantapan nilai-nilai nasionalisme se Provinsi Jawa Tengah yang telah dilaksanakan tahun 2003, 2004, 2005, dan 2006. Mediasi penanganan masalah strategis yang berdampak politis di 35 Kabupaten/Kota.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

26

8.

Peningkatan solidaritas dan kesatupaduan masyarakat yang diwujudkan melalui:

a. b. c. d. e. 9.

Sarasehan harmonisasi dan kerukunan antar etnis se Jawa Tengah. Temu muka FPBI Provinsi Jawa Tengah dan Bakom PKB Kabupaten/Kota se Jawa Tengah. Evaluasi pembauran/Binkesbang. Dialog interaktif pembauran. Kemah bhakti generasi muda.

Penguatan ketahanan bangsa dan kewaspadaan nasional dalam berbagai dimensi kehidupan yang diwujudkan melalui kegiatan :

a. b. c.

Lokakarya/penataran ketahanan bangsa se Provinsi Jawa Tengah yang dilaksanakan setiap tahun. Orientasi ketahanan bangsa yang dilaksanakan setiap tahun. Koordinasi pencegahan peredaran narkoba

5.2. Posisi Capaian Hingga Tahun 2007
Dari capaian kegiatan yang ada untuk melaksanakan rencana program di bidang pencegahan dan penanggulangan konflik, sudah dilakukan banyak upaya untuk mewujudkan indikator yang menjadi tujuan dan arah dari pembangunan dibidang pencegahan dan penanggulangan konflik. Akan tetapi dalam rangka mewujudkannya perlu memperlihatkan upaya pelibatan peran serta masyarakat yang lebih nyata. Padahal keamanan dan ketertiban masyarakat tidak mungkin dibebankan hanya pada aparat pemerintah dan aparat keamanan saja. Melainkan juga partisipasi masyarakat sehingga diperlukan upaya yang lebih konkrit untuk memberi kesadaran dan menggalakkan partisipasi masyarakat. Selain itu program untuk meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa telah dilaksanakan dengan baik. Namun perlu ada kontinuitas kegiatan sehingga tidak terkesan sebagai kegiatan yang bersifat sporadis, misalnya kemah bhakti generasi muda yang hanya diselenggarakan pada tahun 2005, perlu dipikirkan keberlanjutannya. Upaya penyadaran akan perlunya persatuan dan kesatuan bangsa sebaiknya diwujudkan dengan action yang lebih nyata dilapangan, bukan hanya sekedar melalui sarasehan atau semiloka. Apalagi mengingat tantangan era globalisasi saat ini cenderung mengaburkan rasa nasionalisme terutama dikalangan generasi muda, serta semakin banyaknya potensi konflik dan perpecahan yang dapat muncul ditengah masyarakat saat ini.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

27

5.3. Permasalahan Pencapaian Sasaran
1. Belum terlihatnya upaya pelibatan peran serta masyarakat yang lebih nyata. Padahal keamanan dan ketertiban masyarakat tidak mungkin dibebankan hanya pada aparat pemerintah dan aparat keamanan saja. Melainkan juga partisipasi masyarakat sehingga diperlukan upaya yang lebih konkrit untuk memberi kesadaran dan menggalakkan partisipasi masyarakat. 2. Masalah peningkatan wawasan kebangsaan dan nilai-nilai nasionalisme sebagai pilar pemersatu seluruh komponen masyarakat di daerah dalam kerangka NKRI masih perlu mendapat perhatian. Beberapa kegiatan terlihat belum memperlihatkan bentuk yang jelas, misalnya mediasi penanganan masalah strategis yang berdampak politis seperti bentuk mediasinya dan masalah strategis apa yang telah ditangani. Perlu penjelasan target yang direncanakan, supaya hasil capaian tiap tahunnya jelas, sehingga dengan parameter yang direncanakan dapat membuat evaluasi hasil dengan baik dan sesuai. 3. Upaya penyadaran akan persatuan dan kesatuan bangsa masih sekedar melalui sarasehan atau semiloka saja.

VI. Tindak Lanjut
Sebagai bentuk tindak lanjut, terdapat beberapa upaya yang perlu dilakukan untuk mencapai sasaran, yaitu:

1. 2. 3. 4.

Peningkatan pemahaman generasi muda mengenai nilai Pancasila melalui pelajaran pendidikan pancasila kewargadaerahan. Penyusunan buku pelajaran PPKn untuk siswa sekolah dengan melibatkan unsur pendidik, akademisi, dan unsur pemerintah atau Kesbanglinmas. Peningkatan keamanan dan ketertiban masyarakat dengan melibatkan peran serta masyarakat beserta aparat terkait, melalui pemberdayaan peran Perpolisian Masyarakat (Polmas). Peningkatan kegiatan pembinaan persatuan dan kesatuan dikalangan generasi muda agama/suku melalui kegiatan seperti kemah bhakti dengan melibatkan pelajar dari berbagai sekolah lintas agama (Sekolah Negeri/Kanisius/Muhammadiyah/Ma’arif, dan sebagainya).

5.

Peningkatan wawasan kebangsaan dan nilai-nilai nasionalisme sebagai pilar pemersatu seluruh komponen masyarakat di daerah dalam kerangka NKRI melalui pengembangan mediasi penanganan masalah strategis yang berdampak politis.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

28

Bab 2.5
Pemantapan Politik Luar Negeri dan Peningkatan Kerjasama Internasional

I. Pengantar
Melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial merupakan amanat Konstitusi yang harus diperjuangkan secara konsisten. Sebagai negara yang besar, Indonesia memiliki potensi untuk mempengaruhi dan membentuk opini internasional dalam rangka memperjuangkan kepentingan nasional. Konstelasi politik internasional yang terus mengalami perubahanperubahan yang sangat cepat menuntut Indonesia berperan dalam politik luar negeri dan kerjasama baik di tingkat regional maupun internasional. Stabilitas dan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah tidak dapat dilepaskan dari pengaruh lingkungan global. Era globalisasi yang dipacu oleh perubahan-perubahan teknologi terutama dibidang komunikasi dan transportasi ternyata membuat dunia semakin sempit. Kemudahan-kemudahan teknologi transportasi dan komunikasi tersebut telah mengakibatkan semakin intensifnya transaksi-transaksi para pelaku ekonomi antar negara. Kemudahan-kemudahan ini merupakan peluang bagi Jawa Tengah untuk memperluas pasar, melakukan kerjasama investasi, membangun jaringan kerjasama yang lebih luas dengan masyarakat internasional, sehingga akan meningkatkan kapasitas Jawa Tengah. Sistem pasar bebas yang dianut oleh sebagian besar negara dunia, dan sistem pemerintahaan Daerah berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999, lebih memberikan peluang pada Provinsi Jawa Tengah untuk melakukan kerjasama langsung antar Provinsi di Luar Negeri, maupun antara Provinsi Jawa Tengah dengan dunia bisnis dari luar negeri. Dengan kerjasama-kerjasama yang berskala internasional tersebut diharapkan akses pasar dari pengusaha-pengusaha Jawa Tengah menjadi semakin luas. Dengan munculnya AFTA dan semakin berkembangnya ekonomi China, Korea Selatan dan Vietnam, maka akan lebih terbuka kemungkinan untuk membangun aliansi yang saling menguntungkan dengan daerah-daerah di negaranegara tersebut. Perjanjian-perjanjian imbal beli dengan Provinsi dari negara-negara tetangga tersebut akan semakin terbuka. Demikian juga pertukaran tenaga ahli, pertukaran teknologi antar Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi di negara-negara tetangga akan memberikan dampak sinergi positif bagi perkembangan Jawa Tengah.

29

II. Kondisi Awal RPJM-N di Tingkat Daerah
Beberapa kendala eksternal yang diestimasikan dihadapi Jawa Tengah sampai dengan 2008, di antaranya adalah sebagai berikut : Lingkungan global. Kecenderungan-kecenderungan global yang mengarah pada pasar bebas lebih banyak menguntungkan negara-negara maju dan merugikan negara-negara yang sedang berkembang, termasuk Indonesia. Jawa Tengah sebagai salah satu bagian dari negara Republik Indonesia juga lebih banyak memperoleh dampak negatif dari perdagangan yang cenderung bebas tersebut. Minimnya proteksi ekonomi bagi produk-produk domestik, telah menyebabkan membanjirnya produk-produk luar negeri ke Indonesia. Demikian juga di pasar faktor, dengan semakin longgarnya campur tangan Pemerintah maka telah banyak tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia. Mereka ternyata telah menjadi pesaing-pesaing yang tangguh bagi tenaga kerja Jawa Tengah. Negara-negara maju di satu sisi menuntut semua negara, termasuk negaranegara yang sedang berkembang untuk tidak melakukan kebijakan-kebijakan yang bersifat proteksi, seperti pengenaan bea masuk dan kuota, tetapi di sisi lain mereka melakukan hambatan-hambatan masuk dalam bentuk standarisasi-standarisasi internasional seperti ISO 9000 dan ISO 14000, ISO 9000 berkaitan dengan standarisasi mutu, sedangkan ISO 14000 berkaitan dengan masalah-masalah lingkungan hidup. Bagi Jawa Tengah kedua standarisasi ini lebih merupakan kendala dibanding peluang. Banyak produk-produk andalan Jawa Tengah yang dipasarkan di pasar internasional belum mampu memenuhi standar sertifikasi ISO 9000 maupun ISSO 14000. Penetrasi dunia Barat di bidang ekonomi, ternyata diikuti juga dengan penetrasi di bidang budaya. Dalam rangka memperluas jaringan pemasaran mereka ke seluruh dunia termasuk Indonesia, mereka mencoba untuk memasukkan budaya global ke wilayah-wilayah pemasaran mereka. Budaya konsumeristik, materialistik dicoba untuk ditanamkan ke daerah-daerah pemasaran melalui berbagai media, misalnya promosi dan film. Penetrasi budaya ini ternyata dalam beberapa hal berhasil menimbulkan perubahan tata nilai dalam masyarakat Jawa Tengah ke arah perilaku yang cenderung individualistis, sekuler dan konsumeristik. Perilaku-perilaku ini kurang menguntungkan bagi pembangunan daerah. Isu terorisme global, gangguan kamtibmas dan gangguan sosial lainnya secara langsung maupun tidak langsung menimbulkan kendala-kendala bagi Jawa Tengah untuk dapat mengimplementasikan strategi pembangunannya dengan baik. Kepanikan masyarakat akan bahaya terorisme tidak hanya akan mengganggu sektor-sektor yang langsung berhubungan dengan transaksi-transaksi luar negeri, tetapi juga sektor-sektor lain. Mobilitas penduduk terutama melalui udara, laut dan sektor pariwisata akan mengalami gangguan. Isu terorisme akan menyebabkan para pelaku ekonomi menjadi sangat berhati-hati dalam

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

30

menjaga asetnya, transaksi bisnis akan semakin lamban, biaya asuransi semakin meningkat, semua ini dapat menimbulkan global high cost economy. Global high cost economy inilah yang diduga merupakan salah satu sebab akan terjadinya resesi global pada masa yang akan datang. Bagi Jawa Tengah apabila resesi global ini benar-benar terjadi tentu akan menimbulkan dampak yang merugikan. Hal ini mengingat ketergantungan ekonomi Jawa Tengah kepada luar negeri masih relatif besar. Lingkungan regional Jawa Tengah juga ditandai dengan mulai masuknya pemain-pemain baru dilingkungan ekonomi global. Negara-negara seperti China dan Korea Selatan, Vietnam ternyata tumbuh sangat cepat sehingga dalam waktu singkat negara-negara tersebut diperkirakan akan menjadi salah satu macan dunia yang sangat tangguh. Pada saat ini telah banyak barang-barang dari China dan Korea Selatan yang membanjiri negara-negara Asean, termasuk Jawa Tengah. Masuknya barang-barang dari ke dua negara tersebut tentunya merupakan ancaman tersendiri bagi Jawa Tengah, tidak hanya di pasar global tetapi juga di pasar domestik. Demikian juga keterbukaan China di bidang ekonomi dan kebijaksanaan yang diambil oleh pemerintah Vietnam yang membuka diri terhadap investasi dari luar negeri, merupakan pesaing yang cukup berat bagi Jawa Tengah dalam mendapatkan investasi dari luar negeri. Reformasi yang dilakukan oleh China dan Vietnam ternyata telah mampu menghasilkan kepastian hukum dan tingkat efisiensi birokrasi yang jauh lebih baik dibandingkan dengan Indonesia, akibatnya investor luar negeri lebih berminat untuk melakukan investasi di China dan Vietnam dibandingkan di Indonesia. Mereka melihat investasi di kedua negara tersebut di samping akan memberikan prospek keuntungan yang lebih baik juga risiko investasi luar negerinya (country risk) relatif lebih kecil. Kesadaran akan ancaman dari kompetisi global pada masing-masing negara Asean, telah menimbulkan semakin kuatnya keinginan untuk lebih mengembangkan aliansi-aliansi strategis dibidang ekonomi, baik yang bersifat bilateral, maupun multilateral. Sebagai contoh pada tingkatan multilateral Asean telah membentuk Asean Free Trade Area (AFTA). Dalam AFTA masing-masing negara telah bersepakat bahwa untuk jenisjenis komoditi yang telah disepakati yang dijual antar negara-negara Asean akan diberlakukan pasar bebas. Asean telah sepakat pada tahun 2003 mereka akan memberlakukan komitmen-komitmen tersebut. Kerjasama regional antar Asean di satu sisi diharapkan dapat meningkatkan posisi strategis negara-negara tersebut, tetapi disisi lain antar negara tersebut sebenarnya adalah saling berkompetisi. Produk-produk yang dihasilkan negara-negara Asean relatif sama, demikian juga kompetensi yang dimilikinya baik di pasar komoditi maupun di pasar faktor juga relatif sama.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

31

Perkembangan lingkungan regional juga diwarnai dengan turunnya pamor Indonesia di lingkungan negaranegara Asean. Indonesia yang pada masa lalu dianggap sebagai “Pemimpin” Asean, sekarang posisi tersebut sudah tidak dimiliki lagi. Semakin melemahnya posisi ini akan memperlemah posisi tawar Indonesia dalam perjanjian-perjanjian yang bersifat bilateral, maupun multilateral. Provinsi Jawa-Tengah sebagai salah satu bagian dari NKRI tentu akan terkena dampak negatif dari perkembangan ini.

III. Sasaran yang Ingin Dicapai
Sasaran Pemantapan Politik Luar Negeri dan Peningkatan Kerjasama Internasional adalah: 1. 2. Semakin meningkatnya peranan daerah Provinsi Jawa Tengah dalam hubungan internasional. Mendorong terciptanya tatanan dan kerjasama ekonomi regional daerah Provinsi Jawa Tengah dan internasional yang lebih baik dalam mendukung pembangunan nasional.

IV. Arah Kebijakan
Arah kebijakan Pemantapan Politik Luar Negeri dan Peningkatan Kerjasama Internasional adalah:

1. Menegaskan pentingnya memelihara kebersamaan melalui kerjasama internasional, bilateral dan
multilateral maupun kerjasama regional lainnya, saling pengertian dan perdamaian dalam politik dan hubungan internasional;

2. Meningkatkan dukungan dan peran masyarakat di dalam dunia internasional . 3. Meningkatkan koordinasi dalam penyelenggaraan hubungan luar negeri sesuai dengan undang-undang. V. Pencapaian RPJMN di Daerah (2005-2007) 5.1. Upaya yang Dilakukan Hingga Tahun 2007
Hasil yang dicapai pada penyelenggaraan kerjasama antara Provinsi Jawa Tengah dengan luar negeri sampai dengan tahun 2006 antara lain: 1. Kerjasama antara pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan pemerintah Provinsi Chungcheongbuk-Do, Republik Korea. 2. Kerjasama Sister Province antara Provinsi Jawa Tengah dengan Provinsi Fujian Republik Rakyat Cina. 3. Badden Wutteberg Jerman ditandatanganinya perjanjian anatar Gubernur Jawa Tengah dengan Federal State of Badden Wutterberg Jerman pada tanggal 10 Oktober 2006. 4. Bantuan hibah pemerintah Cuba kepada pemerintah Prov Jawa Tengah tentang kesehatan Rumah Sakit Lapangan di Kabupaten Klaten.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

32

5. Rencana kerjasama Sister Temple perintah Provinsi Jawa Tengah dengan pemerintah Provinsi Siem Reap Kamboja. 6. Kesepakatan bersama pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan Japan Railway Company (JRC) dan Pemerintah Perfectoral Hyogo Jepang tentang investasi pengembangan perkeretaapian, mitigasi bencana alam, perdagangan dan investasi. 7. Komitmen bersama Central Java Infrastructure Business Forum (CJIBF) tentang pengembangan investasi dan perdagangan di Provinsi Jawa Tengah. 8. Kerjasama Provinsi Jawa Tengah dengan Local Governance Support Program LGSP-USAID Amerika tentang dukungan pelaksanaan desentralisasi bidang pendidikan di Jawa Tengah terhadap kepemerintahan yang baik. 9. Kerjasama pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan UNICEF di bidang pendidikan dan kebudayaan, kesehatan dan kependudukan. Perpanjangan kerjasama sampai tahun 2010. 10. Kesepakatan bersama pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dengan Team Leader dari proyek Good Local Governance GTZ-GLG Jerman tentang dukungan pelaksanaan desentralisasi di Jawa Tengah terhadap kepemerintahan yang baik.

5.2. Posisi Capaian hingga tahun 2007
Kerjasama dengan pihak ketiga dalam dan luar negeri dikembangkan berdasarkan pemenuhan kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi langsung oleh Pemerintah Daerah yang bersangkutan karena berbagai keterbatasan yang dimiliki oleh masing-masing daerah otonom serta untuk peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat dan pelestarian lingkungan.

5.3. Permasalahan mencapai sasaran
Permasalahan mencapai sasaran pemantapan politik luar negeri dan peningkatan kerjasama internasional, adalah: 1. Terbatasnya perangkat peraturan yang mengatur kerjasama dengan luar negeri. 2. Kurangnya pemahaman aparatur pemerintah daerah akan pentingnya kerjasama antar daerah dengan luar negeri. 3. Belum tersedianya sarana dan prasarana yang memadai dalam menunjang kerjasama daerah dengan luar negeri.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

33

VI. Tindak Lanjut
Adapun tindak lanjut yang dilakukan sampai tahun 2007 pemantapan politik luar negeri dan peningkatan kerjasama internasional adalah: 1. 2. Penyusunan dan peningkatan pemahaman kepada dinas/instansi aparatur pemerintah Provinsi dan kabupaten/kota tentang tatacara kerjasama dengan instansi dan lembaga dalam dan luar negeri. Mendorong dan memfasilitasi kerjasama antar pemerintah Provinsi, pemerintah kabupaten/kota dan lembaga di dalam negeri serta diluar negeri dalam berbagai bidang untuk mendukung dan mendorong pembangunan daerah. 3. Mewujudkan kerjasama dalam berbagai bidang antara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan pemerintah Provinsi/lembaga lain di luar negeri dalam berbagai bidang untuk mendukung dan mendorong pembangunan daerah. 4. 5. Pembangunan database tentang kerjasama serta potensi, kemauan dan kemampuan daerah. Menciptakan jejaring kerja dengan dinas/instansi terkait dan mitra kerja untuk menciptakan kerjasama yang efektif dan saling menguntungkan.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

34

BAGIAN 3 AGENDA MEWUJUDKAN INDONESIA ADIL DAN DEMOKRATIS

BAB 3.1
Pengantar Agenda Mewujudkan Indonesia yang Adil dan Demokratis

Berkaitan dengan Agenda Mewujudkan Indonesia yang Adil dan Demokratis, ada lima sasaran pokok dengan prioritas dan arah kebijakan yang dilakukan. Sasaran pertama dalam Agenda Mewujudkan Indonesia yang Adil dan Demokratis adalah meningkatkan keadilan dan penegakan hukum yang tercermin dari terciptanya sistem hukum yang adil, konsekuen, dan tidak diskriminatif serta yang memberikan perlindungan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia; terjaminnya konsistensi seluruh pengaturan perundangundangan di tingkat pusat dan daerah sebagai bagian dari upaya memulihkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap kepastian hukum. Untuk mencapai sasaran tersebut, prioritas pembangunan di Provinsi Jawa Tengah diletakkan pada: 1. 2. Pembenahan Sistem Hukum Nasional dan Politik Hukum dengan kebijakan yang diarahkan untuk memperbaiki substansi (materi) hukum, struktur (kelembagaan) hukum, dan kultur (budaya) hukum. Penghapusan Diskriminasi dalam berbagai bentuk dengan kebijakan yang diarahkan untuk: a. b. c. Menghapus peraturan yang diskriminatif. Menghapus peraturan yang sarat ketidakadilan gender. Menghapus peraturan yang melanggar prinsip keadilan.

Sedangkan kebijakan perlindungan anak yang ditempuh adalah: (1) Pencegahan dan penanggulangan kekerasan terhadap anak; (2) Penanganan anak dan remaja terlantar; (3) Perlindungan status dan identitas anak; (4) Perkuatan kelembagaan yang menangani anak dan remaja; (5) Perlindungan pekerja anak; (6) Mengembangkan partisipasi masyarakat, swasta, LSM, ormas untuk ikut serta dalam penanggulangan masalah anak dan remaja; (7) Penanganan kasus narkoba dan penderita PMS anak. 3. Penghormatan, pemenuhan dan penegakan atas hukum dan pengakuan atas hak asasi manusia (HAM) dengan kebijakanyang diarahkan untuk melaksanakan berbagai rencana aksi, antara lain: a. Peningkatan pelaksanaan penegakan hukum dan HAM untuk mendukung terwujudnya supremasi hukum; b. Pengembangan budaya hukum bagi seluruh aparatur dan masyarakat untuk mendukung terciptanya kesadaran serta kepatuhan hukum. Sasaran kedua adalah terjaminnya keadilan gender bagi peningkatan peran perempuan dalam berbagai bidang pembangunan, yang tercermin dalam berbagai perundangan, program pembangunan, dan kebijakan publik, membaiknya angka GDI (Gender related Development Index) dan angka GEM (Gender

35

Empowerment Measurement); dan menurunnya tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak; serta meningkatnya kesejahteraan dan perlindungan anak. Prioritas pembangunan pada sasaran kedua di Provinsi Jawa Tengah diletakkan pada Peningkatan Kualitas Kehidupan dan Peran Perempuan serta Kesejahteraan dan Perlindungan Anak dengan kebijakan yang diarahkan untuk: 1. Lingkup Pendidikan 2. Lingkup Kesehatan 3. Lingkup Ketenagakerjaan dan ekonomi 4. Lingkup Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan, 5. Lingkup Kelembagaan 6. Anak dan remaja, Sasaran ketiga adalah meningkatnya pelayanan kepada masyarakat dengan menyelenggarakan otonomi daerah dan kepemerintahan daerah yang baik serta terjaminnya konsistensi seluruh peraturan pusat dan daerah, dan tidak bertentangan dengan peraturan dan perundangan yang lebih tinggi dalam rangka meningkatkan keadilan bagi daerah-daerah untuk membangun. Untuk mencapai sasaran prioritas pembangunan di Provinsi Jawa Tengah diletakkan pada revitalisasi proses desentralisasi dan otonomi daerah dengan kebijakan yang diarahkan untuk : 1. Menata kelembagaan pemerintah daerah agar lebih proporsional berdasarkan kebutuhan nyata daerah, ramping, hierarki yang pendek, bersifat jejaring, bersifat fleksibel dan adaptif, diisi banyak jabatan fungsional, dan terdesentralisasi kewenangannya. 2. Menyiapkan ketersediaan aparatur pemerintah daerah yang berkualitas secara proporsional. 3. Meningkatkan kapasitas keuangan pemerintah daerah. 4. Peningkatan pelaksanaan otonomi daerah dalam rangka mewujudkan kemandirian daerah yang berkesinambungan. Sasaran keempat adalah meningkatnya pelayanan birokrasi kepada masyarakat yang tercermin dari: (1) berkurangnya secara nyata praktek korupsi di birokrasi, dan dimulai dari tataran (jajaran) pejabat yang paling atas; (2) terciptanya sistem pemerintahan dan birokrasi yang bersih, akuntabel, transparan, efisien, dan berwibawa, (3) terhapusnya aturan, peraturan dan praktek yang bersifat diskriminatif terhadap warga negara, kelompok, atau golongan masyarakat, (4) meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pengambilan kebijakan publik.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

36

Prioritas pembangunan di Provinsi Jawa Tengah diletakkan pada penciptaan tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa dengan kebijakan yang diarahkan untuk: 1. 2. 3. Menuntaskan penanggulangan penyalahgunaan kewenangan dalam bentuk praktik-praktik KKN Meningkatkan kualitas penyelengaraan administrasi negara Meningkatkan keberdayaan masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan

Sasaran kelima adalah terlaksananya pemilihan umum tahun 2009 secara demokratis, jujur, dan adil dengan menjaga momentum konsolidasi demokrasi yang sudah terbentuk berdasarkan hasil pemilihan umum secara langsung tahun 2004. Prioritas pembangunan diletakkan pada perwujudan lembaga demokrasi yang makin kokoh dengan arah kebijakan peningkatan kesadaran politik masyarakat dan efektifitas sistem politik untuk mewujudkan kehidupan politik yang demokratis di daerah.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

37

BAB 3. 2
Pembenahan Sistem dan Politik Hukum

I. Pengantar
Pasal 1 ayat (3) Bab I, Amandemen Ketiga Undang-Undang Dasar 1945, menegaskan kembali bahwa ‘Negara Indonesia adalah Negara Hukum’. Artinya bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara yang berdasar atas hukum (rechtsstaat), tidak berdasar atas kekuasaan (machtstaat), dan pemerintahan berdasarkan sistem konstitusi (hukum dasar), bukan absolutisme (kekuasaan yang tidak terbatas). Sebagai konsekuensi dari Pasal 1 ayat (3) Amandemen ketiga Undang-Undang Dasar 1945, 3 (tiga) prinsip dasar wajib dijunjung oleh setiap warga negara yaitu supremasi hukum; kesetaraan di hadapan hukum; dan penegakan hukum dengan cara-cara yang tidak bertentangan dengan hukum. Peraturan perundang-undangan yang baik akan membatasi, mengatur dan sekaligus memperkuat hak warganegara. Pelaksanaan hukum yang transparan dan terbuka di satu sisi dapat menekan dampak negatif yang dapat ditimbulkan oleh tindakan warga negara sekaligus juga meningkatkan dampak positif dari aktivitas warga negara. Dengan demikian hukum pada dasarnya memastikan munculnya aspek-aspek positif dari kemanusiaan dan menghambat aspek negatif dari kemanusiaan. Penerapan hukum yang ditaati dan diikuti akan menciptakan ketertiban dan memaksimalkan ekspresi potensi masyarakat. Apabila hukum ditegakkan dan ketertiban diwujudkan, maka kepastian, rasa aman, tenteram, ataupun kehidupan yang rukun akan dapat terwujud. Ketiadaan penegakan hukum dan ketertiban akan menghambat pencapaian masyarakat yang berusaha dan bekerja dengan baik untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal tersebut menunjukkan adanya keterkaitan yang erat antara damai, adil dan sejahtera. Untuk itu perbaikan pada aspek keadilan akan memudahkan pencapaian kesejahteraan dan kedamaian.

II. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah
Upaya-upaya penegakan supremasi hukum dan penghormatan terhadap hak asasi manusia (HAM) masih terus dilakukan dalam rangka mewujudkan rasa keadilan dan kebenaran dalam tatanan kehidupan masyarakat. Sementara itu penyusunan produk-produk hukum daerah sebagai bagian dari sistem hukum nasional, dirasakan masih banyak yang belum sesuai dengan tingkat kebutuhan pembangunan dan belum seluruhnya mencerminkan aspirasi masyarakat yang berkembang.

38

2.1. Belum Memadainya Produk Hukum Yang Dimiliki
Pada asasnya, undang-undang yang baik adalah undang-undang yang langsung dapat diimplementasikan dan tidak memerlukan peraturan pelaksanaan lebih lanjut. Akan tetapi kebiasaan untuk menunggu peraturan pelaksanaan menjadi penghambat operasionalisasi peraturan perundang-undangan, sebagai contoh produk hukum yang dimiliki untuk mendukung implementasi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan UndangUndang Nomor 25 Tahun 1999 belum memadai. Berbagai undang-undang yang dibentuk dalam rangka reformasi banyak yang tidak dapat dilaksanakan secara efektif. Penyebab utamanya antara lain tidak dibuatkan dengan segera berbagai peraturan pelaksanaan yang diperintahkan oleh undang-undang yang bersangkutan.

2.2. Menurunnya Kesadaran Akan Hak dan Kewajiban Hukum Masyarakat
Kesadaran masyarakat terhadap hak dan kewajiban hukum tetap mensyaratkan antara lain tingkat pendidikan yang memungkinkan untuk dapat memahami dan mengerti berbagai permasalahan yang terjadi. Dua pihak berperan penting yaitu masyarakat dan kualitas aparat yang bertugas melakukan penyebarluasan hukum dan berbagai peraturan perundang-undangan. Walaupun tingkat pendidikan sebagian masyarakat masih kurang memadai, namun dengan kemampuan dan profesionalisme dalam melakukan pendekatan penyuluhan hukum ke dalam masyarakat, pesan yang disampaikan kepada masyarakat dapat diterima secara baik dan dapat diterapkan apabila masyarakat menghadapi berbagai persoalan yang terkait dengan hak dan kewajiban mereka. Masalah lainnya adalah ketidaksetaraan antara perempuan dan laki-laki dalam memperoleh akses dan manfaat dari kegiatan penyuluhan, penyadaran dan pelayanan hukum.

2.3. Lemahnya Penegakan Hukum Oleh Aparatur dan Masyarakat
Masih lemahnya penegakan hukum oleh aparatur dan masyarakat ini masih dirasakan karena masih banyaknya pelanggaran hukum. Dengan melaksanakan penegakan hukum oleh aparatur dan masyarakat berdasarkan keadilan akan mewujudkan penegakan hukum yang secara tegas dan manusiawi.

2.4. Belum Optimalnya Koordinasi Penegakan Hukum Antara Pusat dan Daerah
Belum optimalnya koordinasi penegakan hukum antara pusat dan daerah, hal ini apabila dibiarkan secara terus-menerus akan menyebabkan terjadinya tumpang tindih dan inkonsistensi peraturan perundangundangan. Peraturan perundang-undangan yang ada masih banyak yang tumpang tindih, inkonsisten dan bertentangan antara peraturan yang sederajat satu dengan lainnya serta antara peraturan tingkat pusat dan daerah.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

39

2.5. Masih Terbatasnya Sarana dan Prasarana Hukum Termasuk Layanan Jaringan Dokumentasi dan Informasi (JDI) hukum
Masih terbatasnya sarana dan prasarana hukum termasuk layanan Jaringan Dokumentasi dan Informasi (JDI) hukum, hal tersebut akan menyebabkan masyarakat dan aparatur sulit untuk memperoleh informasi produkproduk hukum. Dari situlah, maka perlunya kesadaran hukum diseluruh jajaran aparatur pemerintah dan lapisan masyarakat.

III. Sasaran yang Ingin Dicapai
Beberapa sasaran yang ingin dicapai terkait dengan pembenahan sistem dan politik hukum adalah: 1. 2. 3. 4. 5. Tersedianya produk-produk hukum daerah sesuai dengan kebutuhan dalam mendukung penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Meningkatnya kesadaran dan kepatuhan hukum bagi aparatur dan masyarakat terhadap produk hukum daerah dan peraturan perundangan lainnya. Semakin berkurangnya pelanggaran hukum. Mantapnya koordinasi pelaksanaan penegakan hukum antara pusat dan daerah. Terwujudnya kemudahan masyarakat dan aparatur dalam memperoleh informasi produk-produk hukum.

IV. Arah Kebijakan
Pembenahan sistem dan politik hukum dalam lima tahun mendatang diarahkan pada kebijakan untuk memperbaiki substansi (materi) hukum, struktur (kelembagaan) hukum, dan kultur (budaya) hukum, melalui upaya:

1. Menata kembali substansi hukum melalui peninjauan dan penataan kembali peraturan perundangundangan untuk mewujudkan tertib perundang-undangan dengan memperhatikan asas umum dan hirarki perundang-undangan; dan menghormati serta memperkuat kearifan lokal dan hukum adat untuk memperkaya sistem hukum dan peraturan melalui permberdayaan yurisprudensi sebagai bagian dari upaya pembaruan materi hukum nasional.

2. Melakukan pembenahan struktur hukum melalui penguatan kelembagaan dengan meningkatkan
profesionalisme hakim dan staf peradilan serta kualitas sistem peradilan yang terbuka dan transparan; menyederhanakan sistem peradilan, meningkatkan transparansi agar peradilan dapat diakses oleh masyarakat dan memastikan bahwa hukum diterapkan dengan adil dan memihak pada kebenaran; memperkuat kearifan lokal dan hukum adat untuk memperkaya sistem hukum dan peraturan melalui pemberdayaan yurisprudensi sebagai bagian dari upaya pembaruan materi hukum nasional.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

40

3. Meningkatkan budaya hukum antara lain melalui pendidikan dan sosialisasi berbagai peraturan
perundang-undangan serta perilaku keteladanan dari kepala negara dan jajarannya dalam mematuhi dan menaati hukum serta penegakan supremasi hukum.

V. Pencapaian RPJM-N di Tingkat Daerah 2005-2007 5.1. Upaya Yang Dilakukan Hingga Tahun 2007
Beberapa upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam pembenahan sistem dan politik hukum antara lain:

1. Tahun 2003 ditargetkan tersusun 10 raperda, pada realisasinya dapat terwujud 10 Raperda, pada tahun
2004 dari target 9 Raperda berhasil tersusun 9 Raperda, berikutnya tahun 2005 dari target 7 Raperda berhasil direalisasikan 7 Raperda, dan pada tahun 2006 dari 6 Raperda yang ditargetkan berhasil diwujudkan 6 buah Raperda.

2. Tahun 2003 dilakukan sosialisasi 6 peraturan perundang-undangan, yaitu Undang-Undang tentang HAM,
Undang-Undang Pertanahan, Perda Provinsi Jawa Tengah Nomor 6 Tahun 2002, Perda Provinsi Jawa Tengah Nomor 7 Tahun 2002, Perda Provinsi Jawa Tengah Nomor 8 Tahun 2002 dan Perda Provinsi Jawa Tengah Nomor 9 Tahun 2002.

3. Target tahun 2003: 1) peningkatan jumlah data peraturan perundang-undangan,2) pengadaan koleksi
dokumentasi hukum, 3) Langganan warta perundang-undangan, 4) menyelenggarakan orientasi petugas JDI Hukum di Provinsi Jawa Tengah, 5) melaksanakan koordinasi dengan pusat jaringan dengan anggota jaringan. Dan realisasinya 1) pengolahan data entry sejumlah 400 data indek, naskah lengkap 2.500 halaman, melalui program scanning sejumlah 2.500 halaman, 2) pengadaan koleksi dokumentasi hukum 134 buku, 3) Langganan warta perundang-undangan 24 eksemplar selama 12 bulan, 4) Orientasi petugas JDI hukum di Provinsi Jawa Tengah sejumlah 40 orang, 5) melaksanakan koordinasi dengan pusat jaringan dan anggota jaringan.

4. Pada tahun 2003 telah ditangani 250 perkara dan 450 konsultasi hukum, bekerjasama dengan 15 LBH. 5. Target tahun 2003 menyelesaikan Perda yang berkaitan dengan TPI di 4 Kabupaten/Kota Jawa Tengah,
pada pelaksanaannya dapat diwujudkan di Kota Tegal, kota Pekalongan, Kabupaten Batang dan Kabupaten Rembang.

6. Target tahun 2004: 1) peningkatan jumlah data peraturan perundang-undangan,2) penerbitan abstrak
peraturan peundang-undangan, 3) pengadaan koleksi dokumentasi hukum, 4) Langganan warta perundang-undangan, 5) Rapat teknis anggota jaringan, 5) melaksanakan koordinasi dengan pusat jaringan dengan anggota jaringan. Dan realisasinya: 1) pengolahan data entry sejumlah 400 data indek, naskah lengkap 2.500 halaman, satu program aplikasi sistem informasi hukum, 2) penerbitan abstrak peraturan perundang-undangan, 3) pengadaan koleksi dokumentasi hukum 222 buku, 4) Langganan

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

41

warta perundang-undangan 24 eksemplar selama 12 bulan, 5) Rapat teknis anggota jaringan se Jawa Tengah sejumlah 40 orang, dan 6) melaksanakan koordinasi dengan pusat jaringan dan anggota jaringan.

7. Pada tahun 2004 dilakukan sosialisasi terhadap 2 peraturan perundang-undangan, yaitu Perda Provinsi
Jawa Tengah Nomor 3 Tahun 2003 dan Perda Provinsi Jawa Tengah Nomor 23 Tahun 2003.

8. Target tahun 2004 penegakan Perda yang berkaitan dengan pemenfaatan air bawah tanah di 5
kabupaten/kota. Akan tetapi dalam pelaksanannya hal tersebut belum dapat direalisasikan sama sekali.

9. Tahun 2004 telah ditangani 250 perkara dan 450 konsultasi hukum, melalui kerjasama dengan 15 LBH
yang ada di Jawa Tengah.

10. Tahun 2005 telah dilaksanakan sosialisasi 4 peraturan perundang-undangan dan RANHAM Provinsi
Jawa Tengah yaitu sosialisasi Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004, Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004, Perda Provinsi Jawa Tengah Nomor 16 Tahun 2003, Perda Provinsi Jawa Tengah Nomor 17 Tahun 2003 dan sosialisasi RANHAM Provinsi Jawa Tengah.

11. Pada tahun 2005 melalui biro hukum menangani 260 perkara dan 430 konsultasi hukum dengan
melibatkan 17 LBH.

12. Target tahun 2005 penegakan Perda yang berkaitan dengan Tera dan Tera ulang di 3 Bakorlin di Jawa
Tengah. Dalam realisasinya penegakan Perda telah dilaksanakan semua di Bakorlin I, Bakorlin II, dan Bakorlin III.

13. Target tahun 2005: 1) Pengolahan data peraturan perundang-undangan,2) pengadaan koleksi
dokumentasi hukum, 3) Langganan warta perundang-undangan, 4) Menyelenggarakan rapat koordinasi teknis dengan anggota jaringan di Prov Jawa Tengah, dan 5) melaksanakan koordinasi dengan pusat jaringan dengan anggota jaringan. Dan realisasinya: 1) penambahan data peraturan peundang-undangan di website, 2) pengadaan koleksi dokumentasi hukum 34 buku, 4) Langganan warta perundangundangan 24 eksemplar selama 12 bulan, 5) Rapat koordinasi teknis anggota jaringan se Jawa Tengah sejumlah 60 orang, dan 6) melaksanakan koordinasi dengan pusat jaringan dan anggota jaringan.

14. Penyuluhan tentang demokrasi, supremasi hukum dan HAM dikalangan pemuda dan pelajar,
diselenggarakanpada tahun 2005 dan 2006 yang masing-masing diikuti oleh 350 orang peserta.

15. Pada tahun 2006 telah dilakukan sosialisasi terhadap 2 peraturan perundang-undangan dan RANHAM
Provinsi Jawa Tengah yaitu sosialisasi Perda Provinsi Jawa Tengah Nomor 2 Tahun 2005 serta Perda Provinsi Jawa Tengah Nomor 3 Tahun 2005 serta RANHAM Provinsi Jawa Tengah.

16. Upaya yang dilaksanakan adalah penanganan perkara dan konsultasi hukum baik untuk instansi
pemerintahan yang ada maupun masyarakat yang memerlukan, melalui kerjasama dengan berbagai LBH yang ada di Provinsi Jawa Tengah.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

42

17. Tahun 2006 dilakukan penanganan terhadap 308 perkara dan 474 konsultasi hukum dengan melibatkan
18 LBH, juga dilakukan kegiatan penyuluhan hukum dan penanganan perkara oleh Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah dan penenganan perkara ditingkat banding oleh Pengadilan Tinggi Jawa Tengah.

18. Target tahun 2006 evaluasi pelaksanaan Perda dan pengukuhan panitia pelaksana RANHAM di 35
kabupaten/kota Jawa Tengah, dapat dilaksanakan di 30 kabupaten/kota.

19. Target tahun 2006: 1) Pemanfaatan teknologi komputer, 2) pengadaan koleksi dokumentasi hukum, 3)
Langganan warta perundang-undangan, 4) Menyelenggarakan rapat koordinasi teknis dengan anggota jaringan, dan 5) melaksanakan koordinasi dengan pusat jaringan dengan anggota jaringan. Dan realisasinya : 1) Memanfaatkan teknologi komputer melalui peningkatan jumlah data pada pangkalan dan peraturan perundang-undangan di biro hukum dengan naskah lengkap, 2) pengadaan koleksi dokumentasi hukum dengan pembelian buku-buku hukum sejumlah 24 buku dan pengadaan peraturan perundang-undangan sejumlah 59 eksemplar, 3) Langganan warta perundang-undangan 24 eksemplar selama 12 bulan, 4) Menyelenggarakan rapat koordinasi teknis anggota jaringan se Jawa Tengah sejumlah 35 orang, dan 6) melaksanakan koordinasi ke pusat jaringan (BPHN) dan anggota jaringan 35 Kabupaten/Kota.

5.2. Posisi Capaian Hingga Tahun 2007
Dari capaian yang ada selama tahun 2003 hingga 2006, upaya penyusunan produk hukum melalui perancangan Raperda telah dapat direalisasikan sesuai dengan target yang dibuat setiap tahunnya, sehingga tingkat keberhasilannya adalah 100 persen. Hal yang perlu dikaji lebih lanjut adalah kesesuaian produk hukum dengan kebutuhan daerah serta Implementasi produk hukum tersebut sehingga dapat mendukung penyelenggaraan pemerintah daerah dan pembangunan. Selain itu selama periode 2003-2006 belum menunjukkan hasil yang optimal, dari 32 produk hukum baru yang berhasil disusun selama 4 tahun baru 12 produk hukum yang berhasil disosialisasikan. Selain ketidakseimbangan produk hukum dengan kegiatan sosialisasinya, kesadaran dan kepatuhan hukum para aparatur dan masyarakat belum dipantau secara terprogram. Hal ini tentu saja berakibat pada belum tercapainya sasaran kedua yaitu meningkatnya kesadaran dan kepatuhan hukum bagi aparatur dan masyarakat terhadap produk hukum daerah dan peraturan perundangan lainnya. Tahun 2005-2006 menunjukkan kinerja aparat hukum meningkat, namun disisi lain menunjukkan bahwa telah terjadi semakin banyak pelanggaran hukum. Berkenaan dengan penentuan target jumlah perkara secara konkrit (250 perkara tahun 2003) adalah sesuatu yang tidak logis karena jumlah perkara yang masuk dan perlu ditangani tidak dapat diprediksi dan juga tidak dapat dibatasi. Penentuan target hendaknya dalam

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

43

bentuk persentase dari jumlah perkara yang masuk dan perlu ditangani, bukan jumlah perkaranya. Program konsultasi hukum yang telah dilaksanakan sangat baik untuk upaya pencegahan pelanggaran hukum. Program-program yang dikembangkan masih bias dan belum dapat menjadi indikator keberhasilan pencapaian. Misalnya target tahun 2004, tersusunnya Perda yang berkaitan dengan TPI pada tahun 2003 lebih mengarah pada pencapaian sasaran pertama yakni tersedianya produk-produk hukum, bukan menunjukkan kemantapan koordinasi pelaksanaan penegakan hukum antar pusat dan daerah. Penegakan Perda tentang Tera dan Tera Ulang pada tahun 2005 dan evaluasi pelaksanaan Perda pada tahap 2006 juga tidak dapat menjadi indikator keberhasilan kemantapan koordinasi pelaksanaan penegakan hukum antara pusat dan daerah. Kegiatan yang dikembangkan belum maksimal dan masih terkesan sepihak. Belum terlihat kegiatan masyarakat dan aparat mengakses dan memanfaatkan produk hukum yang tersedia. Oleh karena itu perlu dilakukan survai untuk mengetahui bagaimana tingkat pemanfaatan akses hukum oleh masyarakat dan aparat pemerintah. Misalnya, bila produk hukum itu disediakan pada situs internet, berapa banyak masyarakat telah mengunjungi situs tersebut. Bila dipersiapkan dalam bentuk cetak, berapa buku yang dicetak dan berapa banyak yang telah dibaca/dipakai oleh masyarakat. Penyeberluasan informasi dengan menggunakan kemasan yang lebih mudah dicerna oleh masyarakat tanpa berkesan menggurui.

5.3. Permasalahan Pencapaian Sasaran
Beberapa permasalahan yang masih ditemukan dalam rangka pencapaian sasaran antara lain: 1. 2. 3. Selama periode 2003-2006 belum menunjukkan hasil yang optimal, dari 32 produk hukum baru yang berhasil disusun selama 4 tahun baru 12 produk hukum yang berhasil disosialisasikan. Selain ketidakseimbangan produk hukum dengan kegiatan sosialisasinya, kesadaran dan kepatuhan hukum para aparatur dan masyarakat belum dipantau secara terprogram. Semakin banyak pelanggaran hukum. Berkenaan dengan penentuan target jumlah perkara secara konkrit (250 perkara tahun 2003) adalah sesuatu yang tidak logis karena jumlah perkara yang masuk dan perlu ditangani tidak dapat diprediksi dan juga tidak dapat dibatasi. Penentuan target hendaknya dalam bentuk persentase dari jumlah perkara yang masuk dan perlu ditangani, bukan jumlah perkaranya. 4. Program-program yang dikembangkan masih bias dan belum dapat menjadi indikator keberhasilan pencapaian. Misalnya target tahun 2004, tersusunnya Perda yang berkaitan dengan TPI pada tahun 2003 lebih mengarah pada pencapaian sasaran pertama yakni tersedianya produk-produk hukum, bukan menunjukkan kemantapan koordinasi pelaksanaan penegakan hukum antar pusat dan daerah.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

44

5.

Penegakan Perda tentang Tera dan Tera Ulang pada tahun 2005 dan evaluasi pelaksanaan Perda pada tahap 2006 juga tidak dapat menjadi indikator keberhasilan kemantapan koordinasi pelaksanaan penegakan hukum antara pusat dan daerah.

6.

Belum terlihat kegiatan masyarakat dan aparat mengakses dan memanfaatkan produk hukum yang tersedia.

VI. Tindak Lanjut
Sebagai bentuk tindak lanjut, maka ada beberapa upaya yang dilakukan untuk mencapai sasaran, yaitu:

1. Kesesuaian produk hukum dengan kebutuhan daerah serta implementasi produk hukum, sehingga dapat
mendukung penyelenggaraan pemerintah daerah dan pembangunan.

2. Penyusunan Raperda sesuai dengan kebutuhan daerah, dengan melakukan studi pendahuluan untuk
mengetahui kebutuhan riil lapangan, yang dikemas dalam suatu dokumen (Naskah Akademik dan Naskah Hukum).

3. Sosialisasi produk hukum kepada masyarakat baik melalui: a. Jalur formal dari pemerintahan daerah, kecamatan, kelurahan, sampai RT dan RW. b. Jalur pendidikan dan organisasi massa/kemasyarakatan. c. Kerjasama dengan media d. Mengintensifkan kegiatan sosialisasi perlu juga dibarengi dengan upaya pengawasan, pemantauan
dan survai untuk melihat tingkat efektifitas pelaksanaan di lapangan atas berbagai produk hukum.

4. Sosialisasi untuk penyadaran masyarakat dan aparat dalam mencegah terjadinya tindak pidana korupsi. 5. Melibatkan pihak akademisi dalam hal ini bekerjasama dengan universitas. 6. Survai mengenai efektivitas dan tingkat pemanfaatan akses informasi produk hukum oleh masyarakat. 7. Lomba ketangkasan dan pengetahuan bertemakan kesadaran hukum. 8. Reality show bertemakan sosialisasi informasi produk hukum.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

45

BAB 3.3
Penghapusan Diskriminasi Dalam Berbagai Bentuk

I. Pengantar
Pada dasarnya, pembangunan sumber daya manusia harus dimulai sejak dini, pada saat janin dalam kandungan, dan dari unit yang terkecil yaitu keluarga. Oleh karena itu, perhatian kepada anak sejak dari dalam kandungan hingga remaja menjadi sangat penting dilakukan. Diskriminasi merupakan bentuk ketidakadilan. Pasal 1 ayat 3 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, menjelaskan bahwa pengertian diskriminasi adalah setiap pembatasan, pelecehan, atau pengucilan yang langsung maupun tak langsung didasarkan pada perbedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa, keyakinan politik, yang berakibat pengangguran, penyimpangan atau penghapusan pengakuan, pelaksanaan atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam kehidupan baik individual maupun kolektif dalam bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya dan aspek kehidupan lainnya. Perlakuan diskriminasi sangat bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 beserta amandemennya. Undang-Undang Dasar 1945 secara tegas mengutamakan kesetaraan dan keadilan dalam kehidupan bermasyarakat baik di bidang politik, ekonomi, sosial budaya, hukum dan bidang kemasyarakatan lainnya. Untuk itu Undang-Undang Dasar 1945 beserta amendemennya sangat penting untuk menjadi acuan universal para penyelenggara negara dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Penguatan komitmen Pemerintah Indonesia dalam melakukan penolakan terhadap berbagai bentuk diskriminasi antara lain tertuang dalam Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan (International Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women/ CEDAW) yang telah diratifikasi melalui Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984 dan diperkuat dengan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1999 tentang Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial, 1965 (International Convention on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination, 1965). Adanya ratifikasi CEDAW ini, Indonesia mempunyai kewajiban untuk melakukan penyesuaian berbagai peraturan perundang-undangan nasional yang terkait dengan Konvensi internasional tersebut dan mempunyai komitmen untuk melaksanakan kewajiban melaporkan pelaksanaan dalam rangka menghapuskan segala bentuk diskriminasi terutama yang terkait dengan diskriminasi terhadap perempuan.

46

Dalam dekade tiga tahun ini di Jawa Tengah masih banyak terjadi tindakan diskriminasi antara lain: Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), kasus balita terlantar, anak terlantar, kekerasan psikis, pekerja anak dan ekspoitasi seksual, perkosaan, pencabulan dan perdagangan manusia. Berbagai tindakan diskriminasi yang terjadi berbagai langkah untuk menekan tindakan diskriminasi yang terjadi harus segera diwujudkan pemerintah.

II. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah
Kenyataan menunjukkan bahwa kondisi ideal seperti yang dimaksudkan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002, tentang Perlindungan Anak belum sepenuhnya dapat diwujudkan. Hal itu dapat dilihat dari berbagai indikator, seperti pendidikan dimana Angka Partisipasi Kasar (APK) Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) masih rendah, yaitu pada tahun 2005 SMP/MTs adalah 86,21 persen dan SMA/MA/SMK adalah 48,83 persen. Namun, pada tahun 2006 jumlah Angka Partisipasi Kasar (APK) siswa SMP/MTs adalah 87,68 persen dan siswa SMA/MA/SMK adalah 54,05 persen. Selain itu, tingkat kematian bayi dan gizi buruk masih cukup tinggi, yang dapat dilihat dari tingginya Angka Kematian Bayi (AKB) tahun 2005 yaitu 25 per 1.000 kelahiran hidup, tahun 2006 yaitu 10,51 per 1.000 kelahiran hidup, dan tahun 2007 mengalami penurunan yaitu 9,52 per 1.000 kelahiran hidup dan kasus gizi buruk yang terjadi pada tahun 2005 adalah 1,03 persen meningkat menjadi 2,10 pesrsen atau 9.163 Balita. Disisi lain kemiskinan yang dihadapi para orang tua telah mendorong para orang tua mempekerjakan anakanak mereka untuk mencari nafkah tambahan atau bahkan menjadi tulang punggung keluarga. Tahun 2001 di Jawa Tengah terdapat 330.672 pekerja anak, yang merupakan kelompok rentan terhadap eksploitasi para majikan. Suatu hal yang paling mengkhawatirkan adalah anak-anak, sangat rentan terhadap tindak kekerasan, seperti penganiayaan, perkosaan, eksploitasi seksual, penculikan dan perdagangan anak. Dampak adanya perdagangan anak dan eksploitasi seksual terhadap anak, adalah meningkatnya jumlah anak penderita penyakit kelamin. Sampai pertengahan Tahun 2002 dari 135 kasus perkosaan yang terjadi di Jawa Tengah 62 persen korban adalah anak-anak. Rendahnya perlindungan anak, menempatkan posisi anak dan remaja menjadi korban eksploitasi ekonomi dan seksualitas, hal ini dapat dilihat dari kecenderungan meningkatnya kasus perkosaan oleh keluarga (incest). Sampai pertengahan Tahun 2002 kasus perkosaan oleh ayah kandung 9 kasus (10 korban), kasus perkosaan oleh ayah tiri 5 kasus (6 korban).

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

47

Anak juga sangat rentan terhadap tindakan diskriminasi hanya karena ketidakjelasan status dan identitasnya, sebagai akibat makin meningkatnya anak yang lahir diluar nikah dan nikah siri, seperti sulitnya anak mendapatkan akte kelahiran. Angka kasus hukum yang disebabkan oleh perlakuan diskriminatif yang terjadi di masyarakat adalah: Berbasis gender dan anak oleh PPT di kabupaten/kota adalah tahun 2005 angka kasus diskriminatif yang terjadi adalah 2.843 korban kekerasan, 32.083 balita terlantar, 11.223 anak terlantar. Pada tahun 2006 terjadi tindakan diskriminatif yaitu: 142 kasus fisik, 23 kasus psikis, 44 kasus perkosaan, 51 kasus pencabulan, dan 17 kasus KDRT. Hal ini menunjukkan angka penurunan dan di tahun 2007 terjadi 17 kasus KDRT, 4 kasus perkosaan, 4 kasus trafficking, dan 1 kasus buruh dan migran. Permasalahan dalam pembangunan anak dan remaja yang masih dihadapi saat ini adalah: (1) Tingginya tindak kekerasan terhadap anak; (2) Tingginya jumlah anak terlantar; (3) Rendahnya perlindungan status dan identitas anak; (4) Lemahnya kapasitas dan mekanisme kelembagaan penanganan anak dan remaja, salah satunya ditandai dengan terbatasnya informasi penerapan perlindungan anak; (5) Banyaknya pekerja anak; (6) Sedikitnya lembaga-lembaga sosial, LSM yang tergerak untuk menangani anak dan remaja; (7) Makin maraknya peredaran narkoba dan meningkatnya seks komersial bagi anak.

III. Sasaran yang Ingin Dicapai
Sasaran yang ingin dicapai dalam penghapusan diskriminasi dalam berbagai bentuk: Untuk mendukung upaya penghapusan diskriminasi dalam berbagai bentuk, sasaran yang akan dicapai dalam kurun waktu lima tahun kedepan adalah: 1. Terlaksananya peraturan perundang-undangan yang tidak mengandung perlakuan diskriminasi baik kepada setiap warga negara, lembaga/instansi pemerintah,.maupun lembaga swasta/dunia usaha secara konsisten dan transparan; 2. Terkoordinasikannya dan terharmonisasikannya pelaksanaan peraturan perundang- undangan yang tidak menonjolkan kepentingan tertentu sehingga dapat mengurangi perlakuan diskriminatif terhadap warga negara; 3. Terciptanya aparat dan sistem pelayanan publik yang adil dan dapat diterima oleh setiap warga negara.

IV. Arah Kebijakan
Dalam rangka mengatasi permasalahan diatas, kebijakan pembangunan anak dan remaja yang ditempuh adalah: (1) Pencegahan dan penanggulangan kekerasan terhadap anak; (2) Penanganan anak dan remaja

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

48

terlantar; (3) Perlindungan status dan identitas anak; (4) Perkuatan kelembagaan yang menangani anak dan remaja; (5) Perlindungan pekerja anak; (6) Mengembangkan partisipasi masyarakat, swasta, LSM, ormas untuk ikut serta dalam penanggulangan masalah anak dan remaja; (7) Penanganan kasus narkoba dan penderita PMS anak.

V. Pencapaian RPJMN di Daerah (2005-2007) 5.1. Upaya yang Dilakukan hingga tahun 2007
Upaya yang dilakukan untuk mengatasi penghapusan diskriminasi dalam berbagai bentuk yang dilakukan oleh pemerintah Jawa Tengah adalah: Pencapaian program peningkatan perlindungan dan pelayanan,pencegahanserta penanggulangan anak korban kekerasan, narkoba, penderita PMS dan HIV/Narkoba, adalah:

1. 2. 3.

Pemberian akte kelahiran secara gratis bagi 1.000 keluarga miskin. Sosialisasi akte kelahiran yang diikuti 200 orang, diskusi interaktif tentang konvensi hak anak (KHA) yang diikuti 70 orang pada tahun 2005 dan yang diikuti 125 orang pada tahun 2006. Pemberdayaan anak dan remaja melalui kegiatan: Peningkatan kualitas sumberdaya dan perlindungan hak-hak anak, pemberdayaan anak dan remaja tentang hak-hak reproduksi, kampanye anti kekerasan terhadap anak dan remaja, sosialisasi norma perlindungan hak anak yang terpaksa bekerja, untuk 2004 kegiatan peningkatan kualitas sumberdaya dan perlindungan hak anak dan remaja.

4. 5. 6.

Tahun 2004 dilaksanakan pelatihan pendidikan sebaya yang diikuti 450 orang remaja. Tahun 2005 diselenggarakan Sosialisasi Anak Indonesia Mencintai Budaya Damai (AIMBD) yang diikuti 40 peserta. Pada tahun 2006 dilaksanakan kegiatan TOT program AIMBD bagi 50 orang.

5.2. Posisi Capaian hingga tahun 2007
Pencapaian dari kegiatan yang dilakukan dari 2003-2006 secara umum telah mengarah pada upaya mewujudkan arah kebijakan pembangunan di sektor anak dan remaja. Namun ada beberapa kebijakan yang belum tersentuh hingga tahun 2006, yaitu masalah perlindungan dan pekerja anak yang belum dilakukan upaya dan kegiatan operasional secara nyata. Kemudian, penanganan kasus narkoba dan PMS anak dan HIV/AIDS juga belum terlihat secara nyata. Oleh sebab itu, kedua hal tersebut perlu segera mendapatkan penanganan dan menjadi fokus perhatian di tahun 2007 dan 2008 melalui upaya yang lebih nyata.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

49

Sebenarnya upaya penanggulangan masalah narkoba, PMS dan HIV/AIDS dapat dilakukan dengan sinergi sektor kepemudaan, kesehatan, keagamaan, serta pendidikan. Untuk itu perlu dilakukan koordinasi yang terpadu dengan instansi terkait sehingga pelaksanaan program tidak tumpang tindih dengan instansi lain.

5.3. Permasalahan Pencapaian Sasaran
Beberapa permasalahan terkait dengan penghapusan diskriminasi dalam segala bentuk masih ditemukan, antara lain: 1. Pengelolaan penanganan bencana alam dengan memberdayakan anak untuk program penyelamatan diri belum dikerjakan dan belum terprogram. 2. Peduli kesehatan dengan budaya hidup sehat dan mengkonsumsi makanan sehat belum terprogram. Sehingga banyak anak-anak yang tidak atau belum mengetahui makanan jajan di sekolah yang sehat dan bergizi. 3. Belum dilaksanakan berbagai kegiatan yang variatif terutama untuk mewujudkan anak Indonesia Mencintai Budaya Damai. Sehingga terkesan hanya sosialisasi yang monoton dan membosankan. 4. Belum maksimalnya program pemberdayaan anak untuk melindungi diri dari tindak kekerasan orang dewasa, dan orang asing dan orang-orang terdekat. 5. Belum maksimalnya program perlindungan anak jalanan perempuan dari tindak kekerasan dari anak jalanan.

VI. Tindak Lanjut
Upaya tindak lanjut dari agenda penghapusan diskriminasi dalam segala bentuk di Provinsi Jawa Tengah adalah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Mendirikan Panti Rehabilitasi Narkoba di setiap kabupaten, atau minimal di setiap wilayah eks karesidenan. Mendirikan panti/rumah singgah bagi anak terlantar/anak jalanan di setiap kabupaten atau minimal di wilayah eks karesidenan. Dilakukan simulasi penyelamatan jika terjadi bencana alam maupun bencana lainnya, kebakaran, dan lainnya di sekolah-sekolah. Penyuluhan tentang makann sehat bergizi dan jajanan sehat dari tingkat play group, taman kanak-kanak sampai dengan Sekolah Dasar. Mengaktifkan kembali program PKS dan Dokter Kecil, sehingga tumbuh kesadaran anak tentang kesehatan dan kepatuhan dalam berlalu lintas dengan benar. Melakukan berbagai kegiatan variatif untuk mewujudkan AIMBD, misalnya dengan menggalakkan kembali PORSENI SD dan SMP,dengan saling berlomba secara sportif dalam seni dan olah raga

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

50

diharpkan dapat menghindari permusuhan dan mengurangi tawuran antar pelajar, dan diharapkan terjalin keakraban antar sekolah. 7. Dilakukan simulasi dan penyuluhan tentang cara penyuluhan dari tindak kekerasan orang dewasa, orang asing, dan orang terdekat, baik kepada anak laki-laki atau pun perempuan.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

51

BAB 3.4
Penghormatan, Pengakuan, dan Penegakan Atas Hukum dan Hak Asasi Manusia

I. Pengantar
Hak asasi merupakan hak yang bersifat dasar dan pokok. Pemenuhan hak asasi manusia merupakan suatu keharusan agar warga negara dapat hidup sesuai dengan kemanusiaannya. Hak asasi manusia melingkupi antara lain hak atas kebebasan berpendapat, hak atas kecukupan pangan, hak atas rasa aman, hak atas penghidupan dan pekerjaan, hak atas hidup yang sehat serta hak-hak lainnya sebagaimana tercantum dalam Deklarasi Hak Asasi Manusia Tahun 1948. Penghormatan terhadap hukum dan hak asasi manusia merupakan suatu keharusan dan tidak perlu ada tekanan dari pihak manapun untuk melaksanakannya. Pembangunan bangsa dan negara pada dasarnya juga ditujukan untuk memenuhi hak-hak asasi warga negara. Hak asasi tidak sebatas pada kebebasan berpendapat ataupun berorganisasi, tetapi juga menyangkut pemenuhan hak atas keyakinan, hak atas pangan, pekerjaan, pendidikan, kesehatan, rasa aman, penghidupan yang layak, dan lain-lain. Kesemuanya tersebut tidak hanya merupakan tugas pemerintah tetapi juga seluruh warga negara untuk memastikan bahwa hak tersebut dapat dipenuhi secara konsisten dan berkesinambungan. Penegakan hukum dan ketertiban merupakan syarat mutlak bagi upaya-upaya penciptaan Indonesia yang damai dan sejahtera. Apabila hukum ditegakkan dan ketertiban diwujudkan, maka kepastian, rasa aman, tenteram, ataupun kehidupan yang rukun akan dapat terwujud. Namun ketiadaan penegakan hukum dan ketertiban akan menghambat pencapaian masyarakat yang berusaha dan bekerja dengan baik untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal tersebut menunjukkan adanya keterkaitan yang erat antara damai, adil dan sejahtera. Untuk itu perbaikan pada aspek keadilan akan memudahkan pencapaian kesejahteraan dan kedamaian. Penegakan hukum dan Hak Asai Manusia (HAM) belum optimal. Hal ini dapat dilihat masih meningkatnya kasus hukum dan pelanggaran HAM di Jawa Tengah dalam dekade tiga tahun terakhir. Kasus pelanggaran hukum dan HAM yang terjadi antara lain: Kasus korupsi ndi tingkat provinsi dan kabupaten/kota, pelanggaran Ham, serta ekploitasi komersial anak. Banyaknya pelanggaran HAM menandakan kurang optimalnya produk

52

hukum yang berlaku dan kurangnya pemahaman dan partisipasi masyarakat dan penegakn hukum dan HAM yang berlaku.

II. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah
Upaya-upaya penegakan supremasi hukum dan penghormatan terhadap hak asasi manusia (HAM) masih terus dilakukan dalam rangka mewujudkan rasa keadilan dan kebenaran dalam tatanan kehidupan masyarakat. Sementara itu penyusunan produk-produk hukum daerah sebagai bagian dari sistem hukum nasional, dirasakan masih banyak yang belum sesuai dengan tingkat kebutuhan pembangunan dan belum seluruhnya mencerminkan aspirasi masyarakat yang berkembang. Permasalahan utama pembangunan hukum dan HAM, adalah belum terwujudnya pelaksanaan penegakan hukum dan HAM secara nyata serta konsisten karena masih adanya permasalahan yang komprehensif, yaitu: (1) Produk hukum yang dimiliki untuk mendukung implementasi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 belum memadai; (2) Masih kurangnya pemahaman terhadap peraturan perundang-undangan oleh aparatur dan masyarakat; (3) Masih lemahnya penegakan hukum dan HAM oleh aparatur dan masyarakat, hal ini dapat dilihat bahawa terjadi angka pelanggaran HAM di tahun 2005 sebanyak 260 kasus dan meningkat pada tahun 2006 menjadi 308 kasus. Selain itu, terjadinya angka peningkatan kasus korupsi yang terjadi di daerah, pada tahun 2005 di provinsi Jawa Tengah terjadi 5 kasus korupsi meningkat menjadi 29 kasus korupsi di tahun 2006, sedangkan angka kasus korupsi di tingkat kabupaten/kota pada tahun 2005 adalah 14 kasus korupsi meningkat pada tahun menjadi 53 kasus korupsi; (4) Belum optimalnya koordinasi pelaksanaan penegakan hukum dan HAM antara Pusat dengan Daerah; (5) Masih terbatasnya sarana dan prasarana hukum termasuk layanan Jaringan Dokumentasi dan Informasi (JDI) hukum. Pelanggaran HAM lain yang terjadi di Jawa Tengah adalah angka kasus eksploitasi seksual komersial anak yang cenderung meningkat. Pada tahun 2005 terjadi 1.302 anak yang mengalami kasus eksploitasi komersial anak, sedangkan pada tahun 2006 terjadi jumlah kekerasan anak sebanyak 2.425 orang terdiri dari 1.440 laki-laki dan 985 perempuan, 44 kasus perkosaan, dan 51 kasus pencabulan. Namun, pada tahun 2007 hanya terjadi 44 kasus perkosaan. Kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Jawa Tengah yang juga melibatkan anak-anak adalah kasus pekerja anak. Pada tahun 2005 terdapat 1372 anak yang dipekerjakan serta menagalami peningkatan sebesar 2.029 di 10 kabupaten yaitu: Kab Rembang, Cilacap, Semarang, Karanganyar, Banyumas, Klaten, Jepara, Kota Semarang dan Kota Tegal.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

53

Potensi yang dimiliki untuk mewujudkan penegakan supremasi hukum dan HAM, adalah (1) Adanya kultur masyarakat yang agamis dan paternalistik, memudahkan dalam penerimaan perubahan-perubahan peraturan hukum. Oleh karena itu, timbulnya konflik dalam masyarakat relatif kecil; (2) Adanya lembaga/organisasi kemasyarakatan yang bergerak di bidang hukum yang dapat di manfaatkan untuk mendukung peningkatan kesadaran hukum masyarakat; (3) Tersedianya sumber daya aparatur pemerintah daerah yang mempunyai kemampuan dalam penegakan Perda, dalam hal ini Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) sejumlah 280 orang; (4) Tersedianya sarana dan prasarana hukum untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

III. Sasaran yang Ingin Dicapai
Sasaran yang ingin dicapai dalam penghormatan, pengakuan, dan penegakan hukum dan HAM: 1. 2. 3. Tersedianya produk-produk hukum daerah sesuai dengan kebutuhan dalam mendukung penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Peningkatan kesdaran dan kepatuhan hukum. Mantapnya koordinasi pelaksanaan hukum dan HAM antara Pusat dengan Daerah

IV. Arah Kebijakan
Kebijakan, Dalam rangka menanggulangi permasalahan diatas, maka kebijakan pembangunan hukum dan HAM adalah: (1) Peningkatan pelaksanaan penegakan hukum dan HAM untuk mendukung terwujudnya supremasi hukum; (2) Pengembangan budaya hukum bagi seluruh aparatur dan masyarakat untuk mendukung terciptanya kesadaran serta kepatuhan hukum. Tujuan, yang akan dicapai melalui kebijakan pembangunan hukum dan HAM, adalah: (1) Menyusun produkproduk hukum daerah yang dapat mendukung pelaksanaan otonomi daerah; (2) Meningkatkan kesadaran dan kepatuhan hukum bagi aparatur serta masyarakat; (3) Meningkatkan penegakan hukum dan HAM secara tegas dan manusiawi berdasarkan asas keadilan; (4) Mengoptimalkan koordinasi pelaksanaan penegakan hukum dan HAM antara Pusat dengan Daerah; (5) Meningkatkan sarana dan prasarana hukum termasuk layanan Jaringan Dokumentasi dan Informasi (JDI) hukum Strategi, yang dilakukan untuk mencapai tujuan pembangunan hukum dan HAM, adalah: (1) Menyusun dan menyempurnakan produk-produk hukum daerah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999; (2) Meningkatkan kesadaran dan kepatuhan hukum bagi aparatur serta masyarakat; (3) Meningkatkan penegakan hukum dan HAM secara tegas dan manusiawi berdasarkan

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

54

asas keadilan; (4) Mengoptimalkan koordinasi pelaksanaan penegakan hukum dan HAM antara Pusat dengan Daerah; (5) Meningkatkan sarana dan prasarana hukum dengan mengembangkan media komunikasi serta informasi sistem Jaringan Dokumentasi dan Informasi (JDI) hukum. Program, yang dilakukan untuk mendukung strategi dalam mencapai tujuan pembangunan hukum dan HAM, adalah:

1.

Penyusunan dan Pembaharuan Produk-Produk Hukum di Daerah. Program ini bertujuan untuk mendukung upaya-upaya dalam rangka mewujudkan supremasi hukum terutama penyempurnaan dan pembaharuan produk-produk hukum daerah sesuai dengan kebutuhan, kondisi dan potensi daerah sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah.

2.

Peningkatan Kesadaran dan Kepatuhan Hukum. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kepatuhan hukum baik bagi aparatur pemerintah secara keseluruhan maupun masyarakat dalam rangka menciptakan budaya hukum yang baik diseluruh jajaran aparatur dan lapisan masyarakat.

3.

Penerapan dan Penegakan Hukum serta HAM. Program ini ditujukan pada upaya-upaya peningkatan koordinasi dan pelaksanaan penegakan hukum secara komprehensif guna menurunkan jumlah pelanggaran hukum oleh aparatur maupun masyarakat, utamanya dalam mendukung penuntasan berbagai kasus KKN serta pelanggaran HAM.

4.

Peningkatan Sarana dan Prasarana Hukum. Program ini bertujuan untuk mendukung terciptanya kesadaran hukum diseluruh jajaran aparatur pemerintah dan lapisan masyarakat melalui pengembangan sarana serta prasarana komunikasi dan informasi sistem jaringan dokumentasi dan informasi (JDI) hukum.

V. Pencapaian RPJMN di Daerah (2005-2007) 5.1. Upaya yang Dilakukan hingga tahun 2007
Upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah provinsi Jawa Tengah dalam rangka penghormatan, pengakuan, dan penegakan atas hukum dan hak asasi manusia adalah: 1. Penyusunan dan pembaharuan produk-produk hukum di daerah. Hal ini bertujuan agar tersedianya produk hukum di daerah sesuai dengan kebutuhan dalam mendukung penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. 2. Peningkatan kesadaran dan kepatuhan hukum. Hal ini bertujuan agar meningkatnya kesadaran dan kepatuhan hukum bagi aparatur dan masyarakat terhadap produk hukum daerah dan peraturan perundang-undangannya. Peningkatan kesadaran dan kepatuhan hukum sampai tahun 2007 adalah:

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

55

a.

Tahun 2003 dilakukan sosialisasi 6 peraturan perundang-undangan yaitu: Undang-Undang tentang HAM, Undang-Undang pertanahan, Perda Provinsi Jawa Tengah Nomor 6 Tahun 2002, Perda Provinsi Jawa Tengah Nomor 7 Tahun 2002, Perda Provinsi Jawa Tengah Nomor 8 Tahun 2002, dan Perda Provinsi Jawa Tengah Nomor 9 Tahun 2002.

b.

Pada tahun 2004 dilakukan sosialisasi terhadap 2 peraturan perundang-undangan, yaitu Perda Provinswi Jawa Tengah Nomor 3 Tahun 2003 dan Perda Provinsi Jawa Tengah Nomor 23 tahun 2003.

c.

Tahun 2005, telah dilaksanakan sosialisasi 4 vperaturan perudang-undangan dan RANHAM Provinsi Jawa Tengahyaitu sosialisasi tentang Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004, UndangUndang Nomor. 33 Tahun 2004, Perda Provinsi Jawa Tengah Nomor 16 Tahun 2003, Perda Provinsi Jawa Tengah Nomor 17 Tahun 2003 dan sosialisasi RANHAM Provinsi Jawa Tengah.

d.

Pada tahun 2006 telah dilakukan sosialisasi terhadap 2 peraturan perundang-undangan dan RANHAM Provinsi Jawa Tengah, yaitu sosialisasi Perda Provinsi Jawa Tengah Nomor 2 Tahun 2005, Perda Provinsi Jawa Tengah Nomor 3 Tahun 2005 serta RANHAM Provinsi Jawa Tengah.

e. 3.

Penyuluhan tentang demokarasi, supremasi hukum dan HAM di kalangan pemuda dan pelajar, diselenggarakan pada tahun 2005 dan 2006 yang masing-masing diikuti oleh 350 orang peserta.

Penerapan dan penegakan hukum serta HAM. Upaya yang dilaksanakan adalah penanganan perkara dan konsultasi hukum baik untuk instansi pemerintah yang ada maupun masyarakat yang memerlukan, melalui kerjasama dengan berbagai LBH yang ada di Provinsi Jawa Tengah.

a. b. c. d.

Pada tahun 2003 telah ditangani 250 perkara dan 450 konsultasi hukum, bekerja sama dengan 15 LBH. Tahun 2004 telah ditangani 250 perkara dan 450 konsultasi hukum, melalui kerjasama dengan 15 LBH yang ada di Jawa Tengah. Pada tahun 2005, melalui biro hukum menangani 260 perkara dan 430 konsultasi hukum dengan melibatkan 17 LBH Tahun 2006, dilakukan penanganan terhadap 308 perkara dan 474 konsultasi hukum dengan melibatkan 18 LBH, juga dilakukan kegiatn penyluhan hukum dan penanganan perkara oleh Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah dan penanganan perkara di tingkat banding oleh Pengadilan Tinggi Jawa Tengah.

4.

Meningkatkan koordinasi pelaksanaan penegakan hukum dan HAM antara pusat dengan daerah.

a.

Target pada tahun 2003 menyelesaikan Perda yang berkaitan dengan TPI di 4 kabupaten/kota di Jawa Tengah, pada pelaksanaannya dapat diwujudkan di Kota Tegal, Kota Pekalongan, Kabupaten Batang dan Kabupaten Rembang (100 pesen)

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

56

b.

Target tahun 2004, penegakan Perda yang berkaitan dengan pemanfaatan air bawah tanah di 5 kabupaten/kota. Akan tetapi dalam pelaksanaannya hal tersebut belum dapat direalisasikan sekali, sehingga tingkat ketercapiannya 0 pesen.

c.

Target tahun 2005 penegakan Perda yang berkaitan dengan Tera dan Tera Ulang di 3 Barkolin Jawa Tengah. Dalam realisasinya Perda dilaksanakan di Bakorlin I, Bakorlin II, dan Bakorlin III (100 pesen)

d.
5.

Target tahun2006, evaluasi pelaksanaan Perda dan Pengukuhan Panitia Pelaksana RANHAM di 35 Kabupaten / Kota Jawa Tengah, dapat dilaksanakan di 30 kabupaten/kota. (86 pesen)

Peningkatan sarana dan prasarana hukum serta HAM

a.

Target pada tahun 2003: 1) Peningkatan data peraturan perundang-undangan; 2) Pengadaan koleksi dokumentasi hukum; 3) Langganan warta perundang-undangan; 4) Mengadakan orientasi petugas JDI Hukum di Provinsi Jawa Tengah; 5) Mengadakan koordinasi dengan Pusat Jaringan dan Anggota Jaringan. Realisasi dari taget ini: 1) Pengolahan data entry sejumlah 400 data indek, naskah lengkap 2.500 halaman, melalui program scanning sebanyak 2500 halaman; 2) Pengadaan koleksi dokumentasi hukum 134 buku; 3) Langganan warta Perundang-undangan 24 eksemplar selama 12 bulan; 4) Orientasi Petugas JDI Hukum di Provinsi Jawa Tengah sejumlah 40 orang; dan 5) Mengadakan koordinasi antara Pusat Jaringan dan Anggota Jaringan.

b.

Target Tahun 2004: 1) Peningkatan jumlah data peraturan perundang-undangan; 2) Penerbitan abstrak peraturan perundang-undangan; 3) Pengadaan Koleksi dokumentasi hukum; 4) Langganan warta perundang-undangan; 5) Rapat teknis anggota jaringan; 6) Melaksanakan koordinasi ke Pusat Jaringan dan anggota jaringan. Realisasi: 1) Pengolahan data entry sejumlah 400 data indek, naskah lengkap 2.500 halaman, satu progaram aplikasi sistem informasi hukum; 2) Penerbitan abstrak peraturan perundang-undangan; 3) Pengadaan Koleksi dokumentasi hukum sebanyak 222 buku; 4) Langganan warta Perudang-undangan 24 eksemplar selama 12 bulan; 5) Rapat Teknis Aggota Jaringan se Provinsi Jawa Tengah sejumlah 40 orang; dan 6) Mengadakan koordinasi antara Pusat Jaringan dan Anggota Jaringan.

c.

Tahun 2005: 1) Pengolahan data peraturan perundang-undangan; 2) Pengadaan Koleksi dokumentasi hukum; 3) Langganan warta perundang-undangan; 4) Rapat teknis anggota jaringan; 5) Melaksanakan koordinasi ke Pusat Jaringan dan anggota jaringan. Realisasi pada tahun 2005 adalah: 1) Penambahan data peraturan perundang-undangan di Website; 2) Pengadaan Koleksi dokumentasi hukum sejumlah 34 buku; 3) Langganan warta Perudang-undangan 24 eksemplar selama 12 bulan; 4) Rapat Teknis Aggota Jaringan se Provinsi Jawa Tengah sejumlah 60 orang; dan 5) Mengadakan koordinasi antara Pusat Jaringan dan Anggota Jaringan.

d.

Pada Tahun 2006 : 1) Pemanfaatan teknologi komputer; 2) Pengadaan koleksi dokumentasi hukum; 3) Langganan warta perundang-undangan; 4) Pengadaan rakornis anggota jaringan; 5)

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

57

Mengadakan koordinasi antara Pusat Jaringan dan Anggota Jaringan. Realisasi pada tahun 2006: 1) Memanfaatkan teknologi komputer melalui peningkatan jumlah data pada pangkalan data peraturan perundang-undangan dan Biro Hukum dengan naskah lengkap; 2) Pengadaan koleksi dokumentasi hukum dengan pembelian buku-buku sejumlah 24 buku dan pengadaan peraturan per-Undang-Undang-an sejumlah 59 eksemplar; 3) Langganan warta Perudang-undangan 24 exmplar selama 12 bulan; 4) Menyelenggarakan rakornis anggota jaringan di Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sebanyak 35 orang; 5) Melaksanakan koordinasi ke pusat jaringan (BPHN) dan anggota jaringan 35 kabupaten/kota.

5.2. Posisi Capaian hingga tahun 2007
Posisi capaian hingga tahun 2007 terkait dengan upaya penghormatan, pengakuan, dan penegakan atas hukum dan hak asasi manusia, adalah: 1. Pencapaian program pembaharuan produk-produk hukum di daerah sampai tahun 2007 adalah: Pada tahun 2003 ditargetkan tersusun 10 raperda, pada realisasinya terdapat 10 raperda (100 pesen), pada tahun 2004 target 9 raperda berhasil tersusun 9 raperda (100 pesen), berikutnya tahun 2005 dari target 7 raperda berhasil direalisasikan 7 raperda (100 pesen), dan pada tahun 2006 ditargetkan 6 raperda dan berhasil direalisasikan 6 raperda (100 pesen). 2. Upaya peningkatan pencapaian dan kesadaran hukum adalah pencapaian yang ada selama periode 2003-2006 belum menunjukkan hasil yang optimal, dari 32 produk hukum baru yang berhasil disusun selama empat tahun baru 12 produk hukum yang berhasil disosialisasikan. 3. Peningkatan dan penerapan hukum dan HAM dapat diketahui dari peningkatan jumlah perkara yang dapat ditangani dari 250 tahun 2003 dan menjadi 260 da 308 pada tahun 2005 dan 2006 menunjukkan kinerja aparat hukum meningkat namun disisi lain menunjukkan bahwa telah terjadi semakin banyak pelanggaran hukum. 4. Program-program peningkatan koordinasi dan HAM yang dikembangkan masih bias dan belum dapat menjadi indikator keberhasilan penyampaian sasaran. Misalnya, tersusunnya Perda yang berkaitan dengan TPI pada tahun 2003 mengarah pada pencapaian sasaran, pertama yakni tersedianya produkproduk hukum, bukan menunjukkan koordinasi pelaksanaan penegakan hukum dan HAM antara pusat dan daerah. 5. Kegiatan peningkatan sarana dan prasarana hukum dan HAM yang dikembangkan belum maksimal dan terkesan masih sepihak. Belum terlihat kegiatan masyarakat dan aparat mengakses dan memanfaatkan produk hukum yang tersedia. Oleh karena itu perlu dilakukan survey untuk mengetahui bagaimana tingkat pemanfaatan akses hukum oleh masyarakat dan aparat pemerintah

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

58

5.3. Permasalahan Pencapaian Sasaran
Permasalahan pencapaian sasaran terkait penghormatan, pengakuan, dan penegakan atas hukum dan hak asasi manusia, adalah: 1. Program pembaharuan produk-produk hukum pencapaian yang ada selama tahun 2003-2006, upaya penyusunan produk hukum melalui perancangan raperda telah dapat direalisasikan sesuai dengan target yang telah dibuat setiap tahunnya, sehingga tingkat keberhasailannya adalah 100 pesen. Hal yang perlu dikaji lebih lanjut adalah kesesusaian produk hukum dengan kebutuhan di daerah serta implementasi produk hukum tersebut sehingga dapat mendukung penyelenggaraan pemerintah daerah dan pembangunan. 2. Permasalahan yang terjadi adalah ketidakseimbangan produk hukum dengan kegiatan sosialisasinya, kesadaran dan kepatuhan hukum para aparatur dan masyarakat yang belum dipantau secara terprogram. Hal ini tentu saja berakibat pada belum tercapainya sasaran kedua yakni meningkatnya kesadaran dan kepatuhan bagi para aparatur dan masyarakat terhadap produk hukum daerah terhadap peraturan dan perundangannya. 3. Berkenaan dengan penentuan target jumlah perkara secara konkrit (250 perkara tahun 2003) adalah sesuatu yang tidak logis karena jumlah perkaran yang masuk dan ditangani tidak dapat diprediksi dan juga tidak dapat dibatasi. Penrntuan target hendaknya dalam bentuk persentase dari jumlah perkara yang masuk dan perlu ditangani, bukan jumlah perkaranya. Program konsultasi hukum yang telah dilaksanakan dengan baik untuk upaya pencegahan pelanggaran hukum. 4. Penegakan Perda antara Tera dan Tera Ulang pada tahun 2005 dan evaluasi pada pelaksanaan Perda pada tahun 2006 juga tidak dapat menjadi indikator keberhasilan kemantapan koordinasi pelaksanaan penegakan hukum dan HAM antara pusat dan daerah. 5. Permasalahan yang timbul mengenai peningkatan sarana dan prasarana hukum dan HAM berupa: apabila produk hukum itu disediakan pada situs internet, berapa banyak masyarakat yang telah mengunjungi situs tersebut . Bila dipersiapkan dalam bentuk cetak, berapa buku yang dicetak dan berapa banyak yang telah di baca/dipakai oleh masyarakat. Selain itu, penyebarluasan informasi dengan menggunakan kemasan yang lebih mudah dicerna oleh masyarakat tanpa terkesan menggurui.

VI. Tindak Lanjut
Berdasarkan pencapaian yang telah dilakukan diatas, berikut disajikan tindak lanjut yang akan dilakukan dalam rangka penghormatan, pengakuan, dan penegakan atas hukum dan hak asasi manusia adalah: 1. Penyusunan Raperda sesuai dengan kebutuhan daerah, dengan melakukan studi pendahuluan untuk mengetahui kebutuhan riil di lapangan.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

59

2.

Sosialisasi produk hum kepada masyarakat melalui: 1) jalur formal dari pemerintah daerah, kecamatan, kelurahan samapai pada tingkat RT/RW; 2) Jalur pendidikan dan organisasi masyarakat dan Kemasyarakatan; 3) erjasama dengan media; 4) Mengintensifkan kegiatan sosialisasi perlu juga di barengi dengan upaya pengawasan, -pemantauan, survai, untuk meningkatkan efektifitas dilapangan atas berbagai produk hukum.

3. 4. 5. 6. 7. 8.

Sosialisasi HAM bagi aparatur pemerintahan, terutama yang berhubungan langsung dengan tugastugas masyarakat. Sosialisasi untuk penyadaran masyarakat dan aparat dalam mencegah terjadinya tindak pidana korupsi. Melibatkan pihak akademisi dalam hal ini bekerjasama dengtan universitas. Survey mengenai efektivitas dan tingkat pemanfataan akses informasi produk hukum oleh masyarakat. Lomba ketangkasan dan pengetahuan bertemakan kesadaran hukum. Reality Show bertemakan sosialisasi informasi produk hukum.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

60

BAB 3.5
Peningkatan Kualitas Kehidupan dan Peran Perempuan serta Kesejahteraan dan Perlindungan Anak

I.

Pengantar

Permasalahan mendasar dalam pembangunan pemberdayaan perempuan dan anak yang terjadi selama ini adalah rendahnya partisipasi perempuan dan anak dalam pembangunan, di samping masih adanya berbagai bentuk praktek diskriminasi terhadap perempuan. Permasalahan lainnya mencakup kesenjangan partisipasi politik kaum perempuan yang bersumber dari ketimpangan struktur sosio-kultural masyarakat yang diwarnai penafsiran terjemahan ajaran agama yang bias gender. Dalam konteks sosial, kesenjangan ini mencerminkan masih terbatasnya akses sebagian besar perempuan terhadap layanan kesehatan yang lebih baik, pendidikan yang lebih tinggi, dan keterlibatan dalam kegiatan publik yang lebih luas. Di Jawa Tengah sendiri permasalahan yang menyangkut ketidakberdayaan perempuan, anak dan remaja yang terjadi hingga 2007 adalah kemiskinan, pendidikan, ketenagakerjaan, kesehatan, kekerasan terhadap perempuan dan ketidakberdayaan anak dan remaja. Sementara itu, kegiatan penanggulangan kemiskinan belum sepenuhnya mengintegrasikan pespektif gender (aspirasi, masalah, pengalaman, dan kebutuhan perempuan) ke dalamnya. Dalam hal perlindungan anak, pada dasarnya pembangunan sumber daya manusia harus dimulai sejak dini, pada saat janin dalam kandungan, dan dari unit yang terkecil yaitu keluarga. Oleh karena itu, perhatian kepada anak sejak dari dalam kandungan hingga remaja menjadi sangat penting dilakukan.

II.

Kondisi Awal RPJM-N di Tingkat Daerah

2.1. Masih rendahnya kualitas hidup dan peran perempuan.
Berdasarkan Susenas Tahun 2002, angka sementara jumlah penduduk Jawa Tengah sebanyak 31.691.866 jiwa, yang terdiri dari penduduk laki-laki sebanyak 15.787.143 jiwa (49,81 persen) dan perempuan sebanyak 15.904.723 jiwa (50,19 persen). Pada kenyataannya perempuan belum menerima manfaat pembangunan secara proporsional, sebagaimana yang ditunjukkan oleh dua indikator dalam Human Development Index (HDI), yaitu Gender Related Development Index (GDI) dan Gender Empowerment Measure (GEM). Indeks

61

Pembangunan Gender/Gender Related Development Index (GDI) Jawa Tengah pada tahun 2002 sebesar 57,4 meningkat hanya 58,7 pada tahun 2004. Indeks Pemberdayaan Gender/Gender Empowering Measure (GEM) menunjukkan peran serta aktif perempuan dalam kehidupan ekonomi dan politik. GEM menitik beratkan pada partisipasi perempuan dengan cara mengukur ketimpangan jender di bidang ekonomi, partisipasi politik dan pengambilan keputusan. Indeks ini mengukur persentase wanita di parlemen, prosentase wanita di antara tenaga profesional, teknisi, pegawai dan manajer serta prosentase penghasilan wanita dibandingkan penghasilan laki-laki. GEM Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2002 sebesar 51,2 dan pada tahun 2004 turun menjadi 51,0. Selain itu program pemberdayaan perempuan dari tahun ke tahun semakin banyak menjadi perhatian. Hal ini seiring dengan kondusifnya iklim yang mendukung perwujudan keadilan dan kesetaraan gender. Keadaan ini terlihat dengan semakin banyaknya perempuan yang dapat menduduki posisi penting dalam proses pengambilan keputusan, namun demikian secara umum kondisi obyektif kualitas perempuan di Jawa Tengah saat ini masih cukup memprihatinkan. Kondisi tersebut antara lain tercermin dari perbedaan angka buta huruf antara laki-laki dan perempuan usia 10 tahun ke atas, untuk laki-laki pada tahun 2000 sebesar 7,58 persen, sedangkan buta huruf perempuan sebesar 17,51. Perbedaan cukup besar terjadi pada “rata-rata lama sekolah laki-laki dan perempuan”, yaitu untuk laki-laki rata-rata lama sekolah 6,7 tahun, sedangkan perempuan 6,5 tahun. Rata-rata lama sekolah perempuan di bawah lima tahun masih banyak terjadi terutama di 12 kabupaten di Jawa Tengah. Angka drop out (DO) di Jawa Tengah pada tingkat SD untuk laki-laki 0,06 persen dan perempuan 4,04 persen, DO pada tingkat SMP tahun yang sama, untuk laki-laki sebesar 0,04 persen dan perempuan 2,46 persen, sedangkan DO di tingkat SMA laki-laki sebesar 0,02 persen dan perempuan 3,4 persen. Selain itu, ketidakadilan gender tidak lepas dari adanya teks-teks agama yang ditafsirkan berbias gender. Ketimpangan gender terjadi pula di sektor ketenagakerjaan dan ekonomi yang dapat dilihat dari indikator Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). Pada Tahun 2001, TPAK perempuan sebesar 56,37 persen, sedangkan laki-laki 87,68 persen. Selain itu, perempuan yang bekerja belum dapat menjamin kesejahteraannya karena kenyataannya jumlah perempuan bekerja yang tidak dibayar cukup besar, yaitu 32,58 persen, sedangkan laki-laki 10,75 persen. Jumlah perempuan yang menjadi kepala rumah tangga sebesar 12,72 persen dari total rumah tangga di Jawa Tengah dan 37,80 persen nya tidak pernah sekolah. Di sektor formal, menunjukkan semakin meningkatnya kecenderungan perlakuan ketidakadilan yang diterima pekerja dan masih lemahnya perlindungan hukum bagi pekerja. Selain itu saat ini semakin banyak pengalihan proses produksi dari pabrik ke industri rumah tangga atau yang dikenal dengan Putting Out System (POS), artinya semua proses produksi dilakukan keluarga pekerja dan dikerjakan di rumah mereka. Sistem ini sangat

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

62

merugikan pekerja karena mereka memberikan subsidi kepada pengusaha berupa tempat, transpot, listrik, air dan alat produksi, serta rendahnya upah yang diterima oleh pekerja.

