Provinsi DI Yogyakarta by EKPD

VIEWS: 29,269 PAGES: 291

More Info
									KATA PENGANTAR

Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, Tim EKPD MAP UGM akhirnya dapat menyelesaikan Laporan Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta berdasarkan RPJMN 2004 – 2009. Evaluasi kinerja pembangunan merupakan instrumen penting di dalam proses pembangunan, sebab dengan evaluasi maka kita dapat mengetahui apakah berbagai perencanaan pembangunan dapat mencapai sasaran dan mampu mewujudkan berbagai tujuan yang telah ditetapkan di dalam dokumen perencanaan atau tidak. Lebih daripada itu, di dalam konteks kepentingan Nasional yang lebih luas, evaluasi kinerja pembangunan daerah memiliki posisi strategis karena dapat digunakan sebagai mekanisme kontrol untuk menyakinkan para pemangku kepentingan apakah perencanaan pembangunan pada level nasional menjadi acuan atau dapat diterjemahkan oleh para perencana di daerah, baik pada level provinsi maupun kabupaten/kota. Kegiatan evaluasi ini merupakan kerjasama antara Tim Independent dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS). Adapun tujuan dari Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah (EKPD) Tahun 2008 ini antara lain dimaksudkan untuk menyediakan berbagai data dan informasi yang akurat dan objektif tentang: upaya, capaian dan permasalahan pelaksanaan RPJMN Tahun 2004 – 2009 di daerah. Selain itu, evaluasi juga bertujuan untuk mengidentifikasi ada tidaknya: sinkronisasi arah dan tujuan pembangunan daerah dengan pembangunan nasional; teridentifikasinya isu strategis daerah serta tersusunnya berbagai rekomendasi tindak lanjut dalam perumusan kebijakan. Untuk dapat mencapai tujuan evaluasi sebagaimana disebutkan di depan, Tim EKPD MAP UGM telah melakukan konsolidasi anggota tim, rapat-rapat pembahasan, diskusi internal peneliti, dan koordinasi dengan Bappeda Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan SPKD lainnya. Kegiatan lain yang dilakukan adalah Focussed Group Discussion (FGD) untuk mendapatkan informasi kemajuan dan capaian-capaian pembangunan dari SKPD dan pemangku kepentingan yang terkait. FGD ini melibatkan para pejabat SKPD yang terdiri dari Bappeda, Badan Statistik, Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Dinas Pemukiman dan Prasarana Wilayah, Dinas Lingkungan, serta Dinas Pertanian. Sesuai dengan tujuan dari kegiatan ini, maka Laporan EKPD Tahun 2008 berisikan tentang penjelasan sasaran pembangunan yang tertuang dalam RPJMN 2004 – 2009, capaian kinerja pelaksanaannya dan isu- isu stretegis yang ada di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Laporan EKPD ini memuat antara lain Sasaran Pembangunan dalam RPJMN, Indikator Kinerja Pembangunan Daerah, Upaya, Capaian Kinerja, Permasalahan dan Rekomendasi Tindak Lanjut. i

Dengan selesainya penulisan laporan ini, Tim Independen UGM mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu proses pengumpulan data, analisis hingga penulisannya. Terima kasih secara khusus ingin kami sampaikan kepada: Pemerintah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang telah memberikan akses terhadap pengumpulan berbagai data yang diperlukan dalam evaluasi ini; PSKK UGM yang memberikan akses terhadap berbagai hasil penelitian mereka, dan BAPPENAS sebagai penyedia dana dan dukungan teknis yang lain sehingga laporan ini dapat diselesaikan. Terima kasih tak lupa juga kami sampaikan kepada para asisten peneliti: Purna, Ningsih, Ade dan Agus yang telah bekerja keras untuk membantu data collecting. Akhirnya tidak ada gading yang tak retak, Tim EKPD MAP-UGM berharap mendapatkan masukan, saran dan kritik guna melakukan perbaikan-perbaikan sehingga tugas untuk melakukan evaluasi di masa mendatang dapat dilakukan dengan lebih baik lagi.

Yogyakarta, 16 Desember 2008 Tim Independent EKPD Tahun 2008 Universitas Gadjah Mada

1. Dr. Agus Pramusinto (Koordinator) 2. Dr. Erwan Agus Purwanto 3. Dr. Wahyudi Kumorotomo 4. Dr. M. Baiquni 5. Dr. Nunuk Dwi Retnandari 6. Drs. Setiadi, M.Si.

ii

Daftar Isi

Kata Pengantar.............................................................................................................................................. Daftar Isi........................................................................................................................................................ Daftar Tabel................................................................................................................................................... Bagian I Pendahuluan................................................................................................................................... Bagian 2 Agenda Mewujudkan Indonesia yang Aman dan Damai............................................................... Bab 2.1. Pengantar Agenda Mewujudkan Indonesia Aman dan Damai......................................... Bab 2.2. Peningkatan Saling Percaya............................................................................................ Bab 2.3. Pengembangan Kebudayaan yang Berlandaskan pada Nilai-Nilai Luhur....................... Bab 2.4. Peningkatan Keamanan, Ketertiban dan penanggulangan Kriminalitas.......................... Bab 2.5. Pencegahan dan Penanggulangan Separatisme............................................................ Bab 2.6. Pencegahan dan Penanggulangan Gerakan Terorisme.................................................. Bab 2.7. Peningkatan Kemampuan Pertahanan Negara............................................................... Bab 2.8. PEmantapan Politik Luar Negeri dan Peningkatan Kerjasama Internasional..................

i iii v 1 4 4 4 8 16 21 21 24 24

Bagian 3 Agenda Mewujudkan Indonesia yang Adil dan Demokratis.......................................................... Bab 3.1. Pengantar Agenda Mewujudkan Indonesia yang Adil dan Demokratis........................... Bab 3.2. Pembenahan Sistem Hukum Nasional dan Politik Hukum.............................................. Bab 3.3. Penghapusan Diskriminasi dalam Berbagai Bentuk....................................................... Bab 3.4. Penghormatan, Pemenuhan dan Penegakan Atas Hukum dan Pengakuan Atas HAM. Bab 3.5. Peningkatan Kualitas Kehidupan dan Peran Perempuan Serta Kesejahteraan dan Perlindungan Anak.......................................................................................................... Bab 3.6. Revitalisasi Proses Desentralisasi dan Otonomi Daerah................................................ Bab 3.7. Pencapaian Tata Pemerintahan Yang Bersih dan Berwibawa....................................... Bab 3.8. Perwujudan Lembaga Demokrasi Yang Makin Kokoh....................................................

25 25 25 29 32

33 40 55 64

iii

Bagian 4 Agenda Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat............................................................................. Bab 4.1. Pengantar Agenda Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat.............................................. Bab 4.2. Penanggulangan Kemiskinan......................................................................................... Bab 4.3. Peningkatan Investasi dan Ekspor Non Migas............................................................... Bab 4.4. Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur ................................................................ Bab 4.5. Revitalisasi Pertanian..................................................................................................... Bab 4.6. Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah................................. Bab 4.7. Peningkatan Pengelolaan BUMN................................................................................... Bab 4.8. Peningkatan Kemampuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi........................................ Bab 4.9. Perbaikan Iklim Tenaga Kerja........................................................................................ Bab 4.10. Pemantapan Stabilitas Ekonomi Makro....................................................................... Bab 4.11. Penanggulangan Perdesaan....................................................................................... Bab 4.12. Pengurangan Ketimpangan Wilayah........................................................................... Bab 4.13. Peningkatan Akses Masyarakat Terhadap Pendidikan Yang Berkualitas...................

70 70 73 82 92 97 112 120 120 123 129 137 141 143

Bab 4.14. Peningkatan Akses Masyarakat Terhadap Layanan Kesehatan Yang Lebih Berkualitas 163 Bab 4.15. Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Sosial................................................ Bab 4.16. Pembangunan Kependudukan, Keluarga Kecil Berkualitas dan Pemuda dan Olahraga Bab 4.17. Peningkatan Kualitas Kehidupan Beragama .............................................................. Bab 4.18. Perbaikan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Pelestarian Mutu Lingkungan Hidup Bab 4.19. Percepatan Pembangunan Infrastruktur...................................................................... Bab 4.20. Penanganan dan Pengurangan Resiko Bencana……………………………………….. 186 198 207 210 222 225

Bagian 5 Isu-Isu Strategis di Daerah.......................................................................................................... Bagian 6 Penutup.......................................................................................................................................

233 266

iv

Daftar Tabel

Tabel II.1. Gangguan Ketentraman dan Ketertiban di Provinsi DIY Tahun 2006…………………………… Tabel II.2. Upaya Pemerintah Provinsi DIY dalam Bidang Ketertiban dan Ketentraman………………….. Tabel II.3. Kasus Curanmor dan Penyalahgunaan Narkoba di DIY…………………………………………..

17 20 20

Tabel III.1. Data Kasus Kekerasan terhadap Perempuan (Rifka Anisa Tahun 2000-2003)....................... Tabel III.2. Data Anggota DPRD Provinsi/Kabupaten/Kota........................................................................ Tabel III.3. Jumlah Personil yang Telah Diserahkan Sampai dengan Tahun 2006………………………… Tabel III.4. Jumlah Kerjasama Pemerintah Provinsi DIY Tahun 2004-2007.............................................. Tabel III.5. Jenis Kerjasama Luar Negeri Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta………………………….. Tabel III.6. Jumlah PNS Berdasarkan Jabatan………………………………………………………………….

33 38 48 49 50 52

Tabel IV.1. Ketersediaan Layanan Kesehatan Provinsi DIY...................................................................... Tabel IV.2. Penduduk Peserta Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Per Kabupaten/Kota,Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2006………………………………………………………………..... Tabel IV.3. Anggaran Kesehatan Kabupaten/Kota Provinsi DIY Tahun 2006........................................... Tabel IV.4. Realisasi Penanaman Modal di DIY Tahun 2003-2004 (Rp Juta)........................................... Tabel IV.5. Ekspor DIY Berdasar Komoditas tahun 2004 (Rp juta)........................................................... Tabel IV. 6. Indikator Peristiwa Daerah Istimewa Yogyakarta................................................................... Tabel IV.7. Pertumbuhan Realisasi Penanaman Modal dalam Negeri menurut Sektor............................ Tabel IV.8. Pertumbuhan Realisasi Penanaman Modal Asing menurut Sektor......................................... Tabel IV.9. Pertumbuhan Eksopr Berdasar Komoditas tahun 2004-2007................................................. Tabel IV.10. Pertumbuhan Indikator Pariwisata DIY tahun 2004-2007..................................................... Tabel IV.11. Produktivitas Padi Sawah..................................................................................................... Tabel IV.12. Produktivitas Padi Ladang....................................................................................................

74

75 76 83 84 85 87 88 89 90 109 109

v

Tabel IV.13 Pencapaian Revitalisasi Pertanian, Perikanan, Perkebunan dalam Pembangunan Pedesaan Tabel IV.14. Jumlah Industri Kecil dan Penyerapan Tenaga Kerja Provinsi DIY Tahun 2005..................... Tabel IV.15. Jumlah Industri Kecil dan Penyerapan Tenaga Kerja Menurut Kabupaten/Kota.................... Tabel IV.16. Pemberdayaan UMKM melalui Perkuatan Modal dan Rekonstruksi Prasarana/Sarana Produksi.................................................................................................................................. Tabel IV.17. PDRB Sektoral dan Pertumbuhannya Tahun 2004…………………………………………….... Tabel IV.18. PDRB Sisi Permintaan dan Pertumbuhannya Tahun 2004..................................................... Tabel IV.19. Pendapatan Regional Bruto DIY Tahun 2005-2006 dan Rata-rata Pertumbuhannya berdasarkan Sektor Ekonomi……………………………………………………………………… Tabel IV.20. Luas Lahan Terkonversi pada Tahun 2005-2006 di Provinsi DIY........................................... Tabel IV.21. Angka Melek Huruf Penduduk Umur 15 Tahun ke Atas Menurut Kabupaten/Kota................. Tabel IV.22. Capaian Program Peningkatan Aksesibilitas dan Kualitas Pendidikan serta Rekonstruksi Infrastruktur Pendidikan dan Normalisasi Proses Belajar/Mengajar....................................... Tabel IV.23 Angka Partisipasi Kasar (APK)/Gross Enrolment Ratio (GER) menurut Jenis Kelamin dan Kelompok Umur Tahun 2006........................................................................................... Tabel IV.24. Rasio Murid terhadap Kelas Sekolah Dasar Negeri Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi DIY Tabel IV.25. Rasio Murid terhadap Kelas SLTP Negeri menurut Kabupaten/Kota di Provinsi DIY............. Tabel IV.26. Rasio Murid terhadap Kelas SLTP Negeri menurut Kabupaten/Kota Di Propinsi DIY..... ....... Tabel IV.27 Rasio Murid Terhadap Guru SD Negeri menurut Kabupaten dan Kota Di Propinsi DIY Tahun 2003- 2006............................................................................................................................. Tabel IV.28 Rasio Murid Terhadap Guru SD Swasta menurut Kabupaten dan Kota Di Propinsi DIY Tahun 2003 – 2006........................................................................................................................... Tabel IV.29 Rasio Murid Terhadap Guru SMP Negeri menurut Kabupaten dan Kota Di Propinsi DIY Tahun 2003 – 2006........................................................................................................................... Tabel IV.30 Rasio Murid Terhadap Guru SMP Swasta menurut Kabupaten dan Kota Di Propinsi DIY Tahun 2003 – 2006.......................................................................................................................... Tabel IV.31 Rasio Murid Terhadap Guru SMA Negeri menurut Kabupaten dan Kota Di Propinsi DIY Tahun

110 113 113

117 131 132

134 140 146

152

153 155 155 156 158

158

159

159

vi

2003 –2006.............................................................................................................................. Tabel IV.32 Rasio Murid Terhadap Guru SMA Swasta menurut Kabupaten dan Kota Di Propinsi DIY Tahun 2003 –2006.............................................................................................................................. Tabel IV.33 Jumlah Sekolah pada Selolah Dasar Negeri dan Swasta menurut kabupaten dan Kota di Propinsi D.I. Yogyakarta, 1999-2005........................................................................................ Tabel IV.34 Jumlah Sekolah pada SLTP Negeri dan Swasta menurut kabupaten dan Kota di Propinsi D.I.Yogyakarta, 1999-2005....................................................................................................... Tabel IV.35 Jumlah Sekolah pada SMU Negeri dan Swasta menurut kabupaten dan Kota di Propinsi D.I. Yogyakarta, 1999-2005............................................................................................................ Tabel IV.36 Jumlah Sarana Kesehatan Propinsi DIY Tahun 2003 – 3005.................................................... Tabel IV.37 Prosentase Balita Gizi Buruk di Provinsi DIY Tahun 2004-2007................................................ Tabel IV.38 Penduduk tanpa akses pada fasilitas sarana kesehatan............................................................ Tabel IV.39 Perbandingan Jumlah Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta menurut Kabupaten dan Kota di Propinsi D.I.Yogyakarta............................................................................................................ Tabel IV.40 Perbandingan Kapasitas tempat tidur Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta menurut Kabupaten

159

160

161

161

161 166 167 167

168

dan Kota di Propinsi D.I. Yogyakarta......................................................................................... 168 Tabel IV.41 Jumlah Tenaga Medis menurut Pendidikan di Provinsi DIY........................................................ 169 Tabel IV.42 Jumlah Tenaga Keperawatan menurut Pendidikan di Provinsi DIY............................................ 169 Tabel IV.43 Realisasi Akseptor KB Aktif menurut Kabupaten/Kota Di Propinsi D.I. Yogyakarta (dalam %).. Tabel IV.44 Perbandingan Jumlah Rumah Sakit Pemeirntah dan Swasta menurut Kabupaten dan Kota Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta...................................................................................... 176 170

Tabel IV.45 Perbandingan Kapasitas Tempat Tidur Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta menurut Kabupaten dan Kota di Propinsi D.I.Yogyakarta......................................................................................... 177

Tabel IV.46 Realisasi dan Target Akseptor KB Aktif menurut Jenis Kontrasepsi dan Kabupaten/Kota di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.................................................................................................... 179 Tabel IV.47 Angka Kesakitan Malaria di DIY Tahun 2003-2007.................................................................... Tabel IV.48 Angka Kesembuhan TB-paru di DIY Tahun 2003-2007............................................................. 181 181 vii

Tabel IV.49 Presentase HIV di DIY Tahun 2003-2007.................................................................................. Tabel IV.50 Angka Morbiditas Penyakit DBD di Provinsi DIY....................................................................... Tabel IV.51 Indikator Sosial Yogyakarta Tahun 2005................................................................................... Tabel IV. 52 Daftar Laboratorium di Propinsi DIY......................................................................................... Tabel IV.53 Hasil Pendampingan Program Penilaian Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan

182 182 188 217 219

Lampiran Tabel IV.54 Program Pengembangan Kehidupan Beragama di DIY Matrik Keluaran EKPD Tahun 2008

viii

BAGIAN I PENDAHULUAN

Bab 1.1 Pengantar Evaluasi kinerja merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam siklus manajemen organisasi dan pembangunan. Perencanaan yang dilakukan dengan baik tidak otomatis menjamin pencapaian tujuan sesuai dengan indikator yang ditetapkan sebelumnya. Faktor pelaksanaan kegiatan merupakan penentu apakah semua instrumen yang direncanakan bisa dilakukan dengan efektif. Dalam konteks ini, evaluasi kinerja pembangunan merupakan sebuah kegiatan yang berfungsi untuk mengendalikan dan menjembatani dalam siklus kegiatan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan. Bagi para perencana, evaluasi kinerja akan menghasilkan informasi yang penting untuk mengetahui seberapa besar program-program yang dilaksanakannya dapat mencapai tujuan atau tidak. Berkaitan dengan pelaksanaan program pembangunan yang terdapat dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2005-2009, kita melihat dengan jelas bahwa keberhasilannya masih belum memuaskan. Masih terdapat banyak masalah yang harus diselesaikan baik pada tingkat nasional maupun daerah. Pada tingkat makro di semua tingkatan, masalah yang paling sering muncul antara lain terjadinya praktekpraktek penyalahgunaan kewenangan dalam bentuk KKN, pelayanan publik dasar seperti pendidikan, kesehatan dan perumahan yang masih sangat rendah, dan belum terwujudnya harapan masyarakat atas pelayanan yang cepat, tepat, murah, manusiawi, tidak diskriminatif dan berkualitas. Berkaitan dengan pemerintahan, otonomi yang diperkenalkan oleh pemerintah masih menimbulkan masalah seperti konflik antar kabupaten, tidak sinkronnya program antar pemerintah dan percepatan pembangunan yang tidak merata. Untuk itu, penilaian terhadap pelaksanaan RPJMN sangat relevan untuk antisipasi terhadap kemungkinan kegagalan dan berusaha untuk meningkatkan keberhasilan. Ke depan, dengan adanya evaluasi terhadap RPJMN, pengambil keputusan mampu memanfaatkan hasil kajian untuk perbaikan program dan menyusun kerangka kerja implementasi program-program yang sudah disusun. Bab 1.2 Sasaran dan Prioritas RPJMN 2004 - 2009 Dalam dokumen perencanaan pembangunan pada tingkat nasional yaitu RPJMN Tahun 2004 – 2009 telah ditetapkan tiga agenda nasional untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang tengah dihadapi bangsa. Ketiga agenda pembangunan tersebut adalah :

1

1. Menciptakan Indonesia Yang Aman dan Damai Agenda pembangunan yang pertama ini memiliki tiga buah sasaran yang ingin dicapai. Sasaran pertama adalah meningkatkan rasa aman dan damai, dengan prioritas : Peningkatan rasa saling percaya dan harmonisasi antar kelompok masyarakat, pengembangan kebudayaan yang berlandaskan pada nilai – nilai luhur serta peningkatan keamanan, ketertiban, dan peningkatan keamanan, ketertiban, dan penanggulangan kriminalitas. Sasaran kedua adalah semakin kokohnya NKRI, dengan prioritas antara lain pencegahan dan penanggulangan separatisme, pencegahan dan penanggulangan gerakan terorisme, dan peningkatan kemampuan pertahanan negara. Sasaran ketiga adalah semakin berperannya Indonesia dalam menciptakan perdamaian dunia, dengan prioritas pemantapanan politik luar negeri dan peningkatan kerjasama internasional. 2. Mewujudkan Indonesia Yang Adil dan Demokratis Agenda pembangunan yang kedua ini memiliki lima sasaran pembangunan. Sasaran pertama adalah meningkatnya keadilan dan penegakan hukum, dengan prioritas sebagai berikut : pembenahan sistem hukum nasional dan politik hukum, penghapusan diskriminasi dalam berbagai bentuk, serta penghormatan, pemenuhan, dan penegakan atas hukum dan pengakuan atas Hak Asasi Manusia. Sasaran kedua adalah terjaminnya keadilan gender, dengan prioritas antara lain peningkatan kualitas kehidupan dan peran perempuan serta kesejahteraan dan perlindungan anak. Sasaran ketiga adalah meningkatnya pelayanan kepada masyarakat dengan menyelenggarakan otonomi daerah dan kepemerintahan daerah yang baik dengan prioritas adalah revitalisasi proses desentralisasi dan otonomi daerah. Sasaran keempat adalah meningkatnya pelayanan birokrasi kepada masyarakat, dengan prioritas penciptaan tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Sedangkan sasaran yang terakhir yaitu terlaksananya pemilihan umum tahun 2009 dengan prioritas perwujudan lembaga demokrasi yang makin kokoh. 3. Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Agenda pembangunan yang ketiga ini mempunyai lima sasaran pembangunan. Sasaran pertama adalah menurunnya jumlah penduduk miskin menjadi 8,2% pada tahun 2009, serta terciptanya lapangan kerja yang mampu mengurangi pengangguran terbuka menjadi 5,1% pada tahun 2009 dengan didukung oleh stabilitas ekonomi yang tetap terjaga, dengan prioritas antara lain penanggulangna kemiskinan, peningkatan investasi dan ekspor non migas, peningkatan daya saing industri manufaktur, revitalisasi pertanian, pemberdayaan koperasi dan usaha mikro, kecil dan menengah, peningkatan pengelolaan BUMN, peningkatan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi, perbaikan iklim ketenagakerjaan serta pemantapan stabilitas ekonomi makro. Sasaran kedua adalah berkurangnya kesenjangan antar wilayah dengan prioritas sebagai berikut : pembangunan perdesaan, dan pengurangan ketimpangan pembangunan wilayah. Sasaran ketiga adalah meningkatnya kualitas manusia yang secara menyeluruh, dengan prioritas antara lain peningkatan akses masyarakat terhadap pendidikan yang berkualitas, peningkatan akses

2

masyarakat terhadap layanan kesehatan yang lebih berkualitas, peningkatan perlindungan dan kesejahteraan sosial, pembangunan kependudukan, dan keluarga kecil berkualitas serta pemuda dan olahraga. Sasaran keempat adalah membaiknya mutu lingkungan hidup dan pengelolaan sumber daya alam yang mengarah pada pengarusutamaan mainstreaming prinsip pembangunan berkelanjutan di seluruh sektor dan bidang pembangunan, dengan prioritas perbaikan pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian mutu lingkungan hidup. Sasaran kelima adalah membaiknya infrastruktur yang ditunjukkan oleh meningkatnya kuantitas dan kualitas berbagi sarana penunjang pembangunan dengan prioritas antara lain percepatan pembangunan infrastruktur, peningkatan aksesibilitas ke jasa pelayanan dan peningkatan kapasitas, kualitas dan jangkauan pelayanan.

Bab 1.3 Sistematika Penulisan Laporan Evaluasi Laporan evaluasi ini dibagi menjadi enam bagian dimana bagian pertama adalah pendahuluan dan bagian terakhir adalah penutup. Bagian kedua membahas agenda menciptakan Indonesia yang aman dan damai terfokus pada pencapaian prioritas pembangunan nasional di Propinsi DIY. Bagian ketiga mendiskusikan agenda mewujudkan Indonesia yang adil dan demokratis yang juga terfokus pada pencapaian prioritas pembangunan nasional di Propinsi DIY serta bagian keempat mengetengahkan agenda meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia yang terfokus pada pencapaian prioritas pembangunan nasional di Propinsi DIY. Bagian ini merupakan inti dari laporan ini yaitu membahas hasil evaluasi atas tiga agenda pembangunan nasional. Bagian kelima juga tidak kalah pentingnya dengan bagian-bagian sebelumnya. Karena di bagian ini dibahas mengenai isu-isu strategis yang ada di daerah. Isu strategis daerah adalah isu – isu yang paling mendesak untuk diselesaikan dan berdampak besar pada masyarakat di Propinsi DIY, namun belum disinggung dalam RPJMN Tahun 2004 – 2009. Sistimatika evaluasi yang digunakan dalam laporan ini setidaknya berisi tiga hal utama. Pertama, dalam setiap bab didahului dengan pemaparan mengenai kondisi awal RPJMN di tingkat daerah, sasaran yang diingin dicapai, arah kebijakan, dan kegiatan prioritas yang akan dilakukan. Di dalamnya dijelaskan sasaran indikatif yang bersifat kuantitatif dan kualitatif bersama dengan tahapan – tahapan pencapaiannya. Kedua, diuraikan sejauh mana sasaran telah mampu dicapai beserta langkah-langkah yang telah dilakukan. Pada dasarnya yang dilakukan adalah gap analysis yakni berupaya membandingkan antara yang ingin dicapai dengan yang telah dilakukan atau yang telah dicapai. Pengukuran capaian kinerja RPJMN Tahun 2004 – 2009 didaerah terdiri dari upaya intervensi kebijakan yang dilakukan, capaian kinerja pembangunan di daerah, permasalahan, sinkronisasi perencanaan nasional dan daerah serta keterlibatan stakeholder daerah dalam perencanaan pembangunan daerah. Ketiga, setiap bab ditutup dengan langkah – langkah selanjutnya yang perlu dilakukan berupa rekomendasi tindak lanjut. Rekomendasi meliputi upaya yang dilakukan dan usulan perbaikan pembangunan.

3

BAGIAN II AGENDA MEWUJUDKAN INDONESIA YANG AMAN DAN DAMAI

Bab 2.1 Pengantar Mewujudkan Agenda Mewujudkan Indonesia Aman dan Damai Agenda Pertama dalam RPJMN 2004-2009 adalah Mewujudkan Indonesia Aman dan Damai. Dalam mewujudkan rasa aman dan damai ini, ada tiga sasaran yang akan dicapai. Ketiga sasaran tersebut adalah peningkatan rasa aman dan damai, meningkatkan semakin kokohnya NKRI berdasarkan Pancasila, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika serta peningkatan peran serta Indonesia dalam penciptaan perdamaian dunia. Dalam mencapai sasaran pembangunan tersebut, pemerintah menekankan adanya prioritas-prioritas yang diturunkan lagi ke dalam kebijakan-kebijakan. Kebijakan tersebut diarahkan untuk mencapai sasaran-sasaran pembangunan. Sasaran pembangunan pertama, peningkatan rasa aman dan damai, prioritas pembangunan diletakkan pada tiga prioritas. Prioritas pertama adalah peningkatan rasa saling percaya dan harmoniasi antarkelompok masyarakat. Prioritas kedua adalah pengembangan kebudayaan yang berlandaskan pada nilai-nilai luhur. Sedangkan prioritas ketiga terletak pada peningkatan keamanan, ketertiban dan penanggulangan kriminalitas. Peningkatan rasa saling percaya dan harmonisasi antarkelompok masyarakat diarahkan untuk mencapai tujuan: 1. Terbentuknya masyarakat sipil yang kokoh, termasuk membangun kembali kepercayaan sosial antar kelompok masyarakat, 2. Memperkuat dan mengartikulasikan identitas bangsa 3. Menciptakan kehidupan intern dan antar umat beragama yang saling menghormati dalam rangka menciptakan suasana yang aman dan damai serta menyelesaikan dan mencegah konflik antar umat beragama Agenda mewujudkan Indonesia aman dan damai terbagi dalam tujuh bab yaitu (1) Peningkatan Rasa Saling Percaya, (2) Pengembangan Kebudayaan yang Berlandaskan pada Nilai-nilai Luhur, (3) Peningkatan Keamanan, Ketertiban dan Penanggulangan Kriminalitas, (4) Pencegahan dan Penanggulangan Separatisme, (5) Pencegahan dan Penanggulangan Gerakan Terorisme, (6) Peningkatan Kemampuan Pertahanan Negara, serta (7) Pemantapan Politik Luar Negeri dan Peningkatan Kerjasama Internasional. Bab 2.2 Peningkatan Rasa Saling Percaya I. Pengantar

4

Kepercayaan merupakan sesuatu yang sangat mahal harganya. Rasa saling percaya juga merupakan kebutuhan yang sangat mendesak untuk dikembangkan. Hal ini berkaitan dengan keberagaman yang ada di Indonesia. Keberagaman yang meliputi agama, suku, adat dan lain sebagainya sangat mungkin menimbulkan berbagai ketidakpercayaan. Mengingat pentingnya hal tersebut, pemerintah juga meletakkan peningkatan rasa saling percaya pada titik penting pembangunan. Untuk masalah menjaga kepercayaan antar anggota masyarakat, di DIY yang merupakan provinsi yang sangat multicultural serta telah lama menjadi melting spot bagi banyak pendatang dari seluruh Indonesia, maka DIY mengembangkan dan menanamkan rasa toleransi yang besar antara warga masyarakatnya. Keberagaman Indonesia juga dapat dilihat di Propinsi DIY. Propinsi DIY, khususnya di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman, merupakan tujuan mahasiswa dari berbagai daerah.

II. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah Pada masa awal RPJMN, persoalan kesenjangan di Indonesia sangat terlihat. Memang tidak di semua daerah di Indonesia, namun beberapa daerah yang mengalami kesenjangan (ekonomi dan lain-lain) menjadi perhatian serius. Di beberapa daerah juga terdapat konflik yang belum diperoleh jalan penyelesaian yang efektif. Provinsi Nangroe Aceh Darussalam masih bergejolak dengan adanya pemberontakan atau gerakan yang ingin memisahkan diri dari NKRI. Gerakan yang dikenal sebagai Gerakan Aceh Merdeka menimbulkan perpecahan pada masyarakat Aceh, ada yang setia dengan NKRI sedangkan juga terdapat simpatisan GAM. Adanya perpecahan ini menimbulkan rasa saling tidak percaya antar kedua kelompok. Berbagai alasan dapat dijadikan faktor sebagai pembenar ketidak percayaan antar kedua kelompok. Di DIY sendiri, wilayah yang relatif aman juga sempat mengalami konflik horizontal akibat lemahnya sikap saling percaya. Konflik antar suku pun sempat terjadi di sini walaupun masih berskala kecil dan segera terselesaikan dengan cara dialog dan persuasif. Namun ancaman tersebut akan selalu ada mengingat posisi DIY yang merupakan provinsi yang multikultural.

III. Sasaran yang Ingin Dicapai Sasaran yang ingin dicapai dalam tingkat nasional adalah menurunya ketegangan dan ancaman konflik, terpeliharanya situasi aman dan damai serta meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan.

5

IV. Arah Kebijakan Arah kebijakan yang dilakukan pemerintah pusat dalam rangka meningkatkan rasa saling percaya ditempuh melalui empat cara yaitu (1) pemberdayaan yang meliputi organisasi-organisasi sosial kemasyarakatan, LSM, lembaga keagamaan serta lembaga-lembaga lain yang ada dalam masyarakat dalam rangka koreksi terhadap segala ketidakadilan yang terjadi, termasuk diskriminasi dalam membangun masyarakat sipil yang kuat, (2) pemerintah berupaya untuk mendorong dan mengupayakan proses rekonsiliasi nasional yang berkelanjutan, (3) pemantapan peran pemrintah sebagai fasilitator atau mediator yang kredibel dalam menjalankan fungsinya sebagai penjaga keamanan serta (4) upaya pemerataan akses informasi dalam bingkai keterbukaan informasi. Langkah atau arah kebijakan menjadi sangat penting mengingat adanya realitas konflik yang pernah terjadi dan membutuhkan proses rekonsiliasi. Selain itu, banyak sarana dan prasarana yang membutuhkan perbaikan pasca konflik. Hal ini dapat dilihat di NAD atau Poso, misalnya. Kerusakan juga tidak hanya terjadi pada sarana dan prasaran fisik. Kerusakan yang jauh lebih perlu diperbaiki adalah kerusakan lembaga masyarakat dan institusi-institusi sosial. Di sisi lain, lembaga-lembaga sosial adalah elemen penting dalam pencapaian rekonsiliasi pasca konflik. Lembaga-lembaga sosial juga sangat berpengaruh dalam proses pemulihan trauma. Trauma yang diterima masyarakat akibat konflik bukanlah sebuah permasalahan yang simpel, lebih-lebih masyarakat yang sebenarnya tidak tahu menahu akan adanya konflik. Masyarakat-masyarakat ini sangat trauma karena pada dasarnya mereka bukanlah pelaku konflik tetapi lebih pada korban (obyek) konflik. Adapun kebijakan rekonsiliasi nasional merupakan sebuah upaya yang juga sangat penting. Adanya konflik di beberapa daerah dapat menimbulkan perpecahan yang bisa berdampak panjang. Dampak ini dapat timbul karena adanya dendam antara kelompok yang satu dengan lainnya. Apalagi, konflik yang ada merupakan konflik antar kelompok yang memiliki akar yang kuat. Akar antar kelompok yang dimaksud misalnya kelompok agama. Potensi dendam juga sangat besar mengingat negara Indonesia sangat beragam yang dengan adanya berbagai perbedaan (keberagaman), sangat mungkin terjadi konflik. Rekonsiliasi nasional ditempuh dengan beberapa cara. Cara yang ditempuh berupa program fasilitator forum kemasyarakatan dalam mengembangkan wacana-wacana sosial politik. Pemahaman-pemahaman sosial politik sangat perlu dalam rangka pemahaman pentingnya kesatuan dan persatuan bangsa. Langkah yang lain adalah fasilitasi pendidikan politik bagi masyarakat. Pendidikan politik merupakan sarana yang sangat penting untuk memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara sesuai dengan UUD 1945. Pemerintah juga membuka akses-akses sumber daya ekonomi, informasi, dan sebagainya.

6

V. Pencapaian RPJMN di Daerah Dalam skala nasional, upaya pemulihan wilayah pasca-konflik berjalan sangat baik. Propinsi NAD sudah sangat kondusif pasca Perjanjian Helsinky. Dalam berbagai kasus yang lain, pemerintah sudah memfasilitasi dialog-dialog antara berbagai elemen antara lain tokoh agama, tokoh masyarakat, elemen perguruan tinggi dan lain-lain. Dari segi pemerintahan, penanganan konflik juga berhasil diselesaikan berkat dikeluarkan serta terlaksanakannya Inpres No. 6 Tahun 2003 tentang Percepatan Pemulihan Pembangunan Propinsi Maluku dan Propinsi Maluku Utara pasca konflik dan Inpres No. 14 Tahun 2005 tentang Langkahlangkah Komprehensif Penangan Masalah Poso. Disahkannya Undang-undang Pemerintahan Aceh (UU PA), UU No. 11 Tahun 2006, pada tanggal 11 Juli 2006 serta diikuti dengan Pemilihan Kepala Daerah di Propinsi NAD adalah wujud nyata keberhasilan peningkatan rasa saling percaya antar berbagai elemen. Keberhasilan tersebut berlangsung sampai sekarang dan terus dipupuk. Keberhasilan ini bukanlah keberhasilan yang sempurna karena gangguan-gangguan tetap saja masih ada. Namun gangguan yang ada masih dapat digolongkan dalam skala yang kecil dan dapat diatasi. UU PA sendiri bukanlah sebuah produk instan karena proses menuju kearah tersebut sudah berjalan cukup lama. Titik yang dapat dikatakan menjadi titik penting, salah satunya, adalah Memorandum of Understanding (MoU) antara pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Pemerintah Indonesia pada tanggal 15 Agustus 2005. Propinsi DIY dalam sejarahnya beberapa tahun terakhir tidak tercatat adanya konflik seperti halnya di Poso dan NAD. Di Propinsi DIY relative kental warisan budaya (Jawa) yang toleran, terutama di Kabupaten Bantul dan Kabupaten Gunung Kidul. Keadaan yang sedikit berbeda terjadi di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman yang lebih heterogen dengan banyak pendatang. Kota Yogyakarta dan Sleman adalah daerah tujuan utama pendidikan (dibanding dengan daerah lain di Yogyakarta). Di dua kota ini terdapat perguruan-perguruan tinggi yang menjadi tujuan mahasiswa dari berbagai daerah. Namun keberagaman ini tidak menjadi masalah yang berarti bagi Yogyakarta. Yogyakarta sendiri terkenal sebagai city of tolerance dan sangat menghargai berbagai perbedaan. Permasalahan-permasahan konflik antar kelompok apalagi antar etnis atau agama tidak pernah terjadi di Propinsi DIY.

VI. Rekomendasi Tindak Lanjut Ada beberapa rekomendasi tindak lanjut yang dapat digunakan sebagai upaya untuk menguatkan rasa saling percaya antar anggota masyarakat: 1. Meningkatkan dialog antar warga masyarakat sehingga terciptanya hubungan yang dialogis dan setara.

7

2. Melibatkan berbagai unsur masyarakat dalam satu kesempatan untuk menumbuhkan sikap kerjasama natar warga masyarakat. 3. Memperkuat pendidikan yang berwawasan multikultural sehingga timbul kesadaran sejak dini terkait dengan proses keberagaman yang ada. 4. Meminimalisir diskriminasi berbagai bentuk.

VII. Penutup DIY merupakan provinsi yang relatif aman dan dapat dijadikan contoh bagi daerah lainnya bagaimana daerah yang sangat multikultural seperti DIY dapat menjaga keharmonisan serta sikap saling percaya antara warga masyarakat. Namun demikian, perlu dilakukan upaya-upaya untuk menjaga kondisi tersebut agar bisa berlangsung secara kontinyu dan konsisten.

Bab 2.3 Pengembangan Kebudayaan yang Berlandaskan pada Nilai-nilai Luhur I. Pengantar Kebudayaan adalah salah satu identitas bangsa. Suatu bangsa dapat dinilai sebagai bangsa yang maju ketika dapat mempertahankan budaya yang dimilikinya serta mengembangkannya. Masalah kebudayaan menjadi semakin kompleks di Indonesia karena Indonesia adalah sebuah negara yang sangat besar serta kaya dengan berbagai budaya. Masing-masing daerah memiliki kebudayaan yang berbeda. Dari sisi eksternal, kebudayaan banyak mendapat pengaruh dari arus globaslisasi yang semakin gencar menyerang bangsabangsa dunia ketiga, termasuk Indonesia. Tercapainya ketahanan budaya mensyaratkan adanya upaya-upaya peningkatan keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, peningkatan kerukunan hidup antar umat beragama, peningkatan kesadaran sejarah bangsa dan ketahanan budaya terhadap budaya luar yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya bangsa serta pemberdayaan perempuan dalam segala bidang dan juga munculnya peran aktif pemuda dalam pembangunan. Karakteristik umum masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta, yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, adalah tabah, sederhana dan hemat, berani mawas diri, gotong royong dalam kebersamaan, tenggang rasa dan memiliki jiwa patriotisme, serta dapat menyesuaikan terhadap sesama, merupakan sikap mental yang perlu diupayakan kelestariannya. Di samping itu Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki seni budaya yang adiluhung dan berbagai peninggalan budaya masa lalu yang mempunyai nilai tinggi, serta menjadi tempat

8

bertemunya berbagai macam budaya yang dibawa oleh para pendatang, yang justru diharapkan akan memperkuat budaya bangsa Indonesia.

II. Kondisi Awal RPJMN Di Daerah Budaya sebagai tata nilai, simbol-simbol dan produk dari peri kehidupan manusia di DIY berkembang dengan baik tanpa melepaskan diri dari akarnya. Kraton Ngayogyakarta dan Puro Pakualaman sebagai pusat budaya Jawa tetap eksis dan menjadi sumber dari perkembangan budaya masyarakat. Walaupun demikian, dengan karakter manusia DIY yang toleran terhadap adanya perbedaan, budaya dari luar daerah pun juga dapat diterima dan memperkaya khasanah budaya nusantara. Sebagai pusat budaya, maka pelestarian budaya (produk budaya maupun nilai budaya) sangat mendapat perhatian. Salah satu contoh dari upaya pelestarian produk budaya adalah Program Pelestarian dan Pengembangan Sejarah Kepurbakalaan yang meliputi: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Peningkatan Kawasan Cagar Budaya (KCB) dari 7 kawasan menjadi 13 kawasan cagar budaya; Terbentuknya Forum Pelestarian Warisan Budaya sebagai wadah pemerhati dan pelestari warisan budaya yang beranggotakan LSM, tokoh-tokoh masyarakat dan birokrat; Terbentuknya Tim Pengelola KCB dari tingkat Kecamatan dan Desa/Kelurahan dan Desa Budaya; Meningkatnya jumlah LSM dari 2 organisasi menjadi hampir 40 organisasi Pelestari Warisan Budaya; Penambahan jumlah peninggalan sejarah dan purbakala yang terehabilitasi dan terlestarikan mencapai 20 Benda Cagar Budaya (BCB) berkualifikasi Nasional dan Propinsi; Pelestarian dan Pengembangan Kebudayaan pada akhir tahun 2003 diharapkan dapat menghasilkan peningkatan kualitas dan kuantitas peninggalan sejarah dan purbakala sebanyak 8 KCB tertangani dengan baik (KCB Tamansari, Kraton, Kotagede, Prambanan, Puro Pakualaman, Kerta, Pleret, Ambarbinangun), 25 BCB berkualifikasi Nasional dan Propinsi serta peninggalan budaya lainnya, seperti 5 masjid Pathok Negara. Di bidang permuseuman telah dilaksanakan pembinaan dan pengembangan baik secara internal bagi para pengelola museum tentang manajemen permuseuman dan secara eksternal melaksanakan sosialisasi dan apresiasi masyarakat terhadap museum. Sementara itu, Museum Sonobudoyo sebagai museum tertua kedua setelah Museum Nasional telah selesai menyusun studi revitalisasi untuk peningkatan peran dan fungsinya, sedangkan tentang pendirian Museum Seni Rupa di Yogyakarta sedang dalam tahap persiapan. Dalam kurun waktu 5 tahun semenjak tahun 1998 terjadi peningkatan jumlah museum dari semula 25 buah menjadi 30 buah yang terdiri dari jenis Museum Umum dan Museum Khusus. Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) merupakan salah satu kegiatan dimaksud yang secara rutin diselenggarakan setiap tahun selama 15 tahun terakhir, di samping berdampak seperti tersebut di atas juga semakin menambah semarak yang tidak kecil kontribusinya

9

dalam memberi nilai tambah bagi kepariwisataan DIY. FKY ini merupakan refleksi dari perkembangan budaya rakyat yang berakar kepada budaya adiluhung yang berkutub pada Kraton Ngayogyakarta dan Puro Pakualaman. Antusiasme seniman-budayawan dalam memantapkan keberadaan mereka sekaligus berimplikasi dalam pengembangan kebudayaan juga tercermin dengan terbentuknya Dewan Kebudayaan DIY yang merupakan pengembangan dari Dewan Kesenian DIY. Dewan Kebudayaan tersebut ditetapkan dalam Musyawarah Daerah Dewan Kesenian pada tahun 2003, yang dilatarbelakangi pemikiran perlu adanya pengembangan organisasi yang tidak hanya mengakomodasikan Budaya 'intangible' yang selama ini menjadi fokus kelolanya, namun juga dipandang perlu mengakomodasikan budaya yang bersifat 'tangible'. Apa yang telah dilaksanakan di atas merupakan bentuk komitmen kita untuk mempertahankan predikat Yogyakarta dengan Kraton Ngayogyakarta dan Pura Pakualaman sebagai pusat budaya Jawa yang keberadaannya diakui oleh masyarakat luas. Keberadaan Yogyakarta sebagai pusat budaya Jawa yang cukup disegani dibuktikan dengan pengakuan secara implisit dari beberapa daerah dalam bentuk pengangkatan dan pemberian gelar adat kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X yang juga Gubernur Propinsi DIY. Daerah-daerah yang memberi gelar adat tersebut adalah Sumatra Barat, Makassar, Maluku, dan yang terakhir Riau pada bulan 26 Juni 2003 yang lalu. Penganugerahan gelar adat tersebut sebagai bentuk penghargaan atas peran Gubernur DIY dalam ikut membina dan mengayomi masyarakat dari daerah yang bersangkutan. Indonesia, seperti juga banyak negara lain, mengalami gempuran budaya asing dengan sangat gencar. Permasalahan mempertahankan budaya sendiri serta memajukannya menjadi sulit karena para generasi muda banyak yang menganggap budaya negeri sendiri tidak modern dan terkesan kuno. Kepedulian masyarakat terhadap budaya lokal mengalami kecenderungan penurunan. Sekap mental dan perilaku masyarakat juga mulai luntur dari unggah-ungguh yang berujung pada penurunan budi pekerti. Selain permasalahan tersebut, Propinsi DIY juga menghadapi permasalahan kerusakan yang parah akibat gempa bumi yang terjadi pada 26 Mei 2006. Kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tidak sedikit. Banyak candi yang ada di Propinsi DIY rusak. Salah satu candi yang rusak adalah Candi Prambanan. Permasalahan yang lain adalah tata letak bangunan yang tidak mencerminkan lokalitas. Hal ini sangat berbeda dengan daerah Bali yang masih sangat berciri pada kearifan lokal. Bangunan-bangunan/ gedung pemerintahan di Bali banyak yang memiliki arsitektur lokal sehingga sedikit banyak budaya tetap melekat. Dengan tetap menggunakan bangunan-bangunan yang bercirikan adat juga berarti secara tidak langsung memperkenalkan warisan budaya pada generasi selanjutnya. Hal ini tidak terjadi di Yogyakarta. Bangunanbangunan pemerintahan banyak yang berupa bangunan “modern”.

10

III. Sasaran yang Ingin Dicapai RPJMN 2004-2009 meletakan sasaran pengembangan kebudayaan yang berlandaskan pada nilai-nilai luhur yang ditujukan untuk: 1. Menurunnya ketegangan dan ancaman konflik antar-kelompok masyarakat, 2. Semakin kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan Pancasila, Undangundang Dasar 1945 dan Bhineka Tunggal Ika, 3. Semakin berkembangnya penerapan nilai-nilai baru yang positif dan produktif dalam rangka budaya nasional yang terwujud dalam rangka pemantapan budaya nasional yang terwujud dalam setiap aspek kebijakan pembangunan, 4. Meningkatnya pelestarian serta pengembangan kekayaan budaya. Propinsi DIY adalah salah sentra budaya di Indonesia. Budaya juga menjadi salah satu denyut nadi pariwisata di DIY. Potensi budaya/ pariwisata inilah salah satu penopang perekonomian DIY. Namun permasalahan budaya tidak hanya menjadi persoalan pariwisata yang pada akhirnya perekonomian saja, tetapi juga menjadi persoalan kekayaan budaya (heritage) yang harus senantiasa dilestarikan. Pada kenyataannya, warisan budaya ini mengalami kemunduran serta suramnya pemahaman terhadap budaya yang adiluhung. Perlu diadakannya upaya yang secara berkesinambungan untuk menumbuhkan pemahaman dan sikap masyarakat terhadap nilai-nilai budaya itu sendiri. Sedangkan sasaran Provinsi DIY dalam mengembangkan nilai-nilai budaya antara lain : 1) Terwujudnya penanaman kembali (revitalisasi) nilai-nilai budaya luhur, kehidupan seni, bahasa dan sastra, adab dan tradisi. 2 Pulihnya sebagian kondisi KCB dan BCB yang rusak akibat bencana alam. 3) Tampilan benda koleksi museum yang semakin menarik. 4) Meningkatnya regenerasi SDM di bidang kebudayaan. 5) Optimalisasi fasilitasi apresiasi seni masyarakat. 6) Terpenuhinya infrastruktur kebudayaan berstandar minimal internasional. 7) Terbukanya aksesibilitas wisatawan mancanegara. 8) Meningkatnya kesadaran masyarakat di sekitar ODTW. 9) Semakin luasnya jejaring antar pelaku pariwisata. 10) Terberdayakannya masyarakat di sekitar ODTW.

11) Meningkatnya jumlah wisatawan, length of stay dan pendapatan masyarakat.

11

IV. Arah Kebijakan Kebijakan Propinsi DIY dalam pengembangan kebudayaan yang berlandaskan pada nilai-nilai luhur, dikelompokan dalam lima bidang. Kelima bidang tersebut adalah: 1. Bidang adat, seni dan nilai budaya. 2. Bidang bahasa dan sastra. 3. Bidang museum dan sejarah kepurbakalaan. 4. Bidang pelestarian Kawasan Cagar Budaya dan Benda Cagar Budaya (KCB/BCB). 5. Bidang regulasi dan fasilitasi. Selain itu, pemerintah juga memperhatikan para budayawan/seniman. Perhatian pemerintah ini berupa penganugerahan baik dalam bidang seni maupun pelestarian bangunan peninggalan warisan budaya masa lalu. 1) Peningkatan pengelolaan data asset kebudayaan. 2) Rehabilitasi / konservasi dan optimalisasi fungsi BCB dan KCB. 3) Peningkatan dan optimalisasi fungsi sarana dan prasarana kegiatan budaya dan museum. 4) Melakukan upaya perlindungan (protection), pemeliharaan, dan pelestarian (conservation) terhadap nilai-nilai budaya DIY. 5) Peningkatan aktifitas budaya . 6) Mendorong pemerintah pusat untuk membuka kembali ‘direct flight’. 7) Revitalisasi kelompok sadar wisata. 8) Memperkuat jenjang antar pelaku pariwisata. 9) Mensinergikan kegiatan dan meningkatkan koordinasi dengan sektor-sektor terkait. Beberapa Kegiatan yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan: 1) Fasilitasi partisipasi masyarakat dalam pengelolaan kekayaan budaya. 2) Membangun kemitraan pengelolaan kebudayaan antar daerah. 3) Pelestarian dan aktualisasi adat budaya daerah. 4) Pelestarian fisik dan kandungan bahan pustaka termasuk naskah kuno. 5) Pemberian dukungan, penghargaan dan kerjasama dibidang budaya. 6) Penatagunaan naskah kuno nusantara. 7) Pengelolaan karya cetak dan karya rekam. 8) Pengembangan database sistem informasi sejarah purbakala. 9) Pengembangan kesenian dan kebudayaan daerah. 10) Penyelenggaraan dialog kebudayaan. 11) Penyusunan kebijakan tentang budaya lokal daerah. 12) Penyusunan sistem informasi database bidang kebudayaan.

12

13) Perumusan kebijakan sejarah purbakala. 14) Sosialisasi pengelolaan kekayaan budaya lokal daerah. 15) Rehabilitasi sedang/berat gedung kantor. Badan Perencanaan Daerah: 1) Sinergisitas Program Kebudayaan, Pariwisata dan Pendidikan. Kantor Perwakilan Daerah: 1) Pelestarian dan aktualisasi adat budaya daerah. 2) Fasilitasi partisipasi masyarakat dalam pengelolaan kekayaan budaya. Upaya-upaya yang dilaksanakan dalam mencapai pusat budaya terkemuka, diarahkan pada upaya pencapaian sasaran meliputi : 3) Melaksanakan penanganan kawasan cagar budaya dan desa budaya dengan mengutamakan peranserta masyarakat, peningkatan kualitas dan kuantitas prasarana sarana bagi kegiatan para seniman. 4) Mengkaji, menggali, melakukan penulisan dan menyebarluaskan kebudayaan dan sejarah. 5) Meningkatkan kemampuan aparat dan masyarakat sebagai SDM yang akan melestarikan warisan budaya daerah/nasional. 6) Meningkatkan inovasi dan kreatifitas dalam mengelola museum, serta penempatan bahasa dan sastra jawa sebagai aset daerah yang tinggi nilainya. 7) Melestarikan budaya adiluhung yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Program-program yang dilaksanakan untuk mendukung pembangunan kebudayaan, adalah : 1) Pengembangan dan pembinaan kebudayan daerah. 2) Perumusan dan pelestarian nilai-nilai budaya lokal. 3) Pengembangan sikap kritis masyarakat terhadap nilai-nilai budaya. 4) Pengembangan kebebasan berkreasi dan berkesenian. 5) Melestarikan apresiasi nilai kesenian dan kebudayaan. 6) Mengembangkan kesenian dan kebudayaan serta wisata budaya V. Pencapaian RPJMN Di Daerah Propinsi DIY mengelompokan keberhasilan yang diperoleh ke dalam lima bidang. Kelima bidang tersebut adalah bidang adat, seni dan nilai budaya, bidang bahasa dan sastra, bidang museum dan sejarah

13

kepurbakalaan, bidang pelestarian Kawasan Cagar Budaya dan Benda Cagar Budaya (KCB/BCB) serta bidang regulasi dan fasilitasi. 1. Bidang adat, seni dan nilai budaya Keberhasilan di bidang adat, seni dan nilai-nilai budaya meliputi: • • Terlestarinya 15 jenis upacara adat di masyarakat Keikutsertaan pemerintah Propinsi DIY dalam ajang seni dan budaya dalam berbagai event baik yang diselenggarakan di tingkat local maupun tingkat internasional. 2. Bidang bahasa dan sastra • Keberhasilan dalam bidang bahasa dan sastra adalah keikutsertaan dalam penyelenggaraan kongres Bahasa Jawa sekaligus berupaya untuk selalu mengadakan sosialisasi hasil kongres maupun beberapa kegiatan pelestarian Bahasa Jawa. 3. Bidang museum dan sejarah kepurbakalaan • Dalam bidang museum dan sejarah kepurbakalaan, pemerintah Propinsi DIY berhasil melakukan pelestarian serta memajukan berbagai museum yang ada. Keberhasilan ini berkat kerja sama dengan Badan Musyawarah Museum (BARMUS). 4. Bidang pelestarian Kawasan Cagar Budaya dan Benda Cagar Budaya (KCB/BCB) Keberhasilan dalam bidang pelestarian Kawasan Cagar Budaya dan Benda Cagar Budaya (KCB/BCB) dapat dilihat dari pencapaian-pencapian berikut: • • Pemerintah Propinsi DIY berhasil melakukan renovasi serta rehabilitasi sebanyak 15 KCB serta 93 BCB Pemerintah Propinsi DIY berhasil meminimalisir kerusakan-kerusakan yang ada pada KCB serta BCB seperti Puro Pakualaman, Kompleks Masjid Mataram, Kompleks Makan Imogiri, Kompleks Bangunan di Museum Senobudoyo, KCB Kraton dan lain-lain. 5. Bidang regulasi dan fasilitasi • Dalam bidang regulasi dan fasilitasi, Pemerintah Propinsi DIY telah membuat draf Raperda serta buku pedoman pengelolaan mengenai Tata Nilai Budaya Daerah, Grand Strategy Ketahanan Budaya, Juklak dan Juknis Pengelolaan KCB dan BCB, Srategi Pengelolaan Desa Budaya serta Mengenai program pengolah kata (dari Bahasa Jawa ke Bahasa Latin dan sebaliknya) dalam upaya pelestarian, pengelolaan dan pengembangan seni budaya, museum dan sejarah kepurbakalaan.

14

VI. Rekomendasi Tindak Lanjut 1. Perlunya pemerintah provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta segera menerbitkan mengenai standarisasi harga barang dan jasa khususnya untuk harga bahan kimia 2. Secara berkelanjutan perlu adanya upaya terpadu dari berbagai sektor dan stakeholders sekaligus penegakan hukum serta sosialisasi dan pelatihan di bidang seni budaya bagi generasi muda di berbagai lembaga sekolah atau lembaga kemasyarakatan untuk mewujudkan pembentukan jati diri masyarakat yang berbudaya seperti tersebut di atas. 3. Meningkatkan program kemitraan dan kerjasama di bidang budaya melalui kegiatan dialog budaya antar etnis di berbagai daerah dengan menghadirkan para tokoh agama, budaya dan tokoh masyarakat dari masing-masing daerah. 4. Perlu diterbitkannya Perda atau Pergub tentang Arsitektur bangunan dan lingkungan bernuansa budaya.

VII. Penutup Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu potensi unggulan bagi pembangunan daerah disamping sektor-sektor industri ekstraktif atau berorientasi ekspor lainnya. Lebih-lebih bagi Provinsi DI Yogyakarta, yang kekayaan potensi sumber daya alam relatif terbatas untuk diandalkan sebagai sektor utama pembangunan perekonomian. Bagi DIY, yang dikenal sebagai kota pelajar dan kota budaya, maka atribut tersebut sesungguhnya secara riil menyiratkan keunggulan kompetitif Yogyakarta dalam kerangka pembangunan daerah. Dalam kaitan ini sumber daya manusia dan sumber daya budaya serta pariwisata menjadi komponen unggulan pembangunan ekonomi DIY. Pembangunan kebudayaan memiliki karakter dan sifat interdependensi atau memiliki keterkaitan lintas sektoral, spasial struktural multidimensi, interdisipliner, dan bertumpu pada masyarakat sebagai kekuatan dasar untuk mengembangkan potensi sumber daya yang ada. Tantangan pembangunan kebudayaan dalam konteks Provinsi DIY maupun nasional saat ini dihadapkan pada suatu tantangan fenomena universal yaitu era globalisasi yang membuka proses lintas budaya (trans-cultural) dan silang budaya (cros-sultural) yang secara berkelanjutan akan mempertemukan nilai-nilai budaya yang satu dengan yang lainnya. Agar bisa mengambil manfaat dalam proses pertemuan budaya tersebut maka setiap bangsa harus berusaha untuk meningkatkan ketahanan budaya masyarakatnya. Hal tersbeut sangatlah mendasar karena tanpa adanya usaha untuk meningkatkan ketahanan budaya secara memadai maka kebudayaan lokal atau nasional bukan saja tidak akan mampu memberi kontribusi dalam pembentukan kebudayaan global, akan tetapi lebih daripada itu akan sangat mudah larut dalam pertemuan antar budaya sehingga tidak memiliki suatu identitas yang dapat dibanggakan. Oleh karena itu dalam lingkungan yang semakin menuju kepada kecenderungan homogenitas nilai, maka aspek-aspek keunikan lokal, nilai-nilai budaya

15

lokal akan menjadi suatu unsur yang sangat signifikan dalam peta hubungan antar bangsa. Unsur-unsur keunikan dan kearifan lokal yang tercermin melalui komponen-komponen warisan budaya, mempertegas peran dan arti penting warisan budaya dalam kancah interaksi lintas bangsa. Pembangunan kebudayaan di era global justru harus semakin memperkuat aspek-aspek kelokalan, dengan tetap menempatkan diri untuk berpikir secara global.

Bab 2.4 Peningkatan Keamanan, Ketertiban dan Penanggulangan Kriminalitas I. Pengantar Upaya peningkatan keamanan merupakan salah satu prioritas dalam rangka mewujudkan Indoneisa yang aman dan damai. Kemanan menjadi sangat penting karena tanpa adanya rasa aman dan nyaman, semua kegiatan tidak dapat berjalan dengan baik. Keamanan menjadi sangat penting juga dikarenakan masalah pencitraan. Hal ini berkaitan dengan pasar pariwisata, misalnya. Untuk konteks DIY, selain sebagai tempat kunjungan wisata, juga sebagai tujuan pendidikan. Pendatang di DIY sangat heterogen, mulai dari ujung barat sampai timur. Masing-masing mahasiswa membawa budaya mereka. Pembangunan di bidang ketentraman dan ketertiban msyarakat dapat diwujudkan dengan melibatkan partisipasi masyarakat secara luas. Keberhasilan pembangunan dalam bidang-bidang ketentraman dan ketertiban msyarakat dirasakan masyarakat dalam kehidupan sosial, ekonomi dan budaya. Rasa aman yang dirasakan masyarakat selama ini tidak terlepas dari upaya yang telah dilakukan pemerintah beserta masyarakat melalui berbagai program dan kegiatan. Dalam rangka mengantisipasi gangguan ketentraman dan ketertiban masyarakat, saat ini telah tersedia 285 orang anggota SAR LINMAS yang tersebar di 7 wilayah operasi dan di Unit SAR LINMAS Provinsi DIY. Di samping itu juga tersedia sebanyak 186 Polisi Pamong Praja yang terbagi dalam 16 regu. Dalam rangka untuk mengamankan pelaksanaan peraturan daerah saat ini telah tersedia 258 orang penyidik Pegawai Negeri Sipil yang tersebar di 17 instansi. Selama tahun 2007 angka gangguan keamanan, ketentraman dan ketertiban di Provinsi DIY tercatat 2.113 kasus yang tersebar di kabupaten kota. Gangguan keamanan, ketentraman dan ketertiban paling banyak terjadi di Sleman dengan jumlah 852 kasus dan yang paling rendah di Gunungkidul sebanyak 159 kasus. Untuk memudahkan pelaksanaan ketentraman dan ketertiban masyarakat saat ini telah tersedia sarana dan prasarana pendukung yang meliputi kendaraan roda dua, kendaraan roda empat, HT, pesawat rig, repiter, motor tempel, perahu karet, perahu fiber glass, alat selam, tenda peleton dan generator/disel. Sebagai antisipasi terhadap bencana alam, perlu dilakukan fasilitasi untuk meningkatkan kemampuan SDM aparat dan masyarakat dalam rangka deteksi dini atau mitigasi dan pencegahan serta penanggulangan bencana alam.

16

II. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah Pada tahun 2006, terdapat 87 gangguan ketentraman dan keamanan. Gangguan tersebut berupa unjuk rasa yang dapat digolongkan ke dalam empat bidang permasalahan yaitu bidang ekonomi, bidang sosial, bidang politik serta bidang agama. Banyaknya demonstrasi ini dapat dipahami mengingat banyaknya kampus yang ada di DIY, khususnya di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman. Namun demonstrasi yang ada tidak sampai pada perbuatan anarki yang merugikan. Tabel II.1 Gangguan Ketentraman dan Ketertiban di Prop. DIY Tahun 2006 Bidang Jumlah Ekonomi Sosial Politik Agama 13 kejadian 69 kejadian 3 kejadian 2 kejadian

No. 1. 2. 3. 4.

Sumber. Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Gubernur Prop. DIY (2003-2008), Hal. IV-24

Sedangkan gangguang Kamtibmas yang paling menonjol di Propinsi DIY pada tahun 2006 adalah pencurian kendaraan bermotor (curanmor) dan kasus narkoba. Kasus curanmor terjadi sebanyak 147 buah sedangkan kasus narkoba sebanyak 1.015 buah. Kondisi keamanan dan ketertiban Provinsi DIY 2003-2008 : 1. Kota Yogyakarta: mempunyai daerah rawan bencana 11 Kecamatan 15 Kalurahan dengan jenis rawan bencana banjir, tanah longsor dan kebakaran 2. Kabupaten Bantul: mempunyai daerah rawan bencana 5 kecamatan 18 desa dengan jenis rawan bencana banjir, tanah longsor dan tsunami 3. Kabupaten Kulonprogo: mempunyai daerah rawan bencana 9 Kecamatan 28 Desa dengan jenis rawan bencana banjir, tanah longsor, angin ribut dan tsunami 4. Kabupaten Gunungkidul: mempunyai daerah rawan bencana 12 Kecamatan 56 desa dengan jenis rawan bencana tanah longsor, banjir dan kekeringan 5. Kabupaten Sleman: mempunyai daerah rawan bencana 5 Kecamatan 19 Desa dengan jenis rawan bencana banjir, erupsi Gunung Merapi dan kekeringan Secara umum kondisi keamanan dan ketertiban Provinsi DIY antara lain sebagai berikut : 1. Masih terjadinya berbagai bentuk gangguan ketentraman dan ketertiban masyarakat antara pelanggaran disiplin lalu lintas, pelanggaran hukum, kenakalan remaja serta penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang.

17

2. Masih adanya berbagai macam/jenis kejahatan yang cenderung meningkat baik secara kuantitas maupun kualitas. 3. Perlindungan masyarakat dan pembelaan negara (bela negara) masih perlu ditingkatkan. 4. Adanya kemiskinan dan pengangguran yang cenderung meningkat dapat menimbulkan kerawanan sosial yang dapat berpengaruh pada perwujudan atau penetapan ketentraman dan ketertiban masyarakat. 5. Adanya globalisasi mengakibatkan komunikasi dan informasi menjadi sulit tersaring dan terbendung yang akhirnya bisa membawa pengaruh negatif pada ketentraman dan ketertiban masyarakat.

III. Sasaran yang Ingin Dicapai Dalam upaya peningkatan keamanan, ketertiban dan penanggulangan kriminalitas, pemerintah menitikberatkan pada delapan sasaran yang harus dicapai. Kedelapan sasaran tersebut adalah: 1. Menurunnya angka pelanggaran hukum dan indeks kriminalitas serta peningkatan penuntasan kasus kriminalitas untuk mencapai masyarakat yang aman, 2. Terungkapnya jaringan kejahatan internasional terutama dalam bidang narkoba, perdagangan manusia serta pencucian uang, 3. Terlindunginya lalu lintas informasi rahasia negara sesudah diterapkannya zona perdagangan bebas (AFTA dan lalinnya), 4. Menurunnya pecandu narkoba serta penumpasan pasokan narkoba, 5. Menurunnya ganguang keamanan dan pelanggaran hukum di laut, terutama pada alur perdagangan dan distribusi serta alur pelayaran internasional, 6. Terungkapnya jaringan utama pencurian sumber daya hutan (illegal loging, over cutting dan illegal trading), 7. Meningkatnya kepatuhan masyarakat terhadap peraturan dan hukum, 8. Meningkatnya kinerja POLRI yang tercermin menurunnya angka kejahatan serta penyelesaian kasus-kasus hukum. Propinsi DIY adalah daerah tujuan wisata. Selain itu juga merupakan kota budaya serta tujuan belajar baik pelajar maupun mahasiswa. Sebagai sebuah kota yang menjadi tuan rumah dari berbagai daerah serta negara, kemanan dan ketertiban sangat mutlak diperlukan. Keamanan dan ketentraman ini menjadi penting mengingat bahwa pariwisata merupakan salah satu penyumbang pemasukan yang besar bagi keuangan daerah. Selain sasaran diatas, peningkatan keamanan dan ketertiban juga diarahkan pada : 1. Terjaminnya stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat. 2. Meningkatnya solidaritas antara anggota masyarakat.

18

3. Terpiliharanya persatuan dan kesatuan bangsa serta terhindar dari ancaman yang dapat keamanan dan ketertiban setiap warga masyarakat dalam melakukan kegiatan.

menggangu

4. Tumbuh dan berkembangnya kesadaran bela negara, kemandirian dan daya rangka masyarakat yang tangguh dalam menghadapi ancaman dan gangguan keamanan. 5. Meningkatnya perlindungan terhadap masyarakat.

IV. Arah Kebijakan 1. Penyuluhan penegakan perundang-undangan yang dilakukan kepada masyarakat luas. 2. Pemberdayaan masyarakat 3. Operasi Non-Yustisi 4. Operasi Yustisi 5. Forum Komunikasi 6. Bimbingan Teknis operasional PPNS Daerah Istimewa Yogyakarta 7. Pembinaan melalui represif Non Yustisi 8. Upaya penindakan terhadap pelanggar peraturan perundangang yang sulit dilakukan pembinaan secara represif non yustisi melalui represi pro yustisi. Kebijakan dalam upaya pencapaian keamanan, ketenteraman dan ketertiban, diarahkan untuk : 1. Meningkatkan pembinaan terhadap sistem ketenteraman dan ketertiban masyarakat dimana masyarakat dan pelaku sektor swasta sendiri yang akan menangani upaya pencapaian tersebut. 2. Memfasilitasi kebutuhan prasarana dan sarana ketenteraman dan ketertiban bagi Kepolisian Republik Indonesia (POLRI). Mewujudkan sistem manajemen perlindungan masyarakat yang mandiri dan mantap yang didukung oleh terbinanya sistem dan mekanisme kerja yang berdaya guna dan berhasil guna di antara segenap komponen pelaku pembangunan di setiap lapisan masyarakat. Program pewujudan ketenteraman dan ketertiban diarahkan pada upaya pembentukan sistem dan satuan perlindungan masyarakat yang berkemampuan untuk menangani gangguan ketenteraman, ketertiban dan pelanggaran hukum lainnya sesuai dengan kewenangannnya dan dengan berlandaskan kepada peraturan perundangan yang berlaku. V. Pencapaian RPJMN di Daerah Pada tahun 2007, gangguan Kamtibmas naik dari tahun sebelumnya menjadi 2.113 kejadian (naik lebih dari 100%). Gangguan Kamtibmas yang paling menonjol adalah Curanmor sebanyak 158 kasus. Angka ini

19

meningkat dari tahun sebelumnya sebanyak 11 kasus. Peningkatan kasus Kamtibmas juga terjadi pada kasus penyalahgunaan narkoba. Pada tahun sebelumnya kasus narkoba berjumlah 1.015 buah sedangkan pada tahun 2007 meningkat menjadi 2.020 buah. Tabel II.2 Upaya Pemerintah Propinsi DIY dalam Bidang Ketertiban dan Ketentraman Kegiatan 2004 2005 2006 2007 2008 Penyuluhan Penegakan Peraturan Pemberdayan Masyarakat Operasi Non-Yustisi Operasi Yustisi Bimtek Operasional PPNS Forum Komunikasi 8 50 50 5 5 74 50 1 5 6 100 60 1 2 5 3 100 60 1

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6.

Sumber: Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Gubernur Prop. DIY (2003-2008), Hal. IV-23

No. 1. 2.

Tabel II.3 Kasus Curanmor dan Penyalahgunaan Narkoba di DIY Kasus 2006 Pencurian Kendaraan Bermotor Penyalahgunaan Narkoba 147 1.015

2007 158 2.020

Sumber : Diolah dari Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Gubernur Prop. DIY (2003-2008)

Tantangan dalam meningkatkan keamanan dan ketertiban di Provinsi DIY antara lain : 1. Pembangunan di bidang keamanan dan ketertiban menghadapi tantangan yang cukup berat terutama dalam mengahadapi ancaman stabilitas serta tuntutan perubahan dan dinamika perkembangan masyarakat perkembangan masyarakat yang begitu cepat seiring dengan perubahan sosial politik yang membawa implikasi pada segala bidang kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. 2. Tantangan lain yang dihadapi adalah mengurangi potensi konflik kepentingan dan pengaruh negatif arus globalisasi yang penuh keterbukaan, sehingga penanaman wawasan kebangsaan dan kesadaran bela negara perlu ditingkatkan serta dipahami oleh seluruh komponen masyarakat secara lebih efektif dengan tetap berada dalam rambu hukum sehingga masyarakat mempunyai kemandirian dan daya tangkal yang tangguh terhadap kemungkinan ancaman dan gangguan yang akan terjadi.

20

VI. Rekomendasi Tindak Lanjut 1. Meningkatkan pembinaan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) pertahanan sipil dan unsur rakyat lainnya agar mampu berperan dalam menghadapi ancaman serta gangguan yang terjadi serta memfasilitasi kerjasama lintas kabupaten/kota dibidang keamanan, ketertiban masyarakat. 3. Meningaktkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa melalui penciptaan iklim kondusif menghidupkan kembali nilai-nilai luhur kegotongroyongan dan pengembangan sikap kesetiakawanan yang melibatkan seluruh komponen masyarakat. 4. Meningkatkan partisipasi rakyat terlatih yang tergabung dalam kelembagaan pertahanan sipil dan keamanan rakyat sebagai pelaksanaan fungsi perlindungan masyarakat. 5. Meningkatkan pemasyarakatan pendidikan pendahuluan bela negara (PPBN) kepada masyarakat lewat jalan formal dan informal dalam upaya menumbuhkemangkan kesadaran bela negara sejak dini.

VII. Penutup Usaha untuk meningkatkan keamanan dan ketertiban serta penanggulangan bencana di Provinsi DIY belum bisa dikatakan belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Perlu dukungan beberapa pihak dalam usaha peningkatan keamanan dan ketertiban daerah. Lemahnya koordinasi dan sinkronisasi antar instansi dapat mengakibatkan upaya meningkatkan keamanan dan ketertiban menjadi tidak optimal.

Bab 2.5 Pencegahan dan Penanggulangan Separatisme Permasalahan separatisme negara menjadi kewenangan Pemerintah Pusat sehingga pemerintah daerah tidak memiliki kewenangan untuk mengambil kebijakan. Selain itu, DIY relative bersih dari isu-isu separatism. Tim EKPD DIY tidak mengevaluasi hal tersebut. Bab 2.6 Pencegahan dan Penanggulangan Gerakan Terorisme I Pengantar Dalam beberapa tahun terakhir ini, aktifitas terorisme mengalami peningkatan yang cukup tinggi baik di level nasional maupun internasional. Di Indonesia, peristiwa Bom Bali I dan Bom Bali II sudah lebih dari cukup untuk mengatakan bahwa kegiatan terorisme ada di Indonesia. Kedua peristiwa tersebut sangat mencoreng wajah Indonesia di mata internasional. Hal ini semakin diperparah dengan banyaknya korban pengeboman yang

21

berasal dari berbagai negara, terutama Australia. Banyaknya warga negara asing yang menjadi korban pengeboman sangat dapat dipahami mengingat Bali adalah daerah kunjungan wisata internasional. Daerahdaerah yang menjadi tujuan wisata asing (terutama Amerika Serikat dan sekutunya) adalah daerah-daerah yang lebih menjadi tujuan terror. Propinsi DIY adalah daerah tujuan wisata yang di dalamnya juga terdapat warga negara tersebut. Selain itu, mahasiswa asing juga tidak sedikit yang belajar di Propinsi DIY. Namun, Propinsi DIY terkesan amanaman saja dari kasus Terorisme. Belum ada kejadian yang mengindikasikan adanya bahaya terorisme. Hanya pernah terjadi penangkapan orang yang membawa bahan bakar peledak di Jalan Lingkar Utara pada tahun 2007. Selain peristiwa tersebut, Propinsi DIY relative bersih dari kasus terorisme.

II

Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah Indonesia tidak dapat terlepas dari pergaulan internasional. Dari pergaulan internasional inilah Indonesia tidak dapat bebas dari pengaruh perubahan-perubahan sisial, politik, ekonomi, keamanan dan lainlain. Permasalahan keamanan, dengan munculnya terorisme, akhir-akhir ini menjadi permasalahn bagi Indoneisa. Hal ini, sekali lagi, tidak dapat dipisahkan dari faktor internasional. Gerakan terorisme yang muncul di Amerika Serikat juga berdampak bagi Indonesia. Hal ini dapat dijelaskan dengan sederhana bahwa Indonesia menjalin kerja sama dengan Amerika Serikat sehingga ketika ada terorisme di Amerika Serikat, Indonesia juga menanggung dampaknya. Di Indonesia terdapat kedutaan besar Amerika Serikat yang juga menjadi sasaran serangan terorisme. Begitu pula dengan Australia serta negara-negara lain. Kasus peristiwa Bom Kedutaan Australia dapat menjadi contoh ketidak sukaan teroris terhadap Australia juga berdampak bagi Indonesia. Sasaran teroris adalah Australia namun kejadian teroris berada di Indoensia. Selain permasalahn terorisme global, bangsa Indonesia juga berhadapan dengan perang terhadap terorisme yang bersifat lokal. Terorisme ini biasanya berupa peristiwa bom yang terkait dengan permasalahan yang lokal, misalnya konflik antar kelompok beragama. Terror juga dapat berupa pembakaran tempat-tempat ibadah. Kasus terror di Indonesia akhir-akhir ini memang telah menurun, namun bukan berarti uaya penannggulangan terorisme berhenti. DIY sendiri relatif aman dari berbagai aksi terorisme. Walaupun DI merupakan kawasan wisata dan penting serta strategis bagi Indonesia, namun sampai saat ini kondisi keamanan DI masih dapat terjaga dan kehidupan sehari-hari masih berlangsung secara kondusif.

III Sasaran yang Ingin Dicapai Dalam RPJMN 2004-2009, ada beberapa sasaran yang ingin dicapai dalam penanggulangan gerakan terorisme. Sasaran tersebut adalah:

22

1. Penurunnya kejadian tindak terorisme di seluruh wilayah Indonesia, 2. Meningkatnya kewaspadaan dan ketahanan masyarakat dalam menghadapi aksi terorisme, 3. Meningkatnya daya cegah dan tangkal negara terhadap ancaman terorisme secara keseluruhan.

IV Arah Kebijakan Untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan dalam RPJMN 2004-2009, kebijakan yang ditempuh adalah sebagai berikut: 1. Memantapkan operasional penanggulangan terrorism, 2. Melakukan sosialisasi dan upaya perlindungan masyarakat terhadap aksi terorisme 3. Menyiapkan pranata dan melaksanakan penegakan hukum penangulanngan terorisme berdasarkan prinsip demokrasi dan HAM, 4. Membangun kemampuan penangkalan dan penanggulangan terorisme.

V. Pencapaian RPJMN di Daerah Selama ini kondisi keamanan serta ketertiban di DIY dapat dijaga dengan baik. Aksi terorisme juga tidak terjadi di DIY. Namun hal tersebut bukan berarti bahwa DIY tidak layak untuk berjaga-jaga. Selama ini pengamanan khusus dari kepolisian atau Polda DIY masih sebatas pada pengamanan-pengamanan pada momen-momen tertentu, seperti Natal dan tahun baru. Serta juga turut terlibat aktif dalam menjaga keamanan dengan jajaran pengaman dari daerah sekitar agar tercipta koordinasi yang baik antar wilayah. Secara umum, Provinsi DIY luput dari ancaman terorisme dan sekaligus tetap waspada serta berhati-hati dalam melakukan aksi pencegahan yang dikira perlu.

VI. Rekomendasi Tindak Lanjut 1. Pemantapan serta penguatan sikap kepedulian sosial antara masyarakat. 2. Bekerja sama dengan kawasan atau wilayah di sekitar terkait dengan upaya pencegahan aksi terorisme. 3. Revitalisasi peran komunitas masyarakat seperti RT, RW dan Kelurahan sehingga dapat lebih responsif memantau sesuatu yang mencurigakan yang terjadi di lingkungan terkecil masyarakat.

23

VII. Penutup Sampai saat ini, wilayah Provinsi DIY relatif aman dari aksi terorisme. Namun perlu diingat bahwa terorisme merupakan isu nasional yang harus dicegah bersama-sama. Kerjasama pemberantasan terorisme dengan jajaran pengamanan lainnya merupakan hal penting, namun lebih dari itu, melibatkan masyarakat dari lingkup yang terkecil dalam ikut berparisipasi aktif melaporkan hal-hal yang dapat dicurigai sebagai aksi terorisme merupakan hal yang lebih penting.

Bab 2.7 Peningkatan Kemampuan Pertahanan Negara Permasalahan pertahanan negara menjadi kewenangan Pemerintah Pusat sehingga pemerintah daerah tidak memiliki kewenangan untuk mengambil kebijakan. Tim EKPD DIY tidak mengevaluasi hal tersebut. Bab 2.8 Pemantapan Politik Luar Negeri dan Peningkatan Kerjasama Internasional Permasalahan luar negeri menjadi kewenangan Pemerintah Pusat sehingga pemerintah daerah tidak memiliki kewenangan untuk mengambil kebijakan. Tim EKPD DIY tidak mengevaluasi hal tersebut.

24

BAGIAN III AGENDA MEWUJUDKAN INDONESIA YANG ADIL DAN DEMOKRATIS

Bab 3.1 Pengantar Agenda Mewujudkan Indonesia yang Adil dan Demokratis Berkaitan dengan agenda mewujudkan Indonesia yang adil dan demokratis, maka khusus di Propinsi DI Yogyakarta ada beberapa sasaran yang ingin dicapai. Pertama adalah pembenahan sistem dan politik hukum agar lebih adil, profesional, bersih dan berwibawa. Pembenahan sistem hukum juga terkait dengan meningkatkan kualitas pelayanan dalam bidang hukum serta meningkatkan kualitas dari produk-produk hukum yang dihasilkan. Sasaran yang kedua, yang berhubungan dengan agenda mewujudkan Indonesia yang adil dan demokratis adalah dengan mengupayakan penghapusan segala bentuk diskriminasi berbagai bentuk. Diskriminasi tersebut bertitik berat pada keadilan gender dengan memberi kesempatan yang sama bagi perempuan untuk mengembangkan dirinya, mendapatkan upah yang setara, bebas dari segala bentuk kekerasan rumah tangga serta kebijakan dan pelayanan publik yang sesuai dengan prinsip pengarusutamaan gender. Selain itu, bentuk diskriminasi lainnya yang harus dihilangkan adalah terhadap kaum difabel yang selama ini kepentingan dan haknya untuk mendapatkan pelayanan yang baik maupun fasilitas-fasilitas publik yang akomodatif masih belum terpenuhi secara layak. Diskriminasi terkait dengan isu-isu SARA juga diupayakan untuk dihapuskan sebagai wujud negara Indonesia yang plural dan saling hormat menghormati baik antar agama, suku dan ras yang berbeda. Selain itu, sasaran dalam mewujudkan Indonesia yang adil dan demokratis adalah dengan melakukan revitalisasi proses desentralisasi dan otonomi daerah yang diamantkan oleh undang-undang. Desentralisasi sangat menentukan keberhasilan suatu daerah dalam mengembangkan pemerintahan yang responsif terhadap pelayanan publik dan pemerintahan yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat di daerah.

Bab 3.2 Pembenahan Sistem dan Politik Hukum I Pengantar Pembenahan utama dalam mewujudkan Indonesia yang adil dan demokratis adalah sistem hukum nasional dan politik hukum. Hal ini nantinya akan tercermin dari sistem hukum yang adil, konsekuen, tidak diskiriminatif, serta menghormati hak asazi manusia. Selain itu, pembenahan sistem hukum nasional dan politik hukum juga akan ditunjukkan dengan tidak adanya pertentangan antara aturan perundang-undangan di tingkat pusat dan daerah sehingga terjadi konsistensi dalam sistem perundang-undangan antara pusat dan daerah.

25

Pemberantasan korupsi juga menjadi acuan penting akan ketercapaian pembenahan sistem hukum nasional dan politik hukum.

II

Kondisi Awal RPJMN Di Daerah Sistem hukum Indonesia befungsi sebagai aturan dasar dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Permasalahan muncul ketika produk-produk hukum yang dihasilkan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah masih menimbulkan ketidakpastian dan inkonsistensi antara satu sama lain. Otonomi daerah justru memunculkan banyaknya peraturan-peraturan daerah yang tumpang tindih, bertentangan dengan aturan di atasnya serta kurang responsifnya daerah dalam mengakomodasi kebutuhan lokal. Sebagai contoh kasus, yakni Peraturan Daerah No. 2 Tahun 2002 tentang Penertiban dan Pengendalian Muatan Barang di DIY. Pada tahun 2006, Perda ini mendapat teguran dari pemerintah pusat dan saat ini masih dalam proses penggodokoan dan perubahan agar tidak bertentangan dengan aturan yang lebih tinggi.

III Sasaran Yang Ingin di Capai Upaya pemerintah dalam pembenahan sistem hukum nasional dan politik hukum tercermin dalam sasaran pembangunan nasional yang dituangkan dalam RPJM 2004-2009. Sasaran pembangunan dalam pembenahan sistem dan politik hukum adalah terciptanya sistem hukum nasional yang adil, konsekuen, tidak diskriminatif, tidak ada pertentangan dengan aturan perundangan yang lebih tinggi, dan kelembagaan peradilan dan penegak hukum yang berwibawa, bersih, profesional dalam upaya memulihkan kembali kepercayaan hukum masyarakat secara keseluruhan.

IV Arah Kebijakan Arah kebijakan dalam pembenahan sistem dan politik hukum di Propinsi DI Yogyakarta adalah berupa penegakan hukum dan pemberantasan korupsi, pembenahan sistem kepegawaian (sistem renumerasi, data PNS, pembinaan karir berdasarkan prestasi, penerapan reward and punishment, reformasi birokrasi untuk peningkatan pelayanan publik serta evaluasi kelembagaan yang menangani penegakkan hukum. Sasaran dari arah kebijakan ini adalah upaya penegakkan hukum dan pemberantasan korupsi dalam penyelenggaraan pemerintah daerah, meningkatnya kualitas pelayanan publik dan penguatan kelembagaan yang menangani penegakkan hukum.

26

V

Pencapaian RPJMN di Daerah

5.1 Indikator Kinerja Pembangunan Daaerah Dari sasaran pembangunan dalam pembenahan sistem hukum nasional dan politik hukum kemudian diterjemahkan ke dalam indikator kinerja pembangunan di daerah. Di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, indikator tersebut berfokus pada konsistensi atau tidak adanya pertentangan antara aturan perundangundangan di tingkat pusat dengan peraturan perundang-undangan di tingkat daerah. Hal ini dinilai penting karena keselarasan hukum antara pusat dan daerah memastikan terciptanya hubungan harmonis dalam penegakkan hukum nasional. Indikator selanjutnya adalah kelembagaan peradilan dan penegak hukum yang berwibawa, bersih dan profesional. Dua indikator tersebut menjadi tolak ukur keberhasilan pembenahan sistem dan politik hukum di DI Yogyakarta. Namun secara khusus sasaran perbaikan kinerja sistem dan politik hukum dibagi menjadi beberapa sasaran yakni: a. meningkatnya pelayanan bidang hukum b. meningkatnya kualitas produk hukum c. meingktanya kemampuan penyusunan produk hukum d. meningkatkan kualitas sistem jaringan dokumentasi dan informasi (SJDI) hukum e. meningkatnya kualitas pengembanagn dokumentasi hukum f. meningkatnya kemampaun aparatur bidang informatika hukum g. meningkatnya kualitas pelayanan dan perlindungan serta penyelesaian sengketa hukum h. meningkatnya kualitas penegakkan supremasi hukum i. j. meningkatnya kualitas penegakkan HAM meningkatnya kemampuan aparatur bidang hukum Sasaran-sasaran tersebut merupakan indikator yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerag Propinsi DI Yogyakarta dalam konteks pembangunan sistem dan politik hukum yang lebih baik. 5.2 Upaya Yang Dilakukan Pemerintah Propinsi DIY Upaya yang dilakukan dalam pembenahan sistem dan politik hukum di DI Yogyakarta adalah dengan memahami substansi peraturan perundangan pusat sebelum diterjemahkan ke dalam peraturan daerah. Selain itu, berkenaan dengan penegakkan supremasi hukum, secara struktural hirakis, lembaga dan aparat penegak hukum di daerah langsung bertanggung jawab kepada pemerintah pusat, sehingga pemerintah tidak memiliki wewenang dalam hal pembinaan lembaga tersebut. Selaku aparatur daerah, yang dilakukan Pemerintah Daerah

27

Propinsi DI Yogyakarta adalah koordinasi dan pembinaan hukum sesuai dengan batas ketentuan wewenang yang dimilikinya. 5.3 Pencapaian Program Pembenahan Sistem dan Politik Hukum Capaian-capaian dalam indikator konsistensi aturan perundangan dan peradilan yang berwibawa di Propinsi DI Yogyakarta secara umum dapat terlihat dari peraturan daerah sepanjang 2004 hingga 2008, yakni sebanyak 39 peraturan dan 1.833 keputusan gubernur. Hal ini sedikit banyak menunjukkan bahwa Pemerintah Daerah Propinsi DI Yogyakarta cukup proaktif dan akomodatif dalam menyiapkan aturan yang lengkap baik berupa peraturan daerah maupun dalam bentuk keputusan gubernur. Sementara itu kemajuan demokrasi terlihat dengan berkembangnya kesadaran terhadap hak-hak sah masyarakat dalam kehidupan politik yang menstimulasi masyarakat untuk aktif lebih jauh berpartisipasi dalam mengambil inisiatif bagi pengelolaan urusan-urusan publik. Sedangkan dalam hal peradilan yang berwibawa maka dinilai peradilan dan hukum masih jauh dari kesan profesional dan bersih. 5.4 Permasalahan Pembenahan Sistem dan Politik Hukum Pada tahun 2006, terdapat suatu produk hukum berupa peraturan daerah yang mendapat evaluasi dari pemerintah pusat yakni Perda Propinsi Nomor 2 Tahun 2002 tentang Penertiban dan Pengendalian Muatan Barang di DIY. Saat ini Perda tersebut masih dalam tahap proses perubahan sehingga tidak bertentangan dengan aturan yang lebih tinggi. Selain itu, penciptaan lembaga dan aparat hukum yang bersih dan profesional serta berwibawa masih menjadi permasalahan dalam pembenahan sistem dan politik hukum. Hal ini juga terkait dengan hubungan koordinasi serta kewenangan yang dimiliki oleh pemerintah pusat. VI Rekomendasi Tindak Lanjut Terkait dengan permasalahan-permasalahan yang masih mengkemuka dalam hal pembenahan sistem dan politik hukum terutama dalam hal mewujudkan lembaga hukum dan peradilan yang bersih, profesional dan berwibawa maka diperlukan kerjasama yang baik dan selaras antara pemerintah pusat dengan daerah. Hal ini penting karena walaupun kewenangan penuh ada pada level pusat namun daerah juga berkepentingan dengan lembaga hukum yang baik. Selain itu, dalam perumusan peraturan daerah diperlukannya koordinasi dan sinkronisasi dengan peraturan pusat agar produk-produk hukum yang dibuat dapat diterjemahkan secara baik dan tidak saling bertentangan antara satu sama lain. VII. Penutup

28

Arah kebijakan dalam pembenahan sistem dan politik hukum di Propinsi DI Yogyakarta adalah berupa penegakan hukum dan pemberantasan korupsi, pembenahan sistem kepegawaian (sistem renumerasi, data PNS, pembinaan karir berdasarkan prestasi, penerapan reward and punishment, reformasi birokrasi untuk peningkatan pelayanan publik serta evaluasi kelembagaan yang menangani penegakkan hukum. Selaku aparatur daerah, yang dilakukan Pemerintah Daerah Propinsi DI Yogyakarta adalah koordinasi dan pembinaan hukum sesuai dengan batas ketentuan wewenang yang dimilikinya.

Bab 3.3 Penghapusan Diskriminasi dalam Berbagai Bentuk I. Pengantar Diskriminasi merupakan bentuk ketidakadilan negara terhadap warga negaranya. Di Indonesia, UUD 1945 secara lugas menyatakan kesetaraan dan keadilan bagi seluruh warga negara Indonesia dalam berbagai bidang. Sasaran pembangunan dalam RPJM terkait dengan penghapusan diskriminasi dalam berbagai bentuk berupa terlaksanannya peraturan perundang-undangan yang tidak mengandung perlakuan diskriminasi baik kepada setiap warga negara, lembaga/ instansi pemerintah, maupun lembaga swasta/ dunia secara konsisten dan transparan. Selain itu juga supaya terkoordinasikannya dan terhamoniskannya pelaksanaan peraturan perundangundangan yang tidak menonjolkan kepentingan tertentu sehingga dapat mengurangi perlakuan diskriminatif terhadap warga negara, terciptanya aparat dan sistem pelayanan publik yang adil dan dapat diterima oleh setiap warga negara. Diskriminasi terhadap perempuan masih terjadi seperti perbedaan upah para pekerja dengan tingkat pendidikan yang sama dan pembedaan pemberian jaminan sosial atau tunjangan. Indeks Pembangunan Gender (Gender related Development Index atau GDI) pada tahun 2002 berkisar 56.1 yang merupakan peringkat keempat di Indonesia dan untuk tahun-tahun berikutnya posisinya tidak banyak berubah secara signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan dalam berbagai lini baik pemerintah maupun non pemerintah/ swasta semakin meningkat. II Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah Diskriminasi merupakan bentuk ketidakadilan negara terhadap warga negaranya. Di Indonesia, UUD 1945 secara lugas menyatakan kesetaraan dan keadilan bagi seluruh warga negara Indonesia dalam berbagai bidang. Sasaran pembangunan dalam RPJM terkait dengan penghapusan diskriminasi dalam berbagai bentuk berupa terlaksanannya peraturan perundang-undangan yang tidak mengandung perlakuan diskriminasi baik kepada setiap warga negara, lembaga/ instansi pemerintah, maupun lembaga swasta/ dunia secara konsisten dan transparan.

29

Selain itu juga supaya terkoordinasikannya dan terhamoniskannya pelaksanaan peraturan perundangundangan yang tidak menonjolkan kepentingan tertentu sehingga dapat mengurangi perlakuan diskriminatif terhadap warga negara, terciptanya aparat dan sistem pelayanan publik yang adil dan dapat diterima oleh setiap warga negara. Diskriminasi terhadap perempuan masih terjadi seperti perbedaan upah para pekerja dengan tingkat pendidikan yang sama dan pembedaan pemberian jaminan sosial atau tunjangan. Indeks Pembangunan Gender (Gender related Development Index atau GDI) pada tahun 2002 berkisar 56.1 yang merupakan peringkat keempat di Indonesia dan untuk tahun-tahun berikutnya posisinya tidak banyak berubah secara signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan dalam berbagai lini baik pemerintah maupun non pemerintah/ swasta semakin meningkat. III Arah Kebijakan Upaya untuk mewujudkan penghapusan diskriminasi dalam berbagai bentuk dilaksanakan melalui beberapa arah kebijakan yang mendukung kepastian hukum yang konsisten terhadap penghapusan diskriminasi dalam berbagai bentuk. Langkah-langkah dari arah kebijakan tersebut antara lain: a. meningkatkan upaya penghapusan segala bentuk diskriminasi seperti ketidakadilan gender, pelayanan publik serta penyediaan fasilitas publik yang mengakomodasi kepentingan kaum difabel. b. Memberi pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya penghapusan segala bentuk diskriminasi yang terjadi disetiap lapisan masyarakat. IV Sasaran Yang Ingin Dicapai Sasaran pembangunan yang hendak dicapai dalam penghapusan diskriminasi dalam berbagai bentuk adalah: 1. Terlaksananya peraturan perundang-undangan yang tidak mengandung perlakukan diskriminasi baik kepada setiap warga negara, lembaga/instansi pemerintah, maupun lembaga swasta/dunia usaha secara konsisten dan transparan. 2. Terkoordinasikannya dan terhamornisasikannya pelaksanaan peraturan perundang-undangan yang tidak menonjolkan kepentingan tertentu sehingga dapat mengurangi perlakukan diskriminatif terhadap warga negara, terciptanya aparat dan sistem pelayanan publik yang adil dan dapat diterima oleh setiap warga negara V Pencapaian RPJMN di Daerah Indikator dari berhasil tidaknya upaya penghapusan diskriminasi dalam berbagai bentuk ditandai dengan terlaksananya peraturan perundangan-undangan yang tidak mengandung perlakuan diskriminasi baik

5.1 Indikator Kinerja Pembangunan Daerah

30

kepada setiap warga negara, lembaga pemerintah maupun lembaga swasta secara konsisten dan transparan. Dari sisi aparatur, indikator kerja penghapusan diskriminasi dalam bebagai bentuk adalah terciptanya aparat dan sistem pelayanan publik yang adil dan dapat diterima oleh setiap warga negara. Indikator tersebut mensyaratkan adanya peraturan perundang-undangan yang non diskriminatif serta didukung oleh aparat yang tidak diskriminatif. 5.2 Upaya Penghapusan Diskriminasi dalam Berbagai Bentuk Ada beberapa upaya yang dilakukan dalam penghapusan segala bentuk diskriminasi di Propinsi DI Yogyakarta. Yang menjadi fokus utamanya yakni masalah gender, kaum difabel serta penguatan hukum dan aparat. Tiga hal tersebut kemudian dikejewantahan dalam empat upaya yakni melakukan pelembagaan pengarusutamaan gender, penyuluhan penegakkan peraturan, memfasilitasi kaum difabel dalam memenuhi kepentingannya serta menanamkan nilai-nilai kesetaraan kepada para aparat pelayanan. Strategi untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender melalui regulasi dan fasilitasi Pemerintah Propinsi DI Yogyakarta dalam pembangunan pemberdayaan perempuan dan perlindungan kesejahteraan anak antara lain: 1. Keputusan Gubernur Nomor 33/Tim/2002 jo. 11/Tim/2006 tentang Tim Koordinasi Pembangunan yang Berspektif Gender (TKPBG) Propinsi DIY 2. Keputusan Gubernur Nomor 199 Tahun 2004 tentang Pembentukan Forum Penanganan Korban Kekerasan bagi Perempuan dan Anak di wilayah Propinsi D.I. Yogyakarta 3. Forum Koordinasi dan Evaluasi Pengarusutamaan gender 4. Forum peningkatan kualitas hidup perempuan 5. Pembentukan Persaudaraan Perempuan untuk Pemilu 2009 6. dan Terselenggaranya Telpon Sahabat Anak (TESA) 123. 5.3 Pencapaian Penghapusan Diskriminasi dalam Berbagai Bentuk di Propinsi DI Yogyakarta Secara umum, diskriminasi terhadap perempuan dalam sektor publik telah dapat ditekan. Begitu pula dengan diskriminasi yang berkaitan dengan SARA. Namun, upaya penghapusan diskriminasi terhadap kaum difabel dinilai masih perlu ditingkatkan, baik dalam bentuk penyediaan fasilitas publik yang ramah bagi kaum difabel maupun pelayanan publik yang akomodatif bagi kaum difabel. 5.4 Permasalahan dalam Upaya Penghapusan Diskriminasi Permasalahan yang masih menghambat terlaksananya proses penghapusan diskriminasi dalam berbagai bentuk adalah kurangnya pemahaman masyarakat terhadap konsep pengarusutamaan gender, pengarusutamaan difabel serta masih dominannya pandangan ekslusifitas pandangan masyarakat terkait dengan isu-isu SARA. Khusus terhadap diskrimnasi gender, permasalahan yang muncul antara lain:

31

a. masih rendahnya partisipasi/peran perempuan di sektor publik b. tingginya tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak c. pemahaman tentang Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG) masih sangat terbatas di level masyarakat d. Lemahnya kelembagaan dan jaringan pengarusutamaan gender dan anak e. Terbatasnya ketersediaan data terpilah menurut jenis kelamin. VI Rekomendasi Tindak Lanjut Penghapusan segala bentuk diskriminasi bagi seluruh warga negara Indonesia harus secara konsisten diperjuangkan. Pemerintah daerah harus secara konsisten melaksanakan peraturan perundangan yang bertujuan menghapus diskriminasi dalam berbagai bentuk. Selain itu pemerintah daerah harus mampu menumbuhkan pemahaman dan kepedulian aparatnya akan pentingnya penghapusan diskriminasi dalam berbagai bentuk. Langkah tersebut dapat dilanjutkan dengan melakukan sosialisasi terhadap masyarakat yang bertujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat akan pentingnya dukungan terhadap penghapusan diskriminasi dalam berbagai bentuk. Upaya tersebut dapat dilakukan baik secara formal yang melibatkan sektor pendidikan maupun secara informal dengan berbagai upaya yang melibatkan langsung masyarakat terhadap upaya penghapusan diskriminasi di lingkungan mereka sendiri.

