Provinsi Bangka Belitung

Document Sample
Provinsi Bangka Belitung Powered By Docstoc
					KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT, laporan ini kami susun sebagai bentuk bentuk pertanggungjawaban tim EKPD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Laporan berikut ini merupakan hasil diskusi kami yang panjang berkaitan dengan capaian kinerja RPJMN di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Oleh karena itu, laporan ini merupakan sebuah pekerjaan kolektif yang akhirnya dapat dijadikan alat ukur bagi semua kalangan yang berkompeten. Laporan ini berisikan kondisi awal, sasaran, arah kebijakan, upaya, capaian, permasalahan capaian, dan rekomendasi tindak lanjut. Data diuraikan per bab dalam tiga kategori utama, yaitu agenda aman dan damai, agenda adil dan demokratis, dan agenda kesejahteraan. Di samping itu, laporan ini juga berisi isu-isu strategis yang harus diperhatikan oleh para decision maker berkaitan dengan kompleksitas permasalahan serta proyeksi yang akan terjadi. Kami mencatat isu penting yang harus diperhatikan oleh pemerintah pusat dan daerah, misalnya soal pertambangan di Bangka Belitung yang berdampak sangat luas pada krisis lingkungan hidup. Dampak ekonomi global juga menjadi persoalan serius dewasa ini yang harus dicarikan jalan keluarnya. Kami tentu menyadari bahwa laporan ini tidak diniatkan untuk mencari cela-cela kesalahan pemerintah daerah, melainkan sebagai paparan data objektif mengenai capaian kinerja pemerintah daerah. Memang data yang tersaji belumlah maksimal mengingat satker di daerah sendiripun relatif masih baru dalam hal pendataan, namun kami tetap yakin bahwa laporan ini cukup komprehensif untuk mengukur perkembangan proses pelayanan kepada publik di provinsi ini. Akhirnya, kami ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu agenda penting ini, terutama kepada Bappenas yang telah mempercayakan kami untuk bekerja dalam sebuah tim yang solid. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh perangkat pemerintah daerah atas kerjasamanya dalam hal pendataan, begitu juga dengan pihak rektorat UBB yang telah memfasilitasi agenda ini. Kepada semua anggota tim, semoga kerjasama ini dapat terus terjalin dengan baik. Semoga laporan ini bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan.

Tim EKPD Babel 2008 Ketua,

Ibrahim, S.Fil., M.Si. NP.608107006

iii

iv

SAMBUTAN REKTOR UNIVERSITAS BANGKA BELITUNG Idealnya, sebuah proses pembangunan harus terukur dengan jelas. Indikator capaian disusun secara sistematis berdasarkan target-target tertentu dengan basis analisis kemampuan, kemungkinan yang akan terjadi, dan potensi yang dimiliki secara internal. Proses pembangunan juga merupakan ramuan yang ilmiah tentang kebijakan publik yang menyandarkan diri pada analisis ilmiah dan visioner. Itulah sebabnya sebuah rumusan kebijakan publik harus mampu mensimulasikan idealita dan realita. Bagaimanapun perencanaan pembangunan terkonteks dalam realita sosial tanpa mengabaikan idealita. Evaluasi kinerja pemerintahan tiga tahun (2004-2007) merupakan pekerjaan yang memiliki nilai penting bagi upaya untuk memetakan keberhasilan pemerintahan. Bagaimanapun peta keberhasilan ini menjadi penanda keberhasilan sistem. Berbicara sebuah sistem berarti kita berbicara pekerjaan kolektif. Hasilnya adalah pekerjaan bersama. Oleh karena itu, kinerja pemerintah berarti juga kinerja kolektif antara masyarakat, pemerintah, dan komponen swasta. Saya melihat bahwa capaian kinerja pemerintah tiga tahun terakhir yang terpapar dengan gamblang dalam laporan ini memberikan sebuah peta sosio statistika yang menggambarkan keberhasilan pemerintah. Sebagai sebuah provinsi baru, saya optimis masyarakat di daerah ini mampu untuk merasakan kinerja pemerintah tersebut. Dalam konteks lokal, saya melihat pemerintah provinsi bersama-sama dengan berbagai elemen di daerah telah berusaha optimal menjabarkan target-target yang tersusun dari pemerintah pusat. Kalaupun toh masih ada beberapa sektor yang tersendat, misalnya listrik, kesehatan, pendidikan, dan pengelolaan sumber daya alam, kita anggap saja sebagai bagian dari dinamika perkembangan yang tidak berada pada satu garis lurus. Saya mengucapkan terima kasih kepada kawan-kawan penyusun yang telah bekerja secara intensif dalam beberapa bulan terakhir ini untuk merekam jejak keberhasilan pemerintah di daerah. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Badan Perencanaan Pembangunan Nasional yang telah memberikan kepercayaan kepada Universitas Bangka Belitung untuk mengerjakan proyek penting ini. Semoga laporan ini dapat menjadi bahan refleksi bersama bagi upaya peningkatan kualitas dan kuantitas pembangunan secara berkelanjutan. Pangkalpinang, 28 November 2008 Rektor,

Prof. Dr. Bustami Rahman, M.S. NIP.130802223

DAFTAR ISI

Sambutan Rektor Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Bagian 1 Pendahuluan Bab 1.1

...................................................................................................................... ...................................................................................................................... ...................................................................................................................... ......................................................................................................................

ii iii iv xi

Pendahuluan ......................................................................................................................

1

Bagian 2 Agenda Mewujudkan Indonesia Yang Aman dan Damai Bab 2.1 Pengantar Agenda Mewujudkan Indonesia Yang Aman dan Damai ...................................... Bab 2.2 I. II. III. IV. V. VI. VII. Bab 2.3 I. II. III. IV. V. VI. VII. Bab 2.4 I. II. III. IV. V. VI. VII. Peningkatan Rasa Saling Percaya ......................................................................................... Pengantar ................................................................................................................................ Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................ Sasaran Yang Ingin Dicapai ................................................................................................... Arah Kebijakan ........................................................................................................................ Pencapaian RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................... Rekomendasi Tindak Lanjut ..................................................................................................... Penutup ................................................................................................................................... Pengembangan Kebudayaan Yang Berlandaskan Pada Nilai-Nilai Luhur ............................ Pengantar ................................................................................................................................ Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................ Sasaran Yang Ingin Dicapai ................................................................................................... Arah Kebijakan ........................................................................................................................ Pencapaian RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................... Rekomendasi Tindak Lanjut ..................................................................................................... Penutup ................................................................................................................................... Peningkatan Keamanan,Ketertiban, dan Penanggulangan Kriminalitas ............................ Pengantar ................................................................................................................................ Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................ Sasaran Yang Ingin Dicapai ................................................................................................... Arah Kebijakan ........................................................................................................................ Pencapaian RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................... Rekomendasi Tindak Lanjut ..................................................................................................... Penutup ................................................................................................................................... 1 7 7 7 7 8 8 10 10 11 11 11 11 12 13 14 14 15 15 15 15 16 17 18 19

iv

Bab 2.5 Pencegahan dan Penanggulangan Separatisme .................................................................... Bab 2.6 Pencegahan dan Penanggulangan Gerakan Terorisme ......................................................... Bab 2.7 Peningkatan Kemampuan Pertahanan Negara ...................................................................... Bab 2.8 Pemantapan Politik Luar Negeri dan Peningkatan Kerjasama Internasional .......................... Bagian 3 Agenda Mewujudkan Mewujudkan Indonesia Yang Adil dan Demokratis Bab 3.1 Pengantar Agenda Mewujudkan Indonesia Yang Adil dan Demokratis .................................. Bab 3.2 I. II. III. IV. V. VI. VII. Pembenahan Sistem Hukum Nasional dan Politik Hukum .................................................... Pengantar ................................................................................................................................ Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................ Sasaran Yang Ingin Dicapai ................................................................................................... Arah Kebijakan ........................................................................................................................ Pencapaian RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................... Rekomendasi Tindak Lanjut ..................................................................................................... Penutup ...................................................................................................................................

20 21 22 23

24 32 32 32 32 33 34 35 35 36 36 36 36 37 38 39 39 40 40 40 41 41 41 43 44 45 45 45 46 46 46 47 48

Bab 3.3 Penghapusan Diskriminasi Dalam Berbagai Bentuk ………................................................... I. II. III. IV. V. VI. VII. Bab 3.4 I. II. III. IV. V. VI. VII. Pengantar ................................................................................................................................ Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................ Sasaran Yang Ingin Dicapai ................................................................................................... Arah Kebijakan ........................................................................................................................ Pencapaian RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................... Rekomendasi Tindak Lanjut ..................................................................................................... Penutup ................................................................................................................................... Penghormatan, Pengakuan, dan Penegakan Atas Hukum dan Hak Asasi Manusia …….. . Pengantar ................................................................................................................................ Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................ Sasaran Yang Ingin Dicapai ................................................................................................... Arah Kebijakan ........................................................................................................................ Pencapaian RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................... Rekomendasi Tindak Lanjut ..................................................................................................... Penutup ...................................................................................................................................

Bab 3.5 Peningkatan Kualitas Kehidupan dan Peran Perempuan Serta Kesejahteraan dan Perlindungan Anak ................................................................................................................. I. Pengantar ................................................................................................................................ II. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................ III. Sasaran Yang Ingin Dicapai ................................................................................................... IV. Arah Kebijakan ........................................................................................................................ V. Pencapaian RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................... VI. Rekomendasi Tindak Lanjut ..................................................................................................... VII. Penutup ................................................................................................................................... v

Bab 3.6 I. II. III. IV. V. VI. VII. Bab 3.7 I. II. III. IV. V. VI. VII. Bab 3.8 I. II. III. IV. V. VI. VII.

Revitalisasi Proses Desentralisasi dan Otonomi Daerah ……………………………………… Pengantar ................................................................................................................................ Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................ Sasaran Yang Ingin Dicapai ................................................................................................... Arah Kebijakan ........................................................................................................................ Pencapaian RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................... Rekomendasi Tindak Lanjut ..................................................................................................... Penutup ................................................................................................................................... Penciptaan Tata Pemerintahan yang Bersih dan Berwibawa ............................................... Pengantar ................................................................................................................................ Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................ Sasaran Yang Ingin Dicapai ................................................................................................... Arah Kebijakan ........................................................................................................................ Pencapaian RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................... Rekomendasi Tindak Lanjut ..................................................................................................... Penutup ................................................................................................................................... Perwujudan Lembaga Demokrasi yang Makin Kokoh............................................................. Pengantar ................................................................................................................................ Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................ Sasaran Yang Ingin Dicapai ................................................................................................... Arah Kebijakan ........................................................................................................................ Pencapaian RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................... Rekomendasi Tindak Lanjut ..................................................................................................... Penutup ...................................................................................................................................

49 49 49 51 51 52 54 55 56 56 56 57 58 60 65 65 67 67 67 67 67 68 70 71

Bagian Empat Agenda Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat Bab 4.1 Pengantar Agenda Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat …………....................................... Bab 4.2 I. II. III. IV. V. VI. VII. Penanggulangan Kemiskinan ................................................................................................. Pengantar ................................................................................................................................ Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................ Sasaran Yang Ingin Dicapai ................................................................................................... Arah Kebijakan ........................................................................................................................ Pencapaian RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................... Rekomendasi Tindak Lanjut ..................................................................................................... Penutup ................................................................................................................................... 72 79 79 79 80 81 81 88 89 90

Bab 4.3 Peningkatan Investasi dan Ekspor Non Migas .......................................................................

vi

Bab 4.4 I. II. III. IV. V. VI. VII. Bab 4.5 I. II. III. IV. V. VI. VII. Bab 4.6 I. II. III. IV. V. VI. VII. Bab 4.7 I. II. III. IV. V. VI. VII. Bab 4.8 I. II. III. IV. V. VI. VII.

Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur ........................................................................ Pengantar ................................................................................................................................ Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................ Sasaran Yang Ingin Dicapai ................................................................................................... Arah Kebijakan ........................................................................................................................ Pencapaian RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................... Rekomendasi Tindak Lanjut ..................................................................................................... Penutup ................................................................................................................................... Reviltalisasi Pertanian ............................................................................................................ Pengantar ................................................................................................................................ Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................ Sasaran Yang Ingin Dicapai ................................................................................................... Arah Kebijakan ........................................................................................................................ Pencapaian RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................... Rekomendasi Tindak Lanjut ..................................................................................................... Penutup ................................................................................................................................... Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah .......................................... Pengantar ................................................................................................................................ Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................ Sasaran Yang Ingin Dicapai ................................................................................................... Arah Kebijakan ........................................................................................................................ Pencapaian RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................... Rekomendasi Tindak Lanjut ..................................................................................................... Penutup ................................................................................................................................... Peningkatan Pengelolaan BUMN …………………………………............................................ Pengantar ................................................................................................................................ Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................ Sasaran Yang Ingin Dicapai ................................................................................................... Arah Kebijakan ........................................................................................................................ Pencapaian RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................... Rekomendasi Tindak Lanjut ..................................................................................................... Penutup ................................................................................................................................... Peningkatan Kemampuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi …………………….................... Pengantar ................................................................................................................................ Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................ Sasaran Yang Ingin Dicapai ................................................................................................... Arah Kebijakan ........................................................................................................................ Pencapaian RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................... Rekomendasi Tindak Lanjut ..................................................................................................... Penutup ...................................................................................................................................

91 91 92 93 94 95 96 96 97 97 97 98 99 101 109 111 112 112 112 113 114 115 118 119 120 120 120 122 123 123 126 126 127 127 127 128 128 129 130 130

vii

Bab 4.9 I. II. III. IV. V. VI. VII.

Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan ……………………………..…………………….................... Pengantar ................................................................................................................................ Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................ Sasaran Yang Ingin Dicapai ................................................................................................... Arah Kebijakan ........................................................................................................................ Pencapaian RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................... Rekomendasi Tindak Lanjut ..................................................................................................... Penutup ...................................................................................................................................

131 131 131 132 133 134 140 142 143 144 144 145 145 146 147 149 151 152 152 152 153 154 155 157 159 160 160 162 162 165 166 168 169 171 171 171 172 172 173 175 179

Bab 4.10 Pemantapan Stabilitas Ekonomi Makro ............................................................................... Bab 4.11 Penanggulangan Pedesaan ........……………………………..…………………….................... I. Pengantar ................................................................................................................................ II. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................ III. Sasaran Yang Ingin Dicapai ................................................................................................... IV. Arah Kebijakan ........................................................................................................................ V. Pencapaian RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................... VI. Rekomendasi Tindak Lanjut ..................................................................................................... VII. Penutup ................................................................................................................................... Bab 4.12 Pengurangan Ketimpangan Pembangunan Wilayah ............................................................. I. Pengantar ................................................................................................................................ II. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................ III. Sasaran Yang Ingin Dicapai ................................................................................................... IV. Arah Kebijakan ........................................................................................................................ V. Pencapaian RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................... VI. Rekomendasi Tindak Lanjut ..................................................................................................... VII. Penutup ................................................................................................................................... Bab 4.13 Peningkatan Akses Masyarakat Terhadap Pendidikan yang Berkualitas ............................. I. Pengantar ................................................................................................................................ II. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................ III. Sasaran Yang Ingin Dicapai ................................................................................................... IV. Arah Kebijakan ........................................................................................................................ V. Pencapaian RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................... VI. Rekomendasi Tindak Lanjut ..................................................................................................... VII. Penutup ................................................................................................................................... Bab 4.14 Peningkatan Akses Masyarakat Terhadap Kesehatan yang Berkualitas ............................... I. Pengantar ................................................................................................................................ II. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................ III. Sasaran Yang Ingin Dicapai ................................................................................................... IV. Arah Kebijakan ........................................................................................................................ V. Pencapaian RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................... VI. Rekomendasi Tindak Lanjut ..................................................................................................... VII. Penutup ...................................................................................................................................

viii

Bab 4.15 Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Sosial ........................................................... I. Pengantar ................................................................................................................................ II. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................ III. Sasaran Yang Ingin Dicapai ................................................................................................... IV. Arah Kebijakan ........................................................................................................................ V. Pencapaian RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................... VI. Rekomendasi Tindak Lanjut ..................................................................................................... VII. Penutup ................................................................................................................................... Bab 4.16 Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Kecil Berkualitas serta Pemuda dan Olahraga I. Pengantar ................................................................................................................................ II. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................ III. Sasaran Yang Ingin Dicapai ................................................................................................... IV. Arah Kebijakan ........................................................................................................................ V. Pencapaian RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................... VI. Rekomendasi Tindak Lanjut ..................................................................................................... VII. Penutup ................................................................................................................................... Bab 4.17 Peningkatan Kualitas Kehidupan Beragama ......................................................................... I. Pengantar ................................................................................................................................ II. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................ III. Sasaran Yang Ingin Dicapai ................................................................................................... IV. Arah Kebijakan ........................................................................................................................ V. Pencapaian RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................... VI. Rekomendasi Tindak Lanjut ..................................................................................................... VII. Penutup ................................................................................................................................... Bab 4.18 Perbaikan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Pelestarian Lingkungan Hidup ................ I. Pengantar ................................................................................................................................ II. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................ III. Sasaran Yang Ingin Dicapai ................................................................................................... IV. Arah Kebijakan ........................................................................................................................ V. Pencapaian RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................... VI. Rekomendasi Tindak Lanjut ..................................................................................................... VII. Penutup ................................................................................................................................... Bab 4.19 Percepatan Pembangunan Infrastruktur ................................................................................ I. Pengantar ................................................................................................................................ II. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................ III. Sasaran Yang Ingin Dicapai ................................................................................................... IV. Arah Kebijakan ........................................................................................................................ V. Pencapaian RPJMN di Tingkat Daerah ................................................................................... VI. Rekomendasi Tindak Lanjut ..................................................................................................... VII. Penutup ...................................................................................................................................

180 180 181 181 182 184 188 189 190 190 191 191 193 194 200 200 201 201 201 201 202 204 207 208 209 209 209 210 213 216 220 221 222 222 222 224 229 237 246 247

ix

Isu-Isu Strategis Daerah ......................................................................................................................... Bagian Lima Penutup Bab 5.1 Penutup ....................................................................................................................................

248

266

x

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1.1 Data Kriminalitas di Provinsi Kep. Bangka Belitung Tahun 2007 Tabel 2.4.1 Data Kriminalitas di Provinsi Kep. Bangka Belitung Tahun 2006 Tabel 3.1.1 Data Produk Hukum di Provinsi Kep. Bangka Belitung Tahun 2001-2007 Tabel 4.2.1 Data Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Sejahtera di Provinsi Kep. Bangka Belitung Tahun 2004 Tabel 4.4.1 Data Jumlah Industri di Provinsi Kep. Bangka Belitung Tahun 2006 Tabel 4.4.2 Data Penyerapan Tenaga Kerja Masing-Masing Kelompok Industri di Provinsi Kep. Bangka Belitung Tahun 2006 Tabel 4.6.1 Data Produsen Timah Dunia Tabel 4.6.2 Data Konsumen Timah Dunia Tabel 4.6.3 Data Penggunaan Logam Timah Dunia Tabel 4.6.4 Data Kontribusi Pendapatan Negara Tahun 2005- 2007 Tabel 4.9.1 Data Penduduk 15 Tahun Ke atas Menurut Kegiatan Terbanyak di Provinsi Kep. Bangka Belitung Tahun 2007 Tabel 4.11.1 Indikator Capaian Bidang Ketenagakerjaan di Provinsi Kep. Bangka Belitung Tahun Tabel 4.13.1 Indikator Capaian Bidang Pendidikan di Provinsi Kep. Bangka Belitung Tahun 2007 Tabel 4.14.1 Indikator Capaian Bidang Kesehatan di Provinsi Kep. Bangka Belitung Tahun 2007 Tabel 4.16.2 Jumlah Rumah Tangga dan Penduduk di Provinsi Kep. Bangka Belitung Tahun 2007 Tabel 4.16.3 Jumlah Daerah dan Rata-Rata Penduduk di Provinsi Kep. Bangka Belitung Tahun 2007 Tabel 4.16.4 Jumlah Angkatan Kerja dan Pengangguran di Provinsi Kep. Bangka Belitung Tahun 2007 Tabel 4.19.1 Ratio Kelistrikan di Provinsi Kep. Bangka Belitung Tahun 2007 Tabel 4.19.2 Kelistrikan Desa di Provinsi Kep. Bangka Belitung Tahun 2007

DAFTAR GRAFIK
Grafik 4.9.1 Jumlah Angkatan Kerja (Agustus 2006-Agustus 2007) Grafik 4.9.2 Perkembangan Jumlah Penduduk Bekerja (Agustus 2006-Agustus 2007)

xi

Bagian. 1 Pendahuluan

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Evaluasi kinerja pemerintah daerah adalah sebuah kegiatan yang memiliki misi penting untuk memetakan sejauhmana keberhasilan pemerintah dalam menjalankan agenda yang telah disusun. Keluaran kegiatan ini adalah mendemonstrasikan secara naratif bagaimana upaya untuk mewujudkan agenda aman dan damai, agenda adil dan demokratis, dan agenda kesejahteraan rakyat tercapai dengan optimal. Oleh karena itu, tulisan ini disusun sebagai bahan yang lengkap bagaimana capaian RPJMN 2004-2009 selama tiga tahun terakhir ini di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Adapun agenda dimaksud adalah sebagai berikut: Agenda I : Aman dan Damai 1. Menurunnya ketegangan dan ancaman konflik antar kelompok maupun golongan masyarakat; menurunnya angka kriminalitas secara nyata di perkotaan dan perdesaan; serta menurunnya secara nyata angka perampokan dan kejahatan dan penyelundupan lintas batas 2. Semakin kokohnya NKRI berdasarkan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika yang tercermin tertantangnya kegiatan-kegiatan yang ingin memisahkan diri dari NKRI; meningkatnya daya cegah dan tangkal negara terhadap ancaman bahaya terorisme bai tetap tegaknya kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia baik dari ancaman dalam maupun luar negeri. 3. Semakin berperannya Indonesia dalam menciptakan perdamaian dunia.

1

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Agenda II : Adil dan Demokratis 1. Meningkatnya keadilan dan penegakan hukum yang tercermin dari terciptanya sistem hukum yang adil, konsekuen, dan tidak diskriminatif serta yang memberikan perlindungan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia;terjaminnya konsistensi seluruh peraturan perundang-udangan di tingkat pusat dan daerah sebagai bagian dari upaya memulihkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap kepastian hukum. 2. Terjaminnya keadilan gender bagi peningkatan peran perempuan dalam berbagai bidang pembangunan, yang tercermin dalam berbagai perundangan, program pembangunan, dan kebijakan publik; membaiknya angka GDI (Gender–related Development Index) dan angka GEM (Gender Empowerment Measurement); dan menurunnya tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak; serta ,meningkatnya tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak; serta meningkatnya kesejahteraan rakyat. 3. Meningkatnya pelayanan kepada masyarakat dengan menyelenggarakan otonomi daerah dan kepemerintahan daerah yang baik serta terjaminnya konsistensi seluruh peraturan pusat dan daerah, dan tidak bertentangan dengan peraturan dan perundangan yang lebih tinggi dalma rangka meningkatkan keadilan bagi daerah-daerah untuk membangun. 4. Meningkatnya pelayanan birokrasi kepada masyarakat yang tercermin dari: (1) bekrurangnya secara nyata praktek korupsi di birokrasi, dan dimulai dari tataran (jajaran) pejabat yang paling atas; (2) terciptanya sistem pemerintahan dan birokrasi yang bersih, akuntabel, transparan, efisien dan berwibawa; (3) terhapsnya aturan, peraturan dan praktek yang bersifat diskriminatif terhadap warga negara, eklompok, atau golongan masyarakat; (4) meningkatnya partisipasi masyaakat dlaam pengambilan kebijakan publik. 5. Terlaksananya pemilihan umum tahun 20039 secara demorkatis, jujur, dan adil dengan menjaga momentum konsolidasi demokrasi yang sudah terbentuk berdasarkan hasil pemilihan umum secara langusng tahun 2004.

2

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Agenda III : Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat 1. Menurunnya jumlah penduduk miskin menjadi 8,2 persen pada tahun 2009 serta terciptanya lapangan kerja yang mampu mengurangi pengangguran terbuka menjadi 5,1 persen pada tahun 2009 dengan didukung oleh stabilitas ekonomi yang tetap terjaga. Kemiskinan dan pengangguran diatasi dengan strategi pembangunan ekonomi yang mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan berdimensi pemerataan melalui penciptaan lingkungan usaha yang sehat. 2. Berkurangnya kesenjangan antar wilayah yang tercermin dari meningkatnya peran perdesaan sbagai baiss pertumbuhan ekonomi agar mampu meningkatkan kesejahteraan masyaraka di pedesaan; meningkatnya pembagunan pada daerah-daerah terbelakang dan tertinggal; meningkatnya pengembangan wilayah yang didorong oelh daya saing kawasan dan produk-produk unggulan daerah; serta meningkatnya keseimbangan pertumbuhan pembangunan antar kota-kota metropolitan, besar, menegah, dan kecil dengan memperhatikan keserasian pemanfaatan ruang dan penatagunaan tanah. 3. Meningkatnya kualitas manusia yang secara menyeluruh tercermin dari membaiknya angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) serta meningkatnya pemahaman dan pengamalan ajaran-ajaran agama. 4. Membaiknya mutu lingkungan hidup dan pengelolaan sumber daya alam yang mengarah pada pengarusutamaan (mainstreaming) prinsip pembangunan berkelabjutan di seluruh sektor da bidang pembangunan. 5. Membaiknya infrastruktur yang ditunjukkan oleh meningkatnya kuantitas dan kualitas berbagai sarana penunjang pembangunan. 1.2 Maksud dan Tujuan Adapun maksud dan tujuan kegiatan ini adalah sebagai berikut: 1. Tersedianya berbagai data dan informasi yang akurat dan objektif tentang upaya, capaian, dan permasalahan pelaksanaan RPJMN tahun 204-2009 di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 2. Teridentifikasinya sinkronisasi arah dan tujuan pembangunan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan pembangunan nasional 3. Teridentifikasinya isu strategis daerah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 4. Tersusunnya berbagai rekomendasi tindak lanjut dalam perumusan kebijakan

3

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

1.3 Sistematika Penulisan dan Ringkasan Hasil Evaluasi Laporan Evaluasi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini dibagi menjadi lima bagian. Dimana pada bagian pertama adalah pendahuluan dan bagian kelima adalah penutup. Pada bagian kedua mengevaluasi agenda Menciptakan Indonesia yang Aman dan Damai. Bagian Ketiga membahas agenda Mewujudkan Indonesia yang Adil dan Demokratis, serta Bagian Keempat mendiskusikan agenda Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat. Bagian ini merupakan inti dari laporan ini yaitu membahas hasil evaluasi tiga agenda pembangunan yang diterapkan pada Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Sistematika evaluasi yang digunakan dalam laporan ini dari Bab 2.2 sampai Bab 4.19 berisi tujuh sub bab diantaranya sub bab pertama berisi pengantar dari bab yang bersangkutan; sub bab kedua berisi kondisi awal RPJMN di tingkat daerah yang menjelaskan permasalahanpermasalahan yang terjadi di Bangka Belitung terkait dengan isu dan arah kebijakan RPJM Nasional Tahun 2004-2009; sub bab ketiga menjelaskan sasaran yang ingin dicapai baik dari RPJMN maupun sasaran dari RPJMD; sub bab keempat berisi arah kebijakan baik dari RPJMN 2004-2009 maupun RPJMD Bangka Belitung; sub bab yang kelima membahas tentang pencapaian RPJMN di Daerah (2005-2007) dimana pengukuran capaian di Bangka Belitung terdiri dari upaya intervensi kebijakan yang dilakukan, capaian kinerja pembangunan di daerah, permasalahan yang terjadi dalam pencapaian sasaran tersebut; sasaran keenam mengungkapkan rekomendasi tindak lanjut yang berupa upaya yang dilakukan dan usulan perbaikan program pembangunan yang tercantum dalam perkiraan pencapaian RPJMD serta yang terakhir sub bab ketujuh dari setiap bab berisi penutup yang merupakan penjelasan akhir dari bab dalam capaian kinerja RPJMN di Bangka Belitung.

4

Bagian 2 Agenda Mewujudkan Indonesia Yang Aman dan Damai

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

BAB 2.1 PENGANTAR AGENDA MEWUJUDKAN INDONESIA YANG AMAN DAN DAMAI

Agenda pertama dalam RPJMN 2004-2009 adalah mewujudkan Indonesia yang aman dan damai. Untuk agenda pertama ini, Pemerintah menetapkan tiga sasaran pokok, yaitu: Sasaran pertama meningkatkan rasa aman dan damai Dalam sasaran yang pertama ini ditetapkan beberapa prioritas pembangunan sebagai berikut: Meningkatkan rasa saling percaya dan harmonisasi antar kelompok Dalam prioritas pembangunan ini, dilakukan beberapa kebijakan: 1. Secara terus menerus dan berkesinambungan membangun serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia / insane yang mengakar di sendi-sendi berkehidupan di segala lapisan masyarakat dengan tetap mengacu pada prinsip Millenium Development Goals (MDG). 2. Meningkatkan wawasan berkebangsaan serta kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang aman dan tertib dengan tetap berpegangan teguh pada kearifan lokal yang mengacu pada prinsip Sustainable Development. 3. Fasilitasi peningkatan kualitas hidup dan peran perempuan serta secara bertahap pengurangan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak dengan memberdayakan dan melibatkan perempuan dalam berkehidupan baik dalam ekonomi, politik maupun sosial. 4. Secara bertahap dan berkelanjutan meningkatkan fasilitasi pada pengurangan penyandang masalah sosial di masyarakat serta mengembalikan fungsi berkehidupan bagi masyarakat yang mempunyai masalah sosial.

1

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Pada tataran masyarakat program-program yang dilaksanakan adalah 1. Peningkatan wawasan kebangsaan bagi RT/RW 2. Pelatihan pembauran bangsa dalam rangka peningkatan persatuan dan kesatuan bangsa 3. Saresehan lembaga adat / istiadat dalam rangka penguatan persatuan dan kesatuan bangsa 4. Pelatihan dan pembinaan kader bela negara dan ketahanan bangsa 5. Pelatihan dan pembinaan bela negara 6. Dialog peningkatan peranan orkesmas / LSM dalam pembangunan 7. Dialog pemantapan stabilitas politik 8. Rapat koordinasi kesatuan bangsa 9. Pembinaan kerukunan hidup beragama 10. Orientasi budaya politik 11. Orientasi undang-undang tentang kewarganegaraan 12. Pelaksanaan pengendalian keamanan dan kenyamanan lingkungan 13. Penyuluhan pencegahan peredaran / penggunaan minuman keras dan narkoba 14. Monitoring, evaluasi dan pelaporan orang asing, NGO, dan lembaga asing di daerah 15. Pembekalan kemampuan deteksi dini 16. Kewaspadaan dini masyarakat di daerah 17. Operasionalisasi komunitas intelejen daerah 18. Pemantauan dan cegah tangkal terjadinya konflik sosial dan aksi terorisme Mengembangkan kebudayaan yang berlandaskan pada nilai-nilai luhur Arah kebijakan pada agenda ini adalah: 1. Meningkatkan penyelenggaraan sektor pendidikan mulai dari tingkat pendidikan usia dini (TK/TKA), umum (SD/SMP/SMA), kejuruan (SMK) dan keagamaan (MI/MTS/MA) sekaligus pembebasan uang SPP mulai dari tingkat TK/TPA sampai dengan tingkat SMP/MTS dalam rangka menerapkan wajib belajar 9 tahun, pemberian beasiswa kepada siswa berprestasi di semua strata pendidikan serta meningkatkan kesehjateraan pada pendidik dan petugas sekolah lainnya.

2

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

2. Meningkatkan pembangunan sektor kesehatan dan keluarga berencana sekaligus menerapkan Jaminan Kesehatan Serumpun Sebalai (JKSS) sebagai pengembangan dari Jaminan Kesehatan Sepindu Sedulang (di Kabupaten Bangka) kepada seluruh masyarakat, menurunkan angka kelahiran dan kematian ibu pada saat melahirkan, dan meningkatkan kesehjateraan tenaga medis dan paramedic terutama yang bertugas di wilayah pedesaan. 3. Mengembangkan sektor olahraga dan generasi muda dengan menggalakkan kegiatan olah raga di setiap strata pendidikan dan masyarakat, meningkatkan peran KONIDA Propinsi dan pengurus-pengurus daerah (Pengda) olah raga prestasi terutama dalam menghadapi even PORWIL dan PON, memperhatikan kehidupan atlit dan mantan atlit yang memiliki prestasi nasional (pemegan medali emas) beserta para pelatihnya, menggalakkan kegiatan generasi muda dalam segala bentuknya seperti Pramuka, PMR, Pecinta Alam, Remaja Masjid dan lainlainnya, termasuk melibatkan generasi muda dalam kegiatan-kegiatan berskala propinsi dan nasional. 4. Meningkatkan penyelenggaraan pembangunan sektor seni dan budaya, terutama dalam rangka menggali, melestarikan seni dan budaya daerah untuk memperkaya seni dan budaya nasional dengan melibatkan semua komponen masyarakat terutama para seniman, budayawan, pemerhati seni dan budaya serta pecinta seni dan budaya, termasuk memperhatikan kehidupan sangar seni dan budaya beserta kehidupan para seniman dan budayawan yang dianggap berjasa dalam menggali dan melestarikan seni dan budaya daerah. Peningkatan keamanan, ketertiban, dan penanggulangan kriminalitas Beberapa kebijakan dalam bidang ini adalah meneruskan penyusunan peraturan-peraturan daerah (Perda) sebagai penjabaran dari aturan perundang-undangan yang lebih tinggi sebagai dasar penetapan kebijakan publik Pemerintah Daerah yang legitimate serta melakukan penegakkan hukum secara konsisten dan konsekuen baik di lingkup internal Pemerintahan maupun masyarakat. Strategi yang dilaksanakan dalam pencapaian misi ini adalah: 1. Peningkatan serta optimalisasi fungsi-fungsi lembaga legislative daerah dalam menjalankan fungsinya sebagai wakil masyarakat yang turut dalam pengambilan kebijakan bagi kesehjateraan masyarakat.

3

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

2.

Peningkatan kualitas serta kapasitas aparatur pemerintah daerah dalam penyelenggaran pemerintahan, pemberian pelayanan pada masyarakat dan pelaksana pembangunan di daerah.

3. Meningkatkan kapabilitas aparatur pemerintah untuk menciptakan Good Governance dan Clean Governance secara tersistem dan menyeluruh dengan melakukan gerakan bersama dalam pemberantasan KKN berbasis kultur dan agama. Melakukan penerapan prinsip reward and punishment dalam rangka meningkatkan rasa tanggung jawab dan kebanggaan profesionalisme dengan tidak mengenyampingkan jiwa pengabdian sebagai ‘abdi negara’ dan semangat patriotism sebagai bagian anak bangsa yang senantiasa berupaya melestarikan semangat kejuangan 17 Agustus 1945. Penegakan hukum (law enforcement) dilakukan secara konsisten dan konsekuen tanpa pandang bulu, menyeluruh ‘tidak tebang pilih’ berdasarkan kepada peraturan dan undang-undang yang berlaku baik di lingkungan pemerintahan maupun masyarakat pada umumnya. 4. Mewujudkan good governance dan clean governance serta adanya kesepakatan semua pihak baik pihak eksekutif, legislative, dan yudikatif serta masyarakat mulai tahun 2007 dan seterusnya bahwa Propinsi Kepulauan Bangka Belitung bebas dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) dalam segala bentuknya. 5. Melaksanakan pengwasan dan pengendalian terhadap aparatur pemerintahan secra terus menerus serta pemberian ‘reward and punishment’ sesuai aturan perundang-undangan yang berlaku dengan prinsip adil dan merata. 6. Peningkatan penyediaan sarana dan prasarana dalam mendukung pelayanan public yang berbasis good governance dan clean governance. 7. Menerapkan sistem dan prosedur pengelolaan keuangan daerah yang sesuai dengan peraturan perundangan terkini serta didasarkan pada prinsip ekonomis, efisiensi, dan efektif. Sasaran kedua semakin kokohnya NKRI berdasarkan Pancasila, Undang-Undang dasar 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika 1. Pencegahan dan penanggulangan separatisme 2. Pencegahan dan penanggulangan gerakan terorisme 3. Peningkatan pertahanan negara

4

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Sasaran ketiga semakin berperannya Indonesia dalam menciptakan perdamaian dunia 1. Pemantapan politik luar negeri dan peningkatan kerjasama internasional Pada sasaran kedua dan ketiga, tidak terdapat kebijakan ataupun capaiannya di daerah. Hal ini juga nampaknya karena sasaran dan agenda di atas menjadi kewenangan pusat. Berdasarkan arah kebijakan tersebut di atas, capaiannya diperoleh sebagai berikut: Meningkatkan rasa saling percaya dan harmonisasi antar kelompok Meskipun Pemerintah Daerah telah mengeluarkan kebijakan berkenaan dengan aspek keamanan masyarakat yang dijabarkan dalam pelaksanaan program-program khusus, namun kebijakan dan program tersebut belum bisa menjamin terwujudnya kondisi masyarakat yang aman dan damai. Hal ini salah satunya diindikasikan dari meningkatnya angka kriminalitas yang tercatat di Polda Kepulauan Bangka Belitung. Tabel 2.1.1 Data Kriminalitas Polda Kep. Bangka Belitung Tahun 2007
NO. 1. 2. 3. 4. KELOMPOK KEJAHATAN Konvensional Trans Nasional Merugikan Kekayaan Negara Implikasi Kontijensi JUMLAH 2007 JTP 2283 81 167 2 2.533 PTP 1191 68 151 2 1.412 % 52,17 83,95 90,42 100 55,74

* JTP = Jumlah Tindak Pidana PTP= Penyelesaian Tindak Pidana

Mengembangkan kebudayaan yang berlandaskan pada nilai-nilai luhur Nilai-nilai kebudayaan pada dasarnya disebarkan melalui beberapa kegiatan kebudayaan yang relevan, antara lain: 1. Pagelaran tari Campak, Gambus, dan Rebana 2. Festival Musik Tradisional 3. Festival Musik Lagu Melayu 4. Penampilan Sirinade dan Aubade

5

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Peningkatan keamanan, ketertiban, dan penanggulangan kriminalitas Meskipun Pemerintah Daerah telah mengeluarkan kebijakan berkenaan dengan aspek keamanan masyarakat yang dijabarkan dalam pelaksanaan program-program khusus, namun kebijakan dan program tersebut belum bisa menjamin terwujudnya kondisi masyarakat yang aman. Hal ini salah satunya diindikasikan dari meningkatnya angka kriminalitas yang tercatat di Polda Kepulauan Bangka Belitung. Tabel 2.1.2 Data Kriminalitas Polda Kep. Bangka Belitung Tahun 2007
NO. 1. 2. 3. 4. KELOMPOK KEJAHATAN Konvensional Trans Nasional Merugikan Kekayaan Negara Implikasi Kontijensi JUMLAH 2007 JTP 2283 81 167 2 2.533 PTP 1191 68 151 2 1.412 % 52,17 83,95 90,42 100 55,74

6

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Bab 2.2. PENINGKATAN RASA SALING PERCAYA DAN HARMONISASI ANTAR KELOMPOK

I.

Pengantar

Secara umum Bangka Belitung merupakan wilayah yang relatif aman meskipun heterogenitas masyarakatnya dapat dikategorikan sangat majemuk dengan pertambahan jumlah penduduk sebesar 2,97 pada kisaran tahun 2006 sampai dengan 2007. Jumlah penduduk Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2006 sebanyak 1.074.775 orang (hasil Susenas 2005) dan pada tahun 2007 bertambah 31.882 orang menjadi 1.106.657 orang. Masyarakat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan masyarakat heterogen dengan komposisi etnis terdiri dari suku Melayu, Tionghoa, Jawa, Madura, Bugis, Buton, serta beberapa suku dari daratan Pulau Sumatera (misalnya Minang, Batak, Lampung, dan Palembang). Masyarakat ini telah lama mendiami wilayah ini dan telah mengalami percampuran melalui perkawinan antar etnis. Namun secara umum mayoritas etnis adalah pada suku Melayu dan Cina dengan etnis minoritas yaitu Madura, Jawa, Bugis, dan Buton. II. Kondisi Awal RPJMN di tingkat Daerah

Secara umum di Bangka Belitung kondisi daerah tergolong kondusif. Sebagian ada beberapa tindak kriminalitas di daerah konflik pada tahun 2005 diantaranya di Desa Air Bara, Toboali, Bangka Selatan yang terjadi antar kelompok warga masyarakat yang berbeda wilayah di desa tersebut. Di Desa Sungai Selan, Bangka Tengah pada tahun 2005 juga terjadi konflik antar pemuda. III. Sasaran yang Ingin Dicapai

Sesuai dengan RPJMN, terdapat tiga sasaran yang ingin dicapai mengacu kepada indikator kinerja pembangunan daerah. Sasaran tersebut adalah: menurunnya ketegangan dan ancaman konflik antar golongan di daerah-daerah rawan konflik, terpeliharanya situasi aman dan damai, serta meningkatnya partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan kebijakan publik dan penyelesaian persoalan sosial kemasyarakatan.

7

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

IV.

Arah Kebijakan

Di dalam RPJMD Pemerintah Daerah menetapkan misi untuk membangun komitmen bersama Pemerintah, Masyarakat, dan swasta untuk menciptakan iklim kondusif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Strategi yang dilaksanakan dalam pencapaian misi ini adalah: 1. Secara terus menerus dan berkesinambungan membangun serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia / insan yang mengakar di sendi-sendi berkehidupan di segala lapisan masyarakat dengan tetap mengacu pada prinsip Millenium Development Goals (MDG). 2. Meningkatkan wawasan berkebangsaan serta kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang aman dan tertib dengan tetap berpegangan teguh pada kearifan lokal yang mengacu pada prinsip Sustainable Development. 3. Fasilitasi peningkatan kualitas hidup dan peran perempuan serta secara bertahap pengurangan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak dengan memberdayakan dan melibatkan perempuan dalam berkehidupan baik dalam ekonomi, politik maupun sosial. 4. Secara bertahap dan berkelanjutan meningkatkan fasilitasi pada pengurangan penyandang masalah sosial di masyarakat serta mengembalikan fungsi berkehidupan bagi masyarakat yang mempunyai masalah sosial. V. Pencapaian RPJMN di tingkat Daerah

5.1. Upaya yang telah dilakukan 1. Pembinaan kerukunan antar umat beragama 2. Peningkatan kemampuan tokoh agama dan tokoh masyarakat 3. Pembinaan terhadap lembaga keagamaan 4. Pengembangan wawasan kebangsaan 5. Kemitraan pengembangan wawasan kebangsaan 6. Pendidikan politik masyarakat

8

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

5.2. Posisi capaian hingga tahun 2007 Pada tataran masyarakat program-program yang telah dilaksanakan adalah: 1. Peningkatan wawasan kebangsaan bagi RT/RW Kegiatan ini dilakukan bagi para ketua RT/RW dengan tujuan untuk merevitalisasi pemahaman tentang hakekat kebangsaan. 2. Pelatihan pembauran bangsa dalam rangka peningkatan persatuan dan kesatuan bangsa Kegiatan ini dilakukan dengan melibatkan tooh antar etnis berjumlah 75 orang pada tahun 2007 3. Saresehan lembaga adat / istiadat dalam rangka penguatan persatuan dan kesatuan bangsa Sarasehan ini juga melibatkan tokoh antar etnis dengan tujuan dapat meningkatkan sikap multikulturalisme antar etnis dan kelompok. Kegiatan ini digelar untuk 100 orang setiap tahun 4. Pelatihan dan pembinaan kader bela negara dan ketahanan bangsa Diadaakan pelatihan kader bela negara bagi para aparatur pemerintah provinsi yang pada tahun 2007 berjumlah 100 aparatur. 5. Pelatihan dan pembinaan bela Negara Kegiatan ini diselenggarakan untuk meningkatkan jiwa nasionalisme dan memperkokoh NKRI. Kegiatan ini digelar dengan melibatkan aparatur pemerintah provinsi. 6. Dialog peningkatan peranan orkesmas / LSM dalam pembangunan Dialog merupakan kegiatan yang teramat penting karena dengan media dialog, kepentingan antar kelompok dapat dikurangi. Kegiatan in diselenggarakan dengan melibatkan berbagai kelompok masyarakat. 7. Dialog pemantapan stabilitas politik Kegiatan ini dilakukan dengan melibatkan berbagai institusi sosial dan pemerintahan. Kegiatan ini diadakan setiap tahun. 8. Rapat koordinasi kesatuan bangsa 9. Pembinaan kerukunan hidup beragama Pemerintah provinsi memfasilitasi kegiatan pembentukan Forum Kerukunan antar Umat Beragama. Dengan adanya lembaga ini, diharapkan kerukunan antar pemeluk agama dapat terjalin dengan harmonis. Selain itu, pemerintah provinsi juga rutin mengadakan pertemuan antar pemeluk agama. Secara umum kondisi keagamaan di Bangka Belitung relatif kondusif.

9

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

10. Orientasi budaya politik Orientasi budaya politik dimaksudkan untuk memberikan pemahaman yang utuh tentang pemahaman politik. Kegiatan ini diselenggarakan secara rutin dan diharapkan dapat mengeleminir perbedayaan budaya politik. 11. Orientasi undang-undang tentang kewarganegaraan Sebagai daerah yang memiliki banyak warga Tionghoa, pemerintah provinsi gigih mengadakan sosialisasi kewarganegaraan. Hal ini untuk membantu masyarakat untuk memahami kondisi pluralitas yang dimiliki oleh provinsi ini. VI. Rekomendasi Tindak Lanjut

Untuk meningkatkan rasa saling percaya Pemerintah Daerah dapat mengupayakan program-program seperti dialog antar golongan, kegiatan yang berkaitan dengan kebudayaan, perwujudan lembaga-lembaga yang dibentuk sesuai dengan tanggung jawab masalah-masalah hukum, peningkatan wibawa hukum dan peningkatan partisipasi masyarakat VII. Penutup

Masyarakat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang multi etnis membutuhkan rasa saling percaya yang tinggi, agar pembangunan dapat didukung oleh semua pihak dan lapisan masyarakat yang ada diprovinsi ini. Kondisi hubungan masyarakat antar etnis/suku atau antara masyarakat dengan pemerintah daerah selama ini sudah berjalan dengan baik, dimana pemerintah terus berupaya melaksanakan program pembangunan untuk mensejahterakan rakyat, sehingga pemerintah dan pihak-pihak pelaksana didalamnya betul-betul dipercaya oleh masyarakat.

10

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

BAB 2.3. PENGEMBANGAN KEBUDAYAAN YANG BERLANDASKAN PADA NILAI-NILAI LUHUR

I.

Pengantar

Dengan komposisi penduduk yang heterogen, Provinsi Bangka Belitung mempunyai budaya yang terdiri dari unsur-unsur yang majemuk. Dengan kemajemukan tersebut, menjadi suatu tantangan bagi Pemerintah Daerah untuk mengakomodir nilai-nilai yang ada di masyarakat. Meskipun demikian, Pemerintah Provinsi Bangka Belitung dalam RPJMD berusaha untuk menjaga nilai-nilai luhur yang ada dengan menetapkan arah kebijakan dan strategi di dalam program-program pemerintah. II. Kondisi Awal RPJMN di tingkat Daerah

Secara umum kondisi daerah Bangka Belitung terbilang aman. Hal ini ditunjukan dengan minimnya konflik yang muncul pada tataran horizontal / antar kelompok masyarakat. Aspek ini juga menjadi indikator yang menunjukan bahwa nilai-nilai luhur masih terjaga di dalam masyarakat maupun dalam kaitannya dengan interaksi antar kelompok masyarakat. III. Sasaran yang Ingin Dicapai 1. Menurunnya ketegangan dan ancaman konflik antar kelompok masyarakat 2. Semakin kokohnya NKRI yang berdasarkan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika 3. Semakin berkembangnya penerapan nilai baru yang positif dan produktif dalam rangka memantapkan budaya nasional yang terwujud dalam setiap aspek kebijakan pembangunan 4. Meningkatnya pelestarian dan pengembangan kekayaan budaya

Mengacu kepada RPJMN, sasaran yang ditetapkan oleh Pemerintah adalah:

11

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

IV.

Arah Kebijakan

Arah kebijakan yang ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam kaitannya dengan pengembangan kebudayaan adalah misi untuk meningkatkan kualitas sumber daya insani masyarakat melalui penguatan sektor pendidikan, kesehatan, olahraga, seni dan budaya daerah/nasional serta pembinaan generasi muda. Strategi yang dilaksanakan dalam pencapaian kebijakan ini adalah: 1. Meningkatkan penyelenggaraan sektor pendidikan mulai dari tingkat pendidikan usia dini (TK/TKA), umum (SD/SMP/SMA), kejuruan (SMK) dan keagamaan (MI/MTS/MA) sekaligus pembebasan uang SPP mulai dari tingkat TK/TPA sampai dengan tingkat SMP/MTS dalam rangka menerapkan wajib belajar 9 tahun, pemberian beasiswa kepada siswa berprestasi di semua strata pendidikan serta meningkatkan kesehjateraan pada pendidik dan petugas sekolah lainnya. 2. Meningkatkan pembangunan sektor kesehatan dan keluarga berencana sekaligus menerapkan Jaminan Kesehatan Serumpun Sebalai (JKSS) sebagai pengembangan dari Jaminan Kesehatan Sepindu Sedulang (di Kabupaten Bangka) kepada seluruh masyarakat, menurunkan angka kelahiran dan kematian ibu pada saat melahirkan, dan meningkatkan kesehjateraan tenaga medis dan paramedic terutama yang bertugas di wilayah pedesaan. 3. Mengembangkan sektor olahraga dan generasi muda dengan menggalakkan kegiatan olah raga di setiap strata pendidikan dan masyarakat, meningkatkan peran KONIDA Propinsi dan penguruspengurus daerah (Pengda) olah raga prestasi terutama dalam menghadapi even PORWIL dan PON, memperhatikan kehidupan atlit dan mantan atlit yang memiliki prestasi nasional (pemegan medali emas) beserta para pelatihnya, menggalakkan kegiatan generasi muda dalam segala bentuknya seperti Pramuka, PMR, Pecinta Alam, Remaja Masjid dan lain-lainnya, termasuk melibatkan generasi muda dalam kegiatan-kegiatan berskala propinsi dan nasional. 4. Meningkatkan penyelenggaraan pembangunan sektor seni dan budaya, terutama dalam rangka menggali, melestarikan seni dan budaya daerah untuk memperkaya seni dan budaya nasional dengan melibatkan semua komponen masyarakat terutama para seniman, budayawan, pemerhati seni dan budaya serta pecinta seni dan budaya, termasuk memperhatikan kehidupan sangar seni dan budaya beserta kehidupan para seniman dan budayawan yang dianggap berjasa dalam menggali dan melestarikan seni dan budaya daerah.

12

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Misi dijabarkan dalam program-program berikut 1. Program pengembangan nilai budaya. 2. Program pengelolaan kekayaan budaya 3. Program pengelolaan keragaman budaya 4. Program pengembangan kerjasama pengelolaan kekayaan budaya V. Pencapaian

5.1. Upaya yang telah dilakukan 1. Pelestarian dan aktualisasi adat budaya daerah 2. Penyusunan kebijakan tentang budaya lokal 3. Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan program pengembangan nilai budaya 4. Pemberian dukungan, penghargaan, dan kerjasama di bidang budaya 5.2. Capaian hingga 2007 Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah provinsi yang kaya akan kebudayaan yang beragam. Kebudayaan itu dibina secara konsisten oleh pemerintah daerah. Beberapa tradisi yang terus dipelihara sebagai bagian dari budaya adalah sebagai berikut: 1. Nganggung Nanggung adalah sebuah tradisi menarik di daerah ini. Tradisi ini rutin diselenggarakan oleh masyarakat pada momen-momen tertentu. Tujuannya adalah membangun kebersamaan dan menjalin silaturahmi. 2. Perang Ketupat Perang ketupat merupakan sebuah budaya yang sekarang justru menjadi bagian dari program pembinaan pemerintah. Kegiatan ini merupakan pesta masyarakat di Tempilang-Bangka Barat yang selalu menjadi agenda wisata yang menarik. 3. Ruwahan Ruwahan merupakan tradisi untuk menjaga hubungan dengan saudara yang sudah meninggal. Meski merupakan acara ritual keagamaan, agenda rutin ini sudah merambah pada wilayah sosial karena dapat menciptakan hubungan yang harmonis antar anggota masyarakat. Ruwahan tidak lagi menjadi agenda ruhani, tetapi agenda sosial dan pemerintah memfasilitasi secara moral untuk agenda rutin seluruh masyarakat provinsi ini.

13

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

4. Upacara Rebo Kasan 5. Upacara Buang Jong 6. Upacara Ceriak Nerang 7. Upacara Sepintu Sedulang 8. Upacara Sembahyang Kubur Diselenggarakan juga oleh pemerintah provinsi berbagai even yang dapat meningkatkan penghayatan pada nilai-nilai budaya yang luhur, antara lain: 1. Pagelaran tari Campak sebanyak 1 (satu) kali yang diikuti oleh 7 kabupaten / kota, Gambus sebanyak 1 kali dan Rebana sebanyak 1 kali pada tingkat SMP dan Sekolah Menengah. 2. Festival Musik Tradisional Sekolah 3. Festival Musik Lagu Melayu tingkat SLTA 4. Penampilan Sirinade dan Aubade 17 Agustus 2007 VI. Rekomendasi Tindak Lanjut 1. Memperbanyak kegiatan-kegiatan pergelaran budaya di Bangka Belitung. 2. Meningkatkan kesadaran masyarakat akan kecintaan terhadap budaya lokal VII. Penutup

Pengembangan kebudayaan di Provinsi Bangka Belitung yang kental dengan budaya melayu yang luhur terus dilakukan melalui berbagai kegiatan seni dan budaya. Disamping itu juga berusaha untuk memperkenalkan budaya Bangka Belitung ke tingkat nasional dan internasional. Integrasi budaya melayu ke budaya-budaya yang lain juga penting, mengingat keanekaragaman budaya yang ada diprovinsi ini.

14

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

BAB 2.4. PENINGKATAN KEAMANAN, KETERTIBAN, DAN PENANGGULANGAN KRIMINALITAS

I.

Pengantar

Tingkat keamanan, ketertiban, dan penanggulangan kriminalitas merupakan aspek yang sangat penting bagi stabilitas dan keamanan negara secara keseluruhan. Menyadari pentingnya hal ini, Pemerintah Provinsi Bangka Belitung menjadikan aspek keamanan, ketertiban, dan penanggulangan kriminalitas menjadi salah satu aspek yang diusahakan untuk ditingkatkan melalui kebijakan-kebijakan yang kemudian dijabarkan menjadi strategi dan dilaksanakan dalam bentuk program-program Pemerintah Daerah. II. Kondisi Awal RPJMN di tingkat Daerah

Indeks kriminalitas untuk tahun 2006 yang tercatat di Polda Kepulauan Bangka Belitung menunjukan jumlah 2.030 jumlah tindak pidana. Indeks ini mencakup kejahatan konvensional sejumlah 1.888 kasus, trans nasional sejumlah 66 kasus, merugikan kekayaan negara sejumlah 67 kasus, dan implikasi kontijensi sejumlah 9 kasus. Tindak pidana yang dapat diselesaikan sejumlah 1.228 kasus dengan rincian 1102 kasus konvensional (58,37%), 62 kasus trans nasional (93,94%), 57 kasus merugikan kekayaan negara (85,07%), dan 7 kasus implikasi kontijensi (77,78%). III. Sasaran yang Ingin Dicapai

Berkenaan dengan peningkatan keamanan, ketertiban dan penanggulangan kriminalitas Pemerintah Daerah, mengacu kepada RPJMN, menetapkan beberapa sasaran sebagai berikut: 1. Menurunnya angka pelanggaran hukum dan indeks kriminalitas, serta meningkatnya penuntasan kasus kriminalitas untuk menciptakan rasa aman masyarakat; 2. Terungkapnya jaringan kejahatan internasional terutama narkotika, perdagangan manusia, dan pencucian uang; 3. Terlindunginya keamanan lalu lintas informasi rahasia lembaga negara sesudah diterapkannya AFTA dan zona perdagangan bebas lainnya terutama untuk lembaga/fasilitas vital begara; 4. Menurunnya jumlah pecandu narkoba dan mengungkap kasus serta dapat diberantasnya jaringan utama supply narkoba dan precursor;

15

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

5. Menurunnya jumlah gangguan keamanan dan pelanggaran hukum di laut terutama pada alur perdagangan dan distribusi serta alur pelayaran internasional. 6. Terungkapnya jaringan utama pencurian sumber daya kehutanan, serta membaiknya praktek penegakan hukum dalam pengelolaan sumber daya kehutanan dalam memberantas illegal logging, over cutting, dan illegal trading. 7. Meningkatnya kepatuhan dan disiplin mayarakat terhadap hukum; 8. Meningkatnya kinerja Polri tercermin dengan menurunnya angka kriminalitas, pelanggaran hukum, dan meningkatnya penyelesaian kasus-kasus hukum. IV. Arah Kebijakan perundang-undangan yang lebih tinggi sebagai dasar penetapan kebijakan public Pemerintah Daerah yang legitimate serta melakukan penegakan hukum secara konsisten dan konsekuen baik di lingkup internal Pemerintahan maupun masyarakat. Strategi yang dilaksanakan dalam pencapaian misi ini adalah: 1. Peningkatan serta optimalisasi fungsi-fungsi lembaga legislative daerah dalam menjalankan fungsinya sebagai wakil masyarakat yang turut dalam pengambilan kebijakan bagi kesehjateraan masyarakat. 2. Peningkatan kualitas serta kapasitas aparatur pemerintah daerah dalam penyelenggaran pemerintahan, pemberian pelayanan pada masyarakat dan pelaksana pembangunan di daerah. 2. Meningkatkan kapabilitas aparatur pemerintah untuk menciptakan Good Governance dan Clean Governance secara tersistem dan menyeluruh dengan melakukan gerakan bersama dalam pemberantasan KKN berbasis kultur dan agama. Melakukan penerapan prinsip reward and punishment dalam rangka meningkatkan rasa tanggung jawab dan kebanggaan profesionalisme dengan tidak mengenyampingkan jiwa pengabdian sebagai ‘abdi negara’ dan semangat patriotism sebagai bagian anak bangsa yang senantiasa berupaya melestarikan semangat kejuangan 17 Agustus 1945. Penegakan hukum (law enforcement) dilakukan secara konsisten dan konsekuen tanpa pandang bulu, menyeluruh ‘tidak tebang pilih’ berdasarkan kepada peraturan dan undang-undang yang berlaku baik di lingkungan pemerintahan maupun masyarakat pada umumnya.

1. Meneruskan penyusunan peraturan-peraturan daerah (Perda) sebagai penjabaran dari aturan

16

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Strategi yang dilaksanakan dalam pencapaian misi ini adalah: 1. Mewujudkan good governance dan clean governance serta adanya kesepakatan semua pihak baik pihak eksekutif, legislative, dan yudikatif serta masyarakat mulai tahun 2007 dan seterusnya bahwa Propinsi Kepulauan Bangka Belitung bebas dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) dalam segala bentuknya. 2. Melaksanakan pengwasan dan pengendalian terhadap aparatur pemerintahan secra terus menerus serta pemberian ‘reward and punishment’ sesuai aturan perundang-undangan yang berlaku dengan prinsip adil dan merata. 3. Peningkatan penyediaan sarana dan prasarana dalam mendukung pelayanan public yang berbasis good governance dan clean governance. 4. Menerapkan sistem dan prosedur pengelolaan keuangan daerah yang sesuai dengan peraturan perundangan terkini serta didasarkan pada prinsip ekonomis, efisiensi, dan efektif. V. Pencapaian RPJMN di tingkat Daerah

5.1. Upaya yang telah dilakukan 1. Peningkatan keamanan dan kenayamanan lingkungan 2. Pemeliharaan kamtibmas dan pencegahan tindak kriminal 3. Pemberdayaan masyarakat untuk menjaga ketertiban dan keamanan 4. Peningkatan pemberantasan penyakit masyarakat 5. Pemberdayaan kelembagaan kesejateraan sosial 5.2. Posisi capaian hingga tahun 2007 Meskipun Pemerintah Daerah telah mengeluarkan kebijakan berkenaan dengan aspek keamanan masyarakat yang dijabarkan dalam pelaksanaan program-program khusus, namun kebijakan dan program tersebut belum bisa menjamin terwujudnya kondisi masyarakat yang aman. Hal ini salah satunya diindikasikan dari meningkatnya angka kriminalitas yang tercatat di Polda Kepulauan Bangka Belitung.

17

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Tabel. 2.4.1 Data Kriminalitas Polda Kep. Bangka Belitung Tahun 2006
NO . 1. 2. 3. 4. KELOMPOK KEJAHATAN Konvensional Trans Nasional Merugikan Kekayaan Negara Implikasi Kontijensi JUMLAH
* JTP = Jumlah Tindak Pidana PTP= Penyelesaian Tindak Pidana

2006 JTP 1888 66 67 9 2.030 PTP 1102 62 57 7 1.228 % 58,37 93,94 85,07 77,78 60,49

Tabel. 2.4.2 Data Kriminalitas Polda Kep. Bangka Belitung Tahun 2007
NO . 1. 2. 3. 4. KELOMPOK KEJAHATAN Konvensional Trans Nasional Merugikan Kekayaan Negara Implikasi Kontijensi JUMLAH 2007 JTP 2283 81 167 2 2.533 PTP 1191 68 151 2 1.412 % 52,17 83,95 90,42 100 55,74

VI.

Rekomendasi Tindak Lanjut

Saat ini penanganan dan penanggulangan kriminalitas masih ditangani oleh Polda Bangka Belitung, kedepan direkomendasikan agar upaya menjaga keamanan tidak saja dilakukan oleh aparat kepolisian, namun juga dilakukan oleh masyarakat. Program yang dapat dilakukan berkaitan dengan hal ini adalah peningkatan peran serta masyarakat dalam usaha untuk menjaga keamanan.

18

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

VII.

Penutup

Tingkat kriminalitas di Provinsi Bangka Belitung pada tahun 2007 memang mengalami kenaikan. Banyak faktor yang memperngaruhi peningkatan tersebut, diantaranya kondisi ekonomi, minimnya jumlah aparat dan sarana prasarana dan lain-lain. Namun demikian aparat kepolisian bersama-sama dengan masyarakat di Bangka Belitung terus berupaya menciptakan KAMTIBMAS guna mendukung pelaksanaan proses pembangunan.

19

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

BAB 2.5 PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN SEPARATISME

Catatan: Pada bab ini tidak akan dijelaskan peran pemerintah daerah dalam pencegahan dan penanggulangan separatisme karena tidak dijumpai permasalahan yang terkait dengan agenda ini di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Di samping itu agenda ini menjadi wewenang pemerintah pusat.

20

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

BAB 2.6 PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN GERAKAN TERORISME

Catatan: Pada bab ini tidak akan dijelaskan peran pemerintah daerah dalam pencegahan dan penanggulangan gerakan terorisme karena tidak dijumpai permasalahan yang terkait dengan agenda tersebut di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Di samping itu agenda ini menjadi wewenang pemerintah pusat. .

21

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

BAB 2.7 PENINGKATAN KEMAMPUAN PERTAHANAN NEGARA

Catatan: Pada bab ini tidak akan dijelaskan peran pemerintah daerah dalam peningkatan kemampuan pertahanan negara karena tidak dijumpai permasalahan yang terkait dengan agenda tersebut di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Di samping itu agenda ini menjadi wewenang pemerintah pusat.

22

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

BAB 2.8 PEMANTAPAN POLITIK LUAR NEGERI DAN PENINGKATAN KERJASAMA INTERNASIONAL

Catatan: Pada bab ini tidak akan dijelaskan peran pemerintah daerah dalam pemantapan politik luar negeri dan peningkatan kerjasama internasional karena tidak dijumpai permasalahan yang terkait dengan agenda tersebut di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Di samping itu agenda ini menjadi wewenang pemerintah pusat.

23

Bagian 3. Agenda Mewujudkan Indonesia Yang Adil Dan Demokratis

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

BAB 3.1. PENGANTAR AGENDA MEWUJUDKAN INDONESIA YANG ADIL DAN DEMOKRATIS

Agenda kedua dalam RPJMN 2004-2009 adalah mewujudkan Indonesia yang adil dan demokratis. Untuk agenda ini, Pemerintah menetapkan beberapa sasaran pokok, yaitu: Sasaran pertama adalah meningkatkan keadilan dan penegakan hukum Pembenahan sistem hukum nasional dan politik Kebijakan yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah berkenaan dengan aspek pembenahan sistem hukum dan politik hukum adalah: 1. Penyusunan peraturan daerah 2. Sosialisasi perda 3. Sosialisasi perda monitoring dan evaluasi perda kabupaten / kota dan peraturan Bupati / Walikota serta rakorkum 4. Penyusunan produk hukum propinsi 5. Penyusunan produk hukum propinsi kompilasi perda, pergub, dan lembaran daerah 6. Bintek kuasa hukum Penghapusan diskriminasi dalam berbagai bentuk Penghormatan, pemenuhan, dan penegakkan atas hukum dan pengakuan atas Hak Asasi Manusia Peningkatan kualitas kehidupan dan peran perempuan serta kesejahteraan dan perlindungan anak Pemerintah Provinsi Babel selalu mengarahkan kebijakan untuk meningkatkan penegakan dan kepastian hukum yang konsisten terhadap HAM serta perlakuan yang adil dan tidak diskriminatif dengan langkah-langkah:

24

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

1. Meningkatkan upaya pemajuan, perlindungan, penghormatan, pengakuan, dan penegakan hukum dan HAM; 2. Menegakan hukum secara adil, konsekuen, tidak diskriminatif, dan memihak pada rakyat kecil; 3. Menggunakan nilai-nilai budaya Melayu Bangka sebagai salah satu sarana untuk mewujudkan terciptanya kesadaran hukum masyarakat; 4. menciptakan kerjasama yang harmonis antara kelompok atau golongan agama dan suku dalam masyarakat Bangka, agar mampu saling memahami dan menghormati keyakinan dan perbedaan masing-masing. Sasaran kedua adalah terjaminnya keadilan gender bagi peningkatan peran perempuan dalam berbagai bidang pembangunan Pemerintah Provinsi Babel selalu mengarahkan kebijakan untuk meningkatkan kualitas hidup dan peran perempuan serta kesejahteraan ibu dan anak dengan langkah-langkah kebijakan: 1. Fasilitasi peningkatan kualitas hidup dan peran perempuan serta secara bertahap pengurangan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak dengan memberdayakan dan melibatkan perempuan dalam berkehidupan baik dalam ekonomi, politik maupun sosial; 2. Peningkatan pelayanan kesehatan anak balita; 3. Peningkatan keselamatan ibu melahirkan dan anak; 4. Peningkatan peran perempuan di pedesaan; 5. Peningkatan dan penyempurnaan perangkat hukum dan peraturan-peraturan daerah dalam melindungi setiap individu dari berbagai tindak kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi, termasuk kekerasan dalam rumah tangga. Sasaran ketiga adalah meningkatnya pelayanan kepada masyarakat Pemerintah Provinsi Kep. Babel selalu mengarahkan kebijakan dalam upaya mendukung revitalisasi proses desentralisasi dan otonomi daerah dengan langkah-langkah: 1. Memperjelas pembagian kewenangan antar tingkat pemerintahan baik kewenangan mengenai tugas dan tanggung jawab dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. 2. Meningkatkan kerjasama antar pemerintah daerah yang ada di Provinsi Babel dan peningkatan pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat;

25

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

3. Menata kelembagaan pemerintah daerah agar mampu memberikan pelayanan masyarakat dengan lebih baik dan efisien dan mengoptimalkan kerjasama antar lembaga daerah di Provinsi Babel; 4. Menyiapkan ketersediaan aparatur Pemerintah Daerah yang berkualitas secara proporsional di seluruh wilayah dan daerah, serta meningkatkan kualitas aparatur Pemerintah Daerah melalui Pengelolaan SDM Pemerintah Daerah berdasarkan standar kompetensi; 5. Meningkatkan kapasitas keuangan Pemerintah Daerah, termasuk pengelolaan keuangan yang didasarkan pada prinsip-prinsip transparansi, akuntabilitas dan profesionalisme; 6. Menata daerah otonomi baru dan mengkaji pelaksanaan kebijakan pembentukan daerah otonom baru di waktu mendatang. Sasaran keempat adalah meningkatnya pelayanan birokrasi kepada masyarakat Penciptaan tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa Untuk mencapai sasaran-sasaran yang ingin dicapai, maka upaya penciptaan tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa diarahkan pada: 1. Menuntaskan penanggulangan penyalahgunaan kewenangan dalam bentuk praktik-praktik kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN) dengan cara: (a) (b) (c) (d) (e) (f) Penerapan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik (good public governance) pada semua tingkat dan lini pemerintahan dan pada semua kegiatan. Pemberian sanksi yang seberat-beratnya pada pelaku KKN sesuai dengan ketentuan yang berlaku Peningkatan efektivitas pengawasan aparatur negara melalui koordinasi dan sinergi pengawasan internal, eksternal dan pengawasan masyarakat Peningkatan budaya kerja aparatur yang bermoral, profesional, produktif dan bertanggung jawab. Percepatan pelaksanaan tindak lanjut hasil-hasil pengawasan dan pemeriksaan Peningkatan pemberdayaan penyelenggara negara, dunia usaha dan msyarakat dalam pemberantasan KKN

26

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

2. Meningkatkan kualitas penyelenggaraan administrasi negara melalui: (a) (b) (c) (d) (e) Penataan kembali fungsi-fungsi kelembagaan pemerintahan agar dapat berfungsi secara memadai, efektif, dengan struktur lebih proporsional, ramping, luwes dan responsif; Peningkatan efektivitas dan efisiensi ketatalaksanaan dan prosedur pada semua tingkat dan lini pemerintahan; Penataan dan peningkatan kapasitas SDM aparatur agar lebih profesional sesuai dengan tugas dan fungsinya untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat; Peningkatan kesejahteraan pegawai dan pemberlakuan sistem karier berdasarkan prestasi; Optimalisasi pengembangan dan pemanfaatan e-government dan dokumen/arsip negara dalam pengelolaan tugas dan fungsi pemerintahan. 3. Meningkatkan keberdayaan masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan melalui: (a) (b) (c) Peningkatan kualitas pelayanan publik terutama pelayanan dasar, pelayanan umum dan pelayanan unggulan; Peningkatan kapasitas masyarakat untuk dapat mencukupi kebutuhan dirinya, berpartisipasi dalam proses pembangunan dan mengawasi jalannya pemerintahan; Peningkatan transparansi, partisipasi dan mutu pelayanan melalui peningkatan akses dan penyebaran informasi Adapun untuk mencapai sasaran dalam penciptaan tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa yang termaksud dalam RPJMD Prov. Kep. Bangka Belitung, kebijakan diarahkan pada: 1. Memperkuat pranata dan peningkatan koordinasi dengan pihak-pihak terkait di daerah dalam penegakan hukum pemberantasan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN), diprioritaskan pada upaya. (a) (b) Peningkatan pelayanan kedinasan kepala daerah/wakil kepala daerah. Peningkatan sistem pengawasan internal dan pengendalian pelaksanaan kebijakan KDH

2. Melaksanakan pengawasan dan pengendalian aparatur pemerintah daerah sebagai penyelenggara pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan daerah, diprioritaskan pada upaya.