2.2. Tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak
Tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak merupakan salah satu bentuk pelanggaran hak asasi manusia. Meskipun banyak upaya telah dilakukan oleh pemerintah Provinsi Jawa Tengah seperti dibentuknya komisi perlindungan perempuan dan anak Provinsi Jawa Tengah Nomor 76 tahun 2006 dan draf rencana strategis perlindungan perempuan dan anak, lalu guna menekan angka kekerasan terhadap perempuan sampai tahun 2006, telah dibentuk Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) di 26 kabupaten/kota di Jawa Tengah, guna melengkapi Pusat Pelayanan Terpadu yang ada di tingkat Provinsi Jawa Tengah. Namun pelayanan masih sangat kurang, hal ini dapat dilihat dari Undang-Undang perlindungan anak melalui berbagai kebijakan dan program yang dalam penyelesaian kasus kekerasan diproses secara hukum tanpa menggunakan Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 dan tidak perspektif anak. Kesemua upaya tersebut belum cukup untuk menekan tingginya tindak kekerasan dan eksploitasi terhadap perempuan dan anak. Data yang akurat belum tersedia, karena banyak kasus-kasus kekerasan dan eksploitasi terhadap perempuan dan anak yang tidak dilaporkan, dengan anggapan bahwa masalah tersebut adalah masalah domestik keluarga yang tidak perlu diketahui orang lain. Sampai pertengahan Tahun 2002 terjadi 60 kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan 78 kasus perkosaan yang tersebar di 23 Kabupaten/Kota. Bahkan pada tahun 2002 banyak terjadi kasus perkosaan beramai-ramai (satu perempuan diperkosa dua hingga enam laki-laki). Dari kasus perkosaan tersebut, lebih dari 60 persen korban perkosaan adalah anak (usia di bawah 18 tahun). Permasalahan lain yang banyak ditemui adalah kasus kekerasan terhadap pekerja migran perempuan. Meningkatnya kualitas dan kuantitas perkosaan menunjukkan belum optimalnya upaya hukum dan upaya lain untuk memperkecil atau memberantas kejahatan perkosaan. Sedangkan pada tahun 2007 sampai dengan bulan Mei tercatat 4 kasus perkosaan, 4 kasus trafking, 1 kasus buruh migran dan 17 kasus kekerasan dalamrumah tangga (KRDT). Angka tersebut kemungkinan lebih kecil dai kasus yang sesungguhnya terjadi, mengingat kasus kekerasan terhadap perempuan sulit diungkapkan dan dilaporkan kepada yang berwajib, serta anggapan masalah KDRT adalah masalah pribadi. Di Jawa Tengah sendiri terdapat 330.672 pekerja anak yang merupakan kelompok rentan terhadap eksploitasi majikan, rentan terhadap tindak kekerasan sperti prnganiayaan, perkosaan, eksploitasi seksual, penculikan dan perdagangan anakyang beresiko terjangkitnya penyakit kelamin.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

63

2.3. Rendahnya kesejahteraan dan perlindungan anak
Upaya pemerintah yang telah dilakukan selama ini belum sepenuhnya mampu meningkatkan kesejahteraan dan perlindungan anak. Di bidang pendidikan angka partisipasi sekolah (APS), dan angka putus sekolah masih tinggi. Di bidang kesehatan prevalensi gizi kurang dan gizi buruk pada anak balita masih tinggi. Sementara itu, permasalahan yang dihadapi dalam upaya meningkatkan kesejahteraan anak antara lain masih banyaknya pekerja anak. Berdasarkan survey Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah di 500 perusahaan tahun 2005 tercatat 1.372 pekerja anak. Tahun 2006 di lakukan pendataan di di 10 kabupaten yaitu kabupaten Rembang, Cilacap, Semarang, Karanganyar, Banyumas, Klaten, Jepara, Kota Semarang, dan Kota Tegal tercatat sebanyak 2.029 pekerja anak. Pada tahun 2006, berdasarkan data Dinas Kesejahteraan Sosial Provinsi Jawa Tengah, jumlah anak korban kekerasan sebanyak 2.425 orang terdiri dari 1.440 laki-laki dan 985 perempuan. Selain itu pula menurut data Dinas Kesejahteraan Sosial pada tahun 2006 menunjukkan masih terdapat 36.474 anak balita terlantar (18.518 laki-laki dan 17.956 perempuan), 10.025 anak jalanan (8.764 laki-laki dan 1.261 perempuan), 171.308 anak terlantar (90.724 laki-laki dan 80.584 perempuan). Selain itu anak dengan kondisi khusus juga masih dijumpai di Provinsi Jawa Tengah. Jumlah anak cacat tuna rungu wicara tahun 2006 tercatat 10.778 anak; cacat mental retardasi 10.758 anak; cacat ganda 4.192 anak; cacat tubuh 19.243 anak; cacat netra 6.273 anak; dan cacat mental eks psikotik 3.328 anak. Rendahnya perlindungan terhadap anak, menempatkan posisi anak dan remaja menjadi korban eksploitasi ekonomi dan seksualitas yang dapat dilihat dari meningkatnya kasus perkosaan oleh keluarga (incest), sampai pertengahan Tahun 2002 kasus perkosaan oleh ayah kandung 9 kasus (10 korban), kasus perkosaan oleh ayah tiri 5 kasus (6 korban). Anak juga sangat rentan terhadap tindakan diskriminasi hanya karena ketidakjelasan status dan identitasnya sebagai akibat makin meningkatnya anak yang lahir diluar nikah dan nikah siri sehingga kesulitan untuk mendapatkan akte kelahiran. Kebutuhan tumbuh-kembang anak juga belum sepenuhnya menjadi pertimbangan utama dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan. Hal ini dapat dilihat dari masih rendahnya partisipasi anak dalam proses pembangunan, dan banyaknya kegiatan pembangunan yang belum sepenuhnya peduli anak. Melihat kondisi perempuan dan anak tersebut, maka beberapa permasalahan yang dihadapi Jawa Tengah saat ini adalah : 1. Lingkup Pendidikan, meliputi: (a) kesenjangan terhadap akses pendidikan; (b) Belum tersedianya sistem pendidikan yang peka gender; (c)Masih biasnya pemahaman gender dalam pemahaman agama;

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

64

2. Lingkup Kesehatan, meliputi: (a) Kurangnya akses perempuan terhadap sarana dan prasarana kesehatan reproduksi yang memadai; (b) Rendahnya pemahaman terhadap Hak-hak dan kesehatan Reproduksi; 3. Lingkup Ketenagakerjaan dan Ekonomi, meliputi: (a) Kurangnya kesempatan perempuan untuk mendapatkan pekerjaan pada sektor publik; (b) Rendahnya perlindungan terhadap pekerja migran; (c) Rendahnya akses perempuan terhadap informasi pasar kerja, permodalan dan jaringan kerja; (d) Rendahnya posisi tawar perempuan dalam sektor informal; (e) Rendahnya perlindungan hukum terhadap pekerja perempuan; (f) Rendahnya pemahaman dan akses perempuan terhadap informasi mengenai prosedur serta mekanisme pengiriman TKI ke Luar Negeri; 4. Lingkup Tindak Kekerasan terhadap Perempuan, meliputi: (a) Rendahnya perlindungan hukum terhadap perempuan korban kekerasan; (b) Tingginya kekerasan berbasis gender terhadap perempuan di ranah domestik dan publik; 5. Lingkup Kelembagaan, meliputi: (a) Rendahnya keterwakilan perempuan dalam proses pengambilan keputusan; (b) Belum sepenuhnya peraturan daerah, kebijakan dan program pembangunan responsif gender; (c) Belum sepenuhnya unit kerja, pengambil keputusan dan stakeholders memahami arti pentingnya pengarusutamaan gender; (d) Kurang mantapnya organisasi perempuan dan institusi-institusi pemberdayaan perempuan yang mampu mempresentasikan kebutuhan perempuan; (e) Masih kurangnya ketersediaan data pilah dan belum adanya sistem informasi gender untuk mendukung perencanaan dan evaluasi. 6. Anak dan Remaja, yang masih dihadapi Provinsi Jawa Tengah saat ini adalah: (1) Tingginya tindak kekerasan terhadap anak; (2) Tingginya jumlah anak terlantar; (3) Rendahnya perlindungan status dan identitas anak; (4) Lemahnya kapasitas dan mekanisme kelembagaan penanganan anak dan remaja, salah satunya ditandai dengan terbatasnya informasi penerapan perlindungan anak; (5) Banyaknya pekerja anak; (6) Sedikitnya lembaga-lembaga sosial, LSM yang tergerak untuk menangani anak dan remaja; (7) Makin maraknya peredaran narkoba dan meningkatnya seks komersial bagi anak.

III. Sasaran yang Ingin Dicapai
Sasaran dari Peningkatan Kualitas Kehidupan dan Peran Perempuan di Provinsi Jawa Tengah adalah sebagai berikut: 1. 2. Peningkatan kualitas SDM perempuan di bidang pendidikan formal dan non formal termasuk pendidikan agama dan penguasaan teknologi dalam rangka mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender. Penigkatan akses perempuan sepanjang umurnya pada pelayanan kesehatan yang memadai, terjagkau dan menghormati hak-hak reproduksi.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

65

3. 4. 5. 6.

Pemberdayaan perempuan dalam kewirausahaan sebagai upaya penguatan kondisi sosial ekonomi perempuan. Memperkuat ekonomi kaum perempuan dan jaringan kerjanya. Memberikan perlindungan hukum yang adil gender dalam penyelesaian hukum bagi pekerja poerempuan termasuk pekerja migran. Pencegahan penghapusan kekerasan terhadap perempuan secara terpadu yang disesuaikna dengan kebutuhan perempuan dengan target tidak ada toleransi (zero tolerance) baik dalam keluarga, masyarakat maupun negara.

7. 8.

Peningkatan kapasitas perempuan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan. Pengutaan proses pengarasutamaan gender secara hukum yang menjamin adanya keadilan dan kesetaran gender disemua bidang kehidupan, baik de facto maupun de yure termasuk program dan anggaran pembangunan.

9.

Menumbuhkan kesadaran kritis tentang keadilan dan kesetaraan gender pada pengambilan keputusan di semua unit kerja dan stake holders agar kebijakan pembangunan lebih sensitif gender.

10. Peningkatan SDM organisasi perempuan dan institusi pemberdayaan perempuan yang mampu mempresentasikan kebutuhan perempuan dalam mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender. 11. Tersusun dan tersebar luasnya data pilah sebagai informasi/dasar untuk perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi,sebaagi upaya melihat gender gap dan isu-isu gender disemua bidang pembangunan, serta pengembangan sistem deteksi dan untuk isu ketidakadilan gender yang terjadi disetiap tempat agar dapat dilakukan penanganan secara efektif dan komprehensif. 12. Meningkatkan perlindungan dan pelayanan, pencegahan serta penangulangan anak korban kekerasan, narkoba, penderita PMS dan HIV/AIDS.

IV. Arah Kebijakan
Kebijakan pembangunan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di Provinsi Jawa Tengah diantaranya adalah:

1. 2. 3.

Lingkup Pendidikan, meliputi: Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia melalui pendidikan formal dan non formal; Lingkup Kesehatan, meliputi: Peningkatan pemahaman, hak-hak reproduksi dan kesehatan reproduksi serta peningkatan kualitas pelayanan kesehatan reproduksi perempuan; Lingkup Ketenagakerjaan dan Ekonomi, meliputi: (a) Peningkatan “Affirmative Action” (program khusus) untuk kemampuan kewirausahaan; (b) Peningkatan akses informasi yang seluas-luasnya baik informasi pasar, perbankan dan ketenagakerjaan yang mampu menggerakkan perempuan kearah

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

66

upaya peningkatan kualitas diri; (c) Perlindungan hukum terhadap pekerja perempuan, termasuk pekerja migran;

4.

Lingkup Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan, meliputi: Pencegahan, pengurangan, penanggulangan kekerasan terhadap perempuan dan penegakan HAM untuk memperpendek rantai penyelesaian yang lebih memperhatikan kepentingan perempuan;

5.

Lingkup Kelembagaan, meliputi: (a) Peningkatan dan penguatan partisipasi perempuan dalam proses pengambilan keputusan; (b) Mewujudkan kebijakan pengarusutamaan gender dalam Peraturan Daerah, kebijakan pembangunan dan seluruh program pembangunan daerah; (c) Peningkatan pemahaman pengarusutamaan gender pada semua unit kerja, pengambil keputusan dan stakeholders untuk menumbuhkan kesadaran kritis tentang keadilan dan kesetaraan gender; (d) Penguatan peran organisasi perempuan dan institusi-institusi pemberdayaan perempuan agar memiliki basis kompentensi yang makin terarah pada upaya peningkatan kualitas perempuan dan mendorong kearah terciptanya kesetaraan dan keadilan gender; (e) Penyediaan data pilah dan sistem informasi gender sebagai pendukung proses penyusunan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program pembangunan yang berperspekif gender.

6.

Anak dan remaja, yang ditempuh adalah: (1) Pencegahan dan penanggulangan kekerasan terhadap anak; (2) Penanganan anak dan remaja terlantar; (3) Perlindungan status dan identitas anak; (4) Perkuatan kelembagaan yang menangani anak dan remaja; (5) Perlindungan pekerja anak; (6) Mengembangkan partisipasi masyarakat, swasta, LSM, ormas untuk ikut serta dalam penanggulangan masalah anak dan remaja; (7) Penanganan kasus narkoba dan penderita PMS anak.

V.

Pencapaian RPJMN di Daerah (2005-2007)

5.1. Upaya yang Dilakukan Hingga Tahun 2007 Beberapa upaya yang telah dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan dan meningkatkan kesejahteraan dan perlindungan anak dalam tahun 2005-2007 adalah sebagai berikut : 1. Bidang Pemberdayaan Perempuan Program Peningkatan Kualitas Kehidupan dan Peran Perempuan, capaian tahun 2005:

a. b. c.

Kegiatan yang dikoordinasikan Bapedalda adalah Peningkatan Peranan Perempuan dan Tokoh Agama dalam Pengelolaan Lingkungan HIdup. kegiatan yang dilaksanakan Dinkesos terdiri atas bimbingan sosial dan fasilitas Kader Perempuan Kesejahteraan Sosial. Kegiatan terlaksana 100 persen. Kegiatan yang dikoordinasikan Bapermas yaitu Implementasi Pelaksanaan Model Program Terpadu Pemberdayaan AMsyarakat Berperspektif Gender (P2MBG) dan Pembentukan / penyelenggaraan Forum Komunikasi PUG dan Jaringan Informasi Gender bagi Pengambilan

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

67

Kebijakan dan MAsyarakat. Kegiatan tersebut untuk dilaksanakan dalam dua tahun (2005 dan 2006). Disamping itu Bapermas juga mengkoordinasikan kegiatan untuk tahun 2005 yaitu Pengembangan Model Penanganan Terpadu Kekerasan Berbasis Gender dan Advokasi bagi korban Kekerasan Berbasis Gender di kabupaten/kota.

d. e.

Kegiatan yang dikoordinasikan Disnakertrans yaitu Pengembangan Perlindungan Pekerja Perempuan. Kegiatan yang dikoordinasikan Dinas Yankop yaitu kegiatan BImbingan teknis Manajemeen Perkoperasian dan PKL bagi Koperasi Wanita/TPK Wanita dan Kelompok Usaha Wanita Produktif berperspektif Gender yang dilanjutkan pada tahun 2006.

f. g.

Kegiatan dikoordinasikan Diasn DIknas adalah penerapan modul dan model pelatihan pengajaran dan bahan ajar yang peka gender bagi tenaga kependudukan dan illustrator. Kegiatan yang dikoordinasikan Disperindag yaitu peningkatan akses infromasi permodalan dan pasar bagi perempuan. Kegiatan yang telah direncanakan tersebut dapat terlaksana seluruhnya dengan pencapaian masing-masing kegiatan 100 persen.

h.

Kegiatan dikoordinasikan oelh Biro Pemberdayaan Perempuan tahun 2005 meliputi: kampanye anti kekerasan terhadap perempuan melalui RRI dan TVRI. Penguatan system penanganan terpadu korban kekerasan berbasis gender melalui Women Crisis Center dan pendampingan perlindungan serta pemberdayaan sosial ekonomi korban kekerasan. Pelatihan pendidikan politik bagi perempuan dan manajemen kepemimpinan dengan peserta 40 orang. Fasilitasi kegiatan Pusat Studi Wanita sebagai pusat penelitian dan kajian gender dengan peserta 10 PSW.

Program Peningkatan Kualitas Kehidupan dan Peran Perempuan, capaian tahun 2006:

a. b. c. d. e. f.

Kegiatan yang dikoordinasikan oleh Dinkesos adalah kegiatan melakukan PUG dalam bidang Kesejahteraan Sosial diikuti oleh perwakilan Dinkesos dari 35 kabupaten/kota. Kegiatan yang dikoordinasikan oelh Dinkesos kabupaten/kota yakni melakukan PUG dalam bidang kesejahteraan sosial yang diikuti oleh para pekerja sosial di 20 kabupaten/kota. Dikoordinasikan Biro Kesra dan PP : kegiatan pelembagaan Pengarasutamaan Gender yang dikoordinasikan Biro Kesra dan PP di bidang pendidikan, ketenagakerjaan dan kesehatan. Kegiatan yang dikoordinasikan Bapermas yaitu pengembangan model pemberdayaan ekonomi perempuan usaha mikro diikuti perwakilan dari 35 kabupaten/kota. Dikoordinasi Dinkesos kegiatan Bimbingan osial dan fasilitas Kader perempuan yang berperspektif gender untuk para pekerja sosial diikuti perwakilan dari Dinkesos 35 kabupaten/kota. Dikoordinasi Disnakertrans kegiatan Sosialisasi Penanggulangan Anemia dan Gizi Buruk bagi Tenaga Kerja Wanita, PEmbinaan dan Perlindugan Hak normative pekerja perempuan melalui

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

68

pemeriksaan POS, identifikasi dalam pengembangan model penanganan terpadu trafking terhadap tenaga kerja yang diikuti oleh perwakilan 35 kabupaten/kota.

g.

Dikoordinasikan Dinas Diknas kegiatan Rintisan model pendidian berperspektif gender pada jenis jenjang dan jalur pendidikan formal dan non formal, dan rintisan penanggulangan tindak kekerasan terhadap anank sekolah dengan dilaksanakannya pembelajaran menggunakan modeul pendidikan yang berperspektif gender yang telah disusun.

h.

Dikoordinasi Disperindag kegiatan pengembangan peningkatan kualitas produksi bagi perempuan pelaku usaha yang dikoordinasi BIKK kegiatan pelaksanaan sosialisasi PUG melalui media masa, radio, dan program radio spot.

i. j. k.

Dikordinasi Bapedalda kegiatan magang pemanfaatan ternak menjadi pupuk organik, sosialiasi pemanfaatan limbah tahu, fasilitasi perempuan dalam pengelolaan sampah rumah tangga. Dikoordinasi RSU Tugurejo kegiatan pengembangan pelayanan krissi kekerasan perempuan dan anak. Kegiatan yang dikoordinasi Biro Pemberdayaan perempuan tahun 2006 meliputi: pengembangan model peltihan rohaniawan sebagai konselor korban kekerasan dengan peserta 40 orang. Workshop kerjsama antar daerah dalam penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak dengan peserta 50 orang. Rakor TKP2AR provinsi dan kabupaten/kota. Valuasi dan monitoring kebijakan dan program PUG di 15 kabupaten. Fasilitasi kegiatan PSW dan Ormas peduli kesetaraan dan keadilan gender. Penyusunan profil KDRT dan perdagangan orang, peserta 75 orang mewakili 6 kabupaten/kota.

Sasaran pelembagaan pengarasutamaan gender, dilaksanakan melalui beberapa kegiatan:

1.

Kegiatan dikoordinasi Bapermas terdiri dari Review dan pengembangan model pemberdayaan perempuan melalui program terpadu P2W-KSS peka gender dan peltihan perencanaan partisipatif 10 program pokok PKK bagi tim penggerak PKK. Kegiatan berhasil dilaksanakan 100 persen dari yang direncanakan.

2. 3.

Kegiatan dikoordinasikan oleh Dinkesos yaitu bimbingan teknis sensitive gender bagi pengelola program bidang kesos dan bimbingan sosial dan latihan keterampilan kader perempuan. Kegiatan yang dikoordinasikan Biro Kessera meliputi : penguatan penanganan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak, peningkatan uoaya penguatan perlindungan fisik, psikologis dan hukum bagi korban kekerasan dakam dan luar rumah, penyusunan profil statistik gender Jawa Tengah tahun 2004, pelatihan sinsitif gender di bidang hukum, lokakarya pengembangan jaringan informasi gender di Jawa Tengah, Semikola pendidikan agama yang sensitif gender, seminar modul bahan ajar yang berpekspertif gender, rakor PP dan forum komunikasi PSW/LSM peduli perempuan dan perlindungan anak, monitoring, evaluasi dan konsultasi program pemberdayaan

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

69

perempuan dan KPA, sosialisasi Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindngan anak dan administrasi pengelola program PP tahun 2004.

4.

Kegiatan dikoordinasi oelh Kesbanglinmas yaitu koordinasi gurom kemunikasi dan konsultasi pendidikan politik perempuan. Kegiatan tersebut dapat dilaksanakan 100 persen.

2.

Bidang Peningkatan Kualitas Kehidupan dan Perlindungan Anak Pencapaian dibidang perlindungan anak antara lain:

a. b. c.

Pemberian akte kelahiran secara gratis bagi 100 keluarga miskin. Sosialisai akte kelahiran yang diikuti 200 orang. Diskusi interaktif tentang konvensi hak anak (KHA) yang diikuti 70 orang pada tahun 2005 dsn ysng diikuti 126 orang pada tahun 2006. Pemberdayaan anak da remaja melalui kegiatan: peningkatan kualitas sumberdaya dan perlindungan hak-hak anak, pemberdaya dan perlindungan hak-hak anak, pemberdayaan anak dan remaja tentang hak reproduksi, kampanya anti kekerasan terhadap anak dan remaja, dan sosialiasi norma perlindungan hak anak yang terpaksa bekerja. Untuk tahun 2004 kegiatan peningkatan kualitas sumberdaya dan perlindungan hak anak dan remaja.

d. e. f.

Tahun 2004 dilaksanakan pelatihan pendidikan sebagaya yang diikuti oleh 450 orang remaja. Tahun 2005 diselenggarakan sosialisasi Anak Indonesia Mencintai Budaya Damai (AIMBD) yang diikuiti 40 peserta. Tahun 2006 dilaksanakan kegiatan TOT program AIMBD bagi 50 orang.

Posisi Capaian hingga tahun 2007 Posisi Capaian Peningkatan Kualitas Kehidupan dan Peran Perempuan: a. b. Ada beberapa hal yang masih memerlukan peningkatan seperti dalam masalah pemerataan pendidikan bagi kaum perempuan yang belum merata. Upaya mewujudkan kebijakan PUG dalam peraturan daerah, pemahaman aparatur pemerintahan mengenai PUG perlu terus dilakukan karena masih ada anggapan sebagian aparat pemerintah bahwa PUG adalah program dan kegiatan untuk perempuan. Pembuatan data pilah dalam semua data statistik tingkat desa, kecamatan, hingga kabupaten/kota dan provinsi perlu dilakukan sehingga dalam menentukan arah dan kebijakan pembangunan dapat lebih memperhatikan sensitivitas gender. c. Masih banyak dinas diseluruh kabupaten/kota belum menganggap pentingnya data pilah gender sehingga di instansi atau lembaga tersebut tidak tersedia data pilah gender. Padahal data pilah gender diperlukan sebagai acuan untuk menentukan kebijakan atau program agar tidak gender blind.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

70

d. e.

Kegiatan pembelajaran berperspektif gender masih belum merata disemua jenjang pendidikan diseluruh kabupaten/kota. Masih belum terwujudnya buku ajar berperspektif gender karena belum meratanya sosialisasi wawasan gender bagi pengarang, penerbit dan ilustrator buku ajar, sehingga buku ajar yang diterbitkan dan dipakai masih bias gender.

f.

Terkait dengan kausu KDRT yang ada diseluruh kabupaten/kota masih sangat perlu untuk memfasilitasi dan memotivasi bagian pemberdayaan dikabupaten/kota untuk membentuk pusat pelayanan terpadu bagi korban tindak kekerasan khususnya anak dan perempuan denagn bekerjasama dengan instansi terkait, kepolisian, dokter, puskesmas, RSU, hakim, jaksa, dan pengacara.

g.

Belum tersedianya data pilah gender yang online atau tersusun secara komputerisasi sehingga sulot diakses oleh pemerhati masalah perempuan dan kalnagan penentu kebijakan sebagai acuan menentukan kebijakan yang peka gender.

h.

Masih belum memadai tempat penitipan anak untuk para karyawati di kantor instansi serta pasar dan swalayan. Mengingta para wanita usia produktif saat ini banyak bekerja diluar rumah. Oleh karena itu mereka memerlukn ketenangan dalam bekerja sekaligus sebagai ibu, sehingga anggapan negatif terhadap ibu yang bekerja melupakan kodrat dapat ditepis.

i.

Terkait kesehatan reproduksi masih belum banyak sosialisasi kesehatan reproduksi yang berperspektif gender yang dilakukan untuk kalangan remaja baik laki-laki dan perempuan di kalangan para pekerja perempuan di pabrik dan sebagainya.

j.

Masih belum dilakukan visi dan misi wirasaha kepada kaum perempuan terutama dipedesaan sehingga program pemberdayaan perempuan pedesaan melalui usaha kecil dan menengah serta melalui usaha rumahan seringkali gagal dan tidak dapat berjalan. Demikian juga ketika diberi bantuan modal bergulir sering tidak berhasil karena visi misi kewirausahaan bagi perempuan jarang diberikan.

k.

Terkait dengan pemberdayaan dan perlindungan tenaga kerja wanita belum maksimal dilakukan secara utuh dan menyeluruh. Selama ini yang dilakukan hanya sosialisasi hukum, hak dan kewajiban serta pelatihan. Hal ini menjadi sulit dipahami oleh para nakerwan yang rata-rata berpendidkan rendah. Oleh karena itu perlu terobosan baru yang lebih memahami hal-hal tersebut.

Posisi Capaian Peningkatan Kualitas Kehidupan dan Perlindungan Anak

a.

Pencapaian dari berbagai kegiatan yang dilakukan selama 2003-2006 secara umum telah mengarah pada upaya mewujudkan arah kebijakan dan rencana strategis pembangunan disektor anak dan remaja.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

71

b.

Sebenarnya upaya penanggulangan masalah narkoba, PMSdan HIV/AIDS dapat dilakukan melalui sinergi dengan sector kepemudaan,kesehatan, dan keagamaan, serta pendidikan. Untuk itu perlu dilakukan koordinasi yang terpadu dengan instansi terkait sehingga pelaksanaan program tidak tumpang tindih dengan instansi lain.

c. d.

Banyak anak-anak yang tidak atau belum mengetahui makanan jajan di sekolah yang sehat dan bergizi. Belum dilaksanakan berbagai kegiatan yang variatif terutama untuk mewujudkan anak Indonesia Mencintai Budaya Damai sehingga terkesan hanya sosialisai yang monoton dan membosankan.

Permasalahan Pencapaian Sasaran Peningkatan Kualitas Kehidupan dan Peran Perempuan a. b. c. d. e. f. Masih adanya kasus kekerasan terhadap perempuan dan KDRT dan upaya pemberdayaan ekonmi perempuan yang belum tersentuh secara optimal. Masih ada anggapan sebagian aparat pemerintah bahwa PUG adalah program dan kegiatan untuk perempuan sehingga pemahaman PUG masih perlu dilakukan. Tidak tersedianya data pilah gender karena dinas diseluruh kabupaten/kota belum menganggap penting data pilah gender. Hanya beberapa sekolah saja yang melakukan pembelajaran gender. Hal ini terjadi karena belum meratanya PUG bagi guru dan kalangan tenaga kependidikan disleuruh kabupaten/kota. Masih belum banyak sosialisasi kesehatan reproduksi yang berperspektif gender. Kurangnya fasilitasi dan dukungan dari instansi bagian pemberdayaan dikabupaten/kota untuk membentuk pusat pelayanan terpadu bagi korban tindak kekerasan khususnya anak dan perempuan. g. Sosialisasi hukum, hak dan kewajiban serta pelatihan sulit dipahami oleh para nakerwan yang ratarata berpendidkan rendah. Peningkatan Kualitas Kehidupan dan Perlindungan Anak a. Ada beberapa kebijakan dan rencana strategis pembangunan disektor anak dan remaja yang belum tersentuh hingga tahun 2006 yaitu masalah perlindungan pekerja anak yang belum dilakukan upaya dan kegiatan operasional secara nyata. b. Penanganan kasus narkoba dan penderita HIV belum terlihat secara nyata.. oleh karena itu, kedua hal tersebut perlu segera mendapatkan penanganan dan menjadi fokus perhatian ditahun 2007 dan 2008 melalui upaya yang lebih nyata. c. Program peduli kesehatan dengan budaya hidup sehat dan mengkonsumsi makanan sehat belum terprogram.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

72

d. e.

Belum maksimalnya program pemberdayaan anak untuk melindungi diri dari tindak kekerasan orang dewasa dan orang asing atau orang terdekat. Belum maksimalnya program perlindungan anak jalanan prempuan dari tindak kekerasan sesama anak jalanan.

VI. Tindak Lanjut
Upaya yang Dilakukan untuk Mencapai Sasaran Peningkatan Kualitas Kehidupan dan Peran Perempuan 1. 2. 3. Pengarasutamaan gender dalam semua kegiatan pemerintahan, peraturan daerah termasuk manajemen informasi data yang peka gender. Peningkatan partisipasi perempuan dalam bersekolah. Untuk mewujudkan pembentukan pusat penanganan terpadu korban kekerasan terutama perempuan dan anak, masih perlu dilakukan sosialisasi dan pemahaman Undang-Undang Nomor 23 tahun 2004 tentang PKDRT dan Undang-Undang Nomor 2 tahun 2002 tentang perlindungan anank kepada seluruh lapisan masyarakat. Untuk memudahkan maka dapat dimulai dari sosialisasi kedapa tokoh agama/tokoh masyarakat, kader PKK,dan karang taruna/tokoh pemuda pemudi. 4. Dapat dibuat data base mengenai data pilah gender berkerjasama dengan BPS provinsi dan kabupaten sehingga rintisan data base pilah gender secara online dapat segera dimulai. Mulai dari kota besar yang ada di Jawa Tegah sehingga kota lain dapat mengakses secara online dan memotivasi mereka untuk melakukan program serupa yakni data pilah gender secara online. 5. Masih harus dilakukan sosialisasi wawasan kesetaraan gender dalam buku ajar kepada pengarang buku ajar, illustrator buku ajar dan penerbit agar pembelajaran tidak bias gender dan sinkron dengan pemahaman guru yang sudah “melek gender” karena sudah mendapatkan peltihan, maka perlu didukung oleh buku ajar yang tidak bias gender pula. 6. Terkait dengan sudah terbentuknya Pusat Pelayanan Terpadu untuk korban kekerasan yang dipusatkan dan dikoordinasikan oleh RSUD Tugurejo,maka masih perlu dilakukan sosialisasi agar diketahui oleh masyarakat luas, terutama prosedur, tempat terdekat, dan kontak person. Hal ini bisa memanfaatkan furom sosialisasi untuk kader PKK, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tokoh muda/pemuda/pemudi. Selain itu juga dapat melalui program radio spot untuk mempromosikan Pusat Pelayanan terpadu yang sudah ada. 7. Masih perlu dibuat tempat penitipan anak di tempat bekerja, kantor, pasar tradisional, swalayan, pabrik, dan perlu tempat khusus yang harus isediakan oleh pengelola pelayanan publik untuk ibu yang akan memberikan ASI kepada bayinya. Misalnya dibuat ruangan khusus di swalayan, kantor, pabrik untik ibu menyusui

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

73

8. 9.

Masih perlunya sosialisasi kesehatan reproduksi yang berperspektif gender dikalangan remaja baik laki-laki maupun perempuan, burh permpuan maupun pekerja permpuan. Perlu dilakukan pemberdayaan perempuan melalui visi dan misi kewirausahaan terutama untuk perempuan pedesaan sehingga pemberdayaan perempuan pedesaan dibidang usaha rumahan, usaha kecil dapat berhasil. Hal ini dapat dilakukan dengan pelatihan, sosialisasi dan penguatan serta fasilitasi.

10. Pemberdayaan dan perlindungan nakerwan melalui metode yang sederhana efektif dan efisien. Hal ini dapat dilakukan oleh dinas tenaga kerja dan transmigran melalui pembelajaran orang dewasa, role playing, simulasi, dan dengan menggunakan media yang mudah ditangkap, dipahami dan diingat. Misalnya dengan media komik yang bisa berisi berbagai hal hak dan kewajiban nakerwan, kondisi situasi negara tujuan, cara-cara menyelamatkan diri jika mengalami kekerasan, gaji dan lainnya. Dengan media gambar mereka tidak bosan dan mudah diingat. Dapat juga dengan role playing antar nakerwan dengan tema yang disusun oleh dinas terkait tentang berbagai hal yang harus diperankan ketika para nakerwan berada ditempat kerja dan dipenampungan. Peningkatan Kualitas Kehidupan dan Perlindungan Anak 1. 2. 3. 4. Mendirikan panti rehabilitasi narkoba di setiap kabupaten/kota minimal disetiap wilayah eks karesidenan. Mendirikan panti/rumah singgah bagi anak terlantar/anak jalanan disetiap kabupaten, minimal disetiap wilayah eks karesidenan. Dilakukan simulasi dan penyuluhan tentang cara perlindungan dari tindak kekerasan orang dewasa, orang asing, dan orang terdekat baik kepada anak laki-laki maupun perempuan. Melakukan berbagai kegiatan variatif untuk mewujudkan AIMBD misalnya dengan menggalakkan kembali PORSENI SD,SMP. Dengan saling berlomba secara sportif diharapkan dapat menghindari permusuhan dan mengurangi tawuran antar pelajar, diharapkan terjalin keakraban antar sekolah. 5. 6. Mengaktifkan kembali program PKS dan Dokter Kecil sehingga tumbuh kesadaran anak tentang kesehatan. Penyuluhan tentang makanan bergizi dan jajan sehat dari tingkat play group sampai SD.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

74

BAB 3.6
Revitalisasi Proses Desentralisasi dan Otonomi Daerah

I. Pengantar
Sejalan dengan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999, maka kepada daerah diberikan sumber-sumber keuangan yang memadai agar masing-masing daerah otonom dapat menyelenggarakan urusan rumah tangga daerah secara efisien. Dana bantuan Pusat kepada Daerah diwujudkan melalui mekanisme Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), bagi hasil pajak dan bantuan lain yang sah. Kebijakan pelaksanaan otonomi daerah yang diijalankan sejak tahun 2001, telah membawa perubahan sangat signifikan dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di daerah. Namun demikian, masih diperlukan peningkatan efektifitas pelaksanaannya bagi percepatan pembangunan dan kemandirian daerah. Pelaksanaan kewenangan di Jawa Tengah dilakukan melalui penigkatan kinerja/kapasitas aparatur pemerintah daerah yaitu dengan berbagai kebijakan dan penyiapan organisasi pemerintah daerah yang memadai. Untuk merespon peraturan tersebut Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melakukan penyesuasian dengan menerbitkan Perda Nomor 8 Tahun 2001, dan diikuti pula penerbitan Perda Nomor 4 Tahun 2006. Keberhasilan penyelenggaran pemerintahan diantaranya adalah kompetensi aparatur pemerintah, kualitas pelayanan dan kinerja pemerintah. Terkait dengan pemberlakuan Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang pengelolaan keuangan daerah, Pemerintah Provinsi dituntut lebih profesional dan proporsional dalam melaksanakan kewenangannya. Sejalan dengan hal tersebut, tuntutan masyarakat akan profesionalsme kinerja lembaga dan paratur pemerintah daerah juga semakin tinggi dalam rangka mewujudkan transparansi dan akuntabilitas birokrasi pemerintah serta pembangunan yang partisipatif. Demikian pula tuntutan pelayanan kepada masyarakat yang cukup tinggi dan keikutsertaan masyarakat dalam proses perencanaan.

75

II. Kondisi Awal RPJM-N di Tingkat Daerah
Potensi yang dimiliki bidang otonomi daerah untuk mengoptimalkan pelaksanaan otonomi di daerah, adalah (1) Terlaksananya hubungan yang harmonis antara Pemerintah Provinsi dengan Kabupaten/Kota dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah; (2) Mantapnya sistem penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah; (3) Tersedianya sumberdaya yang relatif memadai guna mendukung pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan daerah. Potensi yang dimiliki bidang aparatur pemerintah daerah Provinsi Jawa Tengah, adalah: (1) Jumlah pegawai negeri sipil sampai dengan tahun 2005 sebanyak 18,11 ribu Orang dan 17,97 ribu orang pada tahun 2006. Sedangkan Jumlah pegawai negeri sipil sampai dengan bulan Agustus 2003 sebanyak 19.892 Orang dengan klasifikasi tingkat pendidikan formal sebagai berikut: SD sebanyak 1.893 orang; SLTP sebanyak 1.568 orang; SLTA sebanyak 8.822 orang; Diploma sebanyak 696 orang; Sarjana Muda sebanyak 1.811 orang; S1 sebanyak 4.514 orang; S2 sebanyak 586 orang dan S3 sebanyak 4 orang. Asset-asset daerah belum dimanfaatkan secara optimal dan belum memberikan kontribusi yang nyata terhadap PAD. Ketidakseimbangan antara beban tugas-tugas pelayanan pada masyarakat, penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah dengan kemampuan keuangan daerah memerlukan instrumen kebijakan penyusunan skala prioritas kegiatan dengan pemanfaatan keuangan daerah yang efektif, efisien dan produktif. Oleh karena itu seluruh sumber pendapatan daerah termasuk aset milik daerah perlu dikelola secara efektif dan efisien. Permasalahan mendasar yang dihadapi dalam rangka pengelolaan keuangan daerah adalah: (1) terbatasnya sumber pendapatan daerah; (2) pendayagunaan aset daerah belum optimal; (3) pendapatan daerah belum dimanfaatkan secara efektif dan efisien. Permasalahan yang dihadapi bidang aparatur pemerintah daerah, adalah (1) Masih adanya tumpang tindih tugas pokok dan fungsi perangkat daerah; (2) Belum optimalnya kinerja aparatur pemerintah dalam mendukung penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan serta melaksanakan fungsi pelayanan publik; (3) Masih belum efektifnya pelaksanaan sistem manajemen pemerintahan dan pembangunan; (4) Masih lemahnya pelaksanaan sistem pengawasan yang efektif dan efisien guna mendukung terwujudnya aparatur pemerintah yang bersih, berwibawa dan bebas dari KKN; (5) Masih terbatasnya sarana dan prasarana aparatur pemerintah untuk mendukung optimalisasi pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan serta pembangunan. Permasalahan yang dihadapi bidang otonomi daerah, adalah: (1) Belum efektif dan optimalnya pelaksanaan otonomi daerah; (2) Munculnya egoisme otonomi daerah yang berdampak pada konflik kepentingan antar

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

76

daerah mengenai pengelolaan potensi daerah; (3) Belum optimalnya keterpaduan pelaksanaan proses penyelesaian administrasi Pemilihan Kepala Daerah dan Penggantian Anggota DPRD; (4) Belum efektifnya kerjasama antar daerah dalam mendukung pelaksanaan otonomi daerah.

III. Sasaran yang Ingin Dicapai
Sasaran revitalisasi proses desentralisasi dan otonomi daerah di Provinsi Jawa Tengah adalah:

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Meningkatnya efektivitas dan optimalisasi pelaksanaan otonomi daerah. Meningkatnya kemampuan daerah dalam mendukung pelaksanaan otonomi daerah. Meningkatnya efektivitas pelaksanaan kerjasama antar daerah dalam mendukung pelaksanaan otonomi daerah. Terwujudnya kelembagaan perangkat daerah yang efektif dan efisien serta ketatalaksanaan dan hubungan kerja sesuai dengan penataan kewenangan. Terwujudnya peningkatan kualitas dan profesionalisme SDM aparatur pemerintah daerah untuk mendukung terlaksananya Good Governance. Meningkatnya efektivitas pelaksanaan sistem manajemen pemerintahan dan pembangunan untuk mendukung terwujudnya Good Governance. Terkelolanya sumber dana dan pembiayaan pembangunan secara transparan, akuntabel, dan profesional. Tercapainya pengelolaan keuangan daerah yang efektif dan efisien berdasarkan prinsip anggaran kinerja. Meningkatkan asset daerah

10. Berkurangnya tingkat kesalahan dan keterlambatan laporan keuangan. IV. Arah Kebijakan
Arah kebijakan revitalisasi proses desentralisasi dan otonomi daerah adalah sebagai berikut:

1. Menata kelembagaan pemerintah daerah agar lebih proporsional berdasarkan kebutuhan nyata daerah,
ramping, hierarki yang pendek, bersifat jejaring, bersifat fleksibel dan adaptif, diisi banyak jabatan fungsional, dan terdesentralisasi kewenangannya, sehingga mampu memberikan pelayanan masyarakat dengan lebih baik dan efisien, serta berhubungan kerja antar tingkat pemerintah, dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, masyarakat, dan lembaga non pemerintah secara optimal sesuai dengan peran dan fungsinya;

2. Menyiapkan ketersediaan aparatur pemerintah daerah yang berkualitas secara proporsional di seluruh
daerah dan wilayah, menata keseimbangan antara jumlah aparatur pemerintah daerah dengan beban

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

77

kerja di setiap lembaga/satuan kerja perangkat daerah, serta meningkatkan kualitas aparatur pemerintah daerah melalui pengelolaan sumberdaya manusia pemerintah daerah berdasarkan standar kompetensi;

3. Meningkatkan kapasitas keuangan pemerintah daerah, termasuk pengelolaan keuangan yang
didasarkan pada prinsip-prinsip transparansi, akuntabilitas, dan profesionalisme, sehingga tersedia sumber dana dan pembiayaan yang memadai bagi kegiatan pelayanan masyarakat dan pelaksanaan pembangunan di daerah.

4. Kebijakan pembangunan otonomi daerah adalah peningkatan pelaksanaan otonomi daerah dalam
rangka mewujudkan kemandirian daerah yang berkesinambungan.

V. Pencapaian RPJMN di Daerah (2005-2007)
5.1. Upaya yang Dilakukan Hingga Tahun 2007 Program yang dilakukan untuk mendukung sasaran dalam mencapai tujuan pembangunan otonomi daerah, adalah: 1. Peningkatan Pelaksanaan Otonomi Daerah. Program ini untuk memantapkan dan meningkatkan efektifitas serta optimalisasi pelaksanaan otonomi daerah yang sesuai dengan kewenangan serta memperhatikan seluruh potensi daerah. Upaya yang dilakukan hingga tahun 2007 antara lain: a. b. c. d. e. f. g. h. i. Sosialisasi RIP Otonomi daerah, kegitan ini diagendakan pada tahun 2003 dengan sasaran 90 orang peserta sosialisasi dalam pelaksanaannya tercapai 100 persen. Fasilitasi dan identifikasi kewenangan daerah diagendakan tahun 2003 dengan target 20 prang dan terealisasi 100 persen. Sosialisasi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dilaksanakan tahun 2005 dengan target 400 orang. Dalam pelaksanaannya dapat terealisasi 400 orang. Rapat koordinasi penataan pembagian urusan pemerintahan provinsi dan kabupaten/kota dilaksanakan tahun 2005. Target 184 tercapai 100 persen. Sinkronisasi pelaksanaan oonomi daerah, diagendakan tahun 2003. Target 120 orang dan terealisasi 100 persen. System dan mekanisme data dilaksanakan tahun 2005 dengan target 160 orang dan terealisai 100 persen. Workshop kewenangan direncanakan tahun 2005 dengan target 120 orang dan terealisasi 100 persen. Seminar otonomi daerah diagendakan tahun 2003 dengan target 120 orang terealisasi 100 persen. Monitoring dan evaluasi otonomi daerah diagendakan tahun 2004 dengan target 20 orang terealisasi 100 persen

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

78

j. k. l. m. n. 2.

Orientasi otonomi daerah dilaksanakan tahun 2005 dengan target 10 orang terealisasi 100 persen Sosialisasi kewenganan dilaksanakan tahun 2003 Studi komparasi tahun 2004 Workshop pemekaran daerah diagendakan tahun 2004 dengan target peserta 150 orang terealisasi 100 persen. Identifikasi kewengan kabupaten/kota dilaksanakan tahun 2003.

Peningkatan Kapasitas Pemerintahan Daerah. Program ini untuk meningkatkan kapasitas pemerintahan daerah yang menyangkut prosedur, mekanisme kerja, struktur organisiasi, hubungan kerja antar organisiasi di lingkungan pemerintahan daerah dan antara pemerintah dengan masyarakat yang dapat mendukung penyelenggaraan otonomi daerah. Upaya yang dilakukan hingga tahun 2007 antara lain :

a.

Rapat koordinasi penyelenggaraan pemerintahan desa. Pada tahun 2003 rakor ditargetkan diikuti 90 orang terealisasi 100 persen, tahun 2004 ditargetkan diikuti 73 orang terealisasi 100 persen, tahun 2005 ditargetkan diikuti 73 orang terealisasi 100 persen, tahun 2006 ditargetkan diikuti 73 orang terealisasi 100 persen.

b.

Pengadaan buku Pedoman Penyelenggaraan Pemerintahan Desa. Pada tahun 2003 ditargetkan tercetak 4000 buku dan terealisasi 100 persen, Pada tahun 2004, 2005,2006 tidak ada perencanaan dan pelaksanaan kegiatan ini.

c.

Monitoring Kepmendagri Nomor 47 tahun 2002 tentang pedoman Administrasi desa. Kegitan ini dilaksanakan tahun 2003 dari target 29 kabupaten terealisai semunya 100 persen, sedangkan tahun 2004, 2005, 2006 kegiatan ini tidak diagendakan.

d. e. f.

Pengadaan buku himpunan peraturan penyelenggaraan pemerintah desa. Kegiatan ini direncanakan tahun 2004 target 475 buku dan terealisasi 475 buku. Pemantauan Pilkades. Kegiatan ini diselenggarakan tahun 2004 denagan target pemantauan di 29 kabupaten di Provinsi Jawa Tengah terealisasi 29 kabupaten (100 persen). Monitoring penyelenggaraan pemerintahan desa/kelurahan yang diagendakan tahun 2005, dari target 29 kabupaten dapat dicapai 100 persen. Kemudian kegiatan monitoring dan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan desa di 29 kabupaten dapat terealisasi semuanya.

3.

Peningkatan Kerjasama Antar Daerah Program ini untuk meningkatkan kerjasama antar daerah baik dalam negeri maupun luar negeri dalam rangka mendukung pelaksanaan otonomi daerah. Upaya yang dilakukan hingga tahun 2007 antara lain: Untuk melaksanakan dan mengkoordinasikan kerjasama antar daerah telah dibentuk Badan koordinasi Lintas Wilayah (Bakorlin wil) sebanyak 3 Bakorwil.

4.

Penataan Kelembagaan dan Ketatalaksanaan

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

79

Program ini untuk menciptakan dan menyempurnakan kembali struktur kelembagaan perangkat daerah yang efektif serta efisien dan ketatalaksanaan yang terkait dengan penataan kewenangan serta hubungan kerja antara pemerintah pusat dan daerah untuk mendukung pelaksanaan otonomi daerah. Upaya yang dilakukan hingga tahun 2007 antara lain: a. Sampai dengan tahun 2007 Struktur, jumlah dan susunan kelembagaan pemerintah daerah Provinsi Jawa Tengah terdiri atas 19 Dinas, 15 Badan, 6 kantor, 6 rumah sakit. Dilingkungan sekretariat daerah terdapat 4 Asisten Sekda, 11 Biro. b. Program untuk sasaran pertama ditujukan dari tersusunnya Peraturan Gubernur atau draf Pergub tahun 2003 dihasilkan 6 buah, tahun 2004 dihasilkan 4 buah, tahun 2005 dihasilkan 3 buah dan tahun 2006 dihasilkan 5 buah. c. Sasaran kedua dengan indikator penjabaran Tupoksi 3RSD-RSJD dan 176 UPTD (2003) dan menurun menjadi 165 UPT & UPTD (2006). Penataan kelembagaan meningkat dari 48 Perangda menjadi 61 instansi. Pelaksaan analisis jabatan pada 1 badan, 3 dinas dan 1 kantor provinsi (2003); dilanjutkan dengan penyusunan standar kompetensi jabatan fungsional umum pada 44 instansi provinsi. Peningkatan SDM aparatur pemerintahandengan DIKLAT mengalami penurunan pembiayaan dari Rp 32 milyar (2003) menurun menjadi 15 milyar tahun 2004, tahun 2005 menjadi 17 milyar, dan 18 milyar tahun 2006. 5. Peningkatan Sumber Daya Aparatur Pemerintah Daerah Program ini untuk meningkatkan kualitas, professionalisme dan ketrampilan aparatur pemerintah daerah dalam melaksanakan tugas fungsi penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan publik secara lebih optimal. Upaya yang dilakukan hingga tahun 2007 antara lain : a. Pada tahun 2005, Peningkatan evaluasi kinerja pejabat struktural ada dua kegiatan: Terukurnya kemampuan pejabat struktural di 162 UPT sebanyak 632 orang, Terlaksanakanya evalusi kinerja pejabat struktural 50 orang. Pada tahun 2006, Pemerintah provinsi Jawa Tengah melakukan 50 diklat, diikuti oleh 3.557 PNS.terdiri dari: Diklat teknis 755 orang Diklat fungsional 642 orang Diklat kepemimpinan 1.603 orang Diklat prajabatan 557 orang Yang diikuti aparatur kabupaten/kota melalui pola kemitraan, dengan peserta 4870 orang terdiri dari: Diklat teknis 300 orang, Diklat fungsional 105 orang, Diklat kepemimpinan 160 orang, Diklat prajabatan 4.305 orang b. Tertatanya PNSD dalam jabatan structural dan fungsional. c. Terselesaikannya administrasi kenaikan pangkat dan penelitian administrasi mutasi dan pensiunan PNSD

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

80

d. Terlaksananya ujian kedinasan PNSD e. Terlaksananya ter potensi pejabat struktural f. Terlaksananya peningkatan dan evaluasi kinerja pejabat struktural. g. Sosialisasi dan penyempurnaan peraturan per Undang-Undang an kepegawaian. h. Penyusunan pedoman manajemen kepegawaian. i. j. k. l. Check up kesehatan dan perawatan pengobatan PNSD Terselesaikannya kasus pelanggaran disiplin PNSD Bentuan uang duka PNSD yang meninggal. Pemberian jasa

m. Pembekalan PHL/Honorere/tenaga kontrak n. Pengelolaan pusat kebugaran pegawai Provinsi. 6. Peningkatan Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Program ini untuk meningkatkan efektifitas sistem manajemen pemerintahan dan pembangunan, pengembangan akses informasi komunikasi yang mendukung penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan, serta meningkatkan pelaksanaan pengawasan internal, pengawasan fungsional dan pengawasan masyarakat. Upaya yang dilakukan hingga tahun 2007 antara lain: a. Terlaksananya penyusunan DSP dan informasi CPNSD sebanyak 21.585 orang (2003), 19.000 orang (2005) dan 1.174 formasi (2006) b. Terlaksananya pengadaan CPNSD dan fasilitasi pengadaan CPNSD kabupaten/kota. c. Terlaksananya analisis kebijakan pengembangan pola karier pegawai. d. Terlaksananya penataaan PNSD dalam jabatan fungsional. e. Terlaksananya administrasi kenaikan pangkat PNSD dan PNS dan peninjauan masa kerja f. Terlaksananyapengembangan aplikasi sistem informasi kepegawaian g. Terlaksananyapengelolaan data tata naskah kepegawaian secara manual dan elektronik h. Terlaksananyapengembangan layanan informasi administrasi kepegawaian. i. Upaya pelaksanaan system pengawasan yang efektif dan efisien guna mendukung terwujudnya aparatur pemerintah yang bersih, berwibawa, dan bebas dari KKN dilakukan dengan cara penerapan sistem reward and punishment secara konsisten dan proporsional, peningkatan dan evaluasi kinerja pejabat struktural dan penyelesaian kasus pelanggaran disiplin PNSD secar tegas (tahun 2001 ada 212 kasus, tahun 2006 ada 48 kasus). 7. Pengelolaan Pembiayaan Keuangan Daerah Program pengelolaan keuangan daerah meliputi: (1) Intensifikasi Sumber-Sumber Pendapatan Asli Daerah. Program ini bertujuan untuk melestarikan obyek-obyek pendapatan yang sudah ada dan menambah sumber pendapatan baru dari sektor restribusi dan penerimaan lain-lain yang memungkinkan dapat digali lebih maksimal. (2) Ekstensifikasi Sumber-Sumber Pendapatan Asli Daerah.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

81

Program ini bertujuan untuk menggali sumber-sumber penerimaan baru guna menambah penerimaan daerah. (3) Inventarisasi Aset-Aset Daerah. Program ini bertujuan untuk melakukan inventarisasi aset daerah guna memberikan kontribusi yang proporsional dalam penyelenggaraan pelayanan masyarakat dan pelaksanaan pembangunan. (4) Pendayagunaan Aset Daerah Secara Produktif. Program ini bertujuan untuk lebih mendayaguakan aset daerah yang lebih efisien dan efektif. (5) Efisiensi dan Efektifitas Penggunaan Keuangan Daerah. Program ini bertujuan untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna pengelolaan keuangan daerah. Upaya yang dilakukan hingga tahun 2007 antara lain: Perkembangan total Dana Alokasi Umum (DAU) dari tahun 2006-2007 mengalami peningkatan. Pada tahun 2005 total DAU sebesar Rp.890.420.040.000 menjadi Rp.1.050.732.000.000, pada tahun 2007. Salah satu dari dana perimbangan adalah Dana Bagi Hasil (DBH) yang merupakan dana yang bersumber dari APBN yang dialokasika pada daerah berdasarkan angka prosentase untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Jumlah Dana Bagi Hasil (DBH) Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2006 adalah sebesar Rp.295.440.715.632, meningkat menjadi Rp.368.610.557.332 pada tahun 2007. Kebutuhan pembiayaan pembangunan daerah pun mengalami peningkatan. Pada tahun 2005 sebesar Rp.345.561.129.230, tahun 2006 Rp.530.789.667.460, dan tahun 2007 menjadi Rp.559,2 Milyar. Begitu pula dengan jumlah pengeluaran daerah tiap tahun mengalami peningkatan. Realisasi belanja tahun anggaran 2005 yang mencakup Belanja Aparatur Daerah dan Belanja Pelayanan Publik mencapai Rp.2.936.310.814.679 atau 91,97 persen dari yang dianggarkan sejumlah Rp.3.192.575.191.000. Realisasi belanja tahun anggaran 2006 yang mencakup Belanja Aparatur Daerah dan Belanja Pelayanan Publik mencapai Rp.3.747.644.093.882 atau 93,65 persen dari yang dianggarkan sejumlah Rp.4.001.836.661.000. Realisasi belanja tahun anggaran 2007 (data sebelum diaudit BPK) yang mencakup Belanja Tidak Langsung dan Belanja Langsung mencapai Rp.Rp 3,88 Trilyun atau 87,79 persen dari yang dianggarkan sejumlah Rp.4,37 trilyun. Peningkatan pendapatan daerah dilaksanakan oleh Dipenda. Tugas pokok yag disandang lembaga ini meningkatkan pendapatan daerah. Untuk menggali perlu digali sumber pendapatan daerah. Hasil yang daicapai terjadi peningkatan dari tahun 2005-2007. Jumlah pendapatan asli daerah (PAD) tahun 2005 sebesar Rp.2.491.395.611.509, tahun 2006 sebesar Rp.2.632.456.037.838 dan meningkat menjadi Rp.4.381.123.710.017 pada tahun 2007. Pelatihan kemampuan teknis PPKP berkaitan dengan mekanisme penerimaan dan pengeluaran kas daerah dengan percepatan arus uang dan dokumen meningkat dari tahun 2003-2005, tahun 2006 tidak

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

82

ada program ini karena tidak terpenuhinya anggaran pada tahun 2006 tetapi tahun 2007 semakin baik dengan adanya percepatan arus kas dan dokumen. Tingkat kesalahan laporan STS (surat tanda sector) berkurang dari 12 instansi menjadi 4 instansi dari 51 instansi selama kurun waktu 2003-2005. Keterlambatan penerimaan dokumen rekapitulasi dari Bank BPD dari +4 menjadi H+2, padahal targetnya adalah H+1; jadi sasaran inibelum tercapai 100 persen. Tecapainya percepatan pengiriman laporan kas dari H-4 menjadi H-2 telah berhasil. Sasaran terciptanya sistem informasi manajemen kas daerah telah dilakukan dalam tahun 2003-2005, tapi belum dilakukan tahun 2006. Adanya pengadaan sarana kantor untuk menunjang tugas administrasi penerimaan, mengingat tugas pokok dan fungsi Kantor Kasda semakin bertambah untuk mempercepat penyajian data laporan kas tahun 2007, disampingitu adanya ATK sangat penting untuk menciptakan sistem manajemen informasi kas daerah sehingga laporan yang tersaji dapat terlaksana cepat, tepat, dan akurat juga dibutuhkan back up data software. Hasil peningkatan pendapatan daerah yang dicapai pada tahun 2003 sampai 2006 pun cukup signifikan, disebabkan antara lain bertambanya obyek pendapatan daerah dari sector pajak. Peningkatan tersebut dimungkinkan adanya peningkatan daya beli masyarakat terhadap pembelian sepeda motor, serta meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kewajiban membayar pajak dan retribusi. Hal ini tidak lepas dari pelayanan rpima yang diberikan dalam bentuk adanya sistem online pelayanan Samsat se Jawa tengah, system informasi pajak lewat sms, pembayaran pajak via perbankan, dan dibangunnya gedung Dipenda/Samsat di daerah perbatasan dengan provinsi lain. Hasil ekstensifikasi retribusi daerah selama tahun 2003 sampai 2007 diantaranya meliputi retibusi tera ulang, retribusi RSJ, retribusi kesehatan BP4. Tahun 2004 meliputi retribusi perhubungan dan telekomunikasi, retribusi ijin pengendalian kayu lintas kabupaten/kota, retribusi pelayanan jasa ketatausahaan. Tahun 2005 meliputi retribusi perijinan usaha perikanan, retribusi jasa pelayanan ijin usaha perkebunan. Tahun 2006 belum terdata. Upaya meningkatkan pendapatan daerah juga dilakuakn oleh Bawasda. Badan Pengawas Daerah bertugas melaksanaka pengawasan kinerja terhadap semua dinas atau lembaga. Hasil pencapaian target dari lembaga ini secara umum meningkat, misalnya meningkatnya jumlah temuan dari obyek pemeriksaan keuangan, tetapi meningkatnya jumlahtemuan itu pada tahun terakhir banyak yang belum ditindaklanjuti atau terlesesaikan. Sebagai contoh tahun 2003 mencapai 99,53 persen kasus berhasil diselesaikan, tahun 2006 baru 25,41 persen terselesaikan. Begitu juga dengan jumlah uang yang berhasil ditarik tahun 2003 mencapai 97,87 persen, tahun 2006 hanya 10,88 persen.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

83

Posisi Capaian hingga Tahun 2007 Peningkatan Pelaksanaan Otonomi Daerah Sasaran meningkatkan efektifitas pelaksanaan kerjasama antar daerah dalam mendukung pelaksanaan otonomi daerah telah dilakukan dengan terjalinnya koordinasi lintas kabupaten/kota melalui Bakorlin yang ada sebanyak 3 Bakorlin. Dengan adanya badan koordinasi antar wilayah kabupaten/kota, maka kerjasama dan sinkronisasi pembangunan antar wilayah dapat lebih terkoordinasi dan dapat saling bersinergi. Beberapa kerja sama antar kabupaten/kota dapat difasilitasi oleh Bakorlin sehingga upaya pembangunan yang terkait dengan lintas wilayah dan program akan berjalan lebih terpadu. Peningkatan Kapasitas Pemerintahan Daerah. Berbagai kegiatan yang dilakukan merupakan upaya untuk meningkatkan kemampuan daerah dalam melaksanakan otonomi daerah tanpa menimbulkan egosime sektoral. Peningkatan Kerjasama Antar Daerah. Pembentukan Bakorlin wilayah merupakan salah satu solusi untuk menciptakan sinergi antar daerah dimana pada era otonomi daerah kabupaten/kota memiliki wewenang yang lebih independen sehingga jika tidak diupayakan koordinasi akan terjadi egoisme daerah dan pembangunan yang tidak sinergis. Penanganan masalah daerah aliran sungai, antisipasi banjir, masalah perbatasan, penyakit menular, flu burung, gelandangan, sumberdaya air, sampah, dan lain-lain secara parsial tetapi harus terpadu. Penataan Kelembagaan dan Ketatalaksanaan

a.

Tumpang tindih tupoksi antar perangkat daerah hanya dapat diatasi jika masing-masing perangkat memiliki pedoman tupoksi yang jelas. Peningkatan kompetenasi aparat harus terus dilakukan, namun dalam pelaksanaan pembiayaan diklat pegawai mengalami penurunan. Hal ini dikhawatirkan mempersempit kesempatan aparat untuk memperoleh meningkatan kompetensinya.

b. c.

Perlu kajian mendalam penempatan orang sesuai dengan bidang keahliannya, msaih ditemuka personil yang kurang sesuai penempatan dilapangan karena adanya like and dislike. Perlu indikator yang jelas dengan realisasi kegiatan, supaya dapat diketahui adanya pelaksanaan yang jeasl dengan capaian yang diperoleh. Adanya penjelasan hasil pencapaian tetapi belum jelas dengan target yang diukur.

Peningkatan Sumber Daya Aparatur Pemerintah Daerah. Hingga akhir tahun 2006 telah dicapai penigkatan dala hal SDM, aparatur pemerintah daerah komposisi kualifikasi PNS dengan pendidikaan diploma sarjana dan S2 mengalami kenaikan (diploma dari 12,6

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

84

persen menjadi 14,94 persen sarjanadari 22,69 persen menajdi 25,19 persen dan S2 dari 2,95 persen menjadi 4,09 persen). Potensi SDM yang ada perlu didukung dengan pelatihan dan penyegaran keterampilan aparat pemerintah daerah. Selian itu system reward and punishment harus dijalankan dengan baik. Peningkatan Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Penempatan pegawai sesuai dengan keahlian dan kemampuan (the right man in the right place). Selain itu upaya perampingan organisasi diharapkan mampu mengoptimalkan kinerja aparatur pemerintah daerah. Pengelolaan Pembiayaan Keuangan Daerah Hasil yag dicapai pada tahun 2003 sampai 2006 pun cukup signifikan, disebabkan antara lain bertambanya obyek pendapatan daerah dari sector pajak. Peningkatan tersebut dimungkinkan adanya peningkatan daya beli masyarakat terhadap pembelian sepeda motor, serta meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kewajiban membayar pajak dan retribusi. Permasalahan Pencapaian Sasaran

a. b.

Antar perangkat daerah belum memiliki pedoman tupoksi yang jelas. Masih ditemukan personil yang kurang sesuai penempatan di lapangan, karena adanya like and dislike. Sistem penempatan personil harus sesuai dengan kompetensi dan kemampaunnya. Dengan demikian profesionalitas aparatur pemerintah akan terwujud. Namun kendalanya jumlah pegawai paling banyak pada kelompok umur 46-50 tahun, sementara kelompok umur 20-30 tahun sangat sedikit sehingga dapat menimbulkan permasalahan regenerasi.

c. d.

Keterlambatan penerimaan dokumen rekapitulasi dari Bnak BPD belum tercapai 100 persen. Bawasda sebagai pengawas kinerja terhadap semua dinas masih banyak temuan dari obyek pemeriksaan keuangan yang belum ditindaklanjuti atau diselesaikan.

VI. Tindak Lanjut
Upaya yang dilakukan untuk mencapai sasaran pengembangan desentralisasi dan otonomi daerah adalah:

1. 2.

Pembentukan forum komunikasi perangkat daerah antar kabupaten/kota untuk menjembatani konflik kepentingan yang muncul. Peningkatan kerjasama antar kabupaten/kota dalam merencanakan kebijakan pembangunan disetiap daerah (mengoptimalkan komunikasi jaringan antar bapedda kabupaten/kota).

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

85

3. 4. 5. 6. 7.

Penataan dan pengkajian ulang mengenai tupoksi masing-masing perangkat daerah oleh tim yang berkompeten. Pelatihan dan studi lanjut bagi aparatur pemerintah daerah. Rekrutmen pegawai yang lebih elektif, transparan dan uji kompetensi bagi calon aparatur pemerintah daerah Penempatan personel sesuai dengan keahlian dan kemampuan. Aparatur permintah yang bersih, berwibawa dan bebas KKN diharapkan mampu meingkatkan kualitas, kuantitas serta efektifitas penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Pelanggaran disiplin pegawai menunjukan trend penurunan, sehingga kedisiplinan pegawai semakin baik.

8.

Pengelolaan keuangan daerah diharapkan dapat mendukung Provinsi Jawa Tengah mengenai kemandirian, peningkatan daya saing dan kesejahteraan. Kesejahteraan semakin meningkat dengan pendapatan daerah yang semakin meningkat pula, dengan menetralkan kondisi perekonomian di dunia dan Indonesia pada khususnya dengan cara pemerintah member subsidi.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

86

BAB 3.7 Pencapaian Tata Pemerintahan Yang Bersih dan Berwibawa

I. Pengantar
Salah satu agenda pembangunan nasional adalah menciptakan tata pemerintahan yang bersih, dan berwibawa. Agenda tersebut merupakan upaya untuk mewujudkan tata pemerintahan yang baik, antara lain: keterbukaan, akuntabilitas, efektifitas dan efisiensi, menjunjung tinggi supremasi hukum, dan membuka partisipasi masyarakat yang dapat menjamin kelancaran, keserasian dan keterpaduan tugas dan fungsi penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Untuk itu di daerah Provinsi Jawa Tengah memerlukan langkah-langkah strategis seperti: penataan kelembagaan dan sistem ketatalaksanaan; peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang didukung sistem renumerasi yang layak untuk memenuhi kebutuhan hidup minimal serta terlaksananya sistem pengawasan dan pengendalian pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan yang efektif dan efisien. Selain itu tuntutan masyarakat akan profesionalisme kinerja lembaga dan aparatur pemerintah daerah semakin besar dalam rangka mewujudkan transparansi dan akuntabilitas birokrasi pemerintahan serta pembangunan yang partisipatif, tetapi disisi lain ketersediaan sarana prasarana pemerintahan masih belum optimal dalam mendukung pelaksanaan tugas pokok dan fungsi aparatur pemerintah di daerah.

II. Kondisi Awal RPJMN di tingkat Daerah 2.1. Reformasi birokrasi belum berjalan sesuai dengan tuntutan masyarakat
Hal tersebut terkait dengan tingginya kompleksitas permasalahan dalam mencari solusi perbaikan. Demikian pula, masih tingginya tingkat penyalahgunaan wewenang, praktek KKN, dan masih lemahnya sistem pengawasan yang efektif dan efisien guna mendukung kinerja aparatur daerah merupakan cerminan dari kondisi kinerja birokrasi yang masih jauh dari harapan. Banyaknya permasalahan birokrasi tersebut di atas, belum sepenuhnya teratasi baik dari sisi internal maupun eksternal. Dari sisi internal, berbagai faktor seperti demokrasi, desentralisasi dan internal birokrasi itu sendiri, masih berdampak pada tingkat kompleksitas permasalahan dan dalam upaya mencari solusi lima tahun ke depan. Sedangkan dari sisi eksternal, faktor globalisasi dan revolusi teknologi informasi juga akan kuat berpengaruh terhadap pencarian alternatif-alternatif kebijakan dalam bidang aparatur daerah.

87

Dari sisi internal, faktor demokratisasi dan desentralisasi telah membawa dampak pada proses pengambilan keputusan kebijakan publik. Dampak tersebut terkait dengan, makin meningkatnya tuntutan akan partisipasi masyarakat dalam kebijakan publik; meningkatnya tuntutan penerapan prinsip-prinsip tata kepemerintahan yang baik antara lain transparansi, akuntabilitas dan kualitas kinerja publik serta taat pada hukum; meningkatnya tuntutan dalam pelimpahan tanggung jawab, kewenangan dan pengambilan keputusan. Demikian pula, secara khusus dari sisi internal birokrasi itu sendiri, berbagai permasalahan masih banyak yang dihadapi. Permasalahan tersebut antara lain adalah: pelanggaran disiplin, penyalahgunaan kewenangan dan masih banyaknya praktek KKN; rendahnya kinerja sumber daya manusia dan kelembagaan aparatur; sistem kelembagaan (organisasi) dan ketatalaksanaan (manajemen) pemerintahan yang belum memadai; rendahnya efisiensi dan efektifitas kerja; rendahnya kualitas pelayanan umum; rendahnya kesejahteraan PNS; dan banyaknya peraturan perundang-undangan yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan keadaan dan tuntutan pembangunan. Dari sisi eksternal, faktor globalisasi dan revolusi teknologi informasi (e-Government) merupakan tantangan tersendiri dalam upaya menciptakan pemerintahan yang bersih, baik dan berwibawa. Hal tersebut terkait dengan makin meningkatnya ketidakpastian akibat perubahan faktor lingkungan politik, ekonomi, dan sosial yang terjadi dengan cepat; makin derasnya arus informasi dari manca daerah yang dapat menimbulkan infiltrasi budaya dan terjadinya kesenjangan informasi dalam masyarakat (digital divide). Perubahan-perubahan ini, membutuhkan aparatur daerah yang memiliki kemampuan pengetahuan dan keterampilan yang handal untuk melakukan antisipasi, menggali potensi dan cara baru dalam menghadapi tuntutan perubahan. Di samping itu, aparatur daerah harus mampu meningkatkan daya saing, dan menjaga keutuhan bangsa dan wilayah daerah. Untuk itu, dibutuhkan suatu upaya yang lebih komprehensif dan terintegrasi dalam mendorong peningkatan kinerja birokrasi aparatur daerah dalam menciptakan pemerintahan yang bersih dan akuntabel yang merupakan amanah reformasi dan tuntutan seluruh rakyat Indonesia.

III. Sasaran Yang Ingin Dicapai
Secara umum sasaran penyelenggaraan daerah Tahun 2004-2009 adalah terciptanya tata pemerintahan yang baik, bersih, berwibawa, profesional, dan bertanggungjawab, yang diwujudkan dengan sosok dan perilaku birokrasi yang efisien dan efektif serta dapat memberikan pelayanan yang prima kepada seluruh masyarakat. Untuk mewujudkan hal tersebut di atas, secara khusus sasaran yang ingin dicapai adalah:

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

88

1. Berkurangnya secara nyata praktek korupsi di birokrasi, dan dimulai dari tataran (jajaran) pejabat yang
paling atas.

2. Terciptanya sistem kelembagaan dan ketatalaksanaan pemerintahan yang bersih, efisien, efektif,
transparan, profesional dan akuntabel.

3. Terhapusnya aturan, peraturan dan praktek yang bersifat diskriminatif terhadap warga daerah, kelompok,
atau golongan masyarakat.

4. Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pengambilan kebijakan publik. 5. Terjaminnya konsistensi seluruh peraturan daerah dan pusat, serta tidak bertentangan peraturan dan
perundangan di atasnya.

IV. Arah Kebijakan
Dalam upaya untuk mencapai sasaran pembangunan penyelenggaraan daerah dalam mewujudkan Tata Pemerintahan yang Bersih dan Berwibawa, maka kebijakan penyelengaraan daerah 2004-2009 diarahkan untuk: 1. Menuntaskan penanggulangan penyalahgunaan kewenangan dalam bentuk praktik-praktik KKN dengan cara: a. b. c. d. e. f. 2. Penerapan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance) pada semua tingkat dan lini pemerintahan dan pada semua kegiatan. Pemberian sanksi yang seberat-beratnya bagi pelaku KKN sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Peningkatan efektivitas pengawasan aparatur daerah melalui koordinasi dan sinergi pengawasan internal, eksternal dan pengawasan masyarakat. Peningkatan budaya kerja aparatur yang bermoral, profesional, produktif dan bertanggung jawab. Percepatan pelaksanaan tindak lanjut hasil-hasil pengawasan dan pemeriksaan. Peningkatan pemberdayaan penyelenggara daerah, dunia usaha dan masyarakat dalam pemberantasan KKN. Meningkatkan kualitas penyelengaraan administrasi daerah melalui: a. b. c. d. Penataan kembali fungsi-fungsi kelembagaan pemerintahan agar dapat berfungsi secara lebih memadai, efektif, dengan struktur lebih proporsional, ramping, luwes dan responsif. Peningkatan efektivitas dan efisiensi ketatalaksanaan dan prosedur pada semua tingkat dan lini pemeritahan. Penataan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia aparatur agar lebih profesional sesuai dengan tugas dan fungsinya untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat. Peningkatan kesejahteraan pegawai dan pemberlakuan sistem karier berdasarkan prestasi.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

89

e. 3.

Optimalisasi pengembangan dan pemanfaatan e-Government, dan dokumen/arsip daerah dalam pengelolaan tugas dan fungsi pemerintahan.

Meningkatkan keberdayaan masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan dengan: a. b. c. Peningkatan kualitas pelayanan publik terutama pelayanan dasar, pelayanan umum dan pelayanan unggulan. Peningkatan kapasitas masyarakat untuk dapat mencukupi kebutuhan dirinya, berpartisipasi dalam proses pembangunan dan mengawasi jalannya pemerintahan. Peningkatan tranparansi, partisipasi dan mutu pelayanan melalui peningkatan akses dan sebaran informasi.

V. Pencapaian RPJM-N di Tingkat Daerah 2005-2007 5.1. Upaya Yang Dilakukan Hingga Tahun 2007
Beberapa upaya yang dilakukan hingga tahun 2007 dalam pencapaian tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa adalah: 1. Upaya pelaksanaan sistem pengawasan yang efektif dan efisien guna mendukung terwujudnya aparatur pemerintah yang bersih, berwibawa dan bebas dari KKN dilakukan dengan cara penerapan reward and punishment system secara konsisten dan proporsional, peningkatan dan evaluasi kinerja pejabat struktural, dan penyelesaian kasus pelanngaran disiplin PNSD secara tegas (tahun 2001 ada 212 kasus, tahun 2006 ada 48 kasus). 2. Kelembagaan perangkat daerah yang efektif dan efisien serta ketatalaksanaan dan hubungan kerja sesuai dengan penataan kewenangan, ditunjukkan dari tersusunnya Peraturan Gubernur pada Tahun 2003 dihasilkan 6 buah, tahun 2004 dihasilkan 4 buah, dan tahun 2006 dihasilkan 5 buah. 3. 4. 5. Indikator Tupoksi 3RSD-RSJD dan 176 UPTD (2003) dan menurun menjadi 165 UPT dan UPTD (2006). Penataan kelembagaan meningkat dari 48 Perangda menjadi 61 instansi. Pelaksanaan analisis jabatan pada 1 badan, 3 dinas, dan 1 kantor (2003). Penyusunan standar kompetensi jabatan fungsional umum pada 44 instansi Provinsi. Peningkatan SDM Aparatu pemerintah dengan DIKLAT mengalami penurunan pembiayaan dari Rp. 32 milyar (2003), menurun menjadi 15 milyar (2004), naik lagi 17 milyar (2005), dan 18 milyar (2006). 6. 7. 8. 9. Tertatanya PNSD dalam jabatan struktural dan jabatan fungsional. Terselesaikannya administrasi kenaikan pangkat. Terselesaikannya penelitian administrasi mutasi dan pensiun PNSD. Terlaksananya seleksi calon praja IPDN dan pengiriman diklat.

10. Terlaksananya ujian kedinasan PNSD. 11. Terlaksananya tes potensi pejabat struktural.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

90

12. Terlaksananya peningkatan dan evaluasi kinerja pejabat struktural. 13. Sosialisasi dan penyempurnaan peraturan perundang-undangan kepegawaian. 14. terselenggaranya AKA dan pengolahan hasil AKA. 15. Penyusunan pedoman manajemen kepegawaian. 16. Terlaksananya layanan administrasi kepegawaian. 17. Check up kesehatan dan perawatan pengobatan PNSD. 18. Terselesaikannya kasus pelanggaran disiplin PNSD. 19. Bantuan uang duka PNSD yang meninggal. 20. Pemberian tanda jasa. 21. Pembekalan PNSD yang akan purna tugas. 22. Pembekalan PHL/Honorer/Tenaga kontrak. 23. Pengelolaan pusat kebugaran pegawai Provinsi

5.2. Posisi Capaian Hingga Tahun 2007
Aparatur pemerintah yang bersih, berwibawa dan bebas KKN diharapkan akan dapat meningkatkan kualitas, kuantitas serta efektivitas penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. pelanggaran disiplin pegawai menunjukkan trend penurunan, sehingga kedisiplinan pegawai semakin baik. Tumpang tindihnya tupoksi antar perangkat daerah hanya dapat diatasi jika masing-masing perangkat daerah memiliki pedoman Tupoksi yang jelas. Selain itu peningkatan kompetensi aparat harus terus dilakukan, namun dalam pelaksanaan pembiayaan untuk diklat pegawai mengalami penurunan. Hal ini dikhawatirkan akan mempersempit kesempatan aparat untuk memperoleh meningkatkan kompetensinya. Pengelolaan pusat kebugaran pegawai provinsi, kegiatan terfasilitasinya pelayanan kebugaran PNSD beserta keluarga. Perlu diadakan tes kebugaran bagi para PNS yang akan menduduki jabatan-jabatan tertentu, untuk mengetahui kesiapan yang bersangkutan apakah dengan didudukannya yang bersangkutan mampu untuk melakukan kerja dibagian tertentu. Tes tersebut juga perlu diterapkan di kabupaten/kota. Perlu kajian yang mendalam penempatan orang sesuai dengan bidang keahliannya, masih ditemukan personil yang kurang sesuai penempatan di lapangan, karena adanya like and dislike. Perlunya indikator yang jelas dengan realisasi kegiatan, supaya dapat diketahui adanya pelaksanaan yang jelas dengan capaian yang diperoleh. Ada penjelasan hasil pencapaian tetapi belum jelas dengan target yang terukur. Hingga akhir 2006 telah dicapai peningkatan dalam hal SDM aparatur pemerintahan daerah, komposisi kualifikasi PNS dengan pendidikan diploma, sarjana dan S2 mengalami kenaikan yang cukup signifikan

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

91

(diploma dari 12,6 persen menjadi 14,94 persen, sarjana dari 22,69 persen menjadi 25,19 persen, S2 dari 2,95 persen menjadi 4,90 persen). Dengan komposisi tingkat pendidikan yang jauh lebih baik, diharapkan kinerja aparatur berkualitas, profesionalisme dan keterampilan aparatur pemerintah dalam menjalankan tugas dan fungsi penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan publik dapat lebih optimal. Potensi SDM yang ada perlu didukung dengan pelatihan dan penyegaran keterampilan aparat pemerintah daerah. Selain itu reward and punishment system harus dijalankan dengan baik. Hal yang juga perlu menjadi perhatian adalah sistem penempatan personil dalam jabatan yang sesuai dengan kompetensi dan kemampuannya. Dengan demikian profesionalitas aparatur pemerintahan benar-benar terwujud, namun kendala yang dihadapi adalah jumlah pegawai paling banyak pada kelompok umur 46-50 tahun, sementara kelompok umur 20-30 tahun sangat sedikit sehingga dapat menimbulkan permasalahan regenerasi.

5.3. Permasalahan Pencapaian Sasaran
Beberapa permasalahan yang masih ditemui sampai tahun 2007 terkait dengan pencapaian tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa adalah: 1. 2. Pelaksanaan pembiayaan untuk diklat pegawai mengalami penurunan. Hal ini dikhawatirkan akan mempersempit kesempatan aparat untuk memperoleh meningkatkan kompetensinya. Masih ditemukan personil yang kurang sesuai penempatan di lapangan, karena adanya like and dislike. Perlunya indikator yang jelas dengan realisasi kegiatan, supaya dapat diketahui adanya pelaksanaan yang jelas dengan capaian yang diperoleh. 3. 4. 5. Permasalahan regenerasi, kendala yang dihadapi adalah jumlah pegawai paling banyak pada kelompok umur 46-50 tahun, sementara kelompok umur 20-30 tahun sangat terbatas. Masih adanya Tumpang tindih tupoksi antar perangkat daerah. Masih lemahnya pengawasan terhadap kinerja aparatur daerah merupakan cerminan dari kondisi kinerja birokrasi yang masih jauh dari harapan

VI. Tindak Lanjut
Beberapa upaya yang telah dilakukan untuk mencapai sasaran tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa adalah:

1. Penegakan reward and punishment system terhadap aparatur pemerintah daerah. 2. Penataan dan pengkajian ulang mengenai tupoksi masing-masing perangkat daerah oleh tim yang
berkompeten.

3. Pelatihan dan studi lanjut bagi aparatur pemerintah daerah.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

92

4. Rekrutmen pegawai yang lebih selektif, transparan dan uji kompetensi bagi calon aparatur pemerintah
daerah.

5. Penempatan personel sesuai dengan keahlian dan kemampuan (the right man on the right place). 6. Mengembangkan penerapan pengawasan berbasis kinerja dan melakukan evaluasi berkala.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

93

Bab 3.8
Perwujudan Lembaga Demokrasi yang Makin Kokoh

I. Pengantar
Konsolidasi demokrasi akan berjalan dengan baik apabila didukung oleh kelembagaan demokrasi yang kokoh. Sampai dengan saat ini, proses awal demokratisasi dalam kehidupan sosial dan politik dapat dikatakan telah berjalan pada jalur dan arah yang benar yang ditunjukkan antara lain dengan terlaksananya pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden tahun 2004 secara langsung, terbentuknya kelembagaan DPR, DPD dan DPRD baru hasil pemilihan umum langsung, terciptanya format hubungan pusat dan daerah berdasarkan perundangan-undangan otonomi daerah yang baru, terciptanya format hubungan sipil-militer, serta TNI dengan Polri berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku, serta terbentuknya Mahkamah Konstitusi. Dalam waktu lima tahun ke depan, pelaksanaan serta peningkatan kualitas kelembagaan demokrasi yang sudah terbentuk tersebut, akan terus dikembangkan perbaikan pola hubungan negara dan masyarakat, penyelesaian persoalan sosial dan politik masa lalu seperti pelanggaraan HAM, serta peningkatan peranan media komunikasi dan informasi akan menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan konsolidasi demokrasi. Kegiatan Demokrasi masyarakat Jawa Tengah dapat dilihat dari hasil Pemilu 2004 yang melibatkan berbagai LSM dan Parpol Peserta Pemilu. Selain itu, partisipasi masyarakat cukup meningkat dengan jumlah suara yang memilih baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota dibandingkan dengan jumlah penduduk. Selain itu, suasana pelaksanaan Pemilu yang aman di banding tahun 1999 terjadinya konflik antar Parpol di Surakarta. Namun, tuntutan masyarakat akan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden langsung yang demokratis perlu diperhatikan serta perlu diadakannya peningkatan pembelajaran politik terhadap masyarakat.

II. Kondisi Awal RPJM-N di Tingkat Daerah
Pelaksanaan pembangunan bidang politik dalam kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir belum mencapai hasil yang optimal. Hal ini antara lain disebabkan oleh belum mantapnya komunikasi interaktif dari segenap komponen masyarakat, pemahaman yang seimbang antara hak serta kewajiban masyarakat sebagai warga negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegera, masih adanya konflik internal parpol, dan bertambahnya

94

jumlah parpol peserta Pemilu. Kondisi ini makin mendesak untuk memperoleh perhatian, utamanya dalam menghadapi Pemilu dan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden secara langsung. Peran dan fungsi lembaga di daerah dapat dilihat dari jumlah parpol, ornop, dan LSM yang aktif, pada tahun 2005-2007 terdapat 7 jumlah parpol yang aktif yaitu: PPP, PDIP, Partai Amanat Nasional, Partai Keadilan Sejahtera, Golkar, Partai Demokrat, dan Partai Kebangkitan Bangsa. Sedangkan jumlah LSM yang aktif pada tahun 2005 adalah 1.113 LSM, pada tahun 2006 adalah 1.140 LSM, dan pada tahun 2007 adalah 809 anggota ormas/LSM. Partisipasi masyarakat dapat ditentukan oleh jumlah masyarakat yang mengikuti pemilihan umum pada tahun 2004 dengan jumlah pemilih 22.791.184 orang di 85.775 TPS di Jawa Tengah. Jumlah suara pemilu April 2004 yang sah menurut kabupaten/kota di Jawa Tengah di: BPR RI tahun 2004 adalah 17.654.550, DPRD Prov adalah 17.644.333 suara, DPRD kabupaten/kota adalah 17.548.522. Permasalahan yang dihadapi dalam pembangunan politik, adalah: (1) Adanya kecendrungan menurunnya partisipasi politik masyarakat; dan rendahnya keterwakilan politik perempuan; (2) Kurang efektifnya pelaksanaan sistem politik yang demokratis; (3) Dinamika perubahan politik yang dinamis menyebabkan meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap peran lembaga legislatif sebagai wahana representasi politik masyarakat; (4) Meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap penyelenggaraan Pemilu dan pemilihan secara langsung Presiden serta Wakil Presiden secara lebih demokratis.

III. Sasaran yang Ingin di Capai
Sasaran yang ingi dicapai dalam perwujudan lembaga demokratis yang kokoh adalah:

1. 2. 3.

Meningkatkan kesadaran politik masyarakat terhadap hak dan kewajibannya Meningkatkan efektivitas pelaksanaan politik yang demokratis Terselenggaranya penyelenggaraan Pemilu dan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden secara lebih demokratis di daerah.

IV. Arah Kebijakan
Potensi yang dimiliki bidang Politik untuk mewujudkan kehidupan yang makin demokratis, adalah: (1) Terpeliharanya kehidupan politik yang cukup kondusif untuk mendukung penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah; (2) Munculnya partai-partai politik baru sebagai wahana aspirasi dan pendidikan politik rakyat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara; (3) Besarnya jumlah calon pemilih dalam Pemilu 2004

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

95

sebanyak 22.318.050 orang dari jumlah penduduk Jawa Tengah tahun 2003 (Data BPS, 2003) sebesar 32.114.306 orang. Dalam rangka menanggulangi permasalahan diatas, maka kebijakan yang ditempuh adalah peningkatan kesadaran politik masyarakat dan efektifitas sistem politik untuk mewujudkan kehidupan politik yang demokratis di daerah. Tujuan yang akan dicapai melalui kebijakan pembangunan politik, adalah: (1) Meningkatkan kesadaran politik masyarakat terhadap hak dan kewajibannya serta keterwakilan politik perempuan; (2) Meningkatkan efektifitas pelaksanaan sistem politik yang demokratis; (3) Meningkatkan efektifitas peran dan fungsi lembaga legislatif sebagai representasi politik masyarakat; (4) Meningkatkan kesiapan penyelenggaraan Pemilu dan pemilihan secara langsung Presiden dan Wakil Presiden tahun 2004 serta persiapan pelaksanaan Pemilu dan Pemilihan secara langsung Presiden dan Wakil Presiden tahun 2009 secara lebih demokratis. Strategi yang dilakukan untuk mencapai tujuan pembangunan politik, adalah : (1) Menumbuhkembangkan kesadaran politik masyarakat terhadap hak dan kewajiban serta meningkatkan keterwakilan politik perempuan; (2) Mengoptimalkan efektifitas pelaksanaan sistem politik yang demokratis; (3) Mengoptimalkan efektifitas peran dan fungsi lembaga legislatif sebagai representasi politik masyarakat; (4) Memantapkan penyelenggaraan Pemilu dan Pemilihan secara langsung Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2004, serta persiapan Pemilu dan Pemilihan secar langsung Presiden dan Wakil Presiden tahun 2009 secara lebih demokratis. Program yang dilakukan untuk mendukung strategi dalam mencapai tujuan pembangunan politik, adalah:

1.

Fasilitasi Penyelenggaraan Pendidikan Politik Rakyat. Program ini untuk mengembangkan kehidupan demokratisasi di daerah kepada seluruh komponen masyarakat yang merupakan bagian paling strategis dalam rangka pendidikan politik rakyat yang partisipatif, santun dan bermartabat.

2.

Fasilitasi Penyelenggaraan Komunikasi, Struktur dan Etika Politik. Program ini untuk mengembangkan efektifitas pelaksanaan sistem politik yang meliputi komunikasi, struktur dan etika politik yang demokratis.

3.

Fasilitasi Penyelenggaraan Dialog Interaktif antara Legislatif dengan Masyarakat. Program ini untuk memfasilitasi kegiatan dialog interaktif antara legislatif dengan masyarakat dalam pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan dan pembangunan dalam kehidupan demokratisasi.

4.