VII. Penutup Yang menjadi fokus utama dari upaya penghapusan diskiriminasi dalam berbagai bentuk yakni masalah gender, kaum difabel serta penguatan hukum dan aparat. Secara umum, diskriminasi terhadap perempuan dalam sektor publik telah dapat ditekan. Begitu pula dengan diskriminasi yang berkaitan dengan SARA. Namun, upaya penghapusan diskriminasi terhadap kaum difabel dinilai masih perlu ditingkatkan, baik dalam bentuk penyediaan fasilitas publik yang ramah bagi kaum difabel maupun pelayanan publik yang akomodatif bagi kaum difabel.

BAB 3.4 Penghormatan, Pemenuhan dan Penegakkan Atas Hukum dan Pengakuan Atas HAM Bab ini tidak dijabarkan secara rinci seperti bab-bab sebelumnya dikarenakan isu-isu mengenai hukum dan HAM telah dibahas pada bab-bab sebelumnya yakni bab 3.2 dan bab 3.3. Selain itu, Propinsi DI Yogyakarta juga tidak secara khusus membuat arah kebijakan mengenai permasalahan ini karena sudah dicover oleh kebijakan-kebijakan lainnya.

32

BAB 3.5 Peningkatan Kualitas Kehidupan dan Peran Perempuan Serta Kesejahteraan dan Perlindungan Anak I. Pengantar Pembangunan adalah proses perubahan yang direncanakan secara sistematis yang bersifat dinamis menuju arah yang lebih baik. Untuk mencapai perubahan yang lebih baik persoalan peranan perempuan dan laki – laki dalam pembangunan tidak dapat dilepaskan dari hubungan dan peranan gender. Pada hakekatnya manusia diciptakan menjadi perempuan dan laki – laki, keduanya diciptakan berbeda agar bisa saling melengkapi guna pembangunan suatu kekuatan (sinergi ) baru yang lebih kuat dan bermanfaat bagi kelangsungan hidup umat manusia dimuka bumi. Oleh karena itu sasaran pembangunan ini sangat penting untuk dilaksanakan agar peran perempuan dalam pembangunan meningkat dan berkualitas sehingga pembangunan indonesia yang adil dan demokratis dapat terwujud. II. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah Dalam perkembangannya, peranan perempuan dan laki – laki dalam pembangunan telah terjadi dominasi oleh satu pihak dengan pihak yang lain, sehingga menimbulkan diskriminasi antara perempuan dan laki – laki. Secara statistik pada umumnya kaum perempuan mendapatkan posisi yang kurang menguntungkan dalam berbagai aspek kehidupan. Situasi ini merupakan hasil akumulasi dan akses dari nilai sosio cultural suatu masyarakat, hal tersebut memberi kontribusi terhadap timbulnya ketidasetaraan dan ketidakadilan gender. Kasus kekerasan terhadap perempuan pada awal berlakunya RPJMN di Daerah antara tahun 2002 – 2003 terjadi penurunan 19%, seperti yang terlihata dalam tabel III.1 Tabel III.1 Data Kasus Kekerasan terhadap Perempuan (Rifka Anisa Tahun 2000 – 2003) 2001 2002 234 103 29 13 16 247 97 42 13 16

Kategori Kasus KTI KDP Perkosaan Pel-Seks KDK

2000 225 92 28 25 12

2003 156 58 31 19 17

Sumber : Rangkuman Renstra Pemda Prop DIY Tahun 2004 – 2008 & Renstra 31 Instansi

Diskriminasi terhadap perempuan masih terjadi seperti yang ada dalam perbedaan upah para pekerja dengan tingkat pendidikan yang sama dan pembedaan pemberian jaminan sosial atau tunjangan. Maraknya

33

perdagangan perempuan dan anak serta masalah eksploitasi termasuk pornografi dan pornoaksi. Selain itu juga masalah perempuan di daerah bencana, penduduk perempuan usia lanjut dan penyandang cacat serta remaja memerlukan perhatian dan hak – hak mereka perlu dilindungi. Permasalahan lain yang juga dihadapi oleh perempuan adalah masalah ekonomi yang tidak bisa terlepas dari kemiskinan, masih tingginya angka perempuan yang buta aksara, hal ini mempersulit mengembangkan masyarakat terhadap pemahaman, sikap dan perilaku yang berperspektif gender, terbatasnya akses sebagian perempuan terhadap layanana kesehatan yang lebih baik dan terbatasnya keterlibatan dalam kegiatan publik yang luas. Oleh karena itu pemerintah propinsi DIY melalui program pemberdayaan perempuan dan kesejahteraan perlindungan anak berupaya untuk meningkatkan status, posisi dan kondisi perempuan agar dapat mencapai kemajuan yang setara dengan laki – laki serta membangun anak Indonesia yang sehat, cerdas, ceria, bertaqwa dan terlindungi. III. Sasaran yang ingin dicapai Dalam rangka peningkatan kualitas kehidupan dan peran perempuan serta kesejahteraan dan perlindungan anak, sasaran pembangunan yang hendak dicapai berdasarkan RPJM tahun 2004 – 2009 adalah: 1. Terjaminnya keadilan gender dalam berbagai perundangan, program pembangunan dan kebijakan publik. 2. Menurunnya kesenjangan pencapaian pembagnuann antara perempuan dan laki – laki yang diukur oleh angka GDE dan GEM. 3. Menurunnya tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta 4. Meningkatnya kesejahteraan dan perlindungan anak. Sedangkan sasaran pembangunan yang ingin dicapai berdasarkan Rencana Strategi Kantor Pemberdayaan Perempuan Propinsi DIY Tahun 2004 – 2008 antara lain : 1. Terwujudnya pelayanan ketatausahaan setiap tahun 2. Terlaksananya pengadaan alat – alat kantor dan rumah tangga untuk peningkatan sarana prasarana kantor 3. Terwujudnya fasilitasi perumusan, sosialisasi dan pelaksanaan strategi pengarusutamaan gender dalam kehidupan berkeluarga, masyarakat dan dunia usaha 4. Terwujudnya fasiltias pemberdayaan perempuan dalam keterampilan usaha ekonomi produktif menuju keluarga sehat sejahtera, serta pencegah pencemaran lingkungan 5. Terwujudnya fasilitasi peningkatan SDM perempuan bidang politik, ekonomi dan sosial serta pengarusutamaan gender bagi generasi muda di DIY. 6. Terwujudnya fasilitasi peringatan hari – hari besar bagi perempuan. 7. Terwujudnya fasilitasi perlindungan hak – hak perempuan dan perlindungan anak. 8. Terwujudnya fasilitas gerakan anti kekerasan terhadap anak dan remaka, serta gerak sayang ibu. 9. Terwujudnya fasilitasi penanganan korban kekerasan terhadap perempuan dan anak di DIY.

34

10. Terwujudnya fasilitasi pusat pelayanan terpadu korban kekerasan terhadap perempuan dan anak Rekso Dyah Utami. 11. Terwujudnya fasilitasi, regulasi dan sosialisasi antisipasi perdagangan anak (trafficking) di DIY. 12. Terwujudnya fasilitasi penyusunan perencanaan program dan penyusunan data terpilah menurut jenis kelamin di DIY. 13. Terwujudnya fasilitasi forum pembangunan daerah DIY. 14. Terwujudnya fasilitasi pemberdayaan perempuan agar terwujud keseteraan dan keadilan gender. IV Arah Kebijakan Untuk mencapai sasaran tersebut, kebijakan pembangunan bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak diarahkan pada : 1. Meningkatnya keterlibatan perempuan dalam proses politik dan jabatan publik 2. Meningkatkan taraf pendidikan dan layanan kesehatan serta bidang pembangunan mempertinggi kualitas hidup dan sumber daya kaum perempuan. 3. Meningkatnya kampanye anti kekerasan terhadap perempuan dan anak 4. Menyempurnakan perangkat hukum pindahan yang lebih lengkap dalam melindungi setiap individu dari berbagai tindak kekerasan, eksploitasi, dan diskriminasi, termasuk kekerasan dalam rumah tangga. 5. Meningkatkan kesejahteraan dan perlindungan anak. 6. Memperkuat kelembagaan, koordinasi, dan jaringan pengarusutamaan gender dan anak dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi dari berbagai kebijakan, program dan kegiatan pembangunan di segala bidang, termasuk pemenuhan komitmen – komitmen internasional, penyediaan data dan statistik gender, serta peningkatan partisipasi masyarakat. Kebijakan pembangunan yang dilakukan oleh Pemerintah Propinsi DIY untuk mewujudkan sasaran tersebut berdasarkan rencana strategi kantor pemberdayaan perempuan adalah : 1. Meningkatkan kedudukan dan peranan perempuan sebagai pengambil keputusan dalam mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender (KKG), serta perlindungan hak – hak perempuan dan anak sebagai SDM yang potensial di berbagai bidang kehidupan. 2. Meningkatkan kualitas peran dan kemandirian organisasi perempuan, serta koordinasi jaringan informasi kelembagaan dalam upaya pembentukan keterpaduan pengendalian. 3. Meningkatkan peran perempuan dan perlindungan anak dalam pengarusutamaan gender 4. Meningkatkan kemampuan dan kemandirian lembaga LSM dalam pengarutamaan denger. lainnya, untuk

35

V. Pencapaian RPJMN di Daerah 5.1 Upaya Yang Dilakukan Beberapa upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan dan meningkatkan kesejahteraan serta perlindungan anak dalam tahun 2003 – 2008 sebagai berikut : a. Kelembagaan pengarusutamaan gender (PUG) Strategi yang dilakukan oleh Pemerintah Propinsi DIY untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender adalah regulasi dan fasilitasi dalam pembangunan pemberdayaan perempuan dan perlindungan kesejahteraan anak antara lain : 1. Surat Edaran Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 411.4/0195 tanggal 23 Januari 2002 tentang pelaksanaan pengarusutamaan gender. 2. Keputusan gubernur nomor 33/Tim/2002 jo. 11/TIM/2006 tentang Tim Koordinasi Pembangunan yang Berperspektif Gender (TKPBG) Propinsi DIY. 3. Keputusan Gubernur Nomor 1999 Tahun 2004 tentang pembentukan forum penanganan korban kekerasan bagi perempuan dan anak di wilayah propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. 4. Keputusan gubernur nomor 132/KEP/2005 tentang Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ’Rekso Dyah Utami” 5. Forum Koordinasi dan Evaluasi Pengarusutamaan Gender. 6. Forum Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan 7. Forum Pengarusutamaan Gender Ormas Agama 8. Pemetaan Potensi Organisasi dan Lembaga Masyarakat yang berperan dalam pemberdayaan perempuan dan anak. 9. Pembentukan persaudaraan perempuan untuk pemilu 2009 10. Terselenggaranya telepon sabahan anak (TESA) 129 b. Peningkatan Kualitas Hidup dan Perlindungan perempuan dan anak Dalam rangka meningkatkan kualitas hidup dan perlindungan perempuan dan anak dilakukan beberapa kegiatan yaitu : 1. Sosialisasi Sosialisasi Undang – Undang dan peraturan dilakukan kepada masyarakat, tokoh masyarakat, birokrat, politisi, perangkat desa/lurah di lima kabupaten/kota, 78 kecamatan serta kelurahan/desa. Adapun Undang – Undan/peraturan yang disosialisasikan antara lain : o Undang – Undang Perlindungan Anak o Undang – Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga o Undang – Undang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, Pengarusutamaan Gender, Kesetaraan dan Keadilan Gender serta Pemberdayaan Perempuan.

36

2. Pelatihan o Pelatihan Antisipasi kekerasan dan traffiking, sasarannay adalah para kepala desa/lurah serta guru BP o Pelatihan penanganan korban kekerasan dan perlindungan perempuan dan anak, sasarannay adalah tokoh masyarakat (PSM/PKK) o Pendidikan politik yang berwawasan gender, sasarannya adalah organisasi perempuan dan partai politik. o Pelatihan perencanaan pembangunan berwawasan gender, sasaranya adalah para penyusun program pada instansi. o Pelatihan kepemimpinan wanita, sasarannay adalah kader perempuan dan TP PKK kecamatan. o Penyusunan konsep orang tua efektif dalam pengarusutamaan gender,sasarannya adalah guru, orang tua dan anak. 3. Koordinasi antar lembaga yang peduli terhadap perempuan dan anak baik instansi pemerintah maupun non pemerintah 4. Pembinaan organisasi perempuan 5. Penyusunan data terpilah untuk mengetahui kesenjangan yang ada pada bidang pendidikan, ekonomi, ketenagakerjaan, kesehatan, hukum dan hak asasi manusia dan sosial. Kegiatan-kegiatan tersebut ternyata berhasil meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat serta mendapat respon positif, sehingga masyarakat dapat melakukan antisipasi terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan anak. Partisipasi perempuan semakin nyata yaitu keikutsertaannya di berbagai bidang kehidupan sebagai contoh: keikutsertaan perempuan dalam penyusunan perencanaan di tingkat desa/kelurahan. Tumbuhnya kesadaran serta pemahaman masyarakat tentang kesetaraan dan keadilan gender, penyusunan program dan anggaran yang responsif gender. Selanjutnya untuk penanganan korban kekerasan yang dialami oleh perempuan dan anak telah tersusun mekanisme kerja penanganan korban kekerasan terhadap perempuan dan anak serta MOU antara pemerintah propinsi dengan RSUD maupun RS Swasta dan Bapeljamkesos. c. Meningkatkan peran serta perempuan dalam pembangunan Dalam rangka untuk meningkatkan peran serta masyarakat khususnya perempuan dalam pembangunan, maka dilakukan beberapa kegiatan antara lain : 1. Pelatihan usaha peningkatan pendapatan keluarga bagi 40 orang anggota PKK, bimbingan manajemen usaha bagi perempuan dalam mengelola 600 orang dari anggota kelompok UPPK PKK se Propinsi DIY. Sasaran dari kegiatan ini adalah penjual jamu gendong. Kegiatan ini dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para perempuan pengusaha jamu gendong dalam usahanya sehingga dapat meningkatkan pendapatan keluarga.

37

2. Penyelenggaraan pameran hasil karya perempuan 200 pengusaha kecil anggota kelompok UPPKS se Propinsi DIY. Kegiatan pameran tersebut dapat meningkatkan omset penjualan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga. 3. Penyelenggaraan gerakan sayang ibu (GSI) untuk menggerakkan masyarakat agar berperan dalam penurunan angka kematian ibu melahirkan dan angka kematian bayi. 4. Penyelenggaraan peringatan hari besar perempuan yaitu hari kartini dan hari ibu yang pelaksanaannya berkerjasama dengan lima komponen organisasi perempuan yaitu BKOW, TP PKK, Dharma Wanita Persatuan, Bhayangkari dan Dharma Pertiwi yang diawali dengan sarasehan dan pelaksanaan peringatan puncak acara. 5.2 Pencapaian di Daerah Berdasarkan Indeks Pembangunan Gender (Gender related Development Index atau GDI) pada tahun 2002 berkisar 56,1 menduduki posisi keempat dalam skala nasional dan untuk tahun – tahun berikutnya tidak berubah secara signifikan. GDI ini dapat dilihat dari tingkat kesehatan, pendidikan, ekonomi dan angka harapan hidup. Hal ini menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan dalam berbagai lini baik pemerintah maupun non pemerintah/swasta semakin meningkat. Sejalan dengan itu pemerintah Propinsi DIY telah membentuk wadah untuk kepentingan gender dalam struktur organisasi pemerintah Propinsi DIY. Dalam ranah politik jumlah perempuan dalam anggota DRPD antara periode 1999 – 2004 dan 2004 – 2009 belum ada peningkatan masih berkisar 9,1% dari seluruh anggota DRPD. Hal ini menunjukkan belum ada peningkatan peran perempuan dalam politik, seperti yang terlihat dalam tabel III.2. Tabel III.2 Data Anggota DPRD Propinsi/Kabupaten/Kota NO Prop/Kab/ Kota perempuan org 1. 2. 3. 4. 5. 6. Prop. DIY Kota Yogyakarta Bantul Kulon Progo Gunungkidul Sleman % 5 9,1 1 2,8 3 6,7 2 5,6 2 4,4 2 4,4 1999 – 2004 laki - laki org % 50 90,9 35 97,2 42 93,3 34 94,4 43 95,6 43 95,6 Jumlah org % 55 100 36 100 45 100 36 100 45 100 45 100 2004 - 2009 Perempuan org % 5 9,1 7 4 4 20 10 11 Laki - Laki org % 50 90,9 28 36 80 90 Jumlah org 55 35 40 35 45 45 % 100 100 100 100 100 100

31 88,6 44 97,8 41 91,1

1 2,2 4 8,9

Sumber : Rangkuman Renstra Pemda Prop DIY Tahun 2004 – 2008 & Renstra 31 Instansi

38

Tindak kekerasan terhadap perempuan masih tinggi, walaupun belum ada angka – angka yang tepat tentang hal ini. Laporan dari berbagai lembaga yang menangani korban tindak kekerasan menunjukkan adanya kenaikan jumlah kasus, yang juga menunjukkan semakin terungkapnya tindak kekerasan dalam masyarakat. Sebagai contoh korban kekerasan yang dialami oleh perempuan dan anak “Rekso Dyah Utami” semakin tahun cenerung meningkat. Penanganan Tahun 2004 sebanyak 14 kasus, tahun 2005 104 kasus, tahun 2006 116 kasus, tahun 2007 119 kasus, tahun 2008 sampai dengan bulan juni 33 kasus. 5.3 Permasalahan Pencapaian Sasaran Dalam upaya mencapai sasaran dalam pembangunan pemberdayaan perempuan terdapat beberapa permasalahan yang sangat mendasar yaitu : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Masih rendahnya partisipasi/peran perempuan di sektor publik dan politik. Tingginya tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak. Pemahaman tentang kesetaraan dan keadilan gender (KKG) masih sangat terbatas di kalangan masyarakat. Lemahnya kelembagaan dan jaringan pengarusutamaan gender dan anak Rendahnya kesejahteraan dan perlindungan anak Terbatasnya ketersediaan data terpilah menurut jenis kelamin.

VI Rekomendasi Tindak Lanjut Berbagai upaya tindak lanjut yang dapat dilakukan untuk mencapai sasaran di bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak serta memberikan solusi terhadap permasalahan diatas adalah: 1. Pemetaan Organisasi dan lembaga masyarakat yang berperan dalam pemberdayaan perempuan dan anak. 2. Sosialisasi dan akreditasi gerakan sayang ibu sehingga terjadi penurunan angka kematian ibu melahirkan dan bayi di propinsi DIY. 3. Pelatihan-pelatihan agar bisa meningkatkan peran perempuan dalam bidang politik dan jabatan publik VII Penutup Pembangunan peningkatan kualitas kehidupan, peran perempuan serta kesejahteraan dan perlindungan anak yang dilakukan di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta belum menunjukkan keberhasilan. Partisipasi perempuan dalam ranah politik terutama dalam keanggotaan DPRD masih berkisar 9.1% atau masih dibawah 10%. Angka ini cukup kecil dibanding anggota keseluruhan DPRD. Selain itu tindak kekerasan terhadap perempuan di Propinsi DIY masih tinggi. Hal ini ditunjukkan dengan adanya berbagai laporan dari lembaga yang menangani korban tindak kekerasan. Laporan tersebut memperlihatkan adanya kenaikan jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan. Oleh karena itu Pemerintah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

39

melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan peran perempuan dalam pembangunan daerah serta menurunkan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak. Upaya tersebut antara lain melembagakan pengarustumaan gender (PUG), meningkatkan kualitas hidup perempuan dan anak, meningkatkan perlindungan perempuan dan anak, serta meningkatkan peran perempuan dalam pembangunan daerah.

BAB 3.6 Revitalisasi Proses Desentralisasi dan Otonomi Daerah I. Pengantar Dengan dikeluarkannya UU No. 32 tahun 2004 sebagai pengganti UU No. 22 tahun 199 tentang pemerintah daerah dan UU No. 33 Tahun 2004 sebagai pengganti UU No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan daerah semakin memperkokoh kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah. Pelaksanaan otonomi daerah pada hakekatnya merupakan proses peningkatan efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan fungsi-fungsi pemerintahan, sehingga upaya untuk mewujudkan peningkatan kesejahteraan rakyat serta demokratisasi dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan derah dapat segera terwujud dalam kerangka NKRI. Desentralisasi dan otonomi daerah ini juga merupakan upaya pelaksanaan prinsip demokratisi yang menghargai keragaman berdasarkan tingkat kemajuan ekonomi, kualitas SDM, serta tingkat kekayaan sumber daya alam di masing-masing daerah. Namun demikian, dalam implementasinya perubahan dua sistem yang berbeda antara sentralistik menjadi desentralisasi memerlukan perubahan struktural yang besar di bidang kelembagaan, peraturan perundang-undangan dan pemberdayaan masyarakat sipil, baik di pusat maupun di daerah. Selain itu, kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah memerlukan kemandirian dan kualitas manusia serta kapasitas kepemerintahan yang baik, sehingga Pemerintah berusaha untuk meletakkan dasar-dasar yang lebih kokoh bagi transformasi sistemik menuju otonomi daerah yang ideal. II. Kondisi Awal di Daerah Kondisi penyelenggaraan otonomi daerah di Propinsi DIY dalam tahun 2003 – 2008 tidak berbeda dengan kondisi pada umumnya penyelenggaraan otonomi di seluruh Indonesia, yaitu dalam masa transisi dari penerapan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 ke Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, demikian juga dalam transisi penerapan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 ke Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 yang secara substansi banyak mengalami perubahan-perubahan yang sangat berpengaruh dalam penyelenggaraan otonomi daerah. Banyak kebijakan baru yang belum dapat diimplementasikan karena petunjuk teknis/operasionalnya belum terbit/dikeluarkan namun sudah disusul oleh terbitnya peraturan perundangan yang baru sehingga

40

menimbulkan multitafsir baik pada level/tingkatan propinsi, kabupten/kota maupun antara propinsi dan kabupaten/kota dalam pelaksanaannya. Perubahan mendasar yang mengawasi masa transisi OTDA ditengarai oleh perubahan pola pemerintahan dari pola top-down menjadi bottom-up (euphoria OTDA). Perubahan ini disambut oleh pemerintah daerah dengan mengembangkan visi daerah sebagai basis penyelenggaraan pemerintahan, didukung dengan kompetensi lain yang akan menjadi nilai tambah dalam penyelenggaraan pemerintahan di daerah. Demikian juga perilaku birokrasi dahulu yang selalu berorientasi menunggu petunjuk dari psuat berubah dengan memecahkan masalah sendiri yang beriorientasi pada lingkup derah (EUPHORIA OTDA). Pada akhir tahun 2004, pemerintah mengeluarkan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004, tentang Pemerintah Daerah. Undang-Undang yang mengatur penyelenggaraan pemerintahan di daerah ini mensyaratkan adanya pembagian urusan pemerintahan yang bersifat konkuren dengan menerapkan kriteria eksternalitas, akuntabilitas dan efisiensi. Dengan penerapan ke tiga kriteria tersebut semangat demokrasi serta ekonomis dapat disinergikan dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan demokratisasi sebagai esensi dasar dari kebijakan desentralisasi. Pemerintah Daerah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota mengatur dan mengurus urusan pemerintahan yagn menjadi kewenangannya yang terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan. Adanya kebijakan dari pusat untuk pengaturan dan pembagian kewenangan antara pemerintah, Propinsi, kabupaten/kota dengan sistem residu/sisa menimbulkan berbagai permasalahan antara lain : 1. Rumusan kewenangan secara makro (Undang-Undang dan PP maupun Keputusan Mendagri), yang tidak diikuti kebijakan lanjutan, standarisasi dan pengendalian maka di dalam penyelenggaraannya di daerah menimbulkan multitafsir dan tarik ulur kewenangan bahkan terkadang bertentangan atau tidak sejalan dengan sitem nasional. 2. Perbedaan penafsiran terhadap rumusan kebijakan mengenai kewenangan dan usaha untuk menyamakan persepsi bagi pemerintah daerah, memerlukan waktu yang relatif lama (apalagi didorong oleh sumber biaya dan kepentingan lokal dan atau organisasi elite politik lokal). 3. Permasalahan pasal-pasal dalam kebijakan Implikasi dari kebijakan desentralisasi di daerah ini adalah adanya penyerahan personil, peralatan dan pembiayaan dan dokumen (P3D) sebagaimana diamanatkan dalam pasal 8 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang diatur lebih lanjut dalam pasal 12 Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintah daerah, Pemerintah menyerahkan kewenangan disertai dengan unsur pendukung yang meliputi personil, pembiayaan, sarana dan prasarana dan dokumen, sesuai dengan kewenangan yang diserahkan. Wujud dari penyerahan kewenangan ini adalah penyerahan P3D instansi vertikal dari Departemen/Lembaga yang dihapus/digabung/diubah statusnya yang ada di Daerah diintergrasikan ke Daerah kecuali instansi vertikal yang masih menjadi kewenangan Pemerintah Pusat, termasuk Kantor Departemen dan Unit Pelaksana Teknis yang berkedudukan dan penyelenggaraannya menjadi kewenangan pemerintah kabupaten/kota diintegrasikan

41

kepada Pemerintah Kabupaten/Kota serta pengalihan sejumlah P3D yang semula dikelola oleh pemerintah Propinsi diserahkan kepada pemerintah kabupaten/kota.(LAKIP Gubernur DIY Tahun 2003 – 2008) Penyerahan P3D di daerah ini menghadapi berbagai permasalahan antara lain : 1. Berkaitan dengan penyerahan P3D Dinas Kimpraswil dan Dinas Kehutanan dan Perkebunan kepada Pemerintah Kabupaten/Kota, permasalahan belum selesainya penyerahan aset Dinas Kimpraswil dan Dinas Kehutanan dan Perkebunan yang bersumber dari APBN, karena belum adanya penyerahan dari pemerintah psuat kepada pemerintah propinsi, sehingga pemerintah propinsi tidak berwenang untuk menyerahkan kepada pemerintah kabupaten/kota. 2. Ketidakjelasan aset yang diserahkan dari pemerintah psuat khususnya aset bidang pekerjaan umum dalam rangka otonomi percontohan Kabupaten Sleman 1995 masih menimbulkan permasalahan di daerah yang sampai sekarang masih dalam proses penyelesaian. 3. Penyerahan aset APBD Dinas Kimpraswil masih menunggu persetujuan DRPD propinsi DIY. Adanya kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah ini juga mempengaruhi pengelolaan keuangan daerah. Pada awal pelaksanaan RPJMN di daerah pengelolaan keuangan daerah Propinsi DIY mengalami beberapa kali perubahan sejalan dengan ditetapkannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintah daerah Pemerintah Daerah, Undang – Undang Nomor 17 Tahun 2003, tentang Keuangan Negara, Undang – Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang perbendaharaan Negara, Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangna Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, Peraturan Pemerintahan Nomor 24 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan dan Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah yang ditetapkan sebagai petunjuk pelaksanaan sehingga seringkali mengalami ”masa transisi”. Terjadinya masa transisi ini disebabkan belum siapnya sumber daya untuk mendukung pelaksanaan pengelolaan keuangan Daerah dan belum terbangunnya sistem informasi pengelolaan keuangan daerah secara terintegrasi sesuai dengan petunjuk pelaksanaan Permendagri, disamping perencanaan program dan kegiatan masih mengacu pada Renstrada 2004-2008. Oleh karena itu pengelolaan keuangan daerah mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD disesuaikan dengan perubahan peraturan yang dipedomi. III Sasaran Yang Ingin Dicapai Sasaran yang hendak dicapai dalam revitalisasi proses desentralisasi dan otonomi daerah dalam RPJMN 2004-2009 adalah 1. Tercapainya sinkronisasi dan harmonisasi peraturan perundang-undangan pusat dan daerah, termasuk yang mengatur tentang otonomi khusus Propinsi Papua dan NAD.

42

2. Meningkatnya kerjasama antar pemerintah daerah 3. Terbentuknya kelembagaan pemerintah daerah yang efektif, efisien dan akuntabel. 4. Meningkatnya kapasitas pengelolaan sumber daya aparatur pemerintah daerah yang profesional dan kompeten 5. Terkelolanya sumber dana dan pembiayaan pembangunan secara transparan, akuntabel dan profesional serta 6. Tertatanya daerah otonom baru. Sedangkan sasaran yang ingin dicapai mengacu pada misi Daerah Propinsi DIY berdasarkan Renstrada adalah : 1. Kelembagaan pemerintahan yang sesuai dengan kebutuhan daerah. 2. Pedoman organisasi dan tata laksana, profil perangkat daerah, uraian tugas, uraian jabatan dan rumpun jabatan yang jelas dan memenuhi kebutuhan. 3. Instrumen penilaian kinerja dan kompetensi jabatan yang implementatif. 4. Aparat pemerintah yang mempunyai jiwa kewirausahaan dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan paradigma 5. Sistem kepegawaian yang mantap, teruji dan menjamin penjenjangan karier pegawai secara sehat. 6. Sarana dan prasarana aparatur pemerintahan yang memadai dan menjamin dapat dilaksanakannya tugas – tugas pemerintahan.(RPJMN 2004 – 2009) Misi Daerah Propinsi DIY yang sesuai dengan agenda pembangunan ini adalah membenahi birokrasi dengan pemantapan kelembagaan, penataan kepegawaian, peningkatan kemampuan aparatur pemerintah daerah melalui transformasi birokrasi. Misi dan sasaran dalam renstrada tersebut dijabarkan ke dalam program prioritas pembangunan Propinsi DIY yang dicantumkan dalam Kebijakan Umum Anggaran. Salah satu prioritas pembangunan yang sesuai dengan agenda pembangunan nasional ini adalah Penegakan Hukum dan Revitalisasi Kapasitas Kelembagaan dengan sasaran pembangunan sebagai berikut: 1. Meningkatnya upaya penegakan hukum dan pemberantasan korupsi dalam penyelenggaraan pemerintah daerah. 2. Meningkatnya kualitas pelayanan publik 3. Penguatan kelembagaan yang menangani penegakan hukum. IV Arah Kebijakan Berdasarkan RPJMN Tahun 2004 – 2009 Revitalisasi proses desentralisasi dan otonomi daerah diarahkan untuk mendukung peningkatan kesejahteraan melalui pelayanan masyarakat, penyelenggaraan otonomi daerah dan pemerintah derah yang baik, dilaksanakan melalui kebijakan :

43

1. Memperjelas pembagian kewenangan antar tingkat pemerintahan baik kewenangan mengenai tugas dan tanggungjawab maupun mengenai penggalian sumber dana dan pembiayaan pembangunan yang didukung oleh semangat desentralisasi dan otonomi daerah dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. 2. Mendorong kerjasama antar pemerintah daerah termasuk peran pemerintah provinsi dalam rangka peningkatan pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat. 3. Menata kelembagaan pemerintah daerah agar lebih proporsional berdasarkan kebutuhan nyata daerah, bersifat hierarkhi yang pendek, bersifat jejaring, bersifat fleksibel dan adaptif, diisi banyak jabatan fungsional, dan terdesentralisasi kewenangannya, sehingga mampu memberikan pelayanan masyarakat dengan lebih baik dan efisien, serta berhubungan kerja antar tingkat pemerintah, dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, masyarakat, dan lembaga non pemerintah secara optimal sesuai dengan peran dan fungsinya. 4. Menyiapkan ketersediaan aparatur pemerintah daerah yang berkualitas secara proporsional di seluruh daerah dan wilayah, menata keseimbangan antara jumlah aparatur pemerintah derah dengan beban kerja di setiap lembaga/satuan kerja perangkat daerah, serta meningkatkan kualitas aparatur pemerintah daerah melalui pengelolaan sumber daya manusia pemerintah daerah berdasarkan standar kompetensi. 5. Meningkatkan kapasitas keuangan pemerintah daerah, termasuk pengelolaan keuangan yang didasarkan pada prinsip – prinsip transparansi, akuntabilitas, dan profesionalisme, sehingga tersedia sumber dana dan pembiayaan yang memadai bagi kegiatan pelayanan masyarakat dan pelaksanaan pembangunan di daerah, serta 6. Menata daerah otonom baru, termasuk mengkaji pelaksanaan kebijakan pembentukan daerah otonomi baru di waktu mendatang, sehingga tercapai upaya peningkatan pelayanan publik dan percepatan pembangunan daerah. Sedangkan arah kebijakan yang digunakan untuk mencapai agenda pembangunan revitalisasi desentralisasi dan otonomi daerah di daerah Propinsi DIY berdasarkan Renstrada adalah 1. Penegakan hukum dan pemberantasan korupsi. 2. Pembenahan manajemen kepegawaian yaitu sistem renumerasi, data PNS, pembinaan karir berdasarkan prestasi, penerapan reward and punishment. 3. Reformasi birokrasi untuk peningkatan kualitas pelayanan publik 4. Evaluasi kelembagaan yang menangani penegakan hukum. V. Pencapaian RPJMN di Daerah 5.1 Indikator Kinerja Pembangunan Daerah Indikator yang dipakai untuk mengukur berhasil atau tidaknya pembangunan dalam bidang revitalisasi proses desentralisasi dan otonomi daerah adalah pertama, sinkronisasi dan harmonisasi peraturan yang diukur

44

dengan melihat angka produk hukum yang tidak sesuai berdasarkan hierarki hukum dan substansi hukum. Kedua, kerjasama antar daerah yang diukur dengan melihat jumlah, jenis dan bidang kerjasama yang melibatkan satu atau lebih pemerintah daerah. Ketiga, kelembagaan pemerintah daerah dilihat melalui struktur, jumlah dan susunan kelembagaan pemerintah daerah. Keempat, kapasitas aparatur yang diukur dengan melihat jumlah pegawai negeri sipil, jumlah pegawai honorer daerah, frekuensi pendidikan dan pelatihan pegawai, frekuensi seminar yang diikuti pegawai, identifikasi tingkat jabatan pemerintah daerah dan identifikasi kebutuhan pekerjaan di lingkungan pemerintah daerah. Kelima, indikator pengelolaan pembiayaan pembangunan yang diukur melalui jumlah pendapatan asli daerah (PAD), Jumlah Dana Alokasi Umum (DAU), Jumlah Dana Bagi Hasil (DBH), Jumlah Fiskal Daerah, Kebutuhan Pembiayaan Pembangunan Daerah per tahun, dan Jumlah pengeluaran daerah per tahun. Keenam Penyerahan P3D sebagai indikator dari implementasi desentralisasi dan otonomi daerah. Selain indikator-indikator diatas yang telah disesuaikan dengan indikator kinerja pembangunan daerah dalam RPJMN 200 4- 2009, Pemerintah Propinsi DIY juga membuat indikator utama pembangunan dalam menilai kinerja pembangunan daerah. Salah satu indiktor utama tersebut adalah penegakan hukum dan revitalisasi kapasitas kelembagaan dengan indikator kinerjanya antara lain peningkatan kapasitas kelembagaan daerah, penataan peraturan perundang-undangan, peningkatan disiplin, peningkatan kapasitas sumber daya aparatur, pembinaan dan pengembangan aparatur dan pendidikan kedinasan. 5.2 Upaya yang dilakukan 5.2.1 Bidang Otonomi Daerah Penyerahan Personil, Peralatan, pembiayaan dan dokumen (P3D sampai dengan tahun 2006 personil dari pemerintah Propinsi DIY yang telah diserahkan kepada pemerintah Kabupaten/Kota sejumlah 5.500 orang. 5.2.2 Penegakan Hukum dan Revitalisasi Kelembagaan Dalam upaya penegakan hukum dan revitalisasi kapasitas kelembagaan dilakukan beberapa kegiatan antara lain: 1. Menyelenggarakan forum koordinasi pembinaan serta penegakan peraturan perundang-undangan dan sosialisasi peraturan perundang – undangan 2. Menumbuhkembangkan kesadaran masyarakat untuk patuh dan taat terhadap peraturan perundangundangan yang berlaku. 3. Memfasilitasi pindah/purna tugas PNS berupa pemulangan pegawai yang pensiun sebanyak 394 SK, pemindahan tugas PNS (Mutasi antar instansi, kabupaten, propinsi) sebanyak 297 SK 4. Penyusunan formasi tahun 2007 CPNS dan formasi jabatan fungsional guna menunjang proses penataan PNS di lingkungan pemerintah propinsi DIY.

45

5.2.3 Bidang Kerjasama Pemerintah Dalam hal kerjasama pemerintah propinsi DIY melakukan beberapa upaya untuk mencapai sasaran pembangunan diatas antara lain : 1. Membuka peluang kerjasama kepada pemerintah daerah lain dan pihak ketiga untuk melakukan kerjasama dengan pemerintah propinsi DIY untuk kepentingan peningkatan pemberdayaan, pelayanan dan kesejahteraan masyarakat. 2. Peningkatan kemampuan aparatur yang terkait dalam penanganan kerjasama luar negeri. 3. Merevitalisasi kembali kerjasama yang mengalami stagnasi. 4. Optimalisasi/pengembangan kerjasama yang masih aktif berjalan. 5. Peningkatan wawasan aparatur mengenai data/informasi/profil negera-negara/provinsi-provinsi di luar negeri, yang memungkinkan untuk menjadi mitra kerjasama dengan propinsi DIY 5.2.4 Bidang Pemerintahan Umum, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian Upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Propinsi DIY dalam mencapai sasaran pembangunan diatas adalah : 1. Mengurangi jumlah pegawai 2. Penataan Jabatan 3. Penempatan Pegawai 4. Peningkatan sumber daya aparatur 5. Bimbingan Teknis Implementasi Peraturan Perundang-undangan 6. Pengukuran Kompetensi Bagi Pejabat Struktural Pemerintah Provinsi DIY sebanyak 54 orang pejabat 7. Tes Psikologi bagi 239 pegawai negeri sipil pemerintah propinsi DIY. 8. Bimbingan psikologis bagi PNS pemerintah propinsi DIY yang bermasalah 9. Workshop Implementasi peraturan Gubernur Nomor 49 Tahun 2005 tentang Pedoman Pemberian Rewards and Punishment. 5.2.5 Bidang Pengelolaan Keuangan Daerah Pengelolaan keuangan daerah pada lima tahun terakhir diarahkan pada intensifikasi dan ekstensifikasi pendapatan daerah antara lain : 1. Tahun 2003, pengelolaan keuangan daerah diupayakan dengan peningkatan PAD melalui upaya internal dan eksternal. 2. Tahun 2004, pengelolaan keuangan daerah diarahkan untuk penggalian dan optimalisasi sumber pendapatan asli daerah dan meningkatkan pemanfaatan aset-aset daerah secara lebih optimal.

46

3. Tahun 2005, kebijakan pengelolaan keuangan daerah diarahkan untuk optimalisasi sumber pendapatan asli daerah dengan intensifikasi dan ekstensifikasi yang tidak menambah beban masyarakat serta difokuskan pada sumber pendapatan yang belum optimal dan penggalian sumber pendapatan baru yang masih memungkinkan. 4. Tahun 2006, dilakukan optimalisasi sumber pendapatan asli daerah dengan intensifikasi dan ekstensifikasi pendapatan daerah. 5. Tahun 2007, pengelolaan keuangan daerah masih diupayakan dengan optimalisasi sumber pendapatan asli daerah dengan intensifikasi dan ekstensifikasi terhadap sumber – sumber pendapatan yang relatif tetap yaitu secara ketat, giat dan teliti dengan tidak menambah beban masyarakat serta difokuskan pada sumber pendapatan yang belum optimal dan penggalian sumber pendapatan baru yang masih memungkinkan. 5.3 Posisi Capaian Hingga Tahun 2008 5.3.1 Bidang Desentralisasi dan Otonomi Daerah Implementasi dari otonomi daerah adalah penyerahan Personil, Peralatan, Pembiayaan dan Dokumen (P3D). Penyerahan P3D telah dimulai sejak tahun 1995 di Kabupaten Sleman dengan otonomi percontohan, selanjutnya penyerahan P3D tidak dapat dilaksanakan secara bersamaan, karena : 1. Diperlukan waktu untuk penelitian dan menginventarisasi personil dan peraturan yang akan diserahkan. 2. Diperlukan kesepakatan dengan pemerintah kabupaten/kota untuk penyerahan P3D yang memerlukan proses yang cukup lama 3. Diperlukan persetujuan dari DPRD provinsi DIY untuk aset yang bersumber APBD dan persetujuan dari Menteri Keuangan untuk aset yang bersumber dari APBN. Selanjutnya pelaksanaan penyerahan P3D dilakukan terus menerus dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2006. Tahun 2003 personil dari pemerintah provinsi DIY yang diserahkan kepada pemerintah kabupaten/kota sebanyak 2.496 orang terdiri dari 266 orang polisi pamong praja, 1.553 orang dinas kesehatan, dan 677 orang dari BKKBN. Tahun 2004 personil yang diserahkan sebanyak 1.685 orang terdiri dari 698 orang dinas kesehatan, 180 orang dinas sosial, 399 orang dari dinas pertanian, 36 orang dari dinas tenaga kerja dan transmigrasi, 54 orang dari dinas perikanan dan kelautan serta 318 orang dari dinas pendidikan. Tahun 2005, 209 orang dari dinas kehutanan dan perkebunan yang diserahkan kepada pemerintah kabupaten/kota dan tahun 2006 sebnayak 439 orang dari dinas kimpraswil. Sehingga sampai dengan tahun 2006 personil yang sudah diserahkan dari pemerintah provinsi DIY kepada pemerintah kabuapten/kota sejumlah 5.500 orang dengan perincian seperti yang terlihat dalam tabel III.3

47

Tabel III.3 Jumlah personil yang telah diserahkan sampai dengan tahun 2006 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Otonomi Percontohan Kabupaten Sleman Dinas Kesehatan Dinas Sosial Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Dinas Pendidikan Dinas Perikanan dan Kelautan Dinas Pertanian Polisi Pamong Praja BKKBN Dinas Kehutanan dan Perkebunan Dinas Kimpraswil : : : : : : : : : : : 671 orang 2.251 orang 180 orang 36 orang 318 orang 54 orang 399 orang 266 orang 677 orang 209 orang 439 orang

Sumber : Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Gubernur DIY Akhir Masa Jabatan 2003 – 2008

5.3.2 Bidang Hukum Produk hukum yang dibuat dalam periode sejak 2004 – 2008 mengalami penurunan dibandingkan dengan jumlah produk hukum yang dibuat pada 5 tahun sebelumnya, hal tersebut karena sejak adanya otonomi derah, kewenangan banyak yang beralih ke Kabupaten/Kota. Peraturan Daerah yang dibuat dalam periode 1999 – 2003 sebanyak 78 peraturan dan periode 2004 – 2008 sebanyak 39 peraturan. Sedangkan Keputusan Gubernur yang dibuat dalam periode 1999 – 2003 sebanyak 2.100 peraturan dan periode 2004 – 2008 sebanyak 1.833 peraturan. Pada Tahun 2006 terdapat satu produk hukum yang mendapat evaluasi dari pemerintah pusat yaitu Perda Provinsi DIY Nomor 2 tahun 2002 tentang Penertiban dan Pengendalian Muatan Barang di Propinsi DIY, yang saat ini perda tersebut dalam proses perubahan. 5.3.3 Bidang Kerjasama Daerah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu propinsi yang memiliki berbagai potensi yang apabila dimanfaatkan dengan maksimal akan dapat mendatangkan keuntungan bagi pemerintah maupun masyarakat Daerah Isitimewa Yogyakarta. Salah satu cara untuk dapat mengoptimalkan pemanfaatan potensi yang dimiliki oleh Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta adalah melalui penyelenggaraan kerjasama dengan berbagai pihak di dalam negeri maupun luar negeri. Kerjasama antar daerah ini dapat menjadi media solusi dan integrasi energi untuk menyelesaikan masalah lintas daerah, antara lain efektivitas dan efisiensi pelayanan lintas daerah, efektivitas dan efisiensi pengelolaan pelayanan interelasi daerah, serta manajemen konflik antar daerah. Selain itu kerjasama antar daerah dengan pihak ketiga ini juga sangat diperlukan dalam rangka : 1. Memanfaatkan keunggulan kompetitif masing – masing daerah dan pihak ketiga untuk mengoptimalkan pengelolaan sumber daya daerah dan mengoptimalkan pengelolaan urusan rumah tangga daerah

48

sehingga lebih bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat maupun dalam memberikan pelayanan kepada masyarkat. 2. Mewujudkan keserasian hubungan antar daerah satu dengan daerah lainnya dan pihak ketiga dalam rangka memperkokoh negara kesatuan Republik Indonesia. 3. Menghilangkan atau paling tidak mengurangi ego pemerintahan daerah yang berlebihan. Sejak tahun 2004 – 2007, pemerintah propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta telah melakukan kerjasama dengan pemerintah derah lain, lembaga pemerintah maupun pihak swasta sebanyak 174 kerjasama dengan perincian seperti yang terlampir dalam tabel III.4 Tabel III.4 Jumlah Kerjasama Pemerintah Propinsi DIY Tahun 2004 – 2007 Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 Antar Pemerintah 30 8 6 4 8 Antar Lembaga 6 6 4 6 10 Swasta 10 14 18 3 19 Jumlah 46 27 28 13 37

Sumber : Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Gubernur DIY Akhir Masa Jabatan 2003 – 2008

Kerjasama diatas dituangkan dalam berbagai bentuk naskah kerjasama antar lain dalam bentuk peraturan bersama, keputusan bersama, kesepakatan bersama/kesepahaman bersama dan perjanjian kerjasama. Beranekaragamnya bentuk naskah kerjasama tersebut, karena adanya perubahan peraturan perundangan yang melandasi/mendasari dilaksanakannya kerjasama daerah. Dari segi intensitas kerjasama, sejumlah kerjasama masih aktif dan efektif dilaksanakan, sebagian kurang aktif (masih diperlukan namun perlu ditinjau kembali dari aspek pelaksanaan maupun dari aspek ruang lingkup) dan sebagian sudah tidak efektif. Selain kerjasama dalam negeri, Pemerintah Propinsi DIY juga telah melakukan berbagai kerjasama luar negeri sejak tahun 2004 – 2007 antara lain : 1. Kerjasama sister Province: Prefecture Kyoto Jepang, Provinsi Chungcheongnam-Do Korsel, Provinsi Gyeongsangbuk-Do Korsel, Ismailia Mesir, Negara Bagian California Amerika Serikat, Provinsi Tyrol Austria dan Chiang Mai Thailand. 2. Kerjasama Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan lembaga swasta/pemerintah di luar negeri yaitu BATAN dan Universitas Karlsruhe Jerman, Suruga Miyaga Company Jepang serta Medical Peace Foundation Korea Selatan. 3. Kerjasama Teknis antara lain dengan prefecture Hyago Jepang dan Prefenture Osaka Jepang

49

4. Jalinan Kerjasama yang masih dalam tahap perintisan yaitu kerjasama dengan Internasional Finance Cooperation Pemerintah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta juga telah melakukan monitoring terhadap pelaksanaan kerjasama luar negeri sejak tahun 2004 – 2007 sebanyak delapan kerjasama dan dievaluasi dua kerjasama dari total keseluruhan 11 naskah kerjasama luar negeri. 11 Kerjasama luar negeri yang telah dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Daeah Istimewa Yogyakarta antara lain dengan Prefecture Kyoto Jepang, Suruga Miyagawa Company Jepang, Provinsi Ismailia Republik Mesir, Senat Negara Bagian California Amerika Serikat, Provinsi Tyrol Republik Austria, Universitas Karlsruhe Republik Federasi Jerman, Konsorsium Logistik Bernhard Malaysia, Chungcheongnam Do Korea Selatan, Gyeongsanbuk Do Korea Selatan, Medical Peace Foundation (MPF) Korea Selatan, dan Provinsi Chiang Mai Thailand. Kerjasma Luar negeri tersebut sebagian masih aktif namun sebagian yang lain stagnan seperti yang terlihat dalam tabel III.5 Tabel III.5 Jenis Kerjasama Luar Negeri Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta NO 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. KERJASAMA NEGARA STATUS Prefeture Kyoto Jepang Aktif Suruga Miyagawa Company Jepang Aktif Provinsi Ismailia Republik Mesir Stagnan Senat Negara Bagian California Amerika Serikat Stagnan Provinsi Tyrol Republik Austria Stagnan Universitas Karlsruhe Republik Federasi Jerman Aktif Konsorsium Logistik Bernhard Malaysia Stagnan Chungcheongnam Do Korea Selatan Stagnan Gyeongsanbuk Do Korea Selatan Aktif Medical Peace Foundation (MPF) Korea Selatan Aktif Provinsi Chiang Mai Thailand Penandatangani dilakukan pada tanggal 4 September 2007, sehingga pada saat ini sedang dalam proses penyusunan program kerjasama

Sumber : Laporan Pertanggungjawaban Gubernur DIY Akhir Masa Jabatan 2003 – 2008

Untuk kerjasama dalam negeri telah dimonitor 84 kerjasama dan dievaluasi 4 kerjasama. Kerjasama tersebut dibagi dalam 3 kategori kerjasama yaitu : 1. Kerjasama pemerintah daerah dengan lembaga pemerintah dalam negeri sejumlah 15 kerjasama 2. Kerjasama pemerintah daerah dengan pihak swasta dalam negeri sejumlah 33 kerjasama 3. Kerjasama pemerintah derah dengan pemerintah daerah lainnya sejumlah 36 kerjasama.

50

5.3.4 Bidang Pemerintahan Umum, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian Dalam bidang ini upaya yang dilakukan adalah penataan kembali kelembagaan dan peningkatan aparatur pemda sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan daerah. Adapun jumlah pegawai negeri sipil Pemerintah Propinsi DIY periode 2003-2008 : • • • • • • Tahun 2003 Tahun 2004 Tahun 2005 Tahun 2006 Tahun 2007 Tahun 2008 : 8.532 (Data Desember 2003) : 8.156 (Data Desember 2004) : 8.031 (Data Desember 2005) : 7.844 (Data Desember 2006) : 7.941 (Data Desember 2007) : 7.759 (Data 26 Mei 2008)

Sumber : Laporan Pertanggungjawaban Gubernur DIY Akhir Masa Jabatan Tahun 2003-2008

Dalam Periode 2004 – 2008, telah diupayakan optimalisasi Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai salah satu asset organisasi dalam menunjang pelaksanaan program dan kegiatan di Pemerintah Propinsi DIY. Hal ini diwujudkan dalam bentuk optimalisasi peran pegawai bagi organisasi dan untuk kemajuan dan peningkatan kinerja organisasi. Upaya optimalisasi SDM ini juga dilakukan dalam rangka percepatan reformasi birokrasi yang efektif dan efisien. Adapun upaya yang telah dilakukan Pemerintah Propinsi DIY dalam rangka percepatan reformasi birokrasi adalah : 1. Mengurangi jumlah pegawai (Minus Growth) Dalam periode 2004 – 2008 dilakukan penyusunan formasi dan penerimaan pegawai untuk melengkapi kebutuhan PNS di Pemerintah Propinsi DIY dengan mempertimbangkan beban kerja dan urgensitas (tingkat kepentingan). Sehingga dalam kurun waktu tersebut terjadi optimalisasi pegawai dan penyeimbangan antara jumlah pegawai dan beban kerja. Oleh karena itu dari tahun 2003 sampai tahun 2008 telah terjadi pengurangan jumlah pegawai sebanyak 9%. 2. Penataan Jabatan Dalam penataan Jabatan diterapkan proses : o o o Fit dan Proper Test melalui Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan Uji Kompetensi bagi calon pejabat di lingkungan pemerintah propinsi DIY Tes Psikologi bagi calon pegawai negeri sipil di lingkungan pemerintah propinsi DIY

Adapun distribusi jabatan dari tahun 2004 – 2008 dapat dilihat dalam tabel III.6

51

Tabel III.6 Jumlah PNS Berdasarkan Jabatan Tahun 2004 2005 2006 2007 2008 Jabatan Sekretaris Daerah 1 1 1 1 1 Jumlah Kepala Instansi 33 31 28 31 32 Sekretaris/Kepala Bidang/Bagian/Balai 163 167 166 155 164 Kepala Seksi/Sub Bidang/Sub Bagian 530 522 520 525 533 726 721 715 712 730

Sumber : SIMPEG Pemerintah Propinsi DIY

3. Penempatan Pegawai Dalam menempatkan pegawai, diterapkan analisis jabatan untuk melihat potensi dan keahlian (skill) teknis yang dimiliki oleh pegawai. Penerapan secara konsisten mutasi jabatan berdasarkan merit sistem dengan prinsip The Right Man On The Right Job. 4. Peningkatan Sumber Daya Aparatur Penerapan secara konsisten peningkatan profesionalisme dan kompetensi pegawai melalui pengukuran kompetensi sumber daya manusia dan diberikannya kesempatan yang luas bagi sumber daya aparatur pemerintah propinsi DIY untuk meningkatkan kemampuannya melalui pendidikan dan pelatihan. Disamping itu pelaksanaan sistem reward dan punishment yang adil dapat meningkatkan produktivitas dan kinerja pegawai di lingkugnan pemerintah propinsi DIY. Jumlah pegawai yang telah mengikuti pendidikan dan pelatihan sejak tahun 2001 sebanyak 6.014 orang terdiri dari diklat struktural 1.421 orang (23,63%) dan Diklat teknis fungsional sejumlah 4.593 orang (76,37%). 5.3.5 Bidang Pengelolaan Keuangan Daerah Tahun 2007 secara keseluruhan pendapatan daerah ditargetkan sebesar Rp. 911,55 milyar, realisasinya Rp. 1.307,19 milyar, sehingga pendapatan yang diperoleh melebihi target sebesar Rp. 395,64 milyar (43,40%). Sedangkan Penerimaan pembiayaan ditargetkan sebesar Rp. 201,04 milyar, realisasinya Rp. 210,86 milyar, sehingga penerimaan pembiayaan yang diperoleh melebihi target sebesar 4,89% atau Rp. 9,82 milyar. Namun peningkatan penerimaan pada tahun 2007 tidak diikuti pada tahun 2008. Karena tahun 2008 penerimaan daerah mengalami penurunan sebesar 16,87% yaitu Rp. 220,53 milyar. Dari 402.484.000.000,- menjadi Rp. 437.379.000.000,-. Dana Bagi Hasil juga mengalami peningkatan dari tahun 2006 sebesar Rp. 40.398.531.848,menjadi Rp. 43.543.834.904 di tahun 2007. Jumlah pengeluaran pembiayaan daerah mengalami penurunan sebesar 95,63% dari Rp. 219,91 milyar di tahun 2006 menjadi Rp. 9,61 milyar pada tahun 2007. Jumlah segi penerimaan Dana Alokasi Khusus tahun 2007 mengalami peningkatan yaitu tahun 2006 sebesar Rp.

52

Belanja Daerah juga mengalami penurunan 14,9% dari Rp. 950,63 milyar di tahun 2006 menjadi Rp. 977,99 milyar pada tahun 2007. Sedangkan jumlah penerimaan pembiayaan mengalami peningkatan sebesar 11,34% yaitu tahun 2006 sebesar 189,40 milyar , pada tahun 2007 meningkat menjadi Rp. 210,86 milyar. 5.4 Permasalahan Pencapaian Sasaran Bidang Pengelolaan Keuangan Daerah Dalam upaya mencapai sasaran pada bidang pengelolaan keuangan daerah, pemerintah provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menghadapi berbagai permasalahan antara lain 1. Penetapan APBD yang terlambat Penetapan APBD yang terlambat dari tahun ke tahun memunculkan permasalahan yaitu pelaksanaan APBD yang semakin sempit waktunya untuk melaksanakan APBD yang direncanakan untuk pelaksanaan selama 1 (satu) tahun anggaran. 2. Perubahan peraturan perundangan Adanya perubahan peraturan perundangan yang mengatur pengelolaan keuangan daerah memunculkan permasalahan tersendiri bagi aparatur pemerintah daerah yang dituntut untuk selalu meningkatkan kemampuan agar dapat mengikuti perubahan tersebut dan dapat melaksanakan peraturan pengelolaan keuangan daerah tersebut. 5.3.2 Bidang Pemerintahan Umum, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian Permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah propinsi DIY dalam mencapai sasaran pembangunan pada bidang ini adalah : 1. Banyaknya sumber daya aparatur yang belum memenuhi standar kompetensi jabatan dan profesional. 2. Berdasarkan data kepegawaian pemerintah propinsi DIY yang ada, akan terjadi booming pensiun pada periode 1 – 5 tahun mendatang, karena komposisi usia 50 tahun ke atas di beberapa instansi saat ini cukup dominan, hal ini dibuktikan dengan mulai sulitnya memperoleh tenaga yang usianya dibawah 50 tahun untuk diletakkan pada jabatan-jabatan yang ada. 3. Belum dilaksanakan secara konsisten sistem mutasi penempatan PNS secara merit sistem 4. Banyaknya tawaran peningkatan kualitas aparatur melalui pendidikan dan pelatihan dalam negeri maupun luar negeri. 5. Belum optimalnya aplikasi teknologi informasi (TI) dan sistem informasi (SI) kepegawaian sebagai dukungan dalam penyediaan bahan kebijakan di bidang kepegawaian.

53

VI. Rekomendasi Tindak Lanjut Berbagai upaya tindak lanjut yang dapat dilakukan untuk mencapai sasaran di bidang Revitalisasi Proses Desentralisasi dan Otonomi Daerah anak serta memberikan solusi terhadap permasalahan diatas adalah: 6.1. Bidang Pemerintahan Umum, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian • Mewujudkan Good Governance dalam pelaksanaan pengembangan sumber daya aparatur pemerintah daerah. • Penerapan secara konsisten peningkatan profesionalisme kompetensi dan mutasi jabatan berdasarkan merit sistem dengan prinsip The Right Man On The Right Job. • Diberikannya kesempatan yang luas bagi sumber daya aparatur pemerintah propinsi daerah istimewa yogyakarta untuk meningkatkan kemampuannya melalui pendidikan dan pelatihan • Optimalisasi aplikasi sistem informasi kepegawaian untuk mendukung pengelolaan kepegawaian di lingkungan pemerintah propinsi DIY. • Pelaksanaan sistem reward dan punishment. 6.2. Bidang Pengelolaan Keuangan Daerah • Setiap SKPD menyusun jadwal pelaksanaan program dan kegiatan disesuaikan dengan waktu yang tersedia agar pelaksanaan dapat selesai tepat waktu. • Kegiatan – kegiatan yang tidak saling terkait dan tidak saling bergantung dapat dilaksanakan pada waktu yang bersamaan. • Untuk mengatasi peraturan pengelolaan keuangan daerah yang cepat berubah yaitu : a. Mengirim beberapa pegawai untuk mengikuti TOT pengelolaan keuangan daerah. Setelah selesai mengikuti TOT pegawai tersebut dapat menularkan kemampuannya pada pegawai lainnya dalam bimbingan teknis pengelolaan keuangna daerah. b. Menyelenggarakan bimbingan teknis pengelolaan keuangan daerah secara terus menerus kepada pegawai yang mengelola keuangan daerah agar selalu dapat mengikuti perubahan yang terjadi sehingga dapat melaksanakan pengelolaan keuangan daerah dengan baik VII. Penutup Diberlakukannya Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dengan semangat otonomi daerah merangsang setiap daerah termasuk Provinsi DIY berlomba-lomba untuk memajukan daerahnya dengan memanfaatkan segala sumber daya yang tersedia. Otonomi daerah memberikan kewenangan dan peluang yang sangat luas bagi daerah untuk melaksanakan program dan kegiatan sesuai dengan kebutuhan daerah dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Di sisi lain otonomi daerah

54

juga merupakan tayangan yang menuntut Pemerintah Daerah untuk selalu mengembangkan inovasi, strategi, dan ide-ide baru untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat. Selain itu Pemerintah Daerah juga dituntut untuk dapat mengantisipasi tantangan persaingan regional (antar daerah) maupun global yang semakin meningkat. Upaya perbaikan harus tetap dilakukan dan upaya mencari solusi atas hambatan pelaksanaan otonomi daerah harus segera menjadi agenda yang harus diselesaikan semua elemen daerah. Tentu saja melibatkan partisipasi masyarakat sebagai komponen penting otonomi daerah. BAB 3.7 Pencipataan Tata Pemerintah Yang Bersih dan Berwibawa I Pengantar Implikasi pemberlakuan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang telah disempurnakan dengan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, menimbulkan perubahan yang fundamental bagi penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan dan pelayanan masyarakat. Strategi yang terpenting dalam menyikapi perubahan tersebut, terutama dengan berubahnya kewenangan propinsi adalah dengan melakukan restrukturisasi organisasi dan penataan pegawai. Bersamaan dengan itu, evaluasi terhadap struktur dan penempatan pegawai dalam suatu jabatan terus dilakukan, agar tetap berada pada kondisi yang sesuai dengan tuntutan peningkatan kinerja. Selain perubahan fundamental dalam pemerintahan, implikasi dari kebijakan otonomi adalah adannya ephoria reformasi. Salah satu tuntutan dari ephoria tersebut adalah penciptaan tata pemerintah yang bersih dan berwibawa. Sehingga program pembangunan ini merupakan salah satu prioritas pembangunan nasional sebagaimana ditetapkan dalam RPJMN 2004 – 2009. Untuk mewujudkan tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa dilakukan berbagai pembenahan dalam birokrasi melalui reformasi birokrasi. Reformasii birokrasi diterapkan untuk menciptakan good public governance yang mengedepankan prinsip – prinsip: Keterbukaan, akuntabilitas, efektif, efisien, menjunjung tinggi supremasi hukum, demokratisasi, transparansi, dan membuka partisipasi masyarakat. Pelaksanaan prinsip – prinsip ini ditujukan untuk menjamin kelancaran, keserasian, dan keterpaduan tugas serta fungsi penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Pemerintah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai Daerah Otonom dan merupakan bagian dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia telah memiliki dokumen induk perencanaan pembangunan daerah yang memberikan arah penyelenggaraan pembangunan yang partisipatif, transparan, akuntabel, berkeadilan dan responsive, yaitu Pola Dasar Pembangunan Daerah (POLDAS). POLDAS merupakan dokumen tertinggi di daerah yang mengamanatkan kepada Gubernur untuk menjabarkannya ke dalam Program Pembangunan Daerah (PROPEDA) yang memuat uraian kebijakan yang terukur. Kedua dokumen tersebut ditetapkan dengan peraturan daerah melalui persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).

55

Pada saat ini telah terjadi perubahan dalam paradigma manajemen pemerintahan, baik itu disebabkan oleh faktor lingkungan domestik maupun faktor lingkungan global. Jika pada waktu yang lalu manajemen pemerintahan berorientasi kepada kekuasaan Negara yaitu bagaimana memanfaatkann semua sumber daya yang ada untuk kepentingan kekuasaan atau birokrasi, maka saat ini orientasi itu telah bergeser kepada bagaimana upaya yang dapat dilaksanakan untuk memenuhi kepentingan masyarakat. Dengan paradigma baru ini rakyat ditempatkan pada posisi utama dalam mengukur keberhasilan pelayanan birokrasi pemerintahan. Perubahan faktor lingkungan domestik diawali dengan terjadinya reformasi yang telah mengembalikan kesadaran rakyat akan perlunya suatu pemerintahan yang profesional, transparan, akuntabel, bersih dan bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Peran pemerintah di masa lalu yang sentralistis dan cenderung mendominasi semua aspek pembagunan, telah menyebabkan munculnya sosok birokrasi yang kurang efektif dan efisien, lamban serta kurang responsive terhadap aspirasi dan kepentingan masyarakat. Disisi lain ketergantungan masyarakat kepada pemerintah menjadi terlalu besar. Implikasinya adalah mandulnya kreatifitas dan inisiatif masyarakat untuk mengembangkan potensi yang dimiliki. Krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak lima tahun yang lalu telah membawa dampak serius terhadap kondisi politik, ekonomi, sosial dan keamanan. Krisis yang terjadi juga telah menimbulkan kesadaran akan perlunya koreksi terhadap paradigma pembangunan dan peran yang harus dilakukan Pemerintah. Paradigma pembangunan yang menekankan pertumbuhan dan bersifat sentralisitis serta perencanaan pembangunan yang bersifat top-down menyebabkan terjadinya banyak bias dalam pelaksanaan pembangunan serta kurang terakomodasinya aspirasi dan kepentingan masyarakat. Di tingkat global, perubahan-perubahan besar dalam tata hubungan ekonomi juga sudah di depan mata. Berkembangnya sentra-sentra ekonomi regional, serta pemberlakuan Asian Free Trade Agreement (AFTA) dan Asia Pasific Economic Cooperation (APEC) yang menerapkan prinsip-prinsip pasar bebas dalam hubungan perekonomian antar Negara, harus dapat diantisipasi dengan baik. Dalam hal inii pemerintah daerah akan menghadapi persaingan ganda, yaitu kompetisi antar daerah sebagai konsekuensii pemberlakuan otonomi daerah dan persaingan dengan Negara lain, sebagai tuntunan yang harus dipenuhii kalau daerah ingin berkiprah di tingkat global. Terkait dengan latar belakang tersebut di atas, maka dalam POLDAS dan PROPEDA Provinsi DIY Tahun 2001-2005 ditentukan arah kebijakan pembangunan Dasrah Istimewa Yogyakarta dengan urutan sebagai berikut : 1. Mewujudkan pemerintahan daerah yang baik dan bersih 2. Memulihkan ketahanan ekonomi daerah 3. Meningkatkan kesejahteraan rakyat dan ketahanan budaya 4. Mewujudkan daerah istimewa sebagai pusat pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologii terkemuka 5. Memberdayakan masyarakat.

56

Dalam rangka mendukung arah kebijakan pembangunan tersebut maka transformasi birokrasi dan sistem birokrasi baru merupakan suatu kebutuhan yang tidak dapat ditunda. Sistem birokrasi yang berorientasi pada teknologi, bisnis, prinsip-prinsip transparansi efektif dan menguntungkan, organisasi yang efisien dengan fungsi yang efektif, staf yang berkualitas tinggi serta manajemen mendasarkan pada kinerja akan menjadi pedoman penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Peran utama pemerintah adalah memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengembangkan kreatifitas dan inovasinya sehingga mendayagunakan semua potensi yang dimiliki untuk meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri. Transformasi peran ini dilandasi oleh kesadaran baru bahwa ada tiga pilar yang mempunyai peran dalam pelaksanaan pembangunan, yaitu pemerintah, swasta (dunia usaha) dan masyarakat. II Kondisi Awal RPJMN di Daerah Untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih, perlu optimalisasi fungsi pengawasan dan perangkat hokum yang sesuai dengan tata pemerintahan baru. Sebelum tahun 1999 pelaksanaan pengawasan/pemeriksaan dilakukan secara parsial yaitu pengawasan secara terpisah-pisah : keuangan, barang, kepegawaian, pemerintahan dan pembangunan. Sejak tahun 1999 s/d 2003 terjadi banyak peningkatan menuju kepemmerintahan yang baik. Fungsi pengawasan dilakukan dalam upaya menjadi pendorong menuju pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang professional, transparan dan akuntabel. Tahun 2002 telah diberlakukan perubahan sistem pengawasan dari sistem parsial (terpisah-pisah) menjadi komprehensif (menyeluruh) yang mencakup pelaksanaan TUPOKSI yang didukung sumber daya manusia, keuangan, sarana dan prasarana serta metode kerja. Berdasarkan pelaksanaan pengawasan yang komprehensif tahun 2002 telah dilaksanakan evaluasi kinerja instansi pemerintah pada 28 instansi di lingkungan Pemerintah Daerah Propinsi DIY. Dalam pelaksanaan evaluasi kinerja instansi Pemerintah serta dalam rangka pelaksanaan keputusan Presiden Nomor 74 tahun 2001 tentang tata cara pengawasan penyelenggaraan pemerintah, pengujian, pengusutan dan penilaian dikeluarkan oleh Menteri/Kepala Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) sesuai tugasnya masing-masing. Fungsi pengawasan ini selain dilakukan oleh lembaga pemerintahan (termasuk DPRD) juga dilakukan oleh lembaga-lembaga non pemerintahan sebagai salah satu bentuk kontrol sosial (social control) melalui media-media yang tersedia. III Sasaran yang ingin dicapai Dengan mengacu kepada misi yang telah ditetapkan, maka sasaran yang hendak dicapai atau dihasilkan dalam kurun waktu 5 tahun adalah sebagai berikut : 1. Misi : membenahi birokrasi dengan pemantapan kelembagaan, penataan kepegawaian, peningkatan kemampuan aparatur pemerintah daerah melalui transformasi birokrasi dengan sasaran :

57

a. b. c. d. e. f.

Kelembagaan pemerintahan yang sesuai dengan kebutuhan daerah Pedoman organisasi dan tatalaksana, profil perangkat daerah, uraian tugas, uraian jabatan dan rumpun jabatan yang jelas dan memenuhi kebutuhan Instrumen penelitian kinerja dan kompetensi jabatan yang implementatif Aparat pemerintah yang mempunyai jiwa kewirausahaan dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan paradigma Sistem kepegawaian yang mantap, teruji, dan menjamin penjenjangan karier pegawai secara sehat Sarana dan prasarana aparatur pemerintah yang memadai dan menjamin dapat dilaksanakannya tugas-tugas pemerintah.

2. Misi : meningkatkan pelayanan, konsultasi dan asistensi dalam rangka meningkatkan kemampuan masyarakat agar mempunyai daya saing yang kuat, dengan sasaran : a. b. c. d. Aparatur pemerintah yang mampu memberikan pelayanan prima kepada masyarakat sesuai dengan tugas dan kewenangannya Masyarakat yang responsive terhadap pemberian layanan Pedoman pelayanan prima dan standar pelayanan minimal (SPM) yang implementatif dan memenuhi kebutuhan masyarakat Sarana dan prasarana pelayanan yang memadai 3. Misi : mereposisi peran pemerintah daerah dalam upaya meningkatkan kemampuan masyarakat di dalam persaingan global, dengan sasaran : a. b. c. Aparatur pemerintahan yang dinamis dan mampu menyesuaikan dengan perubahan kondisi masyarakat maupun kondisi global Konsep peran baru pemerintah daerah yang katalistik, yang diuraikan secara jelas dan disepakati oleh stakeholders pemerintahan Konsep peningkatan kemampuan masyarakat dalam persaingan global 4. Misi : membentuk jejaring/networking dengan kabupaten/kota dan stakeholders dalam rangka meningkatkan masyarakat berdaya saing yang kuat, dengan sasaran : a. b. c. d. Jejaring/network yang semakin mantap antar lembaga pemerintahan dalam bidang-bidang yang memberikan peluang kepada masyarakat untuk ikut dalam persaingan regional dan global Jejaring/network antara pemerintah dengan stakeholders lainnya yang dapat memperkuat posisi masyarakat Standar prosedur operasional pemanfaatan jejaring-jejaring yang dapat dilaksanakan oleh stakeholders Sarana dan prasarana pelaksanaan jejaring

58

5. Misi : meningkatkan kemampuan dan partisipasi masyarakat dalam mendukung penyelenggaraan pemerintahan, dengan sasaran : a. b. c. d. a. b. c. Aparatur pemerintah yang membuka peluang terhadap pertisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan Masyarakat yang pro-aktif dan tanggap dalam mengantisipasi peluang yang disediakan Produk peraturan/regulasi yang mendukung pemberdayaan masyarakat Peluang partisipasi masyarakat yang dapat dijangkau (accessible) Penguatan kelembagaan masyarakat pelaku ekonomi Kemudahan pelayanan perijinan di seluruh tingkatan (Pusat, Propinsi, Kabupaten/Kota) Mantapnya manajemen pariwisata, mendukung pengembangan ekonomi lokal.

6. Memanfaatkan ekonomi lokal yang didasarkan konsep ekonomi kerakyatan, dengan sasaran :

IV Arah Kebijakan Dalam POLDAS Propinsi DIY Tahun 2001-2005 dan PROPEDA DIY Tahun 2001-2005 ditetapkan Visi Pembangunan daerah yang akan dicapai pada tahun 2020, yaitu : “Terwujudnya pembangunan regional sebagai wahana menuju pada kondisi Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2020 sebagai pusat pendidikan, budaya dan daerah tujuan wisata terkemuka, dalam lingkungan masyarakat yang maju, mandiri, sejahtera lahir dan batin didukung oleh nilai-nilai kejuangan dan pemerintah yang bersih dan baik dengan meningkatkan ketahanan sosial budaya dan sumberdaya yang berkelanjutan” Dalam perjalanan menuju visi 2020 dengan masyarakat madani, akan terjadi pergeseran peran yang seimbang dan berkesinambungan antara pemerintah dan masyarakat. Peran pemerintah akan lebih sebagai regulator, fasilitator dan pemberi pelayanan, serta menyelenggarakan urusan-urusan yang tidak dapat diselenggarakan sendiri oleh masyarakat, sedangkah masyarakat diharapkan akan mandiri dan kemudian akan menjadi penyelenggara dari bidang-bidang kegiatan pemerintahan. Sejalan dengan hal tersebut, Pemerintah Daerah Propinsi DIY telah menyusun visi pemerintah dalam rangka mendukung visi pembangunan daerah yang akan dicapai pada tahun 2020 tersebut. Adapun visi pemerintah daerah propinsi DIY yang menjadi gambaran ideal dalam Renstra pada tahun 2004-2008, adalah : “Mantapnya pemerintah daerah yang katalistik dan mendukung terbentuknya masyarakat kompetitif” Pemerintah daerah yang katalistik artinya bahwa dalam peran barunya pemerintah akan lebih diarahkan sebagai pengatur dan pengendali dari pada sebagai pelaksana langsung suatu urusan dan layanan. Hal ini didasarkan kepada pengalaman bahwa jika urusan-urusan yang dapat diselenggarakan sendiri oleh masyarakat, tetap diselenggarakan oleh pemerintah, akan menimbulkan ketergantungan kepada pemerintah, sehingga kreativitas dan semangat inovasi masyarakat maupun individu anggota masyarakat menjadi lemah.

59

Dengan peranan yang baru ini pemerintah daerah lebih banyak memberi peluang kepada para pelaku sektor swasta dan masyarakat untuk bersama-sama memikul suatu tanggung jawab atau urusan dengan cara memberikan kesempatan dan mendorong masyarakat dan dunia usaha melalui regulasi, fasilitasi dan pelayanan (public service) agar dapat mengembangkan kreatifitas dan inovasinya sehingga dapat memberdayakan potensi daerah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun demikian urusan-urusan yang belum dapat diselenggarakan oleh masyarakat tetap harus diselenggarakan oleh pemerintah daerah. Dengan menonjolkan fungsi pengarahan daripada pelayanan langsung, maka struktur organisasi yang dibutuhkan adalah struktur yang efisien dengan fungsi yang efektif, namun mempunyai peranan yang kuat melalui pengaturan dan ketepatan pengambilan kebijakan dan keputusan yang dikeluarkan serta mempunyai kemampuan untuk menetapkan prioritas program yang dijalankan. Selain itu, pengertian masyarakat yang kompetitif adalah masyarakat yang berdaya dan mempunyai daya saing dalam bidang-bidang yang potensial mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat yang mengarah kepada kemandirian, terutama dalam persaingan global yang sudah berlangsung saat ini, di antaranya dalam bidang pariwisata, pendidikan dan budaya. Pengertian masyarakat yang kompetitif ini secara internal juga mengandung pengertian bahwa masyarakat DIY tetap masyarakat yang berbudaya, komunikatif, kooperatif dan toleran. Dengan mengacu pada visi yang telah ditetapkan, maka tujuan yang hendak dicapai atau dihasilkan dalam kurun waktu 5 tahun adalah, sebagai berikut : 1. Meningkatnya kemampuan, kompetensi dan profesionalisme aparatur pemerintah daerah dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya diarahkan kepada peningkatan kemampuan masyarakat 2. Mantapnya administrasi pemerintahan dan penerapan government dalam upaya peningkatan pelayanan kepada masyarakat 3. Terwujudnya masyarakat yang berkemampuan (empowered), berdaya saing (competitive) yang mengarah kepada kemandirian, melalui peran aktif pemerintah, swasta dan masyarakat itu sendiri. 4. Termanfaatkannya secara optimal sumber daya dalam maupun buatan, hasil penelitian dan pengembangan serta melibatkan kalangan perguruan tinggi dalam upaya peningkatan kesejahteraan rakyat 5. Terbangunnya dan terkembangkannya jejaring bisnis ekonomi lokal yang diarahkan untuk dapat dikelola oleh pelaku bisnis secara mandiri 6. Termanfaatkannya potensi ekonomi lokal guna mendukung pengembangan ekonomi daerah dan meningkatkan daya tarik investasi V Pencapaian di Daerah Pemerintah Provinsi DIY melakukan reformasi birokrasi dimulai dengan peletakan dasar-dasar reformasi pelayanan publik yang terpadu antara tahun 2003-2005 dengan visi renstra “ mantapnya pemerintah

60

daerah yang katalistik dan mendukung terbentuknya masyarakat yang kompetitif” yang mengarahkan pemerintahan untuk mewujudkan visi dan misinya. Hal dimaksud dilanjutkan dengan restrukturisasi organisasi yang meliputi: 1. Reformasi financial (financial reform) meliputi : perubahan sistem perencanaan, rasionalisasi unit cost, penggunaan standar analisasi belanja untuk menentukan besarnya anggaran belanja kegiatan sesuai tingkat kewajaran, proporsionalitas dan kinerja kegiatan, institutional performance index, pengembangan sistem anggaran berbasis kinerja, melaksanakan inventarisasi asset dan pengelolaan asset, fiscal statement setiap tahun, double entry budgetary system, dan balance scorecard. 2. Reformasi sumberdaya manusia (human resource development reform) dengan menyusun standar kualifikasi jabatan, standar kompetensi jabatan, analisis beban kerja, menyusun profil PNS, menyusun kriteria alokasi personal, menyusun manajemen SDM (set up carrier path), membangun assessment center, melaksanakan rekruitmen jabatan secara terbuka, melaksanakan sistem promosi berdasarkan merit system, menyusun instrumen penilaian kinerja perseorangan, selain itu untuk pengawasan publik dilaksanakan dengan membentuk ombudsman sektor publik dan swasta, menyusun model evaluasi kinerja perseorangan, menyusun sistem manual audit kinerja pemerintah daerah. 3. Reformasi kebijakan dan peraturan perundangan (policy and regulation reform) dengan menyusun standar operating procedur (SOP), menyusun mekanisme kerja antar instansi, penyederhanaan prosedur kerja, mengembangkan kerjasama tripilar (pemerintah, masyarakat dan dunia usaha) dalam Yogyakarta Incorporated, melaksanakan inventarisasi dan penyesuaian regulasi, inventarisasi dan adjustment SOP, reformasi Biro Hukum Setda Provinsi DIY menjadi badan advocacy, membentuk badan mediasi untuk koordinasi antara Provinsi dan Kabupaten/Kota, dan antar kabupaten/kota (Tim Mediasi Implementasi Otonomi Daerah/MIOD) 4. Reformasi nilai-nilai dan budaya organisasi (value and cultural reform) dengan menggali kekuatan, nilai cultural hamemayu hayuning bawono, mengenalkan komunikasi atas-bawah secara sehat, mengenalkan dan mengembangkan nilai-nilai universal sesuai dengan nilai-nilai setempat (demokratisasi, lingkungan, human right, kebangsaan), melaksanakan kajian pemberian Reward and Punishment, menyusun dan uji coba penerapan balance scorecard, melaksanakan pelayanan berbasis manajemen mutu, menyusun pedoman budaya organisasi. Budaya pemerintahan DIY melestarikan nilai-nilai luhur yang digali dari kearifan local dengan filosofi : rahayuning bawana kapurba waskhitaning manungso artinya : selaras menjaga kelestarian hubungan Tuhan, alam, manusia, darmaning satriya mahanani rahayuning Negara, artinya : ahli/professional, pelayanan prima, keteladanan, rahayuning manungso dumadi karena kemanungsane, artinya : akal budi luhur, jati diri yang berbudi luhur. Reformasi birokrasi diawali dengan melaksanakan identifikasi dan perbaikan proses penyediaan layanan, pengembangan perencanaan SDM secara terpadu, pengembangan sistem monev, pengembangan

61

sistem komunikasi rekonstruksi image melalui brand image : “yogya never ending asia”, reformasi organisasi pemerintahan yang berbasis visi dengan struktur yang berprinsip lintas fungsi (cross functional) dengan merancang pada pemenuhan kebutuhan masyarakat, antara lain menghilangkan tumpang tindih fungsi-fungsi organisasi, memotong jumlah jabatan struktural. Hasil akhir dari reformasi birokrasi dimaksud dengan tercapainya : Pergeseran besar paradigma dalam bentuk perubahan struktural dan sistem Pergeseran besar paradigma dalam bentuk internalisasi nilai-nilai dan cara berfikir baru Enkulturisasi budaya “kesempurnaan” (cultural of excellence) a. Struktur organisasi : 1. Pengurangan jabatan dari > 1600 menjadi 568 2. Indikator kinerja lebih jelas di tiap posisi 3. Kejelasan job competence/job requirement 4. Kejelasan SOP dan mekanisme antar lembaga b. Sumberdaya manusia : 1. Pengurangan pegawai dari >13.000 jadi 8.900 2. Profil pegawai lebih sehat 3. Komunikasi antar tingkat lebih sehat c. Monitong dan evaluasi : Evaluasi dan kontrol lebih menyeluruh dan berbasis merit/akuntabilitas Sasaran untuk mewujudkan pemerintahan yang baik dan bersih, merupakan prioritas bagi penyelenggaraan pemerintahan ke depan yang identik dengan pembaharuan tata pemerintahan. Jumlah jabatan struktural sebelum penataan organisasi 1.345 jabatan, setelah penataan organisasi 779 jabatan. Jumlah pegawai negeri sipil (PNS) di Pemerintah Propinsi DIY sampai bulan april 2003 sejumlah 13.007 orang, yang terdiri dari pejabat struktural 693 orang, pejabat fungsional 1.101 orang dan staf sebanyak 11.213 orang. Penataan staf non struktural didasarkan pada Surat Keputusan Gubernur Nomor 117 Tahun 2001 tentang Kualifikasi Jabatan Non Struktural. Formasi pegawai yang tersedia berdasarkan SK Gubernur tersebut di atas adalah sejumlah 6.214 orang PNS. Jumlah staf non struktural secara keseluruhan baik yang berada di instansi induk, di UPTD maupun yang bekerja di Pemda Kabupaten/Kota berjumlah 11.210 orang PNS. PNS yang sudah ditata di instansi induk (Dinas, Lemabga Teknis, Setda dan Setwan) sebanyak 5193 orang PNS, ditata di UPTD sebanyak 1.684 orang PNS dan yang bekerja di Pemda Kabupaten/Kota sebanyak 4.332 orang PNS. PNS Propinsi yang bekerja di Pemda Kabupaten/Kota yang sudah diserahkan ke Pemda Kabupaten/Kota sebanyak 1.820 orang PNS. Sisanya sebanyak 2.512 orang PNS talah ada kesepakatan dengan Pemda. Adapun penataan jabatan fungsional didasarkan pada SK Gubernur Nomor 35 Tahun 2002 tentang Penetapan dan Kebutuhan Jabatan Fungsional Tertentu di Lingkungan Pemerintah Propinsi DIY. Jabatan

62

fungsional yang bisa dikembangkan ada 53 jenis, formasi yang tersedia berdasarkan SK Gubernur tersebut di instansi induk sejumlah 525 jabatan, sedangkan kebutuhan jabatan fungsional di UPTD masih dalam proses analisis. Sampai saat ini, pegawai yang telah diangkat ke dalam jabatan fungsional di instansi induk adalah 1.101 orang dengan rincian 224 orang eks pejabat fungsional dari instansi induk, 3 orang staf dari instansi induk, dan 874 orang eks pejabat fungsional dari UPTD Secara kuantitatif penataan pegawai ini telah selesai, namun dalam hal penempatannya masih dijumpai ketidaksesuaian antara latar belakang pendidikan pejabat dengan Tugas Pokok dan Fungsi (TUPOKSI) yang harus diemban. Namun demikian kondisi ini diharapkan akan diantisipasi pada evaluasi struktur organisasi yang disesuaikan dengan kebutuhan daerah. Dibidang penataan barang milik daerah, telah dilaksanakan inventarisasi asset-asset (barang milik) daerah baik yang dimiliki oleh Pemerintah Provinsi DIY maupun yang berasal dari pelimpahan barang-barang eks Kanwil sehingga dengan adanya data tersebut mendukung tersusunnya Neraca Daerah per 31 Desember 2001 sebagai neraca awal dan berikutnya sudah dapat disusun neraca dan laporan keuangan lain sesuai PP Nomor 105 tahun 2000 sebagai pelaksanaan dari UU Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. VI Rekomendasi Tindak Lanjut Rendahnya kinerja dan tingkat pelayanan pemerintah daerah mengakibatkan menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah serta masih adanya praktek-praktek korupsi-kolusi-nepotisme di lingkup pemerintahan daerah maupun di lingkup aparat-aparat pemerintah daerah. Jelas ini merupakan hal yang sangat tidak menguntungkan bagi pelaksanaan pembangunan karena sebagai bagian dari pelaku pembangunan semestinya ada saling kepercayaan. Dengan kenyataan tersebut, maka langkah pertama yang harus dilaksanakan oleh pemerintah sebagai salah satu pelaku pembangunan adalah mengembalikan kepercayaan masyarakat melalui pewujudan pemerintahan yang baik, dalam pengertian profesional, produktif, efektif efisien, transparan dan akuntabel serta mampu memberikan pelayanan prima terhadap masyarakat. Sedangkan langkah untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih, dalam pengertian melaksanakan segala peraturan perundangan yang mendasari penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan, menindak tegas semua aparat yang melakukan penyimpangan, sekaligus tidak memberikan peluang terhadap praktek-praktek korupsi, kolusi dan nepotisme. Langkah-langkah untuk mewujudkan pemerintahan yang baik dan bersih melalui penegakan supremasi hukum, penataan kelembagaan dan ketatalaksanaan institusi pemerintah daerah, peningkatan kemampuan aparatur pemerintahan yang diikuti dengan peningkatan pengawasan baik pengawasan formal fungsional serta pengawasan masyarakat terhadap pelaksanaan tugas aparatur pemerintah. Peningkatan penyebarluasan dan pemerataan informasi serta peningkatan mutu dan jangkauan informasi akan sangat diperlukan. Langkah ini

63

sekaligus dapat menunjang peningkatan kesadaran, partisipasi, etika dan kemandirian berpolitik dalam rangka mewujudkan kehidupan berpolitik yang demokratis di daerah. VII. Penutup Upaya penciptaan tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa merupakan pekerjaan rumah tangga setiap daerah termasuk Provinsi DIY. Langkah-langkah yang diambil sebagai sasaran sebaiknya tidak hanya berhenti dalam tataran konsep namun benar-benar bisa diimplementasikan di lapangan. Pencapaianpencapaian yang telah dihasilkan hendaknya terus ditingkatkan bahkan diharapkan ada perubahan ke arah lebih baik. Bagaimanapun juga kepercayaan masyarakat berawal dari image yang dibangun oleh pemerintahan itu sendiri. Tuntutan reformasi oleh masyarakat merupakan aspirasi yang harus diartikan sebagai keinginan masyarakat untuk melakukan perubahan yang signifikan atas penyelenggaraan negara guna memperoleh keadilan dan kesamaan hak atas pelayanan publik, sehingga taraf kehidupannya dapat lebih baik dan sejahtera. Keinginan untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa merupakan salah satu agenda reformasi yang harus dilaksanakan secara konsisten

BAB 3.8 Perwujudan Lembaga Demokrasi yang Makin Kokoh

I. Pengantar Berdasarkan pasal 27 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan Daerah, Kepala Daerah mempunyai kewajiban antara lain memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat. Terpeliharanya ketentraman dan ketertiban masyarakat merupakan pra-syarat bagi terlaksananya berbagai aktivitas masyarakat dalam berbagai segi kehidupan. Oleh karena itu, terwujudnya ketentraman dan ketertiban masyarakat merupakan dambaan kita bersama. Munculnya gangguan atau permasalahan sosial, ekonomi, politik dan keamanan yang dapat menganggu sendi-sendi ketentraman dan ketertiban masyarakat perlu diatasi dan diantisipasi sejak dini agar tidak berkembang menjadi faktor destruktif yang merugikan masyarakat dan menghambat jalannya penyelenggaraann pemerintah/pembangunan. Dalam hubungan ini peranan Kepala Daerah dan pejabat-pejabat Pimpinan Daerah yang memegang kendali penyelenggaraan pemerintahan di daerah sangat menentukan dalam upaya mewujudkan dan memelihara ketertiban masyarakat. Adanya gejala-gejala etno-sentrisme dan maraknya kekerasan bernuansa Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA) di tingkat lokal saat ini telah menunjukkan bahwa pergeseran nilai-nilai sosial budaya yang

64

cukup signifikan. Emosionalitas masyarakat tinggi sekali dalam merespon isu-isu lokal khususnya terkait dengan isu agama, suku, sumber daya (resources), dan ketidakadilan di tingkat lokal. Munculnya tindak anarkis masyarakat dalam menyuarakan aspirasi kepada pemerintah yang tidak sesuai dengan praktek kehidupan demokrasi. Implementasi program strategis Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri dilaksanakan untuk mengkomunikasikan, merumuskan dan menyepakati kebijakan bersama dalam mengatasi dan mengantisipasi munculnya masalah-masalah strategis guna mewujudkan dan memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat serta penyelenggaraan pemerintah/pembangunan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain itu juga untuk memberikan dukungan berbagai kebijakan di bidang penyempurnaan proses politik dalam negeri, penanganan masalah-masalah strategis di bidang politik, khususnya yang berkaitan dengan fungsi pembinaan politik dalam negeri. Peningkatan efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan, pengelolaan pembangunan dan pelayanan terhadap kepentingan umum, dan terpeliharanya keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia di antaranya dicapai melalui : 1. Desak pemilihan umum (pemilu) untuk penyelenggaraan pemilihan presiden dan wakil presiden 2. Pemberian bantuan keuangan kepada partai politik tingkat provinsi DIY. • Bantuan keuangan parpol disalurkan kepada 24 (dua puluh empat) Partai Politik tingkat Provinsi DIY sebagai peserta pemilu tahun 2004. Masing-masing partai politik mendapat bantuan keuangan berupa bantuan pokok, bantuan suara dan bantuan kursi (yang mempunyai kursi di DPRD Provinsi DIY) • Untuk tahun anggaran 2005-2008 bantuan keuangan partai politik disalurkan kepada 9 (Sembilan) Partai Politik tingkat Provinsi DIY sebagai peserta pemilu tahun 2004. Masingmasing partai politik mendapat bantuan keuangan mendasari pada perolehan kursi di DPRD Provinsi DIY, per kursi Rp 20.000.000,00 (dua puluh juta rupiah) yang dianggarkan setiap tahun melalui APBD Provinsi DIY sebanyak Rp 1.100.000,00 (satu milyar seratus juta rupiah). 3. Sosialisasi pilkada bagi aparat, tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh daerah serta masyarakat di DIY 4. Rapat koordinasi musyawarah pimpinan daerah tingkat prov DIY 5. Penyelenggaraan forum komunikasi dan penyusunan profil organisasi kemasyarakatan 6. Penyelenggaraan forum komunikasi partai politik 7. Orientasi pemantapan budaya politik bagi pejabat daerah 8. Orientasi pemantapan budaya politik bagi masyarakat

65

9. Peningkatan rasa solidaritas dan ikatan sosial di kalangan masyarakat dalam perspektif wawasan kebangsaan 10. Pelaksanaan laporan berkala situasi politik di daerah 11. Penanganan strategis daerah dengan melibatkan birokrat dan berbagai elemen masyarakat 12. Penyelenggaraan dialog tentang pemantapan stabilitas politik di provinsi DIY

II. Kondisi Awal RPJMN Tingkat Daerah DIY sebagai salah satu propinsi di Indonesia yang memiliki stutus istimewa, maka hendaknya pelaksanaan otonomi daerah harus dibingkai dalam keistimewaan Yogyakarta. Meski RUU keistimewaan Yogyakarta belum tuntas diundangkan menjadi UU, justru menjadi penting agar masyaraat Yogyakarta lah yang harus mengawal agar keistimewaan itu ada dan melekat di DIY, meski ada sejumlah perdebatan tentang makna istimewa itu sendiri. Harus diakui kuatnya pengaruh Sultan dan Kraton harus, dalam praktek politik harus dipertemukan pengaruh itu dengan prinsip-prinsip dan makna demokrasi. Dalam momentum Pilkada di tiga Kabupaten (Sleman, Bantul dan Gunung Kidul yang baru berlangsung beberapa hari lalu), dalam konteks di DIY tidak banyak berbeda terlalu jauh dengan di propinsi lain. Hanya saja karena kuatnya pengaruh kraton dan sultan dalam masyarakat Yogyakarta, ada fenomena, dimana para calon berusaha merebut pengaruh sultan dan kraton ini sebagai komoditas politik. Dalam konteks di Bantul meski Gusti Yudhoningrat kalah dalam pilkada, itu harus dilihat juga bahwa munculnya wacana diruang publik bahwa Sri Sultan Hamengkubuwono X dalam posisi berseberangan misalnya saat mengomnetari tentang pembangunan parkir bawah tanah di DIY, atau saat kunjungan Gubernur di Bantul yang cenderung untuk mempertahankan Bupati yang lama. Meski Idaham Samawi sebagai rakyat biasa dan tidak punya hubungan darah dengan Kraton , namun dalam beberapa slogan dikampanyenya juga menyangking nama-nama penguasa Yogyakarta. Dan konon, kasus kemenangan Soeharto menjadi Bupati Gunung Kidul ditengarai karena ada faktor GKR Hemas yang mendukungnya. Parstisipasi politik warga di Yogyakarta, mengalami banyak kemajuan. Baik dalam partsipasi publik di pilkada, pembuatan raperda, atau pengontrolan dan pengawalan agenda demokrasi. Dalam momentum pilkada misalnya banyak kelompok-kelompok masyarakat yang berinisiatif untuk melakukan kontrak politik dengan para calon pilkada, seperti Kolisi Jogja untuk pemilu damai dan demokratis di 3 kabupaten, dan pakta integritas di Bantul. Hubungan pemerintah Kabupaten dan propinsi tidak selalu harmonis. Kasus perusahaan air minum “Evita” di Umbul Wadon Kabupaten Sleman adalah contoh menarik. Gubernur yang sebelumnya menyetujui berdirinya perusahaan itu beberapa hari kemudian di batalkan ijinnya oleh Bupati Sleman. Meski akhirnya berakhir Bupati Sleman juga menyetujui dengan rumor yang sedikit miring karena alasan pembagian ekonomi,

66

namun kasus ini menunjukkan bahwa Gubernur kadang disulitkan untuk melakukan koordinasi. Dalam kasus pembagian air misalnya menyangkut air selokan mataram yang mengalir dilintas kabupaten di DIY, sebaiknya hal ini dikoordinasikan dalam level propinsi, bukannya Sleman yang mengambil keputusan sendiri, karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Dalam konteks pembaruan desa, kabupaten-kabupaten di DIY meski sudah banyak mengapresiasi agenda ini, namun dalam konteks pembagian keuangan yang sudah lama di dengungkan, belum ada kabupetn yang secara ekplisit membuat perda tentang pembagian ini. Kabupaten Wonosobo dan Kebumen adalah beberapa kabupaten yang sudah memberikan hal ini. 1 Salah satu perwujudan keterlibatan rakyat dalam proses politik adalah pemilihan umum. Pemilu merupakan sarana bagi rakyat untuk ikut menentukan figure dan arah kepemimpinan negara dalam periode waktu tertentu. Ide demokrasi yang menyebutkan bahwa dasar penyelenggaraan negara adalah kehendak rakyat merupakan dasar bagi penyelenggaraan pemilu. Maka ketika demokrasi mendapatkan perhatian yang luas dari masyarakat dunia, penyelenggaraan pemilu yang demokratis menjadi syarat penting dalam pembentukan kepemimpinan sebuah negara. Pemilu memiliki fungsi utama dalam hal sirkulasi elit yang teratur dan berkesinambungan. Sebuah kepemimpinan yang lama tanpa dibatasi periode tertentu, dapat menjurus pada pada kepemimpinan yang korup dan sewenang – wenang. Banyak contoh dalam sejarah dunia yang memperlihatkan betapa kekuasaan yang absolut, tanpa pergantian elit yang teratur dan berkesinambungan, mengakibatkan daya kontrol melemah dan kekuasaan menjadi korup dan sewenang-wenang. Tetapi pemilu yang teratur dan berkesinambungan saja tidak cukup untuk menghasilkan kepemimpinan yang benar-benar mendekati kehendak rakyat. Pemilu merupakan sarana legitimasi bagi sebuah kekuasaan. Setiap penguasa, betapapun otoriternya pasti membutuhkan dukungan rakyat secara formal untuk melegitimasi kekuasaannya. Maka pemilu sering kali dijadikan alat untuk pelegitimasian kekuasaan semata. Cara termudah yang dilakukan adalah mengatur sedemikian rupa teknis penyelenggaraan pemilu agar hasil dari pemilu memberi kemenangan mutlak bagi sang penguasa dan partai politiknya. Pemilu merupakan icon demokrasi yang dapat dengan mudah diselewengkan oleh penguasa otoriter untuk kepentingan melanggengkan

1

Bagus Sarwono adalah aktivis LAPPERA Indonesia sebuah LSM yang konsen dalam isue pemberdayaan dan advokasi

masyarakat desa. Makalah ini disampaikan dalam Seminar dan FGD: Refleksi Pelaksanaan Program pengembangan otonomi daerah di DIY, diselenggarakan oleh BAPPENAS, Selasa, 28 Juni 2005 di BAPPEDA Propinsi DIY

67

kekuasaannya. Maka selain teratur dan berkesinambungan, masalah system atau mekanisme dalam penyelenggaraan pemilu adalah hal penting yang harus diperhatikan. III. Sasaran yang ingin dicapai Mengacu pada RPJMN 2004-2009 (Tahun 2004-2009), sasaran prioritas dalam agenda Perwujudan l;embaga Demokrasi yang makin Kukuh adalah tetap terpeliharanya momentum awal konsolidasi demokrasi yang sudah terbentuk berdasarkan hasil pemilu nasional 2004. adapaun sasaran lain yang ingin dicapai antara lain : 1. terlaksananya peran dan fungsi lembaga penyelenggara Negara dan lembaga kemasyarakatan sesuai konstitusi dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, 2. meningkatnya partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan kebijakan public dan 3. terlaksananya pemilu yang demokratis, jujur dan adil pada 2009.

