Docstoc

Provinsi Banten

Document Sample
Provinsi Banten Powered By Docstoc
					KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena hanya dengan perkenanNya maka Laporan Akhir Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah (EKPD) Provinsi Banten untuk tahun 2005 s/d 2007 berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2004-2009 dapat diselesaikan dengan baik. Penyusun laporan adalah Tim yang dibentuk berdasarkan Keputusan Rektor Universitas Sultan Ageng Tirtayasa No. 133/LL/SK/2008 tanggal 14 April 2008 Tentang Tim Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Provinsi Banten 2008 dan Keputusan Rektor Universitas Sultan Ageng Tirtayasa No. 238/H 43/LL/SK/2008 Tentang Susunan Tim Teknis Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Provinsi Banten Tahun 2008. Dalam menyusun laporan ini Tim Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Serang yang diberi tugas oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) untuk melakukan evaluasi kinerja pembangunan daerah Provinsi Banten, melakukan rapat-rapat pembahasan dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Banten, Inspektorat Provinsi Banten, Biro Administrasi Pembangunan, Biro Pemerintahan, Dinas Sosial, Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD), Kepolisian Daerah (Polda) Banten, Balai Informasi Penyuluhan Pertanian, serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan.Disamping itu Tim juga mengumpulkan data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Banten, Panitia Pengawasan Pemilu (Panwaslu) Provinsi Banten, serta Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat Desa (BPPMD). Tim juga melakukan kunjungan ke Pameran Pembangunan Provinsi Banten serta peninjauan lapangan ke Pulau Panjang. Naskah laporan juga dibicarakan dengan Tim EKPD dari Bappenas yang berkunjung ke Untirta Serang pada tanggal 21 Oktober 2008. Sistematika/Outline laporan dan struktur setiap bab disesuaikan dengan petunjuk yang termuat dalam Buku Pedoman EKPD 2008 yang dikeluarkan oleh Bappenas dan dilengkapi pula dengan matrik. Tim mohon maaf apabila dalam laporan ini terdapat kekurangan dan kesalahan. Sehubungan dengan itu, Tim mengharapkan tanggapan dan saran perbaikan atas laporan ini. Akhirnya Tim mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan data, penjelasan, saran , serta bantuannya dalam penyusunan laporan dan semoga laporan ini bermanfaat bagi pihakpihak yang berkepentingan. Serang, Nopember 2008 Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Ketua Tim EKPD Banten Prof. Dr. Bambang Triadji

i

DAFTAR ISI
Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar Bagian 1 ........................................................................................................................................ i ........................................................................................................................................ ii ........................................................................................................................................ v ........................................................................................................................................ viii 2 3 4 5 5

Pendahulauan Bab 1.1 Sasaran dan Prioritas Pembangunan Berdasarkan RPJMN 2004-2009 ............................... 1.3 Identifikasi Kebijakan yang mendukung RPJMN ………………………………………… 1.5 Metodologi ……………………………………………………………………………………. 1.6 Sumber Data …………………………………………………………………………………. 1.7 Jadwal Rencana Pelaksanaan …………………………………………………………….. 1.2 Maksud dan Tujuan ………………………………………………………………………….. 3 1.4 Tahapan Pekerjaan ………………………………………………………………………….. 4

1.8 Sistematika Penulisan Laporan Evaluasi Kinerja………………………………………………… .. 6 Bagian 2 Agenda Mewujudkan Indonesia yang Aman dan Damai Bab 2.1 Pengantar Agenda Mewujudkan Indonesia yang Aman dan Damai ............................ 9 Bab 2.2 Peningkatan Rasa Saling Percaya dan Harmonisasi Antar kelompok Masyarakat...... 10 Bab 2.3 Pengembangan Kebudayaan yang berlandasakan pada Nilai-nilai Luhur ................... 17 Bab 2.4 Peningkatan Keamanan, ketertiban dan Penanggulangan Kriminalitas....................... 17 Bab 2.5 Pencegahan dan Penanggulangan Saparatisme......................................................... 20 Bab 2.6 Pencegahan dan Penanggulangan Terorisme............................................................. 20 Bab 2.7 Peningkatan Kemampuan Pertahanan Negara............................................................ 20 Bab 2.8 Pemantapan Politik Luar Negeri dan Peningkatan Kerjasama Internasional ............... 20 Bagian 3 Agenda Mewujudkan Indonesia yang Adil dan Demokratis Bab 3.1 Pengantar Agenda Mewujudkan Indonesia yang Adil dan Demokratis ........................ 22 Bab 3.2 Pembenahan Sistem dan Politik Hukum ...................................................................... 23 Bab 3.3 Penghapusan Diskriminasi dalam berbagai bentuk ..................................................... 27 Bab 3.4 Penghormatan, Pengakuan dan Penegakan atas Hukum dan Hak Asasi Manusia ..... 30 Bab 3.5 Peningkatan Kualitas Kehidupan dan Peran Perempuan sera Kesejahteraan dan Perlindungan Anak ...................................................................................................... 35

ii

Bab 3.6 Revitalisasi Proses Desentralisasi dan otonomi Daerah .............................................. 52 Bab 3.7 Penciptaan Tata Pemerintahan yang Bersih dan Berwibawa....................................... 59 Bab 3.8 Perwujudan Lembaga Demokrasi yang makin Kokoh.................................................. 64 Bagian 4 Agenda Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Bab 4.1 Pengantar Agenda Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat .................................... 69 Bab 4.2 Penanggulangan Kemiskinan ...................................................................................... 70 Bab 4.3 Peningkatan Investasi dan Ekspor Nonmigas.............................................................. 74 Bab 4.4 Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur .............................................................. 78 Bab 4.5 Revitalisasi Pertanian................................................................................................... 81 Bab 4.6 Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah ................................ 94 Bab 4.7 Peningkatan Pengelolaan BUMN................................................................................. 103 Bab 4.8 Peningkatan Kemampuan Ilmu pengetahuan dan Teknologi....................................... 105 Bab 4.9 Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan................................................................................. 107 Bab 4.10 Pemantapan Stabilitas Ekonomi Makro ..................................................................... 111 Bab 4.11 Pembangunan Pedesaan........................................................................................... 117 Bab 4.12 Pengurangan Ketimpangan Pembangunan Wilayah.................................................. 119 Bab 4.13 Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Pendidikan yang Berkualitas.................... 124 Bab 4.14 Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Kesehatan yang berkualitas..................... 145 Bab 4.15 Peningkatan Perlinduangan dan Kesejahteraan Sosial ............................................. 150 Bab 4.16 Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Kecil Berkualitas serta Pemuda dan Olahraga.................................................................................................................... 158 Bab 4.17 Peningkatan Kualitas Kehidupan Beragama.............................................................. 165 Bab 4.18 Perbaikan Pengolahan sumberdaya Alam dan Pelestarian Fungsi Lingkungan Hidup 168 Bab 4.19 Peningkatan Kapasitas, Kualitas dan Aksesibilitas Pelayanan dan Infrastruktur ....... 176 Bab 4.20 Penanganan dan Pengurangan Resiko Bencana ...................................................... 185 Bagian 5 Isu Strategis di Daerah 5.1 5.2 5.3 5.4 5.5 Kemiskinan……………………………………………………………………………………….. 191 Ketenagakerjaan………………………………………………………………………………… 192 Usaha Kecil dan Menengah (UKM)…………………………………………………………... 193 Kesehatan………………………………………………………………………………………... 194 Pendidikan……………………………………………………………………………………….. 198

iii

5.6 5.7 5.8 5.9

Sumber Daya Alam ………………………....…………………………………………………… 199 Kawasan Ekonomi Khusus Bojonegara……………………………………………………… 202 Pelabuhan Internasional Bojonegara…………………………………………………………. 204 Waduk Karian……………………………………………………………………………………. 206

5.10 Jembatan Penghubung Tetap Jawa-Sumatera …………………………………………….. 208 5.11 Suku Baduy ……………………………………………………………………………………... 209 Bagian 6 Penutup..................................................................................................................................... 211 Matrik Evaluasi Kinerja Pembangunan di Provinsi Banten ........................................................................... 215

iv

DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Trend Kriminalitas di Provinsi Banten Antara Tahun 2003-2007............................ 12 Tabel 2.2 Trend Kriminalitas Kamtibmas tahun 2007 di Provinsi Banten............................... 13 Tabel 2.3 Trend Kriminalitas Kamtibmas tahun 2008 di Provinsi Banten............................... 14 Tabel 2.4 Trend Kriminalitas Narkoba Periode Lima Tahun (2003-2007) ............................. 15 Tabel 2.5 Trend Kriminalitas Kecelakaan Lalu Lintas Periode Lima Tahun (2003-2007)..... 16
Tabel 3.1 Penyelesaian Raperda menjadi Perda................................................................................ 25 Tabel 3.2 Program Dan Kegiatan Yang Responsif Gender Tahun 2007 ............................................ 37 Tabel 3.3 Jumlah Anak Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Tahun 2007............................. 39 Tabel 3.4 GEM , IPG dan IPM Provinsi Banten 2005 Dan 2006......................................................... 40 Tabel 3.5 Indeks Pembangunan Gender (IPG) Provinsi Banten Tahun 2006..................................... 41 Tabel 3.6 Pencapaian Indikator Kinerja Pembangunan dan Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten/ Kota di Provinsi Banten ..................................................................... 41 Tabel 3.7 Keterlibatan Wanita di Bidang Sosial Kemasyarakatan .................................................... 48 Tabel 3.8 Hasil Rekapitulasi Pegawai di lingkungan Pemerintah Provinsi Banten Oktober 2008, Jumlah PNS Menurut Pendidikannya.......................................................... 53 Tabel 3.9 Perbandingan Pungutan Sebelum dan Sesudah Perda No. 1 Tahun 2001 ....................... 55 Tabel 3.10 Persentase Jumlah Pemilih Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Banten 2006....... 65 Tabel 4.1 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Banten Tahun 2004-2007………………….... 70 Tabel 4.2 Zone industri ...................................................................................................................... 78 Tabel 4.3 Struktur Produksi Kerajinan Gula Aren Cetak dari Desa Cimenga dan Desa Haryang, Serta Struktur Produksi Pembanding .......................................................................................... 89 Tabel 4.4 Perkembangan luas areal, produksi dan peroduktivitas gula aren di Provinsi Banten, 1998 – 2005 ............................................................................................................ 90 Tabel 4.5 Perkembangan Areal, Produksi, dan Produktivitas Gula Aren Di Kabupaten Sentra Provinsi Banten , Tahun 1996-2003 ................................................................................................... 91 Tabel 4.6 Sentra Produksi Gula Aren Cetak Di Kabupaten Lebak, 2005 ............................................ 92 Tabel 4.7 Perkembangan Jumlah UMKM yang Memenuhi Standar BisnisTahun 2003 s/d 2007....... 95 Tabel 4.8 Perkembangan Jumlah UKM Tahun 2003 s/d 2007 .......................................................... 96 Tabel 4.9 Penyerapan Tenaga Kerja UKM Tahun 2005 s/d 2007 ...................................................... 96

v

Tabel 4.10 Kinerja Koperasi Tahun 2005 s/d 2007 ............................................................................. 97 Tabel 4.11 Omzet Usaha Kecil dan Menengah Tahun 2004 s/d 2007............................................... 97 Tabel 4.12 Kinerja Koperasi Tahun 2005 s/d 2007 ............................................................................. 98 Tabel 4.13 Perkembangan Kinerja Keuangan Koperasi Tahun 2005 s/d 2007 .................................. 99 Tabel4.14 Perubahan koefisien aglomerasi pada agglomeration schedule untuk 10 tahap pembentukan cluster terakhir (1-10 cluster pertama) ............................................................................. 100 Tabel 4.15 Penduduk 10 tahun ke atas yang bekerja, Mencari Pekerjaan dan Bukan angkatan kerja di Provinsi Banten ................................................................................................................ 107 Tabel 4.16 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Berdasarlkan Indikator Kinerja ................................. 109 Tabel 4.17 Tingkat Parsipasi Angkatan Kerja Tahun 2003-2007........................................................ 109 Tabel 4.18 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Tahun 2003-2007 ...................................................... 114 Tabel 4.19 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Kabupaten/Kota Tahun 2004-2007.............. 114 Tabel 4.20 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Umur 15 tahun Ke atas menurut Kabupaten/Kota tahun 2007 ......................................................................................... 115 Tabel 4.21Penduduk 15 Tahun ke atas Yang Bekerja, Mencari Pekerjaan, dan Bukan Angkatan Kerja Per-Kabupaten/Kota di Banten Tahun 2007 ..................................................................... 115 Tabel 4.22 Persentase Penduduk Banten yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha Tahun 2007 ...... 116 Tabel 4.23 Keadaan Ruang Kelas SD/MI, SLTP/MTs dan SMU/SMK/MA TahunAjaran 2006/2007 .. 124 Tabel 4.24 Prosentase Putus Sekolah Pada Setiap Jeniang Pendidikan Tahun 2006/2007 .............. 125 Tabel 4.25 Jumlah Penduduk Buta Huruf Di atas Usia 15 Tahun Tahun 2002-2007......................... 125 Tabel 4.26 Jumlah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Provinsi Banten Tahun 2006/2007 . 125 Tabel 4.27 Angka Partisipasi pendidikan dari tahun 2005 s/d 2007 .................................................. 131 Tabel 4.28 Jumlah penduduk berdasarkan umur................................................................................ 131 Tabel 4.29 Angka Buta Aksara dari tahun 2005 s/d tahun 2007......................................................... 132 Tabel 4.30 Persentase angka yang melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.................. 132 Tabel 4.31 Anak dan Balita Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Menurut Kab/Kota Provinsi Banten Tahun 2007.......................................................................................................... 152 Tabel 4.32 Wanita Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Menurut Kab/Kota Provinsi Banten Tahun 2007....................................................................................................................... 153 Tabel 4.33 Lansia Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Menurut Kab/Kota Provinsi Banten Tahun 2007...................................................................................................................... 153 Tabel 4.34 Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Menurut Kab/Kota Provinsi Banten Tahun 2007 ................................................................................................................................. 154

vi

Tabel 4.35 Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial lainnya menurut Kab/Kota Provinsi Banten Tahun 2007....................................................................................................................... 154 Tabel 4.36 Jumlah tempat ibadah menurut agama............................................................................. 165 Tabel 4.37 Daftar Calon Jemaah Haji di Provinsi Banten ................................................................... 165 Tabel 4.38 Indikator Kinerja Prasarana Jalan dan Jembatan ………………………………………..........177 Tabel 4.39 Panjang Jalan Provinsi Terpelihara Tahun 2006 dan 2007 ............................................... 178 Tabel 4.40 Indikator Kinerja Prasarana wilayah terisolir ……………………………………………….... 179 Tabel 4.41 Indikator Kinerja Prasarana Irigasi Lintas Kab/Kota ………………………………………... 181 Tabel 5.1. Indikator Kesejahteraan Rakyat di Provinsi Banten (dibandingkan dengan Provinsiprovinsi di Sumatera, Jawa dan Bali, dan Indonesia) ...................................................... 194 Tabel 5.2 Persentase Penduduk Berobat Menurut Provinsi .............................................................. 196 Tabel 5.3 Lokasi Waduk Karian .......................................................................................................... 207 Tabel 5.4 Keadaan Penduduk Baduy Dalam berdasarkan umur ……………………………………….. 209

vii

DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1 Indeks Pembangunan Gender Provinsi Banten Tahun 2004-2006........... 42 Gambar 3.2 Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Banten Tahun 2004-2006 ......... 42 Gambar 3.3 Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Indeks Pembangunan Gender (IPG) Provinsi Banten Tahun 2004-2006 ........................................................... 43

Gambar 3.4 Angka Partisipasi Sekolah Penduduk Usia 7-12 Tahun, Menurut Jenis Kelamin Provinsi Banten 2005 ......................................................... 43 Gambar 3.5 Angka Partisipasi Sekolah Penduduk Usia 13-15 Tahun, Menurut Jenis Kelamin Provinsi Banten 2005 ........................................................ 45 Gambar 3.6 Angka Prtisipasi Sekolah penduduk sekolah usia 16-18 tahun ..... 45 Gambar 3.7 Angka Partisipasi Sekolah Penduduk Usia 19-24 Tahun, Menurut Jenis Kelamin Provinsi Banten 2005 ....................................................... 46
Gambar 3.8 Angka Partisipasi Sekolah Penduduk Usia 19-24 Tahun, Menurut Jenis Kelamin Provinsi Banten 2005.................................................................. 46

viii

ix

Bagian 1 Pendahuluan

1
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

1.1

Sasaran dan Prioritas Pembangunan Berdasarkan RPJMN 2004-2009

Sasaran dan Prioritas Pembangunan Berdasarkan RPJMN 2004-2009 adalah sebagai berikut : Agenda I Mewujudkan Indonesia yang Aman dan Damai 1. Menurunnya ketegangan dan konflik antar kelompok maupun golongan masyarakat; menurunnya angka kriminalitas secara nyata di perkotaan dan perdesaan; serta menurunnya secara nyata angka perampokan, kejahatan di lautan, dan penyelundupan lintas batas 2. Semakin kokohnya NKRI berdasarkan Pancasila, UUD 45, dan Bhineka Tunggal Ika yang tercermin dengan tertanganinya kegiatan yang ingin memisahkan diri dari NKRI; meningkatnya daya cegah dan tangkal Negara terhadap ancaman bahaya terorisme bagi tetap tegaknya kedaulatan NKRI baik dari ancaman luar maupun dalam negeri 3. Semakin berperannya Indonesia dalam menciptakan perdamain dunia Agenda II Mewujudkan Indonesia yang Aman dan Damai 1. Meningkatnya keadilan dan penegakan hukum yang tercermin dari terciptanya sistem hukum yang adil, konsekuen, dan tidak diskriminatif, serta memberikan perlindungan dan penghormatan terhadap HAM; terjaminnya konsistensi seluruh peraturan perundang-undangan di tingkat pusat dan daerah 2. Terjaminnya keadilan gender bagi peningkatan peran perempuan dalam berbagai bidang pembangunan yang tercermin dalam berbagai perundangan, program pembangunan dan kebijakan publik; meningkatnya angka GDI dan GEM; dan menurunnya tindak kekerasan terhadap perempuan serta meningkatnya kesejahteraan dan perlindungan anak 3. Meningkatnya pelayanan kepada masyarakat dengan menyelenggarakan otonomi daerah dan kepemerintahan daerah yang baik serta terjaminnya konsistensi seluruh peraturan pusat dan daerah, dan tidak bertentangan dengan peraturan dan perundangan yang lebih tinggi 4. Meningkatnya pelayanan birokrasi kepada masyarakat yang tercermin dari : 1) berkurangnya praktek korupsi di birokrasi; 2) terciptanya sistem pemerintahan dan birokrasi yang bersih, akuntabel, transparan, efisien, dan berwibawa; 3) terhapusnya aturan, peraturan, dan praktek yang bersifat diskriminatif terhadap warga Negara, kelompok, atau golongan masyarakat; 4) meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pengambilan kebijakan publik 5. Terselenggaranya pemilu 2009 yang demokratis, jujur, adil dengan menjaga momentum konsolidasi demokrasi yang sudah terbentuk berdasarkan hasil pemilu secara langsung tahun 2004 Agenda III Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat 1. Menurunnya penduduk miskin menjadi 8,2 % pada tahun 2009 serta terciptanya lapangan kerja yang mampu mengurangi pengangguran terbuka menjadi 5,1 % pada tahun 2009 dengan didukung oleh stabilitas ekonomi yng tetap terjaga. Kemiskinan dan pengangguran diatasi dengan strategi

2
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

pembangunan ekonomi yang mendorong pertumbuhan yang berkualitas dan berdimensi pemerataan melalui penciptaan lingkungan usaha yang sehat 2. Berkurangnya kesenjangan antar wilayah yang tercermin dari meningkatnya peran perdesaan sebagai basis pertumbuhan ekonomi agar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di perdesaan; meningkatnya pembangunan di daerah terbelakang dan tertinggal; meningkatnya pengembangan wilayah yang didorong oleh daya saing kawasan dan produk-produk unggulan daerah; serta meningkatnya keseimbangan pertumbuhan pembangunan antar kota-kota metropolitan, besar, menegah, dan kecil. 3. Meningkatnya kualitas manusia yang secara menyeluruh tercermin dari membaiknya angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) serta meningkatnya pemahaman dan pengamalan ajaran-ajaran agama. 4. Membaiknya mutu lingkungan hidup dan pengelolaan sumber daya alam yang mengarah pada pengarusutamaan prinsip pembangunan berkelanjutan di seluruh sektor dan bidang pembangunan 5. Membaiknya infrastruktur yang ditunjukkan oleh meningkatnya kualitas dan kuantitias berbagai sarana penunjang pembangunan 1.2 Maksud dan Tujuan

Untuk mengetahui capaian RPJMN Tahun 2004-2009 yang dilaksanakan di Provinsi Banten terutama dalam 3 tahun pelaksanaan RPJMN yaitu tahun 2005, tahun 2006, dan tahun 2007, Tim melakukan evaluasi hasil Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) pada tahun 2005, 2006, dan 2007, kemudian hasilnya menjadi masukan untuk RPJMN 2010-2014. 1.3 Identifikasi Kebijakan yang Mendukung RPJMN

Dalam Peraturan Gubernur (Pergub) No. 25 Tahun 2007 tentang penjabaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Banten Tahun 2007-2012, disebutkan kebijakan-kebijakan yang mendukung RPJMN di Provinsi Banten yaitu : 1. Meningkatkan penegakan hukum dan kehidupan berdemokrasi 2. Meningkatkan kapasitas lembaga pemerintahan dan koordinasi pembangunan 3. Meningkatkan kapasitas lembaga, organisasi masyarakat atau adat dan kualitas beragama 4. Meningkatkan aksesibilitas masyarakat terhadap pelayanan pendidikan 5. Meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan 6. Pengembangan fasilitas dan pemerataan layanan kesehatan 7. Pengembangan kesehatan berbasis masyarakat 8. Mengentaskan penduduk miskin dan penyelesaian masalah sosial 9. Meningkatkan ketahanan pangan

3
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

10. Mendorong peningkatan produktivitas, produksi, daya saing, nilai tambah produksi pertanian, kelautan, kehutanan,perkebunan, budaya dan pariwisata 11. Meningkatkan keberdayaan petani 12. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dengan iklim investasi yang kondusif 13. Meningkatkan kapasitas industri manufaktur dan UMKM dengan berbasis bahan baku unggulan lokal 14. Meningkatkan lapangan kerja 15. Pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup yang selaras, serasi, dan seimbang 16. Membangun dan mengembangkan infrastruktur jalan, pengairan, energi, dan telekomunikasi 17. Pengembangan sistem transportasi 18. Pengembangan kawasan strategis dan cepat tumbuh 1.4 Tahapan Pekerjaan

Tahapan pekerjaan yang dilakukan adalah : 1. Melakukan pengamatan, mengumpulkan data dan informasi yang berkaitan dengan indikator sasaran RPJMN tahun 2004-2009 2. Melakukan analisis dan penilaian terhadap capaian sasaran pembangunan daerah yang tertuang dalam RPJMN Tahun 2004-2009 3. Memberikan rekomendasi yang dituangkan ke dalam rencana tindak lanjut 4. Menyusun dan menyampaikan laporan capaian sasaran RPJMN di daerah dan rekomendasi tindak lanjut kepada tim sekertariat 1.5 Metodologi

Evaluasi pelaksanaan RPJMN di Provinsi Banten dilaksanakan dengan metode : 1. Focus Group Discussion (FGD) Tim melakukan serangkaian pertemuan dengan narasumber dalam hal ini para stakeholder pembangunan daerah yang terdiri dari Bappeda Provinsi Banten, Biro Administrasi Pembangunan, Biro Pemerintahan, Inspektorat Provinsi, Polda Banten, para Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD), dan sebagainya. Topik-topik yang dibicarakan terdiri dari capaian hasil-hasil pembangunan dalam kurun waktu terutama tahun 2005 s/d 2009 dan isu-isu strategis yang ada di masing-masing stakeholder. 2. Pengumpulan Data Sekunder Tim mengumpulkan data dan informasi dari Badan Pusat Statistik, surat kabar lokal seperti Radar Banten, hasil penelitian Untirta dan pihak lain, dan sebagainya. Jenis data yang dikumpulkan adalah data hasil (outcome) pelaksanaan kegiatan pembangunan di Provinsi Banten. 3. Kunjungan ke lapangan

4
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Kunjungan ini diperlukan dalam rangka melakukan crosscheck dan fact finding terhadap data yang dikumpulkan melalui FGD maupun data sekunder. Hasil temuan yang ada di lapangan akan lebih memberikan keyakinan terhadap kondisi yang aktual dan faktual. Kunjungan dilakukan terhadap topik yang menjadi isu strategis di Provinsi Banten seperti kunjungan ke Pulau Panjang untuk crosscheck mengenai isu lingkungan hidup di Provinsi Banten. 4. Penilaian (Assesment) Penilaian dilakukan terhadap butir (1),(2), dan (3) yang dikaitkan dengan pelaksanaan kegiatan pembangunan yang sudah dilaksanakan di Provinsi Banten dalam menunjang pencapaian tujuan pembangunan nasional dalam RPJMN tahun 2004-2009. Penilaian dilakukan terhadap pencapaian sasaran yang secara kuantitiatif maupun kualitatif tercantum dalam sasaran pembangunan nasional dalam RPJMN tahun 2004-2009. 1.6 Sumber Data

Data diperoleh dari sumber data primer dan data sekunder. Sumber data primer terdiri dari data hasil Focus Group Discussion (FGD) dengan para stakeholder pembangunan dan kunjungan ke lapangan. Sedangkan data sekunder terdiri dari dokumen-dokumen perencanaan dan pelaksanaan pembangunan daerah seperti RPJMD, RKPD, LAKIP, dan sebagainya. Selain itu data sekunder diperoleh dari Badan Pusat Statistik, berita koran-koran lokal, hasil-hasil penelitian LPPM UNTIRTA, dan sebagainya. 1.7 Jadwal Rencana Pelaksanaan

Jadwal rencana Evaluasi Kinerja Pembangunan Provinsi Banten dimulai bulan Juli sampai dengan November 2008 dengan master schedule sebagai berikut :
Bulan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Agenda Seminar pembekalan EKPD Koordinasi dengan Bappeda Provinsi Banten Pengumpulan Data Sekunder Pembuatan laporan Awal Audiensi dengan Inspektorat Provinsi dan DPKAD Audiensi dengan POLDA Banten dan Biro Administrasi Pembangunan Pembuatan laporan Kemajuan dan koordinasi dengan tim sekertariat Bappenas Audiensi dengan Biro-biro dan SKPD-SKPD Kunjungan ke lapangan (KEK dan Pelabuhan Bojonegara dan Pulau Panjang) Pengiriman Laporan Akhir Seminar Laporan Akhir Juli Ags Sept Okt Nov Des

5
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

1.8 Sistematika Penulisan Laporan Evaluasi Kinerja Laporan evaluasi kinerja ini ditulis dengan sistematika penulisan sebagai berikut : Bagian 1 Pendahuluan Bagian ini berisi sasaran dan prioritas pembangunan berdasarkan RPJMN 2004-2009 dan sistematika penulisan laporan evaluasi ini Bagian 2 Agenda Mewujudkan Indonesia yang Aman dan Damai Bab 2.1 Pengantar Agenda Mewujudkan Indonesia yang Aman dan Damai Bab 2.2 Peningkatan Rasa Saling Percaya dan Harmonisasi Antar kelompok Masyarakat Bab 2.3 Pengembangan Kebudayaan yang Berlandaskan pada Nilai-Nilai Luhur Bab 2.4 Peningkatan Keamanan, Ketertiban, dan Penanggulangan Kriminalitas Bab 2.5 Pencegahan dan Penanggulangan Separatisme Bab 2.6 Pencegahan dan Penanggulangan Gerakan Terorisme Bab 2.7 Peningkatan Kemampuan Pertahanan Negara Bab 2.8 Pemantapan Politik Luar Negeri dan Peningkatan Kerjasama Internasional Bagian 3 Agenda Mewujudkan Indonesia yang Adil dan Demokratis Bab 3.1 Pengantar Agenda Mewujudkan Indonesia yang Adil dan Demokratis Bab 3.2 Pembenahan Sistem dan Politik Hukum Bab 3.3 Penghapusan Diskriminasi dalam Berbagai Bentuk Bab 3.4 Penghormatan, Pengakuan, dan Penegakan atas Hukum dan Hak Asasi Manusia Bab 3.5 Peningkatan Kualitas Kehidupan dan Peran Perempuan serta Kesejahteraan dan Perlindungan Anak Bab 3.6 Revitalisasi Proses Desentralisasi dan Otonomi Daerah Bab 3.7 Penciptaan Tata Pemerintahan yang Bersih dan Berwibawa Bab 3.8 Perwujudan Lembaga Demokrasi yang Makin Kokoh Bagian 4 Agenda Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat Bab 4.1 Pengantar Agenda Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat Bab 4.2 Penanggulangan Kemiskinan Bab 4.3 Peningkatan Investasi dan Ekspor Nonmigas Bab 4.4 Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur Bab 4.5 Revitalisasi Pertanian Bab 4.6 Pemberdayaan Koperasi dan saha Mikro, Kecil dan Menengah Bab 4.7 Peningkatan Pengelolaan BUMN Bab 4.8 Peningkatan Kemampuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Bab 4.9 Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan Bab 4.10 Pemantapan Stabilitas Ekonomi Makro Bab 4.11 Pembangunan Perdesaan

6
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Bab 4.12 Pengurangan Ketimpangan Pembangunan Wilayah Bab 4.13 Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Pendidikan yang Berkualitas Bab 4.14 Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Kesehatan yang Berkualitas Bab 4.15 Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Sosial Bab 4.16 Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Kecil Berkualitas serta Pemuda dan Olahraga Bab 4.17 Peningkatan Kualitas Kehidupan Beragama Bab 4.18 Perbaikan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Pelestarian Fungsi Lingkup Hidup Bab 4.19 Peningkatan Kapasitas, Kualitas dan Aksesibilitas Pelayanan Infrastruktur Bab 4.20 Penanganan dan Pengurangan Resiko Bencana Bagian 5 Isu-isu Strategis di Daerah Bagian 6 Penutup

7
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

BAGIAN 2 AGENDA MEWUJUDKAN INDONESIA YANG AMAN DAN DAMAI

8
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Bab Pengantar Agenda Mewujudkan Indonesia yang Aman dan Damai
Agenda pertama dalam RPJMN 2004 – 2009 adalah mewujudkan Indonesia yang aman dan damai. Sebagai salah satu prioritas dalam agenda mewujudkan Indonesia yang aman dan damai, upaya peningkatan keamanan, ketertiban dan penanggulangan kriminalitas secara keseluruhan telah menunjukkan hasil yang lebih baik. Gangguan keamanan, ketertiban dan kriminalitas di Banten secara umum masih dalam tingkat terkendali. Seperti diketahui, kata aman dapat diterjemahkan bebas dari rasa bahaya, ancaman dari luar negeri maupun gangguan dari dalam negeri. Sementara damai mencerminkan tidak terjadi konflik dan kerusuhan.

2.1

9
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Bab Peningkatan Rasa Saling Percaya dan Harmonisasi Antar kelompok Masyarakat
I. Kondisi Awal RPJM di Tingkat Daerah

2.2

Pada awal penyusunan RPJMN, kondisi di Provinsi Banten cukup kondusif, terbukti dari penjaminan rasa aman pada saat diadakannya momentum penting nasional. Sebenarnya melihat potensi yang ada di Provinsi Banten memungkinkan terjadinya konflik baik secara horisontal maupun secara vertikal. Hal ini disebabkan Provinsi Banten berada di daerah lintasan Sumatera dan sebagai daerah penyangga ibukota. Kejahatan yang ada di Ibu kota berdampak pula/berimbas terhadap Provinsii Banten. Banten merupakan salah satu tujuan daerah yang ada di Indonesia, yang menjaikan untuk bertaruh dalam mencari peluang kerja, saat ini masyarakat Banten di Warnai oleh berbagai masyarakat dari seluruh indonesia baik dari Jawa mapun luar Jawa yang mencoba mengadu nasib di Provinsi Banten. Untuk saat ini memang hal tersebut bukanlah masalah yang berpotensi yang dapat menimbulkan konflik. Kondisi ini tidak akan menimbulkan konflik antara masyarakat pribumi dengan non pribumi sepanjang tidak terjadi gesekan akibat kontra sosial, ekonomi dan budaya. Kondisi akan berubah apabila antara masyarakat pendatang dengan masyarakat pribumi terjadi kontra sosial, ekonomi, atau kultural apabila terdapat kesenjangan ekonomi sosial maupun kultural apabila diantara kedua golongan masyarakat tersebut terjadi kesenjangan yang tidak dapat ditolelir lagi. Banten terkenal dengan masyarakat yang agamis (Hampir seluruhnya masyarakat memeluk agam islam). Pemahaman Islam yang terakulturasi dengan budaya Banten yang sudah berlangsung berabad-abad, memberikan warna tersendiri terhadap masyarakat Banten. Apabila masyarakat luar Banten (pendatang), kurang memahami dan memaknai secara mendalam tentang kultur masyarakat Banten dalam memahami tentang budaya Banten yang diwarnai oleh nuansa yang islami. Hal tersebut dapat berpotensi untuk memunculkan konflik. Tindakan kriminal yang ada di Provinsi Banten kemungkinan disebabkan oleh kesenjangan dalam memperoleh pendapatan masyarakat. Kesenjangan tersebut dipicu oleh tingkat pendidikan yang rendah. Tingkat pendidikan yang rendah dari masyarakat berdampak pada rendahnya kualitas masyarakat untuk dapat meraih peluang kerja, yang selanjutnya dampak ini dapat menimbulkan ledakan pengangguran.

10
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Pengangguran yang tidak terkendali dan dibiarkan tanpa solusi akan berdampak pada gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat di Provinsi Banten Permasalahan yang terpenting selain di atas, Banten merupakan daerah yang strategis untuk pengedaran dan produksi narkoba, curanmor, perjudian dan tindakan kriminal lainnya. Selain daerah penyangga ibu kota Banten juga sebagai wilayah lintasan, kondisi ini walaupun pelaku dari luar daerah Banten, namun eksesnya terhadap keamanan dan kedamaian Provinsi Banten sangat berpengaruh. II. Sasaran yang ingin di capai RPJMN dan RPJMD

Menciptakan rasa aman dan damai secara berkelanjutan, prioritas peningkatan rasa saling percaya dan harmonisasi antarkelompok masyarakatditetapka dengan sasaran : (1) Menurunnya ketegangan dan ancaman konflik antar kelompok masyarakat atau antar golongan di daerah-daerang yang dianggap berpotensi untuk terjadinya konflik (rawan konflik). (2) Terpeliharanya situasi aman dan damai; serta (3) Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan kebijakan publik dan penyelesaian persoalan sosial kemasyarakatan. III. Arah Kebijakan

Untuk mencapai sasaran yang tersebut diatas arah kebijakan di fokuskan pada : (1) Memberdayakan organisasi-organisasi kemasayarakatan, sosial keagamaan, dan LSM (lembaga swadaya masyarakat. Mereka secara bersama-sama mencegah dan mengoreksi ketidak adilan, diskriminasi dan ketimpangan sosial, sebagai bagian penting dari upaya membangun masyarakat sipil yang kokoh (2) memantapkan peran pemerintah sebagai fasilitator dan atau mediator yang kredibel dan adil dalam menjaga dan memelihara keamanan, perdamaian dan harmoni dalam masyarakat; (3) menerapkan kebijakan komunikasi dan informasi IV. Pencapaian RPJMN di Daerah

4.1 Upaya yang telah dilakukan Konflik Multikultural: Untuk mencegah timbulnya konflik multikultural diProvinsi Banten dibentuk POLMAS (Perpolisian Masyarakat) dan FKPM (Forum Komunikasi Perpolisian Masyarakat). Polmas dan FKPM bertanggung jawab terhadap keamanan dan ketertiban masyarakat. Polda Banten berupaya dengan setiap elemen masyarakat untuk mewujudkan rasa aman dan damai di Provinsi Banten, berbagai langkah dan strategi sudah ditempuh baik secara horisontal dengan masyarakat maupun secara vertikal dengan pemerintah daerah. Seperti yang telah disebutkan diatas bahwa Provinsi Banten memiliki peluang dan potensi untuk terjadinya konflik dan tindakan kriminal. Hingga saat ini tidak terjadi konflik dan tindak kriminal yang ekstrim. Hal tersebut

11
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

dapat ditinjau dari dua kemungkinan yaitu pertama Masyarakat Banten secara nyata merupakan masyarakat yang terbuka dan siap menerima dan menata perubahan kearah yang lebih baik, konsekunsinya mereka dapat secara harmonis bekerjasama dengan Polda dan perangkat keamanan masyarakat lainnya. Kedua Keamanan yang dicapai hingga saat ini merupakan cerminan bahwa kontra sosial, kontra ekonomi, dan kultural yang terjadi di masyarakat masih di bawah ambang kritis, sehingga letupan-letupan yang terjadi masih dapat ditolelir. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa stabilitas keamanan dan kedamaian di Provinsi Banten sudah kondusif, dan setiap elemen yang ada di masayarakat Banten bersedia saling bahu membahu untuk mewujudkan keamanan dan kedamaian yang dicapai di Provinsi Banten. Dapat diicatat bahwa tingkat kriminalitas di Provinsi Banten relatif rendah, (letupan-letupan yang berkaitan dengan tindak kriminal masih bukan masalah yang krusial). Namun demikian di masa yang akan datang diperlukan kerja keras untuk dapat mengantisipasi terjadinya berbagai konflik yang timbul yang saat ini belum dapat dideteksi dan diprediksi. 4.2 Capaian Saat ini keamanan di Provinsi Banten relatif masih dapat dikendalikan hal ini dapat dilihat dari tingkat kriminal yang terjadi di Provinsi Banten. Selama lima tahun terakhir tindak kriminal menunjukkan kecenderungan semakin menurun. Berdasarkan data statistik tahun 2004 dan terlihat meningkat, akan tetapi kenaikan tersebut bukan karena peningkatan riil di lapangan. Peningkatan angka tersebut disebabkan oleh perubahan pembagian wilayah kerja. Malahan pada tahun 2003 sampai dengan tahun 2007 tindakan hukum terhadap kriminalitas yang terjadi di Provinsi Banten menunjukkan peningkatan yang signifikan. Mengenai kriminalitas yang terjadi di Provinsi Banten lima tahun terakhir dapat dilihat pada tabel sebagai berikut: Tabel 2.1 Trend Kriminalitas di Provinsi Banten Antara Tahun 2003-2007 2003 Crime Total (CT) Crime Clearence (CC) Persentase 66,03 61,54 61,93 57,43 63,88 Sumber data.: Kepolisian Negara Provinsi Banten 797 909 1352 1062 1132 1207 2004 1477 2005 2183 2006 1849 2007 1772

12
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Berdasarkan tabel tersebut di atas penanganan terhadap tindak kriminal rata-rata dalam kurun waktu lima tahun terakhir 62,16 % . Angka tersebut walaupun diatas 50 % penanganan terhadap tindakan kriminal, tetapi masih relatif lebih kecil dalam hal penanganan terhadap tindak kriminal. Tabel 2.2 Trend Kriminalitas Kamtibmas tahun 2007 di Provinsi Banten No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Curat Curanmor R2 Penipuan Penganiayaan Berat Penggelapan Curas Curi Biasa Perjudian UU RI no.23/2004 Perzinahan/Cabul Perbuatan tak menyenangkan Pengeroyokan Pembunuhan Curanmor R4 Pemerasan Penadahan Penyerobotan tanah UU Darurat No 12/51 Pemalsuan Perkosaan Penghinaan Pengrusakan Penganiayaan ringan Kebakaran Jenis Kriminal Jumlah JTP 362 328 196 161 98 92 83 66 35 28 22 20 20 17 16 14 12 12 12 11 10 8 8 8 JPTP 259 101 92 104 69 52 62 82 30 35 12 22 15 1 12 25 3 18 11 12 7 4 2 5 No 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 Miras UU RI No.39/204/Tenaga Kerja Keterangan Palsu UU RI No.23/2002 Bawa Lari Perempuan Percobaan Pencurian Perda 18/2007/Angkutan Kayu Kecelakaan Kerja Lalai akibatkan mati orang Nikah Tanpa Izin Persetubuhan dibawah umur Penggelapan dalam Jabatan Pemukulan Jual Obat Tanpa Izin UU No.22 Tahun 1997 UU RI No 51 tahun 1960 Desain Industri Perampasan VCD Porno Pencurian dalam Keluarga UU No.23/2002 Pencemaran nama anak Penelantaran anak Lain-lain Jumlah Keterangan : JTP = Jumlah Tindak Pidana, JPTP = Jumlah Penyelesaian Tindak Pidana Sumber: Kepolisian Negara Provinsi BantenTahun (2007) Jenis Kriminal Jumlah JTP 6 4 4 4 4 4 3 3 3 2 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 17 JPTP 6 2 2 2 4 3 3 0 4 1 1 3 1 1 0 1 0 0 0 0 0 1 1 19

13
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Trend kriminalitas tertinggi yang terjadi di Provinsi Banten diantaranya Curat, Curanmor R2 dan Penipuan. Dari 48 jenis kriminal yang ada hanya 2 tindak kriminal yang tidak terjadi di Banten yaitu memperdagangkan barang tidak dengan standar, pengancaman dan kejahatan terhadap kesopanan. Mengenai trend tindak kriminal yang terjadi di Provinsi Banten pada tahun 2007 dapat dilihat pada Tabel di atas. Tingginya tindak curat, curanmor R2 dan penipuan disebabkan karena Provinsi Banten merupakan daerah lintasan dan daerah penyangga ibu kota karena hal tersebut memudahkan bagi para pelaku untuk melarikan hasil curiannya. Posisi strategis ini yang menyebabkan banyak tindak kejahatan dan pelanggaran hukum yang terjadi di Provinsi Banten. Tindakan kejahatan dan pelanggaran hukum semakin berkembang pada tahun 2008. Hal tersebut mengindikasikan bahwa rasa aman dan damai di Provinsi Banten semakin tinggi. Contoh kasus baru yang berbeda dibandingkan dengan tahun sebelumnya adalah tindak kriminal minyak dan gas (migas), illegal fishing, illegal mining, penyalahgunaan pupuk, dan lain-lain. Tabel 2.3 Trend Kriminalitas Kamtibmas tahun 2008 di Provinsi Banten No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Jenis Kriminal Curanmor R2 Curat Penipuan Penganiayaan Berat Perjudian Migas Penggelapan Curi Biasa Curas Penadahan Perzinahan/cabul Pengeroyokan Curanmor R4 Penganiayaan ringan Illegal Fishing UUDarurat No.12/51 Pemalsuan Perkosaan JTP 291 232 126 100 88 66 64 49 43 25 22 22 21 16 15 13 13 10 Jumlah JPTP 79 198 62 61 87 51 38 58 44 30 18 18 14 11 13 5 3 7 No 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 Jenis Kriminal Perlindungan anak Penyerobotan tanah Pemerasan Perbuatan tak menyenangkan Pembunuhan Penggelapan dalam jabatan Korupsi Curas Gun Senpi Kebakaran IIegal minning Penghinaan Pengrusakan Miras UU RI No. 23/2002 UU No.23/1992 ttg Kesehatan Perlindungan Konsumen Temu mayat Nikah tanpa izin Jumlah JTP JPTP 6 7 6 5 5 5 4 4 4 4 3 3 3 2 2 2 2 2 2 0 5 4 6 1 5 0 3 2 0 1 2 2 2 0 1 0

14
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

19 20 21 22 23 24

UU RI No.41/1999 UU RI No 23/2004/KDRT Uang Palsu Pencurian dalam keluarga Bawa Lari Gadis Tenggelam

9 8 8 7 7 7

11 5 9 3 5 2

43 44 45 46 47 48

Kelalaian Penyalahgunaan pupuk Setubuhi anak Bawa Senpi tanpa izin Percobaan perkosaan Lain-lain

1 1 1 1 1 12

1 1 2 0 1 884

Jumlah 1343 Keterangan : JTP = Jumlah Tindak Pidana, JPTP = Jumlah Penyelesaian Tindak Pidana Sumber: Kepolisian Negara Provinsi BantenTahun (2008)

Pada tahun 2008 kasus yang menarik adalah kasus illegal loging, illegal fishing, serta illegal mining. Kasus tersebut disebabkan karena rendahnya tingkat pengawasan bersama. Upaya yang dilakukan untuk menghindari dan meminimalkan tindakan kriminal tersebut pemerintah daerah membuat kebijakan yaitu apabila kayu diambil dari kayu masyarakat harus mendapat ijin dari Kepala desa di mana kayu tersebut berada. Hingga saat ini kasus komunal belum sampai ke SARA. Kasus yang baru terjadi kelompok kuli dengan mandor pada perusahaan. Kedamaian dan ketentraman Provinsi Banten tercapai karena adanya jalinan kerjasama antara masyarakat,pemerintah dan pihak kepolisian. Jumlah personel kepolisian hingga tahun 2008 mencapai rasio 1: 1000 yang idealnya 1:700 (angka rasio menurut PBB) dan Polda Banten berusaha mencapainya. Kasus narkoba dan kecelakaan lalu lintas dari setiap kasus yang ada, 100% dapat diatasi. Walaupun demikian kasus yang terjadi menunjukkan trend yang meningkat. Kecelakaan lalu lintas dipicu oleh rendahnya kesadaran tertib lalu lintas bagi masyarakat di Provinsi Banten. Trend kasus narkoba dapat dilihat pada tabel di bawah. Tabel 2.4 Trend Kriminalitas Narkoba Periode Lima Tahun (2003-2007) 2003 Crime Total (CT) Crime Clearence (CC) Persentase Sumber data.: Kepolisian Negara Provinsi Banten 49 49 100 2004 56 56 100 2005 73 73 100 2006 104 104 100 2007 184 184 100

15
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Dalam kasus narkoba sebenarnya pelakunya bukan masyarakat Banten, namun karena Banten berada di daerah lintasan dan penyangga ibu kota, hal ini merupakan posisi strategis untuk para pelaku tindak kriminal narkoba untuk mengoperasikan kegiatannya. Trend kasus kecelakaan lalu lintas dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Tabel 2.5 Trend Kriminalitas Kecelakaan Lalu Lintas Periode Lima Tahun (2003-2007) 2003 Crime Total (CT) Crime Clearence (CC) Persentase 136 136 100 2004 153 153 100 2005 197 197 100 2006 364 364 100 2007 379 379 100

Sumber data.: Kepolisian Negara Provinsi Banten

4.3 Permasalahan Permasalahan yang mendasar rasio 1:1000 personel polisi merupakan rasio yang belum ideal untuk mewujudkan masyarakat tertib dan aman di Provinsi Banten. Selain itu antara polisi dan masyarakat belum dapat menjalin kerjasama secara optimal, masyarakat masih merasa segan untuk melaporkan kasus kriminal yang terjadi di masyarakat. V. Tindak Lanjut Pemerintah Daerah, Polda, dan masyarakat agar secara bersama-sama turut serta untuk mewujudkan rasa aman dan tentram bagi masyarakat Banten. Pemerintah harus dapat memberikan arahan melalui penyuluhan atau kegiatan lainnya yang dapat menanamkan ke dalam masyarkat tentang pentingnya keterlibatan mereka untuk mewujudkan rasa aman dan tentram di Provinsi Banten. Pihak Polda harus dapat meningkatkan Manajemen Operasional Polri (MOP). MOP merupakan suatu proses untuk menciptakan dan memelihara situasi kamtibmas yang mantap dan dinamis yang dilaksanakan secara efektif dan efisien yang dilakukan oleh segenap kesatuan Polri melalui kegiatan rutin kepolisian, operasi kepolisian maupun kerjasama kepolisian dengan sasaran potensi ganguan, ambang gangguan dan gangguan nyata.

16
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Bab

2.3
Pengembangan Kebudayaan yang Berlandaskan pada Nilai-Nilai Luhur
Tidak ada potensi untuk digali di Provinsi Banten

Bab Peningkatan Keamanan, Ketertiban, dan Penanggulangan Kriminalitas
I. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah

2.4

Peningkatan keamanan, ketertiban, dan penanggulanggan kriminalitas telah menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan. Di Banten sendiri bisa terlihat banyaknya wisatawan mancanegara dan domestik yang datang mengunjungi daerah wisata yang ada di Provinsi Banten. Ini menunjukkan bahwa Banten aman untuk dikunjungi. Gangguan keamanan secara umum masih dapat dikendalikan. Meskipun demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa perkembangan variasi kejahatan dan aktualisasi konflik horizontal semakin kompleks dan meningkat. Selain itu terdapat beberapa faktor yang melatarbelakangi terjadinya gangguan keamanan dan ketertiban, terutama konflik yang berdimensi kekerasan. Apalagi Banten termasuk kota yang mengalami kemajuan pesat dalam bidang industri dan dekat ibukota Jakarta. Selain itu juga ada gangguan keamanan lokal, seperti perjudian, minum-minuman keras, tindakan main hakim sendiri. Hal ini dipicu oleh masih rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap aparat penegak hukum sehingga menyebabkan kepatuhan masyarakat terhadap hukum pada setiap kejadian tindak pidana masih rendah. II. Sasaran yang Ingin Dicapai RPJMN dan RPJMD 1. Penanganan masalah strategis dan rawan konflik di Provinsi Banten 2. Operasional Komunitas Intelijen Daerah (KOMINDA) Provinsi Banten 3. Pengamanan dan penyelesaian masalah sosial (Gepeng, PSK, PSL, dll) 4. Operasional Badan Narkotika Provinsi (BNP) Banten 5. Operasi penertiban dan penegakan peraturan daerah Provinsi Banten 6. Pengamanan dan pengawalan pimpinan serta pemeliharaan keindahan, kebersihan, keamanan dan ketertiban 7. Penyusunan basis data bidang ketentraman dan ketertiban umum

17
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

III.

Arah Kebijakan 1. Menegakkan hukum yang tegas, adil, dan tidak diskriminatif 2. Meningkatkan kemampuan lembaga keamanan negara 3. Meningkatkan peran serta masyarakat dari gangguan keamanan dan ketertiban di lingkungannya masing-masing 4. Menanggulangi dan mencegah tumbuhnya permasalahan yang berkaitan dengan penggunaan dan penyalahgunaan narkoba 5. Meningkatkan kesadaran akan hak-hak dan kewajiban hukum masyarakat 6. Memperkuat kerjasama internasional untuk memerangi kriminalitas dan kejahatan lintas negara

IV.

Pencapaian RPJMN di Daerah

4.1 Upaya yang telah dilakukan Upaya yang dilakukan dalam peningkatan keamanan, ketertiban, dan penanggulangan kriminalitas adalah dengan menjaga keamanan dari tingkat RT sampai keamanan kota secara keseluruhannya, penjagaan yang ketat dari aparat terhadap aset negara, baik di laut maupun daratan. Penindakan yang tegas kepada pejabat dan masyarakat terkait dengan illegal logging, illegal fishing, dan illegal minning. Diperketatnya pemeriksaan terhadap barang yang masuk ke Provinsi Banten, peningkatan pelatihan terhadap polisi hutan, serta penambahan personil untuk memberantas pembalakan liar, memupuk kesadaran masyarakat akan pentingnya sebuah peraturan, menyelesaikan kasus-kasus hukum secara tuntas. Selain itu adanya POLMAS (Polisi Masyarakat), penyuluhan bidang hukum, dan pembentukan forum-forum komunikasi polisi dan masyarakat merupakan strategi-strategi yang masih efektif dijalankan. 4.2 Capaian Angka Crime Total (CT) dari tahun 2005 sampai tahun 2007 berturut-turut mengalami penurunan sebagai berikut : 2183, 1849, dan 1772. Begitu pula dalam Crime Clearence (CC) berturut-turut : 1352, 1062, dan 1132 kasus. Penurunan angka kriminalitas turun ini banyak dipengaruhi oleh semakin meningkatnya jumlah personil Polri dengan berubahnya Polwil Banten ke Polda Banten. Kasus yang terbanyak dalam kriminalitas yang terjadi di Provinsi Banten adalah curat (pencurian dengan pemberatan) dan curanmor roda dua. Hal ini bisa dilihat dari trend jumlah curat dan curanmor tahun 2007 sebagai berikut : 362 dn 328 kasus, umumnya disebabkan oleh adanya tekanan masalah ekonomi di masyarakat yang diakibatkan oleh kesulitan mendapatkan pekerjaan dan rendahnya taraf pendidikan. Sedangkan kasus narkoba dari tahun 2005 sampai tahun 2007 mengalami kenaikan sebagai berikut : 73, 104, dan 184 kasus. Hal ini disebabkan Provinsi Banten sebagai penyangga Ibukota dan jalur lintas dari Pulau Jawa ke Pulau Sumatera sehingga rawan dari peredaran narkoba. Angka korupsi yang ditangani Polda

18
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Banten dari tahun 2005 sampai 2007 mengalami penurunan sebagai berikut : 9, 8, dan 6 kasus. Sedangkan kasus illegal logging, illegal fishing, dan illegal mining tahun 2008 masing-masing : 9, 15, dan 3 kasus yang ditangani Polri. 4.3 Permasalahan Pada umumnya tindakan kriminal yang dilakukan disebabkan oleh desakan kebutuhan ekonomi (faktor kemiskinan) sehingga nekad melakukan kejahatan melawan hukum. Hal ini sangat dipengaruhi oleh faktor pendidikan dan sulitnya mendapatkan pekerjaan. Sedangkan kesulitan yang dihadapi aparat umumnya tenaga atau personil polisi yang masih kurang dengan rasio 1:1000, idealnya adalah 1: 700 V. Rekomendasi Tindak Lanjut

Agar diusahakan kerjasama yang erat antara polisi dan masyarakat sebagai mitra dalam bentuk POLMAS, forum-forum seperti FKPM, dan penyuluhan bidang hukum bagi masyarakat. Penanggulangan narkoba harus lebih bekerja sama dengan Polda-Polda sekitar seperti DKI, Jawa Barat, dan Lampung. Kampanye anti narkoba terus digalakkan seperti pengumpulan seribu tandatangan anti narkorkoba para pelajar se-Provinsi Banten. Penanganan illegal logging, dilakukan antara lain dengan jejak penebangan dan operasi rutin terhadap mobil-mobil pengangkut kayu. Penanganan kasus korupsi karena merupakan bahaya laten perlu kerjasama dengan instansi lain yaitu Kejaksaan dan KPK.

19
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Bab Pencegahan dan Penanggulangan Separatisme
Tidak ada potensi untuk digali di Provinsi Banten

2.5

Bab Pencegahan dan Penanggulangan Gerakan Terorisme
Tidak ada potensi untuk digali di Provinsi Banten

2.6

Bab Peningkatan Kemampuan Pertahanan Negara
Tidak menjadi topik pembahasan di Provinsi Banten, tetapi menjadi kewenangan pusat.

2.7

Bab Pemantapan Politik Luar Negeri dan Peningkatan Kerjasama Internasional
Tidak menjadi topik pembahasan di Provinsi Banten karena menjadi kewenangan Pemerintah Pusat

2.8

20
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

BAGIAN 3 AGENDA MEWUJUDKAN INDONESIA YANG ADIL DAN DEMOKRATIS

21
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Bab Pengantar Agenda Mewujudkan Indonesia yang Adil dan Demokratis
Agenda ini merupakan agenda nasional yang kedua yang menjadi tujuan dalam mengatasi permasalahan nasional dengan prioritas pembangunan nasional yang terdiri dari pembenahan sistem dan politik hukum, penghapusan diskriminasi dalam berbagai bentuk, penghormatan, pengakuan, dan penegakan atas hukum dan hak asasi manusia, peningkatan kualitas kehidupan dan peran perempuan serta kesejahteraan dan perlindungan anak, revitalisasi proses desentralisasi dan otonomi daerah, penciptaan tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa, serta perwujudan lembaga demokrasi yang makin kokoh yang semuanya terjadi di Provinsi Banten. Penataan pemerintahan yang baik dan bersih baik di jajaran eksekutif, legistatif maupun yudikatif merupakan suatu hal yang diamanatkan dan sangat diharapkan masyarakat Banten. Namun dalam perjalanannya, perwujudan cita-cita tersebut masih belum terlaksana sesuai dengan yang diharapkan.

3.1

22
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Bab Pembenahan Sistem dan Politik Hukum
I. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah

3.2

Indonesia adalah negara hukum. Setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama di hadapan hukum. Hukum membatasi dan sekaligus memperkaya kemerdekaan warga negara. Hukum menekan dampak negatif yang dapat ditimbulkan oleh tindakan warga negara. Namun hukum juga meningkatkan dampak positif dari aktivitas warga negara. Dengan demikian hukum pada dasarnya memastikan munculnya aspek aspek positif dari kemanusiaan dan menghambat aspek negatif dari kemanusiaan. Hukum yang ditaati akan memunculkan ketertiban dan memaksimalkan ekspresi potensi masyarakat. Penegakan hukum dan ketertiban merupakan syarat mutlak bagi upaya-upaya penciptaan Indonesia yang damai dan sejahtera. Tanpa adanya hukum yang ditegakkan dan ketertiban yang diwujudkan, maka kepastian, rasa aman, tenteram, ataupun kehidupan yang rukun mustahil dapat terwujud. Demikian juga ketiadaan penegakan hukum dan ketertiban mustahil masyarakat dapat berusaha dan bekerja dengan baik untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Penegakan hukum dan ketertiban memang sangat terkait dengan profesionalisme lembaga dan orang orang yang berada pada sistem peradilan dan hukum di Indonesia demikian pula di Banten. Masyarakat merasakan dan mengalami betapa ada kasus-kasus ketidakadilan di sistem peradilan. Namun banyak pula yang mengalami manfaat dari sistem hukum yang saat ini berlaku. Kerja keras dan pengabdian para penegak hukum yang bersih dan tulus perlu dihargai agar benteng keadilan ini benar-benar mampu menjalankan peranannya sesuai dengan tuntutan rakyat. Sebaliknya, perlu tindakan yang tegas dan keras bagi mereka yang dengan sengaja melanggar hukum dan menyelewengkan hukum. Selain itu masih adanya diskriminasi. Diskriminasi adalah pembedaan perlakuan terhadap sesama warga negara, berdasarkan warna kulit, golongan, suku, etnis, agama, dan sebagainya. Diskriminasi dapat terjadi secara eksplisit ataupun secara terselubung. Aturan-aturan tertulis yang membeda-bedakan warga negara merupakan bentuk diskriminasi yang terbuka. Namun yang terbanyak adalah diskriminasi terselubung dalam bentuk pemberlakuan pelaksanaan aturan yang berbeda-beda, yang melahirkan ketidakadilan. Di bidang hukum, terjadi peningkatan apatisme masyarakat terhadap penegakan hukum yang dianggap telah meninggalkan nilai-nilai keadilan, dan diskriminatif di dalam menangani berbagai kasus. Akumulasi

23
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

kekecewaan masyarakat terhadap penegakan hukum berada pada tahap yang memprihatinkan dan dapat menjauhkan dari upaya untuk mewujudkan supremasi hukum. Dibidang politik, meskipun Undang-undang nomor 12 tahun 2003 tentang Pemilu mengamanatkan keterwakilan 30% perempuan dalam pencalonan anggota legislatif, namun hasil pemilu 2004 masih menunjukkan rendahnya keterwakilan perempuan di lembaga legislatif. Perempuan yang menjadi anggota DPRD Provinsi hanya 5 orang (6,7%) dari seluruh anggota yang berjumlah 75 orang. II. Sasaran yang ingin dicapai RPJMN dan RPJMD

Sasaran yang ingin dicapai di dalam memperbaiki dan meningkatkan penegakan hukum serta ketertiban adalah : memperkuat upaya-upaya pemberantasan korupsi, kolusi, nepotisme (KKN) , meningkatkan profesionalisme dan kualitas sistem peradilan, menyederhanakan sistem peradilan dan memastikan bahwa hukum diterapkan dengan adil, yaitu memihak pada kebenaran, menghormati dan memperkuat kearifankearifan dan hukum adat yang bersifat lokal untuk memperkaya sistem hukum dan peraturan, menghormati persamaan setiap warga negara di depan hukum. III. Arah Kebijakan

Meningkatkan penegakan hukum dan kehidupan berdemokrasi, diarahkan kepada : a. Penerapan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance) pada semua tingkat dan lini pemerintahan dan pada semua kegiatan; b. Pemberian sanksi bagi pelaku KKN sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku; c. Penegakan Peraturan Daerah yang telah ditetapkan, serta mengeluarkan peraturan daerah yang mendukung lancarnya roda pemerintahan dan pembangunan; d. Menjaga iklim politik dan keamanan yang kondusif dalam mendukung stabilitas politik nasional; e. Memelihara kehidupan berdemokrasi yang dinamis, sesuai dengan karakteristik masyarakat Banten; f. Memfasilitasi kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan perkuatan kehidupan demokrasi Sedangkan arah kebijakan yang berkaitan dengan penegakan hukum di Provinsi Banten adalah meningkatkan kapasitas lembaga pemerintahan dan koordinasi pembangunan,menyiapkan kerangka regulasi untuk mendukung pelaksanaan agenda pembangunan, adapun program-program diantaranya ; pemeliharaan Kantrantibmas dan pencegahan tindak kriminal, peningkatan sistem pengawasan internal dan pengendalian pelaksanaan kebijakan KDH, pengembangan wawasan kebangsaan, pembinaan dan pelestarian nilai-nilai kepahlawanan, keperintisan dan kejuangan (NK3), dan pendidikan politik masyarakat.

24
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

IV.

Pencapaian RPJMN di Daerah

4.1 Upaya yang telah dilakukan Upaya yang ingin dicapai melalui proses pemeliharaan dan peningkatan pertahanan keamanan, ketertiban, pemantapan sistem politik dan penegakan supremasi hukum pada tahun 2007 adalah : 1. Meningkatnya ketersediaan produk – produk hukum daerah dalam mendorong penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan 2. Meningkatnya kualitas demokrasi, ketentraman dan ketertiban umum. Dalam melaksanakan pembangunan, tidak hanya melibatkan dimensi ekonomi saja melainkan juga dimensi lain yang akan saling menunjang seperti pertahanan, keamanan, ketertiban, dan penegakan supremasi hukum. Dengan demikian dimensi-dimensi tersebut perlu mendapat perhatian dari pemerintah Provinsi Banten khususnya penegakan hukum. Berkaitan dengan itu pemerintah Provinsi Banten pada tahun 2007 telah menetapkan dua sasaran strategis yang dicapai dengan sangat baik. 4.2 Capaian Capaian meningkatnya produk hukum dalam tahun 2007 diukur dari jumlah tersedianya peraturan perundangundangan dan peraturan peraturan yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Rancangan peraturan daerah (Raperda) tahun 2007 yang dibuat dan telah diajukan pemerintah Provinsi Banten kepada DPRD adalah sebanyak 6 Raperda dan telah ditetapkan menjadi Perda sebanyak 6 buah, dengan rincian sebagai berikut : Tabel 3.1 Penyelesaian Raperda menjadi Perda No 1 2 3 Banten Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Banten Tahun 2007-2012 Penyertaan Modal Daerah ke dalam Modal Saham Perusahaan Daerah Banten Global Development, PT Bank Jabar, Bank Perkreditan Rakyat dan Lembaga Perkreditan Kecamatan di Provinsi Banten 4 5 6 Pertanggungjawaban Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2006 Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2006 Urusan Pemerintahan Daerah Provinsi Banten Perda No. 4/ tanggal 17 September 2007 Perda No. 5/ Tanggal 28 September 2007 Perda No. 6/ Tanggal 28 November 2007
Sumber : Laporan Kinerja Pemerintahan Provinsi Banten, Tahun 2007

Pengajuan Raperda Sistem Perencanaan Pembangunan daerah Provinsi

Penetapan Perda Perda No. 1/ Tanggal 4 Mei 2007 Perda No. 2/ Tanggal 23 Mei 2007 Perda No. 3/ Tanggal 27 Juli 2007

25
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Keterbukaan dalam wadah partisipasi politik rakyat yang ditandai dengan berlakunya sistim multi partai telah ditunjukkan pada Pemilu tahun 2004 yang diikuti oleh 24 partai politik, hasilnya 13 partai politik telah memperoleh kursi di DPRD Provinsi Banten periode 2004-2009 yaitu Partai Golkar memperoleh 15 kursi, PKS 11 kursi, PDIP 10 kursi, PPP dan Partai Demokrat 8 kursi, PKB dan PBR 5 kursi, PAN 4 kursi, PBB 3 kursi, PDS 2 kursi, serta PNUI, PSI dan PKPB masing-masing 1 kursi, dan secara umum berlangsung aman dan tertib. Antusias masyarakat berpolitik juga cukup baik, dimana Pemilu 2004 diikuti oleh 6.207.919 pemilih. Keterbukaan dan keterakomodasian hak-hak rakyat dalam berpolitik yang semakin membaik ini juga ditunjukkan dengan penyelenggaraan Pilkada di Kota Serang (2008), Kota Tanggerang (2008) dan Kabupaten Lebak (2008) yang secara umum juga berlangsung secara aman dan tertib. Munculnya berbagai bentuk asosiasi masyarakat sipil baik dalam bentuk organisasi kemasyarakatan, lembaga swadaya masyarakat maupun forum-forum lainnya, merupakan bentuk pencapaian dalam mewujudkan proses demokratisasi. Hingga tahun ini jumlah organisasi kemasyarakatan telah berkembang lebih dari 97 ormas, yang terdiri dari 21 lembaga profesi, 26 lembaga keagamaan dan 50 lembaga swadaya masyarakat. 4.3 Permasalahan Dalam rangka pembangunan struktur hukum, kelembagaan aparat penegak hukum juga masih menjadi suatu permasalahan yang harus dihadapi. Kinerja aparat hukum dan peradilan, meskipun sudah menunjukkan banyak kemajuan, tetapi masih perlu diadakan perbaikan. Kesadaran hukum masyarakat yang relatif rendah juga menjadi salah satu penyebab lemahnya penegakan hukum. V. Rekomendasi tindak lanjut

Perlu adanya suatu program berupa penegakan hukum yang konsisten dan tidak berpihak, terutama dari dan untuk aparat penegak hukum dan masyarakat. Sosialisasi tentang tugas, kewenangan, dan fungsi dari kelembagaan yang dibentuk dalam sistem hukum. Hal ini berguna bagi masyarakat dalam rangka proses pembelajaran dalam rangka meningkatkan kesadaran hukum. Pengembangan demokrasi dan penegakan supremasi hukum merupakan langkah yang perlu mendapat perhatian Pemerintah Provinsi Banten untuk menarik dukungan dan kepercayaan dari seluruh komponen masyarakat. Penegakan supremasi hukum diperlukan untuk mewujudkan kepastian akan berbagai masalah yang terkait dengan hukum karena merupakan prasyarat untuk menggairahkan dunia usaha dan terwujudnya rasa keadilan. Pendidikan politik masyarakat akan sangat menunjang pemantapan sistem politik.

26
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Bab Penghapusan Diskriminasi dalam Berbagai bentuk
Diskrimasi merupakan bentuk dari ketidakadilaan. Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 menyatakan secara tegastentang kesetaraan dan keadilan dalam kehidupan bermasyarakat di segala bidang. I. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah

3.3

Penghapusan diskriminasi belum memperlihatkan kemajuan yang berarti, ini tercermin dari masih tingginya penyalahgunaan wewenang dalam bentuk KKN, tidak efesiennya organisasi pemerintahan, masih rendahnya kualitas pelayanan publik , dan lemahnya fungsi lembaga pengawasan. Permasalahan lain yang ditemukan adalah penanganan kasus korupsi setengah hati dan tidak tuntas, kasus kekerasan pada anak semakin meningkat, anak dibawah umur dipekerjakan sebagai buruh, masih banyaknya anak jalanan yang tidak mengenyam pendidikan, serta masih rendahnya perhatian pemda dan dinas terkait pada generasi penerus. II. Sasaran yang ingin dicapai RPJMN dan RPJMD

Beberapa sasaran yang ingin dicapai : 1. Terlaksananya peraturan perundang-undangan yang tidak mengandung perlakuan diskriminatif, baik kepada setiap warga negara, lembaga/instansi pemerintah, maupun lembaga swasta/dunia usaha secara konsisten dan transparan. 2. Terkoordinasinya dan terharmonisasikannya pelaksanaan peraturan perundang-undangan yang tidak menonjolkan kepentingan tertentu sehingga dapat mengurangi perlakuan diskriminatif terhadap warga negara. 3. Terciptanya aparat dan sistem pelayanan publik yang adil dan dapat diterima oleh semua warga negara. III. Arah Kebijakan

Perlu kebijakan yang tegas dan upaya bersama untuk menghilangkan berbagai bentuk diskriminasi dan memberikan kesempatan yang adil bagi setiap warga negara untuk menikmati kemerdekaannya. Untuk itu perlu ditempuh langkah-langkah kebijakan sebagai berikut : 1. Memastikan setiap warganegara memiliki kedudukan yang sama di hadapan hukum. 2. Menegakkan hukum dengan adil, melalui perbaikan sistem hukum yang profesional 3. Meningkatkan kesadaran warganegara atas hak dan kewajibannya

27
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

IV.

Pencapaian RPJMN di Daerah

4.1 Upaya yang telah dilakukan - Penghapusan diskriminasi yang menyangkut kekerasan terhadap perempuan melalui UU nomor 23 tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga ( UU KDRT ). Komisi Perlindungan Anak Provinsi Banten mengupayakan pembuatan peraturan daerah tentang perlindungan anak. Langkah ini ditempuh untuk menekan tingkat kekerasan terhadap anak yang polanya semakin meningkat di Banten. 4.2 Capaian Perempuan yang bekerja pada sektor informal, mencapai 52.5%, sektor pertanian (33%) dan industri (28%). Dengan tingginya angka perempuan yang bekerja pada ketiga sektor utama tersebut berdampak pada menurunnya tingkat kemiskinan perempuan. Hal ini dapat ditunjukkan dengan menurunnya angka kemiskinan perempuan menjadi 8.44% dan angka ini masih berada dibawah angka kemiskinan laki-laki yang mencapai 8.58%. 4.3 Permasalahan Masih terjadi adanya diskriminasi. Diskriminasi adalah pembedaan perlakuan terhadap sesama warga negara, berdasarkan warna kulit, golongan, suku, etnis, agama, dan sebagainya. Diskriminasi dapat terjadi secara eksplisit ataupun secara terselubung. Aturan-aturan tertulis yang membeda-bedakan warga negara merupakan bentuk diskriminasi yang terbuka. Namun yang terbanyak adalah diskriminasi terselubung dalam bentuk pemberlakuan pelaksanaan aturan yang berbeda-beda, yang melahirkan ketidakadilan. Di bidang hukum, terjadi peningkatan apatisme masyarakat terhadap penegakan hukum yang dianggap telah meninggalkan nilai-nilai keadilan, dan diskriminatif di dalam menangani berbagai kasus. Akumulasi kekecewaan masyarakat terhadap penegakan hukum berada pada tahap yang memprihatinkan dan dapat menjauhkan dari upaya untuk mewujudkan supremasi hukum. Di bidang politik, meskipun Undang-undang nomor 12 tahun 2003 tentang Pemilu mengamanatkan keterwakilan 30% perempuan dalam pencalonan anggota legislatif, namun hasil pemilu 2004 masih menunjukkan rendahnya keterwakilan perempuan di lembaga legislatif. Perempuan yang menjadi anggota DPRD Provinsi hanya 5 orang (6,7%) dari seluruh anggota yang berjumlah 75 orang. Rendahnya akses perempuan terhadap sumberdaya ekonomi, ditandai dengan rendahnya akses perempuan dalam pemanfaatan modal, serta rendahnya akses pada lembaga perbankan dan akses informasi pasar dan teknologi.

28
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

V.

Rekomendasi tindak lanjut

Rekomendasi tindak lanjut yang dapat dilakukan diantaranya, melibatkan berbagai kalangan (LSM dan berbagai elemen masyarakat) untuk proaktif dalam pengawasan pembangunan daerah, pemerintah membuat perda tentang perlindungan anak, sanksi hukum yang jelas bagi perusahaan pelanggar yang memperkerjakan anak di bawah umur, serta keterlibatan semua dinas terkait dalam melaksanakan program nasional bagi anak Indonesia. Upaya pemberdayaan perempuan akan mencapai hasil yang optimal bila didukung oleh berbagai bidang seperti yang telah dikemukan diatas diantaranya ketenagakerjaan, sosial, kesehatan dan juga dukungan dari peningkatan anggaran pemerdayaan perempuan.

