Analisis Kinerja Bidan Puskesmas Dalam Pelayanan Antenatal di Bengkulu

Document Sample
Analisis Kinerja Bidan Puskesmas Dalam Pelayanan Antenatal di Bengkulu Powered By Docstoc
					                                             Working Paper Series No. 11
                                               April 2007, First Draft




           Analisis Kinerja Bidan Puskesmas Dalam
           Pelayanan Antenatal di Bengkulu Selatan




                          Firman Hayadi, Kristiani




                                   Katakunci:
            kinerja bidan, perawatan antenatal, faktor-faktor kinerja




                               -Tidak Untuk Disitasi-

Program Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan,Universitas Gadjah Mada
                                  Yogyakarta 2007
                                                    st
    Firman Hayadi, Kristiani; WPS No. 11 April 2007 1    draft



                         Factors Related To Health Center Midwives’ Performance
                                             in Antenatal Care in South Bengkulu
                                                          Firman Hayadi1, Kristiani2
                                             Abstract
Background The high maternal mortality rate in Indonesia has become an
important issue that needs to be handled seriously. The Indonesia Demographic
and Health Survey (SDKI) in 2002 showed the maternal mortality rate was 307
per 100,000 living birth. In South Bengkulu District itself, the maternal mortality
total reached 17 pregnant mothers in the year of 2004. One of the efforts
conducted to decrease the maternal mortality rate was to encourage pregnant
mothers to visit places which provide health services, especially health centers.
In South Bengkulu District, the percentage of fourth visit of antenatal care (K4) in
the year of 2004 was 72.2%, which was in fact under the targeted percentage of
85%. Same thing happened to the percentage of deliveries assisted by health
officers which was only achieved 65.6%, under the targeted percentage of 77%.
Objective The objective of this research was to figure out the midwives’
performance in antenatal care and factors related to the performance in the
District of South Bengkulu.
Methods This research was an analytical research, with cross sectional design,
using quantitative and qualitative methods. The research population was health
center midwives, with total sample of 85 midwives. The variables employed in
this research were factors related to midwives’ performance, such as work
expectations, feedbacks from superiors, motivation and incentives, environment
and equipments, also knowledge. The research instruments were questionnaires
and in-depth interview guide. Quantitative data were analyzed statistically, using
Pearson product moment and multiple regression tests.
Result. Most of midwives’ performance in antenatal care were categorized as
average (60%). Meanwhile the result of Pearson product moment test showed
there were significant correlations between feedbacks from superiors, motivation
and incentives, also knowledge and skill with midwives’ performance in antenatal
care (p<0.05), with strength of relations in moderate level (r=0.282 for feedbacks
from superiors, r=0.299 for motivation and incentives, and r=0.296 for
knowledge). On the other hand, there were no significant correlations between
work expectations also environment and equipments with midwives’ performance
in antenatal care (p>0.05). From all variables, knowledge became the most
dominant factors (β=0.316).
Conclusion The health center midwives’ performance in antenatal care in the
District of South Bengkulu was categorized as average. Meanwhile, the dominant
factors related to the midwives’ performance were knowledge.
Keywords Midwives’ Performance, Antenatal Care, Factors Related to
Performance.




1
    Manna Midwifery Academy, South Bengkulu District
2
    Salam Health Center




Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM                                 2
http://lrc-kmpk.ugm.ac.id
                                                 st
 Firman Hayadi, Kristiani; WPS No. 11 April 2007 1    draft