IV. Arah Kebijakan Perubahan konstalasi politik di Indonesia pasca reformasi, sedikit banyak telah mendorong perubahan tata kelola (governance) di berbagai sektor pemerintahan, baik di tingkat pusat maupun daerah. Dorongan untuk terciptanya berbagai perubahan ke arah kehidupan masyarakat yang lebih demokratis menjadi conditio sine qua non pasca era represif yang dipraktikkan oleh orde baru. Tuntutan atas implementasi berbagai kebijakan yang memenuhi nilai-nilai demokrasi dan keadilan menjadi gejala umum di berbagai sektor kehidupan masyarakat. Salah satu di antaranya adalah tuntutan untuk adanya penyelenggaraan pemerintahan yang lebih transparan dan akuntabel sebagai bagian dari upaya perwujudannya prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance). Demikianlah, masyarakat di Provinsi DIY ikut serta mendorong percepatan perubahan di tingkat pemerintahan lokal dengan menginisiasi lahirnya Ombudsman baik di sector publik (Ombudsman Daerah) maupun di sektor privat (Ombudsman Swasta) sejak tahun 2005 yang lalu. Dengan mandat utama melakukan pengawasan dalam berbagai penyelenggaraan usaha baik yang profit oriented maupun social oriented, Lembaga Ombudsman Swasta (LOS) berupaya mendorong percepatan perwujudannya prinsip-prinsip tata kelola usaha yang beretika dan berkelanjutan dalam setiap penyelenggaraan usaha di wilayah DIY. Di tengah praktik kolusi dan korupsi yang sudah menggej ala dalam penyelenggaraan usaha, baik yang dilakukan oleh kalangan dunia usaha maupun penyelenggara pemerintahan, maka sangatlah strategis kehadiran LOS sebagai institusi publik yang independen dan imparsial dalam menekan praktik -praktik usaha dan pemerintahan yang merugikan negara dan/atau yang mengabaikan hak-hak masyarakat. Perilaku koruptif seringkali adalah bagian dari simbiosis mutualisme antara penyelenggara pemerintahan dan pelaku usaha (businessman). Maka secara tidak langsung, melalui pengawasan praktik usaha yang dilakukan LOS, diyakini akan mempercepat terciptanya pemerintahan yang baik dan bersih.

68

V. Pencapaian Capaian Utama dari terbentuknya LOD (lembaga ombusdman daerah) dan LOS (lembaga ombudsmen swasta) yang dikukuhkan dengan SK Gubernur Provinsi Yogyakarta Nomor 134 dan Nomor 135 Tahun 2004 adalah Kedua lembaga tersebut sudah dimanfaatkan masyarakat Yogyakarta untuk menyampaikan keluhankeluhan mereka. Keluhan atas pelayanan yang diberikan oleh Kantor-Kantor Pemerintah yang tidak sesuai dengan standar dan kelaziman disampaikan kepada LOD, sedangkan yang terkait konsumen, hubungan antar bisnis maupun antara bisnis dengan pemerintah disampaikan kepada LOS. Pada tahun 2005, 2006, 2007, LOD menampung keluhan berturut-turut sebanyak 98, 171, dan 139, sedangkan LOS sebanyak 58, 59, dan 134. Keluhan-keluhan tersebut menjadi bahan masukan bagi pemerintah dan kelompok bisnis DIY untuk memperbaiki pelayanan mereka kepada masyarakat. VI. Rekomendasi tindak lanjut 1. Mewujudkan pelembagaan demokrasi yang lebih kokoh dengan mempertegas tugas, wewenang dan tanggungjawab dari seluruh kelembagaan pemerintahan yang berdasarkan mekanisme checks and balances; 2. Memperkuat peran masyarakat sipil (civil society) untuk lebih partisipatif dalam setiap pengambilan keputusan publik; 3. Memperkuat kualitas desentralisasi dan otonomi daerah; 4. Mewujudkan pelembagaan dan mendorong berjalannya rekonsiliasi beserta segala kelengkapan kelembagaannya; serta 5. Menjamin pengembangan media dan kebebasan media dalam mengkomunikasikan kepentingan masyarakat. VII. Penutup Konsolidasi demokrasi akan berjalan dengan baik apabila didukung oleh kelembagaan demokrasi yang kokoh. Pelaksanaan serta peningkatan kualitas kelembagaan demokrasi yang sudah terbentuk tersebut, akan terus dikembangkan perbaikan pola hubungan negara dan masyarakat, penyelesaian persoalan sosial dan politik masa lalu seperti pelanggaraan HAM, serta peningkatan peranan media komunikasi dan informasi akan menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan konsolidasi demokrasi.

69

BAGIAN IV AGENDA MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT

BAB 4.1 Pengantar Kesejahteraan Sosial Sesuai dengan kondisi permasalahan sosial di DIY ini dapat dipahami bahwa kemiskinan merupakan kunci utama permasalahan yang akan berimplikasi pada perkembangan masalah lainnya. Di sisi lain secara kuantitatif Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) sudah cukup memadai tetapi secara kualitatif masih memerlukan langkah-langkah pemberdayaan. Di samping itu juga sangat diperlukan adanya sistem informasi kesejahteraan sosial yang meluas sehingga dapat terjalin kemitraan dengan berbagai kalangan dan diharapkan dapat meningkatkan partisipasi sosial masyarakat dalam menangani masalah kesejahteraan sosial ini. Pemberdayaan keluarga miskin telah ditangani sejak tahun 1984. Akan tetapi sejak terjadinya krisis tahun 1998 jumlah tersebut diperkirakan meningkat sampai dengan 40 % hingga saat ini, sehingga Pemerintah tetap harus bekerja keras dalam menuntaskan permasalahan ini di masa mendatang. Program kerja kearah ini selalu diutamakan atau menjadi prioritas bagi percepatan pemulihan kemakmuran masyarakat DIY. Hingga tahun 2002 permasalahan sosial ekonomi terus bertambah antara lain, seperti masalah anak terlantar dan korban NAPZA. Untuk itu, peningkatan kesejahteraan sosial dapat dilaksanakan melalui Program Perlindungan Penyandang Masalah Sosial dan Peningkatan Kepedulian Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial. Kesejahteraan sosial adalah suatu kondisi/permasalahan yang dialami baik oleh individu, keluarga maupun masyarakat karena terhambatnya peranan dan fungsi sosialnya. Penyebab utama dari permasalahan sosial adalah adanya kemiskinan. Karena kemiskinan maka seseorang, mengalami keterlantaran, kecacatan dan ketunaan sosial. Meskipun demikian juga ada faktor penyebab seseorang mengalami masalah sosial, misalnya karena menjadi korban baik bencana alam maupun musibah lainnya. Pembangunan kesejahteraan sosial dilaksanakan dalam rangka mencegah dan mengurangi timbulnya dampak negative dari persoalan kesenjangan sosial, desintegrasi social dan penyakit sosial yang dapat mengakibatkan tindak kekerasan, kerawanan social ekonomi, lemahnya ketahanan sosial dan potensi konflik sosial budaya dalam masyarakat. Permasalahan sosial kemasyarakatan sangat rumit dan saling tumpang tindih antara kemiskinan, kerentanan, cacat, penyakit kronis, dan penyakit menular, serta korban narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA). Masalah-masalah tersebut mengharuskan adanya fasilitasi penanganan secara terpadu, terintegrasi, berkelanjutan dan profesional. Permasalahan kesejahteraan sosial kedepan masih didominasi oleh permasalahan konvensional seperti tersebut diatas. Namun demikian masalah-masalah kontemporer seperti traficking, HIV/AID dan Napza juga sangat memerlukan perhatian dan penanganan yang serius mengingat fenomena gunung es yang

70

melingkupi permasalahan ini. Daerah Istimewa Yogyakarta yang berpenduduk 3.257.000 orang ternyata memiliki angka kemiskinan sebesar 275.110 RTM (data BPS). Permasalahan ini sulit ditangani karena sebagian besar termasuk kemiskinan kronis, sementara letak geografis DIY yang dikelilingi oleh daerah-daerah rawan bencana sangat rentan terhadap kemiskinan yang sifatnya sementara. Oleh karena itu apabila hal ini tidak ditangani akan menjadi kemiskinan kronis. Penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial khususnya Paca, Tuna Sosial, Korban Trafiking, anak Terlantar, LU Terlantar, anjal, HIV dilaksanakan melalui program-program pelayanan dan rehabilitasi sosial, perlindungan sosial yang selanjutkan diarahkan pada kemandirian melalui pemberdayaan sosial. Sementara itu pemberdayaan sosial bagi fakir miskin diarahkan pada penguatan keluarga dan pengembangan potensi melalui usaha-usaha yang bersifat produktif. Sehubungan permasalahan diatas, perlu adanya penanganan yang terencana dan terarah melalui program-program yang bersifat preventif, rehabilitatif, maupun pengembangan dengan pendekatan humanistis atau pemberdayaan. Sementara bagi penyandang masalah yang tidak potensial perlu adanya program perlindungan sosial melalui Bantuan Kesejahteraan Sosial Permanen (BKSP) seperti cacat ganda/berat, LU terlantar, eks psikotik, paca pekas penderita penyakit kronis maupun program BLM. Disamping itu bagi mereka yang bekerja di sektor informal terhadap resiko penurunan pendapatan baik karena musibah atau faktor lain telah dirintis program perlindungan sosial melalui Askesos. Kendala dalam usaha meningkatkan kesejahteraan sosial antara lain : masih tingginya jumlah penyandang kesejahteraan sosial yang merupakan kategori masyarakat paling rendah kemampuannya untuk menolong dirinya sendiri, meningkatnya jumlah penyandang cacat khususnya yang berasal dari keluarga miskin, meningkatnya jumlah penduduk usia lanjut terlantar yang memerlukan bantuan, semakin banyaknya gelandangan dan pengemis (tuna wisma, orang terlantar, anak jalanan), peran serta masyarakat dalam usaha pembangunan pembangunan sosial belum optimal, kualitas sumber daya manusia yang handal di bidang pembangunan, kesejahteraan sosial khususnya pembangunan sosial masyarakat relatih masih rendah, kurangnya sarana dan prasarana pembangunan kesejahteraan sosial baik system panti maupun non panti. Tantangan yang dihadapi di bidang kesejahteraan sosial adalah bagaimana pemerintah daerah meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat, menurunkan jumlah penyandang masalah kesejahteraan sosial, menangani trauma akibat bencana alam dan rehabilitasi setelah terjadi bencana, meningkatkan kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana pembangunan kesejahteraan sosial, meningkatkan peran serta masyarakat dalam meningkatkan taraf kesejahteraan sosial masyarakat, meningkatkan kemauan dan kemampuan masyarakat penyandang masalah kesejahteraan sosial untuk menolong dirinya sendiri guna memperbaiki dan meningkatkan taraf kesejahteraan sosialnya. Secara umum kondisi kesejahteraan di Provinsi DIY antara lain sebagai berikut : 1. Meningkatnya aksesibilitas penyandang masalah kesejahteraan sosial terhadap pelayanan sosial dasar. 2. Meningkatnya kualitas hidup penyandang masalah kesejahteraan sosial sesuai harkat dan martabat kemanusian.

71

3. Meningkatnya kemampuan dan kepeduliaan sosial masyarakat dalam pelayanan dalam pelayanan kesejahteraan sosial. 4. Meningkatnya ketahanan sosial individu, keluarga dan komunitas masyarakat dalam mencegah dan menangani permasalahan kesejahteraan sosial. 5. Meningkatnya keserasian kebijakan kesejahteraan sosial. 6. Terjaminnya bantuan sosial dan meningkatnya penanganan korban bencana alam dan sosial. 7. Meningkatnya kualitas manajemen kesejahteraan sosial. Usaha-usaha yang dilakukan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat antara lain sebagai berikut : 1. Peningkatan kualitas pelayanan dan bantuan dasar kesejahteraan sosial bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial. 2. Peningkatan pemberdayaan fakir miskin, penyandang cacat dan kelompok rentan sosial lainya. 3. Peningkatan kualitas hidup bagi PMKS terhadap pelayanan sosial dasar, fasilitas pelayanan publik dan jaminan kesejahteraan sosial. 4. Pengembangan dan penyeresaian kebijakan untuk penanganan masalah kesejahteraan sosial. 5. Peningkatan ketahanan sosial masayrakat berlandaskan prinsip kemitraan dan nilai-nilai sosial/budaya bangsa. 6. Pengembangan sistem perlindungan sosial. 7. Peningkatan kualitas manajemen pelayanan kesejahteraan sosial dalam mendayagunakan sumber-sumber kesejahteraan sosial. 8. Peningkatan pelayanan bagi korban bencana alam dan sosial. 9. Peningkaan prakarsa dan peran aktif masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesejahteraan sosial secara terpadu dan berkelanjutan Pengertian tercapainya kesejahteraan masyarakat tidak hanya diukur dari indikator ekonomi saja tetapi juga dari segi sosial-budaya, antara lain dengan terkendalinya pertumbuhan penduduk, peningkatan kualitas kehidupan keluarga, terwujudnya sumberdaya manusia yang berpendidikan dan berkualitas tinggi terciptanya perilaku sehat dan keberdayaan individu dan masyarakat dalam bidang kesehatan, meningkatnya potensi dan keberdayaan masyarakat serta meningkatnya kesejahteraan masyarakat yang diiringi dengan menurunnya masalah sosial, peningkatan mutu pelayanan dan tersedianya prasarana dan sarana serta kemudahan mengakses pelayanan sosial dan pelayanan umum. Masyarakat juga harus terlindungi dalam suatu sistem manajemen perlindungan masyarakat yang andal dan mantap. Dalam bidang kesehatan, pencapaian Yogyakarta Sehat 2005 merupakan sasaran yang hendak dicapai untuk menunjang kesejahteraan masyarakat. Pengertian Yogyakarta Sehat 2005 adalah bukan berarti Yogyakarta

72

bebas penyakit pada tahun 2005, tetapi pada tahun tersebut sebagian besar masyarakat Yogyakarta telah memahami serta melaksanakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), ikut menjaga dan meningkatkan lingkungan sehat serta aktif berperan dalam memecahkan masalah pembiayaan kesehatan melalui sistem Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM). BAB 4.2 Penanggulangan Kemiskinan I. Pengantar Dalam era tata pemerintahan dewasa ini, upaya pengentasan kemiskinan memang tidak mutlak menjadi tanggung jawab pemerintah. Melalui berbagai mekanisme yang telah ada, pelaku pasar dan unsur masyarakat sipil lainnya memiliki kewajiban dan tanggungjawab yang sama. Namun demikian, sebagai pihak yang mendapat amanat konstitusional, pemerintah sebagai representasi kekuatan negara secara mutlak berkewajiban mengupayakan terciptanya kesejahteraan sosial. Dalam konteks ini, adalah kewajiban bagi negara untuk mengupayakan rakyat dan penduduk dapat hidup sejahtera. Artinya, penyelenggara negara berkewajiban menciptakan suatu kondisi yang memungkinkan rakyat dapat menikmati kehidupan dengan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, papan, pendidikan dan kesehatan. Pencapaian terhadap tujuan-tujuan tersebut idealnya harus merupakan komitmen utama dan bahkan menjadi ideologi yang mendasari setiap kebijakan dan program pembangunan. Pada dasarnya, permasalahan kemiskinan adalah permasalahan yang bersifat multidimensional. Dapat dikatakan bahwa kemiskinan adalah bukan sekedar permasalahan ekonomi, tetapi adalah isu hak asasi manusia. Secara rinci, permasalahan kemiskinan menyangkut berbagai aspek kehidupan seperti; aspek ekonomi (pendapatan dan pengeluaran), akses, hukum, dan hak asasi, HDI (human development index): TFR/IMR, MMR, dan Illiteracy. Dengan cakupan yang cukup luas ini maka gejala-gejala kemiskinan bisa dilihat pada kondisi masyarakat seperti kekurangan gizi, buta huruf, penyakit, lingkungan hidup yang serba kotor, tingginya tingkat kematian bayi, serta rendahnya angka harapan hidup.

II.

Permasalahan (kondisi Awal)

2.1 Jumlah Penduduk Miskin Sebagaimana telah diuraikan, jumlah penduduk miskin DIY pada awal RPJM mencapai sekitar 19,14 persen pada tahun 2005 (DIY dalam Angka, 2005). Secara absolut jumlah tersebut setara dengan sekitar 616.000 jiwa penduduk DIY yang berada di bawah garis kemiskinan. 2.2 Keterbatasan kecukupan dan mutu pangan

73

Masalah ketersediaan pangan tidak menjadi masalah krusial di DIY. Namun demikian, masih adanya penduduk mengalami gizi buruk sebesar 1,14% (dan setelah diintervensi masih menyisakan 0,94%) merupakan agenda tersendiri. Angka tersebut memang relatif sangat rendah bila dibandingkan angka target nasional 15% untuk tahun 2010. Namun demikian, menurunkan angka yang sudah cukup rendah akan merupakan masalah tersendiri. 2.3 Keterbatasan akses dan Pelayanan Kesehatan Ketersediaan layanan kesehatan di DIY cukup memadai. Secara keseluruhan, terdapat unit pelayanan yang tersebar ke berbagai pelosok di DIY. Sebagaaimana terlihat pada tabel. Tabel IV.I Ketersediaan Layanan Kesehatan Provinsi DIY
No Jumlah Tenaga medis dan sarana kesehatan jumlah tenaga medis unit kerja dr spesialis dr umum dokter gigi Kota Yogyakarta puskesmas (termasuk pustu dan 3 63 25 polindes) rumah sakit 362 117 22 institusi diklat/diknakes 0 0 0 sarana kesehatan lain 0 dinkes kab/kota 0 7 1 365 187 48 kab. Bantul puskesmas (termasuk pustu dan 0 81 47 polindes) rumah sakit 23 21 5 institusi diklat/diknakes sarana kesehatan lain dinkes kab/kota 3 1 23 105 53 kab. kulon progo puskesmas (termasuk pustu dan 52 26 polindes) rumah sakit 33 20 3 institusi diklat/diknakes sarana kesehatan lain dinkes kab/kota 1 33 72 30 kab. gunung kidul puskesmas (termasuk pustu dan 0 67 36 polindes) rumah sakit 13 6 1 institusi diklat/diknakes sarana kesehatan lain dinkes kab/kota 1 1 13 74 38 Jumlah tenaga medis dan kesehatan jumlah 91 501 0 0 8 600 128 49 0 0 4 181 78 56 0 0 1 135 103 20 0 0 2 125

1 2 3 4 5 jumlah 1 2 3 4 5 jumlah 1 2 3 4 5 jumlah 1 2 3 4 5 jumlah

74

No

1 2 3 4 5 jumlah dinkes propinsi DI Yogyakarta

Unit Kerja kab. Sleman puskesmas (termasuk pustu dan polindes) rumah sakit institusi diklat/diknakes sarana kesehatan lain dinkes kab/kota

Jumlah Tenaga Medis Dr. spesialis Dr. umum Dr gigi 3 278 1 282 2 718 71 782 37 15

Jumlah

111 1075 1 1187 35 2263

853 20 1311

52 13 234

Total
Sumber : DIY dalam Angka.2006/2007

Demikian juga dalam hal layanan kesehatan, propinsi ini telah mencapai kondisi yang cukup baik. Sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut. Tabel IV.2 PENDUDUK PESERTA JAMINAN PEMELIHARAAN KESEHATAN PER KABUPATEN/KOTA, PROPINSI D.I. YOGYAKARTA TAHUN 2006
no 1 1 2 3 4 5 kabupaten/kot a 2 kota yogyakarta kab. bantul kab. kulon progo kab. gunung kidul*) kab. sleman jumlah penduduk 3 -820.550 458.674 720.465 910.586 2.910.275 jumlah peserta jaminan pemeliharaan kesehatan bapel & pra Jamsost askes bapel jpkm ek 4 5 6 7 -45.002 39.358 37.755 181.694 303.809 27.979 3.194 3.016 422. 981 10.797 --1.916 1.100 -53.7 72 163. 979 205. 230 dana sehat 8 -lainnya 9 -10.797 0 0 juml ah 10 -98.7 74 216. 050 272. 064 184. 888 771. 776 % 11 0,00 12,0 4 47,1 0 37,7 6 20,3 0 26,5 2

jumlah (kab/kota) persentase

Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 200 7*) Kartu sehat menggunakan ASKIN Bapel = jamkessos

75

no 1 1 2 3 4 5 2

Tabel IV.3 ANGGARAN KESEHATAN KABUPATEN/KOTA PROPINSI D.I. YOGYAKARTA TAHUN 2006 alokasi anggaran kesehatan sumber biaya Rupiah 3 210.070.362.061 3.743.896.257 12.405.085.100 9.473.982.440 6.144.965.979 241.838.291.837

% 4 86,86 1,55 5,13 3,92 2,54 100,00

anggaran kesehatan bersumber: APBD kab/kota APBD propinsi APBN pinjaman/hibah luar negeri (PHLN) sumber pemerintah lain

total anggaran kesehatan

total APBD propinsi dan kab/kota

2.816.638.966.345

% APBD kes thd apbd kab/kota

8,59

anggaran kes perkapita

70.443

Kota no 1 1 2 3 4 5

Laporan Tahunan Dinkes Propinsi DIY tahun 2006 Yogyakarta alokasi anggaran kesehatan sumber biaya rupiah 2 3 anggaran kesehatan bersumber: APBD kab/kota APBD propinsi APBN pinjaman/hibah luar negeri (PHLN) sumber pemerintah lain (askes) rp rp rp rp rp 37.054.940.592 571.620.228.940

% 4

31.364.690.623 84,64 1.407.915.000 3,80 377.300.000 1,02 2.873.924.990 7,76 1.031.109.979 2,78 100,00

total anggaran kesehatan total APBD kab/kota % APBD kes thd apbd kab/kota anggaran kes perkapita

6,48 70.871

76

Bantul no 1 1 2 3 4 sumber biaya 2 anggaran kesehatan bersumber: APBD kab/kota APBD propinsi APBN pinjaman/hibah luar negeri (PHLN) alokasi anggaran kesehatan rupiah 3 50.696.657.783 1.819.966.257 3.646.981.100 2.229.360.450 58.392.965.590,04 595.956.853.500 9,80 71.163 % 4 86,82 3,12 6,25 3,82 0,00 100,00

5 sumber pemerintah lain total anggaran kesehatan total APBD kab/kota % APBD kes thd APBD kab/kota anggaran kas perkapita kl.progo no 1 1 2 3 4 sumber biaya 2 anggaran kesehatan bersumber: APBD kab/kota APBD propinsi APBN pinjaman/hibah luar negeri (phln)

alokasi anggaran kesehatan rupiah 3 42.553.316.000 516.015.000 6.033.028.000 2.244.367.000 51.346.726.000 475.512.794.762

% 4 82,87 1,00 11,75 4,37 0,00 100,00

5 sumber pemerintah lain total anggaran kesehatan total APBD kab/kota % APBD kes thd APBD kab/kota anggaran kes perkapita gn. Kidul no 1 sumber biaya 2

10,80 111.946 alokasi anggaran kesehatan rupiah 3

% 4

77

anggaran kesehatan bersumber: 1 APBD kab/kota 2 APBD propinsi 3 APBN 4 pinjaman/hibah luar negeri (phln) 5 sumber pemerintah lain/php total anggaran kesehatan total APBD kab/kota % APBD kes thd APBD kab/kota anggaran kas perkapita Sleman no 1 1 2 3 4 5 sumber biaya 2 anggaran kesehatan bersumber: APBD kab/kota APBD propinsi APBN pinjaman/hibah luar negeri (phln) sumber pemerintah lain

42.577.261.728 0 0 0 2.798.540.000 45.375.801.728 519.249.089.143,00

93,83 0,00 0,00 0,00 6,17 100,00

8,74 62.981 alokasi anggaran kesehatan rupiah 3 42.878.435.927 2.347.776.000 2.126.330.000 2.315.316.000 49.667.857.927 654.300.000.000 7,6 54.545

% 4 86,33 0,00 4,73 4,28 4,66 100,00

total anggaran kesehatan total APBD kab/kota % apbd kes thd APBD kab/kota anggaran kes perkapita
Sumber : profil kesehatan kab/kota, tahun 2007

Beberapa persoalan yang dihadapi : 1. Terbatasnya askes dan rendahnya mutu pelayanan pendidikan 2. Keterbatasan kesempatan kerja dan berusaha 3. Terbatasanya akses layanan perumahan dan sanitasi 4. Terbatasanya akses air bersih 5. Lemahnya kepastian kepemilikan dan penguasaan tanah 6. Memburuknya kondisi SDA dan LH serta terbatasnya akses masyarakat terhadap SDA

78

7. Lemahnya jaminan rasa aman 8. Lemahnya partisipasi III. Sasaran yang ingin dicapai Sesuai RPJMN 2004-2009, sasaran yang ingin cicapai dalam penanggulangan kemiskinan antara lain sebagai berikut : 1. Menekan pertambahan dan sekaligus mengurangi jumlah penduduk miskin (RPJMN Bappenas) 2. Secara khusus, sejalan agenda tahun 2007, adalah menekan pertambahan penduduk miskin akibat gempa 27 Mei 2006 dan sekaligus menekan angka kemiskinan (sumber: Lap Akuntabilitas Kinerja) 3. Penguatan kelembagaan masyarakat pelaku ekonomi (sumber: Renstra, DIY) 4. Mantapnya manajemen pariwisata, mendukung pengembangan ekonomi lokal (sumber: Renstra, DIY) 5. Terpenuhinya kecukupan pangan yang bermutu dan terjangkau 6. Terpenuhinya pelayanan kesehatan yang terjangkau 7. Tersedianya pelayanan pendidikan dasar yang bermutu dan merata 8. Terpenuhinya kebutuhan perumahan dan sanitasi yang layak 9. Terbukanya akses penduduk miskin terhadap pemanfaatan SDA dan LH yang berkualitas 10. Terjamin dan terlindunginya hak perorangan dan komunal atas tanah 11. Meningkatnya partisipasi penduduk miskin dalam pengambilan kebijakan Mengacu pada RPJMN 2004-2009 ,maka Provinsi DIY juga mempunyai sasaran dalam menanggulangi kemiskinan antara lain : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Berkurangnya jumlah penduduk miskin. Terwujudnya percepatan pembangunan ekonomi wilayah tertinggal (Kabupaten Gunungkidul dan Kabupaten Kulon Progo). Pembentukan modal tetap bruto meningkat sebesar 17,8%. Ekspor non-migas meningkat sebesar 6,5%. Pengurangan angka pengangguran sebesar 19.000 orang (12,54%).

Pengerahan dan penempatan transmigran ke luar Pulau Jawa sebesar 500 KK.

79

IV.

Arah Kebijakan 1. Pemenuhan hak-hak dasar (Hak atas pangan, Hak atas kesehatan, Hak atas pendidikan, Hak atas pekerjaan dan berusaha, Hak atas perumahan, Hak atas air bersih dan sanitasi, Hak atas tanah, Hak atas SDA dan LH, Hak atas rasa aman, Hak atas partisipasi). 2. Pengembangan wilayah (Pembangunan sarana prasarana wilayah tertinggal, perbatasan, terisolir, Pengembangan ekonomi wilayah tertinggal, perbatasan dan strategis cepat tumbuh, Peningkatan kapasitas kelembagaan Pemerintah Daerah. 3. 4. 5. Perwujudan kesetaraan dan keadilan gender serta pengendalian jumlah penduduk. Meningkatkan kualitas tenaga kerja melalui sertifikasi dan standardisasi Menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berbasis penciptaan perluasan kesempatan kerja yang fleksibel (lentur), melalui pemberdayaan sektor pertanian, industri rumah tangga kecil, dan menengah, serta sektor informal. 6. 7. 8. 9. Peningkatan kerjasama antar daerah baik di dalam negeri maupun di luar negeri dalam upaya penciptaan dan perluasan lapangan kerja. Peningkatan perlindungan tenaga kerja melalui pengupahan, jaminan sosial, dan peningkatan kesejahteraan. Peningkatan pengerahan dan penempatan calon transmigran melalui kerjasama antar daerah. Peningkatan kualitas pembinaan dan pemberdayaan transmigran lokal.

V.

Pencapaian 1. Pertumbuhan ekonomi 2007 mencapai 4,20% meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 3,71% (2008 diprediksikan 4,00-4,50%) 2. Tingkat pengangguran terbuka 5,41% (2007). 2006, sebesar 5,32%. 3. PDRB per kapita atas dasar harga berlaku pada tahun 2007 mencapai Rp 9,52 juta (US$ 4. 1,029.67), lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2006 sebesar Rp 8,68 juta (US$ 946.83). 5. Penurunan angka gizi buruk dari 1,14% menjadi 0,94% (melebihi target nasional 15% 2010) 6. Peningkatan utilisasi fasilitas kesehatan oleh keluarga miskin sebesar 3% pada pelayanan puskesmas dan 0,21 persen di rumah sakit. 7. Penanganan KLB (terdapat di 90 desa/20,54%) namun dapat tertangani kurang dari 24 jam (memenuhi standar nasional 100%) 8. Persalinan oleh tenaga kesehatan (87,79%), pemberian Fe3 pada ibu hamil ditargetkan 70% terpenuhi 80,74% 9. Angka Kematian Bayi (AKB) 20 per 1000 kelahiran

80

10. Angka Harapan Hidup 74 tahun (tertinggi di Indonesia) 11. Angka Kematian Balita 22 per 1000 kelahiran 12. Angka kematian Ibu 95 per 100000 kelahiran hidup 13. Pembangunan RUSUNAWA berbagai tempat (Rusunawa Cokrodirja 98 unit hunian, Gemawang 96 unit hunian, UII dan Boro masing-masing 96, dan UMY 288 unit. 14. Penyediaan unit rumah baru mencapai 83,32 persen 15. Pencapaian target melebihi 100% (misalnya target translok 56,30% tercapai 56,31%; peningkatan kesejahteraan petani 3,3o% tercapai 3,32%; konsefvasi target 5,52% tercapai 5,34%; pengembangan perikanan meningkta 21,96%, produksi tanaman tumpang sari pada hutan negara meningkat 33,9persen. Program2 yang realisasinya melebihi 100%: program peningkatan hasil produksi dan pemasaran pertanian, peningkatan teknologi, pencegahan dan penanggulangan penyakit hewan, pengembangan perikanan tangkap, optimalisasi pengelolaan dan pemasaran produksi perikanan, dan pengembangan kawasan budi daya laut.

VI. Rekomendasi tindak lanjut Penguatan ekonomi masyarakat melalui penguatan kelembagaan dan penggalian potensi lokal sehingga mengurangi ketergantungan terhadap gejolak makro. Pembangunan perumahan berbasiskan swadaya dan tanggungjawab masyarakat disertai peningkatan peran pemerintah, meningkatkan peranan sistim informal khususnya dalam penyediaan tanah, pembangunan perumahan bertumpu pada masyarakat, pengembangan pusat informasi, pemantapan kelembagaan sistim penyelenggaraan perumahan dan pemenuhan kebutuhan perumahan bagi seluruh lapisan masyarakat dengan berbagai strategi (laporan pertanggungjawaban guberbur DIY, 2003-2008, hal IV-51). VII. Penutup Tatanan kehidupan bernegara yang tidak menguntungkan akibat perlakuan negara yang tidak adil, diskriminatif, eksploitatif ini, telah menyebabkan banyak warga masyarakat yang gagal memperoleh peluang dan atau akses untuk mengembangkan dirinya serta meningkatkan kualitas hidupnya. Bahkan mereka yang malang semakin terjerumus dan terjebak dalam kehidupan yang serba berkekurangan atau tak setara dengan tuntutan hidup yang layak dan bermartabat sebagai manusia. Upaya penanggulangan kemiskinan memiliki makna filosofis, strategis maupun pragmatis. Oleh karenanya, upaya penanggulangannya seyogyanya dilakukan secara menyeluruh, mendasar, mendalam,

81

transparan, partisipatif dan akintabel dengan berbasis pada penyebab kemiskinan yang multidimensional, baik secara langsung, tidak langsung maupun menukik langsung pada akar permasalahannya. Bab 4.3 Peningkatan Investasi dan Ekspor non Migas I. Pengantar Investasi dan kinerja ekspor merupakan variabel penting dalam pembentukan pertumbuhan ekonomi. Mengawali RPJMN 2004 tingkat investasi DIY terlihat mandeg atau bahkan sedang mengalami kemunduran. Sementara itu kinerja ekspor secara total menunjukkan peningkatan dari tahun ketahun. Stabilits investasi yang dicapi dan kinerja eskpor yang terus meningkat memacu pemeritah daerah untuk lebih meningkatkan kinerja dengan membenahi iklim investasi dan meningkatkan daya saing produk ekspor agar pertumbuhan investasi dan ekspor terus meningkat sehingga perannya dalam pertumbuhan ekonomi menjadi semakin besar. Sektor pariwisata dan pedagangan menjadi aspek penting dalam peningkatan peran investasi dan ekspor.

II.

Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah Mengawali RPJMN 2004-2009 kinerja investasi Dalam Negeri di DIY mengalami kemunduran dengan pertumbuhan – 0.13%, sementara untuk PMA menunjukkan keadaan yang stagnan (lihat tabel A). Realisasai PMA maupun PMDN itu dibandingkan dengan rencana untuk periode yang sama hanya mencapai mencapai 62,94%. Rendahnya pertumbuhan PMDN D I Yogyakarta terkait dengan beralihnya status beberapa PMND yang menjadi PMA diantranya PT Cakrawala Andalas Televisi dan PT Mustika Princess Hotel. Ditinjau dari aspek sektornya industri menduduki pangsa tertinggi dengan pangsa sebesar 49.08%, disusul oleh perhotelan (36.88%) dan jasa lainnya (11.44%). Pangsa industri yang besar itu ditumbang oleh industri tekstil dan industri makanan. Sebagai daerah penghasil jasa terutama pariwisata dan pendidikan maka industri yang sebagian besar adalah kerajinan dan makanan merupakan kegiatan yang mendukung parwisata dan pendidikan, demikian juga dengan hotel. Dilihat dari penyebarannya, investasi D. I Yogyakarta masih terkonsentrasi di wilayah kota Yogyakarta ( 48.62 %) disusul oleh Sleman dengan proporsi sebesar 45.81 dan Bantul , Gunung Kidul serta Kulon Progo masing masing 3.55%, 1.18% dan 0.81%. Penanaman modal asing (PMA) dalam realisasinya tidak berbeda dengan yang dicapai oleh PMDN yakni 62.94%. Dilihat dari pangsanya, berbeda dengan PMDN yang pangsa terbesarnya adalah

82

industri, pada PMA yang paling dominan justru pada investasi di bidang jasa lainnya (%) disusul oleh perhotelan (%) baru industri. Sementara itu penyebarannya tertinggi tetap di kota (%) diikuti oleh Sleman (%) dan Bantul (%) serta Gunung Kidul (%), dan tidak ada PMA yang ditanamkan di Kulonprogo. Tabel IV.4 Realisasi Penanaman Modal Di Yogyakarta tahun 2003-2004 (Rp juta) Penanaman Modal Dalam Negeri Penanaman Modal Asing 2003 Pertanian Pertambangan Industri Konstruksi Perhotelan Pengangkutan Perumahan dan perkantoran Jasa lainnya Total 48.317 750 1.162.753 885.756 34.009 274.440 2.405.275 2004 27.573 750 1.179.023 885.846 34.734 274.788 2.401.967 0.2 -0.13 0.01 2.13 Pert -42.93 0 1.39 2003 33.745 150.828 350.734 982 982.980 1.519.270 2004 33.745 150.828 350.734 982 982.980 1.519.270 0 0 0 0 0 Pert 0

Sektor

Sumber: Laporan Bank Indonesia D I Yogyakarta tahun 2005

DI Yogyakarta sebagai wilayah yang secara budaya kaya tradisi dengan sumber daya alam yang terbatas tidak memiliki potensi ekspor migas, maka seluruh perdagangan luar negeri yang dilakukan DI Yogyakarta merupakan ekspor non migas. Tahun 2003-2004 ekspor Yogyakarta secara total mengalami peningkatan dari Rp 115.318 menjadi Rp 122.271 atau meningkat dengan 6.02 %. Tahun 2004 komoditi penyumbang ekspor tertinggi masing masing adalah mebel kayu (30.75%) dan pakaian jadi tekstil (20.45%), tetapi komoditas dengan pertumbuhan tertinggi adalah STK sintetis (275.71%), papan kemas (156.91%), kerajinan pandan (140.91%) dan minyak atsiri cengkeh (129.56%). Sementara itu mebel kayu dan STK dengan pangsa terbesar justru meningkat dengan kecepatan yang relatif rendah, 22.98% untuk mebel kayu dan 2.36 % untuk pakaian jadi tekstil. Angka-angka ini menjadi indikasi mulai jenuhnya ekspor beberapa komoditi seperti pakaian tekstil dan berkembangnya produk lainnya. Dilihat dari negara tujuan ekspornya, sampai dengan tahun 2004 tujuan utama ekspor Yogyakarta terbesar adalah Amerika Serikat (39.72%), namun pertumbuhan tertinggi dicapai oleh tujuan Singapura (123.91%), India (681.44%), Belgia (96.72%) dan Filipina (96.02%). Angka ini juga menjadi indikasi jenuhnya pasar Amerika Serikat, tetapi digantikan pasar lain.

83

Komoditas Mebel kayu Pakaian jadi tekstil Kulit disamak Sarung tengah kulit Lampu Produk tekstil lainnya Tekstil Kerajinan kayu

Tabel IV.5 Ekspor DI Yogyakarta Berdasar Komoditas tahun 2004 (Rp juta) Nilai (US $ ribu) Pangsa Pertumbuhan 37.593 25.009 9730 9.174 5.500 5.259 4.370 4.060 1.913 1.675 1.600 1.521 1.381 574 531 491 1 756 2.486 720 307 374 7.236 122.271 30.75 20.45 7.96 7.5 4.50 4.30 3.57 3.32 1.56 1.37 1.31 1.24 1.13 0.47 0.43 0.40 0.00 0.63 2.03 0.59 0.25 0.31 5.92 100 22.98 2.36 11.22 -23.85 1.70 -20.76 -40.76 27.39 129.56 140.91 275.71 24.05 18.32 -61.51 -7.31 -46.13 -61.03 156.91 39.68 46.14 11.47 3.93 6.03

Minyak atsiri daun cengkeh Kerajinan pandan STK sintetis Kerajinan tanah liat Kerajinan batu Jamur dalam kaleng Kerajinan perak Kerajinan enceng gondok STK kombinasi polyurethane Kerajinan kertas Papan kemas Kerajinan kulit Kerajinan kaca Kerajinan rotan Komoditas lainnya Total
Sumber: Laporan Bank Indonesai D I Yogyakarta, 2005

Pariwisata DIY merupakan salah satu motor pengerak perekonomian DIY, dan pada sektor pariwisatalah investasi (terutama asing) banyak ditujukan. Indikator jumlah hotel menunjukan jumlah peningkatan dibandingkan dengan tahu 2003, peningkat jumlah hotel ini juga diikuti oleh meningkatnya jumlah kamar yang tersedia. Sebagai daerah yang ingin menjadi ikon wisata, wistawan yang berkunjung ke DIY masih didominasi oleh wisatawan domestik. Jika dilihat dari petumbuhannya wistawan asing tumbuh lebih cepat dibanding wisatawan domestik. Ini merupakan indikator titik balik kembalinya kegaitan

84

pariwisata yang sempat merosot akibat tragedi Bom Bali, JW Marriot dan Kedutaan Besar Australia. Dilhat dari indikator lama menginap, rata-rata wisatawan hanya menghabiskan waktu 2 hari di Yogyakarta, dengan pertumbuhan yang negatif. Angka ini dapat menjadi salah satu indikasi kurang nyamannya keadaan pariwisata di Yogyakarta. Tabel IV.6 Indikator Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarata Tahun 2004 Uraian Jumlah hotel (unit) Jumlah kamar (unit) Jumlah wisatawan (orang) Domestik Asing Lama menginap (hari) Domestic Asing
Sumber: Laporan Bank Indonesi D I Yogyakarta, 2005

Jumlah 1.128 13.860 1.807.197 1.703.651 103.546 1.94 1.79 3.81

Pertumbuhan 8.15 6.02 17.98 17.72 22.23 -12.89 -11.17 -11.17

III.

Sasaran Yang Ingin Dicapai Peningkatan daya saing nasional di pasar global merupakan tujuan akhir penerapan kebijakan sektor industri dan perdagangan serta bidang investasi. Secara husus sektor pariwisata bertekat untuk mewujudkan Yogyakarta sebagai sebagai destinasi utama dan menjadi destinasi terkemuka di Indonesia baik bagi wisatawan domestik maupun asing

IV.

Arah Kebijakan Untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan secara umum, sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri No 13 tahun 2005, kebijakan umum di bidang penanaman modal dan investasi adalah : 1. Peningkatan promosi dan kerjasama invesatsi 2. Peningkatan ilkim investasi dan realisasi invesas 3. Penyiapan potensi sumber daya sarana dan prasarana daerah Salah satu upaya promosi yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DIY adalah pencanangan slogan “Jogja Invest”, yang diarahkan untuk meningkatkan daya tarik berinvestasi di DIY di mata para investor baik domestik maupun asing. Upaya ini cukup beralasan karena DIY memiliki beberapa keunggulan sebagai berikut:

85

1. Stabilitas politik dan keamanan yang terbaik dibandingkan dengan provinsi lainnya di Indonesia; 2. Kualitas sumber daya manusia yang tinggi sebagaimana tercermin dari besarnya persentase masyarakat terdidik, tersedianya tenaga kerja terampil dan angka rasio melek komputer (computer literate ratio) yang tertinggi di Indonesia; 3. Lokasi DIY yang strategis dan terhubung dengan provinsi lainnya dan bahkan dengan negara tetangga; 4. Biaya produksi yang rendah dan tingkat upah yang cukup kompetitif; 5. Sarana dan prasarana yang memadai untuk menunjang kegiatan investasi. Pada bidang perdagangan sebagai pendukung invetasi dilaksanakan program-program antara lain: (1). Peningkatan perlindungan terhadap konsumen dan pengamanan perdagangan, (2). Peningkatan kerjasama perdagangan internasional, (3). Peningkatan pengembangan ekspor peningkatan efisiensi perdagangan dalam negeri, (4). Penciptaan dan pelaksanaan sistem persaingan usaha yang sehat. Sebagai pendorong investasi Pegembangan pariwisata dilakukan melalui: (1). Pengembangan pemasaran pariwisata (2).Pengembangan destinasi pariwisata (3). Pengembangan kemitraan Untuk menggairahkan dan meningkatkan investasi dan penanaman modal secara khusus pogram yang dilakukan meliputi: 1. Meningkatkan koordinasi dengan Instansi/lembaga terkait baik instansi vertical di pusat maupun didaerah (kabupaten/kota) 2. Mengusahakan meningkatkan promosi dan pelayanan informasi guna mempersingkat dan membantu mempermudah perijinan 3. Mengembangkan sarana dan prasrana serta infrastruktur yang menunjang kegiatan investasi Salah satu upaya mengoptimalkan pengunaan sumber daya yang tersedia untuk pengembangan otonomi khususnya di daerah adalah penerapan kebijakan Otonomi Daerah dengan disahkannya UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan Keppres No.29 Tahun 2004 pelayanan satu atap di bawah Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

V.

Pencapaian RPJMN di Daerah Realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di DIY secara kumulatif dari tahun 2004 sampai tahun 2007 mengalami penurunan 0.0000 %, yaitu dari Rp 2.4 miliar pada tahun 2004 menjadi Rp1.802 miliar pada tahun 2007. Kondisi ini sejalan dengan jumlah rencana PMDN yang telah disetujui oleh Pemerintah Provinsi DIY yang mengalami penurunan. Penurunan jumlah PMDN yang disetujui tersebut sejalan dengan pertumbuhan Investasi yang diukur dari PMTB, yang cenderung melambat . Angka ini didukung oleh angka persentase realisasi PMDN yang menurun dari rencana semula.

86

Ditinjau dari aspek sektornya, sektor Industri masih menduduki pangsa tertinggi, meskipun dengan persentase yang cenderung menurun. Jika tahun 2004 pangsa sektor industri adalah 14.83% maka tahun 2007 pangsanya turun menjadii 12.54%. Selanjutnya, disusul sektor Perhotelan 36,49%, Jasa Lainnya 13,89%, Pengangkutan 1,92%, dan Pertanian/ Kehutanan/Perikanan 1,53%. Penyumbang utama pada sektor Industri didominasi oleh Industri Tekstil 35,02% dan Industri Makanan 4,04%. Berdasarkan persebaran wilayahnya,baik rencana maupun realisasi PMDN pada tahun laporan terkonsentrasi di Kota Yogyakarta dengan nilai masing-masing sebesar Rp1.111 miliar dan Rp745 miliar. Rencana dan realisasi PMDN di Kabupaten Sleman masing-masing tercatat sebesar Rp922 miliar dan Rp922 miliar. Selanjutnya, dikuti oleh Kabupaten Kulonprogo, Kabupaten Bantul, dan terakhir Kabupaten Gunungkidul. Tabel IV.7 Pertumbuhan Realisasi Penanaman modal dalam negeri menurut sektor Rata-rata pert. per Jumlah (Rp juta) Sektor Pertanian Pertambangan Industri Konstruksi Perhotelan Pengangkutan Perumahan dan perkantoran Jasa lainnya Total 274.788 2.401.967 250.264 1.801.533 -2.97 0.00001 2004 27.573 750 1.179.023 885.846 34.737 2007 27.572 750 831.682 657.385 34.630 tahun (%) 0.001 0 -9.82 -8.59 -0.10 -

Sumber: Laporan Bank Indonesi D I Yogyakarta, 2005

Jumlah realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) pada tahun 2007 tercatat sebesar Rp 880 miliar, menurun 53,17% dibandingkan dengan periode tahun 2004. Sementara itu, akumulasi rencana PMA yang disetujui oleh Pemerintah Provinsi DIY pada tahun 2007 mengalami penurunan sebesar 59,34%, yaitu dari Rp 3.508 miliar pada tahun 2006 menjadi Rp 880 miliar pada tahun laporan. Hal ini diduga karena besarnya investasi pada bidang usaha yang diminati oleh investor asing, seperti jasa, industri logam, dan pengangkutan cenderung menurun. Meskipun demikian, persentase realisasi PMA dari rencana pada tahun laporan mengalami peningkatan dibanding dengan periode sebelumnya, yaitu dari 53,58% pada tahun 2006 menjadi 61,70% pada tahun 2007. Ditinjau dari sektornya, sektor Perhotelan menduduki pangsa tertinggi yaitu 57,14%, disusul sektor Jasa Lainnya 38,61%, dan sektor Industri 4,25%. Penyebaran PMA tertinggi di

87

Kabupaten Sleman dengan realisasi sebesar Rp 514 miliar dari rencana sebesar Rp 920 miliar, selanjutnya diikuti oleh Kota Yogyakarta dengan realisasi sebesar Rp 319 miliar, Kabupaten Gunungkidul sebesar Rp 43 miliar, dan Kabupaten Bantul sebesar Rp 4 miliar sedangkan Kabupaten Kulonprogo nihil pada tahun laporan. Tabel IV.8 Pertumbuhan Realisasi Penanaman Modal Asing menurut sektor Sektor Rata rata Jumlah (Rp juta) 2004 Pertanian Pertambangan Industri Konstruksi Perhotelan Pengangktan Perumahan dan perkantoran Jasa lainnya Total 982.980 1.51.270 339.825 880.227 21.80 14.02 33.745 150.828 350.046 982 2007 37.429 502.973 pertumbuhan per tahun (%) -25.06 14.50 -

Sumber: Laporan Bank Indonesi D I Yogyakarta, 2005

Nilai ekspor DIY yang seluruhnya merupakan komoditas nonmigas mengalami pertumbuhan positif yang sangat kecil yakni 0.89% rata-rata per tahun sejak tahun 2004-2007. Penyumbang penurunan nilai nominal ekspor terutama bersumber dari penurunan ekspor Pakaian Jadi Tekstil diikuti oleh penurunan ekspor kerajinan pandan dan Mebel Kayu. Sementara itu pangsa terbesar terhadap total nilai ekspor DIY adalah ekspor pakaian jadi tekstil yang mencapai dengan nilai sebesar $34,41 juta. Sumbangan ekspor kedua terbesar berasal dari ekspor mebel kayu yang tercatat sebesar $26,10 juta. Pertumbuhan ekspor tertinggi selam 4 tahun terakhir adalah kerajinan kertas yang diikuti oleh sarung tangan kulit sintetis. Sementara itu, pangsa ekspor komoditas lainnya relatif kecil. Berdasarkan negara tujuan, ekspor DIY pada tahun 2007 sebagian besar ditujukan ke negara Amerika Serikat ($55,29 juta), Perancis ($7,44 juta), Jepang ($6,07 juta), Spanyol ($5,22 juta), Italia ($5,21 juta), Australia ($4,60 juta), Hongkong ($4,20 juta), dan Belanda ($3,54 juta). Nilai ekspor ke Amerika Serikat memiliki pangsa sebesar 44,03% dari total nilai eskpor DIY. Pada tahun 2007, 64,39% dari nilai ekpor DIY dilakukan melalui pelabuhan muat Tanjung Emas, Semarang, dengan nilai sebesar $80,86 juta, sedangkan ekspor yang melalui Bandara Adisutjipto hanya

88

tercatat sebesar $3,21 juta atau dengan pangsa 2,56%. Ekspor melalui Bandara Adisutjipto mengalami peningkatan sebesar 6,10% dibanding tahun 2006, hal ini merupakan dampak internasionalisasi Bandara Adisutjipto yang berlaku sejak tahun 2005. Tabel IV.9 Pertumbuhan Ekspor Berdasar Komoditas tahun 2004-2007 Rata-rata Jumlah (Rp juta) 2004 Komoditas Mebel kayu Pakaian jadi tekstil Kulit disamak Sarung tangan kulit Lampu Produk tekstil lainnya Tekstil Kerajinan kayu Minyak atsiri daun cengkeh Kerajinan pandan STK sintetis Kerajinan tanah liat Kerajinan batu Jamur dalam kaleng Kerajinan perak Kerajinan enceng gondok STK kombinasi polyurethane Kerajinan kertas Papan kemas Kerajinan kulit Kerajinan kaca Kerajinan rotan Komoditas lainnya Total 37.593 25.009 9.730 9.174 5.500 5.259 4.370 4.060 1.913 1.675 1.600 1.521 1.381 574 531 491 1 765 2.486 720 307 374 7.236 122.271 26.104 34.406 7.116 10.560 2.988 321 1.632 4.88 3.580 700 6.680 1.818 3.137 1.304 1.164 629 4.554 2.217 1.822 391 356 9.248 125.562 165.09 3.60 51.01 9.12 -1.60 9.26 0.89 48.52 45.68 2007 pertumbuhan per tahun (%) -10.18 12.52 -8.95 5.03 -15.22 -31.29 -20.88 6.79 29.79 -19.40 105.83 6.50 42.38

Sumber: Laporan Bank Indonesi D I Yogyakarta, 2005

89

Perkembangan industri pariwisata di DIY pada tahun 2007 meningkat cukup signifikan, sebagaimana tercermin dari perkembangan beberapa indikatornya. Peningkatan ini dipengaruhi oleh kondisi fasilitas hotel yang semakin baik dan suasana Kota Yogyakarta yang semakin kondusif sehingga permintaan hotel, khususnya hotel bintang dan fasilitas pertemuan semakin meningkat pada Tahun 2007 laporan Akomodasi di DIY pada tahun 2007 digunakan oleh 1.249.421 wisatawan, naik 36,57% dari tahun 2006 yang tercatat sebanyak 914.827 wisatawan. Peningkatan penggunaan akomodasi di DIY terjadi baik pada wisatawan domestic maupun wisatawan mancanegara. Wisatawan domestik mengalami peningkatan sebesar 36,99% dari 836.682 wisatawan menjadi 1.146.197 wisatawan. Sedangkan wisatawan mancanegara mengalami peningkatan sebesar 32,09% dari 78.145 wisatawan menjadi 103.224 wisatawan. Berdasarkan golongan hotel, peningkatan penggunaan akomodasi terutama dirasakan oleh Hotel Melati, yaitu sebesar 65,17%, sedangkan pada Hotel Bintang meningkat sebesar 18,98%.

Uraian

Tabel IV.10 Pertumbuhan Indikator Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarata tahun 2004-2007 Pertumbuhan Indikator Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta 2004 2005 -50.56 -59.09 -17.20 2006 -50.57 -59.09 2007 36.57 33.20 3.27 37.70 32.71

Penggunaan akomodasi Banyaknya malam menginap Lama tinggal wisatawan
Sumber : DIY dalam Angka 2006/2007

VI.

Rekomendasi Tindak Lanjut Penanaman modal: 1. Untuk mengatasi persoalan yang ada dilakukan dengan optimalisasi pelaksanaan tugas pokok dan fungsi dengan meningkatkan koordinasi dengan lembaga/instansi terkait baik tingkat provinsi, kabupten kota maupun dengan instansi vertikal yakni BKPM Pusat 2. Peningkatan penyediaan data base yang diikuti dengan perluasan informasi dan promosi secara rutin dan berkesinambungan melalui berbagai media cetak maupun elektronik, pameran dan membina hubungan baik dengan pers. 3. Pemerintah daerah perlu meningkatkan sarana dan investasi yang mutlak merupakan daya saing daerah. prasrana dan infrstruktur yang ada seperti pelayanan jasa listrik, air telepon perbaikan sarana transportasi dan lain lain yang merupakan insentif

90

4. Dalam hal perizinan sesuai dengan kewenangan masing-masing koordinasi dengan kabupaten perlu digiatkan untuk memberikan jaminan kecepatan pelayanan perizinan dan kepastian biaya pengurusan perizinan 5. Perlu diterbitkan perda yang secara internal dan spesifik daerah guna mengatur hal hal yang berkaitan dengan sharing kewenangan antara pusat, provinsi dan kabupaten kota untuk memperjelas dan memperlancar kegiatan penanaman modal di daerah 6. Perlu diciptakan iklim kondusif dan jaminan keamanan bagi para calon investor maupun investor yang sudah operasional, sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku Pariwisata: 1. Meningkatkan dan memudahkan aksesibilitas wisatawan mancanegara ke DIY 2. Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap potensi periwisata yang dimiliki 3. Meningkatkan jejaring antar pelaku pariwisata 4. Mewujudkan dan meningkatkan pemberdayaan masyarakat di sekitar ODTW 5. Meningkatkan jumlah wisatawan dan lamanya tinggal; 6. Meningkatkan dukungan sektor-sektor terkait 7. Solusi itu bisa dicapai jika ada komitmen dan konsitensi untuk pengembangan pariwisata DIY yang maju, berwawasan budaya, lingkungan dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan daya dukung SDM yang tangguh serta dana pelaksanaan program/kegiatan yang tidak sedikit. Disamping itu dalam melaksanakan program aksi, partisipasi dan stimulasi diperlukan dukungan seluruh insan pariwisata DIY secara bersama sama/terpadu sehingga Yogyakarta sebagai salah satu daerah tujuan wisata utama tahun 2008 maupun daerah tujuan utama terkemuka pada tahun 2020 terwujud. VII. Penutup Investasi khususnya di daerah jangan dipersepsi sebagai investasi besar dan formal yang terdaftar di BPM daerah maupun pusat. Kebijakan pembangunan yang pro rakyat sangat diperlukan mengingat usaha usaha kecil yang bersifat informal banyak menyelematkan rakyat yang kini tidak bekerja. Sudah waktunya daerah memberi tempat usaha yang layak, indah, teratur dan manusiawi secara terpadu dengan perencanaannya terhadap berjuta kaki lima, di seluruh kota. Usaha inilah yang memberi sumber pendapatan bagi jutaan rakyat yang tdaik tertampung dalam investasi formal yang menjadi pusat pembahasan di kampus-kampus dan di departemen yang terkait. Untuk menarik investor ke daerah pada era otonomi daerah yang perlu mendapat perhatian sehubungan terbatasnya wewenang fiskal dan moneter

91

adalah usaha memperkecil biaya dengan menciptkan external economies, serta kebijakan perburuhan yang sekaang negosiasi bagaiannya didesentralisasi ke daerah. BAB 4.4 Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur I. Pengantar Menyebut industri bagi DI Yogyakarta bermakna menyebut Usaha Kecil dan Menengah, sebab di DI Yogyakarta sebagian besar usaha industri berskala kecil dan menegah. Namun demikian usaha yang sebagian besar adalah Usaha Kecil dan Menengah ini merupakan basis sektor perdagangan, baik perdagangan di dalam negeri maupun perdagangan dengan negara lain (Ekspor). Sejalan dengan meningkatnya arus pedagangan di seluruh dunia, maka industri kecil pun tidak luput dari persoalan keharusan meningkatkan daya saing agar tidak tergilas oleh produsen lain. Keberlanjutan sektor indutri kecil ini tidak dapat ditawar lagi mengingat peran industri dalam penciptaan lapangan kerja dan mendukung stabilisasi neraca perdagangan. Memasuki tahun 2007 pertumbuhan sektor industri DI Yogyakarta belum dapat memenuhi target yang diharapkan. Menurunya jumlah industri kecil di satu sisi dan penurunan daya beli masyarakat menjadi salah satu penyebab belum tercapainya target yang diharapkan. Faktor lain yang juga ikut memperburuk persoalan adalah membanjirnya produk dari luar ke pasar local denang kualitas dan desain yang lebih baik dengan harga yang relatif lebih murah dibanding produk lokal. Selain itu dampak gempa pada hancurnya sarana prasarana industri juga masih menjadi persoalan.

II.

Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah Memasuki awal RPJM tahun 2004-2009, performa sektor industri D I Yogyakarta kurang baik. Sektor industri merupakan sektor yang paling berat menanggung beban akibat kebijakan kenaikan harga BBM. Tahun 2004 di DIY tercatat 411 buah industri besar dan sedang dengan ribuan industri kecil. Tahun 2004 tercatat nilai tambah yang tercipta dari sektor ini adalah Rp 2.424 miliar dengan pertumbuhan hanya sebesar 2.16%. Perlambatan itu disebabkan oleh terganggunya proses produksi pada beberapa industri unggulan seperti industri kayu, bambu dan rotan, industri tekstil, pakaian jadi dan kulit dan industri barang galian dari logam. Terganggunya produksi industri juga terkait dengan melemahnya nilai tukar rupiah dan kecenderungan meningkatnya suku bunga. Berbagai persoalan itu berdampak pada meningkatnya biaya produksi yang seharusnya akan meningkatkan harga jual. Namun demikian perminttan masyarakat yang

92

masih lemah dan persaingan yang tinggi membuat pengusaha berada pada dilema yang sulit. Pada akhirnya pilihan yang dibuat adalah menurunkan produksi bahkan menghentikannya. Secara spesifik usaha industri terutama yang kecil dari waktu ke waktu masih mengahadapi persoalan yang sama. Berbagai persolan teknis, permodalan, ketenaga kerjaan, bahan baku sampai pada pemasaran masih merupakan persoalan klasik yang dihadapi yang saling terkait itu menjadi semakin rumit karena lamahnya jiwa kewirausahaan pelaku usaha. Persoalan-persoalan itu direspon dengan kebijakan yang bersifat parsial. Tanpa mengurangi kelebihan dan keberhasilan secara mikro, kemacetan pembinaan masih menjadi warna yang kental dalam pengembangan usaha industri kecil. Dalam menyusun kebijakan berkaitan dengan indutri kecil dan menengah, pemerintah mengambil asumsi bahwa semua pengusaha bersifat progresif dan masalah yang dihadapi berdiri sendiri. Pemahaman semacam inilah yang selama ini menjadi dasar pengambilan kebijakan, padahal usaha kecil dengan sifat semacam ini jumlahnya relatif terbatas dan segala masalah yang muncul di permukaan terkait dengan perilaku pengusaha yang bersangkutan. Sebagian pengusaha ternyata mengambil sikap menghindari resiko, sehingga walaupun mereka mempunyai masalah permodalan dan pemerintah menyediakan modal dalam jumlah besar usaha tidak progresif belum tentu mau mengakses. Demikian juga untuk mengatasi masalah produk, pemasaran maupun manajemen. Oleh karena itu untuk mengatasi persoalan kemacetan pengembangan UKM diperlukan upaya yang mendalam dalam memahami persoalan yang saling terkait itu, sehingga hakekat dari masalahnya dapat terungkap. Secara ringkas perasalahan terkait dengan industri pengolahan yang didominasi usaha kecil dan menengah adalah: 1. Masih banyak bahan baku yang harus didatangkan dari daerah lain. Ini menyulitkan bagi industri sebab kontinuitas bahan baku yang terganggu akan mengganggu kontinuitas proses produksi, disamping itu mengingat jarak yang harus ditempuh biaya menjadi lebih mahal. 2. Banyak industri yang masih menggunakan mesin tradisional dan usia mesin yang sudah melampaui usai teknis dan ekonomis 3. Lemahnya pengembangan desain produk, inovasi teknologi dan diversifkasi produk. 4. Kemampan sumber daya manusia dalam penggunaan teknologi masih tebatas ditambah dengan lemahnya jiwa kewirausahaan. 5. Kemampuan dalam mengakses pasar/ infromasi pasar melalui teknologi informasi masih terbatas 6. Terbatasnya jaringan yang dimiliki oleh pelaku industri terutama industri kecil 7. Kurangnya kemitraan dalam pengembangan usaha pemasaran industri kecil.

93

III.

Sasaran Yang Ingin Dicapai a. Sektor industri manufaktur (non-migas) ditargetkan tumbuh dengan laju rata-rata 8.56% per tahun. Dengan tingkat operasi rata-rata hanya sekitar 60% pada tahun 2003, target peningkatan kapasitas utilisasi khususnya sub sektor yang masih berdaya saing akan meningkat ke titik optimum yaitu sekitar 80% dalam dua sampai tiga tahun pertama, terutama untuk industri yang dinilai memiliki keunggulan komparatif dan kompeteitif b. Target penyerapan tenaga kerja dalam 5 tahun mendatang adalah sekitar 500 ribu per tahun (termasuk industri pengolahan migas). Dengan kecenderungan penurunan penyerapan beberapa tahun belakangan ini, penyerapan tenaga kerja baru lebih banyak mengandalkan pada basis industri baru yang perlu dipacu pertumbuhannya. Sejalan dengan upaya revitalisasi pertanian dan perdesaan langkah pengembangan untuk mewujudkan industrialisasi berskala menengah dan besar penyerapan kerja baru akan mengandalkan pada investai baru c. Diperkirakan kebutuhan investasi untuk mengejar target penyerapan tenaga kerja diatas mencapai 40 sampai 50 trilyun rupiah pertahun d. Terciptanya iklim usaha yang lebih kondusif baik bagi industri yang sudah ada maupun investasi baru dalam bentuk tersedianya layanan umum yang baik dan bersih dari KKN, sumber sumber pendanaan yang terjangkau dan kebijakan fiskal yang menunjang e. Peningkatan pangsa sektor industri manufaktur di pasar domestik, baik untuk bahan baku maupun produk akhir, sebagai cerminan daya saing sektor ini dalam menghadapi produk-produk impor f. Meningkatnya volume ekspor produk manufaktur dalam total ekspor nasional, terutama pada produk ekspor industri manufaktur yang daya saingannya masih potensial untuk ditingkatkan g. Meningkatnya proses alih teknologi dan foreign direct investment (FDI) yang dicerminkan dari meningkatnya pemasokan bahan antara dari produk lokal h. Meningkatnya penerapan standarisasi produk industri manufaktur sebagai factor penguat daya saing produk nasional

IV.

Arah Kebijakan Untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan, sektor industri manufaktur D I Yogyakarta mengembangkan tiga program kegiatan utama yang terbagi dalam beberapa sub program: 1. Peningkatan pengembangan industri kecil dan menengah yang meliput dua kegiatan yakni fasilitasi klaster industri keramik berbahan baku tanah kaolin dan fasilitasi pengembangan klater Celuk Bali. 2. Pemenuhan peningkatan kemampuan teknologi yang terdiri dari tiga belas kegiatan yakni, praktek kerja teknologi proses genteng keramik, pengemangan diversifikasi produk cor logam aluminium,

94

pengembangan teknologi tepat guna, pengembangan rekayasa penerapan teknlogi untuk peningkatan fungsi efisiensi lomba cipta design ATG, pengelola bengkel ATG, Promosi Teonologi tepat guna, pembuatan aplikasi JBC, pengelolaan JBC, pelatihan SDM DGS, pengembangan produk kerajinan imitasi, praktek kerja IK kerajinan bordir ke Tasikmalaya, fasilitasi pegelolaan common facility small medium industry, pelatihan manajemen bagi pengelola stoen cruiser. 3. Pemenuhan pembinaan indusri rumah tangga dan industri menengah dengan kegiatan kegiatan pengembangan teknologi batik pada kerajinan bambu, Pelatihan diversifikasi produk berbahan baku tepung cassava dan ubi-ubian, Festifal dan pemeran pangan nusantara, peningkatan teknologi pengawetan kerajinan serat tumbuhan, peningkatan teknologi industri gerabah, peningakatan industri mebel kayu praktek kerja industri, penyususuan buku motif batik yogya Secara khusus permasalahan permodalan UMKM diatasi oleh Bank Indonesia dengan beberapa program pendekatan yakni kebijakan perkreditan, pengembangan kelembagaan, pemberian bantuan teknis, kerjasama dengan pemerintah dan lembaga terkait lainnya. Kebijakan perkreditan Bank Indonesia dilakukan untuk mendukung ketersediaan dana bagi UMKM. Upaya yang ditempuh antara lain berupa penerbitan ketentuan yang mengatur penyesuaian suku bunga dan nisbah bagi hasil untuk kredit program seiring dengan penurunan suku bunga pasar, perpanjangan batas waktu penarikan surat utang pemerintah dan pengalihan proyek kredit mikro kepada Bank Mandiri. Pendekatan yang dilakukan Bank Indonesia kepada UMKM telah bergeser dari developmet role ke promotion role. Pendekatan dengan pemberian subsidi kredit dan bunga murah sudah bergeser ke pendekatan yang lebih menitik beratkan pada kegiatan pelatihan petugas bank penelitian dan penyediaan informasi. Untuk Pengembangan kelembagaan, kantor Bank Indonesia Yogyakarta bekerjasama dengan satuan tugas daerah pemberdayaan konsultan keuangan mitra Bank (Satgasda KKMB) memperluas upaya peningkatan mutu KKMB. Perluasan cakupan materi yang diajarkan kepada KKMB tidak terbatas pada aspek keuangan dan perbankan saja tetapi juga materi teknis yang terakit dengan pemasaran dan produk dengan melibatkan instansi terkait seperti Dinas Kelautan dan Dinas Pertanahan serta Deperindagkop DIY. Berkaitan dengan pemberian bantuan teknis KBI Yogyakarta telah menyelenggarakan berbagai pelatihan dan diseminasi informasi. Kegiatan yang dilakukan diantaranya adalah pelatihan bazaar intermediasi perbankan UMKM, seminar penjaminan kredit untuk pemangangan UMKM dan road show perbankan dan KKMB ke sentra industri tahu di Sleman serta pelatihan survey petensi keuangan dengan metode Rural Rapid Appraisal kepada Bank Umum. Semua kegiatan ini diarahkan untuk mendorong pengembangan UMKM baik dar sisi supply maupun demand. Dalam upaya pengembangan kerjasama dengan instansi terkait telah dilakukan berapa program antara lain mengadakan forum dialogis terpadu dalam rangka penyusunan profil UMKM di DIY. Profil ini nantinya akan dideseminasikan dan selanjutnya akan dicantumkan dalam website UMKM yang dapat

95

diakses oleh semua pihak yang akan memanfaatkan data tersebut. Disamping itu Bank Indonesia juga menjadi fasilitator dalam kegiatan pelatihan KKMB yang diadakan oleh Dinas Kelautan dan Dinas Pertanian Yogyakarta. V. Pencapaian RPJMN di Daerah Nilai tambah riil sektor Industri Pengolahan pada tahun laporan tercatat sebesar Rp2.510 miliar. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, perkembangan kinerja sektor Industri Pengolahan pada tahun laporan mengalami percepatan. Angka pertumbuhan sektor ini meningkat dari 0,72% pada tahun 2006 menjadi 1,17% pada tahun laporan. Sementara itu, pangsa sektor ini mengalami sedikit penurunan yaitu dari 14,15% pada tahun 2006 menjadi 13,74% pada tahun laporan sedangkan andil sektor ini terhadap pertumbuhan meningkat dari 0,11% menjadi 0,17 dalam kurun waktu yang sama. Kenaikan ini didukung oleh pertumbuhan positif industri makanan, minuman dan tembakau (ISIC 31), industri kertas dan barang cetakan (ISIC 34), serta industri pupuk, kimia dan barang dari karet (ISIC 35). Peningkatan produksi industri makanan terkait dengan meningkatnya kunjungan wisatawan ke Kota Yogyakarta baik untuk dikonsumsi langsung maupun untuk dijadikan buah tangan. Hal ini sejalan dengan peningkatan permintaan terhadap penggunaan jasa transportasi udara maupun transportasi darat, tercermin dari jumlah penumpang pesawat dan kereta yang cenderung meningkat dari 4.327.639 orang pada tahu 2006 menjadi 4.387.804 orang pada tahun 2007. Adapun pertumbuhan industri barang cetakan didorong oleh permintaan barang cetakan untuk kegaitan pendidikan. VI. Rekomendasi dan Tindak Lanjut 1. Memperkuat jaringan kerjasama antar daerah penghasil bahan baku seta meningkatkan produksi bahan baku lokal 2. Pengembangan kemampuan inovasi teknologi industri dan manajemen 3. Meningkatkan ketampilan SDM melalui bimbingan teknis ketrampilan 4. Memperkuat jaringan pasar baik di dalam daerah maupun diluar daerah ataupun luar negeri 5. Meningkatkan fasilitasi tehadap pelaku UMKM 6. Menngkatkan kesadaran terhadap standar mutu dan sistem mutu dalam bentuk penelitian dan pembinanan.

96

VII.

Penutup Kondisi perkembangan industri manufaktur di DIY dilihat dari pencapaiannya bisa cukup berprospek untuk tetap bertahan bahkan berkembang semakin baik. Perkembangan industri manufaktur yang pesat bisa berimbas pada peningkatan kondisi ekonomi masyarakat sekitar dengan penyerapan tenaga kerja. Hal ini tentu saja menguntungkan perekonomian DIY secara luas.

BAB 4.5 Revitalisasi Pertanian I. Pengantar Pada saat ini telah terjadi perubahan-perubahan besar dalam lingkungan pemerintahan, baik itu lingkungan domestik maupun lingkungan global. Reformasi telah mengembalikan kesadaran rakyat akan perlunya suatu pemerintahan yang profesional, transparan, akuntabel, bersih dan bebas KKN. Peran pemerintah di masa lalu yang sentralistis dan cenderung mendominasi semua aspek pembangunan, telah menyebabkan berkembangnya berbagai patologi birokrasi, munculnya sosok birokrasi yang kurang efektif dan efisien, serta terjadinya ketergantungan masyarakat yang terlalu besar kepada pemerintah. Peran pemerintah yang seperti itu membawa implikasi pada mandulnya kreatifitas dan inisiatif masyarakat untuk mengembangkan potensi yang dimiliki serta bersaing di tingkat global. Krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 telah menimbulkan kesadaran akan perlunya koreksi terhadap paradigma pembangunan dan peran pemerintah dalam pembangunan. Paradigma pembangunan yang menekankan pertumbuhan dan perencanaan pembangunan yang bersifat top down menyebabkan terjadinya banyak bias dalam pelaksanaan pembangunan, kurang terakomodasinya aspirasi dan kepentingan masyarakat. Dinas pertanian Propinsi DIY adalah unsur pelaksana Pemerintah di bidang pertanian, yang dibentuk melalui Peraturan Daerah Propinsi DIY No. 5 Tahun 2001 (tanggal 23 Juli 2001), dan dipimpin oleh seorang Kepala Dinas yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah. Sejak diberlakukannya Peraturan Daerah Propinsi DIY No 3 Tahun 2004 tanggal 5 Februari 2004, struktur Dinas Pertanian Propinsi DIY terdiri atas seorang Kepala Dinas dibantu oleh Kepala Bagian Tata Usaha dan empat Kepala Bidang (Bidang Bina Program, Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura, Bidang Peternakan, dan Bidang Sarana Pengolahan dan Pemasaran Hasil) serta tujuh Kepala UPTD. Berdasarkan Peraturan Daerah Propinsi DIY Nomor 7 Tahun 2002 tentang Pembentukan dan Organisasi Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) pada Dinas Daerah di Lingkungan Pemerintah Propinsi DIY. Ketujuh UPTD yaitu : 1. UPTD Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura 2. UPTD Balai Pengembangan dan Promosi Agribisnis Perbenihan Tanaman Pangan

97

3. UPTD Balai Pengembangan dan Promosi Agribisnis Perbenihan Hortikultura 4. UPTD Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura 5. UPTD Balai Pelatihan dan Pengembangan Biro Teknologi Pertanian Terapan 6. UPTD Balai Pengembangan Mutu Benih dan Pakan Ternak 7. UPTD Balai Diagnostik Kehewanan Dinas Pertanian mempunyai fungsi sebagai pelaksana kewenangan Pemerintah Daerah di bidang pertanian yang meliputi pertanian tanaman pangan, hortikultura dan peternakan, kewenangan dekonsentrasi serta tugas perbantuan yang diberikan oleh Pemerintah. Untuk melaksanakan fungsi tersebut Dinas Pertanian mempunyai tugas : 1. Menyusun program di bidang pertanian sesuai dengan rencana strategis Pemerintah Daerah 2. Merumuskan kebijakan teknis di bidang pertanian yang meliputi pertanian pangan dan peternakan 3. Memberikan ijin usaha pertanian dan peternakan lingkup propinsi dan melaksanakan pelayanan umum 4. Melaksanakan pembinaan usaha pertanian dan peternakan lintas Kabupaten/ Kota 5. Memfasilitasi penyelenggaraan pertanian dan peternakan Pemerintah Kabupaten/Kota 6. Memberdayakan sumberdaya aparatur dan mitra kerja dibidang pertanian dan peternakan 7. Menyelenggarakan kegiatan ketatausahaan Sejalan dengan semangat reformasi, Pemerintah dituntut untuk merubah pola manajemen pemerintahan ke arah good government, clean government dan social accountability, maka paradigma manajemen pembangunan yang menempatkan peran Pemerintah sebagai fasilitator, akselerator dan regulator, serta meningkatkan peran masyarakat, mengharuskan program pembangunan mengarah pada pemberdayaan masyarakat. Perubahan peran Pemerintah sebenarnya telah terjadi secara gradual walaupun perubahannya sangat lamban, peran birokrat yang pada masa lalu dominan sebagai pelaksana pembangunan diharapkan berubah menjadi pelayan pembangunan. Disamping itu peranan birokrat lebih diarahkan untuk mendorong partisipasi aktif masyarakat mendorong investasi swasta, serta pemberdayaan masyarakat petani agar mampu meningkatkan nilai tambah dan pendapatannya. II. Kondisi Awal Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mempunyai luas 318.580 hektar. Sekitar 58.608 hektar atau 18,40% berupa lahan sawah yang bisa ditanami padi dan Palawija atau Hortikultura. Khusus di wilayah Kabupaten Gunungkidul juga banyak dijumpai lahan tegalan yang ditanami padi, palawija dan hortikultura, disamping itu juga dipelihara berbagai macam jenis ternak seperti sapi potong, sapi perah, kambing/domba, itik, ayam ras, ayam kampung dan lain-lain. Umumnya seorang petani pangan juga memelihara ternak sehingga usaha taninya dilaksanakan secara integral, limbah pertanian untuk pakan ternak dan kotoran

98

ternak untuk pupuk tanaman. Dengan bertambahnya penduduk dan berkembangnya daerah perkotaan, maka luas lahan sawah di Propinsi Daerah istimewa Yogyakarta terus mengalami penurunan. Secara umum penurunan luas lahan sawah mencapai 0,42 persen selama tahun 2000-2001. Penurunan ini terjadi di seluruh wilayah dan penurunan tertinggi terdapat di kota Yogyakarta yang mencapai 7,74 persen. Hingga tahun 2003, sektor pertanian masih memegang peranan penting dalam perekonomian D.I. Yogyakarta, terlihat dari kontribusinya yang signifikan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), yakni rerata sepuluh tahun sebesar 16,33%. Angka tersebut merupakan terbesar ketiga setelah sektor jasa dan perdagangan. Pada tahun 2004, menurut analisis Produk Domestik Regional Bruto Provinsi DIY 2000-2004, kontribusi sektor pertanian bahkan sedikit mengalami kenaikan dari rerata 10 tersebut, yakni 16,64; yang masih mempertahankan sektor ini pada kategori sektor ekonomi pada kelompok pertama, yakni kelompok dengan tingkat kontribusi di atas 15%. Oleh karena itu, nilai tambah sektor ini sangat berpengaruh terhadap total PDRB Propinsi. Namun demikian, pertumbuhan sektor pertanian relatif kecil, yakni rata-rata hanya 0,92% per tahun, dibandingkan dengan pertumbuhan sektor listrik, gas dan air bersih (8,16% per tahun). Terlebih dalam empat tahun terakhir, sektor pertanian justru mengalami pertumbuhan negatif. Pada tahun 2004, misalnya, sektor pertanian memasuki kategori kelompok sektor ekonomi dengan tingkat pertumbuhan di bawah 5%, yakni sebesar 3,63%. Ditilik dari prospek pertumbuhan, dari tahun 2005 hingga 2010, dengan prediksi pertumbuhan ekonomi rata-rata 4,96%, sektor pertanian diperkirakan tumbuh dengan laju negatif. Tertekannya pertumbuhan sektor ini merupakan akibat pertumbuhan penduduk dan pembangunan yang membawa konsekuensi konversi penggunaan lahan sehingga luas lahan produktif berkurang. Lebih dari 60 persen (198.912 hektar) lahan di Propinsi DI Yogyakarta merupakan lahan RENSTRA Dinas Pertanian Propinsi DIY 2005-2009 kering dan marjinal. Kompetisi dalam penggunaan sumberdaya lahan dan air berakibat pada semakin berkurangnya alokasi lahan bagi pertanian. Fenomena ini secara nyata ditunjukkan dengan berkurangnya lahan sawah beririgasi sebesar rata-rata 250 hektar per tahun. Di samping itu, rendahnya harga produk pertanian pada saat panen juga berimplikasi pada rendahnya minat masyarakat untuk berusaha di sektor pertanian, khususnya pertanian tanaman pangan dan hortikultura. Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, terjadi penurunan persentase rumah tangga pertanian terhadap total rumah tangga di DI Yogyakarta sebesar 9,32%, dengan konstantasi terakhir sebesar 47,17% (472.082 rumah tangga). Dari jumlah tersebut, 80,29% (374.811) termasuk rumah tangga petani gurem dengan pemilikan lahan kurang dari 0,5 hektar. Skala usahatani minimal tidak tercapai sehingga sering menimbulkan inefisiensi dalam usaha tani, petani terdorong mencari tambahan pedapatan di luar pertanian (fenomena petani samben).

99

Untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani, biasa digunakan indikator indeks nilai tukar petani (terms of trade) (NTP) yang menunjukkan kemampuan tukar produk yang dijual petani dengan produk yang dubutuhkan petani dalam berproduksi dan konsumsi barang dan jasa untuk keperluan rumah tangga. Berdasarkan data BPS tahun 2004, NTP petani DI Yogyakarta secara konstan meningkat dari 96,9% menjadi 133,3%, yang berarti tertinggi dibandingkan propinsi-propinsi lain Pulau Jawa. Banyaknya perguruan tinggi, adanya lembaga pengkajian dan penelitian, lembaga swadaya masyarakat yang ada di Yogyakarta merupakan potensi besar untuk menghasilkan dan menyebarluaskan teknologi modern berbasis teknologi lokal. Potensi ini dapat dipadukan secara sinergis untk menggali teknologi asli setempat, guna melengkapi, meningkatkan, dan menciptakan teknologi tepat spesifik lokasi. Di samping kondisi yang melingkupi sektor pertanian di atas, ada sejumlah isu penting berkaitan dengan ketahanan pangan di Provinsi D.I. Yogyakarta, di antaranya: meningkatnya angka kemiskinan, busung lapar, penurunan kualitas lingkungan hidup (sumber daya alam), krisis energi (listrik dan bahan bakar minyak), merebaknya flu burung akan berdampak pada penyediaan pangan hewani, terjadinya gizi buruk pada balita, alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian yang berdampak pada penyediaan pangan, impor pangan, serta rendahnya konsumsi pangan lokal. Perkembangan produksi padi dan palawija secara umum mengalami kenaikan apabila dibanding tahun 2003. Hal ini disebabkan keberhasilan pelaksanaan program aksi masyarakat agribisnis tanaman pangan (PROKSI MANTAP). Berdasarkan Angka Tetap Provinsi DIY Tahun 2004, produksi padi sebesar 692.968 ton gabah kering giling (GKG) atau 102,02% dari target yang terdiri dari pada sawah 559.251 ton GKG (100,28% dari target) dan padi gogo 133.717 ton GKG (109,98% dari target). Apabila dibanding tahun 2003 produksi padi tahun 2004 mengalami kenaikan sebesar 40.688 ton GKG atau 6,24%. Kenaikan produksi diikuti pula oleh kenaikan luas panen sebesar 2.183 ha (1,67%) dan kenaikan produktivitas sebesar 2,25 ku/ha atau 4,51%. Kenaikan luas panen padi khususnya padi sawah sebesar 2.357 ha (2,49%) karena pada akhir tahun 2003 musim hujan mundur sehingga luas tanam mundur yang meningkatkan luas panen tahun 2004 sedangkan kenaikan produktivitas karena meningkatnya penggunaan benih unggul dan penerapan teknologi antara lain melalui kegiatan peningkatan mutu intensifikasi (PMI). Produksi jagung pada tahun 2004 sebesar 211.721 ton pipilan kering atau 114,34% dari target dan mengalami kenaikan sebesar 7.592 ton GKG pipilan kering (3,72%) dibanding tahun 2003. Kenaikan produksi didukung oleh kenaikan luas panen sebesar 2.580 ha atau 99,22% dari target, walaupun produktivitas mengalami penurunan sebesar 0,07 ku/ha (0,22%) atau 115,24% dari target. Kenaikan produksi dan luas panen jagung antara lain karena adanya perubahan pola tanam dan pertambahan tanam karena adanya kegiatan pengembangan jagung/perluasan areal tanam (PAT) jagung. Produksi kedelai pada tahun 2004 sebesar 35.729 ton atau 85,27% dari target dan mengalami kenaikan sebesar 167 ton wose (0,47%) dibanding tahun 2003. Kenaikan produksi didukung oleh kenaikan produktivitas sebesar 0,86

100

ku/ha (8,78%) atau 91,10% dari target, walaupun luas panen mengalami penurunan sebesar 2.775 ha (7,64%) atau 93,61% dari target. Kenaikan produksi dan produktivitas antara lain adanya karena peningkatan penerapan teknologi yaitu penggunaan benih unggul/berlabel dan pupuk. Penurunan luas panen karena adanya perubahan pola tanam dari komoditas kedelai ke komoditas lain seperti jagung, ubi kayu dan kacang hijau karena adanya kegiatan PAT dan terobosan ubi kayu. Produksi kacang tanah pada tahun 2004 sebesar 61.048 ton wose atau 117,26% dari target dan mengalami kenaikan sebesar 3.281 ton wose (5,68%) dibanding tahun 2003. Kenaikan produksi didukung oleh kenaikan produktivitas sebesar 0,70 ku/ha (8,45%) atau 123,12% dari target, walaupun luas panen mengalami penurunan sebesar 1.793 ha (2,57%) atau 95,63% dari target. Kenaikan produksi dan produktivitas antara lain karena adanya peningkatan penerapan teknologi yaitu penggunaan benih unggul/berlabel dan pupuk. Penurunan luas panen karena adanya perubahan pola tanam ke komoditas lain seperti jagung, ubi kayu dan kacang hijau. Produksi kacang hijau pada tahun 2004 sebesar 617 ton wose atau 156,20% dari target dan mengalami kenaikan sebesar 54 ton wose (9,59%) dibanding tahun 2003. Kenaikan produksi didukung oleh kenaikan luas panen dan produktivitas. Kenaikan luas panen sebesar 66 ha (7,53%) atau 113,36% dari target sedangkan produktivitas naik sebesar 0,12 ku/ha (1,87%) atau 153,04% dari target. Kenaikan luas panen karena adanya perubahan pola tanam/pergeseran tanam ke komoditas kacang hijau; demikian pula kenaikan produktivitas karena adanya perlakuan usaha tani yang lebih intensif terutama penggunaan benih unggul/berlabel dan pupuk. Penurunan luas panen karena adanya perubahan pola tanam dari komoditas kedelai ke komoditas lain seperti jagung, ubi kayu dan kacang hijau. Produksi ubi kayu pada tahun 2004 sebesar 817.398 ton umbi basah atau 104,51% dari target dan mengalami kenaikan sebesar 52.989 ton umbi basah (6,93%) dibanding tahun 2003. Kenaikan produksi didukung pula oleh kenaikan luas panen dan produktivitas. Kenaikan luas panen sebesar 251 ha (0,42%) atau 104,38% dari target sedangkan produktivitas naik sebesar 8,36 ku/ha (6,48%) atau 100,12% dari target. Kenaikan luas panen dan produktivitas disebabkan karena adanya perubahan pola tanam/pergeseran tanam ke komoditas ubi kayu yang didkung dengan adanya kegiatan PAT/Pengembangan Agribisnis ubi kayu serta input saprodi yang lebih optimal. Produksi ubi jalar pada tahun 2004 sebesar 6.439 ton umbi basah atau 70,16% dari target dan mengalami penurunan sebesar 1.139 ton umbi basah (15,03%) dibanding tahun 2003. Penurunan produksi diikuti pula oleh penurunan luas panen dan produktivitas. Penurunan luas panen sebesar 97 ha (13,88%) atau 86,99% dari target sedangkan produktivitas turun sebesar 1,45 ku/ha (1,34%) atau 80,27% dari target. Penurunan luas panen karena adanya perubahan pola tanam/pergeseran tanam ke komoditas lain seperti jagung, ubi kayu dan kacang hijau,sedangkan penurunan produktivitas disebabkan karena terjadinya kemarau panjang dan penerapan teknologi yang belum optimal.