Fasilitasi Penyelenggaraan Pemilu dan Pemilihan Secara Langsung Presiden/Wakil Presiden. Program ini untuk mendukung suksesnya penyelenggaraan Pemilu dan pemilihan secara langsung Presiden/Wakil Presiden yang lebih demokratis serta dalam suasana poleksosbud yang kondusif guna menjamin keberlangsungan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di daerah.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

96

V. Pencapaian RPJMN di Daerah (2005-2007)
Perwujudan lembaga demokrasi yang makin kokoh diserta denga adanya penacapaian bidang politik yang dijabarkan dibawah ini:

5.1. Upaya yang Dilakukan hingga tahun 2007
1. Fasilitasi penyelenggaraan pendidikan politik rakyat.

a.

Kegiatan Forkomkon Orkemas dan Tokoh Masyarakat/ Tokoh Agama pada tahun 2003 diikuti oleh 300 peserta, pada tahun 2004 diikuti oleh 160 peserta, tahun 2005 diikuti oleh 125 peserta dan pada tahun 2006 diikuti oleh 225 peserta.

b.

Kegiatan temu muka mahasiswa, seminar dan sarasehan. Jumlah peserta cenderung bertambah pada tahun 2003 dan tahun 2004 masing-masing sebanyak 150 peserta menjadi 275 peserta pada tahun 2005 dan 275 peserta pada tahun 2006.

2.

Fasilitas Penyelenggaraan, Komunikasi, Struktur dan Etika Politik dapat dilakukan melalui berbagi kegiatan yaitu:

a. Penyusunan buku memori DPRD Provinsi Jawa Tengah masa bakti 1999-2004 dengan target 500
eksemplar dan terlaksana tahun 2004.

b. Sosialisasi pearturan perundang-undangan bagi anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah masa
jabatan 2004-2009 tercapai 200 anggota DPRD yang mengikuti tahun 2005.

c. Penerbitah majalah Mimbar Legislatif terbit 5 kali pada tahun 2005 dan 8 kali pada tahun 2006. d. Seminar bidang Pemrintahan dan Kemanan tahun 2006 (2 kali seminar diikuti 140 peserta). e. Seminar Fasilitas forum Rembug Merapi-Merbabu pada tahun 2006 (3 kali seminar yang diikuti 100
oragng peserta)

f.

Seminar bidang Keuangan/Perusda terlaksana hanya 1 kali yang diikuti 200 peserta yang direncanakan 2 kali pada tahun 2006 karena padatnya kegiatan dewan.

g. Seminar bidang pembangunan tahun 2006 sebanyak 2 kali dengan peserta 200 orang. h. Seminar Perda Manajemen Zakat di Jawa Tengah pada tahun 2006 diikuti oleh 100 orang. i. j.
Seminar Implementsi wajib Belajar 9 tahun di Jawa Tengah dengan peserta 100 orang pada tahun 2006. Peningkatan kemampuan penatausahaan keuanan Sekretariat DPRD tercapai 30 orang yang mengikuti dan terlaksananya pada tahun 2005.

k. Ekspose, interaktif melalui Media Elektronik dan Media Cetak pada tahun 2005 terekspose 6
kegiatan dan pada tahun 2006 terekspose pula 6 kegiatan.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

97

l.

Pertemuan dialog DPRD Provinsi Jawa Tengah dengan stakeholders/eksternal terlaksana pada tahun 2005 dan 2006 masing-masing 3 kegiatan.

m. Studi komparasi ke Provinsi Banten, DKI, Jabar, dan Jatim untuk pemahaman dan permasalahan
dan program kerja DPRDpada tahun 2005.

n. Monitoring pelaksanaan PILKADA di kabupaten/kota terlaksana pada tahun 2005 pada 17
kabupaten/kota dan 2006 8 kbupaten.

o. Penyiapan dan Pembahasan Rencana Peraturan Daerah , terlaksananya 8 Raperda (63 persen)
[pada tahun 2005 yang rencana 13 Raperda, dan 10 Raperda (65 persen) pada 2006 yang rencana 15 Raperda.

p. Penyiapan, pengkajian, dan penelaahan peraturan perundang-undangan terlaksana 5 raperda. q. Kunjungan Kerja dan Kunjungan Lapangan DPRD Provinsi Jawa Tengah tahun 2006 pada tahun
2006 dengan 60 kegiatan dan ada komisi yang tidak melaksanakan kegiatan tersebut disebabkan padatnya kegiatan yang lain

r. Reses DPRD Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2006 sebanyak 3 kali. s. Penjaringan aspirasi masyarakat direncanakan 3 kali kegiatan sudah terserap pada masa reses. t.
Sosialisasi Rancangan Peraturan Daerah APBD terlaksana pada tahun 2005 dengan rencana 60 kegiatan namun tercapai 48 kali kegiatan atau 80 persen hal tersebut disesuaikan dengan kegiatan DPRD. 3. Fasilitasi Penyelenggaraan Dialog Interaktif antara Legislatif dan Masyarakat.

a. Kegiatan Forum Komunikasi antar pimpinan Daerah dan pimpinan Parpol. b. Dialog interaktif antara pemerintah dengan lembaga legislatif pada tahun 2003 diikuti sebanyak 150
peserta dan pada tahun 2004 sebanyak 575 peserta. 4. Fasiliasi penyelenggaraan Pemilihan Umum dan Pemilihan secara langsung Presiden dan wakil Presiden.

a. Kegiatan pendidikan politik bagi pemilih pemula pada tahun 2003 diikuti oleh 35 peserta dan tahun
2004 diikuti oleh 200 peserta.

b. Rapat koordinasi Kesbang sebanyak 70 kali pada tahun 2003 untuk menghadapi pemilu 2004. c. Kegiatan pemantauan pemilu dilakukan sejak tahun 2004-2006. 5.2. Posisi Capaian hingga tahun 2007
Posisi capaian hingga tahun 2007 terkait dengan perwujudan lembaga demokrasi yang makin kokoh adalah: 1. Pada kegiatan Forkomkon Orkemas dan Tokoh Masyarakat/Tokoh Agama secara agregat bahwa target peserta pelatihan telah tercapai sesuai dengan yang diharapkan yang dapat di interpretasikan bahwa ada respon positif dari anggota masyarakat dalam rangka peningkatan akan hak dalam kewajiban dalam

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

98

berpolitik. Mahasiswa sebagai dasar landasan pendidikan politik kemasyarakatn telah menjadi subyek Badan Kesbanglinmas terlihat adanya partisipasi yang tinggi dalam rangka meningkatkan efektifitas pelaksanaan system politik demokratis. 2. Program ini terutama ditujukan untuk meningkatkan kinerja lembaga legislatif sebagai lembaga yang dianggap menjadi tolak ukur pelaksanaan kehidupan politik demokratis. Dari beragai kegiatan yang dilaporkan sebagian besar masih merupakan kegiatan rutin, sementara upaya mengoptimalkan efektifitas pelaksanaan system politik yang demokratis belum menampakkan kegiatan yang nyata. 3. Program fasilitasi penyelenggaran dialog interaktif antara legislatif dan masyarakat baru dilaksanakan sebatas forum komunikasi antar pimpinan daerah dan pimpinan parpol atau antara pemerintah dan legislatif. 4. Kegiatan untuk menukung penyelenggaraan Pemilu presiden dan wakil presiden telah berhasil melaksanakan pemilu aman dan demokratis. Di Jawa Tengah selama pra Pemilu, pemilu, dan pasca pemilu tahun 2004 tidak terjadi gangguan yang berarti, jauh lebih baik dibandingkan pemilu tahun 1999, dimana saat itu terjadi berbagai konflik antar pendukung partai maupun kerusuhan sosial yang melanda wilayah Surakarta pasca pemilu tahun 1999.

5.3. Permasalahan Pencapaian Sasaran
Permasalahan pencapaian sasaran perwujudan lembaga demokrasi yang makin kokoh adalah:

1.

Peningkatan kesadaran politik masyarakat terhadap hak dan kewajibannya dengan dilakukannya upaya pendidikan politik bagi rakyat juga perlu diintensifkan melalui lembaga-lembaga pendidikan seperti sekolah, selain itu juga pendidikan politik kepada kaum perempuan perlu diagendakan secara khusus. Perlu penjelasan target yang direncanakan, supaya hasil pencapaian tiap tahunnya jelas, sehingga dengan parameter yang direncanakan, dapat membuat hasil dengan baik dan sesuai.

2.

Beragai kegiatan fasilitasi penyelenggaraan, komunikasi, struktur, dan etika poltik yang dilaporkan sebagian besar masih merupakan kegiatan rutin, sementara upaya mengoptimalkan efektifitas pelaksanaan system politik yang demokratis belum menampakkan kegiatan yang nyata.

3.

Pelaksanaan program dialog interaktif antara legislatif dan masyarakat dapat dilakukan tidak hanya sebatas forum komunikasi semata, banyak peluang yang bisa di tempuh, misalnya dengan memanfaatkan media massa melalui acara dialog-dialog di radio atau televisi maupun melalui surat kabar. Dengan demikian interaksi antara pihak legislatif dan masyarakat dapat dijembatani secara nyata. Selain itu, representasi akan lebih dapat optimal dengan melibatkan partisipasi perempuan dalam lembaga legislatif, sehingga lembaga politik juga di responsive gender.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah -

99

VI. Tindak Lanjut
Upaya tindak lanjut yang dilakukan dalam perwujudan lembaga demokrasi yang kokoh di tingkat daerah adalah : 1. 2. 3. Sosialisasi untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi politik bagi generasi muda dan perempuan, melalui sekolah, organisasi PKK, dasa wisma dan dharma wanita. Pendidikan politik bagi kaum perempuan (usia sekolah, ibu rumah tangga, dan dharma wanita) Penyelenggaraan dialog dan sarasehan secara rutin di media TV daerah antara DPRD dengan anggota masyarakat dan perguruan tinggi untuk menyerap aspirasi dilapangan dan mensosialisasikan berbagai produk yang dihasilkan DPRD. 4. Implementasi Kuota 30 persen bagi perempan dalam kursi legislatif dan jabatan struktural di eksekutif daerah.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 100

BAGIAN 4 AGENDA MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT

BAB 4.1
Pengantar Agenda Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat

Berkaitan dengan Agenda Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat disusun 5 (lima) sasaran pokok dengan prioritas dan arah kebijakan sebagai berikut: Sasaran pertama adalah menurunnya jumlah penduduk miskin pada tahun 2009, terciptanya lapangan kerja yang mampu mengurangi pengangguran terbuka pada tahun 2009 dengan didukung oleh stabilitas ekonomi yang tetap terjaga. Kemiskinan dan pengangguran diatasi dengan strategi pembangunan ekonomi yang mendorong pertumbuhan yang berkualitas dan berdimensi pemerataan melalui penciptaan lingkungan usaha yang sehat. Untuk mencapai sasaran tersebut pertumbuhan ekonomi diupayakan meningkat pada tahun 2009. Upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi ditempuh dengan menciptakan lingkungan usaha yang sehat untuk meningkatkan peranan masyarakat. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi ditingkatkan terutama dengan menggalakkan investasi dan meningkatkan ekspor non-migas pada tahun 2009. Sejalan dengan membaiknya perekonomian dunia, ekspor non-migas diharapkan meningkat secara bertahap pada tahun 2009. Sejalan dengan meningkatnya investasi dan daya saing perekonomian, sektor pertanian, industri pengolahan non-migas, dan sektor-sektor lainnya. Untuk mencapai sasaran tersebut, disusun prioritas dan arah kebijakan pembangunan sebagai berikut: 1. Penanggulangan Kemiskinan dengan kebijakan yang diarahkan untuk menghormati, melindungi dan memenuhi hak-hak dasar masyarakat miskin yang meliputi hak atas pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, air bersih, tanah, lingkungan hidup dan sumber daya alam, rasa aman, serta hak untuk berpartisipasi dalam perumusan kebijakan publik. Kemiskinan di daerah Provinsi Jawa Tengah merupakan masalah kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, antara lain: tingkat pendapatan, kesehatan, pendidikan, akses terhadap barang dan jasa, lokasi, geografis, gender, dan kondisi lingkungan. Mengacu pada strategi nasional penanggulangan kemiskinan, definisi kemiskinan adalah kondisi di mana seseorang atau sekelompok orang, laki-laki dan perempuan, tidak terpenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Definisi ini beranjak dari pendekatan berbasis hak

101

yang mengakui bahwa masyarakat miskin mempunyai hak-hak dasar yang sama dengan anggota masyarakat lainnya. Kemiskinan tidak lagi dipahami hanya sebatas ketidakmampuan ekonomi, tetapi juga kegagalan memenuhi hak-hak dasar dan perbedaan perlakuan bagi seseorang atau sekelompok orang dalam menjalani kehidupan secara bermartabat. Hak-hak dasar yang diakui secara umum meliputi terpenuhinya kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, air bersih, pertanahan, sumberdaya alam, dan lingkungan hidup, rasa aman dari perlakukan atau ancaman tindak kekerasan dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial-politik, baik bagi perempuan maupun laki-laki. 2. Peningkatan Investasi dan Ekspor Non Migas dengan kebijakan yang diarahkan untuk menghapus ekonomi biaya tinggi antara lain dengan: menyederhanakan prosedur perijinan investasi, termasuk bagi UKM; menciptakan kepastian hukum yang menjamin kepastian usaha, termasuk mengurangi tumpang tindih kebijakan antar pusat dan daerah serta antar sektor; menyempurnakan kelembagaan investasi yang berdaya saing, efisien, transparan, dan non-diskriminatif; menyederhanakan administrasi perpajakan dan kepabeanan melalui reformasi perpajakan dan kepabeanan; mendorong pemulihan fungsi intermediasi perbankan; meningkatkan penyediaan infrastruktur; revitalisasi kelembagaan promosi ekspor; meningkatkan pelayanan support at company level; pengembangan sarana pembiayaan perdagangan; serta memperkuat kelembagaan pengamanan perdagangan internasional (safeguard/anti-dumping). Selanjutnya untuk meningkatkan penerimaan devisa, kebijakan pariwisata diarahkan untuk meningkatkan efektivitas promosi dan pengembangan produk-produk wisata dan meningkatkan sinergi dalam jasa pelayanan pariwisata. Salah satu sebab utama dari lambatnya pemulihan ekonomi sejak krisis 1997 adalah buruknya kinerja investasi akibat sejumlah permasalahan yang mengganggu pada setiap tahapan penyelenggaraannya. Keadaan tersebut menyebabkan lesunya kegairahan melakukan investasi, baik untuk perluasan usaha yang telah ada maupun untuk investasi baru. Masalah ini akan sangat berpengaruh pada pertumbuhan perekonomian di Provinsi Jawa Tengah yang selama ini lebih didorong oleh pertumbuhan konsumsi ketimbang investasi atau ekspor. Rendahnya investasi dalam beberapa tahun terakhir sejak krisis ekonomi juga telah mempengaruhi daya saing produk daerah di pasar dalam maupun luar negeri. 3. Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur dengan kebijakan diarahkan untuk meningkatkan utilitas kapasitas terpasang; memperkuat struktur industri; memperkuat basis produksi; meningkatkan daya saing dengan tekanan pada industri-industri yang menyerap lebih banyak tenaga kerja; memenuhi kebutuhan dalam negeri; memiliki potensi ekspor; serta mengolah sumber daya alam di dalam negeri.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 102

Sejalan dengan perkembangan perekonomian nasional, kinerja sektor perdagangan di Jawa Tengah makin signifikan dalam mendorong perkuatan struktur dan pertumbuhan ekonomi daerah. Pada tahun 2006 kontribusi sektor perdagangan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Tengah atas dasar harga berlaku adalah sebesar 16,74 persen dan atas dasar harga konstan tahun 2000 sebesar 17,64 persen. Pada tahun 2007 sektor perdagangan Jawa Tengah diprediksikan meningkatan 18,80 persen sehingga kontribusi sektor perdagangan terhadap PDRB menjadi 20,75 persen. 4. Revitalisasi Pertanian dalam arti luas yang diarahkan untuk mendorong pengamanan ketahanan pangan, peningkatan daya saing, diversifikasi, peningkatan produktivitas dan nilai tambah produk pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan dan kehutanan untuk peningkatan kesejahteraan petani dan nelayan, melalui: (1) peningkatan kemampuan petani dan nelayan serta penguatan lembaga pendukungnya, (2) pengamanan ketahanan pangan, (3) peningkatan akses petani dan nelayan kepada sumber daya produktif seperti teknologi, informasi pemasaran, pengolahan dan permodalan, (4) perbaikan iklim usaha dalam rangka meningkatkan diversifikasi usaha dan memperluas kesempatan berusaha, (5) peningkatan kemampuan manajemen dan kompetensi kewirausahaan di kalangan pelaku usaha bidang pertanian dan perikanan, (6) mendorong peningkatan standar mutu komoditas, penataan dan pengembangan industri pengolahan produk pertanian dan perikanan untuk meningkatkan daya saing dan nilai tambah, (7) peningkatan efisiensi sistem distribusi, koleksi dan jaringan pemasaran produk untuk perluasan pemasaran, dan (8) peningkatan pemanfaatan sumber daya perikanan dan optimasi pemanfaatan hutan alam, pengembangan hutan tanaman serta hasil hutan non kayu, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga kelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup. Jawa Tengah dalam bidang pertanian memiliki misi untuk menyediakan pangan, meningkatkan kesejahteraan petani dan menggerakkan roda perekonomian daerah. Misi penyediaan pangan sampai dengan tahun 2003 dapat dicapai yang ditandai dengan jumlah produksi yang surplus. Namun demikian pendapatan dan/atau tingkat kesejahteraan petani masih rendah, antara lain ditandai masih rendahnya Nilai Tukar Petani (NTP). Peningkatan jumlah penduduk dan pendapatan masyarakat di perkotaan akan meningkatkan jumlah, kualitas dan keragaman permintaan produk pertanian, sedangkan di sisi lain dengan masuknya produk pertanian dari luar negeri dengan harga dan kualitas yang bersaing, akan mengurangi peluang pasar produk lokal menyebabkan menurunnya kegairahan produksi pertanian di masyarakat. Perbedaan potensi produksi pangan dan pola panen raya yang diikuti masa paceklik, mengakibatkan distribusi ketersediaan pangan tidak merata di setiap tempat dan setiap waktu, hal tersebut menciptakan potensi kerawanan pangan dan jatuhnya harga produk pertanian pangan dari petani/produsen.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 103

5.

Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah dengan kebijakan yang diarahkan untuk (1) mengembangkan usaha kecil dan menengah (UKM) agar memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan daya saing; (2) mengembangkan usaha skala mikro dalam rangka peningkatan pendapatan pada kelompok masyarakat berpendapatan rendah; (3) memperkuat kelembagaan dengan menerapkan prinsip-prinsip tata kepemerintahan yang baik (good governance) dan berwawasan gender dengan cara memperbaiki lingkungan usaha dan menyederhanakan prosedur perijinan, memperluas akses kepada sumber permodalan khususnya perbankan, memperluas dan meningkatkan kualitas institusi pendukung yang menjalankan fungsi intermediasi sebagai penyedia jasa pengembangan usaha, teknologi, manajemen, pemasaran dan informasi; (4) memperluas basis dan kesempatan berusaha serta menumbuhkan wirausaha baru berkeunggulan, termasuk mendorong peningkatan ekspor; (5) meningkatkan UMKM sebagai penyedia barang dan jasa pada pasar domestik, khususnya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat banyak; dan (6) meningkatkan kualitas kelembagaan koperasi sesuai dengan jati diri koperasi Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan upaya yang penting untuk meningkatkan kesempatan kerja dan berusaha dalam rangka meningkatkan pendapatan masyarakat, sehingga pada gilirannya dapat mengurangi kemiskinan dan meningkatkan taraf hidup. Hal ini ditunjukkan oleh keberadaan UMKM dan koperasi yang telah mencerminkan wujud nyata kehidupan sosial dan ekonomi bagian terbesar dari masyarakat Provinsi Jawa Tengah. Peran UMKM yang besar ditunjukkan oleh kontribusinya terhadap produksi daerah, jumlah unit usaha dan pengusaha, serta penyerapan tenaga kerja.

6.

Peningkatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dengan kebijakan yang diarahkan untuk: (1) meningkatkan fokus dan kapasitas litbang iptek; (2) mempercepat proses difusi dan pemanfaatan hasilhasil iptek; (3) memperkuat kelembagaan iptek; dan (4) menciptakan iklim inovasi dalam bentuk skema insentif. Kondisi saat ini di Jawa Tengah, pembangunan bidang ilmu pengetahuan dan teknologi pada dasarnya memiliki dua dimensi yang saling terkait, pertama IPTEK sebagai sarana dalam mempercepat tujuan pembangunan daerah secara berkelanjutan serta sebagai sasaran pembangunan guna meningkatkan kemandirian penguasaan IPTEK. Perkembangan hasil-hasil penelitian bisa didayagunakan dalam rangka mendukung pemberdayaan ekonomi, industri dan dunia usaha. Namun hal tersebut belum sesuai dengan yang diharapkan.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 104

7.

Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan dengan pengembangan kebijakan pasar tenaga kerja yang fleksibel dan penataan hubungan industrial yang mencerminkan asas keadilan dan kondusif bagi peningkatan produktivitas dan inovasi. Menurunkan tingkat pengangguran terbuka dengan menciptakan lapangan pekerjaan produktif mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari Pemerintah daerah Provinsi Jawa Tengah. Angka pengangguran terbuka Provinsi Jawa Tengah tahun 2006 adalah 1.109.576 meningkat menjadi 1,44 juta jiwa pada tahun 2007. Berbagai permasalahan tenaga kerja terjadi antara lain: masih terjadinya kasus PHK, kurang optimalnya keterampilan dan kompetensi dari TKI yang akan bekerja diluar negeri, serta belum mantapnya Perencanaan Tata Kerja Daerah (PTKD) disebabkan kurangnya informasi pasar kerja. Selain itu, adanya tuntutan pekerja untuk bisa mendapatkan perlindungan kerja.

8.

Pemantapan Stabilitas Ekonomi Makro yang diarahkan untuk menjaga dan mempertahankan stabilitas ekonomi makro yang telah dicapai dengan memberi ruang yang lebih luas untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Dalam kaitan itu, upaya yang ditempuh mencakup: (1) penyusunan formulasi APBD dengan tujuan mengembalikan kemampuan fiskal sebagai salah satu instrumen perekonomian yang efektif untuk menciptakan lapangan kerja melalui dorongan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan berkualitas; (2) pengembangan strategi pengelolaan pinjaman luar negeri sebagai pelengkap pembiayaan pembangunan dengan mendasarkan pada prinsip pengelolaan yang efisien dan memungkinkan meningkatnya kemampuan membayar; (3) peningkatan upaya penyehatan dan penertiban lembaga-lembaga keuangan dan perbankan dalam rangka meningkatkan peran lembagalembaga tersebut sebagai intermediasi ke sektor-sektor produksi. Stabilitas perekonomian Provinsi Jawa Tengah adalah prasyarat dasar untuk tercapainya peningkatan kesejahteraan rakyat melalui pertumbuhan yang tinggi dan peningkatan kualitas pertumbuhan. Stabilitas perekonomian sangat penting untuk memberikan kepastian berusaha bagi para pelaku ekonomi. Mengingat pentingnya stabilitas ekonomi makro bagi kelancaran dan pencapaian sasaran pembangunan nasional, pemerintah bertekad untuk terus menciptakan dan memantapkan stabilitas ekonomi makro. Salah satu arah kerangka ekonomi makro dalam jangka menengah adalah untuk menjaga stabilitas ekonomi makro dan mencegah timbulnya fluktuasi yang berlebihan di dalam perekonomian.

Sasaran kedua adalah berkurangnya kesenjangan antar wilayah yang tercermin dari meningkatnya peran perdesaan sebagai basis pertumbuhan ekonomi agar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di pedesaan; meningkatnya pembangunan pada daerah-daerah terbelakang dan tertinggal; meningkatnya

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 105

pengembangan wilayah yang didorong oleh daya saing kawasan dan produk-produk unggulan daerah; serta meningkatnya keseimbangan pertumbuhan pembangunan antar kota-kota metropolitan, besar, menengah, dan kecil dengan memperhatikan keserasian pemanfaatan ruang dan penatagunaan tanah. Untuk mencapai sasaran ini, disusun prioritas pembangunan dan arah kebijakan sebagai berikut: Pembangunan Perdesaan dengan mengembangkan diversifikasi kegiatan ekonomi perdesaan; meningkatkan promosi dan pemasaran produk-produk pertanian dan perdesaan lainnya; memperluas akses masyarakat perdesaan ke sumber daya-sumber daya produktif, pelayanan publik dan pasar; meningkatkan keberdayaan masyarakat perdesaan melalui peningkatan kualitasnya, penguatan kelembagaan dan modal sosial masyarakat perdesaan; meningkatkan kesejahteraan masyarakat perdesaan serta meminimalkan risiko kerentanan; serta mengembangkan praktek-praktek budidaya pertanian dan usaha non pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Sebagian besar penduduk saat ini masih bertempat tinggal di kawasan permukiman perdesaan. Selama ini kawasan perdesaan dicirikan antara lain oleh rendahnya tingkat produktivitas tenaga kerja, masih tingginya tingkat kemiskinan, dan rendahnya kualitas lingkungan permukiman perdesaan. Rendahnya produktivitas tenaga kerja di perdesaan bisa dilihat dari besarnya tenaga kerja yang ditampung sektor pertanian. Sementara itu tingginya tingkat kemiskinan di perdesaan bisa ditinjau baik dari indikator jumlah dan persentase penduduk miskin (head count), maupun tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan. Pada tahun 2005 (kondisi September 2005) jumlah penduduk miskin Jawa Tengah adalah 2.708.598 RT miskin, dan pada tahun 2006 naik menjadi 3,17 juta RT miskin. Dengan penduduk dan angkatan kerja perdesaan yang akan terus bertambah sementara pertumbuhan luas lahan pertanian relatif tidak meningkat secara signifikan, maka penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian menjadi tidak produktif. Oleh karena itu sangat penting untuk mengembangkan lapangan kerja non pertanian (non-farm activities) guna menekan angka kemiskinan dan migrasi ke perkotaan yang terus meningkat. Pengurangan Ketimpangan Pembangunan Wilayah dengan: (a) mendorong percepatan pembangunan dan pertumbuhan wilayah-wilayah strategis dan cepat tumbuh yang selama ini masih belum berkembang secara optimal, sehingga dapat menjadi motor penggerak bagi wilayah-wilayah tertinggal di sekitarnya dalam suatu ‘sistem wilayah pengembangan ekonomi’ yang sinergis; (b) meningkatkan keberpihakan pemerintah untuk mengembangkan wilayah-wilayah tertinggal dan terpencil sehingga wilayah-wilayah tersebut dapat tumbuh dan berkembang secara lebih cepat dan dapat mengejar ketertinggalan pembangunannya dengan daerah lain; (c) meningkatkan keterkaitan kegiatan ekonomi yang berada di wilayah perdesaan dengan yang berada di perkotaan.

1.

2.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 106

Ketimpangan pembangunan antar wilayah di Jawa Tengah dapat dilihat dari berbagai aspek. Secara umum hal ini merujuk pada perbedaan tingkat kesejahteraan dan perkembangan ekonomi. Untuk menguranginya, upaya percepatan pembangunan wilayah yang relatif tertinggal sudah dilakukan, namun hasilnya belum sepenuhnya dapat dinikmati oleh masyarakat. Oleh karena itu ketimpangan menjadi masalah yang penting dan harus diatasi. Kebijakan untuk mengatasi ketimpangan pembangunan antar daerah diarahkan pada beberapa aspek yang salah satunya pengembangan wilayah-wilayah strategis. Diharapkan menjadi pusat pertumbuhan yang memberi dampak positif bagi wilayah-wilayah sekitarnya. Sasaran ketiga adalah meningkatnya kualitas manusia yang secara menyeluruh tercermin dari membaiknya angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) serta meningkatnya pemahaman dan pengamalan ajaran-ajaran agama. Secara lebih rinci, sasaran meliputi:

1.

Meningkatnya akses masyarakat terhadap pendidikan dan meningkatnya mutu pendidikan yang berkualitas, antara lain ditandai oleh menurunnya jumlah penduduk yang buta huruf; meningkatnya secara nyata persentase penduduk yang dapat menyelesaikan program wajib belajar 9 tahun; berkembangnya pendidikan kejuruan yang ditandai dengan meningkatnya jumlah tenaga terampil; meningkatnya kualitas dan relevansi pendidikan yang ditandai oleh: (a) meningkatnya proporsi pendidik formal dan non formal yang memiliki kualifikasi minimun dan sertifikasi sesuai dengan jenjang kewenangan mengajar; (b) meningkatnya kualitas hasil belajar yang diukur dengan meningkatnya persentase siswa yang lulus evaluasi hasil belajar; dan (c) meningkatnya hasil penelitian, pengembangan dan penciptaan ilmu pengetahuan dan teknologi oleh perguruan tinggi dan lembaga litbang serta penyebarluasan dan penerapannya pada masyarakat.

2.

Meningkatnya akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas, masyarakat yang ditandai oleh meningkatnya angka harapan hidup, menurunnya tingkat kematian bayi dan kematian ibu melahirkan, dan perbaikan status gizi.

3.

Meningkatnya perlindungan dan kesejahteraan sosial, yang ditandai dengan: (a) meningkatnya kualitas dan aksesibilitas pelayanan, rehabilitasi, bantuan sosial, dan jaminan kesejahteraan sosial bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS); (b) meningkatnya mutu manajemen dan profesionalisme pelayanan kesejahteraan sosial; (c) tersusunnya sistem perlindungan sosial nasional; (d) meningkatnya keserasian kebijakan kesejahteraan sosial; (e) meningkatnya akses masyarakat terhadap pelayanan sosial dasar melalui institusi dan lembaga sosial; dan (f) terjaminnya bantuan sosial bagi korban bencana alam dan sosial.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 107

4.

Terkendalinya pertumbuhan penduduk dan meningkatnya keluarga kecil berkualitas, yang ditandai dengan: (a) menurunnya laju pertumbuhan penduduk menjadi 1,14 persen; tingkat fertilitas total menjadi 2,2 persen perempuan; persentase pasangan usia subur yang tidak terlayani (unmetneed) menjadi 6 persen; (b) meningkatnya peserta KB laki-laki menjadi 4,5 persen; pemakaian alat kontrasepsi yang efektif dan efisien; usia perkawinan pertama menjadi 21 tahun; (c) meningkatnya partisipasi keluarga dalam pembinaan tumbuh-kembang anak; (d) meningkatnya jumlah Keluarga Pra-Sejahtera dan Keluarga Sejahtera-1 yang aktif dalam usaha ekonomi produktif; dan (e) meningkatnya jumlah institusi masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan keluarga berencana dan kesehatan reproduksi; tertatanya pembangunan kependudukan yang ditandai dengan: (a) meningkatnya keserasian kebijakan kependudukan dalam rangka peningkatan kualitas, pengendalian pertumbuhan dan kuantitas, pengarahan mobilitas dan persebaran penduduk yang serasi dengan daya dukung alam dan daya tampung lingkungan di tingkat daerah; dan (b) meningkatnya cakupan jumlah kabupaten/kota dalam pelaksanaan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan; serta meningkatnya partisipasi pemuda dan budaya olahraga yang ditandai dengan: (a) meningkatnya keserasian berbagai kebijakan pemuda di tingkat daerah; (b) meningkatnya kualitas dan partisipasi pemuda di berbagai bidang pembangunan; (c) meningkatnya keserasian berbagai kebijakan olahraga di tingkat daerah; (d) meningkatnya kesehatan jasmani masyarakat dan prestasi olahraga; dan (e) tersedianya sarana dan prasarana olahraga bagi masyarakat sesuai dengan olahraga unggulan daerah.

5.

Meningkatnya pemahaman, penghayatan, dan pengamalan ajaran agama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara serta meningkatnya kepedulian dan kesadaran masyarakat dalam memenuhi kewajibannya dalam rangka mengurangi kesenjangan pendapatan masyarakat.

Untuk mencapai sasaran tersebut, maka disusun prioritas dan arah kebijakan sebagai berikut:

1.

Peningkatan Akses Masyarakat Terhadap Pendidikan yang Berkualitas dengan kebijakan yang diarahkan untuk menyelenggarakan Wajib Belajar Pendidikan 12 Tahun; menurunkan secara signifikan jumlah penduduk yang buta aksara; meningkatkan perluasan dan pemerataan pendidikan menengah dan pendidikan tinggi; meningkatkan perluasan pendidikan anak usia dini; menyelenggarakan pendidikan non formal yang bermutu untuk memberikan pelayanan pendidikan kepada warga masyarakat yang tidak mungkin terpenuhi kebutuhan pendidikannya melalui jalur formal; menurunkan kesenjangan partisipasi pendidikan antarkelompok masyarakat dengan memberikan akses yang lebih besar kepada kelompok masyarakat yang selama ini kurang dapat terjangkau oleh layanan pendidikan seperti masyarakat miskin, masyarakat yang tinggal di wilayah perdesaan, dan masyarakat penyandang cacat termasuk melalui penyelenggaraan pendidikan alternatif dan pendidikan khusus; mengembangkan kurikulum yang disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, mengembangkan

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 108

pendidikan kewarganegaraan, pendidikan multikultural, dan pendidikan budi pekerti termasuk pengembangan wawasan kesenian, kebudayaan, dan lingkungan hidup; menyediakan pendidik dan tenaga kependidikan serta menyediakan sarana dan prasarana pendidikan dalam jumlah dan kualitas yang memadai; meningkatkan kesejahteraan dan perlindungan hukum bagi pendidik; mengembangkan teknologi informasi dan komunikasi di bidang pendidikan; mengembangkan sistem evaluasi, akreditasi dan sertifikasi termasuk sistem pengujian dan penilaian pendidikan; menyempurnakan manajemen pendidikan dengan meningkatkan otonomi dan desentralisasi pengelolaan pendidikan; meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembangunan pendidikan; menata sistem pembiayaan pendidikan yang berprinsip adil, efisien, efektif, transparan dan akuntabel termasuk penerapan pembiayaan pendidikan berbasis jumlah siswa (student-based financing) dan meningkatkan penelitian dan pengembangan pendidikan terutama untuk mendukung upaya mensukseskan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun yang bermutu, menuju Wajar 12 Tahun. Pembangunan bidang pendidikan Provinsi Jawa Tengah dilaksanakan dalam kerangka pembangunan bidang pendidikan daerah dan nasional, yang terus diarahkan untuk mewujudkan masyarakat Jawa Tengah yang cerdas, produktif, dan berakhlak mulia melalui upaya pengembangan dan penyesuaian pendidikan dengan tuntutan perkembangan IPTEK dan kebutuhan pasar kerja. Upaya tersebut menunjukkan hasil positif, yang ditunjukkan melalui beberapa indikator bidang pendidikan. Sejalan dengan komitmen pada pembangunan pendidikan, Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2008 telah merealisasikan anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBD sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945.

2.

Peningkatan Akses Masyarakat Terhadap Pelayanan Kesehatan Yang Berkualitas Dengan kebijakan yang diarahkan untuk: (1) meningkatkan jumlah, jaringan dan kualitas pusat kesehatan masyarakat; (2) meningkatkan kuantitas dan kualitas tenaga kesehatan; (3) mengembangkan sistem jaminan kesehatan, terutama bagi penduduk miskin; (4) meningkatkan sosialisasi kesehatan lingkungan dan pola hidup sehat; (5) meningkatkan pendidikan kesehatan kepada masyarakat sejak usia dini; dan (6) meningkatkan pemerataan dan kualitas fasilitas kesehatan dasar. Pembangunan kesehatan di Jawa Tengah ditujukan untuk menciptakan manusia yang sehat, cerdas dan produktif. Perkembangan kesehatan diarahkan untuk dapat meningkatkan kualitas kehidupan, serta peningkatan usia harapan hidup manusia, meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat, serta untuk mempertinggi kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat.

3.

Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Sosial dengan kebijakan yang diarahkan untuk: (1) mengembangkan sistem perlindungan sosial daerah; (2) meningkatkan kualitas pelayanan dan bantuan

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 109

dasar kesejahteraan sosial bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial; dan (3) meningkatkan pemberdayaan terhadap fakir miskin, penyandang cacat dan kelompok rentan sosial lainnya. Provinsi Jawa Tengah dalam rangka mengatasi permasalahan-permasalahan perlindungan dan kesejahteraan sosial guna kesinambungan pelaksanan program dan kegiatan pelayanan bagi masyarakat, serta lebih meningkatkan perlindungan dan kesejahteraan sosial langkah kebijakan yang telah dilakukan selama ini perlu terus dilanjutkan. Pembangunan kesejahteraan sosial kedepan lebih diperkuat dengan mengedepankan peran aktif masyarakat, diikuti dengan penggalian dan pengembangan nilai-nilai sosial budaya, seperti kesetiakawanan sosial dan gotong royong.

4.

Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Kecil Berkualitas serta Pemuda dan Olah Raga, dengan kebijakan yang diarahkan untuk: (1) mengendalikan pertumbuhan penduduk serta meningkatkan keluarga kecil berkualitas dengan: (a) mengendalikan tingkat kelahiran penduduk; (b) meningkatkan pemberdayaan dan ketahanan keluarga; (c) meningkatkan kualitas kesehatan reproduksi remaja serta pendewasaan usia perkawinan; (d) memperkuat kelembagaan dan jaringan KB; (2) menata pembangunan kependudukan dengan: (a) menata kebijakan persebaran dan mobilitas penduduk secara seimbang; dan (b) menata kebijakan administrasi kependudukan; serta (3) meningkatkan partisipasi pemuda dalam pembangunan dan menumbuhkan budaya olahraga dengan: (a) mewujudkan keserasian kebijakan pemuda di berbagai bidang pembangunan; (b) meningkatkan peran serta pemuda dalam pembangunan sosial, politik, ekonomi, budaya dan agama; (c) meningkatkan potensi pemuda dalam kepeloporan dan kepemimpinan dalam pembangunan; (d) melindungi generasi muda dari bahaya penyalahgunaan NAPZA, minuman keras, penyebaran penyakit HIV/AIDS, dan penyakit menular seksual di kalangan pemuda; (e) mengembangkan kebijakan dan manajemen olahraga; serta (f) membina dan memasyarakatkan olahraga. Penyelenggaraan pelayanan kependudukan dan catatan sipil dirasakan masih belum optimal. Karena pemerintah Provinsi Jawa Tengah berusaha terus meningkatkan administrasi kependudukan dan catatan sipil. Sampai tahun 2007, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah mengadakan pelatihan dan fasilitasi dalam rangka Sistem Administrasi Kependudukan (SIAK) secara terpadu di Kabupaten/kota, penataan sistem koneksi (Inter-Phrase), Tahap Awal, nomor Induk Kependudukan (NIK), koordinasi kebijakan kependudukan dan catatan sipil antara pemerintah provinsi dengan Kabupaten/kota, serta peningkatan pelayanan pada masyarakat.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 110

5.

Peningkatan Kualitas Kehidupan Beragama, dengan kebijakan yang diarahkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan, pemahaman agama dan kehidupan beragama; serta peningkatan kerukunan intern dan antarumat beragama. Dalam rangka mewujudkan peran dan fungsi bidang agama sebagai landasan moral spritual, Provinsi Jawa Tengah memiliki beberapa potensi sebagai berikut: (1) Sebagian besar penduduk Jawa Tengah beragama Islam dengan kultur masyarakat yang agamis dengan tingkat toleransi yang baik sehingga mudah diarahkan dalam mewujudkan program-program pembangunan dalam bidang keagamaan; (2) Tersedianya sarana dan prasarana peribadatan.

Sasaran keempat adalah membaiknya mutu lingkungan hidup dan pengelolaan sumber daya alam yang mengarah pada pengarusutamaan (mainstreaming) prinsip pembangunan berkelanjutan di seluruh sektor dan bidang pembangunan. Untuk mencapai sasaran tersebut, prioritas pembangunan diletakkan pada perbaikan pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian mutu lingkungan hidup dengan kebijakan yang diarahkan untuk: (1) mengelola sumber daya alam untuk dimanfaatkan secara efisien, adil, dan berkelanjutan yang didukung dengan kelembagaan yang handal dan penegakan hukum yang tegas, (2) mencegah terjadinya kerusakan sumber daya alam dan lingkungan hidup yang lebih parah, sehingga laju kerusakan dan pencemaran semakin menurun; (3) memulihkan kondisi sumber daya alam dan lingkungan hidup yang rusak; (4) mempertahankan sumber daya alam dan lingkungan hidup yang masih dalam kondisi baik untuk dimanfaatkan secara berkelanjutan, serta meningkatkan mutu dan potensinya; serta (5) meningkatkan kualitas lingkungan hidup. Di Jawa Tengah sumber daya alam dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dengan tetap memperhatikan kelestarian fungsi lingkungan hidupnya. Dengan demikian sumber daya alam memiliki peran ganda, yaitu sebagai modal pertumbuhan ekonomi (resource based economy) dan sekaligus sebagai penopang sistem kehidupan (life support system). Hingga saat ini, sumber daya alam sangat berperan sebagai tulang punggung perekonomian daerah, dan masih akan diandalkan dalam pembangunan jangka menengah. Namun di lain pihak, kebijakan ekonomi yang lebih berpihak pada pertumbuhan jangka pendek telah memicu pola produksi dan konsumsi yang agresif, eksploitatif, dan ekspansif sehingga daya dukung dan fungsi lingkungan hidupnya semakin menurun, bahkan mengarah pada kondisi yang mengkhawatirkan. Atas dasar fungsi ganda tersebut, sumber daya alam senantiasa harus dikelola secara seimbang untuk menjamin keberlanjutan pembangunan daerah. Sasaran kelima adalah membaiknya infrastruktur yang ditunjukkan oleh meningkatnya kuantitas dan kualitas berbagai sarana penunjang pembangunan.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 111

Untuk mencapai sasaran tersebut, prioritas diberikan pada percepatan pembangunan infrastruktur. Upaya ini dilakukan awalnya pada perbaikan infrastruktur yang rusak untuk memulihkan mengembalikan kinerja pelayanan dengan titik berat pada perbaikan infrastruktur pertanian dan perdesaan, infrastruktur ekonomi strategis, dan di daerah konflik. Upaya selanjutnya adalah perluasan kapasitas infrastruktur dengan fokus pembangunan infrastruktur baru yang diarahkan pada infrastruktur di daerah terpencil dan tertinggal, infrastruktur yang melayani masyarakat miskin, dan infrastruktur yang menghubungkan dan atau melayani antardaerah. Partisipasi swasta didorong terutama untuk wilayah yang potensi pertumbuhan ekonominya besar untuk menjamin tingkat pengembalian (return) yang wajar. Untuk menunjang transparansi dan akuntabilitas pelayanan, standar pelayanan minimum (SPM) di bidang infrastruktur akan diluncurkan sebagai benchmark kualitas pelayanan pemerintah. Dari sisi pemerintah, alokasi pembiayaan infratruktur diupayakan agar tidak menurun. Adapun untuk mendorong partisipasi swasta prioritas diletakkan untuk menciptakan dana investasi infrastruktur yang mampu memfasilitasi dan mempercepat realisasi investasi swasta di bidang infrastruktur. Dalam lima tahun mendatang, pembangunan sumber daya air diutamakan pada upaya konservasi guna mewujudkan keberlanjutan kapasitas pasok sumber daya air. Pendayagunaan sumber daya air diarahkan pada pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari terutama di wilayah rawan defisit air, wilayah tertinggal, dan wilayah strategis. Selain itu, pendayagunaan juga diarahkan untuk pemenuhan kebutuhan air irigasi pertanian rakyat dalam rangka mendukung program ketahanan pangan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Penyediaan air irigasi dilakukan melalui peningkatan fungsi jaringan irigasi, rehabilitasi, dan peningkatan kinerja operasi dan pemeliharaan dengan mempertimbangkan ketersediaan air dan kesiapan petani, terutama pada daerah lumbung padi nasional. Pengendalian daya rusak air terutama dalam hal penanggulangan banjir dilakukan dengan menyeimbangkan pendekatan konstruksi dan non-konstruksi. Kelembagaan pengelolaan sumber daya air akan dikembangkan dengan meningkatkan peran dan keterlibatan semua pemangku kepentingan, serta menggali dan mengembangkan modal sosial.. Dalam pada itu pembangunan transportasi diprioritaskan antara lain untuk: memperbaiki kondisi kualitas parasarana dan sarana terutama menghilangkan backlog pemeliharaan dan rehabilitasi, seperti prasarana dan angkutan jalan, prasarana dan sarana kereta api, angkutan sungai, danau, dan penyeberangan, angkutan laut dan udara; memperbaiki pelayanan sesuai dengan standar pelayanan yang memenuhi ketentuan-ketentuan standar internasional; mendukung pemerataan dan keadilan pelayanan transportasi baik antar wilayah maupun antar golongan masyarakat, melalui pembangunan transportasi terpadu yang berbasis

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 112

pengembangan wilayah, terutama dengan membangun jaringan pelayanan prasarana dan sarana serta subsidi pelayanan transportasi pada daerah-daerah yang terpencil, perbatasan dan daerah yang masih kurang maju, maupun mengembangkan transportasi perkotaan yang terjangkau dan berkelanjutan. Sementara itu pembangunan perumahan diprioritaskan pada upaya untuk meningkatkan jumlah penduduk yang memiliki dan mendiami rumah layak huni melalui peningkatan akses kapital untuk melakukan pembangunan dan perbaikan rumah, terutama bagi masyarakat berpendapatan rendah dan sektor informal; mengembangkan pembangunan rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) bagi masyarakat berpendapatan rendah, baik yang dibiayai oleh pemerintah maupun swasta; serta mengurangi luasan kawasan kumuh di kawasan perkotaan dan desa nelayan. Pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan diarahkan pada upaya untuk meningkatkan cakupan pelayanan air minum perpipaan dan sanitasi dasar daerah yang berkualitas, efisien, dengan harga terjangkau oleh semua lapisan masyarakat, dan berkelanjutan; meningkatkan kualitas air permukaan yang dipergunakan sebagai air baku bagi air minum; meningkatkan utilitas Instalasi Pengolah Limbah Tinja (IPLT) dan Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL) yang telah dibangun; mengembangkan lebih lanjut pelayanan sistem pembuangan air limbah; mengembangkan secara bertahap sistem air limbah terpusat (sewerage system) untuk kota-kota besar. Pembangunan pos dan telematika diprioritaskan untuk meningkatkan efisiensi melalui restrukturisasi penyelenggaraan pos dan telematika serta penciptaan kompetisi yang setara dan berimbang (level of playing field) pada penyelenggaraan telekomunikasi; meningkatkan akses penyediaan serta layanan pos dan telematika di daerah; dan meningkatkan kemampuan masyarakat dan industri dalam negeri dalam pemanfaatan dan pengembangan teknologi informasi dan komunikasi beserta aplikasinya. Dalam rangka meningkatkan efektivitas pelaksanaan pembangunan untuk mencapai sasaran-sasaran pembangunan dibutuhkan ketersediaan data dan informasi yang akurat Dalam kaitan itu dilaksanakan program penyempurnaan dan pengembangan statistik yang bertujuan untuk menjamin kesinambungan penyediaan data statistik dasar yang lengkap, akurat, dan tepat waktu melalui berbagai sensus, survei, studi, dan kompilasi produk administrasi untuk mendukung semua bidang pembangunan di daerah; meningkatkan kualitas dan profesionalisme sumber daya manusia di bidang teknis dan manajemen statistik serta komputasi data dan administrasi; dan mengembangkan sistem informasi statistik, sistem informasi geografis, diseminasi informasi statistik, dan sistem informasi manajemen guna mendukung kelancaran penyelenggaraan kegiatan statistik dasar dan memenuhi kebutuhan informasi dan data statistik bagi pemerintah maupun masyarakat, dalam negeri maupun luar negeri

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 113

Kondisi pelayanan dan penyediaan infrastruktur yang meliputi transportasi, ketenagalistrikan, energi, pos, telekomunikasi dan informatika, dan sumberdaya air di daerah Provinsi Jawa Tengah, mengalami penurunan baik kuantitas maupun kualitasnya. Rehabilitasi dan pembangunan kembali berbagai infrastruktur yang rusak, serta peningkatan kapasitas dan fasilitas baru akan menyerap biaya yang sangat besar sehingga tidak dapat dipikul oleh pemerintah sendiri. Untuk itu, mencari solusi inovatif guna menanggulangi masalah perawatan dan perbaikan infrastruktur yang rusak merupakan masalah yang mendesak untuk diselelesaikan.

Sasaran keenam adalah Sasaran pemulihan yang ingin dicapai diwilayah pasca bencana di Provinsi Jawa Tengah. Untuk mencapai sasaran tersebut, prioritas diberikan pada Pemulihan perumahan dan pemukiman masyarakat serta pemulihan sarana dan prasarana pendukungnya. Pemulihan sarana dan prasarana publik dengan sasaran prioritas pemulihan sarana pendidikan dan kesehatan, pelayanan sosial dan pendukung perekonomian. Revitalisasi perekonomian daerah dan masyarakat dengan sasaran prioritas untuk memulihkan sektor produksi dan jasa yang memiliki potensi lapangan kerja terbesar, pemulihan akses pasar bagi usaha kecil dan menengah, pemulihan pelayanan lembaga keungan dan perbankan, pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hisup untuk mengantisipasi eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan, pemulhhan pelayanan keamanan, ketertibandan perdilan, dan pemulihan ketahanan pangan masyarakat.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 114

BAB 4.2
Penanggulangan Kemiskinan

I. Pengantar
Kemiskinan merupakan masalah kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, antara lain: tingkat pendapatan, kesehatan, pendidikan, akses terhadap barang dan jasa, lokasi, geografis, gender, dan kondisi lingkungan. Mengacu pada strategi nasional penanggulangan kemiskinan, definisi kemiskinan adalah kondisi di mana seseorang atau sekelompok orang, laki-laki dan perempuan, tidak terpenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Definisi ini beranjak dari pendekatan berbasis hak yang mengakui bahwa masyarakat miskin mempunyai hakhak dasar yang sama dengan anggota masyarakat lainnya. Kemiskinan tidak lagi dipahami hanya sebatas ketidakmampuan ekonomi, tetapi juga kegagalan memenuhi hak-hak dasar dan perbedaan perlakuan bagi seseorang atau sekelompok orang dalam menjalani kehidupan secara bermartabat. Hak-hak dasar yang diakui secara umum meliputi terpenuhinya kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, air bersih, pertanahan, sumberdaya alam, dan lingkungan hidup, rasa aman dari perlakukan atau ancaman tindak kekerasan dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial-politik, baik bagi perempuan maupun laki-laki. Pembangunan kesejahteraan sosial sebagai salah satu aspek strategis pembangunan daerah merupakan upaya untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera dan berkeadilan bagi masyarakat Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). Disamping itu juga dalam rangka mencegah timbulnya dampak sosial negatif, seperti: lemahnya ketahanan sosial, terjadinya disintegrasi sosial, melemahnya potensi sosial budaya dan identitas diri. Pesatnya pembangunan secara tidak langsung juga berdampak terhadap cepat berkembang dan berubahnya tuntutan kebutuhan masyarakat. Dinamika yang demikian menjadikan fenomena sosial semakin kompleks, sehingga jumlah PMKS cenderung mengalami peningkatan. Hal ini tidak hanya diasumsikan sebagai akibat kemiskinan maupun krisis multidimensi yang berkepanjangan, namun juga dimungkinkan karena faktor patologis dan non pathologis.

115

II. Kondisi Awal RPJM-N di Tingkat Daerah 2.1. Jumlah Penduduk Miskin
Pada awal Penyusunan RPJMN tahun 2004, jumlah penduduk miskin di Indonesia relatif besar yaitu 36,1 juta jiwa atau 16,7 persen dari jumlah penduduk. Demikian pula pada tahun 2006. Meskipun telah terjadi penurunan, namun jumlahnya masih mencapai 35, 1 juta jiwa atau 16,0 persen. Sedangkan di Provinsi Jawa Tengah jumlah penduduk miskin dari tahun 2005-2007 cenderung bersifat fluktuatif, pada tahun 2005 berjumlah 10.834.392 jiwa, pada tahun 2006 meningkat menjadi 12,68 juta jiwa, namun pada tahun 2007 berkurang menjadi 6,66 juta jiwa. Upaya nyata yang mengarah pada usaha menurunkan penduduk miskin cukup jelas terlihat dalam pelaksanaan renstra, dimana program pengentasan kemiskinan terus ditekankan secara serius dan nyata. Hasilnya, keluarga prasejahtera dan keluarga sejahtera-1 mengalami penurunan. Keluarga prasejahtera dari 2004 sebesar 3,17 persen menurun menjadi 3,14 persen pada tahun 2006, sedangkan Keluarga Sejahtera Satu (KS1) menurun dari 1,78 persen pada tahun 2004 menjadi 1,76 persen pada tahun 2006. Kedepan perlu diupayakan penurunan baik jumlah penduduk miskin dan keluarga prasejahtera. 2.2. Terbatasnya Kecukupan dan Mutu Pangan Peningkatan jumlah penduduk dan pendapatan masyarakat di perkotaan akan meningkatkan jumlah, kualitas dan keragaman permintaan produk pertanian, sedangkan di sisi lain dengan masuknya produk pertanian dari luar negeri dengan harga dan kualitas yang bersaing, akan mengurangi peluang pasar produk lokal menyebabkan menurunnya kegairahan produksi pertanian di masyarakat. Perbedaan potensi produksi pangan dan pola panen raya yang diikuti masa paceklik, mengakibatkan distribusi ketersediaan pangan tidak merata di setiap tempat dan setiap waktu, hal tersebut menciptakan potensi kerawanan pangan dan jatuhnya harga produk pertanian pangan dari petani/produsen. Sampai dengan tahun 1998 pola konsumsi pangan penduduk Jawa Tengah untuk komoditas buah dan sayur serta pangan hewani masih dibawah standar Pola Pangan Harapan (PPH) nasional (standar PPH buah 92 Kkal per Kap, standar PPH sayur 125 Kkal per Kap, serta standar PPH pangan hewani 105 Kkal per Kap). Angka kecukupan energi untuk konsumsi penduduk Jawa Tengah tahun 2002 sebesar 1.885,5 Kkal/Kap/hari, besaran ini masih dibawah angka nasional sebesar 2.200 Kkal/Kap/hari. Angka kecukupan konsumsi protein nasional sebesar 55 gr/Kap/hari, sedangkan untuk Jawa Tengah baru 48,2 gr/Kap/hari. Kecukupan konsumsi protein hewani Nasional sebesar 10 gr/kap/hari. Pada tahun 2002 konsumsi protein hewani Jawa Tengah

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 116

baru mencapai 4,16 gr/kap/hari dari standar 10 gr/kap/hari. Kondisi ini akan berdampak terhadap penurunan kualitas sumberdaya manusia (SDM). 2.3. Terbatasnya Akses dan Rendahnya Mutu Layanan Kesehatan Terbatasnya akses dan rendahnya mutu layanan kesehatan juga merupakan masalah yang perlu diperhatikan pemenuhannya bagi masyarakat, masalah ini berkaitan erat dengan munculnya kasus kematian yang diakibatkan oleh gizi buruk. Pada tahun 2005, terdapat sekitar 1,03 persen anak yang menderita gizi buruk, pada tahun 2006 terdapat 2,10 persen anak atau sekitar 9.163 balita menderita gizi buruk. Sedangkan prevelansi gizi kurang pada tahun 2005 terdapat 9,87 persen orang, pada tahun 2006 terdapat 10,51 persen atau 9.163 orang, dan pada tahun 2007 terdapat 15.980 orang. Hal ini menjadi salah satu bukti bahwa akses masyarakat miskin terhadap layanan kesehatan yang memadai masih terbatas. Hal ini juga membuktikan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat terhadap gizi dan kesehatan masih rendah. Dalam hal indikator kesehatan yang lain, umur harapan hidup (UHH) di Provinsi Jawa Tengah mengalami kenaikan, dimana pada tahun 2005 umur harapan hidup mencapai 69,7 persen, tahun 2006 umur harapan hidup mencapai 70,6 persen, dan pada tahun 2007 umur harapan hidup mencapai 71,1 persen. Angka kematian bayi (AKB) mengalami penurunan, dimana pada tahun 2005 terdapat 25/1000 angka kematian bayi, tahun 2006 terdapat 14,23/1000 kelahiran hidup, pada tahun 2007 terdapat 9,52/1000 angka kelahiran hidup. Sedangkan angka kematian ibu (AKI) mengalami penurunan dari tahun 2005 sebesar 115,57/100.000, pada tahun 2006 terdapat 101,37/100.000, dan pada tahun tahun 2007 terdapat 97,62/100.000 angka kematian ibu. Kemudian prevalensi gizi kurang mengalami kenaikan, yaitu pada tahun 2005 terdapat 9,87 persen, pada tahun 2006 terdapat 10,51 persen atau sekitar 9.163 orang, dan pada tahun 2007 terdapat 15.980 orang terkena gizi kurang 2.4. Terbatasnya Akses dan Mutu Layanan Pendidikan Angka Partisipasi Kasar (APK) mengalami kenaikan, yaitu pada tahun 2005 untuk tingkat SD/MI, Angka Partisipasi Kasar (APK) mencapai 104,87 persen, sedangkan pada tingkat SLTP/MTs APK sebesar 86,21 persen, pada tingkat SLTA/MA APK sebesar 48,83 persen. Pada tahun 2006 untuk tingkat SD/MI, Angka Partisipasi Kasar (APK) mencapai 105,25 persen, sedangkan pada tingkat SLTP/MTs APK sebesar 87,68 persen, pada tingkat SLTA/MA APK sebesar 54,05 persen. Adanya kecenderungan penerimaan siswa baru dengan biaya yang relatif sangat tinggi tentu saja sangat berpengaruh pada penuntasan program Wajib

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 117

Belajar Pendidikan Dasar 9 tahun yang direncanakan pada tahun 2006. Sedangkan lulusan yang melanjutkan ke Perguruan Tinggi relatif rendah, karena berbagai faktor diantaranya beban biaya yang tinggi serta terbatasnya daya tampung Perguruan Tinggi. Di samping itu, penyelenggaraan pendidikan non formal belum dapat secara optimal mengembangkan potensi, penguasaan pengetahuan dan ketrampilan fungsional bagi peserta didik yang dikarenakan keterbatasan sarana dan prasarana pembelajaran. Pembangunan pendidikan ternyata belum sepenuhya memberi pelayanan secara merata kepada seluruh lapisan masyarakat. Sampai pada tahun 2006 Angka Putus Sekolah (APS) mengalami peningkatan dibanding tahun 2005 yaitu dari 0,24 persen menjadi 0,29 persen untuk SD/MI, 0,91 persen menjadi 1,04 untuk SLTP/MTs. Sedangkan Angka Partisipasi Murni (APM) pun mengalami peningkatan pada tahun 2006 bila dibandingkan dengan tahun 2005, yaitu 89,98 persen menjadi 94,99 persen untuk SD/MI, 69,01 persen menjadi 79,5 persen untuk SLTP/MTs, dan 36,56 menjadi 45,78 persen untuk SMA/MA/SMK. Keterbatasan masyarakat miskin untuk mengakses layanan pendidikan dasar terutama disebabkan tingginya beban biaya pendidikan baik biaya langsung maupun tidak langsung. Meskipun SPP untuk jenjang SD/MI telah secara resmi dihapuskan oleh Pemerintah tetapi pada kenyataannya masyarakat tetap harus membayar iuran sekolah. Pengeluaran lain diluar iuran sekolah seperti pembelian buku, alat tulis, seragam, uang transport, dan uang saku menjadi faktor penghambat pula bagi masyarakat miskin untuk menyekolahkan anaknya. Kualitas dan relevansi pendidikan yang belum sesuai sangat berkaitan dengan input dan output proses pembelajaran, tampak pada pencapaian ratio hasil ujian akhir, terjadinya perubahan kurikulum secara cepat, terbatasnya penyediaan prasarana/sarana pendidikan, rendahnya mutu, kesejahteraan dan kekurangan tenaga kependidikan serta terjadinya kekurangrelevansian (missmatch) antara tamatan pendidikan dengan kualifikasi/standar kompetensi dan kebutuhan dunia usaha/industri. Manajemen dan kemandirian sekolah juga masih lemah karena belum optimalnya keterlibatan sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan, sehingga masih perlu dilaksanakan fasilitasi serta pendampingan secara berkelanjutan dan intensif. 2.5. Terbatasnya Kesempatan Kerja dan Berusaha Pada awal RPJMN 2004-2009, keterbatasan kesempatan kerja dan berusaha masih banyak ditemui di Indonesia. Keterbatasan kesempatan kerja ditunjukan oleh jumlah penggangguran terbuka yang mencapai 1,44 juta jiwa pada tahun 2007 di Provinsi Jawa Tengah, berbeda pada tahun 2006 terdapat 1.109.576 orang

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 118

pengganguran. Terbatasnya kesempatan kerja ini, selain menyebabkan tingginya angka penggangguran terbuka, juga mendorong banyak masyarakat bekerja pada lapangan kerja yang kurang produktif. Sehingga menyebabkan pendapatan yang diterima rendah dan masyarakat yang jatuh dibawah garis kemiskinan semakin tinggi. Berdasarkan Susenas Tahun 2002, kondisi ketenagakerjaan di Jawa Tengah tercermin dengan jumlah penduduk usia kerja (15 tahun ke atas) sebanyak 22.672.568 orang, terdiri dari angkatan kerja 15.587.458 orang (68,75 persen) dan bukan angkatan kerja 7.085.120 orang (31,25 persen). Jumlah penduduk yang bekerja sebanyak 14.751.088 orang. Dari jumlah tersebut terdapat pekerja anak (usia 10-14 tahun) sebanyak 118.837 anak. Dilihat dari lapangan pekerjaan, maka sektor pertanian masih cukup besar dalam penyerapan tenaga kerja yaitu tercatat 41.90 persen. Kemudian disusul sektor perdagangan (19,35 persen), industri pengolahan (17,36 persen) dan jasa-jasa (10,66 persen). Selebihnya bekerja di sektor konstruksi, listrik, gas dan air, pertambangan dan penggalian, angkutan, komunikasi dan keuangan (10,72 persen). Jumlah penganggur (pencari kerja) di Jawa Tengah tercatat sebanyak 984.234 orang dan setengah penganggur berjumlah 5.350.413 orang. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pada tahun 2002 tercatat sebesar 60,60 persen atau mengalami penurunan dibanding tahun 2001 yang tercatat sebesar 61,61 persen. Sedangkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat sebesar 6,25 persen atau mengalami kenaikan yang cukup berarti dibandingkan tahun 2001 yang tercatat sebesar 3.70 persen. Dilihat dari jam kerja selama seminggu, terlihat rata-rata jam kerja seminggu adalah 38,62 jam dengan rincian laki-laki 40,54 jam dan perempuan 35,69 jam. Kualitas tenaga kerja yang diukur dengan tingkat pendidikan yang ditamatkan sebagian besar masih relatif rendah. Hal ini tercermin dari rendahnya persentase tenaga kerja yang telah menamatkan pendidikan tertinggi. Pada tahun 2002 tenaga kerja yang tamat SD ke bawah sebesar 70,35 persen, SLTP 14,83 persen, SLTA 11,52 persen dan Perguruan Tinggi 3,30 persen. Disisi lain masih rendahnya tingkat pendidikan dan kemampuan pekerja menjadi masalah dalam memahami peraturan, hak dan kewajibannya sebagai pekerja. Serikat Pekerja, Lembaga Bipartit dan Tripartit belum berfungsi sesuai dengan harapan untuk menampung dan memperjuangkan aspirasi pekerja, meningkatkan kesejahteraan dan perlindungan pekerja.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 119

Keterbatasan pendidikan, ketrampilan dan informasi menyebabkan lemahnya daya saing Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dibandingkan dengan tenaga kerja yang berasal dari negara lain. Disamping itu kurangnya pemahaman prosedur pengiriman tenaga kerja, menyebabkan sebagian angkatan kerja cenderung memilih cara ilegal. Kondisi lain adalah informasi pasar kerja yang belum menyebar secara luas menyebabkan banyak angkatan kerja yang belum mengetahui kebutuhan pasar kerja. 2.6. Terbatasnya Akses Layanan Perumahan dan Sanitasi Pemukiman belum layak masih terdapat kurang lebih ± 470 kawasan kumuh dan kerusakan akibat bencana alam. Karena keterbatasan pemerintah maka mengutamakan penyediaan perumahan bagi masyarakat kurang mampu (rumah tangga miskin / RTM). Dana yang direalisasikan tahun 2007 4,05 milyar. 2.7. Terbatasnya Akses Terhadap Air Bersih Kesulitan untuk mendapatkan air bersih terutama disebabkan oleh terbatasnya akses, terbatasnya penguasaan sumber air dan menurunnya mutu sumber air. Keterbatasan akses terhadap air bersih akan berakibat pada penurunan mutu kesehatan dan penyebaran berbagai penyakit lain seperti diare. Akses terhadap air bersih masih menjadi persoalan di banyak tempat dengan kecenderungan akses rumahtangga di Jawa-Bali lebih baik dibanding daerah lain. Bentuk kerjasama kegiatan pembangunan sarana prasarana air bersih pada tahun 2007 dilakukan dengan cara pembentukan dan operasionalisasi tim koordinasi air minum dan penyehatan lingkungan. Jumlah kebutuhan air bersih masyarakat sampai dengan tahun 2005 yaitu jumlah sumur yang telah dibangun 32 buah dengan rata-rata tiap sumurnya dapat memenuhi kebutuhan 200 KK (di daerah rawan kering di 6 kabupaten/kota). Pada tahun 2006 dibuat 3.888 buah sumur ABT pemanfaatan 156.578.851 m3, jumlah sumur bor 37 buah untuk kebutuhan air bersih ± 7.000 KK pada 28 kabupaten/kota tersebar di 1.066 desa, sedangkan cakupan air bersih perpipaan diperkotaan baru mencakup ± 33,2 persen, diperdesaan sebanyak ± 8 persen. Pada tahun 2007 terdapat bentuk kerjasama pengelolaan dan penyediaan air bersih antara pemerintah, swasta, dan masyarakat, yaitu kerjasama antara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan PT MS Water yang ditandatangani pada tanggal 25 Januari 2007 telah ditindaklanjuti dengan pembahasan perjanjian teknis antara PDAB dan PDAM kabupaten/kota di wilayah Bergas dengan PT MS Water.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 120

2.8. Lemahnya Kepastian Kepemilikan dan Penguasaan Tanah Tingkat keterlibatan masyarakat dalam perencanaan tata ruang sampai tahun 2007 belum optimal. Jumlah kasus pelanggaran hukum tentang hak atas tanah pencapaian sampai tahun 2007 terdapat 1.500 kasus pertanahan, dimana sebagian besar sudah dapat diselesaikan dengan baik. 2.9. Memburuknya Kondisi SDA dan LH Sampai dengan tahun 2007, tingkat pencemaran pesisir dan laut sebanyak 732.959,5 m3 / tahun. Pada tahun 2004 pemantauan kualitas air di pantura di kabupaten/Brebes, Pemalang,dan Batang di 12 titik dan 6 titik di kabupaten Brebes dan Pemalang kualitas limbahnya melebihi ambang batas. Teridentifikasi dan terinventarisasi sumber pencemaran air laut di kabupaten/kota: Brebes, Tegal, Pekolangan, kota Pekalongan, Pemalang, Kendal, Semarang, Demak, Pati, Rembang, dan Purworejo.

III. Sasaran yang Ingin Dicapai
Sasaran penanggulangan kemiskinan secara rinci adalah sebagai berikut : 1. Menurunnya persentase penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan menjadi 8,2 persen pada tahun 2009. 2. Terpenuhinya kecukupan pangan yang bermutu dan terjangkau. 3. Terpenuhinya pelayanan kesehatan yang bermutu. 4. Tersedianya pelayanan pendidikan dasar yang bermutu dan merata. 5. Terbukanya kesempatan kerja dan berusaha. 6. Terpenuhinya kebutuhan perumahan dan sanitasi yang layak dan sehat. 7. Terpenuhinya kebutuhan air bersih dan aman bagi masyarakat miskin. 8. Terbukanya akses masyarakat miskin dalam pemanfaatan SDA dan terjaganya kualitas lingkungan hidup. 9. Terjamin dan terlindunginya hak perorangan dan hak komunal atas tanah. 10. Meningkatnya kesejahteraan sosial bagi masyarakat penyandang masalah sosial, baik perorangan ataupun kelompok maupun komunitas masyarakat. 11. Meningkatnya peran dunia usaha dalam penanganan permasalahan kesejahteraan sosial. 12. Meningkatnya sarana dan prasarana pelayanan kesejahteraan sosial.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 121

IV. Arah Kebijakan
Kebijakan pembangunan kemiskinan diarahkan pada: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Bidang pendidikan diarahkan untuk memperluas dan meningkatkan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu di berbagai jenjang, jenis dan jalur pendidikan. Pemberdayaan dan peningkatan kualitas tenaga kerja produktif bagi penganggur dan setengah penganggur baik di perkotaan maupun di perdesaan serta pekerja sektor informal. Pemberdayaan, pendayagunaan dan perlindungan tenaga kerja. Peningkatan ketahanan pangan Peningkatan gizi masyarakat secara komprehensif Meningkatkan pemahaman masyarakat tentang arti pentingnya rencana tata ruang sebagai salah satu acuan dalam pelaksanaan pembangunan. Pencegahan dan penanggulangan pencemaran lingkungan melalui penerapan manajemen produsi limbah dan teknologi ramah lingkungan, serta pengelolaan limbah. Peningkatan upaya rehabilitasi/pemulihan dan konservasi fungsi sumber daya alam dan lingkungan hidup yang telah rusak.

V. Pencapaian RPJM-N di Daerah (2005-2007) 5.1. Upaya yang Dilakukan Hingga Tahun 2007
5.1.1. Hasil capaian dari Program pengembangan kesejahteraan sosial tahun 2003-2006 meliputi: 1. Bantuan fakir miskin UEP bagi 4.800 KK, UB bagi 200 KK (2003), kemudian UEP bagi 5.000 KK dan KUBE 180 KK (2004), dan UEP bagi 6.050 KK serta bantuan perbaikan rumah bagi 500 KK miskin (2005). 2. 3. 4. 5. Pelayanan kesejahteraan sosial keluargarawan sosial ekonomi sebanyak 600 KK setiap tahun (2003-2005). Bantuan anak terlantar UEP untuk 1290 anak, KUBE untuk 100 anak (2003), kemudian UEP bagi 1260 anak dan KUBE 200 anak (2004), dan KUBE bagi 300 anak (2005). Penanganan terhadap anak terlantar dari 5501 orang menjadi 900 orang. Bantuan pemberdayaan peran keluarga : paket usaha/KUBE keluarga muda mandiri sebanyak 840 KK dan UEP bagi 750 KK (2003) kemudian KUBE bagi 510 KK dan UEP untuk 600 KK (2005). 6. 7. 8. Pendataan dan pemetaan PMKS seluruh Kabupaten/Kota Bantuan dana usaha kesejahteraan sosial berbasis masyarakat dari 50 menjadi 60 kelompok. Kendala pembangunan kesejahteraan sosial adalah makin meningkatnya PMKS dari tahun ke tahun akibat krisis moneter berkepanjangan dan banyak bencana alam.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 122

9.

Krisis ekonomi yang melanda di Indonesia dan hingga kini belum dapat pulih sepenuhnya, telah meningkatkan jumlah penduduk miskin di Indonesia.

10. Pengadaan program Pemberdayaan Keluarga melalui peningkatan kesejahteraan keluarga dengan menurunkan jumlah penduduk miskin (keluarga pra sejahtera dan sejahtera1). Data yang ada sampai tahun 2004 menunjukan jumlah penduduk miskin mengalami kecenderungan penurunan namun kurang signifikan, pada tahun 2002 jumlah penduduk miskin sebesar 23,06 persen dari populasi, pada tahun 2003 menurun 21,78 persen dan tahun 2004 menjadi 21,11 persen. Oleh karena itu program-program percepatan kemiskinan perlu terus dilaksanakan secara serius dan nyata. 5.1.2. Upaya yang dilakukan pada ketahanan pangan adalah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 5.1.3. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 5.1.4. 1. 2. 3. 4. 5.1.5. 1. 2. 3. Meningkatnya pendapatan keluarga petani dan NTP dari 98.82 (tahun 2003) menjadi 102.54 (tahun 2006). Terwujudnya pola konsumsi mendekati PPH dari 74,22 menjadi 82,27 pada tahun 2006. Konsumsi protein nabati 81,3 menjadi 92,1 hewani dari 115,03 menjadi 154,0. Tertanganinya kerawanan pangan di 21 Kabupaten selama 3 tahun. Produksi sayuran 31.544.108 ton, produksi buah-buahan 23.035.598 ton. Pengamanan produksi tercapai 92 persen. Perbaikan gizi masyarakat Provinsi Jawa Tengah Peningkatan status gizi anak sekolah Pengadaan obat program gizi Pelayanan kesehatan dan perbaikan gizi ibu dan anak Pengadaan alat pemantauan status gizi masyarakat Pengadaan sarana pengelolaan data program gizi Pengadaan makanan tambahan untuk balita gizi buruk, gizi kurang, dan ibu hamil anemia Terlaksananya kegiatan pelayanan kesehatan/perbaikan/gizi ibu/anak/KB. Adanya perluasan dan peningkatan akses dan jangkauan pelayanan pendidikan. Adanya peningkatan kualitas siswa dengan penyelenggaraan potensi kompetensi siswa. Peningkatan kualitas sarana dan prasana pendidikan yang memadai. Peningkatan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan. Perluasan dan pengembangan kesempatan kerja. Peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja. Perlindungan dan pengembangan lembaga tenaga kerja.

Upaya yang dilakukan dalam hal kesehatan adalah :

Upaya yang dilakukan dalam hal pendidikan antara lain :

Upaya yang dilakukan dalam hal Ketenagakerjaan antara lain:

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 123

5.1.6.

Upaya yang dilakukan dalam hal perumahan dan sanitasi antara lain: 1. 2. Terlatihnya tim kabupaten atau kota dalam higiene sanitasi depot air minum Terlaksananya penyusunan dan program pengembangan model peningkatan kualitas lingkungan melalui klinik sanitasi.

5.1.7.

Upaya yang dilakukan dalam hal air bersih antara lain: 1. 2. 3. Peningkatan kualitas prasarana dan sarana air bersih atau limbah. Potensi air bawah tanah yang dapat digunakan untuk air minum/air bersih, irigasi dan keperluan lainnya juga masih sangat besar sebanyak 532,172 juta m3. Peningkatan prasarana dan sarana air bersih dan lingkungan perumahan yang memenuhi syarat kesehatan.

5.1.8.

Upaya yang dilakukan dalam hal kepemilikan dan penguasaan tanah antara lain: 1. Selama tahun 2003-2006 terlaksana 49.660 bidang (62,08 persen). Terselesaikannya persertifikatan tanah masal melalui PRONA sebanyak 50.000 bidang di 35 kabupaten/kota seJawa Tengah.

5.1.9.

Upaya yang dilakukan dalam hal Kondisi SDA dan LH antara lain: 1. Panduan sistem pengelolaan lingkungan dan limbah sudah tersosialisasikan. Penguatan jejaring kinerja SIL, peningkatan perfomance web Bappedal Provinsi Jawa Tengah dan terlaksananya Sistem Informasi P3BD terlaksana pada tahun 2006. 2. Telah dilakukan teguran terhadap pelanggar pencemaran sungai pada tahun 2003-2006. telah terpantau kualitas air sungai maupun laut sudah tidak layak lagi/tercemar, dan dari hasil inventarisasi dan identifikasi sumber pencemar dapat diketahui industri yang menyebabkan pencemaran.

5.2. Posisi Capaian Hingga Tahun 2007
Upaya nyata yang mengarah pada usaha menurunkan penduduk miskin belum jelas terlihat dalam pelaksanaan renstra.

5.3. Permasalahan Pencapaian Sasaran
1. 2. 3. 4. Penurunan penduduk miskin masih belum jelas. Identifikasi terhadap kualitas air juga belum ditindaklanjuti dengan penanggulangan pencemaran. Masih meningkatnya kasus gizi buruk Pembangunan pendidikan ternyata belum sepenuhya memberi pelayanan secara merata kepada seluruh lapisan masyarakat.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 124

5. 6. 7. 8. 9.

Informasi pasar kerja yang belum menyebar secara luas menyebabkan banyak angkatan kerja yang belum mengetahui kebutuhan pasar kerja. Pemukiman belum layak Kesulitan untuk mendapatkan air bersih terutama disebabkan oleh terbatasnya akses, Tingkat keterlibatan masyarakat dalam perencanaan tata ruang sampai tahun 2007 belum optimal. Jumlah kasus pelanggaran hukum tentang hak atas tanah pencapaian sampai

10. Tingkat pencemaran pesisir dan laut dan limbah melebihi ambang batas

VI. Tindak Lanjut
6.1.1. Upaya yang dilakukan untuk mencapai sasaran penanggulangan kemiskinan di Jawa Tengah adalah: 1. 2. 3. 6.1.2. Pemberdayaan ekonomi keluarga miskin dan prasejahtera untuk mengurangi kemiskinan. Pelatihan kewirausahaan bagi keluarga miskin. Bantuan modal usaha bagi kelompok wirausaha keluarga miskin.

Upaya yang dilakukan untuk mencapai sasaran pendidikan di Jawa Tengah adalah: 1. Penyediaan sarana dan prasarana pendidikan yang berkualitas, terutama untuk daerah perdesaan, wilayah terpencil dan kepulauan yang disertai dengan penyediaan pendidik dan tenaga kependidikan termasuk yang berada di wilayah konflik dan bencana alam, serta penyediaan biaya operasional pendidikan secara memadai, dan/atau subsidi/hibah dalam bentuk block grant atau imbal swadaya bagi satuan pendidikan dasar untuk meningkatkan mutu pelayanan pendidikan termasuk subsidi atau beasiswa bagi peserta didik yang berasal dari keluarga tidak mampu tanpa diskriminasi gender; 2. Penyediaan berbagai alternatif layanan pendidikan dasar baik melalui jalur formal maupun non formal untuk memenuhi kebutuhan, kondisi, dan potensi anak termasuk anak dari keluarga miskin dan yang tinggal di wilayah perdesaan, terpencil dan kepulauan serta pemberian perhatian bagi peserta didik dengan kemampuan berbeda (diffable), pekerja anak, anak jalanan, anak korban konflik dan bencana alam tanpa diskriminasi gender; 3. Peningkatan kerjasama perguruan tinggi dengan dunia usaha, industri dan pemerintah daerah untuk meningkatkan relevansi pendidikan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja dan potensi sumber daya lokal, termasuk kerjasama dalam pendidikan dan penelitian yang menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan pemanfaatan hasil penelitian dalam rangka meningkatkan kesejahteraan bangsa. 4. Perluasan akses dan kualitas penyelenggaraan pendidikan keaksaraan fungsional bagi penduduk buta aksara tanpa diskriminasi gender baik di perkotaan maupun perdesaan;

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 125

6.1.3.

Upaya yang dilakukan untuk mengurangi kekurangan pangan meliputi : 1. Peningkatan distribusi pangan, melalui penguatan kapasitas kelembagaan dan peningkatan infrastruktur perdesaan yang mendukung sistem distribusi untuk menjamin keterjangkauan masyarakat atas pangan. 2. Pencegahan dan penanggulangan masalah pangan melalui bantuan pangan kepada keluarga miskin/rawan pangan sesuai dengan bahan pangan lokal, peningkatan pengawasan mutu dan keamanan pangan, dan pengembangan sistem antisipasi diri terhadap pangan. 3. 4. Pelatihan penerapan teknologi tepat guna untuk meningkatkan produktifitas dan produksi pangan. Peningkatan pelayanan kesehatan dasar yang mencakup sekurang-kurangnya promosi kesehatan, kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, perbaikan gizi, kesehatan lingkungan, pemberantasan penyakit menular, dan pengobatan dasar lokal sesuai dengan kearifan lokal masyarakat. 5. 6. Pengadaan, peningkatan dan perbaikan sarana dan prasarana puskesmas dan jaringannya. Pemberdayaan masyarakat untuk pencapaian keluarga sadar gizi.

6.1.4.

Upaya yang dilakukan untuk menangani masalah pemukinan dan sanitasi meliputi : Prasarana dan sarana dasar permukiman bagi masyarakat berpendapatan rendah.

6.1.5.

Upaya yang dilakukan untuk menangani masalah air bersih meliputi : 1. 2. 3. 4. Penajaman Peraturan Pemerintah sebagai operasionalisasi dari Undang-Undang Sumberdaya Air yang memiliki keberpihakan kepada masyarakat miskin; Pemberian bantuan teknis dalam pengelolaan sumber air di wilayah rawan air kepada masyarakat miskin. Perbaikan kinerja kelembagaan PDAM yang efektif dan efisien, serta meningkatkan kuantitas dan kualitas pelayanannya terutama pelayanan sosial pada masyarakat miskin; Kampanye kepada seluruh masyarakat akan pentingnya penyediaan air bersih dan aman, dan sanitasi bagi masyarakat miskin.

6.1.6.

Upaya yang dilakukan untuk menangani masalah pemilikan dan penguasaan tanah meliputi : 1. 2. Pembangunan sistem pendaftaran tanah yang transparan dan efisien termasuk pembuatan peta dasar pendaftaran tanah dalam rangka percepatan pendaftaran tanah; Sertifikasi massal dan murah bagi masyarakat miskin dan penataan penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah yang berkeadilan, berkelanjutan, dan menjunjung supremasi hukum

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 126

3.

Meningkatkan dan mengefektifkan kerja sama antar negara dalam mengatasi dan mencegah perdagangan hasil alam yang dilakukan secara ilegal dan merusak alam.

6.1.7.

Upaya yang dilakukan untuk menangani masalah SDA dan LH meliputi:

1. Kerjasama dengan peduduk setempat agar kawasan lindung dapat bermanfaat secara ekonomi
maupun secara ekologis.

2. Dari tahun 2003-2006 perlu tindak lanjut dari tersusunnya dan evaluasi rencana induk
pengelolaan lingkungan hidup perlu dimaksimalkan peranan forum SKPD dengan prinsip saling menjaga lingkungan masing-masing daerah dan menguntungkan daerah lainnya.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 127

BAB 4.3
Peningkatan Investasi dan Ekspor Impor Non Migas

I. Pengantar
Salah satu sebab utama dari lambatnya pemulihan ekonomi sejak krisis 1997 adalah buruknya kinerja investasi akibat sejumlah permasalahan yang mengganggu pada setiap tahapan penyelenggaraannya. Keadaan tersebut menyebabkan lesunya kegairahan melakukan investasi, baik untuk perluasan usaha yang telah ada maupun untuk investasi baru. Masalah ini akan sangat berpengaruh pada pertumbuhan perekonomian di Jawa Tengah yang selama ini lebih didorong oleh pertumbuhan konsumsi ketimbang investasi atau ekspor. Rendahnya investasi dalam beberapa tahun terakhir sejak krisis ekonomi juga telah mempengaruhi daya saing produk daerah di pasar dalam maupun luar negeri.

II. Kondisi Awal RPJM-N di Tingkat Daerah
Tahun 2003-2008 kondisi kondusif dalam berusaha di Jawa Tengah juga memberikan kenyamanan dan keamanan bagi investor dalam menanamkan modalnya di Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten/Kota di Jawa Tengah. Namun sebenarnya iklim kondusif bukan hanya diartikan keamanan namun juga sikap perilaku birokrasi atau aparatur pemerintah dalam memberikan pelayanan dan kepastian hukum. Dalam hal ini pelayanan infrastruktur yang memadai ada dalam pelayanan satu pintu (One Stop Service). Kurangnya informasi potensi dan peluang penanaman modal yang siap sebagai bahan kajian investor, masih lemahnya peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan penanaman modal, serta rendahnya realisasi investasi dan kesadaran investor terhadap industri yang berwawasan lingkungan ini masih menjadikan permasalahan-permasalahan tersebut sebagai penghambat terwujudnya iklim investasi yang kondusif di Provinsi Jawa Tengah.

III. Sasaran Yang Ingin Dicapai
Sasaran yang hendak dicapai dalam upaya meningkatkan investasi dan ekspor non-migas adalah sebagai berikut: 1. 2. Terciptanya iklim investasi yang kondusif. Tersedianya infrastruktur penanaman modal yang memadai.

128

3. 4. 5. 6. 7.

Terjadinya peningkatan jumlah investor yang masuk ke Jawa Tengah baik PMA maupun PMDN. Terjalinnya kerjasama Kabupaten/Kota, Provinsi lembaga/instansi negara lain dalam tukar menukar informasi peluang investasi. Tercapainya peningkatan pelayanan perijinan investasi. Meningkatkan realisasi investasi dan perusahaan yang ramah lingkungan. Meningkatnya basis produksi dan distribusi IKM yang berdasarkan potensi unggulan daerah (9.200 unit usaha, 35 Kabupaten/Kota).

IV. Arah Kebijakan
Dalam rangka mewujudkan sasaran di atas, arah kebijakan bagi penciptaan iklim investasi yang sehat dan peningkatan daya saing ekpor daerah adalah sebagai berikut: 1. Mengurangi biaya transaksi dan praktik ekonomi biaya tinggi baik untuk tahapan memulai (start up) maupun tahapan operasi suatu bisnis. Inti dari kegiatan ini adalah penuntasan deregulasi (pemangkasan birokrasi) peraturan dan prosedur perijinan dan pengembangan kapasitas lembaga publik pelaksananya. Upaya ini akan bermanfaat dalam menekan sekecil-kecilnya barier to entries terutama UKM. Langkah-langkah yang dapat ditempuh antara lain meliputi: a. b. Menata aturan main yang jelas pemangkasan birokrasi dalam prosedur perijinan dan pengelolaan usaha dengan prinsip transparansi dan tata kepemerintahan yang baik. Menata aturan main yang jelas pemangkasan birokrasi dalam pengelolaan aktivitas ekspor/impor (kepabeanan dan kepelabuhanan) dengan prinsip transparansi dan tata kepemerintahan yang baik. c. d. Menata aturan main yang jelas peningkatan efisiensi waktu dan biaya administrasi perpajakan, terutama untuk verifikasi nilai pajak dan pengembalian (restitusi) PPN. Keinginan politik (political will) dan komitmen yang kuat akan sangat mempengaruhi keberhasilan upaya ini. Revitalisasi pelaksanaan dan penegakan semua peraturan serta perundangan sebagaimana digariskan di dalam Inpres Nomor 5 tahun 2003 (White Paper) dapat menjadi titik awal untuk penyelenggaraan kegiatan ini. 2. Menjamin kepastian usaha dan meningkatkan penegakan hukum, terutama berkenaan dengan kepentingan untuk menghormati kontrak usaha, menjaga hak kepemilikan (property rights), terutama berkenaan dengan kepemilikan lahan, dan pengaturan yang adil pada mekanisme penyelesaian konflik atau perbedaan pendapat (dispute settlements) terutama berkenaan dengan perselisihan niaga, perkuatan implementasi persaingan usaha, perkuatan implementasi standardisasi produk-produk yang dipasarkan, serta penyelesaian konflik antara produsen dan konsumen untuk tujuan perlindungan konsumen.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 129

3.

Memperbaiki harmonisasi peraturan perundangan antara pusat dan daerah terutama di dalam pengembangan (formalisasi) dan operasionalisasi usaha di daerah-daerah dengan mengedepankan prinsip kepastian hukum, deregulasi (simplifikasi) dan efisiensi dalam biaya dan waktu pengurusan.

4.

Dalam rangka mendukung perkuatan daya saing produk ekspor, arah kebijakan bidang perdagangan luar negeri adalah meningkatkan akses dan perluasan pasar ekspor serta perkuatan kinerja eksportir dan calon eksportir. Aspeknya meliputi: a. b. c. d. e. f. Mendorong secara bertahap perluasan basis produk ekspor dengan tetap memperhatikan kriteria produk ekspor yang ramah lingkungan. Peningkatan nilai tambah ekspor secara bertahap terutama dari dominasi bahan mentah (sektor primer) ke dominasi barang setengah jadi dan barang jadi. Revitalisasi kinerja kelembagaan promosi ekspor dan perkuatan kapasitas kelembagaan pelatihan eksportir kecil. Peningkatan jenis dan kualitas pelayanan ekspor melalui konsep support at company level kepada para eksportir dan calon eksportir UKM potensial. Optimalisasi sarana penunjang perdagangan internasional seperti kelembagaan trade financing untuk ekspor. Optimalisasi implementasi berbagai bentuk kerjasama perdagangan seperti skema imbal dagang dan perdagangan bebas antar negara (free trade agreement).

5.

Dibidang perdagangan dalam negeri, kebijakan diarahkan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas sistem distribusi daerah, tertib niaga, dan kepastian berusaha. Upaya ini perlu diintegrasikan dengan arah kebijakan peningkatan kinerja perdagangan luar negeri guna mewujudkan ketahanan ekonomi yang kokoh. Langkah-langkahnya mencakup: a. b. Harmonisasi kebijakan daerah dan pusat, penyederhanaan prosedur, perijinan yang menghambat kelancaran arus barang serta pengembangan kegiatan jasa perdagangan; Fasilitasi pengembangan prasarana distribusi tingkat regional dan prasarana sub-sistem distribusi pada daerah tertentu (kawasan perbatasan dan daerah terpencil) dan sarana penunjang perdagangan melalui pengembangan jaringan informasi produksi dan pasar serta perluasan pasar lelang lokal dan regional; dan c. Peningkatan efektivitas pelaksanaan perlindungan konsumen, tertib ukur, dan perkuatan sistem pengawasan barang beredar dan jasa.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 130

V. Pencapaian RPJM-N di Tingkat Daerah 2005-2007 5.1 Upaya yang Dilakukan hingga tahun 2007
Langkah-langkah kebijakan yang dilakukan untuk meningkatkan iklim investasi yang kondusif dan berdaya saing adalah sebagai berikut: 1. Dalam pengkajian dan pengembangan penanaman modal: - Program terbentuk 24 OSS pada tahun 2005 dan bertambah pada tahun 2006 sebanyak 29 OSS dihampir semua Kabupaten/Kota dari 35 Kabupaten / kota di Provinsi Jawa Tengah. - Tersedianya infrastruktur jalan raya (1320,63 Km), pelabuhan (6 buah), bandara (4 buah), saluran Telkom, produksi listrik, kesehatan, dan lain-lain. 2. Dalam promosi penanaman modal telah tercapai : - PMA 189 proyek dengan nilai investasi mencapai US$ 3.863,46 juta, PMDN 67 proyek dengan nilai investasi Rp.13.889,9 milyar. - Dalam negeri kesepakatan bersama BPM dengan BKPMD dan kapet Provinsi Kalimantan Selatan, Bali, Kalimantan Timur, Riau, Sulawesi Selatan, Jawa Barat. Kemitraan UKM/Koperasi dengan perusahaan besar. - Telah diadakan kerjasama luar negeri dengan negara Italia, Uni Eropa, IFC, USAID. 3. 4. Dalam pelayanan perijinan pelayanan modal, sejak tahun 2004 segala perijinan ditarik ke BKPM pusat. Pengendalian dan pengawasan penanaman mulai tahun 2004 semua perijinan ditarik ke BKPM pusat : - modal yang telah tercapai sampai tahun 2007 PMA 46 proyek, dan 17 proyek PMDN. - PMA 96 proyek dengan investasi US$ 455,2 juta. - PMDM 37 proyek dengan investasinya Rp. 6.443,9 milyar. - Kesadaran masyarakat untuk tera ulang perlu diimbangi pelayanan aparat. Kegiatan harus rutin berapa waktu.