27

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

(a) (b) (c)

Peningkatan profesionalisme tenaga pemeriksa dan aparatur pengawasan Penataan dan penyempurnaan kebijakan sistem dan prosedur pengawasan Pengintensifan penanganan pengaduan masyarakat

3. Memperkuat akuntabilitas dan audit kinerja pemerintah daerah guna terselenggaranya sistem reward dan punishment yang mendorong akselerasi penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. 4. Meningkatkan kinerja pengelolaan keuangan daerah, diprioritaskan pada: (a) (b) Peningkatan dan pengembangan pengelolaan keuangan daerah Pembinaan dan fasilitasi pengelolaan keuangan kabupaten/kota

5. Meningkatkan pelayanan publik yang berazaskan good governance dan clean goverment, diprioritaskan pada: (a) (b) Pelayanan administrasi perkantoran Peningkatan sarana dan prasarana aparatur

Sasaran kelima adalah terlaksananya Pemilihan Umum (Pemilu) 2009 secara demokratis, jujur, dan adil Perwujudan lembaga demokrasi yang makin kokoh Adapun maksud dari sasaran-sasaran dalam agenda Perwujudan Lembaga Demokrasi Yang Makin Kokoh tersebut diarahkan untuk: 1. Peningkatan kinerja lembaga legislatif, diprioritaskan pada upaya Peningkatan kapasitas lembaga perwakilan rakyat daerah 2. Memperkuat akuntabilitas dan audit kinerja pemerintah daerah guna terselenggaranya sistem reward dan punishment yang mendorong akselerasi penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah,

28

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Adapun capaian berdasarkan arah kebijakan di atas adalah sebagai berikut: Pembenahan sistem hukum nasional dan politik Pembenahan sistem hukum pada tingkat Pemerintah Daerah dapat dilihat dari jumlah perda yang dikeluarkan dan usaha-usaha yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah untuk melakukan sinkronisasi terhadap peraturan daerah disesuaikan dengan peraturan-peraturan yang lebih tinggi atau peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat. Sampai dengan tahun 2006 Pemerintah Daerah telah mengeluarkan 50 peraturan daerah, dengan pencabutan 21 peraturan darah, beberapa diantaranya dikarenakan ketidaksesuaian peraturan dengan peraturan yang lebih tinggi / peraturan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat. Pada tahun 2007 Pemerintah Daerah mengeluarkan 16 peraturan daerah dengan 1 pencabutan peraturan daerah. Jumlah ini sedikit banyak memberikan gambaran usaha Pemerintah Daerah untuk menata produk hukumnya serta usaha untuk mensinkronisasi peraturan daerah dengan peraturan-peraturan yang ada di atasnya. Tabel 3.1.1 Produk Hukum 2001 s/d 2007 Produk Hukum 5 perda 33 perda 8 perda 5 perda 9 perda 11 perda 16 perda 1 perda dicabut 21 perda dicabut

Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007

Keterangan

Penciptaan tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa Secara keseluruhan, berbagai capaian dalam upaya-upaya yang telah dilakukan dalam pembangunan bidang penciptaan tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa telah mengarah pada sasaran–sasaran yang tertuang dalam RPJMD 2007-2012. Adapun capaian-capainnya adalah sebagai berikut:

29

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

1. Tidak adanya praktek korupsi yang melibatkan pejabat pemerintah daerah Kepulauan Bangka Belitung. Hal tersebut ditandai dengan tidak adanya berkas yang masuk pada KAJATI Bangka Belitung sampai bulan November tahun 2008. Kemungkinan yang lain adalah kasus korupsi masih dalam proses penyelidikan pihak kepolisian sehingga belum dilakukannya penyidikan maupun pemberkasan ke KAJATI. 2. Prosentase peyelesaian kasus tindak pidana korupsi daerah. Dengan tidak adanya kasus korupsi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang sampai ke pengadilan maka tidak ada penyelesaian untuk kasus tindak pidana korupsi di daerah ini Perwujudan lembaga demokrasi yang makin kokoh 1. Terselenggaranya kegiatan Pilkada Gubernur dengan baik dan lancar pada tahun 2007 2. Muncul banyak lembaga swadaya masyarakat Penghormatan, pemenuhan, dan penegakkan atas hukum dan pengakuan atas Hak Asasi Manusia Selama tahun 2006-2007 pemerintah Provinsi Babel masih berkonsultasi atau menunggu pemerintah pusat dalam pelaksanaan rencana aksi yang menjadi sasaran dalam RPJMN. Pemerintah Provinsi Babel mendukung aksi pelaksanaan HAM melalui panitia pelaksana yang telah dibentuk di provinsi ini melalui kegiatan, antara lain: 1. Melakukan persiapan harmonisasi peraturan daerah (perda); 2. Diseminasi dan pendidikan HAM; 3. Penerapan norma dan standar HAM; 4. Pemantauan evaluasi dan laporan pelanggaran HAM; 5. Pemantauan evaluasi isu-isu strategis dalam pelanggaran HAM. Dukungan penuh diberikan oleh pemerintah Provinsi Babel dalam aksi-aksi di bidang Perlindungan Anak dan Perlindungan Perempuan serta aksi-aksi di bidang lain yang akan dilaksanakan melalui RPJMD Provinsi Babel. Berbagai pencapaian yang sudah ada masih diiringi pula pencapaian yang belum memenuhi tujuan seperti:

30

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

1. Masih belum efektifnya penguatan lembaga/instansi hukum di Provinsi Babel serta lembaga yang fungsi dan tugasnya menegakkan hak asasi manusia. 2. Masih belum terlaksananya seluruh rencana kegiatan operasional penegakan hukum dan HAM dalam rangka menyelenggarakan ketertiban sosial agar dinamika maysarakat Babel khususnya dapat berjalan dengan sewajarnya. 3. Belum mampu terbenahinya seluruh sistem manajemen penanganan perkara yang menjamin akses publik. 4. Belum terlaksana sepenuhnya pengembangan sistem pengawasan perkara yang transparan dan akuntabel; 5. Belum terlaksananya sepenuhnya pengembangan sistem manajemen hukum yang transparan; 6. Belum kuatnya koordinasi dan kerjasama antara pihak terkait dalam menjamin efektivitas penegakan hukum dan HAM.

31

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

BAB 3.2. PEMBENAHAN SISTEM HUKUM NASIONAL DAN POLITIK HUKUM

I.

Pengantar

Salah satu tantangan yang dihadapi oleh Pemerintah, baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah, adalah masalah konsistensi antara produk hukum yang dihasilkan oleh Pemerintah Pusat dan produk hukum yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah. Hal ini pula yang menjadi fokus perhatian Pemerintah Propinsi Bangka Belitung. Sasaran yang ditetapkan dalam RPJMN berupa terciptanya sistem hukum nasional yang adil, terjaminnya konsistensi peraturan perundangan, dan kelembagaan peradilan yang berwibawa diusahakan oleh Pemerintah Daerah melalui arah kebijakan dan strategi pencapaian yang ditetapkan di dalam RPJMD. II. Kondisi Awal RPJMN di tingkat Daerah

Semenjak berdirinya Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Pemerintah Daerah berusaha untuk melakukan sinkronisasi peraturan dan produk hukum dengan peraturan yang tinggi di Pemerintah Pusat. Pada aspek ini Pemerintah Daerah lebih memfokuskan pada penyusunan perda-perda yang sifatnya mendesak bagi operasional provinsi. Sampai dengan tahun 2006 Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah mengeluarkan 50 peraturan daerah. Jumlah ini belum termasuk 21 peraturan yang dicabut pada tahun 2002. III. Sasaran yang Ingin Dicapai

Untuk mendukung pembenahan sistem dan politik hukum, sasaran yang akan dilakukan dalam tahun 20042009 adalah terciptanya sistem hukum nasional yang adil, konsekuen, dan tidak diskriminatif (termasuk tidak diskriminatif terhadap perempuan atau bias gender); terjaminnya konsistensi seluruh peraturan perundangundangan pada tingkat pusat dan daerah, serta tidak bertentangan dengan peraturan dan perundangan yang lebih tinggi; dan kelembagaan peradilan dan penegak hukum yang berwibawa, bersih, profesional dalam upaya memulihkan kembali kepercayaan hukum masyarakat secara keseluruhan.

32

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

IV.

Arah Kebijakan

Kebijakan yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah berkenaan dengan aspek pembenahan sistem hukum dan politik hukum adalah: 1. Meneruskan penyusunan peraturan-peraturan daerah (Perda) sebagai penjabaran dari aturan perundang-undangan yang lebih tinggi sebagai dasar penetapan kebijakan public Pemerintah Daerah yang legitimate serta melakukan penegakan hukum secara konsisten dan konsekuen baik di lingkup internal Pemerintahan maupun masyarakat. Strategi yang dilaksanakan dalam pencapaian misi ini adalah: 1. Peningkatan serta optimalisasi fungsi-fungsi lembaga legislative daerah dalam menjalankan fungsinya sebagai wakil masyarakat yang turut dalam pengambilan kebijakan bagi kesehjateraan masyarakat. 2. Peningkatan kualitas serta kapasitas aparatur pemerintah daerah dalam penyelenggaran pemerintahan, pemberian pelayanan pada masyarakat dan pelaksana pembangunan di daerah. 2. Meningkatkan kapabilitas aparatur pemerintah untuk menciptakan Good Governance dan Clean Governance secara tersistem dan menyeluruh dengan melakukan gerakan bersama dalam pemberantasan KKN berbasis kultur dan agama. Melakukan penerapan prinsip reward and punishment dalam rangka meningkatkan rasa tanggung jawab dan kebanggaan profesionalisme dengan tidak mengenyampingkan jiwa pengabdian sebagai ‘abdi negara’ dan semangat patriotism sebagai bagian anak bangsa yang senantiasa berupaya melestarikan semangat kejuangan 17 Agustus 1945. Penegakan hukum (law enforcement) dilakukan secara konsisten dan konsekuen tanpa pandang bulu, menyeluruh ‘tidak tebang pilih’ berdasarkan kepada peraturan dan undangundang yang berlaku baik di lingkungan pemerintahan maupun masyarakat pada umumnya. Strategi yang dilaksanakan dalam pencapaian misi ini adalah: 1. Mewujudkan good governance dan clean governance serta adanya kesepakatan semua pihak baik pihak eksekutif, legislative, dan yudikatif serta masyarakat mulai tahun 2007 dan seterusnya bahwa Propinsi Kepulauan Bangka Belitung bebas dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) dalam segala bentuknya.

33

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

2. Melaksanakan pengwasan dan pengendalian terhadap aparatur pemerintahan secra terus menerus serta pemberian ‘reward and punishment’ sesuai aturan perundang-undangan yang berlaku dengan prinsip adil dan merata. 3. Peningkatan penyediaan sarana dan prasarana dalam mendukung pelayanan public yang berbasis good governance dan clean governance. 4. Menerapkan sistem dan prosedur pengelolaan keuangan daerah yang sesuai dengan peraturan perundangan terkini serta didasarkan pada prinsip ekonomis, efisiensi, dan efektif. Kegiatan-kegiatan berkenaan dengan pembenahan sistem hukum dan politik hukum yang telah dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2007: 1. Penyusunan peraturan daerah 2. Sosialisasi perda 3. Sosialisasi perda monitoring dan evaluasi perda kabupaten / kota dan peraturan Bupati / Walikota serta rakorkum 4. Penyusunan produk hukum propinsi 5. Penyusunan produk hukum propinsi kompilasi perda, pergub, dan lembaran daerah 6. Bintek kuasa hukum V. Pencapaian RPJMN di tingkat Daerah

Pembenahan sistem hukum pada tingkat Pemerintah Daerah dapat dilihat dari jumlah perda yang dikeluarkan dan usaha-usaha yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah untuk melakukan sinkronisasi terhadap peraturan daerah disesuaikan dengan peraturan-peraturan yang lebih tinggi atau peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat. Sampai dengan tahun 2006 Pemerintah Daerah telah mengeluarkan 50 peraturan daerah, dengan pencabutan 21 peraturan darah, beberapa diantaranya dikarenakan ketidaksesuaian peraturan dengan peraturan yang lebih tinggi / peraturan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat. Pada tahun 2007 Pemerintah Daerah mengeluarkan 16 peraturan daerah dengan 1 pencabutan peraturan daerah. Jumlah ini sedikit banyak memberikan gambaran usaha Pemerintah Daerah untuk menata produk hukumnya serta usaha untuk mensinkronisasi peraturan daerah dengan peraturan-peraturan yang ada di atasnya.

34

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Tabel 3.2.1 Produk Hukum 2001 s/d 2007 Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Produk Hukum 5 perda 33 perda 8 perda 5 perda 9 perda 11 perda 16 perda 1 perda dicabut 21 perda dicabut Keterangan

VI.

Rekomendasi Tindak Lanjut

Langkah-langkah yang dapat diupayakan oleh Pemerintah Daerah berkenaan dengan penataan produk hukum adalah: mengeluarkan produk hukum yang kontekstual atau sesuai dengan keadaan daerah, pelaksanaan pembagian urusan / bidang yang konsisten antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, peningkatkan kerjasama antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah serta antar Pemerintah daerah.

VII. Penutup Berbagai kebijakan pemerintah daerah provinsi Bangka Belitung, termasuk produk hukum selalu berorientasi pada sifat otonomi daerah, yaitu akselerasi dengan permasalahan dan potensi yang ada di masyarakat Bangka Belitung. Misalnya berkaitan dengan Perda Pertambangan Timah, Perda Lada dan lain sebagainya yang dapat mensejahterakan masyarakat secara ekonomi, namun tetap memperhatikan kondisi lingkungan. Disamping itu, perlu pula Perda yang dapat mendukung KAMTIBMAS untuk mengurangi penyakit masyarakat, serta produk hukum yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku, baik secara formil maupun materiil sehingga tidak akan dibatalkan oleh pemerintah pusat atau justru bertentangan dengan keinginan masyarakat.

35

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

BAB 3.3 PENGHAPUSAN DISKRIMINASI DALAM BERBAGAI BENTUK

I.

Pengantar

Diskriminasi menjadi isu yang sangat penting baik bagi Pemerintah Daerah maupun bagi masyarakat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Hal ini dikarenakan oleh sebaran demografis masyarakat Bangka Belitung yang sangat heterogen. Kemajemukan masyarakat di Bangka Belitung terdiri atas suku Melayu, Tionghoa, Jawa, Madura, Bugis, Buton, serta beberapa suku dari daratan Pulau Sumatera (misalnya Minang, Batak, Lampung, dan Palembang). Masyarakat ini telah lama mendiami wilayah ini dan telah mengalami percampuran melalui perkawinan antar etnis. Namun secara umum mayoritas etnis adalah pada suku Melayu dan Cina dengan etnis minoritas yaitu Madura, Jawa, Bugis, dan Buton. Dengan sebaran yang majemuk, jumlah kasus-kasus yang berkaitan dengan diskriminasi di Provinsi Kepuluan Bangka Belitung bisa dikategorikan sangat minim atau bahkan hampir tidak ada. II. Kondisi Awal RPJMN di tingkat Daerah

Meskipun masyarakat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan masyarakat heterogen dengan komposisi etnis terdiri dari suku Melayu, Tionghoa, Jawa, Madura, Bugis, Buton, serta beberapa suku dari daratan Pulau Sumatera namun sampai dengan tahun 2007 belum terdapat kasus-kasus yang berkaitan dengan diskriminasi. III. Sasaran yang Ingin Dicapai

Sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan di dalam RPJMN, Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menetapkan sasaran sebagai berikut: 1. Terlaksananya peraturan perundang-undangan yang tidak mengandung perlakuan diskriminasi baik kepada setiap warga negara, lembaga/instansi pemerintah, maupun lembaga swasta/dunia usaha secara konsisten dan transparan; 2. Terkoordinasikannya dan terharmonisasikannya pelaksanaan peraturan - perundang-undangan yang tidak menonjolkan kepentingan tertentu sehingga dapat mengurangi perlakuan diskriminatif terhadap warga negara; terciptanya aparat dan sistem pelayanan public yang adil dan dapat diterima oleh setiap warga negara.

36

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

IV.

Arah Kebijakan Meneruskan penyusunan peraturan-peraturan daerah (Perda) sebagai penjabaran dari aturan perundang-undangan yang lebih tinggi sebagai dasar penetapan kebijakan publik Pemerintah Daerah yang legitimate serta melakukan penegakan hukum secara konsisten dan konsekuen baik di lingkup internal Pemerintahan maupun masyarakat.

Arah kebijakan untuk aspek ini mengacu kepada kebijakan berikut:

Strategi yang dilaksanakan dalam pencapaian misi ini adalah: 1. Peningkatan serta optimalisasi fungsi-fungsi lembaga legislative daerah dalam menjalankan fungsinya sebagai wakil masyarakat yang turut dalam pengambilan kebijakan bagi kesehjateraan masyarakat. 2. Peningkatan kualitas serta kapasitas aparatur pemerintah daerah dalam penyelenggaran pemerintahan, pemberian pelayanan pada masyarakat dan pelaksana pembangunan di daerah. 1. Meningkatkan kapabilitas aparatur pemerintah untuk menciptakan Good Governance dan Clean Governance secara tersistem dan menyeluruh dengan melakukan gerakan bersama dalam pemberantasan KKN berbasis kultur dan agama. Melakukan penerapan prinsip reward and punishment dalam rangka meningkatkan rasa tanggung jawab dan kebanggaan profesionalisme dengan tidak mengenyampingkan jiwa pengabdian sebagai ‘abdi negara’ dan semangat patriotism sebagai bagian anak bangsa yang senantiasa berupaya melestarikan semangat kejuangan 17 Agustus 1945. Penegakan hukum (law enforcement) dilakukan secara konsisten dan konsekuen tanpa pandang bulu, menyeluruh ‘tidak tebang pilih’ berdasarkan kepada peraturan dan undang-undang yang berlaku baik di lingkungan pemerintahan maupun masyarakat pada umumnya. Strategi yang dilaksanakan dalam pencapaian misi ini adalah: 1. Mewujudkan good governance dan clean governance serta adanya kesepakatan semua pihak baik pihak eksekutif, legislative, dan yudikatif serta masyarakat mulai tahun 2007 dan seterusnya bahwa Propinsi Kepulauan Bangka Belitung bebas dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) dalam segala bentuknya. 2. Melaksanakan pengawasan dan pengendalian terhadap aparatur pemerintahan secra terus menerus serta pemberian ‘reward and punishment’ sesuai aturan perundang-undangan yang berlaku dengan prinsip adil dan merata.

37

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

3. Peningkatan penyediaan sarana dan prasarana dalam mendukung pelayanan public yang berbasis good governance dan clean governance. 4. Menerapkan sistem dan prosedur pengelolaan keuangan daerah yang sesuai dengan peraturan perundangan terkini serta didasarkan pada prinsip ekonomis, efisiensi, dan efektif. V. 5-1. Pencapaian RPJMN di tingkat Daerah Upaya yang Dilakukan Hingga Tahun 2007 1. sosialisasi tentang kesadaran anti diskriminasi 2. melibatkan masyarakat multi etnis dalam berbagai kegiatan pemerintah maupun kemasyarakatan 3. meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak ada diskriminasi dalam bidang politik dan kebudayaan 4. sosialisasi kepada pemerintah maupun pihak swasta agar tidak ada diskriminasi dalam hal pekerjaan 5-2. Posisi Capai Hingga Tahun 2007 1. Sampai dengan tahun 2007 belum ada kasus diskriminasi. 2. Hubungan antar masyarakat yang multi entnis sejauh ini dipandang sudah terjalin dalam suasa rukun, damai dan potensi tindakan diskriminasi dapat diminimalisis karena didukung oleh potensi kerukunan, yaitu : a. telah terbentuknya Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) ditingkat provinsi b. adanya tradisi turun menurun/kearifan lokal dalam menciptakan keharmonisan hubungan antar anggota masyarakat yang dikukuhkan menjadi semboyan pemerintah provinsi dan kabupaten, yaitu ”Serumpun Sebalai” dan ”Sepintu Sedulang” c. adanya kesadaran di masyarakat tentang pentingnya hidup rukun dan saling memahami serta berkedudukan sama tanpa ada kekhususan sebuah etnis tertentu dalam hubungan bertetangga dan bermasyarakat d. pembaruan etnis Tionghoa dengan etnis lainnya berlangsung dengan baik dan telah berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu, digambarkan dengan semboyan ”Fan Ngin Thing Ngin Jit Jong (masyarakat pribumi dan Tionghoa adalah sama) e. tradisi saling berkunjung secara kekeluargaan antar umat beragama dan antar etnis dalam setiap perayaan hari-hari besar keagamaan.

38

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

f. terjadinya proses peminjaman budaya antar etnis, sehingga terjadi proses integrasi yang harmonis g. penentuan kepemimpinan ditingkat bawah tidak lagi melalui pertimbangan spesifikasi etnis h. Tidak adanya diskriminasi dalam hal pekerjaan, baik dari aspek jender, agama, ras dan lain-lain. VI. Rekomendasi Tindak Lanjut Kondisi dimana tidak ada kasus diskriminasi sampai dengan tahun 2007 merupakan salah satu capaian yang diperoleh oleh Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Namun demikian, untuk menjaga kondisi tersebut Pemerintah daerah perlu mengupayakan beberapa hal, diantaranya berkoordinasi dengan seluruh elemen masyarakat dalam penyusunan peraturan atau kebijakan yang berkaitan dengan masyarakat dan atau kelompok masyarakat serta secara berimbang mengakomodir kepentingan masyarakat. VII. Penutup Bangka Belitung sebagai provinsi baru dengan penduduk multi etnis dan agama, sampai dengan tahun 2007 tidak ada potensi diskriminasi, baik politik, ekonomi, gender dan lain-lain. Namun demikian berbagai upaya pre-emtif dan preventif terus dilakukan baik oleh masyarakat maupun pemerintah untuk meminimalisir berbagai potensi yang dapat memicu konflik dan diskriminasi, karena apabila tidak dapat menghambat proses pembangunan berkelanjutan.

39

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

BAB 3.4 PENGHORMATAN, PENGAKUAN, DAN PENEGAKAN ATAS HUKUM DAN PENGAKUAN HAK ASASI MANUSIA

I.

Pengantar

Penghormatan terhadap hukum dan hak asasi manusia (HAM) di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan suatu keharusan dan tidak perlu ada tekanan dari pihak manapun untuk melaksanakannya. Hal tersebut tidak hanya merupakan tugas pemerintah daerah, tetapi juga seluruh warga negara untuk memastikan bahwa hak tersebut dapat dipenuhi secara konsisten dan berkesinambungan. Penegakan hukum dan ketertiban di Provinsi Babel merupakan syarat mutlak bagi upaya-upaya penciptaan daerah sebagai bagian dari Indonesia yang damai dan sejahtera. Apabila hukum ditegakkan dan ketertiban diwujudkan, maka kepastian, rasa aman, tenteram, ataupun kehidupan yang rukun akan dapat terwujud. Namun ketiadaan penegakan hukum dan ketertiban akan menghambat pencapaian yang berusaha dan bekerja dengan baik untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal tersebut menunjukkan adanya keterkaitan yang erat antara damai, adil dan sejahtera. Untuk itu perbaikan pada aspek keadilan akan memudahkan pencapaian kesejahteraan dan kedamaian. II. Kondisi Awal RPJMN 2004-2009 (Tahun 2004-2005)

Pemerintah daerah dalam hal ini Provinsi Babel dan pemerintahan kabupaten/kota yang ada didalamnya secara terus-menerus berupaya untuk meningkatkan penghormatan, pengakuan, dan penegakan atas hukum dan HAM dengan proses yang lebih transfaran dan melibatkan instansi/lembaga pemerintah. Pada awal-awal tahun pelaksanaan RPJMN 2004-2009 masih banyak ditemui berbagai permasalahan terkait dengan penghormatan, pengakuan, dan penegakan atas hukum dan HAM, antara lain: 1. 2. 3. Penegakan hukum dan kepastian hukum belum dinikmati oleh masyarakat Indonesia; Penegakan hukum yang tidak adil, tidak tegas, dan diskriminatif; Besarnya harapan masyarakat dan tuntutan terhadap kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) untuk menegakkan hukum dan kepastian hukum;

40

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

III.

Sasaran yang Ingin Dicapai

Untuk mendukung upaya penghormatan, pengakuan, dan penegakan atas hukum dan HAM, sasaran yang ingin dicapai dalam RPJMN 2004-2009; pemerintah Provinsi Babel mendukung secara penuh rencana dan program yang terkait dengan penghormatan, pemenuhan dan penegakan terhadap hukum dan HAM, antara lain: 1. 2. 3. 4. 5. IV. Rencana Aksi Hak Asasi Manusia 2004-2009; Rencana Aksi Nasional Pemberantasan Korupsi (RAN-PK); Rencana Aksi Nasional Penghapusan Eksploitasi Seksual Komersial Anak; Rencana Aksi Nasional Penghapusan Bentuk-bentuk Pekrjaan Terburuk untuk Anak; Program Nasional Bagi Anak Indoenesia (PNBAI) Arah kebijakan

Pemerintah Provinsi Babel selalu mengarahkan kebijakan untuk mneingkatkan penegakan dan kepastian hukum yang konsisiten yang konsisten terhadap HAM serta perlakuan yang adil dan tidak diskriminatif dengan langkah-langkah: 1. 2. 3. 4. Meningkatkan upaya pemajuan, perlindungan, penghormatan, pengakuan, dan penegakan hukum dan HAM; Menegakan hukum secara adil, konsekuen, tidak diskriminatif, dan memihak pada rakyat kecil; Menggunakan nilai-nilai budaya Melayu Bangka sebagai salah satu sarana untuk mewujudkan terciptanya kesadaran hukum masyarakat; Menciptakan kerjasama yang harmonis antara kelompok atau golongan agama dan suku dalam masyarakat Bangka, agar mampu saling memahami dan menghormati keyakinan dan perbedaan masing-masing. V. 5-1. Pencapaian RPJMN di Provinsi Babel (2005-2007) Upaya yang Dilakukan Hingga Tahun 2007

Upaya yang dilakukan pemerintah Provinsi Babel untuk mencegah dan memberantas korupsi di provinsi dengan mengikuti undang-undang ataupun peraturan yang dikeluarkan pemerintah pusat yang berkaitan dengan pemberantasan korupsi.

41

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Dalam rangka penanganan kasus perkara korupsi, selama tahun 2006 POLDA Babel telah menerima pengaduan 3 (tiga) kasus korupsi, dan selama tahun 2007 POLDA Babel menerima pengaduan 2 (dua) kasus korupsi. Dalam penanganan kasus pemerkosaan, jumlah kasus pemerkosaan yang tercatat di Depkum HAM Babel selama tahun 2005 sebanyak 10 kasus, tahun 2006 sebanyak 5 kasus dan tahun 2007 sebanyak 3 kasus. Dalam penanganan kasus pelecehan seksual, jumlah kasus pelecehan seksual yang tercatat di Depkum HAM Babel selama tahun 2005 sebanyak 8 kasus, tahun 2006 sebanyak 5 kasus dan tahun 2007 sebanyak 1 kasus. Dalam penganganan kasus trafficking, jumlah kasus trafficking yang tercatat di Depkum HAM Babel selama tahun 2005 sebanyak 32 kasus, tahun 2006 sebanyak 18 kasus dan tahun 2007 sebanyak 8 kasus. Terkait dengan tindak lanjut terhadap pengaduan masyarakat, maka telah dilaksanakan kegiatan koordinasi kerjasama dengan beberapa instansi yang ada di Provinsi Babel seperti Kepolisian Daerah, Kejaksaan Tinggi, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), dan Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan Daerah BPKPD). 5-2. Posisi Capai Hingga Tahun 2007 Pemerintah Provinsi Babel

Selama tahun 2006-2007 pemerintah Provinsi Babel masih berkonsultasi atau menunggu pemerintah pusat dalam pelaksanaan rencana aksi yang menjadi sasaran dalam RPJMN. kegiatan, antara lain: 1. Melakukan persiapan harmonisasi peraturan daerah (perda); 2. Diseminasi dan pendidikan HAM; 3. Penerapan norma dan standar HAM; 4. Pemantauan evaluasi dan laporan pelanggaran HAM; 5. Pemantauan evaluasi isu-isu strategis dalam pelanggaran HAM. 6. Mensosialisasikan tentang pentingnya HAM kepada masyarakat mendukung aksi pelaksanaan HAM melalui panitia pelaksana yang telah dibentuk di provinsi ini melalui

42

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

7. Membentuk Pokja (kelompok kerja) khusus dengan berlandanskan Surat Keputusan Gubernur Babel. Tugasnya adalah sebagai mediator penyelesaian kasus atau pelanggaran yang menimpa korban wanita. 8. Pembentukan dan penguatan Institusi pelaksana RANHAM di Kabupaten Bangka, Kabupaten Belitung, Kabupaten Belitung Timur dan Kota Pangkalpinang. 9. Dukungan penuh diberikan oleh pemerintah Provinsi Babel dalam aksi-aksi di bidang Perlindungan Anak dan Perlindungan Perempuan serta aksi-aksi di bidang lain yang akan dilaksanakan melalui RPJMD Provinsi Babel. 5-3. Permasalahan Pencapaian Sasaran

Berbagai pencapaian yang sudah ada masih diiringi pula pencapaian yang belum memenuhi tujuan seperti: 1. Masih belum efektifnya penguatan lembaga/instansi hukum di Provinsi Babel serta lembaga yang fungsi dan tugasnya menegakkan hak asasi manusia. 2. Masih belum terlaksananya seluruh rencana kegiatan operasional penegakan hukum dan HAM dalam rangka menyelenggarakan ketertiban sosial agar dinamika maysarakat Babel khususnya dapat berjalan dengan sewajarnya. 3. Belum mampu terbenahinya seluruh sistem manajemen penanganan perkara yang menjamin akses publik. 4. Belum terlaksana sepenuhnya pengembangan sistem pengawasan perkara yang transparan dan akuntabel; 5. Belum terlaksananya sepenuhnya pengembangan sistem manajemen hukum yang transparan; 6. Belum kuatnya koordinasi dan kerjasama antara pihak terkait dalam menjamin efektivitas penegakan hukum dan HAM VI. Rekomendasi Tindak Lanjut Untuk menegakkan penghormatan terhadap hukum dan hak asasi manusia (HAM) di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung maka ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian pemerintah Provinsi dan menjadi hal (agenda) yang harus dijalankan kedepan yaitu: 1. Memberikan sosialisasi undang-undang dan peraturan yang berkatian dengan penegakan hukum dan HAM ke setiap instansi/lembaga yang ada di Provinsi Babel, baik yang ada di tingkat I maupun di tingkat II.

43

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

2.

Membentuk susunan dan koordinasi terstruktur dalam hal penanganan kasus-kasus atau yang berhubungan dengan pelanggaran hukum dan HAM di Provinsi Babel.

VII. Penutup Secara umum, upaya-upaya yang dilakukan pemerintah daerah Provinsi Babel untuk mencipatakan penghormatan, pengakuan, dan penegakan hukum dan HAM semakin memperlihatkan perkembangan positif selam tahun 2005-2007. Terkait kasus korupsi, walapun dalam jumlah kecil tetapi tetap menjadi perhatian dan pengananan khusus dari instansi dan lembaga pemerintah yang ada di Provinsi Babel khususnya dan pemerintah pusat secara umum. Secara keseluruhan masih dibutuhkan waktu yang panjang untuk menjalankan penghormatan, pengakuan, dan penegakan hukum dan HAM di Provinsi Babel secara khusus dan Indonesia secara umum.

44

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

BAB 3.5 PENINGKATAN KUALITAS KEHIDUPAN DAN PERAN PEREMPUAN SERTA KESEJAHTERAAN DAN PERLINDUNGAN ANAK

I.

Pengantar

Selama ini, partisipasi perempuan dalam pembangunan masih rendah. Hal ini disebabkan oleh adanya berbagai bentuk praktik diskriminasi serta ketimpangan struktur sosial-budaya masyarakat yang masih diwarnai penafsiran ajaran agama yang bias gender. Akses sebagian besar perempuan terhadap layanan kesehatan yang lebih baik, pendidikan yang lebih tinggi, dan keterlibatan dalam kegiatan publik yang lebih luas juga masih terbatas. Hal tersebut juga terjadi di provinsi Babel. Untuk itu, peningkatan kualitas hidup perempuan melalui pemberdayaan perempuan terus dibenahi oleh pemerintah Provinsi Babel, melalui pemahaman mengenai undang-undang dan peraturan yang berhubungan dengan kualitas kehidupan dan peran perempuan serta kesejahteraan dan perlindungan anak. II. Kondisi Awal RPJMN 2004-2009 (Tahun 2004-2005)

Hingga tahun 2003, hasil pembangunan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup perempuan masih menunjukkan banyak kesenjangan di berbagai bidang. Dibidang pendidikan, penduduk perempuan usia 10 tahun ke atas yang tidak/belum pernah sekolah besarnya dua kali lipat penduduk laki-laki. Begitu pula penduduk perempuan yang buta huruf masih sekitar 12,3% sedangkan penduduk laki-laki 5,8%. Di bidang kesehatan, angka kematian ibu (AKI) masih tinggi, yaitu 307 per 100.000 kelahiran hidup. Di bidang politik pun ketinggalan perempuan masih sangat jauh. Hasil pemilu tahun 2004 menunjukkan bahwa keterwakilan perempuan di lembaga legislatif hanya 11% di DPR dan 19,8% di DPRD. Pemerintah Daerah Provinsi Babel dalam hal ini tetap memperhatikan kualitas hidup dan peran perempuan serta kesejahteraan ibu dan anak dalam setiap kebijakan yang diambil. Dukungan pemerintah daerah terhadap peningkatan partisipasi perempuan dalam bidang pendidikan dan kesehatan melalui peraturan-peraturan daerah yang dibuat untuk menjamin tercapainya pendidikan baik terhadap kaum laki-laki dan perempuan. Pemerintah juga terus berusaha melalui pemerataan kondisi dan peningkatan kualitas baik dibidang pendidikan dan kesehatan di daerah Babel.

45

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

III.

Sasaran yang Ingin Dicapai

Untuk mendukung upaya peningkatan kualitas kehidupan dan peran perempuan serta kesejahteraan ibu dan anak di Provinsi Babel, pemerintah daerah berupaya untuk menjalankan sasaran yang telah ditetapkan didalam RPJMN yaitu: 1. 2. 3. 4. IV. Terjaminnya keadilan gender dalam perundangan, program pembangunan, dan kebijakan publik; Menurunnya kesenjangan pencapaian pembangunan antara perempuan dan laki-laki yang diukur oleh angka GDI dan GEM; Menurunnya tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak; serta Meningkatnya kesejahteraan dan perlindungan anak Arah kebijakan

Pemerintah Provinsi Babel selalu mengarahkan kebijakan untuk meningkatkan kualitas hidup dan peran perempuan serta kesejahteraan ibu dan anak dengan langkah-langkah kebijakan: 1. Fasilitasi peningkatan kualitas hidup dan peran perempuan serta secara bertahap pengurangan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak dengan memberdayakan dan melibatkan perempuan dalam berkehidupan baik dalam ekonomi, politik maupun sosial 2. 3. 4. V. 5-1. Peningkatan pelayanan kesehatan anak balita Peningkatan keselamatan ibu melahirkan dan anak Peningkatan peran perempuan di pedesaan Pencapaian RPJMN di Provinsi Babel (2005-2007) Upaya yang Dilakukan Hingga Tahun 2007

Upaya yang dilakukan pemerintah Provinsi Babel untuk meningkatkan kualitas hidup dan peran perempuan serta kesejahteraan ibu dan anak di provinsi dengan mengikuti undang-undang ataupun peraturan yang dikeluarkan pemerintah pusat yang berkaitan dengan tersebut. Pemenuhan terhadap hak-hak dasar perempuan dan anak untuk memperoleh keadilan cukup baik, terutama ini dibuktikan apabila terjadi suatu pelanggaran hukum dan dilaporkan maka aparat proaktif dalam bertindak, tidak melihat status atau golongan.

46

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Peran aktif LSM khususnya yang bergerak di bidang anak dan perempuan, seperti di Kota Pangkalpinang yang memperjuangkan dengan cukup baik hak anak dan perlindungan anak, demikian pula dengan perempuan. 5-2. Posisi Capai Hingga Tahun 2007

Selama tahun 2006-2007 pemerintah Provinsi Babel tetap mengikuti arahan pemerintah pusat dalam pelaksanaan peningkatan kualitas hidup dan peran perempuan serta kesejahteraan ibu dan anak yang menjadi sasaran dalam RPJMN. Namun dukungan penuh diberikan oleh pemerintah Provinsi Babel dalam aksi-aksi yang akan dilaksanakan melalui RPJMD Provinsi Babel. 5.3 Permasalahan Pencapaian Sasaran Berbagai pencapaian yang sudah ada masih diiringi pula pencapaian yang belum memenuhi tujuan seperti: 1. 2. 3. Masyarakat masih belum menyadari tentang kedudukan dan hak kaum perempuan dalam proses pembanguan, baik secara fisik dan moral. Masih belum optimalnya kemampuan pemerintah dalam membentuk opini dan pandanganan masyarkat budaya dan agama terhadap undang-undang yang berhubungan kesetaraan gender. Masih belum penuhnya dukungan pemerintah daerah dalam peningkatan peran perempuan dibidang politik. VI. Rekomendasi Tingkat Lanjut Untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan peran perempuan serta kesejahteraan ibu dan anak di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung maka ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian pemerintah Provinsi dan menjadi hal (agenda) yang harus dijalankan kedepan yaitu: 1. Memberikan penekanan lebih jauh akan UU No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan UU No.23 Tahun 2004 tentang PKDRT mupun Konvensi Hak Anak ke setiap instansi/lembaga yang ada di provinsi Babel. 2. Membentuk lembaga khusus yang menangani KDRT, dan pusat koordinasi terkait instansi baik yang ada di daerah dan pusat.

47

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

VII. Penutup Secara umum, upaya-upaya yang dilakukan pemerintah daerah Provinsi Babel untuk meningkatkan kualitas hidup dan peran perempuan serta kesejahteraan ibu dan anak memperlihatkan perkembangan positif selama tahun 2005-2007. Membentuk lembaga khusus yang menangani KDRT, dan pusat koordinasi terkait instansi baik yang ada di daerah dan pusat Secara keseluruhan masih dibutuhkan waktu yang panjang untuk melakukan peningkatan kualitas hidup dan peran perempuan serta kesejahteraan ibu dan anak di Provinsi Babel secara khusus dan Indonesia secara umum.

48

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

BAB 3.6 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH

I.

Pengantar

Dengan disahkannya UU No.22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan UU No.25 Tahun 1999 Tentang Perimbangan Keuangan antara Pusat dan Daerah merupakan langkah awal dimulainya kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah. Hal ini direspon dengan baik oleh masyarakat yang ada di pulau Bangka dan pulau Belitung melalui pembentukan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung atau yang lazim disebut Provinsi Babel. Namun disadari oleh pemerintah daerah, dengan adanya system yang dibentuk dari UU tersebut memerlukan perubahan struktural yang besar di bidang kelembagaan, peraturan perundangundangan dan pemberdayaan masyarakat sipil di daerah Provinsi Babel. Pemerintah Provinsi Babel mendukung usaha Pemerintah Pusat dalam meletakkan dasar–dasar yang lebih kokoh bagi transformasi tersistem menuju otonomi daerah yang ideal II. Kondisi Awal RPJMN 2004-2009 (Tahun 2004-2005)

Pemerintah daerah dalam hal ini Provinsi Babel dan pemerintahan kabupaten/kota yang ada didalamnya secara terus-menerus berupaya mendukung revitalisasi prose desentralisasi dan otonomi daerah. Kondisi pada awal munculnya proses tersebut bersamaan dengan pembenahan Provinsi Babel sendiri, sehingga masih ada masalah-masalah yang timbul dapat dijelaskan sebagai berikut: 2.1 Masih Ada Ketidakjelasan Pembagian Kewenangan antara Pusat dan Daerah

Kewenangan pusat masih banyak belum didesentralisasikan karena peraturan dan perundangan sektoral yang masih belum disesuaikan dengan Undang-undang Pemerintah Daerah. Hal ini mengakibatkan berbagai permasalahan, antara lain dalam hal kewenangan, pengelolaan APBD, pengelolaan suatu kawasan atau pelayanan tertentu, pengaturan pembagian hasil sumberdaya alam dan pajak.

49

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Selain hal tersebut, timbul pula tumpang tindih kewenangan antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota yang mengakibatkan berbagai permasalahan dan konflik berbagai pihak dalam pelaksanaan suatu aturan, misalnya tentang pekerjaan umum, pertanahan, kehutanan dan pertambangan. 2.2 Masih Rendahnya Kerjasama Antarpemerintah Daerah

Kerjasama pemerintah daerah Tingkat I dan Tingkat II dan kerjasama antar pemerintah Tingkat II dirasakan masih rendah terutama dalam penyediaan pelayanan masyarakat didaerah terpencil, perbatasan antar daerah Tingkat II, tingkat urbanisasi dan pertumbuhan ekonomi. Kerjasama yang kurang juga dirasakan dibidang pengelolaan dan pemanfaatan SDA, pertanian, perkebunan serta perikanan.

2.3

Belum Efektif dan Efisiennya Penyelenggaraan Kelembagaan Daerah

Struktur organisasi dirasakan masih ada yang saling tumpang tindih. Prasarana dan sarana pemerintah terutama daerah Tingkat II hasil pemekaran masih minim. Kerjasama antar lembaga, termasuk antara Pemerintah Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, masyarakat, dan organisasi non-pemerintah belum optimal.

2.4

Masih Terbatas dan Rendahnya Kapasitas Aparatur Pemerintah Daerah

Hal ini ditunjukkan dengan masih terbatasnya ketersediaan aparatur Pemerintah Daerah dan kualitas serta kapasitas. Hal ini menyebabkan tingkat pelayanan publik tidak optimal yang ditandai dengan lambatnya kinerja pelayanan, tidak ada kepastian waktu, tidak transparan, dan kurang responsif terhadap permasalahan yang berkembang didaerahnya. Belum terbentuk sistem dan peraturan yang memadai di dalam perekrutan dan pola karir yang menyebabkan rendahnya sumber daya manusia berkualitas yang menjadi aparatur Pemerintah Daerah.

2.5

Masih Terbatasnya Kapasitas Keuangan Daerah

Belum efisiensinya prioritas alokasi belanja daerah secara proporsional, serta terbatasnya kemampuan pengelolaannya termasuk dalam melaksanakan prinsip transparansi dan akuntabilitas, serta profesionalisme dalam pekerjaan dan tugas sebagai aparatur pemerintah daerah.

50

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

III.

Sasaran yang Ingin Dicapai

Pemerintah Daerah Provinsi Babel mendukung upaya revitalisasi proses desentralisasi dan otonomi daerah dalam RPJMN 2004-2009 melaui sasaran yang ditetapkan sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. IV. Tercapainya sinkronisasi dan peraturan perundang-undangan pusat dan daerah; Meningkatnya kerjasama antarpemerintah daerah; Terbentuknya kelembagaan pemerintah daerah yang efektif, efisien dan akuntabel; Meningkatnya kapasitas pengelolaan sumber daya aparatur pemerintah daerah yang profesional dan kompeten; Terkelolanya sumber dana dan pembiayan pembangunan secara transparan, akuntabel, dan profesional; serta Tertatanya daerah-daerah otonom baru yang ada di Provinsi Babel. Arah kebijakan

Pemerintah Provinsi Babel selalu mengarahkan kebijakan dalam upaya mendukung revitalisasi proses desentralisasi dan otonomi daerah dengan langkah-langkah: 1. 2. 3. Memperjelas pembagian kewenangan antar tingkat pemerintahan baik kewenangan mengenai tugas dan tanggung jawab dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Meningkatkan kerjasama antar pemerintah daerah yang ada di Provinsi Babel dan peningkatan pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat; Menata kelembagaan pemerintah daerah agar mampu memberikan pelayanan masyarakat dengan lebih baik dan efisien dan mengoptimalkan kerjasama antar lembaga daerah di Provinsi Babel; 4. Menyiapkan ketersediaan aparatur Pemerintah Daerah yang berkualitas secara proporsional di seluruh wilayah dan daerah, serta meningkatkan kualitas aparatur Pemerintah Daerah melalui Pengelolaan SDM Pemerintah Daerah berdasarkan standar kompetensi; 5. 6. Meningkatkan kapasitas keuangan Pemerintah Daerah, termasuk pengelolaan keuangan yang didasarkan pada prinsip-prinsip transparansi, akuntabilitas dan profesionalisme; Menata daerah otonomi baru dan mengkaji pelaksanaan kebijakan pembentukan daerah otonom baru di waktu mendatang.

51

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

V. 5-1.

Pencapaian RPJMN di Provinsi Babel (2005-2007) Upaya yang Dilakukan Hingga Tahun 2007

Upaya yang dilakukan pemerintah Provinsi Babel di bidang pembangunan desentralisasi dan otonomi daerah dengan mengikuti sasaran dan arah kebijakan yang ditetapkan dengan langkahlangkah sebagai berikut: 1. 2. Peningkatan Penyusunan Peraturan-Peraturan Daerah yang belum diatur; Peningkatan Kualitas serta kapasitas aparatur pemerintah daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan, pemberian pelayanan pada masyarakat dan pelaksana pembanguan di daerah; 3. Mewujudkan good governance dan clean government serta adanya kesepakatan semua pihak baik pihak eksekutif, legislatif dan yudikatif serta masyarakat mulai tahun 2007 dan seterusnya bahwa Propinsi Kepulauan Bangka Belitung bebas dari praktek Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) dalam segala bentuknya; 4. Melaksanakan pengawasan dan pengendalian terhadap aparatur pemerintah secara terus menerus serta pemberian “Reward and Punishment” sesuai aturan perundang-undangan yang berlaku dengan prinsip adil dan merata; 5. 6. Peningkatan penyediaan sarana dan prasarana dalam mendukung pelayanan publik yang berbasis good governance dan clean government; Menerapkan sistem dan prosedur pengelolaan keuangan daerah yang sesuai dengan peraturan perundangan terkini serta didasarkan pada prinsip ekonomis, efisiensi dan efektif. 5-2. Posisi Capai Hingga Tahun 2007

Pembangunan otonomi daerah melalui sinkronisasi dan harmonisasi peraturan yang berupa angka produk hukum yang tidak sesuai berdasarkan hirarki hukum dan substansi hukum. Selama tahun 2004 terdapat 2 (dua) produk hukum berupa PERDA yang tidak sesuai berdasarkan hirarki hukum dan substansi hukum. Dan selama tahun 2005 juga terdapat 2 (dua) produk hukum berupa PERDA yang tidak sesuai berdasarkan hirarki hukum dan substansi hukum.

52

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Pembangunan otonomi daerah melalui kelambagaan pemerintah daerah. Dengan dibentuknya Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, maka struktur organisasi pemerintahan mengalami perubahan dari struktur organisasi dua Kabupaten dan satu Kota menjadi struktur organisasi pemerintahan enam kabupaten dan satu kota. Kondisi pemerintahan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sampai dengan Agustus 2003 adapun struktur keorganisasian yang sudah dibentuk sebanyak 43 instansi/dinas. Pembangunan otonomi daerah melalui peningkatan Kapasitas Aparatur dapat dilihat dari antara lain: jumlah pegawai pemerintah provinsi berstatus PNS hingga Februari 2008 sebanyak 1.786 orang, jumlah pegawai pemerintah provinsi berstatus Pegawai Honorer sebanyak 100 orang, frekuensi pendidikan dan pelatihan pegawai, frekuensi seminar yang diikuti pegawai, identifikasi tingkat jabatan pemerintah daerah dan identifikasi kebutuhan pekerjaan dilingkungan pemerintah daerah. Pembangunan otonomi daerah melalui Pengelolaan Pembiayaan Pembangunan dapat dilihat dari sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Jumlah Pendapatan Asli Daerah (PAD) Tahun Anggaran 2007 dengan realisasi sebesar Rp 204.753.116.546,68 Jumlah Dana Alokasi Umum (DAU) Tahun Anggaran 2007 dengan realisasi sebesar Rp 319.357.000.000,00 Jumlah Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun Anggaran 2007 dengan realisasi sebesar Rp 85.568.310.000,00 Jumlah Dana Bagi Hasil (DBH) Pajak Tahun Anggaran 2007 dengan realisasi sebesar Rp 33.011.238.644,00 Jumlah Dana Bagi Hasil (DBH) Bukan Pajak Tahun Anggaran 2007 dengan realisasi sebesar Rp 53.957.715.591,00 Jumlah Pajak Daerah Tahun Anggaran 2007 yang merupakan bagian dari PAD dengan realisasi sebesar Rp 173.292.131.932,00 10. Jumlah Penerimaan Daerah dalam APBD Tahun Anggaran 2007 dengan realisasi sebesar Rp 290.197.792.799,24 11. Jumlah Pengeluaran Daerah dalam APBD Tahun Anggaran 2007 dengan realisasi sebesar Rp 8.948.000.000,00

53

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

12. Jumlah Pembiayaan Daerah dalam APBD Tahun Anggaran 2007 dengan realisasi sebesar Rp 281.249.792.799,24 Selama tahun 2006-2007 pemerintah Provinsi Babel masih berkonsultasi atau menunggu pemerintah pusat dalam revitalisasi proses pelaksanaan rencana aksi yang menjadi sasaran dalam RPJMN. Namun dukungan penuh diberikan oleh pemerintah Provinsi Babel dalam aksi-aksi yang akan dilaksanakan melalui RPJMD Provinsi Babel. 5.3 Permasalahan Pencapaian Sasaran

Berbagai pencapaian yang sudah ada masih diiringi pula pencapaian yang belum memenuhi tujuan seperti: 1. 2. 3. Belum diterapkannya Sistem Informasi Keuangan Daerah berupa Sistem Aplikasi Pengelolaan Keuangan Daerah; Minimnya Sumber Daya keuangan daerah; Belum memadainya produk-produk hukum daerah yang berhubungan dengan Sistem Pengelolaan Keuangan Daerah, Manusia (SDM) yang berkompeten dibidang pengelolaan

VI.

Rekomendasi Tingkat Lanjut

Untuk mendukung revitalisasi proses desentralisasi dan otonomi daerah maka ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian pemerintah Provinsi dan menjadi hal (agenda) yang harus dijalankan kedepan yaitu: 1. 2. 3. Memberikan perhatian khusus terhadap Sistem Informasi Keuangan Daerah berupa Sistem Aplikasi Pengelolaan Keuangan Daerah; Meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkompeten dibidang pengelolaan keuangan daerah melalui proses penerimaan yang transparan, profesional dan akuntabel; Segera membuat produk-produk hukum daerah yang berhubungan dengan Sistem Pengelolaan Keuangan Daerah.

54

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

VII.

Penutup

Secara umum, upaya-upaya yang dilakukan pemerintah daerah Provinsi Babel dalam mendukung revitalisasi proses desentraslisasi dan otonomi daerah semakin memperlihatkan perkembangan positif selama tahun 2004-2007. Secara keseluruhan masih dibutuhkan waktu yang panjang untuk menjalankan otonomi daerah yang sesuai undang-undang dan peraturan-peraturan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung secara khusus dan Negara Kesatuan Republik Indonesia secara umum.

55

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

BAB 3.7 PENCIPTAAN TATA PEMERINTAHAN YANG BERSIH DAN BERWIBAWA

I.

Pengantar

Restrukturisasi & Revitalisasi Organisasi Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, maupun Kabupaten dan Kota merupakan langkah awal yang benar dan tepat untuk memberdayakan Organisasi Pemerintah Daerah (Propinsi/Kabupaten/Kota) sesuai tugas pokok dan fungsinya. Organisasi Pemerintah daerah adalah ”pengemudi ” bukan ”pendayung”. Diharapkan bahwa penempatan pejabat pada organisasi Instansi Pemerintah Propinsi Bangka Belitung (termasuk Kabupaten/Kota) adalah benar-benar sesuai profesi yang didukung oleh kapasitas dan kapabilitas sebagai seorang pejabat (the right man on the right place). Meningkatkan pelaksanaan fungsi-fungsi pemerintahan secara optimal, efisiensi, efektif, transparansi dan dapat dipertanggungjawabkan (akuntabilitas) melalui pemberdayaan dan partisipasi seluruh mitra/stake holder dalam keseluruhan proses pelayanan pemerintahan dan pembangunan. Pengembangan sektor ini diharapkan pula dapat menghindari praktek-praktek Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) dilingkungan pemerintah Propinsi Bangka Belitung (termasuk Kabupaten/Kota). II. Kondisi Awal RPJMD 2007-2012 (Tahun 2007)

Dengan dibentuknya Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menjadi provinsi sendiri pada tahun 2000, maka struktur organisasi pemerintahan mengalami perubahan dari struktur organisasi dua Kabupaten dan satu Kota menjadi Struktur Organisasi pemerintah dengan enam kabupaten dan satu kota yaitu Kabupaten Bangka, Kabupaten Bangka Tengah, Kabupaten Bangka Barat, Kabupaten Bangka Selatan, Kabupaten Belitung, Kabupaten Belitung Timur dan Kotamadya Pangkal Pinang. Peningkatan struktur pemerintahan tersebut membutuhkan pembentukan instansi/dinas yang sesuai dengan tantangan bertambah banyaknya kabupaten-kabupaten baru karena adanya pemekaran.

56

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Guna menunjang jalannya pemerintahan, aparat pegawai pemerintah daerah memegang peranan yang sangat penting untuk memberikan kontribusi terhadap semua kegiatan pelayanan bagi kegiatan yang berhubungan dengan tugas dan fungsinya dalam pemerintah daerah maupun memberikan pelayanan kepada masyarakat. Terlebih sebagai pemerintahan provinsi yang baru dibentuk, tugas dan fungsinya akan jauh lebih berat, mengingat begitu banyak dan beraneka ragamnya tututan yang harus dikerjakan dan dipenuhi. Untuk mengatasi berbagai permasalahan dan tantangan strategis pembangunan nasional, pemerintah daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menyusun rencana pembangunan jangka menengah daerah untuk kurun waktu lima tahun ke depan yang diharapkan akan mampu menjembatani, menjaga kesinambungan, mensinergikan dan mensinkronkan perencanaan antar waktu. III. Sasaran yang Ingin Dicapai Secara umum, sasaran dalam pembangunan bidang Penciptaan Tata Pemerintahan yang bersih dan Berwibawa 2007-2012 yang masuk dalam Agenda Mewujudkan Indonesia Yang Adil dan Demokratis adalah meningkatkan kapabilitas aparatur pemerintah untuk menciptakan GOOD GOVERNANCE dan CLEAN GOVERNMENT secara tersistem dan menyeluruh dengan melakukan gerakan bersama dalam pemberantasan KKN berbasis kultur dan agama. Melakukan penerapan prinsip reward and punishment dalam rangka meningkatkan rasa tanggung jawab dan kebanggaan profesionalisme dengan tidak mengenyampingkan jiwa pengabdian sebagai ”abdi negara” dan semangat patriotisme sebagai bagian anak bangsa yang senantiasa berupaya melestarikan semangat kejuangan 17 Agustus 1945. Penegakkan hukum (law enforcement) dilakukan secara konsisten dan konsekuen tanpa pandang bulu, menyeluruh ”tidak tebang pilih” berdasarkan kepada peraturan dan undang-undang yang berlaku baik dilingkungan pemerintahan maupun masyarakat pada umumnya. Untuk mewujudkan sasaran umum tersebut diatas, secara khusus sasaran yang ingin dicapai adalah: 1. Berkurangnya secara nyata praktik korupsi si birokrasi yang dimulai dari tataran (jajaran) pejabat yang paling atas. 2. Terciptanya sistem kelembagaan dan ketatalaksanaan pemerintah yang bersih, efisien, efektif, transparan, profesional dan akuntabel.

57

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

3. Terhapusnya peraturan dan praktik yang bersifat diskriminatif terhadap warga negara, kelompok atau golongan masyarakat 4. Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pengambilan kebijakan publik. 5. Terjaminnya konsistensi seluruh peraturan pusat dan daerah serta tidak bertentangan dengan peraturan dan perundangan diatasnya. IV. Arah Kebijakan

Untuk mencapai sasaran-sasaran yang ingin dicapai, maka upaya penciptaan tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa diarahkan pada: 1. Menuntaskan penanggulangan penyalahgunaan kewenangan dalam bentuk praktik-praktik kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN) dengan cara: (a) (b) (c) (d) (e) (f) Penerapan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik (good public governance) pada semua tingkat dan lini pemerintahan dan pada semua kegiatan. Pemberian sanksi yang seberat-beratnya pada pelaku KKN sesuai dengan ketentuan yang berlaku Peningkatan efektivitas pengawasan aparatur negara melalui koordinasi dan sinergi pengawasan internal, eksternal dan pengawasan masyarakat Peningkatan budaya kerja aparatur yang bermoral, profesional, produktif dan bertanggung jawab Percepatan pelaksanaan tindak lanjut hasil-hasil pengawasan dan pemeriksaan Peningkatan pemberdayaan penyelenggara negara, dunia usaha dan msyarakat dalam pemberantasan KKN. 2. Meningkatkan kualitas penyelenggaraan administrasi negara melalui: (a) (b) (c) Penataan kembali fungsi-fungsi kelembagaan pemerintahan agar dapat berfungsi secara memadai, efektif, dengan struktur lebih proporsional, ramping, luwes dan responsif; Peningkatan efektivitas dan efisiensi ketatalaksanaan dan prosedur pada semua tingkat dan lini pemerintahan; Penataan dan peningkatan kapasitas SDM aparatur agar lebih profesional sesuai dengan tugas dan fungsinya untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat;

58

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

(d) (e)

Peningkatan kesejahteraan pegawai dan pemberlakuan sistem karier berdasarkan prestasi; Optimalisasi pengembangan dan pemanfaatan e-government dan dokumen/arsip negara dalam pengelolaan tugas dan fungsi pemerintahan.

3. Meningkatkan keberdayaan masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan melalui: (a) (b) (c) Peningkatan kualitas pelayanan publik terutama pelayanan dasar, pelayanan umum dan pelayanan unggulan; Peningkatan kapasitas masyarakat untuk dapat mencukupi kebutuhan dirinya, berpartisipasi dalam proses pembangunan dan mengawasi jalannya pemerintahan; Peningkatan transparansi, partisipasi dan mutu pelayanan melalui peningkatan akses dan penyebaran informasi Adapun untuk mencapai sasaran dalam penciptaan tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa yang termaksud dalam RPJMD Prop. Kep. Bangka Belitung, kebijakan diarahkan pada: 1. Memperkuat pranata dan peningkatan koordinasi dengan pihak-pihak terkait di daerah dalam penegakan hukum pemberantasan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN), diprioritaskan pada upaya (a) Peningkatan pelayanan kedinasan kepala daerah/wakil kepala daerah. (b) Peningkatan sistem pengawasan internal dan pengendalian pelaksanaan kebijakan KDH 2. Melaksanakan pengawasan dan pengendalian aparatur pemerintah daerah sebagai penyelenggara pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan daerah, diprioritaskan pada upaya (a) Peningkatan profesionalisme tenaga pemeriksa dan aparatur pengawasan (b) Penataan dan penyempurnaan kebijakan sistem dan prosedur pengawasan (c) Pengintensifan penanganan pengaduan masyarakat. 3. Memperkuat akuntabilitas dan audit kinerja pemerintah daerah guna terselenggaranya sistem reward dan punishment yang mendorong akselerasi penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah.

59

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

4. Meningkatkan kinerja pengelolaan keuangan daerah, diprioritaskan pada: (a) (b) Peningkatan dan pengembangan pengelolaan keuangan daerah Pembinaan dan fasilitasi pengelolaan keuangan kabupaten/kota

5. Meningkatkan pelayanan publik yang berazaskan good governance dan clean goverment, diprioritaskan pada: (a) Pelayanan administrasi perkantoran (b) Peningkatan sarana dan prasarana aparatur V. Pencapaian Hingga Tahun 2007

5.1. Upaya yang dilakukan hingga tahun 2007 Untuk mencapai sasaran pembangunan yang sesuai dengan arah kebijakan tersebut, dilakukan upaya-upaya penataan kelembagaan dan ketatalaksanaan, peningkatan kualitas SDM aparatur serta peningkatan efektifitas dan efisiensi pengawasan. Ketersediaan sarana dan prasarana kerja merupakan salah satu faktor pendukung yang memegang peran penting, terutama sangat membantu dalam menciptakan etos kerja dan kenyamanan bekerja. Hal ini dilakukan melalui program-program kegiatan sebagai berikut: 1. Program Peningkatan Pelayanan Kedinasan Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah. 2. Program Peningkatan Sistem Pengawasan Internal dan Pengendalian Pelaksanaan kebijakan KDH. 3. Program Peningkatan Profesionalisme Tenaga Pemeriksa dan Aparatur Pengawasan. 4. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran. 5. Program Mengintensifkan Penanganan Pengaduan Masyarakat. 6. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur. 7. Program Penataan dan Penyempurnaan Kebijakan Sistem dan Prosedur Pengawsan. 8. Program Peningkatan dan Pengembangan Pengelolaan Keuangan Daerah. 9. Program Pembinaan dan Fasilitas Pengelolaan Keuangan kabupaten/Kota. 5.1.1. Program Peningkatan Pelayanan Kedinasan Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah Dalam upaya mendukung terwujudnya peningkatan pelayanan kedinasan kepala daerah/wakil kepala daerah maka dilakukan langkah-langkah yang dilakukan dalam rangka mewujudkan program tersebut, yaitu:

60

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Dialog/audiensi dengan tokoh-tokoh masyarakat, pimpinan/anggota organisasi sosial masyarakat. Penerimaan kunjungan kerja pejabat negara/departemen/lembaga pemerintah non departemen/luar negeri. Rapat koordinasi unsur MUSPIDA Rapat koordinasi pejabat Pemerintah Daerah Kunjungan kerja/inspeksi kepala daerah/wakil kepala daerah. Koordinasi dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah lainnya.

5.1.2. Program Peningkatan Sistem Pengawasan Internal dan Pengendalian Pelaksanaan kebijakan KDH. 1. Pelaksanaan pengawasan internal secara berkala 2. Penanganan kasus pengaduan di lingkungan pemerintah daerah. 3. Pengendalian manajemen pelaksanaan kebijakan KDH 4. Penanganan kasus pada wilayah pemerintahan di bawahnya 5. Inventarisasi temuan pengawasan 6. Tindak lanjut hasil temuan pengawasan 7. Koordinasi pengawasan yang lebih komprehensif 8. Evaluasi berkala temuan hasil pengawasan. 5.1.3. Program Peningkatan Profesionalisme Tenaga Pemeriksa dan Aparatur Pengawasan 1. Pelatihan pengembangan tenaga pemeriksa dan aparatur pengawasan 2. Pelatihan teknis pengawasan dan penilaian akuntabilitas kinerja. 5.1.4. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran. 1. Penyediaan jasa surat menyurat. 2. Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik 3. Penyediaan jasa peralatan dan perlengkapan kantor. 4. Penyediaan jasa pemeliharaan kesehatan PNS 5. Penyediaan jasa jaminan barang milik daerah 6. Penyediaan jasa pemeliharaan dan perijinan kendaraan dinas/operasional 7. Penyediaan jasa administrasi keuangan 8. Penyediaan jasa kebersihan kantor

61

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

9. Penyediaan jasa perbaikan peralatan kerja 10. Penyediaan alat tulis kantor 11. Penyediaan barang cetakan dan pengadaan 12. Penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangnan kantor 13. Penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor 14. Penyediaan peralatan rumah tangga 15. Penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang-undangan 16. Penyediaan bahan logistik kantor 17. Penyediaan makanan dan minuman 18. Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi luar daerah. 5.1.5. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur 1. Pembangunan rumah jabatan 2. Pembangunan rumah dinas 3. Pembangunan gedung kantor 4. Pengadaan mobil jabatan 5. Pengadaan kendaraan dinas/operasional 6. Pengadaan perlengkapan rumah jabatan/dinas 7. Pengadaan perlengkapan gedung kantor 8. Pengadaan peralatan rumah jabatan/dinas 9. Pengadaan mebeleur 5.1.6. Program Penataan dan Penyempurnaan Kebijakan Sistem dan Prosedur Pengawsan 1. Penyusunan naskah akademik kebijakan sistem dan prosedur pengawasan 2. Penyusunan kebijakan sistem dan prosedur pengawasan 5.1.7. Program Mengintensifkan Penanganan Pengaduan Masyarakat. 1. Pembentukan unit khusus penanganan pengaduan masyarakat 5.1.8. Program Peningkatan dan Pengembangan pengelolaan Keuangan Daerah. 1. Penyusunan analisa standar belanja 2. Penyusunan standar satuan belanja 3. Penyusunan kebijakan akuntansi pemerintah daerah 4. Penyusunan sistem dan prosedur pengelolaan keuangan daerah

62

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

5. Penyusunan rancangan Peraturan Daerah tentang pajak daerah dan retribusi 6. Penyusunan rancangan Peraturan Daerah tentang APBN 7. Penyusunan rancangan peraturan KDH tentang penjabaran APBD 8. Penyusunan rencana Peraturan Daerah tentang Perubahan APBD 9. Penyusunan rancangan Peraturan Daerah tentang Penjabaran Perubahan APBD 10. Penyusunan rancangan Peraturan Daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD 11. Penyusunan rancangan peraturan KDH tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. 12. Penyusunan sistem Informasi Keuangan Daerah 13. Penyusunan sistem informasi pengelolaan keuangan daerah 14. Sosialisai paket regulasi tentang pengelolaan keuangan daerah 15. Bimbingan teknis implementasi paket regulasi tentang pengelolaan keuangan daerah 16. Peningkatan manajemen aset/barang daerah 17. Peningkatan manajemen investasi daerah 18. Revaluasi/appraisal aset/barang daerah 19. Insentifikasi dan ekstensifikasi sumber-sumber pendapatan daerah 5.1.9. Program Pembinaan dan Fasilitas Pengelolaan Keuangan kabupaten/Kota. 1. Evaluasi rancangan Peraturan Daerah tentang APBD Kabupaten/Kota 2. Evaluasi rancangan peraturan KDH tentang Penjabaran APBD Kabupaten/Kota 3. Evaluasi rancangan Peraturan Daerah tentang pajak daerah dan retribusi daerah Kabupaten/Kota 4. Penyusunan standar evaluasi rancangan Peraturan Daerah tentang APBD Kabupaten/Kota 5. Asistensi penyusunan rancangan regulasi pengelolaan keuangan daerah Kabupaten/Kota 5.2. Posisi capaian hingga tahun 2007 Secara keseluruhan, berbagai capaian dalam upaya-upaya yang telah dilakukan dalam pembangunan bidang penciptaan tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa telah mengarah pada sasaran–sasaran yang tertuang dalam RPJMD 2007-2012. Adapun capaian-capainnya adalah sebagai berikut :

63

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

1. Tidak adanya praktek korupsi yang melibatkan pejabat pemerintah daerah Kepulauan Bangka Belitung. Hal tersebut ditandai dengan tidak adanya berkas yang masuk pada KAJATI Bangka Belitung sampai bulan November tahun 2008. Kemungkinan yang lain adalah kasus korupsi masih dalam proses penyelidikan pihak kepolisian sehingga belum dilakukannya penyidikan maupun pemberkasan ke KAJATI. 2. Prosentase peyelesaian kasus tindak pidana korupsi daerah. Dengan tidak adanya kasus korupsi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang sampai ke pengadilan maka tidak ada penyelesaian untuk kasus tindak pidana korupsi di daerah ini 5.3. Permasalahan pencapaian Sasaran Dalam upaya mencapai sasaran-sasaran yang tertuang dalam RPJMD 2007-2012, pemerinta daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung perlu berupaya keras untuk menurunkan tingkat korupsi di lingkungan birokrasi, meningkatkan dan mensinergikan pelaksanaan pengawasan/pemeriksaan yang dilakukan oleh berbagai lembaga, meningkatkan kinerja SDM aparatur sekaligus kesejahteraannya, menata sistem lembaga dan ketatalaksaan birokrasi pemerintah agar dapat mendukung pelaksanaan fungsi dan pembangunan secara efisien dan efektif. Terdapat beberapa permasalahan yang perlu diperhatikan dalam pencapaian sasaran yaitu: 1. Kurang transparannya pemerintah daerah dalam proses penanganan korupsi 2. Terbatasnya sumberdaya manusia (pegawai) baik kualitas maupun kuantitasnya 3. Kurang fokusnya aparat pelaksana dalam melaksanankan suatu kegiatan akibat banyaknya kegiatan yang harus dilaksanakan oleh unit kerja sedangkan aparatur yang dimiliki terbatas, maka mengakibatkan pelaksanaan kegiatan ataupun bendahara kegiatan banyak yang melaksanakan rangkap jabatan untuk melaksanakan kegiatan lainnya 4. Masih kurangnya koordinasi antar instansi sehingga terjadi konflik kepentngan (ego sektoral) dari masing-masing SKPD yang melihat pencapaian pembangunan secara parsial bukan holistik.

64

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

VI.

Rekomendasi Tindak Lanjut

6.1. Upaya Yang Akan Dilakukan Untuk Mencapai Sasaran Upaya yang dilakukan untuk mencapai sasaran RPJMD 2007-2012 yaitu 1. Mewujudkan good governance dan clean goverment serta adanya kesepakatan semua pihak baik puhak eksekutif, legislatif dan yudikatif serta masyarakat mulai tahun 2007 dan seterusnya, bahwa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bebas dari praktek Korupsi,Kolusi dan Nepotisme (KKN) dalam segala bentuknya. 2. Melaksanakan pengawasan dan pengendalian terhadap Aparatur Pemerintah secara terus menerus serta pemberian ”Reward and Punishment” sesuai aturan perundang-undangan yang berlaku dengan prinsip adil dan merata. 3. Peningkatan penyediaan sarana dan prasarana dalam mendukung pelayanan publik yang bebasis good governance dan clean goverment. 4. Menerapkan sistem dan prosedur pengelolaan keuangan daerah yang sesuai dengan peraturan perundangan terkini serta didasarkan pada prinsip ekonomi, efisiensi dan efektif. 6.2. Perkiraan Pencapaian RPJMD Melalui pelaksanaan Rencana Kegiatan Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, perintah daerah provinsi ini berupaya agar sasaran-sasaran pembangunan dapat tercapai dengan baik karena masih panjang usia pemerintahan pada RPJMD yang baru mencapai hampir dua tahun yaitu sejak 2007-2012. Oleh sebab itu masih banyak pula upaya-upaya yang perlu dilakukan untuk dapat mencapai sasaran-sasaran tersebut. Pemerintah daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menyadari bahwa upaya pemberantasan korupsi masih sangat sulit untuk dilakukan karena adanya beberapa kendala yaitu konsistensi aparat pelaksan di lapangan dalam proses penyelidikan, penyidikan dan seterusnya. Pelayanan publik, masalah korupsi dan reformasi birokrasi masih menjadi tema sentral. VII. Penutup. Secara umum, pencapaian yang ada masih belum mampu memenuhi seluruh sasaran dan arah kebijakan RPJMD 2007-2012. Hal tersebut dimungkinkan karena dalam upaya penciptaan tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa dibutuhkan waktu yang lebih panjang untuk bisa merealisasinya, sedangkan RPJMD Prop Kep. Bangka Belitung baru disusun pada tahun 2007. Sebagai Propinsi yang baru dibentuk masih banyak yang harus dibenahi dalam upaya pemberantasan korupsi.