29
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Bab

3.4
Penghormatan, Pengakuan, dan Penegakan atas Hukum dan Hak Asasi Manusia
Penegakan hukum dan ketertiban merupakan syarat mutlak bagi upaya-upaya penciptaan Indonesia yang damai dan sejahtera. Apabila hukum ditegakkan dan ketertiban diwujudkan maka rasa aman, tenteram , dan kehidupan yang rukun akan dapat terwujud. I. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah

Sebagai Provinsi yang berbatasan dengan ibukota negara, Provinsi Banten yang berpenduduk sejumlah 8.656.786 jiwa dan terdiri dari berbagai latar belakang suku, ras, agama, sosial budaya, pendidikan dan ekonomi adalah merupakan daerah yang menyimpan berbagai potensi permasalahan HAM baik karena letak geografis, sosial, budaya dan ekonomi masyarakat maupun statusnya sebagai kota industri. Dalam usianya yang baru 7 (tujuh) tahun, kegiatan Provinsi Banten masih lebih terkonsentrasi pada pembenahan internal. Optimisme dalam Perlindungan HAM dapat dilihat dari semboyan pemerintah Provinsi yang mempunyai tekad untuk meningkatkan iman dan takwa masyarakat Banten antara lain dengan menetapkan hari Jum’at sebagai hari beribadah, yang secara tidak langsung akan berpengaruh pada kesadaran masyarakat di bidang hak asasi manusia. Dibandingkan dengan daerah konflik di beberapa Provinsi di Indonesia seperti Aceh, Maluku dan Poso, Provinsi Banten tidak termasuk daerah yang membutuhkan penanganan HAM secara khusus. Namun demikian apabila dicermati ada masalah-masalah HAM yang perlu mendapat perhatian antara lain sebagai berikut: (1) Kesadaran hukum. Dari berbagai kasus kejahatan, perbuatan main hakim sendiri (pembunuhan, penganiayaan, pengeroyokan, pembakaran) yang disebabkan oleh hal-hal yan belum jelas (masalah sepele) masih menempati peringkat tinggi diantara kejahatan-kejahatan lainnya. Hal ini perlu menjadi perhatian dengan meningkatkan pemahaman HAM bagi masyarakat; (2) Perempuan. Masih kuatnya budaya kawin muda bagi perempuan khususnya di daerah perdesaan, dengan pertimbangan lebih merasa terhormat apabila mempunyai seorang anak perempuan yang sudah dewasa secepatnya bersuami meskipun kemudian menjanda daripada menjadi gadis yang lambat menikah. (3) Ketenagakerjaan. Banyaknya peluang kerja di bidang industri, pemerintahan dan sektor lain kurang dapat menampung penduduk setempat karena tidak memenuhi syarat yang dibutuhkan sehingga banyak terisi oleh orang-orang dari daerah lain, kondisi ini menimbulkan kesan bahwa putra daerah dikesampingkan dan tidak diperhatikan sehingga terpinggirkan. Hal ini berpeluang tinggi untuk memicu konflik; (4) Anak jalanan. Sejak terbentuknya Provinsi Banten, keberadaan

30
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

anak jalanan kian meningkat dengan kegiatan minta-minta, mengamen, menyemir sepatu, menjual asongan, dll. Hal ini perlu mendapat penanganan cepat agar masyarakat pinggiran yang kebanyakan kondisi ekonominya dibawah garis kemiskinan tidak membiarkan anak-anaknya ikut melakukan kegiatan tersebut, yaitu dengan memprogramkan penanganan masalah anak jalanan sesuai dengan program Perlindungan HAM anak; (5) Tingkat Ekonomi. Kemampuan ekonomi penduduk khususnya di daerah perdesaan sangat memprihatinkan. Hal ini dapat dilihat dengan masih banyaknya anak-anak usia sekolah yang tidak mampu melanjutkan pendidikannya dan harus bekerja membantu orang tuanya mencari nafkah. Sebagai Provinsi yang relatif masih baru, Banten masih mengalami banyak ketertinggalan dalam berbagai bidang kehidupan seperti pendidikan, infrastruktur dan perekonomian masyarakatnya. Ditinjau dari kondisi sosial, budaya, ekonomi dan pendidikan masyarakat Provinsi Banten masih sangat membutuhkan perhatian di bidang hak asasi manusia. Program-program hak asasi manusia seyogyanya dibuat secara simultan dan dapat dinikmati manfaatnya secara langsung oleh masyarakat yang dituju.Perlu dilakukan penyebaran materi HAM melalui bacaan, alatalat souvenir, slogan, kalender yang memuat misi HAM kepada tokoh-tokoh masyarakat, instansi pemerintah, lembaga pendidikan dan lainnya. Secara umum tampak bahwa dari empat indikator tentang pemenuhan hak-hak politik dan HAM yang ada yakni transparansi kebijakan, memenuhi hak untuk tahu, mendengarkan suara publik, dan keterlibatan pemangku kepentingan lain dalam pengambilan kebijakan publik, pemerintah Provinsi Banten belum mampu memenuhi hak-hak politik dan HAM pemangku kepentingan lainnya tersebut. Tampaknya pemerintah lebih memandang penting untuk berjalan sendirian dalam melaksanakan tugas pemerintahan dibandingkan dengan melibatkan elemen masyarakat dan pemangku kepentingan lain. Pada situasi ini, dengan mencermati apa yang terjadi dalam praktik tata-pemerintahan yang ada, maka terdapat dua hal yang menyebabkan kecenderungan ini. Pertama, adanya kesenjangan pemahaman tentang peran yang harus dimainkan pemerintah dalam pelaksanaan tata-pemerintahan, khususnya perubahan dari paradigma lama bahwa pemerintah adalah aktor utama dalam tata-pemerintahan dengan paradigma baru yang menempatkan pemerintah hanya sebagai bagian dari sistem besar bersama unsur lain yakni para pelaku pasar dan masyarakat sipil. Kesenjangan ini tidak hanya dirasakan oleh pemangku kepentingan yang berasal dari luar sistim tetapi juga mereka yang seharusnya terlibat secara intens dalam pengambilan keputusan. Seorang anggota DPRD mengungkapkan betapa sebagai anggota dewan dia sering tidak mengetahui proses munculnya suatu kebijakan. Data BCW (BANTEN CORRUPTION WATCH) 2006 mengatakan Pertama, bahwa anggota DPRD mengeluh karena pemerintah daerah masih kurang transparan dalam pengambilan kebijakan. Kebijakan yang diambil pemerintah Provinsi dalam pandangannya sering tidak melibatkan legislatif.

31
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Kedua, belum mantapnya tata-kerja dan tata kelola pemerintahan di Provinsi ini. Mungkin sementara pihak berkilah bahwa kondisi ini merupakan implikasi lain dari masih belum mantapnya kelembagaan. Namun demikian, dalam banyak hal kondisi ini tidak lebih dari akibat kurangnya koordinasi antara eksekutif dan legislatif.

Di samping itu regulasi dalam bentuk perda, yang bagi sebagian kalangan dilihat memiliki prospek untuk memperbaiki kinerja tata-pemerintahan, ternyata apabila tidak diikuti dengan implementasi yang baik maka aturan yang ada tinggal merupakan dokumen negara yang tidak memiliki kekuatan apapun. Tidak efektifnya pelaksanaan perda yang berkaitan dengan investasi akan menyulitkan Provinsi ini pada situasi yang cukup rumit. Dalam praktek kehidupan perekonomian di Provinsi Banten selama ini, telah terjadi pencampuradukan antara kepentingan sosial, ekonomi dan politik beberapa kelompok masyarakat. Demikian pula sebaliknya, dalam kehidupan politik pun telah masuk kepentingan-kepentingan sosial-ekonomi di dalamnya. Hal ini tercermin dari penilaian BCW (Banten Corruption Watch) 2006. Data Penelitian BCW (Banten Corruption Watch) 2006 menunjukkan tiga hal kendala yang dihadapi oleh Provinsi Banten yakni birokrasi yang masih perlu direformasi, gangguan preman , dan pelaksanaan regulasi yang masih lemah. Faktor lain yang tidak kalah pentingnya adalah kepastian hukum , DPRD kurang responsif terhadap kepentingan pengusaha , dan buruh yang sering mogok.

Perlu dikemukakan pula, bahwa Kompas tanggal 9 September 2006 pernah memuat bahwa kendala yang dihadapi oleh Provinsi Banten juga masalah dominasi Jawara dalam berbagai sendi kehidupan masyarakat, terutama bisnis dan pemerintahan. II. 1. 2. 3. 4. 5. III. Sasaran yang ingin dicapai Rencana aksi Hak Asasi Manusia Rencana aksi nasional pemberantasan korupsi Rencana aksi nasional penghapusan eksploitasi seksual komersial anak Rencana aksi nasional penghapusan bentuk-bentuk pekerjaan buruk untuk anak Program Nasional bagi anak Indonesia 2015 Arah Kebijakan

Upaya penghormatan, pengakuan dan penegakan atas hukum dan HAM diarahkan pada kebijakan untuk meningkatkan pemahaman, menciptakan penegakan dan kepastian hukum yang konsisten terhadap HAM serta perlakuan yang adil dan diskriminatif.

32
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Arah kebijakan di Provinsi Banten adalah meningkatkan penegakan hukum dan kehidupan berdemokrasi, lebih jelas dijabarkan dalam indikator di bawah ini : a. Penerapan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance) pada semua tingkat dan lini pemerintahan dan pada semua kegiatan; b. Pemberian sanksi bagi pelaku KKN sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku; c. Penegakan peraturan daerah yang telah ditetapkan, serta mengeluarkan peraturan daerah yang mendukung lancarnya roda pemerintahan dan pembangunan; d. Menjaga iklim politik dan keamanan yang kondusif dalam mendukung stabilitas politik nasional; e. Memelihara kehidupan berdemokrasi yang dinamis, sesuai dengan karakteristik masyarakat Banten; f. Memfasilitasi kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan perkuatan kehidupan demokrasi IV. Pencapaian RPJMN di Daerah

4.1 Upaya yang telah dilakukan Boleh dikatakan Provinsi Banten merupakan wilayah yang tidak pernah mengalami gejolak yang berarti dari sisi pertahanan dan keamanan negara. Wilayah ini cukup disibukkan dengan pembangunan yang merebak di sana-sini, yang dari aspek ekonomi dipandang menguntungkan karena mampu menyerap banyak tenaga kerja dan meningkatkan taraf hidup masyarakat Banten. Hal ini sangat penting, karena dengan meningkatnya taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat Banten, maka akan dapat mengurangi jumlah pengangguran, dengan berkurangnya jumlah pengangguran akan berdampak pada berkurangnya tindak kriminalitas, sehingga situasi hukum, pertahanan dan keamanan tidak mengalami masalah yang serius 4.2 Capaian Data Penelitian BCW (Banten Corruption Watch) 2006 menunjukkan tiga besar penyebab kegagalan usaha di Provinsi Banten yakni birokrasi yang korup (88 persen), gangguan preman (75,56 persen) dan kepastian regulasi yang rendah (68,89 persen). Walaupun tampak tiga besar tersebut merupakan faktor utama dalam sebuah kegiatan usaha, namun faktor lain tidak kalah pentingnya. Aspek kepastian hukum atas tanah (37,78 persen), DPRD kurang responsif terhadap kepentingan pengusaha (35.56 persen), buruh sering mogok (41.33 persen), dan faktor lainnya cukup berpengaruh pula.

4.3 Permasalahan Belum membaiknya kondisi kehidupan ekonomi bangsa sebagai dampak krisis ekonomi. Hal ini menyebabkan sebagian besar rakyat tidak dapat menikmati hak-hak dasarnya, baik itu hak ekonomi, pendidikan, hak atas pekerjaan yang layak, hak atas upah yang sesuai, dan masih tingginya angka kemiskinan.

33
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Masih lemahnya kinerja lembaga peradilan dan sanksi hukum yang belum jelas dan tegas, dicerminkan masih rendahnya penyelesaian kasus-kasus hukum yang terjadi. Sebagai Provinsi yang baru, Banten masih mengalami banyak ketertinggalan dalam berbagai bidang kehidupan seperti pendidikan, infrastruktur dan perekonomian masyarakatnya. Ditinjau dari kondisi sosial, budaya, ekonomi dan pendidikan masyarakat Provinsi Banten masih sangat membutuhkan perhatian di bidang hak asasi manusia. V. Rekomendasi tindak lanjut

Belum membaiknya kondisi kehidupan ekonomi bangsa sebagai dampak krisis ekonomi. Hal ini menyebabkan sebagian besar rakyat tidak dapat menikmati hak-hak dasarnya, baik itu hak ekonomi, pendidikan, hak atas pekerjaan yang layak, hak atas upah yang sesuai, dan masih tingginya angka kemiskinan. Masih lemahnya kinerja lembaga peradilan dan sanksi hukum yang belum jelas dan tegas, dicerminkan masih rendahnya penyelesaian kasus-kasus hukum yang terjadi. Sebagai Provinsi yang relatif masih baru, Banten masih mengalami banyak ketertinggalan dalam berbagai bidang kehidupan seperti pendidikan, infrastruktur dan perekonomian masyarakatnya. Ditinjau dari kondisi sosial, budaya, ekonomi dan pendidikan masyarakat Provinsi Banten masih sangat membutuhkan perhatian di bidang hak asasi manusia. Program-program hak asasi manusia seyogyanya dibuat secara simultan dan dapat dinikmati manfaatnya secara langsung oleh masyarakat yang dituju. Perlu dilakukan penyebaran materi HAM melalui bacaan, alatalat souvenir, slogan, kalender yang memuat misi HAM kepada tokoh-tokoh masyarakat, instansi pemerintah, lembaga pendidikan dan lainnya.

34
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

BAB Peningkatan Kualitas Kehidupan dan Peran Perempuan serta Kesejahteraan dan Perlindungan Anak
I. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah Rendahnya tingkat pendidikan, kesehatan, ekonomi, terbatasnya akses serta stigma yang ada dalam masyarakat mengakibatkan ketertinggalan perempuan dalam hampir semua aspek pembangunan. Rendahnya kualitas hidup perempuan sangat mempengaruhi angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang relatif rendah, ditinjau dari angka harapan hidup, angka melek huruf dan produk domestik kotor riil perkapita pada kaum perempuan. Kemiskinan menjadi salah satu penyebab rendahnya kualitas hidup perempuan yang dilihat dari indikator jumlah keluarga miskin yang cukup besar. Secara ekonomi perempuan memiliki potensi, tapi karena kualitas hidup perempuan yang rendah menjadi beban pembangunan. Dalam dunia pendidikan telihat pada tingkat Sekolah Dasar jumlah perempuan hampir sama dengan jumlah laki-laki. Namun semakin memasuki Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas jumlah perempuan yang mengenyam pendidikan semakin rendah, begitu juga angka kematian ibu dan bayi masih tinggi .Hal ini disebabkan antara lain tidak terpenuhinya rasio antara tenaga kesehatan dengan jumlah masyarakat, tingkat kesadaran masyarakat yang kurang peduli terhadap pemeriksaan kehamilan, kemiskinan yang menyebabkan tidak mampu memenuhi gizi, dan kurangnya kesadaran masyarakat untuk hidup bersih dan sehat. Di sisi lain banyak perempuan dan anak yang mengalami tindak kekerasan yang biasanya datang dari keluarga terdekat serta banyaknya masalah perempuan dan anak yang tidak terselesaikan. Hal ini disebabkan laki-laki masih merasa lebih dominan dan berkuasa dibanding dengan perempuan, ketidakberdayaan perempuan itu sendiri, kurangnya pemahaman dan pengetahuan tentang hak-hak yang melindungi perempuan dan anak, malu bercerita mengadukan kepada orang lain tentang penderitaan yang mereka alami, serta kurangnya sosialisasi yang dilakukan pemerintah tentang sanksi yang diberikan kepada pelaku yang melakukan tindak kekerasan kepada perempuan dan anak. Banyaknya wanita penyandang masalah kesejahteraan sosial tahun 2005 berjumlah 77. 646 jiwa yang terdiri dari wanita rawan sosial ekonomi, wanita korban tindak kekerasan untuk anak dan balita penyandang masalah kesejahteraan sosial tahun 2005 jumlahnya mencapai 101. 204 jiwa, belum lagi di setiap persimpangan jalan dan lampu merah kita sering melihat perempuan dan anak kecil di bawah umur sebagai pengemis baik siang maupun malam tanpa memikirkan bahaya dan resiko yang mungkin mereka terima dari pekerjaan tersebut. Perempuan penyandang masalah kesejahteraan sosial terdiri dari rawan sosial ekonomi (usia 18 - 59 tahun) sebanyak 74.152 jiwa (95,96%), korban tindak kekerasan (usia 22-59 tahun) berjumlah 3.134 jiwa (4,04%). Pada tahun 2005 juga perempuan masih dominan bekerja pada sektor informal, dengan angka mencapai

3.5

35
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

52.5%. Serta kecenderungan tingginya angka pekerja perempuan pada sektor pertanian (33%) dan industri (28%). Dengan tingginya angka perempuan yang bekerja pada ketiga sektor utama tersebut, diharapkan berdampak pada menurunnya tingkat kemiskinan perempuan. Jumlah penyerapan tenaga kerja menurut jenis kelamin pada tahun 2005 adalah 88,40% untuk laki-laki dan 80,30% untuk perempuan, sedangkan tingkat pengangguran terbuka pada tahun 2005 menurut jenis kelamin adalah 11,60% untuk laki-laki dan 19,70% untuk perempuan. Apabila dirinci menurut kabupaten atau kota, perbandingan dalam penyerapan tenaga kerja antara laki-laki 90,10% untuk laki-laki dan 76,30% untuk perempuan. Sedangkan untuk penyerapan tenaga kerja dengan selisih terkecil adalah Kabupaten Pandeglang yaitu 86,30% untuk laki-laki dan 81,10% untuk perempuan. Secara keseluruhan jumlah pengangguran perempuan lebih tinggi (52%) dibandingkan dengan pengangguran laki-laki sebanyak 48% penduduk. Penduduk setengah pengangguran pada tahun 2005 mencapai 805.270 jiwa. . Penduduk setengah terpaksa bekerja dirinci berdasarkan jenis kelamin terdiri dari 255.900 jiwa (63,32%) untuk laki-laki dan 148.237 jiwa (36,68%) untuk perempuan. Sedangkan penduduk setengah pengangguran sukarela berdasarkan jenis kelamin dapat dibedakan antara 159.043 jiwa (39,65%) untuk lakilaki dan 242.090 jiwa (60,35%) untuk perempuan. Masih dominannya perempuan bekerja pada sektor informal pada tahun 2005 mencapai 52,5%, serta kecenderungan tingginya angka pekerja perempuan pada sektor pertanian (33%) dan industri (28%). Dengan tingginya angka perempuan yang bekerja pada ketiga sektor utama tersebut berdampak pada menurunnya tingkat kemiskinan perempuan menjadi 8,44% dan angka ini masih berada di bawah angka kemiskinan lakilaki yang mencapai 8,58%. II. Sasaran yang ingin dicapai RPJMN dan RPJMD Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2005 tentang Pengarusutamaan Gender dalam

Pemerintah Provinsi Banten dalam upayanya meningkatkan keadilan dan kesetaraan gender telah menerbitkan Pembangunan Daerah.Di samping itu Program Pemberdayaan Perempuan dan Pengarusutamaan Gender telah dimasukkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Banten Tahun 2007-2012. Dalam rangka menunjang keterpaduan dan keberlangsungan program pembangunan berbasis gender, berdasarkan amanat Perda Nomor 10 tahun 2005, anggaran untuk pelaksanaan program pemberdayaan perempuan dan pengarusutamaan gender disediakan sebesar 5% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) . Realisasi anggaran tersebut setiap tahun diharapkan mengalami kenaikan, dengan asumsi agar program-program yang berspektif gender dapat dilaksanakan lebih terencana dan terfokus sehingga memperoleh hasil yang lebih optimal.

36
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Tabel 3.2 Program dan Kegiatan yang Responsif Gender tahun 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 SKPD Dinas Sosial Dinas Kelautan dan Perikanan BPPMD Dinas Kesehatan Biro Kesra Dinas SDA dan Pemukiman Dinas Pendidikan Badan Kesbangpol Jumlah JUMLAH PROGRAM 1 1 7 8 1 1 1 1 21 JUMLAH KEGIATAN 3 1 12 10 1 1 1 1 30

Penelitian dilakukan oleh LPPM Untirta dengan judul “ Studi Tentang Anggaran Responsif Gender di Provinsi Banten”, yang bertujuan untuk mengetahui proses penyusunan kebijakan anggaran yang responsif gender dan faktor-faktor yang menjadi pertimbangan. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan deskriptif eksplanatoris didapat kesimpulan sebagai berikut : 1. Proses penyusunan kebijakan anggaran yang responsif gender di Provinsi Banten telah menggunakan Gender Analysis Pathway (GAP) yang terdiri dari tiga tahap yaitu : Melakukan analisis kebijakan yang responsif gender. Formulasi kebijakan yang responsif gender. dan Rencana kebijakan yang responsif gender.

2. Faktor-faktor yang menjadi pertimbangan dalam penyusunan anggaran yang responsif gender dalam APBD Provinsi Banten adalah : Komitmen politik (Political Will) dan kepemimpinan dari lembaga-lembaga eksekutif. Adanya kerangka kebijakan ( Policy Framework). Struktur kelembagaan, mekanisme dan proses yang mendukung pengarusutamaan gender (PUG). Adanya aparat yang peka gender, memiliki komitmen dan keahlian teknis. Adanya sumberdaya atau anggaran yang memadai. Adanya sistem informasi, data yang terpilah menurut jenis kelamin dan indikator mengenai gender. III. Arah kebijakan

Agar pemberdayaan perempuan mencapai hasil optimal, kebijakan yang dibuat Pemda didukung dengan Perda, Instruksi Gubernur serta adanya komitmen bersama untuk menerapkan PUG dalam pembangunan,

37
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

penguatan kelembagaan strategis yang didukung oleh sumberdaya manusia yang profesional serta berkoordinasi dengan pihak / instansi terkait seperti : Ketenagakerjaan, Sosial, Kesehatan, Kepolisian dan juga diusahakan peningkatan anggaran pemberdayaan perempuan dengan program yang terencana dan skala prioritas. Dalam rangka memberikan arah bagi penyusunan program dan indikator keberhasilan pemberdayaan perempuan maka dirumuskan sejumlah kebijakan pengembangan kelompok-kelompok masyarakat yang sadar gender dan peduli rerhadap hak-hak anak, peningkatan kondisi dan posisi perempuan di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, pekerjaan dan pengambilan keputusan, penyelenggaraan perlindungan hak-hak anak dan kesempatan partisipasi anak, penegakan supremasi hukum untuk perlindungan hak-hak perempuan dan anak, penumbuhan dan pembinaan terhadap lembaga atau organisasi sosial peduli perempuan dan anak serta pengembangan dan peningkatan kerjasama nasional, regional dan internasional di bidang kesetaraan gender, perlindungan dan anak serta penerapan akuntabilitas terhadap pelaksanaan kegiatan yang berbasis PUG. Sehubungan dengan perlindungan anak , pemerintah berkewajiban memberikan perlindungan sesuai dengan dasar hukum yaitu : 1. Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945: Pasal 27 B Ayat (2) “Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi ”. 2. Undang-Undang No. 39 tahun 1999 tentang HAM : Pasal 52 ayat (1) “ Setiap Anak berhak atas perlindungan oleh orang tua, keluarga, masyarakat dan negara”; 3. Undang-Undang No. 20 Tahun 1999 tentang Ratifikasi ILO No. 138 mengenai Usia Minimum Dibolehkannya Bekerja 4. Undang-Undang No. 1 Tahun 2000 tentang Ratifikasi ILO No. 182 mengenai Pelarangan dan Tindakan Segera Penghapusan Bentuk-Bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak; IV. 4.1 Pencapaian RPJMN di Daerah Upaya yang telah dilakukan

Dalam upaya meningkatkan peranan perempuan dan menyelamatkan anak dari berbagai kondisi yang tidak menguntungkan dari segi perundang-undangan sesungguhnya telah cukup memadai. Pemerintah Daerah telah menerbitkan Perda Nomor 10 Tahun 2005 tentang Pengarusutamaan gender dalam pembangunan daerah, Undang-undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, serta meratifikasi Konvensi Hakhak Anak Internasional. Tetapi payung hukum itu rupanya belum cukup efektif membebaskan anak-anak dari berbagai masalah fundamental. Oleh karenanya, sejumlah langkah konkret harus segera dilakukan yaitu :

38
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Pertama, pencerahan terhadap masyarakat akan pentingnya perlindungan anak melalui sosialisasi berkelanjutan tentang ketentuan perundang-undangan yang berlaku, utamanya pengetahuan tentang hak-hak anak yang harus diperoleh. Kedua, mendorong aparat hukum untuk melakukan langkah aktif intensif bahkan ofensif dalam pembasmian segala bentuk eksploitasi dan kejahatan terhadap anak-anak. Hukuman yang berat harus dijatuhkan kepada mereka yang mengeksploitasi dan merusak masa depan anak utamanya menyangkut pelibatan anak dalam perdagangan narkoba, trafficking, pelacuran anak, serta tindakan sejenisnya. Ketiga, menciptakan model pendidikan alternatif bagi anak-anak bermasalah, serta penyadaran hak-hak anak melalui kurikulum integrated dalam proses belajar mengajar pada lembaga-lembaga pendidikan. Keempat, menjadikan perlindungan anak sebagai sebuah gerakan, yang melibatkan seluruh unsur dan potensi masyarakat baik lembaga pemerintah, swasta, lembaga swadaya masyarakat, tokoh agama, dunia usaha, media masa, dan jaringan internasional Belum maksimalnya perlindungan terhadap anak terlihat dari tabel berikut : Tabel 3.3 Jumlah Anak Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Tahun 2007 No 1 2 3 4 5 6 Jenis PMKS Balita Terlantar Anak Terlantar Anak KTK Anak Cacat Anak Nakal Anak Jalanan PDGL 4.362 14.592 1.572 311 1.294 294 Lebak 5.748 17.753 1.828 3.015 1.189 214 TGR 6.036 12.136 2.030 3.597 1.609 878 Serang 6.109 10.444 1.706 4.571 1.532 417 Kota TGR 1.886 2.704 443 1.025 1.373 556 Kota CLG 533 1.151 179 661 530 60 24.674 58.780 7.758 13.180 7.527 2.419 Jumlah

Dari data di atas terlihat jumlah anak penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) antara lain balita terlantar, anak terlantar, anak korban tindak kekerasan, anak cacat, anak nakal dan anak jalanan di kabupaten dan kota yang ada di Provinsi Banten masih tinggi. Walaupun upaya-upaya telah dilakukan namun penanganan terhadap masalah anak belum maksimal ini terlihat dari sektor lain misalnya sektor pendidikan; (a). Angka Partisipasi Sekolah, tahun 2007 untuk anak usia 13-15 tahun sebesar 83,4 % sedangkan untuk anak usia 16-18 tahun sebesar 53,4 %; (b). Angka Mengulang Kelas, data tahun 2006/2007 menunjukkan persentase sebesar 2,5 % untuk anak usia SD dan 0,4

39
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

% untuk SMP/MTs; (c). Angka Putus Sekolah tahun 2006/2007 menunjukkan sebesar 0,84 % untuk SD/MI dan 1,15 % untuk SMP/MTs; (d). Angka Melanjutkan Sekolah, tahun 2006/2007 mencatat hanya 72,5 % anak yang melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP/MTs Dalam meningkatkan kualitas perempuan dibangun komitmen antar pemangku kebijakan akan pentingnya strategi PUG dalam pembangunan daerah dan memperkuat kelembagaan pemberdayaan perempuan untuk mampu menjalankan fungsi fasilitas, advokasi, koordinasi, dan money implementasi strategi PUG. 4.2 Capaian

Pembangunan yang terkait dengan gender di Provinsi Banten semakin membaik yang diindikasikan dengan IPG ( Indeks Pembangunan Gender) yang meningkat dari tahun ke tahun yaitu 58,1% (tahun 2005) dan 59,0 pada tahun 2006, juga dari komposisi angka harapan hidup perempuan 66,6; angka melek huruf perempuan 94,4; rata-rata lama sekolah perempuan 7,6 dan angkatan kerja perempuan 32,60. Untuk perempuan pekerja profesional tahun 2005 sebesar 31,1 meningkat menjadi 34,27 pada tahun 2006. Perempuan dalam angkatan kerja tahun 2005 sebesar 31,5 dan meningkat di tahun 2006 menjadi 32,6. Perempuan upah pekerja non pertanian tahun 2005 sebesar 819,8 dan di tahun 2006 menjadi 892,8. Untuk angka kematian bayi (AKB) tahun 2006 sebesar 50,6 dan angka kematian ibu (AKI) 310 pada tahun 2006. Untuk GEM ( Gender Empowerment Measurement) tahun 2005 sama dengan tahun 2006 yaitu 5,3. Tabel 3.4 GEM , IPG dan IPM Provinsi Banten 2005 dan 2006 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Indikator Gender Empowerment Measurement (GEM) Indeks Pembangunan Gender (IPG) Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Angka Harapan Hidup Angka Melek Huruf Rata-rata Lama Sekolah Daya Beli Masyarakat Perempuan di Parlemen Pekerja Profesional Perempuan dalam angkatan kerja Upah Pekerja Non Pertanian Angka Kematian Bayi Angka Kematian Ibu Sumber : BPPMD Provinsi Banten 2005 5,3 58,1 68,8 64,0 95,6 8,0 619,2 5,3 26,3 31,5 819,8 2006 5,3 59 69,1 64,3 95,6 8,1 620 5,3 27,61 32,6 892,5 50,6 310

40
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Meningkatnya Indeks Pembangunan Gender dan Gender Empowerment Measurement (IPG dan GEM) tersebut menunjukkan makin membaiknya kinerja pemerintah untuk meningkatkan komponen dasar IPG serta kesejahteraan umum. Namun demikian perempuan masih memiliki ketertinggalan di berbagai bidang pembangunan seperti terlihat dari tabel di bawah ini : Tabel 3.5 Indeks Pembangunan Gender (IPG) Provinsi Banten Tahun 2006 Provinsi/ Kab/Kota Angka Harapan Hidup L Kab. Pandeglang Kab. Lebak Kab. Tangerang Kab. Serang Kota Tangerang Kota Cilegon Banten Indonesia 61,0 61,2 63,2 60,0 66,3 66,4 62,8 66,50 P 64,7 64,9 67,1 63,7 70,2 70,4 66,6 20,5 Angka Melek Huruf L 97,2 96,6 97,3 97,8 98,6 99,5 97,8 94,6 P 93,8 92,6 93,2 91,0 97,0 98,0 94,4 88,4 Rata-rata Lama Sekolah L 6,9 6,7 9,3 7,7 10,7 10,2 8,6 7,9 P 6,1 5,6 8,2 6,3 9,8 9,3 7,6 6,9 Angkatan Kerja L 66,88 64,74 66,52 69,38 69,20 70,17 67,40 63,61 P 33,12 35,26 33,48 30,62 30,80 29,83 32,60 36,39 57,2 57,3 58,9 53,8 63,8 55,5 59,0 65,3 327 326 275 401 145 363 28 IPG Peringkat

Sumber ; BPPMD Prov. Banten Tabel 3.6 Pencapaian Indikator Kinerja Pembangunan dan Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten/ Kota di Provinsi Banten
74 72 70 68 66 64 62 60 58 56 54 Pandeglang 1999 2002 2006 61.2 63.2 66.9 Lebak 61.0 61.6 66.7 Tangerang 63.5 68.4 70.0 Serang 60.8 63.7 66.8 76 74

72 Indeks Pembangunan Manusia 70 68 66 64 Kota Kota Cilegon Tangerang 68.3 72.2 74.1 67.9 70.7 74.1 62 Banten 62.8 66.6 69.1

PENCAPAIAN INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN

PERKEMBANGAN IPM KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI BANTEN TAHUN 2005-2006 2005Daya Beli Masyarakat (Rp. 000) 2005 2006 618,3 616,6 619,5 617,9 633,8 629,9 619,2 619.9 619,2 620,1 621,2 618,9 635,9 631,6 620,0 Peringkat IPM di Tingkat Nasional 2005 2006 309 326 177 338 51 54 20 344 355 196 346 58 59 21

Kabupaten/Kota

Angka Harapan Rata-rata lama Hidup sekolah 2005 2006 62,8 63,0 65,1 61,8 68,2 68,4 64,3 68,5 2005 6,4 6,2 8,9 6,6 9,8 9,5 8,0 7,3 2006 6,4 6,2 8,9 7,0 9,8 9,6 8,1 7,4

Angka Melek Huruf 2005 95,5 94,1 94,7 94,6 97,2 98,7 95,6 90,9 2006 95,5 94,1 94,7 95,5 97,2 98,7 95,6 91,5

IPM 2005 66,8 66,3 69,8 66,0 73,9 73,7 68,8 69,6 2006 66,9 66,7 70,0 66,8 74,1 74,1 69,1 70,1

Kab. Pandeglang Kab. Lebak Kab. Tangerang Kab. Serang Kota Tangerang Kota Cilegon Banten Nasional

62,7 62,6 64,9 61,4 68,0 68,2 64,0 68,1

41

11 Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Gambar 3.1 Indeks Pembangunan Gender (IPG) Provinsi Banten Tahun 2004-2006

Gambar 3.1 Indeks Pembangunan Gender (IPG) Provinsi Banten Tahun 2004-2006 Gambar 3.2 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Banten Tahun 2004-2006

Gambar 3.2 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Banten Tahun 2004-2006 Kedua gambar di atas menunjukkan bahwa pembangunan daerah Banten telah menaikkan tingkat kesejahteraan masyakat termasuk perempuan. Terbukti dari tahun 2004 sampai tahun 2006, nilai IPM dan

42
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

IPG naik cukup berarti. Indeks Penbangunan Gender (IPG ) tahun 2004 56,5 ; naik tahun 2005 sebesar 58 dan di tahun 2006 menjadi 59. Untuk Indeks Pembangunan Manusia tahun 2004 sebesar 67,8, tahun 2005 68,8 dan tahun 2006 menjadi 69.

Gambar 3.3 Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Indeks Pembangunan Gender (IPG) Provinsi Banten Tahun 2004-2006

Gambar

di atas

menunjukkan bahwa pembangunan Provinsi Banten masih meninggalkan

kesenjangan antara kelompok laki-laki dan perempuan. Hal ini terlihat dari rendahnya nilai IPG dari nilai IPM. Sementara itu perkembangan tenaga kerja laki- laki dan perempuan diperlihatkan dalam gambar di bawah ini :

32.6 l p 67.4

Gambar 3.4 Persentase Angkatan Kerja Menurut Jenis Kelamin Provinsi Banten Tahun 2006

43
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Dari gambar di atas terlihat angkatan kerja laki-laki 67,4 % lebih besar dibandingkan dengan angkatan kerja perempuan yang hanya 32,6 %. Penelitian dilakukan oleh LPPM Untirta dengan judul “Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Diskriminasi terhadap Tenaga Kerja Perempuan di Kabupaten Serang “ dengan hasil bahwa saat ini angka partisipasi kerja perempuan baru mencapai 51%, artinya di antara 100 perempuan hanya ada 51 orang yang bekerja. Diskriminasi disebabkan karena minimnya akses perempuan pada pendidikan dan pemikiran yang masih terpusat pada laki-laki. Pekerja perempuan menerima upah sebesar 20% lebih rendah dibandingkan dengan upah pekerja laki-laki. Tenaga kerja perempuan juga hanya menempati 42% dari tenaga profesional dan teknis, selebihnya bekerja sebagai tenaga operasional yang berada pada lini terendah. Penelitian ini menekankan pada ketimpangan atau diskriminasi pada tenaga kerja perempuan khususnya di Kabupaten Serang dengan data 630.620 orang tenaga kerja perempuan. Dari hasil penelitian diambil sejumlah simpulan sbb: 1. Terdapat 242.919 (38,5%) orang perempuan yang bekerja atau terserap dalam lapangan kerja. Dengan demikian maka tingkat partisipasi perempuan dalam lapangan pekerjaan relatif masih rendah, yaitu hanya sebesar 38,5%, jauh lebih rendah bila dibandingkan tingkat nasional sebesar 51%. 2. Jumlah pencari kerja perempuan yang hanya 48,23% (111.204 orang) lebih sedikit dibandingkan pencari kerja laki-laki yang mencapai 51,77% (119.344 orang). Informasi ini menggambarkan relatif rendahnya partisipasi angkatan kerja perempuan dalam pekerjaan. 3. Tenaga kerja perempuan umumnya berpusat pada industri pengolahan yang padat karya dan tidak membutuhkan keahlian khusus dan atau pendidikan tinggi tertentu. Jenis-Jenis pekerjaan tertentu yang dianggap sesuai dengan stereotipe perempuan masih didominasi oleh perempuan. 4. Adanya praktek dan kebijakan yang berbeda-beda dalam menerapkan peraturan perundangundangan ketenagakerjaan. 5. Rendahnya keterlibatan perempuan dalam berbagai lapangan pekerjaan umumnya karena keterbatasan daya akomodasi kultural serta daya dukung struktural. Dalam hal ini peneliti memberikan saran : 1. Perlunya dilakukan secara terus menerus upaya peningkatan kualitas SDM perempuan secara simultan dengan peningkatan kesadaran hukum atas hak-hak pekerja perempuan. 2. Pengarusutamaan gender perlu terus dikampanyekan dalam setiap isu ketenagakerjaan. 3. Perlunya mengadopsi konsepsi tentang gender dalam proses pendidikan formal.

44
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Di bidang pendidikan, perempuan pun lebih banyak yang tidak memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki. Semakin tinggi jenjang pendidikan maka angka partisipasi sekolah perempuan semakin kecil seperti terlihat dari gambar berikut:

94.00

95.99

l

p

Gambar 3.5 Angka Partisipasi Sekolah Penduduk Usia 7-12 Tahun, Menurut Jenis Kelamin Provinsi Banten 2005

80.15

77.85

l

p

Gambar 3.6 Angka Partisipasi Sekolah Penduduk Usia 13-15 Tahun, Menurut Jenis Kelamin Provinsi Banten 2005

45
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

51.51

44.56

l

p

Gambar 3.7 Angka Partisipasi Sekolah Penduduk Usia 16-18 Tahun, Menurut Jenis Kelamin Provinsi Banten 2005

12.87

9.19

l

p

Gambar 3.8 Angka Partisipasi Sekolah Penduduk Usia 19-24 Tahun, Menurut Jenis Kelamin Provinsi Banten 2005 Dari keempat gambar di atas menunjukkan bahwa di bidang pendidikan dan ekonomi kelompok perempuan jelas memperlihatkan data ketertinggalan.

46
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Upaya pencapaian pembangunan 2007-2012 adalah keinginan dalam mendukung dan berpartisipasi terhadap pencapaian “Millenium Development Goals (MDG’s)” antara lain : menghapuskan kemiskinan dan kelaparan, menyediakan pelayanan pendidikan dasar untuk semua, kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, menurunkan angka kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya, memastikan keberlanjutan lingkungan hidup, serta membangun kemitraan global dalam pembangunan. Dari hasil penelitian yang dilakukan di Kota Tangerang dengan judul ”Tingkat partisipasi perempuan terhadap pelaksanaan Peraturan Daerah Nomor 8/2005 (Perda Syari’at) tentang larangan pelacuran di kota Tangerang menunjukkan bahwa tingkat partisipasi perempuan yang mendukung diberlakukannya Perda Nomor 8/2005 sangat besar (82%), padahal tanggapan yang beragam serta timbulnya pro dan kontra merupakan dinamika demokrasi masyarakat. Dalam penelitian yang dilakukan oleh LPPM Untirta ini, yang menjadi populasi penelitian adalah perempuan dewasa yang ada di Kota Tangerang , sedangkan sampel diambil secara acak sederhana dengan mengajukan 7 pertanyaan dengan alternatif jawaban sbb: No 1 2 3 4 5 Pertanyaan Apakah anda setuju terhadap isi Perda Nomor 8/2005 Pasal 4 tersebut Menurut anda apakah Perda tersebut dapat diartikan membatasi aktifitas perempuan Apakah anda mengetahui secara menyeluruh isi Perda Nomor 8/2005 yang diterapkan oleh pemerintah Tangerang Apakah anda setuju pelarangan pelacuran di kota Tangerang Apakah anda setuju, bahwa penolakan 40 % 39 % 21 % sebagian masyarakat terhadap Perda tersebut karena bernuansa Syar’iat Islam 6 7 Apakah anda setuju bila {Perda tersebut disebut sebagai Perda Syari’at Apakah anda setuju Perda tersebut 82 % 4% 14 % diberlakukan di kota anda Peranan wanita dalam pembangunan berkembang selaras dan serasi dengan perkembangan tanggungjawab dan perannya dalam mewujudkan dan mengembangkan keluarga sehat dan sejahtera. Adanya wanita beraktivitas di luar rumah atau bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga didorong oleh 40 % 32 % 28 % Setuju/Tahu 80 % 51 % Tidak Setuju/ Tidak tahu 12 % 4% 8% 45 % Abstain

21 % 96 %

57 % 3%

22 % 1%

47
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

beberapa faktor tertentu, salah satunya adalah meringankan beban suami. Fenomena ini sering ditemukan pada keluarga yang suaminya berpenghasilan tidak tetap seperti buruh tani, buruh bangunan dan nelayan. Dengan latar belakang di atas LPPM Untirta melaksanakan penelitian yang berjudul ”Keragaan Aktivitas Buruh Wanita dan Kontribusinya terhadap Pendapatan Rumah Tangga (Studi Kasus pada Mitra Kerja PT. Philip Seafood Indonesia di Desa Banten Kecamatan Kasemen Kabupaten Serang). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas buruh wanita dan kontribusinya terhadap pendapatan keluarga nelayan. Dari hasil penelitian ini didapat kesimpulan : 1. Pendapatan rata-rata buruh wanita perbulan adalah Rp 282.380,- dan rata-rata pendapatan keluarga Rp 629.630,-. 2. Keragaan aktivitas buruh wanita menunjukkan adanya peran ganda dari buruh wanita tersebut. Pekerjaan yang dilakukan buruh wanita adalah melakukan pekerjaan domestik dan pekerjaan diluar rumah yaitu mulai pukul 07.00 – 17.00 WIB, sedangkan waktu luang lainnya dilakukan untuk kegiatan kemasyarakatan berupa pengajian. 3. Pendapatan rata-rata buruh wanita adalah Rp 10.860,75,- perhari, sedangkan pendapatan rata-rata perbulannya Rp 280.380,-. 4. Kontribusi pendapatan buruh wanita terhadap pendapatan rumah tangga nelayan adalah 43,6 %. Di sisi lain kesadaran kaum wanita untuk terlibat aktif di bidang sosial kemasyarakatan di Banten sudah cukup baik, baik yang menjadi anggota Program Kesejahteraan Keluarga (PKK) bahkan sebagai anggota lembaga swadaya masyarakat (LSM), hal ini terinci dengan tabel di bawah ini : Tabel 3.7 Keterlibatan Wanita di Bidang Sosial Kemasyarakatan No 1 2 3 4 5 6 Kab. Lebak Kab. Tangerang Kab. Serang Kota Tangerang Kota Cikegon Jumlah Sumber : LAKIP Provinsi Banten Tahun 2007 Dalam dunia politik partisipasi perempuan masih rendah dan menjadi persoalan penting dan mendasar berkait dengan eksistensi peran perempuan dalam pembangunan. Realisasi partisipasi politik perempuan di lembaga legislatif tahun 1999-2004 yang baru berkisar pada angka 8,8 % di tingkat pusat, 6% di tingkat Kabupaten / Kota Kab. Pandeglang Anggota PKK 5.551 734 38.876 10.198 2.624 1.400 59.383 LSM Wanita 99 246 2 39 24 410

48
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

provinsi, dan 2% di tingkat kabupaten/kota cukup menggambarkan rendahnya partisipasi perempuan dalam struktur politik. Gambaran yang samapun dapat ditemui ditingkat lokal dimana hanya terdapat < 10% perempuan terwakili di DPRD Provinsi Banten. Khusus di Kabupaten Serang, dari 45 anggota legislatif hasil Pemilu tahun 2004 hanya terdapat 3 orang perempuan yang equivalen dengan angka 6,67% atau hanya 2,52% dari total perempuan yang dicalonkan. Jumlah ini tentu sangat ironis bila dibandingkan dengan jumlah pemilih perempuan yang hampir setara dengan pemilih laki-laki (49,46% dan 50,54%). Fenomena ini tentu sangat menarik perhatian dan mendorong peneliti untuk dikaji. Penelitian dilakukan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) dengan judul “Partisipasi Politik Perempuan di Kabupaten Serang ( Studi Kasus di Kecamatan Kasemen dan Bojonegara, Kabupaten Serang )”, dengan fokus partisipasi perempuan nelayan dalam proses politik dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan fokus di atas dengan pendekatan sosiologi-deskriptif, melalui aspek-aspek sosio-kultur masyarakat yang mempengaruhi partisipasi politik. Pendekatan yang digunakan melalui teknik partiscipatory observation untuk memahami fakta-fakta sosiologis secara mendalam. Hasil penelitian ini memiliki peran penting mengingat penelitian-penelitian tentang perilaku publik atau partisipasi politik khususnya mengenai keterlibatan secara partisipatif kaum perempuan nelayan di kabupaten Serang masih relatif terbatas , dimana studi kasus perempuan harus menitikberatkan kepada sistem dan struktur masyarakat yang didasarkan kepada analisis hubungan gender. Hasil penelitian menyimpulkan terdapat dua kendala utama yang dapat dipetakan untuk melihat realitas partisipasi politik perempuan, yang keduanya cenderung bersifat menghambat. Kendala struktural mencakup sistem nilai budaya yang berlaku dalam masyarakat setempat yang cenderung tidak memberikan kesempatan kepada perempuan untuk menjalankan peran publik secara luas. Stereotipe yang dilekatkan pada perempuan untuk “hanya bisa” terlibat dalam peran-peran domestik merupakan penghambat utama yang menciptakan cara pandang tidak kondusif terhadap keterlibatan perempuan dalam aktivitas publik. Sementara faktor-faktor pendidikan, ekonomi, dan lain-lain merupakan faktor struktural yang melengkapi penderitaan kaum perempuan untuk terus terpenjara dalam peran-peran domestiknya. Saran dari hasil penelitian ini adalah pentingnya dilakukan pendidikan politik yang mengarusutamakan gender secara benar dan berimbang antara laiki-laki dan perempuan, serta melalui proses pendidikan forma,l informal, maupun non-formal. Dalam hal tindak kekerasan dalam lingkup keluarga, LPPM melakukan penelitian dengan judul “Persepsi IbuIbu Rumah Tangga terhadap Tindak Kekerasan dalam Lingkup Keluarga (Studi Kasus di Kelurahan Sumur Pecung kecamatan Serang Kota, Kabupaten Serang)” dengan latar belakang banyaknya masalah kekerasan

49
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

(pengeroyokan, main hakim sendiri, tawuran antar pelajar, perkosaan, penganiayaan terhadap perempuan dan anak , dimana yang ditemukan dengan korban utama adalah perempuan (isteri) dan anak. Kesimpulan penelitian ini menyatakan masih rendahnya persepsi responden terhadap kekerasan disebabkan karena pemahaman responden terhadap kekerasan hanya sampai batas kekerasan fisik saja, sedangkan kekerasan yang berupa kekerasan seksual, psikis dan ekonomi menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 belum dianggap kekerasan. Artinya persepsi ibu-ibu rumah tangga terhadap kekerasan dalam rumah tangga nilai rata-ratanya adalah 2,3 dengan kualifikasi rendah dan jumlah pelapor dari kekerasan dalam lingkup keluarga di Kelurahan Sumur Pecung tidak ada, namun di RPK Polres hanya ada 3 orang selama setahun terakhir. 4.3 Permasalahan

Permasalahan yang masih tampak dalam peran perempuan, kesejahteraan dan perlindungan anak adalah kurangnya pemahaman dan pengetahuan tentang hak-hak yang melindungi perempuan dan anak, tidak adanya komitmen secara menyeluruh dari pihak-pihak terkait untuk memberikan solusi bagi masalah perempuan dan anak, banyaknya perempuan penyandang masalah kesejahteraan sosial, jumlah pengangguran perempuan lebih tinggi, masih dominannya perempuan bekerja pada sektor informal. Dibidang politik, meskipun Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilu mengamanatkan keterwakilan 30% perempuan dalam pencalonan anggota legislatif , namun partisipasi perempuan dalam dunia politik masih sedikit sehingga masalah-masalah yang menyangkut perempuan dan anak tidak bisa tersuarakan kepada pemegang kebijakan. Masalah yang juga dihadapai adalah rendahnya tingkat pendidikan, kesehatan dan ekonomi kaum perempuan, keterbatasan akses informasi yang dimilki oleh perempuan, kurangnya koordinasi pihak terkait : provinsi, kabupaten / kota dalam merencanakan program-program yang berkaitan dengan PUG, tidak adanya komitmen bersama dalam mengatasi kesenjangan gender, anggaran dan program yang tidak transparan sehingga antar instansi sering mengadakan kegiatan yang tumpang tindih, korban malu melaporkan kejadian karena dianggap aib keluarga, kurangnya perhatian pemerintah terhadap LSM yang menangani anak terlantar, anak jalanan serta anak putus sekolah . Di sisi lain belum maksimalnya hukuman yang dijatuhkan kepada mereka yang mengeksploitasi dan merusak masa depan anak utamanya menyangkut pelibatan anak dalam perdagangan narkoba, trafficking, pelacuran anak, serta tindakan sejenisnya, belum terciptanya model pendidikan alternatif bagi anak-anak bermasalah, serta penyadaran hak-hak anak melalui kurikulum integrated dalam proses belajar mengajar pada lembagalembaga pendidikan, belum maksimalnya perlindungan terhadap anak, merupakan masalah rumit yang

50
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

segera harus dipecahkan. Hal ini terjadi karena semua pihak belum menjadikan perlindungan anak sebagai sebuah gerakan yang melibatkan seluruh unsur dan potensi masyarakat baik lembaga pemerintah, swasta, lembaga swadaya masyarakat, tokoh agama, dunia usaha, media masa, dan jaringan internasional. V. Rekomendasi Tidak Lanjut

Pemetaan pembangunan yang perspektif gender, mengembangkan perencanaan implementasi kebijakan PUG dan RJPMD ke RKPD dan Renja SKPD serta RKA dan DPA, mengembangkan data analisis makro dan analisis data sektor (ketersediaan data terpilah), mengarahkan kegiatan pada program affirmative, PUG dan responsif gender, pengalokasian dana yang lebih besar untuk PUG, meningkatkan koordinasi kabupaten/kota, meningkatkan kerjasama yang harmonis antara akademisi (PSW)-dunia bisnis-pemerintah , sosialisasi gerakan PUG sampai tingkat kelurahan. Untuk perlindungan anak diharapkan pendataan dan penjaringan anak yang putus sekolah,anak yang bekerja di bawah umur dan anak yang bekerja di tempat-tempat yang mengandung resiko tinggi. Mengembangkan koordinasi kerjasama yang sinergis antara pihak-pihak terkait, serta memberikan akses kemudahan dan fasilitas dalam upaya menanggulangi anak-anak yang memerlukan perlindungan dan penanganan.

51
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Bab Revitalisasi Proses Desentralisasi dan Otonomi Daerah
I. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah Sistem pemerintahan yang pada awalnya bersifat sentralistik kemudian berubah ke desentralisasi dimana pemerintah sudah memiliki hak otonomi memerlukan banyak penyesuaian antara lain dengan membuat Undang – undang yang sesuai dan relevan dengan kondisi daerah dengan tetap mengacu kepada Undang – undang pusat. Desentralisasi dan otonomi daerah pada dasarnya bertujuan memperkokoh keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, membagi kewenangan, mendekatkan pelayanan publik kepada rakyat, dan meningkatkan partisipasi seluruh masyarakat sampai ke akar rumput. Otonomi daerah harus tetap dipahami sebagai bentuk pelimpahan wewenang dalam meningkatkan kesejahteraan warganya tanpa harus bertentangan dengan kebijakan pusat termasuk dalam hal-hal yang lebih bersifat ideologis dan cita-cita politik bangsa sehingga setiap kebijakan yang muncul tidak memiliki bias-bias politik untuk kepentingan sempit sesaat. Kebijakan otonomi daerah akan memiliki makna strategis jika dipahami sebagai bagian dari konsep penyejahteraan masyarakat Indonesia secara keseluruhan, yang tidak dikotak-kotak oleh daerah atau wilayah tertentu. Oleh karena itu, kebijakan otonomi daerah dipahami sebagai sebuah upaya politik pemerintah pusat dalam memberikan kesempatan kepada SDM di daerah untuk mengeksplorasi dan memacu diri agar lebih maju. Keberdayaan Pemerintah Daerah adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan upaya atau hasil pemberdayaan pemerintah. Kriterinya adalah bagaimana kemampuan dan kualitas aparatur pemerintah daerah itu sendiri, dengan sarana dan prasarana yang digunakan dan kemampuan keuangan daerah dalam usahanya melakukan pembangunan dan melayani masyarakat. Hingga tahun 2005, indeks tingkat keberdayaan Pemerintah Provinsi Banten cukup baik yakni mencapai 64,63%. Salah satu keberdayaan Pemerintah daerah dapat dilihat dari kapabilitas aparat , yaitu yang berhubungan dengan keberadaan dan upaya peningkatan kemampuan aparatur pemerintah, dengan beberapa indikator : 1) Tingkat pendidikan aparat, 2) Jumlah aparat, 3) Tingkat kreativitas PNS.

3.6

52
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Tabel 3.8 Hasil Rekapitulasi Pegawai di lingkungan Pemerintah Provinsi Banten Oktober 2008, Jumlah PNS Menurut Pendidikannya No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Tingkat Pendidikan Sekolah Dasar SLTP SLTA D-1 D-II SARMU / D-III D-IV S-1 S-2 S-3 Jumlah Jumlah PNS 33 10 874 54 78 280 43 1.405 447 3 3.226

Jumlah aparatur pemerintah daerah setelah otonomi daerah mengalami peningkatan. Meningkatnya jumlah aparatur pemerintah daerah diakibatkan oleh tuntutan pengangkatan tenaga honorer menjadi PNS. Sebagai Provinsi baru yang belum memiliki sistem pemerintahan yang mapan dan stabil, maka dapat dipahami bahwa pertama-tama yang harus dibenahi dan dipersiapkan adalah sistem kepemerintahan yang baik. Sistem kepemerintahan yang baik merupakan prasarat dasar untuk melakukan percepatan pembangunan untuk mengejar ketertinggalan agar sejajar dengan provinsi maju lainnya. Tata pemerintahan yang baik mencakup seluruh mekanisme, proses, dan lembaga-lembaga dimana warga dan kelompok-kelompok masyarakat mengutarakan kepentingan mereka, menggunakan hak hukum, memenuhi kewajiban dan menjebatani perbedaan-perbedaan diantara mereka. Kepemerintahan yang baik bercirikan : 1. Tingginya partisipasi stakeholders dalam proses pembangunan 2. Adanya transparansi dan akuntabilitas 3. Responsif terhadap aspirasi masyarakat 4. Demokratis 5. Berkeadilan, memperhatikan kepentingan golongan paling miskin dan lemah dalam proses pengambilan keputusan menyangkut alokasi sumberdaya pembangunan. Selain sistem pemerintahan yang baik, perlu adanya dukungan profesionalisme aparatur pemerintah daerah dan kemampuan manajemen aparat pemerintah daerah sesuai dengan kebutuhan guna mendukung penyelenggaraan daerah sesuai dengan kebutuhan guna mendukung penyelenggaraan otonomi daerah yang

53
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

bertanggung jawab. Untuk itu perlu disediakan jumlah dan kualitas aparatur pemerintah daerah yang profesional dengan kualifikasi yang disesuaikan dengan kebutuhan tugas serta wewenang dengan kinerja yang tinggi. Peningkatan pelayanan kepada masyarakat merupakan salah satu tujuan akhir untuk terwujudnya kepemerintahan yang baik. II. Sasaran yang Ingin Dicapai RPJMN dan RPJMD 1. Meningkatkan kinerja pelayanan publik diseluruh sektor dan bidang pembangunan. 2. Meningkatkan koordinasi antar pemerintahan secara berkala (pusat, provinsi dan kabupaten/kota), serta satuan perangkat daerah dalam satu arah, satu langkah, dan satu tujuan yang dimungkinkan melalui penerapan teknologi dan sistem manajemen yang baik. 3. Penetapan sistem dan strategi penetapan penganggaran yang sesuai sasaran, arah kebijakan,dan program pembangunan. 4. Revitalisasi susunan dan tata kerja organisasi untuk pencapaian kinerja, disiplin, efektif dan efisien. 5. Optimalisasi aparatur melalui peningkatan kualitas dan penempatan sesuai kompetensi untuk pencapaian produktivitas. III. Arah Kebijakan Dalam upaya meningkatkan sinkronisasi dan harmonisasi maka Pemda memperbaiki harmonisasi peraturan perundangan antara pusat dan daerah terutama didalam pengembangan (formalisasi) dan operasionalisasi usaha di daerah – daerah dengan mengedepankan prinsip, kepastian hukum, deregulasi dan efisiensi dalam biaya dan waktu. Perda yang dibuat hendaknya tidak bertentangan dengan perundang-undangan yang dibuat oleh pusat. Contoh UU No 21 / 1992 tentang Pelayaran yang tidak berpihak pada otonomi daerah. Undang-Undang tersebut bersifat rancu tercermin melalui pengalihan tugas pemerintah dalam pelayanan kepelabuhan oleh badan usaha yaitu PT Pelindo, sehingga tidak ada pemisahan secara tegas fungsi operator dan regulator pelabuhan yang menyebabkan kerugian negara, menghambat pertumbuhan ekonomi, menurunkan daya saing Indonesia di kancah global. Karena itu Undang-Undang ini harus diamandemen termasuk mengembalikan pengelolaan pelabuhan kepada pemda setempat. IV. Pencapaian RPJMN di Daerah

Penelitian yang dilakukan oleh LPPM Untirta tahun 2007 dengan judul ” Implementasi Perda No. 1 Tahun 2001 tentang Kepelabuhan Kota Dalam Rangka Pelaksanaan Kewenangan Otomomi Daerah”, menyatakan bahwa pemberlakuan Perda Nomor 1 Tahun 2001 tersebut di Kota Cilegon merupakan wujud implementasi kewenangan daerah yang didasarkan pada azas desentralisasi dalam wujud otonomi yang luas, nyata dan bertnggungjawab. Potensi optimalisasi kepelabuhan dapat memberikan efek berantai pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), sehingga harapan kesejahteraan masyarakat dapat terwujud. Pokok

54
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana kedudukan Perda No. 1 Tahun 2001 dalam rangka pelaksanaan kewenangan otonomi daerah serta implementasi dari Perda tersebut. Dengan menggunakan metode yuridis normatif dengan analisis kualitatif terhadap data sekunder, didapat hasil bahwa kedudukan Perda Nomor No 1 Tahun 2001 tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Dan Implementasi Perda No. 1 Tahun 2001 oleh pemerintah Kota Cilegon dilakukan dengan mengeluarkan peraturan-peraturan pendukung untuk memberikan beberapa keuntungan dan potensi bagi pengguna jasa, penyelenggara kepelabuhan, pemerintah kota dan masyarakat. Keuntungan dan potensi yang dapat diraih dari Implementasi Perda No. 1 Tahun 2001 : 1. Perspektif pengguna jasa; memberikan keuntungan berupa banyaknya pilihan alternatif pelayanan yang bisa dipergunakan akibat dihapusnya praktek-praktek monopoli kepengusahaan ekonomi di pelabuhan PT Pelindo II. 2. Perspektif penyelenggara pelabuhan, pengelola pelabuhan-pelabuhan khusus diakui sebagai pelaku usaha yang sejajar dengan PT. Pelindo II Tabel 3.9 Perbandingan Pungutan Sebelum dan Sesudah Perda No. 1 Tahun 2001 No 1 Jenis Pungutan Sewa Perairan Sebelum Sesudah

100% ditarik oleh dan untuk PT Pelindo 100% dipungut oleh Dinas II Perhubungan Kota Cilegon dimasukkan ke kas daerah ditarik oleh Dinas

2

Uang Labuh

100% dipungut oleh dan untuk PT 100% Pelindo II

Pesrhubungan kota Cilegon dan dimasukkan ke kas daerah Diciptakannya iklim persaingan yang sehat untuk memberikan pelayanan terbaik dan efisien antara BUMD dan PT Pelindo II

3

Jasa Tunda

Pandu

dan Dimonopoli oleh PT Pelindo II

4

Uang Tambat

100% dipungut oleh PT Pelondo II. 100% Untuk cargo sendiri yang

dipungut

oleh

dapat penyelenggara pelabuhan atau

dibuktikan dengan B/L atau Charter pengelola pelabuhan khusus dan party, PT Pelindo II meminta bagian 50 20% disetorkan sebagai pajak % 5 ≥Uang Dermaga daerah ke kas daerah sesuai dengan Perda 100% dipungut oleh PT Pelondo II. 100% Untuk cargo sendiri yang dipungut oleh dapat penyelenggara pelabuhan atau

55
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

dibuktikan dengan B/L atau Charter pengelola pelabuhan khusus dan party, PT Pelindo II meminta bagian 50 20% disetorkan sebagai pajak % 6 Biaya Handling daerah ke kas daerah sesuai dengan Perda Dikenakan Handling Fee oleh PT Dihapuskan kewajiban Handling Pelindo II sebesar Rp 800,- perton untuk Fee ke PT Pelindo II dan kapal ≥ 20.000 DWT dan Rp 400,- diserahkan perton untuk kapal > 20.000 DWt ke masing-masing pelabuhan mengaturnya penyelenggara pelabuhan/pengelola khusus provider) 7 Surchages PT Pelindo II mengenakan surchages Dihapuskan kewajiban Surhcages sebesar 150 % di untuk barang ke PT Pelondo II dan diserahkan tidak ke masing-masing penyelenggara PT pelabuhan / pengelola pelabuhan khusus provider)
Sumber: PD Cilegon Mandiri ,2000

untuk

dengan penyedia jasanya (service

mengganngu, dibongkar/muat Pelindo II

meskipun pelabuhan

untuk

mengaturnya

dengan penyedia jasanya (service

4.1 Upaya yang telah dilakukan Dalam rangka membatasi pemekaran wilayah yang kurang tepat, Pemda menjaga agar persyaratan yang telah ditetapkan dalam perundang-undangan benar-benar dipatuhi yaitu antara lain : 1. Harus ada studi kelayakan / kajian akademis yang dilakukan oleh perguruan tinggi yang ditunjuk pemerintah setempat. 2. Bahwa kabupaten induk sebelum 10 tahun melakukan pemekaran , tidak ada pemekaran wilayah baru lagi. 3. Harus ada 5 kabupaten / kota untuk Provinsi dan 4 atau 5 kecamatan untuk kabupaten / kota. Terkait dengan upaya peningkatan profesionalisme sumber daya aparatur negara, maka upaya yang dilakukan meliputi : 1. Peningkatan terhadap kualitas pelayanan publik 2. Melakukan Kerjasama dengan Dep Kehutanan, Perum Perhutani, Pemda Jabar, Pemda DKI, Pemda Kab.Bogor dan Pemda Kab. Lebak untuk pengamanan kawasan hutan lindung

56
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

3. Pelatihan dan pengembangan sumberdaya manusia dalam berbagai aspek : manajemen, tatakelola, perencanaan, manajemen mutu, gugus tugas, pengawasan internal dll secara rutin dan berkesinambungan 4.2 Capaian Pada tahun 2007, Dinas Kebudayaan dan Pariwiisata Provinsi Banten melaksanakan kerjasama antar daerah dalam menjalankan tugas umum pemerintahannya. Dasar hukum pelaksanaan kerjasama diatur dalam Keputusan Bersama Gubernur dengan anggota forum kerjasama daerah sebagai Mitra Praja Utama yang terdiri dari 10 Provinsi. 4.3 Permasalahan Tujuan otonomi daerah adalah memaksimalkan potensi daerah yang ada dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat daerah , ternyata menghadapi berbagai masalah antara lain : 1. Adanya daerah kota atau kabupaten dengan pemahaman otonomi seluas-luasnya untuk mengatur daerahnya sendiri sehingga menyulitkan Pemerintah Provinsi terbatas karena yang memiliki sumber daya adalah pemerintah kota atau kabupaten. Banyak Pemda yang merasa bahwa potensi sumberdaya atau pendapatan yang lebih besar adalah milik pemkot atau pemkab sehingga mereka mendapatkan hasil atau porsi yang lebih besar. Padahal tugas pemerintah Provinsi berkewajiban mendistribusikan dana tersebut kedaerah lain yang membutuhkan pembangunan sarana dan prasarana. 2. Kepala daerah dipilih oleh masyarakat daerah masing-masing, bukan oleh pemerintah Provinsi juga menyebabkan kurangnya kepatuhan kepada pemerintah Provinsi padahal Undang_ ego masing-masing pemerintah undang 32 pasal 27 berbunyi : setiap penyelenggara pemerintahan daerah harus taat kepada Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat di daerah.. 3. Tidak adanya perhatian bupati/walikota ketika diundang membicarakan kebijakan ataupun solusi bagi perundang-undangan yang bermasalah, sering diwakilkan oleh eselon empat yang tidak kompeten dalam mengambil keputusan. 4. Banyaknya kasus-kasus pembagian dan pengembalian aset daerah juga menjadi problem tersendiri, seperti masih adanya fasilitas umum yang masih dimanfaatkan kabupaten induk. Dalam hal ini Pemerintah Provinsi mencoba memfasilitasi permasalahan tersebut seperti kasus Ahmad Yani dan lapangan Benteng, juga Balai Desa Sukasari yang sudah menunjukkan titik terang. 5. Adanya Perda yang bertabrakan dalam kaitan dengan pemilihan kepala daerah. Perda mengatur bahwa kepala daerah yang ingin mencalonkan diri kembali sebagai kepala daerah harus mengundurkan diri, tetapi Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 menyatakan

57
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

bahwa kepala daerah tidak perlu mengundurkan diri ketika hendak mencalonkan diri dan cukup mengajukan cuti (kasus di Kota Tangerang). V. Rekomendasi Tindak Lanjut

Pemerintah daerah harus memperbaiki kinerja pelayanananya, karena kualitas pelayanan yang diberikan akan membawa nama baik bagi Provinsi Banten. Selain itu di dalam membuat peraturan daerah hendaknya Pemda melibatkan unsur-unsur yang betul-betul berkompeten sehingga tidak terjadi disharmonisasi perundang-undangan antara Pusat dan Daerah.

58
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Bab Penciptaan Tata Pemerintahan yang Bersih dan Berwibawa
Good Governance adalah tata pemerintahan yang baik, bersih dan berwibawa. Terkait dengan itu, pemerintah yang bersih (clean government) dan bebas KKN. Reformasi birokrasi merupakan perubahan signifikan elemen-elemen birokrasi, antara lain kelembagaan, sumber daya manusia aparatur, ketatalaksanaan, akuntabilitas aparatur, pengawasan, dan pelayanan publik. Strategi penyelenggaraan pemerintahan yang baik ditujukan untuk mewujudkan pemerintah yang bersih, demokratis dan transparan ; memberdayakan masyarakat ; memberikan pelayanan prima kepada masyarakat dan dunia usaha ; serta memberdayakan sektor usaha yang maju dan bertanggungjawab. I. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah

3.7

Tata pengelolaan yang baik (good governance) meliputi berbagai masyarakat, khususnya kelompok usaha. Dengan tata pengelolaan yang baik, pemerintahan akan berjalan secara efesien dan upaya untuk mengatasi masalah akan berjalan secara efektif. Tata pengelolaan yang baik harus melandasi pelaksanaan berbagai kegiatan pembangunan. Permasalahan yang ditemukan dalam kaitannya dengan penciptaan tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa di Provinsi Banten, diantaranya adalah hampir 90% tersangka kasus korupsi berasal dari pegawai negeri sipil (PNS) yang memangku jabatan di pemerintahan dan anggota DPRD, padahal khusus untuk korupsi yang berkaitan dengan proyek pembangunan fisik, penikmat dari proyek tersebut adalah para pengusaha yang notabene memperoleh keuntungan besar dalam proyek-proyek yang dijalankan di lingkungan pemerintah. (www.Bantenlink.com, 2007) Regulasi dalam bentuk perda, yang bagi sebagian kalangan dilihat memiliki prospek untuk memperbaiki kinerja tata-pemerintahan, ternyata apabila tidak diikuti dengan implementasi yang baik , maka aturan yang ada tinggal merupakan dokumen negara yang tidak memiliki kekuatan apapun. Tidak efektifnya pelaksanaan perda untuk menjembatani kepentingan publik, khususnya terkait dengan kepentingan investasi, telah menyebabkan Provinsi ini menghadapi situasi yang cukup rumit. Dalam praktek kehidupan perekonomian di Provinsi Banten dikhawatirkan terjadi pencampuradukan antara kepentingan sosial, ekonomi dan politik beberapa kelompok masyarakat. Demikian pula sebaliknya, dalam kehidupan politik dimungkinkan masuknya kepentingan-kepentingan sosial-ekonomi di dalamnya. Data Penelitian BCW (Banten Corruption Watch) 2006

59
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

menunjukkan bahwa kendala yang dihadapi oleh Provinsi Banten adalah birokrasi yang masih perlu direformasi antara lain untuk mencegah terjadinya tindak pidana korupsi, gangguan preman dan pelaksanaan regulasi yang lemah Lima prasyarat keberhasilan pemberantasan korupsi: (1) deregulasi peraturan perundang-undangan yang memberi peluang KKN dan ada kehendak yang sungguh-sungguh dan serius untuk memberantas korupsi (Inpres 5/2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi merupakan salah satu komitmen yang harus ditindaklanjuti dengan tindakan nyata). (2) sistem dan mekanisme pelayanan publik yang memanfaatkan teknologi informasi (TI): e-government, e-procurement, e-office, e-business. (3) penerapan dan pemanfaatan Single Identification/Identity Number (SIN) untuk setiap urusan masyarakat yang diharapkan mampu mengurangi peluang penyalahgunaan. (4) peraturan perundang-undangan yang saling menunjang dan memperkuat; dan (5) penataan atau pembaharuan Criminal Justice Sistem (CJS) yang memadai.

Manfaat penggunaan Good Governance : (1) berkurangnya secara nyata praktik KKN di birokrasi yang ditunjukkan oleh tidak adanya atau berkurangnya manipulasi pajak, pungutan liar, manipulasi tanah, manipulasi kredit, penggelapan uang negara, pemalsuan dokumen, pembayaran fiktif, penggelembungan nilai kontrak (mark-up), uang komisi, penundaan pembayaran kepada rekanan, kelebihan/pemotongan pembayaran, defisit biaya, berjalannya proses pelelangan (tender) secara fair, dan adanya kepastian hukum); (2) terciptanya sistem kelembagaan dan ketatalaksanaan pemerintahan yang baik, bersih dan berwibawa, efisien, efektif, transparan, profesional, dan akuntabel, ditandai kelembagaan/ketatalaksanaan yang lebih efektif, ramping, dan fleksibel, hubungan kerja antar instansi pemerintah pusat dan daerah yang lebih baik, administrasi pemerintahan dan kearsipan yang berkualitas, penyelamatan, pelestarian, dan pemeliharaan dokumen/arsip negara, serta hasil kerja organisasi dan prestasi pegawai makin baik; (3) terhapusnya peraturan perundang-undangan yang diskriminatif dan berkurangnya peraturan perundang-undangan yang tumpang tindih; (4) meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pengambilan kebijakan publik, forum konsultasi publik, pemberantasan korupsi, dan pemberian penghargaan atas kepedulian masyarakat; dan (5) terjaminnya konsistensi dan kepastian hukum seluruh peraturan perundang-undangan di tingkat pusat dan daerah, serta berkurangnya perbuatan tindak pidana korupsi.

Langkah-langkah kebijakan yang dilakukan untuk mewujudkan tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa diupayakan bersifat terobosan dan melanjutkan hal-hal yang telah dilakukan sebelumnya, yaitu : 1. Menuntaskan penanggulangan penyalahgunaan kewenangan melalui: (a) penerapan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik di semua tingkatan dan kegiatan instansi pemerintahan; (b) pemberian sanksi

60
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

yang seberat-beratnya kepada pelaku korupsi sesuai ketentuan yang berlaku; (c) penataan dan peningkatan efektivitas pengawasan melalui koordinasi dan peningkatan sinergi antara pengawasan internal, eksternal dan pengawasan masyarakat serta tindak lanjut atas hasil pengawasan; (d) pembangunan budaya kerja aparatur yang bermoral, profesional, produktif dan bertanggung jawab; (e) peningkatan pemberdayaan dan sinergi penyelenggara negara, dunia usaha dan masyarakat dalam pemberantasan korupsi; 2. Meningkatkan kualitas penyelenggaraan administrasi negara melalui: (a) penataan kembali kelembagaan pemerintahan agar dapat berfungsi secara lebih efektif, responsif dengan struktur yang lebih proporsional dan efisien; (b) peningkatan efektivitas dan efisiensi ketatalaksanaan (manajemen) termasuk prosedur kerja pada berbagai tingkatan dan kegiatan instansi pemerintah; (c) penataan dan peningkatan kapasitas pegawai agar lebih profesional sesuai dengan tugas dan fungsinya untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat; (d) peningkatan kesejahteraan pegawai dan pemberlakukan sistem karier berdasarkan prestasi. Sejalan dengan itu, terus dilakukan upaya peningkatan gaji pegawai secara proporsional, adil dan layak; (e) pengembangan dan pemanfaatan egovernment dan dokumen/arsip negara dalam pengelolaan tugas dan fungsi pemerintahan; 3. Meningkatkan keberdayaan masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan, antara lain melalui: (a) peningkatan kualitas pelayanan publik terutama pelayanan dasar, pelayanan umum dan pelayanan unggulan; (b) peningkatan kapasitas masyarakat untuk dapat mencukupi kebutuhan dirinya, berpartisipasi dalam proses pembangunan dan dalam mengawasi pelaksanaan tugas aparatur pemerintahan termasuk pelaksanaan pelayanan publik; (c) peningkatan transparansi, partisipasi dan mutu pelayanan melalui peningkatan akses dan sebaran informasi.