5.2 Posisi Capaian Hingga Tahun 2007
Dibidang penanaman modal, masih perlu meningkatkan daya tarik lokasi dan deregulasi kebijakan untuk menekan ekonomi biaya tinggi, perlu promosi produk unggulan sehingga investor tertarik untuk berinvestasi di Jawa Tengah. Dalam pencapaian iklim investasi yang kondusif, masih harus menciptakan kestabilan ekonomi dan politik, serta kepastian hukum. Perlu kepastian hukum dan kestabilan politik karena jumlah investor PMA menurun juga nilai investasinya, serta masih perlu digiatkan kerjasama dengan negara tetangga.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 131

5.3 Permasalahan Pencapaian Sasaran
Permasalahan dalam pencapaian sasaran yang masih dihadapi dalam peningkatan investasi dan ekspor impor non migas adalah: 1. 2. 3. Jumlah investor dan investasi PMA menurun. PMDN cenderung turun baik proyek dan nilainya. Program pelayanan perijinan penanaman modal tidak berjalan karena mulai tahun 2004 perijinan ditarik ke BKPM Pusat.

VI. Tindak Lanjut
Beberapa upaya yang dilakukan untuk mencapai sasaran peningkatan investasi dan ekspor-impor non migas adalah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Perlu meningkatkan daya tarik lokasi dan deregulasi kebijakan untuk menekan ekonomi biaya tinggi. Perlu peningkatan promosi produk unggulan untuk menarik investasi. Perlu menciptakan iklim investasi yang kondusif, melalui peningkatan kestabilan ekonomi dan politik, serta kepastian hukum. Perlu kepastian hukum dan kestabilan politik karena jumlah investor PMA menurun juga nilai investasinya. Perlu digiatkan kerjasama dengan negara tetangga. Perlu debirokratisasi sehingga pelayanan perijinan dapat dipermudah.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 132

BAB 4.4
Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur

I. Pengantar
Sejalan dengan perkembangan perekonomian nasional, kinerja sektor perdagangan di Jawa Tengah makin signifikan dalam mendorong perkuatan struktur dan pertumbuhan ekonomi daerah. Pada tahun 2006 kontribusi sektor perdagangan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Tengah atas dasar harga berlaku adalah sebesar 16,74 persen dan atas dasar harga konstan tahun 2000 sebesar 17,64 persen. Pada tahun 2007 sektor perdagangan Jawa Tengah diprediksikan meningkatan 18,80 persen sehingga kontribusi sektor perdagangan terhadap PDRB menjadi 20,75 persen. Pelayanan bidang kemetrologian dalam rangka meningkatkan tertib usaha, tertib ukur dan perlindungan konsumen, pada tahun 2006 telah dilakukan tera dan tera ulang terhadap alat ukur, takaran, timbangan dan perlengkapan (UTTP) sebayak 2.870.412 buah dan pada tahun 2007 meningkat menjadi 3.114.390 buah. Sedangkan kegiatan pelayanan jasa tekni pengujian dan sertifikasi mutu barang oleh Balai PEngujian dan Sertifikasi Mutu Barang (BPSMB) Surakarta pada tahun 2006 telah dilakukan pengujian dan sertifikasi terhadap 183 contoh komoditas dan pada tahun 2007 diprediksikan meningkat menjadi 197 contoh komoditas. Ekspor non migas Jawa Tengah dari tahun 2003-2006 mengalami peningkatan yaitu sebesar 2,0 milyar US$ pada tahun 2003 meningkat menjadi 2,9 milyar US$ pada tahun 2006. Pada tahun 2007 ekspor non migas Jawa Tengah sampai bulan oktober mencapai 2,87 milyar US$. Produk ekspor non migas Jawa Tengah meliputi industri manufaktur antara lain Mak. Min dan tembakau/food, Beverages dan tobacco, Tekstil , barang kulit dan alas kaki, Barang kayu dan hasil hutan lain, Kertas dan barang cetakan, Pupuk kimia dan barang dari karet, Semen dan barang lain bukan logam, Logam dasar besi dan baja, Alat angkutan mesin dan angkutan, mebel, kayu olahan, plastik dan produk plastik, kertas dan produk kertas, barang dari kayu, elektronik, barang pecah belah dan gondorukem. Negara tujuan ekspor masih belum bertambah diluar negara Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Belanda, Prancis, Belgia, Inggris, Australia, Spanyol, Malaysia, Hongkong, Singapura dan Korea Selatan.

133

Sedangkan untuk sektor industri pengolahan non migas terhadap total ekspor non migas di Jawa Tengah dati tahun ke tahun menunjukan hal yang positif. Tahun 2001 mencapai 1.829,8 juta dolar AS, dimana kontribusi industri pengolahan mencapai 90,22 persen. Pada tahun 2006 peran ekspor industri pengolahan menjad 90,22 persen dati total ekspor nonmigas Jawa Tengah yang mencapai 2.311,4 juta dolar AS.

II. Kondisi Awal RPJM-N di Tingkat Daerah
Untuk mencapai hasil-hasil pembangunan secara merata dan optimal bagi kesejahteraan masyarakat serta menuju kemandirian wilayah Jawa Tengah, sektor perindustrian dan perdagangan masih menghadapi berbagai permasalahan yang belum banyak bergeser dari permasalahan yang telah berkali-kali diidentifikasi. Masalah-masalah tersebut meliputi: (1) Belum optimalnya Industri Dagang Kecil Menengah menggunakan bahan baku berbasis pada potensi unggulan daerah serta masih tingginya ketergantungan sebagian produk pada komponen bahan baku impor, (2) Belum optimalnya penggunaan teknologi tepat guna dalam pengembangan industri, (3) Masih panjangnya mata rantai distribusi dan terbatasnya jaringan informasi serta akses pasar baik di dalam negeri maupun orientasi ekspor dalam memasuki pasar global, (4) Belum optimalnya kualitas pelayanan kemetrologian dan pengawasan Ukuran Takaran Timbangan dan Perlengkapannya (UTTP) serta Barang Dalam Keadaan Terbungkus (BDKT).

III. Sasaran yang Ingin Dicapai
Sasaran yang ingin dicapai dalam peningkatan daya saing industri manufaktur adalah sebagai berikut: 1. Meningkatkan basi produksi dan distribusi IKM yang berdasarkan potensi unggulan daerah (9.200unit usaha, 35 kabupaten/kota). 2. Meningkatkan kemampuan SDM dan lembaga pendukung IKM penggunaan teknologi tepat guna (56.950 Undang-Undang meliputi 93 komoditi, di 6 UPT, kota Semarang, kabupaten.Jepara, Tegal, Sukoharjo. Purbaingga, Pati). 3. 4. Meningkatkan akses pasar, informasi dan jaringan kerjasama, penerapan sertifikasi standar mutu internasional serta infrastruktur pasar global. (15.700 Undang-Undang, 1 BPSMB kota Surakarta). Meningkatkannya pelayanan kemetrologian dan kesadaran masyarakat industri dagang utuk melakukan teraulang, serta meningkatnya sarana/prasarana perdagangan dan perlindungan konsumen (2.600 Undang-Undang, 6 Balai Metrologi kota Semarang, kota Surakarta, kabupaten Tegal, Banyumas, Pati, Magelang).

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 134

IV. Arah Kebijakan
Kebijakan pengembangan industri dan perdagangan dalam mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut di arahkan pada: a. b. Meningkatkan kandungan bahan-bahan lokal dan penggunaan produksi dalam negeri dalam rangka penghematan devisa dan mendorong kemandirian. Mengembangkan sumber daya manusia sektor perindustrian dan perdagangan secara intensif melalui transformasi ketrampilan dan teknologi serta menata dan menguatkan kelembagaan dalam rangka pengamanan proses industrialisasi dalam perdagangan bebas. c. d. Meningkatkan promosi dagang ke luar negeri serta meningkatkan kerjasama dan keterpaduan antar lembaga-lembaga pembina, dunia usaha dan masyarakat. Memanfaatkan dan menciptakan keunggulan kompetitif dalam rangka menghadapi per saingan global.

V. Pencapaian RPJMN di Daerah (2005-2007) 5.1. Upaya yang Dilakukan Hingga Tahun 2007
Upaya yang dilakukan hingga tahun 2007 dalam peningkatan daya saing industri sebagai berikut: 1. Pemberdayaan dan Penataan Basis Produksi dan Distribusi Program ini untuk: (1) meningkatkan dan mengembangkan IKM; (2) meningkatkan dan memperkuat basis produksi industri, utamanya melalui pengembangan industri-industri pendukung (supporting industries); (3) mengembangkan agroindustri skala kecil dan menengah; (4) mengembangkan sistem informasi dan distribusi daerah dalam kesatuan pasar nasional; (5) meningkatkan data base statistik industri dan perdagangan. Adapun pencapaian sampai tahun 2007 adalah sebagai berikut: Terendah 1.230 unit usaha tertingi 1.880 unit usaha 2. Perluasan dan Penguatan Lembaga Pendukung Usaha Kecil dan Menengah Program ini untuk: (1) mengembangkan kluster IKM yang berbasis potensi sumberdaya unggulan daerah; (2) memperkuat penajaman dan pemantapan perencanaan program industri dan perdagangan; (3) mengembangkan pola kemitraan industri dan dagang kecil menengah; (4) meningkatkan jasa layanan teknis kepada industri kecil dan menengah (IKM); (5). meningkatkan penguasaan pasar dalam negeri, utamanya melalui promosi dan informasi dan peningkatan nasionalisme dalam pemberdayaan produk dalam negeri; (6) mengembangkan klinik layanan bisnis (HAKI, ISO, pengembangan SDM, pembiayaan, teknologi, promosi dan informasi). Adapun pencapaian sampai tahun 2007 adalah sebagai berikut: Pelatihan diikuti terndah 540 unit usaha, tertinggi 1.480 unit usaha, jumlah keseluruhan 4.560 unit. Program tercapai 1.760 koperasi.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 135

3.

Pengembangan Ekspor Program ini untuk: (1) meningkatkan penerapan sistem manajemen mutu industri dan perdagangan berorientasi ekspor, (2) meningkatkan penetrasi dan perluasan pasar luar negeri; (3) Meningkatkan akses pasar luar negeri melalui pendekatan bilateral, multilateral, regional yang lebih proaktif dan efektif; (4)mengembangkan sistim informasi ekspor dan impor; (5) meningkatkan uji mutu produk orientasi ekspor. Adapun pencapaian sampai tahun 2007 adalah sebagai berikut: Sasaran tercapai 10.900 Undang-Undang di BPSMB Surakarta

4.

Penguatan Institusi Pendukung Pasar Program ini untuk (1) meningkatkan operasional kemetrologian; (2) meningkatkan kesadaran masyarakat industri dan perdagangan untuk melakukan tera ulang; (3) penguatan usaha dan kelembagaan perdagangan; (4) meningkatkan koordinasi penyelenggaraan perlindungan konsumen. Adapun pencapaian sampai tahun 2007 adalah sebagai berikut: Sasaran tercapai 1.790 UndangUndang dilayani oleh 6 BAlai Metrologi di 6 kota.

5.2. Posisi Capaian hingga Tahun 2007
Posisi capaian hingga tahun 2007 dalam rangka peningkatan daya saing industri manufaktur adalah: 1. Pemberdayaan dan Penataan Basis Produksi dan Distribusi Mendorong industri memakai bahan baku lokal dengan cara menaikkan pajak impor atau member subsidi/pinjaman bagi industri yang kandungan bahan lokalnya tinggi. 2. Perluasan dan Penguatan Lembaga Pendukung Usaha Kecil dan Menengah Industri terutama sektor UMKM masih beum mampu mengadopsi teknologi sehingga kualitas proses dan outcome produksi cenderung tidak mempunyai daya saing. 3. 4. Pengembangan Ekspor Penguatan jaringan kerjasama antar lembaga. Penguatan Institusi Pendukung Pasar Sasaran tercapai 69 persen, daerah layanan perlu diperluas.

5.3. Permasalahan Pencapaian Sasaran
Permasalahan pencapaian sasaran terkait dengan peningkatan daya saing industri manufaktur adalah: industri terutama setor UMKM masih beum mampu mengadopsi teknologi sehingga kualitas proses dan outcome produksi conderung tidak mempunyai daya saing.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 136

VI. Tindak Lanjut
Adapun tindak lanjut yang dilakukan untuk mencapai sasaran peningkatan daya saing industri manufaktur adalah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Penyederhanaan mata rantai distribusi. Meningkatkan kerjasama dan keterpaduan antar lembaga Pembina, dunia usaha dan masyarakat. Pemantapan strategi daerah dalam rangka penguasaan pasar dalam negeri dan peningkatan daya saing global. Peningkatan kemampuan sumberdaya manusia pelaku usaha bidang perindustrian dan perdagangan. Penguatan dan meningkatkan jaringan kerjasama antar lembaga secara efisien, produktif, dan profesional. Pengembangan jaringan produksi, distribusi, dan sitem informasi pasar dalam negeri dan luar negeri.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 137

BAB 4.5
Revitalisasi Pertanian

I. Pengantar
Jawa Tengah dalam bidang pertanian memiliki misi untuk menyediakan pangan, meningkatkan kesejahteraan petani dan menggerakkan roda perekonomian daerah. Misi penyediaan pangan sampai dengan tahun 2003 dapat dicapai yang ditandai dengan jumlah produksi yang surplus. Namun demikian pendapatan dan/atau tingkat kesejahteraan petani masih rendah, antara lain ditandai masih rendahnya Nilai Tukar Petani (NTP). Peningkatan jumlah penduduk dan pendapatan masyarakat di perkotaan akan meningkatkan jumlah, kualitas dan keragaman permintaan produk pertanian, sedangkan di sisi lain dengan masuknya produk pertanian dari luar negeri dengan harga dan kualitas yang bersaing, akan mengurangi peluang pasar produk lokal menyebabkan menurunnya kegairahan produksi pertanian di masyarakat. Perbedaan potensi produksi pangan dan pola panen raya yang diikuti masa paceklik, mengakibatkan distribusi ketersediaan pangan tidak merata di setiap tempat dan setiap waktu, hal tersebut menciptakan potensi kerawanan pangan dan jatuhnya harga produk pertanian pangan dari petani/produsen.

II. Kondisi Awal RPJM-N di Tingkat Daerah
Bidang pertanian memiliki misi untuk menyediakan pangan, meningkatkan kesejahteraan petani dan menggerakkan roda perekonomian daerah. Misi penyediaan pangan sampai dengan tahun 2003 dapat dicapai yang ditandai dengan jumlah produksi yang surplus. Namun demikian pendapatan dan/atau tingkat kesejahteraan petani masih rendah, antara lain ditandai masih rendahnya Nilai Tukar Petani (NTP). Peningkatan jumlah penduduk dan pendapatan masyarakat di perkotaan akan meningkatkan jumlah, kualitas dan keragaman permintaan produk pertanian, sedangkan di sisi lain dengan masuknya produk pertanian dari luar negeri dengan harga dan kualitas yang bersaing, akan mengurangi peluang pasar produk lokal menyebabkan menurunnya kegairahan produksi pertanian di masyarakat. Perbedaan potensi produksi pangan dan pola panen raya yang diikuti masa paceklik, mengakibatkan distribusi ketersediaan pangan tidak merata di setiap tempat dan setiap waktu, hal tersebut menciptakan potensi kerawanan pangan dan jatuhnya harga produk pertanian pangan dari petani/produsen. Berkembangnya pemukiman dan industri semakin memper cepat alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian. Data menunjukkan laju alih fungsi lahan sawah menjadi menjadi non pertanian rata-rata 0,15 % per

138

tahun. Selain itu, luas pemilikan lahan pertanian oleh keluarga petani semakin sempit (+ 0,3 Ha per rumah tangga petani), dengan teknologi dan ketrampilan yang masih rendah, sehingga dalam melakukan usaha produksi masih belum efisien dan sulit berkompetisi.

2.1 Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura
Upaya peningkatan produksi pertanian masih dihadapkan pada kendala-kendala, antara lain pendapatan dan kesejateraan petani masih rendah yang ditandai dengan masih rendahnya Nilai Tukar Petani (NTP) kualitas dan kuantitas konsumsi pangan masih rendah. Penguasaan teknologi dan ketrampilan kegiatan yang masih rendah. Distribusi ketersediaan pangan yang tidak merata dan menciptakan kerawanan pangan serta jatuhnya harga produk pertanian pangan pada saat panen raya. Kelembagaan petani yang belum sepenuhnya berfungsi secara optima. Masih terbatasnya produktivitas tanaman pangan. Belum optimalnya standar mutu dan prosedur keamanan produksi pangan. Terbatasnya ke mampuan akses pasar hasil produksi, terbatasnya penyediaan benih unggul, terbatasnya permodalan usaha tani dan rendahnya aksesibilitas petani terhadap permodalan. Terbatasnya penerapan teknologi pangan. Terbatasnya ketrampilan sumberdaya manusia dan kelembagaan usaha berbasis agribisnis. Masih terbatasnya sarana dan prasarana untuk kegiatan on farm dan off farm. Masih terbatasnya ketersediaan, akses dan distribusi informasi pertanian.

Perkebunan
Kelembagaan petani belum sepenuhnya berfungsi secara optimal, rendahnya produktivitas dan mutu hasil produksi produksi perkebunan, penguasaan teknologi dan ketrampilan yang masih rendah. Implementasi pengendalian hama terpadu secara ramah lingkungan belum merata. Terbatasnyan kualitas dan kuantitas input dan/atau sub sistem hulu, rendahnya kualitas hasil dan pengolahan hasil. Belum optimalnya kinerja kelembagaan dan sarpras, terbatasnya kemampuan dan akses pemasarana.

Peternakan
Permasalahan yang dihadapi peternakan adalah belum optimalnya kemampuan produksi untuk mendukung ketersediaan bahan pangan. Perlunya ditingkatkannya kinerja kelembagaan dalam memberikan pelayanan publik bidang peternakan. Banyak dilakukan Pemotongan Ternak Besar Bertanduk betina produktif. Belum cukup tersedia sarana dan prasarana pelayanan publik bidang peternakan. Kurang tersedianya bahan pangan asal ternak yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal dalam jumlah yang cukup, karena terjadinya tindak

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 139

kejahatan pemalsuan dan penyelundupan bahan asal hewan dan hasil bahan asal hewan. Belum tercukupinya pemenuhan input peternakan baik kualitas maupun kuantitasnya, lemahnya akses pemasaran dan permodalan peternak. Belum optimalnya pengembangan Sistem dan Usaha Agribisnis, kurangnya Kualitas dan Kuantitas tenaga pelayanan dan SDM Peternakan.

Perikanan
Garis pantai sepanjang 791,76 km terdiri atas panjang Pantai Utara 502,69 km dan panjang Pantai Selatan 289,07 km belum termasuk pulau-pulau kecil yang jumlahnya mencapai 34 buah. Selain itu, Provinsi Jawa Tengah memiliki potensi sumberdaya perikanan laut yang sangat besar, berupa berbagai jenis ikan pelagis kecil (small pelagic) dan ikan demersal sebesar 796.640,00 ton/tahun (laut Jawa) dan potensi udang dan ikan-ikan pelagis besar seperti Tuna, Hiu, dan lain sebagainya (Samudra Indonesia) sebesar 1.076.890,00 ton/tahun. Provinsi Jawa Tengah yang diapit oleh tiga provinsi besar, yaitu Provinsi Jawa Timur di sebelah Timur, Provinsi Jawa Barat di sebelah Barat, dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta di sebelah Selatan, mempunyai keuntungan tersendiri dari segi pemasaran, baik ikan hidup atau segar maupun pemasaran benih ikan. Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi yang kaya dengan perairan pedalaman, diperkirakan luasnya mencapai 44.328,46 Ha, terdiri dari waduk (23.545,75 Ha), sungai (15.876,20 Ha), rawa (3.660,20 Ha), dan telaga (1.246,31 Ha). Untuk waduk saja, di Jawa Tengah terdapat 37 buah waduk, di antaranya terdapat waduk-waduk besar yang sangat potensial, yaitu Waduk Gajahmungkur (Kab. Wonogiri), Waduk Wadaslintang (Kab. Wonosobo), Waduk Mrica (Kab. Banjarnegara), dan Waduk Kedung Ombo (Kab. Sragen, Boyolali, dan Grobogan). Pada waduk-waduk besar tersebut telah berkembang pula budidaya ikan di karamba jaring apung dengan komoditas unggulan Nila Merah. Jumlah kapal penangkap ikan pada tahun 2005 mencapai 192.586, 50 ton, pada tahun 2006 mencapai 293.848,45 ton, da pada tahun 2007 menjadi 153.698,50 ton. Kapal motor dengan alat purse seine di Pantai Utara Jawa Tengah, dalam operasi penangkapannya telah mencapai fishing ground hingga Pulau Matasiri – Kalimantan, Pulau Masalembo – Jawa Timur, Laut China Selatan, Selat Malaka, dan Pulau Pejantan di Selatan Natuna, dengan lama operasi penangkapan mereka mencapai 30 – 40 hari per trip Pukat cincin (purse seine) merupakan jenis alat tangkap yang dominan dan kontribusinya paling banyak terhadap produksi perikanan Jawa Tengah, dimana dalam periode 1998 – 2002, rata-rata mencapai 62,25 %, diikuti pukat kantong sebesar 18,90 %, jaring insang 11,04 %, dan pancing 5,72 %.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 140

Untuk mengakomodir usaha penangkapan ikan di laut, maka di Jawa Tengah terdapat 77 buah TPI (Tempat Pelelangan Ikan) sampai tahun 2007, dimana 67 buah di antaranya terdapat di Pantai Utara, sedang 10 buah TPI berada di Pantai Selatan. Dari 77 buah TPI yang ada, dua buah TPI masuk dalam Unit Pelaksana Teknis Pusat yaitu PPNP (Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan), dan PPSC (Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap). Dua buah TPI yang menjadi penghasil utama produksi perikanan laut di Jawa Tengah adalah PPNP Pekalongan dan PPI Bajomulyo Pati. Kegiatan usaha nelayan tidak dapat dipisahkan dari peran KUD Mina sebagai lembaga ekonomi nelayan. Dari 22 buah KUD Mina di Jawa Tengah, seluruhnya sudah mencapai predikat KUD Mandiri, bahkan KUD Makaryo Mino Pekalongan telah mendapatkan predikat KUD Mandiri Inti. Upaya peningkatan produksi perikanan masih dihadapkan pada kendala-kendala yaitu : (1) masih terbatasnya sarana dan prasarana yang memadai seperti Pelabuhan Perikanan, PPI dan TPI; (2) masih rendahnya kemampuan SDM nelayan, baik dibidang penangkapan, pasca panen , manajemen usaha dan mengadopsi penerapan teknologi penangkapan; (3) masih terbatasnya system informasi perikanan tangkap untuk mendukung perencanaan program dan pengendalian kegiatan perikanan tangkap; (4) terdapat kecenderungan keme-rosotan produktivitas dan mutu lingkungan yang disebabkan oleh pemanfaatan lahan yang melewati kapasitas daya dukung lingkungan; (5) masih terbatasnya sarana dan prasarana perbenihan dan budidaya ikan baik air payau maupun air tawar, menurunnya kualitas ekosistem sumberdaya perikanan dan kelautan; (6) masih terbatasnya sarana dan prasarana pencegahan dan pengendalian kesehatan ikan maupun lingkungan; (7) masih rendahnya kemampuan dan ketrampilan SDM pembudidaya ikan maupun manajemen usaha; (8) masih terbatasnya ketersediaan induk ikan unggul dan benih ikan yang berkualitas dalam pengembangan usaha budidaya ikan; (9) masih terbatasnya system informasi perikanan budidaya untuk mendukung perencanaan program dan pengendalian kegiatan perikanan budidaya; (10) belum berkembangnya kawasan pengembangan sentra pengolahan dan pemasaran produk-produk hasil perikanan yang berdaya saing dipasar domestik dan ekspor; (11) masih rendahnya kesadaran nelayan maupun para pelaku usaha perikanan tentang perijinan usaha Perikanan; (12) masih rendahnya mutu produk hasil perikanan akibat kesalahan dalam penanganan hasil perikanan; (13) kurangnya sarana dan prasarana LPPMHP sebagai laboratorium pengujian dan pengawasan mutu hasil perikanan; (14) masih rendahnya kemampuan dan ketrampilan pengolah hasil perikanan.

Kehutanan
Berdasarkan Undang Undang Kehutanan Nomor 41 tahun 1999, luas lahan yang berfungsi hutan minimal adalah sebesar 30 % dari luas daratan. Di Propinsi Jawa Tengah luas lahan yang berfungsi hutan hanya

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 141

sebesar 869.934,61 ha (26,73%), sehingga kekurangan luas lahan yang harus dipenuhi sebesar 106.3419,27 ha atau 3,27 %. Kawasan hutan negara tersebut tidak semuanya dalam kondisi optimal, sebab hutan yang dikelola PT Perhutani tersebut mendapat gangguan yang sangat serius. Kawasan hutan yang rusak ini sangat membahayakan keseimbangan lingkungan, yaitu terjadinya kerusakan tata air, iklim mikro serta konsekuensi banjir dan kekeringan yang dapat menggerogoti kemampuan ekonomi masyarakat dan kemandirian daerah. Berkaitan dengan hal tersebut, keseimbangan lingkungan harus dipulihkan yaitu antara up land dan low land agar sirkulasi tata air kembali teratur, kontinyu dan optimal. Luas lahan kritis di Jawa Tengah pada tahun 2005 -2007 mencapai 1.038.081 ha, luas lahan rebosasi pada tahun 2005 mencapai 22.242 ha, tahun 2006 mencapai 60 ha, dan tahun 2007 hanya 20.20 ha. Untuk luas lahan penghijauan dari tahun 2005 seluas 55.113 ha, dan tahun 2007 hanya 18.284 ha. Industri pengolahan hasil hutan mengalami peningkatan dari tahun 2005 terdapat 2.549 buah menjadi 3.612 buah pada tahun 2006. Untuk hasil hutan non HPH yang terdiri dari kayu bulat pada tahun 2005 terdapat 461.345 m3, tahun 2006 terdapat 160.560 m3, dan tahun 2007 terdapat 1.390.735 m3. Luas kayu gergajian tahun 2005 seluas 8.027 m3, tahun 2006 seluas 1.645 m3, dan tahun 2007 seluas 12.032 m3. Kemudian untuk luas kayu olahan pada tahun 2005 seluas 3.434 m3, tahun 2006 seluas 1.221 m3, dan tahun 2007 seluas 2.613 m3. Permasalahan pembangunan kehutanan, antara lain: (1) Masih terbatasnya data informasi kawasan hutan dan lahan daerah aliran sungai (DAS); (2) Masih rendahnya pemanfaatan lahan dan hutan; (3) Belum intensifnya usaha rehabilitasi hutan dan lahan; (4) Banyaknya peredaran flora dan fauna yang tidak dilindungi serta peredaran hasil hutan ilegal; (5) Masih rendahnya peran dan kapasitas kelembagaan pengelolaan hutan; (6) Pemanfaatan lahan yang tidak sesuai pada hulu daerah aliran sungai (DAS).

III. Sasaran Yang Ingin Dicapai
Beberapa sasaran yang ingin dicapai terkait dengan peningkatan ketahanan pangan : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Meningkatnya pendapatan keluarga petani dan NTP. Terwujudnya pola konsumsi mendekati PPH. Meningkatnya konsumsi pangan nabati dan hewani. Terwujudnya UKM produsen pangan 58 paket. Terciptanya pengembangan pangan. Lancarnya distribusi pangan, tertanganinya kerawanan pangan, terkendalinya harga pangan. Meningkatnya kinerja lembaga ekonomi perdesaan.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 142

8.

Target 2003-2008 tercapaianya produksi tanaman pangan (ton/ha) : padi 41.797.566, jagung 8.003.712, kedelai 759.387, ubi kayu 16.890.223, ubi jalar 774.677, kacang tanah 787.239, kacang hijau 344.942, shorgum 32.642. sasaran produktivitas (ton/ha) : padi 5,23 ; jagung 3,19 ; kedelai 1,38 ; kacang tanah 1,14 ; kacang hijau 0,89 ; ubi kayu 14,8 ; ubi jalar 12,44 ; shorgum 2,26.

9.

Tercapainya pengamanan produksi lebih spesifik.

10. Tercapainya produksi hortikultura (ton) : sayuran 6.471.000, buah 4.281.000. 11. tercapainya pengamanan produksi hingga 98 persen. 12. meningkatnya kinerja usaha tani perkebunan terhadap permodalan dan pemasaran. 13. berkembangnya areal pangan 4.925 ha, berkembangnya diversifikasi tanaman pangan seluas 2.870 ha, peningkatan areal tebu seluas 38.710 ha, meningkatnya SDM petani dan aparat dalam penyuluhan kimbun, terciptanya fasilitasi saranan pengolahan hasil perkebunan. 14. berkembangnya APH pestisida nabati dan bokasi. 15. terealisasi pengamatan, inventarisasi dan identifikasi OPT 16. terkendalinya eksploitasi OPT. 17. Terkendalinya hama dan penyakit, serta diteksi dini terhadap serangan hama penyakit. Sasaran yang ingin dicapai terkait dengan peningkatan pengembangan agribisnis : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. tersedianya sarana dan prasarana permodalan dalam mendukung sistem agribisnis. berkembangnya kelembagaan agribisnis melalui pengembangan agribisnis melalui pengembangan skimkredit di perdesaan. berkembangnya lumbung desa dan koperasi agribisnis. berkembangnya pusat agribisnis di wilayah kabupaten/kota. berkembangnya SDM adalah penguasaan teknologi kewirausahaan dan kelembagaan. terwujudnya pemberdayaan produsen pangan dan laboratorium uji mutu. berkembangnya kemitraan usaha agribisnis dalam pengembanganan kawasan agrolpolitan. berkembangnya luas tanaman pangan : padi 85.700 ha, jagung 27.500 ha, kedelai 28.500 ha, kacang tanah 20.000 ha, ubi kayu 25.000 ha, bawang merah 3.400 ha, cabe 2.400 ha, kentang 800 ha, mangga 8.500 ha, manggis 10.000 ha, jeruk 25.000 ha, durian 21.500 ha, pisang 1.300 ha, anggrek 50 ha, tanaman obat 300 ha. 9. teroptimalisasinya operasional kebun-kebun dinas. 10. terwujudnya pembinaan perbenihan, terbinanya dan pengawasan mutu benih. 11. berkembangnya SDM dan kelembagaan agribisnis. 12. berkembangnya teknologi pertanian organik 86 unit, ramah lingkungan 76 unit, teknologi tepat guna 123 unit, PHT SL 226 unit, perbenihan 25 unit.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 143

13. meningkatnya kinerja lembaga agribisnis, efisiennya pola pemasaran, berkembangnya off farm agribisnis. 14. lancarnya akses pemasaran dan pengembangan usaha yang dapat dinikmati petani. 15. terwujudnya pengembangan sub sistem hulu perbenihan, pengawasan saprodi, alsin, pengolahan hasil, rancang bangun alsinbun, teknologi tepat guna, diversifikasi, evaluasi pengolahan hasil. 16. sub sistem on farm : perluasan tanaman, peremajaan kabun kimbun, pemberdayaan kebun dinas, pengembangan KSP dan agrowisata. 17. sub sistem pemasaran : pengembangan jejaring, pertumbuhan kemitraan, fasilitasi pengembangan sistem informasi dan akses permodalan. 18. meningkatnya kinerja di 135 SPIB, kelahiran SPIB meningkat 2,5 persen per tahun. Pengembangan ternak : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. Terwujudnya intensifikasi pakan ternak Berkembangnya teknologi bidang peternakan Terwujudnya pengembangan village breeding centre (VBC) Meningkatnya pelayanan kawasan kesmavet Tertanggulanginya keswan akibat bencana alam Meningkatnya program perencanaan dan pengendalian Terkendalinya pemotongan ternak besar bertanduk betina produktif Terbangunnya laboratorium keswan dan kesmavet Tersedianya peralatan keswan dan kesmavet 2 paket Tersedianya peralatan IB Tersedianya peralatan sarana prasarana Disnak Meningkatnya kinerja laboratorium keswan dan pos lalu lintas ternak Meningkatnya produksi semen beku Terfasilitasinya pengembangan industri perbenihan/pembibitan Berkembangnya UPP dan budidaya ternak Meningkatnya promosi produksi ternak dan hasil ternak Berkembangnya kemitraan pola inti plasma Berkembangnya kawasan terpadu Berkembangnya agribisnis berbasis peternakan Meningkatnya SDM peternakan

Penguatan dan Pengembangan perikanan tangkap : 1. Berkembangnya sarpras di 77 TPI.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 144

2. 3. 4. 5. 6.

Tersedianya SPDN/SPBN. Berkembangnya usaha kecil 1000 unit. Berkembangnya usaha perikanan skala kecil 1000 unit. Terdidiknya SDM nelayan 500 orang. Berkembangnya teknologi dibidang perikanan.

Pembangunan dan pengembangan perikanan budidaya : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Terlindunginya sumber daya perikanan. Tersedianya sarpras perikanan budidaya di 50 lokasi. Terlindunginya sumber daya perikanan 15 kegiatan. Tersedianya sarparas perikanan budidaya dalam bidang perbenihan dan budidaya. Meningkatnya kualitas SDM 1000 orang dalam bidang pengolahan hasil. Terbangunnya sistem kesehatan ikan dan lingkungan. Meningkatnya kualitas SDM 1000 orang dalam bidang budidaya perikanan, tersedianya data/informasi perikanan budidaya. Pengembangan agribisnis perikanan : 1. 2. 3. 4. 5. Terwujudnya penguatan dan pengembangan sistem pemasaran produk perikanan. Meningkatnya pelayanan dan terkendalinya ijin usaha perikanan 85 lokasi. Berkembangnya teknologi pasca panen guna meningkatkan mutu produk. Meningkatnya sarpras LPPMHP dalam pelayanan pengujian dan pengawsan mutu. Meningkat dan berkembangnya mutu dan nilai tambah produk perikanan budidaya, berkembangnya usaha pengolahan hasil perikanan. Pemantapan Pra kondisi pengelolaan hutan : 1. tersusunnya SIG DAS Serayu, comal, pemali, jratun dan solo. Optimalisasi pemanfaatan hutan : 1. Terbentuknya taman nasional merapi merbabu. Rehabilitasi hutan dan lahan : 1. Teridentifikasinya kawasan hutan lindung di 4 kawasan. 2. Tertatanya industri hasil hutan se Jawa Tengah. Perlindungan hutan dan konservasi alam :

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 145

1. Terwujudnya kecermatan pendapatan kehutanan dari PSDH, SP3 dan retribusi hasil hutan se Jawa Tengah. Pengembangan kelembagaan : 1. Terkendalinya penggunaan SKSHH se Jawa Tengah. Pengelolaan lingkungan alam : 1. Terwujudnya pengawasan dan pengendalian kegiatan pengusahaan hutan. 2. Terwujudnya reboisasi hutan lindung 320 ha. 3. Terpeliharanya gaharu 4.000 batang. 4. Meningkatnya peran serta masyarakat dalam perlindungan konservasi alam. 5. Terbuatnya demplot penangkaran satwa 13 kabupaten. 6. Tersusunnya dokumen Amdal Taharu Ngargoyoso dalam pembuatan sarana pendukung. 7. Terbangunnya kebun raya Baturaden. 8. Terwujudnya perlindungan dan pengendalian dan peredaran kayu dan flora fauna. 9. Terwujudnya musyawarah konsultasi teknis kehutanan. 10. Terlaksananya penyuluhan kehutanan. 11. Terlaksananya pelatihan pengelolaan hutan. 12. Terfasilitasinya aneka usaha dan stakeholder kehutanan. 13. Terehabilitasi daerah tangkapan air pada DAS hulu di 6 waduk.

IV. Arah Kebijakan
kebijakan pembangunan pertanian diarahkan pada: 1. Pengembangan sumber daya pertanian yang meliputi sumber daya manusia, sumber daya alam, ilmu pengetahuan dan teknologi, dana, informasi, dan kelembagaan, melalui diversifikasi, intensifikasi, ekstensifikasi dan rehabilitasi. 2. Pendekatan pembangunan melalui sistem agrobisnis dan kawasan, dengan pengembangan kinerja masing-masing subsistem agrobisnis, serta membangun sinergi jejaring antara simpul-simpul sistem agrobisnis. 3. 4. 5. 6. Pengembangan wilayah Penanganan kemiskinan. Optimalisasi investasi pertanian. Pengembangan manajemen pembangunan pertanian lintas sektor dan lintas kabupaten/kota.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 146

kebijakan pembangunan perikanan dan kelautan diarahkan untuk keseimbangan pembangunan perikanan dan kelautan di Pantai Utara dan Pantai Selatan yang ditekankan pada: 1. Peningkatan produksi melalui pemanfaatan sumberdaya perikanan dan kelautan, baik sumberdaya pulih, maupun sumberdaya tidak pulih untuk menunjang pembangunan ekonomi nasional, melalui: Peningkatann sarana dan prasarana aparatur serta k.ualitas sumberdaya manusia dalam memanfaatkan sumberdaya perikanan dan kelautan; Pengembangan penangkapan dan pengelolaan sumberdaya perikanan di laut dan perairan pedalaman; Pengembangan kawasan budidaya laut, payau, dan air tawar yang menerapkan sistem usaha yang berdaya saing, berkelanjutan dan berkeadilan; Pemberdayaan pembudidaya ikan dan nelayan dalam meningkatkan produktivitas usaha disertai peningkatan kelembagaan pendukungnya; Peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat pesisir, pantai dan pulau-pulau kecil, terutama kelompok masyarakat yang mata pencahariannya berhubungan langsung dengan pemanfaatan sumberdaya alam. 2. Meningkatkan pemanfaatan potensi sumberdaya perikanan yang belum termanfaatkan secara optimal, melalui: Peningkatan kapasitas pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya perikanan; peningkatan penyediaan pangan dan konsumsi masyarakat terhadap sumber protein ikan dan bahan baku industri di dalam negeri serta ekspor Kebijakan pembangunan kehutanan diarahkan pada: 1. 2. 3. Meningkatkan kelestarian hutan untuk kepentingan keseimbangan tata air dan lingkungan hidup dengan melibatkan masyarakat sekitar hutan. Meningkatkan kegiatan penghijauan (reboisasi), rehabilitasi lahan kritis dan rehabilitasi hutan lindung. Intensifikasi pengusahaan hutan dan perluasan areal hutan rakyat secara swadaya untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri, masyarakat dan ekspor serta peningkatan kesejahteraan petani hutan rakyat. 4. 5. 6. 7. Mengembangkan keserasian pola pemanfaatan kawasan hutan dengan pengelolaan hutan bersama masyarakat (PHBM). Memanfaatkan hutan secara multifungsi baik untuk wisata alam maupun pemanfaatan flora/fauna. Menegakkan hukum dan peningkatan koordinasi antar daerah dalam rangka pengamanan hutan dan peredaran hasil hutan. Meningkatkan profesionalisme sumberdaya manusia (SDM), sarana dan prasarana pengelolaan hutan.

V. Pencapaian RPJM-N di Tingkat Daerah 2005-2007 5.1. Upaya Yang Dilakukan Hingga Tahun 2007
Upaya yang dilakukan hingga tahun 2007 untuk peningkatan ketahanan pangan :

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 147

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Meningkatnya pendapatan keluarga petani dan NTP dari 98.82 (tahun 2003) menjadi 102.54 (tahun 2006). Terwujudnya pola konsumsi mendekati PPH dari 74,22 menjadi 82,27 pada tahun 2006. konsumsi protein nabati 81,3 menjadi 92,1 hewani dari 115,03 menjadi 154,0. Terwujudnya UKM produsen pangan 19 paket. Peserta pelatihan menurun dari 100 orang menjadi 70 orang. Cakupan layanan distribusi pangan meningkat dari 25 persen menjadi 60 persen. Tertanganinya kerawanan pangan di 21 Kabupaten selama 3 tahun. Harga pangan yang terkendali meningkat 40 persen menjadi 75 persen. Meningkatnya kinerja lembaga ekonomi pedesaan, dengan peningkatan jumlah UEP dari 143 UEP di 22 Kabupaten/Kota menjadi 207 UEP di 24 Kabupaten/Kota.

10. Sampai tahun 2006 telah tercapaianya produksi tanaman pangan (ton/ha) : padi 34.344.270 (82 persen), jagung 7.823.286 (98 persen), kedelai 390.054 (51 persen), ubi kayu 14.326.689 (85 persen), ubi jalar 557.767 (72 persen), kacang tanah 716.387 (91 persen), kacang hijau 342.737 (99 persen), shorgum 10.733 (33 persen). sasaran produktivitas (ton/ha) : padi 5,21 ; jagung 3,70; kedelai 1,44; kacang tanah 1,20 ; kacang hijau 1,06 ; ubi kayu 16,74 ; ubi jalar 13,76 ; shorgum 1,38. 11. Pengendalian tanaman mencapai 75 ha. 12. Produksi sayuran 31.544.108 ton, produksi buah-buahan 23.035.598 ton. 13. Pengamanan produksi tercapai 92 persen. 14. Pertemuan interaktif 8 asosiasi petani dengan pengusaha sebanyak 6 kali. 15. Tercapai 900 ha, untuk tanaman tebu wijen dan tanaman obat. 16. Peningkatan jumlah koperasi tani dari 51 unit menjadi 125 unit. 17. Tercapai 900 ha, untuk tanaman tebu wijen dan tanaman obat. 18. Pelatihan bintek bagi aparat (191) dan petani (3640), 83 unit alat pengolah gula kelapa, pengupas kopi, sangrai kopi dll. 19. Identifikasi OPT seluas 173.145 ha. 20. Pemakaian APH antara 1500-2500 kg, pengamatan dini hama penyakit pada 29 komoditas di 31 kabupaten/kota. Upaya yang dilakukan hingga tahun 2007 untuk peningkatan pengembangan agribisnis: 1. Bantuan pinjaman langsung (BOLM)/Penguatan modal usaha (PMUK) 2003-2006 : Rp.11.946.868.000 ; Rp. 10.616.500.000 ; Rp.11.438.170.000 ; Rp. 14.021.318 ; Bank pemberi kredit BRI Rp.5.859.238.848 ; BCA Rp.1.099.700.000 ; Bank Jawa Tengah Rp.355.692.000. 2. Program meliputi : magang, petani/petugas, sarasehan, agribisnis, jumpa teknologi, fasilitasi asosiasi masyarakat agribisnis, pengarusutamaan gender,dll.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 148

3. 4. 5. 6. 7.

Fasilitas uji mutu produk pangan 70 komoditas selama 3 tahun. Optimalisasi kebun dinas dari 15 menjadi 24 lokasi kebun. terwujudnya pembinaan perbenihan, terbinanya dan pengawasan mutu benih 1 paket per tahun. Program per tahun : magang, sarasehan, koordinasi dan pembinaan kelompok usaha, adopsi teknologi. Terkahir ada pengarusutamaan gender. Berkembangnya teknologi pert organik dari 35 menjadi 55, ramah lingkungan dari 45 unit menjadi 57 unit, teknologi tepat guna dari 90 unit menjadi 120 unit, PHT SL dari 226 menjadi 256 unit, serta perbenihan dari 20 menjadi 35 unit.

8. 9.

Lancarnya akses pemasaran dan pengembangan usaha yang dapat dinikmati petani 15 meningkat menjadi 24, 1 paket setiap tahun. Program magang petani/petugas, sarasehan agribisnis, jumpa teknologi, fasilitas asosiasi masyarakat agribisnis.

10. Pencapaian luas bervariasi antara tanaman satu dan lainnya, tersedianya booklet agrowisata. 11. Selama 4 tahun telah dibuat 11 unit pengolahan limbah dan bantuan alat 69 unit. 12. Program fasilitasi dan pembinaan agribisnis di 5 kawasan. 13. Kelahiran melalui SPIB meningkat hingga 7,4 persen. Upaya yang dilakukan hingga tahun 2007 pengembangan ternak : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Pengembangan legume, rumput, silase, kebun bibit rumput, legume koleksi. Peningkatan pengetahuan peternak di bidang teknologi pakan, pengolahan hasil, teknologi alsin. Tersedianya bibit sapi perah, sapi potong, kambing, PE. Bibit sapi potong 120 ekor, sapi perah 100 ekor, kambing 120 ekor per tahun tercapai 100%. Pengobatan ternak sebesar 5000 dss, ternak kecil 300 dss, vaksin 12.144.700 dosis. Menurunnya kematian ternak besar 5%, ternak kecil 3%, unggas 10% Terkendalinya pemotongan ternak besar bertanduk betina sebanyak 12.986 ekor – 13.000 ekor Terbangunnya 2 laboratorium tahun 2003 dan 2004 optimalisasi 5 unit laboratorium. Kesvan 1 unit laboratorium koskeswan, 1 unit laboratorium kesmavet menghasilkan pemeriksaan 16.385 – 40.000 spesimen. Tersedianya container, cooltup dan N2 cair 1 paket. Gedung balai pelayanan terpadu 1 paket, LCD, Proyektor 1 unit, Ase 1 unit, komputer 1 unit, peralatan RT 4 unit, peralatan kantor 5 unit. Pemeriksaan specimen 23.127 – 40.000 ekor. Sampel daging, telur, susu 1100 – 2650, semen beku sapi 200.000 – 156.402 dosis. Kambing 4557 – 6909 dss. Tersedianya bibit sapi perah 10 ekor, kambing PE 150 ekor, ayam buras 6500 ekor, itik 2000 ekor, kelinci 320 ekor, dan tercapai 7 Satker.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 149

12. 13. 14. 15. 16. 17.

Sapi potong 18.000 dss, sapi perah 15.000 dss, kambing 5000 dss. Berkembangnya UPP dan budidaya ternak Target 7 Satker , sapi perah 10 ekor, sapi potong 136 ekor. Meningkatnya promosi produksi ternak dan hasil ternak target 4 tahun 24 kali permintaan 3%-5%. Berkembangnya kemitraan pola inti plasma tercapai 5-18 lokasi. Berkembangnya kawasan terpadu kambing PE (55 Blora, Wonogiri, Sragen, Kebumen), Sapi Pt (30 Banyumas, Kabupaten Semarang, Purbalingga) Berkembangnya agribisnis berbasis peternakan target per tahun 35 lokasi. Tercapai 15-23 inti plasma. Pemberdayaan ekonomi peternak di 39 lokasi di 20 kabupaten/kota. Pelatihan aparatur 11 kali per tahun dengan peserta 948 orang, SDM non aparatur 1000 orang dalam 25 angkatan per tahun.

Upaya yang dilakukan hingga tahun 2007 Penguatan dan Pengembangan perikanan tangkap : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Berkembangnya sarpras di 43 TPI, tersedianya SPDN : 15 unit, SPBN : 3 unit. Tercapai 453 perahu motor tempel (45 persen) Terdidiknya SDM nelayan tercapai 639 orang (128 persen) Berkembangnya teknologi dibidang perikanan 356 unit terdiri dari rumpon, palkah, RSW, underwater lamp. Pengendalian kerusakan ekosistem vital melalui restocking 4.240.700 ekor, di 24 lokasi. Tersedianya sarparas di 36 lokasi. Tercapai 8 kegiatan dengan restocking benih 2.2 juta ekor dan reservaat 24 lokasi. Uji terap 18 paket, demplot air tawar, payau, laut : 97 unit, paket usaha budidaya 685 paket. Pembangunan sarpras pembenihan 36 lokasi, pengadaan sarpras perikanan dengan 10 kegiatan.

10. Peningkatan kualitas SDM pengolahan perikanan 1.248 orang. 11. Terbangunnya laboratorium hama penyakit ikan 1 paket, tersedianya alat laboratorium ikan 1 unit, hatchery, obat-obatan klinik ikan. 12. Peningkatan kualitas SDM bidang budidaya 485 orang, tersedianya buku statistik perikanan tangkap setiap tahun. CD data base perikanan perencanaan program pengendalian perikanan tangkap setiap tahun. 13. Pameran produk 12 kali dan melalui PUSJUI 4 kali. 14. Peningkatan mutu dan nilai tambah produksi perikanan di 29 lokasi. 15. Diversifikasi pengolahan hasil perikanan di 10 lokasi, pasa higienis, cool room 1 unit. 16. Peningkatan mutu dan nilai tambah produksi perikanan di 29 lokasi. Upaya yang dilakukan hingga tahun 2007 Pemantapan Pra kondisi pengelolaan hutan : 1. Program SIG DAS Serayu, comal, jratun seluna dan solo. Program hanya tahun 2005-2006.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 150

Upaya yang dilakukan hingga tahun 2007 Optimalisasi pemanfaatan hutan : 1. Program pelatihan masyarakat 120 orang, penyusunan jalur tracking TN Merapi, demplot tanaman hias.

Upaya yang dilakukan hingga tahun 2007 Rehabilitasi hutan dan lahan : 1. 2. 3. Hutan lindung dieng, hutan lindung gunung lawu (program hanya tahun 2003 dan 2006) Penyusunan buku konsepsi industri hasil hutan, semiloka, pelatihan UKM IPHHK dan evaluasi IPHHK. Penertiban tata usaha pendapatan kehutanan, bintek pejabat P2PSDH 100 orang, pengendalian tata usaha hasil hutan 54 lokasi dan 4 pelabuhan. Upaya yang dilakukan hingga tahun 2007 Perlindungan hutan dan konservasi alam : 1. Frekuensi penertiban illegal logging.

Upaya yang dilakukan hingga tahun 2007 Pengembangan kelembagaan : 1. Pengendalian SKSHH di 28 kabupaten dan 20 KPH, bintek penerbit 50 SKSHH orang.

Upaya yang dilakukan hingga tahun 2007 Pengelolaan lingkungan alam : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Pengendalian pengusahaan hutan terndah 691,4 ha tertinggi 1.543 ha. Luas berfluktuasi pertahun, tetapi cenderung meningkat. Hutan rakyat pola kemitraan terendah 27.075 ha, tertinggi 60.118,8 ha ; terendah 7.010 batang, tertinggi 52.750 batang (hanya terlaksana 2 tahun), penilaian KPA, KK, LSM lingkungan 125 orang. Pertemuan dan penilaian KPA, KK dan LSM dan pramuka per tahun. Pembangunan penangkaran rusa 5 unit, pelatihan penangkaran satwa 30 orang. Penyusunan AMDAL, pemeliharaan flora dan fauna. Tata batas KR Baturaden. Penyelenggaraan forum perencanaan 4 kali per tahun. Penyuluhan kehuatanan antara 5-20 kali per tahun, publikasi 48 kali.

10. Pelatihan PHBM melibatkan 228 orang.

5.2. Posisi Capaian Hingga Tahun 2007
Meningkatnya nilai tukar petani (NTP) artinya perhatian lebih baik namun nilai tukar ini tidak diimbangi dengan nilai untuk memperoleh modal usaha, bibit dan pupuk. Penguasaan teknologi dan keterampilan petani masih rendah sehingga perlu diadakan peningkatan kualitas dan kuantitas pelatihan dari dinas pertanian.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 151

Pendistribusian pangan 40 persen daerah yang belum terlayani sehingga kerawanan pangan tidak terjadi serta perlunya kebijakan untuk pelatihan penanaman pangan yang tidak bersamaan sehingga masa panen terdistribusi merata dalam satu tahun. Ekonomi pedesaan melalui UEP (Usaha Ekonomi Produktif) menjadi pilar distribusi pangan utama dalam provinsi. Pemerintah provinsi perlu memfasilitasi dalam kelembagaan petani. Dalam pengembangan ternak, masih dilanjutnya dengan program bergulir pada petani dan bantuan bergulir ditekankan pada kelompok masyarakat. Pengembangan agribisnis peternakan di 12 lokasi yang belum tercapai. Pemanfaatan sumberdaya perikanan baik perikanan tangkap maupun budidaya perlu ditingkatkan sekaligus menjaga kelestarian sumber daya. Restocking benih di waduk dan sungai ditingkatkan 7 kegiatan terutama di waduk dan sungai besar. Selain itu hutan rakyat juga perlu dikembangkan, tanaman yang dipilih yang mempunyai nilai ekonomi tinggi dan umur yang relatif pendek. Masyarakat dilibatkan dalam pengelolaan hutan.

5.3. Permasalahan Pencapaian Sasaran
Permasalahan yang masih ditemukan dalam pencapaian sasaran pembangunan pertanian adalah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Nilai tukar petani tidak diimbangi dengan nilai untuk memperoleh modal usaha, bibit dan pupuk. Penguasaan teknologi dan keterampilan petani masih rendah. Kerawanan pangan belum tertangani di 12 kabupaten/kota artinya distribusi pangan belum merata. Pada daerah terpencil masyarakat masih tidak mampu mengakses pangan karena harganya terlalu mahal. Pengembangan tanaman kedelai untuk menjaga ketahanan pangan, untuk memenuhi permintaan domestic yang masih jauh dari produksi. Masih perlunya pengembangan pakan memanfaatkan lahan kritis dan perkebunan Belum tercapainya pengembangan agribisnis peternakan di 12 lokasi. Belum ada penanganan masalah hama.Belum terlaksana 34 TPI yang belum terlaksana. Kurangnya fasilitas pengeloalaan hutan.

VI. Tindak Lanjut
1. Diadakan peningkatan kualitas dan kuantitas pelatihan dari Dinas pertanisn.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 152

2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Perlunya kebijakan untuk pelatihan penanaman pangan yang tidak bersamaan sehingga masa panen terdistribusi merata dalam satu tahun. Perbaikan sistem hama dan penanganan pasca panen. Diperlukan pengamanan dan penyelamatan hasil produksi. Pemerintah provinsi perlu memfasilitasi dalam kelembagaan petani. Bintek perlu dikembangkan, perlu didukung teknologi tepat guna. Perlu difasilitasi penyediaan bibit unggul. Menyebarkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi ke seluruh daerah untuk mengurangi kesenjangan daerah untuk mengurangi kesenjangan antar wilayah. Diperbanyak jumlah ternak dab daerah pengembangannya.

10. Kesehatan ternak perlu dijaga khususnya untuk kasus flu burung. 11. Perlu pelatihan pemanfaatan ikan laut maupun melalui pengembangan produksi sehingga nilai jual akan meningkat, baik melalui diferensiasi produk dan kemasan. 12. Reboisasi hutan perlu dilakukan untuk menyelamatkan sumberdaya air dan mencegah erosi dan banjir. 13. Perlu fasilitasi dalam rangka pengelolaan hutan. 14. Penghijauan perlu melibatkan peran serta masyarakat. 15. Perlu kerjasama dengan lembaga terkait (Universitas).

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 153

BAB 4.6
Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah

I. Pengantar
Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan upaya yang penting untuk meningkatkan kesempatan kerja dan berusaha dalam rangka meningkatkan pendapatan masyarakat, sehingga pada gilirannya dapat mengurangi kemiskinan dan meningkatkan taraf hidup. Hal ini ditunjukkan oleh keberadaan UMKM dan koperasi yang telah mencerminkan wujud nyata kehidupan sosial dan ekonomi bagian terbesar dari masyarakat Provinsi Jawa Tengah. Peran UMKM yang besar ditunjukkan oleh kontribusinya terhadap produksi daerah, jumlah unit usaha dan pengusaha, serta penyerapan tenaga kerja.

II. Kondisi Awal RPJM-N di Tingkat Daerah 2.1. Rendahnya Produktivitas
Rendahnya produktivitas. Perkembangan yang meningkat dari segi kuantitas tersebut belum diimbangi dengan peningkatan kualitas UMKM yang memadai khususnya skala usaha mikro. Masalah yang masih dihadapi adalah rendahnya produktivitas, sehingga menimbulkan kesenjangan yang sangat lebar antar pelaku usaha kecil, menengah, dan besar. Atas dasar harga konstan tahun 1993, produktivitas per unit usaha selama periode 2005-2006 tidak menunjukkan perkembangan yang berarti, yaitu produktivitas usaha mikro dan kecil masih sekitar 6.461.428 unit sedangkan pada tahun 2006 jumlah usaha mikro non pertanian di Jawa Tengah 3.692.277 unit usaha, usaha mikro sektor pertanian sebanyak 4,2 juta unit usaha. Demikian pula dengan perkembangan jumlah tenaga kerja yang mengandalkan kehidupan ekonominya dari kegiatan UMKM belum menunjukkan perkembangan yang berarti yaitu tenaga kerja yang berhasil diserap pada tahun 20052006 industri non pertanian 77.158 orang, perdagangan 62.182 orang, aneka jasa 43.221 orang dan industri pertanian 31.420 orang pada tahun 2005, 53.582 orang pada tahun 2006 . Kinerja seperti itu berkaitan dengan: (a) rendahnya kualitas sumber daya manusia UMKM khususnya dalam bidang manajemen, organisasi, penguasaan teknologi, dan pemasaran; dan (b) rendahnya kompetensi kewirausahaan UMKM. Peningkatan produktivitas UMKM sangat diperlukan untuk mengatasi ketimpangan antarpelaku, antargolongan pendapatan dan antardaerah, termasuk penanggulangan kemiskinan, selain sekaligus mendorong peningkatan daya saing nasional.

154

2.2. Terbatasnya Akses UMKM Kepada Sumberdaya Produktif
Terbatasnya akses UMKM kepada sumberdaya produktif. Akses kepada sumber daya produktif terutama terhadap permodalan, teknologi, informasi dan pasar. Dalam hal pendanaan, produk jasa lembaga keuangan sebagian besar masih berupa kredit modal kerja, sedangkan untuk kredit investasi sangat terbatas. Bagi UMKM keadaan ini sulit untuk meningkatkan kapasitas usaha ataupun mengembangkan produk-produk yang bersaing. Disamping persyaratan pinjamannya juga tidak mudah dipenuhi, seperti jumlah jaminan meskipun usahanya layak, maka dunia perbankan yang merupakan sumber pendanaan terbesar masih memandang UMKM sebagai kegiatan yang beresiko tinggi. Bersamaan dengan itu, penguasaan teknologi, manajemen, informasi dan pasar masih jauh dari memadai dan relatif memerlukan biaya yang besar untuk dikelola secara mandiri oleh UMKM. Tahun 2003-2008 terfasilitasnya teknologi tepat guna bagi 150 UMKM. Sementara ketersediaan lembaga yang menyediakan jasa di bidang tersebut juga sangat terbatas dan tidak merata ke seluruh daerah. Peran masyarakat dan dunia usaha dalam pelayanan kepada UMKM juga belum berkembang, karena pelayanan kepada UMKM masih dipandang kurang menguntungkan.

2.3. Masih Rendahnya Kualitas Kelembagaan dan Organisasi Koperasi
Masih rendahnya kualitas kelembagaan dan organisasi koperasi. Sementara tahun 2006 jumlah koperasi mencapai 16.110 unit, dengan jumlah anggota sebanyak 4.219.573 orang dan pada tahun 2007 meningkat 16.541 unit dengan jumlah anggota 4.228.193 orang. Meskipun jumlahnya cukup besar dan terus meningkat, kinerja koperasi masih jauh dari yang diharapkan. Sebagai contoh, penataan dan penguatan kelembagaan UMKM 3050 unit sasaran tercapai hanya 15 paket 70 jenis, penyebaran informasi pengembangan UMKM 5 kegiatan dan organisasi pendukung pengembangan UKM 194 lembaga.

2.4. Tertinggalnya Kinerja Koperasi dan Kurang Baiknya Citra Koperasi
Tertinggalnya kinerja koperasi dan kurang baiknya citra koperasi. Kurangnya pemahaman tentang koperasi sebagai badan usaha yang memiliki struktur kelembagaan (struktur organisasi, struktur kekuasaan, dan struktur insentif) yang unik/khas dibandingkan badan usaha lainnya, serta kurang memasyarakatnya informasi tentang praktek-praktek berkoperasi yang benar (best practices) telah menimbulkan berbagai permasalahan mendasar yang menjadi kendala bagi kemajuan perkoperasian di Jawa Tengah. Pertama, banyak koperasi yang terbentuk tanpa didasari oleh adanya kebutuhan/ kepentingan ekonomi bersama dan prinsip kesukarelaan dari para anggotanya, sehingga kehilangan jati dirinya sebagai koperasi sejati yang otonom dan

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 155

swadaya/mandiri. Kedua, banyak koperasi yang tidak dikelola secara profesional dengan menggunakan teknologi dan kaidah ekonomi moderen sebagaimana layaknya sebuah badan usaha. Ketiga, masih terdapat kebijakan dan regulasi yang kurang mendukung kemajuan koperasi. Keempat, koperasi masih sering dijadikan alat oleh segelintir orang/kelompok, baik di luar maupun di dalam gerakan koperasi itu sendiri, untuk mewujudkan kepentingan pribadi atau golongannya yang tidak sejalan atau bahkan bertentangan dengan kepentingan anggota koperasi yang bersangkutan dan nilai-nilai luhur serta prinsip-prinsip koperasi. Sebagai akibatnya: (i) kinerja dan kontribusi koperasi dalam perekonomian relatif tertinggal dibandingkan badan usaha lainnya, dan (ii) citra koperasi dimata masyarakat kurang baik. Lebih lanjut, kondisi tersebut mengakibatkan terkikisnya kepercayaan, kepedulian dan dukungan masyarakat kepada koperasi.

2.5. Kurang Kondusifnya Iklim Usaha
Kurang kondusifnya iklim usaha. Koperasi dan UMKM pada umumnya juga masih menghadapi berbagai masalah yang terkait dengan iklim usaha yang kurang kondusif, di antaranya adalah: (a) ketidakpastian dan ketidakjelasan prosedur perizinan yang mengakibatkan besarnya biaya transaksi, panjangnya proses perijinan dan timbulnya berbagai pungutan tidak resmi; (b) praktik bisnis dan persaingan usaha yang tidak sehat; dan (c) lemahnya koordinasi lintas instansi dalam pemberdayaan koperasi dan UMKM. Sejumlah daerah telah mengidentifikasi peraturan-peraturan yang menghambat sekaligus berusaha mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan dan bahkan telah meningkatkan pelayanan kepada koperasi dan UMKM dengan mengembangkan pola pelayanan satu atap. Namun masih terdapat daerah lain yang memandang koperasi dan UMKM sebagai sumber pendapatan asli daerah dengan mengenakan pungutan-pungutan baru yang tidak perlu sehingga biaya usaha koperasi dan UMKM meningkat. Disamping itu kesadaran tentang hak atas kekayaan intelektual (HaKI) dan pengelolaan lingkungan masih belum berkembang. Oleh karena itu, aspek kelembagaan perlu menjadi perhatian yang sungguh-sungguh dalam rangka memperoleh daya jangkau hasil dan manfaat (outreach impact) yang semaksimal mungkin mengingat besarnya jumlah, keanekaragaman usaha dan tersebarnya UMKM.

III. Sasaran Yang Ingin Dicapai
Pengembangan diversifikasi usaha dan sistem distribusi koperasi dan UKM :

1. Terbangun dan mantapnya jaringan usaha distribusi koperasi, 41 paket kegiatan. 2. Terfasilitasinya outlet-outlet/warung masyarakat sebagai lembaga pemasaran senkuko, 450 outlet dan 50
senkuko.

3. Terfasilitasinya pengembangan UKM dibidang agribisnis, 450 unit koperasi 4. Fasilitasi peningkatan dan daya beli petani, 525 koperasi. Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 156

5. Perkuatan usaha koperasi, 560 koperasi. 6. Fasilitasi pengembangan sentra dan klaster UKM, 535 sentra.
Pengembangan struktur permodalan : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Memperkuat kelambagaan KSP/USP 20.750 unit KSP/USP. Memperkuat struktur permodalan KSP/USP, 208 unit KSP/USP. Membentuk jaringan usaha KSP/USP dan lembaga lainnya 6.879 anggota. Pengawasan dan pengendalian KSP/USP, 1.117 unit, 13.490 anggota. Fasilitasi pembiayaan, 350 unit KSP/USP. Fasilitasi pengembangan UKM, sentra, LPB/BDS dan MAP 60 kegiatan.

Pengembangan SDM kelembagaan usaha kecil mikro, koperasi dan UKM 1. 2. 3. 4. Penataan dan penguatan kelambagaan UMKM 3.050 unit. Peningkatan kualitas SDM UMKM 8.300 orang. Penyebaran informasi pengembangan UMKM 5 kegiatan. Memfasilitasi lembaga/organisasi pendukung pengembangan UMKM 194 lembaga.

Pengembangan Usaha kecil mikro, koperasi dan UKM berorientasi IPTEK 1. Fasilitasi pemanfaatan teknologi tepat guna bagi UMKM, 150 unit UMKM.

Pengembangan Usaha kecil mikro, koperasi dan UKM berorientasi komoditi unggulan daerah 1. Fasilitasi pengembangan, komoditi unggulan Jawa Tengah 100 jenis. 2. Misi dagang dan pameran 38 kali. Pengembangan pelaksanaan kemitraan usaha 1. 2. 3. Pengembangan pelaksanaan pola kemitraan, 15 pola kemitraan. Fasilitasi pengembangan UMKM dalam pengelolaan pasar tradisional, 15 paket kegiatan. Fasilitasi pengembangan FP ESD Jawa Tengah 60 kegiatan.

IV. Arah Kebijakan
Dalam rangka mewujudkan sasaran tersebut, pemberdayaan koperasi dan UMKM akan dilaksanakan dengan arah kebijakan sebagai berikut: 1. 2. Mengembanngkan Diversifikasi usaha dan sistim distribusi. Meningkatkan revitalisasi kelembagaan Koperasi dan UKM.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 157

3. 4. 5. 6. 7.

Menguatkan struktur permodalan. Menguatkan usaha inti melalui optimalisasi sumber daya alam dan produk unggulan daerah. Mengembangkan kualitas SDM pengelola Koperasi dan UKM yang berorientasi IPTEK. Meningkatkan daya saing produk unggulan daerah melalui Promosi dan kerja sama dalam negeri maupun luar negeri. Mengembangkan Kemitraan Usaha antara lain melalui optimalisasi operasional Forum Pengembangan Ekonomi dan Sumber Daya (FPESD) Jawa Tengah.

V. Pencapaian RPJM-N di Tingkat Daerah 2005-2007 5.1. Upaya Yang Dilakukan Hingga Tahun 2007
Pengembangan diversifikasi usaha dan sistem distribusi koperasi dan UKM : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Terbangun dan mantapnya jaringan usaha distribusi koperasi, 41 paket kegiatan, program tercapai 210 koperasi. Terfasilitasinya outlet-outlet warung masyarakat sebagai lembaga pemasaran senkuko tercapai 411 outlet dan 39 senkuko. Terfasilitasinya pengembangan UMKM dibidang agribisnis, 8 kegiatan, program tercapai 380 UMKM. Fasilitasi peningkatan dan daya beli 360 koperasi. Perkuatan usaha koperasi 250 koperasi. Fasilitasi pengembangan sentra dan klaster UMKM 334 koperasi.

Pengembangan struktur permodalan : 1. 2. 3. 4. 5. Memperkuat kelembagaan KSP/USP 9.178 unit. Memperkuat struktur permodalan KSP/USP 352 unit KSP/USP. Pengawasan dan pengendalian KSP/USP 3.990 unit. Fasilitasi pembbiayaan 1.375 unit KSP/USP. Fasilitasi pengembangan UMKM, sentra, LPB/BDS dan MAP 10 kegiatan per tahun.

Pengembangan SDM kelembagaan usaha kecil mikro, koperasi dan UKM : 1. 2. 3. 4. Penataan dan penguatan kelembagaan UMKM tercapai 15 paket. Peningkatan kualitas SDM UMKM 70 jenis. Penyebaran informasi pengembangan UMKM 3 pola per tahun. Memfasilitasi lembaga/organisasi pendukung pengembangan UMKM 157 lembaga.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 158

Pengembangan Usaha kecil mikro, koperasi dan UKM berorientasi IPTEK 1. Fasilitasi pemanfaatan teknologi tepat guna bagi 59 sentra.

Pengembangan Usaha kecil mikro, koperasi dan UKM berorientasi komoditi unggulan daerah 1. Fasilitasi pengembangan, komoditi unggulan Jawa Tengah tercapai 70 jenis.

Pengembangan pelaksanaan kemitraan usaha 1. 2. Pengembangan pelaksanaan pola kemitraan tercapai 12 pola kemitraan. Fasilitasi pengembangan FP ESD Jawa Tengah tercapai 30 kegiatan.

5.2. Posisi Capaian Hingga Tahun 2007
Masih perlunya pemberian bimbingan, kemudahan dan pembinaan bagi UMKM yang melaksanakan kemitraan usaha. Selain itu perlunya bantuan modal kepada koperasi dan kebijakan perbankan yang mendukung, khususnya koperasi yang berbasis pertanian. Penerapan sistem pemerintahan daerah yang baik, efektif, transparan, partisipatif dan dapat dipertanggungjawabkan kebijakan ekonomi daerah yang terbuka yang terdapat menjamin mobilitas sumber daya secara fleksibel dan efisien, penyederhanaan birokrasi dan sistem perijinan. Dalam pengembangan UMKM yang berorientasi pada IPTEK masih 91 sentra lagi yang perlu dikembangkan.

5.3. Permasalahan Pencapaian Sasaran
Permasalahan dalam pencapaian sasaran yang masih dimukan dalam pemberdayaan koperasi dan UMKM adalah:

1. Kurangnya Pemberian bimbingan bagi UMKM yang melaksanakan kemitraan usaha. 2. Kurangnya bantuan modal kepada koperasi. 3. Kurangnya pengembangan IPTEK dalam pengembangan UMKM. 4. Kurangnya kapasitas kelembagaan dan kualitas layanan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) dan koperasi
simpan pinjam/usaha simpan pinjam (KSP/USP) antara lain melalui pemberian kepastian status badan hukum, kemudahan dalam perijinan, insentif untuk pembentukan sistem jaringan antar LKM dan antara LKM dan Bank, serta dukungan terhadap peningkatan kualitas dan akreditasi KSP/USP/LKM sekunder.

5. Kurangnya pengembangan sistem pendidikan, pelatihan dan penyuluhan perkoperasian bagi anggota
dan pengelola koperasi, calon anggota dan kader koperasi, terutama untuk menanamkan nilai-nilai dasar

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 159

dan prinsip-prinsip koperasi dalam kehidupan koperasi, yang mengatur secara jelas adanya pembagian tugas dan tanggung jawab antara Pemerintah dan gerakan koperasi.

VI. Tindak Lanjut
Upaya yang dilakukan untuk mencapai sasaranpemberdayaan koperasi dan UMKM adalah: 1. 2. 3. Pemberian bimbingan, kemudahan dan pembinaan bagi UMKM yang melaksanakan kemitraan usaha. Perlunya bantuan modal kepada koperasi dan kebijakan perbankan yang mendukung, khususnya koperasi yang berbasis pertanian. Penerapan sistem pemerintahan daerah yang baik, efektif, transparan, partisipatif dan dapat dipertanggungjawabkan kebijakan ekonomi daerah yang terbuka yang dapat menjamin mobilitas sumber daya secara fleksibel dan efisien, penyederhanaan birokrasi dan sistem perijinan. 4. 5. Pengembangan IPTEK pada 91 UKM. Pengembangan pelayanan perijinan usaha yang mudah, murah dan cepat termasuk melalui perijinan satu atap bagi UMKM, pengembangan unit penanganan pengaduan serta penyediaan jasa advokasi/mediasi yang berkelanjutan bagi UMKM. 6. Peningkatan peran serta dunia usaha/masyarakat sebagai penyedia jasa layanan teknologi, manajemen, pemasaran, informasi dan konsultan usaha melalui penyediaan sistem insentif, kemudahan usaha serta peningkatan kapasitas pelayanannya. 7. Peningkatan kapasitas kelembagaan dan kualitas layanan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) dan koperasi simpan pinjam/usaha simpan pinjam (KSP/USP) antara lain melalui pemberian kepastian status badan hukum, kemudahan dalam perijinan, insentif untuk pembentukan sistem jaringan antar LKM dan antara LKM dan Bank, serta dukungan terhadap peningkatan kualitas dan akreditasi KSP/USP/LKM sekunder. 8. Fasilitasi dan pemberian dukungan untuk pembentukan wadah organisasi bersama di antara usaha mikro, termasuk pedagang kaki lima, baik dalam bentuk koperasi maupun asosiasi usaha lainnya dalam rangka meningkatkan posisi tawar dan efisiensi usaha. 9. Penyuluhan perkoperasian kepada masyarakat luas yang disertai dengan pemasyarakatan contohcontoh koperasi sukses yang dikelola sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip koperasi. 10. Pengembangan sistem pendidikan, pelatihan dan penyuluhan perkoperasian bagi anggota dan pengelola koperasi, calon anggota dan kader koperasi, terutama untuk menanamkan nilai-nilai dasar dan prinsip-prinsip koperasi dalam kehidupan koperasi, yang mengatur secara jelas adanya pembagian tugas dan tanggung jawab antara Pemerintah dan gerakan koperasi

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 160

11. Peningkatan kualitas penyelenggaraan koordinasi dalam perencanaan, pengendalian, monitoring dan evaluasi pelaksanaan kebijakan dan program pembangunan koperasi dengan partisipasi aktif para pelaku dan instansi terkait.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 161

BAB 4.7
Peningkatan Kemampuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

I. Pengantar
Kondisi saat ini di Jawa Tengah, pembangunan bidang Ilmu pengetahuan dan teknologi pada dasarnya memiliki dua dimensi yang saling terkait, pertama IPTEK sebagai sarana dalam mempercepat tujuan pembangunan daerah secara berkelanjutan serta sebagai sasaran pembangunan guna meningkatkan kemandirian penguasaan IPTEK. Perkembangan hasil-hasil penelitian bisa didayagunakan dalam rangka mendukung pemberdayaan ekonomi, industri dan dunia usaha. Namun hal tersebut belum sesuai dengan yang diharapkan.

II. Kondisi Awal RPJMN 2004-2009 di Tingkat Daerah
Pembangunan bidang IPTEK di tingkat daerah masih dihadapkan pada berbagai permasalahan antara lain: (1) Hasil penelitian dan pengembangan IPTEK belum dioptimalkan sebagai dasar dalam menentukan kebijakan oleh Pemerintah Daerah, Dunia usaha dan stekholders lainnya; (2) Kegiatan lembaga-lembaga penelitian/para peneliti masih merupakan kegiatan penelitian untuk memenuhi agenda dan kepentingan internal masing-masing; (3) Kerjasama jaringan penelitian antar lembaga-lembaga penelitian belum efektif; (4) Kualitas hasil penelitian dan pengembangan belum berdaya saing; (5) Pengembangan IPTEK belum tersosialisasi dan terfokus; (6) Masih banyak anggota masyarakat IPTEK dan dunia usaha belum sadar akan pentingnya HaKI.

III. Sasaran yang Ingin Dicapai
Sasaran peningkatan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi di Provinsi Jawa Tengah adalah: 1. 2. 3. 4. 5. Meningkatnya kualitas hasil penelitian. Meningkatnya kegiatan Iptek dan Litbang guna mendukung pengembangan produksi dan perekonomian daerah serta pelayanan kepada masyarakat. Meningkatnya pemanfaatan hasil penelitian untuk perencanaan dan aplikasi kegiatan dan lapangan. Terlaksananya kegiatan uji coba/demplot pengembangan Iptek dan aplikasi teknologi/inovasi dimasyarakat. Meningkatnya koordinasi dan sinkronisasi kegiatan

162

6. 7. 8. 9.

Berkembangnya system informasi dan manajemen Iptek. Tersedianya layanan teknologi untuk masyarakat yang memerlukan. Tersosialisasinya hasil kegiatan Iptek dan Litbang. Meningkatnya kemampuan jaringan Iptek dan penelitian

10. Meningkatnya fasilitas jaringan kerjasama dan kualitas kegiatan 11. Meningkatnya SDM Iptek dan Litbang baik aparatur maupun non aparatur. 12. Meningkatnyakualitas dan kuantitas sarana dan prasaana Litbang Iptek. 13. Meningkatnyakualitas metode dan sitem pengembangan 14. Meningkatnya kemampuan kelembagaan dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan Iptek dan Litbang didaerah. 15. Meningkatnya pemahaman masyarakat tentang HaKI. 16. Semakin mantapnya kelembagan pengelola HaKI. 17. Meningkatnya administrasi dan manajemen HaKI.

IV. Arah Kebijakan
Kebijakan pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi di Jawa Tengah diarahkan pada: 1. 2. 3. 4. 5. Melakukan sinkronisasi koordinasi dan kerjasama antar peneliti, serta antara peneliti dengan pemakai hasil penelitian; Meningkatkan investasi dan kerjasama antar lembaga penelitian sebagai upaya pendayagunaan produk penelitian dan pengembangan IPTEK; Mendayagunaan Jaringan penelitian Melalui forum komunikasi dan koordinasi dalam rangka kerjasama informasi hasil penelitian; Mendorong terbentuknya kemitraan sinergi antar pelaku IPTEK dan dunia Usaha; Memfasilitasi penelitian yang berdampak langsung pada penanganan permasalahan sosial ekonomi masyarakat.

V. Pencapaian RPJMN di Daerah (2005-2007) 5.1. Upaya yang Dilakukan HIngga Tahun 2007
Program pembangunan IPTEK antara lain:

1.

Pengembangan Sumberdaya IPTEK Program ini untuk memungkinkan terjadinya penyuburan dalam usaha meningkatkan penguasaan penelitian dasar dan penelitian terapan, pengembangan rekayasa dan pengembangan teknik budidaya. Upaya yang dilakukan sampai tahun 2007 adalah:

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 163

a. b. c. d. e. 2.

Tersedianya website www.balitbang-Jawa Tengah.go.id dan jurnla litbang serta database berbagai hasil penelitian. Peningkatan SDM dibidang IPTEK danLitbang, melalui workshop,seminar, diklat dan kursus. Sosialisasi hasil kegiatan IPTEK dan Litbang, terlaksana dengan 2 kali workshop dan presentasi judul makalah yang cenderung menurun dari 108 judul menjadi 61 judul. Terbentuknya jaringan antar lembaga penelitian dan diadakan rakor jarlit setiap tahun untuk meningkatkan hubungan dengan berbagai lembaga penelitian. Meningkatnya kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana litbang Iptek, berupa computer, printer, scanner, laptop, LCD, genset, alat studio serta prasarana fisik/gedung.

Penelitian dan Pengembangan Program ini untuk mendorong penyediaan produk IPTEK yang berkualitas baik dari segi lingkungan strategis, ilmiah maupun tingkat penerapannya ke dalam pengambilan keputusan dan kehidupan dunia usaha. Upaya yang dilakukan sampai tahun 2007 adalah:

a. Dihasilkan RUD guna mendukung pengembangan pariwisata, pertanian, dan industry. Terdapat 6
riset unggulan daerah (RUD) tahun 2005 dan 19 RUD pada tahun2006.

b. Penelitian kawasan bahari terpadu selatan-selatan di Purworejo dimanfaatkan pemerintah pusat
untuk model di daerah lain.

c. Pemanfaatan hasil penelitian oleh pemerintah pusat dan daerah dimulai tahun 2005-2006 (Moda
angkutan masal di Solo dan Semarang)

d. Terlaksananya uji coba/demplot Budidaya kepiting dan udang. 3.
Pengembangan sistem informasi manajemen IPTEK Program ini untuk meningkatkan interaksi yang tinggi antara agenda riset dari lembaga penelitian dan pengembangan dengan dunia usaha. Upaya yang dilakukan sampai tahun 2007 adalah:

a. b. 4.

Meningkatnya koordinasi dan sinkronisasi kegiatan yang berupa Ratek, diikuti oleh satuan kerja provinsi, Litbang kabupaten/kota se Jawa Tengah. Tersedianya website www.balitbang-Jawa Tengah.go.id dan jurnal litbang.

Program Perlindungan HaKI Program ini untuk memfasilitasi kepada para penemu teknologi dan inovasi untuk memperoleh perlindungan hukum berupa hak atas kekayaan intelektual atas hasil penemuan dan inovasinya. Upaya yang dilakukan sampai tahun 2007 adalah: Terlaksananya sosialisasi HaKI bagi pengelola HaKI di Perguruan Tinggi dan 3 bakorlin wilayah Jawa Tengah.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 164

5.2. Posisi Capaian hingga Tahun 2007
Jumlah dan jenis penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi hasil temuan dari litbang daerah ada beberapa yang hal yang dapat dicapai dalam bidang litbang tahun 2007: 1. Pengembangan kegiatan penelitian dan pengembangan peserta desiminasinya 2. Meningkatnya jumlah publikasi ilmiah 3. Pengembangan teknologi tepat guna 4. Untuk pengembangan UKM 5. Penyusunan analis pola pengelolaan sumber daya air pada waduk Kedungombo, penyusunan data dan informasi untuk pengembangan kluster di Jawa Tengah. Capaian bentuk dan kerjasama dalam pemanfaatan hasil litbang dari tahun 2003-2008 adalah adanya pengembangan IPTEK dan penelitian berbagai bidang dan sektor telah menunjukan beberapa hasil yang dapat dimanfaatkan tidak saja oleh Pemda, tapi juga pemerintah pusat sebagai model untuk daerah lain di Indonesia. Koordinasi kegiatan Litbang antar satuan kerja juga sangat baik diteruskan sehingga diharapkan berbagai kegiatan akan dapat lebih bersinergi dan saling menunjang. Akan tetapi litbang juga perlu lebih meningkatkan kerja sama dengan lembaga perguruan tinggi yang memilki berbagai pusat studi sehingga dapat lebih efektif menghasilkan kajian yang bermanfaat. Capaian inovasi dalam pengembangan iptek pada tingkat daerah dari tahun 2003-2008 adalah adanya Pembangunan IPTEK pada kurun waktu 5 tahun terakhir, pengembangan IPTEK mengalami kemajuan yang cukup signifikan. Hal ini diukung dengan adanya telekomunikasi dan informatika yang mudah diakses oleh masyarakat. pada tahun 2000 telah terbangun 113 unit SIMDA/website dan meningkat pada tahun 2005 menjadi 128 unit SIMDA/website.Tetapi informasi manajemen IPTEK melalui sarana website Balitbang cenderung stagnan untuk itu update data dan informais website perlu lebih sering dilakukan. Sedangkan posisi capaian Program pembangunan IPTEK antara lain: 1. Pengembangan Sumberdaya IPTEK Keberadaan website akan dapat bermanfaat jika dikelola dengan baik dan data yang ada didalamnya selalu update. Untuk itu pembaharuan informasi dalam website perlu dilakukan secara rutin, untuk itu perlu dikelola oleh tenaga yang berkompeten dibidang teknologi informasi. Dengan SDM yang semakin berkualitas, maka berbagai hasil kajian dan penelitian akan semakin berkualitas pula sehingga akan lebih memiliki daya saing. Kerjasama dengan berbagai lembaga penelitian yang ada diperguruan tinggi juga dapat menjadi upaya untuk lebih meningkatkan kualitas hasil

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 165

penelitian. Sosialisai juga diperlukan sehngga masyarakat luas mengetahui berbagai produk yang dihasilkan Litbang. 2. Penelitian dan Pengembangan Pengembangan IPTEK dan penelitian berbagai bidang dan sektor telah menunjukkan beberapa hasil yang dapat dimanfaatkan tidak saja oleh Pemda, tapi juga oleh pemerintah pusat sebagai model untuk daerah lain di Indonesia. Tindak lanjut untuk program ini adalah Penyebarluasan Teknologi Tepat Guna ke seluruh masyarakat di daerah melalui system Training of Trainer (TOT). 3. Pengembangan sistem informasi manajemen IPTEK Dengan adanya koordinasi kegiatan litbang antar satuan kerja, maka diharapkan berbagai kegiatan akan dapat lebih sinergi dan saling menunjang. Keberadaan website selain dapat berfungsi sebagai jembatan komunikasi dan koordinasi, juga dapat dimanfaatkan masyarakat mengetahui berbagai produk yang dihasilkan litbang. Selain itu litbang juga perlu lebih mengintensifkan kerjasama dengan lembagaperguruan tinggi yang memiliki berbagai pusat studi sehingga dapat lebih efektif menghasilkan kejian yang bermanfaat. 4. Program Perlindungan HaKI Terlaksananya sosialisai HAKI bagi pengelola HaKI di PT bermanfaat agar kekayaan intelektual yang dihasilkan di perguruan tingggi dapat diakui dan dilindungi secara hukum. Sosialisaidi Bakorlin wilayah juga langkah yang efektif sehingga kesadaran HaKI dapat merambah ke segenap lapisan masyarakat di daerah.

5.3. Permasalahan Pencapaian Sasaran
Permasalahan pencapaian sasaran peningkatan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah data website jarang di update sehiingga perlu dilakukan update data secara rutin oleh tenaga yang berkompetan.

VI. Tindak Lanjut
Adapun tindak lanjut yang dilakukan untuk mencapai sasaran peningkatan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi, adalah: 1. 2. Penyebaran Teknologi Tepat Guna ke seluruh masyarakat didaerah melalui sistem Training of Trainer (TOT). Tindak lanjut dalam pengembangan sumberdaya Iptek, untuk pembaharuan informasi dalam website perlu dilakukan secara rutin untuk itu perlu dikelola oleh tenaga yang berkompeten dibidang teknologi informasi.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 166

3. 4. 5. 6. 7.