                                     Latar Belakang

Tingginya angka kematian ibu di Indonesia merupakan permasalahan
penting yang perlu mendapat penanganan serius. Berdasarkan hasil
Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002 diperoleh
angka kematian ibu di Indonesia 307 per 100.000 kelahiran hidup1.
Propinsi Bengkulu tahun 2003 mencatat jumlah kematian ibu sebesar 79
dari 43.724 ibu hamil dengan jumlah kematian di Kabupaten Bengkulu
Selatan periode tahun 2004 jumlah sebesar 17 dari 4.243 ibu hamil2.
Kabupaten Bengkulu Selatan tahun 2004 porsentase cakupan K1 sebesar
79,8%. Cakupan ini masih dibawah target yaitu 90%, sedangkan cakupan
K4 72,2%. Cakupan K4 masih dibawah target Kabupaten yaitu 85%,
sedangkan persalinan oleh tenaga kesehatan 65,1%. Cakupan ini lebih
rendah dari target yaitu sebesar 77% dan deteksi resiko tinggi ibu hamil
9,0% dari target 20%3.
Upaya menurunkan kematian dan kesakitan ibu menuntut hubungan yang
erat antar berbagai tingkat sistem pelayanan kesehatan masyarakat yang
dimulai dari puskesmas. Upaya tersebut mencakup berbagai upaya
pencegahan, deteksi dini komplikasi kehamilan, persalinan aman dan
bersih, serta rujukan ke fasilitas rujukan yang memadai.
Bengkulu Selatan memiliki tenaga bidan sebanyak 209, terdiri dari 85
bidan puskesmas dan 124 orang bidan desa. Sasaran ibu hamil 4.243
orang, dengan 1 bidan berbanding 20 orang ibu hamil. Pendistribusian
tenaga belum merata dan tenaga bidan sebagian besar ada di Puskesmas
yang berdekatan dengan Ibu Kota Kabupaten.
Standar pelayanan berguna dalam norma dan tingkat kinerja dan dapat
pula digunakan untuk menentukan kompetensi dalam menjalankan praktik
kebidanan. Kebupaten Bengkulu Selatan telah melaksanakan standar
pelayanan yang berpedoman pada standar pelayanan kebidanan dari
Depkes RI tahun 20004.
Penghargaan atau insentif sebagian besar puskesmas tidak ada dan
penentuan angka kredit bagi jabatan fungsional bidan tidak didasarkan
kinerja atau prestasi. Evaluasi kinerja merupakan sistem formal yang
digunakan untuk mengevaluasi kinerja pegawai secara periodik yang
ditentukan oleh organisasi. Ada lima faktor yang berhubungan dengan
kinerja individu yaitu harapan dalam pekerjaan, umpan balik, motivasi dan
insentif, lingkungan dan alat, serta pengetahuan dan keterampilan5.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kinerja tenaga bidan
puskesmas dalam pelayanan antenatal dan faktor-faktor yang
berhubungan dengan kinerja tenaga bidan puskesmas di Kabupaten
Bengkulu Selatan, mengetahui hubungan antara harapan dalam
pekerjaan, umpan balik motivasi dan insentif, lingkungan dan alat serta
pengetahuan dengan kinerja bidan puskesmas di Kabupaten Bengkulu
Selatan serta mengetahui faktor dominan apa yang berhubungan dengan


Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM                      3
http://lrc-kmpk.ugm.ac.id
                                                 st
 Firman Hayadi, Kristiani; WPS No. 11 April 2007 1    draft



kinerja tenaga bidan puskesmas dalam pelayanan antenatal di Kabupaten
Bengkulu Selatan.

                                   Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian analitik, dengan rancangan cross
sectional. Rancangan ini digunakan untuk menentukan hubungan variabel
bebas dan variabel terikat. Metode penelitian ini adalah kuantitatif dan
kualitatif. Pengumpulan data primer melalui kuesioner tertutup, observasi,
dan wawancara mendalam, sedangkan data sekunder dengan melihat
dokumen/arsip pencatatan di Puskesmas.
Penelitian ini menggunakan total populasi yaitu seluruh bidan yang
bekerja di Puskesmas Kabupaten Bengkulu Selatan sebanyak 85 orang.
Wawancara mendalam dilaksanakan untuk melengkapi data yang
diperoleh dari kuesioner dan melengkapi kesenjangan data dari metode
penelitian kuantitatif. Informan yang ditetapkan untuk diwawancarai yaitu
kepala puskesmas, rekan kerja bidan (petugas pembantu di ruang KIA
puskesmas), dan Seksi KIA Kabupaten Bengkulu Selatan.
Analisis data univariat digunakan untuk menjelaskan karateristik masing-
masing variabel bebas dan variabel terikat dengan menggunakan
distribusi frekuensi. Analisis bivariat digunakan untuk mengetahui
hubungan antara masing-masing variabel bebas dengan variabel terikat.
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu harapan dalam
pekerjaan, umpan balik, motivasi dan insentif, lingkungan/alat dan
pengetahuan. Derajat kemaknaan diperoleh menggunakan uji Pearson,
dengan tingkat kesalahan 5%. Analisis multivariat digunakan untuk
melihat faktor dominan yang berhubungan dengan kinerja bidan. Analisis
multivariat menggunakan uji regresi berganda.