II. • • • • •

Sasaran yang Ingin Dicapai RPJMN dan RPJMD Berkurangnya secara nyata praktik korupsi di birokrasi yang dimulai dari tataran (jajaran) pejabat yang paling atas Terciptanya sistem kelembagaan dan ketatalaksanaan pemerintahan yang bersih, efektif, efesien, transparan, profesional, dan akuntabel Terhapusnya peraturan dan praktik yang bersifat diskriminatif terhadap warga negara, kelompok atau golongan masyarakat. Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan publik. Terjaminnya konsistensi seluruh peraturan pusat dan daerah serta tidak bertentangan dengan peraturan dan perundangan di atasnya.

61
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

III.

Arah Kebijakan 1. Menuntaskan penanggulangan penyalahgunaan kewenangan dalam bentuk praktik-praktik kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN). 2. Meningkatkan kualitas penyelenggaraan administrasi negara. 3. Meningkatkan keberdayaan masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan.

Arah kebijakan pembangunan di Provinsi Banten diantaranya adalah menegakkan supremasi hukum dan menjamin terciptanya keamanan, ketenteraman, ketertiban, dan ketahanan wilayah melalui pelibatan masyarakat dan peningkatan kapasitas aparat. IV. Pencapaian RPJMN di Daerah

4.1 Upaya yang telah dilakukan Visi dari pemerintahan Provinsi Banten adalah menciptakan pemerintahan baik dan bersih yang bertujuan meningkatkan perilaku birokrasi yang efisien dan efektif dengan sistem kelembagaan dan ketata laksanaan pemerintahan yang profesional dan akuntabel yang pada gilirannya dapat memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat. 4.2 Capaian Setidaknya, tercatat 25 perkara korupsi yang mencuat ke permukaan sejak terbentuknya Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten dengan Undang-undang No.23 tahun 2000. Status perkara itu beragam, di antaranya tahap penyelidikan 10 perkara, tahap penyidikan 10 perkara, perkara yang tengah menjalani proses persidangan 3 perkara, tahap kasasi 1 perkara dan telah dihentikan penyelidikannya (SP3) satu perkara. Kejati Banten berhasil mengumpulkan kembali uang APBD Banten yang dikorupsi sebesar Rp 7,9 miliar dari Rp 14 miliar yang harus dikembalikan. (Sumber : Banten Corruption Watch, 2008) 4.3 Permasalahan Belum nampak terjadinya transformasi peran masyarakat untuk menjadi kelompok yang mampu membangun dukungan dan tuntutan (supports and demands) kepada pihak eksekutif maupun legislatif daerah untuk membangun mekanisme saling kontrol (checks and balances) yang sehat. Permasalahan ini kemudian membawa dampak pada proses pengambilan keputusan kebijakan publik, seperti makin meningkatnya tuntutan akan partisipasi masyarakat dalam kebijakan publik; meningkatnya tuntutan penerapan prinsipprinsip tata pepemerintahan yang baik, transparansi, akuntabilitas dan kualitas kinerja publik; meningkatnya tuntutan dalam pelimpahan tanggung jawab, kewenangan dan pengambilan keputusan.

62
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Permasalahan yang ditemukan dalam kaitannya dengan penciptaan tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa di Provinsi Banten, diantaranya sebagian besar kasus korupsi berasal dari pegawai negeri sipil (PNS) yang memangku jabatan di pemerintahan dan anggota DPRD. Khusus untuk korupsi yang berkaitan dengan proyek pembangunan fisik, penikmat dari proyek tersebut adalah para pengusaha yang notabene memperoleh keuntungan besar dalam proyek-proyek yang dijalankan di lingkungan pemerintah ( www.Bantenlink.com , 2007) V. Rekomendasi Tindak Lanjut

Regulasi dalam bentuk perda, yang bagi sebagian kalangan dilihat memiliki prospek untuk memperbaiki kinerja tata-pemerintahan, perlu diikuti dengan implementasi yang baik sehingga aturan yang ada tinggal merupakan dokumen negara yang tidak memiliki kekuatan apapun. Agar dilakukan tata pengelolaan yang baik (good governance) yang meliputi berbagai masyarakat, khususnya kelompok usaha. Dengan tata pengelolaan yang baik, pemerintahan akan berjalan secara efesien dan upaya untuk mengatasi masalah akan berjalan secara efektif. Beberapa rekomendasi lain yang dapat diarahkan untuk penciptaan tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa adalah : (1) pemberian sanksi yang seberat-beratnya bagi pelaku tindak pidana korupsi sesuai dengan ketentuan yang berlaku; (2) peningkatan kualitas penerapan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik (good public governance) secara berkelanjutan pada semua tingkat dan lini pemerintahan dan pada semua kegiatan (3) peningkatan efektivitas pengawasan aparatur pemerintah melalui koordinasi dan sinergi pengawasan internal, eksternal dan pengawasan masyarakat; (4) percepatan pelaksanaan tindak lanjut hasilhasil pengawasan dan pemeriksaan; (5) peningkatan budaya organisasi aparatur yang profesional, produktif atau berorientasi pada peningkatan kinerja dan bertanggung jawab; (6) pembenahan sistem manajemen pemerintahan meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan evaluasi kinerja kegiatan dan program pembangunan. (7) penataan kelembagaan dan ketatalaksanaan agar efisien dan efektif dan dapat mendukung pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan; (8) pembenahan manajemen sumber daya manusia aparatur atau kepegawaian mencakup sistem remunerasi, kompetensi sumber daya manusia aparatur, pembinaan karier berdasarkan prestasi kerja, dan penerapan reward dan punishment dalam pembinaan pegawai; (9) optimalisasi pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (e-services) dalam pelayanan publik dalam rangka peningkatan kualitas pelayanan publik; (10) pengembangan Nomor Induk Kependudukan (NIK-single identity number), dan pembentukan/penataan sistem koneksi (inter-phase) tahap awal NIK dengan sistem informasi di instansi terkait; serta (11) tersedianya sarana dan prasarana pendukung pelaksanaan tugas dan administrasi pemerintahan yang memadai di instansi pemerintahan daerah.

63
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Bab Perwujudan Lembaga Demokrasi yang Makin Kokoh
I. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah Dalam menjaga proses demokratisasi, pemantapan proses komunikasi politik harus dilakukan tidak hanya antar pemerintah, tapi juga antara pemerintah dan masyarakat. Terkait dengan hal ini, masih banyak dijumpai sejumlah kendala dan ketidaklancaran komunikasi dan informasi dalam pemantapan komunikasi politik. Hal ini berakibat pada belum optimalnya kontrol yang sehat dan memadai terhadap penyelenggaraan negara dan pemerintahan. Sasaran prioritas dalam agenda ini adalah terlaksananya peran dan fungsi lembaga penyelenggara negara dan lembaga kemasyarakatan sesuai konstitusi dan peraturan perundangan yang berlaku, meningkatnya partisipasi masyarakat dalam proses penagambilan keputusan kebijakan publik, serta terlaksananya pemilihan umum yang demokratis, jujur , dan adil pada tahun 2009. Salah satu perkembangan demokrasi yang terjadi di negara kita salah satunya adalah diselenggarakannya pemilihan langsung kepala daerah (Pilkada) secara langsung dan cukup berhasil. Pemilihan kepala daerah secara langsung tersebut merupakan suatu cermin adanya jaminan dan penghormatan terhadap hak politik masyarakat pada tingkat daerah dan lokal. Ini juga merupakan kemajuan selangkah lagi dalam pembangunan politik dan demokrasi. Di Banten terdapat Jumlah ormas sebanyak 126 dan jumlah LSM = 106 (data tahun 2007),

3.8

64
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Tabel 3.10 Persentase Jumlah Pemilih Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Banten 2006 JUMLAH YANG MENGGUNAKAN HAK PILIH 4 750,173 151,168 1,138,983 520,677 532,670 506,179 3,599,850

NO. 1 1. 2. 3. 4. 5. 6.

KABUPATEN /KOTA 2 KAB. SERANG KOTA CILEGON KAB. TANGERANG KOTA TANGERANG KAB. LEBAK KAB. PANDEGLANG JUMLAH

JUMLAH PEMILIH 3 1,212,952 230,680 2,221,215 1,029,701 791,423 722,980 6,208,951

PERSENTASE (%) 5 61.85 65.53 51.28 50.57 67.31 70.01 57.98

Sumber: Rekapitulasi penghitungan suara KPU Banten II. Sasaran yang Ingin Dicapai RPJMN dan RPJMD Sasaran yang ingin dicapai diantaranya adalah : o Menciptakan kesadaran pada masyarakat Banten akan pentingnya suatu pemilihan kepala daerah. o Meningkatkan kemampuan masyarakat sipil dan partai politik dalam melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap berjalannya proses penyelenggaraan pemilihan kepala daerah. o o Terlaksananya pemilihan kepala daerah secara langsung, demokratis, jujur dan adil. Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan kebijakan publik.

III. Arah Kebijakan Pengembangan demokrasi dan penegakan supremasi hukum merupakan langkah yang perlu mendapat perhatian pemerintah Provinsi Banten untuk menarik dukungan dan kepercayaan dari seluruh komponen masayarakat. Pendidikan politik masyarakat akan sangat menunjang pemantapan sistem politik. Hal tersebut meupakan hal yang sangat strategis untuk mewujudkan semangat kebersamaan, menjaga persatuan, serta menggali aset seluruh stakeholders melalui kemitraan strategis. Kokohnya pertahanan serta terpeliharanya keamanan dan ketertiban masyarakat merupakan prasyarat untuk terlaksananya pembangunan ekonomi

65
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

serta perwujudan masyarakat yang tenang, damai dan tertib, sehingga ketika ada pemilihan kepala daerah tidak akan menimbulkan konflik besar. IV. Pencapaian RPJMN di Daerah 4.1 Upaya yang telah dilakukan 1. Menciptakan kesadaran pada masyarakat akan pentingnya suatu pemilihan kepala daerah 2. Peningkatan kualitas fungsi dan peran lembaga legislatif, baik DPRD Provinsi maupun DPRD Kab/Kota 3. Perumusan kerangka politik yang lebih jelas mengenai kewenangan dan tanggungjawab antara pusat dan daerah dalam konteks desentralisasi dan otonomi daerah. 4.2 Capaian Pada Tahun 2006, masyarakat yang menggunakan hak pilih adalah : -Kab. Serang 750.173 -Kota Cilegon 151.168 -Kab. Tangerang 1.138.983 -Kota Tangerang 520.677 -Kab. Lebak 532.670 -Kab. Pandeglang, 506.179

4.3 Permasalahan Pada pemilihan kepala daerah pada tahun 2006 tersebut, masih ada masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya/golput. Pilihan untuk golput diantaranya karena calon yang mereka usung tidak lolos sehingga membuat mereka tidak ikut mencoblos. Bahkan ada sebagian tokoh masyarakat yang menegaskan tidak ikut memilih. Selain itu, ada juga warga yang memilih golput karena merasa pilkada tidak akan membawa perubahan. Kalangan ini menganggap pilkada hanya mampu mengakomodasi kepentingan tertentu sehingga perubahan hanyalah para kandidat itu sendiri dan para penggerak partai politik. Selain itu juga ada sebagian masyarakat yang tidak mendapatkan kartu pemilih sehingga mereka tidak dapat mencoblos. Di dalam pembagian kartu pemilih, panitia Pilkada harusnya memonitor daerah-daerah mana saja yang penduduknya belum mendapatkan kartu pemilih sehingga tidak ada kejadian masyarakat yang tidak menerima kartu pemilih, agar mereka mempunyai hak untuk memilih wakil rakyat yang mereka kehendaki.

66
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

V. Rekomendasi Tindak Lanjut Harus ada sosialisasi yang luas dari panitia pilkada untuk menyakinkan masyarakat bahwa peran serta mereka sangat besar di dalam penentuan siapa yang akan menjadi pemimpin mereka. Perlu adanya kerjasama yang solid antara panitia pilkada di dalam mensosialisaikan segala urusan mengenai pilkada tersebut, sehingga masyarakat yang golput/tidak memilih dapat berkurang.

67
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

BAGIAN 4 AGENDA MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT

Bab
68
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Pengantar Agenda Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat
Agenda ini merupakan agenda nasional yang ketiga yang menjadi permasalahan utama yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini. Kesejahteraan rakyat yang meningkat merupakan target yang ingin dicapai dalam RPJMN 2004-2009. Kesejahteraan rakyat tidak bisa dipisahkan dari kondisi kemiskinan dan pengangguran terbuka yang ada di masyarakat. Jumlah penduduk misikin dan tingkat pengangguran terbuka di Provinsi Banten mengalami peningkatan sejak tahun 2005. Begitu pula Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (AKI) di Provinsi Banten cukup tinggi. Beberapa indikator kinerja yang disebutkan menunjukkan bahwa kesejahteraan rakyat di Provinsi Banten perlu mendapat perhatian dan penanganan yang lebih serius.

4.1

69
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Bab Penanggulangan Kemiskinan
I. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah Jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan) dan di Provinsi Banten pada pada periode 2004-2007 menunjukkan kecenderungan tertentu seperti pada tabel 4.1 berikut : Tabel 4.1 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Banten Tahun 2004-2007 Jumlah Penduduk Miskin (orang) Jumlah Penduduk Miskin (%) Kota 2004 2005 2006 2007 279.900 370.200 417.100 399.400 Desa 499.300 460.300 487.300 486.800 Kota+Desa 779.200 830.000 904.300 886.000 Kota 5,69 6,56 7,47 6,79 Desa 11,99 12,34 13,34 12,52 Kota+Desa 8,58 8,86 9,79 9,07

4.2

Tahun

Sumber : BPS Provinsi Banten, 2008 Pada tahun 2004, jumlah penduduk miskin sebesar 779.200 orang (8,58%) kemudian terjadi kenaikan sedikit pada tahun 2005 menjadi 830.000 orang (8,86%). Ini diduga terjadi akibat kenaikan harga BBM (tahap 1) pada Bulan Maret 2005. Pada tahun 2006 terjadi kembali kenaikan penduduk miskin yang sangat besar yaitu sebesar 904.300 orang (9,79%), mengingat pada periode perhitungan tersebut (Juli 2005-Maret 2006), pemerintah menaikan kembali harga BBM (tahap 2) pada Bulan Oktober 2005. Akibatnya penduduk yang tergolong tidak miskin namun penghasilannya berada di sekitar garis kemiskinan banyak yang bergeser posisinya menjadi miskin. Pada tahun 2007, kondisi perekonomian sedikit pulih yang ditandai besaran angka inflasi yang tidak menembus angka dua digit. Fenomena Jawara di Banten Kaitannya dengan Kemiskinan Jawara berdasarkan konteks sejarah di Banten timbul mula-mula di Pesantren. Kondisi ini ditunjang oleh Masyarakat Banten yang kuat terhadap Ajaran Islam. Figur jawara timbul di Pesantren dari santri yang kurang patuh terhadap kiainya (ulama), mereka cenderung menjadi oposisi dari murid yang patuh. Di pesantren mereka membentuk komunitas tersendiri yang cenderung frontal. Mereka setelah terjun di masyarakat cenderung sering memaksakan kehendak. Istilah jawara pada masa sekarang lebih tepat didefinisikan sebagai orang yang memaksakan kehendak atas segala sesuatu yang dia inginkan. Pada saat ini warna sejarah tersebut masih mewarnai masyarakat Banten. Karakter jawara ini umumnya dapat dilihat dari segi kepemimpinan masyarakat Banten. Hal ini

70
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

apabila dikaitkan dengan kemiskinan yang ada di Banten sebenarnya tidak ada hubungan sama sekali. Kemiskinan di Banten lebih disebabkan komoditi ketersediaan sumberdaya masyarakat Banten yang relatif rendah. Pengalaman sejarah pada saat masih bergabung dengan Provinsi Jawa Barat, tenaga guru dan tenaga terdidik lainnya sebagian besar berasal dari daerah Bandung (parahyangan dan daerah lain). Mereka cenderung hanya bekerja tanpa dibarengi dengan sense of belonging terhadap solusi untuk memecahkan bagaimana caranya meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia masyarakat di Banten. Setelah tugas berakhir kebanyakan para pekerja terdidik tersebut pulang kampung, bahkan pada masa itu ada kalanya sebelum tugas berakhir mereka minta dipindahtugaskan. Masyarakat Banten keterpurukan ini, dan mereka sebenarnya ingin sebenarnya sudah lama menyadari membangun sejak lama. Namun karena

sumberdaya manusia yang relatif rendah pada saat itu mereka tidak berdaya. Belitan kemiskinan yang ada di Provinsi Banten ini menyebabkan kemampuan untuk mengakses sumberdaya yang ada di Provinsi Banten menjadi kurang. Dampak lainnya, masyarakat Banten tidak mampu untuk memanfaatkan posisi strategis wilayah Banten sebagai daerah lintasan dan penyangga ibu kota Jakarta. Jadi kemiskinan yang ada di Provinsi Banten bukan disebabkan oleh karakter kejawaraan dari masyarakat Banten akan tetapi lebih disebabkan rendahnya tingkat pendidikan. Sementara itu, jumlah pengangguran terbuka pun cukup tinggi sebesar 16,07% tahun 2005 dan PDRB per kapita sebesar Rp 9,05 juta. Umur harapan Hidup di Provinsi Banten pada tahun 2005 adalah 65 tahun. Angka Kematian Bayi per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2005 cukup tinggi adalah 58,7, begitu pula Angka kematian Ibu per 100.000 tahun 2005 adalah 306. Angka kematian bayi dan Ibu yang cukup tinggi menunjukkan bahwa taraf kesehatan di Provinsi Banten perlu mendapat perhatian yang lebih serius. II. Sasaran yang Ingin Dicapai RPJMN dan RPJMD

Sasaran yang ingin dicapai dalam RPJMN adalah menurunkan proporsi penduduk menjadi 8,2 % tahun 2009 dan jumlah pengangguran terbuka menjadi 5,1 persen tahun 2009. Kondisi ini dirasakan sangat kontradiktif mengingat banyaknya perusahaan yang ada di kawasan Cilegon-Serang-Tangerang. III. Arah Kebijakan

Arah Kebijakan dalam RPJMD adalah a) menekan angka kemiskinan, (b) menciptakan kesempatan kerja, (c) meningkatkan pertumbuhan ekonomi, (d) meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), dan (e) meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta (f) meningkatkan stabilitas keamanan daerah.

71
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

IV.

Pencapaian RPJMN di Daerah

4.1 Upaya yang telah dilakukan Upaya-upaya yang telah dilakukan pemerintah daerah dalam mengentaskan kemiskinan di Provinsi Banten diantaranya adalah : 1. Program pelayanan rehabilitasi kesejahteraan sosial 2. Program peningkatan kualitas hidup 3. Program pengembangan lembaga ekonomi pedesaan 4. Program pencegahan dini dan penanggulangan korban bencana alam 5. Program Keluarga Berencana 6. Pembangunan RS Rujukan Provinsi, Laboratorium Rujukan Provinsi dan Balai POM 7. Seluruh desa menjadi desa siaga (POSKESDES) 8. Revitalisasi Puskesmas dan Posyandu 9. Pendidikan Masyarakat Lokal Bidang Kesehatan 10. Pemenuhan Sarana dan Prasarana P2PL dalam mendukung Surveilans Penyakit 4.2 Capaian 1. Jumlah penduduk miskin di Provinsi Banten relatif mengalami kenaikan dari 830.500 orang (8,86%) tahun 2005 menjadi 886.200 orang (9,07%) pada tahun 2007. 2. PDRB per kapita mengalami peningkatan dari Rp 9,05 juta pada tahun 2005 menjadi Rp 9,63 juta pada tahun 2006 3. Umur harapan Hidup di Provinsi Banten mengalami penurunan dari 65 pada tahun 2005 menjadi 64,8 tahun pada tahun 2006 4. Angka Kematian Bayi per 100 kelahiran hidup mengalami penurunan dari 58,7 pada tahun 2005 menjadi 50,6 pada tahun 2006 5. Jumlah pengangguran terbuka meningkat dari16,07% pada tahun 2005 menjadi 16,76% pada tahun 2006. 6. Angka kematian Ibu per 100.000 mengalami kenaikan dari 306 pada tahun 2005 menjadi 310 pada tahun 2006 4.3 Permasalahan 1. Masih tingginya proporsi penduduk miskin 2. Masih terbatasnya kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan 3. Pemenuhan hak atas pendidikan 4. Masih terbatasnya akses masyarakat terhadap layanan pendidikan dan kesehatan 5. Masih terbatasnya akses masyarakat terhadap pemenuhan kebutuhan perumahan

72
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

6. Masih terbatasnya akses masyarakat terhadap layanan air bersih dan sanitasi 7. Masih terbatasnya akses masyarakat terhadap lapangan pekerjaan 8. Masih tingginya keluarga penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) 9. Belum optimalnya upaya pembinaan dan perlindungan perempuan 10. Belum optimalnya upaya pembinaan dan perlindungan anak 11. Belum memadainya keberdayaan sosial ekonomi masyarakat desa V. Rekomendasi Tindak Lanjut 1. Meningkatkan peran dan pemberdayaan lembaga dan institusi sosial kemasyarakatan dalam penanggulangan kemiskinan dan pelayanan kesejahteraan sosial 2. Meningkatkan volume dan nilai komoditas ekspor daerah 3. Meningkatkan standar UMKM dengan standar bisnis yang memadai 4. Memperbanyak industri padat karya yang dapat menyerap banyak tenaga kerja

73
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Bab Peningkatan Investasi dan Ekspor Nonmigas
I. Kondisi Awal RPJM di Daerah Kondisi awal RPJM di Daerah dengan merujuk pada data dinas pendapatan Provinsi Banten , sampai dengan tahun 2006 nilai investasi meningkat. Pasca Krisis ekonomi Indonesia yang telah memasuki usia satu dekade, berdasarkan Regional Investment Performance Index (RIPI), ternyata Provinsi Banten dan Jawa Barat yang mampu menunjukkan performa baik dalam menarik PMA selama tahun 2001-2006, dan Banten berada pada pada peringkat pertama dalam menarik PMA sampai dengan tahun 2006 dan selalu berada diperingkat atas serta lima kali berada di posisi peringkat pertama. Banyaknya proyek PMA dan PMDN yang disetujui oleh pemerintah di Banten pada tahun 2005 mengalami kenaikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Jumlah proyek PMA 71 proyek menjadi 85 proyek, sedangkan PMDN naik menjadi 17 proyek dari 11 proyek (2004). Nilai proyek yang disetujui mengalami kenaikan. Pada proyek PMA, pada tahun 2004 nilai yang disetujui sebesar US $262,80 juta, sedangkan pada tahun 2005 meningkat menjadi US $ 805,68 juta. Selanjutnya proyek PMDN menurun menurun dari Rp. 1,12 trilyun pada tahun 2004 menjadi Rp.705,78 milyar pada tahun 2005. Isu teroris, kondisi politik dan kemananan serta sejumlah aksi bom di tanah air tidak menjadi penghambat mengalirnya investasi yang ada. II. Sasaran yang Ingin Dicapai

4.3

Provinsi Banten berdasarkan wilayah pembangunan terbagi ke dalam dua bagian yaitu wilayah pembangunan Banten Selatan dan Wilayah Pembangunan Bagian Utara. Terdapat dua potensi yang berbeda dan saat ini sudah menunjukkan capaian yang memuaskan hal ini dapat dilihat dari laju pertumbuhan ekonomi, tercatat sampai dengan tahun 2005 mengalami kenaikan mulai dari 4,28 sampai dengan 5,81. Begitu pun dengan PDRB, angkanya mengalami kenaikan dari Rp. 7.190.000 pada tahun 2002 menjadi Rp. 9.630.000,- pada tahun 2005. Sasaran yang ingin dicapai untuk meningkatkan investasi tersebut yaitu (1) Membuka peluang berbagai jenis investasi daerah baik di bidang pertanian maupun di bidang industri (2) meningkatkan pelayanan ekspor Impor ke pelabuhan, ke pabean, dan administrasi (3) Meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara (4) Meningkatkan Jumlah warga negara yang bekerja di luar negeri. III. Arah Kebijakan Perbaikan

Kebijakan diarahkan pada peningkatan sumberdaya manusia dan perbaikan infrastruktur.

infrastruktur meliputi akses jalan menuju ke daerah wisata serta perbaikan- perbaikan lokasi wisata. Di

74
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

bidang investasi pertanian dan industri, kebijakan diarahkan untuk mengembangkan dan mendudukkan kembali bisnis pertanian yang mendukung dan memperkuat sektor industri. IV. Pencapaian RPJM di Daerah 4.1. Upaya yang dilakukan Upaya yang sudah dilakukan oleh pemerintah Provinsi Banten yaitu meningkatkan sumberdaya manusia melaui pendirian BLK (Balai Latihan Kerja) yang berkualitas di Banten namun kendalanya adalah bahwa BLK tersebut hanya melatih tidak lebih dari 30 siswa untuk setiap tahun ajarannya. Selanjutnya, keberhasilan dari laju pendapatan daerah seringkali diukur dari tingkat keberhasilan perdagangan yang dihitung oleh indikator kelancaran distribusi dan perkembangan transaksi . Kelancaran distribusi dicirikan oleh ketersediaan produk yang tepat waktu. Dua unsur utama dalam kelancaran distribusi ditentukan oleh : (i) ketersediaan infrastruktur pendukung (seperti: jalan, pelabuhan, pasar, dan lain-lain), dan ketersediaan angkutan (truk, kapal laut, pesawat terbang, kereta api, dan lain-lain ). Merujuk pada hal ini maka yang sangat penting untuk dilakukan oleh pemerintahan daerah Provinsi Banten dalam meningkatkan laju pendapatan daerah ialah dengan cara menyediakan infrastruktur pendukung. Tidak dapat dipungkiri lagi hingga saat ini Provinsi Banten amat miskin dengan jalan-jalan yang kondisinya baik, yang menuju pusat produksi pertanian, parawisata, atau pusat fasilitas ekonomi lainnya seperti pasar, dan industri. 4.2 Capaian Perekonomian wilayah Provinsi Banten dalam kurun waktu 2001-2005 bergerak dengan Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) rata-rata 4,93 % pertahun. Sejalan dengan peningkatan LPE tersebut PDRB atas dasar harga yang berlaku pada tahun 2005 telah mencapai RP.84,62 trilyun dan PDRB atas dasar harga konstan (2000) Rp 58.11 trilyun. Pola perkembangan perekonomian wilayah Provinsi Banten dalam kurun waktu 2001-2005 dicirikan dengan pergeseran peranan sektoral dimana penguatan peran sektor tersier (service) ditujukan oleh peningkatan yang pada tahun 2001 baru mencapai 30,98 % meningkat menjadi 34,02 pada tahun 2005. Kontribusi sektor sekunder yang memuat sektor industri pengolahan, listrik, gas dan air bersih terhadap PDRB mengalami penurunan dari 59,27% (2001) menjadi 57,34 % (2005). Penurunan ini disebabkan oleh semakin turunnya peranan sektor industri dalam perekonomian Banten. Selain itu struktur investasi di Provinsi Banten ditunjukkan dengan komposisi investasi swasta dan masyarakat terdiri dari PMA dan PMDN yang masing-masing berkontribusi 21,30% dan 14,31%, sedangkan peranan investasi UMKMK sebesar 32,69%. Sedangkan investasi pemerintah terdistribusi dalam dana APBN (10,39%), dana APBD Provinsi Banten (6,77%) serta dana APBD kabupaten/kota (14,54%). Pada tahun

75
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

2005 realisasi investasi dapat ditingkatkan menjadi Rp.13,59 trilyun melalui 99 proyek. Pencapaian nilai proyek investasi tersebut telah menempatkan Banten sebagai tujuan investasi tertinggi di tingkat nasional. Berdasarkan data BKPMD Provinsi Banten, pada tahun 2005, rencana investasi PMA terbesar berasal dari negara Korea Selatan (US$ 47,60 juta), Belgia (US$ 6,5 juta), China (US $ 5 juta), dan Malaysia (US 1,7 juta). Sebagian besar rencana investasi PMA ini diperuntukkan bagi sektor industri kimia dasar, barang kimia dan farmasi (US$ 1,65 milyar), industri logam dasar (US$ 51,98 juta), dan industri kulit, barang dari kulit dan sepatu (US $ 36,78 juta. Sektor pertanian belum dilirik oleh investor asing terbukti dengan tidak adanya rencana investasi PMA yang ditanamkan pada sektor tersebut, padahal pemerintahan Provinsi Banten dalam rangka mengurangi kesenjangan ekonomi terus berusaha untuk mengembangkan sektor pertanian ini. Sektor-sektor yang diminati oleh investor domestik melalui PMDN juga tidak jauh beda dengan investor asing. Seluruh rencana investasi PMDN diperuntukan bagi sektor industri, mulai dari industri dasar,makanan , logam, sampai pada industri percetakan. Posisi strategis Provinsi Banten yang merupakan gerbang barat Pulau Jawa (sebagai simpul rantai distribusi dari Pulau Sumatera menuju Pulau Jawa dan sebaliknya), berada dekat dengan perlintasan pelayaran internasional (selat sunda) merupakan jalur ALKI yang menghubungkan antara Asia Barat dan sekitarnya dengan (Asia Pasifik), serta berbatasan langsung dengan pusat pemasaran nasional yaitu DKI Jakarta. Pelabuhan Merak merupakan salah satu dari 6 (enam) pelabuhan di Pulau Jawa dengan volume dan nilai ekspor tertinggi (Statistik Indonesia 2002). Selanjutan pelabuhan-pelabuhan besar di Provinsi Banten merupakan salah satu dari 10 (sepuluh) pelabuhan di tingkat nasional dengan volume angkutan tertinggi. Volume ekspor pada tahun 2005 mengalami penurunan yaitu dari 1.274.510 ton (2000) menjadi 1.000.092 ton (2005), akan tetapi dari nilai ekspor (USD) selama kurun waktu tersebut mengalami kenaikan 17,49% atau USD 478.464.506 pada tahun 2000 naik menjadi USD 562.154.306 pada tahun 2005. Impor melalui pelabuhan-pelabuhan utama di Provinsi Banten lebih mendominasi dari pada ekspor, baik dari sisi volume maupun nilainnya. Sejak tahun 2000 sampai dengan 2005 rata-rata volume impor telah mencapai 6.888.500 ton dengan volume terbesar pada tahun 2004 yang mencapai 10.199.949 ton. Sedangkan nilai ekspor ratarata adalah USD 2.127.659.343 dan USD 3.581.975.185, dengan laju pertumbuhan volume dan nilai impor rata-rata pertahun masing-masing 11, 84% dan 14,96%.

76
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

4.3. Permasalahan Berdasarkan realisasi investasi (01-06), orientasi lokasi PMA masih terfolus pada Kabupaten dan Kota Tangerang (masing-masing 68,33% dan 21,67%). PMA untuk mengembangkan sumberdaya lokal masih kurang dan jenis usaha sebagai matapencaharian penduduk kapasitasnya relatif kecil. Masing-masing PMA untuk sektor usaha pertanian hortikultura , sayuran dan bunga (1 proyek), industri pengolahan, pengawetan buah-buahan dan sayuran (1proyek) serta industri tepung dan pati (1 proyek). Sektor usaha yang diminati melalui investasi masih terkonsentrasi pada sektor usaha perdagangan dan reparasi (sekitar 20,33% dari proyek PMA), industri logam dasar, barang dari logam, mesin dan elektronika (17,01%), industri karet , barang dari karet dan plastik (9,96), industri kimia dasar, barang kimia, dan farmasi (9,96), dan industri tekstil (7,47). Minat usaha melalui PMA dalam mendorong mengembangkan usaha berbasis sumberdaya lokal atau yang menyentuh sektor-sektor ekonomii yang menjadi matapencaharian utama masyarakat (pertanian ) dan pariwisata sudah mulai tumbuh namun dalam kapasitas yang masih kecil. Fasilitas sarana dan prasarana masih minim baik jalan dan sarana angkutan sehingga hal ini akan mengakibatkan rendahnya efisiensi dan akses serta memperlambat mobilitas penduduk. V. Rekomendasi Tindak Lanjut

Kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan permasalahan pembangunan yaitu : a)Penyederhanaan prosedur perizinan dan peningkatan pelayanan modal, b) Memfasilitasi dan koordinasi kerjasama investasi, c) Pengendalian realisasi penanaman modal d) Promosi potensi investasi terpadu, e) Pengelolaan data dan informasi potensi investasi Banten, f) Pengembangan sumberdaya penanaman modal G. Invesatsi ke sektor pertanian di Provinsi Banten perlu di siasati karena banyak komoditi yang memiliki nilai tambah dan nilai jual di pasar domestik maupun pasar internasional yang masih terbuka untuk diekspor.

77
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Bab Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur
I. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah Provinsi Banten telah menjadi kawasan andalan nasional (Indonesia) dengan sektor unggulannya industri, khususnya industri manufaktur. Industri yang telah tumbuh di Provinsi Banten sebanyak 1.623 industri yang memiliki 72 jenis produk antara lain baja, plastik, kertas, tekstil, produk kimia, pakan ternak, suku cadang kendaraan motor, alat berat, kayu olahan, pangan, alat rumah tangga,pengolahan, cat, sepatu karet, kulit, mesin, dan lain-lain. Hasil produksi industri tersebut telah diekspor ke berbagai negara antara lain : Uni Eropa, USA, Australia, Timur tengah, Asia Selatan, Asia Tenggara, Jepang, China, Eropa Timur, dengan nilai ekspor tiap tahunnya terus meningkat, pada tahun 2005 mencapai sebesar USS 2.864.535.421,84 dengan volume sebesar 116.335,9 ton. Untuk pengembangan sektor industri tersedia lahan yang terdapat pada 17 kawasan industri, yang tersebar di kabupaten Tangerang, kabupaten Serang, dan Kota Cilegon. Tabel 4.2 Zone industri

4.4

NO
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

NAMA ZONA INDUSTRI KABUPATEN TANGERANG
Balaraja Industrial Park Taman Tekno Bumi Serpong Damai Park Balaraja Industrial Estate West Tangerang Industrial Estate Cikupa Graha Balaraja Sentra Produksi & Distribusi Kawasan Industri dan Pergudangan Cikupa Mas Pasar Kemis Industrial Park Milenium Industrial Park Planed 300 200 300 500 76 250 80 400 500 625 500 300 150

WIDTH (HA) Bulit 0 100 22 150 53 100 80 40 0 500 47 80 70 Opportunity 300 100 278 350 23 150 0 360 404 221 453 220 80

KOTA CILEGON
Petrochemical Industrial Estate Pancapuri Krakakatau Industrial Estate Cilegon KABUPATEN SERANG Langeng Sahabat Industrial Estate Nikomas Gemilang Industrial Estate Pancatama Indsutrial Estate

78
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

14 15 16 17 18

Modern Cikande Industrial Estate Samanda Perdana Industrial Estate Saur Industrial Estate Kawasan Industri terpau MGM Jababeka Cilegon Industrial Estate

900 150 250 662 1.800 TOTAL 7.9437

414 0 200 0 0 1.760

486 150 50 662 1.800 6.182

Sumber : Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Provinsi Banten II. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. III. 1. 2. 3. 4. 5. Sasaran yang Ingin Dicapai RPJMN dan RPJMD Pertumbuhan rata-rata sektor industri manufaktur (non migas) dalam RPJMN 2004-2009 adalah 8,5 % per tahun. Penyerapan tenaga kerja dalam lima tahun mendatang sekitar 500 ribu orang termasuk industri pengolahan non migas Terciptanya iklim usaha yang kondusif baik bagi industri yang sudah ada maupun baru Peningkatan pangsa industri manufaktur di pasar domestik Meningkatnya volume ekspor produk manufaktur dalam total ekspor nasional Meningkatnya proses alih teknologi yang dicerminkan meningkatnya bahan antara dari produk lokal Meningkatnya penerapan standardisasi produk industri manufaktur Meningkatnya penyebaran industri manufaktur ke luar Pulau Jawa Arah Kebijakan Mendorong terwujudnya peningkatan utilitas kapasitas industri Memperluas basis usaha dengan penyederhanaan prosedur perijinan dan penyelenggaraan usaha Meningkatkan iklim persaingan yang sehat dan berkeadilan Memperluas penerapan standardisasi produk industri Mendorong penguatan struktur industri pada sub sektor yang memiliki potensi keunggulan komparatif dan kompetitif IV. Pencapaian RPJMN di Daerah 4.1 Upaya yang telah dilakukan : 1. Penyelenggaraan program pelatihan kerja industri berbasis kompetensi 2. Penguatan kelembagaan Balai Pengembangan Teknis dan Standardisasi Industri (BPTSI) 3. Peningkatan profesionalisme tenaga pelatihan dan instruktur pelatihan industri 4. Peningkatan kerjasama bisang pelatihan industri 5. Pengembangan standard kompetensi industri dan sistem sertifikasi kompetensi pekerja industri

79
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

4.2 Capaian Hasil capaian menunjukkan jenis industri manufaktur yang ada di Banten didominasi oleh industri karet dan barang dari karet / plastik, Industri kimia dan barang dari bahan kimia, industri makanan dan minuman, dan industri dari bahan logam. Masing-masing jumlahnya 205, 178, 167, dan 150 buah. Jumlah penyerapan tenaga kerja yang paling dominan adalah industri karet dengan persentase 21,53%. Industri kimia dan barang dari bahan kimia, merupakan industri yang memberikan nilai tambah yang terbesar yaitu sebesar 7,46 trilyun rupiah. 4.3 Permasalahan Permasalahan utama yang dialami oleh industri manufaktur adalah : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. V. Lemahnya struktur industri manufaktur Rendahnya kualitas SDM, tingkat produktivitas, dan kemampuan penguasaan teknologi Belum memadainya layanan umum dan adanya praktek KKN sehingga biaya overhead meningkat Masih tingginya biaya modal dari lembaga keuangan/pemerintah Administrasi perpajakan yang belum optimal Membanjirnya produk-produk impor ilegal Terbatasnya kapasitas infrastruktur dan timpangnya kondisi antardaerah Rekomendasi Tingkat Lanjut

Pengembangan industri manufaktur di Provinsi Banten ditujukan agar dapat menyerap tenaga kerja sehingga dapat mengurangi kemiskinan. Dalam struktur industri, dibangun industri hulu, perantara dan industri hilir sehingga memudahkan dalam pengadaan bahan baku, tidak selalu harus diimpor. Selain itu, suasana yang kondusif sangat diperlukan dalam menjaga kelangsungan industri yang sudah ada dan mendatangkan para investor baru. Adanya balai-balai latihan kerja ataupun program-program sertifikasi memudahkan dalam meng-upgrade SDM yang ada di Provinsi Banten dalam penguasaan teknologi. Regulasi dari pemerintah dalam membendung produk-produk impor ilegal sangat diperlukan. Infrastruktur jalan jembatan, dan pelabuhan sangat produksi. memudahkan akses transporatsi baik aliran bahan baku maupun pengiriman hasil

80
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Bab Revitalisasi Pertanian
I. Kondisi Awal RPJM di Daerah Luas panen dan produksi budidaya padi pada tahun 2005 seluas 364.721 ha dan produksinya mencapai 1.812.495 ton atau dengan tingkat produksi per hektar mencapai 49,7 ton/ha. Pola perkembangannya, pada tahun 2005 dan 2006 tingkat produksi per hektar diperkirakan meningkat. Meskipun rata-rata laju pertumbuhan produksi per luas panen untuk seluruh jenis tanaman meningkat , namun pola dan praktek produksi palawija relatif belum berkembang. Hal tersebut dapat dilihat dari laju pertumbuhan rata-rata luas panen yang cukup baik (2,48% per tahun) namun peningkatan laju pertumbuhan rata-rata produksi hanya sebesar 4,08 % per tahun, atau dengan rasio yang hanya mencapai 1,64. Diantara berbagai jenis tanaman palawija yang diusahakan, hanya ubikayu dan kacang kedelai yang memiliki rasio laju pertumbuhan produksi rata-rata di atas angka 1 (masing-masing 1,41 dan 6,75. Pada tahun 2005 rata-rata luas panen untuk jenis tanaman sayuran mencapai 19.095,13 ha. Namun dalam waktu yang sama, produktivitas untuk jenis tanaman sayuran yang diusahakan semakin menurun menjadi 7,51 ton per hektar. Penurunan tersebut antara lain disebabkan oleh perubahan variasi minat petani terhadap jenis tanaman yang diusahakan. Populasi ternak unggas di Provinsi Banten dalam kurun waktu 2002-2005 mengalami peningkatan dengan rata-rata laju pertumbuhan untuk seluruh jenis sebesar 16,70 %, yang meliputi ayam buras, ayam ras (pedaging dan petelur) serta itik. Sedangkan untuk produksi ternak unggas, walaupun secara keseluruhan masih memiliki rata-rata laju pertumbuhan produksi sebesar 14,79 , namun untuk produksi ternak yang menghasilkan daging (ayam buras dan ayam pedaging) setiap tahunnya mengalami penurunan seiring dengan merebaknya kasus flu burung yang menyebabkan adanya kegiatan pemusnahan unggas maupun penurunan yang diakibatkan kekhawatiran masyarakat dalam mengkonsumsi daging unggas. Nilai tambah komoditas hasil pertanian masih rendah karena pada umumnya pemasaran atau ekspor dilakukan dalam bentuk segar (produk primer) dan olahan sederhana. Perkembangan industri pertanian belum optimal, ditunjukkan oleh rendahnya tingkat utilisasi industri hasil pertanian dan perikanan. Peningkatan nilai tambah produk pertanian melalui proses pengolahan memerlukan investasi dan teknologi pengolahan yang lebih modern. Kondisi ini diperberat oleh semakin tingginya persaingan produk dari luar negeri , baik yang masuk melalui jalur legal maupun ilegal.

4.5

81
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Dari sisi pendapatan pada tahun 2005 pendapatan perkapita petani /nelayan dan masyarakat disekitar hutan di Provinsi Banten Rp.8.004.179 per kapita per tahun, dan bila melihat rata-rata pengeluaran per kapita per bulan pada tahun 2005 sebesar Rp.1.956.287 per kapita per bulan tentunya pendapatan petani masih jauh tertinggal. Singkatnya sebagian besar petani di Provinsi Banten tergolong miskin dengan usaha pertanian, perikanan dan kehutanan, yang masih tradisional dan bersifat subsisten. II. Sasaran yang ingin di capai

Sasaran yang ingin di capai pada sektor pertanian yaitu : (1) Pertumbuhan sektor pertanian pada tahun 2007-2012 dari 9,56 % menjadi 11,20%. (2) Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB 2007-2012 dari 8% menjadi 9,28 %. (3) Penyerapan tenaga kerja dibidang pertanian pada tahun 2007-2012 dari 3.040 orang menjadi 3.561 orang. Untuk mencapai sasaran tersebut lebih spesifik dilakukan strategi pokok untuk memperkuat struktur ekonomi berbasis agribisnis dalam waktu lima tahun ke depan : (1) Revitalisasi pertanian, perikanan, dan kehutanan; (2) Pembangunan Waduk Karian; dan (3) Perkuatan usaha mikro kecil. III. Arah Kebijakan

Kebijakan diarahkan kepada penguatan struktur ekonomi berbasis agribisnis, prioritas pembangunan di arahkan pada : (1) pengembangan ekonomi lokal berbasis pertanian (tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, peternakan, perikanan, kelautan, kebudayaan, dan pariwisata; (2) penataan ulang struktur industri yang berdaya saing dengan prioritas penggunaan bahan baku lokal unggulan; (3) pengembangan kapasitas kelembagaan sosial-ekonomi berbasis masyarakat. IV. Pencapaian RPJM di Daerah

4.1. Upaya yang sudah dilakukan Dalam rangka pencapaian target pertumbuhan ekonomi Provinsi Banten selama periode 2007-2012, pembangunan ekonomi diorientasikan melalui pengembangan ekonomi lokal. Melalui pengembangan ekonomi lokal, kegiatan-kegiatan usaha yang akan diberdayakan dan dikembangkan setidaknya memenuhi ketentuan, yaitu : (1) dukungan ketersediaan sumberdaya alam lokal dan produk unggulan daerah yang dapat dimanfaatkan atau diolah; (2) penyerapan tenaga kerja lokal , khususnya masyarakat perdesaan dan masyarakat kurang mampu; serta (3) dukungan prasarana dan sarana dalam rangka pengelolaan dan pengembangan usaha. 4.2 Capaian Produksi padi meningkat dari 338.666 ha dan 1.468.765 ton atau dengan tingkat produksi per hektar mencapai 4,34 ton per ha pada tahun 2002 telah berkembang menjadi 364.721 ha dan 1.812.495 ton atau dengan tingkat produksi per hektar mencapai 49,7 ton per hektar pada tahun 2005. Populasi ternak unggas di

82
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Provinsi Banten dalam kurun waktu 2002-2005 mengalami peningkatan dengan rata-rata laju pertumbuhan untuk seluruh jenis sebesar 16,70 %, yang meliputi ayam buras, ayam ras (pedaging dan petelur) serta itik. Jaringan irigasi kabupaten/kota yang menjadi kewenangan pengelolaan Provinsi, hingga tahun 2005 telah terkelola sepanjang 866.915 m atau seluas 82.848 ha. Dari jaringan irigasi yang telah terkelola tersebut, sekitar 22,87% atau sepanjang 198,288 m merupakan jaringan irigasi yang tidak dapat berfungsi atau beroperasi secara optimal karena berada dalam kondisi rusak berat. Sementara itu jaringan irigasi dalam kondisi rusak ringan pada tahun yang sama mencapai 132.190 m dan sisanya dalam kondisi baik 536.437 m. Beberapa faktor yang menyebabkan tidak berfungsinya atau beroperasinya jaringan irigasi dengan luasan yang cukup signifikan tersebut antara lain adalah belum lengkapnya sistem jaringan, ketidaksediaan air, belum siapnya lahan sawah, ketidaksiapan petani penggarap, serta akibat terjadinya mutasi atau alih fungsi lahan. Pada tahun 2004 dari sekitar 327.414 ha luas lahan persawahan di Provinsi Banten, sekitar 12,18% atau 39.893 ha merupakan lahan persawahan yang masih menggunakan sistem pengairan tadah hujan, sehingga tidak dapat berproduksi sepanjang tahun (panen 1-2 kali/tahun). Hal ini dikarenakan pada musim kemarau persawahan tadah hujan tidak dapat berproduksi karena kurangnya pasokan air. Ketersediaan pangan adalah satu hal yang penting untuk menggambarkan ketahanan pangan suatu wilayah. Berdasarkan perhitungan dari DISTANAK Provinsi Banten pada tahun 2004, situasi ketersediaan pangan di Provinsi Banten sebagian berada pada cukup rawan dan sebagian sangat tahan. Kondisi cukup rawan pangan ada di Kabupaten Tangerang dan kondisi sangat tahan pangan ada di Kabupaten Serang, Pandeglang dan Lebak Kerawanan pangan di Banten diukur dengan menggunakan empat indikator yaitu : (1) ketersediaan pangan; (2) akses pangan; (3) penyerapan pangan, dan (4) kerentanan pangan daerah. Kerawanan pangan daerah erat kaitannya dengan penyediaan (stok) pangan daerah yang masih menghadapi masalah yaitu : masih tingginya ketergantungan pada beras dan rentannya ketahanan pangan ditingkat rumah tangga. Tingginya ketergantungan konsumsi pada beras mengakibatkan tekanan terhadap peningkatan produksi padi semakin tinggi pula. Sumber bahan pokok karbohidrat lain adalah palawija dan sumber protein yang berasal dari daging, telur dan susu, namun tingkat konsumsinya masih rendah. Pola makan sebagian masyarakat Banten yang bertumpu pada beras tersebut menyebabkan ketergantungan yang tinggi terhadap konsumsi karbohidrat, sehingga dengan pola ini kurang mendukung pengembangan kualitas sumberdaya manusia. Kondisi rawan pangan di Kabupaten Tangerang mengindikasikan adanya defisit pangan yang cukup tinggi. Hal ini disebabkan luas lahan dan produksi di daerah sangat rendah. Sementara di Kabupaten Serang, Pandeglang dan Lebak memiliki luas tanam dan tingkat produksi yang cukup tinggi.

83
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Akses terhadap pangan dipengaruhi oleh faktor daya beli rumah tangga, yang berarti bahwa akses terhadap pangan berhubungan dengan sumber nafkah atau pendapatan. Jumlah orang miskin mencerminkan kelompok yang tidak punya akses yang cukup terhadap sumber nafkah yang produktif, sehingga semakin besar jumlah orang miskin maka semakin rendah akses terhadap pangan yang pada akhirnya berdampak pada semakin tingginya derajat kerawanan pangan di daerah tersebut. Di samping itu rendahnya akses pangan juga dipengaruhi persentase kepala rumah tangga yang bekerja < 15 jam perminggu, persentase kepala rumah tangga miskin yang tidak tamat SD, persentase rumah tangga yang tidak memiliki akses terhadap listrik, dan rasio panjang jalan per kilometer persegi. Kerentanan pangan suatu daerah sangat dipengaruhi oleh persentase areal/wilayah yang berhutan, persentase lahan yang terdegradasi, areal pertanaman padi yang mengalami puso dan fluktuasi curah hujan. Persentase luas areal berhutan di Provinsi Banten berada dalam kategori yang beragam. Di Kabupaten Tangerang, yang luas hutannya semakin berkurang termasuk dalam kategori “rawan” dengan persentase luas areal berhutan sebesar 0,03 %, sedangkan Kabupaten Pandeglang dan Lebak masuk dalam kategori “ sangat tahan atau sangat aman”, dengan persentase sebesar 0,152 % dan 0,216%. Sementara itu di Provinsi Banten masih banyak lahan yang terdegradasi oleh kegiatan dan pola tinggal manusia serta kerusakan vegetasi pada jangka panjang. Luas lahan terdegradasi/rusak terendah ada di Kabupaten Tangerang dan masuk dalam kategori “tahan/aman” begitu juga di Kabupaten Serang. Sedangkan di Kabupaten Lebak dan Pandeglang masuk dalam kategori rawan. Areal padi yang mengalami puso yang disebabkan kekeringan, banjir atau hama penyakit, di Provinsi Banten masih termasuk dalam kategori “ sangat tahan atau sangat aman” dengan fluktuasi curah hujan yang masih menunjang produksi panen. 4.3. Permasalahan Permasalahan yang dihadapi sektor pertanian di Provinsi Banten: (1) Sektor pertanian (sektor primer) sebagai lapangan usaha terbesar dalam penyerapan tenaga kerja, mengalami penurunan sebesar 1,60 %, sehingga menempatkan kontrribusi sebesar 8,17% hingga tahun 2006. (2) Sebagian besar usaha petani masih bersifat subsisten dan sebagian besar petani termasuk golongan miskin, (3) Jumlah petani meningkat tetapi luas lahan menyempit yang disebabkan terjadinya konversi lahan pertanian sebagai akibat dari perluasan kawasan perkotaan. (4) Sebagian besar usaha petani masih diupayakan melalui pola tradisional, rendahnya SDM petani menghambat pemasaran produk pertanian sehingga menekan harga produk. (5) Keterbatasan kemampuan dalam produksi ternak (6) Pola pengusahaan hutan yang masih tradisional, potensi hasil hutan non kayu tidak dapat berkembang secara optimal sehingga berakibat pada rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat yang tinggal disekitar dan bergantung dari hutan, (7) Produksi dan

84
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

produktivitas perkebunan yang diupayakan melalui perusahaan negara dan perkebunan rakyat belum optimal, serta pengelolaan oleh swasta masih relatif kecil (terbatas) . (8) Masih kecilnya rasio PPL saat ini rasio PPL 1: 3 (satu kecamatan terdapat 3 PPL) sedangkan idealnya 1 desa ditangani 1 PPL. Kesejahteraan petani dan nelayan masih rendah dan tingkat kemiskinan masih relatif tinggi. Tingkat

kesejahteraan tercemin dari nilai kontribusi petani/nelayan termasuk masyarakat yang tinggal disekitar dan bergantung dari hutan. Dari kontribusi sekotor usaha di Banten, sektor pertanian merupakan sektor penyumbang terendah dan juga mengindikasikan bahwa kesejahteraan petani dan nelayan selama ini tidak mengalami perubahan. Selanjutnya, sekitar 60% kelompok masyarakat ini termasuk golongan miskin dengan usaha pertanian perikanan dan kehutanan yang masih tradisional dan bersifat subsisten. Minimnya akses terhadap informasi dan sumber permodalan menyebabkan masyarakat petani/ nelayan, dan masyarakat pesisir tidak dapat mengembangkan usahanya secara layak ekonomi. Dalam usaha perikanan budidaya pada umumnya usaha ini masih belum menggunakan teknologi budidaya yang tepat dan ramah lingkungan secara teknologi dalam rangka meningkatkan penerapan teknologi dan efisiensi usaha petani. Penanganan fungsi penyuluhan yang menjadi kewenangan daerah perlu ditingkatkan untuk memberikan pelayanan yang baik kepada petani, baik pelayanan teknologi, pengelolaan usaha, pemasaran dan peningkayan nilai tambah untuk peningkatan kesejahteraannya. Pengaktifan fungsi lembaga penyuluhan dan penyuluh pertanian menjadi kunci pokok dalam revitalisasi pertanian agar pembangunan pertanian yang dilakukan oleh masyarakat dan didukung dengan kebijakan dan program pemerintah benarbenar dapat meningkatkan kesejahteraan yang signifikan. Untuk itu perlu dukungan pemerintah dalam menghidupkan fungsi penyuluhan di setiap daerah. Di samping itu, faktor lain yang berpengaruh adalah masalah hama dan penyakit tanaman. Masalah hama dan penyakit tanaman memerlukan perhatian pemerintah pusat bersama-sama pemerintah daerah. Peran pemerintah daerah akan lebih difokuskan dalam memelihara fungsi lembaga dan aparat dalam memonitor perkembangan hama dan penyakit tumbuhan, mengendalikan penyebaran dan eradikasinya. Peran instansi teknis di tingkat pusat untuk menyedikan teknologi pengendalian dan pembasmian (eradikasi), dukungan tenaga ahli dan sumberdaya tambahan dapat dilakukan apabila magnitude serangan sudah diluar kemampuan daerah. Akan tetapi, informasi yang diperoleh dari hasil monitoring di lapangan yang dilakukan secara kontinyu oleh daerah melalui fungsi lembaga dan aparat yang terkait sangat penting untuk penentuan langkah penyelesaian masalah bersama-sama. Kerjasama antar daerah diperlukan apabila hama dan penyakit dapat menyebar lintas batas daerah dan wilayah, sehingga peran bersama antara pemerintah pusat, pemerintah Provinsi dan pemerintah kabupaten dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman sangat penting untuk di atasi bersama.

85
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Lemahnya kelembagaan dan posisi tawar petani berakibat pada panjangnya tataniaga dan belum adilnya sistem pemasaran. Kelembagaan petani yang dikarenakan rendahnya kualitas SDM petani dan nelayan, menyebabkan lembaga ini tidak berfungsi yang berakibat pada lemahnya posisi tawar petani dan mempersulit dukungan pemerintah yang diberikan kepada petani. Lahan pengusahaan petani semakin sempit sehingga pendapatan yang diperoleh tidak mencukupi kebutuhan dan kurang mendorong upaya peningkatan produksi. Berdasarkan sumber data BPS Banten, jumlah petani dalam kurun waktu 5 tahun belakangan ini meningkat namun jumlah lahan pertanian menurun. Pemilikan lahan per petani menyempit dari 1,00 ha menjadi 0,70 - 0,50 ha per petani. Pemilikan lahan pertanian seperti ini , meskipun produktivitas per luas lahan tinggi, namun tidak terintegrasi, sehingga pola pengembangan budidaya yang dilakukan masih belum efisien. Umumnya budidaya perikanan hanya difokuskan pada komoditas unggulan tanpa diikuti dengan pengembangan komoditas lain. Hal tersebut mengakibatkan produksi dan produktivitas budidaya perikanan yang dilakukan oleh petani masih rendah. Di samping itu, yang sering menimbulkan masalah dalam budidaya perikanan adalah penyediaan benih, bahan baku pakan, sarana irigasi (tambak), belum jelasnya pengaturan tataruang budidaya, kurangnya pembinaan dan penyuluhan / pendampingan, dan masalah-masalah lain yang berkaitan dengan akses permodalan dan pemasaran. Adanya ketimpangan tingkat pemanfaatan stok ikan antar kawasan perairan laut menyebabkan kondisi overfishing di kawasan Pantai Utara Banten dan sebaliknya masih banyak kawasan perairan laut yang tingkat pemanfaatan sumberdaya ikannya belum optimal atau bahkan belum terjamah sama sekali (pesisir Pantai Selatan Banten). Ketimpangan ini mengakibatkan terakumulasinya sejumlah besar nelayan ke wilayahwilayah tersebut, sehingga berakibat pada menurunnya jumlah tangkapan, semakin kecilnya ukuran ikan, menurunnya jumlah spesies, yang akhirnya berdampak pada menurunnya pendapatan nelayan. Di sisi lain telah terjadi kerusakan lingkungan ekosistem laut dan pesisir , seperti kerusakan hutan mangrove dan terumbu karang yang sebenarnya kawasan ini sebagai habitat penting ikan dan organisma laut lainnya untuk berkembangbiak. Kerusakan lingkungan pesisir dan laut juga disebabkan oleh pencemaran , baik yang berasal dari kegiatan manusia di darat maupun di laut. Kondisi ini menjadi lebih parah akibat masih lemahnya sistem pengendalian dan pengawasan di perairan laut, termasuk dalam penanganan masalah kapal-kapal asing yang beroperasi secara ilegal diperairan Indonesia yang mendesak para nelayan tradisional.

86
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Pemanfatan hutan yang melebihi daya dukung sehingga membahayakan pasokan air yang menopang keberlanjutan produksi hasil pertanian. Berkurangnya kawasan hutan khususnya di daerah hulu sungai menyebabkan terganggunya siklus hidrologi yang berdampak pada berkurangnya ketersediaan air tanah, membesarnya aliran permukaan, pendangkalan air sungai, waduk dan pantai serta banjir. Meningkatnya banjir pada musim penghujan dan kekeringan pada musim kemarau akhirnya mengganggu produksi hasil pertanian. Rendahnya produktivitas pertanian juga berkaitan erat dengan pelaksanaan penyuluhan pertanian yang merupakan kunci penting pelayanan pemerintah untuk membantu petani dalam meningkatkan produktivitas, produksi dan kesejahteraannya. Rendahnya dukungan dari lembaga ini berdampak pada turunnya efektivitas pembinaan, dukungan dan diseminasi usaha tani seperti ini, meskipun produktivitas perluas lahan tinggi, namun tidak dapat memberikan pendapatan petani yang cukup untuk menghidupi rumah tangga dan pengembangan usaha mereka. Hal ini merupakan tantangan besar dalam rangka mengamankan produksi padi/beras dari dalam negeri untuk mendukung ketahanan pangan nasional dan peningkatan daya saing komoditas pertanian. Hal lain yang menjadi permasalahan, dukungan kredit bagi usaha pertanian dalam mendukung kebutuhan modal petani dan nelayan masih terbatas. Kredit yang tersedia selama ini hanya dalam bentuk kredit ketahanan pangan (KKP) untuk petani padi dan tebu. Keterbatasan modal kurang mendorong petani dan nelayan untuk menerapkan teknologi baru dalam meningkatkan produktivitas, membatasi peningkatan nilai tambah, dan mengakibatkan ketergantungan pada penyediaan modal informal (pengijon). Akses petani dan nelayan terhadap prasarana dan sarana transportasi juga menghambat pemasaran produk pertanian dan perikanan sehingga menekan harga produk. Hal ini antara lain disebabkan oleh belum berpihaknya kebijakan ekonomi makro kepada petani dan lemahnya koordinasi antar lembaga. Penerimaan petani merupakan insentif terbesar bagi petani untuk terus berproduksi dan meningkatkan kualitas produknya sehingga dapat terus bersaing di pasar. Penerimaan petani dari hasil perdagangan komoditas pertanian juga dipengaruhi oleh banyak sedikitnya hambatan perdagangan yang terjadi antar daerah dan wilayah. Pada saat ini , dengan adanya otonomi daerah telah terjadi peningkatan pungutan atas lalu lintas perdagangan antar daerah dan wilayah, sehingga jumlah pos pungutan dan nilai pungutan produksi pertanian dalam negeri menjadi lebih tinggi dibanding jumlah dan nilai pungutan yang dialami oleh komoditas impor. Secara langsung pungutan ini memang meningkatkan PAD disuatu wilayah , namun dampak langsung adalah harga komoditas dalam negeri menjadi lebih mahal dibanding komoditas impor, yang pada akhirnya akan merugikan petani dan perkembangan perekonomian daerah. Untuk itu, pemerintah daerah secara bersama-sama dengan pemerintah pusat perlu menselaraskan hambatan perdagangan komoditas pertanian

87
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

antar daerah dan wilayah. Sehingga tujuan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat termasuk petani dalam kerangka revitalisasi pertanian tidak terdistorsi. V. Rekomendasi Tindak lanjut Kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan permasalahan pembangunan pertanian yaitu (1) Penerapan teknologi pertanian, penyuluhan pertanian, peningkatan akses petani terhadap modal, serta perluasan lahan pertanian (ekstensifikasi) (2) Pengembangan agribisnis dengan berorientasi pada nilai tambah (3) Pengembangan produk unggulan (4) Perbaikan kelembagaan dan sistem tataniaga, serta peningkatan prasarana dan sarana transportasi sebagai jalan untuk usahatani (farm road) (5) Pengembangan investasi swasta dibidang perkebunan serta peningkatan produktivitas dan produksi perkebunan rakyat , serta didukung dengan perbaikan kelembagaan dan sistem tataniaga. (6) Pengembangan dan peningkatan produksi ternak Beberapa tahun terakhir konservasi lahan pertanian banyak terjadi disemua daerah/wilayah. Disatu pihak, pemilihan penggunaan lahan merupakan suatu pilihan ekonomi namun perlu diperhatikan mengenai keseimbangan pemanfaatan lahan secara keseluruhan. Lahan hutan terutama hutan konservasi dan hutan lindung perlu dipertahankan untuk kelestarian sumberdaya alam hayati maupun sumberdaya air untuk mendukung kelangsungan kehidupan. Selain itu , jumlah lahan pertanian subur/sawah beririgasi teknis sangat penting peranannya dalam mempertahankan ketahanan pangan. Peran daerah bersama-sama pemerintah pusat untuk tetap mempertahankan lahan pertanian, terutama lahan untuk produksi padi, dalam jumlah yang dapat menjamin ketahanan pangan nasional untuk mencegah ketergantungan terhadap bahan pangan impor sangat diperlukan. Untuk itu pengamanan lahan pertanian terutama yang beririgasi teknis perlu dilakukan secara bersama-sama, dan pemerintah daerah secara langsung berperan besar dalam pengelolaan dan pengamanan lahan, dalam wadah sistem pertanahan dan tataruang nasional. Untuk meningkatkan kesejahteraan petani yang ada di Provinsi Banten, pembangunan sektor pertanian hendaknya diarahkan pada pengembangan komoditas unggulan atau produk agroindustri yang diunggulkan. Berdasarkan hasil penelitian komoditas unggulan yang banyak digeluti masyarakat dan memberikan nilai tambah adalah emping melinjo dan gula aren cetak. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Cimenga Kabupaten Lebak mengenai nilai tambah gula aren cetak, agroindustri ini mampu memberikan nilai tambah Rp. 1.242,46 per kilogram bahan baku, gula aren Desa Haryang Kabupaten Lebak mampu memberikan nilai tambah Rp.4.968,73 per kilogram bahan baku, dan gula aren cetak Desa Curuglanglang Kabupaten Lebak Rp. 408,61 per kilogram bahan baku. Sedangkan untuk agroindustri emping melinjo mampu memberikan nilai tambah Rp. 5.824,68 per kilogram bahan baku. Berdasarkan perhitungan struktur industri gula aren dan emping melinjo terbukti agroindustri ini mampu bertahan lama (relatif tangguh) terhadap krisis ekonomi dan

88
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

mampu menyerap tenaga kerja perdesaan. Walaupun industri ini relatif kecil namun peranannya dalam meningkatkan kesejahteraan cukup signifikan. Mengenai struktur produksi gula aren cetak dan industri pembandingnya dapat dilihat pada tabel 4.3 di bawah ini. Tabel 4.3 Struktur Produksi Kerajinan Gula Aren Cetak dari Desa Cimenga dan Desa Haryang, Serta Struktur Produksi Pembanding Output, Input dan Harga Gula Cetak Cimenga (1) Output (kg/hr) (2) Input (lt/hr) (3) Tenaga kerja (HKP/hr) (4) Faktor Konversi (5) Koefisien Tenaga Kerja (6) Harga Produk (Rp/kg) (7) Upah Tenaga Kerja (Rp/hr) Pendapatan Keuntungan (8) Harga bahan baku (Rp) (9) Sumbangan input lain (Rp) (10) Nilai Output (Rp) (11) Nilai Tambah (Rp) (%) (12) Balas Jasa Tenaga Kerja Bagian Tenaga Kerja (%) (13) Keuntungan Tingkat (%) Keterangan : *) Bahan baku biji melinjo diukur dengan satuan kilogram Keuntungan 395,05 23,6 4.282,97 81 1,30 0,19 4.424,60 39,78 68 14 76,71 24,04 847,41 685,76 313,45 1.400,08 1.672,26 1.242,46 5.274,74 4.968,73 94 672,00 408,61 60,81 11.121,96 5.824,68 52,57 350,00 79,80 300,00 6,01 250,00 13,39 4.588,43 708,85 dan 498,95 2.467,33 71,68 0,20 0,03 8.361,32 28.247,18 Aren Gula Asal Cetak Haryang 283,81 1.419,06 41,24 0,19 0,03 5.274,55 22.858,79 Aren Gula Aren Cetak Emping Melinjo Asal Asal Curuglanglang 130,00 624,00 56,30 0,21 0,09 3.200,00 3.482,86 Asal Menes 221,65 462,20*) 22,80 0,48 0,05 23.170,76 28.001,56 Desa

Rasio Nilai Tambah 74

89
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Komoditi unggulan yang ada di Provinsi Banten adalah gula aren cetak. Banten merupakan provinsi yang berpotensi untuk pengembangan agroindustri gula aren cetak. Agroindustri gula aren cetak di Provinsi Banten tidak berbeda dengan agroindustri di provinsi lain di Indonesia. Secara prinsip agroindustri gula aren cetak yang ada berskala kecil dan dikelola secara individu dengan teknologi yang diwariskan secara turun temurun. Di Provinsi Banten agroindustri gula aren yang selama ini berjalan dan tumbuh menggunakan dan memanfaatkan sumberdaya lokal yang tersedia secara alamiah baik dari segi bahan baku, tenaga kerja, bahan bakar, maupun bahan pendukung lainnya. Sesuai dengan kondisi agroekosistem Provinsi Banten, di mana ketersediaan lahan kering (lahan tegalan, kebun, lahan kering untuk kayu-kayuan, dan lahan yang belum diusahakan) cukup besar, kurang lebih 355.418 ha, maka potensi pengembangan areal aren di Banten masih cukup besar. Selain itu, masyarakat Banten telah cukup lama mengenal dan mengeksplorasi nilai ekonomi dari tanaman aren. Luas areal aren di Provinsi Banten pada tahun 2005 mencapai 1.633 ha. Bila dibandingkan dengan total areal aren di Pulau Jawa yang mencapai 15.025 ha, berarti areal aren di Banten pangsanya sekitar 11 %. Produksi gula aren tahun 2005 mencapai 1.217 ton dengan produktivitasnya mencapai 10,50 ku/ha. Perkembangan luas areal, produksi dan peroduktivitas gula aren di Provinsi Banten antara tahun 1998 sampai tahun 2005 dapat dilihat pada Tabel 4.4. Tabel 4.4 Perkembangan luas areal, produksi dan peroduktivitas gula aren di Provinsi Banten, 1998 – 2005. Tahun Luas Areal (Ha) TBM 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 (%/Th) 208 158 178 177 213 354 354 379 12.92 TM 1.090 1.107 1.107 1.102 1.133 1.134 1.134 1.159 0.78 TTM/TR 46 65 65 92 102 104 104 95 9,41 Total areal 1.344 1.330 1.350 1.371 1.448 1.592 1.592 1.633 3.38 Produksi (ton) 1.009 1.027 1.028 1.046 1.413 1.175 1.182 1.217 3.18 Produktivitas (ku/Ha) 9.26 9.28 9.29 9.49 12.47 10.36 10.42 10.50 2.06

Sumber : Ditjen Perkebunan (1998-2005) Bila dilihat dari segi perkembangannya, terlihat bahwa peningkatan areal pertanamannya masih cukup tinggi yaitu mencapai 3,38 persen pertahun. Mulai ramainya masyarakat menanam aren terutama sejak tahun 2000an karena harga gula aren cukup tinggi sehingga menarik bagi para petani. Peningkatan aren tersebut,

90
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

mendorong peningkatan produksinya sebesar 3,18 persen per tahun, serta produktivitasnya meningkat sebesar 2,06 persen per tahun. Walaupun kondisi budidaya aren masih tradisional, dapat diyakini bahwa peningkatan produksi aren di daerah ini masih dominan disebabkan karena peningkatan areal pertanamannya, bukan karena peningkatan produktivitasnya. Di lingkup Provinsi Banten sendiri, kabupaten-kabupaten yang cukup dominan areal pertanaman aren adalah Kabupaten Lebak, lalu disusul oleh Kabupaten Pandeglang, seperti disajikan pada Tabel 5. Luas areal aren di Lebak pada tahun 2005 mencapai 1.348 ha, dengan tingkat produksi mencapai 1.056 ton dan produktivitasnya 10,70 ku per ha. Tabel 4.5 Perkembangan Areal, Produksi, dan Produktivitas Gula Aren Di Kabupaten Sentra Provinsi Banten , Tahun 1996-2003. Tahun 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 (%/Th) Luas Areal (ha) Pendeglang Lebak 216 216 216 237 269 244 244 244 2.28 1.128. 1.114 1.134 1.134 1.134 1.348 1.348 1.348 3.30 1.344 1.330 1.350 1.371 1.448 1.592 1.592 1.633 3.38 Produksi (ton) Banten Pendeglang Lebak 125 117 117 103 290 120 126 126 2.10 884 910 911 943 943 1.055 1.056 1.056 2.90 Banten 1.009 1.027 1.028 1.046 1.413 1.175 1.182 1.217 3.18 Produktivitas (ton/ha) Pandeglang Lebak 6.94 6.69 6.69 7.10 10.78 8.11 8.51 8.51 4.22 9.71 9.76 9.77 9.85 9.85 10.70 10.70 10.70 1.69 Banten 9.26 9.28 9.29 9.49 12.47 10.36 10.42 10.50 2.06

Sumber : Ditjen Perkebunan (1998-2005) Pada kurun waktu 1998-2005, areal aren di Lebak mengalami peningkatan yang cukup pesat yaitu sebesar 3,30 persen per tahun. Peningkatan areal tersebut menjadi pemicu peningkatan produksi sebesar 2,90 persen per tahun, sedangkan produktivitasnya hanya mengalami peningkatan sebesar 1,69 persen per tahun. Senada dengan uraian sebelumnya bahwa respon peningkatan produksi di Kabupaten Lebak ini lebih dominan disebabkan karena peningkatan arealnya. Terdapat kemungkinan rendahnya produktivitas tersebut juga disebabkan proses produksi gula aren cetak selama ini tidak efisien. Kerajinan gula aren cetak selama ini dikelola tidak berorientasi bisnis namun hanya sebagai pekerjaan yang digeluti secara rutin karena tidak ada pekerjaan lain yang lebih menguntungkan (way of life).