Perlu adanya peningkatan penelitian berbagia bidang bekerja sama dengan kalangan perguruan tinggi sesuai dengn bidang kajian yang diperlukan. Peningkatan sarana dan prasarana pendukung program riset. Pengembagan riset yang bermanfaat bagi pemberdayaan masyarakat, pengentasan kemiskinan dan pengurangan angka pengangguran. Pemberantasan pembajakan produk yang dilindungi HaKI. Sosialisasi dan menggunakan produk software dan program computer orisinal pada sarana dan prasarana yang ada di instansi pemerintah.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 167

BAB 4.8
Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan

I. Pengantar
Meningkatnya tingkat pengangguran terbuka yang mencapai 9,5 persen berpotensi menimbulkan berbagai permasalahan sosial. Kerja merupakan fitrah manusia yang asasi. Ekspresi diri diwujud nyatakan dalam bekerja. Apabila dicermati pergolakan dan ketidakamanan yang timbul di berbagai daerah dan tempat sering bersumber dari sulitnya mencari kerja bagi suatu kehidupan yang layak. Karena itu Pemerintah menempatkan penciptaan kesempatan kerja sebagai salah satu sasaran pokok dalam Agenda Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat yang dijabarkan ke dalam berbagai prioritas pembangunan. Menurunkan tingkat pengangguran terbuka dengan menciptakan lapangan pekerjaan produktif mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari Pemerintah. Jumlah pengangguran terbuka Jawa Tengah pada tahun 2006 sebanyak 1.192.965 orang atau sebesar 7,01% dari total angkatan kerja di Jawa Tengah dan pada tahun 2007 sebesar 1.291.591 orang atau 7,40%. Meningkatnya jumlah pengangguran terbuka ini antara lain disebabkan pertumbuhan angkatan kerja yang tinggi dan rendahnya produktifitas angkatan kerja, dimana Jawa Tengah menempati urutan ke-26 dari dari 33 provinsi di Indonesia dengan angka pertumbuhan produktifitas sebesar 1,05%. (SIPD 2008)

II. Kondisi Awal RPJM-N di Tingkat Daerah
Berdasarkan Susenas Tahun 2002, kondisi ketenagakerjaan di Jawa Tengah tercermin dengan jumlah penduduk usia kerja (15 tahun ke atas) sebanyak 22.672.568 orang, terdiri dari angkatan kerja 15.587.458 orang (68,75 persen) dan bukan angkatan kerja 7.085.120 orang (31,25 persen). Jumlah penduduk yang bekerja sebanyak 14.751.088 orang. Dari jumlah tersebut terdapat pekerja anak (usia 10-14 tahun) sebanyak 118.837 anak. Dilihat dari lapangan pekerjaan, maka sektor pertanian masih cukup besar dalam penyerapan tenaga kerja yaitu tercatat 41.90 persen. Kemudian disusul sektor perdagangan (19,35 persen), industri pengolahan (17,36 persen) dan jasa-jasa (10,66 persen). Selebihnya bekerja di sektor konstruksi, listrik, gas dan air, pertambangan dan penggalian, angkutan, komunikasi dan keuangan (10,72 persen). Provinsi Jawa Tengah jumlah angkatan kerja pada tahun 2005 adalah 17.431.600, pada tahun 2006 adalah 17.020.004 dan pada tahun 2007 adalah 17.737.595 orang. Jumlah pengangguran pada tahun 2005 adalah 5.278.513 orang dan menurun menjadi 1.438.888 orang di tahun 2007. Jika di perbandingkan selama kurun

168

waktu 2002-2006, jumlah penganggur nampak fluktuatif yaitu 984.234 orang (2002), 912.513 orang (2003), 1.044.573 orang (2004), 978.952 orang (2005), dan 1.197.244 (2006). Jumlah penduduk yang termasuk setengah penganggur ( , 35 jam kerja perminggu) cenderung mengalami penurunan walaupun pernah meningkat pada tahun 2004, yaitu: 5.350.413 orang (2002), 5.238.231 orang (2003), 5.394.865 orang (2005), dan 5.062.062 orang (2006). (Lampiran 8 kelompok data, SIPD Provinsi Jawa Tengah) Jumlah penganggur (pencari kerja) di Jawa Tengah tercatat sebanyak 984.234 orang dan setengah penganggur berjumlah 5.350.413 orang. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pada tahun 2002 tercatat sebesar 60,60 persen atau mengalami penurunan dibanding tahun 2001 yang tercatat sebesar 61,61 persen. Sedangkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat sebesar 6,25 persen atau mengalami kenaikan yang cukup berarti dibandingkan tahun 2001 yang tercatat sebesar 3,70 persen. Dilihat dari jam kerja selama seminggu, terlihat rata-rata jam kerja seminggu adalah 38,62 jam dengan rincian laki-laki 40,54 jam dan perempuan 35,69 jam. Kualitas tenaga kerja yang diukur dengan tingkat pendidikan yang ditamatkan sebagian besar masih relatif rendah. Hal ini tercermin dari rendahnya persentase tenaga kerja yang telah menamatkan pendidikan tertinggi. Pada tahun 2002 tenaga kerja yang tamat SD ke bawah sebesar 70,35 persen, SLTP 14,83 persen, SLTA 11,52 persen dan Perguruan Tinggi 3,30 persen. Tingkat upah pekerja pada tahun 2006 adalah UMK tertinggi kabupaten/kota di Semarang Rp.586.000,- dan yang terendah adalah Rp.450.000 perkapita/bulan atau 98,47 persen KHM, sedangkan UMK pada tahun 2007 tertinggi adalah Rp.650.000,- perkapita/bulan atau 83,67 persen KHL/86,42 persen. Selain itu, jumlah UMR provinsi Jawa Tengah pada tahun 2006 adalah Rp 422.575,68 meningkat pada tahun 2006 menjadi Rp 491.552,70 dengan rata-rata kebutuhan minimum pada tahun 2006 adalah Rp603.814,57,- sedangkan pada tahun 2005 rata-rata kebutuhan hidup minimum Rp 429.157,68,-. Disisi lain masih rendahnya tingkat pendidikan dan kemampuan pekerja menjadi masalah dalam memahami peraturan, hak dan kewajibannya sebagai pekerja. Serikat Pekerja, Lembaga Bipartit dan Tripartit belum berfungsi sesuai dengan harapan untuk menampung dan memperjuangkan aspirasi pekerja, meningkatkan kesejahteraan dan perlindungan pekerja. Hubungan industrial menggambarkan hubungan antara pengusaha, pekerja dan pemerintah dirasakan belum harmonis. Hal ini terlihat dari banyaknya kasus Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan Perselisihan Hubungan Industrial (PHI) yang terjadi di Jawa Tengah pada tahun 2006 tercatat 3.562 kasus PHK yang melibatkan 37.483 orang tenaga kerja dan 328 kasus PHI yang melibatkan 31.598 orang tenaga kerja. Disamping itu terjadi kasus pemogokan sebanyak 256 kasus

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 169

pemogokan tenaga kerja. Dari total kasus tersebut, jam kerja yang hilang diperkirakan sebanyak 1.554.860 jam. Pada tahun 2005 dan 2006 terjadi peningkatan jumlah TKI ke luar negeri dari 6.582 orang meningkat menjadi 16.583 pada tahun 2006.Keterbatasan pendidikan, ketrampilan dan informasi menyebabkan lemahnya daya saing Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dibandingkan dengan tenaga kerja yang berasal dari negara lain. Disamping itu kurangnya pemahaman prosedur pengiriman tenaga kerja, menyebabkan sebagian angkatan kerja cenderung memilih cara ilegal. Kondisi lain adalah informasi pasar kerja yang belum menyebar secara luas menyebabkan banyak angkatan kerja yang belum mengetahui kebutuhan pasar kerja. Salah satu bentuk penyediaan lapangan kerja adalah berupa transmigrasi. Jumlah transmigrasi Jawa Tengah selama kurun waktu 2002-2007 cenderung mengalami penurunan. Pada tahun 2003 dari target 1.249 KK dapat terealisasi 1.087 KK dengan jumlah jiwa 3.989 orang, sementara pada thun 2007 dari target 856 KK dapat terealisasi 581 KK dengan jumlah jiwa 2.158 orang. Jika dilihat berdasarkan daerah tujuan transmigrasi, provinsi Kalimantan Timur adalah daerah yang paling banyak dituju, berikutnya provinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Provinsi lain daerah tujuan transmigrasi adalah provinsi Nangroe Aceh Darussalam, Bangka Belitung, Sumatera Barat, Bengkulu, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Maluku Utara dan Gorontalo. Permasalahan yang terjadi pada pembangunan ketenagakerjaan antara lain adalah: (1) Banyaknya jumlah penganggur dan setengah penganggur. (2) Kesempatan kerja tidak sebanding dengan pertambahan angkatan kerja. (3) Belum mantapnya Perencanaan Tenaga Kerja Daerah (PTKD) dan belum optimalnya informasi pasar kerja. (4) Belum optimalnya pelayanan penempatan tenaga kerja ke luar negeri. (5) Kurangnya minat bertransmigrasi dan belum optimalnya penanganan Pengungsi (Eksodan). (6) Rendahnya tingkat pendidikan / ketrampilan tenaga kerja dan kegiatan pelatihan belum sepenuhnya berorientasi pada kebutuhan pasar. (7) Kurangnya sumber daya pelatihan pada Balai Latihan Kerja Pemerintah maupun Swasta. (8) Relatif rendahnya kesejahteraan tenaga kerja. (9) Kurangnya perlindungan tenaga kerja. (10) Belum harmonisnya hubungan industrial dan masih banyaknya kasus PHI / PHK. (11) Masih kurangnya peran dan fungsi Lembaga Ketenagakerjaan.

III. Sasaran yang Akan Dicapai
Sasaran yang akan dicapai dalam rangka peningkatan iklim ketenagakerjaan di Jawa Tengah adalah: 1. Mengurangi jumlah penganggur dan setengah penganggur melalui peningkatan kualitas, kemandirian, dan day saing.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 170

2. 3.

Meningkatnya kesempatan kerja di dalam dan luar negeri serta kesempatan berusaha sektor informal Mantapnya Perencanaan Tenaga Kerja Daerah (PTKD) dan meningkatnya kses masyarakat untuk memasuki pasar kerja dengan mengemmbangkan pusat informasi pasar kerja melalui Sistem Informasi Nakertrans.

4. 5. 6. 7. 8. 9.

Mengurangi kasus-kasus penertiban TKI Meningkatnya kualitas dan kuantitas program transmigrasi Meningkatnya kapasitas pengelolaan administrasi kependudukan Memantapkan system administrasi kependudukan Meningkatnya kemandirian dan daya saing tenaga kerja untuk memasuki pasar kerja Meningkatnya kualitas dan kemadirian lembaga pelatihan tenaga kerja dalam rangka memenuhi kebutuhan pasar kerja dan lapangan kerja.

10. Meningkatnya kesejahteraan tenaga kerja. 11. Meningkatnya perlindungan tenaga kerja 12. Terwujudnya hubungan industrial yang harmonis dan berkurangnya kasus PHI dan PHK 13. Meningkatnya peran dan fungsi lembaga-lembaga ketenagakerjaan

IV. Arah Kebijakan
Kebijakan, pembangunan ketenagakerjaan adalah sebagai berikut : (1) Pemberdayaan dan peningkatan kualitas tenaga kerja produktif bagi penganggur dan setengah penganggur baik di perkotaan maupun di perdesaan serta pekerja sektor informal. (2) Perluasan dan penciptaan lapangan kerja untuk mengurangi jumlah penganggur. (3) Penyempurnaan prosedur pengiriman dan penempatan TKI ke luar negeri serta peningkatan Informasi Pasar Kerja (IPK). (4) Pengembangan bursa tenaga kerja terpadu bagi tenaga kerja terlatih untuk memenuhi permintaan dalam negeri maupun luar negeri. (5) Pemberdayaan, pendayagunaan dan perlindungan tenaga kerja, termasuk didalamnya pekerja anak, penyandang cacat, perempuan dan usia lanjut sesuai dengan kondisi dan kemampuannya. (6) Pemberdayaan kelembagaan Bipartit dan Tripartit serta peningkatan pemahaman dan dan kesadaran berbagai pihak untuk mengupayakan kesejahteraan dan perlindungan bagi para pekerja. Tujuan, yang akan dicapai melalui kebijakan pembangunan Ketenagakerjaan adalah : (1) Mengurangi jumlah penganggur dan setengah penganggur melalui peningkatan kualitas, kemandirian dan daya saing. (2) Peningkatan kesempatan kerja di dalam dan luar negeri serta kesempatan berusaha di sektor informal. (3) Mantapnya Perencanaan Tenaga Kerja Daerah (PTKD) dan meningkatnya akses masyarakat untuk memasuki pasar kerja dengan mengembangkan pusat informasi pasar kerja melalui Sistem Informasi Nakertrans. (4) Mengurangi kasus-kasus penempatan TKI. (5) Peningkatan kuantitas dan kualitas program

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 171

transmigrasi. (6) Peningkatan kualitas, kemandirian dan daya saing tenaga kerja untuk memasuki pasar kerja. (7) Peningkatan kualitas dan kemandirian lembaga pelatihan tenaga kerja dalam rangka memenuhi kebutuhan pasar kerja dan penciptaan lapangan kerja. (8) Meningkatnya kesejahteraan tenaga kerja. (9) Peningkatan perlindungan tenaga kerja. (10) Mewujudkan hubungan industrial yang harmonis dan berkurangnya kasus PHI/PHK. (11) Peningkatan peran dan fungsi Lembaga-lembaga ketenagakerjaan. Strategi, yang dilakukan untuk mencapai tujuan Ketenagakerjaan adalah : (1) Mengurangi jumlah penganggur dan setengah penganggur melalui penyiapan tenaga kerja yang berkualitas, produktif dan berdaya saing dengan meningkatkan kualitas, kemandirian dan peran serta baik individu, kelompok masyarakat maupun Instansi / Lembaga terkait (lintas sektor). (2) Meningkatkan kesempatan kerja dengan kerjasama antar daerah dan antar negara serta kesempatan berusaha di sektor informal. (3) Perencanaan Tenaga Kerja Daerah (PTKD) dan menyediakan informasi pasar kerja yang akurat dengan mengembangkan Pusat Informasi Pasar Kerja dan memantapkan Sistem Informasi Nakertrans. (4) Pelayanan penempatan TKI satu pintu. (5) Menyebarluaskan informasi potensi lokasi transmigrasi dan memfasilitasi penempatan transmigran melalui kerjasama antar daerah dengan prinsip saling menguntungkan. (6) Meningkatkan relevansi, kualitas dan kuantitas pelatihan kerja dan produktivitas kerja, serta pemagangan di dalam dan luar negeri. (7) Mengembangkan Balai Latihan Kerja Pemerintah maupun Swasta yang mandiri dan mampu menghasilkan tenaga kerja terlatih dan profesional. (8) Menyusun Kebijakan Pengupahan, Jaminan Sosial dan Kesejahteraan Pekerja yang memadai serta Regulasi Kesejahteraan Purna Kerja. (9) Regulasi Perlindungan tenaga kerja termasuk di dalamnya Pekerja Anak, Penyandang cacat, Perempuan dan Usia Lanjut. (10) Pembinaan hubungan industrial yang intens dan harmonis antar unsur Tripartit. (11) Pemberdayaan Lembaga-lembaga ketenagakerjaan.

Program, yang dilakukan untuk mendukung strategi dalam mencapai tujuan Ketenagakerjaan , adalah :

1.

Perluasan dan Pengembangan Kesempatan Kerja Program ini untuk mendorong, memfasilitasi dan mengembangkan perluasan kesempatan kerja di berbagai bidang usaha melalui penciptaan tenaga kerja mandiri, peningkatan dan pemberdayaan kewirausahaan dan pelayanan penempatan tenaga kerja di dalam dan ke luar negeri serta pelayanan penyediaan informasi bursa kerja, sehingga mampu mengurangi pengangguran baik di perdesaan maupun perkotaan.

2.

Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Tenaga Kerja. Program ini untuk mendorong, memasyaratkan dan meningkatkan efektifitas penyelenggaraan pelatihan kerja agar tersedia tenaga kerja yang berkualitas, produktif dan berdaya saing, sehingga mampu mengisi pasar kerja baik dalam maupun luar negeri.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 172

3.

Perlindungan dan Pengembangan Lembaga Tenaga Kerja. Program ini untuk meningkatkan perlindungan bagi pekerja dan pengusaha melalui pemasyarakatan, fasilitasi dan penciptaan ketenangan dalam bekerja dan berusaha, peningkatan kenyamanan dan keselamatan dan kesehatan dalam bekerja sehingga tercipta hubungan yang harmonis antara pekerja dan pengusaha yang akan meningkatkan kesejahteraan pekerja dan keluarganya, serta berkembangnya usaha yang mampu menyerap tenaga kerja baru.

V. Pencapaian RPJMN di Daerah (2005-2007) 5.1. Upaya yang Dilakukan hingga tahun 2007
Upaya yang dilakukan hingga tahun 2007 dalam pengembangan bidang ketenagakerjaan adalah:

1. 2. 3.

Angka penduduk bekerja menunjukkan kenaikan dari 14.751.088 orang pada tahun 2002 menjadi 15.655.303 pada tahun 2005 (naik 60 persen) Tingkat pengangguran Jawa Tengah menunjukkan kecenderungan menurun, tetapi agaknya masih cukup besar yakni sebesar 6,54 persen (2004) , menjadi 6,01 persen pada tahun 2006. Tingkat pengangguran terbuka yang juga berhasil ditekan dari 6,25 persen pada thun 2002 menjadi 5,89 persen pada tahun 2005. sementara Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) menunjukkan kecenderungan stagnan dari 60,60 persen pada thun 2002 menjadi 60,88 persen pada tahun 2005.

4.

Perkembangan kepengusahaan Jawa Tengah menunjukkan kemampuan tenaga kerja dari UKM sebesar 190.664 orang pada taun 2001 dan 193.778 pada tahun 2002. Adapun koperasi menyerap tenaga kerja yang mula-mula 16.514 orang pada tahun 2002 kemudian pada tahun 2005 menjadi 37.923 .

5.2. Posisi Capaian hingga tahun 2007
Melalui program pengembangan dan perluasan kesempatan kerja, tingkat pengangguran berhasil ditekan namun jumlahnya masih besar, besarnya angka pengangguran ini disebabkan oleh beberapa hal seperti banyak PHK, banyak transmigran yang kembali, adanya konflik antar suku diluar Jawa, dan bertambahnya angkatan kerja baru. Dengan iklim investasi yang makin kondusif dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi (5,35 persen) diharapkan mampu membuka lapangan kerja baru yang pada gilirannya menurunkan tingkat pengangguran. Faktor pendukung lain adalah pertumbuhan penduduk yang relatif rendah, akan mengurangi angkatan kerja yang masuk. Peranan UKM dan Koperasi dalam penyerapan tenaga kerja juga cukup besar. Gambaran yang ada dalam pembahasan juga menunjukkan terdapat peningkatan kemampuan dalam menyerap tenaga kerja dari UKM Koperasi.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 173

5.3. Permasalahan Pencapaian Sasaran
Permasalahan dalam pencapaian sasaran pengembangan bidang ketenagakerjaan adalah: 1. Besarnya angka pengangguran yang disebabkan oleh beberapa hal seperti banyak PHK, banyak transmigran yang kembali, adanya konflik antar suku diluar Jawa, dan bertambahnya angkatan kerja baru. 2. Program peningkatan kualitas dan produktifitas tenaga kerja perlu dirancang kegiatan yang nyata, sehingga program perlindungan tenaga kerja dapat diwujudkan dengan baik. VI. Tindak Lanjut

Upaya yang harus dilakukan untuk mencapai sasaran pengembangan ketenagekerjaan adalah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Menggalakkan kembali program transmigrasi ke daerah yang aman dan potensial secara ekonomi. Pelatihan kewirausahaan bagi kaum pengangguran. Pelatihan keterampilan bagi keahlian bagi calon TKI. Sosialisasi dan kampanye pada siswa SLTP untuk melanjutkan ke SMK. Optimalisasi peran Sekolah Kejuruan (SMK) dan Lembaga Keterampilan dalam mempersiapkan lapangan kerja siap pakai. Training dan Pelatihan calon TKI sesuai keterampilan yang di butuhkan. Advokasi dan perlindungan hukum bagi TKI, melalui pembentkan biro hukum khusus menangani perkara yang dihadapi TKI asal Jawa Tengah di Luar Negeri. Pengurangan pekerja anak dan pembinaan anak jalanan.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 174

Bab 4.9
Pemantapan Stabilitas Ekonomi Makro

I. Pengantar
Stabilitas perekonomian Provinsi Jawa Tengah adalah prasyarat dasar untuk tercapainya peningkatan kesejahteraan rakyat melalui pertumbuhan yang tinggi dan peningkatan kualitas pertumbuhan. Stabilitas perekonomian sangat penting untuk memberikan kepastian berusaha bagi para pelaku ekonomi. Mengingat pentingnya stabilitas ekonomi makro bagi kelancaran dan pencapaian sasaran pembangunan nasional, pemerintah bertekad untuk terus menciptakan dan memantapkan stabilitas ekonomi makro. Salah satu arah kerangka ekonomi makro dalam jangka menengah adalah untuk menjaga stabilitas ekonomi makro dan mencegah timbulnya fluktuasi yang berlebihan di dalam perekonomian. Pada tahun 2004-2009 diperkirakan angkatan kerja akan bertambah 10.339.000 orang, dengan pertumbuhan angkatan kerja rata-rata diperkirakan sebesar 4,5 persen per tahun. Pada tahun 2009 jumlah angkatan kerja akan mencapai 22.295.000 orang. Angkatan kerja tersebut sudah termasuk 984 ribu orang penganggur terbuka tahun 2002, yang diperkirakan meningkat pada tahun 2003 menjadi 1.027 ribu orang. Tingkat pengangguran 3 persen per tahun, yang menurun dari 6,01 persen pada tahun 2003 menjadi 1,5 persen pada tahun 2009. Dengan menganggap bahwa kemampuan daya serap lapangan kerja tidak menurun, pertumbuhan kesempatan kerja rata-rata diperkirakan sebesar 5,32 persen per tahun. Dengan demikian pada akhir 2009 jumlah kesempatan kerja di Jawa Tengah akan mencapai 21.961.000 orang. Untuk dapat mencapai target tersebut, yakni pertumbuhan kesempatan kerja sebesar rata-rata 5,32 persen tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 1,5 persen atau rata-rata per tahun 3 persen, pertumbuhan ekonomi rata-rata harus mencapai 4,49 persen per tahun. Pada periode 2004-2009 harus terjadi peningkatan efisiensi perekonomian. Untuk itu rasio tambahan modal terhadap produk regional (ICOR) harus turun, dari 4,66 pada tahun 2003 menjadi 3,48 pada tahun 2009. Penurunan ICOR ini diharapkan akan dapat mampu menekan kebutuhan modal untuk mencapai pertumbuhan tersebut. Untuk mencapai pertumbuhan rata-rata 4,66 per tahun diperlukan investasi sebesar rata-rata 17,47 persen dari PDRB per tahun. Kebutuhan investasi periode 2004-2009 tersebut harus dicapai dari pembentukan modal pemerintah maupun swasta. Investasi pemerintah rata-rata sebesar 25 persen dari kebutuhan investasi per tahun. Oleh karena

175

itu, investasi swasta diharapkan mencapai 75 persen dari kebutuhan investasi per tahun. Kebutuhan investasi swasta adalah sebesar Rp. 26.388 miliar (2004), Rp. 30.936 miliar (2005), Rp. 34.227 miliar (2006), Rp. 33.289 miliar (2007), Rp. 35.109 miliar (2008) dan Rp. 40.014 miliar (2009). Perkiraan kebutuhan investasi ini didasarkan pada perkiraan inflasi rata-rata sebesar 7 persen per tahun pada tahun 2004-2009. Untuk mencapai target sasaran, maka ditempuh kebijakan dibidang ekonomi pada peningkatan kualitas potensi ekonomi wilayah dalam rangka memperbaiki struktur ekonomi daerah serta meningkatkan kemandirian dan daya saing dengan memprioritaskan pada sektor Pertanian dalam arti luas, industri kecil menengah dan/atau usaha kecil menengah dan pariwisata.

II. Kondisi Awal RPJM-N di Tingkat Daerah
Sebagaimana pada tingkat nasional, struktur ekonomi Jawa Tengah relatif masih lemah. Lemahnya struktur ekonomi tersebut dikarenakan masih lemahnya keterkaitan baik antar industri hulu dan industri hilir maupun lemahnya keterkaitan antar sektor dan skala usaha besar dan kecil. Sebagian besar dari produk-produk manufaktur di Jawa Tengah masih tergantung pada bahan baku impor. Sebagian dari kebutuhan pokok masyarakat juga masih diimpor. Kondisi ini tentu tidak menguntungkan bagi Jawa Tengah, karena membawa implikasi pada rentannya ekonomi daerah terhadap perubahan-perubahan eksternal. Pada tahun 2001 struktur ekonomi Jawa Tengah dapat digambarkan sebagai berikut: kontribusi sektor industri pengolahan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sebesar 28,39 persen, sektor pertanian sebesar 25,95 persen, sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 23,7 persen, sektor jasajasa 8,6 persen, sektor pengangkutan dan komunikasi 4,38 persen, sektor bangunan 4,04 persen, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan sebesar 3,67 persen, sektor pertambangan dan penggalian sebesar 0,96 persen serta sektor listrik, gas dan air bersih sebesar 0,73 persen. Sektor dominan pada tahun 2002, tetap didominasi oleh tiga sektor yaitu sektor industri sebesar 28,51 persen, sektor perdagangan sebesar 25,16 persen dan sektor pertanian sebesar 24,97 persen. Secara keseluruhan, kontribusi ketiga sektor tersebut terhadap PDRB sebesar 77,50 persen. Dibandingkan dengan tahun 1998, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah selama tiga tahun terakhir ini relatif lebih baik. Pada tahun 2005 ekonomi Jawa Tengah tumbuh sebesar 5.35 persen, tahun 2006 tumbuh sebesar 5.33 persen dan pada tahun 2007 pertumbuhan ekonomi mencapai 5.61 persen. Namun pertumbuhan ekonomi tersebut belum mampu mengangkat kebutuhan Jawa Tengah dalam mengatasi masalah pengangguran terbuka. Pada tahun 2006 angka pengangguran terbuka sebesar 1.109.576 orang, menjadi 4,44 juta jiwa pada tahun 2007.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 176

Kondisi pertumbuhan ekonomi khususnya bidang industri yang belum maksimal ini diantaranya disebabkan oleh peningkatan investasi yang terjadi pada tahun 2002 (baik dari PMDN ataupun PMA) belum mampu meningkatkan penyerapan tenaga kerja. Demikian juga nilai ekspor beberapa produk unggulan mengalami penurunan yaitu sebesar US $ 1,972 milyar pada tahun 2001, menjadi US$ 1,642 milyar pada tahun 2002. Hali ini disebabkan oleh masih rendahnya kualitas produk yang dihasilkan dan adanya sentimen negatif negara importir akibat isu regional maupun global.

2.1. Bidang Pertanian
Bidang pertanian memiliki misi untuk menyediakan pangan, meningkatkan kesejahteraan petani dan menggerakkan roda perekonomian daerah. Misi penyediaan pangan sampai dengan tahun 2003 dapat dicapai yang ditandai dengan jumlah produksi yang surplus. Namun demikian pendapatan dan/atau tingkat kesejahteraan petani masih rendah, antara lain ditandai masih rendahnya Nilai Tukar Petani (NTP). Peningkatan jumlah penduduk dan pendapatan masyarakat di perkotaan akan meningkatkan jumlah, kualitas dan keragaman permintaan produk pertanian, sedangkan di sisi lain dengan masuknya produk pertanian dari luar negeri dengan harga dan kualitas yang bersaing, akan mengurangi peluang pasar produk lokal menyebabkan menurunnya kegairahan produksi pertanian di masyarakat. Perbedaan potensi produksi pangan dan pola panen raya yang diikuti masa paceklik, mengakibatkan distribusi ketersediaan pangan tidak merata di setiap tempat dan setiap waktu, hal tersebut menciptakan potensi kerawanan pangan dan jatuhnya harga produk pertanian pangan dari petani/produsen. Sektor pertanian masih memiliki potensi untuk ditingkatkan apabila berhasil menangani kendala-kendala yang meliputi: produktivitas, efisiensi usaha, konversi lahan pertanian, keterbatasan sarana dan prasarana pertanian, serta terbatasnya kredit dan infrastruktur pertanian. Pendapatan dan kesejahteraan petani masih rendah yang ditandai dengan masih Nilai Tukar Petani (NTP), kualitas dan kuantitas konsumsi pangan masih rendah, serta penurunan kualitas tanah akibat penggunaan pupuk kimia yang berlebihan. Beberapa kendala dan masalah lain yang masih dihadapi dalam bidang pertanian dalam arti luas adalah: 1. 2. 3. 4. 5. Rendahnya kesejahteraan dan relatif tingginya tingkat kemiskinan petani dan nelayan. Lahan pertanian yang semakin menyempit. Terbatasnya akses ke sumberdaya produktif, terutama akses terhadap sumber permodalan yang diiringi dengan rendahnya kualitas SDM. Penguasaan teknologi masih rendah. Belum berkembangnya kawasan pengembangan sentra pengolahan dan pemasaran produk-produk hasil perikanan yang berdaya saing dipasar domestik dan ekspor.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 177

6.

Lemahnya infrastruktur (fisik dan non fisik) di sektor pertanian pada khususnya dan perdesaan pada umumnya.

2.2. Bidang Perkoperasian dan UKM Rendahnya produktivitas. Perkembangan yang meningkat dari segi kuantitas tersebut belum diimbangi dengan peningkatan kualitas UMKM yang memadai khususnya skala usaha mikro. Masalah yang masih dihadapi adalah rendahnya produktivitas, sehingga menimbulkan kesenjangan yang sangat lebar antar pelaku usaha kecil, menengah, dan besar. Atas dasar harga konstan tahun 1993, produktivitas per unit usaha selama periode 2005-2006 tidak menunjukkan perkembangan yang berarti, yaitu produktivitas usaha mikro dan kecil masih sekitar 6.461.428 unit sedangkan pada tahun 2006 jumlah usaha mikro non pertanian di Jawa Tengah 3.692.277 unit usaha, usaha mikro sektor pertanian sebanyak 4,2 juta unit usaha. Demikian pula dengan perkembangan jumlah tenaga kerja yang mengandalkan kehidupan ekonominya dari kegiatan UMKM belum menunjukkan perkembangan yang berarti yaitu tenaga kerja yang berhasil diserap pada tahun 20052006 industri non pertanian 77.158 orang, perdagangan 62.182 orang, aneka jasa 43.221 orang dan industri pertanian 31.420 orang pada tahun 2005, 53.582 orang pada tahun 2006. Kinerja seperti itu berkaitan dengan: (a) rendahnya kualitas sumber daya manusia UMKM khususnya dalam bidang manajemen, organisasi, penguasaan teknologi, dan pemasaran; dan (b) rendahnya kompetensi kewirausahaan UMKM. Peningkatan produktivitas UMKM sangat diperlukan untuk mengatasi ketimpangan antarpelaku, antargolongan pendapatan dan antardaerah, termasuk penanggulangan kemiskinan, selain sekaligus mendorong peningkatan daya saing nasional. 2.3. Bidang Pariwisata Pada tahun 2005 jumlah pengunjung wisatawan nusantara (wisnus) di Jawa Tengah sebesar 15.455.546 orang, sedangkan wisatawan mancanegara pada tahun 2005 sebanyak 303.898 orang. Jumlah obyek wisata alam pada tahun 2005 mencapai 97 buah dan meningkat menjadi 101 buah pada tahun 2007. Untuk obyek wisata buatan pada tahun 2005 terdapat 86 buah dan menjadi 88 buah pada tahun 2007. Kemudian untuk tempat rekreasi bahari pada tahun 2007 terdapat 25 unit, sedangkan tempat rekreasi budaya mencapai 39 unit. Obyek wisata Candi Borobudur tetap menjadi primadona pariwisata di Jawa Tengah. Pada tahun 2002, pendapatan obyek tersebut menempati urutan pertama dan kedua dengan jumlah pendapatan dari Karcis dan Parkir sebesar Rp 18.171.299.600,00 untuk Candi Borobudur dan Rp. 5.295.802.000,00 untuk Candi

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 178

Prambanan. Pada tahun 2002, obyek wisata yang paling banyak dikunjungi adalah Candi Borobudur sebanyak 2.106.327 orang dan candi Prambanan 1.128.600 orang. Keragaman produk dan potensi pariwisata yang ada ditambah dengan tersedianya fasilitas penunjang pariwisata yang memadai, merupakan aset pariwisata yang besar bagi Jawa Tengah. Fasilitas akomodasi hotel berbintang pada tahun 2007 meliputi hotel berbintang lima sebanyak 6 buah, hotel bintang empat sebanyak 6 buah, hotel bintang tiga sebanyak 17 buah, hotel bintang dua sebanyak 25 buah, hotel bintang satu sebanyak 44 buah, dan hotel non bintang 783 buah. Dukungan infrastruktur dan aksesbilitasnya di masing-masing obyek wisata sudah cukup memadai namun perlu ditingkatkan. Sumbangan bidang pariwisata terhadap PDRB dari 3,66 persen pada tahun 2000 menjadi 3,84 persen pada tahun 2001, dan pada tahun 2002 menjadi 3,94 persen, menurut harga berlaku. Perkembangan kondisi pariwisata Jawa Tengah tidak terlepas dari kondisi kepariwisataan internasional dan nasional. Kualitas pelayanan jasa dan atraksi wisata yang semakin baik di tingkat internasional, nasional, maupun regional menyebabkan semakin beratnya kompetisi yang harus dihadapi. Permasalahan dalam bidang pariwisata diantaranya adalah : Lemahnya hubungan kerjasama kelembagaan antar wilayah, pemerintah dan stakeholders kepariwisataan, Belum terbentuknya networking antar produk, antar wilayah dan antar pelaku pariwisata, Masih rendahnya kualitas produk barang dan jasa (obyek, atraksi dan produk pendukung lainnya) menyebabkan rendahnya daya saing produk, yang berorientasi pasar, Masih adanya sarana dan prasarana yang kurang memadai pada daerah tujuan wisata, Masih terjadinya kesenjangan pertumbuhan regional yang tercermin dari pola kunjungan ke obyek.

III. Sasaran yang Ingin Dicapai
Terpeliharanya stabilitas ekonomi makro yang dapat mendukung tercapainya pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi dan berkualitas serta peningkatan kemampuan pendanaan pembangunan, baik yang bersumber dari pemerintah maupun swasta dengan tetap menjaga stabilitas ekonomi makro di Provinsi Jawa Tengah.

3.1. Sasaran Terkait Dengan Bidang Pertanian
1. 2. 3. 4. Meningkatnya pendapatan keluarga petani dan NTP. Terwujudnya pola konsumsi mendekati PPH. Terciptanya pengembangan pangan. Lancarnya distribusi pangan, tertanganinya kerawanan pangan, terkendalinya harga pangan.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 179

5. 6.

Meningkatnya kinerja lembaga ekonomi perdesaan. Terwujudnya penguatan dan pengembangan sistem pemasaran produk perikanan.

3.2. Sasaran Terkait Dengan Bidang Perkoperasian dan UKM
1. 2. 3. 4. 5. 6. Terbangun dan mantapnya jaringan usaha distribusi koperasi, 41 paket kegiatan. Terfasilitasinya outlet-outlet/warung masyarakat sebagai lembaga pemasaran senkuko, 450 outlet dan 50 senkuko. Terfasilitasinya pengembangan UKM dibidang agribisnis, 450 unit koperasi Fasilitasi peningkatan dan daya beli petani, 525 koperasi. Perkuatan usaha koperasi, 560 koperasi. Fasilitasi pengembangan sentra dan klaster UKM, 535 sentra.

3.3. Sasaran Terkait Dengan Pariwisata
1. 2. Terjadinya peningkatan jumlah penginapan wisatawan mancanegara pada fasilitas hotel sebesar 18,180 persen dan nusantara sebesar 23 persen. Terjadinya peningkatan objek dan daya tarik wisata (ODTW) dari 226 obyek menjadi 261 obyek atau sebesar 15,49 persen, objek pendukung pariwisata sebesar 10,04 persen daro 10.936 menjadi 12.034 objek dan berkembangnya daerah tujuan wisata (DTW) tumbuhnya 7 kawasan dengan keterkaitan nasional dan internasional (kawasan SSB, BBS, selatan-selatan, Dieng, Sangiran, Karimun Jawa, dan Rawa Pening). 3. Terjadinya pemantapan pemasaran produk wisata potensial didalam dan meningkatkan pangsa pasar baru didalam dan luar dengan pengembangan 4 paket wisata tematis (ziarah, kerajinan, bahari, alam). 4. Terjadinya peningkatan penyerapan tenaga kerja sebesar 9,49 persen dari 1.618.166 orang menjadi 1.771.718 orang.

IV. Arah Kebijakan
Arah kebijakan pengembangan ekonomi di Jawa Tengah adalah sebagai berikut: 1. Memperkuat agrobisnis dan agro industri di pedesaan dengan memfasilitasi petani dan stakeholders untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi, memperluas akses pasar, permodalan serta memperkuat kinerja kelembagaaan pedesaan. 2. Menurunkan tingkat kesenjangan antar wilayah dengan memperkuat jalur Selatan-Selatan dan kawasan tertinggal untuk meningkatkan mobilitas ekonomi di wilayah tersebut, serta pengembangan kawasankawasan sentra produksi dengan meningkatkan sinergi jejaring antara kawasan dengan outlet regional

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 180

dan global, maupun antara kawasan sentra dengan hinterland nya. 3. Memacu pertumbuhan ekonomi dengan mengembangkan iklim kondusif bagi pengembangan dunia usaha dan investasi. 4. Meningkatkan daya saing produk UKM di pasar global dengan menerapkan standar produksi internasional, memfasilitasi promosi yang sistematis di dalam & luar negeri serta membantu pengembangan sistem penjaminan sesuai ketentuan perbankan dan pranata sosial ekonomi. 5. Meningkatkan kontribusi sektor pariwisata dalam struktur ekonomi melalui obyek-obyek wisata yang berbasis ekonomi kerakyatan dan kelestarian lingkungan.

V. Pencapaian RPJMN di Daerah (2005-2007) 5.1. Upaya yang Dilakukan HIngga Tahun 2007
1. Bidang Pertanian a. b. c. d. e. f. 2. a. b. c. d. e. f. 3. a. b. Meningkatnya pendapatan keluarga petani dan NTP dari 98.82 (tahun 2003) menjadi 102.54 (tahun 2006). Terwujudnya pola konsumsi mendekati PPH dari 74,22 menjadi 82,27 pada tahun 2006. konsumsi protein nabati 81,3 menjadi 92,1 hewani dari 115,03 menjadi 154,0. Terwujudnya UKM produsen pangan 19 paket. Meningkatnya kinerja lembaga ekonomi pedesaan, dengan peningkatan jumlah UEP dari 143 UEP di 22 Kabupaten/Kota menjadi 207 UEP di 24 Kabupaten/Kota. Pameran produk perikanan 12 kali dan melalui PUSJUI 4 kali. Terbangun dan mantapnya jaringan usaha distribusi koperasi, 41 paket kegiatan, program tercapai 210 koperasi. Terfasilitasinya outlet-outlet warung masyarakat sebagai lembaga pemasaran senkuko tercapai 411 outlet dan 39 senkuko. Terfasilitasinya pengembangan UMKM dibidang agribisnis, 8 kegiatan, program tercapai 380 UMKM. Fasilitasi peningkatan dan daya beli 360 koperasi. Perkuatan usaha koperasi 250 koperasi. Fasilitasi pengembangan sentra dan klaster UMKM 334 koperasi. Meningkatnya objek dan daya tarik wisata dari 226 OTDW menjadi 245 ODTW. Perencanaan pengembangan pariwisata pencapaiannya wisman 221.512 orang wisnus 3.716.037 orang Bidang Perkoperasian dan UKM

Pariwisata

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 181

c. d. e.

Pengembangan objek pemasaran paket wisata dari 4 paket menjadi 12 paket wisata tematis (ziarah, kerajinan, bahari, dan alam). Terjadinya peningkatan penyerapan tenaga kerja dari 1.618.166 menjadi 1.723.250 orang. Provil investasi bidang usaha di 7 kawasan, meliputi Karimunjawa, Dieng, dan Stasiun Tuntang.

5.2. Posisi Capaian hingga Tahun 2007
1. Bidang Pertanian a. Meningkatnya nilai tukar petani (NTP) artinya perhatian lebih baik namun nilai tukar ini tidak diimbangi dengan nilai untuk memperoleh modal usaha, bibit dan pupuk. Penguasaan teknologi dan keterampilan petani masih rendah sehingga perlu diadakan peningkatan kualitas dan kuantitas pelatihan dari dinas pertanian. b. Pendistribusian pangan 40 persen daerah yang belum terlayani sehingga kerawanan pangan tidak terjadi serta perlunya kebijakan untuk pelatihan penanaman pangan yang tidak bersamaan sehingga masa panen terdistribusi merata dalam satu tahun. Ekonomi pedesaan melalui UEP (Usaha Ekonomi Produktif) menjadi pilar distribusi pangan utama dalam provinsi. Pemerintah provinsi perlu memfasilitasi dalam kelembagaan petani. 2. Bidang Perkoperasian dan UKM Masih perlunya pemberian bimbingan, kemudahan dan pembinaan bagi UMKM yang melaksanakan kemitraan usaha. Selain itu perlunya bantuan modal kepada koperasi dan kebijakan perbankan yang mendukung, khususnya koperasi yang berbasis pertanian. 3. Pariwisata a. b. c. d. e. Telah meningkatnya ODTW Pengembangan objek pemasaran paket wisata peningkatan penyerapan tenaga kerja promosi dengan paket wisata sangat berkorelasi dengan jumlah wisatawan. Fungsi pariwisata dalam hal penyerapan tenaga kerja tercapai dengan meningkat signifikan. Baik tenaga kerja langsung maupun tidak langsung.

5.3. Permasalahan Pencapaian Sasaran
1. Bidang Pertanian a. b. Nilai tukar petani tidak diimbangi dengan nilai untuk memperoleh modal usaha, bibit dan pupuk. Penguasaan teknologi dan keterampilan petani masih rendah.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 182

c. d. e. 2. a. b. 3. a. b.

Kerawanan pangan belum tertangani di 12 kabupaten/kota artinya distribusi pangan belum merata. Pada daerah terpencil masyarakat masih tidak mampu mengakses pangan karena harganya terlalu mahal. Kawasan pengembangan pengolahan ikan belum berkembang. Kurangnya Pemberian bimbingan bagi UMKM yang melaksanakan kemitraan usaha. Kurangnya bantuan modal kepada koperasi. Kurangnya fasilitas sarana dan prasarana seperti MCK, jalan, tempat istirahat, tempat bermain, dan tempat parkir. Belum disosialisasikan peluang usaha bidang pariwisata.

Bidang Perkoperasian dan UKM

Pariwisata

VI. Tindak Lanjut
Adapun tindak lanjut yang dilakukan untuk mencapai sasaran : 1. Bidang Pertanian a. b. c. d. e. 2. a. b. 3. Diadakan peningkatan kualitas dan kuantitas pelatihan dari Dinas pertanisn. Perlunya kebijakan untuk pelatihan penanaman pangan yang tidak bersamaan sehingga masa panen terdistribusi merata dalam satu tahun. Perlu difasilitasi penyediaan bibit unggul. Pemerintah provinsi perlu memfasilitasi dalam kelembagaan petani. Pameran produk perikanan secara rutin di TPI. Pemberian bimbingan, kemudahan dan pembinaan bagi UMKM yang melaksanakan kemitraan usaha. Perlunya bantuan modal kepada koperasi dan kebijakan perbankan yang mendukung, khususnya koperasi yang berbasis pertanian. Pariwisata a. b. c. Pembuatan sistem informasi pariwisata melalui internet secara online. Penambahan fasilitas diharapkan meningkatkan daya tarik ODTW dengan menambhan sarana dan prasarana seperti MCK, jalan, tempat istirahat, tempat bermain, dan tempat parkir. Perlu disosialisasikan peluang usaha bidang pariwisata.

Bidang Perkoperasian dan UKM

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 183

BAB 4.10
Pembangunan Perdesaan

I. Pengantar
Sebagian besar penduduk saat ini masih bertempat tinggal di kawasan permukiman perdesaan. Selama ini kawasan perdesaan dicirikan antara lain oleh rendahnya tingkat produktivitas tenaga kerja, masih tingginya tingkat kemiskinan, dan rendahnya kualitas lingkungan permukiman perdesaan. Rendahnya produktivitas tenaga kerja di perdesaan bisa dilihat dari besarnya tenaga kerja yang ditampung sektor pertanian. Sementara itu tingginya tingkat kemiskinan di perdesaan bisa ditinjau baik dari indikator jumlah dan persentase penduduk miskin (head count), maupun tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan. Pada tahun 2005 (kondisi September 2005) jumlah penduduk miskin Jawa Tengah adalah 2.708.598 RT miskin, dan pada tahun 2006 naik menjadi 3,17 juta RT miskin. Dengan penduduk dan angkatan kerja perdesaan yang akan terus bertambah sementara pertumbuhan luas lahan pertanian relatif tidak meningkat secara signifikan, maka penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian menjadi tidak produktif. Oleh karena itu sangat penting untuk mengembangkan lapangan kerja non pertanian (non-farm activities) guna menekan angka kemiskinan dan migrasi ke perkotaan yang terus meningkat. Pengembangan ekonomi lokal yang bertumpu pada UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah ) dan Koperasi, dan berbasis sumberdaya perdesaan serta terkait dengan kegiatan di kawasan perkotaan berpotensi menyediakan lapangan kerja berkualitas bagi penduduk perdesaan. Bersamaan dengan usaha pertanian yang semakin modern, UMKM dan Koperasi yang berkembang sehat di perdesaan akan membentuk landasan yang tangguh bagi transformasi jangka panjang dari masyarakat agraris ke arah masyarakat industri. Sejalan dengan itu, ketersediaan infrastruktur di perdesaan juga perlu ditingkatkan, baik yang berfungsi untuk mendukung aktivitas ekonomi maupun peningkatan kualitas lingkungan permukiman di perdesaan. Kawasan perdesaan yang mampu menyediakan lapangan kerja produktif dan lingkungan permukiman yang sehat dan nyaman akan menjadi penahan bagi berpindahnya penduduk dari desa ke kota.

184

II. Kondisi Awal RPJM-N di Tingkat Daerah
Kawasan perdesaan menghadapi permasalahan-permasalahan internal dan eksternal yang menghambat perwujudan kawasan permukiman perdesaan yang produktif, berdaya saing dan nyaman sebagaimana diuraikan dalam butir-butir berikut:

2.1. Terbatasnya Alternatif Lapangan Kerja Berkualitas
Kegiatan ekonomi di luar sektor pertanian, baik industri kecil yang mengolah hasil pertanian maupun industri kerajinan serta jasa penunjang lainnya sangat terbatas. Sebagian besar kegiatan ekonomi di perdesaan masih mengandalkan produksi komoditas primer sehingga nilai tambah yang dihasilkan kecil. Di sisi lain, pada kurun waktu 2001-2003 terjadi penciutan lapangan kerja formal baik di perkotaan maupun di perdesaan.

2.2. Rendahnya Tingkat Pelayanan Prasarana dan Sarana Perdesaan
Ini tercermin dari masih minimnya desa yang mendapat aliran listrik, pada tahun 2007 Listrik desa/genzet 1 unit, pada tahun 2006 KK yang belum berlistrik mencapai 2.760.267 KK. Rumah tangga perdesaan yang mendapat akses air minum baru 2.444 unit akses air minum, sedangkan prosentase rumah tangga yang memiliki MCK 67,65 persen pada tahun 2005, dan pada tahun 2006 mencapai 68,38 persen.

2.3. Lemahnya kelembagaan dan organisasi berbasis masyarakat
Ini tercermin dari kemampuan lembaga dan organisasi dalam menyalurkan aspirasi masyarakat untuk perencanaan kegiatan pembangunan, serta dalam memperkuat posisi tawar masyarakat dalam aktivitas ekonomi. Di samping itu juga terdapat permasalahan masih terbatasnya akses, kontrol dan partisipasi perempuan dalam kegiatan pembangunan di perdesaan yang antara lain disebabkan masih kuatnya pengaruh nilai-nilai sosial budaya yang patriarki, yang menempatkan perempuan dan laki-laki pada kedudukan dan peran yang berbeda, tidak adil dan tidak setara.

2.4. Lemahnya Koordinasi Lintas Bidang Dalam Pengembangan Kawasan Perdesaan
Pembangunan perdesaan secara terpadu akan melibatkan banyak aktor meliputi elemen pemerintah (daerah dan pusat), masyarakat, dan swasta. Di pihak pemerintah sendiri, koordinasi semakin diperlukan tidak hanya untuk menjamin keterpaduan antar sektor tetapi juga karena telah didesentralisasikannya sebagian besar kewenangan kepada pemerintah daerah. Lemahnya koordinasi mengakibatkan tidak efisiennya pemanfaatan

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 185

sumber daya pembangunan yang terbatas jumlahnya, baik karena tumpang tindihnya kegiatan maupun karena tidak terjalinnya sinergi antar kegiatan.

III. Sasaran Yang Ingin Dicapai
Dalam lima tahun mendatang, sasaran yang hendak dicapai dalam pembangunan perdesaan adalah sebagai berikut:

1.

Meningkatnya peran dan kontribusi kawasan perdesaan sebagai basis pertumbuhan ekonomi nasional yang diukur dari meningkatnya peran sektor pertanian dan non pertanian yang terkait dalam mata rantai pengolahan produk-produk berbasis perdesaan.

2. 3. 4. 5.

Terciptanya lapangan kerja berkualitas di perdesaan, khususnya lapangan kerja non pertanian, yang ditandai dengan berkurangnya angka pengangguran terbuka dan setengah pengangguran. Meningkatnya kesejahteraan masyarakat perdesaan yang ditandai dengan berkurangnya jumlah penduduk miskin serta meningkatnya taraf pendidikan dan kesehatan, terutama perempuan dan anak. Meningkatnya kualitas dan kuantitas infrastruktur di kawasan permukiman di perdesaan. Meningkatnya akses, kontrol dan partisipasi seluruh elemen masyarakat dalam kegiatan pembangunan perdesaan yang ditandai dengan terwakilinya aspirasi semua kelompok masyarakat dan meningkatnya kesetaraan antara perempuan dan laki-laki dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi kegiatan pembangunan.

IV. Arah Kebijakan
Kebijakan pembangunan perdesaan tahun 2004-2009 diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat perdesaan dengan memperhatikan kesetaraan gender melalui langkah-langkah kebijakan sebagai berikut:

1.

Mendorong terciptanya lapangan kerja berkualitas di perdesaan dengan merangsang pertumbuhan aktivitas ekonomi non pertanian (industri perdesaan dan jasa penunjang), diversifikasi usaha pertanian ke arah komoditas pertanian bernilai ekonomis tinggi, dan memperkuat keterkaitan kawasan perdesaan dan perkotaan.

2.

Meningkatkan promosi dan pemasaran produk-produk pertanian dan perdesaan lainnya untuk meningkatkan kontinuitas pasokan, khususnya ke pasar perkotaan terdekat serta industri olahan berbasis sumber daya lokal.

3.

Memperluas akses masyarakat, terutama kaum perempuan, ke sumber daya-sumber daya produktif untuk pengembangan usaha seperti lahan, prasarana sosial ekonomi, permodalan, informasi, teknologi dan inovasi; serta akses masyarakat ke pelayanan publik dan pasar.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 186

4.

Meningkatkan keberdayaan masyarakat perdesaan melalui peningkatan kualitasnya, baik sebagai insan maupun sebagai sumber daya pembangunan, serta penguatan kelembagaan dan modal sosial masyarakat perdesaan berupa jaringan kerjasama untuk memperkuat posisi tawar.

5.

Meningkatkan kesejahteraan masyarakat perdesaan dengan memenuhi hak-hak dasar atas pelayanan pendidikan dan kesehatan serta meminimalkan risiko kerentanan baik dengan mengembangkan kelembagaan perlindungan masyarakat petani maupun dengan memperbaiki struktur pasar yang tidak sehat (monopsoni dan oligopsoni).

6.

Mengembangkan praktek-praktek budidaya pertanian dan usaha non pertanian yang ramah lingkungan dan sesuai dengan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan sebagai bagian dari upaya mempertahankan daya dukung lingkungan.

V. Pencapaian RPJM-N di Tingkat Daerah 2005-2007 5.1. Upaya Yang Dilakukan Hingga Tahun 2007
1. Angka penduduk bekerja menunjukkan kenaikan dari 14.751.088 orang pada tahun 2002 menjadi 15.655.303 pada tahun 2005 (naik 6 persen), tingkat pengangguran di Jawa Tengah menunjukkan kecenderungan menurun, tetapi angkanya masih cukup besar yakni dari sebesar 6,54 persen (2004) menjadi 6,01 persen tahun 2006. sementara tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) menunjukkan kecenderungan stagnan dari 60,60 persen pada tahun 2002 menjadi 60,88 persen pada tahun 2005. 2. Perkembangan kepengusahaan di Jawa Tengah menunjukkan kemampuan penyerapan tenaga kerja dari UKM sebesar 190.664 orang pada tahun 2001 dan 193.778 pada tahun 2002. adapun koperasi menyerap tenaga kerja yang mula-mula 16.514 orang pada tahun 2002 kemudian pada tahun 2005 menjadi 37.923 orang. 3. 4. Menurunnya jumlah pengangguran terbuka pada tahun 2005 dari 8,51 persen menjadi 8,2 persen pada tahun 2006, dan 8,1 persen pada tahun 2007. Melalui program pengembangan kecamatan (PPK) hingga tahun 2007 telah dilaksanakan di 29 kabupaten, 278 kecamatan tersebar di 4.360 desa dan mampu membangun : jalan sepanjang 8.762.043 km jembatan 1.760 unit sarana air bersih 2.444 unit sarana irigasi 3.033 m MCK 1.212 unit Bangunan dan fasilitas pasar 548 unit Bendungan/cek Dam 68 unit Tambatan perahu atau dermaga 1 unit

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 187

5. 6. 7. 8. 9.

Listrikdesa/genset 1 unit Gedung/balai desa/balai pertemuan 403 unit Rehabilitasi sekolah 1.638 unit Rehabilitasi gedung kesehatan 79 unit Pembangunan talud 2.617 unit Gorong – gorong 465 unit Bronjong 22 unit Pembersihan danau atau sungai 5 unit Pompa air atau sumur 232 unit Dan lain-lain sarana dan prasarana 161 unit.

Meningkatnya kinerja lembaga ekonomi perdesaan, dengan peningkatan jumlah UEP dari 143 kabupaten/kota menjadi 207 UEP di 24 kabupaten/kota. Partisipasi masyarakat dalam posyandu tahun 2003-2005 mengalami penurunan dari 48.436 menjadi 42.888 kelompok, kemudian naik menjadi 48.168 kelompok tahun 2005. Jumlah kader posyandu mengalami penurunan dari tahun 2003-2006 yakni dari 282.382 menjadi 217.340 orang. Terbentuknya lumbung pangan (LPM) dan Lembaga Komunikasi Masyarakat (LKM) kini telah terbentuk di 15 kabupaten/kota Provinsi Jawa Tengah. Pelatihan lembaga ekonomi masyarakat tahun 2003 melibatkan 174 orang dan 87 unit, menjadi 29 orang dan 29 unit pada tahun 2006.

5.2. Posisi Capaian Hingga Tahun 2007
Dengan iklim investasi yang makin kondusif dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi (5,35 persen) diharapkan mampu membuka lapangan kerja baru yang pada gilirannya menurunkan tingkat pengangguran. Faktor pendukung lain adalah pertumbuhan penduduk yang relatif rendah akan mengurangi angkatan kerja yang masuk. Peranan UKM dan koperasi juga sangat besar, gambaran yang ada dalam pencapaian menunjukkan terdapat peningkatan kemampuan dalam menyerap tenaga kerja pada UKM dan koperasi. Dalam upaya penguatan kelembagaan masyarakat untuk mengembangkan lembaga ekonomi masyarakat, meningkatkan akses informasi komunikasi dan eksistensi lembaga komunikasi masyarakat telah tercapai beberapa kemajuan misalnya terbentuknya Lumbung Pangan Masyarakat (LPM). Keberadaan LPM diharapkan dapat mengatasi krisis pangan yang melanda masyarakat, seperti yang terjadi pada triwulan pertama 2007 dimana harga beras melonjak drastis. Selain itu partisipasi masyarakat dalam kelembagaan masyarakat masih mengalami naik turun pada tahun 2003-2006.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 188

5.3. Permasalahan Pencapaian Sasaran
1. Tingkat pengangguran berhasil ditekan namun jumlahnya masih besar, besarnya angka pengannguran ini disebabkan beberapa hal seperti banyaknya PHK, banyak transmigran yang kembali, adanya konflik antar suku di luar jawa dan bertambahnya angkatan kerja yang baru. 2. 3. 4. 5. Masih kurangnya tingkat penyuluhan dan pelatihan keterampilan usaha bagi masyarakat kawasan perdesaan. Masih lemahnya lembaga dan organisasi berbasis masyarakat. Kurangnya partisipasi masyarakat perdesaan, terutama kaum perempuan dan masyarakat miskin dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi pembangunan perdesaan. Kurangnya kerjasama dan koordinasi antar pemerintah daerah lintas wilayah administrasi.

VI. Tindak Lanjut
Upaya yang dilakukan untuk mencapai sasaran pembangunan perdesaan di Jawa Tengah adalah:

1.

Membangun kawasan perdesaan melalui peningkatan keberdayaan masyarakat di kawasan perdesaan; dan meningkatkan kapasitas pemerintahan di tingkat lokal dalam mengelola pembangunan perdesaan sesuai dengan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik dengan :

a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. 2.

Peningkatan penyuluhan dan pelatihan keterampilan usaha bagi masyarakat perdesaan. Peningkatan akses masyarakat perdesaan pada informasi. Pengembangan lembaga perlindungan petani dan pelaku usaha ekonomi di perdesaan. Penguatan lembaga dan organisasi berbasis masyarakat, seperti paguyuban petani, koperasi, lembaga adat dalam menyuarakan aspirasi masyarakat. Pemantapan kelembagaan pemerintahan desa dalam pengelolaan pembangunan perdesaan dengan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik. Peningkatan partisipasi masyarakat perdesaan, terutama kaum perempuan dan masyarakat miskin dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi pembangunan perdesaan. Pengembangan kelembagaan untuk difusi teknologi ke kawasan perdesaan, terutama teknologi tepat guna dan ramah lingkungan. Peningkatan kapasitas aparat pemerintah daerah dalam memfasilitasi dan mengkoordinasikan peran stakeholder dalam pembangunan kawasan perdesaan. Penyempurnaan manajemen dan sistem pembiayaan daerah untuk mendukung pembangunan kawasan perdesaan. Pemantapan kerjasama dan koordinasi antar pemerintah daerah lintas wilayah administrasi.

Meningkatkan produktivitas dan nilai tambah usaha ekonomi di kawasan perdesaan; mendorong penciptaan lapangan kerja berkualitas di perdesaan terutama di sektor non pertanian; dan meningkatkan

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 189

keterkaitan antara sektor pertanian dengan sektor industri dan jasa berbasis sumber daya lokal. Ketiga tujuan tersebut dilakukan dalam kerangka meningkatkan sinergi serta keterkaitan antara kawasan perdesaan dan perkotaan. Hal tersebut dilakukan dengan:

a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k.

Penguatan rantai pasokan bagi industri perdesaan dan penguatan keterkaitan produksi berbasis sumber daya lokal. Pengembangan budaya usaha dan kewirausahaan terutama bagi angkatan kerja muda perdesaan. Pengembangan dan penerapan ilmu dan teknologi tepat guna dalam kegiatan usaha ekonomi masyarakat perdesaan. Pengembangan jaringan kerjasama usaha. Pengembangan kemitraan antara pelaku usaha besar dan usaha mikro/rumah tangga. Pengembangan sistem outsourcing dan sub kontrak dari usaha besar ke UMKM dan koperasi di kawasan perdesaan. Peningkatan peran perempuan dalam kegiatan usaha ekonomi produktif di perdesaan. Perluasan pasar dan peningkatan promosi produk-produk perdesaan. Peningkatan pelayanan lembaga keuangan, termasuk lembaga keuangan mikro, kepada pelaku usaha di perdesaan. Peningkatan jangkauan layanan lembaga penyedia jasa pengembangan usaha (BDS providers) untuk memperkuat pengembangan ekonomi lokal. Pengembangan kapasitas pelayanan lembaga perdagangan bursa komoditi (PBK), pasar lelang, dan sistem resi gudang (SRG) yang bertujuan meningkatkan potensi keuntungan serta meminimalkan risiko kerugian akibat gejolak harga yang dihadapi petani dan pelaku usaha perdesaan.

3.

Meningkatkan kuantitas dan kualitas infrastruktur pendukung kegiatan ekonomi produktif di kawasan perdesaan; serta meningkatkan kuantitas dan kualitas infrastruktur permukiman untuk mewujudkan kawasan perdesaan yang layak huni, yang dilakukan dengan cara:

a. b. c. d. e.

Meningkatkan prasarana jalan perdesaan yang menghubungkan kawasan perdesaan dan perkotaan. Meningkatkan pelayanan sarana dan prasarana energi termasuk ketenagalistrikan di perdesaan. Meningkatkan sarana dan prasarana pos dan telematika (telekomunikasi dan informasi) di perdesaan. Optimalisasi jaringan irigasi dan jaringan pengairan lainnya. Meningkatkan pelayanan prasarana permukiman, seperti pelayanan air minum, air limbah, persampahan dan drainase.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 190

4.

Meningkatkan kualitas sumber daya manusia perdesaan melalui peningkatan akses dan pemerataan pelayanan pendidikan dasar dan menengah yang bermutu dan terjangkau di kawasan perdesaan, meningkatkan relevansi antara pendidikan dan pasar tenaga kerja melalui pendidikan kecakapan hidup termasuk kecakapan vokasional yang sesuai potensi dan karakter di tingkat lokal serta memperbaiki tingkat kesehatan masyarakat. Hal tersebut diwujudkan dengan :

a.

Penyediaan sarana dan prasarana pendidikan dasar dan menengah termasuk pendidikan menengah kejuruan yang berkualitas dan terjangkau untuk daerah perdesaan, disertai rehabilitasi dan revitalisasi sarana dan prasarana yang rusak.

b. c. d. e. f. g.

Perluasan akses dan peningkatan kualitas penyelenggaraan pendidikan keaksaraan fungsional bagi penduduk buta aksara di perdesaan. Peningkatan pendidikan kecakapan hidup termasuk kecakapan vokasional yang sesuai potensi dan karakter di tingkat lokal. Peningkatan pendidikan non formal untuk meningkatkan keterampilan kerja. Peningkatan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan terjangkau bagi penduduk perdesaan. Promosi pola hidup sehat dan perbaikan gizi masyarakat. Peningkatan pelayanan Keluarga Berencana (KB) dan Kesehatan Reproduksi di kawasan perdesaan.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 191

BAB 4.11
Pengurangan Ketimpangan Wilayah

I. Pengantar
Ketimpangan pembangunan antar wilayah di Jawa Tengah dapat dilihat dari berbagai aspek. Secara umum hal ini merujuk pada perbedaan tingkat kesejahteraan dan perkembangan ekonomi. Untuk menguranginya, upaya percepatan pembangunan wilayah relatif tinggal sudah dilakukan, namun hasilnya belum sepenuhnya dapat dinikmati oleh masyarakat. Oleh karena itu ketimpangan menjadi masalah yang penting dan harus diatasi. Kebijakan untuk mengatasi ketimpangan pembangunan antar daerah diarahkan pada beberapa aspek yang salah satunya pengembangan wilayah-wilayah strategis. Diharapkan menjadi pusat pertumbuhan yang memberi dampak positif bagi wilayah-wilayah sekitarnya.

II. Kondisi Awal RPJM-N di Tingkat Daerah 2.1. Adanya Kesenjangan Antar Wilayah
Adanya kesenjangan antar wilayah disebabkan belum optimalnya pemanfaatan atau pemberdayaan potensi wilayah yang merupakan keunggulan daya saing wilayah. Oleh karena itu perlu mewujudkan pembangunan perwilayahan fungsional dengan meningkatkan keserasian dan keseimbangan wilayah.

2.2. Kurangnya Sinkronisasi dan Integrasi Pengembangan Wilayah
Kurangnya sinkronisasi dan integrasi pengembangan wilayah melalui kerjasama, sinergis strategis antar kabupaten/kota dan antar kabupaten/kota dengan Provinsi. Dengan terwujudnya keserasian pembangunan antara kabupaten/kota dan antara provinsi dengan kabupaten/kota dalam pengelolaan pembangunan perwilayahan maka akan meningkatkan bantuan infrastruktur wilayah pedesaan.

2.3. Masih banyaknya Pemukiman Kumuh dan Rendahnya Kualitas Hunian Perkotaan dan Perdesaan
Masih banyaknya pemukiman kumuh dan padat serta rendahnya kualitas hunian perkotaan dan perdesaan. Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan prasarana dan sarana antar wilayah masih belum dilaksanakan dengan baik.

192

2.4. Belum Efektif dan Efisien Perencanaan, Pemanfaatan dan Pengendalian Ruang dan Pertanahan
Dalam penatatan ruang dan pertanahan masih banyak terdapat permasalahan-permasalahan yang dapat dirinci lagi sebagai berikut:

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Belum seluruh kawasan strategis memiliki dokumen rencana tata ruang kawasan strategis. Belum efektif dan efisien perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian ruang karena kurangnya pemahaman masyarakat umum dan aparatur pemerintah dalam hal penataan ruang Belum efektifnya kinerja Tim koordinasi penataan ruang daerah dalam memfasilitasi permasalahan dan pengendalian pemanfaatan ruang. Belum terwujudnya atau terbangunnya kesepahaman tentang arti pentingnya tata ruang sebagai salah satu acuan pelaksanaan pembangunan. Meningkatnya dinamika masyarakat dalam penguasaan tanah serta rendahnya pemahaman dan kejelasan terhadap hukum atau peratuaran pertanahan. Masih banyaknya bidang-bidang tanah yang belum disertifikatkan. Masih kurangnya peta dasar pendaftaran tanah yang diperlukan dalam pemetaan bidang tanah yang telah didaftarkan ke kantor pertanahan. Masih diperlukannya titik ikat dalam penentuan dan rekonstruksi koordinat bidang tanah. Masih terbatasnya informasi mengenai penguasaan tanah perdesaan. pengambilan kebijakan pembangunan secara cepat, tepat, efisien seta mudah dalam pembaharuannya.

10. Belum memadainya informasi geografi dalam bentuk digital yang diperlukan dalam perencanaan dan 11. Belum tertibnya penguasaan dan pemilikan tanah pertanian maupun perumahan. 12. Masih terbatasnya jumlah PPAT. 13. Masih banyaknya kasus sengketa tanah karena terbatasnya pemahaman masyarakat tentang hukum
pertanahan.

14. Belum tertibnya penguasaan dan pemilikan tanah. 15. Kurang terkendalinya perubahan pengguanaan tanah pertanian ke non pertanian. 16. Belum optimalnya kemampuan SDM bidang pertanahan dan sarana prasarana untuk mendukung
kelancaran pelaksanaan tugas.

III. Sasaran Yang Ingin Dicapai
Sasaran yang ingin dicapai dalam rangka pengurangan ketimbangan antar wilayah di Provinsi Jawa Tengah adalah:

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 193

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Meningkatnya keserasian dan keseimbangan wilayah. Tersusunnya rencana pengelolaan kawasan Barlingmascakep, Purwomanggung, Banglor, Tangkallangka, Bergas. Tersusunnya zonasi kawasan pertambangan dan kawasan konservasi di 10 kawasan. Tersedianya peta foto udara dan tematik turunnya pada kawasan pertambangan terletak di 11 kawasan. Terwujudnya penataan daerah resapan dan pengaturan daerah pengambilan terletak di 19 CAT. Ditetapkannya wilayah konservasi dan kebijakan pembatasan pengambilan air bawah tanah, terletak di 14 CAT. Terwujudnya keserasian pembangunan antara kabupaten/kota dan antara provinsi dengan kabupaten/kota dalam pengelolaan pembangunan perwilayahan. Bantuan peningkatan infrastruktur pedesaan (bantuan aspal kabupaten/kota) Peningkatan kemampuan aparatur pengawasan daerah.

10. Penyusunan peta pengawasan di Jawa Tengah. 11. Terwujudnya penataan kawasan permukiman di kabupaten/kota. 12. Meningkatnya penyelenggaraan penataan ruang untuk 20 kawasan. 13. Tersedianya data dan informasi tata ruang. 14. Terfasilitasinya kerjasama lintas kabupaten/kota dalam penataan ruang. 15. meningkatnya kinerja tim koordinasi penataan ruang daerah (TKPRD). 16. Meningkatnya pengelolaan ruang melalui pengaturan penataan ruang (se Jawa Tengah). 17. Meningkatnya jasa layanan informasi, konstruksi bangunan, dan uji mutu. 18. Tersosialisasikannya rencana tata ruang wilayah Provinsi (RTRWP) Jawa Tengah. 19. Terwujudnya pelayanan pertanahan di daerah yang didukung sistem informasi pertanahan yang handal. 20. Terpetakannya penggunaan tanah sebanyak 68 SP di 35 Kabupaten/kota se Jawa Tengah. 21. Terpetakannya tanah perkotaan sebanyak 27 SP di Kota Sematang, Kota Surakarta, Kabupaten Blora, Kabupaten Brebes, Kabupaten Cilacap, dan Kabupaten Jepara. 22. Terpetakannya kemampuan tanah sebanyak 612 BLAD di seluruh kabuapten/kota se Jawa Tengah kecuali Kabupaten Batang, Kendal, Pekalongan. 23. Tersedianya peta dasar pendaftaran tanah sebanyak 25.000 bidang di Kabupaten Kudus, Boyolali, Banyumas, Magelang, Pemalang. 24. Terselenggaranya pemberian dan penertiban hak serta percepatan pendaftaran tanah sebanyak 1.750 bidang di 35 Kabupaten/kota se Jawa Tengah. 25. Terselesaikannya pensertifikatan tanah masal melalui PRONA sebanyak 80.000 bidang di 35 kabupaten/kota se Jawa Tengah. 26. Terinventarisasi dan teregistrasinya pertanahan 20 sp (desa/kelurahan) di 15 kabupaten/kota. 27. Terinventarisasi pertanahan 10 sp (desa/kelurahan) yang lokasi desanya berbeda dengan poin 15.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 194

28. Tersosialisasikannya pelaksanaan landreform 25 kabupaten/kota. 29. Terinventarisasinya tanah HPL di Jawa Tengah sebanyak 107 SK. 30. Terinventarisasinya tanah HGB di Jawa Tengah sebanyak 410 bidang di 35 kabupaten/kota se Jawa Tengah. 31. Teridentifikasinya tanah terlantar di Jawa Tengah 168 bidang di 35 Kabupaten/kota se Jawa Tengah. 32. Teridentifikasi dan terinventarisasinya penggunaan dan penguasaan tanah timbul di sepanjang Pantai Utara Jawa Tengah (13 kabupaten/kota). 33. Tersusunnya neraca penggunaan tanah di 31 kabupaten/kota. 34. Termonitornya penguasaan dan pemilikan tanah 10 sp. 35. Terselenggaranya inventarisasi dan evaluasi perubahan penggunaan tanah sawah irigasi dan produktif di Provinsi Jawa Tengah (35 kabupaten/kota).

IV. Arah Kebijakan
Arah kebijakan dalam rangka pengurangan ketimpangan wilayah di Provinsi Jawa Tengah adalah: 1. Terwujudnya percepatan pembangunan di wilayah-wilayah cepat tumbuh dan strategis, wilayah tertinggal, termasuk wilayah perbatasan dalam suatu sistem wilayah pengembangan ekonomi yang terintegrasi dan sinergis. 2. 3. Terwujudnya keseimbangan pertumbuhan pembangunan antar kota-kota metropolitan, besar, menengah, dan kecil secara hirarkis dalam suatu sistem pembangunan perkotaan nasional. Terkendalinya pertumbuhan kota-kota besar dan metropolitan dalam suatu sistem wilayah pembangunan 4. 5. 6. metropolitan yang kompak, nyaman, efisien dalam pengelolaan, serta mempertimbangkan pembangunan yang berkelanjutan. Terwujudnya keterkaitan kegiatan ekonomi antar wilayah perkotaan dan perdesaan dalam suatu sistem wilayah pengembangan ekonomi yang saling menguntungkan. Terwujudnya keserasian pemanfaatan dan pengendalian ruang dalam suatu sistem wilayah pembangunan yang berkelanjutan. Terwujudnya sistem pengelolaan tanah yang efisien, efektif, serta terlaksananya penegakan hukum terhadap hak atas tanah masyarakat dengan menerapkan prinsip-prinsip keadilan, transparansi, dan demokrasi.

V. Pencapaian RPJM-N di Tingkat Daerah 2005-2007 5.1. Upaya Yang Dilakukan Hingga Tahun 2007
Upaya yang dilakukan hingga tahun 2007 dalam rangka pengurangan ketimpangan antar wilayah adalah:

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 195

1.

Pada tahun 2003 telah diketahui potensi 4 CAT (Karanganyar-Boyolali,Semarang-Demak,Subah dan kudus). Pada tahun 2004 terlaksananya zona konfigurasi dan tata guna air bawah tanah pada 3 CAT (Pekalongan-Pemalang, Kebumen-Purworejo, Magelang-Temanggung). Pada tahun 2005 diketahuinya potensi air bawah tanah pada 4 CAT (Cilacap, Ungaran, Salatiga, dan Pati-Rembang).

2. 3. 4.

Pada tahun 2006 tersedia peta zonasi dan foto udara pada kawasan pertambangan (Merapi-MerbabuUngaran). Pada tahun 2006 baru diketahui potensi air bawah tanah pada 3 CAT (Kroya, Sidomulyo, Rawapening) Bantuan peningkatan infrastruktur pedesaan (bantuan aspal kabupaten/kota) berupa 20.000 drum, 790 desa/kelurahan, 34 kabupaten/kota (2003), 22.000 drum, 871 desa/kelurahan, 34 kabupaten/kota (2004), 19.747 drum, 945 desa/kelurahan, 33 kabupaten/kota (2005), 10.827 drum, 695 desa/kelurahan, 32 kabupaten/kota (2006).

5. 6.

Pada tahun 2003 menghabiskan dana Rp. 305.000.000,00, tahun 2004 menghabiskan Rp. 202.274.000,00, tahun 2005 sebesar Rp. 447.500.000,00 dan tahun 2006 sebesar Rp. 255.482.000,00. Penyusunan peta pengawasan di Jawa Tengah dengan tema obyek pemeriksaan yagn sesuai dengan prioritas obyek yang harus diperiksa pada tahun yang bersangkutan, pada tahun 2004 memerlukan Rp. 13.975.000, pada tahun 2005 dengan dana Rp. 38.090.000,00 dan tahun 2006 dengan dana Rp. 28.613.500,00.

7. 8.

Selama tahun 2003-2006 terlaksana 17 kegiatan yang mencakup 9 kegiatan RTR di 9 kawasan dan 8 RTBL di 8 kawasan atau tercapai 85 persen dari target sasaran. Penyusunan RDTR kawasan koridor jalut jalan lintas selatan (JJLS), penyusunan RTR Kawasan blok cepu dan SUBOSUKA WONOSRATEN, Pembinaan teknis (Bintek) penyusunan RTR Kabupaten/kota, Bintek penyusunan RTR dan PRJM-DPPKTP2D. Pemantauan rencana tata ruang kabupaten/kota dan pengendalian pemanfaatan tata ruang.

9.

Selama tahun 2003-2006 tercapai 25 kegiatan dalam bentuk penyusunan RASK, fasilitas penyusunan Usprog, penyusunan Lakip, Monev pembangunan, evaluasi program, evaluasi dan pemutakhiran data, pemantauan dan pengendalian pelaksanaan RTR.

10. Selama tahun 2003-2006 terlaksana 11 kegiatan yang meliputi sosialisasi RTR, sosialisasi standar biaya penyusunan TR, penguatan PSM dalam penyusunan RTR, Bina teknis penguatan PSM dan bintek penyusunan RTR dan RPJM DPPDT2D. 11. Selama 2003-2006 terlaksana 6 kegiatan antara lain pengendalian pemanfaatan ruang K/K 4 kegiatan, dan penyusunan Perda Nomor.11 tahun 2004 dan sosialisasi tentang garis sepadan. 12. Dilakukan tahun 2003 berupa pengendalian pemanfaatan ruang K/K, tahun 2004 tersusunnya Perda 11 tentang garis sempadan dan pengendalian pemanfaantan ruang K/K, tahun 2005 terlaksananya sosialisasi Perda/sempadan dan pengendalian pemanfaatan ruang K/K, tahun 2006 pengendalian pemanfaatan ruang K/K.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 196

13. Selama tahun 2003-2006 terlaksana 11 kegiatan meliputi : penyusunan standar harga kegiatan, pembuatan sistem informasi penataan ruang mengguanakan internet, menyediakan dan meningkatkan pelayanan jasa uji laboratorium dan pelayanan perpustakaan. 14. Selama tahun 2003-2006 terlaksana kegiatan, antara lain penyusunan Perda 21 tahun 2003 tentang RTRW, BKPRD Provinsi, pembentukan dan peningkatan kualitas BKPRD K/K, Peningkatan kualitas dan kuantitas RRW K/K. 15. Selama tahun 2004 dan tahun 2005 terlaksana peluncuran Perda 21 tahun 2003 tentang RTRW dan sosialisasinya. 16. Selama 2003-2006 tercapai 20 SP (29,4 persen) 17. Terlaksana 10 blad baru (16 persen) selama 2003-2005. 18. Terselesaikannya peta dasar pendaftaran tanah TM3 skala 1:1000 sebanyak 35 paket di 35 Kabupaten/kota se Jawa Tengah. 19. Selama tahun 2004-2006 tercapai 2100 bidang (120 persen). 20. Selama tahun 2003-2006 terlaksana 49.660 bidang (62,08 persen). 21. Selama 2003-2006 terinventarisasi 6 SP (30 persen) dari 20 SP rencana.

5.2. Posisi Capaian Hingga Tahun 2007
Pada tahun 2003, 2004 dan 2005 belum ada aktivitas pembuatan peta zonasi dan foto udara. Program baru dilaksanakan mulai tahun 2006 dan belum mencapai target yang ditentukan, dari 11 target kawasan, baru 3 kawasan yang terlaksana. Tersusunnya zonasi kawasan pertambangan dan kawasan konservasi di 10 kawasan telah berjalan baik, bahkan telah melebihi target. Dalam penyelenggaraan penataan ruang untuk 20 kawasan, sasaran yang belum terlaksana ada 3 kawasan. Peningkatan pengelolaan ruang melalui pengaturan penataan ruang (se Jawa Tengah) dapat dilaksanakan secara berkelanjutan pada tahun 2007-2008. Pencapaian program teridentifikasinya dan terinventarisasinya penggunaan dan penguasaan tanah di sepanjang Pantura Jawa Tengah (13 kabupaten/kota) sangat rendah, baru 30 persen dari 13 kabupaten, hal itupun tidak jelas karena lokasi sasaran tidak diketahui lokasi mana yang tercapai dari 168 lokasi sasaran. Dari pencapaian pembangunan wilayah yang telah berhasil diprioritaskan pada pelaksanaan tahun berikutnya.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 197

5.3. Permasalahan Pencapaian Sasaran
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Belum adanya pengelolaan ruang melalui pengaturan se Jawa Tengah penataan ruang yang dilaksanakan secara berkelanjutan. Belum adanya sistem informasi pertanahan yang handal. Belum terpenuhinya peta dasar pendaftaran tanah di Kabupaten Kudus, Boyolali, Banyumas, Magelang, Pemalang. Belum terselesaikannya pensertifikatan tanah masal melalui PRONA di 35 kabupaten/kota se Jawa Tengah. Belum tersusunnya data base pendataan penguasaan tanah pedesaan (PDPT desa). Belum terselesaikannya pengukuran dan pemetaan bidang tanah sesuai kewenangan Kanwil BPN. Belum tersedianya sistem yang terpadu dalam bidang pertanahan dari sistem bank tanah. Belum terkendalinya penggunaan tanah sesuai dengan rencana tata ruang wilayah, termasuk pemantapan sistem perijinan. Belum adanya pemantauan secara dini untuk menghindari konflik kepentingan dan penguasaan tanah yang bukan haknya.

VI. Tindak Lanjut
Upaya yang dilakukan untuk mencapai sasaran pengurangan ketimpangan antar wilayah di Provinsi Jawa Tengah adalah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Peningkatan pengelolaan ruang melalui pengaturan penataan ruang (se Jawa Tengah) dapat dilaksanakan secara berkelanjutan pada tahun 2007-2008. Terwujudnya pelayanan pertanahan di daerah yang didukung sistem informasi pertanahan yang handal pada tahun 2007-2008. Terpetakannya pengguanaan tanah sebanyak 48 SP di 35 Kabupaten/Kota se Jawa Tengah. Terpetakannya tanah perkotaan sebanyak 27 SP di Kota Sematang, Kota Surakarta, Kabupaten Blora, Kabupaten Brebes, Kabupaten Cilacap, dan Kabupaten Jepara pada tahun 2007-2008. Terpetakannya kemampuan tanah sebanyak 602 BALD di seluruh kabupaten/kota se Jawa Tengah kecuali Kabupaten Batang, Kendal, Pekalongan pada tahun 2007-2008. Tersedianya peta dasar pendaftaran tanah sebanyak 25.000 bidang di Kabupaten Kudus, Boyolali, Banyumas, Magelang, Pemalang. Terselesaikannya pensertifikatan tanah masal melalui PRONA sebanyak 50.000 bidang di 35 kabupaten/kota se Jawa Tengah.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 198

8. 9.

Terselesaikannya perapatan titik ikat orde 3 sebanyak 1000 tugu di Kabupaten Semarang, Sukoharjo, Wonosobo, Pemalang dan Banjarnegara. Tersusunnya data base pendataan penguasaan tanah pedesaan (PDPT desa) sebanyak 75 sp. 10.000 ha di 35 kabupaten/kota se Jawa Tengah.

10. Terselesaikannya pengukuran dan pemetaan bidang tanah sesuai kewenangan Kanwil BPN seluas 11. Terinventarisasi dan teregistrasinya pertanahan 14 sp (desa/kelurahan) di 15 kabupaten/kota. 12. Terinventarisasi pertanahan 6 sp (desa/kelurahan) yang lokasi desanya berbeda dengan point 11 pada kabupaten/kota yang sama dengan point 11. 13. Teridentifikasinya tanah terlantar di Jawa Tengah 168 bidang di 29 kabupaten/kota se Jawa Tengah, teridentifikasinya pola pengelolaan lahan terlantar (abondaned land) dan lahan kosong (vacant land). 14. Pemantauan tanah timbul secara dini untuk menghindari konflik kepentingan dan penguasaan yang bukan haknya. 15. Tersedianya sistem yang terpadu dalam bidang pertanahan dari sistem bank tanah, perijinan hingga pembangunan di masing-masing kabupaten/kota hingga memudahkan penduduk untuk menguasai, memiliki lahan serta untuk menggunakan. 16. Terkendalinya penggunaan tanah sesuai dengan rencana tata ruang wilayah, termasuk pemantapan sistem perijinan meliputi kegiatan tersedianya pemetaan yang dapat di update sehingga memudahkan dalam pengarsipan tanah. 17. Penyusunan neraca penggunaan tanah di 23 kabupaten/kota.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 199

BAB 4.12
Peningkatan Akses Masyarakat Terhadap Pendidikan Berkualitas

I. Pengantar
Pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) pada hakekatnya ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam rangka membangun peradaban bangsa. Sejalan dengan paradigma baru di era globalisasi yaitu Tekno-Ekonomi (Techno-Economy Paradigm), teknologi menjadi faktor yang memberikan kontribusi signifikan dalam peningkatan kualitas hidup suatu bangsa. Implikasi paradigma ini adalah terjadinya proses transisi perekonomian dunia yang semula berbasiskan pada sumber daya (Resource Based Economy) menjadi perekonomian yang berbasiskan pengetahuan (Knowledge Based Economy). Pada KBE, kekuatan bangsa diukur dari kemampuan iptek sebagai faktor primer ekonomi menggantikan modal, lahan dan energi untuk peningkatan daya saing. Pembangunan iptek merupakan sumber terbentuknya iklim inovasi yang menjadi landasan bagi tumbuhnya kreativitas sumberdaya manusia (SDM), yang pada gilirannya dapat menjadi sumber pertumbuhan dan daya saing ekonomi. Selain itu iptek menentukan tingkat efektivitas dan efisiensi proses transformasi sumberdaya menjadi sumberdaya baru yang lebih bernilai. Dengan demikian peningkatan kemampuan iptek sangat diperlukan untuk meningkatkan standar kehidupan bangsa dan negara, serta kemandirian dan daya saing bangsa Indonesia di mata dunia. Pembangunan bidang pendidikan Provinsi Jawa Tengah dilaksanakan dalam kerangka pembangunan bidang pendidikan daerah dan nasional, yang terus diarahkan untuk mewujudkan masyarakat Jawa Tengah yang cerdas, produktif, dan berakhlak mulia melalui upaya pengembangna dan penyesuaian pendidikan dengan tuntutan perkembangan IPTEK dan kebutuhan pasar kerja. Upaya tersebut menunjukkan hasil positif, yang ditunjukkan melalui beberapa indikator bidang pendidikan. Sejalan dengan komitmen kondisi Jawa Tengah tahun 2008 akan merealisasikan anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBD sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945. Pada tahun 2007 Gubernur Jawa Tengah memperoleh Anugerah Aksara Tingkat Utama pada peringatan Hari Aksara Internasional ke-42 di Makassar pada bulan september 2007. Berkaitan dengan relevansi pendidikan, khususnya pendidikan menengah kejuruan , dari jumlah SMK yang ada 849 sekolah, atau 94,32 persen telah menerapkan Pendidikan Sistem Ganda (PSG) melalui pemagngan di dunia kerja dan industri. Hal tersebut

200

menunjukkan adanya upaya dunia pendidikan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja. Aspek kualitas dan relevansi pendidikan sangat terkait dengan peningkatan mutu dan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan yang berhubungan dengan input dan output proses pembelajaran. Sehubungan dengan itu, pada tahun 2007 Jawa Tengah keluar sebagai Juara Umum dalam kegiatan Pemilihan Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas Sekolah Berprestasi Tingkat Nasional. Apabila dihadapkan dengan kondisi secara nasional dan global, pembangunan pendidikan di Jawa Tengah dihadapkan dengan berbagai masalah antara lain: kurangnya pemerataan pendidikan, kurangnya kualitas pendidikan, kurangnya relevansi pendidikan, kurangnya efisiensi dan efektifitas pendidikan, serta belum optimalnya mnajemen dan kemandirian pendidikan.

II. Kondisi Awal RPJM-N di Tingkat Daerah
Data Angka Partisipasi Murni (APM) di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2006 untuk SD/MI menunjukkan angka 89,98% dan S MP/MTs sebesar 69,01%, sedangkan angka transisi (AT) dari SD/MI ke SMP/MTs adalah 84,93%. Diprediksi pada tahun 2007 Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI akan meningkat menjadi 94,99% dan SMP/MTs sebesar 79,50%, sedangkan AT akan mencapai angka 89,96%. Dalam APM untuk SMA/MA pada tahun 2006 menunjukkan angka 36,56% dan prediksi akan meningkat menjadi 45,78% pada tahun 2007, sedangkan angka transisi (AT) sebesar 61,57% pada tahun 2006 diprediksi juga meningkat mencapai angka 68,28% pada tahun 2007. Berdasarkan data yang diperoleh pada tahun 2006 penduduk yang menyelesaikan wajib belajar 9 tahun yaitu: SMP 87,78 persen dan MTs 86,85 persen. Pada tahun 2005 Angka Partisipasi Kasar (APK) adalah: Tingkat SD = 101,74 persen, tingkat SMP = 86,21 persen, dan tingkat SMA 48,23 persen. Pada tahun 2006 APK adalah SMA/MA = 50,63 persen. Pada tahun 2007 angka APK tingkat SD/MI = 108,23 persen , tingkat SMP/Mts = 92,82 persen, dan tingkat SMA/SMK/MA = 55,31 persen. Partisipasi masyarakat untuk melanjutkan SD, SMP, dan SMA pada tahun 2006 adalah rata-rata menyelesaikan SMP = 87,78 persen, MTs = 86,85 persen, SMA = 90,58 persen, SMK = 86,71 persen dan MA = 88,13 persen. Selain juga diketahui angka putus sekolah tahun 2005 SD/MI = 0,24 persen dan SLTP/MTs = 1,04 persen. Pada tahun 2006 terdapat angka putus sekolah tingkat SD/MI = 0,29 persen serta ALTP/MTs = 1,04 persen. Keburhasilan tingkat pendidikan dapat diketahui juga rata-rata siswa yang menyelesaikan setiap jenjang pendidikan adalah: Pada tahun 2006, porsentase siswa yang lulus ujian tingkat SMP = 87,78 persen, MTs = 86,85 persen, SMA = 90,58 persen, SMK = 86,71 persen, dan MA = 88,13 persen, sedangkan pada tahun 2007 porsentase kelulusan UAS siswa SD = dari 616.484 orang yang lulus hanya 571.130 (92,64 persen), SMP = dari 484055 orang yang lulus hanya 419.710 (86,71 persen) dan SMA = dari 279.385 orang yang lulus hanya 247.630 (88,63 persen).

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 201

Keberhasilan pendidikan masyarakat di daerah dapat dilihat dari angka penduduk yang menyadang buta aksara. Angka Buta Aksara tahun 2005 adalah 3,17 juta jiwa, 2006 adalah 2,90 juta jiwa, dan tahun 2007 adalah 304.018 warga. Hal ini juga berkaitan dengan program penuntasan yang dilakukan oleh pemerintah adalah: Usia 15-44 tahun yang menyandang buta aksara telah dituntaskan pada tahun 2005 sebanyak 598.018 orang, tahun 2006 sebanyak 294.000 orang, dan dan pada tahun 2007 penuntasan buta aksara usia produktif 304.018 orang. Salah satu pentingnya untuk melihat keberhasilan pembangunan bidang pendidikan adalah kondisi guru yang memenuhi persyaratan kebijakan mengajar, bahkan pada tahun 2007 diberlakukannya uji sertifikasi bagi guru dengan tujuan agar kualitas guru dapat ditingkatkan. Berdasrkan data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan provinsi Jawa Tengah tahun 2007, jumlah guru SD/MI menrut ijazah tertinggi lulusan D2 adalah 95.610 orang, lulusan D3 keguruan sebanyak 32.489 orang dan lulusan S1 keguruan sebanyak 27.894 orang, sedangkan guru lulusan S2 sebanyak 133 orang. Pada SMP/MTs dan SMA/MA kondisi guru cukup baik dimana sebagian besar guru adalah lulusan S1 keguruan. Untuk SMP/MTs jumlah guru lulusan S1 keguruan sebanyak 43.887 orang dan S1 non keguruan sebanyak 12.090 orang, sedangkan guru dengan lulusan S2 adalah sebanyak 499 orang. Pada SMA/MA, jumlah guru lulusan S1 keguruan berjumlah 5.341 orang sedangkan guru dengan lulusan S2 sebanyak 550 orang. Pemerintah dalam meningkatkan taraf kualitas pendidikan juga telah menerbitkan produk hukum standar pelayanan minimal pendidikan tingkat kabupaten dan kota pada tahu 2005 yaitu dengan adanya UndangUndang Nomor14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang mensyaratkan sertifikasi minimal S1 dan D4. Kebijakan ini juga disertai dengan sertifikasi jenjang kewenangan mengajar pada tahun 2006-2007 sebanyak 28.773 orang guru lulus sertifikasi 38,20 persen. Pendidikan bagian dari pembangunan memiliki relevansi dengan kebutuhan pembangunan. Jumlah dan kualitas hasil penelitian, pengembangan dan penciptaan ilmu pengetahuan dan teknologi oleh perguruan tinggi pada tahun 2003-2008 adalah diadakannya kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan dan IPTEK, dilaksanakan serta dikoordinasi lebih lanjut oleh Dinas Pendidikan Kebudayaan, Badan Penelitian dan Pengembangan bekerjasama dengan berbagai Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta di Jawa Tengah serta Balai Penelitian Pertanian Tanaman Pangan (BPTP) telah melaksanakan penelitian dengan hasil: Bidang teknologi dan ekonomi 68 topik, bidang pemerintahan 23 topik, dan bidang sosial budaya 31 topik bagi 100 kegiatan dosen, ditahun 2007 terdapat bidang teknologi dan ekonomi 12 topik penelitian, bidang pemerintahan 7 topik penelitian, dan bidang sosial budaya 6 topik penelitian.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 202

Pemerintah Jawa Tengah tentang jumlah dan sumber anggaran pendidikan sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan adalah: pata tahun 2005 jumlah anggaran pendidikan 3.526.839 juta rupiah (10,18 persen), pada tahun 2006 jumlah anggaran pendidikan 3.587.186 juta rupiah (15,09), dan pada tahun 2007 jumlah anggaran pendidikan 4.366.899 juta rupiah (17,50 persen) Disamping itu, adanya kecenderungan penerimaan siswa baru dengan biaya yang relatif sangat tinggi tentu saja sangat berpengaruh pada penuntasan program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 tahun yang direncanakan pada tahun 2006. Sedangkan lulusan yang melanjutkan ke Perguruan Tinggi relatif rendah, karena berbagai faktor diantaranya beban biaya yang tinggi serta terbatasnya daya tampung Perguruan Tinggi. Di samping itu, penyelenggaraan pendidikan non formal belum dapat secara optimal mengembangkan potensi, penguasaan pengetahuan dan ketrampilan fungsional bagi peserta didik yang dikarenakan keterbatasan sarana dan prasarana pembelajaran. Kualitas dan relevansi pendidikan yang belum sesuai sangat berkaitan dengan input dan output proses pembelajaran, tampak pada pencapaian ratio hasil ujian akhir, terjadinya perubahan kurikulum secara cepat, terbatasnya penyediaan prasarana/sarana pendidikan, rendahnya mutu, kesejahteraan dan kekurangan tenaga kependidikan serta terjadinya kekurang relevansian (missmatch) antara tamatan pendidikan dengan kualifikasi/standar kompetensi dan kebutuhan dunia usaha/industri. Manajemen dan kemandirian sekolah juga masih lemah karena belum optimalnya keterlibatan sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan, sehingga masih perlu dilaksanakan fasilitasi serta pendampingan secara berkelanjutan dan intensif. Kondisi sarana dan prasarana pendidikan berupa ruang kelas berdasarkan data BPKP perwakila Jawa Tengah pada tahun 2007 cukup memprihatinkan. Pada SD/MI, ruang kelas yang dalam kondisi baik hanya 42,99%, sisanya adalah rusak ringan 36,09%, sedangkan rusak sedang 13,52% dan rusak berat sebesar 9,01%. Pada SMD/MTs, ruang kelas yang dalam kondisi baik sebesar 68,26%, rusak ringan sebesar 26,11%, rusak sedang 3,92% dan sisanya 1,70% rusak berat. Untuk ruang SMA berdasarkan data dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah keadaan tahun 2005/2006 yang didalam kondisi baik adalah sebanyak 19.671 unit (90,74%), kondisi rusak ringan 1.667 unit (7,69%), sedangkan rusak berat adalah 340 unit (1,57%). Terkait dengan upaya sarana pendidikan, pemerintah Provinsi Jawa Tengah mulai tahun 2004 menyalurkan dana bantuan peningkatan sarana dan prasarana pendukung lainnya. Pada tahun 2007 penyaluran dana dan

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 203

bantuan dilakukan sebanyak 6 (enam) tahap dengan jumlah total bantuan mencapai Rp 114 milyar lebih dan masing-masing tahap dikeluarkan berdasarkan Keputusan Gubernur Jawa Tengah. Kegiatan kerjasama antar lembaga provinsi atau negara yang terselenggara sampai pada tahun 2006 adalah pertukaran guru, siswa dan staf perencana dengan negara bagian Queensland, yaitu sebanyak 35 orang, dengan rincian 10 orang pada tahun 2004, 17 orang pada tahun 2005, dan 18 orang pada tahun 2006. Dengan demikian, pembangunan bidang pendidikan masih dihadapkan pada beberapa permasalahan, antara lain: (1) Kurangnya pemerataan pendidikan; (2) Kurangnya kualitas pendidikan; (3) Kurangnya relevansi pendidikan; (4) Kurangnya efisiensi dan efektivitas pendidikan; (5) Belum optimalnya manajemen dan kemandirian pendidikan.