65

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Untuk pelaksanaan program penindakan dan pencegahan tindak pidana korupsi, program pemerintahan yang baik, dan program peningkatan pengawasan dan akuntabilitas aparatur negara, perlu adanya komitmen yang kuat pada tiap penyelenggara pemerintahan maupun aparat terkait. Belum adanya penindakan/hukuman yang dijatuhkan terhadap tersangka koruptor di provinsi ini dalam kurun satu tahun terakhir meskipun telah banyak laporan yang masuk di kepolisian, itu juga perlu dicermati. Dilain pihak kurang adanya koordinasi pihak-pihak berwenang yang mengurusi masalah tindak pidana korupsi. Oleh sebab itu perlu adanya konsistensi dan komitmen yang kuat agar dapat tercapai tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung. .

66

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

BAB 3.8 PERWUJUDAN LEMBAGA DEMOKRASI YANG MAKIN KOKOH

I.

Pengantar

Reformasi birokrasi harus didasarkan atas kesadaran bahwa pemerintah daerah dibentuk untuk melayani masyarakat, dan bukan sebaliknya. Berbagai permasalahan dan kelemahan yang ada dalam badan birokrasi selama ini perlu dilakukan penataan, baik dari sisi kelembagaan (produk hukum daerah, sistem dan prosedur), struktur organisasi (termasuk manajemen) maupun pengembangan kapasitas SDM. II. Kondisi Awal RPJMD 2007-2012 (Tahun 2007-2008)

Pada awal pelaksanaan RPJMD, Prop Kep. Bangka Belitung telah menempatkan proses pembangunan kelembagaan politik pada jalur dan arah yang benar, dimana salah satunya dengan telah dilaksanakannya proses Pilkada yang telah berlangsung dengan aman. Oleh karena itu, tanggung jawab untuk memelihara proses pembangunan kelembagaan politik demokrasi pada tahun-tahun berikutnya harus tetap dijaga sesuai dengan amanat Konstitusi. Hal ini pada gilirannya akan meningkatkan kualitas praktik-praktik kelembagaan yang ada dan memenuhi harapan perbaikan dan perubahan dalam masyarakat. III. Sasaran yang Ingin Dicapai 1. Meningkatnya kualitas dan kuantitas peraturan daerah (perda) yang berorientasi pada kepentingan publik 2. Penurunan prosentase pegawai yang melakukan pelanggaran kedisiplinan 3. Meningkatnya kapasitas Sumber Daya Manusia Aparatur Pemerintah 4. Meningkatnya kesejahteraan Aparatur Pemerintah sesuai kemampuan daerah IV. Arah Kebijakan

Sasaran prioritas dalam Agenda Perwujudan Lembaga Demokrasi yang Makin Kukuh adalah:

Adapun maksud dari sasaran-sasaran dalam agenda Perwujudan Lembaga Demokrasi Yang Makin Kokoh tersebut diarahkan untuk: 1. Peningkatan kinerja lembaga legislatif, diprioritaskan pada upaya Peningkatan kapasitas lembaga perwakilan rakyat daerah.

67

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

2. Memperkuat akuntabilitas dan audit kinerja pemerintah daerah guna terselenggaranya sistem reward dan punishment yang mendorong akselerasi penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah, V. 5.1. Pencapaian 2007-2008 Upaya yang dilakukan hingga tahun 2008

5.1.1. Program Peningkatan Kapasitas Lembaga Perwakilan Rakyat Daerah Rencana kerja 1. Pembahasan rancangan Peraturan Daerah 2. Hearing/dialog dan koordinasi dengan pejabat pemerintah daerah dan tokoh masyarakat/tokoh agama 3. Rapat-rapat alat kelengkapan dewan 4. Rapat-rapat paripurna 5. Kegiatan reses 6. Kunjungan kerja pimpinan dan anggota DPRD dalam daerah 7. Peningkatan kapasitas pimpinan dan anggota DPRD 8. Sosialisasi peraturan perundang-undangan 5.1.2. Program Peningkatan Kesadaran Hukum dan Pengembangan Budaya Hukum 1. Penyelenggaraan rapat koordinasi Pembangunan Bidang Hukum 2. Penyuluhan/sosialisasi produk hukum 3. Penyusunan legal drafting 4. Pengkajian produk hukum, Perda Kabupaten/Kota 5. Monitoring dan evaluasi Perda Kabupaten/Kota 6. Penyediaan informasi hukum 5.1.3. Program Pendidikan Kedinasan 1. Pendidikan dan pelatihan teknis 2. Pendidikan penjenjangan struktural dan teknis fungsional 3. Pemantauan dan evaluasi penyelenggaraan pendidikan 4. Pembuatan buku juknis/juknas 5. Pengembangan kurikulum pendidikan dan pelatihan 6. Peningkatan ketrampilan dan profesionalisme

68

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

5.1.4. Program Peningkatan Kapasitas Sumberdaya Aparatur 1. Pendidikan dan pelatihan prajabatan bagi calon PNS daerah 2. Pendidikan dan pelatihan struktural bagi PNS Daerah 3. Pendidikan dan pelatihan teknis tugas dan fungsi bagi PNS Daerah 4. Pendidikan dan pelatihan fungsional bagi PNS Daerah 5.1.5. Program Pembinaan dan Pengembangan Aparatur 1. Penyusunan rencana pembinaan karir PNS. 2. Seleksi penerimaan calon PNS. 3. Penempatan PNS. 4. Penataan sistem administrasi kenaikan pangkat otomatis PNS. 5. Pembangunan/pengembangan sistem informasi kepegawaian daerah. 6. Penyusunan instrumen analisis jabatan PNS. 7. Seleksi dan penetapan bagi PNS yang berprestasi. 8. Pemberian penghargaan bagi PNS yang berprestasi. 9. Proses penanganan kasus-kasus pelanggaran disiplin PNS. 10. Kajian sistem dan kualitas materi diklat PNS. 11. Pemberian bantuan tugas belajar dan ikatan dinas. 12. Penyelenggaraan diklat teknis, fungsional dan kepemimpinan. 13. Pengembangan diklat (Analisis Kebutuhan Diklat, Penyusunan Silabi, Penyusunan Modul, Penyususnan Pedoman Diklat). 14. Koordinasi penyelenggaraan diklat. 5.2. Posisi capaian hingga tahun 2007 1. Terlaksananya pilkada di kota Pangkalpinang, dan kabupaten Bangka pada bulan Juli tahun 2008 dengan lancar dan aman. 2. Pilkada Kabupaten Bangka jumlah mata pilih 172.077 orang sedangkan jumlah yang mencoblos 123.271 orang, jumlah yang golput 48.806 (28,36%). 3. Terlaksananya pilkada di kota Pangkal pinang, dan kabupaten Bangka pada bulan Juli tahun 2008 dengan lancar dan aman. 4. Pilkada Kabupaten Bangka jumlah mata pilih 172.077 orang sedangkan jumlah yang mencoblos 123.271 orang, jumlah yang golput 48.806 (28,36%).

69

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

5.3 Permasalahan pencapaian Sasaran Adapun permasalahan yang timbul dalam upaya pencapaian sasaran adalah: 5.3.1. Perencanaan Kegiatan 1. Belum optimalnya perencanaan kegiatan yang memperhatikan secara cermat fokus/prioritas, lokus kegiatan,serta sumberdaya yang tersedia, sehingga keluarannya (output) kurang optimal. 2. Belum optimalnya persiapan pelaksanaan kegiatan, terutama dalam mempertimbangkan ketersediaan waktu. 5.3.2. Peran dan Fungsi Lembaga Daerah 1. Belum selesainya revisi Undang-Undang Orkesmas berdampak kepada terbatasnya kewenangan pemerintah terhadap berdirinya orkesmas /LSM baru 2. Banyak organisasi/LSM yang tidak melaporkan keberadaan maupun kegiatan kepada Pemerintah Daerah sehingga banyak yang tidak terpantau tentang eksistensi dan prospek serta dampak sosial di masyarakat. VI. Rekomendasi Tindak Lanjut 6.1. Upaya Yang Akan Dilakukan Untuk Mencapai Sasaran Strategi yang dilakukan dalam upaya untuk mencapai sasaran adalah 1. Peningkatan serta optimalisasi fungsi-fungsi lembaga legislatif daerah dalam menjalankan fungsinya sebagai wakil masyarakat yang turut dalam pengambilan kebijakan bagi kesejahteraan masyarakat. 2. Peningkatan kualitas serta kapasitas aparatur pemerintah daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan, pemberian pelayanan pada masyarakat dan pelaksana pembangunan di daerah 6.2. Perkiraan Pencapaian RPJMD

Adanya beberapa capaian yang telah dilakukan oleh Provinsi Kepulauan Bangka Belitung antara lain telah diselenggarakannya Pemilihan Walikota Pangkal Pinang, Pemilihan Bupati Bangka dan Pemilihan Bupati Belitung Timur yang relatif aman dan terkendali pada tahun 2008.

70

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

VII. Penutup. Perbaikan kelembagaan, perencanaan kegiatan yang fokus, dan segala proses yang terjadi dalam mengelola Pemerintahan di daerah Propinsi Kep. Bangka Belitung perlu dilakukan agar keberlanjutan proses demokrasi dan pencapaian program perwujudan lembaga demokrasi yang makin kokoh di daerah ini dapat terlaksanana. Disamping itu, optimalisasi fungsi-fungsi lembaga pemerintahan, dan peningkatan aparatur pemerintahan masih perlu dilakukan sehingga diharapkan proses pelaksanaan pemerintahan di Propinsi Bangka Belitung ini dapat berlangsung dengan baik, aman dan tertib.

71

Bagian 4. Agenda Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

BAB 4.1 PENGANTAR AGENDA MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT

Dalam kurun waktu 3 tahun terakhir, pencapaian peningkatan kesejahteraan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung secara umum mengalami cukup kemajuan, karena mayoritas sasaran yang diagendakan telah tercapai. Sasaran Pertama dalam RPJMN 2004-2009 adalah menurunnya jumlah penduduk miskin 8,2 % tahun 2009. Di provinsi Kepulauan Bangka Belitung, jumlah penduduk miskin perkotaan bulan Juli 2005 sebanyak 37.700 orang meningkat sebanyak 38.600 orang pada Maret 2007 atau meningkat sebesar 2,4%. Sementara jumlah penduduk miskin pedesaan bulan Juli 2005 sebanyak 57.600 orang menjadi 56.600 orang pada bulan Maret 2007. Pertumbuhan PDRB tahun 2006 sebesar 15,920 triliun sedangkan tahun 2007 sebesar 17,878 triliun, sedangkan Nilai Ekspor tahun 2006 948,015 juta US$ sedangkan pada tahun 2007 sebesar 1217,253 US$ meningkat sebesar 28,4%. Capaian dibidang ketenagakerjaan ada peningkatan, dimana Jumlah pengangguran terbuka bulan agustus 2006 sebanyak 42.210 orang, sedangkan pada bulan agustus 2007 sebanyak 32.956 orang atau turun 22 %. Pada bidang industri, jumlah industri di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2006 mencapai 2.440 unit terdiri dari industri pangan, sandang dan aneka logam, mesin dan elektronika, kimia dan bahan bangunan serta industri kerajinan dengan penyerapan tenaga kerja total mencapai 15.604 orang. Sementara Jumlah jenis manufaktur terutama pengolahan yaitu industri pangan yang merupakan industri yang mengolah hasil agro industri, perikanan, perkebunan dan hasil laut yang keseluruhan berjumlah 601 kelompok industri. Kontribusi daerah dalam volume ekspor manfaktur nasional berupa ekspor timah pada tahun 2006 sebesar 688,02 juta US$ menjadi sebesar 866,446 juta US$. Dalam pelayanan infrastruktur yang memadai berupa meningkatnya pelayanan jasa sarana dan prasarana transportasi secara terpadu dengan jalan pembangunan jalan Penutuk-Tanjung Labu paket I sebesar 80%, paket 2 sebesar 25% dan paket 3 sebesar 80%. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam program revitalisasi pertanian telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Kondisi awal dapat dilihat bahwa dari pemanfaatan luas lahan pertanian 14.988 ha (2007) dan baru dimanfaatkan seluas 3.609 ha.

72

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Sedangkan untuk potensi pertanian adalah lada, karet mulai diusahakan pertengahan abad 19, dengan areal 49.525 ha, produksi 33.429 ton, dan areal potensial 237.500 ha. Karet juga mulai diusahakan pertengahan abad 19, dengan areal 39.843 ha, produksi 23.410 ton, dan areal potensial 237.500 ha. Sedangkan Sawit mulai diusahakan awal abad 20 dengan areal 90.299 ha, produksi 8.903 ton, dan areal potensial 2266.075 ha. Untuk potensi kehutanan provinsi bangka Belitung dengan fungsi hutan sebagai hutan produksi sebesar 546.778 ha, sebagai hutan lindung 107.872 ha dan hutan konservasi 596 ha pada tahun 2007. Potensi sektor perikanan bangka Belitung pada tahun 2007 untuk perikanan tangkap potensi produksi sebesar 499.500 ton, dengan nilai ekonomi Rp 2.497.500.000.000,-. Sedangkan untuk perikanan budidaya, yakni; Budidaya air laut dengan luas areal 120.000 ha, potensi produksi 1.200.000 ton/thn dengan nilai ekonomi Rp 240.000.000.000.000,-. Untuk budidaya air payau luas areal 250.000 ha, potensi produksi 100.000 ton/thn dengan nilai ekonomi Rp 5.000.000.000.000,-. Sedangkan budidaya air tawar luas 250.000 ha, potensi produksi 16.000 ton/thn dengan nilai ekonomi Rp 160.000.000.000,-. Kegiatan Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Produk Perkebunan, Produk Pertanian (Tanaman Pangan) dengan output dari kegiatan ini adalah terlaksanya perluasan areal tanaman padi, jagung, dan kacang tanah seluas 325 ha, yang terdiri dari ;100 ha tanaman jagung di Kabupaten Belitung, 150 ha tanaman padi, terdiri dari (50 ha di Kabupaten Bangka dan 100 ha di Kabupaten Bangka Selatan, 75 ha tanaman kacang tanah di Kabupaten Bangka Tengah. Untuk program peningkatan hasil produksi peternakan berupa telah disediakan sarana dan prasarana pembibitan ternak peremajaan kebun hijau makanan ternak seluas 5 ha, tercukupnya HMT pada kebun percontohan di air pelempang, serta kebutuhan pakan ternak dan tercukupi dari lahan HMT yang ada. Kegiatan pembibitan dan perawatan ternak dengan ouput terpeliharanya kebun HMT seluas 5 Ha sebagai pakan ternak, terpeliharanya ternak sapi ras Bali sebanyak 71 ekor, terpeliharanya kandang ternak 4 unit, irigasi, kebersihan dan operasionalnya, serta berjalannya kegiatan operasional dan tenaga harian lepas sebanyak 12 orang. Dalam pemberdayaan UMKM, penguatan kelembagaan koperasi telah menghasilkan 74 unit koperasi berkualitas pada tahun 2007 di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Beberapa pengrajin telah memiliki kemasan yang baik dan sesuai standar dari pelatihan kemasan produk dan bantuan kemasan dari Pemerintah Bangka Belitung. Upaua untuk memperluas pemasaran dari produkproduk yang dihasilkan Koperasi dan UKM diadakan pameran INACRAFT dan Pameran Produk Koperasi yang diadakan di Bali.

73

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Kontribusi BUMN PT. TIMAH terhadap penerimaan negara berupa dividen, royalti, pajak tak langsung dan pajak tidak langsung yang sampai tahun 2007 berjumlah 712.158 juta rupiah. Disamping itu, kontribusinya melalui program CSR secara kontinyu dan konsisten yaitu berupa: a. Program Sosial, berupa kegiatan bantuan yang langsung diberikan kepada masyarakat dalam bentuk fasilitas dan sarana umum, sarana olahraga dan kegiatan yang bersifat menjangkau masyarakat. b. Program Ekonomi, berupa pemberian pinjaman modal kerja dengan bunga lunak kepada pelakupelaku usaha dalam kategori usaha mikro, kecil dan menengah atau UKM, termasuk bantuan promosi produk-produk para UKM yang menjadi mitra binaan, serta pembekalan berbagai kemampuan untuk menggeluti usaha. c. Program Lingkungan, berupa usaha perbaikan terhadap kondisi lingkungan yang terkena dampak kegiatan penambangan, berupa pemberdayaan masyarakat kritis, pemanfaatan lahan pasca tambang untuk kegiatan perekonomian masyarakat, rehabilitasi lahan dengan tanaman bermanfaat. Dalam pembangunan IPTEK, telah dibentuk SIG WEB Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan mengembangkan sistem LAN (Local Area Network) di Lingkungan Provinsi dan pembuatan peta digital skala 1: 25.000 untuk mendukung informasi kewilayahan. Jumlah angkatan kerja di Bangka Belitung meningkat sebanyak 38.424 orang, yaitu pada Agustus 2006 sebesar 469.538 menjadi 507.962 orang pada Agustus 2007. Sedangkan jumlah penduduk bekerja meningkat dari 427.328 orang pada Agustus 2006 menjadi 475.006 pada Agustus 2007 atau naik sebanyak 47.678 orang. Angka pengangguran terbuka pun turun 9.254 orang (8.99 persen) pada Agustus 2006 menjadi 42.210 orang (6.49 persen) pada Agustus 2007. Dalam Pencapaian Sasaran Kedua dari ageda ketiga, yaitu berkurangnya kesenjangan antar wilayah dengan prioritas pembangunan pedesaan dan pengurangan ketimpangan pembangunan wilayah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam 3 tahun terakhir telah mengalami perubahan Tersedia pendukung perekonomian masyarakat yang terdiri atas jembatan desa (Air Mayan I, Air Cempedak, Air Bujang), pembangunan jalan-jalan desa baru (Pangkalpinang-Simpang Katis, Sungailiat-Puding Besar, Penutuk-Tanjung Labu, Mentok, Sijuk-Buding, Jln. Kampak dan Kerabut, Jln. Trem dan Jln, Martadinata, Kompleks Kantor Gubernur) , rehabilitasi jalan-jalan desa (IbulParit Tiga, Lumut-Puding Gebak, Selan-Lampur-Air Bara, Badau-Renggiang,Membalong-Tanjung

74

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Tinggi, Perawas-Manggar, Gantung-Simpang Padang, Puput-Simpang Katis-Kayu Arang), pembangunan saluran drainase (Kompleks Gubernuran, Dalam Kota Toboali, Kecamatan Belinyu), normalisasi saluran sungai(Sungai Mayang), rehabilitasi jaringan irigasi (Rias, Selingsing, Batu Betumpan), rehabilitasi jaringan irigasi, penataan lingkungan permukiman penduduk pedesaan, pembangunan sarana dan prasarana rumah sederhana dan sehat. Disamping itu juga dibangunnya sarana dan prasarana Desa Agropolitan di Kabupaten Belitung yang dialokasikan sebesar Rp. 2.550.000.000. Selain pembenahan sarana dan prasarana, juga ada pemberian bantuan keuangan kepada pemerintah desa/kelurahan se-Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ke 267 desa, 54 Kelurahan, dan 750 Kepala Dusun sebesar Rp. 7.382.000.000, termasuk dilakukannya Bintek Kepala Desa sebanyak 40 orang aparatur desa dan pelatihan Kader Pembangunan Masyarakat diikuti 40 orang kader Dalam upaya peningkatan peran perempuan dilakukan pemberian penghargaan kepada Peranan Wanita menuju Keluarga Sehat dan Sejahtera (P2WKSS), Kelompok Bina Keluarga Balita (BKB), Kecamatan Sayang Ibu (KSI), Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi (RSSI&B), Perusahaan Pembina Terbaik Tenaga Kerja Perempuan Perbaikan infrastuktur penunjang pengurangan ketimpangan pembangunan wilayah, ada 10

Pelabuhan yang relatif besar di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yaitu Pelabuhan Muntok (Bangka Barat) sebagai pelabuhan penyeberangan kelas II, Pelabuhan Tanjung Kalian (Bangka Barat) sebagai pelabuhan penumpang regional, Pelabuhan Tanjung Gudang (Bangka) sebagai pelabuhan penumpan lokal, Pelabuhan Pangkalbalam (Pangkalpinang) sebagai pelabuhan penumpang regional, Pelabuhan Sungaiselan (Bangka Tengah) sebagai pelabuhan penumpang lokal, Pelabuhan Tanjung Pandan (Belitung) sebagai pelabuhan penumpang lokal, Pelabuhan Tanjung Batu (Belitung) sebagai pelabuhan penumpang lokal, Pelabuhan Tanjung Tu (Belitung) sebagai pelabuhan penyeberangan kelas II, Pelabuhan Manggar (Belitung Timur) sebagai pelabuhan penumpang regional, dan Pelabuhan Sadai (Bangka Selatan) sebagai pelabuhan penumpang lokal. Selain itu, terdapat pula 2 (dua) Bandar Udara, yaitu Bandar Udara Depati Amir yang terletak di Pangkalpinang-Pulau Bangka dan Bandara H.AS. Hanandjoeddin di Pulau Belitung.

75

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Dalam Pencapaian Sasaran Ketiga, yaitu peningkatan kualitas manusia secara menyeluruh, peningkatan akses masyarakat terhadap pendidikan yang berkualitas dan kesehatan, peningkatan perlindungan dan kesejahteraan sosial, dan pembangunan kependudukan, keluarga kecil berkualitas, pemuda dan olahraga.

Jumlah penduduk yang menyelesaikan pendidikan wajib belajar sembilan tahun adalah 207,432 dari total penduduk 1.074.775. APK SD/MI 117,09 %, SMP/MTs 93,01 %, SMA/SMK/MA 69,19 %. Angka putus sekolah SD/MI 0,68, SMP dan MTs 2,03, SM/MA 2,11. Angka buta aksara 5719 dari 1.074.775. Angka lulusan untuk tingkat SD dan MI 99,49, SMP dan MTs 82,87, dan SM/MA 77,90. Dana yang dialokasikan untuk pembangunan pendidikan, khususnya Dinas Pendidikan dari APBD adalah sebesar Rp. 21.944.868.210 dan dana Blockgrand melalui Sekretariat Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ke Dinas Pendidikan Kab/Kota sebesar Rp. 47.483.390.000 dan untuk memenuhi komitmen perjanjian tersebut, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah menyelesaikan sebesar 25%.
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiiki rumah sakit sebanyak 6 unit terbaik menjadi 3 rumah sakti pemerintah, 2 rumah sakit swasta, dan 1 rumah sakit jiwa. Puskesmas sebanyak 192 unit terbagi dalam puskesmas 47 unit dan puskesmas pembantu 148 unit. Dari fasilitas kesehatan tersebut, terdapat tenaga medis yang terdiri atas 130 dokter umum, 32 dokter ahli, 31 dokter gigi, 391 orang perawat, dan 292 orang bidan. Sarana penunjang kesehatan seperti apotek dan pedagang farmasi di provinsi sebanyak 27 apotek dan 5 pedagang besar. Angka harapan hidup 68 tahun, Angka kematian bayi 32 per 1000 kelahiran bayi, Angka kematian ibu melahirkan 138 per 100.000 kelahiran dan Prevalensi gizi kurang pada aak balita 7,9 %.

Penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS), meningkatnya korban pengguna NARKOBA
dan tindak kekerasan dalam rumah tangga menjadi permasalahan tersendiri di Bangka

Belitung. Namun demikian telah dilakukan berbagai upaya sehingga penyandang masalah
kesejahteraan sosial (PMKS) di 7 kabupaten/kota pada tahun 2007 adalah 62.562 orang dan yang telah ditangani mencapai 46.850 orang atau 74,89 %. Laju pertumbuhan penduduk dari 2006-2007 sebesar 2,97 %. Sementara kepadatan penduduk pada tahun 2006 mencapai 65 jiwa/KM2, sementara pada tahun 2007 menjadi 67 jiwa/KM2 dengan Kota Pangkalpinang sebagai daerah terpadat, yaitu 1737 jiwa/KM2.

76

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Di bidang pemuda dan olehraga, dilakukan pembinaan atlet pusat pendidikan dan latihan pelajar (PPLP) sebanyak 15 orang dalam cabang Atletik 10 orang, Pencak Silat 5 orang dan pembinaan klub masyarakat sebanyak 7 klub, terdiri dari Volly Pantai (3 klub), atletik (3 klub) dan senam (1 klub). Babel berada diurutan ke-29 di PON XVII tahun 2008 di Provinsi KALTIM dengan perolehan 1 emas, 1 perak dan 4 perunggu. Disamping itu, juga berperan aktif dalam berbagai kegiatan seni dan budaya. Untuk Pencapaian Sasaran Keempat, merupakan tantangan berat di Provinsi Bangka Belitung mengingat perbaikan mutu lingkungan hidup yang tidaklah mudah, terlebih adanya aktvitas penambangan yang illegal. Namun demikian pengelolaan lingkungan hidup dilakukan semaksimal mungkin dalam rangka pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan. Produksi ikan (5.028,97 ton), nilai produksi (Rp. 71.546.973.710,00), kunjungan kapal (11.601 kapal), pelayanan es (7.556 ton), pelayanan air (860 KI), pelayanan BBM/solar (1.974 KI), pelayanan bengkel (320 pekerjaan/order), penerima PNPB (Rp. 57.595.800,00), penyerapan Naker (621 orang/hari) dan pelayanan pas masuk pelabuhan (Rp. 11.261.600,00). Sementara dibidang pertambangan, realisasi ekspor timah batangan periode Februari-Desember 2007 mencapai 86.304,53 Ton dengan nilai US$ 1.234.795,67 dan royaltinya sejumlah US$ 38.011.583,22. Dalam rangka perbaikan mutu lingkungan, PT. Timah telah melakukan reklamasi dilahan bekas tambang pada tahun 2007 sebanyak 1.520 Ha dan proyeksi reklamasi tahun 2008 sebanyak 2000 Ha, yang semuanya tersebar dikabupaten/kota. Untuk memenuhi Sasaran Kelima, sejumlah pencapaian telah dihasilkan dibidang infrastruktur, seperti transportasi, jalan, perumahan dan lain-lain, meskipun dibeberapa sektor masih dalam perbaikan terus-menerus. Pemeliharaan jalan (Pangkalpinang-Mentok, Pangkalpinang-Toboali (Koba), Sungailiat-Belinyu), paket pekerjaan tahun jamak (Multy years) 2007-2009, dengan nilai Rp 113,3 miliar. diperuntukkan untuk menangani 6 paket ruas jalan (sungailiat – Lumut, Pk. Pinang – Namang, Namang – Koba, Jl. Sudirman (tj. Pandan) Koba – Tj. Berikat dan Jalan Lingkar Luar Kota Pk. Pinang) . Akses transpotasi laut, yaitu Bangka-Belitung (PP) : ASDP Ekspres Bahari, Bangka (Mentok)-Palembang (PP) : ASDP Ekspres Bahari dan Belitung (Tj. Pandan)-Jakarta (Tg. Priok) : KM Lawit dan KM. Leuser, Bangka (Pangkalpinang dan Belinyu)-Jakarta (Tg. Priok) : KM. Srikandi, KM. Sahabat, KM Bukit Raya dan KM. Sirimau. Badar udara memiliki 2, yaitu Bandara Depati Amir di Pangkalpinang

77

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

dengan akses ke Palembang dan Jakarta dan Bandara HAS Hanandjoedin di Tanjungpandang, Belitung dengan akses ke Jakarta. Keterbatasan listrik menjadi masalah utama di Bangka Belitung, karena beban puncak sebesar 65, 7 MW belum mampu mencukupi kebutuhan yang mencapai 170,7 MW. Akibatnya sering terjadi pemadaman bergilir. Namun demikian pengembangan PLTS sebanyak 777 unit, PLTH 40 KVA, PLT Cangkang Sawit 5 MW dan PLTG terus dilakukan sebagai upaya pemenuhan energi listrik. Dibidang pos dan telematika dibentuknya SIG WEB Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan mengembangkan sistem LAN (Local Area Network) di Lingkungan Provinsi dan pembuatan peta digital skala 1:25.000 untuk mendukung informasi kewilayahan, bertambahnya layanan Warnet dan wireless, baik di institusi pendidikan pemerintah maupun hotel dan cafe-cafe/restoran, meningkatnya jaringan telepon rumah maupun komunikasi handphon dan meningkatnya pelayanan PT POS dan peran serta aktif pihak swasta, seperti TIKI, DHL dan JNE. Pembangunan rumah layak huni dengan sasaran keluarga tidak mampu dan yang berumah tidak layak huni, di 7 Kabupaten/Kota pada tahun 2005 dibangun 350 unit rumah dan tahun 2006 dibangun 490 unit rumah. Sarana air bersih PDAM, kapasitas terpasang 415.00 Liter/detik dengan distribusi/terjual 1,767,554.00 M3/tahun. Pangkalpinang-Kabupaten Bangka Tengah). Adanya pembangunan TPA Terpadu (Lintas

78

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

BAB 4.2 PENANGGULANGAN KEMISKINAN

I.

Pengantar

Kemiskinan merupakan masalah yang kompleks yang dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti tingkat pendapatan, kesehatan, pendidikan, akses terhadap barang dan jasa, lokasi,kondisi geografis, gender dan kondisi lingkungan. Kemiskinan tidak lagi dipahami hanya sebatas ketidak mampuan ekonomi, tetapi juga kegagalan memenuhi hak dasar dan perbedaan perlakuan bagi seseorang atau sekelompok orang dalam menjalani kehidupan secara bermartabat. Hak-hak dasar yang diakui secra umum, meliputi terpenuhinya kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, air bersih pertanahan, sumber daya alam(SDA) dan lingkungan hidup (LH), rasa aman dari perlakuan atau ancaman tindak kekerasan, serta hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial-politik, baik bagi perempuan maupun lelaki. II. Kondisi Awal RPJMD 2007-2012 (Tahun 2007-2012)

Jumlah rumah tangga miskin penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) berdasarkan data hasil Pendataan Sosial Ekonomi Penduduk tahun 2005 (PSE05), yang dikenal dengan Sensus Kemiskinan 2005, mencapai 33.652 rumah tangga atau sebesar 13,61% dari keseluruhan rumah tangga yang berjumlah 247.265 rumah tangga. Banyaknya rumah tangga miskin tersebut disebabkan antara lain oleh adanya kenaikan harga BBM khususnya bensin yang terjadi pada bulan maret dari Rp. 1.800 per liter menjadi Rp. 2.400 per liter atau naik sebesar 33,33%, dan kenaikan di bulan oktober dari Rp. 2.400 per liter menjadi Rp. 4.500 per liter atau naik 87,5%. Kendati demikian, jumlah dan persentase rumah tangga miskin di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah paling kecil dibandingkan dengan provinsi lain. Dari sisi jumlah penduduk miskin, berdasarkan kelompok sejahtera, jumlah KK yang termasuk dalam kelompok pra sejahtera mencapai 28,563 KK atau 11,80% dari seluruh KK yang ada. Jumlah terbesar berada di Kabupaten Bangka Barat yang mencapai 8.764 KK. Sebaliknya untuk KK dengan kelompok sejahtera III+ hanya sebesar 1,25% dan mayoritas berada di Kabupaten Belitung. Informasi detail dapat dilihat pada Tabel 4.2.1

79

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Tabel 4.2.1 Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Sejahtera di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2004
Kelompok Sejahtera Pra No 1 2 3 4 5 6 7 Total Persentase (%) Kab./Kota Bangka B. Tengah B. Selatan B. Barat Belitung Bltg Timur Pangkal Pinang 28.563 11,80 67.339 27,83 92.155 38,08 54.294 2,44 3.031 1,25 245.382 242.928 Sejahtera 8.692 4.138 4.938 8.764 846 1.157 28 Sejahtera I 15.504 9.736 7.999 8.034 11.731 5.505 8.830 Sejahtera II 22.787 11.562 16.746 13.578 8.932 8.535 10.015 Sejahtera III 8.890 4.590 3.868 2.653 12.666 8.393 13.234 Sejahtera III+ 61 53 135 153 1.753 763 113 55.934 30.079 33.686 33.182 35.928 24.353 32.220 Jumlah Jumlah Keluarga (Jiwa) 53.901 29.996 34.775 32.832 34.463 22.305 34.656 Tingkat Hunian (Jiwa/kel) 4 4 4 4 4 4 4

Sumber: BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung III. Sasaran yang Ingin Dicapai 1. Berkurangnya prosentase Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial 2. Menurunnya persentase penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan 3. Terpenuhinya kecukupan pangan yang bermutu dan terjangkau 4. Terpenuhinya pelayanan kesehatan yang bermutu 5. Tersedianya pelayanan pendidikan dasar yang bermutu dan merata 6. terpenuhinya kebutuhan air bersih dan aman bagi masyarakat miskin 7. Terbukanya kesempatan kerja dan berusaha 8. Terpenuhinya kebutuhan perumahan dan sanitasi yang layak dan sehat 9. Terbukannya akses masyarakat miskin dalam pemanfaatan SDA dan terjaganya kualitas lingkungan hidup 10. Terjamin dan terlindunginnya hak perorangan dan hak komunal atas tanah 11. Terjaminnya rasa aman bagi masyarakat miskin terhadap berbagai tindak kekerasan 12. Meningkatnya partisipasi masyarakat miskin dalam pengambilan keputusan

80

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

IV.

Arah Kebijakan

Adapun maksud dari sasaran-sasaran dalam agenda penanggulangan kemiskinan tersebut diarahkan untuk: 1. Kebijakan mengurangi angka penyandang masalah sosial masyarakat 2. Kebijakan percepatan penyelesaian pendidikan wajib belajar sebilan tahun dan pengembangan pendidikan wajib belajar 12 tahun 3. Kebijakan percepatan peningkatan derajat kesehatan masyarakat 4. Kebijakan peningkatan lingkungan perumahan yang sehat dan produktif 5. Kebijakan penguatan kapasitas infrastruktur dalam rangka mendukung pembangunan ekonomi dan investasi di masyarakat 6. Kebijakan penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat lokal dalam upaya mengurangi tingkat pengangguran 7. Kebijakan peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah (PDRB) dan pendapatan perkapita serta pemerataan pendapatan; Pelaksanaan kebijakan peningkatan pertumbhan ekonomi daerah (PDRB) dan pendapatan perkapita serta pemerataan pendapatan masyarakat 8. Kebijakan perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian ruang wilayah sesuai dengan daya dukung lahan 9. Kebijakan pengendalian laju kerusakan sumberdaya alam dan lingkunganbaikdaratan yang melingkupi (hutan dan lahan) maupun wilayah perairan yang meliputi (air, pesisir dan laut) 10. Kebijakan pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan usaha mikro kecil dan menengah V. 5.1. Pencapaian 2007-2008 Upaya yang dilakukan hingga tahun 2007

5.1.1 Kebijakan mengurangi angka penyandang masalah sosial masyarakat 1. Pemberdayaan fakir miskin, Komunitas Adat Terpencil (KAT) dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) lainnya. 2. Program pelayanan dan rehabilitasi kesejahteraan sosial 3. Program pembinaan anak terlantar 4. Program pembinaan penyandang cacat dan trauma 5. Program pembinaan panti asuhan/panti jompo 6. Program pembinaan eks penyandang penyakit sosial (eks narapidana, PSK, narkoba dan penyakit sosial lainnya).

81

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

5.1.2 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Kebijakan percepatan penyelesaian pendidikan wajib belajar sebilan tahun dan pengembangan pendidikan wajib belajar 12 tahun Program pembangunan pendidikan Program pembangunan sumberdaya insani Program pendidikan anak usia dini Program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun Program peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan Program pengembangan budaya baca dan pembinaan perpustakaan Program manajemen pelayanan pendidikan Program pendidikan menengah Program pendidikan luar biasa

5.1.3 Kebijakan percepatan peningkatan derajat kesehatan masyarakat 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Program pembangunan kesehatan Program penyediaan obat dan perbekalan kesehatan Program usaha kesehatan masyarakat Program pengawasan obat dan makan Program pengembangan obat asli Indonesia Program promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat Program perbaikan gizi masyarakat Program pengembangan lingkungan sehat Program pencegahan dan penanggulangan penyakit menular

10. Program standardisasi pelayanan kesehatan 11. Program pelayanan kesehatan penduduk miskin 12. Program peningkatan pelayanan kesehatan balita 13. Program pengawasan dan pengendalian kesehatan makanan 14. Program peningkatan keselamatan ibu melahirkan dan anak 5.1.4 Kebijakan peningkatan lingkungan perumahan yang sehat dan produktif 1. 2. 3. Program pengembangan perumahan Program lingkungan sehat perumahan Program pemberdayaan komunitas perumahan

82

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

5.1.5 Kebijakan penguatan kapasitas infrastruktur dalam rangka mendukung pembangunan ekonomi dan investasi di masyarakat 1. Program penyediaan dan pengelolaan air baku 2. Program pengembangan, pengelolaan dan konservasi sungai, danau dan sumberdaya air lainnya 3. Program pengembangan kinerja pengelolaan air minum dan limbah 5.1.6 Kebijakan penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat lokal dalam upaya mengurangi tingkat pengangguran 1. Program pengurangan pengangguran 2. Program peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja 3. Program peningkatan kesempatan kerja 5.1.7 Kebijakan peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah (PDRB) dan pendapatan perkapita serta pemerataan pendapatan 1. Program pembangunan komoditas unggulan daerah 2. Program pemanfaatan potensi sumberdaya hutan 3. Program pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir 4. Program pengembangan budidaya 5. Program pengembangan perikanan tangkap 6. Program optimalisasi pengelolaan dan pemasaran produk perikanan . 5.1.8 Kebijakan perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian ruang wilayah sesuai dengan daya dukung lahan 1. Program perencanaan tata ruang 2. Program pemanfaatan ruang 3. Program pembangunan sistem pendaftaran tanah 4. Program penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah. 5. Program penyelesaian konflik-konflik pertanahan 6. Program pengembangan sistem pertanahan

83

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

5.1.9 Kebijakan pengendalian laju kerusakan sumberdaya alam dan lingkunganbaikdaratan yang melingkupi (hutan dan lahan) maupun wilayah perairan yang meliputi (air, pesisir dan laut) 1. Program pengawasan dan penertiban kegiatan rakyat yan berpotensi merusak lingkungan 2. Program pengelolaan dan rehabilitasi ekosistem pesisir dan laut 5.1.10 Kebijakan pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan usaha mikro kecil dan menengah 1. Program pengentasan kemiskinan 2. Program penciptaan usaha-usaha kecil menengah yang kondusif 3. Program pengembangan kewirausahaan dan keunggulan kompetitif usaha kecil menengah 4. Program pengembangan sistem pendukung usaha bagi usaha mikro kecil menengah 5. Program peningkatan kualitas kelembagaan koperasi 5.1.11. Program Fakir Miskin, komunitas Adat Terpencil dan penyandang Masalah kesejahteraan Sosial 1. Peningkatan Kemampuan (capacity Building) petugas dan pendamping sosial pemberdayaan fakir miskin, KAT dan PMKS lainnya. 2. Pelatihan ketrampilan berusaha bagi keluarga miskin 3. Fasilitas manajemen usaha bagi keluarga miskin 4. Pengadaan sarana dan prasarana pendukung usaha bagi keluarga miskin 5. Pelatihan ketrampilan bagi Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial 5.1.12. Program Pengentasan Kemiskinan 1. Pengurangan tingkat kemiskinan 5.2. Posisi capaian hingga tahun 2008 Kemiskinan 1. Jumlah pengangguran terbuka bulan agustus 2006 sebanyak 42.210 orang sedangkan pada bulan agustus 2007 sebanyak 32.956 orang turun 22 %. 2. Jumlah usia produktif tahun 2006 sebesar 751.386 orang sedangkan tahun 2007 sebesar 766.428 orang mengalami kenaikan 2%. 3. Jumlah penduduk miskin bulan pada bulan Maret 2007 sebesar 95.200 orang

84

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

4. Jumlah penduduk miskin perkotaan bulan juli 2005 sebanyak 37.700 orang meningkat sebanyak 38.600 orang pada Maret 2007 5. Jumlah penduduk miskin pedesaan bulan Juli 2005 sebanyak 57.600 orang menjadi 56.600 orang pada bulan Maret 2007. Ekonomi 1. Pertumbuhan PDRB tahun 2006 sebesar 15,920 triliun sedangkan tahun 2007 sebesar 17,878 triliun 2. PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB)tahun 2006 sebesar 15,299 triliun sedangkan pada tahun 2007 sebesar 17,419 triliun 3. PDRB perkapita (ADHB) dengan migas tahun 2006 sebesar 14,812 triliu sedangkan tahun 2007 sebesar 16,155 triliun. 4. PDRB per kapita ADHB tanpa migas tahun 2006 sebesar 14,235 triliun sedangkan tahun 2007 sebesar 15,740 triliun. 5. Nilai Ekspor tahun 2006 948,015 juta US$ sedangkan pada tahun 2007 sebesar 1217,253 US$ meningkat sebesar 28,4% 6. Nilai Impor tahun 2006 sebesar 23,087 juta US$ sedangkan pada tahun 2007 sebesar 21,194 juta US$ menurun sebanyak 8,2% Perumahan dan sanitasi 1. Pembangunan sarana da prasarana rumah sederhana sehat (pembangunan rumah layak huni Pulau Bangka) dengan estimasi fisik telah mencapai 80% Akses Air bersih 1. Pengadaan / pemasangan Paket IPA 40 lt/dtk (DAM Pemali) kab. Bangka dengan estimasi fisik telah mencapai 75 %. SDA dan Lingkungan Hidup 1. Akibat dari penambangan timah apung berakibat terjadinya pencemaran pantai oleh tining sampai mencapai lebih dari 3 kilo dari pantai kearah laut di sepanjang pantai Rebo 2. Keterlibatan masyarakat miskin dalam pemanfaatan SDA dan menjaga lingkungan dengan melakukan reboisasi untuk kawasan lahan seluas 1.710 hektar 3. Pencetakan sawah di Merantih telah mencapai estimasi fisik sebesar 60 % 4. Percetakan sawah di Kimak yang telah mencapai estimasi fisik sebesar 80%

85

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Pembangunan Perkotaan 1. Jumlah masyarakat miskin perkotaan pada Juli 2005 sebesar 37.700 orang menjadi 38.600 orang , meningkat sebesar 2,4% 2. Prosentase masyarakat miskin dengan masyarakat non miskin di kawasan perkotaan 3. Ketersedianya tempat dan ruang usaha bagi masyarakat miskin 4. Jumlah kelembagaan masyarakat miskin pada kawasan perkotaan 5. Jumlah masyarakat miskin yang menggunakan fasilitas insentif dalam mendapatkan pelayanan kesehatan dan pendidikan 6. Prosentase masyarakat miskin dan non miskin dalam mengakses pelayanan kesehatan dan pendidikan 7. Jumlah kasus masyarakat miskin yang mengalami tindak kekerasan Pengembangan kawasan Pesisir 1. Terdapat kelompok Usaha Bersama (KUB) di PPP Sungailiat sebanyak 8 kelompok dengan spesifikasi 7 KUB penangkapan dan 1 KUB pemasaran yang berfungsi untuk menjembatani kepentingan nelayan dengan pemerintah daerah khususnya DKP 2. Jumlah keseluruhan KUB di Propinsi kepulauan Bangka Belitung sebanyak 56 KUB 3. Jumlah rumah tangga nelayan tahun 2006 sebanyak 28.630 4. Kerusakan terbesar sumberdaya kelautan dan pesisir di Propinsi Kep. Bangka Belitung diakibatkan oleh adanya kapal hisap timah dan proses penambangan timah apung inkonvensional oleh rakyak yang tidak menyertakan komponen AMDAL 5. Penyusunan Raperda Retribusi pungutan Budidaya air tawar untuk meningkatkan PAD dari sektor Kelautan dan perikanan untuk kesejahteraan masyarakat 6. Penyusunan Raperda Retribusi Perizinan Usaha Penangkapan Ikan untuk meningkatkan PAD dari sektor Kelautan dan Perikanan 5.3. Permasalahan pencapaian Sasaran Secara umum, permasalahan mendasar dari upaya pengentasan kemiskinan menyangkut berbagai aspek seperti upaya peningkatan mutu sumber daya manusia sebagai upaya meningkatkan mutu ketenagakerjaan melaui peningkatan mutu pendidikan dan penuntasan wajib belajar sembilan tahun tingkat dasar secara bertahap ke arah WAJAR 12 tahun, penurunan kematian anak dan ibu, prevelensi gizi balita, peningkatan usia harapan hidup dan mengatasi tingginya penyakit malaria.

86

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Penurunan angka pengangguran melalui perluasan dan penciptaan lapangan kerja, lapangan usaha serta menciptakan dan mendorong kualitas tenaga kerja yang berdaya saing untuk tingkat lokal, regional dan global serta penurunan tingkat kemiskinan secara sistemik sampai tingkat yang paling rendah. Adapun secara khusus permasalahan dalam pencapaian sasaran adalah sebagai berikut: Kemiskinan 1. Tingginya angka pengangguran dibandingkan jumlah penduduk produktif sebesar 23 % pada tahun 2007 karena keterbatasan lapangan kerja dan lapangan usaha 2. Rendahnya tingkat pendidikan dan keahlian calon pencari kerja 3. Rendahnya tingkat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang tercermin pada kesehatan, pendidikan dan perekonomian. Perumahan dan sanitasi Akses Air bersih 1. Rendahnya kepedulian masyarakat terhadap sanitasi karena mereka terbiasa melakukan kegiatan MCK di sungai. Hal tersebut masih membudaya di daerah pedesaan di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung SDA dan Lingkungan Hidup 1. Masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kegiatan pelestarian lingkungan. Hal tersebut dibuktikan dengan tidak direklamasinya bekas tambang timah inkonvensional yang diusahakan oleh rakyat Partisipasi Masyarakat 1. Masih kurangnya keikutsertaan masyarakat dalam kegiatan perencanaan pembangunan Pembangunan pedesaan 1. Tingginya ketergantungan masyarakat terhadap tambang timah inkonvensional yang menyebabkan kurang tergarapnya sektor pertanian dan perkebunan

87

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Pengembangan kawasan Pesisir 1. Tidak tersedianya instrumen hukum atau peraturan tentang zonasi untuk dapat diketahui masyarakat luas, khususnya dunia usaha yang diharapkan dapat menanamkan investasinya, serta pedoman dalam pengelolaan dan pengembangan wilayah laut guna peningkatan kesejahteraan masyarakat. 2. Keterbatasan sumberdaya manusia (aparat pemerintahan) dalam bidang pesisir dan laut yang terdidik dan terlatih. Sehingga kendala yang dihadapi adalah kesulitan dalam pendayagunaan serta peningkatan perangkat instansi daerah yang ada terhadap pengelolaan di wilayah pesisir dan 12 mil laut serta 4 mil laut yang merupakan kewenangan kabupaten/kota. 3. Tidak adanya regulasi tentang pemanfaatan lahan pesisir untuk kegiatan pembangunan (pariwisata, permukiman dan lain sebagainya), pengaturan pemanfaatan sumberdaya laut 4. Terbatasnya ketersediaan data dan informasi pesisir dan laut tentang seberapa besar potensi pesisir dan laut yang dapat terdeteksi misalnya bahan pertambang, perikanan, dan pariwisata. 5. Terbatasnya wahana dan sarana dalam penerapan dan pendayagunaan teknologi bidang kelautan. Sehingga upaya penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi pengelolaan sumberdaya kelautan/SDL dalam usaha meningkatkan kesejahteraan masyarakat, belum bisa terjawab keterbatasan kemampuan teknologi untuk dapat menggali potensi SDL. 6. Adanya abrasi pantai di pantai Pasir Padi di Kota Pangkal Pinang menyebabkan rusaknya setengah badan jalan sepanjang 200m Pertanahan Belum terealisasinya sertifikasi Tanah masal melalui dana APBD Provinsi Kep. Bangka Belitung sebesar Rp.340 juta. VI. Rekomendasi Tindak Lanjut 6.1. Upaya Yang Akan Dilakukan Untuk Mencapai Sasaran Penanggulangan kemiskinan merupakan proses panjang yang memerlukan penanganan yang berkelanjutan. Oleh sebab itu, salah satu upaya untuk mempercepat pencapaian sasaran RPJMD adalah dengan meningkatkan elemen pemberdayaan di tingkat masyarakat miskin. Keberdayaan masyarakat miskin juga ditujukan agar mampu memanfaatkan sumberdaya produktif yang tersedia.

88

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Pemerintah daerah terus melakukan sinergi dan mengintegrasikan berbagai program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat dari berbagai sektor. 6.2. Perkiraan Pencapaian RPJMD Secara keseluruhan penduduk miskin Provinsi Bangka Belitung dari tahun ke tahun menurun. Baik penduduk miskin kota dan penduduk miskin desa. Akan tetapi penurunan tersebut tidak terlalu signifikan karena untuk sementara ini masyarakat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung masih dimanjakan oleh sumberdaya alamnya yaitu timah. Sehingga masyarakat provinsi ini dapat dengan mudah mendapatkan sumberdaya ini dan hasilnya digunakan untuk peningkatan kesejahteraan. Akan tetapi, hal ini pastilah tidak akan berlangsung seterusnya menilik dengan kondisi sumberdaya timah ini merupakan sumberdaya yang dapat habis apabila digunakan terusmenerus tanpa ada peraturan, kebijakan yang memadai untuk mengatur proses pengelolaannya. Lebih lanjut, membaiknya kondisi makro ekonomi ini diharapkan dapat mendukung penyediaan akses pelayanan dasar yang lebih baik bagi masyarakat. Dengan demikian upaya penanggulangan kemiskinan dapat berjalan dengan optimal dan mencapai sasaran. VII. Penutup. Secara umum, kondisi kemiskinan di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung didasarkan salah satunya pada ketergantungan dari masyarakatnya terhadap kegiatan penambangan timah. Kurang adanya minat dari penduduk asli bangka untuk bertani dan mengelola perikanan menjadikan propinsi ini sebagai salah satu propinsi dengan harga sayuran yang mahal. Kegiatan penambangan timah pada akhirnya lambat laun akan menyisakan tanah-tanah yang tandus karena pada kegiatan ini tidak dilakukan reklamasi lahan sehingga dibiarkan menjadi kolong-kolong yang berisi air. Ketergantungan yang besar penduduk Propinsi Kepulauan Bangka Belitung terhadap kegiatan penembangan akan berpengaruh terhadap pendapatan yang diperoleh oleh masyarakatnya itu sendiri. Karen timah bukan merupakan sumberdaya alam yang dapat diperbaharui sehingga akan menyebabkan proses kemiskinan tidak disadari oleh masyarakat. Untuk mendukung usaha pengentasan kemiskinan berbasis masyarakat, perlu dilakukan upaya peningkatan produktivitas dan kualitas hidup masyarakat. Hal ini dapat dilakukan melalui program perluasan akses terhadap pelayanan hak-hak dasar, terutama bagi masyarakat miskin dan masyarakat yang rentan untuk masuk dalam kategori miskin. Dengan terpenuhinya standard kebutuhan dasar, maka masyarakat diharapkan mampu berusaha untuk meningkatkan pendapatan dan keluar dari kemiskinan.

89

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

BAB 4.3 PENINGKATAN INVESTASI DAN EKSPOR NON MIGAS

Catatan: Pada bab ini tidak akan dijelaskan peran pemerintah daerah dalam peningkatan investasi dan ekspor non migas karena tidak dijumpai permasalahan yang terkait dengan agenda tersebut di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Di samping itu agenda ini menjadi wewenang pemerintah pusat.

90

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

BAB 4.4 PENINGKATAN DAYA SAING INDUSTRI MANUFAKTUR

I.

Pengantar

Industri manufaktur di Provinsi Kepulauan Banka Belitung selama kurun waktu 2000-2005 telah memberikan kontribusi dalam pembentukan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) provinsi rata-rata sebesar 24,09% (menurut harga konstan). Jika dilihat dari pertumbuhannya selama periode waktu yang sama, sektor ini tumbuh sebesar 4,43% (menurut harga konstan). Jumlah industri di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2006 mencapai 2.440 unit terdiri dari industri pangan, sandang dan aneka logam, mesin dan elektronika, kimia dan bahan bangunan serta industri kerajinan dengan penyerapan tenaga kerja total mencapai 15.604 orang. Dari jumlah industri tersebut, jenis industri yang banyak berkembang adalah industri kimia dan bahan bangunan sebanyak 785 unit, dimana pada tahun yang sama industri ini mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 6.485 orang. Setelah industri kimia dan bahan bangunan, industri logam, mesin dan elektronika juga cukup banyak dengan jumlah sebanyak 763 unit dengan tenaga kerja sebanyak 4.725 orang. Industri pangan merupakan industri yang mengolah hasil agro industri, perikanan, perkebunan dan hasil laut. Industri pengolahan di wilayah ini antara lain adalah industri terasi, rusip, getas/kerupuk dan sebagainya. Industri kerajinan tangan yang diusahakan berupa industri pewter dengan memanfaatkan potensi pertambangan di Provinsi Bangka Belitung yaitu timah, gelang/cincin/tingkat dari akar bahar, kerajinan batu satam yang menjadi khas dari Pulau Belitung, kerajinan anyaman seperti kopiah resam, anyaman bambu dan lain sebagainya.

91

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

II.

Kondisi Awal RPJMD 2007-2012 (Tahun 2007-2008)

Tabel 4.4.1 Jumlah Industri di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2006 No. Kabupaten/ Kota Kelompok Industri Pangan Sandang & Aneka 1 2 3 4 5 6 7 Total Persentase (%) Bangka B. Barat B. Tengah B. Selatan Belitung Bltg Timur Pangkal Pinang 601 24,63 56 2,30 763 31,27 785 32,17 235 9,63 2.440 91 44 18 54 100 103 191 7 0 1 2 7 16 23 Logam, Mesin 116 23 61 41 188 74 260 Elektronika Kimia & Bahan Bangunan 162 28 53 61 214 65 202 21 5 2 12 31 115 49 397 100 135 170 540 373 725 & Kerajinan Jumlah

Sumber: Dinas Perindustrian, Koperasi & UKM Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

92

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Tabel 4.4.2 Penyerapan Tenaga Kerja Masing-Masing Kelompok Industri di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2006 No. Kabupaten/ Kota Penyerapan Tenaga Kerja Tiap Kelompok Industri Pangan Sandang & Aneka 1 2 3 4 5 6 7 Total Persentase (%) Bangka B. Barat B. Tengah B. Selatan Belitung Bltg Timur Pangkal Pinang 3572 22,89 365 2,34 4.725 30,28 6.485 41,56 457 2,93 15.604 627 170 119 220 643 292 1.501 130 0 11 3 39 18 164 Logam, Mesin 1.202 243 498 167 492 207 1.916 Elektronika Kimia & Bahan Bangunan 1.913 204 301 291 2.119 169 1.488 54 16 5 74 48 134 126 3.926 633 934 755 3.341 820 5.195 & Kerajinan Jumlah

Sumber: Dinas Perindustrian, Koperasi & UKM Provinsi Kepulauan Bangka Belitung III. 1. 2. 3. 4. 5. Sasaran yang Ingin Dicapai Perluasan penerapan SNI untuk mendorong daya saing industri manufaktur Perluasan penerapan standard produk industri manufaktur Pertumbuhan sektor industri manufaktur (non migas) ditargetkan meningkat Peningkatan penyerapan tenaga kerja. Terciptanya iklim usaha yang kondusif baik bagi industri yang sudah ada maupun investasi baru dalam bentuk tersediannya layanan umum yang baik dan bersih dari KKN, sumber-sumber pendaan yang terjangkau dan kebijakan fiskal yang menunjang 6. Peningkatan pangsa sektor industri industri manufaktur di pasar domestik, baik untuk bahan baku maupun produk akhir, sebagai cerminan daya saing sektor ini dalam menghadapi produk-produk impor

93

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

IV.

Arah Kebijakan

Kebijakan yang dilakukan untuk peningkatan daya saing manufaktur diarahkan pada: Kebijakan penguatan kapasitas infrastruktur dalam rangka mendukung pembangunan ekonomi dan investasi di masyarakat V. Pencapaian 2007-2008 5.1. Upaya yang dilakukan hingga tahun 2008 1. Program Peningkatan Kemampuan Teknologi Industri 2. Pembinaan kemampuan teknologi industri 3. Pengembangan dan pelayanan teknologi industri Kebijakan penguatan kapasitas infrastruktur dalam rangka mendukung pembangunan ekonomi dan investasi di masyarakat 1. Program rehabilitasi dan pemeliharaan prasarana dan fasilitas LLAJ 2. Program pengendalian dan pengamanan lalu lintas 3. Program rehabilitasi / pemeliharaan jalan dan jembatan 4. Program pembinaan dan pengembangan bidang ketenagalistrikan Program Peningkatan Kemapuan Teknologi Industri 1. Pembinaan kemampuan teknologi industri 2. Pengembangan dan pelayanan teknologi industri 3. Perluasan penerapan SNI untuk mendorong daya saing industri manufaktur 4. Perluasan penerapan standard produk industri manufaktur 5.2. Posisi capaian hingga tahun 2008 Industri manufaktur 1. Jumlah industri di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2006 mencapai 2.440 unit terdiri dari industri pangan, sandang dan aneka logam, mesin dan elektronika, kimia dan bahan bangunan serta industri kerajinan dengan penyerapan tenaga kerja total mencapai 15.604 orang. Dari jumlah industri tersebut, jenis industri yang banyak berkembang adalah industri kimia dan bahan bangunan sebanyak 785 unit, dimana pada tahun yang sama industri ini mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 6.485 orang. Setelah industri kimia dan bahan bangunan, industri logam, mesin dan elektronika juga cukup banyak dengan jumlah sebanyak 763 unit dengan tenaga kerja sebanyak 4.725 orang.

94

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

2. Kontribusi kegiatan industri manufaktur di daerah berupa pajak yang akan menjadi PAD Propinsi Kep. Bangka Belitung 3. Jumlah jenis manufaktur terutama pengolahan yaitu industri pangan yang merupakan industri yang mengolah hasil agro industri, perikanan, perkebunan dan hasil laut yang keseluruhan berjumlah 601 kelompok industri Tenaga kerja 1. Jumlah tenaga kerja pada kegiatan industri manufaktur sebanyak 15.604 orang 2. Jumlah dan nilai kegiatan industri manufaktur yang berbasis pedesaan berupa pangan sebanyak 601 kelompok, sandang sebanyak 56 kelompok semuanya adalah 892 kelompok 3. Adanya kontribusi daerah dalam volume ekspor manfaktur nasional berupa ekspor timah pada tahun 2006 sebesar 688,02 juta US$ menjadi sebesar 866,446 juta US$ Iklim Usaha 1. Pelayanan infrastruktur yang memadai berupa meningkatnya pelayanan jasa sarana dan prasarana transportasi secara terpadu dengan jalan pembangunan jalan Penutuk-Tanjung Labu paket I sebesar 80%, paket 2 sebesar 25% dan paket 3 sebesar 80% 5.3. Permasalahan pencapaian Sasaran Permasalahan yang ada di Propinsi Kep. Bangka Belitung dalam pencapaian sasaran peningkatan daya saing manufaktur adalah: 1. Kurangnya pasokan migas dari Pertamina yang menyebabkan antrean panjang di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung dan menyebabkan turunnya hasil produksi industri manfaktur 2. Kurangnya pasokan listrik dari PLN yang juga menyebabkan menurunnya produksi industri dan investasi dan kerajinan sebanyak 235 kelompok. Total jumlah

VI. Rekomendasi Tindak Lanjut 6.1. Upaya Yang Akan Dilakukan Untuk Mencapai Sasaran 1. Swastanisasi perusahaan listrik di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung

95

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

6.2. Perkiraan Pencapaian RPJMD Perkiraan pencapaian sasaran masih perlu adanya peningkatan karena banyaknya kendala dalam program ini. VII. Penutup. Kinerja industri non migas di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung masih harus ditingkatkan. Hal ini mengingat besarnya kontribusi sektor ini terhadap perekonomian daerah maupun penciptaan tenaga kerja. Akan tetapi, perlu juga diupayakan untuk meningkatkan faktor pendukung seperti kelistrikan dalam rangka peningkatan industri manufaktur.

96

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

BAB 4.5 REVITALISASI PERTANIAN

I.

Pengantar

Pertanian, perikanan dan kehutanan merupakan salah satu sektor unggulan yang menjadi pendukung bagi pertumbuhan ekonomi di Provinsi Bangka Belitung. Sektor pertanian merupakan penyumbang PDRB yang paling dominan bagi Bangka Belitung pada tahun 2005. Pada tahun 2000 sektor pertanian menyumbang PDRB sebesar Rp 1.533.110 juta dan mengalami peningkatan pada tahun 2005 menjadi Rp 1.990.628 juta dan pada tahun 2006 sektor pertanian mempunyai kontribusi 18,41 persen terhadap PDRB Bangka Belitung setelah industri pengolahan dan pertambangan. Bidang pertanian juga mempunyai kontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja di Bangka Belitung. Pada tahun 2004 mayoritas penduduk bekerja di sektor pertanian sebagai lapangan kerja utama berjumlah 189.798 jiwa atau mencapai 43,54%. Melihat kenyataan di atas, oleh karena itu pemerintah provinsi Bangka Belitung menempatkan pertanian sebagai sektor unggulan yang diharapkan dapat berperan dalam pengentasan kemiskinan dan sebagai sektor padat karya di Bangka Belitung. II. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah Walaupun kemiskinan yang terjadi di Bangka Belitung dipandang lebih besar pada daerah perkotaan dan di pedesaan tingkat kemiskinan menurun dari 9,74% pada Juli 2005 menjadi 9,54% pada Maret 2007 (turun 0,20%) namun kondisi tersebut tetap harus diperhatikan sehingga di pedesaan kesejahteraan petani dapat terus ditingkatkan. Apalagi pada hingga tahun 2007, para petani kesulitan dalam pembelian harga pupuk yang dipandang masih sangat tinggi. Permasalahan lain menyangkut kesulitan petani terutama untuk bibit unggul pertanian dan pemanfaatan teknologi serta informasi mengenai pengolahan produk yang dihasilkan petani.

97

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

III. Sasaran yang Ingin Dicapai Sasaran yang ingin dicapai dalam RPJMN untuk agenda pembangunan revitalisasi pertanian adalah sebagai berikut: 1. Meningkatnya kemampuan petani, nelayan dan pembudiyaan ikan untuk dapat menghasilkan komoditas yang berdaya saing tinggi. 2. Terjaganya tingkat produksi beras dalam negeri dengan tingkat ketersediaan minimal 90 persen dari kebutuhan domestik, untuk pengamanan kemandirian pangan. 3. Diversifikasi produksi, ketersediaan dan konsumsi pangan untuk menurunkan ketergantungan pada beras. 4. Meningkatnya ketersediaan pangan ternak dan ikan dari dalam negeri. 5. Meningkatnya konsumsi masyarakat terhadap protein hewani yang berasal dari ternak dan ikan. 6. Meningkatnya daya saing dan nilai tambah produk pertanian dan perikanan. 7. Meningkatnya produksi dan ekspor hasi pertanian dan perikanan. 8. Meningkatnya kemampuan petani dan nelayan dalam mengelola sumber daya alam secara lestari dan bertanggung jawab. 9. Optimalnya nilai tambah dan manfaat hasil hutan kayu. 10. Meningkatnya hasil hutan non kayu 30% dari produksi tahun 2004. 11. Bertambahnya hutan tanaman minimal seluas 5 juta ha dan penyelesaian penetapan kesatuan pemangkuan hutan acuan pengelolaan hutan produksi. Sasaran yang ingin dicapai untuk revitalisasi pertanian dalam RPJMD dapat diuraikan sebagai berikut: a. Sasaran Pemantapan Ketahanan Pangan Sasaran pemantapan ketahanan pangan daerah diarahkan untuk menjamin ketersediaan, distribusi dan keamanan pangan daerah, sehingga dapat terpenuhinya kecukupan pangan yang bermutu, halal dan terjangkau oleh daya beli masyarakat. b. Sasaran dalam rangka untuk pengembangan sektor unggulan dalam bidang Kelautan dan Perikanan serta Pertanian dan Kehutanan. Sasaran untuk pengembangan sektor unggulan dalam bidang Kelautan dan Perikanan serta Pertanian dan kehutanan ini diarahkan untuk meningkatkan pertumbuhan sektor ini yang diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan investasi serta terciptanya lapangan kerja yang mampu mengurangi pengangguran terbuka.

98

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

IV. Arah Kebijakan Untuk revitalisasi pertanian meliputi empat langkah kebijakan pokok yang tertuang dalam RPJMN. Arah masing-masing kebijakan pokok tersebut sebagai berikut: 1. Arah dari kebijakan peningkatan kemampuan pelaku pertanian dan perikanan serta penguatan lembaga pendukungnya: a. Revitalisasi penyuluhan dan pendampingan petani; b. Menghidupkan dan memperkuat lembaga pertanian dan pedesaan; c. Meningkatkan kemampuan/kualitas sumberdaya manusia (SDM) pertanian; 2. Arah dari kebijakan pengamanan ketahanan pangan: a. Mempertahankan tingkat produksi beras dalam negeri dengan ketersediaan minimal 90 persen dari kebutuhan domestik; b. Meningkatkan ketersediaan pangan ternak dan ikan dari dalam negeri; c. Melakukan diversifikasi pangan untuk menurunkan ketergantungan pada beras; 3. Arah dari kebijakan peningkatan produktivitas, produksi, daya saing, dan nilai tambah produk pertanian dan perikanan; a. Peningkatan pemanfaatan sumber daya perikanan dalam mendukung ekonomi dengan tetap menjaga kelestariannya; b. Pengembangan usaha pertanian dengan pendekatan kewilayahan terpadu dengan konsep pengembangan agribisnis; c. Penyusunan langkah-langkah kongkrit untuk meningkatkan daya saing produk pertanian dan perikanan; d. Penguatan sistem pemasaran dan manajemen usaha untuk mengelola risiko usaha pertanian serta untuk mendukung pengembangan agroindustri; 4. Arah dari kebijakan pemanfaatan hutan untuk diversifikasi usaha dan mendukung produksi pangan: a. Peningkatan nilai tambah dan manfaat hasil hutan kayu; b. Pemberian insentif pengembangan Hutan Tanaman Industri (HTI); c. Peningkatan partisipasi kepada masyarakat luas dalam pengembangan hutan tanaman; d. Peningkatan produksi hasil hutan nonkayu untuk kesejahteraan masyarakat sekitar hutan.

99

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Arah kebijakan yang diupayakan oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk revitalisasi pertanian dapat diuraikan sebagai berikut: a. Arah kebijakan dalam upaya pemantapan ketahanan pangan Untuk melaksakan pemantapan pangan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, maka kebijakan yang ditetapkan adalah sebagai berikut: a) Mendorong partisipasi masyarakat dalam upaya peningkatan penganekaragaman pangan, dengan kegiatan pokok: Pengembangan dan Pengamanan Peternakan. Pengembangan Sumberdaya Ternak. Pembinaan dan Pengembangan Pembibitan Sapi. Pengembangan Produksi Holtikultura.

b) Peningkatan kapasitas kelembagaan pendukung ketahanan pangan berbasis masyarakat, dengan kegiatan pokok: Peningkatan Laboratorium Kesehatan Hewan. Peningkatan Diversifikasi Pangan. Pengkajian Produksi Tanaman Pangan.

b. Arah kebijakan untuk pengembangan sektor unggulan dalam bidang Kelautan dan Perikanan serta Pertanian dan Kehutanan, diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat, maka langkah-langkah kebijakan ditetapkan sebagai berikut: a) Untuk meningkatkan pertumbuhan sektor kelautan dan perikanan, dengan kegiatan pokok: 1) Peningkatan kemampuan nelayan untuk dapat menghasilkan komoditas yang berdaya saing tinggi. 2) Peningkatan produksi perikanan untuk pendayagunaan lahan. 3) Pengembangan usaha agribisnis untuk meningkatkan mutu, nilai tambah dan daya saing komoditas perikanan. 4) Peningkatan diseminasi dan penerapan teknologi tepat guna. 5) Mengembangan sistem pengawasan dan pengendalian pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan.

100

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

b) Untuk meningkatkan pertumbuhan sektor pertanian dan kehutanan dengan kegiatan pokok: 1) Peningkatan kemampuan petani untuk dapat menghasilkan komoditas yang berdaya saing tinggi. 2) Peningkatan produksi tanaman pangan, holtikultura, peternakan, perkebunan, dan kehutanan melalui pendayagunaan lahan. 3) Pengembangan usaha agribisnis untuk meningkatkan mutu, nilai tambah dan daya saing komoditas pertanian dan perkebunan serta kehutanan. V. Pencapaian RPJMN di Daerah (2005 – 2007) 5.1 Upaya yang Dilakukan Hingga Tahun 2007 Upaya yang dilakukan pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk revitalisasi pertanian sampai dengan tahun 2007 adalah sebagai berikut: 1) Program Peningkatan kesejahteraan petani. a) Penumbuhan Kebersamaan melalui Sistem Kebersamaan Ekonomi berdasarkan Manajemen Kemitraan (SKE-BMK) di 6 kabupaten (4 kelompok/kabupaten). b) Kegiatan Pameran Pekan Nasional Kelompok Tani Nelayan (PENAS) XII yang diselenggarakan di Desa Sembawa, Kecamatan Banyuasin III, Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan, dari tanggal 7 – 12 Juli 2007. 2) Program Peningkatan Ketahanan Pangan (Pertanian/Perkebunan) a) Kegiatan Penyusunan Data Base Potensi Produksi Pangan dengan outputnya adalah teridentifikasinya makanan tradisional Bangka Belitung berupa buku makanan tradisional Bangka Belitung sebanyak 40 buku yang telah disebarluaskan ke instansi terkait, 6 kabupaten/1 kota sebagai salah satu upaya percepatan diversifikasi konsumsi pangan. b) Kegiatan Analisis Rasio Jumlah Penduduk Terhadap Jumlah Kebutuhan Pangan. c) Kegiatan Pembinaan, Pengendalian dan Pengawasan Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan.