91
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Sentra produksi gula aren cetak di Provinsi Banten cenderung terkonsentrasi di Kabupaten Lebak. Terkonsentrasinya sentra produksi gula aren tersebut disebabkan karena pertumbuhan agroindustri gula aren cetak sangat tergantung pada ketersediaan nira segar yang dihasilkan dari pohon aren. Penghasil gula aren cetak di Kabupaten Lebak tersebar pada 11 kecamatan. Penghasil gula merah terbesar tahun 2005 adalah Kecamatan Cijaku 346,20 kg, menyerap tenaga kerja 1.408 orang, dan unit usaha 704 unit. Penghasil gula merah terbesar kedua setelah Kecamatan Cijaku yaitu Kecamatan Muncang dengan jumlah produksi 270 kg mampu menyerap tenaga kerja 1.752 orang dengan jumlah unit usaha 876 unit. Untuk lebih jelasnya mengenai sentra produksi gula aren cetak di Kabupaten Lebak dapat dilihat pada Tabel 4.6. Tabel 4.6 Sentra Produksi Gula Aren Cetak Di Kabupaten Lebak, 2005 Sentra Produksi Cipanas Leuwdamar Sajira Muncang Bojong Manik Gunung Kencana Cijaku Malingping Panggarangan Bayah Cibeber Jumlah Rata-rata kecamatan Sumber : Dishutbun Kabupaten Lebak,2004 dalam Rancangan Teknis Pengembangan Komoditas Unggulan di Kabupaten Lebak, 2004-2007. Lebak Banten Budidaya aren hingga pohon aren dapat diambil niranya memerlukan waktu yang cukup lama yaitu kurang lebih 10 sampai dengan 15 tahun. Selama ini pohon aren yang dimiliki petani aren di Kabupaten Lebak, pembenihannya masih menggunakan bantuan musang yang terjadi secara alamiah. Belum ada petani aren yang menggunakan benih aren hasil rekayasa teknologi benih. Akibatnya, populasi aren sangat lambat pekembangannya. Apalagi sejak sepuluh tahun terakhir petani aren di Provinsi Banten khususnya Kabupaten per Unit Usaha 108 121 21 876 203 128 704 42 201 28 371 2.808 255 Tenaga 216 242 42 1.752 406 256 1.408 84 402 56 742 5.606 510 kerja yang Produksi (ton) 20,00 20,64 14,20 270,00 94,56 101,20 346,20 21,00 100,60 23,00 30,00 1.056,00 96,00 Terserap (orang)

92
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Lebak lebih tertarik untuk mengolahnya menjadi tepung aren. Diperkirakan 5-10 batang per ha digunakan untuk tepung aren. Kondisi ini akan semakin cepat memperlangka jumlah populasi pohon aren. Hal ini dapat dilihat dari populasi tanaman aren di Kabupaten Lebak semakin berkurang dari rata-rata populasi 80-100 batang per ha menjadi 25 batang per ha. Secara keseluruhan populasi tanaman aren berkurang antara 5.400-20.800 batang per tahun (Dinas Kehutanan dan Perkebunan, 2004). Apabila kondisi ini dibiarkan maka akan mengancam keberlangsungan industri gula aren cetak yang selama ini mampu memberikan kontribusi pendapatan masyarakat pedesaan. Lebih lanjut lagi ancaman tersebut bukan saja pada keberlangsungan agroindustri akan tetapi akan mengancam kelestarian ekosistem setempat.

93
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Bab Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
I. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah Jumlah UMKM di Provinsi Banten cukup banyak dengan jumlah sekitar 800.000 buah. Jumlah ini merupakan potensi yang besar yang dapat menurunkan jumlah kemiskinan dan pengangguran terbuka. karena lebih dari 2 juta orang menggantungkan hidup pada UKM. Limapuluh enam persen adalah sektor real yang digerakkan oleh tenaga-tenaga perempuan. Potensi kuantitas UKM yang banyak selain mampu bisa menyerap tenaga kerja, juga memiliki potensi dalam upaya penanggulangan kemiskinan di Provinsi Banten. Hal ini sangat mungkin terjadi apabila UKM diberdayakan secara optimal, sehingga tercipta pemerataan bagi warga masyarakat secara umum. II. Sasaran yang Ingin Dicapai RPJMN dan RPJMD

4.6

Sasaran yang ingin dicapai dalam RPJMN 2004-2009 adalah sebagai berikut : 1. Meningkatnya produktivitas UMKM dengan laju pertumbuhan lebih tinggi 2. Meningkatnya prorporsi usaha kecil formal 3. Meningkatnya nilai ekspor produk usaha kecil dan menengah 4. Berfungsinya sistem untuk menumbuhkan wirausaha baru berbasis IPTEK 5. Meningkatnya kualitas kelembagaan dan organisasi koperasi III. Arah Kebijakan

Arah kebijakan dalam RPJMD Banten adalah sebagai berikut : (1) Pengembangan UKM (2) Pengembangan sistem pendukung usaha UMKMK (3) Penciptaan iklim usaha UMKMK (4) Pemberdayaan dan pembinaan usaha UMKMK (5) Pengembangan kewirausahaan dan diversifikasi produk UMKMK IV. Pencapaian RPJMN di Daerah 1. Penerapan teknologi supervisi dan pendampingan 2. Pengembangan sentra-sentra industri dan kerajinan 3. Peningkatan kemampuan pelaku UKM 4. Pemberdayaan industri kecil menengah di Provinsi 5. Penelitian dan pengembangan IPTEK 6. Pengembangan SDM KUKM dan penguatan jaringan pasar produk KUKM

4.1 Upaya-upaya yang telah dilakukan

94
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

7. Peningkatan manajemen pemasaran usaha bagi KSP/USP koperasi 8. Bimtek kewirausahaan bagi pemuda dan pemudi 9. Pengembangan jaringan infra struktur usaha kecil menengah 4.2 Capaian Hasil-hasil capaian kinerja adalah adanya kenaikan jumlah penyerapan tenaga kerja sebanyak 1.262.878 orang tahun 2005 menjadi 1.763.353 orang pada tahun 2007. Kemudian jumlah koperasi berkembang dari 5.115 buah tahun 2005 menjadi 5.338 buah pada tahun 2007. Pengukuran keberhasilan sasaran “Meningkatnya Jumlah UMKMK dengan Standar Bisnis yang Memadai” tercermin dari indikator sebagai berikut : Indikator Kinerja Meningkatnya dengan memadai jumlah tahun UMKMK yang % 5 28,68 573,80 sekarang Kategori Sangat Baik Satuan Target Realisasi % Capaian Kinerja

standar

binsis

dibanding tahun lalu

Jumlah UMKMK pada tahun 2007 adalah sebanyak 578.952 unit dan 411.789 unit (46,85 persen) diantaranya telah memenuhi standar bisnis yang memadai. Dibandingkan dengan jumlah UMKM yang memenuhi standar bisnis tahun 2006, maka terjadi peningkatan sebanyak 91.816 unit (28,69 persen) Target yang ditetapkan adalah 5 persen, sedangkan realisasi yang dapat dicapai adalah 28,69 persen, maka capaian kinerjanya adalah 573,80 persen, dengan kategori “Sangat Baik”. Tabel 4.7 Perkembangan Jumlah UMKM yang Memenuhi Standar BisnisTahun 2003 s/d 2007 Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 Jumlah UMKM-K 604.643 625.582 886.253 732.384 878.952 Koperasi Provinsi Banten. Catatan : UMKM-K, didalamnya termasuk badan usaha koperasi. Jumlah UMKMK yang memenuhi standar bisnis 219.243 241.662 365.934 319.973 411.789 % 36.26 38.63 41.29 43.69 46.85

Sumber : Banten dalam Angka 2006 dan Dinas Perindustian, Perdagangan dan

95
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Dalam tahun 2007 terjadi peningkatan peran dan kapasitas Usaha Mikro Kecil Menengah dan Koperasi (UMKM-K). hal ini disebabkan oleh semakin kondusifnya iklim usaha pada tataran usaha kecil dan menengah. Kinerja secara keseluruhan secara ini dapat diuraikan sebagai berikut. Unit Usaha Mikro Kecil dan Menengah Perkembangan UMKMK menunjukkan peningkatan sebesar 20,15 persen dari 727.074 unit pada tahun 2006 menjadi 873.614 unit pada tahun 2007. Hal ini terjadi pada seluruh bidang UMKMK. Kenaikan tertinggi terjadi pada bidang aneka usaha sebesar 20,53 persen, sedangkan bidang industri pertanian dan industri pertanian masing-masing mengalami kenaikan sebesar 20,17 persen dan 19 persen. Tabel 4.8 Perkembangan Jumlah UKM Tahun 2003 s/d 2007 Bidang Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 Aneka Usaha 460.108 475.958 719.696 414.722 499.848 Industri Non Pertanian 92.335 95.516 99.567 137.244 163.326 Industri Pertanian 47.472 49.107 61.875 175.108 210.440 599.915 620.581 881.138 727.074 873.614 Total UKM

Kenaikan jumlah UKM ini juga diiringi dengan peningkatan penyerapan tenaga kerja sebesar 13,13 persen dari 1.558.636 orang pada tahun 2006 menjadi 1.763.353 orang pada tahun 2007. persentase penyerapan tenaga kerja UKM dibandingkan total penduduk bekerja tahun 2007 juga mengalami peningkatan dibanding tahun 2006. Perkembangan penyerapan tenaga kerja selama empat tahun terakhir terlihat pada tabel berikut. Tabel 4.9 Penyerapan Tenaga Kerja UKM Tahun 2005 s/d 2007 Uraian Jumlah Tenaga Kerja UKM Total Penduduk Bekerja Persentase Tenaga yang terserap UKKMK dibandingkan total penduduk yang bekerja Sumber Data : - * Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Provinsi Banten -** Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Provinsi Banten 2004 1.227.062 3.161.970 38.81 2005 1.262.878 3.461.508 36.48 2006 1.558.636 3.333.495 46.76 2007 1.763.353 3.338.805 52.81

96
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Tahun 2007 jumlah unit koperasi tercatat sebesar 5.338 unit atau naik 0,52 persen dibandingkan tahun 2006 yang berjumlah 5.310 unit. Kenaikan jumlah koperasi ini juga diimbangi dengan kenaikan aktivitas koperasi aktif sebesar 0,41 persen dari 3,118 unit di tahun 2006 menjadi 3.131 unit di tahun 2007, namun jumlah koperasi tidak aktif naik 0,66 persen dari 2.192 unit di tahun 2006 menjadi 2.207 unit di tahun 2007. dari sisi anggota koperasi memperlihatkan kenaikan anggota sebesar 0,07 persen dari 871.544 orang di tahun 2006 menjadi 872.203 orang pada tahun 2007. sedangkan pelaksanaan Rapat Anggota Tahunan (RAT) tahun 2007 mencapai 100 persen dari jumlah koperasi yang wajib melaksanakan RAT. Semua ini menunjukkan bahwa pembinaan terhadap koperasi cukup berhasil dan kesadaran masyarakat untuk berkoperasi semakin meningkat. Tabel 4.10 Kinerja Koperasi Tahun 2005 s/d 2007 No 1 Uraian Jumlah Koperasi - Koperasi Aktif - Koperasi Tidak Aktif 2 3 Jumlah Anggota RAT Orang Unit 770.593. 2.118 871.544 3.118 872.203 3.131 0.07 0.41 Satuan Unit Unit Unit Tahun 2005 5.115 3.489 1.626 2006 5.310 3.118 2.192 2007 5.338 3.131 2.207 Perkembangan (%) 0.52 0.41 0.68

Sumber : Dinas Perindustrian, Pergdangan dan Koperasi Provinsi Banten Omzet Usaha Kecil dan Menengah Penigkatan jumlah UKM ini juga diikuti dengan kenaikan omzet usaha UKM sebesar 3,23 persen dari Rp.853.174.664 juta pada tahun 2006 menjadi Rp. 880.741.886 juta pada tahun 2007 sebagaimana terlihat pada tabel berikut. Tabel 4.11 Omzet Usaha Kecil dan Menengah Tahun 2004 s/d 2007 Uraian Omzet usaha (Rp. Juta) 2004 923.305.320 2005 922.721.434 2006 853.174.664 2007 880.741.886

Sumber : Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Provinsi Banten Selain mengalami kenaikan omzet usaha, trend positif juga berimbas pada kenaikan hampir seluruh indikator kinerja UKM baik modal usaha, kekayaan bersih, dan modal luar/ pinjaman pada seluruh bidang UKM. Penurunan hanya terjadi bidang aneka usaha. Perkembangan kinerja UKM ini terlihat pada tabel berikut.

97
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Tabel 4.12 Kinerja Koperasi Tahun 2005 s/d 2007 Tahun No I 1 2 3 3.1 3.2 4 II 1 2 3 3.1 3.2 4 III 1 2 3 3.1 3.2 4 Uraian Ind. Pertanian Jml UKM Jml Tenaga Kerja Modal Usaha Kekakayaan Bersih Modal Luar/Pinj Omzet Usaha Ind. Nontan Jml UKM Jml Tenaga Kerja Modal Usaha Kekayaan Bersih Modal Luar / Pinj Omzet Usaha Ind Aneka Usaha Jml UKM Jml Tenaga Kerja Modal Usaha Kekayaan Bersih Modal Luar/ Pinj Omzet Usaha Unit Org Rp. Jt Rp. Jt Rp. Jt Rp. Jt 475.958 809.239 418.948.463 227.561.475 191.386.988 638.451.230 719.696 1.129.501 659.887.386 358.568.945 301.318.441 649.842.338 499.848 663.644 477.405.550 259.412.148 217.993.402 430.864.610 (33.69) (30.54) (41.24) (27.65) Unit Org Rp. Jt Rp. Jt Rp. Jt Rp. Jt 95.516 244.553 86.840.634 46.821.908 40.018.726 131.217.752 99.567 341.323 90.458.993 48.772.821 41.686.171 139.256.727 163.326 440.980 154.568.297 83.338.667 71.229.630 225.150.825 61.68 64.03 29.19 70.87 Unit Org Rp. Jt Rp. Jt Rp. Jt Rp. Jt 49.107 202.679 42.435.536 22.698.074 19.737.462 52.721.434 61.875 282.879 55.696.803 29.791.309 25.905.494 64.075.599 210.440 484.012 197.320.459 105.543.501 91.776.958 224.726.451 250.71 240.10 71.10 254.27 Satuan 2005 2006 2007 Perkem bangan (%)

Sumber : Dinas Perindustrian, Perdgangan dan Koperasi Provinsi Banten Catatan : Terjadi kenaikan/ penurunan yang tajam pada jumlah UKM, disebabkan kekeliruan pengelompokan jenis UKM (diperbaiki).

98
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Volume Usaha Koperasi dan Sisa Hasil Usaha (SHU) Koperasi Volume usaha koperasi tahun 2007 mengalami kenaikan 1.44 persen menjadi Rp.1.543.324 juta dibanding tahun 2006 yang berjumlah Rp. 1.521.410 juta. Sedangkan Sisa Hasil Usaha Koperasi aik 1,88 persen dari Rp. 63.286 juta pada tahun 2006 menjadi Rp. 64.477 juta pada tahun 2007. peningkatan volume usaha berdampak bagi peningkatan sumber modal kekayaan bersih sebesar 24,88 persen dan total aset sebesar 11,82 persen. Namun jumlah karyawan yang bekerja pada bidang koperasi turun 9,16 persen menjadi 658.862 orang. Tabel 4.13 Perkembangan Kinerja Keuangan Koperasi Tahun 2005 s/d 2007 Tahun No 1 2 3 Uraian Volume Usaha Sisa Hasil Usaha Sumber Modal : - Kekayaan Bersih - Modal Luar/Hutang 4 5 Jumlah Karyawan Total Aset Rp. Jt Rp. Jt Orang Rp. Jt 238.444 430.621 6.407 738.820 268.387 320.783 9.650 589.171 335.177 323.484 8.766 658.862 24.88 0.84 (9.16) 11.82 Satuan Rp. Jt Rp. Jt 2005 1.101.132 65.279 2006 1.521.410 63.286 2007 1.543.324 64.477 Perkem bangan (%) 1.44 1.88

Sumber : Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Provinsi Banten Strategi pencapaian sasaran ini ditetapkan melalui Program-program antara lain : o o o o o o Program Pengembangan Industri Kecil dan Menengah Program Pembinaan pelaku UMKMK Program Pengembangan Kewirausahaan dan diversifikasi produk UMKMK Program pengembangan sistem pendukung usaha bagi UMKMK Pengembangan penerapan dan pengembangan IPTEK Proram Pengembangan Kewirausahaan dan Keunggulan Kompetitif Usaha Kecil Menengah dan Koperasi o Program Peningkatan Kualitas Kelembagaan Koperasi

Capaian program antara lain : Tersebarluasnya HKI dan desain kemasan produk industri kecil dan menengah, Meningkatnya jumlah industri kecil dan menengah yang memperoleh pembinaan, meningkatnya jumlah setara industri aneka dan kerajinan yang memperluar pembinaan, Terbentuknya klaster industri berbasis terknologi,

99
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Meningkatnya jumlah UMKM dan UMKM yang memperoleh dan pemasaran, dan meningkatnya jumlah tenaga kerja yang berkualitas dan berdaya saing. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan untuk menunjang program-program tersebut diatas, antara lain : o o o o o o o o Penerapan teknologi supervisi dan pendampingan Pengembangan sentra-sentra industri aneka dan kerajinan Peningkatan kemampuan pelaku UKM Pemberdayaan dan Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi Pengembangan SDM KUKM dan penguatan jaringan pasar produk KUKM Peningkatan manajemen pemasaran usaha bagi KSP/ USP Koperasi Bimtek kewirausahaan bagi pemuda pemudi dan Pengembangan jaringan infrastruktur usaha kecil menengah

Penelitian yang dilakukan LPPM Untirta yang berjudul ” Perencanaan Strategis Usaha Kecil Menengah dalam Rangka Pembinaan dan Pengembangan Usaha ”, di Cilegon. Dengan menggunakan metode analisis cluster diperoleh dua cluster Usaha Kecil dan Menengah. Ada perubahan koefisien aglomerasi tertinggi pada agglomeration schedule dari output SPSS release 12 for Windows. Berdasarkan pengelompokan yaitu : Usaha Kecil dan Menengah dengan dasar profil perusahaan yaitu variabel skala industri, produksi, skala kapasitas dan jumlah karyawan yang dilakukan secara terstruktur. Tabel 4.14 Perubahan koefisien aglomerasi pada agglomeration schedule untuk 10 tahap pembentukan cluster terakhir (1-10 cluster pertama) Jumlah Cluster 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 893.008.625,84 155.630.296.315,49 426,88 1.216,42 9.923,76 19.409,37 49.456,25 174.071,02 928.279,82 9.075.077,61 789,54 8.707,34 9.458,61 30.046,88 124.614,76 754.208,81 8.146.797,79 883.933.548,23 154.737.287.689,65 64,91 87,74 48,87 60,75 71,59 81,25 89,77 98,98 99,43 Koefisien Aglomerasi Perubahan Koefisien % Perubahan Koefisien

100
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Dari hasil penelitian didapatkan : Strategi pengembangan UKM : 1. Meningkatkan usaha kapasitas Usaha Kecil dan Menengah anggota cluster 1, agar setara dengan Usaha Kecil dan Menengah anggota cluster 2. 2. Membentuk sentra Usaha Kecil dan Menengah dalam satu lokasi usaha. Usaha Kecil dan Menengah pada sektor pangan ini yang dijadikan sentra adalah Usaha Kecil dan Menengah yang memiliki jenis produksi dan skala kapasitas yang sama. 3. Memperluas akses pasar dan penjualan. 4. Meningkatkan kemampuan Usaha Kecil dan Menengah sektor pangan dalam permodalan. 5. Meningkatkan kapasitas dan akses suplai bahan baku, khususnya untuk Usaha Kecil dan Menengah sektor pangan dalam cluster 1. Strategi Bisnis Perusahaan Faktor yang diperhitungkan sebagai penentu keberhasilan pengusaha Usaha Kecil dan Menengah dalam menjalankan usahanya, yaitu segmentasi, targeting dan posisioning. Taktik Bisnis Perusahaan Taktik bisnis perusahaan dalam analisis ini meliputi komponen-komponen dalam marketing mix. Taktik bisnis ini dikembangkan oleh Usaha Kecil dan Menengah di kota Cilegon untuk mengembangkan perusahaan melalui peningkatan penjualan dan perluasan pasar. Customer Relationship Management Konsep Customer Relationship sangat membantu dalam pengembangan Usaha Kecil dan Menengah karena dapat menyatukan UKM dan langganannya. Pengembangan konsep customer relationship management dalam UKM terdiri dari komponen-komponen yang terintegrasi dan dilaksanakan secara bersamaan. Komponen-komponen tersebut adalah sbb : 1. Fokus terhadap apa yang diinginkan pelanggan (key customer focus). 2. Pengetahuan tentang ilmu manajemen pengetahuan (knowledge management). 3. Menmbangun sebuah tim untuk mengembangkan CRM. 4. Adanya peran teknologi sebagai dasar untuk pengembangan CRM 4.3 Permasalahan Rendahnya produktifitas UMKM, yang berkaitan dengan : (a) rendahnya kualitas SDM UMKM khususnya dalam bidang manajemen, organisasi, penguasaan teknologi dan pemasaran; (b) rendahnya kompetensi kewirausahaan UMKM. Peningkatan produktifitas UMKM sangat diperlukan untuk mengatasi ketimpangan antar pelaku, antar golongan pendapatan dan antar daerah, termasuk penanggulangan kemiskinan, selain sekaligus mendorong peningkatan daya saing nasional.

101
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Akses kepada sumberdaya produktif terutama terhadap permodalan, teknologi, informasi dan pasar bagi UMKM masih terbatas. Dalam hal pendanaan, produk jasa lembaga keuangan sebagian besar masih berupa kredit modal kerja, sedangkan untuk kredit investasi sangat terbatas. Bagi UMKM keadaan ini sulit untuk meningkatkan kapasitas usaha ataupun mengembangkan produk-produk yang bersaing. Disamping persyaratan pinjamannya juga tidak mudah dipenuhi, seperti jumlah jaminan meskipun usahanya layak, maka dunia perbankan yang merupakan sumber pendanaan terbesar masih memandang UMKM sebagai kegiatan yang beresiko tinggi. Bersamaan dengan itu, penguasaan teknologi, manajemen, informasi dan pasar masih jauh dari memadai dan relatif memerlukan biaya yang besar untuk dikelola secara mandiri oleh UMKM. Sementara ketersediaan lembaga yang menyediakan dana di bidang tersebut juga sangat terbatas dan tidak merata keseluruh daerah. Peran masyarakat dan dunia usaha dalam pelayanan kepada UMKM juga belum berkembang, karena pelayanan kepada UMKM masih dipandang kurang menguntungkan. Kurangnya pemahaman tentang koperasi sebagai badan usaha yang memiliki struktur kelembagaan (struktur organisasi, struktur kekuasaan, dan struktur insentif) yang unik/khas dibandingkan badan usaha lainnya, serta kurang memasyarakatnya informasi tentang praktek-praktek berkoperasi yang benar atau best practices telah menimbulkan berbagai permasalahan mendasar yang menjadi kendala bagi kemajuan perkoperasian di Indonesia. Pertama, banyak koperasi yang terbentuk tanpa disadari oleh adanya kebutuhan atau kepentingan ekonomi bersama dan prinsip kesukarelaan dari para anggotanya, sehingga kehilangan jatidirinya sebagai koperasi sejati yang otonom dan swadaya / mandiri. Kedua, banyak koperasi yang tidak dikelola secara profesional dengan menggunakan teknologi dan kaidah ekonomi modern sebagaimana layaknya sebuah badan usaha. Ketiga, masih terdapat kebijakan dan regulasi yang kurang mendukung kemajuan koperasi. Keempat, koperasi masih sering dijadikan alat oleh segelintir orang / kelompok untuk mewujudkan kepentingan pribadi atau golongannya yang tidak sejalan atau bahkan bertentangan dengan kepentingan anggota koperasi yang bersangkutan dan nilai-nilai luhur serta prinsip-prinsip koperasi. Sebagai akbatnya : (i) kinerja dan kontribusi koperasi dalam perekonomian relatif tertinggal dibandingkan badan usaha lainnya, (ii) citra koperasi di mata masyarakat kurang baik. Lebih lanjut, kondisi tersebut mengakibatkan terkikisnya kepercayaan, kepedulian dan dukungan masyarakat kepada koperasi. V. Rekomendasi Tingkat Lanjut

Diharapkan pembangunan ekonomi pada bidang usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta koperasi diorientasikan pada pembinaan sumberdaya manusia (bidang manajemen, organisasi, penguasaan teknologi, dan pemasaran) dan kompetensi kewirausahaan UMKM, peningkatan bantuan kredit modal kerja dan investasi UMKM, penerapan teknologi, penyediaan informasi dan jaringan pasar bagi UMKM , serta pembinaan kelembagaan dan organisasi koperasi dan pembinaan pengelolaan usaha koperasi.

102
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Bab Peningkatan Pengelolaan BUMN
I. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah Didirikannya BUMN merupakan salah satu cara pemerintah menggali sumber-sumber keuangan publik (umum), dimana pemerintah ikut serta dalam kegiatan transaksi di pasar barang dengan cara memproduksi suatu barang atau jasa yang kemudian dijual di pasar. Dengan berdirinya BUMN diharapkan pemerintah dapat menstimulan atau merangsang hasil produksi output dan perdagangan di pasar barang maupun jasa. dan di sisi lain ikut serta menciptakan lapangan kerja II. Sasaran yang Ingin Dicapai RPJMN dan RPJMD

4.7

Keberadaan BUMN di daerah memberikan dampak ekonomi yang positif bagi pembangunan daerah. Selama BUMN tidak dominan dan tidak mendistorsi sektor swasta yang menyebabkan crowding out di pasar, maka BUMN dipastikan akan mampu menstimulan peningkatan output ekonomi di daerah tempat BUMN bersangkutan beroperasi. Ada beberapa sasaran / keuntungan yang dapat diperoleh daerah dengan adanya BUMN di daerahnya antara lain : 1. PDRB akan meningkat 2. Lapangan pekerjaan bertambah / meningkat 3. Ekonomi daerah terstimulan 4. Pendapatan Asli Daerah (PAD) meningkat Namun dari keuntungan tersebut, sangat tergantung oleh tingkat kreatifitas Pemda dalam memposisikan keberadaan BUMN tersebut. Apabila BUMN yang bersangkutan adalah BUMN hulu, maka kesempatan untuk mengembangkan pasar atau komoditi terbuka luas, tinggal sejauhmana Pemda merancang regulasi yang mampu memberikan insentif bagi sektor hulu tersebut. III. Arah Kebijakan

Dalam upaya mencapai sasaran, arah kebijakan BUMN sebagai berikut : 1. Peningkatan koordinasi dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah, departemen dan instansi terkait untuk menata kebijakan industri dan pasar BUMN. 2. Menetapkan kebijakan yang berhubungan dengan kinerja BUMN. 3. Menerapkan prinsip-prinsip Good Governance ( Transparancy, Responsibility dan Accountability 4. Melaksanakan evaluasi dan langkah-langkah restrukturisasi yang meliputi restrukturisasi manajemen, organisasi, operasional dan sistem prosedur

103
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

IV. 4.1

Pencapaian RPJMN di Daerah Upaya yang telah Dilakukan akan meningkatkan PDRB , meningkatkan lapangan kerja,

Penerapan Good Corporate Governance

menciptakan stimulan bagi perekonomian daerah, Pendapatan Asli Daerah meningkat, penciptaan iklim yang kondusif dengan orientasi pasar yang kompetitif. Di sisi lain ditetapkan indikator penetapan standar kinerja BUMN serta pelaksanaan pengawasan dan mengevaluasi kinerja. 4.2 Capaian

Keberadaan BUMN di daerah banyak memberikan dampak positif baik kepada pemerintah daerah maupun kepada masyarakat sekitar. Walaupun BUMN keseluruhan kepemilikan dan pengelolaan adalah oleh pemerintah pusat, tetapi secara tidak langsung memberikan kontribusi kepada pemerintah daerah seperti perizinan pendirian tempat, PBB, pajak kendaraan dan retribusi lainnya yang masuk kedalam kas daerah. Dalam hal proses pelaksanaannya ada juga BUMN yang bersinergi dengan BUMD daerah, dapat terlihat dari anak perusahaan BUMN Krakatau Steel yaitu Krakatau Tirta Industri yang mengelola air Cidanau dan pemilik surveyor, menyerahkan pendistribusian air tersebut kepada konsumen. Ini menunjukkan bahwa BUMN memberikan kontribusi kepada Perusahan Milik Daerah yang sekaligus pemerintah daerah. 4.3 Permasalahan

Kebijakan pemerintah yang menetapkan transaksi BUMN dalam dolar mengakibatkan kesulitan bagi BUMN dan Pemerintah sendiri terutama apabila terjadi krisis keuangan global seperti sekarang ini. Dalam hal ini perlu restrukturisasi peraturan tentang hal tersebut dengan mengacu kepada Negara Singapura sebagai contoh yang menerapkan transaksi dolar Singapura untuk semua perusahaan baik PMDN maupun PMA. V. Rekomendasi Tindak Lanjut

Sesuai dengan tujuan didirikannya BUMN untuk memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian nasional dan daerah diharapkan BUMN dapat meningkatkan efisiensi dan daya saing, lebih meningkatkan pelayanan kepada masyarakat tanpa mengabaikan tujuan komersial. Dalam memberikan penilaian kepada BUMN yang ada, pemerintah harus mengevaluasi kinerja BUMN dengan memberikan reward dan reward punishment. Dalam melakukan transaksi dalam negeri agar menggunakan mata uang rupiah untuk menjaga stabilitas apabila terjadi devaluasi.

104
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Bab Peningkatan Kemampuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
I. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah Provinsi Banten tidak menginginkan masyarakatnya dalam menghadapi era perdagangan bebas hanya sebagai pelengkap atau bahkan penonton. Untuk mengantisipasi hal tersebut, pemerintah Provinsi Banten menentukan kebijakan untuk meningkatkan kualitas hidup sumber daya manusia dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini mutlak diperlukan melalui peningkatan kualitas pendidikan untuk mempercepat terwujudnya suatu masyarakat yang maju dan sejahtera. Kondisi energi intelektual dan alokasi anggaran yang didedikasikan untuk kegiatan riset mengindikasikan, sejumlah institusi pemerintahan daerah, perguruan tinggi, dan NGO telah memiliki SDM bidang Iptek di Provinsi Banten. Seluruh paket penelitian mencakup empat tema utama : a) tema ekonomi pembangunan, terfokus pada kajian teknologi-ekonomi, pertanian, kelautan dan perikanan, kehutanan, pertambangan, industri perdagangan dan koperasi, serta jasa pariwisata, b) masalah sosial budaya mencakup kajian pendidikan, kebudayaan dan kemayarakatan, dan c) tentang kewilayahan seperti pemukiman, infrastruktur,perhubungan, dan masalah lingkungan II. 1. Sasaran yang Ingin Dicapai RPJMN dan RPJMD Tumbuhnya penemuan IPTEK baru yang dapat dimanfaatkan bagi peningkatan nilai tambah dalam sistem produksi dan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan secara lestari dan bertanggungjawab 2. 3. 4. Meningkatnya ketersediaan, hasil guna, dan daya guna sumber daya (SDM, sarana, prasarana, dan kelembagaan iptek.) Tertatanya mekanisme intermediasi untuk meningkatkan pemanfaatan hasil litbang oleh dunia usaha dan industri Terwujudnya iklim yang kondusif bagi berkembangnya kreatifitas, sistem pembinaan, dan pengelolaan hak atas kekayaan intelektual, pengetahuan lokal, serta standardisasi nasional III. 1. 2. 3. 4. Arah Kebijakan Mempertajam prioritas penelitian, pengembangan dan rekayasa iptek Meningkatkan kapasitas dan kapabilitas iptek dengan memperkuat kelembagaan, sumber daya, dan jaringa iptek di pusat dan daerah Menciptakan iklim inovasi dalam bentuk pengembangan skema insentif yang tepat untuk mendorong perkuatan struktur industri Menanamkan dan menumbuhkembangkan budaya iptek untuk meningkatkan peradaban bangsa

4.8

105
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

IV.

Pencapaian RPJMN di Daerah 1. Pembentukan dan pengembangan kluster industri berbasis teknologi 2. Penerapan Teknologi Tepat guna 3. Peningkatan jumlah kerjasama riset dengan dunia usaha 4. Pembentukan lembaga-lembaga litbang dan pusat teknologi industri 5. Penemuan dan pengembangan teknologi bagi pelaku UKM

4.1 Upaya-upaya yang telah dilakukan

4.2 Capaian Diversitas tema penelitian iptek di Provinsi Banten memperlihatkan tingkat minat kajian berturut-turut dari yang tertinggi pada kajian ekonomi pembangunan dan teknologi rekayasa sebesar 52%, kemudian kajian sosial budaya 24%, kajian bidang politik, hukum, dan pemerintahan sebesar 13%,dan sisanya kajian kewilayahan sebesar 11%. 4.3 Permasalahan 1. Existing Condition, sebagian besar tema penelitian belum didasarkan pada permasalah strategis dan potensial. Sebagia bahkan masih bersifat reaktif-spontan 2. Pengembangan hasil penelitian hanya sebagian kecil diaplikasikan bagi penyusunan kebijakan 3. Struktur kelembagaan litbang daerah belum ada satupun lembaga teknis daerah yang mengkoordinasikan perencanaan, melaksanakan rencana, dan melakukan pengendalian kegiatan riset di daerah V. Rekomendasi Tingkat Lanjut

Untuk melaksanakan kelitbangan daerah diperlukan sebuah institusi mandiri setingkat eselon 2, dibantu oleh bidang teknis yang dapat melaksanakan tugas pokok dan fungsi penelitian dan pengembangan dalam berbagai bidang kajian pembangunan melalui pendekatan keilmuan. Lembaga riset daerah sangat urgen untuk menunjang pembangunan daerah yang berkelanjutan. Oleh karena itu, struktur organisasi lembaga riset harus jelas kedudukannya dalam pemerintahan dan jaringan kelitbangan nasional dan internasional.

106
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Bab Peningkatan Iklim Ketenagakerjaan
I. Kondisi Awal RPJM di Daerah

4.9

Sektor Ketenagakerjaan merupakan salah satu sektor penting pembangunan ekonomi khususnya dalam upaya pemerintah untuk menanggulangi kemiskinan. Hal ini merupakan modal bagi bergeraknya roda perekonomian dan pembangunan. Berdasarkan hasil survey angkatan kerja Nasional (Sukernas 2007), di Provinsi Banten terdapat 6.452.566 orang penduduk usia 15 tahun ke atas yang secara ekonomi masuk dalam penduduk usia produktif , dengan jumlah laki-laki sebanyak 3.250.413 orang (50,37%), dan perempuan sebanyak 3.202.153 orang (49,63%). Penduduk yang mencari pekerjaan dan penduduk bukan angkatan kerja dapat dilihat pada Tabel : Tabel 4.15 Penduduk 10 tahun ke atas yang bekerja, Mencari Pekerjaan dan Bukan angkatan kerja di Provinsi Banten No Tahun Angkatan kerja Bekerja 1 2 3 4 5 2003 2004 2005 2006 2007 (orang) 3.185.642 3.161.970 3.461.508 3.333.495 3.338.805 Mencari Kerja (orang) 673.189 765.747 661.618 890.489 641.355 Jumlah (orang) 3.858.831 3.937.717 4.123.126 4.223.984 3.980.160 (orang) 3.148.367 3.198.729 3.293.569 3.236.484 2.472.406 (orang) 7.007.198 7.126.446 7.416.695 7.460.468 6.452.556 Bukan Angkatan Kerja Penduduk ≥10 thn

Sumber : Banten dalam Angka 2006 dan Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Penduduk usia produktif dibagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok pertama disebut angkatan kerja yakni penduduk yang telah/sedang dan siap berkontrobusi dalam aktivitas ekonomi (bekerja dan mencari pekerjaan) dan kelompok kedua disebut bukan angkatan kerja yakni penduduk usia produktif yang tidak mengambil peranan dalam kegiatan ekonomi baik karena sekolah, mengurus rumah tangga atau kegiatan lainnya. Berdasarkan sebaran penduduk usia produktif antar Kabupaten/Kota, jumlah terbesar sampai terkecil berturut-turut adalah : Kabupaten Tangerang sebanyak 2.284.706 orang (35,41%), Kabupaten Serang

107
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

1.229.753 orang (19,06%), Kota Tangerang sebanyak 1.173.858 orang (18,19%), Kabupaten Pandeglang sebanyak 808.487 orang (12,53%), Kabupaten Lebak sebanyak 722.021 orang (11,19%), dan Kota Cilegon sebanyak 233.741 orang (3,62%) Lapangan usaha di sektor pertanian merupakan sektor yang masih dominan dalam menyerap tenaga kerja. Tingginya lapangan usaha di sektor pertanian merupakan kenyataan historis, karena sektor ini umumnya tidak banyak membutuhkan tenaga kerja terdidik dan terampil. II. Sasaran yang ingin di capai RPJMN dan RPJMD 1. Program perlindungan pengembangan lembaga ketenagakerjaan 2. Program peningkatan kesempatan kerja 3. Program transmigrasi regional III. 1. Arah Kebijakan Peningkatan pengawasan perlindungan dan penegakan hukum dibidang ketenagakerjaan 2. Sosialisasi berbagai peraturan tentang ketenagakerjaan 3. Kegiatan pendidikan dan pelatihan bagi pencari kerja 4. Kegiatan Fasilitas peningkatan UMP 5. Kegiatan Pengembangan dan Penyebarluasan Bursa Informasi Tenaga Kerja IV. Pencapaian RPJMD di Daerah 1. Program Perlindungan Pengembangan Lembaga ketenagakerjaan 2. Program Peningkatan Kesempatan Kerja 4.2 Capaian Di Provinsi Banten tingkat partisipasi angkatan kerja melampaui angka yang ditargetkan. Tingkat partisipasi angkatan kerja pada dasarnya merupakan salah satu data ketenagakerjaan yang memberikan gambaran tentang seberapa besar keterlibatan penduduk dalam kegiatan ekonomi produktif, yang merupakan perbandingan antara jumlah penduduk yang tergolong angkatan kerja dibandingkan dengan jumlah penduduk berumur 15 tahun ke atas. Tingkat partisipasi angkatan kerja tahun 2007 61,70%, dibandingkan tahun 2006 mengalami peningkatan sebesar 5,08%, dan dalam lima tahun terakhir tingkat partisipasi angkatan kerja ratarata mengalami peningkatan sebesar 2,54 %. Peningkatan Partisipasi angkatan kerja dapat dilihat pada Tabel sebagai berikut.

4.1 Upaya yang Telah Dilakukan

108
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Tabel 4.16 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Berdasarkan Indikator Kinerja Indikator Kinerja Meningkatnya tingkat angkatan tahun lalu Kategori Sumber : Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Provinsi Banten Peningkatan TPAK ini salah satunya disebabkan terjadinya peningkatan jumlah penduduk yang memasuki pasar kerja, disamping adanya kecenderungan membaiknya mutu sumberdaya manusi.a yaitu ada kecenderungan peningkatan jumlah penduduk yang bersekolah. Tingkat partisipasi angkatan kerja dapat dilihat pada Tabel 4.17 Tingkat Parsipasi Angkatan Kerja Tahun 2003-2007 Uraian/tahun 2003 2004 2005 3.858.831` 3.927.717 4.123.126 Jumlah Penduduk Angkatan kerja (orang) 7.007.198 7.126.446 7.416.695 Jumlah Penduduk berumur 10 tahun ke atas (orang) 51,56 55,07 55,59 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (orang) Sumber : Banten dalam Angka dan Dinas Sosial dan Tenaga Kerja 4.3 Permasalahan Meskipun TPAK di Provinsi Banten mengalami peningkatan dari 56,62 % pada tahun 2006 menjadi 61,70 %pada tahun 2007, namun tingkat pengangguran terbuka (TPT) masih cukup tinggi yaitu 16,10%, sehingga dengan demikian diperkirakan hanya 83,90 % penduduk yang dapat terserap dalam dunia kerja. Pada tahun 2007 terdapat 641.355 penduduk yang termasuk dalam kategori pengangguran baik sukarela maupun terpaksa. 2006 4.223.948 2007 3.980.160 Sangat Baik partisipasi kerja sekarang Satuan % Target 56,62 Realisasi 61,70 % Capaian Kinerja 108,97

dibandingkan tahun

7.460.468

6.452.556

56,62

61,70

109
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Tingkat upah di sektor pertanian masih rendah dan dikerjakan oleh masyarakat tradisional atau marjinal.Di sisi lain sektor ini meyerap tenaga kerja yang besar sekitar 25,70% dari total penduduk yang bekerja disektor ini, sementara sektor perdagangan menyerap 23,80 %, sektor industri pengolahan 19,90 %, jasa-jasa 13,80 %, angkutan komunikasi 9,30 %. Sektor lainnya adalah bangunan 3,60%, keuangan 2,4%, pertambangan/penggalian 1%, dan listrik, gas, air minum (0,50%) V. 1. 2. 3. 4. 5. Rekomendasi Tindak Lanjut Peningkatan pengawasan perlindungan dan penegakan hukum dibidang ketenagakerjaan Sosialisasi berbagai peraturan tentang ketenagakerjaan Kegiatan pendidikan dan pelatihan bagi pencari kerja Kegiatan Fasilitas peningkatan UMP Kegiatan pengembangan dan penyebarluasan Bursa Informasi Tenaga Kerja.

Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung capaian program antara lain:

110
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

BAB 4.10 Pemantapan Stabilitas Ekonomi Makro
I. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Banten tahun 2007 merupakan bentuk implementasi dari kerangka perencanaan pembangunan jangka menengah Provinsi Banten yang dilaksanakan dalam periode tahunan. Oleh karena itu, keselarasan dan sinergitas substansi serta target pembangunan antara kedua dokumen tersebut harus berartikulasi dan saling mendukung. Isu strategis dan permasalahan mendesak yang masih dihadapi Provinsi Banten dalam pembangunan adalah masalah inflasi, pengangguran dan neraca pembayaran. Penggerak perekonomian antara lain adalah investasi dan konsumsi. Konsumsi akan memicu sektor produksi untuk menciptakan output Peningkatan konsumsi yang tinggi akan menyebabkan peningkatan output yang tinggi pula. Selanjutnya investasi juga menjadi faktor pemicu yang tidak kalah penting. Bahkan investasi mremiliki pengganda ekonomi lebih besar dibanding konsumsi karena daya guna investasi lebih lama. Proyek PMA dan PMDN yang disetujui oleh Pemda Banten pada tahun 2007 mengalami kenaikan dibanding tahun sebelumnya. Jumlah proyek PMA 73 proyek menjadi 114 proyek pada tahun 2007. PMDN naik dari 21 proyek tahun 2007 dari 13 proyek di tahun 2006. Pada proyek PMA pada tahun 2006 yang disetujui US$ 231,41 juta tahun 2006 meningkat US$ 268,63 tahun 2007. Pada PMDN turun dari 6,47 Trilyun tahun 2006 menjadi 1,75 Trilyun tahun 2007. Perekonomian Provinsi Banten dalam kurun waktu tahun 2001-2005 bergerak dengan Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) rata-rata 5,53% pertahun. Sejalan dengan peningkatan LPE tersebut , PDRB berlaku hingga tahun 2004 telah mencapai Rp 75,56 Trilyun. II. Sasaran yang Ingin Dicapai RPJMN dan RPJMD

Sebagai bagian dari kerangka dan struktur perekonomian nasional bahkan internasional, pergerakan dan pertumbuhan perekonomian Provinsi Banten akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan-perkembangan yang terjadi disekitarnya. Baik perkembangan perekonomian dalam lingkup eksternal Provinsi Banten ataupun perkembangan yang terjadi dalam lingkup internal Banten. Gambaran perekonomian Provinsi Banten perkembangan lingkungan eksternal sbb: pada tahun 2007 diperkirakan akan dipengaruhi oleh

111
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

1. Meningkatnya integrasi perekonomian nasional yang pada satu pihak akan menciptakan peluang yang lebih besar bagi perekonomian Provinsi Banten; tetapi dilain pihak juga menuntut daya saing yang lebih tinggi. Dorongan eksternal bagi perekonomian Provinsi Banten antara lain berasal dari (a) pusat pergerakan ekonomi nasional yang terdekat, seperti Jakarta, Tangerang, dan Bekasi serta (b) pertumbuhan perekonomian kawasan Banten Selatan yang menjadi sumber bahan baku. 2. Meskipun krisis moneter telah berlalu, namun potensi ketidakpastian eksternal tetap ada yaitu sebagai akibat krisis finansial global yang kemungkinan memperlambat pertumbuhan ekonomi nasional maupun daerah, menurunnya arus penanaman modal dan terpusatnya arus modal pada beberapa daerah saja. Lingkungan internal yang diperkirakan berpengaruh positif terhadap perekonomian Provinsi Banten dalam tahun 2007 adalah pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Gubernur) secara langsung oleh rakyat akan membentuk pemerintahan yang lebih diakui atau legitimated dan diharapkan mampu menyelenggarakan pemerintahan secara optimal. Sejalan dengan meningkatnya kepastian politik dan kemampuan untuk menegakkan keamanan dan ketertiban. Pemerintahan yang lebih diakui dan kuat akan mempercepat penyelesaian konflik di masyarakat .Konflik berpotensi menghambat terciptanya iklim usaha yang sehat dan kondusif. Apabila konflik dapat diatasi dengan baik akan meningkatkan minat investasi dan menggerakkan roda perekonomian Berdasarkan kondisi dan prospek perekonomian Provinsi Banten serta tantangan-tantangan yang akan dihadapi ke depan sebagaimana sebelumnya, maka rancangan perekonomian dan pembiayaan pembangunan Provinsi Banten didasarkan pada beberapa asumsi berikut : - Terjaganya stabilitas moneter - Kondisi keamanan sosial dan politik yang kondusif - Tidak terjadi bencana dengan skala yang besar - Komitmen stakeholder - Inflasi YoY 2007 diperkirakan 8% - ICOR sebesar 3,73 % III. Arah Kebijakan

Berdasarkan beberapa asumsi yang dijadikan dasar pertimbangan di atas, serta memperhatikan kondisi dan prospek perekonomian daerah ke depan, diharapkan perekonomian dapat tumbuh dengan menerapkan kebijakan pembinaan sektor riil, penurunan angka pengangguran dengan mendorong dunia usaha agar dapat menyerap pengangguran, mendukung keberadaan dunia usaha sebagai partner pemerintah dalam

112
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

meningkatkan pertumbuhan ekonomi, penciptaan iklim investasi yang kondusif serta lapangan pekerjaan , membuat program yang langsung bersentuhan dan dapat di akses masyarakat miskin. IV. 4.1 Pencapaian RPJMN di Daerah Upaya yang telah Dilakukan

Upaya yang dilakukan pemerintah Provinsi Banten untuk pemantapan stabilitas makro adalah menurunkan angka pengangguran, menaikkan tingkat partisipasi angkatan keja, meningkatkan jumlah tenaga kerja yang berkualitas dan berdaya saing, serta membuat program kerja yang langsung bersentuhan dengan masyarakat Selain itu pemerintah juga melaksanakan berbagai program dalam rangka pengentasan kemiskinan , menciptakan lapangan kerja; dengan cara pemerintah memberikan subsidi bagi dunia usaha seperti BBM , pemanfaatan lahan yang tidak produktif , meningkatkan pertumbuhan ekonomi, serta penciptaan iklim investasi yang kondusif 4.2 Capaian

Kondisi perekonomian Provinsi Banten telah mampu menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan dilihat dari meningkatnya indikator-indikator perekonomian makro, seperti Produk Domestik Bruto (PDRB) yang merupakan jumlah barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi di wilayah Provinsi Banten dalam jangka waktu tertentu, yang dikelompokkan dalam tiga sektor sbb : 1. Sektor primer meliputi sektor pertanian, serta sektor pertambangan dan penggalian 2. Sektor sekunder meliputi sektor industri pengolahan, listrik, gas, dan air, serta sektor bangunan 3. Sektor Tersier meliputi sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor angkutan dan komunikasi, serta sektor jasa Secara sektoral pertumbuhan roda perekonomian Banten dipicu oleh peningkatan PDRB dalam sektor tersier karena ternyata sektor tersierlah yang lebih cepat bangkit dari keterpurukan pasca krisis. Sedangkan untuk sektor primer dan sektor sekunder belum seluruhnya mengalami pemulihan.Sektor-sektor primer dan sekunder yang mengalami peningkatan umumnya merupakan sektor yang memenuhi kebutuhan dasar yang antara lain terlihat dari : berkurangnya jumlah penduduk miskin dan pengangguran. Sektor ketenagakerjaan merupakan salah satu sektor penting pembangunan ekonomi khususnya dalam upaya pemerintah untuk menanggulangi kemiskinan. Hal ini karena tenaga kerja akan terus mengalami perubahan seiring dengan berlangsungnya proses demografi. Pada umumnya yang menjadi fokus di bidang ketenagakerjaan adalah penduduk usia kerja yang masuk angkatan kerja karena kelompok ini memiliki sensifitas yang cukup tinggi terhadap pasar. Oleh karena itu perubahan yang terjadi pada kelompok ini akan mempengaruhi sisi permintaan dan penawaran tenaga kerja. Berbeda dengan hal lainnya yang memang

113
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

secara ekonomis tidak aktif sehingga dikategorikan sebagai bukan angkatan kerja. Pada tahun 2007 di Banten terdapat 6,52 juta penduduk usia kerja, dan sekitar 37,41 % (2,44 juta jiwa) dari mereka terdapat di kabupaten Tangerang. Bagian dari penduduk usia kerja yang aktif dalam kegiatan ekonomi disebut angkatan kerja. Tabel 4.18 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Tahun 2003-2007 Uraian/Tahun Jumlah Penduduk yang Tergolong Angkatan Kerja Jumlah Penduduk 10 Tahun Ke atas Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja 2003 3.858.831 7.007.198 51,56 2004 3.927.717 7.126.446 55,07 2005 4.123.126 7.416.695 55,59 2006 4.233.984 7.460.468 56,62 2007 3.980.160 6.452.566 61,70

Tabel 4.19 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Kabupaten/Kota Tahun 2004-2007 Kabupaten/Kota Kab. Pangeglang Kab. Lebak Kab. Tangerang Kab. Serang Kota Tangerang Kota Cilegon Banten 2004 60,52 58,19 53,21 55,41 53,37 51,76 55,07 2005 57,52 59,88 56,13 54,07 51,74 56,08 55,59 2006 58,40 60,98 57,39 54,19 53,72 54,29 56,62 2007 64,77 66,87 62,13 58,87 58,24 59,38 61,57

Dari tabel di atas terlihat TPAK dari tahun 2004 meningkat di tahun 2005 dari 55,07 menjadi 55,59 , tahun 2006 sebesar 56,62 dan pada tahun 2007 meningkat menjadi 61,57. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) merupakan ukuran yang menggambarkan jumlah angkatan kerja untuk setiap 100 penduduk usia kerja. TPAK Provinsi Banten sedikit mengalami peningkatan dari 55,59 % pada tahun 2005 menjadi 61,57 % tahun 2007. Peningkatan TPAK ini salah satunya dikarenakan oleh peningkatan jumlah penduduk yang memasuki pasar kerja, disamping adanya kecenderungan membaiknya mutu sumberdaya manusia yaitu adanya kecenderungan peningkatan jumlah penduduk yang sekolah. Terdapat variasi TPAK antar kabupaten/kota pada tahun 2007. TPAK kota Tangerang paling rendah 58,42 %

114
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

disusul Kabupaten Serang 58,87 %. TPAK paling tinggi di Kabupaten Lebak sebesar 66,87 % dan Pandeglang 64,77 %. Tabel 4.20 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Umur 15 tahun ke atas menurut Kabupaten/Kota tahun 2007 Kabupaten/Kota Kab. Pandeglang Kab. Lebak Kab. Tangerang Kab. Serang Kota Tangerang Kota Cilegon Banten Laki-laki 83,37 87,04 81,25 80,82 77,06 77,75 81,19 Perempuan 46,58 47,48 42,15 37,38 38,28 40,46 41,66 Total 64,77 66,87 62,13 58,87 50,24 59,39 61,57

Dari tabel di atas terlihat bahwa tingkat partisipasi angkatan kerja laki-laki di Provinsi Banten masih lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan (terlihat kondisinya sama di kabupaten/kota). Untuk laki-laki 81,19 dan untuk perempuan 41,66. Tabel 4.21 Penduduk 15 Tahun ke atas Yang Bekerja, Mencari Pekerjaan, dan Bukan Angkatan Kerja PerKabupaten/Kota di Banten Tahun 2007 Kabupaten/Kota Kab. Pandeglang Kab. Lebak Kab. Tangerang Kab. Serang Kota Tangerang Kota Cilegon Bekerja (org) 412.219 449.252 1.282.821 575.751 543.704 119.914 Mencari Kerja (org) 45.901 63.324 233.357 119.020 139.587 31.573 Jumlah (org) 458.120 512.576 1.516.178 694.771 683.291 151.487 Bukan Angkatan Kerja (org) 249.163 253.982 924.337 485.389 490.022 103.584

Di Banten tahun 2007 lapangan usaha pertanian merupakan sektor yang paling dominan dalam menyerap tenaga kerja di bawah sektor perdagangan. Tingginya lapangan usaha di sektor pertanian merupakan kenyataan historis karena sektor ini memang tidak banyak membutuhkan tenaga kerja terdidik dan terampil. Kenyataan lainnya adalah tingkat upah/pendapatan yang diterimapun biasanya rendah dan dikerjakan masyarakat tradisional atau marginal. Untuk persentase penduduk Banten yang bekerja menurut lapangan usaha Tahun 2007 dapat dilihat dari tabel berikut :

115
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Tabel 4.22 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Persentase Penduduk Banten yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha Tahun 2007 Sektor Perdagangan Pertanian Industri Jasa Kemasyarakatan Angkutan dan Perdagangan Bangunan Keuangan dan Jasa Perusahaan Pertambangan Listrik, gas dan air (%) 25,45 22,43 20,54 14,38 9,50 4,60 2,19 0,71 0,09

Berbagai kebijakan yang terkait dengan prioritas pembangunan untuk mengurangi jumlah penduduk miskin dan pengangguran, termasuk pembangunan pertanian dan ekonomi perdesaan, serta pelaksanaan kebijakan berbagai bidang yang meningkatkan kegiatan ekonomi di berbagai sektor diperkirakan akan menurunkan tingkat pengangguran terbuka hingga mencapai angka 16,67 %. Semakin menurunnya angka tingkat pengangguran terbuka maka jumlah penduduk yang bekerja dan mendapatkan penghasilan akan semakin meningkat. 4.2 Permasalahan

Permasalahan yang dihadapi dalam stabilitas ekonomi makro adalah masih tingginya angka pengangguran terutama pasca krisis moneter 1997 karena kondisi perekonomian belum stabil. Banyaknya perusahaan yang failit menciptakan pengangguran yang tinggi. Di samping itu inflasi yang terjadi terus menerus terutama pada harga kebutuhan pokok masyarakat menyebabkan kondisi perekonomian masyarakat menurun. V. Rekomendasi Tingkat Lanjut

Agar Pemerintah Daerah menjaga stabilitas makro, menciptakan suasana yang kondusif, membuat aturanaturan yang tidak menyulitkan, serta prosedur administrasi yang tidak berbelit, menciptakan lapangan kerja, menstabilkan harga, koodinasi yang harmonis dengan pihak-pihak terkait. Pemerintah hendaknya mampu menciptakan peluang yang lebih besar sehubungan dengan meningkatnya integrasi perekonomian nasional, pemerintah juga harus berupaya meningkatkan arus penanaman modal baik yang berasal dari PMA ataupun PMDN dengan memfasilitasi mereka guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Provinsi Banten.

116
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Bab Pembangunan Pedesaan
I. Kondisi Awal RPJM di Daerah Pengukuran keberhasilan sasaran, meningkatnya aksesibilitas wilayah melalui dukungan pelayanan prasarana jalan dan jembatan khususnya diwilayah perdesaan, wilayah tertinggal dan terisolir, wilayah perbatasan dan pulau-pulau kecil, sesuai arah kebijakan memantapkan sistem , ketersediaan dan fungsi jaringan jalan dan jembatan dalam mendorong pengembangan kawasan jembatan pada kawasan desa tertinggal kawasan kumuh sebanyak 118 desa dari 120 desa yang ditargetkan. Rinciannya Kabupaten Serang sebanyak 22 Desa; Kabupaten Pandeglang sebanyak 22 Desa; Kabupaten Lebak sebanyak 15 desa; Kabupaten Tangerang sebanyak 45 desa. Kota Cilegon sebanyak 5 desa; kota Tangerang sebanyak 5 desa. Terbangunnya jalan dan jembatan pada desa tertinggal tersebut diharapkan akan membuka akses ke wilayah-wilayah terpencil dan dapat mendorong perdagangan/pertanian pada daerah tersebut sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa tersebut dan terjadi pemerataan pembangunan. Disamping itu pemerintah Provinsi Banten membangun pasar desa sebanyak satu paket dan pada tahun 2007 terealisasi semuanya, serta terpenuhinya sumber air baku untuk masyarakat perdesaan sebanyak empat lokasi. Guna menjamin pasokan air baku ini pemerintah Provinsi Banten membangun Bronkef sebanyak 3 unit, membangun reservoir sebanyak 4 unit dan membangun jaringan Pipa air Baku sepanjang 8.000 meter. Jaringan listrik perdesaan pada tahun 2007 terealisasi 19.804 dari target 19.800. II. Sasaran yang ingin di capai

4.11

Sasaran yang ingin dicapai berkaitan dengan pembanguan desa: (1) Meningkatnya kuantitas dan kualitas jalan, (2) Meningkatnya ketersediaan sumberdaya air baku dan pengendalian banjir, (3) pengendalian tata ruang pemukiman dan fasilitas pembangunan perumahan layak huni, dan (4) pengembangan sarana dan jaringan transportasi dan telekomunikasi. III. Arah Kebijakan

Untuk mencapai sasaran pembangunan perdesaan diatas kebijakan perlu di arahkan : 1) Meningkatkan kuantitas dan kualitas jalan, (2) Meningkatkan ketersediaan sumberdaya air baku dan pengendalian banjir, (3) pengendalian tata ruang pemukiman dan fasilitas pembangunan perumahan layak huni, dan (4) memperbaiki dan mengembangkan sarana dan jaringan transportasi dan telekomunikasi.

117
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

IV. 4.1

Pencapaian RPJM di Daerah Upaya yang sudah dilakukan

Pembangnan Desa yang berkaitan dengan ketersediaan dan fungsi jaringan jalan serta jembatan dalam mendorong pengembangan kawasan desa tertinggal kawasan kumuh sebanyak 118 desa dari 120 desa yang ditargetkan. Pemerintah Provinsi Banten membangun pasar desa sebanyak satu paket dan pada tahun 2007. Untuk menjamin pasokan air baku ini pemerintah Provinsi Banten membangun Bronkef sebanyak 3 unit, membangun reservoir sebanyak 4 unit dan membangun jaringan Pipa air Baku sepanjang 8.000 meter. Jaringan listrik perdesaan pada tahun 2007 terealisasi 19.804 SS dari target 19.800 SS 4.2 Capaian

Pemerintah Provinsi Banten dalam pencapaian target sasaran sudah relatif baik. Bahkan Jaringan listrik melampaui target yaitu dari 19.800 SS menjadi 19.804 SS. 4.3 Permasalahan

Masyarakat yang berada di wilayah tertinggal pada umumnya masih belum banyak tersentuh oleh programprogram pembangunan sehingga akses terhadap pelayanan sosial, ekonomi, dan politik masih sangat terbatas. Permasalahan krusial yang dihadapi dalam menghadapi masyarakat terpencil diantaranya yaitu (1) Terbatasnya akses transportasi yang menghubungkan wilayah tertinggal dengan wilayah yang relatif lebih maju (2) Kepadatan penduduk relatif rendah dan tersebar, (3) Miskin sumberdaya alam dan manusia (4) Belum diprioritaskannya pembangunan diwilayah-wilayah tertinggal oleh pemerintah daerah karena dianggap tidak menghasilkan pendapatan asli daerah secara langsung (5) belum optimalnya dukungan sektor terkait untuk pengembangan wilayah desa. (6) Meningkatnya kawasan kumuh di perdesaan ,(7) Kurangnya jangkauan pelayanan bank terhadap masyarakat khususnya di wilayah perdesaan. Pada tahun 2005, indeks rasio jumlah desa yang memiliki Bank 12,68 % angka ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan tahun 2003, yang nilainnya mencapai 20,22 %. V. Rekomendasi Tindak lanjut

Masih diperlukan pengembangan dan pembangunan sarana dan prasarana pembangunan Desa Masih perlu dorongan pemerintah untuk membantu pengadaan layanan bank di wilayah perdesaan di Provinsi Banten sehingga pelayanan akses masyarakat terhadap lembaga keuangan dapat meningkat

118
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Bab Pengurangan Ketimpangan Pembangunan Wilayah
I. Kondisi Awal RPJM di Daerah

4.12

Penetapan agenda Pengembangan kawasan dan wilayah bertujuan untuk mengembangkan potensi unggulan yang dimiliki masing-masing kawasan dan wilayah secara terintegrasi, dalam rangka peningkatan dan perkuatan ekonomi daerah. Jaringan jalan merupakan modal dasar untuk mendukung pembangunan terutama kontribusinya untuk melayani mobilitas manusia maupun koleksi dan distribusi barang. Secara umum rasio panjang jalan terhadap terhadap luas wilayah mencapai 0,46. Sedangkan nilai indeks rasio jalan baru mencapai 56,93%. Rendahnya ketersediaan jaringan jalan diwilayah Banten Selatan mengakibatkan terbatasnya aksesibilitas pada beberapa kawasan diwilayah tersebut. II. Sasaran yang ingin di capai

Sasaran yang ingin dicapai : (1) Pembangunan Kawasan ekonomi khusus (2) pembangunan jalur jalan strategis (3) Pembangunan kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (4) Fasilitas daerah otonom baru (5) Pembangunan PLTU Teluk Naga. III. 1) Arah Kebijakan Pengelolaan SDA dan Lingkungan Hidup yang selaras, serasi, seimbang menuju pembangunan

Untuk mencapai sasaran tersebut kebijakan pembangunan diarahkan : berkelanjutan. Kebijakan ini di arahkan untuk (a) Mengarustamakan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan keseluruh bidang pembangunan. (b) Melaksanakan pembangunan yang sesuai dengan kebijakan pemanfaatan ruang pada RTRW; (c) Meningkatkan pengelolaan hutan dan keanekaragaman hayati termasuk sistem pengawasan dan penegak hukumnya; (d) Mengelola sumberdaya kelautan, termasuk pulaupulau kecil secara lestari termasuk sistem pengendalian dan pengawasannya, (e) Meningkatkan pengelolaan (eksplorasi dan ekploitasi) sumberdaya mineral dengan selalu memperhatikan aspek lingkungan hidup; (f) Peningkatan pengamanan Kawasan Sumberdaya Air dan Pemanfaatannya. (g) Meningkatkan koordinasi pengelolaan SDA dan lingkungan hidup ditingkat nasional dan daerah. (h) Peningkatan pengelolaan pencegahan dan penanggulangan bencana alam, (i) Pengaturan dan pengendaliaan pengelolaan limbah industri dan non industri. 2) Membangun dan mengembangkan infrastruktur jalan, pengairan, energi dan telekomunikasi. Kebijakan ini diarahkan untuk : (a) Pembangunan dan peningkatan jalan untuk melayani kawasan strategis , kawasan cepat tumbuh, kawasan tertinggal/terisolir. (b) Mendorong keterlibatan peran dunia usaha dan

119
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

masyarakat dalam penyelenggaraan dan penyediaan prasarana jalan. (c) Membangun dan memelihara infrastruktur pengairan dalam skala kecil (irigasi) maupun skala besar (waduk); (d) Membangun infrastruktur penanganan banjir melalui kerjasama antar daerah dan nasional; (e) Pengembangan listrik yang ramah lingkungan untuk mendukung kebutuhan kawasan industri , pemukiman , kawasan perdesaan dan terisolir,: (f) Pengembangan jaringan pipa gas untuk melayani kebutuhan kawasan industri, permukiman dan kepentingan komersil; (g) peningkatan kawasan telekomunikasi kabel untuk melayani kawasan strategis, tertinggal dan komersial. 3) Pengembangan sistem transportasi. Kebijakan ini diarahkan untuk : (a) meningkatkan keselamatan lalu lintas dan kelancaran pelayanan angkutan jalan secara komprehensif dan terpadu; (b) Meningkatkan aksesibilitas pelayanan kepada masyarakat diantaranyan melalui penyediaan pelayanan angkutan perintis pada daerah terpencil; (c) Mendukung pengembangan transportasi yang berkelanjutan terutama penggunaan transportasi umum masal diperkotaan yang padat dan antar daerah yang terjangkau dan efisien berbasis masyarakat dan terpadu dengan pengembangan wilayahnya. (d) Penataan sistem transportasi jalan sejalan dengan dengan sistem transportasi nasional dan wilayah, diantaranya melalui penyusunan RUJTJ (Rancangan Umum Jaringan Transportasi Jalan) meliputi penataan simpul, ruang kegiatan, ruang lalu lintas serta penataan pola distribusi nasional/daerah sesuai dengan rencana kelas jalan; (e) Meningkatkan aksesibilitas pelayanan penyeberangan untuk melayani pulau-pulau berpenghuni, yaitu Pulau Tunda, Pulau Panjang dan Gugusan Kepulauan Kawasan Kepulauan Seribu. (f) Pembangunan fasilitas prasarana dasar untuk mendukung percepatan pembangunan/ pengoperasian pelabuhan internasional Bojonegara, melalui pembangunan dermaga, kolam pelabuhan, pemecah gelombang dan sarana bantu navigasi pelabuhan (SBNP) sebagai sarana peningkatan perekonomian Banten. (g) Peningkatan fasilitas pelayanan penumpang dan barang di Kawasan Bandar Udara komersil yang ada sebagai sarana untuk peningkatan PAD, melalui pembangunan gudang dan fasilitas penumpang di Bandar Udara Soekarno-Hatta. (H) Peningkatan fasilitas pelayanan penumpang dan barang pada stasiun Rangkas Bitung, sebagai salah satu simpul pergerakan ekonomi di Wilayah Selatan Banten. 4) Pengembangan Kawasan Strategis dan Cepat Tumbuh. Kebijakan ini diarahkan untuk (a) Percepatan pembangunan kawasan andalan (b) pembangunan terminal agrobisnis; (c) Pembangunan infrastruktur di kawasan strategis dan cepat tumbuh (d) Pengembangan kawasan agropolitan, (e) Pengembangan kawasan khusus. IV. 4.1 Pencapaian RPJM di Daerah Upaya yang sudah dilakukan

Dalam rangka mengarahkan struktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah maka diterbitkan Perda No.36 tahun 2002 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Banten tahun 2002-2017. Kemudian dalam perkembangannya perubahan rencana pemanfaatan ruang di Provinsi Banten perlu menyelaraskan antara

120
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

lain dengan penetapan RTRW Pulau Jawa dan Revisi UU No. 24 Tahun 1992, rencana penataan ruang kawasan megapolitan Jabodetabekjur, pembangunan pelabuhan Bojonegoro sebagai Pelabuhan Internasional, rencana Kawasan Bojonegoro dan lingkar pantai utara di kembangkan sebagai kawasan ekonomi khusus (KEK), rencana pembangunan 3 (tiga) PLTU batubara (pengembangan PLTU Suralaya, PLTU Teluk Naga dan PLTU Labuan), rencana pembangunan pabrik semen PT. Boral di Bayah, pembangunan pemukiman skala besar yang tersebar di Kabupaten Tangerang dan Lebak, perubahan status jalan Provinsi menjadi jalan nasional , rencana pembangunan jalan tol Cilegon-Bojonegara dan Bintaro Cikupa. Rencana pembangunan jalan lingkar diwilayah Kabupaten Tangerang, yaitu jalan lingkar utara teluknaga- Mauk-Kronjo-Serang dan jalan lingkar selatan Ciputat-Cisauk-Cisoka-Tigaraksa-Balaraja-Kresek, rencana perluasan Bandara Soekarno Hatta menjadi 2500 ha, rencana pembangunan pelabuhan Cituis, rencana pemekaran wilayah Kabupaten Serang dan Kabupaten Tangerang (Pada tahun 2008 sekarang telah terbentuk kota Serang), pembangunan kawasan pusat pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), rencana pembangunan pelabuhan penyeberangan Margagiri di Kabuapten Serang, perubahan fungsi pemanfaatan ruang di Pantai Utara Kabupaten Tangerang, rencana pembangunan jaringan KA Cilegon Timur-Bojonegara, rencana pengembangan TPA Bojong Menteng, perluasan kawasan hutan lindung Taman Nasional Gunung Halimun, pengembangan Kawasan wisata di Wilayah Banten Selatan dan Pantai Utara (Pulau Cangkir, dll), pembangunan pipa Gas Jawa Sumatera dan lainnya yang mendorong pemerintahan kabupaten/kota (Kab. Tangerang, Kota Tangerang, Kab Serang dan Kota Cilegon) dan pemerintahan Provinsi untuk melakukan peninjauan kembali terhadap RTRW yang ada. Untuk menyelaraskan dan mensinergikan penataan ruang daerah melalui pemanfaatan ruang secara optimal , serasi dan berkesinambungan, telah dibentuk wadah koordinasi secara terpadu dalam melaksanakan penataan ruang di Provinsi Banten yang berpedoman pada Kepmendagri 147 tahun 2004 tentang Pedoman Koordinasi Penataan Ruang Daerah, telah di bentuk Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD) Provinsi Banten yang di tetapkan melalui Keputusan Gubernur Nomor:650/Kep.157-Huk/2005, dengan tugas pokok untuk merumuskan , mengkoordinasikan, mengintegrasikan, menyelaraskan, serta melaksanakan supervisi, merekomendasikan kegiatan pengawasan terhadap penyelenggaraan penataan ruang di daerah. Dalam pelaksanaannya, peran BKPRD dirasakan masih belum memberikan dampak secara signifikan dalam pengendalian perubahan pemanfaatan ruang yang berkembang secara pesat sebagaimana telah ditetapkan dalam RTRWP, hal ini disebabkan tidak diacunya RTRWP sebagai arahan kebijakan spasial bagi rencana sektoral maupun daerah. Mekanisme dalam penertiban izin terhadap rencana usaha/kegiatan pembangunan yang berdampak besar dan penting, menimbulkan konflik dalam pemanfaatan ruang, bahkan berpengaruh terhadap kebijakan tata ruang Provinsi belum dikoordinasikan dengan BKPRD.

121
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

4.2

Capaian

Ketersediaan sarana dan prasarana wilayah di Provinsi Banten cukup memadai walaupun sebaran dan distribusinya belum merata. Hal ini dapat dilihat dari rasio panjang jalan yang terdapat di Provinsi Banten. Rasio panjang jalan terhadap luas wilayah pada tahun 2005 yaitu 0,57 Km per Km2. Nilai indeks rasio jalan baru mencapai 56,93% . Walaupun rasio jalan tersebut telah melampaui angka moderat namun upaya peningkatannya harus terus digalakkan untuk meningkatkan pelayanan jaringan jalan. Perkembangan wilayah adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan penyediaan fasilitas publik, kondisi ekonomi wilayah, serta kondisi fisik dan lingkungan hidup pada suatu daerah. Hingga tahun 2005 indeks perkembangan wilayah di Provinsi Banten telah mencapai 32,5%. Setiap tahunnya angka tersebut meningkat seiring dengan meningkatnya perkembangan wilayah dan pemerataan pembangunan di Provinsi Banten. Indikator fasilitas publik digambarkan oleh tingkat pelayanan kesehatan dan pendidikan serta tingkat pelayanan jaringan jalan. Tingkat pelayanan kesehatan menggambarkan rasio antara jumlah tenaga medis terhadap total jumlah penduduk. Sampai tahun 2005 rasio ini tidak mengalami kenaikan yaitu sebesar 0,1%, yang berarti bahwa 1 tenaga medis melayani 1000 penduduk. Rasio ini masih di bawah rasio ideal (rata-rata nasional) yaitu sebesar 0,2 %, sehingga perlu upaya-upaya untuk menambah jumlah tenaga medis. Sampai dengan tahun 2004 pelayanan pendidikan di Provinsi Banten belum dapat sepenuhnya disediakan dan dijangkau oleh seluruh warga, selain karena fasilitas pendidikan yang belum sepenuhnya mampu disediakan khususnya didaerah-daerah terpencil, biaya pendidikan juga masih dinilai mahal oleh sebagian besar masyarakat Banten. Masih banyaknya penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan merupakan salah satu kendala utama terbatasnya partisipasi masyarakat di bidang pendidikan. Sampai tahun 2004 tingkat pendidikan masyarakat ditandai antara lain dengan rata-rata lama sekolah penduduk berusia 15 tahun ke atas yang baru mencapai 8,2 tahun satu tahun lebih lama dari rata-rata lama sekolah secara nasional yang sebesar 7,1 tahun. Pada saat yang sama, angka buta aksara penduduk usia 15 tahun ke atas semakin berkurang yaitu sebesar 5,8 % yang berada di atas rata-rata nasional sebesar 10%. Jika dilihat dari partisipasi pendidikan penduduk, tampak bahwa pada tahun 2004 angka partisipasi sekolah penduduk usia 7-12 tahun sudah mencapai 96,8% dari total 1,2 juta anak usia 7-12 tahun. APS penduduk usia 13-15 tahun baru mencapai 79,1 %, dan APS penduduk usia 16-18 tahun sebesar 45,7%. 4.3 Permasalahan

Permasalahan yang menjadi kendala berkaitan dengan pengurangan ketimpangan pengembangan wilayah: (1)Terdapat kesenjangan yang cukup signifikan di Kabupaten/Kota yang terdapat di wilayah utara umumnya

122
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

memiliki rasio apabila dibandingkan dengan kabupaten/kota di wilayah selatan (2) Terbatasnya aksesibilitas wilayah-wilayah yang berada di selatan yang notabene merupakan kawasan produksi atau wilayah penghasil produk-produk pertanian (3) Penurunan kualitas sarana dan prasarana wilayah karena kurangnya perawatan dan pemeliharaan (4) Perlunya peningkatan akses transportasi dalam mengurangi kesenjangan antar wilayah (5) Belum memadainya kuantitas dan kualitas jaringan jalan nasional, Provinsi dan kabupaten/ kota (5) Perlunya penataan sistem transportasi (6) Belum optimalnya penanganan keselamatan, keamanan dan ketertiban penyelenggaraan transportasi (7) Perlunya revitalisasi dan penataan sistem dalam operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi (8) Perlunya pembangunan waduk dalam meningkatkan ketersediaan sumber air baku (9) Perlunya peningkatan dukungan penyediaan perumahan rakyat (10) Belum memadainya kuantitas dan kualitas prasarana dan sarana lingkungan perumahan dan pemukiman (11) Belum optimalnya koordinasi kelembagaan penataan V. Rekomendasi Tindak lanjut

Perlunya penyiapan dukungan pengembangan kawasan ekonomi khusus terutama di wilayah Banten Selatan. Perlunya percepatan pembangunan kawasan strategis (industri andalan dan agropolitan) Juga perlunya percepatan pembangunan kawasan tertinggal, kawasan pesisir, laut dan pulau-pulau kecil).