III. Sasaran yang Ingin Dicapai
Sasaran yang ingin di capai dalam mewujudkan peningkatan pendidikan yang berkualitas adalah:

a. Meningkatnya pemerataan dan perluasan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu. b. c. d. e. f. g.
Meningkatnya kualitas tamatan pendidikan sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan industri. Terlaksananya kurikulum berbasis kompetensi. Terlaksananya standar pelayanan minimal pendidikan sesuai dengan prinsip manajemen berbasis sekolah. Tersedianya sarana dan prasarana pendidikan yang memadai. Meningkatnya kualitas, kualifikasi, dan kesejahteraan tenaga pendidikan. Terselenggaranya kerjasama bidang pendidikan antar Lembaga, Provinsi, dan Negara.

IV. Arah Kebijakan
Kebijakan, Untuk mengatasi permasalahan tersebut di atas, kebijakan pembangunan bidang pendidikan diarahkan untuk: (1) Memperluas dan meningkatkan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu di berbagai jenjang, jenis dan jalur pendidikan; (2) Meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri; (3) Meningkatkan kualitas layanan penyelenggaraan pendidikan formal/ non formal; (4) Meningkatkan manajemen pendidikan yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. Tujuan, Meningkatkan kualitas sumber daya manusia seutuhnya yaitu beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berbudi perkerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, sehat jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap, mandiri, bertanggung jawab dan memiliki etos kerja yang tinggi.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 204

Strategi, yang dilakukan untuk mencapai tujuan pembangunan pendidikan adalah: (1) Perluasan dan peningkatan akses serta jangkauan layanan memperoleh pendidikan; (2) Peningkatan kualitas tamatan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi serta relevansi dengan kebutuhan dunia kerja/ usaha; (3) Penerapan standar pelayanan minimal pendidikan sesuai dengan prinsip manajemen berbasis sekolah; (4) Peningkatan kualitas sarana dan prasarana pendidikan yang memadai; (5) Peningkatan kualitas, profesionalisme dan kesejahteraan tenaga kependidikan; (6) Peningkatan jaringan kerjasama dan penguatan kelembagaan pendidikan; serta (7) Pemberdayaan dewan pendidikan dan komite sekolah/ madrasah serta partisipasi masyarakat di dalam penyelenggaraan pendidikan. Program yang digunakan dalam rangka Pembangunan pendidikan adalah:

1.

Perluasan dan Peningkatan Akses Jangkauan Pelayanan Pendidikan. Program ini untuk: (a) memperluas jangkauan dan daya tampung; (b) memberi kesempatan bagi kelompok kurang beruntung (terpencil, kumuh, miskin, daerah bermasalah, anak jalanan) untuk memperoleh pendidikan baik formal maupun non formal.

2.

Peningkatan Kualitas Sarana dan Prasarana Pendidikan. Program ini untuk: (a) menyediakan dan merawat prasarana dan sarana pendidikan yang memadai; (b) meningkatkan efisiensi dan efektifitas proses pembelajaran

3. 4. 5.

Peningkatan Kualitas Siswa. Program ini untuk meningkatkan kualitas siswa dan tamantan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan diatasnya dan relevansi kebutuhan dunia kerja. Peningkatan dan pengembangan kurikulum. Program ini untuk mengembangkan dan menyempurnakan kurikulum sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta pasar kerja/ industri. Peningkatan Kualitas Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Program ini untuk meningkatkan kualitas, kualifikasi dan tingkat kesejahteraan pendidik dan tenaga kependidikan sehingga dapat menunjang proses pembelajaran.

6.

Penataaan Sistem dan Kelembagaan Pendidikan. Program ini untuk: (a) meningkatkan kualitas dan tersellenggaranya manajemen pendidikan yang berbasis sekolah dan masyarakat; (b) meningkatkan transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan; serta (c) meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan.

7. 8. 9.

Peningkatan Satuan Pendidikan Yang Bertaraf Internasional. Program ini untuk menyediakan layanan pendidikan bertaraf internasional serta inovasi pendidikan sesuai kebutuhan global. Peningkatan Kerjasama Antar Lembaga Pendidikan Dalam dan Luar Negeri. Program ini untuk terselenggaranya kerjasama antar lembaga sebagai upaya peningkatan kualitas pendidikan Fasilitasi Pendidikan Tinggi. Program ini untuk membantu dan memfasilitasi penyelenggaran pendidikan tinggi

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 205

V. Pencapaian RPJMN di Daerah (2005-2007) 5.1. Upaya yang Dilakukan hingga tahun 2007
Pemerintah Jawa Tengah dalam meningkatkan kualitas pendidikan melakukan berbagai program antara lain:

1. Perluasan dan Peningkatan Akses dan Jangkauan Pelayanan Pendidikan. a. b. c.
Lomba penuntasan Wajar Diknas yang telah berhasil dilaksanakan di 35 kabupaten/kota yang ada gi Jawa Tengah sejak 2004 serta dapat dipertahankan pada tahun 2005 dan 2006. Pengembangan program inkluasi SLB, pada tahun 2004 dilaksanakan di 81 sekolah dan tahun 2006 menunjukkan adanya penurunan karena hanya menjangkau 12 sekolah. Bantuan beasiswa pada siswa kurang mampu SD/MI dan SMP/MTs, pada tahun 2004 disalurkan 3.200 anak, pada tahun 2005 meningkat menjadi 7500 anak, dan pada tahun 2006 ditingkatkan lagi 18.950 anak.

d.

Bantuan penyelenggaraan pendidikan Kejar Paket A setara SD, tahun 2004 disalurkan untuk 1.720 kelompok, dan pada tahun 2005 disalurkan 1.892 kelompok, dan pada tahun 2006 meningkat 2.270 kelompok.

e.

Bantuan penyelenggaraan Kejar Paket B setara SMP, tahun 2004 disalurkan untuk 37.700 kelompok, pada tahun 2005 41.470 kelompok, dan pada tahun 2006 49,764 kelompok, sehingga menunjukkan keberhasilan peningkatan setiap tahunnya.

f.

Upaya penigkatan kualitas SDM perempuan di bidang pendidikan formal dan non formal, termasuk pendidikan agama dan penguasaan teknologi dalam rangka mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender melalui pendidikan model peka jender, yang dijalankan sejak tahun 2004, 2005, 2006dengan sasaran setiap tahunnya 150 kelompok sasaran; kegiatan advokasi penanggulangan tindak pidana kekerasan terhadap anak yang dilakukan tahun 2005 dan 2006 dengan sasaran yang tercapai 150 kelompok setiap tahunnya; dan pelatihan TOT yang diselenggarakan tahun 2004, 2005, dan 2006 dengan jumlah peserta setiap tahunnya 200 orang.

2. Peningkatan Kualitas Siswa a. Penyelenggaraan promosi kompetensi siswa, dapat dilaksanakan mulai tahun 2005 diikuti 372 orang
dan pada tahun 2006 juga diikuti sebanyak 372 siswa.

b. Pengembangan career center, pada tahun 2004 diikutioleh 100 orang , pada tahun 2005 diikuti 100
orang, dan pada tahun 2006 diikuti oleh 70 orang.

c. Lomba cerdas cermat SMP/MTs, mulai diadakan tahun 2005 dengan alokasi peserta 70 orang dan
tahun 2006 jumlah peserta yang sama 70 orang.

d. Lomba bercerita bahasa inggris SMP/MTs, mulai diadakan tahun 2005 dengan alokasi peserta 70
orang dan pada tahun 2006 jumlah peserta yang sama 70 orang.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 206

e. Diklat siswa SMK, mulai diselenggarakan tahun 2004 dengan peserta sebanyak 3.600 orang, tahun
2005 dengan jumlah peserta sebanyak 3.600 orang, dan tahun 2006 dengan jumlah peserta sebanyak 3.100 orang atau mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.

3. Peningkatan dan Pengembangan kurikulum
a. Workhshop dan pengembangan kurikulum Mulok KBK SD/MI dan SMP/MTs yang diselenggarakan pada tahun 2005 dan tahun 2006 peserta masing-masing 400 orang. b. Uji kompetensi bagi guru SD/MI, telah dilakukan pada tahun 2005 bagi sebanyak 9.000 orang guru dan tahun 2006 sebanyak 9.000 orang guru. c. Pembinaan teknis Penataan kurikulum (PLB), dilaksanakan mulai tahun 2004 dengan peserta sejumlah 300 orang, tahun 2005 diikuti oleh 200 peserta, dan tahun 2006 diikuti oleh 300 orang peserta. d. Pembinaan teknis KBK dan CTL, dilaksanakan mulai tahun 2004 dengan peserta sejumlah 300 orang, than 2005 yang diikuti 200 peserta dan than 2006 diikuti oleh jumlah peserta 300 orang.

4. Penataan sistem dan kelembagaan pendidikan
a. Pendampingan program MBS, dilaksanakan sejak tahun 2004 hingga tahun 2006 dan jangkauan seluruh kabupaten/kota di provinsi Jawa Tengah sejumlah kabupaten/kota. b. Pelaksanaan akreditasi sekolah SLB, SMA, dan SMK. Pada tahun 2004 berhasil dilaksanakan di 47 sekolah,kemudian pada tahun 2005 meningkat pesat menjadi 450 sekolah, dan pada tahun 2006 menjadi 475 sekolah. c. Sosialisasi dan studi kelayakan SMA terbuka, dilakukan mulai tahun 2005 dan telah dilaksanakan di 18 kabupaten/kota, sementara pada tahun 2006 kegiatan ini berhasil menjangkau 20 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah. d. Rapat koordinasi pengurus dewan pendidikan provinsi yang telah diselenggarakan tiap tahun mulai tahun 2004, tahun 2005, dan tahun 2006 diseluruh kabupaten/kota provinsi Jawa Tengah yang lebih demokratis, transparan, efisien, dapat dipertanggungjawabkan (accountable).

5. Peningkatan Kualitas dan sarana prasarana pendidikan
a. Bantuan rehab ruang belajar SD/MI, pada tahun 2005 dengan sarana sejumlah 245 sekolah dan dilanjutkan pada tahun 2006 dengan sasaran meningkat 1.000 sekolah. b. Bantuan pengadaan mebeler SD/MI pada tahun 2005 untuk 210 sekolah dan pada tahun 2006 meningkat drastis 1.500 sekolah. c. Bantuan pembangunan ruang perpustakaan SD/MI pada tahun 2004 dengan sasaran 105 unit perpustakaan, pada tahun 2005 sebanyak 105 unit perpustakaan, dan tahun 2006 dengan capaian 75 unit perpustakaan. d. Bantuan rehab ruang belajar SMP/MTs, dilaksanakan mulai tahun 2005 dengan sasaran sejumlah 140 sekolah, dan dilanjutkan 2006 meningkat menjadi 205 sekolah.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 207

e. Rehab gedung SMA/SMK, dilaksanakan mulai tahun 2004 denga sasaran sejumlah 110 sekolah, pada tahun 2005 sejumlah 112 sekolah, dan pada tahun 2006 sejumlah 140 sekolah. f. Bantuan rehab gedung SD/SLB, dilaksanakan mulai tahun 2005 sasaran sejumlah 10 sekolah,dan tahun 2006 capaiannya juga 10 sekolah.

5.2. Posisi Capaian hingga tahun 2007
Posisi capaian pembangunan pendidikan di Jawa Tengah hingga tahun 2007 adalah sebagai berikut: 1. Upaya Perluasan dan Peningkatan Akses Pelayanan Pendidikan telah dilakukan dengan berbagai kegiatan mendukung. Program ini akan lebih efektif lagi apabila didukung dengan anggaran yang memadai sehingga pemberian beasiswa pada masyarakat kurang mampu dapat lebih diperluas, dengan demikian akses mereka terhadap pendidikan akan lebih terbuka. 2. Program peningkatan kualitas siswa juga dilakukan melalui berbagai kegiatan yang inovatif seperti adanya pengembangan career centre, berbagai lomba akademis, maupun program pendidikan dan pelatihan bagi siswa SMK. Namun program-program peningkatan kualitas juga perlu didukung oleh program pengembangan kurkulum yang lebih memadai. 3. 4. Belum optimalnya program peningkatan dan pengembangan kurikulum, karena program ini tidak dapat dibebankan kepada daerah smata karena kebijakan kurikulum adalah kebijakan yang bersifat nasional. Program peningkatan kualitas sarana dan prasaran pendidikan juga terlaksana dengan baik melalui berbagai upaya melengkapai peralatan belajar, maupun rehablitasi gedung sekolah yang perlu diperbaiki. Secara kuantitatif cakupan jumlah sekolah yang memperoleh bantuan rehabilitasi dan perlengkapan sekolah mengalami peningkatan setiap tahunnya.

5.3. Permasalahan Pencapaian Sasaran
Beberapa permasalahan dalam pencapaian sasaran pembangunan pendidikan di Jawa Tengah adalah:

a. b. c.

Masih banyaknya kebutuhan beasiswa bagi masyarakat kurang mampu beasiswa bagi. Peningkatan kualitas siswa melalui kurikulum sekolah. Selama ini kurikulum yang ada di sekolah belum menemukan bentuk yang stabil, terlihat dengan adanya gejala pergantian kurikulum yang terlalu cepat. Terlalu sering berubahnya kurikulum di sekolah. Hal ini tentu saja merepotkan semua pihak dan terlalu banyak membuang energi dan anggaran.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 208

VI. Tindak Lanjut
Upaya tindak lanjut dalam memperbaiki pendidikan yang berkualitas di Jawa Tengah adalah: 1. Memberikan akses pendidikan bagi semua masyarakat dengan menyediakan pendidikan muarah dan terjangkau. 2. Penyediaan anggaran beasiswa dan bantuan bagi siswa dari keluarga miskin. 3. Adaptif terhadap perkembangan. 4. Memberikan muatan yang dapat menggiat kan potensi jiwa dan kreatifitas kewirausahaan. 5. Kepedulian terhadap pelestarian lingkungan hidup, bagi peserta didik. 6. Penetapan kurikulum secara konsisten an tidak berubah-ubah tiap tahunnya. 7. Penyusunan kurikulum yang berisi muatan lokal, seperti kepariwisataan daerah kebudayaan an kesenian daerah. 8. Bantuan rehabilitasi bangunan sekolah yang telah rusak. 9. Penamabahan sarana dan prasarana belajar yang secar kuantitas berimbang di tiap kabupaten dan kota.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 209

BAB 4.13
Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Kesehatan yang Berkualitas

I. Pengantar
Pembangunan kesehatan di Jawa Tengah ditujukan untuk menciptakan manusia yang sehat, cerdas dan produktif. Perkembangan kesehatan diarahkan untuk dapat meningkatkan kualitas kehidupan, serta peningkatan usia harapan hidup manusia, meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat, serta untuk mempertinggi kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat. Peningkatan derajat kesehatan masyarakat menunjukkan adanya perbaikan yang cukup berarti. Hal ini ditandai dengan peningkatan usia harapan hidup waktu lahir dari 69,7 tahun pada tahun 2005, 70,8 tahun pada tahun 2006 menjadi 71,1 tahun pada tahun 2007. Menurunnya Angka Kematian Bayi (AKB) dari 25/1000 pada tahun 2005, 14,23/1000 kelahiran hidup pada tahun 2006, dan menurunnya Angka kematian Balita menjadi 9,52/1000 pada tahun 2007. Selain itu menurunnya Angka Kematian Ibu (AKI) dari 115,57/100.000 kelahiran hidup pada tahun 2005, 101,37/100.000 kelahiran hidup pada tahun 2006, menjadi 97,62/100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007. Lebih lanjut mengenai gambaran kondisi kesehatan di Jawa Tengah yang berkaitan dengan perilaku hidup sehat dan pemberdayaan masyarakat tercatat bahwa 8,7 persen dari jumlah KK sebesar 7.876.988 KK merupakan tatanan rumah tangga dalam katagori sehat utama dan sehat paripurna; Kelompok Kesehatan Kerja pada institusi mencapai 30 persen dan sektor informal mencapai 70 persen dari jumlah kabupaten/kota; Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat yang masuk katagori mandiri dan paripurna sebesar 15 persen. Kondisi kesehatan yang berkaitan dengan lingkungan sehat tercermin yaitu dari jumlah seluruh rumah tangga yang memanfaatkan air bersih mencapai 74 persen, yang menggunakan jamban 58,58 persen serta rumah tangga dengan kriteria sehat 68 persen. Tempat Tempat Umum (TTU) yang memenuhi syarat kesehatan 65 persen, Tempat Pengelolaan Makanan (TPM) yang memenuhi syarat kesehatan 68 persen sedangkan limbah rumah tangga yang memenuhi syarat kesehatan sebesar 35 persen. Sekolah yang memenuhi syarat UKS 50 persen, kelompok masyarakat pekerja dan institusi yang sudah melaksanakan Upaya Kesehatan Kerja (UKK) 15 persen.

210

Kondisi yang berkaitan dengan upaya pelayanan kesehatan tercatat angka kesakitan penyakit menular untuk DBD 1,9/10.000 penduduk, malaria 1,44/1.000 penduduk, HIV/AID 143 kasus, pneumonia 16,6 persen dari total penduduk, kusta 0,57/10.000 penduduk dan angka kesembuhan penderita TBC Paru masih sekitar 80 persen; Angka kesakitan penyakit tidak menular tercatat untuk penyakit jantung koroner 5,3/1000, penyakit kencing manis (diabetes) 1,6/1000 dan neoplasma 0,5/1000 penduduk. Selain itu Bed Occupancy Rate (BOR) rata-rata RSU Pemerintah mencapai 59 persen, Length of Stay (LOS) 4 hari, rata-rata Gross Death Rate (GDR) 0,025 persen dan Net Death Rate sebesar 0,05 persen. Kondisi lainnya adalah cakupan pelaporan Rumah Sakit Swasta kurang dari 25 persen dengan ketepatan dan kelengkapan yang rendah. Rumah sakit Pemerintah dan Swasta yang sudah terakreditasi dengan 5 standard sebanyak 79 Rumah Sakit (60 persen) dan 12 standard sebanyak 34 Rumah Sakit (44 persen). Berkenaan dengan pengawasan obat, makanan dan bahan berbahaya, saat ini persentase ketersediaan obat essensial belum optimal yaitu 91,16 persen. Persentase tersebut belum sesuai dengan target yang ditetapkan yaitu 100 persen. Kondisi lain yang dijumpai adalah penerapan konsep penggunaan obat rasional belum optimal, persentase pasien yang menerima obat antibiotik di Puskesmas sebanyak 51 persen, Rumah Sakit Pemerintah 49 persen. Persentase tersebut sudah melebihi target yang ditetapkan yaitu sebesar 40 persen. Perlindungan masyarakat dari sediaan farmasi yang tidak memenuhi persyaratan mutu dan keamanan dirasakan belum optimal. Obat yang tidak memenuhi persyaratan mutu dan keamanan mencapai 2,43 persen dari total sampel yang dipantau, kosmetik dan alat kesehatan yang tidak memenuhi syarat sebesar 9,5 persen dan label 24,4 persen, untuk obat tradisional yang tidak memenuhi syarat sebesar 41,84 persen dan label 7,77 persen, sedangkan untuk makanan minuman yang tidak memenuhi syarat 53,48 persen dan label 13,28 persen dari total sampel yang diperiksa. Khusus berkaitan dengan penyalahgunaan dan kesalahgunaan Narkoba, pada tahun 2002 telah dilakukan test urine kepada para siswa SMU sebanyak 2100 siswa, yang positif tercatat 53 siswa. Adapun jumlah korban penyalahgunaan narkoba pada tahun 2002 relatif banyak yaitu sebanyak 9.889 orang. Kemudian dalam rangka penegakan peraturan Perundang-Undangan di bidang Farmasi juga dirasakan belum optimal, termasuk belum dikembangkan Obat Asli Indonesia (OAI). Berkenaan dengan sumber daya kesehatan, persentase lembaga pendidikan dan latihan kesehatan yang telah terakreditasi sebesar 20 persen dari jumlah institusi sebanyak 104 institusi, adapun targetnya adalah 40 persen. Hingga saat ini tenaga kesehatan profesional belum pernah diuji untuk mendapatkan lisensi sebagai persyaratan melakukan tugas pelayanan kesehatan. Persentase sarana pelayanan kesehatan yang terakreditasi untuk Rumah Sakit Pemerintah sebesar 23 persen dari 47 RS Pemerintah, sedangkan targetnya adalah 30 persen sedangkan untuk Puskesmas masih 0 persen dari target 5 persen

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 211

Sementara itu berdasarkan hasil pemantauan Balai Besar POM Semarang pada tahun 2002, garam konsumsi yang memenuhi syarat kadar yodat masih rendah yaitu dibawah 30 persen. Sedangkan menurut perhitungan BPS Jawa Tengah pada tahun 2001, persentase rumah tangga di Jawa Tengah yang mengkonsumsi garam yodium dengan kadar cukup baru mencapai 55,65 persen. Namun berdasarkan hasil pemantauan garam melalui anak SD tahun 2002 persentase garam beryodium dengan kadar cukup adalah 66,3 persen. Berkaitan dengan kebijakan dan manajemen bidang kesehatan saat ini telah tersusun rancangan komponen sistem kesehatan wilayah namun demikian rancangan tersebut masih perlu penyempurnaan. Disamping itu proses perencanaan bidang kesehatan dirasakan masih belum optimal dikarenakan kurangnya tenaga dan ketrampilan petugas perencana bidang kesehatan. Demikian halnya mengenai pemanfaatan data dan informasi yang tersedia juga belum optimal, di sisi lain data/ informasi mengenai derajat kesehatan yang tersedia dirasakan masih kurang valid.

II. Kondisi Awal RPJMN 2004-2009 di Tingkat Daerah
Potensi yang tersedia untuk mendukung pelayanan kesehatan adalah dengan tersedianya jumlah sarana kesehatan masyarakat, yaitu seperti: Posyandu tercatat sebanyak 46.388 unit, Polindes sebanyak 4.424 unit, Puskesmas sebanyak 858 unit, Rumah Sakit Umum Pemerintah sebanyak 49 unit, Rumah Sakit Umum Swasta sebanyak 73 unit. Di bidang sarana industri kesehatan juga diharapkan dapat mendukung dalam pelayanan kesehatan, yaitu dengan tersedianya Apotik sebanyak 900 unit, Pedagang Besar Farmasi (PBF) sebanyak 200 unit dan Gudang Farmasi sebanyak 35 unit. Tenaga kesehatan yang tersedia, yaitu untuk tenaga Dokter Umum tercatat sebanyak 2.315 orang, Dokter Spesialis sebanyak 1.532 orang, Dokter Gigi sebanyak 697 orang, Apoteker sebanyak 635 orang, Bidan Desa 3.388 orang, Ahli Gizi sebanyak 451 orang, Analisa Laboratorium sebanyak 60 orang. Diharapkan potensipotensi yang tersedia tersebut dapat membantu mengatasi permasalahan yang ada sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara merata demi mendukung Jawa Tengah Sehat 2010. Permasalahan dalam pembangunan kesehatan yang masih dihadapi provinsi Jawa Tengah saat ini adalah: (1) Masih rendahnya tingkat pemahaman masyarakat dalam menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan masih rendahnya kualitas lingkungan dan permukiman; (2) Kecenderungan meningkatnya beberapa penyakit menular dan tidak menular di beberapa daerah; (3) Belum optimalnya komitmen Kab./Kota, Lembaga Masyarakat dalam pemberantasan penyakit dan upaya penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB)/Bencana Alam; (4) Masih rendahnya ketrampilan petugas dalam rangka kewaspadaan,

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 212

penanggulangan penyakit dan bencana alam; (5) Belum terpenuhinya standar mutu pelayanan kesehatan di Puskesmas, RSU Pemerintah dan Swasta yang ditetapkan; (6) Belum optimalnya rujukan dan cakupan pelaporan di RS Swasta; (7) Masih rendah cakupan pembinaan mutu rumah sakit dalam mencapai akreditasi RS; (8) Belum optimalnya pengelolaan penyediaan obat di Kabupaten/Kota; (9) Masih rendahnya pengetahuan petugas dalam penggunaan obat nasional; (10) Masih kurangnya obat tradisional yang memenuhi standart sehingga belum dapat diterima pada pelayanan kesehatan formal; (11) masih rendahnya pengetahuan masyarakat tentang bahaya narkoba; (12) masih ditemukannya pelayanan farmasi yang tidak memenuhi persyaratan mutu dan keamanan; (13) Belum optimalnya penanggulangan penyakit menular dan tidak menular; (14) Belum memadainya manajemen pelayanan kesehatan dan laboratorium kesehatan, makanan/minuman; (15) Masih adanya penduduk penyandang masalah gizi; (16) Masih rendahnya mutu garam konsumsi dan cakupan rumah tangga yang mengkonsumsi garam beryodium yang memenuhi syarat; (17) Belum mantapnya kebijakan dan manajemen bidang kesehatan.

III. Sasaran yang Ingin Dicapai
Sasaran pembangunan kesehatan di Provinsi Jawa Tengah adalah meningkatnya derajar kesehatan masyarakat melalui peningkatan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yaitu: 1. Meningkatnya kualitas lingkungan sehingga menjadi kondusif bagi tercapainya derajat kesehatan masyarakat setinggi-tingginya dan terciptanya keberadaan masyarakat dalam bidang kesehatan tang ditandai oleh peningkatan perilaku hidup sehat dan peran aktif serta memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatan diri dan lingkungan. 2. 3. 4. 5. 6. Meningkatnya derajat gizi masyarakat . Meningkatnya pembinaan farmasi serta terlindunginya masyarakat dan penyalahgunaan dan kesalahgunaan obat dan Napza. Meningkatkan pelayanan kesehatan dasar dan kesehatan rujukan baik pemerintah maupun swasta termasuk sitem pembiayaan pra upaya. Meningkatnya pendayagunan tenaga, pembiayaan dan perbekalan kesehatan. Memantapkan koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi antar stakholders dan instansi terkait.

IV. Arah Kebijakan
Dalam rangka mengatasi permasalahan diatas, kebijakan pembangunan kesehatan di Provinsi Jawa Tengah diarahkan pada: (1) Peningkatan lingkungan sehat, perilaku, kemandirian masyarakat dan kemitraan antara pemerintah dan swasta dalam pembangunan kesehatan; (2) Peningkatan upaya kesehatan; (3) Peningkatan perlindungan kesehatan masyarakat; (4) Peningkatan dan pengembangan sumber daya kesehatan; (5)

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 213

Peningkatan gizi masyarakat secara komprehensif; (6) Pemantapan kebijakan dan manajemen pembangunan kesehatan. Tujuan yang akan dicapai dalam pembangunan kesehatan adalah : (1) Mewujudkan masyarakat yang berperilaku sehat dan mampu berperan aktif dalam meningkatkan derajat kesehatannya; (2) Memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan yang berkualitas secara merata; (3) Menerapkan kebijakan dan manajemen pemberdayaan kesehatan.

V. Pencapaian RPJMN di Daerah (2005-2007) 5.1. Upaya yang Dilakukan HIngga Tahun 2007
Program yang dilakukan untuk mendukung peningkatan akses masyarakat terhadap kesehatan yang berkualitas adalah : 1. Lingkungan Sehat, Perilaku Sehat dan Pemberdayaan Masyarakat. Program ini untuk mewujudkan lingkungan hidup yang kondusif dalam rangka peningkatan derajat kesehatan masyarakat selain itu program ini bertujuan untuk memberdayakan individu, keluarga dan masyarakat dalam bidang kesehatan untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatannya sendiri dan lingkungannya menuju masyarakat yang sehat, mandiri dan produktif. Pencapaian sampai dengan tahun 2007 adalah : a. Cakupan rumah sehat dengan target akhir 60 persen rumah di Jawa Tengah termasuk kategori rumah sehat. Capaian tahun 2003 dari 2.375.284 rumah yag diperiksa yang dikategorikan rumah sehat 1.657.189 rumah (69,8 persen). Tahun 2004 dari 2.219.885 rumah yag diperiksa yang dikategorikan rumah sehat 1.573.488 rumah (70,9 persen). Tahun 2005 dari 2.23.0570 rumah yag diperiksa yang dikategorikan rumah sehat 1.575.366 rumah (70,6. persen). Tahun 2006 dari 2.23.0570 rumah yag diperiksa yang dikategorikan rumah sehat 1.575.366 rumah (70,6. persen). b. Cakupan pemanfaatan jamban keluarga ditargetkan yang memenuhi persyaratan kesehatan sebanyak 57 persen. Tahun 2003 dari 1.820.774 rumah yang diperiksa yang sesuai persyaratan 56,6 persen. Tahun 2004 tercapai sebanyak 69,23 persen. Tahun 2005 terdapat 70,49 persen, dan tahun 2006 tercapai 68,58 persen. c. Cakupan sarana pembuangan air limbah dengan target akhir 50 persen rumah di Jawa Tengah memiliki SPAL. Tahun 2003 sebanyak 36,18 persen, pada tahun 2004 sebesar 46,36 persen, tahun 2005 sebesar 54,51 persen dan tahun 2006 dengan capaian 52,61 persen. d. Cakupan tempat umum yang memenuhi syarat kesehatan dengan target 45 persen. Hasil yang tercapai tahun 2003 sebanyak 74,96 persen, tahun 2004 sebanyak 71,57 persen, tahun 2005 sebesar 71,57 persen, dan tahun 2006 sebanyak 72,55 persen.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 214

e.

Posyandu Purnama ditargetkan sebesar 25 persen dari seluruh posyandu yang ada. Capaian tahun 2003 sebanyak 15.854 (34 persen) dari 46.607 posyandu. Tahun 2004 dari 46.932 posyandu sebanyak 15.798 (33,7 persen). Tahun 2005 sebanyak 15.193 dari 45.345 posyandu (33,5 persen).

2.

Upaya Pelayanan Kesehatan. Program ini untuk meningkatkan pemerataan dan mutu upaya pelayanan kesehatan, termasuk laboratorium kesehatan, makanan/minuman yang berhasil guna dan berdaya guna serta terjangkau oleh masyarakat, termasuk penduduk usia lanjut dan penderita penyakit tidak menular (jantung, diabetes mellitus, dan lain-lain). Pencapaian sampai dengan tahun 2007 adalah : a. Cakupan kunjungan ibu hamil K4 dengan target akhir sebesar 78 persen dari jumlah ibu hamil yang ada. Capaian tahun 2003 sebesar 79,9 persen. Tahun 2004 tercapai 82,95 persen. Tahun 2005 tercakup 84,65 persen. b. Cakupan pertolongan persalinan oleh bidan atau tenaga kesehata yang memiliki kompetensi kebidanan dengan target 77 persen. Pada tahun 2003 target tercapai 76,2 persen. Pad atahun 2004 tercapai 71 persen. Tahun 2005 tercapai 78,9 persen. c. Cakupan pelayanan kesehatan remaja dengan capaian pada tahun 2003 sebesar 11,69 persen, tahun 2004 sebesar 15,20 persen, tahun 2005 sebesar 23,94persen dan tahun 2006 sebesar 43 persen. d. Desa /kelurahan Universal Child Imunization (UCI) terlaksan pada tahun 2003 dengan capaian sebesar 83,08 persen dari 8,425 desa, tahun 2004 sebesar 83,07 persen dari8.553 desa, tahun 2005 sebesar 77,06 persen dari 9.565 desa. e. f. g. Kesembuhan penderita TBC BTA positif (cure rate) dengan capaian pada tahun 2003 sebesar 74,37 persen tahun 2004 sebesar 82,06 persen dan tahun 2005 sebesar 85,44 persen. Menekan angka insidensi penyakit DBD per 100.000 penduduk dengan target dibawah angka 2.0 pada tahun 2004 sebesar 2,78 pada tahun 2005 sebesar 2,0 dan tahun 2006 sebesar 3,37. Pengobatanmalaria tahun 2003 capaian yang ada adalah 100 persen dari 16,973 penderita. Tahun 2004 dari 5,126 penderita 100 persen berhasil diobati. Tahun 2005 sebesar 10persen dari 2.590 penderita dan tahun 1006 sebesar 100 persen dari jumlah 2.010 penderita. h. Persentase rumah sakit pemerintah lulus 5 standar pelayanan sebesar 95 persen pada tahun 2003, tahun 2004 tercapai 100 persen. Begitu pula tahun 2005-2006 tercapai 100 persen dari 45 rumah sakit pemerintah. i. Persentase rumah sakit swasta lulus 5 standar pelayanan sebesar 50 persen.pada tahun 2003 berhasil dicapai sejumlah 40 persen, tahun 2004 sejumlah 45 persen, tahun 2005 sebesar 5 persen dan tahun 2006 sebesar 50 persen. j. Telah tercapainya sarana kesehatan Polindes (Poliklinik Kesehatan Desa) sebanyak 4.236 unit pada tahun 2004 dan naik menjadi 4.322 unit pada tahun 2005.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 215

3.

Pengawasan Obat, Makanan dan Bahan Berbahaya. Program ini untuk mengupayakan tersedianya pelayanan kefarmasian yang terjangkau, rasional dan berkesinambungan serta terlindunginya masyarakat dari bahaya penyalahgunaan dan kesalahgunaan obat, narkotika, psikotropika, zat adiktif dan bahan berbahaya lainnya. Program pengawasan obat juga mengupayakan pengembangan Obat Asli Indonesia (OAI) yang berkualitas. Pencapaian sampai dengan tahun 2007 adalah Pelatihan pencegahan dan penanggulangan NAPZA bagi petugas kesehatan. Pada tahun 2003 telah dilatih sebanyak 80 petugas kesehatan. Tahun 2004 dilatih 230 petugas kesehatan, akan tetapi tahun 20052006 tidak dilakukan lagi kegiatan ini. Jawa Tengah juga merupakanpus ndustri obat tradisional di Indonesia yang telah menghasilkan berbagai macam produk obat tradisional. Hal ini merupakan potensi yang perlu dimanfaatkan secara optimal.

4.

Sumber Daya Kesehatan. Program ini untuk mengupayakan tersedianya tenaga, termasuk tenaga kerja luar negeri, pembiayaan dan perbekalan kesehatan dalam jenis yang lengkap, jumlah yang cukup, serta spesifikasi yang sesuai dengan kebutuhan, berkesinambungan, terjangkau dan tepat waktu. Pencapaian sampai dengan tahun 2007 adalah : a. Pengadaan obat generic di kabupaten/kota dengan hasil pada tahun 2003 terpenuhi sebesar 78,58 persen, tahun 2004 sebesar 87,67 persen, tahun 2005 sebesar 78,58 persen dan tahun 2006 sebesar 78,58 persen. b. Cakupa penduduk yang menjadi peserta JKPM prabayar tahun 2003 tercakup 40,60 persen dari seluruh penduduk Jawa Tengah, meningkat pada tahun 2004 menjadi 33,6 persen dan tahun 2006 menjadi 43,07 persen. c. Cakupan JKPM masyarakat miskin dan masyarakat rentan, dengan capaian tahun 2003 sebesar 59,75 persen dari keluarga msikin, tahun 2004 mencakup 71,03 persen, tahun 2005 mencakup 64,67 persen dan tahun 2006 mencakup 100 persen dari keluarga miskin di Jawa Tengah.

5.

Perbaikan Gizi Masyarakat. Program ini untuk meningkatkan status gizi masyarakat dalam rangka mendukung intelektualitas dan produktivitas sumber daya manusia. Pencapaian sampai dengan tahun 2007 adalah pada tahun 2003 terjadi 46,679 kasus gizi buruk dari 1.993.448 balita yang diperiksa (2,34 persen). Pada tahun 2004 terdapat 35.327 kasus dari 2.064.472 balita yang diperiksa (1,71 persen). Sedangkan tahun 2005 terdapat 34.170 kasus dari 2.029.471 balita (1,68 persen) dan tahun 2006 terdapat 32.017 kasus diantara 1.987.344 balita (1,61 persen).

6.

Kebijakan dan Manajemen Pembangunan Kesehatan. Program ini untuk menyelenggarakan upaya kesehatan dalam rangka mewujudkan visi Jawa Tengah Sehat 2010, sesuai dengan Misi pembangunan Jawa Tengah sebagai bagian komplementer dari upaya bersama segenap komponen bangsa dalam mendukung pembangunan kesehatan Nasional. Pencapaian sampai dengan tahun 2007 adalah Memantapkan koordinasi integrasi dan sinkronisasi antara stakeholder dan instansi terkait.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 216

5.2. Posisi Capaian hingga Tahun 2007
1. Lingkungan Sehat, Perilaku Sehat dan Pemberdayaan Masyarakat a. Target cakupan rumah sehat sebesar 60 persen dapat terlampaui hingga 70 persen, pencanangan target di tahun mendatang harus ditingkatkan karena sehartusnya dicanangkan target 100 persen. Sebab jika kurang dari 100 persen artinya pemerintah masih mentoleransi adanya rumah tidak sehat. b. c. d. Cakupan pemanfaatan jamban, SPAL, tempat umum yang sehat, target harus mencerminkan kondisi ideal yang ingin dicapai. Keberadaan posyandu purnama juga dapat melampaui target yang diharapkan, dengan demikian partisipasi masyarakat dalma pelayanan kesehatan mengalami peningkatan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan meningkatnya usia harapan hidup, penangannan terhadap kaum lansia perlu menjadi perhatian serius. Perlu lebih dikembangkan lagi program kesehatan yang mengarah pada kaum lansia sehingga derakat dan kualitas hidupnya dapat semakin baik. program posyandu lansia, pembukaan klinik geriatric, peningkatan layanan panti werda dan jenis kegiatan lainnya perlu diintensifkan pada tahun ke depan. 2. Upaya Pelayanan Kesehatan a. Cakupan rumah sakit pemerintah tang terkareditasi 5 standar menunjukan kenaikan dimana sejak tahun 2004 mencapai 100 persen dari seluruh RS pemerintah. Sementara RS swasta yang terakreditasi 5 standar sampai tahun 2006 baru mencapai 50 persen dari jumlah yang ada, sehingga ini menjadi tantangan untuk program tahun berikutnya. b. Angka kesakitan penyakit menular meskipun fluktuatif menunjukan kecenderungan menurun pada akhir periode. Penderita malaria misalnya dapat ditekan dari 47.830 penderita tahun 2002 menjadi 2.697 pada tahun 2005. c. d. 3. Penyakit HIV cenderung meningkat dari 143 tahun 2002 menjadi 243 penderita pada tahun 2005. DBD masih jauh dari target yang diharapkan, dari target dibawah 2,0 yang tercapai pada tahun 2006 sebesar 3,37 justru meningkat disbanding tahun sebelumnya. Pengawasan Obat, Makanan dan Bahan Berbahaya. a. Peningkatan pembinaan tidak hanya bagi pegawai tapi juga bagi masyarakat. Misalnya harus lebih memperhatikan batas pemakaian obat, ketepatan dengan penyakit, menghindari obat-obatan palsu. Upaya ini dapat dilakukan dengan kerjsama LSM misalnya Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia. 4. Sumber Daya Kesehatan. a. Cakupan penduduk yang menjadi peserta JKPM baru mencapai 43 persen dari seluruh penduduk atau kurang dari separuh penduduk yang menikmati fasilitas JPKM. Namun JPKM bagi masyarakat miskin memuaskan karena tahun 2006 dapat mencakup semua penduduk miskin yang terdaftar.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 217

5.

Perbaikan Gizi Masyarakat Apabila dilihat dari kondisi status gizi di Jawa Tengah maka berdasarkan hasil pemantauan pada tahun 2006, Balita dengan gizi buruk tercatat sebesar 2,10 persen berarti mengalami kenaikan bila dibanding tahun 2005 yang tercatat sebesar 1,03 persen. Untuk gizi kurang pun mengalami kenaikan 14,80 persen pada tahun 2006 bila dibandingkan dengan tahun 2005 yaitu 9,87 persen. Khusus mengenai angka prevalensi Kekurangan Energi Kronik (KEK) pada Wanita Usia Subur (WUS) mencapai 27,99 persen.

6.

Kebijakan dan Manajemen Pembangunan Kesehatan Adanya rencana dan evaluasi program kesehatan serta adanya profil kesehatan provinsi, kabupaten/kota. Baik rencana evaluasi maupun profil kesehatan provinsi, kabupaten/kota telah dapat diwujudkan 100 persen pada setiap tahun dari 2003-2006 yaitu berupa adanya dokumen rencana dan evaluasi, dokumen profil kesehatan yang disusun dinas kesehatan provinsi dan dinas kesehatan 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah.

5.3. Permasalahan Pencapaian Sasaran 1. 2. 3. 4. 5. 6. Cakupan penduduk yang menjadi peserta JKPM masih perlu ditingkatkan Masyarakat masih belum memahami pentingnya memperhatikan konsumsi obat dan makanan yang dikonsumsinya. Kondisi status gizi buruk dan gizi kurang di Jawa Tengah mengalami kenaikan. Penderita HIV cenderung naik meskipun sosialisasi mengenai bahaya penyakit ini banyak dilakukan. Penanganan DBD masih berbelit-belit yaitu akan diadakan penyemprotan bila daerah tersebut yang terjangkiti harus sekian orang. Manajemen pembangunan kesehatan belum bersinergi dengan sector lain seperti perumahan, insfrastruktur dan pendidikan.

VI. Tindak Lanjut
Adapun tindak lanjut yang dilakukan untuk mencapai sasaran: 1. Lingkungan Sehat, Perilaku Sehat dan Pemberdayaan Masyarakat a. b. c. Peningkatan kesehatan dan kebersihan lingkunagn permukiman dengan kandang unggas/ternak. Pengendalian emisi gas buang kendaraan bermotor dengan mengimplementasikan peraturan uji emisi secara konsisten. Peningkatan lahan hijau terbuka diarea public untuk mengurangi dampak banjur dan polusi. 2. Upaya Pelayanan Kesehatan

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 218

a. Penanggulangan masalah HIV, narkoba dengan melakukan sinergi antar sector kepemudaan,
kesehatan, keagamaan, serta pendidikan sehingga pelaksanaan program tidak tumpang tindih.

b. Peningkatan kemampuan SDM dan fasilitas RS dan puskesmas dalam menangani penyakit
menular.

c. Perlu penanganan DBD secara simple karena ditemukan penanganan dilapangan berbelit,
diantaranya akan diadakan penyemprotan jika didaerah tersebut yang terjangkit sudah sekian orang. Oleh karena itu penanganan pada tahun kedapan harus lebih simple. 3. Pengawasan Obat, Makanan dan Bahan Berbahaya. Pemantauan secara berkala dan acak mengenai peredaran obat dan kualitas obat. 4. Sumber Daya Kesehatan a. b. a. b. Peningkatan kualitas dan kuantitas SDM dibidang kesehatan. Mempermudah akses RS/puskemas bagi warga miskin. Pemasyarakatan konsumsi dan bahan makanan bergizi. Program makanan tambahan bagi balita dan siswa TK/SD.

5. Perbaikan Gizi Masyarakat

6. Kebijakan dan Manajemen Pembangunan Kesehatan. Manajemen pembangunan kesehatan perlu bersinergi dengan sector lain seperti perumahan, insfrastruktur dan pendidikan. Dengan melakukan pendidikan kesehatan bagi SD-SMA maka penyadaran masyarakat mengenai pentingnya kesehatan dan pencegahan penyakit daapt tersosialisasikan secara lebih dini. Dengan demikian kualitas kesehatan masyarakat dapat tercapai.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 219

BAB 4.14
Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Sosial

I. Pengantar
Perlindungan dan kesejahteraan sosial merupakan hal-hal yang berkaitan dengan keterlantaran baik anak maupun lanjut usia, kecacatan, ketunasosialan, dan bencana alam, serta bencana sosial. Hal ini sesuai dengan yang diamanatkan oleh Pasal 28H ayat (1), (2), dan (3) Perubahan Kedua dan Pasal 34 ayat (1) dan (2) Perubahan Keempat UUD 1945. Berkembangnya permasalahan sosial menjadi penyebab meningkatnya jumlah penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) akibat dari krisis, konflik sosial, bencana alam dan bencana sosial. Provinsi Jawa Tengah dalam rangka mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut guna kesinambungan pelaksanan program dan kegiatan pelayanan bagi masyarakat, serta lebih meningkatkan perlindungan dan kesejahteraan sosial langkah kebijakan yang telah dilakukan selama ini perlu terus dilanjutkan. Pembangunan kesejahteraan sosial kedepan lebih diperkuat dengan mengedepankan peran aktif masyarakat, diikuti dengan penggalian dan pengembangan nilai-nilai sosial budaya, seperti kesetiakawanan sosial dan gotong royong.

II. Kondisi Awal RPJM-N di Tingkat Daerah 2.1. Rendahnya Kualitas Penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS)
Penyandang cacat masih menghadapi kendala untuk kemandirian, produktivitas dan hak untuk hidup normal yang meliputi antara lain akses ke pelayanan sosial dasar, terbatasnya jumlah dan kualitas tenaga pelayanan sosial untuk berbagai jenis kecacatan, dan aksesibilitas terhadap pelayanan umum untuk mempermudah kehidupan mereka. Sedangkan masalah ketunasosialan yang terdiri dari gelandangan dan pengemis serta tuna susila, selain disebabkan oleh kemiskinan juga diakibatkan oleh ketidakmampuan individu untuk hidup dan bekerja sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan. Masalah lainnya adalah rendahnya kualitas manajemen dan profesionalisme pelayanan kesejahteraan sosial dan belum serasinya kebijakan kesejahteraan sosial di tingkat nasional dan daerah.

2.2. Masih Lemahnya Penanganan Korban Bencana Alam dan Sosial
Peristiwa bencana alam merupakan kejadian yang sulit diperkirakan secara tepat. Permasalahan pokok yang dihadapi adalah masih terbatasnya kemampuan sumber daya manusia dan teknologi untuk memprediksi

220

kemungkinan terjadinya bencana alam. Selain itu, masih adanya sikap mental sebagian warga masyarakat yang bermukim di sekitar wilayah rawan bencana alam yang menghambat kelancaran penanganan bencana. Penanganan eks-korban kerusuhan sosial (termasuk pengungsi) yang terjadi di berbagai daerah sebagai akibat dari kerusuhan dan gejolak sosial berjumlah sangat banyak dan tersebar di berbagai lokasi, perlu terus diupayakan agar terjaga kelangsungan hidupnya. Hal ini dapat menimbulkan masalah lain, seperti penempatan kembali eks-korban kerusuhan sosial di lokasi asal maupun baru, masalah sosial psikologis dan kecemburuan sosial antara pendatang dengan penduduk setempat, dan keterlantaran anak di lokasi pengungsian.

2.3. Meningkatnya Kualitas dan Kuantitas Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS)
Semakin meningkatnya Kualitas dan Kuantitas Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) antara lain kemiskinan, kecacatan, ketunasusilaan, keterlantaran, korban bencana/bencana alam dan masih rendahnya pelayanan kesejahteraan sosial. Salah satu hal yang mampu membangun ketahanan sosial dan dapat memberi bantuan penyelamatan serta pemberdayaan terhadap penyandang masalah kesejahteraan sosial adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dari situ diharapkan meningkatnya peran dunia usaha dalam penanganan permasalahn kesejahteraan sosial.

2.4. Belum Memadainya Sarana danPrasarana Panti Sosial Baik Pemerintah Maupun Swasta
Sarana dan prasarana panti sosial yang diberikan kepada Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) seperti para veteran / pahlawan / perintis kemerdekaan dan keluarganya dapat dikatakan belum memadai baik pemerintah maupun swasta. Mengingat pentingnya jasa mereka tidak salah bahwa pemerintah atau pihak swasta ikut juga memberikan sedikit perhatiannya untuk mengoptimalkan sarana dan prasarana yang telah ada dan menyediakan sesuai kebutuhan pelayanan.

III. Sasaran Yang Ingin Dicapai
Sasaran yang ingin dicapai terkait dengan peningkatan perlindungan dan kesejahteraan sosial adalah: 1. 2. 3. Meningkatnya kesejahteraan sosial bagi masyarakat penyandang masalah kesejahteraan sosial, baik perorangan, kelompok maupun komunitas masyarakat. Meningkatnya peran dunia usaha dalam penanganan permasalahan kesejahteraan sosial. Meningkatnya sarana dan prasarana pelayanan kesejahteraan sosial.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 221

4.

Meningkatnya potensi dan sumber kesejahteraan sosial bagi aparatur pemerintah dan infrastruktur masyarakat dalam usaha kesejahteraan sosial serta meningkatnya manajemen pelayanan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS).

5.

Berkembangnya Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS)dan meningkatnya partisipasi masyarakat, lembaga dan organisasi sosial dalam rangka mendukung kualitas upaya pelayanan kesejahteraan sosial.

6.

Meningkatnya pelayanan keterpaduan dan koordinasi pelayanan korban akibat bencana/bencana alam.

IV. Arah Kebijakan
Guna mencapai sasaran di atas, arah kebijakan perlindungan dan kesejahteraan sosial yang memperhatikan keserasian kebijakan nasional dan daerah serta kesetaraan gender, adalah sebagai berikut:

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Meningkatkan kualitas pelayanan dan bantuan dasar kesejahteraan sosial bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial. Meningkatkan pemberdayaan fakir miskin, penyandang cacat, dan kelompok rentan sosial lainnya. Meningkatkan kualitas hidup bagi PMKS terhadap pelayanan sosial dasar, fasilitas pelayanan publik, dan jaminan kesejahteraan sosial. Mengembangkan dan menyerasikan kebijakan untuk penanganan masalah-masalah strategis yang menyangkut masalah kesejahteraan sosial. Memperkuat ketahanan sosial masyarakat berlandaskan prinsip kemitraan dan nilai-nilai sosial budaya bangsa. Mengembangkan sistem perlindungan sosial nasional. Meningkatkan kualitas manajemen pelayanan kesejahteraan sosial dalam mendayagunakan sumbersumber kesejahteraan sosial. Meningkatkan pelayanan bagi korban bencana alam dan sosial. Meningkatkan prakarsa dan peran aktif masyarakat termasuk masyarakat mampu, dunia usaha, perguruan tinggi, dan Orsos/LSM dalam penyelenggaraan pembangunan kesejahteraan sosial secara terpadu dan berkelanjutan.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 222

V. Pencapaian RPJM-N di Tingkat Daerah 2005-2007 5.1. Upaya Yang Dilakukan Hingga Tahun 2007
Upaya yang dilakukan hingga tahun 2007 dalam peningkatan perlindungan dan kesejahteraan sosial adalah:

1.

Tahun 2003 ditargetkan lanjut usia yang tersantuni sebanyak 420 keluarga binaan, Tahun 2004 ditargetkan 920 orang penyantunan kepada lanjut usia potensial, tidak potensial dan keluarganya pada realisasinya dapat terwujud 920 orang yang disantuni (29,97 persen), Pada tahun 2005 tersantuni 1.050 orang atau 34,00 persen dan pada tahun 2006 tersantuni lanjut usia sebanyak 1.100 orang atau sebanyak (35,83 persen).

2.

Tahun 2004 peringatan hari lanjut usia nasional sebanyak 300 orang atau 33,33 persen dan pada tahun 2005 dari target 300 orang yang mengikuti peringatan hari lanjut usia nasional pada realisasinya dapat terwujud 300 yang hadir (33,33 persen), pada tahun 2006 ditargetkan 300 menerima bantuan subsidi SOSH untuk warga panti wreda swasta dan pembinaan, pada realisasinya dapat terwujud 300 yang mendapat subsidi SOSH (33,33 persen). Dilaksanakan kegiatan penanganan terhadap veteran/pahlawan/perintis kemerdekaan dan keluarganya.

3.

Tahun 2004 dilaksanakan kegiatan penanganan terhadap veteran/pahlawan/perintis kemerdekaan dan keluarganya sebanyak 767 orang (23,86 persen), tahun 2005 dilaksanakan kegiatan penanganan terhadap veteran/pahlawan/perintis kemerdekaan dan keluarganya sejumlah 1.165 orang (36,25 persen) dan tahun 2006 penanganan terhadap veteran/pahlawan/perintis kemerdekaan dan keluarganya sejumlah 1.282 orang (39,89 persen).

4.

Tahun 2004 ditargetkan 1.500 KK pelayanan kesejahteraan sosial rawan sosial ekonomi dan berhasil direalisasikan 1.500 KK (31,25 persen), tahun 2005 ditargetkan 1.500 KK pelayanan kesejahteraan sosial rawan sosial ekonomi dan berhasil direalisasikan 1.500 KK (31,25 persen), dan tahun 2006 1.500 KK pelayanan kesejahteraan sosial rawan sosial ekonomi dan berhasil direalisasikan 1.500 KK (37,50 persen).

5.

Tahun 2004 penyantunan kepada Wanita rawan sosial ekonomi (WRSE) di Jawa Tengah ditargetkan 400 KK dan berhasil direalisasikan 400 KK (33,33 persen), tahun 2005 penyantunan kepada Wanita rawan sosial ekonomi (WRSE) di Jawa Tengah ditargetkan 400 KK dan berhasil direalisasikan 400 KK (33,33 persen), tahun 2006 penyantunan kepada Wanita rawan sosial ekonomi (WRSE) di Jawa Tengah ditargetkan 400 KK (33,33 persen).

6.

Penanganan anak jalanan dan pemberdayaan orang tua pada tahun 2004 sebanyak 100 orang atau 25 persen dan pada tahun 2005, 100 orang atau 25 persen dan pada tahun 2006 sebanyak 200 orang atau 50 persen.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 223

7.

Ketemu konsultasi pendampingan anak jalanan pada tahun 2004 sebanyak 70 orang atau 20 persen dan pada tahun 2005 sebanyak 140 orang atau 40 persen kemudian pada tahun 2006 sebanyak 140 orang atau 40 persen.

8.

Bantuan dana usaha kesejahteraan sosial berbasiskan masyarakat tahun 2004 sebanyak 50 kelompok atau 31,25 persen, kemudian pada tahun 2005 tidak mengalami peningkatan tetap 50 kelompok atau 31,25 persen dan mengalami peningkatan pada tahun 2006 sebanyak 60 kelompok atau 37,50 persen.

9.

Pemberdayaan organisasi kepahlawanan tahun 2004 sebanyak 35 organisasi sosial atau 20 persen dan pada tahun 2005 mengalami peningkatan 70 organisasi sosial atau 40 persen dan tahun 2006 tidak mengalami peningkatan tetap 70 orang atau 40 persen.

10. Pelayanan kesejahteraan sosial anak usia dini tahun 2004 sebanyak 300 anak atau 28,86 persen dan
pada tahun 2005 sebanyak 350 anak dan tahun 2006 meningkat menjadi 400 anak.

11. Bantuan subsidi SOSH untuk warga panti cacat swasta dan pembinaan tahun 2004 sebanyak 1230
orang atau 33,33 persen tidak mengalami perubahan pada tahun 2005 dan 2006 sama 1230 orang atau 33,33 persen.

12. Pengembangan kemampuan pelayanan bagi panti asuhan swasta tahun 2004 sebanyak 50 orsos dan
pada tahun 2005 dan tahun 2006 tidak mengalami peningkatan sama dengan tahun 2004 yaitu sebanyak 50 orsos.

13. Pengembangan Usaha Ekonomi Produktif (UEP) dan bimbingan pemantapan manajemen bagi
organisasi sosial, tahun 2004 sebanyak 240 orsos dan 95 orang, sedangkan tahun 2005 sebanyak 240 orsos dan 140 orang, lalu pada tahun 2006 sebanyak 240 orsos dan 140 orang.

14. Tahun 2003 penanggulangan dan penyaluran bantuan kepada korban bencana alam sebanyak 30 ton
beras dan 1.200 dos mie instant. Tahun 2004 penyelamatan, rehabilitasi dan pemberian bantuan kepada korban bencana alam berupa pemberian bantuan bahan makanan dalam bentuk beras sebanyak 50 ton (31,25 persen) dan tahun 2006 bantuan penyelamatan, rehabilitasi dan pemberian bantuan kepada korban bencana alam sebanyak 60 ton (37,50 persen).

15. Tahun 2003 bantuan sarana UEP untuk korban bencana alam sebanyak 346 KK, sebanyak tahun 2004
pemberian bantuan dalam bentuk modal UEP diberikan kepada 650 KK (32,83 persen) dan tahun 2005 diberikan bantuan serupa sebanyak 650 KK (32,83 persen) dan tahun 2006 bantuan yang sama diberikan kepada 680 KK (34,34 persen).

16. Tahun 2004 pelayanan kepada masyarakat yang terkena musibah/bencana sebanyak 4.400 orang
(29,73 persen), tahun 2005 pelayanan yang sama diberikan kepada 4.900 orang (33,11 persen) dan tahun 2006 pelayanan diberikan kepada 5.500 orang (37,16 persen).

17. Tahun 2004 penyelamatan, rehabilitasi dan pembagian bantuan kepada korban bencana alam sebanyak
1.800 orang (30 persen), tahun 2005 bantuan juga diberikan kepada 2.000 orang (33,33 persen) terdapat peningkatan 3.33 persen dari tahun 2004 dan pada tahun 2006 penyelamatan, rehabilitasi dan

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 224

pembagian bantuan kepada korban bencana alam sebanyak 2.200 orang (36,37 persen) meningkat sebanyak 3,04 persen dari tahun sebelumnya.

5.2. Posisi Capaian Hingga Tahun 2007
Dari capaian yang ada selama tahun 2003 hingga tahun 2006, upaya peningkatan kesejahteraan sosial bagi masyarakat melalui pengembangan kesejahteraan sosial telah dapat direalisasikan sesuai dengan target yang dibuat setiap tahunnya, sehingga tingkat keberhasilannya adalah 100 persen. Selain penanganan yang telah dilaksanakan oleh pemerintah juga diharapkan peran serta masyarakat dan pihak swasta untuk memberikan pelayanan yang lebih baik lagi demi peningkatan kualitas sarana dan prasarana pelayanan kesejahteraan sosial. Selama tahun 2004-2006 kegiatan yang dilakukan dalam bentuk penyelamatan, rehabilitasi kepada korban/korban bencana alam berupa pemberian beras, mie instant dan modal UEP telah dapar direalisasikan (100 persen) dari target yang ingin dicapai. Kegiatan berupa bantuan seperti beras, mie instant dan modal UEP perlu juga disurvai untuk mengetahui kebutuhan yang dibutuhkan selain bantuan makanan, misalnya obat-obatan, pakaian pantas pakai dan memberikan pendidikan gratis bagi anak-anak korban bencana alam. Pemberian bantuan berupa pelayanan kepada masyarakat yang terkena musibah / bencana dan penyelamatan, rehabilitasi dan pembagian bantuan kepada korban bencana alam mengalami peningkatan setiap tahun, dan dapat direalisasikan sesuai target yang diharapkan.

5.3. Permasalahan Pencapaian Sasaran
Permasalahan dalam pencapaian sasaran peningkatan perlindungan dan kesejahteraan sosial, adalah:

1. 2.

Belum adanya pelayanan terpadu dengan mengikutsertakan elemen masyarakat yang berkompeten dalam penanganan terhadap anak dan remaja terlantar. Belum adanya survey untuk mengetahui kebutuhan yang dibutuhkan.

VI. Tindak Lanjut
Upaya yang dilakukan untuk mencapai sasaran peningkatan perlindungan dan kesejahteraan sosial adalah: 1. Kesesuaian kebutuhan kesejahteraan sosial bagi masyarakat khususnya penyandang masalah kesejahteraan sosial sehingga dapat mendukung penyelenggaraan program pemerintah untuk mengembangkan kesejahteraan sosial.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 225

2.

Meningkatkan pelayanan yang lebih terpadu dengan mengikutsertakan elemen masyarakat yang berkompeten dalam penanganan terhadap anak dan remaja terlantar, memberi motivasi kepada anakanak pada peringatan hari anak nasional, perlu peningkatan pemberian subsidi kepada keluarga di panti asuhan yang masih dalam taraf pembinaan dan peningkatan bantuan subsidi untuk lembaga perlindungan anak sehingga anak dan remaja yang terlantar dapat dikurangi.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 226

BAB 4.15
Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Kecil Berkualitas Serta Pemuda dan Olah Raga

I. Pengantar
Pembangunan kependudukan dan keluarga kecil berkualitas merupakan langkah penting dalam mencapai pembangunan berkelanjutan. Hal ini diselenggarakan melalui pengendalian kuantitas penduduk dan peningkatan kualitas insani dan sumber daya manusia. Karakteristik pembangunan antara lain dilaksanakan melalui pengendalian pertumbuhan penduduk, keluarga berencana, dan dengan cara pengembangan kualitas penduduk, melalui pewujudan keluarga kecil yang berkualitas dan mobilitas penduduk. Mobilitas penduduk di pengaruhi oleh iklim ketenagakerjaan dan transmigrasi. Meningkatnya tingkat pengangguran terbuka yang mencapai 9,5 persen berpotensi menimbulkan berbagai permasalahan sosial. Kerja merupakan fitrah manusia yang asasi. Ekspresi diri diwujud nyatakan dalam bekerja. Apabila dicermati pergolakan dan ketidakamanan yang timbul di berbagai daerah dan tempat sering bersumber dari sulitnya mencari kerja bagi suatu kehidupan yang layak. Karena itu Pemerintah menempatkan penciptaan kesempatan kerja sebagai salah satu sasaran pokok dalam Agenda Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat yang dijabarkan ke dalam berbagai prioritas pembangunan. Menurunkan tingkat pengangguran terbuka dengan menciptakan lapangan pekerjaan produktif mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari Pemerintah. Penyelenggaraan program transmigrasi sebagai salh satu upaya perluasan kesempatan kerja belum berjalan dengan optimal antara lain di karena kan ketidaksiapn lahan/lokasi daerah penempatan, kurangnya informasi potensi daerah penempatan dan kesiapan dari calon transmigran. Hasil yang dicapai pada tahun 2007 target penempatan sebesar 631 KK terealisasi sebesar 581 KK sesuai Surat Pemberitahuan Pemberangkatan (SPP) dari Pemerintah Pusat. Upaya yang dialkukan Provinsi Jawa Tengah dalam rangka meningkatkan pelaksanaan program transmigrasi adalah melalui peningkatan efektifitas pengiriman transmigran ke luar Pulau Jawa dengan melakukan kerjasama 5 provinsi daerah penempatn dan MoU dengan 11 provinsi penempatan.

227

Dalam kaitan itu, aspek penataan administrasi kependudukan merupakan hal penting dalam mendukung perencanaan pembangunan, baik di tingkat nasional maupun daerah. Adapun pemuda sebagai bagian dari penduduk merupakan aset pembangunan bangsa, terutama dalam bidang ekonomi. Guna mendukung langkah di atas, menumbuhkan budaya olahraga yang lebih luas bagi seluruh lapisan masyarakat menjadi aspek penting dalam peningkatan kualitas penduduk Indonesia. Penyelenggaraan pelayanan kependudukan dan catatan sipil dirasakan masih belum optimal. Karena pemerintah Provinsi Jawa Tengah berusaha terus meningkatkan administrasi kependudukan dan catatan sipil. Sampai tahun 2007, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah mengadakan pelatihan dan fasilitasi dalam rangka Sistem Administrasi Kependudukan (SIAK) secara terpadu di Kabupaten/kota, penataan sistem koneksi (Inter-Phrase) , Tahap Awal, nomor Induk Kependudukan (NIK), koordinasi kebijakan kependudukan dan catatan sipil antara pemerintah provinsi dengan Kabupaten/kota, serta peningkatan pelayanan pada masyarakat.

II. Kondisi Awal RPJM-N di Tingkat Daerah 2.1. Kependudukan
Jumlah penduduk Jawa Tengah tahun 2002 mencapai 31.691.886 jiwa (Susenas 2002), terdiri dari penduduk laki-laki sebanyak 15.787.143 jiwa (49,81 persen) dan perempuan sebanyak 15.904.723 jiwa (50,19 persen) dengan rasio jenis kelamin (sex rasio) sebesar 99,26. Adapun rata-rata kepadatan penduduk sebesar 974 jiwa/km2. Laju pertumbuhan penduduk selama tiga dekade mengalami penurunan. Pada kurun waktu 1971-1980 sebesar 1,65 persen, tahun 1980-1990 sebesar 1,18 persen dan 1990-2000 turun menjadi 0,84 persen. Faktor-faktor yang mempengaruhi adalah faktor alami (kelahiran dan kematian) dan faktor sosial yang mendorong migrasi daerah. Struktur penduduk mengalami perubahan dan mengarah kepada struktur penduduk tua. Hal ini terlihat dari persentase penduduk usia 15 tahun keatas sebesar 71,54 persen, khusus penduduk usia 65 tahun keatas sendiri persentasenya mencapai 6,36 persen atau lebih tinggi dari tahun 2001 yang tercatat sebesar 6,32 persen. Adapun persentase penduduk di bawah 15 tahun mengalami sedikit penurunan dari 28,83 persen menjadi 28,46 persen. Dengan kondisi struktur penduduk di atas, maka angka beban tanggungan penduduk usia produktif (15-64 tahun) pada tahun 2002 tercatat sebesar 53,42 atau mengalami penurunan dibanding tahun 2001 yang tercatat sebesar 54,20.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 228

Jumlah penduduk Jawa Tengah berdasarkan hasil Susenas tahun 2005 sebanyak 32.908.850 jiwa, yang menempatkan Jawa Tengah sebagai provinsi dengan jumlah penduduk terbesar ke-3 setelah Jawa Barat dan Jawa Timur. Penyebaran penduduk Jawa Tengah kurang merata, dimana wilayah perkotaan rata-rata memiliki kepadatan penduduk lebih tinggi daripada wilayah pedesaan. Rata-rata kepadatan penduduk di Jawa Tengah pada tahun 2006 sebesar 1.011 jiwa/km2 , kepadatan tertinggi di jumapai di kota Surakarta, yaitu sebesar 12.000 jiwa/km2 , dan kepadatan terendah di Kabupaten Blora sebesar 468 jiwa/km2. Tingkat pendidikan penduduk meskipun mengalami kemajuan tetapi kondisinya masih cukup memprihatinkan. Pada tahun 2002, penduduk usia 10 tahun ke atas yang berpendidikan SD ke bawah sebesar 70,35 persen atau lebih baik dibanding tahun 2001 yang mencapai 72,56 persen. Selanjutnya penduduk yang tamat SLTP sebesar 14,83 persen, SMU/SMK 11,52 persen dan tamat Akademi/Universitas sebesar 3,30 persen atau mengalami kenaikan dibanding tahun 2001 yang tercatat sebesar 2,75 persen. Dilihat dari tingkat kesejahteraan keluarga, terlihat bahwa dari jumlah rumah tangga (RT) sebanyak 8.174.843 KK pada tahun 2001, terdapat keluarga Pra Sejahtera sebanyak 3.211.547 jiwa (39,29 persen). Persentase jumlah keluarga Pra Sejahtera tertinggi terdapat di 3 (tiga) Kabupaten yaitu Kabupaten Grobogan (75,88 persen), Rembang (63,43 persen) dan Blora (63,27 persen). Jumlah Keluarga Sejahtera-I (KS-I) sebanyak 1.611.643 KK (19,27 persen), sedangkan Keluarga Sejahtera-II (KS-II), KS-III, dan KS-III Plus berturut- turut tercatat sebanyak 1.666.373 KK (20,38 persen), 1.394.119 KK (17.05 persen) dan 291.201 KK (3,56 persen). Selanjutnya apabila dilihat dari pendapatan perkapita, maka Jumlah penduduk miskin di Jawa Tengah pada tahun 2002 sebanyak 7.308.300 orang (23,06 persen). Adapun Kabupaten/Kota dengan persentase jumlah penduduk miskin tertinggi adalah Kabupaten Wonosobo (33,75 persen), Rembang (33,38 persen), Brebes (33,36 persen) dan Purbalingga (32,46 persen). Berkaitan dengan kependudukan dan Keluarga Berencana, jumlah Pasangan Usia subur (PUS) tahun 2006 adalah 6.168.889 PUS dan partisipasi laki-laki dalam ber KB (persen) pada tahun 2005 = 2,53 persen, pada tahun 2006 = 2,60 persen, dan pada tahun 2007 adalah 2,65 persen. Jumlah PUS yang menjadi peserta KB aktif 4.778.608 pasang (77,26%). Hal ini menunjukkan bahwa persentase PUS yang ikut KB cukup tinggi. Kondisi ini menjadi tantangan yang cukup berat bagi Jawa Tengah, karena harus memelihara peserta KB aktif dalam jumlah yang besar agar tidak drop out dan pada saat yang sama juga melayani PUS baru yang ingin ber-KB. Sebagian besar peserta KB adalah PUS, dengan umur istri yaitu 20 tahun ke bawah sebesar 1.899.382 orang (30,79%).

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 229

Dari jumlah peserta KB aktif diatas, 2.560.039 orang (41,39%) diantaranya menggunakan alat kontrasepsi suntik, 862.307 orang (13,94%) menggunakan alat kontrasepsi pil, dan 498.366 orang (8,06%) menggunakan IUD. Pada tahun yang sama , PUS yang menjadi peserta KB sebanyak 709.250 orang (104%), yang sebagian besar memilih alat kontrasepsi suntik (484.615 orang atau 68,33%), sedangkan 122.512 orang (17,22%) menggunakan alat kontrasepsi pil, dan sedangkan yang menggunakan alat kontrasepsi implant (susuk) sebanyak 41.985 orang (5,92%). Pada tahun 2006, terdapat 377 kasus kegagalan menggunakan kontrasepsi dan 509 kasus komplikasi. Kasus kegagalan IUD sebanyak 183 kasus (48,54%), kegagalan impalnt 105 kasus (27,85%), komplikasi IUD 233 kasus (45,78%), dan komplikasi suntik 149 kasus (29,27%). Pelayanan peserta baru KB sebagian besar menggunakan fasilitas klinik KB pemerintah, yaitu sebanyak 358.160 orang (50,50%), dan bidan praktek swasta sebanyak 294.238 orang (41,49%). Adanya pelayanan fasilitas ATM kondom dapat memberikan pelayanan mandiri kepada masyarakat. Kondom tidak saja digunakan sebagai alat kontrasepsi, tetapi juga untuk mencegah penyakit menular seksual (PMS). Saat ini pelayanan KB perlu diprioritaskan bagi masyarakat miskin, karena fakta menunjukkan bahwa wanita yang berpendidikan tinggi dan mampu secara ekonomi, memiliki rata-rata anak 2,2 atau Total fertility Rate sebesar 2,2, sebaliknya pada wanita miskin berpendidikan rendah mempunyai 3 anak. Guna membantu remaja mengetahui dan memahami sistem proses maupun reproduksi yang sehat. Pada tahun 2006 telah dibentuk Pusat Informasi Konseling dan Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK – KRR) sebanyak 147 unit, Pendidikan Sebaya (PS) sebanyak 481 orang. Upaya pemberdayaan keluarga dilakukan melalui pendekatan siklus hidup mulai janin dalam kandungan sampai lanjut usia, yang lebih dikenal dengan Panca Bina yaitu Bina Keluarga Balita (BKB), Bina Keluarga Remaja (BKR), dan Bina Lingkungan Keluarga (BLK), dan Bina Ekonomi Keluarga atau Uasa Peningkatan Pendapatan Keluarga (UPPKS). Jumlah keluarga yang menjadi anggota BKB adalah 691.514 keluarga, anggota BKR sebanyak 313.717 keluarga, dan BKL 320.831 keluarga. Selanjutnya berkaitan dengan mobilitas penduduk, berdasarkan Sensus Penduduk tahun 2000 terdapat migran baik yang berasal dari Kabupaten/Kota di Jawa Tengah maupun dari Provinsi lain yang daerah tujuan utamanya adalah Kota Semarang. Sebagai daerah tujuan kedua untuk migran dari Kabupaten/Kota di Jawa Tengah adalah Kabupaten Sukoharjo, sedangkan dari Provinsi lain adalah Kabupaten Cilacap. Pada tahun 2002 di Jawa Tengah terdapat eksodan (pengungsi) sebanyak 6.536 KK (25.239 jiwa) yang perlu mendapat perhatian baik yang berkaitan dengan kebutuhan pemukiman maupun upaya peningkatan kesejahteraannya.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 230

Kondisi lain adalah kemampuan teknis aparat untuk mengelola administrasi kependudukan masih rendah, disamping itu sistem informasi kependudukan dirasakan masih belum mantap, sehingga penyediaan dan informasi data yang akurat belum dapat dilakukan secara optimal. Terkait dengan kondisi di atas, maka permasalahan yang dihadapi dalam pembangunan kependudukan adalah: (1) Laju pertumbuhan penduduk mengalami penurunan tetapi secara absolut masih cukup besar dan struktur penduduk mengarah kepada penduduk lanjut usia (lansia). (2) Masih banyaknya penduduk yang melangsungkan perkawinan pada usia remaja dan rendahnya pengetahuan remaja dalam hal penyakit menular seksual (PMS) termasuk HIV/AIDS. (3) Banyaknya jumlah penduduk miskin (Keluarga Pra KS dan KS-1). (4) Rendahnya kualitas, cakupan pelayanan KB dan Kesehatan Reproduksi. (5) Belum optimal dan mantapnya pengelolaan administrasi serta sistim informasi kependudukan.

2.2. Kepemudaan
Keberadaan generasi muda sebagai tulang punggung bangsa dan negara memiliki posisi strategis, hal ini tidak lepas dari peran generasi muda sebagai kader penerus perjuangan para pemimpin bangsa di dalam membangun dan mewujudkan cita-cita luhur bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia. Dewasa ini generasi muda Indonesia telah menunjukkan berbagai prestasi yang cukup membanggakan dan mengharumkan negara, antara lain melalui prestasi di bidang keolahragaan, seni-budaya, serta karya ilmiah baik di tingkat regional, nasional dan bahkan internasional. Namun kondisi positif ini dirasakan menjadi sedikit tercoreng oleh perilaku sebagian masyarakat antara lain masih banyak dijumpai berbagai kasus kenakalan pemuda-pelajar seperti tawuran antar pelajar, keterlibatan dalam tindak kriminal dan pemakaian obat-obat terlarang. Disamping itu, sebagai upaya mengatisipasi era globalisasi perlu ditanamkan jiwa kewirausahaan serta kepoloporan, kepemimpinan dan kebangsaan di kalangan generasi muda. Pada tahun 2005 terdapat 279 organisasi kepemudaan yang tersebar di 35 kab/kota dan mengalami peningkatan tajam pada tahun 2007 adalah 530 organisasi. Jumlah pemuda di Jawa tengah pada tahun 2005 adalah 9.331.747 jiwa atau 28,80% dari total penduduk Jawa Tengah. Upaya-upaya pembinaan pemuda yang dilakukan mampu memberikan hasil positif diantaranya juar I dalam pemilihan pemuda pelopor tingkat nasional bidang kewirausahaan (mebel air) pada tahun 2005, dan Juara I kontingen pramuka tergiat pada perkemahan Saka Bahayangkara tingkat nasional di Jakarta. Selain itu pramuka Jawa Tengah menunjukkan kepedulian dan kepekaannya pada sesama anak bangsa dengan mengirimkan 35 orang pramuka dan membangun kembali aceh pasca tsunami.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 231

Besarnya jumlah pemuda merupakan salah satu modal dasar dari pelaksanaan pembangunan. Guna mengoptimalkan modal dasar tersebut, berbagai program pembangunan kepemudaan telah dilaksanakan, antara lain melalui upaya pembinaan pemuda, pengembangan kegiatan sosial ekonomi produktif pemuda dan pembinaan lembaga / organisasi kepemudaan. Pada Tahun 2006 ada beberapa hal yang yang dicapai oleh kepemudaan Jawa Tengah antara lain: Pengembangan Kelompok Usaha Pemuda Produktif, pengembangan kegiatan ekstrakurikuler, pengembangan kegiatan organisasi kepemudaan di Jawa Tengah (Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Pencinta Alam, Palang Merah Remaja (PMR) dan Pramuka. Upaya-upaya tersebut walaupun belum diperoleh optimalisasi hsil, namun menunjukkan beberapa hasil yang positif. Generasi muda Indonesia di berbagai event telah menunjukkan prestasi yang membanggakan, antara lain melalui prestasi di bidang Keolahrgaan, seni-budaya, serta karaya ilmiah di tingkat regional, nasional, dan bahkan internsional. Beberapa penghargaan yang diperoleh generasi muda di Jawa Tengah, seperti:

1.

Pemuda pelopor Jawa Tengah mendapat Penghargaan Pemuda Pelopor Tingkat Nasional Tahun 2007 masing-masing: Bidang Kewirausahaan : Sdr. H. Achmad Failasuf, SE, asal Kab. Pekalongan Bidang Pendidikan : Sdr. Teguh Subroto, asal Kab. Wonogiri Bidang Teknologi Tepat Guna : Sdr. Joko Istiyanto, AMD, SPd, asal Kab. Klaten Bidang Budaya dan Pariwisata : Sdr. Riyanto Purnomo, asal Kab. Purworejo

2. 3.

Keikutsertaan dalam Program Kapal Pemuda Nusantara dari Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga ( 2 orang pemuda ) Partisipasi dalam Program Pertukaran Pemuda Antar Negara ASEAN-Jepang, Indonesia-Australia dan Indonesia-Kanada serta Indonesia Malaysia di tahun 2007 (4 orang).

Dengan demikian, pembangunan kepemudaan masih dihadapkan pada beberapa permasalahan, antara lain: (1) Kenakalan dan perilaku kriminal dikalangan pemuda; (2) Belum berkembangnya kegiatan sosial ekonomi produktif dikalangan pemuda; (3) Belum optimalnya peran serta lembaga/organisasi kepemudaan dalam penanganan permasalahan generasi muda.

2.3. Keolahragaan
Perkembangan keolahragaan saat ini dipandang cukup menggembirakan, hal ini dapat di lihat dari pencapaian prestasi olahraga baik di tingkat regional, nasional, bahkan internasional. Kondisi tersebut perlu

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 232

ditunjang dengan pola pembinaan, pembibibitan dan pemanduan bakat yang terarah dan berkesimbungan sehingga pencapaian prestasi dapat lebih ditingkatkan. Selaras dengan terbitnya Undang-Undang nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional, olahrag prestasi di kembangkanuntuk mengoptimalkan potensi olahraga daerah sehingga daerah berperan dalam event nasional dan internasional. Sedangkan olahraga kemasyarakatan dikembangkan agar setiap anggota masyarakat menjadikan olahrag sebagi media rekreasi dan kesehatan, sehingga tercipta masyarakat sehat jasmani dan rohani. Melalui Peraturan Daerah nomor 1 Tahun 2006, pembangunan Olahraga di Jawa Tengah diarahkan baik pembinaan olahrga prestasi maupun kemasyarakatan. Upaya yang telah dilakukan dalam rangka pembangunan olahraga dewasa ini menunjukkan perkembangan dan kemajuan yang cukup menggembirakan. Adapun prestasi olahraga yang diperoleh Jawa Tengah Tahun 2004 antara lain: 1) SEA Games Vietnam 11 Emas, 8 perak dan 16 perunggu; 2) Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) di Pakanbaru 18 emas, 10 perak, dan 7 perunggu; 3) Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS) di Ujung Pandang 17 emas, 28 perak, dan 28 perunggu; 4) POSPENAS di Palembang 12 emas, 6 perak dan 5 perunggu; serta 5) Kejurnas Olah Raga Siswa SD di Jakarta sebagai juara umum 11 emas, 6 perak, dan 5 perunggu. Tahun 2006, hal-hal initelah dicapai antara lain: dilaksankannya pembinaan 70 klub olahraga pelajar dan 180 pelatihan pembinan olahraga, peningkatan prestasi olahraga Jawa Tengah di tingkat regional, nasional, dan internasional, serta diikuti peningkatan jumlah medali PON di Sumatera Selatan. Pada pelaksanaan PON di Palembang Jawa Tengah mendapat peringkat IV. Walaupun belum memenuhi target sebagaiman diharapkan menempati peringkat III, namun dari perolehan medali meningkat cukup signifikan yaitu: dari perolehan 42 medali emas, 62 perak, dan 65 perunggu pada PON XV Surabaya menjadi 56 emas, 64 perak, dan 64 perunggu. Sea Games tahun 2007 Indonesia Rangking IV dengan perolehan medali emas 56, perak 64, dan perunggu 83, dari perolehan tersebut Jawa Tengah menyumbang 11 emas, 12 perak, dan 6perunggu, pemecahan 2 rekor Sea Games dan 2 rekor Nasional dari atlet Jawa Tengah, dari cabang olah raga atletik yaitu Trianingsihuntuk lari 5.000 meter dan 10.000 meter dan atlet Suryo Agung Wibowo dari cabang Lari 100 meter dan 200 meter. Kapasitas di bidang kelembagaan/organisasi keolahragaan belum menunjukkan kompetensi dan kemampuan yang memadai. Hal ini disebabkan karena kurangnya profesionalisme di dalam pengelolaan olahraga serta masih tingginya tingkat ketergantungan pendanaan dari pemerintah. Sedangkan penyediaan fasilitas, sarana dan prasarana olahraga dirasakan relatif belum memadai.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 233

Upaya pemasyarakatan olahraga juga sudah menunjukkan kemajuan yang relatif menggembirakan, hal ini terlihat dari tumbuhnya perkumpulan/kelompok olahraga masyarakat di berbagai tempat seperti fitnes, olahraga pernapasan, perkumpulan bersepeda dan sebagainya. Namun kondisi yang relatif positif ini pada umumnya masih bersifat entertainment atau hobby dan tidak disertai kesadaran pola hidup sehat melalui olahraga, sehingga keberadaannyapun sifatnya sangat temporer atau musiman. Pembangunan bidang olahraga masih dihadapkan pada beberapa permasalahan, antara lain: (1) Kurang terarahnya pembibitan, pembinaan dan pemanduan atlet olahraga; (2) Lemahnya kapasitas kelembagaan organisasi olahraga daerah; (3) Sarana dan prasarana olahraga yang kurang memadai; (4) Belum membudayanya kebutuhan olahraga sebagai bagian dari pola hidup sehat dikalangan masyarakat.

III. Sasaran yang Ingin Dicapai 3.1. Kependudukan
Sasaran yang ingin dicapai dalam pembangunan bidang kependudukan di Jawa Tengah adalah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Menurunkan laju pertumbuhan penduduk dalam rangka mewujudkan keluarga kecil, bahagia, dan sejahtera. Meningkatkan kualitas penduduk lanjut usia. Meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku remaja berkaitan dengan masalah reproduksi. Meningkatkan kesejahteraan keluarga dengan menurunkan jumlah penduduk miskin (Keluarga Pra Sejahtera KS-1) Meningkatkan cakupan mutu pelayaban KB dan Kesehatan Reproduksi Meningkatkan kapasitas pengelolaan administrasi kependudukan. Memantapkan system informasi kependudukan

3.2. Kepemudaan
Sasaran yang ingin dicapai dalam pembangunan bidang kepemudaan di Jawa Tengah adalah: 1. Terwujudnya generasi muda yang bertaqwa kepa Tuhan Yang Maha Esa, berwawasan kebangsaan, disiplin, bernilai tanggung jawab, dan berbudi pekerti luhur serta tanggap terhadap permasalahan lingkungan. 2. Tersalurnya kegiatan-kegiatan positif dan produktif generasi muda. 3. Berkembangnya jiwa kewirausahaan generasi muda. 4. Berkembangnya sentra-sentra usaha produktif pemuda.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 234

5. Meningkatnya kapasitas dan peran serta lembaga/organisasi kepemudaan sebagai media pengembangan potensi generasi muda.

3.3. Olah Raga
Sasaran yang ingin dicapai dalam pembangunan bidang keolahragaan di Jawa Tengah adalah: 1. 2. 3. 4. Meningkatnya pencapaian dan kesinambungan prestasi olah raga. Meningkatnya kapasitas kelembagaan organisasi olah raga daerah. Tersedianya sarana dan prasarana olah raga yang memadai. Tumbuhnya pola hidup sehat dikalangan masyarakat melalui olahraga.

IV. Arah Kebijakan 4.1. Kependudukan
Kebijakan, Dalam rangka menanggulangi permasalahan diatas, kebijakan kependudukan diarahkan pada: (1) Memaksimalkan akses dan kualitas pelayanan KB dan Kesehatan Reproduksi. (2) Peningkatan pengetahuan remaja tentang Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) serta aksebilitas terhadap pusat konsultasi remaja. (3) Peningkatan kelangsungan hidup ibu, bayi dan anak serta penanggulangan masalahmasalah kesehatan reproduksi. (4) Peningkatan kemitraan dalam upaya peningkatan kesejahteraan dan ketahanan keluarga. (5) Peningkatan kapasitas tenaga program dan institusi masyarakat dalam rangka penguatan jaringan program dan kelembagaan. (6) Penyediaan data dan informasi keluarga yang berbasis data mikro. (7) Peningkatan kapasitas pengelolaan administrasi dan pemantapan sistem administrasi kependudukan. Tujuan, yang akan dicapai melalui kebijakan pembangunan kependudukan adalah: (1) Menurunkan laju pertumbuhan penduduk dalam rangka mewujudkan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera. (2) Meningkatkan kualitas penduduk lanjut usia (lansia). (3) Meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku remaja berkaitan dengan masalah kesehatan reproduksi. (4) Meningkatkan kesejahteraan keluarga dengan menurunkan jumlah penduduk miskin (Keluarga Pra Sejahtera dan KS-1). (5) Meningkatkan cakupan, mutu pelayanan KB dan Kesehatan Reproduksi. (6) Meningkatkan kapasitas pengelolaan administrasi kependudukan. (7) Memantapkan sistem informasi kependudukan. Strategi, yang dilakukan untuk mencapai tujuan kependudukan adalah: (1) Mempertahankan dan meningkatkan kepesertaan KB serta memberdayakan penduduk lanjut usia (lansia). (2) Memberikan pemahaman kepada masyarakat, keluarga dan remaja dalam rangka menurunkan jumlah penduduk yang

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 235

melangsungkan perkawinan pada usia remaja, menurunkan kehamilan pada usia remaja, kehamilan pranikah dan meningkatkan pengetahuan sikap dan perilaku positif remaja dalam hal penyakit menular seksual (PMS) termasuk HIV/AIDS. (3) Memberdayakan keluarga baik di bidang ekonomi maupun ketahanan keluarga dengan meningkatkan kerjasama kemitraan antar sektor baik pemerintah maupun swasta termasuk LSOM. (4) Menyediakan data dan informasi secara lengkap, akurat dan mutakhir tentang keluarga sejahtera khususnya yang menyangkut upaya pemberdayaan keluarga miskin. (5) Memfasilitasi pelayanan KB, konseling dan rujukan yang seluas-luasnya dan berkualitas sehingga memberikan kepuasan baik bagi penerima pelayanan maupun pemberi pelayanan. (6) Melakukan promosi, konsultasi, informasi dan edukasi terhadap upaya peningkatan kelangsungan hidup ibu, bayi dan anak serta meningkatkan pelayanan dan penanganan masalah kesehatan reproduksi. (7) Memperkuat jaringan dan kapasitas kelembagaan program di berbagai tingkatan. (8) Memfasilitasi dan memberikan pelatihan bagi aparat dan stakeholders lainnya dalam rangka meningkatkan kapasitas pengelolaan administrasi dan pengembangan serta penyempurnaan sistem informasi kependudukan. Program, yang dilakukan untuk mendukung strategi dalam mencapai tujuan kependudukan, adalah:

a. Pemberdayaan Keluarga. Program ini untuk meningkatkan kesejahteraan dan ketahanan keluarga
sebagai unit sosial terkecil dalam masyarakat.

b.

Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR). Program ini untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku positif remaja tentang kesehatan reproduksi dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan reproduksinya dan mempersiapkan kehidupan berkeluarga guna mendukung upaya peningkatan kualitas generasi mendatang.

c.

Keluarga Berencana. Program ini untuk memenuhi permintaan pelayanan KB dan kesehatan reproduksi yang berkualitas serta mengendalikan angka kelahiran dalam rangka meningkatkan kualitas penduduk dan mewujudkan keluarga kecil yang berkualitas.

d. e.