101

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

d)

Kegiatan Pemantauan dan Analisis Akses Pangan Masyarakat yang merupakan kegiatan untuk pelaksanaan sensus Data Dasar Rumah Tangga (DDRT) dan Survey Rumah Tangga (SRT) pada desa terpilih di 4 kabupaten/kota, dengan ouput dari kegiatan ini adalah diperolehnya Desa Mandiri Pangan melalui DDRT dan SRT pada 8 desa mandiri pangan tahun 2007, diantaranya: 1. Desa Berbura, Kecamatan Riau Silip, Kabupaten Bangka 2. Desa Riding Panjang, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka 3. Desa Gudang, Kecamatan Simpang Rimba, Kabupaten Bangka Tengah. 4. Desa Simpang Rimba, Kecamatan Simpang Rimba, Kabupaten Bangka Tengah. 5. Desa Terong, Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung. 6. Desa Membalong, Kecamatan Membalong, Kabupaten Belitung. 7. Kelurahan Bacang, Kecamatan Bukit Intan, Kota Pangkalpinang. 8. Kelurahan Parit Lalang, Kecamatan Rangkui, Kota Pangkalpinang.

e) Kegiatan Pengembangan Desa Mandiri Pangan berupa Pembinaan terhadap Lembaga Keuangan Desa di desa mandiri pangan tahun 2006 dan Pembinaan terhadap kelompok afinitas di desa mandiri pangan tahun 2007. f) Kegiatan Pengembangan/Perbenihan (Holtikultura) di Provini Kepulauan Bangka Belitung tahun 2007 dengan capaian sebagai berikut: g) Kegiatan Pengembangan/Perbenihan (Kebun Bibit Holtikultura) terutama sektor tanaman unggulan dan pengembangan sayuran dengan didukung telah dibangun kebun induk holtikultura seluas 5 (lima) hektar di Desa Kace, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagai kebun enteres. h) Kegiatan Pengembangan/Perbenihan/Pembibitan (Kebun 100 hektar). i) j) Kegiatan Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Produk Perkebunan, Produk Pertanian (Tanaman Pangan). Kegiatan Operasional Dewan Ketahanan Pangan dengan output berupa peningkatan program kerja Dewan Ketahanan Pangan (DKP) melalui sub sistem ketersediaan, distribusi dan konsumsi pangan.

102

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

3) Program Peningkatan Produksi Pertanian/Perkebunan a) Kegiatan penyediaan sarana produksi pertanian/perkebunan dengan output kegiatan ini adalah telah terbangunnya sarana pembibitan permanen di Kebun Bibit Air Pelempang, yang diharapkan dapat manjadikan sentra pertanian sebagai sektor unggulan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dapat terus ditingkatkan. b) Pengembangan bibit unggul pertanian/perkebunan dengan tujuan untuk menyediakan bibit lada siap salut sebanyak 700.000 bibit, karet 1.000.000 bibit dan kelapa sawit 90.000 bibit siap salur dengan kondisi baik genotif maupun fenotif sehingga menjamin produktivitas yang tinggi di lapangan. c) Pengembangan Karet Rakyat dengan cara pengadaan bibit karet okulasi bersertifikat dalam polybag yang telah memiliki daun satu sampai dua paying sebanyak 225.000 batang dengan luas tanaman 450 ha, yang tersebar di 6 kabupaten pada Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. d) Kegiatan pembangunan jaringan irigasi instalasi pembibitan pertanian di kawasan 100 ha yang berlokasi di Desa Air Buluh, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka. 4) Program Pemberdayaan Penyuluh Pertanian/Perkebunan Lapangan. a) Kegiatan peningkatan kapasitas tenaga penyuluh pertanian/perkebunan berupa kegiatan Pelatihan Pendampingan Desa Mandiri Pangan yang diikuti oleh 40 orang peserta. b) Kegiatan pengadaan dan Pemeliharaan Peralatan Survey Lapangan untuk meningkatkan keakuratan data dan peta survey pada subdin Kehutanan. 5) Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Berupa kegiatan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit menular ternak. 6) Program Peningkatan Hasil Produksi Peternakan a) Kegiatan pembangunan sarana dan prasana pembibitan ternak. b) Kegiatan pembibitan dan perawatan ternak. c) Kegiatan pendistribusian bibit ternak kepada masyarakat, khususnya bibit sapi di Bangka Belitung.

103

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

7) Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Hutan Program ini berupa kegiatan pemberantasan pembalakan/liar dan perambahan hutan yang diharapkan dapat berkurang di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. 5.2 Posisi Capaian hingga Tahun 2007 Dari upaya-upaya yang dilakukan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam program revitalisasi pertanian telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Kondisi awal dapat dilihat bahwa dari pemanfaatan luas lahan pertanian 14.988 ha (2007) dan baru dimanfaatkan seluas 3.609 ha. Sedangkan untuk potensi pertanian adalah lada, karet mulai diusahakan pertengahan abad 19, dengan areal 49.525 ha, produksi 33.429 ton, dan areal potensial 237.500 ha. Karet juga mulai diusahakan pertengahan abad 19, dengan areal 39.843 ha, produksi 23.410 ton, dan areal potensial 237.500 ha. Sedangkan Sawit mulai diusahakan awal abad 20 dengan areal 90.299 ha, produksi 8.903 ton, dan areal potensial 2266.075 ha. Untuk potensi kehutanan provinsi bangka Belitung dengan fungsi hutan sebagai hutan produksi sebesar 546.778 ha, sebagai hutan lindung 107.872 ha dan hutan konservasi 596 ha pada tahun 2007. Potensi sektor perikanan bangka Belitung pada tahun 2007 untuk perikanan tangkap potensi produksi sebesar 499.500 ton, dengan nilai ekonomi Rp 2.497.500.000.000,-. Sedangkan untuk perikanan budidaya, yakni; Budidaya air laut dengan luas areal 120.000 ha, potensi produksi 1.200.000 ton/thn dengan nilai ekonomi Rp 240.000.000.000.000,-. Untuk budidaya air payau luas areal 250.000 ha, potensi produksi 100.000 ton/thn dengan nilai ekonomi Rp 5.000.000.000.000,-. Sedangkan budidaya air tawar luas 250.000 ha, potensi produksi 16.000 ton/thn dengan nilai ekonomi Rp 160.000.000.000,-. Dari program peningkatan kesejahteraan petani dapat dilihat bahwa telah dilakukan penumbuhan Kebersamaan melalui Sistem Kebersamaan Ekonomi berdasarkan Manajemen Kemitraan (SKEBMK) di 6 kabupaten (4 kelompok/kabupaten) pada tahun 2007, dengan output kegiatan terbinanya 600 orang petani perkebunan/100 orang petani di 6 kabupaten. Selain itu, telah diadakan Pameran Pekan Nasional Kelompok Tani Nelayan (PENAS) XII yang diselenggarakan di Desa Sembawa, Kecamatan Banyuasin III, Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan, dari tanggal 7 – 12 Juli 2007. Output dari kegiatan ini adalah pakaian seragam penas 200 paket serta suksesnya pelaksanaan PENAS XII Sumsel yang diikuti para petaninelayan seluruh Indonesia.

104

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Pakaian seragam PENAS ini dibagikan ke anggota KTNA Provinsi/Kabupaten/Kota, Instansi terkait, Dinas Pertanian dan Kehutanan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Dinas Pertanian Kabupaten/Kota. Untuk program peningkatan ketahanan pangan (Pertanian/Perkebunan), telah diadakan kegiatan Penyusunan Data Base Potensi Produksi Pangan dengan outputnya adalah teridentifikasinya makanan tradisional Bangka Belitung berupa buku makanan tradisional Bangka Belitung sebanyak 40 buku yang telah disebarluaskan ke instansi terkait, 6 kabupaten/1 kota sebagai salah satu upaya percepatan diversifikasi konsumsi pangan. Selain itu telah diadakan juga kegiatan lain berupa Analisis Rasio Jumlah Penduduk Terhadap Jumlah Kebutuhan Pangan yang berbentuk penyusunan Buku Neraca Bahan Makanan (NBM) sebanyak 25 buku yang disebarluaskan ke Sub Dinas yang ada di Dinas Pertanian dan Kehutanan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 6 kabupaten/1 kota, Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Departemen Pertanian, BPS Provinsi Kep. Babel, Dinas Kelautan dan Perikanan Kep. Babel, serta BULOG Sub Divre II Wilayah Bangka. Buku ini menggambarkan situasi dan kondisi ketersediaan pangan untuk konsumsi penduduk di suatu wilayah dalam waktu tertentu. Kegiatan lain berupa Pembinaan, Pengendalian dan Pengawasan Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan dengan output berupa kegiatan penyulaman tanaman gaharu 1000 batang yang berlokasi di kawasan Hutan Lindung Gunung Permis Kabupaten Bangka Selatan dan penyulaman tanaman nyato sebanyak 2000 batang berlokasi di Kawasan Hutan Produksi Sembulan Kabupaten Bangka Tengah. Pemantauan dan Analisis Akses Pangan Masyarakat yang merupakan kegiatan untuk pelaksanaan sensus Data Dasar Rumah Tangga (DDRT) dan Survey Rumah Tangga (SRT) pada desa terpilih di 4 kabupaten/kota, dengan ouput dari kegiatan ini adalah diperolehnya Desa Mandiri Pangan melalui DDRT dan SRT pada 8 desa mandiri pangan tahun 2007. Pengembangan Desa Mandiri Pangan juga merupakan bagian dari fokus pemerintah dalam upaya ketahanan pangan di Bangka Belitung berupa Pembinaan terhadap Lembaga Keuangan Desa di desa mandiri pangan tahun 2006 dan Pembinaan terhadap kelompok afinitas di desa mandiri pangan tahun 2007.

105

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Pengembangan/Perbenihan (Holtikultura) di Provini Kepulauan Bangka Belitung tahun 2007 berupa bibit Manggis di Kab. Belitung sebanyak 3.000 batang, bibit Jeruk Kab. Bangka Tengah sebanyak 20.000 batang, bibit Jeruk Kab. Bangka Selatan sebanyak 20.000 batang, bibit Lengkeng Kab. Bangka sebanyak 2.000 batang, bibit Lengkeng Kab. Belitung Timur sebanyak 3.000 batang, bibit Jambu Bandar di Air Pelempang sebanyak 2.500 batang, bibit Durian Unggul Lokal di Air Pelempang dan Desa Kace sebanyak 10.000 batang, bibit Manggis 5 varietas local di Air Pelempang sebanyak 5.000 batang, tanaman Anggrek species local di Air Pelempang sebanyak 500 batang, tanaman Nephentes (kantong semar) lokal di Air Pelempang sebanyak 500 batang, dan pupuk dan pestisida sebanyak 1 paket. Pengembangan/Perbenihan (Kebun Bibit Holtikultura) terutama sektor tanaman unggulan dan pengembangan sayuran dengan didukung telah dibangun kebun induk holtikultura seluas 5 (lima) hektar di Desa Kace, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagai kebun enteres. Telah diadakan kegiatan Pengembangan/Perbenihan/Pembibitan (Kebun 100 hektar) berupa telah dioperasionalisasikan UPTD balai benih pertanian dan laboratorium pertanian yang didukung dengan penyediaan bahan bibit/tanaman untuk perbanyakan benih, penyediaan bahan untuk demplot tanaman padi lading dan kacang tanah, penyediaan bahan untuk produksi tanaman cabe benih bina, penyediaan bahan untuk memelihara pohon indukm dan pengadaan hand traktor untuk operasionalisasi kebun percobaan/percontohan di Air Pelempang. Kegiatan Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Produk Perkebunan, Produk Pertanian (Tanaman Pangan) dengan output dari kegiatan ini adalah terlaksanya perluasan areal tanaman padi, jagung, dan kacang tanah seluas 325 ha, yang terdiri dari ;100 ha tanaman jagung di Kabupaten Belitung, 150 ha tanaman padi, terdiri dari (50 ha di Kabupaten Bangka dan 100 ha di Kabupaten Bangka Selatan, 75 ha tanaman kacang tanah di Kabupaten Bangka Tengah. Dalam peningkatan ketahan pangan di Bangka Belitung telah diadakan juga kegiatan Operasional Dewan Ketahanan Pangan dengan output berupa peningkatan program kerja Dewan Ketahanan Pangan (DKP) melalui sub sistem ketersediaan, distribusi dan konsumsi pangan.

106

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Untuk program peningkatan produksi pertanian/perkebunan, telah diadakan kegiatan penyediaan sarana produksi pertanian/perkebunan dengan output kegiatan ini adalah telah terbangunnya sarana pembibitan permanen di Kebun Bibit Air Pelempang dan pengembangan bibit unggul pertanian/perkebunan dengan tujuan untuk menyediakan bibit lada siap salut sebanyak 700.000 bibit, karet 1.000.000 bibit dan kelapa sawit 90.000 bibit siap salur dengan kondisi baik genotif maupun fenotif sehingga menjamin produktivitas yang tinggi di lapangan. Sampai dengan tahun 2007 baru terealisasi penyediaan bibit lada 850.000 stek, kecambah kelapa sawit 100.000 biji dan 1.300.000 karet stump mata tidur. Selain itu juga dikembangkan karet rakyat dengan cara pengadaan bibit karet okulasi bersertifikat dalam polybag yang telah memiliki daun satu sampai dua paying sebanyak 225.000 batang dengan luas tanaman 450 ha, yang tersebar di 6 kabupaten pada Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Telah dilaksanakan juga pembangunan jaringan irigasi instalasi pembibitan pertanian di kawasan 100 ha yang berlokasi di Desa Air Buluh, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka. Namun sampai tahun 2006, proyek ini tidak selesai juga kemudian dianggarkan pada DIPA-L APBD Tahun 2007. Telah dilaksanakan juga program pemberdayaan penyuluh pertanian/perkebunan lapangan berupa kegiatan peningkatan kapasitas tenaga penyuluh pertanian/perkebunan berupa kegiatan Pelatihan Pendampingan Desa Mandiri Pangan yang diikuti oleh 40 orang peserta, terdiri dari pendamping desa mandiri pangan tahun 2006 dan 2007, yang dilaksanakan selama 4 hari, dari tanggal 23 – 26 Juli 2007 bertempat di Hotel Sabrina Pangkalpinang. Output dari kegiatan ini adalah terlatihnya 16 orang pendamping dan 24 orang tim pangan desa pada desa mandiri pangan. Juga diadakan pengadaan dan pemeliharaan peralatan survey lapangan untuk meningkatkan keakuratan data dan peta survey pada subdin Kehutanan. Pada program pencegahan dan penanggulangan penyakit, berupa kegiatan pemeliharaan

kesehatan dan pencegahan penyakit menular ternak dengan output tersedianya fasilitas laboratorium kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner satu paket dan telah difungsikan sesuai dengan kegunaannya. Untuk program peningkatan hasil produksi peternakan berupa telah disediakan sarana dan prasarana pembibitan ternak peremajaan kebun hijau makanan ternak seluas 5 ha, tercukupnya HMT pada kebun percontohan di air pelempang, serta kebutuhan pakan ternak dan tercukupi dari lahan HMT yang ada.

107

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Kegiatan pembibitan dan perawatan ternak dengan ouput terpeliharanya kebun HMT seluas 5 Ha sebagai pakan ternak, terpeliharanya ternak sapi ras Bali sebanyak 71 ekor, terpeliharanya kandang ternak 4 unit, irigasi, kebersihan dan operasionalnya, serta berjalannya kegiatan operasional dan tenaga harian lepas sebanyak 12 orang. Ada juga kegiatan berupa pendistribusian bibit ternak kepada masyarakat, khususnya bibit sapi di Bangka Belitung dengan output dari kegiatan ini adalah telah didistribusikan ke kelompokkelompok peternak di 4 kabupaten, yaitu Kab. Bangka, Bangka Tengah, Bangka Selatan dan Belitung. Untuk program perlindungan dan konservasi sumber daya hutan berupa kegiatan pemberantasan pembalakan/liar dan perambahan hutan yang diharapkan dapat berkurang di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. 5.3 Permasalahan Pencapaian Sasaran Untuk revitalisasi pertanian di Bangka Belitung ternyata masih dihadapkan pada beberapa persoalan, diantaranya masih rendahnya produktivitas pertanian di Bangka Belitung terutama untuk masalah pemanfaatan lahan bagi pertanian yang dikarenakan masyarakat lebih mengalihkan fungsi lahan kepada penambangan timah inkovensional. Selain itu, masih kurangnya pengembangan tanaman holtikultura. Kesulitan dalam bibit unggul ternyata juga menjadi permasalahan di kalangan petani. Pemahaman petani terhadap pemanfaatan teknologi tepat guna juga masih rendah. Petani yang ada di Bangka Belitung kebanyakan masih memanfaatkan lahan untuk pertanian secara sendiri-sendiri bukan dengan model kelompok-kelompok tani. Kelembagaan-kelembagaan petani pun belum optimal dalam mensejahterakan petani. SDM sebagai penyuluh pertanian pun masih minimi dalam pengetahuan penyuluhan dan dipandang kurang optimal menginformasikan kepada petani terutama dalam pengembangan tanaman holtikultura. Untuk sektor perikanan, minimnya pengetahuan nelayan mengenai penggunaan alat tangkap yang modern. Masalah kesulitan bahan bakar solar bagi nelayan juga merupakan suatu permasalahan yang masih dihadapi nelayan dalam menangkap ikan di laut. Masalah pengolahan hasil ikan juga belum bervariasi dalam jenis dan macam hasil olahan. Kebanyakan nelayan masih mengkonsumsi langsung ikan dan hasil olahan yang sudah umum. Minimnya pengetahuan petugas teknis perikanan terutama dalam budidaya perikanan air tawar maupun air payau.

108

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Pada sektor kehutanan, masih banyaknya masyarakat selama tahun 2007 menggunakan areal hutan untuk melakukan penambangan timah secara konvensional. Terkadang masyarakat secara diam-diam melakukan penambangan timah secara ilegal yang hampir bahkan sudah mengambil areal hutan lindung sebagai lahan penambangan timah. VI. Rekomendasi Tindak Lanjut 6.1 Upaya yang Akan Dilakukan untuk Mencapai Sasaran. Upaya untuk mencapai sasaran RPJMD, ada beberapa rekomendasi tindak lanjut dalam bentuk 7 (tujuh) program utama, yaitu: 6.1.1 1. Program Peningkatan kesejahteraan petani. Perlu ditingkatkan lagi jumlah petani yang diikutsertakan pada kegiatan Penumbuhan Kebersamaan melalui Sistem Kebersamaan Ekonomi berdasarkan Manajemen Kemitraan (SKE-BMK) di 6 kabupaten (4 kelompok/kabupaten). 2. Meningkatkan keaktifan para petani pada kegiatan-kegiatan pameran baik berskala lokal, nasional maupun internasional yang berhubungan dengan kesejahteraan petani. 6.1.2 1. 2. 3. 4. Program Peningkatan Ketahanan Pangan (Pertanian/Perkebunan) Peningkatan implementasi hasil yang lebih kongkret dari Kegiatan Penyusunan Data Base Potensi Produksi Pangan. Meningkatkan pemahaman masyarakat dari informasi tentang Kegiatan Analisis Rasio Jumlah Penduduk Terhadap Jumlah Kebutuhan Pangan. Menumbuhkan kesadaran masyarakat dari Kegiatan Pembinaan, Pengendalian dan Pengawasan Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan. Perluasan daerah yang menjadi sasaran dari Kegiatan Pemantauan dan Analisis Akses Pangan Masyarakat yang merupakan kegiatan untuk pelaksanaan sensus Data Dasar Rumah Tangga (DDRT) dan Survey Rumah Tangga (SRT). 5. Peningkatan kesejahteraan masyarakat dari Kegiatan Pengembangan Desa Mandiri Pangan berupa Pembinaan terhadap Lembaga Keuangan Desa di desa mandiri pangan tahun 2006 dan Pembinaan terhadap kelompok afinitas di desa mandiri pangan tahun 2007. 6. 7. Peningkatan dalam Kegiatan Pengembangan/Perbenihan (Holtikultura) di Provini Kepulauan Bangka Belitung. Peningkatan Kegiatan Dewan Ketahanan Pangan dengan hasil yang lebih kongkret bagi masyarakat.

109

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

6.1.3 1. 2. 3. 4.

Program Peningkatan Produksi Pertanian/Perkebunan Memperluas kepada daerah lain untuk kegiatan penyediaan sarana produksi pertanian/perkebunan. Peningkatan dalam pengembangan bibit unggul pertanian/perkebunan. Peningkatan Pengembangan Karet Rakyat dengan model dan jenis yang beragam dalam bibit unggul. Peningkatan dan pemantauan terus menerus pada kegiatan pembangunan jaringan irigasi instalasi pembibitan pertanian.

6.1.4 1. 2.

Program Pemberdayaan Penyuluh Pertanian/Perkebunan Lapangan. Peningkatan kapasitas tenaga penyuluh pertanian/perkebunan berupa kegiatan Pelatihan Pendampingan Desa Mandiri Pangan. Peningkatan pengadaan dan Pemeliharaan Peralatan Survey Lapangan untuk meningkatkan keakuratan data dan peta survey pada subdin Kehutanan.

6.1.5

Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit

Peningkatan kegiatan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit menular ternak secara komprehensip. 6.1.6 1. 2. 3. Program Peningkatan Hasil Produksi Peternakan Peningkatan pembangunan sarana dan prasana pembibitan ternak. Peningkatan dalam pembibitan dan perawatan ternak. Peningkatan pendistribusian bibit ternak kepada masyarakat dan dengan bibit ternak yang

bervariasi 6.1.7 Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Hutan

Peningkatan aktivitas pemberantasan pembalakan/liar dan perambahan hutan. 6.2 Perkiraan Pencapaian Sasaran RPJMN 2004 - 2009

Pada tahun 2008, untuk peningkatan ketahanan pangan di Bangka Belitung diperkirakan Bangka Belitung dapat mempertahankan kondisi pangan yang dapat mencukupi daerahnya. Minimal mengurangi ketergantungan beras dari daerah lain dengan dikembangkan areal persawahan tanaman padi di daerah Bangka Selatan.

110

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Pemantauan lebih komprehensip pun dilakukan oleh Dinas Pertanian dari penyaluran bibit-bibit unggul pertanian yang telah diberikan pada tahun 2007. Untuk sektor kehutanan diperkirakan pada tahun 2008 terutama masalah perambahan hutan semakin tegas dalam penegakan hukum bagi pembalakan liar untuk kawasan hutan di Bangka Belitung Sektor perikanan diperkirakan semakin meningkat, terutama dalam peningkatan budidaya ikan air tawar dan air payau. Pemahaman nelayan dalam penggunaan alat tangkap pun diharapkan dapat semakin memahami teknik penggunaannya terutama yang berhubungan dengan teknologi VII. Penutup

Di Bangka Belitung peranan sektor pertanian, perkebunan dan kehutanan dalam peningkatan PDRB tetap menjadi sektor unggulan yang kedua setelah industri pengolahan dan penambangan yang menjadi prioritas pemerintah daerah, namun demikian kontribusinya masih sangat besar dan harus diprioritaskan. Dari penyerapan tenaga kerja di pedesaan sektor ini tetap menjadi tulang punggung dan mempunyai kontribusi dalam mengurangi pengangguran di Bangka Belitung. Upaya yang lebih keras tetap harus ditingkatkan sehingga menjadikan sektor pertanian, perikanan dan kehutanan menjadi salah satu sektor unggulan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sehingga mencapai target yang diinginkan.

111

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

BAB 4.6 PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH

I.

Pengantar

Salah satu fenomena yang menarik selama krisis ekonomi adalah munculnya KUKM sebagai kekuatan ekonomi yang mampu bertahan. Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung diharapkan juga dapat memberikan peran tersebut terutama dalam meningkatkan kesempatan kerja dan berusaha dalam rangka meningkatkan pendapatan masyarakat. Dalam hal ini, pemerintah juga giat melakukan kerjasama dengan swasta terutama perusahaan-perusahaan berskala besar yang ada di Bangka Belitung agar terus giat membantu dan membina usaha-usaha kecil yang tumbuh dan berkembang di Provinsi Kepualauan Bangka Belitung. II. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah

Pada tahun 2007, jumlah koperasi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebanyak sebanyak 474 koperasi yang aktif dan 174 koperasi yang tidak aktif. Dan pada tahun 2006-2009 Pemerintah Bangka Belitung menargetkan menargetkan untuk mewujudkan 70.000 koperasi berkualitas seiring pertumbuhan 6 juta UMKM baru. Perkembangan koperasi di Bangka Belitung memang menunjukkan peningkatkan secara kuantitas tetapi secara kualitas belum memenuhi sebagaimana yang diharapkan untuk mewujudkan koperasi sebagai soko guru perekonomian. Untuk itu, permasalahan mengenai pengembangan Koperasi dan UKM ini yang ada di Bangka Belitung adalah masalah kemampuan SDM yang masih kurang dalam menjalankan Koperasi dan UKM tersebut. 2.1 Rendahnya Produktivitas Rendahnya produktivitas koperasi dan UKM di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung disebabkan masih minimnya kemampuan manajerial SDM dalam mengelola koperasi dan UKM tersebut. Selain itu, programprogram yang dijalankan oleh koperasi tersebut beraneka ragam setiap periode dan selalu berubah-ubah sehingga sering membingungkan masyarakat dan lamban dicerna oleh masyarakat karena kondisi masyarakat yang berbeda dan setiap daerah tidak sama kebutuhan yang diinginkan.

112

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

2.2 Terbatasnya Akses Masyarakat Kepada Sumber Daya Produktif Kesulitan masyarakat di Bangka Belitung untuk pengembangan koperasi dan UKM terutama permasalahan kredit modal yang masih membingungkan pelaku koperasi dan UKM tersebut. Hal ini disebabkan masih kurangnya informasi mengenai perkreditan modal koperasi tersebut dari lembaga pemberi pinjaman. Apalagi ada tuntutan dari Lembaga Perkreditan mengenai persyaratan yang harus dipenuhi oleh Koperasi dan UKM yang bersangkutan. 2.3 Masih Rendahnya Kualitas Kelembagaan dan Organisasi Koperasi Rendahnya kualitas kelembagaan koperasi tersebut disebabkan banyaknya koperasi dibentuk tanpa perencaan yang jelas untuk masa yang akan datang. Hal tersebut masih minimnya informasi yang diterima oleh Koperasi dan UKM mengenai kelembagaan koperasi yang baik. Selain itu, manajemen koperasi yang masih bersifat tradisional dan tidak menerapkan profesionalisme pengurus koperasi dengan menerapkan manajemen yang modern dalam pengelolaan koperasi. 2.4 Kurang Kondusifnya Iklim Usaha Iklim berusaha pun dipandang kurang kondusif, karena banyaknya peraturan yang berlaku mengenai koperasi kurang dimengerti oleh Koperasi dan UKM. Selain itu, banyaknya peraturan tersebut dipandang terlalu memberatkan Koperasi dan UKM sehingga menghambat usaha koperasi tersebut. III. Sasaran yang Ingin Dicapai

Sasaran yang ingin dicapai dalam RPJMN untuk agenda pembangunan pada pemberdayaan koperasi dan UKM adalah sebagai berikut: 1. Meningkatnya produktivitas UMKM dengan laju pertumbuhan lebih tinggi dari laju pertumbuhan produktivitas nasional. 2. Meningkatnya proporsi usaha kecil formal. 3. Meningkatnya nilai ekspor produk usaha kecil dan menengah dengan laju pertumbuhan lebih tinggi dari laju pertumbuhan nilai tambahnya. 4. Berfungsinya sistem untuk menumbuhkan wirausaha baru berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. 5. Meningkatnya kualitas kelembagaan dan organisasi koperasi sesuai dengan jati diri koperasi.

113

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Dalam RPJMD, sasaran untuk pemberdayaan UMKM di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, adalah sebagai berikut: 1. Berkembangnya kegiatan usaha kecil menengah diharapkan akan meningkatnya lapangan kerja dan pendapatan masyarakat dalam rangka mendukung pengentasan kemiskinan serta menjamin perkembangan pedesaan dan perkotaan yang terintegratif serta pertumbuhan industri pedesaan/perkotaaan yang berkelanjutan. 2. Perkuatan dan pengembagan kelembagaan ekonomi diarahkan kepada lembaga pelayanan ekonomi kecil dan menengah, guna meningkatkan akses sumber daya produktif dan permodalan. 3. Meningkatnya kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat. IV. Arah Kebijakan

Untuk mewujudkan sasaran tersebut akan pemberdayaan Koperasi dan UMKM akan dilaksanakan dengan arah dari kebijakan yang tertuang dalam RPJMN yaitu sebagai berikut: 1. Mengembangkan Usaha Kecil Menengah (UKM) dengan arahan untuk memberikan kontribusi yang signifikan kepada pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan daya saing. Sementara, pengembangan usaha skala mikro lebih diarahkan untuk memberikan kontribusi dalam peningkatan pendapatan pada kelompok masyarakat berpendapatan rendah; 2. 3. Memperkuat kelembangaan dengan menerapkan prinsip-prinsip tata kelola yang baik (good governance) dan berwawasan gender; Memperluas basis dan kesempatan berusaha serta menumbuhkan wirausaha baru yang berkeunggulan. Hal ini dimaksudkan untuk mendorong pertumbuhan, peningkatan ekspor, dan penciptaan lapangan kerja; 4. Mengembangkan UMKM agar makin berperan sebagai penyedia barang dan jasa pada pasar domestik, khususnya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat banyak, dan makin berdaya saing terhadap produk impor; 5. Membangun koperasi yang diarahkan dan difokuskan pada upaya-upaya untuk: a) Membenahi dan memperkuat tatanan kelembagaan dan organisasi koperasi di tingkat makro, meso, maupun mikro, dalam rangka menciptakan iklim dan lingkungan usaha yang kondusif bagi kemajuan koperasi. Selain itu, ditegakkannya kepastian hukum yang mampu menjamin terlindunginya koperasi dan/atau anggotanya dari praktik-praktik persaingan usaha yang tidak sehat;

114

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

b) c)

Meningkatkan pemahaman, kepedulian, dan dukungan pemangku kepentingan (stakeholders) kepada koperasi; Meningkatkan kemandirian gerakan koperasi.

Untuk mewujudkan sasaran untuk pemberdayaan UMKM di provinsi kepulauan Bangka Belitung, pemerintah menyusun beberapa arah kebijakan yang diprioritaskan kepada: 1. Peningkatan kapasitas dan kualitas kelembagaan koperasi, dengan kegiatan pokok: a. Pelatihan akuntansi Koperasi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. b. Pelatihan pengelola koperasi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. c. Pengembangan koperasi dan UKM 2. Mengembangkan usaha dan perdagangan daerah, dengan kegiatan pokok: a. Pengembangan perdagangan dalam negeri Provinsi Kep. Babel. b. Pelaksanaan Tera Ulang di Provinsi Kep. Babel. c. Monitoring dan evaluasi di Provinsi Kep. Babel. d. Pengawasan Barang Beredar Sembako dan Barang Strategis Lainnya di Provinsi Kep. Babel. 3. Peningkatan pembinaan SDM bagi UKM dengan kegiatan pokok: a. Pelatihan bagi para wirausaha yang baru memulai usahanya. b. Pelatihan kewirausahaan Usaha Kecil Menengah. 4. Mendorong kegiatan promosi dan ekspor produk unggulan daerah, dengan kegiatan pokok: a. Pemberdayaan Industri Kecil dan Menengah di Provinsi Kep. Babel. b. Pameran Indonesia Expo di Jakarta c. Pameran Investasi Daerah di Jakarta. d. Pameran Indocraft di Jakarta 5. Peningkatan perlindungan terhadap konsumen dan produk unggulan daerah, dengan kegiatan pokok: Penyebarluasan informasi tentang keamanan pangan yang salah satunya melibatkan Dinas Perindagkop Provinsi Kepulauan Babel. V. Pencapaian RPJMN di Daerah (2005 – 2007)

5.1 Upaya yang Dilakukan Hingga Tahun 2007 Adapun upaya-upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung hingga tahun 2007 dapat diuraikan sebagai berikut:

115

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

1. Peningkatan kapasitas dan kualitas kelembagaan koperasi. 2. 3. Mengembangkan usaha dan perdagangan daerah. Peningkatan pembinaan SDM bagi UKM.

4. Mendorong kegiatan promosi dan ekspor produk unggulan daerah. 5. Peningkatan perlindungan terhadap konsumen dan produk unggulan daerah. 5.1.1 Peningkatan kapasitas dan kualitas kelembagaan koperasi

Dalam rangka peningkatan kapasitas dan kualitas kelembagaan koperasi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dipandang masih banyak memerlukan pelatihan-pelatihan untuk memperkuat kelembagaan koperasi tersebut. Untuk itu Pemerintah Bangka Belitung telah melaksanakan program berupa Pelatihan Manajemen dan Akuntansi Koperasi tanggal 5-9 Nov 2007, dengan peserta sebanyak 50 orang (Angkatan I dan II) dengan narasumber 2 orang dari Kementerian Negara Koperasi dan UKM RI yang bertujuan agar terwujudnya Sumber Daya Manusia koperasi yang dapat memahami manajemen pengelolaan koperasi secara baik dan benar. Untuk pembinaan pengelola koperasi telah menghasilkan 74 unit Koperasi Berkualitas pada tahun 2007 di Provinsi kepulauan Babel. 5.1.2 Mengembangkan usaha dan perdagangan daerah

Program Monitoring Evaluasi dan Pelaporan untuk mengetahui data perkembangan KUKM dengan output adalah tersusunya 15 buah buku Laporan Monitoring, Evaluasi dan Pelaporan untuk disampaikan kepada dinas yang membidangi Pemberdayaan Koperasi dan UKM di Provinsi Kep. Babel dimana laporan ini menjadi dasar bagi perencanaan program pemberdayaan UMKM di masa-masa yang akan datang dengan tujuan untuk mengembangkan usaha kopeasi dan UKM serta hubungannya dengan perdagangan Bangka Belitung dengan daerah-daerah yang lain. 5.1.3 Peningkatan pembinaan SDM bagi UKM

Program yang dilakukan pemerintah Bangka Belitung dalam meningkatkan pembinaan SDM bagi UKM selama tahun 2007 diantaranya sebagai berikut: a) Diadakanya kegiatan Pelatihan AMT (Achievement Motivation Training) yang bertujuan untuk membimbing para pelaku Pedagang Usaha Kecil ataupun calon wirausaha-wirausaha baru di bidangnya. b) Pelatihan peningkatan mutu kemasan produk pangan dan Bantuan Kemasan yang bertujuan secara teknis untuk meningkatkan pengetahuan maupun keterampilan teknis dari IKM dan perajin dalam meningkatkan kualitas dan produktivitas produksi guna meningkatkan daya saing baik di pasar lokal maupun di level nasional.

116

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

5.1.4

Mendorong kegiatan promosi dan ekspor produk unggulan daerah

Untuk pemasaran produk dari Koperasi dan UKM berupa produk unggulan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, pemerintah juga giat melakukan promosi-promosi baik dari pameran berskala internasional. Adapun kegiatan selama tahun 2007 tersebut diantaranya: 1. Telah diadakannya Pameran Produk Unggulan Koperasi di Discovery Shooping Centre Kuta Bali pada tanggal 12-15 Juli 2007 diikuti oleh 15 stand Negara selain Indonesia. Pada pameran Pemerintah Provinsi Kepulauan Babel mengikutsertakan 5 orang pengrajin produk khas daerah bangka belitung dan didampingi 6 orang aparat Dinas Perindagkop dan UKM Provinsi Bangka Belitung. 2. Selain itu, pemerintah Kep. Babel juga mengadakan Pameran INACRAFT untuk produk unggulan IKM Bangka Belitung dengan keluaran agar ada IKM dan perajin yang terbantu dari segi pemasaran, sehingga bisa memperluas jaringan pemasaran dan meningkatkan omset penjualan. 3. Peran serta IKM Babel dalam Pameran Indonesia Expo yang bertujuan untuk mempromosikan produkproduk yang dihasilkan oleh pengusaha IKM baik yang berbasis produk unggulan daerah maupun secara umum sehingga diharapkan dapat meningkatkan pemasaran produk IKM. 5.1.5 Peningkatan perlindungan terhadap konsumen dan produk unggulan daerah.

Untuk perlindungan terhadap konsumen di daerah dilakukan dengan cara penyebarluasan informasi tentang keamanan pangan yang salah satunya melibatkan Dinas Perindagkop Provinsi Kepulauan Babel. 5.2 Posisi Capaian Hingga Tahun 2007

Berbagai program yang telah dilakukan oleh pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah dilakukan dalam rangka mengembangkan Koperasi dan UKM sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Beberapa capaian yang telah diraih oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung hingga tahun 2007, diantaranya: 1. Untuk mengetahui data perkembangan KUKM maka telah tersusunnya 15 buah buku Laporan Monitoring, Evaluasi dan Pelaporan pada tahun 2007 untuk disampaikan kepada dinas yang membidangi Pemberdayaan Koperasi dan UKM di Provinsi Kep. Babel dimana laporan ini menjadi dasar bagi perencanaan program pemberdayaan UMKM di masa-masa yang akan datang. 2. Dalam penguatan kelembagaan koperasi telah menghasilkan 74 unit koperasi berkualitas pada tahun 2007 di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

117

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

3.

Pemahaman dari pelaku koperasi dan UKM tentang manajemen koperasi, permodalan dan usaha koperasi, pengembangan usaha, Rencana Anggaran Belanja Koperasi/RAPB dan Akuntansi koperasi dari pelatihan manajemen dan akuntansi koperasi yang diselenggarakan pemerintah provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

4. 5. 6.

Hingga tahun 2007 telah diadakan program pelatihan motivasi terhadap wirausaha kecil dan yang baru berkembang agar lebih termotivasi dalam meningkatkan bisnisnya menjadi lebih berkembang Beberapa pengrajin yang telah memiliki kemasan yang baik dan sesuai standar dari pelatihan kemasan produk dan bantuan kemasan dari Pemerintah Bangka Belitung. Untuk memperluas pemasaran dari produk-produk yang dihasilkan Koperasi dan UKM yang ada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung diadakan pameran INACRAFT dan Pameran Produk Koperasi yang diadakan di Bali.

5.3

Permasalahan Pencapaian Sasaran

Dalam pencapaian sasaran terutama untuk pemberdayaan koperasi dan UKM yang ada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, ternyata masih dihadapkan beberapa persoalan klasik yang sampai tahun 2007 belum terpecahkan diantaranya: 1. Belum maksimalnya pelaku UMKM dalam dalam mengimplementasikan pengetahuan yang diperoleh dari pelatihan-pelatihan. 2. Rendahnya SDM dalam perkoperasian. 3. Minimnya pengetahuan Pelaku UKM dalam pemanfaatan teknologi tepat guna. 4. Rendahnya pengetahuan pelaku UKM dan Koperasi dalam pengelolaan keuangan. VI. 6.1 Rekomendasi Tindak Lanjut Upaya yang Akan Dilakukan untuk Mencapai Sasaran.

Dari permasalahan-permasalahan yang ada tersebut di atas, ada beberapa rekomendasi tindak lanjut ke depan yang perlu mendapatkan perhatian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung antara lain: 1. Perlu ditingkatkan informasi-informasi kepada pelaku UKM dan Koperasi yang ada di Bangka Belitung dalam rangka meningkatkan pemahaman usaha yang baik terutama masalah-masalah yang menyangkut permodalan dari lembaga-lembaga perkreditan untuk Koperasi dan UKM. 2. Menggiatkan program-program pelatihan bagi koperasi dan UKM terutama menyangkut pengetahuan manajerial dan pengaturan keuangan.

118

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

3.

Meningkatkan pameran-pameran bagi pelaku Koperasi dan UKM di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terutama dalam hal promosi dan pemasaran produk-produk yang dihasilkan UKM dalam rangka memasarkan produknya ke luar negeri.

4.

Mempermudah penyaluran kredit untuk permodalan koperasi dan UKM dari lembaga-lembaga/bank perkreditan serta Perusahaan-perusahaan besar yang ada di Bangka Belitung.

6.2

Perkiraan Pencapaian Sasaran RPJMN 2004 – 2009

Dari pencapaian yang dipaparkan hingga tahun 2007 yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, hendaknya pada tahun-tahun yang akan datang hingga tahun 2009 dapat lebih ditingkatkan peran Koperasi dan UKM dalam rangka pengentasan kemiskinan masyarakat dengan meminimalisir permasalahan-permasalahan klasik yang ada untuk pemberdayaan koperasi dan UKM di Bangka Belitung. VII. Penutup

Peran koperasi dan UKM yang ada di Bangka Belitung merupakan bidang yang patut mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah daerah untuk berperan pada pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan yang ada di Bangka Belitung. Untuk itu, permasalahan-permasalahan yang terjadi pun pada tahun-tahun yang akan datang seharusnya bisa diminimalisir agar tidak terjadi pada masa yang akan datang. Perusahaan-perusahaan berskala besar yang selama ini fokus terhadap pemberdayaan Koperasi dan UKM di Bangka Belitung, hendaknya dipertahankan dan pada tahun-tahun yang akan datang semakin giat membina dan membantu terutama dalam permodalan koperasi dan UKM sehingga kemandirian dari usaha-usaha kecil dan berkembang dapat terus bertahan dan termotivasi mengembangkan usaha mereka.

119

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

BAB 4.7 PENINGKATAN PENGELOLAAN BUMN

I.

Pengantar

Keberadaan BUMN di Negara Republik Indonesia berperan penting dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Di Bangka Belitung sendiri, keberadaan PT. Timah, Tbk sebagai satusatunya BUMN di daerah ini telah banyak memberikan kontribusi bagi perekonomian Bangka Belitung. Sejak tahun 1709 ditemukan timah di Pulau Bangka oleh VOC (Belanda) sampai dikelola oleh Negara sejak tahun 1961 dengan nama BPU Timah banyak memberikan kontribusi khususnya dalam menyerap tenaga kerja di Bangka Belitung. Selama tahun 2004 – 2009 di Bangka Belitung PT. Timah, Tbk telah banyak mengalami peningkatan produksi dan peningkatan keuntungan seiring dengan meningkatnya harga timah dunia. Sejak dimulainya kegiatan pertambangan yang berlangsung dari abad ke-18 hingga terbentuknya PN. Timah yang sekarang bernama PT. Timah Tbk tahun 1995, peranan BUMN ini merupakan agen pembangunan di daerah. Selain dengan tujuan utamanya adalah peningkatan laba perusahaan dan sebagian dari laba akan disalurkan untuk kepentingan masyarakat dalam bentuk Pembinaan Usaha Kecil dan Koperasi (PUKK), Bina Lingkungan (BL) dan Pengembangan Masyarakat atau dikenal dengan Community Development (CD)

II.

Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah

Sampai tahun 2007, PT. Timah, Tbk semakin memperbesar produksi timahnya dengan berbagai jenis diantaranya ingot, tin pellet, tin anode, leat free solder, dan tin alloy. Adapun kebutuhan timah di seluruh dunia berkisar 360.000 ton per tahun, sekitar 50 % digunakan untuk solder, 20% untuk Tin Plate dan 15% untuk Tin Chemical, selebihnya sebagai Tin Alloy dan sebagainya. 2.1 Gambaran Produsen dan Konsumen Timah Dunia Produsen Timah Untuk produsen timah terbesar adalah China sebesar 135.000 ton sedangkan Indonesia sendiri menempati posisi produsen ke-2 terbesar di dunia yakni sebesar 100.000 ton. Secara rinci dapat dilihat pada Tabel 4.6.1 berikut ini:

120

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Tabel 4.6.1 Produsen Timah Dunia No 1. 2. 3. 4. 5. China Indonesia Peru & Amerika Latin Malaysia & Thailand Lain-lain (Negara di Eropa & Australia) Nama Negara Jumlah produksi (ton) 135.000 100.000 63.000 28.000 21.000

Konsumen Timah Sedangkan gambaran konsumen timah di dunia yang terbesar sampai tahun 2007 adalah Negara Jepang dan korea yakni sebesar 109.000 ton. Secara rinci dapat dilihat pada Tabel 4.6.2 berikut ini: Tabel 4.6.2 Konsumen Timah Dunia No 1. 2. 3. 4. 5. China Japan & Korea Eropa USA Lain-lain (Negara di Eropa & Australia) Nama Negara Jumlah produksi (ton) 130.000 109.000 76.000 60.500 5.200

2.2 Penggunaan Lahan Timah Dunia Konsumsi dari produksi timah dunia yang terbesar untuk pembuatan solders yakni sebesar 90.000 ton atau (31%) dan terendah digunakan untuk tinning sebesar 10.000 ton (4%). Detail dari konsumsi timah dunia dapat dilihat pada Tabel 4.6.3 berikut:

121

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Tabel 4.6.3 Penggunaan Logam Timah Dunia No 1. 2. 3. 4. 5. 6. Solders Tin Plate Other Alloys PVC Stabilizers Tinning Penggunaan/Konsumsi Untuk Jumlah Produksi (Ton) 90.000 70.000 50.000 40.000 20.000 10.000 Jumlah produksi (%) 31 27 18 14 6 4

III.

Sasaran yang Ingin Dicapai

Sasaran yang ingin dicapai dalam RPJMN untuk agenda pembangunan pada peningkatan pengelolaan BUMN adalah meningkatnya kinerja dan daya saing BUMN. Sasaran ini diupayakan dalam rangka memperbaiki pelayanan terhadap masyarakat dan optimalisasi kontribusi terhadap keuangan negara. PT. Timah, Tbk sendiri sebagai BUMN untuk kelangsungan hidup usahanya sasaran yang ingin dicapai tertuang dalam Visi dan Misi PT Timah yakni: Visi PT. Timah Menjadi perusahaan pertambangan kelas dunia dan pemimpin pasar timah global. Misi PT. Timah
•

Mengoptimalkan nilai perusahaan, kontribusi kepada pemegang saham dan tanggungjawab sosial. Membangun SDM yang berkompeten dan memiliki nilai-nilai positif, integritas, kreativitas serta bermartabat. Memperluas produk-produk yang bernilai tambah. Mengembangkan usaha baru berbasis kompetensi. Mewujudkan harmonisasi dan komunikasi yang lebih baik kepada semua pihak.

•

• • •

122

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

IV.

Arah Kebijakan

Untuk mewujudkan sasaran tersebut. Maka ada beberapa arah kebijakan tentang pengelolaan BUMN yang tertuang dalam RPJMN yaitu sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. Peningkatan koordinasi dengan departemen/instansi terkait untuk penataan kebijakan industrial dan pasar BUMN. Pemerataan BUMN ke dalam kelompok BUMN PSO dan komersial. Melanjutkan langkah-langkah restrukturisasi terhadap orientasi dan fungsi BUMN yang lebih terarah dan efektif. Memantapkan penerapan prinsip-prinsip good corporate governance (GCG), yaitu: transparansi, akuntabilitas, keadilan dan responsibilitas pada pengelolaan BUMN PSO maupun komersial. 5. Melakukan sinergi antar BUMN agar dapat meningkatkan daya saing dan memberikan kontribusi nyata kepada perekonomian Indonesia. Arah kebijakan dari keberadaan PT. Timah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dapat diuraikan kepada beberapa kontribusi pertambangan timah terhadap daerah yaitu sebagai berikut: 1. Kontribusi terhadap penerimaan Negara. 2. Kontribusi melalui program Corporate Social Resonsibility (CSR). 3. Kontribusi melalui pemanfaatan asset untuk kepentingan umum. 4. Kontribusi melalui pembinaan olahraga dan kemasyarakatan

V.

Pencapaian RPJMN di Daerah (2005 – 2007)

5.1 Upaya yang Dilakukan Hingga Tahun 2007 Adapun upaya-upaya yang dilakukan oleh PT. Timah sebagai BUMN hingga tahun 2007 dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Kontribusi terhadap penerimaan negara berupa dividen, royalti, pajak tak langsung dan pajak tidak langsung yang sampai tahun 2007 berjumlah 712.158 juta rupiah.

123

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

2. Kontribusi melalui program CSR secara kontinyu dan konsisten yaitu berupa: a. Program Sosial, berupa kegiatan bantuan yang langsung diberikan kepada masyarakat dalam bentuk fasilitas dan sarana umum, sarana olahraga dan kegiatan yang bersifat menjangkau masyarakat. b. Program Ekonomi, berupa pemberian pinjaman modal kerja dengan bunga lunak kepada pelaku-pelaku usaha dalam kategori usaha mikro, kecil dan menengah atau UKM, termasuk bantuan promosi produk-produk para UKM yang menjadi mitra binaan, serta pembekalan berbagai kemampuan untuk menggeluti usaha. c. Program Lingkungan, berupa usaha perbaikan terhadap kondisi lingkungan yang terkena dampak kegiatan penambangan, berupa pemberdayaan masyarakat kritis, pemanfaatan lahan pasca tambang untuk kegiatan perekonomian masyarakat, rehabilitasi lahan dengan tanaman bermanfaat. 5.2 Posisi Capaian Hingga Tahun 2007

Ada beberapa posisi capaian yang ditemui dari kontribusi penambangan timah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, di antaranya: 1. Kontribusi dari penambangan timah terhadap penerimaan negara yang secara terperinci dapat dilihat dari tahun 2005 - 2007pada tabel berikut ini: Tabel 4.6.4 Kontribusi Pendapatan Negara Jenis Kontribusi Dividen Royalti Pajak Tak Langsung Pajak Langsung 2005 (dalam $) 54,698 130,267 1,928 173,461 2006 (dalam $) 32,993 120,463 33,217 132,393 2007 (dalam $) 67,648 249,920 17,228 332,302

124

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

2.

Dalam program CSR (Corporate Social Responsibility) berupa: 1. Program Ekonomi a. Pembinaan Usaha Kecil, berupa : - Pinjaman modal kerja, - Pembekalan pelatihan, - Bantuan promosi dan pemasaran, - Penyediaan sarana dan fasilitas kerja serta monitoring kelanjutan usaha. 2. Program Sosial. a. Peningkatan kualitas SDM diantaranya penyediaan Sarana dan Bantuan Biaya Pendidikan POLMAN, UBB serta SMU Kelas Unggulan. b. Pelatihan Magang Kerja di Bengkel Perusahaan bagi Pemuda Putus Sekolah. 3. Program Lingkungan. Pemanfaatan lahan-lahan bekas tambang diantaranya untuk : Reklamasi lahan, Percontohan peternakan Bebek Peking, Budidaya rumput gajah, Penggemukan sapi, Pembibitan untuk penghijauan lahan bekas tambang, Proyek percontohan pembibitan dan holtikultura, dan Perkebunan jarak. Permasalahan Pencapaian Sasaran 1. Belum diterapkannya kerjasama yang baik sesuai dengan standar koordinasi kerjasama pemerintah daerah dengan PT. Timah yang terbentuknya Tim Penanggulangan di Daerah terutama semakin maraknya permasalahan Penambangan Tanpa Izin (PETI) di Bangka Belitung. 2. Kerusakan lingkungan akibat dari penambangan rakyat yang tidak sebanding dengan keuntungan yang diterima rakyat. 3. Penyelundupan ekspor timah ke luar negeri yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu tanpa seizin dari PT. Timah, Tbk.

5.3

Dalam pencapaian sasaran terutama permasalahan pencapaian sasaran yang diantaranya:

125

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

VI. 6.1

Rekomendasi Tindak Lanjut Upaya yang Akan Dilakukan untuk Mencapai Sasaran.

Dari permasalahan-permasalahan yang ada tersebut di atas, ada beberapa rekomendasi tindak lanjut ke depan yang perlu mendapatkan perhatian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung serta PT. Timah, Tbk sendiri antara lain: 1. 2. 3. Perlu adanya penegakan hukum sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam hal penambangan liar / penambangan tanpa izin (PETI). Pengelolaan lingkungan selama berlangsungnya penambangan maupun pasca penambangan di Provinsi Kepulauan Bangka yang dilakukan secara baik dan benar. Penegakan hukum sesuai dengan ketentuan atau peraturan yang berlaku mengenai penyelundupan/ekspor timah ke luar negeri. 6.2 Perkiraan Pencapaian Sasaran RPJMN 2004 – 2009

Dari pencapaian yang dipaparkan hingga tahun 2007 yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, hendaknya pada tahun-tahun yang akan datang hingga tahun 2009 dapat lebih ditingkatkan penghijauan serta pemanfaatan lahan bekas tambang secara intensif dan dapat berkurangnya atau penghentian penambangan liar yang dilakukan tanpa seizin dari PT. Timah, Tbk serta pemerintah daerah setempat.

VII.

Penutup

Keberadaan PT. Timah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Tbk sampai dengan tahun 2007 dipandang telah banyak memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat. Didukung dengan program-program dari Corporate Social Responsibility (CSR) terutama bagi pendidikan, pengembangan usaha kecil dan menengah, serta membantu permasalahan-permasalahan sosial kemasyarakat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kerusakan lingkungan akibat penambangan-penambangan illegal/liar tanpa izin dari pemerintah setempat hendaknya dapat terus ditingkatkan dengan lebih intensif demi keasrian lingkungan dan kenyamanan bagi masyarakat setempat.

126

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

BAB 4.8 PENINGKATAN KEMAMPUAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI

I.

Pengantar

Peningkatan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan yang dipandang mempunyai peranan penting dalam pembangunan. Pada hakekatnya pembangunan iptek diarahkan pada peningkatan kesejahteraan rakyat untuk mempercepat pembangunan nasional. Di Bangka Belitung sendiri, pemerintah concern pada pembangunan iptek tersebut. Dengan menerapkan pembangunan infrastruktur teknologi sebagai sarana up-grading para aparatur dan mencerdaskan masyarakat melalui pemanfaatan internet sebagai sarana informasi yang difasilitasi oleh pemerintah daerah. Selain itu, beberapa bidang salah satunya pertanian dan perikanan juga telah menerapkan teknologi sebagai alat meningkatkan produktivitas pada bidang tersebut. Diharapkan dengan pemanfaatan teknologi oleh masyarakat di Bangka Belitung diharapkan dapat menjadi sarana untuk menambah ilmu pengetahuan dan informasi dengan tujuan semata-mata untuk kesejahteraan rakyat. II. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah

Perkembangan iptek di Bangka Belitung cenderung relatif agak lambat. Kesadaran masyarakat yang dinilai kurang serta minimnya pengetahuan masyarakat terhadap iptek. Kalangan masyarakat di Bangka Belitung terutama yang ada di Kota Pangkalpinang dan Kabupaten Bangka sebagian besar kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang iptek sedikit lebih meningkat dibandingkan daerah kabupaten lainnya. Yang menjadi penyebab utama adalah sarana infrastruktur yang masih minim dan dipandang masih kurang yang menjadikan masyarakat kurang mempunyai kreativitas dalam pengembangan iptek. Selain itu, minimnya penelitian serta pameran-pameran iptek di Bangka Belitung menjadikan masyarakat cenderung kurang tertarik terhadap perkembangan iptek. Event-event yang berhubungan dengan teknologi pun sangat kurang diadakan di tingkat lokal,hal ini menjadi penyebab rendahnya tingkat kreativitas dan keingintahuan masyarakat terhadap perkembangan iptek. Permasalahan tersebut di atas sekelumit gambaran perkembangan iptek sebagai kondisi awal sekitar tahun RPJMN di daerah.

127

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

III.

Sasaran yang Ingin Dicapai

Untuk mendukung pencapaian peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan iptek, maka sasaran RPJMN 2004-2009 yang ingin dicapai adalah: 1. Tumbuhnya penemuan iptek baru sebagai hasil litbang nasional yang dapat dimanfaatkan bagi peningkatan nilai tambah dalam sistem produksi dan dalam pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan secara lestari dan bertanggung jawab. 2. Meningkatnya ketersediaan, hasil guna, dan daya guna sumberdaya (SDM, sarana, prasana, dan kelembagaan) iptek. 3. Tertatanya mekanisme intermediasi untuk meningkatkan pemanfaatan hasil litbang oleh dunia usaha dan industri, meningkatnya kandungan teknologi dalam industri nasional, serta tumbuhnya jaringan kemitraan dalam kerangka sistem inovasi nasional. 4. Terwujudnya iklim yang kondusif bagi berkembangnya kreativitas, sistem pembinaan dan pengelolaan hak atas kekayaaan intelektual, pengetahuan lokal, serta sistem standarisasi nasional. Sasaran yang ingin dicapai dalam RPJMD untuk peningkatan kemampuan iptek adalah menerapkan sekurang-kurangnya Standar Pelayanan Minimum berbasis e-government dalam pelayanan publik dalam semua tingkatan mulai dari pemerintah desa, pemerintahan kabupaten/kota dan pemerintah provinsi. IV. Arah Kebijakan

Arah kebijakan yang tertuang dalam RPJMN untuk Peningkatan Kemampuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi adalah untuk: 1. Mempertajam prioritas penelitian, pengembangan dan rekayasa iptek yang berorientasi pada permintaan dan kebutuhan masyarakat dan dukungan usaha dan roadmap yang jelas. 2. Meningkatkan kapasitas dan kapabilitas iptek dengan memperkuat kelembagaan, sumber daya dan jaringan iptek di pusat dan daerah. 3. Menciptakan iklim inovasi dalam bentuk pengembangan skema insentif yang tepat untuk mendorong perkuatan struktur industri. 4. Menanamkan dan menumbuhkembangkan budaya iptek untuk meningkatkan peradaban bangsa,

128

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Pada RPJMD Bangka Belitung, arah kebijakan dalam peningkatan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah menerapkan sekurang-kurangnya Standar Pelayanan Minimal pada masyarakat dengan memberikan kemudahan akses pada masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintah. V. 5.1 Pencapaian RPJMN di Daerah (2005 – 2007) Upaya yang Dilakukan hingga Tahun 2007

Berbagai upaya dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi antara lain: 1. Optimalisasi pemanfaatan Teknologi Informasi. 2. Pengembangan Komunikasi, Informasi dan Media Masa. 3. Pengkajian dan penelitian bidang informasi dan komunikasi. 4. Kerjasama informasi dengan media masa. 5.2 Posisi Capaian Hingga Tahun 2007

Dalam rangka peningkatan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi, pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung hingga tahun 2007 telah melakukan pencapaian sebagai berikut: 1. Dibentuknya SIG WEB Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan mengembangkan sistem LAN (Local Area Network) di Lingkungan Provinsi dan pembuatan peta digital skala 1:25.000 untuk mendukung informasi kewilayahan. 2. Pembentukan Kerjasama Jaringan Penelitian di Bidang Pendidikan dengan SK Gubernur No. 188.44/615/BAPPEDA/2007 tanggal 10 November 2007. 3. Belum diterapkannya e-government ke setiap instansi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. 4. Pelaksanaan program pemberitaan dan dokumentasi berupa foto, video dan CD maupun kaset tape recorder sebanyak 175 kegiatan gubernur pada tahun 2007. 5. Untuk perpustakaan terutama dalam menambah literatur buku pada tahun 2007 5.3 Permasalahan Pencapaian Sasaran 1. Kurangnya minat masyarakat terhadap pemanfaatan teknologi informasi (internet). 2. Minimnya pemanfaatan hasil litbang daerah. 3. Kurangnya infrastruktur listrik sebagai pendukung untuk pengembangan iptek. 4. Kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pemanfaatan iptek.

129

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

5. Kemampuan SDM aparatur yang masih rendah dalam pengelolaan iptek. 6. Minimnya pelatihan-pelatihan serta penelitian bidang iptek dari pemerintah terhadap masyarakat. 7. Belum diterapkannya SIKD (Sistem Informasi Keuangan Daerah) sehingga sulit untuk daerah mendapatkan laporan keuangan yang baik. VI. 6.1 Rekomendasi Tindak Lanjut Upaya yang Akan Dilakukan untuk Mencapai Sasaran.

Pada masa yang akan datang, diharapkan peran pemerintah semakin kuat dalam menumbuhkankembangkan Ilmu pengetahuan teknologi di Bangka Belitung. Untuk itu ada beberapa usaha yang dapat dilakukan diantaranya: - Memperbanyak kegiatan-kegiatan yang berupa pameran-pameran teknologi dan even-even yang bersifat memajukan perkembangan ilmu pengetahuan di Bangka Belitung. - Menggiatkan kegiatan penelitian yang mana diharapkan hasil penelitian tersebut sebagai rekomendasi bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan-kebijakan untuk kepentingan masyarakat. 6.2 Perkiraan Pencapaian Sasaran RPJMN 2004 – 2009

Pada tahun 2009 diperkirakan masyarakat semakin menyadari dan dapat merasakan akan pentingnya menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai suatu sarana dalam untuk mewujudkan Babel cerdas 2010. VII. Penutup

Perkembangan ilmu pengetahuan teknologi hendaknya dapat lebih difokuskan terutama pemahaman masyarakat terhadap teknologi informasi. Dengan melengkapi fasilitas-fasilitas infrastruktur internet di areal/daerah tertentu, masyarakat tentunya dapat menambah peningkatan dalam ilmu pengetahuan serta pemahaman dalam bidang teknologi. Dalam penelitian hendaknya lebih diaktifkan berbentuk kerjasama penelitian dengan unsur-unsur perguruan tinggi di daerah atau daerah lain, sehingga memberikan hasil yang bermanfaat dari penelitian tersebut bagi kesejahteraan rakyat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

130

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

BAB 4.9 PERBAIKAN IKLIM KETENAGAKERJAAN

I.

Pengantar

Masalah ketenagakerjaan mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pemerintah Babel berusaha menciptakan lapangan kerja dengan tujuan meningkatkan income per kapita dan daya beli masyarakat dengan terus meningkatkan keahlian dan keterampilan para pencari kerja melalui pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan berdaya saing di bursa tenaga kerja internasional. Lapangan kerja yang disediakan pemerintah terfokus pada penguatan terhadap 6 sektor unggulan daerah (kelautan dan perikanan, pariwisata, pertanian, pertambangan, perindustrian, perdagangan dan jasa). II. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah

2.1 Kondisi Pengangguran Tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Provinsi kepulauan Bangka Belitung pada periode Agustus 2006 sebesar 8,99% (42.210 orang) lebih rendah dibanding periode Agustus 2007 yang mencapai 6,49% (32.956 orang). Informasi mengenai kegiatan terbanyak penduduk yang bekerja di Bangka Belitung disajikan pada Tabel 4.9.1 Tabel. 4.9.1 Penduduk 15 tahun ke atas menurut Kegiatan Terbanyak Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Agustus 2006 - Agustus 2007)

Kegiatan Utama Total penduduk 15+ Angkatan kerja a. Bekerja b. Tidak Bekerja (Pengangguran Terbuka) Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Tingkat Penganggutan Terbuka (TPT) Sumber: Sakernas, Agustus 2006 dan Agustus 2007, Sakernas

Agustus 2006 751.386 469.538 427.328 42.210 62.49% 8.99%

Agustus 2007 766.428 507.962 475.006 32.956 66.28% 6.49%

131

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

2.2

Pertumbuhan Kesempatan Kerja

Dari sisi ketenagakerjaan, menunjukkan telah terjadinya migrasi penduduk antar wilayah yang ada. Tahun 2004 terdapat sejumlah penduduk yang melakukan perpindahan keluar wilayah. Perpindahan ini mengindikasikan terjadinya ketidakcukupan kesempatan kerja. Dilihat dari jumlah angkatan kerja pada tahun 2004 mencapai 494.250 jiwa atau 67,10% dari total penduduk usia 15 tahun ke atas yang mencapai 707.683 jiwa, tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) secara umum mencapai 68, 92% untuk total empat kabupaten di Pulau Bangka, 65,81% untuk Belitung dan Belitung Timur serta 60,80% untuk Kota Pangkalpinang. Dengan rata-rata TPAK sebesar 67,10 pada tahun 2004 ini, berarti telah terjadi penurunan disbanding tahun sebelumnya yang mencapai 69,20%. Dengan kata lain, telah terjadi peningkatan jumlah pengangguran dari jumlah angkatan kerja yang ada, dimana jumlah yang bekerja mencapai 435.917 orang dengan tingkat pengangguran sebesar 8,20% yang lebih rendah dari angka sebelumnya yang mencapai 9,40%. Selama 5 tahun terakhir perkembangan ekonomi daerah belum dapat mengimbangi meningkatnya angkatan kerja yang masuk pasar kerja. Akibatnya jumlah angkatan kerja tahun 2005 mencapai 485.514 orang, bertambah menjadi 10.658 orang dibanding tahun 2004 sebesar 474.856 orang. Jumlah penduduk yang bekerja dalam tahun 2005 mencapai 446.174 orang, dengan jumlah pengangguran baru mencapai 39.340 orang. III. Sasaran yang Ingin Dicapai

Sasaran yang ingin dicapai dalam RPJMN untuk perbaikan iklim ketenagakerjaan adalah sebagai berikut: (Sasaran Pembangunan) Menurunnya jumlah penduduk miskin menjadi 8,2 persen pada tahun 2009 serta terciptanya lapangan kerja yang mampu mengurangi pengangguran terbuka menjadi 5,1 persen pada tahun 2009 dengan didukung oleh stabilitas ekonomi yang tetap terjaga. Kemiskinan dan pengangguran diatasi dengan strategi pembangunan ekonomi yang mendorong pertumbuhan yang berkualitas

132

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Sedangkan sasaran yang tertuang dalam RPJMD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk perbaikan iklim ketenagakerjaan adalah: a. Menciptakan lapangan kerja dan lapangan berusaha dalam rangka meningkatkan income per kapita dan daya beli masyarakat melalui penguatan terhadap 6 sektor unggulan daerah (yaitu: kelautan dan perikanan, pariwisata, pertanian, pertambangan, perindustrian, perdagangan dan jasa), serta b. Menciptakan tenaga kerja siap pakai dan berdaya saing sebagai salah satu komoditas daerah yang siap dipasarkan ke lingkup domestic, regional dan global. IV. Arah Kebijakan

Arah kebijakan ketenagakerjaan yang tertuang dalam RPJMN diarahkan pada: 1) Menciptakan lapangan kerja formal atau modern yang seluas-luasnya. Keadaan angkatan kerja yang sebagian besar berpendidikan Sekolah Dasar (SD) ke bawah serta berusia muda ini diperkirakan belum akan berubah secara berarti dalam 20 tahun mendatang. Dengan demikian lapangan kerja yang akan diciptakan seyogyanya mempertimbangkan tingkat keterampilan pekerjaan yang tersedia. Dengan kualifikasi angkatan kerja yang tersedia, maka lapangan kerja formal yang diciptakan didorong ke arah industri menengah dan kecil, serta industri yang berorientasi ekspor; 2) Memberikan dukungan yang diperlukan agar pekerja dapat berpindah dari pekerjaan dengan produktivitas rendah ke pekerjaan dengan produktivitas lebih tinggi. Dukungan ini sangat diperlukan agar pekerja informal secara bertahap dapat berpindah ke lapangan kerja formal. Upaya-upaya pelatihan tenaga kerja harus terus ditingkatkan dan disempurnakan agar perpindahan tersebut dapat terjadi. Kebijakan yang ditempuh untuk menciptakan lapangan kerja formal dan meningkatkan produktivitas pekerja dilaksanakan dengan: 1. Menciptakan fleksibilitas pasar kerja dengan memperbaiki aturan main

ketenagakerjaan yang berkaitan dengan rekrutmen, outsourcing, pengupahan, pemutusan hubungan kerja (PHK), serta memperbaiki aturan main yang mengakibatkan perlindungan yang berlebihan;

133

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

2. Menciptakan kesempatan kerja melalui investasi. Dalam hal ini pemerintah akan menciptakan iklim usaha yang kondusif memerlukan stabilitas ekonomi, politik, dan keamanan, biaya produksi rendah, kepastian hukum serta peningkatan ketersediaan infrastruktur; 3. Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia yang dilakukan antara lain dengan memperbaiki pelayanan pendidikan, pelatihan serta memperbaiki pelayanan kesehatan; 4. Memperbaharui program-program perluasan kesempatan kerja yang dilakukan oleh pemerintah, antara lain adalah program pekerjaan umum, kredit mikro, pengembangan UKM, serta program-program pengentasan kemiskinan; 5. Memperbaiki berbagai kebijakan yang berkaitan dengan migrasi tenaga kerja, baik itu migrasi tenaga kerja internal maupun eksternal; dan 6. Menyempurnakan kebijakan program pendukung pasar kerja dengan mendorong terbentuknya informasi pasar kerja serta membentuk bursa kerja. Arah kebijakan yang tertuang dalam RPJMD terutama dalam penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat lokal diprioritaskan pada upaya : 1. 2. 3. V. 5.1 Peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja; Peningkatan kesempatan kerja; Perlindungan dan pengembangan lembaga ketenagakerjaan;

Pencapaian RPJMN di Daerah (2005 – 2007) Upaya yang Dilakukan hingga Tahun 2007

Berbagai upaya dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam perbaikan iklim tenaga kerja antara lain: 5.1.1 Peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja. a. Untuk meningkatkan keterampilan para pencari kerja, maka pemerintah membangun sebuah Balai Latihan Kerja (BLK) yang memadai dengan dilengkapi perlengkapan telekomunikasi dan perlengkapan gedung seiring bertambahnya jumlah pegawai.

134

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

b. Diantaranya telah dibangunnya sebuah gedung workshop untuk pelatihan Otomotive yang dapat dimanfaatkan untuk pelatihan atau kerjasama oleh pihak ketiga, untuk para siswa keguruan dalam memasuki dunia kerja. c. Sampai tahun 2007, sesuai dengan laporan pertanggungjawaban Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bahwa BLK UPT yang dimiliki oleh Disnakertrans Bangka Belitung dipandang masih belum dapat menjalankan tugas dan fungsi yang diembannya secara optimal, hal ini disebabkan: Kurangnya kemampuan dan profesionalisme instruktur. Bengkel praktek dan teori yang belum bertaraf internasional. Minimnya peralatan dalam melaksanakan kegiatan. Kurikulum dan slabus yang belum berbasis kompetensi. Terbatasnya pasokan air dan listrik. Masih adakan dikembangkan lahan BLK dari 2 ha menjadi 5 ha. Masih perlunya peningkatan pembangunan sarana dan prasarana baru.

d. Untuk mengurangi pengangguran dalam rangka pengentasan kemiskinan, maka Disnakertrans giat dalam melakukan pelatihan-pelatihan bagi pencari kerja, diantaranya yang telah dilakukan selama tahun 2007 adalah sebagai berikut: Pelatihan kejuruan las, 4 paket (64 orang) yang dipersiapkan pengiriman TKI ke Arab Saudi pada tahun 2008, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah mengirimkan tenaga kerja muda ke luar negeri (Arab Saudi) sebanyak 18 orang dengan keterampilan Las Konstruksi Bangunan dengan penghasilan Rp 3.500.000,-/per orang/per bulan. Untuk perlindungan kesehatan dan keselamatan tenaga kerja sesuai dengan Pasal 6 UU No. 13 tahun 2003, maka diadakan Pelatihan Dasar-Dasar K3 dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan peserta, kualitas SDM di bidang K3 dan dapat terlaksanya penerapan SMK3 di lingkungan kerja. Pada pelatihan ini sepanjang tahun 2007 diikuti sebanyak 3 angkatan dengan peserta 120 orang dari 7 Kabupaten/Kota di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dengan jadwal sebagai berikut:

135

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

a. Angkatan I : 11 Juni s.d 16 Juni 2007. b. Angkatan II : 25 Juni s.d 30 Juni 2007. c. 5.1.2 Angkatan III : 16 Juli s.d 21 Juli 2007.