123
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Bab Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Pendidikan yang Berkualitas
I. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah Meskipun ada peningkatan angka peserta partisipasi sekolah atau pendidikan, sektor pendidikan masih memiliki kendala khusus yaitu ketersediaan lembaga pendidikan. Terbatasnya sekolah yang berstatus negeri dirasakan masih kurang sehingga tidak mampu menampung siswa kelas VI yang melanjutkan ke kelas VII di kecamatan-kecamatan. Pada umumnya SMP hanya terdapat di kecamatan dan di beberapa daerah terpencil akses ke sekolah relatif jauh, bahkan pada tingkat SMA tidak semua kecamatan memilki SMA. Kendala lainnya adalah masih terdapat gedung-gedung sekolah yang rusak (tidak layak pakai). Pada tahun 2007 kondisi sekolah yang rusak berat sebanyak 5.974 buah atau 15 % dari seluruh jumlah sekolah di Provinsi Banten yang dapat dirinci seperti tabel 4.19. Tabel 4.23 Keadaan Ruang Kelas SD/MI, SLTP/MTs dan SMU/SMK/MA TahunAjaran 2006/2007 NO 1 2 3 Uraian SD/MI SLTP/MTs SMU/SMK/MA Jumlah Baik 16.944 7.478 2.940 27.363 Rusak Ringan 5.379 862 448 6.689 Rusak Berat 5.170 635 169 5.975 Jumlah 27.493 8.975 3.557 40.025

4.13

Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Banten 2007 Tingginya biaya sekolah merupakan kendala lainnnya. Karena pengaruh dari angka kemiskinan maka akan menurunkan pengeluaran keluarga untuk biaya pendidikan perkeluarga pada tahun 2006 sebesar 3,31 %. Angka ini kendati menunjukkan trend peningkatan, namun belum menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat yang memadai. Dengan kecenderungan-kecenderungan menurunnya pengeluaran untuk pendidikan perkeluarga menunjukkan masih banyak anak-anak usia sekolah, terutama bagi kelompok miskin yang tidak memperoleh layanan pendidikan karena mahalnya biaya pendidikan bagi mereka. Sehingga masih ada anak yang mengalai putus sekolah dan bahkan masih tingginya masyarakat yang menyandang status buta aksara. Angka peresentase putus sekolah dan proesntasi buta aksara dapat dilihat pada Tabel 4.24 dan Tabel 4.25, berikut.

124
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Tabel 4.24 Persentase Putus Sekolah Pada Setiap Jeniang Pendidikan Tahun 2006/2007 No 1 Jenjang Pendidikan Siswa Tahun Sebelumnya Siswa Putus Sekolah SD 1.233..903 3.039 MI 135.378 792 SD + MI 1.369.281 3.831 2 SMP 327.848 2.201 MTs 139.045 670 SMP + MTs 466.893 2871 687 127.048 3 SMA 308 49.114 MA 682 84.872 SMK SMA + MA + SMK 261.034 1.677 Sumber : Profil Pendidikan 2007, Dinas Pendidikan Provinsi Banten Tabel 4.25 Jumlah Penduduk Buta Huruf Di atas Usia 15 Tahun Tahun 2002-2007 Tahun 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Buta Huruf 363.881 378.636 376.300 282.576 328.097 202.419 Jumlah Penduduk 6.728.254 7.007.198 7.126.446 7.416.695 7.460.468 6.522.900 % Buta Huruf dengan Total Penduduk 5,41 5,40 5,38 3,81 4,40 3,10 APS (%) 0,25 0,59 0,28 0,67 0,48 0,62 0,54 0,63 0,80 0,64

Untuk menurunkan jumlah penduduk buta aksara, pemerintah Provinsi Banten melaksanakan program pengembangan budaya baca dan pembinaan perpustakaan. Guna mendukung sasaran ini, pemerintah telah melakukan program-program antara lain program keaksaraan melalui kegiatan-kegiatan pembinaan mutu pendidikan masyarakat melalui Pendidikan Luar Sekolah (PLS) , serta program pengembangan budaya baca dan pembinaan perpustakaan melalui kegiatan pengembangan minat dan budaya baca melalui pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) yang telah ada sebanyak 164 lembaga yang tersebar di kabupaten dan kota, seperti pada Tabel 4.26 berikut. Tabel 4.26 Jumlah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Provinsi Banten Tahun 2006/2007 No KABUPATEN / kOTA Jumlah 1 2 3 4 5 6 Kab. Serang Kab. Pandeglang Kab. Lebak Kab. Tangerang Kota Tangerang Kota Cilegon Jumlah Sumber : Statistik Pendidikan 2007, Dinas Pendidikan Banten 35 Lembaga 33 Lembaga 23 Lembaga 38 Lembaga 20 Lembaga 15 Lembaga 164 Lembaga

125
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Diharapkan dengan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh Provinsi Banten di tahun 2008 melalui pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM), angka buta huruf penduduk Banten semankin menurun. II. Sasaran yang Ingin Dicapai RPJMN dan RPJMD

Sesuai dengan RPJMD Banten yang salah satu misinya adalah meningkatkan taraf pendidikan dan kesehatan masyarakat Banten dengan tujuan mewujudkan masyarakat Banten yang cerdas dan sehat serta mempunyai ketrampilan dalam rangka menghadapi otonomi daerah dan eraglobalisasi, maka sasaran strategis yang ingin dicapai pada strategi pemberdayaan masyarakat adalah: penuntasan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun sampai dengan 2009 dan pendidikan menengah 12 tahun sampai 2012. Untuk mewujudkan sasaran tersebut pemerintah Provinsi menagendakan pembangunan daerah dengan agenda pengembangan sumber daya manusia. III. Arah Kebijakan

Kebijakan dirahkan untuk: 1. Meningkatkan Aksebilitas Masyarakat Terhadap Pelayanan Pendidikan dengan diarahkan untuk : a. Menyelenggarakan WAJAR DIKDAS Sembilan tahun untuk mewujudkan pemerataan pendidikan dasar yang bermutu di seluruh dan upaya penarikan kembali siswa putus sekolah dan lulus SD (termasuk SDLB, MI dan Paket A) yang tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan SMP/MTs/Paket B serta upaya menurunkan angka putus sekolah harus dioptimalkan b. Menurunkan secara signifikan jumlah penduduk yang buta aksara melalui peningkatan intensifikasi perluasan akses dan kualitas penyelenggaraan pendidikan keaksaraan fungsional yang didukung dengan upaya penurunan angka putus sekolah khususnya pada kelas-kelas awal jenjang SD/MI atau yang sederajat serta mengembangkan budaya baca untuk menghindari terjadinya buta aksara dan mencitakan masyarakat belajar; c. Mengembangkan budaya baca guna menciptakan masyarakat belajar, berbudaya, maju dan mandiri; maupun kejurusan untuk mengantisipasi meningkatkan kelulusan sekolah menengah pertama sebagai dampak keberhasilan Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun, dan penyediaan tenaga kerja lulusan pendidikan menegah yang berkualitas dengan meningkatkan relevansi pendidikan menengah dengan kebutuhan tenaga kerja; e. Meningkatkan perluasan pendidikan anak usia dini dalam rangka pembinaan, menumbuhkan dan mengembangkan seluruh potensi anak usia dini secara optimal agar memiliki kesiapan untuk memasuki jenjang pendidikan selanjutnya; d. Meningktkan perluasan dan pemerataan pendidikan menengah jalur formal dan non formal baik umum

126
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

f.

Menata sistem pembiayaan pendidikan yang berprinsip adil, efesien, efektif transparan dan akuntabel termasuk penerapan pembiayaan pendidikan berbasis jumlah siswa (student-based financing) dan penigkatan anggaran pendidikan hingga mencapai 20 persen dari APBD guna melanjutkan usahausaha pemerataan dan peyediaan layanan pendidikan yang berkualitas;

g. Menurunkan kesenjangan partisipasi pendidikan antara kelompok masyarakat dengan memberikan akses yang lebih besar kepada kelompok masyarakat yang selama ini kurang dapat terjangkau oleh layanan pendidikan seperti masyarakat miskin, masyarakat yang tinggal di wilayah perdesaan, terpencil dan kepulauan, masyarakat di daerah konflik, serta masyarakat penyandang cacat; 2. Meningkatkan Kualitas Penyelenggaraan Pendidikan, diarahkan untuk : a. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembangunan pendidikan termasuk dalam pembiayaan pendidikan, penyelenggaraan pendidikan berbasisi masyarakat serta dalam penigkatan mutu layanan pendidikan yang meliputi perencanaan, pemgawasan, dan evaluasi program pendidikan; b. Menyelenggarakan pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa; c. Menyelenggarakan pendidikan non formal yang bermutu untuk memberikan pelayanan pendidikan kepada warga masyarakat yang tidak mungkin terpenuhi kebutuhan pendidikannya melalui jalur formal terutama bagi masyarakat yang tidak pernah sekolah atau buta aksara, putus sekolah dan warga masyarakat lainnya yang ingin meningkatkan dan atau memperoleh pengetahuan, kecakapan/ keterampilan hidup dan kemampuan guna meningktkan kualitas hidupnya. d. Memantapkan pendidikan budi pekerti dalam rangka pembinaan akhlak mulia termasuk etika dan estetika sejak dini dikalangan peserta didik, dan pengembangan wawasan kesenian, kebudayaan, dan lingkungan hidup; e. Menyediakan materi dan peralatan pendidikan (teaching and learning materials) terkini baik yang berupa materi cetak seperti buku pelajar maupun yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi dengan alam sekitar; f. Meningkatkan jumlah dan kualitas pendidikan dan tenaga kependidikan lainnya dengan mempertimbangkan peningkatan jumlah peserta didik dan ketepatan lokasi, serta meningkatkan kesejahteraan dan perlindungan hukum bagi pendidik agar lebih mampu mengembangkan kompetensinya dan meningkatkan komitmen mereka dalam melaksanakan tugas pengajaran; g. Pengembangan teknologi dan informasi dan komunikasi di bidang pendidikan sebagai ilmu pengetahuan, alat bantu pembelajaran, alat bantu manajemen satuan pendidik, dan infrastruktur pendidikan;

127
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

h. Menyempurnakan manajemen pendidikan dengan meningkatkan otonomi dan desentralisasi pengelolaan pendidikan kepada satuan pendidikan dalam menyelenggarakan pendidikan secara efektif dan efesien, transparan, bertanggung jawab, akuntabel serta partisipasif yang dilandasi oleh standar pelayanan minimal serta meningkatkan relevansi pembelajaran dengan lingkungan setempat; i. j. Mendorong penyelenggaraan pendidikan berbasis kompetensi dan unggulan pada semua tingkatan pendidikan; Meningkatkan perluasan dan mutu pendidikan tinggi termasuk menyeimbangkan dan menyerasikan jumlah dan jenis program studi yang disesuaikan dengan tuntutan kebutuhan pembangunan dan untuk mengahasilkan kelulusan yang memenuhi kebutuhan pasar kerja serta peningkatan dan pemantapan peran perguruan tinggi sebagai ujung tombak peningkatan daya saing bangsa melalui penciptaan dan pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, budaya dan seni. 3. Mengembangkan kerjasama program pendidikan yang berorientasi kerja antara dunia pendidikan dengan dunia usaha, diarahkan untuk: a. Mendorong penyelenggaraan pendidikan kejuruan dan atau politeknik yang sesuai dengan potensi ekonomi daerah, lapangan usaha dan pasar kerja; b. Mengembangkan pola kemitraan antara dunia pendidikan dengan dunia usaha, antara lain dengan program magang; c. Meningkatkan kerjasama program pelatihan ketrampilan berbasis teknologi dengan lembaga atau institusi skala nasional maupun internasional; d. Mendorong terselenggaranya peningkatan keterampilan dan pengetahuan SDM pekerja yang penyelenggaraannya dilakukan oleh industri/usaha tempat pekerja berada. Untuk mewujudkan kebijakan di atas, dijabarkan ke dalam program pembangunan daerah. Program tersebut adalah Program Pembangunan Daerah, Pemerintahan, dan Pengembangan SDM, dengan arah kebijakan : 1. Arah Kebijakan Meningkatkan Aksesibilitas Masyarakat terhadap Pelayanan Pendidikan; a. Program Pendidikan Anak Usia Dini Dengan indikasi kegiatan: (1) Penyediaan Sarana dan Prasarana PAUD dan Pra Sekolah; (2) Peningkatan Pembelajaran PAUD. b. Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun Dengan indikasi kegiatan: (1) Penyediaan Bantuan Oprasional Sekolah dan Beasiswa (2) Pembinaan Minat Bakat dan Kreatifitas Peserta Didik

128
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

(3) Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (4) Peningkatan Wawasan Kebudayaan pada SMP dan yang Sederajat (5) Peningkatan Pembelajaran SMP dan yang Sederajat (6) Penyediaan Sarana dan prasarana SMP dan yang Sederajat (7) Penyediaan Bantuan Oprasional Sekolah dan Beasiswa (8) Pembinaan Minat Bakat dan Kreatifitas Peserta Didik (9) Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (10) Peningkatan Wawasan Kebudayaan pada SD dan yang Sederajat (11) Peningkatan Pembelajaran SD dan yang Sederajat (12) Penyediaan Sarana dan Prasarana SD dan yang Sederajat c. Program Pendidikan Menengah Dengan indikasi kegiatan: (1) Penyediaan Sarana dan Prasarana SMA dan yang Sederajat (2) Pembinaan Minat Bakat dan Kreatifitas Peserta Didik (3) Penerapan Manajemen Berbasisi Sekolah (4) Peningkatan Pembelajaran SMA dan yang Sederajat (5) Penyediaan Bantuan Khusus Murid dan Beasiswa (6) Peningkatan Wawasan dan Kebudayaan pada SMA dan yang Sederajat (7) Penyiapan Bantuan Oprasional SMA CMBBS d. Program Pendidikan Tinggi Dengan indikasi kegiatan : (1) Pengembangan Perguruan Tinggi (2) Penyediaan Bantuan Biaya Pendidikan (3) Pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi e. Program Pengembangan Budaya Baca dan Pembinaan Perpustakaan. Dengan indikasi kegiatan : (1) Penyediaan Sarana dan Prasarana TBM (2) Pemasyarakatan dan Pengembangan Minat Baca Masyarakat (3) Pemasyarakatan Minat dan Kebiasaan Membaca untuk Mendorong Terwujudnya Masyarakat Pembelajran (4) Pelaksanaan Koordinasi Pengembangan Perpustakaan dan Budaya Baca (5) Penyediaan Bahan Pustaka Perpustakaan Umum Daerah (6) Perencanaan dan Penyusunan Program Budaya Baca

129
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

(7) Publikasi dan Sosialisasi Minat dan Budaya Baca (8) Pengembangan Minat dan Budaya Baca f. Program Pendidikan Luar Biasa Dengan indikasi kegiatan : (1) Penyediaan Sarana dan Prasarana BPPK (2) Penyediaan Sarana dan Prasarana PLB (3) Pengembangan Pelaksanaan Inklusi Model (4) Penyediaan Bantuan Biaya Oprasional SLB g. Program Pengembangan Kepemudaan Dengan indikasi kegiatan : (1) Pembinaan Lembaga Kepemudaan (2) Pembinaan Peran Serta Pemuda (3)Peningkatan Upaya Kewirausahaan Pemuda h. Program Pendidikan Olahraga Dengan indikasi kegiatan : (1) Pembinaan dan Peningkatan Prestasi Olah Raga Pelajar (2) Pemasalan Olah Raga (3) Penyediaan Sarana dan Prasarana Olah Raga i. Program Pendidikan Non Formal Dengan indikasi kegiatan : (1) Publikasi dan Sosialisasi Pendidikan Non Formal (2) Gerakan Pemberantasan Buta Aksara (3) Perluasan Penyelenggaraan Paket A, B dan C (4) Penyediaan Sarana dan Prasarana Pendidikan Non Formal (5) Penyediaan Bantuan Biaya Operasional dan Warga Belajar pada Satuan Pendidikan Non Formal (6) Penguatan Kelembagaan Pendidikan Ketrampilan Masyarakat VI. Pencapaian RPJMN di Daerah

4.1. Upaya yang telah dilakukan Sumber daya manusia yang berkualitas merupakan modal utama dalam pembangunan bangsa. Bagi Provinsi Banten kualitas SDM mutlak diperlukan melalui peningkatan kualitas pendidikan untuk mempercepat

130
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

terwujudnya suatu masyarakat yang maju dan sejahtera. Salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas SDM sejak dini adalah melalui jalur pendidikan formal. Upaya yang dilakukan Provinsi Banten adalah : 1. Meningkatkan peserta partisipasi sekolah/ pendidikan Provinsi Banten menargetkan angka rata-rata lama sekolah 9,7 pada tahun 2007 namun pencapaiannya adalah 8,66. Pencapaian ini meningkat 0,11 dibandingkan tahun2006 yang mencapai 8,5. Angka ini dapat diartikan bahwa secara rata-rata penduduk dewasa telah menamatkan pendidikan dasar, tepatnya setingkat kelas 2 SLTP. Provinsi Banten harus meningkatkan rata-rata lama sekolah sehingga pendidikan dasar 9 tahun dapat tercapai. Angka partisipasi pendidikan dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.27 Angka Partisipasi pendidikan dari tahun 2005 s/d 2007 Angka Partisipasi Pendidikan (APP) 1. Angka Partisipasi Pendidikan Dasar a. APK b. APM 2. Angka Partisipasi Pendidikan Lanjutan Pertaman a. APK b. APM 3. Angka Partisipasi Pendidikan Lanjutan tingkat Atas a. APK b. APM Tahun 2005 110,5% 93,8 % 82,1% 63,6% 48,0% 39,0% Tahun 2006 110,44% 94,04% 85,28% 64,59% 54,74% 36,86% Tahun 2007 106,59% 95,43% 89,46% 72,21% 56,16% 39.4%

Angka Partisipasi kasar (APK) dari tahun 2005 – 2007 mengalami peningkatan, baik pada tingkat sekolah dasar, pendidikan lanjutan pertama, maupun tingkat lanjutan atas. Sedangkan Angka Partisipasi Murni dari tahun 2005 – 2007 juga mengalami peningkatan untuk pendidikan tingkat sekolah dasar dan pendidikan lanjutan pertama, sedangkan untuk pendidikan tingkat atas tahun 2006 mengalami penurunan. Jumlah penduduk yang masih sekolah usia 7 -24 tahun, menurut data tahun 2007 adalah sebagai berikut : Tabel 4.28 Jumlah penduduk berdasarkan umur Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Jumlah 7 – 12 Tahun (org) 659.286 610.081 1.269.367 13 – 15 tahun (org) 236.471 238.275 474.746 16 – 18 tahun (org) 165.142 141.746 306.888 19 – 24 tahun (org) 58.387 52.509 110.956

131
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Jumlah penduduk Banten usia 7-24 tahun yang masih/sedang sekolah pada tahun 2007 sekitar 2, 16 juta orang terdiri dari 1,2 juta laki-laki dan 1,04 juta perempuan. Secara presentase sebagian besar adalah anak usia 7-12 tahun sebesar 58,71% dan usia 13-15 tahun 21,96%. Hal ini dapat disimpulkan bahwa tingkat pendidikan di Provinsi Banten masih setingkat SD. Apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk di Provinsi Banten Tahun 2007 sebesar 9.423.367, penduduk yang masih sekolah adalah 22,94%. Angka putus sekolah di Provinsi Banten pada tahun 2007 untuk tingkat Sekolah Dasar sebesar 0,28% menurun jika dibandingkan tahun 2004 sebesar 0,9%. Untuk tingkat Sekolah Lanjutan Pertama 0,62% menurun jika dibandingkan pada tahun 2004 sebesar 3,6% dan untuk pendidikan tingkat lanjutan atas sebesar 0,64%. Angka buta aksara mengalami penurunan dari tahun ke tahun, seperti terlihat apada tabel berikut : Tabel 4.29 Angka Buta Aksara dari tahun 2005 s/d tahun 2007 Tahun 2005 2006 2007 Buta Huruf (org) 282.576 328.097 320.154 Jumlah Penduduk (org) 7.416.695 7.460.468 9.423.357 % Buta Huruf dengan Total Penduduk 3,81 4,40 4,24

Langkah yang dilakukan Provinsi Banten untuk menurunkan angka buta aksara adalah dengan melaksanakan program pengembangan budaya baca dan pembinaan perpustakaan. Selain itu Pemerintah Provinsi Banten melaksanakan program pendidikan keaksaraan melalui kegiatan pengembangan mutu pendididkan melalui pembinaan pendidikan luar sekolah. Program pembinaan ini dengan mendirikan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang berjumlah 164 yang tersebar di Provinsi Banten Angka melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4.30 Persentase angka yang melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi Tahun 2004/2005 2005/2006 2006/2007 SD Ke SMP 53,3 % 72,3% 81,6% SMP ke SMA 74,7 % 84,5 % 55,4 %

Dari data tersebut terlihat bahwa pendidikan formal belum dapat menjangkau secara merata seluruh lapisan masyarakat. Pada tahun 2006/2007 angka melanjutkan dari jenjang SMP ke SMA mengalami penurunan hal ini disebabkan oleh persebaran SMA yang belum merata di seluruh kecamatan dan masih banyaknya masyarakat miskin.

132
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

2. Meningkatkan kualitas pendidikan Untuk meningkatkan kualitas pendidikan, ketersediaan jumlah sekolah, guru dan kualifikasi pendidikan guru sangat diperlukan. Ketersediaan sekolah khususnya yang berstatus negeri dirasakan masih kurang sehingga belum mampu menampung siswa yang akan melanjutkan dari SD ke SMP. SMP pada umumnya terdapat di kecamatan, dan bahkan SMA tidak semua kecamatan memilikinya. Jumlah SD yang terdapat di Provinsi Banten sebanyak 4.384 buah dengan jumlah murid 1.233.903 orang dan jumlah guru 48.066 orang. Sehingga ratio murid dan guru adalah 26,67, yang artinya setiap guru membimbing sekitar 26 murid. Jumlah SLTP sebanyak 752 buah, dengan jumlah murid 310.238 orang, sedangkan ratio guru dan murid sebesar 19,07. Untuk tingkat SLA jumlah sekolah sebanyak 550 sekolah deangan rincian 347 SMU dan 203 Sekolah Kejuruan. Jumlah murid untuk tingkat SLA sebanyak 211.920 orang dengan rincian 127.048 orang atau 59,95% siswa SMU dan 84.872 orang atau 40,05% siswa SMK. Jumlah guru untuk tingkat SLA sebanyak 13.377 orang dengan rincian 8.309 orang atau 62,11% guru di SMU dan 5.068 atau 37,89% guru di SMK. Ratio antara guru dan murid pada tingkat SLA adalah 15,84. Dari segi jumlah guru di Provinsi Banten telah memadai, namun kalau dilihat dari segi kualifikasi guru di Banten perlu ditingkatkan. Jumlah guru yang memenuhi kualifikasi minimum adalah 34.997 orang pada tahun 2007. Sedangkan menurut data tahun 2007 guru yang belum memenuhi standar ijasah yang ditentutan sesuai Undang-Undang Guru dan Dosen adalah: untuk tingkat SD/ MI 96,46%, tingkat SMP/MTs 73,50% dan pada tingkat SMA/SMK/MA sebesar 75,22%. Upaya yang dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Banten adalah dengan meningkatkan kualitas guru dengan cara meningkatkan jumlah dan ketersediaan tenaga pendidik dan kependidikan yang memenuhi kualifikasi pendidikan dan standar kompetensi yang ditetapkan. Dalam upaya meningkatkan kualitas guru tersebut pemerintah Povinsi Banten melaksanakan program peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan dengan kegiatan-kegiatan peningkatan dan penempatan pendidik dan tenaga kependidikan, meningkatkan kualitas pendidik pada jalur formal ataupun non formal bagi yang memiliki kualifikasi minim, dan program manajemen pelayanan dengan kegiatan memberi penghargaan bagi pendidik dan tenaga kependidikan. 3. Meningkatnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan pembangunan Untuk meningkatkan sumber daya manusia dengan daya saing yang tinggi, pemerintah Provinsi Banten terus meningkatkan jumlah sekolah, terutama sekolah kejuruan. Persentase penduduk Provinsi Banten yang lulus tingkat SLTA sebanya 24,08%.

133
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Di Provinsi Banten terdapat 109 Perguruan tinggi, yang terdiri dari 4 Politeknik, 25 Akademi, 2 Institut, 11 Universitas dan 67 Sekolah Tinggi. Di Serang Banten terdapat 2 Perguruan tinggi negeri, yaitu Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dan Institut Agama Islam Maulana Yusuf. Perguruan tinggi ini diharapkan dapat mempercepat peningkatan SDM yang ada di Provinsi Banten. 4.1 Capaian Pemerintah Provinsi Banten telah menetapkan Visi dan Misi pembangunan pendidikan, untuk mencapainya ditetapkan program dan kegiatan yang diuraikan sebagai berikut: a. Manajemen Pelayanan Pendidikan Kegiatan yang dilaksanakan dalam program ini meliputi: • Peningkatan Peran serta Fungsi Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah Pada kegiatan ini, Pemerintah Provinsi Banten menetapkan target Peningkatan Peran Serta Fungsi Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah sejumlah 100 orang. Target ini dapat direalisasikan 100%. • Penetapan Sistem dan Informasi Manajemen Pendidikan Target capaian yang ditetapkan dalam kegiatan ini adalah Workshop Pendataan Calon Peserta UN Tahun Pelajaran 2006/2007 dan Workshop Penyusunan Buku Profil, Buku Saku dan Statistik Pendidikan Tahun 2007 yang masing-masing dihadiri 50 orang dengan mencetak buku saku, buku profil dan buku statistik masing-masing 140 buah. Serta menerbitkan buku identitas sekolah dan PT sebanyak 200 buah. Nilai capaian yang berhasil direalisasikan oleh Pemerintah Provinsi Banten adalah sebesar 100%. • Sosialisasi Kebijakan-Kebijakan Bidang Pendidikan Mensosialisasikan 3 (tiga) buah kebijakan Bidang Pendidikan menjadi target utama kegiatan Sosialisasi Kebijakan-Kebijakan Bidang Pendidikan pada tahun 2007 di Provinsi Banten. Hal ini kemudian dapat terealisasikan seluruhnya oleh pemerintah Banten dengan realisasi capaian sebesar 100%. b. Pendidikan Anak Usia Dini Kegiatan yang dilaksanakan dalam program ini meliputi: • Pembinaan dan Pengembangan Pendidikan TK Target dari kegiatan ini adalah terselenggaranya workshop guru TK, Workshop Kepala Sekolah TK dan Monitoring Evaluasi program/kegiatan. Target jumlah peserta workshop guru TK sebanyak 200 orang sedangkan workshop Kepala Sekolah TK berjumlah 78 orang. Pada kegiatan monitoring dan evaluasi program/kegiatan target kabupaten/kota yang di monitor sebanyak 6 (enam) kabupaten/kota. Seluruh target yang ditetapkan dapat direalisasikan dan nilai capaian kinerja yang hendak berhasil dicapai sebesar 100%. • Peningkatan Akses Pendidikan Anak Usia Dini

134
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Ada dua target kegiatan Peningkatan Akses Pendidikan Anak Usia Dini, yaitu terlaksananya pelatihan kompetensi PAUD dan pelatihan manajemen pengelola PAUD. Target peserta pelatihan kompetensi adalah sebanyak 180 orang sedangkan target peserta pelatihan manajemen pengelola PAUD sebanyak 150 orang. Target peserta yang dicanangkan seluruhnya berhasil direalisasikan dan nilai capaian realisasi capain yang berhasil adalah sebesar 100%. c. Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun Kegiatan yang dilaksanakan dalam program ini meliputi: • Perluasan Akses, Peningkatan Mutu dan Tata Kelola SD Ada 18 target keluaran yang menjadi target kegiatan Perluasan Akses, Peningkatan mutu dan Tata Kelola SMP yaitu: 1). Administrasi Umum 1 kegiatan 2). Pengadaan blanko ijazah SD 250.000 lembar 3). Workshop Kepala Sekolah Dasar 150 orang 4). Workshop guru bidang studi KTSP 750 orang 5). Workshop peningkatan mutu guru olah raga peserta 200 orang 6). Workshop Peningkatan Mutu Guru Agama, 200 orang 7). Workshop Fasilitator penyusunan Design silabus MBS, 125 orang 8). Pembentukan TIM Pengembangan Program MBS 50 orang 9). Bimbingan Teknis Persiapan Implementasi MBS 50 orang 10). Pemberian bantuan MBS 30 Sekolah 11). Lomba Paduan Suara SD 72 orang 12). Lomba Bidang Studi SD 90 orang 13). Lomba MIPA SD 24 orang 14). POR SD 13 cabang olah raga 15). Lomba Gugus SD 6 Sekolah 16). Lomba kinerja SD 6 sekolah 17). Lomba Sekolah Sehat SD 6 sekolah 18). Monitoring dan Evaluasi 20 orang Dari beberapa kegiatan dan target output yang dipaparkan diatas pada kegiatan Perluasan Akses, Peningkatan Mutu dan Tata Sekolah SD, seluruh target yang ditetapkan telah dapat direalisasikan oleh Pemerintah Provinsi Banten dengan tingkat pencapaian target sebesar 100%. • Penyelenggaraan Paket A Setara SD dan Paket B Setara SMP Ada beberapa target capaian dalam kegiatan penyelenggaraan Paket A setara SD dan Paket B setara SMP, yaitu Rapat Kordinasi Teknis Pra Sekolah, Dikdas dan PLB dengan target peserta 120 orang dan peserta yang datang 120 orang, Lomba Pidato Bahasa Inggris yang ditargetkan sebanyak

135
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

18 orang dan seluruhnya berhasil direalisasikan. Lomba Mengarang Bahasa Indonesia dengan jumlah peserta 18 orang, Lomba Penelitian Ilmiah Remaja (LPIR) dengan target peserta 24 orang, Lomba Sekolah Sehat (LSS) sebanyak 6 sekolah, Workshop Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 10 mapel dengan target peserta 800 orang, Workshop Peningkatan Mutu Guru Bimbingan Konseling (BK) dengan target peserta 600 orang, Workshop Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) target pesertanya sebanyak 400 orang, Perluasan Pelaksanaan REDIP yang di targetkan diikuti oleh 40 sekolah serta monitoring dan evaliasi dengan jumlah kabupaten/kota yang diperiksa sebanyak 6 kabupaten/kota. Dari berbagai kegiatan yang dilaksanakan output yang ditargetkan dapat dicapai seluruhnya. Realisasi capaian yang berhasil diraih adalah sebesar 100%. • Pengadaan Alat Pemeriksa LJK Ujian Nasional Paket A, Paket B dan Paket C Dalam Pelaksanaan kegiatan Pengadaan Alat Pemeriksa LJK Ujian Nasional Paket A, Paket B dan Paket C target output yang hendak dicapai adalah Ujian Nasional Paket A dan Paket B dengan target 2000 peserta ujian paket A dan 5.500 peserta ujian paket B, Bintek Tutor Paket A dan Paket B dengan target tutor paket A 100 orang dan jumlah tutor paket B sebanyak 200 orang. Bintek Penyelenggara Paket A dan Paket B dengan target paket A sebanyak 50 orang dan paket B sebanyak 100 orang, Rapat Koordinasi Teknis dengan jumlah peserta 60 orang, Pengadaan Buku Raport Paket A dan Paket B dengan target 9.800 raport A dan 10.000 raport B. Pengadaan Buku Induk Paket A dan Paket B dengan target pengadaan sebanyak 300 buku induk untuk paket A dan 686 buku induk paket B. dengan nilai kinerja yang diraih adalah sebesar 100%. • Sosialisasi, Monitoring dan Evaluasi Bantuan Rehabilitasi Ruang Kelas SD/MI Ada tiga target output pada kegiatan Sosialisasi, Monitoring dan Evaluasi Bantuan Rehabilitasi Ruang Kelas SD/MI, Sosialisasi Bantuan Rehabilitasi Ruang Kelas SD/MI dengan target 96 orang, Bintek Bantuan Rehabilitasi Ruang KelasSD/MI dengan target 180 orang, dan monitoring evaluasi sebanyak 6 kabupaten/kota. Dan dari target output yang telah ditetapkan seluruhnya dapat dicapai oleh Pemerintah melalui Sosialisasi, Monitoring dan Evaluasi Bantuan Rehabilitasi Ruang Kelas SD/MI. Dari kegiatan yang sudah dilaksanakan nilai capaian yang berhasil dicapai adalah sebesar 100%. • Sosialisasi, Monitoring dan Evaluasi Bantuan Rehabilitasi Ruang Kelas SMP/MTs Sosialisasi Bantuan Rehabilitasi Ruang Kelas SMP/MTs yang ditargetkan sebanyak 30 orang dan monitoring dan evaluasi rehab sebanyak 120 ruang kelas. Dan seluruh target tersebut, sudah dapat terealisasikan • dengan optimal oleh Pemerintah Provinsi Banten. Nilai capaian realisasi yang berhasil diraih adalah 100%. Peningkatan Mutu Pembelajaran MIPA SMP Dalam pelaksanaan kegiatan Peningkatan Mutu Pembelajaran MIPA SMP output yang hendak dicapai ada beberapa target yang dicapai yaitu: 1). Verifikasi Sekolah Sasaran, sebanyak 100 sekolah

136
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

2). Workshop Pemberian Bantuan Alat Pendidikan MIPA SMP, sebanyak 200 orang 3). Monitoring dan Evaluasi Pemberian Bantuan Alat Pendidikan MIPA SMP, dilakukan kepada 100 sekolah 4). Pemberian Bantuan Alat Pendidikan MIPA SMP 100 set Dan seluruh target tersebut berhasil direalisasikan oleh Pemerintah dalam pelaksanaan kegiatan peningkatan mutu pembelajaran MIPA SMP. Dari seluruh capaian kegiatan ini nilai capaian yang didapat adalah 100% • Peningkatan Mutu Pembelajaran Matematika SD Output yang menjadi target dalam melaksanakan kegiatan peningkatan mutu pembelajaran matematika SD adalah Bintek pemberian alat pendidikan dengan target peserta 135 orang dan seluruhnya dapat terealisasikan, dan verifikasi pemberian alat pendidikan dengan target 6 (enam) kabupaten/kota dan seluruhnya dapat direalisasikan, dan pengadaan alat peraga matematika SD sebanyak 135 set, dan selurunya dapat direalisasikan pengadaannya. Dan nilai capaian yang berhasil direalisasikan adalah sebesar 100% • Perencanaan DED Gedung Sekolah SD/MI, SMP/MTs Dalam melaksanakan kegiatan Perencanaan DED Gedung Sekolah SD/MI,SMP/MTs output yang ditargetkan dan dapat terealisasikan adalah 1 buah dokumen Tersusunnya DED Model Pekerjaan Sekolah SD/MI, SMP/MTs sehingga nilai capaian kinerja yang dicapai adalah sebesar 100% d. Pendidikan Luar Biasa Kegiatan yang dilaksanakan dalam program ini meliputi : • Perluasan Akses Peningkatan Mutu Dan Tata Kelola Pendidikan Luar Biasa Ada delapan output yang ditargetkan dalam kegiatan perluasan Akses Peningkatan Mutu dan Mata kelola Pendidikan Luar Biasa yaitu : 1) Administrasi Umum dengan target 1 kegiatan 2) Penyelenggaraan Ujian Sekolah SLB, dengan target 26 SLB 3) Peningkatan Mutu PLB melalui Model Pelayanan Inklusi, dengan target 28 SLB dan 38 SD. 4) Bimbingn Teknis Penyusunan Soal SLB, dengan target peserta 130 orang 5) Bimbingn Teknis Guru Bina Wicara dengan target peserta 120 orang 6) Bimbingn Teknis Guru Pendidikan Anak Autis dengan target peserta 140 orang 7) Bimbingan Teknis Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dengan target 255 orang 8) Monitoring dan evaluasi dalam1 (satu) kegiatan. Dan dari target output keseluruhan, seluruhnya dapat direalisasikan, dengan nilai capaian fisik yang berhasil direalisasikan sebesar 100 % • Penyelenggaraan Operasional 6 SLB Negeri

137
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Dalam kegiatan penyelenggaraan operasional 6 SLB Negeri target output yang hendak dicapai adalah terselenggaranya operasional sekolah di 6 SLB Negeri dengan 450 siswa. Dan target tersebut seluruhnya sudah direalisasikan, dengan berhasil dicapai sebesar 100 %. • Penyelenggaraan Operasional CMBBS Dalam kegiatan penyelenggaraan operasional SMA CMBBS, output yang menjadi target menyediakan alat listrik dan elektronik selama 12 bulan dan terealisasi pula selama 12 bulan, menyediakan alat tulis kantor SMA CMBBS selama 12 bulan dan berhasil terealisasi sebesar 100%, menyediakan alat kebersihan SMA CMBBS selama 12 bulan dan hal ini sudah dapat direalisasikan, dan terselenggaranya kegiatan KBM dan kesiswaan yang seluruhnya dapat direalisasikan dan hasil capaiannya sebesar 100% e. Pendidikan Menengah Kegiatan yang dilaksanakan dalam program ini meliputi : • Peningkatan Mutu Pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan Target output kegiatan peningkatan mutu pendidikan sekolah menenganh adalah meningkatnya sarana dan prasarana SMAK bertarap Nasional dan Internasional pada 15 sekolah dan seluruhnya dapat direalisasikan, mengadakan diklat Bahasa Inggris bagi guru non-Bahasa inggris SMK bagi 75 guru dan seluruhnya dapat terealisasi, dan menyelenggarakan lomba keterampilan siswa SMK Tk. Provinsi Banten sebanyak 32 mata lomba dan dapat terselenggara sebanyak 32 mata lomba, sehingga dapat terealisasikan sebanyak 100 %. Mengadakan akreditasi sekolah menengah kejuruan dengan target 100 program keahlian dan jumlah pelaksanaan akreditasi yang terealisasi sebanyak 100 program keahlian, sehinga dapat terealisasi sebesar 100 %. • Peningkatan Mutu dan Akses Pada Sekolah Menengah Umum Ada 14 target output kegiatan peningkatan mutu dan akses pada sekolah menengah umum yang diselenggarakan oleh pemerintah Provinsi Banten yaitu : 1) Administrasi umum target waktu 10 bulan 2) Akreditasi SMA sebanyak 50 sekolah 3) Workshop manajemen mutu SMA dengan target peserta 80 orang 4) Bintek peningkatan mutu kepala sekolah dengan target peserta 240 orang 5) Bintek guru BP dengan target peserta 120 orang 6) Workshop fungsional guru rumpun dengan target peserta 240 orang 7) Sosialisasi kurikulum tingkat satuan pendidikan dengan target jumlah sekolah yang tersosialisasi 200 sekolah 8) Lomba mengarang dalam tiga bahasa dengan target 6 kategori juara. 9) Di dengan target 6 kategori juara 10) English debating dengan target 6 kategori juara

138
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

11) Lomba Olimpiade Keilmuan dengan target 7 mata pelajaran 12) Lomba olimpiade seni dengan target peserta 240 orang 13) Fasilitas SNBI yang ditargetkan tersedia di 6 sekolah 14) Fasilitas sekolah tumbuh target 40 ruang Dan seluruh target tersebut seluruhnya dapat direalisaikan dengan persentase pencapaian sebesar 100 % • Peningkatan Mutu Pembelajaran IPA SMA Target output kegiatan peningkatan mutu pembelajaran IPA SMA yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Banten pada tahun 2007 adalah Bintek pemberian alat pendidikan kepada 58 orang, dan seluruhnya dapat terealisasi, dari 58 set alat peraga pendidikan IPA-Fisika SMA yang ditargetkan seluruhnya dapat terealisasi, jumlah sekolah yang telah dilakukan monev, pemberian pembantuan alat pendidikan IPA-Fisika SMA sebanyak 58 sekolah dan berhasil direalisasikan seluruhnya, serta terselenggaranya dokumen perencanaan gedung serbaguna sekolah menengah atas dengan target satu dokumen, dan berhasil terealisasi. Sehinga nilai capaian realisasi kegiatan sebesar 100 %. • Bintek Rintisan SMA Calon Penyelenggara SBI Pada kegiatan Bintek rintisan SMA calon penyelengara SBI, target output yang dihasilkan adalah Bintek rintisan SMA calon penyelenggara SBI pada 10 sekolah di Provinsi Banten dan output ini seluruhnya dapat direalisasikan, dengan nilai capaian realisasi capaian sebesar 100 %. • Penyelengaraan Paket C setara SMU Ada beberapa output yang ditargetkan pada kegiatan penyelenggara paket C setara SMU, yaitu Penyelenggaraan Ujian Nasional Paket C yang diikuti oleh 10.000 orang peserta, menyelenggaraan Bintek tutor paker C kepada 150 orang, menyelengarakan Bintek pangelolaan paket C kepada 100 orang peserta, pengadaan buku Raport paket C dengan target jumlah buku Raport yang tersedia sebanyak 10.000 eksemplar, pengadaan buku induk paket C sebanyak 900 eksemplar, serta mengadakan kemah karya warga Belajar paket C untuk 90 orang peserta, dan untuk kegiatan penyelengaraan paket C setara SMU seluruh target output sudah terealisasi seluruhnya, dengan nilai capaian fisik sebesar 100 %. f. Pendidikan Tinggi Kegiatan yang dilaksanakan dalam progran ini meliputi : • Fasilitas Pengembangan Mutu Pendidikan Tinggi Ada 10 target output dalam penyelenggaraan kegiatan fasilitas pengembangan mutu pendidikan tingi, yaitu : Diklat Dosen untuk pengembangan integrasi IMTAK dan IPTEK dalam pendidikan science untuk 100 orang. 1) Diklat Penelitian Mutu Dosen untuk 100 orang

139
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

2) Workshop manajemen mutu pendidikan tinggi, 62 pengelola 3) Lomba penelitian bagi mahasiswa, peseta ditargetkan 100 orang. 4) Diklat kepemimpinan dan Enterpreuneur mahasiswa dengan target 99 orang 5) Fasilitasi penerimaan mahasiswa kerjasama PEMDA Banten dengan PTN dengan jumlah 1 kegiatan 6) Pekan Olah Raga Mahasiswa Nasional (POMNAS) dengan target 125 orang. 7) Pemetaan Perguruan Tinggi se Provinsi Banten sebanyak 1 kegiatan. 8) Fasilitas pembelian bantuan biaya pendidikan (beasiswa) kepada 164 orang 9) Persiapan bantuan projektor XGA (Infokus IN26) ke 20 PT. di Banten kepada 20 buah perguruab tinggi. Sehingga dari target seluruh output yang ada pada tahun 2007, bidang pendidikan dalam kegiatan fasilitasi pengembangan mutu pendidikan tinggi seluruhnya dapat terealisasikan seluruhnya,sehinga nilai capaian kinerja yang berhasil diraih adalah sebesar 100 %. g. Pendidikan Kebudayaan Kegiatan yang dilaksnakan dalam program ini meliputi: • Pengembangan dan Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Berbasis Sekolah Ada lima output yang dicanangkan oleh Pemerintah Provinsi Banten dalam kegiatan pengembangan pelestarian sejarah dan nilai tradisional berbasis sekolah, output tersebut adalah : 1) Administrasi Umum, dengan target 1 kegiatan 2) Lawatan Sejarah Bagi Siswa dan Guru Tk. Provinsi dan pengiriman ke Tingkat Nasional, dengan jumlah peserta 108 orang 3) Lokakarya, Pengkajian dan Pengadaan buku Sejarah Ragam Pustaka Banten untuk Persekolahan, dengan target 45 orang dengan 3.000 eksemplar. 4) Penerbitan Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, dengan target 4.000 eksemplar. 5) Lomba Cerita Rakyat Lisan Tk. Provinsi dan Tk. Regional dan Nasioanal, dengan target peserta 65 orang pelajar. Dengan target output di atas, Pemerintah Povinsi Banten dapat merealisasikan seluruh target output yang direncanakan pada kegiatan pengembangan dan pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional. Realisasi capaian yang diraih adalah 100 %. • Pembinaan dan Pengembangan Seni Budaya Banten Berbasis Sekolah Output yang ditargetkan Pemerintah Provinsi Banten pada kegiatan pembinaan dan pengembangan seni budaya Banten berbasis sekolah pada tahun 2007 adalah administrasi umum yang ditargetkan sejumlah satu kegiatan, mengirimkan peserta duta seni pelajar sejawa Bali ke Jakarta sebanyak 80 orang dan terselenggara dengan mengirimkan 80 orang, membuat bengkel kerja seni pertunjukan dengan target peserta sebanyak 120 orang, mengirimkan peserta paduan suara dan Gita Bahana

140
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Nusantara ke tingkat Nasional dengan target peserta 25 orang dan seluruhnya terealisasi dengan angka capaian realisasi 100 % • Pengembangan pembelajaran Museum dan kepurbakalaan berbasis sekolah Dalam kegiatan pengembangan pembelajaran museum dan kepurbakalaan berbasis sekolah, ouput yang ditargetkan yang ingin dicapai pada tahun 2007 adalah menyelengarakan pelatihan pramu wisata pelajar dengan target peserta 60 orang, dan seluruhnya dapat terealisasikan. Dokmentasi dan selebaran BCB sebagai media pembelajaran audio visual yang ditargetkan sebanyak 500 sekolah. Dengan nilai capaian fisik sebesar 100 %. h. Pendidikan Keaksaraan Kegiatan yang dilaksanakan dalam program ini meliputi : • Pengembangan Mutu Pengelolaan Kelembagaan PLS Ada beberapa output yang kelembagaan PLS, yaitu : 1) Pelatihan manajemen pengelola kursus, dengan target penyelengaraan sebanyak 60 orang. 2) Pelatihan Pengelola PKBM, dengan target peserta 100 orang 3) Pengembangan potensi perempuan, dengan target peserta 60 orang 4) Revitalisasi Mitra PLS, dengan target peserta 50 orang 5) Keteladanan PLS dengan target peserta 72 orang 6) Rakor Pendidikan untuk semua (PUS), dengan jumlah target peserta 60 orang Dan seluruh target output pada kegiatan yang dialaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Banten seluruhnya berhasil derealisasikan dengan capaian realisasi sebanyak 100% • Pengembangan Pendidikan Keaksaraan Dalam kegiatan Pengembangan Pendidikan Keaksaraan, target output yang hendak dicapai pada tahun 2007 adalah meyelengarakan Expo Hari Aksara Internasional (HAI) dengan target peserta sebanyak 600 orang, Bintek pemberantasan buta aksara dan target peserta 200 orang dan rapat evaluasi pemberantasan buta aksara dengan target peseta 100 orang. Dan seluruh target di atas seluruhnya dapat direalisasikan oleh Pemerintah Provinsi Banten atau persentase realisasi capaian sebesar 100 % • Sosialisasi, Monitoring dan Evaluasi Penyelengara PBA Dalam kegiatan sosialisasi monitoring dan evaluasi penyelenggaran PBA target output yang dibuat Pemerintah Provinsi Banten adalah melaksanakan sosialisasi PBA dengan target peserta 200 orang dan seluruhnya dapat terealisasi, serta melaksanakan monitoring PBA yang ditargetkan terhadap 6 Kabupaten atau Kota dan target ini seluruhnya dapat terealisasikan dengan persentase sebesar 100% i. Pengembangan Budaya Baca dan Pembinaan Perpustakaan ingin dicapai dalam kegiatan pengembangan mutu pengelolaan

141
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Kegiatan yang dilaksanakan dalam program ini meliputi : • Pengembangan minat dan budaya baca Target output kegiatan pengembangan minat dan budaya baca yang dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Banten adalah menyelengarakan sosialisasi budaya baca dengan terget peserta 120 orang dan seluruhnya dapat terealisasikan, menyelengarakan pelatihan pengelola taman bacaan masyarakat dengan target peserta 163 orang dan seluruhnya dapat direlisasikan dengan nilai capaian kinerja sebesar 100 %. j. Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kegiatan pelaksanaan dalam program meliputi ini : • Pengembangan Kompetensi dan Sertfikasi Tenaga pendidik dan Kependidikan Output yang ditargetkan Pemerintah dalam kegiatan pengembangan kompetensi dan sertifikasi tenaga pendidik dan kependidikan adalah pengembangan sistem pendataan dan pemetaan pendidik dan tenaga dan kependidikan dengan target peserta 10.000 orang dan seluruhnya dapat terealisasi, fasilitasi pelaksanaan uji kompetensi dan sertifikasi tenaga pendidik dengan target peserta sebanyak 40 orang, sidang penilaian angka kredit Pejabat Fungsional Tenaga kependidikan target yang ditetapkan adalah adanya berkas sebanyak 11.000 buah dan seluruhnya dapat direalisasikan, pendidikan lanjut bagi pendidik untuk memenuhi standar kualifikasi guru ke jenjang S-1 dan target yang ditetapkan adalah diikuti oleh 272 orang peserta, dan seluruhnya dapat terealisasi, serta monitoring, evaluasi pelaporan yang ditargetkan sebanyak 1 kegiatan, jadi untuk kegiatan ini seluruh target yang ditetapkan sudah seluruhnya dapat direalisasikan atau persentase realisasi sebesar 100 % • Pengembangan Sistem Penghargaan dan Perlindungan Terhadap Profesi Pendidik. Target output pada kegiatan pengembangan sistem penghargaan dan perlindungan terhadap profesi pendidik yang dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Banten adalah : 1) Pemilihan guru berprestasi, dengan target 27 orang guru 2) Pemilihan Kepala Sekolah berprestasi dan berdedikasi, target yang dicanangkan sebanyak 306 orang guru 3) Pemilihan siswa teladan, sebanyak 36 orang 4) Bantuan penelitian dan studi pembangunan tenaga pendidik, kepada 90 orang guru 5) Pemberian insentif guru swasta, target kepada 7.500 orang guru 6) Pemilihan pengawas sekolah berprestasi dan berdedikasi, sebanyak 24 orang 7) Pemilihan guru berdedikasi daerah khusus ( terpencil), sebanyak 18 orang 8) Monitoring, evaluasi dan pelaporan, sebanyak 1 kegiatan.

142
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

4.2 Permasalahan Masyarakat miskin mempunyai akses yang rendah terhadap pendidikan formal dan non formal. Hal ini sebabkan oleh : a. tingginya biaya pendididkan b. terbatasnya jumlah dan mutu parsarana dan sarana pendidikan c. terbatasnya jumlah dan guru bermutu di daerah terpencil dan komunitas miskin kantong kemiskinan e. terbatasnya jumlah, sebaran dan mutu program kesetaraan pendidikan dasar melalui pendidikan non formal. Sekilas Potret Pendidikan di Pulau Panjang Pulau Panjang mempunyai luas wilayah 774 ha, terletak tidak jauh dari Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bojonegara dan Pelabuhan Internasional Bojonegara sebagai pelabuhan terbesar di Asia Tenggara. Jumlah penduduk Pulau Panjang 3.301 jiwa, dengan pekerjaan utamanya adalah nelayan. Namun karena Pulau ini letaknya di teluk Banten yang sarat dengan Industri, pencemaran tidak dapat dihindari, sehingga tangkapan ikan oleh nelayan mulai menurun. Hal ini terasa dari budidaya rumput laut yang menurun hasilnya sejak dilakukan penambangan pasir laut di sekitar Pulau Panjang. Hal ini menyebabkan penduduk Pulau Panjang mencari pekerjaan lainnya. Namun karena pendidikan masyarakat Pulau Panjang yang rendah, maka menjadi TKI adalah pekerjaan yang paling diminati. Di Pulau Panjang terdapat 2 buah Sekolah Dasar Negeri, dengan jumlah guru 11 orang di setiap sekolah. Status guru di SD tersebut adalah PNS dan Guru Bantu. Kendala yang dihadapi masyarakat Pulau Panjang terhadap pendidikan adalah apabila anak-anak ingin melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi, sebab di Pulau ini untuk Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama hanya terdapat satu MTs Swasta, sehingga masyarakat sering kali mengirimkan anak-anaknya sekolah ke Serang dan sekitarnya. Anak-anak tersebut harus meninggalkan rumah dan indekost atau menumpang di rumah saudaranya untuk melanjutkan ke sekolah lanjutan. Dengan program wajib belajar 9 tahun, sebenarnya pemerintah pernah menawarkan sekolah satu atap, dengan pengelolaan SD dan SMP dalam satu sekolah untuk meningkatkan partisipasi anak bersekolah. Namun program ini ditolak oleh warga, dengan alasan akan mematikan MTs yang telah ada, yang selama ini dikelola oleh warga. Masyarakat menginginkan bantuan sarana dan prasarana serta guru dari pemerintah untuk membantu MTs yang telah ada. Perlu diketahui bahwa masyarakat Pulau Panjang 100% muslim dan masih memegang teguh adat istiadat islam, sehingga sekolah yang diminati adalah MTs. Harapan warga Pulau Panjang mengenai pendidikan adalah : 1. Pemerintah membantu mendirikan asrama di Serang, sehingga masyarakat dapat melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi dengan harga terjangkau. 2. Memberikan bantuan sarana dan prasarana serta guru untuk meningkatkan kualitas MTs. 3. Mendirikan MA untuk menampung lulusan MTs, dan pemerintah membantu proses perijinan, dan prasarana serta guru. Dengan peningkatan kualitas pendidikan di Pulau Panjang diharapkan kesejahteraan masyarakat dapat tercapai, mengingat Pulau Panjang dikelilingi oleh kawasan industri dengan harapan agar lulusan pendidikan dapat diserap oleh industri di daerah sekelilingnya. Sumber : Wawancara dengan Kepala Desa Pulau Panjang d. terbatasnya jumlah SLTP dan SLTA di daerah perdesaan, daerah terpencil dan kantong-

143
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

V.

Rekomendasi Tindak Lanjut a. menurunkan biaya pendidikan, terutama bagi kalangan pinggiran, daerah terpincil dan daerah miskin, dengan cara meningkatkan anggaran 20% dari APBD b. Meningkatkan akses untuk mendapatkan pendidikan dengan cara meningkatkan mutu sarana dan prasarana pendidikan. c. Meningkatkan jumlah dan mutu guru yang berkualitas. Meningkatkan kualifikasi pendidikan guru dan menambah jumlah guru untuk daerah-daeran terpencil dan komunutas miskin d. Memberantas buta aksara dengan meningkatkan program-program kesetaraan.

Rekomendasi tindak lanjut yang diusulkan :

144
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Bab

4.14
Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Kesehatan yang Berkualitas
Kesehatan merupakan salah satu elemen penting dalam pengukuran Indeks Pembangunan Manusia (IPM), selain pendidikan dan pendapatan. Berbagai program telah dilaksanakan untuk kemajuan dibidang kesehatan ini, diantaranya peningkatan akses dan kualitas pelayanan melalui pengembangan poliklinik desa, penempatan tenaga medis, serta pemberian informasi dan pengetahuan kesehatan dasar dan meluas bagi masyarakat. I. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah

Angka Harapan Hidup Berdasarkan data yang diperoleh dari sensus Penduduk tahun 2000, Angka Harapan Hidup di Banten untuk laki-laki 59,14 tahun untuk wanita 62,81 tahun dan rata-rata Angka Harapan Hidup untuk penduduk Banten adalah 61,03 tahun. Dibanding angka harapan hidup nasional, Banten masih relatif rendah. Angka Kematian Bayi Angka kematian bayi adalah indikator yang dapat digunakan untuk menilai tingkat kesehatan masyarakat secara umum yang sekaligus memperlihatkan keadaan dan sistim pelayanan kesehatan di masyarakat, karena dapat dipandang sebagai output dari upaya peningkatan kesehatan secara keseluruhan dan berpengaruh langsung terhadap besaran Angka harapan Hidup. Angka kematian bayi pada tahun 2000 sebesar 63,4 per 1000 kelahiran hidup telah turun menjadi 54,1 pada tahun 2004, namun masih jauh diatas angka nasional sebesar 35 per 1000 kelahiran hidup. Kematian Bayi di Banten masih dominan disebabkan oleh Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) yang terkait erat dengan status gizi ibu hamil. Persalinan yang ditolong tenaga medis terkait erat dengan upaya menurunkan angka kematian bayi dan kematian ibu. Pertolongan persalinan oleh tenaga medis sebesar 56,6% pada tahun 2002, meningkat menjadi 62,3% pada tahun 2005. Data tahun 2007 menunjukkan bahwa masih terdapat 37,7% persalinan yang ditolong oleh tenaga non medis (dukun paraji). Angka Kematian Ibu Melahirkan Angka Kematian Ibu Melahirkan (per 100.000 kelahiran hidup) adalah 306 pada tahun 2005, dan pada tahun 2006 sebesar 310. Masih minimnya tenaga kesehatan, bidan desa yang tidak tinggal di tempat, prasarana

145
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

kesehatan yang kurang mendukung, serta kurangnya dukungan anggaran menyebabkan masalah ini masih belum bisa diselesaikan. Angka Kematian Ibu (AKI) di Banten masih terbilang tinggi, dan terbesar berada di Kabupaten Serang, yakni 34%. Penyebab utama kematian ibu masih didominasi oleh pendarahan yang terkait erat dengan kualitas pelayanan persalinan dan kondisi kesehatan ibu hamil. Solusi yang mungkin dapat diterapkan diantaranya adalah persalinan yang ditolong tenaga medis terkait erat dengan upaya menurunkan angka kematian bayi dan kematian ibu, membuat payung hukum penurunan AKI, berupa peraturan daerah, membuat Standar Pelayanan Minimum Kesehatan serta Peraturan Bupati tentang Penempatan Bidan Desa. Gizi Buruk Kekurangan gizi pada balita beresiko terhadap kesehatan anak, baik dalam upaya mencegah kematian bayi maupun bagi peningkatan kualitas SDM di masa depan. Pada tahun 2005 masih terdapat 11,35% balita berstatus gizi buruk dan kurang, menurun dibanding tahun 2004 sebesar 11,77%. Jumlah balita penderita gizi buruk di Provinsi Banten terus mengalami peningkatan hampir secara merata di setiap Kabupaten. Data di Dinas Kesehatan Provinsi Banten menunjukkan, jumlah penderita gizi buruk di Kabupaten Serang meningkat dari 2.084 menjadi 2.297, di Kabupaten Pandeglang bertambah dari 2.268 menjadi 2.376. Untuk menangani kerawanan gizi tersebut, Dinkes terus menggalakkan pemberian gizi tambahan bagi para balita di setiap Puskesmas se-Provinsi Banten. Memang untuk mengatasi secara tuntas tampaknya cukup sulit sebab terkait dengan tingkat ekonomi orang tua si balita yang rata-rata dari keluarga tidak mampu, jadi selama ekonomi mereka belum membaik penderita gizi buruk akan tetap ada. Selain itu, adanya anggapan yang salah kaprah dikalangan masyarakat yang lebih mengutamakan gizi untuk bapak sebagai tulang punggung keluarga sehingga gizi untuk anak dan ibu kurang diperhatikan. Berdasarkan data pada Lakip Provinsi 2007, jumlah balita penderita gizi buruk sebanyak 11.202 balita (2006) dan 7.612 balita (2007) II. Sasaran yang Ingin Dicapai RPJMN dan RPJMD

Sasaran pembangunan kesehatan nasional adalah meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Hal tersebut tercermin dari indikator berikut; 1) Meningkatnya Angka Harapan Hidup; 2) Menurunnya angka kematian bayi ; 3) Menurunnya angka kematian ibu melahirkan; dan 4)Menurunnya prevelensi kurang gizi pada anak dan balita. Sasaran pembangunan kesehatan yang berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat di Provinsi Banten, adalah sebagai berikut :

146
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

• • • • • III.

Menurunnya angka kematian bayi per seribu kelahiran dari 50,6 pada tahun 2006 menjadi 25,0 pada Menurunnya angka kematian ibu melahirkan per seratus ribu kelahiran dari 310 pada tahun 2006 Peningkatan umur harapan hidup dari 64,8 tahun pada tahun 2006 menjadi 71,2 tahun pada tahun 2012; Cakupan Imunisasi dari 80 % pada tahun 2006 menjadi 90,1 % pada tahun 2012 Persalinan kesehatan dari 68,0 % pada tahun 2006 menjadi 75,98 %. pada tahun 2012 Arah Kebijakan

tahun 2012 menjadi 195 pada tahun 2012;

Arah kebijakan pembangunan kesehatan memprioritaskan upaya promotif dan preventif yang dipadukan dengan seimbang. Langkah-langkah yang diambil diantaranya : peningkatan jumlah, jaringan, dan kualitas Puskesmas; Peningkatan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan; Pengembangan sistem jaminan kesehatan masyarakat; Peningkatan sosialisasi kesehatan lingkungan dan pola hidup sehat; Peningkatan pendidikan kesehatan pada masyarakat sejak usia dini; Pemerataan dan peningkatan kualitas fasilitas kesehatan dasar. Arah kebijakan pembangunan kesehatan di Banten, secara garis besar dibagi menjadi 2 yaitu : Pengembangan Fasilitas dan Pemerataan Layanan Kesehatan, diarahkan untuk : a. Peningkatan jumlah, jaringan dan kualitas prasarana dan sarana kesehatan daerah; b. Peningkatan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan daerah; c. Pemerataan dan peningkatan kualitas fasilitas kesehatan dasar; d. Peningkatan pelayanan kesehatan yang khusus diberikan bagi penduduk miskin, daerah tertinggal dan daerah bencana, dengan memperhatikan kesetaraan gender. Pengembangan Kesehatan Berbasis Masyarakat, diarahkan untuk : a. Peningkatan sosialisasi kesehatan lingkungan dan pola hidup sehat; b. Peningkatan pendidikan kesehatan pada masyarakat sejak usia dini; c. Pengembangan sistem jaminan kesehatan terutama bagi penduduk miskin; d. Peningkatan upaya promotif dan preventif yang dipadukan secara seimbang dengan upaya kuratif dan rehabilitatif IV. Pencapaian RPJMN di Daerah Meningkatkan mutu hidup masyarakat Banten.

4.1 Upaya yang telah dilakukan

147
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

-

Meningkatkan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana dasar kesehatan seperti rumah sakit, puskesmas, posyandu, apotik, poliklinik, dokter praktek dan bidan praktek. Meningkatkan kualitas tenaga medis dan tenaga kesehatan di Provinsi Banten, dengan melakukan : 1. Peningkatan kesiap siagaan penangulangan bencana dengan lintas sektor terkait. 2. Rekruitmen dokter, dokter gigi, bidan desa PTT di Provinsi Banten 3. Program standarisasi pelayanan kesehatan, peningkatan kualitas pelayanan kesehatan bagi tenaga medis dan tenaga paramedis. 4. Pelatihan Sistem Informasi Managemen Kesehatan (SIK-KK)

4.2 Capaian • Angka kematian bayi, status gizi masyarakat dan cakupan air bersih dikategorikan sangat baik. Hal ini ditunjukkan oleh kinerja Indikator Jumlah Kelahiran Bayi Hidup terus mengalami peningkatan, dari 162.341 jiwa tahun 2003 menjadi 226.250 jiwa tahun 2005 atau 93,60% dari kelahiran bayi di Provinsi Banten. Indek Mutu Hidup (IMH) Provinsi Banten selama periode tahun 2002-2006 terus mengalami peningkatan. IMH pada tahun 2002 adalah sebesar 66,2 dan tahun 2005 angka IMH mengalami peningkatan menjadi 67,9. Hal ini menunjukkan bahwa selama periode ini telah terjadi peningkatan mutu hidup masyarakat yang cukup signifikan untuk Provinsi Banten. • Sarana dan prasarana dasar kesehatan di Provinsi Banten terus mengalami peningkatan dalam jumlah, mulai dari rumah sakit, puskesmas, posyandu, apotik, poliklinik, dokter praktek, dan bidan praktek dan lain sebagainya. Rata-rata setiap Kabupaten/Kota di Provinsi Banten memiliki 4 Rumah Sakit. Angka ini termasuk memadai jika dibandingkan dengan rata-rata daerah lain yang hanya memiliki 1-2 rumah sakit untuk satu kabupaten/kota.Begitu juga untuk Puskesmas/ Puskesmas Pembantu/Puskesmas Keliling jika dibandingkan dengan jumlah keluarga yang harus dilayaninya memiliki rasio 1 berbanding 3.648 artinya rata-rata satu puskesmas di Provinsi Banten mampu melayani kurang lebih 3.648 Keluarga • Jumlah Dokter Umum sebanyak 926, Dokter Ahli 1.099, dan Dokter Gigi 336, dengan sebaran paling banyak di Kota Tangerang dan paling sedikit di Kota Serang. (Sumber : BPS, Banten dalam Angka, 2007) 4.3 Permasalahan Rendahnya tingkat kesehatan terutama pada masyarakat miskin juga disebabkan oleh perilaku hidup mereka yang tidak sehat. Sekitar 62,2% laki-laki berusia 15 tahun atau lebih merokok, dan persentase di perdesaan lebih besar, yaitu sekitar 67%. Pengeluaran rumahtangga untuk tembakau diperkirakan sekitar 4 % dengan tingkat konsumsi yang meningkat sejalan dengan tingkat pendapatan. Kebiasaan merokok menyebabkan

148
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

meningkatnya beban biaya pengobatan kronis untuk orang yang menderita kanker paru-paru dan penyakit lain yang berhubungan dengan tembakau, dan menurunkan tingkat produktivitas pekerja. Jarak fasilitas layanan kesehatan yang jauh dan biaya yang mahal merupakan penyebab utama rendahnya aksesibilitas masyarakat miskin terhadap layanan kesehatan yang bermutu. Kecenderungan penyebaran tenaga kesehatan yang tidak merata dan terpusat di daerah perkotaan mengurangi akses terhadap pelayanan kesehatan bermutu. Daerah dengan rata-rata jumlah dokter per 100.000 penduduk terendah adalah Kabupaten Serang dan Pandeglang dengan rasio 5 – 6 dokter per 100.000 penduduk. Distribusi tenaga dokter di Banten juga tidak merata, di wilayah perkotaan (Tangerang dan Kota Tangerang) memiliki jumlah dokter rata – rata 700 orang sedangkan di wilayah perdesaan hanya memiliki jumlah dokter sebanyak 80 orang. Hal ini tentu saja berdampak pada kualitas dan aksessibilitas pelayanan kesehatan pada masyarakat di perdesaan yang umumnya adalah masyarakat miskin. V. Rekomendasi Tindak Lanjut

Pemerintah Daerah wajib mempertahankan dan bahkan meningkatkan komitmennya pada program keluarga berencana. Melemahnya komitmen terhadap program KB akan berdampak pada lebih tingginya jumlah penduduk dari angka yang telah diperkirakan. Hal ini tentu akan semakin mempererat persoalan sosial, ekonomi dan lingkungan. Demikian pula dengan pembangunan SDM utamanya pendidikan dan kesehatan harus benar-benar menjadi perhatian sejak dini. Meningkatnya persentase penduduk usia produktif di satu sisi merupakan modal untuk melakukan pembangunan namun jika negara tidak mampu menyediakan lapangan kerja dan sarana aktualisasi diri akan berdampak pada kondisi ketidakstabilan. Diperlukan antisipasi kebijakan dan perencanaan jangka panjang, menengah dan tahunan dari berbagai instansi termasuk BKKBN, agar lebih segmentatif sesuai kebutuhan kondisi masing-masing wilayah. Komitmen dan dukungan yang tinggi dari berbagai sektor untuk melaksanakan secara sungguh-sungguh kebijakan kependudukan dan KB menjadi prasyarat agar asumsi dan proyeksi yang telah disepakati dapat terwujud, sehingga dampak sosial, ekonomi dan lingkungan sebagai akibat dari melesetnya asumsi dan proyeksi penduduk dapat terhindarkan. Peningkatan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana kesehatan sangat diperlukan untuk mengatasi permasalahan di bidang kesehatan ini.