Pelayanan Keluarga Berencana. Program ini untuk meningkatkan kemandirian, cakupan dan mutu pelayanan KB serta kesehatan reproduksi, terutama yang diselenggarakan oleh masyarakat. Pengembangan dan Keserasian Kebijakan Kependudukan. Program ini untuk mengembangkan pengkajian, penyediaan data dan informasi kependudukan, peningkatan kemampuan aparat pengelola administrasi kependudukan serta mengembangkan kebijakan dan kajian terhadap pranata hukum yang terkait dengan pembangunan kependudukan

4.2. Kepemudaan
Kebijakan. Kebijakan pembangunan generasi muda diarahkan pada: (1) Membina dan mengembangkan sikap perilaku yang baik di kalangan generasi muda secara dini, terpadu dan berkelanjutan; (2)

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 236

Menumbuhkan dan menanamkan jiwa kewirausahaan yang mandiri serta profesional; (3) Meningkatkan peran serta pemuda dan lembaga/organisasi kepemudaan dalam pembangunan Tujuan, pembangunan generasi muda adalah: Terwujudnya generasi muda yang bertaqwa kepada Tuhan YME, berwawasan kebangsaan, disiplin, bertanggung jawab dan berbudi pekerti luhur serta tanggap terhadap permasalahan, lingkungan dan pembangunan. Strategi, yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah: (1) Pencegahan dan penanggulangan kenakalan remaja dan kriminalitas serta penanaman nilai-nilai penghormatan terhadap supremasi hukum dan HAM; (2) Pengembangan sentra pemberdayaan pemuda dan kelompok usaha produktif; (3) Pembinaan kepemimpinan siswa dan organisasi kepemudaan; (4) Peningkatan kegiatan ekstrakulikuler serta kegiatan kepramukaan; (5) Pengembangan pemuda terdidik pedesaan; (6) Pengembangan jaringan kerjasama kepemudaan antar daerah/wilayah/negara. Program, yang dilakukan untuk mendukung strategi dalam mencapai tujuan pembangunan generasi muda, adalah:

1.

Peningkatan Pembinaan Pemuda. Program ini untuk melindungi segenap generasi muda dari penyimpangan perilaku dan penyalahgunaan miras dan NAPZA serta penyakit sosial masyarakat lainnya.

2.

Pengembangan Kegiatan Sosial Ekonomi Produktif Pemuda. Program ini untuk mengembangkan minat dan semangat kewirausahaan di kalangan generasi muda yang berdaya saing, unggul dan mandiri.

3.

Pembinaan Lembaga/Organisasi Kepemudaan. Program ini untuk mengembangkan iklim yang kondusif bagi generasi muda dalam mengaktualisasikan segenap potensi, bakat dan minat dengan memberikan kesempatan dan kebebasan mengorganisasikan dirinya.

4.3. Olahraga
Kebijakan, Kebijakan pembangunan olahraga diarahkan pada: (1) Mengembangkan pembibitan, pembinaan dan pemanduan atlet olahraga secara terpadu; (2) Meningkatkan kapasitas kelembagaan organisasi olahraga daerah; (3) Meningkatkan kualitas sarana dan prasarana olahraga; (4) Pemassalan olahraga masyarakat. Tujuan, pembangunan olahraga adalah Meningkatnya prestasi olahraga baik di forum Nasional maupun internasional serta tumbuhnya kecintaan dan kepedulian masyarakat terhadap kesehatan melalui olahraga.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 237

Strategi, yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah: (1) Pembinaan, pemanduan dan pembibitan olahraga secara intensif, dan berkelanjutan; (2) Peningkatan kualitas SDM/tenaga pengelola olahraga; (3) Peningkatan kualitas sarana dan prasarana olahraga; (4) Penyelenggaraan komunikasi informasi dan edukasi serta konseling tentang pendidikan jasmani dan olahraga; (5) Pengembangan dan pemanfaatan IPTEK olahraga; (6) Penghargaan bagi atlet, pelatih dan pengurus olahraga berprestasi; (7) Pembinaan dan pengembangan minat olahraga masyaraka Program, untuk melaksanakan pembangunan olahraga dicanangkan program sebagai berikut:

1. Pembibitan, Pembinaan dan Pemanduan Atlet Olahraga. Program ini untuk meningkatkan
pencapaian dan kesinambungan prestasi olahraga bagi pelajar, mahasiswa dan masyarakat.

2. Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Organisasi Olahraga. Program ini untuk meningkatkan kualitas
pengelolaan organisasi olahraga di daerah.

3. Pemasyarakatan Olahraga dan Kesegaran Jasmani. Program ini untuk mendorong tumbuhnya pola
hidup sehat dalam masyarakat melalui olahraga.

V. Pencapaian RPJMN di Daerah (2005-2007) 5.1. Upaya yang Dilakukan hingga tahun 2007
1. Kependudukan

a.

Program Keluarga Berencana: (1) Pelayanan MOW, pada tahun 2005 sebanyak 1.500 orang dan pada tahun 2006 sebanyak 1599 orang; (2) Pelayanan MOP pada tahun 2005 sebanyak 170 orang dan pada tahun 2006 sebanyak 50 peserta; (3) Pencabutan implant pada tahun 2005 sebanyak 1000 orang dan pada tahun 2006 1925 orang, (4) Pengadaan Pil KB pada tahun 2005 sejumlah 31.579 cycl; (5) Pelayanan papsmear kegiatan yang diagendakan 2004-2006sebanyak 362 orang pada tahun 2004 dan pada tahun 2006 sebanyak 160 orang.

b.

Upaya peningkatan Pengetahuan, sikap dan perilaku remaja mengenai kesehatan reproduksi dilakukan melalui beberapa kegiatan penyuluhan yang dilakukan oleh dinas kegiatan mengenai narkoba dan HIV/AIDS dan PMS.

c. d.

Diadakannya program pemberdayaan masyarakat miskin namun masih belum terdata. Program pelayanan Keluarga Berencana: (1) Jambore IMP pada tahun 2005 terdiri dari 150 peserta dan pada tahun 2006 diikuti oleh 105 peserta; (2) Pemberian stimulan atau hadih pada tahun 2005 dan 2006 terealisasi 4 orang per tahun; (3) Pencanangan pemantauan penilaian KB Kes Bayangkara di Polres/ta dan pemberian stimulan polresta berprestasi. Pada tahun 2005 diberikan kepada 6 Polres/ta dengan sasaran 11 Polres/ta. Pada tahun 2006 diberikan 6 Polres/ta

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 238

dengan sasaran 9 Polres/ta.Perencanaan penilaian KG PKK KB Kes Kabupaten/kota pada tahun 2005 dapat terealisasi 13 kabupaten/kota dan tahun 2006 juga terealisasi 13 kabupaten/kota.

e.

Program pengembangan dan keseasian kebijakan penduduk: (1) Rakor P4B, pada tahun 2005 diikuti oleh 35 orang dan pada tahun 2006 juga diikuti oleh 35 rang; (2) Sosialiasasi tertib administrasi diikuti oleh 105 orang pada tahun 2006; (3) Bintek/Desiminasi/Pelatihan yaitu pada tahun 2005 kegiatan desiminasi sebanyak 70 orang. Forkom Adminduk catatan sipil pada tahun 2005 oleh 105 peserta; (4) Orientasi kependudukan oleh 19 orang peserta pada tahun 2005; (5) Monitoring dan evaluasi data kependudkan. Kegiatan ini dilakukan pada tahun 2006 dan dapat tercapi di 17 kabupaten/kota sasaran.

2.

Kepemudaan a. Peningkatan Pembinaan Pemuda: (1) Terselenggaranya pemilihan pemuda pelopor tingkat provinsi Jawa Tengah dan pengiriman 4 calon pemuda pelopor tingkat nasional; (2) Terselenggaranya peningkatan Hari Sumpah Pemuda tahun 2006; (3) Terkirimnya 4 peserta Kapal Pemuda Nusantara; (4) Pelatihan Patroli Keamana Sekolah (PKS), disenggarakan pada tahun 2004 dan 2006 yang masing-masing diikuti oleh 35 orang dan tahun 2006 diikuti oleh 70 orang peserta; (5) Diklat satgas pelacakan kerawanan sekolah, diselenggarakan hukum dan HAM di kalangan pemuda dan pelajar, diselenggarakan pada tahun 2005 dan 2006 yang masing-masing diikuti oleh 350 orang peserta; (6) Penyuluhan pencegahan penyalahgunaan narkoba, HIV AIDS dan miras, diselenggarakan pada tahun 2004, 2005, dan 2006 yang masing-masing diikuti oleh 3.500 orang peserta/tahun; (7) Pelatihan Gempala (Generasi Muda Pecinta Alam), diselenggarakan pada tahun 2005 yang diikuti oleh 70 orang dan tahun 2006 diikuti oleh 140 orang peserta; (8) Pelatihan Paskibraka, diselenggarakan pada tahun 2005 dan 2006 yang masingmasing diikuti oleh 70 orang peserta; (9) Lomba Keteladan Siswa, diselenggarakan pada tahun 2005 dan 2006 yang masing-masing diikuti oleh 210 orang peserta. b. c. Pengembangan Kegiatan Sosial Ekonomi Produktif Pemuda. Tidak ada kegiatan yang mengarah pada pelaksaan program ini. Pembinaan Lembaga/organisasi Kepemudaan. Dalam upaya mewujudkan program Pembinaan Lembaga/Organisasi kepemudaan, telah dilakukan berbagai kegiatan yaitu Pembinaan organisasi kepemudaandi Jawa Tengah antara lain: Kwarda 11 Jawa Tengah; KNPI Jawa Tengah; Palang Merah Remaja; Organisasi kemahasiswaan dan pecinta alam.

3.

Olahraga a. Pembibitan, Pembinaan dan Pemanduan Atlet Olahraga: (1) Pembentuka dan pembinaan klub olahraga pelajar. Tahun 2004 mencapai sasaran sejumlah 68 klub, tahun 2005 sebanyak 100 klub dan tahun 2006 sebanyak 120 klub; (2) Penyelenggaran PORDA SD sederajat, diselenggarakan pada tahun 2004, 2005, dan 2006 yang masing-masing diikuti oleh 1.050 peserta; (3)

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 239

Penyelenggaraan PORDA SMP sederajat tingkat Jawa Tengah, tahun 2004 dengan peserta sejumlah 950 orang, tahun 2005 sejumlah 1000 orang dan tahun 2006 diikuti oleh 1.050 peserta; (4) Penyelenggaraan PORDA SMA sederajat tingkat Jawa Tengah, tahun 2004 dengan peserta 950 orang, tahun 2005 sejumlah 1.000 orang dan tahun 2006 yang diikuti oleh 1.050 peserta; (5) Penyelenggaraan POSPEDA tingkat Jawa Tengah, disenggarakan pada tahun 2004, 2005, dan 2006, masing-masing diikuti oleh 900 peserta; (6) Penyelenggaraan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pelajar (PPLP) Jawa Tengah, pada tahun 2004 diselenggarakan dengan sasaran 112 orang dan tahun 2005 sebanyak 112 orang dan tahun 2006 diikuti sebanyak 120 orang peserta; (7) Penyelenggaraan training camp atlet pelajar berbakat yang diselenggarakan pada tahun 2004, 2005 yang masing-masing diikuti 90 orang peserta dan pada tahun 2006 diikuti oleh 120 peserta. b. Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Organisasi Olahraga: (1) Rapat koordinasi pembinaan olahraga, diselenggarakan setiap tahun pada tahun 2004, 2005, dan 2006 yang kesemuanya melibatkan 35 kabupaten/kota yang ada di Provinsi Jawa Tengah; (2) Musda BAPOPSI Jawa Tengah, diselenggarakan setiap tahun pada tahun 2004, 2005, dan 2005 yang kesemuanya melibatkan 35 kabupaten/kota yang ada di Provinsi Jawa Tengah; (3) Training Camp pelatih olahraga pelajar dalam berbagai cabang olahraga, diselenggarakan setiap tahun pada tahun 2004, 2005, dan 2005 yang masing-masing diikuti oleh 35 peserta; (4) Penataan instruktur olahraga dan Pembina, diselenggarakan pada tahun 2004 yang diikuti oleh 140 orang, kemudian tahun 2005 diikuti oleh 160 orang dan tahun 2006 diikuti oleh 190 orang. c. Peningkatan Kualitas Saran Prasarana Olahraga. Dilakukan pengadaan sarana dan prasarana olahraga di sekolah, pada tahun 2004 diadakan sebanyak 7 paket, pada tahun 2005 sebanyak 7 paket dan tahun 2006 sebanyak 8 paket. d. Pemasyarakatan Olahraga dan Kesegaran Jasmani: (1) Lomba Tri Lomba Juang tingkat Jawa Tengah, dilaksakan pada tahun 2005 dengan jumlah peserta sebanyak 525 orang; (2) Pengiriman tim olahraga tradisional Jawa Tengah, dilaksanakan setiap tahun dari tahun 2004, 2005, dan 2006 dengan peserta masing-masing 20 orang; (3) Pengiriman tim olaharaga penyandang cacat, dilaksanakan setiap tahun dari tahun 2004, 2005, dan 2006 dengan peserta masing-masing 40 orang; (4) Bantuan penyelenggaraan dalam rangka Haornas, diberikan setiap tahun sejak tahun 2004, 2005, dan 2006 bagi 35 kabupaten/kota yang ada di Provinsi Jawa Tengah; (5) Bagi atlet yang telah berprestasi telah diberikan beasiswa belajar, dimana pada tahun 2005 dan 2006 masing-masing 100 orang atlet berprestasi mendapat beasiswa.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 240

5.2. Posisi Capaian hingga tahun 2007
1. Kependudukan a. Beberapa tujuan yang diharapkan tercapai, namun belum tersentuh antara lain upaya meningkatakan kualitas penduduk lansia, belum dilakukannya program atau kegiatan yang nyata untuk mewujudkannya. Padahal komposisi penduduk menunjukkan kecenderungan menuju arah struktur penduduk tua . Pada tahun 2005 sekitar 6,77 persen lansia dan 27,06 persen penduduk di bawah 15 tahun. Maka perlu dikembangkan kembali program kesehatan yang menyasar pada lansia sehingga derajat dan kualitas hidupnya semakin meningkat. b. Program Kesehatan Reproduksi Remaja. Upaya peningkatan Pengetahuan, sikap dan perilaku remaja mengenai kesehatan reproduksi dilakukan melalui beberapa kegiatan penyuluhan yang dilakukan oleh dinas kegiatan mengenai narkoba dan HIV/AIDS dan PMS lainnya namun masih terbatas dan kurang signifikan. c. d. Program pemberdayaan keluarga. Upaya yang nyata dalam menurunkan kemiskinan belum terlihat nyata dalam pelaksanaan Renstra. Program KB telah berjalan namun belum signifikan . Pada tahun 2002 jumlah peserta KB aktif 4.460.242 dan pada tahun 2005 adalh 4.779.940. Peserta layanan yang melakukan KB Mandiri tahun 2002 adalah 54,15 persen dan pada tahun 2005 menurun 53,40 persen. e. 2. Kegiatan yang lain yang sudah cukup signifikan membentuk SDM menguasai kependudukan, namun yang belum tersentuh adalah upaya pembuatan data base kependudukan yang terpadu. Kepemudaan a. Pembinaan generasi muda yang dilakukan melalui serangkaian kegiatan secara umum telah mengarah pada upaya pencapaian strategasi dan kebijakan pembangunan Provinsi Jawa Tengah 2003-2008. Pembinaan generasi muda untuk mencegah penyimpangan penggunaan NAPZA dan pemahaman mengenai penyakit menular seksual dan AIDS telah dilakukan dengan baik dan tepat sasaran karena generasi muda adalah generasi yang paling rawan terhadap penyalahgunaan NAPZA dan perilaku seks menyimpang. Sasaran terwujudnya generasi muda yang berkaqwa kepada Tuhan YME, berwawasan kebangsaan, disiplin, bernilai tanggungjawab dan berbudi pekerti luhur serta tanggap terhadap permasalahan lingkungan dan pembangunan telah dilakukan denagan kegiatan yang bervariasi. Sudah berjalan dengan baik, namun perlu adanya perhatian yang serius pada masalah NAPZA, penyakit HIV/AIDS secara terus menerus pada generasi muda. Penanganan pengembangan kegiatan social ekonomi produktif pemuda belum dapat berjalan dengan baik, hal ini dikarenakan tidak adanya kerjasama dengan pihak-pihak terkait seperti Ikatan Pengusaha Muda Indonesia. Ada kemungkinan bila program ini ditangani oleh Ikatan Pengusaha Muda Indonesia hasilnya akan lain.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 241

b. c.

Pengembangan Kegiatan Sosial Ekonomi Produktif Pemuda. Tidak ada kegiatan yang mengarah pada pelaksaan program ini. Upaya pembinaan organisasi kepemudaan juga terus dilakukan dengan berbagai kegiatan. Namun cakupan organisasi kepemudaan masih perlu diperluas jangkauannya tidak hanya pada organisasi resmi/formal seperti KNPI, PMR, atau BEM saja, namun dapat menyentuh semua lapisan generasi muda.

3.

Olahraga

a.

Upaya pengembangan pembibitan, pembinaan dan altlet secara terpadu telah dilakukan dengan diadakannya pecan olahraga pelajar dan pebinaan klub olahraga pelajar yang bertujuan untuk menjaring bibit-bibit olahragawan potensial. Capaian setiap tahun dalam pembinaan klub pelajar menunjukkan peningkatan yang signifikan dari 68 klub di tahun 2004, menjadi 100 klub pada tahun 2005 dan menigkat lagi pada tahun 2006 sebanyak 120 klub. Untuk keberlanjutan pembinaan atlet di masa depan, perlu dipikirkan kesejahteraan atlet, karena fenomena atlet menjadi kutu loncat pindah ke daerah lain sudah menjadi pemandangan umum. Dengan adanya jaminan kesejahteraan dan perhatian yang baik maka fenomena berpindahnya atlet ke luar daerah dapat dihindari. Begitu pula bagi mantan atlet yang berprestasi perlu mendapat perhatian sehingga tidak terlantar pada masa tuanya.

b.

Belum adanya target yang terprogram pengembangan kapasitas kelembagaan olahraga dilakukan melalui rapat koordinasi pembinaan olahraga dilakukan melalui rapat koordinasi pembinaan olahraga, musda BAPOPSI Jawa Tengah; Training camp pelatih olahraga pelajar dalam berbagai cabang olahraga, dan penataran instruktur olahraga dan Pembinaokus/operasional, disamping itu hasil yang dicapai hanya dikemukakan secara kualitatif saja dan perlu adanya dukungan data. Perlu adanya data tambahan terutama dari tahun 2003 sampai dengan 2005 data sama sekali tidak ada. Secara umum beberapa sasaran pembangunan bidang keolahragaan telah terlaksana dengan bak, namun masih ada beberapa sasaran yang lain yang masih perlu diupayakan ketercapaiannya.

c. d.

Peningkatan sarana dan prasana selain melalui anggaran pemerintah, juga dapat dilakukan melalui menjalin kerjasama dengan pihak swasta yang concern terhadap pengembangan olahraga. Upaya pemasyarakatan olahraga telah dilakukan dengan berbagai kegiatan, namun pada intinya pemasyarakatan olahraga dan kesegaran jasmani dapat berhasil jika kegiatan yang dilakukan diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat dan menjadikannya sebagai gaya hidup, dan membentuk pola pikir bahwa kesegaran jasmani merupakan kebutuhan.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 242

4.

Permasalahan Pencapaian Sasaran

a. Kependudukan
1) Belum dilakukannya program atau kegiatan untuk meningkatkan kualitas penduduk Lansia. 2) Kurangnya kegiatan penyuluhan yang dilakukan oleh dinas kegiatan mengenai narkoba dan HIV/AIDS dan PMS kurang signifikan. Sementara upaya memberikan pemahaman mengenai masalah perkawinan usia remaja, kehamilan usia remaja, dan pranikah belum terlihat kegiatan yang dilakukan. 3) Menurunnya peserta layanan KB 4) Belum optimalnya pemberdayaan masyarakt miskin, sehingga harus dilakukan programprogram percepatan pengentasn kemiskinan. 5) Belum adanya pembuatan data base yang terpadu.

b. Kepemudaan
1) Upaya melibatkan dan mendukung pemuda dalam usaha-usaha ekonomi mandiri perlu dikembangkan secara serius dan diperlukan kajian yang mengenai jenis kewirausahaan yang cocok dikembangkan di setiap daerah sehingga upaya menumbuhkan semangat kewirausahaan pemuda yang memiliki daya saing dapat terwujud. Pembinaan organisasi kepemudaan juga terus dilakukan dengan berbagai kegiatan dan berbagai cara. Namun tidak hanya pada organisasi resmi seperti KNPI saja, akan tetapi organisasi-organisasi pemuda lainnya. 2) Upaya menumbuhkan pengembangan kegiatan sosial ekonomi produktif dikalangan generasi muda belum telihat nyata. Padahal pemuda adalah asset potensial bagi pengembangan kewirausahaan . Begitu pula melihat kenyataan bahwa sebagian besar golongan penganggur adalah golongan generasi muda, sehingga upaya untuk mlibatkan dan mendukung pemda dalam usaha-usaha ekonomi mandiri perlu lebih dikembangkan secara serius. Jenis-jenis kewirausahaan yang ada harus melihat potensi masing-masing daerah yang berbeda. Untuk itu juga diperlukan kajian yang mendalam mengenai jenis kewirausahaan yang cocok dikembangkan setiap daerah sehingga upaya menumbuhkan semangat kewirausahaan pemuda yang memiliki daya saing dapat terwujud. 3) Perlunya perluasan oraganisasi kepemudaan baik formal maupun non formal.

5.

Olahraga 1) Kajian bidang keolahragaan, hasilnya terfokus pada bidang olahraga prestasi di sekolah saja, pada hal yang aling penting dalam peningkatan prestasi adalah penanganan bidang pendidikan jasmani dan kesehatan di sekolah terlebih dahulu, karena ini sebagai basis yang sangat strategis, bila pendidikan jasmani dan kesehatan sudah benar dan terarah, maka prestasi

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 243

olahraga akan mudah dicapai, tetapi tidak ada penangan yang serius dari pemerintah. Dari hasil yang dipaparkan dalam bidang prestasi olahraga, ternya pembinaan yang dilakukan oleh KONI Provinsi Jawa Tengah,hasilnya tidak disampaikan, pada hal banyak atlet dari Jawa Tengah memperoleh prestasi baik di tingkat nasional maupun internasional. Pembinaan olaharaga prestasi Jawa Tengah sebagai tolak ukurnya adalah sasaran pada PON XVll di Kalimantan Timur, yaitu menduduki peringkat 3 nasional, akan tetapi ini tidak masuk target. Demikian juga olahraga masyarakat juga belum digarap dengan semestinya. 2) Dalam upaya peningkatan kapasitas kelembagaan olahraga perlu dipikirkan langkah selanjutnya yaitu pengelolaan kelembagaan secara professional dengan melibatkan SDM yang mempunyai kompetensi dibidang olahraga bersangkutan. 3) Kurangnya kerjasama dengan pihak swasta dalam penyediaan sarana dan prasarana olahraga.

VI. Tindak Lanjut
Upaya tindak lanjut yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas kependudukan, kepemudaan, dan olah raga adalah: 1. Kependudukan a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. 2. Instensifikasi program-program posyandu lansia masyarakat yang di jembatani secara nyata. Pembukaan klinik-klinik geriatri dan klinik konseling bagi lansia. Peningkatan layanan panti whreda. Sosialisasi kesehatan reproduksi dan damapak perkawinan dini bagi siswa SMA, karangtaruna dan remaja. Pelatihan remaja terpilih untuk menjadi sebaya bagi rekan –rekannya mengenai kesehatan reproduksi. Pemberdayaan ekonomi keluarga miskin dan prasejahtera untuk mengurangi kemiskinan. Pelatihan kewirausahaan bagi keluarga miskin. Bantuan modal usaha bagi kelompok wirausaha keluarga miskin. Sosialisasi KB bagi kaum bapak dapat dilakukan pada media rapat. Pembukaan klinik layanan KB di tempat-tempat yang terjangkau oleh masyarakat.

Kepemudaan a. b. Pembinaan generasi muda untuk mencegah penyimpangan penggunaan NAPZA dan HIV/AIDS melalui berbagai organisasi kepemudaan baik formal maupun organisasi informal. Sarasehan penngkatan pengetahuan dan sikap, serta perilaku remaja mengenai kesehatan reproduksi dan perkawinan dini dengan sasaran pelajar SLTP, SMA, dan Karang Taruna.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 244

c. d. e. 3.

Pengembangan kewirausahaan pemuda dalam usaha-usaha ekonomi mandiri untuk mengurangi angka pengangguran dan kenakalan remaja. Survey/penelitian mengenai model kewirausahaan pemuda yang sesuai di setiap daerah. Pembinaan dan dukungan bagi organisasi-organisasi non-formal seperti organisasi pencinta otomotif, ikatan motor dan organisasi hobbies lain yang banyak melibatkan generasi muda.

Olahraga a. b. c. d. Peningkatan kesejahteraan atlet. Peningkatan perhatian dan kesejahteraan bagi manta atlet yang berprestasi dan yang telah pensiun. Kerjasama dengan pihak swasta untuk membangun dan mengelola fasilitas olahraga. Menggalakkan kembali berbagai event olahraga massal seperti orobudur 10K, atau sepeda sehat.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 245

BAB 4.16
Peningkatan Kualitas Kehidupan Beragama

I. Pengantar
Pembangunan agama merupakan upaya untuk memenuhi salah satu hak dasar rakyat, yaitu hak memeluk agama dan beribadat menurut keyakinan masing-masing sebagaimana diatur di dalam UUD 1945, Bab XI Pasal 29 (1) dan (2), yang menegaskan bahwa ”Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa” dan ”Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu.” Seiring makin disadarinya kebutuhan sentuhan agama disegala bidang kehidupan bermasyarakat dan bernegara, maka makin disadari pula bahwa pembangunan bidang agama menjadi faktor yang sangat penting di dalam pembentukan masyarakat yang madani. Disisi lain disadari pula bahwa selama ini penanganan berbagai permasalahan terhadap berbagai sektor kehidupan dirasakan masih kurang, utamanya terhadap penghayatan dan pengamalannya belum sesuai dengan esensi keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Sementara itu, kemajemukan agama di Indonesia perlu mendapatkan perhatian serius karena potensial memicu konflik yang berdampak pada terjadinya disintegrasi bangsa. Kualitas dan relevansi pendidikan yang berbasis agama masih dirasakan belum sesuai, tampak pada pencapaian ratio hasil ujian akhir, terbatasnya penyediaan prasarana/sarana pendidikan, rendahnya mutu, kesejahteraan dan kekurangan tenaga kependidikan serta terjadinya kekurang relevansian (missmatch) antara tamatan pendidikan dengan kualifikasi/ standar kompetensi dan kebutuhan pasar kerja. Dalam rangka mewujudkan peran dan fungsi bidang agama sebagai landasan moral spritual, Provinsi Jawa Tengah memiliki beberapa potensi sebagai berikut: (1) Sebagian besar penduduk Jawa Tengah beragama Islam dengan kultur masyarakat yang agamis dengan tingkat toleransi yang baik sehingga mudah diarahkan dalam mewujudkan program-program pembangunan dalam bidang keagamaan; (2) Tersedianya sarana dan prasarana peribadatan.

246

II. Kondisi Awal RPJM-N di Tingkat Daerah
Sarana dan prasarana peribadatan di Jawa Tengah sebanyak 125.695 unit terdiri Mesjid sebanyak 35.199 unit, langgar sebanyak 87.523 unit unit; gereja Kristen sebanyak 1.925 unit, Gereja Katolik sebanyak 608 unit, Pura Hindu sebanyak 168 unit; Vihara Budha sebanyak 274 unit. Yang dapat mendukung kegiatan keagamaan dan aktivitas keagamaan para penganutnya. (3) Tersedianya lembaga pendidikan formal keagamaan terdiri Madrasah Ibtidaiyah (MI) sebanyak 3.738 unit dengan jumlah guru 25.422 orang dan murid sebanyak 521.550 orang. Pendidikan Madrasah Tsanawiyah sebanyak 1.196 unit, jumlah guru sebanyak 25.716 orang dengan jumlah murid sebanyak 300.681 orang. Banyaknya Madrasah Aliyah sebanyak 425 unit, jumlah guru sebanyak 14.230 orang dan murid sebanyak 14.230 orang serta pendidikan tingkat perguruan tinggi keagamaan. Sedangkan potensi pendidikan non formal keagamaan dengan jumlah pondok pesantren sebanyak 1.946 unit dengan jumlah Kyai sebanyak 3.024 orang dan Ustad sebanyak 14.158 orang dengan jumlah santri sebanyak 432.751 orang, dan pada tahun 2002 jemaah haji yang diberangkatkan mencapai 21 ribu orang. Pembangunan bidang agama di Provinsi Jawa Tengah masih dihadapkan pada beberapa permasalahan sebagai berikut: (1) Penghayatan dan pengamalan agama belum sesuai dengan esensi keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa; (2) Belum optimalnya fungsi dan peran lembaga-lembaga keagamaan di bidang sosial dan kemasyarakatan; (3) Belum optimalnya pengembangan pribadi, watak, dan akhlak mulia yang dilakukan oleh keluarga, lembaga sosial keagamaan, lembaga pendidikan tradisional keagamaan dan tempat-tempat ibadah; (4) Kurang optimalnya pelayanan ibadah haji Jawa Tengah; (5) Kurangnya kualitas dan relevansi pendidikan formal/ informal keagamaan.

III. Sasaran yang Ingin Dicapai
Sasaran peningkatan kualitas kehidupan beragama sampai dengan tahun 2007 di Jawa Tengah adalah: 1. Peningkatan kualitas pelayanan dan pemahaman agama serta kehidupan beragama: a. Meningkatnya kualitas pemahaman, penghayatan, dan pengamalan ajaran agama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, sehingga kualitas masyarakat dari sisi rohani semakin baik. Upaya ini juga ditujukan pada anak peserta didik di semua jalur, jenis dan jenjang pendidikan, sehingga pemahaman dan pengamalan ajaran agama dapat ditanamkan sejak dini pada anak-anak b. Meningkatnya kepedulian dan kesadaran masyarakat dalam memenuhi kewajiban membayar zakat, wakaf, infak, shodaqoh, kolekte, dana punia, dan dana paramita dalam rangka mengurangi kesenjangan sosial di masyarakat.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 247

c.

Meningkatnya kualitas pelayanan kehidupan beragama bagi seluruh lapisan masyarakat sehingga mereka dapat memperoleh hak-hak dasar dalam memeluk agamanya masing-masing dan beribadat sesuai agama dan kepercayaannya.

d. e.

Meningkatnya kualitas manajemen ibadah haji dengan sasaran penghematan, pencegahan korupsi, dan peningkatan kualitas pelayanan terhadap jemaah haji, serta Meningkatnya peran lembaga sosial keagamaan dan lembaga pendidikan keagamaan sebagai agen pembangunan dalam rangka meningkatkan daya tahan masyarakat dalam menghadapi berbagai krisis.

2.

Peningkatan kerukuran Intern dan antarumat beragama Terciptanya harmoni sosial dalam kehidupan intern dan antarumat beragama yang toleran dan saling menghormati dalam rangka menciptakan suasana yang aman dan damai, sehingga konflik yang terjadi di beberapa daerah dapat diselesaikan dan tidak terulang di daerah lain.

IV. Arah Kebijakan
Arah kebijakan pembangunan keagamaan di Jawa Tengah diarahkan pada: (1) Meningkatkan kualitas pelayanan keagamaan; (2) Meningkatkan fungsi dan peran lembaga-lembaga keagamaan di bidang sosial dan kemasyarakatan; serta (3) Meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan formal/ informal keagamaan. Yang bertujuan agar Meningkatkan kualitas pelayanan keagamaan; Meningkatkan fungsi dan peran lembagalembaga keagamaan di bidang sosial dan kemasyarakatan; serta Meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan formal/ informal keagamaan.

V. Pencapaian RPJMN di Daerah (2005-2007) 5.1. Upaya yang Dilakukan HIngga Tahun 2007
Upaya yang dilakukan dalam program pembangunan agama di Provinsi Jawa Tengah adalah: 1. Pelayanan Kehidupan Beragama. Program ini untuk meningkatkan pelayanan dan kemudahan umat dalam melaksanakan ibadah; dan mendorong partisipasi masyarakat dalam menyelenggarakan kegiatan pelayanan kehidupan beragama. 2. 3. Peningkatan Kualitas Pelayanan Haji. Program ini untuk meningkatkan pelayanan dan kemudahan calon haji dalam melaksanakan ibadah. Pembinaan Pendidikan Agama. Program ini untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kualitas keimanan dan ketaqwaan.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 248

5.2. Posisi Capaian hingga Tahun 2007
Posisi capaian yang sudah dilakuakn hingga tahun 2007 dalam pembangunan keagamaan di Jawa Tengah adalah sebagi berikut: 1. Tingkat pelayanan pelaksanaan ibadah haji, pada tahun 2005 terdapat 19.723 orang yang melaksanakan ibadah haji, tahun 2006 terdapat 25.004 orang, dan tahun 2007 meningkat menjadi 29.256 orang. Fasilitas asrama haji Donohudan yang menggunakan sistem blok dengan tempat tidur susun dalam jumlah banyak menyebabkan pemanfaatannya tidak optimal, disamping itu belum mempunyai menara air dan fasilitas manasik tidak sesuai dengan kondisi sekarang. 2. Jumlah kasus gangguan keamanan yang melibatkan SARA dari tahun 2003-2008 menunjukkan kerukunan antar umat beragama cenderung meningkat serta toleransi antar umat makin tinggi. Hal ini ditunjukan tidak pernah ada kerusuhan yang bersifat SARA di Jawa Tengah. 3. Pemberian bantuan pembangunan/rehabilitasi tempat ibadah. Tahun 2003, jumlah permohonan sebanyak 3.154 unit, yang mendapat bantuan sejumlah 2.765 unit dengan anggaran Rp.25.787.152.000 (rata-rata setiap unit mendapat bantuan Rp.9,33 juta). Tahun 2004 permohonan sejumlah 3.525 unit yang mendapatkan bantuan 2.345 unit dengan anggaaran 28.362.127.000 (rata-rata anggaran Rp 10,01 juta/unit). Tahun 2006 jumlah permohonan 4.353 unit diberi bantuan 4.269 unit dengan anggaran Rp.48.289.593.000 (rata-rata Rp.11,24 juta/unit). 4. Legiatan lomba kitab suci untuk 5 agama. Kegiatan yang telah dilaksanakan antar lain bantuan pelaksanaan kegiatan Badko TPQ pelajar, MTQ mahasiswa, MTQ/MHQ pesantren, peningkatan materi danmutu MTQ, peltihan dalam rangka sukses MTQ/STQ nasional, pengiriman kafiah pada MTQ/STQ tingkat nasional, serta bnatuan pembinaan dan pelaksanaan Darmapala, Utsawa Dharma Gita dan Pesparawi. 5. Terselenggaranya dan terbinanya perayaan hari besar keagamaan, terselenggaanya sholat taraweh di Wisma Perdamaian selama bulan Ramadan, terselenggaranya acara silaturahmi dan buka puasa bersama Gubernur Jawa Tengah dengan para ulama di Jawa Tengah,dan dengan anak Panti Asuhan di Jawa Tengah. 6. Penataran dan pemberangkatan RPHD tahun 2003 dilaksanakan bagi 200 TPHD,serta memberangkatkan 22 TPHD dan 8 TP2H dengan anggaran sebesar Rp1.654.500.000. Pada tahun 2004 dilaksanakan penataran bagi 200 TPHD, memberangkatkan 24 TPHD dan 8 TP4H dengan anggaran Rp.1.180.400.000,-. Tahun 2005 dilaksanakn penataran 200 TPHD, memberangkatkan 10 TPHD dan 8 TP4H dengan anggaran Rp.1.315.00.00,-. Tahun 2006 dilaksanakn penataran 200 TPHD, memberangkatkan 22TPHD dan 10 TP4H dengan anggaran Rp.1.454.000.00,-. 7. Program pembinaan pendidikan agama dilakukan melalui beberapa kegiatan dengan target tertatanya guru pendidikan agama Islam SD,SMP,SMA/SMK/MI,MTs, MA swasta, guru agama Hindu, Budha,

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 249

Kristen, dan Katolik, serta meningkatkan kualitas guru agama. Kegiatan yang telah dilakukan pada than 2003 adalah menatar 920 guru agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Khotib dan motivator KB dengan anggaran Rp.620.000.00,00. Pada tahun 2004 menatar 970 guru agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Khotib dan motivator KB dengan anggaran Rp.665.000.00,00. Pada tahun 2005 menatar 600 guru agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Khotib dan motivator KB dengan anggaran Rp.400.000.00,00. Pada tahun 2006 menatar 600 guru agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Khotib dan motivator KB dengan anggaran Rp.450.000.00,00. Dengan demikian anggaran yang terserap selama kurun waktu 2003-2006 sebesar Rp.2.135.000.000,00.

5.3. Permasalahan Pencapaian Sasaran
a. b. c. Program dan kegiatan yang mendukung pelayanan ibadah haji masih perlu ditingkatkan. Lembaga keagamaan sebagai wahana kerukunan umat beragma, berbangsa dan bermasyarakat kurang berfungsi. Peran pendidikan non formal keagamaan yang berkembang pada masyarakat dalam pembentukan imtaq umat belum ditingkatkan.

VI. Tindak Lanjut
Adapun tindak lanjut yang dilakukan untuk mencapai sasaran pembangunan keagamaan di Jawa Tengah adalah: 1. Pembentukan forum lintas agama dan dialog lintas agama. 2. 3. 4. 5. Pembinaan dan bantuan pengembangan pendidikan nagi pondok pesantren untuk mendidik generasi muda yang beriman dan bertakwa. Peningkatan pelayanan jemaah calon haji sejak pendaftaran, pemberangkatan hingga pemulangan. Pendampingan haji oleh tim yang profesional dan independent. Dengan meningkatnya sarana dan prasarana diharapkan dapat memberi kemudahan umat dalam melaksanakan ibadah yang akhirnya dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. 6. 7. 8. Dengan meningkatkan ketersediaan dana untuk kegiatan lomba kitab suci diharapkan pemahaman terhadap kita suci pada masing-masing agama dapat meningkat. Fungsikan kembali lembaga keagamaan sebagai wahana kerukunan umat beragma, berbangsa dan bermasyarakat. Tingkatkan peran pendidikan non formal keagamaan yang berkembang pada masyarakat dalam pembentukan imtaq umat.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 250

BAB 4.17
Perbaikan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Pelestarian Mutu Lingkungan Hidup

I. Pengantar
Di Jawa Tengah sumber daya alam dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dengan tetap memperhatikan kelestarian fungsi lingkungan hidupnya. Dengan demikian sumber daya alam memiliki peran ganda, yaitu sebagai modal pertumbuhan ekonomi (resource based economy) dan sekaligus sebagai penopang sistem kehidupan (life support system). Hingga saat ini, sumber daya alam sangat berperan sebagai tulang punggung perekonomian daerah, dan masih akan diandalkan dalam pembangunan jangka menengah. Namun di lain pihak, kebijakan ekonomi yang lebih berpihak pada pertumbuhan jangka pendek telah memicu pola produksi dan konsumsi yang agresif, eksploitatif, dan ekspansif sehingga daya dukung dan fungsi lingkungan hidupnya semakin menurun, bahkan mengarah pada kondisi yang mengkhawatirkan. Atas dasar fungsi ganda tersebut, sumber daya alam senantiasa harus dikelola secara seimbang untuk menjamin keberlanjutan pembangunan daerah. Penerapan prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development) di seluruh sektor dan wilayah menjadi prasyarat utama untuk diinternalisasikan ke dalam kebijakan dan peraturan perundangan, terutama dalam mendorong investasi pembangunan jangka menengah (2004-2009). Prinsip-prinsip tersebut saling sinergis dan melengkapi dengan pengembangan tata pemerintahan yang baik (good governance) yang mendasarkan pada asas partisipasi, transparansi, dan akuntabilitas yang mendorong upaya perbaikan pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian fungsi lingkungan hidup.

II. Kondisi Awal RPJM-N di Tingkat Daerah 2.1. Kurangnya Ketersediaan Tata Ruang Hutan
Hutan merupakan salah satu sumber daya yang penting, tidak hanya dalam menunjang perekonomian nasional tetapi juga dalam menjaga daya dukung lingkungan terhadap keseimbangan ekosistem dunia. Indonesia merupakan negara dengan luas hutan terbesar dibanding dengan negara ASEAN lainnya. Sedangkan kondisi hutan di Jawa Tengah pada tahun 2005-2007 seluas 893.891 ha atau 27.46 persen (hutan rakyat). Berdasarkan Undang-Undang Nomor41 tahun 1999 hutan dalam satu wilayah berfungsi optimal bila luasnya 30 persen dari luas daratan, maka masih diperlukan area kira-kira 82.338,62 Ha.

251

2.2. Kerusakan DAS (Daerah Aliran Sungai)
Praktik penebangan liar dan konversi lahan menimbulkan dampak yang luas, yaitu kerusakan ekosistem dalam tatanan DAS. Akibatnya, DAS berkondisi kritis meningkat menimbulkan masalah banjir, longsor. Kerusakan DAS tersebut juga dipacu oleh pengelolaan DAS yang kurang terkoordinasi antara hulu dan hilir serta kelembagaan yang masih lemah. Hal ini akan mengancam keseimbangan ekosistem secara luas (habitat flora dan fauna), khususnya cadangan dan pasokan air yang sangat dibutuhkan untuk irigasi, pertanian, industri, dan konsumsi rumah tangga.

2.3. Habitat ekosistem pesisir dan laut semakin rusak
Kerusakan habitat ekosistem di wilayah pesisir dan laut semakin meningkat, khususnya di wilayah padat kegiatan seperti pantai utara. Rusaknya habitat ekosistem pesisir seperti deforestasi hutan mangrove serta terjadinya degradasi sebagian besar terumbu karang dan padang lamun telah mengakibatkan erosi pantai dan berkurangnya keanekaragaman hayati (biodiversity). Erosi ini juga diperburuk oleh perencanaan tata ruang dan pengembangan wilayah yang kurang tepat. Beberapa kegiatan yang diduga sebagai penyebab terjadinya erosi pantai, antara lain pengambilan pasir laut untuk reklamasi pantai, pembangunan hotel, dan kegiatan-kegiatan lain yang bertujuan untuk memanfaatkan pantai dan perairannya. Sementara itu, laju sedimentasi yang merusak perairan pesisir juga terus meningkat. Beberapa muara sungai mengalami pendangkalan yang cepat, akibat tingginya laju sedimentasi yang disebabkan oleh kegiatan di lahan atas yang tidak dilakukan dengan benar, bahkan mengabaikan asas konservasi tanah. Di samping itu, tingkat pencemaran di beberapa kawasan pesisir dan laut juga berada pada kondisi yang sangat memprihatinkan. Sumber utama pencemaran pesisir dan laut terutama berasal dari darat, yaitu kegiatan industri, rumah tangga, dan pertanian. Sumber pencemaran juga berasal dari berbagai kegiatan di laut, terutama dari kegiatan perhubungan laut dan kapal pengangkut minyak serta kegiatan pertambangan. Sementara praktikpraktik penangkapan ikan yang merusak dan ilegal (illegal fishing) serta penambangan terumbu karang masih terjadi dimana-mana yang memperparah kondisi habitat ekosistem pesisir dan laut

2.4. Pencemaran Air Semakin Meningkat
Penelitian di sungai Jawa Tengah pada tahun 2005-2006 menunjukkan Limbah cair domestik sebesar 1.259.592.000 m3/tahun, beban pencemaran BOD (Biochemical Oxygen Demand) sebanyak 1.639.401,1 ton/tahun, dan COD (Chemical Oxygen Demand) sebanyak 2.465.154,4 ton/tahun.Ditambah dengan produksi limbah industri dengan kategori B3 (Bahan Berbahaya Beracun) berupa limbah padat sebanyak 115.365 ton/tahun, limbah cair sebanyak 26.038.926 ton/tahun, bahan baku B3 sebanyak 30.584 ton/tahun. Kualitas

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 252

air permukaan danau, situ, dan perairan umum lainnya juga menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Umumnya disebabkan karena tumbuhnya phitoplankton secara berlebihan (blooming) sehingga menyebabkan terjadinya timbunan senyawa phospat yang berlebihan. Kondisi air tanah, khususnya di perkotaan, juga mengkhawatirkan karena terjadinya intrusi air laut dan banyak ditemukan bakteri Escherichia Coli dan logam berat yang melebihi ambang batas.

2.5. Menurunnya Kualitas Udara
Pencemaran udara utamanya disebabkan oleh gas buang kendaraan dan industri, kebakaran hutan, dan kurangnya tutupan hijau di perkotaan. Pada tahun 2005 baban pencemaran udara dari sumber bergerak berupa debu sebesar 567.504,4 ton/tahun, beban pencemaran SO2 sebanyak 3.345.203,7 ton/tahun dan NO2 sebanyak 2.671.255,3 ton/tahun, sedangkan tahun 2006 polusi udara meningkat seiring meningkatnya sumber pencemar dari moda transportasi, pencemaran udara tersebut berupa debu sebesar 340.230,364 ton/tahun, beban pencemaran SO2 sebesar 374.093,033 ton/tahun, CO sebesar 103.546.075,593 ton/tahun dan HC sebanyak 2.395.670.005 ton/tahun. Hal ini juga diperburuk oleh menyempitnya ruang terbuka hijau.

2.6. Belum Jelasnya Pembagian Wewenang dan Tanggung Jawab Pengelolaan Hutan
Otonomi daerah telah merubah pola hubungan pusat-daerah. Titik berat otonomi daerah di Kabupaten/Kota mengakibatkan pola hubungan Pemerintah Pusat-Provinsi-Kabupaten/Kota berubah, dan karena kurang diatur dalam peraturan perundang-undangan, menjadi berbeda-beda penafsirannya. Akibatnya kondisi hutan cenderung tertekan karena belum ada kesepahaman antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam pengelolaan sumber daya alam. Misalnya, Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan lebih menitikberatkan pada aspek-aspek pengelolaan hutan secara ideal, sementara aspek kewenangan pengelolaan hutan tidak terakomodasi secara jelas. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, walaupun sudah menegaskan hubungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam hal kewenangan, tanggung jawab, pemanfaatan, pemeliharaan, pengendalian, bagi hasil, penyerasian lingkungan dan tata ruang, masih memerlukan peraturan perundang-undangan lebih lanjut.

2.7. Lemahnya Penegakan Hukum Terhadap Pembalakan Liar (illegal logging) dan Penyelundupan Kayu
Tingginya biaya pengelolaan hutan, lemahnya pengawasan dan penegakan hukum mengakibatkan perencanaan kehutanan kurang efektif atau bahkan tidak berjalan. Kasus tebang berlebih (over cutting), pembalakan liar (illegal logging), penyelundupan kayu ke luar negeri, dan tindakan illegal lainnya banyak terjadi. Illegal logging di Jawa Tengah tahun 2006 mencapai 36.802 batang Selain penegakan hukum yang

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 253

lemah, juga disebabkan oleh aspek penguasaan lahan (land tenure) yang sarat masalah, praktik pengelolaan hutan yang tidak lestari, dan terhambatnya akses masyarakat terhadap sumber daya hutan.

2.8. Masih Rendahnya Kesadaran Masyarakat Dalam Pemeliharaan Lingkungan
Masyarakat umumnya menganggap bahwa sumber daya alam akan tersedia selamanya dalam jumlah yang tidak terbatas, secara cuma-cuma. Air, udara, iklim, serta kekayaan alam lainnya dianggap sebagai anugerah Tuhan yang tidak akan pernah habis. Demikian pula pandangan bahwa lingkungan hidup akan selalu mampu memulihkan daya dukung dan kelestarian fungsinya sendiri. Pandangan demikian sangat menyesatkan, akibatnya masyarakat tidak termotivasi untuk ikut serta memelihara sumber daya alam dan lingkungan hidup di sekitarnya. Hal ini dipersulit dengan adanya berbagai masalah mendasar seperti kemiskinan, kebodohan, dan keserakahan.

III. Sasaran Yang Ingin Dicapai
Sasaran yang ingin dicapai dalam perbaikan pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian mutu lingkungan hidup, adalah: 1. 2. 3. Tertatanya Lingkungan pertambangan di badan sungai Bodri, Tuntang, Lusi, Bogowonto, Serayu Hilir, Serayu Hulu, Subah, Cisanggarung, Citanduy, Sragi, dan Dongkeng. Fasilitasi reklamasi lahan bekas pertambangan rakyat di Kabupaten Klaten, Wonogiri, Magelang, Kendal, Banjarnegara, Pemalang, Tegal, Banyumas, Wonosobo, dan Kebumen. Pengendalian daerah resapan dan ABT di cekungan ABT : CAT Kebumen-Purworejo, CAT PekalonganPemalang, CAT Lebaksue, CAT Purwokerto-Purbalingga, CAT Kroya, CAT Subah, CAT Karangkobar, CAT Ungaran, CAT Magelang-Temanngung. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Terfasilitasinya pengelolaan lingkungan di 6 sungai. Tertanamnya 560.000 batang bakau. Terpantaunya kualitas air sungai dan waduk. Terkelolanya ekosistem pegunungan di Dieng. Preservasi Flora dan Fauna langka yang bernilai ekonomis serta pengelolaan kawasan lindung. Tersusunnya dan terealisasinya Rencana induk pengelolaan LH se Jawa Tengah.

10. Terkoordinasinya penanggulangan pencemaran industri pada 29 Kabupaten Kota. 11. Terkendalinya pencemaran dan penyiapan institusi pengelola limbah B3. 12. Terkendalinya pencemaran laut di Pansel dan Pantura. 13. Terfasiltasinya pencegahan dan penanggulangan pencemaran sungai. 14. Terpantau dan terkendalinya pencemaran udara dan kendaraan bermotor dan industri di 21 Kabupaten/Kota.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 254

15. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya memelihara sumber daya alam dan lingkungan hidup.

IV. Arah Kebijakan
Beberapa kebijakan dalam perbaikan pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian mutu lingkungan hidup, adalah: 1. Pembangunan kehutanan diarahkan untuk: a. Memperbaiki sistem pengelolaan hutan dengan meningkatkan keterlibatan masyarakat secara langsung dalam pengelolaan hutan, meningkatkan koordinasi dan penguatan kelembagaan dalam wilayah DAS, serta meningkatkan pengawasan dan penegakan hukumnya. b. c. d. e. 2. a. b. c. d. e. f. Mencapai kesepakatan antar tingkat pemerintahan dan mengimplementasikan pembagian wewenang dan tanggung jawab pengelolaan hutan. Mengefektifkan sumber daya yang tersedia dalam pengelolaan hutan. Memberlakukan moratorium di kawasan tertentu. Memanfaatkan hasil hutan non-kayu dan jasa lingkungannya secara optimal. Membangun sistem pengendalian dan pengawasan dalam pengelolaan sumber daya laut dan pesisir, yang disertai dengan penegakan hukum yang ketat. Meningkatkan upaya konservasi laut, pesisir, dan pulau-pulau kecil serta merehabilitasi ekosistem yang rusak, seperti terumbu karang, mangrove, padang lamun, dan estuaria. Mengendalikan pencemaran dan perusakan lingkungan hidup di wilayah pesisir, laut, perairan tawar (danau, situ, perairan umum). Memperkuat kapasitas instrumen pendukung pembangunan kelautan yang meliputi iptek, SDM, kelembagaan dan peraturan perundangan. Meningkatkan riset dan pengembangan teknologi kelautan. Mengembangkan upaya mitigasi lingkungan laut dan pesisir, meningkatkan keselamatan bekerja, dan meminimalkan resiko terhadap bencana alam laut bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir. g. 3. Menggiatkan kemitraan untuk meningkatkan peran aktif masyarakat dan swasta dalam pengelolaan sumber daya laut dan pesisir Pembangunan lingkungan hidup diarahkan untuk: a. b. Mengarusutamakan (mainstreaming) prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan ke seluruh bidang pembangunan. Meningkatkan koordinasi pengelolaan lingkungan hidup di tingkat nasional dan daerah.

Pembangunan kelautan diarahkan untuk:

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 255

c. d. e.

Meningkatkan upaya harmonisasi pengembangan hukum lingkungan dan penegakannya secara konsisten terhadap pencemar lingkungan. Meningkatkan upaya pengendalian dampak lingkungan akibat kegiatan pembangunan. Meningkatkan kapasitas lembaga pengelola lingkungan hidup baik di tingkat nasional maupun daerah, terutama dalam menangani permasalahan yang bersifat akumulasi, fenomena alam yang bersifat musiman dan bencana.

f. g.

Membangun kesadaran masyarakat agar peduli pada isu lingkungan hidup dan berperan aktif sebagai kontrol-sosial dalam memantau kualitas lingkungan hidup. Meningkatkan penyebaran data dan informasi lingkungan, termasuk informasi wilayah-wilayah rentan dan rawan bencana lingkungan dan informasi kewaspadaan dini terhadap bencana.

V. Pencapaian RPJM-N di Tingkat Daerah 2005-2007 5.1. Upaya Yang Dilakukan Hingga Tahun 2007
Upaya yang dilakukan hingga tahun 2007 dalam perbaikan pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian mutu lingkungan hidup, adalah: 1. Selama tahun 2003-2006 terealisasi 3 sungai dari 6 yang menjadi sasaran yaitu: Sungai Babon dengan hasil terfasilitasinya pengamanan tebing sungai Babon. Penyusunan perhitungan daya tampung DAS Babon, sungai Progo dengan hasil terfasilitasinya penyusunan kesepakatan pengelolaan lingkungan DAS Progo secara terpadu, terfasilitasinya kesepakatan titik pantau sungai progo, terfasilitasinya penyiapan sistem informasi geografi DAS Progo, teridentifikasi permasalahan kondisi lingkungan DAS Progo dan sungai Progo dengan hasil teridentifikasi permasalahan lingkungan DAS Progo secara komprehensif sehingga mudah memonitor bila terjadi gangguan keseimbangan pada DAS, terutama bila terjadi banjir dan tanah longsor. 2. 3. 4. Bappedal Provinsi Jawa Tengah dari tahun 2003 sampai dengan 2006 telah menanam bibit bakau sejumlah 165.415 batang di 8 desa/kelurahan Pantai Utara Jawa dan 1 kecamatan di Cilacap. Pembuatan sabuk pantai sepanjang 325 di Kabupaten Kendal. Terpantaunya kualitas air sungai Babon, Wadaslintang, Rawapening, dan Gajahmungkur di 15 titik pada tahun 2003-2004, sedangkan tahun 2005 justru menurun menjadi 12 titik minus sungai babon. Selanjutnya tahun 2006 titik pantau menjadi 21 titik ditambah sungai Progo. 5. Bappedal bersama Rappeda, Dipertan Horti, Dishut, Bapermas, Diparta, Disbun, Dinas Kimtaru, Perhutani, Balai KSDA, BPTP Jawa Tengah telah melakukan sosialisasi tanaman kentang organic, pemulihan fungsi 2 areal telaga, sosialisasi pelestarian sumberdaya alam pada tahun 2003. pada tahun 2004 telah diuji coba pupuk dan pestisida alami, sosialisasi strowbery unggul. Pada tahun 2005 telah

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 256

melakukan sosialisasi tanaman holtikultira, pemantauan kualitas udara, tanah, air, dan produk kentang serta penyusunan draft Pergub perlindungan kawasan dieng. 6. Pembuatan unit percontohan konservasi keanekaragaman hayati melalui pelestarian tanaman langka di perkantoran Bappedal Provinsi Jawa Tengah. Pada tahun 2004 membuat percontohan pengembangan tanaman pandan di desa candirejo kecamatan borobudur kabupaten magelang, tahun 2005 dilaksanakan kegiatan peningkatan kualitas kawasan lindung diluar kawasan hutan yang mempunyai fisiografi seperti hutan lindung di desa Sikapat dan Gandatapa kecamatan Sumbang kabupaten Banyumas dan desa Samiran dan lencoh kecamatan Selo kabupaten Boyolali. Pada tahun 2006 diadakan kajian akademik pengelolaan keanekaragaman hayati/plasma nutfah. Penandatanganan MOU kesepakatan lokasi dan program pengelolaan kawasan lindung diluar kawasan hutan yang mempunyai fisiografi seperti hutan lindung. 7. 8. Dari tahun 2003 sampai dengan 2006 tersusun Grand Design DAS Pemali-Comal, Bengawan Solo, DAS Jratun Seluna dan Serayu, DAS Luk Ulo dan Bogowonto dan DAS Serang dan Tuntang. Panduan sistem pengelolaan lingkungan dan limbah sudah tersosialisasikan. Penguatan jejaring kinerja SIL, peningkatan perfomance web Bappedal Provinsi Jawa Tengah dan terlaksananya Sistem Informasi P3BD terlaksana pada tahun 2006. 9. Pengendalian pencemaran lingkungan telah dilaksanakan secara merata di beberapa daerah di Jawa Tengah, terutama di kota-kota yang memiliki industri dan pertambangan khas. Institusi pengelola limbah B3 belum terjangkau oleh program tersebut. 10. Telah dilakukan teguran terhadap pelanggar pencemaran sungai pada tahun 2003-2006. telah terpantau kualitas air sungai maupun laut sudah tidak layak lagi/tercemar, dan dari hasil inventarisasi dan identifikasi sumber pencemar dapat diketahui industri yang menyebabkan pencemaran. Proyek ini sudah dilaksanakan di Jawa Timur pada sungai Brantas, oleh PT Jasa Tirta di Malang. 11. Pada tahun 2003-2004 baru 5 kota yang terpantau kualitas ambien udaranya, pada tahun 2005 dan 2006 baru terpantau 11 kabupaten/kota yang terpantau kualitas ambien udaranya. 12. Pada tahun 2003 terlaksana 12 kegiatan yang meliputi sosialisasi prokasih visi 2005 untuk DAS Bengawan Solo di kabupaten Wonogiri, Sukoharjo, Kota Surakarta, Kabupaten Sragen. Pengawasan pencemaran air limbah dari usaha pertanian dan RPH di DAS Bengawan Solo meliputi Sukoharjo, Surakarta, Karanganyar, Sragen. Pelaksanaan Prokasih DAS Kaligarang, Bengawan Solo, dan Kupang Sambong di 13 kabupaten/kota. Bimtek untuk industri menengah dan besar di Surakarta dan kabupaten Pekalongan. Penyusunan buku panduan pengolahan air limbah industri tekstil dan sosialisasi di Kota Semarang. Penyusunan buku panduan pengolahan air di kegiatan rumah sakit dan sosialisasi di kota semarang. Penerapan produksi bersih pada industri tempe di Wonorejo, kabupaten Karanganyar. Penerapan produksi bersih pada industri tahu di Kartasura, kabupaten Sukoharjo. Perencanaan IPAL Domestik di Daerah tangkapan DAS Babon.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 257

13. Pembuatan IPAL RSUD Tugurejo Semarang, pembuatan IPAL Tapioka di kabupaten Banjarnegara, penerapan produksi bersih di 3 industri kecil (tahu,tempe,tapioka) 14. Sosialisasi terhadap kelompok wanita desa nelayan. Pada tahun 2003 ada 5 kegiatan yang mengikutsertakan berbagai lembaga yang berminat kepada lingkungan. Pada tahun 2004 terlaksana kegiatan monitoring kinerja IPAL dan evaluasi IPLC di kabupaten Karanganyar, Kendal. Pelatihan petugas IPAL industri tekstil dan batik di Surakarta. Uapaya penegakan hukum antara lain dengan pemanggilan perusahaan di Karanganyar dan Pekalongan yang membuang air limbah tidak memenuhi BMAL. Pelaksanaan Prokasih DAS Kaligarang, Bengawan Solo dan Kupang Sambong, perusahaan di 13 kabupaten/kota. Sosialisasi Prokasih visi 2005 pada DAS Bengawan Solo dan Serayu. Daur ulang limbah chrom pada industri penyamakan kulit di kabupaten Magelang. Pada tahun 2005 terlaksana kegiatan penyusunan peta sebaran industri dan sebaran dampak ke lingkungan di kabupaten karanganyar (base line data penyediaan IPAL Komunal). 15. Pelaksanaan Prokasih DAS Kaligarang, Bengawan Solo dan Kupang Sambong pada 72 perusahaan di 13 kabupaten/kota. Monitoring air sungai juwana dan gung. Persiapan penandatanganan superkasih DAS Serayu. Pembangunan saluran pemisah air limbah industri kecil batik di kabupaten Pekalongan. Monitoring kinerja IPAL dan evaluasi IPLC di kabupaten Kudus, Jepara, Surakarta, Klaten, Tegal. Daur ulang limbah industri pengolahan kayu menjadi kertas di Sedayu, kabupaten Wonosobo penerapan produksi bersih di 2 industri kecil (batik dan pengolahan kayu) serta magang/pelaksanaan pemanfaatan limbah ternak ke 10 kabupaten di kabupaten Sukoharjo. Pada tahun 2006 terlaksana kegiatan pelaksanaan prokasih DAS Kaligarang, Bengawan Solo dan Kupang Sambong pada 72 perusahaan di 13 kabupaten/kota. Monitoring dan evaluasi superkasih, 22 perusahaan di 5 kabupaten. Sosialisasi pemakaian air limbah untuk pengairan di kabupaten Karanganyar. 16. Penyusunan DE dan pembangunan jaringan pemipaan industri kecil tapioka di kabupaten Pati. Penyusunan DE dan FS IPAL bersama industri kecil batik di kabupaten Pekalongan. 17. Penguatan paguyuban pengelola air limbah industri batik di Laweyan kota Surakarta. 18. Monitoring kinerja IPAL dan evaluasi IPLC di 7 kabupaten/kota: Purbalingga, Blora, Karanganyar, Sragen, Kendal, Klaten, Kudus dan Jepara. 19. Perencanaan IPAL Alkoho di Mojobalan, kabupaten Sukoharjo. 20. pengolahan limbah ternak menjadi biogas di Mojosongo dan Ampel, kabupaten Boyolali. 21. Penerapan produksi bersih di 2 industri kecil (logam dan peternakan) 22. Magang atau pelatihan bagi kelompok wanita tani ternak 5 kabupaten di Sukoharjo. 23. Sosialisasi pemanfaatan limbah atau ampas tahu menjadi kue se-eks Karisidenan Kedu. 24. Pada tahun 2006 terlaksana 13 kegiatan prokasih dan penyusunan DE dan FS IPAL dan sosialisasi pemanfaatan limbah tahu. Pada tahun 2006 hanya satu kegiatan yang tidak jelas kegiatan maupun sasarannya.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 258

5.2. Posisi Capaian Hingga Tahun 2007
Prestasi penataan lingkungan pertambangan di badan sungai pada tahun 2006 baru tercapai 3 (tiga) dari 6 (enam) lingkungan sungai yang menjadi sasaran, yakni sungai Bodri, sungai Progo dan sungai Babon. Tiga sungai lain yang belum ditangani akan difasilitasi pada tahun 2007 dan 2008. Penanaman bibit bakau baru mencapai 165.415 batang dari 560.000 batang yang direncanakan pada renstra. Diharapkan penanaman juga diikuti dengan perawatan karena selama ini kerusakan bakau lebih banyak darai pada penanamannya kembali sehingga hasilnya belum terlihat. Instansi terkait yang melaksanakan program adalah Dinas Kehutanan bekerjasama dengan Bappeda, Diskanlut, dan BPTP Jawa Tengah. Ketidakonsistenan program baik jumlah maupun lokasi titik pantau akan mempersulit evaluasi dari keberhasilan yang digunakan untuk menentukan arah program selanjutnya. Selain itu perlu ada laporan tentang tingkat kualitas air sungai dan waduk yang bisa menjadi dasar priorotas penanganan Amdal. Dinas terkait yang menangani masalah ini adalah Bappedal, Dishut, Dinas Kimtaru, Dinas PSDA. Telah dilaksanakan program pemulihan areal 2 telaga di Dieng. Pemulihan lahan juga dilaksanakan di Wonogiri. Indikator rehabilitasi lahan kritis di kawasan dieng dan peningkatan kerjasama antar daerah dan antar lembaga/sektor sudah terlaksana di Dieng sedangkan daerah lain belum dilaksanakan. Pengelolaan ekosistem pegunungan di Jawa Tengah dengan hasil pelaksanaan kegiatan di dataran tinggi Dieng kurang sesuai indikator pemulihan kawasan lindung. Pengendalian erosi, dan rehabilitasi kawasan dieng, sebagaian besar program justru bertolak belakang dengan indikator yang ada. Pembuatan percontohan konservasi sebaiknya di daerah binaan tidak di kantor. Perlu pelatihan dan pembinaan pada daerah konservasi baik segi penanamannya juga manfaat ekonomisnya. Pendekatan pengelolaan lingkungan hidup berdasarkan DAS yang terdiri dari 7 DAS di Jawa Tengah perlu ditindak lanjuti terutama koordinasi dengan daerah kabupaten/kota yang masuk dalam 7 DAS tidak terbentur dengan otonomi daerah yang masing-masing kabupaten/kota mengutamakan daerahnya masing-masing. Kegiatan baru bersifat teguran terhadap pelanggaran prokasih yang merupakan upaya pencegahan. Identifikasi terhadap kualitas air juga belum ditindaklanjuti dengan penanggulangan pencemaran. Oleh karena itu perlu dilakukan program aksi penanggulangan pencemaran sungai dan laut. Pencemaran udara yang disebabkan oleh industri belum terpantau. Dengan demikian sasaran belum tercapai sepenuhnya.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 259

5.3. Permasalahan Pencapaian Sasaran
Permasalahan pencapaian sasaran perbaikan pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian mutu lingkungan hidup, adalah: 1. 2. 3. Penanaman bibit bakau belum diikuti dengan perawatan, karena selama ini kerusakan bakau lebih banyak darai pada penanamannya kembali sehingga hasilnya belum terlihat. Ketidakonsistenan program baik jumlah maupun lokasi titik pantau akan mempersulit evaluasi dari keberhasilan yang digunakan untuk menentukan arah program selanjutnya. Identifikasi terhadap kualitas air juga belum ditindaklanjuti dengan penanggulangan pencemaran.

VI. Tindak Lanjut
Upaya yang dilakukan untuk mencapai sasaran perbaikan pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian mutu lingkungan hidup, adalah: 1. Pelatihan dan pembinaan pada daerah konservasi, baik dari segi penanamannya maupun dari segi manfaat ekonomisnya. 2. Kerjasama dengan peduduk setempat agar kawasan lindung dapat bermanfaat secara ekonomi maupun secara ekologis. 3. Dari tahun 2003-2006 perlu tindak lanjut dari tersusunnya dan evaluasi rencana induk pengelolaan lingkungan hidup perlu dimaksimalkan peranan forum SKPD dengan prinsip saling menjaga lingkungan masing-masing daerah dan menguntungkan daerah lainnya. 4. Koordinasi dengan daerah Kabupaten dan Kota yang masuk dalam 7 DAS tersebut, supaya penanganan DAS tidak terbentur dengan otonomi daerah yang masing-masing Kabupaten/Kota mengutamakan daerahnya masing-masing. 5. Melaksanakan Program Aksi Penanggulangan Pencemaran sungai dan laut. 6. Pemantapan sumber daya manusia (SDM) tidak hanya dilaksanakan pada pengelola lingkungan hidup tetapi bisa dikembangkan keseluruh masyarakat, khususnya pada masyarakat di daerah-daerah lahan kritis agar masyarakat bisa terlibat secara langsung dalam pengelolaan lingkungan hidup.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 260

BAB 4.18
Peningkatan Kualitas dan Aksesibilitas Pelayanan Infrastruktur

I. Pengantar
Pembangunan infrastruktur adalah bagian integral dari pembangunan nasional. Infrastruktur merupakan roda penggerak pertumbuhan ekonomi. Kegiatan sektor transportasi merupakan tulang punggung pola distribusi baik barang maupun penumpang. Infrastruktur lainnya seperti kelistrikan dan telekomunikasi terkait dengan upaya modernisasi bangsa dan penyediaannya merupakan salah satu aspek terpenting untuk meningkatkan produktivitas sektor produksi. Ketersediaan sarana perumahan dan permukiman, antara lain air minum dan sanitasi, secara luas dan merata, serta pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan menentukan tingkat kesejahteraan masyarakat. Sejak lama infrastruktur diyakini merupakan pemicu pembangunan suatu kawasan. Dapat dikatakan disparitas kesejahteraan antarkawasan juga dapat diidentifikasi dari kesenjangan infrastruktur yang terjadi di antaranya. Dalam konteks ini, ke depan pendekatan pembangunan infrastruktur berbasis wilayah semakin penting untuk diperhatikan. Pengalaman menunjukkan bahwa infrastruktur transportasi berperan besar untuk membuka isolasi wilayah, serta ketersediaan pengairan merupakan prasyarat kesuksesan pembangunan pertanian dan sektor-sektor lainnya. Di sisi lain, kondisi pelayanan dan penyediaan infrastruktur yang meliputi transportasi, ketenagalistrikan, energi, pos, telekomunikasi dan informatika, dan sumberdaya air di daerah Provinsi Jawa Tengah mengalami penurunan baik kuantitas maupun kualitasnya. Rehabilitasi dan pembangunan kembali berbagai infrastruktur yang rusak, serta peningkatan kapasitas dan fasilitas baru akan menyerap biaya yang sangat besar sehingga tidak dapat dipikul oleh pemerintah sendiri. Untuk itu, mencari solusi inovatif guna menanggulangi masalah perawatan dan perbaikan infrastruktur yang rusak merupakan masalah yang mendesak untuk diselelesaikan.

II. Kondisi Awal RPJM-N di Tingkat Daerah 2.1. Perhubungan
Perhubungan memiliki peranan yang sangat penting dan strategis dalam ikut mendorong dan sekaligus menggerakkan dinamika pembangunan daerah terutama keterkaitan fungsinya sebagai pelayanan

261

masyarakat (public services), penunjang kegiatan ekonomi daerah dan salah satu potensi pendapatan daerah. Perhubungan sesuai dengan media yang dilaluinya dikelompokkan menjadi perhubungan darat, laut, udara, pos, telekomunikasi, meteorologi dan SAR, dimana kondisi dan potensi dari perhubungan tersebut dapat dilihat dari hal-hal sebagai berikut: Perhubungan Darat. (1) Jaringan Transportasi Jalan. Panjang jalan di Jawa Tengah 26.263 km terdiri atas 1.215 km jalan nasional, 2.589 km jalan Provinsi dan 22.459 km jalan Kabupaten/Kota. Jalan tersebut dilengkapi 17 jembatan timbang dengan sarana dan prasarananya yang belum optimal (baru 5 jembatan timbang yang sudah menggunakan komputerisasi). Angkutan jalan masih mendominasi pergerakan penumpang dan barang sehingga dengan kondisi tersebut tingkat kerusakan jalan relatif tetap masih tinggi. Adanya ketidakseimbangan antara pertumbuhan volume/kapasitas jalan dengan pertumbuhan volume kendaraan beserta beban muatannya dan masih terbatasnya perlengkapan jalan yang terpasang, menyebabkan relatif masih tingginya tingkat kecelakaan dan gangguan terhadap kelancaran lalu lintas jalan. (2) Jaringan Transportasi Jalan Rel. Panjang jaringan jalan rel secara keseluruhan 1.518 km, terbagi atas 894 km (58,89 persen) jaringan jalan rel operasi dan 624 km (41,11 persen) jaringan jalan rel tidak operasi. Jaringan jalan rel operasi didukung oleh tipe rel R 54/50 sepanjang 22 persen dan R 38/42 sepanjang 78 persen. Jaringan jalan rel operasi tersebut sebagian besar (79 persen) masih berbantalan kayu, sedangkan sisanya (21 persen) sudah berbantalan beton. Dengan kondisi demikian terasa masih kurang dapat mengikuti dinamika perkembangan pembangunan daerah baik tingkat keterjangkauan maupun tingkat pelayanannya; (3) Jaringan Transportasi Sungai, Danau dan Penyeberangan. Pelabuhan penyeberangan yang melayani angkutan lintas Provinsi berada di Majingklak Cilacap dan penyeberangan lintas dalam kabupaten di Karimunjawa –Jepara. Penyeberangan Karimunjawa – Jepara masih memerlukan perhatian untuk peningkatan sarana dan prasarana dalam menunjang pengembangan pariwisata Karimunjawa. Untuk pelabuhan penyeberangan lintas Provinsi yang sudah dirintis persiapannya, perlu dilakukan penataan khususnya pada penyeberangan Semarang (Kendal)-Kumai. Perhubungan Laut. Jawa Tengah memiliki 2 (dua) pelabuhan Internasional yaitu Pelabuhan Tanjung Emas di Semarang dan Pelabuhan Tanjung Intan di Cilacap, 1 (satu) Pelabuhan Nasional yaitu Pelabuhan Juwana dan 6 (enam) Pelabuhan Regional yaitu Pelabuhan Brebes, Tegal, Batang, Jepara, Karimunjawa dan Rembang. Pelabuhan regional ini menurut rencana kewenangan penyelenggaraannya akan diserahkan kepada Provinsi Jawa Tengah. Namun demikian, untuk pelabuhan Tegal karena masih dikelola oleh PT. Pelindo III maka belum termasuk Pelabuhan Regional yang akan diserahkan kepada Provinsi Jawa Tengah. Sampai saat ini potensi tersebut masih belum optimal dimanfaatkan, disamping tingkat keselamatan pelayaran dan keamanan perairan untuk transportasi laut masih relatif rendah.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 262

Pada tahun 2006 Pembangunan fasilitas Prasarana pelabuhan laut guna menujutkan keselamatan dan ketertiban angkatan laut di Jawa Tengah telah dilakukan selama 2 tahun 2003-2006. kegiatan tersebut meliputi: mengerukan pelabuhan Rembang 200.000 m2 tahun 2003, pembangunan dermaga pelabuhan Rembang seluas 55 m2 dan 40 m2 pada tahun 2004 dan 2005, pengerukan pelabuhan Juwana tahun 2003 dan 2005 sebesar 300.000 m3, pembangunan SBN di Karimunjawa, Morodemak, dan Juwana, pembangunan Syahbandar di Morodemak, pengadaan kapal patroli cepat di Tanjung Emas dan Kartini 1, masih perlu melengkapi sarana yang berkaitan dengan keselamatan laut yang akhir-akhir ini cenderung meningkat seperti perahu penolong cepat atau kapal pemadam kebakaran di laut. Perhubungan Udara. Terdapat 2 (dua) bandar udara (bandara) yaitu Bandara Ahmad Yani di Semarang sebagai Bandara Domestik dan Bandara Adi Sumarmo di Surakarta sebagai Bandara Internasional Bukan Pusat Penyebaran serta 2 (dua) bandara lainnya, yaitu Bandara Tunggul Wulung di Cilacap dan Bandara Dewadaru di Karimunjawa yang merupakan bandara bukan pusat penyebaran. Kondisi saat ini adanya keterbatasan sarana dan prasarana pelayanan serta keselamatan penerbangan yang relatif tidak sesuai lagi dengan pertumbuhan penumpang, teknologi, dinamika perkembangan dan standard pelayanan terutama pada Bandara Adi Sumarmo di Surakarta dan Bandara Ahmad Yani di Semarang yang memerlukan perpanjangan landasan pacunya. Pada tahun 2005, tersedianya sarana dan prasarana perhubungan udara di bandara Adi Sumarmo Solo, mulai dirintis pencapaianya dengan dilakukan pembebasan tanah seluas 715.575,5 m2 , pengukuran dan pemadatan tanah,pembangunan konstruksi landasan dari 1.850m sampai 2.650m dan 2.250-2.650m, pemindahan lampu navigasi dan pembangunan terminal penumpang, serta terpublikasinya iklim dan cuaca tepat waktu dan sasaran pengguna melalui media TV sehingga lebih memudahkan calon penumpang menentukan penerbangannya demi keamanan mengingat tidak menentunya cuaca. Adanya panduan pengembangan system perhubungan secara terpadu dan komprehensiv (Tatrawil Prov Jawa Tengah) namun belum berjalan lancar. Pada tahun 2006 perpanjangan landasan pacu, sampai akhir 2007 telah selesai tahap 2 dari 2.250-2.650 (430 m). Adanya panduan pengembangan system perhubungan secara terpadu dan komprehensiv (Tatrawil prov Jawa Tengah) namun belum berjalan lancar. Pada tahun 2007 Dishubtel Provinsi Jawa Tengah telah berhasil mendorong Sriwijaya Air untuk melayani rute Solo (SOC) – Surabaya (SUB) – Denpasar (DPS) selama 2 bulan. Akan tetapi hanya bertahan 2 bulan karena berbagai kendala teknis dan ekonomis. Pos, Telekomunikasi, Meteorologi dan Search and Rescue (SAR). Kondisi Pos di Jawa Tengah saat ini meliputi jumlah fasilitas layanan pos tidak bergerak yaitu 661 unit dan fasilitas layanan pos bergerak yaitu 7.603 unit, sedangkan untuk layanan jasa titipan yaitu 398 unit dan asosiasi filateli beranggotakan 368.000

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 263

orang. Operasionalisasi pelayanan pos dan jasa titipan masih terdapat kecenderungan mengabaikan ketentuan pos dan jasa titipan. Kondisi telekomunikasi di Jawa Tengah saat ini meliputi 606.522 SST untuk telepon tetap dan 1.090.415 SST untuk telepon seluler yang diperlengkapi dengan Base Transmition Station (BTS) sejumlah 600 buah dengan operator sebanyak 5 buah. Sedangkan pengguna frekuensi sebanyak 29.307 unit dan operator instalator kabel rumah tangga/gedung sebanyak 129 buah, jumlah wartel 18.914 unit dengan kapasitas 23.000 SST dan jumlah warnet sebanyak 350 unit serta jumlah telepon umum 4.523 buah. Para pengguna frekuensi ilegal cenderung meningkat yang mengakibatkan terjadinya interferensi/gangguan frekuensi legal. Disamping itu pembangunan jaringan telepon tetap belum sepenuhnya menyentuh daerah perdesaan dan terisolir. Terdapat 4 (empat) stasiun meteorologi meliputi stasiun meteorologi penerbangan di Bandara Ahmad Yani Semarang, stasiun meteorologi maritim di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap dan Pelabuhan Tegal. Guna memberikan pelayanan informasi iklim dan cuaca di wilayah Surakarta dan sekitarnya maka diharapkan dapat didirikan UPT Meteorologi di Bandara Adi Sumarmo Surakarta. Fungsi stasiun meteorologi sangat diperlukan untuk publikasi informasi iklim dan cuaca bagi kepentingan penerbangan, pelayaran, pertanian dan antisipasi bencana banjir. SAR Provinsi Jawa Tengah sebagai unsur fasilitator dan koordinator potensi SAR dituntut kesiagaan dan kecermatannya dalam memberikan pertolongan dan pencarian korban kecelakaan dan bencana alam. Permasalahan yang masih dihadapi sampai saat ini adalah (1) Masih relatif tingginya tingkat kerusakan jalan dan tingkat kecelakaan lalulintas yang disebabkan karena ke-tidakseimbangan antara kemampuan daya dukung jalan dengan volume lalulintas/beban kendaraan serta terbatasnya perlengkapan jalan yang terpasang; (2) Kurang terarah dan terpadunya pembangunan dan pengembangan perhubungan darat, laut dan udara untuk mendukung dan berperan dalam pengembangan kawasan/potensi strategis/unggulan daerah; (3) Belum optimalnya kinerja perhubungan darat, laut dan udara sebagai pelayanan masyarakat (public services) terutama yang berkenaan dengan angkutan dan kualitasnya; (4) Operasionalisasi pos, telekomunikasi masih mengabaikan ketentuan dan peraturan yang berlaku dan belum menjangkau seluruh daerah; (5) Pelayanan meteorologi dan SAR belum optimal. 2.2. Sumber Daya Air dan Irigasi Air dan sumber daya air mempunyai nilai yang sangat strategis, karena diperlukan guna memenuhi berbagai keperluan seperti : menunjang peningkatan produksi pertanian, pengendalian banjir, penyediaan air bersih, pengembangan permukiman, industri, pariwisata, kelistrikan dan lain sebagainya. Prasarana dan sarana sumber daya air yang dikelola Pemerintah (di luar yang dikelola masyarakat/desa) di Provinsi Jawa Tengah : (a) sungai 1.321 buah sepanjang ± 15.052,70 km dengan tanggul banjir sepanjang ± 1.129 km; (b) waduk besar, waduk alam, waduk kecil sebanyak 39 buah; (c) embung atau waduk lapangan

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 264

sebanyak 172 buah; (d) bendung sebanyak 1.273 buah terdiri dari berbagai tipe; (e) jaringan irigasi yang terdiri dari bangunan irigasi sebanyak 5.437 buah dan saluran irigasi sepanjang 580,36 km; (f) prasarana penunjang pengelolaan pengairan yang mendukung penyediaan data sumber daya air meliputi jaringan stasiun hidroklimatologi dan fasilitas komunikasi. Permasalahan sumber daya air adalah terganggunya ketersediaan sumber daya air yang meliputi antara lain: (1) Menurunnya fungsi sarana dan prasarana layanan air irigasi; (2) Menurunnya kualitas air; (3) Berkurangnya lahan daerah resapan air akibat perubahan tata guna lahan; (4) Belum optimalnya keterpaduan pengelolaan sumber daya air dengan pendekatan yang menyeluruh terhadap suatu wilayah sungai sebagai suatu satuan wilayah pengembangan; (5) Menurunnya daya dukung lingkungan terhadap kelestarian fungsi dan manfaat sumber daya air, sumber-sumber air akibat perilaku pemanfaatan lahan di daerah hulu yang kurang terkendali; dan (6) Terancamnya kelestarian fungsi bangunan pengairan sebagai akibat kurang terkendalinya pengambilan bahan galian Gol. C. Potensi sumber daya air permukaan yang ada di Jawa Tengah sebesar: 57,87 milyar m3, potensi tersebut baru dimanfaatkan sebesar 37,92 milyar m3 (65,53 persen) dan yang belum dimanfaatkan dan terbuang ke laut sebesar 19,95 milyar m3 (34,37 persen). Kondisi sarana dan prasarana dalam pengelolaan sumber daya air saat ini terdiri dari : 1) Kondisi waduk secara umum sebesar 63 persen; 2) Kondisi fisik sungai secara umum masih dapat di nilai cukup baik sebagai wadah-wadah air guna melakukan fungsi mengalirkan air menuju ke laut, meski belum seluruhnya dapat menampung debit dengan periode ulang tertentu dari daerah aliran sungai; 3). Kondisi bangunan air menunjukkan trend baik sebesar 63,40 persen. 4). Dalam hal kinerja saluran pembawa, 62,42 persen dalam kondisi baik. Tingkat partisipasi masyarakat tentang pengelolaan air pada tahun 2006 yaitu 3.888 buah sumur ABT pemanfaatan 156.578.851 m3 .jumlah sumur bor 37 buah untuk kebutuhan air bersih ± 7.000 KK pada 28 kabupaten/kota tersebar di 1.066 desa. a. Prasarana Jalan Panjang jalan yang ada 26.263 km terdiri atas 1.215 km jalan nasional, 2.589 km jalan Provinsi dan 22.459 km jalan Kabupaten/Kota. Kondisi fisik jalan berstatus Provinsi yang merupakan kewenangan dan tanggung jawab Provinsi Jawa Tengah direncanakan sampai dengan akhir tahun 2003 mempunyai kondisi baik sepanjang 1.735 Km (67 persen), sedang 751 Km (29 persen) dan rusak 103 Km (4 persen); sedangkan pertumbuhan lalu lintas pertahun rata-rata diprediksikan 7-10 persen dengan teknologi maju dan volume angkut yang semakin besar, sehingga sangat berpengaruh terhadap kemampuan daya dukung jalan.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 265

Jenis dan kualitas prasarana lalulintas dan angkutan jalan di dalam wilayah maupun antar wilayah. Pada Tahun 2006 tingkat kelayakan: Baik 81,25 persen, Sedang 18,05 persen, Buruk 0,7 persen. Pada tahun 2005 Jenis dan kualitas sarana angkutan umum: AKAP 356 trayek dan AKDP 650 trayek, bus sebanyak 13.614 unit, mobil penumpang 2.378 unit dan angk.barang 180.362 unit. Kondisi pada tahun 2005 Jalan nasional: Baik 595,35 km (49 persen), Sedang 607,5 km (50 persen), dan Rusak 12,15 km (1 persen). Kondisi Jalan Provinsi: Baik 2.071,2 km (80 persen), Sedang 497,08 km (19,20 persen), dan Rusak 20,72 km (0,8 persen). Kondisi Jembatan provinsi: Baik 1.128 buah (56,3 persen), Sedang 822 buah (38,5 persen), dan Rusak 88 buah (5,2 persen). Tingkat kelayakan jumlah prasaran jalan raya: jumlah pengujian kendaraan bermotor 35 lokasi dimana 6 lokasi telah dilengkapi dengan smokemeter dan CO/HC tester, lampu lalulintas yang terpasang 6.526 buah, RPPJ 359 buah, alat pemberi isyarat lalulintas (APILL) 26 unit, guardrail 13.177 m, marka jalan 3.697.407m, cermin tikungan 4 buah, deliniator 12.100 buah, dan jembatan penyebrangan termasuk halte 1 unit , jumlah jembatan timbang yang dioperasionalkan sebanyak 17 unit dimana 7 unit diantaranya telah ditingkatkan kapasitanya dari 20 ton menjadi 80ton. Pada tahun 2006 Jenis dan kualitas sarana angkutan umum: AKAP 136 trayek dan AKDP 650 trayek dan bus sebanyak 13.614 unit, mobil penumpang 2.378 unit dan angk.barang 180.362 unit Jalan nasional: Baik 629,94 km (51,60 persen), Sedang 574,33 km (47,27 persen), dan Rusak 10,73 km (1,13 persen). Jalan Provinsi: Baik 2.103,56 km (81,25 persen), Sedang 467,31 km 18,05 persen), dan Rusak 18,13 km (0,7 persen). Jembatan provinsi: Baik 16.348 m (62,75 persen), Sedang 8.967 m (34,42 persen), dan Rusak 736 m (2,83 persen). Jembatan nasional: Baik 14.030 m (77.69 persen), Sedang 3.008m (16.66 persen), dan Rusak 1.022 m (5.65 persen), jalan nasional 1.297,63 km, jalan provinci 2.589,61 km. jalan kabupaten/kota 22.458,95 km. Tingkat kelayakan prasaran jalan raya: 1) Jumlah pengujian kendaraan bermotor 35 lokasi dimana 6 lokasi telah dilengkapi dengan smokemeter dan CO/HC tester . 2) lampu lalulintas yang terpasang 6.526 buah, RPPJ 359 buah, alat pemberi isyarat lalulintas (APILL) 26 unit, guardrail 13.177 m, marka jalan 3.697.407m, cermin tikungan 4 buah, deliniator 12.100 buah, dan jembatan penyebrangan termasuk halte 1 unit . 3) Jumlah jembatan timbang yang dioperasionalkan sebanyak 17 unit dimana 7 unit diantaranya telah ditingkatkan kapasitanya dari 20 ton menjadi 80ton. Jumlah sarana LLAJ: Bus 11.536 unit, Mobil/angkutan 397.667, Angk.barang 18.362, AKDP 296, AKAP 243, angk.wisata 937, angk.sewa 205, taksi 678, rambu lalulintas 7.516, APILL 26, Guard rail 19.150m, Marka jalan 3.846.432, Cermin tikungan 14, Delinator 12.100, Jembatan penyeberangan 1 buah.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 266

Pada Tahun 2007 Tingkat kelayakan jalan: Baik 82,5 persen, Sedang 16,19 persen, Buruk 0,6 persen. Jenis dan kualitas saran pengangkutan jalan raya adalah: angkutan penumpang umum untuk AKAP 84 trayek, dan antar kota dalam provinsi AKPD 367 trayek, armada bus 11536 unit, mobil penumpang umum 397.667 unit dan angkutan barang 180.362 unit. Tingkat kelayakasan jumlah sarana LLAJ: Jumlah pengujian motor 35 lokasi dimana 6 lokasi telah dilengkapi dengan smoke meter dan CO/HC tester, lampu lalu lintas yang terpasang 7916 buah, rambu pendahulu petunjuk jurusan RPPJ 480 buah, alat pemberi isarat lalulintas, (APILL) 29 unit, guardrail 20.310 m2, marka jalan 3.886.432 m2, cermin tikungan 14 buah, deliniator 12.100 buah, dan jembatan penyebrangan termasuk halte 1 unit, jembatan timbang yang dioperasionalkan 17 unit dimana 7 unit diantaranya telh ditngkatkan kapasitasnya sejumlah 40 ton menjadi 80 ton. Jumlah sarana LLAJ: Rambu 200, APILL 1, Guardrail 90, Marka jalan 15000m, RPPJ 20, Traffic cone 115. Permasalahan yang masih dihadapi sampai saat ini adalah (1) Menurunnya kinerja pelayanan prasarana jalan akibat meningkatnya pertumbuhan lalu lintas; (2) Masih adanya ruas jalan dan jembatan yang belum sesuai dengan standard; (3) Kondisi geografis yang kurang menguntungkan. b. Ketenagalistrikan Rasio elektrifikasi listrik 3689 MW dari kebutuhan 13.575 GWH dan rasio elektrifikasi listrik wilayah pedesaan 1769, 61 MW dengan beban puncak mencapai 2254 MW. Berfungsinya kembali, debotlenecking dan uprating serta interkoneksi transmisi dan distribusi di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi pada tahun 2006 yakni 65,34 persen dan meningkat pada tahun 2007 menjadi 65,9 persen. Terlaksanakannya kegiatan berbasis teknologi informasi seperti resource planning (ERP) dan consumer the (CIS) dalam upaya susut jaringan pada tahun 2006 yaitu 65,7 persen dan pada tahun 2007 yaitu 9,94 persen. Kondisi kelistrikan Jawa Tengah pada tahun 2007 dengan kapasitas pembangkirt 3.689 MW (termasuk 2x660 MW dari PLTU Tanjung Jati b dan 2x330MW dari PLTU Cilacap) dan akan bertambah dengan dibangunnya PLTU Rembang yang direncanakan selesai pertengahan tahun 2009. Kondisi tersebut dapat memenuhi kebutuhan 5.772.921 pelanggan mayoritas pelanggan adalah rumah tangga 5.326.411 KK (96,37KK) dan beban puncak 2.122 MW. Rasio desa berlistrik telahmencapai 99,94% yang berarti 8.555 desa dari jumlah seluruhnya 8.560 desa telah berlistrik. Sedangkan rasio elektrifikasi baru mencapai 67,19% dari jumlah penduduk sebanyak 33.344.892 jiwa.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 267

Untuk memenuhi pasokan energi listrik pada 8.555 desa telah terpasang transmisi tegangan ekstra tinggi (500KV) sepanjang 1.220 kms dan Jaringan Tegangan Menengah (JTM) sepanjang 39.055 kms serta Jaringan Tegangan Rendah (JTR) sepanjang 3.214 kms. Namun demikian, sistem kelistrikan Jawa Tengah termasuk dalam interkoneksi Jawa-Bali. Oleh karena itu telah dikembangkan pembangunan pembangkit dengan memanfaatkan potensi sumber energi listrik setempat (alternatif) terutama daerah terpencil anatara lain: Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohido (PLTMH) sebanyak 13 unit, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebanyak 789 unit, dan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) sebanyak 1 unit. Disamping itu juga mengembangkan potensi energi alternatif panas bumi pada tahun 2007 teridentifikasi potensi di 5 (lima) kompleks yaitu: Ungaran, Dieng, Slamet, Telomoyo, dan Lawu serta 2 komplek telah ditetapkan WKP (Ungaran-Dieng). Jumlah pemanfaatan potensi gas untuk pembangkit tenaga listrik pada tahun 2005 Pembangunaan Tanjung Jati B 2 unit x 660 MW, PLTGU Tambak Lorok dengan kapasitas 1033 MW, dan PLTP Dieng dengan kapasitas 60 MW sera PLTU Cilacap dengan kapasitas 2 unit x 330 MW. Pada Tahun 2006 yaitu PLTP Dieng sebesar 60 MW dan PLTU Tanjung Jati B sebesar 2 x 660 MW serta PLTU Cilacap sebesar 2 x 300 MW telah memiliki kapasitas pembangkit listrik sebesar 3.689 Mega Watt (MW). Pada tahun 2007 yaitu PLTP Dieng sebesar 60 MW dan PLTU Tanjung Jati B sebesar 2 x 660 MW serta PLTU Cilacap sebesar 2 x 300 MW telah memiliki kapasitas pembangkit listrik sebesar 3.689,16 Mega Watt (MW). c. Perumahan dan Pemukiman Di provinsi Jawa Tengah pada tahun 2004 terjadi kesenjangan kebutuhan rumah (backlog) sebesar 968.041 unit, dan disisi lain dengan laju pertumbuhan penduduk sebagimana keadaan keadaan sekarang yang dibutuhkan rata-rata 81.290 unit rumah/tahun, sedangkan kemampuan pengembang (developer) menyediakan rumah paling kurang 8.000 unit pertahun. Saat ini provinsi Jawa Tengah terdapat sebanyak 1.827.397 unit rumah tidak layak huni dan 470 lokasi kawasan kumuh dengan luas sebesar 388,6 ha di lokasi tersebut terdapat 12.529 unit rumah yang dihuni oleh sebanyak 16.175 KK. Menurut data BPS (tahun 2005) tentang Tipe Rumah, terdapat sebanyak 7,22 juta unit rumah, dan termasuk rumah tipe A sebanyak 29,51%; sebanyak 39,57% tipe B; dan 30,91% tipe C. Pada tahun 2005 di Jawa Tengah telah berhasil dibangun rumah sebanyak 485 unit oleh Perum Perumnas Cabang V Semarang. Pada tahun 2005 telah dipugar 1.020 unit rumah. Pembangunan perumahan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, swasta, dan masyarakat. Mengingat keterbatasan kemampuan pemerintah maka pemerintah mengutamakan penyediaan perumahan

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 268

bagi masyarakat kurang mampu (masyarakat berpenghasilan rendah). Dalam kerangka peran pemerintah pusat, pemerintah povinsi dan kab/kota, Pemerintah Provinsi menekankan perannya dalam mendukung dan memfasilitasi sarana dan prasarana pemukimannya. Sampai dengan tahun 2007 telah dilakukan beberapa kegiatan diantaranya adalah fasilitas dukungan prasarana dan sarana perumahan serta pemukiman (air bersih, drainase, sanitasi, dan persampahan) lintas Kab/kota, Kawasan tertinggal, kumuh, terisolir dan wilayah yang terkena bencana alam. Permasalahan yang masih dihadapi dalam pembangunan bidang perumahan : 1. Tingginya kebutuhan rumah seiring dengan tingginya jumlah penduduk dan pertumbuhan penduduk disatu sisi dan disisi lain akibat rendahnya kemampuan masyarakat dalam memenuhi rumah secara swadaya maupun rendahnya kemampuan membeli rumah secra formal (rumah yang disediakan oleh para pengembang /developer). 2. Masih rendahnya kualitas lingkungan permukiman dan banykanya lingkungan pemukiman kumuh, baik diperkotaan mupun di pedesaan termasuk di desa-desa nelayan. Disamping rendahnya kualitas lingkungan pemukiman juga masih kurangnya sarana dan prasarana pemukiman antara lain: air bersih, sarana mandi, cuci dan kakus (MCK), persampahan dan drainase. 3. Masih rendahnya kesadaran dan keberdayaan masyarakat lingkungan perumahan dan pemukiman, terutama pemukiman kumuh untuk meningkatkan kualitas rumah dan lingkungannya. Permasalahn ini bukan hanya permasalhan fisik semata namun juga terkait dengan permasalahan ekonomi, budaya, dan perilaku masyarakat. 4. 5. Rendahnya kualitas rumah dan lingkungannya yang diakibatkan oleh bencana alam, baik yang telah terjadi maupun yang potensial. masih seringnya terjadi kasus kebakaran pada lingkungan pemukiman perkotaan akibat rendahnya perilaku dan kurang nya upaya-upaya yang bersifat antisipatif.