Peningkatan kesempatan kerja

a) Dalam rangka peningkatan kesempatan kerja, pada tahun 2007 telah dilaksanakan Pengembangan Kelembagaan Produktivitas dan Pelatihan Kewirausahaan yang diikuti sebanyak 20 orang peserta, berasal dari alumni lulusan pelatihan di BLKI dengan instruktur berasal dari Balai Pengembangan Produktivitas Daerah (BPPD) Sumatera Selatan sebanyak 1 orang pada tanggal 1 s.d 10 Agustus 2007b bertempat di Hotel Xin Lu Pangkalpinang. Adapun tujuan dari kegiatan ini agar peserta yang sudah memiliki kompetensi (knowledge, skills, attitude) diberikan pengetahuan jiwa kewirausahaan, manajerial, motivasi berprestasi tinggi sehingga siap memasuki dunia kerja/dunia industri ataupun usaha mandiri. b) Untuk menciptakan lapangan kerja dan lapangan berusaha dengan tujuan untuk meningkatkan income per kapita dan daya beli masyarakat melalui perluasan 6 sektor unggulan diantaranya pariwisata, maka telah diadakan pelatihan keterampilan pariwisata berupa pelatihan keterampilan 3 paket (48 orang) dengan jam pelatihan 220 jam dengan sub kejuruan, House Keeping, Restauran dan pembuatan kue-kue. Adapun tujuan dari pelatihan ini adalah menciptakan tenaga kerja terampil, siap pakai dan berdaya saing sebagai salah satu komoditas daerah yang siap dipasarkan ke lingkup domestik dan global. c) Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terutama dalam hal ini Disnakertrans, selama tahun 2007 telah melakukan sertifikasi tenaga kerja berupa uji kompetensi terhadap pencari kerja untuk mendapatkan pengakuan kompetensi sesuai kualifikasi yang dimiliki yang mengacu kepada PP. No. 23 Tahun 2004 yang diharapkan setelah dilakukan sertifikasi ini para pencari kerja memiliki kemampuan sesuai kompetensinya dan dapat diterima di dunia kerja.

136

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Sertifikasi tenaga kerja melalui uji kompetensi ini meliputi: Sertifikasi bagi kejuruan las sebanyak 40 orang dengan kualifikasi 1G s.d 3G. Sertifikasi bagi kejuruan mobil bensin sebanyak 20 orang dengan kualifikasi Tune Up konvensional dilaksanakan pada tanggal 21 s.d 26 Mei 2007 di SMK Negeri 2 Pangkalpinang. 5.1.3 Perlindungan dan pengembangan lembaga ketenagakerjaan

a) Telah dilakukannya studi banding oleh Dewan Pengupahan Provinsi Kepulauan Bangka
Belitung ke Provinsi Kepulauan Riau yaitu pada tanggal 30 Juli 2007 s.d 2 Agustus 2007 yang diikuti seluruh Anggota Dewan Pengupahan Babel sebanyak 23 orang dan 2 staf dari Disnakertrans Babel. Hasi dari studi banding adalah bahwa faktor lapangan kerja Provinsi Kep. Riau hanya didominasi oleh sektor perindustrian, sehingga Dewan Pengupahan Provinsi Kep. Rian hanya menetapkan UMP dan UMK saja, tidak menetapkan UMSK Kabupaten/kota dan setiap kebijakan pemerintah daerah selalu mengacu pada Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) termasuk kebijakan-kebijakan yang ditetapkan Dewan Pengupahan Provinsi Kep. Riau.

b) Studi banding juga dilakukan oleh Lembaga Kerjasama Tripartit (forum komunikasi,
konsultasi dan musyawarah tentang masalah ketenagakerjaan yang anggotanya terdiri dari unsur organisasi pengusaha, Serikat Pekerja/Buruh dan Pemerintah Babel) ke Provinsi Kep. Riau dari tanggal 14 Mei 2007 s.d 17 Mei 2007. Hasil yang didapat dari studi banding tersebut adalah: Fungsi dan tugas LKS Tripartit di Provinsi Kepualauan Riau telah dilaksanakan dengan baik. LKS Provinsi Kep. Riau akan mengadakan studi banding ke luar negeri sebagai upaya peningkatan pembangunan ketenagakerjaan sekaligus untuk mempromosikan kondisi ketenagakerjaan di Provinsi Kep. Riau dalam rangka menarik investor.

137

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

c) Monitoring Evaluasi Peraturan Perusahaan (PP) dan perundangan Pembuatan Perjanjian
Perburuhan oleh Disnakertrans Babel dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana pentingnya PP/PKB bagi perusahaan dan tenaga kerja. Monitoring ini dilaksanakan pada bulan November 2007 ke 45 perusahaan di 7 (tujuh) Kabupaten/kota Provinsi Babel. Hasil dari monitoring ini adalah bahwa 21 perusahaan yang telah memiliki PP dan 7 perusahaan yang telah memiliki PKB.

d) Telah dilaksanakannya monitoring dan Evaluasi Pelaporan oleh Disnakertrans selama
tahun 2007 ke 7 (tujuh) kabupaten/kota yang membidangi masalah ketenagakerjaan dan transmigrasi. Tujuan dari monitoring adalah untuk mengetahui sejauh mana masalah ketenagakerjaan dan transmigrasi dan kebutuhan pelatihan apa yang diharapkan dalam dalam kegiatan tersebut dapat tercapai.

e) Selama tahun 2007 telah dilakukan penyusunan Rencana Teknis Satuan Pemukiman
Transmigrasi (RTSPT) secara benar dan penuh tanggung jawab akan dioptimalkan pemanfaatan lahan dengan biaya seefisien mungkin dan diharapkan dapat menghindari masalah yang timbul di kemudian hari. Hasil dari kegiatan ini adalah Masterplan Lokasi RT-UPT penempatan calon transmigrasi di desa Jebus, Kecamatan Jebus, Kabupaten Bangka Barat sebanyak 200 Kepala Keluarga (KK). 5.2 Posisi Capaian hingga Tahun 2007

Berbagai upaya telah dilakukan oleh Pemerintah Bangka Belitung dalam perbaikan iklim tenaga kerja. Adapun posisi capaian hingga tahun 2007 dapat dilihat pada Grafik 4.8.1 dan Grafik 4.8.2. Untuk jumlah angkatan kerja meningkat sebanyak 38.424 orang, yaitu pada Agustus 2006 sebesar 469.538 menjadi 507.962 orang pada Agustus 2007 Sedangkan jumlah penduduk bekerja meningkat dari 427.328 orang pada Agustus 2006 menjadi 475.006 pada Agustus 2007 atau naik sebanyak 47.678 orang. (Grafik 4.9.1) Angka pengangguran terbuka pun turun 9.254 orang (8.99 persen) pada Agustus 2006 menjadi 42.210 orang (6.49 persen) pada Agustus 2007. (Grafik 4.9.2)

138

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

139

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

5.3

Permasalahan Pencapaian Sasaran

Dengan menurunnya tingkat pengangguran terbuka di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, ini menunjukkan bahwa pemerintah sangat concern untuk mengurangi pengangguran di Bangka Belitung dan giat untuk membuka kesempatan kerja untuk perbaikan iklim tenaga kerja. Dengan pelatihan-pelatihan yang rutin selama tahun 2007 menunjukkan bahwa pemerintah memberikan perhatian bagi pencari kerja. Selain itu, sertifikasi bagi pencari kerja juga giat dilakukan agar tenaga kerja di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dapat bersaing di bursa tenaga kerja baik di tingkat lokal, nasional maupun secara global. Namun dalam mencapai sasaran tersebut, terdapat beberapa permasalahan diantaranya sebagai berikut: a. Bahwa kondisi yang masih minimnya ketersediaan tenaga kerja yang terampil di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. b. Masih kurangnya pelatihan-pelatihan bagi tenaga-tenaga kerja seiring bertambahnya jumlah pencari kerja. c. Kondisi tempat-tempat pelatihan ketenagakerjaan yang dipandang masih belum layak. d. Masalah ketersediaan infrastruktur pendukung (sarana fisik, listrik, dan air bersih) yang belum memenuhi harapan investor dalam upaya menciptakan iklim investasi untuk memberikan kesempatan kerja bagi tenaga kerja yang ada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. e. Masalah birokrasi yang juga belum memenuhi harapan investor. f. Masih kurangnya bursa penerimaan lowongan pekerjaan.

VI. 6.1

Rekomendasi Tindak Lanjut Upaya yang Akan Dilakukan untuk Mencapai Sasaran

Pemerintah Bangka Belitung dalam upaya menciptakan lapangan kerja seluas-luasnya bukanlah tugas yang mudah. Hal tersebut tercermin masih tingginya angka TPT pada Agustus 2007, yaitu 6,49 % atau sebanyak 32.956 jiwa. Berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk memperbaiki iklim ketenagakerjaan antara lain:

140

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

1. Dalam upaya peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja hendaknya pemerintah Babel tidak hanya memfokuskan pelatihan tenaga kerja di BLK terbatas hanya kepada siswa keguruan saja. Masalah lain, hendaknya diperbanyak pelatihan-pelatihan bagi instruktur yang ada di BLK, karena minimnya kemampuan instruktur sangat menentukan kualitas para pencari kerja. Peralatan-peralatan yang ada di BLK pun terus diperbanyak jumlahnya seiring pertumbuhan jumlah para pencari kerja. Selain pelatihan kepada para instruktur tentunya pelatihan-pelatihan bagi para pencari kerja terus diperbanyak dengan hasil yang nyata dan kongkret yang dapat dirasakan para pencari kerja setelah dilakukan pelatihan tersebut. 2. Untuk peningkatan kesempatan kerja, pemerintah Babel hendaknya tidak membatasi hanya terbatas pada pelatihan-pelatihan tenaga kerja. Tapi, menumbuhkan industri-industri baru untuk menciptakan lapangan kerja sehingga dapat menumbuhkan iklim tenaga kerja yang tumbuh dan berkembang dengan baik di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Sertifikasi tenaga kerja juga diperbanyak pada bidang-bidang lain yang sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja. 3. Upaya perlindungan dan pengembangan lembaga ketenagakerjaan, hendaknya dapat difokuskan kepada hubungan antara pengusaha dan tenaga kerja. Selain itu hasil studi banding yang dilaksanakan oleh lembaga-lembaga ketenagakerjaan yang ada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung harus dirasakan mempunyai dampak yang nyata bagi pelaku dan tenaga kerja yang ada di Bangka Belitung. 6.4 Perkiraan Pencapaian Sasaran RPJMD 2007 – 2012

Sampai Agustus 2007 angka pengangguran terbuka di Bangka Belitung mencapai 6.49 % atau 32.956 penganggur. TPT ini diperkirakan akan mencapai 5.5 % pada tahun 2012. Angka ini tentunya merupakan suatu pencapaian yang sangat realistis mengingat kondisi investasi di Bangka Belitung belum maksimal yang disebabkan infrastruktur listrik yang kurang mendukung pertumbuhan iklim tenaga kerja. Diperkirakan untuk peluang investasi bagi para investor juga giat dilakukan pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2012. Terlihat bahwa pemerintah untuk langkah awal dengan membangun infrastruktur listrik pada tahun 2010.

141

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

VII.

Penutup

Membaiknya iklim tenaga kerja tentunya dapat meningkatkan kesempatan kerja di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Berbagai upaya yang telah dilakukan Disnakertrans Babel sampai tahun 2007 terlihat bahwa pemerintah Babel sangat fokus dalam mengurangi pengangguran yang bertujuan untuk pengentasan kemiskinan. Hal ini ditandai dengan menurunnya tingkat pengangguran terbuka di Babel dan meningkatnya transmigrasi penduduk dari Jawa dan Daerah Lain yang banyak bekerja di Lahan Pertanian yang disediakan oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

142

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

BAB 4.10 PEMANTAPAN STABILITAS EKONOMI MAKRO

Catatan: Pada bab ini tidak akan dijelaskan peran pemerintah daerah dalam pemantapan stabilitas ekonomi makro, karena tidak dijumpai permasalahan yang terkait dengan agenda tersebut di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Di samping itu agenda ini menjadi wewenang pemerintah pusat.

143

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

BAB 4.11 PENANGGULANGAN PEDESAAN

I.

Pengantar

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah sebuah provinsi kepulauan yang membentangkan gugusan pulau-pulau. Ada hal mendasar yang tercermin dari geografis kepulauan ini, pertama bahwa mayoritas penduduk di daerah ini tinggal di daerah pedesaan. Hanya ada satu kota di daerah ini, yaitu Kota Pangkalpinang. Selebihnya hanyalah ibukota kabupaten. Kedua, sebagai daerah kepulauan, ada begitu banyak pulau yang berpenghuni dengan status sebagai desa atau hanya sebuah dusun. Pada satu sisi, mayoritas penduduk di pedesaan pedalaman berkutat dengan persoalan ekonomi. Masyarakat di pedesaan pedalaman umumnya bekerja sebagai petani lada, karet, dan sawit yang kesemuanya berjangka panen panjang. Sebagian besar lagi bekerja sebagai penambang ilegal yang marak di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sejak delapan tahun terakhir ini. Sedangkan penduduk pedesaan di daerah pesisir umumnya adalah nelayan kecil yang pada akhirnya terjebak dalam kehidupan ekonomi rentenir. Pada sisi lain, penduduk pedesaan juga berhadapan dengan minimnya fasilitas. Persoalan listrik adalah persoalan klasik pedesaan. Ketidakmampuan untuk memasang KWH, ketidatersediaan daya untuk pemasangan baru, dan kondisi listrik yang sangat tidak stabil menyebabkan kebuntuan berbagai hal terjadi di hampir di semua desa. Meski telah menjadi sebuah provinsi baru, ketersediaan listrik menjadi masalah yang tidak terpecahkan meskipun telah dua kali berganti kepala daerah. Persoalan ini berimbas pada keterbatasan akses terhadap informasi dan perkembangan teknologi. Layanan pendidikan pada dasarnya sudah bagus, namun angka melanjutkan ke pendidikan menengah ke atas masih sangat rendah. Masyarakat pedesaan pun masih terjebak dalam pencarian ekonomi yang konvensional, misalnya menjadi pekerja tambang inkonvensional, buruh kebun, dan penyadap karet, sementara pada saat yang bersamaan di pedesaan belum tersedia industri hilir sebagai akibat keberadaan

144

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

tambang inkonvensional, kebun sawit dan karet yang berarti produktivitas masyarakat di pedesaan masih sebatas eksplorasi sumber daya alam, belum optimalisasi sumber daya alam menjadi bahan produktif yang bisa menghasilkan tenaga kerja baru. II. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah

Keluarga pra sejahtera pada tahun 2004 di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencapai 28.563 keluarga, keluarga sejahtera I sebanyak 67.339 keluarga, keluarga sejahtera II sebanyak 92.155 keluarga, sejahtera III sebanyak 54.294 keluarga dan keluarga sejahtera III plus sebanyak 3.031 keluarga. III. 1. Sasaran yang Ingin Dicapai Meningkatnya peran dan kontribusi kawasan pedesaan sebagai basis pertumbuhan ekonomi nasional yang diukur dari meningkatnya peran sektor pertanian dan non pertanian yang terkai dalam mata rantai pengolahan produk-produk berbasis pedesaan; 2. 3. 4. Tericiptanya lapangan kerja berkualitas di perdesaan, khususnya lapangan kerja non pertanian, yang ditandai dengan berkurangnya angka pengangguran terbuka dan setengah pengangguran; Meningkatnya kesejahteraan masyarakat yang ditandai dengan berkurangnya jumlah penduduk miskin serta meningkatnya taraf pendidikan dan kesehatan, terutama perempuan dan anak Meningkatnya kualitas dan kuantitas infrastruktur di kawasan permukiman di perdesaan yang ditandai dengan antara lain: o Selesainya pembangunan fasilitas telekomunikasi perdesaan sekurang-kurangnya 43 ribu sambungan baru di 43 ribu desa dan community access point di 45 ribu desa; o Meningkatnya persentase desa yang mendapat aliran listrik dari 94 persen pada tahun 2004 menjadi 97 persen pada tahun 2009; o Meningkatnya persentase rumah tangga perdesaan yang memiliki akses terhadap pelayanan air minum hingga 30 persen; dan o Seluruh rumah tangga telah memiliki jamban sehingga tidak ada lagi yang melakukan ‘open delecation’(pembuangan di tempat terbuka);

145

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

5.

Meningkatnya akses, kontrol, dan partisipasi seluruh elemen masyarakat dalam kegiatan pembangunan perdesaan yang ditandai dengan terwakilinya aspirasi semua kelompok masyarakat dan meningkatnya kesetaraan antara perempuan dan laki-laki dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi kegiatan pembangunan

IV. Arah Kebijakan Dalam upaya menanggulangi kemiskinan dan mengurangi kesenjangan, baik kesenjangan antar golongan pendapatan maupuan antar wilayah, maka arah kebijakan ditetapkan sebagai berikut: a. Pemberian bantuan dan penyantuan untuk masyarakat miskin dan langka-langka mengatasi penanggulangan bencana alam. b. Pemenuhan hak atas pekerjaan dan usaha melalui peningkatan kesempatan dalam beursaha dengan penyediaan kemudahan dan pembinaan dalam memulai usaha, perlindungan usaha, wirausaha baru, dan penyediaan skim-skim pembiayaan alternati untuk usaha. c. Pemenuhan hak atas perumaha melaui penyediaan rumab baru layak huni bagi masyarakat berpenghasilan rendah, prasarana dan sarana dasar bagi kawasan rumah sederhana dan rumah sederhana sehat, serta peningkatan akses masyarakat miskin terhadap kredit mikro untuk pembangunan dna perbaikan rumah berbasis swadaya masyarakat. d. Pemenuhan hak atas air bersih dan sanitasi melalui pemenuhan kebutuhan air baku untuk kebutuhan pokok rumah tangga di wilayah rawan defisit air dan wilayah tertinggal, peningkatan pelayanan air minum dan air limbah, serta pemeliharaan dan normalisasi saluran dranaise yang berbasis partisipasi masyarakat. e. Pemenuhan hak atas sumbe daya alam dan lingkungan hidup dilakukan melalui peningkatan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi dan kapasitas kelembagaan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup, pengembangan aneka usaha kehutanan, serta rehabilitasi ekosistem (lahan kritis, lahan marjinal, hutan bakau, dan lain-lain) yang berbasis masyarakat. f. Pemenuhan hak atas rasa aman melalui peningkatan pembinaan, pelayanan, perlindungan sosial dan hukum bagi korban eksploitasi, pergadangan perempuan dan anak, dan kekerasan, pemberdayaan keluarga fakir miskin dna pemberian bantuan modal usaha, fasilitasi upaya

146

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

perlindungan perempuan terhadap tindak kekerasan dan di daerah konflik dan bencana, dan penyusunan kebijakan dalam rangka pemenuhan hak-haka anak. g. Mendorong partisipasi masyarakat dalam rangka upaya peningkatan penganekaragaman pangan dengan kegiatan pokok: pengembangan dan pengamanan peternakan; pengembangan sumber daya ternak, pembinaan dan pengembangan pembibitan sapi; pengembangan produksi holtikultura. h. Peningkatan kapasitas kelembagaan pendukung ketahanan pangan berbasis masyarakat dengan kegiatan pokok: peningkatan laboratorium kesehatan hewan; peningkatan diversifikasi pangan; dan pengkajian produksi tanaman pangan. i. Peningkatan pertumbuhan sektor kelautan dan perikanan melalui kegiatan pokok: peningkatan kemampuan nelayan untuk dapat menghasilkan komoditas yang berdaya saing tinggi; peningkatan produksi perikanan melalui pendayagunaan lahan; pengembangan usaha agribisnis untuk meningkatkan mutu, nilai tambah, dan daya saing komoditas perikanan; peningkatan diseminasi dan penerapan teknologi tepat guna. V. Pencapaian RPJMN di Daerah (2005 – 2007)

5.1. Upaya yang dilakukan hingga tahun 2007 1. Fasilitasi kebijakan peningkatan kinerja pemerintah desa melalui pemberdayaan masyarakat pedesaan, 2. Pengembangan lembaga ekonomi pedesaan, 3. Peningkatan partisipasi masyarakat dalam membangun desa, 4. Peningkatan kapasitas pemerintah desa, dan 5. Peningkatan peran perempuan di pedesaan 5.2. Posisi capaian hingga tahun 2007 1) Tersedia pendukung perekonomian masyarakat yang terdiri atas jembatan desa (Air Mayan I, Air Cempedak, Air Bujang), pembangunan jalan-jalan desa baru (Pangkalpinang-Simpang Katis, Sungailiat-Puding Besar, Penutuk-Tanjung Labu, Mentok, Sijuk-Buding, Jln. Kampak dan Kerabut, Jln. Trem dan Jln, Martadinata, Kompleks Kantor Gubernur) , rehabilitasi jalan-jalan desa (Ibul-Parit Tiga, Lumut-Puding Gebak, Selan-Lampur-Air Bara, Badau-Renggiang,Membalong-Tanjung Tinggi, Perawas-Manggar, Gantung-Simpang Padang, Puput-Simpang Katis-Kayu Arang), pembangunan

147

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

saluran drainase (Kompleks Gubernuran, Dalam Kota Toboali, Kecamatan Belinyu), normalisasi saluran sungai(Sungai Mayang), rehabilitasi jaringan irigasi (Rias, Selingsing, Batu Betumpan), rehabilitasi jaringan irigasi, penataan lingkungan permukiman penduduk pedesaan, pembangunan sarana dan prasarana rumah sederhana dan sehat. 2) Pengembangan kinerja distribusi air minum melalui pemasangan pipa di Belitung, Bangka, Bangka Selatan, dan Pangkalpinang 3) Dibangun sarana dan prasarana Desa Agropolitan di Kabupaten Belitung yang dialokasikan sebesar Rp. 2.550.000.000 4) Peningkatan Tambatan Perahu dan Talud Penahan Tanah di Belitung dengan alokasi dana Rp. 896.513.000 5) Pembangunan rumah huni di Bangka sebanyak 200 unit dan Belitung 80 unit 6) Sertifikasi massal tanah bagi masyarakat tidak mampu dengan alokasi dana Rp. 700.000.000 sebanyak 1.820 persil 7) Pemberian bantuan keuangan kepada pemerintah desa/kelurahan se-Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ke 267 desa, 54 Kelurahan, dan 750 Kepala Dusun sebesar Rp. 7.382.000.000 8) Dilakukan Pembinaan kelompok masyarakat dalam pembangunan desa 9) Dilakukan Bintek Kepala Desa sebanyak 40 orang aparatur desa 10) Pelatihan Kader Pembangunan Masyarakat diikuti 40 orang kader 11) Pemberdayaan usaha masyarakat dalam peningkatan peran perempuan dengan pemberian penghargaan kepada Peranan Wanita menuju Keluarga Sehat dan Sejahtera (P2WKSS), Kelompok Bina Keluarga Balita (BKB), Kecamatan Sayang Ibu (KSI), Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi (RSSI&B), Perusahaan Pembina Terbaik Tenaga Kerja Perempuan 12) Kegiatan pelatihan petani dan pelaku agribisnis diikuti 600 petani 13) Pengembangan desa mandiri pangan di 8 desa

148

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

5.3.

Permasalahan pencapaian sasaran 1. Geografis kepulauan menyebabkan akses berbagai hal menjadi sangat terbatas, terutama berkaitan dengan transportasi 2. Sebagai provinsi baru, begitu banyak infrastruktur yang harus dibangun dari nol, tentu kondisi berbeda ditunjukkan oleh provinsi yang sudah lama terbentuk dan mapan pada sisi infrastruktur 3. Terbatasnya pendidikan masyarakat di desa-desa menyebabkan terbatasnya akses terhadap layanan informasi dan teknologi 4. Terbatasnya lahan untuk areal perkebunan sebagai akibat penambangan ilegal menyebabkan berkurangnya lahan produktif di desa 5. Keahlian masyarakat di pedesaan berkutat pada seputar penggalian kekayaan alam, bukan pada keahlian dalam menciptakan sebuah produk padahal sumber daya alam merupakan kekayaan yang tidak terbarui.

Beberapa hal yang menjadi masalah dalam hal penataan penanggulangan perdesaan menyangkut:

VI.

Rekomendasi Tindak Lanjut

6.1 Upaya yang akan dilakukan untuk mencapai sasaran Strategi yang dilaksanakan dalam pencapaian misi ini adalah : 1. Pemanfaatan sumber-sumber pendapatan ekonomi lokal sebagai upaya untuk meningkatkan peningkatan pendapatan per kapita. Pemanfaatan ini dilakukan dengan meningkatkan kapasitas tenaga kerja, pemberdayaan ekonomi masyarakat, dan meningkatkan kerjasama dengan swasta melalui kemitraan. 2. Peningkatan pendapatan per kapita masyarakat dilakukan melalui peningkatan pendapatan daerah (PDRB) khususnya melalui enam sector unggulan (sector Kelautan dan Perikanan, Pariwisata, Pertanian, Pertambangan, Perindustrian, Perdagangan dan Jasa). 3. Peningkatan daya beli masyarakat dapat dilakukan dengan dua langkah yaitu: pertama, peningkatan pendapatan masyarakat melalui peningkatan kapasitas individu tenaga kerja atau secara kelembagaan dan kedua, menjamin ketersediaan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

149

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

6.2

Perkiraan pencapaian sasaran

Indikator pencapaian pelaksanaan misi dalam menciptakan lapangan kerja dan lapangan berusaha di masyarakat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah sebagai berikut: 1. Berkurangnya jumlah pengangguran (terbuka dan tertutup). 2. Menurunnya tingkat kecelakaan kerja akibat kecerobohan dalam melaksanakan pekerjaan. 3. Berkurangnya pemutusan hubungan kerja secara sepihak. 4. Meningkatnya kapasitas tenaga kerja siap pakai dalam mengikuti pendidikan dan pelatihan. 5. Meningkatnya pertumbuhan ekonomi daerah. 6. Meningkatnya pendapatan perkapita masyarakat. 7. Meningkatnya luas lahan produktif pertanian dan peningkatan jumlah produksi pertanian. 8. Meningkatnya jumlah produksi hasil tangkap ikan/budidaya. Tabel 4.11.1 Indikator Capaian Bidang Ketenagakerjaan No. Indikator Capaian 1. 2. 3. 4.
Tingkat Pengangguran (%)

Kondisi Sekarang (2006) 9.05 485.514 39.340 446.174 2007 7.88 495.000 37.000 446.000 2008 7.43 500.000 35.000 447.000

Tahun 2009 7.00 510.000 33.000 448.000 2010 6.50 520.000 31.000 449.000 2011 5.8 530.000 30.000 500.000 2012 5.0 547.640 29.360 518.280

Angkatan Kerja Pencari Kerja Penduduk Bekerja

150

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

VIII. Penutup Bagaimanapun upaya untuk mencapai pedesaan yang mandiri dengan berbagai keunggulan yang dimilikinya bukanlah hal mudah. Kegiatan penambangan yang menjadikan masyarakat menjadi sangat konsumtif dan serba instan menyebabkan nilai-nilai kekuatan lokal di desa mengalami degradasi. Sarana jalan yang terus dibangun tidak diimbangi oleh infrastruktur listrik sehingga arah pembangunan nampak berjalan timpang. Harus pula diakui bahwa pembentukan provinsi mempercepat proses pembangunan di desa, namun karena beberapa kendala, pembangunan perdesaan nampak belum berjalan optimal.

151

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

BAB 4.12 PENGURANGAN KETIMPANGAN PEMBANGUNAN WILAYAH

I.

Pengantar

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terdiri atas lebih kurang 256 buah pulau besar dan kecil. Dua buah pulau terbesar diantaranya adalah Pulau Bangka dan Pulau Belitung, selebihnya adalah pulau-pulau kecil yang berpenghuni dan tidak berpenghuni. Masalah terbesar yang dihadapi oleh provinsi ini adalah masalah listrik. Pembangunan terus berlangsung, sementara kekuatan daya PLN tidak mampu menutupi kebutuhan daya. Akibatnya, listrik menjadi masalah yang tidak terpecahkan. Boleh jadi salah satu hal yang menyebabkan tersendatnya kondisi investasi di daerah ini adalah karena masalah listrik. Masih banyak desa yang tidak menikmati aliran listrik dan terpaksa bertahan dengan listrik genset atau accu di malam hari. Transportasi juga menjadi masalah pelik di daerah-daerah pesisir dan kepulauan. Akses antar satu pulau dengan pulau lainnya masih sangat terbatas. Untuk menjangkau wilayah Bangka dan Belitung saja transportasi laut dan udara sangat periodik, apalagi menjangkau daerah-daerah terpencil di kepulauan. Sistem transortasi antar pulau masih memerlukan peningkatan besar. Oleh karena keterbatasan akses terhadap listrik dan antar desa, maka akses terhadap informasi dan perkembangan teknologi pun menjadi sebuah masalah besar bagi provinsi ini. Daya jangkau teknologi informasi seperti internet masih menjadi konsumsi sebagian kecil masyarakat di daerah perkotaan, selebihnya masyarakat di pedesaan justru banyak yang ‘gagap teknologi’. II. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah

Pada tahun 2004, terdapat 530,65 Km jalan yang sudah diaspal. Dari jumlah tersebut, 228,10 Km, sisanya dalam kondisi sedang dan rusak emcapai masing-masing 162,51 Km dan 140, 04 Km. Jalan provinsi sampai paa tahun 2005 mencapai sepanjang 519,17 Km dengan permukaan aspal. Jalan kabupaten pada tahun 2005 mencapai 2.439,26 Km.

152

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Dominasi terbesar terdapat pada permukaan jalan aspal yang mencapai 2.082,19 Km dibandingkan dengan permukaan kerikil yang hanya 95,07 Km, dan jalan tanah 262, 00 Km. Pada tahun 2005, kondisi baik untuk jalan kabupaten mencapai 990,79 Km, kondisi sedang mencapai 632,58 Km, dan sisanya dalam kondisi rusak dan rusak berat. Melihat keterkaitan dengan Pulau Belitung, akses dari dan menuju 2 ibukota, yaitu Tanjung Pandan dan Manggar, tersedia alternatif kapal cepat dengan lama 3-4 jam. Mengenai transportasi udara, terdapat 2 bandara di provinsi ini, yaitu Bandara Depati Amir di Pangkalpinang dan Bandara Hananjuddin di Pulau Belitung. Pada tahun 204, frekuensi kedatangan pesawat dengan total penumpang 237.944 orang datang dan sebanyak 241.894 orang yang berangkat. Mengenai listrik, sampai tahun 2004, di 7 kab/kota yang ada, masyarakat relatif sudah menikmati aliran listrik dengan sumber listrik dari 9 pembangkit listrik dengan daya terpasang mencapai 97.002 Kw atau meningkat 136 Kw dari daya terpasang pada tahun 2003. Jumlah kapasitas tersambung mencapai 137.634,89 an jumlah produksi mencapai 273.000,67 Kwh atau mengalami pertambahan produksi sebesar 16.035,07 Kwh dari jumlah produksi pada tahun 2003. Total jumlah pelanggan mencapai 136.683 atau bertambah 605 pelanggan dari tahun 2003. Pelanggan terbanyak untuk kebutuhan rumah tangga sebanyak 127.753 pelanggan, kemudian perusahan sebanyak 5.489 peanggan, saran ibadak sebanayk2.438 pelanggan, dan industri sebanyak 116 pelanggan. Kota Pangkalpinang mencatatkan diri sebagai daerah paling banyak membutuhkan listrik, yaitu 50.767 pelanggan dengan daya terpakai mecapai 54.121,13 KVA, sedangkan daerah ini tidak memiliki pembangkit listrik sehingga harus dipasok dari beberapa pembangkit yang ada di Kabupaten Bangka.

III.

Sasaran yang Ingin Dicapai wilayah tertinggal, termasuk wilayah perbatasan dengan suatu ‘sistem wilayah pengembangan ekonomi’ yang terintegrasi dan sinergis;

1. Terwujudnya percepatan pembangunan di wilayah-wilayah cepat tumbuh dan strategis,

153

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

2. Tewujudnya keseimbangan pertumbuhan pembangunan antar kota-kota metropolitan, besar, menengah, dan kecil secara hirarkis dalam suatu ‘sistem pembangunan perkotaan nasional’; 3. Terwujudnya perecepatan pembangunan kota-kota kecil dan menengah, terutama di luar Pulau Jawa, sehingga diharapkan dapat menjalankan perannya sebagai ‘motor penggerak’ pembangunan di wilayah-wilayah pengaruhnya dalam ‘suatu sistem wilayah pengembangan ekonomi’ termasuk dalam melayani kebutuhan masyarakat warga kotanya; 4. Terkendalinya pertumbuhan kota-kota besar dan metropolitan dalam suatu ‘sistem wilayah pembangunan metropolitan’ yang compact, nyaman, efisien dalam pengelolaan, serta mempertimbangkan pembangunan yang berkelanjutan; 5. Terwujudnya keterkaitan kegiatan ekonomi antar wilayah perkotaan dan perdesaan dalam suatu ‘sistem wilayah pengembangan ekonomi’ yang saling menguntungkan; 6. Terwujudnya keserasian pemanfaatan dan pengendalian ruang dalam suatu ‘sistem wilayah pembangunan yang berkelanjutan; 7. Terwujudnya sistem pengelolaan tanah yang efisien, efektif, serta terlaksananya penegakkan hukum hak atas tanah masyarakat dengan menerapkan prinsip-prinsip keadilan, transparansi, dan demokrasi. IV. Arah Kebijakan Dalam rangka mengatasi ketimpangan pembangunan wilayah, arah kebijakan adalah sebagai berikut: a. Percepatan pembangunan sarana dan prasarana di wilayah tertinggal, perbatasan, pulaupulau kecil dan terisolir, terutama yang terkait dengan pendidikan, kesehatan, kelautan dan perikanan, irigasi, dan transportasi. b. Pengembangan ekonomi wilayah baik di wilayah tertingal maupun wilayah perbatasan melalui, peningkatan akses petani dan pemgusaha mikro dan kecil kepada sumber permodalan dan pasar; peningkatan pengetahuan dan kemampuan kewirausahaan pengusaha mikro dan kecil; pemberian bantuan teknis dan pendampingan kepada pemerintah daerah, pelaku usaha, pengrajin, petani, dan nelayan; pemberdayaan ekonomi masyarakat pedesaan serta masyarakat pesisir khususnya perempuan, dan pemberdayan pembudidaya ikan; diversifikasi usaha tani untuk meningkkatkan pendapata, serta; bantuan teknis dan pendampingan teknologi kepada masyarakat dan UKM di wilayah perbatasan pedesaan dan pesisir.

154

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

c.

Peningkatan kualitas sarana dan prasarana dasar bidang transportasi, melalui beberapa kegiatan pokok: penyusunan kebijakan teknis dan kebijakan alokasi sumber daya organisasi untuk menjamin kelancaran akses, keselamatan, mobilitas orang, barang dan jasa guna memperlancara aliran investasi dan produksi untuk menciptakan keterkaitan ekonomi antar wilayah yang saling mendukung, baik melaluidarat, sungai, laut, dan udara.

V.

Pencapaian RPJMN di Daerah (2005 – 2007)

5.1 Upaya yang dilakukan hingga tahun 2007 1. 2. Percepatan penanganan kawasan lingkungan perumahan serta penciptaan lingkungan yang sehat dan produktif Pembangunan infrastruktur pendukung seperti jalan dan jembatan yang menghubungkan antar kabupaten, telekomunikasi dan informasi, dermaga, bandara, air bersih (PDAM), energi listrik (PLN) dan pasar 3. Mewujudkan grand design dalam upaya penciptaan daya saing global berlandaskan pemikiran geo-strategic, geo-economic, dan geo-politik serta konsepsi laut dan darat secara utuh dan komprehensif serta melibatkan partisipasi masyarakat dan swasta serta pemerintah yang terpadu dan bersinergi. 4. Fasilitasi penanganan pemeratan penduduk dan keterpaduan dan penyelarasan pembangunan secara merata dan terpadu antar sektor dan sub sektor di wilayah provinsi. 5. Pengingkatan infrastruktur dan suprastruktur kawasan-kawasan pengembangan investasi pada setiap entry port lokal dan regional, serta pengembangan kawasan perdagangan bebas (free trade zone) di kawasan-kawasan pengembangan lainnya. 6. Meningkatkan status Bandara Pangkalpinang untuk dapat mengakomodasi jalur penerbangan internasional dengan rute Singapura-Bangka-Bali (SIBABA) sekaligus memperkuat jalur penerbangan regional yang menghubungkan secara rutin JakartaBangka, Palembang. 7. Percepatan realisasi Belitung sebagai etalase kelalutan dan merintis konsep pengembangan Zona Karimata (Karimata Growth Zone) Jakarta-Belitung, Jakarta-Bangka-Belitung, Batam-Bangka-Belitung-

155

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

5.2

Posisi capaian hingga tahun 2007

1) Dilakukan koordinasi Rencana Tata Ruang Berbatasan Provinsi. 2) Dilakukan kooordinasi Penetapa Rencana Tata Ruang Wilayah Strategis dan Cepat Tumbuh. 3) Dilakukan koordinasi Pengendalian Kawasan Tertentu Terbatas. 4) Dilakukan Pengkajian dan Pengembangan Sistem Informasi Geografis (Geographical Information System). 5) Dilakukan koordnasi kerjasama pembangunan antar daerah 6) Dilakukan koordinasi, fasilitas, dan pelaporan Pelaksanaan Program Daerah Tertinggal (PDT) 7) Ada master plan Pembangunan Ekonomi Daerah 8) Terdapat penyusunan Incremental Capital Output Ratio (ICOR) 9) Terdapat penyusunan indeks pembangunan manusia (IPM) 10) Dilakukan Rapat Koordinasi Teknis Ketenagakerjaan dan Ketransmigrasian\ 11) Dilakukan pengerjaan Rencana Teknis Unit Pembinaan Transmigrasi (RT-UPT) 12) Pembangunan etalase kelautan dan perikanan meliputi rancangan implementasi dan analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) Sarana dan prasarana ekonomi 1) Ada 10 Pelabuhan yang relatif besar di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,yaitu Pelabuhan Muntok (Bangka Barat) sebagai pelabuhan penyeberangan kelas II, Pelabuhan Tanjung Kalian (Bangka Barat) sebagai pelabuhan penumpang regional, Pelabuhan Tanjung Gudang (Bangka) sebagai pelabuhan penumpan lokal, Pelabuhan Pangkalbalam (Pangkalpinang) sebagai pelabuhan penumpang regional, Pelabuhan Sungaiselan (Bangka Tengah) sebagai pelabuhan penumpang lokal, Pelabuhan Tanjung Pandan (Belitung) sebagai pelabuhan penumpang lokal, Pelabuhan Tanjung Batu (Belitung) sebagai pelabuhan penumpang lokal, Pelabuhan Tanjung Tu (Belitung) sebagai pelabuhan penyeberangan kelas II, Pelabuhan Manggar (Belitung Timur) sebagai pelabuhan penumpang regional, dan Pelabuhan Sadai (Bangka Selatan) sebagai pelabuhan penumpang lokal. 2) Terdapat 2 (dua) Bandar Udara di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yaitu Bandar Udara Depati Amir yang terletak di Pangkalpinang-Pulau Bangka dan Bandara H.AS. Hanandjoeddin di Pulau Belitung

156

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Penataan ruang nasional 1) Ada susunan RT RW Provinsi. 2) Ada susunan RTRW kabupaten/kota 3) Sengketa batas wilayah (Bangka vs Bangka Barat, Bangka-Bangka Tengah) 4) Kerjasama antar daerah: 5) Kerjasama antar daerah meliputi: Forum Gubernur se-Wilayah Sumatera, BengkuluLampung-Jambi-Sumsel-Babel (BELAJASUMBA), Forum Kerjasama Antar Pemerintahan Daerah Provinsi Kepulauan, Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI), Forum Selat Karimata (Kalimantan Barat-Kepri-Jambi-Babel) 5.3 1) 2) 3) 4) Permasalahan pencapaian sasaran Kurangnya penanganan dampak pembangunan perkotaan, penumpukan sampah, permukiman kumuh, pencemaran sungai akibat limbah domestik dan non domestik. Masih banyak kondisi jalan negara dan provinsi yang rusak berat, sedang, dan berat. Panjang saluran irigasi yang belum mampu mengairi seluruh persawahan. Sebagian besar kondisi dranaise perkotaan dan dranaise jalan negara dan provinsi kurang layak, serta fasilitas pelayaan pelabuhan udara maupun laut yang masih terbatas. VI. Rekomendasi Tindak Lanjut 6.1 Upaya yang akan dilakukan untuk mencapai sasaran Strategi yang dilaksanakan adalah: 1. Secara cepat dan tepat menangani keterbukaan wilayah yang masih terisolir, terpencil serta kumuh dan penanganan akibat bencana alam serta bencana akibat masalah sosial di masyarakat. 2. Percepatan penanganan kawasan lingkungan perumahan serta penciptaan lingkungann yang sehat dan produktif. 3. Pembangunan infrastruktur pendukung seperti jalan dan jembatan yang menghubungkan antar kabupaten seperti: telekomunikasi dan informasi, dermaga, bandara, air bersih (PDAM), energi listrik (PLN) dan pasar.

157

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

6.2 Perkiraan pencapaian sasaran Indikator pencapaian misi dalam meningkatkan kapabilitas infrastruktur dalam mendukung pembangunan ekonomi masyarakat dan penguatan kapasitas infrastruktur yang terkait dengan investasi adalah sebagai berikut: 1. Prosentase peningkatan jalan baik propinsi, kabupaten maupun di pedesaan. 2. Rasio peningkatan akses jalan, air bersih, listrik maupun komunikasi diseluruh wilayah dimulai dari pedesaan, kecamatan hingga ke pelosok-pelosok wilayah Kepulauan Bangka Belitung. 3. Meningkatnya prasarana dan sarana angkutan baik darat maupun laut. 4. Meningkatnya pembangunan jalan beraspal baru guna membuka daerah pesisir pantai yang ada di sepanjang pulau Bangka dan belitung sehingga aktivitas ekonomi tidak ada hambatan dan resiko biaya ekonomi tinggi. Tabel 4.12.1 Indikator Capaian Bidang Ketenagakerjaan Indikator Sosial Kondisi No. Indikator capaian Rumah Tangga kemiskinan(KK) Jumlah 2. Penduduk Miskin (jiwa) Indeks 3. pembangunan (IPM) 69,6 (2004) 69,75 70,00 70,50 71,00 71,50 72,00 137.132 130.276 123.763 177.572 111.694 106.110 100.805 sekarang (2006) 1. 33.719 2007 32.034 2008 30.433 Tahun 2009 28.912 2010 27.467 2011 26.094 2012 24.790

158

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

VII. Penutup Ketimpangan kewilayahan merupakan masalah yang cukup urgen di provinsi ini, terutama berkaitan dengan peta persebaran penduduk yang lebih dominan di Pulau Bangka. Secara umum, dapat diasumsikan bahwa terdapat perlakuan berbeda antara Bangka dan Belitung, begitu pula dengan pulau-pulau kecil disekitarnya. Belum ada angkutan lokal yang disediakan oleh pemerintah daerah menyulitkan transportasi antar pulau. Konsekuensinya, jalur komunikasi antar masyarakat menjadi terhambat. Meski demikian, pembangunan yang dilakukan dengan massif belakangan ini menunjukkan perkembangan menarik yang berkaitan dengan penataan bandar udara, penataan pelabuhan, sarana komunikasi, dan lain sebagainya.

159

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

BAB 4.13 PENINGKATAN AKSES MASYARAKAT TERHADAP PENDIDIKAN YANG BERKUALITAS

I.

Pengantar

Sebagai salah satu negara berkembang, Indonesia berusaha meningkatkan pemerataan pendidikan. Kebijakan pembangunan bidang pendidikan pun diarahkan pada lebih terciptanya pemerataan kesempatan dalam pendidikan, khususnya pada tingkat sekolah dasar. Wajib belajar pendidikan dasar 6 tahun (usia 7-12 tahun) yang dicanangkan sejak 1984 kemudian ditingkatkan menjadi 9 tahun (usia 7-15 tahun) merupakan puncak dari tekad pemerintah tersebut. Kebijakan wajardikdas 9 tahun merupakan upaya pemerintah dalam mengembangkan sumber daya manusia (SDM) di Indonesia. Wajar 9 tahun merupakan salah satu amanat UUD 45. Namun, demikian bila ditelaah lebih lanjut akan tampak bahwa konsep tersebut belum sepenuhnya sesuai dengan UUD 45. Hal ini terbukti masih banyaknya warga negara Indonesia yang tidak memiliki kemampuan mengakses pendidikan dasar. Terdapat 6,53% anak kelompok umur 7-12 tahun yang belum memasuki SD atau yang setara SD. Mereka adalah anak-anak yang kurang beruntung, gelandangan, miskin, dan tinggal di daerah terpencil. Sementara itu, angka putus sekolah (droup out) masih cukup tinggi, yaitu sekitar 1,2 juta siswa setiap tahunnya. Hal ini pada gilirannya akan menghambat tercapainya sasaran wajib belajar pada tingkat SMP, karena angkat partisipasi pada tingkat SMP dihitung berdasarkan kelompok umur, bukan berdasarkan angkat transisi yaitu angkat luluasan SD yang melanjutkan ke SMP. Karena itu, keberhasilan wajib belajar tingkat SMP tergantung pula kepada keberhasilan wajib belajar tingkat SD. Mengenai alasan ekonomi, survey yang dilakukan oleh BPS Pusat (1990) mengungkapkan lebih dari separuh orang tua yang anaknya putus sekolah atau tidak bersekolah adalah karena alasan biaya. Itu berlaku baik pada rentang 7-12 tahun (Usia SD), 13-15 tahun (SMP), maupun 16-18 tahun (SLTA).

160

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Kecenderungan ini hampir tidak ada bedanya antara di Jawa dan di luar Jawa, antara alasan untuk anak laki-laki maupun perempuan. Perbedaan antara alasan untuk tingkat SD tidak banyak berbeda dengan alasan orang tua untuk tingkat SMP dan SLTA. Untuk rentang umur 7-12 tahun, orang tua yang menjadikan biaya sebagai alasan tidak menyekolahkan anaknya bergerak antara 43-48%. Pada rentang umur 3-15 tahun adalah 48-52% di Jawa dan 56-57% di luar Jawa. Di tengah alasan ekonomi yang semakin memuncak untuk tidak menyekolahkan anak-anak pada jenjang pendidikan dasar 9 tahun, Pemerintah justru menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) lebih dari 100% pada Maret 2005. Kondisi ini jelas semakin membuat kesempatan keluarga miskin semakin terpuruk untuk dapat menyekolahkan putra-putri mereka hingga ke tingkat SMP. Kondisi inilah yang melatarbelakangi dikeluarkannya kebijakan Pemerintah tentang program BOS (Bantuan Operasional Sekolah) kepada sekolah-sekolah dasar dan menengah pertama. Program ini merupakan salah satu bentuk kebijakan pendidikan yang berkaitan dengan upaya peningkatan kuantitas, kualitas dan pemerataan pemberian layanan pendidikan. Kebijakan ini pula merupakan wujud dari komitmen dan tanggung jawab negara terhadap pendidikan warga negaranya. Di dalam UUD 1945, dijelaskan bahwa pendidikan merupakan hak setiap warga negara. Dengan kata lain pendidikan merupakan tanggung jawab pemerintah yang diberikan kepada setiap warga negara di Indonesia. Artinya pemerintah berkewajiban memberikan pendidikan yang memadai bagi warganya. Dalam hal ini, tidak ada diskriminasi bagi warga negara baik yang mampu maupun tidak mampu secara ekonomi untuk melaksanakan pendidikan. Dalam kondisi apapun seseorang harus melaksanakan kewajiban tersebut, sehingga pendidikan yang seharunya menjadi hak berubah menjadi tuntutan yang harus dipenuhi setiap warga negara. Maksud inilah yang tersirat dalam wajardikdas 9 tahun. Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas disebutkan bahwa: "Setiap warga negara yang berusia 7-15 tahun wajib mengikuti pendidikan dasar”. Konsekuensi dari amanat Undang-Undang tersebut, maka pemerintah wajib memberikan layanan pendidikan bagi seluruh peserta didik pada tingkat pendidikan dasar (SD/MI dan SMP/MTs serta satuan pendidikan sederajat).

161

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

II.

Kondisi Awal

Kendala yan dirasakan dalam pengembangan pendidikan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah kendala goegrafis yang berupa kepulauan yang memiliki potensi masalah ketersediaan aksesibilitas yang baik. Kondisi ini menyebabka proses belajar dan mengajar agak terhambat karena sekolah biasanya dibangun untuk beberapa daerah yang terkadang letaknya berjauhan. Sebaran bangunan sekolah formal, yaitu mulai dari tingkat sekolah taman kanan-kanan, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, dan memiliki 5 sekolah tinggi dan 5 akademi. Data 2004/2005 menunjukkan bahwa jumlah murid-murid taman kanak-kanan negeri dan swasta sebanyak 8.961 orang dengan jumlah guru sebanyak 428 orang dan jumlah sekolah sebanyak 141. Pada tahun 2004/2005, jumlah sekolah SD negeri sebanayk 742 dengan 6.291 guru dan 122.321 siswa. Untuk SD swasta, ada 39 sekolah, 296 guru, dan 7.506 siswa. Pada tingkat SMP, baik negeri maupun swasta, ada 126 buah sekolahg dengan 36.964 siswa dan 2.329 guru. Madrasah Tsanawiah negeri dan swasta mencapai 42 sekolah dengan 5.709 murid dan 697 orang guru. Untuk tingkat SMU dan kejuruan, ada 111 buah sekolah dengan 32.588 siswa dan 2.722 guru. Madrasah Aliyah Negeri sebanyak 4 sekolah dengan 120 sguru dan 1.202 siswa. Madrasah Aliyah Swasta sebanyak 11 sekolah dengan 266 guru dan 1.365 siswa. III. Sasaran yang Ingin Dicapai 1. Meningkatnya taraf pendidikan penduduk Indonesia melalui: a. Meningkatnya secara nyata persentase penduduk yang dapat menyelesaikan program wajib bejalar pendidikan dasar 9 tahun yang antara lain diukur dengan: o Meningkatnya angka partisipasi kasar (APK) jenjang SD termasuk SDLB, MI dan paket A sebesar 115,76 persen dengan jumlah siswa menjadi sekitar 27,68 juta dan APK jenjang SMP/MTs/Paket B sebesar 98,09 persen dengan jumlah siswa menjadi sebanyak 12,20 juta; o Meningkatnya angka melanjutkan lulusan SD termasuk SDLB, MI dan paket A ke jenjang SMP/MTs/Paket B menjadi 94,00 persen sehingga jumlah siswa baru kelas 1 dapat ditingkatkan dari 3,67 juta siswa pada tahun ajaran 2004/2005 menjadi 4,04 juta siswa pada tahun 2009/2010; o Meningkatnya angka penyelesaian pendidikan dengan menurunkan angka putus sekolah pada jenjang SD termasuk SDLB, MI dan paket A menjadi 2,06 persen dan jenjang SMP, MTs/Paket B menjadi 1,95 persen;

Sasaran yang ingin dicapai menurut RPJMN adalah sebagai berikut:

162

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

o

Menurunnya rata-rata lama penyelesaian pendidikan pada semua jenjang dengan menurunkan angka mengulang kelas pada jenjang SD/MI/SDLB/Paket A menjadi 1,63 persen dan jenjang SMP/MTs/Paket B menjadi 0,32 persen; Meningkatnya Angka Partisipasi Sekolah (APS) penduduk usia 7-12 tahun menjadi 99,57 persen dan penduduk usia 13-15 tahun menjadi 96,64 persen, sehingga anak 8-12 tahun yang bersekolah menjadi 23,81 juta orang dan anak usia 13-15 tahun yang bersekolah menjadi 12,02 juta orang;

o

b. Meningkatnya secara signfikan partisipasi penduduk yang mengikuti pendidikan menengah yang antara lain diukur dengan: o Meningkatnya APK jenjang pendidikan menengah (SMA/SMK/MA/Paket C) menjadi 69,34 persen dengan jumlah siswa menjadi sekitar 9,07 juta; o Meningkatnya angka melanjutkan lulusan SMP/MTs/Paket B ke jenjang pendidikan menengah menjadi 90,00 persen sehingga jumlah siswa baru kelas dapat ditingkatkan dari sekitar 2,36 juta siswa pada tahun ajaran 2004/2005 menjadi 3,30 juta siswa pada tahun ajaran 2009/2010 o Menurunnya rata-rata lama penyelesaian pendidikan dengan menurunkan angka mengulang kelas jenjang pendidikan menengah menjadi 0,19 persen; c. Meningkatnya secara signifikan partisipasi penduduk yang mengikuti pendidikan tinggi yang antara lain diukur dengan meningkatnya APK jenjang pendidikan tinggi menjadi 18,00 persen dengan jumlah mahasiswa menjadi sekitar 4,56 juta; d. Meningkatnya proporsi anak yang terlayani pada pendidikan anak usia dini; e. Menurunnya angka buta aksara penduduk berusia 15 tahun ke atas menjadi 5 persen pada tahun 2009; f. Meningkatnya akses orang dewasa untuk mendapatkan pendidikan kecakapan hidup; termasuk antara wilayah maju dan tertinggal, antara perkotaan dan perdesaan, antara daerah maju dan daerah tertinggal, antara penduduk kaya dan penduduk miskin, serta antara penduduk laki-laki dan perempuan. g. Meningkatnya keadilan dan kesetaraan pendidikan antar kelompok masyarakat

163

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

2. Meningkatnya kualitas pendidikan yang ditandai dengan: a. Tersedianya standard pendidikan nasional serta standart pelayanan minimal untuk tingkat kabupaten/kota; b. Meningkatnya proporsi pendidik pada jalur pendidikan formal maupun nonformal yang memiliki kualifikasi minimum dan sertifikasi sesuai dengan jenjang kewenangan mengajar; c. Meningkatnya proporsi satuan pendidikan baik negeri maupun swasta yang terakreditasi baik; d. Meningkatnya persentase siswa yang lulus ujian akhir pada setiap jenjang pendidikan; e. Meningkatnya minat baca penduduk Indonesia.

3. Meningkatnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan pembangunan yang antara lain diukur dengan: a. Meningkatnya efektivitas pendidikan kecakapan hidup pada semua jalur dan jenjang pendidikan; b. Meningkatnya hasil penelitian, pengembangan dan penciptaan ilmu pengetahuan dan teknologi oleh perguruan tinggi serta penyebarluasan dan penerapannya pada masyarakat; c. Efektifnya pelaksanaan manajemen berbasis sekolah; sebagai prioritas nasional yang tinggi didukung oleh terwujudnya sistem pembiayaan yang adil, efisien, efektif, transparan, dan akuntabel; e. Meningkatnya peran serta masyarakat dalam pembangunan pendidikan; f. Meningkatnya efektivitas pelaksanaan otonomi dan desentralisasi pendidikan termasuk otonomi keilmuan. d. Meningkatnya anggaran pendidikan baik yang bersumber dari APBN maupun APBD

164

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

4. Meningkatnya efektivitas dan efisiensi manajemen pelayanan pendidikan yang antara lain diukur dengan: a. Efektifnya pelaksanaan manajemen berbasis sekolah; b. Meningkatnya anggaran pendidikan baik yang bersumber dari APBN maupun APBD sebagai prioritas nasional yang tinggi didukung olehg terwujudnya sistem pembiayaan yang adil, efisien, efektif, transparan, dan akuntabel; c. Meningkatnya peran serta masyarakat dalam pembangunan pendidikan; termasuk otonomi keilmuan Sedangkan sasaran yang ingin dicapai oleh daerah adalah pembinaan dan peningkatan kualitas masyarakat diarahkan kepada peningkatan derajat pendidikan dan taraf keterampilan. IV. Arah Kebijakan Arah kebijakan pemerintah daerah dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan adalah sebagai berikut: a. Peningkatan kualitas pendidikan pada semua jalur dan jenjang pendidikan. b. Peningkatan manajemen pendidikan. c. Peningkatan akreditasilembaga pendidikan. d. Pemenuhan atas hak pendidikan dnegan peningkatan partisipasi pendidikan terutama pada jenjang pendidikan dasar baik jalur formal maupun nonformal; penguatan satuan-satuan pendidikan nonformal yang meliputi antara lain lembaga khusus, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan community college untuk dapat menyelenggarakan pendidikan kecaapan hidup dan program persiapan kerja (school to work program) dalam rangka meningkatkan kemampuan mata pencaharian penduduk. d. Meningkatnya efektivitas pelaksanaan otonomi dan desentralisasi pendidikan

165

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

V.

Pencapaian RPJMN di Daerah (2005 – 2007)

5.1. Upaya yang dilakukan hingga tahun 2007 1) Meningkatkan penyelenggaraan pendidikan mulai dari tingkat pendidikan usia dini (TK/TKA), umum (SD/SMP/SMA), kejuruan (SMK) dan keagamaan (MI,MTs, MA) sekaligus pembebasan uang SPP mulai dari tingkat TK/TPA sampai dengan SMP/MTs dalam rangka menerapkan wajib belajar 9 tahun, pemberian beasiswa kepada siswa berpestasi di semua strata pendidikan, serta meningkatkan kesejahteraan para pendidik (guru) dan petugas-petugas sekolah lainnya. 2) Pembangunan dan pengembangan pendidikan nonformal atau luar sekolah

5.2. Posisi capaian hingga tahun 2007 Taraf pendidikan penduduk: 1) Jumlah penduduk yang menyelesaikan pendidikan wajib belajar sembilan tahun adalah 207,432 dari total penduduk 1.074.775. 2) APK SD/MI 117,09 %, SMP/MTs 93,01 %, SMA/SMK/MA 69,19 %. 3) Angka partisipasi menurut gender Tingkat SD untuk L 118,83 % P 112,89, untuk tingkat SMP L 82,66 % dan P 88,75 %, dan untuk tingkat SMA L 59,31% dan P 67,75 %. 4) Angka melanjutkan sekolah SD sesar 62,65, SMP dan MTs sebesar 92,47, SMA/K/MA sebesar 83,81. 5) Angka partisipasi sekolah menurut umur 5-6 tahun 3,63 %, umur 7-12 tahun 11,59%, umur 13-15 tahun 4,96 %, umur 16-18 tahun 4,91 %. 6) Angka Partisipasi sekolah berdasarkan umur: 7-12 tahun 98,60 %, umur 13-15 tahun 85,98 %, umur 16-18 tahun 50,13 %. 7) Angka putus sekolah SD/MI 0,68, SMP dan MTs 2,03, SM/MA 2,11. 8) Angka mengulang sebesar untuk tingkat SD dan MI 9,34, SMP dan MTs 0,87, SM/MA 0,93 9) Angka buta aksara 5719 dari 1.074.775.

166

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Taraf Kualitas Pendidikan: 1) Untuk tingkat TK, jumlah sekolah 184, jumlah siswa 12.266, jumlah guru 763 orang. Untuk tingkat SD, jumlah sekolah 778, jumlah siswa 140,268, dan jumlah guru 7.771. Untuk tingkat SMP, jumlah sekolah174, jumlah siswa 40.286, dan jumlah guru 2.602. Untuk tingkat SMA jumlah sekolah 65, jumlah Siswa 19.526, jumlah guru 1.471. Untuk tingkat SMK, jumlah sekolah 39, jumlah siswa .11,580, dan jumlah guru 1.047. Untuk tingkat perguruan tinggi, jumlah perguruan tinggi 14, jumlah mahasiswa 8.844, dan jumlah dosen 548. Untuk PLB, jumlah sekolah 7, jumlah siswa 420, dan jumlah guru 62 orang. 2) Angka lulusan untuk tingkat SD dan MI 99,49, SMP dan MTs 82,87, dan SM/MA 77,90. Relevansi pendidikan dengan kebutuhan pembangunan: 1) Tahun 2007 dilakukan banyak penelitian oleh berbagai lembaga pendidikan tinggi. Universitas Bangka Belitung sebagai Perguruan Tinggi terbesar di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menghasilkan jumlah penelitian sebanyak...judul penelitian yang merupakan penelitian mandiri, penelitian mahasiswa, penelitian kelompok, baik atas biaya mandiri maupun atas biaya sponsorship. 2) Dana yang dialokasikan untuk pembangunan pendidikan, khususnya Dinas Pendidikan dari APBD adalah sebesar Rp. 21.944.868.210 dan dana Blockgrand melalui Sekretariat Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ke Dinas Pendidikan Kab/Kota sebesar Rp. 47.483.390.000 dan untuk memenuhi komitmen perjanjian tersebut, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah menyelesaikan sebesar 25%. 5.3. Permasalahan pencapaian sasaran 1. 2. 3. 4. 5. Masih terbatasnya sarana transportasi bagi pendidikan di daerah-daerah terpencil dan sukar dijangkau Minimnya alokasi dana bagi proses penyelenggaraan pendidikan Persepsi masyarakat yang masih melihat rendah urgensi pendidikan sebagai investasi jangka panjang Kemiskinan bagi masyarakat tertentu menyebabkan banyak anak yang lebih senang bekerja ketimbang bersekolah Terbatasnya program insentif guru

167

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

VI. Rekomendasi Tindak Lanjut 6.1 Upaya yang akan dilakukan untuk mencapai sasaran 1. Meningkatkan penyelenggaraan sektor pendidikan mulai dari tingkat pendidikan usia dini (TK/TKA), umum (SD,SMP.SMA), kejuruan (SMK) dan keagamaan (MI, MTs, MA) sekaligus pembebasan uang SPP mulai dari tingkat TK/TPA sampai dengan tingkat SMP/MTs dalam rangka menerapkan Wajib Belajar 9 Tahun, 2. Pemberian beasiswa kepada siswa berprestasi di semua strata pendidikan, dan 3. Meningkatkan kesejahteraan para pendidik (guru) dan petugas-petugas sekolah lainnya. 6.2 Perkiraan pencapaian sasaran Indikator pencapaian pelaksanaan misi dalam meningkatkan kualitas sumber daya insani masyarakat adalah sebagai berikut: 1. Meningkatnya Angka Partisipasi Kasar (APK) : • • • • • • SD/MI dari 127,67% menjadi 129% (kurun 5 tahun) SMP/MTs dari 87,49% menjadi 95,36% (kurun 5 tahun) MA/SMK/MA dari 65,65% menjadi 75,50% (kurun 5 tahun) SD/MI dari 93,24% menjadi 95,10% (kurun 5 tahun) SMP/MTs dari 57,37% menjadi 62,53% (kurun 5 tahun) MA/SMK/MA dari 50,60% menjadi 58,19% (kurun 5 tahun)

2. Meningkatnya Angka Partisipasi Murni (APM) :

3. Pembebasan dana pendidikan mulai dari TK/TPA, SD/MI, SMP/MTs dan SMA/SMK/MA. 4. Ditargetkan setiap tamatan SMP/MTs harus bias berbahasa Inggris/Arab dan mahir salah bahasa asing (Inggris, Arab dan Mandarin) bagi tamatan SMA/SMK/MA. 5. Minimal 95% (7 – 15 tahun) mendapat layanan pendidikan dasar yang memenuhi standar pelayanan minimal (SPM). 6. Terciptanya kesetaraan dan kesempatan yang sama untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. 7. Meningkatnya mutu pendidikan dengan peningkatan hasil belajar siswa, tenaga kependidikan/kualifikasi dan sarana/media/fasilitas belajar.

168

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Indikator No. 1. Capaian
APK SD/MI APK SMP/MTs APK SMA/MA/SMK

Tabel 4.13.1 Indikator Capaian Bidang Pendidikan Kondisi Tahun Sekarang (2006) 114,83 91,35 67,97 92,03 59,16 44,03 98,60 85,98 50,13 0,91 2,33 2007 115,00 88,50 65,90 93,70 60,00 46,00 98,70 80,00 50,50 0,90 2,30 2008 118,00 89,75 68,50 93,90 60,30 49,00 98,90 83,00 60,00 0,85 2,75 2009 1200,00 91,00 70,00 94,20 60,70 51,50 99,10 86,00 65,50 0,80 2,70 2010 123,00 92,50 72,00 94,50 61,00 53,50 99,30 90,00 70,00 0,70 2,65 2011 126,00 93,75 73,50 94,80 62,00 56,50 99,60 94,00 75,00 0,65 2,60 2012 129,00 95,36 75,50 95,10 62,53 58,19 100 98,00 80,00 0,60 1,50

2.

APM SD/MI APM SMP/MTs APM SMA/MA/SMK

3.

Usia 7-12 Usia 13-15 Usia 16-18

4.

Angka Drop Out (DO) SD/MI Angka Drop Out (DO) SMP/MTs Angka Drop Out (DO) SMA/MA/SMK 2,22 2,00 1,80 1,70 1,65 1,60 1,50

VII. Penutup Pendidikan adalah suatu hal mutlak yang harus dipenuhi dalam upaya untuk peningkatan taraf hidup bangsa Indonesia agar tidak sampai tertinggal dengan bangsa lain. Karena itu, sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah dan berkesinambungan.

169

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Pendidikan sebagaimana yang dijelaskan dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional 1 adalah “usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan poses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara”. Dari pengertian di atas, dapat diambil beberapa poin penting bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana. Sadar berarti apa yang dilakukan dengan penuh kesadaran mengingat pendidikan itu penting. Terencana artinya upaya tersebut dirancang dengan menggunakan pola manajemen yang matang. Pada dasarnya, pendidikan di Provinsi Kepulauan Bangka sudah berlangsung cukup baik. Beberapa kendala yang ada merupakan cerminan dari usia provinsi ini yang terbilang muda. Ke depan diperlukan kesadaran dari pemerintah, peserta didik, pendidik, dan orang tua untuk mewujudkan pendidikan yang terencana, optimal, dan berhasil guna.

1

UU No.20 Tahun 2003, Pasal 1, ayat 1, Citra Umbara, Bandung, hlm.3

170

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

BAB 4.14 PENINGKATAN AKSES MASYARAKAT TERHADAP KESEHATAN YANG BERKUALITAS

I.

Pengantar

Sektor kesehatan adalah faktor penting dalam sebuah kehidupan masyarakat. Bahkan masalah kesehatan menjadi masalah yang tidak pernah usang untuk dibicarakan lantaran menjadi faktor paling sensitif dalam kehidupan masyarakat. ‘Rakyat sehat, negara kuat’, demikianlah kira-kira misi yang diemban oleh pemerintah pada masa ini. Itulah sebabnya sektor kesehatan menjadi sektor prioritas bagi pemerintahan pada periode ini. Bahkan tidak hanya itu, sektor kesehatan pun menjadi ‘jualan’ produk kampanye hampir setiap kandidat yang sedang berkompetisi dalam hajatan Pemilu. Meski demikian, sektor kesehatan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tidak berarti tanpa masalah. Terbatasnya fasilitas kesehatan menyebabkan akses pada pelayanan kesehatan berkualitas tinggi menjadi sulit tercapai. Kendala transportasi juga menjadi konsekuensi daerah kepulauan yang menghambat akses layanan kesehatan secara merata. II. Kondisi Awal

Salah satu persoalan besar bagi masyarakat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah lebih diperhatikannya sektor pertumbuhan ekonomi ketimbang sektor kesehatan. Hal ini mengakibatkan timbulnya kelalaian masyarakat dan pada akhirnya berimplikasi pada lambatnya proses pembangunan daerah. Pemerintah daerah perlu untuk memperbaiki secara serius sektor kesehatan.

171

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiki rumah sakit sebanyak 6 unit terbaik menjadi 3 rumah sakti pemerintah, 2 rumah sakit swasta, dan 1 rumah sakit jiwa. Puskesmas sebanyak 192 unit terbagi dalam puskesmas 47 unit dan puskesmas pembantu 148 unit. Dari fasilitas kesehatan tersebut, terdapat tenaga medis yang terdiri atas 130 doketer umum, 32 dokter ahli, 31 dokter gigi, 391 orang perawat, dan 292 orang bidan. Sarana penunjang kesehatan seperti apotek dan pedagang farmasi di provinsi sebanyak 27 apotek dan 5 pedagang besar. Di bidang program Keluarga Berencana (KB) pada tahun 2004 tercatat 23.377 akseptor. Alat kontrasepsi yang paling banyak digunakan oleh para askpetor KB baru adalah suntikan yang mencapai 56,62 % dan Pil KB sebesar 33,42 %, dan sisanya menggunakan alat kontrasepsi lainnya. III. Sasaran yang Ingin Dicapai

Sasaran pembangunan kesehatan pada akhir tahun 2009 adalah meningkatnya derajat kesehatan masyarakat melalui peningkatan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang antara lain tercermin dari indikator dampak (impact), yaitu: 1. Meningkatnya umur harapan hidup dari 66,2 tahun menjadi 70,6 tahun; 2. Menurunnya angka kematian bayi dari 35 menjadi 26 per seribu kelahiran hidup; 3. Menurunnya angka kematian ibu melahirkan dari 307 menjadi 226 per seratus ribu kelahiran hidup; dan 4. Menurunnya prevalensi gizi kurang pada anak balita dari 25,8 persen menjadi 20,00 persen IV. Arah Kebijakan Arah kebijakan pemerintah daerah dalam bidang kesehatan adalah sebagai berikut: a. Melindungi masyarakat dari penggunaan alat-alat kesehatan yang tidak memenuhi persyaratan mutu dan keamanan.

172

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

b. Peningkatan pelayanan kesehatan dasar yang mencakup promosi kesehatan, kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, perbaikan gizi, kesehatan lingkungan, dan pengobatan dasar c. Peningkatan pelayanan kesehatan yang merata, terjangkau, bermutu sesuai kebutuhan dan kemampuan masyarakat V. Pencapaian RPJMN di Daerah (2005 – 2007)

5.1. Upaya yang dilakukan hingga tahun 2007 1. Meningkatkan pembangunan sektor kesehatan dan keluarga berencana. 2. Menerapkan Jaminan Kesehatan Serumpun Sebalai (KSS) sebagai pengembangan dari Jaminan Kesehatan Sepintu Sedulang (di Kabupaten Bangka) kepada seluruh masyarakat, 3. Menurunkan angka kelahiran dan kematian ibu pada saat melahirkan, dan 4. Meningkatkan kesejahteraan tenaga medis dan para medis terutama yang bertugas di wilayah pedesaan 5.2. Posisi capaian hingga tahun 2007 Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiiki rumah sakit sebanyak 6 unit terbaik menjadi 3 rumah sakti pemerintah, 2 rumah sakit swasta, dan 1 rumah sakit jiwa. Puskesmas sebanyak 192 unit terbagi dalam puskesmas 47 unit dan puskesmas pembantu 148 unit. Dari fasilitas kesehatan tersebut, terdapat tenaga medis yang terdiri atas 130 dokter umum, 32 dokter ahli, 31 dokter gigi, 391 orang perawat, dan 292 orang bidan. Sarana penunjang kesehatan seperti apotek dan pedagang farmasi di provinsi sebanyak 27 apotek dan 5 pedagang besar. Di bidang program Keluarga Berencana (KB) tercatat 23.377 akseptor. Alat kontrasepsi yang paling banyak digunakan oleh para askpetor KB baru adalah suntikan yang mencapai 56,62 % dan Pil KB sebesar 33,42 %, dan sisanya menggunakan alat kontrasepsi lainnya.