101

Produksi sorghum pada tahun 2004 sebesar 351 ton wose atau 54,84% dari target dan mengalami penurunan sebesar 15 ton wose (4,10%) dibanding tahun 2003. Penurunan produksi diikuti pula oleh penurunan luas panen dan produktivitas. Penurunan luas panen sebesar 40 ha (3,47%) atau 93,84% dari target sedangkan produktivitas turun sebesar 0,02 ku/ha (0,61%) atau 58,33% dari target. Penurunan luas panen karena adanya perubahan pola tanam/pergeseran tanam ke komoditas lain seperti jagung, ubi kayu dan kacang hijau,`sedangkan penurunan produktivitas disebabkan karena penerapan teknlogi yang belum optimal. Produksi komoditas sayuran Propinsi DIY pada tahun 2004 yang terdiri dari 20 komoditas (tanpa jamur) sebesar 785.650 ku sayuran segar atau 99,05% dari target. Apabila dibanding tahun 2003 produksi sayuran tahun 2004 mengalami kenaikan sebesar 34.074 ku sayuran segar atau 4,53%. Kenaikan produksi sayuran karena produktivitas naik sebesar 6,69 ku/ha (8,22%) walaupun luas panen turun sebesar 313 ha (3,39%). Kenaikan produksi sayuran yang terbesar berturut-turut adalah kacang merah, tomat, kangkung, kacang panjang, terung, ketimun, melon dan cabai rawit. Penurunan luas panen karena adanya pergeseran ke komoditas lain sedangkan kenaikan produktivitas disebabkan antara lain peningkatan penerapan teknologi yang difasilitasi oleh BPLM yang pemanfaatannya sebagian untuk sarana produksi. Produksi jamur menurun dari 77.126 ku pada tahun 2003 menjadi 4.220 ku, antara lain akibat penurunan mutu benih dan serangan penyakit ”kerpes”. Produksi komoditas buah-buahan tahun 2004 (22 komoditas) sebesar 2.843.901 ku buah segar atau 270,14% dari target. Apabila dibanding tahun 2003 produksi tersebut mengalami kenaikan sebesar 1.046.858 ku buah segar atau 58,25%. Kenaikan produksi dikarenakan kenaikan produktivitas sebesar 83,01 ku/ha (184,56%) walaupun luas panen mengalami penurunan sebesar 17.732 ha (44,38%). Produksi tanaman hias yang terdiri atas 12 komoditas sebesar 318.348 tangkai/kg/pohon, Apabila dibanding tahun 2003 produksi tanaman hias tahun 2004 mengalami kenaikan sebesar 79.432 tangkai/kg/pohon atau 33,25%. Kenaikan produksi karena kenaikan produktivitas sebesar 5,97 tangkai/kg/pohon atau 47,63%, meskipun luas panen mengalami penurunan sebesar 1.858 m2 atau 9,74%. Kenaikan produktivitas disebabkan tingkat pemeliharaan yang lebih intensif yang ditunjang dengan kenaikan minat petani dalam berwirausaha di bidang tanaman hias, di samping itu permintaan yang cukup besar dari sektor pariwisata/perhotelan, pembangunan perumahan/real estate dan pertamanan/landscape dalam tata ruang kota. Luas panen sebesar 2.877 m2 atau 20,72%, walaupun produktivitas mengalami penurunan sebesar 0,57 tangkai/m2 atau 3,29%. Populasi dari sebelas jenis ternak pada tahun 2004 mengalami peningkatan dari tahun 2003 kecuali untuk kuda, kerbau, babi dan ayam buras. Penurunan populasi yang terbesar terjadi pada ayam buras, yaitu sebesar 429.670 ekor atau 90,58%. Hal ini disebabkan adanya kematian yang tinggi disebabkan antara lain oleh serangan Avian Influenza (AI). Sedangkan kenaikan populasi yang terbesar berturut-turut adalah ayam

102

ras petelur dan itik. Kenaikan populasi ayam ras petelur yang disebabkan adanya pemasukan dari luar propinsi yang relatif besar. Sedangkan kenaikan populasi itik disebabkan karena adanya tingkat kelahiran yang tinggi dan adanya pemasukan dari luar propinsi. Produksi daging dan susu tahun 2004 melebihi target, yaitu masing-masing 103,60% dan 128,39%, sementara produksi telur tidak mencapai target, yaitu sebesar 93,11%. Dibandingkan tahun 2003 terjadi peningkatan produksi daging dan susu. Produksi susu meningkat 29,67%, dikarenakan peningkatan populasi dan laktasi per ekor sebagai hasil perbaikan pakan dan manajemen pemeliharaan sapi perah. Produksi daging meningkat 4,63% yang disebabkan oleh terjadinya peningkatan jumlah pemotongan serta populasi ternak sapi perah, sapi potong, domba, kambing, ayam ras pedaging/petelur dan itik. Sebaliknya, produksi telur menurun 5,95%, meskipun populasi meningkat. Hal ini disebabkan oleh peningkatan populasi unggas belum memasuki fase produktif. Pada tahun 2004, secara umum tidak terjadi gejolak harga pangan. Akan tetapi, selisih harga pada tingkat produsen dan harga pada tingkat konsumen masih cukup tinggi, terutama pada off seasons. Untuk stabilisasi harga gabah sejak tahun 2002 ,dilaksanakan kegiatan DPM-LUEP dengan dana Dekonsentrasi (APBN) dan APBD sebagai pendamping. Dari jumlah dana Rp 2.375.000.000,- tersalur Rp 725.000.000,- di Bantul, Rp 553.500.000,- di Sleman, Rp 501.640.000,- di Gunungkidul, dan Rp 593.000.000,- di Kulonprogo, yang berarti penyerapan dana 100%. Dari sasaran pembelian gabah 1.900 ton, tercapai 5.473,9 ton (283,62%). Dan sampai dengan bulan Desember 2004, tercatat pengembalian 100% dari jumlah dana yang disalurkan. Analisis Neraca Bahan Makanan 2003 menunjukkan bahwa ketersediaan pangan dalam bentuk energi bagi penduduk tahun 2003 sebesar 3.085 kkal/kapita/hari yang masing-masing berasal dari bahan pangan nabati sebesar 2.950 kkal/kapita/hari (95,62%) dan dari bahan pangan hewani sebesar 136 kkal/kapita/hari (4,41%). Bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, total ketersediaan mengalami kenaikan sebesar 125 kkal/kapita/hari. Kenaikan ini agaknya disebabkan oleh meningkatnya produksi jagung, peningkatan angka impor gandum dalam bentuk gandum maupun instan, yang memiliki sumbangan energi cukup besar. Angka ketersediaan protein dalam NBM tahun 2003 sebesar 85,92 gram/kapita/hari; sebagian besar berasal dari sumber nabati, 73,26 gram/kapita/hari (85,26%) dan dari sumber nabati sebesar 12,66 gram/kapita/hari (14,73%). Kontribusi terbesar untuk ketersediaan protein bersumber dari jenis padi-padian (beras, jagung, dan gandum) yaitu sebesar 45,63 gram/kapita/hari (53,11%) dari total ketersediaan protein. Sementara itu, pemanfaatan sumber hewani masih rendah, yaitu 6,75 gram/kapita/hari (7,86%). Total ketersediaan lemak adalah sebesar 85,08 gram/kapita/hari, dengan rincian sumber nabati , 76,09 gram/kapita/hari (90,37%) dan hewani, 9,19 gram/kapita/hari (9,63%). Kontribusi terbesar dari seluruh jenis bahan makanan terhadap penyediaan lemak berasal dari jenis buahan/bijian berminyak, yaitu 24,53

103

ram/kaita/hari (28,83%) dan dari padi-padian sebesar 20,88 gram/kapita/hari (24,54%). Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, total ketersediaan lemak pada 2003 mengalami kenaikan sebesar 3,42 gram/kapita/hari. Ketersediaan energi Provinsi DIY pada tahun 2003 sebesar 3.085 kkal/kapita/hari, yang berarti lebih tinggi dari standar nasional untuk hidup layak (2.500 kkal/kapita/hari). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kebutuhan energi penduduk DIY sudah tercukupi. Berdasarkan pemantauan kewaspadaan pangan, masih terdapat beberapa kecamatan rawan pangan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Untuk penetapan daerah rawan pangan, diperlukan pemutakhiran indikator dalam penetapan kerawanan pangan wilayah, terutama indikator untuk menetapkan daerah miskin. III. Sasaran yang ingin dicapai Visi pembangunan pertanian Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta adalah: terwujudnya pertanian tangguh sebagai penyedia produk pertanian yang aman, berkualitas, dan berdaya saing. Terwujudnya visi di atas akan dilihat dari menguatnya peran pertanian sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia, karena pertanian mampu: 1) memberikan lapangan kerja dan berusaha terutama bagi penduduk perdesaan; 2) meningkatkan pendapatan melalui peningkaan produktivitas dan nilai tambah untuk mengurangi kemiskinan; 3) meningkatkan perolehan devisa melalui peningkatan daya saing produk terutama untuk membayar pinjaman luar negeri; 4) meningkatkan ketahanan pangan; 5) menjadi motor penggerak pembangunan ekonomi nasional; dan 6) mendorong pemnbangunan ekonomi daerah sesuai dengan esensi otonomi yaitu percepatan pembangunan ekonomi daerah. Pembangunan, termasuk di dalamnya pembangunan pertanian tanaman pangan, hortikultura dan peternakan, menjadi tanggung jawab tiga pilar, yakni pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Pembangunan pertanian tanaman pangan, hortikultura dan peternakan diarahkan pada terwujudnya pertanian yang bersifat komersial dan efisien, dengan menerapkan prinsip-prinsip pengetahuan dan teknologi tepat, yang beriimplikasi pada peningkatan pendapatan dan nilai tambah. Kesalahan desain pembangunan pertanian di masa lalu, yang menciptakan pertanian berproduktivitas tinggi namun memiliki tingkat ketergantungan yang amat tinggi terhadap input-input eksternal, membuat petani tidak memiliki bargaining position yang memadai dalam mekanisme penentuan harga. Bahkan petani sebagai pelaku utama usaha tani seringkali menjadi korban permainan harga yang menguntungkan pihak-pihak lain. Dengan desain pembangunan pertanian yang tepat diharapkan masyarakat tani mampu mengenali masalah sendiri, menganalisis masalah dan mengambil keputusan untuk mengatasi masalah tersebut. Untuk mengantisipasi tantangan dan perkembangan ke depan baik pada tingkat lokal, nasional, regional, maupun global, Dinas Pertanian Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta perlu melakukan perubahan ke arah

104

perbaikan atau melakukan tranformasi birokrasi dengan menetapkan visi, yaitu: Menjadi akselerator terwujudnya pertanian tangguh yang berbasis potensi sumberdaya lokal, mandiri dan berdaya saing. Pernyataan misi dimaksudkan agar seluruh aparat dinas mengetahui peran yang akan dilakukan Dinas Pertanian Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta untuk mencapai tujuan. Proses perumusan misi ini telah memperhatikan masukan dari pemangku kepentingan lain dan memberikan peluang untuk perubahan sesuai dengan perkembangan yang dihadapi. Pernyataan misi mengandung hal-hal yang harus diemban oleh Dinas Pertanian untuk mewujudkan visi yang telah ditetapkan. Mengingat pernyataan visi di muka mendasarkan diri pada peran yang bisa dilakukan oleh Dinas Pertanian Propinsi DIY dalam rangka mewujudkan pertanian tangguh, maka misi Dinas perlu mencakup dua sudut pandang, yakni sudut pandang ke dalam (inward looking) dan sudut pandang keluar (outward looking). Selengkapnya, misi Dinas Pertanian Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta adalah sebagai berikut: 1. Mewujudkan peningkatan kualitas manajemen aparatur Dinas yang profesional dan berkarakter didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai 2. Mendorong peningkatan ketahan pangan, nilai tambah dan daya saing produk pertanian serta kesejahteraan petani melalui pemanfaatan sumber daya alam secara efisien berkelanjutan berbasis teknologi dan kelestarian lingkungan 3. Mendorong peningkatan kapasitas Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) dalam rangka mendukung peningkatan kualitas pelaksanaan peran dan fungsi Dinas. Berdasarkan visi Dinas Pertanian maka tujuan yang hendak dicapai dalam kurun waktu 2005-2009 adalah sebagai berikut:

1. Meningkatkan kualitas manajemen dan aparat dinas yang profesional dan berkarakter yang didukung
oleh sarana dan prasarana yang memadai

2. Mendorong peningkatan ketahanan pangan, nilai tambah dan daya saing produk pertanian serta
kesejahteraan petani

3. Meningkatan kapasitas Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) dalam rangka mendukung peningkatan
kualitas pelaksanaan peran dan fungsi Dinas. Berdasarkan misi yang telah ditetapkan, maka sasaran yang hendak dicapai pada periode 20052009 adalah : Misi 1. 1. Mewujudkan peningkatan kualitas manajemen dan aparat Dinas yang profesional dan Terwujudnya peningkatan pelayanan Dinas 1.1. 1.2. 1.3. Tersusunnya SOP untuk semua satuan kerja dinas dan UPTD Tersusunnya Rencana Kerja Tahunan SKPD Tersusunnya LAKIP dan Laporan Tahunan 2005 s.d. 2009 berkarakter yang didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai.

105

1.4. 2. Misi 2

Tersedianya data dan informasi pembangunan pertanian

Terwujudnya peningkatan kualitas aparat dinas Mendorong peningkatan ketahanan pangan, nilai tambah dan daya saing produk pertanian

serta kesejahteraan petani melalui peman-faatan sumber daya alam secara efisien berkelanjutan berbasis tekno-logi dan kelestarian lingkungan. 1. 2. 3. 4. Misi 3 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Terwujudnya pola konsumsi pangan masyarakat sesuai dengan standar nasional untuk hidup layak sebesar 2500 kkal/kapita/hari untuk energi dan 55 gr/kap/hari untuk protein. Tercapainya peningkatan produktivitas tanaman pangan (padi dan palawija) sebesar 1,55%, sayuran sebesar 1,30%, buah-buahan sebesar 2,96% per tahun. Tercapainya peningkatan populasi ternak sebesar 2,75 % per tahun. Peningkatan nilai penjualan produk pertanian sebesar 3% per tahun. Mendorong peningkatan kapasitas Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) dalam rangka Tersedianya benih sumber padi 82.500 kg dan palawija 8.875 kg (kedelai, 4.250 kg; jagung, 4.000 kg, kacang tanah, 500 kg; kacang hijau 125 kg) per tahun. Tersedianya benih tomat varietas Kaliurang 150 kg/tahun dan bibit jamur edibel 5.000 botol/tahun. Terjaminnya kualitas benih yang beredar di pasaran sebesar 80%. Penurunan tingkat kehilangan hasil akibat OPT sebesar 2% per tahun. Terjadinya peningkatan pengetahuan dan ketrampilan SDM pertanian sebanyak 800 orang per tahun. Tersedianya produksi semen beku sapi 40.000 dosis/tahun, bibit pedet 20 ekor/tahun, susu 35.000 liter/tahun, pakan ternak 600 ton/tahun. Meningkatnya derajat kesehatan hewan dan masyarakat konsumen bahan asal hewan sebesar masing-masing 10%. IV. Arah Kebijakan Tujuan dan sasaran sebagaimana diuraikan di atas akan dapat dicapai dengan penentuanpenentuan beberapa kebijakan agar tidak keluar dari tujuan dan sasaran. Kebijakan dan program Dinas Pertanian Propinsi DI Yogyakarta adalah sebagai berikut: A. Transformasi birokrasi bagi aparat dinas Program: Peningkatan kualitas pelayanan Dinas yang didukung database, kualitas SDM, dan manajemen pembangunan pertanian. Tujuan: • Meningkatkan pelayanan Dinas

mendukung peningkatan kualitas pelaksanaan peran dan fungsi Dinas

106

• Meningkatkan kualitas aparat dinas Sasaran: • Tersusunnya SOP untuk semua satuan kerja dinas dan UPTD • Tersusunnya Rencana Kerja Tahunan SKPD • Tersusunnya LAKIP dan Laporan Tahunan 2005 s.d. 2009 • Tersedianya data dan informasi pembangunan pertanian Kegiatan Pokok: • Penyusunan SOP untuk semua satuan kerja dinas dan UPTD • Penyusunan Rencana Kerja Tahunan SKPD • Penyusunan LAKIP dan Laporan Tahunan 2005 s.d. 2009 • Penyediaan data dan informasi pembangunan pertanian B. Peningkatan ketahan pangan, nilai tambah dan daya saing produk pertanian serta kesejahteraan petani Program: 1. Peningkatan ketahanan pangan Tujuan: Memfasilitasi peningkatan dan keberlanjutan ketahanan pangan sampai ke tingkat rumah tangga sebagai bagian strategis dari ketahanan pangan nasional. Sasaran: • Terjaminnya ketersediaan pangan bagi seluruh masyarakat, terutama yang berasal dari peningkatan produksi padi, jagung, kedelai, gula, daging, susu, dan telur dalam negeri • Diversifikasi produksi dan konsumsi pangan • Meningkatnya kemandirian pangan masyarakat. Kegiatan Pokok: • Peningkatan produksi menurut pola konsumsi gizi-berimbang • Peningkatan dukungan pemerintah dalam menjaga stabilitas harga • Pengembangan cadangan dan sumber pangan alternatif dalam rangka diversifikasi produksi dan konsumsi • Peningkatan mutu intensifikasi dan perluasan areal tanam • Pengembangan usaha terpadu • Pengembangan ketahanan pangan di wilayah khusus • Peningkatan mutu dan keamanan pangan • Pengembangan infrastruktur dan kebijakan ketahanan pangan • Peningkatan partisipasi masyarakat dalam kerawanan pangan • Manajemen peningkatan ketahanan pangan 2. Pengembangan agribisnis

107

Tujuan: Menciptakan peluang usaha dan memfasilitasi berkembangnya usaha agribisnis hulu, on-farm, hilir, dan pendukungnya Sasaran: • meningkatnya kualitas usaha agribisnis • meningkatnya pendapatan masyarakat pertanian • meningkatnya akses produk pertanian primer dan agroindustri ke pasar lokal, nasional dan global Kegiatan Pokok: • Pemantapan kawasan agribisnis komoditas unggulan dengan titik berat pengolahan dan pemasaran • Perbaikan mutu dan agroindustri perdesaan • Pengembangan layanan agribisnis (sarana produksi, asintan, teknologi dan permodalan) • Diversifikasi produk pertanian • Percepatan pengembangan agribisnis di lokasi khusus • Pengembangan infrastruktur dan kebijakan untuk mendorong agribisnis • Penelitian dan penerapan teknologi • Penguatan sistem karantina dan standar mutu produk • Penyelenggaraan manajemen sistem dan usaha agribisnis 3. Peningkatan kesejahteraan petani Tujuan: Meningkatkan kapasitas masyarakat pertanian terutama petani yang tidak memiliki akses kepada sumber daya usaha pertanian Sasaran: • Meningkatnya kemampuan petani dalam mengelola usaha • Meningkatnya aksesibilitas lahan, air, alsin, modal, teknologi, dan informasi Kegiatan Pokok: • Pelatihan, penyuluhan dan pendampingan petani dan pelaku agribisnis • Pendidikan dan pelatihan aparat • Penumbuhan dan penguatan kelembagaan petani dan usahanya • Fasilitasi peningkatan efisiensi pengelolaan agribisnis • Upaya khusus pengentasan kemiskinan • Manajemen pemberdayaan masyarakat pertanian V. Pencapaian Kontribusi sektor pertanian di Propinsi DIY mengalami penurunan selama 2002-2006. Pada tahun 2002, sektor pertanian mampu menyumbang 17,25 % terhadap PBRD . Namun pada tahun 2006 sektor ini

108

hanya mampu menyumbang PDRB sebesar 15,55% . Penurunan peran sektor pertanian ini tentu saja terkait dengan beberapa hal seperti pertumbuhan sektor jasa , perdagangan, hotel dan restoran. Selain itu , kontribusi yang cenderung menurun juga akibat penyempitan lahan pertanian. Meskipun produktivitas padi sawah mengalami peningkatan untuk tiap hektarnya seperti di bawah ini. Tabel IV.11 Produktivitas Padi Sawah Produktivitas (Ku/Ha) Kabupaten/Kota 2002 47,76 59,65 54,18 54,89 52,45 54,87
Sumber : DIY dalam Angka 2006/2007

Rata-rata 2004 51,63 61,05 57,40 56,94 58,10 57,66 2005 51,27 58,91 56,71 57,47 58,31 57,32 2006 52,42 59,31 56,25 57,48 58,00 57,36 Pertumbuhan (%) 3,04 -0,11 0,96 1,16 2,68 1,13

2003 42,31 59,09 55,74 55,41 58,73 55,53

Gunung Kidul Bantul Kota Yogya Sleman Kulom Progo DIY

Tabel IV.12 Produktivitas Padi Ladang Produktivitas (Ku/Ha) Kabupaten/Kota 2002 31,42 32,90 0 30,31 40,83 31,42
Sumber : DIY dalam Angka 2006/2007

Rata-rata 2004 37,37 26,60 0 34,05 31,64 37,27 2005 35,02 30,28 0 30,04 31,25 34,93 2006 42,91 28,84 0 29,21 31,73 42,66 Pertumbuhan (%) 8,61 -1,73 -0,59 -4,83 8,44

2003 35,30 23,85 0 30,72 28,82 35,16

Gunung Kidul Bantul Kota Yogya Sleman Kulom Progo DIY

109

Tabel IV.13 Pencapaian Revitalisasi Pertanian, Perikanan, Perkebunan dalam Pembangunan Pedesaan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 No 10 11 12 13 14 15 16 Indikator Kinerja Peningkatan Peningkatan pemasaran penerapan hasil pertanian/perkebunan teknologi 20.00 20.00 20,13 20,56 73,62 20,07 20,67 20,34 3,08 73,52 Realisasi (%) 10,04 20,02 62,01 4,11 1,52 103,40 52,75 32,91 100,64 102,83 105,27 100,32 100,67 101,68 102,57 102,28 Capaian (%) 100,40 100,08 103,56 102,74 101,57 103,40 105,49 103,55 pertanian/perkebunan Peningkatan produksi pertanian/perkebunan Target (%) produksi 20.00 Realisasi (%) 20,73 Capaian (%) 103,67

Pemberdayaan penyuluh pertanian/perkebunan 70.00 lapangan Pencegahan ternak Peningkatan produksi hasil peternakan Peningkatan peternakan Pengembangan perikanan tangkap Optimalisasi pengelolaan dan 3.00 pemasaran 70.00 Target (%) pemasaran hasil 20.00 produksi 20.00 dan penanggulangan penyakit 20.00

produksi perikanan Indikator Kinerja

Pengembangan kawasan budidaya laut, air payau 10.00 dan air tawar Pemberdayaan masyarakat dalam pengawasan 20.00 dan pengendalian sumberdaya kelautan Peningkatan mitigasi bencana alam laut dan 60.00 prakiraan biota laut Peningkatan produksi pertanian/perkebunan Pembinaan dan penertiban industri hasil hutan Perencanaan dan pengembangan hutan 4.00 1.50 100.00

Pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi, 50.00 rawa dan jaringan pengairan lainnya 31.78
Sumber : Laporan Akuntabilitas Kinerja 2007

110

VI.

Rekomendasi Tindak Lanjut Dalam rangka meningkatkan pendapatan petani/usaha tani, pembangunan pertanian diarahkan pada pengembangan sistem dan usaha agribisnis, yang implementasinya antara lain melalui pengembangan komoditas unggulan berorientasi pasar, prospektif dan bernilai komersial tinggi. Sejumlah kegiatan difokuskan pada pengembangan tanaman pangan, komoditas hortikultura serta peternakan seperti sapi potong, sapi perah, kambing peranakan ettawa (PE), dan unggas. Namun demikian, pembangunan pertanian di Provinsi DIY tidak semata-mata diarahkan pada peningkatan prooduksi, melainkan juga penajaman peran pentingnya dalam upaya menanggulangi kemiskinan khususnya di pedesaan, mengurangi pengangguran dan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi. Diantara dua pendekatan produksi pertanian, yaitu perluasan areal panen dan peningkatan prduktivitas, di Provinsi DIY dengan lahan pertanian terbatas, praktis pendekatan peningkatan produktivitas yang dapat dilakukan (workable). Pendekatan ini dilaksanakan melalui optimalisasi pemanfaatan sumber daya pertanian yang ada berupa lahan, modal, alat mesin, serta sarana produksi pertanian. Selain itu kebijakan lainnya yang perlu dilakukan adalah membatasi alih fungsi lahan pertanian menjadi pemukiman dengan membuat regulasi yang tegas. Kemudian yang harus diperhatikan adalah pembangunan sektor pertanian membutuhkan pembiayaan/investasi yang relative besar yang tentunya bukan menjadi tanggung jawab pemerintah saja, melainkan menjadi tanggung jawab kolektif tiga pilar pelaku pembangunan, yaitu Pemerintah, Swasta, dan masyarakat. Dukungan annggaran dari Daerah (APBD) maupun Pusat (APBN) sesungguhnya masih relatif kecil, sehingga perlu digali sumber pendanaan dari dua pilar lainnya, yaitu swasta dan masyarakat.

VII.

Penutup Revitalisasi bukan dimaksudkan membangun pertanian at all cost dengan cara-cara yang topdwon sentralistik; bukan pula orientasi proyek untuk menggalang dana; tetapi revitalisasi adalah menggalang komitmen dan kerjasama seluruh stakeholder dan mengubah paradigma pola pikir masyarakat melihat pertanian tidak hanya urusan bercocok tanam yang sekedar hanya menghasilkan komoditas untuk dikonsumsi. Pertanian mempunyai multi-fungsi yang belum mendapat apresiasi yang memadai dari masyarakat. Pertanian merupakan way of life dan sumber kehidupan sebagian besar masyarakat kita. Pertanian merupakan pemasok sandang, pangan, dan pakan untuk kehidupan penduduk desa dan kota; juga sebagai pemelihara atau konservasi alam yang berkelanjutan dan keindahan lingkungan untuk dinikmati (wisata-agro), sebagai penghasil biofarmaka dan penghasil energi seperti bio-diesel.

111

Revitalisasi pertanian tidak mungkin terwujud jika hanya menjadi pekerjaan sektor pertanian. Oleh karena itu, diperlukan komitmen yang kuat dari seluruh sektor untuk mendukungnya. Komitmen itu harus dijabarkan secara jelas dan tegas. BAB 4.6 Pemberdayaan Kooperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah I. Pengantar Sebagai salah satu daerah tujuan wisata unggulan di Indonesia, UKM menjadi pilar penopang yang penting bagi DIY untuk menarik wisatawan mengunjungi DIY dengan tawaran produk-produk unggulan yang banyak diminati oleh wisatawan asing maupun domestik. Jalan Malioboro dan sekitarnya selama ini merupakan ‘etalase’ produk-produk UKM Yogyakarta. Tidak hanya berperan sebagai penarik wisatawan, UKM juga memberi kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di DIY secara keseluruhan. Sebagai gambaran peran strategis UKM terhadap perkembangan perekonomian di DIY dapat dilihat data statistik UKM pada tahun tahun 2004 sebelum gempa bumi terjadi. Pada tahun tersebut data statistik menunjukan bahwa secara makro UKM memberi kontribusi terhadap komoditas ekspor DIY senilai Rp 2,5 triliun atau 60 % dari total ekspor seluruh DIY. Sementara Itu data pada tahun yang sama menunjukan bahwa Investasi yang masuk ke DIY di sektor ini mencapai Rp 1,3 triliun (Kompas, 18 Oktober 2005). Sumbangan pertumbuhan yang diberikan oleh berbagai komuditas UKM di DIY tersebut ditopang oleh berbagai sentra UKM yang jumlahnya mencapai ratusan ribu unit, yang tersebar pada lima kabupaten dan kota di seluruh DIY. Selain andilnya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan ekspor, peran UKM yang lain yang tidak kalah pentingnya bagi masyarakat DIY adalah sumbangan UKM dalam menciptakan lapangan kerja. Sesuai dengan karakteristiknya, sebagian besar UKM yang ada di DIY juga merupakan jenis usaha yang lebih banyak bersifat padat tenaga kerja (labour intensive industri), bukan capital intensive. Karena memiliki sifat yang demikian, maka penyerapan tenaga kerja oleh UKM di DIY juga terus mengalami pertumbuhan dari waktu ke waktu. Data yang dikeluarkan Bappenas et.al (2006: 50) menyebutkan bahwa sebelum gempa jumlah UKM di DIY secara keseluruhan mencapai angka 113.000 unit yang memperkerjakan kurang lebih 422.500 orang. Sebagai ilustrasi yang lain, data dibawah ini menunjukan bahwa pada tahun 2005 jumlah industri kecil (yang hanya merupakan salah satu bagian dari UKM) di DIY mencapai 74.941 unit yang mampu menyerap tenaga kerja sebesar 242.313 orang. Jumlah tersebut tentu masih akan bertambah apabila kita memasukan kegiatan lain yang termasuk dalam jenis UKM.

112

Tabel IV.14 Jumlah Industri Kecil dan Penyerapan Tenaga Kerja Propinsi DIY Tahun 2005 No 1 2 3 4 5 Cabang Industri Pangan Sandang dan Kulit Kimia dan Bahan Bangunan Logam dan Elektronika Kerajinan Jumlah Unis Usaha (Unit) 32.981 4.443 12.400 2.744 22.373 74.941 Tenaga Kerja (Orang) 90.622 18.907 56.715 7.646 68.383 242.313

Sumber: Dinas Perindustrian dan Koperasi Propinsi DIY (2005: 3).

Tabel IV.15 Jumlah Industri Kecil dan Penyerapan Tenaga Kerja Menurut Kabupaten/Kota No 1 2 3 4 5 Kabupaten/Kota Kota Yogyakarta Sleman Bantul Kulon Progo Gunung Kidul Unit Usaha (Unit) 2.808 15.064 17.799 20.148 19.122 Tenaga Kerja (Orang) 16.529 44.125 77.600 54.660 49.399

Sumber: Dinas Perindustrian dan Koperasi Propinsi DIY (2005: 4-30)

Jika dilihat distribusinya pada masing-masing kabupaten, keberadaan IKM tersebar cukup merata, kecuali Kota Yogyakarta yang wilayahnya memang paling kecil. Data Tabel IV.15 juga menunjukan bahwa IKM di Bantul yang paling tinggi fleksibilitasnya dalam menyerap tenaga kerja. Sebagai gambaran meskipun jumlah IKM di sana hanya 17.799 namun mampu menyerap tenaga kerja jauh lebih banyak dibanding dengan IKM di Kulon Progro yang jumlah unit usahanya adalah yang paling besar di DIY. II. Kondisi Awal Perkembangan potensi industri kecil dan menengah yang tersebar di seluruh wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta selama lima tahun terakhir menunjukkan suatu keadaan yang relatif stabil terhadap gejolak krisis ekonomi. Hal ini ditunjukkan dengan masih banyaknya unit usaha industri kecil dan menengah yang eksis yaitu pada tahun 1994 ada 76.489 unit usaha, dengan nilai investasi sebesar Rp 343.107 juta, dan nilai produksi sebesar Rp 691.646 juta, yang menyerap tenaga kerja 206.474 orang. Kemudian pada

113

tahun 1999 ada 77.526 unit usaha, dengan nilai investasi sebesar Rp 412.845 juta, dan nilai produksi sebesar Rp 1.109.394 juta, dengan menyerap tenaga kerja sebanyak 219.279 orang. Namun demikian untuk mengembangkan potensi industri kecil dan menengah masih menghadapi permasalahan seperti permodalan dan pemasaran. Industri kecil dan kerajinan di Yogyakarta mempunyai keunggulan komparatif karena mampu menyerap tenaga kerja dan memanfaatkan sumberdaya alam setempat, serta mempunyai keunggulan kompetitif yang didukung oleh sumberdaya manusia yang potensial, institusi yang ada baik dari Perguruan Tinggi maupun dari Balai Penelitian dan Pengembangan (Litbang), sehingga secara sinergi mendukung pariwisata dan perdagangan daerah Beberapa sentra industri telah menjadi desa wisata dan desa kerajinan seperti Desa Kasongan Bantul (kerajinan gerabah), Desa Pucung Bantul (kerajinan kayu primitif), Desa Pundong Bantul (kerajinan gerabah), Desa Manding Bantul (kerajinan kulit), Desa Putat Gunungkidul (kerajinan topeng), Desa Sendari Sleman (kerajinan bambu), Tirtodipuran Yogyakarta (kerajinan batik). Sumbangan sektor industri dan perdagangan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) DIY tahun 1998 dan 1999 masing-masing 48.93 % dan 57,81 %. Realisasi ekspor DIY pada tahun 1999 sebesar US $ 91,6 juta dengan volume sebesar 36.218 ton, sedangkan jumlah mata dagangan ekspor seluruhnya mencapai 74 dagangan dengan pelaku ekspornya sebanyak 155, dan negara tujuan ekspor 71 negara. Beberapa komoditas ekspor unggulan DIY antara lain tekstil dan produk tekstil, mebel kayu dan kerajinan kayu, kulit dan produk kulit, gerabah/keramik, jamur dalam kaleng, kerajinan besi dan kerajinan perak. Untuk meningkatkan pemberdayaan ekonomi daerah, peran pemerintah sangat diperlukan khususnya pada upaya menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi pertumbuhan usaha perdagangan, pengembangan usaha Koperasi dan Usaha Kecil Menengah serta usaha industri. Pengembangan dan pembinaan diarahkan pada fasilitasi untuk memperkuat ekonomi kerakyatan, salah satunya pada industri kecil dan usaha kecil menengah karena sektor ini mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak. Penguatan industri kecil dan usaha kecil menengah dilakukan melalui perluasan jangkauan pasar untuk meningkatkan ekspor. Untuk memperkuat posisi usaha kecil dan menengah, Pemerintah Provinsi DIY telah melakukan Program Pembinaan, baik dari sisi pengolahan produk yang mencakup Penguatan Teknologi dan Pemasarannya maupun dari sisi hukum terhadap perlindungan produknya, agar mereka mampu survive dan dapat melindungi diri terhadap produknya dalam kancah bisnis internasional Peran Pemerintah sangat diperlukan baik sebagai fasilitator maupun regulator, Pemerintah harus mampu dan mengupayakan menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan Koperasi dan UKM. Pada prinsipnya urusan wajib Koperasi dan Usaha Kecil Menengah diformulasikan

114

untuk meningkatkan proses fasilitasi pengembangan koperasi dan usaha kecil menengah serta penciptaan keterpaduan antara pengusaha kecil-menengah dengan pengusaha besar. Untuk meningkatkan pemberdayaan ekonomi daerah, peran pemerintah sangat diperlukan khususnya upaya menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi pertumbuhan usaha perdagangan, pengambangan usaha Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) serta usaha industri. Pada tahun 2006 jumlah koperasi ada 2.301 unit usaha dan UKM ada 10.651 unit usaha sedangkan pada tahun 2007 jumlah koperasi ada 2.083 unit usaha dan UKM ada 10.866 unit usaha. Rendahnya tingkat kesadaran anggota dalam pengembangan koperasi, kurangnya kemampuan manajerial dalam pengelolaan KUKM dan rendahnya akses KUKM terhadap sumber permodalan merupakan permasalahan krusial dalam upaya pengembangan koperasi dan usaha kecil menengah. Untuk menjawab tantangan agar koperasi dan usaha kecil menengah dapat berjalan dengan baik maka tahun 2007 telah dilaksanakan prioritas kegiatan peningkatan pertumbuhan dan perkembangan koperasi, bintek pengembangan KSP/USP 22 koperasi syariah, lomba tingkat terampil koperasi siswa, penyaluran bantuan modal bergulir bagi koperasi untuk program ketahanan pangan, bantuan modal bagi usaha koperasi produktif 64 orang dan pemberdayaan lembaga penjaminan kredit bagi KUKM. III. Arah Kebijakan Arah kebijakan yang perlu ditempuh, adalah : 1. Memberdayakan Koperasi dan Pengusaha Kecil Menengah (KPKM) agar dapat menempati posisi strategis dan berperan dalam mempercepat perubahan struktural pembangunan ekonomi. 2. Memperluas dan memperkuat lembaga-lembaga pendukung pengembangan usaha serta pengembangan kewirausahaan dan kewirakoperasian melalui lembaga pendidikan dan pelatihan, penjaminan, asuransi dan advokasi. 3. Meningkatkan kualitas KPKM agar mampu memanfaatkan potensi, keterampilan atau keahliannya untuk berkreasi, berinovasi dan menciptakan lapangan kerja. 4. Mendorong berkembangnya KPKM yang produktif, berkualitas, dan memiliki etos kerja yang tinggi. Program pembangunan untuk mewujudkan arah kebijakan tersebut, adalah : 1. Perluasan dan perkuatan lembaga pendukung usaha KPKM, yang bertujuan untuk memperluas dan memperkuat peran dan fungsi lembaga-lembaga pendukung yang penting, baik dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif maupun meningkatkan produktivitas KPKM, terutama pelaku usaha yang masih tertinggal, penumbuhan lembaga penjamin kredit, kemitraan, asuransi, advokasi dan promosi usaha. Selain itu dilakukan upaya-upaya peningkatan kemampuan aparat daerah untuk menjalankan

115

fungsi sebagai fasilitator sejalan dengan pelimpahan kewenangan daerah dalam melaksanakan kebijaksanaan dan program pemberdayaan koperasi, usaha kecil dan menengah. 2. Pengembangan kewirausahaan dan kewirakoperasian, yaitu untuk mengembangkan sikap dan semangat kewirausahaan serta meningkatkan kemampuan/keterampilan pengusaha kecil dan menengah, yang dijiwai semangat kebersamaan. Sasaran yang hendak dicapai adalah terwujudnya KPKM yang berjiwa wirausaha dan kooperatif, profesional, serta beretika usaha. Kegiatan yang dilaksanakan antara lain pelatihan kewirausahaan, budaya berusaha, perencanaan dan strategi pengembangan usaha, serta etika berusaha dan profesi. 3. Pelatihan pengurus atau pengelola koperasi, pelatihan anggota koperasi untuk berusaha sesuai dengan jati diri kooperatif, serta pelatihan motivator koperasi untuk meningkatkan partisipasi aktif anggota yang merupakan kunci pengembangan koperasi, pasar, manajemen usaha, teknologi dan informasi. Selain itu arah kebijakan untuk meningkatkan pengembangan Koperasi dan UKM lebih rinci sebagai berikut : 1. Memberikan informasi yang terus menerus tentang peluang investasi potensial yang dapat mereka lakukan berikut sumber-sumber pembiayaan yang dapat mereka peroleh. 2. Memberikan pelatihan manajemen pengelolaan UKM dan Koperasi melalui sistem pendampingan dan pembinaan yang berkelanjutan agar mereka bisa lebih mandiri dan profesional. 3. Perlu adanya sistem reward and punishment bagi pelaku bisnis UKM dan koperasi yang lebih transparan melalui sistem evaluasi yang rutin. 4. Menjadikan UKM dan Koperasi sebagai incubator-business bagi pelaku bisnis serta mahasiswa yang ingin magang atau memperaktekkan teorinya dan sekaligus juga akan mengurangi pengangguran terdidik. 5. Perlu merealisasikan kerjasama antar instansi yang melibatkan Pemda, Bank Indonesia, Perbankan, dunia usaha, penyandang dana lainnya, maupun perguruan tinggi yang bergelut di bidang UKM dan Koperasi mulai dari proses perencanaan, implementasi, monitoring, evaluasi serta penyusunan strategi kebijakan UKM dan Koperasi ke depan. 6. Menyediakan baseline data (peta bisnis UKM) yang selalu up to date secara sektoral maupun wilayah kecamatan untuk keperluan perencanaan. 7. Perlu meningkatkan peran sektor informal yang lebih komprehensif melalui penataan yang lebih serius dalam RUTR Pengembangan Wilayah. 8. Mengoptimalkan alokasi sumber-sumber pembiayaan yang bukan berasal dari perbankan maupun skim kredit formal yang sudah ada.

116

9. Mengembangkan sentra-sentra industri kecil dalam suatu kawasan dalam bentuk Pemukiman Industri Kecil (PIK), Lingkungan Industri Kecil (LIK) yang didukung oleh Unit Pelayanan Teknis (UPT) maupun Tenaga Penyuluh Industri Kecil (TPIK). 10. Mengembangkan pola-pola kemitraan seperti bapak angkat dalam pengelolaan maupun mencari bantuan modal. IV. Sasaran yang Ingin Dicapai 1. Meningkatnya kemandirian koperasi. 2. Berkembangnya UKM yang diarahkan untuk memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan usaha dan peningkatan daya saing. 3. Berkembangnya usaha berskala mikro untuk peningkatan pendapatan masyarakat. V. Pencapain Pemberdayaan UKM melalui perkuatan modal dan rekonstruksi prasarana/sarana produksi yang terdiri dari empat indikator kinerja dengan realisasi 101,22 persen dari rencana tingkat capaian 100,00 persen, sehingga terdapat prestasi sebesar 1,22 persen. Empat indikator kinerja tersebut adalah : 1. penciptaan ilklim usaha UKM yang kondusif 2. peningkatan kemampuan teknologi industri 3. pembinaan industri rumah tangga (ITR), industri kecil 4. peningkatan efisiensi perdagangan dalam negeri Tabel IV.16 Pemberdayaan UMKM melalui Perkuatan Modal dan Rekonstruksi Prasarana/Sarana Produksi No 1 2 3 Indikator Kinerja kondusif peningkatan industri pembinaan industri rumah tangga (ITR), 3.00 industri kecil 4 peningkatan efisiensi perdagangan dalam 2.00 negeri 2.75
Sumber : Laporan Akuntabilitas Kinerja Provinsi DIY 2007

Target (%)

Realisasi (%) 1,99 3,99 3,07

Capaian (%) 99,60 99,82 102,35

penciptaan iklim usaha UKM yang 2,.00 kemampuan teknologi 4.00

2,06 2,78

103,10 101,22

117

Usaha-usaha yang dilakukan dalam rangka pemberdayaan UMKM di antaranya melalui perkuatan modal dan rekonstruksi prasarana/sarana produksi. Pada tahun 2007 dana APBD yang disalurkan lewat mekanisme dana bergulir senilai Rp 719.600.000,- (tujuh ratus sembilan belas juta enam ratus ribu rupiah) untuk 357 UMKM. Nilainya lebih kecil dibandingkan tahun 2006 yang disalurkan sebesar (Rp. 6.362.032.000,- (enam milyar tiga ratus enam puluh dua ratus iga puluh dua ribu rupiah) untuk 2.182 UMKM. Secara keseluruhan dari tahun 2004-2007 UMKM yang menerima kucuran dana bergulir baik dari APBD maupun APBN dari tahun 2004-2007 seluruhnya berjumlah 25.178 UMKM. Rekonstruksi prasarana/sarana produksi para APBD 2007 hanya berupa bantuan mesin/peralatan senilai Rp. 30.150.000,- (tiga puluh juta seratus lima puluh ribu rupiah) yang dibantukan kepada kelompok IKM industri gerabah dan meubel kayu yang berjumlah 40 unit usaha. Bantuan mesin/peralatan disini terkait dengan pelatihan peningkatan teknologi industri. Apabila diperbandingkan, rekonstruksi prasarana/sarana produksi pada UMKM pada tahun 2006 jumlahnya lebih besar dari tahun 2007, karena pada saat itu ada program rehabilitasi dan rekonstruksi pasca gempa. Untuk meningkatkan kualitas UMKM di Provinsi DIY, khususnya produk pangan, melalui dana APBN telah difasilitasi UMKM pangan untuk memperoleh sertifikat dan reward sistem mutu. Sampai dengan tahun 2007 untuk sertifikat penyuluhan-industri rumah tangga (P-IRT) yang sudah mendapatkan sebanyak 837 UMKM, sertifikat halal, UMKM yang sudah mendapatkan 1.379 unit usaha, sertifikat SNI (Standard Nasional Indonesia), UMKM yang sudah mendapatkan 27 unit usaha, sertifikat piagam 1 (BPOM), UMKM yang sudah memperoleh sebanyak 20 unit usaha Keberhasilan serta kegagalan dari program-program/kegiatan yang dilaksankan tidak semata-mata bisa dibebankan seluruhnya kepada pemerintah, karena peran pemerintah disini hanya sebagai motivator, stimulator, fasilitator dan regulator atau dengan kata lain kegagalan dan keberhasilan banyak ditentukan oleh pelaku usaha sendiri, masyarakat selaku konsumen serta lingkungan strategis dunia usaha. Disamping pembinaan UMKM, Pemerintah Provinsi DIY juga memberikan fasilitasi dan kemudahan-kemudahan untuk menciptakan iklim yang sejuk bagi pengembangan usaha dan investasi. Meskipun Provinsi DIY secara umum mempunyai kemampuan SDM yang cukup tinggi, namun untuk UKM masih tergolong kurang dalam penguasaan teknologi, kemampuan menangkap keinginan pasar (kurangnya jiwa sense of entrepreneur), cepat puas dengan yang dihasilkan sekarang, padahal pasar sangat dinamis yang setiap saat keinginanya berubah, makin melemahnya minat generasi muda untuk menggeluti bidang kerajinan. Pengaruh penguasaan teknologi yang masih terbatas adalah tidak efisiennya produk yang pada gilirannya akan berpengaruh pada harga yang tidak dapat bersaing sehingga akan mengurangi posisi tawar di pasar internasional yang semakin kompetitif. Menyadari kondisi tersebut, upaya yang telah dilakukan adalah mengkondisikan hubungan kemitraan yang transparan, antara eksportir dan supplier/perajin, melalui

118

kegiatan temu wicara antara suplier dan eksportir dan forum pengembangan ekspor daerah, untuk menggali inventarisasi permasalahan dan solusi pemecahannya, dalam upaya membangun transparansi dan kepercayaan antara supplier dan eksportir. Dibawah ini beberapa penyebab terhambatnya perkembangan Koperasi dan UKM di Provinsi DIY : 1. Keterbatasan SDM pengelola koperasi mengakibatkan potensi koperasi dan anggota belum dimanfaatkan secara maksimal untuk percepatan perkembangan usaha koperasi. 2. Kurangnya kemampuan manjerial dalam pengelolaan koperasi. 3. Kurangnya kepedulian dan dukungan stakeholders terhadap keberadaan koperasi. 4. Masih banyaknya kendala yang dihadapi KUKM untuk mengakses sumber permodalan. 5. Masih rendahnya pengetahuan UKM dalam inovasi produk. VI. Rekomendasi Tindak Lanjut 1. memperluas basis dan kesempatan berusaha serta menumbuhkan wira usaha harus berkeunggulan untuk mendorong pertumbuhan, pengembangan ekspor dengan penciptaan lapangan kerja 2. mengembangkan KUKM melalui pendekatan kluster dengan pemberian kemudahan dalam pengelolaan usaha 3. memperluas dan meningkatkan kualitas institusi pendukung yang menjalankan fungsi intermediasi sebagai penyedia jasa pengembangan usaha, teknologi, manajemen, pemasaran dan informasi 4. memperkuat kelembagaan dengan menerapkan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik terutama untuk memperluas akses kepada perbankan, dengan menyederhanakan prosedur perijinan; 5. mengembangkan UMKM yang makin berperan dalam proses industrialisasi, perkuatan keterkaitan industri, percepatan teknologi dan peningkatkan kualitas SDM, mengintegrasikan UMKM yang masih berperan sebagai penyedia barang dan jasa pada proses domestik yang semakin berdaya saing membangun koperasi yang diarahkan dan difokuskan pada perluasan tatanan kelembagaan dan organisasi koperasi untuk menciptakan iklim usaha kondusif serta kepastian hukum koperasi dengan meningkatkan kemandirian koperasi serta meningkatkan dukungan stakeholder kepada koperasi. Selain itu meningkatkan kualitas pasar ekspor, mempermudah pelaku UKM untuk mendapatkan pinjaman dari Bank serta memberi pelatihan manajemen dan pemasaran. VII. Penutup Kegiatan yang dilakukan untuk memajukan koperasi dan UMKM berjalan dengan baik, namun perlu segera diperhatikan dan ditinjaklanjuti mengenai hambatan-hambatan yang bisa mempengaruhi perkembangan koperasi dan UKM di Provinsi DIY. Dampak krisis keuangan global juga menjangkiti kondisi koperasi dan UKM di rata-rata daerah di Indonesia termasuk Provinsi DIY. Hal tersebut jelas menjadi sinyal

119

kuat bagi Provinsi DIY agar semakin berpihak nyata terhadap keberlanjutan Koperasi dan UKM dengan memberikan penguatan modal. BAB 4.7 Peningkatan Pengelolaan BUMN Tidak cukup ada BUMN yang berlokasi di DIY dengan pengaruh yang signifikan terhadap perekonomian D I Yogyakarta BAB 4.8 Peningkatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi I. Pengantar Untuk mengatasi ketertinggalannya dibanding bangsa lain, maka sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas mutlak diperlukan. Namun selain itu, juga dibutuhkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang memadai. Peningkatan kemampuan iptek harus selalu dikembangkan dalam meningkatkan kemajuan serta kemandirian bangsa. Pada hakekatnya iptek bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa serta membantu masyarakat untuk membentuk peradaban yang cerdas dan maju. Kemampuan iptek menjadi sangat strategis dalam mengukur kemajuan suatu bangsa. II. Kondisi Awal RPJM di Tingkat Daerah Di tingkat nasional, daya saing DIY melalui kualitas sumber daya manusianya meruapakn yang kedua setelah DKI Jakarta. Keadaan ini didukung oleh banyaknya perguruan-perguruan tinggi yang juga turut berpengaruh dalam pengembangan iptek serta keilmuwan lainnya di DIY. Terkait dengan penggunaan teknologi terutama teknologi informasi oleh pemerintah daerah di DIY, Pada tahun 2003, 2004 dan 2006, Propinsi DIY mendapat penghargaan e-government award dengan menyandeng peringkat pertama dalam kategori pemerintah daerah. Selain itu, dalam rangka mendukung proses pengenalan iptek kepada generasi penerus bangsa, pada tahun 2006 didirikanlah Taman Pintar Yogyakarta sebagai wahana pengenalan iptek bagi anak-anak dan remaja. Namun, secara umum kondisi penguasaan iptek di DIY masih menemui beberapa permasalahan yang masih menganggu tercapainya penguasaan iptek yang menyeluruh. Hambatan-hambatan tersebut antara lain: 1. Sumber daya manusia yang telah mendapat pendidikan TI belum banyak dimanfaatkan sehingga perkembangan aplikasi TI pada pelayanan publik belum optimal. 2. Walau telah beberapa kali mendapat penghargaan e-gov, namun tampilan website pemerintah DIY masih belum menarik. 3. Sharing data antar SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) belum terjadi

120

4. Keberdaan perguruan tinggi di DIY belum dimanfaatkan secara optimal dalam meningkatkan pelayanan publik. III. Arah Kebijakan Arah kebijakan yang harus ditempuh adalah: 1. Mempersiapkan SDM untuk mampu memanfaatkan teknologi informasi. 2. Menjamin ketersediaan infrastruktur TI baik back bone jaringan Pemerintah Propinsi & media akses masyarakat. 3. Meningkatkan & menyamakan pemahaman terhadap konsep transformasi birokrasi & layanan berbasis pengetahuan. 4. Menyusun ketentuan untuk menjamin ketersediaan data yg berkesinambungan hendaknya dituangkan dalam suatu produk perundangan. 5. Mencari alternatif solusi kreatif yang dapat menjamin ketersediaan data primer secara berkelanjutan dg mengembangkan kerjasama lembaga-lembaga terkait. IV. Sasaran yang Ingin Dicapai Untuk mendukung kesejahteraan masyarakat melalui iptek serta menciptakan kehidupan masyarakat yang maju dan cerdas, maka ada beberapa sasaran yang ingin dicapai, antara lain: 1. Tumbuhnya penemuan Iptek baru sebagai hasil litbang nasional yang dapat dimanfaatkan bagi peningkatan nilai tambah dalam sistem produksi & pengelolaan SDA & lingkungan secara lestari & bertanggungjawab. 2. Meningkatnya ketersediaan, hasil guna, & daya guna sumberdaya (SDA, sarana, prasarana, & kelembagaan) Iptek. 3. Tertatanya mekanisme intermediasai untuk meningkatkan pemanfaatan hasil litbang oleh dunia usaha & industri, meningkatnya kandungan teknologi dalam industri nasional, serta tumbuhnya jaringan kemitraan dalam kerangka sistem inovasi nasional. 4. Terwujudnya iklim yang kondusif bagi berkembangnya kreativitas, sistem pembinaan & pengelolaan hak atas kekayaan intelektual, pengetahuan loka, serta sistem standarisasi nasional. V. Pencapaian Pencapaian penguasaan iptek di DIY ditandai dengan dibentuknya Digital Government Services (DGS) sebagai wujud keseriusan peningkatan pelayanan publik yang berkualitas. Ini sudah diawali sejak 2006 bersamaan dengan diluncurkannya Jogja Cyber Province (JCP) melalui Pergub DIY No. 42 Tahun 2006. sebenarnya tak hanya pemerintah, berbagai pihak telah mengupayakan layanan berbasis

121

pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Misalnya saja, sejumlah lembaga yang mengembangkan e-learning, perpustakaan online, dan sebagainya. Melalui JCP, Pemerintah Provinsi DIY berusaha memetakan ulang uapaya apa saja yang sudah dan sedang direncanakan oleh masing-masing instansi agar realisasi JCP terakselerasi. Selain itu, inovasi lainnya yang diterapkan oleh Pemerintah Provinsi DIY dalam menerapkan iptek dalam bidang pelayanan publik adalah didirikannya UPIK (Unit Pelayanan Informasi dan Keluhan). UPIK ini dikembangkan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta di bawah Badan Informasi Daerah. UPIK merupakan pelayanan Hotline services, yang diharapkan dapat memberikan manfaat pada masyarakat seperti: 1. sebagai media untuk menyampaikan informasi, saran/usul, keluhan, pertanyaan secara langsung kepada Pemkot Yogyakarta. 2. sebagai media partisipasi masyatakat untuk memajukan dan perbaikan program kota serta kinerja pemerintahan kota. 3. sebagai media bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi langsung dari sumber yang berwenang di lingkungan Pemkot Yogyakarta. Ada beberapa media akses yang disediakan oleh pengelola UPIK kepada masyarakat untuk menggunakan fasilitas layanan ini, antara lain: 1. dengan cara mengakses lewat situs UPIK 2. melalui sms ke nomor Hotline services 3. melalui email 4. melalui telpon atau fax 5. datang langsung ke kantor UPIK Digital Government Services (DGS) di Yogyakarta menembus babak baru dengan mulai beroperasinya Mobile Community Access Point (MCAP). MCAP merupakan sebuah layanan internet dan telepon keliling dengan menggunakan mobil yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan infomasi dan sosialisasi bagi masyarakat yang belum terjangkau layanan internet. MCAP lebih familiar disebut "mobil pintar", saat ini baru berjumlah satu unit. MCAP merupakan pilot project dari Departemen Komunikasi dan Informasi, sedangkan untuk operasionalnya ditangani oleh BID Provinsi DIY bekerja sama dengan Kantor Daerah Telkom (Kandatel) Provinsi DIY, sejak 11 April 2008. Selain itu, dalam proses pengadaan barang/ jasa, Pemerintah Provinsi DIY menggunakan sistem pengadaan barang/ jasa secara elektronik yang bekerja sama dengan LPSE Nasional. LPSE DIY bertujuan agar dalam proses pengadaan barang/ jasa yang dilakukan oleh pemerintah lebih transparan, akuntabel, terbuka dan kompetitif.

122

VI. Rekomendasi Tindak Lanjut 1. Sosialisasi pemanfaatan e-government kepada masyarakat. 2. Setiap SKPD harus secara kontinue meng-up date informasi terbaru. 3. Pemanfaatan e-gov ini hendaknya bisa optimal hingga untuk upaya koordinasi antar SKPD. 4. Menjalin dengan berbagai perguruan tinggi dalam mengembangkan kualitas penggunaan iptek oleh pemerintah dalam upaya memperbaiki kualitas pelayanan publik. VII. Penutup Telah banyak terobosan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DIY dalam mengaplikasikan serta meningkatkan iptek. Berbagai terobosan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik kepada masyarakat. Namun, dalam pelaksanaannya, proses tersebut masih menemui beberapa kendala yakni masih kurangnya pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam membangun koordinasi antar SKPD yang berada di DIY. Selain itu, kerjasama dengan perguruan tinggi juga dinilai masih belum maksimal dan berjalan dengan baik. BAB 4.9 Ketenagakerjaan I. Pengantar Pembangunan bidang ketenagakerjaan memegang peranan penting dalam rangka meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Namun demikian berbagai kondisi dan permasalahan yang terjadi berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan pembangunan bidang ketenagakerjaan dalam upaya meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat yang dimaksud. Program peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja tahun 2003 mencakup peran serta lembaga Pelatihan Ketrampilan untuk dapat menghasilkan tenaga-tenaga yang memenuhi kualifikasi pasar kerja. Program perluasan dan pengembangan kesempatan kerja mencakup peningkatan kompetensi dan perluasan lapangan kerja, serta program perlindungan dan perlndungan lembaga tenaga kerja yang mencakup peningkatan kesejahteraan dan perlindungan buruh. Pemerintah Provinsi DIY telah mengupoayakan perluasan lapangan kerja dan pengurangan pengangguran dengan mendorong terciptanya wirausahawan baru dengan mengembangkan program tenaga kerja pemuda mandiri professional (TKPMP), tenaga kerja mandiri terdidik (TKMT), perluasan kerja system padat karya (KSPK), kelompok kerja produktif (KKP) dan penciptaan usaha mandiri sektpr informal (UMSI). Disamping itu untuk membantu perluasan kesempatan kerja, pemerintah juga mengikutsertakan peran masyarakat dan lokal (AKL), antar kerja antar daerah (AKAD), antar kerja antar negara (AKAN) dan mekanisme pemagangan dalam dan luar negeri.

123

Dari jumlah angkatan kerja pada tahun 2003 sebanyak 1.756.662 orang menjadi 1.754.996 orang pada tahun 2004, dengan komposisi tingkat pendidikan S2 0,41 persen, S1 37,60 persen, SMA/SMK sebesar 45,74 persen, SLTP 4,03 persen, serta tamatan SD dan tidak tamat SD sebesar 0,42 persen. Dari data tersebut menunjukkan bahwa jumlah angkatan kerja terbesar berpendidikan menengah, sehingga agar dapat memenuhi pasaran kerja, melalui pelaksanaan program peningkatan kualitas dan produktifitas tenaga kerja yang dilaksanakan oleh balai latihan kerja dan lembaga latihan kerja sedangkan pada kesempatan kerjanya berturut-turut 94,93 persen menjadi 94,51 persen. Penduduk yang bekerja menurut lapangan pekerjaan masih didominasi oleh sektor pertanian, perdagangan dan industri (terutama industri kecil) dan sektor jasa. Hasil pelatihan dan pembekalan ketrampilan memberikan dampak yang positif dan mampu menempatkan tenaga kerja lebih dari 12.283 orang terserap pada sektor lapangan usaha industri pengolahan, sektor jasa kemasyarakatan, sosial dan perorangan, pengiriman tenaga kerja melalui mekanisme antar kerja lokal 61,06 persen, antar kerja antar daerah (AKAD) 19 persen dan antar kerja antar Negara sebesar 19,94 persen. II. Kondisi Awal 1. jumlah lowongan kerja tidak sebanding dengan jumlah pencari kerja, sehingga penempatan tenaga kerja dan perluasan kesempatan kerja perlu mendapatkan perhatian dan penanganan yang serius melalui dan harus melibatkan beberapa sektor dan instansi terkait secara terkoordinasi. 2. bahwa jumlah lowongan kerja (lihat dalam table) di atas, tidak seluruhnya bisa terserap oleh pencari kerja yang ada. Hal ini karena pencari kerja tidak bisa m,emenuhi persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi oleh perusahaan-perusahaan/lembaga/instansi. Misalnya persyaratan pengalaman kerja, harus memiliki sertifikat pelatihan-pelatihan jurusan tertentu, dll. 3. adanya pencari kerja intelektual (berpendidikan S1) yang tidak bisa tertampung seluruhnya dalam dunia kerja 4. rasio pencari kerja, lowongan kerja dan penempatan tenaga kerja di Provinsi DIY masih sangat memperihatinkan 5. permasalahan yang terkait dengan perlindungan tenaga kerja di perusahaan/lembaga sesuai dengan UU no 7 tahun 1981 tentang wajib lapor ketenagakerjaan 6. masih kurang adanya kesadaran antara pihak pengusaha dan tenaga kerja (karyawan) tentang hal dan kewajibannya masing-masing. Sehubungan dengan hal tersebut, permasalahan yang timbul antara lain : a. masih sering terjadi pemutusan hubungan kerja yang sepihak (dari pihak pengusaha) tanpa konsultasiu dengan pihak Dinas tenaga Kerja dan Transmigrasi setempat.

124

b. Masih adanya gaji karyawan, perbulan yang masih di bawah UMP Provinsi c. Masih dijumpai bahwa perusahaan sering menghalang-halangi terbentuknya Serikat Pekerja (SP) di perusahaan. Padahal dengan terbentuknya Serikat Pekerja di perusahaan diharapkan bisa mengatasi permasalahan-permasalahan yang timbul antara perusahaan dengan karyawan yang diwakili serikat pekerja secara bipartit III. Sasaran yang Ingin Di capai Berdasarkan visi Terwujudnya Tenaga Kerja yang berdaya saing tinggi, sejahtera dan terlindungi dalam hubungan industrial serta terwujudnya mobilitas penduduk yang produktif dan grand strategy Peningkatan Kualitas Ketrampilan Tenaga Kerja, Perluasan dan Pengembangan Kesempatan Kerja serta Fasilitasi Pelaksanaan Transmigrasi, mandiri sesuai kebutuhan dan potensi daerah maka program pembangunan tenaga kerja dan transmigrasi adalah: a. Pengembangan layanan Informasi dan penerapan Teknologi Informasi b. Pengembangan Sumberdaya Aparatur c. Peningkatan Kualitas Lembaga Penempatan Tenaga Kerja d. Peningkatan Kualitas Lembaga Pelatihan Kerja dan Peningkatan Kompetensi TK e. Peningkatan Ketrampilan dan Produktivitas TK f. Peningkatan Perluasan Lapangan Kerja g. Peningkatan Hubungan Industrial h. Peningkatan Kesejahteraan Pekerja i. Peningkatan Pembinaan dan Pengawasan Ketenagakerjaan j. Peningkatan Kualitas Pengerahan dan Penempatan Transmigran k. Peningkatan Pembinaan Catrans dan Trans Lokal l. Peningkatan Kerjasama Antar Daerah m. Peningkatan Kualitas dan Produktivitas TK n. Perluasan dan Pengembangan Kesempatan Kerja o. Perlindungan dan Pengembangan Lembaga Tenaga Kerja p. Transmigrasi IV. Arah Kebijakan Arah kebijakan untuk mewujudkan tujuan pembangunan tenaga kerja dan transmigrasi, antara lain: 1. Meningkatkan kompetensi, kemandirian tenaga kerja, kesejahteraan, tingkat pengupahan dan perlindungan tenaga kerja serta kebebasan mengeluarkan pendapat dalam asosiasi pekerja.

125

2. Menciptakan lapangan kerja yang selaras dengan kebijaksanaan ekonomi makro yang ditujukan selain untuk mengurangi pengangguran juga untuk menciptakan adanya keselarasan penyerapan tenaga kerja berbagai sektor yang produktif di daerah. 3. Mengelola secara terpadu pengiriman tenaga kerja ke luar negeri sebagai upaya penyaluran tenaga kerja sehingga mengurangi pengangguran dengan memperhatikan kompetensi perlindungan dan pembelaan tenaga kerja serta menjaga tidak terjadinya eksploitasi tenaga kerja, yang didukung dengan penataan prosedur melalui penyempurnaan dan penyederhanaan sistem dan mekanisme pengiriman agar lebih efisien. 4. Mengembangkan kemitraan dan mendorong investor baik domestik kesempatan kerja riil. 5. Mendayagunakan angkatan kerja yang produktif bagi angkatan kerja tertentu antara lain tenaga kerja terdidik, terlatih, setengah penganggur baik di perkotaan maupun di perdesaan dan pekerja sektor informal, melalui penyaluran tenaga kerja baik secara local maupun antar daerah dan antar negara. 6. Memberdayakan tenaga kerja melalui berbagai latihan keterampilan dalam rangka memprsiapkan tenaga kerja agar siap memasuki pasar kerja dan meningkatkan produktivitas kerja. 7. Melindungi tenaga kerja dan pemberian jaminan sosial tenaga kerja yang mendukung terwujudnya hubungan kerja yang harmonis dalam rangka pengembangan usaha dan peningkatan kesejahteraan pekerja. 8. Menciptakan jaringan kerjasama antar pemerintah daerah, yaitu antara Pemerintah Daerah Tujuan Transmigrasi dengan Pemerintah Daerah Pengirim Transmigrasi serta pengembangan kemitrausahaan dengan segala pihak. Program pembangunan yang diarahkan untuk mendukung arah kebijakan antara lain, meliputi : 1. Penciptaan dan pengembangan kesempatan kerja perlu diterapkan model-model penciptaan lapangan kerja yang sesuai dengan pengetahuan dan keterampilan kerja guna mengisi lowongan pasar kerja maupun dalam penciptaan lapangan kerja mandiri. 2. Penyaluran tenaga kerja melalui kegiatan antar kerja lokal, antar kerja antar daerah termasuk juga transmigrasi, dan antar kerja antar negara. Berkaitan dengan ini maka peranan swasta, pengerah jasa tenaga kerja Indonesia sangat diharapkan disamping peranan kerjasama antar pemerintah daerah. Program ini selain bertujuan untuk memperluas kesempatan kerja juga untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 3. Peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja sekaligus memperluas kesempatan kerja pada usaha kecil, menengah, koperasi dan lembaga mandiri yang diterima masyarakat, perlu didorong dan dimasyarakatkan. Sedangkan dalam rangka memenuhi kebutuhan dunia kerja yang semakin maupun asing untuk menanamkan modalnya guna membangun perekonomian yang akan mempengaruhi pengembangan

126

cepat dan beragam, diperlukan pelatihan yang luwes/fleksibel dengan kualifikasi kemampuan dan standar program pelatihan dibatasi pada hal atau pokok yang berlaku umum secara sektoral dan daerah. Bentuk-bentuk kemitraan antara pemerintah dan swasta dalam penyelenggaraan pelatihan, pemagangan untuk menjamin efektifitas dan efisiensi. 4. Perlindungan tenaga kerja, termasuk di dalamnya Angkatan Kerja Antar Daerah (AKAD), pekerja sektor informal dan pembantu rumah tangga, serta pengembangan lembaga ketenagakerjaan untuk menghasilkan syarat-syarat kerja yang berkualitas yang didasarkan atas musyawarah mufakat dan demokratis di perusahaan, maka didorong untuk terbentuknya kelembagaan tenaga kerja. Pengawasan keselamatan dan kesehatan kerja, hendaknya didukung oleh sumberdaya yang memadai. Agar pekerja dapat hidup layak dan mendukung sektor riil, maka diperlukan jaminan sosial untuk meningkatkan kesejahteraannya. 5. Perlindungan bagi anak yang terpaksa bekerja, dan sesuai dengan Konvensi International Labour Organization (ILO) yang telah diratifikasi, juga diperjuangkan kesempatan untuk tetap mengikuti pendidikan untuk dapat mengembangkan mental, spiritual dan kemampuan intelektualnya. 6. Program transmigrasi dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan dan permintaan masyarakat dan pemerintah setempat serta diarahkan kepada penciptaan insentif melalui pemberdayaan kawasan dalam rangka menciptakan dinamika ekonomi baru guna mengurangi problem ketertinggalan, kemiskinan dan pengangguran serta penanganan pengungsi. V. Pencapaian Di bidang ketenagakerjaan, tingkat pengangguran di DIY dari tahun ke tahun cenderung mengalami kenaikan sebagai akibat kondisi ekonomi yang tidak menguntungkan. Penduduk yang bekerja menurut lapangan masih tetap didominasi oleh sektor pertanian, kemudian disusul oleh sektor jasa, sektor perdagangan, sektor industri pengolahan, sektor angkutan, dan sektor lainnya (pertambangan, listrik, gas dan air, bangunan, kerajinan). Kualitas angkatan kerja apabila diukur dengan tingkat pendidikan yang ditamatkan masih relatif rendah, karena masih didominasi oleh penduduk yang tidak berpendidikan ataupun berpendidikan sekolah dasar. Persentase penganggur di DIY pada tahun 2007 sebesar 8,22% (penganggur terbuka terhadap angkatan kerja). Jumlah penduduk usia kerja sebanyak 2.780.423 orang yang terdiri dari angkatan kerja sebanyak 1.808.143 orang, bekerja 1.659.447 orang, penganggur terbuka sebanyak 148.696 orang dan setengah penganggur sebanyak 454.245 orang. Adapun pencari kerja pada tahun 2007, berdasarkan “kartu kuning” sebanyak 87.324 orang. Penganggur terbanyak di Kabupaten Sleman 46.448 (31,24%), disusul Kota Yogyakarta 34.521 (23,22%), Kabupaten Bantul 34.162 (22,97%), Kabupaten Gunungkidul 19.721 (13,26%), dan terendah Kabupaten Kulon Progo 13.844 (9,31 %).

127

Dilihat dari pendidikannya, pengangguran yang tidak tamat SD 12.610 orang (8,48%), tamat SD 19,754 orang (13,28%), sedangkan yang berpendidikan SLTP 33,331 orang (22,42%), SLTA 63.231 orang (42,52%), Akademi 9.841 orang (6,62%), serta PT 9.929 orang (6,68%). Penganggur yang berusia produktif 15-35 tahun berjumlah 113.228 orang (76,15%). Adapun Penganggur terbuka laki-laki lebih besar (52,21%), dibandingkan dengan perempuan (47,79 %). Kondisi ketenagakerjaan di Provinsi DIY menurut (sumber: BPS, SAKERNAS dan BPS Prov. DIY, Berita Resmi Statistik, 2008, diolah), dari segi penyerapan tenaga kerja pada tahun 2009 diperkirakan akan meningkat antara 1,20- 1,29%, atau bertambah 22,44-24,01 ribu tenaga kerja dibandingkan tahun 2008. Dengan asumsi pada tahun 2009 terjadi penyerapan tenaga kerja sebesar 22.440 orang, sedangkan jumlah penganggur diperkirakan sebesar 124.106, sehingga pada tahun 2009 terjadi pengurangan jumlah penganggur menjadi 101.666 orang (berkurang 22.440 orang). Sementara hasil penghitungan tren pengangguran terbuka, pada tahun 2009 naik 3,61% atau bertambah 4,3 ribu orang. Kondisi ini seiring dengan selalu meningkatnya jumlah lulusan sekolah dan perguruan tinggi. Fluktuasi Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di DIIY dari tahun ke tahun berada dalam kisaran 5–8%. TPT tertinggi pada Nopember 2005 yang mencapai 7,59% dan pada Februari 2007 mencapai 6,08%. Kenaikan harga BBM dan Kemarau panjang pada saat itu kemungkinan dapat menjadi penjelas situasi. Atas dasar perhitungan di atas maka pada tahun 2009, TPT diupayakan pada angka 6,10%. VI. Rekomendasi tindak lanjut 1. mengefektifkan Kepres No. 4 Tahun 1980 tentang wajib lapor lowongan pekerjaan, yang mewajibkan pada perusahaan, instansi pemerintahan, BUMD/BUMN dan perorangan untuk melaporkan jumlah lowongan/kebutuhan tenaga kerja ke dinas tenaga kerja dan transmigarasi setempat, sehingga data lowongan kerja dari tahun ke tahun secara riil dapat diketahui. Hal ini penting sekali dalam rangka menyusun program dan kegiatan sehingga akan sesuai dengan persyaratan-persyaratan lowongan kerja yang harus dipenuhi oleh pencari kerja, khususnya dalam rangka menyusun rencana program dan pelatihan. 2. menyusun program-program perluasan kesempatan kerja melalui kegiatan antara lain TKPMP, TKMT, TPK/TTG Kader, KSPK, TKS, WUB, Gramen Bank dan Terapan TTG, sehingga melalui kegiatankegiatan ini perluasan kesempatan kerja adalah sebagai berikut : tahun 2003 tahun 2004 tahun 2005 tahun 2006 tahun 2006 : 523 orang : 568 orang : 805 orang : 384 orang : 831 orang

128

3. melalui kegiatan-kegiatan Job Fair VII. Penutup Masalah ketenagakerjaan di Indonesia sekarang ini sudah mencapai kondisi yang cukup memprihatinkan ditandai dengan jumlah penganggur dan setengah penganggur yang besar, pendapatan yang relatif rendah dan kurang merata. Sebaliknya pengangguran dan setengah pengangguran yang tinggi merupakan pemborosan pemborosan sumber daya dan potensi yang ada, menjadi beban keluarga dan masyarakat, sumber utama kemiskinan, dapat mendorong peningkatan keresahan sosial dan kriminal, dan dapat menghambat pembangunan dalam jangka panjang Persoalan ketenagakerjaan tidak hanya menjadi urusan pelik Provinsi DIY namun isu ketenagakerjaan menjadi isu nasional yang perlu mendapatkan perhatian serius. Kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang belum menunjukkan tanda-tanda stabil dan terkesan masih stagnan sangat mempengaruhi kondisi ketenagakerjaan. Pertumbuhan ekonomi yang kurang stabil dibarengi dengan pertumbuhan jumlah pengangguran yang lebih pesat merupakan kondisi yang timpang. Berbagai kebijakan yang kurang memihak kepada para pekerja menambah peliknya persoalan ketenagakerjaan. Bab 4.10 Pemantapan Stabilitas Ekonomi Makro I. Pengantar Stabilitas ekonomi makro tingkat daerah selain ditentukan oleh kebijakan di tingkat nasional juga dipengaruhi oleh kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah. Kebijakan nasional pada aspek moneter ( Pengendalian inflasi) maupun fiskal (pemantapan kesinambungan fiscal melalui penurunan defisit secara terus menerus) membawa dampak langsung pada perekonomian daerah. Namun demikian kondisi daerah yag spesifik akan memepengaruhi tinggi rendahnya pencapaian perekonomian. D.I Yogyakarta yang diguncang gempa tahun 2006 sampai saat ini masih menyisakan berbagai persoalan yang semua itu berdampak pada kinerja perekonmian secara makro. Target pertumbuhan ekonomi D I Yogyakarta belum dapat dipulihkan seperti sebelum gempa, namun demikian secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi telah mulai menunjukkan peningkatan yang signifikan.

129

II.

Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah Kondisi makro ekonomi DI Yogyakarta tahun 2004 cukup mantap. Pertumbuhan ekonomi yang dicapai pada tahun 2004 adalah 5.13%. Secara sektoral perekonomian Yogyakarta ditopang oleh tiga sektor penting yakni perdagangan, hotel dan restoran, pertanian dan jasa-jasa dengan pangsa masing – masing sebesar 20.34% , 18.91% dan 17.19 % . Dari aspek pertumbuhan, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh sektor pengangkutan dan komunikasi (10.10%) diikuti oleh sektor bangunan (9.04%) dan keuangan persewaan dan jasa perusahaan (17.19%). Sementara itu pengas tertinggi untuk pendukung pertumbuhan itu adalah sektor perdagangan hotel dan restoran. Sektor pertanian sebagai sektor penting mengalami pertumbuhan yang rendah. Persoalan krusial terkait dengan pertanian adalah beralihnya fungsi lahan dari pertanian ke penggunaan untuk perumahan dan industri. Kecilnya nilai tambah sektor pertanian dan tingginya opportunity cost pengelolaan lahan pertanian relatif terhadap sektor indusri dan perdagangan diduga menjadi pemicu utama beralihnya fungsi lahan ini. Laju penyusutan lahan pertanian ini mencapai angka 0.4% per tahun. Selain itu turunya kualitas lahan terkait dengan penggunaan bahan kimia yang berlebihan dan pencemaran lain juga menjadi penghambat perkembangan sektor pertanian. Pesatnya perkembangan kinerja sektor bangunan di Yogyakarta terkait dengan maraknya bisnis properti baik perumahan maupun pusat perbelanjaan modern serta konstruksi penyediaan fasilitas public. Bisnis properti perumahan didominasi para pengembang kelas menengah yang umumnya mengerjakan proyek perumahan dengan lahan yang relatif sempit . Namun karena jumlah proyek semacam ini banyak dan hampir menyebar di seluruh D.I Yogyakarta maka kontribusi yang diberikan oleh bisnis perumahan menjadi signifikan. Fenomena tersebut muncul setidaknya disebabkan oleh beberapa hal antara lain: (1). Aspek resiko pemasaran, lebih mudah bagi pengembang untuk menjual produknya dalam jumlah unit yang kecil dibandingkan dengan unit yang besar (2). Pengembang lebih fleksibel dalam melakukan distribusi pemasarannya (3). Dengan jumlah yang kecil maka biaya infrastruktur yang harus disediakan juga kecil. Kinerja sektor perdagangan hotel dan restoran terkait erat dengan dinamika industri pariwisata dan pendidikan, maka perkembangan sektor perdagangan hotel dan restoran berfluktuasi dan lebih bersifat musiman. Sektor ini tumbuh pesat tertutama saat liburan sekolah. Sektor pengangkutan dan komunikasi didukung oleh pesatnya perkembangan nilai tambah jasa angkutan udara seiring dengan semakin kompetitifnya harga tiket pesawat dibandingkan dengan harga jasa angkutan jalan raya ataupun angkutan kereta api. Adanya kenaikan harga tiket kereta api dan bus antar kota pasca kenaikan harga BBM diduga menjadi faktor pertimbangan banyak penumpang untuk beralih ke penggunaan jasa pesawat udara disamping karena alasan efisiensi waktu juga ditunjang oleh tersedianya tiket dengan harga khusus yang gencar ditawarkan oleh beberapa maskapai penerbangan dalam negari.

130

Tabel IV.17 PDRB sektoral dan Pertumbuhannya tahun 2004 Sektor Pertanian Penggalian Indsutri pengolahan Listrik, gas dan air bersih Bangunan Perdagngan hotel dan restoran Pengankuan dan komunikasi Keuangan, persewaan danjasa perusahaan Jasa-jasa PDRB
Sumber: Laporan Bank Indonesia DI Yogyakarta, 2005

Nilai (Rp miliar) 3.054 120 2.394 145 1.284 3.86 1.582 1.508 2.776 16.150

Pangsa (%) 18.91 0.75 14.83 0.90 7.95 20.34 9.80 9.34 17.19 100

Pertumbuhan (%) 3.63 0.84 2.97 6.99 9.04 5.99 10.10 7.03 2.34 5.13

Andil (%) 0.70 .01 0.45 0.06 0.69 1.21 0.94 0.64 0.43 5.13

Dari sisi permintaan, investasi masih merupakan motor penggerak perekonomian D.I Yogyakarta. Hal ini terlihat dari nilai pembentukan modal tetap domestik bruto yang tumbuh dengan angka 17.63% dan memberikan andil terhadap total pertumbuhan sebesar 4.88%. Faktor pendorong pertumbuhan berikutnya adalah konsumsi pemerintah. Sementara itu komponen sektor lainnya yang didalamnya temasuk kegiatan ekspor impor dan perdagangan antar wilayah mengalami pertumbuhan negatif yang cukup besar (-28.22%). Sejalan dengan pertumbuhannya yang tinggi, investasi juga menjadi penyumbang PDB yang cukup tinggi yakni 30.98%. Penyumbang tertinggi dalam pembentukan PDRB tahun 2004 masih didominasi oleh sektor konsumsi rumah tangga (48.11%). Konsumsi rumah tangga memang menjadi pembentuk terbesar, namun perannya dalam petumbuhan paling kecil (1.73%). Rendahnya pangsa pertumbuhan konsumsi rumah tangga terkait dengan beberapa hal: (1). Kenaikan harga BBM telah menurunkan kemampuan rumah tangga untuk memenuhi konsumsinya (2). Ekpektasi pegahasilan yang cenderung menurun sejalan dengan menurunnya indeks penjulan (3). Pola masyarkat yag semakin lama tinggal di Yogyakarta menjadi semakin hemat. Ditinjau dari aspek perwilayahan, maka Sleman merupakan wilayah yang paling tinggi angka capaian ekonominya (Rp 4.837 miliar) diikuti oleh Kota dengan Rp 4.195 miliar dan Bantul dengan Rp 3.0880 miliar, Gunungkidul dengan Rp 2.613 miliar, terakhir Kulonprogo dengan Rp 1.399 miliar. Dilihat dari pertumbuhannya Sleman memiliki pertumbuhan tertinggi dengan 5.25%, kota dengan 5.05% dan Bantul 5.04%, Kulonprogo 4.52% dan Gunungkidul 3.34%.

131

Pertumbuhan yang cukup mantap ternyata masih harus memiliki beban pengangguran. Tahun 2004 tercatat 91.400 penganggur yang merupakan 5.21 % dari jumlah angkatan kerja. Pertumbuhan penganggur di D.I Yogyakarta mencapai angka 1.43%, jauh lebih tinggi dibanding pertumbuhan angkatan kerja yang hanya mencapai 0.86%. Dilihat dari penyerapan, sektor pertanian yang semula menjadi penyerap tenaga kerja terbesar kemampuannya semakin menurun. Demikian juga dengan sektor industri yang akibat kenaikan harga BBM harus banyak mengurangi produksi, hanya sektor perdagangan dan jasa yang masih memiliki kemampuan penyerapan yang positif. Tabel IV.18 PDRB Sisi Permintaan dan Pertumbuhannya tahun 2004 Nilai (Rp miliar) Pagsa (%) Pert (%) 7.769 2.883 5.003 495 16.150 48.11 17.85 30.98 3.06 100 1.73 3.64 17.63 -28.22 5.13

Penggunan Konsumsi rumah tangga Konsumsi pemerintah Investasi Lainnya PDRB

Andil (%) 0.86 0.66 4.88 -2.27 5.13

Sumber: Laporan Bank Indonesia D I Yogyakarta, 2005

III.

Sasaran Yang Ingin Dicapai Terpeliharanya stabilitas ekonomi makro yang dapat mendukung tercapainya pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi dan berkualitas serta peningkatan kemampuan pendanaan pembangunan, baik yang bersumber dari pemerintah maupun swasta dengan tetap menjaga stabilitas nasional

IV.

Arah Kebijakan Dalam rangka mengembangkan sistem ekonomi kerakyatan yang bertumpu pada mekanisme pasar yang berkeadilan dengan prinsip persaingan sehat dan memperhatikan pertumbuhan ekonomi, nilainilai keadilan, kepentingan sosial, kualitas hidup, pembangunan berwawasan lingkungan dan berkelanjutan sehingga terjamin kesempatan yang sama dalam berusaha dan bekerja, perlindungan hak-hak konsumen, serta perlakuan yang adil bagi seluruh masyarakat, maka arah pengembangan perekonomian daerah adalah: 1. Mengupayakan kehidupan yang layak berdasarkan atas kemanusian yang adil bagi masyarakat terutama bagi fakir miskin dan anak-anak terlantar dengan mengembangkan sistem dana jaminan sosial melalui program pemerintah.

132

2. Mengembangkan perekonomian yang berorientasi global sesuai kemajuan teknologi dengan membantu keunggulan kompetitif berdasarkan keunggulan komparatif sebagai negara maritime dan agraris sesuai kompetensi dan produk unggulan di setiap daerah, terutama pertanian dalam arti luas, pertambangan, pariwisata serta industri kecil dan kerajinan rakyat. 3. Mengembangkan kebijakan industri, perdagangan, dan investasi dalam rangka meningkatkan daya saing global dengan membuka aksesibilitas yang sama terhadap kesempatan kerja dan berusaha bagi segenap rakyat dan seluruh daerah melalui keunggulan kompetitif terutama berbasisi keunggulan sumber daya alam dan sumber daya manusia dengan menghapus segala bentuk perlakuan diskriminatif dan hambatan. 4. Memberdayakan pengusaha kecil, menengah dan koperasi agar lebih efisien, produktif dan berdaya saing dengan menciptakan iklim berusaha yang kondusif dan peluang usaha yang seluas-luasnya. Bantuan fasilitas dari pemerintah diberikan secara selektif terutama dalam bentuk perlindunga dari persaingan yang tidak sehat, pendidikan dan latihan, informasi bisnis dan teknologi, permodalan dan lokasi berusaha. 5. Menata dan menyehatkan Badan Usaha Milik Daerah secara efisien, transparan dan professional terutama yang usahanya berkaitan dengan kepentingan umum. 6. Mengembangkan dukungan kemitraan dalam bentuk keterkaitan usaha yang saling menunjang dan menguntungkan antara koperasi, swasta dan BUMD, serta antara usaha besar, menengah dan kecil dalam rangka memperkuat struktur ekonomi daerah. 7. Mengembangkan sistem ketahanan pangan yang berbasis pada keragaman sumber daya bahan pangan, kelembagaan dan budaya lokal dalam rangka menjamin tersedianya pangan dan nutrisi dalam jumlah dan mutu yang dibutuhkan pada tingkat harga yang terjangkau dengan memperhatikan peningkatan pendapatan petani dan nelayan serta peningkatan produksi. 8. Meningkatkan penyediaan dan pemanfatan sumber energi dan tenaga listrik yang relatif murah dan ramah lingkungan dan secara berkelanjutan 9. Meningkatkan pembangunan dan pemeliharaan sarana dan prasarana publik, termasuk transportasi, telekomunikasi, energi dan listrik, dan air bersih guna mendorong pemerataan pembangunan, melayani kebutuhan masyarakat dengan harga terjangkau serta membuka keterisolasian wilayah pedalaman dan terpencil. 10. Mengembangkan ketenagakerjaan secara menyeluruh dan terpadu dan diarahkan pada peningkatan kompetensi dan kemandirian tenaga kerja, meningkatkan pengupahan, penjaminan, kesejahteraan, perlindungan kerja dan kebebasan berserikat.

133

11. Meningkatkan kuantitas dan kualitas penempatan tenaga kerja ke luar negeri dengan memperhatikan kompetensi, perlindungan dan pembelaan tenaga kerja yang dikelola secara terpadu dan mencegah timbulnya eksploitasi tenaga kerja. 12. Meningkatkan penguasaan, pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi termasuk teknologi bangsa sendiri dalam dunia usaha terutama UKM dan koperasi guna meningkatkan daya saing produk yang berbasis sumber daya lokal. 13. Melakukan berbagai upaya terpadu untuk mempercepat proses pengentasan masyarakat dari kemiskinan dan mengurangi pengangguran, yang merupakan dampak dari krisis ekonomi. 14. Melakukan negosiasi dan kerjasama ekonomi baik dengan daerah lain maupun negara lain dalam rangka meningkatkan volume dan nilai eksport terutama dari sektor industri yang berbasis sumber daya alam, serta menarik investasi finansial dan investasi asing tanpa merugikan pengusaha lokal/ daerah. V. Pencapaian RPJMN di Daerah Kinerja perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada tahun 2007 mengalami perbaikan dibanding kondisi tahun sebelumnya. Hal ini tercermin dari laju pertumbuhan ekonomi yang dihitung berdasarkan nilai riil Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang mencapai 3.94 % rata-rata per tahun dari tahun 2005 sampai 2007. Angka ini memang lebih tinggi dari pertumbuhan tahun 2004, namun jika dibandingkan dengan keadaan setelah gempa, keadaan tahun 2007 telah membaik. Tahun 2006 pertumbuhan yang dicapai baru mencapai angka 3,69%. Selain out put yang tumbuh lebih cepat, perkembangan harga barang dan jasa secara umum juga relatif terkendali dengan tingkat inflasi yang relatif rendah. Dari sisi produktivitas tenaga kerja terdapat perbaikan, yakni naik dari Rp10,35 juta per orang pada tahun 2006 menjadi Rp10,68 juta per orang pada tahun 2007. Namun demikian, indikator tingkat pengangguran terbuka menunjukkan kinerja yang kurang menggembirakan, yakni terjadi peningkatan dari 5,32% pada tahun 2006 menjadi 5,41% pada tahun 2007. Tabel IV.19 Pendapatan Regional Bruto D I Yogyakarta tahun 2005 – 2006 dan Rata-rata Pertumbuhaanya berdasar Sektor Ekonomi Nilai (Rp miliar) Sektor Pertanian Penggalian Indsutri pengolahan 2005 3.186 122 2.463 2006 3.307 126 2.481 2007 3.407 132 2.510 Rata-rata pertumbuhan per tahun (%) 3.4 4.02 0.94

134

Nilai (Rp miliar) Sektor Listrik, gas dan air bersih Bangunan Perdagngan hotel dan restoran Pengankuan dan komunikasi Keuangan, persewaan danjasa perusahaan Jasa-jaa PDRB
Sumber : DIY dalam Angka 2005/2006

Rata-rata 2007 163 1.708 3.769 1.869 1.667 3.047 18.272 pertumbuhan per tahun (%) 3.29 10.68 4.60 5.69 1.40 3.40 3.94

2005 153 1.395 3.445 1.673 1.623 2.850 16.911

2006 152 1.580 3.570 1.762 1.592 2.965 17.535

Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi DIY pada tahun laporan didorong oleh kegiatan investasi dan konsumsi baik konsumsi masyarakat (rumah tangga) maupun konsumsi pemerintah. Sementara itu dari sisi penawaran, tiga sektor unggulan menjadi faktor penunjang pertumbuhan ekonomi DIY yaitu: (1) sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran; (2) sektor Pengangkutan dan Komunikasi dan (3) sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan. Secara umum, membaiknya kinerja perekonomian DIY tahun 2007 terutama didukung oleh kondisi makroekonomi nasional yang relative stabil, tingkat suku bunga yang cenderung menurun dan daya beli masyarakat yang relatif meningkat serta industri pariwisata dan pendidikan yang kembali pulih setelah sempat terpuruk sebagai akibat terjadinya Gempa Bumi Mei 2006. Tingkat inflasi Kota Yogyakarta yang dihitung berdasarkan Indeks Harga Konsumen (IHK) selama tahun 2007 yang tercatat sebesar 7,99%, lebih rendah dibandingkan inflasi tahun 2005 dan tahun 2006 masing-masing sebesar 14,98% dan 10,40%. Dilihat dari penyebabnya, inflasi Kota Yogyakarta tahun laporan terutama didorong oleh faktor permintaan yang diindikasikan oleh andil inflasi inti (core inflation) yang dominan dibandingkan dengan dua komponen inflasi lainnya (volatile foods dan administered price). Sementara itu, kenaikan harga lima komoditas/jasa yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi Kota Yogyakarta adalah (1) akademi/ perguruan tinggi, (2) minyak goreng, (3) nasi, (4) tukang bukan mandor dan (5) bawang merah. Membaiknya kinerja perekonomian DIY pada tahun laporan juga diikuti dengan peningkatan kinerja perbankan. Aset perbankan DIY meningkat sebesar 15,55%. Membaiknya kinerja perbankan ini juga tercermin dari penurunan tingkat risiko yang dihadapi perbankan DIY, yakni penurunan risiko pasar (market risk) yang tercermin dari peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK) bersamaan dengan kecenderungan penurunan suku bunga acuan (BI rate), dan penurunan risiko kredit (credit risk) tercemin dari peningkatan

135

Loan to Deposit Ratio (LDR). Hanya risiko likuiditas yang mengalami peningkatan sebagaimana yang tercermin dari meningkatnya komposisi Giro dan Tabungan dalam DPK, namun peningkatan ini memang diarahkan oleh pihak perbankan antara lain untuk mengurangi biaya dana (cost of funds). Upaya yang dilakukan untuk mengurangi risiko ini adalah dengan cara memperpanjang rata-rata mengendap Giro dan Tabungan melalui berbagai macam penawaran hadiah kepada nasabah bank. Disamping itu, peningkatan aktivitas ekonomi DIY juga disertai dengan peningkatan aliran dana yang masuk ke DIY. Hal ini terlihat dari penigkatan komposisi net incoming transfer yang lebih besar dibanding peningkatan net outgoing transfer dalam transaksi non tunai Bank Indonesia - Real Time Gross Settlement (BI-RTGS). Kinerja pemerintah daerah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi juga ukup baik tercermin dari peningkatan realisasi Belanja Modal yang meningkat sebesar 25,55% atau mencapai Rp588.432 juta. Namun hal ini belum optimal karena pangsanya mengalami sedikit penurunan dari 13,53% (2006) menjadi 12,79% (2007). VI. Rekomendasi Tindak Lanjut Agar perekonomian D. I Yogyakarta kembali ke dalam kondisi sebelum gempa terdapat sejumlah agenda yang harus diperhatikan oleh pemerintah propinsi DIY. Persoalan ekonomi terbesar D I Yogyakarta adalah: (1) beralihnya fungsi lahan dari pertanian ke penggunaan lain terutama perumahan dan pusat kegiatan ekonomi baru lainnya. (2). Rusaknya infrastruktur dan bisnis UMKM akibat gempa belum benarbenar pulih. (3). Bisnis properti yang didorong oleh permintaan yang datang dari luar daerah, tidak menguntungkan bagi penyediaan tempat tinggal bagi penduduk D. I Yogyakrata maupun pengembangan sektor pertanian di masa datang. Dengan persolan-persolan tersebut, agenda mengatur (mengkontrol) terjadinya alih fungsi lahan haruslah segera mendapat perhatian yang serius. Praktek pertanian yang sarat akan pestisida telah menunjukkan keburukannya. Maka upaya untuk lebih menginstitusionalkan praktek pertanian yang ramah lingkungan akan menjamin stabilitas kemampuan sektor pertanian. Ancaman terhadap keberlanjutan sektor pertanian juga berasal dai pencemaran yang sebagian besar diakibatkan oleh aktivitas di sektor industri. Untuk itu peraturan yang berkaitan dengan alih fungsi lahan yang didahului oleh studi yang mendalam harus menjadi prioritas. Disamping itu koordinasi antar sektor harus dilakukan dengan sangat baik. Sektor industri memang manjadi penyumbang pencemaran lingkungan, namun sektro ini juga menjadi penyerap tenaga keraj yang tinggi. Oleh karena itu optimalisasi pemafaatan sektor industri haruslah menjadi agenda untuk dikerjakan. Mengatasi dampak gempa terhadap UMKM, berbagai program memang telah dilakukan, namun demikian upaya yang lebih spesifik atas persolan yang dihadapi UMKM tidak boleh diabaikan. Kekurangan modal hanyalah salah satu masalah yang dihadapi UMKM, namun masih banyak persoalan yang membelit

136

kelangsungan usaha mereka. Ketersediaan bahan baku, kemampuan manajemen usaha, pengelolaan resiko, masalah pemasaran adalah bebeapa persoalan yang harus mendapat perlakukan sebagai sebuah masalah yang kait mengakit dan bukan masalah yang berdiri sendiri. Pendampingan merupakan kata kunci untuk pengembangan usaha kecil, namun pendampungan yang seperti apa yang tepat adalah pertanyaan lain yangharus dijawab demi pengembangan usaha kecil itu. Bisnis properti yang lebih banyak didorong oleh permintaan dari luar daerah harus mulai menjadi perhatian pemerintah daerah. Permintaan ini mencerminkan kemampuan konsumen untuk membeli. Saat ini lebih dari 50% permintaan properti datang dari luar daerah, ini seharusnya menjadi indikasi awal bagi pemerintah daerah untuk peduli. Di satu sisi, pemeilik properti akan mendapat keuntungan dari berkembangnya permintaan luar ini tetapi pada sisi lain konsumen properti D. I Yogyakarta akan tertekan. Barang yang diperdebatkan di sini adalah barang primer, dan seharusnya setiap warga negara mendapat akses yang cukup untuk mendapatkannya, namun dengan fenemena yang saat ini ada, peluang penduduk D. I Yogyakarta untuk mendapakan akses terhadap perumahan yang layak panas dipertanyakan. Terhadap persoalan ini seharusnya pemerintah D. I Yogyakarta harus mulai berbenah, jangan sampai penduduk D. I Yogyakarta pada masa datang tidak bisa mendapat akses pada perumahan. VII. Penutup Kondisi ekonomi makro di DIY pasca gempa belum sepenuhnya pulih namun sudah menunjukkan tanda-tanda perbaikan dan peningkatan yang signifikan. Namun hal tersebut harus lebih dicermati mengingat kondisi ekonomi nasional yang fluktuatif sebab akan berimbas pada ekonomi daerah. Beberapa hambatan dalam memulihkan stabilitas ekonomi makro seperti rusaknya infrastruktur dan bisnis UMKM perlu mendapatkan perhatian serius dari Pemerintah Provinsi DIY. . BAB 4.11 Pembangunan Pedesaan I. Pengantar Pembangunan kawasan pedesaan merupakan upaya pemerintah untuk meningkatkan tingkat perekonomian nasional. Berdasarkan sensur BPS pada tahun 2000, 60% penduduk Indonesia tinggalkan di pedesaan, namun masyarakat yang hidup di pedesaan masih belum dapat menikmati kehidupan yang layak dan sejahtera. DIY yang memiliki empat kabupaten dan satu kota juga memiliki tantangan untuk menjadikan desa sebagai wilayah yang memiliki kualitas kehidupan serta memiliki manfaat ekonomi yang baik. II. Kondisi Awal RPJM di Tingkat Daerah

137

Saat ini, di DIY terdapat beberapa permasalahan yang terjadi di pedesaan dan menghambat proses pembangunan di pedesaan. Hambatan-hambatan tersebut antara lain: 1. Migrasi penduduk potensial kaum muda desa ke kota dan luar negeri karena banyaknya iming-iming untuk menjadi TKI di luar negeri. 2. Keterbatasan sumberdaya alam terutama lahan tidak mencukupi untuk pertanian karena terjadinya konversi lahan pertanian secara besar-besaran yang mengakibatkan semakin sempitnya lahan yang bisa digarap. 3. Produk kota dan impor membanjiri pasar desa sehingga barang-barang yang dihasilkan oleh desa sendiri menjadi kehilangan pasar dan kalah bersaing. 4. Perubahan pola konsumsi masyarakat desa sehingga menjadi lebih konsumtif atau mengeluarkan uang untuk hal-hal yang tidak perlu dan tidak dapat memberikan manfaat ekonomi yang tinggi. III. Arah Kebijakan Ada beberapa arah kebijakan yang dapat diambil oleh Pemerintah Provinsi DIY dalam membangun desa atau wilayah pedesaan, antara lain: 1. Pengembangan kecamatan sebagai pusat pertumbuhan dan pelayanan 2. Pengembangan akses jalan 3. Pengembangan sentra industri pedesaan 4. Pengembangan pertanian dan peternakan 5. Pengembangan desa wisata Semua arah kebijakan adalah bertujuan untuk membagkitkan potensi ekonomi desa serta meningkatkan kasasitas dari pusat pertumbuhan dan pelayanan yang selama ini telah ada. IV. Sasaran yang Ingin Dicapai Ada beberapa sasaran yang ingin dicapai terkait dengan permasalahan pembangunan pedesaan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sasaran-sasaran tersebut diterjemahkan dalam beberapa butir, yakni: 1. Menurunnya persentase penduduk miskin menjadi 8,2% pada 2009. 2. Tercukupinya pemenuhan pangan yang bermutu dan terjangkau 3. Terpenuhinya pelayanan kesehatan yang bermutu 4. Tersedianya pendidikan dasar yang merata dan bermutu 5. Terbukanya kesempatan kerja dan berusaha 6. Terpenuhinya kebutuhan perumahan dan sanitasi yang layak dan sehat 7. Terpenuhinya kebutuhan air bersih dan aman bagi masyarakat miskin

138

8. Terbukanya akses masyarakat miskin dalam pemanfaatan SDA dan terjaganya kualitas lingkungan hidup 9. Terjamin dan terlindunginya hak perorangan dan hak komunal atas tanah. 10. Terjamin atas rasa aman dari tindak kekerasan V. Pencapaian Pencapaian Provinsi DIY dalam meningkatkan pembangunan pedesaan di DIY dapat dilihat dari dua hal, yakni perbaikan kesehatan serta penurunan jumlah angka balita gizi buruk. Selain itu, pembangunan pedesaan di DIY diupayakan untuk memenuhi beberapa indikator capaian yakni: 1. Tersedianya lapangan kerja yang cukup 2. Ketersediaan pangan 3. Meningkatnya kemampuan daya beli masyarakat terhadap kebutuhan pangan 4. Meningkatnya pelayanan kesehatan 5. Meningkatnya jumlah sekolah dan guru 6. Meningkatnya kualitas dan kuantitas rumah 7. Meningkatnya kualitas dan kuantitas jaringan transportasi 8. Meningkatnya kualitas dan kuantitas jaringan telekomunikasi 9. Meningkatnya kualitas dan kuantitas jaringan listrik 10. Meningkatnya tingkat keterlibatan masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan dan perawatan hasil pembangunan Yang patut menjadi sorotan adalah dalam hal ketersediaan pangan, begitu banyak lahan pertanian yang berubah menjadi pekarangan dan perumahan. Angka hilangnya lahan pertanian itu secara rata-rata di DIY adalah 0,24 persen per tahun. Kota Yogyakarta adalah yang paling sedikit memiliki lahan pertanian karena tinggal sebesar 7 persen dengan luasan 125 hektare saja. Yang tentu akan berdampak negatif dari segi lingkungan terutama konversi dari lahan yang diperuntukkan bagi kawasan penangkap air menjadi bentuk-bentuk peruntukan lainnya. Data mutakhir yang menunjukkan betapa pesatnya konversi lahan itu dapat dilihat pada Tabel 4.20.

139

Tabel IV.20 Luas lahan terkonversi pada tahun 2005-2006 di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta No. 1 2 3 4 5 Total
Sumber: diolah dari Kantor BPS Propinsi DI Yogyakarta.