III. Sasaran yang Ingin di Capai 3.1. Perhubungan
Sasaran yang ingin dicapai dibidang perhubungan adalah: 1. 2. 3. Terwujudnya keselamatan lalulintas dan angkutan jalan raya ( Pergerakan orang, barang, dan jasa) serta peningkatan pelayanannya guna mendukung pengembangn kegiatan perekonomian daerah. Terwujudnya keselamatan dan ketertiban lalu lintas angkutan barang guna mendukung sistem distribusi barang dan jasa. Terciptanya sarana prasarana KA jarak pendek, lintas Utara dan Selatan yang handal dan

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 269

berkemampun tinggi. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Tersedianya sarana dan prasarana angkutan penyeberangan lintas Semarang (Kendal-Kumai) Terciptanya fasilitas prasarana pelabuhan laut guna mewujudkan keselamatan, keamanan dan ketertiban angkutan laut di Jawa Tengah Tersedianya sarana dan prasaranan perhubungan udara di Bandara A. Yani dan Adi Sumarmo Surakarta yang handal dan berkemampuan tinggi. Terwujunya penerbangan jalur Solo-Denpasar guna meningkatkan pergerakn orang, barang dn pariwisata di Jawa Tengah. Terpublikasikannya informasi iklim dan cuaca tepat wktu dan ssarn penggunan. Tersedianya kesiapsiagaan unit SAR didukung peralatan dan SDM yang memadai. serta ketentuan dan peraturan perundangan yang berlaku. 11. Tertibnya penggunaan frekuensi dan meningkatnya kapasitas penggunan frekuensiJateng 12. Terpublikasinya informasi iklim dan cuaca tepat waktu dan sasrn pengguna dan adany pelayann di Metereologi di Bandara Adi Sumarmo Surakarta. 13. Tersusunnya panduan guna pengembangan sistem perhubungan secara terpadu dan komprehensif.

10. Terwujudnya pelayanan jasa pos dan jasa titipan yang bervariasi dan sesuai dengan permintaan pasar

3.2. Sumber Daya Air dan irigasi
Sasaran yang akan di capai bidang Sumber Daya Air dan Irigasi adalah: 1. 2. 3. 4. Terjaganya kelestarian fungsi sarana dan prasarana irigasimeliputi bangunan utama, bangunan pelengkap dan saluran yang melayani areal seluas kurang lebih 238.470 Ha. Meningkatnya cakupan layanan air baku kurang lebih 42 km di Seluruh Wilayah Jawa Tengah. Terjaganya kelestarian sumber daya air 39 waduk dan 1 rawa. Berkurangnya kerusakan saran dan prasaran akibat banjir dan kerusakan pantai (abrasi), dengan normalisasi sungai dan perbaikn tanggul serta tebing bertujuan mengurangi dampak banjir.

3.3. Prasarana Jalan
Sasaran yang ingin dicapai pada bidang prasarana jalan adalah: 1. 2. Terwujudnya kondisi prasarana jalan dan jembatan dengan kemampuan pelayanan yang mantap. Terbangunnya jalan Tol Semarang – Solo oleh investor.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 270

3.4. Ketenagalistrikan
Sasaran yang dicapai pada bidang ketenagalistrikan adalah:

1.

Terpenuhinya energi listrik alternatif di 11 lokasi/unit : a) Desa Sumrdang, Keling, Jepara; b) Desa Wonosari, penggandon, kaliputih, Singorojo, Kendal; c) Kaligesing, Prembun, Kebumen; d) Desa Sideharjo, Majengang Cilacap, Desa Megeri, Desa Nginggil, Desa Nguwar, Desa Nglungger Karadenan dan Blora.

2. 3. 4. 5.

Terpenuhinya kebutuhan listrik di 73 desa di daerah : Tegal, pemalang, Brebes, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, Blora, Boyolali, Cilacap, Pekalongan. Terlaksananya pembinaan, pengawasan, dan pengendalian usaha ketenagalistrikan dan penunjang migas di 35 kabupaten/kota. Terbangunnya PLMTH 25 unit, PLTS 1150 unit, dan PLTD 17 unit di Tegal, pemalang, brebes, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, blora, Boyolali. Cilacap, Pekalongan, dan Batang. Terselenggaranya revitalisasi 47 sumur migas tua di 4 lokasi : blora, rembang, pemalang, grobogan.

3. 5. Perumahan Sasaran yang akan dicapai dalam bidang perumahan adalah : 1. 2. 3. Semakin berkurangnya backlog kebutuhan rumah. Meningkatnya kemampuan pengembang dalam penyediaan rumah terutama kategori rumah sangat sederhana (RSS) dan meningkatnya kemampuan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan rumah. Meningkatnya prasarana dan sarana dasra perumahan dan pemukiman di perkotaan dan pedesaan pada kawasan pemukiman padat dan kumuh, kawasan terisolir, kawasan perbatasan, kawasan tertinggal serta lintas kab/kota. 4. Meningkatkan peran serta dan fasilitasi kepada masyarakat dalam penyediaan sarana air bersih dan rumah pengungsian, rumah panggung individual, dan penyediaan sarana peningkatan aksesibilitas serta produktivitas. 5. 6. Meningkatnya kesiapsiagaan masyarakat dilingkungan pemukiman dalam mengatasi dan mengantisipasi bahaya kebarakan. Tertanganinya kerusakan rumah akibat bencana alam maupun bencana sosial.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 271

IV. Arah Kebijakan
Kebijakan diarahkan pada pembangunan fisik dan infrastruktur secara merata sesuai dengan karakteristik wilayah berdasarkan pada Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan memperhatikan dinamika perkembangan masyarakat. Strategi yang ditempuh adalah: 1. 2. Mempercepat pembangunan dan meningkatkan kualitas dan kuantitas infrastruktur pada wilayah terisolir, perbatasan, kurang berkembang dan kawasan strategis regional maupun nasional Mempercepat realisasi pembangunan jalan tol Semarang-Solo dan perpanjangan landasan pacu Bandara Ahmad Yani Semarang serta penyempurnaan fasilitas terminal Bandara Adi Sumarmo Surakarta 3. 4. 5. Meningkatkan penanganan daerah-daerah potensi rawan bencana alam dan melakukan deteksi dini, utamanya pada kawasan permukiman, industri dan pertanian. Meningkatkan pengendalian dan pengawasan dalam pemanfaatan ruang sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Meningkatkan penanganan kerusakan dan menjaga kelestarian sumber daya alam dan Lingkungan Hidup

4.1. Perhubungan
Kebijakan, pembangunan perhubungan diarahkan pada: (1) Meningkatkan dan mengembangkan keterpaduan serta peranan dalam mendukung pengembangan potensi-potensi unggulan daerah secara merata, seimbang dan serasi mendasarkan pada Rencana Tata Ruang dan dinamika perkembangan masyarakat dan daerah guna meningkatkan kompetensi dan kemandirian Provinsi Jawa Tengah. (2) Meningkatkan dan mengoptimalkan kualitas dan kwantitas sarana dan prasarana perhubungan berserta kelengkapan pendukung pelaksanaannya untuk meningkatkan pelayanan masyarakat (public services) sejalan dengan dinamika masyarakat dan perkembangan teknologi serta memperhatikan keterjangkauan masyarakat kalangan menengah kebawah. Tujuan, yang ingin dicapai adalah: (1) Meningkatkan dan mengembangkan kualitas dan kuantitas sarana prasarana perhubungan untuk memenuhi kebutuhan pergerakan penumpang, barang dan jasa; (2) Meningkatkan dan mengoptimalkan pelayanan jasa transportasi darat, laut, udara dan pos, telekomunikasi, meteorologi dan SAR kepada masyarakat: (3) Meningkatkan produktifitas kinerja operasional dan potensi termasuk untuk mendukung PAD.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 272

Strategi, yang ditempuh adalah: (1) Peningkatan peran dan fungsi jembatan timbang sesuai Perda Nomor4 Tahun 2001; (2) Peningkatan jangkauan, kualitas dan kuantitas pelayanan sarana dan prasarana angkutan penumpang kereta api secara bertahap terutama jarak pendek serta angkutan petikemas; (3) Peningkatan pelayanan KA lintas Utara dan Selatan dengan double track; (4) Peningkatan sarana dan prasarana angkutan penyeberangan terutama Karimunjawa-Jepara dan Semarang (Kendal)-Kumai: (5) Peningkatan dan pengembangan fasilitas Bandara terutama Ahmad Yani Semarang dan Adi Sumarmo Surakarta; (6) Pengembangan fasilitas prasarana pelabuhan laut di Brebes, Tegal, Batang, Jepara, Karimunjawa dan Rembang; (7) Peningkatan fasilitas keamanan, ketertiban dan keselamatan lalu lintas jalan, pelayaran dan penerbangan; (8) Peningkatan dan optimalisasi peraturan penunjang potensi termasuk untuk pendapatan daerah; (9) Pemerataan dan peningkatan pelayanan jasa pos, telekomunikasi, meteorologi dan SAR; (10) Peningkatan dan optimalisasi sumber daya secara sinergi baik masyarakat, Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota. Program, Untuk mencapai tujuan tersebut maka program yang dilaksanakan adalah: 1. Pengembangan Perhubungan Darat. Program ini untuk menciptakan kelancaran, ketertiban, keamanan dan kenyamanan melalui peningkatan dan pengembangan sarana dan prasarana perhubungan darat serta memadukan moda-moda transportasi lainnya guna membentuk jaringan transportasi antar moda yang terpadu termasuk perlengkapan jalan sehingga dapat memberikan pelayanan yang optimal. 2. Pengembangan Perhubungan Laut. Program ini untuk menciptakan kelancaran, ketertiban, keamanan dan kenyamanan melalui peningkatan dan pengembangan prasarana perhubungan laut serta memadukan moda-moda transportasi lainnya sehingga membentuk jaringan transportasi antar moda yang terpadu dan memberikan tingkat pelayanan yang optimal. 3. Pengembangan Perhubungan Udara. Program ini untuk mendukung sarana dan prasarana perhubungan udara yang memadai melalui peningkatan dan pengembangan prasarana perhubungan udara serta mampu menunjang distribusi barang dan penumpang antar pulau yang terintegrasi dengan moda transportasi lainnya dan memberikan tingkat pelayanan yang optimal. 4. Pengembangan Pos, Telekomunikasi, Meteorologi dan SAR. Program ini untuk menciptakan kelancaran, ketertiban dan keamanan Bidang Pos, Telekomunikasi, Meteorologi dan SAR sehingga dapat memberikan tingkat pelayanan yang optimal. 5. Penelitian dan Pengembangan Perhubungan. Program ini untuk memberikan arahan dan strategi bagi penyusunan kebijakan pembangunan perhubungan secara berkesinambungan baik darat, laut, maupun udara sehungga terwujud sistem transportasi yang handal, terpadu, efisien, berkemampuan tinggi dan merata, serta terjangkau oleh masyarakat.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 273

4.2. Sumber Daya Air
Kebijakan, Dalam upaya mewujudkan pendayagunaan sumberdaya air secara optimal guna menunjang peningkatan produksi pertanian, pengendalian banjir, penyediaan air bersih, pengembangan permukiman, industri, pariwisata dan kelistrikan secara terintegrasi dan berkelanjutan ditempuh kebijakan untuk mengelola sumber daya air dengan pendekatan yang menyeluruh terhadap suatu wilayah sungai sebagai satuan wilayah pengembangan. Pemikiran tersebut mendasari bahwa sungai mulai dari mata airnya, daerah pengalirannya sampai ke muara merupakan satu kesatuan, sehingga harus dikelola secara terpadu, dengan prinsip one river, one plan, one integrated management dengan langkah-langkah yang mencakup : (1) pemantapan pengelolaan prasarana dan sarana sumber daya air secara efektif dan efisien melalui kerjasama berbagai pihak terkait; (2) peningkatan partisipasi masyarakat dan swasta mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai dengan evaluasi; (3) optimalisasi pemanfaatan aset daerah dan penertiban administrasi; (4) pemantapan master plan dan program pengembangan sumber daya air secara terpadu, menyeluruh dan berkelanjutan; (5) pemantapan kualitas dan kuantitas jaringan stasiun dan data hidrologi, serta sumber daya air lainnya untuk pengembangan data dasar perencanaan yang handal; (6) Pengelolaan sumber daya air melalui korporasi secara bertahap; (7) perlindungan kawasan strategis dan sentra produksi dari ancaman banjir dan kekeringan; Tujuan, Tujuan pembangunan bidang sumberdaya air dan irigasi adalah untuk: (1) menjaga kelestarian fungsi dan memulihkan kondisi fisik prasarana dan sarana sumber daya air; (2) menjaga kelestarian sumber daya air dan fungsi hidro-orologis daerah aliran sungai (DAS); (3) mengurangi konflik pemanfaatan air antar pengguna dan antar penggunaan; (4) mengoptimalkan sumber daya air yang ada; (5) mengamankan dan menertibkan aset-aset daerah; (6) meningkatkan kesadaran dan kerjasama seluruh pemangku kepentingan, pengelolaan dan pengembangan sumber daya air sebagai ekosistem daerah, dengan segala aspek yang meliputi ekonomi, sosial, estetika, potensi rekreasi, dan nilai-nilai keseimbangan ekologis yang kesemuanya menjadi cerminan keseimbangan ruang dan lingkungan secara utuh; (7) mengurangi dampak negatif akibat banjir dan kekeringan. Strategi, Untuk mencapai sasaran pembangunan sumber daya air tersebut di tempuh beberapa strategi sebagai berikut : (1) Mendukung upaya mewujudkan kemandirian dibidang pertanian dengan meningkatkan peran serta Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) yang otonom, mandiri, dan mengakar di masyarakat; (2) Meningkatkan penyediaan air baku dan produktivitas prasarananya untuk memenuhi kebutuhan air bagi hajat hidup masyarakat; (3) Melakukan pembangunan yang berwawasan lingkungan dan meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan air dan sumber-sumber air melalui swadaya dan pemahaman, sehingga secara bertahap dapat merubah peran pemerintah dari penyedia

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 274

menjadi fasilitator; (4) Mengoptimalkan pemanfaatan aset daerah dan penertiban administrasi; (5) Meningkatkan peran serta semua pihak yang terkait dengan pengguna sumber daya air dalam upaya menciptakan iklim keterpaduan, kebersamaan, keterbukaan dalam pengelolaan sumber daya air; (6) Memantapkan kualitas dan kuantitas jaringan stasiun dan data hidrologi, serta sumber daya air lainnya untuk pengembangan data dasar perencanaan yang handal; (7) Pengelolaan sumber daya air melalui korporasi secara bertahap; (8) Melindungi kawasan strategis dan sentra produksi pertanian terhadap bahaya banjir dan kekeringan. Program, Untuk mencapai tujuan pembangunan sumber daya air dan irigasi tersebut ditempuh melalui pelaksanaan program sebagai berikut: 1. Pengembangan dan Pengelolaan Jaringan Irigasi, Rawa, dan Jaringan Pengairan lainnya. Program ini untuk mendukung upaya mewujudkan kemandirian di bidang pertanian dengan meningkatkan peran serta P3A (Perkumpulan Petani Pemakai Air) untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani. 2. 3. Penyediaan dan Pengeloaan Air Baku. Program ini untuk meningkatkan penyediaan air baku dan produktivitas prasarananya untuk memenuhi kebutuhan air bagi hajat hidup masyarakat. Pengembangan, Pengelolaan dan Konservasi Sungai, Danau dan Sumber Air lainnya. Program ini untuk meningkatkan produktivitas pemanfaatan sumber daya air dan konservasi guna mensejahterakan masyarakat. 4. Pengendalian Banjir dan Pengamanan Pantai. Program ini untuk melestarikan kondisi dan fungsi sumber air sekaligus menunjang daya dukung lingkungannya serta meningkatkan nilai manfaat sumber air sehingga dapat digunakan untuk berbagai kepentingan.

4.3. Prasarana Jalan
Kebijakan, yang ditetapkan adalah: (1) Meningkatkan kondisi prasarana jalan dengan memperhatikan kebutuhan masyarakat, Kabupaten/Kota dan dinamika perkembangannya; (2) Meningkatkan kualitas dan kapasitas jalan dan jembatan; (3) Mengupayakan peningkatan peran serta masyarakat dan dunia usaha dalam pembangunan dan pemeliharaan jalan; (4) Meningkatkan keterpaduan penanganan jalan dan jembatan antara pemerintah pusat, Provinsi dan Kabupaten/kota. Tujuan, yang ingin dicapai adalah: (1) Meningkatkan keamanan dan kenyamanan pengguna jalan; (2) Mendukung pengembangan / pembangunan Kota-kota dan kawasan strategis daerah; (3) Memperlancar arus lalu lintas orang, barang dan jasa.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 275

Strategi, yang ditempuh adalah: (1) Memelihara secara rutin/periodik jalan dan jembatan Provinsi serta menyiapkan Pra kajian untuk percepatan pembangunan jalan Tol; (2) Meningkatkan struktur dan kapasitas jalan dan jembatan Provinsi guna menunjang pengembangan wilayah, Kota dan kawasan strategis. Program Untuk mencapai tujuan pembangunan yang ditetapkan, ditempuh melalui program:

1. Rehabilitasi / pemeliharaan jalan dan jembatan. Program ini untuk mempertahankan prasarana jalan
dan jembatan yang ada agar tetap dalam kondisi yang memadai guna melayani arus lalu lintas.

2. Peningkatan jalan dan penggantian jembatan. Program ini untuk menangani kerusakan jalan dan
jembatan yang tingkat kerusakannya lebih luas dan atau meningkatkan kapasitasnya.

4.4. Ketenagalistrikan
Program-program yang dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas ketenagalistrikan adalah: 1. 2. 3. 4. 5. Pengembangan sumber energi listrik Pengembangan jaringan listrik pedesaan. Pembinaan, pengawasan, dan pengendalian usaha ketenagalistrikan dan penunjang migas, Pengembangan energi alternatif Penggunaan sumur migas marginal/tua.

4.5. Perumahan Arah kebijakan yang ditempuh untuk memecahkan permasalah tersebut adalah : 1. Fasilitasi dan mendorong masyarakat untuk dapt memenuhi kebutuhan rumahnya secara swadaya. 2. Mendukung peningkatan kualitas lingkungan pemukiman melalui pendekatan pembangunan berbasis masyarakat (community based). 3. Fasilitasi dan memberi dukungan peningkatan kesadaran dan peranserta masyarakat dalam peningkatan penyediaan pelayanan dan pemeliharaan sarana dan prasarana dasra (air bersih, persampahan, limbah, dan drainase) melalui pendekatan bina lingkungan, bina manusia, dan bina usaha terutama pemukiman kumuh, tertinggal dan terisolir, 4. Pembangunan perumahan/pemukiman pada derah rawan bencana/bencana alam. 5. Fasilitasi dan mendorong peningkatan kesiapsiagaan masyarakat dalam mencegah bahaya kebakaran.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 276

5. Pencapaian RPJMN di Daerah (2005-2007) 5.1. Upaya yang Dilakukan hingga tahun 2007 1. Perhubungan
1. Telah dilaksanakan kegiatan pemasangan perlengkapan jalan di jalan Provinsi, terdiri dari : pemasangan rambu lalulintas berjumlah 3.810 rambu, pemasangan RPPJ (Rambu Pendahulu Petunjuk Jurusan) dengan jumlah 159 RPPJ, cermin tikungan jumlah total CT 13, pemasangan APILL stabil sejumlah 8 APILL, pemasangan warning lamp sangat rendah sejumlah 4 WL, pembuatan marka sejumlah 360.053,3 m3, pemasanagan guard rail sejumlah 1110 beam, jembatan penyeberangan bertambah 1 unit tahun 2004, halte tambah 1 unit pada tahun 2004, jumlah perusahaan otobus cenderung stabil sebanyak 2300 buah, jumlah AKAP cenderung turun (2.36 persen) dari 3429 unit menjadi 3348 unit, jumlah AKDP turun drastis dari 10.053 armada menjadi 8.063 armada (19.79 persen), sedangkan jumlah trayek AKDP maupun AKAP tidak mengalami perubahan yaitu sebesar 367 trayek. Pemasangan sarana dan prasarana lalu lintas berdasarkan program yang dianggarkan tiap tahun yang berbeda dan cenderung turun jumlahnya. Penurunan jumlah armada AKDP disebabkan otonomi daerah, yang mengambil alih pemeriksaan armada.

2.

Telah ditingkatkan fasilitas jembatan timbang sebanyak 24 unit dari 17 unit dan peningkatan kapasitas timbang dari 40 ton menjadi 60 ton sebanyak 10 unit, dari 60 ton menjadi 80 ton sebanyak 7 unit. Pemasangan prasarana dan sarana lalulintas juga harus diikuti dengan penindakan yang tegas terhadap pelanggaran kelengkapan dan kelebihan beban muatan baik barang maupun manusia, untuk keselamatan dan terpeliharanya kondisi jalan raya supaya tidak cepat rusak.

3.

Program Pengembangan Perhubungan Laut: (1) Pembangunan pelabuhan penyeberangan semarang-kumai; (2) Pengerukan pelabuhan rembang 200.000 m2 pada tahun 2003, pembangunan dermaga pelabuhan rembang seluas 55 M’ dan 40 M’ pada tahun 2004 dan 2005 sebesar 300.000m3, pembangunan SBN di karimunjawa, morodemak dan juwana, pembangunan pos syahbandar di morodemak, pengadaan kapal patroli cepat di tanjung emas dan Kartini

4.

Telah dioperasikannya kereta api Pandanwangi lintas semarang-solo satu hari 1 rangkaian, pengoperasian kereta api kaligung II lintas Semarang-Tegal satu hari 2 rangkaian. Sangat disayangkan operasional kereta api pandanwangi yang pada awal pengoperasionalan berjalan 2 kali 1 hari namun skarang menjadi 1 kali seharai, sebenarnya moda angkutan kereta api merupakan angkutan massal yang dapat mengurangi beban angkutan jalan raya. Kereta api kaligung yang sudah beroperasi perlu ditambah rangkaiannya terutama hari libur atau minggu mengingat banyaknya peminat.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 277

5. 6.

Penyusunan Tatrawil Provinsi Jawa Tengah terlaksana pada tahun 2005 namun pelaksanaannya belum tercapai. Program Pengembangan Perhubungan Udara: (1) Kegiatan meliputi pembebasan tanah seluas 715.575,5 m2, pengurukan dan pemadatan tanah, pembangunan kontruksi landasan dari 1.850 m’2.650m’ dan 2.250m’ – 2.650 m’. Pemindahan lampu navigasi dan pembangunan terminal penumpang. Terpublikasinya iklim dan cuaca tepat waktu dan sasaran pengguna melalui media televisi terlaksana pada tahun 2005 dan 2006; (2) Perpanjangan landasan pacu samapi akhir 2007 telah selesai tahap II dari 2.250-2.680 (430 m); (3) Terwujudnya penerbangan jalur Solo-Denpasar guna meningkatkan pergerakan orang, barang, dan pariwisata di Jawa Tengah, telah dicoba tetapi dihentikan karena sebab-sebab teknis.

7. 8. 9.

Kegiatan pengadaan alat SAR, posko dan Bintek SAR setiap tahun. Perlu juga persiapan sumber daya (relawan) dalam melaksanakan tugas SAR). Penertiban usaha jasa pos dan titipan : 2003-2004 ada 6 usaha, 2004-2005 ada 54 usaha dan 2005-2006 14 usaha ditertibkan. Ujian amatir radio lulus 96.40 persen dari 2225 peserta, ujian amatir radio pengguna frekuensi sebanyak 1224 orang.

10. Program penelitian dan Pengembangan Perhubungan. Belum dapat diwujudkan secara
komprehensif walaupun Tatrawil provinsi Jawa Tengah telah dapat disusun pd thun 2005 namun belum dapat dilaksanakan secara baik.

2.

Sumber Daya Air dan Irigasi

a.

Pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi, rawa, dan jaringan pengairan lainnya. Kondisi sarana dan prasarana irigasi sampai tahun 2006 sebagai berikut : bangunan utama 72 persen baik, 25 persencukup, dan 3 persen rusak; bangunan air 45 persen baik, 44 persen cukup, dan 10 persen rusak. Saluran pembawa 34.8 persen baik, 48,15 persen cukup, 17,05 persen rusak.

b.

Penyediaan dan pengelolaan air baku. Cakupan debit layanan air baku berturut-turut sebagai berikut : tahun 2003 sebesar 500lt/dt, tahun 2004 sebesar 700 lt/dt, tahun 2005 sebesar 900 lt/dt, tahun 2006 sebesar 1.000 lt/dt (66,66 persen). Diharapkan tahun 2008 tercapai debit layanan ideal sebesar 1.500 lt/dt (100 persen).

c.

Pengembangan, pengeloaan dan konversi sungai, danau dan sumber air lainnya. Secara umum fungsi layanan dari 39 waduk dan 1 rawa masih berfungsi. Kondisi fisik 39 waduk dan 1 rawa tiap tahun mengalami penurunan. Berturut-turut tiap tahun dilakukan pelestarian sumber daya air (SDA) dari 10 lokasi target tahun 2003 sebanyak 4 lokasi, tahun 2004 sebanyak 6 lokasi, tahun 2005 sebanyak 8 lokasi dan tahun 2006 sebanyak 9 lokasi.

d.

Pengendalian banjir dan pengamanan pantai. Secara keseluruhan selama 2003-2006 genangan mulai berkurang di persawahan sebesar 9.54 persen dari 8.307 ha, tambak berkurang 75.25

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 278

persen dari 606 ha, genangan di jalan berkurang menjadi 66.20 persen dari 71 ha, sedangkan permukiman luas genangan turun sebesar 32.71 persen dari 31.597 ha, walaupun turun genangan di permukiman masih cukup luas yaitu 21.263 ha.

3.

Prasarana Jalan a. Rehabilitasi dan pemeliharaan jalan dan jembatan: (1) Kondisi jalan nasional mengalami peningkatan yang signifikan dari 275.1 km (22.63 persen) meningkat menjadi 669.58 persen km (51.6 persen) untuk kiondisi jalan yang baik. Kondisi jalan dengan kulaitas sedang mengalami penurunan dari 701.13 km (57.68 persen) menjadi 613.39 km (47.27 persen) demikian pula kondisi jalan yang rusak sepanjang 239.23 km (19.68 persen) menurun menjadi hanya 14.66 km (1.13 persen); (2) secara keseluruhan selama 2003-2006 genangan mulai berkurang di persawahan sebesar 9.45 persen dari 8307 ha, tambak berkurang 75.25 persen dari 606 ha, genangan di jalan berkurang menjadi 66.20 persen dari 71 ha, sedangkan permukiman luas genangan turun sebesar 32.71 persen dari 31.597 ha, walaupun turun genangan di permukiman masih cukup luas yaitu 21.263 ha; (3) Kondisi jalan provinsi dalam kondisi “baik” mengalami peningkatan yang signifikan pula dari 1.735,04 km (67.0 persen) menjadi 2.063,50 km (81.25 persen), tahu8n 2007 menjadi 8.25 persen, kondisi jalan sedang mengalami penurunan 750.99 km (29 persen) menjadi 458,50 km (18.05 persen), tahun 2007 menjadi 16.9 persen. sedangkan jalan rusak mengalami penurunan dari 103.61 km (4 persen) menjadi 17.78 persen (0.70 persen) tahun 2007 menjadi 0.6 persen; (4) Target kedua, kondisi jembatan dari tahun 2003 sampai 2006 mengalami peningkatan kualitasnya. Kondisi jembatan baik dari 13,095 m2 (51.67 persen) menjadi 16.521 m2 (65.21 persen), kondisi jembatan sedang berkurang dari 10.084m2 (39.80 persen) menjadi 7.758 m2 (30.62 persen), demikian juga kondisi jembatan rusak dari 2.161 m2 (8.53 persen) menjadi 1.056 m2 (4.17 persen); (5) Pembangunan jalan sepanjang 1.9 km, pembangunan jembatan sepanjang 32 m. Peningkatan jalan sepanjang 617.22 km, penggantian jembatan sepanjang 126 m. Pemeliharaan berkala jalan sepanjang 593.1 km, rehabilitasi jalan sepanjang 52.51 km, pemeliharaan rutin jalan sepanjang 1.405,29 km dan rehabilitasi jembatan sepanjang 247.6 km serta pemeliharaan rutin jembatan/gorong-gorong sepanjang 16.987,69m. b. Peningkatan jalan dan penggantian jembatan. Pada tahun 2006 sudah ditandatangani perjanjian pengusahaan jalan tol semarang-solo dan pengadaan tanah melalui mekanisme Badan Layanan Umum.

4.

Ketenagalistrikan

a. b. c.

Penertiban usaha penunjang migas di 35 kabupaten/kota Pengembangan energi alternatif PLTD 1 unit, PLMTH 4 unit, PLTS 360 unit Pendayagunaan sumur migas marginal/tua dengan beroperasinya pengambilan minyak dari 4 sumur tua di Blora dan Kendal.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 279

5. Perumahan
a. Perumahan dan pemukiman kondisinya belum memadai sebagai sarana prasarana dasar yang sangat berpengaruh terhadap kelangsungan kualitas kehidupan manusia. Kondisi perumahan pada tahun 2006 sebesar 1,1 juta sementara kemampuan membangun tiap tahun sebesar 8500 unit rumah. Sedangkan kebutuhan rumah per tahun sebesar 81.290 unit rumah pertahun. Kondisi tersebut sangat rentan terhadap perkembangan perekonomian yang terjadi. b. Sampai dengan tahun 2005 dapat diketahui 7,22 juta unit rumah terdiri atas tipe A sebanyak 2.131.049 unit, tipe B sebanyak 2.857.692 unit, dan tipe C sebanyak 2.232.471 unit.

5.2. Posisi Capaian hingga tahun 2007
1. Perhubungan

a.

Sasaran secara umum telah tercapai, namun dari segi jumlah angkutan dan trayek yang cenderung tetap, bahkan da yang menurun akibat pengambilan kewenangan dapat mengurangi kualitas pelayan umum (orang,barang, dan jasa).

b.

Belum dapat tercapai secara penuh. Program yang dilaksanakan baru sebatas peningkatan fasilitas jembatan timbang yang mengarah pada ketertiban berlalu lintas dan menjaga kondisi jalan agar tetap baik.

c. d. e.

Telah tercapai dengan adanya pembangunan pelabuhan penyeberangan Semarang-Kumai Telah tercapai dengan adanya pembangunan pelabuhan Semarang-Dumai. Pembangunan pelabuhan laut ini belum dapat terwujud sepenuhnya, namun berbagai upaya telah dilakukan untuk mencapai target tersebut, seperti perluasan landasan dan penyedian sarana dan prasarana.

f. g. h. i.

Upaya pembangunan dan perbaikan sarana dan prasarana perhubungan udara belum dapat terwujud sepenuhnya, namun berbagai upaya telah dilakukan untuk mencapai target tersebut. Telah tercapainya hal ini ditunjukkan oleh keberdaan alat SAR, posko SAR, dan Bintek SAR. Namun kesiapsiagaan sumber daya manusia belum tergambarkan secara jelas. Masih belum sesuai harapan karena masih terdapatnya pelayanan jasa pos yang kurang memuaskan. Tertibnya penggunaan frekuensi dan meningkatnya kapasitas pengguna frekuensi di belum dapat tercapai secara memuaskan. Hal ini ditunjukkan dengan Tingkat Kelulusan Ujian Amatir Radio sebesra 96,40 persen dari peserta 2.225 peserta. Selain itu, masih ditemukannya penggunaan frekuensi secara liar yang dapat mengganggu keamanan penerbangan dan gangguan pada siaran Televisi.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 280

j.

Program penelitian dan Pengembangan Perhubungan. Belum dapat diwujudkan secara komprehensif walaupun Tatrawil provinsi Jawa Tengah.

2.

Sumberdaya Air dan Irigasi

a.

Kondisi sarana dan prasarana irigasi, baik bangunan utama, pelengkap, dan saluran belum dapat mengairi areal seluas 238.470 Ha dikarenakan masih terdapatnya kerusakan bangunan utama (3 persen), bangunan pelengkap (10 persen), dan saluran pembawa (17,8).

b. c. d.
3.

Ada peningkatan cakupan debit air secara signifikan sejak tahun 2003 – 2006, pencapaian pada tahun 2006 sudah mencapai 66,66 persen. Pelestarian waduk dan rawa pada tahun 2006 mencapai angka 26 objek. Normalisasi sungai dan perbaikan tanggul telah berhasil mengurangi dampak banjir dan kerusakan panti secara signifikan

Prasarana Jalan

a.

Secara keseluruhan panjang jalan hanya mengalami pertambahan sepanjang 82,17 km (6,76 persen). Secara keseluruhan panjang jalan provinsi mengalami penurunan dari 2.589,61 menjadi 2.539,70 atau menurun 49,91 km atau 1,97 persen. Penurunan ini disebabkan perubahan status jalan provinsi menjadi jalan negara, yang seharusnya diikuti pula oleh penambahan panjang jalan provinsi dan jalan kabupaten atau kota mengingat sarana jalan sangat berperan dalam pertumbuhan sosial ekonomi maupun budaya daerah yang terisolir. Kondisi jembatan secara keseluruhan selama 4 tahun tidak mengalami peningkatan luas jembatan yaitu 25.335 m2. Secara keseluruhan sasaran dapat tercapai namun perlu ditingkatkan lagi terutama jalan nasional dan jembatan.

b.

Terbangunnya jalan Tol Semarang-Solo serta kurangnya koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah Kabupaten/kota, menyebabkan pembangunan jalan tol belum dapat terwujud ditambah kontroversi di masyarakat mengenai lokasi jalan tol dan pembebasan tanah.

4.

Ketenagalistrikan

a. b. c.

Penertiban usaha penunjang migas di 35 kabupaten/kota, dan target masih jauh tercapai (10 persen). Wasdal masih perlu untuk mencegah lingkungan. Target belum tercapai masih banyak sungai yang belum dimanfaatkan untuk PLMTH Pendayagunaan sumur migas/marginal tua belum terpenuhi pencapiannya

5. Perumahan Pembangunan rumah susun sederhana sewa maupun milik (Rsunawa/mi) belum berjalan seperti yang diharapkan, sehingga belum dapat mengatasi kebutuhan perumahan bagi Rumah Tangga Miskin (RTM) pada

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 281

kawasan kumuh perkotaan.

5.3. Permasalahan Pencapaian Sasaran
1. Perhubungan

a. Istilah dalam perambuan dan pemarkaan belum semuanya sesuai dengan standar peraturan
pemerintah.Kerusakan jalan tidak semata-mata karena beban yang berlebih. Drainase yang tidak baik, kualitas pekerjaan yang tidak sesuai standar ikut mendorong kerusakan jalan. Pendekatan perencanaan kurang mengacu pada pendekatan pergerakan intermoda, massal, dan berlanjut (sustain). Jadwal, rute, kapasitas pelayanan KA lintas Selatan belum sesuai dengan permintaan masyarakat sehingga peminatnya sedikit.

b. Hal lain yang menyangkut kelayakan jalan kendaraan, aturan penggunaan jalur jalan, kekuatan tipe
jalan, pengaturan waktu perjalanan angkutan barang masih perlu diperhatikan krena hal tersebut sangat signifikan sebagai akibat ketidaktertiban dan terjadinya kecelakaan.

c. Promosi dan pengoperasian pelabuhan lebih ditingkatkan d. Masih perlu melengkapi sarana yang berkaitan dengan keselamatan laut yang akhir-akhir ini
cenderung menurun seperti kapal penolong cepat dan kapal pemadam kebakanran dilaut.

e. Penerbangan Jalur Solo-Denpasar guna meningkatkan pariwisata Jawa Tengah dihentikan karena
sebab-sebab teknis.

f. Sumber Daya Manusia dalam SAR belum memadai. g. Jasa Pelayanan Pos kurang memadai h. Ditemukannya penggunaan frekuensi secara liar yang dapat mengganggu keamanan penerbangan
dan gangguan pada siaran Televisi. 2. Sumber daya Air dan Irigasi

a. Banyaknya kerusakan bangunan sarana dan prasarana irigasi yang ada. b.
Kondisi sarana dan prasarana irigasi, baik bangunan utama, pelengkap, dan saluran belum dapat mengairi areal seluas 238.470 Ha, dikarenakan masih terdapatnya kerusakan bangunan utama (3 persen), bangunan pelengkap (10 persen), dan saluran pembawa (17,8 persen). 3. Prasarana Jalan

a.

Terjadinya penurunan jalan disebabkan perubahan status jalan provinsi menjadi jalan negara, yang seharusnya diikuti pula oleh penambahan panjang jalan provinsi dan jalan kabupaten atau kota mengingat sarana jalan sangat berperan dalam pertumbuhan sosial ekonomi maupun budaya daerah yang terisolir. Kondisi jembatan secara keseluruhan selama 4 tahun tidak mengalami peningkatan luas jembatan yaitu 25.335 m2. Secara keseluruhan sasaran dapat tercapai namun perlu ditingkatkan lagi terutama jalan nasional dan jembatan.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 282

b.
4. a. b. c.

Kontroversi masyarakat mengenai pembangunan jalan tol dan pembebasan tanah. Dalam menerbitkan usaha penunjang migas di 35 kabupaten/kota wasdal juga perlu dalam mencegah kerusakan lingkungan. Target belum tercapai masih banyak sungai yang belum dimanfaatkan untuk PLMTH Pembangunan sumur migas marginal/tua tidak berhasil disebabkan terbatasnya biaya rekomendasi optimalisasi sumur tua sebanyak 43 yang belum terlaksana

Ketenagalistrikan

5. Perumahan Masih banyak terdapat kawasan pemukiman kumuh terutama di perkotaan, desa nelayan dan desa terisolir yang tersebar diseluruh wilayah provinsi Jawa Tengah.

6. Tindak Lanjut
Upaya tindak lanjut yang bisa dilakukan dalam bidang infrastruktur adalah:

1.

Perhubungan a. b. Perhatikan kualitas dan kuantitas angkutan jalan raya untuk memobilisasi orang, barang dan jasa yang merupakan modal dasar pengembangan ekonomi wilayah. Pengadaan marka dan rambu hendaknya mengacu pada peraturan yang ada. Mendorongan penggunaan angkutan umum massal (peraturan, pengadaan, pembatasan kendaraan pribadi) mengingat ketidakmampuan pemerintah menyediakan infrastruktur jalan mengikuti permintaan kendaraan pribadi. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. m. peningkatan kualitas dan kuantitas angkutan massal untik memobilisasi orang, barang dan jasa yang merupakan modal dasar pengembangan ekonomi wilayah. mendorong peralihan moda angkutan bandar udara-terminal bis-stasiun KA terintegrasi, setidaktidaknya ada trayek angkutan massal yang menjadi pengumpul antar simpul-simpul transportasi. Re-engineering pelayanan meteorologi dan SAR dengan teknologi informasi terbaru. Promosi jalur pelayaran kepada masyarakat. Pengoperasian pelabuhan penyeberangan kendal (semarang)-kumai. Penambahan sarana keselamatan laut seperti perahu penolong cepat dan kapal pemadam kebakaran di laut. Publikasi informasi iklim dan cuaca untuk keselamatan penyeberangan. Perpanjangan landasan pacu A.Yani. Peningkatan sarana navigasi bandara Adi sumarmo. Publikasi informasi iklim dan cuaca untuk keselamatan penerbangan. Pembukaaan jalur penerbangan Solo-Denpasar untuk menciptakan jalur ekonomi dan integrasi

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 283

pariwisata antara Jawa Tengah dan Bali. Dilakukan untuk menentukan jadwal, kapasitas, pelayanan yang optimal. n. o. p. q. Publikasi informasi iklim dan cuaca perlu dikembangkan agar lebih tepat sasaran. Tatrawil harus diikuti tatralok di daerah. Pengadaan suplemen/amandemen tatrawil supaya sejalan peraturan perundangan terbaru, misalkan Undang-Undang Tata Ruang. Koordinasi tatralok antar daerah sehingga memunculkan keunggulan daerah masing-masing tanpa saling bersaing.

2.

Sumber Daya Air dan Irigasi

a. b. c.

Masih diperlukan rehabilitasi sarana dan prasarana irigasi. Masih perlu peningkatan cakupan layanan air baku sampai mencapai target 1.500 liter/detik. Kelestarian waduk dan rawa perlu dijaga sebagai reservoir irigasi pada musim kemarau.perlu juga diperhatikan kelestarian hutan di daerah tangkapan hujan (DAS), untuk menyerap air hujan agar tidak menjadi aliran permukaan (runoff).

d.

Perbaikan sarana tanggul untuk menaggulangi banjir perlu diimbangi dengan penghijauan dan penanaman tanaman bakau dan pembibitan karang laut, selain itu perlu dipantau pencemaran air laut yang dapat mematikan biota laut.

e. f. 3.

Peningkatan kualitas dan kuantitas prasarana jalan dan jembatan dengan kemampuan pelayanan yang mantap. Audit terhadap kinerja stake holder pekerjaan jalan, mulai dari konsultan, kontraktor dan pengawas oleh auditor independen bersertifikat ISO.

Prasarana Jalan a. Tidak boleh ada toleransi bagi kelebihan beban angkutan barang. b. Peningkatan koordinasi pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota dalam peningkatan prasarana dan sarana jalan terutama jalan. c. Pembangunan jalan tol semarang-solo yang layak dan untuk kepentingan rakyat. peraturan. e. Pelatihan dan pembinaan pada daerah konservasi, baik dari segi penanamannya maupun dari segi manfaat ekonomisnya. f. Kerjasama dengan peduduk setempat agar kawasan lindung dapat bermanfaat secara ekonomi maupun secara ekologis. g. Dari tahun 2003-2006 perlu tindak lanjut dari tersusunnya dan evaluasi rencana induk pengelolaan lingkungan hidup perlu dimaksimalkan peranan forum SKPD dengan prinsip saling menjaga lingkungan masing-masing daerah dan menguntungkan daerah lainnya. d. Pemerintah harus memaksa spekulan tanah untuk tunduk pada kepentingan umum, menurut

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 284

h. Koordinasi dengan daerah Kabupaten dan Kota yang masuk dalam 7 DAS tersebut, supaya penanganan DAS tidak terbentur dengan otonomi daerah yang masing-masing Kabupaten/Kota mengutamakan daerahnya masing-masing. i. Pemantapan sumber daya manusia (SDM) tidak hanya dilaksanakan pada pengelola lingkungan hidup tetapi bisa dikembangkan keseluruh masyarakat, khususnya pada masyarakat di daerahdaerah lahan kritis agar masyarakat bisa terlibat secara langsung dalam pengelolaan lingkungan hidup.

4.

Ketenagalistrikan

a. b.

Pemanfaatan sungai untuk PLMTH Mengadakan rekomendasi penganggaran biaya optimalisasi sumur .

5. Perumahan Kawasan perumahan perlu dukungan air bersih dan sanitasi. Cakupan pelayanan air bersih perkotaan lebih kurang 39,86% dan pedesaan 12,6%. Cakupan sanitasi lebih kurang 7,2% dan persampahan lebih kurang 71% sampah terangkut. Kondisi tersebut sebanding dengan rata-rata nasional dan target Millenium Developnment Goals (MGDs).

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 285

BAB 4.19
Penanganan dan Pengurangan Resiko Bencana

I. Pengantar
Perlindungan masyarakat terhadap bencana tidak hanya kewajiban dari pemerintah, tetapi merupakan hak bagi seluruh masyarakat tanpa pengecualian. Untuk itu terkait dengan pengurangan risiko bencana, Pemerintah wajib memberikan perlindungan yang layak dan bermartabat bagi masyarakat. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana Pengelolaan bencana merupakan salah satu bagian dari pembangunan nasional dalam serangkaian kegiatan baik sebelum, pada saat maupun sesudah terjadinya bencana. Selama ini masih dirasakan adanya kelemahan baik dalam pengelolaan bencana maupun yang terkait dengan landasan hukum karena belum ada undang-undang yang secara khusus mengatur hal tersebut. Dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana pada prinsipnya mengatur tahapan bencana meliputi pra-bencana, saat tanggap darurat dan pasca bencana. Materi muatan undangundang ini berisikan ketentuan-ketentuan pokok penyelenggaraan penanggulangan bencana, diantaranya adalah: a. Penyelenggaraan penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab dan wewenang Pemerintah, dan b. Pemerintah Daerah yang dilaksanakan secara terencana, terpadu, terkoordinasi dan menyeluruh. c. Penyelenggaraan penanggulangan bencana dalam tahap tanggap darurat dilaksanakan sepenuhnya oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Penyelenggaraan penanggulangan bencana dilaksanakan dengan memperhatikan hak masyarakat antara lain mendapatkan bantuan pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan sosial, pendidikan dan keterampilan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana, serta berpartisipasi dalam pengambilan keputusan. d. Kegiatan penanggulangan bencana dilaksanakan dengan memberikan kesempatan secara luas kepada lembaga usaha dan lembaga internasional. e. Pengawasan terhadap seluruh kegiatan penanggulangan bencana dilakukan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah dan masyarakat pada setiap tahapan bencana agar tidak terjadi penyimpangan dalam penggunaan dana penanggulangan bencana.

286

f.

Pemerintah bertanggungjawab dalam pengurangan risiko bencana dan pemaduan pengurangan risiko bencana dengan program pembangunan yang dilaksanakan.

Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terletak di tengah Pulau Jawa. Karakteristik fisik Provinsi Jawa Tengah mempunyai bentuk bervariasi yang tidak lepas dari proses pembentukannya. Sebagaimana layaknya kepulauan yang terjadi karena tumbukan lempeng, di Provinsi Jawa Tengah terdapat busur gunung berapi yang tumbuh pada zona lemah sehingga terdapat beberapa gunung berapi di atasnya. Dampak dari tumbukan lempeng tektonik adalah terjadinya pengangkatan dan pelipatan lapisan geologi pembentuk pulau sehingga membentuk geomorfologi yang bervariasi seperti dataran landai, perbukitan dan dataran tinggi. Kondisi geologi yang demikian menjadikan Provinsi Jawa Tengah mempunyai potensi ancaman bencana alam. Gempa bumi di Klaten, tsunami di pantai selatan Jawa, erupsi gunung berapi Merapi dan tanah longsor di Banjarnegara merupakan sebagian bukti kebencanaan yang pernah terjadi di Provinsi Jawa Tengah. Secara geografis Provinsi Jawa Tengah terletak antara 5o 40` - 8o 30 Lintang Selatan dan antara 108o 30 111o 301` bujur timur dengan luas wilayah kurang lebih 32.548 km2 atau 1,70 persen luas Indonesia. Provinsi Jawa Tengah terdiri dari wilayah dataran rendah dan pegunungan dengan ketinggian yang bervariasi, memiliki sungai, waduk dan perairan umum. Iklim termasuk tropis basah dengan suhu rata-rata antara 19o 28o dan kelembababn udara rata-rata berkisar 70-90 persen Provinsi Jawa Tengah juga memiliki sederetan gunung berapi yang sebagian masih aktif. Gunung berapi tersebut membentuk lapisan permukaan tanah dengan tingkat kesuburan yang tinggi. Wilayah Jawa Tengah mempunyai dua musim yaitu musim kemarau dan penghujan. Kedua musim sering menimbulkan bencana, pada musim kemarau menimbulkan kekeringan dan kebakaran sedangkan musim penghujan terjadi banjir dan bencana tananh longsor serta saat pergnatian musim sering terjadi bencana angin topan. Secara geologi Provinsi Jawa Tengah terletak dipertemuan tiga lempeng bumi yaitu lempeng Eurasia, lempeng Pasifik, dan lempeng Indiaustralia yang dalam pertemuan tersebut sering menimbulkan pergeseran sehingga mengakibatkan gempa bumi, dan apabila gempa tersebut berkekuatan 6,5 skala richter dan kejadiannya ditengah laut akan menimbulkan tsunami.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 287

II. Kondisi Awal RPJM-N di Tingkat Daerah
Kejadian bencana alam cukup banyak terjadi di Provinsi Jawa Tengah dengan kerugian yang cukup besar. 1. Banjir di daerah Pati, Kudus, Jepara, dan Rembang pada akhir tahun 2005 yang merusakkan beberapa infrastruktur jalan dan jembatan. 2. Kejadian tanah longsor di Sijeruk Banjarnegara pada awal tahun 2006 dan angin rebut di Kabupaten. Boyolali, Karanganyar, Wonogiri, Banyumas, Pati, Sukoharjo, dan beberapa daerah lainnya dalam skala kecil mengakibatkan rusaknya perumahan penduduk, sekolah dan sarana pemerintahan lain. 3. Gempa bumi di Klaten dan sekitarnya serta gempa dan tsunami di pantai selatan Jawa, disamping mengkibatkan meninggalnya lebih dari 1.084 orang dari Jawa Tegah dan juga telah mengakibatkan kerugian yang mencapai hampir Rp.3,22 trilyun. Berbagai bencana yang timbul merupakan indikasi bahwa wilayah Jawa Tengah dapat dikategorikan sebagai daerah rawan bencana, biak disebabkan karena alam ataupun ulah manusia yaitu kecelakaan, pencemaran industri, dan kebakaran. Bencana yang terjadi di Provinsi Jawa Tengah dapat adalah sebagai berikut : Tabel 4.1. Frekuensi Bencana di Jawa Tengah No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Jenis Bencana Banjir Tanah longsor Angin topan Kebakaran Gempa bumi Gunung berapi Tsunami 2003 91 kali 69 kali 36 kali 38 kali 36.265.633 Frekuensi Kejadian/Tahun 2004 2005 2006 49 kali 40 kali 21 kali 34 kali 96.602.872 137 kali 67 kali 52 kali 91 kali 35.931.585 120 kali 109 kali 79 kali 120 kali 11 kali 3 kali 4 kali 137.437.340 2007 132 kali 129 kali 116 kali 108 kali 105.95.701

Taksir Kerugian (000)

Sumber : Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Akhir Masa Jabatan Gubernur Jawa Tengah tahun 2003-2008, hal 493

Tabel 4.2. Data Korban Manusia dan Kerusakan Rumah Tahun 2003 2004 Mati 25 88 Korban Manusia Luka berat Luka ringan 6 33 20 25 Roboh 248 215 Kerusakan Rumah Rusak berat Rusak ringan 631 337 1.233 2.161

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 288

2005 2006 2007 Jumlah

19 1.411 236 1.779

21 18.239 234 18.533

22 40 146 253

228 30.801 472 31.964

839 66.869 2.495 71.171

2.879 107.343 14.311 127.927

Sumber : Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Akhir Masa Jabatan Gubernur Jawa Tengah tahun 2003-2008, hal 493

Dari tabel diatas maka dapat dijelaskan bahwa diantara bencana tersebut yang paling menonjol adalah: 1. Tanah longsor di Desa Sijeruk Kabupaten. Banjarnegara pada tanggal 3 Januari 2006 mengakibatkan 76 orang meninggal, 86 rumah rusak berat, 1 unit masjid dan 4 lokal Madrasah Ibtidaiyah dan lokal sekolah TK rusak total 1,5 Ha lahan pemukiman dan 2Ha lahan pertanian tertimbun longsor. 2. Gempa bumi tanggal 27 Mei 2006 melanda Kabupaten. Bantul DIY dan sebagian wilayah Jawa Tengah meliputi Kabupaten. Boyolali, Sukoharjo, wonogiri, Karanganyar, Magelang, Purworejo, Temanggung, Kebumen dan Klaten yang merupakan wilayah paling parah. Dalam peristiwa tersebut 1.084 orang meninggal dunia (11 orang karena tetanus) dan 20.172 mengalami luka-luka (1.154 orang menjalani operasi). Sedangkan kerugian harta benda meliputi 99.730 rumah rusak berat (tidak layak huni) dan 104.111 rumah rusak ringan (layak huni). Fasilitas umum yang rusak meliputi 105 unit fasilitas kesehatan (puskesmas, pustu, dan PKD), 701 unit gedung sekolah, 325 buah pasar tradisional, 453 kantor, balaidesa dan kantor Kecamatan. 3. Gelombag tsunami yang diakibatkan gempa bumi di Samudera India dengan kekuatan 6,8 SR pada tanggal 17 Juli 2006 yang melanda Jawa Barat dan Jawa Tengah tepatnya di Kabupaten. Cilacap, Kebumen, dan Purworejo. Ketinggian gelombang laut mencapai 3 - 25 m yang menjangkau daratan sejauh 1 km dari bibir pantai, sehingga menimbulkan korban jiwa dan kerusakan alat tangkap nelayan serta Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Korban manusia sebanyak 116 orang meninggal dunia, 18 orang dinyatakan hilang dan 26 luka-luka. Sekitar 416 unit perahu nelayan hilang/rusak berat, 1.329 perahu rusak sedang dan ringan. Mesi perahu yang rusak tercatat 99 unit, alat tangkap akan dan jaringan rusak sebanyak 36.104 unit, 199 kios dan 5 unit TPI rusak. Permasalahan yang terdapat di Provinsi Jawa Tengah dalam hal penanganan bencana adalah sebagai berikut:

1. 2. 3.

Belum optimalnya kinerja aparat penanggulangan bencana dan masyarakat dalam penanganan kejadian bencana. Rendahnya kesadaran masyarakat yang bermukim didaerah rawan bencana. Belum optimalnya koordinasi dan keterpaduan dalam penanganan bencana.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 289

III. Sasaran yang Ingin Dicapai
Sasaran pemulihan yang ingin dicapai diwilayah pasca bencana di Provinsi Jawa Tengah adalah : 1. 2. 3. Pemulihan perumahan dan pemukiman masyarakat serta pemulihan sarana dan prasarana pendukungnya. Pemulihan sarana dan prasarana publik dengan sasaran prioritas pemulihan sarana pendidikan dan kesehatan, pelayanan sosial dan pendukung perekonomian. Revitalisasi perekonomian daerah dan masyarakat dengan sasaran prioritas untuk memulihkan sektor produksi dan jasa yang memiliki potensi lapangan kerja terbesar, pemulihan akses pasar bagi usaha kecil dan menengah, pemulihan pelayanan lembaga keungan dan perbankan,pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hisup untuk mengantisipasi eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan, pemulhhan pelayanan keamanan, ketertibandan perdilan, dan pemulihan ketahanan pangan masyarakat.

IV. Arah Kebijakan
Arah kebijakan yang ditetapkan sesuai RPJMN terkait aspek penanggulangan dan pengurangan resiko bencana adalah sebagai berikut :

1.

Mengembangan upaya mitigasi lingkungan laut dan pesisir, meinigkatkan keselamatan bekerja, dan meminilakan resiko terhadap bencana alam dilaut bagi masyarakt yang tinggal diwilayah pesisir dan pulai kecil.

2. Meningkatkan kapasitas lembaga pengelola lingkungan hidup baik ditingkat nasional maupun daerah.
Erutama dalam menangani permasalahan yang bersifatakumulasi, fenomena alam yang bersifat musiman, dan bencana.

3. Membangun kesadran masyarakat agar peduli pada isu lingkungan hidup dan berperan aktif sebagai
kontrol sosial dalma memantau kualitas linghkungan hidup.

4. Meningkatkan penyebaran data dan informasi lingkungan termasuk iinformasi wilayah rentan dan rawan
bancana lingkungan serta kewaspadaan dini terhadap bencana.

V. Pencapaian RPJMN di Daerah (2005-2007) 5.1. Upaya yang Dilakukan HIngga Tahun 2007
Upaya yang dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam penanganan/penanggulangan bencana adalah, meliputi : 1. Pra Bencana (sebelum terjadi bencana)

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 290

a. Memberikan informasi secara dini perubahan cuaca, ikim atau situasi tertentu yag patut diduga akan
mengakibatkan bencana termasuk sosialisasi peta rawan bencana.

b. Menyiapkan masyarakat untuk mengambil langkah-langkah pencegahan secara umum maupun
spesifik seperti penanaman pohon dan menghindari penebangan hutan secara liar.

c. Menginventarisasi potensi serta kemampuan aparat dan masyarakt dalam upaya pencegahan dan
penanggulangan bencana.

d. Menginventarisasi sekaligus menyiapkan bahan-bahan penanggulangan bencana seperti penyiapan
bantuan bahan pangan, sandang, obat-obatan, bahan banjran, alat beratdan lainya.

e. Memberitahukan kepada Bupati/Walikota mengambil langkah secar dini untuk menyiapkan
penangananbila terjadi bencana.

f.

Mengalokasikan dana APBD provinsi untuk penanganan bencana.

2. Saat terjadi bencana

a. Melakukan evakuasi korban bencana (penyelamatan jiwa dan dukungan moral). b. Memberikan obat bantuan untuk korban bencana seperti tempat penampungan, bahan makan,
sandang, obat-obatan dan sebagianya.

c. Melakukan perbaikan darurat atas infrastruktur yang mengalami kerusakan dan dapat mengganggu
aktivitas penduduk sehari-hari misalnya pembuatan jembatan darurat. 3. Pasca bencana a. Melakukan inventarisasi kerusakan, kerugian dan taksiran biaya kerugian dan biaya rehabilitasi dengan memilah-,ilah aspek kewenangan, kemampuan daerah dan situasi lain yag bersifat khusus. b. Melakukan rehabilitasi saraba, prasarana termasuk infrastruktur secara permanen. 4. Penanganan di lapangan a. Lapis I Bupati/Walikota/Satlak PB. Penanganan oleh Bupati/Walikota setempat dalam hal evakuasi penduduk ketempat yang lebih aman, penyiaoan kegiatan dapur umum dan posko PB, pemberian bantuan darurat dan pelayanan kesehatan, perbaikan saranadan prasrana. b. Lapis II Bakorlin. Badan koordinasi pembangunan Lintas kabupaten/kota (Bakorlin) setempat sebagi ujung tombak Gubernur Jawa Tengah dalam langkah awal atau darurat penanganan bencana antara lain memberikan bantuan awal pada data kejadian berupa uang yang besarnya sesuai garsi kebijakan GUbernur, bantuan bahan pangan serta mobilisasi peralatan yang diperlukan termasuk dari daerah lain yang tidak terkena bencana, banuan penannggulangan dan penanggulangan lainya apabila pemerintah kabupaten/kota tidak mampu menangani secara internal. c. Lapis III Gubernur/Satkorlak PB Provinsi. Untuk menangani bencana yang tidak dapat ditangani lapis pertama dan kedua, bantuan penanganan oleh satkorlak PB Provinsi Jawa Tengah untuk lingkup bencana yang memiliki skala dan kategori berat dan memerlukan bantuan pemerintah

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 291

Provinsi Jawa Tengah atau yang tidak mampu ditangani oleh pemerintah kabupaten/kota atau bakorlin. d. Lapis IV Bakornas PB. Apabila penanganan bencana membutuhkan biaya dan sarana prasaraan cukup besar dan tidak mampu ditangani secara sendiri oelh lapis pertama, lapis kedua dan ketiga maka penanganan bencan oleh Bakornas PB. e. Tahun 2003 penanggulangan dan penyaluran bantuan kepada korban bencana alam sebanyak 30 ton beras dan 1200 dos mie instant. Tahun 2004 penyelamatan, rehabilitasi dan pemberian bantuan kepada korban bencana alam berupa pemberian bantuan bahan makanan dalam bentuk beras sebanyak 50 ton (31,25 persen) dan tahun 2006 bantuan penyelamatan, rehabilitasi dan pemberian bantuan kepada korban bencana alam sebanyak 60 ton (37,50 persen). f. Tahun 2003 bantuan sarana UEP untuk korban bencana alam sebanyak 346 KK, sebanyak tahun 2004 pemberian bantuan dalam bentuk modal UEP diberikan kepada 650 KK (32,83 persen) dan tahun 2005 diberikan bantuan serupa sebanyak 650 KK (32,83 persen) dan tahun 2006 bantuan yang sama diberikan kepada 680 KK (34,34 persen). g. Tahun 2004 pelayanan kepada masyarakat yang terkena musibah/bencana sebanyak 4.400 orang (29,73 persen), tahun 2005 pelayanan yang sama diberikan kepada 4.900 orang (33,11 persen) dan tahun 2006 pelayanan diberikan kepada 5.500 orang (37,16 persen). h. Tahun 2004 penyelamatan, rehabilitasi dan pembagian bantuan kepada korban bencana alam sebanyak 1800 orang (30 persen), tahun 2005 bantuan juga diberikan kepada 2.000 orang (33,33 persen) terdapat peningkatan 3,33 persen dari tahun 2004 dan pada tahun 2006 penyelamatan, rehabilitasi dan pembagian bantuan kepada korban bencana alam sebanyak 2200 orang (36,37 persen) meningkat sebanyak 3,04 persen dari tahun sebelumnya.

5.2. Posisi Capaian hingga tahun 2007
Selama tahun 2004-2006 kegiatan yang dilakukan dalam bentuk penyelamatan, rehabilitasi kepada korban/korban bencana alam berupa pemberian beras, mie instant dan modal UEP telah dapar direalisasikan (100 persen) dari target yang ingin dicapai. Kegiatan berupa bantuan seperti beras, mie instant dan modal UEP perlu juga disurvai untuk mengetahui kebutuhan yang dibutuhkan selain bantuan makanan, misalnya obat-obatan, pakaian pantas pakai dan memberikan pendidikan gratis bagi anak-anak korban bencana alam. Pemberian bantuan berupa pelayanan kepada masyarakat yang terkena musibah/bencana dan penyelamatan, rehabilitasi dan pembagian bantuan kepada korban bencana alam mengalami peningkatan setiap tahun, dan dapat direalisasikan sesuai target yang diharapkan.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 292

5.3. Permasalahan Pencapaian Sasaran
Belum adanya survei untuk mengetahui kebutuhan lain selain bahan makanan yang dibutuhkan korban bencana alam.

VI. Tindak Lanjut
Upaya yang dilakukan untuk mencapai sasaran penanggulangan bencana di Jawa Tengah adalah:

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Meningkatkan kemampuan aparat penanggulangan bencana dan masyarakat dalam penanganan bencana. Menigkatkan koordinasi antar instansi terkait dalam penanganan bencana. Meningkatkan penyelenggaran pelatihan dan rapat koordinasi aparat penanggulangan bencana. Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan dan waspada terhadap ancaman bencana. Memberikan bantuan tanggap darurat Pemberian santunan Memulihkan dampak psikologis/trauma korban Memulihkan kehidupan perekonomian masyarakat Rehabilitasi dan rekonstruksi.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 293

BAGIAN 5 ISU-ISU STRATEGIS DI PROVINSI JAWA TENGAH

BAB 5
Isu-Isu Strategis di Provinsi Jawa Tengah

Dari paparan terdahulu dapat disimpulkan beberapa isu strategis yang masih dihadapi oleh Provinsi Jawa Tengah, yaitu : 1. Masih banyaknya penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan 2. Masih tingginya pengangguran 3. Masih rendahnya kualitas dan akses memperoleh pelayanan kesehatan dasar dan pendidikan 4. Kecenderungan meningkatnya penyakit menular seperti flu burung, HIV/AIDS dan demam berdarah serta adanya kasus gizi kurang/buruk. 5. Masih rendahnya penerapan hukum dan penegakan hukum secara konsisten 6. Masih dijumpai adanya potensi konflik sosial di beberapa wilayah 7. Masih tinggi potensi terjadinya bencana alam di beberapa daerah 8. Kondisi dan struktur perekonomian daerah yang belum mampu secara optimal mendorong pertumbuhan ekonomi. 9. Belum optimalnya kualitas pelayanan publik, perwujudan spremasi hukum dan perlindungan hukum termasuk bagi perempuan dan anak. 10. Belum optimalnya kondisi infrastruktur dalam mendukung perekonomian wilayah 11. Masih adanya kesenjanga antar wilayah/daerah.

294

BAGIAN 6 PENUTUP

BAB 6
Penutup

Laporan ini ditutup dengan ringkasan yang berkaitan dengan sasaran yang dicapai dalam RPJMN 2004-2009 dan apa yang telah diupayakan berhasil dicapai. Secara rinci perbandingan tersebut bisa dilihat pada bagian 2 sampai bagian 4 untuk masing-masing agenda. Agenda pembangunan yang pertama adalah mewujudkan Indonesia yang aman dan damai yang memiliki tiga sasaran. Jika dilihat dari ketiga sasaran yang ingin dicapai di Provinsi Jawa Tengah, maka secara umum menuju tahap yang lebih baik dalam bidang keamanan dan ketertiban, penanganan dan penanggulangan konflik, serta pemantapan kerjasama dengan luar negeri meskipun masih terdapat beberapa hal yang perlu ditindaklanjuti oleh pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Sasaran pertama adalah meningkatnya rasa aman dan damai. Sasaran ini tercermin dari situasi dan kondisi wilayah Jawa Tengah relatif stabil dan dinamis, meskipun demikian tidak boleh mengabaikan adanya situasi yang terjadi dalam skala nasional. Karena pada dasarnya pekembangan situasi yang terjadi di daerah lebih dipengaruhi oleh gesekan politik ditingkat nasional yang berdampak pada situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di daerah. Gangguan keamanan secara umum masih dalam tingkat terkendali, meskipun demikian terdapat perkembangan variasi kejahatan dan aktualisasi konflik horisontal serta peningkatan indeks kriminalitas di sekitar wilayah konflik yang meresahkan dan berakibat pada pudarnya rasa aman masyarakat. Sasaran kedua adalah semakin kokohnya NKRI berdasarkan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika. Sasaran ini tercermin dari belum berfungsinya deteksi dini dan pencegahan awal konflik di daerah Provinsi Jawa Tengah. Terbukti pada tahun 2005 terdapat kasus unjuk rasa 534 kali, yaitu unjuk rasa mengenai masalah politik 209 kali, masalah ekonomi 147 kali, masalah sosial budaya 80 kali, pendidikan 14 kali, dan kamtibmas 24 kali. Skala konflik yang telah membesar menyulitkan penanganan konflik sehingga membutuhkan penanganan dalam waktu yang lama. Aksi-aksi konflik yang membesar tersebut adalah salah satu bukti kelambatan antisipasi dan minimnya upaya pencegahan serta penanganan awal potensi konflik. Sasaran ketiga dari agenda mewujudkan Indonesia yang aman dan damai adalah semakin berperannya Indonesia dalam menciptakan perdamaian dunia. Stabilitas dan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah tidak

295

dapat dilepaskan dari pengaruh lingkungan global. Era globalisasi yang dipacu oleh perubahan-perubahan teknologi terutama dibidang komunikasi dan transportasi ternyata membuat dunia semakin sempit. Kemudahan-kemudahan teknologi transportasi dan komunikasi tersebut telah mengakibatkan semakin intensifnya transaksi-transaksi para pelaku ekonomi antar negara. Kemudahan-kemudahan ini merupakan peluang bagi Jawa Tengah untuk memperluas pasar, melakukan kerjasama investasi, membangun jaringan kerjasama yang lebih luas dengan masyarakat internasional, sehingga akan meningkatkan kapasitas Jawa Tengah. Sistem pasar bebas yang dianut oleh sebagian besar negara dunia, dan sistem pemerintahaan Daerah berdasarkan UU No 22 Tahun 1999, lebih memberikan peluang pada Provinsi Jawa Tengah untuk melakukan kerjasama langsung antar Provinsi di Luar Negeri, maupun antara Provinsi Jawa Tengah dengan dunia bisnis dari luar negeri. Dengan kerjasama-kerjasama yang berskala internasional tersebut diharapkan akses pasar dari pengusaha-pengusaha Jawa Tengah menjadi semakin luas. Dengan munculnya AFTA dan semakin berkembangnya ekonomi China, Korea Selatan dan Vietnam, maka akan lebih terbuka kemungkinan untuk membangun aliansi yang saling menguntungkan dengan daerah-daerah di negara-negara tersebut. Perjanjian-perjanjian imbal beli dengan Provinsi dari negara-negara tetangga tersebut akan semakin terbuka. Demikian juga pertukaran tenaga ahli, pertukaran teknologi antar Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi di negara - negara tetangga akan memberikan dampak sinergi positif bagi perkembangan Jawa Tengah. Tetapi Kecenderungan-kecenderungan global yang mengarah pada pasar bebas lebih banyak menguntungkan negara-negara maju dan merugikan negara-negara yang sedang berkembang, termasuk Indonesia. Jawa Tengah sebagai salah satu bagian dari negara Republik Indonesia juga lebih banyak memperoleh dampak negatif dari perdagangan yang cenderung bebas tersebut. Minimnya proteksi ekonomi bagi produk-produk domestik, telah menyebabkan membanjirnya produk-produk luar negeri ke Indonesia. Demikian juga di pasar faktor, dengan semakin longgarnya campur tangan Pemerintah maka telah banyak tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia. Mereka ternyata telah menjadi pesaing-pesaing yang tangguh bagi tenaga kerja Jawa Tengah. Agenda kedua mewujudkan Indonesia yang adil dan demokratis, mencakup lima sasaran pokok. Saat ini dalam pelaksanaan Hak Asasi Manusia (HAM) masih terus dilakukan dalam rangka mewujudkan rasa keadilan dan kebenaran dalam tatanan kehidupan masyarakat. Tindakan diskriminasi yang terjadi masih memerlukan berbagai langkah untuk menekan tindakan diskriminasi yang terjadi harus segera diwujudkan pemerintah. Dalam bidang kesejahteraan anak dan perempuan belum sepenuhnya mampu meningkatkan kesejahteraan dan perlindungan. Tetapi dilain sisi perubahan sangat signifikan terjadi dalam bidang penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di daerah. Selain itu ketersediaan sarana prasarana pemerintahan masih belum optimal dalam mendukung pelaksanaan tugas pokok dan fungsi aparatur pemerintah di daerah. Dalam hal pemilihan umum perlu diadakannya peningkatan pembelajaran politik terhadap masyarakat.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 296

Sasaran pertama adalah adalah meningkatkan keadilan dan penegakan hukum. Sasaran ini tercermin dari upaya-upaya penegakan supremasi hukum dan penghormatan terhadap hak asasi manusia (HAM) yang masih terus dilakukan dalam rangka mewujudkan rasa keadilan dan kebenaran dalam tatanan kehidupan masyarakat. Sementara itu penyusunan produk-produk hukum daerah Provinsi Jawa Tengah sebagai bagian dari sistem hukum nasional, dirasakan masih banyak yang belum sesuai dengan tingkat kebutuhan pembangunan dan belum seluruhnya mencerminkan aspirasi masyarakat yang berkembang. Penegakan hukum dan Hak Asai Manusia (HAM) belum optimal. Hal ini dapat dilihat masih meningkatnya kasus hukum dan pelanggaran HAM di Jawa Tengah dalam dekade tiga tahun terakhir. Kasus pelanggaran hukum dan HAM yang terjadi antara lain: Kasus korupsi ndi tingkat provinsi dan kab/kota, pelanggaran Ham, serta ekploitasi komersial anak. Banyaknya pelanggaran HAM menandakan kurang optimalnya produk hukum yang berlaku dan kurangnya pemahaman dan partisipasi masyarakat dan penegakn hukum dan HAM yang berlaku. Dalam dekade tiga tahun ini di Jawa Tengah masih banyak terjadi tindakan diskriminasi antara lain: Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), kasus balita terlantar, anak terlantar, kekerasan psikis, pekerja anak dan ekspoitasi seksual, perkosaan, pencabulan dan perdagangan manusia. Berbagai tindakan diskriminasi yang terjadi berbagai langkah untuk menekan tindakan diskriminasi yang terjadi harus segera diwujudkan pemerintah. Sasaran kedua adalah terjaminnya keadilan gender bagi peningkatan peran perempuan dalam berbagai bidang pembangunan. Sasaran ini tercermin dari ketiadakberdayaan perempuan, anak dan remaja yang terjadi di Provinsi Jawa Tengah hingga 2007 meliputi kemiskinan, pendidikan, ketenagakerjaan, kesehatan, kekerasan terhadap perempuan dan ketidakberdayaan anak dan remaja. Sementara itu, kegiatan penanggulangan kemiskinan belum sepenuhnya mengintegrasikan pespektif gender (aspirasi, masalah, pengalaman, dan kebutuhan perempuan) ke dalamnya. Upaya pemerintah yang telah dilakukan selama ini belum sepenuhnya mampu meningkatkan kesejahteraan dan perlindungan anak. Di bidang pendidikan angka partisipasi sekolah (APS), dan angka putus sekolah masih tinggi. Rendahnya perlindungan terhadap anak, menempatkan posisi anak dan remaja menjadi korban eksploitasi ekonomi dan seksualitas. Anak juga sangat rentan terhadap tindakan diskriminasi hanya karena ketidakjelasan status dan identitasnya sebagai akibat makin meningkatnya anak yang lahir diluar nikah dan nikah siri sehingga kesulitan untuk mendapatkan akte kelahiran. Sedangkan pada tahun 2007 terdapat kasus perkosaan, kasus trafking, kasus buruh migran dan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KRDT). Kasus yang sesungguhnya terjadi lebih sedikit, mengingat kasus kekerasan terhadap perempuan sulit diungkapkan dan dilaporkan kepada yang berwajib, serta anggapan masalah KDRT adalah masalah pribadi. Sasaran ketiga adalah meningkatnya pelayanan kepada masyarakat. Sasaran ini tercermin dari kebijakan pelaksanaan otonomi daerah yang diijalankan sejak tahun 2001, telah membawa perubahan sangat signifikan

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 297

dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di daerah. Namun demikian, masih diperlukan peningkatan efektifitas pelaksanaannya bagi percepatan pembangunan dan kemandirian daerah. Pelaksanaan kewenangan di Jawa Tengah dilakukan melalui penigkatan kinerja/kapasitas aparatur pemerintah daerah yaitu dengan berbagai kebijakan dan penyiapan organisasi pemerintah daerah yang memadai. Untuk merespon peraturan tersebut Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melakukan penyesuasian dengan menerbitkan Perda Nomor 8 tahun 2001, dan diikuti pula penerbitan Perda No 4 tahun 2006. Sasaran keempat adalah meningkatnya pelayanan birokrasi kepada masyarakat. Sasaran ini tercermin dari langkah-langkah strategis seperti: penataan kelembagaan dan sistem ketatalaksanaan; peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang didukung sistem renumerasi yang layak untuk memenuhi kebutuhan hidup minimal serta terlaksananya sistem pengawasan dan pengendalian pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan yang efektif dan efisien. Selain itu tuntutan masyarakat akan profesionalisme kinerja lembaga dan aparatur pemerintah daerah semakin besar dalam rangka mewujudkan transparansi dan akuntabilitas birokrasi pemerintahan serta pembangunan yang partisipatif, tetapi disisi lain ketersediaan sarana prasarana pemerintahan masih belum optimal dalam mendukung pelaksanaan tugas pokok dan fungsi aparatur pemerintah di daerah. Sasaran kelima adalah terlaksananya pemilihan umum tahun 2009 secara demokratis, jujur, dan adil. Sasaran ini tercermin dari kegiatan demokrasi masyarakat Jawa Tengah yang dilihat dari hasil Pemilu 2004 dimana melibatkan berbagai LSM dan Parpol Peserta Pemilu. Selain itu, partisipasi masyarakat cukup meningkat dengan jumlah suara yang memilih baik di tingkat provinsi maupun kab/kota dibandingkan dengan jumlah penduduk. Selain itu, suasana pelaksanaan Pemilu yang aman di banding tahun 1999 terjadinya konflik antar Parpol di Surakarta. Namun, tuntutan masyarakat akan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden langsung yang demokratis perlu diperhatikan serta perlu diadakannya peningkatan pembelajaran politik terhadap masyarakat. Agenda terakhir adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Memiliki enam sasaran dengan penjabaran masing-masing berupa prioritas dan program. Pada agenda ini masih terdapat beberapa masalah seperti menurunkan penduduk miskin belum jelas terlihat dalam pelaksanaan renstra, untuk itu program pengentasan kemiskinan perlu dilakukan secara serius dan nyata. Masih tingginya angka penggangguran terbuka, ketimpangan wilayah menjadi masalah yang penting dan harus diatasi serta diharapkan menjadi pusat pertumbuhan yang memberi dampak positif bagi wilayah-wilayah sekitarnya. Sedangkan kondisi pelayanan dan penyediaan infrastruktur masih mengalami penurunan baik kuantitas maupun kualitasnya.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 298

Sasaran pertama adalah menurunnya jumlah penduduk miskin pada tahun 2009, terciptanya lapangan kerja yang mampu mengurangi pengangguran terbuka pada tahun 2009 dengan didukung oleh stabilitas ekonomi yang tetap terjaga. Sasaran ini tercermin dari upaya nyata yang mengarah pada usaha menurunkan penduduk miskin belum jelas terlihat dalam pelaksanaan renstra. Untuk itu program pengentasan kemiskinan perlu dilakukan secara serius dan nyata. Jumlah penduduk miskin di Jawa Tengah pada tahun 2005 berjumlah 10.834.392 jiwa dan pada tahun 2006 meningkat menjadi 12,68 juta jiwa. Keterbatasan kesempatan kerja ditunjukan oleh jumlah penggangguran terbuka yang mencapai 1,44 juta jiwa pada tahun 2007 di Provinsi Jawa Tengah, berbeda pada tahun 2006 terdapat 1.109.576 orang pengganguran. Terbatasnya kesempatan kerja ini, selain menyebabkan tingginya angka penggangguran terbuka, juga mendorong banyak masyarakat bekerja pada lapangan kerja yang kurang produktif. Sasaran Kedua adalah berkurangnya kesenjangan antar Wilayah. Ketimpangan pembangunan antar wilayah di Jawa Tengah dapat dilihat dari berbagai aspek. Sasaran ini tercermin dari secara umum hal ini merujuk pada perbedaan tingkat kesejahteraan dan perkembangan ekonomi. Untuk menguranginya, upaya percepatan pembangunan wilayah relatif tinggal sudah dilakukan, namun hasilnya belum sepenuhnya dapat dinikmati oleh masyarakat. Oleh karena itu ketimpangan menjadi masalah yang penting dan harus diatasi. Kebijakan untuk mengatasi ketimpangan pembangunan antar daerah diarahkan pada beberapa aspek yang salah satunya pengembangan wilayah-wilayah strategis. Diharapkan menjadi pusat pertumbuhan yang memberi dampak positif bagi wilayah-wilayah sekitarnya. Sasaran ketiga yaitu meningkatnya kualitas manusia yang secara menyeluruh. Sasaran ini tercermin dari pembangunan bidang pendidikan Provinsi Jawa Tengah dalam kerangka pembangunan bidang pendidikan daerah dan nasional, terus diarahkan untuk mewujudkan masyarakat Jawa Tengah yang cerdas, produktif, dan berakhlak mulia melalui upaya pengembangan dan penyesuaian pendidikan dengan tuntutan perkembangan IPTEK dan kebutuhan pasar kerja. Sejalan dengan komitmen kondisi Jawa Tengah tahun 2008 akan merealisasikan anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBD sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945. Peningkatan derajat kesehatan masyarakat menunjukkan adanya perbaikan yang cukup berarti. Hal ini ditandai dengan peningkatan usia harapan hidup waktu lahir dari 69,7 tahun pada tahun 2005, 70,8 tahun pada tahun 2006 menjadi 71,1 tahun pada tahun 2007. Tetapi gizi buruk mengalami kenaikan yakni pada tahun 2005, terdapat sekitar 1,03 persen anak yang menderita gizi buruk meningkat menjadi 2,10 persen pada tahun 2006 atau sekitar 9.163 balita menderita gizi buruk. Sedangkan prevelansi gizi kurang pada tahun 2005 terdapat 9,87 persen orang, pada tahun 2006 terdapat 10,51 persen. Dalam rangka mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut guna kesinambungan pelaksanaan program dan kegiatan pelayanan bagi masyarakat, serta lebih meningkatkan perlindungan dan kesejahteraan sosial langkah kebijakan yang telah dilakukan selama ini perlu terus dilanjutkan. Pembangunan kesejahteraan sosial

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 299

kedepan lebih diperkuat dengan mengedepankan peran aktif masyarakat, diikuti dengan penggalian dan pengembangan nilai-nilai sosial budaya, seperti kesetiakawanan sosial dan gotong royong. Sasaran keempat adalah membaiknya mutu lingkungan hidup dan pengelolaan sumber daya alam yang mengarah pada pengarusutamaan (mainstreaming) prinsip pembangunan berkelanjutan di seluruh sektor dan bidang pembangunan. Sasaran ini tercermin dari sumber daya alam di Jawa Tengah dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dengan tetap memperhatikan kelestarian fungsi lingkungan hidupnya. Dengan demikian sumber daya alam memiliki peran ganda, yaitu sebagai modal pertumbuhan ekonomi (resource based economy) dan sekaligus sebagai penopang sistem kehidupan (life support system). Hingga saat ini, sumber daya alam sangat berperan sebagai tulang punggung perekonomian daerah, dan masih akan diandalkan dalam pembangunan jangka menengah. Sumber daya alam senantiasa harus dikelola secara seimbang untuk menjamin keberlanjutan pembangunan daerah. Penerapan prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development) di seluruh sektor dan wilayah menjadi prasyarat utama untuk diinternalisasikan ke dalam kebijakan dan peraturan perundangan, terutama dalam mendorong investasi pembangunan jangka menengah (2004-2009). Sasaran kelima adalah membaiknya infrastruktur yang ditunjukkan oleh meningkatnya kuantitas dan kualitas berbagai sarana penunjang pembangunan. Sasaran ini tercermin dari kondisi pelayanan dan penyediaan infrastruktur yang meliputi transportasi, ketenagalistrikan, energi, pos, telekomunikasi dan informatika, dan sumberdaya air di daerah Provinsi Jawa Tengah mengalami penurunan baik kuantitas maupun kualitasnya. Rehabilitasi dan pembangunan kembali berbagai infrastruktur yang rusak, serta peningkatan kapasitas dan fasilitas baru akan menyerap biaya yang sangat besar sehingga tidak dapat dipikul oleh pemerintah sendiri. Untuk itu, mencari solusi inovatif guna menanggulangi masalah perawatan dan perbaikan infrastruktur yang rusak merupakan masalah yang mendesak untuk diselelesaikan. Sasaran keenam adalah pemulihan wilayah pasca bencana di Provinsi Jawa Tengah. Sasaran ini diprioritaskan mengingat geologi Provinsi Jateng terletak dipertemuan tiga lempeng bumi yaitu lempeng Eurasia, lempeng Pasifik, dan lempeng Indiaustralia yang dalam pertemuan tersebut sering menimbulkan pergeseran sehingga mengakibatkan gempa bumi, dan apabila gempa tersebut berkekuatan 6,5 skala richter dan kejadiannya ditengah laut akan menimbulkan tsunami. Selama tahun 2004-2006 kegiatan yang dilakukan dalam bentuk penyelamatan, rehabilitasi kepada korban/korban bencana alam berupa pemberian beras, mie instant dan modal UEP telah dapar direalisasikan (100 persen) dari target yang ingin dicapai. Kegiatan berupa bantuan seperti beras, mie instant dan modal UEP perlu juga disurvai untuk mengetahui kebutuhan yang dibutuhkan selain bantuan makanan, misalnya obat-obatan, pakaian pantas pakai dan memberikan pendidikan gratis bagi anak-anak korban bencana alam. Pemberian bantuan berupa pelayanan kepada

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 300

masyarakat yang terkena musibah/bencana dan penyelamatan, rehabilitasi dan pembagian bantuan kepada korban bencana alam mengalami peningkatan setiap tahun, dan dapat direalisasikan sesuai target yang diharapkan.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 301

SUMBER DATA

SUMBER DATA

Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah No.6 tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tahun 2005. Nota Pertanggungjawaban Pelaksanaan Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi Jawa Tengah tahun 2005. Jawa Tengah dalam Angka 2005. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Tengah 2005. Peraturan Gubernur Jawa Tengah No. 48 tahun 2005 tentang Rencana Kerja Pemerintah Daerah/RKPD Provinsi Jawa Tengah tahun 2006. Jawa Tengah dalan Angka 2006 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Tengah 2006. Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Gubernur Jawa Tengah Akhir Tahun Anggaran 2006. (Buku II 2007). Jawa Tengah dalam Angka 2007 Matrik Evaluasi Rencana Strategis/Renstra Provinsi Jawa Tengah tahun 2003-2008. Peraturan Gubernur Jawa Tengah No. 36 tahun 2007 tentang Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Tengah tahun 2008. Ringkasan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Akhir Masa Jabatan Gubernur Jawa Tengah 20032008. (Buku I). Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Akhir Masa Jabatan Gubernur Jawa Tengah Tahun 2003-2008. Ringkasan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Gubernur Jawa Tengah Akhir Tahun Anggaran 2007. Buku I 2008. Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Gubernur Jawa Tengah Akhir Tahun Anggaran 2007. Buku II 2008. Sistim Informasi Profil Daerah (SIPD) Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008. Lampiran 8 Kelompok Data Sistem Informasi Profil Daerah (SIPD) Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 11 Tahun 2003 tentang Rencana Strategis (Renstra) Provinsi Jawa Tengah Tahun 2003-2008. Rancangan Awal Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008. Evaluasi Renstra Provinsi Jawa Tengah tahun 2003-2008.

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJM-N 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah - 302


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags: Evaluasi, RPJMN
Stats:
views:27923
posted:1/28/2009
language:Indonesian
pages:312
Description: Evaluasi 3 Tahun RPJMN 2004-2009 di Provinsi Jawa Tengah