173

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Derajat kesehatan masyarakat: Angka harapan hidup 68 tahun o o o Angka kematian bayi 32 per 1000 kelahiran bayi Angka kematian ibu melahirkan 138 per 100.000 kelahiran Prevalensi gizi kurang pada aak balita 7,9 %

5.3. Permasalahan pencapaian sasaran Pada dasarnya perkembangan derajat kesehatan penduduk Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengalami peningkatan, namun disparitas derajat kesehatan antar wilayah dan kelompok sosial ekonomi penduduk masih tinggi. Provinsi Kepulauan juga menghadapi beban ganda dalam pembangunan kesehatan. Masih dihadapkan pada meningkatnya penyakit menular, sementara penyakit tidak menular atau degeneratif mulai meningkat, di samping juga timbul berbagai penyakit baru. Boleh jadi permasalahannya terjadi karena program pemberdayaan masyarakat masih menempatkan masyarakat sebagai objek, bukan subjek. Peran serta masyarakat dalam pembangunan kesehatan, yang meliputi pengabdian masyarakat, pelaksanaan advokasi kesehatan, dan pelaksanaan pengawasan sosial masih kurang dan bahkan cenderung menurun. Upaya untuk memeratakan keterjangkauan pelayanan kesehatan juga belum optimal. Perhatian pada masyarakat miskin, rentan dan beresiko tinggi serta penanganan masalah kesehatan belum memadai. Kondisi ini juga disebabkan karena pemerataan tenaga kesehatan belum berjalan dengan baik. Peran dinas kesehatan juga masih sangat terbatas. Keterbatasan tersebut terutama dalam penanganan penduduk miskin, promosi kesehatan, penanggulangan gizi buruk, penanggulangan masalah kesehatan akibat bencana, imunisasi, dan pendayagunaan tenaga kesehatan.

174

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

VI. Rekomendasi Tindak Lanjut 6.1 Upaya yang akan dilakukan untuk mencapai sasaran Meningkatkan pembangunan sektor kesehatan dan keluarga berencana, sekaligus menerapkan jaminan kesehatan Serumpun Sebalai (JKSS) sebagai pengembangan dari Jaminan Kesehatan Sepintu Sedulang (di kabupaten bangka) Kepada seluruh masyarakat, menurunkan angka kelahiran dan kematian ibu pada saat melahirkan, dan meningkatkan kesejahteraan tenaga medis dan para medis terutama yang bertugas di wilayah pedesaan. 6.2 Perkiraan pencapaian sasaran Capaian sasaran berikut ini ditargetkan sampai 2012: 1. Tersedianya pangan yang bermutu dan terjangkau, serta meningkatnya status gizi masyarakat, terutama ibu, bayi dan anak balita. 2. Meningkatnya umur harapan hidup dari 68 tahun (2006) menjadi lebih dari 72,4 tahun (2012). 3. Menurunnnya angka kematian bayi dari 32 menjadi 23 per 1000 kelahiran hidup. 4. Menurunnya angka kematian ibu melahirkan dari 138 menjadi 98 per 100.000 kelahiran hidup. 5. Menurunnya prevalensi gizi kurang pada anak balita dari 7,9% menjadi 2,1% (2012). 6. Meningkatnya angka cangkupan persalinan oleh tenaga kesehatan dari 90,06% (2007) menjadi 100% (2012). 7. Menurunnya angka AMI (Annual Malaria Insidens) dari 55,5 menjadi < 30 permil. 8. Dalam penggalian dana guna menjamin ketersediaan sumberdaya pembiayaan kesehatan bersumber Pemerintah Provinsi dapat diupayakan lebih 15% dari APBD. 9. Meningkatnya kerjasama lintas sektoral, di mana dinas-dinas terkait mengalokasikan 2-5% dari dana pembangunannya untuk program yang bermuara ke sector kesehatan. 10. Meningkatnya kapasitas pembiayaan kesehatan:

175

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

a. Pembangunan Kesehatan memperoleh prioritas pembangunan pemerintah provinsi dan kabupaten/kota. (>15% dari APBD) b. Anggaran Kesehatan Pemerintah daerah (Provinsi dan kab/Kota) diutamakan untuk upaya pencegahan dan promosi kesehatan. c. Terciptanya sistem jaminan pembiayaan kesehatan bagi seluruh rakyat Bangka Belitung (Jaminan kesehatan Serumpun Sebalai=JKSS). 11. Meningkatnya kesadaran masyarakat untuk hidup sehat • • • • • • Seluruh desa menjadi DESA SIAGA Seluruh masyarakat berprilaku hidup bersih dan sehat Seluruh keluarga sadar gizi. Setiap orang (miskin, rentan, mampu) mendapat pelayanan kesehatan dasar yang bermutu dan gratis. Setiap bayi, anak, ibu hamil dan kelompok masyarakat resiko tinggi terlindungi dari penyakit. Di setiap desa tersedia sumber daya manusia yang kompeten. (Pengangkatan Dokter PTT daerah, bidan PTT daerah, Petugas gizi PTT daerah dan Sanitarian PTT daerah, Paramedis PTT daerah yang dibiayai Provinsi). • • Setiap puskesmas dan jaringannya dapat menjangkau dan dijangkau seluruh masyarakat di wilayah kerjanya. Pelayanan kesehatan di setiap rumah sakit, puskesmas dan jaringan memenuhi standar mutu. (Provinsi merekrut dokter spesialis dengan insentif yang memadai, menyekolahkan dokter umum menjadi dokter spesialis). 13. Meningkatnya sistem surveilans, monitoring dan informasi kesehatan. • • • • Setiap kejadian penyakit terlapor secara tepat. Setiap kejadian luar Biasa (KLB) dan wabah penyakit tertanggulangi secara tepat dan tepat sehingga tidak menimbulkan dampak kesehatan masyarakat. Terkendalinya pencemaran lingkungan sesuai dengan standar kesehatan Berfungsinya sistem informasi kesehatan yang evidence based di seluruh Kabupaten/Kota di Bangka Belitung.

12. Meningkatnya akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas

176

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

14. Meningkatnya persentase keluarga menghuni rumah yang memenuhi syarat kesehatan menjadi 100%. • • • Persentase keluarga menggunakan air bersih menjadi 100%, Persentase keluarga menggunakan jamban memenuhi syarat kesehatan menjadi 100% dan Persentase tempat-tempat umum (TTU) yang memenuhi syarat kesehatan menjadi 100%. 15. Penyediaan SDM kesehatan yang didistribusikan secara adil dan merata di seluruh Bangka Belitung serta dimanfaatkan secara berrhasil guna dan berdaya guna. • • • • • • • • • Rasio dokter dengan penduduk 24.100.000 Rasio Bidan dengan penduduk 40.100.000 Rasio perawat dengan penduduk 158.100.000 Puskesmas yang memiliki tenaga dokter: 100% Pustu yang memiliki tenaga dokter 9:100.000 Rasio apoteker dengan penduduk 35:100.000 Rasio sarjana Kesmas dengan penduduk Tersedianya satu orang tenaga Bidan di setiap Desa Siaga Tersedia satu orang tenaga gizi di setiap Desa Siaga.

16. Tersedianya biaya gratis bagi pengobatan di rumah sakit dan puskesmas secara bertahap.

177

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Tabel 4.14.1 Indikator Capaian Bidang Kesehatan Indikator Kesehatan No. 1. 2. Indikator capaian Angka Harapan Hidup (tahun) Angkatan Kematian Bayi per 1.000 3. Angkatan Kematian Ibu melahirkan per 100.000 Kelahiran 4. Angkatan Kesakitan Malaria Per 1.000 5. Angka Bantuan Persalinan oleh Tenaga kesehatan 6. Prevalensi Gizi Kurang pada Balita 7. Rasio Dokter Umum Per 100.000 penduduk 19,5 19,8 20 21 22 23 24 7,9 7,7 7,0 6,3 5,1 3,5 2,1 84,4 85 86 88 90 90,5 91 55,5 50 47 42,7 36,8 33 30 138 133 128 122 115 109 98 32 31 30 28 27 25 23 Kondisi sekarang (2006) 68,0 2007 68,2 2008 68,7 Tahun 2009 69,5 2010 71,2 2011 71,8 2012 72,4

178

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

VII. Penutup Askes masyarakat terhadap sektor kesehatan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada dasarnya sudah cukup baik dan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Namun akses terhadap layanan tersebut belumlah merata karena sebagai daerah kepulauan, masih banyak daerah yang secara teknis susah untuk mendapatkan akses dalam dunia kesehatan. Pada sisi lain, ternyata masyarakat juga masih dikungkung oleh paradigma berpikir yang bahwa kesehatan adalah hal yang tidak begitu urgen untuk dijaga. Masyarakat masih berpikir bahwa sehat adalah masalah yang muncul setelah sakit, bukan sebagai pola yang rutin untuk terus di jaga. Pada beberapa hal, peran dinas kesehatan belum optimal dalam mensosialisasikan pola hidup sehat dengan berbagai strategi.

179

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

BAB 4.15 PENINGKATAN PERLINDUNGAN DAN KESEJAHTERAAN SOSIAL

I.

Pengantar

Adanya peningkatan perlindungan dan kesejahteraan sosial merupakan upaya perwujudan dari sila kelima Pancasila, yaitu Kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Artinya, kesejahteraan nasional harus menjadi agenda utama dalam proses pembangunan bangsa ini, karena dengan meratanya kesejahteraan masyarakat diseluruh wilayah Indonesia dapat mendukung pembangunan nasional. Namun upaya tersebut tidaklah semudah yang diharapkan, karena banyak faktor dan kondisi yang menjadi menghambat peningkatan perlindungan dan kesejahteraan sosial. Diantaranya permasalahan pertumbuhan penduduk yang masih besar, tingkat pendidikan yang masih rendah, sulitnya pertumbuhan ekonomi, sampai dengan kenaikan harga BBM. Permasalahan-permasalahan tersebut menyebabkan semakin banyaknya penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS), meningkatnya korban pengguna NARKOBA dan tindak kekerasan dalam rumah tangga. Hal ini perlu perhatian yang serius dari semua pihak, tidak hanya pemerintah tetapi juga pihak swasta dan masyarakat. Karena masalah kesejahteraan sosial merupakan tanggungjawab kita bersama. Upaya peningkatan perlindungan dan kesejahteraan sosial juga menjadi agenda dalam pembangunan di provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Sulitnya menurunkan tingkat PMKS di daerah ini, selain karena pengaruh dari kebijakan nasional, seperti kenaikan harga BBM, ditambah pula dengan kebijakan ekonomi daerah yang belum mampu secara maksimal menumbuhkan kegiatan perekonomian, misalnya membuka sebanyak-banyaknya lapangan kerja dan memaksimalkan peran Balai Latihan Kerja, sehingga selain mengundang investor, juga berusaha untuk membuka lapangan kerja sendiri. Disamping masalah pengentasan kemiskinan, bencana sosial, pemukiman kumuh, meningkatnya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan pengguna narkoba juga menjadi merupakan permasalahan sosial di provinsi ini.

180

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

II. Kondisi Awal RPJMN di tingkat Daerah Ada beberapa permasalahan di provinsi Kepualuan Bangka Belitung berkaitan dengan arah kebijakan dalam RPJMN berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan sosial. Permasalahan tersebut diantaranya masalah pengangguran, masih rendahnya mutu SDM, minimnya lapangan pekerjaan dan lain-lain. Permasalahan kemiskinan menjadi sulit diatasi karena masih rendahnya mutu pendidikan dan mutu tenaga kerja yang tidak mampu baersaing, sehingga mengakibatkan tidak diterima dilapangan kerja yang menuntut kemampuan SDM yang berkualitas, yang berujung pada banyaknya pengangguran dan kemiskinan. Disamping itu ada pula permasalahan keluarga yang masih tinggal dirumah tidak layak huni, masih adanya daerah kumuh, komunitas adat terpencil, terjadinya tindak kekerasan, adanya korban pengguna napza, anak nakal, serta penyandang cacat, anak cacat dan lanjut usia. Permasalahan pengangguran diantaranya disebabkan oleh kecenderungan penurunan lapangan kerja formal dalam beberapa tahun terakhir. Penurunan ini menjadi penyebab meningkatnya jumlah pekerja informal. Padahal kebanyakan pekerja informal yang bekerja pada lepangan kerja informal bekerja pada sektor yang kurang produktif. Akibatnya upah riil yang diterima relative rendah dan akan mempengaruhi tingkat kesejahteraannya seperti pemenuhan pangan, sandang dan papan. Selain itu, membesarnya lapangan kerja informal telah menyebabkan perbedaan upah yang semakin lebar antara pekerja formal dan informal.

III. Sasaran Yang Ingin di Capai Sasaran Pembangunan RPJMN Tahun 2004-2009 1. Meningkatkan aksesibilitas penyandang masalah kesejahteraan sosial terhadap pelayanan sosial dasar 2. Meningkatnya kualitas hidup penyandang masalah kesejahteraan sosial sesuai harkat dan martabat kemanusiaan 3. Meningkatnya kemampuan dan kepedulian sosial masyarakat dalam pelayanan kesejahteraan sosial secara melembaga dan berkelanjutan.

181

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

4. Meningkatnya ketahanan sosial individu, keluarga dan komunitas masyarakat dalam mencegah dan menangani permasalahan kesejahteraan sosial 5. Tersusunnya sistem perlindungan sosial nasional 6. Meningkatnya keserasian kebijakan kesejahteraan sosial Sasaran RPJMD Sasaran penanggulanga kemiskinan adalah : mengurangi jumlah penduduk miskin dan mewujudkan percepatan pembangunan ekonomi di wilayah-wilayah yang masih tertinggal termasuk wilayah perbatasan, serta pulau-pulau kecil terisolir IV. Arah Kebijakan 4.1 Arah Kebijakan RPJMN Tahun 2004-2009 1. Meningkatkan kualitas pelayanan dan bantuan dasar kesejahteraan sosial bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial 2. Meningkatkan pemberdayaan fakir miskin penyandang cacat dan kelompok rentan sosial lainnya 3. Meningkatkan kualitas hidup bagi PMKS terhadap pelayanan sosial dasar, fasilitas pelayanan publik dan jaminan kesejahteraan sosial. 4. Mengembangkan dan menyesarikan kebijakan untuk penanganan masalah-masalah strategis yang menyangkut masalah kesejahteraan sosial 5. Memperkuat ketahanan sosial masyarakat berlandaskan prinsip kemitraan dan nilai-nilai sosial budaya bangsa 6. mengembangkan sistem perlindungan sosial nasional 7. Meningkatkan kualitas manajeman pelayanan kesejahteraan sosial dalam mendayagunakan sumber-sumber kesejahteraan sosial 8. Meningkatkan pelayanan bagi korban bencana alam dan sosial 9. Meningkatkan prakarsa dan peran aktif masyarakat termasuk masyarakat mampu, dunia usaha, perguruan tinggi, dan organisasi sosial (orsos)/LSM dalam penyelenggaraan pembangunan kesejahteraan sosial secara terpadu dan berkelanjutan.

182

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

4.2 Arah Kebijakan RPJMD 1. Pemenuhan hak-hak dasar masyarakat miskin, yang secara bertahap pada tahun 2007 dengan kegiatan pokok : a. pemberian bantuan dan penyantunan untuk masyarakat miskin dan langkah-langkah untuk mengatasi penanggulangan bencana alam b. pemenuhan hak atas pelayanan kesehatan dilakukan melalui peningkatan pelayanan kesehatan dasar c. pemenuhan hak atas pendidikan dengan peningkatan partisipasi pendidikan terutama pada jenjang pendidikan dasar, baik jalur formal maupun non formal, serta penguatan satuan-satuan pendidikan non formal. d. Pemenuhan hak atas pekerjaan dan usaha melalui peningkatan kesempatan dalam berusaha dengan penyediaan kemudahan dan pembinaan dalam memulai usaha, perlindungan usaha, wirausaha baru, dan penyediaan skim-skim pembiayaan alternatif untuk usaha e. Pemenuhan hak atas perumahan melalui penyediaan rumah baru layak huni bagi masyarakat berpenghasilan rendah, prasaranan dan sarana dasar bagi kawasan rumah sederhana dan rumah sangat sederhana, serta peningkatan akses masyarakat miskin terhadap kredit mikro untuk pembangunan dan perbaikan rumah berbasis swadaya masyarakat f. Pemenuhan hak atas air bersih dan sanitasi melalui pemenuhan kebutuhan air baku untuk kebutuhan pokok rumah tangga diwilayah rawan defisit air dan wilayah tertinggal g. Pemenuhan hak atas sumber daya alam dan lingkungan hidup melalui pengelolaan sumber daya alam yang berbasis masyarakat h. Pemenuhan hak atas rasa aman melalui : (i) peningkatan pembinaan, pelayanan dan perlindungan sosial dan hukum bagi korban eksploitasi, perdagangan perempuan dan anak dan kekerasan, (ii) pemberdayaan keluarga miskin dan pemberian bantuan modal usaha, (iii) fasilitasi upaya perlindungan perempuan terhadap kekerasan dan di daerah konflik dan bencana dan (iv) penyusunan kebijakan dalam rangka pemenuhan hak-hak anak

183

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

2. Pengembangan wilayah tertinggal, perbatasan, pulau-pulau kecil dan terisolir untuk mengurangi kesenjangan, dilakukan dengan kegiatan : a. Percepatan pembangunan prasarana dan sarana di wilayah tertinggal, perbatasan, pulau-pulau kecil dan terisolir, terutama yang terkait dengan pendidikan, kesehatan, kelautan dan perikanan, irigasi dan transportasi b. Pengembangan ekonomi wilayah, baik diwilayah tertinggal maupun wilayah perbatasan SKPD yang melaksanakan prioritas pembangunan penanggulangan kemiskinan dialokasikan dana antara lain : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Badan Pemberdayaan Masyarakat, Badan Kesbang dan Linmas, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Kesehatan, Dinas PU, Dinas Perhubungan dan Pariwisata, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Perindagkop, Dinas Kesejahteraan Sosial, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Biro Kesejahteraan Sosial, Biro Pemerintahan dan Biro Ekonomi dan Pembangunan

V.

Pencapaian RPJMN di Daerah (2005 – 2007)

5.1 Upaya yang Dilakukan Hingga Tahun 2007 1. Program pencegahan dini dan penanggulangan korban bencana alam 2. Program keserasian kebijakan peningkatan kualitas anak dan perempuan 3. Program penguatan kelembagaan pengarusutamakan gender dan anak 4. Program peningkatan kualitas hidup dan perlindungan perempuan 5. Program peningkatan peran serta dan kesetaraan gender dalam pembangunan 6. Program pemberdayaan fakir miskin, Komunitas Adat Terpencil (KAT) dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) lainnya 7. Program Pelayanan dan rehabilitasi kesejahteraan sosial 8. Program pembinaan anak terlantar 9. Program pembinaan para penyandang cacat dan trauma 10. Program pembinaan panti asuhan/panti jompo 11. Program pembinaan eks penyandang penyakit sosial (eks narapidana, PSK, narkoba dan penyakit sosial lainnya) 12. Program pemberdayaan kelembagaan kesejahteraan sosial

184

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

13. Program pelayanan kesehatan penduduk miskin 14. Program perbaikan perumahan akibat bencana alam/sosial 15. Program peningkatan mitigasi bencana alam laut dan prakiraan iklim laut 16. Program perencanaan pembangunan daerah rawan bencana 5.2 Posisi Capaian Hingga Tahun 2007

5.2.1 Program Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial Hasil yang telah dicapai dalam pelaksanaan program ini sampai tahun 2007 adalah 1. Pelayanan dan rehabilitasi sosial anak cacat dengan sasaran anak cacat dan keluarganya, berupa bantuan sandang, pangan dan bantuan usaha ekonomi produktif di 7 kabupaten/kota pada tahun 2005 diberikan kepada 350 orang, tahun 2006 kepada 160 dan tahun 2007 kepada 90 orang 2. Pelayanan dan perlindungan kesejahteraan sosial lanjut usia dengan sasaran lanjut usia dan keluarganya, berupa bantuan sandang, pangan dan bantuan usaha ekonomi produktif di 7 kabupaten/kota pada tahun 2005 diberikan kepada 590 orang, tahun 2006 kepada 300 dan tahun 2007 kepada 300 orang 3. Pelayanan dan rehabilitasi sosial anak nakal dengan sasaran anak nakal, kelaurga dan lingkunganya, berupa bantuan usaha ekonomi produktif dan bantuan usaha kelompok di 7 kabupaten/kota pada tahun 2005 diberikan kepada 295 orang, tahun 2006 kepada 225 dan tahun 2007 kepada 95 orang 4. Rehabilitasi sosial penyandang cacat dengan sasaran penyandang cacat dan keluarganya, berupa bantuan sandang, pangan dan bantuan usaha ekonomi produktif di 7 kabupaten/kota pada tahun 2005 diberikan kepada 754 orang, tahun 2006 kepada 430 dan tahun 2007 kepada 173 orang 5. Rehabilitasi dan perlindungan sosial korban penyalahgunaan Napza dengan sasaran korban napza, eks Napi dan keluarganya, berupa bantuan sandang, pangan dan bantuan usaha ekonomi produktif di 7 kabupaten/kota pada tahun 2005 diberikan kepada 45 orang, tahun 2006 kepada 45 dan tahun 2007 kepada 85 orang 6. Rehabilitasi sosial tuna sosial dengan sasaran Pekerja Sek Komersial, Gelandangan/Pengemis berupa bantuan usaha ekonomi produktif di Kota Pangkalpinang dan Kabupaten Bangka pada tahun 2005 diberikan kepada 120 orang, tahun 2006 kepada 125 dan tahun 2007 kepada 120 orang.

185

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

5.2.2

Program Pemberdayaan Fakir Miskin, Komunitas Adat Terpencil (KAT) dan Penyandang Masalah Kesejahateraan Sosial Lainnya 1. Pemberdayaan Fakir Miskin (a) Pembangunan rumah layak huni dengan sasaran keluarga tidak mampu dan yang berumah tidak layak huni, di 7 Kabupaten/Kota pada tahun 2005 dibangun 350 unit rumah dan tahun 2006 dibangun 490 unit rumah (b) Rehabilitasi sosial daerah kumuh melalui bantuan bahan dan perbaikan rumah/lingkungan dengan sasaran lingkungan kota dan kumuh, keluarga kurang mampu dan rumah kurang layak huni di Pangkalpinang, Belitung dan Bangka Barat di 647 daerah kumuh pada tahun 2005, dan khusus di Pangkalpinang pada tahun 2007 dilakukan lagi di 45 daerah kumuh (c) Pembinaan dan pemberian bantuan sosial melalui bantuan bahan/alat/modal usaha kelompok dengan sasaran keluarga tidak mampu dan kelompok usaha di 7 kabupaten/kota pada tahun 2005 diberikan kepada 4.108 KK dan tahun 2006 kepada 4.110 KK. (d) Pemberdayaan Fakir Miskin melalui bantuan bahan/alat/modal usaha kelompok dengan sasaran keluarga tidak mampu dan kelompok usaha di 7 kabupaten/kota pada tahun 2007 diberikan kepada 2.100 KK (e) Pemberdayaan keluarga miskin melalui bantuan usaha ekonomis produktif (UEP) dan bantuan bahan/alat usaha kelompok dengan sasaran keluarga rentan dan keluarga muda di 7 kabupaten/kota pada tahun 2005 diberikan kepada 1.616 KK, tahun 2005 kepada 1.620 KK dan tahun 2007 kepada 725 KK. 2. Komunitas Adat Terpencil (KAT) Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (KAT) dengan memberikan bantuan bahan perbaikan rumah, sarana lingkungan sosial dan kemasyarakatan, dilakukan di Kabupaten Belitung Timur sebanyak 118 KK ditahun 2005, di Kabupaten Bangka Selatan sebanyak 116 KK ditahun 2006 dan di Kabupaten Bangka sebanyak 114 ditahun 2007.

186

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

3. Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Total jumlah penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) di 7 kabupaten/kota pada tahun 2007 adalah 62.562 orang dan yang telah ditangani mencapai 46.850 orang atau 74,89 %. 5.2.3 Program Bantuan dan Jaminan Kesejahteraan Sosial 1. Penyelenggaraan pencarian dan penyelamatan musibah, bencana alam dan bencana lainnya (SAR) melalui bantuan kemanusiaan/bantuan bahan pangan/sandang/papan di 7 Kabupaten/Kota dengan sasaran korban bencana, pada tahun 2005 diberikan kepada 175 orang, tahun 2006 kepada 175 orang dan tahun 2007 kepada 49 orang. 2. Perlindungan sosial korban bencana alam, berupa bantuan kemanusiaan/bantuan bahan pangan/sandang/papan di 7 Kabupaten/Kota dengan sasaran korban bencana, pada tahun 2006 diberikan kepada 14 orang. 3. Bantuan sosial korban tindak kekerasan dan PM, berupa bantuan usaha ekonomi produktif (UEP), bimbingan sosial dan bantuan usaha kelompok, dengan sasaran anak, wanita/pria Lansia, di 7 Kabupaten/Kota, pada tahun 2005 diberikan kepada 170 orang, tahun 2006 kepada 94 orang dan tahun 2007 kepada 53 orang. 4. Akses jaminan sosial dan BKSP berupa asuransi Kesejahteraan sosial, bantuan organisasi sosial dan bantuan UEP, dengan sasaran pekerja non formal, pencari nafkah utama dan pengelolan organisasi sosial di bantuan kemanusiaan/bantuan bahan pangan/sandang/papan di 7 Kabupaten/Kota pada tahun 2005 diberikan kepada 91 orang, tahun 2006 kepada 440 orang dan tahun 2007 kepada 1.600 orang 5.3 Permasalahan Pencapaian Sasaran Upaya peningkatan kesejahteraan sosial tidaklah mudah karena berkaitan dengan permasalahan kemiskinan dan PMKS lainnya yang meliputi banyak aspek, baik sosial, ekonomi, pendidikan, lingkungn, budaya, sistem politik dan lain-lain. Ada beberapa permasalahan yang dihadapi dalam upaya peningkatan kesejahteraan sosial dalam rangka pencapaian sasaran, baik sasaran RPJMN maupun RPJMD, diantaranya adalah :

187

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

1. ketersediaan data base yang valid tentang jumlah PMKS 2. koordinasi yang belum optimal, seperti : (a) pola penanganan masalah sosial sejenis (b) fokus penanganan masalah (c) keterpaduan program, sasaran dan anggaran (d) komitmen pelaku, kebijakan dan tujuan 3. Minimnya perhatian terhadap penanganan masalah kesejahteraan sosial, yaitu alokasii anggaran bidang kesejahteraan sosial belum sesuai dengan kompleksitas permasalahan sosial yang ditangani VI. Rekomendasi Tindak Lanjut Berdasarkan permasalahan-permasalahan di atas, ada beberapa upaya dan usulan program yang dapat dilakukan, yaitu : 1. Adanya ketersediaan data base yang valid dapat dilakukan upaya-upaya sebagai berikut : (a) Pengalokasian anggaran dalam rangka pendataan/pemuktahiran data PMKS/PSKS (b) Penyusunan jenis PMKS/PSKS (c) Penentuan kriteria/syarat PMKS yang sesuai karakteristik daerah 2. Adanya koordinasi yang optimal dapat dilakukan dengan : (a) Melakukan rapat-rapat koordinasi teknis (b) Melakukan koordinasi perencanaan program antar kabupaten/kota (c) Sosialisasi program (d) Melakukan pengawasan, evaluasi dan pelaporan berkala (e) Kerjasama lintas sektor dan masyarakat 3. Memaksimalkan perhatian terhadap penanganan masalah kesejahteraan sosial dapat dilakukan melalui : (a) Membangun komitmen dan persepsi yang kuat dan sama dalam upaya menangani masalah sosial (b) Menjalin jejaring sosial/kemitraan dalam mempercepat penanganan masalah sosial (c) Memperkuat nilai-nilai kearifan lokal dan rasa tanggungjawab dan kepedulian dunia usaha.

188

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

VII. Penutup Kondisi kesejahteraan sosial di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung secara umum cukup baik, meskipun masih ada Penyandang masalah kesejahteraan sosial yang tersebar diberbagaii daerah kabupaten/kota. Namun dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2007 telah dilakukan berbagai upaya, seperti program pengentasan kemiskinan, program bantuan dan jaminan sosial, program pelayanan dan rehabilitasi sosial dan lain-lain. Hasilnya total jumlah penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) di 7 kabupaten/kota pada tahun 2007 adalah 62.562 orang dan yang telah ditangani mencapai 46.850 orang atau 74,89 %. Artinya tinggal 25,11 % lagi PMKS yang perlu ditangani dan dengan program-program tersebut di atas diharapkan dapat cepat tertangani semuanya. Berbagai permasalahan yang menjadi kendala dan penghambat akan terus dilakukan upaya perbaikan dan evaluasi, sehingga upaya peningkatan kesejahteraan sosial diprovinsi ini dapat tercapai dengan maksimal.

189

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

BAB 4.16 PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA KECIL BERKUALITAS SERTA PEMUDA DAN OLAHRAGA

I.

Pengantar

Salah satu unsur/syarat berdirinya suatu Negara adalah adanya penduduk. Hal ini menunjukkan bahwa masalah kependudukan akan mempengaruhi pembangunan nasional. Oleh karena itu, pembangunan kependudukan sangatlah penting dilakukan dalam rangka mengatur pertumbuhan jumlah penduduk. Disamping itu, adanya program pembentukan keluarga kecil berkualitas akan mendukung upaya tersebut. Permasalahan kependudukan juga berkaitan dengan peningkatan SDM pemuda sebagai generasi penerus bangsa dimasa yang akan datang. Kepemudaan juga erat kaitannya dengan bidang olahraga, yang tidak hanya akan menyehatkan pemuda dan masyarakat, tetapi dapat menjadi faktor preventif terhadap berbagai pengaruh negatif, seperti penggunaan narkoba. Selain itu, prestasi olahraga juga dapat membawa nama bangsa ini dikancah internasional. Kondisi demografi mempunyai kedudukan yang sentral dalam pembangunan daerah adalah kependudukannya sebagai subyek pembangunan dan juga sekaligus sebagai obyek pembangunan. Sebegai subyek pembangunan diharapkan dengan jumlah penduduk yang besar dapat memberikan keuntungan ekonomis diantaranya biaya tenaga kerja yang relatif murah dan terjaminnya persediaan tenaga kerja. Jumlah penduduk Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2006 adalah 1.074.775 jiwa. Pada tahun 2007 menjadi 1.106.675 jiwa. Dengan demikian, dalam kurun waktu satu tahun terjadi pertumbuhan penduduk sebesar 2,97 % di provinsi ini.

190

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

II.

Kondisi Awal RPJMN di tingkat Daerah

Permasalahan yang muncul berkaitan dengan masalah kependudukan adalah kepadatan penduduk yang belum merata dan adanya migrasi keluar daerah yang salah satunya disebabkan oleh minimnya lapangan pekerjaan. Penyebaran penduduk sampai dengan tahun 2006 belum merata dibeberapa daerah dan banyak terkonsentrasi pada kota-kota besar khususnya Pangkalpinang, Sungailiat dan Tanjung Pandan. Jumlah penduduk terbanyak terdapat di Kabupaten Bangka disusul Kabupaten Bangka Selatan. Sedangkan penduduk yang paling sedikit di kabupaten Belitung Timur. Berkaitan dengan masalah kepadatan penduduk, provinsi ini masih dalam kategori tingkat kepadatan rendah, yaitu mencapai 65 / Km2. Kelompok Produktif penduduk provinsi ini, yaitu yang berusia 15-64 tahun sebesar 68,16 persen. Sedangkan kelompok penduduk yang belum produktif, usia 0-14 tahun sebanyak 28,04 persen dan kelompok 65 tahun ke atas mencapai 3,80 persen. Sementara untuk angka beban ketergantungan provinsi ini sebesar 46,72 atau dibulatkan 47, jadi setiap 100 orang produktif menanggung 47 orang yang tidak produktif. Angka beban ketergantungan tersebut masuk dalam kategori sedang (40-60). Masyarakat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan masyarakat heterogen dengan komposisi etnis terdiri dari suku Melayu, Tionghoa, Madura, Bugis, Buton serta beberapa suku dari sumatera, seperti Minang, Batak, Lampung dan Palembang. Adanya masyarakat yang heterogen ini menuntut adanya upaya preventif untuk mencegah adanya konflik sosial dengan sentiment sukuisme dan adanya manajemen konflik yang baik apabila telah terjadi konflik. III. Sasaran Yang Ingin di Capai Sasaran Pembangunan RPJMN Tahun 2004-2009 1. Menurunnya rata-rata laju pertumbuhan penduduk menjadi sekitar 1,14 persen per tahun; tingkat fertilitas total menjadi sekitar 2,2 per perempuan; persentase pasangan usia subur yang tidak terlayani (unmet need) menjadi 6 persen 2. Meningkatnya peserta KB laki-laki menjadi 4,5 persen 3. Meningkatnya penggunaan metode kontrasepsi yang efektif serta efisien 4. Meningkatnya usia perkawinan pertama perempuan menjadi 21 tahun 5. Meningkatnya partisipasi keluarga dalam pembinaan tumbuh kembang anak 6. Meningkatnya jumlah keluarga Pra-Sejahtera yang aktif dan keluarga Sejahtera-I yang aktif dalam usaha ekonomi produktif.

191

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

7. Meningkatnya jumlah institusi masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan keluarga berencana dan kesehatan reproduksi 8. Meningkatnya keserasian kebijakan kependudukan dalam rangka peningkatan kualitas, pengendalian pertumbuhan dan kuantitas, pengarahan mobilitas dan persebaran penduduk yang serasi dengan daya dukung alam dan daya tampung lingkungan, baik di tingkat nasional maupun daerah 9. Meningkatnya cakupan jumlah kabupaten dan kota dalam pelaksanaan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan 10. Meningkatnya keserasian berbagai kebijakan pemuda di tingkat nasional dan daerah 11. Meningkatnya kualitas dan partisipasi pemuda diberbagai bidang pembangunan. 12. Meningkatnya keserasian berbagai kebijakan olahraga di tingkat nasional dan daerah 13. Meningkatnya kesehatan dan kebugaran jasmani masyarakat serta prestasi olahraga 14. Mengembangkan dukungan sarana dan prasarana olahraga bagi masyarakat sesuai dengan olahraga unggulan daerah. Sasaran RPJMD 1. Tertatanya administrasi kependudukan 2. Berkurangnya keluarga miskin 3. Peningkatan peran koperasi dalam pengentasan kemiskinan 4. Terlaksananya transmigrasi regional 5. Penanganan laju pertumbuhan yang tinggi 6. Peningkatan partisipasi Keluarga Berencana 7. Terlaksananya pelayanan bagi peserta KB aktif dan peserta KB baru dari keluarga miskin 8. Meningkatnya peserta KB aktif dan peserta KB baru 9. Meningkatnya partisipasi pria dalam berKB 10. Meningkatnya persentase remaja yang memperoleh informasi tentang kesehatan reproduksi dan jumlah pusat informasi dan konseling kesehatan reproduksi remaja (PIK KRR) 11. Meningkatnya persentase keluarga balita yang aktif melakukan pembinaan tumbuh kembang anak melalui kelompok bina keluarga remaja (BKR) 12. Meningkatnya presentase keluarga lansia yang aktif dalam kelompok bina keluarga lansia (BKL) 13. Meningkatnya prosentase keluarga Pra sejahtera dan keluarga sejahtera I anggota kelompok UPPKS.

192

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

14. Meningkatnya jumlah tempat pelayanan KB non pemerintah 15. Meningkatnya jumlah petugas lapangan tingkat kecamatan dan desa 16. Peningkatan kualitas dan kuantitas lembaga penyelenggaran keluarga berencana 17. Meningkatnya partisipasi dan kualitas generasi muda dalam keikutsertaan melaksanaan pembangunan daerah 18. Menurunkan tingkat penyalahgunaan narkoba dikalangan generasi muda 19. Meningkatnya inovasi dan kreativitas dalam pengembangan kegiatan olahraga 20. Meningkatnya sektor olahraga dan generasi muda dengan menggalakkan kegiatan olahraga disetiap strata pendidikan dan masyarakat 21. Meningkatkan peran KONIDA provinsi dan Pengurus-pengurus daerah (Pengda) olahraga prestasi terutama dalam menghadapi even PORWIL dan PON 22. Memperhatikan kehidupan atlit dan mantan atlit berserta para pelatihnya 23. Menggalakkan kegiatan generasi muda, seperti Pramuka, PMR, Pencinta Alam, Remaja Mesjid dan lain-lain, termasuk melibatkan generasi muda dalam kegiatan-kegiatan provinsi/nasional 24. Meningkatkan penyelenggaraan pembangunan sektor seni dan budaya, terutama dalam rangka menggali dan melestarikan seni dan budaya daerah IV. Arah Kebijakan Arah Kebijakan RPJMN Tahun 2004-2009 1. Penataan pembangunan kependudukan 2. Pengendalian pertumbuhan penduduk dan peningkatan keluarga kecil berkualitas 3. Peningkatan partisipasi pemuda dalam pembangunan dan menumbuhkan budaya dan prestasi olahraga guna meningkatkan kualitas manusia Indonesia. Arah Kebijakan RPJMD 1. Kebijakan penataan data kependudukan yang cepat, akurat dan dapat dipertanggungjawabkan, diprioritaskan pada upaya penataan administrasi kependudukan 2. Meningkatkan akses informasi dan kualitas pelayanan KB dan kesehatan reproduksi bagi keluarga dalam merencanakan kehamilan dan mencegah kehamilan, yaitu keluarga miskin, berpendidikan rendah, terpencil dan tidak terdaftar 3. Meningkatkan akses pria terhadap informasi, pendidikan, konseling dan pelayanan KB 4. Meningkatkan pembinaan dan status kesehatan perempuan dan anak.

193

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

5. Pembinaan pelayanan KIE dan pelayanan kesehatan reproduksi guna penanggulangan masalah kesehatan reproduksi 6. Meningkatkan pembinaan dan mengintegrasikan informasi pelayanan konseling bagi remaja tentang kehidupan seksual yang sehat, HIV/AIDS, NAPZA dan perencanaan perkawinan melalui kegiatan kelompok remaja dan institusi masyarakat lainnya 7. Meningkatkan ketahanan keluarga dalam kemampuan pengasuhan pertumbuhan dan perkembangan anak, pembinaan kesehatan ibu, bayi, anak dan remaja, serta pembinaan lingkungan keluarga secara terpadu melalui kelompok bina keluarga dan pendidikan anak usia dini 8. Meningkatkan pemberdayaan ekonomi keluarga dalam kegiatan usaha ekonomi produktif, termasuk pengetahuan dan keterampilan usaha serta fasilitas dalam mengakses sumber modal 9. Meningkatkan upaya-upaya advokasi, promosi dan KIE KB dan pemberdayaan keluarga untuk peneguhan dan keberlangsungan program serta pembinaan kemandirian institusi pemerintah yang menyelenggarakan pelayanan KB 10. Meningkatkan kualitas pengelolaan manajemen KB, termasuk pengelolaan SDM dan informasi, pengkajian, penelitian dan pengembangan serta bimbingan dan pengawasan 11. Pemberdayaan generasi muda 12. Pengembangan dan keserasian kebijakan pemuda 13. Peningkatan peran serta kepemudaan 14. Peningkatan upaya penumbuhan kewirausahaan dan kecakapan hidup pemuda 15. Upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba 16. Pengembangan kebijakan dan manajemen olahraga 17. Peningkatan sarana dan prasarana olahraga 18. Pengembangan nilai budaya 19. Pengelolaan kekayaan budaya dan keragaman budaya 20. Pengembangan kerjasama pengelolaan kekayaan budaya 21. Peningkatan pemasyarakatan seni dan budaya mengakar di masyarakat V. Pencapaian RPJMN di Daerah (2005-2007) 1. Program penataan administrasi kependudukan 2. Program pengentasan kemiskinan 3. Program penciptaan iklim usaha kecil menengah yang kondusif. 4. Program Pengambangan kewirausahaan dan keunggulan kompetitif usaha kecil menengah

5.1 Upaya yang Dilakukan Hingga Tahun 2007

194

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

5. Program Pengambangan dan sistem pendukung usaha bagi usaha mikro kecil menengah 6. Program peningkatan kualitas kelembagaan koperasi 7. Program pengembangan wilayah administrasi 8. Program transmigrasi regional 9. Program pengambangan dan keserasian kebijakan pemuda 10. Program peningkatan peran serta kepemudanaan 11. Program peningkatan upaya penumbuhan kewirausahaan dan kecakapan hidup pemuda 12. Program upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba 13. Program pengembangan kebijakan dan manajemen olahraga 14. Program pembinaan dan pemasyarakatan olahraga 15. Program peningkatan sarana dan prasarana olahraga 5.2 Posisi Capaian Hingga Tahun 2007 1. Meningkatnya penataan administrasi kependudukan 2. rencana realisasi pembuatan KTP gratis di beberapa kabupaten/kota 3. pengembangan wilayah administrasi di beberapa kabupaten/kota yang dimekarkan 4. Laju pertumbuhan penduduk dari 2006-2007 sebesar 2,97 % 5. Kepadatan penduduk pada tahun 2006 mencapai 65 jiwa/KM2, sementara pada tahun 2007 menjadi 67 jiwa/KM2 dengan Kota Pangkalpinang sebagai daerah terpadat, yaitu 1737 jiwa/KM2.

TABEL. 4.16.1 JUMLAH PENDUDUK MENURUT KABUPATEN/KOTA DAN KELOMPOK UMUR DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKAN BELITUNG TAHUN 2007 KELOMPOK UMUR NO KABUPATEN/KOTA JUMLAH 0 - 14 15 - 64 65 + 1 2 3 4 5 6 7 BANGKA BANGKA BARAT BANGKA TENGAH BANGKA SELATAN BELITUNG BELITUNG TIMUR PANGKALPINANG 2007 JUMLAH 2006 2005 Sumber : BPS Prov. Kep. Babel 73702 43470 39715 44059 37891 24913 43038 306788 301436 309651 181346 106961 97723 108411 93233 61300 105899 754873 732536 697297 10811 6375 5842 6461 5558 3654 6313 44996 40803 36508 265859 156806 143262 158931 136682 89867 155250 1106657 1074775 1043456

195

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

TABEL 4.16.2 JUMLAH RUMAH TANGGA DAN PENDUDUK MENURUT KABUPATEN/KOTA DAN JENIS KELAMIN DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKAN BELITUNG TAHUN 2007 JUMLAH NO 1 2 3 4 5 6 7 KABUPATEN/KOTA BANGKA BANGKA BARAT BANGKA TENGAH BANGKA SELATAN BELITUNG BELITUNG TIMUR PANGKALPINANG 2007 JUMLAH 2006 2005 Sumber : BPS Prov. Kep. Babel RUMAH TANGGA 65200 37824 34368 40224 34832 23168 37088 272704 264912 247265 LAKI-LAKI 140340 82774 75625 83896 72151 47439 81953 584178 557769 534667 JUMLAH PENDUDUK PEREMPUAN 125519 74032 67637 75035 64531 42428 73297 522479 517006 508789 JUMLAH 265859 156806 143262 158931 136682 89867 155250 1106657 1074775 1043456

TABEL 4.16.3 JUMLAH DAERAH DAN RATA-RATA PENDUDUK MENURUT KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKAN BELITUNG TAHUN 2007 NO 1 2 3 4 5 6 7 KABUPATEN/KOTA BANGKA BANGKA BARAT BANGKA TENGAH BANGKA SELATAN BELITUNG BELITUNG TIMUR PANGKALPINANG 2007 JUMLAH 2006 2005 Sumber : BPS Prov. Kep. Babel DAERAH (KM2) 2950,68 2820,61 2155,77 3607,08 2293,69 2506,91 89,4 16424,14 16424,14 16424,14 JUMLAH DESA 69 42 57 44 48 30 35 325 322 321 RATA-RATA PENDUDUK Per Desa 3853 3733 2513 3612 2848 2996 4436 3405 3338 3251 Per KM2 90 68 51 74 38 36 1737 67 65 64 Per Rumah Tangga 4,00 5,00 4,00 5,00 3,00 4,00 4,00 4,00 4,20 4,00

196

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

TABEL 4.16.4 JUMLAH ANGKATAN KERJA DAN TINGKAT PENGANGGURAN PENDUDUK BERUMUR 15 TAHUN KE ATAS MENURUT KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKAN BELITUNG TAHUN 2007 NO 1 2 3 4 5 6 7 KABUPATEN/KOTA BANGKA BANGKA BARAT BANGKA TENGAH BANGKA SELATAN BELITUNG BELITUNG TIMUR PANGKALPINANG 2007 JUMLAH 2006 2005 Sumber : BPS Prov. Kep. Babel BEKERJA 115580 65757 56906 69560 63893 39686 63624 475006 431328 446174 MENCARI PEKERJAAN 6928 4079 4076 3738 3744 2680 7711 32956 42210 39340 JUMLAH 122508 69836 60982 73298 67637 42366 71335 507962 469538 485514 TINGKAT PENGANGGURAN 5,66 5,84 6,68 5,10 5,54 6,33 10,81 6,49 8,99 8,10

6. Mantapnya pemahaman tentang pelayanan KB melalui sistem askeskin 7. Mantapnya pemahaman dan kemampuan dalam melakukan informed choice dan penggunaan informed consent 8. meningkatnya pemahaman petugas tentang upaya pencegahan dan penanganan masalah kesehatan reproduksi 9. meningkatnya komitmen RS swasta, klinik swasta, dokter dan bidan praktek swasta dalam pelayanan KB 10. Meningkatnya kemampuan petugas untuk melakukan KIP/konseling 11. peserta KB baru sebanyak 30771 peserta atau 106,84 % dari target sebanyak 28.800 peserta 12. terbinanya peserta KB aktif sebanyak 152.644 peserta atau 115,64 % dari target sebanyak 132.000 peserta 13. meningkatnya pemahaman keluarga akan pentingnya upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan keluarga melalui KB 14. kesamaan tekad dalam upaya penanggulangan masalah HIV/AIDS 15. meningkatnya jumlah remaja yang mendapatkan informasi tentang program KRR 16. terbentuknya 28 PIK KKR atau 73,7 % dari target sebanyak 38 PIK KRR 17. terbinanya 28 PIK KRR yang telah dibentuk

197

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

18. diterimanya ide program KB dimasyarakat 19. mantapnya pemahaman eksekutif tentang program KB Nasional 20. tersedianya peralatan yang diperlukan untuk menunjang kegiatan produksi di 3 kelompok UPPKS 21. telah digulirkannya dana bantuan kepada 10 kelompok UPPKS, sehingga jumlah kelompok yang memanfaatkan dana bergulir menjadi 34 kelompok 22. terbentuknya 18 desa percontohan 23. diperolehnya data demografi, tahapan keluarga dan peserta KB 24. terjaminnya ketersediaan alat kontrasepsi di 3 RS dan 157 klinik KB 25. pencapaian peserta KB baru Per Miks kontrasepsi per Kabupaten/kota seprovinsi Kep. Bangka Belitung bulan Desember 2007. 26. pencapaian peserta KB baru Per Miks kontrasepsi diklinik KB pemerintah per Kabupaten/kota seprovinsi Kep. Bangka Belitung bulan Desember 2007. 27. pencapaian peserta KB baru Per Miks kontrasepsi diklinik KB swasta per Kabupaten/kota seprovinsi Kep. Bangka Belitung bulan Desember 2007. 28. pencapaian peserta KB baru Per Miks kontrasepsi didokter praktek swasta per Kabupaten/kota seprovinsi Kep. Bangka Belitung bulan Desember 2007. 29. pencapaian peserta KB baru Per Miks kontrasepsi dibidan praktek swasta per Kabupaten/kota seprovinsi Kep. Bangka Belitung bulan Desember 2007. 30. pencapaian peserta KB baru Per Miks kontrasepsi dijalur swasta per Kabupaten/kota seprovinsi Kep. Bangka Belitung bulan Desember 2007. 31. pencapaian peserta KB aktif Per Miks kontrasepsi per Kabupaten/kota seprovinsi Kep. Bangka Belitung bulan Desember 2007. 32. Jumlah PUS bukan peserta KB per Kabupaten/kota seprovinsi Kep. Bangka Belitung bulan Desember 2007. 33. Jumlah kelompok TRI BINA per Kabupaten/kota seprovinsi Kep. Bangka Belitung bulan Desember 2007. 34. Jumlah kelompok UPPKS per Kabupaten/kota seprovinsi Kep. Bangka Belitung bulan Desember 2007. 35. Menyelenggarakan kegiatan Uji Petik Pedoman Lomba Gasing Tingkat Nasional pada 27-29 Juli 2007 di Pangkalpinang, yang salah satu rekomendainya kepada MENPORA untuk mengusulkan kepada KONI untuk menamilkan olahraga gasing dalam ekshibisi di PON XVII tahun 2008 di Provinsi KALTIM.

198

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

36. Pembinaan atlet pusat pendidikan dan latihan pelajar (PPLP) sebanyak 15 orang dalam cabang Atletik 10 orang, Pencak Silat 5 orang 37. Pembinaan klub masyarakat sebanyak 7 klub, terdiri dari Volly Pantai (3 klub), atletik (3 klub) dan senam (1 klub) 38. mengikuti invitasi olahraga tradisional ke Bandung, yaitu Bakiak, Engrang, dan Dagongan dari kota Pangkalpinang sebanyak 20 orang dan berhasil sebagai juara umum dari 33 provinsi 39. Kejuaraan daerah olahraga pelajar provinsi Babel diselenggarakan pada tahun 2007 di Pangkalpinang 40. Mengikuti POPNAS IX tahun 2007 di Samarinda 41. Pembangunan Gedung Pemuda 42. penyuluhan pencegahan peredaran dan penggunaan Miras&narkoba dengan 100 peserta dari siswa SMA dan tokoh masyarakat 43. Babel berada diurutan ke-29 di PON XVII tahun 2008 di Provinsi KALTIM dengan perolehan 1 emas, 1 perak dan 4 perunggu. 44. Menyelenggarakan atau ikut serta dalam beberapa evet olah raga, kebudayaan dan pariwisata yang berkaitan dengan pemberdayaan potensi pemuda, yaitu : a. Festival kesenian sriwijaya di Palembang dan Festival kesenian melayu nusantara b. Konvensyen dan pentas seni (DMDI) c. Kegiatan promosi Pariwisata Internasional Travel Fair d. Kegiatan promosi pariwisata semanggi expo e. Atraksi kesenian daerah PRJ f. Pagelaran seni budaya adat tradisional nusantara (TMII) g. Pelaksanaan lomba perahu dayung (Dragon Boat) h. Festival serumpun sebalai dan Festival kemilau nusantara i. Parade tari nusantara TMII

5.3 Permasalahan Pencapaian Sasaran 1. kurangnya kretivitas dan peran serta pemuda dalam pembangunan dan berbagai kegiatan 2. budaya materialistik dan pengaruh negatif globalisasi dan teknologi yang merusak generasi muda 3. minimya lapangan kerja sehingga meningkatnya kejahatan dilakukan pula oleh para pemuda.

199

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

4. peredaran narkoba yang terus meningkat sehingga banyak pengguna bahkan pengedar dari kalangan remaja dan pemuda 5. kurangnya koordinasi dengan pengcab dan pengda 6. belum fokusnya cabang olahraga unggulan 7. persiapan latihan dan pembinaan atlet yang minim karena hanya dilakukan menjelang pertandingan 8. Masih minimnya sarana dan prasaranan olahraga 9. belum mandirinya pengcab dan pengda sehingga terlalu tergantung dengan KONI Provinsi yang anggarannya juga minim VI. Rekomendasi Tindak Lanjut 1. Lebih banyak melibatkan generasi muda dalam kegiatan-kegiatan diprovinsi dan kab/kota 2. Memperbanyak kegiatan-kegiatan kepemudaan 3. Melakukan secara terus menerus sosialisasi tentang bahaya narkoba 4. Meningkatkan koordinasi dengan pengda dan pengcap 5. Konsentrasi pada pembinaan cabang olahraga yang unggul dan berpotensi, seperti: atletik, panjat tebing, taekwondo, dayung dan selam 6. Pembinaan atlet sedini mungkin 7. persiapan menghadapi event-event olahraga dilakukan tidak dalam waktu yang singkat 8. menambah sarana dan prasaranan olahraga 9. meningkatkan kreatifitas pengda dan pengcab agar lebih mandiri 10. pemberian bonus dan penghargaan bagi atlet berprestasi VII. Penutup Pembangunan kependudukan dan peningkatan keluarga kecil berkualitas di provinsi ini dilakukan dengan penataan administrasi kependudukan, peningkatan program KB, dan lain-lain. Sementara dalam upaya pemberdayaan potensi pemuda dan olahraga, meskipun mengalami berbagai hambatan, namun perbaikan program, penambahan sarana dan prasarana olahraga, pembinaan cabang olagraga unggulan, dan pemberantasan narkoba yang banyak merusak generasi muda diharapkan dapat meningkatan peran serta pemuda dalam pembangunan dan prestasi olahraga

200

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

BAB 4.17 PENINGKATAN KUALITAS KEHIDUPAN BERAGAMA

I.

Pengantar

Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman, termasuk dalam kehidupan beragama. Ada beberapa agama yang dianut di Indonesia, diantaranya Agama Islam, Kristen, Hindu dan Budha serta kepercayaan konghucu. Kehidupan intern dan antar agama yang rukun dapat menjadi faktor pendukung perwujudan tujuan nasional. Kerukunan beragama tersebut dapat tercipta apabila ada upaya peningkatan kualitas kehidupan beragama, diantaranya melalui program pendidikan agama dan pencegahan konflik yang mengandung sentimen keagamaan II. Kondisi Awal RPJMN di tingkat Daerah Masyarakat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan masyarakat heterogen dengan beberapa etnis, seperti melayu, tionghoa, madura dan lain-lain. Hal ini pula yang menyebabkan keragaman agama yang dianut oleh masyarakat. Namun demikian, perbedaan agama tersebut tidak menyebabkan konflik antara agama, karena telah terjadi pembauran antar etnis yang berbeda agama. Artinya ada kerukunan kehidupan beragama, baik intern maupun antaragama. Konflik agama ini tidak muncul salah satunya dikarenakan pendidikan agama yang sudah diberikan pada setiap satuan pendidikan dan tingkat tolerasi beragama yang cukup tinggi dimasyarakat III. Sasaran Yang Ingin di Capai Sasaran RPJMN Tahun 2004-2009 1. Meningkatnya kualitas pemahaman, penghayatan, dan pengalaman ajaran agama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, sehingga kualitas masyarakat dari sisi rohani semakin baik. Upaya ini juga ditunjukkan pada peserta didik di semua jalur, jenis dan jenjang pendidikan sehingga pemahaman dan pengalaman ajaran agama dapat ditanamkan sejak dini pada anak-anak.

201

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

2. Meningkatkan kepedulian dan kesadaran masyarakat dalam memenuhi kewajiban membayar zakat, wakaf, infak, shodaqoh, kolekte, dana punia dan dana paramita dalam rangka mengurangi kesenjangan sosial dimasyarakat 3. Meningkatnya kualitas pelayanan kehidupan beragama bagi seluruh lapisan masyarakat sehingga mereka dapat memperoleh hak-hak dasar dalam memeluk agamanya masingmasing dan beribadat sesuai agama dan kepercayaannya 4. Meningkatkan kualitas manajemen ibadah haji dengan sasaran penghematan, pencegahan korupsi, dan peningkatan kualitas pelayanan terhadap jemaah haji 5. Meningkatkan peran lembaga sosial kegamaan dan lembaga pendidikan keagamaan sebagai agen pembangunan dalam rangka meningkatkan daya tahan masyarakat dalam menghadapi berbagai krisis 6. Terciptanya harmoni sosial dalam kehidupan intern dan antarumat beragama yang toleran dan saling menghormati dalam rangka menciptakan suasana yang aman dan damai, sehingga konflik yang terjadi di beberapa daerah dapat diselesaikan dan tidak terulang di daerah lain Sasaran RPJMD 1. membangun serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia/insani yang mengakar di sendi-sendi berkehidupan disegala lapisan masyarakat 2. meningkatkan wawasan berkebangsaan serta kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang aman dan tertib dengan tetap berpegang teguh pada kerifan local yang mengacu pada prinsip sustainability Development 3. meningkatnya pelayanan dan bimbingan dibidang penyelenggaraan pendidikan pada madrasah dan pendidikan agama islam pada sekolah umum dan sekolah luar biasa

202

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

IV. Arah Kebijakan Arah Kebijakan RPJMN Tahun 2004-2009 Peningkatan kualitas pelayanan dan pemahaman agama serta kehidupan beragama 1. Peningkatan kualitas pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran agama 2. Peningkatan kualitas pendidikan agama dan pendidikan keagamaan pada semua jenis, jalur dan jenjang pendidikan. 3. Peningkatan kualitas tenaga kependidikan agama dan keaagamaan 4. Peningkatan kesadaran masyarakat dalam membayar zakat, wakaf, infaq, shodakoh, kolekte, dana punia, dan dana paramita dan peningkatan profesionalisme tenaga pengelola. 5. Peningkatan kualitas tenaga penyuluh agama dan pelayanan agama lainnya terutama yang bertugas didaerah rawan konflik dan daerah terpencil 6. Peningkatan kualitas penataan dan pengelolaan serta pengembangan fasilitas pada pelaksanaan ibadah, dengan memperhatikan kepentingan seluruh lapisan umat beragama dengan akses yang sama bagi setiap pemeluk agama 7. Pembinaan keluarga harmonis (sakinah/bahagia/sukinah/hita sukayah) untuk menempatkan keluarga sebagai pilar utama pembentukan moral dan etika 8. Peningkatan penghematan biaya ongkos naik haji, pencegahan korupsi dan peningkatan kualitas pelayanan terhadap jemaah haji 9. Peningkatan kualitas dan kapasitas lembaga sosial keagamaan dan lembaga pendidikan keagamaan 10. Peningkatan kualitas penelitian dan pengembangan agama untuk mendukung perumusan kebijakan pembangunan bidang agama Peningkatan kerukunan intern dan antar umat beragama 1. Peningkatan upaya menjaga keserasian sosial didalam kelompok-kelompok keagamaan dengan memanfaatkan kearifan lokal dalam rangka memperkuat hubungan sosial masyarakat 2. Pencegahan kemungkinan berkembangnya potensi konflik dimasyarakat yang mengandung sentimen keagamaan dengan mencermati secara responsif dan mengantisipasi secara dini terjadinya konflik

203

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

3. Penyelesaian konflik sosial yang berlatarbelakang agama melalui mekanisme resolusi konflik, dengan mengutamakan keadilan dan persamaan hak untuk mendapatkan perdamaian hakiki 4. Pemulihan kondisi sosial dan psikologis masyarakat pasca konflik melalui penyuluhan dan bimbingan keagamaan 5. Peningkatan kerjasama antara intern dan antar umat beragama dibidang sosial ekonomi Arah Kebijakan RPJMD 1. Kebijakan peningkatan kualitas pengamalan agama yang berbasis budaya dan masyarakat 2. pemberian bantuan kepada tempat ibadah 3. pembinaan kerukunan antar umat beragama 4. peningkatan kemampuan tokoh agama dan tokoh masyarakat 5. pembinaan terhadap lembaga keagamaan V. Pencapaian RPJMN di Daerah 1. Program bantuan terhadap tempat ibadah 2. Program pembinaan terhadap lembaga keagamaan 3. Program pembinaan kerukunan antar umat beragama 4. Program peningkatan kemampuan tokoh agama dan masyarakat 5. Program pendidikan agama : a. menghimpun dan menyimpan naskah/dokumen kurikulum b. menyiapkan kalender pendidikan c. memberikan pelayanan dibidang kurikulum d. menyusun perencanaan kegiatan rutin seksi kurikulum e. mensosialisasikan kurikulum f. monitoring pelaksanaan kurikulum di madrasah nasional h. membantu pelaksanaan tugas-tugas kepala bidang Mapenda dalam urusan kurikulum i. menyalurkan dan memomitor bantuan bagi madrasah. g. bekerjasama dengan seksi supervisi dan evaluasi dalam pelaksanaan ujian

5.1 Upaya yang Dilakukan Hingga Tahun 2007

204

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

j. k. l.

menginventarisir usulan keperluan madrasah yang meminta bantuan penyusunan program pengembangan kegiatan bidang sarana mengupayakan terlaksananya akreditasi sekolah

m. mengadakan perlombaan madrasah berprestasi n. pendataan S2 o. melayani dan memberi kemudahan bagi agama-agama dan aliran-aliran kepercayaan. p. melindungi dari penyalahgunaan dan penodaan agama q. menggali dan menjabarkan nilai-nilai agama untuk pembangunan r. mengadakan pembinaan umat beragama, baik pembinaan intern umat beragama, antar umat beragama, antar umat beragama dengan pemerintah, lokakarya dan dialog-dialog antar tokoh agama s. t. memberikan pengayoman kepada segenap pemeluk agama untuk menjalankan ibadah sesuai agamanya mengembangkan wawasan multi cultural bagi segenap lapisan masyarakat umat lapisan bawah. 5.2 Posisi Capaian Hingga Tahun 2007 1. Kegiatan pembinaan kerukunan umat beragama Juli 2007 dengan 100 peserta 2. Orientasi intern umat Islam tahun 2005 dan 2006 3. Orientasi intern umat Katholik, umat Kristen, umat Hindu, umat Budha pada tahun 2006 4. Orientasi antar umat beragama pada tahun 2005, 2006 dan 2007 5. Orientasi antar umat beragama dengan pemerintah pada tahun 2005, 2006 dan 2007 6. Lokakarya antar tokoh agama pada tahun 2005, 2006 dan 2007 7. Bantuan masyarakat ekonomi terpencil pada tahun 2005 8. Bantuan korban kerusuhan umat beragama tahun 2006 9. Penyusunan buku perundang-undangan KUB tahun 2004 10. Pengadaan buku peta kerukunan umat beragama tahun 2006 11. Pengadaan buku kerukunan umat beragama tahun 2007 12. Pembangunan gedung sekretariat Prop/Kota/Kab tahun 2006 u. bersama majelis agama mengadakan kunjungan rohani dan berdialog dengan

205

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

13. Blockgrand bantuan perkemahan pemuda lintas agama tahun 2007 14. Blockgrand bantuan operasional FKUB provinsi tahun 2007 15. Blockgrand bantuan operasional/pembinaan FKUB kota/kab tahun 2007 16. Hubungan antar umat beragama sejauh ini dipandang sudah terjalin dalam suasa rukun dan damai, karena didukung oleh potensi kerukunan, yaitu : a. telah terbentuknya Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) ditingkat provinsi b. adanya tradisi turun menurun/kearifan lokal dalam menciptakan keharmonisan hubungan antar anggota masyarakat yang dikukuhkan menjadi semboyan pemerintah provinsi dan kabupaten, yaitu ”Serumpun Sebalai” dan ”Sepintu Sedulang” c. adanya kesadaran di masyarakat tentang pentingnya hidup rukun dan saling memahami dalam hubungan bertetangga dan bermasyarakat d. pembaruan etnis Tionghoa dengan etnis lainnya berlangsung dengan baik dan telah berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu, digambarkan dengan semboyan ”Fan Ngin Thing Ngin Jit Jong (masyarakat pribumi dan Tionghoa adalah sama) e. tradisi saling berkunjung secara kekeluargaan antar umat beragama dalam setiap perayaan hari-hari besar keagamaan f. terjadinya proses peminjaman budaya antar etnis, sehingga terjadi proses integrasi yang harmonis g. penentuan kepemimpinan ditingkat bawah tidak lagi melalui pertimbangan spesifikasi etnis h. adanya pelayanan simpatik dari pemerintah daerah dalam pelayanan pengurusan rumah ibadat 17. Meningkatnya guru bidang studi umum pada masdrasah 18. Terlaksananya KTSP di setiap madrasah 19. Pembelajaran di kelas menggunakan Pakem 20. Tersedianya laporan hasil belajar 21. Meningkatnya kualitas SDM pendidik pada madrasah 22. Terciptanya lingkungan sehat pada madrasah (UKS) 23. Akreditasi madrasah 24. Meningkatnya sarana dan prasarana pada madrasah 25. Sertifikasi guru dalam jabatan pada madrasah 26. Meningkatnya kompetensi pengawas pendidikan agama Islam

206

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

5.3 Permasalahan Pencapaian Sasaran a. Pemenuhan hal-hak sipil umat Khonghucu dalam bidang pendidikan agama, pencatatan perkawinan dan kependudukan belum sepenuhnya sesuai dengan surat Edaran Menteri Agama No. MA/12/2006 dan surat Edaran Mendagri No. 470/336/SJ tertanggal 24 Februari 2006 b. Belum adanya kesamaan pemahaman di masyarakat terhadap implementasi Peraturan Bersama Menag dan Mendagri No. 9 dan 8 tahun 2006 tertutama tentang : (a) syarat-syarat khusus pendirian rumah ibadat; (b) struktur organisasi dan susunan kepengurusan FKUB c. Masih terdapat anak didik yang belum memperoleh pendidikan agama dari guru yang seagama dengan agama anak didik tersebut d. Adanya kesan bahwa terjadi pengkotak-kotakan masyarakat berdasarkan afiliasi politik yang mengakibatkan lebih mengutamakan kepentingan golongannya e. Munculnya kelompok-kelompok keagamaan/aliran yang mempunyai paham keagamaan yang berseberangan dengan paham keamagaan masyarakat pada umumnya. f. Kemungkinan terkikisnya kepatuhan masyarakat terhadap kearifan lokal akibat pengaruh globalisasi dan modernisasi g. Terjadinya ketimpangan sosial ekonomi masyarakat akibat eksploitasi SDA yang kurang memperhatikan kelestarian lingkungan h. Kurang berjalannya sistem kaderisasi kepemimpinan di kalangan pemuka agama yang mengakibatkan sulitnya mendapatkan figur kepemimpinan yang dapat menjadi rujukan masyarakat untuk mengatasi kemungkinan terjadinya konflik di masyarakat. VI. Rekomendasi Tindak Lanjut 1. Pemerintah daerah hendaknya terus meningkatkan pelayanan khususnya dalam rangka pemenuhan hak-hak sipil umat beragama 2. Hendaknya Depag di Provinsi, Kabupaten/kota lebih meningkatkan fungsi unit pelaksana pelayanan terhadap umat Khonghucu 3. Hendaknya pemerintah daerah, dalam hal ini Badan Kesbang Linmas bekerja sama dengan Depag di daerah meningkatkan upaya sosialisasi Peraturan Bersama Menag dan Mendagri No. 9 dan 8 tahun 2006, sehingga masyarakat lebih memahami secara benar substansi peraturan bersama itu.

207

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

4. Hendaknya pengurus FKUB provinsi dan kab/kota se-Kepulauan Bangka Belitung menata kembali struktur kepengurusan dan bentuk organisasinya yang disesuaikan dengan maksud peraturan bersama itu selambat-lambatnya tanggal 20 Maret 2008 5. Hendaknya pemuka agama baik tingkat provinsi dan kabupaten/kota melakukan upaya pemberdayaan keterbelakangan 6. Pemerintah daerah hendaknya terus berusaha untuk menyiapkan guru-guru agama sesuai dengan agama anak didiknya 7. Dialog pengembangan wawasan multikultural antar pemuka agama pusat dan daerah agar terus digalakkan dan ditingkatkan 8. Pemerintah seyogyanya memberikan perhatian dan penghargaan terhadap wilayahwilayah yang mampu menjadikan kemajemukan sebagai kekuatan pengikat kerukunan umat beragama 9. hendaknya pemerintah provinsi memprakasai terbentuknya pusat pembinaan kerukunan (harmony center) guna menciptakan kader-kader pemimpin yang berwawasan kerukunan masa depan 10. hendaknya pemerintah provinsi melakukan upaya pengembangan wawasan kerukunan yang diintegrasikan dengan peningkatan semangat kebangsaan disemua lembagalembaga pendidikan negeri/swasta. VII. Penutup Provinsi ini memiliki keragaman agama, suku, etnis dan budaya. Namun dengan adanya berbagai program, seperti peningkatan pendidikan keagamaan, bantuan tempat ibadah, pembinaan lembaga keagamaan, peningkatan kemampuan tokoh agama dan masyarakat dan lain-lain, dapat semakin kualitas kerukunan umat beragama dan meminimalisir terjadinya konflik yang berbau SARA. masyarakat untuk mengatasi kemiskinan, kebodohan dan

208

BAB 4.18 PERBAIKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM DAN PELESTARIAN MUTU LINGKUNGAN HIDUP

I.

Pengantar

Indonesia dikenal sebagai Negara dengan kekayaan sumber daya alam (SDA) yang melimpah. Berbagai kandungan mineral tersebar di beberapa wilayah Indonesia, seperti emas, timah, nikel, besi, aspal, dan lainlain. Selain itu, bumi pertiwi ini juga mengandung gas dan minyak bumi (MIGAS), baik di daratan maupun perairan laut. Sebagai SDA yang tidak dapat diperbaharui, maka perlu pengelolaan SDA yang baik, efektif dan efesien. Disamping itu, adanya ekses dari aktivitas pengelolaan SDA tersebut, seperti kerusakan lingkungan, menuntut untuk adanya pelestarian lingkungan hidup secara terpadu dan berkesinambungan. Pelestarian mutu lingkungan hidup tidak hanya bicara masalah reklamasi daerah bekas lahan tambang, tetapi juga pelestarian lingkungan hidup masyarakat, seperti udara yang bebas polusi, air bersih, pengelolaan sampah yang baik, sanitasi keluarga yang sehat dan lain-lain

II. Kondisi Awal RPJMN di tingkat Daerah Wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki sumber daya alam, seperti beberapa bahan tambang, khususnya Timah. Adanya pertambangan timah, baik yang dilakukan secara legal, seperti PT. Timah maupun PT. Kobatin maupun aktivitas tambang yang illegal yang dikenal dengan TI (tambang inkonvensional), telah menyebabkan kerusakan lingkungan dan menggangu ekosistem, misalnya menurunnya kualitas, air dan tanah. Dari keseluruhan luas daratan yang ada di Babel, sekitar 400.000 hektare diantaranya merupakan lahan kritis yang saat ini masih belum tertanggulangi secara maksimal. 100.000 hektare diantaranya masuk dalam kategori sangat parah. Jumlah tersebut belum termasuk areal perairan dan laut yang rusak gara-gara aktivitas penambangan laut. Sementara Terhitung 2001 hingga 2005, 13 daerah aliran sungai (DAS) yakni Kampa, Selan, Mancung, Antan, Layang, Mapur, Mendo, Baturusa, Kurai, Bangkakota, Nyirih, Kepoh, dan Bantel, mengalami degradasi lingkungan yang drastis. Permasalahan ini menjadi dilemma, karena disatu sisi untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi masyarakat, namun disisi lain kerusakan lingkungan tidak bisa dibiarkan terus menerus.