Lokasi Kabupaten Gunung Kidul Kabupaten Kulon Progo Kabupaten Bantul Kabupaten Sleman Kota Yogyakarta

Luas Tanah Terkonversi (Ha) 200 150 246 328 924

Data tersebut memperlihatkan bahwa tindakan konversi lahan tertinggi yang terjadi di wilayah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta adalah di Kabupaten Sleman. Namun perkembangan yang terjadi di wilayah Kabupaten Sleman sesungguhnya tidak terlepas dari pola pengembangan daerah. Konversi tanah sebenarnya terjadi merata di semua kabupaten. Masalahnya ialah bahwa konversi yang tidak terkendali di daerah atasan seperti kabupaten Sleman tentu akan berdampak negatif kepada daerah bawahannya, dalam hal ini kota Yogyakarta dan kabupaten Bantul. Wilayah pedesaan di DIY terancam tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat karena semakin sempitnya tanah akibat konversi lahan pertanian menjadi lahan pemukiman yang disebabkan desakkan penduduk dari kota ke wilayah sekitarnya. VI. Rekomendasi Tindak Lanjut 1. Meneruskan upaya pengembangan kecamatan 2. Mensinergikan program lintas sektor yang bergerak di pedesaan 3. Mengembangkan kagiatan usaha bersama yang dapat menyerap tenaga kerja pedesaan 4. Mengoptimalkan usaha penanaman lahan pekarangan sebagai penambah gizi keluarga 5. Mengembangkan sistem jeringan penyediaan air bersih dan sanitasi VII. Penutup Secara umum upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DIY adalah meningkatkan potensi desa serta meningkatkan akses penduduk desa terhadap kebutuhan akan litrik, telekomunikasi dan lain sebagainya. Namun, dalam hal ketersediaan pangan yang diindikasikan oleh tersediannya lahan pertanian

140

yang cukup, maka saat ini DIY sedang mengalami konversi lahan pertanian besar-besaran yang dapat mengancam kemampuan desa untuk menghasilkan tanaman pangan untuk masyarakat. BAB 4.12 Pengurangan Ketimpangan Wilayah I. Pengantar Ketimpangan pembangunan wilayah di DIY secara umum dipengaruhi oleh perbedaan tingkat ekonomi dan kesejahteraan. Di DIY, ketimpangan terjadi pada kabupaten atau kota yang subur dan kaya dengan kabupaten yang miskin dikarenakan wilayah geografis yang tidak mendukung. Berbagai upaya telah dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DIY untuk mengurangi ketimpangan pembangunan wilayah antara kabupaten di DIY. Namun upaya tersebut masih belum menunjukkan hasil yang maksimal. II. Kondisi Awal RPJM di Tingkat Daerah Kondisi yang sedang dihadapi oleh DIY terkait dengan ketimpangan dalam pembangunan wilayah terdiri dari beberapa hal, yakni: 1. Basis sumberdaya alam antar wilayah berbeda, ada yang subur seperti Sleman Selatan dan Bantul sedangkan sisanya ada yang kritis seperti pada wilayah sebagian Gunungkidul, Kulon Progo dan Sleman utara. 2. Akses jaringan jalan dan komunitasi di beberapa wilayah pedesaan masih kurang. 3. Akses air bersih di kawasan kritis 4. Arah perkembangan kota yang tidak sesuai dengan tata ruang III. Arah Kebijakan Ada empat hal yang menjadi arah kebijakan Pemerintah Provinsi DIY dalam mengurangi ketimpangan pembangunan wilayah di kawasan DIY. Kebijakan tersebut adalah: 1. Pengembangan kerjasama antar kota dan kabupaten melalui Sekber Kertamantul 2. Pengembangan kecamatan sebagai pusat pertumbuhan dan pelayanan 3. Kerjasama lintas kabupaten dan kota disekitar DIY seperti Java Promo (pariwisata) 4. Pengembangan wilayah perbatasan IV. Sasaran yang Ingin Dicapai Terkait dengan sasaran yang ingin dicapai dari permasalahan ketimpangan pembangunan wilayah, maka ada beberapa sasaran yang harus dicapai, yakni:

141

1. Terwujudnya percepatan pembangunan di wilayah-wilayah cepat tumbuh dan strategis, wilayah tertinggal, termasuk wilayah perbatasan dalam suatu sistem wilayah pengembangan ekonomi yang terintegrasi dan sinergis. 2. Terwujudnya keseimbangan pertumbuhan pembangunan antar kota-kota metropolitan, besar, menengah dan kecil secara hierarkis dalam suatu “sistem pembangunan perkotaan nasional”. 3. Terwujudnya pembangunan percepatan kota-kota kecil dan menengah terutama kota-kota di luar pulau Jawa, sehingga diharapkan dapat menjalankan perannya sebagai “motor penggerak” pembangunan di wilayah-wilayah pengaruhnya dalam suatu sistemwilayah pengembangan ekonomi termasuk dalam melayani kebutuhan masyarakat warga kota 4. Terkendalinya pertumbuhan kota-kota besar dan metropolitan dalam suatu ‘sistem wilayah pembangunan metropolitan’ yang kompak, nyaman, efisien dalam pengelolaan serta mempertimbangkan pembangunan yang berkelanjutan. 5. Terwujudnya ketertarikan kegiatan ekonomi antar wilayah perkotaan dan perdesaan dalam suatu sistem wilayah pengembangan ekonomi yang saling menguntungkan. 6. Terwujudnya keserasian pemanfaatan dan pengendalian ruang dalam suatu system wilayah pembangunan yang berkelanjutan. 7. Terwujudnya system pengelolaan tanah yang efisien, efektif, serta terlaksananya penegakan hukum terhadap hak atas tanah masyarakat dengan menerapkan prinsip-prinsip keadilan, transparansi dan demokrasi. Selain itu, ada beberapa indikator pencapaian program pengurangan ketimpangan wilayah di DIY. Indikator tersebut adalah: 1. Kerja sama antar sub-regional 2. Hubungan (linkage) kota dan desa 3. Perkembangan fasilitas pelayanan publik 4. Pentaatan tata ruang dengan perijinan yang dapat mengarahkan perkembangan dan mengendalikan pertumbuhan 5. Luas area hijau terutama di lahan kritis V. Pencapaian Saat ini masih terjadi ketimpangan yang mecolok antar wilayah di DIY. Dalam tingkat kemiskinan, Kabupaten Gungkidul meruapakn kabupaten yang paling miskin dengan 34,8% penduduknya berada di bawah garis kemiskinan. Sedangkan wilayah yang memiliki tingkat penduduk miskin terendah adalah di Kota Yogyakarta yakni sebesar 7,15% dari jumlah penduduk.

142

Dalam rangka meningkatkan akses masyarakat terhadap air bersih, maka Pemerintah Provinsi DIY telah berupaya untuk mengatasinya dengan membangun Penyediaan Air Minum Pedesaan (PAMDes). PAMDes kemudian diharapkan dapat memecahkan masalah sebagian besar masyarakat Gunungkidul yang selama bertahun-tahun sering terjadi kekeringan yang akut serta mengakibatkan sulitnya air. VI. Rekomendasi Tindak Lanjut Menyikapi permasalahan di atas, maka ada beberapa rekomendasi yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DIY bekerja sama dengan kabupaten dan kota lainnya untuk mengurangi ketimpangan antar wilayah di DIY. 1. Pengembangan wilayah sesuai dengan sumberdaya dan daya dukung lingkungannya. 2. Mengendalikan laju ekspansi penutupan lahan (bangunan) di kawasan konservasi resapan air. 3. Mengembangkan terus kerjasama antar kabupaten dan kota dalam pelayanan publik. 4. Pengembangan kerjasama dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan. VII. Penutup Secara umum, di DIY masih terjadi ketimpangan antar wilayah yang cukup mencolok. Ketimpangan tersebut lebih diakibatkan oleh kondisi geografis yang tidak mendukung. Akibatnya wilayah yang sering mengalami kekeringan tidak bisa menghasilkan tanaman produktif. Hal tersebut menyebabkan pindahnya tenaga-tenaga kerja yang berada di wilayah sulit menuju wilayah perkotaan yang menwarkan kesempatan yang lebih baik. Namun telah dilakukan beberapa upaya oleh Pemerintah Provinsi DIY untuk mengurangi ketimpangan tersebut. Salah satu caranya adalah dengan meningkatkan akses masyarakat terhadap air bersih. Bab 4.13 Peningkatan Akses Masyarakat Terhadap Pendidikan Yang Berkualitas I. Pengantar Selain kesehatan, pendidikan merupakan modal dasar yang penting bagi pembentukan SDM yang berkualitas. SDM yang memiliki kesehatan dan ketrampilan pada gilirannya akan memiliki produktivitas yang tinggi. Apabila hal ini dapat diwujudkan maka pada gilirannya kesejahteraan masyarakat akan dapat diwujudkan. Sebab produktivitas yang tinggi tentunya akan segera diikuti dengan tingkat pendapatan yang memadai. Pendidikan oleh karena itu merupakan instrumen paling strategis sebagai upaya untuk perbaikan kesejahteraan masyarakat miskin dalam jangka panjang. Oleh karena itu, pencapaian pembangunan bidang kesehatan juga menjadi salah satu dari tiga komponen yang dijadikan sebagai salah satu dari tiga komponen untuk membentuk Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

143

Melihat posisi kritikal persoalan pendidikan, maka seperti juga pelayanan bidang kesehatan, pelayanan pendidikan merupakan bentuk pelayanan dasar yang menjadi hak masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah berkewajiban untuk menyediakan pelayanan bidang pendidikan tersebut kepada masyarakat. II. Kondisi Awal RPJM di Daerah Pembangunan bidang pendidikan di era globalisasi yang semakin kompetitif ini, menuntut kesiapan sumber daya manusia yang berkualitas. Tuntutan ini membawa implikasi terhadap arah dan strategi pengembangan sumber daya manusia yang mencakup berbagai aspek dan dimensi yang bersifat konstektual dan berorientasi ke depan. Tingkat produktivitas dan kompetisi seseorang sangat ditentukan oleh kemampuan dalam menumbuhkan, memproses dan menerapkan informasi yang berbasis pengetahuan dan teknologi secara efisien dan efektif. Dengan jumlah penduduk yang sedemikian besar dan banyaknya struktur umur berusia anak – anak, maka beban kuantitas penduduk dalam pengembangan pendidikan di DIY tergolong sangat besar. Walaupun demikian pelaksanaan wajib 9 tahun relatif sudah hampir dapat diselesaikan. Selain kuantitas yang banyak, sebagaimana masalah pendidikan nasional, kualitas pendidikan menjadi hal yang tak kalah penting dan mendesak. Perkembangan dunia pendidikan di DIY cukup menarik untuk diamati. Disparitas ketersediaan sarana pendidikan dan kualitas pendidikan di DIY sangat besar. Kota – kota pada umumnya memiliki sekolah – sekolah yang berkualitas dan dikelola secara mandiri. Konsekuensi umum dari adanya sekolah – sekolah bagus di kota adalah biaya pendidikan pada sekolah – sekolah seperti itu menjadi lebih mahal. Sebaliknya di beberapa wilayah bahkan pelaksanaan proses pendidikan masih berkutat pada peningkatan cakupan, atau belum beranjak pada peningkatan kualitas. Pada tahun 2003 di awal RPJMN di daerah, pendidikan diarahkan pada pembinaan pendidikan dasar, menengah, pra – sekolah dan pendidikan luar sekolah. Dalam mendorong terciptanya generasi penerus yang cerdas antara lain, telah diimplementasikan metode pembelajaran super learning, contextual teaching and learning (CTL) yaitu konsep belajar yang membantu guru mengkorelasikan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa. Disamping itu untuk tingkat SD, telah dikenalkan pada program pembelajaran bahasa Inggris dan MIPA, sehingga sistem itu mampu meningkatkan apresiasi anak – anak SD terhadap penguasaan dasar – dasar pengetahuan bahasa inggris dan MIPA secara dini. Program kurikulum berbasis kompetensi yang telah diimplementasikan pada sekolah tingkat SMA ini menjadikan siswa – siswa memiliki wawasan khusus yang life skill-nya ditentukan oleh Komite Sekolah bersama – sama sekolahnya sesuai dengan potensi daerahnya. Wawasan khusus yang dikembangkan meliputi : kecakapan berkomunikasi dalam bahasa asing, teknologi informasi, lingkungan hidup, olahraga berprestasi dan keterampilan – keterampilan siswa dalam mempersiapkan diri untuk terjun ke masyarakat global. Untuk program pendidikan pra sekolah, pemerintah provinsi DIY telah memberikan fasilitas pada penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) berupa pengadaan buku bacaan, bantuan dana

144

penyelenggaraan, bantuan biaya hidup bagi tenaga pendidik PAUD dan subsidi program makanan tambahan (PMT) bagi wajib belajar. Tekad untuk mewujudkan DIY sebagai pusat pendidikan dan IPTEK terkemuka bukanlah hal yang mudah, namun justru menjadi tantangan yang harus dihadapi terutama adanya isu – isu negatif yang dapat melunturkan citra yogyakarta sebagai kota pendidikan. Oleh karena itu menjadi kewajiban kita semua untuk membangun dan mempertahankan citra yogyakarta sebagai kota pendidikan, kota budaya dan daerah tujuan wisata. Langkah yang terus dilakukan adalah melakukan koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota, menyelenggarakan program pembinaan terhadap pelajar dan mahasiswa. Program – program lanjutan sebagai tindak lanjut dari program – program yang telah dicanangkan berupa peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan terus dilakukan dengan meningkatkan peran serta masyarakat dan swasta dalam penyelenggaraan pendidikan. Dari data yang diperoleh menunjukkan bahwa kesempatan untuk memperoleh pendidikan di DIY cukup tinggi, mencapai 90,80% sedangkan peningkatan mutu pendidikan diupayakan tidak hanya segi kuantitasnya saja tetapi juga meningkatkan segi kualitas pendidikan. Hal ini terlihat pada perolehan nilai Ebtanas murni rata – rata jenjang pendidikan di DIY yang berada di atas rata – rata Nasional. Untuk meningkatkan kualitas kelulusan, ditempuh melalui peningkatan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan. Selanjutnya untuk melanjutkan program tersebut telah dilaksanakan pendalaman dan pengembangan materi bagi guru mata pelajaran (MAPEL), guru muatan lokal, PPKN, peningkatan kemampuan guru dan tenaga administrasi dalam bidang Teknologi Informasi, Implementasi inovasi pembelajaran SD dan SMP, pembaharuan metode pembelajaran MIPA, Bahasa Inggris, IPS dan Bahasa Indonesia, pengembangan sistem pembelajaran menggunakan audio visual, pengadaan jaringan teknologi informasi, pengadaan buku pelajaran dan penunjang, pengadaan peralatan praktek untuk balai latihan, Jogja Education Expo 2005, Pembinaan Olimpiade Sains dan Teknologi bagi siswa berprestasi, Varia pendidikan melalui TVRI, Promosi Pendidikan Tinggi, Pembentukan dan Pelatihan Paskibraka, Pengembangan Wawasan Kebangsaan serta perintisan wajib belajar 12 Tahun. Angka Melek Huruf Penduduk diatas umur 15 tahun atau usia produktif dari tahun 2003 – 2005 mengalami peningkatan. Pada Tahun 2003 angka melek huruf provinsi DIY sebesar 85,75 . Tahun 2004 meningkat menjadi 85,78. Angka Melek Huruf Penduduk usia produktif tahun 2003 – 2005 dapat dilihat pada tabel IV.21:

145

Tabel IV.21 Angka Melek Huruf Pendudk Umur 15 tahun ke Atas Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2003 DI Yogyakarta Kulon Progo Bantul Gunung Kidul Sleman Kota Yogyakarta 85,75 85,20 84,61 73,36 90,87 97,22 Tahun 2004 85,78 86,41 85,76 73,43 89.70 96,69 Tahun 2005 86,72 86,72 87,12 87,00 74,62 90,63

Sumber: http://www.datastatistik-indonesia.com/component/option,com_tabel/kat,1/idtabel,111/task,menu/Itemid,906/

Dari tabel tersebut dapat terlihat bahwa kondisi awal RPJMN di daerah, angka melek huruf di Provinsi DIY telah meningkat tiap tahunnya. Hal ini menunjukkan bahwa provinsi DIY telah berhasil melaksanakan program wajib belajar dengan indikator meningkatnya angka melek huruf bahkan di kota Yogyakarta sudah 90% lebih yang melek huruf. Kondisi ketersediaan guru pada awal RPJMN dapat dilihat dari angka rasio antara murid guru pada tahun 2003 – 2004. Pada tahun tersebut rasio guru murid dari semua jenjang pendidikan sebagai berikut 1. Rasio murid guru untuk SD negeri sebesar, 16 - 17 artinya 1 guru mengajar 16 – 17 murid. Sedangkan rasio murid guru sekolah dasar swasta tahun 2004 sebesar 14, sehingga 1 guru hanya mengajar 14 orang.Nilai rasio tersebut merupakan angka yang moderat karena satu orang guru tidak mengajar banyak murid. Penyelenggara sekolah dasar yang dominan masih diperankan oleh pemrintah. Pemerintah memiliki peran yang sangat besar yaitu 1.709 yang menunjukkan angka jauh lebih besar daripada pihak swasta yang hanya 373. 2. Rasio murid terhadap guru SMP Negeri sebesar 14 . Hal ini berarti 1 guru SMP negeri mengajar 14 orang. Dan rasio murid guru SMP Swasta hanya 8. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pelayanan pendidikan di SMP swasta lebih baik karena 1 guru hanya mengajar 8 orang. 3. Rasio murid terhadap guru SMU Negeri di Provinsi DIY sebesar 12. Sedangkan Rasio Murid terhadap guru SMU swasta sebesar 7 orang, artinya satu orang guru mengajar kurang dari 10 murid atau 7 orang. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelayanan pendidikan untuk SMU sudah baik. Namun perlu dicermati bahwa pihak swasta cukup berperan dalam penyelenggaraan sekolah SMU ini. Hal ini dapat dilihat bahwa pihak swasta memberikan kontribusi lebih besar yaitu sebesar 118. Angka itu jauh lebih besar dibanding peran pemerintah yang hanya 70. Peran swasta yang besar tersebut ada di Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta.

146

Jika dilihat dari ketersediaan ruang belajar maka rata – rata kepadatan ruang belajar di SD adalah 22 siswa/kelas. Hal ini terjadi karena jumlah SD di Provinsi DIY cukup banyak sehingga penyebaran sekolah untuk jenjang SD sudah merata. Hal ini menunjukkan tingkat pelayanan pendidikan di sekolah dasar sudah baik. Sedangkan rata – rata kepadatan ruang belajar di SMP sebesar 38 dan SMA sebesar 37. Kepadatan ruang belajar per kelas tingkat SMP dan SMA lebih besar daripada SD dikarenakan jumlah sekolah SMP dan SMA lebih sedikit dibandingkan SD. III. Sasaran Yang Ingin Dicapai Sasaran yang ingin dicapai dalam bidang pembangunan pendidikan berdasarkan RPJMN Tahun 2004 – 2009 sebagai berikut : 1. Meningkatnya taraf pendidikan : a. Meningkatnya secara nyata % penduduk yang menyelesaikan wajib belajar 9 tahun : • Meningkatnya APK SD/MI/Paket A sebesar 115,76% dg jumlah siswa 27,68 juta & APK SMP/MTs/Paket B sebesar 98,09% • Meningkatnya angka melanjutkan SD/MI/Paket A ke SMP/MTs/Pake B menjadi 94% sehingga jumlah siswa baru kelas I dapat ditingkatkan dari 3,67 juta (2004/2005) menjadi 4,04 juta (2009/2010). • Meningkatnya angka penyelesaian pendidikan dengan menurunkan angka putus sekolah pada jenjang SD/MI/Paket A menjadi 2,06% dan jenjang SMP/MTs/Paket B menjadi 1,95% • Menurunnya rata-rata lama penyelesaian pendidikan pada semua jenjang dengan menurunkan angka mengulang kelas pada jenjang SD/MI/Paket A menjadi 1,63% dan jenjang SMP/MTs/Paket B menjadi 0,32% • Meningkatnya APS usia 7-12 menjadi 99,57%, usia 13-15 menjadi 96,64% sehingga anak usia 712 tahun yang bersekolah menjadi 23,81 juta & anak usia 13-15 tahun yang bersekolah menjadi 12,02 juta b. Meningkatnya signifikan partisipasi penduduk yang mengikuti pendidikan menengah diukur dari: • Meningkatnya APK jenjang pendidikan menengah (SMA/SMK/MA/Paket C) menjadi 69,34% dengan jumlah siswa menjadi 9,07 juta • Meningkatnya angka melanjutkan lulusan SMP/MTs/Paket B ke jenjang pendidikan menengah menjadi 90% sehingga jumlah siswa baru kelas I dapat ditingkatkan dari 2,36 juta (2004/2005) menjadi 3,30 juta (2009/2010).

147

•

Menurunnya rata-rata lama penyelesaian pendidikan dengan menurunkan angka mengulang kelas jenjang pendidikan menengah menjadi 0,19%

c. Meningkatnya signifikan partisipasi penduduk yang mengikuti pendidikan tinggi yang diukur dengan meningkatnya APK jenjang pendidikan tinggi menjadi 18% dengan jumlah mahasiswa menjadi 4,56 juta d. Meningkatnya proporsi anak yang terlayani pada anak usia dini e. Menurunnya angka buta aksara penduduk usia 15 tahun keatas menjadi 5% pada 2009 f. Meningkatnya akses orang dewasa untuk mendapatkan kecakapan hidup wilayah maju dan tertinggal, perkotaan dan perdesaan, daerah maju dan daerah tertinggal, penduduk kaya dan miskin, laki-laki dan perempuan 2. Meningkatnya kualitas pendidikan yang ditandai dengan: • • Tersedianya standar pendidikan nasional serta SPM untuk tingkat kabupaten/kota Meningkatnya proporsi pendidik pada jalur pendidikan formal maupun non formal yang memiliki kualifikasi minimal dan sertifikasi sesuai dengan jenjang pendidikan kewenangan mengajar • • • Meningkatnya proporsi satuan pendidikan baik negeri maupun swasta yang terakreditasi baik Meningkatkan % siswa yang lulus ujian akhir pada tiap jenjang pendidikan Meningkatnya minat baca penduduk Indonesia g. Meningkatnya keadilan dan kesetaraan pendidikan antar kelompok masyarakat termasuk antara

3. Meningkatnya efektivitas dan efesiensi manajemen pelayanan pendidikan yang diukur • • Efektifnya pelaksanaan manajemen berbasis sekolah Meningkatnya anggaran pendidikan baik yang bersumber dari APBN maupun APBD sebagai prioritas nasional yang tinggi didukung oleh terwujudnya sistem pembiayaan yang adil, efisien, efektif, transparan dan akuntabel • • Meningkatnya peran serta masyarakat dalam pembangunan pendidikan Meningkatnya efektivitas pelaksanaan otonomi keilmuan Sedangkan Pembangunan bidang pendidikan provinsi DIY berdasarkan Renstrada diprioritaskan pada peningkatan aksesibilitas dan kualitas pendidikan serta rekonstruksi infrastruktur pendidikan dan normalisasi proses belajar/Mengajar, dengan sasaran pembangunan sebagai berikut : a. Mengembalikan kegiatan belajar mengajar pada posisi sebelum gempa b. Meningkatkan penduduk yang mendapatkan pelayanan dan fasiltisasi pendidikan. c. Meningkatkan mutu pendidikan untuk memudahkan mengakses anak didik/lulusan sekolah terhadap dunia kerja. dan desentralisasi pendidikan termasuk otonomi

148

IV. Arah Kebijakan Sesuai dengan amanat undang-undang otonomi daerah (UU No.22/1999 yang direvisi menjadi UU No.32/2004) maka pemerintah daerah Kabupaten/kota dan provinsi berkewajiban untuk menyelenggarakan urusan pelayanan pendidikan dasar dan menengah bagi masyarakat. Dalam rangka mewujudkan misi yang harus diembannya tersebut maka Provinsi DIY menyusun RENSTRA pembangunan bidang pendidikan. Visi pembangunan bidang pendidikan Provinsi DIY adalah Menjadi katalisator menuju pemerataan pendidikan yang bermutu tinggi. Sedangkan misi pembangunan bidang pendidikan sebagai berikut : • • Mewujudkan peningkatan pelayanan instansi dan sumberdaya manusia dalam mendukung tugas bidang pendidikan Mewujudkan peningkatan peran Dinas Pendidikan dalam mendorong perluasan kesempatan dan pemerataan memperoleh pendidikan yang bermutu tinggi, meningkatkan kemampuan akademik dan profesional, pemberdayaan lembaga pendidikan, dan pembaharuan sistem pendidikan berdasarkan prinsip desentralisasi serta otonomi pendidikan. Visi dan misi Dinas Pendidikan Provinsi DIY tersebut disusun atas dasar RENSTRA Bidang Pendidikan yang memuat hal-hal yang berkaitan dengan kebijakan pendidikan antara lain : a. Kebijakan Pendidikan Kebijakan pemerintah untuk meningkatkan kualitas SDM ini didasarkan kepada pemikiran bahwa pendidikan tidak sekedar menyiapkan peserta didik agar mampu masuk dalam pasaran kerja, namun lebih daripada itu, pendidikan merupakan salah satu upaya pembangunan watak bangsa (national character building), seperti kejujuran, keadilan, keikhlasan, kesederhanaan dan keteladanan. Arah kebijakan peningkatan, perluasan dan pemerataan pendidikan dilaksanakan pula melalui, antara lain penyediaan fasilitas layanan pendidikan berupa pembangunan unit sekolah baru, penambahan ruang kelas dan penyediaan fasilitas pendukungnya, juga disediakan berbagai pendidikan alternatif bagi masyarakat yang membutuhkan perhatian khusus, serta penyediaan berbagai beasiswa dan bantuan dana operasional sekolah yang dalam pelaksanaannya dilakukan dengan melibatkan peran aktif masyarakat. b. Tingkat Melek Huruf Penduduk di wilayah Propinsi DIY memiliki angka yang cukup tinggi untuk tingkat melek huruf. Ini berarti rata-rata penduduk sudah mampu membaca dan menulis, sehingga dapat menangkap berbagai informasi dengan baik. Adanya kemampuan membaca dan menulis ini diharapkan kehidupan para penduduknya dapat lebih baik dan terjamin. c. Partisipasi Sekolah Partisipasi penduduk DIY dalam bidang pendidikan pada setiap jenjang pendidikan mulai dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), diharapkan akan dapat memberikan gambaran kualitas sumberdaya

149

manusia yang potensial di masa datang. Dalam hal ini, salah satu ukuran yang digunakan untuk melihat tingkat partisipasi pendidikan adalah Gross Enrollment Ratio (GER). GER adalah proporsi penduduk yang masih sekolah pada jenjang tertentu terhadap penduduk usia sekolah yang bersangkutan. Angka partisipasi sekolah pada pendidikan dasar SD lebih tinggi dibandingkan dengan angka partisipasi SMP dan SMA. Besarnya partisipasi sekolah pendidikan dasar menunjukkan keberhasilan Pemerintah dalam mengimplementasikan program wajib pendidikan dasar 9 tahun yang dimulai sejak tahun 1994 telah memberikan hasil yang cukup baik. d. Tingkat Pendidikan Seseorang yang mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi akan lebih mudah mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan menyerap kemajuan teknologi. Sebagai sumberdaya manusia yang berkualitas, maka tamatan pendidikan tinggi diharapkan mampu meningkatkan produktivitasnya sebagai tenaga kerja. Selanjutnya, peningkatan produktivitas seseorang dalam bekerja diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. e. Pemerataan dan Peningkatan Mutu Pendidikan pada setiap Jenis dan Jenjang Pendidikan Kualitas pendidikan menyangkut kualitas proses dan kualitas produk. Pendidikan dikatakan bermutu dari segi proses yaitu apabila proses belajar mengajar, yang ditunjang oleh sumberdaya manusia, dana, sarana dan prasarana yang memadai. Pendidikan dikatakan berkualitas apabila dapat mendekati tuntutan tujuan pendidikan nasional, yang indikatornya meliputi keimanan/ketaqwaan, intelektual, kepribadian, ketrampilan serta rasa sosial dan kebangsaan. Beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan dalam upaya pemerataan dan peningkatan mutu pendidikan antara lain pemberian beasiswa murid berprestasi khususnya bagi keluarga yang kurang mampu, pengadaan buku dan alat penunjang pendidikan, peningkatan mutu guru melalui berbagai DIKLAT, penyelenggaraan SMP Terbuka, pembangunan Ruang Kelas Baru (RKB) dan Unit Sekolah Baru (USB) dan ruang pendidikan lainnya. f. Peningkatan Relevansi Pendidikan dengan Kebutuhan Pendidikan Pendidikan dikatakan relevan jika memenuhi kebutuhan peserta didik, kebutuhan masyarakat, dan kebutuhan pembangunan. Kebijakan “link and match” merupakan salah satu strategi untuk meningkatkan relevansi pendidikan. Kegiatan yang telah dilaksanakan dalam upaya peningkatan relevansi pendidikan dengan kebutuhan pembangunan yaitu penyelenggaraan Pendidikan Sistem Ganda (PSG) pada Sekolah Menengah Kejuruan (PMK), Program Broad Basic Education (BBE), Program Kejar Paket A, B, C, Program Magang dan Kerja Usaha dan program Sarjana Penggerak Pembangunan di Pedesaan (SP3). g. Peningkatan Efisiensi dan Efektivitas Penyelenggaraan Pendidikan

150

Upaya pendidikan dapat dikatakan efisien dan efektif apabila dapat mencapai hasil yang optimal. Dalam konteks luas efisien dan efektivitas berkaitan dengan profesionalisme dalam manajemen pendidikan yang meliputi tingkat disiplin, kesetiaan, etos kerja, kemampuan, transparansi, serta akuntabel yang baik. Bentuk kegiatan yang telah berjalan berupa pemberian subsidi ke sekolah-sekolah melalui kegiatan block grant utamanya yang mengarah pada Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Kegiatan ini merupakan kegiatan yang memberikan wewenang secara penuh kepada masing-masing sekolah untuk melaksanakan program tersebut sesuai dengan kebutuhannya. h. Peran Masyarakat dalam Penyelenggaraan Pendidikan Salah satu yang menjadikan DIY lebih menonjol dalam bidang pendidikan adalah keberadaan lembaga pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat (non-pemerintah), karena pada dasarnya pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, orang tua dan masyarakat yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan demikian, dukungan yang diberikan oleh masyarakat sangatlah penting dan tak terpisahkan dalam setiap penyelenggaraan pendidikan. Beberapa kegiatan yang dilaksanakan antara lain program imbal swadaya (matching grant) dan pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang dirintis mulai tahun 2002. Pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat di DIY meliputi: 1) Pendidikan Formal, mulai pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi, seperti yang diselenggarakan oleh yayasan-yayasan (Taman Siswa, Muhammadiyah, BOPKRI, PIRI, dan sebagainya) dengan jumlah lembaga pendidikan swasta yang lebih banyak daripada lembaga pendidikan negeri. 2) Pendidikan Non-Formal, seperti Pondok Pesantren, Panti Asuhan yang menyelenggarakan pendidikan, Lembaga-lembaga Pendidikan Kejuruan (LPK), dan sebagainya. 3) Pendidikan informal, yaitu pendidikan yang dilakukan secara mandiri oleh keluarga dan lingkungan. Salah satu konsepsi yang dikembangkan dalam rangka pemberdayaan masyarakat Yogyakarta adalah menjadikan perpustakaan sebagai rumah belajar modern (Community Learning Centre/CLC). Untuk mewujudkan konsepsi tersebut Pemerintah Propinsi DIY telah menyediakan fasilitas gedung eks Muskala untuk dimanfaatkan sebagai CLC yang kemudian diberi nama Jogjakarta Study Centre (JSC), dan akan dikembangkan di tempat-tempat lain. Sedangkan kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan berdasarkan prioritas pembangunan adalah : 1. Rehabilitasi dan rekonstruksi sekolah dasar 2. Fasilitasi pendidikan agama 3. Fasilitasi rehabilitasi ringan SMP (berupa bantuan)

151

4. Pemerataan dan perluasan kesempatan dan kemudahan memperoleh pendidikan terutama bagi masyarakat yang tidak mampu. 5. Peningkatan mutu dan relevansi pendidikan melalui peningkatan anggaran pendidikan dan kesejahteraan bagi pelaku pendidikan. 6. Pemantapan pelaksanaan tata kelola yang baik V. Pencapaian RPJMN di Daerah 5.1 Capain RPJMN di Daerah Indikator kinerja yang digunakan oleh pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta untuk mengukur keberhasilan pembangunan bidang pendidikan berdasarkan prioritas pembangunan yang telah ditetapkan sebagai berikut : 1. Pendidikan anak usia dini target 47% 2. Wajib Belajar Pendidikan dasar sembilan tahun target 92,18% 3. Pendidikan menengah target 77,50% 4. Pendidikan Non Formal target 42,50% 5. Pendidikan luar biasa target 33,28% 6. Peningkatan Mutu Pendidik dan tenaga kependidikan target 65% 7. Manajemen Pelayanan pendidikan target 100% 8. Pendidikan tinggi target 80% 9. Peningkatan peran serta kepemudaan target 73% 10. Peningkatan upaya penumbuhan kewirausahaan dan kecakapan hidup pemuda target 70% 11. Pembinaan dan pemasyarakatan olah raga target 100% 12. Pengembangan budaya baca dan pembinaan perpustakaan target 80% Pencapaian kinerja berdasarkan indikator utama diatas sebesar 102,19%. Lebih lanjut dapat dilihat dalam tabel dibawah ini : Tabel IV.22 Capaian Program Peningkatan Aksesibiltas dan kualitas pendidikan serta rekonstruksi infrastruktur pendidikan dan normalisasi proses belajar/mengajar No 1 2 3 4 5 6 7 Indikator Kinerja Pendidikan anak usia dini Wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun Pendidikan menengah Pendidikan Non Formal Pendidikan Luar Biasa Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Manajemen Pelayanan pendidikan Target (%) 47,00 92,18 77,50 42,50 33,28 65,00 100,00 Realisasi (%) 47,43 94,72 80,50 43,34 34,17 65,51 102,19 % Capaian 100,91 102,76 103,88 101,98 102,67 100,79 02,19

152

No 8 9 10 11 12

Indikator Kinerja Target (%) Pendidikan Tinggi 80,00 Peningkatan Peran Serat Kepemudaan 73,00 Peningkatan upaya penumbuhan kewirausahaan 70,00 dan kecakapan hidup pemuda Pembinaan dan pemasyarakatan olah raga 100,00 Pengembangan budaya baca dan pembinaan 80,00 perpustakaan 71,86

Realisasi (%) 80,73 75,06 73,48 100,09 82,09 73,27

% Capaian 100,91 102,83 104,97 100,096 102,62 102,19

Sumber : Laporan Akuntabilitas Kinerja Propinsi DIY Tahun 2007

Lebih lanjut, Upaya yang dilakukan Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa untuk mencapai sasaran pembangunan bidang pendidikan adalah sebagai berikut : 1. Peningkatan aksesibilitas pendidikan Program ini adalah upaya meningkatkan angka partisipasi peserta didik dalam pendidikan, baik formal maupun non formal. Indikator yang digunakan untuk mengukur keberhasilan program pembangunan ini adalah angka partisipasi kasar dan angka partisipasi murni di semua jenjang pendidikan. Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD mencapai 43,9% dari target 47%, APK SD/MI mencapai 110, 99% atau meningkat dari target 47% dari tahun 2006 (109,24%), APK SMP/MTs mencapai 110,13% atau meningkat 9,21% dari tahun 2006 (100,92%), dan pendidikan menengah mencapai 78,30% atau meningkat 1,57% dari tahun 2006 (76,73%). Sementara itu, pendidikan tinggi juga mengalami peningkatan jumlah mahasiswa baru dari 48,938 orang pada tahun 2006 menjadi 56,372 orang pada tahun 2007. Tabel IV.23 Angka Partisipasi Kasar (APK) / Gross Enrolment Ratio (GER) menurut Jenis Kelamin dan Kelompok Umur Tahun 2006 DI Yogyakarta L P 109,99 89,83 71,74 L+P 107,97 91,30 72.57 L 110,32 81,25 56,00 Indonesia P 109,56 82,53 57,42 L+P 109,95 81,87 56,59

Sekolah Dasar Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Sekolah Lanjutan Tingkat Umum/Kejuruan

106,24 92,96 73,29

Sumber: Statistik Pendidikan 2006 hal. 106,109, dan 112

153

Tabel diatas menunjukkan bahwa angka partisipasi kasar (APK) SD, SMP dan SMA di Propinsi DIY rata – rata masih diatas angka partisipasi kasar tingkat nasional. Hal ini berarti tingkat kesadaran masyarakat untuk berpendidikan di Provinsi DIY lumayan tinggi dibandingkan rata – rata di tingkat nasional. Sedangkan Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI 95,94% sampai akhir tahun 2007 terjadi kenaikan 1,77% atau menjadi 97,71%, sedangkan untuk jenjang SMP/MTs dan Sekolah Menengah mengalami kenaikan dari tahun 2003 sampai 2007 seperti tersebut dibawah ini : • • APM SMP/MTS tahun 2003 menunjukkan 73,66% sampai dengan akhir tahun 2007 mengalami kenaikan 4,46% atau menjadi 78,12%. APM sekolah menengah sampai tahun 2008 mengalami kenaikan sebesar 12,59% (57,31%) dibanding tahun 2003 sebesar 44,72%. Keberhasilan meningkatkan akses pendidikan ini ditunjang dengan beberapa program antara lain Bantuan Operasional Sekolah (BOS) pada jenjang pendidikan dasar dan program Rintisan Pelaksanaan Wajib Belajar 12 tahun yang sudah dilaksanakan mulai tahun 2005 dengan kegiatan Retrieval yang bertujuan mengembalikan anak putus sekolah ke bangku sekolah dan Beasiswa Rawan Putus Sekolah (RAPUS). Beasiswa RAPUS ini ditujukan bagi masyarakat yang mempunyai kesulitan ekonomi baik tingkat SMP maupun SMA/MA dan SMK. Peluncuran program rintisan wajib belajar 12 tahun pada tahun 1999 juga memberikan sumbangan pada keberhasilan upaya meningkatkan angka partisipasi masyarakat dan menekan angka putus sekolah pada pendidikan menengah. Di lain pihak, untuk memberikan layanan pendidikan kepada anak berkebutuhan khusus yang belum terlayani (1.391 ABK), pemerintah provinsi DIY bekerjasama dengan pemerintah pusat telah membangun 3 SLB Negeri. Program pemberantasan buta aksara sebagai salah satu program untuk mencapai sasaran pembangunan millenium atau Millenium Development Goals (MDG’s) dapat dilaksanakan dengan hasil yang menggembirakan, dengan prioritas diberikan pada buta aksara usia produktif 15 – 44 tahun. Pada tahun 2006 penyandang buta aksara usia 15 – 44 tahun berjumlah 26. 183 orang dan pada akhir tahun 2007 angka tersebut berhasil diturunkan menjadi 14.159 orang atau berkurang sebanyak 12.024 orang (45,9%). Ditargetkan bahwa pada tahun 2008 akan berkurang sebanyak 10.156 orang sehingga sisanya sebanyak 4.003 orang diselesaikan sampai tahun 2009. Sarana gedung sekolah pada tahun 2006 mengalami kondisi yang sangat buruk akibat adanya gempa bumi 27 Mei 2006 yang merusakkan dan menghancurkan sarana pendidikan di DIY. Dari data yang dihimpun oleh Poski Di Dinas Pendidikan tercatat bangunan yang hancur dan rusak adalah SD/MI 1.890 unit, SMP/MTs 296 unit, SMA/MA 112 unit SMK 105 unit dan SLB 27 unit. Dari data tersebut di atas pemerintah provinsi DIY telah membangun sebanyak 220 gedung SD, 25 gedung SMP dan 25 gedung SMA, sedangkan gedung yang lain telah selesai dibangun dan diperbaiki oleh para donatur sehingga sampai awal tahun 2008 ini tidak ada sekolah yang masih rusak akibat gempa bumi 26 Mei 2006.

154

Sedangkan untuk pembangunan unit sekolah baru untuk menambah daya tampung bagi anak – anak berkebutuhan khusus dilakukan pada Sekolah Luar Biasa yang berada di Kabupaten Sleman, Gunung Kidul dan Kulon Progo. Rekonstruksi semua bangunan sekolah yang rusak karena gempa berhasil diselesaikan oleh Pemerintah Propinsi DIY bersama dengan pemerintah pusat, NGO dan masyarakat. Oleh karena itu dengan tuntasnya rekonstruksi infrastruktur pendidikan maka semua proses belajar mengajar telah berjalan normal. Peningkatan Aksesibilitas pendidikan juga dapat dilihat dari rasio murid terhadap kelas. Apabila rata – rata kepadatan ruang belajar di semua jenjang pendidikan mengalami penurunan. Berarti ketersediaan ruang belajar sudah memadai dan mencukupi untuk semua murid. Sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik. Rata – rata kepadatan ruang belajar di SD adalah 22 siswa/kelas. Rasio murid terhadap kelas di SMP Negeri rata – rata sekitar 37. Sedangkan rasio murid terhadap kelas SMA Negeri di Provinsi DIY sebesar 36 siswa/kelas. Tingkat kepadatan ruang belajar tahun 2006 dibandingkan tahun 2005 untuk semua jenjang pendidikan rata – rata mengalami penurunan, seperti yang terlihat pada tabel IV.24, tabel IV.25 dan tabel IV.26. Hal ini menunjukkan bahwa penyediaan sarana dan prasarana infrastruktur di bidang pendidikan mengalami peningkatan. Tabel IV.24 Rasio Murid terhadap Kelas Sekolah Dasar Negeri Menurut Kabupaten/Kota Di Propinsi DIY Kulon Progo Bantul Gunungkidul Sleman Yogyakarta Propinsi DIY
Sumber : DIY Dalam Angka 2005 – 2006

2005/2006 18 24 20 27 27 23

2006/2007 17 24 20 25 28 22

Tabel IV.25 Rasio Murid terhadap Kelas SLTP Negeri menurut Kabupaten/Kota Di Propinsi DIY Kulon Progo Bantul Gunungkidul Sleman Yogyakarta Propinsi DIY
Sumber : DIY Dalam Angka 2005 – 2006

2005/2006 40 39 37 38 40 39

2006/2007 34 39 36 39 39 37

155

Tabel IV.26 Rasio Murid terhadap Kelas SLTP Negeri menurut Kabupaten/Kota Di Propinsi DIY Kulon Progo Bantul Gunungkidul Sleman Yogyakarta Propinsi DIY
Sumber : DIY Dalam Angka 2005 – 2006

2005/2006 40 37 32 38 37 37

2006/2007 32 38 33 37 37 36

2. Peningkatan Mutu Pendidikan Peningkatan mutu pendidikan dapat dilihat dari tingkat kelulusan dan kenaikan perolehan nilai ujian nasional. Hasil yang telah dicapai pada tahun 2005 adalah meningkatnya mutu kelulusan pendidikan dasar dari target 5% (dari 63% menjadi 75,3%) tercapai 12,73%, pendidikan menengah dari target 5% (dari 45,5% menjadi 88,36%) tercapai 32,86%, Pendidikan Non Formal dari target 5% (dari 69% menjadi 84,03%) tercapai 15,03%. Hal ini disebabkan bimbingan intensif yang dilakukan oleh sekolah – sekolah maupun kesadaran orang tua dan murid untuk memperoleh materi tambahan pelajaran. Kondisi pelaksanaan bidang pendidikan akibat gempa bumi 27 Mei 2006 mengalami perubahan terutama karena banyaknya sarana dan prasarana pendidikan dan perpustakaan yang rusak akibat bencana dan prasarana pendidikan dan perpustakaan yang rusak akibat bencana tersebut, antara lain adalah rusaknya bangunan SD/MI sebanyak 1890 unit, SMP/MTs 296 unit, SMA/MA 112 unit SMK 105 unit dan SLB 27 unit. Dengan rusaknya sarana pendidikan tersebut pemerintah provinsi DIY dan berbagai pihak telah membangun tempat belajar sementara agar proses belajar mengajar tetap berlangsung. Walaupun pada tahun 2006 kondisi pembelajaran terganggu akibat gempa bumi, berbagai kegiatan di bidang pendidikan masih dapat berjalan, seperti pelaksanaan USEKDA untuk SD/MI dan Ujian Nasional untuk SMP dan SMA. Jumlah Nilai rata – rata ujian Nasional SMP/MTs DIY mencapai 22,03 atau naik 2,47 dari tahun 2005 (19,56%), SMA/MA IPA mencapai 23,19 atau naik 2,13 dari tahun 2005 (21,06), SMA/MA IPS mencapai 21,47 atau naik 2,68 dari tahun 2005 (18,79), SMA/MA Bahasa mencapai 23,23 atau naik 1,53 dari tahun 2005 (21,70), sedangkan SMK mencapai 27,58 atau naik 0,61 dari tahun 2005 (26,97). Prestasi di bidang pendidikan secara umum masih stabil, bahkan mengalami peningkatan. Pada kegiatan Olimpiade Sains 2006 ini kontingen DIY yang terdiri dari siswa SD, SMP, dan SMA meraih 3 medali emas, 12 perak dan 18 perunggu. Sedangkan untuk akses pendidikan dapat dilihat pada APM SD/MI 93,69% atau menurun 2,35% dari tahun 2005 (96,04), APM SMP/MTs 76,21% atau naik 0,36% dari tahun 2005 (75,85%), sedangkan APM SMU 52,11% atau naik 2,21% dari tahun 2005 (49,90%). Program – program dalam tahun 2007 diarahkan untuk menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas baik formal mulai pra

156

sekolah, SD, SMP, SMU/SMK maupun non formal. Dampak kebijakan pemerataan pendidikan, terutama kebijakan wajib belajar 9 tahun sudah menunjukkan angka yang tinggi dan berhasil dituntaskan pada tahun 1996 baik melalui pendidikan formal maupun pendidikan non formal. Pada tahun 2007 terjadi kenaikan secara keseluruhan rata – rata perolehan nilai ujian nasional siswa DIY sehingga berada di atas rata – rata nasional. Untuk SMP, DIY menempati peringkat ke-7 nasional dengan nilai rata-rata 7,20 atau 0,18 di atas rata – rata nasional 7,02. Untuk SMA IPA, DIY menempati peringkat ke 6 nasional dengan nilai rata-rata 7,15. Untuk SMA IPS, DIY menempati peringkat ke 8 nasional dengan nilai 7,15 atau 0,26 di atas rata-rata nasional 6,89. Untuk SMA Bahasa, DIY menempati peringkat ke 4 nasional dengan nilai rata-rata 7,81 atau 0,61 di atas rata-rata nasional 7,20. Sementara itu untuk SMK, DIY menempati peringkat ke 13 nasional dengan nilai rata-rata 7,05 atau 0,14 di bawah rata-rata nasional 7,19. Untuk mencapai hasil yang lebih tinggi, diperlukan upaya-upaya yang lebih efektif, yang dapat dilakukan berdasarkan hasil evaluasi. Peningkatan mutu juga ditunjukkan dalam prestasi yang diukir kontingen olimpiade Sains Nasional yang diikuti oleh siswa SD, SMP dan SMA pada tahun 2007. DIY menempati peringkat ke 5 nasional dengan perolehan medali emas sebanyak 5 medali, perak 9 medali, dan perunggu sebanyak 19 medali. Sedangkan untuk prestasi siswa sekolah menengah kejuruan yang diwadahi dalam Lomba Kompetensi Siswa (LKS) tingkat nasional siswa kontingen DIY menempati juara umum ke 7, sedangkan untuk gelar prestasi dan bela negara siswa SMK tingkat nasional menempati juara umum ke 2. Untuk prestasi di bidang olah raga pelajar di tingkat nasional (POPNAS) kontingen DIY baru bisa menempati urutan 24 dan jauh dari target yang direncanakan yaitu peringkat 10. Selain itu upaya peningkatan mutu tidak hanya ditekan pada siswa saja tetapi juga pada tenaga pendidik. Upaya tersebut diwujudkan dalam pendidikan dan latihan metode pembelajaran Super Learning, Contextual Teaching and Learning (CTL) yaitu konsep belajar yang membantu guru mengkorelasikan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata. Diklat tersebut dilaksanakan mulai tahun 2003 sampai tahun 2005 untuk jenjang pendidikan dasar. Upaya peningkatan wawasan dan keterampilan dalam teknologi informasi bagi pendidik dan tenaga kependidikan juga telah dilaksanakan yaitu diklat penggunaan dan pemanfaatan TIK mulai tahun 2004 sampai dengan sekarang bertempat di ICT Training Center. Diklat ini dari tahun 2004 sampai sekarang sudah meluluskan 1.890 orang pendidik dan tenaga kependidikan. Hal ini seiring dengan tuntutan jaman globalisasi dan mendukung implementasi Digital Government Services yang merupakan program Pemerintah Provinsi DIY. Sebagai aktualisasi mutu tenaga pendidikan di DIY dapat dibuktikan dengan diraihnya berbagai macam kejuaraan tingkat nasional oleh para guru DIY antara lain pada tahun 2006 terpilih guru berprestasi tingkat nasional jenjang TK juara 1, SMA juara 1 sedangkan untuk jenjang SD mendapat juara 1 Lomba Kreatifitas dalam pembelajaran tingkat Nasional.

157

Upaya peningkatan mutu pendidikan juga dilakukan dengan menekan rasio guru murid menjadi lebih kecil. Jika nilai rasio murid dan guru kecil berarti guru lebih bisa berkosentrasi untuk mendidik muridnya karena muridnya tidak terlalu banyak sehingga dapat menghasilkan lulusan yang terbaik. Rasio murid terhadap guru pada semua jenjang pendidikan di Provinsi DIY mengalami penurunan. Hal ini menunjukkan tingkat pelayanan di bidang pendidikan lebih baik karena ketersediaan guru lebih besar sehingga lebih bisa fokus terhadap anak didik. Rasio murid dan guru di Provinsi DIY sebagai berikut : a. Rasio Murid terhadap guru sekolah dasar baik negeri dan swasta adalah 8. Artinya 1 orang guru mengajar murid kurang dari 10. Sedangkan rasio murid terhadap guru negeri maupun swasta tiap tahun rata – rata mengalami penurunan, seperti yang terlihat pada tabel IV.27 dan tabel IV.28. Hal ini menunjukkan peningkatan pelayanan pendidikan di jenjang Sekolah Dasar. Tabel IV.27 Rasio Murid Terhadap Guru SD Negeri menurut Kabupaten dan Kota Di Propinsi DIY Tahun 2003 – 2006 Kulon Progo Bantul Gunungkidul Sleman Yogyakarta Propinsi DIY 2003/2004 13 16 2003/2004 17 17 18 16 2004/2005 19 17 2004/2005 16 17 18 17 2005/2006 14 14 2005/2006 13 16 14 14 2006/2007 12 13 2006/2007 13 13 14 13

Sumber : DIY Dalam Angka 2003 – 2006

Tabel IV.28 Rasio Murid Terhadap Guru SD Swasta menurut Kabupaten dan Kota Di Propinsi DIY Tahun 2003 – 2006 Kulon Progo Bantul Gunungkidul Sleman Yogyakarta Propinsi DIY 2003/2004 10 15 2003/2004 26 12 20 15 2004/2005 13 9 2004/2005 15 14 19 14 2005/2006 12 13 2005/2006 11 14 17 14 2006/2007 10 14 2006/2007 12 14 18 14

Sumber : DIY Dalam Angka 2003 – 2006

b. Rasio murid terhadap guru SMP baik negeri dan swasta di Provinsi DIY pada tahun 2006 sebesar 9. Artinya 1 guru mengajar 9 murid. Seperti halnya di tingkat SD , angka rasio murid terhadap guru SMP juga dibawah 10. Angka ini menunjukkan nilai moderat karena satu orang guru tidak mengajar banyak

158

murid. Rasio murid terhadap guru SMP Negeri maupun Swasta sejak tahun 2003 – 2006 mengalami penurunan seperti yang terlihat pata tabel IV.29 dan IV.30. Tabel IV.29 Rasio Murid Terhadap Guru SMP Negeri menurut Kabupaten dan Kota Di Propinsi DIY Tahun 2003 – 2006 Kulon Progo Bantul Gunungkidul Sleman Yogyakarta Propinsi DIY 2003/2004 13 13 14 14 8 12 2004/2005 17 14 15 13 14 14 2005/2006 12 13 13 12 14 13 2006/2007 10 12 9 3 12 11

Sumber : DIY Dalam Angka 2003 – 2006

Tabel IV.30 Rasio Murid Terhadap Guru SMP Swasta menurut Kabupaten dan Kota Di Propinsi DIY Tahun 2003 – 2006 Kulon Progo Bantul Gunungkidul Sleman Yogyakarta Propinsi DIY 2003/2004 6 6 7 6 8 7 2004/2005 4 7 8 6 12 8 2005/2006 6 7 8 6 11 8 2006/2007 6 7 9 7 11 8

Sumber : DIY Dalam Angka 2003 – 2006

c.

Rasio Murid terhadap Guru SMA di Propinsi DIY sebesar 7. Ini berarti satu orang guru mengajar 7 murid. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelayanan pendidikan pada jenjang SMU di Propinsi DIY sudah baik. Rasio Murid dan Guru SMA baik Negeri dan Swasta dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2006 mengalami penurunan, seperti yang terlihat pada tabel IV.31 & tabel IV.32. Hal ini juga menunjukkan peningkatan ketersediaan guru di Provinsi DIY. Sehingga bisa ditarik kesimpulan bahwa Ketersediaan guru dari tahun ke tahun memadai. Tabel IV.31 Rasio Murid Terhadap Guru SMA Negeri menurut Kabupaten dan Kota Di Propinsi DIY Tahun 2003 – 2006 Kulon Progo Bantul Gunungkidul Sleman Yogyakarta Propinsi DIY 2003/2004 12 13 12 3 8 11 2004/2005 11 13 11 3 13 12 2005/2006 10 12 10 3 13 11 2006/2007 10 12 9 3 12 11

Sumber : DIY Dalam Angka 2003 – 2006

159

Tabel IV.32 Rasio Murid Terhadap Guru SMA Swasta menurut Kabupaten dan Kota Di Propinsi DIY Tahun 2003 – 2006 Kulon Progo Bantul Gunungkidul Sleman Yogyakarta Propinsi DIY 2003/2004 6 6 5 3 8 7 2004/2005 4 5 5 3 10 7 2005/2006 4 5 5 3 10 7 2006/2007 4 6 6 3 9 7

Sumber : DIY Dalam Angka 2003 – 2006

3. Pencitraan publik dan manajemen layanan pendidikan Dalam rangka meningkatkan dan mengembalikan citra tempat pendidikan, pemerintah provinsi DIY melakukan berbagai upaya melalui program promosi pendidikan DIY dengan kegiatan pameran pendidikan, talkshow, seminar pendidikan baik di dalam provinsi maupun di Ibukota Provinsi di luar DIY yang masyarakatnya mempunyai peluang untuk belajar di DIY. Peningkatan jumlah mahasiswa baru yang ditampung di perguruan tinggi dapat dilihat dari data yang ada pada BPS di DIY dan Dinas Pendidikan Provinsi DIY sebagai berikut, pada tahun 2005 jumlah mahasiswa baru 46.963 mahasiswa atau mengalami penurunan sebanyak 1.587 mahasiswa jika dibanding tahun 2004 (48.550), tetapi pada tahun 2006 mengalami kenaikan sebesar 1.975 mahasiswa atau menjadi 48.938 mahasiswa, dan pada tahun 2007 mengalami kenaikan 7.434 mahasiswa atau menjadi 56,372 mahasiswa baru. Upaya perbaikan layanan pendidikan juga telah dilakukan dengan membangun koordinasi secara terus menerus dengan semua pemangku kepentingan baik di dalam provinsi maupun dengan pusat. Dalam rangka memberikan layanan pendidikan baik untuk masyarakat sekolah, guru dan siswa maupun untuk masyarakat umum telah dibangun portal pendidikan dengan nama jogjabelajar.org. Sarana ini diluncurkan pada awal tahun 2007. Layanan yang diberikan dalam jogjabelajar.org. adalah lebih pada pemberian layanan tambahan sumber belajar untuk semua jenjang dan jenis pendidikan baik formal, non formal maupun informal. Layanan pendidikan ini merupakan layanan dua arah sehingga masyarakat dapat berkontribusi dalam memberikan materi pembelajaran atau materi yang berkaitan dengan pendidikan. Indikator-indikator ini dirumuskan berdasarkan RENSTRA kemudian indikator tersebut akan digunakan untuk melihat hasil atau kinerja pembangunan bidang pendidikan. Keberhasilan pembangunan di bidang pendidikan juga dapat dilihat dari tingkat partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. Peran masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan dapat dilihat dari jumlah sekolah yang ada di Provinsi DIY. Untuk sekolah Dasar penyelenggaraan pendidikan lebih banyak diperankan oleh pemerintah karena jumlah sekolah dasar negeri lebih banyak daripada swasta. Namun jika dilihat dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2006 jumlah sekolah dasar baik negeri maupun swasta mengalami penurunan seperti yang terlihat pada tabel IV.33. Sedangkan pada

160

jenjang pendidikan yang lebih tinggi, penyelenggaraan pendidikan lebih banyak diperankan oleh swasta. Karena Proporsi SMU swasta lebih banyak daripada SMU Negeri. Hal ini yang menyebabkan angka putus sekolah yang tinggi. Secara keseluruhan jumlah SMP di Provinsi DIY dari tahun 2004 – 2006 mengalami peningkatan sedangkan jumlah SMA dari tahun 2004 – 2006 mengalami penurunan seperti yang terlihat dalam tabel IV.34 dan IV.35 Tabel IV.33 Jumlah Sekolah pada Selolah Dasar Negeri dan Swasta menurut kabupaten dan Kota di Propinsi D.I. Yogyakarta, 1999-2005 2003/2004 2004/2005 2005/2006 2006/2007 Negeri Swasta Negeri Swasta Negeri Swasta Negeri Swasta Kulonprogo 39 32 311 60 308 61 304 61 Bantul 48 42 373 69 373 71 373 71 Gunungkidul 49 49 453 53 447 52 445 51 Sleman 54 54 403 111 387 111 387 112 Yogyakarta 16 42 141 84 127 81 118 79 Propinsi DIY 206 219 1.681 377 1.642 376 1627 374
Sumber: Dinas Pendidikan propinsi D.I. Yogyakarta dalam DIY Dalam Angka 2003-2005

Tabel IV.34 Jumlah Sekolah pada SLTP Negeri dan Swasta menurut kabupaten dan Kota di Propinsi D.I. Yogyakarta, 1999-2005 2003/2004 2004/2005 2005/2006 2006/2007 Negeri Swasta Negeri Swasta Negeri Swasta Negeri Swasta Kulonprogo 39 32 36 31 36 32 36 32 Bantul 48 42 48 37 48 38 48 38 Gunungkidul 49 49 50 49 52 49 53 49 Sleman 54 54 54 47 54 48 54 49 Yogyakarta 16 42 16 44 16 43 16 42 Propinsi DIY 206 219 204 208 206 210 207 210
Sumber: Dinas Pendidikan propinsi D.I. Yogyakarta dalam DIY Dalam Angka 2004

Tabel IV.35 Jumlah Sekolah pada SMU Negeri dan Swasta menurut kabupaten dan Kota di Propinsi D.I. Yogyakarta, 1999-2005 2003/2004 2004/2005 2005/2006 2006/2007 Negeri Swasta Negeri Swasta Negeri Swasta Negeri Swasta Kulonprogo 11 8 11 8 11 8 11 6 Bantul 19 20 19 17 19 17 19 17 Gunungkidul 12 17 12 16 12 14 12 13 Sleman 17 34 17 34 17 33 17 33 Yogyakarta 11 39 11 39 11 38 11 37 Propinsi DIY 70 118 70 114 70 110 70 106
Sumber: Dinas Pendidikan propinsi D.I. Yogyakarta dalam DIY Dalam Angka 2004

161

5.2 Permasalahan 1. Peningkatan Akses Pendidikan Secara umum di DIY persoalan akses sudah dapat ditangani dengan baik, namun demikian masalah putus sekolah dan masalah biaya pendidikan masih mewarnai laporan setiap tahunnya. Sehingga angka putus sekolah tetap ada terutama pada SMU/Kejuruan dan Perguruan Tinggi. 2. Peningkatan mutu pendidikan Mutu pendidikan yang berkaitan dengan tenaga pendidik, masih terdapat masalah yaitu kurang meratanya kualitas tenaga pendidik antar sekolah dan antar kabupaten. Hal ini juga terjadi pada persebaran bibit unggul siswa yang tidak merata dan cenderung hanya di kota saja. Masalah penghargaan bagi tenaga pendidik dan tenaga kependidikan serta siswa yang berprestasi masih sangat kurang mendapat perhatian dari pemerintah. 3. Pencitraan publik dan manajemen layanan pendidikan Masih kurangnya peran pemerintah provinsi dalam menentukan kebijakan di bidang pendidikan di DIY yang dapat menjadi acuan oleh pemerintah kabupaten/kota. Masih adanya anggapan bahwa data pendidikan merupakan hal yang eksklusif dan sangat sulit untuk diintegrasikan secara utuh antar pemangku kepentingan data pendidikan baik antar kabupaten/kota maupun antar instansi. Sehingga dapat dikatakan koordinasi antar SKPD dalam memajukan dunia pendidikan di Propinsi DIY masih kurang. VI Rekomendasi 1. Peningkatan Akes pendidikan a. Diperlukan model sosialisasi yang jitu untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang hak dan kewajiban mereka dalam program wajib belajar 9 dan 12 tahun. b. Diusulkan tambahan alokasi dana untuk program wajib belajar 12 tahun baik retrieval maupun beasiswa RAPUS agar dapat lebih meningkatkan akses pendidikan di jenjang pendidikan menengah. 2. Peningkatan Mutu pendidikan a. Diperlukan kebijakan yang mengatur sistem peningkatan mutu tenaga pendidik baik melalui pendidikan dan pelatihan maupun mutasi antar kabupaten/kota b. Diperlukan sistem pendidikan dan pelatihan yang baik dan terstruktur dalam rangka meningkatkan mutu tenaga pendidik. c. Diusulkan sistem penghargaan bagi yang berprestasi baik tenaga pendidik dan tenaga kependidikan serta siswa agar mempunyai semangat untuk berprestasi. 3. Pencitraan publik dan manajemen layanan pendidikan a. Diperlukan kebijakan yang mengatur penyelenggaraaan pendidikan di DIY.

162

b. Diperlukan koordinasi yang lebih baik dengan pemangku kepentingan pendidikan baik antar kabupaten/kota maupun pusat dalam membangun pendidikan DIY agar lebih terarah. c. Diusulkan sistem pendataan yang tersistem dan terstruktur untuk mempermudah perolehan dan pengintegrasian data pendidikan yang lebih baik. VII Penutup Pendidikan merupakan bentuk pelayanan dasar yang wajib disediakan oleh pemerintah. Oleh karena itu Pemerintah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas pembangunan bidang pendidikan. Prioritas pembangunan bidang pendidikan Propinsi DIY adalah meningkatkan akses masyarakat terhadap pendidikan yang berkualitas. Upaya-upaya tersebut antara lain peningkatan aksesibilitas pendidikan, peningkatan mutu pendidikan serta pencitraan publik dan manajemen pelayanan pendidikan. Pembangunan bidang pendidikan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dapat dikatakan cukup berhasil. Hal ini dapat dilihat dari angka partisipasi kasar pada semua jenjang pendidikan rata – rata diatas nilai rata – rata tingkat nasional. Selain itu rasio murid dengan guru di semua jenjang pendidikan rata – rata dibawah 10. Ini berarti satu guru mengajar kurang dari 10 murid. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelayanan pendidikan pada semua jenjang pendidikan di Propinsi DIY sudah baik. Dari segi pencitraan publik tentang pendidikan di Propinsi DIY juga sudah mulai membaik. Hal ini ditunjukkan dengan jumlah mahasiswa makin meningkat tiap tahunnya dibanding kondisi pada awal RPJMN. Walaupun masih ada beberapa permasalahan dalam mencapai sasaran pembangunan di bidang pendidikan antara lain masih adanya angka putus sekolah pada jenjang SMK dan perguruan tinggi, serta belum meratanya tenaga pendidik antar sekolah dan antar kabupaten. Bab 4.14 Peningkatan Akses Masyarakat Terhadap Layanan Kesehatan Yang Lebih Berkualitas I Pengantar Kesehatan merupakan modal paling berharga bagi setiap orang. Hanya orang sehatlah yang akan mampu menjalankan tugas-tugasnya sebagai individu dengan baik, dan pada gilirannya memberikan kontribusi pada kehidupan masyarakat secara lebih luas. Karena pentingnya kesehatan, maka sering kali dikatakan bahwa kesehatan merupakan faktor penting dalam memberikan kontribusi untuk membentuk kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) suatu negara. Secara nyata hal ini dapat dilihat dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Dalam IPM, tingkat pencapaian pembangunan bidang kesehatan menjadi salah satu bidang yang dinilai untuk membentuk agregat IPM. Sebagai modal yang sangat berharga, maka adalah hak setiap masyarakat untuk memiliki kondisi kesehatan yang memadai. Dengan demikian untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakat

163

tersebut adalah tugas pemerintah untuk menyediakan pelayanan kesehatan yang baik dan terjangkau bagi rakyatnya. Kewajiban tersebut tidak terkecuali harus dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DIY. Sesuai dengan pembagian tugas yang ada, motor utama untuk melakukan pembangunan bidang kesehatan dilakukan oleh Dinas Kesehatan. Untuk dapat mewujudkan tujuan pokok mewujudkan masyarakat yang memiliki derajat kesehatan yang memadai maka Dinas Kesehatan merumuskan visi dan misi yang menjadi pegangan dalam menjalankan tugasnya. Visi yang ingin diwujudkan oleh Dinas Kesehatan Provinsi DIY adalah: Institusi yang mendukung terwujudnya masyarakat sehat. Untuk dapat mencapai visi tersebut misi yang akan dilakukan oleh Dinas Kesehatan adalah: (1) mewujudkan peningkatan pelayanan rumah tangga instansi dan kualitas sumber daya kesehatan dalam mendukung tugas bidang kesehatan dan (2) Mewujudkan peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Agar visi dan misi yang telah disusun tersebut dapat menjadi panduan dalam meningkatkan pelayanan kesehatan pada masyarakat, maka Dinas Kesehatan kemudian mengambangkan berbagai kebijakan bidang kesehatan, baik kebijakan jangka menengah (renstra bidang kesehatan) maupun kebijakan tahunan yang dijabarkan dalam bentuk rencaka kerja dinas kesehatan. II Kondisi Awal RPJMN Di Tingkat Daerah Tujuan pembangunan kesehatan sebagai salah satu upaya dalam pemenuhan hak dasar rakyat adalah mempermudah masyarakat di dalam memperoleh akses atas kebutuhan pelayanan kesehatan. Hal ini mengingat bahwa pembangunan kesehatan merupakan suatu investasi jangka panjang dalam kaitannya untuk mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pembangunan ekonomi yang kompetitif serta peningkatan kesejahteraan sosial yang pada akhirnya dapat sebagai upaya penanggulangan kemiskinan. Program penanganan bidang kesehatan merupakan upaya untuk meningkatkan akses dan mutu layanan kesehatan serta memberdayakan masyarakat di bidang kesehatan melalui upaya promotif, kuratif, preventif dan rehabilitatif. Pogram ini memiliki sasaran meningkatnya derajat kesehatan masyarakat. Oleh karena itu aspek kesehatan menjadi salah satu program penting dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Derajat kesehatan adalah hasil kombinasi berbagai faktor mulai dari individu yang bersangkutan, keluarga, lingkungan masyarakat di sekitarnya, tingkat ekonomi, pengetahuan, akses sarana kesehatan dan lain sebagainya. Karena itu perlu dipilih indikator yang sifatnya strategis yang mampu mewakili pengaruh berbagai faktor tersebut. Derajat kesehatan di propinsi DIY diukur melalui indikator umur harapan hidup waktu lahir (Eo), angka kematian bayi, angka kematian ibu maternal, dan status gizi. Kondisi derajat kesehatan pada awal RPJMN di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai berikut : 1. Mortalitas a. Umur Harapan Hidup Waktu Lahir

164

Umur harapan hidup penduduk provinsi DIY dari hasil estimasi dalam jangka waktu lima tahunan terus meningkat, yaitu dari 67,58 tahun pada tahun 1992, meningkat menjadi 68,35 tahun pada tahun 1997 dan terus meningkat menjadi 72,17 tahun pada tahun 2002 (Periode 2000 – 2005). b. Angka Kematian Bayi Hasil survey Demografi dan Kesehatan Indonesia 2002 – 2003 (SDKI 2002 – 2003) yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa AKB menurun yaitu dari 20,32 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2002 menjadi 20,00 per 1.000 kelahiran hidup. Angka tersebut merupakan terendah ke dua setelah Provinsi Bali (14 per 1.000 kelahiran hidup). c. Angka Kematian Balita (AKABA) Angka kematian Balita (AKABA) menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan anak dan faktor – faktor lain yang berpengaruh terhadap kesehatan anak balita seperti gizi, sanitasi, penyakit menular dan kecelakaan. AKABA pada tahun 2002 diperkirakan sebesar 43 per 1.000 kelahiran hidup dan ternyata hasil survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2002 – 2003 (SDKI 2002 – 2003) menunjukkan bahwa AKABA mencapai angka 23 per 1.000 kelahiran hidup (peringkat kedua setelah Provinsi Bali 19 per 1.000 kelahiran hidup). d. Angka Kematian Ibu (AKI) Hasil susenas tahun 2005 menunjukkan angka kematian ibu di Provinsi DIY sebesar 105/100.000 kelahiran hidup, angka ini mengalami penurunan dibandingkan hasil susenas sebelulmnya, yaitu sebesar 110/100.000 kelahiran hidup. e. Pola penyebab kematian di rumah sakit. Tahun 2004, data menunjukkan bahwa penyakit degeneratif di Provinsi DIY menduduki peringkat utama penyebab kematian dibanding angka nasional yang masih didominasi oleh penyakit infeksi. 2. Morbiditas (Kesakitan) a. Angka Kesakitan Malaria Provinsi DIY mempunyai satu daerah yang merupakan daerah endemis malaria yaitu Kabupaten Kulon Progo, sehingga angka kesakitan yang ada di DIY yang paling dominan adalah kasus dari Kabupaten Kulon Progo, walaupun di Kabupaten Sleman juga ditemukan daerah endemis. Angka kesakitan malaria sejak tahun 2003 berangsur – angsur mengalami penurunan yang cukup signifikan. Angka kesakitan malaria di DIY tahun 2003 sebesar 1,1 %, Kemudian tahun 2004 menurun menjadi 0,18%. Dan selanjutnya tahun 2005 menurun lagi menjadi 0,07%. b. Angka Kesembuhan TB Paru BTA Pada tahun 2003 – 2004 telah terjadi kenaikan yang cukup berarti yaitu dari 74% menjadi 82% pada tahun 2004. Angka kematian TB-paru di DIY tahun 2003 sebesar 74%. Pada tahun 2004 naik menjadi 82%. Namun di Tahun 2005 mengalami penurunan sebesar 81,08%

165

c.

HIV Persentase HIV dari hasil sentinel survey di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dari tahun ke tahun nampak meningkat. Hal ini terjadi karena meningkatnya kelompok resiko yang menjadi sasaran survey, yang semula dilakukan terhadap pekerja seks komersial (PSK) dan penghuni lapas, bertambah pada kelompok Injection Drug Use (IDU), Pemijat, Salon, Waria dan Sopir. Persentase HIV di DIY Tahun 2003 sebesar 3,3%. Pada tahun 2004 mengalami peningkatan menjadi 5,8%. Selanjutnya tahun 2005 meningkat lagi menjadi 6%. Selanjutnya berdasarkan Renstra, kualitas pelayanan kesehatan diukur melalui indikator – indikator yang

terdiri dari jumlah sarana kesehatan, fasilitas kesehatan balita, cakupan rawat jalan, cakupan rawat inap dan fasilitas KB. Adapun kondisi awal RPJMN di Propinsi DIY mengenai kualitas pelayanan kesehatan sebagai berikut : a. Jumlah Sarana Kesehatan Jumlah sarana kesehatan pada awal RPJMN untuk Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta antara tahun 2003 – 2005 mengalami kenaikan dan penurunan. Pada tahun 2004 sarana kesehatan yang mengalami peningkatan adalah rumah sakit pemerintah naik 3 buah dibandingkan sebelumnya yang hanya sebanyak 7 buah. Kedua, Puskesmas Pembantu yang juga mengalami penambahan fasilitas sebanyak 4 puskesma dibanding sebelumnya yang hanya berjumlah 321 buah. Kemudian kapastias tempat tidur di Rumah sakit pemerintah, pada tahun 2004 juga mengalami peningkatan menjadi 1640 buah . Sedangkan sarana kesehatan yang mengalami penurunan yaitu RS Swasta dan puskesmas keliling. Pada Tahun 2005 Jumlah rumah sakit swasta mengalami peningkatan sebanyak 7 buah. Selain itu Jumlah rumah sakit khusus juga mengalami peningkatan menjadi 16 buah, naik 2 buah dibanding sebelumnya. Sedangkan jumlah fasilitas kesehatan yang mengalami penurunan antara lain puskesmas pembantu, puskesmas keliling dan kapasitas tempat tidur RS pemerintah, seperti yang terlihat pada tabel IV.36 berikut : Tabel IV.36 Jumlah Sarana Kesehatan Propinsi DIY Tahun 2003 – 3005 No Sarana Kesehatan Tahun 2003 Tahun 2004 1 Rumah Sakit Pemerintah 7 10 2 RS Swasta 28 25 3 Rumah Sakit Jiwa 2 2 4 RS Khusus 14 14 5 Puskesmas 117 117 6 Puskesmas Pembantu 321 325 7 Puskesmas Keliling 133 122 8 Kapasitas Tempat Tidur RS 1391 1640 Pemerintah 9 Mobil Keliling 123 122
Sumber: DIY Dalam Angka 2003 – 2005 (Diolah)

Tahun 2005 10 32 2 16 117 322 121 1387 122

166

Selanjutnya rasio jumlah puskesmas terhadap kecamatan di Propinsi DIY adalah 1,5. Hal ini berarti satu kecamatan memiliki satu sampai dua puskesmas. Sedangkan rasio puskesmas keliling terhadap desa di Propinsi DIY adalah 1,7. Artinya satu desa mempunyai puskesmas keliling sebanyak satu sampai dua puskesmas. Sehingga kebutuhan pelayanan kesehatan bagi masyarakat desa dapat tercukupi. b. Fasilitas Kesehatan dan Kecukupan Gizi Balita Berdasarkan pemantauan status gizi propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, prosentase balita gizi buruk tahun 2004 sebesar 1.14%. Kemudian pada tahun 2005 mengalami penurunan menjadi 1,08%. Tabel IV.37 Prosentase Balita Gizi Buruk di Provinsi DIY Tahun 2004-2007 Tahun 2004 2005 2006 2007 Presentase Balita Gizi Buruk di Provinsi DIY 1,14 1,08 1,03 0,94

Sumber : Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Gubernur DIY 2003-2008 hal. IV-22

c. Cakupan Rawat Jalan Standar pelayanan minimal bidang kesehatan menetapkan bahwa 15% penduduk berhak memperoleh pelayanan rawat jalan. Pada Tahun 1999 – 2002, penduduk propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang tidak memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan di bawah 10%. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa 90% penduduk telah mendapatkan akses terhadap pelayanan kesehatan, seperti yang terlihat pada tabel IV.38

Tabel IV.38 Penduduk tanpa akses pada fasilitas sarana kesehatan Kabupaten/Kota Kulon Progo Bantul Gunungkidul Sleman Yogyakarta Propinsi DIY
d. Cakupan Rawat Inap Fasilitas rawat inap merupakan fasilitas yang wajib diselenggarakan oleh pemerintah. Menurut Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan Kabupaten dan Kota untuk Pelayanan Rawat Inap menetapkan cakupannya adalah 1,5% jumlah penduduk. Hal ini berarti Rumah Sakit pemerintah wajib 1999 23,72 9,6 9,5 8,6 0,0 8,6 2002 21,2 4,2 4,0 7,1 3,6 7,7

Sumber : Laporan Pembangunan Manusia Indonesia Hal. 147

167

memiliki kapasitas rawat inap 1,5% jumlah penduduk. Sejak tahun 2003 sampai tahun 2005, jumlah rumah sakit pemerintah mengalami peningkatan. Sedangkan jumlah rumah sakit swasta tahun 2004 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya dan mulai meningkat lagi di tahun 2005 menjadi 32 buah, seperti yang terlihat pada tabel IV.39 berikut. Tabel IV.39 Perbandingan Jumlah Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta menurut Kabupaten dan Kota di Propinsi D.I. Yogyakarta 2003 Pemerintah 1 Kulonprogo 1 Bantul Gunungkidul 1 3 Sleman Yogyakarta 1 Propinsi DIY 7 Swasta 1 5 0 8 14 28 2004 Pemerintah 1 1 1 5 2 10 Swasta 1 5 0 5 14 25 2005 Pemerintah 1 1 1 5 2 10 Swasta 2 8 0 6 16 32

Sumber: Dinas Kesehatan Propinsi D.I. Yogyakarta dalam DIY Dalam Angka 2003-2005

Tabel IV.40 Perbandingan Kapasitas tempat tidur Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta menurut Kabupaten dan Kota di Propinsi D.I. Yogyakarta 2003 Pemerintah 111 110 125 888 157 1.391 Swasta 25 146 0 493 1.714 2.378 2004 Pemerintah 153 119 125 1.054 189 1.640 Swasta 54 60 0 210 1.368 1.692 2005 Pemerintah 153 133 130 1.163 222 1.801 Swasta 75 273 0 224 1.415 1.987

Kulonprogo Bantul Gunungkidul Sleman Yogyakarta Propinsi DIY

Sumber: Dinas Kesehatan Propinsi D.I. Yogyakarta dalam DIY Dalam 2003-2005

Dari tabel IV.40 di atas menunjukkan bahwa rumah sakit swasta memberikan kontribusi lebih besar dalam penyediaan pelayanan rawat inap. Misalnya di Kota Yogyakarta jumlah rumah sakit pemerintah hanya 2 sedangkan rumah sakit swasta berjumlah 16 pada tahun 2005. Jika dalam Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan mengharuskan bahwa pemerintah menyediakan layanan rawat jalan 15% jumlah penduduk. Sementara kapasitas rumah sakit pemerintah sangat jauh di bawah Standar Pelayanan Minimal. Maka kontribusi yang lebih besar diperankan oleh rumah sakit swasta. Tetapi RS Swasta akan memberikan konsekuensi biaya pelayanan yang mahal. Hal ini tentu saja tidak berpihak pada masyarakat miskin.

168

E. Tenaga Medis dan Para Medis Rasio dokter umum per 100.000 penduduk pada awal dimulainya RPJMN di Daerah yaitu pada tahun 2004 sebesar 26,36. Artinya 100.000 penduduk dilayani oleh 26 dokter. Sedangkan rasio jumlah tenaga medis terhadap jumlah penduduk pada tahun 2004 adalah 45,45. Selanjutnya rasio jumlah tenaga keperawatan terhadap jumlah penduduk pada tahun 2004 sebesar 66,36. Rasio jumlah tenaga bidan terhadap jumlah penduduk pada tahun 2004 sebesar 27,59. Jumlah tenaga medis dan tenaga keperawatan pada tahun 2004 dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel IV.41 Jumlah Tenaga Medis menurut Pendidikan di Provinsi DIY

Tenaga Medis Dokter Umum Dokter Gigi Dokter Spesialis Dokter Gigi Spesialis Jumlah Total

Jumlah 1.213 195 773 19 2.200

Sumber : Dinas Kesehatan Propinsi D.I.Yogyakarta Dalam Angka 2004

Tabel IV.42 Jumlah Tenaga Keperawatan menurut Pendidikan di Provinsi DIY

Tenaga Keperawatan SKp Perawat Bidan D3 SPK Bidan Jumlah Total

Jumlah 62 1.445 149 2.739 736 5.131

Sumber : Dinas Kesehatan Propinsi D.I.Yogyakarta Dalam Angka 2004

F. Fasilitas KB Program Keluarga Berencana (KB) memiliki posisi strategis dalam konteks pencapaian pembangunan. Hasil-hasil pembangunan di bidang-bidang yang lain akan sulit dirasakan manfaatnya apabila suatu wilayah mengalami ledakan penduduk. Sebab pada akhirnya semua capaian pembangunan akan menjadi sia-sia karena kemajuan-kemajuan yang telah dicapai akan tereduksi dengan peningkatan jumlah penduduk yang berlebihan. Melihat posisinya yang demikian maka sudah selayaknya pemerintah daerah menaruh perhatian yang serius terhadap pelaksanaan program KB, terlebih setelah urusan tersebut saat ini telah diserahkan kepada pemerintah daerah. Di Provinsi DIY, perhatian pemerintah terhadap program KB dapat dinilai dari berbagai hal yang bermuara kepada realisasi aseptor KB aktif yang ada di

169

daerah ini. Data-data berikut menunjukkan bagaimana pencapaian jumlah aseptor KB aktif yang ada di Provinsi DIY pada awal RPJMN di daerah. Tabel IV.43 Realisasi Akseptor KB Aktif menurut Kabupaten/Kota Di Propinsi D.I. Yogyakarta (dalam %)

Kulonprogo Bantul Gunungkidul Sleman Yogyakarta Propinsi DIY

2003 100,16 100,98 100,33 100,17 100,08 100,41

2004 96,95 98,62 99,53 99,57 99,39 98,98

2005 107,98 96,66 104,90 104,57 101.18 102,45

Sumber: BKKBN Propinsi DIY dalam DIY Dalam Angka 2003, 2004 dan 2005 hal 72.

Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan Propinsi DIY menyebutkan sebesar 70% peserta KB aktif yang harus mendapat pelayanan. Tabel di atas menunjukkan bahwa realisasi program KB selalu lebih dari 90% atau bahkan di atas 100%. Hal ini menunjukan bahwa pelayanan bidang KB di Provinsi DIY tahun 2003 – 2005 telah mampu menjangkau masyarakat, termasuk masyarakat di luar provinsi ini sehingga realisasi pelayanan KB melebihi jumlah penduduk Pasangan Usia Subur yang menjadi target layanan program KB. III Sasaran Yang Ingin Di Capai Prioritas pembangunan bidang kesehatan pemerintah propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta adalah peningkatan aksesibilitas, kualitas dan pelayanan kesehatan serta rekonstruksi infrastruktur kesehatan dengan sasaran pembangunan sebagai berikut : 1. Pelayanan kesehatan bagi korban gempa 2. Meningkatnya masyarakat yang memperoleh layanan kesehatan 3. Menurunnya angka kesakitan dan kematian akibat penyakit malaria, demam berdarah dengue, TBC, paru, diare, flu burung, HIV/AIDS. Sedangkan sasaran pembangunan bidang kesehatan berdasarkan rencana strategis dinas kesehatan propinsi daerah istimewa yogyakarta adalah : 1. Meningkatkan kualitas aparatur/SDM, sarana prasarana pendukung kelancaran tugas dibidang kesehatan. 2. Meningkatkan status gizi masyarakat dan menurunkan angka kematian dan angka kesakitan. 3. Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan masyarakat.

170

IV. Arah Kebijakan Arah pembangunan kesehatan di DIY secara umum adalah terselenggaranya program pembangunan kesehatan yang dapat meningkatkan kualitas kehidupan, meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, mempertinggi kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat, dan lingkungan sehat, serta peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan kesehatan. Sedangkan prioritas pembangunan di bidang kesehatan propinsi daerah istimewa yogyakarta adalah peningkatan aksesibilitas kualitas, dan pelayanan kesehatan serta rekonstruksi infrastruktur kesehatan, dengan arah kebijakan pembangunan sebagai berikut: 1. Rehabilitasi dan rekonstruksi sarana dan prasarana kesehatan 2. Pelayanan kesehatan bagi korban gempa (Rehabilitasi cacat, pelayanan medis rawat inap dan rawat jalan) sesuai kewenangan pemerintah propinsi 3. Peningkatan pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan terutama bagi masyarakat yang kurang mampu. 4. Peningkatan upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular dan wabah. 5. Penanganan masalah gizi kurang dan gizi buruk pada ibu hamil, bayi dan balita. 6. Peningkatan ketersediaan obat dan pengawasan obat 7. Peningkatan mutu pelayanan dan promosi kesehatan Selain itu sesuai dengan tujuan pokok pembangunan bidang kesehatan untuk meningkatkan kualitas pelayanan, Propinsi DIY juga telah menetapkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan yang diberlakukan terhadap semua kabupaten dan kota. SPM Bidang Kesehatan ini ditetapkan dalam Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta No. 123 tahun 2003. Berikut Rincian Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan sebagaimana termuat dalam Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta No. 123 tahun 2003. 1. Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Dasar a. Pelayanan kesehatan ibu hamil dan bayi baru lahir : • • • • • c. • • 80 % ibu hamil terlayani K-4 (kunjungan 4 kali) 90% neonatal terlayani KN-2 (kunjungan neonatal 2 kali) 80% persalinan oleh tenaga kesehatan 75% bayi dilayani deteksi dini tumbuh kembang oleh tenaga kesehatan, 4x per tahun 75% anak Balita dilayani deteksi dini tumbuh kembang oleh tenaga kesehatan, 2x per tahun 100% murid SD dan setingkat SD (klas I) diperiksa kesehatan umum dan gigi, 1x per tahun 80% anak SD dan setingkat SD memperoleh pemberian makanan tambahan

b. Pelayanan kesehatan bayi dan anak pra sekolah

Pelayanan kesehatan anak usia sekolah :

d. Pelayanan kesehatan usia subur:

171

• • f. • • • • i. • • •

70% peserta aktif KB dilayani 25% usia lanjut 60 tahun ke atas mendapat pelayanan kesehatan 80% bayi telah menerima imunisasi dasar lengkap 20% penderita katarak pada GAKIN dioperasi 10% penderita kelainan refraksi murid SD dan setingkat SD pada GAKIN dikoreksi 10% kasus gangguan jiwa yang dideteksi di sarana pelayanan kesehatan umum dilayani 15% penduduk memperoleh pelayanan rawat jalan di sarana kesehatan dalam 1 tahun 1,5% penduduk memperoleh pelayanan rawat inap yang prima 40% keluarga rawan (resiko tinggi) memperoleh kunjungan rumah oleh petugas kesehatan

e. Pelayanan kesehatan usia lanjut: Pelayanan imuninasi:

g. Pelayananan kesehatan indera:

h. Pelayanan kesehatan jiwa masyarakat: Pelayanan pengobatan dan perawatan kesehatan masyarakat:

2. Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Rujukan Pelayanan kesehatan rujukan: • • • Tersedia 4 pelayanan keahlian dasar (kebidanan, bedah, penyakit dalam, anak) Kemampuan mencapai 70% BOR Tersedia pelayanan ke gawatan daruratan dan penanggulan bencana 100%

3. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan penunjang Pelayanan laboratorium klinik dan laboratorium kesehatan • • • Tersedia laboratorium Puskesmas dengan kemampuan memberikan pelayanan pemeriksaan laboratorium klinik sederhana Tersedia laboratorium RSUD dengan kemampuan memberikan pelayanan pemeriksaan laboratorium klinik terbatas Tersedia laboratorium kesehatan masyarakat dengan kemampuan memberikan pelayanan pemeriksaan laboratorium kesehatan masyarakat parameter terbatas. 4. Penyelenggaraan Upaya dan Promosi Kesehatan Masyarakat a. Penyuluhan perilaku sehat: • • • 60% Desa Sehat Strata III dan atau IV 70% penduduk berperilaku sehat 15% Posyandu Mandiri

b. Promosi kesehatan untuk pemberdayaan masyarakat dalam upaya kesehatan:

172

• •

50% Posyandu Madya 50% organisasi kemasyarakatan tercakup Program Promosi Kesehatan

5. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit a. Penyelenggaran penyelidikan epidemiologi dan penanggulangan kejadian luar biasa (KLB): • • • • • • • • • • 100% desa/kelurahan dilaksanakan penyelidikan epidemniologi 100% kasus KLB ditanggulangi 0% angka kesakitan polio 85% kesembuhan penderita TBC paru BTA+ 50% penurunan jumlah kasus malaria 1 prevalensi kusta / 10.000 penduduk 85% penemuan pnemonia balita 10% prevalensi sifilis dan gonore di kalangan kelompok perilaku risiko tinggi 50% penurunan jumlah kasus DBD 50% penurunan jumlah kasus diare balita

b. Pencegahan dan pemberantasan penyakit menular:

6. Penyelenggaraan upaya kesehatan lingkungan dan pemantauan dampak pembangunan terhadap kesehatan a. Pengawasan kualitas lingkungan: • • • • 50% Tempat-tempat umum (TPU) memenuhi standar 50% Tempat Pengolahan Makanan (TPM) memenuhi standar 50% keluarga menghuni Rumah Sehat 70% sediaan air bebas jentik nyamuk

b. Pengendalian vektor: 7. Perencanaan dan pengadaan obat pelayanan kesehatan dasar esensial Penyediaan obat untuk pelayanan kesehatan dasar: • • 8. 100% ketersediaan jenis obat sesuai Standar Pelayanan Kesehatan Dasar 75% ketersediaan jumlah obat sesuai Standar Pelayanan Kesehatan Dasar

Pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan obat, narkotika, psikotropika, zat adiktif dan bahan berbahaya. Standar pelayanan minimal dalam Pelayanan pencegahan dan penanggulangan narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya yang berbasis masyarakat adalah 15% sarana pelayanan kesehatan umum melaksanakan upaya Pencegahan dan Penanggulangan Penyalahgunaan (P3) NAPZA

9. Penyelenggaraan kewaspadaan pangan dan gizi a. Pemantauan pertumbuhan Balita:

173

• • • • • c. • • • •

70% Balita ditimbang 85% Balita di atas garis merah 100% Balita mendapat kapsul vit A 2x per tahun 80% Ibu hamil mendapat 90 tablet Fe 100% wanita usia subur dan murid SD di daerah endemik berat mendapat kapsul Yodium 100% pemberian makanan pendamping ASI pada bayi gizi kurang dan buruk dari keluarga miskin 100% balita gizi buruk mendapat perawatan sesuai standar 40% ibu menyusui menerapkan ASI eksklusif 6 bulan 60% rumah tangga tercakup program penyuluhan garam beryodium yang memenuhi syarat.

b. Pemberian suplemen gizi:

Pelayanan gizi :

d. Penyuluhan gizi seimbang:

V. Pencapaian di Daerah 5.1 Upaya pencapaian Upaya yang dilakukan untuk mencapai sasaran pembangunan sesuai dengan arah kebijakan pembangunan bidang kesehatan provinsi DIY sebagai berikut : 1. Rehabilitasi dan rekonstruksi sarana dan prasarana kesehatan 2. Pelayanan kesehatan bagi korban gempa (Rehabilitasi cacat, pelayanan medis rawat inap dan rawat jalan) sesuai kewenangan pemerintah provinsi 3. Peningkatan pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan terutama bagi masyarakat yang kurang mampu 4. Peningkatan upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular dan wabah 5. Penanganan masalah gizi kurang dan gizi buruk pada ibu hamil, bayi dan balita. 5.2 Posisi Capaian Di Daerah Evaluasi terhadap pencapaian atau kinerja pembangunan bidang kesehatan menggunakan beberapa indikator. Indikator-indikator ini dirumuskan berdasarkan RENSTRA yang kemudian indikator tersebut akan digunakan untuk melihat hasil atau kinerja pembangunan bidang kesehatan. Evaluasi ini menggunakan benchmark Standar Pelayanan Minimum disamping RENSTRA. Indikator-indikator yang digunakan untuk melakukan evaluasi pelayanan publik bidang kesehatan adalah: a. Sarana dan Prasarana kesehatan b. Fasilitas kesehatan Balita c. cakupan rawat jalan

174

d. cakupan rawat inap e. fasilitas KB Adapun capaian pembangunan kesehatan di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta berdasarkan indikator diatas sebagai berikut ; 1. Sarana dan Prasarana Kesehatan Jaminan kesehatan masyarakat akan sangat tergantung pada fasilitas kesehatan yang disediakan oleh pemerintah. Fasilitas-fasilitas kesehatan yang wajib disediakan pemerintah adalah: • • • • Rumah Sakit yang meliputi : RS Umum, RS Jiwa dan RS Khusus Puskesmas yang dibantu dengan Puskesmas Pembantu dan Puskesmas Keliling Bidan Dokter umum dan dokter gigi Untuk meningkatkan jaminan kesehatan masyarakat pemerintah propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, telah mengupayakan penyediaan sarana dan prasarana kesehatan yang disertai dengan distribusi tenaga kesehatan yang memadai, baik dalam hal kualitas maupun kuantitas. Dalam mengatasi masalah kesehatan, berbagai upaya telah dilakukan, salah satunya adalah dengan membangun atau memperbaiki fasilitas kesehatan, seperti rumah sakit, puskesmas dan sejenisnya. Selain itu fasilitas kesehatan harus representatif, murah dan aksesnya mudah sehingga masyarakat dapat menggunakannya dengan optimal. Pencapaian pemerintah Propinsi DIY dalam menyediakan sarana dan prasarana kesehatan dapat digambarkan sebagai berikut: a. Rumah sakit. Jumlah rumah sakit pemerintah di Provinsi DIY tahun 2006 mengalami penurunan menjadi 8. Sedangkan jumlah rumah sakit swasta tetap. Selanjutnya penduduk DIY yang memanfaatkan rumah sakit pada tahun 2006 adalah 1.225.158 pengunjung yang terdiri dari 1.054.785 kunjungan rawat jalan dan 170.973 kunjungan rawat inap atau bila dibandingkan dengan 100.000 penduduk ternyata penduduk yang berkunjung ke Rumah Sakit ada 35.920. Ini berarti bahwa dari setiap 100.000 penduduk ada 35 ribu lebih penduduk yang berkunjung ke Rumah Sakit atau lebih dari 35% penduduk telah memanfaatkan sarana rumah sakit. Dari lima RSUD di Propinsi DIY, sebanyak 4 RSUD telah mampu melaksanakan pelayanan obstetri neotanal emergency komprehensif (PONEK)

175

Tabel IV.44 Perbandingan Jumlah Rumah Sakit Pemeirntah dan Swasta menurut Kabupaten dan Kota Provinsi DIY

Kabupaten/Kota Kulonprogo Bantul Gunungkidul Sleman Yogyakarta Propinsi DIY

2003 2004 2005 2006 Pemerintah Swasta Pemerintah Swasta Pemerintah Swasta Pemerintah Swasta 1 1 1 1 1 2 1 1 1 5 1 5 1 8 1 7 1 0 1 0 1 0 1 3 8 5 5 5 6 3 8 1 14 2 14 2 16 2 16 7 28 10 25 10 32 8 32

Sumber : Dinas Kesehatan Propinsi D.I.Yogyakarta Dalam Angka 2003-2006

b. Puskesmas Rasio jumlah puskesmas terhadap kecamatan di Propinsi DIY tahun 2006 adalah 1,5. Hal ini berarti satu kecamatan terdapat 1 sampai 2 puskesmas. Sedangkan Rasio jumlah puskesmas pembantu terhadap desa/kelurahan di propinsi DIY tahun 2006 sebesar 1,3. Ini berarti setiap desa/kelurahan yang ada di Propinsi DIY rata – rata mempunyai 1 puskesmas pembantu. Dan rasio jumlah puskesmas keliling terhadap desa/kelurahan adalah 4. Sehingga setiap desa mempunyai 4 puskesmas keliling dan satu puskesmas pembantu. Jumlah puskesmas di seluruh propinsi DIY adalah 118 dan 41 diantaranya adalah puskesmas dengan tempat tidur. Dari 41 puskesmas rawat inap, yang telah mampu melaksanakan pelayanan obstetri neonatal emergency dasar (poned) adalah sebanyak 25 puskesmas (60,9 persen). Penduduk DIY yang memanfaatkan puskesmas untuk tahun 2006 adalah 3.188.144 pengunjung yang terdiri dari 2.535.630 kunjungan rawat jalan dan 652.511 kunjungan rawat inap atau bila dibandingkan dengan 100.000 penduduk pemanfaatan puskesmas adalah 92.864 yang berarti dari setiap 100.000 penduduk ada 92 ribu lebih penduduk yang berkunjung ke puskesmas atau lebih dari 92 persen jumlah penduduk DIY telah memanfaatkan sarana puskesmas. c. Angka penggunaan tempat tidur/Bed Occupancy Rate (BOR) Persentase penggunaan tempat tidur merupakan indikator yang memberikan gambaran tinggi rendahnya tingkat pemanfaatan tempat tidur di rumah sakit. Angka pemanfaatan tempat tidur pada RSUD di Propinsi DIY meliputi RSUD Wirosaban/Kota mempunyai BOR 63,70, RSUD Panembahan Senopati/Bantul 118,3; RSUD Wates 78,66; RSUD Wonosari 102,8 dan RSUD Sleman 87,2. Tingkat penggunaan tempat tidur rumah sakit yang tinggi, menunjukkan bahwa RSUD telah menjadi pilihan masyarakat di Propinsi DIY.