                                    Hasil Penelitian

Analisis univariat

Harapan dalam pekerjaan
Kuesioner dan wawancara mendalam memperoleh hasil nilai rerata
seluruh responden 21,80 dengan standar deviasi 1,94. Nilai tertinggi hasil
adalah 26, sedangkan nilai terendah 17. Sebagian besar responden
meliputi kriteria pekerjaan meliputi adanya uraian tugas yang jelas
(61,17%), prosedur tetap (32,94%) dan standar pelayanan ANC (5,88%).




Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM                       4
http://lrc-kmpk.ugm.ac.id
                                                 st
 Firman Hayadi, Kristiani; WPS No. 11 April 2007 1    draft



Tabel 1. Distribusi Responden Menurut Tingkat Harapan Dalam Pekerjaan
         Harapan                           Jumlah              Persentase
           Baik                              28                 32,94%
          Cukup                              52                 61,17%
         Kurang                               5                  5,88%


Umpan Balik
Berdasarkan pengukuran variabel umpan balik melalui kuesioner
diperoleh hasil bahwa nilai rerata 26,09, standar deviasi 2,03 dengan nilai
tertinggi 31 dan nilai terendah 21. Sebagian besar responden menyatakan
cukup terhadap umpan balik atau pembimbingan yang dilakukan oleh
kepala puskesmas yaitu 70,58%, meyatakan baik 20% dan menyatakan
kurang 9,41%.
            Tabel 2. Distribusi Responden Terhadap Umpan Balik
      Umpan Balik                          Jumlah              Persentase
         Baik                                17                   20%
        Cukup                                60                 70,58%
        Kurang                               8                   9,41%


Motivasi dan Insentif
Pengukuran variabel motivasi dan insentif diperoleh hasil bahwa nilai
rerata 23,93 dengan standar deviasi 3,91. Nilai tertinggi 33, sedangkan
nilai terendah 16. Sebagian responden menyatakan motivasi dan insentif
sedang yaitu 60%. Hal tersebut berarti bidan merasa cukup terhadap
penghargaan dalam bentuk insentif yang diberikan, sebagian kecil
menyatakan rendah yaitu 14,2% dan menyatakan tinggi sebanyak
25,88%.
        Tabel 3. Distribusi Responden terhadap Motivasi dan Insentif
  Motivasi dan Intensif                    Jumlah             Persentase
          Baik                               22                  25,88%
        Cukup                                51                    60%
        Kurang                               12                   14,2%


Lingkungan/alat
Pengukuran variabel lingkungan/alat diperoleh hasil bahwa nilai rerata
responden 27,84 dengan standar deviasi 3,41. Nilai tertinggi 39,
sedangkan nilai terendah 18. Sebagian besar responden menyatakan
lingkungan/alat yang berhubungan dengan pelayanan ANC cukup yaitu
76,47% yang berarti fasilitas tidak menjadi kendala bagi petugas dalam
melaksanakan kegiatan pemeriksaan ibu hamil. Sebagian kecil responden
menyatakan lingkungan/alat kurang yaitu 5,88%, sedangkan responden
yang menyatakan baik sebanyak 17,65%.



Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM                           5
http://lrc-kmpk.ugm.ac.id
                                                 st
 Firman Hayadi, Kristiani; WPS No. 11 April 2007 1    draft



          Tabel 4. Distribusi Responden Terhadap Lingkungan/alat
       Lingkungan                          Jumlah             Persentase
           Baik                              15                17,65%
          Cukup                              65                76,47%
         Kurang                               5                 5,88%