209

Tingkat kerusakan lingkungan hidup di beberapa tempat di pulau Bangka sudah sangat mengkhawatirkan, seperti terjadinya pencemaran air sungai Rangkui di Kota Pangkalpinang, kerusakan hutan lindung di Bukit Menumbing Kabupaten Bangka Barat dan kerusakan sepanjang pantai Tanjung Ratu di Bangka Selatan serta Pantai Rebo di Kabupaten Bangka. Luas hutan Babel mencapai 675.510 hektare (ha) yang terdiri dari 466.090 ha hutan produksi (HP), 156.730 ha hutan lindung (HL), dan 34.690 ha hutan konservasi. Diprediksi dalam waktu dua tahun ke depan, jumlah luas hutan tersebut akan terus merosot. Oleh karena itu perlu perbaikan pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian mutu lingkungan hidup secara berkesinambungan.

III. Sasaran Yang Ingin di Capai Sasaran RPJMN Tahun 2004-2009 Sasaran Pembangunan Hutan 1. Tegaknya hukum, khususnya dalam pemberantasan pembalakan liar (illegal logging) dan penyelundupan kayu 2. Penetapan kawasan hutan dalam tata ruang seluruh propinsi di Indonesia, setidaknya 30 persen dari luas hutan yang telah ditata-batas 3. Penyelesaian penetapan kesatuan pengelolaan hutan 4. Optimalisasi nilai tambah dan manfaat hasil hutan kayu 5. Meningkatnya hasil hutan non kayu sebesar 30 persen dari produksi tahun 2004 6. Bertambahnya hutan tanaman industri (HTI), minimal selias 5 juta hektar sebagai basis pengembangan ekonomi hutan 7. Konservasi hutan dan rehabilitasi lahan di 282 DAS prioritas untuk menjamin pasokan air dan sistem penopang kehidupan lainnya. 8. Desentralisasi kehutanan melalui pembagian wewenang dan tanggung jawab yang disepakati oleh pusat dan daerah 9. Berkembangnya kemitraan antara pemerintah, pengusaha dan msyarakatan dalam pengelolaan hutan lestari 10. Penerapan Iptek yang inovatif pada sektor kehutanan Sasaran Pembangunan Kelautan 1. Berkurangnya pelanggaran dan perusakan sumber daya pesisir dan laut 2. Membaiknya pengelolaan ekosistem pesisir, laut dan pulau-pulau kecil yang dilakukan secara lestari, terpadu dan berbasis masyarakat

210

3. Disepakatinya batas laut dengan negara tetangga, terutama Singapura, Malaysia, Timor Leste, Papua New Guinea, dan Philipina 4. Serasinya peraturan perundangan yang terkait dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya pesisir dan laut 5. Terselenggaranya desentralisasi yang mendorong pengelolaan sumber daya pesisir dan laut yang efisien dan berkelanjutan 6. Meningkatnya luas kawasan konservasi laut dan meningkatnya jenis/genetik biota laut langka dan terancam punah 7. Terintegrasinya pembangunan laut, pesisir dan daratan dalam satu kesatuan pengembangan wilayah 8. Terselenggaranya pemanfaatan ruang laut, pesisir dan pulau-pulau kecil secara serasi sesuai dengan daya dukung lingkungannya 9. Terwujudnya ekosistem pesisir dan laut yang terjaga kebersihan, kesehatan dan produktivitasnya 10. Meningkatnya upaya mitigasi bencana alam laut dan keselamatan masyarakat yang bekerja di laut dan tinggal dipesisir dan pulau-pulau kecil Sasaran Pembangunan Pertambangan Dan Sumber Daya Mineral 1. Optimalisasi peran migas dalam penerimaan daerah guna menunjang pertumbuhan ekonomi 2. Meningkatnya cadangan, produksi dan ekspor migas 3. Terjaminnya pasokan migas dan produk-produknya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri 4. Terselesaikannya Undang-undang Pertambangan sebagai pengganti Undang-undang No 11 Tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Pertambangan 5. Meningkatnya investasi pertambangan dan sumber daya mineral dengan perluasan lapangan kerja dan kesempatan berusaha 6. Meningkatnya produksi dan nilai tambah produk pertambangan 7. Terjadinya alih teknologi dan kompetensi tenaga kerja 8. Meningkatnya kualitas industri hilir yang berbasis sumber daya mineral 9. Meningkatnya keselamatan dan kesehatan kerja pertambangan 10. Teridentifikasinya "kawasan rawan bencana geologi" sebagai upaya pengembangan sistem mitigasi bencana 11. Berkurangnya kegiatan Pertambangan Tanpa Izin (PETI) dan usaha-usaha pertambangan yang merusak dan yang menimbulkan pencemaran

211

Sasaran Pembangunan Lingkungan Hidup 1. Meningkatnya kualitas air permukaan (sungai, danau dan situ) dan kualitas air tanah disertai pengendalian dan pemantauan terpadu 2. Terkendalinya pencemaran pesisir dan laut melalui pendekatan terpadu antara kebijakan konservasi tanah di wilayah daratan dengan ekosistem pesisir dan laut 3. Meningkatnya kualitas udara perkotaan khususnya dikawasan perkotaan yang didukung oleh perbaikan manajemen dan sistem transportasi kota yang ramah lingkungan 4. Berkurangnya penggunaan bahan perusak ozon (BPO) secara bertahap dan sama sekali hapus pada tahun 2010 5. Berkembangnya kemampuan adaptasi terhadap perubahan iklim global 6. Pelestarian dan pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan sesuai pedoman IBSAP 2003-2030 (Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan) 7. Meningkatnya upaya pengaolahan sampah perkotaan dengan menempatkan perlindungan lingkungan sebagai salah satu faktor penentu kebijakan 8. Meningkatnya sistem pengelolaan dan pelayanan limbah B3 (Bahan Berbahaya Beracun) bagi kegiatan-kegiatan yang berpotensi mencemari lingkungan 9. Tersusunnya informasi dan peta wilayah-wilayah yang rentan terhadap kerusakan lingkungan, bencana banjir, kekeringan, gempa bumi, dan tsunami, serta bencana-bencana alam lainnya 10. Tersusunnya aturan pendanaan lingkungan yang inovatif sebagai terobosan untuk mengatasi rendahnya pembiayaan sektor lingkungan hidup 11. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya memelihara sumber daya alam dan lingkungan hidup Sasaran umum pembangunan sumber daya air 1. Tercapainya pola pengelolaan sumber daya air yang terpadu dan berkelanjutan 2. Terkendalinya potensi konflik air 3. Terkendalinya pemanfaatan air tanah 4. Meningkatnya kemampuan pemenuhan kebutuhan air bagi rumah tangga, pemukiman, pertanian dan industri dengan prioritas utama untuk kebutuhan pokok masyarakat dan pertanian rakyat 5. Berkurangnya dampak bencana banjir dan kekeringan 6. Terkendalinya pencemaran air 7. Terlindunginya daerah pantai dari abrasi air laut terutama pada pulau-pulau kecil, daerah perbatasan dan wilayah strategis 8. Meningkatnya partisipasi aktif masyarakat 9. Meningkatnya kualitas koordinasi dan kerjasama antar instansi

212

10. Terciptanya pola pembiayaan yang berkelanjutan 11. Tersedianya data dan sistem informasi yang aktual, akurat dan mudah diakses 12. Pulihnya kondisi sumber-sumber air dan prasarana sumbar daya air, ketersediaan air baku bagi masyarakat, pengendalian banjir terutama pada daerah perkotaan Sasaran RPJMD 1. meningkatnya perumahan yang layak huni dan lingkungan permukiman yang sehat 2. meningkatnya penyediaan air bersih dan peneydiaan sanitasi dasar yang baik 3. terjamin dan terlindunginya hak perorangan dan hak komunal atas tanah 4. meningkatnya akses masyarakat miskin dalam pengelolaan dan pemanfaatan SDA dan lingkungan hidup yang berkelanjutan 5. berkurangnya tingkat kerusakan lingkungan 6. berkurangnya luas lahan kritis 7. meningkatnya lahan produktif melalui pemanfaatan kolong-kolong bakas galian timah 8. meningkatnya sumber daya hayati flora dan fauna 9. meningkatnya pariwisata bahahi berbasis masyarakat dan lingkungan 10. meningkatnya kapasitas dan partisipasi masyarakat dan aparat pemerintah dalam pengelolaan dan pemanfaatan SDA dan lingkungan secara terpadu dan lestasi

IV. Arah Kebijakan Arah Kebijakan RPJMN Tahun 2004-2009 Arah kebijakan pembangunan kehutanan 1. Memperbaiki sistem pengelolaan hutan dengan meningkatkan keterlibatan masyarakat secara langsung dalam pengelolaan hutan, meningkatkan koordinasi dan penguatan kelembagaan dalam wilayah DAS, serta meningkatkan pengawasan dan penegakan hukumnya 2. Mencapai kesepakatan antar tingkat pemerintahan dan mengimplementasikan pembagian wewenang dan tanggungjawab pengelolaan hutan 3. Mengefektifkan sumber daya yang tersedia dalam pengelolaan hutan. 4. Memberlakukan moratorium dikawasan tertentu 5. Memanfaatkan hasil hutan non kayu dan jasa lingkungannya secara optimal

213

Arah kebijakan pembangunan kelautan 1. Mengelola serta mendayagunakan potensi sumber daya laut, pesisir dan pulau-pulau kecil secara lestari berbasis masyarakat 2. Membangun sistem pengendalian serta pengawasan dalam pengelolaan sumber daya laut dan pesisir, yang disertai dengan penegakan hukum yang ketat 3. Meningkatkan upaya konservasi laut , pesisir dan pulau-pulau kecil, serta merehabilitasi ekosistem yang rusak, seperti terumbu karang, mangrove, padang lamun dan estuaria 4. Mengendalikan pencemaran dan perusakan lingkungan hidup diwilayah pesisir, laut, perairan tawar (danau, situ, perairan umum) dan pulau-pulau kecil. 5. Menjalin kerjasama regional dan internasional untuk menyelesaikan masalah batas laut dengan negara tetangga 6. Memperkuat kapasitas instrumen pendukung pembangunan kelautan yang meliputi iptek, SDM, kelembagaan, dan peraturan perundangan 7. Meningkatkan riset dan pengembangan teknologi kelautan 8. Mengembangkan upaya mitigasi lingkungan laut dan pesisir, meningkatkan keselamatan kerja meminimalkan resiko terhadap bencana alam laut, bagi masyarakat yang tinggal diwilayah pesisir dan pulau-pulau kecil 9. Menggiatkan kemitraan untuk meningkatkan peran aktif masyarakat dan swasta dalam pengelolaan sumber daya laut, pesisir dan pulau-pulau kecil Arah kebijakan pembangunan pertambangan dan sumber daya mineral 1. Meningkatkan eksplorasi dalam upaya menambah cadangan migas dan sumber daya mineral lainnya 2. Meningkatkan eksploitasi dengan selalu memperhatikan aspek pembangunan berkelanjutan, khususnya pertimbangan kerusakan hutan, keanekaragaman hayati dan pencemaran lingkungan. 3. Meningkatkan peluang usaha pertambangan skala kecil diwilayah terpencil dengan memperhatikan aspek sosial dan lingkungan hidup 4. Meningkatkan manfaat pertambangan dan nilai tambah 5. Meningkatkan good mining practice dilokasi tambang yang sudah ada 6. Merehabilitasi kawasan bekas pertambangan 7. Menjamin kepastian hukum melalui penyerasian aturan dan penegakan hukum secara konsekuen 8. Meningkatkan pembinaan dan pengawasan pengelolaan pertambangan 9. Meningkatkan pelayanan dan informasi pertambangan, termasuk informasi-informasi kawasan yang rentan terhadap bencana geologi 10. Melaksanakan evaluasi kebijakan/peraturan yang tidak sesuai

214

Arah kebijakan pembangunan lingkungan hidup 1. Meningkatkan pengendalian pencemaran lingkungan untuk mendorong sumber pencemar memenuhi baku mutu dan menggunakan bahan baku yang ramah lingkungan 2. Meningkatkan konservasi sumber daya alam dan pengendalian kerusakan lingkungan 3. Meningkatkan penataan lingkungan melalui pendekatan penataan ruang dan pengkajian dampak lingkungan 4. Menguatkan akses masyarakat terhadap informasi lingkungan hidup 5. Meningkatkan upaya penegakan hukum lingkungan secara konsisten terhadap pencemar dan perusak lingkungan 6. Mendayagunakan potensi kerjasama luar negeri bidang lingkungan hidup 7. Meningkatkan kapasitas kelembagaan pengelola lingkungan hidup dipusat maupun didaerah

Arah Kebijakan RPJMD 1. kebijakan perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian ruang wilayah sesuai dengan daya dukung lahan 2. kebijakan peningkatan dan pelestarian SDA dan lingkungan hidup dalam mendukung kualitas kehidupan sosial, budaya dan ekonomi secara serasi, seimbang dan lestari 3. kebijakan pengelolaan berorientasi pada pembangunan yang berkelanjutan 4. kebijakan pengendalian laju kerusakan SDA dan lingkungan baik didaratan yang melingkupi (hutan dan lahan) maupun wilayah perairan yang meliputi (air, pesisir dan laut) 5. Kebijakan peningkatan kinerja institusi pemerintah dan masyarakat yang mengerti dan paham tentang lingkungan hidup 6. kebijakan pengendalian laju pembangunan perkotaan dan lebih memprioritaskan pada pembangunan yang bersih 7. kebijakan audit lingkungan yang intensif dan rutin disertai kajian-kajian yang mendalam dengan kepentingan pembangunan lainnya 8. kebijakan peningkatan kapasitas dari partisipasi masyarakat dan kapasitas aparat pemerintah dalam pengelolaan dan pemanfaatan SDA dan lingkungan secara terpadu dan lestari

215

V. Pencapaian RPJMN di Daerah 5.1 Upaya yang Dilakukan Hingga Tahun 2007 Pembangunan Hutan 1. Program pemanfaatan potensi sumber daya hutan 2. Program rehabilitasi hutan dan lahan 3. Program perlindungan dan konservasi sumber daya hutan 4. Program pemanfaatan kawasan hutan industri 5. Program pembinaan dan penertiban industri hasil hutan 6. Program perencanaan dan pengembangan hutan 7. Program Pengendalian kebakaran hutan Pembangunan Kelautan 1. Program pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir 2. Program pemberdayaan masyarakat dalam pengawasan dan pengendalian sumber daya kelautan 3. Program peningkatan kesadaran dan penegakan hukum dalam pendayagunaan sumberdaya laut 4. Program peningkatan mitigasi bencana alam laut dan prakiraan iklim laut 5. Program peningkatan kegiatan budaya kelautan dan wawasan maritim kepada masyarakat 6. Program pengembangan budidaya tangkap 7. Program pengembangan perikanan tangkap 8. Program pengembangan sistem penyuluhan perikanan 9. Program optimalisasi pengelolaan dan pemasaran produksi perikanan 10. Program pengembangan kawasan budidaya laut, air payau dan air tawar Pembangunan Pertambangan dan Sumber Daya Mineral 1. Program pembangunan komoditas unggulan daerah 2. Program peningkatan promosi dan kerjasama investasi 3. Program peningkatan iklim investasi dan realisasi investasi 4. Program penyiapam sumber daya, sarana dan prasarana daerah 5. Program pembinaan dan pengawasan bidang pertambangan 6. Program peningkatan kapasitas iptek sistem produksi 7. Program peningkatan kemampuan teknologi industri 8. Program perlindungan dan pengembangan lembaga ketenagakerjaan 9. Program pengawasan dan penertiban kegiatan rakyat yang berpotensi merusak lingkungan

216

Pembangunan Lingkungan Hidup 1. Program perlindungan dan konservasi sumber daya alam 2. Program pengembangana ekowisata dan jasa lingkungan dikawasan-kawasan konservasi laut dan hutan 3. Program rehabilitasi dan pemulihan cadangan sumber daya alam 4. Program Pengendalian kebakaran hutan 5. Program pengelolaan dan rehabilitasi ekosistem pesisir dan laut 6. Program pengembangan kinerja pengelolaan sampah 7. Program pengendalian dan perusakan lingkungan hidup 8. Program pengeloaan Ruang Hijau Terbuka 9. Program peningkatan kualitas da akses informasi sumber daya alam dan lingkungan 10. Program peningkatan pengendalian polusi Pembangunan Sumber Daya Air 1. Program pengendalian banjir 2. Program pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi, rawa dan jaringan pengairan lainnya 3. Program penyediaan dan pengelolaan air baku 4. Program pengembangan, pengelolaan dan konservasi sungai, danau dan sumber daya air lainnya 5. Program pengembangan kinerja pengelolaan air minum dan air limbah 5.2 Posisi Capaian Hingga Tahun 2007 1. Jumlah tenaga kerja yang terserap pada kegiatan usaha perikanan tahun 2007 mencapai 42.448 orang atau menurun sebesar 3.37 % bila dibandingkan dengan tahun 2006 sebanyak 43.928 orang 2. Sarana Perikanan tangkap/kapal perikanan pada tahun 2007 berjumlah 12.880 unit dan tahun 2006 berjumlah 12.976 unit atau menurun 0,50 % 3. Jumlah RTP yang bergerak pada kegiatan usaha perikanan tahun 2007 sebanyak 16.655 RTP sama dengan tahun sebelumnya 4. jumlah alat tangkap pada tahun 2007 adalah 162.559 unit atau meningkat 85,95 % dibandingkan tahun 2006. 5. jumlah sarana produksi perikanan budidaya/luas lahan tahun 2007 seluas 178.70 Ha atau meningkat 74,80 % dari tahun sebelumnya yang seluas 173.87 Ha

217

6. Produksi penangkapan tangkap tahun 2007 sebesar 123.201,61 ton dan pada tahun 2006 sebesar 127.274, 25 ton atau menurun 3,2 % 7. nilai produksi tahun 2007 mencapai Rp. 1,386,948,139,460,00 dan tahun 2006 Rp. 1,165,480,652,000,00 atau meningkat 18,11 % 8. produksi perikanan budidaya tahun 2007 sebesar 1.013,13 ton dengan nilai produksi sebesar Rp. 23.115.153.150,00 atau naik 8,3 % dari tahun 2006 9. Tahun 2007 ada penambahan kegiatan pada budidaya, yaitu budidaya dengan keramba 10. Operasional 2007 : produksi ikan (5.028,97 ton), nilai produksi (Rp. 71.546.973.710,00), kunjungan kapal (11.601 kapal), pelayanan es (7.556 ton), pelayanan air (860 KI), pelayanan BBM/solar (1.974 KI), pelayanan bengkel (320 pekerjaan/order), penerima PNPB (Rp. 57.595.800,00), penyerapan Naker (621 orang/hari) dan pelayanan pas masuk pelabuhan (Rp. 11.261.600,00) 11. Realisasi ekspor timah batangan periode Februari-Desember 2007 mencapai 86.304,53 Ton dengan nilai US$ 1.234.795,67 dan royaltinya sejumlah US$ 38.011.583,22 12. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) mengusulkan sedikitnya Rp. 4,8 miliar untuk menghijaukan kembali 1000 hektar lahan akibat kegiatan penambangan sejak tahun 2007 hingga 2009 13. Progess Reklamasi PT. Timah Tbk tahun 2007
NO 1 2 3 4 WASPROD Bangka Induk Belinyu Bangka Tengah Bangka Selatan Bangka Barat Total Lampur Toboali Jebus LOKASI Sungailiat LUAS LAHAN (Ha) 160 200 360 400 400 1.520 Ha

Rencana Lokasi Reklamasi PT. Timah Tbk Tahun 2008
NO 1 2 3 4 5 6 WASPROD Bangka Induk Bangka Tengah Bangka Selatan Bangka Barat Belitung Belitung Timur Total LUAS LAHAN (Ha) 730 200 280 190 280 320 2000 Ha

218

14. Kegiatan penanaman pohon oleh PT Bangka Belitung Timah Sejahtera (BBTS) melalui program CSR-nya dilahan kritis sekitar 100 Ha dikawasan Air Itam 15. Sumber Daya Air (SDA) di Babel ada sekitar 23 ribu ha lahan potensial yang siap dikembangkan. Hingga saat ini yang digarap (fungsional) baru 7 Ribu ha. Di Rias (Bangka Selatan) terdapat 3.300 ha dan 1800 ha diantaranya telah difungsionalkan. Sisanya (1500 ha) menunggu selesainya jaringan irigasi dari Bendung Metukul yang kini dalam penyelesaian. 16. Di Selingsing (Belitung Timur) terdapat lahan potensial 3000 ha. 518 ha sudah fungsional karena diairi oleh Bendung Pice Kecil yang dibangun 2002. Sedangkan di daerah Meranti juga terdapat 800 ha lahan potensial. Namun belum belum digarap karena belum ada jaringan irigasinya. 5.3 Permasalahan Pencapaian Sasaran 1. Maraknya penambangan timah liar, baik didarat maupun di laut 2. Provinsi babel dengan 75 % wilayah laut berpotensi terjadinya illegal fishing 3. Kurangnya penanganan dampak pembangunan kota, seperti penumpukan sampah, pemukiman kumuh, pencemaran sungai, dll 4. Rendahnya kepedulian lingkungan hidup 5. Pembalakan liar yang banyak terjadi, sementara jumlah polisi hutan sangat minim dibandingkan dengan luas wilayah hutan 6. Kesiapan dan kesungguhan untuk menjaga dan mengelola lingkungan dengan bijaksana dari berbagai pihak masih belum maksimal. 7. Kesadaran reklamasi yang rendah 8. Maraknya kebakaran hutan dan sistem ladang berpindah-pindah 9. Minimnya dana dan kuantitas dan kualitas sumber daya manusia serta sarana, menyebabkan rehabilitasi lingkungan berjalan di tempat. 10. Keterbatasan SDM kelautan dan perikanan baik aparat maupun pelaku usaha 11. Prasarana kelautan dan perikanan belum memadai 12. Adanya pemanfaatan SDI secara illegal oleh nelayan asing dan nelayan daerah lain 13. Keterbatasan fasilitas pelayanan teknis pada masyarakat (unit pembinaan penangkapan ikan) 14. Sarana prosuksi budidaya (benih, benur, pakan, peralatan dan obat-obatan) masih harus didatangkan dari luar daerah 15. Belum tersedianya fasilitas pelayanan tehnis budidaya perikanan kepada masyarakat (unit pembinaan budidaya air laut, unit pembinaan budidaya air payau, unit pembinaan budidaya air tawar dan laboratorium pengendali penyakit ikan)

219

VI. Rekomendasi Tindak Lanjut 1. Meningkatkan kerjasama dengan pihak terkait seperti BUMN, smelter, dan masyarakat. 2. Melakukan sosialiasi secara terus menerus untuk menumbuhkan kesadaran lingkungan dengan melibatkan pula keluarga, sekolah atau institusi apapun wajib memberikan pengertian atau masukan kepada berbagai pihak terkait mengelola alam dengan baik 3. Segera melakukan reklamasi agar lahan dapat digunakan sebagai lahan pertanian 4. Meningkatkan monitoring kepada pelaksanaan reklamasi oleh para perusahaan tambang 5. Reklamasi harus dapat menyentuh masyarakat dari sisi Sosial, Ekonomi, Budaya dan Politik yang berkembang di masyarakat. 6. Melarang penggunaan alat berat bagi tambang berskala kecil, apalagi tambang dan alat berat tersebut tidak memiliki izin. 7. Perusahaan wajib menyusun analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) 8. Mengusahakan keterlibatan dunia internasional untuk membantu dalam pelestarian, pengelolaan dan perbaikan kerusakan lingkungan minimal mengembalikan kondisi 70 persen seperti semula. 9. Program pemberian reward and punishment terhadap perusahaan-perusahaan tambang berkaitan dengan pelestarian lingkungan harus terus ditingkatkan 10. PT Timah dan PT. Kobatin melakukan pembinaan kepada semua TI dan smelter dan Pemerintah juga berkewajiban untuk memberikan pembekalan cara menambang yang benar 11. Meningkatkan razia terhadap pengalihfungsian hutan produksi secara ilegal untuk kegiatan tambang bijih timah dengan melibatkan tim terpadu yang beranggotakan aparat kepolisian, polisi militer, penyidik PNS dan satpol PP. 12. Meningkatkan advokasi ke sejumlah pihak terkait sehubungan dengan pemeliharaan lingkungan 13. Perlunya pembangunan kawasan konservasi guna melindungi dan melestarikan habitat binatang laut. 14. Kepala daerah agar mempermudah izin, menetapkan biaya murah dan birokrasi yang tidak berbelitbelit 15. Membina rasa kebersamaan sesama personil Dinas kelautan dan perikanan dalam pelaksanaan tugas dan melibatkan masyarakat setempat dalam berbagai kegiatan 16. Pembangunan prasarana pelabuhan perikanan sebagai penunjang kawasan industri perikanan 17. Pembangunan sarana pembinaan dan pelayanan teknik penangkapan ikan (UPPI) sebagai pusat pelatihan nelayan dan pengusaha perikanan 18. Penindakan/pemberian saksi terhadap pelanggaran ketentuan dan perudangan yang berlaku 19. Pembangunan sarana pembinaan dan pelayanan teknik budidaya ikan (UPBAL, UPBAP, UPBAT) dan balai benih ikan (BBI) 20. Memfasilitasi penyediaan sarana usaha (mesin, benih ikan, pakan, pupuk dan obat-obatan)

220

VII. Penutup Kondisi lingkungan hidup dan pelestarian Sumber Daya Alam di Bangka Belitung memang sangat memperihatinkan. Mulai dari masalah Illegal Logging, Illegal Mining dan Ilegal Fishing sampai dengan lemahnya penegakan hukum, kesadaran hukum masyarakat, pengusaha dan pemerintah sendiri, minimnya reklamasi, semakin merusak lingkungan dan potensi sumber daya alam terkuras tanpa memperhatikan generasi yang akan datang. Namun demikian berbagai upaya dilakukan oleh semua pihak yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan potensi besar yang terkandung dalam SDA untuk dapat dipergunakan bagi kesejahteraan masyarakat dan generasi yang akan datang.

221

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

BAB 4.19 PERCEPATAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR

I.

Pengantar

Dalam proses pembangunan, khususnya diera globalisasi yang memiliki kompleksitas masalah di berbagai bidang, diperlukan adanya percepatan pembangunan infrastruktur sebagai salah satu pendukung berjalannya pembangunan. Pembangunan infrastruktur tersebut diantaranya berkaitan dengan bidang transportasi, sumber daya air, energi, ketenagalistrikan, pos dan telematika dan Perumahan, Air Minum dan Air Limbah, Persampahan dan Drainase. Aktivitas ekonomi sangat membutuhkan sarana prasarana yang memadai, sehingga tidak menghambat distribusi barang dan jasa dari satu daerah ke daerah yang lain. Oleh karena itu perlu peningkatan dalam pembangunan jalur transportasi, baik darat, laut, maupun udara, termasuk pengembangan alat transportasinya serta manajemen pengelolaan dan jaminan keselamatan penumpang harus selalu ditingkatkan. Ketersediaan sumber daya air, sumber energi dan ketenagalistrikan yang cukup dan cadangannya untuk masa yang akan datang menjadi faktor penting tidak hanya bagi laju proses pembangunan, tetapi juga kehidupan masyarakat luas. Begitupula dengan pemanfaatan teknologi untuk kelancaran komunikasi yang sangat membutuhkan pos dan telematika yang memadai. Di samping itu pembangunan infrastruktur lain yang tidak kalah pentingnya adalah pembangunan perumahan rakyat layak huni, ketersediaan air minum bersih dan pengelolaan limbah, sampah dan drainase yang berorientasi pada sanitasi lingkungan akan berdampak positif bagi peningkatan kualitas kesehatan masyarakat. II. Kondisi Awal RPJMN di tingkat Daerah Pembangunan infrastruktur di provinsi Kepulauan Bangka Belitung saat ini masih pada tahap proses pengembangan yang terus menerus dilakukan, mengingat pembangunan infrastuktur ini sangat penting dan dibutuhkan oleh provinsi baru seperti Bangka Belitung ini.

222

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Upaya pembangunan, perluasan, perawatan dan perbaikan jalan, baik jalan nasional maupun provinsi sebagai penunjang sarana tranportasi dari tahun ke tahun terus ditingkatkan. Begitupula dengan sarana transportasi, baik darat, laut maupun udara. Sebagai provinsi kepulauan, transportasi laut dan udara sangat dibutuhkan untuk akses ke sesama daerah maupun ke provinsi lain, termasuk mempermudah menarik investor. Di Bangka Belitung ada 2 Bandar Udara, yaitu di pulau Belitung dan pulau Bangka. Bandar udara yang berada di Pulau Bangka yang berada di Ibu kota Provinsi, Pangkalpinang inilah yang rencananya akan ditingkatkan menjadi bandara Internasional. Begitu pula dengan pelabuhan di Belitung Timur direncanakan untuk dapat berlabuhnya kapal-kapal dari Kalimantan. Sementara berkaitan dengan penunjang infrastruktur lain, yaitu energi dan listrik, juga terus dilakukan perbaikan dan teroboson-terobosan sumber energi baru. Keterbatasan listrik menjadi masalah utama di Bangka Belitung, karena beban puncak sebesar 65, 7 MW belum mampu mencukupi kebutuhan yang mencapai 170,7 MW. Akibatnya sering terjadi pemadaman bergilir. Namun demikian pengembangan PLTS, PLTH, PLTG dan PLT Cangkang Sawit terus dilakukan sebagai upaya pemenuhan energi listrik. Berkaitan dengan pembangunan Pos dan Telematika juga terus dilakukan pengembangan dengan melibatkan swasta. Akses komunikasi, pelayanan pos dan pengembangan teknologi informasi menjadi kebutuhan utama agar provinsi ini bisa berwawasan global. Permasalahan Perumahan, Air Minum dan Air Limbah, Persampahan dan Drainase juga menjadi perhatian di provinsi ini. Pembangunan rumah layak huni, penyediaan air bersih dan pengelolaan limbah dan sampah serta perbaikan drainase menjadi faktor penting dan menyangkut aspek lain, yaitu kesehatan, kesejahteraan dan kelestarian lingkungan di Bangka Belitung.
TABEL 4.19.1 RATIO KELISTRIKAN PROV. KEP. BANGKA BELITUNG (Per Juni 2007) No 1 2 3 PLN Cabang BANGKA BELITUNG Gabungan Wilayah JUMLAH Rumah Tangga 207,184 57,728 264,912 JUMLAH PELANGGAN 97,889 39,592 137,481 RATIO ELEKTRIFIKASI (%) 47,25 69,58 51,90

223

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

TABEL 4.19.2 KELISTRIKAN DESA BANGKA BELITUNG PER 31 DESEMBER 2007 NO KABUPATEN Pulau Bangka 1 2 3 4 5 6 7 . Bangka Induk Bangka Barat Bangka Tengah Bangka Selatan Kota Pangkalpinang Pulau Belitung Belitung Barat Belitung Timur Jumlah 41 30 319 34 27 253 7 3 66 82,93 90,00 79,31 68 57 40 48 35 58 36 31 32 35 10 21 9 16 0 85,29 63,16 77,50 66,67 100,00 JUMLAH DESA/KELURAHAN KELISTRIKAN DESA BERLISTRIK BELUM BERLISTRIK RASIO DESA BERLISTRIK

III. Sasaran Yang Ingin di Capai Sasaran RPJMN Tahun 2004-2009 Pembangunan Prasarana Jalan 1. Terpeliharanya dan meningkatnya daya dukung, kapasitas dan kualitas pelayanan prasarana jalan 2. Meningkatnya aksesibilitas wilayah yang sedang dan belum berkembang melalui dukungan pelayanan prasarana khususnya pada koridor-koridor utama dimasing-masing pulau, wilayah KAPET, perdesaaan, wilayah perbatasan, terpencil, maupun pulau-pulau kecil 3. Terwujudnya partisipasi aktif pemerintah, BUMN, maupun swasta dalam penyelenggaraan pelayanan prasarana jalan Pembangunan LLAJ 1. Meningkatnya kondisi prasarana LLAJ terutama menurunnya jumlah pelanggaram lalu lintas dan muatan lebih dijalan sehingga dapat menurunkan kerugian ekonomi yang diakibatkannya 2. Meningkatnya kelaikan dan jumlah sarana LLAJ 3. Menurunkan tingkat kecelakaan dan fatalitas kecelakaan lalu lintas dijalan serta meningkatkan kualitas pelayanan angkutan dalam hal ketertiban, keamanan dan kenyamanan transportasi jalan, terutama angkutan umum perkotaan, perdesaan dan antarkota

224

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

4. Meningkatnya keterpaduan antarmoda dan efisiensi dalam mendukung perwujudan sistem transportasi nasional dan wilayah (lokal), serta terciptanya pola distribusi nasional 5. Meningkatnya keterjangkauan pelayanan transportasi umum bagi masyarakat luas di perkotaan dan perdesaan serta dukungan pelayanan pelayanan transportasi jalan perintis di wilayah terpencil untuk mendukung pengembangan wilayah 6. Meningkatnya efektivitas regulasi dan kelembagaan transportasi jalan 7. Meningkatnya kesadaran masyarakat dalam berlalu lintas yang baik dan penanganan dampak polusi udara serta pengembaangan teknologi sarana yang ramah lingkungan, terutama di wilayah perkotaan 8. Meningkatnya SDM profesional dalam perencanaan pembinaan dan penyelenggaraan LLAJ 9. Terwujudnya penyelanggaraan angkutan perkotaan yang efisien dengan berbasis masyarakat dan wilayah, andal dan ramah lingkungan serta terjangkau bagi masyarakat. Untuk itu perlu didukung perencanaan transportasi perkotaan yang terpadu dengan pengembangan wilayah dan mengantisipasi perkembangan permintaan pelayanan serta didukung oleh kesadaran dan kemampuan pemerintah daerah dan masyarakat Pembangunan ASDP 1. Meningkatnya jumlah prasarana dermaga untuk meningkatkan jumlah lintas penyeberangan baru yang siap operasi maupun meningkatkan kapasitas lintas penyeberangan yang padat 2. Meningkatnya kelaikan dan jumlah sarana ASDP 3. Meningkatnya keselamatan ASDP 4. Meningkatnya kelancaran dan jumlah penumpang, kendaraan dan penumpang yang diangkut, terutama meningkatnya kelancaran perpindahan antarmoda di dermaga penyeberangan; serta meningkatnya pelayanan angkutan perintis 5. Meningkatnya peran serta swasta dan pemerintah daerah dalam pembangunan dan pengelolaan ASDP, serta meningkatnya kinerja BUMN dibidang ASDP Pembangunan Transportasi Laut 1. Meningkatnya pangsa pasar armada pelayaran nasional baik untuk angkutan laut dalam negeri maupun ekspor impor 2. Meningkatnya kinerja dan efisiensi pelabuhan khususnya yang ditangani oleh BUMN karena sebagian besar muatan ekspor impor dan angkutan dalam negeri ditangani oleh pelabukan yang ada di bawah pengelolaan BUMN 3. Terlengkapinya prasarana SBNP (sarana bantu navigasi pelayaran) dan fasilitas pemeliharaannya sehingga SBNP yang ada dapat berfungsi 24 jam

225

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

4. Terselesaikannya uji materiil PP Nomor 69 Tahun 2001 tentang Kepelabuhanan dan revisi UU No 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran khususnya yang berkaitan dengan keharusan bekerjasama dengan BUMN apabila pihak swasta ingin berinvestasi pada prasarana pelabuhan harus diselesaikan guna menarik pihak swasta berinvestasi pada prasarana pelabuhan Pembangunan Transportasi Udara Terjaminnya keselamatan, kelancaran dan kesinambungan pelayanan transportasi udara baik untuk angkutan penerbangan domestik dan internasional, maupun perintis. Disamping itu terciptanya persaingan usaha di dunia industri penerbangan yang wajar sehingga tidak ada pelaku bisnis dibidang angkutan udara yang memiliki monopoli Pembangunan Energi 1. Adanya upaya peningkatan efisiensi dan rehabilitasi infrastruktur energi diharapkan pertumbuhan permintaan energi dapat ditekan 2. Adanya penganekaragaman pemakaian energi non-BBM agar dapat mengurangi beban pemerintah untuk mensubsidi BBM (khususnya impor minyak mentah dan produk BBM) secara bertahap dam sistematis 3. Adanya pembangunan insfrastruktur energi yang mencakup fasilitas prosesing kilang minyak, pembangkit tenaga listrik), fasilitas transmisi dan distribusi pipa (gas dan BBM) dan fasilitas depot untuk penyimpanan 4. Menurunnya ketergantungan impor BBM melalui peningkatan prosuksi, pembangunan refinery dan langkah-langkah efisensi termasuk konservasi BBM Pembangunan Kelistrikan 1. Penambahan kapasitas pembangkit sekitar 12.267 MW 2. Rasio elektrifikasi tahun 2009 meningkat menjadi 67,9 persen 3. Meningkatnya rasio elektrifikasi desa pada akhir tahun 2009 sebesar 97 persen 4. Meningkatnya efisiensi di sarana pembangkit melalui rehabilitasi dan repowering 5. Terlaksananya debottlenecking dan uprating serta interkoneksi transmisi dan distribusi di Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi 6. Berkurangnya susut jaringan terutama non-teknis melalui pelaksanaan kegiatan berbasis teknologi informasi seperti enterprise resource planning/ERP dan cunsumer information system/CIS 7. Terlaksananya penyempurnaan restrukturisasi ketenagalistrikan melalui pengkajian model/stuktur industri kelistrikan

226

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

8. Meningkatnya pemanfaatan potensi gas, batu bara dan panas bumi serta energi baru terbarukan untuk pembangkit tenaga listrik 9. Meningkatnya partisipasi masyarakat, koperasi dan swasta baik sebagai penyedia, pembeli dalam bentuk curah maupun konsumen listrik sebagai pelanggan dan pengelola usaha penunjang ketenagalistrikan 10. Berkembangnya ilmu pengetahuan, teknologi dan sumberdaya manusia nasional yang mendukung industri ketenagalistrikan Pembangunan Pos dan Telematika 1. Terjaganya kualitas pelayanan pos di 3.760 kecamatan 2. Terselesaikannya revitalisasi pelayanan pos sebanyak 14.250 kantor pos cabang 3. Tercapainya teledensitas sambungan tetap sebesar 13 persen dan telepon bergerak 20 persen 4. Terselesaikannya pembangunan fasilitas telekomunikasi perdesaan sekurang-kurangnya 43 ribu sambungan baru di 43 ribu desa 5. Terselaikannya pembangunan community acces point sebagai pusat akses masyarakat terhadap teknologi informasi dan komunikasi di 45 ribu desa 6. Meningkatnya e-literacy penduduk Indonesia hingga 40 persen 7. Tersedianya 40 persen aparatur pemerintah yang mampu mengoperasikan sistem egovernment 8. Meningkatnya kualitas dan jangkauan layanan penyiaran televisi dan radio yang masing-masing mencakup 88 persen dan 85 persen penduduk Indonesia 9. Terselesaikannya persiapan migrasi sistem penyiaran dari analog ke digital Pembangunan Perumahan 1. Pemenuhan kebutuhan hunian bagi masyarakat melalui terciptanya pasar primer yang sehat, efisien, akuntabel, tidak diskriminatif dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat yang didukung oleh sistem pembiayaan perumahan jangka panjang yang market friendly, efisien dan akuntabel 2. Terbentuknya pola pembiayaan untuk perbaikan dan pembangunan rumah baru yang berbasis swadaya masyarakat. Sasaran penyediaan subsidi perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah sebanyak 1.350.000 unit rumah, melalui pembangunan rumah susun sewa sebanyak 60000 unit, rumah susun sederhana milik melalui peran serta swasta 25000 unit serta peningkatan akses kredit mikro untuk pembangunan dan perbaikan perumahan berbasis keswasembadaan masyarakat sebanyak 3.600.000 unit

227

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

3. Penurunan luasan kawasan kumuh sebesar 50 persen dari luas yang ada saat ini pada akhir tahun 2009 Pembangunan Air Minum dan Air Limbah 1. Meningkatnya cakupan pelayanan air minum perpipaan secara nasional hingga mencapai 40 persen pada akhir tahun 2009 dengan perincian cakupan pelayanan air minum perpipaan untuk penduduk yang tinggal dikawasan perkotaan diharapkan dapat meningkat hingga mencapai 66 persen dan di kawasan perdesaan meningkat hingga mencapai 30 persen 2. Pembangunan air limbah melalui open defecation free untuk semua kabupaten/kota hingga akhir tahun 2009 yang berarti semua rumah tangga minimal mempunyai jamban sebagai tempat pembuangan feaces dan meningkatkan kualitas air permukaan yang dipergunakan sebagai air baku bagi air minum 3. Meningkatnya utilitas IPLT dan IPAL yang telah dibangun hingga mencapai 60 persen pada akhir tahun 2009 serta pengembangan lebih lanjut pelayanan sistem pembuangan air limbah serta berkurangnya pencemaran sungai akibat pembuangan tinja hingga 50 persen pada akhir tahun 2009 dari kondisi saat ini. 4. Pengembangan sistem air limbah terpusat (sewerage system) dikota-kota metropolitan dan kota besar secara bertahap Pembangunan Persampahan dan Drainase 1. Meningkatnya jumlah sampah terangkut hingga 75 persen hingga akhir tahun 2009 2. Meningkatnya kinerja tempat pembuangan akhir (TPA) yang berwawasan lingkungan (environmental friendly) pada semua kota metropolitan, kota besar dan kota sedang 3. Terbebasnya saluran drainase dari sampah sehingga mampu meningkatkan fungsi saluran drainase sebagai pematus air hujan dan berkurangnya wilayah genangan air permanen dan temporer hingga 75 persen dari kondisi saat ini Sasaran RPJMD a. prosentase peningkatan jalan baik provinsi, kabupaten maupun di pedesaan b. rasio peningkatan akses jalan, air bersih, listrik maupun komunikasi di seluruh wilayah dimulai dari pedesaan, kecamatan hingga kepelosok-pelosok wilayah Kep. Babel c. meningkatnya prasarana dan sarana angkutan baik darat maupun laut sepanjang pulau Bangka dan Belitung sehingga aktivitas ekonomi tidak ada hambatan dan resikon biaya ekonomi tinggi. d. meningkatnya pembangunan jalan beraspal baru guna membuka daerah pesisir yang ada di

228

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

III. Arah Kebijakan Arah Kebijakan RPJMN Tahun 2004-2009 A. Transportasi Arah kebijakan prasarana jalan 1. Mempertahankan kinerja pelayanan prasarana jalan yang telah terbangun dengan mengoptimalkan pemanfaatan prasarana jalan melalui pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan teknologi jalan 2. Mengharmonisasikan keterpaduan sistem jaringan jalan dengan kebijakan tata ruang wilayah nasional yang merupakan acuan pengembangan wilayah dan meningkatkan keterpaduannya dengan sistem jaringan prasarana lainnya dalam konsteks pelayanan intermoda dan system transportasi nasional (Sistranas) yang menjamin efisiensi pelayanan transportasi 3. Melakukan transpotasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk memperjelas hak dan kewajiban dalam penanganan prasarana jalan 4. Mengembangkan rencana induk sistem jaringan prasaranan jalan berbasis pulau (Jawa dan Bali, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua) 5. Melanjutkan dan merampungkan reformasi jalan melalui Undang-undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan serta Peraturan pelaksananya 6. Menumbuhkan sikap profesionalisme dan kemandirian institusi dan SDM bidang penyelenggaraan prasarana jalan 7. Mendorong keterlibatan peran dunia usaha dan masyarakat dalam penyelenggaraan dan penyediaan prasarana jalan Arah kebijakan pembangunan LLAJ 1. Meningkatkan kondisi pelayanan prasarana jalan melalui penanganan muatan lebih secara konfrehensif dan melibatkan berbagai instansi terkait 2. Meningkatkan keselamatan lalu lintas jalan secara konfrehensif dan terpadu dari berbagai aspek (pencegahan, pembinaan dan penegakan hukum, penanganan dampak kecelakaan dan daerah rawan kecelakaan, sistem informasi kecelakaan lalu lintas dan kelalaian sarana serta ijin pengemudi dijalan) 3. Meningkatkan kelancaran pelayanan angkutan jalan secara terpadu : (a) Penataan sistem jaringan dan terminal (b) Manajemen lalu lintas (c) Pemasangan fasilitas dan rambu jalan (d) Penegakan hukum dan disiplin dijalan

229

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

(e) Mendorong efisiensi transportasi barang dan penumpang dijalan melalui deregulasi pungutan dan restribusi dijalan, penataan jaringan dan ijin trayek (f) Kerjasama antarlembaga pemerintah (pusat dan daerah) 4. Meningkatkan aksesibilitas pelayanan kepada masyarakat diantaranya melalui penyediaan pelayanan angkutan perintis pada daerah terpencil 5. Meningkatkan kinerja peraturan dan kelembagaan melalui : (a) Penataan sistem transportasi jalan sejalan dengan sistem transportasi nasional dan wilayah (lokal); diantaranya melalui penyusunan RUJTJ (Rancangan Umum Jaringan Transportasi Jalan) meliputi penataan simpul, ruang kegiatan, ruang lalu lintas serta penataan pola distribusi nasional sesuai dengan rencana kelas jalan (b) Melanjutkan revisi Undang-undang No 14 tahun 1992 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan dan peraturan pelaksanaannya (c) Peningkatan pembinaan teknis transportasi di daerah, sejalan dengan desentralisasi dan otonomi daerah, dibuat sistem standar pelayanan minimal dan standar teknis dibidang LLAJ serta skema untuk peningkatan pelaksanaan pengendalian dan pengawasan LLAJ di daerah (d) Meningkatkan peran serta, investasi swasta dan masyarakat dalam penyelenggaraan transportasi jalan dengan dengan menciptakan iklim kompetisi yang sehat dan transparan dalam penyelenggaraan transportasi, serta pembinaan terhadap operator dan pengusahan dibidang LLAJ (e) Restrukturisasi BUMN (Perum Damri dan Perum PPD) dan BUMD dalam pelayanan umum transportasi jalan untuk meningkatkan kualitas pelayanan umum transportasi. 6. Meningkatkan profesionalisme SDM (petugas, disiplin operator dan pengguna dijalan), meningkatkan kemampuan manajemen dan rekayasa lalu lintas, serta pembinaan teknis tentang pelayanan operasional transportasi 7. Mendukung pengembangan transportasi yang berkelanjutan, terutama penggunaan transportasi umum massal diperkotaan yang padat dan yang terjangkau dan efisien, berbasis masyarakat dan terpadu dengan pengembangan wilayahnya Arah kebijakan pembangunan ASDP 1. Memperbaiki keselamatan kualitas pelayanan prasarana dan sarana serta pengelolaan angkutan ASDP 2. Meningkatkan kelancaran dan kapasitas pelayanan dilintas yang telah jenuh dan memperbaiki tatanan pelayanan angkutan antarmoda dan kesinambungan transportasi jalan yang terputus dalam pulau (sungai dan danau) dan antarpulau dengan pelayanan point to point; sejalan dengan sistem

230

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

transportasi nasional dan wilayah (lokal). Arah pengembangan jaringan pelayanan ASDP diarahkan untuk pencapaian arah pengembangan jaringan Sistranas jangka panjang, yaitu : (a) Jawa dan Madura diarahkan untuk mendukung pariwisata dan angkutan lokal pada lintas penyeberangan antarprovinsi antarpulau. Selain itu, dilanjutkan pengembangan lintas penyeberangan antara kab/kota (b) Bali dan Nusa Tenggara diarahkan untuk kegiatan transportasi lokal dalam menunjang pariwisata di danau Bedugul, Batur dan Kelimutu; lintas penyeberangan antara negara seperti Kupang-Dili, dan rencana kajian untuk Kupang-Darwin, serta lintas penyeberangan antarprovinsi antarpulau menuju pulau jawa dan sulawesi (c) Kalimantan diarahkan pada pengembangan jaringan transportasi sungai untuk menjangkau seluruh daerah pedalaman dan terpencil yang didominasi oleh perairan yang tersebar luas; jaringan transportasi penyeberangan pada lintas antar provinsi dan antarpulau terutama dengan pulau Sulawesi seperti Balikpapam-Mamuju, Nunukan-Manado, serta dengan pulau jawa dan sumatera dan perencanaan lintas internasional Tarakan-Nunukan-Tawao (d) Sulawesi diarahkan pada pengembangan jaringan transportasi penyeberangan dengan prioritas tinggi di danau Tempe, danau Towuti dan danau Matano; serta pada lintas penyeberangan dalam provinsi dan antarprovinsi (e) Maluku dan Papua diarahkan untuk meningkatkan lintas antarprovinsi dan antar kepulauan dalam provinsi 3. Meningkatkan aksebilitas pelayanan ASDP : (1) mengembangkan angkutan sungai terutama di wilayah Kalimantan, Sumatera dan Papua yang telah memiliki sungai cukup besar; (2) mengembangkan angkutan danau untuk menunjang progran wisata; (3) meningkatkan pelayanan penyeberangan sebagai penghubung jalur jalan yang putus diperairan, terutama pada lintasan ASDP Sabuk Selatan (Sumatera-Jawa-Bali-NTB-NTT) 4. Mendorong peran serta pemda dan swasta dalam penyelenggaraa ASDP; mendorong penyelesaian revisi UU No 21 tahun 1992 tentang Pelayaran serta peraturan pelaksanaannya; melaksanakan restrukturisasi BUMN dan kelembagaan dalam moda ASDP, agar tercapai efisiensi, transparansi serta meningkatkan peran swasta dalam bidang ASDP. Arah kebijakan Pembangunan Transportasi Laut 1. Meningkatkan peran armada pelayaran nasional baik untuk angkutan dalam negeri maupun untuk ekspor-impor dengan memberlakukan azas cabotage. Untuk itu perlu diperlukan dukungan perbankan dalam penyediaan kredit murah bagi peremajaan armada 2. Mengurangi bahkan menghapuskan pungutan-pungutan tidak resmi dipelabuhan sehingga tarif yang ditetapkan otoritas pelabuhan tidak jauh berbeda dengan biaya yang secara riil dikeluarkan oleh

231

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

pengguna jasa kepelabuhanan, melalui peningkatan koordinasi bagi semua instansi yang terkait dalam proses bongkar muat barang 3. Memenuhi stansar pelayaran internasional yang dikeluarkan oleh IMO (International Maritime Organization) maupun IALA guna meningkatkan keselamatan pelayaran, baik selama pelayaran maupun pada saat berlabuh dan bongkar muat di pelabuhan di wilayah Indonesia, termasuk didalamnya pelaksanaan ISPS Code 4. Merestrukturisasi peraturan dan perundang-undangan serta kelembagaan di subsektor transportasi laut guna menciptakan kondisi yang mampu menarik minat swasta dalam pembangunan prasarana transportasi laut 5. Menyerahkan secara bertahap aset pelabuhan lokal yang dikelola Unit Pelaksana Teknis/Satuan Kerja kepada Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota 6. Mendukung pelaksanaan arah pengembangan Sistranas dan tatanan kepelabuhanan nasional 7. Melanjutkan pelayanan angkutan laut perintis Arah kebijakan pembangunan transportasi udara 1. Memenuhi standar keamanan dan keselamatan penerbangan yang dikeluarkan oleh ICAO (International Civil Aviation Organization) guna meningkatkan keselamatan penerbangan baik selama penerbangan maupun dibandaran di wilayah Indonesia 2. Menciptakan persaingan usaha pada industri penerbangan nasional yang lebih transparan dan akuntabel sehingga perusahaan penerbangan yang ada mempunyai landasan yang kokoh untuk kesinambungan operasi penerbangannya 3. Merestrukturisasi peraturan dan perundang-undangan serta kelembagaan di subsektor transportasi udara guna menciptakan kondisi yang mampu menarik minat swasta dalam pembangunan prasarana transportasi udara 4. Mendukung pelaksanaan arah pengembangan Sistranas dan tata kebandarudaraan nasional 5. Melanjutkan pelayanan angkutan udara perintis B. Sumber Daya Air Arah kebijakan pembangunan sumber daya air 1. Pengelolaan sumber daya air dilaksanakan dengan memperhatikan keserasian antara konservasi dan pendayagunaan, antara hulu dan hilir, antara pemanfaatan air permukaan dan air tanah, antara pengelolaan demand dan pengelolaan suplay, serta antara pemenuhan kepentingan jangka pendek dan jangka panjang 2. Pendekatan vegetatif dalam rangka konservasi sumber-sumber air adalah hal yang sangat perlu dilakukan karena penting dan tidak tergantikannya fungsi vegetatif dalam fungsi lingkungan.

232

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

3. Pendayagunaan sumber daya air untuk pemenuhan kebutuhan air irigasi pada lima tahun kedepan difokuskan upaya peningkatan fungsi jaringan irigasi yang sudah dibangun tapi belum berfungsi, rehabilitasi pada areal irigasi berfungsi yang mengalami kerusakan dan peningkatan kinerja operasi dan pemeliharaan 4. Pengendalian daya rusak air terutama dalam hal penanggulangan banjir mengutamakan pendekatan non-kontruksi melalui konservasi sumber daya air dan pengelolaan daerah aliran sungai dengan memperhatikan keterpaduan dengan tata ruang wilayah 5. Pengembangan dan pengelolaan sumber daya air memerlukan penataan kelembagaan melalui pengaturan kembali kewenangan dan tanggungjawab masing-masing pemangku kepentingan, seperti dewan sumber daya air dan komisi irigasi 6. Peran modal sosial dalam pengelolaan sumber daya air sangat penting, terutama dalam hal mendorong rasa memiliki masyarakat pengguna air, yang merupakan faktor penting untuk menjamin keberlanjutan fungsi infrastruktur 7. Kebijakan pengembangan dan pengelolaan sumber daya air perlu didukung dengan ketersediaan data yang tepat, akurat dan dapat diakses dengan mudah oleh pihak-pihak yang memerlukan 8. Berkaitan dengan masalah-masalah tersebut di atas, pada lima tahun kedepan perlu dipertegas penanganan kegiatan pemeliharaan/rehabilitasi dan pembangunan infrastruktur. Kegiatan-kegiatan yang terkait PSO menjadi kewajiban pemerintah pusat maupu daerah yang pelaksanaannya disesuaikan dengan kemampuan pendanaan oleh pemerintah, sehingga perlu adanya sinkronisasi penanganan program melalui APBN dan APBD. Kegiatan-kegiatan yang ditangani oleh BUMN terkait perlu diupayakan optimalisasi penggunaan sumber dana perusahaan. Sementara untuk kegiatan yang sepenuhnya dilakukan swasta perlu diperjelas peraturan perundang-undangan yang terkait, terutama menyangkut garansi dan system tarif. C. Energi Arah kebijakan pembangunan energi 1. Intensifikasi pencarian sumber energi dilakukan dengan mendorong secara lebih aktif kegiatan pencarian cadangan energi baru secara intensif dan berkesinambungan terutama minyak bumi, gas dan batu bara dengan menyisihkan dan memanfaatkan sumber daya alam untuk kegiatan survei cadangan baru seperti pola dana reboisasi pada sektor kehutanan 2. Penentuan harga energi dan subsidi dilakukan dengan memperhitungkan biaya produksi dan kondisi ekonomi masyarakat 3. Diversivikasi energi diarahkan untuk penganekaragakan pemanfaataan energi, baik yang terbarukan maupun yang tidak terbarukan sehingga dicapai optimasi penyediaan energi regional/nasional

233

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

4. Konservasi energi diupayakan diupayakan penerapannya pada seluruh tahap pemanfaatan, mulai dari penyediayaan sumber daya energi kepentingan mendatang 5. Bauran energi (energy mic) dikembangkan untuk mendapatkan komposisi penggunaan energi yang optimum pada suatu kurun waktu tertentu bagi seluruh wilayah Indonesia 6. Pengendalian lingkungan hidup diupayakan dengan memperhatikan semua tahapan pembangunan energi mulai dari proses eksplorasi dan eksploitasi sumber daya energi hingga kepemakaian energi akhir melalui pemanfaatan energi bersih lingkungan dan pemanfaatan teknologi bersih lingkungan. D. Ketenagalistrikan Arah Kebijakan pembangunan ketenagalistrikan 1. Pemulihan pemenuhan kebutuhan tenaga listrik untuk menjamin ketersediaan pasokan tenaga listrik serta kendalanya terutama didaerah krisis listrik serta daerah terpencil dan perdesaan termasuk didaerah pasca bencana alam sepeeti di provinsi NAD 2. Peningkatan partisipasi investasi swasta, pemerintah daerah, koperasi dan masyarakat dalam menyediakan sarana dan prasarana ketenagalistrikan 3. Peningkatan infrastruktur tenaga listrik yang efektif dan efisien, terutama upaya peningkatan diversifikasi energi untuk pembangkit, pengurangan losses, peremajaan infrastruktur yang kurang efisien, serta penerapan good governance pengelolaan korporat. 4. Peningkatan kemendirian industri ketenagalistrikan nasional dengan mendorong peningkatan kemampuan sumber daya manusia dan pemakaian barang dan jasa produksi dalam negeri 5. Penyesuaian tarif secara bertahap dan sistematis sampai mencapai nilai keekonomiannya 6. Peningkatan keselamatan pemakaian peralatan listrik dan menjaga dampak lingkungan dalam pembangunan ketenagalistrikan nasional E. Pos dan Telematika 1. Restrukturisasi penyelenggaraan pos dan telematika 2. Peningkatan efisiensi pemanfaatan dan pembangunan infrastruktur pos dan telematika 3. Peningkatan pengembangan dan pemanfaatan aplikasi berbasis teknologi informasi dan komunikasi F. Perumahan, Air Minum dan Air Limbah, Persampahan dan Drainase Sub Sektor Perumahan 1. Meningkatkan penyediaan prasarana dan sarana dasar bagi kawasan rumah sederhana dan rumah sederhana sehat 2. Mengembangkan kawasan perumahan skala besar sampai pada pemanfaatan akhir guna menjamin

234

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

3. Meningkatkan penyediaan hunian (sewa dan milik) bagi masyarakat berpendapatan rendah melalui gerakan nasional pengembangan sejuta rumah (GNPSR) 4. Meningkatkan fasilitasi dan pemberdayaan masyarakat berpendapatan rendah dalam penyediaan lahan, sumber pembiayaan dan prasarana dan sarana lingkungan melalui pembangunan perumahan yang bertumpu pada masyarakat 5. Mengembangkan kredit mikro pembangunan dan perbaikan rumah yang terkait dengan kredit mikro peningkatan pendapatan (income generating) dalam rangka upaya pemberdayaan usaha ekonomi masyarakat miskin dan penciptaan lapangan kerja 6. Menciptakan pola subsidi baru yang lebih tepat sasaran 7. Mengembangkan lembaga yang bertanggungjawab dalam pembangunan perumahan dan permukiman pada semua tingkatan pemerintah serta fasilitasi pelaksanaan penataan ruang kawasan permukiman yang transparan dan partisipatif 8. Pemantapan pasar primer perumahan 9. Berkembangnya secondary mortgage facility (SMF) dan secondary mortgage market (SMM) 10. Terbentuknya peraturan perundang-undangan dan kelembagaan pendukung SMF dan SMM (UU Sekuritisasi, Biro Kredit, Surat Tanggungan, Insentif perpajakan dan sebagainya) 11. Mengembangkan insentif fiskal bagi swasta yang menyediakan hunian bagi buruh atau karyawannya 12. Meningkatkan pengawasan dan pembinaan teknis keamanan dan keselamatan gedung 13. Menciptakan kepastian hukum dalam bermukim (secure tenure) 14. Meningkatkan kualitas pelayanan prasarana dan sarana lingkungan pada kawasan kumuh perkotaan dan pesisir/nelayan Subsektor air minum dan air limbah 1. Menciptakan kesadaran seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) terhadap pentingnya peningkatan pelayanan air minum dan air limbah dalam pengembangan sumber daya manusia dan produktivitas kerja 2. Meningkatkan peran serta seluruh pemangku kepentingan dalam upaya mencapai sasaran pembangunan air minum dan air limbah hingga akhir tahun 2009 3. Menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi dunia usaha (swasta) untuk turut berperan serta secara aktif dalam memberikan pelayanan air minum dan air limbah melalui deregulasi dan regulasi peraturan perundang-undangan yang terkait dengan kemitraan pemerintah-swasta (public-privatepartnership) 4. Mendorong terbentuknya regionalisasi pengelolaan air minum dan air limbah sebagai upaya meningkatkan efisiensi pelayanan dan efisiensi pemanfaatan sumber daya alam (air baku)

235

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

5. Meningkatkan kinerja pengelolaan air minum dan air limbah melalui restrukturisasi kelembagaan dan revisi peraturan perundang-undangan yang mengatur BUMD air minum dan air limbah 6. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia pengelola pelayanan air minum dan air limbah melalui uji kompetensi, pendidikan, pelatihan dan perbaikan pelayanan kesehatan 7. Mengurangi tingkat kebocoran pelayanan air minum hingga mencapai ambang batas normal sebesar 20 % hingga akhir tahun 2009 8. Memulihkan pelayanan air minum dan air limbah yang rusak akibat bencana alam. Subsektor persampahan dan drainase 1. Menciptakan kesadaran seluruh stakeholders terhadap pentingnya peningkatan pelayanan persampahan dan drainase 2. Meningkatkan peran serta seluruh stakeholders dalam upaya mencapai sasaran persampahan dan drainase hingga akhir tahun 2009 3. Menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi dunia usaha (swasta) untuk turut berperan serta secara aktif dalam memberikan pelayanan persampahan, baik dalam handling-transportation maupun dalam pengelolaan TPA 4. menciptakan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan kemitraan pemerintah-swasta (public-private-partnership) dalam pengelolaan persampahan 5. Mendorong terbentuknya regionalisasi pengelolaan persampahan dan drainase 6. Meningkatkan kinerja pengelola persampahan dan drainase melalui restrukturisasi kelembagaan dan revisi peraturan perundang-undangan yang terkait. 7. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia pengelola persampahan dan drainase melalui uji kompetensi, pendidikan, pelatihan dan perbaikan pelayanan kesehatan 8. Meningkatkan kinerja dalam pengelolaan TPA dengan sistem sanitary landfill Arah Kebijakan RPJMD 1. Kebijakan peningkatan kapabilitas infrastruktur dalam rangka mendukung pembangunan ekonomi dan investasi dimasyarakat, diprioritaskan pada : a. pembangunan kapabilitas infrastruktur b. pengendalian banjir c. pengembangan wilayah strategis dan cepat tumbuh d. pembangunan infrastruktur perdesaan e. perbaikan perumahan akibat bencana alam/sosial f. peningkatan kesiagaan dan pencegahan bahaya kebakaran

236

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

2. Kebijakan peningkatan lingkungan perumahan yang sehat dan produktif, diprioritaskan pada : a. pengembangan perumahan b. promosi lingkungan perumahan sehat c. pemberdayaan komunitas perumahan

3. Kebijakan penguatan kapasitas infrastruktur dalam rangka mendukung pembangunan ekonomi dan investasi di masyarakat, diprioritaskan pada : rehabilitasi dan pemeliharaan prasarana dan fasilitas LLAJ a. pengendalian dan pengamanan lalu lintas b. peningkatan kelayakan pengoperasian kendaraan bermotor c. pembangunan saluran drainase/gorong-gorong d. pembangunan turap/talud/bronjong e. rehabilitasi/pemeliharaan jalan dan jembatan f. rehabilitasi/pemeliharaan talud/bronjong g. pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi, rawa dan jaringan pengairan lainnya h. penyediaan dan pengelolaan air baku i. j. k. pengembangan, pengelolaan dan konservasi sungai, danau dan sumbe daya air lainnya pengembangan kinerja pengelolaan air minum dan air limbah pembinaan dan pengembangan bidang ketenagalistrikan

IV. Pencapaian RPJMN di Daerah 5.1 Upaya yang Dilakukan Hingga Tahun 2007 Pembangunan Prasarana Jalan 1. Program rehabilitasi/pemeliharaan jalan dan jempatan 2. Program rehabilitasi/pemeliharaan talud/bronjong 3. Program pembangunan jalan dan jempatan 4. Program inspeksi kondisi jalan dan jempatan 5. Program tanggap darurat jalan dan jempatan 6. Program pembangunan sistem informasi/data base jalan dan jembatan 7. Pembangunan jalan dan jembatan perdesaan 8. Pengadaan alat-alat berat Pembangunan LLAJ 1. Program rehabilitasi dan pemeliharaan prasarana dan fasilitas LLAJ 2. Program pengendalian dan pengamanan lalu lintas

237

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

3. Program peningkatan kelayakan pengoperasian kendaraan bermotor 4. Program pembangunan prasarana dan fasilitas pembangunan 5. Program peningkatan pelayanan angkutan 6. Penyusunan kebijakan, norma, dan prosedur bidang perhubungan 7. Sosialisasi kebijakan dibidang perhubungan 8. Pembangunan sarana dan prasarana jembatan gantung Pembangunan ASDP Program peningkatan pengelolaan terminal angkutan sungai, danau dan penyeberangan Pembangunan Transportasi Laut 1. Terbangunnya dermaga untuk kapal-kapal yang berbobot di atas 10.000 DWT pada pelabuhan yang ditunjuk sehingga pasokan bahan baku untuk pembangunan Prov. Kep. Bangka Belitung 2. Terwujudnya pelabuhan alur laut kapal internasional dipulau Belitung 3. Pembangunan International Entry Port (Pelabuhan Samudera) 4. Ada 10 pelabuhan yang merupakan pelabuhan barang dan penumpang. Dua diantaranya termasuk pelabuhan kelas II, yaitu pelabuhan Mentok dan Pelabuhan Tanjung Ru. Sementara 3 lainnya sebagai pelabuhan pengumpan regional yaitu pelabuhan Tanjung Kelian, pelabuhan Pangkalbalam dan pelabuhan Manggar, dan sisanya merupakan pelabuhan pengumpan lokal Pembangunan Transportasi Udara 1. Meningkatkan status bandara Pangkalpinang untuk dapat mengakomodasi jalur penerbangan internasional dengan route Singapura-Bangka-Bali 2. Terwujudnya bandara internasional di Pulau Bangka dengan 10 titik pelabuhan laut antara yang dihubungkan jalan-jalan utama 3. Adanya dua bandar udara, bandar udara Depati Amir di Pulau Bangka dan bandar udara H.AS Hanaindjoeddin di Pulau Belitung 4. Jenis pesawat menggunakan Boeing 737 seri 200 dengan maskapai penerbangan Sriwijaya Air, Lion Air, Batavia Air dan lain-lain Pembangunan Sumber Energi dan Kelistrikan 1. Sumber listrik berasal dari 9 pembangkit listrik dengan daya terpasang mencapai 97.002 KW pada tahun 2004 2. Program pembinaan dan pengembangan bidang ketenagalistrikan

238

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Pembangunan Pos dan Telematika 1. Program optimalisasi pemanfaatan Teknologi Informasi 2. Program pengembangan komunikasi, informasi dan media massa 3. Program pengkajian dan penelitian bidang informasi dan komunikasi 4. Program fasilitas peningkatan SDM bidang komunikasi dan informasi 5. Program kerjasama informasi dengan mas media Pembangunan Perumahan 1. Program perbaikan perumahan akibat bencana alam/sosial 2. Program pengembangan perumahan 3. Program lingkungan sehat perumahan 4. Program pemberdayaan komunitas perumahan 5. Program pengendalian pembangunan kota-kota besar dan metropolitan 6. Program peningkatan sarana dan prasarana perdesaan 7. Program pengembangan kinerja pengelolaan peningkatan lingkungan pemukiman 8. Program penyediaan prasarana dan sarana agropolitan 9. Program penataan dan revitalisasi kawasan 10. Penataan lingkungan pemukiman penduduk 11. Pembangunan sarana dan prasarana rumah sederhana sehat Pembangunan Air Minum dan Air Limbah 1. Program pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi, rawa dan jaringan pengairan lainnya 2. Program penyediaan dan pengelolaan air baku 3. Program pengembangan, pengelolaan dan konservasi sungai, danau dan sumber daya air lainnya 4. Program pengembangan kinerja pengelolaan air minum dan air limbah 5. Program pendidikan dan pelatihan teknis air minum 6. Program pembangunan jaringan penyediaan air bersih 7. Rehabilitasi/pemeliharaan jaringan irigasi embung dan bangunan penampung air lainnya 8. Optimalisasi fungsi jaringan irigasi 9. Pemberdayaan petani pemakai air 10. Pengembangan kinerja distribusi air minum 11. Pelaksanaan normalisasi saluran sungai

239

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Pembangunan Persampahan dan Drainase Program pengembangan kinerja pengelolaan sampah 5.2 Posisi Capaian Hingga Tahun 2007 Pembangunan Transportasi 1. Meningkatnya cakupan pelayanan prasarana jalan dan jembatan - bidang Bina Marga Dinas Kimpraswil Babel tahun 2007 telah memprogramkan akan menggarap 24 paket ruas jalan. Total panjang jalan 428,2 km dengan lebar jalan antara 4,5 – 6 meter yang membutuhkan dana Rp 106,3 Miliar. - Pemeliharaan jalan (Pangkalpinang-Mentok, Pangkalpinang-Toboali (Koba), Sungailiat-Belinyu) - paket pekerjaan jembatan berikut perencanaan dan pengawasannya dengan dana Rp 14,8 miliar. - paket pekerjaan tahun jamak (Multy years) 2007-2009, dengan nilai Rp 113,3 miliar. diperuntukkan untuk menangani 6 paket ruas jalan (sungailiat – Lumut, Pk. Pinang – Namang, Namang – Koba, Jl. Sudirman (tj. Pandan) Koba – Tj. Berikat dan Jalan Lingkar Luar Kota Pk. Pinang) - paket ruas Batu Rusa dan Ketapang dengan anggaran 76,5 miliar 2. Meningkatnya pelayanan jasa sarana dan prasarana transportasi secara terpadu a. Akses transpotasi laut, yaitu : 1) Bangka-Belitung (PP) : ASDP Ekspres Bahari 2) Bangka (Mentok)-Palembang (PP) : ASDP Ekspres Bahari dan 3) Belitung (Tj. Pandan)-Jakarta (Tg. Priok) : KM Lawit dan KM. Leuser 4) Bangka (Pangkalpinang dan Belinyu)-Jakarta (Tg. Priok) : KM. Srikandi, KM. Sahabat, KM Bukit Raya dan KM. Sirimau. b. Data Pelabuhan
No 1 2 3 4 5 Nama Pelabuhan Belinyu Manggar Muntok Niaga Jelentik Pangkal Balam Deskripsi Panjang Dermaga (m): 1,515.00 Panjang Dermaga (m): 110.00 Jumlah Dermaga (buah): 1 Panjang Dermaga (m): 329.00 Kapal Bersandar (DWT): 2,000 Fork Lift (buah): 2 Crane (buah): 6 Jumlah Dermaga (buah): 1 Panjang Dermaga (m): 1.51