176

Tabel IV.45 Perbandingan Kapasitas Tempat Tidur Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta menurut Kabupaten dan Kota di Propinsi D.I.Yogyakarta

Kabupaten/Kota Kulonprogo Bantul Gunungkidul Sleman Yogyakarta Propinsi DIY

2003 Pemerintah 111 110 125 888 157 1.391

Swasta 25 146 0 493 1.714 2.378

2004 Pemerintah 153 119 125 1.054 189 1.640

Swasta 54 60 0 210 1.368 1.692

2005 Pemerintah 153 133 130 1.163 222 1.801

Swasta 75 273 0 224 1.415 1.987

2006 Pemerintah 153 115 125 1.131 207 1.731

Swasta 50 265 201 312 828

Sumber : Dinas Kesehatan Propinsi D.I.Yogyakarta Dalam Angka 2003-2006

d. Sarana Kesehatan dengan Kemampuan Laboratorium Kesehatan Jumlah sarana pelayanan kesehatan di Propinsi DIY pada tahun 2006 sebanyak 160 sarana pelayanan kesehatan (Rumah Sakit Umum, Khusus dan Jiwa serta Puskesmas). Dari jumlah tersebut di atas, terdapat 158 sarana yang telah memiliki laboratorium kesehatan atau sebesar 98,75%. Disamping sarana pelayanan tersebut, terdapat 1 sarana pelayanan laboratorium rujukan regional, yaitu Balai Laboratorium Kesehatan. e. Sarana pelayanan kesehatan dengan sistem pelayanan manajemen mutu Dari 118 puskesmas di Provinsi DIY, sebanyak 20% puskesmas telah menerapkan sistem menejemen mutu melalui pendekatan ISO 9001:2000. Sedangkan 7 persen rumah sakit telah menerapkan sistem menejemen mutu melalui pendekatan ISO 9001:2000. Sebesar 25 % RS di Provinsi DIY telah diakreditasi dengan menggunakan 5 standar, 17% RS sudah diakreditasi dengan menggunakan 12 standar dan 5 % RS telah diakreditasi dengan 16 standar sesuai standar pelayanan RS. Program peningkatan kualitas profesional melalui sistem pengembangan menejemen kinerja klinik (SPMKK) telah dilaksanakan oleh seluruh puskesmas dan RSUD. f. Rumah sakit yang menyelenggarakan 4 pelayanan kesehatan spesialis dasar Berdasarkan profil kesehatan kabupaten/kota tahun 2007 dan hasil pengolahan laporan SIRS Revisi V belum seluruh rumah sakit (43 RS) di Provinsi DIY pada tahun 2006 (Rumah Sakit Umum, Khusus dan Jiwa) memiliki tenaga ahli untuk 4 spesialis dasar, sebanyak 27 RS telah memiliki 4 spesialis dasar, jumlah ini meningkat dibanding pada tahun 2005 (19 RS). g. Sumber Daya Kesehatan Sumber Daya kesehatan di Propinsi DIY meliputi tenaga dokter, dokter spesialis, dokter gigi, apoteker, bidan, perawat, ahli gizi, ahli sanitasi, ahli kesehatan masyarakat serta penduduk yang menjadi peserta jaminan pemeliharaan kesehatan. Rasio dokter umum per 100.000 penduduk selama tahun 2000 sampai 2006 terlihat selalu meningkat, bahkan telah melampaui target nasional tahun

177

2010. Rasio dokter spesialis juga mengalami peningkatan selama lima tahun terakhir, pada tahun 2006 telah mencapai 6,04 per 100.000 penduduk sementara target nasional tahun 2010 sebesar 6/100.000 penduduk. Dokter gigi sebesar 18,53/100.000 penduduk (Nasional 2010 sebesar 11/100.000 penduduk). Rasio perawat pada tahun 2006 sebesar 65,88 per 100.000 penduduk. Sedangkan rasio bidan sebesar 35,21 per 100.000 penduduk (Target Nasional 2010 sebesar 100/100.000 penduduk). 2. Fasilitas Kesehatan dan Kecukupan Gizi Balita Jumlah posyandu pada tahun 2006 di Propinsi DIY berjumlah 5.572 posyandu, dengan persentase posyandu purnama dan mandiri sebesar 50,47 %. Angka ini lebih besar dari target Standar Pelayanan Minimal yang telah ditetapkan yaitu sebesar 25%. Berdasarkan pemantauan status gizi, secara umum presentase balita gizi buruk sejak tahun 2004 sampai dengan tahun 2007 berangsur – angsur mengalami penurunan dari 1,14 persen menjadi 0,94 persen (target nasional 2010 adalah 15 persen). Hasil kegiatan survelance gizi tahun 2008, menunjukkan bahwa faktor penyebab langsung balita gizi buruk di Propinsi DIY yang terbesar disebabkan oleh faktor ekonomi (56,39 persen), penyakit penyerta (29,50%) dan pola asuh (12,82%). Sedangkan penyebab tidak langsungnya adalah ketahanan pangan, tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu/keluarga yang kurang memadai, sanitasi lingkungan yang kurang memadai dan akses pelayanan kesehatan. 3. Cakupan rawat jalan dan rawat inap Standar pelayanan minimal menetapkan bahwa 15% penduduk berhak memperoleh pelayanan rawat jalan. Jumlah penduduk yang telah memanfaatkan sarana kesehatan melalui rawat jalan pada tahun 2006 sebesar 449.244. Ini berarti penduduk yang memperoleh rawat jalan sekitar 14% penduduk provinsi Yogyakarta. Hal ini ada 2 kemungkinan yaitu masyarakat sehat atau memang baru 14% yang baru memanfaatkan sarana kesehatan di Provinsi Yogyakarta. Sedangkan jumlah penderita baru rawat inap di Propinsi DIY sebesar 99.827. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk, maka penduduk yang mengalami rawat inap di rumah sakit sebanyak 3,1%. Jika dalam standar pelayanan minimal 1,5% penduduk berhak memperoleh pelayanan rawat inap, maka di provinsi yogyakarta telah memenuhi standar pelayanan tersebut. 4. Fasilitas KB Penilaian pembangunan bidang kesehatan juga dapat dilihat dari pencapaian program KB di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Seperti yang telah diungkapkan pada kondisi awal RPJMN bahwa hasil – hasil pembangunan di bidang – bidang yang lain akan sulit dirasakan manfaatnya apabila suatu wilayah mengalami ledakan penduduk. Oleh karena itu keberhasilan program KB di suatu daerah juga merupakan faktor penting dalam pencapaian pembangunan. Penilaian terhadap keberhasilan program KB dapat dinilai dari berbagai segi. Salah satunya adalah realisasi aseptor KB aktif yang ada di daerah. Data pada tabel berikut menunjukkan bagaimana pencapaian jumlah aseptor KB aktif tahun 2006 di Provinsi DIY.

178

Tabel IV.46 Realisasi dan Target Akseptor KB Aktif menurut Jenis Kontrasepsi dan Kabupaten/Kota di Provinsi DIY

Kabupaten/Kota Kulonprogo Bantul Gunungkidul Sleman Yogyakarta Provinsi DIY

Realisasi 109,360 114,078 109,097 47,632 36,101 416,268

Target 111,046 113,642 108,343 50,999 36,761 420,791

Realisasi (%) 98,48 100,38 100,70 93,40 98,20 98,93

Sumber : Dinas Kesehatan Propinsi D.I.Yogyakarta Dalam Angka 2006

Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan Propinsi DIY menetapkan bahwa 70% peserta KB aktif harus mendapat pelayanan. Tabel di atas menunjukkan bahwa realisasi program KB tahun 2006 selalu lebih dari 90% atau bahkan di atas 100%. Hal ini menunjukkan bahwa pelayanan bidang KB di Provinsi DIY telah mampu menjangkau masyarakat, sehingga realisasi pelayanan KB aktif telah memenuhi standar pelayanan minimal bahkan melebihi target yang telah ditetapkan. Selain indikator diatas masih ada indikator lain yang juga sangat penting untuk mengukur keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan yaitu derajat kesehatan, perilaku hidup sehat masyarakat dan tingkat pelayanan kesehatan di Propinsi DIY. Adapun pencapaian pembangunan kesehatan dilihat dari indikator tersebut sebagai berikut : 1. Derajat Kesehatan 1.1 Moralitas a. Umur harapan hidup waktu lahir Umur harapan hidup waktu lahir di Propinsi DIY dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Periode 2000 – 2005 umur harapan hidup penduduk propinsi DIY 72,17 tahun. Kemudian untuk tahun 2005 yang bersumber dari BPS yaitu dari parameter hasil proyeksi penduduk 2000 – 2025 umur harapan hidup meningkat menjadi 74,0 tahun. Oleh karena itu menurut SDKI usia harapan hidup waktu lahir di Propinsi DIY tertinggi di Indonesia yaitu sebesar 74,00 tahun. b. Angka Kematian bayi Angka kematian bayi (AKB) di DIY dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2007 menunjukkan adanya penurunan. Hasil survey demografi dan kesehatan indonesia 2002 – 2003 (SDKI 2002 – 2003) yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa AKB menurun yaitu dari 20,32 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2002 menjadi 20,00 per 1.000 kelahiran hidup. Angka tersebut merupakan terendah ke dua setelah provinsi Bali (14 per 1.000 kelahiran hidup), sedangkan target nasional tahun 2010 adalah 40 per 1.000 kelahiran hidup. Diestimasikan

179

AKB di Propinsi DIY tersebut akan terus menurun menjadi 19,92 per 1.000 kelahiran hidup (perkiraan 2005 – 2020) oleh BPS (Proyeksi Penduduk Indonesia per Propinsi 2000 – 2010). c. Angka kematian balita (AKBA) Angka kematian Balita (AKBA) menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan anak dan faktor – faktor lain yang berpengaruh terhadap kesehatan anak balita seperti gizi, sanitasi, penyakit menular dan kecelakaan. AKABA di DI. Yogyakarta dalam beberapa tahun terakhir ini menunjukkan penurunan terus menerus. AKABA pada tahun 2002 diperkirakan sebesar 43 per 1.000 kelahiran hidup dan ternyata hasil survei demografi dan kesehatan Indonesia 2002 – 2003 (SDKI 2002 – 2003) menunjukkan bahwa AKBA mencapai angka 23 per 1.000 kelahiran hidup (peringkat kedua setelah provinsi Bali 19 per 1.000 kelahiran hidup). Perkembangan AKABA sampai dengan tahun 2007 tercatat sebesar 22 per 1.000 kelahiran hidup. d. Angka Kematian Ibu (AKI) Angka kematian ibu (AKI) yang dihasilkan melalui SDKI dan SKRT hanya menggambarkan angka nasional dan tidak dirancang untuk mengukur angka kematian ibu menurut provinsi. Hasil susenas tahun 2005 menunjukkan angka kematian ibu di provinsi DIY sebesar 105/100.000 kelahiran hidup, angka ini mengalami penurunan dibandingkan hasil susenas sebelumnya yaitu sebesar 110/100.000 kelahiran hidup. Hasil analisis laporan rutin program KIA secara nasional, bahwa AKI di provinsi DIY tercatat sebesar 96 per 100.000 kelahiran hidup (peringkat ke empat setelah propinsi DKI, sumsel dan Bali). e. Pola penyebab kematian di rumah sakit. Sejak tahun 2004, data menunjukkan bahwa penyaki degeneratif di Propinsi DIY telah menduduki peringkat utama penyebab kematian dibanding angka nasional yang masih didominasi oleh penyakit infeksi. Penyakit stroke, jantung dan diabetes selama tahun 2004 sampai dengan 2006 masuk dalam 10 besar penyakit utama penyebab kematian di rumah sakit di Propinsi DIY (tingkat nasional, hanya stroke yang masuk 10 besar). Jumlah kunjungan di RS untuk kasus penyakit jantung, stroke dan diabetes mengalami peningkatan selama 3 tahun terakhir. Perilaku dan kebiasaan hidup yang merupakan faktor risiko penyakit degeneratif di DIY telah menunjukkan angka yang hampir sama dan di atas rata – rata nasional. 1.2. Morbiditas (Kesakitan) a. Angka Kesakitan Malaria Propinsi DIY mempunyai satu daerah yang merupakan daerah endemis malaria yaitu kabupaten kulon progo, sehingga angka kesakitan yang ada di DIY yang paling dominan adalah kasus dari Kabupaten Kulon Progo, walaupun di Kabupaten Sleman juga ditemukan daerah endemis. Angka kesakitan malaria dari tahun 2003 sampai tahun 2007 berangsur – angsur mengalami penurunan

180

yang cukup signifikan. Selain itu, desa yang sebelumnya merupakan HCI (High Case Incidence) sudah menurun menjadi LCI (Low Case Incidence). Seluruh KLB (Kejadian luar biasa) malaria sudah dapat ditangani. Tahun 2008 Propinsi DIY mendapatkan penghargaan tingkat nasional dalam hal penanggulangan penyakit malaria. Tabel IV.47 Angka Kesakitan Malaria di DIY Tahun 2003-2007

Tahun 2003 2004 2005 2006 2007

Angka Kesakitan Malaria (%) 1,1 0,18 0,07 0,062 0,025

Sumber : Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Gubernur DIY 2003-2008 hal. IV-19

b. Angka Kesembuhan TB Paru BTA (+) Angka kesembuhan TB pari dari tahun 2003 sampai tahun 2007 nampak fluktuatif. Pada tahun 2003 – 2004 telah terjadi kenaikan yang cukup berarti yaitu dari 74 persen menjadi 82 persen pada tahun 2004. Namun selanjutnya terjadi penurunan terus dan pada tahun 2007 menjadi 79,10 persen). Secara umum angka kesembuhan TB paru masih perlu ditingkatkan terus (target 2010 adalah 85%). Tabel IV.48 Angka Kesembuhan TB-paru di DIY Tahun 2003-2007

Tahun 2003 2004 2005 2006 2007

Angka Kesembuhan TB-paru (%) 74 82 81,08 80 79,10

Sumber : Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Gubernur DIY 2003-2008 hal. IV-19

c.

HIV Persentase HIV dari hasil sentinel survey di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dari tahun ke tahun nampak meningkat. Hal ini terjadi karena meningkatnya kelompok resiko yang menjadi sasaran survey, yang semula dilakukan terhadap pekerja seks komersial (PSK) dan penghuni lapas, bertambah pada kelompok Injection Drug Use (IDU), pemijat, salon, waria dan sopir. Angka woluntary conseling and testing (VCT) sub populasi yang berisiko tinggi HIV/AIDS yang datang untuk konsultasi dan testing secara sukarela dari 1,80 persen (tahun 2006) meningkat menjadi 5,60 persen (tahun 2007). Care support and treatment (CST) atau pengobatan, perawatan dan

181

dukungan untuk orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dari 40 persen (tahun 2006) meningkat menjadi 70 persen (tahun 2007). Tabel IV.49 Presentase HIV di DIY Tahun 2003-2007

Tahun 2003 2004 2005 2006 2007
d. Demam berdarah (DBD)

Angka Kesembuhan TB-paru (%) 3,3 5,8 6,0 6,6 6,7

Sumber : Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Gubernur DIY 2003-2008 hal. IV-20

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Propinsi DIY pada tahun 2006 telah ditemukan sebanyak 1.887 kasus DBD. Angka kesakitan tertinggi untuk penyakit DBD adalah di wilayah kota yogyakarta, kemudian kabupaten sleman dan Kabupaten Bantul. Angka kesakitan Demam Beradarah Dengeu (DBD) ditargetkan kurang dari 10/100.000 penduduk pada tahun 2006, akan tetapi tercatat sebesar 66/100.000 penduduk. Hal ini dikarenakan belum meratanya kesadaran seluruh lapisan masyarakat terhadap arti penting kebersihan lingkungan khususnya pada sumber penyakit. Namun apabila dilihat dari angka kematian kasus demam berdarah, ternyata mengalami penurunan. Angka kematian kasus Demam Berdarah Dengeu dari 1.05 pada tahun 2006, menurun menjadi 1.02 persen pada tahun 2007. Tabel IV.50 Angka Morbiditas Penyakit DBD di Provinsi DIY

Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007
1.3 Perilaku Hidup Masyarakat

Angka Morbiditas Penyakit DBD per 100.000 penduduk 30,95 26,08 46,42 66,33 29,18 66,59 74,65

Sumber : Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Gubernur DIY 2003-2008 hal. IV-21

a. Rumah tangga berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) Program terpadu untuk mengetahui perilaku masyarakat tentang kesehatan adalah program PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat), pendekatan program ini lebih dititik beratkan pada penilaian terhadap indikator perilaku di tatanan rumah tangga. Pada tahun 2006 jumlah rumah tangga di 5

182

kabupaten/kota yang telah dibina agar ber-PHBS adalah 224.890 rumah tangga (KK), namun jumlah rumah tangga yang telah melaksanakan sebesar 184.554 KK (82,06 %). b. Penyehatan Lingkungan Berdasarkan analisis data susenas tahun 2005 dan 2006 menunjukkan bahwa penggunaan fasilitas air bersih untuk keperluan sehari – hari dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2006, prosentase rumah tangga yang menggunakan sumber air minum dari PDAM tercatat meningkat, demikian juga rumah tangga yang menggunakan air kemasan terus meningkat, yaitu dari 7,42 persen pada tahun 2005 meningkat menjadi 8,75 persen pada tahun 2006. Sedangkan penggunaan sumber air minum dari sumur gali menurun dari 63,35% pada tahun 2005 menjadi 58,05% pada tahun 2006. Prosentase keluarga menggunakan jamban sehat mengalami peningkatan dari 70% pada tahun 2004 menjadi 85% pada tahun 2005 (laporan rutin program). 1.4. Pelayanan Kesehatan a. Cakupan kunjungan bumil K4 Target cakupan kunjungan ibu hamil pada pelayanan kesehatan yang keempat kalinya (K4) untuk tahun 2006 dari profil kesehatan kabupaten/kota adalah sebesar 84,01%. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada table berikut. Dari data tersebut menunjukkan bahwa pelayanan antenatal telah lengkap (memenuhi standar pelayanan dan menepati waktu yang ditetapkan) hal ini menggambarkan tingkat perlindungan ibu hamil di suatu wilayah. b. Persentase persalinan ditolong tenaga kesehatan Proporsi persalinan yang ditangani oleh tenaga kesehatan (nakes) merupakan salah satu upaya untuk penurunan angka kematian ibu dan bayi. Target persalinan oleh nakes tahun 2006 mengacu pada SPM adalah 77%. Untuk pencapaian persalinan oleh nakes berdasarkan data yang dikumpulkan dari profil kesehatan kabupaten/kota tahun 2006. Pencapaian persalinan oleh nakes sudah mencapai target yaitu 40.704 orang (87,79%). Rata – rata pencapaian persalinan oleh nakes di seluruh wilayah kabupaten/kota se provinsi DIY sudah diatas target. c. Desa terkena kejadian luar biasa (KLB) yang ditangani 24 jam KLB adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan dan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu desa/kelulrahan dalam waktu tertentu. DI Provinsi DIY pada tahun 2006 jumlah desa yang ada 438 desa/kelurahan dari jumlah tersebut 90 desa/kelurahan diantaranya (20,54%) terkena KLB, namun kejadian KLB telah dapat ditangani dengan cepat yaitu kurang dari 24 jam (100%), dengan demikian maka secara menyeluruh penanganan KLB telah mencapai target standar pelayanan minimal (100%). d. Ibu Hamil yang mendapat tablet Fe.

183

Indikator akses ibu hamil memperoleh perlindungan dari resiko menderita anemia dapat dilihat dari cakupan pemberian fe, sedangkan Fe3 menunjukkan kepatuhan ibu hamil mengkonsumsi tablet tambah darah (TTD). Dari hasil pemantauan cakupan distribusi TTD pada ibu hamil ternyata Fe3 yang ditargetkan 70% telah mencapai target yaitu 80,74%, namun bila dilihat per kabupaten/kota hanya kota yogyakarta yang belum mencapai target (67,86%). e. Pelayanan Kesehatan keluarga miskin Kesehatan merupakan investasi, oleh karena itu jaminan pelayanan kesehatan sangat diperlukan terutama bagi setiap orang tidak terkecuali keluarga miskin. Orang yang terkena sakit bisa menjadi miskin maupun lebih miskin apabila menderita penyakit dan tidak mempunyai jaminan pemeliharaan kesehatan. Program pelayanan masyarakat miskin di Propinsi DIY sejak tahun 2003, telah dibentuk Badan penyelenggara jaminan pelayanan kesehatan sosial (Bapel Jamkesos melalui SK gubernur nomor 74 tahun 2003. Pembiayaan kesehatan masyarakat miskin melalui Bapel Jamkesos pada tahun 2003 dan 2004 masih mendapatkan anggaran dari APBN, namun sejak tahun 2005 sampai dengan 2008 pembiayaan seluruhnya bersumber dari APBD propinsi DIY sebesar 5,7 M sampai dengan 16,5 M. Jumlah peserta yang dijamin pada tahun 2005 sebesar 95.000 orang dan pada tahun 2008 sebanyak 332.139 orang. Utilisasi pelayanan kesehatan keluarga miskin pada tahun 2004 menunjukkan peningkatan yang signifikan dari 3% menjadi 6% di Puskesmas. Sedangkan utilisasi pelayanan kesehatan masyarakat miskin di rumah sakit pada tahun 2004 rata – rata sebesar 0,21%. Peserta yang dijamin oleh Bapel Jamkesos, selain masyarakat miskin juga kader kesehatan, tukang becak, anak terlantar, penghuni panti sosial, pengungsi, penghuni rumah singgah (anak jalanan), penderita kasus BDB, korban kekerasan terhadap anak perempuan dan penderita gizi buruk. Penyelenggaraan pelayanan masyarakat miskin oleh Bapel Jamkesos menggunakan pendekatan sistem asuransi kesehatan sosial, meliputi menejemen kepesertaan, pelayanan kesehatan dan keuangan (trias manajemen) 5.3 Permasalahan Pencapaian Sasaran Permasalahan yang timbul dalam mencapai sasaran pembangunan bidang kesehatan di Propinsi DIY adalah : 1. Masih merebaknya penyakit menular dan wabah seperti Demam Berdarah Dengue (DBD), TB –paru, HIVAIDS, Malaria. Disamping semakin meningkatnya penyakit degeneratif (jantung, hipertensi, diabetes, dan stroke). Penyakit menular khususnya Demam Berdarah Dengue (DBD) dan TB-paru memang masih merupakan masalah utama, karena penyakit ini sangat berhubungan dengan perilaku hidup bersih dan sehat. 2. Masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

184

3. Masih adanya gizi kurang dan gizi buruk pada bayi, balita serta ibu hamil. VI. Rekomendasi Tindak Lanjut Adapun rekomendasi yang dapat diberikan dalam menyelesaikan permasalahan tersebut adalah: 1. Peningkatan upaya pencegahan dan pemberantaran penyakit menular dan wabah 2. Khusus untuk penanganan penyakit demam berdarah dengue dan malaria, di masa – masa yang akan datang program pengendalian perlu peningkatan konsentrasi pada upaya meminimalkan peran lingkungan sebagai tempat perindukan nyamuk, sehingga kejadian luar biasa (KLB) dapat dicegah. 3. Diharapkan sampai akhir tahun 2013 program pengendalian HIV AIDS terus berupaya untuk menemukan orang dengan terpapar HIV positif. Dengan menemukan orang terpapar HIV positif, maka upaya pengendalian penyakit HIV AIDS dapat dilakukan dengan mengelola sumber penularannya untuk tidak menularkan kepada orang lain. Sehingga apabila angka HIV positif terus meningkat di Provinsi DIY bukan merupakan gambaran penyakit yang tidak terkendali, tetapi justru merupakan langkah awal dalam pengendalian penyakit ini. Propinsi DIY yang dikategorikan sebagai daerah dengan Concentrated Epidemic Level atau pemaparan virus HIV masih terkosentrasi pada populasi berisiko. Namun ini merupakan peringatan dini untuk lebih meningkatkan upaya pengendalian dan pencegahan infeksi HIV-AIDS agar penyakit ini tidak masuk ke dalam populasi umum. Sehubungan dengan hal tersebut, diperlukan dukungan dan partisipasi seluruh komponen masyarakat propinsi DIY, mulai dari sektor pemerintah, swasta, LSM dan masyarakat. 4. Peningkatan kesadaran masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat Menyadari bahwa perilaku adalah sesuatu yang rumit. Perilaku tidak hanya menyangkut dimensi kultural yang berupa sistem nilai dan norma, melainkan juga dimensi ekonomi, yaitu hal – hal yang mendukung perilaku, maka perlu dilakukan strategi yang komprehensif, khususnya dalam menciptakan perilaku hidup bersih dan sehat. Pemberdayaan masyarakat merupakan proses pemberian informasi yang terus menerus dan berkesinambungan agar sasaran dari tidak tahu menjadi tahu, dari tahu menjadi mau, dan dari mau menjadi mampu melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat. 5. Penanganan masalah gizi kurang dan gizi buruk pada bayi, balita dan ibu hamil secara terintegrasi. Program perbaikan gizi dititikberatkan pada beberapa kelompok yang masih perlu mendapat perhatian yaitu kepada kelompok – kelompok rentan terhadap kekurangan gizi antara lain yaitu bayi, balita, dan ibu hamil. Dengan penanganan masalah gizi secara terintegrasi (melibatkan lintas program, lintas sektor, masyarakat, swasta/dunia usaha), maka diharapkan tidak akan terjadi loss generation, sehingga akan terwiujud masyarakat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.dan berkualitas.

185

VII Penutup Pembangunan Kesehatan merupakan faktor penting dalam memberikan kontribusi untuk pembentukan kualitas sumber daya manusia.Pada awal pelaksanaan RPJMN di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta 90% penduduknya telah mendapatkan akses terhadap pelayanan kesehatan. Sedangkan penduduk Propinsi DIY yang tidak memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan dibawah 10%. Pemerintah Propinsi DIY telah melakukan berbagai upaya dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Propinsi DIY. Dengan upaya – upaya tersebut, berbagai kemajuan telah dicapai hingga tahun 2007. Indikator keberhasilan ini ditandai oleh meningkatnya usia harapan hidup, menurunnya angka kematian ibu, bayi dan balita, seta meningkatnya status gizi dan kesehatan masyarakat. Walaupun masih terdapat beberapa permasalahan yang masih tersisa dan menjadi tantangan pemerintah untuk mengatasinya. Oleh karena itu dibutuhkan upaya yang lebih konsisten dan insentif dalam pembangunan bidang kesehatan.

Bab 4.15 Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Sosial I. Pengantar Komitmen untuk memajukan kualitas kehidupan masyarakat pada dasarnya merupakan kehendak masyarakat dunia. Demikian juga halnya dengan pemerintah Kabupaten Kotabaru. Berbagai upaya secara terus menerus dilakukan untuk memacu pembangunan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakatnya seperti yang diamanatkan dalam UUD 1945. Kesepakatan yang dibuat Indonesia dalam Conference on Population Development yang memunculkan MDGs (Millenium Development Goals/Tujuan Pembangunan Milenium) semakin menunjukkan adanya komitmen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hal ini selaras dengan salah satu tujuan MDGs yakni program aksi untuk penurunan angka kemiskinan. Diantara 8 komitmen MDGs, pengentasan kemiskinan merupakan salah satu program yang harus ditindak lanjuti oleh negara yang menandatangani Millenium Declaration yakni menghapuskan kemiskinan 50% pada tahun 2015 dari keadaan saat ini. Seiring dengan program nasional, agenda meningkatkan kesejahteraan rakyat di DIY tetap mengacu pada target-target nasional. Pada dasarnya, upaya menciptakan masyarakat sejahtera dan bebas dari kemiskinan merupakan salah satu cita-cita para pendiri negara Republik Indonesia ketika memproklamirkan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD 1945 yakni menciptakan masyarakat adil makmur. Dalam rentang waktu lebih dari 62 tahun sejak kemerdekaan, fakta menunjukkan masih besarnya jumlah penduduk miskin di negara ini. Data pada tataran nasional menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia pada bulan Maret 2006 sebanyak 39,05 juta orang atau 17,75 persen dari total penduduk. Dibandingkan dengan kondisi Februari 2005, berarti jumlah penduduk miskin bertambah 3,95 juta orang, dengan catatan 2,06 juta di perdesaan dan 1,89 juta di perkotaan (Suhariyanto,

186

2006)1. Posisi pada bulan Maret 2007 penduduk miskin berjumlah 37,17 juta (16,58%). Dengan demikian, dalam satu tahun terjadi penurunan sebesar 2,13 juta. Kecenderungan tersebut tentu saja merupakan sinyal positif bagi semakin terwujutnya cita-cita menuju masyarakat sejahtera. Namun demikian, upaya lebih keras rupanya masih harus dilakukan mengingat angka 16,58% bukanlah angka yang kecil. Dengan jumlah penduduk yang semakin membengkak maka secara absolut angka kemiskinan pun akan terus bertambah. Dalam upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat, pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta menetapkan bahwa salah satu Misi pembangunan (sebagaimana yang telah ditetapkan dalam renstrada DIY tahun 2003) adalah Memanfaatkan ekonomi lokal yang didasarkan konsep Ekonomi Kerakyatan, dengan sasaran utama adalah (i) Penguatan kelembagaan masyarakat pelaku ekonomi; (ii) Kemudahan pelayanan perijinan di seluruh tingkatan (Pusat, Propinsi, Kabupaten/Kota); (iii) Mantapnya manajemen pariwisata, mendukung pengembangan ekonomi lokal. Tentu saja sasaran tersebut merupakan tindak lanjut sasaran pembangunan yang telah ditetapkan dalam RPJMN yakni salah satunya adalah menekan pertambahan dan sekaligus mengurangi jumlah penduduk miskin (RPJMN Bappenas) Secara khusus, sasaran pengentasan penduduk dari kemiskinan di DIY menekankan perlunya menekan pertambahan penduduk miskin akibat gempa 27 Mei 2006 dan sekaligus menekan angka kemiskinan (sumber: Lap Akuntabilitas Kinerja). Sasaran tersebut akan dicapai melalui penguatan kelembagaan masyarakat pelaku ekonomi, peningkatan manajemen pariwisata, dan mendukung pengembangan ekonomi lokal (sumber: Renstra, DIY) Secara umum, terkait dengan program pengentasan kemiskinan, program ini merupakan salah satu program prioritas pemerintah propinsi DIY. Pemprov DIY, saat ini mempunyai 5 Prioritas Pembangunan dengan rencana anggaran Rp. 920.536.844.316, Pendukung Prioritas (6 Program, 859 Kegiatan) dengan rencana anggaran Rp. 219.082.929.944, Kemiskinan (67 Program, 279 Kegiatan) dengan rencana anggaran 321.790.627.733, Pengangguran (17 Program, 111 Kegiatan) dengan rencana anggaran Rp. 124.126.262.130, Perspektif Gender (11 Program, 25 Kegiatan) dengan rencana anggaran Rp. 3.965.400.000. Total rencana anggaran pada prioritas dan pendukung prioritas di Pemprov adalah Rp. 1.139.619.774.260.2 Apabila dilihat pada tingkatan kabupaten, terdapat beberapa kondisi yang menunjukkan program pengentasan kemiskinan belum memberikan efek yang positif. Dalam kasus Kabupaten Sleman, jumlah keluarga miskin ternyata dari tahun ke tahun juga tidak menunjukkan penurunan. Berdasarkan pendataan keluarga pada tahun 2006, di Kabupaten Sleman terdapat 62.518 KK miskin. Jika dibandingkan dengan tahun 2005, jumlah tersebut mengalami peningkatan sebesar 1.906 KK atau 3%. Sementara menurut pendataan BPS Prop DIY tahun 2007, di Sleman terdapat rumah tangga miskin 52.976 atau 19,26 % dari rumah tangga miskin di DIY. Tidak optimalnya penanganan kemiskinan di Kabupaten Sleman pada khususnya disebabkan oleh banyak hal. Salah satu diantaranya adalah banyaknya program-program pengentasan kemiskinan yang belum
1 2

Kecuk Suhariyanto, “Dibalik Angaka Kemiskinan”, Kompas, 14 September 2006. http://www.bapeda.jogjaprov.go.id/home.php?mode=content&submode=detail&id=2197

187

disinergikan dan disesuaikan dengan Strategi penanggulangan kemiskinan di kabupaten Sleman.

3

menurut

data statistik, terdapat 275.110 KK atau 942.129 jiwa termasuk kategori penduduk miskin dengan sebaran di Kabupaten Gunung Kidul 34,80 %, Kabupaten Bantul 23,40 %, Kabupaten Kulon Progo 15,39 %, Kabupaten Sleman 19,26 % dan Kota Yogyakarta 7,15 %. Dari total keluarga miskin tersebut sebesar 51,30 % bermata pencaharian utama di sektor pertanian khususnya komoditi padi dan palawija. 4 Berkaitan dengan hal tersebut, pada tahun 2007 pemerintah kabupaten Sleman telah menetapkan dua kecamatan yakni kecamatan Prambanan dan Seyegan sebagai pilot Proyek Penaggulangan kemiskinan. Dipilihnya kecamatan tersebut dikarenakan beberapa pertimbangan yakni, kondisi PDRB Perkapita masyarakat rendah, jumlah rumah tangga miskin tinggi, kajian kondisi terparah tentang kemiskinan oleh BPS DIY, perwakilan wilayah timur dan barat. Di dalam pilot proyek tersebut nantinya semua kegiatan penanggulangan kemiskinan yang dilakukan SKPD akan difokuskan ke kedua Kecamatan tersebut. Demikian juga dengan kegiatan yang dilakukan oleh kemitraan swasta penanggulangan kemiskinan (Corporate Sosial Responsibility). Berdasarkan data tahun 2005, kondisi sosial dan ekonomi Propinsi DIY apabila dibandingkan dengan propinsi lain di Indonesia pada dasarnya tidak terlalu rendah. Bahkan propinsi ini menempati peringkat 2 dalam index kemiskinan, dengan prosentase penduduk miskin sekitar 19,14persen pada tahun 2005 (DIY dalam Angka, 2005). Secara absolut jumlah tersebut setara dengan sekitar 616.000 jiwa penduduk DIY yang

berada di bawah garis kemiskinan. Tabel IV.50 menunjukkan Indikator sosial Yogyakarta tahun 2005.
Tabel IV.51 Indikator Sosial Yogyakarta Tahun 2005 wilayah Jumlah Persen* penduduk miskin 94600 151400 173300 146500 50400 25,11 18,55 25,19 15,53 12,77 Indek Peringkat Kemiskinan IKM Manusia 17,7 17,0 16,4 15,1 14,3 63 53 47 33 28 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 69,4 68,4 67,1 72,7 75,3 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 70,8 Peringkat IPM 76 94 140 30 3 Peringkat IPM 3

Kulon Progo Bantul Gunungkidul Sleman Kota Yogyakarta wilayah

Jumlah Persen* penduduk miskin 616200 19,14

Indek Peringkat Kemiskinan IKM Manusia 16,1 2

Propinsi DIY

Sumber: DIY dalam Angka 2005/ *terhadap total penduduk di wilayah yang bersangkutan

3 4

http://www.slemankab.go.id/?hal=detail_berita.php&id=1182 http://www.distan.pemda-diy.go.id/index2.php?option=content&task=view&id=403&pop=1&page=0

188

Upaya menggerakkan sektor ekonomi rakyat dilakukan melalui berbagai jalan. Data dasar kondisi usaha di wilayah DIY berdasarkan kajian Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik (PSEKP) UGM 2005, menunjukkan bahwa kondisi perekonomian di DIY relatif berkembang dan di dukung oleh perkembangan UMKM. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa (i) pada tahun 2004, jumlah unit usaha mikro, kecil dan menengah di Provinsi DIY berjumlah 114.961 unit usaha. Jumlah unit UMKM di DIY tersebut, didominasi oleh Industri Kecil Menengah (IKM) yang pada tahun 2004 berjumlah 78.609 unit usaha aau 68,37% dari total UKM DIY. Industri pangan mendominasi jumlah unit industri kecil menengah diikuti dengan industri kerajinan, industri kimia dan bahan bangunan. Sementara itu industri yang paling sedikit diusahakan adalah industri logam dan industri sandang dan kulit. Diluar sektor IKM, jenis usaha yang banyak diminati masyarakat adalah usaha perdagangan dan jenis aneka usaha/aneka jasa. (ii) Berdasarkan lokasinya, unit usaha UMKM terutama berada di Kabupaten Bantul, Gunung Kidul, Sleman dan Kulon Progo. Kota Yogyakarta relatif memiliki jumlah unit usaha UKM yang relatif lebih sedikit di banding wilayah lainnya. (iii). Daya serap angkatan kerja dari UMKM di DIY ditentukan oleh perkembangan jumlah unit UMKM di DIY. (iv) Jumlah tenaga kerja yang dapat diserap di sektor usaha kecil di Provinsi DIY pada tahun 2003 mencapai 241.321 orang. Dilihat menurut wilayah Kabupaten Bantul menempati urutan pertama dalam penyerapan tenaga kerja di sektor UMKM kemudian Kulon Progo, Gunung Kidul, Sleman dan Kota Yogyakarta. Sektor yang memiliki daya serap tenaga kerja yang tinggi adalah sektor pertanian, perdagangan, jasa dan industri pengolahan. Sektor yang paling sedikit menyerap tenaga kerja adalah sektor listrik, gas dan air. Kontribusi UMKM dalam PDRB DIY dapat diukur dari jumlah penyerapan tenaga kerja oleh usaha kecil lebih besar dibandingkan dengan usaha besar. Nilai investasi UMKM di Provinsi DIY masih terpusat di dua wilayah yaitu Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman. Sedangkan untuk ketiga wilayah lainnya masih relatif sedikit jumlahnya meskipun jumlah UKM-nya relatif banyak dibanding Kota Yogyakarta dan Sleman. Pada skala mikro, rata-rata total investasi UMKM yang ditanamkan adalah sebesar Rp. 129,287 juta atau Rp. 141,719 juta termasuk tanah dan bangunan (selain sektor perhotelan). Rata-rata modal investasi dan modal kerja yang dibutuhkan dalam kegiatan UMKM adalah Rp.207,775 juta (tanah), Rp.112,957 juta (bangunan), Rp.183,250 juta (peralatan), Rp.172,124 juta (modal kerja), dan Rp. 6,056 juta (biaya lainnya). Menurut daerah penelitian, rata-rata modal investasi UMKM (termasuk tanah dan banguan) tertinggi terdapat di Kota Yogyakarta kemudian diikuti Kabupaten Sleman, Gunung Kidul, Kulon Progo. Kebutuhan investasi UMKM sebagian besar menggunakan modal sendiri, diikuti modal keluarga dan kredit sedangkan penggunaan kredit untuk investasi masih relatif kecil. Pola sumber modal untuk kebutuhan untuk investasi ini sama disemua wilayah penelitian. Pola pemanfaatan keuntungan, menunjukkan kemampuan pengusaha kecil di Provinsi DIY untuk menjaga kelangsungan usahanya sudah cukup baik. Pemanfaatan keuntungan yang diperoleh sebagian besar digunakan untuk penambahan modal (48,24%), pemenuhan kebutuhan sehari-hari/konsumsi (33,49%), cicilan kredit (7,66%), tabungan (6,57%), pemenuhan kebutuhan lain (4,03%). Kebijakan Pemerintah dalam

189

mendukung pengembangan UMKM melalui berbagai program bantuan baik yang bersifat teknis (pelatihanpelatihan), bantuan pemasaran maupun bantuan modal sudah cukup baik. (xii) Kondisi produksi dan permintaan di tikat pengusaha UMKM di semua wilayah penelitian menunjukkan pada kondisi yang baik dilihat dari proses produksi maupun ketersediaan bahan baku. Pemasaran prodk UMKM di Provinsi DIY lebih banyak langsung ke konsumen dibandingkan ke pedagang perantara/pengecer. Wilayah pemasaran produk UMKM ke Provinsi DIY masih bersifat regional. Cakpan daerah pemasaran produk di wilayah satu Kecamatan persentasenya mencapai 24,57%, antar Kecamatan 18,65%, antar Kabupaten 28,50%, antar Provinsi 24,88% sedangkan pemasaran produk ke luar negeri atau ekspor pengusaha UMKM di DIY baru mencapai 3,40% dari todal produk dipasarkan. Nilai rata-rata keterkaitan langsung kebelakang tiap sektor di Provinsi DIY adalah sebesar 0,3147, sedangkan nilai rata-rata keterkaitan ke depan tiap sektor sebesar 1, 6536. Keterkaitan pada skala UMKM, menunjukkan bahwa keterkaitan kedepan produk UMKM masih rendah. Akan tetapi jika dilihat dari keterkaitan kebelakang nilainnya sangat baik yakni penggunaan bahan baku dari sektor lain. Aksesibilitas kredit perbakan UMKM di Provinsi DIY masih rendah. Pengetahuan pengusaha UMKM mengenai fasilitas kredit usaha masih belum baik. Menurut daerah penelitian di masing-masing Kabupaten/Kota di Provinsi DIY pengetahuan responden mengenai adanya fasilitas kredit untuk usaha hamper sama. Pengusaha UMKM DIY masih mengalami hambatan dalam memperoleh kredit bank utamanya berkaitan dengan ketentuan dan persyaratan kredit yang dirasa menyulitkan pengusaha. Sebagian pengusaha UMKM tidak pernah mengajukan kredit ke bank, dengan alas an keberatan dengan prosedur dan persyaratan bank seperti jaminan yang terlalu berat untuk dipenuhi. Sebagian besar pengusaha UMKM tidak berminat mengajukan kredit lagi dengan alasan adanya jaminan/agunan yang berat, bunga bank yang terlalu tinggi serta kesulitan memenuhi ketentuan dari bank untuk membuat kelayakan proyek. Tingkat pendidikan pengusaha UMKM di Provinsi DIY sebagian besar sudah sangat bagus serta telah banyak yang pernah mengikuti pelatihan baik yang diselenggarakan oleh Pemerintah maupun swasta. Jenis kegiatan usaha yang dilakukan oleh sebagian besar pengusaha kecil tidak jauh berbeda dari kegiatan yang dlakukan oleh oramng tua mereka. Sedangkan jika dilihat dari status kepemilikan sebagian besar merupan usaha milik sendiri. Sebagian besar pengusaha UMKM di Provinsi DIY telah memiliki sikap kewirausahaan yang baik. Dari 16 sikap mental yang harus dimiliki oleh pengusaha UMKM, sebagian besar pengusaha UMKM DIY termasuk dalam criteria yang baik kecuali untuk sikap dalam keberanian dalam mengambil resiko yang masih termasuk dalam criteria kurang baik. Dilihat per wilayah penelitian, tidak terdapat kesenjangan mengenai kemampuan kewirausahaan di lima Kabupaten/kota di DIY. Kondisi manajerial pengusaha UMKM di Provinsi DIY sudah tergolong baik. Dari keseluruhan aspek manajerial yang diniali, terdapat tiga aspek yang memiliki nilai baik yaitu aspek manajemen produksi, aspek keuangan, serta aspek manajemen personalia dan tenaga kerja. Untuk aspek administrasi, sebagian besar UKM DIY tergolong cukup baik, akan tetapi untuk aspek organisasi termasuk dalam criteria yang kurang baik.

190

Komoditi potensial masing-masing daerah Kabupaten/Kota menurut pendapat instansi/dinas terkait sebagian besar merupakan komoditi yang masih berbasis pada sumber daya local. Hambatan yang dihadapi instansi dalam pembinaan UMKM pada umumnya di semua Kabupaten/Kota adalah sulitnya validasi data/penggalian data potensi UKM sebagai sumber identifikasi permasalahan dan perencanaan program yang valid dan tepat sasaran. Dari sisi potensi internal yaitu kemampuan kewirausahaan dan manajerial, UMKM di Propinsi DIY layak untuk dikembangkan lebih lanjut. Hanya saja kelemahan kewirausahaan yang harus mendapatkan perhatian untuk diupayakan lebih baik yaitu sikap yang kurang berani dalam mengambil resiko. Selain faktor internal, faktor eksternal yang juga cukup mendukung dalam pengembangan UMKM lebih lanjut diantaranya adalah kebijakan pemerintah, perkembangan UMKM, sumber daya manusia, dukungan sarana dan prasarana serta kemudahan akses untuk UMKM. Kondisi sarana dan prasarana yang dimiliki oleh pengusaha UMKM DIY sudah sangat baik, terutama untuk sarana dan prasarana transportasi. Akses pengusaha UMKM terhadap informasoi yang berkaitan dengan perubahan lingkungan usaha akibat adanya otonomi daerah masih rendah. Otonomi daerah berpengaruh terhadap kegiatan UMKM utamanya dalam hal kenaikan pajak serta retribusi. Kenaikan harga BBM berpengaruh terhadap kegiatan produksi usaha UMKM yaitu pada kenaikan harga baku dan biaya transportasi. Dari jumlah responden pengusaha UMKM, sebanyak 74 responden pengusaha UMKM telah melakukan kemitraan dengan usaha besar dan tersebar di semua Kabupaten/Kota yang menjadi wilayah penelitian. Dari jumlah kemitraan tersebut, masih sedikit yang melibatkan pihak bank dalam program kemitraan. Prospek program kemitraan terpadu di DIY sangat bagus yang tercermin dari banyaknya pengusaha UMKM yang berminat mengadakan kemitraan. Jenis kemitraan yang banyak diinginkan berturut-turut adalag Dagang Umum, Subkontrak, Jenis Lain-lain, Keagenan, Inti Plasma, dan Waralaba. Dari Daftar Skala Prioritas, ditemukan komoditi-komoditi di berbagai sektor usaha yang termasuk dalam criteria sangat potensial (SP), potenisial (P) dan kurang potensial (KP) di masing-masing Kabupaten/Kota5 Perkembangan kesejahteraan secara agregat dapat pula dilihat dari beberapa indikator makro ekonomi seperti laju pertumbuhan PDRB dan PDRB perkapita serta laju pertumbuhan pengangguran terbuka. Apabila mengacu pada dua hal tersebut maka pertumbuhan ekonomi DIY pada tahun 2007 mencapai 4,20% meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 3,71% (2008 diprediksikan 4,00-4,50%) Tingkat pengangguran terbuka mencapai angka 5,41% (2007). Sedangkan pada tahun 2006 sebesar 5,32%. PDRB per kapita atas dasar harga berlaku pada tahun 2007 mencapai Rp 9,52 juta (US$ 1,029.67), lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2006 sebesar Rp 8,68 juta (US$ 946.83) (sumber : BI Yogyakarta). Perekonomian Provinsi DIY pada tahun 2007 mengalami pertumbuhan sebesar 4,20 persen dibanding tahun 2006. Nilai PDRB atas dasar harga konstan pada tahun 2007 mencapai Rp 18,27 triliun,sedangkan pada tahun 2006 sebesar Rp 17,54 triliun. Bila dilihat berdasarkan harga berlaku, PDRB. Gambaran secara lebih lengkap diungkapkan oleh BPS Propinsi DIY.
5

(sumber: Penelitian Potensi Dasar Ekonomi DIY, Tim PSE-KP UGM: 2005. http://paue.ugm.ac.id/index.php?option=com_content&task=view&id=100&Itemid=2)

191

Menurut lembaga ini, pertumbuhan ekonomi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada tahun 2007 yang diukur dari kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan 2000 meningkat sebesar 4,20 persen terhadap tahun 2006. Semua sektor ekonomi mengalami pertumbuhan positif, dengan pertumbuhan tertinggi di sektor konstruksi 8,10 persen dan terendah di sektor industri pengolahan 1,17 persen. Menurut data, sumber utama pertumbuhan ekonomi DIY adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran (sebesar 1,14 persen), diikuti sektor konstruksi 0,73 persen, sektor pengangkutan dan komunikasi 0,61 persen, dan sektor pertanian 0,57 persen. Besaran PDRB Provinsi DIY pada tahun 2007 atas dasar harga berlaku mencapai Rp 32,71 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan 2000 mencapai Rp 18,27 triliun. Secara triwulanan, PDRB Provinsi DIY pada triwulan IV/2007 menurun 1,76 persen dibandingkan dengan triwulan III/2007 (q-to-q), dan jika dibandingkan dengan triwulan IV/2006 (y-on-y) tumbuh sebesar 7,07 persen. Di sisi penggunaan, sebagian besar PDRB digunakan untuk memenuhi konsumsi rumah tangga sebesar 47,93 persen, konsumsi pemerintah 24,40 persen, dan pembentukan modal tetap domestik bruto (PMTDB) atau investasi fisik 36,53 persen. Semua komponen PDRB penggunaan mengalami pertumbuhan pada tahun 2007, dengan pertumbuhan tertinggi pada konsumsi pemerintah 7,51 persen, diikuti PMTDB 2,74 persen, dan konsumsi rumah tangga 2,17 persen. Sumber utama pertumbuhan ekonomi DIY adalah konsumsi pemerintah 1,41 persen, diikuti konsumsi rumah tangga 0,98 persen, dan PMTDB 0,84 persen. PDRB per kapita atas dasar harga berlaku pada tahun 2007 mencapai Rp 9,52 juta (US$1,029.67), lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2006 sebesar Rp 8,68 juta (US$ 946.83).6 tahun 2007 naik sebesar Rp 3,29 miliar, dari Rp 29,42 triliun pada tahun 2006 menjadi sebesar Rp 32,71 triliun pada tahun 2007. Data-data makro ekonomi tersebut memberikan gambaran adanya peningkatan signifikan perekonomian secara makro yang tentu saja akan berimbas pada kesejahteraan penduduk. II. Kondisi Awal RPJMN di Daerah Sesuai dengan kondisi permasalahan sosial di DIY ini dapat dipahami bahwa kemiskinan merupakan kunci utama permasalahan yang akan berimplikasi pada perkembangan masalah lainnya. Di sisi lain secara kuantitatif Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) sudah cukup memadai tetapi secara kualitatif masih memerlukan langkah-langkah pemberdayaan. Disamping itu juga sangat diperlukan adanya sistem informasi kesejahteraan sosial yang meluas sehingga dapat terjalin kemitraan dengan berbagai kalangan dan diharapkan dapat meningkatkan partisipasi sosial masyarakat dalam menangani masalah kesejahteraan sosial ini. Pemberdayaan keluarga miskin telah ditangani sejak tahun 1984. Akan tetapi sejak terjadinya krisis tahun 1998 jumlah tersebut diperkirakan meningkat sampai dengan 40% hingga saat ini, sehingga Pemerintah tetap harus bekerja keras dalam menuntaskan permasalahan ini di masa mendatang. Program kerja ke arah ini selalu diutamakan atau menjadi prioritas bagi percepatan pemulihan kemakmuran masyarakat DIY. Hingga tahun 2002
6

Berita Resmi Statistik Provinsi D.I. Yogyakarta No. 06/02/34/Th. X, 15 Februari 2008

192

permasalahan sosial ekonomi terus bertambah antara lain, seperti masalah anak terlantar dan korban NAPZA. Untuk itu, peningkatan kesejahteraan sosial dapat dilaksanakan melalui Program Perlindungan Penyandang Masalah Sosial dan Peningkatan Kepedulian Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial. Upaya peningkatan kesejahteraan sosial memegang peranan penting dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, melalui upaya-upaya perlindungan bagi masyarakat Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS), yang perlu perhatian untuk dapat diupayakan pemecahannya. Oleh karena itu, pembangunan kesejahteraan sosial melalui upaya penanganan PMKS harus dilakukan, dengan mendorong keterlibatan potensi sumber kesejahteraan sosial dan dunia usaha serta peran serta aktif masyaralat itu sendiri. Namun pemerintah tidak akan menyelesaikan ataupun mengurangi PMKS tanpa dukungan dan peran serta dari multistakeholder terutama kemauan dari para PMKS untuk dapat mandiri. Permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat begitu banyak menyangkut isu-isu strategis seperti meningkatnya angka kemiskinan, semakin banyaknya orang terlantar termasuk bayi dan anak terlantar, kecacatan yang disebabkan oleh bencana atau factor lain, dan ketunaan. Rincian permasalahan tersebut dapat di deskripsikan sebagai berikut : 1. Kemiskinan Jumlah penduduk di Provinsi DIY sebanyak 3.248.500 (Data BPS, 2004). Dari jumlah tersebut terdapat 176.008 KK miskin atau sekitar 704.032 jiwa (21,67 persen) yang termasuk dalam kategori miskin. Kemiskinan adalah kondisi sosial ekonomi masyarakat yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar yang layak bagi kemanusiaan. Sedangkan fakir miskin adalah orang dan atau tidak mempunyai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pokok. 2. Keterlantaran Keterlantaran adalah kondisi yang disebabkan karena tidak terpenuhinya secara wajar baik kebutuhan jasmani, rohani dan sosial. Yang termasuk dalam kategori terlantar adalah balita terlantar, anak terlantar, remaja terlantar, anak jalanan, dan lanjut usia terlantar. Jumlah usia terlantar sebanyak 23.833 orang (Pemutakhiran Data PMKS Dinas Sosial Tahun 2006) dan telah diberikan pelayanan melalui sistem panti dan laur panti. Pelayanan melalui sistem panti meliputi pelayanan harian (makan, minum, pakaian, kesehatan, keagamaan dan ketrampilan sebagai pengisi waktu luang), maupun pelayanan yang terkait dengan kematian (perawatan jenazah dan penguburan) 3. Kecacatan Pengertian kecacatan adalah setiap orang yang mempunyai kelainan fisik dan atau mental, yang dapat mengganggu atau merupakan rintangan dan hambatan baginya untuk melakukan fungsi-fungsi jasmani, rohani maupun sosialnya secara layak yang terdiri dari penyandang cacat, anak cacat, penyandang cacat eks penyakit kronis, penyandang eks psikotik. Jumlah penyandang cacat dengan kategori cacat berat dan ringan sebanyak 35.215 orang dan anak cacat berjumlah 5.075 anak (Pusdatin

193

Depsos RI : 2007) terdiri cacat tubuh, cacat netra, cacat rungu wicara dan cacat mental serta bekas penyandang penyakit kronis. Jumlah penyandang caacat cenderung bertambah dengan terjadinya bencana alam dan kecelakaan kerja maupun kecelakaan lalu lintas. Bahkan akibat gempa bumi tektonik 27 Mei 2006 jumlah penyandang cacat bertambah 938 orang. 4. Ketunaan Masalah ketunaan terdiri dari tuna susila, tuna wisma/gelandangan, bekas narapidana, pengemis dan pengidap HIV/Aids. 5. Kebencanaan Pada tahun 2006 Pemerintah Provinsi DIY melalui Dinas Sosial telah melakukan Pemetaan Daerah Rawan Bencana Alam. Dari kegiatan pemetaan tersebut dapat diketahui daerah rawan banjir, gempa vulkanik, gempa tektonik daerah rawan kekeringan dan bencana tanah longsor. 6. Korban tindak kekerasan Jumlah tindak kekerasan tahun 2004 sebanyak 832 orang (pemutakhiran data PNKS Dinas Sosial : 2004). Sebagian besar korban tindak kekerasan adalah Kekerasan Dalam Rumah Tangga : kekerasan suami terhadap istri, kekerasan dalam pekerjaan. III. Sasaran yang ingin dicapai Tantangan yang dihadapi di bidang kesejahteraan sosial adalah bagaimana pemerintah daerah meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat, menurunkan jumlah penyandang masalah kesejahteraan sosial, menangani trauma akibat bencana alam dan rehabilitasi setelah terjadi bencana, meningkatkan kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana pembangunan kesejahteraan sosial, meningkatkan peran serta masyarakat dalam meningkatkan taraf kesejahteraan sosial masyarakat, meningkatkan kemauan dan kemampuan masyarakat penyandang masalah kesejahteraan sosial untuk menolong dirinya sendiri guna memperbaiki dan meningkatkan taraf kesejahteraan sosialnya. IV. Arah Kebijakan Upaya peningkatan kesejahteraan sosial memegang peranan penting dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, melalui upaya-upaya perlindungan bagi masyarakat Penyandang Masalah Kesejahteraaan Sosial (PMKS), yang perlu perhatian untuk dapat diupayakan pemecahannya. Oleh karena itu, pembangunan kesejahteraan sosial melalui upaya penanganan PMKS harus dilakukan, dengan mendorong keterlibatan potensi sum-ber kesejahteraan sosial dan dunia usaha. Untuk meningkatan kesejahteraan masyarakat dilaksa-nakan melalui dua Arah Kebijakan Umum yang diterje-mahkan menjadi enam program. Beberapa kegiatan ter-sebut adalah : Pelayanan dan Rehabilitasi Korban Napza dalam Panti, Pelayanan dan Rehabilitasi Korban Napza Luar Panti, Penumbuhan USEP Keluarga Miskin, Bim-bingan Pengurus Orsos, Bimbingan Pengurus Forum

194

Komunikasi Pekerja Sosial Masyarakat, Bimbingan Pemantapan Usaha Bersama, Pembinaan Kurikulum Lintas Umat Beragama, Fasilitasi Pembinaan Mental Agama, Pemberdayaan Sosial, Perencanaan/Penelitian, Pelaksanaan Pembangunan Nasional, Pelestarian Nilai Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) dan Kesetiakawanan, Peningkatan Kesejahteraan Sosial Keluarga, dan lain-lain. Selain itu sesuai pada bab permasalahan mengenai PMKS, beberapa arah kebijakan disesuaikan dengan jenis masalah yang ada antara lain : 1. Kemiskinan a. Program yang dilaksanakan adalah program pemberdayaan ekonomi keluarga miskin melalui pendidikan dan pelatihan kewirausahaan, bimbingan usaha ekonomis produktif, pemberian bantuan paket usaha. b. Pemberdayaan fakir miskin yang dilaksanakan melalui penumbuhan KUBE. 2. Keterlantaran Memberikan pelayanan melalui sistem panti dan luar panti. 3. Kecacatan Panti Sosial Bina Netra Yogyakarta membina dan merehabilitasi penyandang cacat netra dengan diberi bimbingan sosial dan ketrampilan yang meliputi ketrampilan massage, dan orientasi mobilitas Bimbingan ketrampilan bagi eks penyakit kronis Pengasramaan murid SDLB Bimbingan pengembangnan usaha mandiri Paca Revitalisasi penyandang cacat Bantuan tambahan permakanan bagi anak cacat penanganan terhadap tuna susila dilaksananakan melalui sistem panti dan luar panti bimbingan rehabilitasi sosial dan ketrampilan bagi gelandangan dan pengemis dilaksanakan melalui sistem panti dan luar panti bimbingan rehabilitasi sosial dan ketrampilan melalui sistem panti bimbingan rehabilitasi sosial dan ketrampilan bagi bekas narapidana dilaksankaan melalui sistem luar panti. 5. Kebencanaan Melakukan pemetaan daerah rawan bencana alam Pemantapan beberapa pihak pengaman bencana misalnya Taruna Siaga Bencana (TAGANA) dan sebagainya Pemberian Bahan Bangunan Rumah 6. Korban tindak kekerasan

4. Ketunaan

195

-

Penanganan wanita tindak kekerasan baik panti asuhan maupun luar panti asuhan bekerja sama dengan berbagai pihak baik dengan LSM-LSM yang bergerak dibidang pemberdayaan perempuan, Pusat Studi, lembaga hukum, rumah sakit dan lain sebagainya.

-

Penanganan anak korban tindak kekerasan dilaksankan di Panti Asuhan Anak Binomartani, Ngemplak, Sleman.

V. Pencapaian RPJMN di Daerah 1. Kemiskinan Seluruh program dan kegiatan dalam pemberdayaan ekonomi keluarga miskin melalui pendidikan dan pelatihan kewirausahaan, bimbingan usaha ekonomis produktif, pemberian bantuan paket usaha telah terlaksana dengan baik. Kegiatan pengentasan kemiskinan dengan sasaran Wanita Rawan Sosial Ekonomi yang dimulai tahun 2006 s/d 2007 berjumlah 660 KK (22 kelompok, setiap kelompok 30 orang) beberapa kelompok sudah mampu menambah anggota. Selain itu pemberdayaan fakir miskin yang dilaksanakan melalui penumbuhan KUBE selama kurun waktu 2004 s/d 2008 telah ditumbuhkan 1.751 KUBE (17.510 KK). Bagi KUBE-KUBE yang telah berkembang diberikan penguatan modal melalui Bantuan Langsung Pemberdayaan Masyarakat (BLPS), atau diarahkan menuju Lembaga Keuangan Mikro (LKM). Disamping itu, pemantapan pengembangan KUBE yang sejak tahun 2006-2007 berjumlah 56 KUBE dan rencana tahun 2008 berjumlah 31 KUBE. 2. Keterlantaran Dalam pelayanan harian, Panti Werdha telah melibatkan berbagai disiplin ilmu yang terkait misalnya psikologi, agamawan/rohaniawan, ahli gizi, dokter atau perawat dan pekerja sosial. Untuk pelayanan bagi Lanjut Usia melalui luar panti dilaksanakan dengan bantuan permakanan mulai tahun 2004 s/d 2008 bagi 4.035 lanjut usia. Selain itu bagi lanjut usia potensial diberikan bimbingan pengelolaan usaha ekonomis produktif yang kurikulumnya telah disesuaikan dengan usianya dan sesudah itu mereka diberi bantuan usaha sesuai dengan permintaan dan pertimbangan usia melalui UEP. Selama tahun 2004 s/d 2008, UEP diberikan kepada 1.760 orang, sedangkan melalui usaha kelompok ada 1.160 kelompok. Jumlah balita terlantar yang berhasil mendapatkan orang tua asuh melalui kegiatan fasilitasi adopsi anak terlantar dan kegiatan rekomendasi adopsi anak terlantare yang bekerja sama dengan Yayasan Sayap Ibu Yogyakarta pada tahun 2005 sebanyak 9 orang, 2006 sebanyak 15 orang dan tahun 2007 sebanyak 10 orang. Anak terlantar yang berjumlah 33.565 anak (up-dating data tahun 2007) juga telah mendapatkan perhatian dengan pemberian bantuan permakanan, selama kurun waktu 2004 s/d 2007 dengan jumlah anak sebanyak 4.605 anak. Disamping itu, bagi anak terlantar yang masih sekolah, diberi bantuan beasiswa atau peralatan sekolah baik yang belajar di SD maupun SMP. 3. Kecacatan

196

Dari tahun 2004 s/d 2008 telah dibina 200 orang dan 76 diantaranya sudah mandiri dan lainnya dapat mengurus diri sendiri. Selama tahun 2006 s/d 2008 telah dilaksanakan bimbingan ketrampilan bagi penyandang penyakit kronis masing-masing 20 orang per tahun. Mulai tahun 2007 dan 2008 diberikan permakanan sebagai jaminan hidup Jumlah murid SDLB yang mendapatkan fasilitas pengasramaan sebanyak 50 orang Ada 20 orang per tahun dari tahun 2004 s/d 2008 yang mendapatkan pengembangan usaha mandiri Jumlah peserta revitalisasi penyandang cacat tahun 2004 s/d 2008 masing-masing sebanyak 20 orang setiap tahun dan yang telah masuk dunia kerja sebanyak 40 orang (40 persen) Anak cacat yang memperoleh bantuan permakanan dari tahun 2004 s/d 2008 masing-masing berjumlah 200 orang anak cacat pertahun (40 anak per kabupaten kota). 4. Ketunaan Tahun 2004 dibina 50 orang WTS dan wanita rawan psikologis dan telah berhasil mengentaskan 17 orang (34 persen), tahun 2005 membina 50 orang WTS dan wanita rawan dan telah berhasil mengentaskan 20 orang (40 persen), tahun 2006 membina 50 orang dan telah berhasil mengentaskan 22 orang (44 persen). Tahun 2007 telah membina 50 orang dan telah berhasil mengentaskan 30 orang (60 persen). Panti sosial bina karja sejak tahun 2004-2007 telah melakukan bimbingan terhadap 200 orang/50 gepeng per tahun dan 50 orang gelandang psikotik di tahun 2007. dari jumlah itu, 112 (56 persen) jumlah gepeng sudah bertransmigrasi atau bekerja pada sektor usaha misalnya sopir dan wiraswasta dan lainnya kembali ke masyarakat. Sejak tahun 2006-2007 telah dibina 200 orang napi/tahun Sebanyak 148 kk medapat bantuan Bahan Bangunan Rumah, bantuan sandang dan logistik. Sedangkan bantuan bahan pembuatan bak penampungan air hujan untuk penanggulangan atau mengantisipasi kekeringan dari tahun 2004 s/d 2008 sebanyak 377 unit di kabupaten Gunungkidul, Bantul dan Sleman. 6. Korban tindak kekerasan Dari tahun 2005 target penanganan anak tiap tahunnya yang memperoleh pendampingan. Sampai saat ini sudah 35 anak sembuh dari kondisi traumatiknya. Bagi anak yang sudah keluar dari Trauma Centre ada yang kembali kepada keluarga, ada yang masuk Panti Sosial Asuhan Anak Yogyakarta Untuk indikator kinerja, target dan realisasinya sebagai berikut : 1. pelayanan dan rehabilitasi kesejahteraan sosial target 11,6 % realisasi 11,66 % dan capaian 100,00 % 2. pembinaan para penyandang cacat dan trauma target 1,24 %, realisasi 1,24 %, capaian 100,00 % 5. Kebencanaan

197

3. pembinaan panti asuhan/jompo target 5,41 %, realisasi 5,41 % dan capaian 100,00 % 4. Pemberdayaan kelembagaan kesejahteraan sosial target 29,95 %, realisasi 29,95 % dan capaian 100,00 % VI. Rekomendasi tindak lanjut Upaya pengentasan kemiskinan diupayakan melibatkan peran serta masyarakat melalui Program Pemberdayaan kelembagaan Kesejahteraan Sosial dalam rangka Optimalisasi Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial (PSM, Orsos, karang Taruna, Wahana Kesejahteraan Sosial berbasis Masyarakat, Dunia Usaha). VII. Penutup Kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan mengupayakan perlindungan kepada Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) berjalan dengan baik. Terbukti angka pencapaian terhadap jumlah PMKS yang bisa dilindungi dari tahun ke tahun meningkat. Strategi untuk menjalankan perlindungan terhadap para PMKS juga melibatkan banyak elemen sehingga hasilnya lebih optimal.

Bab 4.16 Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Kecil Berkualitas Serta Pemuda dan Olahraga I. Pengantar Penduduk merupakan aspek yang sangat penting dalam proses pembangunan. Daerah yang mengalami ledakan penduduk akan sulit mencapai hasil pembangunan yang maksimal. Karena akhirnya semua capaian pembangunan akan menjadi sia – sia disebabkan kemajuan yang telah dicapai akan tereduksi dengan peningkatan jumlah penduduk yang berlebihan. Selain itu kualitas penduduk juga sangat mempengaruhi pelaksanaan pembangunan. Oleh karena itu keberhasilan mengendalikan pertumbuhan dan meningkatkan kualitas penduduk akan mempercepat pembangunan yang pada akhirnya akan mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Menyadari hal ini, pemerintah melakukan berbagai program untuk pembangunan SDM, salah satunya adalah program Keluarga Berencana (KB). Program Keluarga Berencana (KB) memiliki posisi strategis dalam konteks pencapaian pembangunan. Secara makro, KB berfungsi mengendalikan kelahiran, sedangkan dalam perspektif mikro bertujuan untuk membantu keluarga dan individu dalam mewujudkan keluarga berkualitas. Hal ini dapat dilakukan melalui penyelenggaraan promosi, perlindungan, dan bantuan dalam mewujudkan hak – hak reproduksi, penyelenggaraan pelayanan, pengaturan dan dukungan untuk membentuk keluarga dengan usia kawin ideal, mengatur jumlah, jarak dan usia ideal melahirkan anak, serta pengaturan kehamilan dan pembinaan ketahanan kesejahteraan keluarga. Dalam upaya menangani masalah kependudukan di samping mengendalikan jumlah penduduk dan pertumbuhannya, dalam kaitan dengan penyelenggaraan kepemerintahannya yang baik, tertib administrasi

198

kependudukan merupakan hal yang perlu mendapat perhatian. Peningkatan kualitas SDM juga dilakukan melalui pembangunan pemuda dan olahraga. Pemuda merupakan gerasi penerus, penanggungjawab, dan pelaku pembangunan masa depan. Kekuatan bangsa di masa mendatang tercermin dari kualitas pemuda saat ini. Lebih jauh lagi, proporsi jumlah penduduk usia muda relatif besar dalam struktur kependudukan Indonesia. Pada tahun 2006 jumlah pemuda usia 15 – 35 tahun mencapai 80,81 orang atau 36,52% dari total penduduk Indonesia (BPS, 2006). Selanjutnya pembangunan olahraga bertujuan untuk menciptakan manusia yang sehat, ulet dan berjiwa sportif sehingga dapat mewujudkan SDM berkualitas. UU No. 3 Tahun 2005 tentang sistem keolahragaan nasional mengamanatkan bahwa tujuan keolahragaan nasional adalah memelihara dan meningkatkan kesehatan dan kebugaran, prestasi, serta kualitas manusia, menanamkan nilai moral dan akhlak mulia, sportivitas, dan disiplin, mempererat serta membina persatuan dan kesatuan bangsa, memperkukuh ketahanan nasional, serta mengangkat harkat, martabat dan kehormatan bangsa. Pembangunan olahraga mencakup bidang pendidikan, rekreasi dan prestasi. Ketiga bidang ini saling berintegraksi , bersinergi, dan berlangsung secara sistematik, berjenjang dan berkelanjutan mulai dari tahap pemasalan, pembibitan sampai pada pencapaian prestasi yang maksimal sehingga membentuk suatu sistem pembinaan dan keolahragaan nasional. II. Kondisi Awal RPJMN di Daerah Berdasarkan hasil Susenas Tahun 2005, jumlah penduduk DIY tercatat 3.281.800 jiwa, dengan jumlah penduduk perempuan 1.666.498 jiwa (50,78%) lebih besar dibanding penduduk laki-laki 1.615.302 jiwa (49,22%), dengan pertumbuhan sebesar 1,88%. Jumlah penduduk terbesar di Kabupaten Sleman sebanyak 955.124 jiwa dengan pertumbuhan 1,18%, disusul Kabupaten Bantul sebanyak 823.734 jiwa dengan pertumbuhan 0,91%, kemudian Kabupaten Gunungkidul dengan jumlah penduduk sebanyak 695.748 jiwa dengan pertumbuhan 1,30%, selanjutnya Kota Yogyakarta sebanyak 420.508 jiwa dengan pertumbuhan 5,50%, dan Kabupaten Kulon Progo dengan jumlah penduduk 386.686 jiwa dengan pertumbuhan 2,83%. Salah satu faktor meningkatnya pertumbuhan penduduk ini adalah berkaitan dengan kondisi DIY sebagai salah satu daerah yang relatif aman dan tenteram, sehingga migrasi masuk lebih besar dari pada migrasi keluar. Kepadatan penduduk 1.030 jiwa per km2. Kepadatan tertinggi terjadi di Kota Yogyakarta, yaitu 12,938,71/km2, diikuti Kabupaten Sleman sebesar 1.661,61/km2, Kabupaten Bantul sebesar 1.625,20/km2, Kabupaten Kulon Progo sebesar 659,57/km2, dan Kabupetan Gunungkidul sebesar 468,40/km2. Persebaran penduduk desa-kota, menunjukkan bahwa pertumbuhan penduduk kota jauh lebih cepat dari pada pertumbuhan penduduk desa. Tingginya pertumbuhan penduduk kota ini antara lain karena factor berubahnya status desa menjadi kota dan atau arus urbanisasi penduduk desa ke kota yang cukup tinggi. Di bidang kependudukan, perwujudan keluarga kecil berkualitas merupakan langkah penting untuk mencapai

199

pembangunan berkelanjutan. Hal ini dapat dilakukan melalui pengendalian kuantitas penduduk dan peningkatan kualitas insani serta sumber daya manusia. Berdasarkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), yang merupakan indeks komposit dari komponen indeks angka harapan hidup, indeks angka melek huruf, indeks rerata lama sekolah dan indeks pengeluaran riil perkapita, dari seluruh provinsi di Indonesia, pada tahun 2005 IPM DIY sebesar 73,5 dan menempati urutan ke 4, setelah Provinsi Riau, Sulawesi Utara dan DKI Jakarta IPM. Berdasarkan proyeksi penduduk yang diolah oleh BPS DIY, proyeksi penduduk DIY Tahun 2008 sebanyak 3.375.600 jiwa dengan penduduk laki-laki sebanyak 1.691.100 (50,10%), dan penduduk perempuan 1.684.500 (49,90%). Hal yang menarik dari proyeksi ini adalah telah terjadi pergeseran jumlah penduduk laki-laki dan perempuan. Kalau selama ini penduduk perempuan lebih banyak daripada laki-laki, maka pada tahun 2008 jumlah penduduk lakilaki lebih banyak daripada perempuan. Upaya pembinaan pemuda telah dilaksanakan dengan beberapa program kepemudaan yang tertuang dalam kegiatan antara lain pembentukan dan pelatihan paskibraka, pemilihan pemuda pelopor, seleksi pertukaran pemuda antar Negara, penyuluhan pencegahan penggunaan narkoba, Pembinaan Karya Ilmiah Pemuda dan Lomba Inovasi Bisnis. Sementara itu untuk meningkatkan jiwa kewirausahaan dilakukan pelatihan kewirausahaan dan ketrampilan bagi pemuda. Semua kegiatan tersebut dilaksanakan setiap tahun dengan tujuan untuk menjadikan pemuda DIY yang mempunyai daya saing. III. Sasaran yang ingin dicapai Sasaran pembangunan bidang pemuda dan olahraga Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta adalah meningkatnya peran serta pemuda sebagai pelaksana pembangunan yang dapat lebih menguasai IImu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), mampu menghadapi tantangan dan bertanggungjawab terhadap keikutsertaannya dalam pembangunan. Sedangkan sasaran yang ingin dicapai dalam bidang kependudukan antara lain : 1. Terlaksananya pengendalian jumlah penduduk. 2. Terlaksananya persebaran penduduk yang merata. 3. Terwujudnya penduduk yang berkualitas, yang memiliki IPTEK yang tinggi. IV. Arah Kebijakan Arah kebijakan pembangunan kependudukan ditempuh dengan memberikan kesempatan yang seluasluasnya kepada masyarakat dan LSM serta dunia usaha untuk meningkatkan mutu dan cakupan penyelenggaraan pembangunan kependudukan yang ditujukan, untuk : 1. Memberikan fasilitas bagi masyarakat untuk memudahkan pelaksanaan peran dan partisipasi dalam penyelenggaraan upaya pengentasan kemiskinan, pendidikan, kesehatan dan keluarga berencana, serta pelayanan sosial dan peningkatan kualitas ketenagakerjaan.

200

2. Meningkatkan kualitas keluarga sebagai unit sosial terkecil dalam masyarakat, untuk meningkatkan ketahanan dan kesejahteraannya. Program yang diarahkan untuk kependudukan, adalah : 1. Pengembangan dan penserasian kebijaksanaan kependudukan sehingga terumuskan kebijaksanaan kependudukan bagi peningkatan kualitas, pengendalian kuantitas dan pengarahan penduduk secara serasi antara kebijaksanaan kependudukan nasional dengan kebijaksanaan kependudukan regional dan daerah. 2. Pengkajian terhadap kebijaksanaan pembangunan kependudukan yang telah ada dalam rangka mencari alternatif kebijaksanaan baru yang lebih efektif. 3. Pengkajian dan penyempurnaan peraturan perundang-undangan yang mengatur perkembangan dan dinamika kependudukan yaitu kualitas, kuantitas dan mobilitas penduduk termasuk penduduk yang terpaksa pindah di semua tingkat wilayah administrasi. 4. Pemantauan dan pengkajian terhadap pelaksanaan kebijaksanaan kependudukan. 5. Pemberdayaan keluarga dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan dan ketahanan keluarga yang ditandai dengan kesadaran dan kemampuan memenuhi kebutuhan dasar, sosial dan psikologisnya, sehingga jumlah keluarga Pra-Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I menurun, jumlah keluarga yang dapat mengakses informasi dan sumberdaya ekonomi bagi peningkatan kesejahteraan keluarganya meningkat, kemampuan keluarga dalam pengasuhan dan penumbuhkembangan anak meningkat, disharmoni dan tindak kekerasan dalam keluarga menurun, demikian pula dengan angka perceraian menurun. 6. Pengembangan sistem registrasi dan administrasi kependudukan dalam rangka mewujudkan data dan informasi kependudukan pada tingkat mikro, baik individu maupun keluarga dan tingkat makro yang akurat tersedia setiap saat, perlu dibangun sistem registrasi penduduk sehingga administrasi kependudukan yang tertib dapat terlaksana. 7. Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap nilai-nilai kebersamaan dan kemitraan dalam kerangka menanggulangi masalah-masalah sosial. Sedangkan arah kebijakan pembangunan pemuda dan olahraga adalah : 1. Mengembangkan iklim yang kondusif bagi generasi muda dalam mengaktualisasikan segenap potensi, bakat, dan minat. 2. Mengembangkan minat dan semangat kewirausahaan di kalangan generasi muda yang berdaya saing, unggul, dan mandiri. 3. Melindungi generasi muda dari perilaku destruktif terutama bahaya penyalahgunaan obat-obat terlarang, narkotika, psikoterapika, dan zat adiktif lainnya (NAPZA). 4. Membudayakan olahraga guna meningkatkan kesehatan dan kebugaran, serta meningkatkan usaha pembibitan dan pembinaan olahraga prestasi termasuk organisasi olahraga penyandang cacat. Oleh karena itu program pembangunan bidang pemuda dan olahraga diarahkan pada :

201

1. Pengembangan kebijakan kepemudaan melalui penciptaan keserasian antar kebijakan dari tingkat nasional sampai daerah serta melalui pengembangan berbagai materi komunikasi, informasi, dan evaluasi untuk intensifikasi penelitian dan pengembangan kepemudaan. 2. Peningkatan partisipasi pemuda melalui kegiatan peningkatan keterampilan/keahlian tenaga kerja pemuda, kewirausahaan pemuda, peningkatan kepedulian pemuda terhadap penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi dan informasi, pengelolaan lingkungan hidup dan sumberdaya alam, apresiasi seni dan budaya, kesetiakawanan sosial, peningkatan peran aktif pemuda dalam penanggulangan masalah penyalahgunaan NAPZA, minuman keras dan kriminalitas, dan peningkatan jaringan kerjasama pemuda baik tingkat nasional maupun internasional. 3. Pengembangan dan keserasian kebijakan olahraga melalui kegiatan pengkajian dan perumusan kebijakan pembangunan olehraga serta melakukan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan olahraga. 4. Pemasyarakatan olahraga dan kesegaran jasmani melalui kegiatan pengembangan olahraga anak, pendidikan jasmani di sekolah dan perguruan tinggi, olahraga di tempat kerja, olahraga rekreasi, olahraga lanjut usia, olahraga penyandang cacat, olahraga tradisional, pelayanan koordinasi-integrasi-evaluasi dan konseling bagi masyarakat olahraga dan pengembangan peranserta masyarakat, dunia usaha dalam pengembangan prasarana dan sarana olahraga. 5. Pemanduan bakat dan pembibitan olahraga melalui kegiatan identifikasi pengembangan olahraga unggulan daerah, identifikasi bakat dan potensi pelajar dalam olahraga, pembinaan dan pembibitan olahragawan berbakat dan peningkatan partisipasi masyarakat dan sektor swasta untuk mendukung pendanaan olahraga 6. Pembinan prestasi olahraga melalui kegiatan identifikasi dan pembinaan prioritas cabang olahraga prestasi di tingkat daerah dan nasional, penyelenggaraan kompetisi olahraga dan peningkatan partisipasi masyarakat dan sektor swasta untuk mendukung pembinaan olahraga prestasi. Dalam mengatasi masalah kependudukan dan keluarga berencana, diberikan kesempatan seluasluasnya kepada masyarakat dengan dukungan dari pelaku sektor swasta dan difasilitasi oleh pemerintah untuk menyelenggarakan pembangunan kependudukan, yang meliputi antara lain : 1. Meningkatkan produktivitas penduduk melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, peningkatan keterampilan kerja dan penciptaan lapangan kerja. 2. Meningkatkan kualitas Program Keluarga Berencana (KB) untuk memenuhi hak-hak reproduksi, kesehatan reproduksi, pemberdayaan keluarga, pengentasan keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I, peningkatan kesejahteraan anak dan pengendalian kelahiran agar terwujud Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (KKBS) menuju terwujudnya Keluarga Berkualitas. Sesuai dengan arah kebijakan tersebut, maka program-program kependudukan dan KB diarahkan, kepada :

202

1. Pelaksanaan program pemberdayaan keluarga melalui kegiatan advokasi, Komunikasi Informasi Edukasi (KIE), konseling, peningkatan kemampuan SDM dan pelayanan pemberdayaan keluarga, bertujuan meningkatkan kesejahteraan ketahanan keluarga agar jumlah keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I alasan ekonomi menurun, serta meningkatnya kemampuan pengasuhan anak dan tumbuh kembangnya. 2. Pelaksanaan program kesehatan reproduksi remaja melalui kegiatan promosi kesehatan remaja, advokasi, KIE, konseling kesehatan remaja dan promosi pendewasaan usia kawin, bertujuan meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku positip remaja tentang kesehatan reproduksinya guna mendukung peningkatan kualitas generasi mendatang. 3. Pelaksanaan program keluarga berencana bertujuan memenuhi permintaan pelayanan KB dan kesehatan reproduksi yang berkualitas serta mengendalikan angka kelahiran sehingga Pasangan Usia Subur (PUS) yang tidak terlayani KB menurun, angka fertilitas total (Total Fertility Ratio/TFR) menurun dan meningkatnya partisipasi pria dalam program KB. Tujuan tersebut akan dicapai melalui advokasi dan KIE-KB, peningkatan kualitas pelayanan kontrasepsi, jaminan dan perlindungan pemakai kontrasepsi, peningkatan kesejahteraan ibu dan anak, promosi serta pemenuhan hak-hak dan kesehatan reproduksi. 4. Pelaksanaan program penguatan kelembagaan dan jaringan KB bertujuan meningkatkan kemandirian, cakupan serta mutu pelayanan KB dan kesehatan reproduksi yang diselenggarakan oleh masyarakat agar tercapai peningkatan jumlah PUS ber KB mandiri, kesehatan reproduksi oleh masyarakat, jumlah lembaga penyelenggara pelayanan KB dan kesehatan reproduksi. Tujuan pelayanan KB dan kesehatan reproduksi ini dicapai melalui pelatihan dan bimbingan pelayanan dan manajemen bagi lembaga masyarakat, penyediaan dan pertukaran informasi, dukungan terhadap kegiatan pelatihan dan kerjasama internasional dan promosi kemandirian berKB. V. Pencapaian RPJMN di Daerah 5.1 Posisi Capaian hingga tahun 2007 Administrasi kependudukan merupakan kegiatan penataan dan penertiban dalam penerbitan dokumen dan data kependudukan melalui pendaftaran penduduk, pencatatan sipil, pengelolaan informasi administrasi kependudukan serta pendayagunaan hasilnya untuk pelayanan publik dan pembangunan sektor lain. Dalam hal ini pemerintah provinsi mempunyai kewajiban dan bertanggung jawab menyelenggarakan urusan administrasi kependudukan dengan kewenangan yang meliputi koordinasi penyelenggaraan adminduk, bimbingan, supervisi dan konsultasi pelaksanaan pendaftaran penduduk, pembinaan dan sosialisasi penyelenggaraan administrasi kependudukan, pengelolaan dan penyajian data kependudukan berskala provinsi dan koordinasi pengawasan atas penyelenggaraan adminduk dan capil.

203

Bahwa dalam rangka pelaksanaan pembangunan nasional yang berkelanjutan dan dalam upaya peningkatan pelayanan publik, dewasa ini perlu penataan sistem administrasi kependudukan secara nasional. Hal ini sejalan dengan TAP MPR RI Nomor VI/MPR/2002 tentang rekomendasi atas laporan, presiden, DPA, BPK, MA pada sidang tahunan MPR tahun 2002, bahwa pemerintah perlu segera mengembangkan sistim administrasi kependudukan (SAK), dan menciptakan sistim pengenal tunggal serta terpadu atau nomor induk tunggal dan terpadu bagi seluruh penduduk Indonesia dari lahir hingga meninggal dunia. Hal tersebut ditindaklanjuti dengan diundangkannya Permendagri Nomor 28/2005 tentang pedoman penyelenggaraan pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil, dan pada tahun 2006 terbit Undang – Undang Nomor 12 tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia dan Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan, serta tahun 2007 terbit PP Nomor 37 tentang Pelaksanaan Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan. Dengan diterbitkannya peraturan – peraturan perundangan yang mengatur tentang administrasi kependudukan tersebut diatas perlu adanya koordinasi secara berkesinambungan dengan instansi terkait baik dari tingkat provinsi maupun kabupaten kota, persamaan persepsi dan peningkatan kapasitas bagi para aparat penyelenggara administrasi kependudukan baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota bahkan sampai kecamatan dan desa/kelurahan. Capaian pembangunan dalam bidang pemuda dan olahraga di Propinsi DIY dapat dilihat dari tingkat prestasi yang diperoleh para pemudanya. Prestasi yang telah diraih pemuda Propinsi DIY antara lain pada tahun 2006 adalah Juara I Nasional Lomba Inovasi Bisnis, Juara II Nasional Pemilihan Pemuda Pelopor. Pembinaan di bidang olah raga lebih menitikberatkan pada pembibitan dan pembinaan atlit berbakat usia 10-14 dan 15-18 tahun yang dipersiapkan untuk siap berkompetisi dalam Pekan Olah Raga Pelajar Nasional (POPNAS). Prestasi yang telah diraih atlet pelajar DIY di POPNAS antara lain pada tahun 2005 meraih 8 medali emas, 5 medali perak dan 7 medali perunggu, sedangkan pada POPWIL tahun 2006 meraih 6 medali emas, 19 medali perak dan 4 medali perunggu. Sedangkan pada POPNAS 2007 kontingen DIY hanya meraih 3 medali perak dan 3 medali perunggu. Untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk, pemerintah mencanangkan program Keluarga Berencana (KB) dengan memberikan sarana pelayanan dan prasarana yang memadai. Hal ini memperoleh respon baik dari masyarakat yang tercermin dengan tingginya pencapaian akseptor aktif. Meningkatnya kesadaran masyarakat dalam ber-KB, tercermin dalam pencapaian peserta KB baru. Pada tahun 2007 jumlah tempat pelayanan KB juga semakin bertambah kecuali klinik KB swasta yang jumlahnya makin menurun, namun hal ini tidak berpengaruh terhadap pelayanan KB. Hasil pelayanan KB baru pada tahun 2007 menurun sebesar 52,87 persen dibandingkan tahun 2006. Namun urusan Keluarga Berencana di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan kewenangan instansi vertical Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Daerah Istimewa Yogyakarta.

204

5.2 Permasalahan dalam mencapai sasaran Dalam mencapai sasaran pembangunan bidang kependudukan, pemuda dan olahraga, pemerintah Propinsi DIY menghadapi berbagai kendala dan permasalahan. Permasalahan – permasalahan tersebut antara lain : a. Permasalahan Kependudukan : 1. Dengan terbitnya Peraturan-peraturan Perundangan yang baru menimbulkan permasalahan dan persepsi yang berbeda-beda seperti pelayanan KTP terhadap Penduduk musiman, pencantuman Nomor Induk Kependudukan (NIK), Status Kewarganegaraan bagi anak hasil perkawinan dengan WNA dan sebagainya. 2. Masih terbatasnya pengetahuan dan kemampuan teknis bagi Aparat penyelenggara Administrasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil baik ditingkat Provinsi, Kabupaten/Kota, Kecamatan maupun Desa/Kelurahan 3. Selama ini Data Penduduk Orang Asing yang terdaftar di Kabupaten Kota berbeda dengan Data yang tercatat di Kantor Imigrasi sehingga menyulitkan dalam penerbitan Administrasi Kependudukan maupun pemantauannya 4. Keputusan Pengangkatan Pembantu Pengawas Pencatat Perkawinan (P4) yang terbit selama ini belum mencantumkan batas masa berlakunya. Hal ini tidak sesuai dengan Petunjuk Teknis Menteri Dalam Negeri Nomor : 477/125/MD, tanggal 9 Juni 2006 tentang pengangkatan P4 b. Permasalahan bidang pemuda dan olahraga 1. Belum adanya bantuan permodalan untuk pemuda sebagai tindak lanjut pelatihan kewirausahaan 2. Fasilitas latihan para atlet semakin sedikit 3. Perpindahan atlet ke luar provinsi meningkat Hasil pelayanan Keluarga Berencana (KB) baru mengalami penurunan hal ini dapat disebabkan karena kurangnya gerakan Keluarga Berencana di DIY lebih banyak dilaksanakan dan diprakarsai oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana DIY. VI. Rekomendasi Tindak Lanjut 1. Diusulkan adanya bantuan permodalan sebagai tindak lanjut dari pelatihan kewirausahaan 2. Ditambahnya fasilitas latihan bagi para atlet agar prestasi meningkat 3. Dibuatnya kebijakan pembinaan dan penghargaan atlet berprestasi sehingga tetap tinggal di DIY 4. Mengadakan koordinasi dengan Instansi terkait baik di tingkat Provinsi maupun dengan Kabupaten/Kota secara berkesinambungan

205

5. Mengadakan sosialisasi terhadap Produk Undang-Undang dan Peraturan Kependudukan dan Pencatatan Sipil kepada Aparat Instansi terkait dan aparat pelaksana dari tingkat Provinsi, Kabupaten/Kota, Kecamatan dan Desa/kelurahan untuk menyamakan persepsi 6. Secara bertahap mengadakan pelatihan/peningkatan kapasitas bagi aparat pelaksana Administrasi Kependudukan dan Catatan Sipil di Kabupaten/Kota, Kecamatan dan Desa/Kelurahan 7. Pemutakhiran bagi Pejabat Pembantu Pegawai Pencatat Perkawinan (P4) 8. Mengadakan Monitoring dan Evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan administrasi Kependudukan dan Catatan Sipil di masing-masing Kabupaten/Kota 9. Perlunya peningkatan penyuluhan dan penyebaran informasi mengenai gerakan keluarga berencana ke masyarakat 10. Perlunya peningkatan pelayanan kesehatan masayrakat dan lebih utama pengetahuan mengenai reproduksi remaja. 11. Perlunya perbaikan gizi ibu dan anak 12. Perlunya sosialisasi dan koordinasi upaya kesehatan secara teratur pada waktu dan tempat yang tepat. VII. Penutup Upaya pengendalian jumlah penduduk harus dilakukan agar tidak terjadi ledakan penduduk atau baby boom yang dikhawatirkan banyak orang. Masalah utama yang dihadapi di bidang kependudukan di Indonesia adalah masih tingginya pertumbuhan penduduk dan kurang seimbangnya penyebaran dan struktur umur penduduk. Keadaan penduduk yang demikian telah mempersulit usaha peningkatan dan pemerataan kesejahteraan rakyat. Semakin tinggi pertumbuhan penduduk, semakin besar usaha yang diperlukan untuk mempertahankan tingkat tertentu kesejahteraan rakyat. Tingkat pertumbuhan penduduk yang relatif tinggi disebabkan masih tingginya tingkat kelahiran disatu pihak dan relatif cepatnya penurunan tingkat kematian dilain pihak. Hal ini menyebabkan relatif besarnya golongan penduduk berusia muda dalam struktur penduduk Indonesia. Dengan demikian dalam struktur penduduk yang berlaku sekarang ini tingkat ketergantungan akan jumlah golongan penduduk yang hidupnya tergantung pada golongan penduduk lainnya lebih tinggi dibanding dengan penduduk yang struktur umurnya lebih seimbang. Selain itu, kebutuhan pendidikan, penyediaan lapangan kerja, dan kesehatan juga semakin meningkat. Program kependudukan dan keluarga berencana bertujuan turut serta menciptakan kesejahteraan ekonomi dan sosial bagi seluruh masyarakat melalui usaha-usaha perencanaan dan pengendalian penduduk. Dengan demikian diharapkan tercapai keseimbangan yang baik antara jumlah dan kecepatan pertambahan penduduk dengan perkembangan produksi dan jasa. Untuk mencapai tujuan tersebut, usaha-usaha secara

206

operasional dijabarkan kedalam sasaran untuk menurunkan tingkat kelahiran dalam rangka menciptakan norma keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera. Selain itu, pembangunan daerah dibidang pemuda memiliki peranan yang sangat penting, kepada merekalah sesungguhnya masa depan Kota Yogyakarta ditentukan. Keberadaan organisasi kepemudaan merupakan sumbangan yang berarti dalam pelaksanaan pembangunan. Kondisi Kota Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan, menyebabkan banyak pemuda dan pelajar dari luar daerah datang dengan karakteristik daerahnya masing-masing. Berdirinya Ikatan Mahasiswa, persatuan pemuda/pelajar memberikan kontribusi sesuai dengan asal daerahnya, untuk kemudian diserap sesuai dengan kondisi sosial budaya Kota Yogyakarta. Pada bidang olah raga. prestasi Kota Yogyakarta belum maksimal, bila dikaitkan dengan potensi yang dimiliki. Sebagai kota pendidikan, maka banyak atlet yang siap untuk dijadikan olahragawan yang memiliki prestasi. Tentunya hal ini memerlukan pembinaan dan system system penanganan sejak dini, mulai tingkat SD sampai dengan tingkat SLTA untuk itu usaha-usaha untuk meningkatkan kualitas yang dimiliki pemuda menjadi penting, bahwa olah raga memberikan dukungan yang berarti pada kualitas kesehatan sumber daya manusia, penyadaran masyarakat bahwa olah raga merupakan salah satu kebutuhan yang harus dipenuhi, selain aspek kuantitas. Dengan cepatnya perubahan teknologi yang secara signifikan mempengaruhi kondisi pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan Kota Yogyakarta, sehingga peran pemuda diharapkan untuk dapat menjadi motor penggerak perubahan-perubahan yang diperlukan.