149
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Bab Meningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Sosial
I. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah

4.15

Undang-undang RI Nomor 6 Tahun 1974 tentang ketentuan-ketentuan pokok kesejahteraan sosial memberikan batasan kesejahteraan sosial sebagai : suatu tata kehidupan dan penghidupan sosial, material maupun spiritual yang diliputi oleh rasa keselamatan, kesusilaan dan ketentraman lahir dan bathin, yang memungkinkan bagi setiap warganegara untuk mengadakan usaha pemenuhan kebutuhan-kebutuhan jasmaniah, rohaniah, dan sosial yang sebaik-baiknya bagi diri, keluarga serta masyarakat dengan menjunjung tinggi hak-hak atau kewajiban manusia sesuai dengan Pancasila. Kesejahteraan sosial itu sendiri adalah kegiatan-kegiatan yang terorganisasi yang bertujuan untuk membantu individu atau masyarakat guna memenuhi kebutuhan–kebutuhan dasarnya dan meningkatkan kesejahteraan selaras dengan kepentingan keluarga dan masyarakat. Angka penyandang masalah kesejahteraan sosial mencerminkan tingkat kesejahteraan penduduk. Banyaknya keluarga penyandang masalah kesejahteraan sosial tahun 2005 mencapai 705.400 keluarga, yang didominasi oleh keluarga fakir miskin berjumlah 387.292 keluarga (54,90%), keluarga yang menempati tempat tinggal yang tidak layak huni sebanyak 230.457 keluarga (32,67%), Keluarga yang rentan sosial ekonomi berjumlah 78.299 keluarga (11,10%), dan keluarga yang bermasalah sosial psikologis berjumlah 9.352 keluarga (1,33%). Banyaknya komunitas tempat tinggal di daerah permukiman kumuh, pengungsi korban bencana sosial dan alam tahun 2005 berjumlah 63,484 keluarga, yang terdiri dari komunitas di daerah permukiman kumuh 42.840 keluarga (67,48%), komunitas yang merupakan pengungsi dari korban bencana sosial berjumlah 2.282 keluarga (3,59%), serta komunitas dari pengungsi korban bencana alam berjumlah 18.362 keluarga (28,92%). Banyaknya keluarga penyandang masalah kesejahteraan sosial lainnya tahun 2005 berjumlah 8.848 keluarga, yang terdiri dari mantan napi 2.032 keluarga (22,97%), wanita tuna susila/PSK 694 keluarga (7,84%), waria 546 keluarga (6,17%), Korban NAPZA 652 keluarga (7,37%), pengemis 1.537 keluarga (17,37%), pemulung 1.533 keluarga (17,33%), dan gelandangan 1.854 keluarga (20,95%). Penyandang cacat di Provinsi Banten tahun 2005 berjumlah 17.629 jiwa yang terdiri dari cacat fisik 7.529 jiwa (42,71%), tuna netra 3.605 jiwa (20,45%), tuna runggu 3.509 jiwa (19,90%), tuna grahita 1.567 jiwa (8,89%), tuna laras 426 jiwa (2,42%), serta cacat ganda 993 jiwa (5,63%). Selain itu penyandang cacat berdasarkan

150
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

akibat dari penyakitnya berjumlah 1.289 jiwa terdiri dari cacat akibat penyakit kronis 1.059 jiwa dan cacat eks penyakit kusta berjumlah 230 jiwa. Tingginya Angka Wanita, Lansia, Anak dan Balita PMKS. Banyaknya wanita penyandang masalah kesejahteraan sosial tahun 2005 berjumlah 77.646 jiwa yang terdiri dari wanita rawan sosial ekonomi (usia 18 – 59 tahun) berjumlah 74.152 jiwa (95,96%) dan wanita korban tindak kekerasan (usia 22 – 59 tahun) berjumlah 3.134 jiwa (4,04%).Banyaknya lanjut usia penyandang masalah kesejahteraan sosial tahun 2005 berjumlah 60.855 jiwa, yang terdiri dari lanjut usia terlantar (usia > 60 tahun) berjumlah 60.201 jiwa (98,93%), serta lanjut usia korban tindak kekerasan (usia > 60 tahun) berjumlah 654 jiwa (1,07%). Banyaknya anak dan balita penyandang masalah kesejahteraan sosial tahun 2005 berjumlah 101.204 jiwa, yang terdiri dari balita terlantar berjumlah 24.663 jiwa (24,37%), anak terlantar 58.780 jiwa (58,08%), anak korban kekerasan 7.860 jiwa (7,77%), anak nakal 7.527 jiwa (7,44%), serta anak jalanan 2.374 jiwa (2,35%). Dilihat dari jumlah kasus PMKS yaitu keluarga fakir miskin, tempat tinggal tidak layak huni, bermasalah sosial psikologis, tinggal di daerah rawan bencana dan rentan sosial ekonomi serta kasus PMKS korban napza, komunitas adat terpencil, korban bencana alam dan sosial/ pengungsi terjadi ketimpangan yang signifikan antara daerah kabupaten dan kota. Jumlah kasus PMKS pada daerah kabupaten 448.847 kasus atau 94.4% (2004) dan meningkat menjadi 709.250 kasus (2005). Untuk daerah kota maka terjadi 26.694 kasus (5.6%) pada tahun 2004 dan meningkat menjadi 87.899 (11%) pada tahun 2005. Secara umum kabupaten Lebak merupakan kabupaten dengan angka total kasus PMKS tertinggi baik dari keluarga PMKS, penderita cacat serta wanita, lansia dan anak PMKS.Potesi dan sumber kesejahteraan yang berupa PSM (Pekerja Sosial Masyarakat), WPKS, Organisasi Sosial (Orsos) dan Karang Taruna. Masih terus berkembang di Provinsi Banten. Pada tahun 2005 jumlah PSM sebanyak 5.970, WPKS 3.310, ORSOS 294 dan KARANG TARUNA sebanyak 1.492 di Provinsi Banten. Organisasi kesosialan tersebut dapat menjadi pendorong perbaikan dan upaya-upaya penanggulangan masalah sosial yang ada di Provinsi Banten sehingga dapat dijadikan salah satu potensi dalam pembangunan Provinsi Banten, kemudian bagaimana peranan dan keterlibatan dari organisasi sosial ini dapat diwadahi dalam pembangunan, diberi dukungan serta diarahkan untuk menunjang penanggulangan masalah sosial dari tingkat yang paling bawah dan diharapkan bahwa organisasi sosial ini dapat menyentuh langsung ke masyarakat. Potensi dan sumber kesejahteraan sosial di Provinsi Banten , meliputi : 1. Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) 2. Organisasi Sosial Masyarakat (Orsos) 3. Karang Taruna 4. Panti Sosial

151
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

5. Keterlibatan wanita di Bidang Sosial Kemasyarakatan a. Wanita Pemimpin Kesejahteraan Sosial b. Wanita Anggota PKK c. LSM Wanita Untuk mengoptimalkan kegiatan dan pelayanan di bidang sosial di Provinsi Banten ini, diperlukan tenagatenaga terampil, terlatih, memiliki minat dan tanggungjawab. Seperti keberadaan pekerja sosial masyarakat (PSM), wanita pemimpin kesejahteraan sosial, Orsos, Karang Taruna, PKK LSM wanita yang peduli dalam berbagai permasalahan sosial memiliki peran strategis. Organisasi kesosialan tersebut dapat menjadi pendorong perbaikan dan upaya-upaya penanggulangan masalah sosial yang ada di Provinsi Banten sehingga dapat dijadikan salah satu potensi dalam pembangunan Provinsi Banten, kemudian bagaimana peranan dan keterlibatan dari organisasi sosial ini dapat diwadahi dalam pembangunan, diberi dukungan serta diarahkan untuk menunjang penanggulangan masalah sosial dari tingkat yang paling bawah dan diharapkan bahwa organisasi sosial ini dapat menyentuh langsung ke masyarakat. Pada Tahun 2007 tenaga kesejahteraan masyarakat di Banten tercatat sebanyak 6.697 orang tersebar di enam kabupaten/kota. Lembaga yang menangani permasalahan ini adalah Dinas Sosial Provinsi Banten, sedangkan untuk lembaga non pemerintah yang menyelenggarakan kesejahteraan sosial ini adalah masyarakat, yang biasanya dilaksanakan melalui organisasi-organisasi sosial, seperti organisasi lokal dan lembaga swadaya masyarakat. Penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) di Banten ( 2007), dibagi menjadi lima kelompok, yaitu : 1. Anak dan Balita 2. Wanita 3. Penduduk lanjut usia 4. Keluarga dan Masyarakat 5. Lain-lain ( Tuna susila, penyandang cacat dan sebagainya ) Tabel 4.31 Anak dan Balita Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Menurut Kab/Kota Provinsi Banten Tahun 2007 Anak Anak Korban Bayi Anak Nakal Anak Jalanan Terlantar Tindak Kabupaten/Kota Terlantar ( 5 – 21 Thn) Kekerasan (org) (org) (org) (org) (org) 1 2 3 4 5 6 909 797 2.002 10.834 6.136 Pandeglang 721 117 337 20.454 84 Lebak 114 734 7 8.202 597 Tangerang 439 255 93 7.319 1.966 Serang 149 99 5 4.109 618 Kota Tangerang 151 220 2.151 87 Kota Cilegon Banten 9.488 53.069 2.444 2.222 2.483 Sumber : Data Bidang Sosial dan Ketenagakerjaan, 2007

152
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Dari hasil penelitian Komnas Perlindungan anak menyebutkan bahwa pelaku tindak kekerasan terhadap anak mungkin saja sangat beragam dan bentuknya bervariasi. kemiskinan dalam keluarga adalah sumber penyebabnya. Tabel 4.32 Wanita Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Menurut Kab/Kota Provinsi Banten Tahun 2007 Kabupaten/Kota Wanita Rawan Sosial Ekonomi Wanita Korban Tindak Kekerasan ( 18 – 59 Tahun ) (org) ( Usia 22 – 59 Tahun ) (org) 1 2 3 1.811 2.920 Pandeglang 555 13.084 Lebak 74 2.716 Tangerang 290 12.768 Serang 31 6.299 Kota Tangerang 1.760 2.107 Kota Cilegon Banten 39.894 4.521 Sumber : Data Bidang Sosial dan Ketenagakerjaan, 2007 Dari tabel di atas tercatat sekitar 39.894 wanita yang termasuk kategori rawan sosial ekonomi. Wanita rawan sosial ekonomi adalah wanita yang didefinisikan sebagai wanita usia 18 - 59 tahun, belum menikah atau janda yang tidak mempunyai penghasilan cukup untuk dapat memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Kebanyakan dari meraka tinggal di wilayah pedesaan. Sedangkan kasus untuk wanita yang mengalami tindak kekerasan tercatat 4.521 kasus. Tindak kekerasan terhadap wanita baik di sektor domestik (rumahtangga) maupun publik (umum) ibarat gunung es. Seperti diketahui untuk kasus-kasus wanita yang mengalami tindak kekerasan dalam lingkungan keluarga maupun lingkungan luar keluarga, banyak kejadian yang tidak dilaporkan kepada aparat. Tabel 4.33 Lansia Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Menurut Kab/Kota Provinsi Banten Tahun 2007 Kabupaten/Kota Lansia Terlantar Lansia Korban Tindak Kekerasan (60 Tahun ke atas) (60 Tahun ke atas) 1 2 3 379 12.518 Pandeglang 80 13.152 Lebak 426 4.797 Tangerang 166 10.082 Serang 80 4.480 Kota Tangerang 2 2 Kota Cilegon Banten 45.031 1.133 Sumber : Data Bidang Sosial dan Ketenagakerjaan, 2007 Cara pandang yang salah terhadap anak,

153
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Pada tahun 2007 diperkirakan terdapat 45.031 lansia yang mengalami keterlantaran dan sebagian besar (hampir 79 persen) para lansia tersebut berdiam di Pandeglang, Lebak dan serang. Di sisi lain, tindak kekerasan terhadap lansia pun belum mampu dihilangkan. Hal ini dibuktikan dengan masih terdapatnya sekitar 1.133 lansia. Tabel 4.34 Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Menurut Kab/Kota Provinsi Banten Tahun 2007 Kabupaten/Kota Keluarga fakir Rumah Tidak Keluarga Keluarga Rentan miskin Layak Bermasalahan Sosial Ekonomi Sosial Psikologi 1 2 3 4 5 38.465 5.046 55.467 94.864 Pandeglang 14.347 154.639 Lebak 18.504 4.152 21.466 132.571 Tangerang 1.236 273 18.919 54.102 Serang 773 189 2.841 28.550 Kota Tangerang 1.301 9.093 Kota Cilegon Banten 473.819 114.341 9.660 48.978 Sumber : Data Bidang Sosial dan Ketenagakerjaan, 2007 Pada tahun 2007, di Provinsi Banten tercatat sebanyak 473.819 keluarga masuk dalam golongan fakir miskin. Sementara itu dari sebanyak keluarga fakir miskin tersebut 114.341 keluarga yang mendiami tempat tinggal tidak layak huni. Sedang untuk keluarga yang rawan sosial ekonomi, dalam hal ini lebih dititik beratkan ke permasalahan sosialnya. Masih ada 48.978 keluarga yang rawan secara sosial ekonomi dan 9.660 keluarga yang memiliki masalah sosial psikologi. Tabel 4.35 Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial lainnya menurut Kab/Kota Provinsi Banten Tahun 2007 Kabupaten/Kota Mantan WTS/PSK Waria Korban Pengemis Pemulung Gelandangan Napi NAPZA 1 2 3 4 5 6 7 8 Pandeglang Lebak Tangerang Serang Kota Tangerang Kota Cilegon Banten 418 621 682 488 296 180 2.685 169 102 245 36 20 55 627 66 20 180 24 5 295 60 122 246 36 407 62 933 871 180 241 410 158 61 1.921 1.261 123 626 331 186 370 2.897 1.131 49 60 177 2 252 1.671

Sumber : Data Bidang Sosial dan Ketenagakerjaan, 2007 Kasus gelandangan dan pengemis serta pekerja seks komersial (PSK) semakin merebak terutama pada kotakota, pelabuhan, terminal serta daerah pantai dan wisata merupakan salah satu potensi permasalahan yang dapat menganggu ketentraman dan ketertiban umum di wilayah Provinsi Banten. Berbagai upaya

154
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

pencegahan terhadap berkembangnya PSK seperti yang dilakukan oleh Kota Tangerang melalui penerbitan Perda No. 8 Tahun 2005 tentang Pelarangan Pelacuran masih menyisakan permasalahan yang antara lain adanya indikasi exodus PSK ke ke wilayah Pantura, yang menyebabkan langkah serupa tengah dipersiapkan oleh Pemerintah Kabupaten Tangerang. Demikian juga dengan penyalahgunaan NARKOBA/NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif) yang semakin berkembang dikalangan remaja, bahkan telah memasuki kawasan-kawasan pendidikan (sekolah). Sebagaimana diketahui pada akhir-akhir ini penggerebekan produsen-produsen NARKOBA kelas internasional di Provinsi Banten, terutama di Tangerang menunjukkan bahwa Banten merupakan sasaran utama pusat-pusat produksi dilakukan oleh sindikat-sindikat jaringan NARKOBA. II. Sasaran yang Ingin Dicapai RPJMN dan RPJMD Sasaran perlindungan dan kesejahteraan sosial adalah sebagai berikut : 1. Meningkatkan kualitas hidup penyandang masalah kesejahteraan sosial di Banten sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan. 2. Meningkatnya kemampuan dan kepedulian sosial masyarakat dalam pelayanan kesejahteraan sosial secara melembaga dan berkelanjutan 3. Tersusunnya sistem perlindungan sosial 4. Meningkatnya ketahanan sosial individu, keluarga dan komunitas masyarakat dalam mencegah dan menangani permasalahan kesejahteraan sosial. 5. Terjaminnya bantuan sosial dan meningkatnya penanganan korban bencana alam dan sosial III. Arah Kebijakan

Untuk mencapai sasaran di atas, arah kebijakan perlindungan dan kesejahteraan sosial di atas adalah sebagai berikut : 1. Meningkatnya kualitas pelayanan dan bantuan dasar kesejahteraan sosial bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial 2. Meningkatkan kualitas hidup bagi PMKS terhadap pelayanan sosial dasar, fasilitas pelayanan publik, jaminan kesejahteraan sosial 3. Mengembangkan sistem perlindungan sosial daerah 4. Mengembangkan dan menyerasikan kebijakan untuk penanganan masalah-masalah strategis yang menyangkut masalah kesejahteraan sosial. 5. Meningkatkan prakarsa dan peran aktif masyarakat termasuk masyarakat mampu, dunia usaha, perguruan tinggi, dan orsos/LSM dalam penyelenggaraan pembangunan kesejahteraan sosial secara terpadu dan berkelanjutan. 6. Meningkatkan pelayanan bagi korban bencana alam dan sosial.

155
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

IV.

Pencapaian RPJMN di Daerah

4.1 Upaya yang telah dilakukan Pemberian bantuan sosial secara merata, Memberikan pelayanan/ penampungan dan perawatan, Meminimalisir permasalahan kesejahteraan sosial yang ada dimasyarakat, Peningkatan kualitas SDM Kesejahteraan sosial dan masyarakat (karang taruna, organisasi sosial dll). 4.2 Capaian Di dalam mengoptimalkan kegiatan dan pelayanan di bidang sosial diperlukan tenaga-tenaga terampil, terlatih, memiliki minat dan tanggungjawab sosial. Di Banten sendiri keberadaan pekerja sosial masyarakat, organisasi sosial, karang taruna, PKK, panti sosial, LSM wanita yang peduli dalam permasalahan sosial memiliki peran strategis, Seperti : - Tenaga Kesejahteraan Masyarakat 6697 - Organisasi Sosial 1292 - Karang Taruna 1451 - Panti Sosial 183 - Anggota PKK 24.394 - LSM Wanita 410 4.3 Permasalahan Berbagai kerentanan dan kerawanan sosial merupakan sumber-sumber permasalahan masyarakat yang masih dihadapi yang dapat berdampak pada terjadinya gangguan ketenteraman dan ketertiban umum. Keberadaan PMKS tersebut merupakan potensi terhadap bertumbuhkembangnya masalah sosial dan penyimpangan perilaku masyarakat. Contoh kasus dapat dilihat pada penelitian mengenai permasalahan sosial di Banten juga pernah dilakukan yaitu mengenai penyakit masyarakat ( pekerja seks komersial di Kota Cilegon ). Dengan dijadikannya Kota Cilegon sebagai tempat dibangunnya pabrik baja terbesar di Indonesia yaitu Krakatau Steel, menjadikan Kota Cilegon sebagai daerah yang berkembang pesat. Di samping itu pula, banyak berdirinya industri-industri kimia dan PLTU Suralaya semakin mendorong banyak warga pendatang datang ke Cilegon. Sebagai penunjang daerah yang maju, maka banyak bermunculan pusat-pusat hiburan di Kota Cilegon, seperti Billyard, Kafe-kafe dan House Music. Banyak bermunculannya pusat hiburan di Kota Cilegon, melahirkan permasalahan baru seperti pekerja seks komersial, peredaran obat-obatan terlarang dan minuman keras. Selain itut kebanyakan responden/PSK hanya berpendidikan Sekolah Dasar (SD) dan SMP. Ada juga di antara mereka menamatkan SLTA. Berdasarkan alasan PSK melakukan pekerja tersebut dapat

156
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

dikategorikan menjadi dua yaitu faktor ekonomi dan faktor gaya hidup atau kesenangan semata. Namun faktor yang dominan adalah faktor ekonomi. Karena hampir sebagian besar PSK berasal dari keluarga yang kurang mampu dan atau menjadi tulang punggung keluarga. Pekerja Seks Komersial di Kota Cilegon itu sendiri dapat dibedakan berdasarkan lokasi dan tarif yang dikenakan kepada klien-klien mereka. Untuk PSK yang sering ”mangkal” di kafe-kafe, tempat hiburan dan hotel, dapat dikategorikan sebagai PSK kelas bawah dengan tarif 300.000 per orang. Sementara untuk PSK kelas atas, tarif yang dikenakan berkisar 3 juta rupiah ke atas, dan klien mereka kebanyakan merupakan ekspatriat dan pengusaha-pengusaha. Dari hasil survey di lapangan diketahui bahwa pola bekerja mereka tidak menetap pada satu tempat hiburan/mangkal. Mereka biasanya berpindah-pindah lokasi. Selain untuk menghindari operasi petugas, juga untuk mendapatkan klien yang lebih baik dan bervariasi. Dalam satu malam, minimial seorang PSK dapat melayani 3 orang klien. Jam kerja mereka mulai dari jam 9 malam sampai dengan jam 2 malam. Tetapi biasanya mereka melanjutkan transaksinya di lokasi lain. V. Rekomendasi Tindak Lanjut

Pemerintah daerah wajib memperbaiki terhadap kualitas pelayanan, sarana dan prasarana rehabilitasi kesejahteraan sosial bagi PMKS. Begitu juga di dalam melakukan pelayanan dan perlindungan sosial, hukum bagi korban eksploitasi, perdagangan perempuan dan anak. Lalu tersedia sarana dan prasarana tempat anak terlantar ( pembinaan anak terlantar ) yang betul-betul kondusif serta pembinaan eks penyandang penyakit sosial ( eks narapidana, PSK, narkoba, dan penyakit sosial lainnya ). Hendaknya di Kota Cilegon juga di dirikan tempat penampungan dan pembinaan bagi pekerja seks komersial yang terjaring dalam operasi oleh Sat Pol PP. Diharapkan mereka yang terjaring operasi tersebut dapat memperoleh keterampilan sehingga mereka mempunyai alternatif lain di di dalam mencari pekerjaan.

157
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Bab Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Kecil Berkualitas serta Pemuda dan Olahraga
I. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah Laju pertumbuhan penduduk Pertumbuhan penduduk Indonesia pada periode 1971 - 1980 tercatat 2,32 persen pertahun. Angka ini kemudian menurun menjadi 1,97 persen per tahun pada periode 1980-1990 dan menurun lagi menjadi 1,49 persen per tahun pada periode 1990-2000. Penurunan pertumbuhan penduduk tersebut menyebabkan jumlah penduduk menjadi relatif terkendali. Pada tahun 1971 jumlah penduduk Indonesia tercatat 119,2 juta jiwa dan menjadi 205,8 juta jiwa pada tahun 2000. Turunnya LPP (laju pertumbuhan penduduk) ini tidak terlepas dari keberhasilan Indonesia menurunkan angka kelahiran secara bermakna. Laju Pertumbuhan Penduduk di Provinsi Banten, berdasarkan data dari Dinkes Provinsi Banten sebesar 3,16 pada tahun 2005, dan sebesar 3,08 pada tahun 2006. Unmet Need KB Unmet Need KB adalah kebutuhan akan pelayanan KB yang tak terpenuhi. Satu dari 10 perempuan kawin di Indonesia yang tidak ingin hamil, tidak menggunakan kontrasepsi karena berbagai alasan (BPS dan ORC Macro, 2003). Akibatnya, kasus kehamilan yang tidak diinginkan kerap terjadi dan berakhir dengan aborsi. Data kasus aborsi di Indonesia yang cukup tinggi, yaitu 1.500.000 sampai 2.000.000 aborsi setiap tahunnya (Utomo, dkk,2002) bisa menjadi salah satu petunjuk akan kondisi tersebut. Ironisnya, sebagian besar aborsi dilakukan dengan cara yang tidak aman, dalam lingkungan yang tidak sehat, dan jauh dari standar pelayanan kesehatan. Jika kebutuhan akan pelayanan KB terpenuhi maka semua perempuan yang ingin mengendalikan kesuburan mempunyai akses memadai terhadap kontrasepsi yang efektif dan aman, sehingga jumlah kematian ibu (AKI) di Indonesia pun dapat menurun sampai 50 persen (outlook, 12, 2, 2004). Persentase penurunan yang cukup tinggi itu bisa terjadi karena dengan terakses pada kontrasepsi yang memadai maka penurunan risiko kematian ibu karena kehamilan, persalinan, dan aborsi tidak aman pun dapat diturunkan. Fakta berbicara bahwa kebutuhan akan program KB, termasuk di Indonesia, cukup tinggi. Namun sayangnya, jumlah kebutuhan masyarakat akan pelayanan KB yang belum terpenuhi (unmet need), juga tinggi. Di

4.16

158
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Provinsi Banten berdasarkan data yang diperoleh dari Dinkes Provinsi Banten untuk tahun 2007, angka Unmet Need KB sebesar 9%. Total Fertillity Rate (TFR) per perempuan Angka kelahiran total (Total Fertility Rate/TFR) dapat diturunkan dari 5,6 per wanita pada sensus penduduk tahun 1971 menjadi 2,34 per wanita pada sensus penduduk tahun 2000. Namun demikian, bila dicermati dengan memperhatikan latar belakang sosial ekonomi ternyata menunjukkan perbedaan. SDKI 2002-2003 melaporkan bahwa mereka yang memiliki kesejahteraan terendah memiliki TFR 3,0 per wanita atau lebih tinggi dibanding mereka yang memiliki tingkat kesejahteraan tertinggi yang memiliki TFR 2,2 per wanita. Penurunan angka kelahiran di Indonesia erat kaitan dengan keber-hasilan program KB dan meningkatnya prevalensi pemakaian kontrasepsi. Yang perlu mendapat perhatian adalah bahwa penurunan fertilitas terbesar dalam lima tahun terakhir ini disebabkan masih bertahannya penurunan fertilitas dari generasi muda atau pasangan muda usia 15-19 tahun. Salah satu sebabnya bukan saja karena penggunaan kontrasepsi atau mengikuti KB secara formal tetapi adalah karena kesadaran reproduksi yang makin tinggi. Mereka menunda usia kawin atau menunda mempunyai anak yang pertama. Pasangan yang usianya sekarang 45-49 tahun rata-rata menikah pada usia 17,9 tahun. Tetapi pasangan yang usianya 25-29 tahun rata-rata menikah pada usia 20,2 tahun. Bahkan mereka yang tidak pernah bersekolah, generasi yang berusia 45-49 tahun rata-rata menikah pada usia 16,9 tahun, generasi muda usia 25-29 tahun menikah pada rata-rata usia 17,7 tahun. Angka prevalensi ber-KB berhasil ditingkatkan dari 26 persen pada tahun 1980 menjadi 57 persen pada SDKI 1997 dan 60,3 persen pada SDKI 2002-2003. Pencapaian prevalensi ini di tingkat Propinsi cukup beragam yaitu berkisar antara 35 persen di Nusa Tenggara Timur hingga 75 persen di DI Yogyakarta. Penduduk pada hakekatnya dapat diibaratkan sebagai pisau bermata dua. Di satu sisi penduduk yang besar dan berkualitas akan menjadi aset yang sangat bermanfaat bagi pembangunan, namun sebaliknya penduduk yang besar tapi rendah kualitasnya justru akan menjadi beban yang berat bagi pembangunan. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinkes Provinsi Banten untuk tahun 2007, angka TFR di Banten sebesar 2,32%, ini menunjukkan angka yang lebih besar dibanding TFR nasional sebesar 2,26%. Partisipasi laki-laki dalam ber-KB BKKBN mencatat angka partisipasi KB di Indonesia mencapai 62 persen dari sekitar 45 juta pasangan usia subur yang ada. Dari 62 persen ini, hanya 1,3 persen akseptor KB pria. Banyak studi melaporkan bahwa relasi gender yang masih timpang dalam sebuah keluarga cukup berperan terhadap angka unmet need. The Johns Hopkins School of Public Health, Amerika Serikat (1997) dalam sebuah studinya melaporkan bahwa

159
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

sikap suami berperan dalam keikutsertaan perempuan dalam KB. Suami yang masih ingin memiliki anak dan menolak kontrasepsi membuat perempuan yang tidak ingin punya anak tidak terakses pelayanan KB. Selain itu, komunikasi mengenai isu KB yang buruk pada suami dan posisi tawar (bargaining power) istri yang rendah dalam hubungan dengan suami juga menjadi penyebab.Tradisi itu bisa jadi sangat dipengaruhi oleh budaya partriarki di masyarakat yang terwujud dalam memposisikan perempuan (para istri) pada posisi subordinate (lebih rendah) dalam keluarga. Akibatnya, pembicaraan tentang kontrasepsi tidak pernah didiskusikan secara terbuka. Sehingga para suamilah yang paling dominan mengambil keputusan tentang kontrasepsi dan kehamilan. Padahal segala risiko selama hamil dan persalinan perempuanlah yang merasakan. Oleh karena itu, salah satu agenda penting untuk meningkatkan akses perempuan terhadap program KB adalah meningkatkan peran perempuan sebagai penentu keputusan dalam merencanakan jumlah dan penjarangan kehamilan. Dengan demikian, bukan saja upaya pemberdayaan perempuan yang perlu dilakukan, tetapi juga upaya mengubah paradigma laki-laki terhadap hak-hak reproduksi sangat penting digarap. Sehingga, segala penghambat bagi perempuan yang tidak ingin hamil untuk mengakses metode KB yang efektif sesuai dengan situasi dirinya dan keluarganya dapat dipenuhi. Hingga akhirnya, setiap kehamilan yang terjadi adalah kehamilan yang diinginkan, sehat, dan berlanjut dengan perawatan dan pemeriksaan kehamilan yang akurat. Contraceptive Prevalence Rate/CPR CPR di Banten pada tahun 2007 sebesar 56,7%, angka ini menunjukkan Lebih rendah dibanding CPR nasional sebesar 61,4% II. Sasaran yang Ingin Dicapai RPJMN dan RPJMD

- Meningkatnya pembangunan kependudukan - Terkendalinya pertumbuhan penduduk dan meningkatnya keluarga kecil berkualitas - Meningkatnya pembangunan pemuda dan olahraga III. • • • Arah Kebijakan Penataan pembangunan kependudukan Pengendalian pertumbuhan penduduk dan peningkatan keluarga kecil berkualitas Peningkatan partisipasi pemuda dalam pembangunan dan menumbuhkan budaya dan prestasi

olahraga guna meningkatkan kualitas manusia Indonesia

160
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Arah kebijakan di Provinsi Banten untuk pembangunan pemuda dan olahraga lebih detail dijabarkan dalam program-progam di bawah ini : Program Pengembangan Kepemudaan dengan indikasi kegiatan : (1) Pembinaan Lembaga Kepemudaan (2) Pembinaan Peran Serta Pemuda (3) Peningkatan Upaya Kewirausahaan Pemuda Program Pendidikan Olah Raga dengan indikasi kegiatan : (1) Pembinaan dan Peningkatan Prestasi Olah Raga Pelajar (2) Pemasalan Olah Raga (3) Penyediaan Sarana dan Prasarana Olah Raga Pembangunan Program Keluarga Berencana dengan indikasi kegiatan: (1) Pelayanan Keluarga Berencana (KB) terutama bagi keluarga miskin (2) Penguatan data mikro keluarga (3) Penguatan SDM dan Forum Kader Revitalisasi Posyandu (4)Pengembangan informasi Posyandu Selain itu, arah kebijakan di Provinsi Banten untuk pembangunan pemuda dan olahraga lebih detail dijabarkan dalam program-progam di bawah ini : Program Pengembangan Kepemudaan dengan indikasi kegiatan : (1) Pembinaan Lembaga Kepemudaan (2) Pembinaan Peran Serta Pemuda (3) Peningkatan Upaya Kewirausahaan Pemuda Program Pendidikan Olah Raga dengan indikasi kegiatan : (1) Pembinaan dan Peningkatan Prestasi Olah Raga Pelajar (2) Pemasalan Olah Raga (3) Penyediaan Sarana dan Prasarana Olah Raga Pembangunan Program Keluarga Berencana dengan indikasi kegiatan: (1) Pelayanan Keluarga Berencana (KB) terutama bagi keluarga miskin (2) Penguatan data mikro keluarga (3) Penguatan SDM dan Forum Kader Revitalisasi Posyandu (4)Pengembangan informasi Posyandu

161
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

IV.

Pencapaian RPJMN di Daerah

4.1 Upaya yang telah dilakukan Berupaya meningkatkan kualitas dan jumlah sarana dan prasarana kesehatan dasar mulai dari rumah sakit, puskesmas, posyandu, apotik, poliklinik, dokter praktek, dan bidan praktek dan lain sebagainya. Peningkatan Derajat Kesehatan Masyarakat merupakan salah satu sasaran strategis yang ingin dicapai berkaitan dengan “pemberdayaan masyarakat”, disamping Penuntasan Wajar Dikdas 9 tahun sampai dengan tahun 2009 dan Wajar Pendidikan Menengah 12 tahun sampai dengan 2012 dan ), Pengurangan Pengangguran dan Kemiskinan, Berdasarkan strategi tersebut di atas kebijakan yang dilaksanakan berdasarkan kualitas dan efektivitas permasalahan diselesaikan dengan penanganan darurat dengan pendekatan bantuan stimultan dan percepatan pembangunan di masing-masing bidang tersebut di atas. 4.2 Capaian Persalinan yang ditolong tenaga medis terkait erat dengan upaya menurunkan angka kematian bayi dan kematian ibu. Walaupun pergerakannya lambat namun secara pasti proporsinya menunjukkan peningkatan dibanding yang ditolong tenaga non medis (seperti dukun bayi). Kisarannya masih bergerak pada angka 5060% untuk tahun 2007. Angka kematian bayi, status gizi masyarakat dan cakupan air bersih dikategorikan sangat baik. Hal ini ditunjukkan oleh kinerja Indikator Jumlah Kelahiran Bayi Hidup terus mengalami peningkatan, dari 162.341 jiwa tahun 2003 menjadi 226.250 jiwa tahun 2005 atau 93,60% dari kelahiran bayi di Provinsi Banten. Indek Mutu Hidup (IMH) Provinsi Banten selama periode tahun 2002-2006 terus mengalami peningkatan. IMH pada tahun 2002 adalah sebesar 66,2 dan tahun 2005 angka IMH mengalami peningkatan menjadi 67,9. Hal ini menunjukkan bahwa selama periode ini telah terjadi peningkatan mutu hidup masyarakat yang cukup signifikan untuk Provinsi Banten. Angka kematian ibu (AKI) di Banten masih terbilang tinggi, yakni 381 per 100 ribu kelahiran hidup dan terbesar berada di Kabupaten Serang, yakni 34 persen (Sumber : Tim Ad Hoc Advokasi Kesehatan Kabupaten Serang). Sarana dan prasarana dasar kesehatan di Provinsi Banten terus mengalami peningkatan dalam jumlah, mulai dari rumah sakit, puskesmas, posyandu, apotik, poliklinik, dokter praktek, dan bidan praktek dan lain sebagainya. Rata-rata setiap Kabupaten/Kota di Provinsi Banten memiliki 4 Rumah Sakit. Angka ini termasuk memadai jika dibandingkan dengan rata-rata daerah lain yang hanya memiliki 1-2 rumah sakit untuk satu kabupaten/kota.Begitu juga untuk Puskesmas/ Puskesmas Pembantu/Puskesmas Keliling jika dibandingkan

162
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

dengan jumlah keluarga yang harus dilayaninya memiliki rasio 1 berbanding 3.648 artinya rata-rata satu puskesmas di Provinsi Banten mampu melayani kurang lebih 3.648 Keluarga. Dan rasio bisa dikategorikan sedang, sebab jumlah keluarga sebanyak tersebut diperkirakan jumlah keluarga ideal untuk satu kecamatan. Artinya di Provinsi Banten diperkirakan rata-rata satu kecamatan memiliki satu sampai dua Puskesmas. Bahkan jika jumlah puskesmas di atas ditambah dengan poliklinik dan balai pengobatan yang ada, maka rasio rata-rata satu Puskesmas dan balai tersebut memiliki kemampuan kapasitas layanan untuk 1.355 keluarga, angka ini bisa dikategorikan memadai. Hingga akhir periode 2002 - 2006 untuk sarana prasarana kesehatan, Provinsi Banten telah memiliki 8.530 unit posyandu, 370 unit polindes, 523 unit puskesmas dan 28 unit rumah sakit. Untuk tenaga kesehatan, hingga akhir 2005, Provinsi Banten memiliki 628 orang dokter umum, 724 orang dokter spesialis, 159 orang dokter gigi, 3080 orang perawat, 1285 orang bidan, 74 orang ahli kesehatan masyarakat, 37 orang apoteker, 143 orang ahli gizi, 143 orang analis laboratorium, dan 73 orang ahli rontgen. 4.3 Permasalahan - Rendahnya partisipasi laki-laki untuk melaksanakan program Keluarga Berencana (KB), berdasarka data 62 persen dari sekitar 45 juta pasangan usia subur yang ada, hanya 1,3 persen akseptor KB pria. Salah satu penyebabnya adalah masih kentalnya budaya partriarki di masyarakat yang terwujud dalam memposisikan perempuan (para istri) pada posisi subordinate (lebih rendah) dalam keluarga, yang mengkondisikan masalah KB hanya merupakan urusan kaum perempuan saja. - Masih rendahnya status gizi terutama pada ibu hamil, Kematian bayi di Banten masih dominan disebabkan oleh Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) yang terkait erat dengan status gizi ibu hamil. V. Rekomendasi Tindak Lanjut

Salah satu agenda penting untuk meningkatkan akses perempuan terhadap program KB adalah meningkatkan peran perempuan sebagai penentu keputusan dalam merencanakan jumlah dan penjarangan kehamilan. Dengan demikian, bukan saja upaya pemberdayaan perempuan yang perlu dilakukan, tetapi juga upaya mengubah paradigma laki-laki terhadap hak-hak reproduksi sangat penting untuk dilaksanakan. Pendekatan reproduksi untuk remaja dan pasangan muda menjadi sangat penting karena ternyata penurunan fertilitas yang masih bisa bertahan selama lima tahun terakhir ini, dan kemungkinan besar selama lima tahun yang akan datang, adalah berasal dari kelompok generasi muda dan pasangan subur muda. Pasangan usia subur yang sudah berusia diatas 30 tahun mempunyai penurunan fertilitas yang sangat kecil, atau bahkan sukar sekali menurun lebih rendah lagi.

163
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Untuk meningkatkan status gizi balita kaitannya dengan faktor sosial, diantaranya diperlukan peranan pemerintah dalam meningkatkan kualitas kesehatan. Cara yang efektif adalah dengan mendalam dilakukan tiap bulan ketika kegiatan posyandu dilaksanakan. Dalam meningkatkan status gizi balita kaitannya dengan faktor ekonomi, pemberdayaan perempuan merupakan salah satu agenda prioritas dan menjadi salah satu kunci keberhasilan upaya-upaya pembangunan kesejahteraan rakyat dan penanggulangan kemiskinan secara berkelanjutan, untuk itu perlu menjadi perhatian dari seluruh komponen bangsa agar melaksanakannya secara sungguh-sungguh guna kepentingan peningkatan kualitas dan kapasitas anak-anak dan generasi muda. Upaya peningkatan kesehatan ibu dan anak juga harus dimulai dengan terobosan -terobosan dibidang kesehatan formal sekaligus mengupayakan peningkatan kebutuhan akan pelayanan kesehatan di masyarakat disertai dengan upaya peningkatan partisipasi dari masyarakat itu sendiri. Untuk menjawab kebutuhan diatas, beberapa intervensi dalam bidang kesehatan seperti : 1. Penguatan Program Kesehatan Ibu dan Anak 2. Peningkatan kualitas dan kapasitas Petugas Kesehatan seperti Mantri dan Bidan serta tenaga pendukung seperti Dukun Bersalin, Kader POD dan Kader Posyandu 3. Mengimplementasikan Program Peningkatan Makanan Bergizi dan Upaya Kesehatan Pencegahan Gizi Buruk dengan pemasyarakatan kembali pesan gizi seimbang melalui slogan 4 sehat 5 Sempurna sesuai kondisi daerah. (Berdasarkan penelitian yang dilakukan mengenai Status Gizi Balita di Kota Cilegon, 2007). pemantauan

164
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Bab Peningkatan Kualitas Kehidupan Beragama
I. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah Penduduk di Provinsi Banten, 89,19% beragama Islam, 5,48% Kristen, 1,26 % Katolik, 8,75% Hindu dan 3,20 Budha. Mayoritas penduduk yang beagama islam berkonsentrasi di kabupaten serang, pandeglang, Lebak dan Kota Cilegon. Sedangkan kabupaten dan kota Tangerang penduduk yang beragama Islam 81,22% dan 66,24 %. Oleh sebab itu, Provinsi Banten memfasilitasi pembangunan tempat ibadah untuk meningkatkan kualitas kehidupan beragama. Jumlah tempat ibadah sesuai dengan agama yang dianut adalah seperti dalam tabel berikut : Tabel 4.36 Jumlah tempat ibadah menurut agama No 1 2 3 4 5 Agama Islam Kristen Katholik Hindu Budha Jumlah 24.690 644 37 11 81

4.17

Karena sebagian masyarakat Provinsi Banten beragama Islam pelayanan ibadah haji merupakan suatu hal yang diperhatikan. Calon Jemaah haji dari tahun-ketahun mengalami kenaikan, seperti dalam tabel berikut: Tabel 4.37 Daftar Calon Jemaah Haji di Provinsi Banten Tahun 2004 2005 2006 2007 II. Calon jemaah haji 5.216 5.128 8.505 8.474 Jumlah yang berangkat 5.216 5.128 8.401 8.366 Batal 104 98

Sasaran yang Ingin Dicapai RPJMN dan RPJMD

Saat ini masyarakat Banten masih menikmati budaya dan suasana kehidupan agamis Islam sebagai hasil dari perjuangan Kesultanan Banten yang berhasil membawa kejayaan Banten pada abad XVI dan XVII. Kehidupan agamis ini selain dapat mendorong sifat dan perilaku yang bermanfaat bagi pembangunan juga menjadi benteng penangkis masuknya budaya dari luar yang negatif.

165
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Sasaran yang ingin dicapai melalui prioritas, pemeliharaan dan pengembangan budaya dan kehidupan agamis adalah: a. Terwujudnya aktualisasi nilai-nilai luhur budaya Banten dan penguatan ketahanan budaya dalam menghadapi derasnya arus budaya global. b. Meningkatnya minat dan upaya pengembangan budaya Banten dalam rangka kebudayaan nasional c. Terwujudnya kerja sama yang sinergis antara berbagai pemangku kepentingan dalam pengelolaan budaya. III. Arah Kebijakan

Arah kebijakan yang diprogramkan adalah dialog antar pemuka agama, musyawarah pemuka agama

dengan pemerintah, sedangkan untuk meningkatkan pengamalan kehidupan beragama kebijakan yang diprogramkan adalah meningkatkan pembinaan antar umat beragama.
IV Pencapaian RPJMN di Daerah

4.1 Upaya yang telah Dilakukan Masyarakat Banten sangat erat memegang nilai-nilai kebudayaan islam yang diwariskan secara turun temurun. Dalam perkembangannya, lemahnya ketahanan budaya sehingga mengakibatkan kritis jati diri khususnya dikalangan generasi muda karena pengaruh era globalisasi. Untuk itu penerapan nilai budaya baru yang positif dan produktif tanpa meninggalkan akar budaya yang telah ada dan mengakar di masyarakat serta peningkatan penggalian, pelestarian, dan pengembangan adat dan budaya Banten sebagai bagian dari kebudayaan nasional perlu menjadi orientasi penanganan. Untuk meningkatkan kualitas peningkatan kerukunan hidup beragama, pemerintah mempunyai program peningkatan kerukunan hidup beragama dengan indikasi kegiatan a. Dialog antar pemuka agama b. Musyawarah pemuka agama dengan pemerintah Sedangkan program peningkatan pemahaman, penghayatan, pengamalan dan pengembangan nilai-nilai agama dengan indikasi kegiatan a. Pembinaan pengurus masjid se-Banten b. Subsidi peningkatan sarana masjid dan TPA c. Pemberdayaan LPTQ d. Penyelenggaraan MTQ tingkat nasional

166
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

4.2 Capaian Pencapain yang telah ada di Provinsi Banten adalah : a. Terjalinnya kerukunan umat beragama di Provinsi Banten b. Meningkatnya pelayanan ibadah haji, mengingat sebagian besar penduduk Provinsi Banten beragama islam c. Tercapainya MTQ tingkat Nasional di Provinsi Banten

4.3 Permasalahan Permasalahan yang muncul adalah masih adanya pengamalan budaya dan agama Islam yang tidak sesuai dengan norma di Provinsi Banten akibat pergaulan Global. V. Rekomendasi Tingkat Lanjut

Untuk meningkatkan kerukunan tingkat beragama perlu adanya pembinaan dan dialog antar umat beragama. Pembinaan Taman Alquran dan akhlak remaja serta pemberdayaan pengajian di masjid-masjid.

167
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Bab Perbaikan Pengelolaan Sumberdaya alam dan Pelestarian fungsi lingkungan hidup dan Pembangunan Kehutanan
I. Kondisi Awal RPJM daerah

4.18

Provinsi Banten dengan luas daratan 8.800,83 km2 menyimpan kekayaan dan keanekaragaman SDA, antara lain keberadaan hutan produksi mengalami peningkatan dari 53.533,60 ha pada tahun 2003 menjadi 72.295,47 ha hingga tahun 2004, yang terdiri dari 42.537,55 ha hutan produksi tetap dan 29.757,92 ha hutan produksi terbatas. Di samping itu, sumberdaya lahan untuk pengembangan pertanian yang telah dikembangkan terdiri dari 84.315,40 ha lahan persawahan teririgasi 90.423,50 ha sawah tadah hujan, serta 181.247,60 ha area perkebunan, dan belum termasuk lahan-lahan pertanian yang diusahakan untuk budidaya palawija, hortikultura, sayuran, dan buah-buahan. Dari sisi pertambangan dan energi, sumberdaya mineral sebagian besar telah diusahakan baik oleh swasta maupun masyarakat, seperti zeolit, bentonit, sirtu, pasir kuarsa, batu gamping, felspar, bonclay, lempung, fosfat, toseki, kalsedon, opal, kayu terkersikan, marmer, pasir laut, emas, batubara. Beberapa potensi sumberdaya mineral lainnya di Provinsi Banten hingga saat ini belum dimanfaatkan secara optimal seperti tras, batu apung, besi, dan andesit. Sementara itu, wilayah pesisir dan laut Provinsi Banten dengan luas perairan 11.134,22 km2 (belum termasuk perairan nusantara /teritorial dan ZEEI yang dapat dimanfaatkan), dengan panjang garis pantai 509 km, serta 55 pulau-pulau kecil dan pulau terluar menyimpan kekayaan dan keragaman sumberdaya pesisir dan laut. Potensi sumberdaya perikanan tangkap laut dengan produksi tahun 2004 yang sebesar 76.324,50 ton baru memanfaatkan 82,09% dari potensi lestari di wilayah perairan Kab. Pandeglang (92.971 ton) sehingga belum memperhitungan potensi lestari wilayah perairan lainnya. Potensi pantai Utara dan pantai Barat, serta lahan tambak hingga tahun 2005 dimanfaatkan sekitar 58,2% (8.010,55 ha) dari potensi 13.768,9 ha . Beberapa indikasi kerusakan lingkungan antara lain menyangkut kerusakan air seperti keberadaan dan fungsi DAS Ciujung sebagai bagian dari SWS Ciujung- Ciliman yang ditetapkan sebagai salah satu DAS kritis dalam RTRWN. II. Sasaran yang ingin di capai

Sasaran yang ingin dicapai dalam Pembangunan Kehutanan : (1) Tegaknya hukum khususnya dalam pemberantasan pembalakan liar (ilegal loging) dan penyelundupan kayu, (2) Penetapan kawasan hutan dalam tataruang seluruh Propinsi, minimal 30% dari luas hutan yang telah ditata batas, (3) Penyelesaian

168
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

penetapan kesatuan pengelolaan hutan , (4) Optimalisasi nilai tambah dan manfaat hasil hutan kayu, (5) Meningkatnnya hasil hutan non kayu sebesar 30 % dari produksi tahun 2004 (,5)Bertambahnya hutan tanaman industri (HTI) minimal 5 juta hektar (6)Konservasi hutan dan rehabilitasi lahan di 282 DAS untuk ketersediaan pasokan air (7) Desentralisasi kehutanan melalui pembagian wewenang dan tanggung jawab yang disepakati pusat dan daerah (8) Berkembangnya kemitraan antar pemerintah , pengusaha dan masyarakat dalam pengelolaan hutan lestari, dan (9) Penerapan IPTEK yang inovatif pada sektor kehutanan Sasaran yang ingin dicapai Pembangunan Kelautan: (1) Berkurangnya penyelenggaraan dan perusakan sumberdaya pesisir dan laut, (2) Membaiknya pengeloaan ekosistem pesisir laut dan pulau-pulau kecil, (3) Disepakatinya batas laut dengan negara tetangga, (4) Berkurangnya penggunaan bahan perusak ozon (5) Berkurangnya kemampuan adaptasi terhadap perubahan iklim (6) Pelestarian dan pemanfaatan keanekaragaman hayati (7) Meningkatnya pengelolaan sampah perkotaan, (8) Meningkatnya pengelolaan dan pelayanan limbah (8) Tersusunnya informasi dan peta wilayah yang rentan , (9) Tersusunnya aturan pendanaan lingkungan yang inovatif, (10) Meningkatnya kesadaran masyarakat memelihara SDA dan lingkungan hidup. III. Arah Kebijakan

Pengelolaan Sumberdaya alam dan Pelestarian fungsi lingkup hidup dan Pembangunan Kehutanan, kebijakannya diarahkan pada : (1) Mengarustamakan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan keseluruh bidang pembangunan (2) Melaksanakan pembangunan yang sesuai dengan kebijakan pemanfaatan ruang pada RTRW (3) Meningkatkan pengelolaan hutan dan keanekaragaman hayati termasuk sistem pengawasan dan penegakan hukumnya (4) Mengelola sumberdaya kelautan, termasuk pulau-pulau kecil secara lestari termasuk sistem pengendalian dan pengawasannya (5) Meningkatkan pengelolaan (eksplorasi dan eksploitasi) sumberdaya mineral dengan selalu memperhatikan aspek lingkungan hidup (5) Peningkatan Pengamanan Kawasan Sumberdaya air dan pemanfaatannya (6) Meningkatkan koordinasi pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup ditingkat nasional dan daerah (7) Peningkatan pengelolaan pencegahan dan penanggulangan bencana alam (8) Pengaturan dan pengendalian pengelolaan limbah industri dan non industri. IV. Pencapaian RPJM daerah

4.1 Upaya yang dilakukan Provinsi Banten memiliki kekayaan keanekaragaman hayati berupa flora, fauna dan tipe ekosistem yang sangat tinggi. Sebagian diantaranya merupakan jenis dan tipe ekosistem yang bersifat endemik. Kekayaan tersebut sebagian besar terdapat dalam kawasan hutan dan kebun. Namun demikian, kekayaan tersebut saat ini sedang mengalami tekanan keberadaannya sebagai akibat dari pencurian plasma nutfah, penyelundupan

169
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

satwa, perambahan hutan dan kebun, perburuan liar, perdagangan flora/fauna yang dilindungi. Luas kawasan hutan dan kebun di Provinsi Banten mencapai 386.865,83 ha yang terdiri atas kawasan hutan seluas 206.851,44 ha dan kawasan kebun seluas 158.884,13 ha. Berdasarkan fungsinya kawasan hutan terdiri dari hutan produksi 72.295,47 ha, kawasan hutan lindung 9.486,06 ha, dan kawasan hutan konservasi seluas 123.905,3 ha. Kawasan konservasi yang terdapat di Provinsi Banten terdiri atas Taman Nasional Ujung Kulon luasnya mencapai 120.551 ha, berupa kawasan hutan konservasi seluas 76.214 ha, sedangkan sisanya merupakan kawasan taman/perairan laut seluas 44.337 ha. Taman gunung Halimun seluas 42.925,15 ha yang masuk kedalam wilayah administratif Kabupaten Lebak Provinsi Banten, sedangkan sisanya termasuk ke dalam wilayah administratif Kabupaten Bogor dan sukabumi Jawa Barat. Cagar alam seluas 4.238 ha dan taman wisata seluas 528,15 ha. Kawasan hutan produksi di Provinsi Banten terbagi ke dalam beberapa kelas perusahaan yaitu kelas perusahaan jati 37.791,96 ha, kelas perusahaan meranti 13.039,22 ha, kelas perusahaan mahoni 25.462,69 ha, kelas perusahaan damar 22.139,85 ha dan kelas perusahaan akasia manglum 9.466,12 ha. Luas hutan negara di Provinsi Banten mengalami peningkatan antara tahun 2003 (78.649,61 ha) ke tahun 2005 (80.160,11 ha) dengan laju pertumbuhan sebesar 1,96 %. Dengan demikian , proporsi hutan negara terhadap luas semakin meningkat, yaitu dari 8,94 menjadi. 9,11 Ha. Hingga tahun 2004, sebaran hutan secara dominan terdapat di Kabupaten Pandeglang 38.944,64 ha (48,64%) dan Kabupaten Lebak 35.366,73 ha (44,12%), sedangkan sisanya di Kabupaten Serang 4.384,43 ha (5,46%). Bila ditinjau menurut jenisnya, terjadi pergeseran yang drastis antara komposisi hutan lindung dengan hutan produksi dalam kurun waktu 2003-2004, dimana hutan lindung dengan luasan 25.116,01 ha (31,93 % terhadap luas hutan negara) pada tahun 2003menjadi 7.894,11 ha (9,84%) pada tahun 2004 atau dengan laju penurunan sebesar 69,17% (berkurang 17.221,90). Pergeseran tersebut, khususnya disebabkan karena pengalihan fungsi hutan lindung menjadi ‘hutan produksi terbatas’ yang terjadi pada hutan lindung diseluruh kabupaten tersebut di atas, khususnya di Kabupaten Pandeglang (yang juga merupakan wilayah dengan keberadaan hutan lindung terluas )dengan laju penurunan mencapai 82,98 %(12.689,59 ha). Dengan demikian terdapat ancaman terhadap daya dukung hutan lindung dimasa mendatang, khususnya dalam melindungi keberadaan dan fungsi hutan lindung sebagai wadah yang menaungi dan melindungi bertumbuhkembangnya ekosistem dan habitat alami serta plasma nutfah di Provinsi Banten. Daerah yang berpotensi terjadi longsor lahan, apabila overlay-kan dengan peta bentuk lahan, terlihat bahwa sebagian besar dijumpai pada unit bentuk lahan punggung bukit sangat curam, daerah antar pegunungan

170
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

yang tererosi sedang dan dataran tinggi pada batuan sedimen. Sebaran daerah yang berpotensi longsor lahan yakni mencakup hampir ¾ berada diwilayah Kabupeten lebak, terutama dibagian Selatan dan Timur yang berbatasan dengan Kabupaten Bogor dan Sukabumi, bagian Selatan dari Kabupaten Pandeglang dan sebagian lereng Utara Gunung Karang dan Gunung Botak di Kecamatan Bojonegara Kabupaten Serang. Daerah-daerah yang berpotensi tergenang banjir meliputi daerah-daerah dataran pantai Utara yang membentang dari teluk Banten hingga Kabupaten Tangerang yang berbatasan dengan DKI Jakarta, di samping dataran di kiri-kanan sungai-sungai besar seperti Ciujung dan Cisadane. Daerah rawan Banjir tersebut dapat mencapai puluhan kilometer dari pantai ke arah pedalaman terlebih lagi dengan banyaknya penggundulan hutan dibagian hulu sungai. Disamping itu daerah rawan banjir dijumpai juga didataran pantai Kabupaten Pandeglang, yang membentang dari selatan Labuan sampai dengan Kecamatan Panimbang (tanjung lesung), serta di daerah selatan (Kecamatan Cikeusal) yang berbatasan dengan Kabuapaten Lebak. Sebagaimana di Pantai Utara jawa di Daerah Selatan ini juga dipengaruhi oleh sungai-sungai Cilimiman dan Cibaliung. Kerusakan habitat ekosistem di wilayah pesisir dan laut semakin meningkat khususnya di wilayah pantai utara dan barat. Berbagai jenis kerusakan tersebut antara lain disebabkan oleh peristiwa alam abrasi dan akresi di Kabupaten Tangerang dan Serang. Taman Nasional Ujung Kulon merupakan kawasan konservasi dunia karena memiliki potensi

keanekaragaman hayati baik flora maupun fauna dan berbagai tipe vegetasi khas serta merupakan perwakilan tipe ekosistem hutan hujan daratan rendah yang tersisa dan terluas dipulau jawa. Gejala alamnya yang unik serta panorama yang asri dan alami diberbagi tempat, secara keseluruhan merupakan kesatuan ragam alamiah yang mempesona bagi kegaiatan wisata alam. Di dalamnya terdapat satwa spesifik endemik langka yaitu badak bercula satu (Rhinoceros Sundaicus). Selain tersebut diatas Provinsi Banten memiliki Cagar Alam Rawa Danau. Kawasan Rawa Danau merupakan kawasan untuk penyediaan air baku dan satusatunya reservoar air di wilayah Provinsi Banten bagian Barat. Selain memiliki kawasan-kawasan hutan tersebut di atas, Provinsi Banten memiliki juga kawasan konservasi khusus Baduy seluas 5.136,58 ha, berdasarkan peraturan daerah Kabupaten Lebak No.32 Tahun 2001 tentang Perlindungan atas Hak Ulayat Masyarakat Baduy. Luas areal perkebunan saat ini yang tercatat di Provinsi Banten mencapai 158.884,13 ha. Bila diasumsikan fungsi dan peran lahan kebun dapat disetarakan dengan kawasan hutan , maka di Provinsi Banten secara keseluruhan proporsi luas kawasan hutan dan kebun melebihi 30 % dari luas wilayah daratan Provinsi Banten, Nmun demikian secara parsial komposisi luas bekawasan hutan dan kebun tiap kabupaten/kota

171
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

belum seimbang. Kabupaten/kota yang terletak dibagian utara Banten seperti Kabupaten Tangerang , Kota Tangerang, Kabupaten/kota Serang dan Kota Cilegon persentase luas hutan dan kebunnya kurang dari 10%, sedangkan Kabupaten Lebak dan Kabupaten Pandelang luas kapembag Utara dan Banten Selatan perlu saling mendukung dalam hal pengelolaan sumberdaya alam yang ada. Pengelolaan hutan tidak mengikuti pembagian administratif pemerintahan, tetapi mengacu pada satu sistem pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS). Di Provinsi Banten terdapat beberapa daerah Aliran Sungai antara DAS Ciujung seluas 90.242 ha, DAS Cidanau seluas 22.260 ha dan DAS Cibaliung suntuk mensuplaieluas 63.669 ha yang merupakan DAS prioritas. DAS Ciujung sangat berpengaruh kepada Daerah-daerah seperti daerah Kabupaten Lebak, Kabupaten Serang dan Kabupaten/kota Tangerang khususnya sehubungan dengan sering terjadinya banjir di wilayah DAS Ciujung, selain itu DAS Ciujung berfungsi sebagai daerah tangkapan air yang akan diarahkan untuk mensuplai air bagi waduk karian sedangkan DAS Cidanau merupakan salah satu sumber air bagi masyarakat Kabupaten Serang dan Kota Cilegon dan diarahkan untuk mensuplai keberlangsungan Waduk Krenceng. Berdasarkan tugas dan fungsi institusi pengelola, jenis pengelolaan hutan dan kebun terdiri dari Perum Perhutani mengelola kawasan hutan produksi , hutan lindung dan hutan wisata, taman nasional Gunung Halimun, Taman nasional ujung kulon mengelola kawasan hutan konservasi dan taman wisata laut ujung kulon , Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Jawa Barat I Subseksi Serang mengelola cagar alam dan taman wisata alam. Disamping itu terdapat institusi lain yang menangani kegiatan pembangunan kehutan dan perkebunan di Provinsi Banten yaitu Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) CitarumCiliwung, Balai Sertif (BKSDA) Jawa Barat I Subseksi Serang mengelola Cagar Alam dan Taman Wisata Alam. 4.2 Capaian

Kondisi fisik wilayah merupakan gambaran akan kondisi lingkungan hidup disuatau wilayah, dengan indikator : luas kawasan hutan lindung, tingkat pencemaran air, dan tingkat pencemaran udara. Luas hutan negara di Provinsi Banten mengalami peningkatan antara tahun 2003 (78,65 ribu ha) ke tahun 2004 (80,19 ribu ha) dengan laju pertumbuhan sebesar 1,96%, dengan demikian, proporsi hutan negara terhadap luas semakin meningkat yaitu dari 8,94% menjadi 9,11%. Hingga tahun 2004, sebaran hutan secara dominan terdapat di Kabupaten Pandeglang (47,89) dan Kabupaten Lebak (46,02%) sedangkan sisanya di kabupaten Serang (6,09%). Bila ditinjau menurut jenisnya terjadi pergeseran yang drastis antara komposisi hutan lindung dengan hutan produksi dalam kurun waktu 2003-2004, luas hutan lindung dengan luas 25,12 ribu ha (31,93% terhadap luas hutan negara) pada tahun 2003 menjadi 7,89 ribu ha (9,84%) pada tahun 2004 atau dengan laju penurunan sebesar 69,17% (berkurang 17.221,90 ha). Keberadaan hutan produksi tetap mengalami

172
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

peningkatan dari 53,53 ribu ha pada tahun 2003 menjadi 72,3 ribu ha hingga tahun 2004, atau dengan laju pertumbuhan 35,05%. Sementara hutan produksi terbatas meliputi luasan 29,76 ribu ha (41,16 terhadap hutan produksi secara keseluruhan). Tingkat pencemaran air dan udara digambarkan dengan rasio jumlah desa terkena pencemaran air terhadap jumlah desa. Sampai dengan tahun 2005 rasio jumlah desa /kelurahan yang terkena pencenaran air mencapai 115 dari total jumlah desa yang sebesar 1.483 desa dan kelurahan. berubah yaitu ada kurang lebih 170 desa atau 13% dari total desa di Provinsi Banten. 4.3 Permasalahan 1. Belum dimanfaatkannya sumberdaya energi alternatif yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai sumber energi pembangkit listrik seperti : sumber energi fosil (batu bara) sebanyak 10, juta dalam bentuk sumberdaya tereka yang tersebar di Banten Selatan, energi panas bumi sebesar 230 Mwe,tenaga air skala kecil, biomasa, tenaga surya sebesar 3,5 KWH/m2/hari, tenaga angin di wilayah pantai selatan kecepatan angin rata-rata 2-6 m/det, dan energi gelombang laut 2. Existing hutan sebagai buffer zone dan kawasan lindung telah terjadi degradasi lahan yang dikarenakan banyaknya perambahan hutan dan illegal logging yang bisa menimbulkan potensi bencana alam longsor, bencana banjir bandang seperti yang terjadi di Kecamatan Sobang Kabupaten Lebak. Kerusakan hutan mangrove dan konservasi hutan mangrove dipantai Utara, Selatan dan Barat khususnya akibat pengembangan lahan tambak dan praktek produksi yang tidak ramah lingkungan dapat mengakibatkan abrasi pantai seperti yang terjadi di Kabupaten Serang, Tangerang dan Kecamatan Panimpang Kab. Pandeglang. 3. Beberapa indikasi kerusakan lingkungan antara lain menyangkut kerusakan tata air seperti keberadaan dan fungsi DAS Ciujung sebagai bagian dari SWS Ciujung Ciliman yang ditetapkan sebagai salah satu DAS Kritis dalam RTRWN, beberapa permasalahan yang terjadi meliputi kondisi stilling basin kurang panjang sehingga mengakibatkan pengendapan lumpur yang cukup besar di saluran induk, hutan dibagian hulu sungai mulai gundul seperti gunung akarsari yang menjadi sumber air baku DAS Cidanau, masih tingginya tingkat pencemaran air yang disebabkan oleh limbah industri dan rumah tangga, maupun penanganan sungai yang masih bersifat parsial baik melalui APBN maupun APBD. Sementara itu, kondisi situ diProvinsi Banten dihadapkan pada indikasi permasalahan luasnya menyempit dan fungsinya sebagai penyimpan air dimusim hujan dan cadangan air dimusim kemarau tidak berfungsi, serta adanya situ seolah-olah tak bertuan dan dibiarkan sehingga menimbulkan banjir dimusim penghujan. Disisi lain , dalam beberapa tahun terakhir kecenderungan penurunan muka air tanah dibeberapa wilayah yang diakibatkan ketidakseimbangan antara pengambilan dan imbuhan (rechange) sedangkan permasalahan Sedangkan tingkat pencemaran udara sampai tahun 2005, rasio desa yang mengalami pencemaran setiap tahunnya tidak

173
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

utama yang berkembang adalah pengambilan air yang berlebih yang tidak sesuai dengan kajian teknis atau pembuatan sumur-sumur bor tanpa melalui prosedur yang berlaku (liar). 4. Berbagai permasalahan yang terkait dengan pencemaran lingkungan ditemui dibeberapa daerah, seperti rencana pembangunan pabrik pengolahan limbah B3 di Desa Bulakan, Kecamatan Cibeber Kota Cilegon, yang mendapatkan reaksi dengan kekhawatiran masyarakat setempat maupun masyarakat sekitarnya serta pemerintah Kabupaten Serang dikarenakan lokasinya terletak diwilayah perbatasan. Pemerintahan kota Cilegon di pandang kurang atau tidak melakukan inisiatif koordinasi di awal perencanaan dengan pemerintah Kabupaten Serang dan Pemerintah Provinsi Banten. Sementara perijinan pengolahan limbah B3 adalah kewenangan pemerintah pusat yang dalam prosesnya juga melibatkan kebijakan Gubernur Banten. Berkembangnya kawasan industri di wilayah utara Provinsi Banten memberikan implikasi langsung terhadap tingginya kerawanan pencemaran lingkungan. Kerawanan kasus pencemaran udara pada kawasan-kawasan industri, seperti pencemaran debu dan gas yang melebihi baku mutu (kategori berat) di Tangerang, Serang, Cilegon. Sementara itu pencemaran udara juga merebak pada kawasan pemukiman sebagaimana kasus Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Desa Bagendung Kota Cilegon dikarenakan pengelolaan sampah masih tersentralisasi pada level Kab/Kota yang menggunakan cara ditimbun dan di bakar (open dumping), walaupun di beberapa Kab/kota sudah dirancang dengan menggunakan teknologi sanitary landfill. Pada kenyataannnya masyarakat masih melakukan proses open dumping. 5. Kasus khusus yang terjadi di Pulau Panjang terkait dengan adanya penyedotan pasir laut untuk dijual ke luar negeri. Penyedotan pasir tersebut mencapai kurang lebih 400 tongkang. Dampak yang dirasakan saat ini oleh masyarakat Pulau Panjang aadalah penurunan hara laut, kondisi ini dapat dilihat dari semakin rendahnya tingkat produksi dan produktivitas rumput laut yang hingga sekarang banyak digeluti masyarakat. Sebelum terjadinya penyedotan pasir laut rumput laut dapat tumbuh baik dipinggir pantai, namun setelah terjadinya penyedotan pasir laut masyarkat melakukan budidaya rumput laut sampai ketengah laut (Selat Jawa). Hasil yang diperoleh selain tidak memuaskan juga pertumbuhan dari rumput laut tersebut tidak maksimal (kerdil). Selain itu penyedotan pasir pun merusak biota laut; setelah terjadinya penyedotan pasir laut terumbu karang rusak , rusaknya terumbu karang tersebut menyebabkan populasi ikan berkurang, hal ini mengancam kehidupan nelayan di pulau tersebut. Bukan saja mengurangi hasil tangkapan hal inipun akan mengurangi penghasilan nelayan. Masyarakat di Pulau Panjang yang menggantungkan hidupnya dari hasil laut dan masih banyak penduduk miskin kurang lebih 40% dengan adanya kondisi tersebut merasa terancam. Dampak negatif lain yang sudah dirasakan masyarakat Pulau Panjang saat ini terjadinya air pasang setinggi satu meter dan sudah merendam 2 perkampungan. Untuk menangani masalah ini dapat dilakukan dengan membangun tanggul penahan ombak, membuat batu pemecah pombak, dan

174
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

penanaman bakau (mangrove) disekitar Pulau Panjang terutama di daerah-daerah yang rawan terkena air pasang. Tanggul penahan ombak penting dibangun karena memang saat ini terlihat Pulau Panjang pada garis-garis pantai tertentu sudah terkena abrasi air laut. Daerah-daerah tertentu yang tingkat abrasinya masih rendah tindakan yang bisa dilakukan adalah dengan membuat batu pemecah ombak, hal ini berguna untuk menahan ombak yang semula berkekuatan tinggi, dengan adanya batu pemecah ombak kekuatan ombak setelah sampai ke pantai menjadi lebih rendah. Hal ini dapat meminimalkan terjadinya abrasi air laut. Penanaman bakau penting dilakukan karena selain dapat menahan abrasi air laut juga dapat memperbaiki ekosistem pantai di laut sepanjang Pulau Panjang. V. Rekomendasi Tindak Lanjut a. Pengendalian Pencemaran dan Perusakan lingkungan hidup, kebijakan ini difokuskan pada: (1) Pengendalian pemanfaatan air tanah (2) pembangunan sumur resapan, (3) Pembangunan jaringan sumur pantau (4) Pemantauan kualitas lingkungan hidup (5) pengelolaan B3 dan limbah B3 (6) koordinasi penyusunan amdal(7) Pengkajian dampak lingkungan (8) Koordinasi Pengelolaan prokasih/superkasih (9) peningkatan peringkat kinerja perusahaan (Proper) (10) Penyusunan kebijakan pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. b. Peningkatan kualitas dan akses Informasi Sumberdaya alam dan lingkungan hidup, arah kebijakan ini difokuskan pada : (1) Pembuatan Sistem Informasi Manajemen bidang energi dan sumberdaya mineral, (2) Peningkatan edukasi dan komunikasi Masyarakat di Bidang lingkungan, dan (3) Pengembangan Data dan Informasi Pertambangan dan energi c. Perlindungan dan Konservasi Sumberdaya Alam, arah kebijakan ini difokuskan pada : (1) Konservasi Sumberdaya Air dan Pengendalian Kerusakan Sumber-sumber air, (2) Pelestarian Pantai dan laut, (3) Pengembangan kerjasama pengelolaan kawasan konservasi laut regional, (4) Peningkatan peran serta masyarakat dalam perlindungan dan konservasi sumberdaya alam, (5) Koordinasi Peningkatan Pengelolaan kawasan konservasi, (6) pengembangan kegiatan bina cinta alam, (7) Pembinaan penangkaran satwa dan tumbuhan liar, (8) operasi pengamanan terpadu, (9) Pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan kebun, (10) Pengembangan dan pengelolaan Kawasan world heritage laut, (11) Pengembangan dan Pemantapan Kawasan Konservasi laut, suaka perikanan, dan keanekaragaman hayati laut.

175
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

BAB Peningkatan Kapasitas, Kualitas dan Aksesibilitas Pelayanan Infrastruktur
I. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah

4.19

Sebagai prasarana transportasi, jalan merupakan unsur penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan. Untuk melayani pergerakan barang dan penumpang, secara umum sistem jaringan jalan Provinsi Banten menggunakan pola cincin yang melingkar dari wilayah Utara sampai ke wilayah Selatan yang dihubungkan secara radial dengan jaringan jalan vertikal Utara-Selatan dan secara horizontal Timur- Barat. Konsep ini jaringan jalan “ring-radial” dimaksudkan agar pergerakan penumpang dan barang dari pesisir menuju ke pusat-pusat kegiatan Nasional, wilayah maupun lokal yang ada pada bagian tengah wilayah dapat dilayani dengan baik. Pada saat ini jaringan jalan cincin bagian Barat dan Selatan sudah ditingkatkan statusnya menjadi jalan nasional. Sementara pada bagian Utara masih berstatus jalan provinsi. Jalan horizontal Timur-Barat dilayani dengan jalan Nasional serta jalan tol dengan panjang lebih 90 km. Sedangkan jalan vertikal Utara-Selatan dilayani dengan jalan provinsi. Jalan Kabupaten melayani akses ketiga jalan tersebut. Hingga tahun 2005 dengan luas wilayah sebesar 8.800,83 km, Provinsi Banten telah terlayani oleh ketersediaan jaringan jalan (status jalan Nasional, Provinsi dan Kabupaten/Kota) sepanjang 4.015,85 km. Secara umum rata-rata panjang jalan terhadap luas wilayah Provinsi Banten mencapai 0,46 km², panjang jalan terhadap luas wilayah masing-masing kabupaten/kota yang berada pada wilayah Banten Utara umumnya terakses oleh jaringan jalan, namun sebaliknya beberapa kawasan di kabupaten yang terletak di wilayah Banten Selatan belum terakses oleh jaringan jalan. Kondisi ini terlihat dari rasio panjang jalan terhadap luas wilayah kabupaten/kota di Provinsi Banten. Kondisi jalan nasional sepanjang 350,07 km (71%) berada dalam kondisi baik, 98,03 km (20%) dalam kondisi sedang dan serpanjang 42,30 km (9%) dalam kondisi rusak. Kondisi jalan Provinsi hingga akhir tahun 2006 dengan total panjang jalan sebesar 203,670 km, kondisi sedang 380,020 km dan kondisi rusak sebesar 305,320 km. Untuk melayani pergerakan penumpang dan barang dalam wilayah Provinsi Banten terdapat angkutan umum angkutan antar kota dalam provinsi. Ini masih dilayani dengan kendaraan ukuran kecil dan dalam penyelenggaraannya masih dirasakan belum terpadu secara maksimal. Terdapat 63 trayek dengan jumlah

176
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

kendaraan 3.788 yang melayani antar kota. Sedangkan untuk AKDP lintas Serang, Cilegon, Pandeglang dan Lebak dilayani dengan 66 trayek dengan jumlah kenderaan sebanyak 1.436. Banten memiliki 3 terminal , jalur kereta api tahun 2005 sepanjang 305,90 km dengan 176 perlintasan sebidang yang terdiri dari 38 perlintasan berpintu dan dijaga, 104 perlintasan tidak dijaga dan 34 perlintasan liar yang berdampak pada kecepatan dan waktu perjalanan kereta api serta rawan kecelakaan dan 23 stasiun. Terdapat 5 pelabuhan ( 2 pelabuhan diusahakan dan 3 pelabuhan tidak diusahakan). II. Sasaran yang Ingin Dicapai

Pengukuran keberhasilan sasaran “Terpeliharanya dan meningkatnya daya dukung, kapasitas, dan kualitas pelayanan prasarana jalan dan jembatan”, sesuai arah kebijakan meningkatkan kemudahan, kelancaran, kenyamanan, ketertiban dan keselamatan dalam penyelenggaraan perhubungan, tercermin dari indikator sebagai berikut : Tabel 4.38 Indikator Kinerja Prasarana Jalan dan Jembatan No 1 Indikator Kinerja Rasio Panjang Jalan provinsi dalam kondisi Baik dan Sedang pada Tahun 2007 terhadap Tahun 2006 2 3 Panjang terpelihara Meningkatnya prasarana dan fasilitas perhubungan Rata-rata Kategori 104,84 Sangat Baik Unit 2 2 100 Jembatan provinsi yang M 1.351 1.351 100 Satuan % Target 100 Realisasi 114,51 % Capaian Kinerja 114,51

Untuk mendukung pencapaian sasaran ini di tahun 2007 telah dilaksanakan program pembangunan sistem informasi / data base jalan jembatan, program rehabilitasi / pemeliharaan jalan dan jembatan, program peningkatan sarana dan prasarana kebinamargaan, program pembangunan jalan dan jembatan, program pembangunan prasarana dan fasilitas perhubungan, program pembangunan Turap / Tulud / Bronjong, program peningkatan pelayanan Jasa Konstruksi dan program Optimalisasi Kebijakan Ekonomi Daerah. Terlaksananya program dan kegiatan tersebut telah mendukung tercapainya indikator kinerja sasaran sebagaimana diuraikan sebagai berikut :

177
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

1. Panjang Jalan provinsi Terpelihara Panjang ruas jalan Provinsi tahun 2006 adalah 889,01 km dengan kondisi rusak sepanjang 305.320 km (34,34%), sedangkan panjang jalan provinsi yang dipelihara direncanakan sebesar 815,75 km dan telah terealisasi seluruhnya (100%) Tabel 4.39 Panjang Jalan Provinsi Terpelihara Tahun 2006 dan 2007 No 1 Jalan Uraian Kondisi Baik Sedang Rusak Total Tahun 2006 Pajang (KM) 203.670 380.020 305.320 889.010 % 22,91 42,75 34,34 100 Kondisi Baik Sedang Rusak Tahun 2007 Panjang (KM) 273.450 394.960 220.660 889.070 % 30.76% 44.43% 24.81% 100.000%

Dengan kegiatan pemeliharaan jalan tersebut telah menurunkan ruas jalan yang rusak menjadi 220.600 km (24,81%), menaikkan ruas jalan sedang menjadi 394,960 km (44,43%), dan ruas jalan baik menjadi 273,450 km (30,76%). Disamping program tersebut di atas, pemerintah Provinsi Banten telah melaksanakan pembangunan jalan sepanjang 67,61 km dan jembatan sebanyak satu buah dan telah terealisasi seluruhnya. Sedangkan pemeliharaan jembatan yang dilaksanakan pada tahun 2007 adalah sepanjang 1.351 m dari total panjang jembatan 4.718 m, yang terbagi dalam Pemeliharaan Jembatan Wilayah Selatan sepanjang 501 m dan Pemeliharaan Jembatan Wilayah Utara sepanjang 850 m. 2. Program peningkatan sarana dan prasarana kebinamargaan Dalam rangka menjaga kualitas dan kuantitas jalan Provinsi Banten, Pemerintah Provinsi Banten merencanakan menambah alat-alat berat, alat ukur dan bahan laboratorium untuk mendukung kegiatan pembangunan / pemeliharaan jalan serta mengadakan lahan untuk pembangunan jalan di Cilegon Pasaoran, Merak-Balaraja, Bunderan Palima dan Jalan Raden Fatah Tangerang dengan total luas 11.118,50 m2. pada tahun 2007 semua target telah terealisasi (100%). Selain itu Pemerintah Provinsi Banten merencanakan pembangunan prasarana dan sarana jembatan timbang. Jembatan timbang yang direncanakan yaitu jembatan timbang portabel dan jembatan timbang statis yang akan dibangun pada lahan seluas 4.000 m2, pengadaan lahan untuk jembatan tersebut telah dilakukan pada tahun 2007 seluas 4.000 m2 atau sesuai rencana (100%). Dari uraian diatas, maka sasaran terpeliharanya dan meningkatnya daya dukung, kapasitas, dan kualitas pelayanan prasarana jalan dan jembatan.telah tercapai dengan baik sehingga dapat memperlancar arus lalu lintas dan mendorong peningkatan kegiatan arus barang dan jasa.