Pengetahuan
Pengukuran variabel pengetahuan diperoleh hasil bahwa nilai rerata
responden 12.02 dengan standar deviasi 2,69. Nilai tertinggi 19 dan nilai
terendah 7. Sebagian responden berpengetahuan cukup yaitu 64,70%,
sebagian kecil bidan menyatakan pengetahuan kurang yaitu 11,76% dan
menyatakan baik 23.53%.
            Tabel 5. Distribusi Responden tarhadap Pengetahuan
Pengetahuan dan keterampilan                    Jumlah          Persentase
           Baik                                   20             23,53%
          Cukup                                   55             64,70%
          Kurang                                  10             11,76%
Kinerja Bidan Dalam pelayanan Antenatal
Pengukuran variabel kinerja bidan dalam pelayanan antenatal diperoleh
hasil bahwa nilai rerata responden 64,02 dengan standar deviasi 6,27.
Nilai tertinggi 74 dan nilai terendah 46. Sebagian besar bidan puskesmas
mempunyai kinerja cukup yaitu 60%, kinerja baik sebesar 28,24%, dan
kinerja kurang sebesar 11,76%.
  Tabel 6. Distribusi Responden Terhadap Kinerja Pelayanan Antenatal
      Kinerja Bidan                        Jumlah             Persentase
          Baik                               24                28,24%
         Cukup                               51                60,00%
         Kurang                              10                11,76%



Analisis bivariat

Analisis bivariat diperoleh hasil yang tercantum pada tabel 7.
          Tabel 7. Hasil Analisis Bivariat pada Pelayanan Antenatal
                  Variabel           r     R2  p Value Korelasi
          Harapan dalam pekerjaan -0,197 0,246 0,071    lemah
                Umpan balik        0,282 0,246 0,009    Cukup
            Motivasi dan Insentif  0,299 0,245 0,005    Cukup
            Lingkungan dan alat   -0,198 0,246   0,70  Lemah
               Pengetahuan        0,296 0,246 0,006     Cukup


Analisis bivariat diperoleh bahwa variabel harapan dalam pekerjaan dan
variabel lingkungan/alat berkorelasi negatif dan keeratan hubungan



Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM                            6
http://lrc-kmpk.ugm.ac.id
                                                 st
 Firman Hayadi, Kristiani; WPS No. 11 April 2007 1    draft



lemah. Hal tersebut ditunjukkan dengan arah yang berlawanan, jika
variabel 1 besar, maka variabel 2 kecil. Angka probabilitas yang lebih
besar dari 0,05 adalah harapan dalam pekerjaan (0,071) dan
lingkungan/alat (0,70). Kedua variabel tersebut secara statistik tidak
signifikan, artinya tidak ada hubungan yang bermakna antara variabel
harapan dalam pekerjaan dan variabel lingkungan/alat dengan kinerja
bidan.
Variabel umpan balik , motivasi dan insentif, dan pengetahuan berkorelasi
positif dan signifikan. Korelasi positif artinya menunjukkan arah yang
sama, jika variabel 1 besar, maka akan diikuti kenaikan variabel 2. Dilihat
dari hasil perhitungan, variabel umpan balik menunjukkan angka sebesar
0,282, motivasi dan insentif 0,299, pengetahuan 0,296, ketiga variabel
mempunyai keeratan hubungan sedang/cukup, besarnya peranan ketiga
variabel tersebut terhadap kinerja bidan adalah sebesar 24,6%.

Hasil Analisis Multivariat

Analisis multivariat        dengan uji regresi linier diperoleh hasil sebagai
berikut:
        Tabel 8. Analisis multivariat Pada Determinan Kinerja Bidan
  Variabel                r                   R2                Β     p Value
Umpan balik             0,496               0,246             0,238    0,017
Motivasi dan                                                  0,285    0,005
  Intensif
Pengetahuan                                                   0,316   0,002


Analisis multivariat diperoleh bahwa variabel umpan balik, motivasi dan
insentif serta pengetahuan menunjukkan hubungan yang cukup/sedang
(0,496). Hubungan variabel independen dan variabel dependen semuanya
berpola positif. Artinya jika variabel umpan balik, motivasi dan insentif, dan
variabel pengetahuan meningkat, maka akan diikuti peningkatan variabel
kinerja bidan. Nilai koefisien determinasi sebesar 0,246, artinya besarnya
pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen adalah 24,6%.
Hasil ini memprediksikan bahwa ada faktor lain yang mempengaruhi
kinerja bidan.
Nilai beta gunakan untuk mengetahui variabel yang paling besarnya
peranannya dalam menentukan kinerja bidan. Hasil analisis diatas
variabel yang paling besar adalah variabel pengetahuan yaitu 0,316. Uji
korelasi parsial menunjukkan bahwa variabel pengetahuan memperoleh
nilai paling besar yaitu 0,3409.




Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM                               7
http://lrc-kmpk.ugm.ac.id
                                                 st
 Firman Hayadi, Kristiani; WPS No. 11 April 2007 1    draft



                                      Pembahasan

Harapan dalam pekerjaan

Harapan merupakan suatu keyakinan individu dalam melakukan usaha
tertentu akan diikuti oleh tingkat prestasi tertentu (Insrumentaly room).
Untuk mencapai harapan yang diinginkan karyawan perlu didukung
dengan faktor-faktor pendukung. Faktor pendukung berupa perlengkapan
yang memadai dengan kondisi baik serta informasi yang diperlukan untuk
menyelesaikan tugas. Informasi yang dibutuhkan karyawan seperti uraian
tugas, prosedur kerja, dan standar kerja. Depkes RI (2005) telah membuat
standar pelayanan kebidanan yang meliputi identifikasi ibu hamil,
pemeriksaan dan pemantauan antenatal, palpasi abdominal, pengelolaan
anemia, pengelolaan hypertensi, dan persiapan persalinan6.
Penelitian Fort (2004) menunjukkan bahwa harapan dalam pekerjaan
yang jelas berhubungan dengan kinerja providors dalam pelayanan
antenatal. Variabel harapan dalam pekerjaan berlaku pada lokasi tertentu
dan situasi tertentu saja sesuai dengan kondisi daerah. Masalah SDM
bersifat kasus perkasus, kasus yang terjadi di perusahaan satu belum
tertentu terjadi diperusahaan lain. Hal ini dipengaruhi oleh lingkungan luar
(politik, ekonomi, sosial, budaya, dan hukum) dan lingkungan dalam
(kebijakan, promosi jabatan, rotasi kerja, pelatihan)7.

Umpan balik

Umpan balik adalah setiap informasi yang dapat menjawab pertanyaan-
pertanyaan tentang bagaimana saya bekerja. Umpan balik yang baik
adalah umpan balik yang dapat menjawab benar dan produktif,
informasinya dapat digunakan sebagai upaya memperbaiki prestasi
karyawan. Umpan balik dapat berupa instruksi atau motivasi. Bentuk
umpan balik dapat berupa penyeliaan, supervisi atau pembimbingan yang
bertujuan untuk memperbaiki kinerja karyawan.
Pelaksanaan umpan balik di Puskesmas belum maksimal. Hasil
wawancara mendalam diperoleh bahwa sebagian besar kepala
puskesmas belum melaksanakan umpan balik secara terstruktur. Cara
memonetor dan mengawasi kinerja bukan hanya diakhir kegiatan, tetapi
dalam proses kerja berlangsung. Pengawasan berarti mendelegasikan
pekerjaan secara tepat, manajer yang baik tahu bagaimana cara
mengarahkan dan memberikan dukungan, cara memberikan umpan balik
dan pelatihan agar karyawan mampu mencapai prestasi yang
diharapkan8.
Pada umumnya materi umpan balik yang diberikan kepala puskesmas
tidak jelas dan mengacu kepada masalah yang dihadapi bidan dan lebih
bersifat teknis. Waktu pemberian umpan balik juga tidak terprogram.
Informasi umpan balik harus mempertimbangkan tingkat kinerja yang



Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM                         8
http://lrc-kmpk.ugm.ac.id
                                                 st
 Firman Hayadi, Kristiani; WPS No. 11 April 2007 1    draft



diharapkan harus jelas, umpan balik berhubungan dengan pengamatan
terhadap perilaku dan ukuran hasil, memberikan umpan balik sesegera
mungkin, fokus umpan balik terhadap kinerja bukan perorangan dan
memberikan umpan balik positif untuk perbaikan tidak hanya untuk hasil
akhir9.