Bab 4.17 Peningkatan Kualitas Kehidupan Beragama I. Pengantar Iman dan taqwa sebagai hasil manifestasi kehidupan beragama adalah merupakan sumber inspirasi, sumber motivasi dan merupakan modal dasar untuk penyelenggaraan pemerintahan yang baik, dan mengurangi/ menghilangkan penyakit sosial yang saat ini marak berkembang di daerah. Kondisi yang ada menunjukkan bahwa tingkat keimanan dan ketaqwaan masih perlu ditingkatkan dan diaktualisasikan berdasarkan norma-norma agama dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. II. Kondisi Awal Secara umum DIY tidak mengalami masalah yang terlalu besar dalam hal kehidupan beragama. Namun belum terbentuknya Forum Kerukunan Umat Beragam (FKUB) Provinsi DIY karena masih adanya perbedaan persepsi antara majelis-majelis agama tingkat provinsi DIY kepengurusan FKUB Provinsi, dapat menjadi masalah tersendiri. terkait dengan komposisi keanggotaan dan

207

III. Sasaran yang Ingin Dicapai Meskipun konflik berbasis agama di DIY relative kecil namun potensi untuk terjadi tetap ada jika tidak dilakukan upaya antisipasi. Dalam hubungan antar agama, tantangan pembangunan bidang agama adalah mewujudkan penghargaan dan pengakuan atas privasi beragama melalui dialog dan keterbukaan antar agama sehingga dapat dihindari penghinaan dan penodaan antar golongan agama, maupun upaya-upaya menarik penduduk untuk berpindah agama melalui cara-cara yang tidak terpuji. Dalam hubungan intern agama, tantangan yang senantiasi aktual adalah selain meningkatkan kesadaran masyarakat dalam melaksanakan ibadah dan membangun kualitas keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, namun juga perlu mendorong aktualisasi nilai-nilai spiritualitas tersebut dalam kehidupan nyata yakni mencegah penyimpanganpenyimpangan yang terjadi di masyarakat dan melakukan amal dan karya nyata diberbagai bidang untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat lahir dan batin. Sasaran dalam meningkatkan kualitas kehidupan beragama adalah terciptanya harmoni social dalam kehidupan intern dan antar umat beragama yang toleran dan saling menghormati dalam rangka menciptakan suasana yang aman dan damai, yang ditandai dengan minimnya jumlah kasus gangguan kemanan yang melibatkan SARA. Selain itu sasaran lainnya yaitu meningkatnya kualitas pelayanan dan pemahaman agama serta kehidupan beragama, yang ditandai dengan: masuknya pelajaran keagamaan dalam pendidikan usia dini, kesadaran masyarakat dalam membayar zakat, wakaf, infak, shodaqoh, dana punia, dan dana paramita dalam rangka mengurangi kesenjangan sosial di masyarakat, tingkat pelayanan pelaksanaan ibadah haji, jumlah organisasi keagamaan, dan jumlah organisasi penyelenggara ibadah haji. IV. Arah Kebijakan Upaya untuk menanggulangi masalah pembinaan kehidupan beragama adalah dengan semangat menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan budipekerti luhur sejak usia dini, meningkatkan kerukunan hidup umat beragama, memberikan pelayanan yang proporsional kepada semua umat beragama dalam menjalankan ibadah sesuai dengan agama yang dianutnya, dan mengaktualisasikan penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara yang berlandaskan nilai-nilai agama, moral dan budi pekerti luhur. 1) Penyempurnaan pendidikan agama baik tingkat dasar, menengah, tingkat tinggi, pesantren dan lembaga pendidikan khusus agama formal maupun nonformal, yang terfokus dalam implementasi program, kinerja sekolah/madrasah, kualitas keluaran (output) dengan orientasi pada peningkatan kualitas SDM. 2) Peningkatan dan pemantapan kerukunan hidup inter dan antar umat beragama dengan melakukan dialog antar umat, memfasilitasi dan menciptakan kondisi yang kondusif bagi partisipasi umat dalam pembangunan serta memberikan penyuluhan keagamaan. 3) Peningkatan pelayanan kehidupan beragama, termasuk peningkatan kualitas pelayanan ibadah haji, peningkatan sarana dan prasarana kehidupan beragama serta pelayanan hukum agama secara

208

proporsional sesuai kepentingan masyarakat. Di samping itu juga dilaksanakan peningkatan pembinaan keluarga sakinah (harmonis) melalui pendidikan agama dalam keluarga. 4) Peningkatan peran dan fungsi lembaga keagamaan dengan menjalin kemitraan dan pembinaan partisipasi umat beragama. VI. Pencapaian RPJMN di Daerah Kerukunan antar umat beragama di DIY relatif baik, yang ditunjukkan oleh tidak berkembangnya konflik agama antar pemeluk agama. Persentase pemeluk agama tahun 2004 terdiri dari 91,38% agama Islam, 5,38% agama Katholik, 2,88% agama Kristen, 0,17% agama Hindu dan 0,16% agama Budha. Tingkat kesadaran masyarakat dalam melaksanakan ibadah berkembang dengan baik namun demikian peningkatan kesadaran tersebut belum sepenuhnya manjamin kualitas keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sehingga banyak terjadi pula sikap dan tindakan yang cenderung bertentangan dengan nilai-nilai agama. Pesanpesan moral keagamaan belum sepenuhnya dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa kegiatan yang telah diselenggarakan dalam upaya meningkatkan kualitas kehidupan beragama di Provinsi DIY dapat dilihat dalam laporan kegiatan dinas sosial seperti terlampir. Beberapa program yang dilakukan pemerintah Propinsi DIY untuk meningkatkan kehidupan beragama antara lain : • • Bantuan peningkatan kehidupan beragama (rehab tempat ibadah) Untuk memperlancar pelaksanaan haji bagi jemaah haji asal DIY, Pemerintah Provinsi DIY setiap tahun (2004-2008) menugaskan Petugas Tim Pembimbing Ibadah Haji Daerah (TPIHD) sebanyak tujuh orang, petugas Tim Kesehatan Haji daerah (TKHD) terdiri atas tujuh orang dokter dan tuuh orang paramedis, dan tujuh orang petugas Tim Pemandu Haji Daerah (TPHD).

VI. Rekomendasi Tindak Lanjut 1. Membangun masyarakat pemeluk agama yang memiliki pemahaman dan pengamalan ajaran agama yang komprehensif (kaffah), holistic dan universal dalam kehidupan individu, keluarga dan masyarakat; 2. Mengembangkan kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan untuk pengamalan ajaran agama dalam kehidupan masyarakat; 3. Meningkatkan peran kelembagaan keagamaan dalam membangun pemahaman dan pengamalan ajaran agama dalam kehidupan; 4. Menerbitkan produk hukum daerah yang mendukung peningkatan pemahaman dan pengamalan ajaran agama. 5. Pemerintah daerah perlu memfasilitasi dan mendorong terbentuknya Forum Kerukunan Umat Beragam (FKUB) Provinsi DIY. Harmoni sosial yang selama ini terjalin cukup baik di DIY yang diliputi rasa saling menghargai dan menghormati antar elemen masyarakat perlu terus dilestarikan.

209

6. Pemerintah daerah diharapkan tidak mengeluarkan kebijakan atau peraturan daerah yang dapat mendorong perpecahan dalam msyarakat. 7. Meningkatkan wawasan kebangsaan dengan melakukan sosialisasi wawasan kebangsaan VII. Penutup Penyelenggaraan ibadah haji relatif lebih baik. Kesadaran melaksanakan ibadah keagamaan berkembang dengan baik. Demikian pula telah tumbuh kesadaran yang kuat di kalangan pemuka agama untuk membangun harmoni sosial dan hubungan intern dan antarumat beragama yang aman, damai, dan saling menghargai. Meskipun demikian, peningkatan tersebut tidak sepenuhnya menjamin kualitas keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kesadaran para pemuka agama untuk membangun harmoni sosial dan hubungan intern dan antar umat beragama yang aman, damai dan saling menghargai telah tumbuh dan berkembang dengan baik yang ditunjukkan oleh tidak berkembangnya konflik agama antar pemeluk agama.

BAB 4.18 Perbaikan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Pelestarian Mutu Lingkungan Hidup I. Pengantar Pendekatan ekologi menjadi penting artinya dan menjadi perhatian ketika manusia menyadari terjadinya akibat-akibat sampingan dari aktifitasaktifitas yang dilakukan oleh manusia. Pengaruh ini bersifat timbal balik, yaitu lingkungan yang dipengaruhi oleh perbuatan manusia kembali memberikan akibat-akibat yang juga mempengaruhi diri manusia itu sendiri. Unsur-unsur yang saling mempengaruhi itu terletak dalam suatu ekosistem, yang satu sama lain saling bergantung dan membutuhkan. Jadi ibarat satu mata rantai yang apabila salah satu bagiannya terputus akan menimbulkan masalah lingkungan hidup. Masalah lingkungan hidup timbul akibat interaksi manusia dalam ekosistem sebagai wujud dorongan kebutuhan hidup baik dalam subsistem maupun tingkat yang lebih tinggi, baik dengan menggunakan teknologi tradisional maupun teknologi tinggi. Karena masalah lingkungan merupakan masalah yang cukup kompleks yang melibatkan cukup banyak unsurunsur kelompok dalam masyarakat maka selayaknya penanganan masalah lingkungan tidak hanya terbatas oleh pemerintah saja, tetapi juga oleh seluruh lapisan masyarakat. Oleh karena itu maka pendekatan lingkungan hidup/ekologi sangat dibutuhkan sebagai landasan pembangunan daerah. Dalam usaha pengelolaan lingkungan hidup, sampai dengan saat ini Pemerintah Propinsi DIY telah menyiapkan Rencana Strategis Pengelolaan Lingkungan Hidup yang pada dasarnya juga ditujukan untuk mewujudkan peran partisipatif pengelolaan lingkungan hidup dan tanggung jawab semua pihak. Untuk ke depan perlu diupayakan perwujudan program-program sesuai rencana strategis ini. Beberapa kegiatan pelestarian

210

lingkungan hidup yang telah dilaksanakan di antaranya adalah Program Kali Bersih (Prokasi), Program Langit Biru, dan sebagainya. II. Kondisi Awal RPJMN di Daerah Kondisi lingkungan hidup di Provinsi DIY pada tahun 2003 secara umum dapat didiskripsikan sebagai berikut : A. Kondisi Fisik 1. Sungai Kondisi 8 sungai yang melintas di Provinsi DIY berdasarkan 24 parameter fisik, kimia dan biologi yang dipantau 17 parameter memenuhi baku mutu dan 7 parameter, yaitu DO, BOD, COD, Phenol, Chrom, detergen dan bakteri Coliform belum memenuhi baku mutu yang dipersyaratkan sesuai peruntukannya (SK Gubernur DIY, No 214 Tahun 1991 tentang Baku Mutu Lingkungan di DIY) 2. Air Tanah/sumur : Dari hasil analisis laboratotium air tanah/sumur di sekitar sumber pencemar (kegiatan usaha) untuk parameter kimia : Mn, Fe, Nitrat dan zat organik menunjukkan kurang lebih 30 persen tidak memenuhi baku mutu yang dipersyaratkan untuk air bersih (Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 416) meskipun tingkat pencemarannya masih dalam kategori tercemar ringan. 3. Udara Bebas (ambient) : Kondisi kualitas udara bebas (ambient) khususnya di wilayah perkotaan Yogyakarta, dari 15 lokasi di pinggir jalan raya yang dipantau menunjukkan untuk parameter kebisingan dan hidrokarbon (HC) sudah melampaui baku mutu udara ambien yang dipersyaratkan dan untuk parameter Pb 5 lokasi telah melampaui baku mutu. Kualitas Udara Ambien di wilayah perkotaan Yogyakarta dan sekitarnya menunjukkan keadaan yang fluktuatif hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain suhu, cuaca, arah angin serta kecepatan angin pada saat pengambilan sampel. Dari beberapa kali pengamatan di 25 lokasi sampling ada sebagian lokasi untuk kadar polutan/parameter tertentu sudah melebihi batas yang dipersyaratkan, sedangkan untuk parameter yang lain masih dibawah batas yang dipersyaratkan. Sebagai contoh untuk parameter Pb, dari hasil analisis data Tahun 2007 rata-rata konsentrasi Pb di 25 lokasi pengamatan berkisar antara 3,72 – 0,27 ug /m3 sedangkan Baku Mutu yang dipersyaratkan sebesar 2 ug /m3. Berdasarkan hasil analisis trend dari tahun 2002 s/d 2006 konsentrasi Pb di kota Yogyakarta dan sekitarnya cenderung naik dengan rata-rata kenaikan sebesar 0,64 ug /m3 pertahun. Untuk parameter CO dari hasil analisis data Tahun 2007 rata-rata konsentrasi CO di 25 lokasi pengamatan berkisar antara 1-18 ppm dengan batas yang dipersyaratkan 35 ppm dan dari hasil analisis Trend 2002

211

s/d 2006, dapat diketahui konsentrasi CO di kota Yogyakarta dan sekitarnya cenderung naik dari tahun ke tahun dengan rata-rata kenaikan sebesar 1,986 ug /m3 pertahun. 4. Lahan/tanah : Kerusakan lahan akibat penambangan bahan galian golongan C menunjukkan kerusakan lahan di Kabupaten Bantul, Sleman dan Gunungkidul pada tingkat sedang sampai dengan berat. Sedangkan untuk kabupaten Kulon Progo pada tingkat sedang. Adapun luas kerusakan akibat penambangan bahan galian golongan C sebagai berikut : 1. Kabupaten Bantul 9,5 Ha 2. Kabupaten Gunung Kidul 8,5 Ha 3. Kabupaten Sleman 23 Ha 4. Kabupaten Kulon Progo 9 Ha Kegiatan penambangan di Kabupaten Sleman sebagai daerah tangkapan air hujan, sangat mengkhawatirkan karena pengambilan material dilakukan tanpa memperhatikan kelestarian fungsi lingkungan. Pengambilan pasir dan batu (sirtu) dilakukan dengan menggali sampai kedalaman sangat dalam. Hal ini akan berpengaruh pada lapisan aquifer air, yang pada gilirannya nanti akan berpengaruh pada cadangan air bagi Provinsi DIY khususnya Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul. Kegiatan penambangan di Kabupaten Gunung Kidul khususnya kegiatan penambangan batu kapur telah merusak karst yang merupakan bagian dari pegunungan seribu. Rusaknya karst ini akan berakibat pada perubahan ekosistem lokal. Penambangan yang dilakukan di wilayah karst kelas I dan II telah mengancam kelestarian monumen karst dan merusak fungsi karst sebagai daerah resapan air hujan untuk pasokan air sungai bawah tanah. B. Kelembagaan Lingkungan Hidup Kelembagaan yang bergerak dalam pengelolaan lingkungan seperti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), kegiatan usaha/industri, organisasi pecinta alam yang dibentuk oleh para mahasiswa dan Pusat Studi Lingkungan (PSL) yang didirikan oleh Universitas yang ada di Provinsi DIY secara individual memang telah memiliki dan melaksanakan program/kegiatan yang mengarah pada pengelolaan lingkungan hidup, namun pelaksanaannya masih secara parsial dan belum ada koordinasi yang baik sehingga pengaruh kegiatan mereka terhadap peningkatan kualitas lingkungan hidup di Provinsi DIY belum optimal. C. Sumber Daya Manusia (SDM) Jumlah sumber daya manusia yang memiliki kemampuan untuk menjadi motivator bagi para pemangku kepentingan untuk berpartisipasi dalam pengelolaan lingkungan masih terbatas, belum terkoordinasi dan terwadahi secara baik

212

D. Laboratorium Lingkungan Di Provinsi DIY baru memiliki 1 laboratorium lingkungan yang sudah terakreditasi oleh KAN dengan diterapkannya ISO 17025 melalui penyusunan Dokumen Sistem Mutu Laboratorium, yaitu P3TM BATAN. III. Sasaran yang ingin dicapai Pembangunan bidang ini diarahkan untuk peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui penurunan pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup serta peningkatan fungsi lingkungan hidup. Selain itu sasaran yang ingin dicapai Provinsi DIY dalam mengatasi persoalan lingkungan antara lain sebagai berikut : 1. Penurunan tingkat parameter pencemaran sungai 2. Penurunan tingkat parameter pencemaran udara 3. Penurunan tingkat pencemaran tanah oleh limbah 4. Upaya penerapan budaya eko efisiensi 5. Pengembangan Data dan informasi LH berbasis E-government 6. 7. Fasilitasi pembuatan SPAH di wilayah permukiman Fasilitasi penanganan lahan kritis

8. Peningkatan Pengendalian kerusakan lahan penambangan rakyat 9. Peningkatan Konservasi Karst 10. Penurunan tingkat pencemaran air tanah 11. Peningkatan jumlah Organisasi Non Pemerintah yang peduli terhadap lingkungan hidup 12. Pengembangan kampung/desa lestari IV. Arah Kebijakan Kebijaksanaan pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup diarahkan, untuk : 1. Meningkatkan kesejahteraan rakyat dari generasi ke generasi berikutnya. 2. Memanfaatkan sumberdaya alam secara optimal dan seimbang dengan memperhatikan daya dukung dan daya tampungnya sehingga lingkungan hidup dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya. 3. Meningkatkan potensi sumberdaya alam dan fungsi lingkungan hidup dengan melakukan kegiatan konservasi, rehabilitasi dan peningkatan keanekaragaman sumber melalui teknologi yang akrab lingkungan. 4. Mengembangkan dan meningkatkan sistem hukum agar supremasi hukum dapat ditegakkan. 5. Meningkatkan kualitas SDM dan mengembangkan sistem informasi sumberdaya alam. 6. Mengembangkan kelembagaan, peranserta masyarakat dan kemampuan SDM dalam pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup.

213

7. Memotivasi dan memberikan peluang kepada masyarakat untuk berperanserta secara aktif dalam pengelolaan lingkungan hidup. Program pembangunan sumberdaya alam dan lingkungan hidup sebagai penjabaran arah kebijakan tersebut, meliputi : 1. Pengembangan informasi sumberdaya alam dan lingkungan hidup yang ditujukan untuk mendapatkan informasi mengenai kondisi dan potensi sumberdaya alam dan lingkungan hidup di lintas batas secara lengkap, tepat dan cepat. Informasi ini disamping diperlukan untuk memberikan gambaran seobyektif mungkin tentang analisa dan evaluasi dampak kegiatan pembangunan juga diperlukan untuk menentukan rencana tataguna sumberdaya alam dan menjamin ketersediaannya secara berkelanjutan. 2. Peningkatan efisiensi pemanfaatan sumberdaya alam dan lingkungan hidup lintas batas kabupaten/kota, yaitu untuk meningkatkan pemanfaatan sumberdaya alam dan lingkungan hidup di lintas batas secara efisien dengan menggunakan teknologi yang tepat dan ramah lingkungan. 3. Pelaksanaan konservasi dan rehabilitasi sumberdaya alam serta lingkungan hidup yang ditujukan untuk melestarikan sumberdaya alam dan fungsi lingkungan hidup dan merehabilitasi sumberdaya alam lintas kabupaten/kota yang rusak di lintas batas sehingga dapat berfungsi kembali sesuai dengan potensi yang dimilikinya, yang mencakup upaya pemulihan fungsi lingkungan sebagai akibat dari pemanfaatan sumberdaya alam yang kurang bijaksana. 4. Peningkatan pengawasan dan pengendalian pencemaran, peningkatan pengawasan dan pemulihan kualitas lingkungan hidup yang ditujukan untuk mengendalikan pencemaran dan pemulihan lingkungan hidup lintas kabupaten/kota yang rusak di lintas batas akibat pemanfaatan sumberdaya alam yang berlebihan, sehingga kualitas lingkungan hidup dapat ditingkatkan. 5. Penataan hukum dan kelembagaan pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup yang ditujukan untuk menata dan menegakkan hukum serta mengembangkan kelembagaan pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup. 6. Peningkatan kemampuan SDM di bidang lingkungan hidup yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia lingkungan hidup guna meningkatkan kualitas penanganan pengelolaan dan pelayanan informasi lingkungan hidup. 7. Peningkatan peran masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup yang ditujukan untuk meningkatkan peran serta dan kesadaran masyarakat dalam partisipasinya terhadap pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup.

214

V. Pencapaian RPJMN di Daerah 5.1 Posisi Capaian sampai dengan tahun 2007 Untuk memperbaiki kondisi lingkungan tersebut di atas maka telah dilaksanakan pembangunan dalam bidang lingkungan hidup melalui berbagai macam program/kegiatan yang dilaksanakan secara bertahap. Hasilhasil yang telah dicapai dalam pembangunan bidang lingkungan hidup selama tahun 2004-2008 adalah sebagai berikut : a. Aspek hukum dalam pengelolaan lingkungan hidup : Keputusan Gubernur tentang Baku Mutu Emisi Sumber Bergerak Kendaraan Bermotor di Provinsi DIY Nomor 167 Tahun 2003 Keputusan Gubernur tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak di Provinsi DIY Nomor 169 Tahun 2003 Keputusan Gubernur tentang Baku Tingkat Getaran, Kebisingan dan Kebauan di Provinsi DIY Nomor 176 Tahun 2003 Perda Nomor 5 Tahun 2007 tentang Pengendalian Pencemaran Udara Peraturan Gubernur tentang Penetapan Kelas Air Sungai di Provinsi DIY Nomor 22 Tahun 2007 Surat Gubernur kepada Bupati se Provinsi DIY Nomor 973/2203 perihal Pajak Penambangan Bahan Galian Golongan C tanggal 11 Juli 2005 bahwa sebelum diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKPD) perlu memperhatikan rekomendasi dari instansi yang membidangi pertambangan dan ionstansi pengendalian dampak lingkungan Kabupaten Pedoman dan Penilaian Kampung Hijau Terpetakannya semua sumber pencemar udara dan air pada tahun 2007 Pedoman penyelenggaraan sekolah berwawasan lingkungan hidup Pedman penyelenggaraan pondok pesantren berwawasan lingkungan hidup Pedoman pengelolaan laboratorium Untuk meningkatkan ketaatan kegiatan usaha dalam pengelolaan lingkungan hidup dan pemenuhan kriteria baku mutu lingkungan telah dilaksanakan kegiatan pengawasan dan penataan hukum lingkungan bagi kegiatan/usaha meliputi : Industri sebanyak : 45 kegiatan Hotel sebanyak : 19 kegiatan Rumah sakit sebanyak : 24 kegiatan Dalam rangka pengendalian dampak negatif pencemaran dan kerusakan lingkungan di Provinsi DIY selama tahun 2004-2008, telah dilakukan identifikasi dan pembinaan kegiatan/usaha yang potensial sebagai sumber pencemar di provinsi DIY sebanyak 1428 usaha/kegiatan secara bertahap setiap tahunnya.

b. Aspek pengendalian sumber pencemar

215

Dari sejumlah kegiatan usaha/kegiatan yang telah dibina tersebut kurang lebih 100 usaha dari sektor industri, hotel dan rumah sakit telah menunjukkan kinerja dalam pengelolaan lingkungan hidup yang cukup baik c. Aspek kelembagaan dan sumber saya manusia Untuk meningkatkan efektivitas dalam menangani permasalahan lingkungan hidup di kawasan sungai, telah berhasil dibentuk kelompok masyarakat peduli pengelolaan kawasan bantaran sungai yang melibatkan masyarakat yang tinggal di kawasan sungai dan perguruan tinggi d. Pemberdayaan organisasi pecinta alam Untuk meminimalisir penurunan kualitas lingkungan telah diupayakan untuk melibatkan berbagai pihak/lapisan masyarakat pecinta/peduli lingkungan. Salah satunya adalah melakukan peningkatan kapasitas SDM melalui berbagai macam workshop, pelatihan dan fasilitas kegiatan mahasiswa yang tergabung dalam Organisasi Pecinta alam (OPA) yang ada pada Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) e. Memfasilitasi pembentukan kelembagaan lingkungan hidup tingkat masyarakat Untuk mempermudah penyampaian konsep pengelolaan lingkungan di tingkat masyarakat maka telah banyak difasilitasi berdirinya berbagai kelembagaan lingkungan hidup pada tingkat masyarakat, yang dapat digunakan sebagai entry point untuk memasyarakatkan berbagai program pengelolaan lingkungan seperti : pemasyarakatan slogan 3K yang berarti kelola lahan, kelola sampah dan kelola limbah. Dengan pola pemasyarakatan pengelolaan lingkungan hidup seperti tersebut diatas diharapkan pengelolaan lingkungan hidup dapat lebih mengakar dan membudaya di masyarakat sampai ke tingkat bawah. f. Evaluasi/seleksi bidang lingkungan Untuk mendorong peningkatan kinerja pemerintah kabupaten/kota dalam hal kebersihan dan kesehatan lingkungan, maka setiap tahun sejak tahun 2004-2009 dilaksanakan kegiatan evaluasi K2LH. Titik pantau dan criteria yang digunakan dalam pelaksanaan Program Adipura, serta pemberdayaan masyarakat, dunia pendidikan, pondok pesantren melalui lomba/seleksi untuk memperoleh penghargaan bidang penghijauan dan lingkungan. Penyelenggaraa berbagai macam pelatihan dan bimbingan teknis dalam rangka meningkatkan profesionalisme dan motivasi untuk pengelolaan lingkungan, dengan sasaran berbagai komponen masyarakat seperti guru, pondok pesantren, organisasi pecinta lingkungan, aparatur pemerintah di Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota maupun kelompok profesi lainnya. Pembinaan laboratorium pengujian kualitas lingkungan, sehingga sampai saat ini telah tercapai hasil sebagai berikut :

216

Tabel IV. 52 Daftar Laboratorium di Propinsi DIY No 1 Status/kondisi Nama lab

Laboratorium yang telah terakreditasi dan menjadi laboratorium Lab PTAPB BATAN lingkungan daerah Lab BBTKL-PPM Lab Balai Hiperkes Laboratorium yang telah terakreditasi tetapi belum menjadi laboratorium lingkungan daerah Laboratorium yang telah menyusun dan menuju akreditasi (proses assessment) Laboratorium yang sedang proses menyusun dokumen system mutu Laboratorium yang sedang menyiapkan penyusunan dokumen system mutu LPPT UGM BBKKP BLK BPKL IST AKPRINDO FTSP UII STTL UPN VETERAN FMIPA UGM FMIPA UNY POLTEKES GEOGRAFI UGM

2 3 4 5

Sumber : Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. 2003-2008

Berbagai upaya yang telah dilakukan pemerintah propinsi DIY dalam rangka peningkatan/perbaikan kualitas lingkungan antara lain : Upaya penyelamatan/konservasi air dengan pembuatan sumur peresapan air hujan terutama di daerah hulu (kab.sleman sebanyak 1.000 unit dan SPAH sistem biopori sebanyak 300 unit) Pemberian bantuan bibit tanaman di daerah pantai dengan tanaman pelindung pantai yaitu Camera Udang sebanyak 3,450 batang dan bantuan bibit tanaman pada daerah karst (khususnya di wilayah kab. Gunung Kidul) dengan tanaman produktif sebanyak 37.825 batang Pembuatan demplot pengelolaan habitat di sekitar kawasan embung di Kabupaten Sleman Melakukan demplot reklamasi pada lahan bekas penambangan galian C dengan berbagai tanaman penghijauan seperti : tanaman pete, sukun, duren, jati, kelapa dan mangga sebagai berikut : Pada tahun 2005 dilakukan reklamasi di desa Karang Tengah Kecamatan Wonosari Kabupaten Gunung Kidul seluas 3 Ha pada lahan bekas penambangan batu kapur dengan tanaman pete, sukun kelapa dan mangga Pada tahun 2006 dilakukan reklamasi di Desa Bedoyo Kecamatan Panjang Kabupaten Gunung Kidul seluas 3 Ha dengan penataan lahan dan penanaman bibit mahoni, akasia, mangga dan sengon Pada tahun 2007 dilakukan reklamasi di Dusun Karangasem, Desa Wukirsari Kecamatan Imogiri dan Dusun Silok 1, Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri Kabupaten Bantul seluas 3 Ha berupa penanaman

217

bibit jati dan mahoni dan di Desa Girikerto Kecamatan Turi Kabupaten Sleman seluas 3 Ha dengan penanaman bibit Mlinjo, Mahoni, Sirsat dan Pete. Pengendalian dan Pengawasan Pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA) dilakukan melalui penanaman bibit jati, mangga dan durian di Desa Tanggul Angin Kecamatan Pengasih Kabupaten Kulon Progo seluas 3 Ha dan bibit jati, mangga, durian, jambu biji dan jambu air di Desa Sidomulyo Kecamatan Samigaluh Kabupaten Kulon Progo seluas 5 Ha. Pada tahun 2007 telah dilakukan penanaman pada lahan bekas penambangan pasir di Dusun nganggring Desa Girikerto Kecamatan Turi Kabupaten Selman seluas 3 Ha Pada tahun 2008 dilakukan penanaman dan penataan lahan di dusun Tegalpanggung Desa Girikerto Kecamatan Turi Kabupaten Sleman seluas 2 Ha Prestasi dalam bidang pengelolaan lingkungan hidup yang telah dicapai Propinsi DIY sejak tahun 2004 adalah sebagai berikut : 1. Penghargaan di bidang Lingkungan Hidup (tingkat nasional) : a. Tahun 2004 : Kalpataru kategori ”Pengabdi Lingkungan” atas nama Bapak Wibowo (PKL Kec. Patuk Kab. Gunung Kidul) Satya Lencana pembangunan LH atas nama Bapak Suwarno (Kepuharjo, Cangkringan, Kab. Sleman) b. Tahun 2005 : Kalpataru kategori ”Pengabdi Lingkungan” atas nama Bapak Subardi (PKL Kec. Sedayu, Kab. Bantul) c. Tahun 2007 : Kalpataru kategori :Penyelamat Lingkungan” atas nama Kelompok Tani Mandiri (Dusun Nganggring, Desa Girikerto, Kec. Turi, Kab. Sleman) Satya Lencana Pembangunan LH atas nama Ir. Dra. Larasati Suliantoro Sulaiman (Jl. Pakuningratan 38 Yogyakarta) 2. Penghargaan di bidang Keanekaragaman Hayati (Kehati Award) pada tahun 2006 yang diberikan kepada Ir. Dra. Larasati Suliantoro Sulaiman (Jl. Pakuningratan 38 Yogyakarta) 3. Penghargaan Adiwiyata untuk Sekolah Peduli dan Berbudaya Lingkungan) adalah : SD Ungaran 1 Yogyakarta (kategori adiwiyata madya) tahun 2006 SDN Kembangmalang Kab. Kulonprogo (calon Sekolah Adiwiyata) tahun 2007 SD Kanisius Kalasan Kab. Sleman (Calon Sekolah Adiwiyata) tahun 2007. Dari ke 3 sekolah pada tahun 2007 mendapat penghargaan berupa trophy dan piagam yang diberikan secara langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada puncak peringatan hari lingkungan hidup. Sedangkan pada tahun 2008 yang masuk nominator calon sekolah Adiwiyata adalah :

218

1. SDN Selang Kab. Gunungkidul 2. SMP Muhammadiyah 1 Yogyakarta 3. SMPN 1 Kalasan Kab. Sleman 4. SMAN 2 Wonosari Kab. Gunungkidul Dari sekolah yang masuk nominator akan diumumkan pada Hari Lingkungan tahun 2008 di Jakarta Dari hasil pendampingan Program Penilaian Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan (PROPER) yang dilakukan oleh Pemeirntah Pusat di Provinsi DIY yang dimulai pada tahun 2004-2007 telah dicapai hasil sebagai berikut : Tabel IV.53 Hasil Pendampingan Program Penilaian Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan (PROPER) no Nama perusahaan 1 PT. Yogyakarta Tekstil (Yogyatek) 2 PT. Madubaru PG. Madukismo 3 Depo Pertamina Rewulu 4 PT. Medarindotex (PC.GKBI) 5 PT. Samintek 2004 Hitam Merah Biru Merah hitam 2005 biru Biru Biru Merah hitam 2006 Biru Biru Biru merah hitam 2007 biru Biru Biru Merah Hitam

Sumber : Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. 2003-2008

Pada periode tahun 2004-2007 telah berhasil diselesaikan sebanyak 11 kasus pencemaran/kerusakan lingkungan melalui musyawarah (diluar pengadilan). 5.2 Permasalahan Pencapaian Sasaran Dalam mencapai sasaran pembangunan di bidang lingkungan, pemerintah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menghadapi berbagai permasalahan antara laing : 1. Masih rendahnya kesadaran para pemangku kepentingan dalam pengelolaan lingkungan. Selama ini masih kental adanya persepsi bahwa pengelolaan lingkungan hidup merupakan tugas dan tanggung jawab dari institusi lingkungan, sedangkan pengelolaan lingkungan hidup pada dasarnya merupakan tanggung jawab semua pihak dan harus terintegrasi dengan kegiatan yang dilaksanakan oleh instansi sektor, industri, dan masyarakat. Disamping itu dunia usaha masih menganggap bahwa pengelolaan lingkungan hidup sebagai penambahan beban biaya dan belum diinternalisasikan sebagai komponen biaya yang merupakan bagian dari biaya produksi barang/jasa yang dihasilkan 2. Masih kentalnya ego sektor dan ego wilayah administrasi. Dengan berlakunya otonomi daerah telah menyebabkan pembangunan lebih menitikberatkan kepada pertumbuhan sektor ekonomi dan orientasi jangka pendek. Sedangkan pembangunan bidang lingkungan hidup lebih berorientasi lintas batas administrasi dan jangka panjang. Dengan lkondisi tersebut

219

menyebabkan program-program pengelolaan lingkungan hidup lebih dikalahkan atau bahkan diabaikan, karena sering dianggap mempunyai dampak yang tidak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. 3. Kompleksitasnya permasalahan lingkungan hidup. Permasalahan lingkungan hidup merupakan persoalan yang komplek, sering tidak mudah untuk diselesaikan dan syarat dengan berbagai konflik kepentingan ekonomi, politik, sosial dan budaya. Sebagai contoh sering dilanggarnya aturan terkait dengan penataan ruang. Padahal pelanggaran terhadap peraturan tata ruang sering merupakan awal terjadinya kerusakan lingkungan. Disamping itu masih adanya keterbatasan pengetahuan teknis dalam pencegahan pencemaran/ kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh suatu kegiatan/usaha. 4. Sumber pencemar/perusakan dari sektor informal dan rumah tangga. Banyak kegiatan usaha kecil menengah, informal dan rumah tangga menyebabkan timbulnya berbagai pencemaran/kerusakan tidak memiliki kapasitas untuk melakukan pengelolaan lingkungan hidup secara memadai. Jumlah usaha kecil menengah dan informal yang ada di Provinsi DIY cukup banyak yang belum dilengkapi dengan berbagai izin yang dipersyaratkan, sehingga banyak yang belum terinventarisir sebagai sumber pencemar Solusi yang ditawarkan oleh pemerintah Propinsi DIY dalam memecahkan berbagai permasalahan diatas adalah : 1. Masih rendahnya kesadaran para pemangku kepentingan dalam pengelolaan lingkungan. Untuk mengatasi hal tersebut dilakukan upaya pemahaman kepada berbagai pihak untuk dapat memandang persoalan lingkungan sebagai persoalan bersama dan menganjurkan untuk lebih menekankan upaya preventif terjadinya pencemaran/ perusakan lingkungan dari pada melakukan upaya perbaikan yang sering biayanya lebih mahal dan rumit penanganannya. Disamping itu mencari berbagai pendekatan yang tepat kepada berbagai pihak. Melaksanakan penyampaian informasi dan penyadaran LH kepada masyarakat dan dunia usaha untuk meningkatkan kepedulian dalam menjaga kualitas lingkungan, melalui berbagai media dan memfasilitasi terbentuknya berbagai kelompok masyarakat peduli lingkungan. 2. Masih kentalnya ego sektor dan ego wilayah administrasi. Untuk mengatasi persoalan tersebut Pemerintah Provinsi DIY lebih sering melakukan upaya fasilitasi kepada berbagai Kabupaten/Kota untuk berkoordinasi dalam pengelolaan lingkungan hidup serta lebih menitikberatkan pada sudut pandang wilayah secara ekologis. Melakukan berbagai upaya sinkronisasi dalam program-program pengelolaan lingkungan hidup yang dilakukan oleh berbagai pihak, sehingga dapat berjalan secara lebih sinergis dan efektif 3. Kompleksitasnya permasalahan lingkungan hidup

220

Oleh karena itu upaya pengelolaan lingkungan yang dilaksanakan senantiasa melibatkan berbagai pihak baik pemerintah, swasta, industri, tokoh masyarakat, perguruan tinggi dan pihak-pihak yang terkait. Disamping itu terus diupayakan mengikuti perkembangan kemajuan teknis dan konsep dalam pengelolaan lingkungan hidup 4. Sumber pencemar/perusakan dari sektor informal dan rumah tangga Upaya solusi yang dilaksanakan adalah melakukan pendekatan dan pembinaan kepada mereka secara persuasif dan upaya peningkatan kapasitas dengan melakukan berbagai pelatihan dan bimbingan teknis bekerjasama dengan berbagai pihak terkait, serta memberikan berbagai bantuan terkait dengan pengelolaan lingkungan. VI. Rekomendasi Tindak Lanjut 1. Pembatasan konversi lahan di daerah perkotaan 2. Pembatasan jumlah kendaraan bermotor, dapat dengan cara menertibkan bisnis jual beli sepeda motor (system kreditnya, dan lain-lain) 3. Perbaikan sarana dan prasarana transportasi umum 4. Mendorong kepada para pelaku usaha dan masyarakat untuk mengurangi laju pencemaran/kerusakan lingkungan 5. Perumusan perbaikan lingkungan hidup yang sinergi dengan percepatan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 6. Menggali dan mengembangkan kearifan lokal dalam pengelolaan lingkungan 7. Meningkatkan edukasi kepada berbagai pihak dalam pelestarian fungsi lingkungan 8. Mempercepat terciptanya budaya eko efisiensi bagi para pemangku kepentingan dengan mendorong penerapan teknik, teknologi dan metode eko efisinesi 9. Mempermudah akses data dan informasi lingkungan dan sumber daya alam 10. Mendorong tumbuhnya kelompok masyarakat peduli lingkungan dan meningkatkan partisipasi publik dalam pelestarian fungsi lingkungan 11. Melaksanakan pemulihan kualitas lingkungan secara bertahap, terpadu dan berkelanjutan 12. Mendorong upaya pentaatan dan penegaan hukum lingkungan VII Penutup Beberapa pencapaian Provinsi DIY dalam menangani persoalan lingkungan tentu bukan suatu hal yang menjadi akhir usaha menciptakan kondisi menjadi lebih baik. Persoalan lingkungan adalah kebutuhan bersama semua elemen yang menghuninya. Kerusakan lingkungan selalu muncul setiap saat tentu harus dibarengi dengan usaha pencegahan yang tujuannya meminimalisasi kerusakan lingkungan yang lebih parah. Kegiatan

221

atau aktivitas manusia termasuk di dalamnya kegiatan industri, pelayanan kesehatan dan jasa pariwisata serta kegiatan lainnya merupakan sumber pencemar yang perlu dikendalikan sejak awal karena tanpa ada langkahlangkah pencegahan akan menimbulkan masalah pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. Partisipasi masyarakat sangat penting begitu juga pentingnga peran pemerintah sebagai fasilitator dalam mengatasi permasalahan dan kerusakan lingkungan hidup.

Bab 4.19 Percepatan Pembangunan Infrastruktur I. Pengantar Jalan dan jembatan merupakan salah satu prasarana penting dalam melayani pergerakan orag dan barang serta prasarana perhubugan antar wilayah. Pesatnya perkembangan DIY sebagai pusat tujuan wisata, pendidikan, industri serta munculnya pusat-pusat kegiatan baru perlu didukung keberadaan infrastruktur yang memadai agar dapat memberikan pelayanan sesuai standar. Pembangunan prasarana jalan diarahkan untuk mempercepat pemulihan infrastruktur akibat adanya bencana alam, mendukung kebijakan pemerintah untuk mengatasi kemacetan di daerah perkotaan, merangsang pertumbuhan pusat-pusat kegiatan baru di luar perkotaan dan mendukung kebijakan pembangunan di Wilayah Jawa bagian selatan merupakan kondisi yang harus ditindaklanjuti dan didukung. Selain itu juga untuk menjaga kondisi permukaan ruas jalan dan kondisi jembatan mendekati kondisi pada saat pembangunan selesai dilaksanakan, sangat menjadi prioritas untuk dilakukan agar kondisi awal bangunan dapat tetap dipertahankan sesuai umur desain yang direncanakan. Kebutuhan akan jalan dan jembatan tidak beda dengan kebutuhan manusia akan pentingnya air bersih dan perumahan tempat tinggal. Semuanya merupakan infrastruktur publik yang penting dalam perkembangan pembangunan suatu daerah. II. Kondisi Awal RPJMN di Daerah Total panjang jalan di DIY pada tahun 2007 adalah 859,06 km terdiri dari jalan nasional 168,81 km dan jalan provinsi 690,25 km. Kondisi jalan provinsi adalah 16,76% (115,72 km) baik, 64,07% (442,25 km) sedang, 11,80% (81,45 km) rusak ringan dan 7,36% (50,83) rusak berat. Total panjang jembatan di DIY pada tahun 2007 adalah 4.991,30 m dengan jumlah 216 jembatan, tersebar di kabupaten/kota. Kondisi jembatan tersebut adalah 73,74% (3.680,70 m) baik, 13,53% (675,40 m) sedang dan 12,73% (635,20 m) rusak. Ketersediaan air dalam pengertian sumberdaya air berasal dari air hujan, air permukaan, dan air tanah. Potensi paling besar untuk dimanfaatkan adalah sumber air permukaan dalam bentuk air di sungai, saluran, dan waduk/ embung. Potensi air di Provinsi DIY adalah curah hujan rata-rata 1.700 mm- 4.000 mm per tahun, air permukaan meliputi S. Progo Debit rerata 58.5m3/det. (St. Kalibawang), S. Opak debit rerata 12.35 m3/det. (St. Karangsemut), S. Oyo debit rerata 9.31 m3/det. (St. Bunder), S. Serang debit rerata 10.8 m3/det. (St.

222

Durungan), sungai bawah tanah meliputi SBT Bribin debit rerata 956 lt/det, SBT Ngobaran debit rerata 700 lt/det, SBT Seropan debit rerata 800 lt/det, SBT Baron debit rerata 100 ltr/det. Total ketersediaan air di Provinsi DIY adalah 6.342.455.367 m3, sedangkan pemanfaatannya untuk keperluan domestic, industri, dan pertanian sebanyak 1.670.750.084 m3 (Neraca SDA Provinsi DIY, 2007). Pemanfaatan air meliputi irigasi (sesuai UU No 7 Tahun 2004 dan PP No 20m Tahun 2006, kewenangan provinsi adalah daerah irigasi dengan luasan 1.0003.000 ha dan daerah irigasi lintas kabupaten/kota), rumah tangga, Perkotaan, dan Industri (RKI) serta pemanfaatan lain untuk tenaga listrik, penggelontoran, dan lain-lain. Pertumbuhan Kebutuhan perumahan rata-rata mencapai 800 ribu unit/ tahun, jumlah ini belum termasuk kesenjangan rumah yang belum terpenuhi (backlog) sebelumnya pada akhir tahun 2003 mencapai sekitar 5,93 juta unit (9,43%). Apabila pemenuhan backlog tersebut difasilitasi selama 17 tahun sampai dengan tahun 2020, maka rata-rata setiap tahun terdapat 1,150 juta unit yang perlu difasilitasi, sedangkan pada saat ini pertumbuhan pemenuhan kebutuhan perumahan baru masih sangat terbatas, yaitu rata-rata sekitar 300.000 unit per-tahun,baik melalui pasar perumahan, subsidi pemerintah, maupun swadaya masyarakat sendiri. Sebaran backlog kebutuhan rumah s.d 2003 di DIY sekitar 140.000 unit, kebutuhan rumah adalah 746.747 unit, sedangkan rumah yang tersedia 622.212 unit (83,32%), sehingga kekurangan rumah adalah 124.532 unit, pertumbuhan kebutuhan rumah 6.378 unit, maka jika akan dicapai s.d tahun 2020 maka kebutuhan rumah adalah 13.703 unit per-tahun. III. Sasaran yang Ingin dicapai 1. Jalan dan Jembatan: peningkatan pembangunan jalan dan jembatan, target 75% 2. Pengelolaan Air: • • • • Pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi, target: 50% Penyediaan dan pengelolaan air baku, target: 60% Pengembangan, pengelolaan dan konservasi sungai, danau dan sumber daya air lainnya, target: 70% Program pengendalian banjir, target: 60%

3. Perumahan: terpenuhinya kebutuhan rumah sejumlah 746.747 unit

IV. Arah Kebijakan 1. Program pemeliharaan rutin dan berkala serta program peningkatan jalan dan jembatan 2. Pengelolaan air: • Penanganan jaringan irigasi sepanjang 11.035

223

•

Menaikkan air sungai bawah tanah di Bribin Gunung Kidul untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Selain itu, mulai tahun 2007 juga dikembangkan system penyediaan air minum pedesaan (SPAM Des) di Bantul, Gunung Kidul, Sleman dan Kulon Progo

•

Pembuatan embung-embung penangkap air hujan di Gunung Kidul, mempertahankan efekvitas waduk Sermo sebagao penangkap air dengan mengurangi sedimentasi

•

Pembuatan saluran drainase, penguatan tebing-tebing sungai Gadjah Wong dan Code 315 m, Sungai Kuning Sleman 110 m, sungai Serang Kulon Progo 215 m, Gadjah Wong dan Opak 406 m. Selain itu pengendalian banjir dilakukan dengan pembuatan penampungan air hujan pada tendon air komunal.

3. Pembangunan Rusunawa, mengembangkan wilayah strategis dan cepat tumbuh, membangun insfrastruktur perdesaan, mengadakan program lingkungan sehat perumahan

V. Pencapaian RPJMN di Daerah 1. Capaian program tidak dapat terpenuhi karena adanya hambatan pada pembangunan Jembatan Kebon Agung 2. Yaitu terjadinya banjir pada saat pelaksanaan sehingga menyebabkan adanya perubahan metode kerja untuk pemasangan bangunan atas, yang semula direncanakan menggunakan system crane dirubah menjadi system launcher. 2. Pengelolaan Air • Adanya proyek bendung Sapon yang dikerjakan pemerintah Pusat yang belum selesai menyebabkan pasokan air ke daerah irigasi Sapon belum lancer. • Sungai bawah tanah Bribin tersumbat reruntuhan batu akibat gempa, sehingga pekerjaan proyek tidak dapat dilanjutkan. Selain itu juga ada jambatan teknis terkait pemasangan modul turbin mikrohidro yang masih menunggu dari Jerman. • Tendon air komunal yang hanya berjumlah 12 buah dengan volume tampungan total sebanyak 1.000 m3 masih sangat kecil sehingga belum efektif dalam mendukung pengendalian banjur. 3. Meningkatnya kebutuhan rumah di DIY, terbatasnya sumber daya pemerintah dalam menyediakan perumahan, kredit kepemilikan rumah masih belum terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah

VI. Rekomendasi Tindak Lanjut 1. Jalan dan Jembatan: program pemeliharaan dan peningkatan kualitas jalan hendaknya diikuti dengan pengawasan yang ketat terhadap kontraktor pemenang tender agar terjadi efisiensi dalam pengerjaan proyek. Selain itu, perlu dikembangkan skala prioritas pembangunan insfrastruktur mengingat terbatasnya anggaran yang ada untuk pembangunan.

224

2. Pengelolaan Air: • • • Perlu koordinasi dengan pemerintah pusat terkait proyek pembuatan irigasi yang dikerjakan oleh pusat Konsep “memanen air hujan” perlu ditingkatkan dengan memperbanyak pembangunan embung. Jumlah tandon air komunal harus diperbanyak dengan peningkatan anggaran dan partisipasi masyarakat. 3. Perumahan: dukungan dana dari pemerintah pusat perlu diupayakan lebih tinggi untuk mengakselerasi pembangunan Rusunawa. Selain itu, juga perlu dipikirkan mekanisme kredit yang dapat dijangkau masyarakat berpengahasilan rendah. Pengenalan konsep pertumbuhan pemukiman secara vertikal untuk mengurangi laju pemekaran kawasan pemukiman secara horisontal.

VII. Penutup Dilihat dari capaian program yang belum berhasil dalam memperbaiki maupun membangun infrastruktur publik menjadi masalah yang harus segera dicari solusinya. Keberadaan infrastruktur publik yang memadai dapat memperlancar usaha pembangunan suatu daerah begitupula sebaliknya. Koordinasi berbagai pihak harus ditingkatkan untuk memaksimalkan usaha perbaikan infrastruktur publik.

Bab. 4.20 Penanganan dan Pengurangan Resiko Bencana

I.

Pengantar Dua tahun lalu tepatnya pada tanggal 27 Mei 2006 gempa bumi mengguncang bagian tengah wilayah Indonesia, dekat kota sejarah, Yogyakarta. Gempa yang berasal dari kedalaman yang relatif dangkal yaitu 33 kilometer di bawah permukaan tanah tersebut telah mengakibatkan kerusakan besar, terutama di Kabupaten Bantul di Provinsi Yogyakarta dan Kabupaten Klaten di Provinsi Jawa Tengah. Gempa bumi ini adalah bencana besar ketiga yang menimpa Indonesia setelah terjadinya gempa dahsyat dan gelombang tsunami menghancurkan sebagian besar Aceh dan pulau Nias di Sumatera Utara pada bulan Desember 2004. Bappenas menindak-lanjuti arahan Presiden Republik Indonesia untuk penanganan pasca bencana dengan mengkoordinasikan penyusunan Perkiraan Kerusakan dan Kerugian Pasca Bencana Gempa Bumi dan penyusunan Rencana Aksi Nasional Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana Gempa Bumi di wilayah Provinsi DI Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah, pada bulan Juni tahun 2006. Dalam rangka peringatan 2 tahun terjadinya bencana gempa bumi serta akan berakhirnya pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstuksi pada tahun 2008, maka diperlukan evaluasi terhadap pelaksanaan pemulihan yang telah dilaksanakan, termasuk strategi pengakhiran masa tugas Tim Keppres No. 9 Tahun 2006 yang terkait dengan inventarisasi aset

225

pemerintah yang timbul akibat kebijakan bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi serta proses pengalihan aset (pemerintah) tersebut kepada penerima. Evaluasi ini juga memberikan informasi tentang keterlibatan masyarakat, swasta, serta lembaga non pemerintah baik nasional maupun internasional sebagai pembelajaran terhadap pelaksanaan pemulihan wilayah pasca bencana lainnya. Pelaksanaan evaluasi Evaluasi diharapkan dapat menjembatani Pemerintah Daerah dalam rangka penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dalam kerangka melanjutkan upaya pasca rehabilitasi dan rekonstruksi terutama terhadap pengarusutamaan pengurangan risiko bencana kedalam perencanaan pembangunan. Penyusunan rencana dan strategi pemulihan pasca bencana dilakukan melalui koordinasi antara Bappenas, Bapeda Provinsi DI Yogyakarta dan Bappeda Provinsi Jawa Tengah. Strategi dan kebijakan pokok pemulihan dalam rencana aksi rehabilitasi dan rekonstruksi difokuskan pada tiga komponen program yaitu pertama, pemulihan perumahan dan permukiman; kedua, pemulihan prasarana publik dan ketiga, pemulihan perekonomian masyarakat dan daerah, dengan kerangka waktu pemulihan selambat-lambatnya pada tahun 2008. Strategi dan kebijakan dalam Rencana Aksi Nasional Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana Gempa Bumi di wilayah Provinsi DI Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah telah digunakan sebagai pedoman pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi. Tim Teknis Nasional telah membantu melaksanakan tugas-tugas Tim Pengarah sesuai Keputusan Presiden nomor 9 tahun 2006 melalui kegiatan koordinasi dengan Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah, serta melakukan fasilitasi bagi percepatan pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi.

II. Kondisi awal RPJMN di Daerah Sebagian wilayah Provinsi DI Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah merupakan zona rawan bencana geologi dan rawan terhadap perubahan iklim. Pada tahun 2007, wilayah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah terkena banjir dan longsor, selain itu frekuensi keaktifan Gunung Merapi merupakan ancaman bagi masyarakat disekitarnya. Telah banyak peraturan dan pedoman penanganan bencana yang disusun dalam rangka percepatan pemulihan. Namun, peraturan dan pedoman tersebut belum sepenuhnya dapat digunakan pada kondisi chaos pasca bencana, baik pada masa tanggap darurat dan pemulihan awal. Pelaksana di lapangan menemukan kesulitan dalam menerapkan pedoman dan seringkali harus dihadapkan pada situasi “pengecualian” yang sering ditafsirkan sebagai penyimpangan. Sudah saatnya agar para pihak yang berwenang membuat suatu kesepakatan bersama tentang standar penanganan bencana. Standar ini yang harus dipatuhi oleh semua pihak termasuk para pelaku, auditor, perbankan dan sebagainya sehingga dapat menjembatani permasalahan yang muncul seputar penanganan bencana, sekaligus dapat mendorong percepatan pemulihan. Persoalan lainnya yang menjadi isu dalam penanganan dan pengurangan resiko bencana antara lain keterbatasan pendanaan rehabilitasi dan rekonstruksi bagi pemulihan bidang ekonomi daerah dan masyarakat, belum tercapainya target PDRB, penyediaan lapangan kerja, dan penguranan tingkat kemiskinan di wilayah pasca bencana, masih rentannya kondisi ekonomi masyarakat akibat minimnya bantuan permodalan serta

226

kondisi keuangan masyarakat yang sebagian besar masih digunakan dalam rangka membiayai kehidupan rutin serta penyelesaian terhadap kredit pada lembaga keuangan dan perbankan, masih diperlukannya pusat informasi bagi masyarakat sebagai pusat pelayanan terpadu dalam rangka mendukung upaya pengurangan resiko bencana yang berkaitan dengan pembangunan infrastruktur. Pertumbuhan perekonomian wilayah dampak gempa terutama di Kabupaten Klaten pada TA 2006 sempat turun -2.11%, kemudian meningkat kembali pada TA 2007, dan diperkirakan akan kembali menurun di TA 2008. Penurunan pada TA 2006 disebabkan karena sektor usaha/industri banyak yang terpuruk, masyarakat kehilangan mata pencaharian dan tabungan masyarakat juga terkuras untuk pembangunan perumahan. Peningkatan sementara pada TA 2007 disebabkan euphoria sesaat pada proses rehabilitasi dan rekonstruksi perumahan, yang memberikan peluang pekerjaan menjadi tukang dan usaha untuk mendukung pembangunan perumahan dan sarana/prasarana lainnya, sehingga banyak masyarakat yang meninggalkan pekerjaan di bidang pertanian, peternakan dan perikanan. Mengalirnya simpati dari berbagai pihak telah memberikan kontribusi yang sangat signifikan dalam percepatan pemulihan dampak gempa, berupa bantuan sejak masa tanggap darurat hingga masa rehabilitasi dan rekonstruksi. Di satu sisi hal ini menimbulkan dampak positif, yaitu meringankan beban korban sedangkan pada sisi lainnya berpotensi mengakibatkan ketergantungan sebagian korban terhadap uluran tangan pihak lain. Bantuan dari sektor swasta, donor dan LSM yang tidak dikoordinasikan dengan pemerintah mengakibatkan terbukanya peluang untuk memanfaatkan bantuan bersifat philanthropic yang tidak mengandung unsur pemberdayaan dan pada akhirnya menimbulkan ketergantungan III. Sasaran yang ingin dicapai Sasaran pembangunan dalam bidang penangangan dan pengurangan resiko bencana di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta adalah : • • • • • • • Menurunnya dampak gempa bumi Rekonstruksi dan peningkatan infrastruktur publik Peningkatan ketahanan pangan, target: 20,00% Peningkatan kesejahteraan petani, target: 20,00% Peningkatan kesempatan kerja, target 89,70% Pengembangan budidaya perikanan, target 60,00% Pemanfaatan potensi sumber daya hutan, target 20,00%

227

IV. Arah kebijakan Kebijakan penanganan dan pengurangan resiko bencana di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta diarahkan pada : • • • • Pengarusutamaan Pengurangan Resiko Bencana Pemulihan bidang perumahan dan permukiman Pemulihan bidang prasarana publik Pemulihan bidang ekonomi daerah dan masyarakat

V. Pencapaian Di Daerah Capaian pembangunan dalam bidang penanganan dan pengurangan resiko bencana di Propinsi DIY sebagai berikut • • • • • • • Rencana tingkat capaian target sebesar 23,62% sedangkan realisasi sebesar 24,10%. Restruksurisasi: rencana 76,76, realisasi 74,34 Pencapaian target peningkatan ketahanan pangan sebesar 20,19% Realisasi peningkatan kesejahteraan petani 20,28% Realisasi Peningkatan kesempatan kerja sebesar 89,21% Realisasi Pengembangan budidaya perikanan sebesar 63,73% Realisasi Pemanfaatan potensi sumber daya hutan sebesar 23,58% Pembelajaran dari bencana gempabumi 27 Mei 2008 telah mendorong pemerintah daerah di wilayah Provinsi DI Yogyakarta untuk menyusun Rencana Aksi Daerah Pengurangan Risiko Bencana (RAD-PRB), diprakarsai oleh Bapeda Provinsi DI Yogyakarta dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan termasuk dari sektor-sektor nonpemerintah. Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta telah menyusun rancangan RAD PRB dengan dukungan GTZ dan MPBI, bahkan Kota Yogyakarta telah siap memberikan landasan hukum RAD PRB dalam bentuk Peraturan Wali Kota. Kabupaten Kulon Progo, Gunung Kidul dan Bantul juga tengah menyusun RAD PRB dengan dukungan dari ERA Program, sebuah proyek kerjamasama UNDP-Bappenas. Dalam penyediaan dan pengembangan sistem peringatan dini, beberapa program telah dikembangkan oleh pemerintah Provinsi DI Yogyakarta bekerjasama dengan berbagai pihak, seperti pengadaan alat system peringatan dini gempa dari Abzerbaijan yang akan dipasang di wilayah Kota Yogyakarta. Kabupaten Bantul dan Kulon Progo dengan dukungan GTZ mengembangkan kerangka pengaturan dan sistem peringatan dini untuk bahaya tsunami. Lembaga Satkorlak PB Provinsi DI Yogyakarta dengan dukungan dari Pemerintah Perancis mengembangkan sistem komunikasi dan penyampaian informasi kebencanaan kepada masyarakat di seluruh wilayah provinsi. Satlak-satlak PB di kabupaten-kota dengan dukungan beberapa lembaga non-pemerintah telah mengembangkan pelatihan pelatihan bagi masyarakat dalam hal penggunaan system peringatan dini dan

228

penanganan kedaruratan untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana. Terkait bidang rekayasa dan konstruksi, pemerintah Provinsi DI Yogyakarta telah menyebarluaskan informasi tentang konstruksi rumah dan bangunan tahan gempa serta mengadakan pelatihan-pelatihan bagi para tukang dan pekerja sektor konstruksi melalui Pos Pelayanan Teknis (Posyanis), PIP2B, SMK dan lain-lain melalui bantuan UNDP, JICA, GTZ serta lembaga non pemerintah lainnya. Dengan meningkatnya kesadaran bahwa hampir seluruh potensi bencana (banjir, tanah longsor/gerakan tanah, gempa bumi, angin puting beliung, tsunami/ gelombang pasang,rob, gunung merapi dan kekeringan) berada di Provinsi Jawa Tengah akibat penurunan luas kawasan hutan tropis dan kawasan resapan air serta meningkatnya das kritis serta semakin menurunnya kualitas lingkungan permukiman (kemacetan, kawasan kumuh, pencemaran, hilangnya ruang publik dan ruang terbuka hijau serta kejadian bencana alam yg frekuensinya semakin sering serta dampaknya yg semakin luas); Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah menyusun Rencana Aksi Daerah Pengurangan Risiko Bencana yang kemudian dikukuhkan dalam Peraturan Gubernur Jawa Tengah, yang kemudian ditindak-lanjuti dengan penyusunan Rencana Aksi Daerah Pengurangan Risiko Bencana Kota Semarang, Kabupaten Magelang dan Kabupaten Klaten dengan dukungan GTZ, dan di Kabupaten Boyolali dengan bantuan ERA-UNDP.

VI. Rekomendasi Tindak Lanjut Dalam rangka Pembangunan Jangka Menengah, perlu dilakukan upaya melanjutkan pemulihan pasca gempabumi di Provinsi DI Yogyakarta dan Porvinsi Jawa Tengah dengan tujuan menciptakan pondasi yang kuat untuk building back better, dengan rekomendasi sebagai berikut: A. Bidang Pemulihan Perumahan 1. Dalam bidang perumahan dan permukiman: a) Lebih diupayakan pada pembangunan dan pemulihan prasarana permukiman melalui pendekatan resettlement dan manajemen pertanahan berbasis partisipasi masyarakat; c) Memberikan pemahaman bagi masyarakat akan pentingnya memiliki IMB untuk membangun rumah pasca bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi dengan peningkatan pelayanan pemberian IMB, b) Memberikan fasilitasi kepada masyarakat berpenghasilan rendah dan tidak tetap untuk melanjutkan pembangunan perumahan dengan skema perumahan swadaya. 2. Dari segi pendanaan, a) Mengupayakan mobilisasi pendanaan dari sumber non pemerintah terutama potensi Corporate Social Responsibility (CSR) untuk menyelenggarakan penyediaan fasilitas sanitasi lingkungan dalam kerangka pembangunan berkelanjutan berwawasan lingkungan. b) Java Reconstruction Fund (JRF) diharapkan dapat mengisi celah-celah pendanaan yang ada terutama pada komponen pemulihan prasarana permukiman, serta perluasan cakupan (coverage area) bagi rencana pengembangan permukiman (RPP)/Community Settlement Plan (CSP) yang berbasis pengurangan risiko bencana.

229

B. Pemulihan Prasarana Publik 1. Perlu diupayakan peningkatan pelayanan dasar terhadap masyarakat terutama kelompok rentan melalui pemulihan dan pembangunan sarana dan prasarana dalam bidang pendidikan, kesehatan, peribadatan, pemerintahan, prasarana pendukung ekonomi, pariwisata, benda cagar budaya serta lembaga sosial lainnya yang belum terbangun/direhabilitasi pasca bencana gempabumi. 2. Dari segi pendanaan, a) Mengupayakan mobilisasi pendanaan dari sumber non pemerintah terutama potensi Corporate Social Responsibility (CSR) untuk menyelenggarakan penyediaan fasilitas dan pelayanan di bidang pendidikan dan kesehatan; b) Selain program dari Departemen/Kementerian Lembaga, pada komponen pemulihan prasarana permukiman, pengurangan risiko bencana serta penguatan kapasitas pemerintah daerah. C. Pemulihan Ekonomi Daerah dan Masyarakat 1. Dari segi UMKM, a) Mengupayakan rehabilitasi prasarana fisik dan pelayanan program ekonomi mikro untuk kemandirian penyandang cacat korban bencana, b) Mengupayakan skema restrukturisasi kredit macet UMKM untuk pemulihan ekonomi UMKM dalam kerangka pemulihan ekonomi masyarakat di daerah pasca bencana, c) Mengupayakan dukungan modal usaha/skema kredit usaha untuk industri pengolahan hasil pertanian, kelompok tani ternak, alat bantu kegiatan pertanian terutama untuk penyandang cacat, d) Mengupayakan skema pemberian bantuan modal untuk alih kerja melalui pemilihan komoditas pertanian berorientasi pasar. 2. Dari segi pendanaan, a) Mengupayakan pendanaan untuk rehabilitasi dan rekonstruksi pasar tradisional untuk mendukung pemasaran produksi usaha mikro dan UMKM dalam kerangka menggerakkan roda perekonomian masyarakat, b) Mengupayakan mobilisasi pendanaan dari sumber non pemerintah terutama potensi Corporate Social Responsibility (CSR) untuk revitalisasi perekonomian masyarakat; c) JRF diharapkan mengisi celah-celah pendanaan yang ada selain program dari Departemen/Kementerian Lembaga, terutama pada komponen pemulihan ekonomi masyarakat serta penguatan kapasitas pemerintah daerah. D. Bidang Pengurangan Risiko Bencana 1. Aspek kebijakan : a) Mengupayakan tersusunnya peraturan daerah tentang penanggulangan bencana, b) Menyempurnakan substansi Rencana Aksi Daerah Pengurangan Risiko Bencana (RAD-PRB) sebagai dokumen perencanaan pembangunan, c) Mengupayakan tersusunnya Rencana Tata Ruang Wilayah berbasis pengurangan risiko bencana, peraturan zoning dan peraturan bangunan yang menjadi pedoman pengendalian pemanfaatan ruang bagi pemerintah, dunia usaha (terutama bagi pelaku pengembangan lahan skala besar) dan masyarakat 2. Aspek kelembagaan : a) Mengupayakan terbentuknya lembaga penanggulangan bencana di daerah, b) Mengupayakan segera tersusunnya rencana strategis kelembagaan berdasarkan RAD-PRB dan

230

rencana kerja kelembagaan penanggulangan bencana sebagai pedoman penyusunan anggaran penanggulangan bencana, c) Meningkatkan kapasitas dan kinerja aparatur kelembagaan dalam penanganan pasca bencana, baik pada tahap darurat maupun pemulihan, d) Mengupayakan peningkatan kapasitas pemerintah daerah dan stakeholder lainnya dalam penyusunan Penilaian Kerusakan dan Kerugian pasca bencana sebagai pedoman penyusunan rencana pemulihan pasca bencana, e) Menyediakan sistem peringatan dini berbasis masyarakat, f) Menyusun strategi komunikasi untuk menyebar-luaskan pengetahuan dan kesiap-siagaan dalam menghadapi bencana, g) Menyediakan ruang untuk pemberdayaan potensi lokal dan partisipasi masyarakat dalam kelembagaan penanggulangan bencana 3. Aspek pendanaan : a) Selain memobilisasi pendanaan dari sumber pemerintah, perlu dipertimbangkan potensi pendanaan dari sumber non pemerintah termasuk Corporate Social Responsibility (CSR) untuk meningkatkan public awareness dan penyelenggaraan public education; b) JRF diharapkan mengisi celah-celah pendanaan yang ada selain program dari Departemen/Kementerian Lembaga pada komponen pengurangan risiko bencana serta penguatan kapasitas pemerintah daerah.

VII. Penutup Proses rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana di wilayah Provinsi DI Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah merupakan pengalaman pertama kali yang melibatkan secara penuh pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota dalam siklus penanggulangan bencana. Meskipun masih banyak kelemahan dan ketergantungan kepada pemerintah pusat, pengalaman ini menunjukkan bahwa kebersamaan sekaligus pemberdayaan pemerintah daerah dalam perencanaan dan pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi memberikan dampak positif terhadap percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi dan peningkatan wawasan pengurangan risiko bencana. Paradigma penanggulangan bencana telah bergeser dari respon menjadi pengurangan risiko bencana. Keberlanjutan pembangunan di wilayah Provinsi DI Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah akan sangat bergantung pada komitmen pemerintah daerah terhadap menyusun dan melaksanakan visi/misi pembangunan daerah yang berbasis budaya keselamatan dalam penanggulangan bencana. Peranan Badan Penanggulangan Bencana Nasional dalam pengarahan substansi penanggulangan bencana dan Departemen Dalam Negeri dalam mengadministrasikan dan meningkatkan konsistensi pengurangan risiko bencana kedalam pembangunan daerah memegang peranan penting dan pembangunan berkelanjutan di Provinsi DI Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, diperlukan konsistensi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah terhadap prioritas nasional dalam Rencana Kerja Pemerintah tahun 2008 tentang Prioritas Pengurangan Risiko Bencana yang menitik beratkan pada peningkatan kinerja penanganan pasca bencana, kesiapan dalam menghadapi bencana, serta penanggulangan penyakit menular dan Rancangan Rencana Kerja Pemerintah tahun 2009 tentang Prioritas Peningkatan Kapasitas Mitigasi dan Adaptasi Terhadap

231

Perubahan Iklim Global, sebagai wujud pelaksanaan komitmen global terhadap “Membangun Ketahanan Bangsa dan Komunitas terhadap Bencana: Kerangka Kerja Aksi Hyogo 2005-2015”. Peningkatan dayaguna penataan ruang sebagai pedoman penyelenggaraan pembangunan spasial dan sektoral pun turut menjadi instrumen pemerintah dalam mengoptimalkan pengurangan resiko bencana, sehingga koordinasi kelembagaan penataan ruang serta dukungan ketersediaan informasi dan data spasial sangat dibutuhkan demi terlaksananya upaya penganggulangan dan pengurangan resiko bencana. Berbagai upaya pemerintah terkait dengan penanggulangan dan pengurangan resiko bencana yang tertuang dalam prioritas, fokus dan sasaran rencana kerja pemerintah tersebut pada akhirnya menggambarkan komitmen pemerintah yang sangat besar dalam penanganan bencana, dengan demikian diharapkan dukungan seluruh pihak dalam mencapai tujuan pembangunan yang diharapkan.

232

BAGIAN V ISU-ISU STRATEGIS YANG DIHADAPI PROPINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Bab 5.1 Pengantar Isu-isu Strategis Secara umum ada tiga isu penting yang saat ini tengah dihadapi DIY. Pertama adalah isu turunnya jumlah mahasiswa di sejumlah perguruan-perguruan tinggi di DIY. Hal ini terkait dengan peran signifikan dari keberadaan mahasiswa terhadap pertumubuhan ekonomi DIY. Isu yang kedua adalah isu pariwisata. Yogyakarta yang dikenal sebagai daerah tujuan wisata kedua setelah Bali ternyata belum mampu memaksimalkan potensi wisata yang dimilikinya. Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor andalan Yogyakarta yang seharusnya dikemabngkan secara profesional dan berkelanjutan. Isu yang ketiga adalah isu UKM atau usaha kecil dan menengah. Yogyakarta adalah Propinsi Jasa yang mengandalkan tida sektor yakni pendidikan, pariwisata dan UKM. UKM merupakan sektor strategis bagi Yogyakarta karena sektor ini merupakan sektor perekonomian yang dominan saat ini di Yogyakarta yang saling kait mengkait dengan sektor paendidikan dan pariwisata. Jika salah satu sektor ini terganggu maka sektor lain akan terkena imbasnya. Sebagaimana tercantum dalam Visi Pembangunan Daerah Propinsi DIY, yang akan dicapai pada tahun 2020 adalah: ”Terwujudnya Pembangunan Regional sebagai Wahana menuju pada Kondisi Daerah Istimewa Yogyakarta pada Tahun 2020 sebagai Pusat Pendidikan, Budaya dan Daerah Tujuan Wisata Terkemuka, dalam Lingkungan Masyarakat yang Maju, Mandiri, Sejahtera Lahir Batin Didukung oleh Nilai-nilai Kejuangan dan Pemerintah yang Bersih dalam Pemerintahan yang Baik dengan Mengembangkan Ketahanan Sosial Budaya dan Sumberdaya Berkelanjutan.” Pada tingkatan pemerintahan di bawahnya, Kota Yogyakarta, misalnya, memiliki visi pembangunan yang harus dicapai pada tahun 2026 sebagai berikut: ”Kota Yogyakarta sebagai kota pendidikan berkualitas, pariwisata berbasis budaya, dan pusat pelayanan jasa yang berwawasan lingkungan.” Isu-isu strategis masalah perekonomian dan UKM tetap menjadi fokus mengingat update data yang terkait dengan isu ini berkembang dengan cepat sehingga perlu dilakukan kajian terus-menerus. Isu ini juga erat kaitannya dengan upaya recovery yang dilakukan oleh pemerintah untuk merespon kondisi yang sempat menurun akibat gempa bumi yang terjadi pada 26 Mei 2006. Kaitan perkembangan ekonomi dan UKM akan

233

sangat luas dengan aspek yang lain seperti penyerapan tenaga kerja, kesejahteraan masyarakat dan pengentasan kemiskinan. Berkaitan dengan pendidikan, isu-isu yang dikaji terjadi pergeseran fokus dari pengamatan yang lebih makro di Yogyakarta ke arah kajian yang lebih mendalam mengenai kecenderungan menurunnya jumlah mahasiswa yang ada di Yogyakarta. Visi bahwa DIY akan tetap menjadi kota pendidikan merupakan acuan dalam kajian ini. Penurunan jumlah mahasiswa yang datang ke Yogyakarta bisa dipengaruhi oleh hal-hal yang berada di luar jangkauan kebijakan maupun yang bisa dikendalikan melalui intervensi kebijakan. Situasi yang berada di luar jangkauan kebijakan misalnya terkait dengan kecenderungan menurunnya jumlah mahasiswa yang ingin memasuki perguruan tinggi. Sedangkan hal-hal seperti pencitraan negatif terhadap Yogyakarta yang berpengaruh terhadap persepsi para orang tua untuk menyekolahkan anaknya merupakan isu yang bisa dipecahkan melalui kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah DIY. Pariwisata dan kebudayaan merupakan salah satu visi yang ingin dicapai oleh DIY. DIY sebagai daerah istimewa memang mempunyai kekhasan tersendiri dibanding dengan propinsi lainnya. Karena propinsi ini dianggap sebagai salah satu pusat kebudayaan di Indonesia yang memiliki kekayaan warisan budaya yang bersifat fisik maupun non fisik seperti kesenian, adat istiadat, artefak, arsitektur, situs dan kawasan. Potensi budaya ini tersebar di berbagai tempat yang berupa peninggalan-peninggalan masa prasejarah dan sejarah yang terdiri dari periode klasik (Hindu-Budha), periode Islam, Kolonial, dan Revolusi fisik. (http://www.dprddiy.go.id/index.cfm?x=artikel_detil&id_berita=21112005171508). Citra sebagai kota pariwisata kedua setelah Bali diharapkan bisa dipertahankan. Namun sayangnya, pengelolaan pariwisata di Yogyakarta belum dilakukan secara profesional. Ketika masuk DIY orang tidak bisa menangkap secara cepat bahwa DIY merupakan kota wisata dan kebudayaan. Bandara Adisucipto yang merupakan pintu gerbang pertama untuk memasuki DIY sama sekali tidak merefleksikan bahwa DIY layak disebut sebagai kota pariwisata dan kebudayaan. Gerbang kedatangan bandara tersebut justru menjajakan industri perumahan secara besar-besaran, sedangkan etalase pariwisata dan kebudayaan tidak nampak sama sekali. Selain tiga masalah utama di atas, DIY juga mengalami beberapa permasalahan yang jika dibiarkan dan tidak diantisipasi akan berimbas pada sektor lainnya. Masalah pertanahan dan lingkungan adalah yang masalah yang sangat kritis di DIY. Apabila dicermati dengan serius, nampak bahwa pembangunan yang berlangsung di DIY sudah berat dengan persoalan tanah dan lingkungan. Perubahan atau konversi tanah pertanian menjadi tanah pemukiman berjalan dengan sangat cepat. Berdasarkan kajian tata guna lahan dengan menggunakan citra satelit landsat yang diambil pada tahun 1994, 1996, 1998, dan 2000, di wilayah Kartomantul (Yogyakarta, Sleman, dan Bantul) disebutkan bahwa wilayah ini akan mengalami krisis lingkungan yang hebat. Data dari Landsat tersebut menunjukkan bahwa pada setiap tahun terjadi penyusutan lahan persawahan sebesar 1.41%

234

untuk kepentingan pembangunan rumah dan fasilitas infrastrukturnya. Data lain juga menunjukkan bahwa pertumbuhan areal permukiman di wilayah yang sama sebesar 1.47%/tahun. Pertumbuhan areal permukiman dan penyusutan areal persawahan tersebut kalau tanpa adanya pengendalian yang berarti, maka pada tahun 2032 diperkirakan persawahan di wilayah ini akan habis, Kartomantul akan menjadi lahan permukiman saja. Kartomantul merupakan wilayah yang sangat pesat perkembangannya bila dibandingkan dengan dua kabupaten lainnya di wilayah propinsi. Bab 5. 2 . Sektor Pendidikan 5. 2.1 Pengantar

Predikat yang melekat pada Yogyakarta adalah sebagai kota pelajar dan mahasiswa. Predikat ini diperoleh karena di wilayah ini ada ribuan pelajar dan mahasiswa yang datang dari berbagai kota di seluruh Indonesia untuk menuntut ilmu di kota ini. Kepercayaan masyarakat Indonesia dari berbagai wilayah untuk mengirim putra-putri mereka menuntut ilmu di Yogyakarta, secara historis, tidak dapat dilepaskan dari peran kota ini di dalam upaya mengembangkan pendidikan, terutama pendidikan tinggi. Kiprah Yogyakarta dan para tokohnya dalam mengembangkan pendidikan dapat dilacak dari beberapa tonggak sejarah penting yang terjadi di kota ini, yaitu: pendirian Muhammadiyah oleh KH Ahmad Dahlan dan pendirian Taman Siswa oleh Ki Hajar Dewantoro. Pendirian dua institusi tersebut memiliki peran sentral dalam upaya mengembangkan pendidikan, tidak hanya bagi masyarakat Yogyakarta akan tetapi Indonesia. Rintisan yang dilakukan oleh KH Ahmad Dahlan dan Ki Hajar Dewantoro tersebut kemudian banyak memberikan inspirasi terhadap peran Yogyakarta dalam mengembangkan pendidikan bagi masyarakat. Selanjutnya di kota ini pula lahir universitas swasta tertua, yaitu Universitas Islam Indonesia yang berdiri pada tahun 1945 dan universitas negeri tertua, yaitu Universitas Gadjah Mada yang berdiri empat tahun kemudian, yaitu tahun 1949. Berdirinya UII dan UGM boleh dikatakan menjadi tonggak kemunculan Yogyakarta sebagai pusat pendidikan tinggi di Indonesia. Setelah kemunculan dua perguruan tinggi tersebut maka di kota Yogyakarta muncul berbagai universitas, institut, akademi, dan berbagai sekolah tinggi. Menurut catatan Dinas Pendidikan Nasional Propinsi DIY (2006), di kota Yogyakarta paling sedikit terdapat 130-an perguruan tinggi swasta besar dan kecil, disamping empat perguruan tinggi negeri (UGM, UNY, UIN dan ISI). Bermunculannya berbagai perguruan tinggi swasta yang menawarkan berbagai jenis pendidikan tersebut dari waktu ke waktu kemudian telah menarik puluhan ribu mahasiswa untuk menuntut ilmu di kota perjuangan, budaya dan pelajar. Kehadiran puluhan ribu mahasiswa tiap tahun ke Yogyakarta tentu tidak hanya menguntungkan bagi perguruan tinggiperguruan tinggi tempat di mana para mahasiswa tersebut menuntut ilmu. Lebih dari pada itu, kehadiran ribuan

235

mahasiswa di kota ini juga memberikan keuntungan bagi masyarakat Yogyakarta secara umum. Jika dianalisis, sejak kedatangan para mahasiswa ini berbagai jenis layanan sudah harus dilakukan. Mulai dari transportasi, pemondokan, makan, dan berbagai peralatan lain yang berhubungan dengan kebutuhan sehari-hari para mahasiswa tersebut. Daftar pelayanan yang harus disediakan kepada para mahasiswa akan makin bertambah panjang karena kegiatan akademis mahasiswa juga membutuhkan berbagai pelayanan pendukung, seperti: kebutuhan buku-buku literatur, jasa fotokopi, penjilidan, persewaan komputer dan lain-lain. Dari berbagai pelayanan yang dibutuhkan oleh mahasiswa tersebut akan ada sejumlah uang yang dibelanjakan untuk dapat memperoleh pelayanan tadi. Dari berbagai penelitian, rata-rata uang yang dibelanjakan oleh mahasiswa tiap bulannya untuk mendapatkan pelayanan guna memenuhi kebutuhan primer, sekunder dan tersier berkisar antara Rp. 800.000-2.000.000/bulan. Dengan demikian, apabila di Yogya ada 10 ribu mahasiswa saja, maka paling tidak ada sejumlah 200 miliar rupiah uang dibelanjakan oleh para mahasiswa tiap bulannya. Padahal jumlah mahasiswa yang menuntut ilmu di kota ini lebih dari 100 ribu orang. Sementara itu hasil penelitian yang dilakukan oleh Edy Suandi Hamid bersama dengan Bank Indonesia menunjukan bahwa dalam setahun pengeluaran untuk konsumsi mahasiswa yang ada di DIY mencapai Rp. 2,85 Trilyun. Potensi ekonomi dari belanja mahasiswa tersebut tentu tidak dapat diremehkan. Realitas di lapangan menunjukan bahwa masyarakat Yogyakarta selama ini memang lebih banyak mengandalkan kehidupan mereka dari sektor jasa, baik dalam kegiatan pariwisata maupun yang terpenting adalah kegiatan pemberian pelayanan terhadap kebutuhan mahasiswa. Menjamurnya warung makan, warung internet, jasa binatu mahasiswa, pusat fotokopi, dan lain-lain di pojok-pojok kota menunjukan betapa peting secara ekonomis kehadiran mahasiswa di Yogyakarta. Kondisi seperti ini tidak terhindarkan karena memang Yogyakarta tidak memiliki sumber daya alam yang berlimpah yang dapat diandalkan sebagai sumber penghasilan. Juga di kota ini tidak terdapat industriindustri besar yang dapat dijadikan sebagai gantungan hidup para warganya. Data yang dikeluarkan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan menunjukan bahwa 90 persen industri di Yogyakarta merupakan kategori industri kecil dan menengah. Dari deskripsi tersebut dapat disimpulkan bahwa tingkat ketergantungan ekonomi masyarakat Yogyakarta terhadap kehadiran mahasiswa boleh dikatakan cukup tinggi. Sulit membayangkan apa yang akan terjadi dengan roda kehidupan ekonomi Yogyakarta apabila tidak ada mahasiswa yang datang ke kota ini. Namun demikian bayang-bayang suram tersebut nampaknya akan segara datang apabila kita mencermati data-data yang dikeluarkan oleh Kopertis V DIY. Kopertis V DIY mencatat bahwa dari waktu ke waktu jumlah mahasiswa yang datang ke kota ini terus mengalami penurunan. Terus menurunnya jumlah mahasiswa tersebut kemudian telah mengancam eksistensi beberapa perguruan tinggi swasta yang ada di Yogyakarta. Kopertis V DIY menyampaikan bahwa dari tahun ke tahun jumlah perguruan tinggi swasta yang terpaksa ditutup karena tidak mendapat mahasiswa terus bertambah. Kondisi yang demikian tentu tidak dapat dibiarkan terus terjadi. Sebab,

236

sebagaimana sudah disampaikan, kehadiran mahasiswa telah menjadi urat nadi kehidupan ekonomi masyarakat Yogyakarta. Melihat kondisi yang demikian, tentu diperlukan suatu kebijakan yang komprehensif dari pemerintah, baik Pemerintah Propinsi DIY maupun Pemkot Yogyakarta dan kabupaten-kabupaten lain untuk dapat memecahkan persoalan penurunan jumlah mahasiswa yang datang ke Yogyakarta. Tulisan ini akan menganalisis berbagai persoalan yang menyangkut persoalan pelaksanaan pendidikan tinggi di Yogyakarta, terutama penurunan jumlah mahasiswa yang datang ke kota ini dan penutupan sejumlah perguruan tinggi swasta yang ada di kota ini. Pertanyaan yang akan dijawab adalah: (1) seberapa serius jumlah penurunan mahasiswa yang datang ke kota Yogyakarta; (2) apa implikasi penurunan jumlah mahasiswa tersebut terhadap eksistensi perguruan tinggi swasta dan kegiatan ekonomi masyarakat pada umumnya; (3) langkah-langkah apa yang harus segera diambil oleh pemerintah untuk dapat mengatasi persoalan tersebut. 5.2.2 Kondisi Awal di DIY

Sebagai Kota Pelajar dan Mahasiswa, DIY menawarkan berbagai bentuk pelayanan pendidikan tinggi kepada masyarakat. Bervariasinya bentuk pelayanan tersebut dapat dilihat dari berbagai kategori institusi pendidikan tinggi yang ada di kota ini, mulai dari institusi pendidikan tinggi kedinasan, akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut dan universitas. Grafik 2.2. di bawah ini menunjukkan berbagai institusi Perguruan Tinggi di DIY pada tahun 2004 dan 2006.

70 60 50 Jumlah 40 30 20 10 0 Kedinasan 2004 2006 6 7 Akademi 59 58 Politeknik 8 7 Jenis PT Sekolah Tinggi 36 38

Institut 4 4

Universitas 18 18

Grafik. 2.2.1. Jenis Perguruan Tinggi di DIY 2004-2006

237

Meskipun variasi kategori Perguruan Tinggi yang ditawarkan di DIY cukup lengkap namun, sebagaimana sudah dijelaskan di bagian awal laporan ini, jumlah mahasiswa yang berminat untuk menuntut ilmu di DIY mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Kopertis Wilayah V telah mengumpulkan data mengenai penurunan jumlah mahasiswa di DIY selama kurun waktu tahun 2003 hingga 2006. Menurut catatan Kopertis V, pada tahun 2003 jumlah mahasiswa yang datang dan belajar di DIY adalah sebagai berikut: Tabel 2.2.1. Jumlah Mahasiswa DIY 2003-2006 Tahun 2003 2004 2005 2006 Jumlah Mahasiswa 47.397 44.782 39.261 35.484

Berdasarkan data trend perkembangan jumlah mahasiswa tersebut apabila dibuat proyeksi mengenai penurunan mahasiswa baru untuk tahun 2007 dan 2008 maka akan nampak seperti Grafik 2.2.2 berikut ini: Grafik 2.2.2 Trend Penurunan Jumlah Mahasiswa Di DIY 2003-2008
50000 45000 40000 35000 30000 25000 20000 15000 10000 5000 0 47397

44782 39261 35484 31416 27290

Jum lah Mahasiswa

2003

2004

2005 Tahun

2005

2007

2008

Sumber: Diolah berdasarkan data Kopertis Wilayah V tahun 2003-2006. Akibat terus terjadinya angka penurunan jumlah mahasiswa, maka jumlah mahasiswa swasta DIY yang merupakan wilayah Kopertis V juga terus merosot dibanding dengan jumlah mahasiswa swasta di wilayah Kopertis yang lain. Sebagaimana terlihat pada Tabel 2.2.2, Jumlah mahasiswa swasta di DIY ternyata lebih rendah dibandingkan dengan Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Jawa Timur. Memang terdengar agak tidak adil

238

membandingkan DIY dengan daerah-daerah tersebut mengingat bahwa daerah-daerah tersebut memiliki jumlah penduduk dan wilayah jauh lebih besar dibanding dengan DIY. Namun demikian, realitas bahwa selama ini masyarakat di luar DIY lebih suka mengirimkan anak-anak mereka untuk belajar di berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di Yogyakarta menunjukan bahwa trend penurunan jumlah mahasiswa tersebut merupakan fakta yang tidak bisa diingkari.

239

Tabel 2.2.2. Jumlah Mahasiswa menurut Kopertis tahun 2007
Peringkat 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Wilayah Kopertis Kopertis IV (Jawa Barat dan Banten) Kopertis III (DKI Jakarta) Kopertis (Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darusalam) Kopertis VII (Jawa Timur dan Madura) Kopertis IX (Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Sulawesi Barat) Kopertis II ( Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, dan Belitung) Kopertis VI (Jawa Tengah) Kopertis X (Sumatera Barat, Jambi, Riau, dan Kepulauan Riau) Kopertis V (DIY) Kopertis VIII (Bali, NTB, NTT) Kopertis XI (Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat) Koppertis XII (Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Irian Jaya Barat) Jumlah Mahasiswa 31.825 30.905 22.247 21.629 17.287 16.215 13.956 10.164 6.129 6.041 5.329 2.521

Sumber: DIKTI, 2007 Fenomena penurunan jumlah mahasiswa yang datang dan menuntut ilmu di Yogyakarta tentu disebabkan oleh berbagai faktor. Faktor tersebut dapat berupa faktor eksternal, yaitu faktor-faktor yang ada di luar Yogyakarta dan faktor-faktor yang berasal dari internal Yogyakarta sendiri. Dari berbagai faktor tadi, baik eksternal maupun internal, ialah satu faktor yang diduga menjadi penyebab makin menurunnya animo mahasiswa untuk datang ke Yogyakarta diantaranya adalah bermunculannya berbagai PTN maupun PTS baru di daerah, terutama sejak era otonomi daerah digulirkan. Munculnya berbagai perguruan tinggi di daerah tersebut telah memberi alternatif pilihan bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan mereka akan pelayanan pendidikan tinggi, yaitu menuntut ilmu di kota sendiri dengan munculnya PTN dan PTS baru di daerah atau tetap datang ke Yogyakarta. Pilihan pragmatis untuk menghemat biaya serta perbedaan kualitas perguruan tinggi di daerah yang terus menurun telah menjadi faktor pendukung

240

para mahasiswa dan orang tua mereka untuk memilih melanjutkan studi di daerah mereka sendiri dibanding dengan di DIY. Selain itu, makin menjamurnya program pasca sarjana dan magister, baik di PTN dan PTS di DIY, juga memberi pilihan-pilihan strategi melanjutkan belajar antara di daerah dan di DIY. Bagi para mahasiswa yang memiliki latar belakang ekonomi mapan yang ingin melanjutkan studi pasca sarjana setelah tamat S1 keberadaan perguruan tinggi daerah juga merupakan alternatif untuk menghemat biaya. Dengan menempuh S1 di daerah dan kemudian melanjutkan S2 di Yogyakarta maka mereka akan memiliki ijazah S2 dari PTN dan PTS yang memiliki reputasi baik dari Yogyakarta tetapi dengan menempuh S1 di daerah dulu. Dengan demikian mereka memiliki competitive advantage untuk mencari kerja dengan memiliki ijazah S2 dari PTN/PTS Yogyakarta dengan biaya yang lebih murah. Faktor eksternal lain yang turut mempengaruhi animo mahasiswa untuk datang ke Yogyakarta, diduga juga disebabkan oleh dampak positif dari implementasi kebijakan otonomi daerah. Dengan diberikannya otonomi daerah, yang diikuti dengan meningkatnya proporsi anggaran yang diberikan kepada pemerintah kabupaten/kota, telah mendorong kebupaten dan kota di luar Yogyakarta untuk mengembangkan berbagai fasilitas pendidikan tinggi mereka sendiri. Perbaikan berbagai fasilitas tersebut membawa implikasi bahwa berbagai perguruan tinggi di daerah saat ini telah memiliki kualitas yang tidak terlalu tertinggal dengan perguruan tinggi yang ada di kotakota besar. Sebagai akibat dari kondisi yang demikian maka banyak masyarakat luar DIY yang memilih masuk ke perguruan tinggi di daerah masing-masing, tentu dengan pertimbangan biaya yang lebih murah dan resiko-resiko sosial yang lebih kecil karena para mahasiswa tinggal dengan keluarga mereka masing-masing (Suara Merdeka, 3 Februari 2005). Disamping berbagai faktor eksternal sebagaimana sudah diuraikan, faktor internal yang ada di dalam Kota Yogyakarta dan perguruan tinggi sendiri juga diduga turut memberikan andil terhadap penurunan jumlah mahasiswa yang datang ke Kota Gudeg. Faktor internal pertama adalah berbagai isu yang menyangkut persoalan keamanan studi di Yogyakarta yang dihubungkan dengan makin maraknya peredaran narkotika dan obat-obatan terlarang (Narkoba). Data yang ada menunjukan bahwa jumlah kasus mahasiswa yang terjebak pada penyalahgunaan narkoba di DIY juga makin hari meningkat. Jika pada tahu 2002 jumlah perkara 182 Narkoba telah melibatkan 92 mahasiswa sebagai tersangka pada tahun berikutnya, tahun 2003, jumlah mahasiswa yang terlibat dalam kasus Narkoba meningkat menjadi sebesar 118 orang (Polda DIY, 2005). Buruknya ruang publik juga menjadi alasan yang tidak mendukung orang tua mengirim anaknya untuk menempuh kuliah di DIY. Penelitian yang dilakukan Harjanto (2006:82) menjelaskan bahwa 41 persen responden mengatakan bahwa ruang publik di Yogyakarta adalah buruk. Ruang publik di Yogyakarta cenderung memicu pola hidup hedonisme dibanding ruang publik yang mendukung pembelajaran dan rekreasi sosial. Hal ini ditandai dengan bermunculannya pusat-pusat belanja (mal), kafe, ruko dan diskotik di DIY. Sementara ruang publik yang

241

berupa museum, taman kota, lapangan olah raga, gedung budaya dan kesenian kurang menjadi perhatian untuk dikembangkan. Faktor internal lain yang diduga tidak mendukung upaya untuk menarik minat mahasiswa untuk studi di Yogkarta adalah minimnya sarana transportasi publik. Kualitas layanan transportasi publik yang tidak memadai jika dibanding dengan di kota-kota yang lain telah menjadi sebab kurang menariknya Yogyakarta sebagai tempat untuk belajar. Selain kondisi angkutan kota yang secara fisik tidak layak, rendahnya keamanan (tingginya kasus pencopetan) dan keselamatan (banyaknya bus kota dan angkutan kota yang ugal-ugalan) di bus juga menjadi ciri yang sangat menonjol dari buruknya transportasi publik di Yogyakarta. Berikut data yang dikutip dari Dinas Perhubungan DIY mengenai alasan penumpang malas menggunakan bus kota. Grafik 2.2.3. Alasan Mahasiswa Tidak Menggunakan Bus Kota

13% 16%

5%

5%

33% 28%

kebut-kebutan jadwal tidak pasti

tidak aman kondisi bus tidak layak

waktu perjalanan lama lainnya

Sumber: Dinas Perhubungan Propinsi DIY Padahal, berbagai hasil penelitian menunjukan bahwa para mahasiswa dan pelajarlah yang selama ini menjadi pengguna transportasi publik (bus kota) di Yogyakarta, yaitu sebesar 63 persen dari keseluruhan pengguna angkutan publik (Lefrandt, 2003 dalam Harjanto, 2007:102).

5.2.2.1 Implikasi Terhadap Perguruan Tinggi Swasta Penurunan jumlah mahasiswa di Daerah Istimewa Yogyakarta berdampak luas. Dampak serius dari penurunan calon mahasiswa yang berminat belajar di DIY dirasakan oleh sebagian besar Perguruan Tinggi

242

Swasta (PTS). Jumlah perguruan tinggi yang meningkat, dari 135 buah di tahun 2004 menjadi 137 buah pada tahun 2006 ternyata tidak diikuti oleh penambahan jumlah peminat atau calon mahasiswa yang mendaftar di berbagai perguruan tinggi tersebut. Kenyataan yang ada justru bertolah belakang dengan ekspektasi, yaitu terjadinya penurunan jumlah peminat atau calon mahasiswa yang datang ke DIY. Dampak serius terhadap kondisi yang demikian ini, sebagaimana diuangkapkan Koordinator Kopertis Wialayah V, Budi Wignyo, menyebabkan ditutupnya sejumlah 5 hingga 6 PTS pada tahun 2007 (Harjanto, 2007:4). Hal senada juga diungkapkan Sugiyanto, Ketua Asosiasi PTS DIY, sebagai berikut: ''Biasanya setiap tahun jumlah mahasiswa baru yang mengenyam pendidikan di PTN dan PTS di sini mencapai 30.000, sekarang turun 20%,'' (Suara Merdeka, 27 Juli 2006). Disamping itu, Sugiyanto juga mengungkapkan bahwa jumlah PTS yang mendapat mahasiswa baru kurang dari 100 mahasiswa pada tahun 2005/2006 kian bertambah. Jika tahun sebelumnya mencapai 25%, tahun 2006/2007 diperkirakan melonjak menjadi 50% (Kompas Yogya, 28 Juli 2006). Data yang diuraikan di atas menunjukan bahwa penurunan jumlah mahasiswa akan berdampak serius terhadap eksistensi PTS-PTS yang ada di DIY. Padahal, keberadaan berbagai PTS tersebut selama ini telah mampu menciptakan peluang kerja bagi ribuan orang untuk menjadi tenaga dosen, administrasi, maupun pelaksana. Dengan demikian apabila setiap tahun jumlah PTS yang tutup semakin banyak maka hal ini jelas akan mengganggu peran PTS sebagai penyedia lapangan kerja bagi SDM-SDM terdidik di DIY. Hal ini tentu bukan berita yang baik bagi masyarakat mengingat bahwa DIY tidak memiliki perusahaan-perusahaan besar yang mampu menampung lulusan perguruan tinggi seperti di Jakarta, Surabaya, Medan dan kota-kota besar yang lain.

5.2.2.2 Dampak Terhadap Sektor Ekonomi Masyarakat Disamping dampak terhadap keberlangsungan hidup PTS di DIY, sektor perekonomian masyarakat juga mendapat kerugian yang cukup serius. Selama ini keberadaaan mahasiswa memberikan multiplier effect yang cukup berarti bagi kehidupan masyarakat. Keberadaan mahasiswa ini memunculkan usaha kos-kosan, fotokopi, rental komputer, wartel, warnet, toko buku, dan warung makan. Sebagaimana yang dijelaskan pada Tabel 2.2.2. di bawah ini, kontribusi ekonomi mahasiswa terhadap berbagai jenis sektor ekonomi cukup bervariasi. Tabel 2.2.3. Biaya Keperluan Primer Mahasiswa per Bulan

243

NO 1 2 3 Total

JENIS BIAYA Kos/Pondokan Kebutuhan Makan Transportasi

TERENDAH Rp 85.000 Rp 250.000 Rp 100.000 Rp 435.000

TERTINGGI Rp 210.000 Rp 400.000 Rp 300.000 Rp 910.000

Sumber: Penelitian yang dilakukan UAD, 2006 dalam Harjanto 2007:9

Tabel. 2.2.4 Biaya Keperluan Sekunder Mahasiswa per Bulan NO 1 2 3 4 5 Total JENIS BIAYA Sandang Rekreasi Kesehatan Komunikasi Penunjang Pendidikan TERENDAH Rp 100.000 Rp 50.000 Rp 50.000 Rp 100.000 Rp 100.000 Rp 400.000 TERTINGGI Rp 200.000 Rp 100.000 Rp 100.000 Rp 200.000 Rp 200.000 Rp 800.000

Sumber: Penelitian yang dilakukan UAD, 2006 dalam Harjanto 2007:9 Sedangkan penelitian yang dilakukan Bank Indonesia Yogyakarta menunjukkan bahwa masyarakat DIY mendapat sumbangan dari keberadaan mahasiswa ini sebesar Rp. 2,94 Trilyun/tahun atau Rp 245 Milyar/bulan. Nilai ini lebih besar dibandingkan APBD Propinsi DIY tahun 2003 yang hanya Rp 693 Milyar, sedangkan PDRB DIY tahun 2003 sebesar Rp. 17,18 Trilyun (BI, 2003). Jika prediksi di atas benar, maka kerugian ekonomi yang akan menimpa masyarakat cukup besar. Dengan skenario bahwa konsumsi kebutuhan primer mahasiswa terendah sebesar Rp 435.000 dan berdasarkan prediksi penurunan mahasiswa baru pada tahun 2008 adalah 4126 orang. Maka akan diperoleh nilai kerugian ekonomi berkisar Rp. 1,79 Trilyun pada tahun 2008. Tingkat keseriusan dari kerugian ekonomi dengan penurunan jumlah mahasiswa yang datang ke Yogyakarta bukan terletak pada besaran uangnya saja. Implikasi yang lebih serius dari itu adalah terancamnya

244

lapangan pekerjaan jutaan orang yang terlibat dalam kegiatan ekonomi kecil, terutama di sektor informal, yang selama ini menggantungkan hidup dari keberadaan mahasiswa di Yogyakarta. Data-data yang ada menunjukan bahwa ada ratusan ribu tenaga kerja yang hidupnya tergantung dari sektor informal yang banyak berhubungan dengan aktivitas mahasiswa, seperti: pedagang kaki lima, jasa binatu mahasiswa, dan lain-lain. 5.2.3 Sasaran yang Ingin Dicapai

Sasaran yang ingin dicapai dari sektor pendidikan tinggi ini adalah menguatkan posisi Yogyakarta sebagai daerah tujuan pendidikan yang berkualitas yang ditandai dengan stabilnya jumlah mahasiswa dari luar daerah yang melanjutkan pendidikan tingginya di DIY. 5.2.4 Arah Kebijakan

Ada beberapa intervensi kebijakan yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Propinsi DIY sesuai dengan kewenangan yang dimilikinya. Kebijakan tersebut antara lain 1) 2) 3) 4) 5) Implementasi Perda Pondokan yang tegas Penyediaan ruang publik yang memadai Penyediaan transportasi publik yang memadai Membangun fasilitas-fasilitas seperti perpustakaan umum dan pusat-pusat informasi. Promosi pendidikan di luar daerah.