178
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Pengukuran keberhasilan sasaran meningkatnya aksesibilitas wilayah melalui dukungan pelayanan prasarana jalan dan jembatan khususnya di wilayah perdesaan, wilayah tertinggal dan terisolir, wilayah perbatasan dan pulau-pulau kecil, sesuai arah kebijakan memantapkan sistem, ketersediaan dan fungsi jaringan jalan dan jembatan dalam mendorong pengembangan kawasan, tercermin dari indikator sebagai berikut : Tabel 4.40 Indikator Kinerja Prasarana wilayah terisolir No 1 2 Indikator Kinerja Menurunnya jumlah desa terisolir Bertambahnya poros jalan pada wilayah pedesanaan, wilayah tertinggal/terisolir, wilayah perbatasan dan pulau-pulau kecil Rata-rata Kategori 99,17 Sangat Baik Satuan Desa Desa Target 1 120 Realisasi 1 118 % Capaian Kinerja 100 98,33

Untuk mendukung pencapaian sasaran ini di tahun 2007 telah dilaksanakan melalui program pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi, rawa dan jaringan pengairan lainnya dengan enam kegiatan. Terlaksanannya program dan kegiatan tersebut telah mendukung tercapainya indikator kinerja sasaran sebagaimana diuraikan sebagai berikut : 1. Panjang irigasi yang terpelihara Pajang saluran irigasi yang dipelihara direncanakan tahun 2007 sebesar 19.000 meter dan telah terealisasi seluruhnya (100%). Pemeliharaan ini telah berhasil meningkatkan kondisi saluran sehingga kondisi akhir saluran irigasi tahun 2007 adalah kondisi rusak 128.107 km, kondisi rusak 128.107 km, kondisi sedang 60.950 m, dan kondisi baik 115.296 m dari total panjang irigasi yang dikelola Provinsi Banten sepanjang 304.354 km. Pemerintah Provinsi Banten telah menargetkan rehabilitasi/ pemerliharaan jaringan irigasi dan pintu air serta optimalisasi fungsi jaringan irigasi dan pintu air serta optimalisasi fungsi jaringan Irigasi yang telah dibangun di Wilayah Ciujung Ciliman dengan memberdayakan petani sebagai pihak yang memakai air irigasi tersebut. Rehabilitasi/pemeliharaan jaringan irigasi menargetkan pembangunan pembuangan Cisait sebanyak 1 buah, Di Cibanen sepanjang 3.000 meter, Di Pasir Wurih sepanjang 3.800 meter, Di Cisata sepanjang 4.200 meter, Di Cekoncang sepanjang 4.000 meter, dan di Cibinuangeun sepanjang 4.000 meter dan telah terealisir semuanya (100%). 2. Kemampuan pemenuhan air dari irigasi dibandingkan luas wilayah pertanian Optimalisasi fungsi jaringan irigasi yang dibangun di Wilayah Ciujung Ciliman menargettkan peningkatkan kemampuan pemenuhan kebutuhan air untuk pertanian pemenuhan kebutuhan air untuk pertanian pada lahan irigasi teknis sebanyak 13 bendungan, pemeliharaan daerah irigasi dioperasikan dan dipeliharanya

179
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

seluruh jaringan irigasi terbangun sebanyak 13 daerah irigasi. Kegiatan ini dapat terealisir 100% pada tahun 2007. 3. Panjang Sungai Lintas Kabupaten/Kota yang ditangani pada tahun 2007 Setiap tahun Pemerintah Provinsi Banten melakukan pemeliharaan Sumber Daya Air (SDA) yang meliputi situ, sungai dan bendungan yang tersebar di wilayah Provinsi Banten, sehingga instalasi Sumber Daya Air (SDA) yang berfungi sebagai pengendali banjir, mengatasi kekeringan serta menjaga keseimbangan ekosistem agar dapat berfungsi dengan baik. Panjang Sungai lintas Kabupaten/Kota di Provinsi Banten adalah 440.000 m² dan setiap tahun telah dilakukan pemeliharaan. Sungai yang ditangani dari tahun 2002 sampai dengan 2006 masing-masing tahun adalah 1.000 m²;, 8.300 m², 9.365 m² , 11.238 m², dan 1.700 m². Pada tahun 2007 sungai yang ditangani adalah sepanjang 1.100 m² III. Arah Kebijakan

Untuk mendukung pencapaian sasaran ini di tahun 2007 telah dilaksanakan melalui program pembangunan infrastruktur perdesaan dengan dua kegiatan. Terlaksanannya program dan kegiatan tersebut telah mendukung tercapainya indikator kinerja sasaan sebagaimana diuraikan sebagai berikut : Dalam rangka menurunkan jumlah desa tertinggal/terisolir, pemerintah Provinsi Banten menargetkan pembangunan jalan dan jembatan pada kawasan desa tertinggal/DPP/kawasan kumuh pada 120 desa/kelurahan yang tersebar di 6 (enam) kabupaten/kota. Realisasi pembangunan jalan dan jembatan pada kawasan desa tertinggal/DPP/Kawasan kumuh adalah sebanyak 118 desa dengan rincian Kabupaten Serang sebnyak 22 Desa; Kabupaten Pandeglang sebanyak 16 desa; Kabupaten Lebak sebanyak 15 Desa; Kabupaten Tangerang sebanyak 45; Kota Cilegon sebanyak 5 Desa; Kota Tangerang sebanyak 5 desa. Dengan terbangunnya jalan dan jembatan pada desa tertinggal tersebut diharapkan akan membuka akses ke wilayah-wilayah terpencil/ke kota dan dapat mendorong perdagangan/pertanian pada daerah tersebut sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa tersebut dan jembatan pada desa tertinggal dapat direalisir pada tahun 2007. Di samping itu, Pemerintah Provinsi Banten juga merencanakan pembangunan pasar desa sebanyak satu paket yang diharapkan dapat mendorong perkembagan perekonomian masyarakat sekitarnya. Target tersebut dapat terealisasikans seluruhnya pada tahun 2007. Meningkatkan Pengelolaan dan Fungsi Jaringan Irigasi lintas Kabupaten / Kota Pengukuran keberhasilan Sasaran ”Meningkatnya pengelolaan dan fungsi jaringan irigasi lintas kabupaten/kota”, sesuai arah kebijakan meningkatkan pemenuhan kebutuhan air untuk pertanian,

180
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

meningkatkan peyediaan air baku untuk memenuhi kebutuhan domestik, perkotaan dan industri serta mengurangi resiko bencana banjir, tercermin dari indikator sebagai berikut : Tabel 4.41 Indikator Kinerja Prasarana Irigasi Lintas Kab/Kota No 1 Indikator Kinerja Peningkatan kemampuan pemenuhan kebutuhan air untuk pertanian pada lahan irigasi teknis sebanyak 20.474 Ha 2 Panjang irigasi yang diperbaiki pada tahun 2007 Rata-rata Kategori 100 Sangat Baik Meter 19.000 19.000 100 Satuan Ha Target 20.474 Realisasi 20.474 % Capaian Kinerja 100

IV. 4.1

Pencapaian RPJMN di Daerah Upaya yang Telah Dilakukan

Untuk mendukung pencapaian sasaran ini di tahun 2007 telah dilaksanakan melalui Program pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi, rawa dan jaringan pengairan lainnya dengan enam kegiatan. Terlaksanannya program dan kegiatan tersebut telah mendukung tercapainya indikator kinerja sasaran sebagaimana diuraikan sebagai berikut : 1. Panjang irigasi yang terpelihara Pajang saluran irigasi yang dipelihara direncanakan tahun 2007 sebsar 19.000 meter dan telah terealisasi seluruhnya (100%). Pemeliharaan ini telah berhasil meningkatkan kondisi saluran sehingga kondisi akhir saluran irigasi tahun 2007 adalah kondisi rusak 128.107 km, kondisi rusak 128.107 km, kondisi sedang 60.950 m, dan kondisi baik 115.296 m dari total panjang irigasi yang dikelola Provinsi Banten sepanjang 304.354 km. Pemerintah Provinsi Banten telah menargetkan Rehabilitasi/ pemerliharaan Jaringan Irigasi dan pintu air serta Oprimalisasi Fungsi Jaringan Irigasi dan pintu air serta Optimalisasi fungsi jaringan Irigasi yang telah dibangun Wilayah Ciujung Ciliman dengan memberdayakan petani sebagai pihak yang memakai air irigasi tersebut. Rehabilitasi/pemeliharaan jaringan irigasi menargetkan pembangunan pembuangan Cisait sebanyak 1 buah, Di Cibanen sepanjang 3.000 meter, Di Pasir Wurih sepanjang 3.800 meter, Di Cisata sepanjang 4.200 meter, Di Cekoncang sepanjang 4.000 meter, dan di Cibinuangeun sepanjang 4.000 mter dan telah terealisir semuanya (100%). 2. Kemampuan pemenuhan air dari irigasi dibandingkan luas wilayah pertanian

181
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Optimalisasi fungsi jaringan irigasi yang digangun di Wil. Ciujung Ciliman menargektkan peningkatkan kemampuan pemenuhan kebutuhan air untuk pertanian pemenuhan kebutuhan air untuk pertanian pada lahan irigasi teknis sebanyak 13 bendungan, Pemeliharaan daerah irigasi diioperasikan dan dipeliharanya seluruh jaringan irigasi terbangun sebanyak 13 daerah irigasi. Kegiatan ini dapat terealisir 100% pada tahun 2007. 3. Panjang Sungai Lintas Kabupaten/Kota yang Ditangani pada tahun 2007 Setiap tahun Pemerintah Provinsi Banten melakukan pemeliharaan Sumber Daya Air (SDA) yang meliputi situ, sungai dan bendung yang tersebar di wilayah Provinsi Banten, sehingga Instalasi Sumber Daya Air (SDA) yang berfungi sebagai pengendali banjir, mengatasi kekeringan serta menjaga keseimbangan ekosistem agar dapat berfungsi dengan baik. Panjang Sungai lintas Kabupaten/Kota di Prvinsi Banten adalah 440.000 m” dan setiap tahun telah dilakukan pemeliharaan. Sungai yang ditangani dari tahun 2002 sampai dengan 2006 masing-masing tahun adalah 1.000 m;, 8.300 m’, 9.365 m’ 11.238 m’ dan 1.700 m’. Pada tahun 2007 sungai yang ditangani adalah sepanjang 1.100 m. 4.3 Capaian Secara umum ketersediaan sarana dan prasarana wilayah di Provinsi Banten telah cukup tersedia walaupun sebaran dan distribusinya belum merata. Kinerja pelayanan jalan pada ruas jalan Provinsi pada umumnya cukup baik dengan rasio volume lalu lintas per kapasitas rata-rata sebesar 0,4. Kemacetan lalu lintas pada umumnya bersifat lokal yang terjadi di pusat-pusat kegiatan masyarakat.. Tingginya angka kerusakan jalan di Provinsi Banten menimbulkan berbagai akses negative dan kerugian baik secara social maupun ekonomis yang harus ditanggung oleh pengguna jalan. Kondisi ini cukup ironis mengingat posisi geografis Banten yang sangat strategis sebagai pintu gerbang Pulau Jawa dengan Pulau Sumatera dan juga merupakan salah satu jalur utama ekonomi di Pulau Jawa. Pada tahun 2007 Provinsi Banten mempunyai jalan Provinsi sepanjang 1.379.410 km, yang terdiri dari 35,55 % jalan Negara dan 64,45 % jalan Provinsi. Dari panjang jalan tersebut sepanjang 623.520 km (54,80 %) dalam kondisi baik, 429.890 km (35,73 %) dalam kondisi sedang dan 326 km (9,47 %) dalam kondisi rusak. Sementara itu untuk tahun 2007 kecelakaan lalulintas 743 kasus yang terdiri dari 23,09 % meninggal, 36,33 % luka berat dan 40,58 % luka ringan. Seiring dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk Provinsi Banten yang hingga tahun 2004 telah mencapai sekitar 9,08 juta jiwa, kebutuhan akan ketersediaan sarana perumahan dan pemukiman semakin meningkat. Dengan asumsi laju pertumbuhan penduduk sebesar 3,18%, diperkirakan tingkat kebutuhan

182
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

perumahan di Provinsi Banten sekitar 72.259 unit/tahun. Dengan demikian dalam lima tahun ke depan kebutuhan akan ketersediaan sarana perumahan di Banten mencapai 289.036 unit rumah. Untuk memenuhi kebutuhan akan sarana perumahan tersebut maka diperlukan ketersediaan lahan siap bangun seluas ± 2.890.360 m²/tahun. Cakupan pelayanan air bersih baru mencapai 64,35 %, sedangkan pelayanan sanitasi dasar mencapai 53,64 %. Perkiraan rasio elektrifikasi Provinsi Banten pada tahun 2005 sekitar 58,2 %. Perkiraan kebutuhan masingmasing kabupaten/kota : Kabupaten Pandeglang 4,8 %, Kabupaten Tangerang 15,1 %, Kabupaten Serang 3,1% Kota Tangerang 4,3 %, Kota Cilegon 7,6 %. Dalam kunjungan lapangan yang dilakukan Tim EKPD ke Desa Pulo Panjang Kecamatan Pulo Ampel Kamis 20 November 2008 terungkap bahwa infrastruktur di tempat tersebut sangat minim. Dengan jumlah penduduk sebanyak 3100 jiwa, desa tersebut hanya dialiri listrik melalui tenaga genset yang dayanya sangat kecil. Desa tersebut hanya dialiri listrik pada malam hari sedangkan siang hari padam. Sebenarnya masyarakat mempunyai kemampuan untuk masing-masing menikmati listrik dirumahnya, namun pihak PLN sampai saat ini belum mampu memberikan power daya yang lebih kuat. Dalam hal gedung sekolah desa tersebut memiliki bangunan 2 buah gedung Sekolah Dasar dan Tsanawiyah satu, itupun masih dimiliki dan dikelola yayasan dan status guru di Tsanawiyah masih guru yayasan.. Untuk sarana bangunan Sekolah Menengah Atas belum ada, hal ini menyebabkan banyaknya anak yang hanya mengenyam pendidikan sampai tingkat Tsanawiyah karena harus keluar dari desa untuk melanjutkan pendidikan, padahal kemampuan ekonomi orang tua tidak memadai karena anak yang sekolah ke Serang ataupun tempat lainnya sudah pasti membutuhkan biaya yang sangat besar. Seperti yang dituturkan Kepala Desa Pulo Panjang, sebenarnya Pemda sudah pernah mengemukakan gagasan akan mendirikan Sekolah Menengah Atas tetapi mendapat penolakan dari masyarakat setempat, karena mereka menginginkan pemerintah mendirikan Madrasah Aliyah agar berkelanjutan dengan sekolah Tsanawiyah yang ada. Dalam hal ini mereka menginginkan agar pemerintah lebih concern kepada bidang pendidikan agar masyarakat Pulo Panjang dapat mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Untuk prasarana jalan di desa Pulo Ampel masih sangat minim. Keberadaan jalan yang sekarang adalah atas swadaya masyarakat Pulo Panjang sendiri dan bantuan dari tenaga kerja Indonesia desa tersebut yang bekerja di luar negeri seperti Saudi Arabia, Dubai dan Negara Arab lainnya. Bantuan juga diperoleh dari perusahaan Cina yang membangun jaringan pipa didasar laut dengan senantiasa memberikan bantuan bina lingkungan untuk pembangunan jalan maupun masjid.

183
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Dalam hal sarana angkutan laut juga mempunya problem antara lain tidak adanya lalulintas pengangkutan laut selama 24 jam, sehingga ketika ada masyarakat yang mengalami kondisi darurat sangat kesulitan untuk mendapatkan akses penanganan selanjutnya (seperti sakit, melahirkan terutama pengangkutan mayat ). Hal ini disebabkan karena pemilik perahu tidak mau mengangkut mayat tersebut karena adanya mitos akan mendapatkan sesuatu yang tidak diinginkan. Masyarakat Desa Pulo Panjang sangat membutuhkan pengangkutan laut khusus untuk menangani hal tersebut 4.3 Permasalahan

Permasalahan yang masih dihadapi dalam pengadaan infrastruktur antara lain : a. Perlunya peningkatan akses transportasi dalam mengurangi kesenjangan antar wilayah. b. Belum memadainya kuantitas dan kualitas jaringan jalan nasional provinsi dan kabupaten/kota. c. Perlunya penataan sistem transportasi. d. Belum optimalnya penanganan keselamatan, keamanan dan ketertiban penyelenggaraan tranportasi. e. Perlunya revitalisasi dan penataan sistem dalam operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi. f. Perlunya pembangunan waduk dalam meningkatkan ketersediaan sumber air baku. g. Perlunya peningkatan dukungan penyediaan perumahan rakyat. h. Belum memadainya kuantitas dan kualitas prasarana dan sarana lingkungan perumahan dan pemukiman. i. j. Masih tingginya angka kecelakaan lalu lintas , ketidakdisiplinan pengguna jalan, rendahnya tingkat kelaikan armada, serta rendahnya ketersediaan rambu dan fasilitas keselamatan di jalan. Khusus daerah yang bermasalah dalam sarana Infrastruktur sepert Desa Pulo Panjang agar mendapatkan perhatian Pemerintah . V. Rekomendasi Tingkat Lanjut

Perlunya penyelengaraan pembangunan infrastruktur secara terpadu sehingga tidak terjadi perbaikan sarana dan prasarana secara terus menerus seperti yang selama ini terjadi. Kemudian sarana dan prasarana yang dibangun tidak hanya berhasil dalam wujud fisik, tetapi juga berhasil dalam fungsi. Hal ini bisa terlihat dari banyaknya terminal, pasar, layanan umum telepon yang dibangun pemerintah telah ada wujudnya, tetapi tidak berfungsi secara operasional. Untuk irigasi agar mengoptimalisai fungsi jaringan irigasi sehingga petani benar-benar merasakan manfaat keberadaan irigasi tersebut.

184
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Bab Penanganan dan Pengurangan Resiko Bencana
I. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah Provinsi Banten merupakan provinsi yang tergolong muda dengan jumlah penduduk 9.423.367 juta jiwa pada tahun 2007. Secara geografis dan demografis, merupakan daerah yang sangat rawan terhadap bencana baik yang disebabkan oleh alam maupun oleh manusia. Bencana alam adalah konsekwensi dari kombinasi aktivitas alami (suatu peristiwa fisik, seperti letusan gunung, gempa bumi, tanah longsor) dan aktivitas manusia. Karena ketidakberdayaan manusia, akibat kurang baiknya manajemen keadaan darurat, sehingga menyebabkan kerugian dalam bidang keuangan dan struktural, bahkan sampai kematian. Kerugian yang dihasilkan tergantung pada kemampuan untuk mencegah atau menghindari bencana dan daya tahan mereka. Bencana alam sendiri dapat terjadi secara tiba-tiba maupun proses yang berlangsung secara perlahan. Seperti gempa bumi, hampir tidak dapat diperkirakan kapan dan dimana terjadi serta berapa kekuatannya. Sedangkan beberapa bencana seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, letusan gunung berapi, tsunami dan anomali cuaca masih dapat diperkirakan sebelumnya. Potensi bencana di Banten meliputi : banjir, tanah longsor, angin puting beliung, kekeringan, kebakaran, tsunami, gempa bumi/tektonik, wabah penyakit, hama tanaman, bahaya industri, gunung berapi (Gunung Anak Krakatau), konflik/kerusuhan sosial, dan lain-lain. Selama tahun 2007 ada tiga jenis bencana alam yang tercatat di Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Provinsi Banten, yaitu : 1. Banjir 2. Angin Puting Beliung 3. Tanah Longsor Dan daerah yang terkena dampak bencana pada tahun 2007 di Provinsi Banten adalah : Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang. Jumlah korban yang tercatat pada saat terjadinya bencana alam di daerah-daerah adalah 1.974 KK atau 7.335 jiwa di Kabupaten Srang, 2.072 KK atau 11.717 jiwa di Kabupaten Pandeglang dan 61 KK di Kabupaten Lebak. Di Kabupaten Tangerang jumlah korban yang tercatat adalah 2.062 KK atau 8.065 jiwa

4.20

185
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

sedangkan di Kota Tangerang berjumlah 19.060 KK atau 90.490 jiwa. Dari data tersebut, dapat terlihat bahwa daerah dengan jumlah korban terbanyak adalah Kota Tangerang dengan jumlah korban mencapai 80.490 jiwa. II. Sasaran yang Ingin Dicapai RPJMN dan RPJMD

Memberikan informasi kepada masyarakat dan pihak terkait tentang usaha-usaha yang dapat dilakukan dalam menghadapi bencana alam, Memperkenalkan kepada masyarakat dan pihak terkait alat pendeteksian/peringatan dini Teknologi FM RDS terhadap bencana, Memberikan penjelasan kepada masyarakat dan pihak terkait tentang pentingnya penggunaan alat FM RDS, Memberika masukan kepada industri-industri untuk tidak membuang limbah sembarangan karena akan mencemari lingkungan. III. Arah Kebijakan Dalam Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 2008 Pasal 15 dinyatakan bahwa penyelenggaraan penanggulangan bencana meliputi kesiapsiagaan, peringatan dini, dan mitigasi bencana. Peringatan dini, seperti dinyatakan pada pasal 19, dilakukan untuk mengambil tindakan cepat dan tepat dalam rangka mengurangi resiko terkena bencana serta mempersiapkan tindakan tanggap darurat. Seperti peringatan dini dilakukan dengan cara : a. Mengamati gejala bencana b. Menganalisa data hasil pengamatan c. Mengambil keputusan berdasarkan hasil analisa d. Menyebarluaskan hasil keputusan e. Mengambil tindakan oleh masyarakat IV. Pencapaian RPJMN di Daerah

4.1 Upaya yang telah Dilakukan Dalam kegiatan penanganan dan penanggulangan bencana, dinas kesehatan dan sosial juga mempunyai peranan yang sangat besar. Dan dalam agenda ada dua bencana yang disoroti yaitu : bencana tsunami dan banjir. Ada beberapa wilayah Provinsi Banten yang langsung berbatasan dengan tepi pantai sehingga memiliki resiko terkena bencana tsunami dan masih rentannya terhadap bencana banjir. Sehingga untuk menghadapi dan mempersiapkan segala kemungkinan, dinas kesehatan dan dinas sosial melakukan berbagai antisipasi salah satunya adalah dengan mengadakan program sosialisasi penanggulangan pencegahan bencana. Program Pencegahan Dini dan Penangulangan Korban Bencana Alam, dengan kegiatan pokok adalah : o Pembinaan mental korban pasca bencana

186
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

o o o o

Informasi penanganan bencana Pembinaan dan asilitasi penanganan bencana Pemantauan dan penyebar luasan informasi potensi bencana alam Pelatihan petugas evakuasi korban

4.2 Capaian Adanya kerjasama dengan Kementrian Negara Riset dan Teknologi (RISTEK), Di mana Provinsi Banten akan di pasang Sistem Radio FM RDS ( Frequency Modulation Radio Data Sistem ) dan sistem pengendali sirene yang berfungsi untuk mengeluarkan peringatan bencana (tsunami, banjir dan bencana lainnya), melalui suara/bunyi khusus. Sedangkan sistem pengendali sirene adalah suatu sistem peralatan yang mampu mengendalikan jaringan sirene yang ada di suatu daerah agar hanya sirene di daerah terkena dampak dibunyikan/berbunyi. Bencana bukan saja disebabkan oleh alam, Banten yang sebagian besar wilayahnya dikelilingi oleh industri yaitu Cilegon, Merak, Cikande dan Tangerang berpotensi menimbulkan bencana industri. Banyak kasus polusi industri yang menyebabkan kerusakan lingkungan yang pada akhirnya berimbas kepada menurunnya potensi pemberdayaan mayarakat secara optimal. Kasus yang terjadi banyak perusahaan yang tidak mempunyai tempat pembuangan limbah, kalaupun sebagian besar punya, keselamatan lingkungan. Adanya komplain dari masyarakat adanya pencemaran lingkungan yang ditandai pencemaran air laut, polusi lingkungan dari asap pabrik, tanaman yang terganggu pertumbuhannya, bahkan adanya rumah sakit Sari Asih di Serang yang berdiri tanpa adanya kajian AMDAL sampai saat ini belum mendapatkan pemecahan. Adanya pencemaran dari industri dan rumah sakit tersebut menyebabkan aktifitas masyarakat baik dari segi ekonomi dan sosial terganggu. Dalam kunjungan lapangan ke Desa Pulo Panjang Kecamatan Pulo Ampel Kamis 20 November 2008 terungkap bahwa keberadaan industri yang tumbuh di kawasan Bojonegara dan sekitarnya dirasakan sangat merugikan masyarakat desa tersebut. Walaupun tidak terlihat langsung namun dalam fakta sudah dirasakan seperti penanaman pohon kelapa dan pisang tidak dapat tumbuh secara maksimal ( tumbuh tapi tidak berkembang, tidak berbuah, kalaupun berbuah kerdil ) karena disebabkan gangguan yang timbul dari resapan air akibat pencemaran yang ditimbulkan oleh industri. Rumput laut yang tadinya menjadi primadona dari Desa Pulo Panjang kini tidak lagi karena tidak lagi dapat ditanam dan kalaupun tumbuh hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Demikian juga penambangan pasir dari tidak memenuhi standar

187
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

laut beratus-ratus tongkang yang dilakukan perusahaan Jet Star, dengan mengantongi izin Pemkot Serang telah menimbulkan keresahan dan kekhawatiran masyarakat terutama dampak yang ditimbulkan akibat penambangan tersebut dalam jangka panjang. Dalam jangka pendek yang terlihat adalah kurangnya keberadaan ikan di bekas penambangan tersebut. Hal ini menyebabkan kepada menurunnya pendapatan masyarakat yang mata pencahariannya sebagai petani rumput laut dan nelayan. Dalam hal ini masyarakat tidak mempunyai pilihan selain merelakan pasir tersebut ditambang dari dalam laut, sebab dengan mengantongi izin Pemda masyarakat harus membuat pilihan akan diberikan kompensasi atas penambangan pasir tesebut Rp 1.500.000,- per tongkang atau tetap ditambang tanpa mendapatkan kompensasi apapun. 4.3 Permasalahan Timbulnya bencana baik yang disebabkan oleh alam maupun oleh manusia, di karena kan : Kurangnya pemahaman masyarakat terhadap karakteristik bahaya. Sikap dan perilaku yang mengakibatkan penurunan kualitas sumber daya alam, misalnya dengan penebangan pohon di hutan secara liar, pembuangan limbah pabrik yang sembarangan mengakibatka pencemaran. Kurangnya informasi atau peringatan dini yang mengakibatkan ketidaksiapan menghadapi bencana. Pada tanggal 20 November tim teknis EKPD melakukan kunjungan ke Desa Pulo Panjang Kecamatan Pulo Ampel. Permasalahan lingkungan yang sedang dihadapi oleh Desa Pulo Panjang tersebut, dimana dengan adanya industri mengakibatkan air di sana sedikit tercemar. Hal itu ditandai dengan tidak bagusnya perkembangan tanaman/kebun mereka yang biasanya dalam kurun waktu 10 tahun mereka sudah dapat menikmati hasil buah kelapa, dengan adanya pencemaran lingkungan dari industri mengakibatkan buah kelapa dalam penanamn membutuhkan waktu yang lebih lama lagi, begitu juga tanaman pisang yang hasilnya tidak sebagus biasanya. Sekretaris Desa Pulo Panjang juga mengatakan, bahwa 5 atau 10 tahun lagi ikan-ikan yang ada di sana juga akan bisa habis dengan sendirinya, karena pencemaran dari limbah industri mengakibatkan ikan-ikan di laut tersebut mati. Hal ini tentu akan merugikan masyarakat Pulo Panjang karena sebagian besar masyarakatnya hidup sebagai nelayan.

188
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

V. Rekomendasi Tingkat Lanjut Di dalam Penanggulangan bencana baik yang disebabkan oleh alam maupun oleh manusia, Hendaknya pemerintah cepat tanggap, baik berupa bantuan secara tenaga maupun sumbangan dalam bentuk apapun untuk para pengungsi. Selain itu Pemerintah Daerah khususnya harus memberikan sanksi yang tegas kepada industri yang melakukan pembuangan limbah sembarangan, begitu juga dengan perusahaan yang melakukan pengerukkan tanah/bukit yang seharusnya menjadi lahan serapan air.

189
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

BAGIAN 5 ISU-ISU STRATEGIS DI DAERAH

Bab 5.1
Kemiskinan

5.1
Kemiskinan

5.2
190
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

5.1
Kemiskinan
Isu strategis di bidang kemiskinan adalah masih tingginya jumlah penduduk miskin di Provinsi Banten pada tahun 2007 sebesar 886.200 orang dengan persentase sebesar 9,07%. Jumlah penduduk miskin ini banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: 1. Kualitas SDM yang relatif rendah. Sebagian besar penduduk hanya berpendidikan SD. Walaupun terjadi peningkatan jumlah penduduk yang berpendidikan Sekolah Menengah Atas atau sederajat. Tetapi capaian pendidikan kurang mengarah kepada pendidikan kejuruan. Akibatnya Kualitas lulusannya kurang dapat memenuhi masyarakat pengguna. Selanjutnya kesempatan penduduk untuk meraih pendapatan yang tinggi sangat sukar. Jangankan untuk meraih pendapatan yang tinggi untuk bersaing dalam mengisi formasi kerja pun sangat sulit. 2. Etos kerja rendah. Tenaga kerja di Provinsi Banten etos kerjanya relatif lebih rendah dibandingkan dengan tenaga kerja dari daerah lain terutama dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. 3. Industri yang berkembang di Provinsi Banten sebagian besar industri yang padat modal dengan penggunaan teknologi yang tinggi (capital intensif). Kelompok industri ini kurang banyak menyerap tenaga kerja, dan cenderung memerlukan kualifikasi tenaga kerja yang tinggi baik dari pendidikan ataupun keahliannya. Dampaknya walaupun investasi di Provinsi Banten cukup besar pengaruhnya tidak signifikan terhadapat kesejahteraan masyarakat setempat. Hal tersebut disebabkan karena banyak kesempatan yang tidak diperoleh untuk meraih pendapatan dari sektor ini. Industri yang dibutuhkan adalah industri padat karya dengan teknologi yang relatif dapat dikuasai masyarakat setempat (labour intensif). Dampaknya, tumbuhnya industri ini dapat menyerap tenaga kerja yang relatif lebih banyak, yang selanjutnya kemampuannya dalam mendongkrak tingkat pendapatan per kapita dari industri ini cukup tinggi. Sebagai contoh industri sepatu yang berkembang di Serang dan Tangerang mampu menyerap tenaga kerja yang lebih tinggi dibandingkan dengan industri berat yang ada di Cilegon. Industri padat karya (seperti sepatu yang berkembang di Kabupaten Serang dan Tangerang, dampak positifnya lebih terasa bagi pengembangan wilayah, bukan saja terhadap penyerapan tenaga kerja , akan tetapi dapat menarik bagi pengembangan industri jasa terutama jasa transportasi, telekomunikasi, perumahan, perdagangan dan lain-lain. 4. Orientasi Kebijakan Kurang mengenai sasaran. Sebagian besar masyarakat Provinsi Banten (kurang lebih 80 persen) menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian yang tinggal diperdesaan. Kebijakan yang dibuat seyogyanya difokuskan pada pengembangan sektor pertanian yang diorientasikan di perdesaan. Kebijakan tersebut diorientasikan pada penguatan ekonomi yang berbasis sumberdaya lokal. 5. Industri yang berkembang kurang terkait dengan sektor pertanian.

191
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

5.2
Ketenagakerjaan
Isu strategis dibidang ketenagakerjaan adalah jumlah pengangguran terbuka yang tinggi ditengah-tengah jumlah perusahaan yang banyak di Provinsi Banten. Jumlah pengangguran terbuka tersebut berada pada kisaran angka 16,76 persen. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi jumlah pengangguran terbuka ditengah-tengah jumlah perusahaan yang banyak di Provinsi Banten, yakni: 1. Pencari kerja yang tidak masuk kualifikasi yang disyaratkan oleh perusahaan, sehingga tidak diterima dalam dunia kerja formal; 2. Pendidikan dan kemampuan (skill) yang dimiliki penduduk lokal (Banten) yang masih kurang, sehingga tidak bisa bersaing dengan pekerja lain dari luar Banten.

192
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

5.3
Usaha Kecil dan Menengah (UKM)
Isu strategis di bidang Usaha Kecil dan Menengah (UKM) adalah adanya potensi UKM yang cukup besar di Provinsi Banten. Potensi tersebut bisa dilihat dari jumlah UKM yang ada dan carrying capacity-nya. Terdapat 881.147 unit UKM di Provinsi Banten, dimana lebih dari 2 juta orang menggantungkan hidup pada UKM. Limapuluh enam persen adalah sektor riil yang digerakkan oleh tenaga-tenaga perempuan. Potensi kuantitas UKM yang banyak selain mampu bisa menyerap tenaga kerja, juga memiliki potensi dalam upaya penanggulangan kemiskinan di Provinsi Banten. Hal ini sangat mungkin terjadi apabila UKM diberdayakan secara optimal, sehingga tercipta pemerataan bagi warga masyarakat secara umum.

Hal-hal yang banyak mempengaruhi Usaha Kecil dan Menengah kurang berkembang, diantaranya: 1. Permodalan yang masih minim; 2. Informasi pasar yang harus terus dibantu oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi dalam rangka membantu perluasan pasar; 3. Perbaikan kualitas sehingga mampu bersaing di pasar regional maupun nasional; dan 4. Legalitas UKM yang masih ilegal.

193
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

5.4
Kesehatan
Isu Kesehatan di Provinsi Banten dapat ditinjau dari beberapa aspek, diantaranya: (i) Usia Harapan Hidup; (ii) Angka Kematian Bayi; dan (iii) Angka Kematian Ibu. Secara deskrisptif data yang diperoleh adalah sebagai berikut, bahwa Usia Harapan Hidup di Provinsi Banten adalah 64,8 Tahun; Angka kematian bayi di Provinsi Banten adalah 50,6 per 1000 Kelahiran Hidup; dan Angka kematian Ibu di Provinsi Banten adalah 310 per 100.000 Ibu Melahirkan. Bila dibandingkan dengan data pada Indikator Kesejahteraan Rakyat yang dipublikasi oleh Badan Pusat Statistik (2005) diperoleh informasi sebagai berikut. Tabel 5.1. Indikator Kesejahteraan Rakyat di Provinsi Banten (dibandingkan dengan Provinsi-Provinsi di Sumatera, Jawa dan Bali, dan Indonesia) Indikator Angka Kematian Bayi (2002- 2003) Banten 38 SUMATERA - Sumatera Selatan (30) - Jambi (41) - Sumatera Utara (42) - Bangka Belitung (43) - Riau (43) - Sumatera Barat (48) - Bengkulu (53) - Lampung (55) - Jambi (3,07 %) - Sumatera Barat (7,29 %) - Bengkulu (7,77 %) - Lampung (8,19 %) - Bangka Belitung (9,32 %) - Sumatera Selatan (10,28 %) - Riau (10,76%) - Sumatera Utara (12,76 %) - Sumatera Utara (11,43 %) - Sumatera Barat (11,48 %) - N. A. Darussalam (15,95 %) - Riau (17,91%) - Bangka Belitung (18,60 %) - Bengkulu (22,30 %) - Jambi (26,85 %) - Lampung (28,22 %) JAWA & BALI - Bali (14) - D. I. Yogyakarta (20) - DKI Jakarta (35) - Jawa Tengah (36) - Jatim (43) - Jawa Barat (44) - Bali (3,59 %) - D. I. Yogyakarta (4,07 %) - Jawa Barat (5,56 %) - Jawa Timur (5,95 %) - Jawa Tengah (6,03 %) - DKI Jakarta (6,36 %) INDONESIA 35

Persentase Balita Gizi Buruk (2003)

8,25 %

8,55 %

Persentase Penolong Kelahiran Balita Terakhir melalui Dukun (2004)

39,94 %

- DKI Jakarta (2,21 %) - Bali (5,21 %) - D. I. Yogyakarta (10,25 %) - Jawa Tengah (21,13 %) - Jawa Timur (21,45 %) - Jawa Barat (37,82 %)

26,28 %

194
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

- Sumatera Selatan (28,69 %) Persentase Penduduk Berobat Jalan Selama Sebulan yang Lalu di Puskesmas/P ustu (2004) 31,49 % - N. A. Darussalam (62,92 %) - Sumatera Selatan (48,77 %) - Jambi (46,65 %) - Raiu (46,28 %) - Bangka Belitung (41,01 %) - Sumatera Barat (39,02 %) - Bengkulu (37,86 %) - Lampung (34,41 %) - Sumatera Utara (27,62 %) - Jawa Barat (36,44 %) - Jawa Tengah (33,55 %) - Jawa Timur (29,67 %) - DKI Jakarta (29,18 %) - Bali (27,83 %) - D. I. Yogyakarta (24,08 %)

37,26 %

Angka/ Umur Harapan Hidup (2002)

62,4 tahun

- Riau (68,1 tahun) - N. A. Darussalam (67,7 tahun) - Sumatera Utara (67,3 tahun) - Jambi (66,9 tahun) - Sumatera Barat (66,1 tahun) - Lampung (66,1 tahun) - Sumatera Selatan (65,7 tahun) - Bangka Belitung (65,6 tahun) - Bengkulu (65,4 tahun)

- D.I.Yogyakarta (72,4 tahun) - DKI Jakarta (72,3 tahun) - Bali (70 tahun) - Jawa Tengah (68,9 tahun) - Jawa Timur (66,0 tahun) - Jawa Barat (64,5 tahun)

66,2 Tahun

Catatan: Indeks Kesejahteraan Rakyat diurut berdasar angka tertinggi ke angka terendah. Sumber: Diolah dari BPS. 2005. Indikator Kesejahteraan Rakyat, 2004. Data di atas menunjukkan bahwa Angka Kematian Bayi (AKB) di Provinsi Banten berjumlah 38 per 1000 kelahiran, ini lebih tinggi dibandingkan dengan angka rata-rata nasional yang berjumlah 35 jiwa. Namun setidaknya masih lebih baik bila dibandingkan dengan beberapa Provinsi di Sumatera, seperti: Provinsi Jambi (30 jiwa), Provinsi Sumatera Utara (42 jiwa), Provinsi Bangka-Belitung (43 jiwa), Provinsi Riau (43 jiwa), Provinsi Sumatera Barat (48 jiwa), Provinsi Bengkulu (53 jiwa), Provinsi Lampung (55 jiwa); dan beberapa Provinsi di Jawa, seperti: Jawa Timur (43 jiwa) dan Jawa Barat (44 jiwa).

Balita dengan gizi buruk, menjadi hal kedua yang patut dicermati dari data di atas. Merujuk pada data Biro Pusat Statistik tahun 2005, maka diperoleh hasil yang juga menggembirakan bahwa angka Balita dengan gizi buruk di Provinsi Banten dibawah angka rata-rata nasional yang 8,55 persen, yakni: 8,25 persen. Angka 8,25 persen adalah angka tertinggi diantara seluruh provinsi di Jawa dan Bali. Hal lain yang tampak dari tabel di atas adalah persentase penolong kelahiran balita melalui dukun. Angka statistik dalam tabel 1 di atas, untuk Provinsi Banten, ialah 39,94 persen. Angka ini sangat tinggi bila dibandingkan dengan dengan ProvinsiProvinsi di Jawa dan Bali, termasuk juga angka rata-rata nasional yang hanya 26,28 persen. Hal ini tidak

195
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

mengherankan apabila melihat konten sosio-kultur dan kebiasaan masyarakat perdesaan yang masih sangat luas di Provinsi Banten.

Gambaran ini akan berkorelasi positif bila kita hubungkan dengan indikator keempat, yakni: persentase penduduk berobat jalan ke Pusat Kesehatan Masyarakat (puskesmas) dan Pusat Kesehatan Masyarakat Pembantu (Pustu). Persentase jumlah penduduk yang berobat ke Puskesmas atau Pustu di Provinsi Banten adalah 31,49 persen. Persentase itu tentu jauh sangat sedikit bila dibandingkan dengan angka rata-rata nasional persentase jumlah penduduk yang berobat ke Puskesmas atau Pustu yang berangka 37,26 persen. Hal ini menggambarkan bahwa ketika warga masyarakat senyap dari kegiatan atau aktivitas kesehatannya di Puskesmas atau Pustu, maka, diasumsikan, bahwa warga akan mengalihkan kegiatan-kegiatan kesehatannya kepada dukun atau ”orang-orang pintar” lainnya.

Tabel 5.2 Persentase Penduduk Berobat Menurut Provinsi RS. Pemerintah NAD Sumbar Riau Babel Jatim Banten NTB Gorontalo Papua 9.87 8.06 6.73 12.49 4.96 5.87 5.30 5.88 7.41 Puskesmas 62.92 27.62 46.28 41.01 29.67 31.49 49.33 46.04 67.82 RS. Swasta 1.18 2.31 3.38 2.96 3.89 3.57 0.26 1.32 3.13

Sumber: diolah dari Indikator Kesejahteraan Rakyat. 2005.

Dan terakhir, Angka/Umur Harapan Hidup, dimana rata-rata masyarakat di Provinsi Banten berumur 62,4 tahun pada tahun 2002 telah meningkat menjadi 64,8 tahun. Merujuk pada tahun 2002 tersebut, maka angka itu adalah angka terendah bila bandingkan dengan data nasional, dan data Umur Harapan Hidup di seluruh Provinsi Sumatera dan seluruh Provinsi Jawa dan Bali. Angka Harapan Hidup memang tidak dapat dilihat secara parsial. Ia akan sangat dipengaruhi oleh banyak hal, mulai dari: gaya hidup, pola makan, berat/tidaknya dalam bekerja, waktu istirahat, dll. Karena itu, akan sangat menarik bila hal ini dapat diteliti

196
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

UMUR HARAPAN HIDUP DI PROVINSI BANTEN TAHUN 2002 S/D 2006
65 2002 64 63 62 61 UHH 2002 62.4 2003 62.6 2004 63.3 2005 65 2006 64.8 2003 2004 2005 2006

lebih lanjut oleh siapa saja yang berminat untuk mendalami data tersebut. Diluar itu semua, merujuk pada Chart Umur Harapan Hidup (UHH) tahun 2002—2006 yang dipublikasi oleh Dinas Kesehatan Provinsi Banten 2007, bahwa Umur Harapan Hidup masyarakat Banten mengalami perbaikan kualitas hidup. Berdasar diskusi yang dilakukan dengan SKPD diperoleh

data, seperti yang tertuang di atas. Bila merujuk pada deskripsi isu yang tertaung di atas, maka dapat disimpulkan bahwa ada beberapa faktor menyebabkan mengapa kesehatan di Provinsi Banten relatif tidak baik bila dibandingkan dengan daerah lainnya, diantaranya adalah: 1. Fasilitas kesehatan (dalam hal ini adalah pusat-pusat kesehatan masyarakat) yang masih jauh dari jangkauan warga (aksesibiltas); 2. Informasi mengenai cara hidup sehat dan berkualitas yang seharusnya disosialisasikan oleh Dinas Kesehatan nampaknya masih kurang tersosialisasi dengan baik; 3. Minimnya tenaga kesehatan yang mau bersedia mengabdi di pelosok-pelosok daerah di Provinsi Banten; 4. Anggaran kesehatan yang selalu tidak mencukupi, dibandingkan dengan jumlah tuntutan realisasi kesehatan di Banten.

197
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

5.5
Pendidikan
Melihat data yang diperoleh oleh Tim Independen Provinsi mengenai isu Pendidikan, maka akan tertuang mengenai jumlah buta aksara yang masih berada di kisaran 4,14 persen dari seluruh jumlah penduduk di Provinsi Banten, banyaknya gedung sekolah yang rusak dan masih rendahnya kemampuan SDM pencari kerja atau tidak sesuainya keahlian pencari kerja dengan dunia kerja yang membutuhkan tenaga-tenaga kerja berkeahlian/berkemampuan tertentu.

Ada beberapa hal yang mempengaruhi pendidikan yang relatif rendah di Provinsi Banten, merujuk pada hasil diskusi dengan SKPD yang diundang adalah: 1. Aksesibiltas pendidikan yang tidak memadai; 2. Sarana dan prasarana pendidikan yang tidak mendukung proses belajar-mengajar, sehingga membuat ketidaknyamanan siswa dalam belajar; 3. Minimnya ketersediaan tenaga pengajar yang mau mengabdi di pelosok-pelosok daerah; 4. Anggaran pendidikan yang tidak terealisasi sesuai dengan ketetapan undang-undang;

198
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

5.6
Sumber Daya Alam
Pertumbuhan sektor pertanian di Provinsi Banten cukup baik, terutama untuk kebutuhan bahan pangan beras. Laju pertumbuhan produksi dari tahun ke tahun terus meningkat. Dua tahun terakhir, pada tahun 2004 produksi padi mencapai 1.812.495 Gabah Kering Giling (GKG) dan pada tahun 2005 meningkat menjadi 1.861.776 ton GKG. Peningkatan ini menghasilkan surplus sebanyak 107.965 ribu ton pada tahun 2005 dari total kebutuhan konsumsi setahun 941.620 ton. Walaupun produksi beras menunjukkan peningkatan yang cukup baik, namun berbagai masalah yang berkaitan dengan pangan masih muncul seperti kesejahteraan petani masih rendah dan tingkat kemiskinan masih tinggi, gizi buruk yang ditandai dengan adanya busung lapar. Sehingga surplus padi tidak signifikan dengan tingkat kesejahteraan masyarakat. Komoditi jagung di Provinsi Banten merupakan komoditi pangan yang mempunyai peluang dan prospek yang cukup berarti. Komoditi ini dapat dijadikan komoditi primadona yang dapat diandalkan untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk. Peluang ini belum dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Banten. Ini merupakan tantangan bagi petani dan instansi yang terkait, mengingat pabrik yang menggunakan bahan baku jagung secara nasional 50 persen berada di Provinsi Banten, namun Banten hanya mampu memasok bahan baku kurang dari 1 persen dari total kebutuhan industri. Untuk mengembangkan budidaya jagung secara agroklimat di Provinsi Banten sangat memenuhi syarat. Jagung dapat tumbuh di lahan kering dan di lahan basah dengan kebutuhan air yang relatif lebih sedikit dibandingkan dengan kebutuhan air untuk padi. Selain itu jagung dapat ditanam sebagai tanaman penyela. Dilihat dari sisi ketersediaan lahan untuk budidaya jagung di Provinsi Banten, dapat memanfaatkan lahan kering atau lahan tidur, dengan memperbaiki pola tanam atau dapat juga dengan diversifikasi pertanian. Potensi lahan pertanian 982,624 terdiri dari lahan sawah 248.115 ha dan lahan kering 734.509 ha, lahan pekarangan yang belum dapat dimanfaatkan 364.207 ha dan untuk kebutuhan lainnya seluas 318.100 ha. Potensi lahan pertanian terutaman lahan sawah dan lahan kering dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan produksi jagung. Apabila jagung dapat diusahakan secara terintegrasi mulai dari penyediaan sarana produksi sampai dengan pemasaran hasil dengan pola kemitraan dan jaminan harga yang wajar, diharapkan kontribusi sektor pertanian dapat ditingkatkan. Dewasa ini kontribusi sektor pertanian jauh lebih kecil (8,71 persen), Untuk dibandingkan dengan kontribusi dari sektor industri (52 persen). Sementara itu jumlah penduduk yang bekerja disektor pertanian lebih besar (27 persen) dibandingkan dengan sektor industri (22 persen). memperbaiki kesejahteraan yang lebih mengenai sasaran adalah dengan memperbaiki sektor pertanian,

199
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

dengan didukung oleh sektor industri. Salah satunya untuk mencapai kearah tersebut adalah dengan mengembangkan agribisnis jagung. Faktor lain yang menyebabkan jagung yang dihasilkan kurang dapat diserap oleh industri yang ada di Banten dikarenakan petani belum mampu memenuhi standar kualitas yang dibutuhkan oleh pabrik. Jagung yang didinginkan kekeringannya maksimal kadar airnya 14 persen dan harus jagung yang kering segar. Adanya anggapan bahwa jagung merupaka komoditi yang dinomorduakan setelah padi, juga menyebabkan rendahnya produksi jagung diProvinsi Banten. Untuk memenuhi permintaan jagung pipilan yang dibutuhkan oleh industri perlu peran pemerintah sebagai fasilitator dan penghubung antara petani dan pihak pengusaha industri. Kontrol terhadap petani, dapat dilakukan dengan memberdayakan penyuluh pertanian atau dengan pendampingan oleh tenaga ahli. Permintaan yang besar terhadap jagung dapat dipenuhi dengan mengoptimalkan kelompok tani hamparan. Hal lain yang perlu mendapat penanganan adalah komoditi yang memiliki kekhasan (spesifik lokalita, terutama buah durian. Durian merupakan komoditi hortikultura yang dapat diandalkan di Provinsi Banten. Akhir-akhir ini produksinya mulai menurun. Hal tersebut dikarenakan petani durian banyak menebang pohonnya untuk bahan bangunan. Padahal durian merupakan tanaman spesifik lokalita yang mempunyai pangsa pasar yang cukup luas. Apabila kondisi ini dibiarkan maka nasib durian akan sama dengan sawo yang sudah hampir punah dan produksinya tidak dapat diandalkan. Durian dapat tumbuh dengan baik di hampir setiap kabupaten di Provinsi Banten. Untuk menghasilkan tanaman durian yang produktif memerlukan waktu yang lama. Proses produksi biologi dari durian memerlukan rentang waktu yang panjang (5 sampai dengan 15 tahun). Penebangan pohon durian yang masih produktif akan berpengaruh besar terhadap penurunan produksi. Komoditi durian yang merupakan komoditi spesifik lokalita penurunan produksinya lebih disebabkan oleh banyaknya pohon produktif yang ditebang untuk diambil kayunya, disisi lain penebangan tersebut tidak diimbangi dengan peremajaan tanaman. Komoditi ini walaupun bukan komoditi unggulan namun dapat dikembangkan untuk menarik sektor lain terutama pariwisata. Sama halnya dengan apel dimalang, salak di Cipondoh, komditi pertanian tersebut terbukti dapat menarik para wisatawan untuk berkunjung ke daerah tersebut. Banten dengan duriannya diharapkan mampu menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung di Provinsi Banten. Pengembangan durian atau komoditi lainnya untuk menarik para wisatawan tidak cukup dengan pengembangan tanaman durian saja, akan tetapi harus diimbangi dengan perbaikan sarana dan prasarana penunjang (jalan, penginapan, keamanan, dll). Dampak eksternalitas yang dapat dipetik dari pengembangan komoditi yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan bersifat spesifik lokalita dapat

200
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

dikembangkan untuk menunjang pariwisata. Pengembangan pariwisata bukan hanya menjual panorama alam tetapi juga menjual potensi alam sudah saatnya dikembangkan di Provinsi Banten. Berdasarkan hasil penelitian, komoditas unggulan yang banyak digeluti masyarakat dan memberikan nilai tambah adalah emping melinjo dan gula aren cetak. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Cimenga Kabupaten Lebak mengenai nilai tambah gula aren cetak, agroindustri ini mampu memberikan nilai tambah Rp. 1.242,46 per kilogram bahan baku, gula aren Desa Haryang Kabupaten Lebak mampu memberikan nilai tambah Rp.4.968,73 per kilogram bahan baku, dan gula aren cetak Desa Curuglanglang Kabupaten Lebak Rp. 408,61 per kilogram bahan baku. Sedangkan untuk agroindustri emping melinjo mampu memberikan nilai tambah Rp. 5.824,68 per kilogram bahan baku. Berdasarkan perhitungan struktur industri gula aren dan emping melinjo terbukti agroindustri ini mampu bertahan lama (relatif tangguh) terhadap krisis ekonomi dan mampu menyerap tenaga kerja perdesaan. Walaupun industri ini relatif kecil namun peranannya dalam meningkatkan kesejahteraan cukup signifikan.

201
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

5.7
Kawasan Ekonomi Khusus Bojonegara (KEK)
Dalam upaya meningkatkan minat investasi di Banten, dikembangkan Kawasan Ekonomi Khusus Bojonegara (Special Economy Zone) di Bojonegara dengan luas area 5.000 Ha, yang letaknya berdampingan dengan lokasi Pelabuhan Intenasional Bojonegara di Kabupaten Serang, untuk memberikan kemudahan pelayanan barang-barang ekspor-impor ke berbagai negara tujuan. Kawasan Ekonomi Khusus di Bojonegara, ditunjang dengan berbagai fasilitas kemudahan dan penyediaan infrastruktur berupa jalan bebas hambatan (Tol), Kereta Api, Listrik, Telekomunikasi, Air bersih, Jaringan pipa gas, dan infrastruktur lainnya. Rencana pengembangan ekonomi khusus di Bojonegara telah ditunjang dengan pengembangan kilang minyak, terminal Integrated Super Transit dan Klaster Industri Petrochemical sebagai berikut : 1. Kilang Minyak Lokasi di Bojonegara dengan luas 350 Ha Kapasitas produksi 300.000 barrel/hari Produk : LPG, Gasoline, Karosene, Solar, Fuel Oil, Coke. Pasar potensial Lokal : Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi,Papua Ekspor : India, Myanmar, Thailand, Vietnam, China, Philipines, PNG, Australia Investasi proyek US$4.000 Juta NPV: US $3.219 million, IRR: 16,8 %, ROE : 25,3 %, Payback Period : 6 year 2. Terminal Integrated Super Transit Lokasi di Bojonegara Kapasitas terpasang : 1 juta kilo liter Produk : Oil, gasoline, kerosene, Diesel, LPG, Pet Chem Project investation : US $262 million (Storage US $ 190 juta, Pipa gas US $72 juta) Jarak Bojonegara-Plumpang 190 km NPV : US $275 million; IRR : 19,5 %; ROE : 21,8 %; Payback Period : 6,8 year Tujuan Peningkatan kapasitas terpasang dari 67,3 menjadi 70 % tahun 2009 Untuk memenuhi kebutuhan domestik (Olefin 6-8 % per tahun, Aromatic 4-6 % per tahun. Basic CI 3-5 5 per tahun Untuk mendukung integrasi core industries dan home industries Pasar ekspor : USA, Jerman, Perancis, Jepang, Korea Selatan, China, Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab.

3. Klaster Industri Petro Chemical

202
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Berdasarkan kunjungan lapangan ke Desa Puloampel, lokasi dekat Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bojonegara dan berdiskusi dengan warga, pada dasarnya warga berharap dapat merasakan keberadaan kawasan ini dengan dilibatkannya sebagai tenaga kerja. Kemudian adanya Kawasan Ekonomi Khusus ini tidak mengganggu aktifitas para nelayan yang mencari ikan di sekitar kawasan dan tidak mengganggu areal pertanian mereka akibat limbah yang mungkin mencemari.

203
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

5.8
Pelabuhan Internasional Bojonegara
Perkembangan ekonomi makro Indonesia terus mengalami pertumbuhan di masa-masa mendatang sejalan dengan trend ekonomi global yang berdampak terhadap peningkatan aktivitas perdagangan. Pelabuhan International Bojonegara dirancang sebagai pelabuhan modern yang mampu memberikan pelayanan setara dengan pelabuhan kelas dunia lainnya dan mempunyai kedalaman hingga 16 mlWS. Pelabuhan ini direncanakan mulai beroperasi tahun 2007 dan dipersiapkan untuk mampu melayani kapal-kapal berukuran besar, kapal petikemas dengan kapasitas angkut di atas 5.000TEUs hingga 8.000 TEUs. Pelabuhan Tanjung Priok selama ini merupkan pelabuhan dan feeder, sebagian besar dari total arus barang dan peti kemas di pelabuhan Tanjung Priok melakukan transshipment di pelabuhan Singapuran dan Malaysia, transhipment menimbulkan biaya tinggi dengan adanya biaya double handling karena saat ini pelabuhan di Indonesia belum memiliki Transhipment Port (deep sea). Sasaran dari pembangunan Pelabuhan Bojonegara adalah menjadikan pelabuhan andalan di wilayah Cilegon dan Serang yang sekaligus sebagai pelabuhan alternatif dari pelabuhan yang sudah ada serta menjadikannya gerbang pemasaran produk-produk eksport dari industri yang berada di zona industri Cilegon. Tujuan dari Pelabuhan Bojonegara untuk memperlancar arus dan lalu lintas barang-barang keperluan kegiatan industri dan perdaganagan di wilayah Cilegon, Serang , dan sekitarnya. Lokasi Pelabuhan International Bojonegara atau Bojonegara International Port (BIP) terletak di perairan yang dalam dan tenang di teluk Banten dekat Selat Sunda. Berada pada lokasi yang strategis, BIP akan berperan sebagai hub port di wilayah Indonesia bagian barat bagi perdagangan Asia Pasifik. Secara administrasi lokasi kegiatan terletak di wilayah kecamatan Puloampel dan kecamatan Bojonegara, kabupaten Serang, Provinsi Banten yang secara geografis terletak antara 05o53’47”-05o56’30” LS dan 106o05’04”-106o06’00” BT. Lokasi rencana kegiatan pelabuhan Bojonegara ini meliputi Desa Margasari, Desa Sumureja, Desa Puloampel. Dengan luas 500 Ha dengan didesain sebagai pelabuhan yang terintegrasi dengan kawasan industri dan perdagangan. Secara keselutruhan pada tahap akhir (tahun 2025), BIP akan memiliki 5 terminal antara lain terminal peti kemas, terminal multipurpose, terminal ro-ro, terminal curah air dan kering dengan dermaga sepanjang 3.500 meter dan Container Yard 9,6 Ha. Terminal petikemas dilengkapi dengan lapangan penumpukan seluas 18 Ha, container crand sebanyak 24 unit dengan kapasitas terpasang 2,4 juta TEUs. Pembangunan tahap I (2003 – 2013) akan meliputi terminal petikemas dan jalan akses pelabuhan yang menghubungkan BIP dengan Tol Jakarta-Merak.

204
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Pada akhir pembangunan tahap I, BIP akan memiliki fasilitas dermaga petikemas sepanjang 300 meter, container yard 15 Ha dari 30 Ha yang dialokasikan, gudang penumpukan 5.000 m2, lapangan penumpukan 3 Ha, container crane 2 unit, RTG 6 unit, reach staker 2 unit, dan head truck 10 unit. Sedang throughput peti kemas sebear 153.0000 TEUs pada tahun 2010. Pembangunan tahap II (Jangka menengah 200 – 2014) meliputi pembangunan teminal multipurpose, terminal ro-ro, lapangan penumpukan dan penambahan alat dan lapangan pada terminal petikemas. Pembangunan tahap III (jangka panjang 2014-2025) meliputi perluasan teminal petikemas, terminal general cargo dan special dedicated wharves. Dengan sejumlah keunggulan dan komitmen untuk pengembangan ke depan, PT (persero) Pelabuhan Indonesia II akan membuka peluang bagi para pelaku usaha untuk berpastisipasi dalam pembangunan dan pengembangan Pelabuhan Intenasional Bojonegara. Konsepsi pembangunan pelabuhan yang terpadu dengan lahan industri di belakangnya serta dukungan pemerintah daerah terhadap BIP akan lebih mendukung kelangsungan investasi jangka panjang bagi industri dan perdagangan. Partisipasi yang ditawarkan meliputi pembangunan dan pengelolaaan pelabuhan, fasilitas pendukung sampai dengan pembangunan dan pemanfaatan kawasan industri di belakang areal pelabuhan. Dengan kelengkapan fasilitas BIP dirancang untuk menghadirkan pelayanan yang terintegrsai dan dikembangkan menjadi pusat logistik dan distribusi di wilayah barat Indonesia. BIP dioperasikan dengan membentuk sinergi operasional yang positif dengan pelabuhan Tanjungpriok dan melayani celah pasar yang belum terlayani, akseblitas yang tinggi denga nkawasan industri sekaligus akan mengurangi kepadatan transportasi dan distribusi di Jakarta. Dengan demikian, BIP diharapkan mampu memenuhi keinginan penggunaan jasa di masa yang akan datang. BIP menawarkan jasa-jasa kepelabuhan yang komprehensif disertai dengan usaha meningkatkan efisiensi operasional sehingga dapat mengurangi waktu kapal di pelabuhan. Hal ini akan dapat menekan biaya transportasi bagi pengguna jasa pelabuhan yang pad akhirnya mampu memberkan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional. Berdasarkan audiensi dengan masyarakat sekitar di Pulau Panjang dekat kawasan pelabuhan,mereka berharap pelabuhan ini dapat menyerap tenaga kerja dan memberikan kepedulian bagi aktifitas masyarakat seperti sarana dan prasarana jalan, mesjid, jembatan , dan sebagainya.

205
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

5.9
Waduk Karian
Sejak tahun 1970 kota Jakarta,Bogor, Tangerang dan Bekasi (Jabotabek) telah berkembang dengan pesat untuk industri dan urbanisasi. Hal ini merupakan konsekwensi dari pertumbuhan penduduk sampai tahun 1990, rata-rata populasi 4 % per tahun, sedangkan tahun 1990-2000 ada tendensi penurunan 2,4 % per tahun. Namun demikian jumlah penduduk tetap bertambah dengan cepat, total penduduk di Jabotabek meningkat 8,3 juta pada tahun 1970 menjadi 20 juta pada tahun 2000 diperkirakan jumlah penduudk lebih dari 50 juta pada tahun 2025. Sejalan dengan pertumbuhan penduduk, sejumlah pembangunan perumahan dan kawasan industri sedang berjalan pada tahun-tahun terakhir,urbanisasi dan industrialisasi di daerah jabotabek menyebabkan kenaikan kebutuhan air untuk perkotaan dan industri secara cepat, sejumlah besar sumursumur individu juga telah beroperasi dan pengambilan air tanah yang berlebihan telah menyebabkan penurunan muka air tanah dan intrusi asin dari laut di DKI Jakarta. Untuk penanganan masalah tersebut, maka studi pengembangan Sungai Ciujung-Cidurian pada tahuan 1993-1995 dilaksanakan dengan kerjasama antara Ditejen SDA Dep. PU dengan pemerintah Jepang melalui JICA untuk melakukan studi Jabotabek Water Resources Management Study (JWRMS) serta menyusun masterplan. Dari hasil tersebut direkomendasikan untuk membanguan 4 buah dam yaitu Karian, Pasir Kopo, Cilawang dan Tanjung untuk memenuhi pasokan air ke Jabotabek. Sasaran pembangunan waduk Karian ini adalah sebagai pemasok air baku untuk perkotaan dan industri yang berada di wilayah kota dan kabupaten tangerang sebesar 9,1 M per detik, perkotaan dan inustri Kabupaten Serang, Kota Cilegon dan tambahan air irigasi Ciujung seluas 23.000 Ha. Tujuan pembanguan Waduk Karian ini merupakan tahap pertama daripengemangan sumber daya air di wilayah sungan Ciujung dan Cidurian untukmemenuhi kebutuhan air perkotaan dan industri di Serang, Tangerang, dan DKI Jakarta serta tambahan pasokan irigasi untuk daerah irigasi Ciujung dan Rancasumur. Lokasi waduk Karian terletak di Kabupaten Lebak dengan cakupan kecamatan dan desa tersaji dalam tabel 5.3 berikut :

206
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Tabel 5.3 Lokasi Waduk Karian No. 1. Kecamatan Sajira Desa Sukajaya Sukarame Calung bungur Pajagan Mekarsari 2. 3. 4. Cimarga Maja Rangkasbitung Tambak Margajaya Sindangmulya Pasir tanjung

Sumber : Badan Koordinasi Penanaman Modal Daeran (BKPMD) Provinsi Banten Kapasitas dari waduk Karian secara data teknis adalah : Daerah tangkapan air : 288 Km2 Areal genangan : 1.740 Ha Puncak bendungan : 72,5 m dpl Tinggi Bendungan : 60,5 m Tinggi air banir : 69,9 m dpl Tinggi air normal : 67,5 m dpl Tinggi air rendah : 46,0 m dpl Daya tampung waduk 207,5 juta m3 Volume dari tanggul utama : 1,23 juta m3 Desain penanganan banjir Arus masuk : 3,617 m3 Arus keluar : 3,190 m3 Volume pengendalian banjir : 60,8 juta Analisis keuangan NPV pada rate 12 % adalah : Rp 217,883 million IRR : 12,64 % BCR : 2,14 Dengan dibangunnya waduk Karian merupakan salah satu upaya dalam pemanfaatan sumberdaya air yang berada di Provinsi Banten. Hal ini akan menunjang kebutuhan akan air untuk keperluan rumahtangga, industri, pertanian, perikanan dan wisata Provinsi Banten.

207
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

5.10
Jembatan Penghubung Tetap Jawa-Sumatera
Bila dilihat aktifitas penyeberangan antara Bakauheni–Merak, maka hubungan antar Pulau Sumatera dan Jawa sangat intensif. Setiap hari rata-rata lebih dari 2.000 ton barang dari Pulau Sumatera mengalir ke Pulau Jawa melalui Provinsi Banten. Selain rata-rata lebih dari 15.000 orang dan lebih dari 4.000 kendaraan per hari berupa truk, bis, kendaraan pribadi dan sepeda motor melintas pada jalur penyeberangan Merak-Bakauheni. Sementara kondisi kapal rata-rata berumur 20 tahun sehingga rawan terjadi kecelakaan. Begitu juga dengan 22 ribu ton batubara per hari dari Sumatera Selatan dikirim melalui Pelabuhan Merak-Bakauheni untuk konsumsi PLTU Suralaya. Dapat dibayangkan apabila sarana transportasi penyeberangan antara Lampung dan Banten terputus, maka akibatnya pasokan hasil bumi di Pulau Jawa dan nasional akan mengalami hambatan yang signifikan, demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu, Banten dan Lampung sebagai pintu gerbang di Sumatera- dan Jawa harus bersatu dan bersinergi agar tujuan pembangunan nasional dapat tercapai, agar tercapai pemerataan pertumbuhan penduduk dan sebagai antisipasi perkembangan industri di Pulau Jawa terutama Provinsi Banten yang sudah mulai jenuh. Jembatan Jawa-Sumatera ini mempunyai sasaran dan tujuan sebagai berikut : Memperlancar pertumbuhan perekonomian di Sumatera dan Jawa. Membaca pertumbuhan wilayah, regional maupun nasional serta meningkatkan kemakmuran rakyat khusunya kedua pulau Memperkuat persatuan bangsa dan mencegah disintegrasi bangsa Menjadi salah satu tujuan wisata yang menarik terutama pada kawasan sekitar tapak jembatan Menumbuhkan minat investasi ekonomi, sosial, budaya, pertanian, industri, pariwisata, dan lain-lain. Mempermudah pengawasan dan pengendalian konservasi alam. Meningkatkan kesempatan dan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar

Lokasi proyek berada di Selat Sunda untuk menghubungkan Jawa dan Sumatera. Rencana biaya total termasuk biaya konstruksi, biaya studi, dan jasa engineering sebesar USD 10 Milyar, dengan prediksi waktu pelaksanaan konstruksi selama 6 – 10 tahun. Saat ini proyek ini sudah dalam tahap MoU antara Provinsi Banten dan Provinsi Lampung, serta menunggu investor swasta untuk membangunnya. Dengan dibangunnya jembatan Selat Sunda ini, maka potensi pertumbuhan ekonomi secara nasional akan semakin meningkat.

208
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

5.11
Suku Baduy
Baduy sebagai masyarakat adat, mempunyai tanah ulayat yang diakui oleh pemerintah dengan Perda Kabupaten Lebak No. 32 tahun 2001 dan Keputusan Bupati Lebak No 590/Kep.233/Huk/2002 tentang Batas Tanah Ulayat Masyarakat Baduy. Terdapat dua kelompok masyarakat Baduy, yaitu Baduy Dalam yang memegang adat Baduy secara ketat dan Baduy Luar yang menjalankan aturan adat sedikit longgar. Secara keseluruhan mereka hidup di 57 kampung. Orang Baduy Dalam mendiami 3 kampung, yaitu Cikeusik, Cikertawana dan Cibeo, sedangkan Baduy Luar mendiami 53 kampung lainnya. Kampung-kampung tersebut secara administrasi masuk ke dalam Desa Kanekes, Kecamatan Lewidamar, Kabupaten Lebak. Dalam kehidupan sosialnya, masyarakat Baduy Dalam hidup dengan cara mengisolasi diri dari masyarakat lain di sekitarnya. Mereka mengupayakan sendiri kebutuhan sandang, pangan dan papan dengan mengandalkan hutan yang berada di wilayah Desa Kanekes. Cara hidup masyarakat Baduy Dalam dijaga oleh adat istiadat yang sangat kuat yang menjadi aturan dalam pola hidupnya. Hal tersebut dapat dilihat dari cara mereka membagi wilayah. Masyarakat Baduy membagi wilayah mereka menjadi tiga, yaitu wilayah pemukiman yang biasanya mengelompok dan tersebar di sekitar sumber air, wilayah pertanian dan wilayah hutan yang benar-benar dipertahankan secara alami dan tidak boleh diganggu. Desa Kanekes memiliki kawasan seluas 5101,85 Ha yang terdiri dari 2500 Ha merupakan kawasan hutan lindung yang tidak boleh diganggu baik bagi warga Baduy Luar maupun Baduy Dalam. Hutan tersebut merupakan hutan larangan yang tidak boleh dibuka untuk lahan pertanian, sedangkan diluar hutan tersebut masyarakat boleh membuka lading untuk pertanian dan pemukiman. Masyarakat Baduy Dalam masih menjalankan tradisi yang kuat. Jumlah penduduk Baduy Dalam adalah 1145 jiwa yang terdiri dari 260 KK. Tabel 5.4 Keadaan Penduduk Baduy Dalam berdasarkan umur Umur (Tahun) <1 1-4 5 -6 7-12 13-15 Jumlah 20 128 80 182 77 Persentase (%) 1,75 11,18 6,99 15,89 6,72

209
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

16-18 19-25 26-35 36-45 46-50 51-60 61-75 >75 Jumlah

68 101 121 159 49 51 76 36 1145

5,93 8,82 10,57 13,89 4,02 4,45 6,64 3,15 100

Berdasarkan tabel di atas, penduduk yang dikatagorikan dalam usia pendidikan dasar (usia 0 – 15 tahun) adalah 487 jiwa atau 42,5%, namun sampai saat ini masyarakat Baduy Dalam belum mengenal pendidikan formal. Hal ini disebabkan oleh tuntutan adat yang melarang warganya memasuki dunia pendidikan formal. Selain pendidikan formal, masyarakat Baduy juga belum mengenal KB (Keluarga Berencana). Cara menekan laju pertumbuhan penduduk dengan sistem kalender. Upaya pemerintah daerah untuk mengatasi hal tersebut adalah mensosialisasikan program pendidikan dan program pemerintah lainnya, khususnya pada masyarakat Baduy Luar. Dengan penanganan programprogram pendidikan dan program lainnya pada masyarakat Baduy Luar diharapkan Masyarakat Baduy Dalam ikut terpengaruh, sehingga mereka dapat menikmati pendidikan dan program pemerintah lainnya.