Motivasi dan insentif

Penilaian kinerja seseorang harus disertai reward yang dapat memicu
dan memotivasi peningkatan kinerja. Reward dapat mengubah perilaku
seseorang dan memicu peningkatan kinerja9. Reward tidak mesti dalam
bentuk finansial, tetapi dapat pula berupa pujian dan sanjungan sebagai
ungkapan penghargaan prestasi yang dicapai karyawan. Pembayaran
yang didasarkan atas keterampilan dan pengetahuan lebih bernilai dan
bukan dibayar menurut jabatannya. Imbalan non moneter dapat
memberikan motivasi dan kepuasan kerja, desain sistem pembayaran
akan mempengaruhi kinerja dan produktivitas10.

Lingkungan/alat

Penelitian ini memperoleh hasil bahwa lingkungan/alat tidak menjadi
kendala pada pelaksanaan pelayanan antenatal, seluruh puskesmas
memiliki ruangan khusus pemeriksaan ibu hamil dan memiliki fasilitas/alat.
Akan tetapi fasilitas/alat penunjang (sarana laboratorium), sebagian besar
puskesmas tidak memiliki.
Sebagai pusat pelayanan kesehatan strata pertama puskesmas perlu
menyelenggarakan pelayanan secara bermutu. Oleh karena itu, perlu
mengembangkan         program        perbaikan    lingkungan    termasuk
penyelenggaraan klinik sanitasi di dalam gedung puskesmas. Selain itu
perlu dilengkapi dengan fasilitas/alat pemeriksaan yang cukup memadai11.

Pengetahuan

Penelitian ini memperoleh hasil secara deskriptif bahwa sebagian besar
pengetahuan bidan puskesmas adalah cukup yaitu 64,70%. Dari uji
analisis bivariat memperoleh hubungan yang signifikan antara
pengetahuan dengan kinerja bidan dalam pelayanan antenatal, dan nilai
korelasi 0,296, artinya tingkat korelasi adalah cukup. Pengetahuan bidan
mempunyai hubungan dengan peningkatan kinerja bidan12.
Wawancara mendalam diperoleh hasil bahwa pelatihan bagi bidan tidak
merata dan tidak berdasarkan kebutuhan puskesmas, karena pelatihan
mengikuti program Dinas Kesehatan. Program pelatihan harus didasarkan
atas kebutuhan organisasi. Program pelatihan diselenggarakan dilokasi
perpisah memberikan keahlian kepada individu yang mereka butuhkan13.
Pelatihan metode partisipatif meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan bidan dalam pelayanan antenatal. Metode pelatihan harus


Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM                       9
http://lrc-kmpk.ugm.ac.id
                                                 st
 Firman Hayadi, Kristiani; WPS No. 11 April 2007 1    draft



mempertimbangkan karkteristik peserta, pendidikan peserta dan tujuan
pelatihan14.

Kinerja bidan dalam pelayanan antenatal

Kinerja merupakan gambaran tingkat suatu pelaksanaan kegiatan atau
program dalam usaha mencapai tujuan, misi, dan visi organisasi. Istilah
kinerja sering dipakai untuk menyebut prestasi atau tingkat keberhasilan
individu atau kelompok individu. Pengukuran kinerja merupakan suatu
aktivitas penilaian pencapaian target-target tertentu yang didirivasi dari
tujuan strategis organisasi. Hasil pengukuran terhadap capaian kinerja
sebagai dasar bagi pengelola organisasi untuk perbaikan kinerja periode
berikutnya. Pencapaian kinerja bidan dapat dilihat dari 3 kompanen yaitu
kondisi yang diharapkan, pelaksanaan program dan indikator yang
dicapai15.

                               Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan

Secara statistik ada hubungan yang signifikan antara umpan balik dari
atasan, motivasi dan insentif, serta pengetahuan dengan kinerja bidan
puskesmas dalam pelayanan antenatal, namun kemaknaan secara praktis
kurang berarti dan rendah. Tidak ada hubungan yang signifikan anatara
harapan dalam pekerjaan, lingkungan/alat dengan kinerja bidan
puskesmas dalam pelayanan antenatal. Kinerja bidan puskesmas dalam
pelayanan antenatal      dikategorikan cukup. Faktor dominan yang
berhubungan dengan kinerja bidan dalam pelayanan antenatal adalah
pengetahuan.