Perbaikan kondisi pendidikan tinggi di Yogyakarta sebaiknya melibatkan banyak pihak seperti pemerintah propinsi, pemerintah kabupaten dan kota, PTN dan PTS, masyarakat dan sektor-sektor lainnya. 5.2.5 Rekomendasi

Menurut Undang-Undang No. 32/2004 yang diterjemahkan di dalam PP No. 38/2007, urusan pendidikan tinggi memang bukan menjadi kewenangan pemerintah provinsi dan kabupaten/kota untuk mengurusnya. Menurut UU otonomi daerah tersebut, tugas dan kewenangan pemerintah provinsi adalah mengurus penyelenggaraan pendidikan luar biasa, sementara tugas pemerintah kabupaten/kota adalah mengurus penyelenggaraan pendidikan dasar dan menengah. Namun demikian, jika melihat bahwa perguruan tinggi dengan para mahasiswa yang datang ke Yogyakarta memberi sumbangan yang sangat signifikan terhadap perputaran roda ekonomi Yogyakarta yang melibatkan ratusan ribu masyarakat dan tenaga kerja, maka sudah selayaknya pemerintah daerah menaruh

245

perhatian yang memadai terhadap fenomena menurunnya jumlah mahasiswa yang datang ke kota ini. Jika mendasarkan pada kewenangan, memang pemerintah provinsi tidak memiliki hak untuk membuat kebijakan guna untuk mengintervensi penyelenggaraan pendidikan tinggi di Yogyakarta. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa pemerintah daerah tidak dapat membantu berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di kota ini untuk menghadapi krisis penurunnya jumlah mahasiswa. Untuk dapat membantu PTS dan PTN dalam mengatasi penurunan jumlah mahasiswa hal pertama yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi berbagai persoalan, di luar persoalan akademis yang menjadi kewenangan perguruan tinggi untuk mengatasinya, yang dapat diduga menjadi sebab penurunan animo mahasiswa untuk menuntut ilmu di Kota Budaya ini. Setelah diidentifikasi maka pemerintah dapat membuat kebijakan untuk mendukung (supporting policy) agar animo mahasiswa untuk datang ke kota Yogyakarta dapat lebih meningkat lagi. Persoalan pertama yang bisa jadi menjadi salah satu penyebab menurunnya animo mahasiswa untuk datang ke Yogyakarta adalah menyangkut keamanan para mahasiswa tersebut ketika menempuh studi di Yogyakarta sehingga para orang tua mahasiswa tidak merasa was-was ketika mengirimkan anak-anak mereka untuk belajar di kota ini. Persoalan keamanan ini akhir-akhir ini memang mendapat sorotan yang cukup tajam. Isu pertama, namun sudah sering muncul dan hilang dalam pemberitaan, adalah menyangkut gaya hidup bebas antara mahasiswa dan mahasiswi yang sedang studi di Yogyakarta. Isu kumpul kebo, kos campur, dan seks bebas antara mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai pemberitaan maupun penelitian-penelitian yang dilakukan (meskipun validitasnya masih diragukan) telah membuat cemas banyak orang tua yang menjadi ragu-ragu untuk mengirimkan anak-anak mereka untuk belajar di Yogyakarta. Penelitian lain lagi yang baru-baru ini dirilis tentang keperawanan yang dilakukan oleh seorang mahasiswa PTS di Yogyakarta yang menyebutkan bahwa 90 persen mahasiswi di Yogyakarta sudah tidak perawan makin membuat suram citra Yogyakarta sebagai kota pelajar. Meskipun banyak pakar meragukan hasil penelitian tersebut, namun demikian publikasi yang luas terhadap penelitian tersebut mau tidak mau makin membuat para orang tua makin enggan untuk mengirimkan anak-anak mereka ke Yogyakarta. Citra suram Yogyakarta sebagai kota pelajar dan mahasiswa makin ternoda dengan makin banyaknya kasus narkoba yang melibatkan mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di kota ini. Data-data yang dikeluarkan oleh kepolisian memang menujukan adanya peningkatan kasus penyalahgunaan narkoba yang dilakukan oleh para pelajar dan mahasiwa. Bahkan beberapa waktu yang lalu beberapa media massa di Yogyakarta memberitakan sel-sel tahanan di beberapa kantor kepolisian sampai penuh karena banyaknya mahasiswa yang tertangkap dan ditahan ketika sedang menggunakan narkoba dan obat-obatan terlarang tersebut. Kondisi yang demikian tentu bukan promosi yang baik untuk dapat menarik mahasiswa sebanyakbanyaknya agar mau datang ke Yogyakarta untuk menuntut ilmu. Oleh karena itu sudah waktunya pemerintah

246

daerah turun tangan dengan membuat kebijakan-kebijakan yang mampu memberikan dukungan untuk merubah citra negatif Yogyakarta sebagai kota pelajar dan mahasiswa yang mentoleransi kehidupan seks bebas dan penggunaan narkoba, menjadi kota yang memiliki citra positif, yaitu sebagai kota yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya Indonesia dan aman dari peredaran narkoba dan obat-obatan terlarang. Tentu bukan hal mudah untuk melakukan hal ini. Pembuatan perda tentang pemondokan saja tidak cukup mampu untuk mencegah terjadinya kos campur, apabila tidak ada mekanisme penegakan perda yang efektif. Dan tentu yang lebih penting dari itu semua adalah partisipasi masyarakat dan para mahasiswa sendiri. Persoalan lain yang perlu segera diantisipasi oleh pemerintah Yogyakarta untuk dapat mendukung meningkatnya minat mahasiswa datang ke kota ini adalah dukungan transportasi publik yang memadai. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Pustral menunjukan bahwa sebagian besar pengguna transportasi publik di Yogyakarta adalah para pelajar dan mahasiswa. Namun demikian sudah menjadi rahasia umum bahwa kualitas transportasi publik di Yogyakarta jauh dari memadai. Buruknya kualitas pelayanan transportasi publik ini dapat dilihat dari: kondisi fisik armada yang sudah tidak layak pakai, awak bus atau angkutan kota yang mengendarai armada mereka dengan ugal-ugalan dan berlaku tidak sopan terhadap pengguna angkutan umum, jam kedatangan yang tidak akurat sehingga tidak dapat diandalkan, tidak ada jaminan keamanan karena banyaknya copet yang berkeliaran di atas armada, tarif angkutan yang dirasa memberatkan dan berbagai persoalan lain yang membuat para mahasiswa enggan untuk menggunakan angkutan umum. Transportasi publik yang aman, nyaman, terjangkau tarifnya dan dapat diandalkan untuk mengantar mahasiswa pergi dan pulang langsung atau tidak langsung menjadi salah satu faktor yang akan membuat para mahasiswa tertarik untuk menuntut ilmu di Yogyakarta. Upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan transportasi publik adalah kewajiban pemerintah daerah untuk mengurusnya. Tanpa tersedianya transportasi publik yang memadai, maka competitiveness Yogyakarta sebagai kota pelajar dan mahasiswa akan makin merosot dibanding kota-kota yang lain. Pemerintah Provinsi DIY saat ini memang sedang menggagas konsep perbaikan pelayanan transportasi publik yang mereka sebut sebagai buy the service di mana pemerintah menyediakan dana sementara pihak swasta yang menjadi penyelenggara pelayanan. Namun demikian tanpa adanya perencanaan yang komprehensif terhadap upaya peningkatan kualitas pelayanan transportasi publik dikhawatirkan kebijakan tersebut hanya menjadi kebijakan tambal sulam yang akan menemui kegagalan seperti kebijakan-kebijakan sebelumnya. Supporting policy lain yang dapat dilakukan oleh pemerintah daerah adalah menyediakan perpustakaan umum bagi para mahasiswa dan pelajar. Di kota-kota negara maju, perpustakaan umum merupakan sarana publik yang dapat ditemui di mana masyarakat, termasuk pelajar dan mahasiswa dapat memanfaatkan fasilitas tersebut untuk menunjang proses belajar-mengajar. Dengan tersedianya fasilitas perpustakaan publik yang

247

memadai diharapkan akan menjadi komplemen bagi perpustakaan-perpustakaan yang sudah disediakan oleh perguruan tinggi sendiri. Selain itu, pemerintah daerah diharapkan juga mampu mensinergikan berbagai perpustakaan yang ada sehingga akan tersedia perpustakaan umum yang lengkap. Apabila ini dapat dilakukan maka akan membantu PTS-PTS yang kecil sehingga mereka dapat menghemat biaya operasional untuk pengadaan buku. Selain perpustakaan yang memadai, pemerintah daerah dapat membuat kebijakan pendukung dengan menyediakan ruang-ruang publik (taman, tempat konferensi, tempat dan membaca) yang nyaman dan aman bagi para mahasiswa untuk membaca, menulis atau berdiskusi. Dengan adanya ruang-ruang publik tersebut maka para mahasiswa dapat berdiskusi, tidak ditempat indekos mereka, akan tetapi di ruang-ruang publik yang telah disediakan oleh pemerintah daerah tersebut. Apabila hal ini dapat dilakukan maka pemerintah daerah secara tidak langsung juga turut mencegah terjadinya peluang perbuatan-perbuatan asusila yang sering dimulai dari kegiatan-kegiatan belajar bersama yang dilakukan di ruang-ruang tertutup. 5.2.6 Penutup

Dengan strategisnya sektor pendidikan tinggi bagi propinsi ini, maka sudah saatnya Pemerintah Daerah DIY melakukan langkah-langkah cepat dalam memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap Yogyakarta sebagai daerah yang memiliki sektor pendidikan terutama pendidikan tinggi yang berkualitas. Hal ini akan berpengaruh bukan hanya bagi PTN dan PTS namun juga bagi kehidupan perekonomian Yogyakarta serta status Yogyakrta sebagai Kota Pendidikan Nasional. Bab 5.3 Aspek Pariwisata 5.3.1 Pengantar

Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan propinsi kedua terkecil setelah DKI Jakarta. Dengan luas daerah lebih kurang 3.186 Km² berpenduduk 3.311.812 jiwa (data tahun 2000) dan terbagi menjadi 5 Daerah Kabupaten / Kota, yakni : Kota Yogyakarta, yang merupakan Ibu kota Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Kabupaten Sleman, dengan Ibukota Beran, Kabupaten Gunungkidul, dengan Ibukota Wonosari, Kabupaten Bantul, dengan Ibukota Bantul, Kabupaten Kulonprogo, dengan Ibukota Wates. Secara umum keadaan geografis Daerah Istimewa Yogyakarta terdiri dari daerah dataran yang berada pada kaki gunung Merapi (pada ketinggian

248

900 meter diatas permukaan air laut) dan miring kearah Selatan sampai di daerah pantai Samudra Indonesia, yang lazim disebut pula sebagai pantai Laut Selatan. Pariwisata merupakan salah satu pilar penting dalam pembangunan Provinsi DIY, disamping pendidikan dan budaya. Kegiatan pariwisata melibatkan berbagai sektor yang terkait sehingga, pariwisata tidak bisa berdiri sendiri tanpa keterkaitan dengan yang lain. Keterkaitan mata rantai pariwisata dari kebijakan pembangunan hingga kehidupan sehari-hari masyarakat, harus nyambung dan terpadu. Perencanaan pembangunan pariwisata di era otonomi masih mencari bentuk dan pola kerjasama antara provinsi dengan kabupaten dan kota. Permasalahan koordinasi seringkali tidak mudah, karena dengan otonomi sesungguhnya batas wewenang dan tugas itu berada pada kabupaten dan kota. Namun demikian, kegiatan pariwisata itu lintas wilayah administratif sehingga memerlukan keterpaduan pada tingkat provinsi dan bahkan lintas provinsi. 5.3.2 Kondisi Awal di Daerah

Pengelolaan pariwisata di Yogyakarta belum dilakukan secara profesional. Ketika masuk DIY orang tidak bisa menangkap secara cepat bahwa DIY merupakan kota wisata dan kebudayaan. Bandara Adisucipto yang merupakan pintu gerbang pertama untuk memasuki DIY sama sekali tidak merefleksikan bahwa DIY layak disebut sebagai kota pariwisata dan kebudayaan. Gerbang kedatangan bandara tersebut justru menjajakan industri perumahan secara besar-besaran, sedangkan etalase pariwisata dan kebudayaan tidak nampak sama sekali. Persoalan kedua yang muncul terkait dengan pariwisata DIY adalah dampak yang ditimbulkan oleh gempa terhadap sarana dan prasarana yang menopang pariwisata yang mengalami kerusakan dengan skala yang berbeda-beda. 1. Sarana transportasi: Banda Adisucipto mengalami kerusakan yang cukup serius sehingga sempat mengganggu penerbangan. 2. Hotel Beberapa hotel yang mengalami kerusakan antara lain: Hotel Jayakarta, Hotel Santika, Hotel Mercure, Hotel Sheraton Mustika. 3. 4. Pusat Perbelanjaan Tempat perbelanjaan yang mengalami kerusakan antara lain: Ambarukmo Plaza. Objek pariwisata Salah satu objek yang rusak adalah industri kerajinan kasongan.

249

Yogyakarta sebagai daerah tujuan wisata baik domestik maupun asing juga terkena dampak dari isu terorisme, bom dan berbagai ancaman keamanan lainnya seperti flu burung. Sejak tahun 2001-2004 hampir semua indikator pariwisata menunjukkan peningkatan kecuali jumlah hotel berbintang dan jumlah kamarnya serta lama menginap. Hal ini tentu saling berkaitan. Adanya berbagai macam isu yang mengancam kemanan akan menurunkan minat wisatawan untuk berkunjung, terlebih lagi wisatawan asing. Wisatawan domestik tidak begitu terpengaruh sebab mereka masih dapat mengetahui dengan keadaan yang sesungguhnya. Otonomi telah memberi kesempatan pemerintah kota dan kabupaten untuk mengembangkan diri, sesuai aspirasi masyarakat dan potensi daerahnya. Kecenderungan meningkatnya minat daerah dalam mengembangkan kegiatan pariwisata memerlukan perhatian dan penanganan yang seksama. Prakarsa dan inisiatif daerah membangun dirinya di masa otonomi ini sangat penting bagi konsolidasi strategi nasional pengembangan pariiwisata. Perkembangan pariwisata di kabupaten dan kota di Yogyakarta di era otonomi, menunjukkan perhatian yang tinggi. Semua kabupaten dan kota, telah memiliki Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA), sebagian sudah terlalu lama dan kondisi riil telah berubah banyak, sehingga perlu diperbaiki. Inisiatif pemerintah kabupaten dan kota yang sangat progresif, nampak belum dapat di koordinasikan dan disinkronkan kebijakan maupun program pengembangan pariwisata oleh Pemerintah Provinsi. 5.3.2.3 Sasaran yang Ingin Dicapai Sasaran yang ingin dicapai dari sektor pariwisata adalah munculnya destinasi-destinasi wisata baru di DIY dengan brand image wisata yang menarik. Selain itu juga diharapkan terjadi peningkatan kunjungan wisatawan baik asing maupun lokal yang berkunjung ke Yogyakarta. Sasaran utamanya adalah menjadikan Yogyakarta sebagai destinasi wisata nasional yang berkualitas internasional yang didukung oleh sumber daya manusia yang profesional. 5.3.2.4 Arah Kebijakan Ada beberapa arah kebijakan yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Propinsi DIY, yakni: 1. 2. 3. 4. 5. Mengkoordinasikan kebijakan dan perencanaan pariwisata antar kabupaten dan kota Menfasilitasi pengembangan SDM birokrasi dan pelaku berkaitan dengan bidang pariwisata Memotivasi upaya pengembangan pariwisata dalam rangka kebersamaan dan keterpaduan Mengisi celah-celah kebutuhan yang belum dapat dipenuhi atau belum dapat dilaksanakan oleh kabupaten dan kota Mensinergikan implementasi program lintas kabupaten dan kota.

250

Arah kebijakan tersebut bermuara pada target DIY sebagai destinasi wisata internasional. 5.3.2.5 Rekomendasi 5.3.2.5.1. Branding Wisata Jogja Never Ending Asia merupakan branding yang lebih dari lima tahun ini dikumandangkan. Upaya ini telah populer di masyarakat, tetapi belum mampu mengangkat pariwisata Yogyakarta ke tahapan yang baru. Kepopuleran brand image ini masih sebatas kaos oblong yang dicetak, stiker yang ditempel, baliho reklame yang dipajang maupun brosur dan majalah pariwisata. Branding ini belum bisa menarik wisatawan domestik maupun asing untuk datang dan membuktikan apa makna dari semboyan yang ditawarkan itu. Berbeda dengan Malaysia Truly Asia yang kemudian diikuti dengan pembenahan produk dan promosi yang gencar, Jogja Never Ending Asia belum dapat menggerakkan segenap potensi Yogyakarta untuk berbenah diri. Memang berbeda, karena Yogyakarta sendiri terlalu kecil untuk memainkan peran pariwisata Asia, kecuali ada kemampuan untuk membangun kreativitas dan melakukan perubahan secara konsisten. Kedepan diperlukan evaluasi mengenai Jogja Never Ending Asia apakah masih perlu dipertahankan atau perlu dirombak sehingga lebih memberikan semangat perubahan. Berkaitan dengan hal tersebut perlu ditinjau ulang Rencana Induk Pengembangan Pariwisata (RIPPDA) Provinsi DIY yang harus menjadi payung dan dapat bersinergi dengan RIPPDA kota dan kabupaten di Propinsi DIY. 5.3.2.5.2. Pengembangan Produk Dan Obyek Wisata Kreativitas dalam mengembangkan produk dan obyek wisata, belum tergambar dalam perencanaan pariwisata daerah. Belum ada kreativitas yang memungkinkan pariwisata Yogyakarta melakukan lompatan posisi dan tahapan menjadi terdepan. Produk pariwisata Yogyakarta masih berkisar pada apa yang selama beberapa dekade terakhir dikenal dalam pasar pariwisata, antara lain: Kraton, Malioboro, Kota Gede, Prambanan dan Borobudur. Para pelaku usaha bisnis jasa pariwisata seperti biro perjalanan masih banyak yang mengembangkan paket yang itu-itu juga. Greget untuk membuat paket baru belum muncul, bisa jadi karena wisatawan yang ke Yogya pada umumnya wisatawan domestik dan pada kemampuan menengah, sehingga paket yang ditawarkan juga berkaitan dengan kemampuan wisatawan.

251

Kemitraan dalam mengembangkan promosi obyek dan destinasi pariwisata juga harus dikembangkan dalam konteks yang lebih luas. Saat ini empat kabupaten dan satu kota (Yogyakarta) telah ikut dalam kerjasama promosi yang diberi nama “Java Promo”. Kerjasama antar kota dan kabupaten lintas provinsi Jawa tengah dan DIY ini melibatkan 14 kabupaten dan kota disekitar Yogyakarta. Hingga saat ini keterlibatan dari pemerintah provinsi baik DIY maupun Jawa Tengah, masih belum terlihat secara nyata. Oleh karena itu ke depan perlu dikembangkan kemitraan lintas provinsi, sehingga destinasi pariwisata di Jawa bagian tengah menjadi kuat dengan kerjasama antar kota Joglosemar (Jogja, Solo dan Semarang). 5.3.2.5.3. Pariwisata Pasca Bencana Pariwisata Yogyakarta mengalami penurunan drastis pada saat gempa bumi 5,9 skala rechter yang mengguncang Bantul dan Klaten dan sekitarnya pada 27 Mei 2006. Banyak obyek wisata yang mengalami kerusakan, juga adanya usaha kecil sebagai pensuplai produk wisata mengalami kerusakan parah. Kondisi ini mengakibatkan berbagai persoalan berhubungan dengan kekhawatiran wisatawan, sehingga banyak rencana rombongan wisata menunda dan membatalkan kunjungannya ke DIY. Sleman punya obyek wisata baru Kaliadem Lava Tour dan Sengir (rumah dome teletubis bantuan gempa). Semula bencana letusan Gunung Merapi berlangsung cukup lama sekitar dua bulan penduduk mengungsi dan menanti di barak pengungsi, namun justru yang terjadi gempa di selatan Yogya. Bencana Merapi juga menjadi tontonan dan setelah reda, lava Merapi menjadi tontonan bagi orang yang ingin melihat fenomena alam hasil letusan gunung tersebut. Kedempatan itu dimanfaatkan penduduk untuk menyambut kedatangan wisatawan dengan berjualan, mengelola parkir, jasa pemanndu dan penginapan. Gempa bumi yang terjadi juga menghadirkan solidaritas besar dari berbagai kalangan masyarakat di Indonesia dan Internasional. Banyak kunjungan ke lokasi bencana, sehingga ramai mirip wisata yang maksudnya mengunjungi untuk membantu. Ada yang disayangkan dalam situai pahit getir warga yang terkena musibah, ada saja orang datang hanya mengambil foto dan pergi. Namun lebih banyak orang yang datang untuk membantu sanak saudara maupun handai tolan di daerah bencana. Solidaritas itu begitu besar dan memberi semangat warga Bantul untuk segera bangkit. Bantul kini sedang melakukan pembenahan desa-desa kerajinan dan pariwisata yang menyangkut penghidupan masyarakat. Rumah-rumah dan tempat produksi di bangun kembali, sehingga adapat dipakai untuk bekerja dan menghasilkan kegiatanekonomi keluarga. Suplai barang kerajinan di Bali sempat mengalami surut, karena banyak kerajinan yang dihasilkan Yogyakarta tidak dapat diproduksi dan didistribusikan melalui Bali. Oleh karena itu disamping upaya memperbaiki rumah melalui program rekonstruksi pasca bencana, juga yang terus diupayakan adalah mengembalikan atau memulihkan sistem produksi yang sempat hancur akibat gempa bumi.

252

5.3.2.5.4. Pengembangan Sapta Pesona Pembangunan pariwisata tidak lepas dari berbagai aspek yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Kebersihan kota telah berbenah dengan mengembangkan taman yang asri dan perbaikan trotoar. Beberapa tahun silam terjadi kritik besar-besaran karena banyak ruang publik yang dijadikan ruang iklan komersial yang berlebihan. Pemerintah kota dan provinsi segera bergegas membenahi papan reklame dan memberikan imbangan dengan penghijauan dan peremajaan taman disekitar jalur jalan dan ruang publik. Kini hutan iklan dapat diimbangi dengan taman kota. Soal kedisiplinan menjadi persoalan karena masih banyak pengguna kendaraan yang melanggar peraturan lalu lintas dan membahayakan pengguna jalan lainnya. Begitu sulit menyeberang jalan dirasakan para pejalan kaki dan pengguna kendaraan non motor. Beberapa kawasan pedestrian dan trotoar direbut oleh pedagang kaki lima, sehingga menimbulkan kesemrawutan ruang publik. Wisatawan yang melintas berjalan kaki akan merasa terganggu karena layar pedagang kaki lima malang melintang jalur pejalan kaki dan menghabiskan trotoar. Keramahtamahan masyarakat terganggu dengan banyaknya para penjual souvenir yang mengejar wisatawan dengan memaksa untuk membelinya. Kondisi ini juga diperparah dengan menjamurnya para pengemis dan terutama anak-anak jalanan yang minta uang di jalan. Mereka dirasakan mengganggu pengguna jalan, karena disamping dapat membahayakan lalu lintas juga menjadi pemandangan yang tidak sedap. Bantuan mungkin diperlukan, tetapi lebih pada mereka yang mau belajar dan bekerja. Bukan memberi belas kasihan pada orang yang malas. Berkaitan dengan isu tersebut dan pengembangan sapta pesona, masih kurang menjadi perhatian dalam perencanaan dan kebijakan pariwisata. Program semacam ini perlu dilakukan secara kontinyu dan berkelanjutan di berbagai lapisan masyarakat, khususnya para pelaku pariwisata sebagai pihak yang menyediakan jasa dan menerima manfaat pariwisata. 5.3.2.5.5 Penutup

Belum ada kreativitas yang memungkinkan pariwisata Yogya melakukan lompatan posisi dan tahapan menjadi terdepan. Produk pariwisata Yogya masih berkisar pada apa yang selama beberapa dekade terakhir dikenal dalam pasar pariwisata, antara lain: Kraton, Malioboro, Kota Gede, Prambanan.

253

Pariwisata, pada dasarnya, memiliki peluang untuk menggaet dan mengintegrasikan sektor pertanian dan industri perdesaan untuk berubah mentransformasi diri menjadi kegiatan yang lebih produktif, bermutu dan memiliki nilai tambah. Dengan menciptaklan nilai tambah, pada produksi pertanian- misalnya, juga akan meningkatkan kesejahteraan petani. Perkembangan pariwisata di kabupaten dan kota di Yogyakarta di era otonomi, menunjukkan perhatian yang tinggi. Semua kabupaten dan kota, telah memiliki Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA), sebagian sudah terlalu lama dan kondisi riil telah berubah banyak, sehingga perlu diperbaiki. Inisiatif pemerintah kabupaten dan kota yang sangat progresif, nampak belum dapat di koordinasikan dan disinkronkan kebijakan maupun program pengembangan pariwisata oleh Pemerintah Provinsi. Bab 4. Sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM) 4.1. Pengantar Daerah Istimewa Yogyakarta sangat mengandalkan sektor usaha kecil menengah sebagai penggerak ekonominya. Sektor ini mampu menyerap banyak tenaga kerja karena sifatnya yang padat karya. Sektor ini juga jenis industri yang paling pas di DIY karena sesuai dengan keadaan penduduk serta posisi DIY sebagai daerah tujuan wisata dan pendidikan. UKM menjadi penyedia kebutuhan pariwisata dan pelajar yang belajar di DIY. Sebagai gambaran peran strategis UKM terhadap perkembangan perekonomian di DIY dapat dilihat data statistik UKM pada tahun tahun 2004 sebelum gempa bumi terjadi. Pada tahun tersebut data statistik menunjukan bahwa secara makro UKM memberi kontribusi terhadap komoditas ekspor DIY senilai Rp 2,5 triliun atau 60 % dari total ekspor seluruh DIY. Sementara Itu data pada tahun yang sama menunjukan bahwa Investasi yang masuk ke DIY di sektor ini mencapai Rp 1,3 triliun (Kompas, 18 Oktober 2005). Sumbangan pertumbuhan yang diberikan oleh berbagai komuditas UKM di DIY tersebut ditopang oleh berbagai sentra UKM yang jumlahnya mencapai ratusan ribu unit, yang tersebar pada lima kabupaten dan kota di seluruh DIY. Data yang dikeluarkan Bappenas et.al (2006: 50) menyebutkan bahwa sebelum gempa jumlah UKM di DIY secara keseluruhan mencapai angka 113.000 unit yang memperkerjakan kurang lebih 422.500 orang. Sebagai ilustrasi yang lain, data Tabel 1 menunjukan bahwa pada tahun 2005 jumlah industri kecil (yang hanya merupakan salah satu bagian dari UKM) di DIY mencapai 74.941 unit yang mampu menyerap tenaga kerja sebesar 242.313 orang. Jumlah tersebut tentu masih akan bertambah apabila kita memasukan kegiatan lain yang termasuk dalam jenis UKM.

254

Tabel 4.1. Jumlah Industri Kecil dan Penyerapan Tenaga Kerja Propinsi DIY Tahun 2005

No 1 2 3 4 5

Cabang Industri Pangan Sandang dan Kulit Kimia dan Bahan Bangunan Logam dan Elektronika Kerajinan Jumlah

Unis Usaha (Unit) 32.981 4.443 12.400 2.744 22.373 74.941

Tenaga Kerja (Orang) 90.622 18.907 56.715 7.646 68.383 242.313

Sumber: Dinas Perindustrian dan Koperasi Propinsi DIY (2005: 3). Dari tabel di atas, sektor industri pangan merupakan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja, diikuti oleh sektor kerajinan yakni sekitar 68.383 orang. Dengan total tenaga kerja yang terserap mencapai 242.313 orang maka tak heran UKM menjadi penggerak utama sektor ekonomi dan ketenaga kerjaan DIY. 5.4.2.. Kondisi Awal Perkembangan potensi industri kecil dan menengah yang tersebar di seluruh wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta selama lima tahun terakhir menunjukkan suatu keadaan yang relatif stabil terhadap gejolak krisis ekonomi. Hal ini ditunjukkan dengan masih banyaknya unit usaha industri kecil dan menengah yang eksis yaitu pada tahun 1994 ada 76.489 unit usaha, dengan nilai investasi sebesar Rp 343.107 juta, dan nilai produksi sebesar Rp 691.646 juta, yang menyerap tenaga kerja 206.474 orang. Kemudian pada tahun 1999 ada 77.526 unit usaha, dengan nilai investasi sebesar Rp 412.845 juta, dan nilai produksi sebesar Rp 1.109.394 juta, dengan menyerap tenaga kerja sebanyak 219.279 orang. Namun demikian untuk mengembangkan potensi industri kecil dan menengah masih menghadapi permasalahan seperti permodalan dan pemasaran. Sumbangan sektor industri dan perdagangan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) DIY tahun 1998 dan 1999 masing-masing 48.93 % dan 57,81 %. Realisasi eksport DIY pada tahun 1999 sebesar US $ 91,6 juta dengan volume sebesar 36.218 ton, sedangkan jumlah mata dagangan ekspor seluruhnya mencapai 74 dagangan dengan pelaku ekspornya sebanyak 155, dan negara tujuan ekspor 71 negara. Beberapa komoditas ekspor unggulan DIY antara lain tekstil dan produk tekstil, mebel kayu dan kerajinan kayu, kulit dan produk kulit, gerabah/keramik, jamur dalam kaleng, kerajinan besi dan kerajinan perak.

255

Gempa bumi yang melanda DIY beberapa tahun lalu juga menyisakan masalah bagi UKM di DIY. Kegiatan usaha di Yogyakarta sebagian besar bersifat lokal, artinya hasil produksi suatu usaha menjadi bahan baku (dikonsumsi) oleh usaha lain (konsumen) pada wilayah yang relatif sama. Akibatnya ketika suatu industri terganggu produksinya, maka industri lain yang terkait akan ikut terganggu pula. Mandegnya kerajinan gerabah membuat pengrajin box kayu dan kardus serta penyedia tanah liat kehilangan pasar. Fenomena ini ditunjukkan oleh kerusakan utama adalah kerusakan pada bahan baku diikuti oleh kerusakan pada potensi pasar dan sarana peralatan. Untuk meningkatkan pemberdayaan ekonomi daerah, peran pemerintah sangat diperlukan khususnya pada upaya menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi pertumbuhan usaha perdagangan, pengembangan usaha Koperasi dan Usaha Kecil Menengah serta usaha industri. 5.4.3. Arah Kebijakan Arah kebijakan untuk meningkatkan pengembangan Koperasi dan UKM lebih rinci sebagai berikut : a. b. c. d. Memberikan informasi yang terus menerus tentang peluang investasi potensial yang dapat mereka lakukan berikut sumber-sumber pembiayaan yang dapat mereka peroleh. Memberikan pelatihan manajemen pengelolaan UKM dan Koperasi melalui sistem pendampingan dan pembinaan yang berkelanjutan agar mereka bisa lebih mandiri dan profesional. Perlu adanya sistem reward and punishment bagi pelaku bisnis UKM dan koperasi yang lebih transparan melalui sistem evaluasi yang rutin. Menjadikan UKM dan Koperasi sebagai incubator-business bagi pelaku bisnis serta mahasiswa yang ingin magang atau memperaktekkan teorinya dan sekaligus juga akan mengurangi pengangguran terdidik. e. Perlu merealisasikan kerjasama antar instansi yang melibatkan Pemda, Bank Indonesia, Perbankan, dunia usaha, penyandang dana lainnya, maupun perguruan tinggi yang bergelut di bidang UKM dan Koperasi mulai dari proses perencanaan, implementasi, monitoring, evaluasi serta penyusunan strategi kebijakan UKM dan Koperasi ke depan. f. g. h. Menyediakan baseline data (peta bisnis UKM) yang selalu up to date secara sektoral maupun wilayah kecamatan untuk keperluan perencanaan. Perlu meningkatkan peran sektor informal yang lebih komprehensif melalui penataan yang lebih serius dalam RUTR Pengembangan Wilayah. Mengoptimalkan alokasi sumber-sumber pembiayaan yang bukan berasal dari perbankan maupun skim kredit formal yang sudah ada.

256

i.

Mengembangkan sentra-sentra industri kecil dalam suatu kawasan dalam bentuk Pemukiman Industri Kecil (PIK), Lingkungan Industri Kecil (LIK) yang didukung oleh Unit Pelayanan Teknis (UPT) maupun Tenaga Penyuluh Industri Kecil (TPIK).

j.

Mengembangkan pola-pola kemitraan seperti bapak angkat dalam pengelolaan maupun mencari bantuan modal. 5.4.4 Sasaran yang Ingin Dicapai

Ada tiga hal yang ingin dicapai dari sektor UKM di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sasaransasaran tersebut adalah: 1. 2. 3. Terciptanya iklim usaha yang kondusif Meningkatnya kemampuan UKM untuk menyerap tenaga kerja Kemandirian UKM 5.4.5 Rekomendasi

Saat ini UKM di Indonesia umumnya dan di DIY khususnya menghadapi masalaha yang berat terkait dengan krisis keuangan global yang mengakibatkan rendahnya daya beli masyarakat baik domestik dan intewrnasional. Rekomendasi yang dapat dilakukan oleh pemerintah dan Ukm agar mampu bertahan dari krisis antara lain (mengutip pernyataan Ketua HIPMI, Erwin Aksa): 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Meningkatkan diversifikasi produk dan pasar Meningkatkan insentif fiskal maupun non fiskal bagi pelaku usaha khususnya sektor UKM Meminimalisasi biaya-biaya yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi, baik terkait dengan proses birokrasi maupun kondisi-kondisi yang menciptakan ekonomi rente Mengamankan serta memperkuat pasar dalam negeri Peningkatan efisiensi dan produktivitas serta mempercepat restrukturisasi usaha Perbaikan iklim investasi dengan kebijakan yang konsisten Menjaga keberlangsungan UKM dengan KUR serta program fasilitasi UKM lainnya Sedangkan khusus untuk UKM di DIY, maka ada beberapa rekomendasi untuk mengembangkan sektor UKM agar mampu berperan lebih besar terhadap peningkatan kehidupan ekonomi masyarakat di DIY. Rekomendasi tersebut adalah:

257

1. 2. 3. 4. 5.

memperluas basis dan kesempatan berusaha serta menumbuhkan wira usaha harus berkeunggulan untuk mendorong pertumbuhan, pengembangan ekspor dengan penciptaan lapangan kerja mengembangkan KUKM melalui pendekatan kluster dengan pemberian kemudahan dalam pengelolaan usaha memperluas dan meningkatkan kualitas institusi pendukung yang menjalankan fungsi intermediasi sebagai penyedia jasa pengembangan usaha, teknologi, manajemen, pemasaran dan informasi memperkuat kelembagaan dengan menerapkan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik terutama untuk memperluas akses kepada perbankan, dengan menyederhanakan prosedur perijinan; mengembangkan UMKM yang makin berperan dalam proses industrialisasi, perkuatan keterkaitan industri, percepatan teknologi dan peningkatkan kualitas SDM, mengintegrasikan UMKM yang masih berperan sebagai penyedia barang dan jasa pada proses domestik yang semakin berdaya saing membangun koperasi yang diarahkan dan difokuskan pada perluasan tatanan kelembagaan dan organisasi koperasi untuk menciptakan iklim usaha kondusif serta kepastian hukum koperasi dengan meningkatkan kemandirian koperasi serta meningkatkan dukungan stakeholder kepada koperasi. Selain itu meningkatkan kualitas pasar ekspor, mempermudah pelaku UKM untuk mendapatkan pinjaman dari Bank serta memberi pelatihan manajemen dan pemasaran.

5.4.6

Penutup

Kegiatan yang dilakukan untuk memajukan koperasi dan UMKM berjalan dengan baik, namun perlu segera diperhatikan dan ditinjaklanjuti mengenai hambatan-hambatan yang bisa mempengaruhi perkembangan koperasi dan UKM di Provinsi DIY. Dampak krisis keuangan global juga menjangkiti kondisi koperasi dan UKM di rata-rata daerah di Indonesia termasuk Provinsi DIY. Hal tersebut jelas menjadi sinyal kuat bagi Provinsi DIY agar semakin berpihak nyata terhadap keberlanjutan Koperasi dan UKM dengan memberikan penguatan modal.

258

Bab 6.

Isu yang Mempengaruhi Tiga Isu Strategis Utama 6.1. Pengantar Permasalahan yang jika tidak ditangani atau diantisipasi secara serius adalah permasalahan lahan dan

lingkungan. Isu-isu ini mempengaruhi tiga pilar utama Propinsi DIY yakni UKM, Pendidikan dan Pariwisata. Persoalan penting yang dihadapi oleh Yogyakarta dalam perkembangan mutakhir ialah pemekaran fisik kota. Kota semakin menghadapi tantangan untuk meluaskan wilayah tata-ruangnya sebagai akibat dari perubahan penggunaan lahan untuk berbagai kepentingan penduduk. Dalam sebuah kajian fasilitas sosial-ekonomi, Agus Suryanto (2002) menunjukkan bahwa perubahan lahan antara tahun 1959-1996 membuktikan bahwa secara historis telah terjadi perubahan luas penggunaan lahan sehingga pemekaran wilayah fisik kota berlangsung dalam setiap periode. Tampaknya menjelang abad ke-21 adalah periode pemekaran fisik yang paling tinggi dibanding periode sebelumnya. Perkembangan kawasan perkotaan (urban) di Yogyakarta berjalan semakin cepat karena perubahan struktur penduduk, kebutuhan permukiman, serta perubahan fungsi-fungsi yang semakin beragam. Antara periode tahun 1987-1996, misalnya, telah terjadi kecepatan pemekaran sebesar 225,09 hektare di kota Yogyakarta meskipun kota ini telah memperoleh penambahan luas lahan sebesar 2025,78 hektare. Dua faktor utama yang menjadi penyebab perubahan penggunaan lahan ialah konsentrasi penduduk dan faktor kebutuhan penyediaan fasilitas sosial-ekonomi. Faktor konsentrasi penduduk dapat dihitung dari kepadatan penduduk dalam satuan jiwa per km persegi di masing-masing wilayah kecamatan. Sedangkan faktor sosial-ekonomi yang juga berperan besar dalam mendorong perubahan penggunaan lahan perkotaan antara lain dipicu oleh kebutuhan sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Perluasan lahan untuk permukiman dan perumahan Perluasan dan penambahan panjang jalan Fasilitas dan sarana transportasi seperti stasiun, bandar-udara, dan sebagainya Fasilitas perdagangan, yaitu untuk pasar umum, pertokoan, swalayan, mall, dan sebagainya Fasilitas pendidikan, misalnya untuk gedung sekolah dan perguruan tinggi Fasilitas kesehatan seperti rumah-sakit, klinik dan tempat-tempat pengobatan Fasilitas peribadatan, seperti masjid, gereja, mushola, vihara, dan sebagainya Fasilitas kelembagaan, yaitu perkantoran baik milik pemerintah maupun swasta Fasilitas olah-raga Fasilitas hiburan, seperti gedung bioskop, gedung kesenian, dan gedung-gedung pertemuan atau perhelatan sejenisnya.

259

Dapat disimpulkan secara umum bahwa perubahan demografis dan sosial-ekonomi akan terus mempengaruhi masyarakat di wilayah propinsi DI Yogyakarta dari segi penggunaan lahan untuk berbagai kepentingan penduduknya. Problema pertanahan kota menjadi semakin kompleks akibat dari keterbatasan dan kendala yang dihadapi masyarakat di propinsi DI Yogyakarta di masa mendatang. Perubahan tata-ruang perkotaan menunjukkan adanya pola perubahan dari kota tradisional menjadi kota nasional, dan kini semakin mengarah ke kota internasional oleh adanya kebutuhan pengembangan pariwisata, globalisasi dan berbagai peristiwa pendidikan bertaraf internasional di kota ini. 6.2. Konversi Lahan

Dari sisi perencanaan pembangunan, salah satu aspek yang sangat mengkhawatirkan dari proses perkembangan tata-ruang di propinsi DI Yogyakarta ialah berlangsungnya konversi lahan yang demikian cepat. Begitu banyak lahan pertanian yang berubah menjadi pekarangan dan perumahan. Angka hilangnya lahan pertanian itu secara rata-rata di DIY adalah 0,24 persen per tahun. Kota Yogyakarta adalah yang paling sedikit memiliki lahan pertanian karena tinggal sebesar 7 persen dengan luasan 125 hektare saja. Yang tentu akan berdampak negatif dari segi lingkungan terutama konversi dari lahan yang diperuntukkan bagi kawasan penangkap air menjadi bentuk-bentuk peruntukan lainnya. Data mutakhir yang menunjukkan betapa pesatnya konversi lahan itu dapat dilihat pada Tabel 5.1 Tabel 5.1. Luas lahan terkonversi pada tahun 2005-2006 di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Lokasi Luas Tanah Terkonversi (Ha) 1 2 3 4 5 Total Sumber: diolah dari Kantor BPS Propinsi DI Yogyakarta. Data tersebut memperlihatkan bahwa tindakan konversi lahan tertinggi yang terjadi di wilayah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta adalah di Kabupaten Sleman. Namun perkembangan yang terjadi di wilayah Kabupaten Gunung Kidul Kabupaten Kulon Progo Kabupaten Bantul Kabupaten Sleman Kota Yogyakarta 200 150 246 328 924

No.

260

Kabupaten Sleman sesungguhnya tidak terlepas dari pola pengembangan daerah. Konversi tanah sebenarnya terjadi merata di semua kabupaten. Masalahnya ialah bahwa konversi yang tidak terkendali di daerah atasan seperti kabupaten Sleman tentu akan berdampak negatif kepada daerah bawahannya, dalam hal ini kota Yogyakarta dan kabupaten Bantul. Gejala lapar tanah yang melanda daerah perkotaan dan telah merambah daerah sekitarnya (sub-urban) telah memberikan kesempatan bagi sebagian kecil masyarakat yang memiliki kelebihan modal untuk melakukan investasi atau spekulasi yang berujung pada semakin melambungnya harga tanah sehingga menjadikan sebagian besar masyarakat yang tidak mampu membelinya tersingkir. Diperlukan adanya sebuah kebijakan pengendalian pertanahan dari pemerintah untuk menekan kondisi tersebut. Tetapi dalam kenyataannya seringkali terdapat kebijakan pertanahan yang dapat menyimpang dari tujuan semula dalam arti secara tidak sengaja justru menguntungkan pihak-pihak yang sebetulnya kurang atau tidak membutuhkan manfaat dari kebijakan tersebut. Memang harus diakui bahwa di tengah tekanan persoalan karena cepatnya konversi lahan yang sampai ke tingkat yang membahayakan, beberapa inisiatif baru dari pemerintah daerah telah terwujud. Untuk menangani konversi lahan yang cepat di kabupaten Sleman, misalnya, selain lembaga konvensional seperti BPN (Badan Pertanahan Nasional) di daerah telah dibentuk Badan Pengendalian Tanah Daerah (BPPD) Kabupaten Sleman melalui Keputusan Bupati Sleman Nomor 37/Kep.KDH/2003. Fungsi dan penugasan BPPD menurut Keputusan Bupati ini adalah sebagai penjaga rancangan pengembangan keruangan yang telah dikeluarkan oleh Pemda Sleman dalam penerapannya di lapangan. Kecuali itu, beberapa pasal pada Perda No.19/2001 Kabupaten Sleman menyatakan bahwa tanah yang dapat ditunjuk dalam ijin peruntukan penggunaan tanah adalah tanah yang menurut rencana tata ruang yang berlaku diperuntukan bagi pembangunan fisik dan atau keperluan lain yang berdampak pada struktur ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan. Tindakan konversi lahan tanpa melakukan koordinasi dengan lembaga pengendalian pertanahan daerah (BPPD Kabupaten Sleman) di wilayah kabupaten Sleman merupakan tindakan yang melawan hukum karena lembaga pertanahan daerah (BPPD) Sleman merupakan lembaga yang memiliki otoritas untuk memberikan legalitas pengalihan fungsi (konversi) lahan diseluruh wilayah kabupaten Sleman. Sesuai dengan Perda Kabupaten Sleman No. 19/2000 tentang Izin Peruntukan Penggunaan tanah sehingga setiap tindakan pengalihan fungsi tanah (konversi) tanah di wilayah Kabupaten Sleman tanpa berkoordinasi dengan BPPD Sleman akan mendapatkan sanksi administrasi dan sanksi pidana. Akan tetapi, seperti telah ditunjukkan di depan, konversi lahan itu masih saja terjadi tanpa sepengetahuan pihak pemerintah daerah. Konversi lahan yang sangat mengkhawatirkan itu terutama di beberapa kecamatan di wilayah utara, yaitu Cangkringan, Pakem, Tempel, dan Ngemplak. Di dalam praktiknya, ternyata fungsi BPN daerah dan BPPD justru sering tumpang-tindih dan tidak menghasilkan garis kebijakan yang jelas. Sub bagian Pertanahan Pemda Sleman hanya memegang peranan

261

kecil dalam proses administrasi pertanahan daerah. Era reformasi ternyata tidak membawa banyak perubahan dalam kebijakan di bidang pertanahan. Sebelum era reformasi, kebijakan pengaturan penggunaan pertanahan daerah pelaksanaan oleh Bagian Tata Pemerintahan, khususnya Sub Bagian Pertanahan, Pemda Sleman. Dimana ketugasannya (Sub Bagian Pertanahan- Bagian Tata Pemerintahan Pemda Sleman) adalah hanya memberikan perijinan penggunaan tanah bagi proyek-proyek tertentu setelah berkonsultasi dengan BPN Sleman. Peranan Pemerintah Daerah dalam menangani masalah pertanahan melalui sub bagian pertanahan tidak dapat berfungsi secara maksimal. Hal ini disebabkan sub bagian pertanahan lebih cenderung mengurusi persoalan pengadaan tanah bagi kepentingan umum dalam menunjang kinerja BPN. Selain itu, meskipun fungsi dari Bagian Tata Pemerintahan Sub bagian Pertanahan adalah ikut serta dalam pembentukan tata ruang dan pengembangan kawasan yang disesuaikan dengan fungsi kewilayahan, ternyata mekanisme pengendalian konversi lahan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Persoalan penegakan hukum di bidang pertanahan serta pengendalian tata-ruang itu tidak hanya terjadi di kabupaten Sleman, tetapi juga di kabupaten Gunungkidul, Bantul, Kulonprogo, atau kota Yogyakarta sendiri. Pihak pemerintah daerah memang telah mengupayakan pencetakan sawah baru dengan perbaikan sarana irigasi teknis seluas 6.000 hektare di kawasan pantai selatan Bantul. Alih fungsi yang mencapai angka 45.000 hektare per tahun juga memang terjadi di seluruh pulau Jawa dan Bali. Potensi akibat yang bisa ditimbulkan oleh adanya perubahan lahan dari pertanian ke permukiman tersebut antara lain naiknya angka run off, turunnya air tanah, meningkatnya polusi baik udara maupun air, naiknya suhu lokal sesuai dengan apa yang dikenal sebagai heat island effect, kerusakan lingkungan lainnya dan kekurangan supply bahan pangan. Persoalan di DI Yogyakarta tampaknya lebih serius karena wilayahnya yang memang sempit dan karena keterkaitan kebijakan pertanahan antara daerah atas dan daerah bawahnya yang demikian erat dan menentukan kelangsungan ekologi di kawasan ini. Di bidang pertanahan, isu kebijakan inilah yang perlu mendapat perhatian lebih serius dalam sistem perencanaan pembangunan di propinsi DI Yogyakarta di masa mendatang. 6.3. Sultan Ground

Sultan Ground adalah tanah yang secara historis diakui sebagai bagian dari kepemilikan atau harta Keraton Yogyakarta. Luas tanah ini adalah 6.397,6 Ha untuk wilayah kota dan sebagian Sleman. Sementara untuk wilayah kabupaten lainya belum ada pengukuran pasti karena terkait dengan masalah penganggaran yang terhenti sejak tahun 2005. Masalah yang selalu mencuat dalam persoalan lahan di wilayah propinsi DI Yogyakarta ini menyangkut status hukum dari Sultan Ground tersebut. Secara yuridis Sultan Ground sama sekali tidak punya kepastian hukum. Dalam UU No. 5 Tahun 1960, Sultan Ground dianggap tidak ada karena dalam diktum ke empat dikatakan bahwa segala tanah yang sebelum

262

kemerdekaan merupakan tanah dari kerajaan di Indonesia maka akan menjadi milik negara. Dalam diktum ke empat UUP huruf A dinyatakan: “Hal-hal dan wewenang-wewenang atas bumi dan air dari swapraja atau bekas swapraja yang masih ada, pada waktu mulai berlakunya Undang-Undang ini hapus dan beralih kepada negara.” Selama ini ketika pemerintah harus menggunakan tanah keraton untuk tanah pembangunan, pemerintah selalu minta izin kepada keraton, secara tidak langsung implementasi UU Tahun 1960 tersebut dipertanyakan. Ketentuan mengenai penguasaan atas tanah Sultan Ground di Daerah Istimewa Yogyakarta dapat ditelusuri dari Rijksblad Kasultanan No. 16 Tahun 1918 dan Rijksblad Paku Alaman No. 18 Tahun 1918 dimana kedua kerajaan tersebut menyatakan kekuasaan mereka atas tanah dalam wilayah kerajaan sebagai berikut: “Sakabehe bumi kang ora ana tanda yektine kadarbe ing liyan mawa wewenang eigendom, dadi bumi kagungane kraton ingsun Ngayogyakarta” (Semua bumi/tanah yang tidak terbukti dimiliki oleh orang lain dengan hak eigendom adalah kepunyaan kerajaan (ku) Ngayogyakarta)

Tidaklah mengherankan jika di Daerah Istimewa Yogyakarta dapat dengan mudah ditemukan tanahtanah milik Sultan (Sultan Ground / SG) dan tanah milik Pemerintahan Kesultanan (Sultanaat Ground), bahkan hubungan antar individu maupun masyarakat Yogyakarta dengan tanah-tanah yang masih merupakan tanah keraton diurus oleh Kawedanan Hageng Ponukawan Wahono Sarto Kriyo, c.q. Kantor Paniti Kismo Keraton Ngayogyakarta. Saat ini Sultan Ground dan Pakualaman Ground telah ditempati oleh penduduk baik untuk pemukiman maupun pertokoan. Masyarakat hanya boleh menempati tanah tersebut dengan izin yang dikeluarkan keraton melalui serat magersari yang diterbitkan oleh Paniti Kismo (lembaga di keraton yang mengurusi surat magersari). Jika permasalahan ini tidak diselesaikan maka dampak yang akan ditimbulkan akan sangat besar. Pertama jika tanah itu diminta kembali oleh keraton maka ribuan KK yang selama ini menempati tanah tersebut harus rela pindah, atau pemerintah harus membebaskan tanah keraton tersebut dengan asumsi bahwa pemerintah mengakui bahwa tanah tersebut merupakan tanah keraton. Akan timbul sengketa yang besar atas kepemilikan tanah di masa depan seiring dengan meningkatnya aktivitas perekonomian penduduk dimana tanah menjadi kebutuhan yang penting. Dalam hal berencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu maka ketidakjelasan suatu tanah tentu akan sangat menyulitkan untuk proses ganti

263

rugi maupun perbaikan. Dan masih akan banyak lagi daftar panjang masalah yang mungkin timbul jika permasalahan itu tidak diselesaikan. 6.4. Pencemaran Lingkungan

Di wilayah propinsi DIY, antara tahun 2003-2004 jumlah sepeda motor setiap bulan meningkat hingga 7.347 unit. Pertumbuhan di kabupaten Bantul dalam tiga tahun terakhir termasuk yang paling pesat, rata-rata di atas angka 10 persen. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, dalam beberapa tahun terakhir ini jumlah sepeda motor di propinsi DIY meningkat hingga 41 persen. Angka pada tahun 2002, misalnya, mencatat bahwa jumlah sepeda motor di DIY adalah 597.143 unit. Angka ini pada tahun 2005 melonjak menjadi 843.007 unit dan menunjukkan kecenderungan meningkat pada tahun-tahun berikutnya. Akibat langsung dari pertumbuhan kendaraan bermotor di Yogyakarta adalah pencemaran udara dan suara. Berdasarkan hasil pemantauan Kantor Pengendalian Dampak Lingkungan (KPDL) Kota Yogyakarta tahun 2005 terhadap kualitas udara di 11 titik di wilayah kota menunjukkan kadar hidrokarbon (HC) dan Nitrogen Oksida (NO2) melebihi batas normal (lihat tabel).

Sumber: Laporan Udara, 2004. KPDL Kota Yogyakarta. Data dari KPDL kota Yogyakarta menunjukkan, dua kawasan yang paling polutif adalah perempatan Pingit di Jalan Magelang dan perempatan Mirota Kampus. Kadar HC di perempatan Pingit mencapai 1.053 ug/m3 , sedangkan perempatan Mirota Kampus mencapai 964 ug/m3 . Batas ambang normal untuk kadar HC hanya 160

264

ug/m3. Tingkat kadar NO2-nya, kawasan persimpangan di Hotel Inna Garuda dan Jalan Kusumanegara sebagai yang tertinggi, selain di perempatan Pingit. Secara total potensi bencana lingkungan akibat tanah longsor mencapai 157 titik longsoran di seluruh DIY. Bersamaan dengan proses rehabilitasi dan rekonstruksi yang hingga kini masih berlangsung, kiranya perencanaan pembangunan di propinsi ini beberapa tahun mendatang juga harus memperhitungkan potensi bencana alam yang terjadi karena karakter vulkanologis dengan keberadaan Gunung Merapi, proses deforestasi yang mengakibatkan penggundulan hutan di beberapa kawasan, serta akibat ikutan dari bencana gempa bumi yang telah terjadi.

265

BAB VI PENUTUP

Bagian ini merupakan ringkasan keselurahan Laporan Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Provinsi DIY. Ringkasan tersebut berkaitan dengan sasaran yang ingin dicapai dalam RPJMN 2004-2009 dengan apa yang telah diupayakan dan apa yang berhasil dicapai di daerah. Secara rinci perbandingan tersebut bisa dilihat pada bagian II sampai bagian IV untuk masing-masing agenda pembangunan. Dalam bagian ini juga dijelaskan tentang isu-isu strategis yang menonjol di Provinsi DIY yang secara lebih detail dapat dilihat pada bagian V. Berikut ringkasan keseluruhan Laporan Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah DIY.

I.

Kondisi Awal RPJMN di Daerah Sejalan dengan pelaksanaan tiga agenda pembangunan dalam RPJM Nasional di daerah. Propinsi DI Yogyakarta mengawali pelaksanaan agenda pertama yaitu menciptakan Indonesia yang aman dan damai dengan keadaan yang relatif baik. Gangguan keamanan selalu terjadi, namun skala gangguan relatif rendah sehingga dengan cepat aparat keamanan dapat menyelesaikannya. Agenda kedua adalah mewujudkan Indonesia yang adil dan demokratis. Sejalan dengan otonomi daerah dan berkembangnya tuntutan untuk pemerintahan yang semakin bersih dan transparan, pelaksanaan RPJMN di Propinsi D I Yogyakarta diawali dengan adanya berbagai benturan peraturan yang kurang cocok dengan aturan diatasnya. Pada aspek transparansi, D I Yogyakarta terus berupaya untuk meningkatkan transparansi dengan sistim evaluasi kinerja yang dinamis dan menyeluruh. Persoalan selanjutnya adalah mengenai keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta yang masih menjadi perdebatan di masyarakat. Agenda ke tiga dari RPJMN adalah meningkatkan kesejahteraan masyakarat. Secara umum pelaksanaan pembangunan agenda ke tiga di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta diawali dengan adanya beberapa persoalan yang telah berlangsung namun belum mendapat penanganan yang optimal. Jumlah penduduk penyandang masalah sosial memang terus berkurang, tetapi tingkat kesulitan yang dihadapi semakin tinggi sehingga sulit ditangani. Sebagian besar penyandang masalah sosial merupakan masalah sosial yang kronis (baik di pedesaan maupun perkotaan), sementara secara geografis DIY dikelilingi oleh daerah-daerah rawan bencana. Kemiskinan yang terjadi di Propinsi DIY bersifat dimensi ganda, salah satu dimensi kemiskinan itu adalah sumber pendapatan. Sektor pertanian dan UMKM yang merupakan sumber utama pendapatan 266

penduduk masih menghadapi persoalan yang semakin rumit. Sektor pertanian sebagai sektor penyerap tenaga kerja terbanyak terus mengalami penurunan. Beralihnya fungsi lahan (seluruh DIY rata-rata 0,42%/ tahun dan 7.74% di wilayah kota) dan semakin turunnya kualitas lahan menjadi persoalan serius yang dihadapai sektor pertanian. Alih fungsi lahan terkait dengan makin meningkatnya permintaan atas lahan untuk properti justru sebagian besar ( 58%) berasal dari luar Provinsi DI Yogyakarta. Rusaknya kualitas lahan terkait dengan penggunaan bahan kimia untuk pertanian yang terus meningkat dan pencemaran yang terjadi kerena aktivitas sektor industri UMKM. UMKM yang masih belum pulih dari gempa bumi masih menghadapi masalah klasik yaitu pembinaan dan pengembangan yang bersifat tidak menyeluruh. Dimensi lain dari kemiskinan adalah ketersediaan sarana dan prasarana baik publik maupun sarana dan prasarana produksi. Pada aspek pendidikan, angka putus sekolah, penghargaan terhadap tenaga pendidik yang masih kurang, koordinasi antar SKPD , ketimpangan kualitas dan kuantitas pendidikan antara wilayah pedesaan dan perkotaan masih menjadi masalah bidang pendidikan dasar yang dihadapi oleh DI Yogyakarta. Sementara pada bidang pendidikan tinggi, berkembangnya pendidikan tinggi di daerah dan isu sosial (perilaku remaja) di D I Yogyakarta menjadi penyebab menurunnya angka peserta didik pendidikan tinggi. Turunnya angka peserta didik akan sangat berpengaruh terhadap seluruh perekonomian mengingat multplier efek yang ditimbulkan oleh pandidikan tinggi. Pada aspek kesehatan, sebagian besar masyarakat masih belum terbiasa hidup bersih dan sehat. Keadaan ini bisa menjadi penyebab dan dampak dari kemiskinan. Persoalan lain yang spesifik di DI Yogyakarta adalah persoalan tanah Sultan dan tanah Pakualaman. Akibat dari tidak selesainya persolan hukum agraria dari jaman penjajahan dengan jaman kemerdekaan, hak atas lahan Sultan dan Pakualaman berhadapan dengan hak lahan atas rakyat menjadi tidak jelas. Masyarakat selama ini bermukim selama puluhan tahun di Sultan Ground dan Pakualaman Ground sama sekali tidak memliki kepastian hukum dan tidak memiliki hak milik. Mereka juga harus rela pindah jika kemudian tanah itu diakui dan diminta oleh pihak keraton atau diminta oleh pemerintah. Disisi lain keraton tidak memiliki bukti otentik dimata hukum nasional bahwa tanah tersebut adalah tanah keraton. Dalam hal ini keraton juga dalam posisi yang sangat lemah.

II.

Sasaran Yang Ingin Dicapai Berhadapan dengan persoalan yang dihadapi, pemerintah Provinsi DI Yogyakarta berusaha mengatasinya dengan sasaran yang jelas dan terarah. Sasaran peningkatan kesejahteraan rakyat diarahkan pada peningkatan kesejahteraan sosial masyarakat, menurunkan jumlah penyandang masalah kesejahteraan sosial, menangani trauma akibat bencana alam dan rehabilitasi setelah terjadi bencana, meningkatkan kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana pembangunan kesejahteraan sosial, meningkatkan peran serta masyarakat dalam meningkatkan taraf kesejahteraan sosial masyarakat, meningkatkan kemauan dan kemampuan 267

masyarakat penyandang masalah kesejahteraan sosial untuk menolong dirinya sendiri guna memperbaiki dan meningkatkan taraf kesejahteraan sosialnya. Secara spesifik sasaran yang hendak dicapai oleh Propinsi D I Yogyakata pada aspek kesejahteraan sosial adalah: 1. Meningkatnya aksesibilitas penyandang masalah kesejahteraan sosial terhadap pelayanan sosial dasar. 2. Meningkatnya kualitas hidup penyandang masalah kesejahteraan sosial sesuai harkat dan martabat kemanusiaan. 3. Meningkatnya kemampuan dan kepeduliaan sosial masyarakat dalam pelayanan dalam pelayanan kesejahteraan sosial. 4. Meningkatnya ketahanan sosial individu, keluarga dan komunitas masyarakat dalam mencegah dan menangani permasalahan kesejahteraan sosial. 5. Meningkatnya keserasian kebijakan kesejahteraan sosial. 6. Terjaminnya bantuan sosial dan meningkatnya penanganan korban bencana alam dan sosial. 7. Meningkatnya kualitas manajemen kesejahteraan sosial. Disamping sektor sosial ekonomi pendukung, agenda penting yang harus ditingkatkan: untuk mengatasi masalah sosial adalah: 1. Pada bidang pertanian dan UMKM, pemerintah Provinsi D I Yogyakarta berusaha mencapai sasaran pengembangan: a. Bidang pertanian, menjadikan Institusi Dinas Pertanian sebagai pusat pelayanan yang didukung database, kualitas SDM yang memadai, peningkatan ketahan pangan, nilai tambah dan daya saing produk pertanian serta kesejahteraan petani b. Bidang UMKM, memberdayakan Koperasi dan Pengusaha Kecil Menengah (KPKM) agar dapat menempati posisi strategis dan berperan dalam mempercepat perubahan struktural pembangunan ekonomi, Memperluas dan memperkuat lembaga-lembaga pendukung pengembangan usaha serta pengembangan kewirausahaan dan kewirakoperasian melalui lembaga pendidikan dan pelatihan, penjaminan, asuransi dan advokasi, meningkatkan kualitas KPKM agar mampu memanfaatkan potensi, keterampilan atau keahliannya untuk berkreasi, berinovasi dan menciptakan lapangan kerja, mendorong berkembangnya KPKM yang produktif, berkualitas, dan memiliki etos kerja yang tinggi adalah beberapa tujuan yang hendak dicapai. 2. Bidang pendidikan dasar dan kesehatan dasar: a. Bidang pendidikan sasaran yang hendak dicapai oleh Provinsi DIY adalah mengembalikan kegiatan belajar mengajar pada posisi sebelum gempa, meningkatkan rasio penduduk yang mendapatkan pelayanan dan fasiltisasi pendidikan, meningkatkan mutu pendidikan untuk memudahkan akses anak didik/lulusan sekolah terhadap dunia kerja. 268

b. Bidang kesehatan fokus yang hendak dicapai meliputi pelayanan kesehatan bagi korban gempa, meningkatnya masyarakat yang memperoleh layanan kesehatan, menurunnya angka kesakitan dan kematian akibat penyakit malaria, demam berdarah dengue, TBC, paru, diare, flu burung, HIV/AIDS. 3. Bidang pertanahan dan linkungan hidup Penurunan tingkat pencemaran (sungai, udara, tanah), pengembangan data dan informasi LH berbasis Egovernment, fasilitasi pembuatan SPAH di wilayah permukiman, fasilitasi penanganan lahan kritis, peningkatan pengendalian kerusakan lahan penambangan rakyat, peningkatan konservasi karst, penurunan tingkat pencemaran air tanah, peningkatan jumlah Organisasi Non Pemerintah yang peduli terhadap lingkungan hidup, pengembangan kampung/desa lestari.

III. Pencapaian RPJMN di Daerah Atas berbagai upaya yang telah dilakukan, tujuan yang ingin dicapai sebaaian telah terpenuhi, tetapi sebagian yang lain harus menghadapi beberapa kendala. Indikator keberhasilan yang paling makro adalah angka pertumbuhan ekonomi, tingkat pengangguran dan tingkat inflasi. Tahun 2007 pertumbuhan ekonomi DI Yogyakarta mencapai angka 3.94%. Angka ini memang lebih rendah dari angka pertumbuhan nasional tetapi dibandingkan dengan pertumbuhan tahun sebelumnya telah mangalami peningkatan. Rendahnya capaian DI Yogyakarta dibanding angka nasional terkait dengan belum pulihnya kegiatan masyarakat setelah gempa, walaupun berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah. Secara spesifik, sesuai dengan isu strategis di wilayah D I Yogyakarta apa yang dapat dicapai oleh DI Yogyakarta dapat diringkas antara lain seluruh program dan kegiatan dalam pemberdayaan ekonomi keluarga miskin melalui pendidikan dan pelatihan kewirausahaan, bimbingan usaha ekonomis produktif, pemberian bantuan paket usaha telah terlaksana dengan baik. Panti Werdha dalam menangani warganya yang terlantar telah melibatkan berbagai disiplin ilmu yang terkait misalnya psikologi, agamawan/rohaniawan, ahli gizi, dokter atau perawat dan pekerja sosial. Selain itu bagi lanjut usia potensial, diberikan bimbingan pengelolaan usaha ekonomis produktif yang kurikulumnya telah disesuaikan dengan usianya dan sesudah itu mereka diberi bantuan usaha sesuai dengan permintaan dan pertimbangan usia melalui UEP. Selama tahun 2004 s/d 2008, UEP diberikan kepada 1.760 orang, sedangkan melalui usaha kelompok ada 1.160 kelompok. Jumlah balita terlantar yang berhasil mendapatkan orang tua asuh melalui kegiatan fasilitasi adopsi anak terlantar dan kegiatan rekomendasi adopsi anak terlantar bekerja sama dengan Yayasan Sayap Ibu Yogyakarta pada tahun 2005 sebanyak 9 orang, 2006 sebanyak 15 orang dan tahun 2007 sebanyak 10 orang. Anak terlantar yang berjumlah 33.565 anak (up-dating data tahun 2007) juga telah mendapatkan perhatian dengan pemberian bantuan makanan, selama kurun waktu 2004 s/d 2007 dengan jumlah anak sebanyak 4.605 anak. Disamping itu, bagi anak terlantar yang masih sekolah, diberi bantuan beasiswa atau peralatan sekolah baik yang belajar di 269

SD maupun SMP. Para penyandang cacat telah mendapat pembinaan dan bimbingan ketrampilan. Murid SDLB mendapatkan fasilitas pengasramaan. Pembinaan terhadap penyandang masalah ketunaan juga telah dilakukan, dengan tingkat keberhasilan sekitar 40%. Penyandang masalah akibat kebencanaan telah tertangani dengan capaian sekitar 80%. Korban tindak kekerasan telah memiliki Trauma Centre dan mereka yang telah dibina sudah kembali pulang pada keluarganya. Sektor pertanian dan UMKM yang merupakan pendukung utama mengatasi masalah sosial masih harus berhadapan dengan berbagai persoalan. Rencana kerja yang dicanangkan oleh kedua sektor ini dapat dijalankan dengan capaian 100 %. Namun demikian karena berbagai persoalan mendasar yang melingkupinya belum dapat diatasi maka secara umum performance kedua sektor ini relatif kurang memuaskan. Pertumbuhan sektor pertanian selama perode RPJM (2004-2007) hanya 3,2 %, jauh lebih rendah dari pada pertumbuhan seluruh sektor. Sementara itu produktivitas sektor pertanian juga hanya mampu meningkat 1.3%, sangat rendah dibandingkan dengan kebutuhan akan pangan yang terus meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk. Demikian juga dengan sektor industri yang baru dapat tumbuh 0.94%. Persoalan-persoalan yang masih dihadapi oleh kedua sektor ini secara umum dapat diringkas sebagai berikut: (1). Alih fungsi lahan, dengan alih fungsi lahan yang terjadi maka pertanian beralih ke lahan marginal sehingga untuk setiap tujuan yang sama diperlukan upaya dan biaya yang lebih besar. Disamping itu alih fungsi lahan ini juga berkaitan dengan permintaan atas perumahan dari luar Yogyakarta yang tinggi, tidak saja mengancam lahan pertanian tetapi juga mengancam peluang penduduk Yogyakarta untuk mengakses fasilitas perumahan. (2) Pencemaran, baik yang dilakukan oleh sektor pertanian sendiri maupun dari sektro lain (industri dan rumah tangga) menurunkan kualitas lahan sehingga selain meningkatkan biaya, hasil yang dicapaipun menjadi relative rendah. (3) Pencemaran UMKM telah membawa dampak pada sektor kesehatan. Letak UMKM yang umumnya di pemukiman sulit menghindarkan diri dari terjadinya pencemaran terhadap lingkungan. Sebuah dilema ketika kegiatan ekonomi yang dilakukan penduduk membawa eksternalitas negatif terhadap mereka sendiri. (4). Pola pengembangan UMKM masih bersifat parsial dan kurang memperhatikan aspek kewirausahaan yang sesungguhnya menjadi modal utama sebuah usaha. Keberhasilan serta kegagalan dari program-program/kegiatan yang dilaksanakan tidak semata-mata bisa dibebankan seluruhnya kepada pemerintah, karena peran pemerintah disini hanya sebagai motivator, stimulator, fasilitator dan regulator atau dengan kata lain kegagalan dan keberhasilan banyak ditentukan oleh pelaku usaha sendiri, masyarakat selaku konsumen serta lingkungan strategis dunia usaha. Meskipun Provinsi DIY secara umum mempunyai kemampuan SDM yang cukup tinggi, namun untuk UKM dan pertanian masih tergolong kurang dalam penguasaan teknologi, kemampuan menangkap keinginan pasar (kurangnya jiwa sence of entrepeneur), cepat puas dengan yang dihasilkan sekarang, padahal pasar sangat dinamis yang setiap saat keinginannya berubah, serta makin melemahnya minat generasi muda untuk menggeluti bidang kerajinan. Pengaruh penguasaan teknologi yang masih terbatas adalah tidak efisiennya produk yang pada gilirannya akan 270

berpengaruh pada harga yang tidak dapat bersaing sehingga akan mengurangi posisi tawar di pasar internasional yang semakin kompetitif. Menyadari kondisi tersebut, upaya yang telah dilakukan Pemerintah Propinsi DIY adalah mengkondisikan hubungan kemitraan yang transparan, antara eksportir dan supplier/perajin, melalui kegiatan temu wicara antara suplier dan eksportir serta forum pengembangan ekspor daerah, untuk menggali inventarisasi permasalahan dan solusi pemecahannya. IV. Rekomendasi 4.1 Sektor Pertanian Menuju agenda peningkatan kesejahteraan rakyat haruslah bersifat multidimensi. Sejalan dengan isu strategis yang terkait dengan persaolan ini berikut disampaikan rekomendasi kebijakan yang harus menjadi fokus. Pada sektor pertanian, dalam rangka meningkatkan pendapatan petani/usaha tani, pembangunan pertanian diarahkan pada pengembangan system dan usaha agribisnis, yang implementasinya antara lain melalui pengembangan komoditas unggulan berorientasi pasar, prospektif dan bernilai komersial tinggi. Sejumlah kegiatan difokuskan pada pengembangan tanaman pangan, komoditas hortikultura serta peternakan seperti sapi potong, sapi perah, kambing peranakan ettawa (PE), dan unggas. Namun demikian, pembangunan pertanian di Provinsi DIY tidak semata-mata diarahkan pada peningkatan produksi, melainkan juga penajaman peran pentingnya dalam upaya menanggulangi kemiskinan khususnya di pedesaan, mengurangi pengangguran dan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi. Diantara dua pendekatan produksi pertanian, yaitu perluasan areal panen dan peningkatan produktivitas, yang dapat dilakukan oleh pemerintah Provinsi DIY dengan lahan pertanian terbatas, adalah pendekatan peningkatan produktivitas. Pendekatan ini dilaksanakan melalui optimalisasi pemanfaatan sumber daya pertanian yang ada berupa lahan, modal, alat mesin, serta sarana produksi pertanian. Selain itu kebijakan lainnya yang perlu dilakukan adalah membatasi alih fungsi lahan pertanian menjadi pemukiman dengan membuat regulasi yang tegas. Selain itu pembangunan sektor pertanian juga membutuhkan pembiayaan/investasi yang relative besar dan tentunya bukan menjadi tanggung jawab pemerintah saja, melainkan menjadi tanggung jawab kolektif tiga pilar pelaku pembangunan, yaitu pemerintah, swasta, dan masyarakat. Dukungan annggaran dari Daerah (APBD) maupun Pusat (APBN) sesungguhnya masih relative kecil, sehingga perlu digali sumber pendanaan dari dua pilar lainnya, yaitu swasta dan masyarakat.

271

4.2 Usaha Kecil dan Menengah Secara makro pengembangan UMKM memerlukan iklim usaha yang kondusif, transparansi dan

kemudahan informasi serta upaya meningkatkan permintaan atas produk UMKM adalah langkah makro yang seharusnya ditempuh. Informasi mengenai berbagai hal yang terkait dengan pengembangan UMKM harus tersedia secara cukup dan mudah diakses oleh pelaku UMKM. Informasi mengenai permodalan, ajang promosi, perizinan, perpajakan, proses ekspor, pusat-pusat pelatihan adalah beberapa informasi yang akan mendukung kelancaran usaha UMKM. Informasi itu haruslah lengkap mulai dari bagaimana, dimana, apa syaratnya, berapa biayanya, berapa lama waktu yang diperlukan, apa resiko dan keuntungannya, serta instansi mana yang harus dihubungi. Informasi ini akan menjadi stimulus bagi semua pelaku UMKM baik yang progresif maupun yang tidak progresif. Secara khusus pemahaman atas sikap dan sifat kewirausahaan pelaku UMKM adalah hal terpenting yang harus diperhatikan. Bagi pengusaha yang mempunyai watak sebagai “pekerja” tidak mungkin didorong menjadi pengusaha. Bagi UMKM yang “tidak progresif” adalah melakukan pembinaan dan pendampingan secara intensif adalah solusinya. Pendampingan mempunyai tugas ganda, yakni ke luar pendamping harus mampu menjadi penghubung atau mediator antara UMKM dengan pihak terkait, baik lembaga keuangan (masalah permodalan), pemerintah (aspek kebijakan), dan konsumen (aspek pemasaran). Adapun ke dalam, pendamping melakukan pembinaan dalam meningkatkan cara mengelola usaha agar lebih baik. Selain itu mendampingi dalam melakukan perencanaan produk, menciptakan produk dengan ciri khusus, melihat peluang pasar, merapikan pembukuan sampai pada pengelolaan keuangan. Bagi pelaku UMKM yang berwatak “progresif” kemudahan informasi dan pemberian wawasan sudah cukup menjadikan mereka akan bergerak dengan cepat, disamping kemudahan untuk mengakses modal kepada lembaga keuangan. Dalam masyarakat yang semakin kapitalistik, tanah dilepaskan dari berbagai dimensi sosial, cultural dan politik yang sebelumnya melekat pada tanah. Tanah hanya dilihat sebagai benda yang bernilai ekonomi dengan nilai yang ditentukan oleh permintaan dan penawaran. Pada sisi lain tanah juga berubah hanya menjadi asset produksi yang memilki nilai investasi. Untuk mengatasi persoalan konversi lahan seharusnya kebijakan yang diambil oleh pemerintah mempertimbangkan penguasaan tanah berdasar tenurial (land and tenure system). Pada setiap sistem tenurial masing-masing hak termaksud setidaknya mengandung tiga komponen yaitu: 1. Subjek hak, yang berarti pemangku hak atau pada siapa hak tertentu dilekatkan (bisa individu, kelompok, suatu lembaga, dan sebagainya).

272

2. Objek hak, yang berupa persil tanah, barang-barang tambang dan mineral yang berasal didalam tanah/perut bumi, perairan, kandungan barang-barang atau makhluk hidup dalam suatu kawasan perairan, maupun suatu kawasan/wilayah udara tertentu. Objek hak termaksud harus dapat dibedakan dengan objek lainnya. 3. Jenis hak, setiap hak selalu dapat dijelaskan batasannya yang membedakan dengan hak lainnya dan ditentukan oleh masyarakat yang bersangkutan. Setiap jenis hak (hak milik, hak sewa, hak pakai dan sebagainya) memiliki hubungan khusus dengan kewajiban tertentu. Selanjutnya berdasarkan pola pengembangan yang sistematis dengan mengantisipasi pola kebutuhan atas lahan di masa mendatang, pemerintah dapat tetap mengutamakan fungsi lahan sesuai dengan kepentingan publik. Tanah persawahan di hutan lindung tentu saja tidak diperbolehkan, demikian pula tanah di lahan persawahan yang produktif semestinya dilindungi dengan berbagai perangkat kebijakan yang ada sehingga tidak begitu mudah dijual oleh pemiliknya untuk perumahan, kawasan industri atau peruntukan lainnya. Tetapi patut disayangkan bahwa sejauh ini instrumen kebijakan yang ada masih belum mampu untuk mengendalikan cepatnya konversi lahan, tidak terkecuali di kawasan-kawasan pinggiran di propinsi DI Yogyakarta. Di tingkat nasional, pendekatan kebijakan di bidang pertanahan juga masih belum utuh dan terkesan tambal-sulam. Kebijakan menyangkut agraria atau pertanahan masih senantiasa dikendalikan oleh pemerintah pusat sedangkan persoalan konversi lahan yang sangat cepat di daerah tidak dapat ditangani dengan baik. Setelah pergantian kekuasaan dari pemerintahan orde baru yang otoriter dan sentralistis, kebijakan-kebijakan yang baru masih belum mengalami perubahan yang mendasar.

4.3 Pendidikan Tinggi Undang-Undang No. 32/2004 yang diterjemahkan di dalam PP No. 38/2007 menyatakan bahwa urusan pendidikan tinggi memang bukan menjadi kewenangan pemerintah provinsi dan kabupaten/kota untuk mengurusnya. Menurut UU otonomi daerah tersebut, tugas dan kewenangan pemerintah provinsi adalah mengurus penyelenggaraan pendidikan luar biasa, sementara tugas pemerintah kabupaten/kota adalah mengurus penyelenggaraan pendidikan dasar dan menengah. Namun demikian, jika melihat bahwa perguruan tinggi dengan para mahasiswa yang datang ke Yogyakarta memberi sumbangan yang sangat signifikan terhadap perputaran roda ekonomi Yogyakarta yang melibatkan ratusan ribu masyarakat dan tenaga kerja, maka sudah selayaknya pemerintah daerah menaruh perhatian yang memadai terhadap fenomena menurunnya jumlah mahasiswa yang datang ke kota ini. Jika mendasarkan pada kewenangan, memang pemerintah provinsi 273

tidak memiliki hak untuk membuat kebijakan guna mengintervensi penyelenggaraan pendidikan tinggi di Yogyakarta. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa pemerintah daerah tidak dapat membantu berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di kota ini untuk menghadapi krisis penurunan jumlah mahasiswa. Untuk dapat membantu PTS dan PTN dalam mengatasi penurunan jumlah mahasiswa hal pertama yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi berbagai persoalan, di luar persoalan akademis yang menjadi kewenangan perguruan tinggi untuk mengatasinya, yang dapat diduga menjadi sebab penurunan animo mahasiswa dalam menuntut ilmu di Kota Budaya ini. Setelah diidentifikasi maka pemerintah dapat membuat kebijakan untuk mendukung (supporting policy) agar animo mahasiswa untuk datang ke kota Yogyakarta dapat lebih meningkat lagi. Salah satu penyebab menurunnya animo mahasiswa untuk datang ke Yogyakarta adalah menyangkut keamanan para mahasiswa tersebut ketika menempuh studi di Yogyakarta sehingga para orang tua mahasiswa tidak merasa was-was ketika mengirimkan anak-anak mereka untuk belajar di kota ini. Isu pertama, namun sudah sering muncul dan hilang dalam pemberitaan, adalah menyangkut gaya hidup bebas antara mahasiswa dan mahasiswi yang sedang studi di Yogyakarta. Isu kumpul kebo, kos campur, dan seks bebas antara mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai pemberitaan maupun penelitian yang dilakukan (meskipun validitasnya masih diragukan) telah membuat cemas banyak orang tua sehingga menjadi ragu-ragu untuk mengirimkan anak-anak mereka belajar ke Yogyakarta. Penelitian lain yang juga pernah dirilis adalah tentang keperawanan yang menyebutkan bahwa 90 persen mahasiswi di Yogyakarta sudah tidak perawan. Meskipun banyak pakar meragukan hasil penelitian tersebut, namun demikian publikasi yang luas terhadap penelitian tersebut mau tidak mau membuat para orang tua makin enggan untuk mengirimkan anak-anak mereka ke Yogyakarta. Citra suram Yogyakarta sebagai kota pelajar dan mahasiswa makin ternoda dengan makin banyaknya kasus narkoba yang melibatkan mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di kota ini. Data-data yang dikeluarkan oleh kepolisian memang menunjukkan adanya peningkatan kasus penyalahgunaan narkoba yang dilakukan oleh para pelajar dan mahasiwa. Bahkan beberapa waktu yang lalu beberapa media massa di Yogyakarta memberitakan sel-sel tahanan di beberapa kantor kepolisian sampai penuh karena banyaknya mahasiswa yang tertangkap dan ditahan ketika sedang menggunakan narkoba dan obat-obatan terlarang tersebut. Kondisi yang demikian tentu bukan promosi yang baik untuk dapat menarik mahasiswa sebanyak-banyaknya agar mau datang ke Yogyakarta untuk menuntut ilmu. Oleh karena itu sudah waktunya pemerintah daerah turun tangan dengan membuat kebijakan-kebijakan yang mampu memberikan dukungan dalam merubah citra negatif Yogyakarta sebagai kota pelajar dan mahasiswa yang mentoleransi kehidupan seks bebas dan penggunaan narkoba, menjadi kota yang memiliki citra positif, yaitu sebagai kota yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya Indonesia dan aman dari peredaran narkoba dan obat-obatan terlarang. Tentu bukan hal mudah untuk melakukan hal ini. Pembuatan perda tentang pemondokan saja tidak cukup mampu untuk mencegah terjadinya kos campur, 274

apabila tidak ada mekanisme penegakan perda yang efektif. Dan tentu yang lebih penting dari itu semua adalah partisipasi masyarakat dan para mahasiswa sendiri. Persoalan lain yang perlu segera diantisipasi oleh pemerintah Yogyakarta untuk dapat mendukung meningkatnya minat mahasiswa datang ke kota ini adalah dukungan transportasi publik yang memadai. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Pustral menunjukan bahwa sebagian besar pengguna transportasi publik di Yogyakarta adalah para pelajar dan mahasiswa. Namun demikian sudah menjadi rahasia umum bahwa kualitas transportasi publik di Yogyakarta jauh dari memadai. Buruknya kualitas pelayanan transportasi publik ini dapat dilihat dari: kondisi fisik armada yang sudah tidak layak pakai, awak bus atau angkutan kota yang mengendarai armada mereka dengan ugal-ugalan dan berlaku tidak sopan terhadap pengguna angkutan umum, jam kedatangan yang tidak akurat sehingga tidak dapat diandalkan, tidak ada jaminan keamanan karena banyaknya copet yang berkeliaran di atas armada, tarif angkutan yang dirasa memberatkan dan berbagai persoalan lain yang membuat para mahasiswa enggan untuk menggunakan angkutan umum. Transportasi publik yang aman, nyaman, terjangkau tarifnya dan dapat diandalkan untuk mengantar mahasiswa pergi dan pulang langsung atau tidak langsung menjadi salah satu faktor yang akan membuat para mahasiswa tertarik untuk menuntut ilmu di Yogyakarta. Upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan transportasi publik adalah kewajiban pemerintah daerah untuk mengurusnya. Tanpa tersedianya transportasi publik yang memadai, maka competitiveness Yogyakarta sebagai kota pelajar dan mahasiswa akan makin merosot dibanding kota-kota yang lain. Pemerintah Provinsi DIY saat ini memang sedang menggagas konsep perbaikan pelayanan transportasi publik yang mereka sebut sebagai buy the service di mana pemerintah menyediakan dana sementara pihak swasta yang menjadi penyelenggara pelayanan. Namun demikian tanpa adanya perencanaan yang komprehensif terhadap upaya peningkatan kualitas pelayanan transportasi publik dikhawatirkan kebijakan tersebut hanya menjadi kebijakan tambal sulam yang akan menemui kegagalan seperti kebijakan-kebijakan sebelumnya. Supporting policy lain yang dapat dilakukan oleh pemerintah daerah adalah menyediakan perpustakaan umum bagi para mahasiswa dan pelajar. Di kota-kota negara maju, perpustakaan umum merupakan sarana publik yang dapat ditemui di mana masyarakat, termasuk pelajar dan mahasiswa dapat memanfaatkan fasilitas tersebut untuk menunjang proses belajar-mengajar. Dengan tersedianya fasilitas perpustakaan publik yang memadai diharapkan akan menjadi komplemen bagi perpustakaan-perpustakaan yang sudah disediakan oleh perguruan tinggi sendiri. Selain itu, pemerintah daerah diharapkan juga mampu mensinergikan berbagai perpustakaan yang ada sehingga akan tersedia perpustakaan umum yang lengkap. Apabila ini dapat dilakukan maka akan membantu PTS-PTS yang kecil sehingga mereka dapat menghemat biaya operasional untuk pengadaan buku. Selain perpustakaan yang memadai, pemerintah daerah dapat membuat kebijakan pendukung dengan menyediakan ruang-ruang publik (taman, tempat konferensi, dan tempat membaca) yang nyaman dan aman bagi para mahasiswa untuk membaca, menulis atau berdiskusi. Dengan adanya ruang-ruang publik 275

tersebut maka para mahasiswa dapat berdiskusi, tidak ditempat kos mereka, akan tetapi di ruang-ruang publik yang telah disediakan oleh pemerintah daerah tersebut. Apabila hal ini dapat dilakukan maka pemerintah daerah secara tidak langsung juga turut mencegah terjadinya peluang perbuatan-perbuatan asusila yang sering dimulai dari kegiatan-kegiatan belajar bersama yang dilakukan di ruangan tertutup.

276

DAFTAR PUSTAKA

Sumber Laporan Daerah Istimewa Yogyakarta Dalam Angka 2005 Daerah Istimewa Yogyakarta Dalam Angka 2006/2007 Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2007 Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Akhir Masa Jabatan 2003 – 2008 Nota Kesepatakan Antara Pemerintah Pripinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 3/KSP/II/2007, Nomor 12/K/DPRD/2007 Tentang Perubahan Kedua Kebijakan Umum Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun Anggaran 2007 Peraturan Daerah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 6 Tahun 2003 tentang Rencana Strategis Daerah (RENSTRADA) Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2004 – 2008 Program Reformasi Pelayanan Publik di DIY Rangkuman Rencana Strategi Pemerintah Daerah Propinsi DIY Tahun 2004 – 2008 dan Rencana Strategis 31 Instansi Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi DIY 2005-2009 Rencana Strategis Dinas Pertanian Provinsi DIY 2005-2009 RKPD Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2009 RPJMN Tahun 2005 – 2009 Statistik Indonesia Tahun 2007 Standar Pelayanan Minimal Provinsi DIY

Sumber internet Bagus Sarwono aktivis LAPPERA Indonesia sebuah. Makalah disampaikan dalam Seminar dan FGD: Refleksi Pelaksanaan Program pengembangan otonomi daerah di DIY, diselenggarakan oleh BAPPENAS, Selasa, 28 Juni 2005 di BAPPEDA Propinsi DIY

277

Berita Resmi Statistik Provinsi D.I. Yogyakarta No. 06/02/34/Th. X, 15 Februari 2008 Kecuk Suhariyanto, “Dibalik Angaka Kemiskinan”, Kompas, 14 September 2006 http://www.bapeda.jogjaprov.go.id/home.php?mode=content&submode=detail&id=2197 http://www.slemankab.go.id/?hal=detail_berita.php&id=1182
1 http://www.distan.pemdadiy.go.id/index2.php?option=content&task=view&id=403&pop=1&page=0

(sumber: Penelitian Potensi Dasar Ekonomi DIY, Tim PSE-KP UGM: 2005. http://paue.ugm.ac.id/index.php?option=com_content&task=view&id=100&Itemid=2) http://intranet.jogjakarta.go.id/monev/apbdumum3.php?kode=1.13.01&idprogram=1.13.01.22

Lampiran Tabel IV.3 Program Pembangunan Kehidupan Beragama Provinsi DIY

278

Tabel IV. 54 Program Pengembangan Kehidupan Beragama di DIY

No. Kode 1.

Kegiatan/Sub Kegiatan

Pagu (Rp)

Lokasi

Keterangan

330.412.000 1.13.01.22.01 Fasilitasi Penyelenggaraan MTQ Propinsi DIY dan Pengiriman Kalifah MTQ Tk Nasional Provinsi DIY th 2008

PROP. D.I. Keluaran: YOGYAKARTA Terselenggaranya MTQ TK Provinsi DIY 250 orang, Terlaksananya TC Peserta MTQ Tk Nasional Provinsi DIY 60 Peserta Hasil: Terbentuknya Kafilah MTQ Provinsi DIY yang berkualitas 63 orang ( 40 peserta terseleksi dan 23 orang Pelatihan / Officials ) Waktu Pelaksanaan: Januari - Juni 2008 PROP. D.I. Keluaran: 1 Rakor YOGYAKARTA Pembinaan Kerukunan Umat Beragama 90 Orang. 2. Dialog Antar Pemuka Agama 350 Orang. 3. Lokakarya Umat Beragama 100 Orang. Pembinaan,Pencegaan Penyakit Masyarakat ( Pekat )250 orang. 5.Kerjasama Sosial Kemasyrakatan ( KSK ) 60 orang. 6. Kunjungan Silaturohmi Pemuka Agama 342 orang Hasil: Terjalin Komunikasi Yang Harmonis Antar Umat Beragama 1182 orang Waktu Pelaksanaan: 19,20,21,25,26 Agustus 2008 PROP. D.I. Keluaran: YOGYAKARTA Terlaksananya

2.

1.13.01.22.02 Pembinaan Kerukunan Lintas Umat Beragama

140.000.000

3.

1.13.01.22.03 Fasilitasi Pengiriman 249.689.500 Kontingen Utsawa

Dharma Gita Tk. Nasional Provinsi DIY Th 2008

Pelatihan calon Kontingen Utsawa Dharma Gita Provinsi DIY Tingkat Nasional 40 orang Hasil: Terkirimnya Calon Kontingen Utsawa Dharma Gita Provinsi DIY Tingkat Nasional 40 Orang Waktu Pelaksanaan: Juli - Septemner 2008 PROP. D.I. Keluaran: YOGYAKARTA Terselenggaranya Pembinaan Mental ( Rohani ) Agama melalui : - Pembinaan Mental (Rohani) Agama PNS, TNI, Polri, Pemda Provinsi DIY. Agama Islam, Katolik, Kresten, Hindu, Budha. Pembinaan Mental (Rohani) Agama Bagi Pensiunan Provinsi DIY 3070 orang Hasil: Pengetahuan tentang Agam,a meningkat Waktu Pelaksanaan: Januari - Desember 2008 PROP. D.I. YOGYAKARTA

4.

1.13.01.22.04 Fasilitasi Pembinaan 37.300.000 Mental ( Rohani ) Agama

5.

1.13.01.22.05 Penyelenggaraan Kegiatann Keagamaan Provinsi DIY

58.950.000

Waisak 500 orang.Penyelenggaraan Nyepi 500 orang Hasil: Tertanamnya nilai nilai keagamaan 6.000 orang Waktu Pelaksanaan: Januari - Desember 2008 6. 1.13.01.22.06 Fasilitasi Gerakan 87.455.000 Pemahaman Isi Kandungan Al-Quran PROP. D.I. Keluaran: YOGYAKARTA Terlaksananya kegiatan TOT Gerakan Pemahaman Isi Kandungan Al Qur'an 344 orang Hasil: Meningkatnya pengetahuan trainer tentang pemahaman isi kandungan Al Qur'an 344 orang Waktu Pelaksanaan: Juli - September 2008 PROP. D.I. Keluaran: YOGYAKARTA Terselenggaranya Pembekalan pada Prodiakon 28 paroki 160 orang Hasil: Terimformasikannya kegiatan antar paroki dan terbangunnya kesepakatan bersama 28 paroki. Meningkatnya Pemahaman Tugas Perutusan sebagai pelayan Umat Pembantu Pastur Paroki 160 orang Waktu Pelaksanaan: Juli - September 2008 PROP. D.I. Keluaran: YOGYAKARTA Terselenggaranya Pembinaan Iman Remaja DAN anak 448 orang. - Worshorp pendalaman kitab suci 100 orang. -

7.

1.13.01.22.07 Forum Komunikasi Antar Paroki se Propinsi DIY

34.170.000

8.

1.13.01.22.08 Fasilitasi Pembinaan 52.890.000 Iman Anak Remaja dan Pemgembangan Musik Gereja

Terselenggaeanya kegiatan paduan suara gerejani 12 kelompok ( 312 orang ).- Worshop pengembangan musik gereja 100 orang Hasil: Tertanamnya nilai nilai Injili di kalangan remaja dan anak 448 orang. - Kesamaan pandangan cara tafsir kitab suci 100 orang. Meningkatnya Kualitas kelompok paduan suara gerejani 12 kelompok ( 312 orang ). Meningkatnya pemahaman musik para peserta dan kualitas pelatih paduan suara 100 orang Waktu Pelaksanaan: Juli - Septermber 2008 9. 178.553.500 1.13.01.22.09 Pembinaan Mental Agama Melalui Penyelenggaraan Festifal Anak Sholeh Indonesia ( FASI ) VII Tingkat Nasional PROP. D.I. Keluaran: YOGYAKARTA Terlaksananya Pembinaan Mental Agama Melalui (FASI) VI 93 orang. Terkirimnya kontingen FASI VI ke Jakarta 62 anak 31 offisial,pelatih. Hasil: Terkirimnya wakil DIY Tingkat Provinsi ke Tingkat Nasional 62 anak. Meningkatnya Kualitas ke agamaan anak Waktu Pelaksanaan: April - Juni 2008 PROP. D.I. Keluaran: Terkirimnya YOGYAKARTA kontingen Festival Maulud Nusantara TK Nasional 20 orang Hasil: Mengikuti Pengetahuan dan wawasan peserts Festival 20 orang Waktu Pelaksanaan:

10. 1.13.01.22.10 Fasilitasi Pengiriman 52.601.500 Kontingen Festifal Maulud Nusantara di Jakarta

Januari - Maret 2008 11. 1.13.01.22.11 Forum Komunikasi Antar Pimpinan Dinominasi dan Pembinaan Iman 18.947.500 PROP. D.I. Keluaran: YOGYAKARTA Terlaksananya Forum Komunikasi Antar Pimpinan Dinominasi 56 orang. Terlaksananya Kegiatan Pendalaman Iman 168 orang Hasil: Terimformasikannya Kegiatan Antar Pimpinan Dinominasinya dan Terbangunnya Kesepakatan Bersama 56 orang. Peningkatan pemahaman isi kitab suci 168 norang Waktu Pelaksanaan: Oktober Desember 2008 PROP. D.I. Keluaran: YOGYAKARTA Terlaksananya Forum Masyarakat Intern Majelis 10 orang. Terlaksananya Pendalaman Iman Agama Budha 50 orang Hasil: Terimformasikannya Kegiatan Forum Musyawarah Intern Majelis 10 orang. Peningkatan pemahaman isi kitab suci 50 orang Waktu Pelaksanaan: Oktober - Desember 2008

12. 1.13.01.22.12 Forum Musyawarah Intern Majelis dan Pendalaman Iman Agama Budha

21.002.000

Jumlah 1.261.971.000 Sumber : laporan dinas sosial Provinsi DIY1

1

http://intranet.jogjakarta.go.id/monev/apbdumum3.php?kode=1.13.01&idprogram=1.13.01.22


								
To top