6

Pelabuhan Belinyu

240

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

7 8 9

Pelabuhan manggar Pelabuhan Niaga Jerlitik Pelabuhan Pangkalbalam

Jumlah Dermaga (buah): 1 Panjang Dermaga (m): 65.50 Jumlah Dermaga (buah): 1 Panjang Dermaga (m): 100.00 Jumlah Dermaga (buah): 1 Jumlah Dermaga (buah): 1 Jumlah Dermaga (buah): 1 Panjang Dermaga (m): 50.00 Jumlah Dermaga (buah): 1 Panjang Dermaga (m): 100.00

10 Pelabuhan Sadai 11 Pelabuhan Sungaiselan

12 Pelabuhan Tanjung Gudang Jumlah Dermaga (buah): 1 13 Pelabuhan Tanjungkelian

14 Pelabuhan Tanjung Pandan Jumlah Dermaga (buah): 1 Panjang Dermaga (m): 420.00 15 Pelabuhan Muntok 16 Sungai Selan 17 Tangjung Ru 18 Tanjung Pandan 19 Toboali Jumlah Dermaga (buah): 1 Panjang Dermaga (m): 30.00 -

b. Data Bandara
No Nama Bandara Lokasi Bandara 1 Depati Amir Tanjung Pandan Belitung Deskripsi Jadual Penerbangan meliputi Pangkalpinang-Jakarta (Sriwijaya Air, Batavia Air, Lion Air, Mandala Air) dan Pangkalpinang-Palembang(Sriwijaya Air). Panjang Landasan (Km): 2.00 Jenis Pesawat yang Bisa Mendarat: Boeing 737-200 Jadual Penerbangan meliputi Belitung-Jakarta oleh Maskapai Penerbangan Sriwijaya Air dan Linus Air Jenis Pesawat yang Bisa Mendarat: Boeing 737-200

2

HAS Hanandjoedin

Pangkalpinang Bangka

3. Program pengendalian dan pengamanan lalu lintas a. Pengadaan rambu-rambu lalu lintas (ruas jalan Tg. Pandan-Sijuk-Tg. Kelayang) b. Pengadaan dan Pemasangan Traffic Light (Sp. Empat Pos Tobolai Ruas jalan Toboali Kab. Bangka Selatan) Namun 2 program ini tidak dapat dilaksanakan mengingat alokasi waktu yang tersedia tidak lagi memungkinkan untuk penyelesaian pekerjaan. 4. Program rehabilitasi dan pemeliharaan prasarana dan fasilitas LLAJ Pemeliharaan alat keselamatan lalu lintas

241

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

5. Satuan Kerja Pengembangan LLASDP Bangka Belitung a. Pembangunan dermaga penyeberangan Manggar-Ketapang tahap II b. Pengawasan dan supervisi c. Pembangunan Rambu Suar Sadai-Tg.Ru 6. Satuan Kerja pengembangan LLAJ Bangka Belitung a. pengoperasian Bus Perintis b. penyelenggaraan sosialisasi keselamatan LLAJ c. pengadaan dan pemasangan Marka Jalan d. pengadaan dan pemasangan Guard Rail e. Pengadaan dan Pemasangan Rambu-rambu Lalu lintas f. Pengadaan dan pemasangan Traffic Light g. Pengadaan dan pemasangan RPPJ Untuk program keenam ini terjadi proses lelang ulang dan dengan alokasi waktu yang tersisa kegiatan tidak dapat dilaksanakan. Pembangunan Energi dan Kelistrikan 1. Pembangunan PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) Desa Miskin di Bangka Beiltung Dana APBD/APBN Hingga Tahun 2007
NO 1 2 3 4 5 6 7 KAB/KOTA Pangkalpinang Bangka Induk Bangka Barat Bangka Tengah Banka Selatan Belitung Barat Balitung Timur BELUM PLN 0 10 21 9 16 7 3 66 2003 0 12 0 16 13 8 18 51 2004 0 5 0 0 75 0 40 120 2005 0 4 44 0 110 5 10 173 2006 0 118 87 56 572 165 163 1.161 2007 0 97 180 140 80 155 125 777 Total 0 236 311 212 850 333 356 2298

242

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

2. Pembangunan PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro) di Prov. Kep. Bangka Belitung Tahun 2004-2007
NO 1 2 3 PLTMH PLTMH SADAP I PLMTH C 2 PLMTH SADAP III KAPASITAS 20 KVA 20 KVA 40 KVA LOKASI Ds. Sadap Desa Perlang Bangka Tengah Desa C 2 Bangka Selatan Ds. Sadap Desa Perlang Bangka Tengah JUMLAH KONSUMEN 100 KK 100 KK 200 KK KET APBN 2004 APBN 2005 APBN 2007

3. Pembangunan pembangkit listrik yang masih dalam proses dengan total daya 2 x 83 MW, yaitu :
NO 1 2 3 4 5 6 PROYEK PLTU Bangka Power Manunggal PLTU Bangka Power PLTU Percepatan PLTU Batu Rusa PL Percepatan PLTU Belitung Energy KAPASITAS 2 x 10 MW 2 x 6 MW 2 x 30 MW 2 x 15 MW 2 x 15 MW 2 x 7 MW LOKASI Bangka Bangka Bangka Bangka Belitung Belitung

4. Pembangunan PLT Cangkang Sawit di desa Tempilang (daya mampu 5 MW). Namun saat ini kemampuan dayanya baru 2 MW selama 15 jam karena kekurangan bahan bakar cangkang sawit. 5. Jumlah pelanggan per Juni 2007 telah mencapai 137.481 pelanggan, namun dengan daftar tunggu pemasangan listik sekitar 20.000an pelanggan karena keterbatasan daya mampu listrik. Pembangunan pos dan telematika dan Perumahan, Air Minum dan Air Limbah, Persampahan dan Drainase. 1. Pembangunan pos dan telematika di provinsi Bangka Belitung masih terkonsentrasi di Kab/kota, karena sebagai provinsi baru, dinas Komunikasi dan Informasi diprovinsi ini baru terbentuk 2008 berdasarkan Perda No. 6 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, tanggal 21 Februari 2008, padahal bidang pos dan telematika ada di dinas ini. namun karena data yang dibutuhkan 2007, sementara dinasnya baru ada tahun 2008 sehingga tidak ada program kerja tahun 2007. namun demikian, dapat Tim EKPD gambarkan bagaimana kondisi pembangunan pos dan telematika di Bangka Belitung dengan data-data sebagai berikut :

243

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

a. Dibentuknya

SIG

WEB

Provinsi

Kepulauan

Bangka

Belitung

dengan

mengembangkan sistem LAN (Local Area Network) di Lingkungan Provinsi dan pembuatan peta digital skala 1:25.000 untuk mendukung informasi kewilayahan. b. Pembentukan Kerjasama Jaringan Penelitian di Bidang Pendidikan dengan SK Gubernur No. 188.44/615/BAPPEDA/2007 tanggal 10 November 2007. c. Jaringan Telekomunikasi 2005-2007 dengan kapasitas 3,195.42 SST. Belitung. e. Pelaksanaan program pemberitaan dan dokumentasi berupa foto, video dan CD maupun kaset tape recorder sebanyak 175 kegiatan gubernur pada tahun 2007. f. Terealisasinya program PECC (Pangkalpinang Education Cyber Comunity) maupun hotel dan cafe-cafe/restoran. h. Meningkatnya jaringan telepon rumah maupun komunikasi handphon. i. Peningkatan pelayanan PT POS dan peran serta aktif pihak swasta, seperti TIKI, DHL dan JNE
Sarana Telekomunikasi Kapasitas Tersedia Tersambung 27,020 SST 24,534 SST

d. Belum diterapkannya e-government ke setiap instansi di Provinsi Kepulauan Bangka

g. Bertambahnya layanan Warnet dan wireless, baik di institusi pendidikan pemerintah

Sarana Telepon Seluler (BTS) Ada Sarana Telekomunikasi Kapasitas Tersedia 27,020 5,036 4,036 2,012 720 1,120 672 12,380 Tersambung 24,534 4,619 4,619 1,828 670 951 629 11,072 Sarana Telepon Seluler Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada

No 1 2 3 4 5 6 7 8

Kabupaten / Kota Provinsi Bangka-Belitung Kabupaten Bangka Kabupaten Belitung Kabupaten Bangka Barat Kabupaten Bangka Tengah Kabupaten Bangka Selatan Kabupaten Belitung Timur Kota Pangkalpinang

2. Pembangunan perumahan, air minum, air limbah, persampahan dan drainase a. Pembangunan rumah layak huni dengan sasaran keluarga tidak mampu dan yang berumah tidak layak huni, di 7 Kabupaten/Kota pada tahun 2005 dibangun 350 unit rumah dan tahun 2006 dibangun 490 unit rumah

244

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

b. Rehabilitasi sosial daerah kumuh melalui bantuan bahan dan perbaikan rumah/lingkungan dengan sasaran lingkungan kota dan kumuh, keluarga kurang mampu dan rumah kurang layak huni di Pangkalpinang, Belitung dan Bangka Barat di 647 daerah kumuh pada tahun 2005, dan khusus di Pangkalpinang pada tahun 2007 dilakukan lagi di 45 daerah kumuh c. Meningkatnya pelestarian sumber daya air, DAS dan rawa serta pemanfaatannya untuk irigasi dan bahan baku air bersih. d. Sarana air bersih PDAM, kapasitas terpasang 415.00 Liter/detik dengan distribusi/terjual 1,767,554.00 M3/tahun. e. Pemanfaatan secara maksimal TPA yang sudah ada, seperti TPA di Parit Enam Pangkalpinang f. Pembangunan TPA Terpadu (Lintas Pangkalpinang-Kabupaten Bangka Tengah) g. Sawah bisa diairi secara tehnis (bisa diatur) h. Peningkatan hasil sawah i. j. Daerah perkantoran teratur dan bersih Aliran air sungai dan selokan lancar

5.3 Permasalahan Pencapaian Sasaran 1. PAD yang masih belum memadai 2. Pembebasan lahan agak tersendat 3. Koordinasi dengan PLN, PDAM dan Telkom kurang 4. Listrik yang terbatas 5. Kekurangan transportasi mobil Pick Up 6. Terbatasnya SDM yang sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan 7. Sebagai provinsi kepulauan, menyebabkan kesulitan koordinasi, sehingga koordinasi antar kab/kota dan provinsi serta ke pusat belum optimal 8. Proses lelang yang lama dan terkadang gagal dan harus diulang kembali 9. Keterbatasan sarana prasarana teknologi 10. Rencana pembangunan PLTU berbatubara di Bangka terhambat masalah pelabuhan dan akses jalan menuju lokasi pembangunan. 11. Rencana pembangunan PLTU Perpres 2 x 15 MW di Belitung terhambat masalah JETI tempat berlabuh kapal dan tempat untuk meletakkan batu bara semula 300 meter, ternyata kedalaman laut tidak cukup. Kedalaman laut yang dibutuhkan sekitar 1.600 meter.

245

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

12. PLTU Bangka Power belum menyelesaikan proses Power Purchasing Agreement (PPA) dengan PLN Pusat. 13. Keterbatasan sumberdaya cangkang sawit untuk Pembangunan Listrik Tenaga Sawit Cangkang 14. Adanya pencurian listrik VI. Rekomendasi Tindak Lanjut 1. Melakukan diklat-diklan teknis yang dapat meningkatkan kualitas SDM 2. Melakukan rapat-rapat koordinasi untuk menyelaskan program-program pembangunan antara kab/kota dan provinsi 3. Mengoptimalkan pemasukan PAD melalui penertiban dalam pemberian perizinan dan pungutan restribusi 4. Pendekatan dengan masyarakat lebih ditingkatkan 5. Melakukan pengawasan secara ketat terhadap pelaksanaan program 6. Percepatan pembangunan proyek PLTU IPP/Kemitraan 7. Perbaikan sistem lelang agar proses pembangunan dapat berjalan sebelum tutup anggaran 8. Percepatan pembangunan proyek PLTU Perpres 2 x 25 MW di Bangka dan 2 x 15 MW di Belitung (Perpres No. 71 Tahun 2006) 9. Mengundang investor untuk berinvestasi dibidang ketenagalistrikan 10. Pengembangan Pembangkit Listrik Skala Kecil (PTMH, PLTS, PLT Hybrid, PLT Bayu) 11. Penyususunan Master Plan Ketenagalistrikan Prov Kep Bangka Belitung 12. Percepatan pembangunan jaringan/transmisi 150 KV Sungailiat-Pangkalpinang dan Pangkalpinang-Koba serta gardu induk 13. Peningkatan pelaksanaan ”Program Babel Benderang”, yaitu : a. Alternatif pengembangan pembangkit listrik untuk masyarakat miskin yang berada di desa terpencil dan pulau terpencil yang belum mendapatkan listrik b. Percepatan pembangunan PLTU Batu Bara (Proyek IPP/kemitraan dan Perpres) c. Percepatan pembangunan transmisi dan gardu induk 14. Keterlibatan Pemda dalam pengaturan pembangunan, investasi, pembinaan dan pengawasan terhadap pemanfaatan energi, dengan membentuk konsorsium antara pihak swasta dan Pemerintahan Daerah atau BUMD yang berfungsi sebagai : a. pengelola investasi bidang ketenagalistrikan b. pengelola pembangunan pembangkit skala besar c. merumuskan perencanaan bidang ketenagalistrikan

246

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

d. melakukan upaya penyuluhan, pelatihan, pembinaan dan pengawasan terhadap pemanfaatan energi 15. Pembangunan interkoneksi jaringan listrik bawah laut Sumsel-Bangka-Belitung agar masuk dalam rencana umum ketenagalistrikan nasional (RUKN) 16. Pembangunan pipa gas bawah laut Sumsel-Bangka-Belitung atau dari Natuna-Bangka agar masuk dalam RUKN untuk pembangunan PLTG di Prov. Kep. Babel 17. Pembangunan PLTU skala kecil 3 MW dengan investor dan perusahaan daerah 18. Meminta kepada pemerintah pusat agar Gubernur selaku wakil pemerintah pusat di daerah ditunjuk menjadi koordinator pengembangan dan pembangunan pembangkit listrik guna percepatan pembangunan pembangkit listrik di daerah 19. Rencana Program kerja tahun 2008 : a. Pembangunan PLTS 1100 Unit b. PLT Hybrid di Pulau Seliu Belitung dengan daya 17 KW c. MoU antara Prov. Kep. Babel dengan PT. Timah dalam pembangunan PLTG 1 x 15 MW d. Pembangunan PLTG 1 x 3 MW oleh PT. Elmes Epsilon Jakarta VII. Penutup

Pembangunan infrastrutur di provinsi Bangka Belitung pada dasarnya dalam proses pengembangan dan pembangunan, mengingat Bangka Belitung sebagai provinsi baru. Pembangunan transportasi dengan perluasan, perbaikan dan perawatan jalan, rambu-rambu lalu lintas dan traffic light, pembangunan pelabuhan dan peningkatan bandar udara menjadi bandara internasional dan penambahan armada transportasi darat, laut maupun udara menjadi agenda utama. Di samping itu, energi dan listrik yang menjadi permasalahan dan menghambat pertumbuhan ekonomi terus dicarikan solusi konkrit seperti pembangunan PLTS, PLTG, PLTH dan PLT Cangkang Sawit. Sementara pembangunan pos dan telematika dan Perumahan, Air Minum dan Air Limbah, Persampahan dan Drainase juga terus dilakukan perbaikan dengan melibatkan masyarakat, pemerintah dan swasta serta institusi pendidikan.

247

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

ISU-ISU STRATEGIS

Secara terperinci beberapa isu strategis yang dihadapi oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah: 1. Penambangan Timah (Tambang Inkonvensional) Fenomena gobalisasi menarik untuk dicermati karena menyentak masyarakat lokal ke dalam pusaran global. Terintegrasinya masyarakat lokal ke dalam pusaran global membawa keniscayaan perubahan. Pertukaran barang dan jasa melalui berbagai media, tranformasi ideide mutakhir, juga isu-isu mengenai demokrasi, HAM dan lingkungan hidup, dan berbagai fenomena sosial lainya telah menarik banyak pihak untuk terlibat dalam proses globalisasi tersebut. Lintas batas geografis dan kultural menjadi sebuah isu yang hangat yang seakan menjadi sangat bias. Implikasi yang paling terasa adalah munculnya keajegan yang berlangsung dalam derajat yang beragam. Keajegan itu muncul karena adanya keharusan yang dirasakan perlu untuk diciptakan dalam interaksi globalisasi. Munculnya lembaga-lembaga perdagangan internasional yang berusaha memfasilitasi keteraturan ekonomi internasional seperti UNDP dan WTO serta lembaga ekonomi internasional lainnya membawa fenomena yang baru bagi hubungan ekonomi internasional. Pada satu sisi, kemunculan pola pengaturan yang disistematisasi oleh lembaga-lembaga formal tersebut juga diimbangi oleh kemunculan jalur hubungan ekonomi nonformal. Lahirlah kemudian pemetaan jalur perdagangan internasional yang disebut dengan jalur internasional dan jalur transnasional. Dalam konteks ekonomi internasional, Indonesia merupakan salah satu pelaku ekonomi di dalamnya. Macam keterlibatan Indonesia dalam kancah globalisasi pun beragam, mulai dari peran sebagai objek ekonomi negara lain, semisal sasaran produk, sampai kepada peran sebagai negara produsen, mengingat Indonesia kaya akan sumber daya alam.

248

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Pada prakteknya, pusaran globalisasi lebih sering menempatkan Indonesia sebagai objek yang menyedihkan. Dengan negara berpenduduk gemuk, Indonesia lebih sering menjadi sasaran tujuan perdagangan para negara industri maju. Pada saat yang bersamaan, dengan kekayaan alam yang melimpah, Indonesia lebih kerap menjadi produsen bahan mentah yang kemudian diekspor ke luar dan kemudian diimpor dalam bentuk barang jadi. Bangka Belitung sebagai penghasil timah terbesar di dunia telah membuktikan betapa bangsa ini berada dalam posisi yang sangat menyedihkan. Produksi timah yang melimpah hanya menjadi sasaran empuk para pemakai luar. Ketidakmampuan elit lokal dan nasional dalam mengatur pola produksi dan distribusi menyebabkan timbulnya berbagai kekacauan dan pada gilirannya hanya pelaku ekonomi internasional-lah yang mengeruk keuntungan. Penambangan liar yang marak dan telah memakan hampir 65 persen daratan Bangka Belitung dalam bentuk danau-danau besar tak berguna, juga praktik penyelundupan yang meresahkan menyebabkan Bangka Belitung berada pada posisi siap lebur. Himpitan ekonomi internasional dengan berbagai praktik perdagangannya, juga permainan rute globalisasi yang tidak jelas dan tegas membawa Bangka Belitung diambang kehancuran nyata. Timah di Pulau Bangka dan Belitung mulai dikenal pada abad ke-13. Pada masa itu, penduduk setempat mulai mendulang biji timah dengan sangat sederhana sekali. Mereka mendulang timah seperti orang-orang Martapura di Kalimantan mendulang emas. Pekerjaan ini dilakukan di pinggir-pinggir pantai, di lembah-lembah dan di sungai-sungai yang dangkal airnya. Alat yang dipakai oleh mereka terbuat dari anyaman bambu yang disebut tampah atau nyiru. Orang-orang Siantan dan Johor pada sekitar tahun 1710 mengerjakan penggalian biji timah di Bangka dengan pengalaman yang mereka bawa dari Semenanjung Malaka. Untuk mengetahui apakah suatu daerah atau lokasi mengandung endapan biji timah, dipergunakan alat yang sangat sederhana sekali yang disebut Ciam (bahasa Cina) atau Stick Bor (bahasa Inggris). Kemudian barulah tanah digali dengan pacul atau sekop. Tanah yang sudah digali disalurkan ke dalam Khan (Sluice box) untuk diendapkan dan dicuci.

249

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Lokasi tempat penambangan biji timah diberi nama Parit yang berarti tambang. Sampai sekarang nama-nama tersebut masih tetap dipakai, seperti Parit Tiga di Jebus, Parit Padang di Sungailiat, di Belitung terdapat berpuluh-puluh parit tambang yang tetap memakai nama Cina.
Ketika Belanda menjajah di Nusantara, Pulau Bangka dan Belitung pun dikuasai pada kira-kira tahun 1722. Belanda menguasai perdagangan timah dalam waktu yang cukup lama. Pada tahun 1816 penambangan timah di Bangka diambil alih Pemerintah Belanda dari kerajaan Sriwijaya dan diberi nama “Bangka Tin Winning Bedrijf” disingkat B.T.W. Setelah Jepang berkuasa, mereka menunjuk Mitsubishi Kagyo Kaisha untuk mengusahakan tambangtambang di Bangka, Belitung dan Singkep dan dilakukan di bawah kekuasaan Militer Jepang. Ketika Indonesia merdeka, perusahaan timah diambil alih oleh negara dan menjadi perusahaan negara yang saat ini dikenal dengan nama PT.Timah, Tbk. Selain itu, timah juga diusahakan oleh swasta melalui PT.Koba Tin dan juga penambangan rakyat. Produksi timah di Kepulauan Bangka Belitung memang luar biasa. Berdasarkan Renstra Provinsi tahun 20022006, produksi bijih timah yang diusahakan oleh dua perusahaan tersebut mencapai rata-rata 90.000 ton/tahun.

Hingga saat ini, besi/baja merupakan penguasa pasar logam dunia. Sedangkan logam lain yang banyak dipakai dalam industri antara lain terdiri atas tembaga, timbel, seng, aluminium, nikel, dan timah. Dari keenam jenis logam tersebut di atas timah-lah sebenarnya yang terkecil, hanya 1,8 persen dari pasar nonlogam. Walaupun hanya 1,8 persen, timah justru berperan sangat besar dalam industri dunia. Bisa dibayangkan nasib industri elektronika, amunisi, makanan kaleng, industri logamlogam campuran, baterai, jika tanpa timah. Belum lagi industri yang kecil-kecil seperti, glass industry, catalysts, wine capsules, dan lain-lain. Tanpa timah semuanya akan tutup karena timah tak tergantikan, bahkan oleh emas sekalipun.

250

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Kini perhatikan betapa besarnya produksi logam timah Indonesia dalam konstalasi dunia. Dari 333.900 ton produksi dunia itu (sumber Commodity Research Unit/CRU, 2005), timah yang keluar dari Indonesia (baca Babel) kurang lebih sebesar 90.000 ton. Ini belum termasuk yang diproduksi dan dijual di pasar bebas oleh perusahaanperusahaan Small smelter di Babel yang besarnya diperkirakan mendekati produksi PT Timah dan PT Kobatin. Kalau semuanya ditotal, maka sebenarnya produksi logam timah yang dihasilkan Indonesia akan menguasai tak kurang dari 50 persen dari produksi dunia, jauh di atas Cina yang dalam statistik CRU tahun 2005 berada dalam peringkat pertama dengan total produksi 124.000 ton. PT Timah memproduksi 65.000 ton dan PT Kobatin 25.000 ton. Indonesia yang selalu serba terbelakang dalam hampir segala hal dengan negaranegara berkembang lainnya, secara teoritis mampu mendikte pasar timah dunia, bisa mendikte LME (London Metal Excange). Bisakah itu terjadi? Sangat mungkin. Caranya, PT Kobatin diakuisisi oleh PT Timah atau pemerintah daerah. Semua SS menjual produksinya ke PT Timah, kemudian penyelundupan pasir dan logam timah diberantas sampai ke akar-akarnya. Yang lebih menyedihkan lagi adalah bahwa sebagai penghasil timah terbesar (katakanlah di bawah Cina), Indonesia ternyata tak masuk hitungan dalam komunitas konsumen timah dunia. Perhatikan data berikut ini. Cina yang memproduksi 124.000 ton pada 2005 mengkonsumsi sendiri sebesar 102.000 ton. Jepang yang tak punya timah mengkonsumsi 35.000 ton. AS yang juga tidak punya timah mengkonsumsi 49.000 ton. Eropa, juga bukan produsen, mengkonsumsi 78.000 ton. Sementara Indonesia digolongkan dalam negara-negara Asia lain selain Jepang dan Cina mengkonsumsi 62.000 ton. Berapa porsi Indonesia di tengah-tengah negara-negara macan industri baru Asia lain seperti Korea, Singapura, dan Taiwan? Sepertinya hanya kecil sekali.

251

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Ada yang lebih parah lagi dari yang dua di atas, ialah bahwa Indonesia dewasa ini sedang akan bangun untuk menjadi negara industri baru, yang nanti pastilah akan banyak memerlukan bahan baku timah. Tetapi sementara itu kini timah di Babel sedang dikuras habis-habisan. Semua memperebutkan dengan semangat berlombalomba untuk paling banyak dapat mengeksploitasi, melebur, dan mengekspornya, atau mengekspor dalam bentuk pasir dengan cara menyelundupkannya. Di sinilah paradoksnya. Ketika negara belum mengkonsumsi banyak timah, timah yang kini melimpah dikuras habis-habisan untuk dijual, dan ketika nanti akan bangkit untuk memasuki gerbang industri, cadangan timah telah habis dan justru Indonesia harus membeli timah dari pundi-pundi timah negara lain yang kini menimbunnya untuk cadangan pelayanan industrinya di masa depan. Perbincangan masyarakat tentang timah merasuk ke segala strata, kontroversi pun menyeruak kemana-mana bila telah berbicara tentang tambang inkonvensional (TI) dan small smelter (SS). Setidaknya ada dua kubu yang berpandangan berbeda. Pertama yang menganggap TI adalah berkah. Dalam keadaan lesunya ekonomi rakyat Babel karena hancurnya harga lada, diizinkannya TI membuat rakyat dapat bernapas lega. Ekonomi kembali memanas karena kurang lebih 100.000 ton pasir timah dari perut bumi Babel setiap tahun ini telah menghidupi kurang lebih 15.000 jiwa dengan total kontribusi PDRB sekitar Rp 30 miliar. Kalau dihitung dari keseluruhan harga pasir timah tentu komulasi nominal uangnya luar biasa (sekitar Rp 300 miliar), jauh di atas PAD provinsi dan PAD semua kabupaten/kota se-Babel digabung menjadi satu. Tapi uang sebanyak itu tentu saja tidak ditanam dan beredar di Babel, tetapi diangkut oleh para pemilik modal yang umumnya berasal dari luar Babel. Bahkan, tak sedikit yang ditransfer ke luar negeri seperti Singapura, Hongkong, dan Malaysia karena pemodalnya memang orang sana. Kubu kedua adalah yang kontra.

252

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Setelah melihat fakta dampaknya di lapangan, ternyata TI telah merusak hutan, sungai, kebun, jalan, pantai. SS -peleburan timah kecil- jumlahnya hanya sekitar 20 buah, sedangkan TI mendekati 2.000 unit. Karena jumlahnya banyak, TI lebih merusak. PT Timah dan PT Kobatin, tampaknya tidak menyukai kehadiran SS ini karena merupakan pesaing mereka dalam menampung pasir timah dari TI. Bagi masyarakat, persaingan ini menguntungkan karena tidak adanya monopoli. Sebenarnya, kalau PT Timah mendudukkan dirinya sebagai representasi negara, dia bisa mengajukan argumentasi yang lebih esensial terhadap keberadaan SS, yakni soal perdagangan bebas timah unbranded di dunia internasional.
Semua SS yang beroperasi di Babel memproduksi balok-balok timah tanpa label, dan dijual ke pasar bebas internasional, seperti Thailand, Vietnam, Singapura, Cina, dan lain-lain. Di negara-negara tersebut timah ini dilebur kembali dengan brand mereka atau langsung dipakai dalam berbagai industri di negerinya. Padahal, jumlah timah unbranded Indonesia dari Babel yang beredar di pasar internasional ini nyaris sama banyaknya dengan yang di produksi total PT Timah dan PT Kobatin. Kini produsen timah terbesar di dunia adalah Cina. Padahal, akumulasi produksi PT Timah dan PT Kobatin ditambah dengan produksi semua SS (masih ditambah lagi dengan selundupan) melebihi produksi Cina. Jadi sejatinya Indonesia-lah produsen timah terbesar dunia. Bila produksi ini benar, maka Indonesia memiliki daya tawar yang sangat kuat dalam pasar timah internasional. Sementara itu, keprihatinan terhadap dampak negatif penambangan timah secara besarbesaran di Bumi Bangka Belitung sangat bisa dipahami bila sudah melihat apa yang disebut dengan kolong. Kolong adalah sebutan yang khas dari masyarakat Bangka Belitung terhadap danau-danau yang terbentuk dari bekas penambangan timah. Menurut survei tahun 1998/1999 yang dilakukan tim dari Universitas Sriwijaya (Unsri) atas permintaan dari PT Timah, terdata sebanyak 887 kolong di Bangka Belitung, yaitu 544 kolong di Bangka dengan luas 1,035,51 hektar dan 343 kolong lainnya di Belitung dengan luas 677,14 hektar.

253

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Kondisi ini diperparah dengan semakin banyaknya penambang rakyat yang umumnya tidak memperhatikan aspek keseimbangan lingkungan. Hal ini tentu saja menjadi kekhawatiran bagi para pejabat setempat karena hal ini sangat merusak lingkungan alam. Persoalan Tambang Inkovensional memang tidak hanya dikenal sekarang. Jauh sebelum era kini, bahkan sebelum propinsi ini terbentuk, TI sudah menancapkan kukukukunya di ‘Negeri Serumpun Sebalai’. Belakangan, aktivitas pertambangan timah yang dikelola secara merakyat dengan sebutan TI mulai menggelisahkan. Apalagi jika tidak mendatangkan kekhawatiran akan kerusakan lingkungan yang semakin hari semakin mengancam.
Lokasi galian timah semakin melebar dengan tidak hanya menjangkau kawasan tertentu, namun cenderung mulai tidak pandang bulu. Sepanjang buminya mengandung timah, maka di situ kuku akan ditancapkan. Akibatnya, kolong-kolong semakin bertambah. Bisa dimaklumi ketika pemerintah, baik tingkat kabupaten maupun tingkat propinsi, terlihat sangat hati-hati dalam menyikapi masalah ini. Beberapa alasan yang mungkin menjadi pertimbangan, pertama persolan TI menyangkut masalah kerakyatan yang berkaitan dengan dapur masyarakat. Memberangus dengan serampangan akan menimbulkan gejolak yang besar dan itu berarti pemerintah harus siap distempel tidak berpihak pada rakyat kecil. Kedua, jika dibiarkan TI semakin mengancam keseimbangan lingkungan dan pada gilirannya akan merembet ke segmen lain, yakni mewariskan kerusakan alam kepada para generasi selanjutnya. Pada satu sisi, rakyat sangat diuntungkan karena hasil galian TI bisa mensenjahterakan penambang. Hal ini diperkuat dengan banyaknya masyarakat yang terjun ke dunia TI setelah menyaksikan keberhasilan para penambang timah yang lain. Seorang pemilik TI dapat menghasilkan sampai 2-3 juta perhari.

254

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Disinyalir bahwa alat berat yang beroperasi di Bangka Belitung ini mencapai 3000 unit pada pertengahan tahun 2004. Bisa dibayangkan, setiap unit menggarap setengah hektar saja per hari, maka dalam sehari ada 1500 hektar tanah yang akan hancur. Satu hal yang menjadi pertimbangan barangkali adalah persoalan ke depan. Pasca timah dan lada, maka potensi yang memungkinkan dikelola adalah pariwisata. Sementara itu, jika alam telah dirusak oleh aktivitas TI, maka tentu akan sangat menyulitkan pengelolaan parwisata ke depan. Satu hal yang menjadi kekhawatiran adalah sulitnya pengelolaan kolong-kolong tersebut ke arah pemberdayaan lahan bekas galian timah. Selain tidak bisa diminum, kolong juga tidak bisa ditimbun rata lagi. Sementara jika ingin dikembangkan menjadi salah satu objek pariwisata, lokasinya yang terkadang tidak strategis, kolong yang terlalu banyak juga menyulitkan pengelolaan kolong menjadi kawasan wisata yang menarik.

Sekarang pertanyaanya: berapa lama lagi habisnya timah di Babel? Begini kira-kira gambarannya. Tambang-tambang timah di Malaysia sebagian telah ditutup karena tak ekonomis lagi setelah dieksploitasi ratusan tahun, dan boleh jadi karena itu mereka membeli PT Kobatin di Bangka dari Australia yang telah selama 20 tahun menyedot timah di sana. PT Timah pun melakukan restrukturisasi organisasinya karena menyusutnya cadangan pasir timah. Di Belitung dan Singkep semua unit-unit produksinya telah ditutup. Pegawainya yang semula lebih dari 20.000 orang kini menyusut menjadi hanya 5000 orang saja. Kapal-kapal keruknya dijual dan kini hanya tinggal beberapa buah saja lagi yang beroperasi, begitu pula unit-unit organisasi sampingan seperti rumah sakit, bengkel-bengkel, dan berbagai aset lain yang tak terkait langsung dengan produksi dijual. Kini tinggal Bangka dengan sisa cadangan yang semakin terbatas untuk dapat dieksploitasi secara efisien oleh perusahaan konvensional yang besar seperti PT Timah. PT Kobatin pun ketika ditinggalkan oleh Australia dan dibeli oleh MSC (Malaysia Smelting Corp) telah mengalami penurunan produksi. Restrukturisasi pun tak dapat dihindarkan.

255

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Pegawai dikurangi dan kapal-kapal keruk di nonaktifkan dan unit-unit tambang darat banyak yang ditutup. Diizinkannya TI sebenarnya pada satu sisi menjadi berkah bagi kedua perusahaan besar tersebut. Bagaimana tidak? TI-TI mampu beroperasi dengan efisien karena dapat memanfaatkan sumber-sumber daya secara lebih sederhana. Sebuah genset untuk menggerakkan pompa-pompa, sebuah excavator untuk membuka lahan pada kedalaman beberapa meter, cukup beberapa orang pekerja yang dibayar sesuai kinerja, serta hal teknis kecil-kecil lainnya. Mereka tidak direpotkan dengan asuransi, transportasi pekerja, pajak, dan reklamasi, yang merupakan aspek-aspek biaya yang biasanya masuk dalam kalkulasi tambang konvensional (TK). Dimana untungnya TK (PT Timah dan PT Kobatin)? TI yang menghasilkan bijih timah ini memerlukan pasar untuk mengkonversi (menjual) produksi pasir timahnya dengan uang. Merekalah pasar itu, di samping SS. Dengan demikian maka big-smelter (BS) milik kedua perusahan besar tersebut dapat beroperasi normal kembali dengan tidak perlu memperluas operasi penambangannya yang sudah kurang efisien itu. Kalaupun ada ruginya, itu adalah karena banyak lokasi bekas tambang milik kedua perusahaan besar itu yang sebenarnya telah direklamasi/dipulihkan alam lingkungannya, tetapi belum dikembalikan kepada pemda, kini rusak kembali karena dijadikan TI. Kerusakan ini tetap menjadi tanggungjawab PT Timah dan PT Kobatin karena lahan-lahan tersebut masih termasuk lahan KP milik mereka. Semua TI dengan tingkat kerakusan yang sangat tinggi menyedot pasir timah tersebut, menghabiskan sisa-sisa deposit yang sebelumnya ditinggalkan oleh PT Timah dan PT Kobatin karena tak efisien lagi ditambang. Keluasan lahan garapan TI ini jauh melebihi apa yang sebelumnya menjadi kawasan kuasa pertambangan (KP) PT Timah dan PT Kobatin.

256

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Undang-undang No. 22/1999 tentang Otonomi Daerah dan UU No. 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan lahir sebagai jawaban atas keluarnya TAP MPR No. XV/MPR/1998 yang menetapkan pemberian otonomi kepada daerah, pemanfaatan kekayaan nasional secara adil, dan perimbangan keuangan antara pusat dan daerah dalam konteks negara kesatuan. Sebagai pelaksanaan atas TAP MPR No. XV/MPR/1998, maka UU Otonomi Daerah mengatur pendesentralisasian bahan galian selain migas kepada pemda tingkat II terkait. Kecuali mengenai kebijakan dan pembuatan formulanya masih menjadi tanggung-jawab pusat. Oleh karena itu pengaturan pertambangan di daerah berlandaskan pada peraturan daerah (Perda). Legitimasi Perda Pertambangan dari sisi yuridis diatur pada pasal 69 UU No 22 Tahun 1999, yang berbunyi "Kepala Daerah menetapkan Peraturan Daerah atas persetujuan DPRD dalam rangka penyelenggaraan Otonomi Daerah dan penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi". Dengan keluarnya UU tentang otonomi daerah itu diharapkan pemerintah daerah dapat dengan leluasa mengatur kewenangannya dalam mengatur dan memanfaatkan potensi daerah yang dimiliki tanpa harus menunggu campur tangan dari pemerintah pusat. Namun keluarnya perda-perda itu bukannya tanpa masalah. Dalam banyak kasus, perda yang lahir di era otonomi sekarang banyak melahirkan kontroversi, sebagaimana kontroversi yang terdapat dalam Perda Pertambangan yang dibuat oleh kabupaten Bangka.

257

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Perda No 21 Tahun 2001 Tentang Pajak Pertambangan Umum dan Mineral Ikutannya yang dikeluarkan Pemda Kabupaten Bangka salah satu pemicu awal munculnya permasalahan timah yang sangat kompleks. Persoalanya bukan pada ‘pemalakan’ yang terjadi kepada para pengusaha tambang, melainkan Perda tersebut memberikan kesempatan kepada masyarakat umum untuk melakukan penambangan dengan konsekuensi pada beban pajak pertambangan yang harus dibayar. Jadi bukan terletak pada tambahan biaya yang harus dikeluarkan para pengusaha tambang. Di sinilah sebetulnya letak persoalan itu. Karena ditingkat nasional saja pemerintah tidak mempunyai strategi pemanfaatan mineral, tidak tahu bagaimana perhitungan mineral yang harus ditambang dan berapa yang harus disimpan untuk menjaga kelestarian lingkungan. Sehingga untuk menutupi kekurangan pemerintah pusat selama ini, maka peluang otonomi dimanfaatkan daerah untuk mengeluarkan Perda yang mengarah pada strategi pemanfaatan mineral. Akibatnya bisa ditebak, berbagai penyelundupan marak terjadi. Maraknya penyelundupan dikarenakan keberadaan tambang inkonvensional (TI). Hal ini tidak bisa dihindari karena sekitar 130.000 atau 13 persen dari penduduk Babel yang sekitar satu juta jiwa menggantungkan hidup dari TI. Mereka lebih suka menjual pasir timah kepada eksportir dari pada kepada PT Timah. harga pasir timah di Singapura saat ini Rp 33.000. Sedangkan, PT Timah hanya membeli pasir timah yang ditambang masyarakat dengan harga Rp 25.000 per kilogram.
Pasalnya, mereka memiliki akses untuk mengekspor hasil produksinya. Jumlahnya luar biasa, yakni mencapai sepertiga pasar timah dunia. Harganya pun jauh di bawah harga normal. Kalau dipasaran harganya sekitar US$ 3.500 per ton, di jalur ilegal ini harga miringnya bisa mencapai US$ 2.590 per ton. Dari data Kompas, setiap tahun diperkirakan ribuan ton pasir timah diekspor ke Thailand, Malaysia, dan Singapura, tanpa membayar royalti. Pada tahun 2001, jumlah pasir timah yang diekspor tanpa membayar royalti 43.450 ton, dengan kerugian Rp 49,4 milyar.

258

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Ironisnya, TI tidak lagi menjadi mata pencaharian masyarakat lokal belaka karena justru banyak pengusaha yang datang untuk tujuan ekspansi perusahaan. Apalagi tidak ada birokrasi izin yang berbelit. Asalkan pengusaha dari luar tersebut punya modal dan mampu memobilisasi sumber daya lokal untuk mengelolanya, maka jadilah investasi TI sebagai surga pengusaha dari luar. Tak mengherankan jika saat ini banyak pengusaha yang berasal dari Jakarta dan kota besar lainnya yang membuang modal besar-besaran sekedar untuk ikut serta merusak dan mencaplok timah hitam berkualitas internasional dari Bangka Belitung.

2. Pendidikan Peningkatan perluasan akses dan pemerataan pendidikan penuntasan wajib belajar Sembilan tahun merupakan kebutuhan yang tidak dapat ditunda lagi pemenuhannya. Wajib belajar pendidikan dasar Sembilan tahun yang telah dicanangkan sejak tahun 1994 diharapkan sudah selesai tahun 2003. Namun krisis multidimensi yang terjadi pada tahun 1998, menyebabkan target tersebut terpaksa tertunda sehingga penuntasan lebih lanjut diharapkan akan dapat dicapai pada tahun 2009/2010. Untuk itu diupayakan secara bertahap anak usia 7 sampai dengan 15 tahu memperoleh pendidikan yang bermutu, termasuk didalamnya anak-anak yang berkebutuhan khusus yakni: anak berkelainan, anak berbakat, dan anak-anak kurang beruntung karena kemiskinan, kondisi geografis, terisolasi/terasing atau karena bencana alam. Selain itu pemerataan dan perluasan memperoleh pendidikan tingkat menengah perlu dirintis ke arah wajib belajar 12 tahun untuk meningkatkanmutu kualitas sumber daya insani. Hal yang tak kalah pentingnya adalah perlunya meningkatkan pendidikan bagi anak usia dini melalui pembelajaran tingkat taman kanak-kanak dan TPA dalam upaya membangun karakter sumber daya insani yang aktif, kreatif, dan mandiri.

259

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

3. Kesehatan Derajat kesehatan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah mengalami kemajuan yang cukup bermakna. Peningkatan derajat kesehatan masyarakat antara lain ditunjukkan dengan makin menurunnya angka kematian bayi dan kematian ibu, menurunnya frekuensi gizi kurang pada balita, serta meningkatkan umur harapan hidup. Namun demikian disparitas derajat kesehatan antar wilayah dan antar kelompok tingkat sosial ekonomi penduduk masih tinggi. Selain itu Provinsi Kepulauan Bangka Belitung juga menghadapi beban ganda dalam pembangunan kesehatan. Dewasa ini masih dihadapi meningkatnya beberapa penyakit menular (re-emerging disease), sementara penyakit tidak menular atau degenerative mulai meningkat, di samping telah timbul pula berbagai penyakit baru (new-emerging disease). Hal ini dimungkinkan akibat program pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan yang masih menempatkan masyarakat sebagai objek bukan sebagai subyek pembangunan kesehatan. Peran aktif masyarakat dalam pembangunan kesehatan, yang meliputi pengabdian masyarakat (to serve), pelaksanaan advokasi kesehatan (to advocate) dan pelaksanaan pengawasan sosial (to watch) masih kurang dan bahkan cenderung menurun. Berbagai masalah kesehatan yang timbul dewasa ini tidak perlu terjadi bila peran aktif masyarakat yang telah meningkat di masa lampau dapat dipertahankan. Dari sisi upaya pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan yang bermutu juga belum optimal. Perhatian pada masyarakat miskin, rentan dan beresiko tinggi serta penanganan masalah kesehatan akibat bencana belum memadai. Kondisi ini juga antara lain disebabkan kualitas dan pemerataan tenaga kesehatan yang belum memadai. Peran Dinas Kesehatan sebagai pelaksana dan sebagai fasilitator pembangunan kesehatan masih terbatas. Keterbatasan tersebut terutama dalam penanganan penduduk miskin, promosi kesehatan, penanggulangan gizi buruk, penanggulangan masalah kesehatan akibat bencana, imunisasi dan pendayagunaan tenaga kesehatan.

260

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

4. Kemiskinan Permasalahan mendasar dari upaya pengentasan kemiskinan menyangkut berbagai aspek seperti upaya peningkatan mutu sumber daya manusia sebagai upaya meningkatkan mutu ketenagakerjaan melalui peningkatan mutu pendidikan dan penuntasan wajib belajar Sembilan tahun dasar secara bertahap kearah wajar 12 tahun, penurunan kematian anak dan ibu, prevalensi gizi balita, peningkatan usia harapan hidup dan mengatasi tingginya penyakit malaria. Penurunan angka pengangguran melalui perluasan dan penciptaan lapangan kerja, lapangan usaha serta menciptakan dan mendorong kualitas tenaga kerja yang berdaya saing untuk tingkat lokal, regional dan global serta penurunan tingkat kemiskinan secara sistemik sampai tingkat yang paling rendah. 5. Pengangguran Masalah utama masih tingginya angka pengangguran dibandingkan jumlah penduduk produktif adalah dikarenakan keterbatasan lapangan pekerjaan dan lapangan usaha serta rendahnya tingkat pendidikan dan keahlian calon pencari kerja. 6. Lingkungan Hidup Degradasi Sumber Daya Alam (SDA) dan Lingkungan yang disebabkan oleh: a. Kerusakan Lingkungan Hidup akibat aktifitas penambangan timah di darat dan laut. Dampak nyata (penting dan besar) dari aktifitas penambangan timah di darat adalah kerusakan lahan/berubahnya struktur bentang alam, terganggunya struktur tata air dan degradasi keanekaragaman hayati (KEHATI). Selain di darat, aktivitas penambangan timah juga terjadi di laut yang berakibat terganggunya ekosistem laut terutama di daerah pesisir. b. Illegal Fishing Bangka Belitung dengan luas wilayah perairan/laut lebih dari 75% dari luas daratan, memiliki potensi kelautan yang cukup strategis, diantaranya potensi perikanan. Namun sangat disayangkan dalam eksploitasi hasil laut ini dilakukan dengan metode-metode yang tidak ramah lingkungan (pengeboman, penggunaan racun dan penggunaan pukat harimau).

261

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

c.

Kurangnya penanganan dampak pembangunan perkotaan Penumpukkan sampah, pemukiman kumuh, pencemaran sungai akibat limbah domestik dan non domestik merupakan permasalahan lingkungan yang dihadapi oleh kota.

d. Rendahnya kepedulian lingkungan hidup Pentingnya perhatian terhadap kelestarian lingkungann hidup perlu sosialisasi yang kontinyu dan berkesinambungan. e. Pembalakan liar (Illegal logging) Antisipasi terhadap pembalkan liar terhadap kekayaan hutan merupakan hal yang segera dilakukan sedini mungkin. 7. Infrastruktur Sejauh ini, masih banyak kondisi jalan Negara dan provinsi yang rusak, sedang dan berat. Masih banyak pula masyarakat Bangka Belitung yang belum menikmati listrik dan air bersih. Selain itu panjang saluran irigasi yang sudah dibangun juga belum mampu mengairi seluruh persawahan yang ada, ditambah sebagian besar kondisi drainase perkotaan dan drainase jalan negara dan provinsi kurang layak serta kapasitas dan fasilitas pelayanan pelabuhan udara maupun laut yang masih terbatas. 8. Pemuda Rendahnya partisipasi dan kualitas generasi muda dalam keikutsertaan melaksanakan pembangunan daerah, kecenderungan meningkatnya penggunaan narkoba di kalangan generasi muda. Lemahnya inovasi dan kreativitas dalam pengembangan kegiatan olahraga dan budaya. 9. Peningkatan Komoditas unggulan Daerah Beberapa komoditas unggulan daerah antara lain: A. Bidang perkebunan meliputi: 1. Kelapa sawit, pembangunan kelapa sawit walaupun berdasarkan analisis cukup ekonomis namun mendapat tantangan dan penolakkan dari kalangan masyarakat terutama dalam bentuk inti plasma, untuk itu akan diterapkan sistem kelompok Kelapa Sawit Rakyat (KKSR) dengan cara sarana produksi dibantu oleh pemerintah,

262

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

sedangkan bibitnya disediakan oleh perusahaan sekaligus sebagai pembeli Tandan Buah Segar (TBS), dengan sasaran 2 hektar per KK. 2. Karet, perlu dikembangkan bibit karet unggul melalui kerjasama antara petani karet dan pemerintah serta perusahaan pengolahan karet sebagai penyedia bibit dan pembeli hasilnya dengan sasaran satu hektar per KK. 3. Lada, sebagai tanaman rakyat yang telah ditekuni perlu dipertahankan dan dikembangkan berkualitas. B. Bidang pertanian meliputi: 1. Padi sawah dan ladang, terus ditingkatkan dari tahun ke tahun baik kualitas dan kuantitasnya, untuk padi sawah dari + 3 hektar menjadi 4 ton per hektar dengan luas tiap tahun akan bertambah + 20% (dari 3 ribu hektar), hal ini untuk mengurangi ketergantungan pasokan beras dari luar daerah, sedangkan untuk padi lading akan diusahakan system tumpang sari antara sawit/karet dengan padi lading, diharapkan akan meningkatkan produktifitas + 1,5 ton per hektar menjadi 2,5 ton per hektar. Saat ini ketergantungan provinsi Bangka Belitung akan beras luar dari + 94%, diharapkan pada akhir tahun 2012 ketergantungan akan beras dari luar + 88%. 2. Pembangunan anaman buah-buahan/sayur-sayuran, melalui peningkatan kualitas dan kuantitas kelekak kelukoi, akan mengurangi ketergantungan buah-buahan dari luar Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melalui teknologi pasca panen. C. Kehutanan, kawasan hutan nasional dan kualitasnya ditingkatkan melalui gerakan rehabilitasi hutan dan lahan berupa pengayaan hutan, baik dari jenis lokal maupun tanaman dari luar daerah, di samping itu dikembangkan hutan larang desa minimal 5 hektar per desa dengan sasaran utama lahan kritis dan bekas tambang timah. D. Peternakan, peternakan sebagai sumber protein hewani dan sumber pupuk organik. Sangat diperlukan pengembangannya dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mempertahankan/meningkatkan kesuburan tanah yang telah rusak akibat ladang berpindah-pindah dan penambangan timah. terus melalui budidaya lada ramah lingkungan dengan mengutamakan bahan organik dan jujung hidup, mempergunakan bibit yang

263

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

10. Dampak krisis ekonomi global Tahun 2008 Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah sebuah daerah kepulauan yang mengandalkan pendapatan dari beberapa sektor utama berikut ini: 1. Perkebunan (Karet, Lada, dan sawit) 2. Pertambangan 3. Perdagangan Krisis ekonomi yang menghantam hampir semua negara di dunia ternyata membawa dampak yang serius bagi kehidupan ekonomi masyaarakat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Selama ini masyarakat di provinsi ini mengandalkan sumber pendapata pada perkebunan (karet, lada, dan sawit), pertambangan, dan perdagangan. Sektor perkebunan dan pertambangan merupakan aktivitas ekonomi yang melibatkan jaringan ekonomi internasional karena produksi perkebunan dan pertambangan kesemuanya merupakan komoditas ekspor. Artinya, masyarakat mengandalkan eskpor bahan mentah atau bahan setengah jadi sebagai sumber ekonomi mengingat daerah ini hanyalah produsen bahan baku. Jika sebelumnya permintaan akan komoditas karet, sawit, dan tambang timah sangat tinggi, ketika terjadi krisis ekonomi global yang melanda banyak lembaga ekonomi internasional permintaan akan bahan baku yang menjadi andalan masyarakat di daerah ini merosot tajam, padahal volume produksi tidak mengalami penurunan. Akibatnya dengan mudah dapat ditebak, harga komoditas seperti karet, sawit, lada, dan timah mengalami penurunan tajam. Harga sawit sebelum krisis melanda bisa mencapai Rp.3.000/ kilogramnya, namun ketika terjadi krisis ekonomi global, harga per kilogramnya turun menjadi hanya Rp.700. Hal sama terjadi pada komoditas karet dan lada. Sementara itu, aktivitas pertambangan mengalami kelesuan luar biasa karena harga tima merosot dengan tajam. Pertambangan rakyat, baik yang legal maupun ilegal, nyaris berhenti karena harga komoditas timah anljok. Masyarakat enggan bekerja dengan alasan biaya produksi lebih besar daripada harga produksi. Oleh karena terjadi penurunan transaksi hampir semua komoditas, maka aktivitas perdagangan pun menjadi lesu. Kegiatan bongkar muat barang menjadi berkurang jauh. Dampak besar dari krisis ekonomi global ini adalah terciptanya pengangguran di hampir semua sektor kehidupan masyarakat dan itu mengancam berbagai sektor lainnya. Dampaknya ke sektor lain adalah pada sektor sosial, misalnya terjadinya pengangguran besar-besaran, bunuh diri, depresi, pemerkosaan, sementara di bidang politik akan muncul krisis kepercayaan pada pemerintah yang

264

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

akan mengarah pada krisis kepemimpinan. Di bidang hukum, kriminalitas akan meningkat tajam sebagai konsekuensi dari pengangguran. Pemerintah pusat dan daerah harus bergerak cepat untuk memberikan pemahaman utuh kepada masyarakat luas bahwa krisis ekonomi semacam ini tidak akan berlangsung lama. Pemerintah harus meyakinkan masyarakat bahwa krisis akan segera berlalu melalui berbagai tindakan nyata pemerintah.

265

Bagian 4. Agenda Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

BAB. 5.1 PENUTUP

Masyarakat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang multi etnis membutuhkan rasa saling percaya yang tinggi, agar pembangunan dapat didukung oleh semua pihak dan lapisan masyarakat yang ada diprovinsi ini. Kondisi hubungan masyarakat antar etnis/suku atau antara masyarakat dengan pemerintah daerah selama ini sudah berjalan dengan baik, dimana pemerintah terus berupaya melaksanakan program pembangunan untuk mensejahterakan rakyat, sehingga pemerintah dan pihak-pihak pelaksana didalamnya betul-betul dipercaya oleh masyarakat Pengembangan kebudayaan di Provinsi Bangka Belitung yang kental dengan budaya melayu terus dilakukan melalui berbagai kegiatan seni dan budaya. Disamping itu juga berusaha untuk memperkenalkan budaya Bangka Belitung ke tingkat nasional dan internasional. Integrasi budaya melayu ke budaya-budaya yang lain juga penting, mengingat keanekaragaman budaya yang ada diprovinsi ini. Tingkat kriminalitas di Provinsi Bangka Belitung pada tahun 2007 memang mengalami kenaikan. Banyak faktor yang memperngaruhi peningkatan tersebut, diantaranya kondisi ekonomi, minimnya jumlah aparat dan sarana prasarana dan lain-lain. Namun demikian aparat kepolisian bersamasama dengan masyarakat di Bangka Belitung terus berupaya menciptakan KAMTIBMAS guna mendukung pelaksanaan proses pembangunan. Berbagai kebijakan pemerintah daerah provinsi Bangka Belitung, termasuk produk hukum selalu berorientasi pada sifat otonomi daerah, yaitu akselerasi dengan permasalahan dan potensi masyarakat Bangka Belitung. Misalnya berkaitan dengan Perda Pertambangan Timah, Perda Lada dan lain sebagainya yang dapat mensejahterakan masyarakat secara ekonomi, namun tetap memperhatikan kondisi lingkungan. Disamping itu, perlu pula Perda yang dapat mendukung KAMTIBMAS untuk mengurangi penyakit masyarakat, serta produk hukum yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku, baik secara formil maupun materiil sehingga tidak akan dibatalkan oleh pemerintah pusat atau justru bertentangan dengan keinginan masyarakat.

266

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Bangka Belitung sebagai provinsi baru dengan penduduk multi etnis dan agama, sampai dengan tahun 2007 tidak ada potensi diskriminasi, baik politik, ekonomi, gender dan lain-lain. Namun demikian berbagai upaya pre-emtif dan preventif terus dilakukan baik oleh masyarakat maupun pemerintah untuk meminimalisir berbagai potensi yang dapat memicu konflik dan diskriminasi, karena apabila tidak dapat menghambat proses pembangunan berkelanjutan. Dalam upaya penciptaan tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa dibutuhkan waktu yang lebih panjang untuk bisa merealisasinya, sedangkan RPJMD Provinsi Kep. Bangka Belitung baru disusun pada tahun 2007. Sebagai Propinsi yang baru dibentuk masih banyak yang harus dibenahi dalam upaya pemberantasan korupsi. Untuk pelaksanaan program penindakan dan pencegahan tindak pidana korupsi, program pemerintahan yang baik, dan program peningkatan pengawasan dan akuntabilitas aparatur negara, perlu adanya komitmen yang kuat pada tiap penyelenggara pemerintahan maupun aparat terkait. Belum adanya penindakan/hukuman yang dijatuhkan terhadap tersangka koruptor di provinsi ini dalam kurun satu tahun terakhir meskipun telah banyak laporan yang masuk di kepolisian, itu juga perlu dicermati. Dilain pihak kurang adanya koordinasi pihak-pihak berwenang yang mengurusi masalah tindak pidana korupsi. Oleh sebab itu perlu adanya konsistensi dan komitmen yang kuat agar dapat tercapai tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung. Perbaikan kelembagaan, perencanaan kegiatan yang fokus, dan segala proses yang terjadi dalam mengelola Pemerintahan di daerah Propinsi Kep. Bangka Belitung perlu dilakukan agar keberlanjutan proses demokrasi dan pencapaian program perwujudan lembaga demokrasi yang makin kokoh di daerah ini dapat terlaksanana. Disamping itu, optimalisasi fungsi-fungsi lembaga pemerintahan, dan peningkatan aparatur pemerintahan masih perlu dilakukan sehingga diharapkan proses pelaksanaan pemerintahan di Propinsi Bangka Belitung ini dapat berlangsung dengan baik, aman dan tertib. Secara umum, kondisi kemiskinan di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung didasarkan salah satunya pada ketergantungan dari masyarakatnya terhadap kegiatan penambangan timah. Kurang adanya minat dari penduduk asli bangka untuk bertani dan mengelola perikanan menjadikan propinsi ini sebagai salah satu propinsi dengan harga sayuran yang mahal.

267

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Kegiatan penambangan timah pada akhirnya lambat laun akan menyisakan tanah-tanah yang tandus karena pada kegiatan ini tidak dilakukan reklamasi lahan sehingga dibiarkan menjadi kolong-kolong yang berisi air. Ketergantungan yang besar penduduk Propinsi Kepulauan Bangka Belitung terhadap kegiatan penembangan akan berpengaruh terhadap pendapatan yang diperoleh oleh masyarakatnya itu sendiri. Karena timah bukan merupakan sumberdaya alam yang dapat diperbaharui sehingga akan menyebabkan proses kemiskinan tidak disadari oleh masyarakat. Untuk mendukung usaha pengentasan kemiskinan berbasis masyarakat, perlu dilakukan upaya peningkatan produktivitas dan kualitas hidup masyarakat. Hal ini dapat dilakukan melalui program perluasan akses terhadap pelayanan hak-hak dasar, terutama bagi masyarakat miskin dan masyarakat yang rentan untuk masuk dalam kategori miskin. Dengan terpenuhinya standard kebutuhan dasar, maka masyarakat diharapkan mampu berusaha untuk meningkatkan pendapatan dan keluar dari kemiskinan. Kinerja industri non migas di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung masih harus ditingkatkan. Hal ini mengingat besarnya kontribusi sektor ini terhadap perekonomian daerah maupun penciptaan tenaga kerja. Akan tetapi, perlu juga diupayakan untuk meningkatkan faktor pendukung seperti kelistrikan dalam rangka peninkatan industri manufaktur. Secara umum, upaya-upaya yang dilakukan pemerintah daerah Provinsi Babel untuk menciptakan penghormatan, pengakuan, dan penegakan hukum dan HAM semakin memperlihatkan perkembangan positif selama tahun 2005-2007. Terkait kasus korupsi, walapun dalam jumlah kecil tetapi tetap menjadi perhatian dan penanganan khusus dari instansi dan lembaga pemerintah yang ada di Provinsi Babel khususnya dan pemerintah pusat secara umum. Secara keseluruhan masih dibutuhkan waktu yang panjang untuk menjalankan penghormatan, pengakuan, dan penegakan hukum dan HAM di Provinsi Babel secara khusus dan Indonesia secara umum. Secara umum, upaya-upaya yang dilakukan pemerintah daerah Provinsi Babel untuk meningkatkan kualitas hidup dan peran perempuan serta kesejahteraan ibu dan anak memperlihatkan perkembangan positif selama tahun 2005-2007. ecara keseluruhan masih dibutuhkan waktu yang panjang untuk melakukan peningkatan kualitas hidup dan peran perempuan serta kesejahteraan ibu dan anak di Provinsi Babel secara khusus dan Indonesia secara umum. Secara umum, upaya-upaya yang dilakukan pemerintah daerah Provinsi Babel dalam mendukung revitalisasi proses desentraslisasi dan otonomi daerah semakin memperlihatkan perkembangan positif selama tahun 2004-2007.

268

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Secara keseluruhan masih dibutuhkan waktu yang panjang untuk menjalankan otonomi daerah yang sesuai undang-undang dan peraturan-peraturan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung secara khusus dan Negara Kesatuan Republik Indonesia secara umum. Di Bangka Belitung peranan sektor pertanian, perkebunan dan kehutanan dalam peningkatan PDRB tetap menjadi sektor unggulan yang kedua setelah industri pengolahan dan penambangan yang menjadi prioritas pemerintah daerah, namun demikian kontribusinya masih sangat besar dan harus diprioritaskan. Dari penyerapan tenaga kerja di pedesaan sektor ini tetap menjadi tulang punggung dan mempunyai kontribusi dalam mengurangi pengangguran di Bangka Belitung. Upaya yang lebih keras tetap harus ditingkatkan sehingga menjadikan sektor pertanian, perikanan dan kehutanan menjadi salah satu sektor unggulan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sehingga mencapai target yang diinginkan. Peran koperasi dan UKM yang ada di Bangka Belitung merupakan bidang yang patut mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah daerah untuk berperan pada pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan yang ada di Bangka Belitung. Untuk itu, permasalahanpermasalahan yang terjadi pun pada tahun-tahun yang akan datang seharusnya bisa diminimalisir agar tidak terjadi pada masa yang akan datang. Perusahaan-perusahaan berskala besar yang selama ini fokus terhadap pemberdayaan Koperasi dan UKM di Bangka Belitung, hendaknya dipertahankan dan pada tahun-tahun yang akan datang semakin giat membina dan membantu terutama dalam permodalan koperasi dan UKM sehingga kemandirian dari usaha-usaha kecil dan berkembang dapat terus bertahan dan termotivasi mengembangkan usaha mereka. Keberadaan PT. Timah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Tbk sampai dengan tahun 2007 dipandang telah banyak memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat. Didukung dengan program-program dari Corporate Social Responsibility (CSR) terutama bagi pendidikan, pengembangan usaha kecil dan menengah, serta membantu permasalahan-permasalahan sosial kemasyarakat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kerusakan lingkungan akibat penambangan-penambangan illegal/liar tanpa izin dari pemerintah setempat hendaknya dapat terus ditingkatkan dengan lebih intensif demi keasrian lingkungan dan kenyamanan bagi masyarakat setempat.

269

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Perkembangan ilmu pengetahuan teknologi hendaknya dapat lebih difokuskan terutama pemahaman masyarakat terhadap teknologi informasi. Dengan melengkapi fasilitas-fasilitas infrastruktur internet di areal/daerah tertentu, masyarakat tentunya dapat menambah peningkatan dalam ilmu pengetahuan serta pemahaman dalam bidang teknologi. Dalam penelitian hendaknya lebih diaktifkan berbentuk kerjasama penelitian dengan unsur-unsur perguruan tinggi di daerah atau daerah lain, sehingga memberikan hasil yang bermanfaat dari penelitian tersebut bagi kesejahteraan rakyat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Membaiknya iklim tenaga kerja tentunya dapat meningkatkan kesempatan kerja di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Berbagai upaya yang telah dilakukan Disnakertrans Babel sampai tahun 2007 terlihat bahwa pemerintah Babel sangat fokus dalam mengurangi pengangguran yang bertujuan untuk pengentasan kemiskinan. Hal ini ditandai dengan menurunnya tingkat pengangguran terbuka di Babel dan meningkatnya transmigrasi penduduk dari Jawa dan Daerah Lain yang banyak bekerja di Lahan Pertanian yang disediakan oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Ketimpangan kewilayahan merupakan masalah yang cukup urgen di provinsi ini, terutama berkaitan dengan peta persebaran penduduk yang lebih dominan di Pulau Bangka. Secara umum, dapat diasumsikan bahwa terdapat perlakuan berbeda antara Bangka dan Belitung, begitu pula dengan pulau-pulau kecil disekitarnya. Belum ada angkutan lokal yang disediakan oleh pemerintah daerah menyulitkan transportasi antar pulau. Konsekuensinya, jalur komunikasi antar masyarakat menjadi terhambat. Meski demikian, pembangunan yang dilakukan dengan massif belakangan ini menunjukkan perkembangan menarik yang berkaitan dengan penataan bandar udara, penataan pelabuhan, sarana komunikasi, dan lain sebagainya. Pendidikan adalah suatu hal mutlak yang harus dipenuhi dalam upaya untuk peningkatan taraf hidup bangsa Indonesia agar tidak sampai tertinggal dengan bangsa lain. Karena itu, sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah dan berkesinambungan.

270

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Pendidikan sebagaimana yang dijelaskan dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah “usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan poses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara”. Dari pengertian di atas, dapat diambil beberapa poin penting bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana. Sadar berarti apa yang dilakukan dengan penuh kesadaran mengingat pendidikan itu penting. Terencana artinya upaya tersebut dirancang dengan menggunakan pola manajemen yang matang. Pada dasarnya, pendidikan di Provinsi Kepulauan Bangka sudah berlangsung cukup baik. Beberapa kendala yang ada merupakan cerminan dari usia provinsi ini yang terbilang muda. Ke depan diperlukan kesadaran dari pemerintah, peserta didik, pendidik, dan orang tua untuk mewujudkan pendidikan yang terencana, optimal, dan berhasil guna. Askes masyarakat terhadap sektor kesehatan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada dasarnya sudah cukup baik dan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Namun akses terhadap layanan tersebut belumlah merata karena sebagai daerah kepulauan, masih banyak daerah yang secara teknis susah untuk mendapatkan akses dalam dunia kesehatan. Pada sisi lain, ternyata masyarakat juga masih dikungkung oleh paradigma berpikir yang bahwa kesehatan adalah hal yang tidak begitu urgen untuk dijaga. Masyarakat masih berpikir bahwa sehat adalah masalah yang muncul setelah sakit, bukan sebagai pola yang rutin untuk terus di jaga. Pada beberapa hal, peran dinas kesehatan belum optimal dalam mensosialisasikan pola hidup sehat dengan berbagai strategi. Kondisi kesejahteraan sosial di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung secara umum cukup baik, meskipun masih ada Penyandang masalah kesejahteraan sosial yang tersebar diberbagai daerah kabupaten/kota. Namun dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2007 telah dilakukan berbagai upaya, seperti program pengentasan kemiskinan, program bantuan dan jaminan sosial, program pelayanan dan rehabilitasi sosial dan lain-lain. Hasilnya total jumlah penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) di 7 kabupaten/kota pada tahun 2007 adalah 62.562 orang dan yang telah ditangani mencapai 46.850 orang atau 74,89 %. Artinya tinggal 25,11 % lagi PMKS yang perlu ditangani dan dengan program-program tersebut di atas diharapkan dapat cepat tertangani semuanya. Berbagai permasalahan yang menjadi kendala dan penghambat akan terus dilakukan upaya perbaikan dan evaluasi, sehingga upaya peningkatan kesejahteraan sosial diprovinsi ini dapat tercapai dengan maksimal.

271

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Pembangunan kependudukan dan peningkatan keluarga kecil berkualitas di provinsi ini dilakukan dengan penataan administrasi kependudukan, peningkatan program KB, program Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) dan lain-lain. Sementara dalam upaya pemberdayaan potensi pemuda dan olahraga, meskipun mengalami berbagai hambatan, namun perbaikan program, penambahan sarana dan prasarana olahraga, pembinaan cabang olagraga unggulan, dan pemberantasan narkoba yang banyak merusak generasi muda diharapkan dapat meningkatan peran serta pemuda dalam pembangunan dan prestasi olahraga. Provinsi ini memiliki keragaman agama, suku, etnis dan budaya. Namun dengan adanya berbagai program, seperti peningkatan pendidikan keagamaan, bantuan tempat ibadah, pembinaan lembaga keagamaan, peningkatan kemampuan tokoh agama dan masyarakat dan lainlain, dapat semakin kualitas kerukunan umat beragama dan meminimalisir terjadinya konflik yang berbau SARA. Kondisi lingkungan hidup dan pelestarian Sumber Daya Alam di Bangka Belitung memang sangat memperihatinkan. Mulai dari masalah Illegal Logging, Illegal Mining dan Ilegal Fishing sampai dengan lemahnya penegakan hukum, kesadaran hukum masyarakat, pengusaha dan pemerintah sendiri, minimnya reklamasi, semakin merusak lingkungan dan potensi sumber daya alam terkuras tanpa memperhatikan generasi yang akan datang. Namun demikian berbagai upaya dilakukan oleh semua pihak yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan potensi besar yang terkandung dalam SDA untuk dapat dipergunakan bagi kesejahteraan masyarakat dan generasi yang akan datang. Pembangunan infrastrutur di provinsi Bangka Belitung pada dasarnya dalam proses pengembangan dan pembangunan, mengingat Bangka Belitung sebagai provinsi baru. Pembangunan transportasi dengan perluasan, perbaikan dan perawatan jalan, rambu-rambu lalu lintas dan traffic light, pembangunan pelabuhan dan peningkatan bandar udara menjadi bandara internasional dan penambahan armada transportasi darat, laut maupun udara menjadi agenda utama. Di samping itu, energi dan listrik yang menjadi permasalahan dan menghambat pertumbuhan ekonomi terus dicarikan solusi konkrit seperti pembangunan PLTS, PLTG, PLTH dan PLT Cangkang Sawit. Sementara pembangunan pos dan telematika dan Perumahan, Air Minum dan Air Limbah, Persampahan dan Drainase juga terus dilakukan perbaikan dengan melibatkan masyarakat, pemerintah dan swasta serta institusi pendidikan.

272

EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Demikian laporan evaluasi kinerja pembangunan ini disusun oleh Tim, diharapkan optimalisasi kinerja pembangunan yang telah dicapai oleh Provinsi Kepulauan Bangka Belitung selama 3 tahun ini hendaknya juga dapat ditingkatkan untuk 2 tahun kedepan, sehingga kinerja pembangunan tidak ditentukan oleh kepeminpinan seseorang, namun didukung oleh sistem pemerintahan dengan kebijakan-kebijakan yang mampu mendorong pelaksanaan pembangunan didaerah dan dapat mendukung pembangunan nasional.

273

Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN

2004-2009
Di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

BERSAMA MENATA PERUBAHAN
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) 2008
Bekerjasama dengan

Universitas Bangka Belitung

Tim Penyusun Penanggung Jawab : Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (Kepala Bappenas) Rektor Universitas Bangka Belitung Penghubung Provinsi Penyusun : Titut Amalia, S.H. : Ibrahim, S.Fil., M.Si. Darus Altin, S.E., MMSI. Dwi Haryadi, S.H., M.H. Donny F. Manalu, S.T., M.T. Eva Utami, S.Si., M.Si. Ardian W., S.S.., M.Ed. 2008


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags: Evaluasi, RPJMN
Stats:
views:19964
posted:1/28/2009
language:Indonesian
pages:295
Description: Evaluasi 3 Tahun RPJMN 2004-2009 di Provinsi Bangka Belitung