Saran

Kepala puskesmas meningkatkan pembinaan dan pengarahan kepada
tenaga bidan secara berkala atau segera tentang permasalahan yang
berhubungan dengan kinerja bidan, kedisiplinan (jam kerja), dengan cara
diskusi atau curah pendapat dan membentuk bidan penyelia yang ada di
Puskesmas dengan perbandigan 1 orang bidan penyelia membimbing 5-
10 orang staf bidan puskesmas atau bidan desa. Kepala Puskesmas
dapat melaksanakan evaluasi kinerja bidan secara berkala, khususnya
mutu layanan dan sikap bidan. Dinas kesehatan dalam menetapkan
angka kredit jabatan fungsional bidan harus sesuai apa yang dinilai.
Dinas Kesehatan mengembangkan upaya peningkatan kinerja bidan
melalui pelatihan pengembangan manajemen kinerja (PMK) dengan
metode workshop dan meningkatkan pembinaan ditiap puskesmas cecara
berkala melalui supervisi. Institusi Pendidikan D-III Kebidanan Manna,
kiranya dapat mengembangkan kurikulum praktik kebidanan dengan
menambah jumlah jam praktik klinik di Puskesmas atau Rumah Sakit,


Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM                      10
http://lrc-kmpk.ugm.ac.id
                                                    st
    Firman Hayadi, Kristiani; WPS No. 11 April 2007 1    draft



penempatannya dimulai dari semester dua sampai semester lima. Bagi
peneliti selanjutnya kiranya dapat melaksanakan penelitian tentang faktor-
faktor yang mempengaruhi kinerja bidan dengan variabel lain yang
diprediksi besar pengaruhnya yaitu kualitas pelayanan, sikap bidan,
kepemimpinan dan penyeliaan.



                                        Daftar Pustaka

1
    Departemen Kesehatan R.I., 2005. Laporan perkembangan pencapaian
     tujuan pembengunan milenium Indonesia ; <http:// depkes.go.id/ >
     hal.58-62 diakses 15 Maret 2006.
2
     Dinas Kesehatan Propinsi Bengkulu., 2004. Profil Kesehatan Propinsi
      Bengkulu tahun 2004. Bengkulu.
3
    Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkulu Selatan., 2004. Profil Kesehatan
     tahun 2004. Manna.
4
    Anonim., 2000. Standar pelayanan kebidanan. Jakarta
5
     Fort, A.L., & Voltero,L. (2004) Factors affecting the performance health
      care provider in Armenia. Journal of Bio Med Central. 2 (8) June, pp.
      1-11
6
    Departemen Kesehatan R.I. (2005) Laporan perkembangan pencapaian
     tujuan pembengunan milenium Indonesia ; <http:// depkes.go.id/ >
     hal.58-62 diakses 15 Maret 2006.
7
     Istijanto (2005) Riset sumberdaya manusia : Cara Praktis Mendeteksi
       Dimensi-Dimensi Kerja Karyawan. Gramedia, Jakarta.
8
    Minor, M. (2003) Coaching and Counseling. PPM, Jakarta.
9
      Mahsun    (2006) Pengukuran                        kinerja sektor publik. BPFE,
      Yogyakarta.
10
     Schuler, S., & Jackson, E. (1999) Manajemen sumberdaya manusia
      mengungkap abad ke-21. Ed. Sumiharti. Erlangga, Jakarta.
11
     Trihono (2005) Manajemen puskesmas berbasis paradikma sehat.
      Sagung Seto, Jakarta.
12
      Soumena, F. (1998) Efektivitas pendidikan dan latihan jarak jauh
      Bidan untuk meningkatkan kinerja dan mutu pelayanan antenatal di
      Kabupaten maluku Tengah. Tesis Program Pascasarjana
      Universitas Gadjah Mada.
13
      Simamora, H. (2003) Manajemen sumberdaya manusia. Edisi III,
      STIE YKPN, Yogyakarta.




Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM                                  11
http://lrc-kmpk.ugm.ac.id
                                                 st
 Firman Hayadi, Kristiani; WPS No. 11 April 2007 1    draft




14
     Supadmi, S. (2000) Pengaruh       pelatihan partisipatif dalam
     meningkatkan kinerja Bidan terhadap pelayanan antenatal. Tesis
     Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada.
15
     Mahsun     (2006) Pengukuran                     kinerja sektor publik. BPFE,
     Yogyakarta.




Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM                               12
http://lrc-kmpk.ugm.ac.id