210
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

BAGIAN 6 PENUTUP

211
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Laporan ini ditutup dengan ringkasan berkaitan dengan sasaran yang ingin dicapai dalam RPJMD 2004-2009 dengan apa yang telah diupayakan dan berhasil dicapai. Secara rinci hal tersebut dapat dilihat bagian per bagian untuk masing-masing agenda. Pada setiap agenda dibahas juga langkah-langkah selanjutnya yang perlu dilakukan. Langkah-langkah tersebut dapat juga dibaca secara detil di masing-masing bagian yang membahas program prioritas untuk mencapai sasaran agenda. Agenda Pembangunan yang Pertama Sasaran pertama adalah meningkatkan rasa aman dan damai. Pencapaian atas sasaran ini dapat dirasakan dan dilihat dari berbagai kemajuan yang telah tercipta dalam penanganan konflik, penindakan secara tegas terhadap bentuk –bentuk kriminalitas yang ada di Provinsi Banten. Konflik yang terjadi di Banten masih relatif rendah, dan tidak ada konflik yang mengarah ke SARA. Tindakan kriminal yang seringkali terjadi pencurian kendaraan bermotor. Hal ini disebabkan oleh posisi Banten yang strategis, berada di daerah lintasan dan daerah penyangga Ibu Kota Jakarta. Keamanan dan kedamaian yang tercipta di Provinsi Banten berkat kerja sama antara pihak pemerintah dan masyarakat. Sasaran Kedua adalah Semakin Kokohnya NKRI berdasarkan Pancasila, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika. Segala hal yang berkaitan dengan separatisme yang terjadi di Provinsi Banten relatif dapat diminimalkan. Tetapi biasanya separatisme timbul secara laten sehingga walaupun ada gerakan sulit untuk dideteksi. Sampai saat ini di Provinsi Banten masih menunjukkan integritas yang tinggi dalam menjaga kesatuan dan persatuan NKRI. Sasaran Ketiga adalah semakin berperannya Indonesia dalam menciptakan perdamaian dunia. Tidak ada potensi untuk di bahas (lingkup nasional) Agenda Pembangunan Kedua Sasaran pertama adalah meningkatnya keadilan dan penegakan hukum Keadilan di bidang hukum diawali dengan upaya perlindungan HAM dan Penghapusan Diskriminasi dalam bidang perlindungan HAM. Hal-hal yang berkaitan dengan HAM di Provinsi Banten sering terjadi terutama halhal yang berkaitan dengan KDRT. Namun kesulitan yang dihadapi adalah masih adanya sikap dari para ibu rumah tangga untuk tidak melaporkan kejadian yang berkaitan dengan KDRT, atau seringkali ibu rumah tangga mencabut kasus suaminya yang sedang diproses hukum. Di Provinsi Banten terjadi beberapa kasus korupsi dan sudah diproses oleh aparat penegak hukum. Untuk memberantas korupsi dimasa yang akan datang, aparat penegak hukum harus bekerja keras, baik yang berada di KPK maupun Kejaksaan. Mengingat terbatasnya sumberdaya, maka penanganan kasus korupsi

212
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

harus dilakukan melalui penentuan skala prioritas, transparan, dan akuntabel, khususnya terhadap kasuskasus korupsi yang menarik perhatian masyarakat. Sasaran kedua adalah terjaminnya keadilan gender bagi peningkatan peran perempuan dalam berbagai bidang pembangunan. Secara umum kendala dan permasalahan pemberdayaan perempuan serta perlindungan anak di Provinsi Banten perlu dicermati kembali karena permasalahan perempuan dan perlindungan anak melibatkan berbagai sektor pembangunan. Untuk mengoptimalkan peran perempuan diperlukan penumbuhan kesadaran dan partisipasi masyarakat, sehingga walaupun pencapaiannya memerlukan waktu yang relatif lama, tetapi secara perlahan dan pasti hasilnya dapat dirasakan dan sasarannya dapat lebih terarah. Sasaran Ketiga adalah meningkatnya pelayanan kepada masyarakat melalui penyelenggaraan otonomi daerah dan kepemerintahan daerah yang baik, menjamin konsistensi seluruh peraturan pusat dan daerah serta tidak bertentangan dengan peraturan dan perundangan yang lebih tinggi. Berkaitan dengan regulasi, telah dibangun perangkat hukum mengenai pembagian urusan pemerintahan yang ada di Provinsi Banten, organisasi perangkat daerah, manajemen PNS daerah, pelaksanaan kerjasama antar daerah, evaluasi penyelenggaraan pemda, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan regulasi. Sasaran Keempat adalah meningkatnya pelayanan birokrasi kepada masyarakat. Secara umum, Provinsi Banten berupaya untuk menciptakan pemerintahan yang bersih dan berwibawa walaupun hasilnya belum optimal. Capaian yang terlihat : terciptanya sistem kelembagaan dan ketatalaksanaan pemerintah yang relatif bersih, efisien, dan efektif. Sasaran Kelima adalah terlaksananya Pemilu 2009 secara demokratis, jujur, dan adil dengan menjaga momentum konsolidasi demokrasi yang sudah terbentuk berdasarkan hasil pemilu secara langsung tahun 2004. Hal tersebut belum dapat dievaluasi karena masih tahap persiapan. Agenda Pembangunan Ketiga adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sasaran Pertama adalah menurunnya jumlah penduduk miskin serta terciptanya lapangan kerja yang mampu mengurangi pengangguran terbuka. Pengentasan kemiskinan dan pengurangan pengangguran masih belum dapat diatasi secara optimal. Hal tersebut disebabkan oleh rendahnya kualitas pendidikan dan keterampilan yang dimiliki masyarakat yang ada di Provinsi Banten, serta etos kerja yang kurang mendukung. Adanya korban PHK mempertinggi tingkat pengangguran yang ada di Provinsi Banten, strategi yang tepat adalah mengembangkan sektor pertanian, sektor ini walaupun sumbangannya kecil terhadap PDRB namun sudah terbukti relatif lebih tahan terhadap krisis dibandingkan dengan sektor lainnya. Sasaran Kedua adalah berkurangnya kesenjangan antar wilayah dengan prioritas pembangunan perdesaan dan pengurangan ketimpangan pembangunan wilayah.

213
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Untuk mengurangi kesenjangan sosial ekonomi di Provinsi Banten diupayakan dengan berbagai program pemberdayaan masyarakat, pengembangan ekonomi lokal, peningkatan infrastruktur, peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Pembangunan wilayah di Provinsi Banten terlihat perbedaan yang jelas dari perkembangan ekonominya antara Banten Selatan dan Banten Utara. Untuk saat ini Banten Utara relatif lebih maju dibandingkan dengan Banten Selatan baik dari infarstruktur maupun dari kualitas sumberdaya manusia. Namun di masa mendatang paradigma tersebut harus dapat diubah karena Banten Selatan merupakan daerah yang belum dapat dieksplorasi secara optimal padahal daerah Banten Selatan banyak menyimpan sumberdaya alam baik hayati maupun galian atau barang tambang. Sasaran Ketiga adalah peningkatan kualitas manusia secara menyeluruh. Di Provinsi Banten akses masyarakat terhadap pendidikan yang berkualitas meningkat. Begitupun dengan Pemberantasan Buta Aksara, dengan demikian diharapkan kesenjangan pendidikan antara masyarakat kaya dan miskin dapat berkurang. Walaupun demikian kualitas pendidikan masyarakat masih perlu ditingkatkan terutama untuk daerah terpencil dan daerah pulau-pulau kecil berpenghuni. Sasaran Keempat: membaiknya mutu lingkungan hidup dan pengelolaan sumberdaya alam. Banten merupakan daerah industri kecil dan industri berat khusus untuk Wilayah Banten Utara. Kondisi yang demikian tidak dapat dihindari dan daerah tersebut berpotensi untuk terkena pencemaran. Pencemaran yang paling terlihat nyata adalah polusi udara dan polusi air. Perlu penanganan yang lebih serius untuk mencegah terjadinya polusi yang lebih membahayakan lagi. Kapasitas dan kemampuan pengolahan limbah perlu ditingkatkan. Sasaran Kelima : Kuantitas dan Kualitas berbagai Sarana penunjang pembangunan. Hal tersebut diwujudkan melalui peningkatan panjang dan kualitas jalan, peningkatan sarana dan prasarana angkutan. Demikian hasil evaluasi ini selama tiga tahun terakhir. Mudah-mudahan gambaran objektif ini mampu memberikan landasan bagi pencapaian selanjutnya secara lebih baik. Sekecil apapun mudah-mudahan hasil evalusi ini dapat dijadikan landasan untuk menjawab hambatan dan tantangan pembangunan khususnya di Provinsi Banten.

214
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

MATRIK EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH PROVINSI BANTEN TAHUN 2008
No. Sasaran Pembangunan dalam RPJMN Indikator Kinerja Pembangunan Daerah Upaya Capaian Permasalahan Tindak lanjut

I

MEWUJUDKAN INDONESIA YANG AMAN DAN DAMAI
1.1Penigkatan Rasa Saling Percaya dan Harmonisasi Antar Kelompok Masyarakat (1) Menurunnya ketegangan dan ancaman konflik antar kelompok masyarakat atau antar golongan di daerahdaerah rawan konflik; (2) Terpeliharanya situasi aman dan damai; serta (3) Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan kebijakan publik dan penyelesaian persoalan sosial kemasyarakatan. Jumlah tindak kriminal Pembentukan Perpolisian Masyarakat (POLMAS) dan FKPM (Forum Kemitraan Perpolisian Masyarakat) Jumlah tindak kriminal pada tahun 2006 menurun menjadi 57,43% dari 61,93% pada tahun 2005 Penanganan tindak kriminal rata-rata dalam 5 tahun terakhir 62,16% Rasio personil masih rendah yaitu 1: 1700 Kerjasama antara masyarakat belum menunjukkan hasil yang optimal Seyogyanya jumlah personel polisi dapat ditambah sesuai dengan proposi jumlah poenduduk Pihak Polda harus dapat meningkatkan Manajemen Operasional Polri (MOP) Pemerintah harus dapat memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya keterlibatan mereka dalam menjaga keamanan dan ketertiban di Provinsi Banten.

Tindakan hukum terhadap tindak kriminalitas

1.2 Pengembangan Kebudayaan yang Berlandaskan pada Nilai-nilai Luhur 1.3 Peningkatan Keamanan, Ketertiban, dan Penanggulangan Kriminalitas 1. Menurunnya angka pelanggaran hukum dan indeks kriminalitas serta meningkatnya penuntasan kasus kriminalitas untuk menciptakan rasa aman masyarakat; Terungkapnya jaringan kejahatan internasional terutama: narkoba, perdagangan manusia, dan pencucian uang; Terlindunginya keamanan lalu lintas informasi rahasia lembaga negara sesudah diterapkannya Asean

Tidak ada potensi yang dapat digali di Provinsi Banten Crime Total (CT) Menjaga keamanan dari tingkat RT sampai keamanan kota secara keseluruhan Penjagaan yang ketat dari aparat terhadap aset negara, baik dilaut maupun daratan. Penindakan yang tegas 2183 (2005) 1849 (2006) 1772 (2007) 1352(2005) 1062(2006) 1132 (2007) 73 (2005) 104 (2006) 184 (2007) - Adanya reorganisasi dari Polwil menjadi Polda - Adanya tekanan ekonomi di masyarakat - Personil polisi yang masih kurang, rasio polisi dan masyarakat 1:1700, sedangkan yang ideal 1:1000 - Adanya perpolisian masyarakat (Polmas) - Penyuluhan bidang hukum - Dibentuk forum-forum komunikasi antara polisi dan masyarakat - Bekerja sama dengan Polda-Polda sekitar Provinsi Banten dalam penanggulangan

2.

Crime Clearance (CC) Angka penyalahgunaan narkoba

3.

215
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Free Trade Area (AFTA) dan zona perdagangan bebas lainnya, terutama untuk lembaga/ fasilitas vital negara; 4. Menurunnya jumlah pecandu narkoba, terungkapnya kasus dan dapat diberantasnya jaringan utama pemasok narkoba dan precursor; Menurunnya jumlah gangguan keamanan dan pelanggaran hukum di laut, terutama pada alur perdagangan dan distribusi serta alur pelayaran internasional; Terungkapnya jaringan utama pencurian sumberdaya kehutanan serta membaiknya praktek penegakan hukum dalam pengelolaan sumber daya kehutanan dalam memberantas illegal logging,over cutting, dan illegal trading; Meningkatnya kepatuhan dan disiplin masyarakat terhadap hukum; Meningkatnya kinerja POLRI yang tercermin dengan menurunnya angka kriminalitas, pelanggaran hukum, dan meningkatnya penyelesaian kasuskasus hukum.

Laka Lantas

5.

Angka Pencurian dengan Pemberatan Angka Pencurian Kendaraan Bermotor Angka kasus illegal fishing Angka kasus illegal logging Angka Illegal Mining Angka korupsi

terhadap pejabat dan masyarakat yaang terkait dengan illegal logging, illegal fishing, dan illegal mining Diperketatnya pemeriksaan terhadap barang yang masuk ke Provinsi Banten. Peningkatan pelatihan terhadap polisi hutan Penambahan personil untuk mencegah pembalakan liar Memupuk kesadaran masyarakat akan pentingnya sebuah peraturan Menyelesaikan kasuskasus hukum secara tuntas

197 (2005) 364 (2006) 379 (2007) 362 (2007)

328 (2007)

6.

15 (2008)

peredaran narkoba - Kampanye anti narkoba dengan gerakan seribu tandatangan anti narkoba oleh para pelajar Banten - Penanganan illegal logging dengan operasi jejak penebangan dan operasi rutin terhadap mobil-mobil pengangkut kayu

7. 8.

9 (2008) 3 (2008) 9 (2005) 8 (2006) 6 (2007)

1.4 Pencegahan dan Penanggulangan Separatisme

1.5 Pencegahan dan Penanggulangan Gerakan Terorisme

1.6 Peningkatan Kemampuan Pertahanan Negara 1.7 Pemantapan Politik Luar Negeri dan Peningkatan Kerjasama Internasional

Tidak terjadi di Provinsi Banten Tidak terjadi di Provinsi Banten, hanya ada beberapa pelaku terorisme berasal dari Provinsi Banten Tidak menjadi topik pembahasan di daerah tetapi kewenangan pusat Tidak menjadi topik pembahasan di daerah tetapi kewenangan pusat

II

MEWUJUDKAN INDONESIA YANG ADIL DAN DEMOKRATIS

216
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

2.1 Pembenahan Sistem dan Politik Hukum Terciptanya sistim hukum nasional yang adil konsekwen dan tidak diskriminatif

Raperda dan telah ditetapkan menjadi Perda

Meningkatkan ketersediaan produk – produk hukum daerah dalam mendorong penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan

6 Raperda dan telah ditetapkan menjadi Perda

Kesadaran hukum masyarakat yang relatif rendah juga menjadi salah satu penyebab lemahnya penegakan hukum.

Perlu adanya suatu program berupa penegakan hukum yang konsisten dan tidak berpihak, terutama dari dan untuk aparat penegak hukum dan masyarakat Pendidikan demokrasi politik masyarakat akan sangat menunjang pemantapan sistem politik.

Bentuk pencapaian mewujudkan proses demokratisasi.

Meningkatkan kualitas demokrasi, ketentraman dan ketertiban umum.

97 ormas, yang terdiri dari 21 lembaga profesi, 26 lembaga keagamaan dan 50 lembaga swadaya masyarakat.

Partisipasi masyarakat dalam proses demokrasi yang relatif rendah juga menjadi salah satu penyebab lemahnya penegakan hukum.

2.2 Penghapusan Diskriminasi dalam Berbagai Bentuk • Terlaksananya peraturan perundang-undangan yang tidak mengandung perlakuan diskriminasi baik kepada setiap warga Negara, lembaga, atau instansi pemerintah maupun lembaga swasta atau dunia usaha secara konsisten dan transparan • Terkoordinasikannya dan terharmonisasikannya pelaksanaan peraturan perundang-undangan

Sektor usaha dan kesempatan kerja bagi perempuan

Penghapusan diskriminasi yang menyangkut kekerasan terhadap perempuan

Perempuan bekerja pada sektor informal, mencapai 52.5%, sektor pertanian 33% dan industri 28%.

Rendahnya keterwakilan perempuan dilembaga legislatif. Perempuan yang menjadi anggota DPRD Provinsi hanya 5 orang (6,7%) dari seluruh anggota yang berjumlah 75 orang. Masih kurangnya sosialisasi UU KDRT bagi masyarakat terutama di perdesaan

Penghapusan diskriminasi perempuan 2.3 Penghormatan, Pengakuan, dan Penegakan atas Hukum dan Hak Asasi Manusia 1. Terlaksananya berbagai langkah rencana aksi yang terkait dengan penghormatan pemenuhan dan penegakan terhdap hukum dan HAM 2. Rencana aksi nasional pemberantasan korupsi

UU nomor 23 tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga ( UU KDRT ).

Penurunan kasus kekerasan dalam rumah tangga

Upaya pemberdayaan perempuan akan mencapai hasil yang optimal bila didukung oleh berbagai bidang seperti ketenagakerjaan, sosial, kesehatan dan juga dukungan dari peningkatan anggaran pemberdayaan perempuan. Melibatkan berbagai kalangan (LSM dan berbagai elemen masyarakat) untuk proaktif Melibatkan berbagai kalangan (LSM dan berbagai elemen masyarakat) untuk proaktif

Angka kasus korupsi di daerah

Mengusut tuntas kasus korupsi dan pemberian sanksi berat bagi koruptor

9 (2005) 8 (2006) 6 (2007)

Masih lemahnya kinerja lembaga peradilan dan sanksi hukum yang belum jelas dan tegas,

217
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

3. 4. 5.

Rencana aksi nasional penghapusan ekploitasi seksual komersial anak Rencana aksi nasional pengahapusan bentukbentuk pekerjaan terburuk untuk anak Program nasional bagi anak Indonesia (PNBAI)

dicerminkan masih rendahnya penyelesaian kasuskasus hukum yang terjadi Penanganan kasus korupsi yang belum tuntas

dalam pengawasan pembangunan daerah

Jumlah dan jenis pekerja anak

Meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat Banten

Kasus kekerasan pada anak semakin meningkat Anak dibawah umur dipekerjakan sebagai buruh Minimal 2000 anak jalanan tidak mengenyam pendidikan Masih rendahnya perhatian pemda dan dinas terkait pada generasi penerus

Pemerintah membuat Perda tentang perlindungan anak Sanksi hukum yang jelas bagi perusahaan pelanggar Keterlibatan semua dinas terkait dalam melaksanakan program nasional bagi anak Indonesia

2.4 Peningkatan Kualitas Kehidupan dan Peran Perempuan serta Kesejahteraan dan Perlindungan Anak 1. Terjaminnya keadilan gender dalam berbagai perundangan program pembangunan dan kebijakan publik 2. Menurunnya kesenjangan pencapaian pembangunan antara perempuan dan laki-laki 3. Menurunnya tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak 4. Meningkatnya kesejahteraan dan perlindungan anak

Gender Related Indeks (GDI) Gender Empowerment Measurement Indeks (GEM)

Terbitnya Perda No 10 tahun 2005 tentang PUG Instruksi Gubernur N0 2 Th 2005 ttg PUG dalam pembangunan daerah Penguatan kelembagaan strategis yang didukung SDM yang profesional

58,1 (2005) 59 (2006) 5,3 (2005) 5,3 (2006)

Rendahnya tingkat pendidikan, kesehatan dan ekonomi kaum perempuan Keterbatasan akses informasi yang dimilki oleh perempuan Kurangnya koordinasi pihak terkait : Provinsi,

Pemetaan pembangunan yang perspektif gender Mengembangkan rencana implementasi kebutuhan PUG dan RPJMD ke RKKPD dan Renja Mengembangkan data analisis makro dan analisis data sektor

218
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Tingkat pelayanan hak-hak dasar perempuan dan anak-anak

Penerapan akuntabilitas terhadap pelaksanaan kegiatan yang berbasis PUG Penyelenggaraan perlindungan hak-hak perempuan dan anak Penegakan supremasi hukum untuk perlindungan perempuan dan anak Penumbuhan dan pembinaan terhadap lembaga atau organisasi yang peduli perempuan dan anak. Meningkatkan kerjasama nasional, regional, dan internasional di bidang kesejahteraan sosial. Meningkatkan peran PSW dalam kajian PUG Merealisasikan anggaran untuk PUG sebesar 5 % dari APBD

Terbentuknya P2TP2A di Provinsi dan Kabupaten/Kota

kabupaten / kota dalam merencanakan program-program yang berkaitan dengan PUG Komitmen bersama untuk mengatasi kesenjangan gender belum sepenuhnya dilaksanakan Penganggaran dan pemrograman yang kurang transparan mengakibatkan instansi-instansi sering mengadakan kegiatan yang tumpang tindih Korban malu melaporkan kejadian karena dianggap aib keluarga Kurangnya perhatian pemerintah terhadap LSM yang menangani anak terlantar, anak jalanan, anak putus sekolah dsb.

(ketersediaan data terpilah) Mengarahkan kegiatan pada program affirmative PUG dan responsif gender Pengalokasian dana yang responsif gender sebesar 5 % dari APBD dan program yang transparan

2.5 Revitalisasi Proses Desentralisasi dan Otonomi Daerah 1. Tercapainya sinkronisasi dan harmonisasi peraturan perundang-undangan pusat dan daerah 2. Meningkatnya kerjasama antar pemerintah daerah 3. Terbentuknya kelembagaan pemerintah daerah yang efektif, efisien, dan akuntabel 4. Meningkatnya kapasitas pengelolaan sumber daya aparatur pemerintah daerah yang

Jumlah, jenis dan bidang kerjasama antar pemda

Menyusun Perda yang menginduk kepada peraturan yang lebih tinggi yang disesuaikan dengan kondisi daerah -Kerjasama dengan Dep Kehutanan, Perum Perhutani, Pemda Jabar,

Mitra Praja Utama 10 provinsi Jabodetabek 3.741.495 (2005)

Adanya ketidakjelasan dan ketidaksinkronan antara peraturan pusat dan daerah seperti retribusi daerah pada perkebunan Pemerintah daerah belum sepenuhnya siap

Pemda memperbaiki kinerjanya dengan kompetisi sehat antar pemda dengan masingmasing keunikan daerah Dalam membuat perda hendaknya Pemda

219
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

5. 6.

profesional dan kompeten Terkelolanya sumber dana dan pembiayaan pembangunan secara transparan, akuntabe, dan profesional Tertatanya daerah otonom baru Jumlah PNS Jumlah pegawai honorer daerah Frekuensi pendidikan dan pelatihan pegawai

Pemda DKI, Pemda Kab. Bogor dan Pemda Kab. Lebak untuk kawasan hutan lindung -Kerjasama dengan Dep. Pertanian untuk penanaman durian lokal dan tanaman anggrek -Kerjasama dengan Ristek dalam Sistem Kedaruratan Bencana Industri

menerima konsep good governance Kurangnya sumberdaya yang profesional dan kompeten Ketidakpastian garis fungsi dan kewenangan antara pusat dan daerah Pemda kurang mempunyai informasi yang komprehensif tentang perundangundangan dan tentang pengambilan keputusan Terdapat Perda yang bermasalah karena didorong keinginan untuk meningkatkan PAD

melibatkan unsur yang kompeten sehingga tidak terjadi disharmonisasi perundang-undangan antara Pusat dan daerah

2.714 PNS Pemprov) jan 2006 PNS 3.226 (2008) 66,59% (2005)

Jumlah PAD (Rp Trilyun)

Jumlah DAU Jumlah DAK Jumlah Fiskal daerah

Pelatihan dan pengembangan sumberdaya manusia dalam berbagai aspek : manajemen, tatakelola, perencanaan, manajemen mutu, gugus tugas, pengawasan internal dll secara rutin dan berkesinambungan

1,598 (2005) 1,588 (2006) 1,909 (2007) 330,6M (2007) 2,58M (2007) 219.837.049.134 (2006) 81.843.279.983 (2007) 27,68M (2007)

Jumlah pengeluaran daerah Jumlah dan status daerah yang mengajukan daerah otonom baru

1,488T (2005) 1,812T (2006) 1,867T (2007)

220
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

2.6 Penciptaan tata Pemerintahan yang Bersih dan Berwibawa • Berkurangnya secara nyata praktek korupsi di birokrasi • Terciptanya sistem kelembagaan dan ketatalaksanaan pemerintahan yang bersih efisien, efektif, transparan profesional dan akuntabel • Terhapusnya aturan peraturan dan praktek yang bersifat diskriminatif terhadap warga Negara kelompok atau golongan masyarakat • Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pengambilan kebijakan publik • Terjaminnya konsistensi seluruh peraturan pusat dan daerah

Jumlah praktek korupsi dan penyelesaiannya di daerah

Visi pemerintahan Provinsi Banten adalah menciptakan pemerintahan baik dan bersih yang bertujuan meningkatkan perilaku birokrasi yang efisien dan efektif dengan sistem kelembagaan dan ketata laksanaan pemerintahan yang profesional dan akuntabel yang pada gilirannya dapat memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat.

Setidaknya, tercatat 25 perkara korupsi . Status perkara di antaranya tahap penyelidikan 10 perkara, tahap penyidikan 10 perkara, perkara yang tengah menjalani proses persidangan 3 perkara, tahap kasasi 1 perkara dan telah dihentikan penyelidikannya (SP3) satu perkara

Sebagaian besar tersangka kasus korupsi berasal dari pegawai negeri sipil (PNS) yang memangku jabatan di pemerintahan dan sebagian lagi anggota DPRD. Khusus untuk korupsi yang berkaitan dengan proyek pembangunan fisik, penikmat dari proyek tersebut yaitu pengusaha yang sebenarnya memperoleh keuntungan besar hanya relatif sedikit yang ditindak

Sanksi hukum yang tegas dan transparan bagi pelaku korupsi Tata pengelolaan yang baik (good governance) meliputi berbagai masyarakat, khususnya kelompok usaha. Dengan tata pengelolaan yang baik, pemerintahan akan berjalan secara efesien dan upaya untuk mengatasi masalah akan berjalan secara efektif.

2.7 Perwujudan Lembaga Demokrasi yang Makin Kokoh 1. Terlaksananya peran dan fungsi lembaga penyelenggara negara dan lembaga kemasyarakatan sesuai konstitusi dan peraturan perundangan yang berlaku 2. Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam proses penagambilan keputusan kebijakan publik 3. Terlaksananya pemilihan umum yang demokratis, jujur , dan adil pada tahun 2009

Jumlah parpol, orpol, dan LSM yang aktif

-Menciptakan kesadaran pada masyarakat akan pentingnya suatu pemilihan kepala daerah - Peningkatan kualitas fungsi dan peran lembaga legislatif, baik DPRD Provinsi maupun DPRD Kab/Kota -Perumusan kerangka politik yang lebih jelas mengenai kewenangan

Jumlah ormas = 126 Jumlah LSM = 106 (2007)

Pada pemilihan kepala daerah tahun 2006 , masih ada masyarakat yang tidak mengunakan hak pilihnya/golput. Selain itu juga ada sebagian masyarakat yang tidak mendapatkan kartu pemilih sehingga mereka tidak dapat mengikuti pilkada.

Harus ada sosialisasi yang banyak dari panitia pilkada untuk meyakinkan masyarakat bahwa peran serta mereka sangat besar di dalam penentuan siapa yang akan menjadi pemimpin mereka. Adanya kerjasama yang solid antara panitia pilkada di dalam menyosialisaikan segala urusan mengenai

221
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Jumlah masyarakat yang ikut pemilu

dan tanggungjawab antara pusat dan daerah dalam konteks desentralisasi dan otonomi daerah.

Thn 2006, Yang menggunakan hak pilih: -Kab. Serang 750,173 -Kota Cilegon 151,168 -Kab. Tangerang 1,138,983 -Kota Tangerang 520,677 - Kab. Lebak 532,670 - Kab. Pandeglang, 506,179

pilkada tersebut, sehingga masyarakat yang golput/tidak memilih dapat berkurang.

III

MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT
3.1 Penanggulangan Kemiskinan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Menurunnya persentase penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan menjadi 8,2 % pada tahun 2009 Terpenuhinya kebutuhan pangan yang bermutu dan terjangkau Terpenuhinya pelayanan kesehatan yang terjangkau Terpenuhinya pelayanan pendidikan dasar yang bermutu dan merata Terbukanya kesempatan kerja dan berusaha Terpenuhinya kebutuhan perumahan dan sanitasi yang layak dan sehat Terpenuhinya kebutuhan air bersih dan aman bagi masyarakat miskin Terbukanya akses masyarakat miskin dalam pemanfaatan SDA dan terjaganya kualitas lingkungan hidup Jumlah penduduk Miskin (orang) Proporsi Penduduk miskin Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Jumlah penganguran terbuka (%) 1. Program pelayanan rehabilitasi kesejahteraan sosial 2. Program peningkatan kualitas hidup 3. Program pengembangan lembaga ekonomi pedesaan 4. Program pencegahan dini dan penanggulangan korban bencana alam 5. Program Keluarga Berencana 6. Pembangunan RS Rujukan Provinsi, 830.500 (2005) 904.300 (2006) 886.200 (2007 8,86 (2005) 9,79 (2006) 9,07 (2007) 69,2 (2005) 71,8 (2006) 16,07 (2005) 16,76 (2006) 15,75 (2007) 1. Masih tingginya proporsi penduduk miskin 2. Masih terbatasnya kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan 3. Pemenuhan hak atas pendidikan 4. Masih terbatasnya akses masyarakat terhadap layanan pendidikan dan kesehatan 5. Masih terbatasnya akses masyarakat - Meningkatkan peran dan pemberdayaan lembaga dan institusi sosial kemasyarakatan dalam penanggulangan kemiskinan dan pelayanan kesejahteraan sosial - Meningkatkan volume dan nilai komoditas ekspor daerah - Meningkatkan standar UMKM dengan standar bisnis yang memadai

222
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

9.

Terjamin dan terlindunginya hak perorangan dan hak komunal atas tanah 10. Terjaminnya rasa aman dari tindak kekerasan 11. Meningkatnya partisipasi masyarakat miskin dalam pengambilan keputusan

PDRB per kapita (Rp juta) Peningkatan UKM

Umur Harapan Hidup (tahun) Angka Kematian Bayi per 1000 Kelahiran Hidup Angka Kematian Ibu per 100.000 3.2 Peningkatan Investasi dan Ekspor Nonmigas 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Terwujudnya iklim investasi yang sehat Peningkatan efisiensi pelayanan ekspor-impor kepelabuhan, kepabeanan,dan administrasi perpajakan Pemangkasan prosedur perijinan start up dan operasi bisnis ke tingkat efisiensi Meningkatnya investasi secara bertahap Meningkatnya pertumbuhan ekspor secara bertahap dari 5,2 % menjadi 9,8 % tahun 2009 Meningkatnya efisiensi dan efektifitas sistim distribusi nasional Meningkatnya kontribusi pariwisata dalam perolehan devisa Meningkatnya kontribusi kiriman devisa dari tenaga kerja Indonesia di luar negeri Jenis dan nilai investasi di daerah

Laboratorium Rujukan Provinsi, dan Balai PO 7. Seluruh desa menjadi desa siaga (POSKESDES) 8. Revitalisasi Puskesmas dan Posyandu 9. Pendidikan Masyarakat Lokal Bidang Kesehatan 10. Pemenuhan Sarana dan Prasarana P2PL dalam mendukung Surveilans Penyakit

9,05 (2005) 9,63 (2006) 881.138 (2005) 727.074 (2006) 873.614 (2007) 65 (2005) 64,8 (2006) 58,7 (2005) 50,6 (2006) 306 (2005) 310 (2006)

terhadap pemenuhan kebutuhan perumahan 6. Masih terbatasnya akses masyarakat terhadap layanan air bersih dan sanitasi 7. Masih terbatasnya akses masyarakat terhadap lapangan pekerjaan 8. Masih tingginya keluarga penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS)

- Memperbanyak industri padat karya yang dapat menyerap banyak tenaga kerja

•

• • • • Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara Jumlah wisatawan nusantara •

Penyederhanaan prosedur perijinan dan peningkatan pelayanan penanaman modal Memfasilitasi dan mengkoordinasikan kerjasama investasi Pengendalian realisasi penanaman modal Promosi potensi investasi terpadu Pengelolaan data dan informasi potensi investasi Banten Pengembangan sumberdaya penanaman modal

PMA : (Trilyun Rp) 34,337 (2006) 6,371 (2007) PMDN : (Trilyun Rp) 1,493 (2006) 1,1 (2007)

95.616 (2006) 99.603 (2007) 22.373.206 (2007)

Pada tahun 2005 realisasi investasi dapat ditingkatkan menjadi Rp.13,59 trilyun untuk 99 proyek. Pencapaian nilai proyek investasi tersebut telah menempatkan Banten sebagai tujuan investasi tertinggi di tingkat nasional. Masalah: Berdasarkan realisasi investasi (01-06), orientasi lokasi PMA masih terfokus pada Kabupaten dan Kota Tangerang (masingmasing 68,33% dan 21,67%) PMA untuk mengembangkan sumberdaya lokal

223
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

masih kurang dan jenis usaha sebagai matapencahariaan penduduk masih kapasitasnya relatif kecil. Masing-masing PMA untuk sektor usaha pertanian hortikultura , sayuran dan bunga (1 proyek), industri pengolahan, pengawetan buahbuahan dan sayuran (1proyek) serta industri tepung dan pati (1 proyek) 3.3 Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Sektor industri manufaktur (non migas) ditargetkan tumbuh dengan laju rata-rata 8,5 % per tahun Target penyerapan tenaga kerja dalam lima tahun mendatang adalah 500 ribu per tahun Terciptanya iklim usaha yang lebih kondusif bagi industri yang ada maupun investasi baru Peningkatan pangsa sektor industri manufaktur di pasar domestik Meningkatnya volume ekspor produk dalam total ekspor nasional Meningkatnya proses alih teknologi Meningkatnya penerapan standarisasi produk industri manufaktur Meningkatnya penyebaran industri manufaktur di luar pulau Jawa Jenis industri manufaktur 1. Penyelenggaraan program pelatihan kerja industri berbasis kompetensi 2. Penguatan kelembagaan Balai Pengembangan Teknis dan Standardisasi Industri (BPTSI) 3. Peningkatan profesionalisme tenaga pelatihan dan instruktur pelatihan industri 4. Peningkatan kerjasama bidang pelatihan industri 5. Pengembangan standar kompetensi industri dan sistem sertifikasi kompetensi pekerja industri Didominasi oleh industri karet dan barang dari karet / plastik, Industri kimia dan barang dari bahan kimia, industri makanan dan minuman, dan industri dari bahan logam. Masing-masing jumlahnya 205, 178, 167, dan 150 buah. Jumlah penyerapan tenaga kerja yang paling dominan adalah industri karet dengan persentase 21,53%. 1. Lemahnya struktur industri manufaktur Serta rendahnya kualitas SDM, tingkat produktivitas, dan kemampuan penguasaan teknologi 2. Belum memadainya layanan umum dan masih adanya praktek KKN mengakibatkan biaya overhead meningkat 3. Masih tingginya biaya modal dari lembaga keuangan/pemerintah 4.Administrasi perpajakan yang belum optimal 5. Membanjirnya produk-produk impor ilegal 6.Terbatasnya kapasitas - Pengembangan industri manufaktur di Provinsi Banten ditujukan agar dapat menyerap tenaga kerja sehingga dapat mengurangi kemiskinan. - Dalam struktur industri, dibangun industri hulu, perantara dan industri hilir sehingga memudahkan dalam pengadaan bahan baku, tidak selalu harus diimpor. - Suasana yang kondusif sangat diperlukan dalam menjaga kelangsungan industri yang sudah ada dan mendatangkan para investor baru. - Adanya balai-balai latihan kerja ataupun program-program sertifikasi memudahkan

Jumlah penyerapan tenaga kerja

224
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Jumlah kontribusi manufaktur daerah

Industri kimia dan barang dari bahan kimia, merupakan industri yang memberikan nilai tambah yang terbesar yaitu sebesar 7,46 trilyun rupiah.

infrastruktur dan timpangnya kondisi antardaerah

dalam meningkatkan kualitas SDM yang ada di Provinsi Banten dalam penguasaan teknologi. - Regulasi dari pemerintah dalam membendung produkproduk impor ilegal sangat diperlukan. - Infrastruktur jalan jembatan, dan pelabuhan sangat memudahkan akses transportasi baik aliran bahan baku maupun pengiriman hasil produksi.

3.4 Revitalisasi Pertanian 1. 2. 3. 4. Sektor Pertanian Masih berperan penting dalam penyerapan tenaga kerja Sebagian besar petani hidup dalam belitan kemiskinan Hutan dikelola secara tradisional Perkebunan belum dikelola secara optimal Tingkat produksi padi (ton) Penyusunan kebijakan ketahanan pangan Pengembangan bibit unggul pertanian/perkebunan Penyuluhan penerapan teknologi pertanian perkebunan dan kehutanan tepat guna Produksi padi meningkat dari 1.468.765 ton menjadi 1.812.495 ton Populasi ternak unggas meningkat dengan laju 16,7% Sektor pertanian (sektor primer) sebagai lapangan usaha terbesar dalam penyerapan tenaga kerja, mengalami penurunan sebesar 1,60 %, sehingga menempatkan kontribusi sebesar 8,17% hingga tahun 2006 Sebagian besar usaha petani masih bersifat subsisten dan sebagian besar petani termasuk golongan miskin Jumlah petani meningkat tetapi luas lahan menyempit yang disebabkan karena Penerapan teknologi pertanian, penyuluhan pertanian, peningkatan akses petani terhadap modal serta perluasan akses petani terhadap modal, serta perluasan lahan pertanian (ekstensifikasi) Pengembangan agribisnis dengan berorientasi pada nilai tambah Pengembangan produk unggulan Perbaikan kelembagaan dan sistem tataniaga, serta peningkatan prasarana dan sarana transportasi sebagai jalan

Populasi ternak unggas

225
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

terjadinya konversi lahan pertanian sebagai akibat dari perluasan kawasan perkotaan. Sebagian besar usaha petani masih diupayakan melalui pola tradisional, rendahnya SDM petani menghambat pemasaran produk pertanian sehingga menekan harga produk. Keterbatasan kemampuan dalam produksi ternak Pola pengusahaan hutan yang masih tradisional, potensi hasil hutan non kayu tidak dapat berkembang secara optimal sehingga berakibat pada rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat yang tinggal disekitar dan bergantung dari hutan Produksi dan produktivitas perkebunan yang diupayakan melalui perusahaan negara dan perkebunan rakyat belum optimal, serta pengelolaan oleh swasta masih relatif kecil (terbatas)

untuk usaha tani (farm road) Pengembangan investasi swasta dibidang perkebunan serta peningkatan produktivitas dan produksi perkebunan rakyat , serta didukung dengan perbaikan kelembagaan dan sistem tataniaga. Pengembangan dan peningkatan produksi ternak

226
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

3.5. Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah 1. 2. 3. 4. Meningkatkan jumlah UMKM dengan laju pertumbuhan lebih tinggi Meningkatnya proporsi usaha kecil formal Meningkatnya omzet usaha kecil dan menengah Meningkatnya penyerapan tenaga kerja Jumlah UMKM 1. Penerapan teknologi supervisi dan pendampingan 2. Pengembangan sentrasentra industri dan kerajinan 3. Peningkatan kemampuan pelaku UKM 4. Pemberdayaan industri kecil menengah di Provinsi 5. Penelitian dan pengembangan IPTEK 6. Pengembangan SDM KUKM dan penguatan jaringan pasar produk KUKM 7. Peningkatan manajemen pemasaran usaha bagi KSP/USP koperasi 8. Bimtek kewirausahaan bagi pemuda dan pemudi 9. Pengembangan jaringan infra struktur usaha kecil menengah Naik 20,15 persen dari 727.074 unit pada tahun 2006 menjadi 873.614 unit pada tahun 2007 Naik sebanyak 1.262.878 orang tahun 2005 menjadi 1.763.353 orang pada tahun 2007 Jumlah koperasi berkembang dari 5.115 buah tahun 2005 menjadi 5.338 buah pada tahun 2007 Kenaikan omzet usaha UKM sebesar 3,23 persen dari Rp.853.174.664 juta pada tahun 2006 menjadi Rp. 880.741.886 juta pada tahun 2007 Produktivitas UMKM rendah Akses terhadap sumberdaya produktif terutama terhadap permodalan , teknologi informasi dan pasar masih terbatas Penguasaan teknologi, manajemen, dan informasi pasar masih belum memadai Kurangnya pemahaman tentang koperasi sebagai badan usaha yang memiliki struktur kelembagaan (struktur organisasi, struktur kekuasaan dan struktur insentif) yang khas dibandingkan dengan badan usaha lainnya Pembangunan ekonomi pada bidang usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) serta koperasi diorientasikan pada pembinaan sumberdaya manusia dan kompetensi kewirausahaan Peningkatan bantuan kredit modal kerja dan investasi UMKM dan peningkatan pembinaan UMKM

Penyerapan tenaga kerja

Jumlah Koperasi

Omzet usaha UKM

3.6 Peningkatan Pengelolaan BUMN Meningkatnya kinerja dan daya saing BUMN dalam rangka memperbaiki pelayanannya kepada masyarakat dan memberikan sumbangan terhadap keuangan negara Jumlah dan jenis BUMN di daerah Penerapan Good Corporate Governance Meningkatkan PDRB 13 Perusahaan diantaranya pabrik baja, PLTU, dsb. Rendahnya daya saing BUMN Kurang efisien dalam menjalankan roda Agar BUMN meningkatkan efisiensi Untuk dapat bertahan BUMN harus

227
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Meningkatkan lapangan kerja Menciptakan stimulan bagi perekonomian daerah Pendapatan Asli Daerah meningkat Penciptaan iklim yang kondusif dengan orientasi pasar yang kompetitif Penetapan standar kinerja BUMN Pelaksanaan pengawasan dan evaluasi kinerja

perusahaan Adanya praktek penyimpangan wewenang dalam pelaksanaan privatisasi BUMN Kondisi ekonomi global yang tidak stabil Lemahnya pengawasan pemerintah

meningkatkan daya saing Mengkaji ulang rencana privatisasi BUMN seperti Krakatau Steel, perlu atau tidak Membuat terobosan baru agar kontribusi BUMN terhadap PAD meningkat Pemerintah mengevaluasi kinerja BUMN dengan sistem reward and punishment Tidak menggunakan dollar dalam bertransaksi di dalam negeri

3.7 Peningkatan Kemampuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 1. Tumbuhnya penemuan IPTEK baru sebagi hasil litbang nasional 2. Meningkatnya ketersediaan , hasil guna, dan daya guna sumber daya IPTEK 3. Tertatanya mekanisme intermediasi untuk meningkatkan pemanfaatan hasil litbang 4. Terwujudnya iklim yang kondusif bagi berkembangnya kreativitas, sistim pembelajaran, dan pengelolaan HAKI

Jumlah dan jenis IPTEK daerah

1. Pembentukan dan pengembangan kluster industri berbasis teknologi 2. Penerapan teknologi tepat guna 3. Peningkatan jumlah kerjasama riset dengan dunia usaha 4. Pembentukan lembagalembaga litbang dan pusat teknologi industri 5. Penemuan dan pengembangan teknologi bagi pelaku UKM

Kajian ekonomi pembangunan dan teknologi rekayasa sebesar 52%, kemudian kajian sosial budaya 24%, kajian bidang politik, hukum, dan pemerintahan sebesar 13%,dan sisanya kajian kewilayahan sebesar 11%. Balitbang Provinsi Banten

Kelembagaan IPTEK di daerah

1. Existing Condition, sebagian besar tema penelitian iptek belum didasarkan pada permasalahan strategis dan potensial, bahkan masih bersifat reaktifspontan 2. Hasil penelitian hanya sebagian kecil diaplikasikan bagi penyusunan kebijakan 3. Belum ada lembaga teknis daerah yang mengkoordinasikan perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian kegiatan riset di daerah

1. Untuk melaksanakan kelitbangan daerah diperlukan sebuah institusi mandiri setingkat eselon 2, dibantu oleh bidang teknis yang dapat melaksanakan tugas pokok dan fungsi penelitian dan pengembangan dalam berbagai bidang kajian pembangunan melalui pendekatan keilmuan. 2. Lembaga riset daerah sangat urgen untuk menunjang pembangunan daerah yang berkelanjutan. 3. Struktur organisasi lembaga riset harus jelas

228
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

kedudukannya dalam pemerintahan dan jaringan kelitbangan nasional dan internasional. 3.8 Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan Program perlindungan pengembangan lembaga ketenagakerjaan Program peningkatan kesempatan kerja Program transmigrasi regional Tingkat partisipasi kerja Program Perlindungan Pengembangan Lembaga Ketenagakerjaan Program Peningkatan Kesempatan Kerja Tingkat partisipasi angkatan kerja tahun 2007 61,70%, dibandingkan tahun 2006 mengalami peningkatan sebesar 5,08%, Tingkat pengangguran terbuka masih tinggi Tingkat upah disektor pertanian masih rendah Peningkatan pengawasan perlindungan dan penegakan hukum dibidang ketenagakerjaan 2. Sosialisasi berbagai peraturan tentang ketenagakerjaan 3.Kegiatan pendidikan dan pelatihan bagi pencari kerja 4.Kegiatan Fasilitas peningkatan UMP 5. Kegiatan pengembangan dan penyebarluasan Bursa Informasi Tenaga Kerja.

3.9 Pemantapan Stabilitas Ekonomi Makro Terpeliharanya stabilitas ekonomi makro yang dapat mendukung tercapainya pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi dan berkualitas serta peningkatan kemampuan pendanaan, baik yang bersumber dari pemerintah maupun swasta dengan tetap menjaga stabilitas nasional Angka pengangguran terbuka Prosentasi pengangguran terbuka Jumlah penduduk miskin (orang) Prosentasi penduduk miskin thdp penduduk Menurunkan angka pengangguran Menaikkan tingkat partisipasi angkatan keja Meningkatkan jumlah dan kualitas tenaga kerja yang berdaya saing. Membuat program kerja yang langsung bersentuhan dengan masyarakat Pelaksanaan berbagai program dalam rangka 636.847 orang Semakin meningkatnya angka pengangguran akibat kondisi ekonomi yang belum stabil sebagai dampak krisis moneter 1997 Menurun atau hilangnya pendapatan akibat PHK dan inflasi yang menyebabkan penduduk miskin bertambah Banyak program pemerintah yang belum tepat sasaran, tepat Pemerintah memmberikan subsidi kepada perusahan-perusahaan agar dapat beroperasi. Mendesain program ketrampilan yang mampu meningkatkan daya saing pekerja Mendesain program pemberdayaan masyarakat melalui pronsip partisipatori Melaksanakan program yang langsung

16,07 (2005) 16,76 (2006) 15,75 (2007) 830.500 (2005) 904.300 (2006) 886.200 (2007 8,86 (2005) 9,79 (2006) 9,07 (2007)

229
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Prosentasi kerja sektor pertanian

pengentasan kemiskinan Menciptakan lapangan kerja dengan cara pemerintah memberikan subsidi bagi dunia usaha seperti subsidi BBM Pemanfaatan lahan yang tidak produktif 22,43 %

jumlah ,dan tepat guna dalam upaya penanggulangan kemiskinan seperti BLT, Raskin, Gakin dll

bersentuhan dengan rakyat yang paling membutuhkan serta melakukan pengawasan untuk menjamin suksesnya pelaksanaan program tersebut. Pembangunan pertanian dan ekonomi perdesaan

Laju Pertumbuhan Ekonomi/LPE (%) Investasi/PMTB (Rp Trilyun) Pertumbuhan Ekonomi Daerah (PDB) % PDB per kapita (Juta Rp)

5,88 (2005) 6,24 (2006) 7,13 (2007) 12,45 (2005) 11,99 (2006)

Upah yang sangat rendah karena tingkat pendidikan dan keahlian yang rendah Iklim investasi yang kurang kondusif dari pemerintah daerah dan masyarakat . Menurunnya arus penanaman modal akibat ketidakpastian kondisi eksternal Terpusatnya arus modal pada beberapa daerah saja dan tidak didistribusikan ke daerah lain yang minim modal dan sumberdaya.

Meningkatkan pertumbuhan ekonomi Penciptaan iklim investasi yang kondusif

9.05 (2005) 9,63 (2006) 10,53 juta (2007)

Meningkatkan dayasaing dalam upaya menyikapi integrasi nasional maupun global Menerapkan kebijakan penggunaan rupiah untuk transaksi perusahan

3.10. Pembangunan Perdesaan 1. 2. 3. 4. 5. Meningkatnya Kuantitas dan Kualitas Jalan Meningkatnya sumber air baku dan pengendalian banjir Pengendalian tata ruang pemukiman dan fasilitas pembangunan perumahan layak huni Pengembangan sarana dan jaringan transportasi dan telekomunikasi Pembangunan pasar desa Jumlah jaringan jalan Pembangunan desa yang berkaitan dengan ketersediaan dan berfungsinya jaringan jalan dan jembatan, serta persediaan air baku Membangun pasar desa Pembangunan Jaringan jalan sebanyak 118 desa Pembangunan brokef sebanyak 3 Unit untuk persediaan air baku Meningkatnya kawasan kumuh di perdesaan Kurangnya jangkauan pelayanan bank terhadap masyarakat khususnya di wilayah perdesaan. Pada tahun 2005, indeks rasio jumlah desa yang memiliki bank 12,68 % Masih perlu dorongan pemerintah untuk membantu pengadaan layanan bank di wilayah perdesaan di Provinsi Banten sehingga pelayanan akses masyarakat terhadap lembaga keuangan dapat

Jumlah Brokef utk air baku

230
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Jumlah Jembatan

Pembangunan jembatan pada kawasan desa tertinggal (kawasan kumuh :118 desa) Pada tahun 2007 tercapai pembangunan pasar desa sebanyak 1 paket

angka ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan tahun 2003, yang nilainya mencapai 20,22%

meningkat.

Jumlah Pasar Desa

3.11 Pengurangan Ketimpangan Pembangunan Wilayah 1. Capaian indek perkembangan wilayah 2. Terwujudnya pembangunan kawasan ekonomi khusus 3. Pembangunan Jalur Jalan Strategis 4. Pembangunan Kawasan Pusat Pemerintah Provinsi Banten 5. Pembangunan PLTU Teluk Naga

Indeks perkembangan wilayah

Indeks Rasio Jalan

Ketersediaan sarana dan prasarana wilayah di Provinsi Banten cukup memadai walaupun sebaran dan distribusinya belum merata. Hal ini dapat dilihat dari rasio panjang jalan yang terdapat di Provinsi Banten. Rasio panjang jalan terhadap luas wilayah pada tahun 2005 yaitu 0,57 km per km2

Indeks perkembangan wilayah mencapai 32,5 (2005), angka ini setiap tahunnya meningkat Nilai indeks rasio jalan baru mencapai 56,93 % Rasio panjang jalan terhadap luas wilayah 0,57 km per km2 (th 2005)

Terdapat kesenjangan yang cukup sinifikan di kabupaten/kota yang terdapat di wilayah utara dibandingkan dengan kabupaten/kota di wilayah selatan Terbatasnya aksesibilitas wilayahwilayah yang berada di selatan yang merupakan kawasan produksi atau wilayah penghasil produkproduk pertanian Penurunan kualitas sarana dan prasarana wilayah karena kurangnya perawatan dan pemeliharaan Perlunya peningkatan akses transportasi dalam mengurangi kesenjangan antar wilayah

Perlunya penyiapan dukungan pengembangan kawasan ekonomi khusus terutama di wilayah Banten Selatan Perlunya percepatan pembangunan kawasan strategis (industri andalan dan agropolitan) Perlunya percepatan pembangunan kawasan tertinggal, kawasan pesisir, laut dan pulaupulau kecil

Rasio panjang jalan

231
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Belum memadainya kuantitas dan kualitas jaringan jalan nasional, provinsi dan kabupaten/ kota Perlunya penataan sistem transportasi Belum optimalnya penanganan keselamatan, keamanan dan ketertiban penyelenggaraan transportasi Perlunya revitalisasi dan penataan sistem dalam operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi Perlunya pembangunan waduk dalam meningkatkan ketersediaan sumber air baku Perlunya peningkatan dukungan penyediaan perumahan rakyat Belum memadainya kuantitas dan kualitas prasarana dan sarana lingkungan perumahan dan pemukiman Belum optimalnya koordinasi kelembagaan penataan ruang

232
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

3.12 Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Pendidikan yang Berkualitas 1. Meningkatnya taraf pendidikan penduduk Indonesia 2. Meningkatnya kualitas pendidikan 3. Meningkatnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan pembangunan 4. Meningkatnya efektifitas dan efisiensi manajemen pelayanan pendidikan

Angka Partisipasi Kejar (APK) Tingkat SD

• •

APK Tingkat SMP

•

APK Tingkat SMA

•

Angka melanjutkan SD ke SMP Angka melanjutkan SMPke SMA Angka Buta Aksara Jumlah SD, SLTP, SLA, murid, dan guru

•

Program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Program pendidikan sembilan tahun Program pendidikan menengah dengan kegiatan peningkatan sekolah kejuruan Program pendidikan tinggi dengan pengembangan mutu pendidikan tinggi Program pendididkan luar biasa

110,5 % (2005) 110,44% (2006) 106% (2007) 82,1% (2005) 85,28% (2006) 89,46% (2007) 48,0% (2005) 54,74% (2006) 56,16% (2007) 53,3% (2005), 72,3% (2006), 81,6% (2007) 74,7% (2005), 84,5% (2006), 5,4% (2007) 3,81% (2005), 4,40% (2006), 4,24% (2007) Jumlah SD 4.384, Murid 1.233.903, Guru 48.066 Jumlah SLTP 752, murid 310.238 SLA, Ratio Guru: Murid 15,84.

Tingginya biaya pendidikan Terbatasnya jumlah dan mutu sarana dan prasarana pendidikan Terbatasnya jumlah dan guru bermutu di daerah terpencil dan komunitas miskin Terbatasnya jumlah SLTP dan SLTA di daerah perdesaan, daerah terpencil dan kantong-kantong kemiskinan Terbatasnya jumlah, sebaran dan mutu program kesetaraan pendidikan dasar melalui pendidikan non formal

Menurunkan biaya pendidikan yang harus dibayar masyarakat karena anggaran pendidikan akan disediakan 20% dari APBN dan APBD Meningkatkan akses pelayanan terhadap pendidikan dengan jalan meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan Meningkatkan jumlah dan mutu guru, terutama untuk daerah terpencil dan daerah miskin Meningkatkan pemberantasan buta aksara

Jumlah Guru yang memenuhi kualifikasi

minimum 34.997 orang

233
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

3.13 Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Kesehatan yang Berkualitas Meningkatnya derajat kesehatan masyrakat melalui peningkatan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan

Umur Harapan Hidup

Angka kematian Bayi (per 1000 kelahiran)

Angka Kematian Ibu melahirkan (per 100.000 kelahiran hidup)

Meningkatkan mutu hidup masyarakat Banten. Meningkatkan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana dasar kesehatan seperti rumah sakit, puskesmas, posyandu, apotik, poliklinik, dokter praktek dan bidan praktek. Meningkatkan kualitas tenaga medis dan tenaga kesehatan di Provinsi Banten, dengan melakukan: 1. Peningkatan kesiapsiagaan penanggulangan bencana dengan lintas sektor terkait. 2. Rekruitmen dokter PTT, dokter gigi PTT,dan bidan desa di Provinsi Banten 3. Program standarisasi pelayanan kesehatan, peningkatan kualitas pelayanan kesehatan bagi tenaga medis dan tenaga paramedis. 4. Pelatihan Sistem Informasi Manajemen Kesehatan

65 (2005) 64,8 (2006)

Dibanding angka harapan hidup nasional, Banten masih relatif rendah Masih minimnya tenaga kesehatan, bidan desa yang tidak tinggal di tempat, prasarana kesehatan yang kurang mendukung, serta kurangnya dukungan anggaran Angka Kematian Ibu (AKI) di Banten masih terbilang tinggi, yakni 381 per 100 ribu kelahiran hidup dan terbesar berada di Kab. Serang, yakni 34% Penyebab utama kematian ibu masih didominasi oleh pendarahan yang terkait erat dengan kualitas pelayanan persalinan dan kondisi kesehatan ibu hamil. Lemahnya daya beli warga akan bahan makanan Penyelewengan dana bantuan gizi buruk oleh oknum

Perbaikan gizi masyarakat

58,7 (2005) 50,6 (2006)

Persalinan yang ditolong tenaga medis terkait erat dengan upaya menurunkan angka kematian bayi dan kematian ibu

306 (2005) 310 (2006)

Membuat payung hukum penurunan AKI, berupa peraturan daerah tentang Standar Pelayanan Minimum Kesehatan serta Peraturan Bupati tentang Penempatan bidan desa Pemerintah Daerah wajib mempertahankan dan bahkan meningkatkan komitmennya pada program keluarga berencana. Peningkatan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana kesehatan Mengalakkan program pengelolaan gizi di setiap Puskesmas di Banten

Angka gizi buruk

11.202 balita (2006) 7.612 balita (2007)

234
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

3.14 Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Sosial 1. 2. 3. 4. Meningkatnya aksesibilitas penyandang masalah kesejahteraan sosial terhadap pelayanan sosial dasar Meningkatnya kualitas hidup penyandang masalah kesejahteraan sosial Meningkatnya kemampuan dan kepedulian sosial masyarakat dalam pelayanan kesejahtreraan sosial Meningkatnya ketahanan sosial individu, keluarga,dan komunitas masyarakat dalam mencegah dan menangani permasalahan kesejahteraan sosial Tersusunnya sistem perlindunngan sosial nasional Meningkatnya keserasian kebijakan kesejahteraan sosial Terjaminnnya bantuan sosial dan meningkatnya penanganan korban bencana alam dan sosial Meningkatnya kualitas manajemen pelayanan kesejahteraan sosial Jumlah pelayanan sosial dasar -Pemberian bantuan sosial dan persiapan pelaksanaan penyaluran -Memberikan pelayanan/ penampungan dan perawatan -Meminimalisir permasalahan kesejahteraan sosial yang ada dimasyarakat - Peningkatan kualitas SDM kesejahteraan sosial dan masyarakat (karang taruna, organisasi sosial, dll) - Tenaga Kesejahteraan Masyarakat 6697 - Organisasi Sosial 1292 - Karang Taruna 1451 - Panti Sosial 183 - Anggota PKK 24.394 - LSM Wanita 410 Berbagai kerentanan dan kerawanan sosial merupakan sumber permasalahan masyarakat yang masih dihadapi yang dapat berdampak pada terjadinya gangguan ketenteraman dan ketertiban umum. Keberadaan PMKS tersebut merupakan potensi terhadap bertumbuhkembangnya masalah sosial dan penyimpangan perilaku masyarakat. Pemerintah daerah wajib memperbaiki kualitas pelayanan, sarana dan prasarana rehabilitasi kesejahteraan sosial bagi PMKS. Begitu juga di dalam melakukan pelayanan dan perlindungan sosial, hukum bagi korban eksploitasi, perdagangan perempuan dan anak. Juga tersedianya sarana dan prasarana tempat anak terlantar yang betul-betul kondusif serta pembinaan eks penyandang penyakit sosial ( eks narapidana, PSK, narkoba, dan penyakit sosial lainnya ).

5. 6. 7. 8.

Jumlah bencana sosial dan bencana alam

- Bencana sosial/pengungsi 3677 orang (2007) - Bencana alam18244 orang (2007) Meningkatnya pembangunan kependudukan Terkendalinya pertumbuhan penduduk dan meningkatnya keluarga kecil berkualitas 3,16 ( 2005) 3,08 (2006) 9% (2007)

3.15 Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Kecil Berkualitas serta Pemuda dan Olahraga 1. Terkendalinya pertumbuhan penduduk dan meningkatnya keluarga kecil berkualitas 2. Meningkatnya keserasian kebijakan kependudukan 3. Meningkatnya cakupan jumlah kabupaten dan kota dalam pelaksanaan sistim informasi administrasi kependudukan 4. Meningkatnya keserasian berbagai kebijakan pemuda di tingkat nasional dan daerah

Laju pertumbuhan penduduk (%) Unmeet Need KB (%)

Kebutuhan akan program KB, cukup tinggi. Namun sayangnya, jumlah kebutuhan masyarakat akan pelayanan KB yang belum terpenuhi (unmet need), juga tinggi. Sedikit lebih tinggi dibanding TFR nasional sebesar 2,26%

Meningkatkan peran perempuan sebagai penentu keputusan dalam merencanakan jumlah dan penjarangan kehamilan

Total Fertillity Rate (TFR) per perempuan

Penurunan angka Total Fertillity Rate (TFR) per perempuan

2,32% (2007)

Pendekatan reproduksi untuk remaja dan pasangan muda menjadi sangat penting karena

235
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

ternyata penurunan fertilitas adalah berasal dari kelompok generasi muda Contraceptive Prevalence Rate/CPR (%) Meningkatkan angka Contraceptive Prevalence Rate/CPR (%) 56,7% (2007) Lebih rendah dibanding CPR nasional sebesar 61,4% Penguatan Program Kesehatan Ibu dan Anak

3.16 Peningkatan Kualitas Kehidupan Beragama 1. 2. Peningkatan kualitas pelayanan dan pemahaman agama serta kehidupan beragama Peningkatan kerukunan internal dan antar umat beragama Jumlah umat beragama Meningkatkan kualitas kerukunan hidup beragama, dengan indikasi kegiatan : • dialog antar pemuka agama • musyawarah pemuka agama dengan pemerintah Peningkatan pemahaman, penghayatan, pengamalan, dan pengembangan nilainilai agama dengan indikasi kegiatan : • pembinaan pengurus masjid se-Banten • subsidi peningkatan sarana masjid dan TPA • pemberdayaan LPTQ • Penyelenggaraan MTQ tingkat nasional Luas kawasan hutan 386.865,83 ha Luas hutan negara meningkat dengan laju pertumbuhan sebesar 1,96 Jumlah umat beragama: Islam 89,9% Kristen 5,48% Katholik 1,26% Hindu 8,75% Budha 3,20% Terlaksananya MTQ tingkat Nasional Menurunnya budaya akibat pergaulan global Pembinaan kerukunan umat beragama Pembinaan dan dialog antar umat beragama Pembinaan Taman Alqur'an dan pengajian

Jenis acara keagamaan bersifat nasional

3.17 Perbaikan Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Pelestarian Fungsi Lingkungan Hidup 1. Mengarustamakan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan keseluruh bidang pembangunan 2. Melaksanakan pembangunan yang sesuai dengan kebijakan pemanfaatan ruang pada RTRW

Luas hutan negara

Luas hutan negara mengalami peningkatan antara tahun 2003 (78,65 ribu

Kerusakan dan konversi Pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan hutan hidup Kerusakan dan pencemaran lingkungan Peningkatan kualitas dan akses informasi

236
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

3. 4.

5.

6. 7. 8. 9.

Meningkatkan pengelolaan hutan dan keanekaragaman hayati termasuk sistem pengawasan dan penegakan hukumnya Mengelola sumberdaya kelautan, termasuk pulau-pulau kecil secara lestari serta melaksanakan sistem pengendalian dan pengawasannya Meningkatkan pengelolaan (eksplorasi dan eksploitasi) sumberdaya mineral dengan selalu memperhatikan aspek lingkungan hidup Peningkatan pengamanan kawasan sumberdaya air dan pemanfaatannya Meningkatkan koordinasi pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup di tingkat nasional dan daerah Peningkatan pengelolaan pencegahan dan penanggulangan bencana alam Pengaturan dan pengendalian pengelolaan limbah industri dan non industri

Laju pertumbuhan hutan negara Luas hutan produksi

Proporsi hutan negara terhadap luas meningkat dari 8,94 menjadi 9,11 ha Pemanfatan sumberdaya perikanan mencapai 82,09 %

ha) ke tahun 2004 (80,19 ribu ha) 1,96%, Keberadaan hutan produksi tetap mengalami peningkatan dari 53,53 ribu ha pada tahun 2003 menjadi 72,3 ribu ha hingga tahun 2004 35,05%.

Belum mampu mencegah dan menanggulangi bencana Illegal logging Ekplorasi belum optimal Belum memanfaatkan sumber daya energi alternatif Pergeseran fungsi hutan karena pengalihan fungsi hutan lindung menjadi hutan produksi terbatas dengan laju penurunan mencapai 82,98 % (12689,95 Ha)

sumberdaya alam dan lingkungan hidup, Perlindungan dan konservasi sumberdaya alam

Laju pertumbuhan hutan produksi Tingkat pencemaran air

Tahun 2005 rasio jumlah desa /kelurahan yang terkena pencemaran air mencapai 115 dari total jumlah desa sebesar 1.483 desa dan kelurahan. Tahun 2005, rasio desa yang mengalami pencemaran setiap tahunnya tidak berubah yaitu kurang lebih 170 desa atau 13% dari total desa di Provinsi Banten.

Tingkat pencemaran udara

Kerusakan tata air seperti keberadaan dan fungsi DAS Ciujung sebagai bagian dari SWS Ciujung-Ciliman yang ditetapkan sebagai salah satu DAS kritis dalam RTRWN (Draft Oktober 2004) Masalahnya : 1. Stilling basin kurang panjang 2. Pengendapan lumpur yang cukup banyak di saluran induk. 3. Hutan di hulu sungai mulai gundul

237
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

4. Masih tingginya pencemaran air 5. Penanganan sungai yang masih bersifat parsial melalui APBN maupun APBD 6. Kondisi situ/danau luasnya menyempit dan funsinya sebagai penyimpan air berkurang 7. Pengambilan air yang berlebih tidak sesuai dengan kajian teknis Perusakan habitat ekosistem di wilayah pesisir dan laut semakin meningkat khususnya di wilayah pantai barat, penyebabnya : abrasi dan akresi,segmentasi daerah pesisir di Kabupaten Tangerang dan Serang, perusakan dan konversi hutan mangrof di pantai utara , illegal fishing, serta penambangan terumbu karang dan penyedotan pasir laut di wilayah sekitar Pulau Panjang dan Pontang masih diperkirakan terjadi yang memperparah kondisi habitat ekosistem pesisir dan laut. Belum optimalnya pengembangan (pembangunan)

238
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

kawasan tertinggal, kawasan pesisir laut, dan pulau-pulau kecil. Kerusakan ekosistem pesisir, laut , dan pengelolaan pulaupulau kecil Pengelolaan daerah aliran sungai 3.18 Peningkatan Kapasitas, Kualitas dan Aksesibilitas Pelayanan Infrastruktur Pembangunan sumber daya air 1. Tercapainya pengelolaan sumber daya air yang terpadu dan berkelanjutan 2. Terkendalinya potensi konflik air 3. Terkendalinya pemanfaatan air tanah 4. Meningkatnya kemmapuan pemenuhan kebutuhan air bagi rumah tangga, pemukiman,pertanian, dan industri 5. Berkurangnya dampak bencana banjir dan kekeringan 6. Terkendalinya pencemaran air 7. Terlindunginya daerah pantai dari abrasi air laut 8. Meningkatnya partisipasi aktif masyrakat 9. Meningkatnya kualitas koordinasi dan kerjasama antar instansi 10. Terciptanya pola pembiayaan yang berkelanjutan 11. Tersedianya data dan sistim informasi yang actual, akurat dan mudah diakses 12. Pulihnya kondisi sumber-sumber air Pembangunan prasarana jalan 1.Terpeliharanya dan meningkatnya daya dukung kapasitas dan kualitas pelayanan jalan 2. Meningkatnya aksesibilat wilayah yang sedang dan belum berkembang 3. terwujudnya partisipasi aktif pemerintah, BUMN, maupun swasta dalampenyelenggraan, pelayanan prasaran jalan Pembangunan LLAJ Meningkatnya kondisi prasarana LLAJ terutama Jenis dan kualitas prasarana jalan • Jalan Nasional Provinsi, kabupaten/kota 8.800,83 km² Tahun 2006 Baik 23 % Sedang 43 % Rusak 34 % 73 orang (2005) 104 orang (2006) 184 org (2007) Jalur rel 305,5 km 176 perlintasan sebidang 23 stasiun Degradasi lingkungan akibat maraknya perambahan hutan Meningkatnya kerusakan DAS Kerusakan situ/danau Tidak terdistribusinya Sumber Daya Air secara merata Semakin berkembangnya kawasan pemukiman Industri telah merusak area resapan air Banyaknya lokasi kemacetan lalu lintas akibat perubahan tata guna lahan Keterbatasan daya dukung jalan maupun rekayasa lalu lintas Keterbatasan daya Meningkatkan ketersediaan sumber air baku. Membuat perencanaan terpadu pembangunan sarana dan prasarana. Penataan sistem tranportasi secara terpadu

Jenis dan kualitas prasarana LLAJ

•

Jumlah dan tingkat kecelakaan lalu lintas

•

Jumlah prasarana dan sarana Kereta Api

•

Pengaturan mengenai pengelolaan dan pemanfaatan Sumber Daya Air secara bijak . Meningkatkan operasi dan pemeliharaan infrastruktur yang telah dibangun. Setiap daerah bertanggung jawab menyediakan kebutuhan dana operasi dan pemeliharaan prasarana air . Meningkatkan peran serta masyarakat dalam membangun sarana dan prasarana

-

-

-

Meningkatkan kuantitas dan kualitas jaringan jalan Nasional, Provinsi, kabupaten/kota. Meningkatkan akses transportasi dalam mendukung lancarnya mobilitas penduduk dan pengangkutan hasi-hasil pertanian Bermitra dengan pihak lain dalam pengadaan rumah rakyat dengan sistem subsidi atau kredit murah

-

-

-

239
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

menurunnya jumlah pelanggaran lalu lintas dan muatan lebih di jalan sehingga dapat menurunkan kerugian ekonomi yang diakibatkannya

Pembangunan Perkeretaapian Upaya pencapaian operasi yang aman untuk jangka pendek umumnya untuk kondisi yang sangat jelek dan untuk mencapai tingkat keandalan 60 %

dukung jalan untuk mendukung permintaan, pergerakan barang, dan pelanggaran muatan Penumpukan penumpang terutama pada jam sibuk Masih sangat rendahnya pelayanan angkutan barang sehingga belum mampu melayani kawasan – kawasan tempat produksi Adanya peningkatan permintaan angkutan penyeberangan menyebabkan stagnasi Kerusakan produk akibat gangguan kelancaran lalu lintas penyebrangan

Meningkatkan ketersediaan sumber air baku untuk didistribusikan kepada masyarakat. Menerapkan sanksi bagi pihak-pihak yang mencemari, merusak dan mengganggu kenyamanan dan keberadan sarana dan prasarana Melengkapi sistem jaringan, ketersediaan dan penyiapan lahan dalam membangun irigasi Meminimalkan adanya kawasan kumuh yang dapat mengganggu kenyamanan.

-

-

Pembangunan ASDP Meningkatnya jumlah prasarana dermaga untuk meningkatkan jumlah lintas penyebrangan baru yang siap operasi maupun meningkatkan kapasitas lintas penyeberangan yang padat

•

•

Pembangunan Transportasi Laut Meningkatnya pangsa pasar armada pelayaran nasional baik untuk angkutan laut, dalam negeri maupun luar negeri

Terbatasnya kapasitas pelabuhan dan daya dukung akses jalan menyebabkan antrian bongkar muat dan gangguan kelancaran lalu lintas yang

240
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

Pembangunan Transportasi Udara Terjaminnya keselamatan kelancaran dan kesinambungan pelayanan transportasi udara baik untuk angkutan penerbangan domestik, internasional maupun perintis Pembangunan energi Peningkatan efisiensi dan rehabilitasi infrastruktur energi sehingga pertumbuhan permintaan energi dapat ditekan Pembangunan Kelistrikan 1.Penambahan kapasitas pembangkit sekitar 12.267 MW 2. Rasio elektrifikasi tahun 2009 meningkat menjadi 67,9 % Pembangunan Pos dan Telematika Terjaganya kualitas pelayanan pos di 3.760 kecamatan Pembangunan Perumahan Pemenuhan kebutuhan hunian bagi masyarakat melalui terciptanya pasar primer yang sehat efisien, akuntabel, tidak diskriminatif, dan terjangkau Pembangunan Air Minum dan Limbah Meningkatnya cakupan pelayanan air minum perpipaan secara nasional hingga mencapai 40 % pada akhir tahun 2009 Pembangunan Persampahan dan Drainase Meningkatnya jumlah sampah terangkut hingga 75 % sampai akhir tahun 2009 3.19 Penanganan dan Pengurangan Resiko Bencana 1. Meletakkan pengurangan resiko bencana sebagai prioritas nasional dan daerah yang implementasinya dilaksanakan oleh kelembagaan yang kuat 2. Mengidentifikasi, mengkaji, dan memantau resiko bencana serta peringatan dini 3. Memanfaatkan pengetahuan , inovasi, dan pendidikan untuk membangun budaya

berdampak pada kelancaran ekspor impor Permintaan yang meningkat dan mendekati kapasitas mengakibatkan kesemrawutan pengelolaan Semakin meluasnya kawasan kumuh Masih banyaknya desa yang belum bisa menikmati lstrik Masih ada perusahaan yang tidak mempunyai tempat pembuangan limbah

Rendahnya dukungan penyediaan rumah rakyat Semakin meluasnya kawasan kumuh. Kerjasama penanggulangan bencana Pembinaan mental korban pasca bencana Informasi penanganan bencana Pembinaan dan fasilitasi penanganan bencana Pemantauan dan penyebar luasan Adanya kerjasama dengan Kementerian Negara Riset dan Teknologi (RISTEK), yaitu di Provinsi Banten Kurangnya pemahaman masyarakat terhadap karakteristik bahaya. Sikap dan perilaku yang mengakibatkan penurunan kualitas sumber daya alam, Pemerintah cepat tanggap terhadap kebutuhan para pengungsi. Selain itu Pemerintah Daerah harus memberikan sanksi yang tegas kepada industri yang melakukan pembuangan limbah

241
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009

4. 5.

keselamatan dan ketahanan seluruh tingkatan Mengurangi akar-akar penyebab resiko bencana Memperkuat kesiapan pemerintah dan masyarakat dalam megantisipasi bencana di masa yang akan datang

informasi potensi bencana alam Pelatihan petugas evakuasi korban

akan di pasang Sistem Radio FM RDS ( Frequency Modulation Radio Data System ) dan sistem pengendali sirene

misalnya dengan penebangan pohon di hutan secara liar, pembuangan limbah pabrik yang sembarangan mengakibatkan pencemaran. Kurangnya informasi atas peringatan dini yang mengakibatkan ketidaksiapan menghadapi bencana.

sembarangan, begitu juga dengan perusahaan yang melakukan pengerukan tanah/bukit yang seharusnya menjadi lahan serapan air.

242
Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004 – 2009


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags: Evaluasi, RPJMN
Stats:
views:32079
posted:1/28/2009
language:Indonesian
pages:252